BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
Penulis :
Dr. Meidiana Dwidiyanti,S.Kp.,M.Sc
Ns. Reza Indra Wiguna, S.Kep.,M.Kep
Ns. Hasanah Eka Wahyuningsih, S.Kep
Kontributor :
Ns. Akhmad Yanuar, S.Kep.,M.Kep
Ns. Ita Apriliyani, S.Kep.,M.Kep
Ns. Prita Adisty, S.Kep.,M.Kep
Ns. Arni Nur Rahmawati, S.Kep.,M.Kep
Ns. Heru Ginanjar Triyono, S.Kep.,M.Kep
Ns. Purnomo, S.Kep.,M.Kep
Mindfulness untuk Self-Care
Editor
Meidiana Dwidiyanti, Reza Indra Wiguna, Hasanah Eka Wahyu N
Kontributor
Anggorowati
Sri Padma Sari
Muhammad Muin
Diyan Yuli Wijayanti
Rita Hadi Widyastuti
Akhmad Yanuar Fahmi
Ita Apriliyani
Prita Adisty
Arni Nur Rahmawati
Siti Munawaroh
Heru Ginanjar Triyono
Purnomo
Hak Cipta @2018, UNDIP Press
Semarang
Telp :
Email :
Hak cipta dilindungi Undang-Undang, dilarang memperbanyak,
menyalin, merekam sebagian atau seluruh bagian buku ini dalam
bahan atau bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.
Mindfulness untuk Self-Care/ Meidiana Dwidiyanti; Reza
Indra Wiguna, Hasanah Eka Wahyu Ningsih. –Ed 1 -cet. 1 –
Semarang : UNDIP Press, 2018.
Jumlah halaman : hal.
Ketebalan buku :
ISBN :
iii
KATA PENGANTAR
Mindfulness, sebagai salah satu tindakan keperawatan
holistik non-farmakologi, telah banyak digunakan oleh
praktisi, perawat dan peneliti untuk mengatasi berbagai
macam masalah keperawatan, dibarengi dengan teori-teori
keperawatan yang memiliki tujuan disesuaikan dengan
masalah atau fenomena yang terjadi pada tiap individu yang
menjadi klien.
Buku Mindfulness untuk Self-Care ini merupakan
pengalaman-pengalaman penulis dan para kontributor
sebagai perawat dan peneliti yang mengembangkan
mindfulness untuk self-care pada berbagai responden
penelitian. Buku ini juga merupakan upaya penulis untuk
mensosialisasikan mindfulness untuk self-care pada berbagai
kalangan profesi maupun masyarakat, sekiranya akan
terdapat suatu pengakuan professional bahwa “mindfulness
untuk self-care merupakan salah satu framework
keperawatan yang dapat digunakan secara global”.
Penulis mengucapkan terimakasih pada pihak-pihak
yang telah ikut serta membantu dalam penyusunan buku ini
dan juga dalam penerapan intervensi pada penelitian
mindfulness untuk self-care.
iv
Kami menyadari masih terdapat kekurangan dalam
buku ini, untuk itu diharapkan kritik dan saran untuk
penyempurnaan buku ini. Semoga buku ini dapat
memberikan manfaat bagi perawat, mahasiswa, tenaga
kesehatan dan semua pihak yang membutuhkan.
Semarang, Oktober 2018
Penulis
v
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................. iv
DAFTAR ISI .............................................................................. v
PENDAHULUAN ...................................................................... vii
BAB I – Konsep Mindfulness Untuk Target Sehat
Mandiri......................................................................... 1
1.1 Framework Mindfulness Untuk Target Sehat
Mandiri........................................................................ 2
1.2 Pengertian Mindfulness untuk Target Sehat
Mandiri........................................................................ 41
1.3 Tujuan Mindfulness Target Sehat Mandiri................. 42
1.4 Komponen Mindfulness Target Sehat Mandiri .......... 44
1.5 Mengukur Tingkat Kemandirian Pasien ..................... 45
BAB II –Intervensi yang Dikembangkan untuk Target Sehat
Mandiri......................................................................... 48
2.1 Supportive Educative .................................................. 48
2.2 Peer-Support Group.................................................... 50
2.3 Self-Help Group........................................................... 51
v
BAB III – Masalah Kelompok dan Target Sehat
Mandiri......................................................................... 53
3.1 Kelompok Remaja dan Target Sehat Mandiri ............ 53
3.2 Kelompok Mahasiswa dan Target Sehat Mandiri ...... 56
3.3 Kelompok Ibu Bekerja dan Target Sehat Mandiri...... 60
3.4 Kelompok Ibu Hamil dan Target Sehat Mandiri......... 63
3.5 Kelompok Caregiver dan Target Sehat Mandiri......... 64
BAB IV –Hasil Penelitian......................................................... 66
4.1 Hasil Penelitian Kelompok Remaja............................. 66
4.2 Hasil Penelitian Kelompok Mahasiswa....................... 75
4.3 Hasil Penelitian Kelompok Ibu Bekerja ...................... 85
4.4 Hasil Penelitian Kelompok Ibu Hamil ......................... 93
4.5 Hasil Penelitian Kelompok Caregiver ......................... 99
BAB V – Rencana Penelitian Tindak Lanjut ........................... 104
5.1 Framework Nursing Role............................................ 104
DAFTAR PUSTAKA
vi
PENDAHULUAN
Mindfulness merupakan latihan yang dilakukan oleh
seseorang untuk mampu menyadari apa yang sedang terjadi
saat ini sehingga mampu membuat tujuan serta fokus dalam
menyelesaikan masalah yang dihadapi melalui perubahan
perilaku untuk meningkatkan kapasitas dalam menghadapi
masalah (Dwidiyanti, Yanuar, & Hasanah, 2017). Dalam
penjelasan kamus Cambridge digambarkan bahwa
mindfulness merupakan latihan untuk menyadari kondisi
yang dialami oleh tubuh, pikiran, perasaan pada situasi saat
ini, dengan berpikir secara sadar untuk membuat keadaan
yang tenang.
Mindfulness dapat dilakukan dimanapun dan oleh
siapapun pada umumnya, latihan tersebut diikuti dengan
cara-cara untuk menyelesaikan masalah secara mandiri yang
kemudian disebut dengan target sehat mandiri (self-care).
Mindfulness untuk target sehat mandiri merupakan latihan
yang dilakukan oleh individu dengan cara menyadari dan
memfokuskan diri terhadap apa yang sedang dialaminya
atau yang sedang mereka lakukan saat ini, dengan penuh
vii
penerimaan, tidak bereaksi agar individu tersebut mampu
menentukan upaya untuk menyelesaikan masalah yang
dihadapinya.
Sehingga diharapkan dari latihan Mindfulness untuk
self-care menjadikan seseorang memiliki kemampuan untuk
dapat melakukan penyesuaian diri dengan kebutuhan,
perasaan, nilai-nilai yang sesuai dengan situasi tertentu.
Selain menjadikan seseorang melakukan target sehat
mandiri dengan baik, kesadaran yang muncul pada saat
seseorang mencapai kondisi mindful akan membantu
seseorang melihat berbagai situasi yang tidak nyaman,
dengan perasaan lebih jelas, sehingga muncul cara pandang
baru dalam melihat suatu permasalahan maupun alternatif
pemecahannya (Afandi, 2012).
Hal ini merupakan sebuah gambaran awal dari skema
pengembangan konsep mindfulness untuk self-care atau
lebih spesifiknya dalam buku ini dinamakan “Target Sehat
Mandiri”. Berbagai teori yang mendasari tentang
kemandirian akan dibahas dalam buku ini, seperti dari teori
Orem “Self-care” yaitu bagaimana kemampuan pasien dalam
melakukan upaya perawatan diri, kemudian konsep
viii
kemampuan pasien didasari teori dari Loriq, dkk (2006) yaitu
tentang kemampuan pasien dalam mengatasi sakitnya,
kemampuan pasien untuk meneruskan hidupnya secara
normal dan kemampuan pasien dalam mengatasi emosi.
Sehingga peneliti kemudian dapat mengembangkan tingkat
kemandirian pasien, yang dimulai dari tingkat keyakinan
pasien untuk melakukan upaya target sehat mandri, hingga
pasien sudah mampu mandiri dalam melakukan
keterampilan untuk memelihara kesehatan secara mandiri,
contohnya : pasien sudah mampu mengontrol emosi,
amarah, dll (Hibbard, Stockard, Mahoney, & Tusler, 2004).
Pengembangan konsep tersebut didasari dari
tujuannya, yaitu penelitian berdasarkan outcome atau hasil
yang jelas untuk meningkatkan pelayanan dalam intervensi
keperawatan, seperti yang yang ditulis oleh Diane M. Doran
(2010) dalam bukunya Nursing Outcomes: The State of the
Science - Second Edition, menyebutkan sebuah konsep
keefektifan peran seorang perawat tersebut berdasarkan
model struktur, proses dan outcome yang akan
mempegaruhi kualitas suatu layanan.
ix
Pengembangan konsep mindfulness untuk target sehat
mandiri (self-care) merupakan upaya ikhtiar penulis dan
kontributor sebagai tim dalam mengembangkan keilmuan
khusunya pada intervensi di bidang ilmu keperawatan.
Dimana upaya pengembangan intervensi mindfulness untuk
self-care tersebut berawal dari proses penelitian yang
mendalam di berbagai kelompok responden, diantaranya
yaitu; remaja yang mengalami masalah psikologis stress dan
depresi; mahasiswa yang mengalami ansietas dan stress;
perawat yang mengalami stres dan depresi; ibu hamil yang
mengalami stres dan caregiver lansia yang mengalami
burden. Tindakan keperawatan yang dberikan kepada
responden atau pasien berupa latihan mindfulness melalui
supportive educative yang didukung dengan peningkatan
self-efficacy pasien. Sehingga keluaran atau Outcomes yang
didapat dalam memberikan tindakan keperawatan tersebut
yaitu; target sehat mandiri (self-care), fungsi peran
meningkat, peningkatan self-efficacy, social support dan
kesejahteraan.
x
BAB I
Konsep Mindfulness untuk
Target Sehat Mandiri
1.1 Framework Mindfulness Untuk Target Sehat Ma
Kelompok Sehat: Masalah Psikologis Metode
Individu Sebagai Intervensi
Makhluk Holistic
Depresi Supportive
Remaja Stress Educative
Stres & Anisetas
Mahasiswa Stres & Depresi Self help
Perawat Caregiver Burden Group
Ibu Hamil
Caregiver Peer
support
group
Gambar 1.1 Framew
2
andiri
Outcome
Mindfulness Efikasi Diri Target Self care
Sehat Fungsi peran
Mandiri
(Self meningkat
Care) Self Efficacy
Social Support
Kesejahteraan
work Mindfulness untuk Self-Care
2
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
1. Kelompok Sehat: Individu Sebagai Makhluk Holistik
a. Remaja
Adolescence (remaja) adalah masa transisi dari anak-anak
menjadi dewasa. Istilah adolescence berasal dari kata
adolescere yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi
dewasa”. Adolescence artinya berangsur-angsur menuju
kematangan secara fisik, akal, kejiwaan dan sosial serta
emosional (Alie and Asrori, 2011).
b. Mahasiswa
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
mahasiswa adalah mereka yang sedang belajar di
perguruan tinggi. Mahasiswa dapat didefinisikan sebagai
individu yang sedang menuntut ilmu ditingkat perguruan
tinggi, baik negeri maupun swasta atau lembaga lain yang
setingkat dengan perguruan tinggi.
Seorang mahasiswa dikategorikan pada tahap
perkembangan yang usianya 18 sampai 25 tahun. Tahap
ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai
masa dewasa awal dan dilihat dari segi perkembangan,
tugas perkembangan pada usia mahasiswa ini ialah
pemantapan pendirian hidup (Yusuf, 2012).
c. Ibu Bekerja
Ibu bekerja adalah ibu yang memperoleh atau mengalami
perkembangan dan kemajuan dalam pekerjaan dan
3
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
jabatan dalam kegiatan suatu profesi baik berbentuk
usaha atau perkantoran. Ibu bekerja juga dapat diartikan
ibu yang menekuni suatu atau beberapa pekerjaan yang
dilandasi oleh keahlian tertentu yang dimilikinya untuk
mencapai suatu kemajuan dalam hidup, pekerjaan, dan
jabatan sehingga mampu menghidupi dirinya sendiri
maupun keluarganya(Andriyani, 2014).
d. Perawat
Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan
tinggi keperawatan, baik di dalam maupun di luar negeri
yang diakui oleh pemerintah sesuai dengan ketentuan
Peraturan Perundang-undangan.
Pelayanan keperawatan adalah suatu bentuk
pelayanan professional yang merupakan bagian integral
dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan
kiat keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga,
kelompok, atau masyarakat, baik sehat maupun sakit.
e. Ibu Hamil
Ibu adalah wanita yang telah melahirkan seseorang,
sebutan untuk wanita yang sudah bersuami, panggilan
takzim kepada wanita baik yang sudah bersuami maupun
yang belum (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2005). Hamil
adalah mengandung janin dalam rahim karena sel telur
4
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
dibuahi oleh spermatozoa (Kamus Besar Bahasa
Indonesia, 2005). Kehamilan adalah hasil “kencan”
sperma dan sel telur (Maulana, 2008). Ibu hamil adalah
seorang wanita yang mengandung dimulai dari konsepsi
sampai lahirnya janin (Prawirohardjo, 2005)
f. Care Giver (Pengasuh)
Care Giver adalah seorang pengasuh anggota dari
sebuah ikatan sosial atau keluarga, seseorang yang tidak
dibayar atau dibayar yang membantu seseorang dengan
kegiatan sehari-hari.
2. Masalah Psikologis
a. Ansietas
Ansietas atau kecemasan merupakan gejala kekhawatiran
yang tidak jelas dan menyebar yang berkaitan dengan
perasaan tidak pasti dan tidak berdaya (Stuart & Laraia,
2012). Herdman dalam NANDA (2012) mendefinisikan
ansietas sebagai perasaan tidak nyaman atau
kekhawatiran yang samar disertai respon autonom
(sumber seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh
individu); perasaan takut yang disebabkan oleh antisipasi
terhadap bahaya.
Menurut Sadock (2005) ansietas adalah suatu
respon normal individu terhadap pertumbuhan,
5
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
perubahan, pengalaman baru, penemuan identitas dan
makna hidup (Sadock & Virginia, 2000). Ansietas adalah
perasaan tidak khas yang disebabkan oleh dugaan akan
bahaya atau frustasi yang akan membahayakan rasa
aman, keseimbangan atau kehidupan seseorang atau
kelompok sosialnya (Stuart & Laraia, 2012).
Tanda dan Gejala Ansietas
Berikut tanda dan gejala berdasarkan klasifikasi tingkat
kecemasan kecemasan yang timbul secara umum
menurut Stuart & Laraia (2012), adalah sebagai berikut :
1) Gejala Fisiologis
Tabel 1 Respon fisiologis terhadap gejala ansietas
Sistem Tubuh Respon Gejala
Kardiovaskuler
Palpitasi, tekanan darah meninggi, rasa mau
Pernafasan pingsan, tekanan darah menurun, denyut nadi
menurun.
Neuromuskuler
Nafas cepat, nafas pendek, tekanan pada
Gastrointestinal dada, nafas dangkal, pembengkakan pada
Traktus Urinarius tenggorok, sensasi tercekik, terengah-engah.
Kulit
Reflek meningkat, reaksi kejutan, mata
berkedip-kedip, insomnia, tremor, rigiditas,
wajah tegang, kelemahan umum, gerakan
yang janggal.
Kehilangan nafsu makan, abdomen
discomfort, mual, diare.
Tidak dapat menahan kencing, sering kencing.
Wajah kemerahan, telapak tangan
berkeringat, gatal, rasa panas dan dingin pada
kulit, wajah pucat.
6
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
2) Gejala Psikologis
a) Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan
pikirannya sendiri, mudah tersinggung
b) Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah
terkejut.
c) Sulit konsentrasi
d) Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak
orang
e) Gangguan pola tidur, mimpi – mimpi yang
menegangkan
f) Gangguan konsentrasi dan daya ingat
g) Rasa menganjal di tenggorokan.
Dampak Ansietas
Dampak kecemasan pada mahasiswa di ranah akademik
menurut Owens dkk (2008) antara lain ;
a) Perasaan khawatir akan sesuatu yang akan terjadi
b) Ketidakmampuan mengatasi masalah
c) Perhatian kearah yang salah
d) Sulit berkonsentrasi
e) Gangguan memori ingatan
7
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
b. Stress
Pengertian stres dapat dilihat dari tiga pendekatan
teoritis pada disiplin ilmu fisiologi, sosiologi, dan
psikologi. Pendekatan fisiologi mendefinisikan stres
sebagai sebuah respon nonspesifik tubuh terhadap setiap
kebutuhan, tanpa memperhatikan sifatnya (Green, 2017).
Pengertian diatas menunjukan bahwa setiap orang akan
bereaksi berbeda dengan sumber stres yang sama
sehingga setiap stimulus akan menimbulkan dampak yang
berbeda antara yang satu dengan yang lain. Pendekatan
psikologi mendefinisikan stres sebagai suatu stimulus
atau penyebab adanya respon yang berada di luar
individu dan sebagai faktor predisposisi atau pencetus
yang meningkatkan kepekaan individu terhadap penyakit.
Pengertian diatas menunjukan bahwa stres yang dialami
oleh seseorang berasal dari stresor karena peristiwa yang
dialami secara tidak terduga.
Pendekatan psikologis menggambarkan bahwa stres
yang dialami oleh individu yang bereaksi terhadap stres,
bentuknya non spesifik artinya berbeda-beda setiap
individu dan sumber stres. stres berasal dari luar sebagai
pencetus. Pendekatan sosiologi mendefinisikan stres
sebagai suatu transaksi. Model transaksi terjadi antara
8
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
individu dengan lingkungannya, yang berarti bahwa pada
saat individu berinteraksi dengan lingkungan akan
memberikan dampak atau umpan balik pada hubungan
individu-lingkungan. Walaupun setiap orang berisiko
untuk mengalami stres.
Sumber Stress
Stres dapat terjadi karena terdapat suatu perubahan
dalam ruang lingkup pekerjaan, tanggung jawab,
pengambilan keputusan, tempat tinggal, hubungan
pribadi, dan kesehatan. Kondisi tersebut dapat
menyebabkan stres disebut sebagai stresor. Setiap
individu dapat mengalami stres, baik stres jangka panjang
maupun stres jangka pendek. Stres yang dialami
seseorang mengakibatkan munculnya konsep stresor,
yaitu stresor internal dan stresor eksternal (Potter, P.A,
2005). Perbedaan stresor mengakibatkan terjadi stimuli
yang memang harus segera di tangani, termasuk dalam
perbedaan penanganan antara stresor internal dan
eksternal.
Stresor internal berasal dari dalam diri seseorang
misalnya: demam, penyakit infeksi, trauma fisik,
malnutrisi, kelelahan fisik, kekacauan fungsi biologik yang
9
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
berkelanjutan. Sedangkan Stresor eksternal berasal dari
luar diri seseorang. Perubahan bermakna dalam suhu
lingkungan, perubahan peran dan sosial, proses
pembelajaran, pekerjaan, serta hubungan interpersonal.
Perubahan kondisi keuangan dan segala akibatnya
(menciutnya anggaran keuangan, keterbatasan uang).
Penjabaran singkat tentang stresor, setiap individu harus
beradaptasi dengan stresor yang terjadi pada dirinya
dalam rangka bertahan hidup terhadap stresor yang
datang dari internal dan eksternal.
Tanda dan gejala stres
Stres memberikan dampak langsung terhadap psikologis
yang secara tidak langsung berdampak pula pada
fisiologis. Terdapat beberapa indikator stres, yaitu
fisiologis, emosional, dan perilaku stress(Potter, P.A,
2005).Tanda dan gejala dibagi menjadi 2 yaitu fisik dan
Psikologis.
1) Tanda dan gejala fisik terdiri dari tekanan darah,
tangan dan kaki dingin, postur tubuh yang tidak tegap,
keletihan, sakit kepala, gangguan lambung, suara yang
bernada tinggi, muntah, mual, diare, perubahan nafsu
10
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
makan, perubahan berat badan, dan telapak tangan
berkeringat.
2) Indikator Psikologis secara umum dapat diamati.
Indikator emosional dan perilaku stres sangat bersifat
subjektif. Indikator stres Psikologis dan perilaku
berupa: stres, depresi, kepenatan, kelelahan mental,
perasaan tidak adekuat, kehilangan harga diri, minat
dan motivasi, ledakan emosi dan menangis,
kecenderungan membuat kesalahan, mudah lupa dan
pikiran buntu, kehilangan perhatian terhadap hal-hal
yang rinci, ketidakmampuan berkonsentrasi terhadap
tugas, rentan terhadap kecelakaan, serta penurunan
produktivitas dan kulitas kerja.
c. Gangguan Depresi
Depresi adalah salah satu jenis gangguan yang
menyerang alam perasaan atau emosi seseorang yang
dapat disertai dengan adanya gejala gangguan psikis
seperti murung, sedih, putus asa, rasa menderita, dan
tidak bahagia serta gejala gangguan fisik seperti susah
buang air besar, kulit terasa lembab (dingin), tidak nafsu
makan, tekanan darah dan nadi rendah (Safitri &
Hidayati, 2013).
11
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
Salah satu teori yang berhubungan dengan depresi
adalah teori kognitif yang disampaikan oleh Aaron Beck.
Dalam teori kognitif ini, Beck menuangkan pemikirannya
bahwa orang-orang yang mengalami depresi memiliki
perasaan menyimpang dalam bentuk interpretasi negatif.
Gangguan depresi adalah akibat cara berfikir
seseorang terhadap dirinya. Kecenderungan
menyalahkan diri sendiri, disebabkan adanya distorsi
kognitif terhadap diri, dunia, dan masa depannya,
sehingga dalam mengevaluasi diri dan menginterpretasi
hal-hal yang terjadi, cenderung mengambil kesimpulan
yang cukup dan berpandangan negative (Lubis, 2009).
Pola kognitif yang merupakan tiga serangkai teori
Cognitive triad ini, menerangkan bahwa individu
memandang dirinya, pengalaman dan masa depannya
secara idiosinkritik, yaitu memandang diri secara negatif,
menginterpretasi pengalaman secara negatif serta
memandang masa depan secara negative (Davison,
2006).
Penyebab Depresi
Peristiwa hidup yang terjadi pada seseorang umumnya
menjadi pencetus gangguan depresi pada umumnya.
12
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
Penyebab depresi seperti halnya penyakit lain,
sebenarnya tidak dapat diketahui secara pasti namun
telah dijumpai sejumlah faktor yang dapat
mempengaruhinya. Seperti pada gangguan kesehatan
lainnya, penyebab sosial, lingkungan dan biogenetis yang
dialami seseorang, diduga sebagai penyebab depresi
(Santrock, n.d.). Penyebab Depresi dalam sumber lain
juga disebutkan bahwa depresi disebabkan oleh faktor
biologis, biogenic amines, gangguan neurotransmitter,
faktor neuroendokrin dan abnormalitas otak (Mulia,
2015). Secara lebih rinci, penyebab depresi diuraikan
seperti dibawah ini:
1) Faktor Fisik
a) Faktor genetik
Penderita depresi berat yang ada dalam
sebuah keluarga, memberikan resiko lebih besar
untuk diturunkan pada anggota keluarga yang
lainnya. Gen mempunyai pengaruh terhadap
terjadinya depresi, akan tetapi tidak ada
seorangpun peneliti yang dapat menjelaskan
secara pasti bagaimana gen tersebut bekerja.
Demikian juga dengan bukti langsung yang ada
selama ini, belum bisa menjelaskan bahwa depresi
13
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
itu disebabkan oleh faktor keturunan (Worret,
2000).
b) Susunan kimia otak dan tubuh
Emosi kita dikendalikan oleh beberapa
bahan kimia yang ada dalam otak dan tubuh kita.
Pada orang yang mengalami depresi, terdapat
perubahan dalam segi jumlah dari bahan kimia
tersebut. Pada orang yang mengalami depresi
terdapat kadar yang berkurang dari hormon
noradrenalin yang mengendalikan otak dan
aktivitas tubuh. Pada wanita, perubahan hormon
dihubungkan dengan kelahiran anak dan
menopouse juga dapat menjadi faktor risiko
terjadinya depresi (Lauren Slater, Ed.D, Jessica
Henderson Daniel, Ph.D., ABPP, Amy Elizabeth
Banks, 2003).
2) Faktor usia
Golongan usia muda yaitu remaja dan orang
dewasa, menurut penelitian lebih banyak terkena
depresi. Terdapatnya tahap-tahap serta tugas
perkembangan yang penting pada masa ini, menjadi
faktor tersendiri terjadinya depresi terutama pada
remaja yang ditandai dengan masa pubertas. Hasil
14
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
penelitian terbaru, penderita depresi dari sisi usia
semakin menurun, artinya bahwa usia anak-anak dan
remaja lebih banyak yang terkena depresi. Prevalensi
terbaru penderita depresi diderita usia 18-44
tahun(Lauren Slater, Ed.D, Jessica Henderson Daniel,
Ph.D., ABPP, Amy Elizabeth Banks, 2003).
3) Gaya hidup
Gaya hidup tidak sehat berdampak pada
penyakit, seperti halnya penyakit jantung yang juga
dapat memacu kecemasan dan depresi. Adanya stres
dan kecemasan ditambah pola hidup tidak sehat baik
pola makan, pola tidur dan olah raga yang kurang
dalam jangka waktu yang lama, dapat menjadi faktor
beberapa orang mengalami depresi.
4) Penyakit fisik
Penyakit fisik yang tiba-tiba dialami oleh
seseorang juga bisa menyebabkan depresi. Perasaan
denial, terkejut saat mengetahui terkena penyakit
serius dapat mengarahkan pada hilangnya
kepercayaan diri dan penghargaan terhadap diri,
sehingga menimbulkan depresi. Beberapa penyakit
yang berefek pada otak seperti parkinson, multiple
15
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
sklerosis dan penyakit yang mempengaruhi hormon,
dapat menyebabkan depresi.
5) Obat-obatan
Beberapa obat-obatan yang diberikan untuk
tujuan pengobatan, dapat menyebabkan depresi
secara tidak langsung. Namun hal ini bukan berarti
depresi disebabkan obat tersebut, karena dengan
menghentikan obat-obatan tersebut lebih berbahaya
akibatnya dibanding menghentikan pengobatan
dengan obat tersebut (Worret, 2000).
6) Faktor Psikologis
a) Kepribadian
Kerentanan dan tinggi rendahnya tingkat
depresi dipengaruhi pula oleh aspek-aspek
kepribadian. Individu yang mempunyai konsep diri
serta pola pikir negatif, pesimis, dan mempunyai
kepribadian introvert, adalah remaja yang rentan
terhadap depresi.
b) Pola pikir
Pola pemikiran yang umum pada penderita
depresi dan dipercaya membuat seseorang rentan
terkena depresi. Secara singkat, dia percaya bahwa
seseorang yang merasa negatif terhadap diri
16
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
sendiri, rentan terkena depresi (Aditomo &
Retnowati, 2004). Untuk menjaga agar selalu
semangat, kebanyakan dari kita mempunyai cara
berpikir yang optimis. Lebih cenderung
memperhatikan kesuksesan dibanding dengan
mempedulikan kegagalan. Beberapa penderita
depresi mengalami hal yang sebaliknya, dimana
remaja lebih berfokus pada kegagalan dibanding
mengakui kesusksesan yang pernah remaja raih.
c) Stres
Depresi dapat disebabkan juga karena stres.
Stres dalam kehidupan seseorang dapat
ditimbulkan oleh kematian orang yang dicintai,
kehilangan pekerjaan, pindah rumah, atau stres
berat. Sering kali reaksi terhadap stres ini
ditangguhkan dan depresi dapat terjadi beberapa
bulan sesudah peristiwa itu terjadi.Depresi juga
dapat dinyatakan sebagai akibat adanya peristiwa-
peristiwa negatif yang menyebabkan perubahan,
pengalaman penuh stress yang ekstrem seperti
perang, bencana alam, kematian, pertengkaran,
perceraian, serta mikrostressor yang terjadi pada
aktivitas sehari-hari (Lubis, 2009).
17
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
d) Lingkungan keluarga/sosial
Kejadian depresi dapat dipicu oleh
kehilangan orang tua saat masih anak-anak.
Kehilangan orang yang berarti secara psikologis
dapat membuat seseorang lebih mudah terserang
depresi, akan tetapi disatu sisi mungkin saja
membuat seseorang lebih tabah dan lebih kuat.
Akibat psikologis, sosial dan keuangan yang
ditimbulkan dari adanya kehilangan orang tua,
seringkali lebih penting diwaspadai akibatnya
daripada kehilangan itu sendiri (Lubis, 2009).
d. Caregiver Burden
Burden adalah stres yang dialami oleh seseorang salah
satu contohnya adalah pada petugas panti (caregiver)
yang merawat lansia yang ada dirumah dalam waktu yang
lama (Zarit & Savla, 2016). Menurut George dan Grytwer,
2012 mengemukakan Caregiver burden sebagai beban
fisik psikologis dan emosional, sosial yang dapat dialami
oleh Caregiver, hal ini sesuai dengan pernyataan oleh
Kozier et al yang memandang Caregiver burden sebagai
stress yang dialami Caregiver akibat perawatan dalam
waktu yang lama (Kozier et al, 2008).
18
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
Mace Rabin, 2014 menyatakan bahwa Caregiver
burdenkarena merawat lansia demensia dapat
menimbulkan dampak fisik, psikologis, atau emosi dan
sosial (Nancy L. Mace& Peter V Rabins, 2006). Dampak
caregiver burden:
a. Dampak Fisik
Kelelahan merupakan dampak fisik yang paling
sering dialami oleh Caregiver hal ini disebakan oleh
karena berkurangnya istirahat sehingga akan memicu
timbulnya depresi dapat meningkatkan rasa
ketidaknyamanan caregiver
Dampak fisik pertama adalah menderita rasa
sakit karena rasa lelah dan perasaan depresi dapat
memicu untuk melakukan tindakan yang dapat
menyebabkan sakit. Hal ini didukung oleh penelitian
Depasquale (2013) bahwa ada peningkatan aktivitas
dalam perawatan lansia dengan demensia akan
cenderung mempunyai kondisi fisik caregiver yang
rendah hal ini disebabkan oleh karena kelelahan
akibat merawat lansia dengan demensia (Harding et
al., 2015). Kondisi ini membuat Caregiver yang
merawat lansia dengan demensia menjadi sangat
19
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
rentan untuk mederita penyakit seperti hipertensi,
anemia, dan penyakit infeksi (Care et al., 2014).
b. Dampak Psikologis
Dampak psikologis adalah respon caregiver yang
diakibatkan oleh adanya tekanan kejiwaan akibat dari
perawatan lansia. Respon tersebut meliputi
munculnya rasa marah pada Caregiver hal ini terjadi
karena perubahan peran menjadi Caregiver lansia,
perubahan tingkah laku lansia akibat demensia,
perasaan tidak dipedulikan oleh orang-orang
disekitarnya dan perasaan terperangkap denga situasi
merawat lansia. Rasa marah pada Caregiver juga
dapat dipicu oleh kelelahan karena merawat lansia.
Menurut Miller (2013) menyaktakan bahwa
pengalaman merawat lansia dengan demensia dapat
menimbulkan marah, ambivalen, dan emosi yang
tidak stabil karena perubahan yang terjadi pada lansia.
Rasa marah yang dirasakan oleh Caregiver
disebabkan oleh karena efek merawat lansia. Hal ini
muncul karena anggota panti merasa tidak mendapat
dukungan sosial dari lansia dan pemberi pelayanan
kesehatan. Perasaan bersalah dapat timbul pada
Caregiver yang merawat demensia. Hal ini terjadi
20
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
karena panti merupakan tempat pekerjaan yang harus
dilakukan sebagai konsekuensi atas imbalan yang
didapatkan. dampak yang diadaptasi oleh Caregiver,
depresi dapat muncul pada Caregiver. Hal ini didukung
oleh penelitian yang menggambarkan 50% Caregiver
menyatakan depesi cemas, adanya Caregiver strain
dan stress.
c. Dampak sosial
Dampak sosial adalah isolasi sosial atau
keterbatasan sosial, kondisi ini muncul karena
Caregiver mempunyai katerbatasan untuk
bersosialisasi dan terisolasi (Palacio, Krikorian,
Limonero, & Ph, 2017). Merawat lansia dengan
demensia memerlukan waktu 24 jam dalam sehari,
sehingga Caregiver kehilangan kontak dengan teman-
temanya (Gibson AK, 2011).
Caregiver burden dapat dikurangi dengan dukungan,
saling membantu, saling berbagi dalam tanggungjawab
mencari pelayanan kesehatan yang dapat membantu
melakukan konseling, bergabung dengan Caregiver lain
mengikuti latihan Mindfulness (Whitebird et al., 2013). Selain
itu dukungan dari masyarakat sekitar, kemampuan strategi
21
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
koping Caregiver untuk memecahkan masalah dan
pengetahuan cargiver mengenai perawatan lansia dapat
mengurangi Caregiver burden. Hal ini didukung oleh
penelitian yang menyatakan Caregiver tidak mendapatkan
dukungan dari teman akan mengalami Caregiver burdendan
gejala depresi (Afram et al., 2014)
3. Mindfulness
Program intervensi mindfulness telah banyak dikembangkan
oleh berbagai profesi, praktisi dan peneliti di berbagai
penjuru dunia di antaranya adalah sebagai berikut:
1) Mindfulness Based Stres Reduction (MBSR)
a) Menggunakan grup atau kelas dalam sebuah program
kegiatan
b) Kegiatan dilakukan 8-10 sesi per minggu
c) Digunakan pada seseorang yang mengalami gangguan
fisik atau mental.
d) Menggunakan praktik formal (teknik STOP) dan
informal (daily activity) untuk pengembangan
kewaspadaan.
2) Mindfulness Based Cognitive Therapy (MBCT)
a) Menggunakan pengalaman secara sadar diri dalam
memodifikasi atau menyelesaikan masalah dengan
22
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
respon yang maladaptif selama cemas, stres dan
depresi.
b) Mengatasi masalah gangguan mental yang terulang
kembali.
3) Teknik Terapi Mindfulness S.T.O.P
Mindfulness dengan metode STOP merupakan
pendekatan empat langkah yang digunakan untuk
masuk dalam mengelola perhatian atau kesadaran
penuh yang dapat dilakukan kapan saja dan dimana
saja.
Metode STOP ini merupakan pengembangan
intervensi dari teori mindfulness yang dicetuskan oleh
Dr. John Kabat-Zinn bahwa mindfulness memfasilitasi
kesadaran dengan meningkatkan proses berpikir,
pengendalian emosi, serta sensasi tubuh agar dapat
mengembangkan kemampuan dalam menanggapi
tantangan secara efektif, bukan dengan bereaksi secara
impulsive (Kar, Shian-ling, & Chong, 2014). Dr. John
Kabat-Zinn memfasilitasi kesadaran dengan mindfulness
based therapy yang terbagi atas mindfulness based
cognitive therapy (MBCT) dan mindfulness based stress
reduction (MBSR). Metode mindfulness STOP sendiri
23
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
merupakan pengembangan dari mindfulness based
stress reduction (MBSR).
Kesadaran akan momen pada saat ini adalah
keadaan pikiran yang didorong dalam pelatihan
kesadaran. Dalam pengolahannya individu diingkatkan
untuk selalu memberikan perhatian penuh, bijaksana
dan berpikir positif terhadap apapun yang dialami pada
saat ini. Keadaan kesadarn diri ini tidak digunakan
untuk merenungkan terus menerus, menyesali
kesalahan masa lalu dan mengkhawatirkan masalah
pada masa depan (Kar et al., 2014).
Tabel 2 Prosedur Terapi Mindfulness S.T.O.P
Prosedur Instruksi Pengantar Rasional
Step 1: Mengulangi berhenti
S Berhenti sementara dari sejenak. Ini sangat
(Stop) kegiatan dan kesibukan membantu dalam
yang dilakukan. Dengan mengkondidikan pikiran
lembut arahkan perhatian agar tetap sadar pada
kita kembali dan rileks situasi saat ini. Metode ini
pada saat ini. dapat melatih pikiran
untuk membuka diri dari
Step 2: Menarik nafas dalam- keadaan cemas.
T dalam sebanyak 3 kali.
(Tarik nafas Ijinkan perhatian dan Relaksasi nafas dalam
dalam dan pikiran untuk beristirahat membantu menginduksi
bernafas mengikuti gerakan efek relaksasi instan.
dengan nafasmu. Bernafaslah Sedikit istirahat dapat
penuh dengan fokus. membuat tantangan lebih
kesadaran) mudah ditangani. Ini juga
mendukung memori dan
pembelajaran yang efektif.
24
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
Step 3: Saat anda bernafas, Hal ini memungkinkan
O tubuh untuk sementara
(Observasi inspirasi dan ekspirasi, melepaskan diri dari
pada pikiran kesibukan, dan
Prosedur sadar pada kejadian saat Rasional
kejadian mengalihkan perhatian
saat ini) ini: pada pembebasan,
istirahat, rileks, dan
Step 4: Instruksi Pengantar bersantai pada saat ini.
P
(Hadapi a. Dengarkan suara-suara Tersenyum dilaporkan
dengan yang ada dapat menenangkan tubuh
senyum) dan pikiran, memfasilitasi
b. Bayangkan benda- pikiran, dan memperbaiki
benda di sekitar anda hubungan interpersonal.
Jika pikiran tenang,
c. Rasakan sensasi dari pemecahan masalah
alat-alat atau benda di cenderung lebih efektif.
sekitar saat melakukan
aktivitas.
Lanjutkan dengan apapun
kegiatan anda dengan
tersenyum
4) Mindfulness Caring
Mindfulness caring merupakan sebuah latihan atau
terapi keperawatan yang dilakukan oleh seseorang
dengan kesadaran, memahami masalah yang dihadapi,
penuh penerimaan, dilakukan dengan tingkat self
efficacy (keyakinan) yang besar dan secara mandiri (self
care) sehingga tercapai suatu tujuan yang diinginkan.
Mindfulness caring pada stres adalah latihan atau
terapi keperawatan yang dilakukan oleh seseorang
dengan kesadaran, menenangkan diri, menyayangi,
menghormati dan menghargai dirinya sendiri,
25
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
memahami dan mengetahui penyebab stres yang
dialami, menerima kondisi tersebut, dilakukan dengan
meningkatkan self efficacy dan dengan target sehat
mandiri sehingga mampu menyelesaikan masalah dan
stres yang dialami berkurang atau menghilang.
Mindfulness caring pada stres bertujuan untuk
membantu individu untuk lebih tenang, menyadari
penyebab stress yang dihadapi, mencari solusi untuk
mengatasi masalah, mengelola stres dan menurunkan
stress yang dialami.
Tahapan Mindfulness Caring
Tahapan mindfulness caring dikembangkan dari
mindfulness STOP dan RAIN, yang merupakan suatu
teknik mindfulness yang membantu individu untuk
mampu menyadari tentang masalah yang dihadapi dan
dapat menemukan cara untuk menyelesaikan masalah
yang dihadapinya tersebut. Adapun analisis
pengembangan metode mindfulness caring berdasarkan
metode STOP dan RAIN. dapat dilihat pada tabel 3
berikut.
26
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
Tabel 3 Analisis pengembangan mindfulness caring
berdasarkan metode STOP dan RAIN
Metode STOP Metode RAIN Mindfulness
Caring
Stop (berhenti dari Recognize (menerima
aktivitas, dan masalah yang dialami Menenangkan diri
menenangkan diri) dengan terbuka
sehingga membuat
tenang)
Metode STOP Metode RAIN Mindfulness
Caring
Take a breath Acknowledge
(menarik napas, (menerima masalah, Menyayangi,
menerima masalah, compassion lewat kata- menghormati dan
compassion) kata) menghargai diri
Observe (menyadari Interest (menemukan sendiri
adalah masalah) adanya masalah) Menyadari
masalah yang
Proceed (proses Non- Identifikasi dihadapi
tindakan yang (memilih tindakan yang Mampu membuat
mendukung) akan dilakukan atau target mandiri
mengabaikannya)
Berdasarkan analisa tersebut dapat disimpulkan
bahwa langkah-langkah mindfulness caring adalah
sebagai berikut.
1. Menenangkan diri dengan mencoba merasakan
pernapasan sehingga terasa rileks.
2. Mulai merasakan bahwa individu tersebut
menyayangi, menghormati dan menghargai dirinya
sendiri.
3. Mulai menyadari masalah yang sedang dihadapi.
27
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
4. Individu mampu membuat target untuk
menyelesaikan masalah (target sehat mandiri).
Pengaplikasian Mindfulness Caring
Pengaplikasian latihan mindfulness caring dalam
keperawatan dengan menggunakan efikasi diri untuk
mencapai self care. Bentuk supportive educative yang
diberikan oleh perawat yaitu melalui peningkatan
efikasi dengan cara:
1. Pengalaman keberhasilan; Perawat memberi
dukungan dan motivasi kepada klien atas
keberhasilan yang pernah dilakukan.
2. Pengalaman orang lain; Perawat dalam hal ini
memberikan contoh bentuk pengalaman-
pengalaman terbaik dari orang lain agar menjadi
motivasi klien untuk melakukan hal yang sama.
3. Support secara verbal; Pada support verbal, individu
diarahkan oleh perawat dengan saran, nasihat dan
bimbingan sehingga dapat meningkatkan
keyakinannya tentang kemampuan-kemampuan
yang dimiliki yang dapat membantu mencapai
tujuan yang diinginkan.
28
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
4. Kondisi Fisiologis; Perawat dalam hal ini
memberitahu tentang kondisi klien dan membantu
klien untuk menyadari kemampuan yang dimiliki.
5) Mindfulness of Thought (fokus terhadap yang
dipikirkan)
Dwidiyanti (2017) menyebutkan bahwa tahapan
awal mindfulness caring adalah memfokuskan pikiran.
Pikiran memerlukan sebuah ketetapan. Kebanyakan
gangguan psikologis meningkat apabila pikiran
seseorang tidak terarah, pikiran akan terasa melelahkan
diikuti dengan perasaan sedih. Ketika seseorang sedang
mengalami hal tersebut, seseorang perlu menetapkan
pada satu titik netral dan tenang. Penetapan pikiran
dapat dilakukan dengan cara teknik relaksasi dengan
menggunakan pernapasan.
6) Mindfulness-breathing
Mindfulness dengan pernapasan dilakukan selama
15 menit, dengan menggunakan tempat yang tenang,
nyaman untuk melakukan latihan mindfulness. Duduk
pada posisi yang paling nyaman, rileks tidak
mengeluarkan banyak tenaga saat melakukan hal ini.
Langkah-langkah melakukan tahap ini yaitu:
29
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
a) Punggung berada pada posisi yang tegap lurus,
disandarka, dengan dagu menempel pada dada
b) Menarik napas perlahan-lahan dan dalam
untuk relaksasi dan melepaskan apapun beban
yang sedang dialami. Menutup mata perlahan
atau boleh agak tertutup, sesuai dengan
kenyamanan masing-masing.
c) Menggambarkan diri sendiri dalam pikiran.
Gambaran diri dalam kondisi duduk, dengan
postur punggung tegap lurus, menganggap
bahwa sedang melihat diri sendiri dari luar.
Membiarkan tubuh dan pikiran seperti situasi
tersebut.
d) Memperhatikan pernapasan. Merasakan
sumber pernapasan yang kuat, beberapa orang
akan merasakannya pada nostril, dingin pada
bibir bagian atas, dada yang naik turun,
pergerakan abdomen. Mengeksplorasi bagian
tubuh yang terlihat bagian pergerakan napas.
e) Kemudian menemukan saat pernapasan terasa
paling kuat dirasakan pada saat menarik napas
atau menghembuskan napas.
30
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
f) Memperhatikan setiap melakukan. Merasakan
udara keluar dari lubang hidung tiap kali
menghembuskan napas. Merasakan bagaimana
saat menarik napas.
g) Memperhatikan sensasi udara yang keluar
masuk melalui hidung saat menghirup dan
menghembuskan napas.
h) Pikiran akan terfokus pada pernapasan dalam
waktu beberapa menit. Tidak perlu memikirkan
atau khawatir seringnya melamun atau terlalu
fokus pada pernapasan.
i) Sesekali lihat jam untuk memastikan waktu
yang digunakan. Tetap fokus pada pernapasan,
tubuh, perasaan hidup, aliran darah pada saat
bernapas.
j) Setelah 15 menit perlahan-lahan membuka
mata, merasakan keberadaan diri sendiri,
sebelum kemudian bergerak.
7) Mindfulness of body
Mindfulness of body dilakukan selama 20 menit dengan
memperhatikan beberapa hal berikut.
31
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
a) Posisi nyaman dan stabil, menutup mata, menarik
naas dalam sebanyak 3 kali.
b) Selanjutnya, menggambarkan diri sendiri dalam
pikiran termasuk postur dan posisi duduk saat ini,
seakan melihat diri sendiri.
c) Menemukan sensasi pernapasan dan melakukan
pernapasan dengan mindfull selama beberapa
menit. Membiarkan tubuh bernapas secara rileks,
merasakan udara yang masuk dan keluar saluran
pernapasan.
d) Setelah beberapa menit, memfokuskan perhatian
kita pada organ tubuh yang bekerja, seperti detak
jantung, kelembaban kaki, leher yang kaku,
hangatnya tangan, dahi yang dingin atau sentuhan
kaki pada lantai.
e) Membiarkan tiap sensasi seperti apa adanya. Bila
merasa kurang nyaman, bisa mengalihkan
perhatian pada sensasi yang lain secara perlahan-
lahan.
f) Membiarkan fokus perhatian pada sensasi tubuh
tergambar dalam pikiran kemudian kembali pada
pernapasan.
32
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
g) Membuka kembali kesadaran akan sensasi tubuh
yang paling dirasakan dengan perlahan, hal ini
untuk menghasilkan kesadaran akan sensasi yang
terjadi saat ini.
8) Mindfulness Daily Activity (Mindfulness dalam
kegiatan sehari-hari)
a) Mindfulness Eating
Mindfulness Eating adalah makan dengan keyakinan
dan kesadaran, lakukan sebelum makan dan fokus
pada makanan yang ada dihadapan kita (Stahl,
Bob&Goldstein, 2010). Beberapa hal yang perlu
diperhatikan :
a) Hentikan semua kegiatan yang lain saat makan
b) Tetap atur napas dan tanamkan dalam diri,
bahwa makanan ini akan menguatkan dan
menyehatkan saya dan bayi saya selama
kehamilan
c) “Makanan ini enak, saya senang, saya dan bayi
saya sehat”
d) Berdoa sebelum makan
e) Makan dengan keyakinan dan kesadaran.
33
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
b) Mindfulness Sleeping (Tidur dengan rileks)
Mindfulness Sleeping adalah tidur dengan keyakinan
dan kesadaran, lakukan sebelum tidur agar tidur
menjadi nyenyak (Stahl, Bob & Goldstein, 2010).
Dengan langkah sebagai berikut :
a) Memposisikan tidur dengan rileks, tarik nafas,
merasakan aliran darah dari kepala sampai kaki
b) Membayangkan aliran darah lancar dan normal
sambil berdoa
c) Berdoa sebelum tidur
d) Berdoa: “Semoga saya lebih bersemangat untuk
kegiatan di hari esok, dan saat bangun tubuh
akan lebih segar”.
c) Mindful with Family (Menikmati momen bersama
keluarga)
Mindful with family adalah meyakini dan menyadari
bahwa keluarga sangat penting selama menjalani
masa-masa kehamilan (Revised, Santorelli, & Kabat-
zinn, 2017). Dengan langkah sebagai berikut:
(1) Posisi yang nyaman dan rileks
(2) Tetap atur napas, bayangkan keluarga yang
paling dekat (suami atau ibu) bayangkan
kebaikan yang sudah dilakukan untuk kita,
34
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
bayangkan apa yang sudah kita lakukan
kepada mereka, meminta maaf atas semua
kesalahan yang sudah kita lakukan dan
tanamkan dalam diri, kita akan lebih
menyayangi keluarga
(3) Meyakini bahwa keluarga mendukung dan
menyayangi
(4) Mengungkapkan perasaan dan pikiran dengan
jujur kepada keluarga
(5) Tidak curiga dan berprasangka negatif pada
keluarga dan orang lain.
d) Mindfulness di saat Belajar
Mindfulness ini dapat dilakukan oleh mahasiswa,
disaat mahasiswa sedang belajar atau sedang
mengerjakan tugas di akademik, mahasiswa dapat
mengaplikasikan latihan mindfulness secara singkat,
dengan langkah sebagai berikut:
a) Meluangkan waktu sejenak
b) Berhenti sejenak atau Istirahat sebentar dalam
proses belajar
c) Mengatur posisi dengan nyaman dan dalam
keadaan rileks
35
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
d) Latihan nafas dalam dengan merasakan dan
menikmati pernapasan
e) Memeriksa permasalahan yang dihadapi dalam
hal pembelajaran
f) Menerima masalah yang dihadapi
g) Merasakan dan menikmati moment saat ini
h) Mengukur efikasi diri dalam proses belajar
e. Efikasi Diri
Self efficacy didefinisikan sebagai suatu proses kognitif
yang merujuk pada keputusan, keyakinan atau penilaian
seseorang terhadap kemampuan dirinya sendiri dalam
melakukan suatu tindakan yang telah direncanakan dan ingin
mencapai suatu target. Self efficacy berhubungan dengan
keyakinan seorang individu mengenai berbagai hal yang
mampu dilakukan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
individu tersebut.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan
bahwa self efficacy merupakan keyakinan yang dimiliki oleh
seorang individu dalam menilai kemampuannya dalam
melakukan sutu tindakan tertentu yang bertujuan
tercapainya tujuan yang ingin dicapai.
36
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
Sumber Self Efficacy
Self efficacy sangatlah berhubungan dengan
kemampuan individu dalam mengevaluasi dan menilai
kemapuan individu tentang keadaannya menurut Bandura
(Ghufron dan Risnawita, 2011:78-79). Self efficacy
merupakan keyakinan individu untuk mampu melakukan
tindakan untuk merawat dirinya sendiri. Ada empat sumber
yang mempengaruhi self efficacy, yaitu :
a. Pengalaman keberhasilan; Pengalaman keberhasilan akan
menaikkan self efficacy individu, sedangkan pengalaman
kegagalan akan menurunkannya. Setelah self efficacy
yang kuat berkembang melalui serangkaian keberhasilan,
dampak negatif dari kegagalan-kegagalan yang umum
akan terkurangi.
b. Pengalaman orang lain; Pengamatann terhadap
keberhasilan orang lain dengan kemampuan yang
sebanding dalam mengerjakan suatu tindakan akan
meningkatkan self efficacy individu dalam mengerjakan
tindakan yang sama. Begitu pula sebaliknya, pengamatan
terhadap kegagalan orang lain akan menurunkan
penilaian individu mengenai kemampuannya dan individu
akan mengurangi usaha yang dilakukan.
37
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
c. Pengalaman verbal; Pada persuasi verbal, individu
diarahkan dengan saran, nasihat dan bimbingan sehingga
dapat meningkatkan keyakinannya tentang kemampuan-
kemampuan yang dimiliki yang dapat membantu
mencapai tujuan yang diinginkan.
d. Kondisi Fisiologis; Individu akan mencari informasi
mengenai kondisi fisiologis mereka untuk menilai
kemampuannya. Ketegangan fisik dalam situasi yang
menekan dipandang individu sebagai suatu tanda
ketidakmampuan karena hal itu dapat melemahkan
performansi kerja individu.
f. Self-care
Teori self care yang dikemukakan oleh Dorothea Orem
melihat bahwa semua orang pada dasarnya mempunyai
kemampuan dasar (natural ability) untuk melakukan
perawatan diri (self care) dimana hal tersebut perawat
berperan untuk mempengaruhi kemampuan tersebut. Teori
self care terdiri dari tiga teori terkait, yaitu; self care, self
care deficit, dan nursing system theory(Orem, 2003).
1) Self Care
Self care (perawatan diri) terdiri dari kegiatan praktik
yang membuat pasien atau individu mandiri, dan individu
38
BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri
tersebut memulai mengenal masalah sendiri dalam batas
waktu berdasarkan kemampuan mereka dengan suatu
kegiatan yang bertujuan untuk membuat dirinya menjadi
sehat atau lebih baik (Orem, 2003).
2) Self Care Defisit
Teori self-care deficit merupakan inti dari general theory
of nursing yang menggambarkan dan menjelaskan
mengapa manusia dapat dibantu melalui ilmu
keperawatan serta kapan keperawatan diperlukan. Defisit
perawatan diri ini terjadi ketika seseorang tidak dapat
memelihara diri mereka sendiri. Individu yang
membutuhkan perawatan diri melebihi kemampuan yang
digunakan maka dalam teori Orem disebut self care
deficit (Andriany, 2007).
3) Nursing system theory
Teori nursing system membahas bagaimana kebutuhan
perawatan diri klien dapat dipenuhi oleh perawat, klien,
atau keduanya. Sistem keperawatan ini ditentukan atau
disusun berdasarkan kebutuhan perawatan diri dan
kemampuan klien untuk melakukan perawatan diri.
Terdapat tiga klasifikasi sistem keperawatan dalam
perawatan diri, pertama wholly compensatorysystem,
perawat memberi bantuan kepada klien karena tingkat
39