The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

BISMILLAH BUKU B5 DONE 190 HALAMAN NEW DONE 1

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by linggojyp76, 2021-12-11 13:39:55

BISMILLAH BUKU B5 DONE 190 HALAMAN NEW DONE 1

BISMILLAH BUKU B5 DONE 190 HALAMAN NEW DONE 1

berapa kali atlet harus melakukan gerakan setiap set atau giliran. Frekuensi
dapat pula diartikan jumlah latihan dalam seminggu. Irama latihan adalah
sifat latihan, berkaitan dengan tinggi rendahnya tempo latihan atau berat
ringannya suatu latihan dalam satu unit latihan, latihan mingguan, bulanan
atau tahunan. Durasi latihan adalah lama waktu yang digunakan untuk
melakukan latihan, waktu total latihan dikurangi waktu istirahat. Recovery
adalah waktu yang digunakan untuk pemulihan tenaga, waktu antara
elemen latihan yang satu dengan yang lain

D. Komponen Kondisi Fisik
Komponen kondisi fisik (Bompa, 1990) sebagai komponen

kesegaran biometrik dimana komponen kesegaran motorik terdiri dari dua
kelompok komponen, masing-masing adalah kelompok kesegaran jasmani
yaitu: 1) kesegaran otot, 2) kesegaran kardiovaskular, 3) kesegaran
keseimbangan jumlah dalam tubuh dan 4) kesegaran kelentukan.
Kelompok komponen lain dikatakan sebagai kelompok komponen
kesegaran motorik yang terdiri dari: 1) koordinasi gerak, 2) keseimbangan,
3) kecepatan, 4) kelincahan, 5) daya ledak otot.

Disamping itu ada dua komponen yang dapat dikategorikan
sebagai komponen kondisi fisik yaitu: 1) ketepatan dan 2) reaksi. Apabila
komponen gerak digabung ke dalam komponen kelincahan, maka ada 10
komponen yang masuk kategori kondisi fisik, yang mana kesepuluh
komponen tersebut dapat diukur keadaan melalui satu tes seperti tersebut
di atas. Adapun komponen yang dimaksud adalah :

a. Kekuatan (Strenght).
Kekuatan adalah komponen kondisi fisik seseorang tentang

kemampuan dalam mempergunakan otot-otot untuk menerima
beban sewaktu bekerja (Sajoto, 1995). Kekuatan adalah

141

kemampuan untuk membangkitkan ketegangan otot terhadap
suatu keadaan (Garuda Mas, 2000). Kekuatan memegang peranan
yang penting, karena kekuatan adalah daya penggerak setiap
aktivitas dan merupakan persyaratan untuk meningkatkan
prestasi.

Dalam permainan sepak bola, kekuatan merupakan salah
satu faktor yang menentukan kemampuan permaian seseorang
dalam bermain. Karena dengan kekuatan seorang pemain akan
dapat merebut atau melindungi bola dengan baik (selain ditunjang
dengan faktor teknik bermain yang baik). Selain itu, dengan
memiliki kekuatan yang baik dalam sepak bola, pemain dapat
melakukan tendangan keras dalam usaha untuk mengumpan
daerah kepada teman maupun untuk mencetak gol.

Gambar 8. 1 Barcode Video Latihan Kekuatan

b. Daya Tahan (Endurance)
Daya tahan adalah kemampuan seseorang dalam

menggunakan ototnya untuk berkontraksi secara terus menerus
dalam waktu yang relatif lama dengan beban tertentu (Sajoto,
1995). Daya tahan adalah kemampun untuk bekerja atau

142

berlatih dalam waktu yang lama, dan setelah berlatih dalam
jangka waktu lama tidak mengalami kelelahan yang berlebihan
(Garuda Mas, 2000).

Permainan sepak bola merupakan salah satu permainan
yang membutuhkan daya tahan dalam jangka waktu yang cukup
lama. Daya tahan penting dalam permainan sepak bola sebab
dalam jangka waktu 90 menit bahkan lebih, seorang pemain
melakukan kegiatan fisik yang terus menerus dengan berbagai
bentuk gerakan seperti berlari, melompat, meluncur (sleding),
body charge dan sebagainya yang jelas memerlukan daya tahan
yang tinggi.

Gambar 8. 2 Barcode Video Latihan Daya Tahan

c. Daya Otot (Muscullar Power)
Daya otot adalah kemampuan seseorang untuk

mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerjakan dalam
waktu yang sesingkat-singkatnya (Sajoto, 1995). Daya otot
adalah kemampuan otot untuk mengerahkan kekuatan maksimal
dalam waktu yang sangat cepat (Harsono, 1988). Daya otot
dipengaruhi oleh kekuatan otot, kecepatan kontraksi otot
sehingga semua faktor yang mempengaruhi kedua hal-hal

143

tersebut akan mempengaruhi daya otot. Jadi daya otot adalah
kualitas yang memungkinkan otot atau sekelompok otot untuk
melakukan kerja fisik secara tiba-tiba.

Dalam permainan sepak bola diperlukan gerakan yang
dilakukan secara tiba-tiba misalnya gerakan yang dilakukan
pada saat merebut bola. Pemakaian daya otot ini dilakukan
dengan tenaga maksimal dalam waktu singkat dan pendek.
Orang yang sering melakukan aktifitas fisik membuat daya
ototnya menjadi baik. Daya otot dipengaruhi oleh kekuatan otot
dan kecepatan kontraksi otot sehingga semua faktor yang
mempengaruhi kedua hal tersebut akan mempengaruhi daya
otot.

Gambar 8. 3 Barcode Video Latihan Daya Otot

d. Kecepatan (Speed)
Kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk

mengerjakan gerakan berkesinambungan dalam bentuk yang
sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya (Sajoto, 1995).
Menurut Dick (1989) kecepatan adalah kapasitas gerak dari
anggota tubuh atau bagian dari sistem pengungkit tubuh atau
kecepatan pergerakan dari seluruh tubuh yang dilaksanakan
dalam waktu yang singkat. Terdapat dua tipe kecepatan yaitu

144

(1) kecepatan reaksi adalah kapasitas awal pergerakan tubuh
untuk menerima rangsangan secara tiba-tiba atau cepat, dan (2)
kecepatan bergerak adalah kecepatan berkontraksi dari
beberapa otot untuk menggerakan anggota tubuh secara cepat
(Bloomfield, Ackland, dan Elliot, 1994).

Oleh karena itu seseorang yang mempunyai kecepatan
tinggi dapat melakukan suatu gerakan yang singkat atau dalam
waktu yang pendek setelah menerima rangsang. Kecepatan
disini dapat didefinisikan sebagai laju gerak berlaku untuk
tubuh secara keseluruhan atau bagian tubuh. Faktor yang
mempengaruhi kecepatan, antara lain adalah : kelentukan, tipe
tubuh, usia, jenis kelamin (Dangsina Moeloek, 1984).

Kecepatan juga merupakan salah satu faktor yang
menetukan kemampuan seseorang dalam bermain sepak bola.
Pemain yang memiliki kecepatan akan dapat dengan cepat
menggiring bola ke daerah lawan dan akan mempermudah pula
dalam mencetak gol ke gawang lawan, selain itu kecepatan juga
diperlukan dalam usaha pemain mengejar bola.

Gambar 8. 4 Barcode Video Latihan Kecepatan

145

e. Kelenturan (Flexibility)
Kelenturan adalah efektivitas seseorang dalam

menyesuaikan diri untuk segala aktivitas dengan pengukuran
tubuh yang luas. Hal ini akan sangat mudah ditandai dengan
tingkat fleksibilitas persendian pada seluruh permukaan tubuh
(Sajoto, 1995). Kelentukan menyatakan kemungkinan gerak
maksimal yang dapat dilakukan oleh suatu persendian. Jadi
meliputi hubungan antara tubuh persendian umumnya tiap
persendian mempunyai kemungkinan gerak tertentu sebagai
akibat struktur anatominya.

Gerak yang paling penting dalam kehidupan seharihari
adalah fleksi batang tubuh tetapi kelentukan yang baik pada
tempat tersebut belum tentu di tempat lain pula demikian
(Dangsina Moeloek, 1984). Dengan demikian kelentukan
berarti bahwa tubuh dapat melakukan gerakan secara bebas.
Tubuh yang baik harus memiliki kelentukan yang baik pula. Hal
ini dapat dicapai dengan latihan jasmani terutama untuk
penguluran dan kelentukan. Faktor yang mempengaruhi
kelentukan adalah usia dan aktifitas fisik pada usia lanjut
kelentukan berkurang akibat menurunnya aktifitas otot sebagai
akibat berkurang latihan (aktifitas fisik). Sepak bola
memerlukan unsur flexibility, ini dimaksudkan agar pemain
dapat mengolah bola, melakukan gerak tipu, sliding tackle serta
mengubah arah dalam berlari.

146

Gambar 8. 5 Barcode Video Latihan Kelentukan

f. Kelincahan (Agility)
Kelincahan adalah kemampuan seseorang mengubah posisi

di area tertentu, seseorang yang mampu mengubah satu posisi
yang berbeda dalam kecepatan tinggi dengan koordinasi yang
baik, berarti kelincahannya cukup baik (M. Sajoto, 1995).
Sedangkan menurut Dangsina Moeloek (1984) menggunakan
istilah ketangkasan. Ketangkasan adalah kemampuan merubah
secara tepat arah tubuh atau bagian tubuh tanpa gangguan pada
keseimbangan.

Kelincahan seseorang dipengaruhi oleh usia, tipe tubuh,
jenis kelamin, berat badan, kelentukan (Dangsina Moeloek,
1984). Dari kedua pendapat tersebut terdapat pengertian yang
menitik beratkan pada kemampuan untuk merubah arah posisi
tubuh tertentu. Kelincahan sering dapat kita amati dalam situasi
permainan sepak bola, misalnya seorang pemain yang
tergelincir dan jatuh di lapangan, namun masih dapat menguasai
bola dan mengoperkan bola tersebut dengan tepat kepada
temannya. Dan sebaliknya, seorang pemain yang kurang lincah
mengalami situasi yang sama tidak saja tidak mampu menguasai

147

bola, namun kemungkinan justru mengalami cedera karena
jatuh.

Gambar 8. 6 Barcode Video Latihan Kecepatan

g. Keseimbangan (Balance)
Keseimbangan adalah kemampuan seseorang dalam

mengendalikan organ-organ syaraf otot (Sajoto, 1995).
Keseimbangan adalah kemampuan mempertahankan sikap
tubuh yang pada saat melakukan gerakan tergantung pada
kemampuan integrasi antara kerja indera penglihatan, kanalis
semisis kuralis pada telinga dan reseptor pada otot. Diperlukan
tidak hanya pada olah raga tetapi juga dalam kehidupan sehari-
hari (Dangsina Moeloek, 1984).

Keseimbangan ini penting dalam kehidupan maupun olah
raga untuk itu penting dimana tanpa keseimbangan orang tidak
dapat melakukan aktivitas dengan baik. Seorang pemain sepak
bola apabila memiliki keseimbangan yang baik, maka pemain
itu akan dapat mempertahankan tubuhnya pada waktu
menguasai bola. Apabila keseimbangannya baik maka pemain
tersebut tidak akan mudah jatuh dalam perebutan bola maupun
dalam melakukan body contact terhadap pemain lawan.

148

Gambar 8. 7 Barcode Video Latihan Keseimbangan

h. Koordinasi (Coordination)

Koordinasi adalah suatu kemampuan biomotorik yang

sangat kompleks (Harsono, 1988). Menurut Bompa (1990)

koordinasi erat kaitannya dengan kecepatan, kekuatan, daya

tahan, dan kelentukan. Oleh karena itu, bentuk latihan

koordinasi harus dirancang dan disesuaikan dengan unsurunsur

kecepatan, kekuatan, daya tahan, dan kelentukan.

Koordinasi adalah kemampuan seseorang

mengintegrasikan bermacam-macam gerak yang berada berada

ke dalam pola garakan tunggal secara efektif (Sajoto, 1995).

Koordinasi menyatakan hubungan harmonis berbagai faktor

yang terjadi pada suatu gerakan (Dangsina Moeloek, 1984). Jadi

apabila seseorang itu mempunyai koordinasi yang baik maka ia

akan dapat melaksanakan tugas dengan mudah secara efektif.

Dalam sepak bola, koordinasi digunakan pemain agar dapat

melakukan gerakan teknik dalam sepak bola secara

berkesinambungan, misalnya berlari dengan melakukan dribble

yang dilanjutkan melakukan shooting kearah gawang dan

sebagainya.

149

Gambar 8. 8 Barcode Video Latihan Koordinasi

i. Ketepatan (Accuracy)
Ketepatan adalah kemampuan seseorang untuk

mengendalikan gerakan-gerakan bebas terhadap suatu sasaran,
sasaran ini dapat merupakan suatu jarak atau mungkin suatu
obyek langsung yang harus dikenai dengan salah satu bidang
tubuh (Sajoto, 1995). Dengan latihan atau aktivitas olahraga
yang menuju tingkat kesegaran jasmani maka ketepatan dari
kerja tubuh untuk mengontrol suatu gerakan tersebut menjadi
efektif dan tujuan tercapai dengan baik. Ketepatan dalam
sepakbola merupakan usaha yang dilakukan seorang pemain
untuk dapat mengoperkan bola secara tepat pada teman, selain
itu juga dapat melakukan shooting ke arah gawang secara tepat
untuk mencetak gol.

150

Gambar 8. 9 Barcode Video Latihan Akurasi Passing

Gambar 8. 10 Barcode Video Latihan Akurasi Shooting
j. Reaksi (Reaction)

Reaksi adalah kemampuan seseorang untuk segera
bertindak secepatnya dalam menghadapi rangsangan yang
ditimbulkan lewat indera, syaraf atau rasa lainnya. Status
kondisi fisik seseorang dapat diketahui dengan cara penilaian
bentuk tes kemampuan (Sajoto, 1995). Reaksi dapat dibedakan
menjadi tiga macam tingkatan yaitu reaksi terhadap rangsangan
pandang, reaksi terhadap pendengaran dan reaksi terhadap rasa

151

Seorang pemain sepak bola harus mempunyai reaksi yang
baik, hal ini dimaksudkan agar pemain mampu untuk bergerak
dengan cepat dalam mengolah bola. Biasnya reaksi sangat di
butuhkan oleh seorang penjaga gawang untuk menghalau bola
dari serangan lawan, akan tetapi semua pemain dituntut juga
harus mempunyai reaksi yang baik pula.

Gambar 8.10 Barcode Video Latihan Reaksi

152

BAB IX
CEDERA PADA OLAHRAGA SEPAKBOLA

Cedera sering dialami oleh seorang atlit, seperti cedera goresan,
robek pada ligamen, atau patah tulang karena terjatuh. Cedera tersebut
biasanya memerlukan pertolongan yang profesional dengan segera. Cara
yang lebih efektif dalam mengatasi cedera adalah dengan memahami
beberapa jenis cedera dan mengenali bagaimana tubuh kita memberikan
respon terhadap cedera tersebut. Juga, akan dapat untuk memahami tubuh
kita, sehingga dapat mengetahui apa yang harus dilakukan untuk
mencegah terjadinya cedera, bagaimana mendeteksi suatu cedera agar
tidak terjadi parah, bagaimana mengobatinya dan kapan meminta
pengobatan secara profesional (memeriksakan diri ke dokter).

Cedera olahraga jika tidak ditangani dengan cepat dan benar dapat
mengakibatkan gangguan atau keterbatasan fisik. Bahkan bagi atlit cedera
ini bisa berarti istirahat yang cukup lama dan mungkin harus
meninggalkan sama sekali hobi dan profesinya. Oleh sebab itu dalam
penaganan cedera olahraga harus dilakukan secara tim yang
multidisipliner

Sepakbola merupakan olahraga yang paling diminati di hampir
seluruh dunia. Kepopuleran sepakbola menyebabkan banyak individu
terjun untuk serius menekuni pekerjaan sebagai pemain sepakbola.
Adapun kesuksesan seorang pemain sepakbola dalam menunjkkan
performa terbaiknya saat menjalani pertandingan ditentukan oleh banyak
faktor. Salah satu faktor yang penting adalah terbebas dari efek cedera.
Untuk itu dalam makalah ini dibahas mengenai berbagai macam cedera
yang terjadi di sepakbola dan bagaimana penanganannnya agar atlet
sepakbola dapat mengurangi risiko maupun dampak terjadinya cedera.

153

A. Hakekat Cedera
Cedera adalah suatu akibat daripada gaya-gaya yang bekerja pada

tubuh atau sebagian daripada tubuh dimana melampaui kemampuan tubuh
untuk mengatasinya, gaya-gaya ini bisa berlangsung dengan cepat atau
jangka lama. Dapat dipertegas bahwa hasil suatu tenaga atau kekuatan
yang berlebihan dilimpahkan pada tubuh atau sebagian tubuh sehingga
tubuh atau bagian tubuh tersebut tidak dapat menahan dan tidak dapat
menyesuaikan diri. Harus diingat bahwa setiap orang dapat terkena celaka
yang bukan karena kegiatan olahraga, biarpun kita telah berhati-hati tetapi
masih juga celaka, tetapibila kita berhati-hati kita akan bisa mengurangi
resiko celaka tersebut.

Sport Injuries ialah segala macam cedera yang timbul, baik pada
waktu latihan maupun pada waktu berolahraga (pertandingan) ataupun
sesudahnya, dan tulang, otot, tendon, serta ligamentum. Olahraga
bertujuan untuk menyehatkan badan, memberi kebugaran jasmani selama
cara-cara melakukannya sudah dalam kondisi yang benar. Apakah semua
macam olahraga bisa menimbulkan cedera? tentu ini tergantung dari
macamnya olahraga, dari olahraga jalan santai, tenis meja (pimpong),
balapan (racing), tentu memberikan resiko yang berbeda.

Adapun pengertian cedera dapat diartikan sebagai suatu akibat
daripada gaya-gaya yang yang bekerja pada tubuh atau sebagian daripada
tubuh dimana melampaui kemampuan tubuh untuk mengatasinya, gaya-
gaya ini bisa berlangsung dengan cepat atau jangka lama.

Seseorang melakukan olahraga dengan tujuan untuk mendapatkan
kebugaran jasmani, kesehatan maupun kesenangan bahkan ada yang
sekedar hobby, sedang atlet baik amatir dan profesional selalu berusaha
mencapai prestasi sekurang-kuragnya utuk menjadi juara tidak menutup

154

kemungkinan akan mengalami cedera. Namun adapun beberapa faktor
yang mempunyai peran perlu diperhatikan agar dapat memperkecil cedera
antara lain:
1. Usia Kesehatan Kebugaran

Menurut pengetahuan yang ada pada saat ini, apa yang disebut
proses digenerasi mulai berlangung pada usia 30 tahun, dan fungsi
tubuh akan berkurang 1% pertahun (Rule of One), ini berarti bahwa
kekuatan dan kelentukan jaringan akan mulai berkurang akibat proses
degenerasi, selain itu jaringan jadi rentan terhadap trauma. Untuk
mempertahankan kondisi agar tidak terjadi pengurangan fungsi tubuh
akibat degenerasi, maka “exercise”/latihan sangat diperlukan guna
mencegah timbulnya Atrofi, dengan demikian jelas bahwa usia
memegang peranan.
2. Jenis Kelamin

Sistem hormon dalam tubuh pria berbeda dengan wanita, demikian
pula bentuk tubuh, mengingat perbedaan dan perubahan fisik, maka
tidak semua jenis olahraga cocok untuk semua golongan, usia/jenis
kelamin. Hal ini apabila dipaksakan, maka akan timbul cedera yang
sifatnya pun juga tertentu untuk jenis olahraga tertentu.
3. Jenis Olahraga

Kita tahu bahwa tiap macam olahraga; apapun jenisnya,
mempunyai peraturan permainan tertentu dengan tujuan agar tidak
menimbulkan cedera, peraturan tersebut merupakan salah satu upaya
mencegahnya.
4. Sarana

Walaupun telah diusahakan dengan baik kemungkinan cedera
masih mungkin timbul akibat sarana yang kurang memadai.

155

5. Gizi
Olahraga memerlukan tenaga dan untuk itu perlu gizi yang baik,

selain itu gizi menentukan kesehatan dan kebugaran.

B. Hakekat Cedera Olahraga
Kegiatan olahraga yang sekarang terus dipacu untuk dikembangkan

dan ditingkatkan bukan hanya olahraga prestasi atau kompetisi, tetapi
olahraga juga untuk kebugaran jasmani secara umum. Kebugaran jasmani
tidak hanya punya keuntungan secara pribadi, tetapi juga memberikan
keuntungan bagi masyarakat dan negara. Oleh karena itu kegiatan olahraga
sekarang ini semakin mendapat perhatian yang luas.

Bersamaan dengan meningkatnya aktivitas keolahragaan tersebut,
korban cedera olahraga juga ikut bertambah. Sangat disayangkan jika
hanya karena cedera olahraga tersebut para pelaku olahraga sulit
meningkatkan atau mempertahankan prestasi. “Cedera Olahraga” adalah
rasa sakit yang ditimbulkan karena olahraga, sehingga dapat menimbulkan
cacat, luka dan rusak pada otot atau sendi serta bagian lain dari tubuh.

Cedera olahraga jika tidak ditangani dengan cepat dan benar dapat
mengakibatkan gangguan atau keterbatasan fisik, baik dalam melakukan
aktivitas hidup sehari-hari maupun melakukan aktivitas olahraga yang
bersangkutan. Bahkan bagi atlit cedera ini bisa berarti istirahat yang cukup
lama dan mungkin harus meninggalkan sama sekali hobi dan profesinya.
Oleh sebab itu dalam penaganan cedera olahraga harus dilakukan secara
tim yang multidisipliner.

Dalam ilmu kedokteran sangat jelas bahwa dengan olahraga yang
teratur memegang peranan untuk memperoleh badan yang sehat,

156

menghindari penyakit-penyakit seperti penyakit jantung, serta menunda
proses-proses degeneratif yang tidak bisa dihindari oleh proses penuaan.
Keadaan akan pentingnya serta keuntungan yang diakibatkan oleh
olahraga adalah sesuai dengan perubahan-perubahan kondisi sosial dan
ekonomi bila kita menilai beragam olahraga, ada permainan-permainan
tertentu yang yang bersifat kompetitif untuk dipertandingkan dimana
masing-masing individu harus bisa mencapai prestasi maksimal untuk
mencapai kemenangan, ini yang sering mengundang terjadinya cedera
olahraga, namun dapat dihindari bila faktor-faktor penyebab serta
peralatan olahraga tersebut diperhatikan

Kegiatan olahraga sekarang ini benar-benar telah menjadikan bagian
masyarakat kita, baik masyarakat atau golongan dengan sosial ekonomi
yang rendah sampai yang lebih baik, telah menyadari kegunaan akan
pentingnya latihan-latihan yang teratur untuk kesegaran dan kesehatan
jasmani dan rohani. Seperti apayang diungkapkan Hippocrates (460-377 S
M), bila tiap individu memperoleh makanan yang cukup dan latihan yang
cukup pula, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit, kita akn
memperoleh kesehatan dengan cara yang aman.

Dapat dipertegas bahwa hasil suatu tenaga atau kekuatan yang
berlebihan dilimpahkan pada tubuh atau sebagian tubuh sehingga tubuh
atau bagian tubuh tersebut tidak dapat menahan atau meneyesuaikan diri.
Harus diingat bahwa semua orang dapat terkena celaka yang bukan karena
kegiatan olahraga, biarpun kita telah berhati-hati masih juga celaka, tetapi
bila kita berhati-hati kita akan bisa mengurangi resiko cedera.

C. Jenis-jenis Cedera Olahraga
Didalam menangani cedera olahraga (sport injury) agar terjadi

pemulihan seorang atlit untuk kembali melaksanakan kegiatan dan kalau

157

perlu ke prestasi puncak sebelum cedera. Kita ketahui penyembuhan
penyakit atau cedera memerlukan waktu penyembuhan yang secara
alamiah tidak akan sama untuk semua alat (organ) atau sistem jaringan
ditubuh, selain itu penyembuhan juga tergantung dari derajat kerusakan
yang diderita, cepat lambat serta ketepatan penanggulangan secara dini.

Dengan demikian peran seseorang yang berkecimpung dalam
kedokteran olahraga perlu bekal pengetahuan mengenai penyembuhan
luka serta cara memberikan terapi agar tidak menimbulkan kerusakan yang
lebih parah, sehingga penyembuhan serta pemulihan fungsi, alat dan
sistem anggota yang cedera dapat dicapai dalam waktu singkat untuk
mencapai prestasi kembali, maka latihan untuk pemulihan dan
peningkatan prestasi sangat diperlukan untuk mempertahankan kondisi
jaringan yang cedera agar tidak terjadi penecilan otot (atropi).

Agar selalu tepat dalam menangani kasus cedera maka sangat
diperlukan adanya pengetahuan tentang macam-macam cedera. Cedera
olahraga dapat digolongkan 2 kelompok besar :
1. Kelompok kerusakan traumatik (traumatic disruption) seperti : lecet,

lepuh, memar, leban otot, luka, “stram” otot, “sprain” sendi, dislokasi
sendi, patah tulang, trauma kepala-leher-tulang belakang, trauma tulang
pinggul, trauma pada dada, trauma pada perut, cedera anggota gerak
atas dan bawah
2. Kelompok “sindroma penggunaan berlebihan” (over use syndromes),
yang lebih spesifik yang berhubungan dengan jenis olahraganya, seperti
:tenis elbow, golfer’s elbow swimer’s shoulder, jumper’s knee, stress
fracture pada tungkai dan kaki.

Jenis cedera dalam olahraga biasanya dibedakan berdasarkan
bagian tubuh yang terkena, yaitu pada bagian kulit, otot/tendon, tulang,
ligamen/sendi, kepala, mata, hidung dan telinga.

158

1) Cedera Kulit
a. Luka Lecet
Luka jenis ini biasanya terjadi akibat pergeseran dengan benda
keras yang menyebabkan lecetnya permukaan kulit.
b. Luka Robek
Luka jenis ini biasanya terjadi akibat kecelakaan pada olahraga
kontak badan dan biasanya disertai perdarahan. Tindakan untuk
menghentikan perdarahan : 1) Angkat bagian yang luka lebih
tinggi dari badan. 2) Tekan bagian yang luka. 3) Tutup bagian
yang luka dengan balut tekan. 4) Untuk mengobati lukanya :
Bersihkan dengan air, tutup dengan kasa steril, bawa atlet ke
klinik untuk perawatan lebih lanjut
c. Luka Lepuh
Luka lepuh biasanya terjadi karena pergesekan kulit dengan
benda keras yang menyebabkan melepuhnya kulit. Tindakan
untuk mengobati luka lepuh : 1) Bersihkan sekitar lepuh, tutup
dengan plester lebar, jangan pecahkan lepuh. 2) Bila lepuh
sudah pecah, bersihkan luka dan beri cairan antiseptik, tutup
dengan kassa steril dan balut.

2) Cedera Otot atau Tendon
a. Kejang Otot
Terjadi bila otot tanpa sengaja berkontraksi dan dapat
menyebabkan sakit. Selain itu kejang otot dapat disebabkan
oleh. 1) Peregangan yang berlebihan 2) Dehidrasi (kehilangan
cairan dan elektrolit lewat keringat) 3) Lelah yang berlebihan.
Tindakan : peregangan dan pijat (massage) ringan.
b. Nyeri Otot

159

Terjadi setelah beberapa jam melakukan latihan Pencegahan
dan tindakan : 1) Berat latihan harus ditingkatkan secara
bertahap 2) Bila sudah merasakan nyeri yang ringan latihan
tetap diteruskan dengan latihan yang dimodifikasi. 3) Pijatan
dengan hati-hati dan dengan penghangat disekitar otot yang
nyeri.
c. Memar
Terjadi perdarahan pada otot akibat benturan dan biasanya juga
disertai memar pada kulit. Tindakan : Segera menempel es pada
tempat yang memar untuk mengurangi pembengkakan. Pada
hari ke 3 berikan kompres hangat untuk mempercepat
penyerapan bekuan darah.
d. Otot Robek
Cedera yang terjadi pada otot dan tendon (otot robek) sehingga
mengakibatkan perdarahan dan hilang kekuatannya. Cedera ini
dapat terjadi karena waktu : 1) Memaksakan otot diregang
melampaui kemampuannya; 2) Melakukan gerakan yang
kurang benar; 3) Latihan peregangan yang tidak cukup atau
tidak benar. Gejala dan diagnosa adalah Nyeri yang tajam terasa
pada saat cedera tejadi dan berulang pada waktu otot yang
bersangkutan berkontraksi. Biasanya bila otot istirahat rasa
nyeri berkurang, dan 24 jam setelah cedera tampak memar
karena perdarahan dalam otot yang rusak.

3) Cedera Ligamen atau Sendi
Stabilitas sendi dipengaruhi faktor aktif dan pasif. Faktor aktif oleh

aktifitas otot dan faktor pasif dipelihara oleh ligamen. Tanpa stabilitas
pasif yang adekuat sendi tidak mungkin berfungsi normal. Cedera ligamen
terjadi bila sendi dipaksa melakukan gerakan melebihi range of movement

160

(ROM) normal. Robekan dapat mengenai berbagai jumlah serat. Jika
robekan hanya mengenai beberapa serat ligamen sehingga stabilitas tidak
terganggu, hal ini disebut robekan tidak komplit (sprain ringan).
Sedangkan jika robekan mengenai hampir seluruh serat ligamen dan
stabilitas terganggu, ini disebut robekan komplit (sprain sedang sampai
berat). Robekan ligamen dapat disertai dengan perdarahan yang menyebar
ke jaringan sekitarnya dan terlihat sebagai memar. Cedera ligamen pada
olahraga paling sering terjadi pada tumit, lutut, siku, pergelangan tangan
dan bahu.

a. Sprain
Cedera sprain terjadi pada ligamen dimana dua otot teregang
melampaui gerakan yang normal. Hal ini menimbulkan
pembengkakan. Penanganan : Segera menempelkan es pada
tempat cedera selama 15 menit dan diulang setiap 4 jam sampai
24 jam, setelah itu dilanjutkan dengan kompres panas. Setelah
bengkak menghilang baru boleh melakukan latihan lagi. Gejala
dan diagnosa : 1) Perdarahan menyebabkan memar, bengkak, dan
nyeri tekan diseputar sendi yang terlibat. 2) Nyeri bila tungkai
diberi pembebanan atau digerakkan. 3) Kestabilan sendi
tergantung dari luasnya cedera. b. Dislokasi (cerai sendi) Semua
persendian dikelilingi oleh kapsula dan ligamen. Bila terjadi
dislokasi paling tidak kapsula dan ligamen terobek dan kadang-
kadang tulang rawan sendi terkena.

4) Cedera Tulang (patah tulang)
Patah tulang adalah suatu keadaan dimana tulang retak atau patah

yang dapat dipastikan dengan pemeriksaan rontgen. Gejala umum patah
tulang adalah: 1) Adanya reaksi radang setempat (bengkak dan memar) 2)
Terjadi fungsiolesi (bagian yang patah tidak dapat digerakkan) karena

161

nyeri. 3) Nyeri tekan pada tempat yang patah. 4) Perubahan bentuk tulang
(deformitas). Cedera tulang harus dianggap cedera yang cenderung
membahayakan karena dapat mengenai jaringan lunak disekitamya.
Lokasi jenis olahraga menentukan letak patah tulang, seperti patah tungkai
bawah bagian bawah sering pada pemain sepakbola sedangkan patah
lengan dan pergelangan tangan sering pada pesenam. Jenis patah tulang :
a. Patah tulang terbuka. Terdapat kerusakan kulit, ujung tulang menonjol
keluar sehingga mudah terjadi infeksi. b. Patah tulang tertutup (tidak
terjadi kerusakan kulit). Patah tulang yang sering dijumpai, yaitu patah
yang terjadi pada :

a. Clavicula (tulang selangka)
b. Humerus (lengan atas)
c. Radius dan Ulna (lengan bawah)
d. Karpalia (pergelangan tangan)
e. Costae (iga/rusuk)
f. Femur (tulang paha)
g. Patela (tempurung lutut) 8) Tibia dan Fibula

5) Cedera Kepala

Bisa mengakibatkan pusing kepala, sempoyongan bahkan sampai

tidak sadar. Pemain yang tidak sadar sampai jangka waktu lebih dari 10

detik tidak boleh melanjutkan pertandingan.

a. Gegar Otak

Kehilangan kesadaran tanpa kelainan otak. Gejala: Mual, muntah,

pusing, tidak sadar/pingsan.

b. Memar Otak

Kehilangan kesadaran disertai kerusakan jaringan otak. Gejala:

Muntah, tidak sadar beberapa menit sampai beberapa hari, lupa

akan kejadian yang lalu(amnesia).

162

6) Cedera Mata
Terjadi pada permainan yang mempergunakan benda yang

bergerak cepat, bisa rnenyebabkan kebutaan. Semua cedera mata
sebaiknya dikirim ke dokter spesialis mata. Benda asing pada mata: Mata
sering kemasukan debu, pasir dan sebagainya yang dapat menyebabkan
mata menjadi merah, berair kadang bengkak dan sakit.

7) Cedera Hidung
Terjadi karena trauma tumpul, perdarahan terjadi karena pecahnya

pembuluh darah. Dapat disertai dengan patahnya tulang rawan hidung.
Gejala : Keluar darah dari hidung disertai nyeri.

8) Cedera Bahu
Penyebab utama cedera bahu adalah penggunaan berlebihan.

Sering terjadi pada olahraga tennis, lempar dan berenang. Keseleo
sering terjadi pada sendi bahu karena kepala sendi yang masuk kedalam
mangkok sendi kurang dari separuhnya dan hanya diperkuat oleh
ligamen dan otot otot bahu saja. Tanda-tanda : Lengkung bahu hilang,
Bahu tidak dapat digerakkan.

9) Cedera Siku
Cedera pada siku seperti cedera pada sendi-sendi lain pada

umumnya terjadi karena trauma atau penggunaan yang berlebihan.
Tennis elbow Cedera ini memang kebanyakan diderita oleh pemain
tennis, tetapi dapat pula diderita oleh atlet lain antara lain pemain
badminton, tennis meja, squas, golf.

163

10) Cedera Lutut
Cedera ini sering terjadi karena sendi lutut termasuk sendi yang

tidak stabil. Stabilitas sendi ini sangat tergantung pada kekuatan
ligamen dan otot otot yang berjalan disekitarnya. Disamping itu sendi
lutut merupakan sendi yang paling sering menerima beban berat.

11) Cedera Pergelangan Kaki
Tendo achiles sering mengalami cedera (strain) akibat penarikan

yang berlebihan dari otot betis. Gejala nya tiba-tiba terasa sesuatu
yang putus

D. Tingkatan Cedera Olahraga
Cedera dalam dunia olahraga dapat dikategorikan menjadi tiga

tingkatan, yaitu: cedera ringan/ cedera tingkat pertama, cedera sedang atau
cedera tingkat kedua, dan cedera berat/cedera tingkat ketiga :
1. Cedera Ringan atau Cedera Tingkat Pertama

Cedera ringan/cedera tingkat pertama ini ditandai dengan adanya
robekan atau hanya dapat dilihat dengan mikroskop, dengan kcluhan
minimal, dan hanya sedikit saja atau udak terlalu mengganggu
penampilan atlet yang bersangkutan baik pada saat beriatih ataupun
bertanding.
2. Cedera Sedang atau Cedera Tingat Kedua

Cedera sedang/cedera tingkat kedua ini ditandai dengan kerusakan
jaringan yang nyata, nyeri, bengkak, memar, berwarna kemerah-
merahan (suhu agak panas, dengan gangguan fungsi yang nyata dan
berpengaruh pada penampilan adet yang bersangkutan baik pada saat
beriatih maupun bertanding.
3. Cedera Berat atau Cedera Tingkat Ketiga

164

Cedera berat/cedera tingkat ketiga ini ditandai dengan kerusakan
jaringan atau terjadi robekan lengkap atau hampir lengkap pada otot,
ligamentum, dan fraktur pada tulang yang memerlukan waktu istirahat
lebih lama atau total, dan membutuhkan terapi, pengobatan secara
intensif, dan bahkan dimungkinkan untuk dioperasi.

4. Strain dan Sprain
Strain dan sprain adalah kondisi yang sering ditemukan

pada cedera olahraga. Strain adalah menyangkut cedera otot atau
tendon. Straing dapat dibagi atas 3 tingkat, yaitu :

a. Tinkat 1 (ringan) Straing tingkat ini tidak ada robekan hanya
terdapat kondisi inflamasi ringan, meskipun tidak ada penurunan
kekuatan otot, tetapi pada kondisi tertentu cukup mengganggu atlit.
Misalnya straing dari otot hamstring (otot paha belakang) akan
mempengaruhi atlit pelari jarak pendek (sprinter), atau pada
baseball pitcher yang cukup terganggu dengan strain otot-otot
lengan atas meskipun hanya ringan, tetapi dapat menurunkan
endurance (daya tahannya).

b. Tingkat 2 (sedang) Strain pada tingkat 2 ini sudah terdapat
kerusakan pada otot atau tendon, sehingga dapat mengurangi
kekuatan atlit.

c. Tingkat 3 (berat) Straing pada tingkat 3 ini sudah terjadi rupture
yang lebih hebat sampai komplit, pada tingkat 3 diperlukan
tindakan bedah (repair) sampai fisioterapi dan rehabilitasi.

Sprain adalah cedera yang menyangkut cedera ligament. Sprain
dapat dibagi 4 tingkat, yaitu :

165

a. Tingkat 1 (ringan) Cedera tingkat 1 ini hanya terjadi robekan pada
serat ligament yang terdapat hematom kecil di dalam ligamen dan
tidak ada gangguan fungsi.

b. Tingkat 2 (sedang) Cedera sprain tingkat 2 ini terjadi robekan yang
lebih luas, tetapi 50% masih baik. Hal ini sudah terjadi gangguan
fungsi, tindakan proteksi harus dilakukan untuk memungkinkan
terjadinya kesembuhan. Imobilisasi diperlukan 6-10 minggu untuk
benar-benar aman dan mungkin diperlukan waktu 4 bulan.
Seringkali terjadi pada atlit memaksakan diri sebelum selesainya
waktu pemulihan belum berakhir dan akibatnya akan timbul cedera
baru lagi.

c. Tingkat 3 (berat) Cedera sprain tingkat 3 ini terjadinya robekan
total atau lepasnya ligament dari tempat lekatnya dan fungsinya
terganggu secara total. Maka sangat penting untuk segera
menempatkan kedua ujung robekan secara berdekatan.

d. Tingkat 4 (Sprain fraktur) Cedera sprain tingkat 4 ini terjadi akibat
ligamennya robek dimana tempat lekatnya pada tulang dengan
diikuti lepasnya sebagian tulang tersebut.

E. Cedera Pada Pemain Sepakbola
Berdasarkan letak terjadinya, cedera yang dapat dialami oleh atlet

atau pemain sepak bola saat latihan atau bertanding, macam-macam cedera
olahraga pada sepakbola, antara lain:
1) Sprain (keseleo)

Sprain adalah bentuk cedera berupa penguluran atau kerobekan
pada ligamen (jaringan yang menghubungkan tulang dengan tulang)
atau kapsul sendi, yang memberikan stabilitas sendi. Selain mengikat
beberapa tulang satu-sama lain, ligamen juga berfungsi untuk menjaga

166

kestabilan tulang-tulang tersebut saat bergerak. Kerusakan yang parah
pada ligamen atau kapsul sendi dapat menyebabkan ketidakstabilan
pada sendi. Pada lutut manusia terdapat beberapa ligamen yang
berfungsi untuk mengikat tulang paha dan tulang betis agar dapat
bersatu menopang tubuh. Sifatnya yang cukup elastis membuat lutut
manusia bisa bergerak bebas namun tetap stabil dan tidak oleng saat
berjalan maupun berlari.

Bayangkan jika terjadi ganguan pada ligamen-ligamen yang ada
pada lutut. Pergerakan maupun tendangan yang dilakukan oleh pemain
sepak bola akan sulit dilakukan. Cedera pada ligamen lutut bisa berupa
memar, robekan maupun sampai putus. Jika cedera ligamen hanya
berupa memar, maka haya dibutuhkan perawatan konservatif saja untuk
memulihkan cedera tersebut. Namun jika yang terjadi berupa robekan
atau bahkan sampai putus, maka harus dilakukan operasi untuk
menyambung. Penyebab terjdinya cedera ligamen lutut bisa bermacam-
macam. Namun penyebab yang sering terjadi adalah tumpuan kaki yang
salah saat mendarat setelah melakukan lompatan. Selain itu cedera
ligamen juga bisa disebabkan ketika badan mencoba memutar secara
berlebihan dan kurang hati-hati tanpa diikuti perpindahan kaki yang
sesuai. Penyebab yang lebih jarang terjadi namun cukup fatal adalah
tendangan langsung pada lutut yang menyebabkan sendi lutut teregang
secara berlebihan.

Gejalanya dapat berupa nyeri, inflamasi/peradangan, dan pada
beberapa kasus, ketidakmampuan menggerakkan tungkai. Sprain atau
keseleo adalah jenis cedera yang paling sering dialami oleh para pemain
sepak bola. Untuk menghindari keseleo, diperlukan pemanasan yang
cukup dan stretching yang tepat bisa mencegah terjadinya cedera
tersebut (Hardianto Wibowo 1995).

167

Berikut ini adalah tingkatan cedera sprain :
a. Sprain Tingkat I

Pada cedera ini terdapat sedikit hematoma dalam ligamenum dan
hanya beberapa serabut yang putus. Cedera menimbulkan rasa
nyeri tekan, pembengkatan dan rasa sakit pada daerah tersebut.
cedera pada tingkat ini cukut diberikan istirahat saja karena akan
sembuh dengan sendirinya
b. Sprain Tingkat II Pada cedera ini lebih banyak serabut dari
ligamenum yang putus, tetapi lebih separuh serabut ligamenum
yang utuh. Cedera menimbulkan rasa sakit, nyeri tekan,
pembengkakan, efusi, (cairan yang keluar) dan biasanya tidak
dapat menggerakkan persendian tersebut. kita harus membrikan
tindakan imobilisasi (suatu tindakan yang diberikan agar bagian
yang cedera tidak dapat digerakan) dengan cara balut tekan, spalk
maupun gibs.
c. Sprain Tingkat III Pada cedera ini seluruh ligamenum putus,
sehinnga kedua ujungnya terpisah. Persendian yang bersangkutan
merasa sangat sakit, terdapat darah dalam persendian,
pembekakan, tidak dapat bergerak seperti biasa, dan terdapat
gerakan-gerakan yang abnormal. Cedera tingkat ini harus dibawa
ke rumah sakit untuk dioperasi namun harus diberi pertolongan
pertama terlebih dahulu. Cedera ligamen yang paling jadi momok
karena bisa mengakhiri karier seorang atlet adalah cedera anterior
cruciate ligament (ACL). Fungsi utama ACL adalah menyetop
rotasi atau perputaran lutut dan kaki. Cedera ini terjadi bila saat
badan berputar atau jatuh, paha atas berputar ke dalam dan kaki
bawah terputar ke luar. Komplikasi cedera ini adalah melekatnya
salah satu ujung ACL di meniscus. ACL mengalami over stretch,

168

meregang secara berlebihan, dan menarik meniscus itu sampai
lepas dari lutut kaki. Apabila cedera ini cukup parah maka pemain
tersebut terkena cedera ganda (ACL dan meniscus) tingkat
pemulihannya lama sekali. Setelah dioperasi total masa
rehabilitasinya bisa mencapai 9 bulan dan mutlak ditaati. pada
bulan keenam pemain bisa mulai berlatih ringan dengan bola.
Setelah 9 bulan baru pemain diijinkan berlatih di atas lapangan..
Tentu saja tergantung dari fisik pemain sendiri serta sesuai
dengan protokol dari dokter yang berlaku sehingga pemulihan
bisa maksimal.

2) Cedera Strain
Strain adalah bentuk cedera berupa penguluran atau kerobekan

pada struktur muskulo-tendinous (otot dan tendon). Jenis cedera ini terjadi
akibat otot tertarik pada arah yang salah, kontraksi otot yang berlebihan
atau ketika terjadi kontraksi, otot belum siap. Strain sering terjadi pada
bagian groin muscles (otot pada kunci paha), hamstrings (otot paha bagian
bawah), dan otot quadriceps. Cedera tertarik otot betis juga kerap terjadi
pada para pemain bola. Fleksibilitas otot yang baik bisa menghindarkan
diri dari cedera macam ini. Kuncinya dalah selalu melakukan stretching
setelah melakukan pemanasan, terutama pada bagian otototot yang rentan
tersebut (Hardianto Wibowo 1995: 22).

Strain yang sering terjadi pada sepakbola adalah pada otot
hamstring. Hamstring yang paling sering kita lihat pada saat pemain berlari
kencang tiba-tiba dia memegang bagian belakangnya sambil lari
terpincang-pincang. Hamstring terdiri dari empat otot yaitu semitendinous,
semimebranosus, biceps femoris caput lognum, dan caput breve. Salah
satu dari otot ini mengalami strain, ketegangan mulai dari hanya tertarik

169

ringan sampai putus (biasanya pemain mendengar bunyi 'tuk' apabila salah
satu ototnya putus). Cedera ini terjadi karena apabila otot tersebut tiba"
harus melakukan gerakan eksplosif tiba" seperti sprint. Penyebab lain
adalah otot tersebut sudah capek namun dipaksa bekerja. Karena otot
selalu berkontraksi, kadar asam sangat tinggi sehingga bila tiba"
melakukan gerakan eksplosif, otot tersebut kaget dan tidak siap menerima
tekanan.

Jika mengalami hamstring tingkat 1 (ringan) pemain tidak bisa
bermain selama 2 pekan. Yang didera tingkat 2 mesti absen sekitar 3-4
minggu, tingkat 3 (putus) harus absen 6-8 pekan. Waktu rehat ini harus
ditaati dengan tepat karena proses penyembuhan ini tidak utuh maka
cedera bisa berdampak panjang dan kronis. Ini juga sering dikeluhkan
pemain. Cedera ini sering terjadi setelah pemain berlatih atau beranding di
lapangan yang keras.Salah memilih sepatu juga menyebabkan rasa sakit
ini. Contoh: peakaian sepatu berpul enam di lapangan keras. Rasa sakit
biasanya terasa di bagian bawah lutut. Cedera ini bisa pulih dalam 5-7 hari.
Peregangan otot juga harus dihindari. Salah satu faktor yang
memprovokasi cedera ini adalah ketidakseimbangan antara otot
quadriceps Contoh: vastus medialis lebih lemah dibandingkan vastus
lateralis. Ini membuat Q-angle dari pattela sehingga terjadi iritasi di
lutut.akibatnya pattela tendonitis menjadi cedera yang gampang terjadi di
lutut.

3) Knee Injuries
Knee injuries adalah cedera yang terjadi karena adanya paksaan

dari tendon. Saat mengalami cedera ini akan merasakan nyeri tepat
dibawah mangkuk lutut setelah melakukan latihan olahraga. Rasa sakit itu
disebabkan oleh gerakan melompat, menerjang maupun melompat dan
turun kembali. Ada beberapa jenis cedera lutut yang umum dialami oleh

170

pemain bola, yaitu cedera pada medial collateral ligamen, meniscus, dan
anterior cruciate ligamen, baik itu sobek pada jaringan, maupun putusnya
jaringan tersebut.

4) Compartment Syndrome
Para atlet pada umumnya sering mengalami permasalahan

(gangguan rasa nyeri atau sakit) yang terjadi pada kaki bawah (meliputi
daerah antara lutut dan pergelangan kaki). Terkadang rasa sakit/nyeri
tersebut terjadi karena adanya suatu sindrom kompartemen (compartment
syndrome). Diagnosis terhadap sindrom terhadap sindrom tersebut
dilakukan dengan cara perkiraan, karena pola karakteristik (gejala) dan
rasa sakit tersebut dan ukuran-ukuran tekanan kompartemennya. Di antara
beberapa penyakit yang menyertai sindrom ini dapat diatasi dengan
pembedahan (operasi).

5) Shin Splints
Istilah shin splints kadang-kadang digunakan untuk

menggambarkan adanya rasa sakit (cedera pada kaki bagian bawah yang
seringkali terjadi terjadi akibat melakukan berbagai aktivitas olahraga,
termasuk olahraga lari. Shin splints ada 2 jenis yaitu; a). Anterior Shin
Splints, yaitu rasa sakit yang terjadi pada bagian depan (anterior) dari
tulang gares (tibia). B) Posterior Shin Splints, rasa sakit tersebut terasa
pada bagian dalam (medial) kaki pada tulang tibia. Shin splints disebabkan
oleh adanya robekan sangat kecil pada otot-otot kaki bagian bawah yang
berhubungan erat dengan tulang gares. Pertama-tama akan mengalami rasa
sakit yang menarik-narik setelah melakukan lari. Anterior shin splints
disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan otot kaki.

171

6) Achilles Tendon Injuries
Cedera pada tendon achilles ini menempati peringkat pertama yang

sering terjadi pada atlet dan paling sulit untuk
merawat/menyembuhkannya. Cedera tersebut berkisar dari tendinitis
ringan sampai pada pemutusan tendon yang parah. Kunci dari diagnosis
tahap-tahap cedera ini adalah pengenalan pada tanda-tanda dan gejala-
gejala yang terjadi.

7) Fracture
Cedera seperti ini dialami apabila pemain yang bersangkutan

mengalami benturan dengan pemain lain atau sesuatu yang keras. Cedera
fractures tidak hanya terjadi pada bagian kaki macam tulang paha, tulang
kering, tulang selangkangan, atau tulang telapak kaki, tapi juga kerap
terjadi pada lengan, bahu, hingga pergelangan tangan. Untuk menghindari
cedera macam ini, penggunaan pelindung sangat dianjurkan untuk
meminimalisir patah atau retak tulang. Setiap tulang yang mendapatkan
tekanan terus-menerus di luar kapasitasnya dapat mengalami keretakan
(stress fracture). Kelemahan pada struktur tulang sering terjadi pada atlet
ski, jogging, berbagai atlet lari, dan pendaki gunung maupun para tentara,
mengalami march fracture. Macam-macam patah tulang: 1) Patah tulang
terbuka dimana fragmen (pecahan) tulang melukai kulit diatasnya dan
tulang keluar. 2) Patah tulang tertutup dimana fragmen (pecahan) tulang
tidak menembus permukaan kulit.

F. Faktor-faktor Penyebab Cedera

a. Latihan Yang Berlebihan

Ini bisa terjadi jika anda memaksa diri untuk berlatih di luar batas

kemampuan diri anda, berlatihlah sesuai dengan kemampuan anda,

anda harus tahu batas kemampuan tubuh anda sendiri.

172

b. Ketidakseimbangan Otot
Ini bisa terjadi jika salah satu otot lebih kuat daripada otot lain yang
melakukan fungsi yang berlawanan misalnya selain melatih otot
Biceps (Lengan Atas Depan) kita juga harus melatih otot Triceps
(Lengan Atas Belakang), agar kekuatan otot lengan kita berimbang

c. Kurangnya Pemanasan
Pemanasan sebelum berolahraga sangat penting, karena ini
membantu untuk kita menjadi tidak kaku atau menambah flexibilitas
sehingga bisa terhindar dari cedera.

d. Metode Latihan Yang Salah
Metode latihan yang salah merupakan penyebab paling sering dari
cedera pada otot dan sendi. Penderita tidak memberikan waktu
pemulihan yang cukup setelah melakukan olah raga atau tidak
berhenti berlatih ketika timbul nyeri. Setiap kali otot tertekan oleh
aktivitas yang intensif, latihan berat, hari berikutnya beristirahat atau
melakukan latihan ringan. Hanya perenang yang bisa melakukan
latihan yang berat dan ringan setiap hari tanpa mengalami cedera.
Kemungkinan daya ampung dari air membantu melindungi otot dan
sendi para perenang.

e. Kelainan Struktural
Kelainanan struktural atau anatomi tubuh anda yang dapat
memberikan stress tambahan, misalnya kelainan otot, tulang, sendi
dan lain-lain. Ini bisa karena bawaan dari lahir Kelainan struktural
bisa menyebabkan seseorang lebih peka terhadap cedera olah raga
karena adanya tekanan yang tidak semestinya pada bagian tubuh
tertentu. Misalnya, jika panjang kedua tungkai tidak sama, maka
pinggul dan lutut pada tungkai yang lebih panjang akan
mendapatkan tekanan yang lebih besar.

173

f. Kelemahan Otot, Tendon dan Ligamen
Jika mendapatkan tekanan yang lebih besar daripada kekuatan
alaminya, maka otot, tendon dan ligamen akan mengalami robekan.
Tulang yang rapuh karena osteoporosis mudah mengalami patah
tulang (fraktur).

G. Pencegahan dan Penanggulangan Cedera
Secara prinsip, yang harus dilakukan bila terjadi cedera olah raga

adalah pertolongan pertama pada cedera olah raga bertujuan untuk
meminimalkan pembengkakan jaringan, maka dilanjutkan upaya yang
terkenal RICE dengan cara sebagai berikut:

a. R – Rest: Di istirahatkan, adalah tindakan pertolongan pertama
yang esensial penting untuk mencegah kerusakan jaringan lebih
lanjut. Dalam hal ini bagian yang cedera tidak boleh dipakai atau
digerakan, rest ini tujuan sama dengan fungsiolesi, supaya
perdarahan lekas berhenti dan mengurangi pembengkakan

b. I – Ice: Terapi dingin, gunanya mengurangi perdarahan dan
meredakan rasa nyeri. Tujuan: Untuk menghentikan perdarahan
penyempitan atau vasokontraksi sehingga memperlambat aliran
darah, Supaya perdaran darah lekas berhenti dan mengurangi
pembengkakan, dan Mengurangi sakit.

c. C – Comperatio: Penekanan atau balut tekan gunanya membantu
mengurangi pembekakan jaringan dan perdarahan lebih lanjut
dan untuk mengurangi pergerakan

d. E – Elevation: Mengangkat bagian cedera lebih tinggi dari letak
jantung. Supaya pendarahan berhenti dan pembengkakan dapat
segera berkurang, karena aliran darah ke arteri menjadi lambat
(melawan gaya gravitasi bumi) sehingga perdarahan mudah

174

berhenti, sedangkan aliran vena menjadi lancar sehingga
pembengkakan berkurang dan peninggian daerah cedera gunanya
mencegah stasis, mengurangi edema (pembengkakan) dan rasa
nyeri.
Pengobatan sprain dan strain yang dilakukan adalah reset atau
istirahat, mendinginkan area cedera, compression atau balut bagian yang
cedera, elevasi atau meninggikan, membebaskan diri dari beban. Jika nyeri
dan bengkak berkurang selama 48 jam setelah cedera, gerakkan persendian
tulang ke seluruh arah. Hindari tekanan pada daerah cedera sampai nyeri
hilang (biasanya 7-10 hari untuk cedera ringan dan 3-5 minggu untuk
cedera berat), gunakan tongkat penopang ketika berjalan bila dibutuhkan.

175

BAB X
PSIKOLOGI OLAHRAGA SEPAKBOLA

A. Karakteristik Psikologi Bidang Kajian Sepakbola
Menurut Frederick dan Ryan (1993), pola pikir kompetitif

menguntungkan untuk bersaing dengan sukses dalam olahraga dan
penelitian yang lebih terbatas telah mengungkap pula tentang pemain elit
usia muda pada cabang sepakbola. Hasil analisis statistik menunjukkan
bahwa pola pikir kompetitif dipengaruhi oleh usia, tetapi tidak oleh posisi
pemain. Pemain yang lebih tua lebih termotivasi untuk menghindari
kegagalan dan kurang rentan untuk menempatkan locus of control pada
sumber berorientasi eksternal ketimbang pemain muda.

Ciri-ciri kepribadian tertentu dalam pola pikir positif yang telah
diidentifikasi sebagai sumber informasi yang kaya untuk pemain dan
pelatih namun terlalu sering, bahkan pelatih paling berpengalaman sekali
pun mengabaikan manfaat menjelajahi kepribadian atau kondisi psikologis
pemain mereka (Holbrook & Barr, 1997). Sebagai hasil dari perubahan ini,
motivasi tampak lebih merupakan fungsi tentang bagaimana atlet lihat
kemampuan mereka untuk mengendalikan lingkungan olahraganya.
LeUnes dan Nation (2002) melaporkan bahwa olahragawan dengan
kemampuan yang lebih baik tampaknya memiliki sifat motivasi lebih
terinternalisasi dibandingkan dengan olahragawan yang memiliki
kemampuan rata-rata.

Dibandingkan dengan olahraga tim yang lebih tradisional yang
dimainkan di Amerika Utara seperti, bisbol, dan basket, sepakbola adalah
cabang olahraga unik karena pemain memiliki dua tuntutan, yaitu aspek
fisik dan psikologis hampir sama (Iso Ahola & Hatfield, 1986). Dari
perspektif kontrol motor, sepakbola adalah lebih dinamis, olahraga terbuka

176

dan pemain memerlukan untuk membuat keputusan yang tak terhitung
jumlahnya selama pertandingan. Waktu istirahat dalam pertandingan
sepakbola sangat singkat. Time out terbatas, dan waktu istirahat pendek.
Bahkan substitusi pemain dibatasi baik dalam jumlah dan situasi sesuai
dengan kejadian. Secara psikologis, sepakbola lebih membutuhkan
kerjasama dengan meminimalisasi kesalahan mengumpan (Iso-Ahola &
Hatfield, 1986). Pemain sepakbola yang efektif harus didukung oleh
keterampilan yang tinggi, bugar secara fisik, dan mampu membuat
keputusan yang baik sepanjang permainan. Dalam beberapa budaya Eropa,
sepakbola dianggap begitu unik karena sangat terkait dengan tuntutan
pentingnya budaya, yang meniadakan motif sosial pada pemain muda
(Buonamno & Mussino, 1995).

Sementara upaya penelitian tentang pemain elit sepakbola usia
muda lebih diarahkan pada tuntutan fisiologis sepakbola (Garrett,
Kirkendall, & Contigulia, 1996), perhatian sangat terbatas yang diarahkan
pada karakteristik psikologis pemain. Menjelajahi sifat psikologis pemain
elit sepakbola usia muda lebih diarahkan pada pengembangan metode
pelatihan khusus yang dirancang untuk mengambil keuntungan dari atribut
psikologis, yaitu motivasi dianggap penting untuk kinerja yang optimal
(Holbrook & Barr, 1997). Pengetahuan ini sangat berharga karena dapat
membantu pemain dalam mencapai tingkat kinerja tertinggi. Kebutuhan
baru dalam bidang kajian olahraga adalah aplikasi spesifik dari parameter
psikologis olahragawan agar dapat menjelaskan lebih baik tentang
interaksi yang kompleks dari variabel pribadi dan lingkungan dalam kajian
bidang ilmu alam (Gould, 1996).

Berdasar uraian tersebut di atas, jelas sekali telah banyak aspek
ilmu pengetahuan ilmiah khususnya Psikologi Olahraga dan bidang studi
lain mengambil manfaat dari sepakbola. Dewasa ini kajian sepakbola

177

sudah makin meluas, tidak hanya aspek psikologis, tetapi juga termasuk
ilmu alam dan ilmu gerak, disiplin kedokteran dan berkolaborasi dengan
ilmu-ilmu sosial. Sebuah model ergonomi dari penerapan ilmu
pengetahuan untuk permainan itu sendiri. Ini menunjukkan besarnya peran
ilmuwan untuk mencocokkan karakteristik individu dengan tuntutan
permainan. Ini adalah masalah kompleks dalam sebuah tim olahraga tim
seperti sepakbola di mana hasil akhir-nya sangat ditentukan oleh
bagaimana kumpulan individu itu membentuk kesatuan yang efektif. Di
beberapa negara yang memiliki tradisi kuat dalam sepakbola sudah
dilakukan berbagai aplikasi ilmu olahraga untuk meningkatkan kebugaran,
mental, pelatihan, pengujian dan seleksi pemain berbakat. Juga
dikembangkan berbagai kajian dari berbagai organisasi swadaya
masyarakat yang memilik relevansi kuat dengan perkembangan sepakbola.

Sebagaimana dimaklumi bahwa prediksi kinerja dalam sepakbola
sebagai olahraga tim jauh lebih sulit daripada olahraga yang bersifat
individual. Dalam kompetisi, kesuksesan dapat ditentukan oleh pilihan
taktik tim yang jitu. Ada juga unsur-unsur kesempatan yang menentukan
hasil dari peristiwa penting dan mereduksi keseimbangan pertandingan.
Hal ini merupakan sisi yang paling kompleks bahkan dari teori permainan
yang terkait dengan hasil pertandingan tertentu. Namun, analisis
pertandingan dapat didekati dari perspektif ilmiah.

Ilmu-ilmu fisik memberikan wawasan ke dalam sifat dan kesesuaian
yang dibutuhkan di lapangan. Ada juga aplikasi untuk desain sepatu dan
evaluasi kebutuhan aktivitas para pemain sebagai individu yang beragam
dan unik. Sehingga dalam sepakbola dituntut berbagai kemampuan,
diantaranya: aerobik, anaerobik, kekuatan fisiologis otot, psikologis, daya
tahan otot, fleksibilitas, persepsi, pengambilan keputusan, keterampilan
teknis, kontrol emosi.

178

Begitu pula prinsip-prinsip biomekanik yang relevan dalam
mempertimbangkan pencegahan cedera sepakbola. Ilmu-ilmu fisik juga
mencakup agronomi, budidaya rumput lapangan dan pemeliharaan kondisi
bermain dalam cuaca dingin dan basah. Bidang terluas penerapan ilmu
pengetahuan untuk sepakbola mungkin terlihat dalam perilaku psikologis
dan sosial pemain dan penonton. Banyak peluang, untuk melakukan
penelitian termasuk studi tentang penonton, dan kendali emosi mereka,
pengelolaan kelompok-kelompok besar dan organisasi personil, tekanan
pejabat atau pemilik klub, pejabat dan manajemen klub terhadap
kekompakan tim. Semua aspek ini dapat berdampak pskologis sehingga
merupakan kajian Psikologi Olahraga.

B. Ruang Lingkup Kajian Psikologi Olahraga Untuk Sepakbola
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia.

Objek material psikologi adalah terbatas pada aktivitas-aktivitas yang
teramati melalui perwujudan tingkah laku atau perbuatan manusia.
Berdasarkan batasan ini dapat dikatakan bahwa psikologi mencoba
menerangkan hakekat perilaku manusia dengan menggali nilai-nilai yang
terkandung dalam jiwa itu, meliputi kekuatan-kekuatannya, modus-
modusnya, fungsi-fungsinya serta aktivitas-aktivitas yang
dimanifestasikan ke dalam tingkah laku nyata. Pemain sepakbola selalu
terkait dengan gejala-gejala kejiwaan tersebut, oleh karena itu Psikologi
merupakan dasar dari Psikologi Olahraga. Davis (1989) menegaskan
bahwa Psikologi Olahraga adalah ilmu psikologi yang diterapkan untuk
olahraga dan upaya-upaya untuk menggambarkan, menjelaskan dan
memprediksi penampilan dan prestasi olahragawan dalam olahraga
termasuk dalam cabang olahraga sepakbola.

179

Adapun sasaran penelitian Psikologi Olahraga dalam konteks
sepakbola lebih difokuskan terhadap upaya-upaya mencari hubungan
antara kepribadian atau karakter individu dengan keikutsertaannya dalam
sepakbola. Sedangkan unit analisis Psikologi Olahraga adalah tingkah laku
individu pemain sepakbola yang terjadi dalam situasi permainan
sepakbola. Dengan demikian Psikologi Olahraga dalam konteks sepakbola
mengkaji tentang faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap
belajar keterampilan dan prestasi para pemain sepakbola olahraga serta
bagaimana para pemain itu terpengaruh oleh faktor-faktor eksternal dan
internal.

Sebelum mengetahuai kajian Psikologi Olaharga dalam konteks
sepakbola perlu dipahami terlebih dahulu beberapa definisi Psikologi
Olahraga. Beberapa definisi tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:
Menurut Weinberg dan Gould (2003), “Psikologi Olahraga adalah ilmu
yang mengkaji manusia dan perilakunya dalam aktivitas olahraga dan
latihan." Sedangkan Menurut Cox (2001), “Psikologi Olahraga adalah
prinsip-prinsip psikologi yang diterapkan dalam konteks olahraga."

Berdasarkan uraian tersebut di atas Psikologi Olahraga dapat
didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku
para pemain sebagai seorang individu dan gejala-gejala psikologis dan
sosial yang berpengaruh terhadap kepribadian dan penampilan.
Ditegaskan oleh Weinberg & Gould (2003) bahwa ada dua tujuan utama
mengkaji Psikologi Olahraga, yaitu 1) mengkaji pengaruh dari faktor-
faktor psikologis terhadap penampilan Olahragawan; dan 2) mengkaji
pengaruh dari keikutsertaannnya dalam aktivitas jasmani dalam
mengembangkan kesehatan dan kesejahteraan. Dalam tataran yang lebih
luas Anshel (2003) memberikan batasan bahwa Psikologi Olahraga adalah
ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam konteks olahraga prestasi.

180

Berbicara tentang olahraga prestasi olehnya dikatakan lebih lanjut bahwa
tidak bisa lepas dari tiga faktor utama, yaitu olahragawan, pelatih, dan
lingkungan yang saling terkait antara satu sama lainnya.

Berdasarkan gambaran tersebut di atas menunjukkan bahwa kajian
tentang prestasi olahraga dikaitkan dengan prestasi sepakbola tidak bisa
dilepaskan dari tiga unsur utama yang saling berhubungan satu sama lain.
Unsur-unsur tersebut, yaitu pelatih, lingkungan, dan pemain sepakbola itu
sendiri. Pembahasan dari dimensi Psikologi Olahraga hubungan yang
saling terkait antara satu sama lainnya itu juga secara psikologis berkaitan
erat dan saling mempengaruhi dalam prestasi pemain sepakbola. Misalnya
faktor lingkungan seperti induk organisasi olahraga (contoh PSSI) yang
memberikan kejelasan akan hak dan kewajiban kepada pemain dan pelatih
seperti jaminan hidup, perumahan dan sebagainya akan membuat mereka
lebih berkonsentrasi untuk berlatih dan bermain. Begitu pula gaya dan
kualitas kepemimpinan seorang pelatih akan berpengaruh terhadap para
pemain dalam proses pembinaannya. Di lain pihak kondisi individu
pemain itu sendiri seperti motivasi, sikap, kepribadian akan menentukan
terhadap prestasi. Artinya, kajian tentang prestasi sepakbola dalam
prespektif Psikologi Olahraga cukup luas tidak hanya terbatas pada
dimensi psikologis yang ada pada diri individu para pemain yang
berpengaruh terhadap prestasinya, tetapi mengkaji pula faktor-faktor di
luar diri individu pemain seperti peran pelatih serta faktor lingkungan
sosial yang berpengaruh terhadap kekompakan tim dan prestasi pemain.
Ketiga faktor tersebut, yaitu pelatih, individu pemain dan faktor
lingkungan satu sama lainnya saling mempengaruhi dan tidak dapat
dipisahkan.

Dalam berbagai literatur Psikologi Olahraga dimensi psikologis
dari masing-masing faktor tersebut selalu menjadi topik bahasan meskipun

181

dalam bobot yang berbeda-beda. Secara umum dapat dikatakan bahwa
kajian Psikologi Olahraga dalam konteks sepakbola, mencakup upaya-
upaya tentang perilaku individu pemain yang terjadi dalam aktivitas
berlatih dan bermain, dan berbagai aspek psikologis yang dapat
berpengaruh terhadap perilaku individu pemain tersebut. Topik-topik
kajian Psikologi Olahraga adalah faktor-faktor psikologis yang
mempengaruhi kepribadian pemain seperti: kepercayaan diri, kecemasan,
motivasi berprestasi, kontrol diri, imajeri, konsentrasi, dan relaksasi.
Sedangkan Durkin (dalam Gifford, 1991) mengatakan bahwa ruang
lingkup Psikologi Olahraga meliputi, evaluasi Psikologi Olah raga,
kepribadian dan prestasi olahraga, kecemasan, motivasi, agresi dalam
olahraga, dinamika kelompok, dan latihan aspek-aspek kejiwaan dalam
olahraga.

Berdasarkan beberapa definisi dan lingkup kajian sebagaimana
tersebut di atas, dapat dibedakan ada dua wilayah studi Psikologi Olahraga
dalam konteks sepakbola, yaitu: Pertama, studi tentang pengaruh gejala-
gejkala psikologis terhadap penampilan pemain, misalnya: studi tentang
kepercayaan diri, motivasi, kekompakan, goal setting, kecemasan,
konsentrasi, relaksasi, visualisasi, imajeri, dan lain-lain; dan Kedua, studi
tentang proses sosial dalam olahraga sepakbola, seperti interelasi antar
pemain, pemain dengan pelatih, juga situasi-situasi yang dibentuk oleh
penonton, media masa, lingkungan masyarakat sekitar yang dapat
menimbulkan dampak psikologis tertentu terhadap penampilan para
pemain sepakbola di lapangan.

C. Pelatih dan Pemain Sepakbola
Perilaku pelatih dan pemain merupakan objek umum dari kajian

psikologi olahraga. Hubungan pelatih dan pemain memegang peran yang

182

sangat strategis dalam upaya membangun keberhasilan atau prestasi dalam
olahraga begitu juga dalam cabang olahraga sepakbola. Terjadinya
hubungan yang kondusif di antara mereka perlu didasari atas saling
pengertian atas peran dan tugas masing-masing. Pada bab ini akan
diuraikan kedudukan dan peran pelatih dan pemain, pelatih sebagai
pembina mental pemain, pendekatan yang perlu dikembangkan pelatih
untuk mengembangkan komunikasi dengan pemain, serta bagaimana hal-
hal teknis yang harus dilakukan oleh pelatih untuk mengembangkan
hubungan yang harmonis dengan pemain merupakan bagian yang akan
diuraikan juga dalam bab ini.
1) Pelatih

Sosok seorang pelatih pada umumnya dikenal dengan sosok yang
penuh akan keilmuan dan karakter yang kuat, syarat akan penguasaan
teknik, taktik dan strategi yang sangat mumpuni. Pelatih olahraga juga
dikenal membantu olahragawan atau tim untuk meraih prestasi olahraga
terbaik dalam berbagai event yang diikutinya. Dalam menjalankan
tugasnya seorang pelatih menggunakan semua waktunya dalam 24 jam
penuh untuk memikirkan bagaimana olahragawan atau timnya dapat
meraih prestasi olahraga yang diharapkan atau ditargetkan. Demikian juga
dalam cabang olahraga sepakbola, seorang pelatih sepakbola dituntut
penguasaan akan ilmu yang terkait dengan teknik, taktik, karakter para
pemain yang dilatih agar menjadi tim yang tangguh.

Pelatih dalam pekerjaannya secara totalitas mengabdikan dirinya
untuk pencapaian prestasi terbaik para olahragawannya dalam berbagai
pertandingan atau perlombaan yang diikuti. Seorang pelatih yang
profesional adalah membantu olahragawan dalam pencapaian performa
terbaik (Pate, Mc Clenaghan, dan Rotella, 1984). Cabang olahraga
sepakbola juga ditangani oleh seorang pelatih yang profesional, seorang

183

pelatih memiliki tugas membantu para pemain dan tim untuk mencapai
performa terbaik atau tertinggi, sehingga siap bertanding dan dapat meraih
kemenangan sesuai target dari pelatih. Bagi pelatih sepakbola dalam
menciptakan prestasi terbaik dari yang terbaik adalah kunci utama bagi
seorang pelatih, citius (tercepat atau faster), altius (tertinggi atau higher)
dan fortius (terkuat atau stronger). Untuk mewujudkan hal tersebut maka
pelatih sepakbola harus profesional, berkompeten ("sets of knowledge,
skills, attitudes and personal characteristics," Klooster, Roemers, 2011),
yakni memahami secara utuh kepelatihan yang terkait dengan cabang
olahraga sepakbola.

Kemampuan seorang pelatih dalam membantu pemain maupun tim
pada cabang olahraga sepakbola membutuhkan kematangan konsep
seorang pelatih, seorang pemain menunjukkan cara terbaik (technical and
tactical), dan kerjasama serta mentaati peraturan yang sudah diberlakukan,
hal tersebut tidak lepas dari peran pelatih.

Pada saat akan menghadapi suatu pertandingan seorang pelatih
memberikan pola pelatihan yang matang dengan pendekatan sport science,
yang sesuai dengan cabang olahraga, yakni sepakbola (sport specific),
yang didukung penuh dengan kemampuan kepelatihan olahraga (sport
coaching). Dengan memaksimalkan pengetahuan tersebut maka pelatih
tidak ragu dalam mengambil keputusan untuk tim sepak bola, sehingga
mampu meraih kemenangan atau mencapai tujuan yang diharapkan
bersama.

Penguasaan pelatih dalam dunia olahraga terkait dengan
kecabangan yang didalaminya adalah keniscayaan, cabang olahraga
sepakbola dengan cabang olahraga futsal walaupun sama-sama
menggunakan media bola namun ukuran lapangan berbeda dan jumlah
pemain berbeda tentu menuntut pengetahuan yang berbeda bola.

184

Pengetahuan yang dimaksud adalah teknik, taktik, kerja sama tim, dan
mental olahragawan atau mental pemain. Seberapa besar pengetahuan
yang dimiliki pelatih dengan materi pemain yang dimiliki tentu akan
mempengaruhi prestasi tim tersebut. Prestasi tidak pernah dilahirkan
namun harus diciptakan. Menciptakan prestasi memerlukan pengetahuan,
dan konsep-konsep cabang olahraga yang dikembangkannya seperti fisik,
teknik, taktik dan mental (Bompa, 1999). Jadi pelatih sepakbola juga harus
menguasai konsep yang matang terkait fisik dengan menggunakan prinsip
FITT atau frequency, intensty, type and time (AAHPERD,1999; Bruce,
dkk., 1997) dan mental serta sosial dari karakter cabang olahraga yang
digeluti, yakni sepakbola dan kondisi tim serta materi pemain yang
dilatihnya. Seorang pelatih sepakbola harus memiliki beberapa
keterampilan dasar seperti mampu mendemonstrasikan keterampilan
gerak seperti cara menendang, menggiring, dan menghentikan, serta
melemparkan bola ke dalam lapangan. Selain terkait keterampilan ada juga
keterampilan yang bersifat soft skills seperti pengetahuan yang memadai
tentang sepakbola, kemampuan mengamati setiap pemain dan posisi nya,
mengatur posisi pemain dalam tim sehingga bisa menjadi tim yang solid
sekaligus mengatur jadwal latihan dan pola serta takaran latihan untuk para
pemainnya. Selain keterampilan tersebut tidak kalah penting adalah
kemampuan berkomunikasi. Sehebat apapun konsep yang dimiliki tetapi
penyampaian tidak tepat artinya pemain justru banyak tidak mengerti
kemauan pelatih tentu menjadi masalah yang cukup besar, sehingga
kemampuan komunikasi pelatih menjadi syarat penting dalam melatih.
Ujung dari seluruh keterampilan yang dimiliki pelatih adalah
meningkatkan kemampuan para pemain dan tim sehingga prestasi tim
menjadi makin lebih baik dari sebelumnya.

185

Seorang pelatih khususnya pelatih sepakbola adalah seseorang
yang profesional di bidangnya tidak hanya sisi pengetahuan yang dimiliki,
cara menangani pemain dan tim, memiliki sertifikat, namun lebih dari itu
yakni membantu pemain dan tim untuk mencapai prestasi terbaiknya
menggunakan berbagai pendekatan ilmiah (scientific approach).
Pendekatan ilmiah tidak hanya di wilayah fisik saja namun juga secara
psikologis sehingga fisik dan mental mereka menjadi lebih baik, atas dasar
hal tersebut maka pelatih tidak boleh berhenti untuk belajar dan belajar
terus demikian kemajuan diri dan timnya. Coaches must be life long
learners of sport in order to properly train their athletes for peak
performance (Johnson, dkk., 2010). Akan lebih baik lagi pelatih berupaya
tidak hanya sampai pada prestasinya namun bahkan sangat memungkinkan
melahirkan strategi baru pada cabang olahraga yang dipertandingkan
khususnya dalam sepakbola. Dalam cabang olahraga sepakbola nilai kerja
sama sangat dominan untuk kemajuan tim maka seorang pelatih
memahami betul karakter dari olahraga tersebut, mampu memotivasi para
pemainnya untuk menjadi yang terbaik.

Menjadi pelatih sepakbola adalah bagian dari pilihan hidup, maka
waktu, tenaga, pikiran hampir semuanya digunakan untuk berpikir dan
bertindak bagi kemajuan olahragawan dan tim. Sehingga peran pelatih
begitu besar bagi suatu tim atau bagi pemain. Dikatakan bahwa “the main
factor in the success sport team is role of the coach” (Safiei, Goodarzi,
2009). Apabila seorang Pelatih hanya setengah hati dalam melatih dan
tidak totalitas dalam mengembangkan kemajuan diri dan tim maka prestasi
terbaik tidak akan pernah dicapai.

Seorang pelatih adalah seseorang yang membantu pemain atau tim
dalam mencapai prestasi terbaik. Untuk mencapai prestasi diperlukan
pengetahuan yang memadai tentang teknik, taktik, mental, pengetahuan

186

tentang ilmu keolahragaan dan kepelatihan. Agar mencapai sukses dalam
melatih maka pelatih khususnya pelatih sepakbola tidak boleh berhenti
belajar, terus belajar untuk memperkaya pengetahuan diri dan tim.

2) Pemain
Suatu prinsip dasar menggunakan psikologi olahraga dalam

sepakbola adalah untuk mengenal dan memahami karakter pemain. Harus
ada kesadaran pada pelatih atau pembina untuk memastikan bahwa pemain
adalah kunci semuanya. Pemain harus menjadi titik fokus perhatian para
pelatih dan pembina. Mengembangkan sikap para pemain menuntut
tanggung jawab lebih para pelatih. Para pelatih harus terus meningkatkan
keterampilan dan pengetahuan untuk lebih memahami dan mendukung
perkembangan dan keberhasilan pemain. Pelatih harus berpegang dan
mengembangkan filosofi berpusat pada pemain. Pelatih terus-menerus
untuk mencoba meningkatkan pengetahuan yang dapat meningkatkan
keberhasilan para pemain.

D. Latihan Mental Dalam Sepakbola
Yang dimaksud dengan mental adalah mental psikologis. Secara

luas pengertian mental mencakup: pikiran, pandangan, image dan
sebagainya yang pada intinya adalah pemberdayaan fungsi berpikir
sebagai Pengendali tindakan dan respons tubuh. Kekuatan mental sangat
esensial jika olahragawan ingin secara konsisten meningkatkan
prestasinya ke tingkat yang lebih tinggi. Pada umumnya, olahragawan
akan dapat meraih sesuatu yang lebih baik dari apa yang dicapainya saat
ini. Namun sayangnya, hanya sedikit para olahragawan yang memahami
hal ini. Selebihnya, kebanyakan olahragawan malah bukannya membuka

187

diri untuk meraih peluang memperbaiki diri, tetapi malahan hanya berkutat
dengan kekecewaan dan frustrasi.

Demikian juga dalam olahraga sepakbola. Semua pemain
sepakbola melibatkan mental juga fisik. Mental yang berupa pikiran
berperan sebagai pengendali. Pikiran memerintahkan, dan tubuh
mengikuti. Tindakan respons seorang pemain dimulai dari pikiran di
kepala, sebelum tubuh melaksanakan perintahnya. Namun Jangan
diartikan bahwa yang meningkatkan prestasi pemain sepakbola adalah
semata-mata faktor mental. Mental hanya berfungsi sebagai pikiran yang
menjadi pendorong, pengontrol, pengendali dan memerintahkan tubuh
untuk melakukan gerakan-gerakan latihan. Sebagai contoh, tingkat
kebugaran fisik seorang pemain sepakbola akan meningkat jika ia
melakukan latihan lebih banyak dan lebih baik, dibandingkan dengan jika
ia berlatih lebih sedikit. Agar pemain tersebut mau berlatih lebih giat, tidak
ada yang dapat menyuruh tubuhnya untuk bergerak selain pikiran positif
si pemain itu sendiri. Sebaliknya, pikiran negatif merupakan hal yang
paling efektif untuk merusak prestasi.

Istilah mental tidak dapat terpisahkan dari pembinaan prestasi
sepakbola, bahkan masyarakat telah mengenal istilah "pemain sepakbola
bermental juara" yang diasosiasikan sebagai karakteristik mental yang
harus dipunyai oleh seorang pemain sepakbola untuk menjadi juara.
Pemain sepakbola bermental juara merupakan suatu kecakapan yang
dimiliki oleh seorang pemain sepakbola, dimana kecakapan tersebut bukan
didapat atau dibawa sejak lahir, namun terbentuk karena pengaruh
lingkungan sekitar dan kemauan dalam diri si pemain. Secara umum dapat
digambarkan bahwa seorang pemain sepakbola yang memiliki mental
juara itu selalu pantang menyerah, disiplin dalam latihan, tampil prima saat

188

bertanding, dan berjiwa sportif, termasuk dalam kehidupannya sehari-hari.
Hal ini semua bermuara dari pola pikirnya

Kompetisi sepakbola tingkat tinggi menuntut kualitas pemain
sepakbola yang prima bukan hanya dalam segi teknik dan fisik, namun
terlebih lagi dalam hal mental psikologis. Oleh karena itu, teknik, fisik,
dan mental harus dipersiapkan secara matang melalui program latihan
yang sistematis agar para pemain sepakbola bisa mencapai prestasi
puncaknya sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

1) Hakekat Latihan Mental Dalam Sepakbola
Prestasi para pemain sepakbola dapat dicapai bukan hanya semata-

mata dengan mengikuti apa yang diperintahkan atau di ‘drill’ oleh pelatih,
namun mereka memiliki pikiran positif yang mengendalikan perilaku
aktivitas fisik mereka. Pikiran seseorang dapat berubah. Oleh karena itu,
mental pemain sepakbola juga dapat berubah. Sesuatu yang dapat berubah
berarti bisa dilatih. Dengan demikian, mental para pemain sepakbola pun
dapat dan harus dilatih serta dikembangkan sama dengan kebutuhan
melatih fisik dan teknik. Koruc (2004), menyebut mental sebagai suatu
kecakapan yang merupakan terjemahan dari istilah "mental skills" atau
“psychological skills", oleh karena itu mental dapat dilatih.\

Sama halnya dengan program latihan fisik, maka latihan mental
pun dengan demikian harus dilakukan secara berkesinambungan,
terencana, dan mendapat alokasi waktu latihan tersendiri. Latihan mental
tersebut dilakukan oleh seseorang yang ahli dalam bidangnya, seperti
psikolog atau "mental trainer" yang merupakan bagian dari tim kepelatihan
yang dipimpin oleh pelatih atau pelatih kepala (head coach). Penyusunan
program dan pelaksanaan latihan mental tetap dilakukan oleh pelatih
karena pelatih merupakan sosok yang paling ideal untuk menjalankan

189

latihan mental kepada para pemain. Pelatihlah yang sehari-hari berada
dengan para pemain sehingga para pemain akan tahu persis perubahan dan
perkembangan yang terjadi pada diri para pemain. Sebelum program
latihan dirancang dan dijalankan, sebaiknya perlu terlebih dahulu
dilakukan ‘profiling’ psikologis dan identifikasi masalah psikologis
pemain. Hal ini biasanya dilakukan dalam suatu konseling atau tes
psikologis oleh psikolog.

2) Tujuan Latihan Mental Pemain Sepakbola
Untuk dapat meningkatkan prestasi atau performa pemain

sepakbola, sang pemain perlu memiliki mental yang tangguh, sehingga ia
dapat berlatih dan bertanding dengan semangat tinggi, dedikasi total,
pantang menyerah, tidak mudah terganggu oleh masalah-masalah non-
teknis atau masalah pribadi. Dengan demikian, ia dapat menjalankan
program latihannya dengan sungguh-sungguh, sehingga ia dapat memiliki
fisik prima, teknik tinggi, dan strategi bertanding yang tepat sesuai dengan
program latihan yang dirancang oleh pelatihnya. Tujuan latihan kecakapan
mental adalah agar pemain sepakbola dapat mengontrol pikiran emosi dan
perilakunya dengan lebih baik selama ia menampilkan performanya,
sehingga pemain tersebut akan dapat tampil prima dalam setiap
pertandingan dan dapat mencapai prestasi puncak atau prestasi yang lebih
baik dari sebelumnya.

Seringkali dijumpai, bahwa sumber masalah mental pemain
sepakbola sesungguhnya bukan murni merupakan masalah psikologis,
namun disebabkan oleh faktor teknis atau fisiologis. Contohnya: jika
kemampuan pemain, menurun karena faktor kesalahan teknik gerakan,
maka persepsi sang pemain terhadap kemampuan dirinya juga akan
berkurang. Jika masalah kesalahan gerak ini tidak segera teridentifikasi

190


Click to View FlipBook Version