The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku referensi "Telenursing Futuristik: Perawatan Masa Depan dengan Terapi Totok Punggung," merupakan karya yang mengurai wawasan yang memadukan teknologi digital dalam perawatan kesehatan dengan terapi tradisional atau komplementer. Penulis mengajak pembaca menelusuri penggabungan antara telenursing, suatu pendekatan inovatif layanan perawatan jarak jauh, dan terapi totok punggung, sebuah praktik terapeutik tradisional.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Perpustakaan Kampus 2 Poltekkes Kemenkes Malang, 2023-10-26 01:08:31

Telenursing Futuristik: Perawatan Masa Depan Dengan Terapi Totok Punggung

Buku referensi "Telenursing Futuristik: Perawatan Masa Depan dengan Terapi Totok Punggung," merupakan karya yang mengurai wawasan yang memadukan teknologi digital dalam perawatan kesehatan dengan terapi tradisional atau komplementer. Penulis mengajak pembaca menelusuri penggabungan antara telenursing, suatu pendekatan inovatif layanan perawatan jarak jauh, dan terapi totok punggung, sebuah praktik terapeutik tradisional.

Keywords: Telenursing,Totok Punggung

39 1) Pembelajaran asinkronus: Pembelajaran asinkronus adalah jenis pembelajaran yang dapat dilakukan pada waktu yang berbeda-beda oleh pengguna jasa telenursing dan perawat. Dalam pembelajaran ini, media pembelajaran memegang peran penting untuk mempermudah proses belajar mengajar. Media pembelajaran dalam telenursing Topung dapat berupa alat bantu seperti buku, slide presentasi, video, audio, atau bahkan aplikasi mobile learning yang dapat diakses oleh pasien kapan saja dan di mana saja, atau slide presentasi yang dapat diunduh dan dipelajari oleh pengguna jasa telenursing secara mandiri. Pembelajaran asinkronus bisa menjadi pilihan yang baik karena memiliki beberapa kelebihan. Salah satunya adalah fleksibilitas waktu. Hal ini memungkinkan perawat dan pengguna jasa telenursing untuk belajar sesuai dengan kecepatan dan kondisi masing-masing. Waktu yang lebih fleksibel juga dapat mendorong pengguna jasa telenursing dan perawat untuk berpikir lebih dalam sebelum mengutarakan pendapat di forum diskusi, sehingga dapat meningkatkan pemahaman mereka. Namun, ada juga kekurangan dalam pembelajaran asinkronus. Salah satunya adalah adanya keterlambatan dalam interaksi. Hal ini dapat membuat pengguna jasa telenursing merasa kurang dekat dengan perawat. Selain itu, karena kurangnya interaksi langsung, ada kemungkinan


40 terjadi perbedaan dalam pemahaman materi. Oleh karena itu, jika pembelajaran asinkronus dipilih dalam kegiatan telenursing, pastikan perawat dan pengguna jasa telenursing tetap berkomunikasi secara aktif agar memahami materi dengan baik (Universitas Indonesia, 2020). 2) Pembelajaran sinkronus Pembelajaran sinkronus adalah metode pembelajaran yang dilakukan secara langsung pada waktu yang sama. Metode ini memungkinkan interaksi langsung antara pengguna jasa telenursing dan perawat melalui video konferensi, chat, atau teleconference. Agar interaksi langsung dapat dilakukan, pengguna jasa telenursing dan perawat harus mengakses internet secara bersamaan. Dalam pembelajaran sinkronus, terdapat kelebihan dan kekurangan yang perlu dipahami. Kelebihan sinkronus antara lain adalah interaksi pembelajaran yang segera, sehingga dapat meningkatkan kedekatan antara pengguna jasa telenursing dan perawat. Selain itu, komunikasi langsung dalam pembelajaran sinkronus dapat meminimalisir terjadinya perbedaan pemahaman antara pengguna jasa telenursing dan perawat. Namun, terdapat juga kekurangan pada pembelajaran sinkronus. Pertama, membutuhkan pengguna jasa telenursing dan perawat hadir di waktu yang bersamaan, sehingga dapat menyulitkan penjadwalan. Kedua, pengguna jasa


41 telenursing dan perawat dapat mengalami kendala jika tidak memiliki akses terhadap jaringan internet yang kuat, yang dapat menghambat proses pembelajaran. Oleh karena itu, mengingat kelebihan dan kekurangan ini, pembelajaran sinkronus dapat dikombinasikan dengan pembelajaran asinkronus untuk memberikan fleksibilitas pada pengguna jasa telenursing untuk belajar Topung kapan saja dan di mana saja (Universitas Indonesia, 2020). 3) Mobile learning Pembelajaran yang dilakukan melalui perangkat mobile seperti smartphone atau tabelt. Metode ini memungkinkan pengguna jasa telenursing untuk belajar di mana saja dan kapan saja. Penggunaan metode edukasi secara online dapat memberikan keuntungan seperti fleksibilitas waktu dan tempat, interaksi yang lebih banyak, dan dapat diakses oleh pengguna jasa telenursing dari berbagai belahan dunia. Namun, metode ini juga memiliki kelemahan seperti memerlukan akses internet yang stabil dan peralatan yang memadai, serta kurangnya interaksi langsung antara pengguna jasa telenursing dan perawat. b. Konsultasi Layanan konsultasi Topung melalui telenursing adalah sebuah layanan yang memberikan panduan tentang teknik Topung yang tepat untuk mengatasi keluhan pasien. Seorang perawat akan memberikan saran tentang cara melakukan Topung dengan benar


42 dan aman, serta memberikan penjelasan tentang manfaat dan risiko dari teknik ini. Selain itu, perawat juga dapat memberikan saran tentang gaya hidup yang dapat membantu mencegah terjadinya masalah kesehatan di masa depan. Layanan konsultasi Topung dalam telenursing memungkinkan pengguna untuk berkonsultasi dengan perawat tanpa harus datang ke rumah sakit atau klinik. Konsultasi ini dapat dilakukan secara sinkronus atau asinkronus, tergantung pada kebutuhan pengguna dan perawat. Pada konsultasi sinkronus, pengguna jasa telenursing dan perawat dapat berinteraksi secara langsung dalam waktu yang sama melalui video conference atau chat. Sedangkan pada konsultasi asinkronus, pengguna jasa telenursing dapat mengirimkan pertanyaan atau keluhan melalui email atau pesan teks, dan perawat akan memberikan jawaban atau saran dalam waktu yang lebih fleksibel. Telenursing dapat membantu pengguna jasa telenursing untuk mendapatkan informasi dan saran kesehatan yang akurat dan tepat waktu, serta meminimalkan risiko penularan penyakit di tempat pelayanan kesehatan. c. Monitoring: Pasien yang menjalani Topung dapat dipantau dan diberikan perawatan jarak jauh oleh perawat melalui teknologi telenursing. Dalam melakukan monitoring pelayanan Topung pada pasien melalui telenursing, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Secara umum, monitoring dapat dilakukan melalui konsultasi melalui video conference, pemantauan jarak jauh,


43 pemantauan mandiri oleh pasien, dan pemberian edukasi. Konsultasi melalui video conference merupakan cara yang efektif untuk memantau kondisi pasien dan memberikan saran tentang teknik Topung yang tepat. Dalam hal ini, perawat dan pasien dapat berkomunikasi secara langsung melalui video conference. Dengan cara ini, perawat dapat memantau kondisi pasien dan penggunaan teknik Topung dengan mudah. Selanjutnya, pasien juga dapat melakukan pemantauan mandiri dan memberikan laporan kepada perawat melalui aplikasi kesehatan atau pesan teks. Hal ini memungkinkan pasien untuk memantau kondisi dirinya sendiri dan memberikan laporan yang berguna bagi perawat. Selama kegiatan monitoring, perawat juga dapat memberikan edukasi kepada pasien tentang teknik Topung yang benar dan tandatanda komplikasi yang perlu diperhatikan. Hal ini dapat membantu pasien memahami cara yang tepat dalam melakukan Topung dan meningkatkan kesadaran tentang tanda-tanda komplikasi yang perlu diperhatikan. Namun, dalam melakukan monitoring pelayanan Topung pada pasien melalui telenursing, perawat harus memastikan bahwa teknologi yang digunakan aman, terjamin privasinya, dan mudah digunakan oleh pasien. Selain itu, perawat harus memantau kondisi pasien secara teratur dan merespon dengan cepat jika terjadi masalah atau komplikasi yang memerlukan intervensi medis. Dengan cara ini, monitoring


44 pelayanan Topung pada pasien melalui telenursing dapat dilakukan dengan efektif dan aman B. Manfaat Telenursing Topung Sebagai terapi pendamping, telenursing Topung bisa memberikan manfaat untuk mengatasi masalah kesehatan yang berbeda pada pasien. Terapi ini dapat membantu pasien yang kesulitan atau tidak mampu mengakses perawatan kesehatan secara langsung, seperti pada saat pandemi sekarang, untuk mendapatkan manfaat kesehatan melalui Topung. Teknik Topung ini dapat memberikan manfaat dalam memperlancar sirkulasi darah dan fungsi organ tubuh. Stimulasi (tekanan dan getaran) pada area tertentu di punggung dapat merangsang aliran darah ke seluruh tubuh, meningkatkan oksigen dan nutrisi yang disalurkan ke seluruh jaringan tubuh. Dengan aliran darah yang lancar, organ-organ dalam tubuh dapat menerima pasokan darah dan oksigen yang cukup sehingga dapat bekerja dengan lebih optimal dan mempercepat proses penyembuhan. Manfaat lain dari telenursing Topung adalah dapat membantu mengurangi stres dan kecemasan pada pasien. Saat pasien merasa stres atau cemas, ia mungkin mengalami ketegangan pada otot-otot, yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan rasa sakit. Teknik Topung dapat membantu merangsang pelepasan hormon endorfin yang dapat membantu meredakan stres dan kecemasan serta membantu meningkatkan relaksasi dan mengurangi ketegangan pada otot-otot, sehingga membantu pasien tidur lebih nyenyak dan memperbaiki kualitas tidurnya.


45 C. Teknologi dalam Telenursing Topung Telenursing adalah layanan perawatan kesehatan jarak jauh yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk memberikan pelayanan kesehatan. Sedangkan Topung adalah teknik terapi pijat yang dilakukan dengan memberikan tekanan dan getaran pada titik-titik tertentu di punggung untuk memperlancar sirkulasi darah dan kesehatan fungsi organ tubuh. Dalam telenursing Topung, teknologi yang digunakan adalah teknologi telekomunikasi dan telemedicine. Teknologi telekomunikasi digunakan untuk menghubungkan pasien dengan perawat atau terapis yang memberikan layanan telenursing. Pasien dapat berkomunikasi dengan perawat atau tenaga kesehatan melalui video call, telepon, atau pesan teks. Video call: Video call adalah cara untuk melakukan komunikasi tatap muka secara jarak jauh. Dalam telenursing Topung, video call digunakan untuk melakukan edukasi, konsultasi dan monitoring antara pasien, keluarga dan perawat. Selama panggilan video, perawat dapat memberikan edukasi kepada pasien dan keluarganya tentang teknik Topung yang benar, dan juga memantau kemajuan pasien setelah menerima perawatan tersebut. Contohnya, pasien dapat menunjukkan area punggungnya melalui kamera video, dan perawat dapat memberikan instruksi tentang bagaimana menemukan titik-titik yang tepat untuk ditotok. Selain itu, perawat dapat memantau kemajuan pasien dan memberikan saran tambahan tentang latihan atau perawatan yang dapat membantu proses penyembuhan penyakit.. Video call juga dapat digunakan untuk mengatasi pertanyaan atau


46 kekhawatiran yang mungkin dimiliki pasien dan keluarganya tentang teknik Topung atau kondisi punggung secara umum. Telepon: Telepon adalah cara yang paling umum digunakan dalam telenursing Topung. Pasien dan keluarga memiliki kesempatan untuk menghubungi perawat secara langsung untuk mendapatkan konsultasi tentang pelayanan telenursing Topung dan juga untuk membahas masalah kesehatan yang sedang dihadapi oleh pasien. Konsultasi ini dapat membantu pasien dan keluarganya memahami lebih baik tentang jenis perawatan yang tersedia dan memilih opsi perawatan yang terbaik untuk mereka. Dengan demikian, pasien dan keluarga dapat merasa lebih terlibat dan memiliki kendali dalam perawatan kesehatan mereka. Pesan teks: Pesan teks adalah cara yang efektif untuk melakukan komunikasi cepat dan mudah dalam telenursing Topung. Pasien dapat mengirim pesan teks kepada perawat mereka untuk memberikan laporan tentang kondisi kesehatan mereka atau untuk meminta saran dan bantuan. Perawat dan pasien juga harus memastikan bahwa pesan teks hanya digunakan untuk hal-hal yang relevan dengan perawatan kesehatan dan tidak digunakan untuk keperluan yang tidak terkait. Pesan teks dapat menjadi alat yang berguna untuk telenursing Topung, asalkan digunakan dengan bijaksana dan dengan memperhatikan aspek privasi dan keamanan. Sedangkan teknologi telemedicine digunakan untuk memantau kondisi kesehatan pasien secara jarak jauh. Contohnya, perangkat pengukur tekanan darah atau detak jantung yang dapat dihubungkan dengan sistem


47 telenursing untuk memantau kondisi kesehatan pasien secara real-time. Selain itu, terdapat juga teknologi lain yang dapat digunakan dalam telenursing Topung seperti aplikasi kesehatan yang memungkinkan pasien untuk mengakses informasi kesehatan, jadwal Topung, dan komunikasi dengan perawat atau terapis. Teknologi yang digunakan dalam telenursing Topung sangat penting untuk memastikan pasien mendapatkan perawatan kesehatan yang berkualitas meskipun dalam kondisi jarak jauh. Pelayanan telenursing Topung membutuhkan beberapa sarana dan prasarana, termasuk teknologi telekomunikasi seperti smartphone, laptop, atau tabelt yang dilengkapi dengan kamera dan mikrofon serta koneksi internet yang stabil dan cepat. Alat Topung juga diperlukan untuk melakukan terapi pijat pada titik-titik tertentu pada punggung pasien. Akses ke rekam medis pasien harus diberikan agar perawat telenursing dapat mengumpulkan data medis yang diperlukan selama pengkajian keperawatan. Selain itu, pelatihan dan sertifikasi perawat telenursing dalam teknik Topung dan penggunaan teknologi telekomunikasi sangat penting untuk memastikan kualitas pelayanan yang baik dan aman untuk pasien.


48 BAB 5 PENERAPAN TELENURSING TOPUNG A. Penerapan Telenursing Topung Telenursing adalah praktik pelayanan keperawatan jarak jauh yang menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk memberikan perawatan, konsultasi, edukasi, serta pemantauan pasien secara virtual. Dalam pelaksanaannya, telenursing dapat dilakukan oleh perawat secara individu atau oleh sebuah instansi. Ketika telenursing dilakukan oleh perawat secara individu, ini berarti perawat tersebut dapat memberikan layanan telenursing secara mandiri tanpa harus berafiliasi dengan sebuah lembaga atau organisasi tertentu. Sebagai contoh, perawat mandiri dapat membuka praktik telenursing di rumahnya dan memberikan layanan telenursing melalui telepon, video call atau pesan teks kepada pasien yang membutuhkan. Sementara itu, telenursing juga dapat dilakukan oleh sebuah instansi, seperti rumah sakit, klinik, atau perusahaan kesehatan. Dalam hal ini, telenursing akan menjadi bagian dari program atau layanan kesehatan yang disediakan oleh instansi tersebut. Misalnya, sebuah rumah sakit dapat menyediakan layanan telenursing bagi pasien rawat jalan yang membutuhkan konsultasi atau pemantauan jarak jauh. Dalam kedua kasus tersebut, telenursing memungkinkan perawat untuk memberikan perawatan yang lebih baik kepada pasien, mengurangi beban kerja


49 perawat, dan meningkatkan akses pasien terhadap layanan kesehatan. Namun, perlu diperhatikan juga bahwa praktik telenursing harus dilakukan dengan penuh pertimbangan etika dan privasi pasien, serta memperhatikan regulasi dan standar yang berlaku. Telenursing Topung adalah salah satu bentuk layanan keperawatan jarak jauh di Indonesia. Pelaksanaan telenursing Topung masih berfokus pada edukasi dan pendampingan pasien dan keluarga dalam melakukan Topung secara mandiri. Melalui telenursing Topung, pasien dapat berkonsultasi dengan perawat yang terlatih dalam melakukan Topung melalui layanan video call, telepon atau pesan teks. Dengan demikian, pasien dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang aman dan nyaman tanpa harus meninggalkan rumah atau tempat tinggal mereka Dalam penerapan telenursing Topung, saat ini baru sebatas telenursing yang dilakukan secara individu oleh seorang perawat, dimana perawat secara mandiri memberikan instruksi dan bimbingan kepada pasien melalui telepon video call atau video conference, telepon dan pesan teks tentang bagaimana melakukan teknik Topung dengan bantuan anggota keluarga. Hal ini memungkinkan pasien untuk menerima perawatan Topung tanpa harus pergi ke layanan kesehatan secara fisik, yang dapat sangat berguna terutama selama pandemi Covid-19 atau ketika pasien berada di tempat yang sulit dijangkau oleh layanan kesehatan. Tahapan pemberian asuhan keperawatan Topung melalui telenursing meliputi:


50 1. Pengkajian Pengkajian keperawatan telenursing Topung melibatkan evaluasi kondisi pasien, termasuk lokasi titik atau area Topung dan teknik yang digunakan. Pengumpulan data dari pengkajian keperawatan telenursing Topung akan digunakan oleh perawat telenursing dalam menegakkan masalah keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien yang diidentifikasi. Setelah melakukan penegakan masalah keperawatan, perawat telenursing dapat membuat rencana perawatan yang tepat untuk membantu pasien mengatasi masalah keperawatan dan mencapai tujuan perawatan yang telah ditetapkan. 2. Perencanaan Perencanaan keperawatan telenursing Topung, perawat telenursing harus memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam teknik Topung serta mempertimbangkan kondisi kesehatan pasien. Dengan melakukan perencanaan yang tepat, perawat telenursing dapat memberikan perawatan kesehatan yang terkoordinasi dan berkualitas tinggi kepada pasien yang membutuhkan Topung, meningkatkan efektivitas dan efisiensi perawatan kesehatan, serta memperbaiki hasil kesehatan pasien. 3. Implementasi Keperawatan Implementasi keperawatan telenursing Topung melibatkan perawat telenursing yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam teknik Topung dan dapat memberikan instruksi dan panduan kepada pengguna telenursing dalam melakukan terapi tersebut secara mandiri kepada pasien di rumah. Implementasi


51 keperawatan telenursing Topung dapat membantu pasien yang tidak dapat mengakses terapi fisik secara langsung di klinik atau rumah sakit, atau bagi pasien yang lebih memilih terapi di rumah mereka sendiri. Namun, perawat telenursing harus memastikan bahwa mereka memiliki pengetahuan yang cukup tentang kondisi kesehatan pasien dan tidak ada kontraindikasi atau risiko yang terkait dengan Topung sebelum memberikan terapi ini. Adapun tahapan memastikan pengetahuan yang cukup terkait Topung meliputi: a. Edukasi Edukasi Topung dapat dilakukan melalui telepon atau video call dengan cara mengajarkan teknik Topung yang tepat, memberikan informasi tentang area terapi pada punggung, serta memberikan tips untuk melakukan Topung dengan benar dan aman. Berikut metode edukasi beserta tahapannya: Video call: Teknologi ini memungkinkan perawat untuk berkomunikasi secara langsung dengan pasien dan keluarga melalui layanan video call. Pasien, keluarga dan perawat dapat berinteraksi dengan menggunakan kamera dan mikrofon pada perangkat komunikasi yang digunakan. Adapun tahapan penyelenggaraan video call sebagai media edukasi dalam pelayanan telenursing Topung, mencakup beberapa langkah berikut: 1) Persiapan awal Perawat harus memastikan bahwa perangkat telekomunikasi yang digunakan berfungsi dengan


52 baik, seperti jaringan internet yang stabil, kamera dan mikrofon yang berfungsi dengan baik, dan aplikasi atau platform yang dapat digunakan untuk video call. 2) Penjelasan Perawat harus menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang tujuan dari edukasi Topung melalui telenursing dan juga mengenai teknik Topung yang akan dilakukan. Perawat juga harus memberikan informasi tentang keamanan dan privasi selama video call. 3) Demonstrasi Perawat dapat melakukan demonstrasi mengenai teknik Topung. Perawat dapat meminta keluarga untuk mengikuti gerakan Topung tersebut. 4) Praktik Setelah demonstrasi, perawat dapat meminta pasien dan keluarga untuk mencoba melakukan Topung. Perawat dapat memberikan instruksi dan bimbingan pada pasien dan keluarga selama praktik. 5) Evaluasi Setelah praktik, perawat dapat mengevaluasi kemampuan keluarga dalam melakukan Topung dan memberikan masukan atau saran untuk meningkatkan teknik Topung mereka. 6) Tindak lanjut Setelah video call, perawat dapat memberikan tindak lanjut melalui pesan teks atau panggilan telepon untuk memastikan bahwa keluarga dapat


53 melaksanakan teknik Topung dengan benar dan memantau perbaikan kondisi pasien. Gambar 5. 1 Telenursing (Video Call) Sumber Gambar: https://www.freepik.com Mobile learning: Pembelajaran Topung yang dilakukan melalui perangkat mobile seperti smartphone atau tabelt. Metode ini memungkinkan pasien dan keluarga untuk belajar di mana saja dan kapan saja. Mobile learning atau pembelajaran melalui perangkat mobile dapat menjadi metode yang efektif untuk mengajarkan edukasi Topung melalui telenursing. Berikut adalah tahapantahapan mobile learning dalam edukasi Topung melalui telenursing:


54 1) Perencanaan Tahap perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan pembelajaran, materi yang akan disampaikan, dan metode pembelajaran yang akan digunakan. Tahap ini, juga dilakukan analisis kebutuhan dan karakteristik peserta edukasi, serta penentuan platform atau aplikasi mobile learning yang akan digunakan. 2) Pengembangan konten Setelah tahap perencanaan, konten pembelajaran tentang Topung dibuat. Konten ini dapat berupa video, gambar, atau teks, yang kemudian akan diunggah ke dalam platform mobile learning yang sudah dipilih. 3) Pelaksanaan Tahap pelaksanaan, pasien dan keluarga belajar melalui akses mobile learning. Materi pembelajaran bisa diakses kapan saja dan di mana saja. Telenursing dapat digunakan sebagai sarana komunikasi antara pasien, keluarga dan perawat yang memberikan edukasi. 4) Evaluasi Tahap evaluasi dilakukan untuk mengukur hasil pembelajaran. Evaluasi bisa dilakukan dengan memberikan kuis, tugas, atau observasi langsung oleh perawat. 5) Pembaruan Setelah evaluasi dilakukan, perlu dilakukan pembaruan dan perbaikan pada materi dan metode


55 pembelajaran yang kurang efektif. Hal ini dilakukan agar pembelajaran lebih efektif dan bermanfaat. Dengan menerapkan tahapan-tahapan tersebut, pembelajaran Topung melalui telenursing dapat dilakukan secara efektif melalui mobile learning. Sebagai contoh dalam buku ini akan disajikan mobile learning “TOP PTM” dengan uraian sebagai berikut: Deskripsi produk layanan : TOP PTM adalah sebuah aplikasi mobile learning yang inovatif dan efektif untuk membantu pengguna dalam meningkatkan keterampilan dan pengetahuan Topung dengan mudah dan menyenangkan dengan tampilan menu sebagai berikut: Deteksi Potensi Masalah: Aplikasi TOP PTM hadir dengan fitur Deteksi Potensi Masalah yang dapat membantu pengguna dalam mengidentifikasi tanda-tanda potensi penyebab penyakit melalui gambaran punggung seseorang. Dengan layanan ini, pengguna akan diajak untuk mengenal lebih dalam tentang tanda-tanda yang perlu diwaspadai sebagai gejala awal suatu penyakit. Pengguna akan mendapatkan layanan yang mudah digunakan dan informatif untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini terhadap potensi penyakit. General Treatment: Melalui fitur General Treatment, pengguna diajak untuk menguasai teknik terapi general di area sekitar tulang belakang, panggul, dan bahu belikat kanan kiri, yang juga dikenal dengan istilah terapi sapu jagat Topung. Teknik terapi ini dilakukan dengan cara menstimulasi area sumbatan di punggung dengan cara memberikan teknik tekanan dan getaran jari. Dengan menguasai teknik terapi general di area sekitar tulang


56 belakang, panggul, dan bahu belikat kanan kiri, pengguna dapat membantu pasien/keluarga merasakan manfaat kesehatan. Topung PTM: Layanan ini bertujuan untuk membantu pengguna dalam mengatasi penyakit tidak menular (PTM) dengan teknik terapi yang tepat dan efektif. Pengguna akan diajarkan tentang teknik terapi penyakit PTM yang dengan metode Topung. Pengguna akan diajarkan tentang lokasi titik-titik penting pada tubuh yang berhubungan dengan organ dan sistem tubuh tertentu yang berkaitan dengan penyakit PTM. Dengan menguasai teknik terapi ini, pengguna dapat melakukan Topung sendiri atau pasien / keluarga. Teknik Topung ini diyakini dapat membantu memperbaiki sirkulasi darah, memperbaiki fungsi organ tubuh, serta meredakan rasa sakit dan stres yang seringkali menjadi penyebab penyakit PTM. Selain itu, pengguna juga akan diberikan informasi mengenai cara menghindari faktor risiko penyakit PTM seperti pola makan yang kurang sehat, kurangnya aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol, dan sebagainya. Hal ini bertujuan untuk membantu pengguna dalam mencegah terjadinya penyakit PTM dan menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh. Dengan begitu, pengguna dapat memiliki kesehatan yang optimal dan meningkatkan kualitas hidupnya Testimoni: Menu ini berisikan pengalaman seseorang yang telah menjalani Topung dan memberikan kesaksian mengenai pengalamannya tersebut. Beberapa testimoni mengungkapkan bahwa Topung telah membantu mereka dalam proses penyembuhan penyakit. Salah satu pengguna mengatakan bahwa teknik ini telah membantu


57 mengurangi rasa sakit di punggungnya yang selama ini sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain itu, pengguna lain juga merasakan perbaikan pada kondisi fisik mereka setelah menggunakan teknik Topung secara teratur. Testimoni membantu banyak pengguna dalam menumbuhkan semangat dan motivasi untuk mencapai derajat kesehatan optimal melalui ikhtiar Topung. Dengan penggunaan yang tepat dan teratur, teknik Topung dapat menjadi salah satu upaya penting dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan tubuh. Kuis: Menu ini digunakan sebagai sarana evaluasi diri pengguna terhadap kemampuannya dalam memahami materi yang telah dipelajari. Dengan demikian dapat mengetahui area yang perlu diperbaiki dan mengembangkan strategi yang lebih baik dalam belajar Topung. Biografi Penulis: Menu ini berisi ringkasan tentang kehidupan penulis yang menyajikan materi tentang teknik Topung dalam layanan telenursing. Pengguna juga diberikan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan penulis terkait Topung melalui video call, telepon, atau pesan teks.


58 Gambar 5. 2 Telenursing (Mobile Learning) b. Konsultasi Konsultasi kesehatan adalah proses di mana pasien dan keluarga meminta saran atau pendapat dari perawat terkait masalah kesehatan yang dialaminya. Tujuan dari konsultasi kesehatan adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat dan berguna tentang kondisi kesehatan seseorang, serta rekomendasi untuk tindakan yang harus diambil untuk memperbaiki kondisi tersebut. Konsultasi kesehatan dalam hal ini dilakukan melalui telepon atau layanan konsultasi online. Konsultasi kesehatan dapat membantu seseorang untuk memahami kondisi kesehatannya, mengetahui cara merawat diri sendiri, dan mencegah masalah kesehatan yang lebih serius.


59 Tahapan konsultasi kesehatan Topung melalui telenursing umumnya meliputi: 1. Registrasi dan identifikasi pasien: Pasien harus mendaftar untuk menggunakan layanan telenursing dan memberikan informasi pribadi, termasuk nama, alamat, nomor telepon, dan riwayat kesehatan. 2. Evaluasi masalah kesehatan: Perawat telenursing akan mengevaluasi masalah kesehatan pasien dan memberikan saran tentang cara mengatasi masalah tersebut. Perawat akan bertanya tentang gejala yang dirasakan, riwayat kesehatan, dan obat-obatan yang dikonsumsi pasien. 3. Penilaian kebutuhan medis: Jika diperlukan, perawat telenursing dapat melakukan penilaian kebutuhan medis pasien dan memberikan rekomendasi tentang tindakan perawatan atau pengobatan yang diperlukan. Dalam hal ini sebagai tindakan keperawatan komplementer yang diberikan adalah Topung. 4. Edukasi kesehatan: Perawat telenursing dapat memberikan edukasi kesehatan kepada pasien, seperti cara menjaga kesehatan, mengatasi masalah kesehatan tertentu, atau memberikan informasi tentang kondisi kesehatan tertentu. 5. Pemeriksaan follow-up: Setelah konsultasi telenursing, perawat akan melakukan follow-up untuk memastikan bahwa pasien dan keluarga merespon dengan baik terhadap perawatan dan pengobatan yang diberikan.


60 c. Monitoring Monitoring perkembangan pasien adalah proses pengumpulan dan evaluasi data secara berkala untuk memantau kondisi kesehatan pasien dan menilai kemajuan perawatan yang dilakukan. Tujuan dari monitoring perkembangan pasien adalah untuk memastikan bahwa pasien mendapatkan perawatan yang tepat dan efektif, serta untuk mengidentifikasi masalah kesehatan yang mungkin muncul selama perawatan. Monitoring perkembangan pasien setelah mendapatkan pelayanan telenursing Topung dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain: 1) Wawancara telepon atau video call Tanyakan bagaimana kondisi pasien setelah menerima pelayanan telenursing Topung, apakah ada perubahan atau perbaikan pada gejala yang dirasakan. Juga tanyakan apakah pasien mengalami efek samping setelah menerima Topung. 2) Pengukuran vital sign Lakukan pengukuran tekanan darah, detak jantung, dan suhu tubuh pasien secara berkala untuk memantau kondisi pasien secara objektif. Dalam hal ini perlu dipastikan bahwa tersedianya perangkat yang digunakan dapat mengukur vital sign secara akurat dan bahwa koneksi internet stabil. Selain itu, perlu juga untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan dapat dianalisis dan diinterpretasikan dengan tepat oleh perawat yang terkait.


61 3) Pemantauan jangka Panjang Setelah pasien menerima pelayanan telenursing Topung, pasien dapat diminta untuk memberikan umpan balik atau mengikuti program pemantauan jangka panjang untuk memastikan kondisi kesehatannya tetap terkendali. B. Evaluasi Hasil Penerapan Telenursing Topung Evaluasi hasil penerapan telenursing Topung dapat dilakukan dengan meminta umpan balik dari pasien setelah terapi dilakukan. Umpan balik dari pasien dapat memberikan informasi tentang efektivitas terapi, tingkat kepuasan pasien, dan masalah kesehatan lain yang mungkin perlu ditangani. Selain itu, evaluasi hasil penerapan telenursing Topung juga dapat dilakukan dengan membandingkan kondisi kesehatan pasien sebelum dan setelah terapi dilakukan. Hal ini dapat membantu perawat untuk mengevaluasi efektivitas terapi dan menentukan apakah terapi perlu dilanjutkan atau tidak. Sebagai sebuah layanan kesehatan, telenursing Topung memiliki beberapa indikator keberhasilan yang dapat diukur, antara lain: 1. Tingkat kepuasan pasien: Indikator ini dapat diukur melalui survei kepuasan pasien setelah menerima layanan telenursing Topung. Pertanyaan dalam survei ini dapat mencakup kecepatan respons layanan, kemudahan akses, kualitas konsultasi, serta efektivitas Topung dalam mengatasi keluhan pasien.


62 Kecepatan respons layanan, Kecepatan respons layanan merujuk pada seberapa cepat dan responsif layanan telenursing dalam menangani kebutuhan dan pertanyaan pengguna. Dalam konteks layanan pelanggan, kecepatan respons layanan telenursing mencakup waktu yang dibutuhkan pengguna untuk mendapatkan respon dari perawat penyedia layanan telenursing Topung terkait dengan pertanyaan, keluhan, atau permintaan pelanggan. Kecepatan respons yang baik menunjukkan komitmen perawat dalam memberikan layanan yang efisien dan memuaskan, serta menunjukkan bahwa perawat menghargai waktu dan kebutuhan pelanggan. Kecepatan respons layanan yang baik dapat meningkatkan kepercayaan dan loyalitas pengguna terhadap layanan telenursing yang ditawarkan. Kemudahan akses, Kemudahan akses layanan telenursing berarti bahwa masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan layanan kesehatan tanpa harus pergi ke fasilitas kesehatan fisik. Contohnya adalah kemudahan akses pengguna untuk menggunakan layanan telenursing Topung. Kualitas konsultasi, Kualitas konsultasi layanan telenursing Topung merujuk pada seberapa baik dan profesional layanan konsultasi yang diberikan oleh perawat melalui telepon atau media komunikasi lain terkait Topung. Kualitas konsultasi ini mencakup kemampuan perawat dalam memberikan informasi yang akurat dan jelas mengenai Topung, memberikan saran dan rekomendasi yang tepat, serta memberikan dukungan dan perhatian yang memadai kepada


63 pasien. Kualitas konsultasi yang baik dapat meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pasien terhadap layanan kesehatan yang diberikan dan membantu pasien mencapai kondisi kesehatan yang optimal. Efektivitas Topung, Efektivitas Topung untuk mengatasi keluhan pasien dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kekuatan tekanan dan frekuensi pengaplikasiannya, serta kondisi kesehatan dan kebutuhan pasien. Secara umum, seberapa besar manfaat yang dirasakan dalam mengurangi keluhan pasien akan tergantung pada kebenaran dan keteraturan pelaksanaan Topung. Total Penilaian Kepuasan: pada kolom ini, dilakukan penjumlahan nilai kepatuhan dari setiap kriteria untuk mendapatkan nilai total kepatuhan pasien dalam menjalankan Topung. Semakin tinggi nilai total kepatuhan, maka semakin tinggi pula tingkat kepatuhan pasien dalam menjalankan terapi tersebut. Berikut adalah kategori kepatuhan pasien menjalani Topung: Sangat Rendah (4-7), Rendah (8-11), Sedang (12-15), Tinggi (16-18), Sangat Tinggi (19-20). Tabel 5. 1 Formulir Tingkat Kepuasan Pasien Indikator Pertanyaan Skore Penilaian Ket 1 2 3 4 5 Kecepatan Respon Seberapa cepat anda mendapatkan respon dari layanan telenursing Topung? Sangat Cepat (5), Cepat (4), Cukup (3), Lambat (2), Sangat


64 Indikator Pertanyaan Skore Penilaian Ket 1 2 3 4 5 Lambat (1). Kemudahan Akses Seberapa mudah akses anda menggunakan layanan telenursing Topung? Sangat mudah (5), Mudah (4), Cukup (3), Sulit (2), Sangat Sulit (1) Kualitas Konsultasi Seberapa puas anda dengan kualitas yang diberikan oleh layanan telenursing Topung? Sangat Puas (5), Puas (4), Cukup (3), Tidak Puas (2), Sangat Tidak Puas (1). Efektifitas Topung Seberapa efektif Topung dalam mengatasi keluhan Anda? Sanga efekti (5), efektif (4), Cukup (3), Tidak efektif (2), Sangat tidak efektif (1) Total Penilaian Kepuasan 2. Jumlah pengguna layanan Indikator ini dapat diukur dari jumlah pasien yang menggunakan layanan telenursing Topung dalam jangka waktu tertentu. Semakin banyak pasien yang menggunakan layanan ini, semakin tinggi pula tingkat keberhasilannya.


65 3. Efisiensi biaya Indikator ini dapat diukur dengan melihat seberapa efisien biaya yang dikeluarkan untuk menyediakan layanan telenursing Topung. Semakin efisien biaya yang dikeluarkan, semakin tinggi pula tingkat keberhasilan layanan ini. 4. Kepatuhan Kepatuhan Topung dapat dijadikan indikator untuk mengukur efektivitas pelayanan telenursing Topung. Tingkat kepatuhan ini mencakup sejauh mana pasien mengikuti saran dan instruksi yang diberikan oleh ahli terapi atau praktisi kesehatan dalam menjalankan Topung, termasuk frekuensi dan durasi terapi yang direkomendasikan. Tabel 5. 2 Formulir Tingkat K epatuhan Pasien No Pertanyaan Skore Penilaian Ket 1 2 3 4 5 1 Pasien mengikuti frekuensi terapi 2 Pasien mengikuti durasi terapi 3 Pasien mengikuti saran ahli terapi 4 Pasien mencapai hasil yang diharapkan setelah menjalankan terapi. Total Kepatuhan


66 Pada kolom "Kriteria Kepatuhan", terdapat beberapa aspek yang perlu dinilai untuk menentukan tingkat kepatuhan pasien dalam menjalankan Topung. Adapun kriteria tersebut adalah: Pasien mengikuti frekuensi terapi: frekuensi dalam hal ini merupakan jadwal atau interval waktu di antara setiap sesi Topung yang diikuti oleh pasien. Pasien akan mendapatkan saran dari perawat mengenai berapa kali dalam seminggu atau sebulan ia perlu menjalani Topung, dan ia mengikuti jadwal tersebut untuk memaksimalkan manfaat terapi tersebut bagi kesehatannya pada kriteria ini, penilaian dilakukan dengan memeriksa sejauh mana pasien mengikuti frekuensi terapi yang direkomendasikan. Jika pasien telah melakukan terapi dengan frekuensi yang sesuai, maka nilai kepatuhannya dianggap tinggi. Pasien mengikuti durasi terapi: Durasi terapi adalah waktu yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu sesi Topung sekitar 30-45 menit. Penilaian ini dilakukan dengan memeriksa sejauh mana pasien mengikuti durasi terapi yang direkomendasikan. Jika pasien telah melakukan terapi dengan durasi yang sesuai, maka nilai kepatuhannya dianggap tinggi. Pasien mengikuti saran perawat: Saran atau rekomendasi yang diberikan oleh perawat kepada pasien atau keluarga pasien terkait perawatan dan pengobatan yang diperlukan. Penilaian dilakukan dengan memeriksa sejauh mana pasien mengikuti saran dan instruksi yang diberikan oleh perawat dalam menjalankan Topung. Jika pasien telah mengikuti saran dengan baik, maka nilai kepatuhannya dianggap tinggi.


67 Pasien mencapai hasil yang diharapkan setelah menjalankan terapi: Hasil yang diharapkan disini merupakan perubahan positif atau perbaikan kondisi kesehatan pasien yang diharapkan tercapai setelah menjalani serangkaian sesi Topung. Penilaian dilakukan dengan memeriksa sejauh mana pasien mencapai hasil yang diharapkan setelah menjalankan terapi. Jika pasien telah mencapai hasil yang diharapkan, maka nilai kepatuhannya dianggap tinggi. Total Kepatuhan: pada kolom ini, dilakukan penjumlahan nilai kepatuhan dari setiap kriteria untuk mendapatkan nilai total kepatuhan pasien dalam menjalankan Topung. Semakin tinggi nilai total kepatuhan, maka semakin tinggi pula tingkat kepatuhan pasien dalam menjalankan terapi tersebut. Berikut adalah kategori kepatuhan pasien menjalani Topung: Sangat Rendah (4-7), Rendah (8-11), Sedang (12-15), Tinggi (16-18), Sangat Tinggi (19-20). C. Peningkatan Kualitas Pelayanan Peningkatan kualitas layanan kesehatan adalah upaya yang dilakukan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang disediakan oleh penyedia layanan kesehatan termasuk pelayanan telenursing Topung. Upaya ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti memperhatikan umpan balik dan saran pengguna jasa telenursing, memfokuskan diri pada indikator mutu yang telah ditetapkan, melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala, meningkatkan komunikasi efektif antara pengguna jasa telenursing dan perawat, serta meningkatkan akses dan fasilitas kesehatan. Melalui


68 peningkatan kualitas layanan kesehatan, diharapkan dapat meningkatkan kepuasan pengguna jasa telenursing, meminimalkan risiko kesalahan, dan meningkatkan efektivitas perawatan. Hal ini sangat penting untuk menjamin kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Perencanaan peningkatan kualitas pelayanan telenursing topung dapat disusun dengan pertimbangan sebagai berikut : survei kepuasan pasien, analisis data survei, perbaikan teknik terapi dan validitas medis, pelatihan perawat dan komunikasi pasien, pengembangan teknologi dan platform, monitoring dan umpan balik berkelanjutan, inovasi dan ekspansi layanan dan evaluasi hasil dan tujuan terpenuhi. Tabel 5. 3 Perencanaan Peningkatan Kualitas Pelayanan Telenursing Topung. Langkah Uraian Survei kepuasan pasien. Melakukan survei kepuasan pasien, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan layanan telenursing yang diterima pasien. Analisis data survei. Melakukan analisis data survei menjadi informasi yang bermakna. Perbaikan teknik terapi dan validitas. Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk menilai teknik terapi dan validitas pengaruh totok punggung untuk kesehatan melalui kegiatan penelitian ilmiah. Pelatihan perawat dan komunikasi pasien Melakukan Upaya peningkatan kompetensi perawat dalam terapi dan teknik komunikasi terapeutik.


69 Langkah Uraian Pengembangan teknologi dan platform Meninjau dan memperbarui teknologi serta infrastruktur yang digunakan dalam pelayanan telenursing totok punggung. Monitoring dan mmpan balik berkelanjutan Melakukan monitoring secara berkelanjutan baik kinerja perawat maupun umpan balik pasien dan perawat. Inovasi dan ekspansi layanan Melakukan eksplorasi inovasi baru berdasarkan tren dan kebutuhan sesuai dengan pangsa pasar. Evaluasi hasil dan tujuan terpenuhi Melakukan evaluasi menyeluruh atas hasil peningkatan yang telah diimplementasikan dan memastikan tujuan peningkatan pelayanan tercapai. D. Studi Kasus 1. Studi Kasus 1 : Penerapan Telenursing Totok Punggung pada Pasien Hipertensi melalui Video Call Sebuah keluarga mempunyai seorang anggota keluarga yang mempunyai karakteristik sebagai berikut : berjenis kelamin laki-laki, berusia 56 tahun. Mempunyai Riwayat penyakit hipertensi 170/100 mmHg berdasarkan pemeriksaan di Puskesmas 3 jam yang lalu. Keluhan saat ini pusing hilang timbul, serta leher yang kaku. Menggunakan video call keluarga terhubung dengan seorang perawat yang menyediakan layanan telenursing totok punggung. Melalui layar perangkat, perawat itu tersenyum ramah penuh kehangatan dan


70 empati. "Selamat pagi, Bapak,…Saya perawat Ahmad," sapanya lembut. "Deangan bapak siapa ini,…. Apa yang bisa saya bantu hari ini?" Setelah berbicara tentang keluhan-keluhan pasien, perawat menjelaskan tentang konsep telenursing totok punggung. Secara perlahan, ia menggambarkan teknik yang akan digunakan untuk mengurangi rasa nyeri dan kekakuan yang dirasakan oleh pasien. Keluarga menempatkan ponselnya dengan cermat, memastikan pandangan kamera menangkap punggung anggota keluarga yang sakit dengan baik. Perawat melalui layar dengan sabar mengarahkan keluarga, memastikan kondisi punggung dengan benar melalui pengamatan dan pemeriksaan raba. Hasil pemeriksaan inspeksi punggung dan perabaan punggung oleh keluarga dipandu perawat melalui video call pun menunjukkan penebalan kulit sepanjang tepi bahu belikat kanan-kiri serat tengkuk, rincian hasil pemeriksaan tergambar dalam tabel 5.4. Berdasarkan hasil pemeriksaan dilakukan proses terapi totok punggung. Saat proses terapi dimulai, perawat menjelaskan dengan detail bagaimana setiap sentuhan lembut yang diberikan pada punggung pasien memiliki tujuan tertentu. Dalam proses terapi berlangsung, pasien merasakan sentuhan-sentuhan yang menenangkan. Sesaat sebelum mereka mengakhiri sesi, perawat memberikan edukasi, agar keluarga secara teratur melakukan hal yang sama agar kesehatan pasien membaik, dan tentunya perawat meyakinkan kembali kepada keluarga dan pasien


71 bahwa kesembuhan adalah milik Allah SWT maka jangan lupa untuk selalu berdoa. Tabel 5. 4 Hasil Pemeriksaan Punggung Studi Kasus 1 No. Tehnik Pemeriksaan Hasil 1. Wawancara a. Terdapat keluhan kepala pusing hilang timbul, serta leher yang kaku. b. Riwayat pemeriksaan tekanan darah 170/100 mmHg 2. Inspeksi Punggung (perawat bersama keluarga) a. Terdapat gundukan di kulit tepi tulang bahu belikat kanan kiri, dan tengkuk. 3. Palpasi Punggung (keluarga dengan arahan perawat) a. Terasa grenjelan dan gundukan di kulit tepi tulang bahu belikat kanan kiri, dan tengkuk. b. Terdapat nyeri tekan pada area bahu belikat kanan kiri. Kesimpulan : Terdapat area yang mengalami akumulasi perlemakan (tengkuk, bahu belikat kanan-kiri). Saran Terapi : Lakukan terapi totok punggung dengan ketentuan sebagai berikut : General treatment sebanyak 3 kali diteruskan dengan Fokusing area tengkuk, bahu belikat kanan kiri.


72 2. Studi Kasus 2 Penerapan Telenursing Totok Punggung pada Pasien Inkontinensia Urine melalui Video Call Sebuah keluarga mempunyai kakek berusia 65 tahun yang sedang mengalami masalah Kesehatan, dimana keluhan utama dari kakek tersebut adalah tidak mampu mengontrol kencing saat keinginan buang air kecil muncul. Akibatnya sang kakek sering mengalami ngompol terkadang di tempat tidur, dilantai sepanjang jalan dari kamar menuju kamar mandi. Kepala keluarga tersebut mempunyai inisiatif memanfaatkan pelayanan telenursing totok punggung. "Selamat pagi, saya perawat Adi disini," sapa petugas telenursing. "Saya di sini bertugas untuk memberikan bantuan melalui pelayanan telenursing totok punggung." Setelah mendengarkan keluhan pasien yang disampaiakan keluarga. Perawat beserta keluarga melakukan pemeriksaan punggung pasien dengan hasil terlihat pada tabel 5.5. Setelah mengetahui hasil pemeriksaan punggung melalui video call, perawat dengan bijaksana menjelaskan bagaimana totok punggung dapat membantu mengatasi masalah ini. Dia menggambarkan proses dengan detail dan menyampaikan bahwa seluruh keluarga dapat terlibat dalam mendukung perawatan pasien. Perawat dan keluarga bersama-sama mendampingi pasien dalam mengatur posisi yang nyaman. Perawat menjelaskan teknik totok punggung yang harus diterapkan, sementara keluarga


73 melakukan terapi totok punggung berdasarkan panduan perawat melalui video call dan memastikan setiap sentuhan dilakukan dengan benar. Sebelum mereka mengakhiri sesi, perawat menyampaikan edukasi, agar keluarga secara teratur melakukan hal yang sama agar kesehatan pasien membaik, dan jangan lupa untuk selalu berdoa memohon kesembuhan kepada Allah SWT. Tabel 5. 5 Hasil Pemeriksaan Punggung Studi Kasus 2 No. Tehnik Pemeriksaan Hasil 1. Wawancara a. Keluhan utama: Tidak mampu mengontrol /menahan kencing saat keinginan buang air kecil muncul 2. Inspeksi Punggung (perawat bersama keluarga) b. Terlihat kulit cekung di area Lumbal 5, penebalan kulit di area Thorak 12 – Lumbal 1. 3. Palpasi Punggung (keluarga dengan arahan perawat) a. Terasa gundukan di kulit area Thorak 12 – Lumbal 1 dan cekung di area Lumbal 5. b. Terdapat nyeri tekan pada area Lumbal 5. Kesimpulan : Terdapat area yang mengalami akumulasi perlemakan (thorak 12 – Lumbal 1 dan lumbal 5).


74 No. Tehnik Pemeriksaan Hasil Saran Terapi : Lakukan terapi totok punggung dengan ketentuan sebagai berikut : General treatment sebanyak 3 kali diteruskan dengan Fokusing area thorak 12 – Lumbal 1 dan lumbal 5. 3. Studi Kasus 3 Penerapan Telenursing Totok Punggung pada Pasien Nafas Terasa Berat melalui Video Call Sebuah keluarga mempunyai seorang lansia lakilaki berusia 66 tahun mempunyai keluhan kesehatan meliputi nafas terasa berat, nafsu makan menurun dan susah tidur. keluarga tersebut mempunyai inisiatif memanfaatkan pelayanan telenursing totok punggung. Panggilan video memperlihatkan perawat yang penuh perhatian ke dalam layar, wajahnya terlihat penuh empati. "Selamat pagi, dengan saya perawat Adi disini" sapanya dengan lembut. "Saya di sini siap membantu melalui pelayanan telenursing totok punggung." Setelah mendengarkan keluhan lansia yang disampaikan keluarga dan mendiskusikan gejalanya, perawat merasa bahwa pelayanan telenursing totok punggung dapat menjadi cara untuk membantu mengurangi keluhan yang dialami. Dengan ramah, perawat menjelaskan teknik totok punggung yang


75 akan diterapkan dan bagaimana hal itu dapat membantu meredakan keluhan. Bersama keluarga, perawat dengan sabar melakukan pemeriksaan punggung pasien. Perawat memberikan edukasi, apa saja yang harus diperhatikan pada punggung agar bisa mengenali permasalahan kesehatan pasien dan memastikan setiap gerakan pemeriksaan dengan totok punggung dilakukan dengan benar. Adapun hasil pemeriksaan sebagai berikut pada tabel 5.6. Tabel 5. 6 Hasil Pemeriksaan Punggung Studi Kasus 3 No. Tehnik Pemeriksaan Hasil 1. Wawancara a. Keluhan utama: Nafas terasa berat, nafsu makan menurun dan susah tidur 2. Inspeksi Punggung (perawat bersama keluarga) a. Terlihat penebalan kulit di area thorak 2-4 dan thorak 8-9. 3. Palpasi Punggung (keluarga dengan arahan perawat) c. Terasa gundukan di kulit area Thorak 2-4 dan Thorak 8-9. d. Terdapat nyeri tekan pada area thorak 8-9. Kesimpulan : Terdapat area yang mengalami akumulasi perlemakan (Thorak 2-4 dan Thorak 8-9). Saran Terapi :


76 Lakukan terapi totok punggung dengan ketentuan sebagai berikut : General treatment sebanyak 3 kali diteruskan dengan Fokusing area Thorak 2-4 dan Thorak 8-9. 4. Studi Kasus 4 Penerapan Telenursing Totok Punggung pada Pasien Low Back Pain Sebuah keluarga mempunyai seorang anggota keluarga laki-laki berusia 45 tahun mempunyai keluhan kesehatan meliputi nyeri tulang belakang bawah. Keluarga tersebut mempunyai inisiatif memanfaatkan pelayanan telenursing totok punggung mengingat anggota keluarga tersebut tidak mampu dibawa ke pelayanan Kesehatan secara langsung. "Selamat pagi, dengan saya Adi disini" sapanya dengan lembut. "Saya di sini menginginkan pelayanan telenursing totok punggung untuk anggota keluarga sayaa yang sedang mengalami nyeri tulang belakang bawah". Setelah mendengarkan keluhan yang disampaikan keluarga dan mendiskusikan gejalanya, perawat merasa bahwa pelayanan telenursing totok punggung dapat menjadi solusi dalam mengurangi keluhan tersebut. Dengan ramah, perawat menjelaskan teknik totok punggung yang akan diterapkan dan bagaimana hal itu dapat membantu meredakan keluhan. Bersama keluarga, perawat dengan sabar melakukan pemeriksaan punggung pasien. Perawat mengajarkan bagaimana cara deteksi / pemeriksaan masalah dan cara melakukan terapi totok punggung.


77 Setelah keluarga dengan mudah menguasai cara deteksi / pemeriksaan, Bersama keluarga perawat menyimpulkan hasilnya. Berdasarkan wawancara, inspeksi dan palpasi yang dilakukan secara bersama dapat ditentukan hasil sebagai berikut seperti dalam tabel 5.7 Tabel 5. 7 Hasil Pemeriksaan Punggung Studi Kasus 4 No. Tehnik Pemeriksaan Hasil 1. Wawancara a. Keluhan utama: Nyeri tulang belakang bagian bawah. 2. Inspeksi Punggung (perawat bersama keluarga) a. Terlihat permukaan kulit cekung di area lumbal 4- 5 sebelah kiri. 3. Palpasi Punggung (keluarga dengan arahan perawat) a. Terasa cekung di kulit area lumbal 4-5 kiri. b. Terdapat nyeri tekan pada area lumbal 4-5 kiri. Kesimpulan : Terdapat area yang mengalami akumulasi perlemakan (Lumbal 4-5 sisi kiri). Saran Terapi : Lakukan terapi totok punggung dengan ketentuan sebagai berikut : General treatment sebanyak 3 kali diteruskan dengan Fokusing area Lumbal 4-5 kiri.


78 5. Studi Kasus 5 Penerapan Telenursing Totok Punggung pada Pasien Nyeri Lambung Seorang laki-laki berusia 45 tahun mempunyai keluhan kesehatan nyeri perut, yang hilang timbul sejak 3 bulan yang lalu. Dia ingin mencoba terapi totok punggung untuk membantu mengatasi masalah kesehatannya. Namun jarak tempat tinggal dengan tempat layanan totok punggung jauh, maka beliau berinisiatif memanafaatkan pelayanan telenursing. Panggilan video memperlihatkan perawat yang penuh perhatian ke dalam layar, wajahnya terlihat penuh empati. "Selamat pagi, dengan saya perawat Adi disini" sapanya dengan lembut. "Saya di sini siap membantu melalui pelayanan telenursing totok punggung." Setelah mendengarkan keluhan laki-laki tersebut, perawat menjelasakan tentang layanan telenursing dimana layanan ini harus melibatkan keluarga yang lain. Laki-laki tersebut segera melibatkan anggota keluarganya. Dengan ramah, perawat menjelaskan teknik totok punggung yang akan diterapkan dan bagaimana hal itu dapat membantu meredakan keluhan. Bersama keluarga, perawat melakukan evaluasi pada bagian punggung pasien menggunakan pendekatan totok punggung. Perawat memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang perlu diawasi saat menjalankan proses pemeriksaan punggung, agar identifikasi masalah kesehatan pasien akurat dan


79 memastikan bahwa setiap langkah pemeriksaan totok punggung dilakukan secara tepat. Adapun hasil pemeriksaan sebagai berikut pada tabel 5.8. Tabel 5. 8 Hasil Pemeriksaan Punggung Studi Kasus 5 No. Tehnik Pemeriksaan Hasil 1. Wawancara a. Keluhan utama: Nyeri perut, yang hilang timbul sejak 3 bulan yang lalu. 2. Inspeksi Punggung (perawat bersama keluarga) a. Terlihat penebalan kulit di area thorak 8-9 dan lumbal 3-4. 3. Palpasi Punggung (keluarga dengan arahan perawat) a. Terasa gundukan di kulit area thorak 8-9 dan lumbal 3-4. b. Terdapat nyeri tekan pada area thorak 8-9. Kesimpulan : Terdapat area yang mengalami akumulasi perlemakan (thorak 8-9 dan lumbal 3-4). Saran Terapi : Lakukan terapi totok punggung dengan ketentuan sebagai berikut : General treatment sebanyak 3 kali diteruskan dengan Fokusing area thorak 8-9 dan lumbal 3-4.


80 E. Testimoni Pengguna Telenursing 1. Testimoni 1 Seorang pria berhasil memperoleh pengalaman yang bermanfaat setelah belajar teknik Topung melalui telenursing. Dengan tekad yang kuat, ia mengikuti seluruh rangkaian proses pembelajaran dan berhasil menguasai dan mengaplikasikan teknik tersebut pada keluarga dan temannya yang mengalami masalah kesehatan. Dan hasilnya sangat memuaskan, pasien serta keluarga yang sakit merasakan manfaat kesehatan yang luar biasa. Diketahui, teknik Topung melalui telenursing ini sangat efektif dalam meningkatkan kualitas hidup mereka. Pengalaman yang diperoleh pria tersebut sangat memotivasi dirinya untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan Topung melalui telenursing demi membantu orang-orang yang membutuhkan. Video 5. 1 Video Testimoni 1


81 2. Testimoni 2 Seorang pria memiliki pengalaman belajar totok punggung melalui telenursing. Melalui telenursing, pria tersebut berhasil mempelajari teknik totok punggung dengan mudah. Penguasaan teknik totok punggung selanjutnya diaplikasi pada keluarga dan orang-orang terdekat. Setelah dapat mengaplikasikan teknik totok punggung, pria tersebut merasa sangat senang bisa membantu keluarga, teman, dan kerabat dalam mengatasi masalah kesehatan mereka. Tidak hanya itu pria tersebut bersemangat untuk membagikan pengetahuan ini kepada lebih banyak orang dan merasa bangga bisa berkontribusi pada kesejahteraan orangorang di sekitarnya. Video 5. 2 Video Testimoni 2


82 BAB 6 TANTANGAN TELENURSING TOPUNG A. Kendala Penerapan Telenursing Topung Telenursing Topung merupakan praktik keperawatan jarak jauh yang memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi untuk memberikan perawatan kesehatan kepada pasien khususnya terapi keperawatan komplementer Topung. Meskipun memiliki banyak manfaat, penerapan telenursing Topung juga dapat menghadapi beberapa kendala. Berikut uraian kendala yang dihadapi dalam penerapan telenursing Topung. Kebijakan Pemerintah: Pemerintah Indonesia saat ini belum memiliki kebijakan khusus tentang telenursing. Telenursing adalah praktik pemberian layanan kesehatan jarak jauh yang melibatkan perawat dan pasien melalui teknologi informasi dan komunikasi, seperti telepon, video konferensi, atau aplikasi kesehatan. Namun, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan beberapa kebijakan terkait dengan penggunaan teknologi di bidang kesehatan, seperti Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pelayanan Kesehatan Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi, yang memberikan panduan dan standar bagi penyedia layanan kesehatan dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Selain itu, dalam pandemi COVID-19, pemerintah Indonesia telah memperluas penggunaan teknologi dalam pelayanan kesehatan, termasuk telenursing. Namun demikian, perlu diingat bahwa telenursing harus dilakukan dengan


83 memperhatikan standar etika dan keamanan data pribadi pasien. Keterbatasan teknologi: Penerapan telenursing membutuhkan akses yang stabil dan cepat ke teknologi seperti internet, telepon, dan perangkat komunikasi lainnya. Namun, di beberapa daerah masih sulit untuk menjangkau akses teknologi tersebut, sehingga hal ini dapat menghambat penggunaan telenursing. Ketidakstabilan jaringan internet bisa berdampak pada kualitas sinyal yang diterima oleh perawat dan pasien saat melakukan komunikasi melalui video conference atau aplikasi lainnya. Gangguan pada jaringan internet dapat mengakibatkan lagging, buffering, atau bahkan terputusnya sinyal. Hal ini dapat menghambat perawat dalam memberikan instruksi dan bimbingan secara langsung pada pasien saat melakukan Topung. Keterampilan teknologi: Perawat perlu memiliki keterampilan teknologi yang cukup untuk menggunakan alat dan platform telenursing dengan efektif. Namun, tidak semua perawat memiliki tingkat keterampilan teknologi yang sama, dan pelatihan tambahan mungkin diperlukan untuk memastikan penggunaan yang efektif dan aman. Keamanan dan privasi: Ada beberapa masalah terkait keamanan dan privasi yang mungkin muncul dalam penggunaan telenursing. Pasien mungkin khawatir bahwa data medis mereka tidak aman atau dapat diakses oleh pihak yang tidak berwenang. Keterbatasan interaksi interpersonal: Interaksi antara perawat dan pasien sangat penting untuk membangun kepercayaan dan hubungan yang baik. Namun, dalam telenursing, interaksi interpersonal dapat


84 terbatas oleh teknologi, seperti kurangnya kontak mata dan bahasa tubuh. Hal ini dapat menghambat perawatan yang efektif dan empatik. Biaya: Penerapan telenursing mungkin memerlukan biaya tambahan, seperti biaya teknologi, pelatihan, dan pemeliharaan. Oleh karena itu, dapat menjadi tantangan untuk mengimplementasikan telenursing secara luas pada skala nasional atau global. Tingkat Pemahaman: Salah satu tantangan utama dalam praktik telenursing adalah tingkat pemahaman pasien dan keluarga terhadap informasi kesehatan yang diberikan oleh perawat. Karena pasien dan keluarga tidak berada di lingkungan klinis, mereka mungkin tidak memiliki pengetahuan kesehatan yang cukup untuk memahami informasi yang diberikan oleh perawat. B. Solusi Telenursing dapat menjadi solusi dalam memberikan pelayanan kesehatan yang aman bagi pasien, terutama di masa pandemi COVID-19. Namun, dalam penyelenggaraan telenursing harus memperhatikan aspek legal dan etik. Peraturan tentang telenursing di Indonesia belum diatur dengan jelas, sehingga PPNI sebagai organisasi profesi harus segera membuat aturan tentang praktek telenursing, sehingga pelaksanaannya memiliki payung hukum yang kuat, dapat berjalan optimal, pasien dapat berkonsultasi dengan aman, dan terwujudnya peningkatan derajat kesehatan. Infrastruktur yang memadai juga menjadi faktor penting dalam penerapan telenursing, sehingga pasien dapat mengakses layanan dengan mudah. Pemerintah


85 dapat memperkuat infrastruktur teknologi, seperti jaringan internet dan akses ke teknologi, untuk memfasilitasi layanan telenursing yang lebih mudah dan dapat diakses oleh masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, pelatihan dan edukasi bagi perawat dan pasien tentang penggunaan teknologi telenursing juga perlu dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pelayanan. Memberikan edukasi dan kesadaran kepada pasien dan staf telenursing tentang pentingnya menjaga keamanan dan privasi data medis. Edukasi ini harus mencakup bagaimana menjaga password yang kuat, cara menghindari serangan phishing dan malware, dan cara melaporkan kejadian keamanan jika terjadi. Pastikan bahwa data medis pasien disimpan secara fisik dengan aman. Kunci ganda, kode akses, dan pengawasan secara ketat terhadap ruangan server dan ruangan arsip akan membantu memastikan keamanan data medis pasien. Pastikan bahwa hanya orang yang berwenang yang memiliki akses ke data medis pasien. Identifikasi pengguna dan otorisasi akses yang diberikan dapat membantu memastikan bahwa data medis pasien hanya dapat diakses oleh orang-orang yang berwenang. Perawat yang bekerja dalam telenursing dapat diberikan edukasi tentang tata cara komunikasi melalui teknologi mencakup strategi membangun hubungan yang baik dengan pasien, penggunaan bahasa yang tepat dan mudah dipahami oleh pasien, serta cara mengatasi keterbatasan teknologi dalam komunikasi. Peningkatan keterlibatan pasien lebih aktif dalam perawatan. Ini dapat meningkatkan interaksi interpersonal dengan perawat,


86 karena pasien lebih memahami kondisi kesehatan mereka sendiri dan dapat memberikan informasi yang lebih baik kepada perawat tentang kondisinya. Pemerintah atau organisasi kesehatan dapat meningkatkan investasi pada teknologi telenursing terkini dan memungkinkan akses pasien yang lebih mudah dan murah, memperluas cakupan asuransi kesehatan yang mencakup layanan telenursing serta peningkatan efisiensi dalam penerapan teknologi telenursing, biaya perawatan dan pemeliharaan dapat dikurangi. Dengan solusi-solusi ini, penerapan telenursing dapat menjadi lebih terjangkau dan lebih luas diakses bagi masyarakat, sehingga memberikan manfaat yang lebih besar dalam memenuhi kebutuhan kesehatan pasien secara global. Dalam berkomunikasi dengan pasien dan keluarga, penting menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan teknologi yang tepat. Edukasi bisa berupa informasi tambahan atau referensi bacaan. Pesan singkat atau tautan ke sumber daya tambahan dapat membantu pasien dan keluarga memahami kondisi kesehatan mereka.


87 BAB 7 ETIKA PELAYANAN TELENURSING TOPUNG A. Etika Pelayanan Etika pelayanan telenursing Topung mengacu pada panduan etika atau nilai-nilai moral yang harus diperhatikan oleh perawat yang memberikan layanan Topung melalui media telekomunikasi, seperti telepon atau video conference. Beberapa prinsip etika yang harus diperhatikan dalam pelayanan telenursing Topung meliputi: 1. Kerahasiaan: Menjaga kerahasiaan informasi pasien yang diberikan oleh pasien selama konsultasi. Terdapat beberapa langkah dalam menjaga kerahasiaan data pasien, salah satunya adalah menetapkan standart etika professional. Standar etika profesional yang ketat terkait dengan kerahasiaan informasi pasien, dan perawat harus memastikan bahwa informasi pasien tidak dibagikan dengan pihak lain tanpa persetujuan pasien. Selain itu verifikasi identitas pasien perlu dilakukan untuk memastikan bahwa perawat sedang berhadapan dengan pasien yang benar. Mengingat disaat terapi berlangsung bagian punggung pasien terbuka maka sebaiknya selama terapi dilakukan menghindari tempat yang terbuka gunakan tempat yang dapat melindungi privasi pasien.


88 2. Kompetensi: Perawat harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup untuk memberikan layanan telenursing yang tepat dan berkualitas kepada pasien. Pengetahuan kesehatan yang diperoleh melalui pendidikan formal ditunjukkan dengan ijazah pendidikan formal. Penguasaan kemampuan pemberi pelayanan totok punggung yang ditunjukkan dengan sertifikat pelatihan totok punggung yang dimiliki perawat. Selain dua hal tersebut juga diperlukan beberapa kemampuan diantaranya pemahaman teknologi, komunikasi dan lain-lain. 3. Integritas: Perawat harus bertindak dengan integritas dan jujur dalam memberikan layanan telenursing. Perawat harus menghindari konflik kepentingan atau benturan etis dalam menjalankan tugasnya. Sebagai contoh : Seorang perawat telenursing yang ahli dalam terapi totok punggung sedang memberikan pelayanan terapi totok punggung pada seorang pasien untuk mengatasi masalah nyeri lambung yang dialami pasien. Meskipun perawat tersebut memiliki kesempatan untuk mempromosikan produk atau alat tertentu yang mungkin memberikan keuntungan finansial, ia tetap fokus pada integritasnya sebagai perawat Kesehatan pemberi layanan Terapi Totok Punggung secara profesional, tanpa mempengaruhi pasien untuk membeli produk tertentu. Dalam hal ini, perawat menjunjung tinggi integritas dengan mengutamakan kepentingan kesehatan pasien dan menghindari


Click to View FlipBook Version