http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka Sanksi Pelanggaran Pasal 72:
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta
1. Barangsiapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 49 Ayat (1) dan
Ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat
1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta
rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda
paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan,
atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak
cipta atau hak terkait sebagai dimaksud dalam Ayat (1) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
http://facebook.com/indonesiapustaka Ratih Kumala
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
http://facebook.com/indonesiapustaka BASTIAN DAN JAMUR AJAIB
Kumpulan Cerita Pendek
Ratih Kumala
GM 20101150012
Copyright ©2015 Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Kompas Gramedia Building Blok I lt. 5
Jl. Palmerah Barat No. 29–37
Jakarta 10270
Diterbitkan pertama kali oleh
PT Gramedia Pustaka Utama
Anggota IKAPI, Jakarta 2014
Penyelia naskah
Mirna Yulistianti
Desain sampul
Staven Andersen
Copy editor
Rabiatul Adawiyah
Setter
Nur Wulan Dari
Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang
Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini
tanpa izin tertulis dari Penerbit
www.gramediapustakautama.com
ISBN 978-602-03-1410-5
Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta
Isi di luar tanggung jawab Percetakan
http://facebook.com/indonesiapustaka Daftar Isi 1
11
1. Ode untuk Jangkrik 20
2. Nonik 29
3. Nenek Hijau 35
4. Tulah 45
5. Telepon 54
6. Ah Kauw 62
7. Lelaki di Rumah Seberang 72
8. Keretamu Tak Berhenti Lama 81
9. Rumah Duka 88
10. Foto Ibu 96
11. Bau Laut 107
12. Pacar Putri Duyung
13. Bastian dan Jamur Ajaib 123
124
Sejarah Publikasi
Tentang Penulis
v
http://facebook.com/indonesiapustaka
http://facebook.com/indonesiapustaka Ode untuk Jangkrik
ALDI, sebagaimana anak laki-laki kecil lainnya di daerah Jawa
Tengah, dipanggil “Tole” oleh orangtuanya. Dan, sebagaimana
semua anak laki-laki seumurannya, ia hobi adu kelereng. Tetapi,
sebagaimana anak laki-laki di sekitarnya pula, akhir-akhir ini ia
menyimpan kelerengnya rapi-rapi di sebuah kotak kaleng biskuit
yang Idul Fitri lalu isinya sudah habis dimakan.
Entah siapa yang memulai, yang pasti tiba-tiba anak-anak
yang tinggal di perkampungan tak jauh dari Sungai Bengawan
Solo itu, mulai memelihara jangkrik. Mereka tidak membelinya
di pasar, tidak… sebab ini bukan jangkrik pakan burung yang
biasa jadi umpan hidup kaum unggas. Mereka mencarinya di
daerah sawah, di sekitar alang-alang yang tinggi, atau di mana
pun yang kira-kira terdengar suara krik-krik-krik. Pendengaran
mereka jadi tajam, sebab itulah cara jitu menangkap jangkrik.
Aldi sudah cukup mahir, begitu ia mendengar suara krik-krik-
krik, radar telinganya seolah-olah menyala. Memberi tahu sum-
ber suara, lalu ia mengendap-endap dan… hap! Lalu ditangkap.
Ia menggunakan sebuah gelas plastik dan piring kecil ceper un-
tuk menangkapnya. Sebetulnya ia juga bisa menangkap jangkrik
dengan tangan kosong. Tapi ia berhati-hati tak ingin meremas
jangkrik tangkapannya. Bisa-bisa sebelum jadi juara, jangkrik-
nya malah jadi gepeng bak emping.
Ada dua jenis jangkrik yang diincar semua anak seusianya,
jeliteng dan jelabang. Jeliteng adalah jangkrik yang berwarna
1
http://facebook.com/indonesiapustaka hitam, sedang jelabang adalah jangkrik yang berwarna merah.
Keduanya adalah jangkrik petarung. Selain dua jenis itu, jang-
krik yang umumnya berwarna kehijauan, atau cokelat muda
transparan, lebih baik dilepaskan karena bagaimanapun jika
diadu, pasti kalah.
Pagi sebelum bengkel dibuka, Bapak seperti biasa menunai-
kan tugas rutinnya; memberi makan dan memandikan unggas-
unggasnya. Tak sengaja Bapak, menemukan potongan bambu
yang ujungnya disumpal dengan alang-alang kering di kamar
Aldi. Disangkanya, itu bambu jangkrik miliknya. Maklum,
Bapak memang hobi memelihara burung. Ada tiga ekor kacer
yang cerewet berkicau, dua ekor burung berpantan kuning yang
Aldi tak tahu namanya, dan seekor ayam di kurungan. Tiap pagi
rumah mereka semarak dibangunkan oleh burung-burung yang
cicit-cuit, protes minta sarapan. Belum lagi ayamnya yang me-
mang seperti jam beker, selalu berkokok pada jam yang sama
setiap pagi. Setiap hari Minggu, Bapak selalu menyempatkan
diri ke pasar burung naik sepeda ontel untuk beli kroto dan
jangkrik buat pakan. Hampir saja, jangkrik hasil tangkapan Aldi
jadi sate untuk burung kalau ia tidak ribut mencari-cari bambu
jangkriknya.
“Oalah Le, ini punyamu toh?” tanya Bapak memastikan sam-
bil mengembalikan bambu jangkrik kepada Aldi.
“Sudah ada yang dikasih ke burung belum?” Aldi panik,
membuka tutup bambu dan memeriksa jangkrik-jangkriknya. Ia
hitung satu-satu. Masih utuh.
“Belum,” jawab Bapak. Aldi tetap protes. Ia menunjuk ke
bambu jangkrik milik bapaknya. “Ta’ kira itu punya Bapak, kok
ada di kamarmu. Buat apa toh Le? Kamu mau pelihara burung?”
2
http://facebook.com/indonesiapustaka “Bukan, ini jangkrik aku sendiri yang nyari. Bukan buat pa-
kan. Ini buat diadu.”
Ibu yang kebetulan lewat tak sengaja mendengar percakapan
ayah dan anak itu, ikut komentar, “Le, jangan suka ngadu-ngadu
hewan. Kasihan. Nanti jangkriknya nangis.”
“Mana bisa jangkrik nangis?” sergah Aldi.
“Ya bisa. Nasi saja kalau ndak dihabiskan bisa nangis, apa-
lagi jangkrik.”
Sebetulnya Aldi ingin membantah ibunya. Apalagi karena
selama ini ia tak bisa mendengar suara tangis nasi yang tak
dihabiskannya saat makan. Tapi ia tak sampai hati melawan,
maka ia diam saja. Ia mengangguk-angguk saja, pura-pura nurut
lalu berlalu dari orangtuanya sambil membawa bambu jangkrik
miliknya. Hari ini ia punya rencana untuk bertarung jangkrik
dengan teman-teman sebayanya sepulang sekolah. Kabar-kabar
mengatakan, Indro punya jangkrik andalan baru. Aldi penasar-
an, ingin lihat seberapa hebat.
Indro punya jelabang yang ukurannya sebesar jempol. Perka-
sa untuk ukuran jangkrik. Katanya, yang menemukan kakaknya
Indro, Mbak Indri. Gadis malang yang masih SMP itu berteriak
histeris ketika jelabang lompat ke arahnya. Menclok di rambut-
nya yang bergelombang, memaksanya jingkrak-jingkrak seperti
tarian orang Irian. Ia ketakutan sambil mengacak-acak rambut-
nya, berusaha menyingkirkan jelabang dari kepalanya.
Awalnya, Indri risih dengan suara jangkrik yang ribut teruta-
ma ketika hari menjelang malam. Membuatnya terganggu dan
tak bisa tidur. Gadis itu tahu, jangkrik itu pasti bersembunyi
mungkin di bawah kasur atau lemari atau meja belajarnya.
Maka ia merogoh-rogoh kolong barang-barang kamarnya de-
3
http://facebook.com/indonesiapustaka ngan sapu ijuk dan menemukan makhluk itu lompat ke arahnya.
Disangkanya itu kecoak, sebab saking besarnya. Indri sangat
takut dengan kecoak. Ia bisa lompat ke atas meja begitu melihat
kecoak. Indri lebih takut lagi ketika tahu bahwa kecoak bisa
terbang. Ini berarti ia bisa menempel seenak sayapnya sendiri.
Demi mengira jangkrik itu kecoak, maka histerislah Indri. Indro
yang melihat kakaknya begitu, langsung menyuruhnya tenang
dan… hap! Lalu ditangkaplah kecoak jadi-jadian itu. Spontan,
betapa senangnya Indro sebab makhluk yang menempel di ram-
but kakaknya adalah jelabang sebesar jempolnya. Itu cerita versi
Indro tentang jelabang andalannya. Cerita versi mbakyunya,
Indri, beda lagi; ia bilang, ia tak histeris dan dengan anggun
nan gagah berani bak kesatria wanita, ia sendirilah yang hendak
menangkap jangkrik itu. Tapi karena mencloknya di belakang
kepala, maka ia minta bantuan adiknya. Mana pun yang benar,
yang pasti Indro punya jelabang andalan baru. Itu intinya.
Sebelum berangkat sekolah, seperti biasa Aldi cium tangan
bapak-ibunya. Di dalam tas ia bawa bambu jangkrik ke sekolah.
“Balik dari sekolah, pulang dulu kalau mau main!” ujar ibunya.
Aldi mengiyakan singkat.
Siang itu, ketika matahari setinggi unyeng-unyeng, dan cuaca
membuat malas semua orang, sekelompok anak justru bersema-
ngat. Mereka siap dengan senjatanya masing-masing: jangkrik.
“Siap?”
“Siap!”
“Satu… dua….” Lalu diadulah jangkrik-jangkrik andalan
mereka.
Di hari-hari biasa, jangkrik diberi makan dedaunan. Tapi
untuk membuat jangkrik makin ganas, minimal tiga hari hingga
4
http://facebook.com/indonesiapustaka satu minggu sebelum diadu, jangkrik diberi makan cabai. Ini
adalah semacam ritual; anak-anak itu mengambil cabai milik
ibu mereka di dapur. Atau kalau kebetulan ada tetangga yang
punya pohonnya yang sedang berbuah, dari pohon itulah mere-
ka memetik, lebih tepatnya lagi; mencuri. Biasanya, kalau satu
anak tahu ada tetangga yang punya pohon cabai (apalagi dita-
nam di pot halaman rumah dan mudah dijangkau tangan), maka
semua anak juga akan tahu. Membuat si empunya tanaman
bingung dengan raibnya cabai yang akan dipanen.
Anak-anak itu tak akan pulang sebelum diusir orang dewasa
yang kebetulan lewat untuk ke masjid ketika magrib menjelang,
menyuruh mereka bubaran sambil menakut-nakuti; demit kali
suka keluar ketika azan magrib dikumandangkan. Sampai di
rumah, sudah tentu mereka kena marah. Ibunya mengomel,
mencium aroma tubuh mereka yang bau matahari, serta dekil
yang menempel di baju. Sore itu Aldi pulang dengan kekalahan.
Jelabang miliknya (yang jelas-jelas tidak sebesar ibu jari) menja-
di cacat dan kalah di tangan jelabang milik Indro.
Menjelang tidur, Aldi menatap langit-langit kamarnya, me-
nyesali kekalahannya dan kesialannya. Kenapa bukan dia yang
mendapat jelabang sebesar ibu jari? Kenapa harus Indro? Ini
sungguh mengesalkan. Dalam adu kelereng, Aldi bisa menga-
lahkan Indro. Tapi tidak kali ini. Dalam pertarungan jangkrik,
80% kemenangan tergantung pada jangkrik, 10% pada pemilik
jangkrik yang merawatnya, dan 10% lagi terletak pada keberun-
tungan. Berbeda dengan pertarungan kelereng, yang 90% ke-
menangan tergantung pada kecakapan menjentikkan jari untuk
membidik kelereng, dan 10% tergantung pada posisi kelereng
yang dibidik. Selama beberapa hari ke depan, sepulang sekolah,
5
http://facebook.com/indonesiapustaka Aldi berniat mencari jangkrik lagi. Ia akan mengistirahatkan
jangkrik-jangkriknya satu minggu ini. Toh, jangkrik yang tersisa
dari kekalahannya tadi siang juga tak mungkin diadu, ia tak
punya jago.
Beberapa hari Aldi melaksanakan niatnya, ia menemukan
beberapa ekor yang kira-kira berpotensi untuk jadi petarung.
Tapi ia belum puas. Ia masih akan mencari jangkrik terus sam-
pai ketemu yang bisa mengalahkan jelabang milik Indro.
Pagi, Aldi terbangun dengan suara cempreng knalpot mo-
tor yang mengganggu. Jam berapa ini? Aldi menengok jam
di dinding kamarnya. Baru jam lima lewat. Siapa yang ribut
pagi-pagi begini? tanyanya pada diri sendiri. Tahi matanya ma-
sih menempel ketika ia melongok ke luar. Ada empat motor
yang antre di depan rumahnya. Bapak bahkan belum memberi
makan dan memandikan unggas-unggasnya. Ayam peliharaan
Bapak berkokok keras-keras bukan ingin membangunkan tu-
annya, melainkan karena protes suara knalpot membangunkan
tidurnya. Tak mungkin Aldi tidur lagi dengan suara ribut begitu.
Ia memutuskan untuk mandi.
Ibu yang sedang menanak nasi heran melihat Aldi berja-
lan ke kamar mandi sambil membawa handuk. “Rajin amat?
Tumben kamu mandi jam segini. Biasanya Ibu harus menarik
selimutmu dulu, baru bangun.”
“Itu rame-rame di luar kenapa sih Bu?”
“Oo, itu yang pada mau kampanye. Kan hari ini mulai, buat
PEMILU. Yo wes, mandi sana!”
Jam menunjukkan pukul enam pagi, Aldi sudah siap dengan
seragamnya. Di luar, Bapak masih sibuk melayani orang-orang
yang mau memotong knalpotnya untuk ikut kampanye.
“Aku berangkat ya Bu.”
6
http://facebook.com/indonesiapustaka “Sekarang? Pagi banget.”
“Daripada di sini ribut.” Aldi lalu mencium tangan Ibunya.
“Pulang sekolah balik ke rumah dulu ya kalau mau main!”
sekali lagi Ibu berpesan hal yang sama.
“Iya.” Lalu Aldi berpamitan pada bapaknya yang masih si-
buk. Sekelompok pemuda dengan kaos warna merah dan atribut
bergambar banteng menunggu motornya yang masih digarap
Bapak dengan sabar.
Aldi berjalan lambat-lambat ke sekolah. Hari masih terlalu
pagi, pasti masih sepi. Jangan-jangan pagar sekolah pun belum
dibuka. Pucuk daun masih basah dengan embun. Dan suara
jangkrik bernyanyi di antara tanaman pinggir jalan. Eh, suara
jangkrik! Tiba-tiba Aldi tersadar. Ya, hari masih pagi, kenapa
ia harus cepat-cepat berangkat sekolah kalau ada kesempatan
untuk cari jangkrik dulu. Ia mulai mengendap-endap, mena-
jamkan telinga. Di sebelah kirinya. Ya, dia yakin itu. Pasti di
balik tanaman pagar itu. Aldi menyibak, suara jangkrik yang
tadinya terdengar mantap tiba-tiba diam. Dia tahu, jangkrik itu
pasti merasa sedang diawasi. Tapi di sudut matanya Aldi sudah
melihat sekilas makluk itu. Ya ampun! Itu jeliteng. Hitam, dan…
besar. Meski tak sebesar ibu jari. Aldi berhati-hati, dan… hap!
Kena! Jangkrik hitam yang gagah terkurung di cekung telapak
tangannya, berusaha jangan meremasnya. Segera ia keluarkan
bambu dari dalam tas, disimpannya jangkrik itu. Dia girang
bukan kepalang. Langkahnya menuju sekolah serasa melayang.
Ketika jam istirahat tiba, Aldi ke lapangan belakang seko-
lah. Ia membuka bambunya untuk melihat keadaan jangkrik
tangkapannya. Betapa heran ia, mendapati tiga jangkrik yang
ditaruh di dalam bambu yang sama sudah tewas. Ada yang ka-
kinya putus, ada pula yang sayapnya putus. Yang tersisa hanya
7
http://facebook.com/indonesiapustaka jeliteng temuannya tadi pagi. Aldi semakin girang. Ini dia, ini
dia… jagoannya! Ia yakin, lawan jelabang milik Indro pasti akan
menang. Lagi pula, siapa pun tahu, sebetulnya jelabang itu ha-
nya sangar ketika awal-awal gebrakannya saja. Sedang jeliteng
lebih mantap dan penuh perhitungan. Aldi yakin, ia pasti akan
menang. Ia menuju ke kantin, minta cabai pada Ibu Kantin
untuk umpan jagoan barunya. Setelah itu, ia menemui Indro,
menantangnya adu jangkrik pulang sekolah nanti.
Ketika pelajaran ketiga selesai, tiba-tiba Ibu Guru mengu-
mumkan, “bereskan buku-buku kalian. Kalian pulang awal…”
belum selesai Ibu Guru mengumumkan, anak-anak sudah ber-
sorak, “…karena hari ini ada kampanye. Takut kalau-kalau ada
kerusuhan, kalian diharapkan langsung pulang dan belajar di
rumah!”
Tentu saja tak ada anak yang belajar di rumah.
Aldi, dengan girang bersama teman-temannya, langsung ke
tempat biasa mereka adu jangkrik. Mereka memuji jeliteng baru
milik Aldi. Benar-benar petarung sejati. Sudah tiga kali lawan
jangkrik petarung milik temannya, jeliteng menang. Lalu tiba
saatnya, Indro mengeluarkan jelabang andalannya. Ketika disan-
dingkan, jelabang milik Indro masih lebih besar dibandingkan
jeliteng milik Aldi. Tapi jeliteng tak kalah perkasa. Awalnya, Aldi
sempat waswas. Jangkrik itu bergerak sangat mantap, sepertinya
gerakannya memang hemat energi. Beda dengan jelabang milik
Indro yang setelah beberapa saat kemudian jadi semakin capek.
Dan akhirnya… jelabang kalah, sayapnya putus, kakinya copot,
sebelah antenanya entah ke mana. Teman-teman Aldi memuji,
bersorak atas kemenangan jagoan baru.
Aldi pulang menjelang jam tiga sore. Ia takut-takut menuju
rumah sebab merasa bersalah. Bagaimana tidak, ia tak pulang
8
http://facebook.com/indonesiapustaka dulu setelah sekolah usai. Tadi sekolah dibubarkan pukul se-
tengah sebelas, dipikirnya, tak akan makan waktu lama untuk
adu jangkrik. Ternyata sampai sore juga. Ibu sudah menunggu
di depan pintu sambil melipat tangannya. Aldi gentar, apalagi
seragamnya dekil. Pasti ketahuan kalau bermain.
“Kamu ke mana saja? Erika, anak tetangga, sudah pulang
dari tadi-tadi. Katanya sekolah pulang cepat. Kamu malah kelu-
yuran!” omel ibunya. Aldi tertunduk tak bisa menjawab. Kedua
tangannya di belakang, ia masih menggenggam bambu jangkrik.
Tiba-tiba, krik-krik-krik…. Aldi tersentak.
“Apa itu?” tanya ibunya, dan jangkrik bersuara lagi. “Kamu
adu jangkrik lagi, ya?” tanya Ibu galak. Aldi menggeleng. “Ka-
sih ke Ibu!” perintah ibunya. Aldi memberikan bambu yang
disembunyikannya. “Kan Ibu sudah bilang, jangan suka ngadu
jangkrik! Sana masuk!” Aldi masuk, sambil berdoa semoga jang-
kriknya tak kenapa-kenapa di tangan ibunya.
Ibu meletakkan bambu jangkrik di dekat pakan burung. Ma-
lamnya Aldi mengendap-endap memberikan cabai untuk ma-
kanan jangkriknya. Ia akan cari cara untuk mengambil bambu
jangkriknya besok pagi. Ia mengingat-ingat, agar jangan tertukar
dengan bambu jangkrik milik ayahnya.
Paginya, ketika ia selesai mandi, dilihatnya ayahnya sedang
memandikan ayam. Ia lihat, bambu miliknya masih ada di situ.
Ia lega. Seperti rencananya, Aldi diam-diam mengambil bam-
bu jangkriknya dan pergi ke sekolah. Seperti kemarin, hari ini
sekolah juga pulang awal karena ada kampanye. Ia berencana,
hanya akan mengadu jangkriknya satu kali agar bisa pulang ke
rumah cepat-cepat. Ia tak mau ibunya murka. Tapi siang itu tak
ada anak yang mau melawan jeliteng. Mereka semua beralasan
9
http://facebook.com/indonesiapustaka ingin mencari jangkrik jagoan dulu untuk dilawan dengan jeli-
teng. Aldi tersenyum kesenangan. Ia melenggang pulang penuh
kemenangan tanpa pertandingan. Di jalan pulang, dibukanya
bambu jangkrik, Aldi hendak memberikan cabai untuk jeliteng.
Dikeluarkannya jangkrik itu, dan betapa terkejutnya Aldi, sebab
isinya bukan jeliteng. Yang di tangannya sama sekali bukan jang-
krik petarung. Ini jangkrik biasa berwarna kecokelatan. Dengan
penasaran ditumpahkannya isi bambu, hanya ada sisa-sisa deda-
unan, tak ada jeliteng.
Aldi lari, dan ia langsung mencari Ibu begitu tiba di rumah.
Dengan air mata mulai meleleh di pipi, Aldi menumpahkan
kekesalannya pada Ibu yang tak langsung mengerti apa yang
terjadi. Di antara sesenggukannya, Aldi menjelaskan bahwa
jangkriknya raib.
“Ibu ndak ngambil jangkrikmu, sumpah! Wong cuma Ibu
taruh di dekat kroto saja!” ujar ibunya.
Bapak yang mendengar ribut-ribut langsung menemui Aldi
dan Ibu, “ada apa toh?” tanyanya. Aldi sekali lagi menjelaskan
perihal jangkriknya yang hilang.
“Oo… tadi ndak sengaja waktu Bapak kasih makan ayam,
yang Bapak kasih jangkrikmu. Tapi kan sudah Bapak ganti, satu
ekor toh?” kata Bapak dengan lugu. Aldi langsung teriak histeris.
Ia tak percaya pendengarannya.
Selama beberapa hari Aldi tak mau bicara pada orangtua-
nya. Selama beberapa hari pula ketika ada lawan tanding yang
mengajak adu jangkrik, Aldi berdalih sedang mengistirahatkan
jeliteng. Dan, selama beberapa hari yang bersamaan dengan
ngambek-nya yang berkepanjangan, ia memandang benci pada
ayam peliharaan Bapak.
10
http://facebook.com/indonesiapustaka Nonik
AIDA tak pernah menyangka, episode hidupnya bakal seperti
adegan ilm Hollywood: sebuah lampu 7 watt menggantung,
bergoyang-goyang di dalam sarangnya hingga hanya menerangi
meja yang di atasnya ada sebuah tape. Kaset berpita itu terus
berputar, seolah menghipnotisnya untuk mengaku. Mengaku?
Mengaku apa? Aida senyatanya tak tahu apa-apa. Tapi toh, pe-
tugas polisi yang berpakaian preman itu tetap mencecarnya de-
ngan pertanyaan-pertanyaan yang seolah tak berujung. Nonik.
Nonik. Nonik. Nama itu terus disebut-sebut dalam dialog yang
tak bisa dibilang beramah-tamah itu.
“Sejak kapan kamu kenal Nonik?”
Ketika itu Aida sedang berdiri di halte bus, jam di tangannya
menunjukkan pukul 11:12. Aida memutuskan, seperempat jam
lagi bus yang ditunggunya tak juga muncul, ia terpaksa meng-
hentikan taksi agar tak terlambat ujian di kampus. Tapi tiba-tiba
sebuah sedan berhenti di depannya, kacanya turun, dan wajah
seorang gadis nongol di situ. Nonik Malika Marten. Ketika itu
Aida belum tahu namanya.
“Lo anak Unkris, kan?”
“Iya.”
“Yuk bareng.” Aida tak lantas naik, ia ragu. “Mau ngampus,
kan?” Aida mengangguk. “Gue juga. Yuk!” Nadanya setengah
memaksa. Aida masuk ke mobil yang kemudian melaju ke satu
11
http://facebook.com/indonesiapustaka tujuan yang sama. Itulah perkenalan mereka. Nonik berkuliah di
fakultas yang sama dengan Aida, Komunikasi. Tetapi jurusannya
berbeda. Mereka tak pernah satu kelas. Tapi sejak itu kedua-
nya jadi akrab. Nonik ternyata tinggal di kompleks perumahan
orang-orang kaya yang letaknya di depan kampung tempat Aida
tinggal. Dia sering melihat Aida yang pulang dengan bus dan
berhenti di depan kompleks perumahannya. Diam-diam Nonik
berjanji pada diri sendiri, jika ada kesempatan ia akan mengajak
Aida berangkat bersama.
Rumah Aida kecil, masuk gang. Rumahnya tentu saja sisa-sisa
dari perkampungan khas Betawi yang sebenarnya luas, tetapi
tandas dijual ke pengembang yang lantas membangun peru-
mahan mewah. Sebuah pagar tinggi membatasi antara kampung
dan perumahan. Di satu sudut yang tertutup pohon pisang di
pinggiran tembok pembatas itu, ada bagian yang dijebol orang
kampung. Gunanya, agar orang kampung punya jalan pintas
jika ingin ke jalan raya. Jika tidak begitu, mereka harus berputar,
dan itu berarti jauh.
Rumah Nonik besar sekali. Bisa dibilang, rumahnya adalah
salah satu yang paling mewah di antara rumah-rumah mewah
di kompleks itu. Pagarnya putih, catnya putih, pintu masuknya
besar dengan gagang keemasan berukir. Aida teringat dongeng
tentang istana yang dihuni putri raja di dalamnya. Nonik adalah
putri raja itu. Aida bertanya dalam hati, kapan ia bakal bisa
membangun rumah sebesar itu?
Nonik ibarat putri cantik nan baik hati yang tak membeda-
bedakan rakyatnya yang jelata. Diajaknya Aida pergi jalan-jalan.
Ke Puncak, ke Bandung, ke kelab-kelab malam. Nonik bahkan
berjanji akan mengajaknya jalan-jalan ke Malaysia.
12
http://facebook.com/indonesiapustaka “Ke kelab malam aja lo yang bayarin. Mana sanggup gue
jalan ke Malaysia.”
“Tenang… lo pokoknya bikin paspor aja!” ujar Nonik.
“Ke kelab malam? Kalian terlibat narkoba?”
Keringat Aida serasa diperas, kakinya tiba-tiba kesemutan,
tenggorokannya kering. Petugas polisi itu lalu menyodorkan
segelas air. Aida meneguknya sekali. Kerongkongannya terasa
menyempit ketika air itu melewatinya. Aida menggeleng, lalu
mengangguk, dan menggeleng lagi. Petugas polisi itu menggeb-
rak meja, lantas dengan kasar menyuruh Aida mengingat-ingat:
yang benar, pernah terlibat narkoba atau tidak?
“Saya tahu Nonik pernah membeli pil di kelab malam. Tapi
demi Tuhan, saya tidak pernah mencicipinya.” Meski dalam hati
Aida menyesali karena pernah sekali mencoba mengisap ganja
yang diselipkan dalam lintingan campuran tembakau. Itu juga
setelah Nonik mengejeknya sebagai ‘anak baik-baik’.
Nonik selalu menyebutnya Si Penjaga Moral, jika ia sedang
tinggi dengan teman-temannya. Senyatanya, Aida memang
pantas disebut demikian. Dialah yang menyingkirkan Nonik
jauh-jauh dari teman-teman laki-lakinya jika mereka mulai
grepek-grepek Nonik. Dia juga yang mengangkat Nonik jika
terkapar tak sadarkan diri di toilet kelab malam setelah mun-
tah-muntah. Aida pun yang memanggilkan taksi dan mengantar
Nonik pulang, lalu dengan susah payah menariknya sampai ke
tempat tidurnya. Aida menjaga Nonik sedemikian rupa, karena
bagi Aida, Nonik adalah gadis kaya yang sedang bingung harus
diapakan uangnya yang banyak itu.
Nonik tinggal di rumahnya yang besar itu bersama mamah-
nya. Saking besarnya, Nonik tak pernah ketahuan pulang-pulang
13
http://facebook.com/indonesiapustaka mabuk. Kamarnya berada di sayap kanan rumah, sementara ma-
mahnya di sayap kiri.
“Aida… Aida… lo baik banget sih. Gue udah abis jadi pe-
lacur kali kalo lo enggak ada pas gue teler gini. Lo ngingetin
gue ama diri gue yang dulu. Anak baik-baik.” Lalu Nonik tepar
setelah berceloteh demikian. Ia baru akan terbangun besok sore
jika malamnya mabuk seperti itu. Aida sudah terbiasa dengan
keadaan Nonik yang seperti itu.
Mamah Nonik adalah perempuan pendiam dengan gaya
aristokrat yang cuma mengangguk kecil dengan senyum tertahan
jika bertemu Aida. Kata Nonik, mamanya senang ia berteman
dengan Aida, sebab Aida perempuan. Ia tak suka melihat Nonik
bergaul dengan laki-laki. Ibunya juga kerap mengingatkannya
untuk mengunjungi Opa Pierre di rumah atau di rumah sakit,
jika kebetulan sedang dirawat. Menurut mamahnya, Nonik harus
membuat Opa Pierre senang sebab dia adalah trust fund baby,
alias keturunan yang mendapat dana perwalian. Dari situlah
kekayaan mereka berasal, meskipun Aida tak pernah tanya apa
sebenarnya bisnis Opa Pierre.
“Kamu pernah ketemu dengan Opa Pierre?”
Setelah beberapa kali mamahnya menegur Nonik di depan
Aida agar mengunjungi Opa Pierre, akhirnya Nonik pun menu-
rut. Sore itu Aida dan Nonik ke RSCM, di ruang VIP Opa Pierre
dirawat. Laki-laki itu berkulit putih, dengan bercak-bercak yang
jelas di wajahnya. Rambutnya tinggal beberapa lembar, itu pun
cuma di bagian belakang. Sedang di kepala atas, gundul. Tubuh
Opa Pierre kegemukan, kata dokter ia harus berdiet. Tapi Opa
susah sekali disuruh diet. Dia suka makan makanan enak.
“Hidup kan harus dinikmati, Nik.” Opa Pierre terkekeh.
Nonik duduk di sebelahnya sambil memegang tangan Opa
14
http://facebook.com/indonesiapustaka Pierre, sementara Aida duduk di sofa, menunggui Nonik
kangen-kangenan sama opanya. Aida agak heran, kenapa Nonik
ogah-ogahan menjenguk opanya. Padahal kalau sudah bertemu
seperti sekarang, keduanya terlihat akrab.
Sekali, Nonik minta maaf karena tidak bisa pulang bareng
Aida. Sebagai gantinya, Nonik memberikan uang untuk ongkos
taksi yang kemudian ditolak Aida. Katanya, Opa Pierre akan
menjemputnya, dan mereka akan makan malam bersama kelu-
arga merayakan Opa Pierre yang dinyatakan sembuh oleh dok-
ter. Laki-laki itu tiba di kampus dengan Mercy hitam mengkilat.
Semua mata tertuju ke mobil itu. Kacanya dilapisi ilm gelap,
sehingga tak ada yang tahu siapa di dalamnya jika Opa Pierre
tidak keluar. Sopir membukakan pintu belakang, sebuah tongkat
muncul duluan, disusul sepasang kaki tua yang gendut dan agak
bergetar, kaki Opa Pierre. Nonik menyambut Opa Pierre dengan
girang. Diciumnya tangan lelaki tua itu, lalu pipinya dan kening-
nya yang licin.
“Opa masih ingat Aida kan? Yang waktu itu nemanin Nonik
pas ngejenguk Opa.” Opa Pierre mengangguk-angguk sambil
tersenyum. Aida tak yakin laki-laki itu ingat pada dirinya. Perta-
ma, waktu menjenguk Aida cuma kenalan dan tak berbincang
apa-apa dengannya. Kedua, Opa Pierre pakai kacamata yang
tebalnya satu meter, mana mungkin dia melihat wajah Aida
dengan jelas.
Petugas Polisi tiga kali menanyakan kapan lagi Aida bertemu
Opa Pierre. Ia mengelilingi Aida. Aroma tubuhnya yang masam,
membuat Aida pusing.
“Cuma dua kali itu saya ketemu Opa Pierre, Pak. Sumpah.”
“Kamu dan Nonik jadi ke Malaysia?”
15
http://facebook.com/indonesiapustaka Nonik sudah menyiapkan dua tiket, satu untuknya, satu lagi
untuk Aida. Tiket itu dibelinya begitu Nonik selesai sidang ge-
lar S1-nya. Aida sendiri sudah selesai duluan tiga bulan lalu.
Ia sengaja menunda wisuda demi bisa wisuda bareng Nonik.
Aida juga yang membantu Nonik menyelesaikan skripsinya.
Sebenarnya, Aida tak diizinkan pergi oleh Aep, pacarnya. Tapi
karena itu adalah bulan terakhir Aida melajang, Aep akhirnya
mengizinkannya. Tiga minggu dari hari kepulangan mereka dari
Malaysia, Aida dan Aep akan melangsungkan pernikahan.
Aida melewati koridor-koridor bandara dengan mata berbi-
nar sekaligus kikuk. Serasa ada kupu-kupu terbang di dalam
perut menggelitiknya penuh keriangan. Itu adalah kali pertama
ia naik pesawat. Aida tak pernah menyangka bisa pergi ke luar
negeri. Gratis pula. Untuk liburan, bukan untuk bekerja. Ia ber-
untung sekali bisa berteman baik dengan Nonik. Sesampai di
Kuala Lumpur, seorang laki-laki muda menjemput mereka. Tan-
pa malu-malu, Nonik langsung berhambur menciumi lelaki itu.
“Ichsan.” Demikian lelaki itu memperkenalkan dirinya. Ber-
kulit putih, tampan, dan kelihatan cerdas. Aida harus membuka
telinga lebar-lebar jika berbicara dengan Ichsan, sebab meski
bahasa Indonesia masih nyambung dengan orang Malaysia yang
berbahasa Melayu, tetapi logat dan beberapa kata berbeda dari
bahasa Indonesia.
Nonik mengajak Aida bersenang-senang. “Anggap aja ini
kado kawinan gue buat lo. Tapi bukan buat Aep.” Derai tawa
Nonik mengikuti setelah ia mengatakan kalimat itu. Ya, Aep tak
mungkin diharapkan untuk mampu membiayai bulan madu.
Ia baru lulus kuliah, kerja pun masih dalam masa percobaan,
belum diangkat jadi pegawai. Tapi laki-laki itu tulus dan serius
16
http://facebook.com/indonesiapustaka menyintai Aida, meski ia kadang menunjukkan ketidaksukaan
kedekatan Aida dengan Nonik.
Nonik dan Aida berdiam selama enam malam tujuh hari di
Kuala Lumpur. Sesiangan mereka jalan-jalan pelesir kota. Ma-
lamnya beristirahat di hotel. Dari total enam malam itu, Nonik
cuma tinggal satu malam di kamar hotel mereka. Sisanya, Nonik
lebih memilih bobok bareng Ichsan.
“Lo enggak takut hamil?”
“Kalo hamil ya udah… kebetulan. Gue juga pengin punya
anak dari Ichsan,” Nonik menjawab ringan.
“Cinta emang buta ya.”
“Cinta enggak buta, Da. Yang buta itu uang!” Derai tawa
Nonik terdengar renyah. Aida juga tertawa, meski sebenarnya ia
masih mencoba mencerna kalimat Nonik.
Nonik nangis-nangis ketika berpisah di bandara, tak yakin
kapan akan bisa bertemu lagi dengan Ichsan. Di pesawat pun,
Aida masih berusaha menenangkan Nonik yang belum usai
menangisi perpisahannya. Kelihatannya Nonik cinta mati pada
Ichsan.
“Kapan terakhir kali kamu ketemu Nonik?”
Hari H pernikahan Aida dan Aep dilangsungkan sederha-
na. Nonik berdandan dengan kebaya, sebagai sahabat dekat
mempelai. Dengan senang Nonik membantu Aida menyediakan
apa yang dia butuhkan selama hari pernikahannya. Mulai dari
mengambilkan makan dan minum, mencarikan peniti ketika
mengenakan baju pengantin, sampai akhirnya ikut beres-beres
mengangkut kado dan menyimpankan uang saweran dari teta-
mu.
Aida baru selesai difoto di kamar pengantin bersama Aep
ketika Nonik pamit pulang.
17
http://facebook.com/indonesiapustaka “Gue minggu depan mau ke Malaysia, Da. Keliatannya eng-
gak bakal balik lagi ke Jakarta.”
“Hah?! Serius?”
“Gue iri lihat lo sama Aep, berani memulai keluarga baru,
meskipun kalian enggak punya apa-apa. Gue juga mau kayak
lo.”
“Lo mau kawin? Eh… nikah sama Ichsan?”
Aida mengangguk mantap, “Nanti gue kirimin lo tiket PP
ke Kuala Lumpur kalau tanggal nikah gue udah ix. Tapi jangan
bilang-bilang orang ya kalo gue ke Malaysia.” Nonik memeluk
Aida dan pergi masih dengan kebaya.
Seperti kebanyakan pengantin baru yang betah berlama-lama
di dalam kamar. Aida dan Aep tak segera keluar kamar meski
hari telah benderang. Ia baru keluar pukul satu siang, disam-
but suara-suara kerabat saudaranya yang bersiul-siul menggoda
pasca malam pertama. Aida menyiapkan teh untuk suaminya
ketika tanpa sengaja ia mendengar berita di televisi. Kematian
tragis seorang gadis dan ibunya di rumahnya, ada 12 tusukan di
tubuh Nonik, dan delapan tusukan di tubuh ibunya. Aida seperti
kehilangan kekuatan, teh yang dipegangnya terjatuh. Cangkir
itu menjadi keping. Disebutkan rumah Nonik penuh dengan
ceceran darah, sebab ia tak langsung mati ketika baru beberapa
tusukan, ia sempat menyeret tubuhnya demi melawan mata pi-
sau. Seisi rumah melotot nganga tak percaya melihat foto Nonik
di televisi. Menjelang Maghrib, tiga petugas polisi berpakaian
preman mendatangi Aida. Mereka tak memberi kesempatan
pada Aida untuk menuntaskan salat Maghrib, dan memaksanya
langsung ikut ke kantor untuk diinterogasi.
18
http://facebook.com/indonesiapustaka Aida dilepas keesokan paginya, menjelang Subuh. Aep me-
nunggu semalaman di kantor polisi. Beberapa hari kemudian,
mata Aida masih saja lekat ke televisi setiap berita kriminal
dimulai. Mereka telah menemukan tersangka utamanya, seorang
pejabat komisaris sebuah bank yang diduga adalah suami Nonik
dengan inisial PM. Nonik adalah istri keenam dari lelaki itu.
“PM?” Aida tertegun. Sebuah nama muncul begitu saja di
kepalanya. “Pierre Marten? Opa Pierre!”
Aida memang tak pernah mendengar kabar apa-apa lagi dari
polisi. Ibarat arsip yang terus tertumpuk, berdebu, lalu terlupa-
kan. Berita kematian Nonik tertelan oleh berita-berita kriminal
lain. Aida menata sendiri puzzle kematian sahabatnya. Ada ba-
nyak ‘mungkin’ yang muncul di kepala Aida. Mungkin, ia cuma
gadis yang dijual mamahnya ke Opa Pierre sebagai istri ke-seki-
an agar kehidupan mereka bisa sejahtera, lalu mengaku-aku se-
bagai trust fund baby agar tak dicurigai orang. Nonik tak pernah
menyintai Opa Pierre. Mungkin, cinta sejatinya adalah Ichsan,
dan dengannya ia ingin menghabiskan sisa hidupnya. Mungkin,
Opa Pierre telah mencium rencana Nonik untuk minggat ke
Malaysia. Dan mungkin, Opa Pierre benar menyintainya hingga
ia terbutakan oleh rasa cemburu. Tapi toh Nonik tak pernah
percaya bahwa cinta itu buta.
Cuma uang yang bisa bikin buta.
19
http://facebook.com/indonesiapustaka Nenek Hijau
TERSEBUTLAH Moko, lelaki kecil berusia 12 tahun yang
tanpa sepengetahuan orang telah didatangi Nenek Hijau se-
malam. Padahal ia telah menyalakan lampu, serta menyiapkan
sebuah pentungan dan senter yang diletakkan tepat di sebelah
bantalnya. Bapaknya malam itu berjaga di pos kamling. Saat
Moko setengah tertidur, dan terbawa masuk ke dunia pulau
kapuk, tiba-tiba lampu mati. Padahal ia telah berpesan kepada
seisi rumah untuk tidak mematikan lampu. Di depannya, sosok
Nenek Hijau telah hadir entah dari mana. Pintu kamarnya tak
memperlihatkan tanda-tanda telah dibuka, masih tertutup sem-
purna. Lagipula semua anak seusia Moko selalu mengunci pintu
kamarnya rapat-rapat guna mencegah Nenek Hijau masuk.
Inilah dia, sosok yang ditakutinya. Moko gentar dalam sete-
ngah tidurnya, ia berusaha meraih senter yang tadi diletakkan di
pinggir kasur. Tapi senter itu telah raib, begitu pula pentungan-
nya. Sinar rembulan yang menyelinap dari angin-angin di atas
jendela masuk, jatuh di tubuh sosok yang berdiri di hadapan-
nya. Hijau, itulah yang ia lihat. Sosok hijau tersebut mendekat
dengan tegas sekaligus anggun, sebuah kombinasi bahasa tubuh
yang sulit dipahami anak kecil itu. Lalu, tangannya mulai mera-
ih tubuh Moko yang tak mampu bergerak. Moko bisa merasakan
kulit yang licin dan berbulu menyentuh dirinya.
20
http://facebook.com/indonesiapustaka Dia merasakan sesuatu yang hangat di bawah, sedang ma-
tanya tak bisa beranjak dari wajah berkulit jeruk purut yang
menindihnya. Moko berusaha berontak, tapi ia tak bisa. Ada
perasaan aneh yang menyelip ke hatinya; amarah yang berkobar
berpadu dengan keinginan diam-diam untuk menyuruh sosok
itu meneruskan. Sebab saat itulah Moko tahu, ada puncak yang
hendak dicapai. Sebuah puncak yang Moko tak tahu sebelum-
nya. Puncak di dalam diri masing-masing lelaki yang hanya
bisa dicapai dengan meneruskan, walaupun sebagian hatinya
dibakar amarah.
Moko terbangun dengan perasaan malu yang amat sangat.
Ia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Ke-
pingan-kepingan itu mulai ditatanya. Yang ia tahu, Nenek Hijau
membuatnya begitu capek, maka ia langsung tertidur. Kapan,
lewat mana dan bagaimana Nenek Hijau menghilang dan mem-
buatnya capek? Ia tak tahu.
Moko berusaha menyembunyikan peristiwa itu, tapi akhirnya
ketahuan juga. Ibunya telah menemukan sprainya yang lembap
walaupun Moko sudah berusaha mencuci sendiri sarung dan
celananya. Juga senter yang hilang. Seluruh rumah sedih. Tak
ada lagi masa depan untuk anak lelaki semata wayang mereka,
pikir orangtuanya. Suram, sesuram malam yang datang bersama-
an dengan Nenek Hijau.
Moko pun menjadi anak yang kecil hati. Kelak, seiring ia
bertambah dewasa, tak satu pun perempuan datang melamar-
nya. Bahkan meskipun ia sudah berusaha keras sekolah tinggi,
berprestasi, dan bisa dikatakan wajahnya pun tidak buruk, tetap
tak ada satu pun perempuan yang mau melamarnya. Sementara
itu, Nenek Hijau semakin merajalela, mencari anak-anak lelaki
lainnya.
21
http://facebook.com/indonesiapustaka ***
Ada masa, saat seorang perempuan berwajah jeruk purut,
bertubuh keriput, bahkan berbuntut, menyelinap diam-diam
ke hadapan anak-anak lelaki pada malam-malam tak terduga.
Mereka bilang, perempuan yang tak bisa dibilang cantik itu jan-
da kesepian. Ditinggal pergi suami, tanpa kabar ke mana, pun
tanpa berita di mana kuburnya.
Si Nenek Hijau, begitu mereka menyebutnya. Pasalnya, ia
selalu muncul dengan mengenakan torso berwarna hijau. Seje-
nis kutang yang biasanya dipakai untuk dalaman kebaya. Hanya
saja Nenek Hijau tidak memakai kebaya.
Nenek Hijau menyelinap di antara bayangan pepohonan dan
rumah-rumah penduduk, masuk ke kamar seorang anak perjaka
yang tengah tertidur. Nenek Hijau yang datang mengusiknya di
antara setengah tidur dan setengah melek, telah membuatnya
malu saat terbangun dengan celana atau sarung yang basah.
Anak itu tak akan yakin kejadian itu mimpi. Demikian mema-
lukannya kejadian itu, sebagian anak-anak yang biasanya malas
membantu ibunya pun, saat terbangun pagi-pagi akan berusaha
menjemur kasur, mencuci celana, atau sarungnya.
“Entah, aku tidak memerhatikan apakah ia pakai celana atau
jarik. Lagipula malam itu terlalu gelap, tak kelihatan. Aku hanya
tahu ia menggunakan torso berwarna hijau,” jawab Moko yang
akhirnya mengaku telah didatangi Nenek Hijau semalam, hanya
kepada teman-temannya.
Tak ada seorang anak pun yang memberi jelas bentuk isik
sebenarnya Nenek Hijau. Malam selalu terlalu gelap bagi anak-
anak perjaka tersebut. Kalaupun ada yang menyalakan lampu
22
http://facebook.com/indonesiapustaka atau teplok atau menyiapkan senter di tempat tidurnya, Nenek
Hijau selalu berhasil mematikannya, atau bahkan menghilang-
kan senternya. Jadilah banyak orang yang kehilangan senter,
selain keperjakaan anak-anak lelakinya.
***
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Malam-malam
semakin panjang dan sepi. Ratusan anak-anak perjaka semakin
waswas akan didatangi Nenek Hijau. Para orang tua jauh lebih
cemas lagi setiap kali mendapati bayi yang dilahirkannya lelaki.
Semua berpikir, bagaimana masa depan anak lelaki mereka
terenggut bersamaan dengan keperjakaannya. Khawatir tak ada
gadis yang mau datang melamar anak lelaki mereka dan mem-
biarkan putra-putra kesayangan mereka jadi bujang lapuk yang
tak laku walaupun bertubuh kuat. Bagaimanapun, harga mang-
ga yang telah rompal dimakan ulat takkan seberharga mangga
utuh walaupun keduanya kuning dan ranum.
Anak-anak lelaki mereka menjadi takut tidur sendirian, pa-
dahal di negeri ini adalah kewajiban setiap anak lelaki harus
tidur sendiri, untuk menguji keberanian, untuk kelak melindungi
perempuan pendamping mereka. Itulah inti dari segala lamaran
yang diajukan para perempuan. Maka tak ayal lagi, anak-anak
itu pun mulai berusaha melek sekuat mata mereka di waktu
malam. Ini lebih baik daripada keperjakaan mereka direnggut
oleh Nenek Hijau di dunia antara tidur dan bangun.
Akibatnya, di sekolah anak-anak lelaki semua mengantuk.
Tak bisa mengikuti pelajaran dengan baik, dan banyak pekerjaan
rumah yang tertinggal tak dikerjakan. Nilai-nilai ulangan men-
23
http://facebook.com/indonesiapustaka jadi anjlok dan membuat peringkat rata-rata sekolah menurun.
Para guru, mau tidak mau, memahami alasan murid-murid lelaki
yang tertidur. Ini masalah menjaga kearifan masa depan setiap
individu, dan hak tersebut dilindungi dalam undang-undang
negeri. Namun jika keadaan seperti ini dibiarkan berlarut-larut,
maka masa depan negeri juga akan terancam. Hal ini pun ter-
cantum dalam undang-undang negeri, yang menyatakan bahwa
kepentingan negeri di atas kepentingan pribadi atau golongan.
Ayah Moko, yang merupakan seorang pamong dan meng-
kuatirkan masa depannya, menuntut suatu pertemuan antara
guru, para orangtua serta sesepuh.
“Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak sekalian, sudah saatnya kita me-
lakukan sesuatu terhadap Nenek Hijau,” jelas ayah Moko di
dalam pertemuan tersebut. “Nenek Hijau bukan lagi masalah
perorangan, melainkan telah mengancam masa depan negeri
kita!” lanjutnya dengan nada setengah menghasut.
“Kita jebak dia!”
“Perempuan sundal!”
“Dasar gatel!”
“Digebug saja! Jangan beri ampun!”
“Arak keliling negeri dengan telanjang dada!”
“Hukum rajam!”
“Gantung ia dengan buntutnya sendiri!”
Demikian ujar para orangtua yang terprovokasi dengan ber-
api-api. Lelaki dewasa lebih marah lagi sebab merasa kaumnya
dilecehkan. Mereka berjaga pada malam-malam, di perempat-
an, di pertigaan, di pos kamling, di depan rumah, di depan
kamar anak atau adik lelakinya sambil membawa pentungan,
golok, bahkan bedil.
24
http://facebook.com/indonesiapustaka Dan siangnya, kelompok lelaki dewasa itu membuat sebuah
lubang yang cukup dalam untuk mengubur seonggok tubuh
serta menyiapkan tumpukan kerikil yang dipersiapkan untuk
menghukum Nenek Hijau jika tertangkap kelak. Semua sudah
setuju atas hukum rajam yang wajib ditegakkan.
Tapi Moko, kini ia sudah dewasa dan jatuh cinta kepada seo-
rang gadis, memiliki rencana sendiri menghadapi Nenek Hijau.
***
Hari sudah berganti minggu, dan minggu menjadi bulan, dan
bulan menjadi tahun, perhitungan orang-orang akan usia Nenek
Hijau meleset. Mereka pikir, karena usianya yang konon telah
tua, maka Nenek Hijau akan cepat mati, namun semua salah.
Nenek Hijau panjang umur. Lubang rajam praktis tak terpakai,
malah kini dijadikan tempat pembuangan sampah. Walaupun
Moko dan semua anak lelaki lainnya menjadi dewasa, Nenek
Hijau tetap ada. Datang pada malam-malam, merenggut keper-
jakaan setiap anak lelaki. Kelompok inilah yang menjadi kelom-
pok tersingkir: bujang lapuk tak laku. Mereka mencibir pada
lelaki yang beruntung karena Nenek Hijau tak mendatanginya
saat masih kecil, karenanya kini kelompok lelaki tersebut telah
berbahagia, memiliki keluarga, dipilih oleh perempuan-perem-
puan. Bahkan, para perempuan berebut untuk melamar anak-
anak perjaka walaupun secara isik tidak terlalu bagus.
Moko mengumpulkan anak-anak yang terabaikan tersebut,
beberapa di antaranya beranjak dewasa seperti dirinya.
“Ini tak adil, kita harus melakukan sesuatu,” kata Moko. Ya,
undang-undang negeri telah menyatakan bahwa keadilan ada-
lah salah satu dari hak asasi tiap individu.
25
http://facebook.com/indonesiapustaka “Betul! Bukan salah kita kalau Nenek Hijau mendatangi kita
waktu itu.”
“Ya! Tak ada anak lelaki yang ingin mengalaminya. Mengapa
kita yang dikucilkan?!”
“Tapi bagaimana caranya menghadapi Nenek Hijau? Bahkan
para orangtua tak sanggup menangkapnya.”
Saat itulah Moko mengemukakan gagasannya: “Kita tak perlu
menangkap Nenek Hijau. Masalah kita adalah, para gadis tak
mau melamar karena kita tidak perjaka. Tapi bagaimana jika
semua anak lelaki menjadi tidak perjaka?”
***
Suatu pagi, beredarlah kabar, bahwa semalam tidak hanya satu
anak yang didatangi Nenek Hijau. Sepuluh anak mengaku di-
datangi Nenek Hijau. Ini satu hal yang mengejutkan, karena
Nenek Hijau selama berpuluh-puluh tahun hanya mendatangi
satu anak setiap malam. Lalu hari berikutnya, dua puluh anak
mengaku didatangi Nenek Hijau. Hari berikutnya, tiga puluh
anak mengaku didatangi Nenek Hijau. Setiap malam, sema-
kin banyak anak-anak perjaka menjadi korban. Dan anehnya,
Nenek Hijau yang mendatangi mereka tak lagi sosok nenek-
nenek dengan tubuh berlumut dan wajah penuh keriput serta
berbuntut.
Memang, masih dengan torso berwarna hijau, tetapi sosok
yang datang adalah perempuan muda. Kalaupun tua, bukan ne-
nek-nenek, paling-paling paruh baya. Tidak lagi semenakutkan
dulu. Fenomena baru dan mengherankan muncul bersamaan,
para lelaki yang semalam kedatangan Nenek Hijau pun tak lagi
26
http://facebook.com/indonesiapustaka bercerita dengan tangis histeris. Karena semua lelaki didatangi
Nenek Hijau, maka mereka kini bercerita seadanya, seperti
menceritakan sebuah kabar yang sangat wajar. Bahkan bebera-
pa di antaranya berkesan pamer. Nenek Hijau si nenek-nenek
sedikit demi sedikit tak lagi terdengar di peredaran.
Perempuan-perempuan kini bingung, kepada siapa mereka
akan menjatuhkan pinangannya? Nyaris seluruh lelaki yang
mereka kenal kini telah terenggut keperjakaannya. Ini berarti
kesemuanya mangga rompal.
Selama beberapa tahun, tak terdengar ada yang menikah di
negeri itu. Selama beberapa tahun, para perempuan berkelom-
pok dan mengeluh kesepian. Begitu pula dengan para laki-laki.
Hingga suatu hari, Moko, lelaki yang waktu kecil dulu pernah
didatangi Nenek Hijau, jatuh cinta kepada perempuan yang tak
kunjung menjatuhkan pinangannya. Ia memberanikan diri untuk
datang melamar.
Perempuan itu sebetulnya tak terlalu tertarik, terutama ka-
rena Moko tak lagi perjaka dan usia Moko pun tak lagi muda,
tetapi ini lebih baik daripada tidak bisa melanjutkan keturunan
dan tak ada yang melindungi. Lagi pula Moko tidak buruk.
Dalam sejarah di negeri itu, inilah kali pertama seorang lelaki
meminang perempuan. Lalu, satu-satu para lelaki mulai mem-
beranikan diri. Datang ke rumah perempuan dan meminangnya.
Sebagian perempuan bersedia, sebagian lagi mencibir dan ber-
tahan dengan prinsip tak mau menikah dengan lelaki tak suci.
Perempuan-perempuan yang mencibir ini lantas berkelom-
pok sendiri, mereka tetap ingin berpendamping lelaki perjaka,
meski yang perjaka itu ada dari kaumnya sendiri. Maka di antara
perempuan tersebut, mereka mulai berpasangan sesama jenis
27
http://facebook.com/indonesiapustaka dan saling mencintai. Begitu pula para lelaki yang tidak berha-
sil meminang perempuan pun mulai saling mencintai sesama
kaumnya.
Puluhan tahun berlalu. Nenek Hijau datang dan pergi ke
setiap anak lelaki, tetapi kini tak mesti dengan torso berwarna
hijau, meski begitu tetap disebut sebagai Nenek Hijau. Lalu,
demi menyantunkan sebutan itu, dibuatlah sebuah nama untuk
menandai datangnya Nenek Hijau:
”Mimpi basah,” itu sebutannya. Demikian ia menemukan
istilah itu.
***
28
http://facebook.com/indonesiapustaka Tulah
DARAH Domba di Pintu Budak.
Masuk, Joshua. Jangan kau tonton kematian itu. Biarkan ma-
laikat maut tunaikan tugasnya. Itu sudah menjadi titah emban-
nya. Menyedihkan bukan? Andai terkaruniai akal, tentu malaikat
maut akan menangisi nasibnya. Beremban tugas yang paling
tidak menyenangkan di muka dunia; mencabut nyawa. Ah, tentu
dia akan berpikir sama dengan kita, bahwa dunia ini tak adil
dan keadilan harus diperjuangkan. Seperti kita. Dan seperti aku,
mungkin dia akan jadi pemberontak. Setidaknya mempertanya-
kan ulang cara kerja segala sistem aturan. Seperti kita.
Ayo, lekas tutup pintu, Joshua. Biarkan kematian lewat dan
kita dengarkan jeritan-jeritan para ibu demi malam yang dikutuk
ini, sekaligus malam pembebasan bagi kita sebab anak laki-
laki sulung mereka akan mati. Mulai dari anak sulung domba,
sapi milik mereka, para pengikut hingga anak sulung Firaun.
Lalu mereka akan melihat kebenaran yang sudah lama kugem-
bar-gemborkan namun tak hendak didengarkan. Bithiah sudah
datang pula. Ia kini menjadi salah satu dari kita. Ramses tak sudi
lagi melihat wajahnya karena lebih dari tiga puluh tahun lalu
perempuan itu berbohong pada Raja Mesir, memungutku dari
sungai dan menenggelamkan kotak anyaman jerami yang meng-
apungkanku ke dalamnya padahal perca tua yang membung-
kusku adalah kain budak. Dan aku tak hendak melepaskannya
sebagai jubahku kini. Sekarang dan nanti.
29
http://facebook.com/indonesiapustaka Kau sudah mengoleskan darah domba itu di pintu-pintu
kediaman budak, Joshua? Telah Tuhan titahkan padaku, dan
kuwartakan padamu untuk mencelupkan seikat hisop dalam
darah yang ada pada sebuah pasu. Darah dari anak domba
saat Paskah. Darah itu harus kamu sapukan pada ambang atas
dan pada kedua tiang pintu; seorang pun dari kamu tidak boleh
keluar pintu rumahnya sampai pagi. Aku tahu, kau pasti tak
kan melewatkan satu pintu budak pun. Kau juga telah memberi
tahu para orang tua keturunan budak untuk mengoleskan darah
domba, bukan? Kau pasti telah memagari rumah-rumah budak
dari kedatangan malaikat maut. Ini akan jadi malam yang sibuk
bagi malaikat maut. Apabila ia melihat darah pada ambang pin-
tumu, maka akan dilewati pintu itu. Pemusnah tak akan masuk
ke dalam pintumu dan menulahi.
Kita harus menunggu dengan cemas sambil mencicip makan
malam ini. Mencoba berpura-pura menikmati daging dan roti
tak beragi, padahal malam ini tak lain adalah cekam. Tuhan
tengah merayakan Paskah bagi dirinya sendiri malam ini. Li-
hat, kita bahkan berbondong-bondong menghadiri pesta-Nya,
dengan pinggang berikat, kasut di kaki serta tongkat di tangan.
Habiskan daging ini malam ini juga, yang dibakar dan dihidang
dengan sayur pahit. Tak kita rebus pula sayur ini. Dan jika pagi
tiba namun sajian masih bersisa, haruslah kita tak meninggalkan
apa-apa dari daging ini. Maka kita bakar dengan api hingga
habis. Dengar… jeritan-jeritan para perempuan lamat-lamat
melengking mendapati anak laki-lakinya tiba-tiba terkulai tanpa
nyawa. Malaikat maut menyisakan hanya raga nan alpa.
Ingatlah, Joshua! Malam ini seluruh raya akan mencatat
hingga tak terhingga waktunya. Bahwa Firaun sendirilah yang
30
http://facebook.com/indonesiapustaka telah menjatuhkan kutuk untuk pengikutnya. Duhai, Tuhan tak
jua kunjung membuka hatinya. Lihatlah, ia akan mati dalam
kesia-siaan. Dia tak lain adalah makhluk alpa. Tak berhenti ia
mengaku bahwa dirinya adalah Ia. Padahal tak lain dirinya ada-
lah sama dengan kita. Hayati. Dan tak ada hayati yang cukup
tinggi untuk mengaku bahwa dirinya adalah jauh di atas orang
lain apalagi sebagai penentu sebuah kematian. Tak ada. Dan
kau lihat Joshua, apa yang terjadi kini? Kesombongan telah
membawa seluruh putra sulung pengikutnya menjadi tak lebih
dari mayat. Kita akan memegang ini sebagai ketetapan sampai
selama-lamanya bagi kita dan bagi anak-anak kita.
Ketika Firaun terpuruk dalam kesendirian dan kesedihan
kehilangan putra mahkotanya, saat itulah kita semua pergi.
Para perempuan berjalan mendekap adonan-adonan, yang tak
sempat diragi. Itulah bekal kita menuju negeri bernama Kanaan.
Di perjalanan para perempuan membakar adonan-adonan itu
menjadi roti bundar. Roti yang keras, namun Tuhan menjadikan
roti-roti tak beragi itu suci. Pun menjanjikan pada kita tiba di
suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu. Aku sendiri
bertanya-tanya; apakah itu untuk menghibur lelah perjalanan
kita, atau memang Ia sudah berencana.
Kuberi tahu sesuatu, Joshua; kita takkan melewati Filistin,
meski jalan itu yang paling dekat, melainkan berputar melalui
jalan di padang gurun menuju Laut Teberau. Percayalah, Tu-
han berjalan bersama kita; siang hari dalam tiang awan untuk
menuntun perjalanan dan malam hari dalam tiang api untuk
menerangi pandangan kita.
Aku, Laut Belah.
Namanya Miryam. Aku mengenalnya saat ia mengambil
rebana dan semua perempuan mengikutinya memukul rebana
31
http://facebook.com/indonesiapustaka serta menari-nari. Mereka bernyanyi, sebuah lagu panjang yang
syairnya tak putus seperti lingkar. Ombakku bernyanyi di kunci
F, saat Miryam dan para perempuan itu bernyanyi di kunci G.
Aku ikut girang hingga tubuhku penuh gelombang.
Orang-orang menyebutku Teberau. Tapi aku memanggil di-
riku sendiri Si Laut Belah. Kuceritakan padamu, kenapa aku
memberi julukan itu pada diriku sendiri. Masih segar dalam
ingatanku, hari itulah aku mengenal Miryam, perempuan yang
mendekap buntalan berisi roti tak beragi dan selingkar rebana.
Ketika itu hari tenang. Tak ada Badai, temanku yang kadang
berkunjung. Langit pun cerah, yang ada hanya langit terang ke-
hijauan, saat sekelompok orang berbondong-bondong eksodus.
Wajah mereka kebingungan dan salah satu dari mereka berte-
riak dengan marah, “Apakah kamu akan menjadikan lelaut ini
sebagai kubur kami, Musa?”
“Musa, bagaimana kita akan melewati laut? Sementara Firaun
menyusul kita?” bisik perempuan cantik dengan mata kehijauan.
Wajahnya ketakutan.
Lelaki yang dipanggil Musa itu berbisik pada perempuan ber-
mata kehijauan, “jangan takut Miryam,” Ooo… Miryam nama
perempuan itu. Lalu Musa berteriak, “Tuhan akan berperang
untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”
Saat itulah aku mendengar gemuruh yang lain, berbondong-
bondong dengan kuda-kuda gagah dan kereta-kereta perang
indah menyusul kelompok eksodus yang berada di bibirku. Lan-
tas…—ehm, sebelumnya aku akan memperingatimu, bahwa ce-
rita yang akan kukatakan berikut mungkin tak bisa kau percaya.
Tetapi aku bersumpah atas nama seluruh ikan yang hidup di da-
lam tubuhku, bahwa aku berkata jujur. Sampai di mana aku tadi
cerita? O ya….—lantas, lelaki yang disebut Musa itu mengang-
32
http://facebook.com/indonesiapustaka kat tongkatnya dan menepuk tongkat itu keras-keras ke tubuhku.
(Sungguh, aku kerap dilempari batu-batu oleh anak-anak yang
piknik di bibir pantaiku, kerap pula digilas kapal-kapal yang
begitu besar, hingga disambangi temanku Badai yang kurang
ajar berputar-putar, tapi tak pernah kurasakan tubuhku sesakit
kali itu.) Kali ketika Musa memukul tongkatnya ke tubuhku, aku
bergidik, ngeri. Kupandangi wajahnya, ada pancaran karisma
yang tak pernah kulihat sebelumnya pada orang-orang yang per-
nah mengunjungiku. Lalu kuputuskan untuk memberinya ruang
untuk berjalan. Ia dan Miryam, dan orang-orang rombongannya.
Itu adalah kali pertama aku memberi jalan bagi orang. Dan
kukatakan padamu, jika kau mau coba-coba mengacungkan
sebilah tongkat lalu memukulkannya ke tubuhku, takkan aku
beri jalan. Lagipula, jika terus kuberi jalan, apa guna kapal-
kapal yang berlayar di tubuhku? Kecuali jika kau bisa memukul
tongkat itu sekeras Musa memukulnya padaku waktu itu.
Ketika rombongan eksodus itu telah sampai di seberang,
Musa kembali memukul tongkatnya dengan keras. Aku kembali
gentar, pukulan itu seperti hipnotis buatku. Seakan aku dipe-
rintah untuk menutup ruang jalan yang tadi kubuka, kupenuhi
kembali dengan air. Tak peduli sekelompok pasukan berkuda
gagah masih di tengah-tengah tubuhku. Kulahap mereka hingga
ke pecut-pecutnya. Jika kau tak percaya, selami aku dan carilah
bangkai kuda-kuda, juga para prajurit, yang masih menyatu de-
ngan kereta-kereta tempur yang mahal. Itu adalah harta karun
yang tak hanya dicari para bajak laut, tetapi juga para arkeolog
dan sejarawan!
Tepat ketika aku menutup tubuhku itulah, kelompok eksodus
yang sudah berada di seberang bersorak-sorai. Dan perempuan
33
http://facebook.com/indonesiapustaka itu, Miryam, mengambil rebana lalu bernyanyi sebuah lagu pan-
jang yang syairnya tak putus seperti lingkar. Ombakku bernyanyi
di kunci F, saat Miryam dan para perempuan itu bernyanyi di
kunci G. Matanya… aku tak akan lupa, warnanya cerah kehi-
jauan seperti langit hari itu.
34
http://facebook.com/indonesiapustaka Telepon
KRIII...NG...!
Aku benci suara itu. Anggit membatin. Gadis berusia 17
tahun itu tersentak dengan suara telepon yang berdering ke-
ras. Mengagetkan dan sungguh tak menarik memang. Konon,
Alexander Graham Bell, sang penemu pun benci suara itu.
Biasanya setelah suara kring yang bising itu, akan disambung
dengan suara teriakan yang tak kalah berisik, “Anggiiit… tele-
pon!” Gadis itu terpaksa beranjak, keluar dari kamar menuju ke
ruangan bawah. Padahal ia hampir saja terlelap.
“Siapa?”
“Tauk.” Adik laki-lakinya menjawab acuh tak acuh. Anggit
hanya melirik, lalu menempelkan gagang telepon ke telinganya.
“Halo,” sapanya.
***
Ceklik. Tut tut tut, tut tut tut.
Dia memencet enam angka yang sudah di luar kepala. Aku
sudah sediakan banyak receh. Krisna bahkan diam-diam me-
mecahkan celengan ayam jago milik adiknya. Akhir-akhir ini
dia merasa betapa sedikit koin yang ada di dunia ini, sejak dua
hari yang lalu dia sudah kehabisan koin maka itu dia sengaja
mengambil celengan ayam tersebut. Dia tak mau nyawa telepon
koin tiba-tiba putus di tengah-tengah sebab kehabisan receh.
35
http://facebook.com/indonesiapustaka Padahal maksud yang sesungguhnya belum diungkap sepenuh-
nya, bukan karena urusan pembicaraan yang panjang, tetapi
karena ia butuh waktu untuk mengumpulkan keberanian guna
mengungkapkan maksud hati yang terdalam. Akibatnya, waktu
yang dibutuhkan jadi lebih panjang padahal sebuah telepon
koin hanya menyediakan waktu tiga menit per seratus rupiah.
Jika lubang koin tak diisi lagi, maka beberapa detik sebelum
pembicaraan telepon berakhir, akan terdengar bunyi tut yang
artinya menuntut koin lagi atau pembicaraan betul-betul diputus
dengan kejam oleh Telkom.
“Halo,” kata yang di seberang. Suara gadis itu begitu lembut
terdengar di telinganya. Ia tak pernah dengar suara yang lebih
indah dari suara gadis itu. Ia menelan ludah, beberapa detik
jantungnya berdebar dan ia berusaha mengatasinya.
“H...halo,” akhirnya dia berhasil berkata juga.
***
“Anggit, siapa sih yang sering telepon kamu itu? Tak tahu waktu,
magrib-magrib juga telepon!” Ibunya mengomel. Maklum, anak
gadis semata wayang di usia rawan. Anggit seperti kembang,
dia sedang mekar-mekarnya. Warnanya sedang cerah-cerahnya,
baunya sedang wangi-wanginya, ini berarti madunya juga se-
dang manis-manisnya, dan ini juga berarti kumbang sedang ba-
nyak-banyaknya yang mendatangi. Anggit suka senyum-senyum
sendiri setelah menerima telepon.
“Teman,” jawabnya singkat. Anggit enggan menjelaskan pan-
jang-panjang.
“Telepon kok lama-lama. Sering, lagi! Bulan ini tagihan tele-
pon kita membengkak.”
36
http://facebook.com/indonesiapustaka “Anggit kan ditelepon, bukan yang nelepon,” ujarnya protes.
Sejujurnya, sekarang Anggit tidak lagi benci dengan bunyi tele-
pon. Malah dia sering menanti-nantikan telepon bunyi, terutama
di jam-jam tertentu.
Esokan harinya, telepon berdering. “Halo.”
Aduh, yang angkat ibunya! Krisna panik, tak tahu harus ber-
kata apa.
“Halo... ini siapa ya?” Klik. Telepon ditutup.
***
“Ya ampun, kamu tutup teleponnya?” Anggit tersentak saat Kris-
na bercerita bahwa tadi siang saat dia telepon dan bukan Anggit
yang mengangkat.
“Aku tidak tahu harus ngomong apa sama ibumu.”
“Bilang saja kamu mau bicara denganku.”
“Bagaimana kalau ibumu tanya macam-macam? Misalnya
tentang siapa aku, atau apa hubunganku denganmu.”
“Ya, dijawab saja,” mereka sudah tiga bulan pacaran diam-
diam, berkencan di warung bakso dekat sekolah sore-sore
setelah Krisna selesai kuliah dan Anggit selesai ekstrakurikuler
marching band.
“Kamu serius?” Krisna memastikan pendengarannya.
“Aku serius. Kelihatannya sudah saatnya kita beri tahu ke-
luargaku soal hubungan kita. Ibuku sudah mulai tanya-tanya
dan aku tidak suka berbicara banyak-banyak sebab ibuku itu
kolot. Boro-boro mendengarkan omonganku, dia lebih banyak
mencecar daripada menasihati.”
“Apa... apa aku boleh ke rumahmu?” tanya Krisna ragu.
37
http://facebook.com/indonesiapustaka Anggit tersenyum, “boleh.” Pembicaraan selesai setelah Kris-
na kehabisan koin, dengan janji pemuda itu akan berkunjung ke
rumah pada malam Minggu.
***
“Oh, ini ya yang sering telepon ke sini,” komentar ibunya Ang-
git. Krisna tersenyum gugup, tapi tetap diusahakan terlihat tulus.
Anggit duduk di sebelah ibu dan bapaknya di sebuah kursi pan-
jang. Sedang Krisna duduk tepat di depan ketiganya. Di sebuah
kursi. Sendiri. Ia merasa sedang disidang.
***
Setahun kemudian, Anggit lulus SMA dan Krisna yang telah
selesai kuliah, memulai bisnis kecil-kecilan. “Ha ha... iya Jeng,
iya... terima kasih ya. Pokoknya jangan tidak datang ya. Baik,
dah...” Klik. Telepon ditutup.
“Siapa, Bu?” Anggit masih memasukkan undangan pernikah-
an ke amplop.
“Itu Jeng Retno. Katanya dia sudah terima undangan nikah-
mu dan Krisna yang kita kirim dua hari lalu.”
***
Nit nilulit nilulit.
Betapa mengagumkannya teknologi. Anggit yang tadinya ti-
dak suka suara panggilan telepon, kini senang sekali mendengar
nada dering itu. Nada yang khusus dipasangnya untuk suami-
38
http://facebook.com/indonesiapustaka nya. Ia kini bukan lagi gadis yang baru merekah. Rambutnya
sudah memutih, dan usianya memasuki kepala 4.
Nit nilulit nilulit.
Ring tone itu berbunyi lagi, memanggil si empunya ponsel.
Anggit menghampiri ponselnya. Ah, suamiku telepon. “Halo
sayang,” sapanya riang.
“Ma, aku hari ini lembur ya. Ada meeting.”
“Meeting?”
“Iya. Mungkin baru selesai jam 01.00. Mama makan malam
saja duluan. Eh, sudah ya... telepon kantor bunyi. Papa sibuk.”
Klik. Telepon ditutup.
Anggit cemberut. Meeting lagi? Seminggu ini sudah empat
kali meeting, dan pulang selalu jam 02.00. Ia menghela napas.
***
Jauh di seberang sana, di sebuah ruang di salah satu gedung-
gedung Jakarta yang menjulang tinggi, Krisna yang kini berusia
46 tahun tengah mengakhiri pembicaraannya di telepon dengan
istrinya, “...Mama makan malam saja duluan.” Salah satu tom-
bol merah di telepon kantornya berkedip-kedip, “eh, sudah ya...
telepon kantor bunyi. Papa sibuk.” Laki-laki itu menutup ponsel-
nya, lalu memencet tombol merah telepon kantor. “Ya?”
“Pak, ada telepon dari Mbak Sesil di line dua.” Suara sekreta-
risnya memberi tahu lewat microphone telepon.
“Oke, terima kasih.” Krisna mengangkat telepon dan me-
mencet angka 2. “Hai sayang...” ujarnya lembut.
***
39
http://facebook.com/indonesiapustaka Phonebook – search – Krisna mobile – calling...
Sesil, gadis yang berusia nyaris separuh dari umur Krisna se-
karang, berusaha menelepon kekasihnya. Tetapi nada tut-tut-tut
yang berkejar-kejaran di ujung ponselnya membuatnya kecewa.
Eh, ponselnya sibuk.
Phonebook – search – Krisna ofice – calling...
“Halo, Pak Krisna ada?” Perempuan yang di seberang sana
menjawab sopan, memberi tahu bahwa Pak Krisna ada di
tempat lalu menanyakan nama si penelepon, “ini dari Sesil.”
Perempuan di seberang sana mempersilakan untuk menunggu
sebentar, “baik. Terima kasih.” Sesil menunggu, suara lelaki me-
nyapa. “Sayang, tadi aku telepon ponselmu tapi sibuk jadi aku
telepon kantor.”
“Iya, tadi aku hubungi rumah dulu,” kata Pak Krisna ramah.
“Jadi... ehm... nanti bisa?” suara Sesil sengaja dibuat manja.
“Bisa, dong. Nanti kujemput di tempat biasa jam enam ya.”
“Oke.” Klik. Telepon ditutup. Sesil tersenyum lebar. Kencan
keempat kalinya minggu ini. Kena!
***
Dingin.
Makan malam yang dingin. Udaranya. Suasananya. Masak-
annya. Lima kursi kosong. Satu kursi isi, dirinya sendiri. Anggit
memandangi meja makan yang penuh dan kursi-kursi kosong.
Di baliknya piringnya. Kosong. Dia tak hendak mengisinya
dengan nasi. Kosong. Sekosong hatinya. Jarum panjang dan
pendek pada jam bandul setinggi 1,5 meter menunjuk ke angka
12, lalu berdentang dua belas kali. Suaranya memenuhi ruangan
40
http://facebook.com/indonesiapustaka yang besar. Bergema hingga jauh ke dalam hatinya. Rasanya
seperti dipukul dua belas kali. Anggit menahan tangis. Diang-
katnya telepon. Dihubunginya nomor kantor suaminya. Telepon
tersambung, berbunyi berkali-kali. Anggit menghitung 20 kali
nada sambung dan tak ada yang mengangkatnya. Tak menyerah,
Anggit kali ini memencet nomor ponsel suaminya.
Boro-boro ia akan mendengar nada sambung khusus jika
suaminya telepon. Kini, bahkan teleponnya pun jarang diangkat
oleh suaminya sendiri.
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di
luar jangkauan area,” mesin operator menjawab dengan dingin
dan tanpa dosa.
Pupus sudah, air mata Anggit jatuh satu-satu ke piring ko-
song.
***
“Pa, kita ke Jogja, yuk. Aku ingin menengok Marlon.”
“Ini kan bukan liburan semester, Ma. Nanti Marlon tergang-
gu.”
“Tapi minggu ini weekend panjang. Kita bisa ke Jogja tiga
hari saja.”
“Eh, weekend ini? Papa sudah ada janji dengan kolega untuk
bisnis di Singapore.”
“Ke Singapore? Mama ikut ya.”
“Eh, jangan. Ini betul-betul bukan liburan. Lagian kalo Mama
mau belanja juga Papa enggak bakalan bisa nemenin. Ya sudah,
begini saja, Mama ke Jogja sendiri menengok Marlon. Bagaima-
na?”
41
http://facebook.com/indonesiapustaka Wajah Anggit seraya pias kecewa. Tiba-tiba, kriiing... “Halo,”
sapa Anggit. Tak ada yang menjawab. “Halo,” sapa Anggit lagi.
Anggit diam, mencoba menajamkan telinga mendengarkan su-
ara. Hanya ada suara napas. Napas perempuan. Ia yakin betul
itu. Klik. Telepon ditutup.
“Akhir-akhir ini sering sekali ada yang telepon tetapi bisu.”
Nada suara Anggit cemburu. Ia melirik ke arah suaminya yang
masih membaca koran.
“Orang iseng, kali.” Krisna meletakkan korannya lalu beran-
jak (pura-pura pengin) pipis ke kamar mandi.
***
Nit nilulit nilulit.
Marlon (21). Eh, Mama telepon. Ia mengangkat telepon de-
ngan ceria, “halo Mama... Marlon kangen! ...lho, Ma... Mama?
Mama nangis? Kenapa Ma?”
***
Kriii...ng...
“Halo, Sesil di sini,” sapanya ramah. Tak ada suara di sebe-
rang sana. “Halo...,” nada suara Sesil berubah datar, “he, kamu
bisu ya?!” katanya kesal. Brak! Telepon ditutup... dibanting.
“Siapa yang telepon, sayang?”
“Siapa lagi? Perempuan jalang yang jadi istrimu itu!”
Krisna menelan ludah, “mungkin cuma orang salah sam-
bung.”
42