The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Materi Komprehensif Tadris Bahasa Inggris

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rickytreasure7, 2023-07-07 23:26:13

Materi Komprehensif Tadris Bahasa Inggris

Materi Komprehensif Tadris Bahasa Inggris

Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 51 Artinya, Tulislah, demi Allah, tidak ada yang keluar dari Nabi kecuali kebenaran. Selain itu, Nabi saw. pernah menyuruh menuliskan surat kepada petugaspetugasnya di daerah-daerah, yang isinya kadar-kadar zakat unta dan kambing. Nabi juga pernah memerintahkan sahabat yang pandai menulis untuk menuliskan isi khutbahnya, yaitu ketika seorang penduduk Yaman yang bernama Abu Syah meminta kepada Nabi untuk dituliskan. Pendapat ulama mengenai sikap Nabi saw. melalui hadis-hadis tersebut yang nampak bertentangan : 1) larangan Nabi menulis hadis telah dibatalkan (dimansukh) oleh perintahnya menulis hadis, sehingga larangan menulis hadis tidak berlaku lagi ; 2) larangan bersifat umum, sedang untuk beberapa sahabat secara khusus diizinkan ; 3) larangan menulis hadis ditujukan bagi yang dikhawatirkan mencampuradukkan dengan Al-Qur‟an, sedangkan izin menulis bagi mereka yang dijamin tidak akan mencampuradukannya dengan Al-Qur‟an ; 4) larangan bila berupa kodifikasi formal seperti mushaf, tapi bila sekedar catatan untuk dipakai sendiri tidak dilarang ; 5) larangan berlaku ketika wahyu-wahyu yang turun belum dihafal dan dicatat oleh para sahabat, sedang setelah wahyu-wahyu yang turun telah dihafal dan dicatat, maka penulisan hadis diizinkan. Pada masa sahabat (al-Khulafa‟ al-Rasyidun), periwayatan hadis tidak berkembang dan kelihatannya berusaha dibatasi, karena perhatian terfokus pada pemeliharaan dan penyebaran Al-Qur‟an. Jadi belum ada usaha-usaha resmi mengumpulkan hadis di dalam suatu kitab. Para sahabat sangat hati-hati menerima riwayat. Pada masa Umar, sebenarnya sudah muncul ide tentang perlunya pendewanan hadis, tetapi karena khawatir umat Islam akan mengabaikan AlQur‟an, maka Umar tidak meneruskan hasratnya itu. Menurut sebuah riwayat, Umar pernah berkata kepada para Sahabat : “Aku bermaksud menulis hadis-hadis Rasul, kemudian aku berpikir tentang adanya suatu kaum sebelum kamu yang telah menulis kitab, tetapi mereka lalu asyik kepada kitab yang telah mereka tulis itu dan melupakan kitab Allah”.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 52 Pada periode berikutnya, yaitu pada masa Dinasti Amawiyah sampai akhir abad I hijriyah, umat Islam telah memberi perhatian khusus terhadap periwayatan hadis, karena beberapa faktor, antara lain : 1) Al-Qur‟an telah dikodifikasikan ; 2) peristiwa yang dihadapi umat Islam semakin banyak dan membutuhkan petunjuk-petunjuk, baik dari Al-Qur‟an maupun hadis ; 3) jumlah sahabat yang wafat telah banyak, sementara yang masih hidup tersebar di berbagai daerah. Inilah yang mendorong para ulama mengunjungi daerah-daerah di mana ada sahabat bermukim. Pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, khalifah VIII dari Dinasti Amawiyah (99-101 H), secara resmi atas perintahnya dilakukan pengkodifikasian hadis (tadwin) dengan melibatkan orang-orang yang ahli, seperti Ibnu Syihab alZuhriy. Perintah ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran akan hilang dan lenyapnya hadis dari perbendaharaan masyarakat Islam, dan untuk membersihkan hadis Nabi SAW. dari hadis-hadis palsu. Selain itu, meluasnya kekuasaan Islam dan di sisi lain kemampuan para tabi‟in berbeda, sehingga perlu ada kodifikasi. Pentadwinan hadis berlanjutnya lagi pada masa-masa berikutnya. KEDUDUKAN DAN FUNGSI HADIS TERHADAP AL-QUR’AN Hadis merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qur‟an, seperti yang diisyaratkan dalam QS. al-Hasyar : 7 ; Ali Imran ; 132 ; dan al-Nisa : 59. Demikian juga yang ditegaskan oleh Nabi saw. melalui hadis-hadis-Nya, seperti : َو َّغ ُِْا ُخلَلَب ِء ال َّشا ِشِذٗ َي ثَ ْؼِذٕ رَ ْ ِخ ال ُغٌَّزِٖ َّ ُعٌَّ ِ ْ٘ ُِْن ث ِج َػل ِز َ َْا بلٌَّ ِ َّ َػ ُّضْا َػلََِْ٘ب ث َِِب ث Artinya : Kalian wajib berpegang dengan sunnahku dan sunnah al-Khulafa‟ alRasyidun, berpegang teguhlah kamu sekalian dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 53 Hadis berfungsi sebagai penjelasan terhadap Al-Qur‟an. Sebagaimana Ayat 44 dari QS. Al-Nahl : ُِ ْن َٗزَلَ َِّ ُشّ َى َّ َؼل ِِْن َّلَ ْ٘ لَ ِ ِط َهب ًُ ِّض َل ئ ب ْ٘ ََ الزِّ ْك َش لِزُجَِّ٘ َي لِلٌَّ لَ ِ ٌَب ئ ْ َضل ًْ َ َّأ Para ulama menguraikan fungsi hadis terhadap Al-Qur‟an, yaitu : Pertama : Al-Bayan Al-Taukid atau al-bayan al-Taqrir atau al-Itsbat (mengukuhkan, memperkuat, mengekohkan) apa yang terkandung dalam Al-Qur‟an. Misalnya Hadis dari Abu Hurairah riwayat al-Bukhari : ِط ُشّا لِ ُش ْؤَٗزِ َِ ُص ْْ ُهْْ كْ َ ا لِ ُش ْؤَٗزِ َِ َّأ Artinya : Berpuasa dan berbukalah kamu karena melihat bulan. Hadis ini adalah penguat/penegas ayat 185 dari al-Baqarah. Yang kedua adalah Tafshil al-Mujmal (merinci ayat yang mujmal dan musytarak). Seperti Hadis tentang tata cara shalat, haji dan sebagainya. Yang ketiga adalah Taqyid al-Mutlaq (الوطلن ذ٘٘رو ,(yaitu memberikan batasan terhadap ayat yang bersifat umum dan mutlak, seperti penjelasan Nabi mengenai ukuran barang curian yang mengakibatkan hukum potong tangan, dan batas tangan yang dipotong. Yang keempat adalah Takhshis al-„Am (mengecualikan), seperti sabda Nabi saw. bahwa pembunuh tidak berhak mendapat warisan dari orang yang dia bunuh. Hadis tersebut pengecualian terhadap firman Allah yang menyatakan bahwa hubungan nasab menjadi penyebab saling mewarisi. Seperti QS. al-Nisa‟ ayat 11 : ِي ضََ٘ ْ٘ ًْ اْلُ ُل َدعِّ ْ ِهض ِ َكش َّْالِد ُكن لِلزَّ َ ُٗ ْْ ِصْ٘ ُِن َّللاُ كٖ أ Namun dengan Hadis tersebut, ada ahli waris yang haram menerima harta peninggalan orang yang ada hubungan nasab dengannya, seperti orang tuanya, karena sebab membunuhnya.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 54 BENTUK-BENTUK HADIS Berdasarkan pengertian hadis atau sunnah yang dikemukakan di atas, terdapat tiga bentuk hadis, yaitu : 1. Hadis Qauliy. Hadis qauliy adalah : أدبدٗضَ صلٔ َّللا ػلَ٘ ّعلن الزٖ هبلِب كٖ هخزلق اْلؿشاض ّالوٌبعجبد Artinya : hadis-hadis yang disabdakan/diucapkan oleh Nabi saw. dengan berbagai tujuan dan dalam berbagai kesempatan. Misalnya : َج َُْْ ْ ال ِ ٗش ِ َخٌَبص ْ ِذ ال ِّ ُْلِ َِ َكُووَل َ أ ِ َذ َؿْ٘ش ِن ِػٌْ ْ ِؼل ْ َػلَٔ ُك ِّل ُه ْغلِ ن َّ َّا ِض ُغ ال ٗ َضخٌ ِ ِن كَش ْ ِؼل ْ ُت ال زَُ َت )سّاٍ لَ َّ َإ َّال ُ ْإل ُّ َش َّالل طَ اثي هبجخ( 2. Hadis Fi‟liy زٖ ًولِب ئلٌ٘ب الصذبثخ ّ أكؼبلَ صلٔ َّللا ػلَ٘ ّعلن ال Artinya : Perbuatan-perbuatan Nabi yang dipindahkan oleh para sahabat kepada kita. Misalnya hadis tentang cara Nabi shalat : َّى َػْج َذ ََّّللاِ ْث َي ُػ َو َش هَب َل َ ْٗ ُذ َس ُعْ َل ََّّللا . . . أ ِ َ َسأ -صلٔ َّللا ػلَ٘ ّعلن- ب ًَُِْ َغ َٗ َذْٗ َِ َدزَّٔ َٗ ِح َسكَ لَٔ ال َّصَلَ ِ ئ َ َرا هَبم ِ ئ ْ َؼ ُل َرلِ ََ ِد٘ َي َٗ ْشكَ ُغ َسأ ََّٗلْ ِ َؼ ُل َرلِ ََ ِد٘ َي ُٗ َِجِّ ُش لِل ُّش ُكْع َّن ُٗ َِجِّ ُش َّ َكب َى َٗلْ ُ ِِجَ ْ٘ َِ ص َّ َهٌْ ْ َدز ََّٗ ِ َعَُ ْ ُل ِه َي ال ُّش ُكْع و » ُ ََّّللاُ لِ َو ْي َد ِوَذٍُ ِه َي ال ُّغ ُجْ ِد. َع ِو َغ «. َعَُ ْ َؼ ُل َرلِ ََ ِد٘ َي َٗ ْشكَ ُغ َسأ َّالَ َٗل )سّاٍ الذاسهٖ( ْ Artinya : “…bahwa Abdullah bin Umar berkata : Saya melihat Rasulullah saw. apabila berdiri untuk shalat, beliau mengangkat kedua tangannya setara dengan kedua bahunya kemudian bertakbir. Beliau melakukan juga hal tersebut ketika bertakbir untuk ruku‟ dan ketika bangkit dari ruku‟sambil membaca : “sami‟allahu liman hamidah”. Beliau tidak melakukan hal tersebut ketika bangkit dari sujud”. 3. Hadis Taqririy Arti Hadis Taqririy adalah :


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 55 هؼٌٔ الزوشٗش أى ٗوْل أدذ هْال, أّ ٗلؼل كؼَل أهبم الٌجٔ صلٔ ػلَ٘ ّعلن ّال ٌِٗشٍ ػلَ٘, أّ ال ِْٗى أهبهَ ّلِي ٗجلـَ ك٘غِذ ػٌَ كغِْرَ ّػذم ئًِبسٍ روشٗش لَ. Artinya : Seseorang (sahabat) mengatakan sesuatu atau melakukan sesuatu di hadapan Nabi saw. tanpa ada penolakan dari-Nya, atau tidak di hadapan Nabi saw., tetapi disampaikan kepada-Nya lalu Dia diam, maka diamnya Nabi saw. dan tidak adanya penolakan dari-Nya menunjukkan taqrir (persetujuan-Nya). Contoh Hadis Taqririy adalah riwayat „Amr bin Al-„Ash ketika dia menjadi imam shalat dalam keadaan junub. Atau dalam riwayat yang lain, beliau hanya melakukan tayamum sebagai pengganti mandi junub, karena takut akan ٗب سعْل َّللا خش٘ذ أى : .saw Nabi kepada ucapannya sebagaimana, kedinginan mati الجشدٌٖ وزل .ٗKetika dilaporkan kepada Nabi saw., „Amr dipanggil dan diminta memberikan keterangan. „Amr berkata : ... كأخجشرَ ثبلزٕ هٌؼٌٖ هي اْلؿزغبل ّهلذ: ئًٖ عوؼذ َّللا ػض ّجل ٗوْل: )ّال روزلْا أًلغِن ئى َّللا كبى ثِن سد٘وب( كضذَ ًج ُّٖ َّللا صلٔ َّللا ػلَ٘ ّعلن ّلن ٗول ش٘ئب. Artinya : … aku memberitahukan kepada Nabi saw. alasan yang mencegahkan untuk mandi, dan mengutip firman Allah swt : (Jangan kamu bunuh diri, karena sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada Kamu). Maka Rasulullah tertawa dan tidak berkomentar. Sesuatu yang bersumber dari sahabat yang mendapat pengakuan dan persetujuan dari Nabi saw. (taqrir), itu dianggap bersumber dari Beliau.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 56 UNSUR-UNSUR HADIS Unsur-unsur hadis ada tiga yaitu Sanad, Matan dan Rawi. Sanad adalah jalan yang menyampaikan kepada matan. Atau jalan matan, yaitu rentetan para periwayat yang memindahkan matan dari sumbernya yang pertama. Adapun Matan adalah redaksi hadis yang menjadi unsur pendukung pengertiannya. Sedangkan Rawi adalah periwayat, yaitu orang yang meriwayatkan hadis. Hadis yang lengkap unsur-unsurnya seperti hadis di bawah ini yang diriwayatkan oleh al-Bukhari : شّ َٗوُْ ُل هَب َل ا ش هَب َل َع ِوْؼ ُذ َػْج َذ ََّّللاِ ْث َي َػ ْو َّٗب ُء َػ ْي َػب ِه ِ َؼْ٘ ن َدَّذصٌََب َص َكش ثُْ ًُ َ ِ َد ُّٔ صلٔ َّللا ػلَ٘ ّعلن : َّذصٌََب أ لٌَّج ِج ُش َه ْي َُ َج َش َهب ًََِٔ ََّّللاُ َػٌَُْ. ُوَِب ْ ُو ْغلِ ُوْ َى ِه ْي لِ َغبًِ َِ ََّٗ ِذٍِ، َّال ْ ال َ َه ْي َعلِن ُو ْغلِ ُن ْ ال Sanad Hadis tersebut adalah 1) Abu Nu‟aim ; 2) Zakariyah ; 3)‟Amir ; dan 4) Abdullah bin „Amr. Sedangkan matannya adalah sabda Nabi saw. yang dimulai ُو ْغلِ ُن kata dari ْ ال sampai dengan kata/atau kalimat ٌَُْػُ َللا ًََِٔ ََّّهبَ . Mereka yang terdapat pada sanad adalah juga periwayat/rawi hadis ditambah dengan AlBukhari. Sehingga bila diurutkan, rawi hadis tersebut adalah : 1) Abdullah bin „Amr sebagai rawi pertama ; 2) Amir selaku rawi kedua ; 3) Zakariyah sebagai rawi ketiga ; 4) Abu Nu‟aim sebagai rawi keempat; dan 5) Al-Bukhari selaku rawi kelima sekaligus sebagai mukharrij (penghimpun riwayat hadis dalam kitabnya). HADIS MUTAWATIR DAN AHAD Hadis Mutawatir dan Ahad merupakan pembagian hadis dari segi jumlah rawi. Hadis Mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak periwayat yang menurut adat kebiasaan mustahil bersepakat berdusta (tentang hadis yang diriwayatkan). Para ulama mengemukakan syarat-syarat suatu hadis dapat disebut mutawatir, yaitu : 1) diriwayatkan oleh periwayat yang banyak ; 2) mustahil menurut logika atau adat mereka bersepakat berdusta ; 3) jumlah banyak itu terjadi pada setiap lapisan sanad dari awal sampai akhir ; dan 4) sandaran berita berdasar pada indera.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 57 Adapun hadis Ahad adalah hadis yang tidak memenuhi salah satu dari syarat-syarat hadis mutawatir. Sebagian ulama membagi hadis dari segi kuantitasnya menjadi tiga, yaitu mutawatir, masyhur dan ahad. Karena itu mereka mengatakan bahwa hadis ahad adalah hadis yang diriwayatkan oleh satu orang atau dua orang atau lebih yang jumlahnya tidak memenuhi persyaratan hadis masyhur atau mutawatir. Hadis Ahad terbagi kepada tiga, pertama adalah hadis masyhur, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh tiga rawi atau lebih pada setiap tabaqatnya, tetapi tidak sampai pada peringkat mutawatir. Atau menurut M. Ajaj al-Khathib adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah sahabat yang tidak mencapai batas mutawatir kemudian sesudah sahabat dan orang-orang sesudah mereka diriwayatkan secara mutawatir. Yang kedua adalah hadis Azis, yaitu hadis yang pada semua tabaqat sanadnya tidak kurang dari dua orang periwayat, atau hadis yang diriwayatkan oleh dua orang rawi walaupun hanya pada satu tabaqat, kemudian pada tabaqat berikutnya diriwayatkan oleh sejumlah rawi (lebih dari dua orang rawi). HADIS SHAHIH, HASAN DAN DHA’IF Ketiga macam hadis tersebut merupakan pembagian hadis dilihat dari segi kualitasnya. Hadis shahih adalah hadis yang diriwayatkan oleh periwayat yang adil dan dhabith (sempurna hafalannya), bersambung sanadnya, tidak terdapat illat (cacat) dan syadz (janggal). Dari pengertian ini maka syarat hadis shahih adalah : 1) periwayatnya Adil. Adil merupakan sifat tertancap dalam jiwa yang mendorong pemiliknya untuk senantiasa bertakwa dan memelihara harga diri. Periwayat yang adil adalah periwayat yang teguh dalam beragama, tidak berbuat dosa kecil apalagi besar, tidak berbuat bid‟ah dan maksiat. Di samping itu, ia memelihara muru‟ah-nya, yaitu kewibawaan dan harga diri, seperti tidak makan, dan buang air kecil di sembarang tempat, memarahi istri atau keluarga dengan ucapan kotor dan bergaul dengan orang-orang yang berperilaku buruk ; 2) periwayatnya dhabit, yaitu periwayat yang hafal dengan sempurna hadis yang diterimanya, mampu menyampaikannya dengan baik, dan memahaminya juga dengan baik ; 3) bersambung sanadnya, yaitu tiap-tiap periwayat dalam sanad


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 58 hadis menerima riwayat hadis dari periwayat terdekat sebelumnya, keadaan itu berlangsung demikian sampai akhir sanad hadis itu ; 4) tidak ber-illat, yaitu karena suatu sebab yang samar-samar. Dikatakan samar-samar karena dari segi lahir terlihat shahih. Misalnya meriwayatkan hadis secara muttashil terhadap hadis munqathi‟ atau mursal. Cara menelitinya dengan membanding-bandingkan semua sanad ; 5) tidak syadz atau janggal, karena bertentangan dengan hadis lain yang lebih kuat, seperti diriwayatkan oleh orang tsiqah (periwayat yang adil dan dhabit), tapi bertentangan dengan riwayat yang dikemukakaan banyak orang tsiqah, atau diriwayatkan oleh orang tsiqah tapi orang tsiqah lainya tidak meriwayatkannya. Tentu saja yang seperti ini, hanya dapat dilakukan oleh orang yang mendalam pengetahuan hadisnya dan terbiasa meneliti. Satu hadis disebut shahih apabila memenuhi lima syarat di atas. Apabila salah satunya tidak terpenuhi, seperti periwayatnya kurang dhabit, maka hadis yang bersangkutan berstatus hadis hasan, dan apabila sanadnya terputus, atau terdapat kejanggalan, maka statusnya berubah menjadi hadis dha‟if. Bahan Evaluasi 1. Jelaskan pengertian ulum al-Hadis! 2. Sebutkan dan jelaskan pembagian Ulum al-Hadis! 3. Jelaskan pengertian hadis dan perbedaannya dengan sunnah! 4. Sebutkan sinonim hadis selain sunnah! 5. Bagaimana hadis pada masa Nabi saw.? 6. Jelaskan perkembangan hadis pada masa sahabat! 7. Jelaskan latarbelakang pentadwinan hadis pada masa Umar bin Abdul Aziz! 8. Jelaskan kedudukan dan fungsi hadis/sunnah terhadap Al-Qur‟an! 9. Sebutkan dan jelaskan bentuk-bentuk hadis! 10. Sebutkan tiga unsur hadis dan jelaskan! 11. Sebutkan pembagian hadis dari segi jumlah periwayatnya! 12. Berapakah syarat hadis sahih? Jelaskan dua di antaranya! 13. Apa perbedaan hadis sahih dan hadis hasan! 14. Apa yang dimaksud dengan hadis dha‟if? 15. Sebutkan hadis yang berkaitan dengan pendidikan dan pembelajaran!


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 59 BAGIAN KEDUA ILMU PENDIDIKAN ISLAM TIM Penyusun Dr. H. Yusra, M.Pd. Drs. Ramang, M.Pd.I. Drs. Sagir Muhammad Amin, M.Pd.I. Dr. Hamlan, M.Ag. Drs. Thalib, M.Pd.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 60 Deskripsi Materi Komprehensip: Materi komprehensip ini akan menyajikan dan menjabarkan beberapa konsep dasar Ilmu Pendidikan Islam sebagai landasan teoritis pendidikan Islam yang meliputi pemahaman konsep dasar ilmu pendidikan Islam dan pendidikan Islam, manusia dan pendidikan dalam persfektif Islam, asas-asas pendidikan Islam, perspektif fitrah dalam konsep pendidikan Islam, pendidik dan peserta didik dalam pendidikan Islam, wewenang dan tanggungjawab pendidikan Islam, kharisma dan tanggungjawab pendidikan Islam, faktor kaidah dalam prubahan prilaku agama, aspek dan ruang ligkup materi pendidikan Islam, metode dan alat pendidikan Islam, reward dan punishment, kewibawaan, serta lingkungan pendidikan Islam, sistem evaluasi dalam pendidikan Islam, sistem dan periodesasi pendidikan dalam Islam, aliranaliran pendidikan Islam, dan tinjauan beberapa lembaga pendidikan dalam pendidikan Islam. Soal-soal: 1. Kemukakan pengertian pendidikan dan pendidikan Islam menurut bahasa. 2. Kemukakan pengertian pendidikan Islam menurut beberapa ahli 3. Jelaskan pengertian pendidikan Islam menurut Ahmad D. Marimba 4. Kemukakan dan jelaskan ruang lingkup pendidikan Islam 5. Kemukakan dan jelaskan urgensi pendidikan Islam 6. Kemukakan dan jelaskan tujuan pendidikan Islam 7. Kemukakan dan jelaskan asas-asas dalam pendidikan Islam 8. Jelaskan pendekataan paedagogis dalam pendidikan Islam 9. Jelaskan pendekataan psikologis dalam pendidikan Islam 10. Kemukakan ayat Al-Qur‟an dan Hadits Nabi Saw., tentang pendidikan 11. Kemukakan pengertian pendidik, peserta didik dalam pendidikan Islam 12. Jelaskan beberapa tugas pendidik menurut para ahli dalam pendidikan Islam 13. Jelaskan beberapa karakteristik pendidik dalam pendidikan Islam 14. Kemukakan dan jelaskan kompetensi-kompetensi pendidik dalam pendidikan Islam 15. Kemukakan dan Jelaskan tugas dan kewajiban peserta didik 16. Kemukakan dan jelaskan pengertian fitrah manusia 17. Jelaskan hubungan fitrah manusia dengan pendidikan


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 61 18. Jelaskan bagaimana implikasi fitrah manusia dalam proses pendidikan Islam 19. Kemukakan tujuh aspek tanggungjawab pendidikan dalam pendidikan Islam 20. Jelaskan hal-hal pokok kewajiban pendidik (Guru) dan orang tua terhadap pendidikan anak/peserta didik 21. Jelaskan maksud tanggungjawab pendidikan iman 22. Jelaskan maksud pendidikan akhlak (moral) 23. Jelaskan maksud tanggungjawab pendidikan fisik 24. Jelaskan maksud tangungjawab pendidikan intelektual 25. Jelaskan maksud tanggungjawab pendidikan psikhis 26. Jelaskan maksud tanggungjawab pendidikan sosial 27. Jelaskan maksud tanggungjawab pendidikan seksual 28. Jelaskan maksud memelihara hak-hak orang menurut Islam 29. Jelaskan maksud tata kesopanan sosial 30. Apa yang saudara pahami tentang kharisma dan tanggungjawab pendidikan Islam 31. Jelaskan maksud pendidikan dengan keteladanan 32. Sebutkan dan jelaskan contoh-contoh keteladanan Nabi Saw, dalam kehidupan sehari-hari 33. Jelaskan maksud pendidikan dengan adat kebiasaan 34. Jelaskan maksud pendidikan dengan nasehat 35. Jelaskan maksud pendidikan dengan memberikan perhatian 36. Jelaskan maksud pendidikan dengan memberikan hukuman 37. Kemukakan dan jelaskan sifat-sifat asasi bagi pendidik 38. Jelaskan tentang metode dan alat dalam perspektif pendidikan Islam 39. Jelaskan tentang reward, punishment, dan reinforsment dalam pendidikan Islam 40. Kemukakan beberapa pendapat ulama tentang ganjaran dan hukuman dalam pendidikan Islam


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 62 41. Kemukakan beberapa tehnik pemberian penghargaan dalam pendidikan Islam 42. Jelaskan tentang urgensi lingkungan dan kewibawaan perspektif pendidikan Islam 43. Jelaskan tentang pengertian, fungsi, dan tujuan evaluasi dalam pendidikan Islam 44. Jelaskan ruang lingkup evaluasi dalam pendidikan Islam 45. Jelaskan tentang priodesasi pendidikan pra natal dan pasca natal atau masa pra konsepsi, masa konsepsi, dan pra konsepsi dalam pendiddikan Islam 46. Kemukakan dan jelaskan beberapa ragam dan corak aliran pendidikan dalam pendidikan Islam 47. Kemukakan dan jelaskan perbedaan beberapa teori pendidikan dengan perspektif teori pendidikan Islam 48. Jelaskan tentang prinsip-prinsip lembaga pendidikan Islam 49. Jelaskan tentang tanggungjawab pendidikan Islam 50. Jelaskan tentang tanggungjawab keluarga sebagai lembaga pendiddikaan Islam 51. Jelaskan tentang Masjid sebagai lembaga pendidikan Islam 52. Jelaskan tentang Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam 53. Jelaskan tentang Madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam 54. Jelaskan tentang tantangan lembaga pendidikan Islam dalam transformasi sosial-budaya BUKU RUJUKAN Arifuddin M. Arif. 2008, Pengantar Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kultura Arifin, H. M. 2008. Ilmu Pendidkan Islam, Edisi Revisi, Jakarta: Bumi Aksara Thalib & Andi Anirah. 2015, Buku Ajar Ilmu Pendidikan Islam, Palu: IAIN Palu


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 63 MATERI IV ILMU PENDIDIKAN ISLAM 1. PENGERTIAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM 2. DEFINISI PENDIDIKAN ISLAM MENURUT PARA AHLI 3. RUANG LINGKUP ILMU PENDIDIKAN ISLAM 4. FUNGSI ILMU PENDIDIKAN ISLAM 5. PERIODESASI PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM 6. BATAS-BATAS PENDIDIKAN ISLAM


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 64 ILMU PENDIDIKAN ISLAM A. PENGERTIAN ILMU PENDIDIKAN ISLAM Kata“pendidikan”yang umum kita gunakan sekarang, dalam bahasa arabnya adalah “tarbiyah”, dengan kata kerja “rabba”. Kata “pengajaran” dalam bahasa arabnya adalah “ta‟lim” dengan kata kerjanya “alama”. Pendidikan dan pengajaran dalam bahasa arabnya “tarbiyah wa ta‟lim” sedangkan “pendidikan Islam” dalam bahasa arabnya adalah “tarbiyah islamiyah”. Kata kerja rabba (mendidik) sudah di gunakan pada zaman nabi Muhammad SAW. Pendidikan secara teoritis mengandung pengertian “memberi makan” (opvoeding) kepada jiwa anak didik sehingga mendapatkan kepuasan rohaniah, juga sering diartikan dengan “ menumbuhkan” kemampuan dasar manusia. Jadi, Pendidikan Islam berarti sistem pendidikan yang memberikan kemampuan sseseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilai Islam yang telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya, dengan kata lain pendidikan Islam adalah suatu sistem kependidikan yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah sebagaimana Islam telah menjadi pedoman bagi seluruh aspek kehidupan manusia baik duniawi maupun ukhrawi. B. DEFINISI PENDIDIKAN ISLAM MENURUT PARA AHLI 1. Menurut Ahmad D. Marimba : Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. 2. Menurut Musthafa Al-Ghulayaini : Pendidikan Islam ialah menanamkan akhlak yang mulia di dalam jiwa anak dalam masa pertumbuhannya dan menyiraminya dengan air petunjuk dan nasihat, sehingga akhlak itu menjadi salah satu kemampuan (meresap dalam) jiwanya kemudian buahnya berwujud keutamaan, kebaikan dan cinta bekerja untuk kemanfaatan tanah air. 3. Kemudian, Muttaqien (2005) menyebutkan bahwa Pendidikan Islam secara epistemologis memiliki kerangka konseptual. Kerangka konseptual


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 65 yang dimaksud di atas adalah konsep penciptaan manusia sebagaimana terdapat dalam Qur‟an dan posisi pendidikan dalam diri manusia dalam prespektif Islam. Berdasarkan konsep dasar penciptaan manusia tersebut kemudian dibangun rancangan pengembangan pendidikan Islam yang lurus dan tidak menyimpang dari konsep dasarnya. Secara singkat, dapat dikatakan bahwa dalam mengembangkan pendidikan Islam, manusia dapat belajar dari penciptaan dirinya sebagaimana hal itu juga telah dijelaskan oleh al-Qur‟an. Namun dari perbedaan pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan adanya titik persamaan yang secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut : Pendidikan Islam ialah bimbingan yang dilakukan oleh seorang dewasa kepada anak didik dalam masa pertumbuhan agar ia memiliki kepribadian muslim. C. RUANG LINGKUP ILMU PENDIDIKAN ISLAM Ilmu Pendidikan Islam mempunyai ruang lingkup yang sangat luas, karena didalamnya banyak pihak-pihak yang ikut terlibat baik secara langsung atau tidak langsung. Objek ilmu pendidikan Islam ialah situasi pendidikan yang terdapat pada dunia pengalaman. Diantara objek atau segi ilmu pendidikan Islam dalam situasi pendidikan Islam: 1. Perbuatan Mendidik sendiri Sikap atau tindakan menuntun, membimbing, memberikan pertolongan dari seorang pendidik kepada anak didik untuk menuju ke tujuan pendidikan Islam. 2. Anak Didik Yaitu pihak yang merupakan objek terpenting dalam pendidikan. Hal ini disebabkan perbuatan atau tindakan mendidik itu diadakan atau dilakukan hanyalah untuk membawa anak didik ke arah tujuan pendidikan islam yang di cita-citakan. 3. Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam Yaitu landasan yang menjadi fondamen serta sumber dari segala kegiatan pendidikan Islam ini dilakukan. Maksudnya pelaksanaan pendidikan Islam yaitu arah kemaana anak didik akan dibawa.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 66 4. Pendidikan Yaitu subjek yang melaksanakan pendidikan Islam. Pendidik ini mempunyai peran penting karena berpengaruh kepada baik atau tidaknya hasil pendidikan Islam. 5. Materi Pendidikan Islam Yaitu bahan–bahan atau pengalaman–pengalaman belajar ilmu agama Islam yang disusun yang sedemikian rupa untuk disajikan kepada anak didik. 6. Metode Pendidikan Islam Ialah cara yang paling tepat dilakukan oleh pendidik untuk menyampaikan bahan atau materi pendidikan Islam agar materi pendidikan Islam tersebut dapat dengan mudah diterima oleh anak didik 7. Evaluasi Pendidikan Yaitu memuat cara–cara bagaimana mengadakan evaluasi atau penilaian terhadap hasil belajar anak didik. 8. Alat – Alat Pendidikan Islam Yaitu alat–alat yang dapat digunakan selama melaksanakan pendidikan Islam agar tujuan pendidikan Islam tersebut lebih berhasil. 9. Lingkungan Sekitar Yang dimaksud di sini ialah keadaan-keadaan yang ikut berpengaruh dalam pelaksanaan serta hasil pendidikan Islam. D. FUNGSI ILMU PENDIDIKAN ISLAM Dari kajian antropologi dan sosiologi dapat kita ketahui tiga fungsi pendidikan: 1. Untuk mengembangkan wawasan subjek didik mengenai dirinya dan alam sekitarnya dengan semakin luasnya wawasan akan menimbulkan berbagai kreatifitas. 2. Untuk melestarikan nilai-nilai insani yang akan menjadi filter bagi wawasan hidupnya sehingga wawasannya menjadi tepat.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 67 3. Untuk membuka pintu ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidupnya. Mengenai pentingnya mempelajari Ilmu Pengetahuan Islam ini Prof. H. M. Arifin Med menyatakan sebagai berikut : 1. Pendidikan sebagai usaha membentuk pibadi manusia harus melalui proses panjang dengan resultat (hasil) yang tidak dapat diketahui dengan segera, berbeda dengan membentuk benda mati yang dapat dilakukan sesuai dengan keinginan “pembuatnya”. 2. Pendidikan Islam pada khususnya yang bersumber pada nilai-nilai agama Islam menanamkan atau membentuk sikap hidup yang dijiwai nilai-nilai tersebut, juga mengembangkan kemampuan berilmu pengetahuan sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menlandasinya adalah merupakan proses ikhtiariyah yang secara peadogogis. Mampu mengembangkan hidup anak didik kearah kedewasaan atau kematangan yang menguntungkan dirinya. 3. Islam sebagai agama wahyu yang diturunkan oleh Allah dengan tujuan untuk mensejahterakan dan membahagiakan hidup dan kehidupan umat manusia di dunia dan di akhirat, baru dapat mempunyai arti fungsional dan aktual dalam diri manusia bila mana dikembangkan melalui proses kependidikan yang sistematis 4. Ruang lingkup kependidikan Islam adalah mencangkup segala bidang kehidupan manusia dimana manusia mampu memanfaatkan sebagai tempat menanam benih-benih amaliyah yang buuahhnya akan dipetik di akhirat nanti, maka pembentukan sikap dan nilai-nilai amaliyah dalam pribadi manusia baru dapat efektif bilamana dilakukan melalui proses kependidikan yang berjalan diatas kaidah-kaidah ilmu pengetahuan kependidikan. 5. Teori-teori, hipotesa dan asumsi-asumsi kependidikan yang bersumber ajaran Islam sampai kini masih belum tersusun secara ilmiah meskipun bahan-bahan bakunya telah tersedia. Baik dalam kitab suci al-Qur‟an dan Hadist maupun qaul ulama.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 68 E. PERIODESASI PERKEMBANGAN PENDIDIKAN ISLAM Sejarah dan periode perkembangan pendidikan Islam mencakup atas beberapa bagian yaitu : 1. Periode pembinaan Islam yang berlangsung pada masa nabi Muhamad saw. Masa ini berlangsung sejak nabi Muhamad saw menerima wahyu dan diangkatnya menjadi nabi dan rasul sampai dengan lengkap dan sempurnanya ajaran Islam menjadi warisan budaya umat Islam. Masa tersebut berlangsung selama kurang lebih selama 23 tahun. 2. Periode pertumbuhan pendidikan Islam yang berlangsung sejak zaman nabi Muhammad saw wafat sampai masa akhir Bani Umayyah yang diwarai oleh berkembangnya ilmu-ilmu naqliyah. Pada masa pertumbuhan dan perkembanganya itu, pendidikann Islam mempunyai dua sasaran yakni pertama, yaitu generasi muda sebgai generasi penerus dan masyarakat bangsa lain yang belum menerima ajaran Islam, kedua adalah penyampaian ajaran Islam dan usaha internalisasinya dalam masyarakat bangsa yang baru menerimanya. 3. Periode kejayaan (puncak perkembangan) pendidikan Islam yang berlangsung sejak permulaan daulat Abbasiyah sampai dengan jatuhnya Bagdad, yang diwarnai oleh berkembangnya ilmu akhlak dan munculnya Madrasah serta memuncaknya perkembangan kebudayaan Islam. 4. Periode kemunduran pendidikan Islam, yakni sejak jatuhnaya Bagdad sampai jatuhnya Mesir ke tangan Napoleon, yang ditandai dengan runtuhnya sendi-sendi kebudayaan Islam dan berpindahnya pusat-pusat pengembangan kebudayaan ke dunia barat. 5. Periode pembaharuan pendidikan Islam, yang berlangsung sejak pendudukan Mesir oleh Napoleon Bonaparte sampai sekarang, yang ditandai oleh gejala-gejala kebangkitan kembali umat dan kebudayaan Islam.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 69 F. BATAS-BATAS PENDIDIKAN ISLAM Adapun yang dimaksud dengan batas-batas pendidikan Islam adalah batas yang berkaitan dengan awal dan berakhirnya pelaksanaan pendidikan Islam secara formal dalam bentuk kelembagaan. 1. Batas (awal) pendidikan Islam, Yang dimaksud dengan batas awal pendidikan Islam ialah saat kapan pendidikan Islam itu dimulai secara formal. Para ahli paedagogik muslim dan non muslim mempunyai pendapat yang beragam akan hal ini. Mereka hanya sepakat bahwa pendidikan itu adalah suatu usaha dan proses mempunyai batas-batas tertentu. Langevel, memberikan batas awal (bawah) pendidikan pada saat anak sudah berusia kurang lebih 4 tahun, yakni pada usia ini telah terjadi mekanisme untuk mempertahankan dirinya (eksistensi) perubahan besar dalam jiwa seseorang anak di mana sang anak telah mengenal aku-Nya. Sehingga si anak sudah mulai sadar/mengenal kewibawaan (gezag). Konsep kewibawaan dalam pendidikan adalah kesediaan untuk mengalami adanya pengaruh dan menerima pengaruh (anjuran) orang lain atas dasar sukarela. Bukan karena takut atau terpaksa. Sejarah Islam telah membenarkan bahwa pendidikan Islam telah mulai berkembang pesat di dunia Islam semenjak adanya Islam yaitu diangkatnya nabi Muhammad saw. Sebagai nabi dan rasul. Firman Allah Swt. dalam surah al-Alaq ayat 1-5 sebagai ayat yang pertama kali diturunkan yang berkaitan dengan pendidikan sebagai berikut: ْْلَ ْك َشُم َّ َسثُّ ََ ا ْ َشأ ِهْ ن ئ َغب َى ِه ْي َػلَ ِْلًْ ْ َن ا َن َخلَ ِزٕ َخلَ َّ ب ْعِن َسثِّ ََ ال ِ ث ْ َشأ ِهْ ئ ْن ْن َٗ ْؼلَ َغب َى َهبلَ ِْلًْ ْ ا َ ن َّ ِن َػل وَلَ ْ بل ِ َ ث ن َّ ِزٕ َػل َّ ل َ أ Artinya : Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah; yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya (Q.S. 96 : 1-5).


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 70 Imam al-Gazali berpendapat bahwa anak itu seperti kertas putih yang siap untuk ditulisi melalui orang tuanya sebagai pendidik sehingga batas awal pendidikan pada saat anak dalam kandungan ibunya, lebih jauh dari itu yakin pada saat memilih calon pasangan hidup (suami istri). Di mana anak akan lahir, tidaklah terlepas dari pengaruh perilaku orang tuanya yang mendidik dan membesarkannya. Anak dalam kaitannya dalam pendidikan menurut ajaran Islam adalah fitrah atau ajaran bagi orang tuanya. Sebagaimana Hadis Rasulullah saw. yang artinya: Setiap anak itu dilahirkan atas fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikan Nasrani atau Majusi. 2. Batas akhir pendidikan Islam Batas akhir pendidikan memandang bahwa sebelum anak mengenal kewibawaan (gezag) dari pendidik maka peristiwa pendidikan belum ada, dan yang ada hanya latihan dan pembiasaan saja. Pendidikan yang dimaksudkan disini adalah pendidikan dalam arti kelembagaan (pendidikan formal). Kewibawaan yang dimaksud adalah kekuatan batin yang dimiliki oleh pendidik yang ditaati oleh anak didik. Hal ini sejalan dengan pendapat Langevel yang memandang pendidikan sebagai suatu pergaulan antara anak didik dengan pendidik. Tugas pendidik ialah mendewasakan anak didik (manusia muda) dengan membimbing sampai pada tingkat kedewasaan (jasmani dan rohani). Sehingga dapat berdiri sendiri dan bertanggung jawab secara etis. Dari sinilah dianggap batas akhir pendidikan bagi seseorang secara kelembagaan. Sedangkan dalam Islam tujuan akhir pendidikan Islam menurut Imam alGazali adalah untuk mencapai keutamaan manusia dan taqarrub (pendekatan diri kepada Allah). Sejalan dengan hal di atas jelaslah bahwa batas pendidikan dalam pandangan Islam secara formal kelembagaan dapat dibatasi oleh usia tertentu, namun secara ideal dan nilai, pendidikan Islam sesungguhnya tidak mengenal batas dan usia tertentu. Bahkan sejak dalam kandungan proses pendidikan sudah dapat terlaksana melalui interaksi langsung antara orang tua dan bayi yang


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 71 dikandungnya, dan kelanjutan dari pendidikan tersebut berlangsung dimulai dari sejak lahirnya kedunia. Sebagaimana Hadis Nabi saw.: ْ ل ِؼل ْ ِت ا ُ ُ ْطل أ ِْـ ِذ َّ لَٔ الل ِ َو ِِْذ ئ ل ْ َ ِه َي ا ن Artinya: Tuntutlah ilmu pengetahuan semenjak dari buaian hingga ke liang lahat (alHadis). Prinsip pendidikan yang dilaksanakan dewasa ini adalah konsep pendidikan seumur hidup (Long Life of Education). Hal ini menunjukkan bahwa dari sisi konsep nilai sesungguhnya pendidikan islam tidak dikenal adanya batasbatas pendidikan. Bukankah pendidikan adalah bagian dari upaya pertolongan orang dewasa (pendidik) kepada anak didik. Bukankah manusia semenjak dia lahir dan sepanjang hidupnya dia membutuhkan pertolongan orang lain?, maka semakin banyak kebutuhan hidup yang dibutuhkannya semakin banyak pula seseorang membutuhkan pendidikan. Bahan Evaluasi 1. Jelaskan Pengertian Pendidikan Islam secara etimologis dan terminologis! 2. Kemukakan beberapa pengertian pendidikan Islam yang dirumuskan oleh para ahli! 3. Sebutkan dan uraikan beberapa ruang lingkup dari Pendidikan Islam! 4. Sebutkan Periodesasi perkembangan Pendidikan Islam! 5. Mengapa disebut periodesasi perkembangan pendidikan Islam? 6. Uraikan secara lengkap sistem periodesasi perkembangan pendidikan Islam! 7. Sebutkan ayat-ayat Al-Qur‟an yang berbicara tentang pendidikan! 8. Kemukakan hadis-hadis yang berkaitan dengan pendidikan! 9. Sebutkan dan uraikan fungsi-fungsi pendidikan Islam! 10. Mengapa sejarah perkembangan pendidikan Islam di mulai sejak diangkatnya nabi Muhammad saw sebgai nabi dan rasul?


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 232 BAGIAN KEDELAPAN METODIK KHUSUS TADRIS BAHASA INGGRIS TIM Penyusun Dr. Hj. Nur Asmawati, S.Ag., M.Hum. Rasmi, S.Pd., M.Pd.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 233 KISI-KISI MATERI UJIAN KOMPREHENSIF JURUSAN TADRIS BAHASA INGGRIS (TBI) No Standar Kompetensi Rumpun Keilmuan Materi Pokok Indikator 1 Memiliki pengetahuan ilmu pendidik-an dan pem-belajaran Ilmu-ilmu kependidikan (pedagogik) dan pembe-lajaran 1. Konsep dasar pen-didikan dan pembelajaran 2. Pendekatan , metode, strategi, dan prosedur dalam pembelajaran 3. Perangkat pembelajaran (prota, prosem, silabus, RPP) Mahasiswa mampu: 1. Menjelaskan hakekat dan prinsipprinsip pendidikan dan pembelajaran 2. Menjelaskan perbedaan antara metode, strategi, dan prosedur pembelajaran. 3. Menyusun perangkat pembelajaran. 2 Memahami ilmu kebahasaan dan pembelajaran bahasa Inggris Language skills, teaching method, and linguistics 1. Teori tentang keterampilan berbahasa (language skills) 2. Teori tentang metode pengajaran bahasa Inggris 3. Teori tentang linguistics Mahasiswa mampu menjelaskan: 1. Teori; menyimak, berbicara, membaca, dan menu-lis (listening, speaking, reading, dan writing). 2. Teori pengajaran Bahasa Inggris: CLT, TBLT, TPR, Grammar Translation, Audiolingal, dll. 3. Cabang ilmu linguistics: phonology, morphology, syntax, semantics, dll. 3 Memahami ilmu penelitian bahasa Inggris Research on English language teaching (ELT) 1. Approach dan design penelitian 2. Sistematika penulisan penelitian 3. Manfaat penelitian Mahasiswa mampu: 1. Memahami approach dalam penelitian (Qualitative/Quantitative) 2. Memahami design dalam penelitian 3. Memahami sistematika penulisan penelitian 4. Memahami manfaat penelitian


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 234 BAB I PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN 1.1. Hakikat Pendidikan dan Pembelajaran Pendidikan itu suatu proses kemanusiaan dan pemanusiaan. Istilah kemanusiaan secara leksikal bermakna sifat-sifat manusia, berperi-laku selayaknya perilaku normal manu-sia, atau bertindak dalam logika berpikir sebagai manusia. Pemanusiaan secara leksikal bermakna proses menjadikan manusia agar memiliki rasa kemanu-siaan, menjadi manusia dewasa, manu-sia dalam makna seutuhnya. Artinya, dia menjadi riil manusia yang mampu menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara penuh sebagai manusia.Hakikat pendidikan itu sendiri lebih berorientasi kepada terbentuknya karakter (kepribadian/jatidiri) seseorang. Setiap tahapan pendidikan dievaluasi dan dipantau dengan saksama sehingga menjadi jelas apa yang menjadi potensi positif seseorang yang harus dikembangkan dan apa yang menjadi faktor negatif seseorang yang perlu disikapi. Akar dari karakter ada dalam cara berpikir dan cara merasa Sedangkan pembelajaran dapat dimaknai sebagai upaya yang dilakukan seseorang (guru) untuk membelajarkan siswa.Dalam aplikasinya, pembelajaran adakah suatu sistem yang terdiri atas tujuan pembelajaran, materi ajar, strategi pembelajaran (metode, media, waktu, system penyampaian), serta asesmen belajar.Kedua pendapat diatas dapat disimpulkan, bahwa pembelajaran adalah suatu kegiatan yang melibatkan seseorang dalam upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai positif dengan memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar. 1.2. Prinsip-prinsip Pendidikan dan Pembelajaran 1.2.1. Prinsip Kesiapan (Readiness) Proses belajar dipengaruhi kesiapan murid, yang dimaksud dengan kesiapan atau readiness ialah kondisi individu yang memungkinkan ia dapat belajar. Berkenaan dengan hal itu terdapat berbagai macam taraf kesiapan belajar untuk suatu tugas khusus. Seseorang siswa yang belum siap untuk


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 235 melaksanakan suatu tugas dalam belajar akan mengalami kesulitan atau malah putus asa. Yang termasuk kesiapan ini ialah kematangan dan pertumbuhan fisik, intelegensi latar belakang pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar. Berdasarkan dengan prinsip kesiapan ini dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut: 1. Seorang individu akan dapat belajar dengan sebaik-baiknya bila tugas-tugas yang diberikan kepadanya erat hubungannya dengan kemampuan, minat dan latar belakangnya. 2. Kesiapan untuk belajar harus dikaji bahkan diduga. Hal ini mengandung arti bila seseorang guru ingin mendapat gambaran kesiapan muridnya untuk mempelajari sesuatu, ia harus melakukan pengetesan kesiapan. 3. Jika seseorang individu kurang memiliki kesiapan untuk sesuatu tugas, kemudian tugas itu seyogianya ditunda sampai dapat dikembangkannya kesiapan itu atau guru sengaja menata tugas itu sesuai dengan kesiapan siswa. 4. Kesiapan untuk belajar mencerminkan jenis dan taraf kesiapan, misalnya dua orang siswa yang memiliki kecerdasan yang sama mungkin amat berbeda dalam pola kemampuan mentalnya. 5. Bahan-bahan, kegiatan dan tugas seyogianya divariasikan sesuai dengan faktor kesiapan kognitif, afektif dan psikomotor dari berbagai individu. 1.2.2. Prinsip Motivasi (Motivation) Tujuan dalam belajar diperlukan untuk suatu proses yang terarah. Motivasi adalah suatu kondisi dari pelajar untuk memprakarsai kegiatan, mengatur arah kegiatan itu dan memelihara kesungguhan. Secara alami anak-anak selalu ingin tahu dan melakukan kegiatan penjajagan dalam lingkungannya. Rasa ingin tahu ini seyogianya didorong dan bukan dihambat dengan memberikan aturan yang sama untuk semua anak. Berkenaan dengan motivasi ini ada beberapa prinsip yang seyogianya kita perhatikan.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 236 1. Individu bukan hanya didorong oleh kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan biologi, soaial dan emosional. Tetapi disamping itu ia dapat diberi dorongan untuk mencapai sesuatu yang lebih dari yang dimiliki saat ini. 2. Pengetahuan tentang kemajuan yang dicapai dalam memenuhi tujuan mendorong terjadinya peningkatan usaha. Pengalaman tentang kegagalan yang tidak merusak citra diri siswa dapat memperkuat kemampuan memelihara kesungguhannya dalam belajar. 3. Dorongan yang mengatur perilaku tidak selalu jelas bagi para siswa. Contohnya seorang murid yang mengharapkan bantuan dari gurunya bisa berubah lebih dari itu, karena kebutuhan emosi terpenuhi daripada karena keinginan untuk mencapai seauatu. 4. Motivasi dipengaruhi oleh unsur-unsur kepribadian seperti rasa rendah diri, atau keyakinan diri. Seorang anak yang temasuk pandai atau kurang juga bisa menghadapi masalah. 5. Rasa aman dan keberhasilan dalam mencapai tujuan cenderung meningkatkan motivasi belajar. Kegagalan dapat meningkatkan atau menurunkan motivasi tergantung pada berbagai faktor. Tidak bisa setiap siswa diberi dorongan yang sama untuk melakukan sesuatu. 6. Motivasi bertambah bila para pelajar memiliki alasan untuk percaya bahwa sebagian besar dari kebutuhannya dapat dipenuhi. 7. Kajian dan penguatan guru, orang tua dan teman seusia berpengaruh terhadap motivasi dan perilaku. 8. Insentif dan hadiah material kadang-kadang berguna dalam situasi kelas, memang ada bahayanya bila anak bekerja karena ingin mendapat hadiah dan bukan karena ingin belajar. 9. Kompetisi dan insentif bisa efektif dalam memberi motivasi, tapi bila kesempatan untuk menang begitu kecil kompetisi dapat mengurangi motivasi dalam mencapai tujuan. 10. Sikap yang baik untuk belajar dapat dicapai oleh kebanyakan individu dalam suasana belajar yang memuaskan.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 237 11. Proses belajar dan kegiatan yang dikaitkan kepada minat pelajar saat itu dapat mempertinggi motivasi. 1.2.3. Prinsip Persepsi Seseorang cenderung untuk percaya sesuai dengan bagaimana ia memahami situasi”. Persepsi adalah interpretasi tentang situasi yang hidup. Setiap individu melihat dunia dengan caranya sendiri yang berbeda dari yang lain. Persepsi ini mempengaruhi perilaku individu. Seseorang guru akan dapat memahami muridmuridnya lebih baik bila ia peka terhadap bagaimana cara seseorang melihat suatu situasi tertentu. Berkenaan dengan persepsi ini ada beberapa hal-hal penting yang harus kita perhatikan: 1. Setiap pelajar melihat dunia berbeda satu dari yang lainnya karena setiap pelajar memiliki lingkungan yang berbeda. Semua siswa tidak dapat melihat lingkungan yang sama dengan cara yang sama. 2. Seseorang menafsirkan lingkungan sesuai dengan tujuan, sikap, alasan, pengalaman, kesehatan, perasaan dan kemampuannya. 3. Cara bagaimana seseorang melihat dirinya berpengaruh terhadap perilakunya. Dalam sesuatu situais seorang pelajar cenderung bertindak sesuai dengan cara ia melihat dirinya sendiri.. 4. Para pelajar dapat dibantu dengan cara memberi kesempatan menilai dirinya sendiri. Guru dapat menjadi contoh hidup. Perilaku yang baik bergantung pada persepsi yang cermat dan nyata mengenai suatu situasi. Guru dan pihak lain dapat membantu pelajar menilai persepsinya. 5. Persepsi dapat berlanjut dengan memberi para pelajar pandangan bagaimana hal itu dapat dilihat . 6. Kecermatan persepsi harus sering dicek. Diskusi kelompok dapat dijadikan sarana untuk mengklasifikasi persepsi mereka. 7. Tingkat perkembangan dan pertumbuhan para pelajar akan mempengaruhi pandangannya terhadap dirinya. 1.2.4. Prinsip Perbedaan Individual “Proses belajar bercorak ragam bagi setiap orang”


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 238 Proses pengajaran seyogianya memperhatikan perbedaan indiviadual dalam kelas sehingga dapat memberi kemudahan pencapaian tujuan belajar yang setinggi-tingginya. Pengajaran yang hanya memperhatikan satu tingkatan sasaran akan gagal memenuhi kebutuhan seluruh siswa. Karena itu seorang guru perlu memperhatikan latar belakang, emosi, dorongan dan kemampuan individu dan menyesuaikan materi pelajaran dan tugas-tugas belajar kepada aspek-aspek tersebut. Berkenaan dengan perbedaan individual ada beberapa hal yang perlu diingat: 1. Para pelajar harus dapat dibantu dalam memahami kekuatan dan kelemahan dirinya dan selanjutnya mendapat perlakuan dan pelayanan kegiatan, tugas belajar dan pemenuhan kebutuhan yang berbeda-beda. 2. Para pelajar perlu mengenal potensinya dan seyogianya dibantu untuk merenncanakan dan melaksanakan kegiatannya sendiri. 3. Para pelajar membutuhkan variasi tugas, bahan dan metode yang sesuai dengan tujuan , minat dan latarbelakangnya. 4. Pelajar cenderung memilih pengalaman belajar yang sesuai dengan pengalamannya masa lampau yang ia rasakan bermakna untuknya. Setiap pelajar biasanya memberi respon yang berbeda-beda karena memang setiap orang memiliki persepsi yang berbeda mengenai pengalamannya. 5. Kesempatan-kesempatan yang tersedia untuk belajar lebih diperkuat bila individu tidak merasa terancam lingkungannya, sehingga ia merasa merdeka untuk turut ambil bagian secara aktif dalam kegiatan belajar. Manakala para pelajar memiliki kemerdekaan untuk berpikir dan berbuat sebagai individu, upaya untuk memecahkan masalah motivasi dan kreativitas akan lebih meningkat. 6. Pelajar yang didorong untuk mengembangkan kekuatannya akan mau belajar lebih giat dan sungguh-sungguh. Tetapi sebaliknya bila kelemahannya yang lebih ditekankan maka ia akan menunjukkan ketidakpuasannya terhadap belajar.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 239 1.2.5. Prinsip Transfer dan Retensi “Belajar dianggap bermanfaat bila seseorang dapat menyimpan dan menerapkan hasil belajar dalam situasi baru”. Apa pun yang dipelajari dalam suatu situasi pada akhirnya akan digunakan dalam situasi yang lain. Prosesa tersebut dikenal dengan proses transfer, kemampuan seseorang untuk menggunakan lagi hasil belajar disebut retensi. Bahan-bahan yang dipelajari dan diserap dapat digunakan oleh para pelajar dalam situasi baru. Berkenaan dengan proses transfer dan retensi ada beberapa prinsip yang harus kita ingat. 1. Tujuan belajar dan daya ingat dapat memperkuat retensi. Usaha yang aktif untuk mengingat atau menugaskan sesuatu latuhan untuk dipelajari dapat meningkatkan retensi. 2. Bahan yang bermakna bagi pelajar dapat diserap lebih baik. 3. Retensi seseorang dipengaruhi oleh kondisi fisik dan psikis dimana proses belajar itu terjadi. Karena itu latihan seyogianya dilakukan dalam suasana yang nyata. 4. Latihan yang terbagi-bagi memungkinkan retensi yang baik. Suasana belajar yang dibagi ke dalam unit-unit kecil waktu dapat menghasilkan proses belajar dengan retensi yang lebih baik daripada proses belajar yang berkepanjangan. Waktu belajar dapat ditentukan oleh struktur-struktur logis dari materi dan kebutuhan para pelajar. 5. Penelaahan bahan-bahan yang faktual, keterampilan dan konsep dapat meningkatkan retensi dan nilai transfer. 6. Proses belajar cenderung terjadi bila kegiatan-kegiatan yang dilakukan dapat memberikan hasil yang memuaskan. 7. Sikap pribadi, perasaan atau suasana emosi para pelajar dapat menghasilkan proses pelupaan hal-hal tertentu. Karena itu bahan-bahan yang tidak disepakati tidak akan dapat diserap sebaik bahan-bahan yang menyenangkan.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 240 8. Proses saling mempengaruhi dalam belajar akan terjadi bila bahan baru yang sama dipelajari mengikuti bahan yang lalu. Kemungkinan lupa terhadap bahan yang lama dapat terjadi bila bahan baru yang sama yang dituntut. 9. Pengetahuan tentang konsep, prinsip dan generalisasi dapat diserap dengan baik dan dapat diterapkan lebih berhasil dengan cara menghubung-hubungkan penerapan prinsip yang dipelajari dan dengan memberikan illustrasi unsurunsur yang serupa. 10. Transfer hasil belajar dalam situasi baru dapat lebih mendapat kemudahan bila hubungan-hubungan yang bermanfaat dalam situasi yang khas dan dalam situasi yang agak sama dibuat. 11. Tahap akhir proses seyogyanya memasukkan usaha untuk menarik generalisasi, yang pada gilirannya nanti dapat lebih memperkuat retensi dan transfer. 1.2.6. Prinsip Belajar Kognitif “Belajar kognitif melibatkan proses pengenalan dan atau penemuan”. Belajar kognitif mencakup asosiasi antar unsur, pembentukan konsep, penemuan masalah, dan keterampilan memecahkan masalah yang selanjutnya membentuk perilaku baru, berpikir, menalar, menilai dan berimajinasi merupakan aktivitas mental yang berkaitan dengan proses belajar kognitif. Proses belajar itu dapat terjadi pada berbagai tingkat kesukaran dan menuntut berbagai aktivitas mental. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam belajar kognitif. 1. Perhatian harus dipusatkan kepada aspek-aspek lingkungan yang relevan sebelum proses-proses belajar kognitif terjadi. Dalam hubungan ini pelajar perlu mengarahkan perhatian yang penuh agar proses belajar kognitif benarbenar terjadi. 2. Hasil belajar kognitif akan bercariasi sesuai dengan taraf dan jenis perbedaan individual yang ada. 3. Bentuk-bentuk kesiapan perbendaharaan kata, kemampuan membaca, kecakapan dan pengalaman berpengaruh langsung terhadap proses belajar kognitif.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 241 4. Pengalaman belajar harus diorganisasikan ke dalam satuan-satauan atau unitunit yang sesuai. 5. Bila menyajikan konsep, kebermaknaan dari konsep amatlah penting . Perilaku mencari, penerapan, pendefinisian resmi dan penilaian sangat diperlukan untuk menguji bahwa suatu konsep benar-benar bermakna. 6. Dalam pemecahan masalah para pelajar harus dibantu untuk mendefinisikan dan membatasi lingkup masalah, menemukan informasi yang sesuai, menafsirkan dan menganalisis masalah dan memungkinkan berpikir menyebar (divergent thinking). 7. Perhatian terhadap proses mental yang lebih daripada terhadap hasil kognitif dan afektif akan lebih memungkinkan terjadimya proses pemecahan masalah, analisis, sintesis dan penalaran. 1.2.7. Prinsip Belajar Afektif “ Proses belajar afektif seseorang menentukn bagaimana ia menghubungkan dirinya dengan pengalaman baru”. Belajar afektif mencakup nilai emosi, dorongan, minat dan sikap. Dalam banyak hal pelajar mungkin tidak menyadari belajar afektif. Sesungguhnya proses belajar afektif meliputi dasar yang asli untuk dan merupakan bentuk dari sikap, emosi dorongan, minat dan sikap individu. Berkenaan dengan hal-hal tersebut diatas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses belajar afektif. 1. Hampir semua aspek kehidupan mengandung aspek afektif. 2. Hal bagaimana para pelajar menyesuaikan diri dan memberi reaksi terhadap situasi akan memberi dampak dan pengaruh terhadap proses belajar afektif. 3. Suatu waktu, nilai-nilai yang penting yang diperoleh pada masa kanak-kanak akan melekat sepanjang hayat. Nilai, sikap dan perasaan yang tidak berubah akan tetap melekat pada keseluruhan proses perkembangan. 4. Sikap dan nilai sering diperoleh melalui proses identifikasi dari orang lain dan bukan hasil dari belajar langsung. 5. Sikap lebih mudah dibentuk karena pengalaman yang menyenangkan.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 242 6. Nilai-nilai yang ada pada diri individu dipengaruhi oleh standar perilaku kelompok. 7. Proses belajar di sekolah dan kesehatan mental memiliki hubungan yang erat. Pelajar yang memiliki kesehatan mental yang baik akan dapat belajar lebih mudah daripada yang memiliki masalah. 8. Belajar afektif dapat dikembangkan atau diubah melalui interaksi guru dengan kelas. 9. Pelajar dapat dibantu agar lebih matang dengan cara membantu mereka mengenal dan memahami sikap, peranan dan emosi. Penghargaan terhadap sikap, perasaan dan frustasi sangat perlu untuk membantu pelajar memperoleh pengertian diri dan kematangannya. 1.2.8. Proses Belajar Psikomotor Proses belajar psikomotor individu menentukan bagaimana ia mampu mengendalikan aktivitas ragawinya. Belajar psikomotor mengandung aspek mental dan fisik. Berkenaan dengan hal itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. 1. Didalam tugas suatu kelompok akan menunjukkan variasi dalam kemampuan dasar psikomotor. 2. Perkembangan psikomotor anak tertentu terjadi tidak beraturan. 3. Struktur ragawi dan sistem syaraf individu membantu menentukan taraf penampilan psikomotor. 4. Melalui bermain dan aktivitas nonformal para pelajar akan memperoleh kemampuan mengontrol gerakannya lebih baik. 5. Dengan kematangan fisik dan mental kemampuan pelajar untuk memadukan dan memperhalus gerakannya akan lebih dapat diperkuat. 6. Faktor lingkungan memberi pengaruh terhadap bentuk dan cdakupan penampilan psikomotor individu. 7. Penjelasan yang baik, demonstrasi dan partisipasi aktif pelajar dapat menambah efisiensi belajar psikomotor.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 243 8. Latihan yang cukup yang diberi dalam rentan waktu tertentu dapat membantu proses belajar psikomotor. Latihan yang bermakna seyogianya mencakup semua urutan lengkap aktivitas psikomotor dan tempo tidak bisa hanya didasarkan pada faktor waktu semata-mata. 9. Tugas-tugas psikomotor yang terlalu sukar bagi pelajar dapat menimbulkan frustasi (keputusasaan) dan kelelahan yang lebih cepat. 1.2.9. Prinsip Evaluasi Jenis cakupan dan validitas evaluasi dapat mempengaruhi proses belajar saat ini dan selanjutnya.Pelaksanaan latihan evaluasi memungkinkan bagi individu untuk menguji kemajuan dalam pencapaian tujuan. Penilaian individu terhadap proses belajarnya dipengaruhi oleh kebebasan untuk menilai. Evaluasi mencakup kesadaran individu mengenai penampilan, motivasi belajar dan kesiapan untuk belajar. Individu yang berinteraksi dengan yang lain pada dasarnya ia mengkaji pengalaman belajarnya dan hal ini pada gilirannya akan dapat meningkatkan kemampuannya untuk menilai pengalamannya. Berkenaan dengan evaluasi ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. 1. Evaluasi memberi arti pada proses belajar dan memberi arah baru pada pelajar. 2. Bila tujuan dikaitkan dengan evaluasi maka peran evaluasi begitu penting bagi pelajar. 3. Latihan penilaian guru dapat mempengaruhi bagaimana pelajar terlibat dalam evaluasi dan belajar. 4. Evaluasi terhadap kemajuan pencapaian tujuan akan lebih mantap bila guru dan murid saling bertukar dan menerima pikiran, perasaan dan pengamatan. 5. Kekurangan atau ketidaklengkapan evaluasi dapat mengurangi kemampuan guru dalam melayani muridnya. Sebaliknya evaluasi yang menyeluruh dapat memperkuat kemampuan pelajar untuk menilai dirinya. 6. Jika tekanan evaluasi guru diberikan terus menerus terhadap penampilan siswa, pola ketergantungan penghindaran dan kekerasan akan berkembang. 7. Kelompok teman sebaya berguna dalam evaluasi.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 244 1.3. Metode, Strategi, dan Prosedur Pembelajaran 1.3.1. Metode Pembelajaran Metode pembelajaran merupakan bagian terpenting dalam melaksanakan proses belajar. Pembelajaran sebaiknya dilaksanakan dengan cara menarik yang mampu membangkitkan minat siswa untuk melaksanakan pembelajaran. Metode secara harfiah berarti “cara”. Metode diartikan sebagai suatu cara atau dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Kata “pembelajaran” berarti segala upaya yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri peserta didik. Jadi, metode pembelajaan adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri peserta didik dalam upaya untuk mencapai tujuan. Ada banyak macam metode yang dapat dipakai oleh guru dalam proses pembelajaran. Pemilihan metode yang tepat dapat membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran atau melakukan internalisasi isi atau materi pembelajaran. Macam-macam metode antara lain: metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode diskusi kelompok, metode demonstrasi, metode permainan (games), metode kisah/cerita, team teaching, peer teaching, metode karya wisata, metode tutorial, metode suri tauladan, metode kerja kelompok, metode penugasan, brain storming (curah pendapat), metode latihan, metode eksperimen, metode pembelajaran dengan modul, metode praktik lapangan, micro teaching, dan metode simposium. 1.3.2. Strategi Pembelajaran Strategi pembelajaran merupakan suatu cara yang digunakan secara prosedural dan sistematis dalam suatu proses kegiatan belajar mengajar, dalam rangka meningkatkan kualitas hasil yang diharapkan dengan kata lain cara untuk meningkatkan hasil belajar yang lebih baik dari sebelumnya. Contoh: jika kelas berisi siswa pandai menggunakan pendekatan scientifik (keilmiahan) maka model yg dipakai Discovery learning dalam pelaksanaannya untuk siswa ini menggunakan strategi mengamati atau mengobservasi terlebih secara individual atau berkelompok, dan mendiskusikannya lalu menemukan suatu fakta baru yang tidak terduga sebelumnya atau dapat menggunakan strategi menjelaskan kemudian


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 245 siswa memaparkan atau sebaliknya. Secara teori berdasarkan jenisnya strategi pembelajaran bisa dikelompokkan ke dalam dua bagian, pertama, expositiondiscovery learning, yang cenderung menggunakan cara menjelaskan secara terperinci materi yang akan dipelajari, dan meminta siswa untuk melakukan observasi, eksperimen, atau tindakan ilmiah untuk mendapatkan kesimpulan.Kedua, group-individual learning,adalah strategi pembelajaran melibatkan lebih dari satu siswa yang dibagi dalam kelompok.Sedangkan jika ditinjau dari cara pengolahan dan penyajiannya, strategi pembelajaran bisa dibedakan menjadi 2 macam, yaitu strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif. 1.3.3. Prosedur Pembelajaran Pembelajaran adalah sebuah kegiatan yang tidak bisa dilakukan secara sembarangan, tetapi harus mengikuti prosedur tertentu. Secara umum, prosedur atau langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui 3 tahapan yaitu : (1) kegiatan pendahuluan; (2) kegiatan inti; (3) kegiatan akhir dan tindak lanjut: A. Pendahuluan Hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan pendahuluan, yaitu : 1. Menciptakan Kondisi Awal Pembelajaran; meliputi: membina keakraban, menciptakan kesiapan belajar peserta didik dan menciptakan suasana belajar yang demokratis. 2. Apersepsi meliputi: kegiatan mengajukan pertanyaan untuk mengaitkan materi yang akan dibelajarkan dengan materi atau pengetahuan yang telah dikuasai siswa sebelumnya, memberikan komentar atas jawaban yang diberikan peserta didik dan membangkitkan motivasi dan perhatian peserta didik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Dalam kegiatan pendahuluan, perlu dilakukan pemanasan dan apersepsi, didalamnya mencakup: (1) bahwa pelajaran dimulai dengan hal-hal yang diketahui dan dipahami peserta didik; (2) motivasi peserta didik ditumbuhkan dengan bahan ajar yang menarik dan berguna bagi peserta didik; dan (3) peserta didik didorong agar tertarik untuk mengetahui hal-hal yang baru. B. Kegiatan Inti


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 246 Kegiatan inti pada dasarnya merupakan kegiatan untuk mencapai tujuan pembelajaran atau proses untuk pencapaian kompetensi, yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik, degan menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik pesertadidikdan materi pelajaran. Hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan inti, yaitu : (1) menyampaikan tujuan yang ingin dicapai, baik secara lisan maupun tulisan, (2) menyampaikan alternatif kegiatan belajar yang akan ditempuh, dan (3) membahas materi. Departemen Pendidikan Nasional mengemukakan tiga bentuk kegiatan ini yaitu: (1) eksplorasi; (2) konsolidasi pembelajaran, dan (3) pembentukan sikap dan perilaku. 1. Kegiatan eksplorasi, merupakan usaha memperoleh atau mencari informasi baru. Yang perlu diperhatikan dalam kegiatan eksplorasi, yaitu: (a) memperkenalkan materi/keterampilan baru; (b) mengaitkan materi dengan pengetahuan yang sudah ada pada peserta didik; (c) mencari metodologi yang paling tepat dalam meningkatkan penerimaaan peserta didik akan materi baru tersebut. 2. Konsolidasi, merupakan merupakan negosiasi dalam rangka mencapai pengetahuan baru. Dalam kegiatan konsolidasi pembelajaran yang perlu diperhatikan adalah : (a) melibatkan peserta didik secara aktif dalam menafsirkan dan memahami materi ajar baru; (b) melibatkan peserta didik secara aktif dalam pemecahan masalah; (c) meletakkan penekanan pada kaitan struktural, yaitu kaitan antara materi pelajaran yang baru dengan berbagai aspek kegiatan dan kehidupan di dalam lingkungan; dan (d) mencari metodologi yang paling tepat sehingga materi ajar dapat terproses menjadi bagian dari pengetahuan peserta didik. 3. Pembentukan sikap dan perilaku merupakan pemrosesan pengetahuan menjadi nilai, sikap dan perilaku. Yang perlu diperhatikan dalam pembentukan sikap dan perilaku, adalah : (a) peserta didik didorong untuk menerapkan konsep atau


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 247 pengertian yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari; (b) peserta didik membangun sikap dan perilaku baru dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pengertian yang dipelajari; dan (c) cari metodologi yang paling tepat agar terjadi perubahan sikap dan perilaku peserta didik. B. Kegiatan Akhir dan Tindak Lanjut Pembelajaran Hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan akhir dan tindak lanjut pembelajaran, yaitu: (a) penilaian akhir; (b) analisis hasil penilaian akhir; (c) tindak lanjut; (d) mengemukakan topik yang akan dibahas pada waktu yang akan datang; dan (e) menutup kegiatan pembelajaran. Terdapat dua kegiatan pokok pada akhir pembelajaran, yaitu : (a) pemberian tugas dan (b) post tes. Sementara itu, Departemen Pendidikan Nasional mengemukakan dalam kegiatan akhir perlu dilakukan penilaian formatif, dengan memperhatikan hal-hal berikut: (a) kembangkan cara-cara untuk menilai hasil pembelajaran peserta didik; (b) gunakan hasil penilaian tersebut untuk melihat kelemahan atau kekurangan peserta didik dan masalah-masalah yang dihadapi guru; dan (c) cari metodologi yang paling tepat yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. 1.4. Perangkat Pembelajaran 1.4.1. Program Tahunan (Prota) Prota adalah rencana penetapan alokasi waktu satu tahun untuk mencapai tujuan (SK dan KD) yang telah ditetapkan.Penetapan alokasi waktu diperlukan agar seluruh kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum seluruhnya dapat dicapai oleh siswa. Atau dengan kata lain, Prota adalah merupakan program umum tematik terpadu untuk setiap kelas yang dikembangkan oleh guru. Program Tahunan tersebut sebagai rencana umum pelaksanaan pembelajaran muatan mata pelajaran setelah diketahui kepastian jumlah jam pelajaran efektif dalam satu tahun. Program tahunan perlu dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru sebelum tahun pelajaran, karena merupakan pedoman bagi pengembangan programprogram berikutnya, yakni Program Semester, Silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Setelah kita memahami arti dari Program Tahunan (Prota) ini, selanjutnya kita masuk kepada bahasan tentang hal-hal/ komponen apa saja yang wajib ada dalam hal penyusunan sebuah Prota ini.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 248 Baiklah, dalam menyusun Program Tahunan (Prota), komponen minimal yang wajib dipenuhi adalah sebagai berikut; 1. Identitas (mata pelajaran, kelas, tahun pelajaran) 2. Format isian ( tema, sub tema, dan alokasi waktu) 3. Langkah Menyusun Prota Pada item nomer 3 yakni Langkah Menyusun Prota, ada 4 hal yang harus dilalui/ dipenuhi yakni; - Mengidentifikasi jumlah kompetensi dasar dan indikator dalam satu tahun - Mengidentifikasi keluasan dan kedalaman kompetensi dasar dan indikator - Melakukan pemetaan kompetensi dasar untuk setiap semester - Menentukan alokasi waktu untuk masing-masing kompetensi dengan memperhatikan pekan efektif. Fungsi Program Tahunan (Prota) dalam kegiatan pendidikan/ pembelajaran: 1. Sebagai pedoman dalam menyusun Promes, program suatu pelajaran dan juga sebagai persiapan dalam mengajar agar lebih rapi dan terorganisir secara lebih matang. 2. Sebagai pedoman dalam membuat Kaldik. 3. Sebagai acuan dalam rangka optimalisasi, efisiensi dan efektivitas penggunaan waktu belajar efektif yang ada. 1.4.2. Program Semester (Prosem/Promes) Prosem merupakan penjabaran dari program tahunan yang berisi hal-hal yang ingin dicapai pada semester tersebut.Program semester (Prosem) adalah rumusan kegiatan belajar mengajar untuk satu semester yang kegiatannya dibuat berdasarkan pertimbangan alokasi waktu yang tersedia, jumlah pokok bahasan yang ada dalam semester tersebut dan frekuensi ujian yang disesuaikan dengan kalender pendidikan. Promes akan mempermudah guru dalam alokasi waktu mengajarkan materi yang harus dicapai dalam semester tersebut. Atau dengan pengertian lainnya yakni bahwa Program semester adalah merupakan penjabaran dari program tahunan sehingga program semester (Promes) ini tidak bisa disusun sebelum tersusun program tahunan (Prota). Prosem berisikan garis-


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 249 garis besar mengenai hal-hal yang hendak dilaksanakan dan dicapai dalam semester tersebut. Nah, kemudian di dalam Prosem ini umumnya berisikan hal-hal sebagai berikut di bawah ini; 1. Identitas (satuan pendidikan, mata pelajaran, kelas/semester, tahun pelajaran) 2. Format isian (tema, sub tema, pembelajaran ke alokasi waktu, dan bulan yang terinci per minggu, dan keterangan yang diisi kapan pelaksanaan pembelajaran berlangsung 3. Langkah menyusun Prosem Pada item nomer 3 tentang langkah menyusun Prosem, ada beberapa langkah yang harus dikerjakan, yaitu : - Menginput/ memasukkan KD, topik dan sub topik bahasan dalam format Prosem - Menetapkan jumlah jam [pada kolom minggu] dan jumlah tatap muka perminggu untuk setiap mata pelajaran - Mengalokasikan waktu sesuai kebutuhan bahasan topik pada kolom minggu dan bulan - Membuat catatan/ keterangan untuk bagian-bagian yang memerlukan Fungsi Program Semester (Prosem) dalam kegiatan pendidikan/ pembelajaran: 1. Menyederhanakan/ memudahkan tugas seorang guru dalam pembelajaran selama satu semester. 2. Sebagai pedoman/ acuan arah kegiatan dalam mencapai tujuan pembelajaran yang diprogramkan. 3. Sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran. 4. Sebagai pedoman kerja bagi guru sekaligus bagi murid 5. Sebagai parameter efektivitas dalam suatu proses pembelajaran 6. Sebagai bahan penyusunan data agar terjadi keseimbangan kerja 7. Menghemat waktu, tenaga, alat-alat dan biaya karena berlangsungnya program kerja yang efektif dan efisien serta terukur.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 250 1.4.3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai suatu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup rencana pembelajaran paling luas mencakup satu kompetensi dasar yang terdiri atas satu atau beberapa indikator untuk satu kali pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan disatuan pendidikan (Rusman, 2012). Dalam pedoman umum pembelajaran kurikulum 2013 disebutkan bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah program perencanaan yang disusun sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk setiap kali pertemuan.RPP dikembangkan berdasarkan silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai kompetensi dasar. Adapaun manfaat dari RPP adalah 1. Sebagai panduan dan arahan proses pembelajaran 2. Untuk memperediksi keberhasilan yang akan dicapai dalam proses pembelajaran. 3. Untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi. 4. Untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar secara optimal. 5. Untuk mengorganisir kegiatan pembelajaran secara sistematis (Kurniasih dan Sani, 2014:1-2). Komponen RPP Rencana Pelaksanaan Pembelajaran: 1. Identitas mata pelajaran, meliputi satuan pendidikan, kelas, semester,progra m studi, mata pelajaran (tema pelajaran), dan jumlah pertemuan. 2. Perumusan Indikator disesuaikan dengan KI dan KD, serta kesesuaian dengan kata kerja operasional melalui kompetensi yang diukur. 3. Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. 4. Pemilihan materi ajar disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, dan alokasi waktu.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 251 5. Pemilihan sumber belajar yang disesuaikan dengan KI dan KD, pendekatan scientific, dan karakteristik peserta didik. 6. Pemilihan media belajar disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, materi dan pendekatan scientific, serta karakteristik peserta didik. 7. Model pembelajaran disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan pendekatan scientific. 8. Skenario pembelajaran dengan menampilkan kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Disesuaikan dengan pendekatan scientific, penyajian sistematika materi, alokasi waktu dengan cakupan materi. Penilaian disesuaikan dengan teknik dan bentuk penilaian autentik dengan indikator pencapaian kompetensi, kunci jawaban dengan soal, dan kesesuaian penskoran dengan soal.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 252 BAB II METODE PENGAJARAN BAHASA INGGRIS DAN LINGUISTIK 2.1. Metode Pengajaran Bahasa Inggris 2.1.1. Direct Method Direct methodyaitu berasal dari kata Direct yang artinya langsung. Direct method atau model langsung yaitu suatu cara mengajikan materi pelajaran bahasa asing di mana guru langsung menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa pengantar, dan tanpa menggunakan bahasa anak didik sedikit pun dalam mengajar. Jika ada suatu kata-kata yang sulit dimengerti oleh anak didik, maka guru dapat mengartikan dengan menggunakan alat peraga, mendemontstrasikan, menggambarkan dan lain-lain. Metode ini berpijak dari pemahaman bahwa pengajaran bahasa asing tidak sama halnya dengan mengajar ilmu pasti alam. Jika mengajar ilmu pasti, siswa dituntut agar dapat menghafal rumus-rumus tertentu, berpikir, dan mengingat, maka dalam pengajaran bahasa, siswa/anak didik dilatih praktek langsunng mengucapkan kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu. Sekalipun kata-kata atau kalimat tersebut mula-mula masih asing dan tidak dipahami anak didik, namun sedikit demi sedikit kata-kata dan kalimat itu akan dapat diucapkan dan dapat pula mengartikannya. 2.1.2. Grammar Translation Method (GTM) GTM merupakan suatu metode perpaduan antara kegiatan atau metode Grammar dan Translation.Dalam metode ini siswa diharapkan mampu menerjemahkan suatu kalimat bukan dengan mengartikan saja tetapi mereka juga mampu memahami maksud dan menganalisis susunan gramatikal dari kalimat tersebut.Metode GTM sekarang ini masih sering digunakan di sekolah-sekolah dari jenjang Sekolah Dasar(SD),Sekolah Menengah Pertama(SMP) maupun Sekolah Menengah Atas(SMA).Guru masih sering mengartikan teks bahasa asing ke dalam bahasa ibu dimaksudkan siswa dapat memahami kalimat tersebut secara runtut.Penggunaan GTM harus disertai keaktifan siswa dalam menerjemahkan teks bahasa asing sehingga siswa juga mampu mengartika teks bahasa asing menggunakan bahasanya sendiri.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 253 Pada metode Grammar (the Grammar Method) sisiwa mempelajari kaidahkaidah gramatika bersama dengan guru dengan daftar atau kelompok-kelompok kosakata.Kata-kata tersebut kemudian dijadikan frase ataau kalimat berdasarkan kaidah yang telah dipelajari.Pada metode ini penguasaan kaidah-kaidah lebih diutamakan daripada penerapannya.Ketrampilan lisan, seperti pelafalan, tidak dilakukan.Metode ini mudah penerapannya karena guru tidak harus fasih berbicara bahasa ynag harus dipelajari, sedangkan evaluasi dan pengawasannya juga tidak sulit. Metode Translation (the Translation Method) berisi kegiatan-kegiatan penerjemahan teks yang dilakukan dari hal mudah ke hal yang sulit.Pertama dari bahasa sasaran ke bahasa ibu dan sebaliknya. Penerjemahan teks dilakukan dengan cara penerjemahan kata per kata maupun gagasan per gagasan termasuk ungkapan-ungkapan idiomatic. Seperti pada metode Grammar, metode Translation dapat diajarkan pada kecil maupun besar dan guru tidak harus menguasai bahasa sasaran. Perpaduan dua metode tersebut di atas melahirkan metode GrammarTranslation (The Grammar-Translation Method/GTM) yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. Kelas diajarkan dengan menggunakan bahas ibu diharapkan siswa mampu menyerap dan memahami materi dengan mudah. 2. Pengajaran dimulai dengan pemberian kaidah-kaidah gramatika dan mengacu pada kerangka gramatika formal.Contohnya guru menjabarkan pengertian dari kata benda,kata kerja,subyek,predikat dari susunan kalimat tersebut. 3. Kosakata yang diajarkan bergantung pada teks yang dipilih sehingga tidak ada kesinambungan antara kelompok atau daftar kosakata yang satu dengan yang lainnya. 4. Penghafalan dan penerjemahan merupakan cirri kegiatan yang menonjol, yaitu menghafal dan menerjemahkan kosakata dan kaidah gramatika. 5. Pelafalan tidak diajarkan atau sangat dibatasi hanya pada beberapa aspek saja.Karena tujuan dari GTM ini siswa diharapkan mampu mengerti


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 254 terjemahan dari suatu kata sehingga cara baca dalam metode ini tidak begitu diperhitungkan. 6. Lebih menekankan pada ketrampilan membaca dan menulis daripada menyimak dan berbicara. 7. Menekankan ketepatan siswa diharapkan dapat mencapai standar yang tinggi alam penerjemahan 8. Menggunakan bahasa ibu pelajar sebagai medium instruksi dimaksudkan agar siswa mudah mencerna teks dalam bahasa asing. 9. Dalam metode ini guru memberikan latihan kepada siswa dengan cara memberi kalimat kemudian siswa diminta untuk menebak terjemahan dari kalimat tersebut. Dari uraian di atas, GTM dapat didefinisikan sebagai metode pengajaran bahasa melalui analisis kaidah-kaidah bahasa secara rinci dan diikuti dengan penerapan pengetahuan tentang kaidah-kaidah tersebut untuk tujuan penerjemahan kalimat-kalimat dan teks-teks, baik dari bahasa sasaran ke bahasa ibu atau sebaliknya.Sekarang ini masih banyak guru-guru yang menggunakan metode ini untuk mempermudah siswanya mengartikan teks dalam bahasa asing. 2.1.3. Audio-Lingual Method Metode Audio-Lingual ini merupakan sebuah metode yang pelaksanaannya terfokus pada kegiatan latihan, drill, menghafal kosa kata, dialog, teks bacaan.Adapun dalam praktiknya siswa diajak belajar (dalam hal ini bahasa Inggris secara langsung) tanpa harus mendatangkan native language. Dasar dan prosedur pengajaran dalam metode ini juga banyak diambil dari metode yang telah ada sebelumnya yaitu metode langsung (Direct Method).Selain itu, tujuan Audio-Lingual pun juga tidak berbeda dengan Direct Method yaitu untuk menciptakan kompetensi komunikatif dalam diri siswa. Sebagaimana diketahui, pengucapan (pronunciation), susunan serta aspekaspek lain antara bahasa asing dan bahasa ibu sangatlah berbeda. Oleh karenanya, dalam pembelajaran bahasa asing (dalam hal ini bahasa Inggris) para siswa diharuskan mengucapkan dan atau membaca berulang-ulang kata demi kata


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 255 yang diberikan oleh guru agar sebisa mungkin tidak terpengaruh dengan bahasa ibu. Pengulangan-pengulangan yang dilakukan lama-kelamaan akan menjadi sebuah kebiasaan (habit). Begitu juga dalam hal melafalkan kata-kata bahasa asing (bahasa Inggris), jika hal tersebut sudah menjadi kebiasaan, siswa akansecara otomatis dan refleks dapat melakukannya. Sehingga dalam pelaksanaannya, agar usaha tersebut dapat berjalan lancar maka diperlukan memerlukan keseriusan baik dari guru maupun siswa 2.1.4. Suggestopedia Suggestopediaadalah metode yang dikembangkan oleh Georgi Lozanov, seorang ahli fisika dan psikoterapi dari Bulgaria.Oleh karena itu, suggestopedia juga dikenal dengan Metode Lozanov atau Belajar dan Mengajar SugestifAkseleratif (Suggestive-Accelerative Learning and Teaching).Lozanov percaya bahwa otak manusia mampu memproses sejumlah banyak materi apabila diberikan kondisi yang tepat untuk belajar, diantaranya relaksasi dan pemberian kontrol dan otoritas pada guru. Ciri metode ini adalah menciptakan suasana “sugestif”.Suatu contoh penerapannya menciptakan suasana yaitu dengan cahaya yang lemah lembut, musik sayup-sayup, dekorasi-dekorasi ruangan yang ceria, tempat duduk yang menyenangkan dan teknik-teknik dramatik yang digunakan oleh guru dalam penyajian bahan pelajaran. Tujuan dari metode ini adalah untuk membuat para siswa santai (tidak tegang), yang memungkinkan mereka membuka hati mereka secara sadar untuk belajar (bahasa) dengan nyaman dan tidak tertekan.Musik digunakan sebagai alat untuk membantu siswa relaks dan menjadi panduan dalam penyajian materi. 2.1.5. Total Physical Response (TPR) Total Physical Response (TPR) adalah sebuah metode pembelajaran yang diperkenalkan pada tahun 1980. Metode yang merupakan adopsi dari cara anak kecil belajar bahasa, yaitu dengan cara mendengarkan kalimat perintah.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 256 TPR mempunyai prinsip belajar dengan menggerakkan anggota tubuh.Sama dengan ketika seorang anak belajar bahasa pertama dimana mereka mendapat sejumlah perintah dari orang tua mereka. Kemudian ia melakukan perintah tersebut. TPR mengajak peserta didik agar tidak stress dalam proses belajar mengajar. Maka dari itu, proses belajar mengajar dimulai dengan mendengarkan kalimat perintah (listening) yang kemudian diikuti response fisik. TPR menganggap Speaking, Reading dan Writing adalah kegiatan yang membuat siswa tertekan. Dengan demikian, ketiga skills tersebut diajarkan setelah siswa bisa memahami dan bisa mempraktekkan perintah-perintah yang didengar. 2.1.6. Communicative Language Teaching (CLT) CLT adalah sebuah pendekatan dalam pengajaran bahasa asing yang lebih menekankan konsep interaksi, baik dalam proses maupun tujuan dari proses pembelajaran tersebut. Secara historis, CLT ini muncul sebagai respon terhadap Metode Audio-Lingual (ALM), yang dianggap tidak tepat dalam pembelajaran bahasa. Metode ini berangkat dari paham bahwa bahasa adalah suatu alat untuk berkomunikasi bukan sekedar seperangkat aturan.Oleh karena itu, pengajaran bahasa seharusnya berpegang teguh pada pemahaman tersebut, yaitu belajar bahasa adalah belajar menggunakan bahasa bukan mempelajari tentang bahasa tersebut. Karakteristik utama dari CLT adalah adanya kombinasi antara aspek-aspek bahasa secara fungsional dan struktural.Secara fungsional, CLT menekankan pada bagaimana bahasa tersebut digunakan, sedangkan secara struktural, CLT, menakankan pada sistem atau aturan bahasa. Meskipun begitu, dalam aplikasinya porsi fungsional lebih besar daripada porsi struktural karena pengajaranpengajaran tentang aturan bahasa tidak diberikan secara langsung, melainkan tersirat dalam proses belajar.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 257 2.1.7. The Silent Way Silent Way adalah metode yang dikembangkan oleh „Caleb Gattegno‟, dilandasi dengan keyakinan bahwa siswa hendaknya belajar secara independen, tidak bergantung kepada guru. Gattegno berpendapat bahwa siswa akan belajar lebih baik bila dia mengembangkan tanggungjawab personal atas pembelajarannya sendiri. Jadi, untuk banyak pelajaran, guru tetap diam [bungkam]. Belajar dipandang lebih utama daripada mengajar. Para siswa didorong untuk bekerjasama satu sama lain untuk memikirkan atau memahami makna. Mislalnya, para siswa diperkenalkan dengan materi baru dengan menggunakan tongkat Cuisinare (tongkat-tongkat kecil berwarna dengan ukuran panjang yang beragam) dan serangkaian peta dinding (wall chart). Setelah guru memperkenalkan materi itu, tinggal terserah para siswa untuk menentukan apa yang akan mereka pelajari dan bekerja secara independen untuk mencapai tujuan akademis mereka. 2.1.8. Task-Based Language Teaching (TBLT) TBLT dikenal sebagai Task-Based Instruction ( TBI ), berfokus pada penggunaan bahasa otentik dan pada meminta siswa untuk melakukan tugas-tugas yang bermakna menggunakan bahasa target. Tugas semacam itu dapat termasuk mengunjungi dokter, melakukan wawancara, atau menghubungi layanan pelanggan untuk mendapatkan bantuan. Penilaian terutama didasarkan pada hasil tugas (dengan kata lain penyelesaian yang tepat dari tugas-tugas dunia nyata) daripada pada keakuratan bentuk-bentuk bahasa yang ditentukan. Ini membuat TBLT sangat populer untuk mengembangkan kelancaran bahasa target dan kepercayaan diri siswa 2.2. Linguistik 2.2.1. Phonology Menurut definisinya phonology merupakan ilmu tentang suatu sistem dalam sebuah bahasa. Ilmu ini adalah salah satu dari cabang linguistik yang berhubungan dengan cara mengucapkan suatu bahasa. Phonology juga membahas sejarah sebuah bahasa.Bagaimana bahasa tersebut bisa muncul dan menghilang.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 258 Dalam mengkaji sebuah bahasa pastinya Anda akan berhadapan dengan ilmu yang satu ini karena ilmu phonology mengkaji mekanisme suatu bahasa secara jelas. 2.2.2. Phonetic Phonetic adalah ilmu yang membahas bagaimana suatu suara bisa terbentuk menggunakan beberapa bagian tubuh yaitu bibir, gigi, lidah, faring dan paruparu.Ilmu ini hanya membahas mengenai hubungan antar bagian tubuh yang menghasilkan suara. Untuk pembentukan sebuah bahasa, produksi hingga suara yang dihasilkan 2.2.3. Morphology Morphology adalah ilmu yang mempelajari tentang kebahasaan itu sendiri, seperti mengkaji tentang pembentukan kata/morfem dan juga variasi gabungan kata/morfem di dalam suatu bahasa. 2.2.4. Syntax Kata syntax berasal dari bahasa Yunani yang merupakan gabungan dari kata syn yang berarti “bersama”, dan kata taxis yang berarti “rangkaian”, “urutan”. Jadi syntax adalah salah satu dari cabang ilmu linguistik yang mempelajari kaidah yang menentukan bagaimana kata membentuk frasa dan frasa membentuk kalimat.Secara etimologis istilah syntax adalah menempatkan bersama kata-kata menjadi kelompok kata atau kalimat dan kelompok-kelompok kata menjadi kalimat. 2.2.5. Semantics Semantics secara umum merupakan suatu cabang keilmuan lingustik yang mempelajari dan menelaah tentang pemaknaan, arti yang terkandung dalam bahasa, kode, dan beberapa representasi makna lain. Singkat kata, semantik merupakan pembahasan makna.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 259 BAB III RESEARCH ON ENGLISH LANGUAGE TEACHING (ELT) 3.1. Pendekatan Penelitian 3.1.1.Pendekatan Kualitatif Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll secara holistic, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Kualitatif adalah jenis penelitian ilmu sosial yang mengumpulkan dan bekerja dengan data non-numerik dan yang berupaya menafsirkan makna dari data ini sehingga dapat membantu kita memahami kehidupan sosial melalui studi populasi atau tempat yang ditargetkan. Kajian kualitatif bersifat subjektif dari sudut pandang partisipan secara deskriptif sehingga hasilnya tidak dapat digeneralisasikan. Dengan kata lain, metode riset ini lebih bersifat memberikan gambaran secara jelas suatu permasalahan sesuai dengan fakta di lapangan. Penelitian kualitatif memiliki kelebihan sebagai berikut: 1. Data deskriptif lebih detail dan mendalam. 2. Data menggambarkan pandangan realistis terhadap dunia sosial yang dialami oleh subjek penelitian yang tidak bisa diukur secara numerik. 3. Memberika kesempatan pada partisipan untuk mendeskripsikan perspektifnya terhadap fenomena yang diteliti. 4. Proses pengumpulan data dilakukan secara fleksibel sesuai dinamika di lapangan. 5. Interaksi dilakukan dengan bahasa partisipan sehari-hari, dengan terminologi khas yang mereka gunakan. 6. Fokus riset selalu merespon pada perubahan yang terjadi selama proses penelitian, tidak memaksakan pandangan peneliti yang disusun sebelumnya di atas meja.


Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 260 Riset kualitatif juga memiliki kekurangan sebagai berikut: 1. Unsur subjektivitas yang kuat beresiko mengurangi objektivitas hasil penelitian. 2. Karakter peneliti sangat berpengaruh pada hasil penelitian, bisa saja informasi yang sama berujung pada kesimpulan yang berbeda karena karakter peneliti berbeda. 3. Desain penelitian sulit direplikasi untuk penelitan di lokasi lain. 4. Sulit melakukan analisis hubungan sebab-akibat dari sebuah fenomena sosial. 5. Pengalaman peneliti diperlukan untuk memperoleh partisipan yang paling representatif. 6. Lemah dalam melakukan generalisasi hasil penelitian. 3.2. Pendekatan Kuantitatif Metode penelitian kuantitatif menggunakan data numerik dan menekankan proses penelitian pada pengukuran hasil yang objektif menggunakan analisis statistik. Fokus metode kuantitatif adalah mengumpulkan data set dan melakukan generalisasi untuk menjelaskan fenomena khusus yang dialami oleh populasi. Dalam penelitian kuantitatif, data set dikumpulkan, diolah dan dianalisis untuk dicari hubungan antar variabel yang diteliti. Variabel yang digunakan bisa dua atau lebih.Dalam ilmu sosial biasanya lebih dari dua karena variabel selalu berada dalam setting sosial yang bersifat kompleks. Kelebihan penelitian kuantitatif: 1. Mendukung studi ilmu sosial yang cakupannya makro karena bisa melibatkan subjek penelitian dalam jumlah besar. Banyaknya subjek baik individu atau kelompok yang terlibat mendukung proses generalisasi. 2. Memiliki modal untuk meraih objektivitas hasil penelitian. Secara umum, penelitian kuantitatif didesain untuk menghasilkan penjelasan yang sifatnya umum atau general dari suatu fenomena. Untuk mendapat penjelasan yang general ini, beberapa variabel digunakan. 3. Mampu mengaplikasikan angka rata-rata dari suatu perhitungan sehingga desain penelitian bisa direplikasi dan dianalisis relevansinya di tempat lain.


Click to View FlipBook Version