ANALISIS KONDISI FISIK ATLET SOFTBALL PUTRI
KOTA KUDUS UNTUK PERSIAPAN PORPROV XVI
SKRIPSI
Diajukan dalam rangka penyelesaian studi Strata 1 untuk
memperoleh gelar Sarjana Olahraga pada Universitas
Negeri Semarang
Oleh
EVA AYU ADITIA
6211418116
JURUSAN ILMU KEOLAHRAGAAN
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2022
ABSTRAK
Eva Ayu Aditia, 2022. Analisis Kondisi Fisik Atlet Softball Putri Kota Kudus Untuk
Persiapan PORPROV XVI. Skripsi. Jurusan Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu
Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, Dosen Pembimbing: Khoiril Anam,
S. Si., M. Or.
Kata kunci: kondisi fisik, softball, prestasi olahraga
Kondisi fisik menjadi aspek yang mendasar dalam menunjang
peningkatan keterampilan untuk pencapaian prestasi maksimal. Berdasarkan
hasil observasi yang ditemukan, tim softball putri kota kudus belum ada
pemantauan kondisi fisik dan belum tercapainya prestasi maksimal selama
mengikuti kejuaraan PORPROV. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui
kondisi fisik atlet softball putri kota Kudus untuk persiapan PORPROV XVI.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, melalui survei tes dan
pengukuran kondisi fisik. Teknik analisis data penelitian ini menggunakan
statistik deskriptif dan presentase. Populasi dalam penelitian ini adalah atlet
softball putri kota Kudus. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
seluruh atlet softball putri kota Kudus yang berjumlah 9 orang atlet.
Hasil penelitian dari 100% atlet, yang memiliki kondisi fisik kategori
kurang sekali sebanyak 33.33% atlet dari total frekuensi. Sebanyak 26.26% atlet
mimiliki kondisi fisik kurang baik serta sebanyak 11,11% atlet memiliki kondisi
fisik cukup baik. Atlet yang memiliki kondisi fisik baik hanya sebanyak 5.05% dan
24.24% memiliki kondisi fisik baik sekali.
Kondisi fisik atlet softball putri kota Kudus dapat disimpulkan dalam
keadaan kurang dan dapat diasumsikan belum optimal. Hal tersebut yang
menjadi salah satu faktor penghambat peningkatan prestasi pada atlet tersebut.
Perlu adanya perbaikan program latihan yang mendukung peningkatan kondisi
fisik pada atlet.
ii
ABSTRACT
Eva Ayu Aditia, 2022. Analysis of the Physical Condition of the Female Softball
Athletes in Kudus City to Preparation of Province Sports Games XVI. Thesis.
Departmentof Sport Science, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri
Semarang, Advisory Lecturer: Khoiril Anam, S. Si., M. Or.
Keywords: physical condition, softball, achievement sport
Physical condition is a fundamental aspect in supporting the improvement
of skills for maximum achievement. Based on the observations found, the softball
has not monitored their physical condition and has not achieved maximum
performance while participating in the PORPROV championship. The purpose of
this study was to determine the physical condition of female softball athletes in
the city of Kudus for the preparation of PORPROV XVI.
This type of research is descriptive quantitative, through test surveys and
measurements of physical condition. The data analysis technique of this research
used descriptive statistics and percentages. The population in this study were
female softball athletes from the city of Kudus. The sample used in this study
were all female softball athletes in Kudus, totaling 9 athletes.
The results of the study from 100% of athletes, who had a very poor
physical condition category were 33.33% of athletes from the total frequency. A
total of 26.26% athletes have poor physical condition and as many as 11.11%
athletes have fairly good physical conditions. Athletes who have good physical
condition only 5.05% and 24.24% have very good physical condition.
The physical condition of the female softball athletes of Kudus city can be
concluded in a less state and it can be assumed that it is not optimal. This is one
of the inhibiting factors for increasing achievement in these athletes. It is
necessary to improve the exercise program that supports improving the physical
condition of athletes.
iii
PERSET UJ U AN
Skripsi yang berjudul “Analisis Kondisi Fisik Atlet Softball Putri Kota Kudus untuk
Persiapan PORPROV XVI" telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan dalam Sidang
Panitia Ujian Skripsi Fakultas limu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang
Pada :
Hari : Rabu
Tanggal : 18 Mei 2022
Menyetujui, Pembimbing
Ketua Jurusan llmu Keolahragaan
Sugiarto, S. Si., M. Sc. m, S. Si., M. Or.
NIP. 198012242006041001 . 905202015041005
V
PENGESAHAN
Skripsi atas nama EVA AYU ADITIA NIM 6211418116 Program Studi Ilmu
Keolahragaan Strata-1 dengan Judul “ANALISIS KONDISI FISIK ATLET
SOFTBALL PUTRI KOTA KUDUS UNTUK PERSIAPAN PORPROV XVI” telah
dipertahankan di hadapan sidang Panitia Penguji Skripsi Fakultas Ilmu
Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang pada:
Hari : Selasa
Tanggal : 31 Mei, 2022
Panitia Ujian
Ketua Sekretaris
Prof. Dr. Tandiyo Rahayu, M.Pd. Mohammad Arif Ali, S.Si., M.Sc.
NIP 196103201984032001 NIP 198812312015041002
Dewan Penguji
1. Gustiana Mega A., S.Pd.Jas., M.Or. (Penguji I)
NIP 198808222015042003
2. Dhias Fajar Widya P., S.Si., M.Or. Penguji II)
NIP 198802172014041143
3. Khoiril Anam, S.Si., M.Or. (Penguji III)
NIP 198905202015041005
Dokumen ini ditandatangani secara elektronik dengan menggunakan sertifikat elektronik yang diterbitkan oleh Balai Sertifikat
Elektronik sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik, tanda tangan
secara elektronik memiliki kekuatan hukum dan akibat hukum yang sah.
PERNYATAAN
Yang bertandatangan di bawah ini, saya:
Nama : Eva Ayu Aditia
Nim : 6211418116
Jurusan/Prodi : Ilmu Keolahragaan
Fakultas : Ilmu Keolahragaan
Judul Skripsi : ANALISIS KONDISI FISIK ATLET SOFTBALL
PUTRI KOTA KUDUS UNTUK PERSIAPAN PORPROV XVI
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi ini hasil karya saya
sendiri dan tidak menjiplak (plagiat) karya ilmiah orang lain, baik seluruhnya
maupun sebagian. Bagian tulisan dalam skripsi ini yang merupakan kutipan dari
karya ahli atau orang lain, telah diberi penjelasan sumbernya sesuai dengan tata
cara pengutipan.
Apabila pernyataan saya ini tidak benar saya menerima sanksi akademik
dari Universitas Negeri Semarang dan sanksi hukum sesuai ketentuan yang
berlaku di wilayah negara Republik Indonesia.
Semarang, 31 Mei 2022
Yang menyatakan,
Eva Ayu Aditia
NIM. 6211418116
vi
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto
“Sesuatu yang kita hadapi tidak selalu dapat kita ubah. Namun kita tidak dapat
mengubah sesuatu sampai kita menghadapinya.”
(Merry Riana)
Persembahan
Skripsi ini saya persembahkan untuk:
1. Keluarga besar tim softball kota Kudus, meliputi para pelatih dan atlet-
atlet softball yang telah membantu terlaksananya penelitian guna untuk
penyusunan skripsi ini.
2. Teman-teman Ilmu Keolahragaan angkatan 2018, khususnya teman-
teman yang telah memberi dukungan, membantu semua proses
penyusunan skripsi ini, smoga Allah membalas kebaikan kalian.
3. Almamater tercinta Universitas Negeri Semarang.
vii
PRAKATA
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas kemudahan, bimbingan serta limpahan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian
skripsi dengan judul “Analisis Kondisi Fisik Atlet Softball Putri Kota Kudus Untuk
Persiapan PORPROV XVI”. Skripsi ini disusun guna memenuhi syarat
memperoleh gelar Sarjana di pendidikan Strata 1 Jurusan Ilmu Keolahragaan,
Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang.
Penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, terlebih jika tanpa bantuan,
bimbingan, doa, dan semangat dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum selaku Rektor Universitas Negeri
Semarang.
2. Prof. Dr. Tandiyo Rahayu, M.Pd selaku Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Semarang.
3. Bapak Sugiarto, S. Si., M. Sc. selaku Ketua Jurusan Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Semarang.
4. Bapak Khoiril Anam, S. Si., M. Or. selaku Dosen Pembimbing. Terima kasih
atas segala waktu luang, masukan dan diskusi – diskusi selama dalam
proses bimbingan. Tak lupa permohonan maaf apabila selama proses
bimbingan, banyak melakukan kesalahan maupun ketidaksopanan.
5. Kedua Orang Tua yang telah memberi semangat dan dukungan dalam
penyusunan skripsi ini.
6. Seluruh Dosen yang memberikan ilmu pengetahuan selama perkuliahan di
Jurusan Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.
viii
7. Para Atlet Softball kota Kudus yang telah bersedia meluangkan waktu dan
bersedia membantu dalam penelitian ini.
8. Teman – teman satu angkatan yang selalu membantu dalam susah dan
sedih. Terimakasih atas dukungannya
9. Semua pihak yang turut membantu dalam penulisan skripsi ini yang tidak
dapat disebutkan satu persatu, terima kasih dan semoga Allah membalas
kebaikan kalian.
Penulis menyadari bahwa skripsi yang dibuat belum sempurna, oleh karena
itu saran yang membangun diharapkan untuk perbaikan selanjutnya. Demikian
skripsi yang penulis susun, semoga dapat memberi informasi bagi yang
membutuhkan dan memberikan khasanah baru bagi pembaca.
Semarang, 31 Mei 2022
Peneliti
ix
DAFTAR ISI
------------------------------------------------------------------------------------------------Halaman
JUDUL…………….……………………………………………………………………….i
ABSTRAK ................................................................................................................. ii
PERSETUJUAN ...................................................................................................... iv
PENGESAHAN ........................................................................................................v
PERNYATAAN ........................................................................................................vi
MOTTO DAN PERSEMBAHAN............................................................................. vii
PRAKATA.............................................................................................................. viii
DAFTAR ISI..............................................................................................................x
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... xiii
DAFTAR TABEL.................................................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................................xv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah....................................................................... 1
1.2 Identifikasi Masalah............................................................................... 6
1.3 Pembatasan Masalah ........................................................................... 6
1.4 Rumusan Masalah................................................................................. 6
1.5 Tujuan Penelitian ................................................................................... 7
1.6 Manfaat Penelitian................................................................................. 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Hakikat Softball ...................................................................................... 8
2.1.1 Pengertian Softball ...........................................................................................................8
2.1.2 Alat dan Fasilitas Permainan Softball.................................................................9
2.1.3 Teknik Dasar Permainan Softball .......................................................................16
2.2 Hakikat kondisi fisik ............................................................................. 21
2.2.1 Komponen Kondisi Fisik............................................................................................23
2.2.2 Manfaat Kondisi Fisik...................................................................................................29
2.2.3 Faktor Yang Mempengaruhi Kondisi Fisik....................................................29
2.3 Komponen Kondisi Fisik Softball....................................................... 31
2.3.1 Kekuatan (strength) ......................................................................................................31
2.3.2 Daya tahan (endurance)............................................................................................31
2.3.3 Kecepatan (speed) ........................................................................................................32
x
2.3.4 Daya ledak (explosive power) ...............................................................................32
2.3.5 Fleksibilitas (fleksibility)..............................................................................................32
2.3.6 Kelincahan (agility) ........................................................................................................32
2.3.7 Koordinasi (coordination)..........................................................................................33
2.4 Kerangka Berfikir ................................................................................. 33
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Desain Penelitian............................................................... 36
3.2 Variabel Penelitian............................................................................... 37
3.3 Populasi, Sampel, dan Teknik Penarikan Sampel ......................... 37
3.3.1 Populasi.................................................................................................................................37
3.3.2 Sampel dan Teknik Penarikan Sampel...........................................................37
3.4 Teknik Pengumpulan Data ................................................................. 38
3.4.1 Tahap Persiapan.............................................................................................................38
3.4.2 Tahap Pelaksanaan......................................................................................................38
3.4.3 Tahap Penyelesaian.....................................................................................................39
3.5 Instrumen Penelitian............................................................................ 39
3.5.1 Instrumen Kekuatan (strength) .............................................................................39
3.5.2 Instrumen Daya Tahan (endurance).................................................................39
3.5.3 Instrumen Daya Ledak (explosive power) ....................................................40
3.5.4 Instrumen Kecepatan (speed) ...............................................................................40
3.5.5 Instrumen Fleksibilitas (fleksibility).....................................................................40
3.5.6 Instrumen Kelincahan (agility)...............................................................................40
3.5.7 Instrumen Koordinasi (coordination).................................................................40
3.6 Teknik Analisis Data............................................................................ 41
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian..................................................................................... 42
4.1.1 Deskripsi Data...................................................................................................................42
4.1.2 Hasil Analisis Data.........................................................................................................44
4.2 Pembahasan......................................................................................... 61
4.2.1 Kekuatan...............................................................................................................................62
4.2.2 Power ......................................................................................................................................65
4.2.3 Fleksibilitas..........................................................................................................................67
4.2.4 Koordinasi Mata Tangan ...........................................................................................67
4.2.5 Kecepatan............................................................................................................................68
xi
4.2.6 Kelincahan...........................................................................................................................69
4.2.7 Daya Tahan ........................................................................................................................69
4.3 Keterbatasan Penelitian...................................................................... 70
BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan ............................................................................................... 71
5.2 Saran ..................................................................................................... 71
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 73
LAMPIRAN-LAMPIRAN ........................................................................................ 79
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2. 1 Lapangan Softball .........................................................................................................................11
2. 2 Helmet .................................................................................................................................................11
2. 3 Gloves..................................................................................................................................................12
2. 4 Bola Softball .....................................................................................................................................13
2. 5 Tongkat Pemukul (Bat)...............................................................................................................13
2. 6 Base 1, 2, 3.......................................................................................................................................14
2. 7 Home plate........................................................................................................................................14
2. 8 Pakaian softball ..............................................................................................................................15
2. 9 Catcher Set.......................................................................................................................................16
2. 10 Pitcher Plate ..................................................................................................................................16
2. 11 Teknik pukulan .............................................................................................................................18
2. 12 Teknik Pitching .............................................................................................................................18
2. 13 Teknik Throwing ..........................................................................................................................19
2. 14 teknik catching..............................................................................................................................19
2. 15 Teknik Lari Antar Base.............................................................................................................20
2. 16 Teknik sliding ................................................................................................................................21
2. 17 Kerangka Perfikir.........................................................................................................................35
4. 1 Data Hasl Tes Keseluruhan Atlet Softball Putri Kota Kudus .................................61
4. 2 Hasil Kekuatan Otot Lengan Atlet Softball Putri Kota Kudus .................................45
4. 3 Hasil Kekuatan Otot Perut Atlet Softball Putri Kota Kudus .....................................46
4. 4 Hasil Kekuatan Genggaman Atlet Softball Putri Kota Kudus .................................48
4. 5 Hasil Kekuatan Otot Tungkai Atlet Softball Putri Kota Kudus................................49
4. 6 Hasil Power Otot Tungkai Atlet Softball Putri Kota Kudus ......................................51
4. 7 Hasil Power Otot Lengan Atlet Softball Putri Kota Kudus........................................52
4. 8 Hasil Fleksibilitas Atlet Softball Putri Kota Kudus ........................................................54
4. 9 Hasil Koordinasi Mata Tangan Atlet Softball Putri Kota Kudus ............................55
4. 10 Hasil Kecepatan Atlet Softball Putri Kota Kudus........................................................57
4. 11 Hasil Kelincahan (Boomerang Run) Atlet Softball Putri Kota Kudus...............58
4. 12 Hasil Daya Tahan (MFT) Atlet Softball Putri Kota Kudus…………………………60
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
4. 1 Deskripsi Data Kondisi Fisik Atlet Softball Putri Kota Kudus Tahun 2022.... 43
4. 2 Hasil Tes dan Pengukuran Kekuatan Otot Lengan ....................................... 44
4. 3 Analisis Data Kekuatan Otot Lengan Atlet Softball Putri Kota Kudus .......... 44
4. 4 Hasil Tes dan Pengukuran Kekuatan Otot Perut .......................................... 45
4. 5 Analisis Data Kekuatan Otot Perut Atlet Softball Putri Kudus Kota .............. 46
4. 6 Hasil Tes dan Pengukuran Kekuatan Genggaman....................................... 47
4. 7 Analisis Data Kekuatan Genggaman Atlet Softball Putri Kota Kudus .......... 47
4. 8 Hasil Tes dan Pengukuran Kekuatan Otot Tungkai ...................................... 48
4. 9 Analisis Data Kekuatan Otot Tungkai Atlet Softball Putri Kota Kudus.......... 49
4. 10 Hasil Tes dan Pengukuran Power Otot Tungkai ......................................... 50
4. 11 Analisis Data Power Otot Tungkai (Vertical Jump) Atlet Softball Putri Kota
Kudus .................................................................................................................... 50
4. 12 Hasil Tes dan Pengukuran Power Otot Lengan .......................................... 51
4. 13 Analisis Data Power Otot Lengan Atlet Softball Putri Kota Kudus ............. 52
4. 14 Hasil Tes dan Pengukuran Fleksibilitas ...................................................... 53
4. 15 Analisis Data Fleksibilitas (Sit and Reach) Atlet Softball Putri Kota Kudus 53
4. 16 Hasil Tes dan Pengukuran Koordinasi Mata dan Tangan .......................... 54
4. 17 Analisis Data Koordinasi Mata Tangan Atlet Softball Putri Kota Kudus ..... 55
4. 18 Hasil Tes dan Pengukuran Kecepatan ........................................................ 56
4. 19 Analisis Data Kecepatan Atlet Softball Putri Kota Kudus............................ 56
4. 20 Hasil Tes dan Pengukuran Kelincahan ....................................................... 57
4. 21 Analisis Data Kelincahan Atlet Softball Putri Kota Kudus ........................... 58
4. 22 Hasil Tes dan Pengukuran Daya Tahan ..................................................... 59
4. 23 Analisis Data Daya Tahan Atlet Softball Putri Kota Kudus ......................... 59
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1 Formulir Usulan Topik Skripsi ............................................................................ 80
2 Usulan Pembimbing ........................................................................................... 81
3 Lembar S.K. Dosen Pembimbing ...................................................................... 82
4 Surat Permohonan Izin Observasi..................................................................... 83
5 Surat Izin Penelitian ........................................................................................... 84
6 Laporan Selesai Bimbingan Skripsi ................................................................... 85
7 Hasil Uji Kemiripan Turnitin................................................................................ 86
8 Hasil Tes Fisik Atlet Softball Putri Kota Kudus Tahun 2022 ............................. 87
9 Instrumen Penelitian .......................................................................................... 96
10 Dokumentasi .................................................................................................. 114
xv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Di era globalisasi sekarang ini, dunia olahraga semakin digemari dikalangan
manapun. Hal tersebut dapat terlihat bahwa masyarakat dari berbagai sudut
pandang minat untuk melakukan olahraga. Menurut Irwanto & Romas (2019)
dengan berolahraga, banyak dampak positif yang bisa didapat setiap individu.
Selain menjadikan manusia sehat dan kuat juga mampu melatih kepribadian
yang baik seperti meningkatkan tanggung jawab, integritas dalam permainan,
kerjasama, perhatian terhadap orang lain, kepemimpinan, rasa hormat terhadap
pelatih, loyalitas, pemaaf, disiplin yang menjadikan atlet dengan kinerja hebat
untuk akhirnya menjadi juara. Dikehidupan sehari-hari olahraga adalah salah
satu kebutuhan utama kehidupan sehari-hari, karena membawa kebahagiaan
dan kepuasan bagi orang-orang, dan olahraga secara teratur membuat orang
sehat dan kuat secara fisik dan mental. Olahraga menjadi salah satu cara dalam
memelihara kesehatan dan kebugaran jasmani. Menurut Turi & Wulandari,
(2021) kebugaran jasmani merupakan kemampuan manusia melakukan suatu
aktivitas dengan efektif dan tidak mengalami kelelahan yang berarti, sehingga
masih memiliki cadangan energi untuk mengatasi aktivitas tambahan. Selain
olahraga bisa membuat manusia sehat jasmani dan rohani, berolahraga untuk
kebugaran jasmani mampu dipermainkan, diperlombakan dan aktivitas lainnya
yang bertujuan untuk mendapatkan juara dan prestasi tertinggi.
Olahraga prestasi didefinisikan sebagai upaya peningkatan keterampilan
dan potensi atlet untuk meningkatkan martabat negara dan dilakukan oleh
1
2
orang-orang yang memiliki bakat, kemampuan, dan potensi untuk berprestasi.
(Prasetyo et al., 2018). Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3
Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional Bab 1 Pasal 1 menjelaskan
bahwa: “Olahraga prestasi adalah olahraga yang membina dan mengembangkan
olahragawan secara terencana, berjenjang, dan berkelanjutan melalui kompetisi
untuk mencapai prestasi dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi
keolahragaan.” Ketika olahraga dilakukan secara terarah, terukur serta
terprogram, maka dengan berolahraga olahragawan bisa mencapai sebuah
prestasi dan kebanggaan dari apa yang diharapkan. Upaya dalam meningkatkan
pencapaian prestasi atlet dibutuhkan suatu program pembinaan serta pelatihan
yang sistematis, terencana, berkesinambungan dan modern (Soegiyanto, 2011).
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi dalam olahraga, yaitu:
taktik; strategi; serta mental. Selain itu, kondisi fisik menjadi salah satu indikator
utama bagi serorang atlet untuk meraih prestasi (Jariono et al., 2020). Siapa pun
yang menekuni atau menggeluti setiap cabang olahraga pasti dianggap memiliki
keadaan tubuh dengan kondisi fisik sangat bagus. Hal ini dikarenakan ketika
seorang atlet tidak memilki kondisi fisik yang prima, ketika melakukan aktivitas
olahraga akan mengalami kesulitan (Silpina et al., 2020).
Setiap usaha peningkatan prestasi atlet, pengembangan fisik sangat
dibutuhkan salah satunya pada cabang olahraga softball. Softball merupakan
olahraga beregu yang menggunakan bola dan pemukul. Softball adalah
olahraga permainan gerak cepat dengan fokus pada kecepatan dan kelincahan.
Menurut Nachtigal et al. (2016) softball adalah olahraga yang menyenangkan,
memberikan manfaat kesehatan yang signifikan seperti peningkatan kebugaran
fisik, termasuk kekuatan, kelincahan, dan koordinasi tubuh bagian atas dan
3
bawah. Selain itu, keterampilan sosial yang penting dapat dipelajari dengan
berinteraksi dengan pelatih dan rekan tim. Sebagai olahraga permainan, softball
menjadi olahraga yang mengandalkan strategi dalam bermain, baik untuk
strategi defensif atau ofensif. Softball merupakan permainan yang memerlukan
kecepatan dalam berlari, kecepatan serta ketepatan dalam memukul dan
melempar bola (Rahman & Yusmawati, 2018). Terdapat 4 macam aspek dalam
softball yang harus diperhatikan atau dimiliki atlet softball dan harus dilatih
secara terus menerus yaitu seperti latihan fisik, latihan teknik, latihan taktik, serta
latihan mental (Berryanto et al., 2016). Setiap pemain softball wajib memiliki
keterampilan khusus supaya dapat bermain dengan bagus seperti menangkap
bola dan bergerak cepat, mampu melakukan pukulan keras dan melempar
dengan akurat. Hal tersebut diperlukan latihan yang terprogram dan tekun agar
bisa mendapatkan aspek-aspek dalam olahraga softball. Dalam bermainan
softball disamping penguasaan teknik juga diperlukan kondisi fisik yang
mencukupi. Modal utama dalam setiap penampilan adalah kondisi fisik, dimana
komponen yang satu dengan yang lainnya saling mendukung dan berhubungan
(Mashuda & Purnomo, 2012).
Kondisi fisik ialah satu kesatuan dari komponen kondisi fisik yang saling
berhubungan, baik dalam peningkatannya maupun pemeliharaannya, sehingga
kurangnya pembinaan yang mengarah pada peningkatan kondisi fisik akan
mempengaruhi pencapaian prestasi (Sanjaya et al., 2018). Kondisi fisik
merupakan faktor yang sangat krusial hampir semua cabang olahraga, sehingga,
latihan untuk meningkatkan kondisi fisik perlu memperhatikan tingkat yang
direncanakan dan dilaksanakan secara sistematis yang menjadikan kebugaran
jasmani dan kemampuan fungsional komponen tubuh bekerja dengan baik.
4
Kondisi fisik yang baik memiliki beberapa keunggulan, diantaranya adalah atlet
dapat dengan mudah menelaah keterampilan motorik yang cukup sulit, tidak
mudah lelah selama latihan dan bertanding, program latihan dapat diselesaikan
tanpa banyak kendala, dapat menyelesaikan latihan yang intens, dll. Kondisi
fisik merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki setiap atlet untuk
mencapai prestasi, selain menunjukkan kemampuan fungsi fisik atlet secara
keseluruhan. (Ardian et al., 2021). Komponen kondisi fisik perlu dilakukan
pengukuran guna sebagai bahan evaluasi bahkan dijadikan suatu sumber data
yang digunakan untuk penyusunan program latihan supaya didalam suatu
cabang olahraga pencapaian prestasi mengalami peningkatan. Penguasaan
teknik-teknik gerakan yang dilatihkan akan cepat dikuasai apabila atlet memiliki
kondisi fisik yang prima. Menurut Meliala (2018) seorang atlet bisa dikatakan
memiliki kondisi fisik yang baik jika atlet dapat melakukan aktivitas yang
dilakukan tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan. Menurut Mashuda &
Purnomo (2012) menyebutkan bahwa komponen kondisi fisik terdiri dari
kekuatan (strenght), daya tahan (endurance), kecepatan (speed), daya ledak
(explosif power), kelentukan (flexibility), keseimbangan (balance), kelincahan
(agility), koordinasi (coordination), ketepatan (accurity), reaksi (reaction).
Dari keterampilan-keterampilan yang ada, semua unsur kondisi fisik
berperan penting. Contohnya menurut League (2020) atlet yang memiliki
kebugaran otot atau kondisi fisik yang besar akan bisa berlari lebih cepat dan
melempar bola lebih keras serta pemain juga akan mengalami lebih sedikit
cedera otot atau cedera apapun yang terjadi cenderung ringan serta cepat dalam
pemulihan. Pemain softball yang memiliki komponen fisik yang bagus, mereka
akan mampu menguasai teknik-teknik dalam permainan softball seperti
5
melempar bola (throwing), menangkap bola (catching), memukul bola (batting),
menghadap tanpa ayunan (bunting), lari menuju base dan meluncur (base
running and sliding) sehingga pemain memiliki peluang memenangkan
pertandingan sangat besar (Garman & Gromacki, 2011).
Pentingnya kondisi fisik atlet harus disadari oleh para pelatih maupun atlet,
sehingga bisa mengetahui jika terdapat atlet yang memiliki permasalahan pada
kondisi fisik yang akan berdampak pada pencapaian prestasi dan penampilan
atlet ketika melakukan suatu pertandingan. Data hasil tes kondisi fisik tersebut
nantinya dapat digunakan oleh pelatih untuk menginformasikan kondisi fisik atlet
dan sebagai bahan untuk merancang program latihan yang lebih baik dalam
usaha peningkatan kondisi fisik atlet (Nahari, 2021). Oleh sebab itu, kondisi fisik
sangat dibutuhkan terutama dalam bidang olahraga yang bertujuan untuk
mencapai sebuah prestasi.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di tempat latihan tim softball
putri kota Kudus dan hasil dari wawancara dengan pelatih softball Kudus ketika
diadakannya latihan rutin, atlet softball Kudus tidak pernah melakukan tes kondisi
fisik. Hal ini menyebabkan belum terdapatnya data dari tes sebagai bahan
pemantauan tingkatan kondisi fisik pada atletnya. Prestasi yang dicapai selama 4
tahun terakhir ini pun belum begitu memuaskan. Prestasi tertinggi yang diperoleh
dari tim softball putri kota Kudus yaitu juara 3 KEJURPROV 2019 yang
diselenggarakan di Semarang.
Pekan Olahraga Provinsi atau sering disingkat PORPROV adalah pekan
olahraga terstruktur yang diikuti oleh atlet-atlet pilihan dari berbagai cabang
olahraga yang mewakili setiap kota masing-masing. Menghadapi
penyelenggaraan PORPROV XVI, Tim softball putri kota Kudus mempersiapkan
6
diri untuk mengikuti kejuaraan tersebut. Latihan yang dilakukan yaitu latihan
teknik melempar, menangkap, memukul bola, serta strategi jaga dan berlari.
Sesuai uraian sebelumnya, latihan kondisi fisik adalah aspek yang paling
mendasar yaitu bentuk latihan kondisi fisik yang bertujuan untuk menunjang
keterampilan serta memperoleh prestasi terbaik di kejuaraan PORPROV XVI.
Akan tetapi, persiapan kondisi fisik selama ini belum ada pada tim softball putri
kota Kudus. Berpedoman pada uraian-uraian sebelumnya, maka penulis tertarik
untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Kondisi Fisik Atlet Softball
Putri Kota Kudus Untuk Persiapan PORPROV XVI.”
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat diidentifikasi beberapa
masalah:
1.2.1 Belum diketahui kondisi fisik para atlet softball putri kota Kudus,
1.2.2 Keadaan kondisi fisik setiap atlet belum terpantau secara rutin oleh
pelatih.
1.2.3 Belum pernah adanya tes kondisi fisik yang dilakukan kepada atlet
softball putri kota Kudus.
1.3 Pembatasan Masalah
Untuk menghindari meluasnya masalah yang diteliti, peneliti membatasinya
pada masalah “Analisis Kondisi Fisik Atlet Softball Putri Kota Kudus”.
1.4 Rumusan Masalah
Dari penjelasan latar belakang tersebut, maka masalah utama penelitian ini
dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan penelitian yaitu: bagaimana hasil
analisis kondisi fisik atlet softball putri kota Kudus untuk persiapan PORPROV
XVI?
7
1.5 Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui kondisi fisik atlet
softball putri kota Kudus untuk persiapan PORPROV XVI.
1.6 Manfaat Penelitian
1.6.1 Sebagai tambahan wawasan kepada masyarakat luas khususnya pada
bidang olahraga kesehatan mengenai kondisi fisik atlet,
1.6.2 Atlet dan pelatih memperoleh data untuk melihat seberapa kemampuan
kondisi fisik pada masing-masing atlet,
1.6.3 Sebagai acuan untuk menyusun program latihan yang akan mampu
mengembangkan serta memberikan kontribusi terhadap keberhasilan
seorang atlet,
1.6.4 Sebagai salah satu pedoman dalam seleksi atlet softball khususnya di
daerah kota Kudus,
1.6.5 Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai rujukan referensi penelitian
yang lain.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Hakikat Softball
2.1.1 Pengertian Softball
Pada tahun 1887 softball ditemukan di Amerika Serikat dan terus
berkembang secara nasional maupun internasional (Nachtigal et al., 2016).
Softball masuk ke Indonesia sekitar tahun 1960. Softball dimainkan oleh dua tim
yang masing-masing tim terdiri dari setidaknya 9 pemain, sisanya adalah pemain
cadangan dan setiap anggota tim bertanggung jawab atas posisinya masing-
masing. permainan ini dapat dimainkan oleh wanita maupun pria (Pradnyaswari
& Budisetyani, 2018). Posisi jaga pada cabor ini terdiri dari 2 kelompok yaitu
infield dan outfield. Dari 2 posisi tersebut masih terdapat beberapa posisi
didalamnya yaitu pada posisi infield terdiri dari Pitcher, Catcher, First Baseman,
Second Baseman, Third Baseman, dan Short Stop, sedangkan pada posisi
outfield terdiri dari Left fielder, Center fielder, dan Right fielder.
Softball dimainkan oleh 2 tim dilapangan softball yang berbentuk “diamond”.
Pada saat tim penyerang mendapat giliran memukul, seorang pelempar bola
dari tim bertahan (pitcher) melempar bola kearah penangkap bola (catcher)
skeras mungkin agar lawan tidak dapat memukul bola yang dilempar. Tim yang
mendapatkan giliran memukul satu persatu bergantian dengan teman satu tim
untuk memukul bola. Tim yang mendapat giliran memukul berusaha dimatikan
oleh tim yang sedang berjaga. Terdapat kesempatan 3 kali mati untuk tim yang
mendapatkan giliran memukul sebelum giliran memukul digantikan tim yang
bertahan (Putri et al., 2012).
8
9
Softball memiliki teknik dasar yang harus dipelajari seorang pemain yaitu
melempar, menangkap, memukul bola, dan berlari melintasi lapangan (base
running). Umumnya terdapat 7 inning dalam satu pertandingan, inning
merupakan salah satu bagian dari peraturan permainan dimana masing-masing
tim merasakan menjadi tim penyerang dan tim berjaga. Masing-masing tim
memiliki kesempatan 3 out kecuali terjadi hal-hal lain. Tim yang bertahan
memiliki giliran memukul setelah berhasil mematikan 3 pelari atau pemukul dari
tim penyerang dan pemukul memiliki kesempatan 3 strike dan 4 ball (Putri et al.,
2012).
2.1.2 Alat dan Fasilitas Permainan Softball
Softball dimainkan dengan cara seorang pemukul melakukan pukulan
menggunakan alat pukul (bat) dengan bola yang dilempar oleh pelempar bola
(pitcher). Dari tengah lapangan pitcher melempar bola dan rekan satu timnya
berjaga di 3 home base, 4 berjaga di area outfield yang salah satunya berada di
home plate sebagai catcher. Orang yang bertugas sebagai batting harus mampu
mengitari semua base sebelum bola mengenai base target. Pemukul bisa saja
menghindari lemparan bola yang menurutnya tidak sesuai dengan area straight,
tapi lemparan yang ketiga wajib dipukul. Permainan softball akan aman dan
berjalan lancar apabila terdapat alat dan fasilitas yang lengkap.
1. Lapangan
Menurut I. Siregar (2021) bujur sangkar ialah bentuk dari lapangan softball,
yang terbagi dua tempat yaitu fair territory (tempat fair) dan foul territory (tempat
foul). Daerah fair terbagi lagi mejadi dua bagian yaitu infield dan outfield. Dalam
daerah infield di setiap sudut terdapat empat marka yang dinamakan dengan
base. Pemberian nomor base berlawanan dengan jarum jam yaitu base 1, base
10
2, base 3 dan home plate. Base dibentuk sedikit lebih tinggi dari permukaan
tanah dan berbentuk bujur sangkar dengan sisi 38 cm dan tinggi maksimum 5
inci (12,7 cm) yang umumnya dijaga oleh 6 orang infileder. Home plate
berbentuk pentagon yang memiliki sisi 31,8 x 22 x 45 x 22 x 31,8 cm. backstop
terdapat di belakang home plate atau disebut batasan yang berjarak 7,62 dan
9,14 meter.
Di area infield terdapat wilayah khusus untuk seorang pitcher melempar bola
untuk dipukul oleh lawan, yang ditandai menggunakan pitcher plate. Pitcher plate
berbahan dari lembaran karet yang memiliki ukuran 61x15,2 cm. Posisi
permukaan pitcher plate harus sejajar tanah. Pitcher plate harus dilengkapi
dengan garis lingkaran berdiameter 4,88 meter atau radius 2,44 meter dari
pitcher plate. Sedangkan area outfield merupakan daerah luar yang berbentuk
setengah lingkaran yang dijaga oleh 3 orang outfielder.
Terdapat dua tempat pelatih atau coach box diluar daerah infield yang
berbentuk persegi panjang dengan panjang 4,57 meter, terletak di sebelah base
1 dan base 3. Pelatih yang berada di dalam coach box bertugas untuk
memberikan arahan atau aba-aba kepada pemukul dan pelari untuk memainkan
strategi. Coach box dari garis lapangan masing-masing berjarak 5 meter.
11
Gambar 2. 1 Lapangan Softball
Sumber: WBSC, 2021
2. Helmet
Untuk melindungi kepala runner dan batter disebut dengan helmet. Helmet
yang digunakan tidak boleh retak, patah, penyok, atau diubah bentuknya. Untuk
runner dan batter helmet harus memiliki dua penutup telinga (satu di setiap
telinga) dan harus dari jenis yang memiliki fitur keselamatan. Sedangkan untuk
penangkap atau pemain bertahan, helmet lebih bertipe tengkorak tanpa penutup
telinga (WBSC, 2021).
Gambar 2. 2 Helmet
Sumber: Garman & Gromacki, 2011
12
3. Sarung Tangan (glove)
Bahan yang digunakan untuk sarung tangan yaitu kulit yan agak tebal agar
kuat dan tahan lama serta bentuknya pun beragam. Di American Softball
Association, ukuran sarung tangan tidak boleh melebihi 36 sentimeter. Dalam
pertandingan softball, semua pemain bertahan memakai sarung tangan
lapangan. Tapi biasanya ada ukuran sarung tangan yang berbeda yang tersedia
untuk pemain di posisi berbeda di lapangan (Tutorialspoint, 2016). Secara
umum, sarung tangan outfielder biasanya 11 hingga 12 inci lebih panjang dari
sarung tangan infielder, dengan saku yang lebih dalam untuk membantu
menangkap bola yang melambung jauh. Sarung tangan infielder, biasanya 9
hingga 10 inci, lebih kecil dari outfielder, dengan kantong yang lebih dangkal
untuk memungkinkan kontrol bola yang lebih baik dan lemparan bola yang lebih
cepat dari sarung tangan ke tangan yang melempar (League, 2020). Glove
terbagi menjadi 3 macam yaitu, (Finger glove) glove yang digunakan semua
pemain lapangan, (Catcher glove) glove yang digunakan oleh catcher, (First
base mills) glove yang digunakan oleh penjaga base pertama (I. Siregar, 2021).
Gambar 2. 3 Gloves
Sumber: Tutorialspoint, 2016
13
4. Bola
Ukuran bola softball memiliki keliling 30 cm dengan berat sekitar 90 gram.
Bola softball memiliki bentuk bulat yang berwarna kuning atau putih, dan
terdapat jahitan menggunakan benang tebal yang berwarna merah disetiap sisi
bola. Bola softball berbahan dari kulit sintesis.
Gambar 2. 4 Bola Softball
Sumber: Tutorialspoint, 2016
5. Pemukul atau (bat)
Tongkat pemukul yang akan digunakan harus sesuai dengan peraturan yang
ditetapkan. Tongkat pemukul yang digunakan terbuat dari alumunium, besi, dan
kayu yang telah disetujui oleh Komisi Standarisasi Peralatan Main International
Softball Federation (ISF). Untuk panjang tongkat biasanya berukuran 86,4 cm
dengan pada bagian perkenaan bola maksimal berdiamer 5,7 cm, dan pegangan
tangan boleh dilapisi, namun kurang lebih 40 cm.
Gambar 2. 5 Tongkat Pemukul (Bat)
Sumber: Tutorialspoint, 2016
14
6. Base
Base adalah pos yang digunakan untuk berhenti pelari, yang berbentuk bujur
sangkar dan terbuat dari karet.
a. Second and third base b. First (double) base
Gambar 2. 6Base 1, 2, 3
Sumber: WBSC, 2021
7. Home plate
Home plate disebut sebagai base keempat karena setelah pelari melewati
base ketiga, pelari tersebut harus menyentuh atau menginjak home plate agar
mencetak poin. home plate terbuat dari karet atau bahan lain yang berbentuk
petagon dan memiliki ukuran 45 cm x 22 cm x 31,8 cm.
Gambar 2. 7 Home plate
Sumber: WBSC, 2021
15
8. Pakaian
Dalam permainan softball banyak liga atau organisasi pengatur yang
mengharuskan pemain untuk mengenakan seragam yang sama seperti warna
dan gaya untuk permainan liga ataupun turnamen dengan nomor punggung yang
berbeda. Celana yang dikenakan boleh pendek atau panjang,tetapi semuanya
harus berwarna sama. Mengenakan kaos kaki setinggi lutut tidak diharuskan,
hanya saja sebagai penambah lapisan pelindung jika pemain tergelincir atau
jatuh. Pemain harus mengenakan sepatu softball dengan gerigi karet dan tali
sepatu harus diikat dua kali supaya tidak terlepas yang bisa mengakibatkan
pemain tersandung. Pemain juga tidak diharuskan untuk memakai topi, tetapi jika
pemain mengenakan topi,semua topi yang dikenakan pemain harus memiliki
warna dan gaya yang sama. Ketika berlatih atau bertanding, pemain dilarang
memakai perhiasan, jam tangan, atau benda logam lainnya (League, 2020).
Gambar 2. 8 Pakaian softball
Sumber: Tutorialspoint, 2016
9. Catcher set
Untuk melindungi pemain yang bertugas sebagai catcher dari lemparan
keras, seorang catcher wajib memakai catcher set yang terdiri dari helmet, body
16
protector, dan leg quard, yang berfungsi untuk melindungi wajah, kepala, badan
terutama dada dan perut, dan tungkai bawah.
Gambar 2. 9 Catcher Set
Sumber: teamexpress.com
10. Pitcher plate
Yang digunakan untuk batasan kaki seorang pitcher yang akan melempar
bola kepada pemukul. Pitcher plate berbentuk persegi panjang yang memiliki
ukuran 15 cm x 60 cm yang terbuat dari kayu atau karet.
Gambar 2. 10 Pitcher Plate
Sumber: WBSC, 2021
2.1.3 Teknik Dasar Permainan Softball
Supaya berhasil dalam mengikuti permainan softball, pemain softball wajib
menguasai teknik dasar dalam permainan tersebut. Menurut Alimuddin & Dahlan
(2020) teknik dasar bermain softball terdiri dari, teknik memukul bola (batting),
teknik mengoper bola (pitching), teknik melempar bola (throwing), teknik
17
menangkap bola (catching), teknik dasar lari (base running) dan meluncur
(sliding). Untuk lebih jelasnya teknik-teknik dasar permainan softball tersebut
diuraikan secara singkat sebgai berikut:
1. Teknik memukul bola (batting)
Memukul bola pada permainan softball merupakan teknik yang wajib
dikuasai pemain ketika offense (menyerang) (Aqobah et al., 2021). Batting
adalah salah satu teknik yang digunakan oleh tim penyerang dengan melakukan
pukulan terhadap bola yang dilemparkan oleh pitcher. Tujuan dilakukan batting
ialah untuk menyelamatkan diri dan memperoleh nilai serta membantu pelari lain
(base runner) untuk mencapai base berikutnya. Terdapat suatu gerakan yang
kompleks dalam teknik memukul, karena ketika seseorang melakukan pukulan
dibutuhkan koordinasi dari pengamatan, memutuskan waktu yang tepat untuk
memukul, kecepatan serta kekuatan yang diperlukan untuk memukul lemparan
bola dari pitcher dengan intensitas kecepatan yang belum diketahui (Mashuda &
Purnomo, 2012).
Softball memiliki dua jenis pukulan yang sering digunakan. Pertama, sering
disebut pukulan tanpa ayunan (bunt) yang merupakan teknik pukulan tanpa
mengayun, bola akan berhenti dan jatuh di sekitar pemukul ketika pemukul
hanya menyentuh atau menahan pemukul. Yang kedua adalah pukulan yang
menggunakan ayunan penuh dan tenaga yang lebih besar dengan memukul bola
dengan ayunan sangat diperlukan dibandingkan dengan pukulan bunt.
18
a. Teknik pukulan swing b. Teknik pukulan bunt
Gambar 2. 11 Teknik pukulan
Sumber: Garman & Gromacki, 2011
2. Teknik mengoper bola (pitching)
Pitching merupakan gerakan melempar bola kepada pemukul dengan
gerakan lengan melingkar 360° penuh secara cepat (Barfield & Oliver, 2018).
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dengan gambar ilusi sebagai berikut:
Gambar 2. 12 Teknik Pitching
Sumber: Garman & Gromacki, 2011
3. Teknik melempar bola (throwing)
Dasar yang paling penting dalam permainan softball adalah melempar bola.
Hal tersebut didasari dengan melakukannya lemparan yang cepat dan t epat akan
mudah dalam mematikan lawan. Terdapat beberapa jenis teknik lempar dalam
softball yaitu lemparan overhand, lemparan bawah, dan lemparan samping
(Irawan, 2015).
19
a. Overhand throw b. Sidearm throw c. Underhand throw
Gambar 2. 13 Teknik Throwing
Sumber: Garman & Gromacki, 2011
4. Teknik menangkap bola (catching)
Suatu usaha yang dilakukan pemain supaya dapat menguasai bola
menggunakan tangan yang mengenakan glove dari hasil pukulan ataupun dari
lemparan teman yang bertujuan untuk mematahkan serangan lawan disebut
dengan menangkap bola. Dalam menangkap bola softball harus memperhatikan
salah satu faktor yang terpenting, yaitu pemain harus tetap berkonsentrasi dalam
mengamati bola. Terdapat tiga jenis dasar menangkap bola, yaitu menangkap
bola lurus, menangkap bola lambung atau fly ball, dan menangkap bola gulir atau
groundball.
a. Below the waist b. Above the chest c. At the chest
Gambar 2. 14 teknik catching
Sumber: League, 2020
20
5. Teknik dasar lari (base running)
Sebagai pelari base, pelari harus mampu lari dengan cepat, mampu berhenti
dengan mendadak, serta mampu berbalik dengan cepat dan sliding dengan
baik. Maka perlu dilatih untuk bisa meningkatkan kemampuan lari. Untuk
meningkatkan kemampuan lari bisa dilatih dengan lari sprint, berhenti mendadak,
membalik lalu sprint lagi. Selain itu, pemain juga harus menguasai teknik lari
mengelilingi seluruh base dengan baik.
Gambar 2. 15 Teknik Lari Antar Base
Sumber: Tutorialspoint, 2016
6. Meluncur (sliding)
Sliding merupakan upaya untuk menjangkau base dengan cepat dan pemain
harus mampu meluncur dalam berbagai situasi. Pelari harus tahu cara meluncur
mana yang harus digunakan dan wajib dilatih agar menjadi nyaman serta mahir
(Garman & Gromacki, 2011).
21
a. Bent-Leg Slide b. Hook Slide c. Pop-Up Slide To
d. Headfirst SlideRunners e. Rollover Slide
Runners
Gambar 2. 16 teknik sliding
Sumber: Garman & Gromacki, 2011
2.2 Hakikat kondisi fisik
Semua atlet yang terlibat dalam aktivitas olahraga prestasi pasti
menginginkan prestasi itu sendiri. Menurut Blegur & Mae (2018) prestasi
merupakan cerminan dari kualitas atlet tersebut dalam melakukan proses latihan
yang telah dilewati, baik dalam aspek fisik, teknik, taktik, maupun mental.
Pencapaian prestasi tertinggi tidak bisa dilahirkan tetapi harus dibentuk dan
diciptakan. Prestasi olahraga tidak bisa diciptakan dalam waktu yang instan,
tetapi memerlukan waktu serta proses dan pembinaan yang cukup lama.
Menurut Rawe (2018) dalam pencapaian prestasi yang maksimal memerlukan
upaya yang sistematis dan berkesinambungan, serta inovasi dan terobosan
berupa bentuk latihan yang efektif dan efisien.
Pemerintah daerah dan atau masyarakat dapat berperan dalam memajukan
olahraga prestasi. Misalnya pengembangkan dalam perkumpulan olahraga
22
seperti sentra pembinaan olahraga prestasi atau mendukung pengembangan
olahraga prestasi disetiap induk organisasi cangan olahraga.
Pencapaian prestasi yang tinggi dipengaruhi dari beberapa faktor, kondisi fisi
yang dimiliki atlet menjadi salah satu faktor yang paling penting dalam
mempengaruhi perolehan prestasi maksimal. Menurut Turi & Wulandari (2021)
semakin baik kondisi fisik yang dimilki atlet kemungkinan untuk berprestasi
sangat besar, begitu pun sebaliknya, semakin rendah tingkat kondisi fisik atlet,
maka semakin sulit atlet tersebut dalam mencapai sebuah prestasi. Unsur fisik
yang tidak dapat dipisahkan dari perspektif peningkatan atau pemeliharaan
aktivitas olahraga adalah kondisi fisik.
Dari segi fisiologis, kondisi fisik merupakan kemampuan untuk mengenali
derajat kemampuan untuk mendukung aktivitas yang berhubungan dengan
olahraga. (Mahardi, 2021). Kondisi fisik dapat dikatakan berguna untuk keperluan
dasar dan salah satu syarat yang diperlukan dalam peningkatan atau
pemeliharaan prestasi seorang atlet. Kondisi fisik adalah program utama sebagai
pembinaan atlet untuk berprestasi pada suatu cabang olahraga. Menurut Meliala
(2018) kondisi fisik menjadi syarat yang dominan sebagai usaha peningkatan
prestasi bagi atlet, bahkan untuk tolok ukur sebuah awalan olahraga prestasi.
Kemampuan awal kondisi fisik dijadikan sebagai pedoman untuk menyusun
perencanaan latihan.
Latihan kondisi fisik diperlukan tidak hanya sebagai elemen fisik, tetapi juga
untuk meningkatkan aspek lain seperti mentalitas dan strategi masing-masing
cabang olahraga. Menurut Silpina et al. (2020) seorang atlet yang memiliki
kondisi fisik yang bagus akan lebih mudah dalam memahami dan menerapkan
23
latihan baik itu latihan fisik, teknik, taktik serta mental yang diterapkan oleh
pelatih.
2.2.1 Komponen Kondisi Fisik
Hasil yang baik pasti memiliki kondisi fisik yang baik juga. Kondisi fisik
merupakan satu kesatuan utuh dari unsur yang tidak terpisahkan begitu saja,
baik peningkatannya ataupun pemeliharaannya. Komponen-komponen kondisi
fisik saling berpengaruh satu dengan yang lainnya. Kondisi fisik memiliki
beberapa komponen-komponen. Septiana (2015) mengemukakan bahwa
terdapat 10 jenis unsur kondisi fisik diantaranya yaitu terdapat kekuatan
(strength), daya tahan (endurance), daya ledak otot (muscular power), kecepatan
(speed), daya lentur (flexibility), kelincahan (agility), koordinasi (coordination),
keseimbangan (balance), ketepatan (accuracy), dan reaksi (reaction). Menurut
Nala dalam (Santika, 2017) unsur-unsur biomotor dalam tubuh manusia meliputi
kekuatan, daya tahan, daya ledak, kecepatan, kelentukan, kelincahan,
ketepatan, reaksi, keseimbangan, dan koordinasi. Sedangkan menurut Amin &
Adnan (2020) menyebutkan kondisi fisik umumnya terdiri dari daya tahan
(endurance), kekuatan (strength), daya ledak (explosive power), kecepatan
(speed), kelenturan (fleksibility), kelincahan (agility), keseimbangan (balance),
dan koordinasi (coordination). Komponen biomotorik merupakan keseluruhan
dari kondisi fisik olahragawan.
Dari beberapa pendapat yang tertera diatas kita dapat menyimpulkan bahwa
terdapat sepuluh komponen kondisi fisik yaitu:
1. Kekuatan (Strength)
Kekuatan merupakan kemampuan otot skeletal untuk melakukan kontraksi
atau tegangan maksimal pada saat menerima beban ketika melakukan aktivitas
24
(Santika, 2017). Untuk menunjang aktivitas fisik olahraga kekuatan sangat
diperlukan. Menurut Mahardi (2021) kekuatan memainkan peran penting karena
kekuatan adalah pendorong dari semua aktivitas dan prasyarat untuk
meningkatkan prestasi.
Kekuatan otot dapat ditingkatkan dengan melakukan latihan-latihan yang
dijelaskan oleh Adiatmika & Santika (2016), yaitu 1) dapat dilatih dengan
memeras bola kasti yang dikombinasikan dengan repetisi dan set sesuai dengan
intensitas yang ditentukan, 2) melakukan push up dimana dapat dikombinasikan
dengan tambahan beban pada punggung dan dipadukan dengan repetisi serta
set yang sesuai dengan takaran intensitas,3) melakukan back up dengan
penambahan beban pada punggung serta dikombinasikan dengan repetisi dan
set yang sesuai dengan takaran pelatihan, 4) melakukan gerakan menarik beban
(berat rubuh) pada sebuah tiang dengan posisi kaki melayang yang
dikombinasikan dengan beban tambahan, tinggi, dan repetisi serta set yang
sesuai takaran olahraga, 5) melakukan ben press yang pastinya dikombinasikan
dengan beban serta repetisi dan set yang sesuai dengan takaran yang tidak
menimbulkan cedera, 6) melakukan sit up dengan penambahan beban yang
dipegang didepan dada saat melakukan sit up serta dikombinasikan dengan
repetisi dan set yang sesuai dengan takaran pelatihan.
Instrumen untuk mengukur kekuatan yaitu 1) grip strangth dynamometer, 2)
leg and back dynamometer, 3) pull up, 4) push up, 5) sit up.
2. Daya Tahan (Endurance)
Daya tahan merupakan kemampuan seseorang untuk bekerja dalam jangka
waktu yang lama tetapi kelelahan dapat diabaikan dan pulih dengan cepat
dalam waktu singkat. (Santika, 2017). Semua cabang olahraga wajib memiliki
25
daya tahan karena komponen dasar dalam tubuh adalah daya tahan.
Menurut Indrayana (2012) latihan yang bisa dilakukan sebagai peningkatan
daya tahan tubuh yaitu latihan yang berlangsung lama, misalnya: 1) lari jarak
jauh, 2) renang jarak jauh, 3) cross country atau lari lintas alam, 4) fartlek, 5)
interval training, atau bentuk latihan apapun yang memaksa tubuh agar bekerja
dalam waktu yang lama. Sedangkan instrumen yang bias dilakukan sebagai
pengukur daya tahan diantaranya yaitu lari jarak jauh 2,4 km dan Multistage
Fitness Test.
3. Daya Ledak (Explosive Power)
Daya ledak merupakan kemampuan maksimal otot dalam waktu sesingkat-
singkatnya. Menurut Mahardi (2021) daya otot atau daya ledak otot dipengaruhi
oleh kekuatan otot dan kecepatan kontraksi otot sehingga kedua hal tersebut
mempengaruhi daya ledak otot.
Meningkatkan explosive power bisa dilakukan dengan latihan-latihan seperti
side hop, box jump, sprint, training, lompat tali, squat jump, serta latihan beban
(Putra et al., 2017). Instrumen yang dapat dilakukan untuk mengukur explosive
power tubuh diantaranya Vertical jump test, two hand medicine ball put,dan
standing board jump.
4. Kecepatan (Speed)
Kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk melakukan gerakan secara
terus menerus dalam waktu yang singkat dengan gerakan yang sama.
Kecepatan merupakan kemampuan melakukan suatu gerakan yang sejenis
secara berturut-turut dalam waktu yang sesingkat mungkin (Nahari, 2021).
Menurut Sanjaya et al. (2018) dari penelitian-penelitian terdahulu, untuk
meningkatkan kecepatan dapat dilakukan latihan seperti diantaranya: 1) complex
26
training, 2) interval sprint, 3) akselerasi sprint, 4) hollow sprint, 5) star run.
Instrumen yang dapat dilakukan untuk mengukur explosive power tubuh
yaitu: 1) tes acelerasi 30 meter, 2) tes kecepatan 60 meter, 3) sprint tes 40
meter, 4) 30 meter sprint fatigue-power, 5) maintenance test.
5. Kelentukan (Fleksibility)
Kelentukan ialah kemampuan melakukan gerakan persendian yang mampu
menjangkau gerak yang luas. Kelentukan ialah efektivitas seseorang untuk
menyesuaikan diri dalam melakukan segala aktivitas dengan pengukuran tubuh
yang luas (Mahardi, 2021). Kelentukan dapat dikatan seseorang melakukan
gerakan maksimal yang bisa dilakukan oleh suatu persendian.
Menurut Ibrahim et al. (2015) latihan-latihan untuk meningkatkan fleksibilitas
tubuh dapat dilakukan latihan seperti latihan peregangan. Melakukan
peregangan statis maupun dinamis mampu meningkatkan kelentukan tubuh
(Nahari, 2021).
Instrumen yang dapat dilakukan untuk mengukur fleksibility tubuh
diantaranya 1) sit and reach, 2) static flexibility test-ankle, 3) static flexibility test-
shoulder, 4) static flexibility test- shoulder and wrist, 5) static flexibility test-trunk
and Neck
6. Kelincahan (agility)
Kelincahan adalah kemampuan orang untuk merubah arah dalam keadaan
masih melakukan suatu gerakan dan posisi tubuhnya tidak kehilangan
keseimbangan serta kesadaran. Menurut Septiana (2015) kelincahan merupakan
kemampuan setiap orang untuk merubah arah dengan cepat serta koordinasi
gerak yang bagus tanpa kehilangan keseimbangan.
Menurut Diputra (2015) latihan-latihan yang bisa digunakan untuk
27
peningkatan agility seperti three cone drill, four cone drill dan five cone drill
Instrumen yang dapat dilakukan untuk mengukur agility tubuh yaitu: 1)
shuttle run test, 2) dodging run test, 3) zig-zag run test, 4) illionis agility test, 5)
hexagonal obstacle test, 6) boomerang run test.
7. Keseimbangan (Balance)
Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan posisi tubuh
ketika melakukan berbagai gerakan. Keseimbangan merupakan kemampuan
untuk mempertahankan postur ketika melakukan gerakan tergantung pada
kemampuan mengintegrasikan antara indra penglihatanpendengan serta
reseptor pada otot (Mahardi, 2021).
Menurut R. Siregar et al. (2020) salah satu latihan yang dapat dilakukan
untuk meningkatkan keseimbangan tubuh yaitu latihan jalan tandem. Sedangkan
instrumen yang dapat dilakukan untuk mengukur keseimbangan tubuh yaitu: 1)
standing stork test, 2) standing stork test-Blind, 3) two foot standing balance test,
4) y balance test (lower quarter), 5) star excursion balance test (SEBT).
8. Koordinasi (Coordination)
Menurut Mahardi (2021) koordinasi merupakan kemampuan seseorang
mengintegrasikan berbagai macam gerak yang berada dalam pola gerakan
tunggal secara efektif. Koordinasi berkaitan erat dengan kecepatan, kekuatamn,
daya tahan, dan kelentukan (Mahardi, 2021). Koordinasi merupakan suatu
kemampuan biomotorik yang sangat kompleks.
Latihan-latihan yang dapat dilakukan untuk melatih koordinasi menurut
Saptono (2010) meliputi: 1) Melatih gerakan simultan dari mudah ke sulit,
lambat ke cepat, dan sederhana ke kompleks. 2) Suatu bentuk gerakan yang
berulang kali menyesuaikan fungsi pusat saraf, saraf tepi, sensasi, dan otot, 3)
28
Kombinasi gerakan kekanan dan kekiri dari tangan dan kaki serta berulang-
ulang, 4) Lari yang berkelak-kelok yang terdapat rintangan-rintangan tiang
tonggak membentuk persegi panjang.
Menurut Fenanlampir & Faruq (2015) instrumen yang dapat dilakukan untuk
mengukur koordinasi tubuh yaitu: 1) melakukan lempar tangkap bola tenis, 2)
soccer wall volley tes, dan 3) soccer dribble tes.
9. Ketepatan (accuracy)
Ketepatan adalah kemampuan seseorang untuk melakukan suatu gerakan
dengan tepat sasaran. Ketepatan adalah kemampuan setiap orang untuk
mengendalikan gerakan-gerakan bebas terhadap suatu sasaran (Mahardi, 2021).
Mengembangkan accuracy dapat dilakukan dengan melakukan latihan
mengulang-ulang gerakan dengan repetisi latihan yang banyak, meningkatkan
kecepatan gerak, menambah jauh sasaran atau memperkecil sasaran
(Budiwanto, 2012).
Untuk mengukur accuracy pada seseorang dapat dilakukan dengan salah
satu instrumen yaitu overhead accuracy throw test.
10. Reaksi (reaction)
Reaksi adalah kemampuan seseorang dalam menanggapi rangsang. Reaksi
adalah kemampuan seseorang untuk merespon dengan segera terhadap
rangsangan yang ditimbulkan oleh indera, saraf, atau feeling lainnya. (Septiana,
2015).
Menurut Ulfiansyah et al. (2015) latihan reaksi bervariasi dan latihan reaksi
tetap mampu meningkatkan kemampuan kecepatan reaksi.
Untuk mengukur kecepatan reaction pada seseorang dapat dilakukan
dengan salah satu instrumen yaitu Whole body reaction.
29
2.2.2 Manfaat Kondisi Fisik
Menurut Soegiyanto (2011) seseorang yang memiliki kondisi fisik yang baik,
mampu meningkatkan produktivitas kerja bahkan prestasi. Septiana (2015)
mengemukakan bahwa fungsi dan system organism tubuh sangat dipengaruhi
oleh kondisi fisik yang baik, diantaranya yaitu 1) akan mening katnya sistem
sirkulasi serta kerja jantung, 2) meningkatnya kekuatan, stamina, dan kondisi
fisik lainnya, 3) munculnya kemampuan gerak yang lebih baik ketika berlatih, 4)
organ-organ tubuh akan cepat mengalami pemulihan setelah latihan, 5) adanya
respon yang cepat dari organisme tubuh ketika sewaktu-waktu, respon tersebut
diperlukan.
Apabila beberapa kondisi diatas tidak atau kurang tercapai meskipun sudah
diberikannya latihan kondisi fisik tertentu, maka terdapat pelaksanaan yang
kurang tepat dalam perencanaan, sistematika, metode, serta pelaksanaannya.
2.2.3 Faktor Yang Mempengaruhi Kondisi Fisik
Menurut Nahari (2021) beberapa faktor yang dapat memberikan efek
terhadap hasil kondisi fisik seperti:
1. Anatomi Tubuh
Bentuk tubuh yang mempengaruhi kondisi fisik atlet. Tentu saja semakin
baik bentuk tubuh yang dimiliki maka semakin mudah untuk mendapatkan
kondisi fisik yang baik. Faktor anatomi dan biomekanik mampu mempengaruhi
hal tersebut.
2. Keadaan Kesehatan
Jika seseorang dalam keadaan tidak sehat maka kondisi fisik tidak dapat
dicapai. Ketika sedang melakukan suatu gerakan, cedera adalah permasalahan
yang sering terjadi pada setiap atlet. Keadaan semacam itu sangat
30
mempengaruhi hasil kondisi fisik seorang atlet yang tidak maksimal.
3. Asupan Gizi
Makanan yang dikonsumsi menjadi sebuah komponen penting untuk
mendapatkan kondisi fisik yang bagus. Konsumsi yang baik adalah makanan
yang memenuhi standar gizi, yaitu makanan yang mengandung karbohidrat,
lemak, vitamin, protein serta mineral. Preferensi nutrisi seorang atlet selama
periode latihan diadaptasikan berdasarkan jumlah dan intensitas atlet, jenis
latihan, tingkat kebugaran, kondisi fisik, komposisi tubuh, dan berat badan atlet.
Selain itu mempertimbangkan tahapan dalam periode latihan, kompetisi serta
pemulihan dijadikan untuk menghitung pemenuhan kebutuhan gizi atlet.
4. Istirahat
Membutuhkan istirahat yang seimbang ketika tubuh melakukan banyaknya
aktivitas, yaitu guna memperbaiki otot-otot tubuh sekaligus mengembalikan
tenaga yang telah digunakan. Istirahat yang dapat dilakukan yaitu istirahat aktif
maupun istirahat pasif. Istirahat aktif mengacu pada aktivitas yang dilakukan
dengan intensitas rendah yang bertujuan untuk pemulihan. Sedangkan yang
dimaksut dengan istirahat pasif yaitu aktivitas yang tidak melibatkan aktivitas fisik
atau disebut dengan istirahat total (Parwata, 2015). Kondisi fisik yang diinginkan
mustahil didapatkan apabila tidur atau istirahat tidak cukup. Kelelahan menjadi
faktor utama pemain menghindari sesi cold-down setelah berkompetisi.
5. Mental
Keadaan mental atlet menjadi salah satu penentu dalam mencapai sebuah
prestasi tertinggi. Mental yang mengalami perubahan ketika berlatih maupun
bertanding yaitu seperti meningkatnya kemampuan atlet ketika sedang stress,
konsentrasi penuh, ketegangan mental (mental toughness) tetapi atlet sanggup
31
mengendalikan kondisi tersebut maka atlet dapat mengatasi tantangan yang
lebih besar.
2.3 Komponen Kondisi Fisik Softball
Untuk mencapai prestasi yang maksimal pada softball harus didukung
dengan kondisi fisik atlet. Keterampilan penting yang harus dimiliki pemain
softball yaitu mampu meningkatkan performa gerak dan mampu mengambil
keuntungan dari pertandingan tersebut. Faktor yang menentukan kinerja atau
penampilan adalah kondisi fisik, sehingga hilangnya kondisi fisik dapat
mengakibatkan hilangnya keterampilan. Banyak sekali komponen kondisi fisik
yang wajib dikuasai oleh atlet softball, akan tetapi, komponen kondisi fisik yang
paling mendasar adalah kekuatan (strength), daya tahan (endurance), kecepatan
(speed), daya ledak (explosive power), fleksibilitas (fleksibility), kelincahan
(agility), serta koordinasi mata dan tangan (coordination). Komponen kondisi fisik
yang berkaitan dengan permainan softball, dijelaskan sebagai berikut:
2.3.1Kekuatan (strength)
Kekuatan harus ditingkatkan sebagai landasan yang mendasari dalam
pembentukan biomotorik lainnya untuk bisa mencapai penampilan prestasi yang
optimal (Herdyanto & Herdyanto, 2019). Pada teknik melempar dan batting
sangat membutuhkan kekuatan dalam pencapaian maksimal, seperti kekuatan
genggaman, kekuatan otot lengan serta kekuatan otot perut.
2.3.2Daya tahan (endurance)
Pemain softball harus memiliki VO₂max yang bagus untuk mendukung
performa atlet. VO₂max merupakan salah satu indikator yang berkaitan dengan
daya tahan dan kebugaran . atlet yang memiliki VO₂max yang tinggi pasti
memiliki daya tahan serta kebugaran yang baik, dan atlet dapat melaksanakan
32
aktivitas lebih baik (Pramono et al., 2020).
2.3.3Kecepatan (speed)
Menurut Sintara & Sonchan (2015) Pentingnya performa kecepatan dalam
softball adalah kecepatan lari dasar. Dalam banyak penelitian, kecepatan lari
dasar bisa membantu mencetak skor dan memenangkan permainan. Kecepatan
adalah waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak tertentu.
2.3.4Daya ledak (explosive power)
Setiap aktivitas pada cabang olahraga terutama yang mengharuskan atlet
untuk bertolak dengan kaki, kemampuan daya ledak tungkai sangatlah penting
(Akbar, 2019). Didalam permainan softball sangat memerlukan kekuatan otot
tungkai untuk memaksimalkan kecepatan berlari. Power sangat penting dalam
olahraga dimana atlet harus mengerahkan daya ledak seperti nomor lempar
dalam atletik dan melempar dalam softball (Akbar, 2019).
2.3.5Fleksibilitas (fleksibility)
Seseorang yang memiiki fleksibilitas tubuh yang baik mampu membuat otot
dan sendi menjadi sehat. Fleksibilitas sangat bermanfaat untuk pencegahan
terjadinya cidera dan mampu memperbaiki postur yang buruk pada seseorang.
Meningkatkan elastisitas otot serta jaringan ikat di sekitar sendi menjadikan
seseorang mampu bergerak lebih bebas dan dapat berpartisipasi dalam berbagai
jenis kegiatan olahraga ataupun kegiatan sehari-hari (Rahmanto et al., 2019).
Jadi pemain softball sangat memerlukan fleksibilitas tubuh untuk membantu
pemain softball mudah dalam bergerak dan membantu meningkatkan performa
penampilan atlet saat bertanding.
2.3.6Kelincahan (agility)
Kelincahan merupakan tubuh yang mampu mengubah arah secepat
33
mungkin tanpa terganggu keseimbangan atau kehilangan keseimbangan
(Pranata, 2019). Terkait dengan permainan softball pemain dituntut untuk cepat
dalam mengubah posisi dengan koordinasi dan keseimbangan yang baik, seperti
cepat mengambil bola hasil pukulan dan mengecoh lawan seperti akan berlari
menuju base selanjutnya dan ternyata tidak.
2.3.7Koordinasi (coordination)
Koordinasi sangat diperlukan dalam permainan softball terutama koordinasi
mata karena pada saat akan memukul diperlukan koordinasi mata tangan dalam
mengayunkan agar dapat menentukan kapan waktu yang tepat untuk memukul
bola yang dilempar oleh pitcher (Saraya et al., 2018). Koordinasi mata-tangan
memberikan kontribusi yang signifikan ketika Anda memperoleh keterampilan
permainan softball, terutama kemampuan menangkap bola lambung. Hal ini
dikarenakan semakin tinggi tingkat koordinasi maka semakin mudah
mempelajari teknik dan taktik yang cenderung rumit. (Ahwadi et al., 2016).
2.4 Kerangka Berfikir
Berdasarkan dari beberapa penjelasan yang telah dikemukakan pada latar
belakang maupun tinjauan pustaka, kerangka berfikir dalam penelitian ini dapat
disusun bahwa dari prestasi tertinggi yang diraih oleh tim softball putri kota
Kudus dan belum terdapat catatan terkait kondisi fisik yang dimiliki oleh setiap
individu, menjadikan peneliti tertarik untuk menganalisis kondisi fisik atlet softball
putri kota Kudus dalam persiapan mengikuti PORPROV XVI maupun kejuaraan-
kejuaraan softball lainnya.
Kondisi fisik atlet softball dipengaruhi oleh banyak faktor. Terdapat
hubungan yang erat antara factor yang satu dengan factor yang lain yang
berasal dari diri atlet itu sendiri atau dari luar atlet itu sendiri. Apabila faktor
34
tersebut tidak dapat terialisasikan atau terganggu pasti akan mempengaruhi
prestasi atlet.
Kondisi fisik adalah salah satu syarat utama yang wajib dimiliki seorang atlet
sebagai peningkatan dan pengembangan prestasi olahraga yang maksimal,
sehingga komponen kondisi fisik yang dimiliki pada atlet tersebut harus
dikembangkan dan ditingkatkan.
Pelatih dan atlet hendaknya mengetahui kondisi fisik masing-masing atlet.
Pelatih dapat merancang program latihan yang sesuai apabila pelatih
mengetahui kondisi fisik atlet itu sendiri. Sedangkan bagi atlet berguna untuk
mengetahui seberapa besar kemampuan fisik yang dimilikinya, sehingga apabila
masih masuk dalam kategori kurang, atlet mampu lebih keras meningkatkan
kemampuan fisiknya. Komponen kondisi fisik yang akan diteliti dalam penelitian
ini ialah:
35
Tim Softball Putri Kota Kudus
Prestasi
Taktik Strategi Mental Kondisi Fisik
Kekuatan (starnge)
Daya tahan (endurance)
Kecepatan (speed)
Daya Ledak (explosive power)
Fleksibilitas (fleksibility)
Kelincahan (agility)
Koordinasi (coordination)
Pengambilan data kondisi fisik
Hasil analisis kondisi fisik
Gambar 2. 17 Kerangka Perfikir