The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sebuah cerita tentang pernikahan di bawah tangan yang dilangsungkan oleh Rania dan Pak Leo, pernikahan terjadi atas permintaan istri pertama Pak Leo.
Pak Leo seorang dosen yang sukses dan kaya raya.
Perjalanan pernikahan yang tidak semulus yang diharapkan membuat Rania memilih pergi dan menjauh dari kehidupan Pak Leo. Rania yang malang ia harus menjalani kehidupannya sendiri dengan segala suka dukanya, bahkan ia pun harus menanggung semua biaya hidupnya sendiri sampai saat melahirkan tiba, Rania meminta sedikit dari rizqy yang di miliki oleh Pak Leo namun sayang Pak Leo sama sekali tidak memperdulikannya.
Tahun berjalan, Rania menganggap bahwa hubungannya dengan Pak Leo secara agama telah selesai, namun ternyata tidak demikian karena Pak Leo masih menganggap Rania istrinya.
Rania berada di posisi yang sangat sulit, ia akan menikah lagi namun Pak Leo masih terus mengatakan bahwa Rania adalah istrinya, memilih hidup sendiri tapi Pak Leo tidak pernah menafkahinya sama sekali.
Kisah yang pelik dan mengharukan,
Berhasilkah Rania melalui hidupnya yang tidak mudah dan tidak indah ?

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Dian Rachmawati, 2020-12-18 00:59:08

DOSEN ITU SUAMIKU

Sebuah cerita tentang pernikahan di bawah tangan yang dilangsungkan oleh Rania dan Pak Leo, pernikahan terjadi atas permintaan istri pertama Pak Leo.
Pak Leo seorang dosen yang sukses dan kaya raya.
Perjalanan pernikahan yang tidak semulus yang diharapkan membuat Rania memilih pergi dan menjauh dari kehidupan Pak Leo. Rania yang malang ia harus menjalani kehidupannya sendiri dengan segala suka dukanya, bahkan ia pun harus menanggung semua biaya hidupnya sendiri sampai saat melahirkan tiba, Rania meminta sedikit dari rizqy yang di miliki oleh Pak Leo namun sayang Pak Leo sama sekali tidak memperdulikannya.
Tahun berjalan, Rania menganggap bahwa hubungannya dengan Pak Leo secara agama telah selesai, namun ternyata tidak demikian karena Pak Leo masih menganggap Rania istrinya.
Rania berada di posisi yang sangat sulit, ia akan menikah lagi namun Pak Leo masih terus mengatakan bahwa Rania adalah istrinya, memilih hidup sendiri tapi Pak Leo tidak pernah menafkahinya sama sekali.
Kisah yang pelik dan mengharukan,
Berhasilkah Rania melalui hidupnya yang tidak mudah dan tidak indah ?

Keywords: Dosen itu Suamiku

DOSEN ITU SUAMI KU

Salam penuh cinta buat semua pecinta novel di seluruh dunia, semoga kisah ini
bisa menginspirasi kita semua untuk bisa berbuat lebih baik lagi terutama
tentang cara pandang terhadap esensi sebuah pernikahan, agar kita tidak
terjebak pada kondisi yang menyedihkan.

DOSEN ITU SUAMIKU,
Sebuah cerita tentang pernikahan di bawah tangan yang dilangsungkan oleh
Rania dan Pak Leo, pernikahan terjadi atas permintaan istri pertama Pak Leo.

Pak Leo seorang dosen yang sukses dan kaya raya.

Perjalanan pernikahan yang tidak semulus yang diharapkan membuat Rania
memilih pergi dan menjauh dari kehidupan Pak Leo. Rania yang malang ia
harus menjalani kehidupannya sendiri dengan segala suka dukanya, bahkan ia
pun harus menanggung semua biaya hidupnya sendiri sampai saat melahirkan
tiba, Rania meminta sedikit dari rizqy yang di miliki oleh Pak Leo namun sayang

Pak Leo sama sekali tidak memperdulikannya.

Tahun berjalan, Rania menganggap bahwa hubungannya dengan Pak Leo
secara agama telah selesai, namun ternyata tidak demikian karena Pak Leo

masih menganggap Rania istrinya.
Rania berada di posisi yang sangat sulit, ia akan menikah lagi namun Pak Leo
masih terus mengatakan bahwa Rania adalah istrinya, memilih hidup sendiri

tapi Pak Leo tidak pernah menafkahinya sama sekali.
Kisah yang pelik dan mengharukan,

Berhasilkah Rania melalui hidupnya yang tidak mudah dan tidak indah ?

Ikuti yuk kisahnya di sini..
Bersama goresan pena dari seorang Rarashasha.











SEBUAH PERJALANAN

Lembayung senja menghias jagat raya, membangkitkan seluruh manusia dari segala keluh
kesah yang membahana.
Menggelar sajadah dan bersujud tunduk, patuh, taat juga tawadhu pada ketentuan
TuhanNya.
Rania menginjakkan kaki di bandara Samsoedin Noor dengan bahagia. Kerinduannya pada
kota kelahiran abah demikian menyelusup pori-pori hatinya dan membuatnya tak berdaya.
Rania di terima menjadi salah satu mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta di kota itu.
Banjarmasin, kota seribu sungai dengan ribuan mimpi, harapan, cita-cita juga kenangan.
Banjarmasin yang masyarakatnya agamis namun tak ekstrim terhadap agama lain.
Banjarmasin adalah kota paling familiar menurut Rania.

Ia bangga, mimpinya menjadi salah satu mahasiswi universitas itu tercapai kini.
Menjadi mahasiswi fakultas hukum strata 1, lucu memang, sedang ia sendiri sudah
menempuh S2 ekonomi di kotanya.

Tapi apapun alasannya mimpi adalah cita-cita yang didekap hingga menembus alam bawah
sadar.
Bukan hanya untuk sekedar memahami ilmu hukum agar dirinya tak buta hukum. Namun
lebih dari itu. Ada 'hope' yang sedang ia gambar dalam perjalanannya.
Harapan tentang kesuksesan, harapan tentang pembuktian, harapan tentang mewujudkan
kerinduan dan harapan tentang terwujudnya pembalasan.

Rania dengan tegap mendorong trolli menuju taxi yang telah ia pesan. Ringan langkahnya
menuju sebuah rumah yang di kontraknya melalui media online.
Sebuah rumah mewah dengan perabotan mewah.
Rania sengaja memilih rumah itu bukan hanya sekedar untuk sebuah kenyamanan namun
lebih dari itu.
Rania ingin merasa nyaman di rumah yang ia sewa. Merasa nyaman saat menulis dan nyaman
saat menjamu kawan.
Rania ingin benar-benar berhasil dengan cita-citanya.

Memasuki perumahan elite di jalan A. Yani membuat Rania merasa perlu membawa
pandangannya mengawasi sekeliling. Rumah-rumah bertingkat nan megah.
Dinding putih dan gerbang berpagar tinggi, ornamen minimalis ditambah dengan hiasan
sebuah mobil mewah yang sedang dibersihkan oleh sopir pribadi.
Gambaran sorga dunia yang disulam demikian indah.
Rania turun tepat disebuah rumah bertuliskan A. 36.

Seorang wanita bergaun indah disamping sebuah toyota nampak anggun tersenyum ke
arahnya.
Rania membalas senyum renyah wanita itu.
"Saya ibu Rumi pemilik rumah ini."
"Oh, saya Rania bu, " suara Rania renyah.

Wanita tersebut membimbing Rania masuk rumah berornamen bunga matahari tersebut.
Ruang tamunya sedikit nampak naik dibanding ruangan yang lain. Di ruang keluarga sebuah
sofa tanpa sandaran di hamparkan begitu saja di tengah ruangan. Ada karpet berbulu tebal
berwarna hijau muda, menutupi sedikit saja kaca lebar yang terhampar dilantai. Ada hiasan
tiga dimensi bernuansa kolam ikan di bawahnya.

Rania bangga dengan rumahnya. Setara dengan uang dua puluh juta yang ia berikan satu hari
yang lalu untuk sewa rumah ini selama satu tahun.
Rania tidak lagi perduli dengan harga. Honor menulisnya terlalu besar bila hanya untuk
bilangan dua puluh juta saja.

Dalam sebulan ia bisa tuntas menulis 10 judul novel. Bila satu novel berharga 200 USD belum
termasuk bonus harian, royalti dan koin dari pembaca maka dalam sebulan ia bisa dapatkan
lebih dari empat puluh juta hanya dengan menulis novel.
Rania tak perduli dengan letih yang kadang mengoyak-ngoyak dirinya, yang ia tahu ia harus
kuat berjuang demi nama baik dan kesetaraan kehormatan di mata masyarakat.
Ia habiskan kesehariannya untuk menulis dan memintal doa pada Tuhan, ia yakin suatu hari
apa yang ia pintal akan berbentuk. Dan inilah saatnya.
Inilah saat dimana dirinya merasa punya waktu membuktikan bahwa ia berharga dan layak
dihormati.
Ia layak diperebutkan dan diperjuangkan. Ia layak dibanggakan dan dihargai.

Bila hari kemarin ia meminta karena memang ia sedang tak memiliki apapun untuk digunakan.
Rania lelah berkejaran dengan hutang dan riba, maka meminta adalah jalan yang ia tempuh.
Demi hidupnya, demi anak yang diasuhnya.
Tak malukah dirinya? Malu... pasti. Namun akan lebih malu lagi bila dunia mencatat namanya
sebagai wanita tuna susila yang menggadaikan harga diri demi rupiah.

Hari ini, ketika ia berada di bulan ke tiganya melalui kontrak eksclusive bersama sebuah media
online. Hari ini adalah hari kemenangan dimana dirinya benar-benar berjaya.
Ia telah memiliki sebuah mobil mewah, memiliki tas bermerk, kosmetik para artis dan
perawatan tubuh yang intensive.
Hidup telah ia menangkan.
Hidup telah ia genggam.

"Kalau begitu saya pulang dulu ya mbak.."
"Rania, "
"Oh iya mbak Rania. Ini surat perjanjiannya, semoga saja betah."
"InsyaAllah betah, bu." jawab Rania lugas.

Ia mengantar ibu Rumi keluar dari rumah yang ia sewa. Kemudian Rania berkemas
membereskan pakaian yang di bawanya. Sambil sesekali ia benamkan wajahnya diantara
ranjang empuk kamar barunya.

Dua kakinya terjuntai di ujung ranjang, ia menghubungi satu nomor di ponselnya.
"Hallo, saya Rania, yang kemarin sempat buat janji."
"Saya butuh dua orang asisten rumah tangga,"

"Iya jadi..."
"Bisa kan ?"
"Oke, terimakasih."

Rania menghela nafas panjang kemudian mendekap bantal harum, merapatkannya di
dadanya. Menekan tombol on pada remote AC yang tergeletak di ujung ranjang.
Sebelum tidur ia berujar, tak ada yang tidak mungkin bila Allah mengijinkan.
Keyakinan pada kekuatan Tuhan harus melekat kuat, hingga dalam kondisi apapun seorang
hamba tidak akan kehilangan pegangan.
Lamat-lamat, dingin AC dan harum pewangi ruangan menyeruak seluruh sisi kamar. Mata
indah Rania terpejam, bulu mata lentiknya pun mengatup, rapat.
Bayangan tentang hari esok berkejaran di mimpinya, bayangan tentang kemenangan dan
tantangan baru, Rania sadar, ia harus mempersiapkan diri dengan matang. Ia tidak boleh
rebah apa lagi tergelincir.
Titian itu harus ia lewati dengan hati-hati, bersahaja dan meninggalkan kesan sombong.
Berguna namun tidak mudah di guna-guna, bermanfaat namun tidak mudah di manfaatkan.

Sepiring soto banjar dengan sesendok penuh sambal terhidang di piring tebalnya.
Dalam tidurnya ia telah berkelana, menghirup aroma segar soto banjar yang nikmat nian.
Rania tersenyum, mengenang orang pertama yang memperkenalkan dirinya pada soto banjar
di anjungan pasar.
********

"Hey, tumben jalanan di Banjarmasin ini menjadi macet, mungkin karena sekarang warganya
menjadi makmur dan berkecukupan. Hingga jumlah mobil semakin bertambah. Jumlah motor
makin banyak dan jalanan menjadi sesak."

Dulu Banjarmasin tidak macet seperti ini. Macet memang seringkali menjengkelkan namun
macet juga bisa dikaitkan dengan kehidupan masyarakat yang mulai mapan atau juga tata
kota yang kurang baik berjalan.Entahlah.
Macet yang menggoda membuat beberapa caci maki muncul, untung saja hari hujan hingga
terik matahari tak menimbulkan keresahan. Diantara macet Rania menyempatkan diri
menghafal beberapa surah yang belum ia tuntaskan.

Rania menuju kampus tempat ia diterima bersekolah kembali. Kuliah di fakultas hukum.
Universitas swasta ternama di kota ini. Universitas yang menjadi mimpi jutaan anak di luar
sana. Universitas berkelas, begitu Rania selalu menyebutnya dengan bangga.

Wuih... mimpi-mimpi dirancang indah olehnya. Mimpi yang sudah dirajut ribuan menit yang
lampau baru kini diijinkan terjadi.
Rencana manusia tidak akan pernah lebih baik dari rencana taqdir Tuhan. Memang
demikianlah kenyataannya.
Dan beberapa bulan terakhir ini Rania memang disibukkan untuk menjelajah rencana Tuhan
yang sudah dipahami, selalu tidak terduga.
Termasuk dengan jadwal kuliahnya tahun ini, ia adalah bagian dari tidak terduga nya rencana
Tuhan.

Rencana untuk kuliah di fakultas hukum sudah Rania gagas lima tahun yang lalu,dengan segala
tatanan kesempurnaan namun tidak berhasil, Tuhan berkata lain.. saat itu ia tidak ditaqdirkan
untuk kuliah di fakultas hukum seperti inginnya,ia tidak ditaqdirkan membalas siapapun
meski ia sangat ingin, ia hanya diijinkan menatap perjalanan itu dari jauh meski ia sangat sakit.

Hari itu dalam ketidak mengertian nya tentang taqdir dan keniscayaan Tuhan ia sempat protes
pada cita-cita yang tidak diijinkan terjadi. Dan hari ini ia didatangkan kembali dalam keadaan
yang telah benar-benar siap. Dalam keadaan dimana seluruh komponen kekuatan itu telah
bersatu, lahir dan batin. Secara materi Rania telah mampu mencukupi dirinya dan secara batin
pun Rania telah benar-benar kuat. Tuhan memang luar biasa.

Rania tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan dikirim Tuhan hari ini, taqdir nya kali ini
memaksa dirinya untuk mengesampingkan segala aktivitasnya dan hanya memusatkan pada
tujuannya untuk datang kemari.

Memenuhi keniscayaan Tuhan, Tuhan memang serba artistik, banyak hal tidak terduga yang
sangat erat dengan sebuah keniscayaan. Sebagai seorang hamba sekali lagi, tugas kita hanya
tunduk, taat dan patuh saja. Andai hari itu Rania membalas, mungkin ia tidak akan berada di
kata 'menang' karena saat itu ia tidak punya amunisi apapun selain hanya modal nekat dan
rasa sakit. Berperang tanpa amunisi sama halnya dengan bunuh diri.

Namun hari ini Tuhan membuktikan bahwa Ia begitu Maha Pengasih.
Kita tidak bisa memaksa bunga untuk mekar sesuai hitungan dan ilmu kita namun kita bisa
saja menemuinya tumbuh mekar di luar dugaan. Saat itulah keniscayaan Tuhan sedang
berjalan.

Rania, tersenyum mantap dari belakang kemudinya.
Kampus megah yang sering didatanginya beberapa tahun yang lalu itu berdiri menjulang.
Ia menatap atapnya dengan sebuah harapan, ia akan berhasil, berhasil mengambil ilmunya
dan berhasil memangsa sasarannya.
Singa yang kemarin tidur itu hari ini telah terbangun serta siap memangsa siapapun yang
main-main dengan hidupnya.

Rania turun dari mobil mewahnya, ia tegap menggamit tas branded dan sepatu Natasya,
langkahnya ringan, tubuh rampingnya bergoyang.
Sesekali ia tundukkan wajahnya ketika melewati gerombolan mahasiswa yang melihatnya.
Usianya kini sudah tidak muda lagi namun jangan disangka, kemapanan wanita cantik yang
mungkin berusia tidak muda, sangat menggoda dibandingkan wanita cantik yang baru bisa
bernafas dan menatap dunia. Rania menjanjikan kemapanan itu untuk semua yang
mendekatinya.

"Ruang mahasiswa baru dimana ya mbak ?"
"Oh, disana kak." ucap gadis kecil itu menunjuk satu ruangan yang berjajar dengan ruang
lainnya.
"Terimakasih, " kemudian Rania melangkah pergi.
Teduh yang tercipta karena hujan yang hanya turun sesaat kemudian reda telah menciptakan
sebuah dialektika indah.

Di kampus ini dulu ia menunggu cintanya berbalas, di kampus ini dulu ia meratapi nasibnya,
dikampus ini juga ia memilah antara kata setius dan berpura-pura serius.
Kali ini ia kembali datang dengan keteguhan hati dan kemantapan diri.

Perjalanannya menuju kampus baru tempat ia menimba ilmu telah sampai di tempatnya. Hari
pertama dimana ia akan minta penjelasan pada panitia penerima mahasiswa baru.
Rania menarik nafas panjang, menahan kemudian menghembuskannya perlahan-lahan.
Berat memang namun harus ia jalani.
Gadis itu telah melewati ribuan perjalanan
ia mengayunkan langkahnya bukan hanya dengan kakinya, ia melangkah dengan tangannya,
dengan perasaannya juga dengan fikirannya.
Ia menembus semua batas yang tak pernah bisa ditembus oleh hati-hati yang kosong dan
terapung-apung
Ribuan belantara telah ia lewati
Ribuan derita telah ia lalui
Dan ia telah berhasil
Menjadi peri tanpa tongkat bintang
Menjadi peri tanpa mahkota.

Gadis itu, Rania namanya. Kemunculannya mungkin akan menakutkan mereka yang pernah
menggunakan hidupnya sebagai permainan.
akan menyeramkan bagi mereka yang pernah bermain-main dengan dosa.

Meskipun Rania datang hanya untuk menuntaskan rindu nya.
Rindu pada dosen baik bermata teduh yang dulu sering menolongnya.
Kedatangannya hanya untuk menuntaskan dendamnya, dendam pada dosen yang pernah
melingkarkan cincin kecil di jari manisnya lalu kemudian memangkas bukan hanya jemarinya
tapi sekaligus dengan pergelangan tangannya.

Rasa sakit yang hanya bisa Rania ceritakan pada Tuhan.
Rania hari ini datang menuju kampus dengan pilihan menjadi baik atau menjadi busuk.
Bersahabat saja dengannya bila kalian merasa bukan musuhnya.
Desis suara angin ..... di telinga-telinga yang dingin.

#cerita ini hanya fiksi belaka bila ada kesamaan nama dan tempat semua diluar kesengajaan
penulis.((1)

Apresiasi terindah adalah saat pembaca berdoa agar kami sehat dan baik-baik saja

ORIENTASI MAHASISWA BARU

Masa orientasi mahasiswa baru hari ini telah memasuki hari ketiga, lucu juga ia harus
mengulangi kejadian sepuluh tahun yang lalu, saat Rania masih muda dengan jilbab di kuncir.
Saat ini di masa pandemi ini, mahasiswa tidak harus hadir di kampus, pengenalan kampus,
pengenalan fasilitas, pengenalan mata kuliah semua dilakukan dengan zoom video.

Hari pertama dan hari kedua berjalan biasa-biasa saja.
Menginjak hari ketiga, mahasiswa baru boleh hadir dengan memperhatikan protokol
kesehatan, bermasker dan duduk berjarak.

Mungkin Rania datang terlalu pagi hingga ia harus menunggu di tepian kolam kecil, bersandar
di ujung gazebo yang berdiri tunggal.
Hingga kemudian ia melihat segerombolan mahasiswi dengan baju atasan hitam dan
bawahan putih.

Rania melangkah menuju ruangan yang telah disiapkan. Ia ikuti langkah gerombolan
mahasiswi tadi. Deretan bangku berjajar dengan jarak kurang lebih setengah meter.
Ada meja panjang menghadap tepat di barisan bangku untuk para mahasiswa baru.

Meja itu diberi alas berwarna merah hati. Ada ornamen vas bunga kristal juga bunga mawar
putih mekar. Dua yang mekar berada di kanan kiri, ditengahnya yang masih kuncup. Ornamen
tersebut menambah indah suasana.

Hingga mata bulat Rania tertuju pada sebuah sosok yang sangat dikenalnya.
Rania menuju sosok tersebut dengan tatap mantap.

"Selamat pagi Bapak, " Suara Rania ketika matanya bertabrakan dengan mata dosen tampan
yang sudah ia kenal sejak lima tahun yang lalu. Dosen ini yang dulu menyuruh Rania untuk
kuliah tanpa biaya. Dosen ini yang dulu iba dengan nasibnya, meski ia juga berniat untuk
mencicipi manisnya asmara yang menggeliat di tenda lelakinya.

Dosen ganteng yang usianya hampir purna itu terkejut.
"Kamu, ?"
"Inggih,"
"Rani kan ?"
"Betul, "

Rania tersenyum, manis semanis gula Jawa.
"Iya, ini Rania, pak. Rania yang dulu kumal dan dekil."
"Sekarang lebih matang, cantik dan dewasa.'
Suara dosen tersebut memuji. Mungkin ia tidak menyangka akan bertemu Rania disini, di
tempat ini.

Mungkin juga ia merasa ada memori yang datang dan pergi menyapa ingatannya,
membuatnya tersenyum sendiri sambil sesekali menatap mahasiswa baru yang lalu lalang
memenuhi ruangan. Juga beberapa panitia yang sedang sibuk mempersiapkan tempat
berlangsungnya masa orientasi mahasiswa baru.

Nampak beliau mendekati tempat duduk Rania. "Nanti temui aku ya, " suaranya memastikan.
"InsyaAllah, "
"Ini nomer Wa ku,"
"Rania sudah punya, pak."
"Oh ya ?"
"Iya pak,"
"Okelah "

Dosen itu berlalu. Meninggalkan ruang orientasi mahasiswa baru sambil bersenandung
tembang kenangan. Langkah ringannya menyusuri tangga biru menuju ruangan para dosen
terlihat sangat tegap, sambil ia sesekali membenahi letak jasnya yang tidak rata.

"Tenang saja pak, bapak masih tampan dan berwibawa meski berpakaian seadanya. " suara
itu pernah membuat jiwa lelakinya terusik.

Lima tahun yang lalu. Dan kini pemilik suara yang sempat mengusik itu berada di dekatnya.
Ia sangat terpesona, tidak menyangka taqdir akan bermain-main dengan dirinya.
Dosen itu, pak Yuda, ia tahu misi Rania datang kemari.

Bukan dirinya target yang dimaksud Rania. Ada yang lain, ada yang sedang diincar oleh Rania,
dan boleh jadi ini adalah bagian dari pembalasan dendam.
Ia yakin, insting hukum yang ia asah setiap hari bermain-main lincah di telinganya.
Ia tahu kemana arah Rania menuju dan ia hanya akan jadi pemirsa dalam permainan ini, boleh
jadi dirinya akan jadi figuran atau bahkan jadi pemeran protagonis yang bersahabat dengan
pemeran utama. Entahlah.

Acara penutupan masa orientasi pun berlangsung. Rangkaian acara yang sudah ditata rapi
terlewati.
Panitia begitu pandai mengemas acara hingga membuat para mahasiswa baru terkesan.
Rania duduk dibarisan paling depan namun memilih tempat di ujung agar dirinya bisa
memantau keadaan dan mengikuti jalannya kegiatan hingga tuntas tanpa perlu takut
berjumpa wajah-wajah yang mengenalnya.

Rania, menatap satu persatu wajah panitia dan beberapa dosen muda yang duduk di
hadapannya.
Rupanya memang sudah dipersiapkan bahwa acara penampilan dosen ini di lalui dengan
menampilkan dosen ganteng dan cantik untuk memunculkan minat dan semangat mahasiswa
baru.
Ini bagian dari trik sebuah pelayanan dan diakui oleh Rania trik mereka berhasil.
Rania yang menikmati sajian mereka kadang tertawa lepas, kadang tersenyum kadang juga
terbelalak. Mereka demikian atraktif. Seperti sudah terlatih.
"Oke, kita tutup acara orientasi mahasiswa baru ini dengan doa."

Rania terkejut, ia melihat jam tangan merk rolex yang melingkar di pergelangan tangan
mungilnya.

Pukul 14.00 WITA
Ia ingat akan janjinya pada pak Yuda. Dosen tampan yang tadi mendekatinya.
Usai acara ditutup, Rania pun menuju ruangan pak Yuda.
Masih yang dulu kah ? atau sudah berubah. Rania melangkah saja. Toh. nanti bisa tanya bila
telah sampai disana.
Rania tersenyum manis, sangat manis sambil menunggu episode selanjutnya.
******

Pagi itu di kampus nya,
Usai acara panjang dan pertunjukan beberapa dosen tampan juga cantik yang ditampilkan
acara ditutup. Rapi dan bagus sekali panitia mengemas acara tersebut.
Rania menuju ruangan yang dulu pernah ia lewati, ia melewati jalan panjang beraspal,
memasuki pintu lebar dan ruangan besar. Ada ruangan penerima tamu disana, semacam
customer care atau customer servis, Rania tiba-tiba seperti mengingat sesuatu. Ia seperti
terbang pada peristiwa menyakitkan lima tahun yang lalu.

Di ruangan ini ia pernah meminta belas kasih dari seseorang yang pernah ia anggap suami. Di
ruangan ini ia pernah mengemis demi kesamaan hak yang ia sandang dan di ruangan itu ia
pernah menjadi pembohong demi rasa iri dan dengki nya.
Ia pernah harus melewati tangga biru yang masih saja bercat biru ini dengan hati yang sangat
hancur.

Ketika kedatangannya malah menemui jalan buntu.
Padahal saat itu ia dalam keadaan haus dan lapar. Ia ditinggal sembunyi entah dengan maksud
apa.

Saat itu Rania menikah dengan salah satu dosen di kampus ini. Menikah dan disembunyikan.
Rania mau saja karena ia berharap hidupnya akan tertolong.
Tapi ternyata tidak. Lelaki itu menikahinya bukan untuk membangun keluarga sakinah
melewati jalan Tuhan dengan kebenaran namun hanya karena ingin dianggap jantan dan
berhasil, itu saja.

Hal itu terbukti dari perilaku buruk sang dosen. Rania tahu, tidak semua dosen di kampus ini
berbuat tidak baik seperti lelaki yang pernah jadi suaminya. Seandainya pun ada itu tak lebih
dari oknum saja.
Hari itu Rania menangis di ruangan pak Yuda. Tubuhnya bergetar dan ia pun terisak-isak.
"Sudahlah Ran, jangan menangis. Biar Tuhan yang membalas semua tingkah laku buruknya."
Rania masih terisak ketika ia menerima genggaman pak Yuda. Uang kertas berwarna merah
terlipat diantara jemarinya.
"Ini untuk apa?" suara Rania parau.
"Kamu membutuhkannya,"
"Bukan hanya ini," Rania terisak lagi.
"Aku tahu, tapi lawan mu itu orang kuat. Kamu harus jadi kuat dulu baru melawan."
Rania mulai faham.

"Rani butuh sikap tegas dan tanggung jawab mas,"
"Aku tahu, tapi saat ini keinginanmu hanya akan jadi sampah Rania."
"Apapun alasannya kamu telah sepakat nikah di bawah tangan, iya kan ?"
Rania mengangguk-angguk.
"Kesepakatan itu adalah dasar dari terbentuknya sebuah kejadian dengan asas suka sama
suka. Kamu tidak bisa menuntut lebih karena dari awal kamu telah sepakat. Pulanglah,
tenangkan dirimu, fikirkan langkah selanjutnya. Semoga uang di tangan mu cukup."
Kenangan itu kembali tergores dari tinta kecil ingatan Rania dalam kanvas kehidupannya.
Ia tepiskan kenangan buruk itu, ia usap seluruh peluh yang menggantung di hatinya. ia
bereskan duka yang bersemayam dilantai-lantai fikirannya. Ia harus hadir sebagai wanita
bersih.

Masa lalu itu tidak boleh terungkap hari ini, masih terlalu dini, episodenya belum tuntas,
belum selesai.
Ia ingin menikmati rasa sakitnya sedikit demi sedikit. Ia ingin merasakan perihnya luka itu
sedikit demi sedikit.

Lima tahun bukan waktu yang sebentar dan ia ingin berbagi kepedihan itu. Ia ingin
membaginya, ia ingin menghabiskannya selama masa kuliah nya berlangsung. Ia ingin lelaki
yang pernah menikahinya kemudian mencampakkan nya merasakan deritanya, derita yang
sama yang dirasakan Rania.
Bukan hari ini terlalu dini.

Highills nya menapaki tangga biru itu, melangkah ia, sesekali matanya bersirobok pandang
dengan beberapa dosen yang lalu lalang. Ia hanya mengulum senyum.
Rania Maya sari.

Begitu nama nya pernah terkenal di sini.
Di tikungan tangga pertama, wajah itu, kacamata minus dan rambut ikal itu. Ia pernah
mengenalinya. Mereka berpandangan sesaat.

Kemudian Rania meninggalkan wajah itu terbengong, entah karena ingat atau karena terpana
pada wajah cantik Rania.
"Rani kah ?" tanya suara itu, namun Rania melenggang begitu saja. Ia tinggalkan lelaki itu
dengan berbagai pertanyaan dan kenangan.

'Mungkinkah itu Rania, wanita yang dulu pernah jadi istrinya. Wajahnya memang lebih halus
namun guratnya terasa sama. Cara menatapnya, cara berjalannya semua sama. Meskipun
kulit wajahnya jauh lebih halus dari kulit wajah yang ia kenal dulu. Rania mantan istrinya,
wajahnya sama persis dengan wajah yang tadi melintas.

Dulu kah ? mantan istri kah ? bukankah ia sama sekali tidak pernah mengucapkan kalimat
talak pada wanita itu. Wanita ke dua yang sungguh pernah mengoyak lazuardi lelakinya.
Bila benar itu Rania yang dulu pernah menjadi istrinya maka ia masih punya hak penuh atas
diri wanita itu, suara batin pak dosen menggumam. Menggelitik boneka kayu hingga
menimbulkan keajaiban tercipta, boneka kayu itu bisa tertawa. Saking lucunya kalimat yang
baru saja ia dengar.

Dan sebagai lelaki mapan ia punya ambisi untuk menjadi menang apapun cara dan hasilnya,
ia tidak akan mau kalah.

'Tapi mungkinkah itu Rania ?'
'Mungkin ia hanya bermimpi' bukankah Rania jauh sekali, Rania tidak disini dan tidak mungkin
itu Rania, wanitanya dulu. Wanita itu terlalu sempurna, tak sebanding dengan Rania nya.
'Mungkin hanya sedikit sama' lelaki itu menepis rasa ingin tahunya.
Ia pun pergi meninggalkan tangga biru itu dengan kenangan. Tangga biru ini pernah jadi saksi
jutaan cinta yang menempel di sana. Tangga biru yang hari ini masih biru.
Sebiru rindu yang sebenarnya demikian besar pada Ranianya, hanya saja rindu itu menjadi
bersekat-sekat karena kebodohannya. Pak dosen kembali menggerutu. Pertemuan yang baru
saja terjadi demikian meresahkan hatinya.

LAGU UNTUK SEBUAH NAMA
Ebiet G Ade
Mengapa jiwaku mesti bergetar
Sedang musikpun manis kudengar
Mungkin karena kulihat lagi
Lentik bulu matamu, bibirmu
Dan rambutmu yang kau biarkan
Jatuh bergerai di keningmu
Makin mengajakku terpana
Kau goreskan gita cinta
Mengapa aku mesti duduk di sini
Sedang kau tepat di depanku
Mestinya aku berdiri berjalan ke depanmu
Kusapa, dan kunikmati wajahmu
Atau kuisyaratkan cinta
Tapi semua tak kulakukan
Kata orang cinta mesti berkorban
Mengapa dadaku mesti bergoncang
Bila kusebutkan namamu
Sedang kau diciptakan bukanlah untukku
Itu pasti tapi aku tak mau perduli
Sebab cinta bukan mesti bersatu
Biar kucumbui bayanganmu
Dan kusandarkan harapanku
Jatuh berderai dikeningmu
(2)

MATA KULIAH PERTAMA

Angin masih saja semilir ketika Rania menjejakkan kakinya di kampus pilihannya. Rania
memarkir cantik mobilnya di bawah pohon rindang. Pohon besar ini letaknya hampir
berhadapan dengan ruangan para dosen yang berdiri dua lantai.

Rania terdiam sejenak.
Ingatannya berputar pada kisah yang lalu saat dia bersembunyi di balik mobil yang kebetulan
di parkir di tempat yang sama dengannya saat ini.
Hari itu ia begitu rindu pada Leo suaminya, tujuh hari tidak berjumpa sejak mereka berdebat
keras di rumah kontrakan Rani
Rania datang karena rindunya berlipat-lipat, Rania datang hari itu bukan untuk minta uang
pada suaminya. Ia hanya rindu.
Sekali lagi suaminya menghindar. Begitu rupa ia ditinggalkan bersembunyi. Padahal hari itu
panas demikian menyengat.

Saat Rania menunggu di ruang tunggu dalam ruangan itu, ia melihat suaminya Leo sedang
berjalan di tangga itu bersama istrinya yang lain. Di pesan whatsAppnya tadi ia bilang ia
sedang berada di rumah.
Melihat itu Rania bersembunyi dibalik mobil tempat ia parkir saat ini. Bukan karena takut
pada mereka berdua namun karena Rania ingin mengambil gambar mereka dari jauh dan
menggunakannya sebagai bukti bahwa ia telah dibohongi.
Hari itu Rania demikian sedih, namun hari ini di tempat yang sama dalam kondisi yang
berbeda.

Hari ini Rania datang bukan lagi sebagai pengemis uang dan cinta namun hari ini Rania datang
sebagai mahasiswa baru yang berkuliah dengan membayar sendiri uang kuliahnya, tanpa
bantuan siapapun.
Rania datang dengan wajah baru dan semua ornamen mahal yang bertengger di tubuhnya.

Semua yang berpapasan pasti melihat. Betapa penampilan Rania saat ini demikian istimewa.
Rania berjalan ringan, menyusuri jalanan beraspal menuju satu gedung tempat para
mahasiswa baru berkumpul. Ia berjalan sendirian karena memang ia belum berkenalan
dengan siapapun. Tak jadi masalah baginya, yang penting ia berhasil kuliah di fakultas hukum.

Seorang dosen tampan memasuki ruangan, masih muda belia nampaknya, beliau berkelakar
sebagai pembuka suasana. Kelakarnya sebenarnya tak lucu tapi penampilannya cukup
menggoda hingga puluhan mahasiswi yang ada di ruangan itu terpana.
Beliau memberikan kuliah tentang Pengantar Ilmu Hukum.

Dalam keterangannya beliau menulis,
Pengantar ilmu hukum (PIH) yaitu mata kuliah dasar yang merupakan pengantar atau
introduction atau inleiding dalam mempelajari ilmu hukum, sering dikatakan pula bahwa PIH
merupakan dasar untuk pelajaran lebih lanjut dalam studi hukum yang mempelajari
pengertian-pengertian dasar, gambaran dan penjelasan tentang ilmu hukum.

Beliau memaparkan banyak contoh-contoh, hingga menutup lima belas menit terakhirnya
dengan tanya jawab.

Banyak sekali yang ingin bertanya namun hanya dibatasi beberapa orang saja sebab waktu
hanya tersisa lima belas menit.

Semangat para mahasiswa baru berhasil dibakar oleh pak dosen ganteng tadi.
Memang benar, memiliki wajah ganteng adalah sebuah anugerah dari Tuhan sebagai pintu
pembuka keberhasilan bila kita memanfaatkannya dengan baik. Karena bagaimanapun juga
wajah ganteng dan cantik akan menarik minat setiap orang yang melihat untuk banyak
berbincang sehingga komunikasipun menjadi panjang.
Disanalah awal mula keberhasilan di raih. Seharusnya mereka yang memiliki wajah tampan
berbangga diri dan mensyukuri kelebihan itu lalu menempatkannya di tempat yang benar.
Sayangnya sebagian dari mereka yang merasa cantik atau tampan terkadang justru terjebak
pada keinginan untuk di puji dan dibanggakan. Terkadang juga kecantikan dan ketampanan
digunakan sebagai alat untuk memuaskan nafsu pribadinya saja.

Acara tanya jawab berakhir, mata kuliah pertama bagi mahasiswa baru pun selesai.
"Namanya siapa kak ?" ujar gadis cantik yang duduk berjarak dengan Rania.
"Oh aku Rani," Rania menjawab tanya tersebut.
"Asli mana kak ?"
"Aku asli Banjar juga *ding"
"Ulun Septia* ,kak."

Mereka pun asik berbincang sambil berjalan bersisihan. Sesekali beberapa orang menyapa
mereka dengan senyum tersungging.
Septia gadis Bandung yang ikut belajar disini karena ada rumah kakaknya di Banjarmasin ini.
Kakaknya baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah instansi swasta di kota ini.
Rania dan Septia berjalan sejajar, Septia dengan jins dan atasan lengan panjang longgar
berwarna navy dan jilbab senada nampak anggun saat wajahnya diterpa mentari siang.

Begitupun Rania, dengan gamis merah hati dan jilbab pink yang berkibar, pipi putihnya ikut
berwarna pink saat garangnya mentari menyapa.
Mereka berdua seperti dua orang kakak beradik.
Tampak anggun dan mempesona.

Rania mengajak serta Septia naik di mobilnya, ia berjanji akan mengantar sampai di rumah.
Saat ini Rania butuh banyak kawan untuk memperluas jaringan. Itu juga yang menjadi sebab
Rania membangun komunikasi seluas-luasnya.
Ac mobil mulai mengeluarkan hawa dingin, memberi kesejukan bagi mereka berdua. Rania
mengendarai mobilnya dengan berhati-hati menuju rumah Septia di Handil

KOTAK KISAH YANG TERBUkA

Hari ini hari kesepuluh Rania menjadi mahasiswi fakultas hukum. Tidak ada tanda-tanda ia
bertemu dengan Leo. Rania pun enggan mencari keberadaannya. Waktunya masih cukup
panjang untuk dirinya bisa bertemu Leo. Masih ada tiga tahun ke depan. Masih ada hari-hari
yang akan terlewati. Itu sebabnya Rania merasa tenang-tenang saja.

Di masa pandemi seperti sekarang ini sebenarnya mahasiswa diminta untuk tetap berada di
rumah dan melakukan aktivitas perkuliahan secara online. Hanya memang pada mata kuliah
tertentu diijinkan untuk datang ke kampus. Mengingat kasus penderita corona di Banjarmasin
yang masih belum menunjukkan grafik turun.

Beberapa mahasiswa yang nekat datang, pasti karena ada kepentingan urgent atau sekedar
janjian dengan pacar mereka.
Rania hari ini berada di kampus, dibawah pohon rindang, di gazebo paling ujung ia duduk.
Ia menunggu Septia yang tadi mengirim pesan mengajaknya jalan-jalan berbelanja ke mall.
Santai sekali Rania duduk, sambil meneruskan episode lanjutan novelnya di aplikasi platform
penulisan online nya.

"Hai kak, sudah tadi ?" tanya Septia.
"Lumayan, sudah selesai acara mu ?"
"Sudah kok kak, "
"emangnya ada acara apa sih Tia ?"
Rania penasaran melihat wajah Septia berbinar-binar. Pasti sedang terjadi sesuatu.
"Tia mau cerita tapi kakak janji menjaga rahasia ini ya," Rania pun mengangguk.
"Septia dapat pernyataan cinta kak,"
"Dari siapa ?"
"Dari Arifin, kakak tingkat kita."
"Kenal dari kapan Tia ?"
"Baru sih kak, tapi berasa lama."
"Kok bisa, ada kalimat baru berasa lama, maksudnya bagaimana ?"
"Kami tuh baru kenal kak, tapi tiap malem chat, ngobrol, video call, jadi kayak udah kenal lama
banget" Septia bercerita sambil kakinya di ayun-ayunkan di ujung gazebo. Manja dan centil
sekali Septia kala itu. Pantes banyak lelaki tergila-gila. Seperti juga dirinya dulu, saat hatinya
belum terluka, ia juga centil dan menggoda. Namun seiring dengan berkembangnya luka
dirinya kini menjadi kuat, tegar dan tidak mengenal kata manja.

Bagi Rania saat ini, lelaki adalah makhluk yang hanya bisa menyakiti wanita. Seperti abahnya
juga Leo suaminya. Dibutuhkan pengamatan khusus dan pengenalan yang lama untuk
mencari lelaki yang benar-benar baik.

Rania dan Septia pun akhirnya menuju mall sesuai janji mereka.
Sebelum mobil mendekati area mall tiba-tiba Septia berkata.
"Mobilnya di parkir di utara saja kak," Rania terkejut sambil bertanya.
"Kenapa harus di utara Tia ?"

"Biar deket kak, Arif nunggu Tia di cafe Boba di daerah cineplex atas kak."
Rania sedikit terkejut,
"Jadi kamu janjian dengan Arif ?"
"Iya kak, kak Rani jangan marah ya,"
Tia mengatupkan kedua lengannya di depan hidungnya, ia benar-benar memohon.
"Tia ingin ngenalin kak Arif ke kak Rani, Tia ingin minta pendapat apakah kak Arif orang baik
atau bukan, begitu kak"
"Tia mohon jangan marah ya kak."
Rania hanya bisa mengangguk pasrah, ingin marah tapi nggak tega, kalau nggak marah
rasanya mau marah.
Mestinya Tia jujur dari awal jadi Rani bisa siap-siap. Atau mungkin kalau jujur Tia khawatir
Rani nya nggak mau diajak ketemu dan nganter Tia ke mall itu.
"Tadi di kampus kan udah ketemu Tia, kok sekarang ketemu disini lagi ?"
"Di sini kak Arif lagi jumpa dosennya kak,"
"Oh...."
"Tadi maksudnya Tia langsung pulang, tapi begitu kak Rania mau diajak ke Mall Tia akhirnya
mengiyakan ajakan kak Arif ke mall juga" Begitu penjelasan Tia panjang lebar.
Mereka berjalan beriringan melewati beberapa stand yang nampak tutup. Menaiki ekskalator
hingga sampai di tempat yang di tuju.

Dua lelaki nampak berbincang dengan hidangan dua cup boba di hadapannya.
Tia bersemangat sekali menuju tempat mereka, saat Arif lelaki yang tadi di sebut Tia pacar
barunya melihat mereka, ia melambaikan tangan pada Tia.
Tia mendekat, Rania berada di belakangnya.
"Tia kenalkan ini pak Leo"
Tia dan dosen tadi berjabatan tangan. Hingga Tia pun menoleh ke arah Rania.
"Oh iya kenalkan juga ini kak Rania, mahasiswa baru yang sering antar Tia pulang. Kak Rania
ini juga penulis lho." Suara Tia bersemangat memperkenalkan Rania pada Arif dan pak Leo.
Rania mendekat, menjabat lengan Arif lalu menjabat lengan Leo.

Betapa terkejutnya mereka berdua. Mereka adalah dua orang yang pernah dipersatukan
Tuhan dalam ikatan pernikahan. Pernikahan yang berakhir tragis.
Pernikahan tanpa kata putus tanpa kalimat cerai namun berada dalam tempat yang berbeda
tanpa kabar tanpa nafkah.

Rania menatap Leo lekat. Dosen yang tadi dipanggil Leo ternyata adalah Leo yang dikenalnya.
Laki-laki yang menjadikan Rania datang dan menimba ilmu disini.
Tajam tatapan mata Rania padanya, seolah hendak menerkam dan menyerang, namun demi
menuntaskan dendam Rania pun menahan.

Sedangkan Leo menatap Rania dengan pandangan penuh haru, seolah ada sesuatu yang ingin
dikatakan namun bibirnya kelu. Seolah ada yang ingin diucapkan namun lidahnya tak mampu.
Hingga Leo pun hanya mampu terdiam dengan bibir yang kelu.
Leo menatap Rania tanpa berkedip, ada pendar-pendar rindu dimatanya. Seandainya
mungkin ingin sekali ia memeluk Rania, mengecup bibirnya dan melumat seluruh erotisme
yang ia miliki.

Sayangnya, Leo tak punya keberanian itu. Bukan hanya karena Leo baru saja bertemu wanita
ini namun lebih dari itu karena sebenarnya Leo merasa sangat bersalah.
Rania, wanita yang ia nikahi beberapa tahun silam, yang tiba-tiba pergi tanpa alasan, yang
meninggalkan duka berkepanjangan dalam kehidupannya.Duka yang hanya bisa ia simpan
sendiri tanpa pernah ada kesempatan berbagi dengan orang lain.

Beberapa kali Leo sempat berangkat ke Malang, ke rumah yang dulu sempat Rania tinggali
tetapi rumah itu kosong.
Leo juga sempat membuat janji dengan Rania untuk bertemu di Bandung, saat itu Leo ada
tugas di Jakarta namun demi Rania Leo berangkat dulu ke Bandung tapi sayang Rania tidak
pernah muncul, hingga Leo menganggap Rania pembohong dan sedang mempermainkannya.
Mereka pun kembali terpisah. Rania yang malang, Leo yang menyedihkan.
Kisah itu akhirnya terpenggal begitu saja tanpa ada penyelesaian. Rania yang akhirnya
memilih pergi daripada bertahan meninggalkan luka teramat dalam.
Hidup yang terombang-ambing, tidak ada ketentraman. Belum lagi sakit yang ia derita selama
menikah, membuat siksaan baru dalam episode hidupnya. Sakit yang tidak tampak namun
memberi rasa.

Andai bukan karena istri Leo dan bundanya yang memohon padanya untuk menikah mungkin
dirinya tidak akan pernah menikah dengan Leo selamanya.

Istri ke dua terkadang selalu identik dengan perempuan cantik, manja, menggoda,
membangkitkan gairah. Sedang Rania bukan model wanita seperti itu. Dia wanita mandiri,
tegar, tegas, tidak bertele-tele. Andai ia bisa manja mungkin ia akan jadi istri pejabat kelas
atas sejak lama. Tapi ia tak bisa. Ia tak biasa bergandengan tangan dengan manja lalu meminta
ini dan itu. Merayu begitu rupa kemudian menjual tawa dengan baju dan sepatu mahal. Rania
tidak bisa melakukannya. Tidak bisa dan tidak pernah mencoba untuk bisa. Rania terlalu
bodoh untuk berbuat seperti itu.

Itulah mengapa saat bersama Leo ia pun tak bisa melancarkan serangan begitu rupa untuk
mendapatkan harta.
Ia pun tidak ingin merampas hak istri Leo. Jatah hari yang sudah ditentukan ia lewati dengan
apa adanya.
Hingga beberapa kali saat giliran Leo berada di rumahnya, istri Leo kerap kali memberi tugas
yang menjengkelkan.

Awalnya Rania biasa saja namun makin lama makin menjengkelkan saja.
"Pa, papa nanti tolong jemput Bunga ya karena mama nggak bisa langsung pulang setelah dari
kantor." Bunga anak ke tiga Leo yang saat itu masih berusia empat tahun. Saat Leo meminta
ijin ia tak mungkin tidak mengijinkan, padahal jarak antara rumah Rania ke sekolah bunga
sekitar 60 menit tanpa macet, masih harus mengantar Bunga pulang kemudian Leo kembali
lagi ke rumah Rania. Bila hari telah masuk petang Rania akan bilang.
"Sudah mas, harinya sudah petang mas nggak usah balik kerumah Rania ga pa pa kok."
Pernah suatu hari juga, "Papa dimana ?"
"Di rumah Rania ma, kenapa ?"
"Pulang dulu pa, mama lupa belum buang sampah, hari ini waktunya paman sampah
membuang sampah pa, papa jangan nggak pulang lho nanti baunya kemana-mana."

Pernah juga suatu ketika,
"Papa, hari ini waktunya ambil raport Bintang,"
"Lho, papa kan sudah bilang hari ini harus datang ke acara saudara Rania, ma."
"Kok papa jadi mementingkan acara keluarga Rania daripada acara penerimaan raport
Bintang, Pa."
"Bukan begitu ma, kita kan sudah berbagi tugas."
Selalu begitu hingga mereka terlibat perdebatan.

Bila mereka sudah berdebat maka tugas Rania menenangkan Leo, agar Leo tak gusar. Agar
Leo tidak sedih. Agar Leo tersenyum lagi. Caranya bisa dengan bercinta atau mengalah.
Sesuatu yang terjadi berulang-ulang. hingga membuat Rania merasa letih.
Rania merasa harus jadi pengemis untuk memenangkan hati Leo. Rania harus memohon agar
Leo tetap tinggal.

SEBENARNYA RANIA BISA JADI PEMENANG.
Andai Rania menggunakan jurus pelakor. Merayu Leo, memikat Leo dengan pelayanan,
membuat Leo tergila-gila dengan adegan bercinta yang selalu berubah baik gaya dan suasana.
Rania sangat bisa.
Secara fisik Rania jauhhhhh lebih cantik dari istri Leo. Rania bisa saja jadi pemenang, saat itu
sedikit saja Leo pasti terpikat padanya dan berada dalam pelukannya setiap saat.
Tapi sungguh, Rania jijik melakukan itu.
Rania jijik melakukan tipu muslihat demi cinta dan kasih sayang.
Malam panjang itu Rania biarkan berlalu begitu saja.
Rania sudah menunggu, menunggu Leo berlaku bijak, memilih keduanya, menenangkan
keduanya, mendamaikan keduanya. Tapi sayang, Leo terlampau lamban. Leo tidak bisa
memegang kemudi keadilan itu, hingga Rania memilih pergi. Pergi meninggalkan Leo, pergi
meninggalkan Banjarmasin. Membawa sebuah tanda tanya dan masalah yang belum selesai.

Sinetron tanpa tulisan bersambung atau tamat hanya akan membuat penasaran pemirsanya
saja. Menunggu namun tak muncul, meninggalkan khawatir ada episode yang terlewat.
Hari ini kotak kisah itu kembali terbuka, terlalu dini memang. Tak sesuai keinginan Rania,
namun apa boleh buat. Tuhan maha berkehendak.
Rania dan Leo saling mencuri pandang dengan bulu kuduk yang meremang.

SEBUAH RENCANA BESAR

Usai pertemuan Rania dan Leo di salah satu mall terbesar di Banjarmasin, Rania pulang.
Sepanjang perjalanan ia hanya diam. Beruntung Septia tidak berada di sampingnya seperti
tadi. Kalau ada Septia dia pasti tersinggung karena di diamkan.
Septia memilih pulang bersama Arif, ya... namanya juga baru jatuh cinta, pasti semua inginnya
di lakukan berdua.
Rania memilih berpisah dengan mereka di parkiran.

Leo,
lelaki itu sekarang sedikit kurus, rambut ikalnya baru saja dipotong habis, hanya bersisa 1cm
saja sepertinya. Bajunya mungkin dibeli dari tempat yang mahal tetapi sayang cara
berpakaiannya nggak senada dengan sepatu dan celana panjangnya. Leo selalu begitu.

Rania meninggalkan Septia, Leo juga Arif di parkiran Mall. Rania khawatir tak bisa
mengendalikan diri bila ia berada disana. Jujur Rania masih menyimpan bongkahan cinta
untuk Leo. Istri mana yang tidak cinta pada suaminya ? tidak ada. Semua istri mencintai
suaminya, sesakit dan seperih apapun cerita mereka. Mereka tetap punya cinta yang luar
biasa.

Andai sepasang suami istri benar-benar terpisah seringkali dikarenakan ada orang lain yang
telah membuka hati untuk mereka.
Begitu hebatnya Tuhan membuat cinta.

Demikian juga dengan Rania. Rania sungguh sangat mencintai Leo. Meski cerita mereka tidak
seindah pasangan yang lain mereka tetap terikat cinta. Andai Leo mau memohon maaf dan
berjanji tidak mengulangi perbuatannya mungkin Rania akan kembali jatuh cinta. Itulah
mengapa Rania memilih lebih dahulu pergi. Rania menjaga hatinya agar tidak kembali jatuh.

Ditempat yang lain,
"Septia, bapak boleh minta nomer bu Rania ?" Leo mengajukan permohonan pada Septia.
"Apa Septia harus tanya dulu pada bu Rani ya pak ?"
"Nggak usah, nanti kalau bu Rani marah bapak yang akan menjelaskan." Leo berusaha
meyakinkan Septia.
Septia memandang Arif pacar barunya. Arif mengijinkan Septia memberikan nomer telphon
Bu Rani pada pak Leo.
Leo mencatat dengan seksama nomer tersebut. Berharap tidak terjadi kesalahan.
"Saya duluan ya,"
"oh, inggih Pak." Suara Septia dan Arif bersamaan.

Leo merasa puas telah mengantongi nomer Rania, hari ini juga Leo berjanji akan menghubungi
nomer tersebut. Ia akan memeluk cintanya kembali. Cinta yang sempat memberikan rasa
manis, cinta yang sempat menumbuhkan rasa percaya dirinya.
Ia berjanji akan membawa Rania berkeliling dunia, ia akan menunjukkan pada Rania betapa
indahnya Paris, betapa dinginnya Mesir di musim dingin, betapa indahnya salju.

Ia berjanji akan memegang erat tangan Rania memutari Ka'bah, mengelilingi Nabawi.
Romantisme itu harus ia kembalikan. Rania harus jadi miliknya.

Leo berhenti sejenak di bawah pohon di Menara Pandang Siring Laut.
"Assalamualaikum," pesan itu ia tulis untuk Rania.
Lama tak ada jawaban, hingga dua puluh menit kemudian.
"Waalaikumsalam, siapa ?"
"Bunda, "
'deg' hati Rania berdebar kencang, sangat kencang. Panggilan itu ?
Hanya satu orang yang berani memanggilnya begitu.
"Bunda,"
Rania menatap nanar tulisan di WhatsApp ponselnya.
"Iya."
"Bunda dimana ?"
"Di rumah,"
"Rumah bunda dimana? ayah boleh kesana? ayah sangat kangen"
Tuhannnn, manis sekali kalimat itu terucapkan. Kemana dirinya selama lima tahun kebelakang
? kenapa baru hari ini dia ungkapkan perasaan sayang.
"Rumah bunda dekat kok, di jalan A.Yani. Kalau mau kesini besok saja, sekarang bunda ingin
istirahat."

Begitu pesan singkat itu ia buat.
"Nanti sore ayah kesana ya,"
"Bunda ingin di bawakan apa ?"
"Ayah bawakan kue kesukaan bunda ya sayang."
"Ayah ingin sekali minta maaf."
"Ayah telp sebentar ya?"
'klik' sambungan telp pun terputus. Rania sengaja mematikan telponnya. Agar rayuan setan
itu tidak lagi mengganggunya.

Misinya adalah melakukan pembalasan bukan kembali merajut cinta lama. Bukan kembali
mengulang sesuatu yang terjadi di masa lalu. Bukan itu.
Rania sengaja mematikan telp agar Leo merasakan betapa tidak enaknya saat rindu
membuncah namun orang yang kita rindukan mematikan telp.

Hal itu sering dilakukan Leo pada Rania dulu. Hari ini Rania ingin Leo merasakan sesuatu yang
sama seperti yang pernah ia rasakan. Ia tidak perduli lagi. Ia hanya ingin kulit rasa yang dimiliki
Leo mengelupas perlahan - lahan.
Rania memasuki kamar tidurnya. Menyalakan Ac, mengganti bajunya. Rania ingin meletakkan
kepalanya yang penat hari itu.
*******
Pagi buta, saat semua masih terlelap kecuali mereka yang terjerembab dalam mimpinya. Pagi
itu pak Leo telah mengirimkan pesan di ponsel Rania.
"Bunda, besok ke kampus ?"
"Bunda, ayah ingin bicara."
"Bunda, ayah bahagia sekali bisa bertemu lagi. Ayah seperti punya tenaga baru."
"Bunda, mau kan memaafkan ayah."

Ya Allah kalimat itu berjajar memenuhi pesan masuk ponsel Rania. Rania duduk di sofa besar
menghadap ke jalanan beraspal di luar sana. Rania masih sangat ingat betapa semua
pesannya tidak di hiraukan oleh Leo selama bertahun-tahun.
Hari ini harus kah Rania melakukan hal yang sama, atau mungkin memaafkan Leo.

Ach, mereka yang berbuat kesalahan begitu mudah menganggap semua baik-baik saja,
setelah tahun berjalan semua bisa dengan mudah di maafkan. Ternyata mereka salah. Hati
itu hidup. Ia ada dan bertengger, menguasai jiwa, menguasai raga. Kesalahan dan luka itu bisa
saja terhapus namun jangan pernah lupa bekas nya masih akan tetap ada meski nyerinya bisa
saja berkurang.
Karenanya hati-hatilah dalam berbuat.

Setiap tindakan pasti menemukan masa di mana ia harus di hentikan karena masa
pembalasan telah datang.
Rania menghabiskan lima tahun perjalanan hidupnya sendiri. Tanpa nafkah tanpa perceraian.
Rania melewati semuanya. Dan hari ini ketika ia telah tampil cantik, ketika ia telah mampu
mengemudikan mobil sendiri tiba-tiba Leo mengucapkan kalimat sakti. RANIA MAAF.
Rania terbahak-bahak. Mengenang persetubuhan mereka yang pernah dilakukan tiga belas
kali dalam semalam, sampai mereka berdua tertawa seharian.
Rania masih mengingat semuanya. Dalam memorinya.

Hari ini.
Rania memutuskan mengundang Leo dan beberapa dosen yang Rania kenal dengan baik. Ia
harus mulai berbuat.
"Nanti kalau tidak sibuk silahkan datang ke rumah Rani. Rani ada tasyakuran."
Cepat sekali, pesan itu terbaca.
"Rumah bunda di mana ?"
"Nanti di kirim alamatnya."

Rania pun menulis sebuah undangan yang akan ia kirimkan pada beberapa orang yang ia
kenal. Rania sendiri bingung undangan kali ini dalam rangka apa, bukankah di masa pandemi
ini belum boleh berkumpul, tapi sudah lah, perduli apa yang penting Rania menulis undangan.
Ia perintahkan beberapa pembantu nya berkemas. Acara akan di gelar pukul 12.00 di
sesuaikan dengan jam makan siang.

Rania memesan paket makan siang terbaik di Banjarmasin. Ruang keluarga ia rubah menjadi
ruang jamuan hidangan. Ada meja oval yang di isi aneka masakan. Ada nasi goreng hongkong,
ayam goreng Belanda, cap jay spesial, ikan patin bakar, sayur santan. Ada juga aneka kue
tradisional berjajar rapi. Es buah dan es degan menemani aneka buah-buahan yang telah di
pesan.

Apa sulitnya menyiapkan pesta untuk tiga puluh orang bila punya uang, semua bisa di pesan
dan di siapkan.

Pukul 11.00 WITA,
semua sudah tersedia, termasuk juga cindera mata sebuah emas antam EOA Gold berukuran
0.1 gram sebagai hadiah bagi yang hadir.
Rania mulai menampakkan kesombongannya sedikit, hanya sedikit. ini baru pembukaan
belum apa-apa.

Beberapa mobil mulai datang. Pak Yuda, Pak Brahim, Pak Reyza, Ibu Asmi semua hadir. mobil
mereka berjajar rapi di halaman depan. teman-teman se angkatan juga di undang. Tak lupa
Septia dan Arif.
Kemudian Leo datang dengan baju kotak-kotak biru, kaca mata minus masih bertengger di
wajahnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."

Hampir serempak para undangan menjawab salam dari pak Leo. Doktor Leo.
Pak Yuda menatap Rania sekilas, dosen bijak itu mengulum senyum seolah tahu untuk apa
pesta ini di gelar. Mereka bernyanyi sambil menikmati hidangan yang sudah di sediakan.
Tiba-tiba tanpa di komando pak Leo berdiri, berbicara di dekat mikrophon yang tadi di
gunakan menyanyi.

"Assalamualaikum, kita semua sudah hadir di sini dalam acara tasyakuran ibu Rania atas
rumah baru nya, rasanya tidak lengkap jika ibu Rania tidak berbicara bersama di depan kita."
Tepuk tangan riuh terdengar di seluruh ruangan. Semua mata mencari Rania yang tadi ada
diantara mereka.

"Bu Rania mana ?" Tanya beberapa undangan. Leo menebar pandangan.
Rania yang sedari tadi di dalam kamar mendengar apa yang di sampaikan pak Yudha, ia berdiri
perlahan. Sambil menatap foto pernikahannya yang masih tersimpan di ponselnya. Foto
pernikahannya bersama Doktor Leo.
Foto itu yang terus menyemangatinya untuk bangkit. Untuk tidak mudah menyerah. Untuk
menikmati setiap rasa sakit yang pernah ia rasakan.

Rania membuka pintu kamar pelan, menapak i tangga yang tidak terlalu tinggi untuk menuju
ruang keluarga. Rambut ikalnya sudah diikat ke belakang, beberapa penjepit berwarna hitam
menghias belakang rambutnya. Leher putihnya nampak sangat menggoda. Ada kalung
bermata berlian di dada halusnya. Dua helai rambut di biarkan menjuntai di kanan dan kiri
wajah ayunya.
Gaun biru gelap berbahan kain satin melekat di tubuhnya, gaun yang pas dengan ukuran
badannya. Dadanya di biarkan sedikit terbuka. Kulit Rania yang putih benar-benar di
tampakkan. Sepatu berkelas menghias jenjang kakinya.
mata-mata itu menatap takjub melihat Rania turun, rambut yang selalu tertutup itu hari ini di
biarkan terbuka. Pak yuda tersenyum. Apa yang di buat Rania hari ini benar-benar sempurna,
ada masanya memang seseorang yang tertindas untuk bangkit dan membalas meskipun
memaafkan pasti jauh lebih baik tetapi sepertinya Rania justru memilih jalan pembalasan.
Rania mendekati pak Yuda, menjabat tangan pak Yuda dan mencium lengan itu. rania hampir
saja menangis namun ia berusaha menahan seluruh perasaanya.

"Terimakasih sudah hadir di undangan yang Rani gelar, acara ini sebenarnya hanya untuk
tasyakuran karena akhirnya Rani bisa kembali ke tanah kelahiran abah dan bisa berkuliah di
kampus ternama seperti kampus kita. Tidak ada yang lain hanya itu saja. Rani juga mohon
maaf bila apa yang Rani hidangkan tidak sesuai dengan keinginan. "
"Oh iya, nanti ada cindera mata emas antam dari Rani buat para undangan yang datang, hanya
sebagai ucapan terimakasih saja."

Semua yang hadir kembali bertepuk tangan. Leo memandangi Rania dari tempatnya.
Meratapi setiap kesempatan yang pernah hilang bersama wanita cantik yang kini jadi
perhatian banyak orang. Leo menelan ludah berkali-kali. Hari ini ia punya banyak saingan
untuk kembali mendapatkan Rania. Kemarin Leo membiarkan Rania begitu saja hilang.
Sungguh, hal ini jauh diluar dugaan.

Undangan hari ini sungguh membuat Leo merasa menyesal dan sadar.
Satu sisi hati Leo berisi penyesalan sedangkan sisi yang lain dipenuhi kecemburuan pada sosok
pak Yuda yang demikian dekat dengan Rania. Sampai hari ini harusnya Rania masih istrinya
tetapi Rania sama sekali tidak menjabat erat lengannya namun mencium lembut lengan pak
Yuda. Leo meradang dalam kecemburuan yang tergelorakan.
Leo yang malang.
Kasihan
******

Semua undangan pulang menuju rumah masing-masing, tapi tidak dengan Leo. Leo tetap di
tempatnya. Duduk menunggu semua pulang dan suasana sepi.
Leo bersikap seolah-olah rumah itu miliknya, ia mencoba ikut memberi sedikit arahan pada
pembantu yang membersihkan ruangan. Rania hanya diam memandang.
"Rani ganti baju dulu, ya.' Leo mengangguk.
Rania memasuki kamar mengganti bajunya dengan baju tidur atasan dan celana panjang
bermotif boneka.
Kembali menuju ruang tengah, menghempaskan tubuhnya di kursi berwarna putih. Leo ada
disana.
"Berapa sewa rumah ini Bunda?"
"Kenapa ?"
"Rumah ini bagus, pasti mahal."
"Murah kok."
"Berapa ?"
"Hanya dua puluh juta."
Leo membelalakkan matanya.
"Dua puluh juta sayang bunda, baik untuk beli rumah."
"Dimana ada rumah dua puluh juta?" Rania menjawab asal-asalan pada apa yang di ucapkan
Leo.
"Buat DP nya, bunda."
"Dp dua puluh juta itu rummah tipe 36 ."
"Iya, "
"Haduh, kalau tinggal di rumah tipe 36 kan berarti Rani harus renovasi lagi, harus
memperbaiki banyak hal lagi. Nggak sanggup ."
Sombong Rani berucap.

Leo mendekat.
"Kalau bunda mau ayah bisa berikan bunda uang buat tambahan beli rumah."
Leo mulai melancarkan rayuan. 'uang tambahan' selalu begitu.
Dulu juga begitu setiap membeli sesuatu Leo selalu memberikan rayuan tentang uang
tambahan. Rania saat itu mengiyakan saja, tapi hari ini maaf Rania tidak akan berkata iya pada
rayuannya.
Bukankah Rania dan istrinya yang ia simpan di rumah berstatus sama. Sama-sama istri
bedanya hanya pada surat nikah sah atau surat nikah sirri itu saja.
Tetapi mengapa istrinya yang disana mendapatkan semua yang dia inginkan, rumah,
kendaraan, status sosial juga jalan-jalan ke luar negeri tetapi Rania sama sekali tidak
mendapatkan itu kecuali satu 'uang tambahan'.mungkin dulu masih bisa tetapi hari ini tidak
lagi.
rania punya uang, Rania bisa beli semuanya sendiri.

Penghasilannya menulis bisa sampai delapan belas juta setiap minggunya. Jadi Rania tidak
akan mengemis lagi. Tidak akan pernah.

Hari sudah semakin larut, rembulan hampir datang namun belum ada tanda-tanda Leo akan
meninggalkan rumah Rania. Hingga Rania berkata.
"Ayah," Leo terkejut Rania memanggilnya ayah.
"Iya, ada apa bunda."
"Bunda ngantuk ayah pulang ya." Hanya itu yang Rania ucapkan dan Leo hanya bisa
mengangguk.

Leo beranjak pergi namun sebelum pergi ia mengulurkan lengannya pada Rania, mungkin ia
berharap Rania akan menjabat lengannya seperti dulu.
Sayangnya Rania tak menghiraukan uluran tangan Leo.

Ia hanya tersenyum
Leo pun pergi dari rumah Rania, mobil avanza silver miliknya perlahan-lahan menghilang dari
pandangan.

Rania menengadah ke atas, memandangi langit-langit ruang tengahnya dengan tatapan
kosong. Ia bingung, ia tak lagi bisa mendefinisikan isi hatinya saat ini.
Rindu, dendam, cinta, rasa sakit. Semua menari-nari di pelupuk matanya.
Mestinya ini adalah saat yang tepat untuk mengambil Leo kembali dalam pelukannya.
Meminta Leo menceraikan istrinya.

Saat ini sangat mungkin baginya melakukan itu. Tetapi ia tidak kunjung melakukannya. Ia
mencintai Leo tapi untuk membersamai hari-harinya ia tidak ingin lagi. Hatinya terlalu lama
menunggu tanpa kepastian, cintanya di gantung begitu rupa.
Lihatlah, bahkan musim pun menemukan muaranya, bahkan hujan pun akan datang bila tiba
masanya tetapi tidak dengan nasib cintanya yang seakan tanpa kejelasan.
Rania merajut asanya setiap saat, menikmati tidur hanya tiga jam dalam semalam demi
menuntaskan dendamnya pada Leo. Lalu saat ini, saat dimana ia hampir sampai pada garis
finish haruskah ia menyerah dan pasrah ?

Ia ingin menjadi bagian dari penulis taqdir untuk Leo, Rania ingin Leo merasakan kepedihan
seperti dirinya. Agar ia tahu menunggu itu menghadirkan jemu. Digantung itu sakit. Menanti
itu lelah.
Leo harus tahu rasa dari tiap keadaan itu agar ia tidak seenaknya menyakiti orang lain terlebih
lagi wanita.
Agar Leo tahu bahwa semua wanita punya perasaan, punya rasa sakit dan semua harus dijaga
bukan hanya istri sahnya saja.
Rembulan malam telah duduk disinggasana, Rania menatap nya dari tempat ia merebahkan
dirinya saat ini. Dendam dan sakit hatinya akan ia suarakan lewat rembulan agar seluruh dunia
mampu mendengar.

CINTA YANG TERPASUNG

Hari ini Rania ingin sekali jalan-jalan ke kampus, bosan sekali di masa Pandemi ini harus
menghabiskan waktu di rumah saja. Sebagai penulis rasanya sangat sulit untuk
mengembangkan imajinasi bila harus terkurung begini.
Rania melangkahkan ringan kakinya menuju mobil yang terparkir di depan rumah, menginjak
gasnya perlahan.
Mantap kakinya menuju kampus. Ia ingin sekali duduk di gazebo sambil menikmati semilir
angin dan berkisah tentang hidupnya. Menari di antara huruf-huruf di laptop.
Sekali lagi Leo hadir dengan rayuannya, ia mengganggu saja, membuat inspirasi menulis jadi
hilang.
Rania berjanji akan mau di temui di rumahnya malam nanti.
Malam yang di tentukan tiba.
Rania masih asik di depan televisi ketika ia melihat agya hitam itu datang. Itu mobil milik Leo.
Leo lelaki kaya raya dengan empat mobil berjajar di rumahnya, dua motor dan satu motor
gede. Gila, sebanyak apa pekerjaannya hingga mobilnya berjajar begitu rupa. Dulu Rania
perduli pada harta yang di miliki Leo. Tetapi hari ini tidak lagi. Rania sudah tidak berminat.
Sama sekali tidak ingin melihat harta yang di miliki Leo. Cukup apa yang ia punya saat ini dari
hasil kerja keras dan perjuangannya sendiri bukan dari hasil meminta pada Leo yang notabene
masih suaminya.
Leo turun dari mobil, memencet bel beberapa kali. Rania duduk di tempatnya membiarkan
lelaki itu memencet bel rumahnya. Pembantunya datang.
"Bu, ada tamu.'
"Siapa ?"
"Sepertinya pak dosen yang kemarin kemarin itu bu."
"Biarkan saja bi,"
"Kok biarkan bu."
Rania melihat ponselnya berdering. Ia melihat namun hanya melihat saja. Rania tetap di
tempatnya tanpa ingin melakukan apapun. Ia lelah.
Bibirnya tersenyum menang. Ia sam sekali tidak mengangkat telpon itu. Ia bosan pada lelaki
yang pernah menyakitinya.
Dulu lima tahun yang lalu Rania pernah mencoba menghubunginya.
"Ayah, bunda minta uang ya yah."
"Berapa bunda ?"
"Tujuh ratus saja ya, "
"Untuk apa ?"
"Bayar mobil ayah."
"Ayah masih di rumah, belum bisa kemana-mana."
"Bunda ke sana ya ayah. Ayah nggak usah ngomong apa-apa dengan mbak."
Hanya itu yang Rania bisa katakan.
Rania tiba di rumah Leo hampir senja. Sama seperti hari ini berkali-kali Rania mengetuk pintu
rumah namun sama sekali tidak terbuka padahal Rania jelas melihat ada sorot TV dari dalam.
Hari ini Rania melakukan hal yang sama terhadap Leo. Sama seperti yang Leo lakukan
beberapa tahun yang lalu.
Bedanya saat itu Rania sempat pingsan karena berfikir keras berharap dapat uang tujuh ratus
ribu untuk membayar kekurangan angsuran mobil, hari itu Rania ketakutan di kejar-kejar oleh

deptcolector, Rania datang ke rumah Leo karena Rania berfikir Leo adalah suaminya dan saat
itu Rania tahu Leo baru saja dapat uang dua ratus tujuh juta rupiah. Rania dapat info itu dari
sumber yang valid. Dari seorang kawan Leo yang hari ini telah almarhum.
Ketika lebih dari satu jam Rania mengetuk pintu pagar, pintu itu tak kunjung terbuka. Rania
puluhan kali menelpon juga tidak ada jawaban hingga kemudian hp di matikan.
Saat itu kaki Rania gemetar.
Kepalanya berdenyut-denyut.
Rania pingsan di depan pintu pagar.
Entah bagaimana kisah selanjutnya yang Rania tahu ia telah berada di ruang tamu tetangga
depan rumah Leo.
"Mbak ini siapanya pak Leo ?"
"Saya istri ke duanya"
"Ya Allah, kasihannya mbak."
"Setahu saya pak Leo ada di rumah, tapi kok nggak di buka ya pintunya?" Dua wanita sesama
tetangga Leo berbicara.
"Sudah biar saja mbak, mbak pulang saja, percayalah orang seperti pak Leo pasti akan dapat
balasan."
Dengan rasa malu Rania mencoba berdiri menuju mobil yang terparkir. Satu hal yang Rania
sesalkan hari itu adalah. Mengapa Leo mengiyakan pesan di whasApp nya, pesan yang berisi
pemberitahuan bahwa Rania akan datang.
Mestinya Leo berkata 'jangan' andai ia tidak berkenan di temui. Tapi Leo menuliskan kata IYA,
apa ini bagian dari rencananya ?
Begitu fikir Rania saat itu.
Hingga Rania hendak beranjak pergi dengan mobil merah yang masih kredit, Rania masih
mendengar ibu-ibu bersuara berisik. Dia yakin, ibu-ibu itu sedang bergunjing.
"Ach, andai Leo sedikit bersikap ksatria, pasti masalahnya tidak akan seperti ini."
Kejadian itu, kejadian lima tahun yang lalu.
Hari ini Leo masih berdiri tegak.
Rania tersenyum.
Cintanya memang telah terpasung namun ia bahagia karena merasa menang.
"Bu, itu pak dosennya nggak di buka kan pintu ?'
"Nggak usah bi, biar saja."
'Dosen itu suami ku, bi.' jawab Rania dari dalam hatinya. Ia ingin sekali mengakui status itu
tapi hatinya terlalu perih. Ia merasakan ketidaknyamanan.
Rania rebah dalam gelisah dan keputusasaan yang melimpah. Ia masih ingat pesan guru
ngajinya.
"Secara hukum dia suami mu meskipun kalian pisah selama bertahun-tahun dan tidak ada
nafkah lahir batin.
Kalian masih suami istri. Karena yang berhak mengucapkan talak itu suami. Tidak ada hukum
agama yang menerangkan begitu pernikahan dibuat, ada permasalah kemudian lari lalu tidak
bertemu kemudian tidak ada nafkah lahir batin lantas boleh jatuh talak begitu ?
Nggak ada ajaran yang mengajarkan demikian.
Secara hukum agama kalian masih suami istri. Urusan kamu yang lari itu dosa mu dengan
Tuhan. Urusan dia tidak menafkahi itu juga urusan ke dholiman nya terhadap Tuhan. Nanti
Tuhan yang akan menghukum. Tidak lantas jatuh talak begitu saja. Jangan mempermainkan
hukum Tuhan terutama tentang perkawinan. Dosa."

"Jangan membuat hukum tanpa dasar yang jelas, nanti malah runyam. Urusan kalian harus
dituntaskan. Harus."
Kalimat itu menggema di setiap sudut rumah rania. Rania merasa sangat bodoh.
Ia tahu ia sedang berurusan dengan dosa terhadap penciptanya. Tetapi ia tidak punya cara
lagi. Setan dalam hatinya terus saja berupaya agar mereka terpisah, agar api dendam itu
dapat terus hidup, agar Rania bisa membalas.
Rania membuka korden jendela kaca kamarnya. Tubuh Leo jelas mematung disana. Lampu
mobilnya menyala.
Rania mengarahkan pandang matanya pada jam tangan rolex original yang melingkar di
pergelangannya.
"Belum satu jam Leo, bersabarlah."
"Kamu juga belum pingsan, tenang saja. Rasa sakitnya belum sepadan." Rania berbicara lirih.
Nyaris tanpa suara. Sambil matanya masih terus memperhatikan gerak gerik Leo dari dalam
kamarnya.
Sebenarnya muncul iba dalam hatinya, tapi Demi Tuhan, rasa sakitnya tidak mengijinkan
dirinya berbaik-baik pada Leo. Ia terlalu menempatkan Leo pada target operasi pembalasan
dendamnya. meski sebenarnya Leo adalah suaminya. Suami yang harusnya di hormati, di
bikinkan teh dengan senyum manis, bukan dibiarkan mematung di depan pintu pagar.
Rania menghela nafas panjang.
Dini hari, Rania terbangun dari tidurnya, ia menyambar ponsel yang tergeletak di atas
pembaringan dekat dengan bantal tempat ia tidur.
Banyak pesan bergelantungan di sana, ia membuka dan membacanya satu persatu. Pesan
terbanyak adalah pesan yang di tulis oleh Leo.
Rania membetulkan letak duduknya, sesaat sebelum ia melihat tulisan "online" di whatsApp
Leo.
Rania mengusap mata dengan jemarinya.
Sedikit menggerakkan tubuhnya, kemudian menggerakkan kepalanya.
"Maaf, pas maghrib tadi aku ketiduran, aku sakit habis minum obat langsung tidur."
"Maaf ya," Rania menulis pesan singkat itu dan mengirimkannya pada Leo. Sedetik kemudian
Leo telah selesai membaca, nampak ia sedang 'mengetik'.
"Keadaan bunda sekarang bagaimana ?" tanya Leo.
"Masih lemes, tapi ga pa pa kok." Rania mencoba berpura-pura.
"Serius bunda ga pa pa."
"Iya"
"Kalau bunda kenapa-kenapa, bilang ya. Nanti ayah bawa bunda ke rumah sakit."
"Iya"
Leo sama sekali tidak menyentil tentang lelah yang ia lalui saat menunggu tadi. Leo sama
sekali tidak protes di perlakukan begitu rupa.
Apa mungkin Leo sudah berubah? begitu tanya hati Rania.
Rania hampir saja terperdaya dengan kebaikan Leo beberapa minggu ini, jika bukan karena
kekuatan ingin memberikan Leo pelajaran maka PASTI saat itu juga Rania akan menerima Leo.
Mungkin memang Leo menyesal dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Rania, hanya
sayangnya penyesalan Leo terlambat.
Cinta yang ditunjukkan saat seseorang hadir dengan keberhasilan nampak begitu konyol dan
memuakkan, setidaknya itu yang ada dalam fikiran Rania.
Bagi Rania, cinta Leo saat ini seperti kain kafan. Putih namun mematikan.
Rania memandang Leo yang masih online.

Jika memang benar saat ini Leo mencintai Rania, ia pasti akan serta merta menelfon untuk
memastikan Rania baik-baik saja. Bukan hanya menanyainya lewat pesan singkat.
Atau... karena Leo sedang berada di rumah hingga ia jadi tidak bisa menghubungi Rania.
Artinya, Leo masih takut pada istrinya yang berbibir lebar.
Ach, Rania mendadak geli.
Tapi, apapun kondisinya wanita itu beruntung, mendapatkan gelar istri sah, kehidupan yang
layak, derajat yang tinggi, juga nama yang terlindungi ditambah juga menjadi wanita yang di
takuti, setidaknya bagi Leo.
Saat ini banyak wanita ikhlas menjadi jin penjaga rumah yang ditakuti oleh suami meski tak
menggunakan cinta. Cukup ditakuti saja, akan membuat rumah tangga langgeng dan baik-
baik saja.
Rania sudah tidak perduli, seberapa banyak Leo akan menulis. Ia ingin tidur dan esok hari
kembali menulis. Menulis sudah menjadi nafas baginya.
Semakin larut,
Ia melihat Leo datang, dengan kaos merah bertuliskan disney land. Leo yang telah banyak
menjelajah dunia.
Leo datang dengan membawa sebiji mangga kesukaan Rania.
Leo mengupas perlahan-lahan mangga itu, kemudian memotongnya kerat demi kerat,
menyuapkan potongannya pada Rania.
Rania tersenyum, menikmati tiap irisan dengan sepenuh hati.
"Damai sekali rasanya memiliki suami."
Kemudian Leo, menyelimutinya, membelai rambut Rania sebelum tidur. Ada dingin di ujung
kening.
Rania terbangun, ia sangat terkejut. Mimpi itu utuh. Lengkap dan seperti nyata.
Apakah ini terjadi karena Rania kangen Leo?
Rania bangkit, mengemasi ranjangnya kemudian segera melaksanakan sholat subuh.
Dalam sholat, air matanya berlinang-linang. Ia merasakan sakit yang tidak pernah hilang.
Saat ia menganggukkan kepala dan berkata IYA ketika dipinang, ia berharap hidupnya jauh
lebih baik.
Sebagai istri ke dua, mereka berfikir bahwa kenyamanan akan ia dapatkan. Faktanya mereka
salah. Lahir dan batin istri ke dua merasakan sakit.
"Tuhan. aku tidak pernah berdoa apapun untuk membuat mereka hancur karena aku tahu,
doa yang buruk akan kembali pada yang berdoa.
Aku hanya minta, tolong Tuhan, perbaiki aku, perbaiki dunia dan akhirat ku, perbaiki masa
depanku. Hanya itu Tuhan. Tidak untuk yang lain."
Rania menyudahi sholatnya kemudian melipat mukena dan sajadahnya.
Rania kembali menulis.
Sebelum sarapan Rania melihat sebuah Avanza Veloz bersandar di halaman.
Rania tahu itu salah satu mobil Leo.
Ada apa dia datang pagi begini?
Rania membuka pintu rumah, melihat Leo mendekat. Diujung sana pembantu rumah
tangganya sedang membasahi halaman dengan air kran.
"Ada apa pagi sekali ?"
"Aku hanya ingin tahu keadaan bunda."
"Keadaan apa?" Rania benar-benar tidak faham.
"Semalam bunda bilang, bunda sakit. Itu sebabnya ayah datang."
Mereka masih berbincang sambil berdiri di ujung pintu.

"Sakitnya tadi malam, datangnya sekarang."
"Iya bunda, bolehkan ayah bilang 'maaf' ?"
Wajah pak Leo nampak serius memohon maaf.
"Iya sudah di maafkan."
Hanya itu jawaban Rania,
"Bunda sudah sarapan ?"
"Baru saja mau sarapan."
"Bunda nggak ingin ngajak ayah sarapan ?"
Rania menelan ludah, dulu, lima tahun yang lalu. Mereka berdua adalah pasangan yang paling
hobby sarapan bareng. Tempat nongkrongnya di warung soto depan R.S Ratu Zalecha. Atau
di pertigaan arah alun-alun Martapura.
Luka dalam hati Rania terasa perih tersiram air garam. Kalimat Leo barusan ternyata sangat
menyakitinya.
"Bunda," Leo menyadarkan Rania dari lamunan.
"Ayah boleh menemani bunda sarapan ?" Leo berbicara lagi.
"Maaf ayah, tapi bunda sedang tidak ingin di temani makan. Bolehkan aku bilang 'maaf' ?"
Rania menirukan gaya Leo saat memohon maaf.
"Sekarang sebaiknya ayah pulang." Rania membuang pandang pada daun-daun yang telah
basah.
Leo menunduk, kemudian melangkahkan kakinya, menjauh dari rumah Rania.
Rania menutup pintu rumahnya dengan cepat. Kemudian bersandar di dinding pintu itu
sambil kembali menangis.
"Ayah, bolehkan bunda bilang 'maaf'?" Rania tergugu sambil menggigit bibirnya. Ia merasa
hari ini sangat buruk.
Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Laparnya mendadak hilang.
Rania merasakan sakit yang teramat dalam.
Di luar udara demikian sejuk. Banjarmasin yang sedang musim penghujan menciptakan
kesegaran tersendiri bagi penghuninya. Beberapa keluarga asik berlari-lari kecil menikmati
sejuknya udara. Sedangkan Rania, masih duduk, diam dan menangis.
Rania benci keadaan ini. Sangat benci.

MELAWAN RASA ENGGAN

Rania tenggelam dalam lipatan kalimat dalam novelnya, ia membiarkan hatinya yang
terjerembab berkelana menuju ruangan yang tak ia kenal. Rania merasa dirinya saat ii seperti
layang-layang, terbang menukik, menari-nari saat di pandang hingga ia tak tahu dimana ia
akan jatuh nanti.
Jatuh untuk mengakhiri petualangannya, jatuh untuk diam bersama keluarga dan orang-
orang yang mencintainya.
Rania ingin itu meski mungkin jalan menuju itu masih terasa amat jauh.
Hari ini Rania masih enggan berangkat kemana pun sejak peristiwa pagi tadi menerpanya.
Rania masih duduk di meja kerjanya dan terus menulis. Ada tugas untuk menuntaskan
ceritanya. Rania adalah sutradara bagi setiap novel yang ia tulis namun ia tak akan mampu
menjadi sutradara dalam novel dan cerita hidupnya.
"Rani, sedang dimana ?"
Pesan masuk di Line nya. Ia melihat pak Yudha sedang menulis kalimat untuknya. Rania
berhenti sejenak untuk membalas tulisan pak Yudha.
"Sedang di rumah, pak."
"Aku di kampus, Ran."
:Iya, pak."
"Kemarilah kita berbincang-bincang."
Pak Yudha lelaki baik hati dengan perawakan yang menggoda, pak Yudha dengan tatapan
teduhnya, pak Yudha yang gagah. Pak Yudha yang selalu bisa menjadi 'abah', menjadi 'kakak',
menjadi 'kekasih' bahkan.
Pak Yudha yang selalu mengatasi masalah yang Rania kisahkan dengan arif dan bijaksana. Pak
Yudha yang tidak bisa ia lukiskan kebaikannya. Begitu panjang Rania berhasil mendiskripsikan
tentang pak Yudha sepanjang perasaannya yang pernah terpasung dengan kalimat perjanjian
mereka 'dilarang jatuh cinta' dulu, lima tahun yang lalu. Hingga Rani menutup pintu hatinya
untuk tidak lancang mencintai pak Yudha.
"Rani, " ups, hampir lupa pak TYudha menunggu jawaban atas permintaan yang baru saja
beliau tuliskan.
"Bagaimana, bisa ke kampus ?" Rania sebenarnya enggan berangkat ke kampus namun demi
pak Yudha ia memberanikan diri bertarung melawan enggan.
Rania bangkit sambil menuliskan kalimat.
"Otewe pak."
'Kemudian pak Yudha mengirimkan emoticon menari-nari. Rani tersenyum melihat itu.
Rania bersiap menuju kampus, gamis coklat muda di padu dengan jilbab pasmina lebar
berwarna senada sekaligus tas Celvin Klein dengan warna coklat yang sama plus sepatu hak
tinggi masih dengan warna yang sama juga. Rania nampak berbeda dari biasanya.
Ia melenggang menuju 'brio' hitam metaliknya. Membelah jalanan Banjarmasin Rania yang
mendung. Rnia hampir sampai di kampus. Memarkirkan mobilnya di halaman depan. Menuju
ruangan pak Yudha. Melihat Rania muncul pak Yudha tersenyum manis, terlebih melihat
penampilannya. Mereka terbahak-bahak bersama. Rania tahu pak Yudha pasti akan
menggodanya saat melihat penampilannya.
"duduk, Ran." Rania langsung duduk, menghempaskan ekor punggungnya dengan kasar.
"Bagaimana perkembangan di Banjarmasin " Pak Yudha tersenyum lagi.

"Perkembangan yang mana yang di tanyakan ? perkembangan kuliah, perkembangan karier
atau perkembangan isi hati ?" Rania menjawab lugas sekali lagi pak Yudha tersenyum. Rania
yang selalu menggemaskan.
"Semuanya,"
"Kalau semuanya bagaimana Rania harus mulai bercerita ?"
"Kamu sekarang punya usaha apa hingga bisa sesukses ini ?
"Hanya menulis. "
"Oh iya ?"
"Iya,"
"Berapa buku sudah yang di tulis?"
"Yang sudah lahir dan cetak ada 15 buku, yang online ada tujuh judul."
"Semuanya novel ?"
"Iya, pak."
Pak Yudha menganggukkan kepalanya mantap.
Ikut online di media mana saja, Ran ?"
"Di banyak tempat sih pak, tapi yang kayaknya menghasilkan baru 'dreame' sih."
"Hmmmm "
"Lalu dengan yang itu bagaimana ?"
Rania memilin-milin ujung jilbabnya, "Entah pak."
"Kok entah ? sekarang kan sudah berada di satu kota mestinya bisa di rajut lagi lah
asmaranya."
"Bapak serius atau hanya menggoda ?"
Pak Yudha tertawa lagi sambil merapikan letak kacamatanya.
"Lho, kalau Rani mau melanjutkan ya ga pa pa, kalau Rani mau sih." Pak Yudha selalu mampu
mengaduk-aduk perasaan yang di miliki Rania.
"Sepertinya tidak." Rania menjawab lugas.
"Sepertinya tidak serius melupakan, begitukah ?"
"Entahhhhh " Rania berteriak setengah keras hingga beberapa dosen yang ada di sana melirik
ke arah Rania dan pak Yudha.
"Hush " Suara pak Yudha lirih sambil menutupkan telunjuk nya ke bibirnya sendiri, memberi
isyarat agar Rania tidak terlalu keras berbicara.
Rania manyun sekali lagi.
"Ran, sudah makan ?"
"Belum,"
"Kita makan nasi goreng di depan Gramedia yang dulu itu yuk."
"yang waktu kita ketemu itu ?"
"Iya, "
"Males,"
"Kenapa ?"
"Kurang mewah, nanti baju ku kotor." Pak Yudha memandang Rania heran namun saat beliau
melihat wajah itu pak yudha tahu Rania hanya menggodanya. Mereka tersenyum bersama
lagi.
Rania berdiri keluar ruangan, pak yudha mengunci pintu ruangan yang tadi mereka gunakan
untuk berbincang. Lengan kekar pak Yudha menggantung di leher Rania seolah tidak perduli
pada tatap mata yang melihat mereka.
Pak Yudha dan Rania menuruni tiap anak tangga dengan canda tawa hingga menuju mobil
pak Yudha yang terparkir di samping gedung pasca sarjana.

Rania memasuki mobil dan duduk tepat di samping pak yudha, mereka seolah tidak perduli
pada orang yang memandang sambil berisik membicarakan mereka.
Rania tetap saja duduk di depan.
Hingga ketika ekor matanya menangkap sebuah tatapan yang nampak di balik tirai, seorang
berkacamata sedang melihat kemesraan mereka, sedang mengintai apa yang sudah mereka
lakukan dari tempatnya.
Seseorang itu menahan perih di hatinya melihat Rania dan pak Yudha sedang akrab begitu
rupa, seolah ia ingin menghalangi kedekatan mereka namun tidak berdaya. Ia ingin turun dan
menarik lengan Rania agar duduk di mobilnya saja dan tidak duduk di mobil pak Yudha. namun
ia tak mungkin melakukan itu, kesalahan telah membelenggunya hingga ia tidak punya
keberanian bertindak meski berhak. Hingga ia hanya bisa menatap dari tempatnya.
Lelaki itu pak Leo.
dosen yang juga suami Rania.

KU PILIH MELANJUTKAN PERJALANAN

Hari ke tiga puluh tujuh setelah pertemuannya dengan Leo untuk pertama kalinya, Leo masih

belum memberikan signal hendak berbicara serius dengan Rania dan Rania sendiri pun seolah
enggan membuka waktu untuk Leo berbincang. Dua kutub yang sama-sama tidak bisa di
pertemukan.
Rania duduk di gazebo kegemarannya. Acara tatap muka di kampus memang belum
dilangsungkan namun kesediaan Rania untuk menjadi driver online gadungan untuk Septia
membuat dirinya sering berada di kampus ini sambil membawa laptop dan tumpukan kertas.
Menikmati semilir angin kemudian menulis. Betapa suasana sunyi mampu mengalirkan energi
baginya, energi hebat yang mampu memberikan lembar demi lembar kisah indah.
Septia menemui Arif kekasihnya dan rania mengumpulkan episode untuk novelnya, sebuah
simbiosis yang saling menguntungkan memang.
Rania terus menulis hingga ia tidak menyadari beberapa orang datang dan sudah duduk di
depannya. Septia dan kawan-kawan Arif.
"Hy, ada apa ?"
"Kak, kita jalan-jalan yuk."
"Kemana ?"
"Kemana saja."
"Iya kemana kalian ngonong."
"Ke pantai Pagatan."
"jauh,"
"Terus kemana ?"
"Ke Pulau Kembang."
"Males."
"Terus kemana dong?"
Rania menimbang,
"Ada berapa mobil sih ?"
"Ada dua mobil, mobil bu Rania dan pak Budiman."
"Pak Budiman iku sopo ?" Tanya Rania pada Septia.
"Pak Budiman itu dosen juga teman dekat kakaknya kak Arif." Septia menjelaskan setengah
berbisik.
"Orangnya yang mana ?"
"Yang itu,"
Septia menunjuk seseorang yang berdiri di ujung gazebo. Seseorang dengan tinggi sekitar 177
bertubuh atletis dan berambut ikal. Gayanya santai dan nampak sederhana. Rania mencoba
mengingat-ingat wajah itu,. tapi siapa ya ?
"Kalau kita ke pulau kembang terus ke Pantai Batakan bagaimana ?" Pak Budiman bersuara.
Sejenak hening.
"Boleh,"
Rania menyahut, "kalau begitu yang perempuan pulang dan ijin dulu kita jumpa lagi di sini
pukul tiga belas tepat ya.' Rania memberi keterangan.
Mereka serempak mengangguk hingga pak Leo dan pak Kris datang mendekat.
"Ada apa ini, dilarang berkerumun, dilarang berkerumun." Sura pak Kris menggoda. Betapa
terkejutnya Rania ada pak Leo bersama pak Kris disana.

"Ada acara apa ini ?" tanya pak Kris lagi.
"Kami mau jalan-jalan pak." Suara pak Budiman.
"Kemana ?"
"Pokoknya berselancar pak, keliling mumpung masih muda." Pak Budiman kembali bicara.
"Kami ikut ya." Suara pak Leo.
"ikut ? tumben " Pak Budiman tidak bisa menahan kagetnya saat pak Leo bilang ingin ikut. Ini
pasti karena ada Rania fikir pak Budiman.
"Boleh saja pak, "suara Septia.
"Tapi syaratnya bapak naik mobil kami biar bisa barengan." Yang lain mengangguk-angguk.
rania nampak tidak bersemangat. acara berselancarnya pasti akan kehilangan nuansa bila Leo
ikut karena pasti ia akan mencuri kesempatan untuk berbicara dengan Rania.
"Oke deh, kalau gitu kita bubar nanti jam satu siang kita jumpa lagi di sini.'
Pak Budiman mengarahkan ekor matanya ke arah Rania yang nampak malas secara
mendadak. Pak Budiman ingin bicara namun enggan. Gosip pernikahan yang digantung antara
bu Rania dengan pak Leo sudah viral di seantero jagat kampus. Hingga ia berusaha menjaga
agar tidak terlalu hanyut.
Tiba-tiba tidak jauh dari gazebo, pak Leo jatuh, Terpental jauh. rupanya kaki beliau terperosok
di lobang diantara lapangan.
"Kok bisa." Pak Budiman heran.
Mereka berlari ke arah Leo.
"Bu Rania bisa tolong pinjam mobilnya untuk mengantar pak Leo ke klinik.' pak Budiman
bersuara sambil setengah menggoda, pak Kris menatap bu Rania dan pak Budiman heran.
Mengapa tidak mobilnya saja atau mobil pak Budiman kenapa harus mobil bu Rania fikir pak
kris. namun pak Kris akhirnya sadar saat tahu pak Budiman memberi isyarat padanya.
Rania yang bingung hanya bisa berkata " Bisa, pak."
Mereka menuju klinik. Di dalam mobil itu ada Rania, pak Budiman, pak Kris juga pak Leo. Yang
lain ikut di mobil pak Budiman di belakang mobil mereka.
Sesampainya di klinik mereka harus menunggu beberapa saat.
Dan saat mereka melihat pak Budiman telah terbaring di ranjang kamarnya. kaki kirinya
dibalut dengan perban juga perut sisi kanannya. Rupanya saat jatuh tadi ada kayu lancip yang
mengenai sedikit lapisan kulit pak Leo.
Mereka berjajar di kamar mewah ruang perawatan pak Leo.
"kalian tidak jadi berangkat kan ?" tanya pak Leo.
Namun Rania menjawab. "Jadi dong."
"Kok ?" suara pak Leo menggumam penuh tanda tanya, yang lain pun menatap bu Rania dan
pak Leo bergantian sambil bingung juga heran tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"kita tetap jadi berselancar, sebaiknya segera di panggilkan keluarga pak Leo agar datang
kemari." Jawab Rania memberi keterangan. Pak Leo menatap Rania heran. Rania mengangguk
tanpa berani menatap lagi, ia mundur perlahan meninggalkan ruangan pak Leo dirawat.
"Bunda, tunggu." suara pak Leo. Rania berhenti. Yang lain heran mendengar panggilan bunda
muncul dari bibir pak Leo memanggil bu Rania.
Bunda ? sebenarnya kak Rania siapanya pak Leo. Tanya hati Septia heran.
Rania berbalik.
"Kemarilah," Rania mendekat pelan. Yang lainnya pun mundur agar percakapan mereka tidak
terdengar.
"Tetaplah di sini ayah mohon, .'
"Tidak."

"Bunda,'
"Tidak ayah, maaf ." rania bersuara sangat lirih seolah ada perasan yang ia tekan. Ia ingat
tujuh hari setelah malam pertamanya dulu. Rania juga terbaring di rumah sakit ini karena sakit
yang sangat parah. Namun Leo tetap pergi ke Bali bersama istrinya hanya demi menjaga hati
istrinya. Leo hanya berkata "Bunda nggak papa ayah pergi ?"
Dan sebagai wanita baru dalam pernikahannya ia hanya bisa bilang iya nggak pa pa. Leo pergi
berselancar dengan istri sahnya, melewati banyak cerita dan mengirimkan foto mesra lewat
profil whatsapp istrinya. saat itu Rania merasa sangat sakit.
Ia yang dipinang dengan terhormat harus melewati episode setragis itu.
Saat sakitnya terasa menyiksa Rania melalui semua sendiri sedang leo masih berselanjar di
pulau dewata nan indah bersama istrinya demi membasuh luka dan permohonan maaf
karena menikah lagi. Saat itu Rania ditinggal i kartu atm berjumlah dua puluh juta untuk
membayar rumah sakit. Tapi uang mereka berselancar menggunakan uang Rania. sebagai
hadiah agar mereka bahagia.
Yang lebih menyakitkan lagi uang dua puluh juta dan atm nya di pertanyakan lagi oleh Leo
beberapa bulan kemudian hingga kecewa yang bertumpuk-tumpuk membelenggu hati Rania.
Hati Rania luka. Lukanya masih ada sampai saat ini.
Saat itu Rania tidak bisa melawan karena ia hanya sampah namun saat ini ? Maaf Tuhan telah
berkata lain. Saat ini Rania telah muncul sebagai sosok yang berbeda.
"Bunda jangan pergi."
"Maaf ayah, bunda tetap pergi. Bunda butuh berselancar dan mencari hiburan"
"Nanti kalau ayah sembuh ayah antar jalan-jalan." Pak Leo berusaha merayu namun sayang
Rania sibuk memapah hatinya yang sedang berdarah.
Rania melangkah pergi ketika Leo berkata.
"Ayah disini dengan siapa ?"
"Dengan istrinya ayah." Jawab Rania tegas.
"Bunda kan istrinya ayah." rania pergi meninggalkan ruangan Jahannam itu menuju lantai
bawah. Ia tetap berselancar tanpa memperdulikan keadaan.

PANTAI BATAKAN PENUH CERITA

Pantai Batakan,
Kaki kaki mereka penuh pasir, berlarian dalam bahagia, berfoto bersama, ada banyak pose
mereka cipta.
Seperti sebuah lagu dengan lirik-lirik yang indah, seperti itu perjalanan mereka saat ini.
Aroma kepedihan itu seolah hilang, mereka semua hanyut dalam oase keindahan.
"Ayo bawa ke tengah."
"Iya, kita bawa ke tengah."
"Ayo cepetan " Septia ditarik oleh kawan kawan nya ketengah pantai yang sedang
bergelombang.
"Hati-hati dia tidak bisa berenang" Rania berteriak-teriak agar yang lain membatalkan
membawa Septia ke tengah.
Namun apa yang diucapkan Rania diikuti dengan gelak tawa oleh yang lain.
Mereka bergulung-gulung dengan ceria.
Di ujung sana Budiman mengabadikan setiap momentum perjalanan mereka.
Diantara aktifitasnya Budiman sering mengarahkan video nya pada Rania. Rania yang
mengusik kisi-kisi tanya dalam hatinya yang menggelinding.
Bukan tentang dirinya sedang jatuh cinta pada pemilik nama lima huruf itu tapi karena ada
tanya besar yang belum berhasil Budiman jawab.
Rania.
Wanita cantik dan berwawasan luas itu,
kenapa bisa terjebak pada pernikahan yang menggantung bersama dengan Leo.
Leo kawan seprofesi yang ia kenal sering menebar cinta pada banyak wanita.
Pertanyaan yang banyak dalam hati Budiman, ingin sekali ia lontarkan pada Rania. Namun
Budiman sedang mencari saat yang tepat.
"Hoi, melamun apa pak "
"Nggak melamun kok"
"Bohong"
"Bapak berbohong, wajah bapak jelas nampak melamun memikirkan sesuatu."
"Tidak Rif, sudah sana nanti Septia mu diambil orang lho."
"Nggak ah, Septia sedang asyik dengan kawan-kawannya." Usai berkata begitu Arif malah
mengambil posisi duduk di dekat Budiman.
Pak Budiman,
dosen yang satu ini memang unik. Sikapnya yang menjadi kawan bagi semua mahasiswa
membuat ia menjadi di sayang banyak orang.
Disamping itu pak Budiman sangat amanah. Jadi semua orang merasa nyaman bercerita
padanya. Tidak akan mungkin cerita yang kita amanah kan sampai bocor pada orang lain.
"Bu Rania kayak Arumi istri wakil gubernur Jatim ya pak" pak Budiman tertawa terbahak
bahak mendengar apa yang diucapkan Arifin.
Sampai tubuh nya bergerak-gerak sangking kerasnya tertawa.
"Cantik iya, tapi nggak usah disamakan dengan artis Rif, kamu ada ada saja."
"Beneran mirip pak, wajahnya putih, matanya lebar, bulu matanya lentik."
"Iya iya. Sudah nggak usah dibahas"
Rania dan kawan-kawan yang lain mendekat saat Arifin justru akan bicara tentang Rania,
cepat-cepat Budiman menutup bibir Arifin agar kalimatnya tidak terdengar.

Arifin terkejut saat melihat jemari pak Budiman dibibir nya, terkejut lagi saat tahu bahwa
Rania dan kawan kawan yang lain sudah ada diantara mereka.
"Baju kalian basah lho."
"Iya, ini mau ganti dulu"
"Bu Rania bawa baju ganti?" tanya Arifin sok peduli, Budiman tersenyum di kulum.
"Pak Budiman bawa baju ganti dimobil nya, bu. Kan bu Rania tadi belum sempat pulang untuk
mengambil baju."
"Iya, bu Rania tadi dari kampus langsung rumah sakit mengantar pak Leo langsung berkeliling
mengantar kami."
"Gak usah lah, saya pakai ini saja" Bu Rani menunjuk bajunya yang setengah basah.
"Nanti ibu sakit bu, pakai vbaju atasan pak Budiman saja, bawahannya pinjam Septia."
Budiman tercengang mendengar apa yang disampaikan Arifin. Ngawur sekali.
"Pak pinjam bajunya dong buat bu Rani." Arifin makin gila.
Arifin memandang Septia, Septia yang faham kelakuan kekasihnya ikut ikutan menggoda.
"Iyalah pak pinjam bajunya buat bu Rani, kasihan kan,pak."
Rania jadi makin bingung dengan kawan kawannya kenapa semangat sekali menggoda dirinya
dan pak Budiman.
"Sudah sudah, nggak usah sibuk saya pakai ini saja" Rania tiba tiba berkata sambil membuka
kotak kue yang ia beli berisi aneka kue basah untuk kawan-kawannya."
Budiman turun dari tempat duduknya, membuka mobil dan mengambil baju atasan lengan
panjang yang ada dimobil nya.
Teman-teman berbisik-bisik membicarakan pak Budiman dengan sifat tidak tega yang sering
mengumpul dalam dirinya.
Pak Budiman memberikan kemeja warna merah hati berlengan panjang pada Rania.
Rania menerima kemeja tersebut sambil tercengang.
Teman yang lain tersenyum memandang adegan romantis yang berjalan didepan mereka.
Saat Rania dan kawan-kawan wanitanya pergi meninggalkan mereka, para lelaki pun
berghibah.
"Saya pernah baca diakun medsos pak, wanita itu sederhana yang rumit itu moodnya juga
rindunya"
"Cie..kayak pujangga."
"Terus maksudnya apa?" tanya Budiman pada Arifin dan yang lain.
"Maksudnya itu kalau sampai hari ini bapak masih sendiri, berarti bapak yang kurang bisa
memahami"
Suara Arya sambil memukul mukul ranting yang tadi ia pegang pada kakinya sendiri.
"Ach, apa yang kalian sampaikan itu tidak mendasar!" sanggah pak Budiman pada
mahasiswanya.
"Terus yang mendasar bagaimana, pak?"
"Yang mendasar itu memakan donat ini sambil membayangkan yang membelikan." Pak
Budiman berkelakar.
"Waaaaa" panjang sekali mereka menanggapi apa yang baru saja dikatakan Budiman.
"Jangan-jangan pak Budiman memang naksir bu Rania nih"
"Aku naksir juga, sayangnya bu Rania yang gak naksir aku."
"Ya secara beliau cantik, pinter, berpendidikan, kaya pula. Hanya lelaki bodoh yang menolak
beliau"
Semua mengangguk anggukkan kepala pertanda setuju.
"Jadi fix nih, bu Rania dengan siapa?"

"Pak Budiman...." kompak mereka bicara.
Pak Budiman hanya diam, tanpa senyum dan tanpa kata.
Ia pandangi pasir pantai berserakan sebagai bukti kuasa Tuhan, ombak yang sesekali datang
menerpa tepian pantai dan menarik pasirnya hingga berpendar pendar, saling terpencar.
Seperti juga juga hidup, adakalanya ditaqdirkan untuk jalan bersama dan adakalanya berpisah
pada taqdir Nya masing-masing.
Mereka yang tadi berganti pakaian telah datang, kini jumlahnya mereka lengkap 13 orang.
Tiga belas es degan terhidang. Mereka duduk melingkar menunggu matahari terbenam dan
malam datang.
Yeah, pantai memang selalu indah untuk dinikmati .
Rania menggumam diantara riuh suara kawan-kawan.
Seperti juga indahnya melihat pemandangan kala tiga puluh panggilan tak terjawab dari Leo
di ponselnya.
Leo harus tahu bahwa diabaikan itu sakit.
Ini hari ke dua mereka berada di sini, di Pantai Batakan yang penuh cerita.
Untuk mencapai Pantai Batakan dari Kota Banjarmasin relatif mudah karena kondisi jalannya
cukup baik ,berkelak-kelok dan turun-naik serta menyajikan pemandangan alam yang indah
berupa barisan perbukitan yang menghijau, hamparan persawahan yang menguning, serta
perkampungan nelayan yang berada di tepi pantai. Sebelah timurnya terdapat perbukitan
pinus yang menjadi bagian dari Pegunungan Meratus.
Tidak jauh sebelum gapura yang menandai pintu masuk kedalam Pantai Batakan, terdapat
sebuah tugu yang terletak ditengah jalan. Tugu ini membelah jalan menuju Pantai Batakan
menjadi dua. Sementara gapura itu sendiri nampak tidak terawat dan dibiarkan kosong tanpa
penjaga. Ada pos lagi ketika sudah masuk melewati gapura. Pos ini nampak lebih terawat dan
juga dijadikan sebagai tempat untuk membayar tiket masuk Pantai Batakan.
Indahnya saat matahari terbenam, lebih indah lagi saat menikmatinya dari tepi pantai.
Seperti hari ini.
Pak Budiman duduk melingkar bersama para mahasiswa nya, bercerita tentang banyak hal.
Karena selain cerdas, mengayomi dan berbudi, pak Budiman termasuk seseorang yang
berwawasan luas, sehingga beliau layak dikagumi.
Satu persatu pergi dari percakapan mereka karena malam semakin larut.
Tinggal Rania dan pak Budiman berdua saja. Angin pantai yang semilir. Suasana pantai tengah
malam, semakin membuat teduh suasana.
"Bu Rani ndak istirahat?" tanya pak Budiman.
"Belum ingin, pak" suara bu Rania menjawab.
"Disini dingin lho"
"Iya pak, kalau bapak hendak istirahat silahkan saja."
"Ndak papa bu, belum ingin juga."
Mereka sepakat untuk tidak menyewa cottage tapi tidur dimobil, bukan karena tidak punya
uang tapi semata karena ingin menikmati kebersamaan.
Bu Rani asyik dengan hp nya dan pak Budiman pun demikian. Hingga pak Budiman membuka
percakapan.
"Bu Rani saya boleh nanya,"
"Boleh pak, ingin nanya apa?"
"Apa benar sampai saat ini bu Rani masih jadi istri pak Leo?" sangat hati hati Budiman
bertanya agar bu Rani tidak tersinggung. Diluar dugaan bu Rani tersenyum.

"Kata orang sih begitu" Bu Rani bicara sambil memonyongkan bibir tipisnya yang berwarna
merah muda pak Budiman sebenarnya ingin tertawa namun ia berusaha menahannya.
"Kok kata orang bu?"
"Iya kata orang kami masih suami istri, tapi kalau kata saya sih enggak."
"Bisa begitu ya bu?"
Bu Rani hanya mengangguk angguk kan kepala.
"Masalahnya karena pihak suami tidak mengeluarkan talak jadi saya belum bercerai lha
menurut saya sudah cerai karena selama ini saya tidak di nafkahi lahir batin."
"Berapa lama pisahnya bu?"
"Lima tahun". Pak Budiman diam, ia sendiri belum tahi kebenaran dari hukuman kasus ini
bagaimana, tapi kasus ini menarik untuk di kaji dan dibahas.
Mereka berdua kembali diam hingga pak Budiman angkat bicara lagi.
"Harusnya ibu dan pak Leo bertemu kemudian ada pihak ke tiga yang mendamaikan dan fihak
ke tiga itu harus orang yang mengerti tentang kasus ini"
Pak Budiman bicara seolah pada dirinya sendiri.
"Yang mengalami kasus seperti saya pastinya sudah banyak pak dan mereka tidak tahu dititik
mana kasus mereka harus dihukumi."
"Iya, bu" mereka menerawang, membuang pandangan pada alam, pada gugusan ombak yang
bergulung, pada gemintang yang bertebaran. Mereka seolah ingin sekali bicara bahwa ada
banyak masalah yang harus dipecahkan.
Ada banyak orang yang butuh diperjuangkan. Mestinya orang-orang pintar bertanggung
jawab untuk ini. Tapi sayang, pelakunya justru bagian dari orang orang itu sendiri.
"Kalau bu Rani pacar saya, saya pasti kawani menemui pak Leo."
"Kalau begitu kita pacaran saja." Jawab Rania cepat.
Pak Budiman melotot terkejut, Rania menyadari kesalahannya sembari memohon maaf.
"Maaf kan saya, pak" Rania memohon, tampak sekali ia menyesal. Kemudian pak Budiman
berkata .
"Tapi saran bu Rani ada benarnya juga, kita akan sebarkan cerita bahwa mulai malam ini kita
pacaran."
"Tujuannya pak?"
"Memancing pak Leo agar menegur saya, bu."
"Kemudian?"
"Kalau beliau menegur saya tentang hubungan kita baru akan saya minta talak beliau untuk
ibu Rani."
Rania mengangguk sepakat.
"Tapi sebentar, bu Rani serius minta cerai pada pak Leo?"
"Maksudnya?"Tanya Rania tak mengerti.
"Maksudnya apa bu Rani serius tidak ingin kembali pada pak Leo?"
"Serius lah pak, kalau tidak serius ngapain juga saya capek capek mengulang kuliah lagi."
"Oh...begitu." Dan mereka pun tertawa.
Pantai Batakan menjadi saksi perjanjian mereka hari ini. Begitulah seharusnya orang dewasa
berbuat. Orang dewasa akan tahu meletakkan diri sesuai porsi, tidak berlebihan dan tidak
juga mengurangi. Kemudian menepati janji tersebut.
Orang-orang yang hanya berani mengukir janji tanpa menepati hanya akan mengotori nama
baik mereka saja dan itu memalukan.

Hari ini pak Budiman telah membuktikan bahwa dirinya siap berkomitmen dengan bu Rani
serta menepati komitmen mereka dengan baik. Apapun resiko yang akan terjadi di depan
nanti mereka telah siap menghadapi.
"Bu Rania," panggil pak Budiman lembut, memecah hening yang mengunang diantara api
unggun dan percikan air ombak pantai.
"Iya pak, ada apa?"
"Kalau nanti Septia tanya jangan ceritakan apapun tentang perjanjian kita ya."
"Siap pak."
"Hanya kita berdua yang tahu tentang rencana ini bu, jangan sampai bocor pada yang lain."
"InsyaAllah ya pa, terimakasih."
"Terimakasih untuk apa, bu ?"
"Terimakasih sudah mau perduli pada saya, " Rania berkaca-kaca.
Rania berdiri, meninggalkan Budiman seorang diri menuju mobilnya dan menyudahi
perjanjian mereka.
Budiman melempar pandang pada pantai. Ia merasa iba pada Rania, andai saja dirinya
seorang milyader ia akan menghibahkan uangnya untuk menolong wanita-wanita di luar sana
agar terbebas dari jerat lelaki tak bertanggung jawab.
Budiman meradang, semoga tak ada lagi cerita seperti Rania bertahta di telinganya.
Ia sangat berharap.

MELANJUTKAN CERITA INDAH

"Hai..ada matahari terbit..." teriak Septia dari dalam mobil sambil menunjuk lingkaran besar
dengan kemilau oranye yang menyembul dari ujung pantai. Indah nian kuasa Tuhan membuat
takjub semua yang memandang.
Sebagai teman lelaki sudah menggelar alas untuk sholat subuh berjamaah ditepi pantai.
Momen yang tidak akan terlupakan. Ketika rangkaian ayat Allah dibacakan diantara debur
ombak pantai.
Keindahan yang demikian menggoda, maka nikmat tuhan yang mana lagi yang engkau
dustakan?
Kami semua turun bersiap untuk menikmati sarapan pagi sudah kami pesan diwarung yang
berada ditepian pantai. Ikan bakar dan daun singkong, juga daun pepaya rebus ditambah
sambal, makannya ditepi pantai.
Uhuu, eksotik sekali. Saat semua duduk melingkar, tiba tiba pak Budiman bangkit dan memilih
duduk disamping Rania. Rania sontak terkejut.
"Mau duduk dekat pacar baru," ucapnya.
"Apa?" semua yang mendengar memekik histeris
"Sejak kapan?" Tanya Arifin dengan mulut penuh makanan.
"Tadi malam" jawab pak Budiman santai.
Semua yang mendengar saling berpandangan. Ada takjub di mata mereka, hingga Septia pun
bertanya
"Beneran?"
"Iya" Rania menjawab sambil menunduk, bila tidak begitu ia khawatir kebohongan dimatanya
akan nampak.
Dirinya dan Septia memang baru kenal tapi persaudaraan diantara mereka sangat erat tak
terpisahkan hingga menjadi tidak mungkin Rania membohongi Septia. Namun ia ingat pesan
pak Budiman semalam untuk tidak menyatakan kebenaran meskupun dihadapan Septia.
Mereka sedang berpura pura menjadi sepasang kekasih agar pak Budiman mempunyai
legalitas untuk duduk berjajar bersama pak Leo demi membicarakan status Rania. Mereka
berdua sedang memasang perangkap agar mangsa tertangkap dan untuk itu diperlukan ke
hati-hatian dalam bersikap agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Kali ini Rania tidak boleh gagal, ia harus berhasil membawa pak Leo masuk dalam
perangkapnya. Harus.
"Kamu yang bawa mobil bu Rania" ucap pak Budiman pada Arifin yang masih merasa tidak
percaya pak Budiman da Rania bisa jadian secepat itu.
Tadi malam saat dirinya dan teman temannya tidur pak Budiman dan bu Rania membuat
komitmen. Apa mungkin?
"Hallo, Rif" suara pak Budiman mengagetkan Arifin. Arifin benar benar terpana.
"Oh, iya pak. Siap." jawab Arifin mendadak gagap.
"Septia tetap di mobil bu Rani, biar bu Rani duduk dekat saya." pak Budiman bicara sambil
menyentuh telinga Arifin sedikit berbisik.
Kontan Arifin terkesima, tumben pak Budiman genit. Biasanya beliau orang yang cuek dan
biasa biasa saja, apakah ini efek jatuh cinta? Arifin menggeleng-gelengkan kepala heran.
Mereka pun sepakat meninggalkan pantai Batakan yang penuh cerita.

Rania duduk disamping pak Budiman bersama teman-teman yang lain dibelakang. Canda
candaan lucu keluar dari mulut mereka.
"Serius ya pak Budiman dengan kak Rani?" tanya Septia di mobil yang ia naiki.
"Sepertinya begitu." jawaban dari bangku belakang pun muncul.
"Semoga saja kak Rania tidak dibuat sakit hati lagi" Septia berbicara seolah pada dirinya
sendiri.
"Kalau ada dosen pernah bikin bu Rania sakit hati , itu namanya oknum, say. Seperto juga
insinyur, polisi, guru, tukang bangunan dan para lelaki yang lain yang baik banyak banget yang
buruk dan tidak berperasaan juga ada. Itu yang dilanggil oknum."
"Nah betul kamu Ratih, jempol" jawab Arifin sambil tetap mengemudikan mobilnya.
"Seperti juga lelaki disamping mu Septia, kita tidak tahu dia baik atau buruk, hanya perjalanan
waktu yang akan menjawab.
"Dan bila hari ini bu Rania pernah di sakiti oleh seorang dosen seperti pak Leo bukan berarti
dosen yang lain juga memiliki karakter yang sama."
"Kok, jadi aku sih." Arifin berteriak membuat semua terbahak bahak.
"Tapi itu fakta Septia, seseorang bisa dikatakan baik atau tidak , jujur atau pembohong justru
setelah kita melewati banyak sekali perjalanan. Setelah melewati susah dan senang." Arifin
berkata sambil menepuk-nepuk paha Septia.
"Tapi sepanjang pengetahuanku pak Budiman orang baik dan bertanggung jawab kok." Arifin
menambahkan yang di sambut dengan kalimat.
"Huuu dasar seperguruan pasti membela."
"Uy pak sopir kalau ngomong gak usah pakai nepuk-nepuk paha dong." suara dari belakang
tetiba muncul.
"Kesempatan bro," ucap Arifin sambil matanya menengok kaca spion.
Perjalanan yang indah membuat aura kebahagian keluar dari jiwa mereka. Tanpa mereka
sadari, nanti setibanya di kampus mereka mempunyai tugas baru.
"Menjadi saksi antara hubungan pak Budiman dan Rania"
Pertanyaan akan banyak datang di redaksi mereka .
Pak Budiman, Rania juga teman-teman yang lain pun bercanda ria di mobil mereka. Masih
seputar topik hubungan antara pak Budiman dengan Rania. Melintasi jalanan berkelok dan
mendaki bersama dengan teman-teman seperjuangan adalah hal terindah dalam hidup. Bisa
berbagi tawa juga canda, kejadian ini tidak akan bisa terulang itulah mengapa mereka yang
faham akan sangat menghargai waktu dan kesempatan. Karena sekali waktu berjalan ia akan
menjadi kenangan. Kita tak mungkin dapat melaluinya lagi.
Di pelabuhan tanjung serdang,
Mereka turun dari mobil untuk berpose, aneka gaya dan gerakan. Diantara angin kencang
yang mengibarkan jilbab juga rambut mereka. Mereka melempar senyum dan tawa, seolah
hanya mereka yang berada di dalam kapal fery ini.
Ada pose berdua ada juga pose bersama-sama. Pak Budiman mendekati Rania.
"Ini saja yang dipake status WA ya"
Rania melihat sekilas kemudian mengangguk setuju. Status whatsApp mereka berdua sama.
Mereka sengaja melakukannya untuk memancing tanya. Pak Budiman sangat yakin pak Leo
koleganya akan segera menanyainya tentang hubungan antara dirinya dengan Rania. Pasti itu
karena begitulah tipikal beliau.
Benar ternyata, beberapa menit kemudian pak Leo menghubungi Rania. Namun sayangnya
Rani tidak ingin menjawabnya.
"Bunda, dimana?"

"Sudah mau pulang kan, sayang?"
"Bunda, tolong balas pesan ayah."
Pesan itu hanya dibaca tanpa dibalas, seperti yang sering pak Leo lakukan padanya. Dulu.

****

Rombongan Rania dan kawan-kawan telah tiba di rumah masing-masing.
Rania pun telah rebah di kamar indahnya. Ia juga sudah menghubungi tukang pijat lulur yang
biasa ia panggil. Tubuhnya letih sekali dan butuh perawatan.
Sejak Rania mempunyai banyak uang ia rajin sekali merawat tubuh dan wajah nya. Untuk apa
uang banyak bila tubuh kurus kering dan wajah dekil.
"Bunda, sudah tiba di rumah?" Aduh, pak Leo lagi.
Hobi sekali ia menghubungi Rania akhir-akhir ini. Lalu kemarin ia dimana?
Kemarin ia kemana ?
Jangan kan untuk menghubungi berkali-kali bertanya kabar setahun sekali pun tidak pernah
pak Leo lakukan.
Kenapa sekarang jadi rajin ?" Rania mendadak bingung.
"Bunda, kenapa hanya di baca ?"
"Bunda tolong jawab satu kali saja bunda dimana?"
Pak Leo masih mengetik pesan di WhatsApp nya namun Rania sudah terlelap tidur.
Keesokan paginya.
Rania bangun dengan rasa malas yang tumpang tindih. Seluruh persendiannya terasa ngilu.
Andai tak ingat bahwa sholat adalah kebutuhannya pada Tuhan mungkin saat ini Rania
memilih tidur.
Namun bagaimana pun, sholat adalah jawaban bahwa sebagai hamba ia butuh Tuhan Nya itu
sebabnya ia lebih memilih untuk membuka mata dan bergegas bangkit. Rania masih ingat
pesan ibunda, bahwa sholat dua rakaat sebelum subuh itu jauh lebih baik dari dunia dan
seisinya.
Tidak ada alasan bagi Rania bermalas-malasan.
Usai subuh tiba, Rania kembali pada ranjang empuk dan alas nya yang berbau harum.
Sambil menunggu ibu pijat yang janji akan datang.
"Bunda sayang hari ini ayah sudah bisa pulang dari rumah sakit."
"Besok ayah akan ke kampus atau ke rumah mencari bunda, kita perlu bicara baik-baik ya
sayang."
Iya in sajalah. Begitu gumam Rania.
"Kak Rani hari ini nggak ke kampus?"
"Kayaknya enggak Septia."
"Oh ya sudah, kirain kangen dengan pak Budiman jadi memilih ke Kampus."
Rania diam, memikirkan kalimat yang baru saja diucapkan Septia.
"Kangen dengan pak Budiman" Oh Tuhan, Rania sampai lupa bahwa dirinya terikat kontrak
cinta bohong-bohongan dengan pak Budiman.
Hampir saja ia tertangkap basah dengan kebohongannya.
"Hallo kak, kenapa diam?"
"Oh iya Septia, aku nggak ke kampus. Kalau nanti Septia ke kampus dan bertemu pak
Budiman, titip salam ya." Hanya itu kalimat yang bisa Rania tulis diantara kalimat lain yang
mestinya lebih layak Rania tuliskan.

"Oke kak Rania, selamat berlibur dan memanjakan diri ya."
"Trims, Septia."
Hingga kami pun saling mengirim emoticon penutup perbincangan.
Sore itu,
ketika adzan ashar usai berkumandang. Seseorang datang memencet bel pagar rumah Rania.
Beruntung Rania telah selesai sholat ashar dan mandi.
Setelah terapi pijat lulur tadi tubuhnya terasa sedikit segar.
"Siapa ?" tanya Rania pada pembantu nya.
"Bapak yang tempo hari itu, ibu."
"Yang mana ?"
"Bapak dosen yang bila datang sering membuat ibu menangis."
Rania mengernyitkan dahi, lalu membuka tirai pembatas antara ruang tengah dengan ruang
tamu nya.
"Oh, pak Leo"
"Namanya pak Leo ya, Bu ?"
"Iya."
"Disuruh masuk ya, Bu ?"
"Iya, silahkan saja."
Pak Leo masuk, setengah berlari menuju ruang tamu Rania.
Rania menjumpai pak Leo dengan baju santai dan jilbab.
Mereka terdiam, hanya gemericik suara air di aquarium yang menjadi nada pertemuan
mereka sore ini.
"Ada apa ?"
Tanya Rania pada pak Leo, yang di tanya diam tidak menjawab.
"Ada apa ?" Ia bertanya lagi. Hening sesaat.
"Ayah tadi ke kampus, ayah pikir bunda sudah di kampus." Pak Leo bicara.
"Ayah nggak melihat bunda tapi bertemu Septia teman dekat bunda." Pak Leo memberi
penjelasan.
Oh rupanya Septia ke kamus, dasar wanita satu ini tidak betah kayaknya untuk nggak ketemu
Arifin meski sedetik.
"Ayah kaget dengar kabar dari Septia itu sebabnya ayah ke sini."
"Kabar apa ?" Tanya Rania sedikit menyelidik. Rania masih bersikap biasa. Rasa ingin tahu nya
tak terlalu ia umbar toh nanti bisa bertanya langsung pada Septia.
"Bunda,"
"Iya, ada apa ?"
"Bunda beneran pacaran dengan pak Budiman ?"
Oh, God. Septia cepat sekali menyampaikan kabar ini. Bukankah seharusnya Septia bilang
dulu padanya. Aduh Septia ....
Rania mengagumi kehebatan teman dekatnya, Septia.
"Bunda,"
"Iya"
"Bunda jujur saja pada ayah."
Ya Tuhan, kalau aku belum menjawab bukan berarti aku ingin berkilah dari mu, Pak Leo yang
manis. Suara batin Rania mentertawakan ini semua.
"Iya, memang benar ayah." Akhirnya Rania angkat bicara. Mengeluarkan sebuah pernyataan
sebagai jawaban atas pertanyaan pak Leo.
"Sejak kapan bunda ?" Pak Leo bertanya lagi.


Click to View FlipBook Version