The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Cerita Anak dengan mengangkat legenda rakyat Indramayu

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by kkusyoto, 2021-11-13 06:14:46

Lintang Kerti

Cerita Anak dengan mengangkat legenda rakyat Indramayu

Keywords: anak

“Adakah arti dari tarian itu?”

“Tentu saja ada, Kisanak.”

“Mohon dijelaskan. Sebab saya sangat tertarik dengan
tarian tersebut.”

“Lais artinya suci, jadi hanya gadis yang masih suci saja
yang berhak menarikan tarian tersebut,” jelas sang pemuda
yang mulai menceritakan asal-usul tarian yang baru saja
dibawakan beberapa gadis.

“Tari lais tercipta dari kisah Suliandana dan Sulasih,
hubungan cinta keduanya tidak direstui oleh orang tua. Ki
Baurekso, ayah Suliandana tidak setuju anaknya menjalin
cinta dengan Sulasih, sedangkan ibu Suliandana yang bernama
Dewi Rantamsari begitu mendukung. Agar Suliandana dan
Sulasih tetap bertemu, tanpa diketahui Ki Baurekso dewi
Rantamsari menciptakan sebuah tarian magis, dengan cara
memasukan roh bidadari ke dalam tubuh penari. Dengan
cara itu baik Suliandana dan Sulasih dapat bertemu di alam
Bidadari.”

Mendengar penjelasan itu, timbul ide dan gagasan di
benak Seca Branti. Ia kemudian menciptakan sebuah Tarian
Lais yang dikembangkan dengan menyisipkan simbol-
simbol atau kode rahasia pembakar semangat juang pada
pemuda-pemuda dengan sajak-sajak perjuangannya. Ketika
musim panen tiba, Seca Branti bergabung dengan para
pemuda tersebut dan mulai mengumandangkan sajak-sajak
perjuangannya. Ia mengajarkan tarian dan nyayian tersebut
awalnya secara sembuyi-sembunyi, tapi akhirnya kegiatannya
diketahui juga oleh para serdadu Belanda yang sedang

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 93

berpatroli. Tak disangka para serdadu Belanda itu pun tertarik
dengan tarian dan nyayian tersebut. Apalagi ketika sang sintren
yang sedang menari dilempar kain yang ujungnya dibundel
koin dan membuat penari sintren itu terjengkang tak sadarkan
diri, membuat para serdadu Belanda tertawa kesenangan,
bahkan tak jarang para serdadu itu menari bersama sambil
minum-minum hingga lupa diri. Para serdadu Belanda itu
menamakan tarian tersebut dengan Sinyo-Sinyo Tereen yang
artinya pemuda-pemuda yang sedang berlatih menari. Dari
kalimat sinyo-siyo tereen itulah lidah orang pesisir Dadap atau
orang Jawa dialek Indramayu melapalkannya dengan sebutan
“Sintren” atau Tarian Sintren.

Penjajah Belanda tidak pernah mengetahui tarian sinyo-
sinyo tereen atau Sintren yang disukainya itu mengandung
unsur protes, sindiran, dan perlawanan terhadap kaum
penjajah. Tarian tersebut malah diperbolehkan oleh
pemerintah Belanda karena musik pengiringnya―walau
sederhana namun―sangat enak didengar dan dinikmati sambil
pesta pora. Tidak jarang rombongan Sintren Seca Branti atau
Ki Dadap sering diundang ke Gedung Duwur, Penganjang,
untuk menghibur pasukan Belanda.

Sejatinya simbol-simbol atau kode rahasia yang disisipkan
Seca Branti pada tari Sintren adalah: pertama, tambang dan
kurungan ayam yang dibungkus kain hitam digunakan untuk
mengikat dan memasukan sang penari, melambangkan
masa-masa kelam terbelenggunya kebebasan yang dilakukan
penjajah Belanda pada bangsa pribumi.

Kedua, begitu sintren menari dan dilempar kain yang
ujungnya ada bundelan koin, sang sintren langsung

94 - Lintang Kerti

pingsan tak sadarkan diri. Hal itu melambangkan para
penguasa Belanda yang rakus tidak pernah puas memeras
penduduk akan lupa diri dengan sogokan sejumlah uang dari
antek-anteknya.

Ketiga. Peran sang pawang membuat sadar penari sintren
ketika dilempar kain, menggunakan doa-doa khusus hingga
sang sintren kembali sadar dan menari lagi. Itu melambangkan
harapan dan doa-doa bangsa pribumi supaya kelak di
kemudian hari bisa membebaskan diri dari penjajah.

Keempat. Tembang-tembang atau sajak-sajak khusus
yang dinyanyikan sudah disisipi kode rahasia penggugah
semangat juang dan cinta tanah air.

Dengan cara seperti itulah kelompok Seca Branti atau Ki
Dadap berjuang. Media kesenian sintren mereka gunakan
juga buat bertukar informasi, merencanakan penyerangan
dan tak-tik perang gerilya.

Di samping sebagai media perjuangan melawan penjajah,
Tari Sintren juga digunakan Seca Branti untuk menasehati
para pemuda dan pemudi agar selalu menjaga kesuciannya
dalam hal pergaulan. Syarat penari sintren yang masih gadis
atau suci diharapkan muda-mudi terutama kaum perempuan
senantiasa menjaga kesuciannya.

Indramayu, 2021

Hikmah yang dapat dipetik dari kisah tersebut adalah:
Semangat solidaritas sesama kawan seperjuangan, cerdik

dan pantang menyerah dalam keadaan apa pun.

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 95

Hikayat Jaran Sari dan
Jaran Purnama

(Asal-usul Pulomas dan
Desa Sentigi)

Oleh: Kusyoto

Syahdan. Di sebuah negeri bernama Wilwatikta atau lebih
dikenal dengan nama Majapahit, sang Prabu Kertarajasa
Jaya Wardhana dilanda kegundahan akibat penculikan
putri bungsunya yang bernama Dyah Wiyat, yang dilakukan
oleh pasukan bawah tanah Kebo Andana-Kebo Andini.
Sejatinya pasukan bawah tanah itu adalah pasukan yang
dibentuk oleh Mahapati atau Ramapati, seorang tokoh licik
pada zaman Majapahit. Sang Ramapati mengincar kedudukan

96 - Lintang Kerti

Patih Kerajaan Majapahit yang sekarang dipegang Rakyan
Nambi. Maka dengan berbagai taktik dan rencana-rencana
licik, Ramapati memerintahkan orang-orang kepercayaannya,
seperti Rawedeng, Rayuyu, Rapangsa, dan teman-temannya
untuk menculik putri bungsu sang prabu dengan harapan
dapat menjatuhkan wibawa Patih Nambi di hadapan Prabu
Kertarajasa Jaya Wardhana.

Untuk menyelamatkan sang putri bungsu, Prabu
Kertarajasa Jaya Wardhana mengeluarkan sayembara yang
dibacakan oleh Rakyan Bondan Kejiwan, seorang perwira
tinggi Kerajaan Majapahit.

“Wahai rakyat Wilwatikta, dengarkan sabda Gusti Prabu
ini. Siapa pun yang berhasil membebaskan Putri Dyah Wiyat
dalam keadaan hidup dari tangan pasukan yang menanakan
Kebo Andana-Kebo Andini. Jika ia seorang pemuda akan
dijadikan suaminya, jika seorang lelaki atau perempuan tua
akan dijadikan kerabat raja.”

Demikianlah sayembara itu dalam waktu singkat tersebar
ke berbagai penjuru negeri Wilwatikta dan tentu saja sayembara
tersebut memberikan kesempatan pada Ramapati untuk
mendapat penghargaan dari Prabu Majapahit. Ia berpura-
pura mengajukan diri membantu membebaskan sang putri
dengan mengutus Rawedeng ke padepokan Gunung Bromo
dengan tujuan untuk mendatangkan seorang kesatria untuk
membebaskan putri bungsu sang prabu.

“Siapa nama kesatria itu, Paman Ramapati?”

“Namanya Jaran Purama, Gusti Prabu. Ia adalah
keponakan hamba.”

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 97

“Baiklah Paman. Siapa pun dapat mengikuti sayembara
itu,”daulat Gusti Prabu.

Ramapati memerintahkan Rawedeng ke padepokan
Gunung Bromo untuk memberitahukan sayembara tersebut
pada Jaran Purnama. Sementara itu pula Rakyan Bondan
Kejiwan yang memiliki keponakan yang juga sedang belajar
di padepokan Gunung Bromo segera berangkat untuk
menyampaikan sayembara yang diumumkan Prabu Wilwatikta
tersebut.

“Jaran Sari. Ini kesempatanmu supaya bisa mengabdi
pada Wilwatikta,” kata Rakyan Bondan Kejiwan begitu ia
sampai di padepokan Gunung Bromo.

“Tapi, Paman, Kakak seperguruan saya, Jaran Purnama
ikut serta dalam sayembara tersebut.”

“Jaran Sari. Sayembara ini untuk semua kawula Wilwatikta.
Jadi kau pun punya kesempatan.”

“Baiklah, Paman, saya ikut sayembara itu.”

“Bagus, Jaran Sari. Berangkatlah sekarang juga ke Gunung
Karang. Di tempat itu pasukan bawah tanah Kebo Andana-
Kebo Andini menyembunyikan putri Dyah Wiyat.”

“Saya siap, Paman.”

“Sebagai bekal, terimalah pusaka Gagak Wiangsih ini,”
kata Rakyan Bondan Kejiwan sambil menyerahkan sebuah
pusaka berupa mustika burung gagak―dengan kepala cakra
dua buah tombak bersilang di belakangnya―pada Jaran Sari.

“Terima kasih, Paman. Hari ini juga saya berangkat
ke Gunung Karang.”

98 - Lintang Kerti

Rakyan Bondan Kejiwan mengangguk, setelah mengantar
Jaran Sari hingga pemuda gagah murid padepokan Gunung
Bromo itu hilang dari pandangan, ia pun segera kembali ke
Majapahit.

***

Matahari sepenggalah ketika Jaran Sari memasuki
kawasan Gunung Karang. Suasana masih sangat sepi, bahkan
semilir angina pun seakan berhenti bertiup. Saat itulah dari
berbagai arah muncul pasukan bawah tanah Kebo Andana-
Kebo Andini.

“Wahai Kesatria, siapa kau dan ada kepentingan apa
datang kemari?” tanya pemimpin pasukan bawah tanah Kebo
Andana-Kebo Andini.

“Namaku Jaran Sari. Datang untuk membebaskan putri
bungsu sang prabu.”

“Hahaha! Kau kalah jumlah, Jaran Sari.”

“Jangan meremehkan aku, majulah kalian semua.”

Mendengar tantangan Jaran Sari, sepuluh orang prajurit
bawah tanah Kebo Andana-Kebo Andini meradang. Dengan
satu komando, sepuluh orang itu mengepung dan menyerang
dengan senjata terhunus. Jaran Sari tersenyum, ia pun segera
mengeluarkan Gagak Winangsih, senjata pusaka pemberian
pamannya. Dalam satu gebrakan, sepuluh prajurit bawah
tanah itu dapat ditundukannya bersamaan dengan datangnya
Jaran Purnama. Saudara seperguruanya.

“Adhi Jaran Sari, kau hebat sekali mampu mengalahkan
mereka semua.”

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 99

“Kakang Jaran Purnama, apakah tahu di mana putri
bungsu sang prabu disekap?”

“Mereka menyekap sang putri di dalam gua itu,” kata
Jaran Purnama.

Jaran Sari menganguk, ia berjalan pelan menghampiri Gua
Karang, tapi sebelum langkahnya sampai di depan gua, sebuah
tusukan dirasa menembus jantungnya, pemuda gagah murid
padepokan Gunung Bromo itu pun tewas seketika diiringi
seringai licik Jaran Purnama. Jaran Purnama membuang
tubuh Jaran Sari ke laut.

***

Kematian Jaran Sari yang dibunuh Jaran Purnama
membuat Bondan Kejiwan marah, ia segera mengadakan
perhitungan dengan Jaran Purnama yang mendapat
perlindungan sang Ramapati. Dalam satu pertarungan,
Rakyan Bondan Kejiwan kalah, daripada menyerah dan
ditangkap Ramapati yang licik, Rakyan Bondan Kejiwan
memutuskan melarikan diri. Ramapati mengutus orang-orang
kepercayaanya untuk menangkap Bondan Kejiwan.

Sementara itu jasad Jaran Sari yang dibuang kakak
seperguruannya beberapa bulan lamanya setelah terapung-
apung di laut Jawa akhirnya sampai di muara sungai si
Manuk Rawa (Cimanuk-masa sekarang) jasad Jaran Sari
menyangkut di akar-akar pohon Sentigi. Hutan Sentigi kala
itu telah berpenghuni, seorang buyut bernama buyut Kecik
yang memiliki seorang putri bernama Andayasari.

Tidak jauh dari jasad Jaran Sari, dua orang wanita
tampak bercakap-cakap di pinggir pantai. Salah satu

100 - Lintang Kerti

wanita melihat sebuah teja atau cahaya yang terpancar dari
sela-sela akar Sentigi.

“Ibu Bibi Layung Suci Maganda, saya melihat cahaya dari
rimbunnya pohon sentigi, mari kita lihat.”

Keduanya lalu berjalan menghampiri cahaya tersebut yang
ternyata berasal dari jasad Jaran Sari. Jasad itu memancarkan
cahaya dan bau yang sangat harum. Oleh bibinya jasad Jaran
Sari diangkat ke pinggir pantai. Begitu Andayasari melihat
wajah Jaran Sari yang sudah tewas timbul rasa suka.

“Ibu Bibi, tolong hidupkan pemuda ini,” kata Andayasari
membuat Bibinya terkejut.

“Bagaimana mungkin, Andayasari.”

“Ibu Bibi adalah orang sakti, pasti punya simpanan ilmu.”

Demi menyenangkan hati keponakannya, akhirnya Dewi
Layung Suci Maganda memenuhi keinginan Andayasari.
Dengan kesaktiannya Korin dari Jaran Sari dapat dihidupkan
kembali.

***

Di tempat lain. Buyut Kecik didatangi sembilan raja
siluman penguasa bantaran kali si Manuk Rawa yang
bermaksud melamar anak buyut Kecik yang bernama
Andayasari. Tapi karena yang melamarnya banyak, maka
Buyut Kecik memutuskan supaya sembilan raja siluman itu
saling bertempur dan siapa pun pemenangnya dialah yang
berhak menjadi menantu Buyut Kecik. Maka kesembilan
siluman itu pun bertarung. Sedang Ki Buyut Kecik segera

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 101

berlalu mencari anaknya Andayasari. Ki Buyut Kecik terkejut
ketika anaknya sedang duduk berduaan dengan seorang
pemuda asing.

“Andayasari, siapakah pemuda ini?”

“Dia calon suami saya, Ayah.”

“Wah, bagaimana ini? Ayah sudah memberikan sayembara
pada para raja siluman itu, yang menang dalam pertarungan
ia yang jadi suamimu.”

“Sekarang bagaimana, Ayah? Saya hanya mau menikah
dengan Kangmas Jaran Sari.”

“Jadi, namamu Jaran Sari?”

“Betul, Ki.”

“Sebentar lagi para raja siluman itu akan mencariku.
Apakah kau sanggup mengahadapi sembilan raja siluman
itu, Jaran Sari?”

“Saya sanggup, Ki.”

Saat itulah sembilan raja siluman bantaran kali si Manuk
Rawa datang dan menuduh Buyut Kecik ingkar janji, sebab di
samping Andayasari ada seorang pemuda yang akan menjadi
suami putri Buyut Kecik. Dalam satu pertarungan akhirnya
Jaran Sari mampu mengalahkan dan menaklukan sembilan
raja siluman tersebut menggunakan pusakanya yang bernama
Gagak Winangsih.

“Wahai manusia, siapakah kau ini?”

“Aku Jaran Sari.”

“Bersediakah tuan menjadi raja kami? Sebab telah
mengalahkan kami semua.”

102 - Lintang Kerti

“Aku bersedia dengan syarat, buatkan sebuah istana yang
sama, baik besar dan bentuknya melebihi keraton Majapahit.”

Sekejap mata sebuah istana yang seluruhnya terbuat dari
emas berdiri di sebuah pulau, baik bentuk dan besarnya sama,
malah melebihi Istana Majapahit.

“Silakan Tuan Jaran Sari memberi nama istananya.”
“Baik. Karena istana ini berdiri di sebuah pulau dan
terbuat dari emas murni. Maka keraton ini aku berinama Pulau
Mas. Dan kawasan ini aku berinama Sentigi. Tapi sebagai
seorang raja, tentu aku memiliki gelar, kalian pikirkan gelar
yang pantas untukku.”
“Baiklah, Tuan Jaran Sari, karena Tuan telah mengalahkan
kami dan bersedia menjadi raja, maka kami memberi gelar
Tuan dengan sebutan Wergi Nata.”
Maka demikianlah, puluhan tahun kemudian sesuai
perkembangan zaman, wilayah kekuasaaan Prabu Wergi Nata
diberi nama Sentigi dan keratonnya dikenal orang dengan
keraton Pulo Mas.

Indramayu, 2021

Hikmah yang bisa dipetik dari kisah tersebut adalah:
Kesabaran, kejujuran, dan jiwa menolong membuat hidup

kita mulia di mata orang dan sang Maha Pencipta.

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 103

Biodata Penulis

Minanto. Lahir di Indramayu, 1992. Telah
menulis “Semang (2017)”, “Dulatip Ingin
Membenturkan Kepalanya ke Tembok
Setiap Kali Dia Diberi Tahu Tentang Kabar
Orang Tua (2018)”, Aib Dan Nasib (2020)”,
dan kini sedang menulis novel keempat.

Suryana Hafidin, lahir di Indramayu 14
Apil 1994. Pengajar Bahasa Indonesia
SMP Nahdlatul Ulama Losarang.
Penikmat kopi dan buku. Beberapa
Cerpen dan puisinya pernah dimuat
media lokal dan media online. Aktif di
Jaringan Literasi Indramayu dan Pengurus
Forum Taman Baca Masyarakat
Indramayu, Ketua Jamaah Telembukkiyah, Founder Saung
Sastra Indramayu.

104 - Lintang Kerti

KUSYOTO, lahir di Indramayu 02 Juli 1977
bergiat di Dewan Kesenian Indramayu,
Komite Sastra, beberapa tulisannya baik
puisi dan cerpen dimuat di berbagai
media Koran dan majalah nasional.
Alamat Rumah Penulis; Jl. Larangan-Tugu,
Desa Tugu, Kecamatan Lelea, Kabupaten
Indramayu 45261 Jawa Barat. Penulis
dapat dihubungi melalui nomor Hp/WA: 081380790380 atau
melalui surel: [email protected], dan juga akun Facebook:
Kusyoto, Kyt.

Ika Rizqiyawati, menempuh pendidikan
SI di UNPAD (Universitas Padjadjaran),
Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Ilmu
Sejarah. Melanjutkan Pascasarjana di
UNNES (Universitas Negeri Semarang)
Jurusan Pendidikan IPS (Ilmu
Pengetahuan Sosial). Pernah mengajar di
SMK Widya Utama Indramayu dan
pengajar freelance di Ganesa Operation Indramayu (2015),
mengabdi selama satu tahun di daerah 3T dengan bergabung
menjadi pengajar muda di Yayasan Indonesia Mengaar (2016-
2017), Tutor PKBM Anugrah Bangsa Semarang (2018-2021),
dan sekarang menjadi salah satu pengajar di Rumah Belajar
Semi Palar Bandung.

Kisah Klasik Bocah Dermayu - 105

Aris Dodi, menempuh pendidikan SI di
UNPAD (Universitas Padjadjaran),
Fakultas Ilmu Budaya, Jurusan Ilmu
Sejarah. Aktif di gerakan Citarasa Kebaikan
Pelajar (Cakep) Chapter Indramayu
sebagai Headcoach, sebagai Sekretaris di
Yayasan Generasi Harapan Umat (Gen
Harum), Menteri Ekonomi Kreatif IKA
(Ikatan Alumni) Muda UNPAD Bandung dan sekarang
Sekertaris Pemuda Pelopor Indramayu serta aktivitas harian
bekerja sebagai manajer di PT.Harum Bina Wisata.

106 - Lintang Kerti




Click to View FlipBook Version