Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto i LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING BERBASIS CULTURALLY RESPONSIVE TEACHING UNTUK PENINGKATAN MINAT DAN PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN IPAS BAB V B DI KELAS IV B SD NEGERI 2 PURBALINGGA LOR LAPORAN INDIVIDU Diajukan untuk Melengkapi Persyaratan Penyelesaian PPL 2 PPG Prajabatan Gelombang 1 Oleh: DESI TYAS ANDARURI, S.PD. 2201680478 PPG PRAJABATAN GELOMBANG 1 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIIV BERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO TAHUN 2023
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto ii HALAMAN PENGESAHAN PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING BERBASIS CULTURALLY RESPONSIVE TEACHING UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI DAN MINAT BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN IPAS BAB V B DI KELAS IVB SD NEGERI 2 PURBALINGGA LOR Oleh: DESI TYAS ANDARURI, S.PD. 2201680478 Telah diperiksa dan disetujui oleh : Dosen Pembimbing Reni Untarti, M.Pd NIDN.0603098702 Banyumas, 07 Juni 2023 Guru Pamong Ferizah Aeni, S.Pd.SD NIP.19780410 200801 2 025 Mengetahui, Kepala Sekolah, Suparso, S.Pd.SD, M.Pd. NIP.19660530 199103 1 008
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto iii KATA PENGANTAR Alhamdulilahirobbil’alamin puji syukur peneliti panjatkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan karunia-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian tindakan kelas dengan judul “Penarapan Model Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan minat dan prestasi belajar peserta didik Pada Bab V Cerita Tentang Daerahku” di kelas IVB SD Negeri 2 Purbalingga Lor”. Penelitian tindakan kelas ini membahas tentang permasalahan yang ditemukan yaitu kurangnya minat dan rendahnya prestasi belajar peserta didik pada proses pembelajaran. Tindakan yang dilakukan terkait kurangya minat belajar dan rendahnya prestasi blajar peserta didik yaitu dengan menerapkan model Problem Based Learning berbasis kearifan lokal. Adapun maksud dan tujuan dari penulisan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar kelas IV SD Negeri 02 Purbalingga Lor pada Bab V Cerita Tentang Daerahku, melalui penerapan model Problem Based Learning berbasis kearifan lokal. Penyusunan penelitian tindakan kelas ini di disususn untuk melengkapi persyaratan penyelesaian Praktik Pengalamana Lapangan 2 Pendidikan Profesi Guru Prajabatan Gelombang 1 di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Peneliti menyadari bahwa dalam proses penulisan penelitian ini banyak kendala, namun berkah Allah Subhanahu Wata’ala Alhamdulillah semuanya dapat peneliti lewati dengan baik dan bertahap. Selama menyelesaikan penelitian ini, peneliti telah banyak menerima dukungan, bimbingan dan bantuan dari segala pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu peneliti mengucapkan terima kasih yang setulustulusnya kepada semua pihak yang turut membantu. Ucapan terima kasih peneliti sampaikan kepada: 1. Assoc. Prof. Dr. Jebul Suroso, S.KP., Ns., M.Kep. selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang telah mendukung kegiatan PPG Prajabatan Gelombang 1 2. Dr. Wildan Nurul Fajar, M.Pd. selaku Ketua PPG Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang telah mendukung kegiatan PPG Prajabatan Gelombang 1 3. Reni Untarti, M.Pd. selaku Dosen Pembimbing yang telah bersedia membimbing penelitian tindakan kelas di Praktik Pengalaman Lapangan 2 sampai selesai dan membantu kami dalam berbagai hal. 4. Suparso, S.Pd., M.Pd.selaku Kepala Sekolah SD Negeri 02 Purbalingga Lor yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan penelitian tindakan kelas pada Praktik Pengalaman Lapangan 2 di SD Negeri 02 Purbalingga Lor. 5. Ferizah Aeni, S.Pd.SD. selaku guru pamong yang telah membantu dalam kegiatan penelitian tindakan kelas. 6. Usman Afandi, S.Pd.SD selaku guru kelas IV B yang telah membantu pelaksanaan penelitian.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto iv 7. Guru dan Staff SD Negeri 2 Purbalingga Lor yang telah bersedia menerima dan mengijinkan kami untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas pada pembelajaran di kelas. 8. Seluruh peserta didik SD Negeri 02 Purbalingga Lor yang telah membantu selama menjalani penelitian tindakan kelas pada pembelajaran. 9. Semua pihak yang tidak mungkin peneliti sebutkan satu persatu yang telah membantu terselesaikannya penelitian tindakan kelas ini. Peneliti menyadari bsepenuhnya bahwa dalam penulisan penelitian tindakan kelas ini masih banyak kekurangan karena keterbatasan ilmu yang peneliti miliki. Penelitian ini masih banyak sekali kekurangannya, oleh karena itu peneliti mohon saran dan kritik yang membangun demi perbaikan di masa yang akan datang. Harapan peneliti semoga penelitian tindakan kelas ini dapat diterima dan bermanfaat bagi semua pihak serta dapat menambah wawasan baik bagi peneliti sendiri maupun pembaca. Purwokerto, Juni 2023 Peneliti
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto v DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah....................................................................................... Rumusan Masalah................................................................................................ Tujuan Penelitian ................................................................................................. Manfaat Penelitian ............................................................................................... BAB II KAJIAN PUSTAKA Landasan Teori .................................................................................................... Penelitian terdahulu yang relevan......................................................................... Kerangka piker penelitian .................................................................................... BAB III METODOLOGI PENELITIAN Desain PTK ......................................................................................................... Subjek Penelitian ................................................................................................. Tempat dan Waktu Pelaksanaan........................................................................... Prosedur Penelitian .............................................................................................. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ..................................................................... Pengolahan dan Analisis Data .............................................................................. BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN Temuan dan Pembahasan Masalah Siklus I........................................................................................................... Temuan .................................................................................................... Pembahasan.............................................................................................. Siklus II ......................................................................................................... Temuan .................................................................................................... Pembahasan.............................................................................................. Keterbatasan Penelitian........................................................................................ BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI Simpulan.............................................................................................................. Rekomendasi ....................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN RPP ..................................................................................................................... Instrumen Pengumpul Data
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu hal yang menjadi sebuah prioritas untuk dilakukan, baik di Indonesia ataupun dinegera lain. Tujuan dari pendidikan itu sendiri adalah untuk menjadikan seseorang mempunyai kepribadian yang baik dan memiliki wawasan luas. Secara umum, pengertian dari pendidikan adalah pembelajaran, pengetahuan, dan keterampilan yang dimiliki seseorang. Namun, ada beberapa ahli memiliki pengertian tersendiri mengenai pendidikan, termasuk Ki Hajar Dewantara. Pendidikan adalah upaya untuk memajukan bertumbuhnya pendidikan budi pekerti (kekuatan batin dan karakter), pikiran, serta tubuh anak. Ki Hajar Dewantara menjabarkan bahwa tujuan pendidikan terbagi menjadi tiga, yaitu : (1)Membentuk budi didik yang halus pada pekerti kecerdasan otak peserta didik, (2)Mendapatkan kesehatan badan pada peserta didik, (3)Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, maka pendidikan harus memiliki kesatuan konsep yang jelas, meliputi : Ing Ngarsa Sung Tuladha: sebagai guru atau pendidik harus bisa menjadi teladan untuk semua peserta didik. Ing Madya Mangun Karsa: pendidik mampu menciptakan ide bagi peserta didik.Tut Wuri Handayani: pendidik harus mampu memberikan motiIV Basi dan arahan untuk peserta didik. Ketiga hal itu merupakan semboyan yang dicetus oleh Ki Hajar Dewantara. Pada prinsipnya, pendidikan bermuara pada interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk membantu peserta didik mencapai tujuan pendidikan (Sukmadinata, 2005:1). Pendidikan terjadi di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat (tri pusat pendidikan). Pendidikan di sekolah dikenal dengan istilah pendidikan formal karena semua aspek dalam pendidikan di sekolah ditata secara formal. Menurut Sukmadinata (2005:2)
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 2 salah satu karakteristik pendidikan formal adalah bahwa pendidikan di sekolah memiliki rancangan pendidikan atau kurikulum tertulis. Dalam Kurikulum Merdeka, mata pelajaran IPAS dan IPS digabungkan menjadi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial dan Sosial (IPAS), dengan harapan dapat memicu anak untuk dapat mengelola lingkungan alam dan sosial dalam satu kesatuan. Selain itu, pada Kurikulum Merdeka, terdapat Pembelajaran Berbasis Proyek untuk penguatan Profil Pelajar Pancasila yang dilakukan minimal 2 kali dalam satu tahun ajaran. Inilah Hal-Hal Esensial Kurikulum Merdeka di Jenjang SD : Penguatan kompetensi yang mendasar dan pemahaman logistik. Untuk memahami lingkungan sekitar, mata pelajaran IPAS dan IPS digabungkan sebagai mata pelajaran Imlu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) Integrasi computational thinking dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika dan IPAS. Namun usaha untuk menjadikan sekolah sebagai sarana kegiatan belajar pembelajaran yang efektif belum tentu berjalan semulus jalan tol. seperti hanya yang terjadi kelas IV B di SD Negeri 02 Purbalingga Lor, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga proses pembelajaran masih bersifat pembelajaran konvensional dan media pembelajaran mengacu pada buku (text book) pendukung yang disediakan di sekolah saja. Hal ini menjadi salah satu faktor rendahnya minat belajar peserta didik sehingga memicu rendahnya prestasi belajar peserta didik. Kurangnya inovasi media pembelajaran, alat peraga dalam pembelajaran juga sering menjadi pemicu kurangnya minat peserta didik terhadap proses pembelajaran serta kurang efektifnya proses pembelajaran khususnya dalam pembelajaran materi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial dan Sosial. Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial dan Sosial khususnya materi Cerita tentang daerahku tidak sedikit peserta didik yang tingkat pemahamannya kurang maksimal. dalam hal ini ada beberapa faktor yang mungkin menjadikan kurangnya totalitas pembelajaran di kelas.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 3 ● Identifikasi Masalah Berlatarbelakang realita yang terjadi tersebut dan dengan meminta bantuan Guru kelas, Guru pamong, dan Dosen Pembimbing Lapangan dalam hal membantu mengidentifikasikan beberapa masalah pembelajaran yang telah dilakukan. Dari identifikasi masalah tersebut ada beberapa masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran antara lain: ✔ Guru memberikan materi pelajaran secara konvensional ✔ Penggunaan media pembelajaran yang kurang inovatif dan kreatif ✔ Kurangnya minat belajar peserta didik pada pembelajaran IPAS ● Analisis Masalah Setelah mempelajari berbagai masalah yang kemungkinan menjadi pemicu kurang maksimalnya proses pembelajaran, peneliti mencoba merefleksikan diri dengan jalan observasi, diskusi, wawancara tentang proses pembelajaran yang telah dilakukan. Berbekal dari hal tersebut, ada beberapa kemungkinan yang menjadi faktor penyebab rendahnya minat belajar sehingga berpengaruh terhadap prestasi belajar peserta didik pada materi Cerita tentang daerahku yaitu: ✔ Guru melaksanakan proses pembelajaran yang monoton ✔ Guru tidak menggunakan media pembelajaran yang kreatif dan inovaatif ✔ Guru kurang mengaktifkan minat belajar peserta didik ● Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah Berdasarkan permasalahan yang peneliti analisis di atas, maka peneliti akan menggunakan model PBL (Problem Based Learning) dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial dan Sosial pada materi "Cerita tentang daerahku" serta mengintegrasikannya
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 4 dengan kebudayaan lokal/kearifan lokal (Culturally Responsive Teaching). Setelah peneliti menggunakan model pembelajaran PBL (Problem Based Learning) dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial dan Sosial materi "Cerita tentang daerahku" diharapkan akan lebih meningkatkan minat belajar peserta didik sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik. B. Rumusan Masalah Berlatar belakang permasalahan yang peneliti jabarkan di atas, maka dapat Peneliti rumuskan masalah penelitian sebagai berikut: 1. Apakah penerapan model PBL (Problem Based Learning) dengan mengintegrasikan kearifan lokal daerah dapat meningkatkan minat belajar peserta didik SD Negeri 02 Purbalingga Lor pada materi “Cerita tentang daerahku?” 2. Bagaimanakah model PBL (Problem Based Learning) dengan mengintegrasikan kearifan lokal daerah dapat meningkatkan pemahaman peserta didik SD Negeri 02 Purbalingga Lor pada materi “Cerita tentang daerahku?” C. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran Berdasarkan rumusan masalah tersebut, penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut: 1. Untuk mendeskripsikan apakah PBL (Problem Based Learning) yang mengintegrasikan kearifan lokal daerah dapat meningkatkan minat belajar peserta didik SD Negeri 02 Purbalingga Lor pada materi "Cerita tentang daerahku" 2. Bagaimanakah PBL (Problem Based Learning) dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik SD Negeri 02 Purbalingga Lor pada materi "Cerita tentang daerahku"
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 5 D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran Adapun manfaat dari penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut: 1. Bagi peserta didik a. Memberikan kemudahan dalam proses analisis dan diagnosis terhadap kesalahan maupun kesulitan dalam proses pembelajaran. Hal tersebut berkaitan dengan strategi, teknik, konsep, dan lain sebagainya. b. Adanya hubungan timbal balik antara pembelajaran dan perbaikan prestasi belajar peserta didik c. Apabila kesalahan yang terjadi bisa segera diperbaiki, maka proses pembelajaran akan lebih mudah dilaksanakan. 2. Bagi Guru a. Membantu meningkatkan kualitas guru dalam memperbaiki pembelajaran. b. Meningkatkan profesionalisme guru dalam memberikan pembelajaran. c. Meningkatkan rasa percaya diri guru karena kemampuan merefleksi diri. d. Memungkinkan guru secara aktif mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan. 3. Bagi Sekolah Membantu Sekolah untuk berkembang, karena adanya peningkatan/kemajuan pada diri guru dan pendidikan di sekolah tersebut. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 6 1. Model Pembelajaran Problem Based Learning a. Pengertian model Problem Based Learning Problem Based Learning diartikan sebagai Pembelajaran Berbasis Masalah yaitu jenis model pembelajaran yang melibatkan peserta didik dalam suatu kegiatan (proyek) untuk menghasilkan suatu produk.Berikut ini langkah-langkah untuk menerapkan problem based learning. a.Orientasi peserta didik pada Masalah. b.Mengorganisasi peserta didik untuk Belajar. c.Membimbing Penyelidikan IndiIV Bidual dan Kelompok d.Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya e.Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan Masalah. Tabel 2.1 Sintaks PBL dan Perilaku Guru yang Relevan No. Fase Perilaku Guru Fase 1 Orientasi peserta didik kepada masalah Guru membahas tujuan pembelajaran, mendeskripsikan berbagai kebutuhan logistic penting, dan memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam kegiatan mengatasai masalah. Fase 2 Mengorganisasikan peserta didik Guru membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugastugas belajar yang terkait dengan permasalahannya. Fase 3 Membimbing penyelidikan individu dan kelompok Guru membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan hasil diskusi pada LKPD untuk dapat dipresentasikan didepan kelas menyampaiakannya kepada orang lain. Fase 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Guru membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan hasil diskusi untuk dapat dipresentasikan didepan kelas
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 7 Fase 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi terhadap investigasinya dan proses proses yang mereka gunakan. b. Kelebihan dan Kelemahan Problem Based Learning 1) Kelebihan Problem Based Learning Kelebihan model Problem Based Learning yang dijelaskan oleh Kurniasih dan Berlin (2015, hlm. 49-50) yaitu: a) Pemikiran kritis peserta didik dan pemikiran kreatif peserta didik dapat dikembangkan. b) Meningkatnya kemampuan memecahkan permasalahan pada peserta didik dengan mandiri. c) Meningkatkan motivasi peserta didik dalam belajar. Selanjutnya menurut Shoimin (2016, hlm. 49) menjelaskan bahwa kelebihan dari model Problem Based Learning yaitu: a) Peserta didik dilatih untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah dalam keadaan nyata. b) Mempunyai kemampuan membangun pengetahuannya sendiri melalui aktivitas belajar. c) Pembelajaran berfokus pada masalah sehingga materi yang tidak ada hubungannya tidak perlu dipelajari oleh peserta didik. Dalam hal ini mengurangi beban peserta didik dalam menghafal atau menyimpan informasi. d) Terjadi aktivitas ilmiah pada peserta didik melalui kerja kelompok. e) Peserta didik terbiasa menggunakan sumber-sumber pengetahuan, baik dari perpustakaan, internal, wawancara, dan observasi. f) Peserta didik memiliki kemapuan menilai kemampuan belajarnya sendiri.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 8 g) Peserta didik memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi ilmiah dalam kegiatan diskusi atau presentasi hasil pekerjaan mereka. h) Kesulitan belajar peserta didik secara individual dapat diatasi melalui kerja kelompok dalam bentuk peer teaching. Dari beberapa teori tentang kelebihan model Problem Based Learningdapat disimpulkan bahwa model Problem Based Learning yaitu pembelajaran yang dapat membuat peserta didik aktif karena berusaha dan mencari solusi dalam proses pemecahan masalah, peserta didik dapat meningkatkan kemampuan untuk berkomunikasi serta dapat meningkatkan rasa ingin tahu dan dapat meningkatkan motivasi belajar yang kuat, jadi peserta didik tidak mudah bosan dalam melakukan kegiatan belajar di dalam kelas. 2) Kekurangan Problem Based Learning Model pembelajaran yang diterapkan dalam proses belajar mengajar, tentunya ada bebrapa kelemahan yang harus kita ketahui. Menurut Sumantri (2016, hlm. 47) menjelaskan bahwa kelemahan model Problem Based Learning diantaranya yaitu: a) Memiliki beberapa pokok bahasan yang sulit untuk diterapkan dalam model ini, seperti terbatasnya sarana prasarana, atau media pembelajaran. b) Membutuhkan alokasi waktu yang lebih panjang. c) Pembelajaran hanya berfokus pada permasalahan. Selain itu kelemahan model Problem Based Learning yang dijelaskan oleh Nisa (2016, hlm. 49) bahwa kelemahan model tersebut yaitu:
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 9 a) Kapasitas peserta didik yang terkalu banyak dapat menyulitkan guru dalam penerapan model ini. b) Waktu yang diperlukan kurang efektif dan efesien. c) Tidak semua peserta didik dapat dengan mudah memahami model ini. Lebih lanjut menurut Mustaji (2017, hlm. 60) mengemukakan kelemahan model Problem Based Learning diantaranya: a) Manakala peserta didik tidak memiliki minat atau tidak memiliki kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa susah untuk mencoba. b) Keberhasilan strategi pembelajaran melalui pemecahan masalah membutuhkan cukup waktu untuk persiapan. c) Tanpa pemahaman mengapa mereka yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari. Jadi dari hasil analisis persaman dan perbedaam mengenai kelemahan model Problem Based Learning dapat disimpulkan bahwa model Problem Based Learning ialah: a) Model pembelajaran yang membutuhkan waktu dan biaya yang banyak. b) Tidak semua mata pelajaran bisa menggunakan model Problem Based Learning tanpa adanya pemahaman yang jelas. c) Pembelajaran serta peserta didik tidak akan belajar tentang apa yang ingin
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 10 dipelajari, hanya cocok untuk pembelajaran yang berkaitan dengan pemecahan masalah. d) Pembelajaran hanya berfokus pada permasalahan. e) Pembelajaran tida akan bermakna jika peserta didik masih belum paham dengan penerapan model ini. f) Peserta didik yang tidak mempunyai minat belajar akan kurang percaya diri dan diam saat proses pembelajaran. g) Membutuhkan pembiasaan dalam penerapan model ini. h) Kelas yang memiliki tingkat keberagaman yang tinggi akan menyulitkan guru dalam proses pembagian tugas. i) Bagi peserta didik yang malas tujuan dari model Problem Based Learning sulit dicapai. j) Guru akan sulit untuk menyampaikan permasalahannya jika peserta didik tidak terbiasa dalam belajar sendiri dan memecahkan masalah sendiri. 2. Pendekatan Berbasis Kearifan Lokal (Culturally Responsive Teaching) a. Pengertian Culturally Responsive Teaching Pendekatan Culturally Responsive Teaching merupakan cabang dari pendidikan multikultural, dapat diartikan bahwa pendekatan Culturally Responsive Teaching merupakan suatu cara bagaimana menerapkan pendidikan multikultural di dalam kelas (Abdullah Aly, 2011:88). Pendidikan multikultural memberikan penjelasan bahwa pendidikan multikultural biasa diartikan sebagai pendidikan keragaman budaya dalam masyarakat, bisa juga diartikan sebagai pendidikan yang menawarkan ragam model untuk keragaman budaya dalam masyarakat, dan terkadang juga dimaknai sebagai
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 11 pendidikan untuk membina sikap peserta didik agar menghargai keragaman budaya masyarakat” (Sunarto, K. 2004:47). Artinya pendidikan multikultural dalam pendidikan menunjukkan menjadi penting keberadaannya diajarkan di sekolah dasar karena memperkenalkan tentang nilai-nilai budaya antar etnis, harmoni dalam beragama, dan mempromosikan toleransi kepada para peserta didik di lingkungannya. Pendidikan multikultural akan membantu peserta didik untuk mengerti, menerima, dan menghargai orang dari suku, budaya, dan nilai berbeda. Untuk itu, peserta didik perlu diajak melihat dan mencermati nilai budaya lain, sehingga mengerti secara dalam, dan dapat menghargainya sesuai dengan perannya di lingkungan masyarakat. Pendidikan multikultural yang merupakan respon terhadap kegagalan kebijakan pendidikan yang tidak mampu meminimalisir kesenjangan dan berkembangnya sikap tidak bersahabat atau stereotip terhadap perbedaan ras, agama, dan status kewarganegaraan. Menjawab tuntutan itu, sebagaimana dirangkum Banks (2009:14), pendidikan multikultural bertujuan memberi kesempatan yang sama (equal opportunity) kepada setiap peserta didik untuk menjadi warga dunia yang aktif. Dalam ungkapannya, Banks menyatakan, “Multicultural education tries to provide students with educational experiences that enable them to maintain commitments to their community cultures as well as acquire the knowledge, skills, and cultural capital needed to function in the national civic culture and community.” Dalam diskursus pendidikan multikultural, berbagai pendekatan dikembangkan (Banks dan Banks,1993). Salah satu varian pendidikan multikultural menekankan pada penguatan atau keberlanjutan nilai budaya masing-masing kelompok sebagai bagian dari hak asasi (cultural rights) (Benneth, 2001:175).
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 12 Hernandez dkk (2013) mengemukakan suatu rancangan pengembangan pendekatan pembelajaran Culturally Responsive Teaching yang disesuaikan dengan pembelajaran matematika dan ilmu pengetahuan alam. Pendekatan pembelajaran ini memiliki lima kategori utama, yaitu: 1) Integrasi budaya pada konten materi (Content Integration) Content Integration dilakukan dengan mengintegrasikan budaya dalam pembelajaran, membangun hubungan baik antara guru dan peserta didik, dan memberikan apresiasi terhadap prestasi peserta didik. Content integration mengakibatkan munculnya soft skills peserta didik, misalnya seperti rasa cinta tanah air, motivasi, dan rasa ingin tahu. 2) Konstruksi Pengetahuan (Facilitating Knowledge Construction) Guru berperan sebagai fasilitator bagi peserta didik dalam mengkonstruksikan pengetahuan berdasarkan pengetahuan awal yang dimiliki oleh peserta didik. Guru mengajak peserta didik untuk berpikir kritis dan terbuka dalam memahami informasi yang didapat olehnya. Langkah ini dapat membuat peserta didik memiliki pengetahuan baru. 3) Tidak Berprasangka dalam Perbedaan (Prejudice Reduction) Guru harus menggunakan pendekatan kontekstual untuk menciptakan kelas yang bebas belajar tanpa memperhatikan perbedaan ras/etnis dan kelas sosial/bahasa. Tahap ini dilaksanakan dengan membangun interaksi positif antar peserta didik dan menciptakan lingkungan belajar yang nyaman. Dampak 10 penerapan tahap ini yaitu munculnya rasa toleransi, kesadaran sosial dan empati komunikasi antara peserta didik-peserta didik dan guru. 4) Keadilan Sosial (Social Justice) Social Justice muncul ketika peserta didik berani bertanya tanpa memperhatikan perbedaan latar belakang budaya mereka. Guru berperan mendorong peserta didik agar berani mengungkapkan pendapat dan berani menunjukkan latar
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 13 belakang budaya mereka. Soft skills yang muncul pada tahap ini yaitu seperti percaya diri dan rasa tanggung jawab. 5) Perkembangan Akademik (Academic Development) Guru membantu peserta didik dalam mengembangkan akademiknya dengan melaksanakan proses pembelajaran dengan strategi pembelajaran yang beragam sesuai latar belakang, gaya belajar dan karakter peserta didik. Tahap ini menuntut peserta didik aktif dalam pembelajaran sesuai salah satu karakteristik Culturally Responsive Teaching yaitu student-centered. Tahap ini menimbulkan soft skills percaya diri, komunikatif, motivasi dan tanggung jawab. Demikian halnya pendapat yang dikemukakan Guy (2000)[1] , bahwa Langkah-langkah Model Pembelajaran dengan prinsip pendekatan culturally responsive teaching mencakup beberapa hal di bawah ini. 1) Identitas diri peserta didik/peserta didik: mengembangkan identitas mereka dalam perbedaan. 2) Pemahaman budaya: peserta didik terlibat dalam pemahaman budaya dan konstruksi pengetahuan melalui artikel atau sumber daya apapun. 3) Kontruksi transformatif : peserta didik terlibat dalam perubahan nilai-nilai dan pemahaman mereka dengan menyajikannya melalui sebuah projek. Konstruksi transformatif Pendekatan tersebut dapat dipetakan dalam klasifikasi gambar sebagai berikut: (Yuli Rahmawati dkk, 2017)
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 14 Gambar 2.1 3. Pengertian Minat Belajar Menurut KBBI (2008: 916) arti kata minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, gairah, keinginan terhadap sesuatu. Menurut Jahja, Yudrik (2015: 63) minat adalah suatu dorongan yang menyebabkan terikatnya perhatian individu pada objek tertentu seperti pekerjaan pelajaran, benda dan orang. Minat adalah salah satu motivator penting bagi peserta didik untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran. Seorang guru dalam merancang pembelajaran memiliki tujuan mempertimbangkan minat peserta didik diantaranya: a. Membantu peserta didik menyadari bahwa ada kecocokan antara sekolah dan keinginan mereka sendiri untuk belajar; b. Menunjukkan keterhubungan antara semua pembelajaran; c. Menggunakan keterampilan atau ide yang familiar bagi peserta didik sebagai jembatan untuk mempelajari ide atau keterampilan yang kurang familiar atau baru bagi mereka, dan; d. Meningkatkan motiIvasi peserta didik untuk belajar. Sepanjang tahun, peserta didik yang berbeda akan menunjukkan minat pada topik yang berbeda. Gagasan untuk membedakan melalui minat adalah untuk "menghubungkan" peserta didik pada pelajaran untuk menjaga minat mereka. Seorang guru
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 15 menjaga minat murid tetap tinggi, diharapkan dapat meningkatkan kinerja peserta didik. 4. Prestasi Belajar Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001: 895) prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan guru. Prestasi belajar mengacu pada keberhasilan atau hasil yang dicapai seseorang dalam proses belajar dan pendidikan. Ini mencakup penilaian terhadap pengetahuan, keterampilan, pemahaman, dan pencapaian akademik seseorang dalam suatu mata pelajaran atau bidang studi tertentu. Prestasi belajar dapat diukur melalui berbagai cara, seperti tes, ujian, tugas, proyek, presentasi, atau penilaian lainnya. Hasil ini biasanya digambarkan dalam bentuk angka atau peringkat, seperti nilai atau skor. Prestasi belajar dapat diukur secara objektif dengan mengacu pada standar atau kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya, seperti kurikulum atau standar pendidikan yang berlaku. Prestasi belajar dapat berbeda untuk setiap individu dan dapat bervariasi dalam berbagai aspek, termasuk bidang studi yang berbeda, tingkat pendidikan, atau tujuan belajar yang ditetapkan. Prestasi belajar juga bisa mencakup kemampuan seseorang dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari ke dalam kehidupan sehari-hari atau situasi dunia nyata. Penting untuk dicatat bahwa prestasi belajar bukanlah satusatunya indikator keberhasilan atau kemampuan seseorang. Setiap individu memiliki bakat, minat, dan kekuatan yang berbeda, dan prestasi belajar hanyalah salah satu aspek dari potensi dan keberhasilan mereka secara keseluruhan 5. Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial dan Sosial
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 16 Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial dan Sosial (IPAS) adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang makhluk hidup dan benda mati di alam semesta serta interaksinya, dan mengkaji kehidupan manusia sebagai individu sekaligus sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan lingkungannya. Secara umum, ilmu pengetahuan diartikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan yang disusun secara logis dan bersistem dengan memperhitungkan sebab dan akibat (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2016). Pengetahuan ini melingkupi pengetahuan alam dan pengetahuan sosial. Pendidikan IPAS memiliki peran dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila sebagai gambaran ideal profil peserta didik Indonesia. IPAS membantu peserta didik menumbuhkan keingintahuannya terhadap fenomena yang terjadi di sekitarnya. Keingintahuan ini dapat memicu peserta didik untuk memahami bagaimana alam semesta bekerja dan berinteraksi dengan kehidupan manusia di muka bumi. Pemahaman ini dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan yang dihadapi dan menemukan solusi untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Prinsip-prinsip dasar metodologi ilmiah dalam pembelajaran IPAS akan melatih sikap ilmiah (keingintahuan yang tinggi, kemampuan berpikir kritis, analitis dan kemampuan mengambil kesimpulan yang tepat) yang melahirkan kebijaksanaan dalam diri peserta didik. Sebagai negara yang kaya akan budaya dan kearifan lokal, melalui IPAS diharapkan peserta didik menggali kekayaan kearifan lokal terkait IPAS termasuk menggunakannya dalam memecahkan masalah. Oleh karena itu, fokus utama yang ingin dicapai dari pembelajaran IPAS di SD/MI/Program Paket A bukanlah pada seberapa banyak konten materi yang dapat diserap oleh peserta didik, akan tetapi dari seberapa besar kompetensi peserta didik dalam memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki. Dengan
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 17 mempertimbangkan bahwa anak usia SD/MI/Program Paket A masih melihat segala sesuatu secara apa adanya, utuh dan terpadu maka pembelajaran IPAS dan IPS disederhanakan menjadi satu mata pelajaran yaitu IPAS. Hal ini juga dilakukan dengan pertimbangan anak usia SD/MI/Program Paket A masih dalam tahap berpikir konkrit/sederhana, holistik, komprehensif, dan tidak detail. Pembelajaran di SD/MI/Program pada Fase B peserta didik mengidentifikasi keterkaitan antara pengetahuan- pengetahuan yang baru saja diperoleh serta mencari tahu bagaimana konsep- konsep Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial dan Sosial berkaitan satu sama lain yang ada di lingkungan sekitar dalam kehidupan sehari-hari. Penguasaan peserta didik terhadap materi yang sedang dipelajari ditunjukkan dengan menyelesaikan tantangan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya peserta didik mengusulkan ide/ menalar, melakukan investigasi/ penyelidikan/ percobaan, mengomunikasikan, menyimpulkan, merefleksikan, mengaplikasikan dan melakukan tindak lanjut dari proses inkuiri yang sudah dilakukannya. B. Penelitian terdahulu yang relevan Penelitian berpedoman pada suatu teori atau penelitian sebelumnya, hal ini dilakukan agar mengetahui kaitan atau hubungan dengan pokok masalah atau sesuatu yang sedang dibahas. Beberapa hasil penelitian terdahulu yang relevan atau berhubungan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang menunjukan adanya persamaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian ini serta perbedaannya dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut ini: N o Judul Penelitian Peneliti Persamaan Perbedaan 1 Penerapan Model Problem Based Sri Rahayu, Johanes Sapri, dan Alexon PBL Prestasi Belajar Kurikulu m Merdeka
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 18 Learning (PBL) Untuk Meningkatka n Kemampuan Berpikir Kritis dan Prestasi Belajar Siswa (Studi pada Mata Pelajaran IPA Kelas V pada SDN Gugus II Raflesia Talang Empat Kabupaten Bengkulu Tengah) Sekolah dasar kelas IV Culturally Responsiv e Teaching 2 Pendekatan Culturally Responsive Teaching Menggunaka n Media Game Kahoot pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Nabilatul Inayah1), LeliTriana2), Dwi Retnoningrum3 ) Pendekata n Culturally Responsiv e Teaching Minat belajar peserta didik IPAS Media Berbasis Kearifan Lokal Tabel 2.2 Berdasarkan tabel 2.2 dapat disimpulkan bahwa terdapat persamaan dan perbedaan dari penelitian ini. Persamaan penelitian yang dilakukan dnegan penelitian terdahulu yaitu mengkaji mengenai minat belajar dan prestasi belajar. Model pembelajaran yang digunakan yaitu sama-sama menggunakan model problem based learning. Perbedaannya penelitian ini
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 19 dengan penelitian terdahulu yaitu penggunaan media pembelajaran. Dalam proses pembelajaran tahap 1 orientasi peserta didik pada masalah. Penelitian terdahulu lebih memfokuskan pada mata pelajaran IPA dan Bahasa Indonesia, sedangakan penelitian ini dilfokuskan pada mata pelajaran IPAS. Perbedaan yang lain adalah lokasi dan subjek penelitiannya. C. Kerangka Berpikir Peneliti menemukan permasalahan berdasarkan latar belakang masalah di SD Negeri 02 Purbalingga Lor yaitu rendahnya minat belajar dan prestasi belajar pada pembelajaran IPAS. Minat belajar perlu dikembangkan agar peserta didik mampu menyelesaiakan masalah dengan solusi dan mampu memperkaya cara berpikir dengan cara yang beragam. Upaya yang diwujudkan untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar peserta didik yaitu dengan melakuakan tindakan yang dilakukan oleh guru dengan jalan merancang, melaksanakan, dan mereflesikan tindakan secara kolaboratif dan partisipasi aktif dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang dilakukan dalam suatu siklus, namun apabila pada satu siklus tersebut belum mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan maka dilaksanakanlah siklus ke dua hingga mencapai hasil yang diharapkan, yaitu meningkatnya minat dan prestasi belajar peserta didik. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat dirumuskan kerangka pikir pada penelitian ini yang dapat dilihat pada gambar 2.2 berikut ini:
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 20 Gambar 2.2 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian Tindakan Kelas Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan penelitian tindakan yang dilakukan di kelas dengan tujuan memperbaiki mutu praktik
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 21 pembelajaran di kelasnya. Kelas merupakan sekelompok peserta didik yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. (Suharismi Arikunto. 2008:3). Gambar 3.1. Desain Penelitian Tindakan Kelas B. Subjek Penelitian Sebagai subjek penelitian disini adalah peserta didik kelas IV B SD Negeri 02 Purbalingga Lor. Penentuan subjek di atas dilakukan atas dasar bahwa prestasi belajar Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial yang masih rendah dan belum memenuhi Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran Minimal (KKTP) yaitu 70 dan rendahnya minat belajar terhadap mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial. C. Tempat dan Waktu Pelaksanaan 1. Tempat Penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan di SD Negeri 02 Purbalingga Lor yang beralamat di Jalan Kopral Tanwir Purbalingga Lor, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga. SD Negeri 2 Purbalingga Lor merupakan termasuk sekolah rujukan dan
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 22 telah terakreditasi A. Terletak dilintasan jalan kota purbalingga dengan pengembangan lingkungan sekolah yang bersih, tertib, indah, rindang, dan sehat. Memiliki lingkungan belajar yang kondusif, serta pemenuhan fasilitas sekolah yang memadai. Pemilihan lokasi tersebut dikarenakan berdasarkan pengamatan peneliti, bahwa di sekolah tersebut masih ada kendala yang dihadapi peserta didik dalam proses pembelajaran. Dari hasil wawancara peneliti dengan guru bahwa masih ada peserta didik yang kurang minat terhadap mata pelajaran IPAS. Lokasi Sekolah pada maps https://goo.gl/maps/SKt8tMXoNTnguuUk7 vbb 2. Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan selama 3 (tiga hari) dengan rincian sebagai berikut: Pra Siklus : Hari Kamis, 11 Mei 2023 Siklus I : Hari Senin, 15 Mei 2023 Siklus II : Hari Jum’at, 19 Mei 2023 No Jenis Kegiatan Mei Juni 1 2 3 4 5 1 2 1 Perencanaan 2 Pra siklus 3 Siklus I
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 23 Tabel 3.1 MatriMatrik Waktu Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas Keterangan: a. Perencanaan dilaksanakan pada bulan Mei minggu ke –1 b. Pra siklus dilaksanakan pada bulan Mei minggu ke –2 c. Siklus I dilaksanakan pada bulan Mei minggu ke –3 d. Siklus II dilaksanakan pada bulan Mei minggu ke –3 e. Penulisan Bab I dilaksanakan pada bulan Mei minggu ke – 4 f. Penulisan Bab II dilaksanakan pada bulan Mei minggu ke – 4 g. Penulisan Bab III dilaksanakan pada bulan Mei minggu ke –5 h. Penulisan Bab IIV B dilaksanakan pada bulan Mei minggu ke –5 i. Penulisan Bab IV B dilaksanakan pada bulan Junii minggu ke - 1 j. Pengesahan Laporan dilaksanakan pada bulan Juni minggu ke - 2 D. Prosedur Penelitian Penelitian yang dilaksanakan merupakan Penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan dua siklus, setiap 4 Siklus II 5 Bab I 6 Bab II 7 Bab III 8 Bab IIV B 9 Bab IV B 10 Pengesahan dan laporan
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 24 siklus terdiri dari dua pertemuan, namun apabila belum mencapai target maka akan dilanjutkan dengan siklus berikutnya. Desain penelitian yang digunakan disini melalui Penelitian Tindakan Kelas yang meliputi tiga tahapan yakni: ✔Merencanakan (plan) ✔Melakukan tindakan dan pengamatan (Act & Observe) ✔Refleksi (see) Gambar 3.2 Prosedur Tindakan Kelas Secara umum langkah – langkah Penelitan Tindakan Kelas digambarkan seperti di bawah ini dimodifikasi dari model yang dikembangkan oleh Kemmis & Mc Taggart, 1991. 1. Perencanaan (plan) a. Tahap perencanaan ini, peneliti menyiapkan proses pembelajaran yang dirancang pada Modul Ajar yang didasarkan pada kondisi kelas yaitu hasil tes pada saat pra siklus. Selain itu, peneliti menyiapkan lembar
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 25 observasi yang dapat digunakan ketika proses pembelajaran berlangsung. Berikut peneliti jabarkan mengenai langkah-langkah dalam tahapan perencanaan penelitian tindakan kelas yang dilakukan, diantaranya: 1) Mengobservasi kondisi kelas yang akan dijadikan tempat penelitian 2) Menyiapkan soal evaluasi yang bertujuan untuk mengukur prestasi peserta didik 3) Menyiapkan media yang sesuai dengan materi pembelajaran dan teritegrasi dengan Kearifan lokal (Culturraly Responsive Teaching) 2. Pelaksanaan (Act & Observe) Pelaksanaan kegiatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berlangsung selama 2 Siklus dan dilaksanakan pada rentan waktu 15 April 2023 sampai 6 Juni 2023. Proses pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning berbasis Culturally Responsive Teaching, media yang memuat kearifan lokal setempat, alat evaluasi dan lain sebagainya. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran pada setiap siklusnya dilakukan dalam 1 kali pertemuan. Pra Siklus dilaksanakan pada tanggal 11 Mei 2023, dilanjutkan Siklus I dilksanakan pada tanggal 15 Mei 2023 dan Siklus II dilaksanakan pada tanggal 19 Mei 2023. Observasi dilakukan pada saat sebelum pelaksanaan yaitu dengan mengunjungi kelas terlebih dahulu dan melihat proses pembelajaran dengan guru kelas serta pada saat pelaksanaan. Pada tahapan ini, peneliti mengamati aktivitas belajar peserta didik. Pengamatan berpedoman pada lembar observasi yang telah disiapkan sebelumnya untuk mengamati dan mencatat hal-hal yang telah terjadi selama proses pembelajaran berlangsung. c.Refleksi (see) Refleksi merupakan suatu kegiatan untuk merenungkan dan mengingat kembali/menghubungkan kinerja mengajar dalam
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 26 pembelajaran. Refleksi dilakukan sendiri/bersama dengan teman sejawat atau dengan Guru pamong melalui diskusi. Dalam tahap refleksi ini, guru dapat mengetahui apakah tujuan perbaikan pembelajaran yang telah ditetapkan sudah tercapai atau belum. Dengan demikian hasil refleksi digunakan sebagai dasar untuk merencanakan perubahan atau perbaikan yang sebaiknya dilakukan dalam pembelajaran selanjutnya. Dalam tahap refleksi ini, guru melakukan analisis data terhadap semua data yang dikumpulkan selama pelaksanaan perbaikan pembelajaran dalam kaitannya dengan pencapaian tujuan perbaikan pembelajaran baik oleh peserta didik maupun oleh guru. Ke tiga tahapan tersebut di atas merupakan satu siklus, oleh karena itu setiap tahap akan berdaur kembali. Siklus ini akan berlangsung selama dua kali. Namun, jika siklus pertama belum berhasil sesuai target yang sudah ditentukan maka akan berlanjut pada siklus berikutnya. Daur siklus akan berlangsung sampai beberapa kali, hingga tercapainya perbaikan yang diinginkan. E. Teknik dan Alat Pengumpulan Data Peneliti mengumpilkan data dengan menggunakan observasi, angket, tes dan dokumentasi. Peneliti mengadakan pengamatan secara langsung terhadap peserta didik. Data yang diharapkan dapat dikumpulkan dalam penelitian ini ialah data yang berkaitan dengan Penerapan Model Pembelajaran PBL berbasis Culturally Responsive Teaching pada peserta didik kelas IV B mata pelajaran IPAS materi Bab V Cerita tentang Daerahku. 1. Observasi Observasi merupakan kegiatan mengamati dan mengumpulkan data terkait aktivitas peserta didik. Sutrisno H. (dalam Sugiyono, 2014) berpendapat observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berabagai proses biologis dan psikhologis, dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Observasi merupakan sebuah proses yang melibatkan pengamatan dan ingatan terhadap suatu tindakan. 2. Angket Menurut Sugiyono (2017:142) angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 27 3. Tes Tes merupakan prosedur sistematik dimana individual yang dites dipresentasikan dengan suatu set stimuli jawaban mereka yang dapat menunjukkan ke dalam angka (Sugiyono, 2016: 166). Tes adalah sejumlah pertanyaan yang disampaikan pada seseorang atau sejumlah orang untuk mengungkapkan keadaan atau tingkat perkembangan salah satu atau beberapa aspek psikologis (prestasi, hasil belajar, minat, bakat, sikap, dan lainlain). Tes dilaksanakan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam memahami materi yang sudah diajarkan. Sumber tes yang digunakan oleh peneliti yaitu pre test yang dilakukan pada tahap pra siklus untuk mengukur kemampuan awal, dan post test yang dilakukan pada setiap siklus 1 dan siklus 2 dalam proses pembelajaran untuk mengukur keberhasilan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran menggunakan model PBL berbasis Culturally Responsive Teaching pada mata pelajaran IPAS materi Bab V Cerita tentang daerahku. 4. Dokumentasi Dokumen merupakan salah satu sumber informasi berharga bagi peneliti yang berisikan kumpulan data. Dokumen mencangkup catatan umum dan rahasia yang meliputi silabus, rencana pembelajaran, laporan diskusi, bagian-bagian dari buku teks yang digunakan dalam pembelajaran, hasil karya peserta didik, gambar, cuplikan rekaman tape dan lain sebagainya. F. Pengolahan dan Analisis Data Pengelolaan analisis data dalam penelitian tindakan kelas melibatkan serangkaian langkah untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasi data yang dikumpulkan selama pelaksanaan penelitian. Berikut adalah beberapa langkah penting dalam pengelolaan analisis data dalam penelitian tindakan kelas. Pengumpulan Data, mengumpulkan data yang relevan dengan penelitian tindakan kelas. Data ini dapat berupa observasi kelas, wawancara dengan peserta didik atau guru, angket, catatan refleksi, atau data lain yang relevan dengan tujuan penelitian. Pengkodean Data: Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah mengkodekan data agar dapat dianalisis. Pengkodean melibatkan memberikan label atau kategori tertentu pada setiap item data yang dikumpulkan. .
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 28 Analisis Kualitatif: Penelitian tindakan kelas sering melibatkan analisis kualitatif untuk memahami konteks dan makna data yang dikumpulkan. Dalam analisis kualitatif, mencari pola, tema, atau hubungan dalam data. Metode analisis yang umum digunakan meliputi analisis tematik, analisis naratif, atau analisis grounded theory. Selain analisis kualitatif, mungkin juga perlu melakukan analisis kuantitatif terhadap data yang dikumpulkan. Ini melibatkan penggunaan metode statistik untuk mengidentifikasi pola atau perbedaan yang signifikan dalam data numerik. Interpretasi Hasil: Setelah analisis selesai, langkah selanjutnya adalah menginterpretasi hasilnya. Ini melibatkan menyimpulkan temuan penelitian dan membuat kesimpulan berdasarkan data yang telah dianalisis. Interpretasi harus didasarkan pada bukti yang kuat dan relevan serta mengacu pada tujuan penelitian dan pertanyaan penelitian. Tindakan Perbaikan: Penelitian tindakan kelas biasanya bertujuan untuk memperbaiki praktik atau situasi dalam kelas. Oleh karena itu, langkah terakhir dalam pengelolaan analisis data adalah merencanakan dan melaksanakan tindakan perbaikan berdasarkan temuan penelitian. Tindakan ini harus didasarkan pada hasil analisis data dan harus terukur dan dapat dilaksanakan. Pengelolaan analisis data dalam penelitian tindakan kelas membutuhkan ketelitian, kecermatan, dan keterampilan analisis yang baik. Penting untuk mengikuti prosedur yang sistematis dan menggunakan metode analisis yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian. BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN A. Temuan dan Pembahasan Masalah
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 29 1. Deskripsi Kondisi Awal Sebagaimana yang ditulis oleh peneliti pada latar belakang bahwa kondisi observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di kelas IV B SD Negeri 02 Purbalingga Lor kecamatan Purbalingga kabupaten Purbalingga prestasi belajarnya belum memenuhi KKTP (Ketercapaian Tujuan Pembelajaran). Pemicu prestasi belajar yang rendah sebagian besar peserta didik kelas IV B adalah kurangnya minat peserta didik terhadap pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial materi “Cerita Tentang Daerahku” . Hanya 12 peserta didik yang mencapai ketuntasan dari 32 peserta didik, dengan nilai terendah 20 dan nilai tertinggi 80. Tabel 4.1 No Nilai Frekuensi Prosentase (%) Ket 1 10-20 2 6,3 Belum tuntas 2 21-30 - - - 3 31-40 5 15,6 Belum tuntas 4 41-50 - - - 5 51-60 13 40,6 Belum tuntas 6 61-70 - - - 7 71-80 12 37,5 Tuntas 8 81-90 - - - 9 91-100 - - Jumlah 32 100
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 30 Analisis Prestasi Belajar Kondisi Awal Dari tabel di atas diketahui yang mengalami ketuntasan belajar hanya 37,5% dan yang belum tuntas 62,5%, dapat dilihat ketuntasan pada kondisi awal yang terlihat pada tabel di bawah ini: No Uraian peserta didik yang sudah tuntas belajar peserta didik yang belum tuntas belajar Frekuensi % Frekuensi % 1 Studi Awal 12 37,5 20 62,5 Tabel 4.2 Kondisi Awal Ketuntasan Prestasi Belajar Tabel di atas menunjukan bahwa peserta didik yang tuntas belajar sebanyak 12 peserta didik dan yang belum sebanyak 20 peserta didik dari total 32 peserta didik. Berdasarkan tabel untuk lebih jelas tentang prosentase ketuntasan bisa digambarkan dengan diagram batang di bawah ini:
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 31 Diagram 4.1 Prosentase Ketuntasan Belajar Kondisi Awal 2. Deskripsi Siklus I a. Perencanaan Tindakan (plan) Pada tahap ini, peneliti menyiapkan skenario penelitian sebagai berikut: 1)Menyiapkan Modul Ajar Kurikulum Merdeka Kelas IV Bab V Cerita Tentang Daerahku Topik B materi “Daerahku dan Kekayaan Alamnya” 2)Menyiapkan bahan ajar Kurikulum Merdeka Kelas IV Bab V Cerita Tentang Daerahku Topik B materi “Daerahku dan Kekayaan Alamnya” 3)Menyiapkan media pembelajaran berupa Cuplikan Video mengenai Kearifan Lokal Purbalingga yaitu “Festival Gunung Slamet” dan PPT pembelajaran mengenai kekayaan alam daerah Purbalingga 4)Menyiapkan intrumen penilaian berupa penilaian sikap, angket minat belajar, LKPD dan soal evaluasi 5)lembar observasi, angket minat belajar, lembar LKPD, tes formatif. Peneliti menggunakan model pembelajaran PBL (Problem Based Learning) dan mengintegrasikan kearifan lokal purbalingg menyesuaikan dengan materi pembelajaran. b. Pelaksanaan (Act & Observe) Pada tahap pelaksanaan pembelajaran siklus pertama model pembelajaran yang digunakan adalah PBL (Problem Based Learning), dimana guru menggunakan media pembelajaran berupa PPT pembelajaran yang berbasis dengan kearifan lokal daerah Purbalingga. Akan tetapi pada pembelajaran siklus I prestasi belajar peserta didik masih belum maksimal.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 32 Dari hasil pembelajaran pada siklus I diperoleh prestasi belajar peserta didik yang mencapai ketuntasan mencapai 71,9% dan yang belum mencapai ketuntasan belajar yaitu 28,1%. Untuk lebih jelasnya peneliti sajikan data pada tabel berikut ini: T Tabel 4.3 Analisis Prestasi Belajar Siklus I Dari hasil pengamatan prestasi belajar peserta didik dan berdasarkan tabel di atas diketahui peserta didik yang memenuhi KKTP belajar sebanyak 23 peserta didik atau hanya 71,9% dan yang belum tuntas belajar sebanyak 9 peserta didik atau 28,1%, dengan nilai terendah adalah 40 sedangkan nilai tertinggi 100. Dapat dilihat ketuntasan pada perbaikan pembelajaran siklus I yang terlihat pada tabel di bawah ini: No Uraian peserta didik yang sudah tuntas belajar peserta didik yang belum tuntas belajar No Nilai Frekuensi Prosentase (%) Ket 1 10-20 - - - 2 21-30 - - - 3 31-40 1 3,1 Belum tuntas 4 41-50 - - - 5 51-60 8 25,0 Belum tuntas 6 61-70 - - - 7 71-80 11 34,4 Tuntas 8 81-90 - - Tuntas 9 91-100 12 37,5 Tuntas Jumlah 32 100
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 33 Frekuensi % Frekuensi % 1 Siklus I 23 71,9 9 28,1 Tabel 4.4 Ketuntasan Prestasi Belajar Siklus I Tabel di atas menunjukkan bahwa peserta didik yang tuntas belajar sebanyak 23 peserta didik dari 32 peserta didik dan yang belum sebanyak 9 peserta didik dari 32 peserta didik. Berdasarkan tabel untuk lebih jelas tentang prosentase ketuntasan bisa digambarkan dengan diagram batang di bawah ini: Diagram 4.3 Prosentase Ketuntasan Belajar Siklus I Dari diagram di atas dapat diihat bahwa peserta didik yang sudah tuntas hasil belajarnya yaitu sebanyak 71,9% dan peserta didik yang belum tuntas belajar sebanyak 28,1%. c. Refleksi (reflect)
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 34 Hasil refleksi dari tindakan pada siklus I berdasarkan tes formatif peserta didik yang tuntas belajar ada 23 peserta didik dari 32 peserta didik atau sebesar 71,9% sedangkan peserta didik yang belum tuntas belajar ada 9 peserta didik dari 32 peserta didik atau sebesar 28,1%. Karena prestasi belajar pada siklus I belum mencapai target yang diharapkan, maka peneliti melanjutkan pada siklus II. 3. Deskripsi Siklus II a. Perencanaan (plan) Pada tahap ini, peneliti menyiapkan instrumen penelitian antara lain: Modul ajar, lembar LKPD, tes formatif serta media pembelajaran berupa PPT berbasis kearifan lokal untuk kegiatan peserta didik. Model yang digunakan peneliti pada siklus II pun sama dengan yang digunakan peneliti pada siklus I yaitu menggunakan PBL (Problem Based Learning). b. Pelaksanaan Tindakan & Observasi (Act & Observe) Pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran pada siklus II masih menggunakan model yang sama yaitu model Problem Based Learning yang lebih menarik minat peserta didik. Dari hasil tes formatif belajar pada perbaikan pembelajaran siklus II ketuntasan diperoleh mencapai 90,6% yang semula hanya mencapai 9,4% pada siklus sebelumnya. Berikut gambaran lebih jelasnya mengenai hasil perbaikan pembelajaran pada siklus II: No Nilai Frekuensi Prosentase (%) Ket 1 10-20 - - - 2 21-30 - - - 3 31-40 - - Belum tuntas 4 41-50 - - -
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 35 T Tabel 4.5 Analisis Prestasi Belajar Siklus II Dari hasil pengamatan prestasi belajar peserta didik dan berdasarkan tabel di atas diketahui peserta didik yang mengalami ketuntasan belajar sebanyak 29 peserta didik dari 32 peserta didik atau 90,6% dan yang belum tuntas belajar sebanyak 3 peserta didik dari 32 peserta didik atau 9,4%, dengan nilai terendah adalah 60 sedangkan nilai tertinggi 100. Dapat dilihat ketuntasan pada perbaikan pembelajaran siklus II yang terlihat pada tabel di bawah ini: Tabel 4.6 Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II Berdasarkan tabel ketuntasan di atas sebanyak 29 peserta didik atau 90,6% tuntas dalam pembelajaran, sedangkan 3 peserta didik atau 9,4% nilainya masih di bawah KKTP. Untuk lebih jelas 5 51-60 1 3,1 Belum tuntas 6 61-70 2 6,3 Belum tuntas 7 71-80 13 40,6 Tuntas 8 81-90 - - Tuntas 9 91-100 16 50,0 Tuntas Jumlah 32 100 No Uraian peserta didik yang sudah tuntas belajar peserta didik yang belum tuntas belajar Frekuensi % Frekuensi % 1 Siklus II 29 90,6 3 9,4
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 36 tentang posentase ketuntasan bisa digambarkan dengan diagram batang di bawah ini: Diagram 4.3 Prosentase Ketuntasan Belajar Siklus II Dari diagram di atas dapat diihat bahwa ada peningkatan prestasi belajar peserta didik dari siklus I yaitu ,71,9% menjadi 90,6% pada siklus II ini. c. Refleksi Hasil refleksi dari tindakan pada siklus II berdasarkan tes formatif peserta didik yang tuntas belajar ada 29 peserta didik dari 32 peserta didik atau sebesar 90,6% sedangkan peserta didik yang belum tuntas belajar ada 3 peserta didik dari 32 peserta didik atau sebesar 9,4%. Karena hasil belajar pada siklus II sudah mencapai target yang diharapkan, maka peneliti mengakhiri perbaikan pembelajaran pada siklus II. B. Hasil Penelitian Analisis Prestasi Belajar Peserta Didik
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 37 Peneliti melakukan penelitian untuk membantu peserta didik dalam mengatasi kesulitan belajar pada materi Cerita tentang daerahku dengan menerapkan model Problem Based Learning berbasis Culturally Responsive Teaching menggunakan media yang terintegrasi kearifan lokal Purbalingga. Dengan harapan beberapa permasalahan dalam proses kegiatan pembelajaran yang selama ini menjadikan pembelajaran lebih menyenangkan dan lebih baik lagi bagi peserta didik serta tidak monoton. Hasil penelitian menunjukkan jumlah peserta didik yang belum tuntas belajar pada materi Cerita tentang daerahku pada setiap siklusnya menurun. Setelah pelaksanaan siklus I hasil yang diiperoleh yaitu terdapat 23 peserta didik yang tuntas belajar dari 32 peserta didik, sedangkan peserta didik yang belum tuntas belajar sebanyak 9 peserta didik dari 32 peserta didik. Hal tersebut menyebabkan peneliti melakukan tindakan pada siklus II untuk perbaikan siklus I. Pada perbaikan pembelajaran siklus I memang peneliti sudah menggunakan model Problem Based Learning berbasis Culturally Responsive Teaching sebagai model pembelajaran, akan tetapi ada beberapa langkah yang harus diperbaiki karena pada siklus I prestasi belajar peserta didik masih belum sesuai yang diharapkan. Pemahaman peserta didik masih belum meningkat, serta peserta didik masih sulit dikondisikan. Berdasarkan problematika tersebut di atas, peneliti memutuskan untuk melaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklus II yaitu guru lebih mampu dalam mengorganisir peserta didik dan pengelolaan kelas yang lebih kondusif dengan . Dengan mengajak peserta didik terlibat langsung dalam proses eksperimen sederhana, peserta didik menjadi lebih fokus dalam pembelajaran serta dari kegiatan percobaan yang dilakukan sendiri oleh peserta didik di bawah bimbingan guru akan lebih menggugah pemahaman peserta didik mengenai materi Cerita tentang daerahku. Pada perbaikan pembelajaran di siklus II sudah ada peningkatan, dari segi pemahaman peserta didik yang terlihat dari hasil belajar peserta didik yang sudah mengalami peningkatan. Hasil belajar siklus II
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 38 menunjukkan jumlah peserta didik yang tuntas yaitu sebanyak 23 peserta didik atau 71,9% dari total 32 peserta didik. Hasil tes formatif menunjukkan ada 9 peserta didik atau 28,1% dari 32 peserta didik yang hasil belajarnya belum tuntas (belum mencapai KKTP). ✔ Berdasarkan analisa hasil observasi dan refleksi pada ke dua siklus penelitian ini serta perbaikan pada siklus II diperoleh skenario tindakan pelaksanaan metode pembelajaran dengan penerapan Problem Based Learning berbasis Culturally Responsive Teaching dapat meningkatkan prestasi belajar pada peserta didik kelas IV B SD Negeri 02 Purbalingga Lor tahun pelajaran 2022/2023. ✔ 2. Prestasi Belajar Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Kelas dai kondisi awal, siklus I, dan siklus II, diketahui bahwa kemampuan peserta didik pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial dan Sosial materi “Cerita Tentang Daerahku” kelas IV B SD Negeri 02 Purbalingga Lor mengalami peningkatan. Peningkatan terjadi apabila dibandingkan dengan kondisi awal maupun pada kondisi antar siklus. Sedangkan berdasarkan pengamatan, pada kondisi awal prestasi belajar peserta didik jauh di bawah KKTP yaitu 12 peserta didik yang tuntas belajar atau 37,5% dan 20 peserta didik belum tuntas belajar atau 62,5%. Kemudian pada siklus I prestasi belajar peserta didik masih belum memuaskan yaitu peserta didik yang tuntas belajar sebanyak 23 peserta didik dari 32 peserta didik atau 28,1% dan peserta didik yang belum tuntas sebanyak 9 peserta didik dari 32 peserta didik atau28,1% d. Hal ini dikarenakan peserta didik secara keseluruhan masih belum terlibat langsung dalam kegiatan percobaan pada materi pembelajaran cahaya dan sifat – sifatnya.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 39 Setelah dilakukan siklus II, ketuntasan meningkat dari siklus I yaitu yang awalnya 71,9% menjadi 90,6% pada siklus II. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan prestasi belajar peserta didik untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial pada materi Cerita Tentang Daerahku.. Meskipun ketuntasan belajar sudah meingkat namun masih ada peserta didik yang belum tuntas belajar atau hasil belajarnya masih di bawah KKTP sebanyak 3 peserta didik, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut: No Uraian Peserta didik yang sudah memenuhi KKTP Peserta didik yang belum memenuhi KKTP Frekuensi % Frekuensi % 1 Studi Awal 12 37,5 20 62,5 2 Siklus I 23 71,9 9 28,1 3 Siklus II 29 90,6 3 9,4 Tabel 4.7 Data Prestasi Belajar Sebelum dan Sesudah Penelitian Berdasarkan tabel 4.7 dapat dilihat ada peningkatan pada hasil peserta didik pada siklus II, hasil belajar mencapai 90,6%. Peneliti juga menghadirkan perbandingan dalam bentuk diagram batang, berikut paparannya:
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 40 Diagram 4.4 Prosentase Ketuntasan Belajar Sebelum dan Sesudah Penelitian 1. Studi Awal a. Peserta didik yang tuntas belajar sebanyak 12 dari 32 peserta didik atau memiliki prosentase sebesar 37,5%. b. Peserta didik yang belum tuntas belajar sebanyak 20dari 32 peserta didik atau memiliki prosentase sebesar 62,5% 2. Siklus I a. Peserta didik yang tuntas belajar sebanyak 23 dari 32 peserta didik atau memiliki prosentase sebesar 71,9%. b. Peserta didik yang belum tuntas belajar sebanyak 9 dari 32 peserta didik atau memiliki prosentase 28,1%. 3. Siklus II a. Peserta didik yang tuntas belajar sebanyak 29 dari 32 peserta didik atau memiliki prosentase 90,6%.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 41 b. Peserta didik yang belum tuntas belajar sebanyak 3 dari 32 peserta didik atau memiliki prosentase 9,4%. Diagram batang di atas menunjukkan peningkatan yang baik 90,6% peserta didik mengalami ketuntasan belajar. C. Pembahasan Penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan di kelas IVB SD Negeri 2 Purbalingga Lor bertujuan meningkatkan prestasi belajar peserta didik dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbasis Culturally REsponsive Teaching. Jika dilihat berdasarkan hasil pada tahap pra siklus, siklus I, hingga siklus II dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan prestasi belajar pada mata pelajaran IPAS materi Bab V Cerita tentang daerahku peserta didik kelas IVB SD Negeri 02 Purbalingga Lor. Berdasarkan hasil Siklus I dan Siklus II, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) memiliki keunggulan dalam meningkatkan prestasi belajar. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan di kelas IVB SD Negeri 02 Purbalingga Lor dengan tujuan meningkatkan prestasi belajar peserta didik dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berbasis Culturally Responsive Teaching. Berdasarkan hasil Siklus I dan Siklus II, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) memiliki keunggulan dalam meningkatkan prestasi belajar materi Bab V Cerita tentang daerahku.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 42 Hal ini dibuktikan dengan peningkatan persentase KKTP peserta didik secara siginifikan. Dengan menerapkan pembelajaran ini ke dalam kelas, guru dapat mengubah kualitas pembelajaran melalui model pendidikan yang positif, inovatif, kreatif, efektif dan menarik. Model pembelajaran ini juga dapat digunakan untuk memperbaiki kurikulum dan meningkatkan profesionalisme kegiatan pendidikan. D. Keterbatasan Penelitian Terdapat beberapa keterbatasan yang dapat mempengaruhi penelitian tindakan kelas ini yaitu: 1.Waktu yang terbatas dalam penyusunan perangkat pembelajaran 2.Proses diskusi siswa yang masih kurang efektif dan menimbulkan banyak lost time 3. Padatnya kegiatan sekolah dalam rangka pembinaan lomba Siaga, FLS2N, OSN, dan O2SN serta kenaikan kelas dan ASAJ menyebabkan waktu pelaksanaan siklus mengalami kendala dalam penentuan jadwal.
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 43 BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Simpulan Setelah dilakukan perbaikan pembelajaran pada dua siklus, berikut peneliti jabarkan perbandingan kondisi awal, siklus I, dan siklus II berdasarkan hasil belajar peserta didik: 1. Studi Awal c. Peserta didik yang tuntas belajar sebanyak 12 dari 32 peserta didik atau memiliki prosentase sebesar 37,5%. d. Peserta didik yang belum tuntas belajar sebanyak 20dari 32 peserta didik atau memiliki prosentase sebesar 62,5% 2. Siklus I
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 44 c. Peserta didik yang tuntas belajar sebanyak 23 dari 32 peserta didik atau memiliki prosentase sebesar 71,9%. d. Peserta didik yang belum tuntas belajar sebanyak 9 dari 32 peserta didik atau memiliki prosentase 28,1%. 3.Siklus II c. Peserta didik yang tuntas belajar sebanyak 29 dari 32 peserta didik atau memiliki prosentase 90,6%. d. Peserta didik yang belum tuntas belajar sebanyak 3 dari 32 peserta didik atau memiliki prosentase 9,4%. Kemudian berdasarkan penelitian dan evaluasi dalam dua siklus dengan hasil tersebut di atas, maka dapat peneliti simpulkan sebagai berikut: 1. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial dan Sosial dengan model Problem Based Learning berbasis Kearifan Lokal dapat meningkatkan minat dan prestasi belajar peserta didik dalam materi “Cerita Tentang Daerahku kelas IIV B (Empat) B SD Negeri 02 Purbalingga Lor. 2. Pemerolehan prestasi belajar dari siklus I sampai dengan siklus II mengalami peningkatan. B. Rekomendasi Berdasarkan Penelitian Tindakan Kelas yang telah dilaksanakan di SD Negeri 02 Purbalingga Lor, peneliti mengajukan saran sebagai berikut: 1. Saran untuk penelitian lanjut a. Mengingat penelitian tindakan kelas ini hanya berjalan dua siklus, maka peniliti lain diharapkan dapat melanjutkan penelitian ini dengan maksud menemukan kelebihan dan kekurangan pada penelitian yang lebih jelas. b. Instrumen soal yang terdapat dalam penelitian ini masih dalam keterbatasan IV Baliditas. Peneliti berharap kepada guru atau
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan – Universitas Muhammadiyah Purwokerto 45 peneliti lain supaya menggunakan instrumen - instrumen soal yang lebih teruji IV Baliditasnya. 2. Saran terhadap hasil penelitian Dari hasil penilaian dan kesimpulan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Maka dari itu, peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut: a. Saran untuk Sekolah 1) Pihak Sekolah agar menyarankan pada guru untuk menerapkan model PBL (Problem Based Learning) pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial dan Sosial khususnya dan mata pelajaran lain pada umumnya. 2) Pihak sekolah agar memberikan fasilitas berupa sarana dan prasarana yang lebih efektif serta efisien yang dapat membantu membantu mempermudah dalam pembelajaran menggunakan model PBL (Problem Based Learning) agar dapat menunjang suksenya pembelajaran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial dan Sosial. b. Saran untuk Guru 1) Dalam menerapkan model pembelajaran PBL (Problem Based Learning) membutuhkan ketrampilan dan wawasan serta pengetahuan yang cukup banyak, guru diharuskan mengerti dan mengetahui langkah – langkah dan sintaksis pembelajaran PBL (Problem Based Learning) dengan baik. 2) Dalam penerapan PBL (Problem Based Learning) guru memerlukan persiapan dan perencanaan yang benar – benar matang, guru hendaknya bisa lebih mempersiapkan semua yang dibutuhkan saat pembelajaran mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial dan Sosial. c. Bagi peserta didik 1) Peserta didik lebih tertarik dan tidak merasa bosan dalam mengikuti pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial