The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Cerita Anak dengan mengangkat legenda rakyat Indramayu

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kkusyoto, 2021-11-13 06:14:46

Lintang Kerti

Cerita Anak dengan mengangkat legenda rakyat Indramayu

Keywords: anak

Kusyoto, Minanto, Suryana Hafidin,
Ika Rizqiawati, dan Aris Dodi

LINTANG KERTI:
Kisah Klasik Bocah Dermayu
© 2021, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan

Kabupaten Indramayu
Cetakan Pertama, November 2021

ISBN: 978-623-98348-0-7
viii + 106 hlm; 14,5 x 20,5 cm

Penulis:
Kusyoto, Minanto, Suryana Hafidin,

Ika Rizqiawati, dan Aris Dodi
Pengarah:

Drs. Iwan Hermawan, M.Pd.
Penanggung Jawab:

Boy Billy Prima, S.STP
Ketua:

Siti Fadlilah,SE.,M.M.
Anggota:

Sottyana Dwi Hujani, A.Md.
Noval Arisandi, A.Md
Fathul Ilmi N, S.IP.

Editor: Latipatul Munawaroh (Pie)
Tata Letak: Moh. Mursyid
Sampul: Abu Zyan el Mazwa
Diterbitkan oleh:

DINAS KEARSIPAN DAN PERPUSTAKAAN
KABUPATEN INDRAMAYU

Jl. MT Haryono No.49, Penganjang, Sindang, Kabupaten
Indramayu, Jawa Barat 45222

Kata Pengantar

SAssalamualakum Warohmatullahi Wabarokatuh.
egala puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa
Ta'ala yang telah memberikan rahmat dan hidayah-
Nya kepada kita semua. Tetap dalam kondisi sehat
walafiat tidak kurang apa pun selama pandemi Covid-19 ini
berlangsung. Selawat dan salam selalu dilimpahkan kepada
jungjungan Nabi besar kita, Muhammad Sallalahu 'Alaihi
Wasallam, keluarga, sahabat, dan Insya Allah pada kita semua
sebagai pengikutnya.

Saya selaku Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan
Kabupaten Indramayu sangat bangga dan bahagia dengan
terbitnya buku kumpulan dongeng atau cerita anak yang
digagas oleh tim Lokal Konten Dinas Kearsipan dan
Perpustakaan Kabupaten Indramayu.

Selama ini buku-buku bacaan yang mengulas cerita anak
masih kurang, sangat minim, dan belum memadai. Anak-
anak kita sering merasa kesulitan ketika mendapat tugas

Kisah Klasik Bocah Dermayu - v

dari sekolah untuk menulis mengenai cerita-cerita anak. Atau
ketika akan mengikuti perlombaan mendongeng, perlombaan
berce-rita. Reperensi bahan bacaan yang dikhususkan untuk
anak-anak selama ini terus mengacu pada kisah klasik dunia
barat seperti Cinderela, Beauty and the Best, Putri Salju, Putri
Tidur, dan cerita-cerita bernuansa barat lainnya. Padahal di
Indramayu sendiri masih banyak cerita-cerita anak, legenda,
dan sejarah yang menarik untuk ditelaah dan digali, juga
dituliskan.

Dengan terbitnya buku kumpulan cerita anak yang
sebagian besar mengulas mengenai daerah Indramayu, saya
berharap khasanah bercerita dan mendongeng kembali
menggeliat dan bangkit dari tidur panjangnya.

Sekali lagi, saya atas nama Kepala Dinas Kearsipan dan
Perpustakaan Kabupaten Indramayu menyambut dengan baik
dan penuh rasa syukur atas terbitnya buku cerita anak ini.
Semoga ke depan, Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten
Indramayu lebih meningkatkan dan banyak menyediakan
bacaan-bacaan bermutu lainya.

Akhirulkalam... Wassalamualaikum Warohmatullahi
Wabarokatuh.

Indramayu, 7 Oktober 2021

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan
Kabupaten Indramayu

Drs. Iwan Hermawan, M.Pd.
NIP.19650416 198503 1 003

vi - Lintang Kerti

Daftar Isi

Kata Pengantar Kepala Dinas Indramayu...................... v
Daftar Isi............................................................................ vii

II Sri dan Suku Dayak Hindu-Buda Bumi
Segandu Indramayu........................................... 1

II Mapag Sri............................................................ 23
II Hikayat Pohon Mangga..................................... 36
II Kreteg Sewo........................................................ 41
II Asal Muasal Desa Pekandangan....................... 48
II Mimi Rasinah: Tari Topeng dalam

Sukmaku............................................................. 55
II Pasukan Setan Merah........................................ 62
II Upacara Ruwatan/Ngaruat (Asal-usul

Adat Ngarot di Desa Lelea)................................ 76

Kisah Klasik Bocah Dermayu - vii

II Kode Rahasia Semangat Juang
(Asal-Usul Tari Sintren Indramayu)................. 90

II Hikayat Jaran Sari-Jaran Purnama
(Asal-usul Pulomas dan Desa Sentigi).............. 96

Biografi Penulis................................................................. 104

viii - Lintang Kerti

Sri dan Suku Dayak
Hindu-Budha Bumi Segandu

Indramayu

Oleh: Minanto

Senin pagi itu, Sri terlambat datang ke sekolah hampir satu
jam sehingga ia tidak dapat mengikuti upacara bendera.
Diantarkan oleh ibunya, Sri agak malu kepada teman-
teman kelas. Pada jam istirahat, ia memamerkan sebuah
kalung kepada teman-teman di kelas setelah pelajaran Bahasa
Indonesia usai. Mula-mula ia enggan memamerkan kalung itu
lantaran ia ingin langsung menunjukkan kalung itu kepada
guru kesenian ketika pelajaran mulok berlangsung, tetapi
seorang teman―Rudi―telanjur melihat kalung terjulur dari
tasnya yang menganga.

“Kamu bikin kalung? Boleh lihat?”

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 1

“Kalau kamu mau lihat kerajinanku, aku juga mau lihat
kerajinanmu,” ujar Sri.

Rudi tampak cemberut. Sebagaimana anak-anak lain, ia
juga enggan memperlihatkan kerajinan lebih dulu ke teman-
teman ketimbang kepada Ibu Fifah, guru mulok mereka.

“Ya udah, deh, kalau begitu,” ujar Rudi kecewa.

Tetapi, di sisa jam istirahat itu, Rudi tampak bolak-balik
ke bangku Sri dan telah dua kali ketahuan menengok ke arah
tas milik Sri. Siti, teman semeja Sri, membentak Rudi seketika,
“Hai! Kamu mau nyolong ya? Kok dari tadi lihat-lihat tas kami
terus?”

“Enak saja kalau bilang!” tukas Rudi.

Sri kemudian manyun, dan tersenyum saat ia tahu anak
lelaki itu sangat tertarik melihat kerajinan tangannya, yang
kemudian memohon-mohon untuk melihatnya barang
sebentar saja. Sri pun luluh. Ia menarik kalung itu dan
mengoper kepada Rudi dan Siti; mereka pun terkagum-kagum
dan mambuat Sri semringah. Ia juga mengira kerajinan kalung
itu akan mendapatkan pujian dari Ibu Fifah dan memperoleh
nilai bagus.

Dari Rudi dan Siti, kemudian datang dua anak lain. Mereka
juga ikut terkagum-kagum dengan kalung milik Sri. Salah satu
dari dua anak itu penasaran bagaimana Sri membuat ukiran
itu, dan Sri pun mulai bercerita, “Pamanku mengajariku.”

“Pasti dibuatin sama pamanmu?”

“Nggak. Enak saja kamu bilang! Ini kubikin sendiri.”

2 - Lintang Kerti

“Emang bagaimana bikin kalung itu?”

“Ini terbuat dari bambu kecil. Rumah pamanku di
Tegalurung. Di sana ada rumpun bambu kecil seruas jari.
Bambu itu terus dipotong-potong segini,” ujar Sri sembari
menunjukkan ronce bambu pada lingkar kalung itu. “Nih
segini.” Ia kemudian menunjukkan ruas atas ibu jarinya,
meyakinkan yang lain.

“Nah, biar potongan-potongan bambu ini tidak tajam
agar tidak mengiris tali kalung, potongan-potongan ini perlu
diampelas dulu. Di rumah Tegalurung ada ampelas. Pamanku
mengajariku mengampelas potongan bambu ini. Memang
kudu sabar dan telaten, kata pamanku. Kalau tidak sabar dan
telaten, aku tidak akan membuat dan mengukir bandul kalung
ini dengan bagus.”

“Itu pakai tali apa?”

“Tali biasa. Kata pamanku bisa pakai tali apa saja. Kalau
kalung ini pakai benang kasur. Kalau mau lebih kuat, pakai
tali lain saja. Pamanku bilang jenis tali lain, tapi aku lupa.”

“Terus itu bagaimana kamu bisa bikin ukiran itu? Aku
percaya kalung itu kamu yang bikin, tapi ukiran bandulnya,
pasti pamanmu yang bikin ya?”

“Ini kubikin sendiri juga.”

“Masa?” Rudi mulai ragu.

“Sudah kubilang aku bikin kalung ini harus sabar. Ini
tidak sebentar, Rud,” ujar Sri, “pamanku selalu bilang kita
harus sabar melakukan segala sesuatu. Kita harus sabar
kalau kepanasan, kedinginan, sabar menahan lapar,

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 3

sabar menahan haus, termasuk sabar mengerjakan ukiran.”
Melihat raut muka teman-teman menandakan ketertarikan,
ia melanjutkan, “Bandul ini terbuat dari kayu jaran. Kalian
pegang sendiri. Ringan dan halus, kan? Dengan begitu
gampang diukir. Tapi, pamanku memang sudah bisa mengukir
dengan bahan lain juga.”

Keempat anak itu semakin memusatkan perhatian kepada
Sri.

“Untuk membuat bentuk lingkaran ini aku pakai pahat
penguku. Jadi, bandul harus diputar. Kalau untuk membuat
mata kecil samping-samping ini, aku pakai pahat pengot.
Pertama-tama aku nggak sabar bikin ukiran ini. Tapi, pamanku
lagi-lagi mengajariku untuk bersabar. Butuh dua hari untuk
bikin bandul saja.”

“Terus bagaimana kamu bikin bandul bentuk lingkaran
ini?”

“Pamanku potong pakai golok.”
“Tuh, kan, berarti bandul dan kalung ini bukan bikinan
kamu sendiri.”
“Pamanku cuma bantu sedikit, cuma bantu buat potong
pakai golok saja.”
“Sama saja ini bukan kerajinan kamu.”
“Enak saja kalau bilang. Ini bikinanku!”
“Bukan!”
“Bikinanku!”

4 - Lintang Kerti

“Bukan!”

Sri meringis karena Rudi berhasil menghasut anak-anak. Ia
pun menitikkan air mata manakala Siti tidak mempercayainya.
Tangisan Sri kemudian berbaur dengan suara lonceng tanda
masuk. Pelajaran mulok hampir dimulai sedangkan Sri
belum tuntas mengusap air mata. Ibu Fifah masuk kelas dan
mendapat Sri yang duduk di bangku paling depan di tengah,
sedang sesegukan menahan tangis.

“Kenapa, Sri? Coba ceritakan kepada ibu.”

Sri berusaha menyeka air mata sekali lagi dan menatap
Ibu Fifah. Dengan terbata-bata, ia berkata, “Rudi mengolok-
olok hasil kerajinanku, Bu.”

Semua anak bergeming.

“Coba Ibu lihat kerajinanmu.”

Sri merogoh tas dan memperlihatkan kalung itu berbandul
ukiran itu.

“Wah, bagus ini mah,” puji Ibu Fifah. Untuk sebentar saja
ia mengagumi kalung buatan Sri, kemudian ia bertanya, “Sri
dapat dari mana kalung ini?”

“Bikin sendiri, Bu. Dibantu sedikit pamanku di
Tegalurung,” ujar Sri berusaha jujur.

“Pekerjaan paman Sri tukang ukir?”

“Ya, Bu. Kadang-kadang begitu. Kadang-kadang berjualan
dan bertani.”

“Paman Sri punya kalung pancasila juga?”

“Ya, Bu.”

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 5

“Wah, kalau begitu, kalung ini memang tidak pantas
dibikin, Sri,” ujar Ibu Fifah dengan halus. Tetapi, dirasakan
Sri perkataan Ibu Fifah janggal.

“Kenapa, Bu?” tanya Siti, yang sedari tadi tak memutus
pandangan dari bandul kalung itu.

“Karena ini kalung milik orang-orang Dayak. Orang-
orang sesat. Orang-orang tak beragama. Jadi, ini tidak baik
dikerjakan, apalagi ditunjukkan di sekolah.”

Tidak bisa tidak terluka hati Sri mendengarkan perkataan
pemungkas Ibu Fifah. Tangis Sri memang reda, tapi ia
melanjutkan tangis dalam hati. Pelajaran mulok dimulai
dengan perampasan kalung bandul itu dan penjelasan
tentang benda-benda keramat. Sri tampak malu, sedih, kesal,
bercampur kecewa.

***

Sembilan hari lalu, pada Sabtu, lantaran teringat tugas
kesenian untuk membuat kerajinan tangan, Sri memaksa
ibunya untuk bertandang ke Tegalurung.

“Kalau kamu mau minta satu kalung dari paman, nanti
biar Ibu mintakan saja,” ujar Ibunya.

“Tapi aku mau sekalian diajari,” sambut Sri, dan alasannya,
rengekannya, tangisannya, adalah keterpaksaan Ibunya agar
mengantarnya sampai ke Tegalurung, sedangkan Sri dan
Ibunya tinggal di Lohbener.

6 - Lintang Kerti

“Biarkan Sri menginap di sini barang semalam saja,”
ujar Mang Kodir, kakak lelaki ibunya. “Minggu sore akan
kuantarkan dia pulang, sekalian aku berkunjung ke Krimun.”

Ibu Sri keberatan jika Mang Kodir akan mengantar Sri
ke Lohbener lantaran ia tahu pastilah Kodir akan mengontel
sepeda.

“Kenapa dengan sepeda?”

“Kamu bisa capek. Sri bisa kepanasan. Biar kujemput
saja.”

Namun, lagi-lagi, rengekan dan tangisan Sri tidak dapat
dihalau dengan alasan apa pun. Maka, ia membolehkan Sri
menginap semalam. Di rumah di Tegalurung, sementara Sri
bermain-main di sofa tamu, ibunya dan pamannya sedang
mengobrol di teras depan.

“Bagaimana kabar suamimu?” Kodir memulai
pembicaraan itu.

Di teras, panas matahari seolah-olah tersiram deras ke
arah mereka. Ia menggeser duduk agar Ibu Sri ikut bergeser
karena panas pagi itu sedang condong menuju tegak.

“Kukira kau sudah tidak takut panas lagi dengan selalu
tidak mengenakan baju.”

“Bukan begitu,” ujar Kodir santai. “Panas tetap panas, dan
aku menghargaimu agar tidak kepanasan. Minggirlah kemari.”
Dan diikutilah oleh Ibu Sri.

“Bilanglah kepadaku bagaimana aku harus bersikap
kepada suamiku?” tanya Ibu Sri.

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 7

“Dia baik-baik saja?”

“Baik.”

“Kupikir kamu harus memikirkan ulang sebelum
memutuskan sesuatu. Sri belum genap sepuluh tahun. Ia
masih perlu sosok bapak.”

Mendengar kata “bapak”, Sri menoleh. Ia menggandok
pada sandaran sofa, membuka sedikit nako jendela, melongok,
tanpa bergerak melihat ibu dan paman sedang bicara pada
gelaran kelasak.

“Suamiku baik-baik saja, tetapi ia tidak pernah baik
memperlakukanku, juga Sri.”

“Kupikir kalaupun aku memberimu saran, saranku tidak
akan mempengaruhimu, Nok Lastri,” ujar Kodir. Dengan
mengalamatkan sebutan “Nok”, ia berharap masih menjadi
kakak sebagaimana Lastri butuhkan. Mang Kodir melanjutkan,
“Sudah lama aku melepaskan diri dari tata sipil kenegaraan.
KTP sudah entah di mana. SIM dan STNK entah di mana selain
karena sepeda motor telah kuberikan kepada iparku. Tidak
lagi mengunjungi pom bensin. Tidak lagi berbelanja micin.”

“Ya, aku tahu. Terima kasih, Kang, aku menghargai
keputusan dan saranmu,” imbuh Lastri, “jika saranmu masih
sama agar aku mempertahankan rumah tangga, bagiku
perceraian adalah jalan terbaik.”

Sri belum pernah melihat ibunya berbicara selirih itu,
pun pamannya. Manakala ibunya berdiri dan hendak pamit,
ia langsung turun dari sofa dan mencium tangan ibunya,

dan mengangguk setelah ibunya berpesan agar tidak

8 - Lintang Kerti

merepotkan Mang Kodir. Setelah dilihat ibunya jauh ke muka
gang dan tenggelam dibawa angkot, ia bertanya kepada
pamannya.

“Ibu kenapa, Mang? Seperti mau menangis begitu.”

“Ibumu baik-baik saja. Dia tidak apa-apa.”

“Ibu mau pisah sama bapak, kan?”

“Hmmm ....” Kodir menjeda. “Kenapa kamu berpikir
begitu?”

“Ibu selalu bertengkar dengan bapak kalau di rumah.
Bapak sering memukul ibu. Bapak marah. Ibu jadi ikut marah.
Ibu dan bapak mau bercerai, kan, Paman?” Mang Kodir tidak
memberi tanggapan. “Seperti kakek dan nenek dulu,” imbuh
Sri.

Mang Kodir bergeming. Kemudian ia malah menggendong
Sri, menganggat tinggi-tinggi, dan diminta untuk meraih
langit-langit. Ketika Sri sejengkal lagi meraih permukataan
langit-langit teras itu, Mang Kodir berjinjit dan melompat
sedikit sehingga Sri dapat menempelkan telunjuk kanan.

“Hei, dengarkan paman! Bapak dan ibumu sedang
berselisih paham. Berselisih paham itu berarti memandang
sesuatu dengan cara berbeda.”

Sri mengerutkan dahi. Kemudian ia diminta berbaring
pada gelaran kelasak. Di sebelah, Mang Kodir juga berbaring.

“Lihatlah noda yang barusan kamu sentuh pada langit-
langit! Mirip bentuk apakah noda itu?”

Sri mengamati dalam-dalam noda gelap di atas.
Semua ia tidak melihat apa-apa selain noda cokelat

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 9

mungkin bekas cat terlalu tebal atau terlalu tipis. Namun
lama-kelamaan ia melihat noda cokelat itu membentuk
gambar gajah.

“Gajah, Paman.”
“Masa? Bukan ah!”
“Itu mirip gajah. Gemuk. Itu ekor. Itu belalai.”
“Bukan”
“Ya, itu gajah!”
“Bukan!”
“Ya, Paman! Ya!” ujar Sri bersikeras.
Tanpa beralasan, Mang Kodir pun bersikeras mengelak
kalau noda itu bukan gajah. Dan lantaran Sri penasaran
seperti apakah dilihat paman Kodir, ia memberanikan diri
menggugat, “Memang Paman lihat apa?”
“Itu mirip ular.”
Sri mengerutkan dahi. Ia kesal lantaran tak didapati
sama sekali bentuk ular dari noda itu. Bulat, lingkaran,
mengembung, itulah. Tapi, mana mungkin ular. Ia memukul
Mang Kodir dengan gemas dan minta penjelasan.
“Seperti itulah, Sri, bagaimana bapak dan ibumu sedang
memandang sesuatu,” ujar Mang Kodir seketika membuat
Sri bergeming.
“Tapi, noda itu menggembung. Gajah menggembung.
Tidak ada bercak panjang. Ular kan memanjang.”

10 - Lintang Kerti

“Bisa saja noda itu bukan gajah. Bisa saja noda itu mirip
sapi.”

“Bisa saja noda itu bukan ular. Bisa saja noda itu mirip
kelabang,” tukas Sri.

Mang Kodir pun tergelak-gelak. Setelah itu, Sri memikirkan
ibu dan bapak di rumah. Ia kembali bersedih saat ingat ibu
dipukul oleh bapak, bapak dimarahi oleh ibu, ibu dimaki-
maki oleh bapak, bapak dicela-cela oleh ibu. Terus menerus
tanpa bisa ia hentikan. Lantas ia berkata, “Kenapa Paman tidak
pernah memarahi bibi?”

“Kata siapa Paman tidak pernah memarahi bibi?”
“Hmmm ... aku tidak pernah melihat paman memarahi
bibi.”
“Bibimu, juga ibumu, juga kamu adalah sama-sama
perempuan. Bagi Paman, menghormati, menghargai,
mencintai, dan mengasihi perempuan itu perlu dijunjung.”
“Kenapa begitu?”
“Karena perempuan itu sumber penghidupan.”
“Kenapa?”
“Karena tanpa perempuan, hidup tidaklah ada. Tanpa
seorang ibu, hidup tidak akan terjadi.”
“Kenapa begitu, Paman? Memang ibu-ibu seperti Gusti
Pengeran bisa menciptakan bumi dan kehidupan?”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 11

“Perempuan itu diibaratkan sebagai sumber kehidupan.
Ia adalah ladang kesuburan, ladang penghidupan, ladang
kehidupan.”

Sri tampak kebingungan, tetapi ia mengangguk. Ia
memikirkan lelucon teman-teman di kelas tentang lebih dulu
mana antara telur dan induk? Memikirkan ibunya, ibu dari
ibunya, ibu dari ibunya ibu, dan ibu dari ibunya ibunya ibu.
Ia pusing memikirkan itu dan menggeleng-gelengkan kepala.

“Kalau Paman mencintai dan mengasihiku, berarti Paman
mau masak daging buatku nanti malam?”

Mang Kodir mengangguk, dan menggeleng tak lama
kemudian. Dan Sri pun cemberut.

Sabtu sore itu, Sri diajak ke pekarangan bambu tak jauh
dari rumah Mang Kodir, mengambil rumpun kecil dengan
menggunakan pisau. “Segini saja cukup,” ujar Mang Kodir,
mengutaskan senyum di bibir Sri.

Mang Kodir mengajari Sri bagaimana cara mengukur tali,
memotong bambu menjadi untaian kecil-kecil, dan mengukir
sebuah bandul selingkar pertemuan jempol dan telunjuk. “Aku
tidak bisa mengukir, Paman,” ujar Sri saat melihat selempeng
calon bandul itu.

“Kamu tidak perlu mengukir kalau belum bisa. Biar
Paman saja.”

“Tapi, aku mau belajar.”

“Yakin?”

Sri meringis saat ia melihat golok teracung di tangan
Mang Kodir. Ia tersenyum, menyerahkan bandul itu

12 - Lintang Kerti

kepada pamannya, lantas berkata lagi, “Kalau Paman sudah
menghaluskan permukannya, biar aku ukir sendiri saja.
Tidak apa-apa jelek juga biar nanti Ibu Fifah tidak mengira
kerajinanku dibuatin sama orang lain.”

Mang Kodir memenuhi segala keperluan Sri, termasuk
mengajari tahap demi tahap. Sembari mereka berdua
mengerjakan ukiran, istri Mang Kodir sedang memasak, dan
itu mengingatkan Sri pada permintaan makan daging.

“Paman … Paman tidak ada uang buat beli daging?”

“Kenapa kamu mengira begitu?”

“Karena ibu pernah bilang Paman itu tidak pernah masak
daging. Dan uang Paman selalu dibelikan tahu tempe. Bapak
malah bilang Paman itu pelit.”

Mang Kodir tersenyum ramah, ia mengelus rambut
keponakannya itu, dan berkata, “Mungkin ini sulit kamu
pahami. Paman dan bibi, juga orang-orang seperti Paman
dan bibi, tidak makan daging dan apa-apa dari binatang.”

“Orang-orang seperti Paman dan bibi?”

“Ya, orang Bumi Segandu.”

“Orang Bumi Segandu?” kedua mata Sri memelotot.

“Orang Dayak, Sri.”

“O.” Bibir Sri membulat. Ia ingat sekelompok lelaki tak
berbaju dan cuma mengenakan celana bercorak hitam sebelah
putih; orang-orang dengan topi kukusan dan kadang-kadang
mengenakan aksesori berupa kalung sebagaimana yang ia
sedang ukir. “Jadi, Paman belum pernah makan daging?”

“Bukan belum pernah.”

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 13

“Paman tidak mau makan daging?” cerocos Sri.

“Bukan belum pernah dan bukan tidak mau makan
daging, tetapi memang tidak bisa dan tidak akan.”

“Kenapa?”

Mang Kodir berhenti sejenak. Ia kehilangan kata-kata,
menatap Sri dengan keteduhan seorang bapak. “Karena kami
memang menghargai makhluk bernyawa, seperti binatang-
bintang, termasuk ikan atau atau kepiting, atau kambing,
atau sapi. Jadi kami tidak makan sate, tidak makan soto, tidak
makan gulai.”

“Kenapa?”

Mang Kodir tahu gadis kecil itu tidak akan berhenti pada
satu atau dua penjelasan. “Karena begitulah cara kami makan.”

“Jadi nanti malam aku makan tempe rebus dan cuma
sama garam?”

“Memang Sri mau makan apa?”

“Daging,” ujar Sri sambil merengut. “Sate kambing.”

“Itu ‘kan bisa dibeli. Jadi tidak apa-apa. Tapi, nanti Paman
tidak ikut makan sate.”

Sri melonjak bahagia karena ia akan makan sebungkus
sate tanpa diganggu. Di tengah-tengah kegembiraan itu, Mang
Kodir berpesan, “Nanti selain belajar bersabar mengukir,
kamu juga harus belajar mendengarkan dan memahami
kebijaksaan orang lain. Pelajaran itu sangat berharga buatmu.”
Mang Kodir memungkasi obrolan itu dengan membungkus

semua peralatan ukir, dan menggandeng lengan

14 - Lintang Kerti

keponakannya, sedangkan diam-diam, Sri menatap mata
pamannya, yang mirip mata ibunya, dan didapatinya ada
kesenduan di sana.

***

Minggu sore, Sri diboncengkan naik sepeda cekling. Ia
senang karena ia dapat menggantung kalung ukir di leher
setelah dua hari mengerjakan dengan telaten, begitu pula
dengan Mang Kodir. Sepanjang jalan Tegalurung sampai ke
Lohbener adalah kira-kira 15 kilometer dan bisa menghabiskan
lebih dari satu jam perjalanan dengan naik sepeda. Selama di
jalan, Mang Kodir hanya mengenakan celana kain sebetis.
Hitam di kiri dan putih di kanan. Ia juga mengenakan
pelindung kepala, kukusan1, dan mencantel sebotol air pada
setang.

Belum setengah perjalanan, Sri telah meminum
seperempat isi botol minum, sehingga sekali-kali Mang Kodir
menawarkan untuk beristirahat sejenak di warung pinggir
jalan. Dengan memberanikan diri, ia ingin lanjut menerabas
panas cuaca hari itu.

“Paman tidak kepanasan?”

“Tidak.”

“Kan paman tidak pakai baju.”

1Topi berbentuk kerucut terbuat dari anyaman bambu. Selain
sebagai atribut golongan (setelah diubah bentuk sebagaimana pelindung
kepala), pada masyarakat umum, kukusan juga berfungsi sebagai
alas mengukus nasi pada dandang.

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 15

“Tidak apa-apa. Sudah biasa.”
“Kenapa paman tidak suka pakai baju?”
“Bukan tidak suka, tapi karena beginilah cara kami
berpakaian. Kami menghargai segala pemberian alam. Panas,
dingin, Matahari, air, dan angin adalah pemberian alam. Alam
itu dialami, dirasakan, bukan dihindari, apalagi ditolak.”
“Tapi, nanti paman bisa sakit kalau kepanasan, bisa sakit
juga kalau kehujanan.”
“Sakit pun pemberian alam.”
Lalu hening. Mang Kodir tahu Sri pasti sedang kebingungan,
atau sedang berpikir. Maka sebelum ia mengoceh lagi dan
minta penjelasan, Mang Kodir berkata, “Nanti Paman akan
tunjukkan mengapa Paman bisa bilang begitu.”
Setengah jarak perjalanan dihabiskan dalam keheningan.
Mang Kodir tidak dapat menerka apakah Sri sedang berpikir
atau sedang menikmati semilir angin. Terasa dari genggaman
tangannya pada sadel, Mang Kodir merasa anak sedang
menahan panas. Sekali-kali ia menoleh ke belakang demi
memastikan anak itu baik-baik. Mereka tiba di rumah Sri di
Lohbener jam satu siang ketika ibu Sri sedang tidak ada di
rumah.
Setelah ia keluar-masuk kamar dan ruangan lain di rumah
itu dan tidak mendapat ibunya di mana-mana, ia menghambur
ke pelataran depan dan mencegah Mang Kodir pulang. “Ibu
ke mana, Pak?” tanyanya, yang disambut ayahnya dengan

16 - Lintang Kerti

mengangkat bahu. Gadis itu tidak bertanya lagi, malah ia
melompat ke boncengan Mang Kodir. “Kenapa naik lagi?”

“Ibu tidak ada di rumah. Jadi aku ikut Paman lagi saja.”
“Mungkin sedang ke rumah tetangga atau membeli
sesuatu dari warung. Sebentar lagi juga pulang.”
“Kalau ibu tidak ada di rumah, berarti ibu sedang pergi
rumah kakek atau nenek. Kalau bapak tidak menjawab, berarti
bapak tidak tahu ibu sedang berada di mana. Nah, aku tidak
mau pergi ke rumah kakek atau ke rumah nenek.”
“Kenapa?”
“Karena ibu pasti akan bertengkar lagi kalau tidak sama
kakek, sama nenek.”
“Tapi, Paman mau pergi ke Krimun.”
“Ikut.”
“Minta ijin ke bapakmu dulu sana!”
Sri menggeleng. Dengan berat hati Mang Kodir
mengabulkan permintaannya, tapi tak lama kemudian
ayahnya mendekatinya, dan berkata, “Kamu mau ke mana
lagi? Pamanmu sudah boncengin kamu dari Tegalurung. Dia
capek. Eh, kamu malah naik boncengan lagi,” ujar bapaknya
yang membujuk.
Kepada Mang Kodir, ia meminta membujuk Sri untuk
turun. Tetapi, setelah sama-sama gagal menurunkan gadis
itu, mereka pasrah.
“Kamu mau balik ke Tegalurung lagi?”

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 17

“Tidak, Kang. Ini mau ke Krimun. Mau urus sesuatu di
sana.”

“Tuh, kamu dengar sendiri. Pamanmu mau ke Krimun.”
Tapi, Sri tetap mogok.

“Turuti sajalah apa dia mau. Jangan sampai kamu
cemarkan dia dengan pemahaman sesatmu.” Dan, perkataan
itu tidak terdengar enak, baik oleh Mang Kodir ataupun Sri.

***

Itu adalah pertama kali Sri mendengar kata “sesat”.
Meskipun demikian, ia tidak berani bertanya kepada
pamannya maksud dari kata itu, selain dari frasa “tersesat
di hutan”. Ia tidak berhenti berpikir pernah tersesat di hutan
manakah Paman Kodir? Ia penasaran.

“Paman pernah tersesat di hutan?”
“Hutan?”
“Tadi bapak bilang Paman sesat.”
“Oh,” ujar Mang Kodir santai.
Sri menunggu-nunggu jawaban selama sepanjang jalan
Lohbener-Lelea. Karena ia sudah tidak sabar dan hampir lupa,
ia mengulang, “Paman pernah tersesat?”
“Tidak, Sri. Maksud bapakmu bukan tersesat di hutan.”
Sri bergeming. Mang Kodir tahu anak itu tidak akan puas
dengan jawabannya. Maka ia sekali lagi menjanjikan, “Nanti
Paman akan tunjukkan mengapa bapakmu bilang begitu.”

***

18 - Lintang Kerti

Malam hari itu Mang Kodir duduk termangu di padepokan
Punden Rakatau bersama dua teman lelaki. Sama-sama
belegiran, mereka bercakap-cakap, sedangkan Mang Kodir
memisahkan diri dengan Sri. Maksud hati ia sedang menunggu
kedatangan Lastri untuk menjemput Sri. Namun selama
mendaraskan kidung, ketika Sri mulai terkantuk-kantuk di
sisi Bi Salamah (istri salah satu teman sepadepokan), Lastri
belum juga datang.

“Bagaimana kalau kamu masuk ke dalam dan tidur
dengan anak bibi?” ajak Bi Salamah.

Sri menggelengkan kepala. “Aku mau di sini saja sama
bibi sambil menunggu paman.”

“Kamu akan kedinginan kena angin malam. Masuklah!”

“Bibi juga. Paman juga.”

“Paman tidak akan kedinginan. Malah paman mau
kungkum2 di sungai.”

Sri benar-benar terkantuk-kantuk setelah mendengarkan
para lelaki mendaraskan kidung ciptaan Ki Takmad. Ia
sempat melihat pamannya dan para lelaki sedang beranjak
dari padepokan, berjalan menuju bantaran sungai tak jauh
dari padepokan. Namun, ia berat untuk mengikuti. Dan tak
terasalah kemudian ia tidur beralaskan tikar.

2Ritual merendam diri pada sungai dangkal setempat dan dilakukan
sejak tengah malam sampai pagi. Selama ritual berlangsung mereka
tidak mengenakan pakaian atas. Ritual ini bertujuan melatih kesabaran,
juga mendekatkan tubuh dengan alam (dingin air dan udara malam)

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 19

Pagi-pagi betul, Sri bangun dan mendapati matahari
baru memulas langit dengan kekuning-kuningan. Ia tidak
sekali tertidur di padepokan, maka ia akrab dengan tempat
itu. Ia bangun, mengucek-ucek mata, lantas pergi ke tanah
lapang tempat para lelaki akan mepe3. Di sana ia menemukan
pamannya sedang telentang bersama dengan para lelaki. Sri
tersenyum gembira karena setelah agak lama ia tidak dihantui
mimpi buruk dalam tidur sebagaimana biasa ia alami jika tidur
dengan bapak dan ibu.

Sri sangat mengagumi Paman Kodir. Ia adalah lelaki sabar,
pengertian, dan sangat ramah. Ia tahu, meskipun tidak bisa
menjelaskan, bahwa Paman Kodir adalah sebaik-baik orang
dalam keluarga. Ia tidak peduli jika orang lain berkata kalau
Paman Kodir mirip orang gila, atau tidak peduli jika bapak dan
ibu menganggap lelaki itu pernah tersesat di hutan. Pikir Sri,
sekalipun paman pernah tersesat di hutan, ia pastilah tahu
jalan pulang.

Setelah ritual itu selesai Sri dijemput oleh ibunya dan
segera memandikan Sri, mengantar ke sekolah dengan naik
angkot. Ia melewatkan upacara bendera di sekolah. Tetapi,
dalam hati Sri, meskipun agak malu datang terlambat, ia
senang karena ia telah mengantongi sebuah kalung ukiran
dari Mang Kodir selama bertandang ke Tegalurung.

***

3Ritual menjemur badan. Selama ritual berlangsung mereka akan
berbaring pada tanah lapang di padepokan sampai celana mereka kering
setelah mentas dari ritual kumkum. Sebagaimana kumkum, mepe juga
bertujuan mendekatan tubuh dengan alam (tanah dan panas matahari).

20 - Lintang Kerti

Selasa pagi, beberapa anak masih ingat tangisan Lastri
pada pelajaran mulok. Ibu Fifah pagi itu akan mengajarkan
Matematika Setelah berdoa bersama, ia memulai pelajaran
dengan menjelaskan rumus baru pemecahan jajar genjang.
Sri belum mengeluarkan kalung bandul dari dalam tas setelah
kemarin dirampas dan dikembalikan lagi oleh Ibu Fifah.

Ketika ia hendak merogoh kotak pensil, ia malah meraih
bandul kalung itu secara tak sengaja, dan untaian kalung itu
dapat dilihat oleh anak-anak lain. Rudi setengah berteriak,
“Itu, Bu, Sri masih membawa kalung sesat itu.” Dan teriakan
Rudi didengarkan oleh anak-anak seantero kelas. Semua mata
tertuju kepada Sri.

Bu Fifah berhenti menulis di papan tulis dan mendekati
Sri. Ia bertanya, “Apakah benar Sri masih membawa kalung
kerajinan yang kemarin Ibu rampas itu?”

“Ya, Bu,” aku Sri.

“Kenapa?”

“Karena kalung ini bukan kalung sesat dan orang-orang
Bumi Segandu itu bukan orang-orang sesat, Bu.”

“Tapi, kan mereka tidak salat.”

“Mereka memang tidak salat. Tapi hati mereka berzikir
mengagungkan Gusti Pengeran. Mereka tidak makan daging
karena mereka menghormati kehidupan binatang. Kaum
laki-laki mereka tidak pernah meminta para istri untuk
bekerja karena mereka sangat menghormati perempuan.
Kata pamanku, perempuan itu sumber penghidupan dan

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 21

kehidupan. Meskipun pamanku sering dianggap sesat oleh
orang lain, sama seperti anggapan Ibu Fifah, tetapi pamanku
tetap sabar dan tidak pernah mengatakan orang lain adalah
sesat. Mereka penuh kasih dan cinta. Kata paman, cinta dan
kasih adalah segala-gala di dunia ini, Bu,” papar Sri.

Bu Fifah tidak memberikan kata-kata sanggahan. Lalu,
Sri mengeluarkan kalung itu dan memberikannya kepada Ibu
Fifah.

“Pamanku pernah bilang kalau memberikan hadiah itu
dapat membuat hati orang bahagia. Maka, kalung ini adalah
hadiahku buat Ibu Fifah. Pamanku juga pernah bilang kalau
kebahagian seseorang itu ada pada hati masing-masing. Jadi,
sekarang terserah Ibu Fifah mau menerima kalung ini atau
tidak.”

Bu Fifah menerima kalung itu.

Indramayu, 2021

22 - Lintang Kerti

Mapag Sri

Oleh: Minanto

P“Ibu bilang mau mapag4 aku kemarin?” ujar Sri, merajuk.
agi itu, Sri ngambek tidak ingin ke mana-mana, termasuk
berangkat ke sekolah karena mengetahui ibunya—
Laksmi—ingkar janji. Di rumah Nenek, semalam ia resah
dan susah tidur lantaran melewatkan pementasan sandiwara
di Junti. Sekarang ia siap menumpahkan kekesalan itu kepada
Ibunya yang sedari tadi meminta maaf dan menjanjikan hal
lain. Sri sudah tidak percaya lagi kepada Ibunya.

“Dengarkan Ibu baik-baik, Nok Sri,” ujar Laksmi dengan
nada lembut. “Di Junti sudah tidak menggelar sandiwara,
tetapi wayang kulit. Itu karena balai desa Junti sudah tidak
luas lagi karena telah dibangun taman, pot-pot besar, dan

4Menjemput

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 23

buk-buk buat duduk orang-orang. Jadi, di sana sudah tidak
memungkinkan lagi untuk panggung besar.”

Sri bergeming.
“Di sana pamor sandiwara tidak sebagus wayang kulit.
Lagi pula, sandiwara tidak akan melakonkan cerita Dewi, Sri.”
Dalam hati, Sri masih menolak penjelasan Ibunya yang ia
sangka mengada-ada. Sri kemudian duduk di sofa, sementara
Ibunya ikut duduk di sampingnya.
“Percayalah, Nok. Kalau ada pagelaran sandiwara lagi, Ibu
pasti akan ajak kamu buat nonton.”
“Tapi, itu bukan berarti Ibu boleh membatalkan janji tiba-
tiba, kan?”
“Ya, Nok. Ibu minta maaf.”
“Ya,” ujar Sri dengan nada enggan. Ia kemudian bergeming
lagi.
“Mau jalan-jalan sama Ibu?”
“Ke mana?” Sri menoleh.
“Jalan-jalan ke sawah Nenek, bagaimana?”
Binar cerah tampak di muka Sri begitu Laksmi membuka
tangan. Mereka beranjak keluar setelah mendapatkan izin
dari Nenek.
“Jangan jauh-jauh.” Begitu pesan nenek.
Nenek memiliki seleret sawah peninggalan mendiang
suaminya. Sejak ditinggalkan setahun lalu, ia mengamanatkan

24 - Lintang Kerti

seleret sawah itu kepada Laksmi dan berkali-kali mengulang
pesan, “Perlihara sawah kita biarpun cuma sekotak. Insyaallah,
berkah.” Begitu saja.

Nenek akan menitikkan air mata setelah Laksmi
mengiyakan, dan akan berubah tangis ketika Laksmi berkata,
“Kelak, sekotak sawah itu pun akan kuamanatkan kepada Sri.”

Kemarin, Nenek membuat nasi buganah5 dan meminta
bantuan Sri untuk membagikan kepada para tetangga.
Namun, karena Laksmi sedang sibuk bekerja sebagai guru di
SMP, ia tidak dapat membantu. Sri tidak saja senang karena
masa panen segera tiba, juga riang karena ia akan menonton
sandiwara di balai desa Junti, desa di mana Nenek tinggal.
Nenek, begitu juga Laksmi, tidak tega mengatakan bahwa
sandiwara telah lama tidak manggung di balai desa Junti. Pada
malam—yang seharusnya Sri menonton sandiwara—Nenek
tidak mengatakan apa-apa. Sementara itu, Laksmi terlelap
tidur di rumah Tegalurung sehingga melupakan Sri.

Siang itu, Laksmi dan Sri berboncengan mengendarai
sepeda motor. Selama perjalanan mengitari sawah Nenek,
Sri tidak berhenti berdecak melihat hamparan kuning-
kemuning padi. Ia menoleh kanan-kiri, melihat para petani
yang mengariti padi, sebagian sedang menggugurkan padi dari
tangkai, sebagian lagi sedang beristirahat di gubuk terdekat.
Sri ingin turun, tetapi dicegah.

5Nasi ditanak dengan bumbu kuning dengan campuran potongan
dage dan udang. Dalam konteks perayaan masa panen, nasi buganah
akan dibagikan baik kepada buruh tani dan para tetangga sebagai tanda
ucap syukur.

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 25

“Kita harus lebih sering berucap syukur kepada Allah, Sri.
Karena kita masih diberikan rezeki melimpah sampai hari ini,”
ujar Laskmi, “kamu mau mendengar dongeng tentang padi?”

“Ha?” Sri tampak terheran-heran.

“Ya, dongeng tentang padi, tentang seorang perempuan
cantik titisan dewi yang berubah menjadi tumbuhan padi.”

“Memang ada dongeng semacam itu, Bu?”

“Ya, ada,” ujar Laksmi mantap. “Malah bisa dibilang
dongeng ini adalah asal-usul namamu.”

Binar semringah terbit dari wajah Sri. Mereka melanjutkan
perjalanan. Selama perjalanan pulang ke rumah Nenek itulah,
Laksmi dan Sri tak henti-henti menyapa orang-orang yang
mereka kenal. Tiba di rumah, Sri baru mendapatkan semangat
baru. Ia langsung duduk di sofa setelah meminum segelas es
jeruk dingin dari kulkas. Dan, Laksmi mulai bercerita.

“Menurut cerita, konon6.” Ibunya menekankan,
memastikan Sri memusatkan perhatian. “Sebut saja seorang
Betara Guru. Ia tinggal di sebuah daerah antah berantah,
jauh dari mana-mana, kecuali dengan pohon-pohon tinggi
menjulang milik sehamparan hutan tropis Jawa. Tinggal di
sebuah gubuk sendirian, ia diberkahi dua putra bernama
Angkarasa dan Angkasari. Mereka tumbuh bersama sang
Betari Guru.

6Cerita dalam penuturan buk Ibu Laksmi diambil dan diramu dari
bab Mapag Sri (halaman 54-55) dalam Budaya Dermayu (2013) karya
Supali Kasim.

26 - Lintang Kerti

“Lama kemudian kedua putra itu tumbuh menjadi
pemuda tampan, mandiri, dan kuat menjalani kehidupan.
Ketika beranjak dewasa itulah, Angksari membangun gubuk
sendiri tak jauh dari gubuk sang Betari Guru, sedangkan
Angkarasa membangun gubuk jauh ke pedalaman hutan;
memberikan ketenangan hidup masing-masing.

“Pada suatu hari, Betari Guru hendak memberikan
pesan terhadap dua putra. Namun, ia tidak ingin pesan itu
tersampaikan satu-satu. Untuk itu, sebelum ia mengatakan
pesan utama, ia meminta Angkasari untuk memanggilkan
Angkarasa agar mereka bertemu dan berkumpul di gubuk
sang Betari Guru. Maka, berangkatlah Angkasari ke pedalaman
hutan.

“Tiba di muka gubuk Angkarasa, ia merasa aneh sebab
hawa panas merebak di sekitar sana. Ia merasa tidak enak dan
hampir membatalkan niat. Namun, amanat tetaplah amanat,
ia tidak bisa harus menyampaikan pesan sang Betari Guru. Ia
masuk gubuk itu dan didapatilah Angkarasa terbaring sakit.
Pada dipan di pojokan sana, Angkarasa tidur gelisah dan
tidak tenang. Ia berselimut dan mengucurkan keringat. Alih-
alih dapat menenangkan Angkarasa, Angkasari terpental ke
luar rumah saat mendekati dipan. Hawa panas dari tubuh
Angkarasalah sebab ia terlempar.

“Ia menduga-duga kalau Angkarasa tidak dapat
mengendalikan kekuatan besar dari tubuhnya. Ia kembali
ke dalam gubuk dan didapatilah Angkarasa telah bangun
dan duduk, sembari menceracau, "Pergilah Kau dari sini,
Angkasari! Pergi!”

“Kenapa Engkau berkata seperti itu, ya, Kakakku?

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 27

“Pergilah Kau dari sini! Pergi! Tidak saja Kau membuatku
bertambah nelangsa. Kau juga membuatku tambah tersiksa
di sini.

“Angkasari sempat membeku mendengar perkataan kasar
Angkarasa, tetapi ia tetap berniat memberitahukan pesan sang
Betari Guru. Ia kembali mendekat, tetapi hawa panas dari
tubuh Angkarasa kembali mementalkan tubuh Angkasari
hingga terpelanting ke luar gubuk.

“Ia marah. Ia gelap mata. Ia tidak bisa lagi memahami
keadaan; malah, ia berkesimpulan bahwa Angkarasa
telah menantang dirinya, menantang tenaga dalam dan
kesaktiannya. Lantaran ia tidak ingin terpental untuk ketiga kali,
ia pulang dengan hati panas. Ia kemudian memberitahukan
sang Betari Guru bahwa Angkarasa tidak ingin menghadap; ia
justru berusaha bertanding mengadu kekuatan.

“Mendengar kabar dari Angkasari, seketika Betari Guru
murka. Hawa panas yang sama mendidih dari balik tubuh
sang Betari Guru. Tetapi, hawa panas itu segera reda seiring
sang Betari Guru menenangkan diri. Lelaki tua itu kini tidak
dapat berkata-kata lantaran kecewa dengan Angkarasa. Ia sakit
hati karena telah tidak dianggap mulia lagi oleh sang putra.
Ia meradang dan dengan segenap sisa-sisa kekuatan dewa
yang ia miliki, ia menyumpahi Angkarasa menjadi seekor ular.
Manakala mulut baru saja mengatup, langit menghitam dan
guntur menggelegar, membuktikan kesaktian sumpah sang
Betara Guru.”

28 - Lintang Kerti

Laksmi memberi jeda. Ia mengser duduk, begitu pun
Sri. Ia mulai gelisah mendengarkan cerita Ibunya. Lalu ia
menceletuk, “Lalu, apa yang terjadi dengan Angkarasa, Bu?”

“Menakjubkan,” ujar Ibunya, “Yang terjadi terhadap
Angkarasa itu menakjubkan. Tetapi, untuk mengetahui itu,
sang Betari Guru tidak melihat dengan mata kepala sendiri.”

“Terus bagaimana, Bu? Terus bagaimana?” cecar Sri
penasaran.

“Jadi begini.” Laksmi mulai menyungging senyum kepada
Sri karena rasa penarasan itu. Ia pun melanjutkan, “Jadi begini
… sang Betara Guru mengurus Betara Narada untuk―”

“Siapa Betara Narada, Bu?” sela Sri.

“Hmmm ... siapa coba?” ujar Laksmi iseng. “Betara Narada,
sebut saja salah satu manusia yang memiliki keistimewaan
yang sama seperti Betara Guru. Ia juga turun ke bumi untuk
melaksanakan, mendamaikan, dan mengolah sumber-sumber
kehidupan di bumi.”

“Oh.” Sri meng-O bulat. “Lalu, Bu?”

“Ketika Betara Narada menegok ke gubuk Angkarasa,
lelaki itu sudah tidak ada di mana-mana. Di amben sudah
tidak ada. Di dapur sudah tidak ada. Tetapi, sebelum Betara
Narada hendak bertolak, ia mendengar desis ular. Ia masuk
gubuk lagi dan didapatilah seekor ular mendesis dari kolong
amben.

“Tak dapat diragukan lagi, ular itu bukanlah ular lain,
melainkan jelmaan Angkarasa atas kutukan Betari Guru.

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 29

Lantaran merasa kasihan dengan ular itu, Betari Narada
memelihara ular itu dan memberikan sebuah nama, Antaboga.
Selain karena ia tidak menemukan apa-apa di gubuk itu, ia
semakin mengasihani Antaboga karena ia berbadan panas,
dan panas itu tidak berubah sejak pertama kali ia ditemukan.

“Mula-mula Betari Narada mengira panas itu sekadar
suhu berlebih dari si ular. Tetapi kemudian ia memastikan
bahwa hawa panas itu adalah kelainan, berupa rasa sakit dari
si ular. Lama sudah ia berusaha menemukan obat, tetapi tak
satu pun ditemukan dan manjur. Ia kemudian mengorek-
ngorek telinga si ular dan ditemukanlah sebuah telur. Telur
itu pun sama panas dengan badan si ular.

“Ketika telur itu dapat dikeluarkan, telur itu justru lebih
panas dan bertambah panas lagi, sampai-sampai ia tak
sanggup dipegang dengan tangan sakti Betari Narada. Berkata
tolakan tangan sakti Betara Narada dan ditambah dengan
panas yang menjadi-jadi, telur itu terlempar jauh ... jauh sekali
... hingga mencapai Sapta Loka.”

“Sapta Loka itu apa, Bu?” tanya Sri.
“Bumi lapis ketujuh.”
“Berapa lapis kira-kira bumi kita, Bu?”
“Entahlah.”
“Tujuh kah?”
“Mungkin.”
“Kok mungkin? Kan ada Sapta Loka?”

30 - Lintang Kerti

“Menurut legenda, memang begitu.”

“Oo ....”

“Mau lanjut cerita atau berhenti sampai di sini saja?”

“Lanjut, Bu.”

“Baik,” sambung Laksami, “Di Sapta Loka, telur itu
ditemukan oleh Dewi Pertiwi. Lantaran kasihan terhadap telur
itu, Dewi Pertiwi pun memeliharanya. Tetapi, lama kemudian,
si telur malah tidak bereaksi apa-apa. Lalu, dengan segenap
kekuatan seorang dewi, telur panas itu ia erami, sehingga
tiba masa menetas, telur itu menghasilkan emban dunya dari
kulitnya, senjana dari cairan putihnya, dan Dewi Sri dari cairan
kuningnya.

“Jadi.” Laksmi menekankan. “Secara tidak langsung Dewi
Sri adalah anak perempuan Dewi Pertiwi.

“Oo ....” Sri kembali meng-O panjang.

“Lama kemudian, kehidupan berjalan sebagaimana mesti.
Dunia di luar Sapta Loka juga demikian. Sampai kemudian
Dewi Pertiwi dan Dewi Sri menjalani kehidupan sebagaimana
manusia biasa di permukaan bumi di mana Betari Guru, Betari
Narada, dan Angkasari memiliki kehidupan sendiri masing-
masing.

“Dewi Sri tumbuh menjadi perempuan cantik sehingga
setiap laki-laki pastilah menaruh hati kepadanya. Pada suatu
hari, Dewi Sri dipertemukan dengan Batari Guru yang sudah
sangat tua. Melihat kecantikan Dewi Sri, Batari Guru tergoda
untuk menjalankan suatu perjodohan dengan Budug Basu.”

“Siapa Budug Basu itu, Bu?”

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 31

“Hmm ... dia adalah seorang manusia yang kini hidup
bersama dengan Batari Guru.”

“Hmm ....”

“Lanjut?”

“Ya, Bu.”

“Lantaran perjodohan itu, Dewi Sri bercerita tentang
betapa enggan ia dipersunting oleh lelaki itu. Dan, sebagaimana
keengganan Dewi Sri terhadap lelaki itu, Dewi Pertiwi pun
tidak rela atas perjodohan itu. Lantas Dewi Sri pun menolak.

“Sementara itu, penolakan Dewi Sri pun terdengar sampai
ke telinga Betara Narada yang sudah sama tuanya dengan
Betari Guru. Karena merasa penolakan itu adalah sebuah
penghinaan bagi Betara Guru dan Betara Narada, Betara
Narada pun memaksa Dewi Sri untuk menerima Budug Basu.
Tetapi, Dewi Sri tetap pada pendirian.

“Manakala Betara Narada hampir-hampir putus asa
membujuk dan memaksa, ia kemudian berpura-pura
menghunuskan senjata jungkat7. Dewi Sri tetap menolak
bahkan menerjang senjata itu sampai ia terluka. Senjata itu
merobek kulit, mengucurkan darah, dan seketika menewaskan
Dewi Sri; senjata itu membelah tubuh.

“Meskipun begitu ….” Laksmi berhenti sejenak. “Kematian
itu bukan akhir bagi seorang titisan Dewi. Ia abadi. Suaranya
kadang masih terdengar meraung-raung, kadang sayup-
sayup, kadang lamat-lamat, agar tetap menjadi kenangan bagi

7Ani-ani, ketam.

32 - Lintang Kerti

semua orang tentang peristiwa tragis kematian sang Dewi
Sri. Bahkan di kuburan Dewi Sri, tumbuh sebatang tanaman
dengan batang tak lebih gemuk dari sebuah jari telunjut,
dengan buah biji menjuntai kecil-kecil.”

Dilihat Laksmi, Sri tampak bergairah. Ia menampakkan
mata berbinar ketika sampai pada simpulan itu.

“Lalu, apa lagi, Nok Sri?”

“Tanaman itu kelak disebut padi kan, Bu?”

“Betul sekali,” imbuh Laksmi, “oleh orang-orang, tanaman
itu disebut padi, dan cuma boleh dipotong atau dituai dengan
ani-ani,” pungkas Laksmi.

Usai mendengarkan cerita itu, Sri tampak mengantuk. Jam
menunjukkan pukul satu siang; matahari belumlah condong
barang sedikit saja. Laksmi meninggalkannya sendiri duduk
di sofa ruang tamu. Selesai salat zuhur, alih-alih melihat Sri
tertidur, ia melihat anak perempuan itu sedang termangu. Tak
ayal, Laksmi bertanya, “Kenapa?”

“Aku sedih dengan Dewi Sri, Bu.”

“Kenapa bisa sedih?”

“Karena dia meninggal. Lalu berubah menjadi tanaman
padi.”

Laksmi kembali duduk, memeluk Sri, dan berkata, “Tapi
dia meninggal dengan kemuliaan. Itulah pengorbanan Dewi
Sri. Kita boleh mengambil simpulan begitu. Pengorbanan itu
adalah segala-gala bagi seseorang yang memiliki pendirian
teguh. Maukah kamu seperti Dewi Sri kelak?”

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 33

“Yang teguh pendirian, mau,” ujar Sri.
“Jadi, jika kelak kamu mau merawat sawah Nenek?”
“Mau, Bu.”
“Baik.”
Dengan segenap kelembutan seorang Ibu, Laksmi
meletakkan sebuah bantal, dan Sri pun rebah. Meski tampak
mengantuk, ia tak juga memejamkan mata. Ia sedang
memikirkan hal lain, dan Laskmi pun tergerak mengetahui.
“Kenapa? Belum ngantuk?”
“Belum.”
“Lapar?”
“Nggak, Bu,” ujar Sri, “oh ya, Bu.” Mendadak ia bangun.
“Musim panen depan, aku harus nonton wayang kulit.”
Laksmi mengangguk. Ia merasakan Sri mulai menggemari
lakon Dewi Sri, dan perlahan-lahan barangkali ia akan
mengenalkan lakon tersebut melalui pagelaran wayang kulit.
“Tapi, Bu, kenapa di Tegalurung malah nanggap
sandiwara? Bukan wayang kulit?”
“Mungkin karena mereka butuh selingan saja. Tahun lalu
‘kan kita udah nonton sandiwara, maka tahun ini mungkin
ganti pagelaran wayang,” papar Laksmi. Saat melihat Sri
kurang puas dengan jawabannya, ia menambahkan, “Baik
pagelaran sandiwara atau wayang kulit itu sama-sama baik,
Nok. Ucap syukur para petani bukan cuma dari nanggap kedua
pagelaran itu, melainkan dari rasa bungah kita dalam hati.

34 - Lintang Kerti

Dari pagelaran itu, orang-orang diharapkan dapat menarik
pelajaran dan pemahaman luhur dari lakon Dewi Sri.”

Bagi seorang anak seperti Sri, lakon Dewi Sri itu lebih
nyata dari kenyataan itu sendiri. Ia kerap merenung tentang
bagaimanakah Dewi Sri menitis ke bumi. Meskipun ia tahu
cerita itu sekadar legenda, ia menyakini ada sesuatu yang
nyata dari Dewi Sri. Ia memikirkan bagaimana seorang anak
berubah menjadi seonggok batu sebagaimana terjadi pada
Malin Kundang; ia memikirkan bagaimana sebuah perahu
berubah menjadi ceruk tebing sebagaimana terjadi pada
Tangkuban Perahu; pun ia memikirkan bagaimana seorang
perempuan sejati berubah menjadi tanaman cantik serupa
padi.

Kemudian, ia mengandai-andai apabila Dewi Sri
sebenarnya tidak mengorbankan diri dan lantas berubah
menjadi padi, tetapi ia moksa tanpa seorang manusia pun
tahu sebagaimana kemungkinan Nabi Isa diangkat Tuhan
ke langit. Ia mengira-ngira apabila Dewi Sri mungkin telah
digantikan—entah dengan cara apa—oleh tanaman padi,
sehingga para manusia tertipu oleh kesaktiannya.

Jika benar, ke manakah ia berada sekarang? Terakhir,
Sri menarik senyuman. Matanya yang sayu perlahan-lahan
memejam. Rasa lelah dan kantuk sudah tak tertahankan lagi.
Ia tidur lelap, dan bermimpi indah, bertemu dengan Dewi Sri
di Sapta Loka.

Indramayu, 2021

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 35

Hikayat Pohon Mangga

Oleh: Suryana Hafidin

Di sebuah lahan yang sukar, tidak terurus—penuh
dengan rumput yang tinggi-tinggi—berdiri kokoh
sepohon mangga tinggi besar. Batangnya berdiameter
luas, tidak cukup satu pelukan orang dewasa. Daunnya hijau
lebat, sangatlah rindang jika kita sekadar berdiri di bawahnya.
Buahnya bercokol di mana-mana. Besar seperti puluhan bola-
bola yang bergantu-ngan di setiap rantingnya. Konon, dulu
pohon mangga di sana berjumlah belasan dan rasa buah
mangganya sangatlah enak. Setiap musim mangga, banyak
orang yang sengaja duduk-duduk di sekitaran lahan tersebut
hanya untuk menunggu berjatuhan buah-buah itu. Sayangnya
berbagai macam peristiwa alam dan alasan, satu per satu
pohon mangga itu tumbang dan ditumbangkan. Tersisa
sepohon yang kini jadi rebutan antar saudara. Di sanalah

36 - Lintang Kerti

biasanya Tuti menghabiskan waktu senggangnya bersama
teman-temannya. Biasanya mere-ka memunguti daun-daun
mangga, juga rerumputan untuk ber-main masak-masakan.

“Tuti, ada mangga yang sudah masak itu!” teriak salah
satu temannya.

“Wah iya, pasti manis itu,” jawab Tuti yang sedang
mengulek pecahan bata merah.

“Ayo kita ambil saja, kan ini milik Kakekmu.”

“Ah, sejak Kakek tak ada, Ibu menyarankan agar tak
mengambil mangga seenaknya. Nanti Paman dan Bibi marah-
marah lagi.”

Lahan tersebut adalah warisan Kakek Tuti. Selama hidup
Kakek Tuti tidak pernah mewasiatkan apa pun selain pesan,
“Rawatlah kebun ini, kelak nanti akan bermanfaat untuk orang
banyak.” Karena tidak ada wasiat yang mewariskan, lahan
tersebut menjadi rebutan. Semua karena sepohon Ma-ngga
yang tersisa di lahan tersebut. Semua keluarga Tuti sangat
menyukai buahnya. Setiap kali berbuah semua beradu cepat
untuk mengunduh.

Orang tua Tuti tidak pernah ikut campur urusan buah
mangga. Mereka lebih menghindari pertikaian saudara. Itulah
sebabnya Tuti hanya bisa memandang dan membayangkan
enaknya makan buah mangga dari lahan tersebut. Padahal dulu
ketika Kakeknya masih hidup, Tuti selalu diberi banyak buah
mangga dari Kakeknya. Kakeknya pernah bercerita, bahwa
buah mangga sejak dahulu menjadi tanaman yang wajib ada
di setiap pekarangan rumah. Makanya pohon mangga banyak

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 37

tumbuh subur di Kota Indramayu. Meskipun di daerah-daerah
luar Indramayu pun tumbuh, akan tetapi kepopuleran mangga
Indramayu ini berbeda dan lebih diunggulkan. Selain karena
melimpahnya, buah mangga di kota ini terbilang memiliki
rasa yang lebih unggul dibandingkan dengan buah mangga
dari daerah lain. Sebab itulah kota ini dijuluki sebagai Kota
Mangga. Di Indramayu bisa tumbuh banyak jenis mangga
baik yang unggulan maupun yang bukan unggulan. Mangga-
ma-ngga seperti mangga Cengkir, Arumanis (Harumanis), dan
Ge-dong Gincu. Sedangkan mangga yang bukan unggulan
seperti Mangga Bapang, Kueni, dan lain sebagainya. Selain itu
di Indramayu juga banyak juga mangga-mangga yang belum
diketahui banyak orang luar Indramayu seperti mangga Golek,
Gajah, Manalagi, dan lain sebagainya.

Kakek Tuti juga pernah menceritakan jika mangga Kakek
pernah dikirim untuk presiden pertama Indonesia. Katanya,
ketika Soekarno berkunjung ke Indramayu untuk menengok
markas PETA (Pembela Tanah Air) di Desa Bulak Kecamatan
Jatibarang, Beliau diberikan hidangan buah ma-ngga yang
dipetik dari pekarangan Kakek, sejak saat itulah Soekarno
dikabarkan jatuh cinta pada buah mangga Indramayu.

“Tuti, ada mangga yang jatuh!” teriak Ani yang sedang
mencari bahan-bahan tambahan untuk dimasak bersama.

“Mana-mana?” Dengan sergap Tuti bangun dan me-
luncur ke arah Ani. Ani menunjukkan mangga yang sudah
bopeng.

“Yah, pasti bekas codot. Sudah, buang saja.” Tuti berbalik
dengan gontai kembali ke tempat semula.

38 - Lintang Kerti

“Tuti, lihat. Ada bayi pohon mangga.” Ani menunjuk tunas
yang tumbuh dari biji bekas codot yang lainnya. Tuti kembali
bangun dan meluncur ke arah Ani.

“Wah lucunya. Kubawa pulang ah.” Tuti memungut bayi
pohon mangga itu pelan-pelan seolah-olah benar-benar
sesosok bayi. Kemudian ia izin pada teman-temannya pulang
untuk meletakkan bayi pohon mangga itu di rumah. Tuti
kemudian meletakkan bayi pohon mangga itu di sebuah pot
yang kosong. Kemudian ia siram dengan sangat hati-hati.

“Semoga kau cepat tumbuh besar ya, bayi.”
“Sedang apa, Tuti?” Bapaknya muncul dari belakang.
“Menyiram bayi pohon mangga, Pak”
“Dapat dari mana bayi pohon mangga itu?” tanya
Bapaknya.
“Dari kebun Kakek.”
“Pak, memang pohon Mangga bisa melahirkan, ya?” tanya
Tuti.
“Setiap pohon memiliki peluang untuk berkembang
biak juga seperti makhluk hidup yang lainnya, tetapi bukan
melahirkan apalagi bertelur. Ada berbagai macam cara
tumbuhan berkembang biak. Salah satunya ada yang melalui
cangkok seperti pohon mangga, sawo, ada juga byang dengan
setek batangnya seperti singkong, atau daunnya seperti lidah
buaya. Nah ada juga yang tumbuh alami dari bijinya seperti
bayi baru Tuti ini.”

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 39

“Berarti kita bisa dong memperbanyak pohon mangga
Kakek ini, kemudian bisa kita bagikan ke Paman dan Bibi.”

“Bisa, asal Tuti mau merawatnya tumbuh.”
Tuti langsung membayangkan banyak bayi-bayi pohon
mangga Kakek tumbuh kembali di kebun Kakek. Kemudian
bayi-bayi itu tumbuh besar, sehingga kebun Kakek tampak
seperti dulu. Tuti bisa makan mangga sepuasnya lagi. Banyak
juga masyarakat yang bisa menikmati buah mangga dari
kebun Kakek. Kemudian Tuti juga membayangkan beberapa
bayi yang tumbuh itu akan diberikan kepada Paman dan Bibi.
Agar tidak ada lagi pertikaian karena sepohon mangga.
“Baiklah, ayo kita ciptakan bayi-bayi mangga yang lain!”
teriak Tuti dengan penuh semangat.

Indramayu, 2021

40 - Lintang Kerti

Kreteg Sewo

Oleh: Suryana Hafidin

Libur sekolah telah tiba, aku berkunjung ke rumah Ayu,
saudara sepupuku dari Bapak. Ayu tinggal di Sukra, suatu
desa yang terletak di ujung perbatasan Indramayu dan
Subang. Ini kali pertama aku datang ke rumahnya. Bapak
membawaku dengan sepeda motornya menyusuri jalanan
Pantura yang penuh lalu-lalang mobil-mobil tinggi dan besar.

“Wah, petualangan liburanku baru saja dimulai” sahut-ku
dalam hati. 

Angin laut terus mengusik sepeda motor kami, sehingga
aku harus berkali-kali membetulkan posisi helm yang kalang
kabut diterpa angin. Lima puluh menit waktu yang ditempuh
Bapak untuk membawaku sampai ke rumah Ayu. 

Rumah Ayu tidak jauh dari jalan Pantura. Aku telah
banyak mendengar bahwa Ayu seringkali mendapatkan

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 41

tambahan uang jajan setiap hari hanya dengan menyapu koin
di jalanan. Apalagi saat-saat liburan, katanya. 

Saat aku dan Bapak tiba, Ayu tidak ada di rumah. Kata
Ibunya, kalau pagi-pagi Ayu berangkat menyapu koin di Kreteg
Sewo.

Aku pun bertanya, “Kenapa harus menyapu koin di jalan?
Kan berbahaya?”

“Menyapu koin sudah menjadi tradisi masyarakat sekitar
Kreteg. Sungai Sewo memiliki sebuah legenda mistis yang
dipercaya secara turun-temurun.”

“Legenda itu apa, Bi?” tanyaku penasaran.

“Legenda itu cerita rakyat. Sama seperti Sangkuriang,
Roro Jonggrang, nah di sini juga punya legenda, namanya
Saeda Saeni,” jawab Bibi Karti sambil meletakkan minuman
di depan meja kami. 

“Dartim, suamimu ke mana, Ti?” tanya Bapak menyela
rasa penasaranku. 

“Dartim ke sawah, Kang. Lagi nyemprot,” jawab Bibi Karti. 

Kemudian percakapan dipenuhi dengan cerita Bibi
Karti tentang sawahnya yang akan panen paling tidak bulan
depan. Aku yang tak begitu tertarik hanya menyandarkan
badan ke belakang. Kemudian perlahan-lahan kelopak mata
mulai turun. Beruntung tak lama kemudian Ayu datang dan
membuyarkan rasa kantukku. Aku bersyukur tak terjebak
bosan terlalu lama. 

“Ayo, kita main!” Ayu menarik tanganku kemudian
menuntun ke luar.

42 - Lintang Kerti


Click to View FlipBook Version