The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sebuah cerita tentang pernikahan di bawah tangan yang dilangsungkan oleh Rania dan Pak Leo, pernikahan terjadi atas permintaan istri pertama Pak Leo.
Pak Leo seorang dosen yang sukses dan kaya raya.
Perjalanan pernikahan yang tidak semulus yang diharapkan membuat Rania memilih pergi dan menjauh dari kehidupan Pak Leo. Rania yang malang ia harus menjalani kehidupannya sendiri dengan segala suka dukanya, bahkan ia pun harus menanggung semua biaya hidupnya sendiri sampai saat melahirkan tiba, Rania meminta sedikit dari rizqy yang di miliki oleh Pak Leo namun sayang Pak Leo sama sekali tidak memperdulikannya.
Tahun berjalan, Rania menganggap bahwa hubungannya dengan Pak Leo secara agama telah selesai, namun ternyata tidak demikian karena Pak Leo masih menganggap Rania istrinya.
Rania berada di posisi yang sangat sulit, ia akan menikah lagi namun Pak Leo masih terus mengatakan bahwa Rania adalah istrinya, memilih hidup sendiri tapi Pak Leo tidak pernah menafkahinya sama sekali.
Kisah yang pelik dan mengharukan,
Berhasilkah Rania melalui hidupnya yang tidak mudah dan tidak indah ?

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Dian Rachmawati, 2020-12-18 00:59:08

DOSEN ITU SUAMIKU

Sebuah cerita tentang pernikahan di bawah tangan yang dilangsungkan oleh Rania dan Pak Leo, pernikahan terjadi atas permintaan istri pertama Pak Leo.
Pak Leo seorang dosen yang sukses dan kaya raya.
Perjalanan pernikahan yang tidak semulus yang diharapkan membuat Rania memilih pergi dan menjauh dari kehidupan Pak Leo. Rania yang malang ia harus menjalani kehidupannya sendiri dengan segala suka dukanya, bahkan ia pun harus menanggung semua biaya hidupnya sendiri sampai saat melahirkan tiba, Rania meminta sedikit dari rizqy yang di miliki oleh Pak Leo namun sayang Pak Leo sama sekali tidak memperdulikannya.
Tahun berjalan, Rania menganggap bahwa hubungannya dengan Pak Leo secara agama telah selesai, namun ternyata tidak demikian karena Pak Leo masih menganggap Rania istrinya.
Rania berada di posisi yang sangat sulit, ia akan menikah lagi namun Pak Leo masih terus mengatakan bahwa Rania adalah istrinya, memilih hidup sendiri tapi Pak Leo tidak pernah menafkahinya sama sekali.
Kisah yang pelik dan mengharukan,
Berhasilkah Rania melalui hidupnya yang tidak mudah dan tidak indah ?

Keywords: Dosen itu Suamiku

"Sejak kemarin di pantai Batakan." Rania memberi penjelasan.
"Bunda seharusnya tidak melakukan ini. "
"Lho kenapa ?"
"Bunda masih terikat pernikahan dengan ayah. Kita belum bercerai bunda."
Huft, andai tidak ingat tentang hukum pasti hari ini juga meja kaca di depan Rania sudah
berpindah ke wajah laki-laki di depannya.
'Masih terikat pernikahan?' artinya masih suami ? begitu kah ?
Lalu suami mana yang tidak memberi nafkah pada istrinya selama lima tahun ?
Suami mana yang membiarkan istrinya menanggung semua kepahitan seorang diri ?
Suami mana yang membiarkan istrinya tanpa bimbingan agama?
Suami mana yang membiarkan istrinya keluar masuk whatsApp kawan-kawannya bila lapar
melanda dan ia sudah tidak punya jalan keluar ?
Suami mana yang tega membiarkan istrinya membawa amplop berisi lamaran pekerjaan dari
satu kantor ke kantor yang lain ?
Suami mana yang tega membiarkan istrinya meratapi sakit yang melanda anaknya sedang dia
sendiri tidak berdaya ?
Suami mana yang membiarkan istrinya menangis tersedu-sedu tanpa tangan kekar yang
memberinya kekuatan saat putranya menghadap yang Maha Kuasa?
Suami mana yang membiarkan istrinya menahan perih di pemakaman putranya ?
Suami mana yang tega melakukan semua itu sedang dirinya berada dalam gelimang harta ?
Suami mana yang tega melakukan semua itu hanya karena takut pada istri yang lain ?
Yang bisa melakukan semua itu hanya Lelaki 'Jadah' yang tidak pantas di beri gelar terhormat
dengan sebutan SUAMI.
Karena suami itu pembawa kunci sorga dan pembawa kunci sorga bukanlah lelaki jahanam
Karena tidak ada daftar nama Jahanam dalam deretan nama indah sorga.
Hati Rania berdarah.
Luka yang mengering namun bernanah itu kulitnya mengelupas membuat luka baru yang
teramat pedih.
"Pak Leo bisa pulang sekarang." Usir Rania geram.
"Kita masih belum selesai bicara bunda" Suara Pak Leo mulai meninggi.
"Jangan meninggikan suara disini, Pak."
"Bunda pasti sudah terpengaruh pak Budiman, besok ayah akan datangi pak Budiman untuk
bicara."
"Aku sedang tidak terpengaruh siapapun, ayah sayang. Aku sedang terpengaruh iblis. Jadi
sebelum aku semakin kalap aku minta ayah K E L U A R.!!!"
Rania menahan gejolak hatinya yang meletup-letup.
Pak Leo bangkit memandang Rania lekat. Lalu melewati pintu rumah dan pergi.
Rania membanting pintu itu dengan sangat keras hingga jendela kaca di samping pintu itu
bergetar.
Rania terdiam, ia duduk dilantai dibelakang pintu ruang tamunya. Ia menangis, menangis
begitu dalam.
Andai ada hukum dunia yang memuat tentang perlindungan pada wanita. Andai saat ini ia
adalah wanita kaya raya. Andai ia memiliki kekuatan. Ia pasti akan menuntut keadilan pada
pakar-pakar hukum yang sering sekali memperdebatkan tentang ilmu-ilmu hukum di acara-
acara seminar. Agar kasusnya di bahas. Secara hukum agama dan negara, sudah jatuh kah
talak pada dirinya bila menelaah kasusnya. Agar tidak ada wanita malang yang mengalami
nasib serupa seperti dirinya.

Namun sayang, hari ini Rania belum menjadi siapa-siapa.
Rania hanya bisa menuntut keadilan di Padang Mahsyar kelak.
Keadilan dari Tuhan Nya.
Tuhan yang selalu membisikkan damai pada tiap Firman-nya.
"Selalu ada hadiah bagi orang-orang yang sabar."
Percayalah

PENJELASAN LELAKI

Kejadian kemarin demikian menyakiti hati Rania, air mata yang sempat mengalir membuat
matanya bengkak. Rania masih ingat bagaimana Leo bicara seperti malaikat semalam. Rania
masih ingat satu kalimat.
"Bunda masih istri ayah sampai hari ini."
Rania sulit membuka lebar matanya akibat gumpalan yang menggantung di kelopak mata.
Dua pembantunya sudah berkomentar agar Rania tidak perlu membuka pintu bila dosen yang
semalam datang lagi.
Rania hanya diam tanpa menjelaskan apapun.
Rania masih enggan bercerita. Terlebih cerita tentang Leo.
Di Kampus pagi ini.
"Bisa tolong temui saya di ruangan ?" pesan masuk dari pak Leo di whatsApp pak Budiman.
Pak Budiman membacanya sekilas namun tak segera menjawab.
Ini baru permulaan pak Leo, bisik pak Budiman cepat.
Akan ada episode-episode cantik setelah ini. Ini baru bunga rampai belum masuk pada
pendahuluan apalagi isi dan kesimpulan. Gumam pak Budiman dari dalam hatinya.
"Pak, bisa tolong temui saya di ruangan?" Pak Leo mengirim pesan untuk kedua kalinya
dengan bahasa yang sama.
"Bisa."
"Terimakasih, Pak."
"Oke."
Pak Budiman hanya menjawab singkat. Pak Budiman tahu kali ini pak Leo pasti ingin
membicarakan tentang Rania dan hubungannya dengan dirinya. Pak Budiman tersenyum
sinis. Cepat sekali berita ini menyebar, siapa pahlawan yang sudah membuat viral ? Andai aku
tahu aku akan mengucapkan terimakasih padanya.
Usai bersiap berangkat ke kampus pak Budiman pun mengendarai mobilnya. Baju atasan
warna merah hati dengan celana kain berwarna hitam menambah modis penampilannya.
Santai sekali pak Budiman mengendarai mobilnya.
Ketika pak Budiman telah sampai di kampus, ia parkir mobil di tempat yang tepat.
Menyusuri tangga biru pak Budiman menemui pak Leo di ruangannya. Setibanya disana,
tanpa mengetuk pintu pak Budiman telah masuk dan duduk tepat di depan pak Leo.
Pak Budiman menatap pak Leo sekilas sambil berkata,
"Untuk apa memanggil saya,Pak?" tanya pak Budiman masih datar.
"Saya ingin bertanya tentang Rania"
Pak Budiman masih menanggapinya datar.
"Oh Rania yang pacar saya?"
"Jadi benar bapak pacaran dengan Rania ?"
"Iya, benar pak."
"Sejak kapan ?"
"Sejak di pantai Batakan."
"Pak Budiman serius ?"
"Sangat serius."

"Saya ingin memberi tahu pak Budiman sesuatu yang mungkin tidak pernah diceritakan
Rania."
"Apa itu, Pak?" Pak Budiman mulai memasang tampang serius.
"Rania istri saya, pak. Kami belum bercerai." Tandas pak Leo akhirnya.
Pak Budiman pura-pura tersedak saat meminum air mineral gelas yang ada di atas meja Pak
Leo.
"Pak Budiman belum tahu kan ?"
Pak Budiman menggeleng.
Pak Leo tersenyum, kemudian bicara lagi. Ia mulai merasa menang.
"Rania punya banyak kesalahan di masa lalu terhadap saya, itu sebabnya dia pergi tanpa
pamit pada saya. Mungkin dia malu. Saya mengetahui semua kebohongannya. Saya sengaja
tidak menghubunginya agar dia tahu kemarahan saya. Padahal setelah kepergiannya saya
selalu berdoa agar dia kembali pada saya. Saya sudah memaafkannya,Pak."
"Begitu ya ?"
"Iya pernah membohongi saya Pak, selama menikah satu tahun dengan saya dia
menghabiskan uang dua puluh juta di ATM milik saya Pak. Padahal kami baru menikah sekitar
hampir satu tahun, awalnya saya mengamanahkan uang itu untuk pembayaran rumah sakit.
Rumah sakit hanya habis sekitar tiga juta an sisanya digunakan Rania untuk beli perabotan
rumah dan belanja, begitu pengakuannya."
"Padahal selama itu Pak Leo sudah memberi nafkah ya Pak?"
"Tidak Pak, saya stop memberi nafkah sejak kejadian itu."
"O"
Pak Budiman mengompres hatinya dengan kain tanpa waslap. Ia muak dengan laki-laki di
depannya namun tetap berusaha tenang. Seorang istri muda menghabiskan uang tujuh belas
juta untuk makan dan beli perabot dia mengatakan istrinya pembohong. Dasar buaya kelas
teri. Mungkin dia tidak pernah tahu harga seorang pelacur di luar sana hingga dia mengatakan
istri yang diamanahkan Tuhan sebagai istri pembohong hanya karena menghabiskan seujung
kuku dari uangnya.
Pak Budiman masih mengangguk seperti sepakat.
Beliau menahan geram yang ada di hatinya demi memuluskan rencana beliau selanjutnya.
Yang penting musuh telah sampai pada perangkap.
"Oke, saya sudah dengar semua cerita bapak, saya permisi dulu."
"Jadi kapan bapak akan meninggalkan Rania ?"
Pak Budiman menjabat lengan Pak Leo kemudian menepuk-nepuk bahunya dan segera pergi
sambil meninggalkan senyum yang tadi sempat ia kulum.
"Saya permisi dulu Pak"
"Pak Budiman mau mengajar ?"
"Tidak, Pak. Saya ada janji dengan Rania di rumahnya."
"Tolong hargai saya sebagai suami Rania, Pak." Pak Leo mulai mengeluarkan jurus mautnya.
Menggunakan kata "suami" sebagai pedang beracun.
"Saya akan tanyakan semua cerita Pak Leo pada Rania, saya wajib konfirmasi sekaligus
klarifikasi dong, Pak. Bahasa kerennya 'tabayun'. He he he." Pak Budiman berkelakar.
Pak Budiman menjauh dari ruangan Pak Leo, ia membuang nafas yang sedari tadi ia tahan dan
memenuhi rongga dadanya. Sebagai sesama lelaki Pak Budiman gerah dengan Pak Leo. Ingin
sekali ia memberikan kepalan lima jarinya di ujung dahi Pak Leo namun cara itu tidak elegan.
Sebagai seorang akademisi ia akan menyadarkan Pak Leo dengan cara yang lebih cantik, agar
Pak Leo tahu apa itu rasa sakit.

Melewati tangga biru lagi sebelum akhirnya sampai di parkiran ketika beberapa teman
wanitanya sesama dosen menyentil
"Sedang berebut penulis cantik kah, Pak?" Tanya mereka pada Pak Budiman sambil senyum-
senyum.
Dari mana mereka bisa tahu cerita ini ?
Pak Budiman berlalu dari kerumunan teman wanitanya tadi. Datar tanpa ekspresi.
"Arifin, kamu di mana ?" tanya Pak Budiman melalui telephon.
"Di gazebo, Pak dengan Septia."
"Oh kebetulan sekali, kamu ke tempat parkir yang di dekat pohon pinus ya, dekat papan. Kita
ke rumah Rania."
"Siap, kapan Pak ?"
"Tahun depan."
Tak berapa lama Arifin dan Septia mendekat. Pak Budiman mempersilahkan mereka masuk
mobil. Mobil meluncur ke arah rumah Rania. Sepanjang perjalanan Pak Budiman mengeja
perasaan iba nya pada Rania. Baru satu Rania dengan kasus seperti ini yang ia temui ada
banyak Rania di luar sana dengan nasib serupa yang tidak ia kenali. Lalu siapa yang menolong
mereka menuntut hak nya?
Pak Budiman menghela nafas menyaksikan secuil potret kehidupan yang nampak di depan
matanya. Tiba-tiba ia jadi merasa bersalah dengan Tuhan.
Rumah Rania nampak sunyi, ketika mobil Pak Budiman berhenti tepat di depan pagar rumah
cantik milik Rania.
"Septia bisa tolong telephon kan Rania ?"
"Oh iya, Pak."
Septia menghubungi Rania.
Bersama dengan itu seorang pembantu membuka pintu pagar dan mempersilahkan masuk.
Mereka bertiga duduk di sofa.
Ketika Rania muncul dengan kelopak mata bengkak mereka bertiga menjadi bingung.
"Rani, kenapa ?" Tanya Pak Budiman.
"Bukan karena menulis novel kan, kak ?" tanya Septia.
Rania menggeleng pelan.
Kemudian berkata.
"Kemarin malam Pak Leo datang." Hanya itu lalu kembali diam.
Suasana kembali hening. Pak Budiman, Arifin juga Septia heran melihat makhluk seperti Pak
Leo. Sebenarnya otak nya terbuat dari apa ?
Rania masih menunduk sambil menceritakan kejadian semalam. Ada amarah yang meletup-
letup di dada Pak Budiman pada Pak Leo. Seseorang yang mestinya menjadi teman ternyata
tak lebih dari seorang pecundang.
Pak Budiman menatap Rania sekilas, hanya sekilas. Ia tidak berani menatap wanita ini terlalu
lama. Karena saat itu juga, sebelum tatapannya usai akan nampak penderitaannya dengan
STATUS yang digantung, selama LIMA TAHUN !
Oleh laki-laki yang berilmu pengetahuan.
Pak Budiman terdiam sambil merencanakan lanjutan bunga rampai yang ia buat hari ini untuk
Pak Leo.
Musim hujan sedang melanda Banjarmasin, hujan, selalu punya cerita tersendiri, selalu
menghasilkan rindu dan membuat guratan-guratan pilu. Itu yang dirasakan Pak Leo saat ini di
ruang kerjanya. Rumah mewah, aneka perabot, mobil berjajar juga motor dengan merk
terbaru ternyata belum juga memupuskan rindunya.

RANIA
ia mengeja nama itu berkali-kali dalam sehari. Ia menyebutnya dalam permintaannya pada
Tuhan.
Rania, adalah sebuah obsesi terbesar keberhasilan seorang lelaki dengan kesuksesan seperti
dirinya.
Rania yang dulu pernah ia jadikan perdebatan dengan istri sah nya di rumah hingga ia tidak
lagi mampu berkutik.
Rania yang dulu di diskripsi kan sebagai wanita 'benalu' tanpa pekerjaan tetap dan hanya akan
menghabiskan hartanya.
Hingga ia percaya semua diskripsi itu.
Saat itu ia begitu takut kehilangan semua yang ia miliki.
Bertahun-tahun ia mengikuti semua arahan istri pertamanya namun faktanya ia tidak bisa
menikmati perjalanannya.
Lelaki, kadang terlampau sulit berfikir normal bila berhadapan dengan wanita yang sering ia
sebut istri.
Siapa sangka, saat dirinya merasa Rania adalah sebuah kekaburan masa silam, tiba-tiba Rania
hadir lagi, Rania muncul lagi, Rania seolah hidup lagi. Lalu ia merasa punya 'hak' atas
seseorang yang dulu sempat ia jauhi.
Pak Leo mengkremasi cinta yang ada dalam hatinya.
Mungkinkah ia merelakan Rania terbang bebas di hadapannya ?
Mungkinkah ia membiarkan Rania berlarian dengan lelaki lain dan melintasi wajahnya begitu
saja ?
Mungkinkah ?
Sedangkan sampai hari ini dirinya adalah 'suami' dihadapan Tuhan bagi Rania.
Melanjutkan mimpinya untuk bahagia bersama Rania atau menjatuhkan talak pada Rania dan
mengakhiri mimpinya ?
Pak Leo seperti orang linglung membaca kisah hidupnya sendiri.
Hujan belum berhenti, seperti cintanya yang ternyata tidak bisa berhenti pada Rania.
Lelaki mana yang tidak bangga bersisihan dengan wanita cantik. Lelaki mana yang tidak ingin
punya istri memukau dan jadi perbincangan banyak orang. Pekerjaan wanita adalah urusan
kesekian bagi lelaki seharusnya karena tugas bekerja mestinya ada di pundak lelaki bukan
wanita. Namun dirinya begitu bodoh saat itu.
Pak Leo menutup laptopnya. Mengakhiri seluruh kegundahan dalam hatinya. Ia bertekad
akan menemui Pak Budiman dan menceritakan seluruh harapannya tentang Rania, bila
mungkin ia akan memohon agar Pak Budiman membantunya menyampaikan niat tulusnya
pada Rania.
Ia akan bicara sebagai sesama lelaki. Mungkin nanti ia akan malu namun ia sadar ini adalah
bagian dari konsekuensi yang harus ia hadapi.
Pak Leo bergegas, membersihkan dirinya dan memakai baju santai. Ia ingin menemui pak
Budiman di rumahnya.
"Hari libur mau kemana ?" tanya istrinya saat ia melintas dengan pakaian rapi dan bau wangi.
Pak Leo hanya diam, lalu menuju mobil. Istrinya sekarang tidak terlalu mengawasi dirinya
karena istrinya berfikir bahwa Rania sudah pergi, istrinya tidak tahu bahwa Rania telah
kembali.
Melintasi jalanan panjang yang masih sunyi, mungkin karena hujan yang turun sejak pagi. Pak
Leo menata kalimat yang tepat bila nanti ia bertemu dengan Pak Budiman.

Rumah asri bercat hijau dengan pagar tinggi itu masih terkunci. Nampak sunyi. Mungkin Pak
Budiman sedang tidur. Hawa sejuk yang hadir pagi ini memang mendukung banyak orang
memanjakan diri di tempat tidur.
"Assalamualaikum." Suara Pak Leo terdengar lantang.
Sunyi, tetap tidak ada jawaban.
Pak Leo memutuskan menghubungi pak Budiman lewat ponselnya.
"Assalamualaikum, Pak."
"Waalaikumsalam."
"Pak Budiman sedang istirahat ya ?" Suara Pak Leo sok tahu.
"Maksudnya pak ?"
"Saya ada di depan rumah bapak."
Pak Budiman merasa terkejut mendengar keterangan Pak Leo bahwa Pak Leo sudah ada di
depan rumahnya.
Pukul sembilan waktu Indonesia Tengah. Pak Budiman, Arifin juga Septia sedang berada di
rumah Rania.
Mereka berjanji hari ini jalan-jalan untuk menghibur Rania dari dukanya.
"Bapak dimana ?" Tanya Pak Leo lagi. Pak Budiman memandang Rania meminta persetujuan.
Rania hanya memandangnya dengan tatapan datar.
"Saya di rumah Rania, Pak."
Akhirnya jawaban Pak Budiman pun muncul.
Pak Leo terkejut. Sepagi ini, saat hari hujan begini ? Untuk apa Pak Budiman di rumah Rania.
Kecemburuan Pak Leo memuncak. Pak Leo merasa bahwa Pak Budiman menyepelekan
dirinya. Pak Budiman tidak menghiraukan penjelasannya bahwa Rania masih istrinya. Hal itu
terbukti dengan keberadaan Pak Budiman di rumah Rania hari ini.
Pak Leo meluncur menuju rumah Rania, ia memacu mobilnya lebih cepat.
"Pak Leo datang," suara Arifin. Semua yang duduk di ruang tamu saling pandang.
"Arifin dan Septia masuk saja. Biar Pak Leo saya yang mengatasi dengan Rania." Ucap Pak
Budiman tegas.
"Saya ?" tanya Rania dengan wajah memelas.
"Iya, kamu takut ?"
Rania hanya diam. Nampak sekali ia tertekan dan Pak Budiman memahami itu.
"Assalamualaikum " suara Pak Leo di ujung pintu.
"Waalaikumsalam " jawab semua tang di dalam rumah.
Pak Leo muncul, Arifin dan Septia berjaga-jaga kalau nanti terjadi hal yang buruk.
Pembantu Rania pun melakukan hal yang sama.
"Pada mau kemana ?" Pak Leo membuka pembicaraan.
"Kami mau ke mall, Pak. Belanja. Biasa tanggal muda." Pak Budiman menjawab santai.
"Pak Budiman saya ingin bicara." Pak Leo bersuara lagi.
"Iya pak ada apa ?" Pak Budiman pura-pura mengeluarkan wajah serius.
"Rania masuk saja." Perintah Pak Leo pada Rania, ia nampak mengatur mungkin merasa
memiliki Rania.
"Apa ?" Rania mencoba bertanya pada Pak Leo.
"Pak Leo kesini mau bicara dengan Pak Budiman dan saya sebagai yang punya rumah di suruh
masuk ?" Rania menekan suaranya.
"Bukan begitu bunda, ini penjelasan lelaki. Bunda di dalam saja."
"Kalau begitu ngomongnya di luar saja, di warung kopi, di resto atau di cafe, jangan disini.
Saya yang punya rumah dan tidak ada seorang pun yang boleh mengatur saya di rumah saya."

Rania nampak emosional sekali. Pak Budiman memandang Rania ada kecemasan dalam
hatinya.
"Pak Leo mau bicara apa ?" Pak Budiman berusaha santai.
"Dari kemarin saya sudah bilang agar Pak Budiman menjauhi Rania karena Rania secara
hukum agama masih istri saya." Pak Leo akhirnya bicara.
"Ya, betul itu. Dan saya berjanji akan mentabayun kan urusan ini pada Rania, Rania jelas
berkata bahwa Rania dan Pak Leo sudah tidak ada hubungan apapun sejak lima tahun yang
lalu."
"Tapi saya belum menjatuhkan talak Rania,Pak." Pak Leo bicara lantang.
"Sebagai sesama lelaki harusnya Pak Budiman malu naksir istri teman sendiri. Ini menjatuhkan
reputasi bapak."
Pak Budiman tertawa lantang, tawanya seperti rentetan hinaan bagi Pak Leo.
"Pak Leo, saya jelaskan ya."
"Sebagai sesama lelaki saya tidak malu naksir Rania karena Rania jelas berkata dia janda.
Andai memang Pak Leo belum menjatuhkan talak, ini kesempatan. Jatuhkan saja sekarang
mumpung ada kami sebagai saksi."
"Satu hal lagi, saya tidak takut reputasi saya di kampus hancur yang penting hati saya tidak
hancur karena kehilangan mimpi, harapan dan cinta saya."
Pak Leo dan Pak Budiman beradu pembicaraan. Sebagai sesama lelaki mereka saling
menyampaikan argumen yang benar menurut pemahaman mereka.
Rumah Rania menjadi ramai dengan keributan.
"Cukup.!!!!" teriak Rania.
Pak Budiman dan Pak Leo pun diam. Arifin berdiri mengawasi keadaan.
"Jangan membuat keributan di rumah saya.!"
"Sekarang biar saya menjawab. Status saya sudah Pak Leo gantungkan bertahun-tahun hingga
saya harus berjuang memenuhi kebutuhan lahir batin saya tanpa bantuan lelaki yang bisa
dipanggil suami. Sampai disitu mestinya otak Pak Leo bisa dipakai berpikir. Lalu sekarang Pak
Leo datang lagi bicara tentang status. Jujur saya muak!"
"Sekarang, saya putuskan. Oke, kita masih akan tetap jadi suami istri asalkan Pak Leo
membawa istri Pak Leo ke rumah ini besok pagi. Jika Pak Leo tidak melakukannya maka bapak
harus bersedia menceraikan saya."
"Sekarang semua sudah jelas, silahkan pulang." Usir Rania.
Pak Leo terdiam. Pak Budiman juga.
Semua diam dalam pikirannya masing-masing.
Hingga Pak Leo berdiri dan pergi tanpa berpamitan.
Hidup terkadang begitu keras pada kita. Mengajarkan bagaimana sakitnya kehilangan.

BAHAN PERGUNJINGAN

Langit masih mendung seperti hari kemarin, suasana damai dan cuaca yang sejuk mendayu
membuat banyak orang lebih memilih melanjutkan mimpi dari pada mewujudkan mimpi.
Pagi sekali Pak Budiman sudah rapi, ia memilih berangkat ke kampus sepagi mungkin agar
nanti bisa secepatnya menuju rumah Rania, masih bersama Arifin dan Septia. Pak Budiman
akan menunggu Pak Leo datang bersama istrinya hari ini sesuai permintaan Rania. Pasti seru
bila hal itu benar terjadi. Pak Budiman tersenyum membayangkan wajah Pak Leo yang begitu
serius.
Saat ini beliau terjebak oleh pikiran nya sendiri. Keinginan dan ekspetasi yang tinggi membuat
ia jadi lupa segalanya. Beruntung hari ini tidak ada kuliah online di mata kuliah Pak Budiman
hingga Pak Budiman tidak terlalu terbebani dengan pikiran tentang tugas yang mesti
diemban. Ia akan murni jadi pemirsa dalam pertunjukan nanti.
Sesampainya di kampus, beberapa teman dosen sedang duduk di ruang tata usaha, bersama
beberapa pegawai ketika Pak Budiman duduk juga bersama mereka.
Seorang ibu-ibu yang usianya setengah baya mendekati Pak Budiman.
"Bagaimana Pak,?" Pak Budiman mengernyitkan dahi.
"Bagaimana apanya, Bu ?" Tanya Pak Budiman lagi.
"Itu kisah Pak Leo." Haduh... batin Pak Budiman, ibu-ibu memang hobi bergunjing tidak
perduli apapun profesi yang disandangnya. Tak perduli setinggi apapun gelar yang di milikinya
dan sampai disitu Pak Budiman merasa ingin tertawa.
"Kisah Pak Leo kenapa ibu bertanya pada saya ?" tanya Pak Budiman lagi.
"Bapak nih pura-pura tidak tahu, " ucap ibu yang lain menimpali. Hingga Pak Budiman pun
berdiri kesal.
"Ibu yang bertanya nya tidak jelas. Coba dijelaskan pertanyaannya." Sela Pak Budiman sambil
memandang wajah teman-temannya yang berkerumun.
"Itu lho pak cerita tentang Rania yang mahasiswa baru, yang penulis, yang katanya mantan
istri Pak Leo dan, " kalimat itu mendadak terhenti.
"Dan sekarang pacaran dengan saya, begitu kan ?" Pak Budiman melempar tanya kembali.
Ibu-ibu yang bergunjing tadi pun tersenyum. Senyum simpul yang di kulum karena malu.
"Iya,," akhirnya mereka serempak menjawab.
"Ditunggu saja kisah selanjutnya, Bu." Jawab Pak Budiman singkat juga cepat.
"Ditunggu saja siapa yang berhasil mendapatkan Rania, saya atau Pak Leo."
Pak Budiman sengaja melempar bola panas dan dia tidak perduli apinya akan mengenai siapa.
"Apa mungkin Rania itu kuliah disini untuk kembali dengan Pak Leo ?"
"Mestinya Rania tahu malu dong kan Pak Leo sudah nikah."
"Saya juga curiga begitu, bu. Untuk apa jauh-jauh kuliah di Banjar sedang dia tinggal di Jawa."
"Jangan-jangan Pak Budiman hanya di manfaatkan oleh Rania, kalau Pak Leo tidak menerima
masih untung dia dapat Pak Budiman. Kan sama-sama jadi dosen."
Pak Budiman berdiri, meninggalkan ruangan yang di dalamnya penuh dengan kicauan. Selalu
begitu memang, ketika ada wanita ke dua hadir maka para ibu akan serta merta menyalahkan
wanita ke dua tanpa mau berfikir tamu bisa masuk ke dalam rumah bila tuan rumah
membukakan pintunya.
Pak Budiman menyingkir dan membiarkan mereka melanjutkan kicaunya. Biar saja, nanti akan
tiba masanya mereka akan tahu yang sebenarnya.
"Mau kemana, Pak ?"

"Ke rumah Rania," begitu jawab Pak Budiman sambil melenggang meninggalkan mereka.
Septia dan Arifin dua sejoli yang sedang jatuh cinta itu sudah menunggu di samping mobil Pak
Budiman. Mereka telah siap meluncur ke rumah Rania.
"Kira-kira Pak Leo datang nggak ya ?" tanya Septia.
"Nggak akan." Jawab Arifin.
"Kenapa bisa yakin begitu ?"
"Datang, tapi tanpa istrinya." Jawab Pak Budiman. Mereka semua diam melanjutkan
perjalanan.
Rumah Rania telah nampak dari kejauhan dan dari jauh juga mobil Pak Leo nampak dari
pandangan mereka.
"Pak Leo sudah datang."
"Pak Leo datang." Arifin heboh dari dalam mobil.
Pak Leo melanggar perjanjian. Dia janji datang di atas jam sepuluh dan sekarang masih belum
jam sembilan pasti ada yang tidak benar, pasti Pak Leo sedang merencanakan sesuatu. Pasti
Pak Leo punya niat buruk. Tapi apa ?
Pikiran Pak Budiman berkelana menuju belantara penuh tanya. Ia geram menyaksikan apa
yang terjadi saat ini. Sangat geram.
Mobil pun berhenti di depan rumah, tepat di samping mobil Pak Leo. Pak Budiman turun
tanpa mengucapkan salam dan langsung masuk begitu saja. Ada Rania yang sedang
menunduk dengan dalam. Juga Pak Leo.
Pak Budiman mendekati Rania, terduduk di depannya.
"Ada apa Ran ?"
Rania diam. Hatinya bergejolak. Ia menangis terisak. Lalu memeluk Pak Budiman.
Pak Budiman bingung, adegan peluk ini jelas diluar rencana drama mereka. Tapi ada apa ini.
Rania pasti berada dalam tekanan tapi apa ?
"Pak Leo, ada apa ?"
"Tanya Rania saja." Jawab Pak Leo diplomatis.
"Maksudnya apa ?"
"Bapak tanya Rania saja." Pak Leo tidak memberikan satu keterangan pun.
"Istri bapak mana ?"
"Pak Budiman, saya ingatkan ya, Rania ini jelas masih istri saya kami tidak pernah bercerai, ini
buktinya. " Pak Leo menunjukkan bukti surat nikah dari seorang ustadz dan bukti surat
persetujuan yang baru saja di tanda tangani Rania bahwa mereka adalah suami istri.
"Ayolah pak, mestinya bapak punya malu mencintai istri orang." Suara Pak Leo penuh
kemenangan.
Kenapa Rania mau bertanda tangan pada surat itu ? Untuk apa ? Itu akan makin
menyulitkannya.
Rania pasti dalam tekanan tapi kenapa ?
"Dan mulai hari ini Rania sudah berjanji akan berhenti berhubungan dengan Pak Budiman. Dia
akan jadi istri yang baik"
Pak Leo terus bicara seperti perempuan, hingga Pak Budiman menjadi tidak sabar juga kesal.
Satu kepalan tangan melayang ke pipi mulus Pak Leo. Pak Budiman tahu bahwa apa yang dia
lakukan melanggar hukum namun ia sudah mulai tidak perduli. Mungkin Pak Leo sudah tidak
bisa diajak bicara sebagaimana para akademisi, dia hanya pantas diajak bicara secara laki-laki.
Keras dan berani.
Pak Leo meraba rahangnya yang terasa sakit. Ia hendak mengambil kacamata minusnya yang
terjatuh namun sayang kaca mata itu terlanjur terinjak oleh kaki Pak Budiman.

Rania tidak tahan dengan penderitaannya pagi ini. Ia berlari menuju kamar pribadinya,
mengunci pintunya rapat lalu menangis.

BUNGA ITU TELAH LAYU

Sehari setelah kejadian itu, Pak Leo mengunjungi Rania lagi dengan membawa kue kesukaan
Rania, martabak telor spesial. Pak Leo senantiasa berharap Rania akan kembali seperti dulu
dan mereka akan bersisihan menikmati cinta mereka.
Pak Leo masih yakin bahwa Rania akan bisa kembali mencintainya, menikmati indahnya Siring
Laut diantara terpaan angin, menikmati indahnya makan soto Banjar di perahu apung,
menikmati Pantai Sarang Tiung ataupun bergandengan tangan melintasi tiap senti lantai Duta
Mall.
Pak Leo sangat ingin kembali merajut kasih bersama Rania, itu sebabnya dia akan melakukan
apapun agar cinta dan masa depannya kembali.
Bagi Pak Leo, Rania adalah bagian dari ambisi kelelakiannya. Ia telah menempuh banyak jalur
pendidikan namun belum ada satu wanita pun yang berhasil meluluh lantakkan isi hatinya,
seperti Rania.
Perumahan megah dengan icon air mancur mewah di gerbang selamat datang, di sanalah
Rania tinggal. Kini Pak Leo memasuki kembali jalanan itu menuju rumah Rania berharap Rania
ada dan akan menerimanya.
Pak Leo mengarahkan jari telunjuk kanannya pada benda dengan sensor yang menempel di
dinding pagar rumah Rania. Benda itu berbunyi, sekali, dua kali, tiga kali tidak ada jawaban.
"Bu Rani." Suara pembantu Rania yang renyah seperti kerupuk itu menusuk gendang
telinganya.
Rania yang berada di kamar berdiri menuju pintu, membuka nya perlahan.
"Ada apa ?"
"Itu pak dosennya datang lagi."
"Dosen yang sering membuat ibu menangis."
"Biar saja mbak, pintunya nggak usah di buka, biar saja." Begitu perintah Rania pada
pembantunya. Dan pembantunya pun mengangguk setuju.
Rania membuka pintu kamarnya namun memilih tetap berada di dalam sambil menghidupkan
televisi.
Beberapa hari ini ia sulit menulis karena pikirannya terlalu kacau dengan keadaan.
Bel masih terus berdentang. Rania mendadak menjadi wanita tuli yang tidak mendengar bunyi
sekeras itu.
Hingga bunyi itu pun hilang dengan sendirinya. Mungkin Pak Leo lelah dan pulang ataukah
Pak Leo memilih tenang dan menunggu di depan. Rania tidak perduli.
Pak Leo telah berbuat curang pada Rania dan akibat itu semua Pak Leo merasa bisa
menggenggam Rania.
Di kamarnya Rania berkutat dengan pikirannya.
Bukankah kedatangannya ke Banjarmasin adalah karena keinginannya untuk melawan Pak
Leo.
Bukankah ia mengeluarkan uang banyak semata karena ingin membalas rasa sakitnya akibat
di gantung bertahun-tahun oleh Pak Leo.
Bukankah ia punya Tuhan, punya uang dan punya kawan, tiga elemen penting dalam hidup
telah ia genggam.
Lalu mengapa ia takut.
Jika hari ini Pak Leo punya kartu 'truft' atas kesalahannya maka sebenarnya Rania pun punya
rudal yang sama lalu mengapa mesti takut.

Mengapa regulasinya justru berbalik pada sebuah kenyataan dimana Rania yang terdesak. Ini
kesalahan besar.
Harusnya Rania mampu. Harusnya Rania bangkit dan melawan. Mengapa justru rapuh dan
merasa malu.
Kemarin Pak Leo bilang bahwa, kesalahan Rania telah menghabiskan uang Pak Leo di ATM
bisa diperkarakan oleh istri Pak Leo. Lalu, saat Rania menggadaikan mobil atas nama Pak Leo
yang di gunakan untuk pulang kampung adalah sesuatu yang melanggar hukum. Rania gerah
dengan ancaman itu hingga ia akhirnya mau bertanda tangan pada surat pernyataan bahwa
dirinya mengakui Pak Leo sebagai suaminya.
Rania kemarin tertekan. Rania telah di bodohi.
Rania menyandarkan kepalanya yang berat ke sandaran tempat tidurnya
Mestinya Rania berfikir atau setidaknya minta saran pada mereka yang faham hukum. Dan
bila harus mengganti berapa nominalnya. Mengapa Rania begitu bodoh hingga lebih memilih
bertanda tangan.
Rania berdiri, membuang pandang pada jendela. Begitulah, orang-orang yang tidak faham
hukum akan lebih mudah di bodohi. Terlebih wanita. Ketika perasaannya dikulik, rasa
tertekannya bangit, ketakutan menghantui saat itulah wanita terjebak.
Hal itulah yang kini sedang dilakukan Pak Leo pada Rania dan fix Pak Leo adalah makhluk
busuk yang hanya bisa menyakiti Rania.
Mata Rania basah.
Ia baru sadar sore ini saat semua sudah terjadi.
Lahir batinnya telah resmi disakiti oleh Pak Leo.
Lima tahun statusnya digantung hingga ia sulit menikah lagi.
Lima tahun tidak dinafkahi
Dan hari ini ia kembali diintimidasi oleh sebuah perkara yang tidak ia ketahui dasar hukumnya.
Rania merasa teramat bodoh.
Sore ini, ia menjadi rindu pada Pak Budiman. Laki-laki baik itu sedang apa ya?
Ia pasti resah memikirkannya.
Pak Budiman bukan siapa-siapa bagi Rania begitupun sebaliknya namun ia seperti seseorang
yang membawa peti emas dari negeri penuh harta karun yang dikirim Allah untuk membantu
dan perduli pada Rania.
Pak Budiman begitu baik bahkan terlalu baik.
Hari ini Rania baru faham bahwa Pak Leo sedang berusaha menyiram bunga sayang bunga itu
telah lama layu.
Apa yang dilakukan Pak Leo sia-sia belaka.
Cinta itu bukan ilmu untung rugi, cinta adalah bingkisan cantik dalam hati.
Untuk orang yang dipilih hati.
Rania makin mantap.
Esok hari ia akan keluar dari kamarnya, berdandan cantik, mengambil uang di atm dan bersiap
membalas.
Selamat datang di dunia baru Pak Leo, Rania menggumam dalam samar.
Pak Leo menghubungi Rania, ia kembali mengintimidasi Rania atas tanda tangan dan
pernyataannya kemarin.
"Ayah ini beriktikad baik bunda, untuk menyelesaikan semua sengketa diantara kita. Urusan
kita kita selesaikan dengan baik kemudian kita hidup tenang layaknya rumah tangga yang
lain."

Rania diam, tidak menjawab apapun bahkan tidak melawan meski hatinya seolah tertohok
kayu bergerigi.
Andai saat ini dirinya berani berkolaborasi dengan ilmu hitam, ia pasti akan membuat Pak Leo
lumpuh total semasa hidupnya.
"Bunda, ayolah. Bunda jangan egois. Seisi kampus semua tahu bahwa bunda istrinya ayah.
Kalau ayah mau saat ini juga ayah bisa saja menikahi wanita lain yang lebih muda, tapi ayah
tidak lakukan itu bunda. Ayah ingin kita melanjutkan rumah tangga kita. Banyak mahasiswi
ayah yang mau dengan ayah tapi ayah tidak tertarik karena ayah masih sangat menyayangi
bunda. "Begitu pitutur Pak Leo dan Rania masih memilih diam.
Rania merasa hilang akal menghadapi lelaki yang saat ini bersenandung di telinganya. Ia
sebenarnya tahu bahwa keinginan Rania hanya satu MENDAPATKAN PERNYATAAN TALAK
ATAS PERNIKAHAN SIRI MEREKA. Pak Leo tahu itu. Apa susahnya meloloskan keinginan Rania
toh selama ini mereka sudah tidak bersama.
Dengan kalimat talak itu maka Rania secara agama 'bersih' dari status nya sebagai istri siri Pak
Leo. Rania bisa melanjutkan kehidupannya lagi. Menikah dengan orang lain, mungkin.
Bagaimanapun juga Rania butuh melanjutkan hidup dengan mimpi dan harapan baru.
Rania butuh pendamping untuk berkisah tentang rasa sakit dan perih hatinya. Hidup sendiri
itu tidak mudah meski beberapa wanita memilih beradaptasi dengan kesendirian. Bukan
karena mereka tidak ingin menikah tapi lebih kepada karena mereka sedang mencari sosok
yang secara lahir batin 'tepat' dengan seleranya.
Rania butuh menikah, butuh kehadiran lelaki lain untuk mengisi kehidupannya lahir batin.
Untuk menggenapi ruang kosong dalam dirinya dan jelas itu bukan Pak Leo.
Rania sudah tidak mau lagi dengan Pak Leo bukan karena Rania tidak punya perasaan apapun
pada lelaki itu tapi karena Rania merasa tidak bisa beradaptasi dengan sikap pengecutnya
yang sering bersembunyi di balik nama baik, kehormatan dan harga diri.
Rania ingin hidup normal seperti wanita yang lain.
Rania enggan bersaing dengan istri Pak Leo, Rania enggan menjadi teraphys bagi dirinya
sendiri. Rania terlalu lelah.
Namun dengan sangat egois Pak Leo memaksakan diri agar Rania kembali dalam pelukannya.
Entah apa motifnya hingga sampai detik ini Pak Leo tidak juga membingkis kalimat talak itu
untuk Rania.
Bila cinta motifnya mengapa cinta itu baru muncul sekarang ? Dimana Pak Leo lima tahun
yang lalu. Saat Rania harus melalui semua penderitaan dan kepedihan seorang diri.
Terbayang wajah pucat dan kaku bayi-bayi mungil yang meninggal karena Rania tidak punya
cukup uang untuk mengobati mereka. Terbayang senyum tampan putra Rania yang akhirnya
harus pergi tanpa diketahui sebabnya. Rania meradang.
Akankah dengan sejarah kelam itu Rania kembali pada Pak Leo ?
Ya... bukan Pak Leo yang membunuh mereka, tapi Pak Leo telah memasung kehidupan Rania.
Pak Leo telah mengkremasi hak Rania. Dicerai tidak diperlakukan baik sebagai istri juga tidak.
"Ayah, kalau ayah ada rizqy bunda boleh minta sedikit saja ayah. Zahrial sakit."
"Bunda punya rekening BNI ?"
"Gak punya ayah." Rania mencoba menghiba pada lelaki yang masih menyatakan dirinya
sebagai suami. Sampai mentari di atas kepala uang transferan itu tidak kunjung datang.
Rania hanya bisa menitikkan air mata.
"Bunda pulang saja kemari, nanti ayah akan carikan pekerjaan dan kita bisa hidup lebih baik."
Selalu itu kalimat yang Pak Leo iklankan.
Gaji dan tunjangan puluhan juta tidak membuat Pak Leo punya keinginan berbagi sama sekali.

Hari berlalu waktu berjalan. Rania pun tidak lagi menginginkan uang dari Pak Leo. Beberapa
lelaki baik datang meminang. Rania tidak berani menerima mereka karena Rania masih resah
dengan statusnya. Andai saja Pak Leo bersedia mentalak Rania saat itu maka PASTI Rania akan
menikah dengan orang lain serta membangun hidup yang lebih baik dihadapan Tuhan juga
manusia. Tapi Pak Leo tidak kunjung melakukannya hingga Rania harus melalui onak duri
kehidupannya sendiri.
Beruntung, melalui jejaring media sosial Rania bertemu dengan teman-teman baik yang
memahami permasalahannya. Mereka membantu Rania di setiap tikungan kepedihan
hidupnya. Mereka demikian perduli, support mereka lahir batin. Ketulusan mereka tidak
diragukan. Mereka adalah orang-orang yang layak dibanggakan.
Mereka juga yang akhirnya memperkenalkan Rania dengan sebuah platform kepenulisan
sebesar 'INNOVEL'.
Mereka memahami kemampuan Rania dalam menulis. Sejak saat itulah hidup Rania perlahan
tapi pasti mulai merangkak naik. Meski semua tidak semulus yang dibayangkan. Tetap ada
jalur dan. tikungan tajam yang harus Rania lewati. Dan Pak Leo masih tetap pada kegigihan
konyolnya tidak mau mengucapkan kalimat talak untuk Rania.
Beberapa kali sesuai inginnya Pak Leo masih menghubungi Rania namun bila Pak Leo tidak
ingin maka Pak Leo akan memblokir WhatsApp nya dan Rania Pun tidak bisa
menghubunginya. Pak Leo demikian licik.
"Ayah, bunda akan menikah dengan lelaki lain, tolonglah ayah ceraikan bunda." Rengek Rania
lima tahun yang lalu.
"Ayah tidak akan mengeluarkan talak untuk bunda, karena ayah masih sangat mencintai
bunda. Ayah masih berharap kita menikah bunda."
Begitu konyol pemikiran Pak Leo. Namun lucunya, dalam kekonyolannya sekalipun Pak Leo
tidak pernah datang ke Jawa Timur untuk menjumpai Rania paling tidak untuk melakukan
negosiasi tentang rumah tangganya bersama Rania.
Uang Pak Leo banyak, rumah keluarga Rania pun Pak Leo tahu tapi sayangnya tidak sekalipun
Pak Leo datang bila memang Pak Leo serius melanjutkan hubungan mestinya ia datang.
Hari ini, saat Rania kembali dengan tampilan yang berbeda, Pak Leo justru mendekat serta
memberi label di seluruh tubuh Rania bahwa Rania adalah istrinya. Rania berada dalam
kekesalan yang berlipat-lipat.
Diseberang sana, Pak Leo masih juga bicara. Namun Rania memilih diam tidak bersuara.
Beberapa menit kemudian.
'Sunyi' sepertinya Pak Leo telah memutuskan sambungan telp nya.
Rania mengusap peluh yang mendadak muncul di kepalanya. Peluh yang muncul saat udara
dingin kamar masih menyentuh pori-pori wajahnya. Peluh yang mestinya tidak perlu ada.
Rania geram.
Ia menunggu pagi tiba untuk melaksanakan misi selanjutnya.

PERTEMUAN

Rania merasa lelah terus menerus berada di dalam kamarnya. Hanya demi menghindari
kedatangan Pak Leo. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa mulai hari ini ia tidak perlu
takut terhadap apapun. Ia punya Tuhan, Punya banyak teman yang mengerti hukum dan juga
punya uang. Rania akan melawan setiap intimidasi yang diarahkan padanya.
Tadi malam ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melakukan apapun untuk
kemenangannya.
Rania mematut dirinya di depan pintu almari yang terbuka. Baju panjang dengan aksen bagian
bawah lebar dan kecil di pinggang adalah mode yang paling di sukai Rania. Di Samping agar
tubuhnya yang kecil tidak terlalu nampak kecil juga karena baju dengan model itu memang
sering kali membuat Rania merasa nyaman.
Ia memilih warna ungu tua untuk ia kenakan hari ini. Tas ungu muda dan jilbab dengan warna
senada. Sepatu hak tinggi berwarna hitam dengan belahan depan membuat jemari kakinya
yang putih bersih itu terpampang indah.
Bedak tipis juga lipstik warna muda ia oleskan di wajahnya. Rania tampak menarik.
"Mau ke kampus bu ?" tanya Sri pembantunya yang melihat Rania tampil cantik dan sedang
duduk di kursi samping meja makan.
"Iya mbak."
Rania melanjutkan makan pagi dengan lauk telor dadar dan sambal kecap.
Sri juga melanjutkan aktivitasnya di luar rumah.
Hingga Rania keluar dari pintu rumah menuju mobilnya.
"Hati-hati di jalan ya bu." Suara Sri. Rania tersenyum kemudian mengendarai mobilnya pergi
meninggalkan rumah. Ia berniat berjalan-jalan ke Duta Mall, mall terbesar di Banjarmasin.
Langit yang bersih tanpa awan menambah ceria suasana, Rania sengaja tidak menghubungi
siapapun dalam perjalanannya kali ini. Ia ingin sendiri.
Menyusuri bangunan megah itu sambil mata Rania menebar ke seluruh penjuru, mencari
tempat yang tepat untuk memilih barang apa yang ingin ia beli. Tas, baju, jilbab, jam tangan
ia sudah punya banyak sekali. Lalu apa ?
Ia mengembangkan inginnya. Mulai mencari sesuatu yang ia inginkan meski tidak terlalu ia
butuhkan. Pilihannya sampai pada toko aksesories yang banyak di penuhi anak muda. Rania
memilih satu persatu yang unik menurutnya.
Usai belanja ia pun akhirnya memilih tempat beristirahat, duduk dan makan-makanan ringan.
Yang tidak mengenyangkan namun enak untuk dimakan.
Ia memilih cafe makanan jepang. Memesan siomay ayam dan takoyaki juga es thai tea rasa
original. Rania duduk di meja nomer tujuh puluh dua. Dari tempatnya ia bisa melihat banyak
orang yang datang namun orang terhalang pandang melihat dirinya.
Beberapa pasangan masuk ke cafe yang sama. Rania masih sibuk dengan ponselnya. Sesaat
kemudian nampak sebuah keluarga, seorang ibu dengan empat orang anak mereka duduk
tepat di depan Rania. Rania melotot melihat mereka. Sepertinya Rania kenal dengan mereka.
Rania mencoba meneliti memorinya. Satu persatu kenangan ia buka. Saat kenangannya
hampir genap lima puluh persen ia membuka akun facebooknya lalu mengetik sebuah nama.
Rania makin yakin mereka yang duduk tepat di sebrang mejanya adalah keluarga yang sangat
ia kenal terlebih ketika seorang lelaki dengan kaca mata minus datang. Pak Leo lengkap
dengan anak dan istrinya, mereka makan kemudian berbincang.

Rania mengarahkan kamera ponselnya pada mereka. Mengambil beberapa gaya kemudian
mengirimkan foto tersebut pada chat whatsapp pribadi milik Pak Leo dengan tulisan 'Mesra',
'keluarga bahagia'.
Pak Leo membuka chat tersebut lalu menebar pandang ke sekeliling cafe. Saat pandangan
Pak Leo tertuju padanya saat itu Rania tersenyum serta melambaikan tangan menggoda. Pak
Leo nampak gugup membalas senyum Rania.
Rania mengejek Pak Leo dalam hatinya.
Makanan yang Rania pesan belum habis semua namun Rania memilih meninggalkan makanan
tersebut, selera makannya hilang melihat orang-orang yang duduk di depannya.
Rania berjalan, melenggang santai mendekati meja itu. Pak Leo makin gelisah. Sesaat
kemudian Tania telah sampai di dekat mereka.
"Assalamualaikum," suara Rania merdu. Pak Leo berdiri saat melihat Rania mendekat.
"Waalaikumsalam," suara mereka kompak.
"Hei, ini Meris ya ? duuh sudah besar dan cantik." Rania mengajak anak-anak Pak Leo berjabat
tangan kemudian mencium kening anak-anak perempuannya.
Istri Pak Leo menatap tajam pada Rania. Rania tersenyum sambil mengerling nakal.
Pak Leo nampak bingung.
"Apa kabar mbak ?" tanya Rania ramah pada istri suaminya.
"Baik" Jawab wanita yang masih saja tidak cantik itu dengan ketus.
"Oke silahkan di lanjut acara makan-makannya." Rania mempersilahkan serta bermaksud
ingin pergi. Namun istri Pak Leo bertanya lagi.
"Dalam rangka apa kamu kesini ?" Rania terkejut mendengar pertanyaan itu.
Namun dengan santai Rania menjawab lagi.
"Kuliah, " suara Rania mantap.
"Maksudnya ?"
"Saya kuliah di Banjar mbak, di kampus Pak Leo dan saya pun juga tinggal untuk waktu yang
lama di Banjar masin ini. Sebentar, jadi ayah nggak cerita ke mbak kalau ayah sering ke
rumah?"
Pak Leo seperti tertohok batu besar mendengar kalimat Rania barusan. Ia seperti penjahat
yang sedang tertangkap.
Mata istri Pak Leo tajam memandang ke arah Pak Leo. Menuntut sebuah penjelasan atas apa
yang baru saja ia dengar dari mulut Rania.
"Sudah dulu ya saya pulang." Rania memutar langkah menuju tempat duduk Pak Leo.
"Ayah, bunda pulang dulu ya." Rania mengajak Pak Leo berjabat tangan, Pak Leo menerima
jabat tangan tersebut, beberapa detik kemudian Rania mengarahkan bibir merahnya untuk
mencium tipis pipi Pak Leo.
Istri Pak Leo menatap nanar kejadian di depan nya.
Rania melenggang dengan kemenangan. Sedangkan di sana, di meja itu terdengar mereka
berdebat dengan suara kencang. Tiba-tiba, 'prang' pecahan gelas sudah berserakan di mana-
mana.
Istri pertama Pak Leo marah. Ia merasa dibohongi dan ia merasa akan dikhianati lagi.
Rania tidak perduli pada riuh rendah suara mereka. Bukan urusan Rania. Mereka mau
bertengkar dengan gaya apa pun, Rania tidak akan perduli.
Rania bersenandung kecil menikmati permainan hari ini. Mengusap bibir tipisnya dengan tisu.
Ciuman untuk Pak Leo yang ia berikan tadi menimbulkan sensasi tersendiri baginya.
Sensasi ingin muntah!
*******

Rania melanjutkan perjalanannya menuju kampus. Ia menghubungi Septia dan benar saja
Septia berada di sana. Dengan cepat Rania menginjak gas mobilnya agar bisa segera berlari
menjumpai Septia juga Pak Budiman.
Rania bertekad untuk menceritakan semuanya perihal Pak Leo dan ancamannya.
Kampus sepi, sepertinya para mahasiswa masih betah berada di rumah karena memang
belum ada instruksi untuk melaksanakan perkuliahan dengan tatap muka langsung.
Rania memarkir mobilnya di bawah pohon rindang. Ia meletakkan kepalanya pada sandaran
kursi mobil. Tubuhnya terlalu letih.
'Apa sebaiknya aku pulang ke Jawa dan membiarkan semua berlalu begitu saja?' Rania mulai
putus asa.
Sepertinya jalan yang akan ia tempuh akan demikian panjang dan melewati banyak episode.
'Tapi bila aku tidak datang dan menuntut talak bagaimana aku bisa menikah dan melanjutkan
hidup ku ?' Rania menggumam dalam kilatan hatinya. Andai saja makhluk yang bernama Leo
itu mau berbuat bijak, pasti masalahnya tidak seperti ini. Rania gelisah.
Apa susahnya mengucapkan kalimat talak ?
Mengapa harus menunggu bertahun-tahun ?
Bila masih cinta mengapa tidak segera menyelesaikan ? Kenyataannya Pak Leo masih sangat
takut pada istri tua nya. Lalu kemauannya apa ?
Rania membenturkan kepalanya pada kemudi. Ia merasa telah menempuh banyak jalan agar
niat nya untuk bercerai tidak menemukan jalan buntu.
Rania bosan diperlakukan demikian.
Beberapa menit kemudian Rania melihat Pak Yuda masuk ke ruangan. Rania turun bermaksud
mengejar beliau.
"Pak Yuda," Panggil Rania pada dosen ganteng, tinggi besar dan berkaca mata minus.
"Eh Rani, apa kabar ?" Mereka saling menyapa, Pak Yuda mengajak Rania menuju ruangannya,
namun belum sempat Rania mengikuti langkah Pak Yuda, seorang pegawai berbicara,"Itu
Rania"
"Iya, setelah gagal dengan Pak Leo, Pak Budiman sekarang dengan Pak Yuda."
Rania ingin sekali marah dan menempeleng wajah orang-orang yang bergunjing di sana
namun Pak Yuda melarangnya.
"Tidak usah di hiraukan."
"Kelakuan mu menunjukkan kualitas diri mu." Tenang saja."
Rania menunduk. Ia mengikuti langkah Pak Yuda. Dosen baik hati yang sangat
menyayanginya, sejak dahulu.
"Tidak usah berjalan dengan menunduk, biasa saja. Kamu harus berani melihat dunia. Jangan
mau kalah hanya karena kamu memiliki kesalahan sedikit saja."
Pak Yuda terus bicara sambil langkah tegapnya menyusuri tangga biru bersama Rania.
"Bagaimana kabar mu? aku dengar sekarang serius dengan Pak Budiman?" Rania menatap
Pak Yuda dengan tatapan gelisah.
"Ran,"
Rania masih diam.
"Kamu sepertinya begitu tertekan, ada apa ?"
"Rani baru saja bertemu Pak Leo." Rania membuang pandangannya.
"Lalu ?"
Rania menceritakan semua kejadian yang dialaminya tadi dengan berbagai rasa yang
membuncah.
Rania menangis. Hatinya sakit.

"Saya tidak ingin di perlakukan adil, saya tidak ingin minta sedikitpun harta yang dia punya.
Saya hanya ingin DICERAIKAN sesuai tuntunan agama." Rania terus menangis. Hatinya
berdarah. Rasanya perih sekali.
Ia tahu, kebodohan terbesarnya adalah saat ia mau dinikah secara sirri beberapa tahun yang
lalu tanpa saksi dari orang-orang yang berpengaruh. Saat itu hanya ada abah dan beberapa
karyawan. Saat ini abah sudah meninggal.
Rania membiarkan tubuh lemahnya tergeletak di atas sandaran kursi ruangan Pak Yuda.
Pak Yuda menghubungi Pak Budiman. Sepertinya Pak Yuda ingin bertukar pendapat.
Pak Budiman datang, ia demikian terkejut melihat Rania dengan mata bengkak akibat
terlampau sering menangis.
"Silahkan duduk" Pak Yuda memberi kesempatan pada Pak Budiman untuk duduk.
Pak Budiman duduk, mencoba mengikuti apa yang ingin dibicarakan oleh Pak Yuda.
"Sebaiknya segera di selesaikan." Pak Yuda bicara tegas.
"Iya pak, kemarin hampir selesai sampai kemudian Rania memilih untuk kembali pada Pak
Leo, saya juga tidak mengerti alasannya apa."
Pak Yuda mengernyitkan dahi.
"Benar, Ran"
Rania mengangguk.
"Hari itu saya pulang ke Jawa untuk ongkos saya akhirnya menggadaikan mobil yang di beli
atas nama Pak Leo tapi kreditnya menggunakan uang saya. Pak Leo bilang itu sebuah
kejahatan karena pada akhirnya Pak Leo yang menebus mobil tersebut. Saat itu saya sudah
mencicil lima kali. Saya gadaikan tiga puluh juta. Atas dasar itu Pak Leo menekan saya, beliau
berkata akan menuntut saya. Itu sebabnya saya mau menandatangani surat pernyataan
bahwa saya adalah istrinya."
"Ba***ng*n !" tandas Pak Budiman gemas. Ia demikian marah pada Pak Leo.
"Tidak ada hukum hutang piutang atau tipu menipu selama ikatannya masih suami istri. Itu
hukum yang benar. Kamu di tipu, Ran." Pak Yuda menjelaskan.
"Saya ganti saja uang empat puluh juta yang di keluarkan Pak Leo."Pak Budiman bicara.
"Tidak perlu. Pak Budiman sudah banyak membantu saya, dulu saya memang miskin tapi
sekarang saya punya pak, uang empat puluh juta." Semua diam tidak ada jawaban.
"Tapi bagaimana cara mengembalikannya ?"
Semua diam.
"Bagaimana kalau tiba saatnya nanti uang di kembalikan tapi Rania tidak juga menerima
kalimat talak?"
"Ajak saja jumpa baik-baik. Ngobrol baik-baik. Dirumahnya, bersama istrinya. Dia pasti tidak
bisa mengelak."
Semua diam dan berfikir. Sepertinya saran itu benar.
"Bila itu tidak berhasil, maka ancam saja secara kedinasan."
Rania menerawang, mengapa harus sepanjang ini urusannya bila hanya untuk sebuah kalimat
talak. Rania menyesal.
Cinta yang pernah ia titipkan pada Pak Leo dengan cara yang baik mengapa harus berakhir
buruk ?
Rania sangat sedih.
"Bagaimana ?"
"Setuju, Pak." Jawab Pak Budiman cepat.
Pak Budiman mengajak Rania pulang. Mereka berdua berpamitan pada pak Yuda.
Sesaat kemudian ponsel Rania bergetar.

Pak Leo menghubunginya lagi, ada apa ?
"Angkat saja, Ran" ucap Pak Yuda.
Rania mengangkat telpon tersebut sambil menekan tombol loudspeakernya.
"Bunda dimana ?"
"Di kampus."
"Bunda nanti malam ayah jemput ya."
"Untuk apa ?" Rania nampak makin pucat keringat dingin bercucuran.
"Mbak ingin bicara, kita bicara baik-baik sayang."
"Malam ini aku nggak bisa. Besok saja."
"Oke besok ayah jemput ya."
Usai berbincang Rania kemudian mematikan telponnya.
Pak Yuda menyembunyikan senyum sambil menatap langit-langit ruangan. Pak Budiman pun
melakukan hal yang sama.
Cinta, selalu punya cara mencari jalan keluar atas harapan yang tidak tercapai. Cinta selalu
memberi kemudahan bukan kesulitan. Cinta selalu indah.
Bila tidak ada hal tersebut maka pasti itu bukan cinta.
Rania meninggalkan kampus bersama Pak Budiman. Lelaki baik yang rela bersusah payah
mengurus hidup orang lain hanya demi mendapat ridho Allah. Lelaki yang sangat istimewa
dan sudah langka di dunia.

CERAIKAN AKU

Minggu pagi yang sepi,
Rania masih berada di dalam bed covernya. Enggan rasanya beranjak pergi dalam suasana
mendung begini. Laptopnya masih menyala, ia ingin menuntaskan novel yang sudah ia tulis
dan telah terikat dengan 'Goodnovel, Innovel juga KBM'. Harusnya ia segera menyelesaikan
tapi berhari-hari ini kepalanya terasa pening. Ia seolah tidak punya inspirasi untuk
melanjutkan ceritanya. Pusing sekali rasanya.
Rania tidak menemukan cara untuk membuka kalimat dalam novel-novelnya.
Hari ini Rania akan berkunjung ke rumah Pak Leo bersama Pak Budiman. Ia sengaja bilang
besok saat Pak Leo menelphon agar Pak Leo tidak perlu menjemputnya.
Ponselnya bergetar,
Pak Budiman menghubunginya.
"Sudah mandi, Ran ?"
"Assalamualaikummm" Rania menggoda dengan mengucapkan salam. Mungkin Pak Budiman
lupa dengan salam itu.
"Oh iya, waalaikumsalam"
Pak Budiman tertawa renyah.
"Sudah siap ?"
"Lho, jam berapa sekarang ?"
"Sudah jam delapan, Ran"
"Astaghfirullah, ku fikir hari masih pagi." Rania mendongakkan kepalanya sambil satu
tangannya membuka korden yang menjuntai di kaca jendela kamar.
"Ya Allah, Pak. Saya mandi dulu ya. Maaf saya baru bangun. "Ucap Rania gugup.
"Iya cepetan mandi, dandan yang cantik supaya Pak Leo terpesona nanti." Pak Budiman
menggoda Rania. Yang di goda manyun, sedikit marah.
"Rani tutup dulu telp nya ya, "
"Boleh, tapi bisa nggak ya pintu pagarnya di buka, haus nih."
"Pak Budiman, dimana ?" Tanya Rania.
"Sudah di depan rumah bu Rani."
Rania bergegas menutup sambungan telpnya. Berlari keluar kamar dan meminta Sri
membuka pintu pagar.
Rania bergegas menuju kamar mandi. Membasuh tubuhnya dengan air shower yang
mengucur deras.
Ia mengingat semua kejadian saat bersama Pak Leo. Hal yang paling mereka sukai adalah,
mandi bersama di bawah air yang mengalir deras. Mencumbui rambutnya yang basah seraya
bibir mereka saling berpagutan, meraka saling memuji, kekaguman yang tumpah ruah
meluncur dari lidah mereka.
Semua itu segera akan jadi kenangan. Sesaat lagi Pak Leo akan menceraikannya, dan semua
kenangan tentang Pak Leo akan ia kubur dalam-dalam.
Gaun warna hitam panjang dengan tempelan diamond di sekitar tepian kain membuat gaun
itu nampak mahal dan elegan. Jilbab kuning menyala dengan aksen diamond serupa,
menggantung menutupi rambutnya. Rania mengoleskan bedak dan lipstik tipis. Ia mulai
nampak cantik, terlebih ketika maskara menempel di bulu mata lentiknya.
Rania mengerjapkan bola mata indahnya.
Ia keluar menemui Pak Budiman.

"Saya sudah siap."
Pak Budiman menatap Rania takjub.
"Kalau menemui Pak Leo cantik begini bagaimana Pak Leo bisa ikhlas menceraikan ?"
"Penampilan saya salah ya, Pak ?" Tanya Rania bingung.
"Nggak salah kok, santai saja."
Mereka menuju rumah Pak Leo, celoteh dan candaan ringan mengalir dari bibir Pak Budiman.
Ia sengaja menciptakannya agar suasana tidak tegang. Pak Budiman tahu Rania sedang tegang
luar biasa.
Rumah Pak Leo nampak sepi, tapi empat mobilnya tertata rapi.
Ada Ayla merah milik Rania.
Ayla merah yang akhirnya jadi sengketa. Ayla merah yang di dalamnya ada uang Rania yang
dia peroleh dari keringat halalnya saat dulu masih bekerja. Ayla merah itu bertengger di
halaman rumah sejajar dengan mobil yang lain.
Rania membatin. Dasar tidak tahu malu, kalau aku jadi istri Pak Leo aku tidak sudi melihat
Ayla itu di depan mataku apalagi setiap hari berada di rumahku.
Sulit memang, standart harga diri seseorang tidak bisa ditentukan dari seberapa tinggi
pendidikan tapi dari seberapa tajam ia punya hati nurani. Dan hal itu yang sedang terjadi hari
ini.
Rania dan Pak Budiman turun dari mobil saat nampak istri Pak Budiman sedang berada di luar.
"Assalamualaikum" Istri Pak Leo terkesiap ketika melihat wajah tamunya pagi ini.
"Ada apa ?" tanya wanita itu sangat tidak sopan.
"Saya ingin bertemu Pak Leo, Bu." Begitu pesan Pak Budiman.
Mendengar itu istri Pak Leo yang bernama Laela membuka pintu pagar.
Mereka berdua masuk tanpa di persilahkan.
Pak Leo keluar,
"Lho ada apa ?"
"Bunda ingin kita bicara baik-baik, Ayah."
Laela keluar dari dalam rumah. Ikutan nimrung di ruang tamu.
"Ada apa pagi-pagi kemari ? sudah janjian ?" Tanya Laela.
Rania menggeleng.
"Ini inisiatif saya dengan Pak Budiman untuk datang dan bicara baik-baik "
"Iya yang ingin dibicarakan apa ?" Tanya Laela.
"Ayah, bunda ingin kita membicarakan hubungan kita. " Rania bicara pada Pak Leo tanpa
menoleh pada Laela.
"Hubungan tentang apa, bunda."
"Kita sudah lima tahun tidak bersama tapi ayah tidak mau menceraikan bunda. Tolong
kasihani bunda, Yah."
"Ayah tidak bisa bunda."
Laela istri Pak Leo marah melihat roman picisan di depan matanya, di dalam rumahnya. Dan
ia pun menyela.
"Cukup, ini sebenarnya ngomong apa.Diam dong, ini rumah ku kenapa kalian malah bikin
roman disini." Laela bicara dengan bibir ditarik ke depan, mata melotot dan suara keras.
"Kamu yang diam, ma. Kami masih bicara." Pak Leo marah.
"Papah kenapa jadi marah ke mama, kalian selesaikan masalah kalian di luar!" usir Laela.
"Kamu itu yang cari masalah, "
"Kok bisa aku ?"
"Iya kamu.!"

"Wanita ini yang cari masalah !" Laela mengarahkan telunjuknya tepat di wajah Rania. Rania
menepis telunjuk itu dengan kasar. Laela makin tidak terkendali.
"Kamu itu tidak tahu malu, Leo ini suami ku."
"Suami ku juga !" Laela tidak mai mengalah. Ia muak sudah cukup lama menahan amarahnya.
"Mah, kamu bisa nggak diam sebentar. Selama ini papah sudah mengikuti kemauan mu, kamu
yang setuju papah menikah dengan Rania, lalu kamu juga yang mengancam untuk bunuh diri
dan membunuh anak-anak kalau papah meneruskan hubungan papah dengan Rania!" Pak
Leo membuang nafasnya. Ada perih menggantung di matanya.
"Andai bukan karena permohonan mu hari itu, aku tidak akan menikahi suami mu. Dan andai
bukan karena aku iba melihat wajah mu yang minimalis itu. HARI INI JUGA AKU AKAN
MEMBAWA SUAMI KU KE RUMAH KU.!"
Rania mulai marah. Nampak sekali dari nafasnya yang tidak beraturan.
"Tapi faktanya papah suami ku ayah dari anak-anak ku.!" Laela terisak.
"Kamu tidak usah menangis, percuma. Aku tidak akan iba pada wanita licik seperti mu."
"Justru hari ini aku datang kemari untuk minta suami ku mengucapkan kalimat talak padaku.
Agar aku bisa bebas menikah dengan lelaki yang lebih baik dan agar hubungan ku terputus
dengan mu juga keluarga mu.!"
"Paksa suami mu, ayo."
Rania membelalakkan matanya pada Laela.
Laela bungkam.
"Pa, tolong ceraikan Rania."
Laela memohon, Pak Leo menggeleng kuat. Wajahnya menunduk ada bening di pelupuk
matanya. Lelaki seperti Pak Leo menangis ? Sedemikian dalam kah lukanya.
"Pa, tolong demi mama dan anak-anak ceraikan Rania." Pak Leo menggeleng lagi. Laela mulai
gemas. Ia masuk ke dalam rumah mengambil pisau dapur, Pak Budiman panik. Rania
menyentuh lengan Pak Budiman.
"Kalau papah tidak mau menceraikan Rania, mamah bunuh diri. Mamah capek Pa.!" Laela
mulai memainkan drama Korea.
Dan bukannya mencegah Pak Leo malah bangkit dari duduknya, melangkah keluar kemudian
pergi dari rumah entah kemana.
Rania mencoba mengejar namun tak bisa.
Pak Budiman dan Rania masuk mobil. Mengemudikan mobilnya keluar kompleks. Berharap
bisa menemukan Pak Leo. Namun sayang Pak Leo tetap tak nampak.
Usaha Rania untuk mendapatkan cerai dari suami Sirri nya hari ini gagal lagi.
Satu jam kemudian, saat Rania telah duduk di dalam rumah Rania mendapat telp dari pihak
rumah sakit.
"Ini bu Leo ?"
"Maksudnya?"
"Kami menemukan handphone ini dan di kontak beliau ada nama Istriku 1 dan istriku 2. Saya
coba menghubungi istri ku 1 apa benar ibu ?"
"Saya masih tidak mengerti ?"
"Ini dari rumah sakit ibu, suami ibu bapak Leo kecelakaan. Sebuah mobil menabrak beliau dari
belakang."
"Apa ?" Rania terkejut bukan kepalang. Hatinya kembali berdarah. Wajahnya pucat luar biasa.

MENYELAM TANPA PELAMPUNG

"Apa kita perlu melihat kondisi, Pak Leo ?" Tanya Rania pada Pak Budiman.
"Menurut bu Rani bagaimana ?"
"Terserah saja,"
"Kalau bu Rani ingin melihat saya antar, " sambung Pak Budiman cepat.
"Sepertinya tidak, Pak." Jawab Rania cepat.
Matanya menatap jauh ke depan, sangat jauh.
Sudah jelas terbukti bahwa Pak Leo meninggalkan dirinya karena takut pada ancaman Laela,
ia takut Laela bunuh diri dan membunuh anak-anaknya bila ia kembali pada Rania.
Ketakutan yang bodoh, seorang akademisi dan praktisi hukum sekelas Pak Leo bisa percaya
dan tunduk pada ancaman bodoh seperti itu.
Rania menghela nafas panjang. Tidak ada seorang pun yang mau bunuh diri dan membunuh
anak-anaknya sendiri hanya demi orang lain. Bodoh sekali. Seperti atraksi Laela pagi tadi,
tentang pisau dapur yang menempel pada urat nadi. Bohong, itu dusta yang luar biasa.
Faktanya sampai hari ini Laela tidak memotong urat nadinya.
Itu hanya sebuah upaya untuk membawa seseorang agar berada dalam tekanannya.
Pun, ketika ia melihat Pak Leo menggeleng saat dirinya meminta Pak Leo menceraikan Rania,
Laela hanya meletakkan pisau dapur di atas tangannya, Laela tidak benar-benar memotong
lengannya. Ini hal konyol, dan hanya orang konyol yang percaya hal konyol.
Kebodohan itu yang akhirnya membuat Rania menderita bertahun-tahun. Rania tidak bisa
mentolerir kebodohan Pak Leo.
Apa yang diperbuat Pak Leo pada dirinya sungguh keterlaluan.
Jadi keputusannya sudah bulat, ia tidak akan datang ke rumah sakit hanya untuk melihat
keadaan Pak Leo. Suaminya.
Sama, seperti saat Rania rawat inap di sebuah klinik swasta di Martapura beberapa tahun
yang lalu, Pak Leo tidak datang melihatnya. Tidak sama sekali.
Membalas dendam itu memang tidak baik tapi memberi pelajaran pada seseorang yang tidak
mengerti itu kewajiban. Anggap saja ini sebuah pembelajaran bagi Pak Leo agar beliau bisa
lebih faham bagaimana caranya bersikap.
"Tapi kalau kita tidak datang, siapa yang akan menghubungi keluarga Pak Leo ?" tanya Pak
Budiman pada Rania, sepertinya beliau mulai bimbang. Rasa tidak teganya mulai muncul.
"Atau kita kunjungi saja sebentar, setelah itu kita tinggalkan saat bu Laela sudah datang."
"Tidak perlu, Pak."
"Nanti kalau Pak Leo sudah baikan, beliau pasti bisa menghubungi keluarganya." Tandas
Rania. Kali ini Rania seperti raja tega. Ia bahkan tidak kasihan sama sekali pada Pak Leo.
Pak Leo sedang menikmati kemalangannya.
Ia sedang bersenandung lagu sedih akibat kebohongannya. Akibat perlakuannya.
Disatu sisi mungkin ia mencintai Rania, tapi disisi lain ia takut terhadap istri lainnya.
Lelaki itu harusnya punya sikap, bukan lemah seperti itu.
Lelaki itu pemimpin, yang di dalamnya harus ada kekuatan untuk mensejahtera kan orang-
orang yang di pimpin, bukan mencari jalan selamat atas nama harga diri dan kehormatannya
sendiri.

Langit merona merah, teriknya mulai terasa, pukul satu siang, dan Pak Budiman masih ada di
ruang keluarga rumah Rania. Ia diam, bingung memikirkan. Mencari jalan keluar atas
permasalahan yang sedang terjadi.
Naluri lelakinya sedih dengan masa depan Rania, namun perasaannya juga sebenarnya iba
pada nasib Pak Leo.
Ia pernah tahu rasanya bagaimana mencintai dengan dalam. Bagaimana perasaan cinta
berlebih yang datang. Ia tahu rasanya, rasa itu kuat dan tidak tergantikan.
Ia tahu bagaimana rasanya jadi lelaki saat harus mencintai namun tak sampai.
Ia tahu bagaimana rumitnya menjalani semua yang di jalani Pak Leo saat ini.
Sebagai lelaki ia sangat tahu.
Beradaptasi dengan rasa sakit memang tidak mudah. Mungkin Pak Budiman pun tidak akan
mampu melakukannya bila ia harus berada di posisi Pak Leo.
Melihat seseorang yang sebenarnya sangat dicintai tiba-tiba muncul dengan kecantikan dan
kehebatan. Saat itu iman lelaki di uji.
Mungkin sekarang Pak Leo sedang berusaha mencari jalan keluar untuk mewujudkan
keinginannya kembali. Dengan iming-iming uang dan kekayaan, sayangnya Pak Leo lupa
bahwa wanita yang ia tawarkan iming-iming uang dan kemewahan hari ini telah memiliki hal
yang sama.
Andai saat ini Pak Budiman jadi Pak Leo, ia akan minta maaf pada Tania dengan sungguh-
sungguh lalu menceraikan Rania sesuai keinginannya. Karena ucapan talak adalah hak yang
harus diterima seorang istri. Pak Leo harus melakukan ini dengan cara yang benar, karena
lawannya adalah Tuhan.
Rania muncul dengan roti bakar di atas piring kristal. Ia menyuguhkannya pada Pak Budiman.
Pak Budiman tersenyum ramah, pada Rania. Mereka menikmati roti bakar dan es buah nenas.
Lezat, diminum saat hawa panas.
"Bu Rani, beneran tidak ingin memaafkan Pak Leo ?"
"Saya sudah maafkan, Pak."
Jawab Rania sambil menikmati roti bakar.
"Sejak lama sudah saya maafkan, sejak anak kami harus lahir dan mati, saya sudah maafkan
semua kesalahannya. Saya selalu minta pada Tuhan, bila ia harus dihukum mohon jangan
dihukum dengan kesedihan, biarkan dia berlimpah harta dan kemewahan. Mudahkan
jalannya memperoleh harta sampai saatnya nanti kami dipertemukan di hari pembalasan."
Rania menjawab panjang.
"Jadi bu Rani dan Pak Leo pernah punya anak?"
Rania mengangguk.
"Pak Leo tahu ?"
"Tahu lah, Pak. Saat itu saya beli test pack di Malang, saat Pak Leo datang mengunjungi saya.
Saat itu dia tahu bahwa hasil tes positif."
"Astaghfirullah," suara Pak Budiman.
"Terlalu banyak korban dari hubungan ini, mestinya Pak Leo menyudahi ini semua."
Rania mengangguk lagi.
"Bukan hanya saya mungkin, Pak. Mungkin ada wanita-wanita yang lain hanya saja mereka
tidak punya cara untuk bicara.
Saya pun sebenarnya tidak menuntut apa-apa, saya hanya ingin di talak. Sudah itu saja."
"Apa susahnya, Pak. Memenuhi keinginan saya, agar saya bisa melanjutkan hidup saya." Rania
bicara menerawang.

"Mungkin saat ini saya telah berjaya dan punya uang. Tapi saya juga butuh perhatian dan
kasih sayang."
"Untuk tetap menjadi istri Pak Leo sudah tidak mungkin, Pak. Laela tidak akan terima, kecuali
kalau Pak Leo menceraikan Laela, itu pun Pak Leo tidak akan pernah berani."
"Laela itu bukan saya, Pak. Saya hanya diam tidak menuntut atas semua perlakuan Pak Leo.
Sedangkan Laela, saat nanti Pak Leo meninggalkannya dia pasti akan menggugat kedinasan
suaminya, Laela pasti punya kartu untuk mematahkan kedinasan suaminya. Kecuali," Rania
menggantung kalimatnya.
"Kecuali apa ?"
"Kecuali Pak Leo sudah siap miskin."
Jawab Rania mencibir.
Pak Budiman membenarkan kalimat panjang yang disampaikan Rania.
Hingga terdengar bunyi bel berdentang. Rania melihat dari balik tirai jendela.
"Siapa, Bu ?" Tanya Pak Budiman.
"Sepertinya Laela,"
"Untuk apa ia kemari ?"
"Entah."
Usai adzan isya Rania membenamkan tubuhnya di ranjang empuk dan harum miliknya. Aroma
lavender yang menyeruak membuat ia merasa harus terus terbenam di sana. Tubuhnya letih.
Tadinya ia ingin langsung tidur namun sayang ia justru enggan terpejam.
Otaknya berjibaku dengan rasa enggan yang kian dalam. Ada yang sedang ia pikirkan.
Pak Leo,
ia sedang berpikir kuat tentang Pak Leo. Sudahkah Laela menemui Pak Leo di Rumah sakit ?
Untuk apa Laela datang ke rumah Rania siang tadi ?
Dari siapa Laela tahu rumah Rania ?
Rania bermonolog.
Ia mengguling-gulingkan tubuhnya di sprei lembut miliknya. Ia merasa gusar.
Bagaimana jika Pak Leo belum dikunjungi keluarganya ?
Bagaimana bila kedatangan Laela tadi untuk menanyakan keberadaan suaminya ?
Bagaimana bila itu terjadi ?
Rania bangkit,
membuka pintu almari berwarna putih. Menarik lacinya pelan, ia membuka kotak ramping
yang terletak di laci tersebut.
Beberapa lembar foto tergeletak di sana. Foto pernikahan dirinya dengan Pak Leo lima tahun
yang lalu. Rania sengaja mencetak foto tersebut untuk ia gunakan sebagai bukti bila suatu
hari dibutuhkan.
Malam ini Rania memandangi satu persatu foto itu sambil berbaring.
Rania benci dengan lelaki ini namun Rania iba terhadapnya, iba yang timbulkan cinta, ah,
Rania mendadak resah.
Ia berdiri, mengambil jilbab lebarnya, ia kenakan di kepala. Ia biarkan foto-foto itu tergeletak
berserakan di atas tempat tidurnya.
Rania bangkit hanya dengan mengenakan baju tidur, celana panjang dan atasan lengan
panjang dengan motif bunga. setengah berlari Rania keluar dari kamarnya, membawa ponsel
dan dompet kecil.
Lalu menyambar kunci mobil yang berada di meja riasnya.
Ia keluarkan mobilnya tanpa bicara pada siapapun. Rania ikuti isi hatinya. Menyusuri jalan A
Yani, lurus terus. Jalanan nampak lengang, kurang lebih setengah jam mobil itu beradu

dengan aspal jalanan. Ia memutar mobilnya menuju sebuah tikungan ke kanan. Sebuah
bangunan megah berdiri, nampak sunyi tak ada orang yang lalu lalang.
Hanya beberapa mobil terparkir. Juga puluhan motor berjajar.
Rania turun dari mobilnya, menemui petugas jaga dan menyebutkan sebuah nama. Petugas
jaga itu menunjukkan sebuah lorong.
Intensive Care Unit.
Ruangan bersih dikelilingi kaca lebar. Bau alkohol menyebar di mana-mana. Rania menatap
barisan tempat tidur yang berjajar. Lima jarinya menempel di kaca lebar itu.
Pandangan matanya menatap pada wajah yang matanya sedang terpejam.
Wajah damai itu, Rania memutar tubuhnya, membiarkan punggungnya tersandar di kaca.
Rania menyayangi wajah itu. Sungguh, diantara rasa geramnya telah di perlakukan tidak adil.
Wajah itu kini terbaring lemah tanpa penjaga. Rania masih yakin laki-laki itu bisa menjadi baik
bila ia berada di tangan wanita yang baik.
Air mata Rania turun, turun tanpa di minta. Ia ingat malam pertama mereka, ia masih ingat
kecupan pertama di kening nya saat mereka melalui sholat malam berdua. Ia ingat saat lelaki
itu memuji masakannya yang terlalu asin. Ia ingat semuanya.
Air matanya kian deras kini.
Ia ingat bahwa lelaki itu telah banyak berputar dari satu wanita ke wanita yang lain, ia masih
sangat ingat.
Tubuh Rania bergetar, beberapa perawat mendekati lelaki itu, mengalungkan oksigen dan
meletakkan di hidung nya. Lelaki itu susah bernafas lagi. Rania menatap nanar kejadian itu. Ia
ingin mendekat namun langkah kakinya berat. Ada banyak alat menempel di tubuhnya.
Sebenarnya ia kenapa ? tanya Rania. Ia merasa bodoh luar biasa.
Pak Leo.
Bohong bila seorang istri tidak menghawatirkan suaminya.
Bohong bila seorang istri tidak berdoa untuk kebaikan suaminya.
Bohong bila seorang istri tidak ingin menjaga keutuhan rumah tangganya. Bohong besar.
Istri adalah makhluk dengan telaga luas membentang, kebaikannya melebihi kebaikan dunia.
Kehebatannya dalam menjaga rasa melebihi apapun. Istri, dimanapun berada terus berdoa
untuk kebaikan suaminya. Seperti juga saat ini yang dialami Rania.
Rania mendekati seorang perawat.
"Maaf mohon ijin bertanya, apakah pasien yang bernama Pak Leo sudah ada keluarganya
yang datang ?"
"Pak Leo ?" perawat itu mengernyitkan dahi lalu melihat deretan pasien.
"Pak Leo yang itu ?"
"Iya,"
"Belum, belum ada satu pun keluarga yang datang. Apakah anda istrinya."
Rania mengangguk pelan dan samar, ia malu berkata bahwa dirinya istri namun ia takut
mengingkari statusnya bila ia berkata bukan istri..
"Ibu ingin berjumpa pasien ?" tanya perawat tersebut.
"Tidak, " suara Rania parau.
"Pasien tadi sempat sadar bu, saat di tanya apa ada keluarga yang ingin di hububgi pasien
hanya menggeleng. Apakah ibu dan beliau sedang bertengkar ?" perawat itu bicara panjang
lebar kemudian menambahkan kalimatnya lagi.
"Pertengkaran antara suami istri bisa terjadi kapanpun dan berkali-kali, namun setiap
pasangan suami istri selalu tahu kapan waktunya menyudahi. Maafkan saya bu bila saya
lancang.

Saya pernah marah pada suami saya hingga berhari-hari, namun sepulang kerja saya melihat
rumah saya telah penuh dengan orang yang berdesakan. Saya melihat tubuh suami saya
terbujur kaku bu, dia jatuh di kamar mandi. Kepalanya membentur lantai hingga terjadi
pendarahan di otak. Dia meninggal sebelum saya minta maaf." Perawat itu menunduk, ia
menangis.
"Kita tidak petnah tahu siapa yang akan pergi lebih dahulu yang kita tahu kita bisa berbuat
baik sebelum Tuhan meminta kita untuk pulang. Tidak ada salahnya untuk saling memaafkan
Sebelum menyesal."
Kemudian perawat itu pergi. Meninggalkan Rania yang terdiam sendiri. Rania melihat wajah
yang telah menggantung statusnya bertahun-tahun tanpa alasan yanh jelas. Rania merasa
sangat sakit.
Ia berlari pergi, meninggalkan ruangan itu, semakin menjauh kemudian hilang di terpa angan
dan bayangan.
Rania terus menangis sepanjang jalan.
Haruskah ia beradaptasi dengan rasa sakit dan berkolaborasi lagi dengan lelaki yang pernah
membuatnya sakit ?
Rania lelah, dada kirinya terasa nyeri. Nyeri sekali.
Ia merasa sedang menyelam namun tanpa pelampung. Nafasnya tersengal-sengal, Rania
berada dalam situasi yang tidak nyaman.

PERBINCANGAN SAAT SENJA

Rania menghembuskan nafasnya dalam-dalam. Tubuhnya letih dan pikirannya kacau. Ia
seperti tidak memiliki kekuatan juga keberanian. Masalah yang dialaminya cukup pelik,
menguras energi dan kesadaran.
Bagaimana formula yang tepat untuk membuat Pak Leo bersedia mengucapkan talak untuk
nya. Atau kah ada keringanan bagi dirinya selaku istri agar bisa mendapatkan kebebasan
dengan melakukan hal-hal sesuai tuntunan ?
Rania makin gamang.
Dari pagi hingga sore hari Rania terus berfikir tentang itu, sering dalam keputusasaannya ia
ingin menggunakan jalan pintas. Dengan memaksa Pak Leo memilih antara dirinya atau Laela
?
Mungkin itu adalah keputusan konyol namun sementara waktu mungkin bisa mengatasi
dilema ini.
Rania menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Assalamualaikummm" Suara seorang gadis menyapu gendang telinganya.
'Pasti Septia'
Rania berdiri, membuka pintu kamar lalu mendapati wajah putih bersih dengan lesung pipit
itu tersenyum manis.
"Hy, tumben ga ngasih kabar kalau mau datang?" Septia hanya tersenyim tipis.
Rania keluar kamar dan mengajak Septia duduk di ruang tengah rumahnya.
"Aku membawa misi khusus kak." Seloroh Septia pendek.
"Aku merasa juga begitu."
"Keputusan kakak apa ?"
"Tentang apa ?"
"Pak dosen ,"
"Oh, dosen itu suami ku ?" tanya Rania pendek.
"Iya kak."
"Keputusan ku jelas aku minta talak, aku minta cerai aku minta pisah. Sudah hanya itu."
"Kalau sampai hari ini beliau tidak mau menceraikan bagaimana ?"
"Ya, aku menunggu. Dia telah berbuat dholim atas dirinya terhadap Tuhannya."
"Kakak nikah saja,"
"Dengan siapa ?" tanya Rania dengan bola mata membulat sambil menatap wajah Septia
lekat.
"Pak Budiman." Rania sudah menduga.
"Lalu status pernikahan ku bagaimana? Hukumnya di mata Allah apa?" Tanya Rania pada
Septia.
"Iya juga ya, atau sebaiknya kita ke pengadilan agama lagi kak. Berkonsultasi tentang
ini."Rania memutar otak, saran Septia ada benarnya, kenapa dia tidak ke Pengadilan Agama
saja agar seluruh masalahnya dapat jalan keluar, siapa tahu petugas disana bisa memberi
jalan keluar. Ah, terkadang Septia ini cerdas juga.
"Boleh, besok tolong anterin aku ke Pengadilan Agama ya." Ucap Rania yang dijawab dengan
anggukan kepala oleh Septia.
"Tentang Pak Budiman bagaimana?"
Tanya Septia lagi. Sepiring kue bolu terhidang. Septia menikmatinya perlahan-lahan.

Septia, kawan kampus juga para dosen selalu menanyakan tentang hubungannya dengan Pak
Budiman. Mereka tidak tahu bahwa hubungan kami hanya hubungan seorang kawan tidak
lebih. Kami hanya berpura-pura menjadi sepasang kekasih. Seperti yang kami ucapkan di
pantai Batakan tempo hari.
Pak Budiman tidak mencintai Rania, beliau hanya iba terhadap nasib Rania itu saja. Meminta
Rania menikah dengan Pak Budiman adalah sebuah permintaan konyol. Jelas tidak akan
terjadi kecuali pernikahan bohong-bohongan lagi. Rania terkekeh membayangkan tentang
pernikahan bohong-bohongan.
Septia masih asik menikmati kue bolunya, Rania memperhatikan gadis di depannya dengan
seksama. Ada doa tulus mengalir, 'semoga jodoh mu adalah laki-laki yang baik' desis Rania.
"Kamu tadi bilang membawa misi khusus. Tentang apa?" Tanya Rania.
Rania menepuk kepalanya sepertinya ia lupa tentang misinya malah asik ngobrol bab yang
lain.
"Tadi di kampus ada istri Pak Leo." Beliau mendekati kami saat kami sedang duduk di gazebo.
"Terus ?" Rania mulai penasaran.
"Beliau bertanya tentang Pak Leo, katanya Pak Leo hilang. Terakhir Pak Leo sedang bersama
seorang wanita bernama Rania mahasiswa baru Fakultas Hukum."
"Terus?" Rania bertanya lagi.
"Bu Leo menuju ruang dekan untuk menyampaikan hal tersebut."
"Pak Budiman ada ?"
"Tadi tidak ada tapi kemudian di hubungi oleh kak Arifin dan akhirnya Pak Budiman datang,
belim ada kabar terbaru mengenai perkembangan kasusnya." Septia menjelaskan panjang
lebar.
'Ya Allah gosip apa lagi ini, pasti kampus akan heboh dan para dosen akan membicarakannya.'
Rania bersandar di sofa putihnya. Kelelahannya kian bertambah.
"Itu sebabnya Septia kemari ingin tahu kebenaran cerita itu dengan tanya langsung pada
sumbernya.,"
"Itu tidak benar, Septia." Rania bicara sambil rahangnya menegang.
"Aku tahu itu tidak benar kak, aku orang pertama yang percaya ketidakbenaran berita itu.
Tapi kita mahasiswi fakultas hukum kak. Antara benar dan tidak benar kita harus punya bukti
dan saksi agar argumentasi kita di percaya."
Rania menganggukkan kepala. Membenarkan kalimat yang baru saja di ucapkan Septia. Hari
ini Rania mengagumi teman baru nya ini. Diantara sikap lemah lembut dan manjanya ternyata
Septia pintar juga.
"Hari ini belum ada kabar ?" Tanya Rania.
"Belum"
"Coba kamu kontak Arifin" pinta Rania.
"Kak Rani telp Pak Budiman, Ya."
"Oke."
Rania pun menghubungi Pak Budiman namun panggilannya di tolak.
Rania gamang, mungkinkah sedang terjadi sesuatu di kampus. Kenapa Pak Budiman tidak
memberi Rania kabar ?
Tapi, Rania faham betul sikap Pak Budiman, beliau tidak mungkin memberi tahu Rania sampai
masalahnya jelas. Beliau tidak ingin memberi Rania beban yang lebih banyak lagi.
"Bagaimana, Bu ?
"Ditolak."
"Pasti urusannya belum selesai."

"Mungkin, Arifin bagaimana?" Tanya Rania.
"Dia bilang Pak Budiman masih di ruang dekan. Istri Pak Leo juga belum pulang."
Rania membuang pandang pada sinetron televisi, sambil pikirannya melayang. Sebegitu
gentingkah urusannya hingga menghabiskan waktu berjam-jam. Sejujurnya Rania panik
namun ia berusaha untuk tenang. Perbincangan dengan Septia di senja ini belum usai. Septia
masih duduk dengan santainya menemani Rania. Tidak banyak bicara. Mereka semua
menunggu.
Rania bingung, apakah ini berarti Laela tidak tahu suaminya kecelakaan dan di rawat di rumah
sakit ?
Apakah ini berarti Pak Leo belum menghubungi Laela ?
Apakah ini berarti pihak rumah sakit juga tidak menghubungi Laela ?
Rania bingung.
Andai Laela tahu keberadaan Pak Leo di rumah sakit ia tidak akan mencari di kampus.
Atau Larla sengaja mencari simpati banyak orang.
Kepala Rania makin berdenyut, dadanya bergemuruh, ingin sekali rasanya ia menguliti tubuh
Laela. Aktris akhir jaman.
Kenapa dia kemarin tidak memotong urat nadinya, padahal ia tahu bahwa suaminya tidak
mau menceraikan Rania?"
Duh,
Rania bingung.
Berkolaborasi dengan aktris memang tidak mudah, butuh latihan berulang agar kita
memahami karakternya.
"Dimana ?" bunyi pesan whatsapp di ponsel Rania.
"Rumah."
"Bisa ke kampus sebentar ?"
"Kapan ?"
"Sekarang."
"Oke, bisa."
"Hati-hati di jalan, ya."
Rania, berangkat bersama Septia. Tanpa ganti baju ia melangkah, menuju kampus dengan
baju dan dandanan seadanya. Jujur, Rania penasaran tentang apa yang disampaikan aktris
papan atas Laela.
Rania memacu mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Berharap segera tiba di
kampusnya.

MENGUNJUNGI BEKAS CINTA

Rania melangkah dengan langkah kaki yang sangat berat, menemui Pak Leo adalah sesuatu
yang sangat ingin dia lakukan namun juga sangat ia takutkan. Bagaimana tidak ?
Diantara mereka pernah saling mencintai, diantara mereka pernah ada rasa sayang meski
kemudian benih benci itu muncul dan kini benih itu telah menjadi besar juga berbuah lebat.
Benih yang terus di pupuk hingga berbuah lebat. Rania merasakan rasa sakitnya bukan rasa
sakit biasa.
Langkah kakinya semakin dekat menuju ruangan Intensive Care Unit. Rania mengendap,
berharap Pak Leo tidak melihatnya. Karena kedatangannya hanya ingin memastikan bahwa
Pak Leo telah bertemu Laela.
Mengapa Rania demikian peduli ? Cintakah yang melandasinya ? Bukan, ini bukan cinta, ada
sebuah perasaan yang tidak bisa di ceritakan ketika suami dan istri berpisah, ada semacam
kekuatan yang membuat mereka terpanggil untuk mengetahui keadaan dari masing-masing
pasangan, semacam magnet dari langit mungkin. Itu yang saat ini dirasakan Rania.
Bila boleh memilih, tidak ada seorangpun yang ingin mengalami perceraian dalam hidupnya.
Tidak ada seorang istripun yang ingin bercerai dengan suaminya, tidak ada seorang pun.
Begitu juga sebaliknya. Semua suami ingin mendapatkan istri yang baik juga cantik sekaligus
penurut, pintar imajinatif dan hebat di ranjang. Semua istri ingin memiliki suami yang baik,
penyayang, bertanggung jawab terhadap keluarga juga pekerja keras..Namun terkadang garis
takdir tidak mempertemukan kita dengan seseorang sesuai yang kita impikan.
Sesampainya di ruang Intensive Care Unit, Pak Leo tidak berada disana. Rania kaget bukan
kepalang.
Sudah sembuhkah?
Rania mempercepat langkahnya menuju pintu ruangan tersebut.
"Selamat siang, suster apakah pasien yang bernama Pak Leo sudah pulang?"
Rania bertanya pada seorang perawat yang ada di sana.
"Pak Leo ?" perawat itu mencoba mengingat kemudian membuka buku besar sambil matanya
seolah mencari sesuatu.
Kemudian perawat tersebut mendekati Rania.
"Beliau sudah di pindahkan ke Paviliyun cemara no 24."
Perawat itu memberi keterangan sambil menunjukkan arah paviliyun cemara.
Rania mencoba mengikuti petunjuk perawat tersebut. Sesampainya di ruangan yang di
tunjukkan. Rania melihat Pak Leo terbaring di sana. Satu tangannya terpasang infus sedang
tangan kirinya berusaha meraih letak gelas yang berada di meja sebelah kiri. Pak Leo nampak
berusaha keras mengambil gelas tersebut. Namun gagal, Rania melihatnya dengan
pandangan iba.
Nampak Pak Leo mencobanya lagi. Saat gelas itu hampir terjatuh pada saat yang sama Rania
membuka pintu kamar. Pak Leo terkejut bukan kepalang, melihat ada seseorang membuka
pintu kamar terlebih saat mendapati Rania telah berada di sana.
Rania berdiri mematung di ujung daun pintu yang masih terbuka. Kemudian menutupnya
pelan.
"Kemarilah, " suara Pak Leo parau. Nampak kepala lelaki tersebut di perban, ada luka di
tangannya. Rania mendekat tanpa bicara, ia mengambil gelas berisi minuman tadi kemudian
menyodorkannya pada Pak Leo. Pak Leo meminumnya perlahan-lahan.

Hati Pak Leo meradang, memandang wajah Rania dari dekat. Ia ingin sekali memeluk wanita
ini, wanita yang terus menerus menjadi obsesinya siang dan malam. Namun sayang, dalam
jarak sedekat ini Pak Leo tidak berani melakukan apa pun. Semua sudah berlalu, Rania tidak
akan menerima pelukannya.
"Terimakasih." Rania mengangguk, Rania melihat nasi yang belum di sentuh. Ia mencoba
menyuapi lelaki di hadapannya. Lelaki yang telah menyengsarakan hidupnya, lelaki yang terus
menerus membuat luka di hatinya. Hari ini lelaki itu lah yang sedang ia tolong, ia suapi, ia
perhatikan. Ribuan kali Rania mengutuk kebodohannya.
"Bunda, apa yang bisa ayah lakukan agar bunda memaafkan ayah ?" Rania diam kemudian
membuka mulutnya.
"Aku sudah memaafkan semuanya." Jawab Rania tegas.
"Apa yang harus ayah lakukan agar bunda mau kembali bersama ayah?"
Rania diam, ia tak mampu berbicara lagi.
"Kalau bunda mau kembali bersama ayah, ayah janji akan jadi suami yang baik, ayah akan ajak
bunda jalan-jalan. Ke Turki. Ke Mesir. Kemanapun bunda mau, ayah ingin membahagiakan
bunda, ayah ingin menebus kesalahan yang sudah ayah lakukan."
Rania diam, matanya menatap lurus pada dinding kamar berwarna putih. Bila kalimat ini di
dengarnya dahulu, mungkin Rania akan terkecoh pada janji manis itu, sayangnya kalimat itu
datang sekarang, saat Rania telah mampu mengunjungi negara-negara yang tadi disebutkan
namanya bila Rania mau.
"Aku sudah memaafkan semuanya, bila yang di tanyakan adalah sebuah hubungan maka aku
tetap ingin kita bercerai."
"Bunda," belum usai Pak Leo bicara Rania memotong kalimatnya.
"Ayah telah memiliki Laela, dia sangat mencintai ayah. Ayah akan bahagia hidup bareng Laela.
Bukti cintanya pada ayah telah ia tunjukkan, kemarin dia datang ke kampus menemui dekan,
mencari ayah. Dia menuduh aku yang membawa ayah lari. Semua dipanggil, aku, Pak
Budiman, Pak Yuda, Septia dan Arifin juga. Yang lebih gila lagi dia menuduh aku membawa
lari ayah. Beruntung dekan tidak percaya."
Pak Leo nampak bengong, ia seolah tidak percaya Laela melakukan hal itu. Itu akan membuat
kedinasannya hancur.
"Dasar bodoh !" Pak Leo memaki. Sejak dulu Laela bodoh namun yang lebih bodoh adalah
orang yang mau hidup bersama orang bodoh bertahun-tahun. Bahkan bertahan bersamanya
hingga sekarang. Pekik batin Rania.
"Beruntung juga aku berhasil menunjukkan kalau ayah ada di rumah sakit ini. Oh iya kemarin
aku kemari tanpa sepengetahuan ayah."
Sedang asik berbincang, seorang wanita muncul. Wanita dengan celana hitam atasan batik
merah dan jilbab bunga-bunga berwarna merah muda. Rania terkejut melihat wanita itu
datang tiba-tiba. Lebih terkejut lagi melihat penampilannya. Ingin sekali Rania tertawa.
Namun ia tahan tawanya.
"Hei pelacur ada apa kamu di sini ?"
"Mengunjungi suami ku." Jawab Rania cepat.
"Dasar wanita murahan, kemarin di depan dekan kamu bilang minta cerai sekarang
kenyataannya kamu berada disini."
"Kamu kemarin ke tempat Dekan ?" Tanya Pak Leo pada Laela.
"Ia pah, kemarin mama panik karena ayah nggak pulang, ponsel ayah juga mati." Laela mulai
terisak, akting drakornya mulai ia peran kan. Rania merasa muak dan berfikir ingin segera
pergi dari kamar Pak Leo.

"Eh, maaf. Mohon jangan berdebat di depan ku, aku terharu."Rania bicara sambil mengejek.
"Karena istri sah sudah datang giliran istri simpanan yang pulang." Beberapa detik kemudian
Rania melihat Pak Leo, Rania mengarahkan bibirnya ke bibir Pak Leo, kejadiannya terjadi
begitu cepat. Pak Leo takjub, Laela meradang. Ia marah bukan kepalang.
Rania akan melangkah keluar namun lengan Laela mencengkram lengan Rania dengan kuat.
Mereka berdebat, suaranya ribut sekali. Pak Leo meminta mereka berhenti namun tidak di
perdulikan.
Laela meludahi Rania, ludahnya mengenai jilbab Rania, aroma busuk dan menyengat
menyeruak di sana. Rania tidak mau kalah ia ikut juga meludahi Laela. Ludah Rania tepat
berada di wajah Laela mampir tipis di hidungnya. Laela makin beringas.
Menyadari perkelahian mereka mskin memanas, Pak Leo melemparkan gelas ke lantai.
"Prank...," suaranya terdengar begitu keras. Laela terkejut. Sontak ia melepaskan cengkraman
di lengan Rania.
Pada saat yang sama Rania memilih keluar dari kamar,
"Selamat membersihkan pecahan kaca ya, jaga hati mu agar tidak ikut pecah." Suara Rania
sambil pergi menuju parkiran mobil.
Setengah berlari ia menuju kesana. Berharap cepat sampai dan membuka jilbabnya karena ia
sudah tidak tahan dengan bau busuk yang luar biasa. Tugasnya sudah selesai. Pak Leo hanya
bekad cinta yang pernah mewarnai masa lalunya, bukan masa depannya.
Sesampainya di mobil Rania buru-buru melepaskan jilbabnya kemudian membuangnya di tepi
jalan dan ia mengemudikan mobilnya kencang menuju pulang.

MIMPI BURUK

Rania letih, ia mempermainkan rambut ikal panjang yang biasa ia biarkan tergerai. Ingin
rasanya merubah penampilan tapi takut semakin banyak yang jatuh cinta nantinya. Wkwkwk.
Betapa tidak, saat ini saja sudah banyak antrian panjang berderet menunggu keputusannya,
namun Rania belum berani memutuskan. Meski Rania menyadari bahwa usia kian bertambah
dan wajahnya semakin menjadi tua. Mulai muncul gurat penanda akan datang keriput yang
di takutkan oleh seluruh wanita dimana saja. Rania bergulung di atas ranjang, membuat bed
covernya tidak lagi licin. Mestinya memang Rania mulai menjatuhkan pilihan. Pada Agung
sang direktur, pada Romi pemilik perusahaan besar, pada Haris seorang kepala dinas atau
pada Yoga teman kecilnya yang sekarang menjadi pengusaha. Bila sudah begini maka ingatan
Rania akan terjerembab pada Leo, lelaki yang masih mengakui dirinya sebagai istri. Rania kelu
mengulum bisu. Ia merasa waktunya banyak tersita hanya untuk mengurus masalah yang
tidak kunjung selesai. Ia jadi ingat ajakan Septia untuk konsultasi ke Pengadilan agama terkait
masalahnya. Urusan ini harus segera selesai agar tidak menyakiti siapapun. Sebenci apapun
dirinya pada Laela, Rania masih memikirkan batin wanita itu Laela pasti sangat sakit hati. Yang
membuat sakit saat mengetahui suami menikah lagi bukan pada pernikahannya tapi pada
sebuah kenyataan bahwa kita adalah yang terkalahkan. Itu sangat menyakitkan. Perihnya
demikian terasa, dan bila boleh berteriak mereka akan berteriak.
Rania mengingat kejadian tadi di rumah sakit saat Laela meludahi dan mencengkram
tangannya begitu kuat. Ia merasakan kebencian wanita itu. Tidak ada lagi kebaikan dan
kalimat manis seperti saat mereka saling mengenal untuk pertama kalinya dulu. Sudah tidak
ada lagi kebaikan yang bisa dilihat, mereka tenggelam dalam permusuhan yang sangat dalam
dan penyebabnya adalah Leo, mereka sempat berebut perhatian seorang Leo. Suami mereka
berdua. Itu sebabnya pertentangan tidak dapat terelakkan.
Meski pada akhirnya Rania memilih pergi dari kehidupan Leo tetap saja Leo mencintainya.
Cinta itu bukan tentang nampak atau tidak nampak, cinta itu tentang suara hati. Hati yang
memilih pada siapa cinta harus ditambatkan. Tidak bisa direkayasa meskipun ada sebagian
orang yang bisa menggantikan cintanya dengan orang lain seiring berjalannya waktu namun
hal itu tidak akan bertahan lama. Ketika Tuhan mengijinkan mereka berjumpa lagi otomatis
getaran itu akan muncul lagi, gejolak itu akan datang lagi dan itu tidak akan dapat terelakkan.
Cinta mereka akan tumbuh kembali bahkan mungkin lebih menjadi-jadi.
Rania mengenakan pakaian seksi berwarna merah hati. Kontras sekali dengan tubuhnya yang
putih. Atasan tanpa lengan dan celana pendek diatas lutut. Paha putihnya nampak terbuka.
Ada renda di ujung celananya. Rania nampak cantik luar biasa. Rambut pirangnya ia lipat
hingga menampakkan leher jenjang berwarna putih halus juga mulus. Rania menyambut
tamunya dengan senyum di kulum. Ada lipstik merah dengan goresan lipgloss membuat
bibirnya nampak menggairahkan. Mata lentiknya berhias maskara, demikian mempesona.
Rania melingkarkan lengannya pada leher Pak Leo, suaminya. Bibir mereka saling beradu
mencari liang kenikmatan itu.
Rania menikmati sensasinya.
"Ayah sangat kangen"
"Bunda juga yah."

Pak Leo duduk di kursi empuk lalu tubuh mungil Rania duduk diatasnya sambil menggelayut
manja. Senyum mereka mengembang senantiasa. Rania demikian manja, menggelitik
kelelakiannya yang lama tak terusik.
Mereka menikmati edisi pergumukan itu. Berkali-kali tanpa letih. Luapan gairah itu seakan tak
dapat dibendung. Kerinduannya tumpah. bertahun-tahun Leo menunggu saat indah seperti
ini.
Ah, Lei merasakan kepuasan yang berulang. Ia memejamkan matanya merasa tenang namun
jemari lentik Rania mampir lagi di dadanya yang terbuka. Leo membuka matanya lagi.
"Aku masih ingin." Suara Rania berbisik. Ada gambar mawar mekar di gumpalan kenyal dada
Rania. Leo menatapnya tanpa berkedip. Mereka sama-sama terlena dalam buaian nafsu juga
birahi.
Hingga nafas mereka terengah-engah dan keringatpun mengucur deras. Mereka letih namun
merasa sangat puas.
Rania menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, hingga "Bruak!!!"
Kepala Rania terasa sakit.
Astaghfirullah, Rania ternyata sedang bermimpi. Mimpi yang sangat buruk. Mimpi yang tidak
pernah ia alami sepanjang hidupnya.
Riana merasa mual, membayangkan adegan tadi.
"Kok bisa ada mimpi sekotor ini?" Bisiknya lirih.
Ia menuju kamar mandi, menyalakan air hangat di bath up nya. Melumuri airnya dengan
sabun cair beraroma mawar. Ia biarkan airnya berbusa kemudian Rania berendam di
dalamnya. Ia sangat jijik membayangkan mimpinya tadi hingfa ia terpaksa harus mandi tengah
malam demi membersihkan tubuhnya yang tadi di jamah.
Nafas Rania masih juga tak beraturan tubuhnya terasa menggigil, ia ngeri sekali.
Mengapa bisa ia memimpikan persetubuhan itu sedang hatinya benar-benar tidak
menginginkan Leo lagi. Rania merasa teramat gila.
Hingga mandinya usai dan kimono handuk melilit badanya. Rania masoh juga mengatur
nafasnya yang demikian berat.

MENUJU PENGADILAN AGAMA

"Hy Kak, hari ini kita jadi pergi kan ?"
Septia menghubungi Rania, Rania mengingat sesuatu tentang janjinya beberapa waktu yang
lalu.
Menuju pengadilan agama dan berkonsultasi tentang masalahnya.
"Oh iya, jadi." Rania menjawab dengan cepat.
Bersiap ia demi menuntaskan janjinya, sudah pukul tujuh waktu Indonesia tengah. Kalau
berangkat terlalu siang nanti antriannya panjang dan Rania malas dengan antrian yang
panjang itu. Rania tidak suka menunggu, itu sebabnya ia malas sekali berhubungan dengan
urusan birokrasi. Sering berbelit-belit dan banyak persyaratan.
Rania memilih baju yang pantas untuk ia kenakan. Celana panjang hitam dengan atasan
panjang selutut, berwarna hijau lumut model baju anak jaman sekarang di padu dengan jilbab
warna senada namun bermotif bunga. Rania mematut dirinya di cermin. Mengoleskan bedak
dan lipstik tipis di wajahnya. Rania nampak yakin bahwa penampilannya sudah sedikit
mendekati sempurna.
Ia keluar kamar,
"Nggak makan dulu, Mbak ?"
"Nggak usah deh, aku buru-buru." Jawab Rania sambil mengunci pintu kamarnya.
Pembantunya buru-buru mengambil kotak bekal kemudian meletakkan nasi, bali telor tahu
dan tempe serta tumis kangkung sekalian buah jeruk yang telah di kupas dan di masukkan ke
dalam kantong plastik bening, semua di jadikan satu dalam kotak bekal.
"Mbak, ini bekalnya." Teriak pembantunya dari belakang.
Rania merasa bersyukur memiliki pembantu yang baik dan menyayanginya, menjaganya juga
menganggapnya bukan hanya majikan tapi juga saudara. Saat hidup sendirian dan berada di
perantauan seperti sekarang, mempunyai orang yang memperhatikan dan sayang pada
dirinya adalah sebuah anugerah luar biasa.
"Terimakasih ya, mbak." Ucap Rania saat menerima bekal tersebut.
Rania menuju mobil dan mulai mengemudikannya.
Septia menunggu Rania di depan rumahnya, gadis ceria yang menyukai warna hitam dan putih
ini begitu cantik dan menarik. Saat ia melihat mobil Rania datang maka serta merta ia berlari
mendekat. Kemudian melompat di mobik itu dan duduk tepat di samping Rania. Rania
menyapanya.
"Sudah mandi, Tia ?"
"Menghina, ya sudah dong."
"Kita langsung ke Pengadilan Agama ya ?"
"Iya deh."
"Ntar kita ngomongnya mau konsultasi saja ya, Tia."
Tia mengangguk-anggukkan kepala setuju.
Memasuki gedung dengan pilar megah berwarna coklat muda. Mobil Rania ia parkir tepat di
ujung. Kemudian mereka berdua turun. Mencari tempat untuk konsultasi. Deretan orang
sudah berjajar di ruang tunggu dengan niat dan kepentingannya masing-masing.
Rania mendekat, mencoba meringsek orang yang banyak tadi, mendekati seorang petugas.
"Mohon maaf Pak, kalau mau konsultasi dimana ya tempatnya." Rania bertanya pada seorang
lelaki yang nampak perlente, wajahnya ke bapak an, kumis tipis menghias wajahnya,

rambutnya ikal, tubuhnya berisi, nampak kharismatik diantaranya senyumnya yang tipis.
'Wahyu' namanya tertulis di dada beliau.
Pak Wahyu menatap Rania sekilas kemudian sambil beralih pandang beliau bertanya.
"Konsultasi tentang apa ?"
"Perceraian, Pak."
Dengan sopan beliau mengajak Rania dan Septia menuju ruangannya.
Rania duduk di ruangan tersebut. Sekilas Rania memandang sekeliling, beliau ternyata Kepala
Dinas Pengadilan Agama.
'Berarti aku salah orang tadi nanya nya, 'Rania mendesah.
"Bisa mulai diceritakan perceraian yang bagaimana yang kamu maksudkan ?"
"Begini Pak, lima tahun yang lalu, atau hampir enam tahun bila di hitung sampai hari ini, saya
pernah menikah 'sirri' dengan seorang lelaki, lelaki tersebut datang ke rumah untuk
meminang saya bersama seorang wanita yang ternyata adalah istrinya. Awalnya semua baik-
baik saja hingga kemudian pertengkaran sering terjadi antara saya dengan istrinya. Saya pergi
karena tidak tahan. Saya sering sekali sakit, Pak. Saya tinggalkan suami saya ke Jawa. Kami
benar-benar tidak pernah bertemu dan saya tidak menerima nafkah lahir batin. Hanya yang
menjengkelkan adalah, setiap saya hendak menikah lagi dengan lelaki lain bila suami saya
tahu dia pasti akan bilang saya adalah istrinya. Tahun berganti ternyata dia masih
menganggap saya istri. Apa yang harus saya lakukan, Pak ?"
"Minta di ceraikan secara agama juga."
"Sudah ratusan kali, Pak."
"Apa jawabannya ?"
"Dia tidak mau menceraikan."
"Mungkin suami mbak masih cinta," ujar Pak Wahyu bicara panjang lebar.
"Terserah dia cinta atau tidak yang pasti saya tidak." Rania berkata tegas dan jelas. Kemudian
menunduk, membaca luka di hatinya yang nyaris berdarah lagi.
Pak Wahyu memandang Rania dengan pandangan iba.
'Lelaki mana yang mau bercerai dengan mu ?' batin Pak Wahyu menggumam.
Lelaki di dunia manapun menyukai perpaduan wanita manja dan mandiri. Mandiri artinya
wanita yang bisa mencari uang sendiri pasti sangat menarik, memiliki cerita tentang
kesibukannya yang bisa dibicarakan di sore hari saat minum teh bersama. Yang bisa
membantu saat keuangan keluarga bermasalah. Memiliki wanita seperti ini pasti
membanggakan dan menambah gairah.
Namun lelaki juga butuh wanita manja, wanita yang dalam kemandiriannya ia mempunyai
ruang agar lelaki bisa menolong mengerjakan hal-hal yang tidak bisa ia kerjakan. Diantara
kemandiriannya lelaki mempunyai tempat untuk menyelesaikan masalah yang tidak bisa ia
selesaikan sehingga lelaki menjadi berharga. Wanita mandiri namun manja atau wanita manja
yang memiliki kemandirian adalah idaman semua lelaki dan Rania sepertinya memiliki hal itu
saat ini.
Pak Wahyu diam, Rania dan Septia juga diam. Hening di dalam ruangan.
Kemudian Rania mengeluarkan kalimat.
"Bagaimana dengan 'Fasakh' , pak ?"
"Fasakh itu sebuah perceraian yang terjadi karena salah satu pasangan memiliki penyakit atau
cacat yang tidak di sukai pasangannya. Ini harus Pengadilan Agama yang
menyelesaikan.Dengan mengembalikan mahar." Pak Wahyu menjelaskan.
Rania diam,
"Kalau nikahnya sirri apa bisa fasakhnya sirri juga ?"

"Itu lah masalahnya. " Pak Wahyu menggumam.
"Tidak ada aturan yang mengatur tentang pernikahan di bawah tangan secara hukum negara.
Kalau secara hukum agama jelas, bila salah satu pasangan tidak berkenan maka bisa bercerai
dan caranya lelaki harus mengucapkan talak. Masalahnya bila si lelaki tidak mau
mengucapkan talak ini yang susah." Pak Wahyu mencoba berfikir keras.
"Bekerja dimana suami mu?" tanya Pak Wahyu pada Rania.
Kemudian Rania menyebut salah satu nama universitas.
"ASN berarti ?"
"Iya, pak."
"Wah, kalau ASN gampang. Kita tinggal minta pimpinannya memberikan tekanan agar ia mau
menceraikan. Gampang saja itu. Saya akan bantu kamu." Pak Wahyu memberikan harapan
besar pada Rania.
Rania terlihat bersemangat sekali.
"Ini nomer whatsapp saya, kalau saya siap menemui suami mu saya kabar i, ya."
Rania mengangguk, ia mengucapkan terimakasih atas bantuan Pak Wahyu.
."Saya belum membantu, andaipun saya membantu itu bagian dari kewajiban saya." Pak
Wahyu menjawab bijak.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Rania berpamitan pada Pak Wahyu. Septia tahu Pak Wahyu
masih ingin berbincang namun Rania yang tidak peka tidak akan tahu itu.
Mereka pun menuju mobil. Sepanjang perjalanan ada ceria yang menggantung di wajah
Rania, ia seperti mendapatkan nafas baru. Harapannya yang hampir kandas kini menyala lagi.
Entah mengapa sejak awal Rania memang suka terhadap orang-orang dengan usia yang jauh
di atas nya. Apakah hal itu terjadi karena Rania kehilangan sosok Abah nya sejak kecil sehingga
dia merindukannya dan mencari sosok itu hingga dewasa. Berada di samping lelaki yang
usianya terpaut jauh membuat Rania merasa tenang dan nyaman, bahkan hal tersebut bisa
membangkitkan rasa percaya diri di hatinya.
Seperti hari ini. Rasa percaya diri itu muncul lagi, merasa sebagian dari hidupnya ada yang
menjaga, merasa hidupnya akan baik-baik saja. Saat seorang wanita memiliki uang dan
kekayaan saat itu wanita tersebut butuh cinta dan kasih sayang namun bukan berarti mereka
akan memelihara seorang pengangguran dalam kehidupannya. Tidak demikian.
Septia terdiam. Menatap Rania dengan senyumnya yang tersungging. Ia tahu sahabatnya
sedang bahagia. Pun, ketika mobilnya berbelok ke sebuah rumah makan Wong Solo. Septia
masih melihat senyum itu.
Mereka turun hendak makan, saat mereka telah memesan dan hampir saja menyendok kan
nasi di mulutnya, Rania dan Septia melihat Pak Leo, Laela dan anak-anaknya juga orang tua
mereka sedang menuju tempat yang sama.
'Ya Allah kenapa harus bertemu mereka ? ' Rania berkata lirih sambil meraba hatinya.
Perih sekali rasanya.
"Berarti Pak Leo sudah pulang dari rumah sakit ?" Tanya Septia.
Rania hanya diam melihat ayam bakar yang tetap tenang di atas piringnya. Hanya ayam bakar
ini yang tidak terusik akan kehadiran Pak Leo di rumah makan ini.
Rania diam, ia ingin pergi namun tidak mungkin. Ia tidak ingin perseteruan itu terjadi lagi. Ia
sangat letih.
"Berarti Pak Leo masih tetap dengan istrinya, buktinya mereka baik-baik saja. Dasar
pembohong" ucap Septia kesal.
"Begitulah lelaki." Rania menjawab dengan mata menerawang
"Begitulah lelaki." Jawab Rania menerawang.

PILU YANG BERULANG

"Assalamualaikum, apa kabar ? sudah sampai di mana ?"
Rania tampak tersenyum melihat pesan masuk di ponselnya.
Meski hanya sekilas senyum itu nampak seperti senyum bahagia.
Rania meraih ponselnya kemudian membalas pesan tersebut dengan cepat.
"Di rumah makan Wong Solo, di sini ada Pak Leo bersama keluarganya."
Begitu penjelasan Rania melalui pesan singkat kepada seseorang yang mengirim pesan lewat
ponsel nya. Orang tersebut ternyata Pak Wahyu yang tadi di temui oleh Rania dan Septia di
Kantor Pengadilan Agama.
"Bagus dong."
"Kok bagus ?"
"Ya, kan bisa berbincang,"
"Berbincang apaan ?"
"Kamu baik-baik saja kan ?"
"Aku ingin marah tapi berusaha menahan."
"Perlu aku ke sana?"
"Kalau tidak merepotkan, silahkan."
"Share lokasi ya,"
"Oke."
Rania pun sigap mengirimkan permintaan Pak Wahyu. Hanya selang beberapa menit dari
perbincangan itu Pak Wahyu telah berada di rumah makan tersebut.
Pak Wahyu menghubungi Rania,
"Kamu dimana?"
"Meja 31"
Pak Wahyu mendekati meja tersebut, mengulum senyumnya, ia duduk di samping Rania
berhadapan dengan Septia.
Mereka berbincang ringan. Sepertinya Pak Wahyu orang yang baik, hal itu nampak dari
betapa berwibawa nya beliau saat berbincang. Tidak ada kesan nakal dari caranya
memandang. Ah, seperti sosok lelaki idaman.
Sebuah pandangan sampai pada tempat mereka berbincang, pandangan itu mengajak bibir
berteriak
"Pa, itu teman papa yang waktu itu jumpa di mall, ya ?"
Pak Leo mengalihkan pandang ke arah yang di tunjuk, begitu juga dengan Laela. Mereka
serempak memandang pada satu tempat yang sama.
Nampak oleh mereka sosok Rania, Septia juga seorang lelaki.
"Lelaki baru kayaknya, pasti suami orang lagi." Laela membuka suara.
"Jangan mulai, " Pak Leo mengingatkan.
"Mulai apa ? Memang faktanya lelaki baru kan ?"
"Kita sedang bersama mamah, Abah dan anak-anak, tidak usah memancing keributan." Sekali
lagi Pak Leo memberikan peringatan.
Namun dasar Laela yang tidak pernah berubah, dia tetap saja memancing keributan. Mungkin
itu adalah cara bagi dirinya membiaskan luka.
Ketika Rania, Septia juga Pak Wahyu melangkah hendak menuju kasir tiba-tiba sebuah suara
mampir di telinga mereka. Suara yang kalimatnya sangat tidak sopan. Suara yang membuat
mereka sontak berhenti dari langkah nya.

Rania berhenti kemudian mengarahkan pandangannya pada wanita berwajah tidak cantik itu.
Ia benar-benar geram.
"Kamu ngomong dengan siapa ?"
"Dengan kamu !"
"Maksud kamu apa ?"
"Pertanyaan ku sudah jelas, mangsa baru ya ?"
"Kamu bisa nggak sih berhenti mengurusi kehidupan ku."
"Aku hanya nanya, salah ?"
"Nggak salah cuma omongan mu itu yang tidak benar. Belum tahu rasanya mulut mu di sobek
ya ?"
"Duh, duh, duh." Suara Laela menyebalkan.
"Ayo Ran, kita pergi saja dari tempat ini. Nggak usah dihiraukan. Menghiraukan orang gila
nanti kita bisa ikut gila."
Pak Wahyu melingkarkan lengannya di bahu Rania hendak membawa Rania keluar dari
tempat itu. Septia masih terpana dengan apa yang baru saja dilihat.
Mereka menjauh dari meja tempat Pak Leo dan keluarganya duduk. Pak Leo berusaha
membuat istrinya berhenti bicara namun gagal.
Saat Rania dan Pak Wahyu hendak melanjutkan langkah mereka menuju kasir, tiba-tiba.
Sesuatu terlempar ke baju bagian belakang Rania. Septia panik. Rania mendekati Laela.
"Mau mu apa ?" Tanya Rania sambil mendorong tubuh kurus Laela, Laela berdiri.
"Aku mau kamu pergi yang jauh dari Banjarmasin ini. Kamu disini hanya merusak
pemandangan dan membuat keluarga ku hancur."
"Emang ini kota punya mama mu ?" Rania bicara lantang, Pak Leo, Pak Wahyu juga orang tua
Laela berusaha melerai.
"Kamu disini hanya untuk membuat suami ku terpikat lagi kan ?" Laela menangis, drama
Koreanya muncul lagi.
"Huekkk!! " Ucap Rania.
"Aku disini justru ingin suami ku menceraikan aku. Kamu memang wanita bodoh, ya." Rania
menambahkan. Beberapa pasang mata nampak melihat. Pelayan resto memperingatkan agar
mereka tidak membuat keributan di dalam rumah makan. Pak Wahyu menarik lengan Rania
keluar, Septia di minta membayar makanan yang tadi mereka makan.
Nasib buruk ternyata Laela mengikuti langkah Rania dan Pak Wahyu. Sebagai istri pertama
Laela memang sakit hati namun caranya memaki di depan umum sangat tidak elegan, tidak
mencerminkan seorang akademisi. Murahan. Tidak cantik dan terkesan arogan.
Laela memukul punggung Rania, Rania marah. Pak Leo memegang tangan Laela dengan kuat.
"Wanita murahan bisanya merebut suami orang!" Hardik Laela.
"Kamu lupa diri ya, kamu dulu yang datang minta aku menikah dengan Pak Leo." Rania bicara
tidak kalah keras.
"Sudah, cukup !" Pak Wahyu melerai mereka.
"Sebentar mas," Rania bicara saat ada jeda.
"Sekarang ayah buktikan, ayah lebih memilih aku atau wanita ini !" Rania bicara pada Pak Leo.
"Kalau ayah memilih aku hari ini juga kita kembali sebagai suami istri dan ayah bisa tinggal di
rumah ku." Semua terhenyak, mata anak-anak Pak Leo memandang satu pada papanya, mata
orang tua Laela berharap terjadi keajaiban.
"Ayo ayah, kalau ayah memilih aku tinggalkan wanita ini."
Rania memberikan penawaran sekali lagi.
Wajah Leo masih pucat pasi, beberapa detik kemudian,

"Ya pasti memilih aku lah, aku punya anak kok."
Laela bicara tanpa diminta dan di luar dugaan tangan Leo melayang ke arah ke dua pipi Laela
dengan keras. Laela menjerit semua yang melihat terkejut bukan kepalang.
Rania menggandeng lengan Pak Wahyu menuju mobil. Rania sengaja mengajak Pak Wahyu
menaiki mobilnya dan Pak Wahyu pun mengikuti saja keinginan Rania, namun sebelum pergi
Pak Wahyu sempat berkata,
"Pak sebaiknya urusan ini diselesaikan sebelum saya ikut campur dan menjadi panjang."
Mereka pergi dari rumah makan, Rania menangis dibalik kemudinya. Hatinya luar biasa sakit.
Hingga ia menepikan mobilnya. Ia luapkan perasaannya, ia tumpahkan tangisannya. Ia sudah
tidak punya cara lagi untuk bernafas bila keadaannya seperti ini.
Ia hanya ingin masalah ini cepat selesai, statusnya terbebas menjadi seorang yang berstatus
tanpa suami.
Menyakitkan, berhadapan dengan lelaki tanpa ketegasan pasti banyak menghadirkan
kepiluan bagi wanitanya.
Pak Wahyu bicara pelan.
"Kita ke Mall, yuk."
"Baju mu kotor. Sekali-kali kamu perlu menghibur diri."
Rania menghapus air matanya.
"Kami pulang saja, saya lelah."
"Ran, tenang saja, masalah yang diberikan Tuhan pasti akan selesai bila tiba masanya. Paling
tidak Tuhan telah menentukan waktu kapan ia akan selesai. Kita hanya diminta Allah untuk
sabar dan sholat." Pak Wahyu bicara bijak.
"Ayolah, Kak, kita bersenang-senang dulu, selagi ada yang mau nraktir." Septia berujar.
"Hah, mentraktir ?"
Pak Wahyu spontan tertawa. Alhasil Rania pun tertawa diantara air matanya yang masih
basah.
Mereka pun meluncur menuju mall terbesar di Banjarmasin, tempat Rania dan Pak Leo
pertama kali bertemu kembali setelah sekian lama berpisah.
Mereka berbelanja, membeli baju baru, juga sepatu.
Hari itu semua GRATIS karena Pak Wahyu yang mentraktir semuanya.
Sebelum berpisah Rania berujar
"Terimakasih, bapak sudah baik pada saya, saya berhutang Budi."
"Tidak usah dipikirkan, yang penting kamu sehat, bahagia dan masalah mu selesai."
Kalimat itu sangat indah terdengar, Rania berjanji akan menyimpannya sebagai kenangan
yang tak terlupakan.
Langit masih cerah saat mereka menyudahi acara belanjanya. Pak Wahyu diantar kembali
oleh Rania menuju rumah makan tempat tragedi tadi terjadi. Pak Wahyu turun sambil
berkata, "jaga dirimu, secepatnya masalah ini akan kita selesaikan."
"Terimakasih" hanya itu yang bisa Rania ucapkan. Sebuah lambaian tangan ia berikan, senyum
yang terbalas membuat bunga di hati tumbuh, merekah dan berkembang. Seperti udara segar
yang senantiasa mengalirkan aroma kesehatan bagi setiap insan. Rania mengarahkan
mobilnya menuju rumah Septia dan berusaha melupakan kejadian hari ini. Fakta di depan
mata, Pak Leo tidak akan pernah berani meninggalkan keluarganya demi memilih Rania, dan
apa yang disampaikannya hanya bualan semata.

GADIS PEMIMPI

Sejak kejadian hari itu di Rumah Makan Wong Solo, Pak Wahyu memberanikan dirinya untuk
datang ke rumah Rania.
Rania keluar kamar dengan bahagia, menjumpai Pak Wahyu yang sedang menunggu di kursi
santai di beranda, dua gelas air jahe hangat telah terhidang di sampingnya ada kue bolu yang
siap untuk disantap. Rania duduk di samping Pak Wahyu dengan baju santai warna abu-abu.
Pak wahyu tersenyum melihat Rania.
“Darimana ?”
“Dari rumah.”
“Mau ke mana ?”
“Mau kesini.”
Kemudian Pak Wahyu menyerahkan paper bag cantik pada Rania, Rania heran, menerimanya
dengan tanda tanya.
“Ini apa ?”
“Di buka saja.”
Rania membuka paper bag tersebut, dengan takjub ia melihat sebuah jam tangan cantik
lengkap dengan sertifikatnya. Hadiah kah ini ? Tanya Rania hanya sebatas dalam batinnya.
HADIAH ???
Sudah lama sekali ia tidak menerima ini setelah ia meninggalkan dunia hingar bingar dan fokus
pada anak-anak. Sejak ia berhenti menjadi model dan aktivis politik. Dulu, hari-harinya
berlimpah hadiah dari setiap lelaki yang mengaguminya kemudian menyatakan
kekagumannya padanya. Hadiah beragam siap di tangan, terlebih bila para lelaki itu ‘beruang’
maka yang datang juga benda-benda yang bermacam-macam dan pasti bermerk. Rania masih
ingat saat itu sebuah motor Mio Sporty bertengger cantik di depan rumah lengkap dengan
STNK nya. Motor yang baru satu bulan di beli. Seorang OB kantor mengantarnya ke rumah,
namun sayang Rania mengembalikan motor tesebut karena dirinya tidak berkenan memenuhi
permintaan pemberi hadiah.
Sejak Rania meninggalkan Pak Leo, sejak itu Rania bertekat untuk berubah namun sempat
tekat itu luntur oleh kepentingan dan kebutuhan. Meski ia tidak sampai terjerembab pada
Zina dan Dosa namun ia tetap merasa dirinya kotor saat itu. Beruntung Tuhan menggariskan
lain. Kejadian demi kejadian terjadi hingga membuat Rania memutuskan untuk benar-benar
berubah.
Menuntut bersihnya status pernikahan dari dirinya agar ia bersih dari dosa, memutuskan
untuk fokus memperhatikan anak-anak, dan bekerja dari rumah. Alhamdulillah Tuhan
memudahkan semuanya. Meski awal perjalanan godaan itu datang, mulai dari rayuan yang
tidak kunjung berhenti sampai laptop yang rusak berbulan-bulan hingga harus menulis
sepuluh ribu kata setiap hari dari ponsel kecinya, Rania tidak pernah putus asa. Termasuk
ketika anak-anak bergantian harus sakit, Rania tetap tidak berputus asa. Bukankah setiap
cinta mendapatkan ujian ? dan kecintaannya pada Yang Maha memiliki Cinta harus di uji saat
itu. Rania tertantang untuk tetap lolos dalam ujian itu. Ia tidak boleh gagal. Waktu
membuktikan Rania lulus melewati semuanya. Hingga sampai di titik ini.
Hari ini Pak Wahyu datang membawa hadiah, mengingatkan Rania pada episode kelam
hidupnya. Rania menggigit bibirnya, matanya berkaca-kaca. Hampir saja genangan air itu

mengalir turun membasahi pipinya namun cepat-cepat ia menghapusnya. Sayangnya Pak
Wahyu terlanjur melihat wajah mendung dan genangan air yang hampir tumpah itu.
“Kamu menangis ?” Tanya Pak Wahyu penuh selidik.
“Ah, tidak.” Rania mencoba berbohong saat Pak Wahyu menatapnya begitu rupa.
“Ada apa ? Apakah hadiah ku mengingatkan mu pada sesuatu ?”
“Tidak.” Jawab Rania cepat. Rania menyesal telah berlaku bodoh. Harusnya ia tidak perlu
bersikap demikian, harusnya ia bahagia dan mengucapkan terimakasih meski hatinya sedang
mengingat sesuatu dan hatinya remuk redam. Harusnya Rania pintar berpura-pura seperti
aktris di sinetron-sinetron. Mengucapkan terimakasih kemudian mencium tipis pipi lelaki
yang memberi hadiah mahal. Sayang, Rania tidak mampu berbuat demikian. Rania tidak bisa
berpura-pura. Ia terbiasa berkata dan tampil apa adanya meski ia mampu menghadirkan
banyak karakter di setiap lakon novelnya yang beragam.
“Kalau kamu sedih, aku tidak akan membawa hadiah lagi, aku janji.” Nampak sekali Pak
Wahyu menyesal.
“Eits, Rania nggak papa, nggak sedih kok. Besok-besok kalau kemari lagi jangan bawa hadiah
jam tangan, mungkin cincin emas, kalung bermata berlian atau sertifikat rumah.” Rania
berbicara sambil mengerling menggoda. Tapi Pak Wahyu rupanya menanggapinya dengan
serius.
“Asal aku ada rizqy dan asal itu bisa membuat kamu tersenyum, kenapa tidak.” Datar dan
biasa sekali kalimat itu terdengar. Nyaris tanpa ekspresi namun sepertinya serius dan tulus.
Rania merasa bersalah.
‘Terimakasih hadiah nya ya,” Rania bicara dengan tampang lucunya. Pak Wahyu tersenyum
tipis sambil mengangguk.
“Kita bicara yang lain yuk.” Ajak Rania.
“Bicara apa ?”
“Apa saja.”
Perbincangan mereka pun mengalir deras. Membuat bahagia yang muncul itu mewarnai
wajah Rania. Ada binar bahagia di matanya. Binar yang sudah lama hilang.
Hari ini diantara rintik hujan yang turun, Rania merasakan dirinya sedang bertamasya,
melintasi banyak kota dan menikmati setiap kulinernya. Ia seperti berjalan melompat-lompat
dengan sangat bahagia. Ia seperti menyenandungkan lagu cinta dan kasih sayang. Ia tidak
takut apapun hari ini. Tamasya yang indah dan menyenangkan, ia terus menikmatinya karena
di sampingnya ada seorang lelaki tangguh yang sedang berjaga untuk keselamatan hati dan
jiwanya.
Pak Wahyu,
Masih duduk tenang dan menanggapi setiap kisah yang melompat-lompat dari bibir Rania.
Pak Wahyu merasakan bahwa Rania butuh seorang teman. Ya, teman yang baik yang selalu
hadir tanpa kemunafikan. Hari ini Pak Wahyu berusaha melakukan itu untuk Rania.
Hati lelaki mana yang tidak terrenyuh mendengar perjalanan hidupnya, hati lelaki mana yang
tidak sedih dan ingin meringankan bebannya. Hanya saja tidak semua lelaki menggunakan
hati mereka dalam menyikapi cerita semacam ini.
Hari menjelang sore,
Mereka telah sarapan dan makan siang bersama. Tiba waktunya bagi Pak Wahu untuk pulang
dan kembali pada kehidupan yang sesungguhnya. Begitu juga dengan Rania, tiba waktunya
dirinya kembali pada Rania yang sesungguhnya, bukan Rania yang menjadi gadis pemimpi
selama beberapa jam yang lalu.
“Aku pulang.”

“Kalau ada waktu dan Rania mengijinkan besok aku akan datang, InsyaAllah.”
Rania mengangguk, mengantarkan Pak Wahyu menuju mobilnya yang di parkir di depan pagar
rumah Rania. Ada senyum yang mereka lempar dengan bahagia berharap esok senyum itu
akan berulang.
Diantara gerimis yang masih turun Rania masih duduk di kursi santai beranda rumah, Pak
Wahyu telah pulang ke rumahnya. Rania menimang jam tangan pemberian Pak Wahyu, ia
membolak-balik rantai emasnya yang cantik. Rania merasa bangga pernah mengenal beliau,
Rania juga bahagia telah menemukan teman sebaik beliau, sebaik Pak Budiman juga Septia
dan Arifin. Rania mensyukuri keberadaan mereka saat ini. Mereka adalah kekuatan bagi hidup
Rania.
Rania meletakkan jam tangan tersebut kembali ke tempatnya. Didalam kotak cantik berwarna
ungu. Rania beharap pertemanannya dengan Pak Wahyu akan terjalin baik selamanya. Tiba-
tiba ada yang berbisik di telinganya.
‘Hanya sebatas teman kah harapan mu ?’
Rania terhenyak kemudian tersenyum tipis tanpa menjawab.

PERTANYAAN SEPTIA

Septia sudah sejak siang tadi berada di rumah Rania, meskipun Rania tidak ada di rumahnya.
Gadis itu rebahan di kamar tamu rumah Rania. Rania telah menganggap Septia sebagai adik
sendiri. Mereka demikian dekat seperti saudara meskipun baru beberapa bulan saling
mengenal.
Tadi Septia memberikan kabar pada Rania bahwa dirinya berada di rumah Rania dan Rania
pun berkata, tunggu saja sebentar lagi aku pulang.
Itu pesan singkat yang dikirim melalui ponsel dan diterima oleh Septia. Alhasil Septia pun
bersedia menunggu.
Sudah dua jam berlalu, yang ditunggu tak kunjung tiba. Septia sepertinya mulai lelah, ia
beranjak menuju kaca rias, membersihkan wajahnya dan membenahi letak rambutnya.
Septia ingin pulang.
Belum sampai ia membuka kamar, sebuah mobil nampak berhenti di depan rumah, sorot
lampunya sedikit masuk menembus jendela ruang tamu rumah dengan desain minimalis milik
Rania.
"Pasti itu Rania," pekiknya.
Septia pun melangkah menuju pintu depan, ia membuka pintunya. Nampak dari
pandangannya Rania turun dari sebuah mobil mewah tapi bukan mobilnya. Septia
menggerakkan bola matanya untuk mengetahui siapa yang mengantar Rania hari ini.
Semakin ia memincingkan mata ia semakin yakin lelaki itu, sepertinya ia pernah kenal tapi
siapa ya ?
Septia memukul-mukul lembut kepalanya pertanda ia sedang berfikir.
"Oh, itu bapak yang kemarin berjumpa di pengadilan agama." Septia mulai sedikit ingat.
"Tidak lain dan tidak bukan itu bapak yang bertemu di Pengadilan Agama hari itu."Septia
mengingat sesuatu.
Ia merasa bahwa ingatannya benar, ia tidak salah lagi.
Rania masuk ke rumahnya sendiri, tanpa Bapak itu. Bapak tersebut langsung pulang setelah
Rania turun di rumahnya, mobil Rania pun tidak nampak di rumahnya.
"Hmmmm lagi jalan-jalan pantesan lama gak datang." Septia berwajah sewot di depan
sahabatnya.
Rania hanya tersenyum tipis, ia masuk kamar pribadinya, membasuh kakinya, kemudian
mengganti pakaiannya sebelum ia berbincang dengan Septia. Selalu begitu, itu kebiasaan
Rania sejak kecil. Berganti baju dan mencuci kaki setelah keluar dari rumah.
"Maaf ya kalau lama nunggunya."Rania mencolek bahu Septia.
Septia manyun dengan bibir di monyongkan membuat Rania merasa geli.
"Kalau begitu gayanya, asli mirip Laela."
Septia langsung merubah gayanya saat mendengar nama Laela.
"Amit-amit.. amit-amit.."
Rania pun terkekeh melihat tingkah sahabatnya.
"Emang darimana saja sih, kok bisa dengan bapak itu."
"Pak Wahyu maksudnya ?"
Septia mengangguk.
"Tadi mobil ku bannya bocor sayang, itu sebabnya aku telphon beliau dan minta tolong."
"Kok nggak minta tolong Pak Budiman ? Kak Rania kan pacar nya ?"

UPS, hampir saja Rania lupa dengan perjanjian pacaran bohong-bohongan dengan Pak
Budiman.
Andai Septia tahu, hubungannya dengan Pak Budiman hanya sebatas teman, Pak Budiman
tidak akan mencintai Rania, tidak akan pernah. Rania bukan tipe wanita yang diidamkan oleh
Pak Budiman. Bila hari ini mereka saling mengasihi tidak lebih karena Pak Budiman merasa
iba pada apa yang menimpa Rania, tidak lebih.
"Hallo, kok diam ?"
"Kenapa nggak menghubungi Pak Budiman?" Septia memburu Rania dengan pertanyaan yang
sama
"Sudah sayang, tapi Pak Budiman sedang sibuk." Hanya itu yang mampu Rania ucapkan tidak
ada kalimat yang lain, menambah kalimat pada jawaban atas pertanyaan Septia justru akan
mengacaukan segalanya.
Rania menarik nafas panjang, ia lupa bahwa ia masih berlabel istri orang dan sekarang pacar
orang meski hanya bohong-bohongan. Pertanyaan dari Septia mengingatkan Rania akan hal
itu.
Rania pun memandang jalanan dengan pandangan meremang.
[8/12 11:40] Rarashasha: JANGAN ADA PERASAAN LAIN
Rania baru saja usai melanjutkan tulisannya ketika ia membaca pesan di whatsappnya.
“Ran,”
“Iya,”
“Sedang apa ?”
“Menulis.”
“Boleh aku ke sana sekarang ?” Rania mendongakkan kepalanya, ia tersenyum kecil
sepertinya Tuhan sedang menguji ku, bisiknya perlahan.
“Boleh.”
Pak Wahyu pun mengakhiri perbincangan mereka. Beberapa jam kemudian mobil Pak Wahyu
telah berada di rumahnya. Rania yang dari tadi telah menanti akhirnya keluar juga menuju
beranda. Mereka saling melempar senyum, senyum yang sangat manis. Pak Wahyu tidak
langsung duduk tetapi ia memilih berdiri di tangga kecil di beranda rumah.
“Kita keluar, yuk.”
“Kemana ? tumben”
“Kemana saja.” Rania pun berbalik badan hendak mengganti pakaian.
“Mau kemana ?”
“Ganti baju.”
“Nggak usah ganti baju, begitu saja sudah cantik.” Rania pun mengulum senyum. Mereka
berangkat tanpa tujuan yang jelas. Dari dalam rumah nampak pembantu Rania melihat
kebahagiaan nona muda majikannya. Sejak mengenal Pak Wahyu sepertinya hidup Rania
berubah. Ia menjadi jarang menangis, selalu ada perbincangan kecil sebelum tidur yang
membuat Rania tertawa dan mengakhiri harinya dengan tidur malam yang indah. Sebenarnya
bukan panjang atau tidaknya sebuah perbincangan yang terpenting adalah kontinyuitas dan
nilai dari perbincangan itu. Itu saja.
Rania tidak pernah berharap lebih dari hubungan mereka, Rania hanya mengikuti saja seperti
air mengalir. Seperti juga hari ini ketika di sepanjang perjalanan mereka tertawa dan saling
bercanda ria, seolah tanpa beban. Hidup kita sudah penuh beban lalu mengapa harus
menambahnya lagi.

Sampai di alun-alun Martapura, mereka berdua turun. Mendekati penjual es pinggir jalan dan
sosis bakar. Suasana mendung begini asik sekali menikmati es dan sosis bakar dengan sambal
pedas manisnya. Ho ho...
Rania memilih duduk di bawah tulisan Martapura, ada Pak Wahyu disampingnya.
“Ran,”
“iya”
“Apa yang kamu pikirkan tentang aku ?” Tanya Pak Wahyu tiba-tiba.
“Baik,”
“hanya itu ?’
“Tidak sih,”
“Lalu ?”
“Pertama kali kita jumpa aku terkejut mendengar suara itu, seperti familiar di telinga ku.”
“Seperti suara siapa ?”
“Entah.”
“Lalu apa lagi, Ran ?”
“Banyak, hanya saja aku nggak tahu sejak kapan yang pasti setiap kita selesai berbincang aku
seperti mempunyai energi tersendiri untuk menulis dan menghasilkan banyak episode di
cerita-cerita ku.” Rania dengan polos berkata.
“Berarti pertemuan kita adalah anugrah,”
“Mungkin.” Jawab Rania pendek.
“Anugrah yang membawa kekuatan bagi mu untuk menghasilkan karya.” Pak wahyu mencoba
mendefinisikan sendiri perasaan yang saat ini di rasakan Rania. Rania diam.
“kita jaga perasaan itu dan jangan di biakan muncul perasaan yang lain.” Rania terhenyak.
“Maksudnya apa ?” “Mas sedang ingin bilang kalau aku tidak boleh jatuh cinta begitu ? Jatuh
cinta kok dilarang, ini hati ku, ini hak ku, ini perasaan ku. Tidak ada seorang pun yang bisa
melarangnya.”
“Ran, aku hanya takut ketika keinginan itu di kabulkan, apakah kita telah siap menjalankan
semuanya. Apakah aku siap meninggalkan hubungan yang sudah ada ?”
Robbana, batin Rania menggumam baru beberapa menit yang lalu ia bisa mengambil
kesimpulan bahwa hidupnya bahagia tapi sekarang Pak Wahyu menuturkan sesuatu yang
sebenarnya tidak perlu di sampaikan. Hanya akan membuat luka. Tidak bisa kah sebuah
hubungan berjalan seperti apa adanya tanpa ada aturan-aturan yang mengikat atau
membenamkan diri pada sebuah keniscayaan yang menyakitkan. Rania baru saja menulis
nama Pak Wahyu sebagai seseorang yang baik dengan tinta emas dalam hatinya tapi Pak
Wahyu menghadirkan sebuah kalimat yang membuat ia sadar bahwa hubungan mereka tak
bisa lebih dari ini.
“Mas, rasa itu sebuah keniscayaan. Ikuti saja arusnya tanpa perlu melawan karena melawan
arus hanya akan membuat rasa sakit yang berlipat-lipat. Jadi untuk apa dilakukan. Bukankah
kita sedang ingin sehat serta tidak ingin melanjutkan rasa sakit ? Yang penting kita berdua
saling menjaga.”
“Jangan pernah berfikir tentang meninggalkan dan di tinggalkan, kita sama-sama menjaga
hingga Tuhan menentukan jalanNya dan memperjelas tulisanNya dan kita bisa membacanya.
Jadi untuk apa kita perbincangkan ini.”
“Kamu benar, Ran. Aku hanya risau.”
“Aku juga punya kerisauan yang sama namun aku pasrahkan semua pada Allah, bukankah Dia
sebaik-baik tempat bergantung?”

Rania menarik nafas panjang ketika Pak wahyu memandangnya, jemari lelakinya
membetulkan sebilah rambut yang keluar dari ujung jilbabnya. Pak wahyu mengajak Rania
tersenyum namun Rania membuang muka. Ia seolah lelah dengan apa yang baru saja ia
dengar.
“ran, aku minta maaf.” Ucapan Pak Wahyu menyesal.
“Tidak ada yang perlu di maafkan, apa yang mas sampaikan memang benar, aku yang salah.”
“Ini bukan tentang benar dan salah Ran, ini tentang perasaan.”
“Aku hanya tidak ingin kamu terluka, itu saja.”
Tiba-tiba gerimis menjadi rintik hujan. Rania dan Pak Wahyu bangkit dari tempat mereka
duduk, menuju ke mobil demi menghindari hujan. Diantara rintik hujan yang turun ada air
mata Rania yang mengalir deras. Membuat sekat-sekat luka baru dalam perjalanannya.
Namun sayang, Pak Wahyu tidak tahu itu.
[8/12 11:40] Rarashasha: RANIA DALAM LUKA
Malam gelap tanpa bintang, ada gamang yang mulai mengembang. Rania merasa rindunya
mulai terusik sejak kedatangan Pak Wahyu dalam kehidupan nya. Pak Wahyu, sosok
kebapakan yang berkali-kali menenangkan pikirannya, melukiskan harapan baru dalam
kehidupannya. Pak Wahyu yang selalu mengajarkan Rania tentang pentingnya mendekap erat
rasa syukur agar Tuhan menambah nikmatNya. Pak Wahyu yang selalu bilang bahwa dendam
tidak akan menyelesaikan masalah.
Rindunya berkejaran di antara belukar dan hutan rimba. Ada banyak sekali dedaunan kering
juga hewan liar yang terkadang menakutinya dan memaksa Rania untuk menghentikan rindu.
Andai saat ini dirinya sedang tertidur maka ia akan memilih untuk tetap tidur demi
menuntaskan rindunya.
Andai boleh, Rania ingin sekali memohon ijin pada Tuhan untuk melihat catatanNya di Lauhul
Mahfudz, Rania ingin melihat seperti apa akhir dari rindunya.
Ach, rindunya hari ini demikian indah namun sayang ada batasan-batasan yang tak mungkin
ia langgar. Tidak mungkin ia terjang, hingga membuat hati nya meradang. Itulah mengapa ia
memilih diam, menelan rindunya dalam-dalam, melumatnya hingga tak muncul di
permukaan, ia harus bisa lakukan meskipun itu sangat menyakitkan.
Begini saja sudah cukup, saling menjaga dan saling menguatkan meski tak mungkin bisa
mengumbar aroma kemesraan.
Begini saja, asalkan tidak ada yang saling meninggalkan.
Rania berterimakasih pada Tuhan telah mempertemukan dirinya dengan lelaki baik itu. Pak
Wahyu, beliau sebaik Pak Budiman, hanya bedanya Rania punya rindu pada beliau.
Ponsel Rania menyala, Rania bangkit dan memungut nya. Enam pesan masuk.
Pak Leo,
Lelaki ini muncul lagi setelah berhari-hari menghilang.
Pak Leo mengirimkan foto-foto pernikahan dirinya dengan Rania.
Rania menutup matanya.
Ia merasakan lukanya tertaburi garam, pedihnya berlipat-lipat.
Beberapa menit kemudian Pak Leo mengirimkan foto Rania saat sedang hamil.
Foto yang dikirimkan Rania saat ia memohon minta dikirim uang untuk biaya persalinan yang
sudah hampir tiba namun uang itu tak kunjung datang.
Rania berteriak.
"Lelaki T*L*L" tangan Rania mengepal. Amarahnya sampai ke ubun-ubun. Begitu bodohnya
makhluk Tuhan yang bernama Leo ini.
Rania menekan tombol bergambar telphon berwarna hijau.

Terdengar nada sambung.
"Assalamualaikum bunda, ada apa? Bunda belum tidur?"
"Waalaikumsalam maaf ya yah aku mau ngomong, seumur hidup ku hanya satu kali
menemukan laki-laki paling bodoh di dunia ini yaitu ayah!" Rania menahan amarahnya yang
meletup-letup. Ia seolah tidak bisa lagi bernafas. Dadanya penuh sesak dengan bayangan bayi
mungil yang harus mati saat itu. Bayangannya di penuhi dengan rasa sakit di perutnya hingga
menusuk ulu hatinya.
Rania terengah-engah seperti melewati ribuan kilometer jalanan penuh tanjakan. Ia tidak bisa
lagi menahan nafasnya yang penuh sesak antara amarah dan sedih yang membuncah.
"Maksud bunda apa? Kenapa bunda begitu benci pada ayah. Tidak bisakah kita saling baik.
Ayah sudah puluhan kali minta maaf lho bunda."
"Tidak bisa! Kita tidak bisa saling baik. Aku sudah maafkan semuanya. Tapi tidak untuk saling
baik."
"Tapi kenapa bunda ?"
"Karena bagi ku saat ini kamu tak lebih dari seorang PEMBUNUH!" Rania menutup telponnya.
Ia berhenti memaki.
"Astaghfirullah" Rania menggumam berkali-kali. Ada kepasrahan tingkat tinggi dalam
batinnya.
Ia sudah berjanji tak akan pernah memaki lagi,malam ini perrih telah membuat ia lupa pada
janji.
Ia hanya mengingat darah yang mengucur deras di kaki putihnya saat itu. Saat ia berjalan
mencari becak sendirian menuju rumah bidan. Saat ia harus mendekap bayinya seorang diri
dan mencari pinjaman kesana kemari untuk membayar biaya persalinan.
Haruskah Rania berbaik hati dan kembali ?
Andai ada pengadilan cinta maka Rania adalah orang pertama yang akan menuntut
kekejaman yang Leo lakukan padanya. Rania akan meminta agar hakim menindak Leo dengan
hukuman seadil-adilnya.
Rania terisak lagi.
Ia buka lagi ponselnya, mencari nama Pak Wahyu disana, Pak Wahyu tidak online. Rania pun
tidak ingin mengganggu meski ia sangat ingin mengadu. Ia tahu batasannya.
Sedangkan Pak Budiman, ach...sebagai sahabat ia terlalu baik untuk menerima curahan hati
di tengah malam seperti ini.
Rania membenamkan dirinya pada bantal empuk dan harum di ranjang putihnya. Ia luahkan
seluruh perasaannya di sana.
Dan, ketika tangan Tuhan membelainya ia pun terlelap dalam letih yang menggumpal.
Pak Leo pasti akan mendapat balasan setimpal karena janji Allah Pasti benar.
[8/12 11:41] Rarashasha: KABAR BAHAGIA
“Assalamualaikum, Bu Rani.” Suara dari sebrang terdengar, suara lembut dari pemilik suara,
seorang yang baik hati namun tegas dalam prinsip. Dan Rania pun menjawab dengan suara
tak kalah lembutnya.
“Waalaikumsalam, apa kabar, Pak ?. Lama tak jumpa.”
“Iya, banyak tugas kampus yang harus di kerjakan terutama penyampaian materi via zoom
video benar-benar sangat menyita perhatian, menyita waktu dan butuh kesabaran. Belum
lagi persiapan webminar.”
“Saya juga mengalami nasib yang sama, Pak.”
“Sedang dimana ?” masih tanya suara itu lagi.
“Sedang di rumah, Pak.”


Click to View FlipBook Version