“Bisa ketemu sebentar ?”
“Lama juga gpp, Pak.”
Pak Budiman terkekeh keras, sumpah baru kali ini Rania mendengar Pak Budiman tertawa
terbahak-bahak. Begitu bahagia nampaknya beliau entah karena apa.
“Kapan Pak Budiman ke rumah ?”
“Mungkin sebentar lagi, ga pa pa ya?”
“Asiapppp.”
Telphon pun di tutup, mereka nampak bahagia sekali. Ada gemericik rasa yang meletup-letup
diantara gemintang hatinya. Rania tidak tahu untuk apa Pak Budiman bermaksud datang ke
rumahnya yang ingin dia terima pastinya sebuah kabar baik. Namun bila melihat cara beliau
bicara pastinya ini kabar baik yang akan Rania dengar. Semoga.
Langit masih bercahaya, guratan awan masih melintas di atas hatinya ketika Pak Budiman
yang tinggi, gagah dan tegap itu datang. Melempar senyum manisnya Pada Rania. Rania
membalas senyum itu dengan ramah.
“Ada apa, Pak?”
“Ada apa, ya ?”
“Cuma mau dengar cerita tambatan hati yang baru.” Pak Budiman bicara sambil membuang
muka.
“Saya datang kemari karena cemburu.” Pak Budiman masih membuang muka, tapi Rania tahu
Pak Budiman bercanda. Tidak ada kecemburuan diantara mereka. Kecemburuan itu telah
selesai, mereka terlanjur bertekad bahwa hubungan mereka hanya sebatas teman tidak boleh
lebih dari itu. Dalam kamus Pak Budiman wanita idaman bukan Rania. Jelas berbeda, wanita
pujaan beliau cantik, berkulit putih, bermata indah dan bertubuh tinggi. Rania menghela nafas
lalu berkata ?
“Tambatan hati yang mana ?” rania bertanya dengan gaya nya, seolah-olah ini adalah cerita
nyata bukan fiksi saja.
“Tambatan hati yang di kenal di Pengadilan Agama?” Rania melotot, mulutnya menganga.
Rabbana... yang di bahas ini Pak Wahyu ? Pasti Septia yang membawa gosip tidak beranggung
jawab ini.
“Septia ya ?”
“Ho oh.” Pak Budiman mngangguk-anggukkan kepala dengan lucunya.
Akhirnya Rania bercerita dengan lancar tentang Pak Wahyu, dari awal hingga akhir dengan
lengkap. Pak Budiman hanya diam tidak berkomentar. Bagi pak Budiman mengurusi urusan
pribadi sangatlah riskan untuk sebuah hubungan pertemanan. Itu sebabnya ia tidak ingin ikut
campur, baginya saat ini ada yang lebih penting dari itu semua yaitu urusan Rania dengan Pak
Leo. Urusan itu harus diselesaikan hingga selesai. Agar Rania bisa melenggang berjalan ringan.
“Sebenarnya dengan siapapun nggak pa pa asal Bu Rani merasa nyaman, yang penting
berhati-hati agar kesalahan yang sama tidak terulang. “ Hanya itu pesan Pak Budiman.
Bagaimana pun juga hubungan dengan seseorang yang telah beristri pasti akan menuai
masalah baru, meskipun Tuhan membolehkan namun tetap ada pihak-pihak yang berusaha
untuk membuat pembolehan itu menjadi samar.
“Jujur, kalau saya pribadi malah salut pada orang yang menikah lebih dari satu dan bisa
mendamaikan semuanya, karena saya sendiri belum sanggup melakukan itu.” Pak Budiman
menjelaskan dan Rania pun tidak menyanggah, karena apa yang disampaikan Pak Budiman
itu sangat benar.
“Oh iya ngomong-ngomong saya datang kemari sebenarnya bukan untuk menanyakan itu.”
“Terus ?”
“Saya mendapat pesan penting dari kampus tentang masalah yang sedang viral di kampus
saat ini.”
“Terus ?” Tanya Rania lagi.
“Ya, kampus ingin sekali membuat masalah ini selesai. Kami ingin menyelesaikan ini secara
kedinasan.”
Rania diam, mencoba berpikir.
“Apakah tidak akan membuat Pak Leo dirugikan nantinya ?” Oh Tuhan Rania, sudah di buat
susah bertahun-tahun masih juga memikirkan nasib orang lain. Sebegitu mulia kah hatinya ?
Pak Budiman geleng-geleng kepala.
“Masalah atau pun tidak masalah apa masalahnya dengan Bu Rani ?” Pak Budiman mencoba
bertanya lagi.
“Bukan begitu Pak, sungguh ini sebenarnya kabar paling gembira buat saya tapi sungguh bila
ini akan membuat Pak Leo di pecat atau hal buruk lainnya saya kasihan pada anak-anaknya.
Pak Leo memang telah menyengsarakan saya bertahun-tahun, Pak tapi membalas beliau
dengan kesengsaraan yang sama tidak akan membuat saya menjadi menang. Saya inginnya
Tuhan yang membalas Pak Leo. Bukan saya.”
Sampai disitu Rania terdiam dan bungkam, betapa hatinya memang remuk redam menerima
perlakuan Pak Leo selama ini, namun melihat anak-anak Pak Leo harus hidup dalam
kemiskinan karena ulah tangannya tidak akan membuat Rania merasa puas. Balasan Tuhan
akan mengenai Pak Leo dan itu pasti akan jauh lebih sakit serta lebih sulit. Rania sangat
percaya itu.
“Lalu bagaimana ?”
“Saya akan datang, Pak.”
“Syukurlah, agar cepat selesai, Bu.”
“Iya, insyaAllah.”
“saya akan merasa lega bila urusan ini selesai.” Begitu penjelasan Pak Budiman dan Rania
sangat mengerti kegundahan teman-teman yang mengetahui tentang ini. Masalah ini
membuat jengkel banyak orang, menguras hati dan menyakiti perasaan terlebih bila melihat
Pak Leo masih berdiri tegak seolah tidak ada rasa bersalah, banyak orang yang meradang dan
menunggu ending dari cerita ini.
“Kalau Bu Rani sudah bersedia, saya pamit pulang ya.”
“Kok buru-buru.” Rania protes.
“Iya, saya takut jatuh cinta kalau lama-lama di sini.” Mendengar itu refleks Pak Budiman
terkena lemparan vas bunga Plastik yang ada di meja. Pak Budiman memekik kecil. Rania
tertawa.
Pak Budiman pun pulang ke rumahnya
“Sampai jumpa besok.” Pak Budiman pun melambaikan tangannya pelan. Seraya
mengucapkan selamat berpisah dan sampai jumpa lagi. Kabar ini adalah kabar bahagia,
semoga akan menjadi akhir yang bahagia pula. Rania banyak berharap pertemuan esok hari
di kampus akan menjadi jalan keluar bagi dirinya.
PANGGILAN DARI KAMPUS
Pagi yang indah ketika dunia menampakkan senyum indahnya. Rania sudah bangun sejak
subuh tadi dan melanjutkan tulisannya di beberapa platform penulisan. Sesekali matanya
menyipit lalu kadang melebar, seperti pusaran cinta yang kadang naik dan kadang turun.
Rania mengikuti alur cerita yang ia buat dengan ekspresi wajahnya.
Ia terkejut melihat handphonenya menyala, sebaris nama muncul disana. Nama yang selalu
membuatnya tersenyum, menghadirkan inspirasi dalam tiap episode-episode novelnya.
Nama itu yang menghadirkan letupan dalam hatinya. Nama itu juga yang membuatnya
berpikir hal lain tentang sebuah dendam. Bahwa dirinya harus berhasil terlebih dahulu maka
hal itu adalah pembalasan terbaik bagi seseorang yang ingin membalas dendam. Bahwa
dendam itu bukan tentang melakukan hal buruk pada seseorang yang telah berbuat buruk
pada kita tetapi membalas dendam itu adalah dengan menunjukkan kita sukses, kita berhasil
dan kita layak dihargai.
Nama itu yang membuat Rania menjadi lebih tegar selain teman-temannya yang lain. Teman-
teman yang selalu mendukungnya.
“Assalamualaikum,” tulis Rania setelah panggilan itu berhenti.
“Waalaikumsalam, kenapa tidak diangkat ?”
“Khawatir sedang dalam ‘zona bahaya’” Jawab Rania singkat. Pak Wahyu membaca jawaban
itu sambil tersenyum simpul. Wanita ini selalu mampu membuat dirinya merasa melambung.
Dalam usia yang memang tidak muda lagi seorang Wahyu bukan tidak pernah berhubungan
dengan wanita, ia terlampau sering berputar-putar di dunia wanita, namun Rania, diantara
masalah yang sedang melilitnya ia mampu memberikan pernik-pernik khusus dengan aneka
warna pada hari-harinya dan itu yang membuat Pak Wahyu merasa nyaman berkawan
dengannya.
“Aku sedang di luar rumah, itu sebabnya aku menghubungi kamu.”
Lelaki, selalu cerdik dalam bersikap. Dan Rania suka itu. Diantara kebutuhan mereka tentang
cinta baru yang menggelitik dirinya ia tetap memperhatikan perasaan istri di rumah. Lelaki
model seperti ini istimewa. Ia berusaha memenuhi kebutuhan semuanya, istrinya, anaknya,
kebutuhan pshykologisnya juga kebutuhan wanita barunya. Ia berusaha dengan kuat
menyeimbangkan semuanya. Tidak boleh ada yang timpang. Mungkin ini lelaki yang di damba
sorga. Tidak boleh ada keburukan dan ia berupaya sekuat tenaganya. Meski kadang ketakutan
menghantuinya ia tetap berupaya. Bahkan ketika lelaki seperti ini berani jujur tentang
posisinya, sungguh itu istimewa. Tidak perlu ada kebohongan karena kebohongan hanya akan
timbulkan luka yang lebih dalam.Pelan-pelan semua beruaha mereka sampaikan andai
medannya tidak memungkinkan maka mereka akan tetap berjuang.
“Jadi telpon kah ?” tanya Rania.
“Nggak usah sudah, nanti saja aku kesana.’ Jawab Pak Wahyu via chatingannya.
“Oh, maaf hari ini saya mau ke kampus.”
“Oh, ya ?”
“Iya, tapi bukan kuliah kok.”
“Janjian dengan Pak dosen ?” Tanya Pak Wahyu langsung ke pusat rasa sakit.
“Bukannnnn.”
“Lalu ?’
“Ada panggilan dari kampus, kampus ingin mempertemukan saya dengan Pak Leo.”
“Oh, cara yang bagus itu.”
“Iya, mohon doa ya.”
“Iya, pasti.”
Mereka pun mengkhiri perbincangan. Rnia tersenyum sambil memanjakan dirinya diatas
ranjang, bergulung-gulung dengan rasa bahagia. Entah kenapa ia merasa senang sekali bila
memulai perjalanan harinya dengan tahajud, sholat subuh, mengaji dan berbincang dengan
Pak Wahyu. Seperti hari ini.
Rania menuju almari, membukanya dan memilih pakaian yang pantas ia kenakan untuk ke
kampus. Memenuhi panggilan dari kampus tentang hubungannya dengan Pak Leo. Ia
menerka-nerka apa mungkin Pak Leo akan datang menghadiri panggilan itu atau tidak.
Semoga ada jalan keluar terbaik hanya itu saja doanya. Ia merasa sangat lelah melewati ini
semua. Ia berharap semua masalah ini segera selesai. Dan ia bisa menjalani hidupnya dengan
lebih baik.
Gamis panjang berwarna hijau daun dipadu dengan blazer hitam, tas hitam dan sepatu berhak
tinggi warna hitam menambah anggun penampilannya, Rania menyapukan bedak dan lipstik
berwarna oranye. Ia ingin tampil berwibawa hari ini.
Rania bersyukur teman-teman baiknya bersedia membantu menjadi jembatan antara dirinya
dengan Pak Leo. Pak Leo dosen di tempat dirinya saat ini kuliah. Itu sebabnya pihak kampus
ingin memediasi dirinya.
Rania banyak berharap ini semua kan berhasil agar pekerjaan mereka tidak sia-sia.
Namun memang, bila ancamannya adalah kedinasan mungkin Pak Leo tidak bisa lagi
menyangkal.
Semoga saja.
UPAYA DAMAI
"Sudah di kampus ?" Ach, lelaki ini lagi. Lelaki dengan senyum manis yang selalu
menghadiahkan energinya untuk Rania.
"Iya, sudah."
"Alhamdulillah, tetap tenang dan baca sholawat ya."
"Iya, terimakasih dukungannya"
Hanya itu WhatsApp terakhir antara Rania dan Pak Wahyu pagi ini. Hingga Rania memutuskan
untuk menuju ruang dekan.
Rania melangkah tertatih, bukan karena tubuhnya sedang sakit atau karena lapar tetapi
karena beberapa mata memandang dirinya, seolah dirinya adalah pemilik puncak kesalahan.
Rania ingin menjelaskan pada mereka kronologi kejadian yang sesungguhnya tapi mustahil
juga percuma mereka tidak akan percaya.
Rania meneruskan langkahnya, ruangan lebar dengan dua macam sofa tertata rapi. Ada meja
kerja dan satu kursi besar.
Semua sudah menunggu rupanya.
Ada Wakil Dekan, ada pak Yudha, ada pak Budiman juga ada pak Leo. Semua lelaki. Hanya
Rania yang berjenis kelamin perempuan.
"Assalamualaikum"
Semua mata tertuju pada Rania yang mematung di pintu sambil menggenggam tas di
jemarinya. Nampak pak Leo terkejut. Undangan dari Wakil Dekan sama sekali tidak
menuliskan maksud pertemuan kali ini.
Pak Leo merasa tidak nyaman, itu terbukti dari tingkahnya yang tidak tenang saat ia duduk.
"Masuklah Rania." Perintah pak Sofyan Wakil Dekan.
Rania duduk perlahan, ia duduk tepat di samping Pak Yudha.
"Baiklah, kalau begitu kita mulai saja diskusinya."
"Pak Leo, hubungan bapak dengan Rania sudah demikian viral di kampus ini jika merujuk pada
peraturan maka pak Leo harus memilih, bercerai atau terkena sanksi karena menikah lagi."
Wakil Dekan menjelaskan sebuah peraturan yang sebenarnya pak Leo sudah tahu tentang itu.
Semua diam, sunyi yang menelisik masuk ke sekat hati.
Pak Leo menunduk, hingga Pak Sofyan mengeluarkan suara batuk kecil, berharap pak Leo
segera menjawab.
Pak Leo mulai berani mendongakkan kepalanya.
"Bagaimana pak Leo?"
"Rania tidak meminta apapun dia hanya meminta ikrar talak dari bapak, betul begitu kan
Rania ?" Tanya Pak Sofyan lagi.
"Iya" suara Rania parau.
Pak Leo memandang wanita ayu yang ada di depannya. Ia menyesal pernah menyia-nyiakan
dirinya.
"Saya tidak akan menceraikan Rania, " jawaban Pak Leo tegas.
Semua yang hadir menarik nafas panjang.
"Saya akan lakukan apapun kecuali mengabulkan permohonan talak."
"Bapak siap terkena sangsi kedinasan ?"
"Siap."
"Tapi kenapa ?" Air mata Rania hampir saja keluar dari mata indahnya, Rania kembali terisak.
Bila sudah begini Pak Budiman pasti geram dan ingin menghantam lelaki ringkih di
hadapannya.
"Karena ayah mencintai bunda" Jawab Pak Leo.
Ups, Rania sontak menutup mulutnya, beberapa yang mendengar ingin tersenyum namun di
tahan. Khawatir melukai suasana.
Meski sebenarnya mereka ingin sekali tertawa nyaring. Tepatnya dengan terbahak-bahak.
"Saya siap terkena sanksi kedinasan, Pak." Jawab Pak Leo tegas. Kemudian berdiri hendak
melangkah pergi. Beruntung Pak Sofyan melarangnya pergi.
"Masalah ini belum selesai, mohon tidak ada yang meninggalkan ruangan." Sergah Pak
Sofyan. Sepertinya ultimatum sanksi kedinasan tidak membuat Pak Leo menjadi takut.
Mereka semua nampak berfikir keras.
"Jadi Pak Leo siap di copot semua jabatan yang melekat ?"
"Siap, Pak. Termasuk konsekuensi untuk dipecat sekalipun." Pak Leo menambahkan. Belum
berhenti semua tercengang tiba-tiba seorang wanita muncul.
"Papah ini apa-apaan, kalau di pecat kita mau makan apa?"
Laela sangat marah, ia berkacak pinggang di hadapan semua orang sambil matanya terbelalak
dan membesar.
"Untuk apa mamah kemari ?" Tanya Leo tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Mamah ingin memastikan papah waras atau tidak dan kenyataannya papah benar-benar
tidak waras."
"Terus ?"
"Iya, kamu edan, gila, bodoh, tidak punya otak." Laela menceracau di depan banyak orang
sambil air matanya mengalir. Pak Leo berdiri, sepasang suami istri itu berhadapan, nampak
pandangan nanar dari mata Pak Leo.
"Terus kamu mau apa?"tanya Pak Leo tegas.
"Kenapa papa bodoh sekali, otak papa di letakkan dimana ?"
"Plak...,sebuah tamparan keras mendarat di pipi Laela. Laela terperangah, ia menangis luar
biasa. Semua yang melihat kejadian ini pun terdiam hingga Pak Leo terdengar mengucapkan
sebuah kalimat talak tapi bukan untuk Rania melainkan untuk Laela.
Semua terperangah, tidak satu orang pun percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
"Papa kejam!"
Suara Laela marah bukan kepalang.
Pak Leo terduduk di kursinya kembali.
"Saya permisi dulu, Pak." Suara Pak Yudha datar. Disusul Pak Budiman. Mereka keluar
ruangan, meninggalkan Rania dan Pak Leo. Sudah jadi janji Rania bila Pak Leo berani
menceraikan Laela maka ia akan bersedia kembali dengan Pak Leo, dan hari ini hal itu telah
di buktikan oleh Pak Leo, jadi tidak ada alasan mereka tetap disini. Dua lelaki itu pergi
meninggalkan Rania dengan kegundahan hatinya.
Setelah Pak Yudha dan Pak Budiman pergi, beberapa menit kemudian Rania berpamitan pada
Wakil Dekan untuk permisi pulang juga.
"Saya permisi pulang dulu, ya Pak." Suara Rania kembali parau.
"Tidak ingin berbicara dengan Pak Leo dulu ?"
"Saya ingin sendiri sekarang."
"Biarkan saja Rania pulang, biar dia menenangkan dirinya dulu. Asal dia tahu bahwa saya
bukan pecundang seperti yang dia bayangkan." Ucap Pak Leo seperti bicara pada dirinya
sendiri.
Setelah Wakil Dekan mengijinkan Rania pun meninggalkan ruangan dan Pak Leo sama sekali
tidak mencegahnya, sama sekali tidak melakukan apapun, bahkan melihat kepergian Rania
pun, tidak.
Rania menuju mobilnya, ia tak melihat sesiapapun disana.
"Tumben Pak Budiman tidak menunggu ku ?" Rania mencoba melihat kesana kemari
barangkali Pak Budiman ada disana. Lelaki itu adalah sahabat terbaik baginya, hampir tiga
perempat dari duka nya telah Rania bagi pada beliau.
Lalu bila sekarang Pak Budiman pergi begitu saja, pasti ada hal yang salah. Pasti itu. Pasti.
Rania bingung, ia mulai mengemudikan mobilnya berharap bisa mencari tempat untuknya
beristirahat setelah ia terlibat pada situasi yang membuat dirinya merasa penat. Betapa luka
telah mengkolaborasi dirinya.
BERHARAP CINTA MENDAPATKAN LUKA
Rania menepikan mobilnya di dekat menara pandang. Suasana sedang riuh dengan banyak
orang, terdapat penjual makanan di tepian sungai.
Angin semilir menyapu wajah menghadirkan sensasi dingin dan indah. Rania merasakan
sesuatu yang berbeda. Ia membuka pintu mobilnya.
Ia melangkah menyusuri tepian sungai berharap menemukan tempat untuk duduk sejenak
melepaskan kegundahan hatinya, hingga ia melihat sepasang kekasih meninggalkan bangku
yang terbuat dari besi yang tadi mereka duduki.
Rania duduk di tempat itu, sebotol air mineral berada dalam genggaman tangan nya di
tambah dengan jagung rebus di plastik putih ia letakkan di sampingnya. Rania meminum
airnya seteguk.
Kesendirian memang sering kali menimbulkan ngilu, sudah fitrahnya seseorang
membutuhkan pendamping, untuk teman berbicara, bercerita, meminta saran bahkan untuk
memenuhi kebutuhan sex dalam dirinya.
Ya, lelaki atau pun perempuan membutuhkan itu semua.
Ada saat dimana ia membutuhkan pelukan, ia membutuhkan ciuman hangat bahkan kecupan
dan pujian. Kesendirian memang terkadang menyedihkan.
Rania sering berlaku congkak pada dirinya sendiri, seolah ia mampu menaklukkan kesendirian
nya. Benar, Rania memang mampu melakukan itu tetapi seringkali pula kesendirian menguliti
perasaannya. Terutama ketika segudan masalah datang dan malam yang dingin menerpa.
Rania pasti menangis. Betapa ia merindu seorang kawan, kawan yang menggodanya di atas
ranjang, kawan yang akan memberikan dirinya rasa tenang.
Kawan yang dengannya ia bisa menjadi halal. Namun bila pilihannya adalah kembali pada Pak
Leo, itu tidak mungkin. Hatinya meronta berusaha mencari oksigen untuk menuntaskan
nafasnya yang tersengal-sengal. Rania mulai menitikkan air mata, kemudian ia buru-buru
menyekanya.
Ia juga tidak menyangka Pak Leo akan mengejutkan banyak orang dengan menceraikan Laela.
Saat seperti ini Rania begitu rindu pada Pak Wahyu nya, lelaki itu dimana ?
Lelaki yang selalu memberikan energi positif tentang banyak hal. Lelaki yang selalu bisa
membuat hatinya yang membuncah menjadi tenang.
Pandangan Rania lepas bebas, menatap perahu kayu diantara semilir angin dan batang pohon
yang berderit-derit.
Andai boleh memilih Rania pasti akan memilih Pak Wahyu. Rania akan siap berjibaku dengan
perasaannya. Rania akan siap memintas rindunya, Rania tidak akan bersaing dengan istri lelaki
itu, Rania siap berada di tempatnya dan menutup statusnya asalkan bisa mencintai Pak
Wahyu nya. Rania memekik. Rindunya menggantung, ingin ia ucapkan tetapi malu, bila
dipendam akan membuat dadanya terasa sangat sakit.
Rania tidak tahu kapan pertama kali ia memiliki rasa yang demikian kuat pada Pak Wahyu,
pertemuan mereka baru berbilang bulan dan tanpa sebab Rania justru memiliki bongkahan
harap pada lelaki dengan tatap mata teduh itu.
Rania merasa heran.
Hingga kemudian, pandangannya beralih pada sepasang anak muda yang menggelayut manja
di tangan ke dua orang tuanya.
Mereka nampak sangat bahagia, pemandangan yang lama tidak pernah Rania jumpai di masa
ini. Rania khusyuk memperhatikan mereka, siapa tahu bisa ia gunakan untuk bahan tulisannya
nanti.
Mereka demikian bahagia, dengan baju couple yang mereka pakai nampak sekali bila mereka
memang keluarga bahagia.
Namun, Rania mencoba menajamkan pandangannya.
Lelaki itu, sepertinya Rania sangat kenal. Ya.. lelaki itu, Pak Wahyu dengan istri dan anak-
anaknya. Uh, ada sembilu yang mengiris ulu hatinya.
Rania berdiri, meninggalkan bangku itu dalam keadaan kosong, setengah berlari ia menuju
mobil. Lalu menumpahkan seluruh sembilu di hatinya.
Betapa mereka sangat bahagia, kehadiran dirinya diantara keluarga itu hanya akan timbulkan
luka yang luar biasa dahsyat.
Istrinya akan cemburu berkepanjangan dan anak-anaknya pasti berada dalam penderitaan.
Rania terus menangis.
Seketika impiannya memperoleh cinta menjadi hancur lebur.
Rania mengemudikan mobilnya dengan lengan dan kaki gemetar.
Tanpa Rania ketahui, di sana, di tempat ia duduk tadi. Pak Wahyu menatapnya dengan
pandangan haru.
Siapa yang tak ingin punya cinta lagi ? Semua lelaki menginginkannya, namun saat kita tahu
cinta itu tak mungkin tergenggam maka cara terbaik adalah mengalihkan nya pada
persahabatan dan persaudaraan. Karena hal itu jauh lebih abadi dari pada sekedar cinta.
Dalam persaudaraan ada rasa sayang, ingin membantu, tak menciptakan luka. Hal itulah yang
kini sedang di perbuat oleh Pak Wahyu namun Rania tidak pernah tahu.
Pak Wahyu tahu Rania akan merasa sakit seperti dirinya yang juga sakit. Tapi ini adalah satu-
satunya jalan untuk saling membaikkan sambil menunggu suara Tuhan.
LUKA YANG BERTUMPUK-TUMPUK
Rania menangis terisak ketika ia telah tiba di rumahnya, menghancurkan kebahagiaan rumah
tangga wanita lain sama dengan mencabut nyawanya sendiri dan Rania tidak bisa melakukan
itu. Rania tidak mungkin melakukanya, ia pasti akan terluka. Dirinya bukan penghancur rumah
tangga orang lain.
Tetapi, menerima kenyataan harus kehilangan seseorang yang selama ini memberikan
semangat juga bukan hal yang mudah. Ia seperti kehilangan separoh dari nafas, dan itu sama
saja rasa sakitnya.
Memilih bahagia diatas penderitaan orang lain atau memilih mencari kebahagiaan lain ? Ini
juga bukan hal yang mudah.
Rania baru saja bahagia, namun ia kembali merasakan sakit. Ia bahkan telah rela menerima
takdir menjadi ‘yang disembunyikan’ demi cinta dan rasa sayangnya pada Pak wahyu, ia telah
siap berjuang untuk itu, asalkan ia mendapatkan lelaki yang baik dan mau menerimanya apa
adanya.
Tapi hari ini Tuhan menunjukkan sebuah pemandangan bahwa Pak Wahyu bahagia. Pak
Wahyu sangat bahagia dengan kehidupannya, lalu tempat Rania dimana ? Rania merasa
seperti seorang anak kecil dengan es krim di tangan saat melihat pemandangan tadi.
Pemandangan Pak Wahyu beserta keluarga, sepertinya Tuhan sengaja menunjukkan itu agar
Rania introspeksi diri, bahwa tempatnya bukan di samping Pak Wahyu. Pak Wahyu lelaki baik
dengan jabatan dan kecukupan materi ia hanya seseorang yang menumpang luasnya payung
yang dimiliki Pak Wahyu agar dirinya tak terkena tetesan hujan. Hanya sedikit tempat untuk
Rania disana. Rania hanya numpang berteduh. Tidak lebih !.
Rania melemparkan bantal-bantal kecil di ranjangnya dengan gusar, ia merasa dirinya sedang
tidak beruntung saat ini. Baru tadi ia berharap berjumpa dengan Pak Wahyu untuk
menceritakan apa yang dialaminya di kampus, mereka terbiasa bercerita dengan bebas dan
lepas hingga tak ada sekat. Saat ini kemana Rania akan bercerita ? Sudah tak ada tempat.
Sedang Pak Budiman mulai jarang berbincang dengannya.
Rania terus meraba hatinya.
Rupanya Tuhan benar-benar ingin dirinya introspeksi hingga menurunkan masalah sepelik ini.
Rania merasa kekesalan sedang berpihak padanya, ia memutuskan untuk keluar dan jalan-
jalan saja. Rania mengajak Sri pembantu rumah tangganya untuk pergi menyusuri Duta Mall.
Sri pasti belum pernah ke sana.
“Sri, ikut yuk.”
“Kemana mbak ?”
“Ke Duta Mall.”
“Duta Mall itu dimana ?”
“Hmmmm, ayo cepetan ikut, ganti baju dandan yang cantik.”
“Sri sholat maghrib dulu ya mbak.”
“Oke, “
Sri pun keluar dari kamarnya. Ia mengenakan kaos longgar bermotif kelinci berwarna putih
dengan celana jins. Ia ayu sekali, bila berdandan seperti ini Sri tidak nampak seperti
pembantu. Sri nampak cantik sekali, seperti ibu peri.
“Sri, mestinya setiap hari kamu dandan cantik begini.”
“waduh mbak, ya gak jadi masak saya nanti.”
“Yo ga pa pa kan Sri, masak sambil dandan cantik, salahnya dimana ?”
“Oalah, mbak saya kan pembantu, ya tampil seperti pembantu saja. Saya tahu diri kok mbak.”
Akhirnya akupun tertawa dengan apa yang Sri sampaikan.
Duta Mal yang tinggi menjulang. Bangunan megah indah menawan. Banyak orang masuk dari
pintu kiri dan kanan, mereka semua sibuk dengan barang belanjaan. Meskipun negeri sedang
pandemi sepertinya tidak menyurutkan langkah mereka untuk tetap berbelanja.
Rania turun dari mobilnya kemudian menggandeng lengan Sri seperti seorang sahabat.
Ponselnya berbunyi,
“dari siapa sih ?” Rania mengaduk isi tas nya dan mencari ponsel itu di dalamnya. Oh, Septia.
“Iya hallo, assalamualaikum.”
“Lagi dimana kak ?’
“Duta Mall, kamu kesini ya, aku traktir deh.”
“Wah udah gajian ya, ?”
“untuk mentraktir kamu kayaknya nggak perlu nunggu gajian deh. “
“Duhhh sombongnya kakak ku ini.” Suara Septia membetulkan letak kalimatnya.
“Oke kak, tunggu di cafe Chinese Food yang di tengah ya, kak.”
“Asiappp”
Ponsel pun di tutup. Tak ada suara lagi terdengar. Rania menuju tempat yang di tunjuk oleh
Septia. Ia meluncur saja dengan Sri tetap dalam gandengannya. Tangan Sri sama sekali tidak
ia lepaskan. Rania takut Sri hilang karena Sri sama sekali tidak tahu jalan.
Cafe ini adalah cafe dengan privasi yang baik dibanding yang lain, ada sekat kaca yang
memisahkan antara ruang yang satu dengan ruang yang lain, di tambah lagi dengan pemilhan
warna yang cantik membuat pelanggan menjadi betah, Rania sekali lagi memilih ruangan
paling ujung agar ia dapat melihat orang yang datang dengan aneka mimik rupa yang berbeda.
Rania menyukai itu. Rania mengagumi ciptaan Tuhan diantara model yang beraneka rupa itu.
Beberapa saat kemudian, Septia datang, sayangnya ia tidak sendiri. Ada Pak Budiman
bersamanya, Rania bingung. Tumben ia bersama Pak Budiman, bukannya biasanya ia datang
dengan Arifin ? Rania makin bingung.
“Hai, kok bengong, Kak ?”
“Kamu, tumben dengan ?” Rania menggantung kalimatnya sendiri,
“Iya kak, tadi kebetulan Pak Budiman telphon aku jadi sekalian ku ajak kemari.”
Mereka pun memesan makanan sambil berbincang tentang keputusan Pak Leo tadi.
“Berarti beliau memang sudah berubah.”
“Berubah bagaimana ?”
“Itu buktinya beliau telah berani menceraikan istrinya.”
“Apa ?” Rania terkejut. Jadi tadi Pak Leo menceraikan istrinya ?” Kami pun mengangguk.
“Saya masih belum bisa melupakan semua yang dia lakukan, Pak.” Rania merintih seperti ada
beban berat yang ingin ia transformasikan.
Pak Budiman terdiam seperti yang lain, mereka hanya mengaduk-aduk pesanan yang telah
terhidang di meja.
“Aku hanya ingin semua orang percaya kalau aku mencintai Rania, ma.”
“Iya, tapi kalau nanti papa lupa diri lagi bagaiman ?”
Rania, Pak Budiman, Septia juga Sri mendengar percakapan itu. Sepertinya suara itu muncul
dari samping. Mereka melekatkan indra pendengarannya, memperjelas kalimat yang datang
dari sebelah dari vibra yang sama dengan seseorang yang kemarin menceraikan istrinya di
depan Wakil Dekan. Ya, itu suara Pak Leo dan Laela istrinya.
“Sepertinya semua percaya dengan sandiwara kita kemarin ma.”
“Awas aja kalau papa sampai lupa diri lagi.”
“Tidak mungkin, ma. Aku hanya ingin Rania tahu bagaimana rasa sakitnya mengejar tapi tidak
di perdulikan.”
Dari tempatnya Rania kian geram, mata teduh Pak Budiman memandang Rania dengan
ketakutan. Pak Budiman begitu khawatir hati Rania yang sudah luka akan memunculkan pijar
panas seperti letusan gunung berapi. Pak Budiman sangat khawatir.
Dan benar, Rania berdiri, beberapa tangan berusaha mencegah dirinya namun gagal. Rania
tidak menghiraukan siapapun, ia hanya ingin mendekati lelaki paling ba**gs*t di dunia ini,
hampir saja Rania merasa tersanjung menjadi wanita yang terpilih namun sayang ternyata hal
itu hanya buaian.
Rania mendekat, wajahnya merah padam. Pak Budiman berdiri, ia khawatir hal buruk terjadi.
Rania menepukkan ke dua lengannya,
“Prok, prok, prok.” Pak Leo terkejut demikian juga Laela.
“Jadi begini caranya, jadi yang tadi pagi itu hanya sandiwara ?” Rania mendekat. Menarik krah
baju Pak Leo. Kemudian menarik bajunya hingga dua kancingnya lepas.
“Dasar bajingan, belum cukup kamu menghancurkan hidup ku ?
Pak Leo tidak dapat melawan karena ia sedang bergelut dengan rasa kagetnya. Laela berusaha
menarik baju bagian belakang yang dikenakan oleh Rania. Namun Rania jauh lebih kuat,
kemarahan telah membuatnya kalap.
“Ceraikan aku sekarang, cepat !”
“Buka mulut mu, baj***an !”
Pak Leo ternganga melihat Rania yang lembut itu bicara kasar. Banyak mata menatap mereka.
Sepertinya Pak Leo merasa malu. Ia memilih pergi dan menghindar dari kerumunan.
“Cepat katakan !”
“Ceraikan aku wahai pendosa ! “ Pak Leo menghalau lengan Rania, Rania hampir terjungkal
untung saja Pak Budiman menghalanginya. Rania kian berani. Ia menarik paksa kaca mata
bermerk yang sedang di kenakan Pak Leo. Ia menginjaknya hingga pecah.
Pak Leo dan Laela menyingkir dari ruangan tersebut. Mereka berdua memilih pergi dari pada
menambah malu dengan tetap berada disana. Rania terdiam, ia menghempaskan tubuhnya
di kursi , ia merasakan penderitaan yang berkepanjangan dalam sehari ini. Luka yang tumpang
tidih, Rania menggigit bibirnya sendiri. Ia rindu, rindu Pak Wahyunya tempat ia biasa bercerita
bebas tanpa perlu malu. Tapi, Pak Wahyu bahkan tidak menghubunginya sama sekali seharian
ini. Rania ingin memulai mengajak beliau berbincang namun rasa malu mencengkeram
hatinya.
Bayangan kebahagiaan yang Rania lihat tadi menghalangi inginnya.
Rania memilih pulang bersama dengan yang lain. Ia berjalan gontai. Tak bisakah sebuah
persahabatan tetap berjalan bahkan ketika diketahui sahabatnya memiliki perasaan yang lain
?
Tak bisakah seorang sahabat membimbing sahabatnya untuk melupakan cinta hingga semua
bisa berjalan beriringan tanpa luka.
Datanglah seperti putri kecil yang cantik jelita.
Jangan menangis.
Jangan mengeluarkan air mata.
Setiap langit memiliki bintang dan ia akan memilih satu dari bintang itu untuk dicintai.
Meski mereka tidak saling memiliki.
Cinta adalah HAK, menjaganya untuk tetap bijak adalah KEWAJIBAN.
Jadi, bila cinta datang, tersenyumlah, karena ia bukan kesalahan.
Andai ia berada di tempat yang kurang benar artinya cinta hanya butuh waktu untuk
berproses.
Selamat untuk semua hati yang sedang jatuh cinta.
Rania meraba hatinya. Ada luka disana. Luka yang harus disembuhkan dengan segera.
UCAPAN TERIMAKASIH
Rania belum selesai merapikan mukenahnya ketika ia mendapatkan kabar bahwa Pak
Budiman dan Septia akan datang ke rumahnya. Rania makin heran mengapa Septia datang
dengan Pak Budiman lagi ?
Apakah mereka memang sudah saling menambatkan hati bersama ?
Apakah Septia sudah tidak bersama Arifin lagi ?
Apakah Pak Budiman sudah bercerita bahwa hubungannya dengan Rania hanya hubungan
yang sengaja diciptakan ?
Ach, Rania jadi pusing sendiri.
Tapi biarlah apapun yang terjadi dengan mereka semoga saja hubungan mereka adalah
hubungan yang baik dan tidak merugikan siapapun.
“Jam berapa ke rumah ?” Tanya Rania.
“Sebentar lagi kak, aku dengan Pak Budiman.” Begitu tulis Septia di pesan whatsappnya. Rania
melirik jam kecil yang ada di meja riasnya, masih pukul enam waktu Indonesia Tengah.
“Sepagi ini ?”
“Iya, Kak.”
“Ada apa ?’
“Pak Budiman yang ngajak, ada berita penting katanya.”
“Yo wes lah. Silahkan saja.”
“Kakak ga pa pa, kan ?”
“Iya, ga pa pa.”
Rania merapikan mukenanya kemudian menyapu wajahnya dengan bedak tipis serta
merapikan jilbab yang menggantung di kepalanya.Ia telah siap menerima kedatangan Septia
dan Pak Budiman. Mereka berdua adalah sahabat terbaik nya saat ini.
Sebuah mobil nampak mendekat beberapa menit kemudian, rumah mereka memang tidak
terlalu jauh itu sebabnya mereka segera sampai di rumah Rania.Rania menyambut mereka di
beranda rumahnya.
Halaman yang tertata rapi dengan bunga krisan dan rumput hias juga aneka warna mawar
membuat Rania merasa hatinya sedikit terhibur setiap kali memandang.
Pak Budiman turun dari mobil, ada Septia disampingnya. Septia nampak menggunakan blazer
tidak resmi berwarna coklat dengan celana jins hitam. Kulit putihnya seolah menampilkan
keindahan dibalik gaun yang ia kenakan. Septia yang rupawan, baik hati dan pemilik senyum
tulus. Septia yang tidak pernah punya dendam terhadap siapapun.
“Assalamualaikum, Kak.” Septia menyapa masih dengan senyum indahnya.
“Waalaikumsalam.” Jawab Rania cepat.
Mereka mengikuti langkah Rania menuju ruang tamu. Namun tiba-tiba sebuah mobil datang
lagi. Rania bingung.
“Siapa ?” Tanya Rania pada Septia dan Pak Budiman.
“Pak Yuda.”
“Lho, kok gak bilang kalau ada Pak Yuda, aku kan nggak siap apa-apa.” Protes Rania.
“Jadi kalau Pak Yuda yang datang disambut spesial nih, kalau kami yang datang dibiarkan
saja.”
“Bukan begitu.”
Perbincangan mereka pun terhenti, saat Pak Yudha mendekat.
“Assalamualaikum, Rani”
“Waalaikumsalam, Pak “ Rania menyambut beliau dengan senyum termanis yang pernah ia
miliki. Bagaimanapun, pernah ada catatan sejarah antara dirinya dengan Pak Yudha, sebuah
cerita yang tidak bisa ia lupakan begitu saja. Sebuah cerita yang telah tercatat di buku catatan
para malaikat dan telah dilaporkan kepada pemilik kehidupan yaitu Allah.
“Boleh saya duduk ?” Tanya Pak Yudha sopan.
“Silahkan, Pak. Berbaring juga boleh, bu Rania ini baik hati kok, Pak.” Pak Budiman berkelakar.
Merekapun saling melempar tawa.
“Wah, saya bahagia sekali bapak mau datang ke rumah ini.”
“Sebenarnya mau, Ran hanya saya bingung kalau kemari saya harus membuat alasan apa ?”
“Ach, Pak Yudha bisa saja.”
Sri datang, membawa nampan berisi minuman hangat. Ia meletakkannya di atas meja
kemudian mempersilahkan tamu majikannya untuk menikmati hidangan.
“Kalau boleh tahu sebenarnya ada apa ya, Pak ?”
Mereka bertiga saling pandang kemudian tersenyum.
“Rani mikirnya ada apa ?” Tanya Pak Yudha mengajak bermain teka-teki. Rania hanya
ternganga tidak tahu maksud kedatangan mereka.
“Nggak tahu, Pak. Sumpah Rani nggak tahu ada apa ?”
Pak Yuda kemudian mengeluarkan selembar surat dalam sebuah map dan menyerahkannnya
pada Rania. Rania menerima surat tersebut masih dengan perasaan heran.
Ia membuka surat itu perlahan-lahan, kemudian membacanya sambil tersenyum, matanya
bergantian memandang, sesekali memandang tulisan yang ada di depannya namun sesekali
memandang ketiga tamunya.
Ada rasa tidak percaya di benaknya.
“Kok bisa ?” Rania merasa takjub.
“Dilanjut dulu bacanya sampai selesai, baru kita berbincang.” Suara Pak Yudha menyejukkan.
Surat yang Rania pegang adalah surat pernyataan ikrar talak tertulis dari Pak Leo pada Rania.
Rania merasa hidupnya sedang berlimpah bahagia, ia tidak menyangka bahwa hari ini ikatan
yang membelenggunya akhirnya terlepas. Kebebasan itu kini ada dalam genggaman, bulu
kuduknya meremang membayangkan betapa indahnya hari-hari di depan. Hari dimana
dirinya punya hak mutlak menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa terikat pada Pak Leo lagi.
“Bagaimana caranya bisa dapat ini ?” Tanya Rania lagi.
“Pak Yudha yang tahu ceritanya.” Jawab Pak Budiman santai.
“Pak, Rani mohon, ceritakanlah.”
“Ran, dari dulu saya selalu bilang pada mu, bahwa Rani hanya boleh menikmati hasilnya saja
tanpa perlu mengikuti prosesnya. Prosesnya biar saya saja yang mengupayakan, sesulit
apapun itu. Dan secara kebetulan Allah telah menggariskan kemarin akhirnya Pak Leo
bersedia menulis itu.”
“Saya juga telah mengcopy menjadi beberapa, untuk dijadikan bukti bahwa kalian bukan
suami istri.”
“Cie, cie.” Suara Septia menggoda.
“Rani cukup menikmati hasilnya, urusan proses itu bagian saya. Romantis sekali....” tutur
Septia dengan tawa tersungging di bibirnya.
Rania dan Pak Yudha saling memandang tanpa bisa berkata apapun lagi. Akhirnya episodenya
bersama Pak Leo dapat terselesaikan juga. Episode yang banyak menguras eergi dan air mata,
episode yang banyak menyita waktu dan tenaga.
Ada bening yang tiba-tiba menetes di pipi halus milik Rania, ia merasa terharu dengan
kejadian hari ini, betapa perjuangannya menunggu selama lima tahun berjalan akhirnya
mendapat jawaban.
“Pak Yudha, Pak Budiman juga Septia, terimakasih ya.” Rania bicara sambil menunduk. Ia
menggigit bibirnya dengan kuat. Seolah ada sesuatu yang ingin ia tahan agar tidak
termuntahkan.
Air mata, ya, ia sedang menahan air matanya agar tidak keluar dan menetes begitu saja.
“Jangan menangis lagi, Ran.” Suara Pak Yudha mendadak parau. Pak Yudha adalah saksi hidup
perjalanan dan kisah sedih Rania.
Pagi ini terasa begitu indah, dari langit mendadak turun gerimis. Satu-satu titiknya
menorehkan kisah tentang kedamaian dan kesyahduan. Cerita tentang masa lalu
menyedihkan milik Rania dan Pak Leo akan segera selesai. Berharap kebahagiaan akan datang
menghampiri Rania dengan segera.
“Aku janji, bila saatnya tepat akan ku ceritakan pada mu bagaimana akhirnya aku bisa
mendapatkan ikrar talak dari Leo untuk mu, Ran.” Pak Yudha dengan sangat tangguh
mengucapkan kalimat itu dan Rania pun hanya mengangguk tanpa protes. Langkah kakinya
ringan kini, ia tak lagi merasa terikat pada perjanjian suci yang termentahkan oleh rasa sakit,
pengkhianatan dan pembodohan.
Terimakasih Pak Yudha, telah mengusahakan semua ini. Pekik hati Rania tanpa bisa
terucapkan.
SEBUAH LAMARAN
Rania duduk di gazebo paling ujung dari kampus megah ini, ia menikmati setiap lantunan
musik yang ia dengar dari bilik hatinya. Rania mengikuti liriknya, lirik sedih berisi secarik rindu.
Akhirnya ia kini menjadi ‘janda’, tanpa ucapan selamat tinggal, tanpa senyuman pahit, tanpa
mata penuh harap dan tanpa jabat tangan pnuh keharuan.
Ya, Pak Leo akhirnyameloloskan keinginan Rania untuk bercerai tanpa Rania ketahui apa
dasarnya. Mengapa ia yang kemarin kokoh mendadak mau meuliskan ikrar talak untuk Rania.
Surat yang hanya dititipkan pada Pak Yudha kemudian diantar oleh beliau ke rumahnya.
Rania menyandarkan kepalanya diantara tiang-tiang gazebo yang terbuat dari kayu jati, ada
pohon pinus di hadapannya yang bergerak seiring semilir angin. Ia pernah menjadi wanita
yang di manjakan di awal-awal pernikahannya bersama Pak Leo. Ia pernah menjadi wanita
yang menikmati sentuhan lembut dan tatap mata kagum dari suaminya itu. Dulu, dulu sekali,
sebelum tragedi perebutan rasa ini terjadi. Hingga Rania harus memilih bersekutu dengan
rasa sakit dan kehilangan.
Ach, wajah bening putra lelakinya yang harus merenggang nyawa dan di letakkan di atas meja
kayu ruang tamunya nampak di kejauhan. Usianya sudah lima tahun sekarang, anak lelaki
tanpa dosa itu harus mati karena kebodohan orang tua yang melahirkannya. Anak lelaki itu
melambaikan tangan pada Rania, seolah sebagai ucapan selamat berpisah. Rania merasakan
ngilu di ujung-ujung permukaan hatinya. Hingga ia harus menarik nafas dalam-dalam
kemudian menghembuskannya. Lambaian tangan putra kecilnya belum hilang meski ia
semakin menjauh meninggalkan rania yang mulai terisak, ia iut bersama anak lelaki kecil
lainnya berlarian dengan baju putih dan celana panjang putih. Anak itu pergi membalikkan
badannya sambil meninggalkan senyuman. Seolah ia sepakat dengan keputusan Rania
bercerai dengan ayahnya.
Andai Pak Leo mau menceraikannya dengan cara yang baik, mungkin mereka masih bisa
bersahabat. Mereka bisa duduk bersama sebagai kawan yang baik. Mereka bisa saling
memberi semangat melalui hidup yang berat. Sayangnya Pak Leo tidak mau melakukannya.
Seseorang mendekat, ia duduk di samping Rania, seseorang dengan wajah kukuh dan kaca
mata minus serta rambut berombak. Seseorang yang kemarin mengabulkan keinginan
terbesarnya. Seseorang yang dulu menjadi tongkat bagi Rania, seseorang yang dengannya
Rania pernah berkomitmen bahwa mereka sepakat untuk tidak boleh jatuh cinta demi
kebaikan mereka berdua. Seseorang itu kini duduk di samping Rania. Ia memandang Rania
dengan pandangan yang sama seperti beberapa tahun yang lalu.
“Ran,” panggilnya.
Rania menoleh sekilas kemudian menatap jauh ke depan.
“Kamu merindukan seseorang ?”
Rania menunduk, kali ini sangat dalam.
“Berpisah dengan seseorang yang pernah mempunyai ikatan suci dengan kita memang tidak
mudah Ran, kita sering lebih mengutamakan ego agar keinginan kita untuk berpisah
terlaksana. Sebelum perpisahan itu tiba kita seperti seseorang yang demikian kuat tetapi
faktanya ketika perpisahan itu benar-benar datang, kita menjadi rapuh juga lemah. Aku
merasakannya, Ran. Tepatnya aku pernah merasakannya.”
Pak Yudha menyeka ujung pelupuk matanya dengan sapu tangan berwarna merah hati yang
dulu digunakan Rania untuk menghapus air matanya. Rania terperangah.
“Sapu tangan itu ?” Tanya Rania.
“Aku menyimpannya, Ran.”
“Untuk apa ?”
“Untuk mengenang mu,”
“Saya ?” Tanya Rania lagi.
“Iya, Ran.”
“Sejujurnya aku mengagumi mu, mengagumi betapa gigihnya kamu melewati semua
penderitaan yang di kirim Tuhan sebagai ujian cinta mu pada Nya. Aku belum pernah
menemukan kegigihan yang sama di mata wanita lain.”
“Aku masih ingat saat kamu terjungkal di depan ruang pasca sarjana hanya demi mengejar
suami mu, aku menangis saat itu, Ran. Aku ingin membela mu, tapi sayang, dedikasi ku
terhadap jabatan yang ku emban membuat aku menjadi lelaki bodoh. Terlebih lagi aku
mempunyai rumah tangga yang harus ku jaga, hingga aku memilih bersembunyi di balik
dinding dan tak melihat mu. Aku melihat gaun mu penuh lumpur karena saat itu sedang
musim penghujan. Aku hanya melihat mu, melihat kamu pergi seperti peri di isah telenovela.
Kamu menaiki angkutan umum dengan baju kotor mu. Aku ingin sekali mengantar mu dengan
mobil ku namun sekali lagi aku tidak mampu melakukannya. Aku salah saat itu.”
Rania tersenyum kecut, ia menggoyang-goyangkan kakinya sambil tetap duduk diatas gazebo.
“Lupakan saja, Pak.” Hanya itu yang bisa Rania ucapkan.
“Aku tahu kebengisan Leo memperlakukan mu, Ran. Namun aku tahu itu semua terjadi karena
dia mencintaimu.”
Rania memandang wajah Pak Yudha.
“Mohon jangan katakan apapun tentang Pak Leo,” pinta Rania sungguh-sungguh.
Mereka berdua terdiam, saling melepas pandang pada hamparan tanah lapang. Seolah ada
yang ingin mereka sampaikan namun tertahan.
“Ran,” suara Pak Yudha lagi.
“Iya”
“Kamu tidak ingin melihat ku sebentar ?”
Raniamembalikkan badan hingga ia tepat melihat lelaki di sampingnya.
“Ran, selama kita bareng kamu pernah nggak kangen aku ?” Rania seperti tersengat ribuan
voltase arus listrik.
“Bukannya kita tidak boleh jatuh cinta, ya ?” Rania mengingat kan.
“Andai boleh ?”
“Entah.” Hanya itu yang sempat Rania jawab.
“Aku tahu saat ini ada nama lain yang kamu rindu kan kehadirannya, selain Leo. Aku tahu itu.”
Rania menatap Pak Yudha tidak percaya.
“Aku siap menemuinya demi memintamu mendampingi ku.”
“Maksudnya ?”
“Aku melamar mu, Rania.”
Rania terpana, ia tidak menyangka lelaki yang beberapa purnama sering mengajaknya
berbincang ini melamarnya. Lelaki yang terlanjur ia anggap sebagai bapak, kakak dan sahabat
kini meminangnya menjadi istrinya. Rania seperti terhipnotis hingga ia tidak mampu bersuara.
“Ran,”
“Aku serius.”
Rania memandangnya lagi, tubuh Rania bergetar, ia tidak menyangka akan menerima
lamaran dari Pak Yudha seseorang yang selama ini hanya mampu ia kagumi.
“Menikahlah dengan ku,” suara Pak Yudha sambil memberikan sebuah tas mungil bercover
bening.
Rania membuka tas tersebut dengan kekaguman, sebuah mukenah putih dan Al-Qur’an
mungil. Rania tersenyum lagi kali ini sambil menggigit bibirnya.
“Aku tidak ingin lelaki lain mendahului ku, Ran.” Ucap Pak Yudha sambil mengenakan
mukenah itu di kepala Rania. Beberapa pasang mata sepertinya sedang melihat romantisme
mereka berdua. Termasuk Pak Budiman dan Septia.
“Kamu belum menjawab ku, Ran.”
“Ijinkan aku menyelesaikan urusan ku, untuk menyempurnakan agama ku dulu. Aku harus
melewati masa Iddah ku.”
“Aku akan menunggu mu, Ran.” Jawab Pak Yudha. Rania pun melempar tawa kecilnya.
“Tentang rindu mu yang lain, aku yang akan memohon ijinnya, percayalah.”
[8/12 11:46] Rarashasha: PEMBICARAAN TENGAH MALAM
Saat ini Rania rindu pada Pak wahyu nya, namun sayang Pak Wahyu sepertinya sengaja
menjauh. Biasanya beliau akan menghubungi Rania di pagi hari, siang hari dan malam
sebelum Rania tidur. Begitu saja sudah cukup membahagiakan Rania. Rania tidak memita
apapun, ia hanya minta sepucuk perhatian itu saja. Sayangnya Pak Wahyu justru mejauh.
Sedangkan ada banyak cerita yang igin Rania sampaikan pada Pak Wahyu. Cerita tentang ikrar
talak yang telah di berikan Pak Leo padanya, cerita tentang bahagianya ia saat ini, juga cerita
tentang Pak Yudha yang tiba-tiba melamarnya dan sebongkah cerita tentang kerinduan yang
selama ini melanda dirinya. Tapi Pak Wahyu seolah hilang, mungkin penolakan yang pernah
beliau sampaikan atas sikap manja Rania coba beliau wujudkan dengan cara ini. Dan Rania
memilih diam. Ia tidak ingin menambah lukanya dengan menghubungi Pak Wahyu, Rania
takut rindunya terpeti es kan.
Malam yang dingin ketika ada panggilan di ponselnya.
“Septia, sudah malam ada apa ?”
“Video Call yuk, Kak.” Ajaknya.
“Ada apa kok tumben.” Kemudian Septia mengganti panggilannya menuju panggilan video.
Betapa terkejutnya Rania saat melihat Septia duduk di samping Pak Budiman.
“Septia dimana ?”
“Aku di kampus, kak.”
“Malam-malam begini ada apa ?”
“Nunggu Pak Budiman.”
“Lha itu Pak Budiman sudah di samping mu.”
“Iya, sebentar lagi kami pulang.’
“Duhhh, yang lagi selesai di lamar, bahagianya.”
Rania tersipu,
“oh jadi ngajak V-Call buat ini ?” tanya Rania.
“Sebagiannya iya, sebagiannya nggak.”
“Gimana, Kak. Diterima nggak ?’
“Sepertinya nggak, Septia.”
“Lho kenapa ?”
“Aku tidak akan mengulang kisah ku dengan Pak Leo dengan menikahi lelaki yang telah
berkeluarga.”
“Siapa berkeluarga ?” Tanya Pak Budiman cepat.
“Pak Yudha,”
“Ach, istri beliau meninggal sejak dua tahun yang lalu.”
Rania nampak sangat kaget.
“Itu sebabnya beliau melamar bu Rani, beliau sanggup menunggu bu Rania sampai selesai
masa iddah.”
Rania makin terpana. Rania sama sekali tidak mengerti bahwa istri Pak Yudha telah berpulang
sejak dua tahun yang lalu.
“Dan satu lagi, Bu Rania yang baik hati. Pak Yudha sangat mengenal Pak Wahyu.”
“Apa ?”
“Saya membocorkan rahasia ini dengan harapan Bu Rania tidak salah dalam mengambil
keputusan.”
Rania tercengang dengan apa yang sudah di ceritakan Pak Budiman dan Septia pada dirinya,
terlalu banyak hal yang ia tidak tahu menahu, hingga tentang hubungan persahabatan Pak
Yudha dan Pak Wahyu. Pantas saja tadi pagi Pak Yudha menyindir tentang hal itu. Banyak hal
yang Rania tidak tahu ternyata hingga Rania merasa begitu bodoh.
Rania merasa dunia demikian sempit baginya saat ini.
“Hallo, Kak.” Suara Septia mengagetkannya.
“Iya, ada apa ?” Jawab Rania.
“Jadi bagaimana ?”
“Aku sudah sampaikan akan bertemu lagi dengan Pak Yudha setelah masa iddah ku selesai.”
“Begitu lama ?” Tanya Septia lagi.
“Iya, Septia.”
Malam semakin larut hingga Septia meminta ijin pada Rania untuk menutup perbincangan
mereka.
Rania merasa terlalu banyak teka-teki dalam kehidupannya saat ini, teka-teki yang
sebenarnya sangat ingin ia ketahui namun demi kebaikan semuanya ia harus rela menunggu
saat yang tepat teka-teki itu terpecahkan.
Rania menjadi gamang.
Ia demikian kesepian, batinnya meronta membutuhkan teman berkisah, teman yang
memberikan centang biru pada setiap chatnya kemudian menjawab chatnya dengan jawaban
mesra. Teman yang kemarin menyemangatinya, teman yang menolak rasa yag sempat ia
sampaikan. Teman terkejam yang ternyata lebih memilih pergi daripada menemaninya disini.
Rania begitu sedih.
Demikian sulitkah berharap sedikit cinta pada mereka yang telah berkeluarga. Rania tidak
ingin menghancurkan hidup mereka, Rania hanya ingin mnta sedikit cinta saja. Agar dirinya
menemukan tempat berbagi kisah bahkan tanpa menuntut sebuah pernikahan. Semua itu
pernah Rania sampaikan pada Pak Wahyu nya, sayangnya Pak Wahyu memilih pergi
meninggalkannya, bahkan tanpa secarik pesan.
Rania tertidur.
Tengah malam, saat ia terbangun dan hendak menjalankan sholat malam, Rania menyambar
handphonenya. Ia mecari gambar Pak Wahyu namun tak di jumpainya. Rania mencoba
mengetikkan nama beliau. Tapi nihil, nama itu sudah tanpa foto profil bahkan sudah tanpa
whatsapp lagi. Rania gemetar. Sedemikian tinggikah tembok itu dibangun untuk dirinya yang
tidak terlalu tinggi. Bagaimana ia akanmelewati tembok itu bila untuk menengok sajasudah
tak mungkin. Rania terisak, ia terisak-isak sendiri di kamarnya yang sepi. Ia membungkus
rindunya dengan kafan putih berharap segera dapat melupakannya dan menganggapnya
mati.
SEBUAH KEPUTUSAN
Sudah hampir dua bulan Rania tidak menjumpai Pak Yudha kecuali hanya mendengar
kisahnya dari video call antara dirinya dengan Septia dan Pak Budiman. Dan dari rumahnya
juga Rania tahu bahwa Septia telah lama putus dengan Arifin hanya karena Arifin ingin
menciumnya saat mereka kencan berdua. Saat ini Septia telah menerima ucapan rasa cinta
dari Pak Budiman.
Pak Budiman lelaki yang baik bagi Septia, lelaki yang mencintai Septia apa adanya, lelaki yang
tidak pernah mengajak Septia untuk melakukan sesuatu yang dilarang agama. Begitu
penuturan Septia saat mereka bicara di malam-malam panjang. Rania mendapat informasi
tentang banyak hal dari Septia. Rania bersyukur pernah mengenal gadis dengan dagu belah
itu.
“Pak Budiman adalah sosok yang mempesona bagiku, mungkin juga bagi semua wanita.”
Cerita Septia suatu malam.
Ach, Rania menikmati masa iddahnya, mensucikan dirinya untuk dapat kembali bersih saat
berada di sisi Tuhannya.
Rania menikmati kesepiannya dengan menulis, berkisah tentang kisah yang panjang,
membagi derita dan suka nya dalam bait-bait kalimat yang di nikmati oleh banyak orang.
Rania berharap, tulisan-tulisannya dapat menginspirasi banyak orang nantinya. Rania selalu
berharap, hidupnya akan menjadi berarti.
Rania menuangkan dukanya dalam kisah, dan hal yang paling indah adalah ketika ia
mendapatkan komentar dari para pembacanya.
Malam ini adalah malam ke enam puluh satu,
Sudah saatnya Rania memberikan jawaban pada Pak Yudha. Rania menimang ponselnya,
memberi jawaban saat ini akan berdampak bagi hidupnya beberapa waktu ke depan. Rania
tidak boleh salah melangkah.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam.”
“Sedang dimana, Pak ?” Tanya Rania.
“Di rumah, kenapa Ran ?”
“Rani, ingin bicara.”
“Kapan ?”
“Kalau sekarang tidak merepotkan, sekarang nggak masalah.”
“Oke, tunggu ya, insyaAllah satu jam lagi aku sampai disana.”
Rania menutup bincangnya dengan mengirimkan emoticon senyum.
Rania mematut dirinya di depan cermin, melihat satu dua kerut di wajahnya yang mulai
timbul. Rania sadar, usia telah mengambil sebagian dari kecantikannya hingga kerut-kerut itu
pun muncul.
“Aku sudah tidak mudah lagi, “ seru Rania di depan cermin.
“Meski berbagai perawatan telah aku lakukan tetap saja wajah ini menampilkan kerutan yang
tidak mau hilang.” Rania semakin menyadari usia telah membuat dirinya pasrah pada
keadaan. Ia harus membuat sebuah keputusan yang tepat untuk dirinya dan masa depannya.
Berawal dari itu juga lah Rania mengundang Pak Yudha datang ke rumahnya hari ini.
Rania mematut dirinya di cermin, ia mencoba mengenali wajahnya sendiri. Lama nian ia tidak
berkomunikasi dengan wajahnya hingga ia lupa dirinya siapa. Sebuah gaun warna tosca
bermotif melati putih ia keluarkan dari lemari pakaiannya. Tiba-tiba tangannya tidak sengaja
menyentuh kotak berwarna ungu dan membuatnya terjatuh. Beruntung kotak itu terjatuh di
atas karpet bulu tebal yang berada di kamar Rania hingga saat isinya keluar ia tidak pecah.
Jam tangan hadiah dari Pak Wahyu saat pertama kali beliau datang ke rumah ini nampak
muncul menyembul dari kotaknya. Rania mengambilnya dengan hati-hati.Sejak Pak Wahyu
menutup akses antara dirinya dengan Rania maka sejak itu Rania tidak lagi mengenakan jam
tangan tersebut.
“Hanya akan menambah rindu ku.” Begitu desisnya ketika untuk pertama kalinya ia
meletakkan jam tangan tersebut.
Kini Rania benar-benar tidak mengenakannya lagi, ya, sejak hari itu.
Rania merapikan lagi jam tangan tersebut dalam kotaknya dan meletakkannya kembali dalam
lemari. Suatu hari nanti bila rindunya tiba, ia akan membukanya kembali.
“Assalamualaikum, Bu.” Suara Sri terdengar dari luar.
“Waalaikum salam, ada apa mbak Sri ?” Tanya Rania sambil membuka pintu kamarnya.
“Ada tamu , Bu. Tapi bukan pak Dosen yang sering membuat ibu menangis.” Rania pun
tersenyum mendengar penjelasan dari Sri.
“Tolong disuruh tunggu, ya. Sambil tolong buatkan jahe hangat untuk beliau.” Pinta Rania
pada Sri pembantunya. Sri mengangguk kemudian pergi meninggalkan kamar Rania.
Rania pun berdandan, mengenakn baju yang ia pilih kemudian menyapukan bedak tipis di
wajahnya dan lipstik berwarna pink menyala. Rambut ikal berwarna pirang miliknya ia biarkan
tetap tersanggul, kemudian ia tutupi dengan kerudung panjang berwarna senada. Rania
muncul menuju pandangan Pak Yudha, beliau nampak terpana melihat Rania dalam tampilan
yang berbeda.
“Apa kabar, Ran ?” Tanya Pak Yudha menyembunyikan kegugupannya.
“Kabar baik, Pak.”
“Ada apa ? sepertinya ada yang penting.”
“Rani hanya ingin menanyakan perihal lamaran bapak yang tempo hari .”
Pak Yudha mengangkat satu alis matanya.
“Kamu ingin katakan kalau kamu menolak saya, kan Ran ?” Tanya Pak Yudha nampak pesimis.
Rania diam, ia menunduk. Hatinya terhanyut pada semua kenangan bersama lelaki ini,
kenangan lima tahun yang silam, kenangan pahit yang akan terus Rania jadikan pelajaran.
Rania mengangkat wajahnya, kemudian berkata.
“Rani menerimanya, Pak.” Pak Yudha menatap mata Rania tidak percaya, ada haru di wajah
mereka.
“Kamu serius mau menjadi istri ku, Ran ?’
“Rani yang seharusnya tanya apakah bapak serius menikah dengan Rania ?” Mereka saling
memandang dalam kesyahduan.
Sri datang, membuyarkan senyum mereka. Sri meletakkan segelas air jahe hangat di atas
meja.
“Silahkan, Pak.”
“Kok tahu kalau saya suka jahe ?” tanya Pak Yudha.
“Bu Rani yang menyuruh saya artinya Bu Rani tahu kesukaan Bapak.” Sri bicara banyak hari
ini dan itu tidak biasa ia lakukan.
Pak Yudha dan Rania tersenyum mendengar penjelasan dari Sri. Mereka merasa kecolongan
hari ini.
“Selamat ya, Pak.” Kata Sri tiba-tiba.
“Selamat untuk apa ?” Tanya Pak Yudha heran.
“Selamat akhirnya bapak berhasil menaklukkan hati ibu.” Sri bicara sambil senyum-senyum
dan berpamitan untuk melanjutkan tugasnya.
Pak Yudha memandang wajah Rania, ada merah di pipinya, Rania hanya menunduk malu. Hari
ini bahkan cicak di rumah mereka pun iri menatap mereka berdua. Betapa kisah cinta yang
panjang itu pun akhirnya berlabuh.
“Ran,”
“Iya.”
“Terimakasih ya.”
“Untuk apa ?”
“Karena kamu telah menerima ku.”
“Rani juga terimakasih.”
“Untuk apa ?” tanya Pak Yudha lagi.
“Telah memilih Rania.”
“Ach kamu,” senyum mereka berpendar-pendar memenuhi ruangan, bahkan aneka bunga di
luar sana pun ikut menikmati bahagia yang mereka rasakan.
“Hari ini aku harus cepat pulang, Ran. Aku ingin kita menikah dalam minggu ini.”
“Kenapa secepat itu ?”
“Aku tidak ingin membiarkan hati mu menunggu Rani.”
Oh Tuhan, wanita mana yang tidak berbunga-bunga menikmati sajian itu.
Pak Yudha meminum air jahenya, kemudian berdiri.
“Aku pulang, sayang.” Katanya cepat.
Rania hanya mengangguk.
“Bolehkan ku panggil sayang.”
“Ach,” sergah Rania sambil mendorong mundur tubuh gagah calon suaminya.
“Aku janji akan jadi imam yang baik untuk mu.”
“Semoga.”
“Assalamualaikum.”
Pak Yudha melangkah pergi dari rumah Rania, dengan hati yang berbunga-bunga. Sungguh ia
merasa lega hari ini. Ia berjanji akan menyiapkan semua sesempurna mungkin.
“Rania harus bahagia.” Pekiknya sambil menghidupkan mobilnya dan melambaikan tangan
pada Rania yang mematut cantik di beranda dengan senyum indahnya.
Ada tembang yang berdentang di rumah yang tadinya sepi ini. Rania berjanji ia akan buat
keluarga kecil yang paling bahagia di dunia apapun kekurangan suaminya kelak.
Semoga.
PERSIAPAN PERNIKAHAN
Lembayung senja masih bersinar ketika Pak Budiman, Septia juga Pak Yudha telah hadir di
rumah Rania. Mereka datang untuk membahas pesta pernikahan antara Rania dengan Pak
Yudha. Rania nampak sibuk menimang-nimang contoh undangan yang ada di hadapannya.
Musim pandemi saat ini memang tidak di perbolehkan mengadakan pesta dan membuat
kerumunan, masih sangat rawan, untuk itu Rania dan Pak Yudha sepakat hanya mengundang
beberapa orang saja untuk datang ke pesta mereka di gedung. Beberapa dari kawan dan
kerabatnya di persilahkan datang ke rumah Rania, maka otomatis di rumah pun akan di tata
sedemikian rupa.
Mereka masing-masing sedang sibuk dengan persiapan dan perhitungan rencana biaya yang
akan dikeluarkan, sedangkan waktunya hanya tinggal satu bulan lagi.
Rania menatap heran dengan jumlah yang tertera disana, seratus lima puluh tujuh juta hanya
untuk sebuah pesta pernikahan seorang Rania, Rania menghempaskan tubuhnya di sandaran
kursi yang tertata apik di ruang tamunya, biaya tersebut belum termasuk tiket pulang pergi
keluarga Rania.
Pak Yudha terkejut menatap ekspresi wajah Rania,
“kamu kenapa ?”
Rania menggoyang-goyangkan catatan yang ada di tangannya sambil kebingungan.
“Sebanyak ini ?”
“Ya, dan semua aku yang mempersiapkan.” Ujar Pak Yudha meyakinkan.
“Aku tahu, tapi apa tidak terlalu banyak ?.”
“Itu setara dengan harga saat ini, Ran.”
“Hotel ini untuk apa ?”
“Untuk malam pertama kita.” Dengan takut-takut mulut Pak Yudha berkata.
Rania menggelengkan kepala, terasa berat baginya menyetujui anggaran biaya yang tertera
di kertas putih yang saat ini ada di genggamannya, terbayang hidupnya yang sempit selama
bertahun-tahun dahulu. Uang sebanyak itu akan sangat bermanfaat. Rania menatap wajah
tiga orang yang berada di hadapannya secara bergantian, mereka pun menatap Rania.
Sepertinya masing-masing dari pemilik kepala ini sama-sama bingung hendak memulai seperti
apa. Di satu sisi Pak Budiman memaklumi apa yang ada di pikiran Rania dan di sisi lain Pak
Budiman memahami apa yang ada di pikiran Pak Yudha dengan membuat pesta semeriah itu.
Dalam hidup Rania dahulu ia begitu sulit mencari uang, jangankan nominal ratusan juta
seperti yang tertera. Untuk sekedar makan pagi saja ia harus berjuang, meskipun pada
akhirnya atas kebaikan Tuhan Rania mendapatkan jalan keluar tetap saja semua harus di
upayakan. Akan sangat membahagiakan bila saat membutuhkan tiba-tiba seseorang
mengirimkan uang tanpa di minta, saat itu rasanya luar biasa. Hanya Rania yang bisa
merasakan. Detik-detik itu memang telah terlewati namun bukan berarti Rania bisa
melupakan begitu saja. Hal tersebutlah yang membuat Rania lebih hati-hati dalam melangkah
saat ini. Berangkat dari itu jugalah Rania tidak ingin kehidupan di sekitarnya saat ini
merasakan apa yang dia rasakan dulu, itu juga alasan mengapa saat ini Rania lebih gigih
menyelamatkan orang lain.
“Oke, kalau memang ini yang terbaik. Aku ada sedikit tabungan sepertinya akan manfaat bila
di gunakan.” Rania menarik handphonenya bermaksud hendak mentransfer sejumlah uang
kepada Pak Yudha.
“Kamu mau apa ?” tanya Pak Yudha.
“Transfer uang.”
“Untuk apa ?”
“Lho, untuk pesta pernikahan ku dong.”
“Ran, uangnya sudah ada. Kamu tenang saja.” Pak Yudha meyakinkan sambil menyentuh
ujung jari Rania. Rania menunduk, ia terharu diperlakukan begitu rupa. Betapa Tuhan Maha
Baik telah mengirim Rania menuju titik terbaik.
Septia dan Pak Budiman yang sedari tadi mematung merasa serba salah juga melihat adegan
romantis yang ada di depan matanya.
“Ehem, ehem.”
Pak Yudha tertawa kecil saat mendegar suara Pak Budiman.
“Sebentar, saya dan Septia juga ingin menyumbang nih, untuk pesta pernikahan senior dan
saudara saya.”
Pak Yudha nampak bingung.
“Ini bukan kontes amal, kenapa menyumbang.”
“Bukan nyumbang deh, hadiah.” Sahut Pak Budiman lagi.
Kemudian Pak Budiman mengirimkan screnshoot bukti transfer pada whatsapp Pak Yudha
dan Rania. Rania membuka pesan masuk dan melihat bukti transfer tersebut. Rania
membelalakkan matanya takjub melihat nominalnya, kemudian menunjukkan bukti transfer
itu pada Pak yudha.
“Sepuluh juta ?”
“Banyak sekali.” Pak Yudha mengarahkan pandangannya pada Pak Budiman. Dan Pak
Budiman pun tersenyum.
“Persahabatan ini semoga menjadi persahabatan yang kekal, sampai di surga.” Pak Budiman
bicara sambil menerawang.
“Satu lagi, kalau nanti saya dan Septia menikah, jangan lupa untuk hadir, ya.”
Wajah Septia memerah mendengar kalimat dari Pak Budiman. Rania tertawa terbahak-bahak
sampai Pak Yudha menegurnya. Sepanjang ia kenal Rania belum pernah ia mendengar Rania
tertawa seperti ini. Sepertinya Rania sangat bahagia.
“Oke, oke. InsyaAllah kalau itu.” Jawaban Rania masih dalam tawa.
Mereka kembali sibuk pada aneka persiapan, telphon kesana kemari. Rania melihat tumpukan
undangan yang sudah bertuliskan nama, matanya tertumpu pada satu nama di atas undangan
itu.
“Dr. Leo ?”
“who’s this ?” tanya Rania pada dirinya sendiri.
Pak Yudha melirik calon istrinya, ia tahu apa yang di tanyakan Rania.
“Kamu keberatan ? kalau keberatan singkirkan saja.” Rania bingung, apa juga untungnya
mengundang lelaki ini ? pikir Rania bingung.
“Paling tidak agar Pak Leo tahu bahwa bu Rania sudah menikah dan bukan dengan orang
sembarangan.” Tandas Pak Budiman.
Rania mencoba memahami pemikiran mereka, ia meletakkan kembali undangan tersebut di
meja. Rania memandang mereka semua. Ia kini bukan hanya fokus pada persiapan
pernikahan namun ia juga berfikir apa yang akan terjadi andai Pak leo benar-benar datang.
Lukanya belum sembuh benar, akan kah ia bisa menganggap hal tersebut sebagai hal biasa
atau malah membuat ia makin terluka. Rania pasrah. Ia berjibaku dengan pikirannya sendiri.
Mencari solusi akan kebingungannya sambil berserah diri kepada Tuhan.
HADIAH SEBUAH PESTA PERNIKAHAN MEWAH
Golden Tulip 5 Januari 2020, kamar 25.
Rania berada di dalamnya dengan seorang perias pengantin dan dua asistennya. Wajah Rania
di poles perlahan-lahan. Sampai usai. Kemudian sebuah gaun panjang berwarna putih yang
melekat dibadannya dengan bahan duchesse satin campuran sutra dan rayon yang di hiasi
taburan permata berwarna merah menyala senada dengan kalung yang melingkar di
lehernya. Bagian kepala Rania tertutup jilbab kalungnya tergantung di atas kain bajunya, ada
semacam mahkota kecil dengan liyer panjang. Baju itu nampak elegan, ditambah dengan
kerutan-kerutan tiga lapis yang membuat Rania nampak seperti putri raja.
“Cantiknya mbak, Rania.” Seru perias pengantin itu dengan tatapan takjub. Rania tersenyum
kecil. Tangannya yang terbalut heena berwarna silver masih dengan hiasan pernik cantik
merah menyala. Sesuai dengan dresscode hari ini, gaun putih dan merah menyala.
Rania turun, melintasi karpet merah lantai hotel. Pak Budiman menjemputnya sambil
menggodanya.
“Bisa pingsan mempelai pria melihat ini.”
“Jangan bercanda,”
“ach, manjanya seperti gadis saja.” Suara Pak Budiman makin riuh menggoda.
“Septia dimana ?” Tanya Rania.
“Dia disamping Pak Yudha.” Bisik Pak Budiman dengan ekspresi lucu sekali.
Mereka sampai juga di lantai yang menghubungkan antara lift dari kamarnya menuju ruangan
yang mereka sewa, beberapa keluarga Rania telah menunggu, mereka mengiringi Rania
berjalan menyusuri lantai berkarpet merah yang sudah dihias dengan bunga-bunga indah.
Baunya harum sekali. Sepertinya saat ini Golden Tulip menjadi milik mereka.
Disana, beberapa pasang mata menatap Rania dengan tatapan takjub. Ada banyak orang yang
menyangsikan Rania bisa tampil dengan balutan gaun semewah hari ini. Tapak kaki Rania
ringan namun pasti menuju kursi dan meja yang telah disiapkan untuk acara sakral
pernikahan. Disampingnya ada panggung untuk acara resepsi pernikahan mereka.
“Saya terima nikahnya Rania binti Hadi dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang
tunai sebanyak 50.120.200 di bayar tunai.”
“Sah?’
“Sah.” Para undangan yang hadir berteriak. Rania hampir pingsan mendengar nominal mahar
yang ia dapatkan, baginya jumlah itu sangatlah besar, sebesar tanggung jawab yang harus ia
emban untuk jadi istri yang baik. Rania menjabat lengan suaminya, mencium ujung lengannya
dengan khidmat dan Pak Yudha membubuhkan ciuman mesra di kening Rania. Undangan
yang melihat adegan tersebut bersorak sambil riuh bertepuk tangan. Betapa Rania telah
mendapat hadiah sebuah pernikahan yang indah dan sangat mewah hari ini, justru dalam
usianya yang sudah tidak mudah lagi .
Pak Yudha memapah Rania duduk di pelaminan, mereka berdua nampak serasi sekali,
kemesraan dan kasih sayang yang mereka pertontonkan melebihi pasangan remaja yang
sedang menjadi pengantin baru. Saling memandang penuh kekaguman, saling melempar
senyum dan tawa kecil. Para undangan pun menikmati sajian makanan yang terhidang, usai
hikmah nikah disampaikan. Beberapa dari mereka yang ingin segera pulang mendatangi
pasangan mempelai untuk berpamitan sedangkan sebagian yang lain nampak masih betah
berada di sana.
Tiba-tiba seseorang dengan batik mahal mendekat, Rania ingat wajah dan senyum itu, Rania
ingat kumis tipis yang khas itu, wajah yang sempat ia rindukan dan masih ia tunggu.
“Siapa yang mengundang beliau ?” tanya Rania lirih karena Rania sama sekali tidak melihat
nama beliau dalam daftar undangan yang kemarin di sodorkan oleh Septia padanya.
“Dia kawan dekat ku, Ran.” Bisik Pak Yudha. Belum sempat Rania menanyakan lebih banyak
lagi lelaki itu telah sampai di pelaminan dan berdiri tepat di depan Pak Yudha juga Rania.
Beliau memeluk Pak Yudha dengan pelukan hangat.
“Bahagiakan Rania.” Ucapnya sambil menepuk bahu Pak Yudha dengan gaya seorang sahabat.
Kemudian mata teduh itu menatap Rania tepat di bola matanya. Rania bingung, dadanya
makin keras bergemuruh. Ia ingin sekali marah karena merasa terjebak dalam situasi yang
tidak nyaman. Adegan ini seperti sudah di rencanakan. Seperti adegan film di salah satu tv
swasta saja. Rania makin gugup saat wajah itu makin dekat.
“Selamat ya, Rania. Jaga suami mu baik-baik. Satu lagi tidak usah gugup nanti sahabat ku akan
cemburu. Laki-laki seusia kami ini harusnya lebih bijak namun kenyataannya kami justru lebih
pencemburu dari pada yang muda.” Beliau berkelakar. Rania hanya diam terpana, bahkan
tersenyum pun ia tak bisa.
“Ran,” panggil Pak Yudha. Mereka bertiga berdiri melingkar.
“Aku mau bilang sesuatu, sebenarnya pesta pernikahan mewah ini adalah hadiah dari
sahabatku, Wahyu, untukku. Belakangan aku baru tahu bahwa ia menghadiahkan semua ini
ternyata buat mu. Yang dari aku hanya maskawin yang kamu terima tadi. “ Begitu penjelasan
Pak Yudha, jujur.
“Tidak usah di bahas. Yang pasti kami melakukan ini karena rasa kasih kami yang luar biasa.
Aku mengagumi perjuangan mu, Ran. Namun aku tidak kuasa berkhianat pada keluarga ku.
Dan aku tahu niat baik mu, namun akan makin sedih nantinya bila di tengah perjalanan
ternyata kamu tersakiti oleh aku.” Pak Wahyu mencoba menyentuh hati Rania dengan
penjelasannya. Namun sayang hal itu justru membuat Rania tertolak dan itu sakit, sangat
sakit. Pak Wahyu sudah menolaknya berkali-kali bukan hanya hari ini.
“Saat aku tahu ternyata sahabat ku ini mencintai mu bertahun-tahun yang lalu, aku langsung
setuju. Aku yakin ia akan membahagiakan mu. Lihat Ran, ia demikian tampan.” Pak Wahyu
menyentuh dagu Pak Yudha seperti sahabat kecil yang bertemu lagi saat mereka dewasa.
“Rani.” Panggil Pak Yudha saat tahu istrinya semakin enunduk. Ada bening yang coba Rania
tahan agar tak jatuh, karena ia tidak ingin pesta ini menjadi kacau karena air matanya.
Rania mengankat wajahnya, menatap Pak Wahyu dengan tatapan sayu, kemudian
mengangguk entah apa maknanya. Pak Wahyu mengambil posisi di samping Rania dan
meminta kameramen membidik mereka dengan beberapa bidikan kemudian Pak Wahyu
permisi turun dari pelaminan.
“Jangan pulang dulu.” Suara Pak Yudha sediit meninggi. Pak Wahyu hanya menangguk sambil
melanjutkan langkahnya. Ia tidak ingin menoleh lagi. Baginya saat ini ada hati yang ingin ia
jaga agar tak makin bergolak. Hati itu hati Rania.
SAAT PENDOSA ITU MENEMUKAN KARMA
Belum habis perasaan berdebar itu dari hati Rania, tiba-tiba pandangannya tertuju pada tamu
yang baru saja masuk ke ruangan dengan kursi roda. Samar-samar Rania menatap heran. Ia
mencoba menelisik pemandangan aneh itu dari tempatnya, sesekali pandangannya
bertabrakan dengan banyaknya tamu yang berseliweran, sesekali Rania melihat lelaki di kursi
roda yang sedang berjabat tangan dengan beberapa orang. Sepertinya dia sangat di kenal
oleh undangan yang ada di ruangan ini.
Rania merasa tidak tenang di pelaminannya, hatinya resah, pandangannya terus memburu
lelaki di atas kursi roda yang tidak terlalu nampak wajahnya.
Hingga tiba saatnya lelaki itu mendekat, di belakangnya ada seorang gadis muda berusia
sekitar dua puluh tahunan sedang mendorongnya. Kursi roda itu naik ke pelaminan, saat
Rania sedang berjabat tangan dengan beberapa undangan yang berpamitan pulang.
“Selamat.” Lelaki itu menjabat erat lengan Pak Yudha, dan Pak Yudha setengah menunduk
sambil mengucapkan terimakasih.
Pandangan lelaki itu beralih pada Rania, Rania merasa takjub, bulu kuduknya meremang.
‘Selamat bunda.” Suaranya. Rania menatap, lelaki yang selama ini gagah dan congkak hari ini
bicara sambil melemah, kecongkakannya seperti hilang, kesombongannya memudar. Lelaki
itu Pak Leo, lelaki yang selama ini tidak mau menceraikannya. Lelaki ini lelaki yang pernah
menjadi suaminya dan lelaki yang pernah menitipkan spermanya pada Rania.
“Terimakasih.” Jawab Rania dengan suara parau.
“Bunda, ini ada sesuatu yang ayah bawa untuk bunda.” Ia tetap memanggil bunda seolah ia
sama sekali tidak menganggap ada Pak Yudha di samping Rania yang saat ini telah menjadi
suaminya.
“Apa ini ?” Tanya Rania ketika ia menerima bungkusan itu dari tangan Pak Leo.
“Itu adalah hak bunda yang ayah simpan selama 65 bulan.” Rania bingung, antara menerima
atau tidak, ia mengarahkan pandang pada Pak Yudha yang berdiri di sampingnya. Pak Yudha
mengangguk pertanda setuju. Rania merubah posisinya dari berdiri menjadi duduk. Rania
berusaha mensejajarkan dirinya agar mudah berbicara dengan Pak Leo.
“Terimakasih untuk semuanya, tapi mestinya ayah tidak perlu repot begini. Ini bisa ayah
simpan untuk ayah saja.” Rania berusaha menetralisir suaranya dengan senyum tipisnya, di
hadapan mereka ada banyak mata yang menunggu episode selanjutnya antara Rania dan Pak
Leo, sebuah cerita yang pernah viral di jamannya.
“Itu hak bunda,itu uang belanja bunda yang ayah sisihkan setiap bulan namun sengaja tidak
ayah berikan agar bunda kembali pada ayah, ayah sangat mencintai bunda entah sampai
kapan. Selama ini ayah tidak percaya pada bunda karena ayah sangat takut bunda menjadi
milik orang lain dan bukan milik ayah bila bunda jauh dari ayah.” Pak Leo terisak, Rania merasa
iba, Rania bingung luar biasa. Pak Leo makin terisak. Pak Yudha duduk di samping kursi roda
Pak Leo.
“Saya mohon ijin untuk bicara dengan Rania, saya janji ini yang terakhir.” Pak Leo memohon
saat ia menyadari kesalahannya.
“Saat ini ayah telah di hukum Tuhan, kaki ayah lumpuh, tidak ada lagi yang bisa ayah
sombongkan. Ayah benar-benar minta maaf. Tolong bunda kirimkan alamat makam anak kita,
ayah segera akan kesana. Ayah ingin minta maaf pada kalian semua. Seorang pendosa seperti
ayah telah menemukan karmanya.” Rania mengangguk, ia juga ikut hanyut dalam situasi yang
terjadi saat ini. Pak Yudha telah turun dari pelaminan meninggalkan mereka untuk
berbincang. Bagi Pak Yudha tidak menjadi masalah mereka berbincang saat ini untuk
menuntaskan semua masalah yang pernah terjadi di antara mereka.
“Bunda sudah memaafkan semua yang ayah lakukan, bunda juga minta maaf tidak bisa
menjadi istri yang baik.” Ucapan Rania terbata-bata. Berkali-kali Rania nampak berusaha
menyeka air matanya.
“Tugas ayah sudah selesai, ayah mohon ijin untuk pamit, jaga diri bunda baik-baik. Sekali lagi
jangan lupa untuk mengirimkan alamat tempat anak kita dimakamkan.” Rania mengangguk.
“Ayah sebentar,” Rania meraih ponsel yang tergeletak begitu saja di kursi pelaminan nya.
Rania membuka galeri kemudian menunjukkan sebuah foto pada Pak Leo.
“Ini foto pertama kali anak kita lahir,” Pak Leo makin terisak. Ia merasa seperti lelaki bodoh
saat ini, ia tidak lagi bisa melakukan apapun bahkan untuk menebus kesalahannya. Impiannya
mempunyai rumah tangga bersama Rania telah hancur karena ulah dan cara berpikirnya
sendiri. Selama ini Pak Leo selalu berpikir bahwa dirinya adalah yang paling benar, bahwa
Rania adalah wanita pembohong yang akan menghabiskan hartanya faktanya ia telah salah.
Selama ini Pak Leo selalu berfikir bahwa Rania tidak serius dengannya ternyata ia salah.
Harapannya bisa melihat Rania dan putranya duduk di beranda sepulang ia kerja telah hancur
kini. Mimpi itu tidak akan pernah terwujud. Ia merasa sangat hancur. Hatinya perih. Ia terisak-
isak seperti anak kecil. Ia baru sadar bahwa ternyata Rania adalah wanita yang sangat ia cintai
melebihi harta dan jabatannya.
“Bunda... maafkan ayah.” Pak Leo pergi, ia meminta putri cantiknya membawanya pergi dari
ruangan itu. Ia pergi tanpa melihat siapapun lagi. Rania menatap kepergian mantan suaminya
dengan hati hampa.
Betapa cinta dan perkawinan telah Pak Leo pertaruhkan demi harga diri dan nama baik.
Betapa pernikahan sirri yang sempat ia lakukan tidak mampu ia pertanggung jawabkan.
Kehidupan telah mempermalukan mereka, cinta telah menghancurkan mereka. Hingga
mereka berada dalam kenestapaan yang sangat dalam.Cerita hidup tak akan bisa diulang, rasa
manis dari sebuah hubungan hanya bisa dikenang demikian juga dengan kepahitan yang
pernah terciptakan. Kisah Pak Leo dan Rania telah berakhir namun pelajaran tentang kisah
mereka akan mereka tularkan pada anak-anak mereka tentang betapa pentingnya menjaga
dan memperjuangkan rasa, tentang betapa pentingnya menjadi pemberani, tentang betapa
buruknya menjadi seorang pecundang.
Pak Yudha mendekati istrinya, memeluk pundak dari tubuh kecil wanita yang dikaguminya
bertahun-tahun yang lalu. Ia berjanji akan membahagiakan wanita ini sepanjang hidupnya.
Janji itu ia ucapkan dari kedalaman hatinya sambil mendaratkan ciuman kecil di kening Rania.
Semua undangan nampak riuh bertepuk tangan menyaksikan adegan romantis tersebut.
BAHAGIA DALAM CANDA
Usai pernikahan mewah itu digelar, Rania kini telah resmi menjadi istri pak Yudha.
Dalam kamarnya yang indah, Rania benar-benar dimanjakan.
Saat ini ia memang belum menyerahkan hatinya sepenuhnya pada Pak Yudha suaminya,
namun Rania yakin, dengan berjalannya waktu ia akan mencintai suaminya.
Pak Yudha mendekati Rania, beliau tersenyum sangat ramah, tatapan matanya sejuk, teduh,
menenangkan. Dari dulu hingga sekarang senyum itu tidak berubah meskipun wajahnya
tertawan usia.
Rania mencoba menyandarkan kepalanya di dada bidang lelaki yang usianya hampir lima
puluh lima tahun ini. Rania mencoba mengusir rasa canggung di hati suaminya
Pak Yudha mendekap tubuh mungil Rania hingga Rania benar-benar tenggelam di dalam
pelukannya.
Tangan kekar itu membelai rambut istri tercintanya. Rania pun kian memanjakan diri dalam
pelukan lelaki halalnya.
Hari ini, mereka berdua telah menjadi dua orang yang halal di mata Tuhan. Jadi tidak ada
yang perlu ditakutkan lagi.
Sebenarnya dulu mereka berdua telah memiliki rasa yang sama, rasa yang demikian kuat,
namun rasa itu mereka penjarakan demi menjaga hati banyak orang.
Hingga kemudian Rania terjebak pada cinta seorang Leo, Pak Yudha terus mengiringi Rania
meski hanya melalui perhatian-perhatian kecilnya, dan itulah yang membuat Pak Yudha dan
Rania menjadi terikat secara emosional.
Bagi Pak Yudha sendiri, menikah dengan Rania adalah hal terindah.
Seperti Muhammad dan Aisyah begitu ia menganalogikan cintanya.
Usia yang terpaut delapan belas tahun membuat Rania bebas bermanja pada Pak Yudha dan
Pak Yudha pun seperti sedang bercengkrama dengan cinderella, pernikahan yang luar biasa
indah.
Episode bercinta pun terlewati sudah, mereka terlelap masih dalam posisi saling mendekap.
Tengah malam saat Pak Yudha terbangun beliau mencium kening istrinya dengan lembut.
Memandangi wajah cantik yang terlalu sering menderita.
"Aku akan menjaga mu, isteri ku. "
Pak Yudha membiarkan lengan kirinya tetap berada di bawah leher istrinya, ia tidak ingin
bergerak karena khawatir isteri tercintanya terbangun.
Menikahi Rania adalah hadiah bagi Pak Yudha. Hadiah dari kehidupan padanya, bagaimana
tidak? Rania bisa menjadi adik, menjadi kekasih juga menjadi pengobat hati baginya.
Mereka pun kembali terlelap, terbius rasa bahagia yang membuat mereka melambung.
Hingga saat alarm tahajud di ponsel Rania menyentil kesadaran mereka berdua.
Rania terbangun, hendak berdiri menuju kamar mandi.
"Mau kemana? " tanya Pak Yudha mengagetkan Rania.
"Ke kamar mandi, mau mandi terus tahajud. "
Pak Yudha nampak membetulkan posisinya, beliau duduk di samping Rania,
"kita tahajud bareng, yuk. "
"Boleh. "
Sajadah panjang itu telah digelar, Pak Yudha menjadi imam sholat malam Rania kali ini.
Episode percintaan dengan Sang Pencipta yang dulu Rania lewati sendiri kini sudah ada yang
menemani.
Rakaat demi rakaat terlewati. Rania hanyut dalam doa yang dilantunkan suaminya.
Air matanya mengalir, tapi kali ini bukan air mata duka, melainkan air mata haru dan bahagia,
betapa Tuhan telah memberikan hadiah yang luar biasa dalam hidupnya yang sempat carut
marut karena ilmu yang tidak dimiliki.
Rania mejabat lengan suaminya kemudian mencium lengan itu lembut.
Mereka saling melempar senyum.
Rania merobohkan badannya di pangkuan suami baru nya.
"Sayang, aku masih punya hutang janji padamu. "
"Hutang janji apa? "
"Aku janji bercerita tentang sebab musabab kenapa Pak Leo tiba-tiba mau menandatangani
surat talak itu. "
"Oh, " sahut Rania pendek.
"Kok nggak semangat begitu. "
Rania memejamkan mata nya, masih di pangkuan suami tercintanya.
"Kenapa, Ran? "
"Tidak usah diceritakan lagi, Rani sudah nggak ingin dengar. "
"Kenapa begitu? "
"Sudah telat. "
"Lho, Ran. " Pak Yudha nampak menyesal.
Rania duduk, menatap mata sayu suaminya.
"Saat ini aku isteri mu mas, aku hanya ingin cerita tentang kita, tidak perlu lagi cerita tentang
orang lain di rumah ini. Hanya tentang kita dan keluarga kita saja. "
Ke dua lengan Rania menggenggam ke dua lengan suaminya.
"Aku hanya inginkan kita. Kita saja. "
Pak Yudha menunduk terharu, Rania berdiri, ia melipat mukena yang tadi digunakan untuk
sholat.
Kemudian bertutur.
"Mas, " panggilnya lembut.
Pak Yudha masih menunduk.
"Mas, " panggil Rania lagi.
Kali ini Pak Yudha menatap Rania. Begitu ia sadar suaminya menatapnya serta merta Rania
bicara.
"Bercinta, yuk. "
Pak Yudha terbahak-bahak di goda begitu rupa.
Mereka berdua kembali berpelukan, mesra.
DOSEN ITU SUAMIKU
Pagi hari, masih dengan keceriaan yang sama seperti hari kemarin. Rania dan Pak Yuda tidak
lagi tinggal di hotel mewah hadiah dari Pak Wahyu, mereka telah bermukim di rumah Rania.
Untuk sementara waktu Rania minta tetap tinggal di rumahnya dan tidak tinggal di rumah Pak
Yudha karena Rania ingin membangun rumah tangganya berdua.
"Jadi ke kampus, Mas? " tanya Rania.
"Jadi dong, "
Hari ini memang adalah hari pertama mahasiswa diijinkan masuk dan beraktifitas di kampus
setelah hampir satu tahun beraktifitas di rumah karena Pandemi.
Euforia yang disambut gegap gempita membuat semua orang antusias untuk hadir dan saling
mengenal. Seperti juga Rania dan Pak Yudha.
Hari ini ada perhelatan besar di kampus, dimana Pak Yudha sebagai wakil dekan 3 diminta
untuk berdiri di atas panggung memberikan sambuatan pada seluruh mahasiswa dan ucapan
rasa syukur karena bisa beraktifitas kembali.
Mereka berdua memakai baju dengan warna yang sama. Merah hati. Itu warna favorit Rania.
Pak Yudha dengan kemeja lengan panjang berwarna merah hati, jas serta celana hitam sedang
Rania mengenakan gamis lebar berwarna merah hati, jilbab merah hati dengan motif kupu-
kupu hitam. Mereka nampak serasi.
Saat mereka berdua turun dari mobil dan bergandengan tangan, banyak mata menatap
mereka.
Hingga saat Pak Yudha harus tampil di panggung dan dipandang oleh ratusan pasang mata.
Pak Yudha berdiri di atas panggung sambil melempar senyumnya ke segala penjuru,
kemudian beliau menatap Rania, menganggukkan kepalanya pelan pada Rania sebagai isyarat
bahwa beliau mohon ijin untuk berbicara.
Rania membalas dengan kerlingan mata.
"Di sana, ada sepasang mata jernih yang sedang menatap saya dengan tatapan syahdu.
Tatapan itu milik istri tercinta saya. Itu orangnya sedang duduk di depan nomer delapan dari
ujung. "Pak Yudha menunjuk Rania dengan jarinya bermaksud memperkenalkan Rania keada
banyak orang disana. Alhasil mata para mahasiswi pun menatap iri pada Rania.
"Beliau istri saya, jadi kalau diantara kalian ada yang naksir saya itu artinya sudah terlambat"
Riuh suara sorak sorai menanggapi kalimat Pak Yudha.
Rania tersenyum kecil.
Sambil tetap memandang takjub pada suaminya.
Kemudian bibir tipisnya berkata.
"Dosen Itu Suamiku. "
Ya, beliau kini jadi suami Rania. Perjalanan cinta Rania kini bermuara pada Pak Yudha, tidak
perlu ada lelaki lain menggodanya, Rania hanya menapak i garis takdir seraya berdoa semoga
kebahagiaan datang dan bertahan lama hingga mereka menua.
Pak Yudha turun dari panggung dengan sorak sorai yang membahana, betapa sambutannya
telah mampu menembus relung hati semua warga kampus. Beliau berjalan tegap sambil
sesekali membenahi letak kacamata minusnya, langkah beliau ringan menuju pada satu titik,
tempat Rania sedang berdiri menunggunya sambil menyunggingkan senyum, setibanya di
samping Rania Pak Yudha membalas senyum manis itu sembari berbisik di telinga Rania.
"Tetaplah jadi istriku dan menua bersamaku. " Sambil jemari tangan Pak Yudha mencubit
mesra pipi istrinya.
Rania tertawa renyah menyaksikan romantisme yang sengaja diciptakan oleh suami barunya,
Yudha Mohammad.
Disana, di antara jajaran kursi para dosen, di atas kursi roda itu, sepasang mata sedang
menyaksikan kemesraan mereka berdua, ada sesal menggelayut di sisi hatinya karena bukan
dia yang merasakan kemesraan itu, dirinya adalah orang pertama yang membawa Rania
mengenal kampus ini namun sayang bukan dia yang mengakhiri cerita indah bersama wanita
itu disini.
Begitulah hidup, terkadang yang pertama memang tidak selalu jadi yang terakhir.
Takdir telah berbicara dan sebagai manusia kita hanya bisa menikmatinya.
Pak Leo Syahrani, lelaki itu menyeka keringat yang mengucur deras meski hari ini bukan
musim kemarau.
BAHAGIA DALAM CANDA
usai pernikahan mewah itu digelar, Rania kini telah resmi menjadi istri pak Yudha.
Dalam kamarnya yang indah, Rania benar-benar dimanjakan.
Saat ini ia memang belum menyerahkan hatinya sepenuhnya pada Pak Yudha suaminya,
namun Rania yakin, dengan berjalannya waktu ia akan mencintai suaminya.
Pak Yudha mendekati Rania, beliau tersenyum sangat ramah, tatapan matanya sejuk, teduh,
menenangkan. Dari dulu hingga sekarang senyum itu tidak berubah meskipun wajahnya
tertawan usia.
Rania mencoba menyandarkan kepalanya di dada bidang lelaki yang usianya hampir lima
puluh lima tahun ini. Rania mencoba mengusir rasa canggung di hati suaminya
Pak Yudha mendekap tubuh mungil Rania hingga Rania benar-benar tenggelam di dalam
pelukannya.
Tangan kekar itu membelai rambut istri tercintanya. Rania pun kian memanjakan diri dalam
pelukan lelaki halalnya.
Hari ini, mereka berdua telah menjadi dua orang yang halal di mata Tuhan. Jadi tidak ada
yang perlu ditakutkan lagi.
Sebenarnya dulu mereka berdua telah memiliki rasa yang sama, rasa yang demikian kuat,
namun rasa itu mereka penjarakan demi menjaga hati banyak orang.
Hingga kemudian Rania terjebak pada cinta seorang Leo, Pak Yudha terus mengiringi Rania
meski hanya melalui perhatian-perhatian kecilnya, dan itulah yang membuat Pak Yudha dan
Rania menjadi terikat secara emosional.
Bagi Pak Yudha sendiri, menikah dengan Rania adalah hal terindah.
Seperti Muhammad dan Aisyah begitu ia menganalogikan cintanya.
Usia yang terpaut delapan belas tahun membuat Rania bebas bermanja pada Pak Yudha dan
Pak Yudha pun seperti sedang bercengkrama dengan cinderella, pernikahan yang luar biasa
indah.
Episode bercinta pun terlewati sudah, mereka terlelap masih dalam posisi saling mendekap.
Tengah malam saat Pak Yudha terbangun beliau mencium kening istrinya dengan lembut.
Memandangi wajah cantik yang terlalu sering menderita.
"Aku akan menjaga mu, isteri ku. "
Pak Yudha membiarkan lengan kirinya tetap berada di bawah leher istrinya, ia tidak ingin
bergerak karena khawatir isteri tercintanya terbangun.
Menikahi Rania adalah hadiah bagi Pak Yudha. Hadiah dari kehidupan padanya, bagaimana
tidak? Rania bisa menjadi adik, menjadi kekasih juga menjadi pengobat hati baginya.
Mereka pun kembali terlelap, terbius rasa bahagia yang membuat mereka melambung.
Hingga saat alarm tahajud di ponsel Rania menyentil kesadaran mereka berdua.
Rania terbangun, hendak berdiri menuju kamar mandi.
"Mau kemana? " tanya Pak Yudha mengagetkan Rania.
"Ke kamar mandi, mau mandi terus tahajud. "
Pak Yudha nampak membetulkan posisinya, beliau duduk di samping Rania,
"kita tahajud bareng, yuk. "
"Boleh. "
Sajadah panjang itu telah digelar, Pak Yudha menjadi imam sholat malam Rania kali ini.
Episode percintaan dengan Sang Pencipta yang dulu Rania lewati sendiri kini sudah ada yang
menemani.
Rakaat demi rakaat terlewati. Rania hanyut dalam doa yang dilantunkan suaminya.
Air matanya mengalir, tapi kali ini bukan air mata duka, melainkan air mata haru dan bahagia,
betapa Tuhan telah memberikan hadiah yang luar biasa dalam hidupnya yang sempat carut
marut karena ilmu yang tidak dimiliki.
Rania mejabat lengan suaminya kemudian mencium lengan itu lembut.
Mereka saling melempar senyum.
Rania merobohkan badannya di pangkuan suami baru nya.
"Sayang, aku masih punya hutang janji padamu. "
"Hutang janji apa? "
"Aku janji bercerita tentang sebab musabab kenapa Pak Leo tiba-tiba mau menandatangani
surat talak itu. "
"Oh, " sahut Rania pendek.
"Kok nggak semangat begitu. "
Rania memejamkan mata nya, masih di pangkuan suami tercintanya.
"Kenapa, Ran? "
"Tidak usah diceritakan lagi, Rani sudah nggak ingin dengar. "
"Kenapa begitu? "
"Sudah telat. "
"Lho, Ran. " Pak Yudha nampak menyesal.
Rania duduk, menatap mata sayu suaminya.
"Saat ini aku isteri mu mas, aku hanya ingin cerita tentang kita, tidak perlu lagi cerita tentang
orang lain di rumah ini. Hanya tentang kita dan keluarga kita saja. "
Ke dua lengan Rania menggenggam ke dua lengan suaminya.
"Aku hanya inginkan kita. Kita saja. "
Pak Yudha menunduk terharu, Rania berdiri, ia melipat mukena yang tadi digunakan untuk
sholat.
Kemudian bertutur.
"Mas, " panggilnya lembut.
Pak Yudha masih menunduk.
"Mas, " panggil Rania lagi.
Kali ini Pak Yudha menatap Rania. Begitu ia sadar suaminya menatapnya serta merta Rania
bicara.
"Bercinta, yuk. "
Pak Yudha terbahak-bahak di goda begitu rupa.
Mereka berdua kembali berpelukan, mesra.
SELAMAT TINGGAL DUKA
Duduklah di sampingku, akan kuceritakan segalanya, kecuali perpisahan;
Mendekatlah di sisi ku, akan kubagi semua yang kumiliki, kecuali kesedihan;
Baringkanku di pundakmu, akan kuberikan setiaku, bukan pengkhianatan;
Berjalanlah bersamaku, akan kuajak kau melihat keindahan, bukan penderitaan;
Terbanglah bersamaku, pegang erat sayapku, agar kita berdua bisa merasakan
kebahagiaan;
Aku ditakdirkan untuk bersamamu, biarkan lah itu menjadi mimpi indahku dalam
kesendirian.
Des 2020
Rania tersenyum membaca postingan seorang kawan, benar-benar menggambarkan isi
hatinya saat ini. Bahagia.
Pada akhirnya semua cerita pasti berakhir, seperti bus yang mesti berhenti di terminal,
pesawat yang harus mendarat di bandara. Demikian juga hidup, ia juga memiliki akhir . Ada
masanya hidup ada juga saatnya mati.
Kisah sedih Rania akhirnya berakhir, Tuhan telah membingkis seseorang yang baik untuk
menemani hidupnya, menjauhkannya dari penderitaan dan membingkisnya tawa bahagia.
Bunga layu itu mungkin telah gugur ke tanah namun ia kembali tumbuh dengan batang yang
baru dan kuncup yang hampir mekar.
Rania adalah kisah, kisah yang akan terkenang sepanjang masa.
“SELAMAT TINGGAL DUKA SELAMAT DATANG BAHAGIA” lirih Rania menggumam, di
belakangnya ada Pak Yudha suami barunya yang sedang mendekap pinggang mungilnya dari
belakang.