The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Reza Indra Wiguna, 2022-09-27 02:52:14

Mindfulness Self Care

Mindfulness for Self Care

Keywords: Mindfulness,Selfcare,nurse,caring

BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri

ketergantungan klien yang tinggi. Kedua, partly
compensatorysystem, perawat dan klien saling bekerja
sama dalam memenuhi kebutuhan perawatan diri.
Ketiga, supportive educative klien dapat melakukan
proses perawatan diri secara sepenuhnya, sedangkan
perawat hanya memberikan dukungan kepada klien
(Taylor, Renpenning, Geden, Neuman, & Hart, 2001).

Gambar 1.2 Konsep Framework Teori Self Care

40

BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri

1.2 Pengertian Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri

Mindfulness merupakan latihan yang dilakukan oleh seseorang
untuk mampu menyadari apa yang sedang terjadi saat ini
sehingga mampu membuat tujuan serta fokus dalam
menyelesaikan masalah yang dihadapi melalui perubahan
perilaku untuk meningkatkan kapasitas dalam menghadapi
masalah (Dwidiyanti, Yanuar, & Hasanah, 2017).

Dalam Cambridge Dictionary, mindfulness didefinisikan
sebagai latihan menyadari kondisi yang dialami tubuh, pikiran,
perasaan pada situasi saat ini, dan berpikir secara sadar untuk
membuat perasaan atau situasi yang tenang (Cambridge
Advanced Learner’s Dictionary & Thesaurus, 2017).

Mindfulness merupakan kesadaran yang muncul akibat
memberi perhatian terhadap sebuah pengalaman saat ini secara
disengaja dan tanpa penilaian, agar mampu merespon dengan
penerimaan, dan bukannya bereaksi, terhadap pengalaman
yang dialami sehari-hari Mindfulness terdiri dari tiga elemen
penting dalam prakteknya, yaitu : (1) kesadaran, (2) pengalaman
saat ini, (3) dengan penerimaan(Kabat-zinn, 2003).

Mindfulness yang dilakukan oleh setiap individu pada
umumnya dimaksudkan untuk mengetahui apa yang terjadi saat
ini secara sadar pada dirinya, yang kemudian membawa individu
tersebut fokus untuk melakukan aktivitas yang sedang

41

BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri

dikerjakan dengan penuh penerimaan, tanpa penilaian dan tidak
bereaksi negatif. Fokus terhadap apa yang sedang dikerjakan
merupakan suatu upaya seorang individu untuk melakukan atau
menyelesaikan apa yang dikerjakan dengan baik tanpa ada
unsur negatif didalamnya. Upaya tersebut diikuti dengan cara-
cara untuk menyelesaikan masalah secara mandiri yang
kemudian disebut dengan target sehat mandiri (self-care).

Mindfulness untuk target sehat mandiri merupakan latihan
yang dilakukan oleh individu dengan cara menyadari dan
memfokuskan diri terhadap apa yang sedang dialami atau
dilakukan saat ini, dengan penuh penerimaan, tanpa
penghakiman, tidak bereaksi, dan mampu menentukan suatu
target sehat mandiri sebagai upaya untuk menyelesaikan
masalah yang dihadapi.

1.3 Tujuan Mindfulness Target Sehat Mandiri
Indikasi pemberian terapi mindfulness untuk target sehat
mandiri yaitu adalah pada seseorang yang mengalami masalah
kesehatan jiwa seperti kecemasan, stres dan depresi.
Latihan mindfulness untuk target sehat mandiri yang dilakukan
oleh seorang individu dibantu oleh seorang praktisi atau
perawat memiliki tujuan sebagai berikut:

42

BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri

a. Perawat melakukan melakukan supportive educative,
bertujuan agar pasien mampu mencapai target sehat
mandiri

b. Perawat mengukur tingkat kemandirian pasien, sehingga
membantu pasien mengetahui tingkat kemandirian dimiliki
atau dicapai oleh pasien

c. Perawat mengidentifikasi hambatan atau masalah pasien,
sehingga pasien berusaha menyelesaikan hambatan dan
masalah dalam mempertahankan tingkat kemandirian dan
meningkatkan self efficacy (keyakinan tentang kemampuan
dalam melakukan kemandirian)

d. Perawat mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi,
sehingga pasien memahami apa saja target sehat mandiri
yang harus diacapai oleh pasien

e. Perawat mendokumentasi tindakan yang dilakukan,
dengan tujuan supaya pasien dapat melihat perkembangan
kemampuan yang dimiliki untuk mencapai target sehat
mandiri.

43

BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri

1.4 Komponen Mindfulness Target Sehat Mandiri
Kabat-Zinn mengungkapkan bahwa prinsip dalam terapi
Mindfulness terdiri dari 5 komponen yaitu;
1) Observing yaitu kemampuan mengobservasi dan menyadari

adanya pikiran, perasaan, persepsi dan sensasi.
2) Describing yaitu mendiskripsikan dengan kata-kata apa yang

dirasakannya.
3) Acting with awareness yaitu bertindak dengan penuh

kesadaran.
4) Nonreactivity yaitu bersikap non-reaktif terhadap

pengalaman pribadi
5) Nonjudge yaitu bersikap tanpa penilaian terhadap

pengalaman pribadi.

Mindfulness untuk target sehat mandiri memiliki 5
komponen yang akan dilakukan oleh tiap individu yang
melakukan latihan mindfulness. Adapun komponen tersebut
adalah sebagai berikut:

a. Kesadaran tentang masalah yang dihadapi (emosi, program
pengobatan dan aktivitas peran dan fungsi sehari-hari).

b. Melalui body scan pasien mampu mengidentifikasi keluhan
secara fisik untuk diatasi secara holistik (fisik dan jiwa).

44

BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri

c. Belajar tentang rasa nyaman, pasien diajarkan tentang rasa
nyaman pada apa yang terjadi disekitarnya atau
lingkungannya (misalnya; merasakan sejuknya udara atau
merasakan senangnya dengan teman sebelahnya).

d. Pasien mulai merasakan permasalahan yang dihadapi
dalam rangka menjaga kesehatannya, contohnya;
kemampuan mengendalikan marah, tidak bisa tidur, tidak
enak makan, kurang olah raga, dan lain-lain.

e. Target sehat mandiri, pasien mampu menetukan hal yang
penting untuk menjaga kesehatannya, contohnya; cara
mengendalikan marah, cara tidur berkualitas, cara untuk
bisa berolahraga dengan waktu terbatas.

1.5 Mengukur Tingkat Kemandirian Pasien
Beberapa teori tentang kemandirian yang di pakai peneliti
adalah teori Orem (Renpenning, Taylor, 2001), yaitu
kemampuan pasien melakukansendiri melalui bantuan penuh
perawat dan kemampuan pasien mengatasi keterbatasan dan
dari Loriq, Holman, Sobel, Laurent, Gonzalez dan Minor (2006)
yaitu tentang kemampuan pasien mengatasi sakitnya,
kemampuan pasien untuk meneruskan hidupnya secara normal
dan kemampuan pasien mengatasi emosi (Hibbard, Stockard,
Mahoney, & Tusler, n.d.).

45

BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri

Berdasarkan Hibbard, dkk. (2004) peneliti mengembangkan
tingkat kemandirian pasien sebagai berikut:

a. Kemandirian tingkat I adalah: Pasien merasa yakin bahwa
keterampilan kemandirian itu sangat penting untuk pasien.
Contohnya; Pasien merasa penting untuk belajar
mengontrol emosi.

b. Kemandirian tingkat II adalah: Pasien membutuhkan
pengetahuan dan keterampilan dan merasakan
manfaatnya (kompensasi) sehingga pasien semakin yakin
bahwa keterampilan mandiri itu penting. Contohnya;
Dampak marah dan cara mengatasi amarah serta
keterampilan mengontrol marah.

c. Kemandirian tingkat III adalah: Pasien dibawah bimbingan
perawat melakukan keterampilan kemandirian, contohnya:
Pasien melakukan latihan mengontrol marah dengan
bimbingan.

d. Kemandirian tingkat IV adalah: Pasien mulai bisa
melakukan sendiri namun perlu dipertahankan oleh
perawat, contohnya: Pasien mengalami hambatan dalam
mengontrol marah.

e. Kemandirian tingkat V adalah: Pasien mampu mandiri
dalam melakukan keterampilan untuk memelihara

46

BAB I – Konsep Mindfulness untuk Target Sehat Mandiri

kesehatan, contohnya: pasien sudah mampu mengontrol
marah.
Berdasarkan masalah yang dialami oleh pasien bukan hanya
masalah fisik, tetapi juga masalah psikologi, sosial, dan spiritual
(Dossey, 2005).
a. Contoh kemandirian fisik yaitu kemampuan pasien
mengatasi masalah fisik yaitu minum obat, nutrisi, tidur
dan olah raga.
b. Contoh kemandirian psikologi, yaitu tentang kemampuan
pasien mengatasi marah, kemampuan pasien
menhilangkan rasa takut, malu, sedih, dan pikiran negatif,
kemampuan pasien mengenal gejala stress.
c. Contoh kemandirian sosial, pasien melakukan aktifitas
social baik keluarga, masyarakat dan lingkungan kerja.
d. Contoh kemadirian spiritual, pasien melakukan aktivitas
spiritual yaitu tentang kemampuan berdoa dan keyakinan
terhadap Allah.

47

BAB II - Intervensi yang Dikembangkan untuk Target Sehat Mandiri

BAB II

Metode Intervensi yang Dikembangkan Untuk
Target Sehat Mandiri

2.1 Supportive Educative

Edukasi suportif merupakan salah satu intervensi keperawatan
dalam mendukung pasien untuk meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan mobilisasi mandiri pasca operasi. Mengacu
pada teori Orem (2001), tentang self-care terkait dengan faktor
kondisi pasien, merupakan suatu kemampuan individu untuk
memprakarsai dirinya dalam melakukan perawatan secara
mandiri dan untuk mempertahankan kesehatannya, dan Self-
care deficit merupakan kebutuhan akan keperawatan ketika
berkurangnya kemampuan untuk memenuhi kebutuhan
kemandirian (self-care).

Nursing System Teory, yaitu sistem pelayanan yang
memfasilitasi pemenuhan kebutuhan kemandirian
memberikannya secara terapeutik sesuai dengan tiga tingkatan
kemampuan yaitu The wholly compensatory nursing system,
diberikan pada pasien dengan ketergantungan tinggi. The
partially compensatory nursing system, diberikan pada pasien
dengan ketergantungan sedang, dan The supportive educative
nursing system, diberikan pada pasien dengan pemulihan atau

48

BAB II - Intervensi yang Dikembangkan untuk Target Sehat Mandiri

ketergantungan ringan. Edukasi suportif diberikan untuk
memotivasi pasien dalam melakukan kemandirian (Orem, 2001;
Tomey & Alligood 2006).
Tujuan
Tujuan edukasi pasien adalah untuk mengembangkan perilaku
kesehatan dan status kesehatan, yang pada akhirnya
memungkinkan pasien dapat bertanggung jawab terhadap
kesehatannya sendiri (Rothrock, 1993).
Bentuk supportif educatif yang diberikan oleh perawat yaitu
melalui peningkatan efikasi dengan cara:
a. Pengalaman keberhasilan

Perawat memberi dukungan dan motivasi kepada klien atas
keberhasilan yang pernah dilakukan.
b. Pengalaman oranglain
Perawat dalam ha ini memberikan contoh bentuk
pengalaman-pengalaman terbaik dari orang lain agar
menjadi motivasi klien untuk melakukan hal yang sama.
c. Support secara verbal
Pada support verbal, individu diarahkan oleh perawat
dengan saran, nasihat dan bimbingan sehingga dapat
meningkatkan keyakinannya tentang kemampuan-
kemampuan yang dimiliki sehingga dapat membantu
mencapai tujuan yang diinginkan.

49

BAB II - Intervensi yang Dikembangkan untuk Target Sehat Mandiri

d. Kondisi fisiologis
Perawat dalam hal ini memberitahu tentang kondisi klien
dan membantu klien untuk menyadari kemampuan yang
dimiliki.

2.2 Peer-Support Group

Definisi peer-support group adalah suatu proses terapi pada
kelompok yang memiliki permasalahan yang sama untuk
mengkondisikan dan memberi penguatan pada kelompok
maupun perorangan dalam kelompok sesuai dengan
permasalahannya (Paul S, 2014). Dukungan kelompok (peer-
support group) biasanya terdiri atas 4 sampai 12 anggota
dengan pertemuan bulanan, mingguan, atau bahkan dua kali
setiap minggu. Dalam kelompokpara anggota berbagi pemikiran
dan perasaan tentang dirinya sendiri (Green, 2017).

Tujuan
Tujuan dari Peer Support Group adalah saling berbagi dan
mendengarkan orang lain untuk memunculkan variasi berbagai
sudut pandang untuk dari berbagai permasalahan yang
mengembangkan perasaan para anggota, Dengan demikian,
kelompok tersebut memungkinkan para anggota untuk belajar
bahwa orang lain sedang berjuang keras untuk mengatasi

50

BAB II - Intervensi yang Dikembangkan untuk Target Sehat Mandiri

permasalahan-permasalahan yang sama, emosi yang serupa,
dan memiliki pemikiran yang serupa.

2.3 Self-Help Group

Self-help group merupakan kelompok yang terdiri dari dua
orang atau lebih secara sukarela, dengan saling berbagi antar
anggota kelompok, mendukung dalam meningkatkan
pengetahuan serta pengalaman dari masing-masing anggota
untuk membantu dalam menyelesaikan masalah yang sedang
dihadapi atau sebagai kelompok dalam memberikan semangat
(Aglen, Hedlund, & Landstad, 2011; Brown, Tang, & Hollman,
2014; Society for Community Research and Action, 2013).

Self- help group adalah cara yang digunakan oleh
sekelompok orang dalam mencapai tujuan bersama(Trisnasari,
2017). Self-help group merupakan cara yang dapat digunakan
dalam mengatasi permasalahan seperti stres, kesulitan,
kecanduan, dan masalah pengasuhan yang terjadi pada
seseorang (Brown et al., 2014; Trisnasari, 2017). Self-help group
telah banyak digunakan sebagai kelompok dalam memberikan
dukungan terhadap individu (Society for Community Research
and Action, 2013). Kegiatan dalam self-help group dapat
membantu individu dalam menyelesaikan permasalahan yang
sedang dihadapinya (Brown et al., 2014; Landers & Zhou, 2011).

51

BAB II - Intervensi yang Dikembangkan untuk Target Sehat Mandiri

Tujuan Self- Help Group
Tujuan dari self-help group adalah memberikan support
emosional pada semua anggota dalam menyelesaikan masalah
dengan berbagi pengalaman, informasi, ide baru serta belajar
dalam menemukan strategi koping yang baru dalam
menurunkan masalah pada saat memerlukan bantuan. Self-help
group mempunyai fokus dalam merubah sikap dan perilaku
seseorang (Herlinah, 2012; Utami, 2008).

52

BAB III – Masalah Kelompok dan Target Sehat Mandiri

BAB III

Masalah Kelompok dan
Target Sehat Mandiri

3.1 Kelompok Remaja dan Target Sehat Mandiri

Adolescence (remaja) adalah masa transisi dari anak-anak
menjadi dewasa. Istilah adolescence berasal dari kata
adolescere yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi
dewasa”. Adolescence artinya berangsur-angsur menuju
kematangan secara fisik, akal, kejiwaan dan sosial serta
emosional (Alie and Asrori, 2011).

a. Depresi pada Remaja
Depresi adalah salah satu jenis gangguan yang menyerang alam
perasaan atau emosi seseorang yang dapat disertai dengan
adanya gejala gangguan psikis seperti murung, sedih, putus asa,
rasa menderita, dan tidak bahagia serta gejala gangguan fisik
seperti susah buang air besar, kulit terasa lembab (dingin), tidak
nafsu makan, tekanan darah dan nadi rendah (Safitri & Hidayati,
2013).
Remaja yang mengalami depresi umumnya mengalami
gejala seperti mudah marah, tersinggung, menyendiri, sensitif,

53

BAB III – Masalah Kelompok dan Target Sehat Mandiri

mudah letih, dan mudah sakit. Masalah sosial yang kerap kali
terjadi dalam hal interaksi sosial berkisar dengan teman sebaya,
orangtua dan guru di sekolah. Masalah yang timbul tidak hanya
berupa konflik, akan tetapi juga dapat berbentuk perasaan
malu, minder, cemas jika berada dalam kelompok dan merasa
tidak nyaman untuk berkomunikasi secara normal. Seorang
remaja yang mengalami depresi sering kali merasa tidak mampu
untuk bersikap terbuka dan secara aktif membina hubungan
dengan lingkungan sekalipun ada kesempatan (Yosep Iyus,
2009). Remaja dengan mood depresi dapat merasakan
kehilangan energi dan minat, sulit berkonsentrasi, perasaan
bersalah, kehilangan nafsu makan, dan memikirkan tentang
kematian hingga muncul ide dan tindakan bunuh diri.

Target Sehat Mandiri pada Remaja yang Mengalami Depresi
Target sehat mandiri remaja sebagai siswa yaitu mempu
melakukan mindfulness secara mandiri untuk menurunkan
tingkat depresi yang dialami dan mampu menyelesaikan
masalah pribadi, masalah dengan teman sebaya, masalah
dengan guru dan orang tua.

b. Masalah Stres yang Dialami Siswa
Siswa dalam kehidupan sering mengalami stress, dalam
psikologi stress yang terjadi pada kehidupan siswa adalah stress

54

BAB III – Masalah Kelompok dan Target Sehat Mandiri

di sekolah (School stress). Stress di sekolah (school stress)
merupakan stress karena tekanan atau tuntutan pada kegiatan
akademik disekolah, sehingga menjadi beban siswa untuk
mencapai prestasi di sekolah.

Stress akademik yang timbul karena terlalu banyaknya
tuntutan dan tugas yang harus diselesaikan oleh siswa. Govaerst
dan Gregoire (2004), menggambarkan suatu kondisi atau
keadaan dimana individu mengalami tekanan dari hasil persepsi
dan penilaian yang dilakukan individu tentang stressor akademik
yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan pendidikan.
Stress akademik yang dialami siswa merupakan adanya hasil
persepsi subjektif karena adanya ketidakseimbangan antara
tuntutan lingkungan dengan sumber daya aktual yang dimiliki
oleh siswa.

Stress akademik merupakan persepsi dari pengetahuan
yang harus dikuasai dan ketidakcukupan waktu yang dimiliki
individu dalam mengembangkan pengetahuan. Stress akademik
merupakan stress yang terjadi karena adanya kegiatan belajar
siswa di sekolah. Siswa yang mengalami stress akademik karena
adanya kesenjangan antara lingkungan dengan prestasi
akademik dan kemampuan yang dimiliki individu dalam
mencapainya. Respon dari stress yang ditimbulkan berupa

55

BAB III – Masalah Kelompok dan Target Sehat Mandiri

perilaku, pikiran dan reaksi emosi yang negatif sebagai akibat
adanya tuntutan dari sekolah ataupun kegiatan akademik.

Target Sehat Mandiri pada Siswa yang Mengalami Stres
Target sehat mandiri yang dicapai mahasiswa yaitu
terbentuknya suatu self-help group yang mampu membantu
siswa menurunkan tingkat stres, memecahkan masalah yang
dialaminya dengan solusi yang diberikan oleh kelompok self-
help, membentuk koping yang positif.

3.2 Kelompok Mahasiswa dan Target Sehat Mandiri

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mahasiswa
adalah mereka yang sedang belajar di perguruan tinggi.
Mahasiswa dapat didefinisikan sebagai individu yang sedang
menuntut ilmu ditingkat perguruan tinggi, baik negeri maupun
swasta atau lembaga lain yang setingkat dengan perguruan
tinggi.

Seorang mahasiswa dikategorikan pada tahap
perkembangan yang usianya 18 sampai 25 tahun. Tahap ini
dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa
dewasa awal dan dilihat dari segi perkembangan, tugas

56

BAB III – Masalah Kelompok dan Target Sehat Mandiri

perkembangan pada usia mahasiswa ini ialah pemantapan
pendirian hidup (Yusuf, 2012).

a. Masalah Stres pada Mahasiswa
Pendekatan psikologis menggambarkan bahwa stres yang
dialami oleh individu yang bereaksi terhadap stres, bentuknya
non spesifik artinya berbeda-beda setiap individu dan sumber
stres. stres berasal dari luar sebagai pencetus. Pendekatan
sosiologi mendefinisikan stres sebagai suatu transaksi. Model
transaksi terjadi antara individu denganlingkungannya, yang
berarti bahwa pada saat individu berinteraksi dengan
lingkungan akan memberikan dampak atau umpan balik pada
hubungan individu-lingkungan. Walaupun setiap orang berisiko
untuk mengalami stres. Hubungan tersebut tetap
membutuhkan keseimbangan yang dinamis antar individu
dengan lingkungannya, dalam artian mahasiswa dapat
beradapatasi dengan lingkungan sekitarnya sehingga stres dapat
terhindar.
Stres akademik berkaitan dengan segala sesuatu yang
mempengaruhi kehidupan akademik. Stres akademik diartikan
sebagai suatu kondisi atau keadaaan individu yang mengalami
tekanan sebagai hasil persepsi dan penilaian mahasiswa tentang
stresor akademik, yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan

57

BAB III – Masalah Kelompok dan Target Sehat Mandiri

dan pendidikan di perguruan tinggi (Green, 2017). Stres
akademik erat kaitainnya dengan kehidupan akademik seperti
belajar mengerjakan tugas, membayar IPP dan kegiatan ekstra
lain yang dialami oleh pelajar dari usia anak sampai dengan
dewasa, tergantung dimana seseorang tersebut mencari ilmu
pengetahuan. Lingkungannya, yang berarti bahwa pada saat
individu berinteraksi dengan lingkungan akan memberikan
dampak atau umpan balik pada hubungan individu-lingkungan.
Walaupun setiap orang berisiko untuk mengalami stress (Paul,
2014). Hubungan tersebut tetap membutuhkan keseimbangan
yang dinamis antar individudengan lingkungannya, dalam artian
mahasiswa dapat beradapatasi dengan lingkungan sekitarnya
sehingga stres dapat terhindar.

Target Sehat Mandiri pada Mahasiswa yang Mengalami Stres
Target sehat mandiri pada mahasiswa diantaranya yaitu
terbentuknya peer support group untuk saling berbagi atau
support sehingga mampu menemukan solusi seperti meredam
ego, menenangkan diri, berbicara baik-baik dengan teman,
mengatur waktu tidur, menjaga keakraban dengan teman
(makan, bermain dan menonton bersama), mencoba menyuaki
mata pelajaran, shalat, menghubungi dan meminta restu orang
tua, berpikir positif, bersyukur, belajar dan mencari motivasi,

58

BAB III – Masalah Kelompok dan Target Sehat Mandiri

berbuat baik dan yakin pada Allah, ikhlas, membuat jadwal
kegiatan, percaya diri. Solusi-solusi tersebut merupakan target
sehat mandiri untuk mengatasi masalah konflik antar teman,
lingkungan, akademik, manajemen waktu dan belum merasa
mantap belajar di PSIK.

b. Masalah Ansietas pada Mahasiswa Tingkat Akhir
Mahasiswa sangat membutuhkan kontrol dalam menangani
masalah ansietas. Mahasiswa sejatinya dapat merespon
terhadap ansietas yang dialaminya baik dengan perilaku yang
adaptif maupun dengan perilaku maladaptif. Respon individu
terhadap ansietas sangat bervariasi, bisa berupa adaptif yang
mana kecemasan bisa menjadi motivasi kuat yang menjadi
pemicu problem solving yang produktif dan berprestasi. Respon
terhadap kecemasan bisa juga berupa maladaptive yang mana
kecemasan tidak membantu menyelesaikan permasalahan yang
ada, malah memperburuk keadaan dan membuat seseorang
terpuruk.
Adapun sumber ansietas yang sering terjadi pada
mahasiswa bisa beragam menurut Al Zayyat (2014), antara lain
adalah:
1. Sumber akademik meliputi ujian, takut gagal dan beban
kerja.

59

BAB III – Masalah Kelompok dan Target Sehat Mandiri

2. Sumber klinis meliputi penempatan klinis, takut melakukan
kesalahan dan masalah kolaborasi berupa interaksi dengan
anggota staf profesi kesehatan lainnya.

3. Sumber pribadi dan sosial mencakup masalah keuangan dan
tidak adanya waktu luang untuk belajar

Target Sehat Mandiri pada Mahasiswa Tingkat Akhir yang
Mengalami Ansietas
Adapun target sehat mandiri yang dilakukan mahasiswa tingkat
akhir setelah melakukan paket intervensi mindfulness yaitu
mampu menurunkan tingkat ansietas secara mandiri melalui
latihan mindfulness dan calming technique menggunakan
aplikasi android SIMBA (Sistem Informasi Mahasiswa Bebas
Ansietas) dengan aplikasi tersebut mahasiswa dapat
mengerjakan serta menyelesaikan skripsi dengan penuh
kesadaran (mindful).

3.3 Kelompok Ibu Bekerja dan Target Sehat Mandiri

Ibu bekerja adalah ibu yang memperoleh atau mengalami
perkembangan dan kemajuan dalam pekerjaan dan jabatan
dalam kegiatan suatu profesi baik berbentuk usaha atau
perkantoran. Ibu bekerja juga dapat diartikan ibu yang
menekuni suatu atau beberapa pekerjaan yang dilandasi oleh

60

BAB III – Masalah Kelompok dan Target Sehat Mandiri

keahlian tertentu yang dimilikinya untuk mencapai suatu
kemajuan dalam hidup, pekerjaan, dan jabatan sehingga
mampu menghidupi dirinya sendiri maupun keluarganya
(Andriyani, 2014).

Salah satu pekerjaan ibu bekerja adalah perawat. Perawat
adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi
keperawatan, baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui
oleh pemerintah sesuai dengan ketentuan Peraturan
Perundang-undangan. Pelayanan keperawatan adalah suatu
bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral
dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat
keperawatan ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok,
atau masyarakat, baik sehat maupun sakit.
Beban kerja adalah jumlah pekerjaan yang dibebankan oleh
suatu unit organisasi atau jabatan yag merupakan hasil
perkalian waktu dan jumlah kerja. Adapun faktor beban ibu
bekerja sebagai perawat dipengaruhi oleh:
a. Faktor internal

Faktor internal meliputi faktor biologis tubuh itu sendiri
seperti umur, jenis kelamin, berat dan tinggi badan, gizi,
kesehatan diri serta faktor psikologis seperti persepsi,
motivasi, kepuasan dan keinginan.

61

BAB III – Masalah Kelompok dan Target Sehat Mandiri

b. Faktor eksternal
Faktor eksternal yaitu semua faktor diluar biologis pekerja
yaitu seperti kegiatan di tempat kerja, tugas pokok dan
fungsi di tempat kerja, serta kondisi lingkungan kerja.

Stres pada Ibu Bekerja
Stres adalah tuntutan-tuntutan eksternal mengenai seseorang.
Stres juga dapat diartikan sebagai tekanan, ketegangan atau
gangguan tidak menyenangkan yang berasal dari luar atau dari
dalam diri seseorang (Zainal, Hadad, & Ramly, 2014). Stres pada
ibu bekerja adalah stres pada wanita yang timbul akibat
tuntutan bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga
dan tekanan akan peran ganda antara kewajiban terhadap
pekerjaan dan keluarga.

Target Sehat Mandiri pada Ibu Bekerja yang Mengalami Stres
Ibu bekerja yang mengalami stres memiliki target sehat mandiri
berupa kemandirian untuk menurunkan stres melalui terapi
mindfulness, paket target sehat mandiri perawat cerdik, dan
kesejahteraan ibu saat bekerja. Kesejahteraan ibu dapat diraih
melalui target sehat mandiri seperti mampu mengontrol diri,
bekerja dengan senang dan ikhlas, menjadi isteri dan ibu yang
sejahtera.

62

BAB III – Masalah Kelompok dan Target Sehat Mandiri

3.4 Kelompok Ibu Hamil dan Target Sehat Mandiri

Masalah Stres pada Ibu Hamil
Stres mengacu pada kualitas pengalaman, yang dihasilkan
melalui hubungan manusia dengan lingkungan salah satunya
melalui emosi berlebihan atau kurang yang menghasilkan
tekanan psikologis atau fisiologis. Stres adalah cara reaksi tubuh
terhadap sesuatu yang tidak biasa, berbahaya, tidak diketahui
atau mengganggu, saat di bawah tekanan, tubuh akan membuat
perubahan fisik dan kimiawi. Tekanan pada ibu selama hamil
yaitu keadaan emosi yang meninggi selama beberapa waktu
karena rasa takut, marah dan sedih.

Penyebab stres pada ibu selama kehamilan adalah merasa
belum siap menjadi orang tua, takut mengganggu program
pendidikan atau pekerjaan, ada kesulitan keuangan, gangguan
fisik atau perubahan fisik selama kehamilan dan yang cukup
sering dialami adalah takut janin yang dikandung mengalami
cacat fisik dan keterbelakangan. Penyebab stres yang lain terkait
dengan banyaknya kehidupan yang penuh tekanan kejadian,
tingkat kepuasan dengan layanan Antenatal Care (ANC), dan
kerja berat selama kehamilan.

63

BAB III – Masalah Kelompok dan Target Sehat Mandiri

Target Sehat Mandiri Ibu Hamil yang Mengalami Stres
Target sehat mandiri yang dicapai ibu hamil yaitu mampu
melakukan mindfulness untuk menurunkan stres, ibu mampu
berpikir positif, menikmati kesenangan sederhana, menikmati
kehamilan, lebih terbuka, ikhlas dan beradaptasi dengan
kehamilan saat ini serta tidak bereaksi terhadap sumber
stressor.

3.5 Kelompok Caregiver dan Target Sehat Mandiri

Masalah Caregiver Burden pada Caregiver
Care Giver adalah seorang pengasuh anggota dari sebuah ikatan
sosial atau keluarga, seseorang yang tidak dibayar atau dibayar
yang membantu seseorang dengan kegiatan sehari-hari.
Sedangkan Caregiver burden adalah stress yang dialami oleh
petugas panti yang merawat lansia yang ada dirumah dalam
waktu yang lama (Zarit & Savla, 2016). Menurut George dan
Grytwer (2012), mengemukakan Caregiver burden sebagai
beban fisik psikologis dan emosional, sosial yang dapat dialami
oleh Caregiver, hal ini sesuai dengan pernyataan oleh Kozier et
al yang memandang Caregiver burden sebagai stress yang
dialami Caregiver akibat perawatan dalam waktu yang lama
(Kozier et al, 2008).

64

BAB III – Masalah Kelompok dan Target Sehat Mandiri

Penelitian Biegel (2013), Menjelaskan bahwa Caregiver burden
dipengaruhi oleh karakteristik penyakit lansia dan karakteristik
Caregiver. Karakteristik penyakit lansia meliputi keparahan
penyakit, perubahan yang dialami dan lamanya penyakit yang
dialami, sedangkan karakteristik Caregiver meliputi demografi
(jenis kelamin, hubungan peran, status sosial ekonomi, tahap
perkembangan usia dan dukungan sosial. Mace Rabin, 2014
menyatakan bahwa Caregiver burden karena merawat lansia
demensia dapat menimbulkan dampak fisik, psikologis, atau
emosi dan sosial (Nancy L. Mace& Peter V Rabins, 2006).

Target Sehat Mandiri Caregiver yang Mengalami Burden
Target sehat mandiri yang dicapai oleh para caregiver berupa
kemampuan melakukan terapi mindfulness untuk menurunkan
burden dan melakukan kegiatan sehar-hari sebagai caregiver.

65

BAB IV – Hasil Penelitian

BAB IV

Hasil Penelitian

4.1 Hasil Penelitian Kelompok Remaja

1. Penelitian pengaruh Mindfulness terhadap tingkat depresi
siswa SMK Sepuluh November.

Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan 44 subyek

sebagai responden siswa SMK di Semarang yang terdiri dari

30 responden kelas X dan 14 responden kelas XI yang

terdeteksi mengalami depresi ringan dan sedang.

Tabel 4 Distribusi Frekuensi Tingkat Depresi Pre Test dan Post

Test Responden

Tingkat Responden (%)

Depresi Pre Test Post Test

Normal - 42(95.45)

Ringan 7(15,91) 2(4.55)

Sedang 37(84,09) -

Dari diatas dapat dilihat bahwa mayoritas tingkat depresi
responden untuk pre test berada pada level sedang dengan
37 responden dan 7 responden berada pada level ringan.
Sedangkan pada post test sebanyak 42 responden berada
pada level normal dan sisanya 2 responden berada pada
level ringan.

66

BAB IV – Hasil Penelitian

Pembahasan Penelitian
Efektifitas terapi mindfulness dengan metode calming

technique yang diterapkan pada penelitian ini, sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Lau dan Hue pada
remaja di sebuah sekolah di Hongkong. Hasil penelitian ini
menyebutkan bahwa terdapat penurunan yang signifikan
dalam gejala depresi dan peningkatan yang signifikan pula
pada beberapa komponen kesejahteraan siswa pada
kelompok responden setelah mendapatkan perlakuan
program mindfulness selama 6 minggu(Lau & Hue, 2011).
Hasil lainnya dari studi meta analisis yang dilakukan oleh
Hofmann et al. dengan judul “Efek Terapi Mindfulness pada
Kecemasan dan Depresi” menerangkan bahwa terapi
berbasis kesadaran merupakan intervensi yang menjanjikan
untuk menurunkan tingkat kecemasan dan depresi pada
populasi klinis (Hofmann, Sawyer, Witt, & Oh, 2010).

Efek terapi mindfulness juga tidak hanya terbukti untuk
menurunkan tingkat depresi pada remaja saja, akan tetapi
juga berdampak positif pada beberapa keadaan pasien
dengan kondisi sakit lainnya. Penelitian terbaru tentang
pengaruh intervensi mindfulness, dilakukan pada remaja
perempuan penderita diabetes tipe 2 yang beresiko
mengalami gejala depresi yang dilakukan Shomaker, et al.

67

BAB IV – Hasil Penelitian

Penelitian ini membandingkan dua kelompok penderita
dimana kelompok kontrol diberikan terapi perilaku & terapi
kognitif sementara kelompok intervensi diberikan terapi
mindfulness. Hasilnya setelah 6 bulan pasca perawatan
menunjukkan hasil bahwa, remaja perempuan penderita
diabetes tipe 2 dari kelompok intervensi mengalami
penurunan terhadap gejala depresi dibandingkan dengan
kelompok kontrol. Selain itu kelompok intervensi juga
menunjukkan penurunan lebih besar dibanding dengan
kelompok kontrol dari hasil uji resistensi insulin (Shomaker
et al., 2017).

Di tahun 2016, Abdolahzadeh, Zeynab et. al juga
melakukan penelitian tentang efektivitas terapi berbasis
kesadaran pada remaja dengan gangguan ADHD (Attention
Deficit Hyperactivity Disorder). Penelitian ini
membandingakan dua kelompok, kelompok eksperimen
yang diberikan intervensi mindfulness dengan kelompok
kontrol yang diberikan perlakuan setelah kelompok
intervensi selesai mendapatkan perlakuan. Hasil temuan dari
pre dan post intervensi didapatkan bahwa kelompok
eksperimen melaporkan gejala ADHD yang lebih sedikit
dibandingkan dengan kelompok kontrol. Selain itu, tingkat
penerimaan/kesadaran dari kelompok eksperimen

68

BAB IV – Hasil Penelitian

meningkat dilihat dari hasil post test dibandingkan dengan
kelompok kontrol (Abdolahzadeh, Mashhadi, & Tabibi,
2017). Hasil ini menunjukkan bahwa terapi mindfulness layak
direkomendasikan sebagai terapi suportif untuk mengatasi
kondisi-kondisi pasien baik secara klinis maupun secara
psikologis.

Pada penelitian ini, metode mindfulness yang
digunakan sebagai intervensi terbukti juga dapat
menurunkan tingkat depresi pada remaja. Keberhasilan
penelitian ini didukung dengan penggunaan metode calming
technique, penggunaan modul Sinergi disertai home work
dan juga adanya follow up post intervensi. Perangkat
penelitian ini digunakan untuk memudahkan peneliti dalam
hal proses penelitian dan juga dalam hal mengontrol bias
penelitian.

Terapi mindfulness dengan calming technique, terbukti
dapat menurunkan tingkat depresi remaja. Hal ini dapat
terjadi karena selama intervensi mindfulness, responden
diarahkan untuk mencapai kesadaran diri melalui rangkaian
teknik latihan relaksasi nafas dalam, visualisasi mental dan
meditasi (Centre for Clinical Interventions, 2011). Tiga
langkah ini jika diterapkan dengan baik oleh remaja yang
mengalami depresi dengan tingkat ringan sampai sedang,

69

BAB IV – Hasil Penelitian

akan dapat membantu remaja mencapai kondisi mindfulness
dengan baik.

Teknik relaksasi nafas dalam pada metode mindfulness
calming technique, dapat membantu seseorang untuk
merelaksasikan fungsi-fungsi vital tubuh seperti pada otak,
pernafasan dan pencernaan (Centre for Clinical Interventions,
2011;Kuswandi, Sitorus, & Gayatri, 2008). Setelah mencapai
keseimbangan dari ketiga organ tersebut, responden
diarahkan untuk dapat memusatkan pikiran, perhatian untuk
dapat merasakan kenyamanan dengan terlebih dahulu
merasakan denyut nadi sendiri melalui teknik visualisasi
mental. Melalui visualisasi mental ini, seseorang akan dapat
merasakan kondisi yang ada dipikirannya seolah-olah nyata
dan benar-benar terjadi. Semakin jelas terasa, akan semakin
membantu seseorang fokus pada kondisinya yang lebih baik
lagi (Bossi & Porter, 2011).

2. Penelitian pengaruh Self-Help Group terhadap tingkat stres
siswa SMK 1 Kediri.

Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X dan
XI yang telah dilakukan skrining oleh peneliti di SMK Negeri 1
Kediri, yaitu sebanyak 1.374 siswa dengan jumlah kelas X dan
XI sebanyak 42 kelas pada tahun 2018. Kemudian

70

BAB IV – Hasil Penelitian

didapatkan jumlah responden penelitian sebanyak 216 siswa
dari hasil skrining yang dilakukan sebelum penelitian,
pembagian responden pada kelompok intervensi 141 dan
kelompok kontrol 141.

Tabel 5. Tingkat Stres Siswa SMK Sebelum dan Setelah

Intervensi Pada Kelompok Kontrol dan Kelompok Intervensi.

Kelompok Perlakua Mean Median SD Min Max
Kontrol n
Intervensi Sebelum 19,79 20 3,261 14 33
20,29 20 4,074 14 33
Setelah 18,98 19 3,457 14 33
Sebelum 15,87 14 3,567 14 33

Setelah

Hasil dari tabel diatas menunjukkan pada kelompok
kontrol nilai rata-rata (mean) tingkat stres sebelum
intervensi adalah 19,79, nilai median 20 dan standar deviasi
sebesar 3,261. Sedangkan setelah intervensi nilai rata-rata
(mean) tingkat stres adalah 20,29, nilai median 20 dan
standar deviasi 4,074. Pada kelompok kontrol sebelum dan
setelah intervensi tingkat stres cenderung mendekati nilai
tertinggi atau nilai maksimal dengan nilai tingkat stres adalah
terendah 14 dan nilai tertinggi adalah 33. Pada kelompok
kontrol terjadi peningkatan sebesar 0,44.

71

BAB IV – Hasil Penelitian

Pada kelompok intervensi sebelum dilakukan intervensi
nilai rata-rata (mean) sebesar 18,98, nilai median 19 dan nilai
standar deviasi sebesar 3,457. Sedangkan setelah intervensi
nilai rata-rata (mean) tingkat stres 15,87, nilai median 14 dan
nilai standar deviasi 3,567. Tingkat stres sebelum dilakukan
intervensi cenderung mendekati nilai tertinggi atau nilai
maksimal tingkat stres dan setelah dilakukan intervensi
cenderung mengalami penurunan atau mendekati nilai
minimum. Pada kelompok intervensi sebelum dan setelah
intervensi nilai terendah tingkat stres adalah 14 dan nilai
tertinggi adalah 33. Pada kelompok intervensi terjadi
penurunan tingkat stres sebesar 3,11.

Pembahasan Penelitian
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai rata-

rata tingkat stres remaja pada kelompok kontrol sebelum
intervensi 19,79 dan setelah intervensi 20,29 dengan nilai
p=0,512. Sedangkan sebelum pemberian intervensi 18,16
sedangkan setelah intervensi menjadi 15,84 dengan nilai
p=0,003. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan nilai rata-rata tingkat stres pada remaja setelah
dilakukan intervensi pada kelompok kontrol dan kelompok
intervensi. Rata-rata penurunan tingkat stres pada kelompok

72

BAB IV – Hasil Penelitian

intervensi adalah 3,11 setelah diberikan intervensi self-help
group, sedangkan pada kelompok kontrol terjadi
peningkatan 0,44.

Hasil penelitian ini pada mekanisme koping Problem
Focused Coping. Pada mekanisme koping Problem Focused
Coping (PFC) pada kelompok kontrol nilai rata-rata 115,95
dan setelah intervensi nilai rata-rata sebesar 113,75 pada
kelompok dengan nilai p=0,293. Sedangkan pada kelompok
intervensi nilai rata-rata sebelum didapatkan 113,01 dan
setelah intervensi menjadi 115,04 dengan nilai p=0,000. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nilai
rata-rata mekanisme koping Problem Focused Coping pada
remaja setelah dilakukan intervensi pada kelompok kontrol
dan kelompok intervensi. Rata-rata penurunan mekanisme
koping problem focused coping pada kelompok kontrol
adalah 2,2 setelah diberikan intervensi self-help group,
sedangkan pada kelompok intrevensi terjadi peningkatan
2,03.

Hasil penelitian ini pada mekanisme koping Emotional
Focused Coping (EFC). Pada mekanisme koping Emotional
Focused Coping (EFC) pada kelompok kontrol nilai rata-rata
113,52 dan setelah intervensi nilai rata-rata sebesar 116,18
pada kelompok dengan nilai p=0,293. Sedangkan pada

73

BAB IV – Hasil Penelitian

kelompok intervensi nilai rata-rata sebelum didapatkan
115,08 dan setelah intervensi menjadi 113,10 dengan nilai
p=0,000. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan nilai rata-rata mekanisme koping Problem
Focused Coping pada remaja setelah dilakukan intervensi
pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Rata-rata
peningkatan mekanisme koping pada kelompok kontrol
adalah 2,66 setelah diberikan intervensi self-help group,
sedangkan pada kelompok intervensi terjadi penurunan
sebesar 2,34.

Penelitian ini menggunakan intervensi self-help group
dalam menurunkan tingkat stres dan meningkatkan
mekanisme koping siswa lebih kearah yang positif lebih
kearah Problem Focused Coping. Self-Help group sangat
berpengaruh terhadap dalam menurunkan tingkat stres dan
mekanisme koping siswa lebih efektif pada remaja. Hasil dari
penelitian ini sesuai dengan tujuan dari penelitian adalah
untuk melihat pengaruh dari intervensi self-help group
dalam menurunkan tingkat stres pada remaja di SMK Negeri
Kota Kediri.

Faktor yang mempengaruhi keberhasilan dari penelitian
ini adalah strategi yang digunakan dalam self-help group
pada remaja. Pelaksanaan dari self-help group tidak lepas

74

BAB IV – Hasil Penelitian

dari social support dan social learning theory dalam
meningkatkan kemampuan dan kemandirian siswa dengan
meningkatkan pengetahuan dan pengalaman dari siswa
terhadap tingkat stres dan mekanisme koping dari setiap
anggota kelompok.

Social support merupakan pertukaran terhadap sumber
yang ada sebagai tujuan dalam meningkatkan kesejahteraan
pada setiap individu dengan memberi bantuan, semangat,
penerimaan dan perhatian. Dukungan sosial yang diberikan
akan mampu meningkatkan kesehatan psikis dan melindungi
terhadap stres. Hasil penelitian ini didukung dari penelitian
Petroff, et al. 2008 bahwa remaja yang mempunyai
dukungan sosial yang yang memadai maka akan mampu
menurunkan tingkat stres. Dukungan sosial mempunyai efek
dalam mengelola stres akademik yang terjadi pada remaja.

4.2 Hasil Penelitian Kelompok Mahasiswa
1. Penelitian pengaruh Mindfulness dengan metode Peer

Support Group terhadap Tingkat Stress Mahasiswa
Keperawatan Tingkat Awal.

Karakteristik Responden dalam penelitian ini berjumlah
74 mahasiswa yang terdiri dari 36 mahasiswa sebagai
kelompok intervensi dan 38 mahasiswa sebagai kelompok
kontrol.

75

BAB IV – Hasil Penelitian

Tabel 6 Kategori Tingkat Stres Pada Kelompok Kontrol

dan Intervensi

Kelompok Kategori Kontrol Intervensi p-value
(X2)

Pre Test 0,983

Ringan 22 21

Sedang 16 15

Post Test 0,000

Ringan 21 3

Sedang 15 1

Data yang diperoleh dari tabel diatas dengan
menggunakan uji Mann-Whitney dapat disimpulkan bahwa
tidak terdapat perbedaan secara signifikan terhadap
kelompok kontrol dan kelompok intervensi (p-value = 0,983)
pada saat pre-test. Dan terdapat perbedaan kondisi secara
signifikan pada kelompok kontrol dan intervensi (p-value =
0,000) pada saat post-test. Dimana hal ini menunjukan bahwa
pada kelompok intervensi terdapat perubahan tingkat stres
mahasiswa.
Pembahasan Penelitian

Hasil dari kelompok kontrol menunjukan bahwa data yang
diperoleh peneliti menunjukan bahwa responden yang
mengisi DASS dengan item mudah marah/gelisah 20 (52,8%),
mudah tersinggung / over-reaktif 10 (27,2%) dan tidak sabar
8 (20%). terdapat responden yang tidak mengalami stres /
normal berjumlah 8 (21,05%) responden, terdapat 16 (42,1%)
mahasiswa yang mengalami tingkat stres ringan, terdapat 11

76

BAB IV – Hasil Penelitian

(28,9%) responden yang mengalami tingkat stres sedang.
Kelompok intervensi menunjukkan data yang diperoleh
peneliti menunjukan bahwa responden yang mengisi DASS
dengan item mudah marah/gelisah 2 (5,2%), mudah
tersinggung / over-reaktif 1 (2,6%) dan tidak sabar 1 (2,6 %)
tidak memlih item tersebut 34 (89,4%) dan data keseluruhan
sebagai berikut: terdapat 34 (89,4%) responden dengan
tingkat stres normal, terdapat 3 (7,8%) mahasiswa dengan
tingkat stres ringanterdapat 1 (2,6%) mahasiswa.

Hasil dari penelitian tersebut menunjukan yaitu Peer-
Support Group dapat menurunkan tingkat stres pada
mahasiswa keperawatan yang disebabkan karena
permasalahaan akademik yaitu prestasi yang menurun,
kurang percaya diri dengan masa depan yang diperoleh
ketika menjadi perawat, problem ekonomi, masalah dengan
dosen, masalah dengan teman, masalah akomodasi
perkuliahan dan permasalahan manajemen waktu.

Peer support groups adalah suatu proses terapi pada
kelompok yang memiliki permasalahan yang sama untuk
mengkondisikan dan memberi penguatan pada kelompok
maupun perorangan dalam kelompok sesuai dengan
permasalahannya (Elliott, Visitor, Educator, Yorkshire, &
Trust, 2016).

77

BAB IV – Hasil Penelitian

Setelah penelitian selama 3 minggu peneliti memperoleh
data sebagai berikut: dari kelompok kontrol menunjukan
bahwa terdapat responden yang tidak mengalami stres
normal berjumlah 8 (21,05%) responden, terdapat 16
(42,1%) mahasiswa yang mengalami tingkat stres ringan,
terdapat 11 (28,9%) responden yang mengalami tingkat stres
sedang. Kelompok intervensi menunjukkan data sebagai
berikut: terdapat 34 (89,4%)responden dengan tingkat stres
normal, terdapat 3 (7,8%) mahasiswa dengan tingkat stres
ringan terdapat 1 (2,6%) mahasiswa dengan tingkat stres
sedang dan tidak terdapat mahasiswa pada tingkat berat.

Penelititan diatas didukung dari peneltian yang dilakukan
oleh Jane (2017) menyebutkan bahwa peer mentor group
dapat menurunkan stres dan self efficacy, sense of
belonging, and loneliness prior to and following the
mentorship experience. Dalam penelitian tersebut dibantu
oleh 6 mentor yang masing-masing mentor membantu dari
permasalahan dari kelompok-kelompok mahasiswa
keperawatan yang bermasalah. Sehingga selama 6 minggu
mahasiswa dapat menyelesaikan permasalahannya dan
dapat terbebas dari stres (Sheppard, 2018). Hal tersebut
sama yang dilakukan oleh Li (2010) pada mahasiswa
keperawatan yang praktek di Rumah Sakit yang mengalami

78

BAB IV – Hasil Penelitian

stres akibat tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan
Rumah Sakit (Rn, Wang, & Rn, 2011). Hasil penelitian yang
dilakukan oleh Yilva pallson didapatkan bahwa peer
mentoring dapat berpengaruh terhadap peningkatan Self-
efficacy pada kelompok intervensi (Pålsson, Mårtensson,
Swenne, Ädel, & Engström, 2017).

3. Penelitian pengaruh Mindfulness melalui aplikasi android
SIMBA terhadap kecemasan Mahasiswa Keperawatan
Tingkat Akhir

Jumlah responden dalam penelitian ini berjumlah 77

mahasiswa keperawatan tingkat akhir Program Studi Ilmu

Keperawatan Universitas Diponegoro. Responden terbagi

menjadi kelompok intervensi (38 responden) dan kelompok

kontrol (39 responden).

Tabel 7 Kategori Level Ansietas Mahasiswa tingkat akhir PSIK

UNDIP Pada Kelompok Intervensi dan Kelompok

Kontrol

Kelompok Kategori Kelompok Kelompok p-value

Ansietas Intervensi Kontrol

Pre Test Sedang 34 38

Berat 4 1 0,352

Post Test Sedang 25 34

Berat - 5 0,000

Pada tabel diatas dengan menggunakan uji analisis
Mann-Whitney dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat

79

BAB IV – Hasil Penelitian

perbedaan kondisi yang signifikan antara pre-test pada
kelompok kontrol dan kelompok intervensi dengan nilai (p-
value=0,352) dan terdapat perbedaan kondisi signifikan pada
post-test di kelompok kontrol dan kelompok intervensi
dengan nilai (p-value=0,000). Dimana hal ini menunjukkan
bahwa pada kelompok intervensi terdapat perubahan level
ansietas pada mahasiswa keperawatan tingkat akhir program
studi ilmu keperawatan Universitas Diponegoro.

Pembahasan Penelitian
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat

perbedaan nilai mean ansietas pada responden setelah
perlakuan antara kelompok intervensi dengan kelompok
kontrol dengan nilai p value = 0,000. Hal ini ditunjukkan
dengan penurunan nilai rata-rata ansietas pada kelompok
intervensi sebesar 6,95 setelah pelatihan paket intervensi
SIMBA, sedangkan pada kelompok kontrol terjadi
peningkatan nilai rata-rata ansietas sebesar 0,77.

Faktor keberhasilan penelitian ini dalam menurunkan
level ansietas pada mahasiswa keperawatan tingkat akhir,
tidak terlepas dari strategi paket intervensi SIMBA yang
dijadikan peneliti sebagai perlakuan intervensi pada
responden mahasiswa keperawatan tingkat akhir. Paket

80

BAB IV – Hasil Penelitian

Intervensi SIMBA merupakan sebuah paket latihan dalam
menangani masalah ansietas pada responden, pelatihan
yang terdapat dalam paket intervensi SIMBA diantaranya
adalah; latihan calming technique danlatihan mindfulness
metode STOP, kedua latihan tersebut dapat di akses melalui
aplikasi android SIMBA yang merupakan sebagai sarana
instrument peneliti dalam menerapkan paket intervensi
SIMBA kepada responden.

Intervensi yang pertama dalam kegiatan penelitian
paket latihan SIMBA yang diberikan kepada responden
kelompok intervensi adalah latihan calming technique.
Latihan calming technique dengan tehnik pernapasan adalah
salah satu dari praktik relaksasi sederhana. Dengan hanya
melatih nafas dalam, responden dapat memusatkan
kesadaran pada pola pernapasan yang masuk (inhale) dan
keluar (exhale) (Bossi & Porter, 2011; Yu-fen Chen, Huang, &
Chien, 2016).

Latihan tersebut ditujukan pada responden kelompok
intervensi untuk menurunkan gejala-gejala ansietas yang
sering dirasakan oleh mahasiswa ketika mengalami
gangguan kecemasan. Diantara gejala yang sering terjadi
disaat seseorang mengalami ansietas secara umum, antara
lain gangguan fisiologis dan psikologis, gangguan daya ingat,

81

BAB IV – Hasil Penelitian

gangguan pola tidur, dan menimbulkan gejala somatik
(Hawari, 2006; Stuart & Laraia, 2012). Oleh karena itu latihan
calming tehnik bertujuan melatih mahasiswa keperawatan
sebagai responden untuk mencoba menghadapi setiap
masalah dalam keadaan yang tenang dan kondisi yang rileks
(Centre for Clinical Interventions, 2011; Yu-fen Chen et al.,
2016; Moscaritolo, 2009).

Intervensi yang kedua dalam paket SIMBA berupa
latihan mindfulness dengan metode STOP yang digunakan
sebelumnya dari pelatihan yang dikembangkan oleh Dr.
Meidiana Dwidiyanti, S.Kp, M,Sc (Sari & Dwidiyanti, 2014).
Latihan ini diharapkan dapat memotivasi mahasiswa dalam
menangani masalah ansietas. Latihan mindfulness metode
STOP merupakan suatu tehnik mindfulness yang membantu
mahasiswa untuk mampu menyadari tentang masalah yang
dihadapi dan dapat menemukan cara untuk menyelesaikan
masalah yang dihadapinya (Dwidiyanti et al., 2017). Adapun
langkah – langkah mindfulness menggunakan metode STOP
yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu; istirahat sejenak
dengan tehnik menenangkan diri, kemudian mencoba untuk
merasakan pernapasan hingga rileks, responden di arahkan
untuk menyadari permasalahan yang sedang dihadapinya,
selanjutnya responden mulai untuk merasakan dan

82

BAB IV – Hasil Penelitian

menghargai dirinya sendiri dan kemudian responden di
arahkan untuk mampu membuat target latihan secara
mandiri (Dwidiyanti et al., 2017).

Dari berbagai studi penelitian yang ada menunjukkan
bahwa latihan mindfulness adalah cara yang menjanjikan
untuk mahasiswa keperawatan untuk menangani
permasalahan psikologis seperti ansietas (Bamber &
Schneider, 2016; Shapiro, Schwartz, & Bonner, 2013).
Latihan mindfulness telah banyak dibuktikan di berbagai
studi penelitian dalam menurunkan level ansietas dan stres
pada mahasiswa keperawatan (Song & Lindquist, 2015;
Turner & Mccarthy, 2016). Terdapat penelitian tentang
mindfulness yang berjudul “Mindfulness Training for Health
Profession Students” menunjukkan bahwa mahasiswa
kesehatan yang mendapatkan latihan mindfulness sebelum
aktivitas akademik berjalan, dapat menurunkan tingkat stres,
menurunkan ansietas dan meningkatkan perhatian, serta
meningkatkan efikasi diri dan rasa empati di antara
mahasiswa kesehatan (McConville, McAleer, & Hahne,
2017). Lebih khusus dilaporkan dalam studi Gallego (2014)
latihan mindfulness pada mahasiswa yang disertai latihan
fisik secara santai dapat membantu mengurangi gejala stres

83

BAB IV – Hasil Penelitian

dan kecemasan yang disebabkan oleh ujian di akademik
(Gallego, Aguilar-Parra, Cangas, Langer, & Mañas, 2014).

Penelitian dengan studi literature ditemukan bahwa
mindfulness dapat menurunkan ansietas mahasiswa
keperawatan (Manocchi, 2017). Penelitian ini relevan
dengan penelitian Chen dkk (2013) menunjukkan bahwa
latihan mindfulness dapat mengurangi ansietas dan dapat
menurunkan tekanan darah sistolik pada mahasiswa
keperawatan di China (Yu Chen, Yang, Wang, & Zhang, 2013).
Penelitian Sik (2009) juga menyatakan bahwa latihan
mindfulness pada mahasiswa keperawatan di Korea dapat
mengurangi gejala ansietas dan tingkat stress (Sik, Young, &
Ryu, 2009).

Latihan mindfulness yang diberikan pada responden
kelompok intervensi dalam penelitian paket Intervensi
SIMBA dilakukan selama 4 kali pertemuan dalam kurun
waktu dua minggu, hal ini didasari dari penelitian
sebelumnya, yang dilakukan oleh Zeidan dkk (2010) yang
menerapkan kegiatan penelitian mindfulness metode singkat
selama 4 sesi pertemuan pada mahasiswa Universitas North
Carolina USA, hasil penelitian tersebut dilaporkan bahwa
mindfulness efektif dalam menurunkan kecemasan,
mengurangi kelelahan, meningkatkan suasana hati dan

84

BAB IV – Hasil Penelitian

perhatian mahasiswa (Zeidan, Johnson, Diamond, David, &
Goolkasian, 2010). Hal tersebut sesuai dengan hasil
penelitian sebelumnya bahwa metode mindfulness singkat
pelaksanaan selama 7 hari dapat menurunkan level ansietas
pada mahasiswa keperawatan di China (Yu Chen et al.,
2013). Secara umum latihan mindfulness dapat
mempengaruhi prospektif kapasitas memori mahasiswa
keperawatan dan meningkatkan kemampuan untuk
mengatur emosi (Dubert, Schumacher, Jr, Gutierrez, &
Barnes, 2016).

4.3 Hasil Penelitian Kelompok Ibu Bekerja

1. Penelitian pengaruh Mindfulness terhadap tingkat stres
perawat wanita di RS Telogorejo.

Responden pada penelitian ini adalah perawat wanita
yang sudah menikah di ruang Intensive Care Unit (ICU)
berjumlah 46 responden (23 responden kelompok kontrol,
23 responden kelompok intervensi) (Dharma, 2011).

Tabel 8 Tingkat Stres Ibu Bekerja Pada Kelompok Kontrol dan
Intervensi di RS X Kota Semarang Tahun 2018.

Kelas Mean ±Standar Deviasi (SD) P value

Kontrol Pre Test Post Test 0,068
Intervensi 0,001
59,74 ± 13,25 58,57± 13,41

69,44 ± 15,48 53,17 ± 12,05

85

BAB IV – Hasil Penelitian

Tabel analisis menggunakan uji Wilcoxon didapatkan hasil
bahwa pada kelompok kontroltidak terdapat pengaruh
tingkat stres secara siginfikan antara pre-test dan post-test
(p-value=0,068>α=0,05). Sedangkan pada kelas intervensi,
terdapat pengaruh terapi mindfulness terhadap tingkat stres
pre-test dan post-test (p-value=0,001>α=0,05). Dari hasil
tersebut maka pemberian perlakuan berupa terapi
mindfulness berpengaruh signifikan dalam menurunkan
tingkat stres pada ibu yang bekerja sebagai perawat. Dilihat
secara deskriptif, rata-rata tingkat stres pada kelompok
kontrol dan intervensi baik pre-test maupun post-test berada
pada level sedang, akan tetapi melihat dari nilai rata-rata
dapat disimpulkan terdapat penurunan tingkat stres yang
berarti pada kelompok intervensi yaitu sebesar 16,27
(±3,43).

Pembahasan Penelitian
Hasil uji statistik didapatkan data bahwa pada kelompok

intervensi sebelum diberikan terapi mindfulness memiliki
nilai rata-rata tingkat stress 69,44 sedangkan pada kelompok
kontrol memiliki nilai rata-rata 59,74. Hal ini sama dengan
hasil penelitian Nurazizah dimana tingkat stess pada perawat
perempuan di ruang ICU dalam nilai rata-rata 53,23 yaitu
pada tingkat stres sedang (rentang 50-104). Stres yang

86

BAB IV – Hasil Penelitian

dialami pada perawat di ruang ICU tersebut merupakan stres
kerja yang dapat menimbulkan dampak yang berbeda pada
setiap orang (Nurazizah, 2017).

Hasil uji statistik pada kelompok kontrol dan kelompok
intervensi sesudah diberikan terapi mindfulness didapatkan
hasil p-value pada kelompok intervensi adalah 0,001 (<0,05)
sehingga dapat disimpulkan bahwa terapi mindfulness dapat
menurunkan tingkat stres ibu yang bekerja sebagai perawat.

Mindfulness dapat memberikan manfaat pada kesehatan
tubuh dengan menurunkan tingkat stres pada diri seseorang.
Peningkatan mood dan perasaan bahagia setelah dilakukan
terapi mindfulness dapat secara signifikan menurunan
tingkat stres sehingga dapat berdampak langsung pada
penurunan tekan darah (Hyland, Lee, & Mills, n.d.).
Seseorang yang melakukan terapi mindfulness akan fokus
pada momen saat ini, sabar, toleran dengan sesama, saling
mengasihi, dan empati dalam menolong (“Mindfulness
training for stress management : A two- centre randomised
controlled study of medical and psychology students with
long-term follow up” n.d.). Oleh karena itu, dapat
disimpulkan bahwa dengan terapi mindfulness dapat
menurunkan tingkat stress karena seseorang akan selalu
bahagia, sabar, fokus pada saat ini dan saling mengasihi.

87

BAB IV – Hasil Penelitian

Hasil uji statistik menyimpulkan bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan tingkat stress antara kelompok
kontrol dan kelompok intervensi setelah diberikan terapi
mindfulness dengan nilai p.value=0.001. Hasil ini didukung
penelitian kualitatif oleh Afandi et.al dimana kesimpulan
dalam penelitian ini adalah mindfulness dapat menurunkan
tingkat stres dari segi fisiologis, emosional, kognitif,
interpersonal dan organisasional (Afandi, Wahyuni, &
Adawiyah, 2015). Tingkat stres kerja sebagai perawat dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti konflik dengan
dokter, persiapan kebutuhan yang belum memenuhi,
emosional pasien dan keluarga, kurangnya dukungan antara
rekan kerja, konflik dengan rekan kerja dan atasan, dan
beban kerja yang berlebihan (Muthmainah, 2012).

Perbedaan tingkat stres pada kedua kelompok ini dapat
terjadi karena pada kelompok intervensi diberikan perlakuan
berupa terapi mindfulness yang dapat memberikan efek
rileks pada tubuh, fokus pada kondisi saat ini, dan tidak
menghakimi diri sendiri dan orang lain. Penurunan tingkat
stres pada kelompok intervensi juga dapat dipengaruhi oleh
penerimaan diri responden. Penerimaan diri adalah suatu
kemampuan individu untuk mampu memiliki penilaian
realistik, keyakinan terhadap kondisi saat ini tanpa merasa

88

BAB IV – Hasil Penelitian

direndahkan oleh opini dari individu lain (Putri & Masykur,
2013; Masyithah, 2012). Penerimaan diri dapat berupa
keyakinan dalam menghadapi persoalan, menganggap
derajat dirinya sama dengan yang lain, tidak menghakimi diri
sendiri, tidak malu akan diri sendiri, dan berani
bertanggungjawab atas segala tindakannya (Masyithah,
2012).Komponen yang dikembangkan dalam penerimaan diri
ini berisi observing, describing, acceptance, acting with
awareness, dan non judge (Maharani, 2016). Komponen-
komponen ini merupakan bagian dari terapi mindfulness
sehingga dapat disimpulkan bahwa responden pada
kelompok intervensi sudah mampu melaksanakan
mindfulness dengan baik untuk mengatasi stres.

2. Penelitian pengaruh terapi Mindfulness terhadap
kesejahteraan Ibu bekerja sebagai perawatdi RS Telogorejo.

Responden pada penelitian ini perawat sebagai ibu
rumah tangga di RS Telogorejo dengan 52 responden yang
merupakan hasil screening berdasarkan kriteria inklusi,
terdiri dari 26 responden kelompok intervensi dan 26
responden kelompok kontrol.

89


Click to View FlipBook Version