The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

! FINAL_NASKAH SKRIPSI_EVA AYU ADITIA_2022

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by evaayuaditia, 2022-08-23 20:12:14

NASKAH SKRIPSI

! FINAL_NASKAH SKRIPSI_EVA AYU ADITIA_2022

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis dan Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif

kuantitatif survei. Menurut Kurniawan & Puspitaningtyas (2016) Penelitian
deskriptif merupakan pengkajian suatu fenomena yang ada secara rinci tanpa
melihat hubungan, pengaruh maupun perbedaan di antara variabel yang ada.
Pengumpulan data digunakan untuk mendapatkan informasi terkait fenomena
kondisi atau variabel tertentu.

Survei dengan teknik tes dan pengukuran merupakan pendekatan yang
digunakan dalam penelitian ini. Menurut Sugiyono (2011) metode survei yaitu
metode yang digunakan untuk memperoleh data dari tempat tertentu yang
alamiah, akan tetapi peneliti juga melakukan tindakan ketika melakukan
pengumpulan data. Menurut Pangestu (2021) metode survei adalah penelitian
yang bisa dilakukan pada sejumlah besar subjek dan bertujuan untuk
mengumpulkan informasi tentang kondisi gejala pada saat penelitian
berlangsung.

Metode dalam penelitian ini dapat dikatakan metode kuantitatif karena hasil
dari data penelitian berupa angka-angka serta analisis menggunakan statistik
(Sugiyono, 2011). Sesuai dengan pernyataan tersebut data yang diperoleh dari
hasil penelitian ini adalah data yang berbentuk angka-angka dari hasil tes kondisi
fisik atlet softball putri kota Kudus.

36

37

3.2 Variabel Penelitian
Variabel merupakan sesuatu yang menjadi objek, faktor, atau gejala dalam

suatu pengamatan penelitian (Siyoto & Sodik, 2015). Variabel penelitian pada
dasarnya merupakan objek yang ditetapkan untuk dipelajari supaya
mendapatkan informasi tentang objek tersebut sehingga dapat ditarik
kesimpulannya.

Variabel dalam penelitian ini ialah kondisi fisik atlet softball putri kota Kudus,
yaitu kekuatan otot lengan, kekuatan otot perut, kekuatan otot tungkai, kekuatan
pegangan, kecepatan, daya tahan, kelincahan, fleksibilitas bahu dan
pergelangan tangan serta fleksibilitas punggung, power otot tungkai, power otot
lengan, serta koordinasi mata dan tangan.
3.3 Populasi, Sampel, dan Teknik Penarikan Sampel
3.3.1 Populasi

Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri dari objek-objek yang
menunjukkan kualitas dan ciri-ciri tertentu yang telah ditentukan peneliti untuk
diselidiki dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011). Dari uraian tersebut,
maka populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah atlet softball putri kota
Kudus.
3.3.2 Sampel dan Teknik Penarikan Sampel

Sampel merupakan bagian dari jumlah populasi dan betul-betul
representatif. Sampel juga dapat diasumsikan dengan bagian kecil dari
sekelompok populasi yang yang didapatkan dengan prosedur tertentu yang bisa
mewakili populasinya (Siyoto & Sodik, 2015). Jika terjadi kendala karena adanya
keterbatasan biaya, tenaga, dan waktu yang dimiliki peneliti serta populasi yang
diteliti besar dan peneliti tidak mungkin untuk mempelajari seluruh populasi maka

38

sampel digunakan untuk mewakili populasi tersebut. Sampel yang digunakan
dalam penelitian ini yaitu seluruh atlet softball putri kota Kudus yang berjumlah 9
orang atlet. Teknik sampling dalam penelitian ini yaitu menggunakan total
sampling.
3.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan faktor yang paling penting dalam
suatu penelitian, terutama penelitian yang berhubungan dengan data. Terdapat
dua jenis data dalam penelitian, yaitu data yang dapat diukur secara langsung
dan data yang tidak dapat diukur secara langsung. Data kuantitatif adalah jenis
data yang dapat diukur secara langsung, sedangkan data kualitatif adalah jenis
data yang tidak dapat diukur secara langsung.

Berikut adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data
penelitian, yang terbagi menjadi tiga tahapan. Tahapan tersebut yaitu, tahapan
persiapan, tahapan pelaksanaan, dan tahapan penyelesaian penelitian.
3.4.1 Tahap Persiapan

Langkah awal dalam penelitian ini adalah usaha mendapatkan populasi.
Untuk upaya mendapatkan populasi, peneliti melakukan observasi dan
mengajukan ijin kepada Ketua PERBASASI Kota Kudus.
3.4.2 Tahap Pelaksanaan

Tahap selanjutnya yaitu pelaksanaan pengambilan data atlet softball putri
kota Kudus. Peneliti mengambil data dengan melakukan tes kondisi fisik untuk
memperoleh data kondisi fisik atlet softball putri kota Kudus. Pelaksanaan tes
tersebut dibantu oleh pelatih softball putri kota Kudus dalam mengkoordinir atlet.

39

3.4.3 Tahap Penyelesaian
Setelah terkumpulnya data, dilanjutkan dengan tabulasi data. Hasil dari

penyusunan skripsi dikonsultasikan kepada dosen pembimbing. Penyusunan
skripsi yang sudah melalui proses bimbingan dan persetujuan, siap untuk
diajukan sidang skripsi.
3.5 Instrumen Penelitian

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian disebut instrumen penelitian,
yaitu alat yang digunakan untuk mengukur suatu fenomena (variabel) yang diteliti
(Kurniawan & Puspitaningtyas, 2016). Instrumen penelitian yang akan digunakan
penulis untuk memperoleh data penelitian ini menggunakan beberapa tes yang
sesuai dengan kebutuhan atlet softball. Tes tersebut diantaranya yaitu:
3.5.1 Instrumen Kekuatan (strength)

Instrumen yang digunakan merujuk pada tes yang disusun oleh Sepdanius
et al. (2019) yaitu untuk mengukur kekuatan otot lengan dapat dilakukannya
push up yang mimiliki nilai validitas 0.94 dan reabilitas 0.93 (Meshalindri, 2014),
kekuatan otot perut yaitu sit up yang telah dilakukan uji validitas sebesar 0.96
dan realibilitas sebesar 0,72 (Pambuka, 2019), kekuatan genggaman tangan
yaitu grip strangth dynamometer yang memiliki validitas tes sebesar 0,880 dan
reliabilitas tes sebesar 0,9 (P, 2018), dan untuk kekuatan otot tungkai yaitu leg
dynamometer yang memiliki validitas tes sebesar 0,82 dan reliabilitas tes
sebesar 0,93 (P, 2018).
3.5.2 Instrumen Daya Tahan (endurance)

Instrumen tes yang digunakan untuk mengetahui tingkat daya tahan
seseorang yaitu Multistage fitness test (Pasaribu, 2020). Tes tersebut telah
memiliki nilai validitas 0,71 dan reliabilitas 0,521 (Darma, 2013).

40

3.5.3 Instrumen Daya Ledak (explosive power)
Instrumen yang digunakan untuk mengukur power merujuk pada tes yang

dijelaskan oleh Fenanlampir & Faruq (2015). Power otot tungkai yaitu
menggunakan tes vertical jump, yang telah memiliki nilai reliabilitas 0,93, dan
validitas 0,78 (Darma, 2013) dan untuk mengukur power otot lengan dan bahu
dapat dilakukan dengan instrumen tes two hand medicine ball put dengan nilai
validitas 0,77 dan reliabilitas 0,81 (Andika, 2022).
3.5.4 Instrumen Kecepatan (speed)

Kecepatan dapat diukur menggunakan instrument tes lari sprint 30 meter
(Fenanlampir & Faruq, 2015). Tes lari sprint 30 meter memiliki validitas 0,428
dan reliabilitas 0,864 (Ridwan & Irawan, 2018).
3.5.5 Instrumen Fleksibilitas (fleksibility)

Instrumen yang digunakan sebagai pengukuran kelentukan otot punggung
ke arah depan dan paha belakang yaitu sit and reach (Sepdanius et al., 2019).
Tes tersebut telah memiliki validitas face validity dan reliabilitas tes sebesar 0,92
(P, 2018).
3.5.6 Instrumen Kelincahan (agility)

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur kelincahan
yaitu boomerang run test (Pasaribu, 2020). Tes tersebut memiliki nilai reliabilitas
0,93 dan validitas 0,82 (Karana, 2013).
3.5.7 Instrumen Koordinasi (coordination)

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur koordinasi
mata dan tangan yaitu lempar tangkap bola tenis. Tes tersebut telah memiliki
validitas 0,78 dan reliabilitas 0,83 (Ahwadi et al., 2016).

41

3.6 Teknik Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data statistik deskriptif dan

presentase. Tahap analisis data penelitian ini adalah data mentah dari masing-
masing komponen pengukuran dan dikategorikan dalam lima skala
standar sesuai dengan kriteria yang sudah ada pada masing-masing komponen.
Skor yang diperoleh untuk setiap komponen tes dijumlahkan untuk memberikan
skor kondisi fisik secara keseluruhan. Skor ini nantinya akan masuk dalam
kategori kriteria kemampuan fisik.
Selanjutnya perhitungan presentase hasil tes menggunakan rumus yaitu sebagai
berikut:
P = x 100%
Keterangan :
P = Presentase
F = Frekuensi
N = Jumlah Sampel
Peneliti menggunakan analisis statistik karena data dalam penelitian ini berupa
angka-angka. Dengan analisis statistik, bisa memberikan efektifitas kerja karena
bisa membuat data semakin ringkas bentuknya. Dalam penelitian ini teknik
analisis data menggunakan program bantu SPSS versi 25 dan microsoft excel
2010.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Deskripsi Data
Penelitian ini dilakukan dengan tes survei untuk mengetahui kondisi fisik
atlet softball putri kabupaten Kudus. Data yang didapatkan dari dilakukannya
penelitian ini yaitu tentang tingkat kondisi fisik atlet softball putri kota Kudus
sebagai subjek penelitian. Variabel penelitian ini yaitu kondisi fisik atlet softball
putri kota Kudus, diantaranya terdiri dari kekuatan otot lengan, kekuatan otot
perut, kekuatan otot tungkai, kekuatan pegangan, kecepatan, daya tahan,
kelincahan, fleksibilitas punggung, power otot tungkai, power otot lengan, serta
koordinasi mata dan tangan. Selesai dilakukannya pengambilan data dilapangan,
maka dilanjutkan dengan tabulasi data dan pengolahan data yang dilakukan
melalui perhitungan statistik deskriptif.

42

43

Tabel 4. 1 Deskripsi Data Kondisi Fisik Atlet Softball Putri Kota Kudus Tahun
2022

Descriptive Statistics Mean Std. Deviasi
N Min Max
23.7778 5.35672
Kekuatan (Push Up) 9 15.00 30.00 43.8889 9.19843
29.5111 4.84109
Kekuatan (Sit Up) 9 29.00 55.00 101.3889 40.91208
33.8889 8.11549
Kekuatan Grip Strangth 9 19.90 35.20 3.1367 .45354
17.4444 7.71542
Kekuatan (Leg Dynamometer) 9 51.00 177.00 19.0000 5.72276
5.9456 .34151
Power (Vertical Jump) 9 25.00 48.00 14.5722 1.41838
26.5778 5.04450
Power (Two Hand Medicine Ball Put) 9 2.60 3.84

Fleksibilitas (Sit and Reach) 9 6.00 26.00

Koordinasi (Lempar Tangkap Bola Tenis) 9 8.00 27.00

Kecepatan (Sprint 30m) 9 5.60 6.66

Kelincahan (Boomerang Run) 9 12.81 16.67

MFT 9 20.10 34.30

Valid N (listwise) 9

Sumber: Pengolahan data statistik peneliti, 2022

Dari tabel 4.1 di atas dapat dilihat bahwa kondisi fisik atlet softball putri kota

Kudus pada komponen kekuatan otot lengan mempunyai rata-rata 23,77 yang

mana masuk dalam kategori kurang. Hasil dari kekuatan otot perut berada dalam

kategori baik sekali dengan rata-rata 43,88. Untuk kekuatan genggaman tangan

memiliki rata-rata 29,51 yang masuk dalam kategori cukup. Sedangkan hasil

kekuatan otot tungkai berada dalam kategori kurang yang memiliki rata-rata

101,38. Hasil tes power otot tungkai masuk dalam kurang dengan rata-rata

33,88. Sedangkan untuk power otot lengan menunjukkan rata-rata 3,13 yang

masuk dalam kategori kurang sekali. Fleksibilitas atlet softball putri kota Kudus

berada dalam kategori baik sekali dengan rata-rata 17,44. Koordinasi mata

tangan yang dihasilkan memiliki rata-rata 8,44 yang berkategori cukup.

Sedangkan kecepatan yang dihasilkan berkategori kurang dengan rata-rata 5,94.

Untuk kelincahan memiliki rata-rata 14,57 yang mana masuk dalam kategori baik

44

sekali. Dan yang terakhir komponen daya tahan yang menunjukkan hasil dengan

rata-rata 26,57 yang masuk dalam kategori cukup.

4.1.2 Hasil Analisis Data

1) Hasil Analisis Data Kekuatan

1. Kekuatan Otot Lengan

Data dari pengukuran terhadap kekuatan otot lengan diperoleh hasil yang

bisa dilihat pada tabel 4.2 berikut:

Tabel 4. 2 Hasil Tes dan Pengukuran Kekuatan Otot Lengan

No Sampel Hasil Tes
21
1 Sampel 1 25
30
2 Sampel 2 15
28
3 Sampel 3 17
25
4 Sampel 4 30
23
5 Sampel 5

6 Sampel 6

7 Sampel 7

8 Sampel 8

9 Sampel 9

Jumlah 9

Sumber: Data Penelitian 2022

Dari tabel 4.2 diatas bisa dilihat bahwa hasil tes dan pengukuran kekuatan

otot lengan pada atlet softball putri kota Kudus, nilai minimal yang diperoleh

sebanyak 15 kali dan nilai maksimal 30 kali.

Data dari pengukuran kekuatan otot lengan dapat dideskripsikan melalui

tabel dibawah ini:

Tabel 4. 3 Analisis Data Kekuatan Otot Lengan Atlet Softball Putri Kota Kudus

Skor Interval Kategori Frequency Percent
5 ≥70 Baik Sekali
- -
4 54-69 Baik - -
- -
3 35-53 Cukup 6 66.7%
3 33.3%
2 22-34 Kurang
1 ≤21 Kurang Sekali 9 100.0

Total

Sumber: Data Penelitian 2022

45

Berikut hasil penelitian kekuatan otot lengan dalam bentuk grafik.

Kekuatan Otot Lengan

7 6
6
Frekuensi 5 3
4
3 0 0 Kurang Kurang
2 Baik Cukup Sekali
10
0

Baik Sekali

Kategori

Gambar 4. 1Hasil Kekuatan Otot Lengan Atlet Softball Putri Kota Kudus
Sumber: Data Penelitian 2022

Berdasarkan dari tabel 4.3 dan gambar 4.2 tersebut bisa kita lihat bahwa

hasil tes Push Up (1 menit) atlet softball putri kota Kudus terdapat 6 responden
(66,7%) berkategori kurang serta dalam kategori kurang sekali sebanyak 3

responden (33,3%) dari total frekuensi. Sehingga jika data tersebut dirata-rata

yaitu sebesar 23,77 yang berada dalam kategori kurang.

2. Kekuatan Otot Perut

Data dari pengukuran kekuatan otot perut diperoleh hasil yang dapat dilihat
pada tabel 4.4 berikut:
Tabel 4. 4 Hasil Tes dan Pengukuran Kekuatan Otot Perut

No Sampel Hasil Tes
1 Sampel 1 47
2 Sampel 2 55
3 Sampel 3 40
4 Sampel 4 35
5 Sampel 5 41
6 Sampel 6 29
7 Sampel 7 54
8 Sampel 8 40
9 Sampel 9 54
9
Jumlah

46

Sumber: Data Penelitian 2022

Dari tabel 4.4 terlihat bahwa hasil tes dan pengukuran kekuatan otot perut

pada atlet softball putri kota Kudus, nilai minimal yang diperoleh sebanyak 29 kali

dan nilai maksimal 55 kali.

Data dari pengukuran kekuatan otot perut dapat dideskripsikan melalui tabel

dibawah ini:

Tabel 4. 5 Analisis Data Kekuatan Otot Perut Atlet Softball Putri Kota Kudus

Skor Prestasi Kategori Frequency Percent

5 >25 Baik Sekali 9 100.0%

4 21-25 Baik - -

3 15-20 Cukup - -

2 9-14 Kurang - -

1 <9 KurangSekali - -

Total 9 100.0%

Sumber: Data Penelitian 2022

Berikut hasil penelitian kekuatan otot perut dalam bentuk grafik.

Kekuatan Otot Perut

10 9

8

Frekuensi 6

4

2 0 0 0 0
Baik Cukup Kurang
0 Kategori Kurang
Baik Sekali Sekali

Gambar 4. 2Hasil Kekuatan Otot Perut Atlet Softball Putri Kota Kudus
Sumber: Data Penelitian 2022

Hasil dari tes kekuatan otot perut ditunjukkan dalam tabel 4.5 dan gambar

4.3 yang menunjukkan sebanyak 9 responden (100%) masuk dalam kategori

baik sekali. Sehingga jika data tersebut dirata-rata yaitu 43,88 yang masuk dalam

kategori baik sekali.

47

3. Kekuatan Genggaman

Data dari pengukuran kekuatan genggaman diperoleh hasil yang
dikelompokkan pada tabel 4.6 berikut:
Tabel 4. 6 Hasil Tes dan Pengukuran Kekuatan Genggaman

No Sampel Hasil Tes
29
1 Sampel 1 29.9
19.9
2 Sampel 2 25.6
34.1
3 Sampel 3 27.6
30.1
4 Sampel 4 35.2
34.2
5 Sampel 5

6 Sampel 6

7 Sampel 7

8 Sampel 8

9 Sampel 9

Jumlah 9

Sumber: Data Penelitian 2022

Dari tabel 4.6 tersebut bisa dipahami bahwa hasil tes dan pengukuran

kekuatan genggaman pada atlet softball putri kota Kudus, nilai minimal yang

diperoleh sebanyak 19.9 kg dan nilai maksimal 35,2 kg.

Data dari pengukuran kekuatan genggaman dapat dideskripsikan melalui

tabel dibawah ini:

Tabel 4. 7 Analisis Data Kekuatan Genggaman Atlet Softball Putri Kota Kudus

Skor Interval Kategori Frequency Percent
5
4 >36 Baik Sekali - -
3
2 31-36 Baik 3 33.3%
1
25-30 Cukup 5 55.6%

19-24 Kurang 1 11.1%

<19 KurangSekali - -

Total 9 100.0%

Sumber: Data Penelitian 2022

Berikut hasil penelitian kekuatan genggaman dalam bentuk grafik.

48

Kekuatan Genggaman

6 5

Frekuensi 5 3 1
Baik
4 Cukup Kurang 0

3 Kurang
Sekali
2

10
0

Baik Sekali

Kategori

Gambar 4. 3Hasil Kekuatan Genggaman Atlet Softball Putri Kota Kudus
Sumber: Data Penelitian 2022

Total dari 9 responden pada tabel 4.7 dan gambar 4.4 dapat dilihat bahwa

terdapat 3 responden (33,3%) berada dalam kategori baik sedangkan yang

berada dalam kategori cukup menunjukkan 5 responden (55,6%) dan terdapat 1

responden (11,1%) masuk dalam kategori kurang. Sehingga jika data tersebut

dirata-rata akan menghasilkan 29,51 yang berkategori cukup.

4. Kekuatan Otot Tungkai

Data dari pengukuran kekuatan otot tungkai diperoleh hasil yang dapat
dilihat pada tabel 4.8 berikut:

Tabel 4. 8 Hasil Tes dan Pengukuran Kekuatan Otot Tungkai

Kekuatan Otot Tungkai Hasil Tes
No Sampel 105.5
177
1 Sampel 1 73.5
51
2 Sampel 2 107
69
3 Sampel 3 102.5
75
4 Sampel 4 152

5 Sampel 5

6 Sampel 6

7 Sampel 7

8 Sampel 8

9 Sampel 9

Jumlah 9

Sumber: Data Penelitian 2022

49

Dari tabel 4.8 terlihat bahwa hasil tes dan pengukuran kekuatan otot tungkai

pada atlet softball putri kota Kudus, nilai minimal yang diperoleh sebanyak 51 kg

dan nilai maksimal 177 kg.

Data dari pengukuran kekuatan otot tungkai dapat dideskripsikan melalui

tabel dibawah ini:

Tabel 4. 9 Analisis Data Kekuatan Otot Tungkai Atlet Softball Putri Kota Kudus

Skor Interval Kategori Frequency Percent
5 ≥219,5 Baik Sekali - -

4 171,5-219 Baik 1 11.1%

3 127,5-171 Cukup 1 11.1%

2 81,5-127 Kurang 3 33.3%
1 ≤81 KurangSekali 4 44.4%

Total 9 100.0%

Sumber: Data Penelitian 2022

Berikut hasil penelitian kekuatan otot tungkai dalam bentuk grafik.

Kekuatan Otot Tungkai

Frekuensi 4.5 1 3 4
4 Baik 1
Kurang
3.5 Cukup Kurang Sekali
3

2.5
2

1.5
1

0.5 0
0
Baik Sekali

Kategori

Gambar 4. 4 Hasil Kekuatan Otot Tungkai Atlet Softball Putri Kota Kudus
Sumber: Data Penelitian 2022

Data yang ditunjukkan pada tabel 4.9 dan gambar 4.5 hasil tes yang masuk

dalam kategori baik dan cukup sama-sama sebanyak 1 responden (11,1%), 3

responden (33,3%) masuk dalam kategori kurang, dan berkategori kurang sekali

sebanyak 4 responden (44,4%). Sehingga jika data tersebut dirata-rata yaitu

101,38 yang berkategori kurang.

50

2) Hasil Analisis Data Power

1. Power Otot Tungkai

Data dari pengukuran power otot tungkai diperoleh hasil yang
dikelompokkan pada tabel 4.10 berikut:
Tabel 4. 10 Hasil Tes dan Pengukuran Power Otot Tungkai

No Sampel Hasil Tes
47
1 Sampel 1 55
40
2 Sampel 2 35
41
3 Sampel 3 29
54
4 Sampel 4 40
54
5 Sampel 5

6 Sampel 6

7 Sampel 7

8 Sampel 8

9 Sampel 9

Jumlah 9

Sumber: Data Penelitian 2022

Dari tabel 4.10 tersebut dapat dipahami bahwa hasil tes dan pengukuran

power otot tungkai pada atlet softball putri kota Kudus, nilai minimal yang

diperoleh sebanyak 25 dan nilai maksimal 48 kali.

Data dari pengukuran power otot tungkai dapat dideskripsikan melalui tabel

dibawah ini:

Tabel 4. 11 Analisis Data Power Otot Tungkai (Vertical Jump) Atlet Softball Putri
Kota Kudus

Skor Interval Kategori Frequency Percent
5 >48 Baik Sekali 1 11.1%
4 44-47 1 11.1%
3 Baik
2 -
1 38-43 Cukup - 22.2%
55.6%
33-37 Kurang 2 100.0%
29-32 KurangSekali 5

Total 9

Sumber: Data Penelitian 2022

Berikut hasil penelitian power otot tungkai dalam bentuk grafik.

51

Power Otot Tungkai

Frekuensi 6 1 2 5
Baik Kurang
5 0 Kurang
Cukup Sekali
4

3

21
1

0
Baik Sekali

Kategori

Gambar 4. 5 Hasil Power Otot Tungkai Atlet Softball Putri Kota Kudus
Sumber: Data Penelitian 2022

Data dari tabel 4.11 dan gambar 4.6 yang berkategori baik sekali hanya 1

responden (11,1%), berkategori baik juga hanya sebanyak 1 responden (11,1%),

dan 2 responden (22,2%) masuk dalam kategori kurang sedangkan 5 responden

(55,6%) lainnya berkategori kurang sekali. Sehingga jika data dirata-rata akan

menghasilkan 33,88 berkategori kurang.

2. Power Otot Lengan

Data dari pengukuran terhadap power otot lengan diperoleh hasil yang
dikelompokkan pada tabel 4.12 berikut:

Tabel 4. 12 Hasil Tes dan Pengukuran Power Otot Lengan

No Sampel Hasil Tes
1 Sampel 1 3.84
3.5
2 Sampel 2 2.95
2.6
3 Sampel 3 2.84
2.6
4 Sampel 4 3.7
3.1
5 Sampel 5 3.1

6 Sampel 6

7 Sampel 7

8 Sampel 8

9 Sampel 9

Jumlah 9
Sumber: Data Penelitian 2022

52

Dari tabel 4.12 diatas dapat dipahami bahwa hasil tes dan pengukuran

power otot lengan pada atlet softball putri kota Kudus, nilai minimal yang

diperoleh sebanyak 2,6 dan nilai maksimal 3,84.

Data dari pengukuran power otot lengan dapat dideskripsikan melalui tabel

dibawah ini:

Tabel 4. 13 Analisis Data Power Otot Lengan Atlet Softball Putri Kota Kudus

Skor Interval Kategori Frequency Percent
5 ≥6,23 -
4 Baik Sekali - -
3 5,38-6,22 -
2 Baik -
1 4,53-5,37 22.2%
Cukup - 77.8%
3,68-4,52 100.0%
≤3,67 Kurang 2

Total KurangSekali 7

9

Sumber: Data Penelitian 2022

Berikut hasil penelitian power otot lengan dalam bentuk grafik.

Power Otot Lengan

Frekuensi 8 2 7
7 Kurang
6 0 0 Kurang
5 Baik Cukup Sekali
4
3
2
10
0

Baik Sekali

Kategori

Gambar 4. 6 Hasil Power Otot Lengan Atlet Softball Putri Kota Kudus
Sumber: Data Penelitian 2022

Dari tabel 4.13 dan gambar 4.6 hasil pengukuran menunjukkan sebanyak 2

responden (22,2%) berkategori kurang dan 7 responden (77,8%) berkategori
kurang sekali. Sehingga jika dirata-rata yaitu 3,13 yang berkategori kurang

sekali.

53

3) Hasil Analisis Fleksibilitas

Data dari pengukuran fleksibilitas diperoleh hasil yang dapat dilihat pada
tabel 4.14 berikut:
Tabel 4. 14 Hasil Tes dan Pengukuran Fleksibilitas

No Sampel Hasil Tes
6
1 Sampel 1 21
16
2 Sampel 2 20
13
3 Sampel 3 24
26
4 Sampel 4 6
25
5 Sampel 5

6 Sampel 6

7 Sampel 7

8 Sampel 8

9 Sampel 9

Jumlah 9

Sumber: Data Penelitian 2022

Dari tabel 4.14 diatas dapat dilihat bahwa hasil tes dan pengukuran

fleksibilitas pada atlet softball putri kota Kudus, nilai minimal yang diperoleh

sebanyak 6cm dan nilai maksimal 26 cm.

Data dari pengukuran fleksibilitas dapat dideskripsikan melalui tabel dibawah

ini:

Tabel 4. 15 Analisis Data Fleksibilitas (Sit and Reach) Atlet Softball Putri Kota
Kudus

Skor Interval Kategori Frequency Percent

1 >17,9 Baik Sekali 5 55.6%
- -
2 16,7-17,9 Baik - -
1
3 16,2-16,6 Cukup 3 11.1%
9 33.3%
4 15,8-16,1 Kurang 100.0%

5 <15,4 KurangSekali

Total

Sumber: Data Penelitian 2022

Berikut hasil penelitian fleksibilitas dalam bentuk grafik.

54

Fleksibilitas

Frekuensi 65 1 3
5 00
Kurang
4 Baik Cukup Kurang sekali

3

2

1

0
Baik Sekali

Kategori

Gambar 4. 7 Hasil Fleksibilitas Atlet Softball Putri Kota Kudus
Sumber: Data Penelitian 2022

Dari tabel 4.15 dan gambar 4.8 hasil pengukuran fleksibilitas sebanyak 5

responden (55,6%) berkategori baik sekali, dan 1 responden (11,1%) berkategori

kurang sedangkan yang berkategori kurang sekali sebanyak 3 responden

(33,3%). Sehingga jika dirata-rata menghasilkan 17,44 yang berkategori cukup.

4) Hasil Analisis Koordinasi Mata Tangan

Data dari pengukuran koordinasi mata dan tangan diperoleh hasil yang
dapat dilihat pada tabel 4.16 berikut:
Tabel 4. 16 Hasil Tes dan Pengukuran Koordinasi Mata dan Tangan

No Sampel Hasil Tes
23
1 Sampel 1 25
19
2 Sampel 2 8
17
3 Sampel 3 17
20
4 Sampel 4 15
27
5 Sampel 5

6 Sampel 6

7 Sampel 7

8 Sampel 8

9 Sampel 9

Jumlah 9

Sumber: Data Penelitian 2022

55

Dari tabel 4.16 diatas dapat dilihat bahwa hasil tes dan pengukuran

koordinasi mata dan tangan pada atlet softball putri kota Kudus, nilai minimal

yang diperoleh sebanyak 4 kali dan nilai maksimal 12 kali.

Data pengukuran koordinasi mata tangan dapat dideskripsikan melalui tabel

dibawah ini:

Tabel 4. 17 Analisis Data Koordinasi Mata Tangan Atlet Softball Putri Kota Kudus

No Prestasi Kategori Frequency Percent
1 ≥35 Baik Sekali - -
- -
2 30-35 Baik 4
4 44.4%
3 20-29 Cukup 1 44.4%
9 11.1%
4 10-19 Kurang 100.0%

5 ≤10 Kurang Sekali

Total

Sumber: Data Penelitian 2022

Berikut dapat dilihat melalui gambar 4.8, seperti berikut:

Koordinasi Mata Tangan

4.5 44
4
Frekuensi 1
3.5
3 0 Cukup Kurang Kurang
Baik Sekali
2.5
2

1.5
1

0.5 0
0
Baik sekali

Kategori

Gambar 4. 8 Hasil Koordinasi Mata Tangan Atlet Softball Putri Kota Kudus
Sumber: Data Penelitian 2022

Dari hasil pengukuran yang dapat dilihat dari tabel 4. 17 dan gambar 4.9

sebanyak 4 responden (44,4%) berkategori cukup baik dan yang masuk dalam
kategori kurang baik juga sebanyak 4 responden (44,4%) sedangkan 1

56

responden (11,1%) lainnya berkategori kurang sekali. Sehingga jika dirata-rata

yaitu sebesar 8,44 yang masuk dalam kategori kurang.

5) Hasil Analisis Data Kecepatan

Data dari pengukuran Kecepatan diperoleh hasil yang dapat dilihat pada
tabel 4.18 berikut:
Tabel 4. 18 Hasil Tes dan Pengukuran Kecepatan

No Sampel Hasil Tes
5”91
1 Sampel 1 5”76
6”33
2 Sampel 2 5”81
5”98
3 Sampel 3 6”66
5”67
4 Sampel 4 5”79
5”6
5 Sampel 5

6 Sampel 6

7 Sampel 7

8 Sampel 8

9 Sampel 9

Jumlah 9
Sumber: Data Penelitian 2022

Dari tabel 4.18 diatas dapat dilihat bahwa hasil tes dan pengukuran

kecepatan pada atlet softball putri kota Kudus, nilai minimal yang diperoleh
sebanyak 5”60 dan nilai maksimal 6”66.

Data dari pengukuran kecepatan dapat dideskripsikan melalui tabel dibawah

ini:

Tabel 4. 19 Analisis Data Kecepatan Atlet Softball Putri Kota Kudus

Skor Interval Kategori Frequency Percent

5 4,06-4,50 detik Baik Sekali - -
4 -
3 4,51-4,96 detik Baik - -
2 55.6%
1 4,97-5,40 detik Cukup - 44.4%

5,41-5,86 detik Kurang 5 100.0%

5,86-6,30 detik Kurang Sekali 4

Total 9

Sumber: Data Penelitian 2022

Berikut hasil penelitian kecepatan dalam bentuk grafik.

57

Kecepatan

6 5

Frekuensi 5 4

4 00 Kurang
Sekali
3 Baik Cukup Kurang

2

10
0

Baik Sekali

Kategori

Gambar 4. 9 Hasil Kecepatan Atlet Softball Putri Kota Kudus
Sumber: Data Penelitian 2022

Dari tabel 4.19 dan gambar 4.10 data hasil pengukuran kecepatan

menunjukkan sebanyak 5 responden (55,6%) berkategori kurang baik dan 4

responden (44,6%) berkategori kurang sekali. Sehingga jika dirata-rata yaitu 5,94

yang berkategori kurang baik.

6) Hasil Analisis Data Kelincahan

Data dari pengukuran kelincahan diperoleh hasil yang dapat dilihat pada
tabel 4.20 berikut:
Tabel 4. 20 Hasil Tes dan Pengukuran Kelincahan

No Sampel Hasil Tes
13”45
1 Sampel 1 13”75
15”92
2 Sampel 2 15”95

3 Sampel 3 15”02
16”67
4 Sampel 4 12”92
14”66
5 Sampel 5
12”81
6 Sampel 6

7 Sampel 7

8 Sampel 8

9 Sampel 9

Jumlah 9
Sumber: Data Penelitian 2022

58

Dari tabel 4.20 diatas dapat dilihat bahwa hasil tes dan pengukuran

kelincahan pada atlet softball putri kota Kudus, nilai minimal yang diperoleh
sebanyak 12”81 dan nilai maksimal 16”67.

Data dari pengukuran kelincahan dapat dideskripsikan melalui tabel dibawah

ini:

Tabel 4. 21 Analisis Data Kelincahan Atlet Softball Putri Kota Kudus

Skor Interval Kategori Frequency Percent
100.0%
5 <17,0 detik Baik Sekali 9
-
4 17,0-17,9 detik Baik - -
-
3 21,7-18,0 detik Cukup - -
100.0%
2 21,8-23,0 detik Kurang -

1 >15,4 detik Kurang Sekali -

Total 9

Sumber: Data Penelitian 2022

Berikut hasil penelitian kelincahan dalam bentuk grafik.

Kelincahan

Frekuensi 10 9
8
6 000 0
4
2 Baik Cukup Kurang Kurang
0 Sekali
Baik Sekali

Kategori

Gambar 4. 10 Hasil Kelincahan (Boomerang Run) Atlet Softball Putri Kota Kudus
Sumber: Data Penelitian 2022

Dari tabel 4.21 dan gambar 4.11 dapat disimpulkan bahwa hasil tes

pengukuran kelincahan menghasilkan 9 responden (100%) masuk dalam

kategori baik sekali. Sehingga jika dirata-rata menghasilkan 14,57 yang

berkategori baik sekali.

59

7) Hasil Analisis Data Daya Tahan

Data dari pengukuran daya tahan diperoleh hasil yang telah dikelompokkan
pada tabel 4.22 berikut:
Tabel 4. 22 Hasil Tes dan Pengukuran Daya Tahan

No Sampel Hasil Tes
1 Sampel 1 27.9
23.6
2 Sampel 2 23.9
20.1
3 Sampel 3 23.9
22.1
4 Sampel 4 30.2
33.2
5 Sampel 5 34.3

6 Sampel 6

7 Sampel 7

8 Sampel 8

9 Sampel 9

Jumlah 9
Sumber: Data Penelitian 2022

Dari tabel 4.22 diatas dapat dilihat bahwa hasil tes dan pengukuran daya

tahan pada atlet softball putri kota Kudus, nilai minimal yang diperoleh sebanyak

20.1 ml/kg/min dan nilai maksimal 34.3 ml/kg/min.

Data dari pengukuran daya tahan dapat dideskripsikan melalui tabel

dibawah ini:

Tabel 4. 23 Analisis Data Daya Tahan Atlet Softball Putri Kota Kudus

Skor Interval Kategori Frequency Percent

5 16-19 thn 20-29 thn Baik Sekali - -
4 ≥46,5 ≥49 Baik - -
3 Cukup 1 11.1%
2 40,8-46,4 38-48 2 22.2%
1 Kurang 6 66.7%
33,6-40,7 31-37 Kurang Sekali 100.0%

28,7-33,6 24-30
≤28,7 ≤23

Total 9
Sumber: Data Penelitian 2022

Berikut hasil penelitian daya tahan dalam bentuk grafik.

60

Daya Tahan

Frekuensi 7 2 6
6 1
5 0 Kurang
4 Sekali
3 Biak Cukup Kurang
2
10
0

Baik Sekali

Kategori

Gambar 4. 11 Hasil Daya Tahan (MFT) Atlet Softball Putri Kota Kudus
Sumber: Data Penelitian 2022

Data dari tabel 4.23 dan gambar 4.12 dapat dilihat bahwa hasil pengukuran

daya tahan pada atlet softball putri kota Kudus berkategori cukup baik sebanyak

1 responden (11,1%) berkategori kurang baik sebanyak 2 responden (22,2%)

dan sebanyak 6 responden (66,6%) berkategori kurang sekali. Sehingga jika

dirata-rata menghasilkan 26,57 yang masuk dalam kategori kurang sekali.

8) Hasil Analisis Data Kondisi Fisik Secara Keseluruhan

Hasil analisis kondisi fisik secara keseluruhan dari dilakukannya tes dan

pengukuran pada atlet softball putri kota Kudus, yang data diolah menggunakan

komputerisasi dengan sistem Microsoft Excel 2010 dapat dilihat pada gambar

4.1 beriku:

61

Analisis Kondisi Fisik

24.24% 33.33% Kurang Sekali
Kurang
5.05% Cukup
11.11% Baik
Baik Sekali

26.26%

Gambar 4. 12 Data Hasl Tes Keseluruhan Atlet Softball Putri Kota Kudus
Sumber: Data Penelitian 2022

Pada gambar 4.1 tersebut terlihat hasil analisis kondisi fisik keseluruhan

yang terdiri dari komponen kekuatan, power, kelincahan, fleksibilitas, kecepatan,

koordinasi mata tangan dan daya tahan pad. Dari gambar tersebut menunjukkan

bahwa atlet yang memiliki kondisi fisik kategori kurang sekali sebanyak 33.33%

dari total frekuensi. Sebanyak 26.26% atlet mimiliki kondisi fisik kurang baik serta

sebanyak 11,11% atlet mempunyai kondisi fisik cukup baik. Atlet yang memiliki

kondisi fisik baik hanya sebanyak 5.05% dan 24.24% memiliki kondisi fisik baik

sekali. Hasil tersebut menunjukkan sebagian besar tingkat kondisi fisik atlet

softball putri kota Kudus masuk dalam kategori kurang.

4.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil perhitungan serta pengelolaan data dari keseluruhan item

yang telah dilakukan 9 atlet softball putri kota Kudus, telah didapatkan hasil

setiap komponen tes dan dapat dijelaskan sebagai berikut:

62

4.2.1 Kekuatan
1) Kekuatan Otot Lengan

Pengukuran kekuatan otot lengan menggunakan tes push up. Hasil tes push
up rata-rata dari total frekuensi menunjukkan dalam kategori yang kurang. Hal
tersebut lebih baik diperhatikan secara khusus oleh pelatih. Hasil penelitian yang
telah dilakukan oleh Anggita et al. (2021) terhadap atlet softball kota Semarang,
atlet memiliki kekuatan otot lengan yang baik bahkan sangat baik dan tidak ada
atlet yang memiliki otot lengan yang cukup atau kekuatan yang kurang. Hal
tersebut perlu menjadi acuan untuk meningkatkan lagi kekuatan otot lengan pada
atlet softball putri kota Kudus. Mengingat prestasi softball kota Kudus masih
dibawah dengan softball kota Semarang.

Kekuatan otot lengan bagi atlet softball berperan penting pada saat
mengayun untuk menambah kecepatan berlari, melakukan batting untuk
mencetak poin pada tim penyerang, dan melempar bola. Menurut yang
dikemukakan oleh Hadi et al. (2013) kekuatan menjadi salah satu faktor penting
dalam permainan softball seperti pada saat akurasi lemparan membutuhkan
kekuatan otot lengan ketika melempar. Teknik memukul dalam olahraga softball
juga bagian penting untuk memperoleh skor, dan salah satu unsur utama yang
perlu diperhatikan dalam memukul yaitu kekuatan otot lengan. Jika tidak memiliki
teknik dan cara melakukan gerakan memukul yang baik maka akan
mempengaruhi hasil pukulan, yaitu pemukul tidak akan bisa mengarahkan
pukulan ke area outfield. (Mashuda & Purnomo, 2012). Maka perlu adanya
peningkatan program latihan yang dapat membantu dalam peningkatan kekuatan
otot lengan. Latihan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kekuatan otot
lengan sesuai dengan penelitian Faridhatunnisa et al. (2019) salah satunya

63

melakukan latihan fisik secara umum, pull up dan latihan push up berirama cepat
dan lambat. Hasil penelitian Daryono (2018) juga menjelaskan peningkatan
kekuatan otot lengan bisa dilakukan menggunakan metode berlatih yang lebih
efektif salah satunya menggunakan metode latihan menggunakan beban.
Metode latihan menggunakan beban menjadi metode yang menggunakan
gerakan secara berulang dengan beban yang submaksimal yaitu menggunakan
latihan pull up dan latihan push up.
2) Kekuatan Otot Perut

Kemampuan tes kekuatan otot perut menggunakan tes sit up. Dari hasil tes
dan pengukuran yang telah dilakukan, atlet dan pelatih diharapkan dapat
mempertahankan kualitas kekuatan otot perut para atlet dan lebih baik lagi jika
ditingkatkan. Hal tersebut supaya dapat mendukung performa atlet menuju
puncak prestasi. Latihan yang dapat dlakukan untuk penguatan otot perut bisa
dilakukan latihan penambahan beban, misalnya melakukan latihan yang telah
diteliti oleh Firdauz et al. (2017) yaitu melakukan latihan core stability dynamic
dan medicine ball.

Permainan softball membutuhkan kekuatan otot perut pada saat melakukan
teknik dalam permainan softball. Kemampuan kekuatan otot perut atlet berperan
pada akurasi lemparan dan pukulan. Dari penjelasan Hadi et al. (2013) jika
memperhatikan pertandingan pada permainan softball, akurasi lemparan
membutuhkan kekuatan. Salah satu kekuatan yang penting dalam melempar
yaitu kekuatan otot perut.
3) Kekuatan Genggaman

Kemampuan tes kekuatan genggaman menggunakan tes grip strength
dynamometer. Hasil tes dan pengukuran yang dilakukan pada atlet softball putri

64

kota Kudus menunjukkan dalam kategori cukup. Dari hasil tersebut masih perlu
adanya perhatian dari pelatih terkait kondisi fisik tersebut. Dibutuhkan latihan
yang sesuai dengan komponen tersebut dan peningkatan intensitas latihan
supaya dapat meningkatkan kekuatan genggaman.

Kekuatan genggaman sangat penting sekali dalam permainan softball
terutama pada saat melakukan throwing dan batting. Dari hasil penelitian Singh
et al. (2017) menunjukkan kekuatan genggaman memiliki hubungan yang
signifikan dengan keterampilan melempar pada permainan softball, sehingga
pemain softball penting memiliki kondisi kekuatan genggaman yang bagus
dalam memaksimalkan performa atlet ketika melakukan gerakan dasar dalam
softball. Kekuatan genggaman dapat ditingatkan dengan dilakukannya latihan
yang selaras dengan kebutuhan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah
dilakukan oleh Kong et al. (2014) latihan yang mampu meningkatkan kekuatan
genggaman dapat dilakukan latihan hand grip dan latihan meremas bola karet.
4) Kekuatan Otot Tungkai

Kemampuan tes kekuatan otot tungkai yang menggunakan tes leg
dynamometer. Kekuatan otot tungkai menjadi salah satu unsur dalam melakukan
pukulan pada permainan softball. Tidak hanya itu, kekuatan otot tungkai sangat
diperlukan pada kecepatan berlari. Sehingga kekuatan otot tungkai berperan
penting dalam kualitas bermain softball. Hal tersebut sejalan dengan pendapat
yang dikemukakan oleh Aditya & Dewi (2020) bahwa kekuatan otot tungkai
dalam lari sprint dapat mempermudah dalam mengayunkan tungkai lebih
panjang, sehingga semakin kuatnya otot tungkai runner, maka semakin panjang
ayunan tungkai yang mampu menghasilkan kecepatan lari maksimal.

65

Dari hasil tes dan pengukuran yang telah diuraikan diatas, pelatih perlu lebih
memperhatikan lagi terkait program latihan yang mengacu pada peningkatan
kekuatan otot tungkai. Dengan hasil kategori kurang, sangat menghambat
perkembangan prestasi atlet dan performa dalam melakukan permainan softball.
Pelatih mampu memberikan tambahan latihan penguatan otot tungkai seperti
latihan one leg hoop progression dan latihan double leg hoop progression, yang
telah dibuktikan dari penelitian Herdyanto & Herdyanto (2019) bahwa latihan
tersebut mampu meningkatkan kekuatan otot tungkai.
4.2.2 Power
1) Power Otot Tungkai

Kemampuan tes power otot tungkai menggunakan tes vertical jump. Hasil
tes dan pengukuran yang diperoleh masuk dalam kategori kurang. Hasil tersebut
menjadikan perhatian lebih bagi pelatih. Pelatih harus menyusun sedemikian
rupa program latihan yang dapat membantu dalam peningkatan power otot
tungkai pada atlet. Power otot tungkai sangat dibutuhkan dalam permainan
softball terutama bagi base running. Kecepatan lari dalam permainan softball
mampu mencetak poin ketika runner dapat melewati 3 base dan kembali ke
home plate. Pemain setiap selesai memukul bola diharuskan segera bertolak
melakukan base running menuju base pertama. Setelah pemain melakukan
pukulan bola full swing pemain mengerahkan semaksimal mungkinkekuatan otot-
otot kaki dalam waktu sesingkat mungkin untuk melakukan base running
secepat-cepatnya (Kusnanik, 2013). Dari hasil penelitian Singh et al. (2017) juga
mengemukakan bahwa power memiliki hubungan yang signifikan dengan tes
keterampilan melempar. Sehingga, atlet sangat membutuhkan power yang bagus
agar mampu melakukan teknik-teknik bermain dengan maksimal.

66

Dalam peningkatan power otot tungkai dapat dilakukan latihan penambahan
beban yang berepetisi. Dari hasil penjelasan Munizar et al. (2016) bentuk latihan
yang mampu meningkatkan power otot tungkai dapat dilakukan latihan weight
training. Misalnya bisa dilakukan latihan squat jump yang berpengaruh terhadap
peningkatan power otot tungkai atlet (Tofikin et al., 2021).
2) Power Otot Lengan

Kemampuan tes power otot lengan menggunakan tes two hand medicine
ball put. Dalam olahraga softball, lengan menjadi alat gerak yang memiliki
pengaruh besar untuk mematikan lawan. Power lengan yang baik juga sangat
memungkinkan pemain jaga mampu melakukan lemparan yang maksimal.
Sedangkan untuk pemain penyerang memaksimalkan dalam melakukan pukulan.
Uraian tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh Huda et al. (2021)
bahwa power lengan yang baik akan berpengaruh besar terhadap hasil pukulan
karena kemampuan power otot lengan akan mengerahkan kekuatan maksimal
dalam waktu yang sangat cepat.

Berdasarkan data hasil tes dan pengukuran yang telah dilakukan, rata-rata
power otot lengan pemain softball putri kota Kudus dalam kategori kurang sekali.
Hal tersebut sangat menghambat pencapaian prestasi atlet. Pelatih harus lebih
memperhatikan dan mengevaluasi lagi program latihan yang diberikan kepada
atlet. Dalam peningkatan power,latihan kekuatan dan kecepatan harus lebih dulu
ditingkatkan, dikarenakan power mampu terbentuk dari kekuatan dan kecepatan
dalam mengerahkan tenaga yang makimal untuk mengatasi tahanan (Munizar et
al., 2016).

67

4.2.3 Fleksibilitas
Kemampuan tes fleksibilitas menggunakan tes sit and reach. Hasil tes dan

pengukuran yang telah dilakukan, memperoleh hasil dalam kategori cukup. Hasil
tersebut harus dipertahankan dan perlu ditingkatkan lagi. Perlu adanya latihan
yang mampu meningkatkan fleksibilitas atlet.

Fleksibilitas menjadi komponen penting dalam setiap melakukan kegiatan
olahraga. Melakukan pukulan dalam softball memerlukan power lengan dan
fleksibilitas pinggang agar menghasilkan pukulan yang maksimal. Fleksibilitas
pinggang dibutuhkan ketika melakukan pukulan, pada saat batter melakukan
pukulan bola dengan memutar pinggang kesamping yaitu badan menghadap ke
pitcher. Oleh karena itu apabila seorang batter memiliki fleksibilitas pinggang
yang bagus maka sangat mendukung ketika memukul dengan tepat (Huda et al.,
2021). Pemain softball membutuhkan fleksibilitas dinamis yang merupakan
kemampuan untuk bergerak melalui berbagai gerakan dan berkontribusi untuk
peningkatan kinerja dan berkaitan dengan pengurangan risiko cedera (Singh et
al., 2017). Maka dari itu, penting bagi pemain softball memiliki tingkat fleksibilitas
tubuh yang bagus, yang mana mampu memaksimalkan pemain dalam
melakukan teknik dan taktik dalam permainan softball. Untuk miningkatkan
tingkat fleksibilitas dapat dilakukan latiha-latihan peregangan yang mampu
memperbaiki fleksibilitas tubuh atlet.
4.2.4 Koordinasi Mata Tangan

Kemampuan tes koordinasi mata tangan menggunakan tes lempar tangkap
bola kasti. Hasil yang diperoleh dari tes dan pengukuran koordinasi mata tangan
masuk dalam kategori kurang. Peran seorang pelatih dalam hal ini sangat
penting, dimana pelatih diharapkan dapat merancang program latihan yang

68

sesuai dengan kebutuhan kondisi pemain, tempat, maupun kondisi lainnya yang
mampu memperbaiki dan meningkatkan kondisi fisik pemain salah satunya
koordinasi mata dan tangan.

Pemain softball membutuhkan koordinasi mata dan tangan yang baik agar
tercapai ketepatan memukul bola dengan sempurna (Tetikay et al., 2020). Hal
tersebut juga dijelaskan dalam penelitian yang dilakukan oleh Mashuda &
Purnomo, (2012) bahwa kontribusi koordinasi mata tangan pada hasil pukulan
yang mengarah ke outfield memiliki hubungan yang signifikan. Ketika koordinsi
mata dan tangan tidak begitu baik, seorang batter tidak dapat mengembalikan
atau memukul bola yang dilemparkan oleh pitcher dengan baik. Bola yang
dipukul akan meleset, sehingga permainan softball yang dilakukan tidak berjalan
dengan baik. Tidak hanya pada pukulan saja, kemampuan menangkap bola
lambung pada softball juga harus diikuti dengan kemampuan koordinasi mata
tangan yang baik (Ahwadi et al., 2016).
4.2.5 Kecepatan

Kemampuan tes kecepatan menggunakan tes lari sprint 30m. Dari hasil tes
dan pengukuran yang menunjukkan dalam kategori kurang baik tersebut masih
perlu perhatian lebih bagi pelatih, karena dalam olahraga softball kecepatan
menjadi suatu yang dominan dari komponen kondisi fisik. Kecepatan lari dalam
olahraga softball penting sekali dimiliki oleh pemain, lawannya yaitu bola hasil
lemparan fielder dengan kecepatan yang relative tinggi, saling beradu untuk
mencapai base (Kusnanik, 2013).

Kecepatan lari yang dimiliki sesorang atlet dapat ditingkatkan dengan
melakukan latihan penambahan beban atau melakukan latihan interval.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Arfa, 2015) program latihan interval

69

mampu meningkatkan kecepatan. Selain latihan interval juga dapat dilakukan
pelatihan lari akselerasi yang juga mampu meningkatkan kecepatan lari cepat
(Ariyantinin et al., 2016).
4.2.6 Kelincahan

Kemampuan tes kelincahan menggunakan tes boomerang run. Hasil tes dan
pengukuran kelincahan yang dilakukan pada atlet softball putri kota Kudus
masuk dalam kategori baik sekali. Hal ini harus dipertahankan dan mampu
dikembangkan lagi untuk memberikan dukungan lebih terhadap penampilan atlet
ketika bertanding.

Pada dasarnya tes ini bertujuan untuk melihat perkembangan kecepatan dan
kelincahan atlet. Kelincahan adalah suatu komponen penting untuk atlet softball.
Tanpa adanya kelincahan seorang atlet tidak mampu mendapatkan prestasi
dalam bidang olahraga. Hal ini sesuai dengan penelitian Rizyanto et al. (2018)
yang menjelaskan bahwa kelincahan merupakan kemampuan seseorang
melakukan pengubahan arah dari posisi tubuh yang cepat dan tepat tanpa
adanya gangguan hilangnya keseimbangan. Kemampuan mengubah arah posisi
ke segala arah dengan kecepatan dan ketepatan tinggi sangat diperlukan dalam
olahraga softball, seperti gerakan setelah menangkap bola dan dilanjutkan
dengan melempar bola ke penjaga base dengan cepat dan tepat. Selain itu juga
dapat memudahkan runner dalam melewati base dan menuju home plate.
4.2.7 Daya Tahan

Kemampuan tes daya tahan yang menggunakan multistage fitness test
(MFT). Hasil tes dan pengukuran yang didapatkan menunjukkan hasil yang
masuk dalam kategori kurang sekali. Hal tersebut sebaiknya menjadi perhatian
khusus bagi pelatih.

70

Permainan softall selama 7 inning dapat berjalan selama 1 sampai 2 jam,
tetapi setiap tim mampu bergantian menjadi tim jaga atau tim penyerang,
sehingga tidak semua atlet melakukan penguatan daya tahan. Hal tersebut
menjadi dasar kurang diperhatikannya program latihan yang mengacu pada
unsur tersebut. Akan tetapi daya tahan menjadi salah satu kondisi fisik yang
dominan sehingga diharapkan mempunyai daya tahan yang baik agar bisa
membantu atlet dalam meraih prestasi yang tinggi.

Daya tahan sangat penting bagi setiap cabang olahraga, karena menjadi
dasar dari kondisi fisik atlet sebelum menguasai keterampilan, teknik, kecepatan,
mobilitas gerak, penguatan otot dan lain sebagainya (Vania et al., 2018). Dalam
keadaan lari cepat khususnya ketika mempertahankan kecepatan yang relatif
singkat, daya tahan menjadi faktor penting. Sehingga semakin baik daya tahan
yang dimiliki maka semakin baik atlet dalam mempertahankan kecepatan ketika
berlari (Aryatama, 2021). Dengan begitu, seorang pelatih hendaknya
memberikan variasi latihan yang dibutuhkan untuk meningkatkan daya tahan dan
mengurangi kebosanan atlet dengan porsi latihan yang berat. Sehingga terjadi
peningkatan hasil latihan pada atlet jika dilakukan tes hasil latihan yang
dilakukan.
4.3 Keterbatasan Penelitian

Berdasarkan proses penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa
keterbatasan yang dialami oleh peneliti. Hal tersebut dapat dijadikan faktor yang
dapat diperhatikan bagi peneliti-peneliti yang akan datang untuk lebih
menyempurnakan penelitian yang akan dilakukan. Keterbatasan dalam penelitian
ini yaitu: jumlah responden yang seharusnya 14 atlet, hanya 9 orang yang
mengikuti serangkaian penelitian. Hal tersebut tentu saja masih kurang dalam

71

menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Maka perlu adanya upaya
supaya semua responden dapat ber kontribusi dalam penelitian yang akan
dilakukan. Salah satunya dapat diberikannya reward untuk menarik responden
untuk mengikuti serangkaian penelitian yang akan dilakukan dan bisa juga
dengan meminta pihak pelatih untuk mengondisikan para atlet dalam mengikuti
tes yang akan dilakukan.

BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Setelah melakukan penelitian dan dilakukan analisis data dapat disimpulkan

bahwa hasil yang diperoleh menunjukkan kondisi fisik atlet softball putri kota
Kudus dalam keadaan kurang dan dapat diasumsikan belum optimal.
5.2 Saran

Saran yang dapat penulis berikan berdasarkan hasil penelitian dari tes dan
pengukuran kondisi fisik terhadap atlet softball putri kota Kudus adalah sebagai
berikut:
1) Untuk meningkatkan kondisi fisik bermain softball, maka perlu dilakukan

pengaturan intensitas latihan dan spesifikasi latihan yang tepat.
2) Kondisi fisik menjadi dasar untuk semua cabang olahraga khususnya softball,

sehingga pelatih harus berupaya untuk memberikan perhatian khusus
terhadap atlet dengan komponen kondisi fisik yang masih kurang dan
memberikan program latihan tambahan secara terstruktur dalam
meningkatkan kondisi fisik atlet softball putri kota Kudus, mengingat bahwa
rata-rata hasil tes kondisi atlet tergolong dalam kriteria penilaian kurang.

71

72

3) Pelatih dapat mengupayakan untuk memantau atau melakukan tes fisik
secara berkala, supaya mengetahui perkembangan kondisi fisik atlet.

4) Atlet harus bisa lebih disiplin dalam menjalankan program latihan fisik yang
diberikan, supaya mampu mencapai kemampuan fisik yang baik guna
sebagai penunjang prestasi yang ditargetkan.

5) Atlet harus mampu menjaga kondisi dan stamina tubuh dengan istirahat yang
cukup dan mengonsumsi makanan-makanan bergizi, agar atlet tidak
mengalami gangguan kesehatan yang akan menghambat perkembangan
prestasi atlet.

73

DAFTAR PUSTAKA

Adiatmika, I. P. G., & Santika, I. G. N. A. (2016). Bahan Ajar Tes dan
Pengukuran Olahraga. In Udayana University Press. Udayana University
Press.

Ahwadi, L. T., Yudiana, Y., & Kusmaedi, N. (2016). Hubungan Koordinasi Mata
Dan Tangan Dengan Hasil Tangkapan Bola Lambung Infield,Outfield Pada
Cabang Olahraga Softball. Jurnal Terapan Ilmu Keolahragaan, 1(2), 37.
https://doi.org/10.17509/jtikor.v1i2.2675

Akbar, I. (2019). Analisis Komponen Fisik Terhadap Kecepatan Lari 60 Meter
Siswa SMA Negeri 12 Makassar. 8(5).

Alimuddin, & Dahlan, F. (2020). The Development of Soft Ball Sport Through
Toss Ball Training in The Athlete Soft Ball. Journal of Physical Education,
Sport, Health and Recreation, 9(1), 38–41.
https://doi.org/https://doi.org/10.15294/active.v9i1.36458

Amin, H., & Adnan, A. (2020). Studi Tentang Beberapa Komponen Kondisi Fisik
Atlet Bolavoli SMK Negeri 1 Kota Solok. Jurnal Patriot, 3(1), 266–277.
https://doi.org/10.24036/patriot.v2i1.654

Andika, I. P. H. W. (2022). Pengaruh Metode Pelatihan Beban Medicine Ball
Throw dan Panjang Lengan terhadap Power Otot Lengan Atlet Cricket
Buleleng. Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi, 8(1), 1–15.
https://doi.org/10.5281/zenodo.5813371

Anggita, G. M., Rachman, H. A., Ali, M. A., Sugiarto, & Mukarromah, S. B.
(2021). The Relationship Between Arm Muscle Strength and Grip Strength
on Throwing Distance. https://doi.org/10.4108/eai.28-4-2021.2312136

Aqobah, Q. J., Ali, M., & Nugroho, A. I. (2021). Pengaruh latihan soft toss ball
terhadap hasil pukulan dalam cabang olahraga softball. Altius: Jurnal Ilmu
Olahraga Dan Kesehatan, 10(1), 31–39.
https://doi.org/10.36706/altius.v10i1.13561

Ardian, Triansyah, A., & Haetami, M. (2021). Kondisi fisik atlet persatuan atletik
seluruh indonesia kabupaten kayong utara. Pendidikan Dan Pembelajaran,
10(10), 1–12.

Arfa. (2015). Meningkatkan Kecepatan Lari 100 M Dengan Latihan Interval 1
Banding 2 Dan 1 Banding 3. Jurnal Pedagogik Keolahragaan, 01(2), 69–78.

Ariyantinin, K. M., Tianing, N. W., & Artini, I. G. A. (2016). Pelatihan Lari
Akselerasi Lebih Meningkatkan Kecepatan Lari 100 Meter Daripada
Pelatihan Lari Interval Pada Siswa SMA di Kabupaten Badung. MIFI
(Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia), 2(1), 19–23.
https://ojs.unud.ac.id/index.php/mifi/article/view/22091

Aryatama, B. (2021). Kondisi Fisik Klub Olahraga Prestasi Cabor Atletik
Purbolinggo. Sport Science & Education, 2(2), 36–46.
https://doi.org/https://doi.org/10.33365/ssej.v2i2.1161

Barfield, J., & Oliver, G. (2018). What Do We Know About Youth Softball Pitching

74

and Injury? Sports Medicine - Open, 4(1). https://doi.org/10.1186/s40798-
018-0168-6

Berryanto, Slamet, & Wijayanti, N. P. N. (2016). The Effect of Side (Lateral)

Shoulder Raise Exercise Toward Strength of Arm and Shoulder Muscles
When Batting Of Laskar Riau Man Softball Club. 3(2), 1–10.

Blegur, J., & Mae, R. M. (2018). Motivasi berolahraga atlet atletik dan tinju. Jurnal
Keolahragaan, 6(1), 29–37. https://doi.org/10.21831/jk.v6i1.16150

Budiwanto, S. (2012). Metodologi Latihan Olaharaga.

Darma, S. P. S. (2013). Profil Kondisi Fisik Pemain Bolabasket Putri Smp N 1
Kalasan Sleman. Universitas Negeri Yogyakarta.

Daryono. (2018). Pengaruh Latihan Kekuatan Otot Lengan Terhadap Hasil

Pukulan Service Atas Pada Peserta Ekstrakurikuler Bola Voli. Jurnal

Penjakora, 5(2), 86–91.

https://doi.org/http://dx.doi.org/10.23887/penjakora.v5i2.17225

Diputra, R. (2015). Pengaruh Latihan Three Cone Drill, Four Cone Drill dan Five

Cone Drill Terhadap Kelincahan (Agility) dan Kecepatan (Speed). Jurnal

SPORTIF, 1(1), 41–59.

https://doi.org/https://doi.org/10.29407/js_unpgri.v1i1.574

Faridhatunnisa, F., Dasep, & Kurniawan Pratama, A. (2019). Peningkatan
Latihan Kekuatan Otot Lengan Terhadap Hasil Servis Atas Bola Voli.
Maenpo, 9(1), 76. https://doi.org/10.35194/jm.v9i2.911

Fenanlampir, A., & Faruq, M. M. (2015). Tes dan Pengukuran Dalam Olahraga
(M. Bendatu (ed.); 1st ed.). Penerbit Andi.

Firdauz, N. W. R., Setijono, H., & Muhammad. (2017). The Effect of Core

Stability Dynamic and Medicine Ball Training to Enhancement Leg Muscle

Strength, Abdominal Muscle Strength, and Balance. Journal of Sport
Science and Education (JOSSAE), 2(2), 65–70.

Garman, J., & Gromacki, M. (2011). Softball skills & drills. Human Kinetics.

Hadi, S., Soegiyanto, & Sugiarto. (2013). Sumbangan Power Otot Lengan,
Kekuatan Otot Tangan, Otot Perut Terhadap Akurasi Lemparan. Journal of
Sport Sciences and Fitness, 2(1), 56–61.

Herdyanto, P. D., & Herdyanto, Y. (2019). Pengaruh Latihan One Leg Hoop

Progrestion dan Double Leg Hoop Progrestion Terhadap Kekuatan Otot

Tungkai Pada Atlet Softball Putri Alligator Club Surabaya. Jurnal Prestasi
Olahraga, 2(2), 1–6.

Huda, I. N., Tangkudung, J., & Hanif, A. S. (2021). Pengaruh Power Lengan,

Fleksibelitas Pinggang, dan Koordinasi Mata Tangan Trhadap Keterampilan
Memukul. Jurnal Ilmu Keolahragaan, 20(1), 102–109.

file:///E:/download/26290-58708-1-PB.pdf

Ibrahim, R. C., Polii, H., & Wungouw, H. (2015). Pengaruh Latihan Peregangan
Terhadap Fleksibilitas Lansia. Jurnal E-Biomedik, 3(1).
https://doi.org/10.35790/ebm.3.1.2015.8074

Indrayana, B. (2012). Perbedaan Pengaruh Latihan Interval Training dan Fartlek
terhadap Daya Tahan Kardiovaskular pada Atlet Junior Putra Taekwondo

75

Wild Club Medan 2006/2007. Jurnal Cerdas Syifa, 1(1), 1–10. https://online-
journal.unja.ac.id/index.php/csp/article/view/699

Irawan, F. A. (2015). The Effectiveness of Sidearm Throw in Softball Players.
Media Ilmu Keolahragaan Indonesia, 5(2), 66–72.
https://doi.org/10.15294/miki.v5i2.7894

Irwanto, & Romas, M. Z. (2019). Profil Peran Psikologi Olahraga Dalam

Meningkatkan Prestasi Atlet di Serang-Banten Menuju Jawara. Prosiding
Seminar Nasional IPTEK Olahraga, 1–14.

Jariono, G., Subekti, N., Indarto, P., Hendarto, S., Nugroho, H., & Fachrezy, F.

(2020). Analisis kondisi fisik menggunakan software Kinovea pada atlet

taekwondo Dojang Mahameru Surakarta. Jurnal Pengabdian Masyarakat,
16(2), 133–144. https://doi.org/10.20414/transformasi.v16i2.2635

Karana, E. (2013). Perbedaan Kelincahan Siswa Putra Yang Mengikuti
Ekstrakurikuler Sepakbola Dengan Futsal Di Sma Negeri 1 Subah.
Universitas Negeri Yogyakarta.

Kurniawan, A. W., & Puspitaningtyas, Z. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif (A.
W. Kurniawan (ed.); 1st ed.). Pandiva Buku.

Kusnanik, N. (2013). Kontribusi Kecepatan Lari , Daya Ledak Otot Tungkai dan

Kecepatan Reaksi pada Base Running softball. Jurnal Ilmu Keolahragaan,
5(2), 156–301.

League, B. R. (2020). Coaching Youth Softball (J. M. Goodreau (ed.)). Human
Kinetics.

Mahardi, Y. T. (2021). Survei Tingkat Kondisi Fisik Pada Atlet Sepakbola SSB

Poetra Kartoharjo Nganjuk U-14 Tahun 2020 [Universitas Nusantara

Persatuan Guru Republik Indonesia].

https://emea.mitsubishielectric.com/ar/products-solutions/factory-

automation/index.html

Mashuda, I., & Purnomo, M. (2012). Kontribusi Konsentrasi, Kekuatan Otot
Lengan, Kekuatan Otot Kaki, Kelentukan Punggung Terhadap Pukulan Ke
Arah Outfield Olahraga Softball. Jurnal Prestasi Olahraga, 1(1).

Meliala, E. K. br. (2018). Analisis Kondisi Fisik Atlet Putra Floorball Universitas
Negeri Surabaya. JOSSAE : Journal of Sport Science and Education, 3(2).

https://doi.org/10.26740/jossae.v3n2.p81-93

Meshalindri, N. (2014). Kontribusi Kekuatan Otot Lengan Dan Kekuatan Otot
Tangan Terhadap Keterampilan Passing Atas Permainan Bola Voli Atlet
Putri Klub Artha Bengkulu. Universitas Bengkulu.

Munizar, Razali, & Ifwandi. (2016). Kontribusi Power Otot Tungkai Dan Power

Otot Lengan Terhadap Pukulan Smash Pada Pemain Bola Voli Club

Himadirga Fkip Unsyiah. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Jasmani,
Kesehatan Dan Rekreasi, 2(1), 26–38.

Nachtigal, J., Kim, M., Lee, K., Seidler, T., & Stocz, M. (2016). Softball: Nothing
Soft about It. Journal of Physical Education, Recreation & Dance, 87(9), 36–

41. https://doi.org/10.1080/07303084.2016.1226220

Nahari, S. I. (2021). Analisis Kondisi Fisik Atlet Putra Hoki Ruangan Jawa Timur
Pada Masa Sebelum Pandemi COVID-19 dan Puslatda New Normal. Jurnal

76

Prestasi Olahraga, 4(4), 46–56.

Narlan, A., & Juniar, D. T. (2020). Pengukuran dan Evaluasi Olahraga (1st ed.).
Grup penerbitan CV BUDI UTAMA.

P, A. C. P. A. N. (2018). Survei Tingkat Kekuatan Otot Tangan, Kekuatan Otot
Lengan, Kekuatan Otot Punggung, Kekuatan Otot Perut, Dan Fleksibilitas
Komunitas Alkidcalisthenics Yogyakarta. Universitas Negeri Yogyakarta.

Pambuka, R. B. (2019). Tingkat Kesegaran Jasmani Yang Berkaitan Dengan
Kesehatan Peserta Ekstrakurikuler Sepak Bola Sma Negeri 2 Wonogiri
Tugas. Universitas Negeri Yogyakarta.

Pangestu, U. A. (2021). Profil Kondisi Fisik Atlet Cabang Olahraga Pencak Silat
Merpati Putih Purworejo Pada Masa Pandemi Tahun 2021. Universitas
Negeri Yogyakarta.

Parwata, I. M. Y. (2015). Kelelahan dan Recovery dalam Olahraga. Jurnal
Pendidikan Kesehatan Rekreasi, 1, 2–13.

Pasaribu, A. M. N. (2020). Tes Dan Pengukuran Olahraga. In A. R. H (Ed.), Tes
dan Pengukuran Olahraga (1st ed.). Yayasan Pendidikan dan Sosial
Indonesia Maju.

Pradnyaswari, A. A. A., & Budisetyani, I. G. A. P. W. (2018). Hubungan
Kecerdasan Emosional Dengan Kecemasan Bertanding Pada Atlet Softball
Remaja Putri Di Bali. Jurnal Psikologi Udayana, 5(01), 218–225.

https://doi.org/10.24843/jpu.2018.v05.i01.p20

Pramono, O. D., Kuswari, M., Swamilaksita, P. D., Sa’pang, M., Gifari, N., &
Nuzrina, R. (2020). Faktor VO2 max Atlet Softball Putri di Pemusatan
Latihan Nasional (Pelatnas) Asian Games 2018. JUARA : Jurnal Olahraga,
5(2). https://doi.org/https://doi.org/10.33222/juara.v5i2.844 Faktor

Pranata, D. Y. (2019). Indeks Massa Tubuh Dengan Kelincahan Pemain Futsal.
Altius: Jurnal Ilmu Olahraga Dan Kesehatan, 8(2), 45–50.

https://doi.org/10.36706/altius.v8i2.8987

Prasetyo, D. E., Damrah, D., & Marjohan, M. (2018). Evaluasi Kebijakan

Pemerintah Daerah dalam Pembinaan Prestasi Olahraga. Gelanggang
Olahraga: Jurnal Pendidikan Jasmani Dan Olahraga (JPJO), 1(2), 32–41.

https://doi.org/10.31539/jpjo.v1i2.132

Putra, I. G. A. D. Y., Yoda, I. K., & Wahyuni, N. P. D. S. (2017). Pengaruh Side
Hop dan Box Jump terhadap Daya Ledak Otot Tungkai Ekstrakurikuler
Bolavoli. Jurnal Ilmu Keolahragaan Undiksha, 5(1).
https://doi.org/10.23887/jiku.v5i1.7900

Putri, N. S., Hanani, E. S., & Annas, M. (2012). Pengembangan Permainan
Olahraga Softball Melalui Modifikasi Swingkasball Siswa SMA N 1
Limbangan. Journal of Physical Education, Sport, Health and Recreation,
1(2).

Rahman, A., & Yusmawati. (2018). Pengaruh Metode Latihan dan Koordinasi

Mata Tangan Terhadap Keterampilan Memukul Bola Softball. Ilmu

Keolahragaan, 09(02), 96–107.

https://doi.org/https://doi.org/10.21009/GJIK.092.03

Rahmanto, S., Utami, K. P., & Jessica, J. (2019). Pengaruh swiss ball exercise

77

terhadap peningkatan fleksibilitas otot punggung bawah pada mahasiswi

ekstrakurikuler dance di Universitas Adi Buana Surabaya. JPOS (Journal
Power Of …, 2(2), 8–14. https://doi.org/10.25273/jpos.v2i2.4833

Rawe, A. S. (2018). Analisis Manajemen Dinas Pendidikan Pemuda Dan

Olahraga Dalam Meningkatkan Prestasi Olahraga di Kabupaten Ende.
Journal of Physical Education, Sport and Recreation, 1(2), 1–17.

Ridwan, M., & Irawan, R. (2018). Validitas Dan Reliabilitas Tes Kondisi Fisik Atlet
Sekolah Sepakbola (SSB) Kota Padang “Battery Test Of Physical
Conditioning.” Jurnal Peforma Olahraga, 3(2), 15–25.

https://doi.org/https://doi.org/10.24036/jpo17019

Rizyanto, F., Syafrial, Yarmani, & Defliyanto. (2018). Pengaruh Latihan
Kecepatan Dan Kelincahan Terhadap Lempar Tangkap Bola Kasti Untuk
Siswa- Siswi Kelas Iv Sekolah Dasar Negeri 19 Kota Bengkulu. Kinestetik,
2(2), 19–26. https://doi.org/10.33369/jk.v2i2.6493

Sanjaya, I. K. A., Yoda, I. K., & Sudarmada, I. N. (2018). Pengaruh Pelatihan

Star Run Terhadap Kecepatan Dan Kelincahan. Jurnal Ilmu Keolahragaan
Undiksha, 6(3), 35–42. https://doi.org/10.23887/jiku.v6i3.8832

Santika, I. G. P. N. A. (2017). Pengukuran Komponen Biomotorik Mahasiswa

Putra Semester V Kelas A Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan
IKIP PGRI Bali Tahun 2017. Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi, 1, 85–

92.

Saptono, T. (2010). Pengaruh Metode Latihan dan Koordinasi Mata-Tangan
Terhadap Peningkatan Keterampilan Teknik Dasar Bolavoli. Universitas
Sebelas Maret.

Saraya, A. E., Sugiyanto, M., & Doewes, M. (2018). Anthropometric Factors and

Physical Condition Dominant Determinants Overhead Throws and Batting
Skills In Softball. 213–222. https://doi.org/10.2991/isphe-18.2018.26

Sepdanius, E., Rifki, M. S., & Komaini, A. (2019). Tes dan Pengukuran Olahraga
(1st ed.). Rajawali Pers.

Septiana, K. G. (2015). Profil Kondisi Fisik Atlet Pelatihan Daerah Baseball
Daerah Istimewa Yogyakarta. Universitas Negeri Yogyakarta.

Silpina, P., Sugihartono, T., & Sutisyana, A. (2020). Analisis Kondisi Fisik Atlet

Club Bola Voli Putri Di Kota Bengkulu Tahun 2020. SPORT GYMNASTICS :
31–36.
Jurnal Ilmiah Pendidikan Jasmani, 1(1),

https://doi.org/10.33369/gymnastics.v1i1.12523

Singh, K. M., Singh, M., Singh, P., & Choudhary, A. (2017). Association of
physiological parameters with the throwing performance among the male
softball players. International Journal of Yogic, Human Movement and
Sports Sciences, 2(5), 602–605.

Sintara, K., & Sonchan, N. (2015). Physical Fitness of Collegiate Softball Players,
Burapha University, Thailand. 44, 2–4.

Siregar, I. (2021). Sosialiasi dan Pelatihan Olah Raga Softball Di Mts Negeri 2
Deli Serdang. Journal Liaison Academia and Society, 1(1).

Siregar, R., Gultom, R., & Sirait, I. I. (2020). Pengaruh Latihan Jalan Tandem
terhadap Keseimbangan Tubuh Lansia untuk mengurangi Resiko Jatuh di

78

UPT Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Sumatera Utara. Journal of
Healthcare Technology and Medicine, 6(1), 318–326.
http://jurnal.uui.ac.id/index.php/JHTM/article/view/697

Siyoto, S., & Sodik, M. A. (2015). Dasar Metodologi Penelitian (Ayup (ed.); 1st
ed.). Literasi Media Publishing.
https://books.google.co.id/books?hl=en&lr=&id=QPhFDwAAQBAJ&oi=fnd&p
g=PR3&dq=metodologi+penelitian&ots=IcZqwL0b4k&sig=gRbk8f4ptjON9T7
4scMf9suSjsg&redir_esc=y#v=onepage&q=metodologi penelitian&f=false

Soegiyanto. (2011). Kondisi Atlet Panahan Program Atlet Andalan Nasional
Indonesia Emas (Prima). Media Ilmu Keolahragaan Indonesia, 1(1).
https://doi.org/10.15294/miki.v1i1.1132

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D (12th ed.).
Alfabeta.

Tetikay, R., Matitaputty, J., & Talapessy, S. (2020). Hubungan Antara Koordinasi
Mata Tangan dengan Kemampuan Pukulan dalam Permainan Softball
Mahasiswa PJKR FKIP UKAW Kupang. Biofaal Journal, 1(2), 93–99.

Tofikin, Arisman, & Siska. (2021). Pengaruh Latihan Squat Jump Terhadap Daya
Ledak Otot Tungkai Pada Atlet Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate
di Komisariat STKIP Rokania. Journal Sport Rokania, 1(2), 147–154.

Turi, M., & Wulandari, F. Y. (2021). Analisis Hasil Tes Kondisi fisik Atlet Lompat
Jangkit (Triple Jump) TC Khusus Jatim Tahun 2019 dan Tahun 2020.
Prestasi Olahraga, 4(5), 47–53.

Tutorialspoint. (2016). Softball. Tutorials Point.

Ulfiansyah, F. N., B, K. S., & Kriswantoro. (2015). Pengaruh Latihan Reaksi
Bervariasi Dan Tetap Terhadap Kecepatan Reaksi Penjaga Gawang. Unnes
Journal of Sport Sciences, 4(2), 18–22.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2005. (n.d.). Sistem
Keolahragaan Nasional. 1, 1–53.

Vania, E. R., Pradigdo, S. F., & Nugraheni, S. . (2018). Hubungan Gaya Hidup,
Status Gizi dan Aktivitas Fisik Dengan Tingkat Kegegaran Jasmani (Studi
Pada Atlet Softball Perguruan Tinggi di Semarang Tahun 2017). Jurnal
Kesehatan Masyarakat, 6(1), 449–457.

WBSC. (2021). 2018-2021 Official Rules Of Softball.

Wiriawan, O. (2017). Panduan Pelaksanaan Tes & Pengukuran Olahragawan (E.
S. Kriswanto (ed.); 1st ed.). Thema Publishing.

LAMPIRAN-LAMPIRAN

79

80

Lampiran 1 Formulir Usulan Topik Skripsi

81

Lampiran 2 Usulan Pembimbing

82

Lampiran 3 Lembar S.K. Dosen Pembimbing

83

Lampiran 4 Surat Permohonan Izin Observasi

84

Lampiran 5 Surat Izin Penelitian


Click to View FlipBook Version