The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Cerita Anak dengan mengangkat legenda rakyat Indramayu

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kkusyoto, 2021-11-13 06:14:46

Lintang Kerti

Cerita Anak dengan mengangkat legenda rakyat Indramayu

Keywords: anak

“Ke mana?” tanyaku penasaran.

“Ke Sungai,” jawab tegas Ayu.

“Hah, Sungai Sewo?”

“Iya.” 

Aku langsung begidik ketika mendengarkan Sungai Sewo.
Teringat cerita Bi Karti di rumah. Namun tarikan Ayu sekuat
langkah kakinya. Aku menurut seperti tahanan kepolisian.
Tidak sampai beberapa menit, langkahnya membawaku
sampai di tepian sungai. Di depanku tampak sebuah sungai
yang cukup lebar. Air sungainya mengalir pelan dan warnanya
keruh kecokelatan seperti warna sungai di Indramayu pada
umumnya. Tidak jauh di sebelah kiriku bertengger sebuah
jembatan besar. Terlihat cukup banyak orang duduk-duduk
di pinggirannya kemudian sesekali berdiri mengangkat sapu
dan berteriak. 

“Itu yang dinamakan Kreteg Sewo.” Ayu menjelaskan,
meskipun aku sudah mengingat kata-kata Bi Karti. “Orang-
orang itu sama seperti aku, menunggu pengendara-
pengendara yang melintas melemparkan uang recehan ke
jalanan.”

“Untuk apa pengendara itu melemparkan uang?” tanyaku
penasaran. 

“Ya, konon agar selamat, sungai ini menyimpan banyak
cerita misteri. Jika ada kendaraan lewat Sungai Sewo tidak
melempar uang maka akan mendapatkan petaka. Dulu pernah
terjadi kecelakaan sebuah bus transmigran asal Boyolali di
Kreteg, itu pada 11 Maret 1974. Hanya satu penumpang
yang selamat, dan itu seorang bayi laki-laki.” 

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 43

Aku hanya memperhatikan Ayu yang mulai merayap
turun dari tanggul untuk mengambil tanah yang lebih basah.
Ia kemudian mengepal-ngepalkan tanah itu sampai sebesar
bola kasti baru kemudian beranjak naik ke atas tanggul. 

“Sungai ini juga punya misteri buaya putih, penung-
gunya.”

“Hah, buaya putih?” Bulu kudukku langsung berdiri
mendengar Ayu menyebut buaya putih.

“Iya, jelmaan dari Saenih.”
“Apa maksudmu adalah Saeda Saeni?” tanyaku sepintas
mengingat kata-kata Bi Karti di rumahnya. 
“Mereka itu kakak-beradik, Saeda itu adiknya.” Ayu
kemudian duduk di pinggiran tanggul. Kepalan tanah itu
dicubitnya kecil-kecil kemudian dilemparkannya ke air sungai.
Adegan itu ia ulang-ulang sampai tanah di tangannya habis. 
“Ceritanya ada sebuah keluarga yang dikepalai oleh
Sarkawi, beranggotakan istri Sarkawi dan dua orang anaknya,
Saeda dan Saeni. Suatu saat Sarkawi pergi untuk naik haji.
Tiba-tiba di tengah perjalanan Sarkawi tergoda dengan penari
ronggeng yang bernama Maimunah. Sarkawi dan Maimunah
akhirnya menikah tanpa sepengetahuan keluarganya di
rumah. Tujuh bulan lamanya Sarkawi tidak datang, sementara
Istri Sarkawi jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia.
Beberapa hari kemudian Sarkawi memutuskan untuk pulang
ke kampung halaman dengan membawa istri mudanya.”

44 - Lintang Kerti

“Ayo coba kau lempar juga!” Ayu menyuruhku men-coba
melakukan apa yang dilakukannya. 

Aku kemudian merayap turun ke bawah mengambil tanah
liat di pinggiran sungai, mengepal-ngepalkannya seperti yang
dilakukan Ayu sebelumnya. Kemudian kembali naik ke atas
tanggul. Setelah mendapatkan tanah sebesar bola kasti, aku
mencubitnya menjadi bola-bola lebih kecil kemudian melem-
parkannya ke arah air sungai. 

“Lemparanmu payah!” ejek Ayu melihat lemparanku tak
sampai menyamai jarak lemparan Ayu. 

“Terus setelah pulang apakah dia tahu kalau istrinya
meninggal?” tanyaku mengenai ceritanya yang terpotong tadi.

“Ya setiba di rumah, Sarkawi terkejut karena men-
dengar kabar dari anaknya, bahwa ibunya sudah meninggal.
Seolah tanpa rasa bersalah, Sarkawi kemudian mengenalkan
Maimunah sebagai Ibu baru kepada Saeda dan Saeni. Sejak
saat itulah Saeda dan Saeni tinggal bersama Ibu tirinya.

“Suatu ketika, Sarkawi pergi bekerja, dan Maimunah pergi
ke pasar. Maimunah berpesan kepada Saeda dan juga Saeni
untuk tidak menggunakan uang dan beras selagi ibunya pergi.
Namun karena Saeni lapar, lantas Saeda memasak beras untuk
memberi adiknya makan. Maimunah yang mengetahui hal
itu langsung mencaci-maki kedua anak tersebut. Kemudian
dengan beralasan merasa bersalah, Maimunah mengajak
anak-anaknya berjalan-jalan. Namun, Saeda dan Saeni malah
ditelantarkan di hutan.”

“Ada ya orang tua sejahat itu?” Aku menyanggah.

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 45

“Ada, Maimunah contohnya. Setelah ditinggalkan ada
seorang kakek tua mendekati Saeni, lalu ia memberi tawran
kepada Saeni, bahwa Saeni akan dijadikan penari ronggeng
tetapi mereka mengadakan perjanjian. 

“Akhirnya Saeni menjadi penari ronggeng sedangkan
Saeda jadi tukang kendangnya, hidup mereka menjadi jauh
lebih baik. Bahkan mereka berniat untuk membayar hutang
kepada ibu tirinya. Seiring waktu berlalu si kakek tua pun
menagih janji, tak lama kemudian Saeni berubah menjadi …
buaya putih.”

“Lalu ke mana perginya Saeda?” 

“Saeda pulang ke rumah untuk memberitahukan orang
tuanya. Kemudian tanpa berpikir panjang Saeda dan orang
tuanya menuju ke Sungai Sewo.Tak lama kemudian Sarkawi
terjun ke sungai karena frustrasi. Sarkawi pun berubah wujud
menjadi bale kambang (balai yang mengambang). Begitu pula
istri mudanya, Maimunah menjadi pring ori (bambu). Oleh
karena melihat keluarganya sudah tidak ada semua, badan
Saeda terasa lemas, Saeda menangis sejadi-jadinya dan
berubah wujud menjadi sebuah pohon.”

Aku melihat Ayu merayap turun lagi. Namun kaki kirinya
tergelincir sehingga ia terguling dan jatuh ke sungai. Aku
terkejut dan langsung teriak memanggil-manggil Ayu yang
berusaha naik. Tak lama ada seorang laki-laki membanting
sepedanya kemudian berlari ke arah Ayu terjatuh. Ia masuk
ke dalam air dan meraih tangan Ayu kemudian menariknya
ke tepi. Ayu berhasil naik dengan nafas yang terengah-engah. 

46 - Lintang Kerti

“Bapak!” Ayu memeluk laki-laki yang ternyata adalah
Mang Dartim, bapaknya. 

“Kamu ini ‘kan bisa berenang, kenapa bisa tenggelam
begitu?” ujar Mang Dartim sambil menepuk-nepuk pundak
Ayu. 

Ayu kemudian terbatuk-batuk. 
“Apa mungkin Ayu ditarik buaya putih, Mang?” Aku tanya
dengan merinding.
“Paling juga karena kaget. Begitu masuk ke dalam air
tanpa pertanda, siapa pun akan mungkin merasa takut serta
panik. Sudah, ayo kita pulang.”
Bapak Ayu kemudian menuntun kami pulang. Ayu
berjalan menahan gigil, sementara aku menuntun tangannya.
Sesampainya di rumah, Bi Karti kaget dengan kondisi
Ayu yang basah kuyup. Bi Karti langsung berlari ke belakang
mengambilkan handuk dan menyuruh Ayu untuk segera
mandi. Suasana keluarga ini jauh berbeda dengan cerita yang
diceritakan Ayu tentang Saeda Saeni. Kedua orang tuanya
begitu menyayangi Ayu.
Aku kemudian melihat tangan Bapak menggamit
tanganku. “Kau tidak apa-apa?” tanya Bapak pelan.
Aku hanya menggeleng dan menangis di pelukannya.
Betapa malangnya hidup Saeda Saeni.

Indramayu, 2021

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 47

Asal Muasal Desa
Pekandangan

Oleh: Ika Rizqiyawati

Pekandangan awalnya bernama Pedukuhan Kandang
Garuh yang dipimpin oleh Ki Gede Kandang Garuh
dipanggil juga Ki Gede Garuh.
Suatu hari, Putri Keraton Cirebon yaitu Nyi Mas
Panguragan mengadakan sayembara mencari calon suami.
Tak tertinggal, Ki Gede Kandang Garuh mengikuti sayembara.
Karena kesaktiannya, Ki Gede Garuh memenangkan sayem-
bara. Namun, Nyi Mas Panguragan dalam hati merasa kecewa
dengan hasilnya sehingga Nyi Mas Panguragan mengajukan
syarat kepada Ki Gede Kandang Garuh untuk membuat masjid
dalam satu malam.

“Ki Gede, saya mempunyai satu lagi syarat yaitu
kamu harus membangun masjid dalam satu malam,”
ucapnya kepada Ki Gede Kandang Garuh.

48 - Lintang Kerti

“Baik, akan saya lakukan,” jawab Ki Gede Garuh.

Ki Gede dengan kesaktiannya mulai membangun masjid.
Melihat pembangunan masjid yang hampir selesai membuat
Nyi Mas Panguragan panik.

Bagaimanapun juga aku harus menghentikan Ki Gede
Garuh, ucapnya dalam hati.

Nyi Mas Panguragan membentangkan selendang
kuningnya sebagai penanda waktu fajar telah terbit. Suara
ayam pun berkokok.

Kukuruyuuuuk!

Ki Gede pun kaget mendengar suara ayam berkokok.

“Bagaimana mungkin fajar telah terbit? Langit masih
terlihat gelap. Pembangunan masjid belum selesai, namun
fajar sudah terbit,” ucap Ki Gede.

Nyi Mas Panguragan menghampiri Ki Gede Garuh dan
mengatakan bahwa Ki Gede Garuh tidak bisa menikah dengan
dirinya karena syarat yang diajukan tidak bisa dipenuhi.

Nyi Mas Panguragan pun pergi meninggalkan Ki Gede
Garuh yang sedang berpikir dan meratapi masjid yang belum
selesai dibangunnya.

Mengetahui bahwa ia telah dibohongi oleh Nyi Mas
Panguragan. Ki Gede Garuh kesal dan menghancurkan
masjid tersebut. Tempat dibangunnya masjid menjadi sebuah
peduku-han bernama Gelar Mandala dan sungai yang tertimpa
reruntu-hannya terbelah dua yang disebut Sungai Cawang.

Ki Gede pun mengejar Nyi Mas Panguragan
tanpa dise-ngaja Ki Gede Garuh melihat betis Nyi Mas

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 49

Panguragan me-nyebabkan keluarganya sir. Ki Gede Garuh
menyimpan sir pada bokor kencana dan metapai di pinggir
sungai Cimanuk. Setelah sembilan bulan, sir itu berubah
menjadi seorang anak laki-laki yang sudah memiliki nama
lahir, yaitu Jaka Taman. Tempat bertapa terletak di Kedokan
Bokor.

Walaupun Jaka Taman tidak memiliki ibu, Ki Gede Garuh
membesarkan ia dengan penuh kasih sayang.

Suatu hari, ketika Jaka Taman mencapai usia 19 tahun,
tiba-tiba datang utusan dari Cirebon bernama Pangeran Pati.
Pangeran Pati datang menemui Ki Gede Garuh karena sudah
bertahun-tahun Ki Gede Garuh tidak berkunjung ke Cirebon.

Ketika Pangeran Pati sampai di tempat tinggal Ki Gede
Garuh, Pangeran Pati menjumpai seorang pemuda bersama
Ki Gede Garuh.

“Ini Suta8, Ki?” tanya Pangeran Pati kepada Ki Gede Garuh

“Iya betul, ini Suta,” jawab Ki Gede Garuh.

Sejak saat itu, Jaka Taman dipanggil Suta. Pangeran Pati
menyampaikan maksud kedatangannya bahwa Ki Gede Garuh
ditugaskan untuk menjaga Gedong Silaradenok.

“Ki Gede Garuh mau tidak mau, harus jaga malam ini,”
ucapnya.

Ki Gede Garuh menjawab, “Saya sudah tua, Suta saja yang
menjaga.”

Akhirnya Suta berangkat menggantikan bapaknya untuk
menjaga Gedong Silaradenok.

8Bahasa Sunda: Anak.

50 - Lintang Kerti

Sebelum Suta pergi, Ki Gede Garuh memberikan sebuah
keris kepada Suta. “Suta, Bapak tidak bisa berangkat. Sebagai
gantinya, bawa keris Syekh Kober ini mendampingi tugasmu
menjaga Gedong Silaradenok.”

Suta pun menuruti perintah bapaknya dan menyelipkan
keris dalam ikat pinggangnya.

Suta berangkat menuju Cirebon dengan Pangeran Pati.
Sesampainya di Cirebon, Pangeran Pati dan Suta bertemu
dengan Sunan Gunung Jati.

Pangeran Pati menyampaikan, “Sunan, pemuda ini
adalah anak Ki Gede Kandang Garuh untuk menggantikannya
menjaga Gedong Silaradenok.”

Sunan Gunung Jati pun terkejut. “Mana mampu anak
yang masih belia ini menjaga Gedong Silaradenok? Para
pendekar yang sudah melanglang buana dan berilmu tinggi
saja banyak yang tidak mampu. Karena dalam Gedong
Silaradenok terdapat keris Naga Runting. Namun jika sudah
menjadi keputusan Ki Gede Kandang Garuh tidak apa-apa.”

Akhirnya malam itu, Suta menjaga Gedong Silarade-nok.

Di balik tirai, Putri Sekar Kedaton mendengar percakapan
dan melihat sesosok pemuda yang gagah. Melihat sang
pemuda, Putri Sekar Kedaton meminta ayahnya untuk tidak
menugaskan pemuda tersebut menjaga Gedong Silaradenok
namun Sunan Gunung Jati menolak. “Anakku, itu sudah
menjadi tugas pemuda tersebut.”

Putri Sekar Kedaton menuruti perintah ayahnya.

Semalaman suntuk Suta menjaga Gedong
Silaradenok. Pagi harinya, ketika Suta sedang berbaring

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 51

dengan mata tertutup. Orang-orang mengira Suta sudah
meninggal namun ketika ingin dimakamkan Suta pun
terbangun. Orang-orang pun kaget. “Bagaimana pemuda
kemarin sore mampu menjaga Gedong Silaradenok terdapat
Keris Naga Runcing yang mematikan?” ucap para pinangeran.

Karena tugasnya sudah selesai, Suta pun menemui Sunan
Gunung Jati untuk pamit.

Melihat Suta yang masih tampak bugar dan baik-baik
saja setelah semalaman menjaga Gedong Silaradenok, Sunan
Gunung Jati penasaran dan bertanya, “Wahai Suta, apa yang
bapak kamu berikan sehingga kamu bisa terhindar dari keris
Naga Runting?”

“Bapak saya tidak memberikan apa-apa,” jawab Suta
polos.

“Namun, saya menemukan keris ini”―sambil menun-
jukkan keris―”Sebuah keris yang memiliki dua keris. Ini
mungkin keris kamu. Silakan dibawa,” ucap Sunan Gunung
Jati.

Suta memasukan keris dan pulang ke rumahnya. Sesampai
di rumah, Suta pun sampai dan bertemu dengan bapaknya.

“Suta, mana pusaka yang Bapak berikan kepadamu?”
tanya Ki Gede pada anaknya.

“Ini, Pak,” jawab Suta sambil memberikan keris.

“Ini bukan keris yang Bapak berikan kepadamu,” kata Ki
Gede.

“Tidak tahu, Pak. Itu yang diberikan oleh Sultan.”

“Baiklah, Suta, sampai keris Syekh Kober kembali,
sekarang kamu pergi ke wilayah Bintoro. Sesampainya

52 - Lintang Kerti

di sana tanamlah biji-biji palawija ini sampai tumbuh dan
berbuah. Ketika ada orang yang ingin membelinya tidak boleh
kamu berikan, namun jika ada orang yang meminta, maka
kamu harus berikan,” pesan Bapak.

Suta menuruti perintah bapaknya. Akhirnya, Suta menuju
daerah Bintoro dan membuka lahan untuk mulai menanam
biji-bijian palawija. Di sana Suta dikenal dengan nama Ki Arya
Kebon.

Beberapa tahun kemudian, Putri Sekar Kedaton
mengalami sakit. Ayahnya pun cemas mengundang seluruh
tabib untuk mengobati putrinya namun masih belum bisa
sembuh.

Ki Syafi’i memberitahu Sultan bahwa ada seorang aulia
atau orang suci bernama Ki Arya Kebon.

“Sunan, di daerah Bintoro terdapat seorang aulia bernama
Ki Arya Kebon. Ki Arya Kebon dikenal dengan kebaikan hatinya
karena ketika ada orang yang mau membeli hasil kebunnya
malah tidak diberi, sedangkan saat ada orang yang mau
meminta malah diberi. Lalu ia hanya memakan sisa dari orang
yang meminta,” jelas Ki Syafi’i kepada Sunan Gunung Jati.

“Coba panggil Ki Arya Kebon ke sini,” perintah Sunan.

Ki Syafi’i pun mengunjungi Ki Arya Kebon sebagai utusan
Sunan. Ki Syafi’i menyampaikan pesan sunan kepada Ki Arya
Kebon.

Sampai di keraton, Ki Arya Kebon menjumpai Sultan.
Sultan meminta tolong kepada Ki Arya Kebon untuk mengobati
putrinya.

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 53

Ki Arya Kebon menyetujui dengan satu syarat, yaitu ia
meminta satu pusaka yang ada di Gedong Silaradenok.

Akhirnya Putri kedaton pun sembuh. Sultan pun menepati
janjinya untuk memberikan pusaka yang ada di Gedong
Silaradenok kepada Ki Arya Kebon.

Ki Arya Kebon melihat beragam pusaka di Gedong
Silaradenok, akhirnya ia memilih satu keris yang ternyata keris
yang dipilihnya adalah keris bapaknya yang dahulu hilang saat
ia menjaga Gedong Silaradenok.

Melihat hal tersebut Sultan berucap, “Ini adalah keris
yang hilang saat kamu menjaga Gedong Silaradenok. Akhirnya
keris ini bisa kembali ke kerangkanya seperti kerbau pulang
ke kandangnya.”

“Suta, waktu dahulu kamu berhasil menjaga Gedong
Silaradenok maka saya tambahkan namamu menjadi Suta
Jaya. Dan karena Keris Syekh Kober kembali lagi ke rangkanya
maka pedukuhan itu berganti nama menjadi Pekan-dangan.”

Sejak saat itu, Pedukuhan Kandang Garuh berubah
menjadi Pekandangan. Tahun 1429 sebagai penanda mulainya
Pedukuhan Pekandangan.

Indramayu, 2021

Sumber:

1. Cerita para sesepuh Pekandangan.
2. Wawancara Bapak Asep bin Sapingi bin Amar bin Kalid

bin Narja bin Ki Karibun bin Ki Raden Anas Maksum dari
Keraton Kesepuhan Cirebon. Bapak Asep merupakan
salah satu juru cerita Petilasan Pangeran Suta Jaya,
Pekandangan pada 15 Agustus 2021.

54 - Lintang Kerti

Mimi Rasinah:
Tari Topeng dalam Sukmaku

Oleh: Ika Rizqiyawati

STing teng dung ting crek …
uara irama tetabuhan gendang diiringi suara kecrek dari
saron terdengar dari sebuah sanggar di Pekandangan
Indramayu sebagai pertanda akan dimulainya latihan Tari
Topeng. Anak-anak berbaris mengambil posisi siap latihan
menari. Mbak Aerli berdiri di atas panggung memberikan
instruksi sambil memperagakan lnggak lengkok tarian topeng.
“ji... ro … lu... pat … ma…” aba-aba hitungan terdengar
mengikuti lnggak lenggok gerakan.

Kelihaian Mbak Aerli memperagakan Tari Topeng tidak
terlepas dari didikan neneknya yang merupakan seorang
mestro Tari Topeng Indramayu. Mimi Rasinah adalah
nenek dari Aerli Rasinah. Mimi adalah panggilan “ibu”.

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 55

Saat ini sanggar Mimi Rasinah yang dikelola Aerli dan keluarga
memiliki 50 siswa. Di akhir melatih para siswanya, Mbak Aerli
menceritakan kisah neneknya. “Mimi Rasinah: Tari Topeng
dalam Sukmaku.”

Rasinah lahir di Pemayahan Indramayu, 3 Februari 1930.
Darah seni mengalir dalam dirinya tidak hanya dipengaruhi
faktor keturunan melainkan juga ketekunan berlatih.
Ayahnya seorang dalang topeng dan ibunya seorang dalang
ronggeng. Rasinah kecil tumbuh di lingkungan seniman dalam
bimbingan sang Ayah bernama Lastra.

Seperti kebanyakan orang tua lainnya, Lastra menyimpan
harapan terhadap anak-anaknya untuk meneruskan kesenian
tari topeng. Tidak heran, Lastra sangat menggem-bleng
anak-anaknya. Rasinah, anak sulung dari tujuh bersauda-ra
(Rasinah, Karniti, Warniti, Rastem, Muria, Cita, dan Darmi-ni).
Semua anak-anak dididik menjadi seniman sebagai mena-buh
gendang, gamelan, termasuk Rasinah sejak usia lima tahun
berlatih Tari Topeng. Pada usia 10 tahun, Rasinah sudah bisa
menghasilkan uang jajannya sendiri dari hasil bebarangan
(red: ngamen).

Berlatih dengan ayahnya tidak semudah yang
dibayangkan. Kasih sayang seorang ayah kepada anaknya
ditunjukkan dengan latihan yang sangat disiplin dan ketat.
Jika Rasinah membuat kesalahan maka pukulan maupun
lemparan kendang kecil melayang ke arahnya tak jarang ia
pun menangis.

“Bagaimana kamu bisa menjadi seorang dalang hebat,
jika kamu terus melakukan kesalahan!?” bentak Lastra
sambil melempar drum kecil ke arah Rasinah.

56 - Lintang Kerti

Rasinah pun hanya bisa menangis.

“Suatu hari nanti ketika saya dapat mengajar tari topeng
saya tidak akan mengajari seperti Bapak,” janji Rasinah pada
diri sendiri.

***

Hari pun berlalu, Rasinah tetap menjalani aktivitas
berlatih topeng bersama ayahnya.

Lastra berpesan pada Rasinah. “Nok baka dadi dalang
aja bae ngeluh pegel lan nolak undangane kon pentas walau
lagi lara".9

Pesan ayahnya selalu diingat oleh Rasinah. Seperti anak kecil
seusianya, gemblengan sang ayah yang keras ini membuat Rasinah
ingin rasanya berhenti berlatih, ingin menikmati masa bermain seperti
teman-temannya dibanding latihan.

“Deleng batur-batur pada dolanan kaya e enak temen,
reang saban dina latihan karo bapak. Baka salah diumbangi”.10
Rasinah membatin.

Walau ia merasa iri dengan teman-teman seusianya yang
bebas bermain namun seperti semilir angin yang berhembus ini
hanya menjadi rasa yang sesat. Kondisi ekonomi keluarga yang
mengandalkan saweran maupun bayaran dari pementasan
tari topeng ini membuat Rasinah tetap mematuhi bapaknya.

***

9Nak, jika menjadi dalang jangan mengeluh lelah dan jangan
menolak undangan walau sedang sakit).

10Melihat teman-teman bermain sepertinya menyenangkan,
sedangkan saya setiap hari harus latihan bersama bapak. Jika
salah gerakan dimarahin.

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 57

Seperti kebanyakan perempuan saat itu, Rasinah
menjalani pernikahan dari perjodohan. Di usianya yang
11 tahun, Rasinah menikah dengan Tamar, seorang dalang
wayang kulit, namun pernikahan ini hanya berlangsung 4
tahun, karena Tamar meni-nggal dunia. Dari perkawinannya
ini, ia dikarunia seorang anak, namun sayangnya meninggal
dunia saat kecil. Kehilangan tak membuat Rasinah berputus
asa, Topeng menjadi penghibur suasanya hatinya.

Merintis karier sejak usia dini membuahkan hasil,
Rasinah mulai dikenal sebagai dalang topeng Pekandangan,
Indramayu. Rasinah tak hanya pandai menari topeng, ia pun
pandai memainkan gamelan, kendang, dan memahami semua
ritme musik sehingga ia bisa dengan bebas mengekspresikan
tariannya. Rasinah pun mendapat undangan pementasan
silih berganti. Undangan menari membantu perekonomian
keluarganya.

Kondisi Indonesia yang baru merdeka berpengaruh pada
dunia kesenian saat itu. Saat Agresi Belanda I tahun 1946,
ketika tentara NICA melakukan patroli dan penangkapan,
Lastra ditembak oleh tentara Belanda yang mengira topeng
di balik bajunya itu senjata.

Suara tembakan dan keributan berlarian orang pun
terdengar. Peluru menghunus badan Lastra yang berusaha
menyelematkan topeng agar tidak diinjak oleh tentara Belanda.

Ditinggal meninggal oleh sang ayah sekaligus gurunya,
Rasinah kembali mengalami luka terdalam. Luka kehilangan
tidak serta merta membuat Rasinah kehilangan arah dalam

melanjutkan kariernya menjadi dalang topeng. Rasinah
bersama saudara-saudaranya tetap menggeliatkan Tari

58 - Lintang Kerti

Topeng tak hanya pentas saat ada undangan atau bebarangan,
Rasinah pun mulai mengajar Tari Topeng pada anak-anak di
sekitar tempat tinggalnya.

Setelah Belanda hengkang dan Indonesia bisa menja-
lankan pemerintahan sendiri ternyata tidak menjamin
keaman-an bagi semua. Tahun 1965 bulan September yang
dikenal G30S menjadi titik pengalaman kelam bagi para
seniman, termasuk Rasinah dan grup tari topengnya.

G30S tidak hanya berdampak pada dunia politik
Indonesia melainkan juga berdampak pada kehidupan para
seniman. Pemerintah saat itu, mengecap para seniman
bagian anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Masyarakat).
Hal ini, menyebabkan seniman yang tergabung dalam Lekra
maupun yang tidak mendapat tekanan dilarang mementaskan
keseniannya. Hal ini tidak terlepas dari kekisruhan PKI
yang menjadikan pementasan kesenian sebagai media
menyebarkan propaganda.

“Tidak ada keluarga saya yang tergabung dalam Lekra
namun kami terkena imbas dilarang berpentas,” ucap Rasinah.

***

Lambat laun, pementasan tari topeng mulai hilang. Selain
karena kondisi porpolitikan, munculnya ragam hiburan baru
seperti tarling dan dangdut mulai menggeser tari topeng.
Kebutuhan hidup yang tetap terus harus tercukupi membuat
Rasinah dan keluarganya beralih pekerjaan. Rasinah menjadi
pengasuh anak dan buruh cuci di lingkungan tempat tinggal-
nya, sedangkan nagaya beralih menjadi buruh tani.

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 59

Apakah ada rasa rindu berpentas di panggung? Tentu saja
ada. Seperti semesta menjawab kerinduan Rasinah. Suatu hari,
Rasinah kedatangan tamu seorang dosen yang sedang meneliti
tentang tarian tradisional Cirebon bernama Toto Amsar. Toto
Amsar membujuk Rasinah untuk kembali ke panggung lagi,
namun Rasinah menolak karena sudah 20 tahun ia vakum
dari dunia tari topeng dan kondisi badannya yang sudah tak
semuda dulu (saat itu Rasinah berumur 72 tahun).

“Saya sudah tua, saya tidak seperti dahulu dan sudah 20
tahun saya tidak menari. Bagaimana saya menggigit topeng?
Gigi saya sudah ompong, tinggal dua di atas, dan satu di
bawah,” ucap Rasinah saat Toto memintanya menari.

“Apakah Mimi masih mau menari lagi?” tanya Toto
menyakinkan.

“Masih, tapi bagaimana dengan kebutuhan anak cucu
saya? Jika saya menari, bagaimana dengan makan anak-cucu
saya?” balas Rasinah.

Toto pun tak kalah akal. “Baik Mimi, Mimi mau dibayar
berapa untuk menari?” tanya Toto.

“150.000, setuju atau tidak?” jawab Rasinah setengah
menantang

“Baik, besok kita berlatih,” jawab Toto.

Keesokan harinya. Teriknya matahari Desa Pekanda-ngan
tak menghalangi rasa penasaran Toto melihat kelincahan
Rasinah. Tetabuhan musik pun mulai tedengar, Rasinah sudah
siap dengan topeng di tangannya. Ketika suara musik terdengar

dan topeng dikenakan, Rasinah yang sudah usia senja

60 - Lintang Kerti

bak seperti gadis berumur tujuh belas tahun. Dengan lincah
dan enerjik Rasinah berlenggak-lenggok mengikuti irama
musik.

“Ketika Rasinah mulai menari, ia seperti gadis usia tujuh
belas tahun.” Tanpa disadari air mata Toto menetes melihat
lenggak-lenggok kelincahan Rasinah menari. Sambil menusap
air mata kekaguman Toto pun membatin, hari ini seperti
menemukan harta karun! Ucapan kekaguman Toto pada
Rasinah.

Pertemuan dengan Toto menjadi titik balik Rasinah
membuktikan bahwa kevakuman 20 tahun dan usia
senja tidak berarti menghilangkan roh tari topeng dalam
sukmanya. Rasinah pun mulai kembali menekuni dunia tari
topeng. Rasinah tampil menari di berbagai acara dan negara,
mengajari anak-anak menari dengan membuka sanggar.
Menjadi rutinitas yang ia tekuni di usia senjanya sampai akhir
hayatnya.

“Sehari sebelum Mimi stroke, Mimi menari di Bentara
Budaya, Jakarta. Walaupun dalam kondisi sakit, Mimi tetap
memantau sanggar. Sepertinya doa Mimi terjawab, keinginan
Mimi untuk menari sampai mati,” kenang Aerli mengakhiri
cerita pada murid-muridnya.

Sumber:

1. Film dokumenter berjudul “Rasinah: The Enchanted
Mask”

2. Wawancara dengan Mbak Aerli Rasinah tanggal 9 Mei 2021

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 61

Pasukan Setan Merah

Oleh: Aris Dodi

Suatu sore Pak Darta seorang veteran perang kemerdekaan
menceritakan pengalamannya selama menjadi prajurit
dari Pasukan Setan Merah. Sambil memperlihatkan paha
bekas tembakan peluru panas.

“Pelurunya tembus hingga kena tulang.” Begitu Pak Darta
bercerita dengan semangat.

Lalu seorang anaknya bertanya bagaimana kisah Pak
Darta jadi pejuang. Selang beberapa menit kemudian, Pak
Darta menceritakan awal mula dirinya bergabung dengan
Pasukan Setan Merah. Kisahnya diawali dari Pak Darta masih
muda.

Sejak awal kemerdekaan Pak Darta bergabung dengan
militer untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia

yang kembali di agresi militer Belanda. Pada umumnya

62 - Lintang Kerti

pemuda banyak yang bergabung dengan militer untuk menjadi
pejuang.

“Dulu saya adalah prajurit Kopral Sentot,” tegasnya,
“Kopral Setot itu orangnya keras.” Begitu Pak Darta
menjelaskan dengan agak tinggi. “Kopral Sentot nggak segan-
segan mukul kalo kita salah.”

Pak Darta sering dimintai cerita oleh orang-orang yang
lebih muda darinya. Pada suatu hari Pak Darta didatangi
oleh dua orang pemuda. Kedua pemuda ini adalah panitia
acara peringatan hari pahlawan yang diperingati setiap 10
November.

“Assalammualaikum,” ucap pemuda yang bernama
Slamet.

Salamnya tidak dijawab sepertinya rumahnya sedang
tidak ada orang. Tapi, karena pintu rumah terbuka dan terlihat
sandalnya ada maka pemuda satunya yang bernama Aris
penasaran. Aris mengucapkan salam sekali lagi.

“Assalammualaikum ... punten.”

“Sepertinya kurang keras,” sahut Slamet.

“Assalammualaikum!” Aris mengulangi salamnya dengan
suara lebih tegas.

Terdengar ada suara samar ibu-ibu dari dalam rumah,
dan tidak beberapa lama kemudian keluarlah dari balik tirai
kain seorang ibu-ibu berusia 40 tahun.

“Waalaikummussalam. Iya, Mas, sebentar,” sahut ibu
yang bernama Widya.

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 63

“Ada apa ya, Mas? Mau cari siapa? Mangga silakan masuk.”
Ibu Widya menegaskan untuk mempersilakan mereka masuk.

“Benar ini rumahnya Pak Darta? Veteran Indramayu pada
perang kemerdekaan?” ucap Slamet.

Ibu widya mengganggukan kepala sambari tangannya
mempersilakan mereka untuk duduk. Ketika semua berada di
tempat duduk, Ibu Widya menanyakan maksud mereka yang
ingin bertemu dengan Pak Darta.

“Maaf, Mas, ada tujuan apa ingin ketemu bapak saya?”
tanya Ibu Widya sembari menyodorkan air minum kemasan.

“Maksud kedatangan kami, ingin ketemu dengan Pak Darta
sebagai Veteran Perang kemerdekaan untuk mengundang
beliau di acara peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November
nanti,” jawab Aris

“Kami ke sini untuk menayakan kesanggupan Pak Darta
untuk bisa hadir jadi pemateri, apakah Pak Darta ada? Bisa
kami bertemu?” Slamet menambahkan.

“Sebentar saya cari dulu Bapak, soalnya dari 30 menit
yang lalu tidak ada di rumah biasanya main ditetangga” jawab
Ibu Widya.

Kebiasaan masyarakat desa di Indramayu, kekerabatan
antar tetangga sangat erat. Dan di zaman serba teknologi 
seperti sekarang kebiasaan bercengkrama di waktu istirahat
siang menjelang sore hingga ba’da maghrib sebelum waktu
sholat isya masih sering terlihat. Orang indramayu
menyebutnya “midang” tradisi nongkrong masyarakat desa.

Tidak lama kemudian datang Pak Darta,

64 - Lintang Kerti

“Assalammualaikum ...,” sahut lelaki tua yang dari
usianya diperkiraan 70-an ke atas dengn postur tubuh agak
membungku. Lalu kedua pemuda itu berdiri dan membalas
salam―yang mereka yakini adalah Pak Darta karena wajahnya
sama seperti di foto-foto yang menempel di dinding.

“Waalaikummussalam ....” Segera kedua pemuda itu
menghampiri Pak Darta dan meraih tangan kanannya untuk
disalami. Kemudian kami berjalan bersama menuju tempat
duduk. Setelah beberapa detik kami semua duduk Pak Darta
melanjutkan beberpa pertanyaan kepada kami.

“Sapa ira, Cah?”11
“Kula Aris ... lan niki rencang kula Slamet.”12 Sambil
mengganggukan kepalanya.
“Ana perlu apa?”13 Pak Darta kembali melanjutkan
pertanyaan.
“Sederenge punten umpami kula lan rencang kula
ngeganggu damelnipun Pak Darta.”14
“Eggih mangga, boten ngeganggu.”15 Akhirnya kedua
pemuda itu diizinkan untuk melanjutkan wawancara
dengan Pak Darta. Namun wawancara mereka selanjutnya
menggunakan Bahasa Indonesia.

11“Siapa kamu, Nak?”
12“Saya Aris dan ini temen saya Slamet”
13“Ada perlu apa?”
14 “Sebelumnya maaf jika saya dan teman saya mengganggu akti-
vitas Pak Darta.”
15“Iya silakan, tidak mengganggu.”

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 65

“Apakah benar Pak Darta ini seorang veteran? Sebelumnya
kami ingin silaturahmi sekaligus akan melakukan wawancara.”
Aris menjelaskan maksudnya.

“Iya benar, tuh foto-foto saya di alun-alun kalo setiap 17
Agutus.” Sambil menunjukan foto yang terpajang berjejer di
dinding.

“Bisakah menceritakan seperti apa dahulu Pak Darta
menjadi prajurit?” Slamet memulai pertanyaan.

Kemudian Pak Darta nampak terdiam sejenak, nampak
keningnya berkerut seperti sedang memutar memori
ingatannya.

“Saya ini adalah prajurit perang kemerdekaan, memper-
tahankan negara dari penjajahan kembali oleh Belanda.
Saya tergabung dengan Pasukan Sentot.” Berikut Pak Darta
memulai menceritakan pengalamannya.

“Nama Sentot sangat terkenal di masyarakat Indramayu,
bahkan nama Sentot kini diabadikan menjadi nama sebuah
rumah sakit daerah. Sentot lahir pada tanggal 17 Agustus 1925,
nama aslinya adalah Muhammad Asmat, putra keempat dari
delapan bersaudara. Lahir dari keluarga priyayi, ayahnya
bernama H. Abdul Kahar dan ibunya bernama Hj.Fatimah.
Sentot berpangkat letnan satu, berjuang sejak tahun 1945
hingga 1949. Sejak muda, sifat Sentot sangat bersahabat
dengan masyarakat bawah sehingga banyak yang mendukung
perjuangan bersamanya. Kebiasaan menarik lainnya dari
Sentot adalah ia suka sepak bola, sering bermain dengan
pemuda lainnya, hingga dia juga pernah aktif dalam klub Persib

Bandung tahun 1950. Sejak remaja, Sentot membenci

66 - Lintang Kerti

penjajahan, hal tersebut juga diwarisi dari orang tuanya yang
menentang penjajahan. Makanya, sentot memilih untuk
menjadi tentara Republik Indonesia. Kerakter menentang
penjajah ini membuat Sentot mengikuti pendidikan militer
pertama, yaitu PETA atau Pembela Tanah Air di Bogor.

“Selain mudah berbaur, Pak Sentot ini orangnya tegas,
keras dan berprinsip.” Pak Darta meluapkan dengan nada
meninggi.

“Dari masa muda hingga akhir hayatnya, Kolonel
Sentot sangat memegang prinsip, walaupun punya rekan
dekat seangkatan seperti Jendral Umar Wirahdikusumah
yang pernah menjadi wakil presiden. Namun, Sentot tidak
menggunakan kesempatan aji mumpung. Sentot lebih suka
dengan usaha sendiri.

“Semasa penjajahan Jepang, Pendidikan ketika masa
Belanda dihapuskan dan diganti dengan bentukan Jepang.
Setelah Sentot lulus dari HIS16 pada tahun 1940 kemudian
lanjut sekolah setingkat menengah pertama tahun 1945
dan tamat setingkat SMA tahun 1954. Sentot juga lulus dari
pelatihan Kyukutai atau Pelatihan Shodanco. Setelah itu
Sentot dipindahkan ke Majalengka kemudian Pindang ke
Jatibarang dan Patrol Kecamatan Anjatan sebagai Dai Ni
Cudan. Sentot pernah mengemban sebagai Komandan BKR
di derah Kandanghaur. Pendidikan militer saat muda digeluti
hingga karier terakhir pangkat militernya adalah kolonel.
Berbagai pertempuran juga dilakuan, seperti pertempuran
Bangkir, pertempuran Sindang, pertempuran Waledan ,dan

16Hollands Inlandsche School

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 67

pertempurn Bunder. Sehingga semenjak didaulat memimpin
gerilya memerangi penjajahan di wilayah Indramayu, nama
Sentot semakin terkenal, terutama dengan nama Pasukan
setannya.”

“Maaf Pak Darta, kenapa dinamakan pasukan Setan?”
tanya Aris melanjutkan pertanyaan

Kemudian Pak Darta masih dengan semangatnya
menjawab pertanyaan Aris. “Pasukan Setan atau ada yang
mengatakan pasukan setan merah, bisa menghilang.” Pak
Darta menjawab sambil tertawa kecil. “Bisa hilang itu karena
konon anggota pasukan ini memiliki kekuatan dan kesaktian
yang luar biasa sehingga selalu lolos dari kepungan pasukan
Belanda.”

Pak Darta mengambil jeda sebentar sebelum
menambahkan, “Pasukan Setan melakukan penyerangan
dengan bergerilya, tanpa diketahui musuh. Walau sedikit
pasukan hanya 13 prajurit tapi sudah bisa membuat repot
tentara Belanda. Setelah menyerang kemudian mereka segera
berpencar sehingga sulit untuk ditangkap.Pasukan Sentot
bergerilya, tempatnya pindah-pindah. Strategi ini sangat
baik untuk menyulitkan penyerangan Belanda kepada tentara
Indonesia karena sulit terdeteksi markasnya. Kalo pasukan
kita menyerang atau mencegat, pasukan Belanda pasti tidak
kembali ke markas. Hal itu membuat pasukan setan susah
dilacak. Kalo sebutan pasukan setan merah dinamakan
begitu karena warna benderanya merah dan ada gambar
kepala tengkorak serta tanda silang di bawah kepalanya.
Sedangkan tulisan PS di bawah gambar tersebut yang artinya

pasukan setan.”Pasukan Setan ini meresahkan pihak
Belanda. Bahkan mata-mata Belanda sulit menemukan

68 - Lintang Kerti

keberadaannya. Tentara Belanda kewalahan dalam
menghadapi Pasukan setan walaupun secara persenjataan
pasukan setan yang hanya mempunyai 2 pucuk senjata
karaben dan sebuah pistol buldog.”

“Kenapa Pasukan Sentot tidak bermarkas?” tanya Slamet.

Pak Darta kembali menjelaskan, “Tugas Pasukan Setan
ini mengganggu patroli-patroli tentara Belanda di jalan-jalan
besar yang menghubungkan Indramayu dengan Jakarta,
setelah berhasil melakukan serangan tiba-tiba yang membuat
kaget tentara Belanda, setelah berhasil mengganggu dan
mendapatkan rampasan senjata dari tentara yang tertembak
atau mundur, Pasukan Sentot langsung menghilang bagaikan
setan.

“Nampaknya dengan tidak memiliki markas dan pasukan
yang relatif sedikit memudahkan Pasukan Sentan sering
berpindah tempat dengan cepat dan susah dilacak. Dengan
senjata kebanggaan bren-gun yang memiliki julukan si Untung.
Pasukan Setan sukses dalam mengganggu tentara Belanda.”

Kemudian Pak Darta menceritakan pengalamannya
ikut berperang bersama kolonel Sentot. Sambil menunjukan
bekas tembakan peluru panas yang menembus paha kirinya.
Kemudian Pak darta menceritakan peperangan Bangkir dan
Peperangan Waledan Kujang.

“Ini peluru tembus ke ke sini.” Pak Darta bercerita sambil
memegang paha yang dulu pernah kena tembakan peluru
panas. “Kampung Kujang dan Waledan ini letaknya sebelah
barat dari alun-alun pusat pemerintahan Indramayu, kurang
lebih 15 kilometer. Kampung Waledan dan Kujang

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 69

bukan satu-satunya markas gerilya yang digunakan Pasukan
Setan. Pasukan Setan bertugas menyerang, menghadang dan
menghilang. Jadi bergerak dengan cepat dan tanpa memiliki
pos komando yang tetap.

“Pernah suatu ketika Pasukan Setan menghadang konvoi
pasukan Belanda di jembatan Bangkir. Dalam penyerangan
tersebut Pasukan Setan berhasil menewaskan puluhan tentara
Belanda dan merampas senjatanya. Hal tersebut membuat
marah para petinggi Belanda yang menduduki pendopo
Indramayu. Hal tersebut membuat Pasukan Setan yang 
dipimpin Sentot ini mulai ditakuti dan tidak bisa diremehkan.

“Sore hari Pak Sentot mengumpulkan bawahannya
kemudian memerintahkan agar semua pasukan menuju
Jembatan Bangkir untuk menghadang patroli tentara Belanda
yang lewat. Sejak pukul 5 pagi pasukan sudah berkumpul
di sebelah barat jembatan Bangkir. Keadaan pasar Bangkir
waktu itu sepi, bahkan Desa Sidangkerta yang berbatasan
langsung dengan Bangkir sudah mulai kosong ditinggalkan
penduduknya. Matahari semakin terang, belum nampak iring-
iringan tentara Belanda. Hingga kemudian sekitar pukul 7
pagi, pos pengawas di pasar Bangkir memberi tanda pada
pasukan bahwa terdengar suara kendaraan dari utara.

“Jangan menembak sebelum ada perintah!” Begitu Pak
Darta menirukan perintah pimpinannya

“Suasana semakin tegang, beberapa saat kemudian
datang 2 truk. Dihentikan oleh Letnan S.Toro. Dan ternyata
itu adalah truk pengangkut padi yang dikawal 2 petugas seperti

polisi. Petugasnya ini ketakutan.

70 - Lintang Kerti

“Matahari semakin meninggi, tidak seperti biasanya
jalan yang selalu ramai. Sementara cuaca semakin panas.
Pasukan sudah berad di posisi tiarap tanpa mengeluarkan
suara untuk siap bertempur melawan tentara Belanda. Setelah
lelah menunggu, akhirnya pukul 11 siang pos pengawas yang
di pasar Bangkir kembli mengirim kabar tentang tanda-tanda
tentara Belanda akan lewat.

“Terlihat truk Palang Merah yang mengangkut tentara
Belanda akan masuk ke jembatan Bangkir. Bapak mulai
merasa takut, ragu antara mundur atau maju menyerang.” Pak
Darta makin semangat bercerita sambil kemudian diambilnya
gelas bening besar berisi air putih.

“Jadi, bagaimana, Pak, akhirnya?” tanya Aris penasaran.

“Ya wis kepalang maju, baka mundur angger mati.”17 Pak
Darta langsung menjawab dengan tegas.

“Tembak!” Suara Pak Darta mengagetkan kedua
pemuda di hadapannya. Kemudian tanpa rasa bersalah Pak
Darta melanjutkan penuturannya. “Komandan akhirnya
memberikan aba-aba untuk menyerang yang langsung
dilaksakan oleh semua pasukan. Dengan melepaskan
tembakan maka terjadilah peperangan. Si-Untung mengenai
supir truk yang mengakibatkan truk hilang kendali. Pasuka
Belanda juga mulai melakukan penyerangan, hingga pejuang
atas nama Salim gugur di tempat. Lumayan berlangsung lama,
hingga akhirnya tembakan dari tentara Belanda tidak ada lagi.
Ketika pasukan menyerbu, ternyata semua pasukan Belanda
yang ada di sana telah mati. Namun, masih ada tentara

17“Sudah telanjur maju, kalo mundur tetap akan mati juga”

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 71

Belanda yang berhasil lolos. Terdengar ramai di sebelah timur
jembatan Bangkir. Satu ditangkap masyarakat dan satu lagi
lolos kembali ke pusat Kota Indramayu. Ternyata mengunakan
truk Palang Merah yang digunakan untuk tenaga medis adalah
strategi licik Belanda agar tidak diserang.”

“Jadi, Belanda kalah, Pak?” tanya Slamet Penasaran.

“Belanda kalah yang di Bangkir, tapi tentara Belanda
masih banyak. Ada perang lagi yang paling hebat,” jelas Pak
Darta yang berhasil membuat kedua pemuda itu semakin
ingin tahu kelanjutan perang berikutnya.

“Ada lagi, Pak? Perang apa itu?”

“Perang masih belum selesai, masih banyak lagi perang
yang berkobar antara Pasukan Setan yang dibantu masyarakat
melawan pihak musuh dari Tentara Belanda.” Kemudian Pak
Darta menyebutkan beberapa perang yang seperti terjadi
di Desa Larangan, Desa Kroya (Gabuswetan), Tegalsemaya
(Krangkeng), Gelarmandala, dan lamaran tarung atau
Waledan. 

“Saya mau cerita satu perang lagi,” lanjut Pak Darta
sambil mengingat-ingat serta tangan kanannya memegang
paha bekas tembakan. “Peristiwa perang di Lamaran Tarung
Waledan, sekarang masuk bagian Kecamatan Cantigi.” Pak
Darta menjelaskan nama lokasi.18

18Orang juga menyebutnya Peristiwa Kujang, karena terjadi di
Kampung Kujang. Kujang Adalah adalah kampung terpencil di Desa
Lamaran Tarung, kampung ini adalah markas tentara di bawah komando
Sentot dengan pasukan setan-nya.

72 - Lintang Kerti

“Asal mula Markas Pasukan Setan yang di Kujang
diserang oleh tentara Belanda karena ada penduduk pribumi
yang terkena hasutan untuk berkhianat kepada pejuang
kemerdekaan. Belanda juga menggunakan strategi mengadu
domba pribumi. Pribumi ini dijanjikan mendapat hadiah dari
Belanda jika dapat menemukan keberadaan Pasukan sentot.

Sebenarnya Sentot awalnya memiliki markasdi Plumbon,
tetapi karena Pasukan Setan memilih berpindah-pindah agar
tidak mudah dilacak, makapada tanggal 6 Desember 1947
datang berita dari Pos pengawasan di Desa Arahan, Larangan,
dan Cantigi-Cangkring bahwa tentara Belanda telah datang
menempatkan pasukannya di derah tersebut. Letnan Sentot
kemudian mendapatkan surat pemberitahuan dari Dr. Sudiro
untuk mengungsikan warga di daerah Kujang dan Waledan.
Surat tersebut menginformasikan juga akan ada rencana
serangan pada tanggal 7 Desember 1947 di daerah Kujang
dan waledan. Sekarang, keberadaan markas pasukan Setan
pimpinan Sentot ini ditemukan. 

“Kemudian Letnan Sentot mengintruksikan agar semua
pasukan kembali ke induk pasukannya masing masing. Dan
untuk pasukan berada di garis depan diperintahkan agar
tidak menyerang rakyat sendiri yang dijadikan Belanda untuk
menyerang Pasukan Setan.

“Akhirnya peristiwa penyerangan Kujang ini terjadi
ditanggal 7 Desember 1947, pos pengawasan dari Arahan
melaporkan bahwa pukul 7 pagi tentara Belanda dan
rakyat yang telah dihasut sudah mulai bergerak. Sudah
mulai juga terdengar tembakan di daerah Lamarantarung.
Pasukan Belanda juga menggunakan pesawat tempur

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 73

untuk menembaki dan menghujani dengan bom dari atas.
Pasukan yang dipimpin Letnan Sentot kewalahan, tidak
mampu mengimbangi serangan Belanda. Akhirnya pasukan
diintruksikan mundur agar tidak memakan lebih banyak
korban. Hari ini tentara kita harus mundur sementara waktu.
Karena situasi semakin sulit, terutama karena kelicikan
Belanda menggunakan rakyat kita sebagai perisai untuk
melawan pasukan pimpinan Letnan Sentot.

“Dari peristiwa ini akhirnya pada malam harinya Letnan
Sentot mengintruksikan untuk meninggalkan Kujang dan
Waledan. Sembari menyusun strategi penyerangan balik
kepada Belanda. Sehingga Pasukan Sentan untuk sementara
tinggal di desa Sukamulya.

“Pada tanggal 8 Desember 1947 terjadi Perjanjian
yang ditandatangi di atas geladak kapal Amerika bernama
Renville. Perjanjian ini ditandatangani oleh pimpinan
Republik Indonesia dan wakil dari pihak Belanda. Perjanjian
ini dinamakan perjanjian Renvile. Isi perjanjian ini adalah
seluruh gerilyawan seperti pasukan setan merah harus
meninggalkan daerah gerilya. Akhirnya pasukan setan ikut
hijrah ke Majalengka dengan berjalan kaki melalui Desa
Ujungjaya, Ciwaru. Di tempat ini semua pasukan gerilya dari
karesidenan Cirebon berkumpul. Kemudian datang perintah
untuk pindah ke Kuningan kemudian akan dibawa ke Jawa
Tengah menggunakan kereta.

“Dengan hijrahnya Pasukan Setan pimpinan M.A. Sentot
ini akhirnya perjuangan Pasukan Setan Merah yang bertugas
mengganggu tentara Belanda di Indramayu terjeda sementara.

Adapun perjuangan bersambung kembali pada bulan

74 - Lintang Kerti

Agustus 1948 ketika prajurit yang berada di bawah komando
Daerah Gerilya VI pulang kembali ke Jawa Barat. Demikian
sepenggal kisah Perjuangan Pasukan Setan Merah yang
dipimpin Letnan M.A.Sentot untuk mengusir Belanda.”

“Ceritanya seru Pak Darta,” celetuk Slamet menanggapi
cerita Pak Darta.

“Apa pesan Pak Darta ingin sampaikan untuk para pelajar
dan pemuda sekarang?” lanjut pertanyaan Aris menutup sesi
tanya jawab.

“Kalian sebagai pemuda, zaman kalian sekarang nggak
ada penjajah. Kalian tidak akan merasakan penderitaan saat
Belanda menjajah. Tidak merasakan peluru panas dan tidak
mendengarkan bunyi granat. Tugas kalian adalah belajar,
maka kalian harus menjadi orang cerdas, rajin, tekun, dan
jangan suka bolos. Terus berjuang menggapai cita-cita walau
bukan dengan berperang. Cintai negeri kalian, jangan menjadi
pengkhianat.” Begitu Pak Darta menutup ceritanya dengan
sebuah pesan motivasi dan pesan moral.

“Terima kasih Pak Darta, semoga Pak Darta sehat terus
agar kita bisa silaturahmi lagi,” balas Aris menanggapi nasehat
Pak Darta.

Dan cerita pun berakhir dengan harapan untuk dapat
mengetahui perjuangan para pejuang kemerdekaan dalam
mempertahankan bangsa ini dari jajahan negeri asing. Maka
kita sebagai penerus bangsa ini harus mewarisi semangat
perjuangan untuk mengisi kemerdekaan. 

Indramayu, 2021

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 75

Upacara Ruwatan/Ngaruat
(Asal-usul adat Ngarot
di Desa Lelea)

Oleh: Kusyoto

Syahdan. Satu masa di mana bumi sangat muda. Ketika
alam masih asri mendominasi kehidupan manusia.
Tersebutlah tiga orang pendatang, pemuda-pemuda
gagah dari tanah Pasundan, tanah Sumedang. Ketiga orang
bersaudara itu bernama Kapol, Darpa, dan Jalon. Ketiga
bersaudara yang tengah mencari kehidupan baru. Mereka
turun gunung dari dataran tinggi Sumedang dengan tujuan
membuka lahan garapan sebagai persembahan untuk anak
cucunya kelak di kemudian hari.

76 - Lintang Kerti

Bilangan tahun berlalu. Perjalanan ketiga bersaudaara itu
banyak menemui aral dan rintangan hingga satu ketika Kapol,
Darpa, dan Jalon sampai di sebuah hutan belantara yang
banyak ditumbuhi pohon waru. Kapol dan Darpamemutuskan
untuk membuka hutan waru untuk dijadikan pemukiman,
sedangkan Jalon melanjutkan perjalan ke barat mencari hutan
dan lahan garapannya sendiri.

Masa itu, hutan waru begitu terkenal keangkerannya.
Bukan saja karena masih banyak binatang buas yang bebas
berkeliaran, tapi juga gangguan dan teror mahluk atau
penghuni gaib hutan waru kadang merepotkan pekerjaan
Kapol dan Darpa dalam membabat hutan.

Mahluk gaib atau siluman hutan waru adalah siluman air
yang sangat sakti, di antaranya ada Deleg Walik, Lele Lenggi,
Sepat Rungge, dan Moa Petak. Namun berkat kesabaran
dan ketabahan juga bekal ilmu dari guru mereka, sebelum
meningalkan Sumedang, semua gangguan itu mampu mereka
atasi.

Lambat laun berkat ketekunan, ketabahan, dan sikap
pantang menyerah, hutan waru yang sudah dibabat banyak
didatangi orang dari berbagai daerah yang kemudian ikut
serta membuka lahan penghidupan baru. Kapol atau Ki Kapol
diangkat menjadi tetua pecantilan di sana.

Bilangan tahun berlalu dengan cepat. Pecantilan Waru
yang dibangun Ki Kapol lambat laun menjadi daerah subur
makmur lohjinawi, tata tentrem kertaraharja, berkat jasa ki
Kapol dan Ki Darpa dalam membangun wilayahnya. Karena
usia Ki Kapol yang semakin tua, beliau menyerahkan
dan menghadiahkan lahan garapan berupa sawah luas

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 77

pada pemuda dan pemudi Pecantilan Waru untuk diolah dan
diurus. Mengangkat penggantinya, Anggara Wirena sebagai
kepala dusun pertama Pecantilan Waru. Pemuda-pemudi
tersebut oleh Ki Kapol dan Ki Darpa dilatih bertani dan
menggarap sawah.

Semantara itu di tempat lain. Masuk dalam kekuasaaan
Kerajaan Galuh atau Raja Galuh. Tersebutlah seorang alim
ulama berasal dari negeri Timur Tengah sedang menyebarkan
agama Tauhid. Beliau bernama Syekh Abdul Soleh, ia dibantu
oleh anak laki-lakinya yang bernama Abdul Jalil atau Ali Hasan.
(Kelak, dalam kisah terpisah Abdul Jalil atau Ali Hasan lebih
dikenal dengan sebutan Syekh Lemah Abang atau Syekh Siti
Jenar).

Kemursidan dan kealiman Syekh Abdul Soleh terkenal
seantero Kerajaan Galuh. Di samping ilmu agama beliau pun
menguasai ilmu pengobatan. Banyak penduduk di sekitar
Kerajaan Galuh sembuh dari penyakit yang diderita berkat
pengobatan yang dilakukan Syekh Abdul Soleh. Hampir tiap
hari ada saja orang-orang datang ke rumahnya untuk berobat
atau menimba ilmu Tauhid. Hingga satu ketika ketenaran
Syekh Abdul Soleh terdengar dan sampai di telinga Prabu
Cakraningrat, penguasa kerajan Galuh.

Suatu hari Syekh Abdul Soleh diundang ke istana Galuh.

“Selamat datang di istanaku, wahai Syekh,” ucap Prabu
Cakraningrat.

“Terima kasih, Paduka, gerangan apa mengundang saya?”

“Aku dengar engkau seorang ahli pengobatan juga
penyebar agama baru.”

78 - Lintang Kerti

“Benar sekali, Paduka.”
Prabu Cakraningrat tersenyum penuh arti, dipandanginya
Syekh Abdul Soleh dengan saksama sebelum melanjutkan
kalimatnya.
“Aku mengundang syekh kemari untuk memberikan
anugerah.”
“Anugerah apa itu, Paduka?”
“Syekh akan aku angkat jadi penasihat raja dengan
pangkat dan jabatan tinggi di istana.”
“Maafkan saya, Paduka. Bukanya menolak, namun saya
masih memiliki tanggung jawab untuk sesama.”
“Syekh mau gaji berapa? Pasti aku kabulkan.”
“Sekali lagi saya mohon maaf, Paduka.”
“Baiklah, aku tidak memaksa. Namun, satu saat jika
berubah pikiran, Syekh tentu paham, harus datang ke mana.”
“Baiklah, Paduka, saya pamit,” kata Syekh Abdul Soleh
kemudian berlalu meningalkan istana Galuh diiringi tatapan
penuh arti Prabu Cakraningrat.
Sekali dua kali bujukan dan rayuan pangkat, jabatan
tinggi, gaji besar dari Prabu Cakraningrat ditolak secara
halus oleh Syekh Abdul Soleh. Hingga satu ketika di saat
keimanan Syekh Abdul Soleh menipis godaan iblis merasuk
melalui batin Syekh Abdul Soleh. Akhirnya Syekh mursid itu
terpedaya dengan godaan iblis dan menerima tawaran Prabu
Cakraningrat menjadi penasihat raja. Oleh sang raja, Syekh

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 79

Abdul Soleh diganti namanya menjadi Sanghyang Bungsu. Hal
mana membuat anaknya; Abdul Jalil atau Ali Hasan protes.

“Pangkat dan jabatan membuat Ayah gelap mata,
melupakan tujuan utama menyebarkan agama Tauhid.
Sadarlah, Ayah, kembalilah ke jalan yang benar,” kata Abdul
Jalil atau Ali Hasan pada suatu hari di saat ayahnya baru
pulang dari istana Galuh.

“Ali Hasan. Kau tidak usah ikut campur urusan orang
tua, bukankah kau pun menikmati kemakuran dari anugerah
Prabu Cakraningrat!” ujar ayahnya denga nada keras.

“Tapi Ayah telah murtad. Keluar dari ajaran agama kita.”
“Itu urusanku, Ali Hasan.”
“Sadarlah Ayah, bertobatlah.”
“Anak durhaka! Kau berani menasihati ayahmu?”
“Maafkan saya, Ayah. Tapi ….”
“Dasar anak kurang ajar! Melawan orang tua. Kau seperti
bukan manusia,” kata Syekh Abdul Soleh atau Sanghyang
Bungsu.
Dingin pinasti anyar kang pianggih, kersane kang doma
para.19
Rupaya ucapan keras atau supatan Syekh Abdul Soleh
pada anaknya; Abdul Jalil atau Ali Hasan, menjadi sepercik api.

19Ucapan orang tua yang sedang marah kadang seperti sepercik api
yang dapat membakar dan setetes air yang mampu menyejukan.

80 - Lintang Kerti

Saat itulah hilang wujud manusia, Ali Hasan berubah menjadi
seekor cacing.

“Duhai Ayah, kenapa begitu tega membuat saya seperti
ini?” rintih Ali Hasan menangis tersedu sedan.

“Sudah pinasti dan takdirmu, Ali Hasan. Sekarang,
pergilah ke mana kau suka.”

“Baiklah, Ayah, saya pergi.”

Sang cacing perwujudan Abdul Jalil atau Ali Hasan
perlahan meninggalkan ayahnya pergi entah ke mana.

***

Dikisahkan. Perang antara kerajaan Raja Galuh
dengan Kesultanan Cirebon yang berlarut-larut akhirnya
dimenangkan oleh pasukan pinangeran Cirebon. Beberapa
pembesar Galuh termasuk Prabu Cakraningrat yang tidak mau
tunduk pada Kesultanan Cirebon memutuskan mengungsi
meminta perlindungan Prabu Pucuk Umum yang berkuasa
di Kerajaan Ujung Kulon. Semantara itu pada suatu malam,
bulan purnama di telaga Sanghyang, Kanjeng Sunan Bonang
hendak mengajarkan ilmu kewalian pada muridnya yang
bernama Raden Said atau Sunan Kali Jaga. Tujuan Sunan
Bonang mengajak Raden Said ke tengah telaga Sanghyang
supaya ilmu kewalian yang akan diajarkannya tidak diketahui
orang lain.

Bulan purnama bersinar sejuk. Perahu yang ditumpangi
Sunan Bonang dan Raden Said mendadak oleng disebabkan
salah satu papan perahu bocor. Raden Said segera membuang
air yang masuk ke dalam perahu dengan alat seadanya

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 81

namun semakin dibuang air itu semakin banyak masuk
ke dalam perahu. Melihat hal itu, Sunan Bonang segera
mengambil tanah gembur dari pinggir telaga, dengan karomah
kewaliannya tanah tersebut mampu menyumbat papan
perahu yang bocor. Keduanya lantas mengayuh perahu ke
tengah telaga Sanghyang. Dan dimulailah ajaran kewalian
oleh Sunan Bonang terhadap Raden Said.

Waktu bergulir dengan cepat. Dini hari menjelang
subuh barulah ilmu kewalian yang diajarkan Sunan Bonang
pada Raden Said selesai. Mendadak Sunan Bonang tertegun
beberapa kejap, ia baru menyadari ada mahluk lain mendengar
ajaran ilmu kewalian yang telah diajarkan pada Raden Said.

“Keluarlah, tidak usah bersembunyi,” gumam Sunan
Bonang.

Perlahan dari dalam tanah gembur yang dijadikan
sumbatan menambal perahu menggeliat satu sosok kecil,
seekor cacing. Sunan Bonang yang memiliki kesaktian segera
maklum, cacing kecil itu bukan binatang seperti kelihatanya.
Kembali Sunan Bonang dengan karomah kewaliannya dan
atas kehendak dan izin gusti Allah mempu merubah kembali
wujud cacing menjadi manusia.

“Siapakah angger ini?”

“Nama saya Ali Hasan, Kanjeng Sunan.”

“Apa yang terjadi dengan dirimu, engger?”

Dengan singkat tanpa dikurangi dan dilebihkan Ali Hasan
menceritakan riwayat dan asal-usul dirinya hingga berubah

82 - Lintang Kerti

menjadi seekor cacing. Mendengar cerita Ali Hasan, Sunan
Bonang tampak termenung beberapa saat.

“Baiklah, Ali Hasan. Karena dirimu ikut mendengarkan
ilmu kewalian yang saya ajarkan pada Raden Said, maka kau
pun saya angkat menjadi murid.”

“Terima kasih, Kanjeng Sunan Bonang.”

“Nah, marilah kita ke Kesultanan Cirebon. Sebab beberapa
hari lagi Gusti Sunan Gunung Jati akan mengkhitan anaknya;
Pangeran Pasarean.”

“Baik, Kanjeng Sunan.”

Ketiganya kemudian menyebar dengan tujuan mencari
sesuatu untuk dipersembahkan untuk hajat rasul-nya Sunan
Gunung Jati atas anaknya, Pangeran Pasarean. Raden Said
pergi sendiri ke utara, sedang Sunan Bonang dan Ali Hasan
pergi ke selatan.

Semantara itu di hutan waru. Bangsa siluman air seperti
Deleg Walik, Lele Lenggi, Sepat Rungge, dan Moa Petak juga
mendengar tentang rencana khitanan atau hajat rasul yang
akan dilaksanakan Sunan Gunung Jati atas anaknya; Pangeran
Pasarean. Sebagai taklukan mereka merencanakan ikut andil
dalam hajat rasul tersebut dengan cara bela pati atau merelakan
dirinya dan anak buahnya dijadikan santapan para wali yang
akan datang di acara tersebut. Maka salah satu siluman, yakni
Lele Lenggi merubah wujudnya menjadi manusia menyerupai
sosok Ali Hasan. Mengunakan sebuah karung besar, beberapa
anak buahnya yang berupa ikan dan binatang air lainnya
dimasukkan ke dalam karung. Dalam perjalanannya menuju
Kesultanan Cirebon, tanpa sengaja jelmaan Ali Hasan
berpapasan dengan Raden Said.

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 83

“Bagaimana Ali Hasan, apakah kau sudah dapat sesuatu
buat hajat rasul Kanjeng Sunan Gunung Jati?” tanya Raden
Said.

“Tentu saja, Kakang Said, lihat ini,” kata jelmaan Ali Hasan
sambil memperlihatkan satu karung penuh ikan dan beberapa
jenis binatang air lainya.

“Boleh saya lihat?”

“Tentu saja,” kata jelmaan Ali Hasan sambil menumpahkan
isi karung yang dibawanya, membuat Raden Said tertegun
beberapa kejap melihat isi karung.

“Maaf, Ali Hasan, semua jenis binatang ini tidak layak
dijadikan hajat rasul.”

“Mengapa begitu, Kakang Said? Bukankah binatang ini
pun ciptaan gusti Allah?”

“Betul, tapi dalam ajaran Islam, ada namanya hukum
haram dan halal. Bukankah kita dianjurkan memakan
makanan yang baik dan halal?”

“Alasannya apa, Kakang? Kan sama-sama binatang air.”

“Iya, tapi lihat ini, seperti lele lenggi, binatang ini hidup
di dua alam. Dalam ajaran Islam itu haram hukumnya untuk
dimakan, begitu pun dengan yuyu atau kepiting, moa, dan
yang lainya, mereka hidup di dua alam dan memiliki taring.”

“Ah, itu akal-akalan mu saja, Kakang Said. Kau iri sebab
belum mendapatkan apa pun.”

“Bukan begitu, Adhi Ali Hasan, ini masalah hukum haram
dan halal.”

84 - Lintang Kerti

“Sudahlah, Kakang Said mau apa?”

Perdebatan antara jelmaan Ali Hasan dan Raden Said
dalam mempertahankan akidah dan kebenaran berjalan
sengit sehingga memancing kemarahan antara keduanya,
kesepakatan tidak didapat, amarah dan otot akhirnya yang
bicara. Raden Said dan jelmaan Lele Lenggi tidak mampu lagi
menahan emosi masing-masing, maka terjadilah perkelahian.
Raden Said yang dikenal sabar kali ini menjadi marah.
Perkelahian antara Raden Said dan jelmaan Lele Lenggi
bergeser ke wilayah Pecantilan Waru yang saat itu sedang
ada acara tanam padi. Ki Kapol dan Ki Darpa dibantu semua
peduduk Pecantilan Waru berusaha memisahkan keduanya
atau dalam bahasa setempat diele elean, namun semakin
dipisah perkelahian antara Raden Said dan jelmaan Lele
Lenggi senakin sengit hingga merusak tanaman padi yang
baru saja ditanam, juga rumah-rumah warga sekitarnya. Saat
itulah Sunan Bonang bersama Ali Hasan asli datang, keduanya
terkejut ada kembaran Ali Hasan yang sedang berkelahi
dengan Raden Said.

“Assalamualaikum …,” ucap Sunan Bonang.

“Waalaikumsalam, Kanjeng Sunan Bonang,” jawab Raden
Said.

Jelmaan Lele Lenggi yang menyerupai Ali Hasan diam
saja. Tidak menjawab salam Sunan Bonang. Sang Sunan
tanggap ing sasmita ia segera menyabetkan serbannya pada
Ali Hasan jelmaan. Seketika wujudnya berubah ke wujud asli
yakni; siluman Lele Lenggi dan semua binatang yang ada di
dalam karung seperti Deleg Walik, Sepat Rungge, Moa

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 85

Petak, dan seluruh anak buahnya kembali ke asal sebagai
pasukan siluman alas waru.

“Siapa kalian ini sebenarnya?” tanya Sunan Bonang.

“Maafkan kami, Kanjeng Sunan. Saya Lele Lenggi dan
saudara-saudara saya, Deleg Walik, Sepat Rungge, Moa Petak,
dan semua anak buah siluman air hutan waru.”

“Apa tujuanmu menyamar jadi murid saya?”

“Maafkan saya, Kanjeng Sunan Bonang. Sebenarnya
kami ingin ikut andil dalam acara hajat rasul Kanjeng Sunan
Gunung Jati. Tubuh kami rela dimakan para wali, sebagai bakti
kami pada susuhunan Cirebon.”

Mendengar itu, Sunan Bonang tersenyum arif. Ia
maklum akan niat dan tekad dari para siluman air yang ada
di hadapannya.

“Saya mengerti sekarang, namun begini, Lele Lenggi, Deleg
Walik, Sepat Rungge, dan Moa Petak. Ikut andil dan berbakti
pada susuhunan Jati tidak selamanya dengan mengorbankan
diri sendiri. Tapi dengan niat saja di hati, Insyaallah itu sudah
cukup membuat kalian mulia. Saya akan sampaikan niat kalian
itu pada susuhunan Jati begitu sampai di Cirebon.”

“Jika memang begitu, kami sangat berterima kasih,
Kanjeng Sunan Bonang.”

“Tapi lihatlah apa yang sudah kalian lakukan pada daerah
ini, semua rusak binasa. Kalian harus bertangung jawab.”

“Kami akan bertanggung jawab, Kanjeng Sunan Bonang.
Kami akan mengabdi di Pecantilan ini.”

86 - Lintang Kerti

“Baiklah,” kata Kanjeng Sunan Bonang kemudian
memanggil beberapa penduduk Pecantilan Waru yang masih
berkerumun di pinggir lapangan.

“Maaf, tanah, kebun, pekarangan, dan sawah ini milik
siapa?”

“Milik saya, Kanjeng Sunan.”
“Aki siapa namanya?”
“Saya ki Kapol.”
“Nah, Ki Kapol. Lele lenggi dan anak buahnya mau
bertanggung jawab atas kerusakan yang ditimbulkannya.
Apakah Aki menerimanya?”
“Jika demikian saya menerimanya, Kanjeng Sunan.”
“Baiklah, kalau begitu mulai sekarang Lele Lenggi
dan anak buahnya menjadi pelindung atau sang baureksa
Pecantilan ini.”
“Tapi, Kanjeng Sunan, ada satu hal yang saya harapkan.”
“Apa itu, Ki Kapol?”
“Saya harap Kanjeng Sunan Bonang berkenan memberi
nama Pecantilan Hutan Waru ini.”
“Apakah sebelumnya Ki Kapol memiliki rencana untuk
memberi nama Pecantilan ini?”
“Saya hanya membabat saja, Kanjeng Sunan, masalah
nama belum terpikirkan.”
“Baik, kalau begitu. Akibat perkelahian antara Raden Said
dengan Lele Lenggi yang tidak bisa dipisah atau dalam

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 87

bahasa sini di tidak bisa dieleh-eleh. Benjeng rameh ing jagat
tuniba ning anak putu pecantilan alas waru ini saya berinama
Desa Lelea.”

“Terima kasih, Kajeng Sunan Bonanag.”
“Maaf, Kanjeng Sunan Bonang.”
“Silakan, Lele Lenggi, apa yang ingin kau sapaikan.”
“Saya bersama anak buah telah menyatakan takluk dan
akan mengabdi di Desa Lelea ini. Tapi tolong setiap tahun
kami ingin di-ruwat, itu sebagai makanan kami.”
“Bagaimana, Ki Kapol?’
“Saya sanggup, Kanjeng Sunan Bonang.”
“Baiklah, besok hari Rabu, acara Ruwatan silakan
dilaksanakan. Ki Kapol bisa mengumumkannya sekarang pada
warga Desa Lelea.”
“Baik, Kanjeng Sunan Bonang.”
Ki Kapol segera mengambil bareng, yakni alat yang
digunakan sebagai wara-wara atau pengumuman.
Dung dung dung!
“Wahai rakyat Desa Lelea, besok pagi kita adakan acara
Ngaruwat … ngaruat, ngaroat, ngarot, ngarot,” kata Ki Kapol
berulang-ulang sambil menabuh bareng.
Maka demikianlah kalimat Ruwat atau Ruwatan yang
diminta Lele Lenggi dipenuhi oleh Ki Kapol, berhubung
diucapkan oleh Ki Kapol yang aslinya berasal dari Sumedang

atau orang Sunda, maka kata Ruwatan dilafalkan menjadi

88 - Lintang Kerti

ngaruat, ngaroat, hingga ngarot. Sehingga lahirlah adat desa
menyambut tanam padi di Desa Lelea sampai sekarang
disebut acara adat Ngarot. Dengan acara mengumpulkan
muda-mudi yang masih suci di balai desa, disusul dengan
acara menyerahkan secara simbolik beberapa alat pertanian
pada sang jejaka dan pupuk serta air suci pada sang gadis.
Dari simbol itu menyiratkan bahwasannya sebagai generasi
muda baik laki-laki atau perempuan di desa atau Kecamatan
Lelea diharapkan senantiasa menjaga kesuciannya sampai
menjelang pernikahan. Juga menggalakan gotong-royong.

Indramayu, 2021
Hikmah yang dapat dipetik dari kisah tersebut adalah: Rasa

tanggung jawab dan kejujuran, sikap gotong-royong juga
pantang menyerah.

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 89

Kode Rahasia
Semangat Juang
(Asal-Usul Tari Sintren

Indramayu)

Oleh: Kusyoto

Syahdan. Tersebutlah sebuah cerita, kisah yang
berkembang di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa yang
terlahir dari perenungan mendalam, hasil olah pikir nan
berlian yang berasal dari keinginan untuk melepaskan diri
dari penjajahan, dongeng yang menceritakan sebuah tarian
magis sarat arti dan kode-kode rahasia pembakar semangat
juang dan perlawanan terhadap penjajah Belanda waktu

90 - Lintang Kerti

itu. Tarian tersebut dikenal dengan nama lais atau laisan
yang mengandung arti “kesucian”, sebab syarat dari sang
penari haruslah masih gadis perawan, atau gadis yang masih
suci sedangkan orang-orang Belanda menyebutnya Sinyo
Terren yang artinya pemuda-pemudi yang sedang berlatih
menari. Dari kata Sinyo Terren inilah lidah orang Indramayu
melafalkannya menjadi Sintren.

Pada awalnya tarian Lais atau Sintren dibawakan saat
bulan purnama oleh anak-anak remaja di sepanjang pesisir
utara tepatnya di sebuah desa nelayan bernama Dadap, Junti
Nyuat, Kabupaten Indramayu, sesungguhnya tujuan tarian itu
untuk mengisi waktu luang di kala sedang menunggu orang
tua mereka yang melaut mencari ikan. Menggunakan alat-
alat musik sederhana terbuat dari peralatan dapur seperti
bumbung bambu, buyung, atau tempayan untuk menampung
air memakai alat pukul berupa sandal, atau Bahasa Jawa dialek
Dermayu menyebutnya ceplek terciptalah perpaduan alunan
musik dan lagu nan ritmis juga enak didengar.

Kenapa tari sintren sarat akan filosofi, kode-kode rahasia
pembakar semangat juang, dan sangat istimewa? Inilah
kisahnya ….

Seca Branti. Seorang prajurit Pangeran Diponegoro ikut
ambil bagian dalam lahirnya kesenian sintren di Indramayu.
Setelah perang Jawa berakhir di tahun 1830 dan Pangeran
Diponegoro ditangkap akibat tipu daya penjajah dan campur
tangan penghianat bangsa kemudian diasingkan ke Makassar
oleh Belanda, semua prajuritnya pun dijadikan tawanan.
Namun ada beberapa prajurit yang lolos, di antaranya adalah
Seca Beranti.

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 91

Beberapa waktu kemudian dalam pelariannya, pada suatu
malam kala bulan purnama, sampailah Seca Beranti di sebuah
kampung nelayan bernama Dadap, masuk dalam wilayah
Junti Nyuat, Indramayu. Untuk mengelabui pihak penjajah
Seca Branti mengganti namanya menjadi Ki Dadap. Pada saat
ia sampai di pinggir pesisir Dadap Seca Branti meyaksikan
sebuah perunjukan tari-tarian yang dilakukan beberapa muda-
mudi dan anak-anak nelayan. Sebuah tarian yang memberinya
ide untuk menciptakan sebuah tarian dengan menyisipkan
simbol-simbol atau kode rahasia dengan tujuan membakar
semangat juang pembebas tanah air atau tarian tersebut bisa
dijadikan sindiran, aksi protes terhadap penjajahan.

Awalnya Seca Branti merasa aneh dengan tarian yang
disaksikannya. Ia melihat beberapa muda-mudi menari
mengelilingi sebuah kurungan ayam yang dibungkus kain
hitam, seorang gadis terikat tambang dari ujung kaki sampai
leher duduk di dekat kurungan tersebut. Gadis yang terikat itu
lantas dimasukkan ke dalam kurungan dilengkapi dengan baju
salin semacam baju untuk wayang golek. Kembali beberapa
gadis menari-nari sambil menyayikan lagu Kembang Kilaras,
menyan putih ngundang dewa sambil memutari kurungan
ayam. Tidak menunggu lama ketika kurungan ayam bergerak-
gerak dan dibuka, sungguh ajaib gadis yang terikat itu kini
sudah berganti pakaian dengan tambang yang sudah terlepas.

Selesai menyaksikan tarian tersebut, Seca Branti lalu
bertanya pada salah seorang pemuda yang dituakan di
kelompoknya.

“Maaf, Kisanak, kalau boleh tahu apa nama tarian itu?”
tanya Seca Branti.

“Lais atau laisan,” jawab sang pemuda.

92 - Lintang Kerti


Click to View FlipBook Version