b) Mengembangkan seluruh potensi dann kekuatan yang dimilikanya
seoptimal mungkin.
c) Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan
masyarakat serta lingkungan kerjanya.
d) Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi,
penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun
lingkungan kerja.
Jadi tujuan dalam Bimbingan Konseling adanya ketuntasan prilaku
siswa ke arah yang positif dalam 10 aspek tugas perkembangan peserta
didik SMP Negeri 11 Cilegon yang diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari.
6) Strategi Pelaksanaan
Strategi pelaksanaan Pelayanan Bimbingan dan Konseling melalui
tahapan sebagai berikut :
1. Tahap persiapan. Pada tahap persiapan ini meliputi kegiatan :
a. Analisis kebutuhan peserta didik. Analisis ini didasarkan dari :
- Identifikasi Kebutuhan dan Masalah Siswa (IKMS)
- Sosiometri.
- Tes Bakat Minat
- Klinik Akademik
- Masukan dari berbagai pihak terkait (orang tua peserta didik,
wali kelas, guru mata pelajaran, kepala sekolah dan lain-lain)
b. Konsultasi program
c. Penyusunan program
d. Penyediaan sarana dan prasarana
e. Pembagian tugas
2. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan program BK meliputi dua kegiatan, yaitu:
a. Di dalam jam pembelajaran meliputi :
o Kegiatan tatap muka secara klasikal dengan peserta didik
untuk menyelenggarakan layanan informasi,
penempatan/penyaluran, penguasaan konten, kegiatan
Edisi Mandiri Belajar : 91
instrumentasi, serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan
di dalam kelas atau di ruang serbaguna setelah jam pelajaran
selesai.
o Kegiatan tidak tatap muka dengan peserta didik untuk
menyelenggarakan layanan konsultasi, kegiatan konferensi
kasus, himpunan data, kunjungan rumah, pemanfaatan
kepustakaan, dan alih tangan kasus.
b. Di luar jam pembelajaran sekolah meliputi :
- Kegiatan tatap muka dengan peserta didik untuk
menyelenggarakan layanan orientasi, konseling perorangan,
bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan mediasi, serta
kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas.
- Satu kali kegiatan layanan/pendukung konseling di luar
kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 jam
pembelajaran tatap muka dalam kelas.
- Kegiatan pelayanan konseling di luar jam pembelajaran
sekolah maksimum 50 % dari seluruh kegiatan pelayanan
konseling, di ketahui dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah.
Di dalam pelaksanaan Bimbingan Konseling semuanya tidak lepas dari
pola 17 plus.
c. Kegiatan Pengembangan Bakat Minat dan Prestasi
1) Pengertian dan Tujuan Pengembanag Bakat, Minat, dan Prestasi
Kegiatan pengembangan bakat, minat, dan prestasi adalah kegiatan
pendidikan yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar
kurikulum standar sebagai perluasan dari kegiatan kurikulum dan
dilakukan di bawah bimbingan sekolah dengan tujuan, antara lain; (1)
kegiatan pengembangan bakat, minat, dan prestasi harus dapat
meningkatkan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor peserta
didik, (2) kegiatan pengembangan bakat, minat, dan prestasi harus
dapat mengembangkan bakat dan minat peserta didik dalam upaya
pembinaan pribadi menuju pembinaan manusia seutuhnya.
Edisi Mandiri Belajar : 92
Tujuan pengembangan bakat dan minat adalah memberi kesempatan
pada peserta didik untuk mengembangkan diri dan mengekspresikan
diri sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, bakat, minat dan kondisi
sekolah.
2) Fungsi Pengembangan Bakat, Minat, dan Prestasi
Kegiatan pengembangan bakat, minat, dan prestasi memiliki fungsi, (1)
fungsi pengembangan, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi
untuk mendukung perkembangan personal peserta didik melalui
perluasan minat, pengembangan potensi, dan pemberian kesempatan
untuk pembentukan karakter dan pelatihan kepemimpinan, (2) fungsi
sosial, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk
mendukung kemampuan dan rasa tanggung jawab social peserta didik,
(3) fungsi rekreatif, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler dilakukan
dalam suasana rileks, mengembirakan, dan menyenangkan sehingga
menunjang proses perkembangan peserta didik, (4) fungsi persiapan
karir, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk
mengembangkan kesiapan karir peserta didik melalui pengembangan
kapasitas.
3) Prinsip-prinsip dalam pengembangan bakat, minat, dan prestasi
Prinsip Prinsip Dalam Pengembangan Bakat, Minat dan Prestasi.
Kegiatan pengembangan bakat, minat, dan prestasi dikembangkan
dengan prinsip sebagai berikut:
a. bersifat individual yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler
dikembangkan sesuai dengan potensi bakat, minat peserta didik
masing-masing,
b. bersifat pilihan, yakni bahwa kegiatan ekstrakurikuler dikembangkan
sesuai dengan minat dan diikuti oleh peserta didik secara sukarela,
c. keterlibatan aktif, yakni kegiatan ekstrakurikuler menuntut
Keikutsertaan peserta didik secara penuh sesuai dengan minat dan
pilihan masing-masing,
d. menyenangkan, yakni kegiatan ekstrakurikuler dilaksanakan dalam
suasana mengembirakan bagi peserta didik,
Edisi Mandiri Belajar : 93
e. membangun etos kerja, yakni kegiatan ekstrakurikuler
dikembangkan dengan prinsip membangun semangat peserta didik
untuk berusaha dan bekerja dengan baik dan giat,
f. kemanfaatan sosial, yakni kegiatan ekstrakurikuler dikembangkan
dan dilaksanakan dengan tidak melupakan kepentingan masyarakat.
Pelaksanaan kegiatan pengembangan bakat, minat, dan prestasi peserta
didik dapat diikuti oleh peserta didik sesuai dengan bakat dan minatnya
masing-masing. Jenis ektrakurikuler pilihan, jadwal, waktu, dan
kegiatan telah diatur masing-masing pembina sesuai dengan program
kerja yang telah dibuat. Kegiatan pengembangan bakat, minat, dan
prestasi dilaksanakan oleh peserta didik diluar jam belajar (kadang
kadang bisa pagi, siang atau sore hari), satu sampai dua kali dalam satu
minggu.
4) Strategi Dalam Mengembangkan Bakat, Minat, dan Prestasi
Strategi yang digunakan untuk pengembangan bakat, minat, dan
prestasi peserta didik adalah sebagai berikut :
a) Pribadi
Pengembangan bakat, minat, dan prestasi peserta didik ditinjau dari
segi pribadi menunjuk pada potensi atau daya kreatif yang ada pada
setiap pribadi, anak maupun orang dewasa. Pada dasarnya, setiap
orang memiliki bakat, minat, dan prestasi derajat dan bidang yang
berbeda-beda. Untuk dapat pengembangan bakat, minat, dan prestasi
peserta didik, kita perlu mengenal bakat kreatif pada anak, atau (diri
sendiri), menghargainya dan memberi kesempatan serta dorongan
untuk mewujudkannya.
b). Pendorong
Agar bakat, minat, dan prestasi peserta didik dapat berkembang
memerlukan dorongan atau pendorong dari diri sendiri dan dari luar.
Pendorong yang datangnya dari diri sendiri berupa hasrat dan
motivasi yang kuat untuk berkreasi. Sedangkan dari luar misalnya
keluarga, sekolah, dan lingkungan.
Edisi Mandiri Belajar : 94
c). Proses
Bakat, minat, dan prestasi peserta didik sebagai suatu proses dapat
dirumuskan sebagai suatu bentuk pemikiran dimana individu
berusaha menemukan hubungan-hubungan yang baru untuk
mendapatkan jawaban, metode, atau cara-cara baru dalam
menghadapai suatu masalah.
d). Produk
Pada anak yang masih dalam proses pertumbuhan, bakat, minat, dan
prestasi hendaknya mendapat perhatian dan jangan terlalu cepat
mengharapkan ‘produk kreativitas’ yang bermakna atau bermanfaat
5) Mekanisme Kegiatan Pengembangan Bakat, Minat dan Prestasi
Program kegiatan pengembangan bakat, minat, dan prestasi peserta
didik di SMP Negeri 11 Cilegon, dikembangkan dengan
mempertimbangkan penggunaan sumber daya bersama yang tersedia
pada sekolah. Mekanisme kegiatan pengembangan bakat, minat, dan
prestasi peserta didik, adalah sebagai berikut:
a). Pengembangan
Kegiatan pengembangan bakat, minat, dan prestasi peserta didik
dikelompokkan menjadi Kegiatan Ekstrakurikuler pilihan sesuai
bakat dan minat peserta didik. Pengembangan Kegiatan
Ekstrakurikuler pilihan di SMP Negeri 11 Cilegon dilakukan melalui
tahapan: (1) analisis sumber daya yang diperlukan dalam
penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler; (2) identifikasi
kebutuhan, potensi, dan minat peserta didik; (3) menetapkan bentuk
kegiatan yang diselenggarakan; (4) mengupayakan sumber daya
sesuai pilihan peserta didik atau menyalurkannya ke satuan
pendidikan atau lembaga lainnya; (5) menyusun Program Kegiatan
Ekstrakurikuler. Dalam kegiatan pengembangan bakat, minat, dan
prestasi peserta didik, pihak-pihak yang terlibat dalam
pengembangannya antara lain:
Edisi Mandiri Belajar : 95
a). Sekolah
Kepala sekolah, tenaga pendidik, tenaga kependidikan dan
pembina ekstrakurikuler, bersama-sama mewujudkan keunggulan
dalam ragam Kegiatan Ekstrakurikuler sesuai dengan sumber
daya yang dimiliki.
b). Komite Sekolah
Sebagai mitra sekolah memberikan dukungan, saran, dan kontrol
dalam mewujudkan keunggulan ragam Kegiatan Ekstrakurikuler.
c). Orangtua
Memberikan kepedulian dan komitmen penuh terhadap
keberhasilan Kegiatan Ekstrakurikuler pada sekolah.
6) Pelaksanaan
Penjadwalan Kegiatan Ekstrakurikuler Pilihan dirancang di awal tahun
pelajaran oleh pembina di bawah bimbingan kepala sekolah atau wakil
kepala sekolah bidang kesiswaan. Jadwal Kegiatan Ekstrakurikuler
diatur agar tidak menghambat pelaksanaan kegiatan intrakurikuler dan
kokurikuler.
7) Penilaian
Kinerja peserta didik dalam Kegiatan Ekstrakurikuler perlu mendapat
penilaian dan dideskripsikan dalam raport. Kriteria keberhasilannya
meliputi proses dan pencapaian kompetensi peserta didik dalam
Kegiatan Ekstrakurikuler yang dipilihnya. Penilaian dilakukan secara
kualitatif (deskriptif) yang difouskan pada perubahan sikap dan perilaku
peserta didik setelah mengikuti program. Ruang Lingkup Penilaian
yang diterapkan meliputi sikap: (a). Kerja sama, (b). Kompetitif, (c).
Disiplin, (d). Sportif, (e). Ketaatan, dan (f). Kemampuan memecahkan
masalah.
Penilaian dilakukan secara kualitatif dengan kualifikasi nilai sebagai
berikut;
1) Nilai A untuk kategori : Amat Baik
2) Nilai B untuk kategori : Baik
3) Nilai C untuk kategori : Cukup
4) Nilai D untuk kategori : Kurang
Edisi Mandiri Belajar : 96
8) Evaluasi
Evaluasi Kegiatan Ekstrakurikuler dilakukan untuk mengukur
ketercapaian tujuan pada setiap indikator yang telah ditetapkan dalam
perencanaan. Berdasarkan hasil evaluasi, dilakukan perbaikan rencana
tindak lanjut untuk siklus kegiatan berikutnya.
9) Daya Dukung
Daya dukung pengembangan dan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler
meliputi:
1) Kebijakan Sekolah
Pengembangan dan pelaksanaan Kegiatan Ekstrakurikuler ditetapkan
dalam rapat sekolah dengan melibatkan komite sekolah baik
langsung maupun tidak langsung.
2) Ketersediaan Pembina
Pelaksanaan Kegiatan Ekstrakurikuler didukung dengan ketersediaan
pembina. Sekolah bekerja sama dengan pihak lain untuk memenuhi
kebutuhan pembina.
3) Ketersediaan Sarana dan Prasarana
Pelaksanaan Kegiatan Ekstrakurikuler dukungan dengan
ketersediaan sarana dan prasarana, termasuk segala kebutuhan fisik,
sosial, dan kultural yang diperlukan untuk mewujudkan proses
kegiatan ekstrakurikuler.
Selain itu unsur prasarana seperti lahan, gedung/bangunan, prasarana
olahraga dan prasarana kesenian, serta prasarana lainnya. Kegiatan
Pengembangan Diri di SMP Negeri 11 Cilegon dilaksanakan secara
berkelanjutan dan melekat yang dibimbing oleh guru, tenaga
kependidikan, dan pelatih. Kegiatan dilakukan 1-2 kali dalam 1
minggu. Peserta didik hanya diperbolehkan mengikuti kegiatan
pengembangan diri maksimal dua jenis dalam 1 semester.
Edisi Mandiri Belajar : 97
10) Ekstrakurikuler Pilihan yang dikembangkan di SMP Negeri 11
Cilegon, terdiri dari:
No Jenis Ekskul Kelompok Tujuan Hari Waktu Pelatih /Pembina
1 Pers / Mading Seni Meningkatkan sensitifitas Jum’at Nunung Nurlaela,S.Pd.
Budaya kemampuan
2 Seni Musik dan mengekspresikan Jum’at Metha Berthina,S.Pd.
3 Padus/Vokal/Solo Bahasa keindahan harmoni, baik Jum’at Metha Berthina,S.Pd
4 Seni Tari dalam kehidupan Selasa Metha Berthina,S.Pd
5 Story Telling individual, maupun Senin Putri Indriyani,S.Pd.
6 English Club kehidupan bermasyarakat Senin Sofatul Ulyah,S.Ag
1 Volley Olah Raga Meningkatkan potensi Jum’at M.Ridho,S.Pd.
2 Futsal fisik serta membudayakan Selasa M.Ridho,S.Pd.
3 Drumband sikap sportif, disiplin, Senin Metha Bertina,S.Pd
4 Tenis Meja kerja sama dan hidup Rabu M.Ridho,S.Pd.
5 Silat sehat Kamis Iim Siti Rohimah,S.Pd.
1 Paskibra Bela 1. Meningkatkan kesadaran Selasa Putri Indriyani,S.Pd.
2 PMR Negara dan wawasan peserta didik Jumat Resa Apriana,S.Pd
akan status, hak, dan Rabu Hanafi,S.PdI
1 Seni Baca Al- Keagamaan kewajibannya dalam Senin Hanafi,S.PdI
Qur’an dan berbangsa dan bernegara
Kerohanian
3 Marawis 2. Meningkatkan kesadaran
dan wawasan kebangsaan,
jiwa patriotisme, dan bela
negara
Meningkatkan nilai nilai
estetika, spiritual,
intelektual, dan kesadaran
sebagai makhluk Tuhan
dan makhluk sosial yang
memiliki mental kual
yang didasari nilai nilai
agama
Setiap peserta didik diberikan kesempatan untuk memilih jenis
ekstrakurikuler yang ada di SMP Negeri 11 Cilegon. Segala aktivitas
peserta didik berkenaan dengan kegiatan ekstrakurikuler di bawah
pembinaan dan pengawasan guru pembina seperti tersebut di atas dan
yang telah ditugasi oleh Kepala Sekolah dan pelaksanaannya di luar
jam pelajaran.
3.11. Ekstra-kurikuler Wajib. Seluruh murid didampingi oleh
kordinator dan pelatih wajib mengikuti kegiatan ekstrakurikuler
tersebut, di antaranya Pramuka
3.12. Pola dan macam kegiatan Ekstra-kurikuler
Kegiatan pengembangan diri diarahkan untuk pengembangan
karakter peserta didik yang ditujukan untuk mengatasi
Edisi Mandiri Belajar : 98
persoalannya dirinya, persoalan masyarakat di lingkungan
sekitarnya, dan persoalan kebangsaan.
Sekolah memfasilitasi kegiatan pengembangan diri sebagai berikut:
1) Pengembangan diri yang dilaksanakan sebagian besar di dalam
kelas ( intrakurikuler) dengan alokasi waktu 2 jam tatap muka,
yaitu : Bimbingan Konseling, mencakup hal-hal yang berkenaan
dengan pribadi, kemasyarakatan, belajar, dan karir murid.
Bimbingan Konseling diasuh oleh guru yang ditugaskan.
2) Pengembangan diri dalam kegiatan ekstrakurikuler yang
dilaksanakan sebagian besar di luar kelas diasuh oleh guru
Pembina kesiswaan atau pembina masing-masing bidang
ekstrakurikuler yang bersangkutan.
Kegiatan pengembangan diri bendasarkan pinsip-prinsip :
1) Merupakan kegiatan yang dirancang untuk pengembangan
kemampuan bidang studi dan minat bakat
2) Bagian dari proses pendidikan dan pembinaan peserta didik
3) Layanan pengembangan potensi murid dalam rangka
memperkaya kreatifitas, menyehatkan jasmani rohani dan sosial
4) Rekreasi yang bermakna
5) Disesuaikan dengan kebutuhan murid dan ketersediaan sarana
sekolah
6) Setiap pesedrta didik wajib memiliki minimal satu kegiatan
ekstrakurikuler yang diminatinya
Kegiatan Pengembangan diri bidang ekstrakurikuler bertujuan :
1) Mengembangkan potensi peserta didik dalam rangka
memperkaya kreatifitas, menyehatkan jasmani-rohani dan sosial
2) Menumbuhkan semangat berkompetisi mencapai juara
3) Menumbuhkan kerjasama
3.13. Sistem Pelaksanaan Pengembangan Diri Bidang Kegiatan Ekskul
a) Setiap peserta didik wajib mengikuti minimal dua kegiatan
ekstra-kurikuler yang menjadi pengembangan sekolah pada
Edisi Mandiri Belajar : 99
waktu/hari yang berbeda, dan memiliki laporan
perkembangannya
b) Kegiatan ekstrakurikuler dapat dilakukan di jam sekolah atau
di luar jam sekolah
c) Murid dapat mengikuti mata ekstrakurikuler khusus atau
unggulan baik melalui pilihan sendiri atau ditunjuk langsung
oleh koordinator atau bagian kesiswaan selama memenuhi
semua kriteria yang telah ditentukan
d) Bagi peserta didik yang tidak memiliki laporan perkembangan
(nilai) dari aktifitas ekstrakurikuler yang diikutinya di akhir
semester, maka laporan perkembangan belajarnya (raport)
akan ditunda hingga ia memperolehnya
e) Ekstrakurikuler khusus diperuntukan bagi peserta didik yang
mendapat rekomendasi dari kordinator Ekstrakurikuler di
sekolah. Di mungkinkan adanya biaya mandiri yang harus
ditanggung oleh peserta didik
f) Ekstrakurikuler unggulan diperuntukan bagi peserta didik yang
memenuhi kriteria keterampilan tertentu sesuai standar yang
diinginkan kegiatan tersebut.
g) Semua laporan perkembangan (nilai) aktifitas ekstrakurikuler
secara kolektif diserahkan kepada wakil kepala sekolah bidang
kesiswaan dan secara individu di miliki peserta didik untuk
kemudian diserahkan kepada wali kelasnya masing-masing.
h) Durasi latihan untuk ekstrakurikuler yang diselenggarakan di
sekolah 1 kali @ 120 menit dalam seminggu, dan untuk
ekstrakurikuler yang dilakukan di luar sekolah disesuaikan
sesuai dengan kebutuhan.
i) Kegiatan ini dikoordinasikan di bawah wakil kepala bidang
kesiswaan selaku koordinator kegiatan ekstrakurikuler. Sistem
pengadministrasian penilaian maupun pelaporan melekat pada
pembina ekstrakurikuler masing-masing.
Edisi Mandiri Belajar : 100
4. Kegiatan Kepramukaan
Kedudukan kegiatan ekstrakurikuler dalam sistem kurikulum hendaknya
tidak dipandang sebagai pengisi waktu luang, tetapi ditempatkan sebagai
komplemen kurikulum yang dirancang secara sistematis yang relevan
dengan upaya meningkatkan mutu pendidikan. Seluruh aktivitas
didedikasikan pada peningkatan kompetensi peserta didik.
Penyelenggaraan kegiatan kurikuler maupun ekstrakurikuler untuk
mengembangkan kemampuan, bakat dan potensi peserta didik.
Secara konsepsional Kurikulum 2013 memiliki landasan filosofis, teoritis
yang mengikat struktur kurikulum yang komprehensif untuk mencapai
kompetensi inti. Kompetensi meliputi; sikap (spiritual dan sosial),
kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan. Setiap proses
pendidikan di sekolah, termasuk penyelenggaraan ekstra kurikuler di
sekolah, hendaknya diarahkan untuk mengembangkan kapasitas ketiga
dimensi tersebut.
Pelaksanaan Pendidikan Kepramukaan sebagai ekstra kurikuler wajib di
Sekolah, sejalan dan relevan dengan amanat Sistem Pendidikan Nasional
dan Kurikulum 2013, memerlukan Buku Panduan atau Petunjuk
Pelaksanaan yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan yang
mengacu pada Peraturan Menteri No.81A tahun 2013 tetapi ditindaklanjuti
dengan adanya SKB Mendikinas dan Ketua Kwartir Nasional Gerakan
Pramuka tentang Petunjuk Pelaksanaannya.
a. Sistem Blok
Penyelenggaraan pendidikan kepramukaan melalui ekstrakurikuler pada
satuan pendidikan dengan menerapkan sistem blok adalah bentuk kegiatan
pendidikan kepramukaan yang dilaksanakan pada awal peserta didik
masuk di satuan pendidikan. Sistem blok ini dilakukan dengan alokasi
waktu 36 jam pelajaran karena sifatnya baru pengenalan. Sistem blok ini
merupakan “Training Orientasi Kepramukaan bagi peserta didik” sesuai
tingkatan dan usianya.
Sistem penyelenggaraan pendidikan kepramukaan sistem blok dilakukan
dengan menggunakan modul, sehingga setiap pendidik dapat mengajarkan
Edisi Mandiri Belajar : 101
pendidikan kepramukaan. Pendidik yang menyampaikan materi pada
sistem ini, sekurang-kurangnya telah mengikuti Orientasi Pendidikan
Kepramukaan (OPK), dan satuan pendidikan telah memiliki sarana dan
prasarana yang mendukung pelaksanaan kegiatan.
Tujuan pelaksanaan pendidikan kepramukaan melalui ekstrakurikuler
sistem blok adalah:
1) Pengenalan pendidikan kepramukaan yang menyenangkan dan
menantang kepada seluruh peserta didik pada awal masuk lembaga
pendidikan.
2) Meningkatkan kompetensi (sikap dan keterampilan) peserta didik
yang sejalan dan sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, melalui:
Aplikasi Dwi Satya dan Dwi Darma bagi peserta didik usia Siaga,
Aplikasi Tri Satya dan Dasa Darma khususnya Darma ke-1 dan
Darma ke-2 bagi peserta didik usia Penggalang dan Penegak.
b. Sistem Aktualisasi
Penyelenggaraan pendidikan kepramukaan melalui ekstrakurikuler pada
satuan pendidikan dengan menerapkan sistem Aktualisasi adalah bentuk
kegiatan pendidikan kepramukaan yang dilaksanakan dengan
mengaktualisasikan kompetensi dasar mata pelajaran yang relevan dengan
metode dan prinsip dasar kepramukaan.
Sistem penyelenggaraan pendidikan kepramukaan sistem Aktualisasi
dilakukan dengan mengaktualisasikan kompetensi dasar mata pelajaran
yang relevan. Oleh karena itu pendidik harus terlebih dahulu melakukan
pemetaan terhadap kompetensi dasar mata pelajaran yang relevan untuk
dapat diaktualisasikan dalam kegiatan pendidikan kepramukaan. Pendidik
yang menyampaikan materi pada sistem ini, sekurang-kurangnya telah
mengikuti Orientasi Pendidikan Kepramukaan (OPK), dan satuan
pendidikan telah memiliki sarana dan prasarana yang mendukung
pelaksanaan kegiatan.
Aktivitas Sistem Aktualisasi :
Edisi Mandiri Belajar : 102
1) Dilaksanakan setiap satu minggu satu kali.
2) Setiap satu kali kegiatan dilaksanakan selama 120 menit.
3) Kegiatan sistem Aktualisasi merupakan kegiatan Latihan
Ekstrakurikuler Pramuka.
4) Pembina kegiatan dilakukan oleh Guru Kelas /Guru Matapelajaran
selaku Pembina Pramuka dan/atau Pembina Pramuka serta dapat
dibantu oleh Pembantu Pembina (Instruktur Muda/Instruktur
Pramuka)
Tujuan pelaksanaan pendidikan kepramukaan melalui ekstrakurikuler
sistem Aktualisasi adalah:
1) Pengenalan pendidikan kepramukaan yang menyenangkan dan
menantang kepada seluruh peserta didik.
2) Media Aktualisasi kompetensi dasar mata pelajaran yang relevan
dengan metode dan prinsip dasar kepramukaan.
3) Meningkatkan kompetensi (nilai-nilai dan keterampilan) peserta didik
yang sejalan dan sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, melalui Aplikasi Dwi Satya dan Dwi
Darma bagi peserta didik usia Siaga, dan Aplikasi Tri Satya dan Dasa
Darma bagi peserta didik usia Penggalang, dan Penegak.
c. Sistem Reguler
Penyelenggaraan kepramukaan melalui ekstrakurikuler pada satuan
pendidikan dengan pendidikan menerapkan sistem reguler adalah bentuk
kegiatan pendidikan kepramukaan yang dilaksanakan pada Gugus depan
(Gudep) yang ada di satuan pendidikan dan merupakan kegiatan
pendidikan kepramukaan secara utuh. Oleh karena itu apabila satuan
pendidikan memilih sistem reguler dan belum memiliki Gudep, maka
harus terlebih dahulu menyiapkan sistem pengelolaan pendidikan
kepramukaan melalui Gudep.
Aktivitas Sistem Reguler:
1) Bersifat sukarela sesuai dengan bakat dan minat peserta didik
2) Setiap satu kali kegiatan dilaksanakan selama 2 jam pelajaran
3) Dilaksanakan setiap satu minggu satu kali
Edisi Mandiri Belajar : 103
4) Sepenuhnya dikelola oleh Gugus Depan Pramuka pada satuan atau
gugus satuan Pendidikan
5) Pembina kegiatan adalah Guru Kelas /Guru Matapelajaran selaku
Pembina Pramuka dan/atau Pembina Pramuka serta dapat dibantu oleh
Pembantu Pembina (Instruktur Muda/Instruktur Pramuka) yang telah
mengikuti Kursus Mahir Dasar (KMD).
Tujuan pelaksanaan pendidikan kepramukaan melalui ekstrakurikuler
sistem reguler adalah meningkatkan kompetensi (nilai-nilai dan
keterampilan) peserta didik yang sejalan dan sesuai dengan tuntutan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang memiliki minat dan
ketertarikan sebagai anggota pramuka, melalui: aplikasi Dwi Satya dan
Dwi Darma bagi peserta didik usia Siaga, dan aplikasi Tri Satya dan Dasa
Darma bagi peserta didik usia Penggalang dan Penegak.
Fungsi Kegiatan Pramuka
Mengacu Permendikbud RI Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi
Kurikulum 2013, lampiran III dijelaskan bahwa fungsi kegiatan
ekstrakurikuler Pramuka adalah Kegiatan ekstrakurikuler pada satuan
pendidikan memiliki fungsi pengembangan, sosial, rekreatif, dan persiapan
karir yaitu.
a) Fungsi pengembangan, yaitu bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi
untuk mendukung perkembangan personal peserta didik melalui perluasan
minat, pengembangan potensi, dan pemberian kesempatan untuk
pembentukan karakter dan pelatihan kepemimpinan.
b) Fungsi sosial, yaitu bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi untuk
mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta
didik. Kompetensi sosial dikembangkan dengan memberikan kesempatan
kepada peserta didik untuk memperluas pengalaman sosial, praktek
keterampilan sosial, dan internalisasi nilai moral dan nilai sosial.
c) Fungsi rekreatif, yaitu bahwa kegiatan ekstrakurikuler dilakukan dalam
suasana rileks, menggembirakan, dan menyenangkan sehingga menunjang
proses perkembangan peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler harus dapat
Edisi Mandiri Belajar : 104
menjadikan kehidupan atau atmosfer sekolah lebih menantang dan lebih
menarik bagi peserta didik.
d) Fungsi persiapan karir, yaitu bahwa kegiatan ekstrakurikuler berfungsi
untuk mengembangkan kesiapan karir peserta didik melalui
pengembangan kapasitas.
Internalisasi Nilai-nilai Karakter
Beberapa strategi yang dapat lakukan untuk membentuk karakter
peserta didik melalui kegiatan ekstra kurikuler pramuka adalah sebagai
berikut:
a) Intervensi
Intervensi adalah bentuk campur tangan yang dilakukan pembimbing
ekstrakurikuler pramuka terhadap peserta didik. Jika intervensi ini dapat
dilakukan secara terus menerus, maka lama kelamaan karakter yang
diintervensikan akan terpatri dan mengkristal pada diri peserta didik. Di
berbagai jeniskegiatan ekstrakurikuler pramuka, terdapat banyak karakter
yang dapat diintervensikan oleh pembimbing terhadap peserta didik yang
mengikuti kegiatan ekstra kurikuler pramuka.Pembimbing dapat
melakukan intervensi melalui pemberian pengarahan, petunjuk dan bahkan
memberlakukan aturan ketat agar dipatuhi oleh para peserta didik yang
mengikutinya.
b) Pemberian Keteladanan
Kepala sekolah dan guru pembimbing peserta didik adalah model bagi
peserta didik. Apa saja yang mereka lakukan, banyak yang ditiru dengan
serta merta oleh peserta didik. Oleh karena itu, berbagai karakter positif
yang mereka miliki, sangat bagus jika ditampakkan kepada peserta didik
dengan maksud agar mereka mau meniru atau mencontohnya.Karakter
disiplin yang ingin disemaikan kepada peserta didik, haruslah dimulai
dengan contoh keteladanan yang diberikan oleh kepala sekolah dan guru,
termasuk ketika dalam pelaksanaan kegiatan ekstra kurikuler pramuka.
Karakter disiplin yang dicontohkan oleh kepala sekolah dan guru dalam
Edisi Mandiri Belajar : 105
kegiatan ekstra kurikuler pramuka ini, dapat diwujudkan dalam bentuk
selalu hadir tepat waktu saat latihan/kegiatan ekstra kurikuler pramuka,
mentaati waktu dan jadwal latihan yang disepakati. Dengan contoh
konkret yang diberikan secara terus menerus, dan kemudian ditiru secara
terus menerus, akan membentuk karakter disiplin peserta didik.
c) Habituali/Pembiasaan
Ada ungkapan menarik terkait pembentukan karakter peserta didik: “Hati-
hati dengan kata-katamu, karena itu akan menjadi kebiasaanmu. Hati-hati
dengan kebiasaanmu, karena itu akan menjadi karaktermu”. Ini berarti
bahwa pembiasaan yang dilakukan secara terus menerus, akan mengkristal
menjadi karakter.
Ada ungkapan senada terkait dengan pembentukan kebiasaan ini. Yaitu,
“Biasakanlah yang benar, dan jangan membenarkan kebiasaan”.
Kebenaran harus dibiasakan agar membentuk karakter yang berpihak pada
kebenaran. Semenara itu, tidak semua kebiasaan itu benar, dan oleh karena
itu, hanya yang benar saja yang perlu dibiasakan. Sementara yang salah,
sebagai salah satu ujung dari karakter yang tidak positif, hendaknya tidak
dibiasakan. Dalam realitas kehidupan, orang menjadi bisa karena biasa
atau banyak membiasakan.
d) Mentoring/pendampingan
Pendampingan adalah suatu fasilitasi yang diberikan oleh pendamping
kegiatan ekstra kurikuler pramuka terhadap berbagai aktivitas yang
dilaksanakan oleh peserta didik, agar karakter positif yang sudah
disemaikan, dicangkokkan dan diintervensikan tetap terkawal dan
diimplementasikan oleh peserta didik. Dalam proses pendampingan ini,
bisa terjadi terdapat persoalan actual riil keseharian yang ditanyakan
peserta didik kepada pembimbingnya, sehingga pembimbing yang dalam
hal ini berfungsi sebagai mentor, dapat memberikan pencerahan sehingga
tindakan peserta didik tidak keluar dari koridor karakter positif yang
hendak dikembangkan.
Edisi Mandiri Belajar : 106
Pembimbing peserta didik, dalam proses-proses pendampingan
(mentoring), juga bisa mengedepankan berbagai kelebihan dan
kekurangan, efek positif dan negatif setiap tindakan manusia, serta
keuntungan dan kerugian (jangka pendek dan jangka panjang), baik
tindakan yang positif maupun negatif. Dengan demikian, sebelum dan
selama peserta didik bertindak, senantiasa dikerucutkan pada tujuan-tujuan
yang positif dan juga dengan menggunakan cara-cara yang positif. Untuk
mencapai tujuan yang baik hanya boleh dengan menggunakan tindakan
yang baik dan dengan menggunakan cara yang baik juga. Tujuan tidak
membolehkan segala cara untuk mencapainya, sebaik dan sepositif apapun
tujuan tersebut. Hanya dengan cara yang baiklah, tujuan yang baik itu
boleh dicapai.
e) Penguatan
Dalam berbagai perspektif psikologi, penguatan yang diberikan oleh
pembimbing ekstra kurikuler pramuka berkhasiat untuk memperkuat
perilaku peserta didik. Oleh karena itu, jangan sampai pembimbing peserta
didik kalah start dengan peer group peserta didik yang sering mencuri start
dalam hal memberikan penguatan perilaku sebayanya. Sebab, jika peer
group peserta didik telah “dikuasi” oleh peer group-nya, termasuk peer
group yang mengarahkan ke tindakan-tindakan yang negatif, akan sangat
sukar dikuasaioleh pembimbingnya. Penguasaan atas peserta didik ini
dapat ditempuh dengan secepatnya memberikan penguatan terhadap
perilaku berkarakter positif.
4. Ketuntasan Belajar
Ketuntasan belajar setiap indikator yang dikembangkan sebagai suatu
pencapaian hasil belajar dari suatu kompetensi dasar berkisar antara 0 -
100%. Penentuan Kriteria Ketuntasan Minimal di SMPN 11 Cilegon
mempertimbangkan Intake Peserta Didik, Kompleksitas serta kemampuan
sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran. Sekolah
Edisi Mandiri Belajar : 107
secara bertahap dan berkelanjutan selalu mengusahakan peningkatan
kriteria ketuntasan belajar untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal.
Berikut ini tabel nilai ketuntasan belajar minimal yang menjadi Kriteria
Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang dicanangkan pada tahun
pelajaran ini adalah sebagai berikut :
KKM adalah kriteria minimal yang harus dicapai oleh peserta didik dalam
waktu tertentu. Mekanisme penentuan dan penetapan KKM di SMP
Negeri 11 Cilegon adalah sebagai berikut:
- KKM Kompetensi Dasar (KD), disusun dan ditetapkan oleh guru mata
pelajaran pada awal tahun pelajaran yang didasarkan pada
Kompleksitas materi, Daya Dukung Sekolah dan Intake peserta didik,
KKM KD inilah yang nantinya akan menjadi parameter nilai harian
peserta didik. Belum Tuntas artinya kompetensi peserta didik belum
mencapai KKM dan harus melalui proses remedial, Tuntas artinya
kompetensi peserta sudah mencapai KKM dan Terlampaui artinya
kompetensi peserta didik sudah diatas KKM dan memungkinkan untuk
mendapatkan materi pengayaan.
Edisi Mandiri Belajar : 108
Untuk Kelas VII,VIII dan IX:
- KKM Mata Pelajaran = 75 yang dikonversikan dengan skala nilai B
Pelaksanaan Penilaian Hasil Belajar
a. Penilaian Kompetensi Pengetahuan
Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 53
Tahun 2015 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik dan Satuan
Pendidikan pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah pada Pasal 1
ayat (1) dan (2) dinyatakan bahwa:
1) Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik adalah proses pengumpulan
informasi/data tentang capaian pembelajaran peserta didik dalam aspek
sikap, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan yang dilakukan secara
terencana dan sistematis yang dilakukan untuk memantau proses,
kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar melalui penugasan dan
Evaluasi hasil belajar.
2) Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan adalah proses
pengumpulan informasi/data tentang capaian pembelajaran peserta didik
dalam aspek pengetahuan dan aspek keterampilan yang dilakukan secara
terencana dan sistematis dalam bentuk penilaian akhir dan ujian
sekolah/sekolah.
3) Penilaian Kompetensi Pengetahuan dilakukan oleh Guru Mata Pelajaran
(Pendidik)
4) Penilaian Pengetahuan terdiri atas:
a) Penilaian Harian (PH)
b) Penilaian Tengah Semester (PTS)
c) Penilaian Akhir Semester (PAS) dan Penilaian Akhir Tahun (PAT)
5) Nilai Harian (NH) diperoleh dari hasil ulangan harian yang terdiri dari: tes
tulis, tes lisan, dan penugasan yang dilaksanakan pada setiap akhir
pembelajaran satu Kompetensi Dasar (KD).
6) Nilai Ulangan Tengah Semester (NPTS) diperoleh dari hasil tes tulis yang
dilaksanakan pada tengah semester. Materi Ulangan Tengah Semester
mencakup seluruh kompetensi yang telah dibelajarkan sampai dengan saat
pelaksanaan PTS.
Edisi Mandiri Belajar : 109
7) Nilai Ulangan Akhir Semester (NPAS) diperoleh dari hasil tes tulis yang
dilaksanakan di akhir semester. Materi PAS mencakup seluruh kompetensi
pada semester tersebut.
8) Penghitungan Nilai Pengetahuan diperoleh dari rata-rata Nilai Proses (NP),
Ulangan Tengah Semester (PTS), Ulangan Akhir Semester (PAS)/Ulangan
Kenaikan Kelas (PAT) yang bobotnya ditentukan oleh satuan pendidikan.
9) Penilaian Kompetensi pengetahuan dapat menggunakan rentang nilai
seperti pada tabel 2 untuk membantu guru dalam menentukan nilai.
10) Tabel 2 : Rentang Nilai Kompetensi Pengetahuan
No Nilai Predikat
1 0,00 < Nilai ≤ 28,00 D
2 29,00 < Nilai ≤ 37,00 D+
3 38,00 < Nilai ≤ 45,00 C-
5 46,00 < Nilai ≤ 54,00 C
6 55,00 < Nilai ≤ 62,00 C+
7 63,00 < Nilai ≤ 70,00 B-
8 75,00 < Nilai ≤ 82,00 B
9 83,00 < Nilai ≤ 90,00 B+
10 91,00 < Nilai ≤ 100,00 A
11) Penghitungan Nilai Pengetahuan adalah dengan cara :
a) Menggunakan skala nilai 0 sd 100.
b) Menetapkan pembobotan dan rumus.
c) Penetapan bobot nilai ditetapkan oleh satuan pendidikan dengan
mempertimbangkan karakteristik sekolah dan peserta didik.
d) Nilai harian disarankan untuk diberi bobot lebih besar dari pada PTS
dan PAS karena lebih mencerminkan perkembangan pencapaian
kompetensi peserta didik.
e) Rumus: Pembobotan 80% : 10% : 10% untuk NH : NPTS : NPAS
(jumlah perbandingan pembobotan = 100%
f) Contoh :
Siswa A memperoleh nilai pada Mata Pelajaran Agama dan Budi
pekerti sebagai berikut:
NH = 80, NPTS = 60, NPAS = 80
Edisi Mandiri Belajar : 110
Nilai Rapor = (80x80%)+(60x10%)+(80x10%) = (64+6+8)
Nilai Rapor = 78
Nilai Konversi = 78 = Baik
Deskripsi = sudah menguasai seluruh kompetensi dengan baik hanya
masih perlu peningkatan dalam .... ( dilihat dari Nilai Harian yang kurang
baik atau pengamatan dalam penilaian proses ).
b. Penilaian Keterampilan
1) Penilaian Keterampilan dilakukan oleh Guru Mata Pelajaran (Pendidik).
2) Penilaian Keterampilan dilakukan dengan cara melakukan penilaian pada
keterampilan atau kinerja peserta didik. Nilai keterampilan diperoleh
melalui penilaian praktik, penilaian produk, penilaian proyek dan
penilaian portofolio.
Penilaian Keterampilan dilakukan pada setiap akhir menyelesaikan satu
KD. Penentuan Nilai untuk Kompetensi Keterampilan menggunakan
rentang nilai seperti penilaian Pengetahuan pada tabel 2. Penghitungan
Nilai Kompetensi Keterampilan dilakukan dengan cara:
a) Menetapkan pembobotan dan rumus penghitungan
b) Menggunakan skala nilai 0 sd 100.
c) Pembobotan ditetapkan oleh Satuan Pendidikan dengan
mempertimbangkan karakteristik sekolah dan peserta didik.
d) Nilai Praktik disarankan diberi bobot lebih besar dari pada Nilai
Portofolio dan Proyek karena lebih mencerminkan proses
perkembangan pencapaian kompetensi peserta didik.
e) Rumus: NR N (Pr aktik, Portofolio, Pr ojek) x4
JumlahNilaiMaksimal
f) Jumlah Nilai (Praktik, Portofolio, Projek) x 4 Jumlah nilai maksimal
g) Contoh Penghitungan
Pembobotan 80% : 10% : 10% untuk Nilai Praktik : Nilai Portofolio :
Nilai Proyek (jumlah perbandingan pembobotan = 4
Siswa A memperoleh nilai pada Mata Pelajaran Agama dan Budi
pekerti sebagai berikut :
Edisi Mandiri Belajar : 111
Nilai Rapor = (80x80%)+(60x10%)+(80x10%) = (64+6+8)
Nilai Rapor = 78
Nilai Konversi = 78 = Baik
Deskripsi = sudah baik dalam mengerjakan praktik dan proyek, hanya
masih perlu ditingkatkan kedisiplinan merapikan tugas-tugas dalam satu
portofolio.
c. Penilaian Sikap
1) Penilaian Sikap (spiritual dan sosial) dilakukan oleh Guru Mata
Pelajaran PABP dan PPKn
2) Aspek Sikap yang dinilai meliputi: Spiritual, Jujur, Disiplin, Tanggung
Jawab, Toleransi, Gotong-royong, Santun, dan Percaya Diri
3) Penilaian Sikap diperoleh menggunakan instrumen:
a) Penilaian observasi
b) Penilaian diri sendiri
c) Penilaian antar peserta didik
d) Jurnal catatan guru
4) Nilai Observasi diperoleh dari hasil Pengamatan terhadap Proses sikap
tertentu pada sepanjang proses pembelajaran satu Kompetensi Dasar
(KD)
5) Untuk penilaian Sikap Spiritual dan Sosial (KI-1danKI-2) menggunakan
nilai Kualitatif seperti pada tabel 3 sebagai berikut:
6) Tabel 3 : Rentang Nilai Kompetensi Sikap
No Nilai Predikat Nilai Sikap
1 0,00 < Nilai ≤ 28,00 D Kurang
2 29,00 < Nilai ≤ 37,00 D+ Cukup
3 38,00 < Nilai ≤ 45,00 C-
4 46,00 < Nilai ≤ 54,00 C Baik
5 55,00 < Nilai ≤ 62,00 C+
6 63,00 < Nilai ≤ 70,00 B-
7 71,00 < Nilai ≤ 78,00 B
8 79,00 < Nilai ≤ 95,00 B+
Edisi Mandiri Belajar : 112
7) Penghitungan Nilai Sikap adalah dengan cara :
(a) menentukan Skala penilaian sikap dibuat dengan rentang antara 1 - 4,
contoh :
1. = sangat kurang;
2. = kurang konsisten;
3. = mulai konsisten;
4. = konsisten;
(b) Menetapkan pembobotan dan rumus penghitungan
(c) Pembobotan ditetapkan oleh Satuan Pendidikan dengan
mempertimbangkan karakteristik sekolah dan peserta didik
(d) Nilai Proses atau Nilai Observasi disarankan diberi bobot lebih besar
dari pada Penilaian Diri Sendiri, Nilai Antarteman, dan Nilai Jurnal
Guru karena lebih lebih mencerminkan proses perkembangan
perilaku peserta didik yang otentik.
(e) Contoh : Pembobotan 2 : 1 : 1 : 1 untuk Nilai Observasi : Nilai
Penilaian Diri Sendiri : Nilai Antarteman : Nilai Jurnal Guru (jumlah
perbandingan pembobotan = 5.
8) Rumus penghitungan:
Nilai Raport Jumlah nilai (Observasi,diri sendiri, antar tema n, jurnal) x4
Jumlah nilai Maksimal
Siswa A dalam mata pelajaran Agama dan Budi Pekerti memperoleh :
Nilai Observasi = 4
Nilai diri sendiri = 3
Nilai antarpeserta didik = 3
Nilai Jurnal = 4
Nilai Rapor = {(1x4)+(1x3)+(1x3)+(1x4)} : 14 x 100
= (14:14) x 100
= 100
Deskripsi = Memiliki sikap Sangat Baik selama dalam proses
pembelajaran,.
Edisi Mandiri Belajar : 113
5. Kenaikan Kelas
a. Kriteria Kenaikan Kelas
Kenaikan kelas dilaksanakan pada setiap akhir Tahun Pelajaran atau setiap
semester Genap. Kriteria kenaikan kelas disesuaikan dengan kebutuhan
sekolah dengan Mempertimbangkan Permendikud No 23 th 2016 dan
ketentuan pada panduan penilaian direktorat pembinaan SMP. Kenaikan
kelas didasarkan pada Penilaian Hasil Belajar pada semester Genap
dengan mempertimbangkan seluruh SK/KD yang belum tuntas pada
semester Ganjil, harus dituntaskan sampai mencapai KKM yang
ditetapkan, sebelum akhir semester Genap. Hal ini disesuaikan dengan
prinsip belajar tuntas (Mastery Learning), dimana peserta yang belum
mencapai ketuntasan belajar sesuai dengan KKM yang ditetapkan, maka
yang bersangkutan harus mengikuti pembelajaran remedial sampai yang
bersangkutan mampu mencapai KKM dimaksud. Artinya, nilai kenaikan
kelas harus tetap memperhitungkan hasil belajar peserta didik selama satu
Tahun Pelajaran yang sedang berlangsung yang menyatakan bahwa
Peserta didik dinyatakan naik kelas apa bila telah memenuhi persyaratan
berikut, yaitu:
1) Seorang siswa naik kelas atau tidak didasarkan pada hasil rapat pleno
dewan guru dengan mempertimbangkan kebijakan sekolah, seperti
minimal kehadiran, ketaatan pada tata tertib, dan peraturan lainnya yang
berlaku di sekolah tersebut.
2) Menyelesaikan seluruh program pembelajaran dalam dua semester pada
tahun pelajaran yang diikuti
3) Ketuntasan belajar minimal sekurang-kurangnya mencapai nilai KKM.
4) Deskripsi sikap sekurang-kurangnya BAIK sesuai dengan kriteria yang
ditetapkan oleh satuan pendidikan.
5) Nilai ekstrakurikuler pendidikan kepramukaan minimal BAIK
6) Peserta didik harus mengulang di kelas yang sama bila :
Edisi Mandiri Belajar : 114
a) memiliki LEBIH DARI dua mata pelajaran yang nilai kompetensi
pengetahuan dan/atau kompetensi keterampilannya di bawah KKM.
Karena ketuntasan belajar yang dimaksud pada kenaikan kelas
adalah ketuntasan dalam konteks kurun waktu belajar 1 (satu)
tahun, apabila ada mata pelajaran yang tidak mencapai KKM pada
semester ganjil atau genap, nilai mata pelajaran dihitung dari rerata
nilai semester ganjil dan genap pada tahun pelajaran tersebut.
b) karena alasan yang kuat, misalnya karena gangguan fisik, emosi
atau mental, sehingga tidak mungkin berhasil dibantu mencapai
kompetensi yang ditargetkan
c) terlibat tindak kejahatan seperti: membunuh, memperkosa, dan
terkait dalam pengedaran dan penggunaan obat psikotropika,
minuman keras serta zat adiktif lainnya yang dilarang oleh
pemerintah
d) terlibat tindak kejahatan pemalakan, pencurian, pelecehan seksual,
pem-bully-an dan perkelahian/tawuran lebih dari 2 (kali) walaupun
sudah mendapat pembinaan dan peringatan dari pihak sekolah
e) tingkat ketidakhadiran di sekolah tanpa keterangan (alpa) mencapai
minimal 10% dari total kehadiran (Satu Tahun Pelajaran)
Ketika mengulang di kelas yang sama nilai peserta didik untuk semua SK
dan KD yang ketuntasan belajar minimalnya sudah dicapai, minimal
sama dengan yang dicapai pada tahun sebelumnya.
Pada masa kondisi khusus (pandemi Covid 19) satuan pendidikan tidak
diwajibkan untuk menuntaskan capaian kurikulum untuk kenaikan kelas
ataupun kelulusan.
b. Mekanisme dan Prosedur Pelaporan Hasil Belajar
Pelaksanaan dan Pelaporan Penilaian
1. Pelaksanaan dan Pelaporan Penilaian oleh Pendidik
Edisi Mandiri Belajar : 115
Penilaian hasil belajar oleh pendidik yang dilakukan secara
berkesinambungan bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan
belajar peserta didik serta untuk meningkatkan efektivitas
pembelajaran. Penilaian hasil belajar oleh pendidik memperhatikan
hal-hal sebagai berikut.
a. Proses penilaian diawali dengan mengkaji silabus sebagai acuan
dalam membuat rancangan dan kriteria penilaian pada awal
semester. Setelah menetapkan kriteria penilaian, pendidik memilih
teknik penilaian sesuai dengan indikator dan mengembangkan
instrumen serta pedoman penyekoran sesuai dengan teknik penilaian
yang dipilih.
b. Pelaksanaan penilaian dalam proses pembelajaran diawali dengan
penelusuran dan diakhiri dengan tes dan/atau nontes. Penelusuran
dilakukan dengan menggunakan teknik bertanya untuk
mengeksplorasi pengalaman belajar sesuai dengan kondisi dan
tingkat kemampuan peserta didik.
c. Penilaian pada pembelajaran tematik-terpadu dilakukan dengan
mengacu pada indikator dari Kompetensi Dasar setiap mata
pelajaran yang diintegrasikan dalam tema tersebut.
d. Hasil penilaian oleh pendidik dianalisis lebih lanjut untuk
mengetahui kemajuan dan kesulitan belajar, dikembalikan kepada
peserta didik disertai balikan (feedback) berupa komentar yang
mendidik (penguatan) yang dilaporkan kepada pihak terkait dan
dimanfaatkan untuk perbaikan pembelajaran.
e. Laporan hasil penilaian oleh pendidik berbentuk:
1) nilai dan/atau deskripsi pencapaian kompetensi, untuk hasil
penilaian kompetensi pengetahuan dan keterampilan termasuk
penilaian hasil pembelajaran tematik-terpadu.
2) deskripsi sikap, untuk hasil penilaian kompetensi sikap spiritual
dan sikap sosial.
f. Laporan hasil penilaian oleh pendidik disampaikan kepada kepala
sekolah/sekolah dan pihak lain yang terkait (misal: wali kelas, guru
Edisi Mandiri Belajar : 116
Bimbingan dan Konseling, dan orang tua/wali) pada periode yang
ditentukan.
g. Penilaian kompetensi sikap spiritual dan sosial dilakukan oleh semua
pendidik selama satu semester, hasilnya diakumulasi dan dinyatakan
dalam bentuk deskripsi kompetensi oleh wali kelas/guru kelas.
2. Pelaksanaan dan Pelaporan Penilaian oleh Satuan Pendidikan
Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dilakukan untuk menilai
pencapaian kompetensi lulusan peserta didik yang meliputi kegiatan
sebagai berikut:
a. menentukan kriteria minimal pencapaian Tingkat Kompetensi
dengan mengacu pada indikator Kompetensi Dasar tiap mata
pelajaran;
b. mengoordinasikan ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan
akhir semester, ulangan kenaikan kelas, ujian tingkat kompetensi,
dan ujian akhir sekolah/sekolah;
c. menyelenggarakan ujian sekolah/sekolah dan menentukan kelulusan
peserta didik dari ujian sekolah/sekolah sesuai dengan POS Ujian
Sekolah/Sekolah;
d. menentukan kriteria kenaikan kelas;
e. melaporkan hasil pencapaian kompetensi dan/atau tingkat
kompetensi kepada orang tua/wali peserta didik dalam bentuk buku
rapor;
f. melaporkan pencapaian hasil belajar tingkat satuan pendidikan
kepada dinas pendidikan kabupaten/kota dan instansi lain yang
terkait;
g. melaporkan hasil ujian Tingkat Kompetensi kepada orangtua/wali
peserta didik dan dinas pendidikan.
h. menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan melalui
rapat dewan pendidik sesuai dengan kriteria:
1) menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
2) mencapai tingkat Kompetensi yang dipersyaratkan, dengan
ketentuan kompetensi sikap (spiritual dan sosial) termasuk
Edisi Mandiri Belajar : 117
kategori baik dan kompetensi pengetahuan dan keterampilan
minimal sama dengan KKM yang telah ditetapkan;
3) lulus ujian akhir sekolah/sekolah.
i. menerbitkan Surat Keterangan Hasil Ujian (SKHU) setiap peserta
didik bagi satuan pendidikan penyelenggara Ujian; dan
j. menerbitkan ijazah setiap peserta didik yang lulus dari satuan
pendidikan bagi satuan pendidikan yang telah terakreditasi.
3. Pelaksanaan dan Pelaporan Penilaian oleh Pemerintah
Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah dilakukan melalui Ujian Nasional
dan ujian mutu Tingkat Kompetensi, dengan memperhatikan hal-hal
berikut.
a. Ujian Sekolah
1) Penilaian hasil belajar dalam bentuk US didukung oleh suatu sistem
yang menjamin mutu dan kerahasiaan soal serta pelaksanaan yang
aman, jujur, dan adil.
2) Hasil US digunakan untuk:
a) salah satu syarat kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan;
b) salah satu pertimbangan dalam seleksi masuk ke jenjang
pendidikan berikutnya;
c) pemetaan mutu; dan
d) pembinaan dan pemberian bantuan untuk peningkatan mutu.
3) Dalam rangka standarisasi US diperlukan acuan berupa kisi-kisi
bersifat nasional yang dikembangkan oleh Pemerintah, sedangkan
soalnya disusun oleh Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah
dengan komposisi tertentu yang ditentukan oleh Pemerintah.
4) Sebagai salah satu penentu kelulusan peserta didik dari satuan
pendidikan, kriteria kelulusan US ditetapkan setiap tahun oleh
Pemerintah.
5) Dalam rangka penggunaan hasil US untuk pemetaan mutu program
dan/atau satuan pendidikan, Pemerintah menganalisis dan membuat
peta daya serap US dan menyampaikan hasilnya kepada pihak yang
berkepentingan.
Edisi Mandiri Belajar : 118
c. Program Remedial dan Pengayaan
1) Program Remedial
Pembelajaran remedial pada hakikatnya adalah pemberian bantuan bagi
peserta didik yang mengalami kesulitan atau kelambatan belajar.
Sehubungan dengan itu, langkah-langkah yang perlu dikerjakan dalam
pemberian pembelajaran remedial meliputi dua langkah pokok, yaitu
pertama mendiagnosis kesulitan belajar, dan kedua memberikan perlakuan
(treatment) pembelajaran remedial.
Pelaksanaan program Remedial di SMP Negeri 11 Cilegon menggunakan
tahapan diagnosis kesulitan belajar yang meliputi:
1. Tujuan
Diagnosis kesulitan belajar dimaksudkan untuk mengetahui tingkat
kesulitan belajar peserta didik. Kesulitan belajar dapat dibedakan menjadi
kesulitan ringan, sedang dan berat.
a. Kesulitan belajar ringan biasanya dijumpai pada peserta didik yang
kurang perhatian di saat mengikuti pembelajaran.
b. Kesulitan belajar sedang dijumpai pada peserta didik yang mengalami
gangguan belajar yang berasal dari luar diri peserta didik, misalnya
faktor keluarga, lingkungan tempat tinggal, pergaulan, dsb.
c. Kesulitan belajar berat dijumpai pada peserta didik yang mengalami
ketunaan pada diri mereka, misalnya tuna rungu, tuna netra¸tuna
daksa, dsb.
2. Teknik
Teknik yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kesulitan belajar antara
lain: tes prasyarat (prasyarat pengetahuan, prasyarat keterampilan), tes
diagnostik, wawancara, pengamatan, dsb.
a. Tes prasyarat adalah tes yang digunakan untuk mengetahui apakah
prasyarat yang diperlukan untuk mencapai penguasaan kompetensi
tertentu terpenuhi atau belum. Prasyarat ini meliputi prasyarat
pengetahuan dan prasyarat keterampilan.
Edisi Mandiri Belajar : 119
b. Tes diagnostik digunakan untuk mengetahui kesulitan peserta didik
dalam menguasai kompetensi tertentu. Misalnya dalam mempelajari
operasi bilangan, apakah peserta didik mengalami kesulitan pada
kompetensi penambahan, pengurangan, pembagian, atau perkalian.
c. Wawancara dilakukan dengan mengadakan interaksi lisan dengan
peserta didik untuk menggali lebih dalam mengenai kesulitan belajar
yang dijumpai peserta didik.
d. Pengamatan (observasi) dilakukan dengan jalan melihat secara cermat
perilaku belajar peserta didik. Dari pengamatan tersebut diharapkan
dapat diketahui jenis maupun penyebab kesulitan belajar peserta didik.
3. Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Remedial
Setelah diketahui kesulitan belajar yang dihadapi peserta didik, langkah
berikutnya adalah memberikan perlakuan berupa pembelajaran remedial.
Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran remedial antara lain:
a. Pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang
berbeda. Pembelajaran ulang dapat disampaikan dengan cara
penyederhanaan materi, variasi cara penyajian, penyederhanaan
tes/pertanyaan. Pembelajaran ulang dilakukan bilamana sebagian besar
atau semua peserta didik belum mencapai ketuntasan belajar atau
mengalami kesulitan belajar. Pendidik perlu memberikan penjelasan
kembali dengan menggunakan metode dan/atau media yang lebih
tepat.
b. Pemberian bimbingan secara khusus, misalnya bimbingan perorangan.
Dalam hal pembelajaran klasikal peserta didik mengalami kesulitan,
perlu dipilih alternatif tindak lanjut berupa pemberian bimbingan
secara individual. Pemberian bimbingan perorangan merupakan
implikasi peran pendidik sebagai tutor. Sistem tutorial dilaksanakan
bilamana terdapat satu atau beberapa peserta didik yang belum berhasil
mencapai ketuntasan.
Edisi Mandiri Belajar : 120
c. Pemberian tugas-tugas latihan secara khusus.
Dalam rangka menerapkan prinsip pengulangan, tugas-tugas latihan
perlu diperbanyak agar peserta didik tidak mengalami kesulitan dalam
mengerjakan tes akhir. Peserta didik perlu diberi latihan intensif (drill)
untuk membantu menguasai kompetensi yang ditetapkan.
d. Pemanfaatan tutor sebaya.
Tutor sebaya adalah teman sekelas yang memiliki kecepatan belajar
lebih. Mereka perlu dimanfaatkan untuk memberikan tutorial kepada
rekannya yang mengalami kelambatan belajar. Dengan teman sebaya
diharapkan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar akan lebih
terbuka dan akrab.
Hasil belajar yang menujukkan tingkat pencapaian kompetensi melalui
penilaian diperoleh dari penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian
proses diperoleh melalui postes, tes kinerja, observasi dan lain-lain.
Sedangkan penilaian hasil diperoleh melalui ulangan harian, ulangan
tengah semester dan ulangan akhir semester.
Jika peserta didik tidak lulus karena penilaian hasil maka sebaiknya hanya
mengulang tes tersebut dengan pembelajaran ulang jika diperlukan.
Namun apabila ketidaklulusan akibat penilaian proses yang tidak diikuti
(misalnya kinerja praktik, diskusi/presentasi kelompok) maka sebaiknya
peserta didik mengulang semua proses yang harus diikuti.
4. Waktu Pelaksanaan Pembelajaran Remedial
Waktu pelaksanaan remedial diberikan setelah peserta didik mempelajari
SK atau KD tertentu. Namun karena dalam setiap SK terdapat beberapa
KD, maka terlalu sulit bagi pendidik untuk melaksanakan pembelajaran
remedial setiap selesai mempelajari KD tertentu. Mengingat indikator
keberhasilan belajar peserta didik adalah tingkat ketuntasan dalam
mencapai SK yang terdiri dari beberapa KD, maka pembelajaran remedial
dapat juga diberikan setelah peserta didik menempuh tes SK yang terdiri
dari beberapa KD. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa SK
merupakan satu kebulatan kemampuan yang terdiri dari beberapa KD.
Edisi Mandiri Belajar : 121
Mereka yang belum mencapai penguasaan SK tertentu perlu mengikuti
program pembelajaran remedial.
a. Tes Ulang
Tes ulang diberikan kepada peserta didik yang telah mengikuti program
pembelajaran remedial agar dapat diketahui apakah peserta didik telah
mencapai ketuntasan dalam penguasaan kompetensi yang telah
ditentukan.
b. Bobot Remedial
Pelaksanaan proses remedial dilaksanakan diluar jam intra kurikuler
dengan mengacu kepada PP no. 74 thn 2008 Pasal 52 ayat 3 tentang
Pemenuan Beban Wajib Mengajar 24 jam dengan ketentuan 10 peserta
didik setara dengan 2 jam pembelajaran wajib.
Contoh perhitungan jam remedial:
Jam wajib = 6+6+6 = 18 jam tatap muka
Remedial = 2+2+2 = 6 jam tatap muka
Jumlah = 8+8+8 = 24 jam tatap muka
c. Nilai Hasil Remedial
Nilai hasil remedial tidak melebihi nilai KKM.
2) Program Pengayaan
Secara umum pengayaan dapat diartikan sebagai pengalaman atau
kegiatan peserta didik yang melampaui persyaratan minimal yang
ditentukan oleh kurikulum dan tidak semua peserta didik dapat
melakukannya.
Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran
tuntas, lazimnya guru mengadakan penilaian awal untuk mengetahui
kemampuan peserta didik terhadap kompetensi atau materi yang akan
dipelajari sebelum pembelajaran dimulai. Kemudian dilaksanakan
pembelajaran dengan menggunakan berbagai strategi seperti ceramah,
demonstrasi, pembelajaran kolaboratif/kooperatif, inkuiri, diskoveri, dsb.
Melengkapi strategi pembelajaran digunakan juga berbagai media seperti
Edisi Mandiri Belajar : 122
media audio, video, dan audiovisual dalam berbagai format, mulai dari
kaset audio, slide, video, komputer multimedia, dsb. Di tengah
pelaksanaan pembelajaran atau pada saat kegiatan pembelajaran sedang
berlangsung, diadakan penilaian proses dengan menggunakan berbagai
teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan belajar
serta seberapa jauh penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang
telah atau sedang dipelajari. Penilaian proses juga digunakan untuk
memperbaiki proses pembelajaran bila dijumpai hambatan-hambatan.
Pada akhir program pembelajaran, diadakan penilaian yang lebih formal
berupa ulangan harian. Ulangan harian dimaksudkan untuk menentukan
tingkat pencapaian belajar, apakah seorang peserta didik gagal atau
berhasil mencapai tingkat penguasaan kompetensi tertentu. Penilaian akhir
program ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan apakah peserta
didik telah mencapai kompetensi (tingkat penguasaan) minimal atau
ketuntasan belajar seperti yang telah dirumuskan pada saat pembelajaran
direncanakan.
Jika ada peserta didik yang lebih mudah dan cepat mencapai penguasaan
kompetensi minimal yang ditetapkan, maka sekolah perlu memberikan
perlakuan khusus berupa program pembelajaran pengayaan. Pembelajaran
pengayaan merupakan pembelajaran tambahan dengan tujuan untuk
memberikan kesempatan pembelajaran baru bagi peserta didik yang
memiliki kelebihan sedemikain rupa sehingga mereka dapat
mengoptimalkan perkembangan minat, bakat, dan kecakapannya.
Pembelajaran pengayaan berupaya mengembangkan keterampilan
berpikir, kreativitas, keterampilan memecahkan masalah, eksperimentasi,
inovasi, penemuan, keterampilan seni, keterampilan gerak, dsb.
Pembelajaran pengayaan memberikan pelayanan kepada peserta didik
yang memiliki kecerdasan lebih dengan tantangan belajar yang lebih tinggi
untuk membantu mereka mencapai kapasitas optimal dalam belajarnya.
Ada tiga jenis pembelajaran pengayaan, yaitu:
1. Kegiatan eksploratori yang bersifat umum yang dirancang untuk
disajikan kepada peserta didik. Sajian dimaksud berupa peristiwa
Edisi Mandiri Belajar : 123
sejarah, buku, tokoh masyarakat, dsb, yang secara regular tidak
tercakup dalam kurikulum.
2. Keterampilan proses yang diperlukan oleh peserta didik agar berhasil
dalam melakukan pendalaman dan investigasi terhadap topik yang
diminati dalam bentuk pembelajaran mandiri.
3. Pemecahan masalah yang diberikan kepada peserta didik yang
memiliki kemampuan belajar lebih tinggi berupa pemecahan masalah
nyata dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah atau
pendekatan investigatif/ penelitian ilmiah. Pemecahan masalah
ditandai dengan: (a) identifikasi bidang permasalahan yang akan
dikerjakan; (b) penentuan fokus masalah/problem yang akan
dipecahkan; (c) penggunaan berbagai sumber; (d) pengumpulan data
menggunakan teknik yang relevan; (e) analisis data; dan (f)
penyimpulan hasil investigasi.
Sekolah tertentu, khususnya yang memiliki peserta didik lebih cepat
belajar dibanding sekolah-sekolah pada umumnya, dapat menaikkan
tuntutan kompetensi melebihi standari isi. Misalnya sekolah-sekolah yang
menginginkan memiliki keunggulan khusus.
Pemberian pembelajaran pengayaan pada hakikatnya adalah pemberian
bantuan bagi peserta didik yang memiliki kemampuan lebih, baik dalam
kecepatan maupun kualitas belajarnya. Agar pemberian pengayaan tepat
sasaran maka perlu ditempuh langkah-langkah sistematis, yaitu (1)
mengidentifikasi kelebihan kemampuan peserta didik, dan (2) memberikan
perlakuan (treatment) pembelajaran pengayaan.
1. Identifikasi Kelebihan Kemampuan Belajar
a. Tujuan
Identifikasi kemampuan berlebih peserta didik dimaksudkan untuk
mengetahui jenis serta tingkat kelebihan belajar peserta didik. Kelebihan
kemampuan belajar itu antara lain meliputi:
1. Belajar lebih cepat. Peserta didik yang memiliki kecepatan belajar
tinggi ditandai dengan cepatnya penguasaan kompetensi (SK/KD)
mata pelajaran tertentu.
Edisi Mandiri Belajar : 124
2. Menyimpan informasi lebih mudah Peserta didik yang memiliki
kemampuan menyimpan informasi lebih mudah, akan memiliki banyak
informasi yang tersimpan dalam memori/ ingatannya dan mudah
diakses untuk digunakan.
3. Keingintahuan yang tinggi. Banyak bertanya dan menyelidiki
merupakan tanda bahwa seorang peserta didik memiliki hasrat ingin
tahu yang tinggi.
4. Berpikir mandiri. Peserta didik dengan kemampuan berpikir mandiri
umumnya lebih menyukai tugas mandiri serta mempunyai kapasitas
sebagai pemimpin.
5. Superior dalam berpikir abstrak. Peserta didik yang superior dalam
berpikir abstrak umumnya menyukai kegiatan pemecahan masalah.
6. Memiliki banyak minat. Mudah termotivasi untuk meminati masalah
baru dan berpartisipasi dalam banyak kegiatan.
b. Teknik
Teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kemampuan berlebih
peserta didik dapat dilakukan antara lain melalui : tes IQ, tes inventori,
wawancara, pengamatan, dsb.
1. Tes IQ (Intelligence Quotient) adalah tes yang digunakan untuk
mengetahui tingkat kecerdasan peserta didik. Dari tes ini dapat
diketahui tingkat kemampuan spasial, interpersonal, musikal,
intrapersonal, verbal, logik/matematik, kinestetik, naturalistik, dsb.
2. Tes inventori. Tes inventori digunakan untuk menemukan dan
mengumpulkan data mengenai bakat, minat, hobi, kebiasaan belajar,
dsb.
3. Wawancara. Wanwancara dilakukan dengan mengadakan interaksi
lisan dengan peserta didik untuk menggali lebih dalam mengenai
program pengayaan yang diminati peserta didik.
4. Pengamatan (observasi). Pengamatan dilakukan dengan jalan melihat
secara cermat perilaku belajar peserta didik. Dari pengamatan tersebut
diharapkan dapat diketahui jenis maupun tingkat pengayaan yang perlu
diprogramkan untuk peserta didik.
Edisi Mandiri Belajar : 125
Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran pengayaan dapat dilakukan
antara lain melalui:
1. Belajar Kelompok. Sekelompok peserta didik yang memiliki minat
tertentu diberikan pembelajaran bersama pada jam-jam pelajaran
sekolah biasa, sambil menunggu teman-temannya yang mengikuti
pembelajaran remedial karena belum mencapai ketuntasan.
2. Belajar mandiri. Secara mandiri peserta didik belajar mengenai
sesuatu yang diminati.
3. Pembelajaran berbasis tema. Memadukan kurikulum di bawah
tema besar sehingga peserta didik dapat mempelajari hubungan
antara berbagai disiplin ilmu.
4. Pemadatan kurikulum. Pemberian pembelajaran hanya untuk
kompetensi/materi yang belum diketahui peserta didik. Dengan
demikian tersedia waktu bagi peserta didik untuk memperoleh
kompetensi/materi baru, atau bekerja dalam proyek secara mandiri
sesuai dengan kapasitas maupun kapabilitas masing-masing.
Perlu diperhatikan bahwa penyelenggaraan pembelajaran pengayaan ini
terutama terkait dengan kegiatan tatap muka untuk jam-jam pelajaran
sekolah biasa. Namun demikian kegiatan pembelajaran pengayaan dapat
pula dikaitkan dengan kegiatan tugas terstruktur dan kegiatan mandiri
tidak terstruktur. Sekolah dapat juga memfasilitasi peserta didik dengan
kelebihan kecerdasan dalam bentuk kegiatan pengembangan diri dengan
spesifikasi pengayaan kompetensi tertentu, misalnya untuk bidang sains.
Pembelajaran seperti ini diselenggarakan untuk membantu peserta didik
mempersiapkan diri mengikuti kompetisi tingkat nasional maupun
internasional seperti olimpiade internasional fisika, kimia dan biologi.
Sebagai bagian integral dari kegiatan pembelajaran, kegiatan pengayaan
tidak lepas kaitannya dengan penilaian. Penilaian hasil belajar kegiatan
pengayaan, tentu tidak sama dengan kegiatan pembelajaran biasa, tetapi
cukup dalam bentuk portofolio, dan harus dihargai sebagai nilai tambah
(lebih) dari peserta didik yang normal.
Edisi Mandiri Belajar : 126
6.Kelulusan
a. Kriteria Kelulusan
Penilaian hasil belajar pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
dilaksanakan oleh pendidik, satuan pendidikan, Pemerintah dan/atau
lembaga mandiri. Penilaian hasil belajar dilakukan dalam bentuk penilaian
otentik, penilaian diri, penilaian projek, penilaian harian (UH), ulangan
tengah semester (PTS), ulangan akhir semester (PAS), ulangan kenaikan
kelas (PAT), dan ujian sekolah (US). Selain bentuk-bentuk penilaian di
atas, dilakukan juga perencanaan pemberian ulangan harian sesuai dengan
RPP yang telah disusun, melaksanaan langkah-langkah yang sesuai dengan
prosedural yang telah ditentukan seperti: menyusun kisi ujian,
mengembangkan instrumen, yang dilanjutkan dengan ujian. (Mengacu
kepada ketentuan pasal 72 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun
2005, peserta didik dinyatakan lulus setelah memenuhi persyaratan/kriteria
sebagai berikut :
Kriteria Kelulusan Ujian Sekolah
Kriteria kelulusan peserta didik SMP Negeri 11 Cilegon dalam Ujian
Sekolah, apabila;
1) Tercatat sebagai peserta ujian yang telah dilaporkan ke lembaga
terkait
2) Menyelesaikan seluruh program pembelajaran sejak duduk di kelas
VII semester ganjil sampai dengan kelas IX semester genap
(semester);
3) Memperoleh nilai sikap (Budi Pekerti dan Akhlak Mulia) untuk semua
mata pelajaran minimal harus baik (B). Tidak boleh ada nilai C pada
salah satu aspek.
4) Memiliki Nilai Ujian Sekolah (US) minimal 80 untuk mata pelajaran
PAI, PKn, SBK, Penjaskes dan Mulok, minimal 78 untuk mata
pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, IPA, IPS
dan TIK (Rata-rata 78,90)
5) Penetapan siswa yang dinyatakan lulus Ujian sekolah ditetapkan
melalui rapat dewan guru dan ditulis dalam berita acara.
Edisi Mandiri Belajar : 127
Pada masa kondisi khusus (pandemi Covid 19) satuan pendidikan tidak
diwajibkan untuk menuntaskan capaian kurikulum untuk kenaikan kelas
ataupun kelulusan.
Sistem Penilaian Kelulusan
Nilai Ujian Sekolah (US)
Gabungan antara nilai Ujian S/M dan nilai rata-rata rapor semester I, II,
III, IV, dan V untuk SMP/MTs dan SMPLB dengan pembobotan 50%
sampai dengan 70% untuk nilai Ujian S/M dan pembobotan 30% sampai
dengan 50% untuk nilai rata-rata rapor. Peserta Didik dinyatakan lulus
ujian jika telah mengikuti keseluruhan mata ujian (lisan dan tulisan) dan
mendapat nilai rerata rapor semester baik, jika nilai lebih dari 70 (tujuh
puluh) dan kurang dari atau sama dengan 85 (delapan puluh lima)
Edisi Mandiri Belajar : 128
Berikut Distribusi Nilai Dalam Matriks:
NILAI US NILAI AKHIR
NO MATA PELAJARAN % US % US BATAS
LULUS NA
TEORI PRAKTEK % NR % US
80
1 PENDIDIKAN AGAMA 50 50 70 30 80
70 30 78
2 PEND KEWARGANEGARAAN 100 70 30 78
70 30 78
3 BAHASA INDONESIA 50 50 70 30 78
70 30 78
4 MATEMATIKA 100 70 30 80
70 30 80
5 BAHASA INGGRIS 50 50 70 30 78
70 30
6 IPA 50 50 80
80
7 IPS 100
79,00
8 SENI BUDAYA 50 50
9 PENJASORKES 50 50
10 TIK / PRAKARYA 50 50
12 MULOK DAN PENGEMBANGAN DIRI
Bahasa Daerah 50 50 70 30
70 30
Pengembangan diri Pramuka 100
Peserta didik dinyatakan lulus dari Satuan Pendidikan setelah:
1) menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
2) Sekurang-kurangnya memperoleh nilai minimal Baik (B) pada
penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran
Agama dan Akhlak Mulia, kelompok mata pelajaran Pendidikan
Pancasila Kewarganegaraan dan Kepribadian, kelompok mata
pelajaran Estetika, dan kelompok mata pelajaran Jasmani, Olahraga,
dan Kesehatan
3) Lulus ujian sekolah baik ujian teori maupun lulus ujian praktik.
4) Penetapan siswa yang dinyatakan lulus dari satuan pendidikan
ditetapkan melalui rapat dewan guru SMP Negeri 11 Cilegon dan
ditulis dalam berita acara Kriteria Kelulusan Minimal
Edisi Mandiri Belajar : 129
NO MATA PELAJARAN ASPEK KRITERIA
KELULUSAN
1 PENDIDIKAN AGAMA Kognitif MINIMAL (KKM)
2 PEND KEWARGANEGARAAN Sikap/Perilaku
3 BAHASA INDONESIA LULUS US
4 MATEMATIKA Kognitif BAIK
5 BAHASA INGGRIS
6 ILMU PENGETAHUAN ALAM Sikap/Perilaku LULUS US
7 ILMU PENGETAHUAN SOSIAL Kognitif BAIK
8 SENI BUDAYA
Sikap/Perilaku LULUS US
Kognitif
LULUS US
Sikap/Perilaku
Kognitif LULUS US
Sikap/Perilaku LULUS US
Kognitif
LULUS US
Sikap/Perilaku
Kognitif LULUS US
BAIK
Sikap/Perilaku
Kognitif LULUS US
BAIK
Sikap/Perilaku
LULUS US
9 PENJASORKES Kognitif BAIK
Sikap/Perilaku BAIK
BAIK
10 MULOK DAN PENGEMBANGAN DIRI BAIK
BAIK
BAHASA DAERAH Kognitif
Sikap/Perilaku
PD. PRAMUKA Kognitif
Sikap/Perilaku
PD, ................................... Kognitif
Sikap/Perilaku
a) Indikator Ketuntasan Nilai Afektif (Sikap dan Perilaku)
Nilai : A
1) Kehadiran tatap muka dalam KBM setiap mata pelajaran mencapai
91-100%.
2) Aktif, kreatif dan tekun dalam KBM.
3) Menujukkan sikap hormat dan santun terhadap Guru di kelas,
lingkungan sekolah dan luar sekolah.
4) Tepat waktu mengumpulkan tugas-tugas dan memperoleh nilai sesuai
KBM.
5) Mematuhi seluruh ketentuan yang terdapat dalam tata tertib sekolah.
6) Memiliki interaksi yang harmonis terhadap sesama teman di kelas,
lingkungan, sekolah dan luar sekolah.
7) Tidak melakukan tindakan curang ketika melaksanakan ulangan dan
mengerjakan tugas-tugas.
8) Datang ke sekolah dan pulang tepat pada waktunya.
Edisi Mandiri Belajar : 130
9) Tidak ada catatan perilaku yang melanggar tata tertib sekolah
Nilai : B
1) Kehadiran tatap muka dalam KBM setiap mata pelajaran mencapai 81-
90%
2) Kehadiran di bawah 80% dan maksimal 85% (khusus bagi siswa yang
tidak hadir karena alasan sakit yang dibuktikan dengan surat
keterangan dokter)
3) Aktif, kreatif dan tekun dalam KBM.
4) Menujukkan sikap hormat dan santun terhadap Guru di kelas,
lingkungan sekolah dan luar sekolah.
5) Tepat waktu mengumpulkan tugas-tugas dan memperoleh nilai sesuai
KBM.
6) Mematuhi seluruh ketentuan yang terdapat dalam tata tertib sekolah.
7) Memiliki interaksi yang harmonis terhadap sesama teman di kelas,
lingkungan, sekolah dan luar sekolah.
8) Tidak melakukan tindakan curang ketika melaksanakan ulangan dan
mengerjakan tugas-tugas.
9) Datang ke sekolah dan pulang tepat pada waktunya
10) Dalam satu semester maksimal memiliki 1 kali catatan pelanggaran
terhadap tata tertib sekolah
Nilai : C
1) Kehadiran tatap muka dalam KBM setiap mata pelajaran mencapai
70%-80%.
2) Kurang aktif, kreatif dan tidak tekun ketika mengikuti KBM di kelas.
3) Kurang menujukkan sikap hormat dan santun terhadap Guru.
4) Tidak tepat waktu mengumpulkan tugas-tugas.
5) Tidak mematuhi peraturan tata tertib sekolah kategori ringan point 1 -
20 Contoh : mencoret inventaris sekolah.
6) Kurang memiliki interaksi yang harmonis terhadap sesama teman di
kelas, lingkungan, sekolah dan luar sekolah.
7) Sering melakukan tindakan curang ketika melaksanakan ulangan dan
mengerjakan tugas-tugas.
Edisi Mandiri Belajar : 131
8) Sering terlambat datang di sekolah dan masuk kelas
9) Dalam satu semester memiliki lebih dari 2 kali catatan pelanggaran
terhadap tata tertib sekolah
Nilai : D
1) Kehadiran tatap muka dalam KBM setiap mata pelajaran mencapai
kurang dari 70%.
2) Pasif dan malas dalam mengikuti KBM di kelas.
3) Suka merusak atau mencorat coret fasilitas sekolah
4) Tidak menunjukkan sikap hormat dan santun terhadap Guru.
5) Tidak/jarang mengumpulkan tugas-tugas
6) Tidak mematuhi peraturan tata tertib sekolah kategori berat, Contoh :
berkelahi, memalak, membawa narkoba, gambar/vidio porno, dll.
7) Dalam satu semester memiliki lebih dari 3 kali catatan pelanggaran
terhadap tata tertib sekolah
Standar Kompetensi Lulusan
Berdasarkan Permendiknas Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar
Kompetensi Lulusan dinyatakan bahwa Standar Kompetensi Lulusan
Sekolah menengah pertama bertujuan meletakkan dasar kecerdasan,
pengetahan, kepribadian, ahklak mulia, serta ketrampilan untuk hidup
mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Adapun Standar
Kompetensi Lulusan Sekolah Menengah Pertama selengkapnya adalah
sebagai berikut :
1. Mengamalkan ajaran agama yang di anut sesuai dengan tahap
perkembangan remaja
2. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri
3. Menunjukan sikap percaya diri
4. Mematuhi aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas
5. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan
sosial ekonomi dalam lingkup nasional
Edisi Mandiri Belajar : 132
6. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan
sumber- sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif
7. Menunjukan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif dan inovatif
8. Menunjukan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi
yang dimilikinya
9. Menunjukan kemampuan menganalisa dan memecahkan masalah dalam
kehidupan sehari hari
10. Mendeteksi gejala alam dan sosial
11. Memanfaatkan lingkungan secara bertangung jawab
12. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia
13. Mengharagai karya seni dan budaya Nasional
14. Mengharagai tugas dan pekerjaan serta memiliki kemamuan untuk
berkarya
15. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan
waktu luang
16. Berkomunikasi dan beriteraksi secara efektif dan santun
17. Memahami hak dan kewajiban diri sendiri dan orang lain dalam
pergaulan di masyarakat
18. Menghargai adanya perbedaan pendapat
19. Menunjukan ketrampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis
dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sederhana
20. Menunjukan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek
sederhana
21. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan
menengah
Edisi Mandiri Belajar : 133
Pelaksanaan Ujian Sekolah
Ujian Sekolah dilakukan oleh peserta didik kelas IX yang sudah menyelesaikan
seluruh materi ajar selama 6 semester sebagai salah satu syarat untuk menentukan
kelulusan. Semenjak tahun pelajaran 2020/2021 Ujian Nasional sudah ditiadakan
dan diganti dengan Assesmen Nasional. Assesmen Nasional dilakukan pada
peserta didik kelas VIII, namun karena terkendala pandemi dan berbagai hal
sampai saat ini Assesmen Nasional masih belum dilaksanakan.
Ujian Sekolah dilaksanakan oleh satuan pendidikan untuk mengukur kompetensi
tulis dan praktek peserta didik. Ujian Praktek biasanya dilaksanakan terlebih
dahulu daripada ujian tulis. Mata Ujian yang diberikan adalah sebagai berikut
Pelaksanaan Nilai (rerata
Tulis +
No Mata Ujian Tulis Praktek Praktek)
1. Pendidikan Agama
2. Pendidikan Kewarganegaraan
3. Bahasa Indonesia
4. Bahasa Inggris
5. Matematika
6. IPA
7. IPS
8. Penjasorkes
9. Bahasa Daerah
Sistem pengawasan ujian sekolah dilakukan oleh pengawas yang berasal dari
satuan pendidikan. Sedangkan sistem pengoreksian LJK dilakukan oleh korektor
dari satuan pendidikan.
Target Kelulusan
Adanya pergeseran tujuan pelaksanaan ujian nasional yang tidak mutlak lagi
menentukan kelulusan secara tidak langsung mengubah target kelulusan satuan
pendidikan lebih kepada pelaksanaan ujian sekolah. Tujuan pendidikan yang
salah satunya menetapkan peserta didik untuk tuntas dalam belajar dalam waktu 3
(tiga) tahun untuk jenjang SMP menuntut mereka harus menguasai segala
Edisi Mandiri Belajar : 134
kompetesi yang diberikan. Sehingga peserta didik lebih dihadapkan pada pilihan
pada:
1. selesai belajar di SMP selama 3 tahun dengan memiliki kompetensi yang
tinggi, sehingga mereka bisa menggunakan nilai pencapaian kompetensi
mereka untuk dapat bersaing dengan lulusan yang lain;
2. selesai belajar di SMP selama 3 tahun dengan memiliki kompetensi rata-rata
atau;
3. selesai belajar di SMP selama 3 tahun dengan memiliki kompetensi yang
randah
Dengan kata lain satuan pendidikan mempunyai target kelulusan dimana peserta
didik yang selesai belajar di lembaga ini mempunyai nilai kompetensi yang tinggi
dan mampu bersaing dengan lulusan yang lain.
Untuk tingkat Kota Cilegon target Satuan Pendidikan untuk Tahun Pelajaran
2021/2022 sebagai berikut:
1. Setiap Mata Pelajaran yang di-US-kan dan yang di-PAS-kan pada tengah
semester, akhir semester baik ganjil maupun genap:
a. Mata Pelajaran yang di-US-kan minimal rata-rata pencapaian = 75
b. Mata Pelajaran yang di-PAS-kan minimal rata-rata pencapaian = 75
2. Pencapaian hasil Ujian Sekolah Tahun Pelajaran 2021/2022 minimal rata-rata
75
3. Peringkat Hasil US 2021/2022 tingkat SMP se-Kota Cilegon minimal ke-3
4. Pencapaian Hasil Ujian Sekolah perorangan, nilai tertinggi se-Kota Cilegon
minimal 2 (dua) orang siswa terdapat nilai Mata Pelajaran tertinggi.
Program-program SMP Negeri 11 dalam meningkatkan kualitas lulusan
1. Pendalaman Materi
Program ini dilaksanakan oleh sekolah untuk membekali peserta didik dengan
menitikberatkan pada materi yang terkandung dalam SKL yang diterbitkan
oleh BNSP. Program ini diikuti oleh peserta didik kelas IX pada semester
genap yang pelaksanaannya setelah Kegiatan Belajar Mengajar.
Edisi Mandiri Belajar : 135
2. Melakukan kegiatan pengayaan
Kegiatan pengayaan diberikan pada peserta didik yang mendapatkan nilai
diatas 90 dan dilakukan dengan cara memberikan bimbingan dan memberikan
Latihan soal-soal yang memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi.
3. Try out Assesmen Kompetensi Nasional
Try Out AKM diberikan pada peserta didik kelas VIII agar peserta didik
terbiasa dengan jenis-jenis soal AKM.
4. Membekali peserta didik dengan beberapa keahlian tertentu melalui kegiatan
pengembangan diri.
5. Outing Class dan Studi Wisata
Outing Class
Belajar di luar kelas merupakan aktivitas luar sekolah yang berisi kegiatan di
luar kelas/sekolah dan di alam bebas lainnya, seperti: bermain di lingkungan
sekolah, taman, perkampungan pertanian/nelayan, berkemah dan kegiatan
yang bersifat kepetualangan, serta pengembangan aspek pengetahuan yang
relevan (Arief Komarudin, 2007). Pendidikan luar kelas tidak sekedar
memindahkan pelajaran ke luar kelas, tetapi dilakukan dengan mengajak siswa
menyatu dengan alam dan melakukan beberapa aktivitas yang mengarah pada
terwujudnya perubahan perilaku siswa terhadap lingkungan melalui tahap-
tahap penyadaran, pengertian, perhatian, tanggungjawab dan aksi atau tingkah
laku. Aktivitas luar kelas dapat berupa permainan, cerita, olahraga,
eksperimen, perlombaan, mengenal kasus-kasus lingkungan di sekitarnya dan
diskusi penggalian solusi, aksi lingkungan, dan jelajah lingkungan (Vincencia
S, 2006).
Pendidikan luar kelas diartikan sebagai pendidikan yang berlangsung di luar
kelas yang melibatkan pengalaman yang membutuhkan partisipasi siswa untuk
mengikuti tantangan petualangan yang menjadi dasar dari aktivitas luar kelas
seperti hiking, mendaki gunung atau kamping. Pendidikan luar kelas
mengandung filosofi, teori dan praktis dari pengalaman dan pendidikan
lingkungan.
Edisi Mandiri Belajar : 136
Outing Class adalah kegiatan belajar mengajar yang diadakan di luar kelas,
yang tidak dilakukan di dalam kelas pada umumnya.Kegiatan ini dilakukan
dengan cara dengan menetukan lokasi yang akan digunakan untuk kegiatan
outing class lalu panitia yang bertanggung jawab dengan kegiatan tersebut
akan menelusuri lokasi dan menentukan wilayah yang tepat. Outing Class
bertujuan mengajak peserta didik belajar sambil bermain.
Pendidikan luar kelas bertujuan agar siswa dapat beradaptasi dengan
lingkungan dan alam sekitar dan mengetahui pentingnya keterampilan hidup
dan pengalaman hidup di lingkungan dan alam sekitar, dan memiliki memiliki
apresiasi terhadap lingkungan dan alam sekitar. Pendekatan Out-door
learning menggunakan setting alam terbuka sebagai sarana. Proses
pembelajaran menggunakan alam sebagai media dipandang sangat efektif
dalam knowledge management dimana setiap orang akan dapat merasakan,
melihat langsung bahkan dapat melakukannya sendiri, sehingga transfer
pengetahuan berdasarkan pengalaman di alam dapat dirasakan, diterjemahkan,
dikembangkan berdasarkan kemampuan yang dimiliki. Pendekatan ini
mengasah aktivitas fisik dan sosial anak dimana anak akan lebih banyak
melakukan kegiatan-kegiatan yang secara tidak langsung melibatkan
kerjasama antar teman dan kemampuan berkreasi. Aktivitas ini akan
memunculkan proses komunikasi, pemecahan masalah, kreativitas,
pengambilan keputusan, saling memahami, dan menghargai perbedaan.
Studi wisata
Menurut Soetomo (1994:25) yang di dasarkan pada ketentuan WATA (World
Association of Travel Agent = Perhimpunan Agen Perjalanan Sedunia),
wisata adalah perjalanan keliling selama lebih dari tiga hari, yang
diselenggarakan oleh suatu kantor perjalanan di dalam kota dan acaranya
antara
lain melihat-lihat di berbagai tempat atau kota baik di dalam maupun di luar
negeri.
Kegiatan Outing Class dan Studi Wisata merupakan bagian dari program
tahunan sekolah. Kegiatan Outing Class dan Studi Wisata di SMPN 11
Cilegon terbagi dalam 3 jenis kegiatan, antara lain Outing Class Implementasi
Edisi Mandiri Belajar : 137
Pembelajaran, Outing Class Seni dan Budaya, Outing Class
Kunjungan. Program Outing Class bertujuan untuk:
1. Memberi pengalaman yang beraneka ragam kepada siswa.
2. Memberi kesempatan kepada siswa mengembangkan kepribadian berupa
sikap kepemimpinan, kerja sama, kebaranian, toleransi, dan beriman.
3. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
4. Peserta didik dapat termotivasi dalam mengapresiasikan pembelajaran ke
dalam tindakan nyata
5. Peserta didik dapat mengenal lebih jelas tentang sejarah dan budaya
nasional
6. Sebagai sarana hiburan dan rekreasi dalam pembelajaran yang inovatif.
Program Pasca Ujian Nasional bagi peserta didik yang belum lulus
Apabila terdapat peserta didik yang tidak lulus maka sekolah
memberikan dukungan moril, fasilitas dan membantu proses pembelajaran
peserta didik tersebut sampai peserta didik dinyatakan lulus. Sekolah juga
membantu memberikan informasi jalur apa saja yang bias ditempuh jika
dinyatakan tidak lulus misalnya dengan mengikuti Paket B.
7. Pendidikan Kecakapan Hidup
Aspek dasar yang harus dimiliki peserta didik di SMP adalah kecakapan
personal dan sosial yang sering disebut sebagai kecakapan generik (general life
skill). Proses pembelajaran dengan pembenahan aspek personal dan sosial
merupakan prasyarat yang harus diupayakan berlangsung pada jenjang ini.
Peserta didik pada usia SMP tidak hanya membutuhkan kecakapan membaca-
membaca-berhitung sebagaimana pada usia TK/SD, melainkan juga butuh
suatu kecakapan lain yang mengajaknya untuk cakap bernalar dan mengarifi
kehidupan, sehingga pada masanya peserta didik dapat berkembang, kreatif,
produktif, kritis, jujur untuk menjadi manusia-manusia yang unggul dan
pekerja keras. Pendidikan kecakapan hidup pada jenjang ini lebih menekankan
kepada pembelajaran akhlak sebagai dasar pembentukan nilai-nilai dasar
kebajikan (basic goodness), seperti: kejujuran, kebaikan, kepatuhan, keadilan,
Edisi Mandiri Belajar : 138
etos kerja, kepahlawanan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta
kemampuan bersosialisasi.
a. Kecakapan personal (personal skill)
Kecapakan personal mencakup kesadaran diri dan berpikir rasional. Kesadaran
diri merupakan tuntutan mendasar bagi peserta didik untuk mengembangkan
potensi dirinya di masa mendatang. Kesadaran diri dibedakan menjadi dua,
yaitu: (1) kesadaran akan eksistensi diri sebagai makhluk Tuhan YME,
makhluk sosial, dan makhluk lingkungan, dan (2) kesadaran akan potensi diri
dan dorongan untuk mengembangkannya. (Dikdasmen, 2004 diolah).
(1) Kesadaran diri difokuskan pada kemampuan peserta didik untuk melihat
sendiri potret dirinya pada tataran yang lebih rendah peserta didik akan
melihat dirinya dalam hubungannya dengan lingkungan keluarga,
kebiasaannya, kegemarannya, dan sebagainya. Pada tataran yang lebih
tinggi, peserta didik akan semakin memahami posisi drinya di lingkungan
kelasnya, sekolahnya, desanya, kotanya, dan seterusnya, minat, bakat, dan
sebagainya.
(2) Kecakapan berpikir rasional merupakan kecakapan yang menggunakan
rasio atau pikiran. Kecakapan ini meliputi kecakapan menggali informasi,
mengolah informasi, dan mengambil keputusan secara cerdas, serta
mampu memecahkan masalah secara tepat dan baik. Pada jenjang
pendidikan menengah (SMP dan SMA) ketiga kecakapan tersebut jauh
lebih kompleks ketimbang dengan tingkat sekolah dasar (SD).
Sebagaimana diketahui bahwa dalam kurikulum berbasis kompetensi
(KBK), kemampuan berpikir mengambil keputusan secara cerdas dan
memecahkan masalah secara baik dan tepat menjadi isue utama dalam
pembelajaran kecakapan hidup pada peserta didik sekolah menengah
(Wasino 2004, diolah).
b. Kecakapan sosial (social skill)
Kecakapan sosial dapat dipilah menjadi dua jenis utama, yaitu (1)
kecakapan berkomunikasi, dan (2) kecakapan bekerjasama
Edisi Mandiri Belajar : 139
(1) Kecakapan berkomunikasi
Kecakapan berkomunikasi dapat dilakukan baik secara lisan maupun
tulisan. Sebagai makhluk sosial yang hidup dalam masyarakat tempat
tinggal maupun tempat kerja, peserta didik sangat memerlukan kecakapan
berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Dalam realitasnya,
komunikasi lisan ternyata tidak mudah dilakukan. Seringkali orang tidak
dapat menerima pendapat lawan bicaranya, bukan karena isi atau
gagasannya tetapi karena cara penyampaiannya yang kurang berkenan.
Dalam hal ini diperlukan kemampuan bagaimana memilih kata dan cara
menyamaikan agar mudah dimengerti oleh lawan bicaranya. Karena
komunikasi secara lisan adalah sangat penting, maka perlu
ditumbuhkembangkan sejak peserta didik dini. Lain halnya dengan
komunikasi secara tertulis. Dalam hal ini diperlukan kecakapan bagaimana
cara menyampaikan pesan secara tertulis dengan pilihan kalimat, kata-
kata, tata bahasa, dan aturan lainnya agar mudah dipahami orang atau
pembaca lain.
(2) Kecakapan bekerjasama
Bekerja dalam kelompok atau tim merupakan suatu kebutuhan yang tidak
dapat dielakkan sepanjang manusia hidup. Salah satu hal yang diperlukan
untuk bekerja dalam kelompok adalah adanya kerjasama. Kemampuan
bekerjasama perlu dikembangkan agar peserta didik terbiasa memecahkan
masalah yang sifatnya agak kompleks. Kerjasama yang dimaksudkan
adalah bekerjasama adanya saling pengertian dan membantu antar sesama
untuk mencapai tujuan yang baik, hal ini agar peserta didik terbiasa dan
dapat membangun semangat komunitas yang harmonis.
c. Kecakapan akademik (academic skill)
Kecakapan akademik seringkali disebut juga kecakapan intelektual atau
kemampuan berpikir ilmiah yang pada dasarnya merupakan
pengembangan dari kecakapan berpikir secara umum, namun mengarah
kepada kegiatan yang bersifat keilmuan. Kecakapan ini mencakup antara
lain kecakapan mengidentifikasi variabel, menjelaskan hubungan suatu
Edisi Mandiri Belajar : 140