i
ii
iii Perpustakaan Nasional RI Data Katalog Dalam Terbitan (KDT) Agus Setyo Utomo, Nurul Hidayah. Telenursing Futuristik: Perawatan Masa Depan dengan Terapi Totok Punggung, Agus Setyo Utomo, Nurul Hidayah, Lombok Tengah: Penerbit Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I). 2023. xii, 106 hlm: ilus; 23 cm. ISBN: 978-623-8280-57-5 Subjek: Totok I. Telenursing Futuristik: Perawatan Masa Depan dengan Terapi Totok Punggung Klasifikasi 615.892 [DDC23] Editor : I Dewa Nyoman Supariasa, MPS Penyunting : Muhamad Suhardi Randi Pratama Murtikusuma Anggota IKAPI Nomor: 009/NTB/2021 Gambar Cover: freepik.com Desain sampul dan tata letak: M. Hidayat Cetakan Pertama, September 2023 Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit
iv “Jika seserang meninggal dunia, maka amalnya terputus kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya”. (HR. Muslim: 1631) Bahwa orang yang telah mengajar seseorang dengan ilmu yang bermanfaat, maka baginya pahala sama dengan pahala orang yang mengambil manfaat dari ilmu tersebut, dan pahala tersebut berlanjut tidak terputus kepada setiap orang yang belajar ilmu ini dari jalurnya.
v SAMBUTAN DIREKTUR POLTEKKES KEMENKES MALANG Bismillahirrahmanirrahim, Assalamualaikum wr wb Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat kepada kita semua, shalawat dan salam tetap tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah membimbing dan menunjukkan kita jalan kebenaran. Semoga kita kelak mendapatkan syafaatnya, Aamiin. Sebagaimana yang diamanatkan dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen dimana salah satu tugas utama Dosen adalah mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni melalui pendidikan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, yang salah satu perwujudannya adalah bisa dalam bentuk penulisan buku ilmiah dari hasil penelitian yang dipublikasikan. Poltekes Kemenkes Malang mendorong seluas luasnya kepada seluruh civitas akademika terutama Dosen untuk menuangkan ilmu dari hasil penelitian maupun pengabdian masyarakat, mengembangkan sesuai keilmuan bidang keahliannya, sehingga dapat menyumbangkan ilmunya untuk kemanfaatan bagi masyarakat secara luas. Kami sangat bangga atas terbitnya buku yang sangat inovatif dan inspiratif berjudul "Telenursing Futuristik: Perawatan Masa Depan dengan Terapi Totok Punggung". Kami yakin buku ini menghadirkan pandangan baru yang membuka jendela lebar menuju masa depan perawatan kesehatan yang penuh harapan.
vi Dunia yang senantiasa berubah dan diwarnai oleh kemajuan teknologi, turut membawa dampak signifikan pada sektor perawatan kesehatan. Buku ini mengajak kita untuk menjelajahi peluang dan potensi dalam konsep telenursing futuristik yang menggabungkan kebijakan terkini dengan pendekatan tradisional, seperti terapi totok punggung. Gabungan ini membentuk kerangka kerja inovatif dan holistik untuk merawat serta memulihkan kesehatan dengan lebih baik. Tetaplah penting bagi kita untuk senantiasa terbuka terhadap perkembangan zaman. Buku ini merupakan sebuah ajakan untuk berpikir kreatif, dan sekaligus menjadi jembatan yang menghubungkan teknologi modern dengan nilai-nilai kemanusiaan yang abadi. Terapi totok punggung yang mendalam dan terarah menjadi simbol bahwa dalam upaya penyembuhan, tidak ada satu pendekatan pun yang boleh diabaikan. Pada kesempatan ini, kami ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua penulis dan pemikir yang turut berkontribusi dalam lahirnya karya berharga ini. Kami berharap buku ini tak hanya memberikan pemahaman baru, tetapi juga memicu semangat inovasi di kalangan praktisi kesehatan, peneliti, akademisi, mahasiswa, dan semua yang tertarik pada perkembangan perawatan kesehatan. Semoga buku ini membawa inspirasi dan pengetahuan yang berharga bagi kita semua. . Wassalamu'alaikum wr. wb. Dr. Moh. Wildan A.Per.Pen, M.Pd Direktur Poltekkes Kemenkes Malang
vii KATA PENGANTAR Assalamualaikum wr..wb… Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan, atas nikmat Allah SWT kami dapat mempersembahkan buku "Telenursing Futuristik: Perawatan Masa Depan dengan Terapi Totok Punggung ". Buku ini menyajikan pemikiran, pengalaman dan pengetahuan kami di bidang kesehatan, khususnya teknologi telenursing Totok Punggung. Kami ingin memberikan pemahaman lebih dalam tentang potensi teknologi telenursing dalam meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan, terutama saat pandemi yang telah memaksa kita untuk beradaptasi. Buku ini membahas konsep, manfaat, dan implementasi telenursing dalam dunia kesehatan, serta Inovasi Telenursing Totok Punggung. Harapan kami, buku ini dapat memberikan inspirasi dan manfaat bagi para praktisi, akademisi, dan pembuat kebijakan di bidang kesehatan, serta masyarakat umum yang ingin memperluas wawasan mengenai kesehatan khususnya pelayanan telenursing terapi tradisional Totok Punggung. Terima kasih, semoga bermanfaat Wassalamualaikum wr. Wb. Penulis
viii DAFTAR ISI SAMBUTAN DIREKTUR.............................................................................v KATA PENGANTAR...................................................................................vii DAFTAR ISI................................................................................................. viii DAFTAR GAMBAR........................................................................................x DAFTAR TABEL........................................................................................... xi DAFTAR VIDEO ..........................................................................................xii BAB 1 PENDAHULUAN............................................................................ 1 A. Latar Belakang................................................................................... 1 BAB 2 PENGERTIAN TELENURSING................................................. 6 A. Definisi Telenursing ........................................................................ 6 B. Peran Perawat dalam Telenursing............................................ 7 C. Manfaat Telenursing .....................................................................13 D. Teknologi dalam Telenursing....................................................19 BAB 3 PENGANTAR TOTOK PUNGGUNG.....................................22 A. Filosofi Topung................................................................................22 B. Pengantar Topung..........................................................................26 C. Manfaat Topung ..............................................................................31 D. Teknik Dasar Topung....................................................................32 BAB 4 INOVASI TELENURSING TOPUNG .....................................36 A. Konsep Telenursing Topung......................................................36 B. Manfaat Telenursing Topung.....................................................44 C. Teknologi dalam Telenursing Topung...................................45 BAB 5 PENERAPAN TELENURSING TOPUNG.............................48 A. Penerapan Telenursing Topung...............................................48 B. Evaluasi Hasil Penerapan Telenursing Topung .................61 C. Peningkatan Kualitas Pelayanan..............................................67 D. Studi Kasus........................................................................................69 E. Testimoni Pengguna Telenursing............................................80 BAB 6 TANTANGAN TELENURSING TOPUNG............................82 A. Kendala Penerapan Telenursing Topung .............................82 B. Solusi....................................................................................................84
ix BAB 7 ETIKA PELAYANAN TELENURSING TOPUNG..............87 A. Etika Pelayanan...............................................................................87 B. Pengembangan Etika Pelayanan ..............................................89 BAB 8 PENUTUP .......................................................................................91 A. Simpulan.............................................................................................91 B. Saran....................................................................................................91 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................93 DAFTAR INDEKS........................................................................................96 DAFTAR ISTILAH.......................................................................................98 DAFTAR SINGKATAN...........................................................................103 TENTANG PENULIS ...............................................................................104 SINOPSIS.....................................................................................................106
x DAFTAR GAMBAR Gambar 3. 1 Abdomen Viseral (Posterior View)................ 25 Gambar 3. 2 Anatomi Tulang Belakang dan Korespondensi Triorigin Vertebra................. 26 Gambar 3. 3 Sistem Neuroendokrin Kulit............................. 30
xi DAFTAR TABEL Tabel 5. 1 Formulir Tingkat Kepuasan Pasien .................... 63 Tabel 5. 2 Formulir Tingkat K epatuhan Pasien................. 65 Tabel 5. 3 Perencanaan Peningkatan Kualitas Pelayanan Telenursing Topung................................................... 68 Tabel 5. 4 Hasil Pemeriksaan Punggung Studi Kasus 1... 71 Tabel 5. 5 Hasil Pemeriksaan Punggung Studi Kasus 2... 73 Tabel 5. 6 Hasil Pemeriksaan Punggung Studi Kasus 3... 75 Tabel 5. 7 Hasil Pemeriksaan Punggung Studi Kasus 4... 77 Tabel 5. 8 Hasil Pemeriksaan Punggung Studi Kasus 5... 79
xii DAFTAR VIDEO Video 3. 1 Deteksi Masalah Kesehatan................................... 34 Video 3. 2 General Treatment.................................................... 34 Video 5. 1 Video Testimoni 1 ..................................................... 80 Video 5. 2 Video Testimoni 2 ..................................................... 81
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit tidak menular (PTM) telah menjadi masalah kesehatan global yang serius. Di Indonesia, PTM juga merupakan masalah kesehatan yang signifikan. PTM dapat menyebabkan kematian, cacat, dan mempengaruhi kualitas hidup seseorang secara negatif. Beberapa jenis PTM yang paling umum di Indonesia meliputi penyakit jantung, stroke, diabetes, kanker, dan penyakit pernapasan. Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi PTM di Indonesia mencapai 29,6% dari total populasi, dengan prevalensi tertinggi pada penyakit hipertensi mencapai 34,1%, sedangkan diabetes mencapai 10,7% dan kanker mencapai 1,4% (Kemenkes RI, 2019). PTM memiliki dampak serius pada kualitas hidup seseorang. Penyakit seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, kanker, dan penyakit pernapasan dapat menyebabkan gejala yang menyakitkan, kecacatan, bahkan kematian. PTM juga dapat membatasi kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari, seperti bekerja, berolahraga, atau menjalankan tugas-tugas rumah tangga. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang secara negatif dan membatasi kemampuan mereka untuk hidup yang sehat dan produktif. Selain dampak fisik, dampak psikologis yang serius, seperti stres, depresi, dan kecemasan perlu diwaspadai. Kondisi ini
2 dapat mempengaruhi hubungan sosial, pekerjaan, dan kehidupan keluarga secara keseluruhan. Pencegahan dan pengobatan penyakit ini harus menjadi prioritas utama bagi masyarakat dan pemerintah. Cara terbaik untuk pencegahan yaitu dengan mengadopsi gaya hidup yang sehat, seperti berolahraga teratur, menjaga pola makan yang seimbang, dan tidak merokok. Dukungan psikologis dan perawatan medis yang tepat juga dapat membantu meningkatkan kualitas hidup penderita. PTM memerlukan perawatan jangka panjang dan pengelolaan yang berkelanjutan, terutama jika kondisinya sudah mencapai tahap lanjut. Perawatan jangka panjang mencakup pengobatan dengan obat-obatan dan program pengobatan non-obat, seperti terapi fisik, terapi okupasi, dan terapi kognitif. Dengan perawatan jangka panjang yang tepat dan konsisten, dapat meningkatkan kualitas hidup dan meminimalkan risiko komplikasi yang lebih serius. Mengingat hal tersebut sangat dibutuhkan adanya akses pelayanan kesehatan yang terjangkau. Akses pelayanan kesehatan sangat penting bagi masyarakat, dengan pelayanan kesehatan yang tepat dan berkualitas dapat membantu mencegah kondisi yang lebih buruk dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Untuk dapat memanfaatkan pelayanan kesehatan, Masyarakat dapat langsung dating ke pelayanan Kesehatan sekitar tempat tinggalnya. Permasalahannya, bagaimana dengan masyarakat yang jauh dari pelayanan kesehatan atau tidak dapat datang langsung ke pelayanan kesehatan? Akses pelayanan kesehatan yang baik juga harus terjangkau dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, dimanapun berada termasuk mereka yang berada di
3 daerah terpencil atau tidak dapat datang langsung ke pelayanan kesehatan. Tentunya hal ini membutuhkan sebuah inovasi pelayanan kesehatan yang dapat diakses pasien dimanapun berada dan kapanpun diperlukan. Salah satu bentuk pelayanan tersebut adalah telenursing. Telenursing merupakan inovasi revolusioner dalam perawatan kesehatan. Pelayanan ini menghubungkan praktisi kesehatan dan pasien dalam perawatan jarak jauh. Dengan teknologi informasi yang maju, telenursing berpeluang dapat memberikan perawatan lebih banyak orang, tanpa terbatas oleh jarak. Pemanfaatan telenursing secara terpadu dapat memberikan manfaat yang besar dalam pemenuhan kebutuhan kesehatan masyarakat, terutama bagi mereka yang jauh dari akses pelayanan kesehatan. Pemanfaatan teknologi dalam telenursing dapat meningkatkan aksesibilitas dan kualitas pelayanan kesehatan, serta membantu mengurangi disparitas kesehatan antara masyarakat perkotaan dan pedesaan. Oleh karena itu, pemanfaatan telenursing secara terpadu dan optimal dapat memberikan dampak yang signifikan bagi kesehatan masyarakat (Sari et al., 2023). Telenursing melibatkan perawat atau tenaga medis lainnya yang memberikan pelayanan kesehatan melalui teknologi informasi dan komunikasi seperti video call, telepon, atau pesan teks. Pasien dapat menghubungi perawat atau tenaga medis yang telah terdaftar di lembaga kesehatan melalui aplikasi khusus atau nomor telepon yang disediakan. Telenursing dapat membantu memperluas jangkauan pelayanan kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan penyakit tidak menular yang membutuhkan
4 perawatan jangka panjang. Peningkatan akses dan kualitas layanan kesehatan dapat terjadi melalui telenursing, di mana pasien dapat memberikan update tentang kesehatannya setelah masa pemulihan atau ketika mengalami gejala yang kambuh kepada perawat (Vianney Boro & Hariyati, 2020). Dengan demikian, telenursing dapat menjadi alternatif yang efektif dan efisien dalam menyediakan pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi masyarakat, terutama di daerah yang sulit dijangkau. Hal ini dapat membantu meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan. Namun, bagaimana jika kita menggabungkan kemajuan teknologi modern dengan praktik terapi tradisional? Dalam konteks ini, Terapi Totok Punggung (Topung) muncul sebagai salah satu jenis pelayanan kesehatan yang berpotensi diintegrasikan. Terapi ini menawarkan pendekatan holistik untuk kesehatan fisik dan spiritual. Dengan menekan dan menggetarkan titiktitik tertentu di punggung, terapi totok punggung dapat meredakan stres, meningkatkan sirkulasi darah, dan mengembalikan keseimbangan energi tubuh. Begitu telenursing futuristik dan terapi totok punggung bergabung, perawatan kesehatan menghadapi perubahan besar. Menggabungkan teknologi modern dengan prinsip-prinsip perawatan tradisional membawa potensi untuk perawatan yang lebih luas dan lebih dalam, mengatasi jarak geografis, dan menerapkan perawatan holistik yang melibatkan tubuh, pikiran, dan jiwa Melalui telenursing, perawat atau tenaga medis dapat memberikan layanan konsultasi, edukasi, dan pemantauan kesehatan jarak jauh kepada pasien. Meskipun Topung
5 membutuhkan kontak fisik antara pasien dan perawat namun, terdapat teknologi yang memungkinkan perawat untuk memberikan petunjuk untuk melakukan Topung pada diri sendiri, sehingga pasien dapat melakukannya sendiri dengan bantuan perawat melalui video call atau aplikasi telenursing. Selain itu jika memungkinkan pasien dapat melibatkan peran anggota keluarga dalam memberikan Topung dengan cara keluarga diberikan edukasi, dilakukan pendampingan hingga dapat melakukan Topung dengan benar. Buku ini menguraikan tentang bentuk pelayanan telenursing Topung. Dimana tindakan ini sangat mudah dipahami, diamalkan oleh siapapun, minim resiko dan sekaligus bermanfaat sebagai pendamping pasien dalam menunjang derajat kesehatan optimal dan peningkatan kualitas hidupnya. Selain itu, buku ini mendorong pengembangan tindakan keperawatan yang inovatif dan efektif dalam pelayanan telenursing, serta menyediakan informasi dan panduan praktis bagi perawat dan tenaga kesehatan yang ingin menggunakan Tindakan Topung. Dengan demikian, buku "Telenursing Futuristik: Perawatan Masa Depan dengan Terapi Totok Punggung" diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi perkembangan pelayanan telenursing di Indonesia dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara umum.
6 BAB 2 PENGERTIAN TELENURSING A. Definisi Telenursing Tenaga profesional kesehatan dapat memberikan pelayanan kesehatan jarak jauh melalui telemedicine, termasuk dalam hal pertukaran informasi diagnosis, pengobatan, pencegahan penyakit dan cedera, penelitian dan evaluasi, serta pendidikan berkelanjutan penyedia layanan kesehatan, sesuai dengan Permenkes Nomor 20 Tahun 2019. Telemedicine tidak hanya untuk tenaga medis namun juga tenaga profesional kesehatan lain termasuk dalam hal ini perawat. Pelayanan telemedicine yang diberikan perawat sering kali kita kenal dengan telenursing (Hariyati, 2022). Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat saat ini memiliki dampak besar dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan dan kesehatan. Salah satu dampaknya adalah terciptanya suatu model pelayanan keperawatan jarak jauh yang dikenal dengan nama telenursing. Telenursing merupakan bentuk pelayanan keperawatan yang memanfaatkan teknologi komunikasi jarak jauh seperti telepon, video conference, dan internet. Dalam telenursing, perawat dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien tanpa harus bertemu secara langsung (Rahagia, 2019). Pelayanan telenursing merupakan pemberian asuhan keperawatan jarak jauh, yang melibatkan perawat dan pasien yang terhubung melalui teknologi seperti video
7 konferensi, pemantauan jarak jauh, dan bentuk komunikasi internet lainnya untuk mendukung kontinuitas asuhan dan menyelesaikan tindakan perawatan yang diperlukan (Nurses Association of New Brunswick, 2023). Telenursing, atau perawatan jarak jauh oleh perawat melalui teknologi telekomunikasi, semakin dibutuhkan oleh masyarakat di masa ini. Dalam situasi pandemi Covid19, telenursing dapat menjadi solusi untuk mengurangi risiko penyebaran yang terjadi di lingkungan rumah sakit atau klinik. Telenursing memungkinkan pasien untuk menerima perawatan kesehatan tanpa harus datang ke fasilitas pelayanan kesehatan, sehingga pasien dapat terhindar dari risiko paparan virus dan meminimalisir kontak fisik dengan orang lain. Tidak hanya itu, telenursing juga memberikan keuntungan bagi pasien yang berada di daerah terpencil atau sulit dijangkau oleh layanan kesehatan. Dengan teknologi yang ada saat ini, perawat dapat melakukan konsultasi dan memberikan perawatan kepada pasien dari jarak jauh melalui video call atau aplikasi kesehatan online. Dalam era digital ini, masyarakat semakin terbiasa dengan penggunaan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kesehatan. Oleh karena itu, telenursing menjadi semakin penting dan dibutuhkan oleh masyarakat di masa ini. B. Peran Perawat dalam Telenursing Peran perawat dalam telenursing sangat beragam, meliputi pengembangan dan implementasi program, menjalin hubungan dengan pasien dan keluarga, serta
8 kolaborasi dengan profesional layanan kesehatan lainnya (Carolyn M. & Tina, 2021). 1. Pengembangan dan Implementasi Program Pengembangan program telehealth/telenursing melibatkan perencanaan dan penyusunan program untuk membantu pasien yang tidak dapat dijangkau oleh layanan kesehatan konvensional. Perawat bertanggung jawab dalam menyusun programprogram tersebut, termasuk mengevaluasi kebutuhan pasien, menentukan metode terbaik untuk memberikan layanan, serta menentukan teknologi yang tepat untuk digunakan dalam program tersebut. Setelah program dirancang, perawat juga bertanggung jawab untuk mengimplementasikannya. Perawat berperan dalam memastikan bahwa teknologi yang digunakan aman dan efektif dalam memberikan layanan kesehatan jarak jauh. Selain itu juga dapat membantu dalam pelatihan pasien dan keluarga dalam menggunakan teknologi tersebut. Dalam konteks pengembangan program telehealth/telenursing, perawat harus memiliki kemampuan-kemampuan berikut: a. Keterampilan Teknologi. Perawat harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam penggunaan teknologi kesehatan jarak jauh. Mereka harus dapat memilih teknologi yang tepat untuk program yang sedang dibangun dan memastikan teknologi tersebut dapat digunakan secara aman dan efektif. Pengusaan ketrampilan teknologi dapat diperoleh melalui pendidikan formal maupun informal.
9 Ketrampilan teknologi melalui pendidikan formal dapat dilakukan dengan menempatkan mata kuliah teknologi informasi dalam kurikulum keperawatan di Pendidikan tinggi sedangkan Pendidikan non formal dapat dilakukan dengan mengikuti diklat, belajar mandiri maupun yang lainnya. b. Pengetahuan Klinis Perawat harus memahami aspek klinis dari layanan kesehatan yang diberikan. Mereka harus mampu mengevaluasi kebutuhan pasien dan menentukan metode terbaik untuk memberikan layanan telenursing. Pengetahuan klinis tentunya didapat dalam Pendidikan tinggi dan pengembangan melalui pendidikan non formal. c. Keterampilan komunikasi Perawat harus dapat berkomunikasi dengan pasien dan keluarga dengan efektif melalui teknologi kesehatan jarak jauh. Keterampilan ini mencakup kemampuan untuk mendengarkan dengan baik, memberikan informasi yang jelas dan mudah dimengerti, serta mengatasi masalah komunikasi yang mungkin terjadi. d. Keterampilan manajemen Perawat harus dapat mengelola program telehealth/telenursing secara efektif. Keterampilan ini mencakup kemampuan untuk merencanakan, mengorganisir, dan mengimplementasikan program dengan baik, serta mengelola sumber daya yang tersedia dengan efisien.
10 e. Keterampilan pendidikan Perawat harus dapat memberikan pelatihan dan pendidikan kepada pasien dan keluarga tentang penggunaan teknologi kesehatan jarak jauh dan menjelaskan cara mengakses layanan kesehatan melalui telehealth/telenursing. Penguasaan metode dan media Pendidikan sangatlah membantu dalam hal ini. f. Keterampilan evaluasi Perawat harus mampu mengevaluasi program telehealth/telenursing yang telah diluncurkan. Keterampilan ini mencakup kemampuan untuk mengumpulkan dan menganalisis data program, mengidentifikasi masalah yang mungkin timbul, dan memperbaiki program sesuai kebutuhan 2. Menjalin Hubungan Dengan Pasien dan Keluarga Perawat adalah orang pertama yang berhubungan langsung dengan pasien dan keluarga dalam telenursing. Perawat bertanggung jawab untuk membangun hubungan positif dengan pasien dan keluarga. Perawat dapat memperkenalkan diri dan memberikan informasi tentang dirinya, serta menjelaskan tujuan dan manfaat telenursing. Beberapa yang dapat dilakukan perawat dalam menjalin hubungan:
11 a. Melakukan Penilaian Perawat harus melakukan penilaian yang komprehensif tentang kondisi kesehatan pasien. Penilaian harus dilakukan dengan hati-hati dan teliti untuk memastikan bahwa semua informasi yang diperlukan dikumpulkan. Perawat dapat menggunakan format pengkajian sebagai alat bantu dalam melakukan penilaian kondisi kesehatan pasien. Semakin akurat penilaian yang dilakukan akan membantu dalam menentukan tindakan penanganan berikutnya yang harus diberikan kepada pasien untuk mengatasi permasalahan kesehatannya. Kerjasama perawat, pasien dan keluarga sangat dibutuhkan dalam mengidentifikasi masalah Kesehatan pasien. b. Memberikan Perawatan Kesehatan Perawat dapat memberikan perawatan kesehatan jarak jauh dengan menggunakan teknologi telenursing. Perawat dapat memberikan informasi tentang diet, latihan fisik, dan pengobatan yang tepat. Perawat dapat memberikan tindakan penanganan ke pasien dengan memandu pasien maupun keluarga melakukan tahapan tindakan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), Perawat dapat juga mengawasi pasien dan menilai responnya terhadap perawatan yang telah diberikan. c. Memberikan Edukasi Perawat dapat memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang kondisi kesehatan mereka. Dengan memberikan penjelasan tentang
12 kondisi kesehatan, perawatan yang diperlukan, serta cara-cara untuk menjaga kesehatan atau gaya hidup yang sehat. d. Menyampaikan informasi tentang hasil tes Perawat dapat berkolaborasi dalam memenuhi kebutuhan pemeriksaan penunjang dan penyampaian hasil tes kepada pasien dan keluarga. Perawat dapat memberikan penjelasan dan memberikan rekomendasi keperawatan apa yang harus dilakukan terkait dengan hasil pemeriksaan penunjang. e. Mendukung pasien dan keluarga Perawat dapat memberikan dukungan emosional kepada pasien dan keluarga. Perawat dapat menenangkan pasien yang cemas dan memberikan motivasi agar pasien tetap bersemangat dalam menghadapi kondisi medisnya. Tentunya peran aktif keluarga lebih dibutuhkan dalam hal ini. 3. Kolaborasi Perawat memainkan peran dalam kolaborasi dengan profesional layanan kesehatan lainnya. Dalam konteks ini, perawat dapat bekerja sama dengan profesional layanan kesehatan lainnya seperti dokter, ahli gizi, ahli farmasi, dan pekerja sosial untuk memberikan perawatan dan dukungan pasien jarak jauh. Perawat dapat memberikan perawatan primer dan sekunder kepada pasien dalam pengaturan virtual, memantau kondisi pasien, dan memberikan edukasi kesehatan. Perawat juga dapat membantu dalam pengaturan sistem telehealth atau telenursing
13 yang tepat untuk memenuhi kebutuhan pasien. Perawat dapat berperan dalam pengembangan protokol perawatan yang efektif dan memberikan masukan dalam evaluasi dan peningkatan program telehealth atau telenursing. Kolaborasi perawat dengan profesional layanan kesehatan lainnya dalam telehealth atau telenursing dapat memperbaiki akses pasien pada pelayanan perawatan, meningkatkan efisiensi perawatan, mengurangi biaya perawatan, dan meningkatkan kualitas perawatan. Oleh karena itu, perawat memiliki peran yang sangat penting dalam kolaborasi dalam telehealth atau telenursing dengan profesional layanan kesehatan lainnya. C. Manfaat Telenursing Telenursing, atau perawatan jarak jauh oleh perawat melalui teknologi telekomunikasi, memiliki banyak manfaat bagi pasien dan tenaga kesehatan. Berikut adalah beberapa manfaat telenursing: 1. Meminimalkan risiko penyebaran penyakit. Telenursing memungkinkan pasien untuk menerima perawatan kesehatan tanpa harus datang ke fasilitas kesehatan, sehingga pasien dapat terhindar dari risiko paparan virus atau bakteri yang dapat menular di lingkungan rumah sakit atau klinik. 2. Meningkatkan kenyamanan pasien. Dengan menggunakan teknologi, pasien dapat menerima perawatan kesehatan di lingkungan yang familiar, seperti di rumah mereka sendiri. Hal ini dapat
14 meningkatkan kenyamanan pasien dan membantu mereka lebih cepat pulih. 3. Menyediakan akses ke layanan kesehatan yang sulit dijangkau. Telenursing dapat membantu pasien yang tinggal di daerah terpencil atau sulit dijangkau oleh layanan kesehatan untuk menerima perawatan kesehatan yang mereka butuhkan. 4. Mengurangi biaya perawatan kesehatan. Dengan telenursing, pasien dapat menghindari biaya transportasi dan biaya lainnya yang terkait dengan perawatan di rumah sakit atau klinik. Hal ini dapat membantu mengurangi biaya perawatan kesehatan secara keseluruhan. 5. Meningkatkan efisiensi tenaga kesehatan. Telenursing dapat membantu mengurangi beban kerja tenaga kesehatan di rumah sakit atau klinik, sehingga mereka dapat fokus pada pasien yang membutuhkan perawatan langsung. 6. Memungkinkan pelayanan kesehatan yang lebih terintegrasi. Telenursing dapat membantu meningkatkan koordinasi antara perawat, dokter, dan profesional kesehatan lainnya, sehingga pasien dapat menerima pelayanan kesehatan yang lebih terintegrasi dan berkualitas. Sedangkan menurut (AdventHealth University, 2017) manfaat telenursing meliputi: Remote Service Delivery, Financial Savings, Improved Bed Allocation, Patient Comfort, Increased Healthcare Employment Opportunities dan Accessibility by Patients in Remote
15 Areas dengan uraian sebagai berikut: 1. Remote Service Delivery Telenursing memungkinkan perawat atau dokter dapat berkomunikasi dengan pasien secara langsung melalui telepon atau video conference, sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan yang sama seperti saat bertemu secara langsung di klinik atau rumah sakit. Misalnya, jika pasien mengalami masalah kesehatan dan membutuhkan nasihat atau pengobatan, ia dapat menghubungi perawat atau dokter melalui telepon atau video conference. Selama panggilan, perawat atau dokter dapat mendengarkan keluhan pasien, memberikan penjelasan mengenai kondisi kesehatan pasien, melakukan pemeriksaan jarak jauh dengan meminta pasien untuk menunjukkan kondisi fisiknya, serta memberikan saran pengobatan atau meresepkan obat jika dibutuhkan. Dengan memanfaatkan teknologi komunikasi seperti video conference atau telepon, telenursing dapat membantu pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat, mudah, dan efisien, tanpa harus pergi ke klinik atau rumah sakit secara langsung. 2. Financial Savings Penghematan biaya atau financial savings dapat dilakukan melalui kegiatan telenursing. Pasien tidak perlu datang ke klinik atau rumah sakit untuk bertemu dengan perawat atau dokter. Hal ini dapat mengurangi biaya perjalanan dan akomodasi yang harus
16 dikeluarkan oleh pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Selain itu, telenursing juga dapat membantu pasien untuk menghindari biaya tambahan yang biasanya terjadi jika pasien harus pergi ke klinik atau rumah sakit, seperti biaya parkir, biaya makanan, atau biaya pengasuhan anak. Dengan demikian, telenursing dapat membantu pasien untuk menghemat biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Penggunaan teknologi komunikasi dalam telenursing juga dapat mengurangi biaya perawatan kesehatan secara keseluruhan, karena pasien dapat menerima perawatan kesehatan dengan lebih efisien dan efektif. Hal ini dapat membantu mengurangi biaya pengobatan jangka panjang dan mempercepat proses pemulihan pasien. 3. Improved Bed Allocation Manfaat dari telenursing adalah dapat membantu mengurangi rawat inap atau improved bed allocation. Pasien tidak perlu tinggal di rumah sakit selama waktu yang lama untuk mendapatkan perawatan kesehatan. Hal ini dapat membantu mengurangi kebutuhan akan tempat tidur atau bed allocation yang tersedia di rumah sakit, karena pasien tidak perlu tinggal di rumah sakit selama waktu yang lama. Dengan demikian, rumah sakit dapat memprioritaskan penggunaan tempat tidur untuk pasien yang membutuhkan perawatan kesehatan yang lebih intensif atau rawat inap yang lebih lama. Dalam beberapa kasus, telenursing juga dapat membantu menghindari rawat inap yang tidak perlu atau
17 premature discharge. Jika pasien dapat menerima perawatan kesehatan yang cukup melalui telenursing, maka pasien dapat diizinkan pulang lebih awal atau bahkan tidak perlu dirawat inap sama sekali, yang dapat membantu mengurangi biaya perawatan kesehatan dan meningkatkan kenyamanan pasien. 4. Patient Comfort Pasien dapat menerima perawatan kesehatan dari tempat tinggalnya sendiri atau lingkungan yang familiar dan nyaman baginya. Hal ini dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan yang biasanya terjadi saat pasien harus pergi ke klinik atau rumah sakit untuk mendapatkan perawatan kesehatan. Selain itu, telenursing juga dapat membantu meningkatkan kenyamanan pasien karena pasien dapat menerima perawatan kesehatan yang lebih personal dan terfokus pada kebutuhan individunya. Perawat atau dokter dalam telenursing dapat memberikan perawatan yang lebih terfokus pada pasien dan memberikan perhatian yang lebih detail terhadap kondisi kesehatan pasien. Dalam beberapa kasus, telenursing juga dapat membantu mengurangi waktu tunggu pasien untuk mendapatkan perawatan kesehatan, sehingga pasien tidak perlu menunggu lama di klinik atau rumah sakit. Hal ini dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan dan kecemasan pasien, serta membantu pasien untuk merasa lebih nyaman saat menerima perawatan kesehatan.
18 5. Increased Healthcare Employment Opportunities Manfaat dari telenursing adalah dapat meningkatkan peluang kerja perawatan kesehatan atau increased healthcare employment opportunities. Dalam telenursing, perawat atau dokter dapat memberikan pelayanan kesehatan dari jarak jauh, sehingga diperlukan tenaga medis yang terampil dalam teknologi komunikasi dan pengelolaan data kesehatan. Hal ini menciptakan peluang bagi tenaga medis, seperti perawat dan dokter, untuk bekerja dalam bidang telenursing dan memanfaatkan teknologi untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih luas. Dalam beberapa kasus, telenursing juga dapat membuka peluang kerja bagi tenaga medis yang mungkin sulit untuk bekerja di lokasi yang terpencil atau terbatas aksesnya. Selain itu, telenursing juga dapat menciptakan peluang kerja bagi para profesional teknologi informasi kesehatan, seperti spesialis pengembangan software kesehatan dan ahli keamanan data kesehatan. Hal ini dapat membantu menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan keterampilan tenaga medis dalam mengelola teknologi kesehatan. 6. Accessibility by Patients in Remote Areas Manfaat dari telenursing adalah dapat memberikan aksesibilitas pelayanan kesehatan kepada pasien di daerah terpencil atau remote areas. Dalam telenursing, pasien dapat menerima perawatan kesehatan dari tempat tinggalnya sendiri atau lingkungan yang mudah dijangkau, tanpa perlu
19 melakukan perjalanan jauh ke klinik atau rumah sakit. Hal ini sangat membantu pasien yang tinggal di daerah terpencil atau remote area yang sulit dijangkau oleh fasilitas kesehatan. Dengan telenursing, pasien dapat menerima perawatan kesehatan dari jarak jauh, melalui teknologi komunikasi seperti video conference atau telepon. Selain itu, telenursing juga dapat membantu pasien untuk mengakses pelayanan kesehatan dengan lebih mudah, cepat, dan terjangkau. Pasien tidak perlu merencanakan perjalanan jauh atau mengeluarkan biaya transportasi, sehingga dapat menghemat biaya dan waktu yang diperlukan untuk mendapatkan perawatan kesehatan. D. Teknologi dalam Telenursing Telenursing menggunakan berbagai teknologi komunikasi dan informasi untuk memberikan perawatan kesehatan jarak jauh atau remote service delivery. Beberapa teknologi yang digunakan dalam telenursing antara lain (Munday, 2022): 1. Video conference Teknologi ini memungkinkan perawat atau dokter untuk berkomunikasi secara langsung dengan pasien melalui layanan video conference. Video konferensi memungkinkan perawat untuk bertemu dengan pasien secara virtual menggunakan video dan audio dari smartphone atau tabelt. Pasien dan dokter atau perawat dapat berinteraksi dengan menggunakan kamera dan mikrofon pada perangkat komunikasi yang digunakan.
20 2. Telepon Telepon adalah teknologi yang memungkinkan pasien untuk menghubungi dokter atau perawat guna mendapatkan konsultasi medis atau informasi kesehatan secara jarak jauh melalui perangkat telepon. Dalam era digital ini, layanan kesehatan melalui telepon semakin populer karena memberikan kemudahan bagi pasien dalam mengakses layanan kesehatan tanpa harus berkunjung ke rumah sakit atau klinik secara langsung. 3. Mobile health Teknologi yang memungkinkan penggunaan aplikasi mobile kesehatan seperti telenursing untuk memberikan pelayanan kesehatan jarak jauh. Melalui aplikasi mobile ini, pasien dapat mengirimkan data kesehatan mereka seperti tekanan darah, kadar gula darah, dan lain sebagainya, dan dokter atau perawat dapat memberikan diagnosa dan perawatan kesehatan jarak jauh berdasarkan data tersebut. Teknologi mobile health ini semakin populer dalam era digital ini karena memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi pasien dalam mengakses layanan kesehatan. 4. Perangkat IoT (Internet of Things) Teknologi ini memungkinkan perangkat kesehatan seperti pengukur tekanan darah, glukometer, atau electrocardiogram (ECG) dapat terhubung ke jaringan internet dan mengirimkan data kesehatan secara langsung ke dokter atau perawat yang merawat pasien.
21 5. Sistem informasi kesehatan (health information system) Teknologi yang memungkinkan pengelolaan data kesehatan secara elektronik, sehingga dokter atau perawat dapat mengakses data kesehatan pasien dari jarak jauh dan memberikan perawatan kesehatan yang sesuai dengan kondisi pasien. Teknologi ini memungkinkan pengelolaan data kesehatan secara efektif dan efisien, termasuk pencatatan riwayat kesehatan pasien, resep obat, hasil tes laboratorium, dan lain sebagainya. Dengan sistem informasi kesehatan, dokter atau perawat dapat memberikan perawatan kesehatan yang lebih terfokus dan efektif kepada pasien, serta meminimalkan kesalahan dalam pengelolaan data kesehatan.
22 BAB 3 PENGANTAR TOTOK PUNGGUNG A. Filosofi Topung Tubuh manusia memiliki banyak organ tubuh yang berbeda dengan fungsi yang unik, namun secara umum dapat dibagi menjadi sistem organ yang terhubung satu sama lain. Semua sistem organ ini bekerja bersama-sama untuk menjaga kesehatan dan fungsi tubuh yang optimal. Setiap sistem saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain, sehingga kegagalan pada salah satu sistem dapat mempengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Hal ini sejalan dengan filosofi jaring laba-laba yang digunakan dalam Topung. Filosofi jaring laba-laba juga mengajarkan bahwa ketika satu titik pada jaring laba-laba terganggu, maka keseluruhan jaring laba-laba akan terpengaruh. Hal yang sama juga terjadi pada tubuh manusia, ketika satu bagian tubuh mengalami masalah, maka keseluruhan tubuh akan terpengaruh dan membutuhkan perbaikan. Dengan demikian, filosofi jaring laba-laba dapat membantu dalam Topung dengan mengajarkan pentingnya melihat tubuh sebagai satu kesatuan yang saling terhubung, dan bahwa masalah pada satu bagian tubuh dapat mempengaruhi keseluruhan tubuh. Teknik Topung yang diaplikasikan dengan menggunakan filosofi jaring laba-laba diharapkan dapat membantu mengatasi penumpukan perlemakan punggung, ketegangan pada otot-otot punggung dan
23 memperlancar aliran energi pada tubuh, sehingga memperbaiki kondisi tubuh secara keseluruhan. Untuk dapat memahami dan menerapkan filosofi tersebut dengan benar, diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai anatomi dan fungsi sistem tubuh manusia. Dalam konteks pelayanan Topung, pemahaman yang baik mengenai anatomi dan fungsi sistem tubuh sangat penting. Karena dalam pelayanan Topung, teknik tekanan dan getaran diterapkan pada titik-titik tertentu pada punggung, dapat mempengaruhi berfungsi sistem tubuh hingga terjadinya self healing. Oleh karena itu, penguasaan anatomi dan fungsi sistem tubuh sangat diperlukan agar teknik Topung dapat diterapkan dengan tepat dan efektif. Adapun sistem tubuh tersebut meliputi: 1. Sistem kardiovaskular atau sistem peredaran darah. Sistem ini terdiri dari jantung, pembuluh darah, dan darah itu sendiri. Jantung berfungsi sebagai pompa yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Darah membawa oksigen dan nutrisi ke sel-sel tubuh, serta membawa sisa-sisa metabolisme dan karbon dioksida kembali ke jantung untuk dikeluarkan dari tubuh. 2. Sistem pernapasan. Sistem ini terdiri dari paru-paru dan saluran pernapasan. Oksigen yang kita hirup melalui hidung dan mulut diangkut melalui saluran pernapasan ke paru-paru, di mana oksigen diambil dari udara dan diangkut ke darah, sedangkan karbon dioksida diambil dari darah dan dikeluarkan melalui paru-paru.
24 3. Sistem pencernaan. Sistem ini terdiri dari mulut, kerongkongan, perut, usus, dan organ-organ lainnya. Fungsi utama sistem pencernaan adalah memecah makanan menjadi nutrisi yang dapat diserap oleh tubuh dan membuang sisa-sisa yang tidak diperlukan. Makanan yang dimakan dicerna oleh enzim-enzim dan asam lambung di perut, kemudian diserap oleh usus dan dibawa ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. 4. Sistem saraf. Sistem ini terdiri dari otak, sumsum tulang belakang, dan saraf-saraf tubuh. Sistem ini mengontrol dan mengkoordinasikan semua fungsi tubuh, termasuk gerakan, persepsi, emosi, dan kognisi. Sarafsaraf tubuh membawa informasi dari otak ke organ dan jaringan tubuh, dan sebaliknya. 5. Sistem endokrin. Sistem ini terdiri dari kelenjar-kelenjar yang memproduksi hormon, yang mengatur fungsi tubuh seperti metabolisme, pertumbuhan, dan reproduksi. Hormon diangkut ke seluruh tubuh melalui darah. Ketika kita sudah memahami tentang organ tubuh, baik fungsi maupun letaknya, maka secara otomatis saat melihat punggung seseorang, kita akan membayangkan organ-organ tubuh dan posisinya yang berada di dalamnya. Pemahaman anatomi dan fungsi sistem tubuh yang baik, menjadi dasar bagi kita dalam memberikan pelayanan Topung secara holistik dan komprehensif. Holistik dalam arti bahwa pelayanan Topung tidak hanya memfokuskan pada satu titik atau area pada punggung,
25 tetapi juga mempertimbangkan hubungannya dengan sistem tubuh lainnya. Sedangkan komprehensif berarti pelayanan Topung melibatkan pemahaman yang luas mengenai berbagai faktor yang mempengaruhi kesehatan dan keseimbangan sistem tubuh, seperti pola makan, gaya hidup, dan faktor-faktor lingkungan. Gambar 3. 1 Abdomen Viseral (Posterior View) Sumber: https://pin.it/Rvl4OS3
26 Gambar 3. 2 Anatomi Tulang Belakang dan Korespondensi Triorigin Vertebra (Woo, 2003) B. Pengantar Topung Rasulullah SAW telah mengajarkan tentang bagaimana sebaiknya seseorang memperlakukan tubuhnya dalam hal makan dan minum. Rasulullah menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam konsumsi makanan dan minuman, sehingga seseorang tidak merasa lapar atau kekurangan energi, namun juga tidak makan terlalu banyak sehingga terlalu kenyang dan merasa tidak nyaman. “Kami adalah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak pernah kekenyangan” (HR Bukhari Muslim). Rasulullah menyampaikan bahwa hendaknya kita makan sebelum lapar dan berhenti
27 sebelum kenyang. Dari aspek kesehatan ini sangat berarti karena makan sebelum lapar menghindarkan kita dari sakit lambung dan berhenti sebelum kenyang akan membuat kita tidak berlebihan dalam makan (Dalam Islam, 2023). Kelebihan kalori akibat kelebihan makan oleh tubuh akan disimpan dalam bentuk lemak. Proses ini terjadi saat seseorang mengonsumsi lebih banyak kalori daripada yang dibutuhkan oleh tubuhnya untuk memenuhi kebutuhan energi sehari-hari. Setelah makan, tubuh akan menggunakan kalori yang diperoleh dari makanan untuk memenuhi kebutuhan energi sehari-hari. Jika seseorang mengonsumsi lebih banyak kalori dari yang dibutuhkan oleh tubuh, maka kelebihan kalori tersebut akan disimpan dalam bentuk lemak dalam jaringan adiposa (jaringan lemak) di seluruh tubuh. Akumulasi lemak di sekitar tulang belakang, belikat, dan pinggul dapat mempengaruhi fungsi organ. Lemak yang terkumpul dapat memberikan tekanan ekstra pada organ-organ di dekatnya, seperti paru-paru, jantung, dan lambung. Tekanan yang berlebihan pada organ-organ ini dapat mengganggu aliran darah dan persyarafan, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi kinerja organ tersebut. Misalnya, penumpukan lemak di sekitar paruparu dapat menyebabkan sesak napas atau gangguan pernapasan lainnya. Sedangkan, penumpukan lemak di sekitar jantung dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Selain itu, akumulasi lemak di sekitar pinggul juga dapat mempengaruhi fungsi organ reproduksi. Lemak ekstra pada area ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon seksual, yang
28 pada akhirnya dapat mempengaruhi kinerja sistem reproduksi. Salah satu cara meningkatkan kesehatan dan mengobati penyakit manusia adalah dengan melakukan perawatan pada daerah punggung. Perawatan ini melibatkan pemberian stimulasi dengan cara menekan dan menggetarkan titik-titik atau area tertentu di punggung manusia dengan menggunakan jari tangan dan minyak sebagai pelumas (Agus Setyo Utomo et al., 2022). Teknik terapi ini dikenal sebagai Topung. Metode pengobatan Topung dilakukan dengan memberikan rangsangan berupa penekanan pada titik atau simpul saraf tertentu pada area tulang belakang yang berhubungan langsung dengan keluhan penyakit atau organ yang sedang mengalami gangguan (Topung, 2021). Tekanan dan getaran, yang dalam bahasa komunitas sering disebut "uyel-uyel" mampu mengurai perlemakan yang terdapat di sekitar tulang belakang, bahu belikat, dan panggul. Akumulasi perlemakan di area tersebut dapat mengganggu sirkulasi darah dan aliran persyarafan yang menuju organ tubuh. Oleh karena itu, Topung dapat membantu mengatasi gangguan tersebut. Stimulasi yang diberikan dalam Topung dapat merangsang atau menghambat pelepasan hormon tertentu dalam tubuh, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi berbagai fungsi tubuh seperti peredaran darah, metabolisme, dan respons imun. Tekanan dan getaran tertentu pada kulit dan jaringan di bawahnya dapat merangsang reseptor saraf yang terkait dengan sistem endokrin. Ini dapat memicu pelepasan hormon seperti endorfin, serotonin, oksitosin, dan kortisol.
29 Endorfin adalah hormon penghilang rasa sakit alami yang dapat meredakan rasa sakit dan meningkatkan perasaan bahagia dan kenyamanan. Serotonin adalah hormon yang mempengaruhi suasana hati, nafsu makan, dan tidur. Oksitosin adalah hormon yang terlibat dalam hubungan sosial dan emosi, serta mempengaruhi kontraksi otot saat persalinan atau menyusui. Kortisol adalah hormon stres yang dikeluarkan oleh kelenjar adrenal dan dapat mempengaruhi kadar gula darah dan tekanan darah. Pelepasan hormon-hormon ini dapat membantu meredakan stres dan meningkatkan kesejahteraan fisik dan emosional. Tekanan dan getaran pada area punggung yang tepat dapat juga membantu meningkatkan sirkulasi darah dan oksigen ke jaringan tubuh, meredakan ketegangan otot, dan mengurangi peradangan. Kulit adalah organ terbesar kita yang memisahkan lingkungan internal kita dari lingkungan luar., interaksi antara lapisan kulit seperti epidermis dan dermis dengan organ-organ dalam tubuh, otak, dan sistem endokrin harus menjadi perhatian khusus. Sistem neuroendokrin di kulit membantu kulit merasakan perubahan lingkungan. Sistem ini menghitung dan menerjemahkan informasi yang diterima oleh kulit menjadi pesan kimia, fisik, dan biologis untuk mengatur keseimbangan tubuh secara global. Pesan atau sinyal yang dihasilkan dikirim melalui jalur humoral, imun, atau saraf untuk mencapai sistem saraf pusat, endokrin, dan imun serta organ lainnya (Zmijewski & Slominski, 2011).
30 Gambar 3. 3 Sistem Neuroendokrin Kulit (Zmijewski & Slominski, 2011) Secara keseluruhan, proses peradangan, neuroendokrin, dan neuromuskuler yang terjadi saat kulit diberikan stimulus dapat membantu merangsang proses penyembuhan pada organ tubuh yang bermasalah: Sistem peradangan: Pemberian stimulus pada kulit punggung dapat memicu respons peradangan lokal yang dapat membantu menyembuhkan organ tubuh yang bermasalah. Proses ini terjadi karena stimulus tersebut dapat merangsang pelepasan mediator peradangan, seperti histamin, bradykinin, dan prostaglandin. Mediator peradangan ini akan memicu respons peradangan lokal, seperti peningkatan aliran darah, peningkatan
31 permeabilitas pembuluh darah, dan migrasi sel-sel inflamasi ke daerah yang bermasalah. Sel-sel inflamasi ini akan membantu membersihkan jaringan yang rusak dan memicu regenerasi jaringan baru. Sistem neuroendokrin: Hal ini terkait dengan respon tubuh terhadap stimulus atau rangsangan yang diterima dari lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini, pemberian stimulus pada kulit punggung area tertentu dapat mempengaruhi kinerja organ tubuh tertentu melalui sistem saraf dan sistem endokrin. Kulit punggung memiliki banyak saraf yang terhubung dengan berbagai organ tubuh. Saat stimulus diberikan pada area kulit punggung tertentu, saraf sensorik pada kulit akan mengirimkan sinyal ke otak melalui sistem saraf. Otak kemudian merespons dengan mengirimkan sinyal ke kelenjar pituitari, yang menghasilkan hormon yang kemudian dilepaskan ke dalam sistem peredaran darah. Hormon yang dilepaskan oleh kelenjar pituitari ini dapat mempengaruhi organ tubuh tertentu yang terletak jauh dari kulit punggung. Misalnya, pemberian stimulus pada area kulit punggung atas dapat merangsang produksi hormon tiroid, yang mempengaruhi fungsi kelenjar tiroid. Sedangkan pemberian stimulus pada area kulit punggung bawah dapat merangsang produksi hormon kortisol, yang mempengaruhi fungsi kelenjar adrenal. C. Manfaat Topung Banyak orang yang merasakan manfaat dari tindakan Topung secara empiris untuk kesehatan, seperti meningkatkan peredaran darah, mengurangi penyumbatan pembuluh darah, dan mengaktifkan
32 kemampuan tubuh untuk menyembuhkan diri. Secara anatomi, punggung merupakan pangkal dari peredaran darah dan sistem saraf yang membawa informasi ke seluruh organ di tubuh. Jika terjadi gangguan dalam bentuk sumbatan pembuluh darah di punggung, maka fungsi organ yang terhubung dengan saraf tersebut dapat terganggu. Oleh karena itu, Topung dapat membantu mengurangi gangguan tersebut dan meningkatkan kesehatan tubuh secara keseluruhan. D. Teknik Dasar Topung Teknik dasar Topung diawali dengan berdoa sebagai tanda syukur dan permohonan bimbingan dari Sang Pencipta dalam menjalankan terapi. Selanjutnya, terapis akan melakukan wawancara riwayat kesehatan dengan pasien untuk memahami kondisi kesehatan dan masalah yang dihadapi. Setelah itu, dilakukan deteksi masalah kesehatan pada punggung dengan mencari tanda-tanda akumulasi perlemakan atau penyumbatan yang dapat mempengaruhi fungsi organ di sekitarnya. Area penyumbatan dapat dikenali dengan memperhatikan tanda-tanda atau karakteristiknya. Beberapa tanda tersebut meliputi: 1. Tangan merasakan adanya butiran atau grenjel pada permukaan lapisan bawah kulit punggung. 2. Terlihat pembesaran pori-pori kulit seperti kulit jeruk. 3. Terlihat cekung atau cembung pada kulit punggung. 4. Tangan merasakan cekung atau cembung di bawah kulit punggung.
33 5. Terlihat penebalan jaringan pada permukaan kulit. 6. Serta ciri-ciri yang menunjukkan ketidaknormalan dengan bagian lain secara keseluruhan. Cara mendeteksi masalah kesehatan dapat dilakukan dengan menyusuri jalur tertentu pada punggung menggunakan tiga jari yaitu telunjuk, jari tengah, dan jari manis. Tujuannya adalah mencari area trigger point atau penyumbatan. Jalur yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1. Lakukan palpasi menyusuri tepat di tengah tulang belakang, tepi kanan dan kiri tulang belakang dimulai dari tulang lumbal 5 (L-5) hingga tulang thorax 1 (T-1). Lakukan beberapa kali untuk memastikan area penyumbatan terdeteksi. 2. Lakukan palpasi menyusuri tepi tulang belikat (kanan dan kiri), lakukan beberapa kali untuk memastikan ditemukannya area penyumbatan. 3. Lakukan palpasi menyusuri tepi tulang pinggul (kanan dan kiri), lakukan beberapa kali untuk memastikan ditemukannya area penyumbatan Setelah masalah kesehatan diidentifikasi, terapis akan melanjutkan dengan general treatment menggunakan teknik Topung yang sesuai. General treatment dilakukan sebanyak 3 kali putaran kurang lebih membutuhkan waktu 3 x 10-15 menit.
34 Video 3. 1 Deteksi Masalah Kesehatan Video 3. 2 General Treatment Saat melakukan Topung, terapis akan memfokuskan perhatiannya pada area yang perlu mendapat perhatian khusus dengan cara melakukan terapi lebih lama pada area tersebut untuk merangsang sirkulasi darah dan memperbaiki fungsi organ yang terganggu. Topung diakhiri dengan tutup doa sebagai tanda syukur dan permohonan kesembuhan. Dengan teknik dasar Topung yang komprehensif ini, diharapkan Topung dapat
35 membantu memperbaiki kesehatan secara holistik melalui perbaikan sirkulasi darah dan fungsi organ yang terganggu pada punggung, serta meningkatkan kualitas hidup pasien.
36 BAB 4 INOVASI TELENURSING TOPUNG A. Konsep Telenursing Topung Pelayanan telenursing merupakan pemberian asuhan keperawatan jarak jauh, yang melibatkan perawat, pasien dan keluarga yang terhubung melalui teknologi. Konsep telenursing Topung mengacu pada penggunaan teknologi komunikasi untuk memberikan edukasi Topung jarak jauh oleh seorang perawat terlatih kepada pengguna telenursing dan diaplikasikan kepada pasien yang membutuhkan. Terapi ini dapat dilakukan melalui aplikasi video call atau telepon, di mana perawat dapat memberikan arahan dan panduan kepada pengguna telenursing tentang area yang harus ditekan, digetarkan dan dibenturkan dengan tepi tulang pada punggung pasien. Tahapan pemberian asuhan keperawatan Topung melalui telenursing meliputi: 1. Pengkajian Pengkajian keperawatan telenursing Topung adalah cara untuk mengumpulkan informasi tentang kesehatan seseorang dari jarak jauh menggunakan teknologi telekomunikasi. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah Topung yang dilakukan melalui telenursing aman dan sesuai untuk pasien. Proses pengumpulan informasi melibatkan perawat telenursing yang akan melakukan wawancara dan observasi jarak jauh dengan pasien untuk mengetahui kondisi fisiknya dan riwayat pengobatan Topung yang
37 pernah dilakukan. Data yang dikumpulkan akan digunakan oleh perawat untuk menentukan masalah kesehatan pasien dan merencanakan perawatan yang tepat untuk membantu pasien mencapai tujuan perawatan yang telah ditetapkan. 2. Perencanaan Perencanaan keperawatan telenursing Topung adalah langkah penting dalam memberikan perawatan kesehatan jarak jauh yang efektif dan berkualitas tinggi. Proses perencanaan melibatkan penentuan tujuan perawatan yang spesifik dan terukur, perencanaan intervensi yang tepat dan dapat dilaksanakan mandiri oleh pengguna telenursing, dan evaluasi efektivitas intervensi. Perawat telenursing harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam teknik Topung serta mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien. Dengan melakukan perencanaan yang tepat, perawat telenursing dapat memberikan perawatan kesehatan yang terkoordinasi dan berkualitas tinggi, meningkatkan efektivitas dan efisiensi perawatan, serta memperbaiki hasil kesehatan pasien 3. Implementasi Keperawatan Implementasi keperawatan telenursing Topung melibatkan penerapan rencana perawatan yang dilakukan jarak jauh melalui teknologi telekomunikasi untuk memberikan Topung kepada pasien. Proses ini melibatkan perawat telenursing yang memberikan instruksi dan panduan kepada pengguna telenursing dalam melakukan terapi tersebut kepada pasien di rumah. Implementasi keperawatan telenursing
38 Topung dapat membantu pasien yang tidak dapat mengakses terapi fisik langsung di klinik atau rumah sakit, tetapi perawat telenursing harus memastikan bahwa mereka memiliki pengetahuan yang cukup tentang kondisi kesehatan pasien dan tidak ada risiko terkait dengan Topung. Tahapan memastikan pengetahuan yang cukup tentang Topung meliputi: a. Edukasi: Teknologi telenursing dapat digunakan untuk memberikan edukasi tentang Topung kepada pasien, keluarga atau petugas kesehatan. Edukasi sendiri merupakan proses pembelajaran yang terorganisir dan sistematis dengan tujuan untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap individu. Ada berbagai bentuk edukasi, mulai dari pendidikan formal seperti sekolah atau perguruan tinggi hingga pelatihan kerja dan program pengembangan diri. Tujuan utama edukasi adalah membantu individu memahami dunia di sekitarnya dan mengembangkan kemampuan untuk memperbaiki kualitas hidup mereka. Ini dapat dicapai melalui pengajaran keterampilan praktis, pengetahuan teoritis, dan pengembangan sikap dan nilai-nilai positif. Metode edukasi Topung secara online adalah cara pengajaran Topung yang dilakukan melalui internet atau media digital. Beberapa metode edukasi Topung secara online yang umum digunakan antara lain: