http://facebook.com/indonesiapustaka “Heh, kamu pikir aku goblok? Perempuan jalang itu ingin
membalasku karena dulu aku juga berbuat begitu!” Sesil bersu-
ngut-sungut.
“Sayang, sudahlah. Yang penting kan sekarang kita sudah
bersama. Sini, sayang. Kita pilih saja paket liburan di brosur
tour and travel ini, ya?” Krisna membujuk.
“Kau bilang dulu ke perempuan jalang itu untuk berhenti
mengganggu hidup kita!” Sesil menyambar kunci mobil, keluar
meninggalkan Krisna yang hanya bisa menghela napas panjang.
Suara mobil distarter. Mobil Krisna. Laki-laki itu praktis tak bisa
pergi ke mana-mana. Sedang Sesil sudah berlalu, entah ke mana.
Mungkin ke mal, shopping membuat perasaannya lebih baik.
***
Susah payah Krisna mencoba membujuk Sesil agar dia tak lagi
ngambek. Dia keluarkan credit card, dan menggeseknya untuk
dua paket liburan ke Hong Kong. Meskipun senyatanya mere-
ka belum menikah, tetapi Krisna memilih paket honeymoon.
Usahanya tak sia-sia, buktinya kini Sesil tengah menciuminya.
Berahi mereka merekah.
“Aku pipis dulu sebentar,” perempuan muda itu keluar kamar.
Nit nilulit nilulit. Krisna melihat nama yang tertera di ponsel
Sesil. Nama laki-laki. Krisna mengerutkan dahinya, diangkat-
nya panggilan tersebut. Krisna sengaja jeda, sebuah suara berat
terdengar, “Sesil... Sesil... kamu sedang apa, sayang?” Krisna
tersentak.
“Siapa ini?” tanya Krisna. Klik. Telepon segera ditutup.
43
http://facebook.com/indonesiapustaka Pintu kamar terbuka. Sesil berdiri mematung melihat ke arah
Krisna yang masih menggenggam ponselnya. “Siapa dia?” tanya
lelaki paruh baya itu.
Sesil tersentak, sedetik kemudian romannya berubah marah,
“kamu periksa-periksa ponselku?!” nada suara perempuan muda
itu meninggi.
“Siapa yang telepon tadi? Kamu selingkuh?!” nada suara
Krisna tak kalah tinggi. Hilang segala berahi yang tadinya sudah
memerah.
***
Kriii...ng... kriii...ng...
Anggit mengambil tisu, ia menyeka air mata yang tak kun-
jung kering setelah enam bulan pisah ranjang. Sebuah proses
perceraian yang melelahkan dan tak diinginkannya telah mem-
buat dirinya terpuruk. Telepon masih berdering. Aku benci suara
itu. Konon, Alexander Graham Bell, sang penemu pun mem-
benci suara itu. Dengan enggan Anggit beranjak dari duduk dan
mengangkat telepon.
“Halo...,” sapanya datar. Suaranya masih berwarna air mata.
Tak ada jawaban. “Halo,” sapanya lagi. Masih tak ada jawaban.
Anggit diam, mencoba menajamkan telinga mendengarkan su-
ara. Hanya ada suara napas. Napas laki-laki. Ia yakin betul itu.
“Krisna... Papa... apa itu kamu?” Tetap tak ada jawaban, hanya
ada napas laki-laki. “Pa... apa Papa akan pulang?” suaranya pa-
rau, kental berwarna air mata. Jeda.
Suara napas... lalu, “ya Ma, aku pulang.”
Klik. Telepon ditutup.
44
http://facebook.com/indonesiapustaka Ah Kauw
BISNIS kematian itu kejam, seperti kematian itu sendiri. Me-
nyisakan banyak kesedihan, menghadiahkan banyak kesialan.
Sudah hampir dua puluh lima tahun Ah Kauw menjadi penggali
kubur. Jika kau mengira Ah Kauw bekerja sebagai penggali ku-
bur bagi mereka yang mati, maka kau salah.
Tadinya ia menggali kubur untuk orang yang sudah mati,
seperti penggali kubur kebanyakan. Sampai suatu hari Pak Sukir,
orang yang Ah Kauw tahu punya toko menjual barang-barang
untuk keperluan kematian orang-orang Tiong Hoa, menawar-
kannya pekerjaan yang lebih menghasilkan uang di Jakarta.
“Pekerjaan macam apa? Aku tak punya keahlian apa-apa.
Bahkan menyetir mobil pun aku tak bisa. Aku cuma bisa meng-
gali, itu pun bukan untuk menggemburkan tanah sawah,” tanya
Ah Kauw saat itu kepada Pak Sukir.
“Pekerjaannya tetap menggali kubur, tetapi penghasilanmu
akan labih banyak, karena akan lebih banyak kubur yang kau
gali,” jawab Pak Sukir.
Awalnya, Ah Kauw sanksi, mana ada orang mati begitu ba-
nyak dalam satu waktu. Sekarang, paling-paling seminggu sekali
Ah Kauw menggali kubur. Kalaupun sedang musim mati (ya,
kematian pun ada musimnya. Percayalah!), seminggu bisa tiga
kali Ah Kauw menggali kubur.
Pak Sukir bilang, ia akan mengembangkan usahanya di Ja-
karta. Ada pengusaha real estate dari Singapura yang punya istri
45
http://facebook.com/indonesiapustaka orang Indonesia, akan memberinya modal untuk memulai usaha
cabang di Jakarta. Usaha yang sama dengan bidang lebih luas.
Di Jakarta Pak Sukir tak hanya menjual barang-barang untuk
dibakar bagi mereka yang sudah mati. Ia juga akan menjual
peti mati, menyediakan jasa mendandani mayat. Ia bahkan akan
membuat sebuah rumah duka. Mendengar kata ‘Jakarta’ saja
membuat Ah Kauw membayangkan kemegahan dan gemerlap.
Tentu orang Jakarta akan membayar lebih mahal untuk jasa
menggali kuburan, dan orang Jakarta jumlahnya banyak, tentu
dalam sehari banyak yang mati, pikirnya.
Ketika ia akan menerima pekerjaan itu, ia mengajak Meilan
menikah. Gadis itu sudah dua tahun lulus dari SMA dan ikut
membantu pamannya berjualan kelontong di daerah pecinan.
Ah Kauw berjanji akan menyekolahkan perawat jika mendapat
uang di Jakarta, bahkan bersedia menunda punya anak hingga
Meilan selesai kuliah. Demikianlah akhirnya ia berhasil meni-
kahi Meilan, yang hingga kini jadi istrinya.
***
Ketika pertama Ah Kauw dan empat pekerja penggali kubur la-
innya tiba di Jakarta, mereka diantar dengan mobil bak terbuka
ke sebuah daerah pekuburan. Ia bertanya, “di mana yang harus
digali?”
“Terserah kamu mau mulai dari mana.” Tentu saja Ah Kauw
dan pekerja lainnya mengernyitkan dahi. Seorang penggali ku-
bur toh tak bisa sembarangan menggali. Dia belum mengenal
daerah itu, belum tahu mana lahan yang kosong.
“Maksudnya?” tanya seorang pekerja penggali lainnya.
46
http://facebook.com/indonesiapustaka “Ya, kamu gali yang mana saja. Terserah. Nanti tulang-tulang-
nya taruh saja di bak itu dulu. Pisahkan tulang orang per orang
ya. Catat namanya, kalau-kalau mau diambil oleh keluarganya,”
komando mandor yang bekerja untuk pengusaha real estate itu.
“Maksudmu… kami menggali kuburan yang sudah ada isi-
nya?” Ah Kauw memastikan.
“Iya,” jawab mandor itu dengan singkat, lalu berlalu dari
situ meninggalkan Ah Kauw dan pekerja penggali lainnya terbe-
ngong saling pandang.
Mereka tak menyangka akan menggali kubur yang sudah ada
isinya. Ah Kauw sudah akan mundur, ketika seorang pekerja
justru maju dan mulai menggerakkan paculnya ke sebuah kubur
terdekat. Mulai menggali. Empat penggali lainnya—termasuk
Ah Kauw—hanya berdiri melihat. Ia yang merasa diperhatikan
menghentikan kegiatannya sejenak, lalu berkata, “apa?” yang
lain masih diam, “bayarannya bagus!” lalu mulai memacul lagi.
Ya, betul… bayarannya bagus. Lebih bagus dibandingkan meng-
gali tanah yang masih kosong. Maka Ah Kauw dan penggali
kubur yang lain memilih sebuah kuburan sendiri-sendiri. Se-
makin banyak kuburan yang digali, semakin banyak pula uang
yang akan mereka dapat. Upah dibayar per satu kuburan yang
mereka bongkar.
***
Ah Kauw paling senang jika menggali kuburan orang Cina atau
orang Belanda kuno, ada saja benda kesayangan yang ikut
terkubur bersama mereka. Dan benda-benda ini kebanyakan
berharga, tak ikut aus dimakan tanah, belatung ataupun waktu.
47
http://facebook.com/indonesiapustaka Ia diam-diam membawanya pulang untuk hadiah bagi Meilan.
Semua penggali kubur teman-temannya pun melakukan hal
yang sama, terutama jika tidak ketahuan keluarga orang yang
kuburannya dibongkar.
“Aku tak mau pakai bekas mayat! Bisa-bisa aku diganggu!”
tolak Meilan ketika pertama kali Ah Kauw pulang membawa
seuntai gelang emas yang kelihatannya antik. Ah Kauw tidak
memaksa. Ia simpan gelang itu di dalam kotak perhiasan istri-
nya. Hari-hari berikutnya, jika ia dapat sesuatu dari kuburan,
ia bawa pulang dan mengumpulkannya di dalam kotak yang
sama. Tak sampai satu tahun Ah Kauw sudah bisa memenuhi
janjinya; menyekolahkan istrinya ke sekolah perawat. Dijualnya
perhiasan-perhiasan tadi sebagai uang kuliah. Ditambah ba-
yaran menggali kubur yang lumayan. Pengusaha real estate itu
lumayan royal, terlebih jika ia bisa menggali lima hingga tujuh
kuburan dalam sehari kalau tenaganya kuat. Dengan uang yang
ia dapatkan pula, ia mengajak babah dan mamahnya datang
untuk tinggal bersama mereka di Jakarta.
Ketika Meilan sudah selesai kuliah, dan mendapat pekerjaan
sebagai perawat di sebuah rumah sakit, babahnya mengajak-
nya bicara, “Ah Kauw… yang kamu mau sudah kamu dapat,
sekarang Babah pikir baiknya kamu berhenti saja jadi penggali
kubur. Babah dan mamahmu ini khawatir, kamu bisa dapat sial
seumur-umur.”
“Mana mungkin… Babah lihat sendiri kan, peruntungan Ah
Kauw bagus semenjak datang ke Jakarta,” Ah Kauw menyangkal.
“Kamu pikir begitu, tapi kamu tidak betul-betul untung.
Kamu kerja bongkar kuburan. Orang mati harus dikasih hormat,
bukan diganggu. Kamu juga ambil barang mereka, kamu jual itu
48
http://facebook.com/indonesiapustaka barang. Biarpun sudah mati, tapi namanya tetap mencuri. Kalau
mereka tak merasa tenang, mereka bisa balik ganggu orang yang
sudah mengusiknya terlebih dulu.” Babahnya panjang lebar me-
nasihati.
Seperti rencana awal, ia dan istrinya memutuskan untuk pu-
nya anak setelah Meilan selesai kuliah. Tetapi harapan itu tak
segera kesampaian. Mereka periksa kesuburan, dokter memasti-
kan tidak ada masalah dengan Ah Kauw maupun Meilan. Lalu
menyuruh mereka untuk bersabar, sebab hanya itu yang dibu-
tuhkan sebelum diberi oleh Yang Kuasa. Tak lama, Mamah jatuh
sakit dan minta dipulangkan ke Semarang. Ah Lan, cicih Ah
Kauw yang tinggal di Semarang merawat Mamah. Ketika Mamah
berangsur sembuh, Ah Kauw meminta Mamah kembali ke Jakar-
ta. Mamah menolak mentah-mentah, “aku sakit sebab makan
rejeki yang tidak diberkati leluhur!” Malah Mamah mengajak
Babah untuk tinggal di Semarang. Babah punya pikiran sendiri
soal ini, lewat telepon dia bicara bijaksana pada istrinya, “aku
harus jaga Ah Kauw di sini. Jangan sampai langkahnya jauh
lebih terperosok. Kalau kamu sudah tidak suka sama dia, lalu
aku juga ikut-ikutan tidak suka sama dia, dia tidak dapat berkah
apa-apa. Leluhur bisa lebih benci sama dia.” Jadilah, Babah dan
Mamah hidup terpisah.
Lantas, lewat telepon pula Mamah marah pada Ah Kauw.
Akibat pekerjaannya bikin pecah keluarga, demikian omel
Mamah. Dia mewanti-wanti Ah Kauw, dimintanya Ah Kauw
bersumpah untuk menjaga Babah baik-baik, “Kalau babahmu
kenapa-kenapa, itu salahmu!” ancam Mamah.
***
49
http://facebook.com/indonesiapustaka Suatu hari Ah Kauw pulang membawakan bakmi yang dibelinya
dari menjual sepasang anting-anting yang dia dapat dari meng-
gali kuburan orang Tiong Hoa. Babah muntah darah setelah
selesai menelan satu porsi bakmi yang lantas mengantarnya ke
UGD. Tak lama, Babah berpulang. Diagnosanya; Babah kera-
cunan. Ini aneh, sebab Ah Kauw dan Meilan juga makan bakmi
yang sama, tapi tak keracunan. Semua terjadi cepat sekali. Ha-
nya dalam satu malam.
“Kau harus bawa babahmu pulang ke Semarang! Aku tidak
sudi menginjak rumahmu!” bentak Mamah di telepon dengan
histeris ketika dikabari. Disambung sumpah serapah mendurha-
kakan Ah Kauw sebagai anak.
“Tidak! Babah tetap di Jakarta. Aku yang urus semua.” Ah
Kauw menegaskan. Tanpa menunggu jawaban mamahnya, tele-
pon ditutup. Ia sudah terlanjur sakit hati. Lagipula, bayangkan
biaya yang harus ia keluarkan untuk mengirim mayat ke Sema-
rang. Lebih dari itu, ia tahu Pak Sukir akan memberinya harga
spesial untuk memberi penghormatan terakhir yang layak pada
babahnya.
Ah Lan dan suaminya datang dari Semarang, memberi peng-
hormatan terakhir untuk Babah di Jakarta. Sedang Mamah tetap
bersikeras tak ingin menginjakkan kaki di rumah Ah Kauw, ia
lebih memilih berkabung di Semarang.
“Mamah tidak berhenti-berhenti menangis, kau harus minta
maaf pada Mamah! Kalau perlu pindahkan Babah ke sana,”
cicihnya menasihati Ah Kauw.
“Justru Mamah yang tidak mendukungku, malah menyum-
pahiku. Berarti Mamah yang tidak benar-benar sayang padaku.”
Ah Kauw bersikeras.
50
http://facebook.com/indonesiapustaka “Orangtua kita sekarang tinggal satu, kamu masih saja keras
kepala! Mungkin Mamah benar, kamu bawa sial keluarga kita.”
Ah Lan mengingatkan adiknya dengan kesal. Ketika Ah Lan akan
kembali ke Semarang, ia hanya pamit pada Meilan. Itu adalah
kali terakhir Ah Kauw berbicara pada Ah Lan. Lebih dari sepu-
luh tahun lalu.
Setelah kematian Babah, Ah Kauw dan Meilan tetap berusa-
ha untuk punya anak. Segala cara, baik medis maupun alternatif
ditempuhnya. Ia menghabiskan banyak biaya untuk hal ini. Ia
bahkan ikut disiswak untuk buang sial. Ia mulai koleksi segala
macam jimat yang dipercaya kebanyakan orang-orang Tiong
Hoa membawa keberuntungan. Mulai dari patung-patung dewa,
batu-batu, yang ia tata berjejer di almari, hingga pelihara ikan
lou han dan bambu kepang.
***
Telah sepuluh tahun babahnya pergi, tak ada tanda-tanda keha-
milan dalam diri Meilan. Sementara usianya makin tua, semakin
mendekati menopause. Kalaupun hamil, makin riskan baginya
untuk melahirkan.
“Koh, mungkin benar kata Mamah. Kamu harus cari kerja
lain saja. Lagipula, tenagamu kan bukan muda lagi.” Malam
sebelum tidur Meilan mencoba membujuk suaminya.
“Aku sudah tua. Kalau mau cari kerja yang lain, kerja apa?”
“Sementara tidak kerja juga tidak apa-apa. Aku kan punya
kerja tetap.”
“Aku tidak suka meminta, apalagi minta dari kamu. Aku
laki-laki, punya kewajiban memberi kamu makan. Bukan seba-
51
http://facebook.com/indonesiapustaka liknya.” Nada suara Ah Kauw meninggi. Meilan memunggungi
suaminya, terdengar isak tangisnya tertahan.
“Ya sudah, begini saja… besok ada satu lahan pekuburan
yang harus aku gali. Kalau kamu mau, kasih aku kesempatan
untuk menyelesaikan pekerjaan yang ini. Setelah itu, aku ber-
henti.” Ah Kauw mengendur. Istrinya menghapus air matanya,
lalu memeluk suaminya.
Pagi, Ah Kauw mengheningkan cipta sejenak dengan hio ter-
bakar di tangannya. Aromanya memenuhi ruangan, menyisakan
bau khas yang kerap disebut sebagai ‘bau cina’ oleh orang-
orang yang bukan Tiong Hoa. Ia memberi penghormatan pada
Babah yang sudah lebih dari sepuluh tahun pergi meninggalkan
dunia, sambil berdoa meminta mujur mendatanginya hari ini.
Keduanya keluar berbarengan. Sementara Meilan menuju rumah
sakit tempatnya bekerja, Ah Kauw menuju toko Pak Sukir. Dari
sana ia dan empat temannya akan diantar dengan mobil bak
terbuka untuk menggali sebidang tanah pekuburan.
Di perjalanan, Ah Kauw tak banyak bicara. Ia menyedot
rokoknya dalam-dalam sambil mendengar teman-temannya
bercengkerama. Kata seorang temannya, di tanah pekuburan
yang sekarang akan dibangun sebuah mal. Mal lagi, mal lagi…
sementara orang-orang kesenangan bisa belanja ke tempat me-
wah, dirinyalah yang dapat giliran mengubah pekuburan jadi
mal. Mungkin memang dia harus berhenti dari pekerjaannya,
pikirnya.
“Ah Kauw!” panggilan temannya, membuyarkan lamunan.
Mobil bak berhenti tepat di depan tanah pekuburan, “ayo tu-
run!” ajak temannya. Ah Kauw beranjak. Diambilnya pacul dan
membuang pandangan ke arah batu-batu nisan. Tulisan-tulisan
52
http://facebook.com/indonesiapustaka Cina tertera di situ. Ah, pekuburan Cina…, tentu banyak yang
bisa dia raup sebelum dirinya pensiun. Sejenak Ah Kauw merasa
riang. Tapi, sebentar…, kelihatannya dia kenal tanah pekuburan
ini, pikirnya. Ya, dia yakin telah beberapa kali ke tanah pekubur-
an itu. Seraya ia seperti merasa ditampar; di tanah itu babahnya
dikuburkan.
53
http://facebook.com/indonesiapustaka Lelaki di Rumah Seberang
PERCAYA tidak? Aku bilang aku sudah dua puluh tahun di
sini. Di rumah jompo ini. Aku sendiri heran, sampai sekarang
aku belum mati juga. Padahal, demi Tuhan, aku tak punya resep
awet hidup atau berdoa minta umur panjang tiap malam. Justru
aku ingin cepat mati. Aku ingin cepat pergi dari dunia brengsek
ini. Tak ada lagi yang menyenangkan di dunia ini bagiku. Te-
man-temanku sudah habis semua. Aku sendiri sudah tiga kali
diserang stroke dan tiga kali kena serangan jantung. Waktu se-
rangan jantung yang kedua, dokter pernah bilang jika serangan
yang ketiga terjadi maka aku akan mati. Tapi ternyata dokter itu
salah. Aku tetap hidup. Anak-anak dan cucu-cucuku bersyukur
aku tetap hidup, itu menurut mereka. Tetapi menurutku, mereka
tak pernah benar-benar bersyukur aku hidup, karena aku selalu
dibuang kembali ke rumah jompo terkutuk ini. Aku benci di
sini. Dikumpulkan bersama sekumpulan orang-orang tua yang
juga dibuang oleh keluarganya. Sejujurnya, aku menanti-nan-
tikan serangan jantung yang keempat dan berharap betul-betul
diambil malaikat maut saat itu. Aku ingin merasakan didiamkan
di rumah duka, didandani setelah diberi formalin dan orang-
orang datang memberi penghormatan untukku. Aku ingin di-
kremasi seperti teman-teman lain, aku juga ingin cepat-cepat
abuku disebar ke laut bersama suami dan anak tertuaku yang
telah meninggal terlebih dahulu puluhan tahun lalu. Aku sudah
54
http://facebook.com/indonesiapustaka terlampau uzur, umurku sudah 101 tahun. Aku adalah pasien
terlama di rumah jompo ini. Juga tertua, tentu saja. Pasien yang
ada di sini usianya maksimal hanya mencapai kepala delapan,
itu sudah bagus. Setelah itu, tak ada lagi sisa nyawa untuk me-
nyambung hidup.
Pekerjaanku sekarang hanya diam di kursi roda ini sambil
memandangi rumah seberang. Kamarku di bagian atas, jendela
menghadap ke halaman depan yang tak terlalu besar. Sebuah
jalan yang tak ramai membentang di depan rumah jompo ini.
Rumah-rumah di seberang rumah jompo ini lumayan besar dan
bertingkat. Rumah-rumah orang kaya. Kebanyakan rumah-rumah
kaya sekarang menggunakan banyak kaca sehingga orang-orang
dari luar bisa melihat barang-barang apa yang ada di dalamnya.
Seperti menyuguhkan perampok; barang-barang apa saja yang
bisa diambil dari dalamnya. Tapi mereka juga punya satpam
yang menjaga rumahnya 24 jam. Tak seperti rumah-rumah kaya
dahulu, yang pagar temboknya tinggi dan dibuat berlapis-lapis
bata agar tebal dan susah dijebol jika maling berusaha mene-
robos.
Dua tahun terakhir ini seorang tua yang tadinya kuperha-
tikan sering pulang-pergi dengan kesibukannya, tiba-tiba tak
mampu bergerak. Ia yang biasanya kulihat berpakaian jas rapi
dengan koper yang tak pernah ketinggalan setiap akan pergi,
kini hanya berpakaian piama dan, sama sepertiku, duduk di
kursi roda dengan seorang perawat yang mengurusnya saat si-
ang. Kuperkirakan dia kena stroke yang nyaris melumpuhkan
seluruh tubuhnya. Kamar laki-laki tua itu di lantai atas, yang
dinding-dindingnya juga terbuat dari kaca. Tirai-tirai sesekali
dibuka semua, agar sinar matahari masuk dan laki-laki itu bisa
55
http://facebook.com/indonesiapustaka berjemur. Sedang ada sebuah tirai yang selalu dibuka sedikit
sehingga aku bisa melihatnya dari seberang sini.
Aku suka memerhatikan laki-laki di seberang itu. Kelihat-
annya dia berusia enam puluhan, sama seperti usia anakku
yang ketiga. Saat dia mulai sakit kuperhatikan paras dan tu-
buhnya jadi lebih renta dibanding saat dia masih bugar. Aku
bisa memperhatikannya berjam-jam, terutama saat dia sedang
berdiam di dekat dinding kacanya yang besar itu dengan tirai
yang terbuka. Awalnya, hanya aku yang memperhatikannya,
kegiatan ini menjadi hiburanku. Tetapi lama-kelamaan dia juga
balik memperhatikanku. Ya, aku yakin itu. Aku tadinya kesepi-
an, kini merasa punya teman. Kupikir dia juga merasa begitu.
Aku merasa bisa berbicara apa saja dengannya. Aku bercerita
tentang anak cucuku yang jarang datang, juga tentang betapa
aku ingin segera mati. Aku banyak mengeluh, dan menurutku
dia pendengar yang baik. Awalnya, aku tahu dia merasa tidak
suka kuperhatikan, tapi karena dia lumpuh maka tidak banyak
yang bisa dia lakukan. Dia tak bisa berpaling dari depan kaca
hingga perawat memindahkan kursi rodanya. Lama-kelamaan
aku merasa, dia pun bercerita banyak kepadaku, tentang pe-
kerjaannya, hidupnya sebelum ia diserang penyakit, tentang
keluarganya. Aku mendengarkannya dengan saksama. Kami
berkenalan, berkomunikasi dengan cara yang aneh. Mungkin
seperti membaca pikiran, hanya saja tidak benar-benar seperti
itu. Agak sulit dijelaskan, tetapi aku yakin, kami benar-benar
berkomunikasi. Bahkan jika salah satu dari kami dipindahkan
oleh perawat entah itu untuk makan ataupun minum obat atau
apa pun, aku merasa bahwa kami ingin cepat-cepat kembali ke
tempat yang sama, menghadap luar kaca kamar agar kami bisa
saling menatap dan mulai saling bercengkerama lagi.
56
http://facebook.com/indonesiapustaka “Nenek Yasmin, minum obatnya dulu.” Perempuan ini berna-
ma Ros, dia perawat di sini. Dia menyuruhku membuka mulut
agar ia bisa meletakkan obat di mulutku sambil memberikan
segelas air untuk mendorong pil-pil itu masuk ke tubuhku. Aku
menurutinya. “Nenek mau ke taman belakang?” Aku mengge-
leng setelah berhasil menelan pil-pil itu. Dia tersenyum, lalu
melihat ke seberang, ke arah laki-laki tua itu berdiam di kursi
rodanya di rumah seberang. “Itu teman nenek ya,” ujarnya. Aku
menahan tangannya, kusuruh dia mendekatkan telinganya ke
mulutku. “Aku bisa berbicara dengan dia,” kataku singkat. Suara
yang keluar dari pita suaraku parau. Percaya tidak? pikirku. Dia
tersenyum, “tentu saja,” komentarnya, lalu berlalu dari kamarku.
Huh, sudah pasti dia tak percaya. Mungkin Ros menganggapku
perempuan tua gila. Biar saja.
Lelaki di seberang itu kelihatannya punya tiga cucu, sejauh
yang kuamati selama ini. Setiap pagi, sebelum berangkat ke
sekolah cucu-cucunya menciumnya. Begitu juga dengan laki-
laki yang kelihatannya bapak dari tiga anak itu, kelihatannya itu
adalah anaknya. Sang istri akan mengantarnya sampai di pintu
depan, mencium pipinya lalu melepaskannya pergi. Istrinya tak
sering berada di rumah, dia akan pergi tak lama suaminya pergi.
Meninggalkan lelaki tua itu bersama dengan perawat, satpam,
pembantu dan tukang kebun. Aku sendiri punya empat belas
cicit, dua puluh tujuh cucu, delapan anak—satu di antaranya
sudah meninggal. Merekalah yang menempatkanku ke rumah
jompo ini. Mereka hanya mengunjungiku di hari-hari tertentu.
Tadinya, mereka selalu mengunjungiku di hari H hari raya, baik
itu Paskah, Natal, hari ulang tahunku, maupun tahun baru. Tapi
setelah sekian tahun di sini, jadwal kunjungan mereka tak lagi
57
http://facebook.com/indonesiapustaka rutin. Jika sebelumnya berkunjung di hari H, kemudian berubah
menjadi sehari setelah hari H, lalu tiga hari setelah hari H, dan
sekarang satu minggu setelah hari H. Bahkan di tahun baru kini
mereka sama sekali tak mengunjungiku.
“Nenek Yasmin, lihat siapa yang datang,” ujar Ros dengan
nada suara gembira. Hari ini anak cucuku datang. Sejujurnya
aku tak merasa terlalu senang. Ros mendorongku ke taman be-
lakang, katanya, “hari ini tak usah ngobrol dulu dengan bapak
di rumah seberang, ya.” Aku dibawakan kue cokelat, ya aku
memang suka kue cokelat. Tetapi anak cucuku tak benar-benar
memerhatikanku. Mereka membuat piknik sendiri, lalu bercerita
satu sama lain bahwa tahun lalu mereka berlibur ke luar negeri
atau paling tidak ke luar kota. Mereka pikir aku tak memerha-
tikan atau bahkan tuli, mereka salah. Aku tahu tiap perkataan
mereka. Tapi aku tak lagi punya cukup tenaga untuk membentak
mereka dan mengatakan betapa tidak sopannya melupakanku
dengan sengaja. Aku cuma bisa berdoa semoga aku cepat-cepat
mati. Menyebalkan sekali, menjelang sore mereka baru pulang.
Besoknya, aku melewati hari seperti biasa, duduk di kamarku
sambil melihat ke luar dari kaca jendela. Lelaki itu bertanya,
kenapa aku tak muncul seharian kemarin, dia mengira aku mati.
Kubilang, huh, betapa beruntungnya jika aku benar-benar mati,
kemarin adalah hari sialku sebab keluargaku datang berkun-
jung. Lalu aku mengeluh panjang padanya soal keluargaku yang
menyebalkan.
Kuperhatikan, sudah beberapa hari ini tak ada perawat yang
datang mengurus lelaki tua itu. Digantikan menantunya yang
mengurusnya. Aku tak begitu suka dengan perempuan itu, be-
gitu lelaki tua itu bercerita padaku dengan tatapannya. Katanya,
58
http://facebook.com/indonesiapustaka perempuan itu tak sabaran. Memang, aku lihat juga demikian.
Dia suka marah jika lelaki tua itu muntah atau ngompol. Aku
bisa melihat dari mimik mukanya, benar-benar tak menyenang-
kan. Aku harap perawat yang biasanya mengurus kembali da-
tang. Tetapi beberapa hari, perawat itu tak juga datang. Mungkin
perawat itu keluar dan mereka belum dapat perawat lain.
Suatu siang, di percakapan kami, aku merasa lelaki tua itu
bertanya padaku, bagaimana seandainya dia lebih dulu yang
mati. Kubilang, enak saja! Aku sudah mendaftar terlebih dahulu
untuk pergi ke akhirat, jadi dia tak boleh mati duluan. Lagi pula
jika dia mati duluan, maka apa yang akan jadi hiburanku? Di ru-
mah jompo ini orang-orangnya sama sekali tak menyenangkan.
Tapi, katanya, dia merasa sebentar lagi dia akan mati. Apa dia
merasa sakitnya tambah parah? tanyaku. Tidak, katanya, bukan
sakitnya, walaupun dia merasa tak ada peningkatan yang berarti
dalam kesehatannya, tetapi dia merasa menantunya yang tak
sabaran itu sebentar lagi akan membunuhnya. Aku tak perca-
ya, tentu saja. Walaupun tak sabaran, aku yakin menantunya
tak punya niat untuk membunuhnya. Tapi dia yakin sekali. Dia
memintaku untuk terus memperhatikannya dari jauh, bahkan
malam hari. Dia memintaku agar berusaha tetap terjaga untuk
terus melihat ke arahnya, agar aku menjadi saksi jika dibutuh-
kan. Aku setuju, tetapi bukan untuk menjadi saksi melainkan
untuk membuktikan bahwa kami memang benar-benar telah
bercakap-cakap selama dua tahun terakhir ini.
Saat Ros datang untuk memandikanku sore hari, kubilang,
“aku tak ingin tidur di kasur. Aku ingin tetap duduk di kursi
roda sampai pagi,” ujarku terbata-bata. Ros tak setuju, sebab
menurutnya aku butuh istirahat. Lalu kataku lagi, “laki-laki di
59
http://facebook.com/indonesiapustaka seberang akan mati. Dia mungkin akan dibunuh, aku harus
menjaganya.” Ros menatapku, tatapan tak percaya.
“Nenek Yasmin, Anda tidak pernah benar-benar bercakap-
cakap dengan laki-laki itu. Sebaiknya Anda istirahat saja,” kata-
nya sambil terus mengelap handuk basah ke tubuhku.
“Aku mau tetap di sini!” Suara yang keluar dari kerong-
konganku berdecit. Gerakan motorik yang tak lagi sempurna
membuatku hanya bisa menghentak, tetapi cukup membuat Ros
kaget dan menjatuhkan air di baskom. Akhirnya Ros mengalah.
Selama beberapa hari aku melewati siang dan malam duduk di
kursi roda melihat ke rumah seberang. Tak ada kejadian apa-apa,
aku mulai berpikir, mungkin memang benar yang Ros katakan,
bahwa selama ini aku hanya berhalusinasi berbicara pada lelaki
di seberang. Hingga suatu malam, aku melihat menantu lelaki
tua itu datang ke kamarnya. Dia menarik selimut ke tubuh lelaki
tua itu. Duduk di sampingnya hingga lelaki tua itu tertidur. Itu
bukan pemandangan yang biasa, sebab hari-hari sebelumnya
menantunya tak pernah menunggu lelaki tua itu tidur. Saat aku
mulai merasa mengantuk, aku melihat menantu itu beranjak
dari tempat duduknya. Tadinya kupikir dia akan keluar dari ka-
mar itu, ternyata tidak. Dia mengambil bantal yang tak dipakai
oleh lelaki itu dan menutup kepala lelaki tua itu dengan bantal.
Aku tersentak, berusaha berteriak, tapi tak ada suara yang keluar
dari mulutku, hanya suara berdecit. Aku berusaha menjangkau
bel untuk memanggil perawat, tetapi terlalu jauh. Aku tak punya
cukup kekuatan untuk mendorong kursi rodaku. Tak ada yang
bisa kulakukan, kecuali panik yang kurasakan sendirian. Ku-
tutup mataku, aku menangis di kursi rodaku. Mengutuk dunia
dan diriku sendiri yang tak bisa melakukan apa-apa. Selanjutnya
60
http://facebook.com/indonesiapustaka yang aku tahu, aku terbangun saat sinar matahari masuk dari
jendela.
Hari itu kutunggu lelaki tua itu seperti biasa. Aku berharap
yang kulihat semalam hanya mimpi. Tetapi tak ada lelaki tua itu,
yang ada adalah sebuah tenda dipasang di depan rumah itu,
kursi-kursi dijejer, bunga-bunga dukacita mulai datang. Rumah
itu kemudian ramai didatangi orang-orang. Lalu aku tersadar,
aku tak bermimpi. Sama sekali tak bermimpi. Perempuan yang
membunuh lelaki itu, menantunya itu, bergaya sangat sedih
lengkap dengan pakaiannya yang hitam.
“Nenek Yasmin, teman Anda mengobrol… yang di seberang
itu…” Ros tak bisa meneruskan perkataannya, wajahnya agak
pias, ada khawatir di mimiknya. Aku mengangguk pelan, toh
aku juga tak sanggup berkata-kata banyak.
Sial, aku kini kembali kesepian. Tak ada lagi yang bisa kua-
jak ngobrol. Sudah dua puluh tahun lebih aku di rumah jompo
ini, usiaku sudah 101 tahun. Jika bulan depan aku masih hidup,
maka usiaku genap 102 tahun dan aku telah menjadi saksi se-
buah pembunuhan. Percaya tidak?
61
http://facebook.com/indonesiapustaka Keretamu Tak Berhenti Lama
BEL itu berbunyi empat ketukan dengan nada yang membo-
sankan. Seolah lonceng bubaran sekolah, penghuni stasiun
serempak menjadi awas dengan pengumuman yang akan di-
woro-woro setelahnya. Aku tengah terkantuk-kantuk ketika bel
itu menyentak, menyadarkanku dari lelap yang belum lengkap.
Pengumuman dikumandangkan bahwa kereta api dari
Bandung tujuan Stasiun Malang tiba di jalur tiga. Bagi para
penumpang yang telah membeli karcis tujuan ke Malang harap
bersiap-siap sebab kereta api tak akan berhenti lama. Dalam
pengumuman itu tak lupa diingatkan agar orang-orang menjauh
dari jalur kuning yang telah ditandai. Area aman untuk berdiri
di dekat jalur rel, agar tak tersambar kereta lewat. Para porter
tentu saja tak mengacuhkan pengumuman untuk menjauh dari
jalur kuning. Mereka menyambar pintu kereta dengan kelinca-
han kaki yang terlihat lihai. Meski kereta tak berhenti lama, ada
sebagian orang yang turun di Stasiun Tugu, Yogyakarta, ada pula
yang naik menuju ke Malang. Ini berarti ada saja orang yang
butuh jasa angkat-angkat barang bawaan.
Aku mulai sibuk menjajakan dagangan kepada penumpang
lewat jendela-jendela, berharap ada saja orang yang menyem-
patkan diri untuk sekadar membeli oleh-oleh. Karak, intip,
bakpia, atau nasi pecel bungkus, semua tersedia. Wajah-wajah
berminyak dan separuh ngantuk mengintip dari balik jendela
62
http://facebook.com/indonesiapustaka kereta. Tak mungkin aku curi-curi naik ke dalam gerbong kereta,
pramugara kereta eksekutif galak-galak. Mereka akan mengusir-
ku jauh-jauh agar tak mengganggu kenyamanan penumpangnya.
Aku bergeser menuju ke kepala gerbong. Dan seperti duga-
anku, “Ning! Ning!” sebuah suara berat memanggilku. Dari arah
kepala kereta. “Ada bakpia?” tanyanya. Pak Kasdi, masinis kereta
dengan perut agak buncit dan kumis yang enggan tumbuh seka-
ligus enggan dicukur.
“Ada,” kataku cepat-cepat ke arah Pak Kasdi. Beberapa te-
man pedagang yang juga menjual bakpia dan berdiam tak jauh
dari Pak Kasdi langsung menyumpah serapah. Aku menerima
uang dan menukarnya dengan sekotak bakpia.
“Kembaliannya buatmu saja!”
Aku tersenyum. Aku sudah tahu, kok.
“Ayo, ikut!” ajak Pak Kasdi sambil menggodaku. Aku meng-
geleng. “Bener ndak mau ikut? Ayo! Naik kereta api… tut, tut,
tut….” goda Pak Kasdi lagi, kali ini sambil mendendangkan lagu
anak-anak. Aku menggeleng lagi. Lalu peluit panjang disem-
pritkan. Suara pengumuman terdengar lagi, kereta di jalur tiga
segera diberangkatkan. Aku minggir, menjauh dari jalur kuning.
Kupandangi kereta yang mulai bergerak, klakson kereta panjang
dibunyikan. Aku tahu itu tanda ‘sampai jumpa’ untukku. Kulirik
uang yang tadi diberi oleh Pak Kasdi, lembar merah seratus
ribuan. Lumayan. Diam-diam dengan girang kusimpan uang itu
di dalam beha.
Siang ini aku bisa memberi Dono, anakku, makan yang le-
bih enak. Mungkin dengan ayam bakar, atau terik. Kugandeng
bocah empat tahun itu menuju ke pangkalan becak. Becak
suamiku ada di situ, tapi pengemudinya raib. Aku menowel se-
63
http://facebook.com/indonesiapustaka orang tukang becak yang sedang tidur di dalam becaknya sambil
menutup mukanya dengan caping. Tukang becak itu terbangun
sambil menyumpah-nyumpah sebab baru saja ia terlelap.
“Bojoku mana?”
“Embuh!” jawabnya tak acuh, membuatku sebal. Tukang
becak itu kembali meringkuk di kursi becaknya yang tak bisa
dibilang nyaman. Toh ia tetap mencari posisi paling enak untuk
sekadar istirahat.
Kulihat sekelompok tukang becak tak jauh dari situ sedang
berkerumun sambil jongkok. Judi lagi, judi lagi! Aku benci bu-
kan main dengan kebiasaan suamiku ini. Aku sudah menduga,
pasti siang ini Mas Jarno, tak bisa memberi kami uang untuk
makan siang. Lelaki itu malah minta tambahan uang untuk ber-
taruh. Tentu saja kutolak mentah-mentah, kami cekcok sejenak.
Lalu dipisah oleh seorang tukang becak di sana. Utang setoran
becak sudah menunggak tiga hari. Jika dituruti terus berjudi,
kami benar-benar akan puasa. Biar! Kugendong Dono. Sambil
jalan keluar, aku memegang-megang pangkal dada kiriku, kura-
sakan uang dari Pak Kasdi masih terselip di situ.
***
Sejak pertama aku mengenal Jarno, ia adalah lelaki kampung
yang suka bergaya meski tukang becak. Ia menyediakan dana
untuk membeli gel rambut, selain pakai kemeja dan kacamata
hitam lengkap dengan sepatu kets bututnya. Aku merasa geli
melihatnya ketika itu. Ketika aku memasuki 22 tahun, bapak
dan ibuku mulai cerewet, menanyakan kapan aku akan meni-
kah. Aku sadar betul, dengan usia yang semakin bertambah,
64
http://facebook.com/indonesiapustaka aku cenderung menjadi beban bagi mereka. Maka ketika Jarno,
yang beda lima tahun usia, mengutarakan keinginan untuk me-
lamar, aku memperbolehkan laki-laki itu datang berbicara pada
orangtuaku.
Meski sebelum menikah kami dekat cukup lama—sekitar satu
tahun—ternyata waktu segitu tak cukup bagiku untuk mengenal-
nya. Ketika kami mulai berumah tangga, sedikit demi sedikit
perangai aselinya mulai terlihat. Selain berjudi, aku kadang me-
nemukannya pulang ke rumah sambil teler. Kalau sudah begini,
ia tak segan main tangan dan menyisakan bilur-bilur di pipi dan
badanku. Aku ingin pulang ke rumah orangtua, tapi malu. Mau
lari, lari ke mana? Tak ada tempat berlindung bagiku. Hingga
pada suatu pagi buta, jam tiga pagi, ketika Jarno telah tiga hari
tak pulang, dan aku terus menunggunya di stasiun, ketika itulah
kereta dari Jakarta tiba.
Aku tak akan melupakannya; Dono tidur meringkuk di bang-
ku tunggu dengan jarit menutupi tubuh kecil anakku. Peluit
panjang melengking dingin, melafalkan subuh yang tak bisa di-
bilang hangat. Aku terkantuk-kantuk ketika sebuah suara mene-
gurku. Sosok berperut buncit berdiri di depanku. Pak Kasdi yang
baru turun dari kereta membeli sebungkus nasi, meski kubilang
itu bukan nasi baru, melainkan nasi kemarin sore. Sudah sekitar
dua tahun aku mengenalnya. Ia kerap jajan daganganku.
“Biarin, saya lapar,” ujarnya waktu itu. Ia langsung mema-
kannya dengan lahap, juga mengambil air botol untuk minum.
Aku beramah-tamah sekenanya. Laki-laki ini kerap kulihat di
stasiun, bolak-balik, turun-naik kereta.
“Pasti enak ya, naik kereta api bagus tiap hari,” komentarku.
“Kalau jadi penumpang enak, jadi masinis sih kerja!”
65
http://facebook.com/indonesiapustaka “Aku belum pernah naik kereta api eksekutif.”
“Sekali-kali naiklah!”
“Duit dari mana?” aku mencibir.
Lalu ujarnya, “naik kereta kalau aku jadi masinisnya, nanti
kugratisi!” Aku tertawa kecil mendengar perkataan Pak Kasdi.
“Berapa?” tanyanya selesai makan.
“Tujuh ribu lima ratus, Pak.”
Pak Kasdi mengeluarkan lembar sepuluh ribu, “nih… kem-
baliannya buat jajan anakmu.” Aku kesenangan. Pak Kasdi me-
nusuk-nusuk giginya dengan batang korek api. “Kamu kok ndak
pulang Ning? Kasihan anakmu tidur di sini.”
“Ngejar setoran, Pak!” jawabku.
“Lah… setoran biar bojo-mu saja yang nyari toh!”
“Ya dua-duanya yang nyari setoran, Pak. Kalau cuma satu,
bisa-bisa puasa. Wong dua orang saja masih lapar!” lalu aku
terkekeh, terbiasa membicarakan perut kosong dengan kelakar.
Pak Kasdi memandang sambil diam, ia tak tertawa sama sekali.
Jelas ia tak menganggap leluconku lucu. Aku tak akan pernah
lupa rasa salah tingkahku waktu itu. Tak pernah aku merasa
rikuh sebegitu rupa.
“Ning, biar anakmu tidur di messku saja ya!” ujar Pak Kasdi.
Lelaki itu langsung mengangkat Dono tanpa menunggu persetu-
juanku. Tentu saja ini membuatku panik. Aku memohon untuk
tidak membawa Dono, tapi Pak Kasdi bersikeras. Cepat-cepat
kuminta temanku untuk mengawasi barang daganganku.
“Oalah Ning, Ning!” keluh temanku, “kalau bojo-mu datang
nyari kamu gimana?” Aku tak menjawabnya, mengikuti langkah
Pak Kasdi dengan terburu-buru menuju mess yang letaknya tak
jauh dari stasiun.
66
http://facebook.com/indonesiapustaka Lelaki itu merebahkan Dono di kasur. Ini kali pertama aku
masuk ke mess pegawai Kereta Api. Sekali lagi kucoba membu-
juk Pak Kasdi untuk membawa Dono pergi, tapi laki-laki itu tak
membiarkannya.
Pak Kasdi dengan santai melepas seragamnya, menggantung-
nya di pintu dan berganti kaos berkerah yang lecek tak diseteri-
ka. Aku hanya diam, memperhatikan ruangan asing dan anakku
yang lelap sambil sekali-kali mencuri pandang pada Pak Kasdi.
“Bojo-mu jam segini di mana Ning?”
“Paling mangkal di sekitar terminal. Kan gini hari banyak
yang pakai becak di sana ketimbang di stasiun,” jawabku, dalam
hati aku bilang; sudah tiga hari dia tak pulang.
“Nganter lonte, maksudmu?”
Aku diam saja. Semua orang juga tahu bahwa tukang becak
itu kerja sampingannya jadi mak comblang antara lonte, tamu
dan pemilik penginapan jam-jaman. Upahnya lebih besar ke-
timbang mengantar penumpang biasa, dan kalau beruntung bisa
dapat ‘jatah’ seorang lonte. Entah gratisan dari tamu atau dari
lontenya itu sendiri.
“Kamu ndak kasihan lihat anakmu toh, Ning?” tanya Pak
Kasdi lagi, ia mengelus kepala Dono.
“Ya kasihan,” jawabku singkat, tapi mau gimana lagi; lanjut
kalimatku dalam hati.
Kami diam, Pak Kasdi memandangiku. Aku seraya berdebar-
debar. Tiba-tiba tangan Pak Kasdi mendekat ke rambutku dan
membetulkan helai rambut yang jatuh di pipiku. Diselipkannya
ke balik telinga kananku, membuatku semakin berdebar-debar.
“Ning…” ujar Pak Kasdi lirih. Aku bisa mencium aroma tu-
buh laki-laki itu. Masam dan panas. Dua detik kemudian pipiku
67
http://facebook.com/indonesiapustaka terasa geli sebab kumis jarang-jarang Pak Kasdi telah mendarat
di situ. Bulu kudukku berdiri. Aku tak beranjak. Aneh, aku me-
rasa nyaman. “Ning…” bisik Pak Kasdi lagi. Lelaki itu semakin
berani, kali ini mencium bibirku. Aku mengira, Pak Kasdi akan
merambah tubuhku, tapi dugaanku salah. Sebab Pak Kasdi ke-
mudian hanya memandangi wajahku hingga dari luar terdengar
suara ayam jantan berkokok dan samar hari yang hitam berubah
jadi terang.
“Saya harus pergi, Pak.”
Pak Kasdi jeda sejenak, lalu jawabnya, “ya.”
Aku menggendong Dono ke luar mess jalan menuju stasiun.
Empat hari lewat, aku masih belum percaya dengan kejadian
itu. Dan setiap ingatan itu lewat, setiap kali pula jantungku
berdebar kencang. Lebih dari itu, jika aku menutup mata, masih
bisa kuingat dengan jelas; aroma tubuh, ruangan asing, dan
kulit bibir serta kumis tipis Pak Kasdi yang menempel di wajah.
Setiap kali Pak Kasdi datang, aku tahu laki-laki itu pasti akan
menemuiku meski sejenak, meski kereta hanya sekadar berhenti
sejenak. Aku jadi rajin menanyakan jadwal perjalanan yang di-
tempuh Pak Kasdi.
***
Entah siapa yang memulai, yang pasti para pedagang di stasi-
un dan tukang-tukang becak mulai kasak-kusuk dengan gosip
aku pacaran lagi. Aku tak merasa pacaran lagi, tak pernah ada
kejadian intim apa-apa setelah insiden di mess tempo lalu.
Paling-paling, Pak Kasdi hanya mampir beli sesuatu dengan ti-
dak mau diberi kembalian. Itu saja. Lebih dari itu, kami hanya
68
http://facebook.com/indonesiapustaka mengobrol, tak pernah janjian di mana-mana. Awalnya, aku tak
terlalu ambil pusing, meski aku tetap berbicara pada Pak Kasdi
mengenai gosip-gosip ini.
“Ning… ikutlah denganku,” ujar Pak Kasdi lembut. Aku me-
natap Pak Kasdi, lalu menggeleng ragu. “Anakmu ajak saja. Aku
nanti yang merawat kamu.”
“Pergi?”
“Iya, pergi… sama aku. Aku… cinta sama kamu, Ning,”
ucapnya ragu.
“Cinta?”
“Cinta,” tegasnya.
Ah, tak mungkin. Tak mungkin! Aku mengelak berkali-kali
dalam hati. Dia punya istri. Entah di kota mana, yang pasti di
salah satu kota yang dilewati keretanya. Jika aku nekat, naik ke
dalam keretanya ketika kereta itu berhenti sejenak, dengan ber-
pura-pura menawarkan daganganku, tentu tak akan ada orang
yang sadar. Tahu-tahu aku hilang begitu saja. Meski mungkin
akan ada yang curiga, dan bisa menduga bahwa aku pergi de-
ngan Pak Kasdi. Jadi, tak mungkin, tak mungkin!
Jarno pulang, sambil mabuk (lagi). Ujarnya, ibu warung bi-
lang aku membayar dengan uang seratus ribuan. Padahal aku
tak pernah memegang uang seratus ribuan. Omongannya mera-
cau, dan sampailah pada gosip hubunganku dengan Pak Kasdi.
Ia menyumpah-nyumpah; membandingkan dirinya yang sopir
becak dengan masinis kereta api, mengatai-ngataiku, bilang
seharusnya aku berterima kasih padanya yang sudah menga-
winiku, sebab tak ada laki-laki yang mau padaku selain dirinya.
Aku geram, sambil ketakutan aku berkata dengan nada ting-
gi, “Kamu pikir aku tidak tahu, kamu sering ngelonte di terminal
sana?!”
69
http://facebook.com/indonesiapustaka “Heh, aku ini tukang becak, patut kalau ngelonte. Kamu itu
ayu juga enggak, sok ngelonte sama masinis!” balas Jarno.
Aku kalap, berteriak keras, “AKU BUKAN LONTE!” sambil
menyerang lelaki itu. Lalu dengan kekuatan orang mabuk, Jarno
memukulku keras. Aku tersungkur, tapi langsung bangkit lagi.
Rahangku sakit tapi aku tak sudi terima perlakuan kasarnya lagi.
Dengan cepat, aku meraih pintu depan, lalu berlari sekencang-
kencangnya. Ketika itu jam dua pagi, beberapa orang terbangun
dan terlihat heran, berdiri di depan pintu rumah petak kami.
Aku terus berlari menuju ke stasiun kereta. Pak Penjaga pintu
masuk terkantuk-kantuk. Aku tahu, Jarno mencoba mengejarku,
dan orang-orang mencoba menghentikannya. Ia mabuk dan
kalap, semua orang tahu ia berbahaya. Ia tak terlihat di bela-
kangku. Kakiku perih, kelihatannya berdarah, entah tadi aku
menginjak beling atau kerikil tajam. Aku terus menuju ke toilet
perempuan. Aku cuci muka, kulihat mata kananku mulai kebi-
ruan. Seorang banci menegurku heran, lalu dengan kemayu ia
memberikan tisu.
Salah satu bilik toilet kumasuki, dan diam di sana sambil
menangis. Kepalaku pening sekali. Tiba-tiba kudengar bel empat
nada, pengumuman dilantangkan, kereta dari Jakarta tujuan
akhir Solo tiba di jalur empat. Ini berarti penumpangnya akan
cepat turun, dan kereta segera berangkat lagi melanjutkan per-
jalanan ke stasiun akhir di kota tetangga. Aku mencoba mengi-
ngat-ingat jadwal kereta Pak Kasdi. Apakah dia yang ada di situ?
Aku keluar dari toilet. Anak usia belasan tahun yang jaga
toilet menyumpah-nyumpah sebab aku tak membayar uang ke-
bersihan. Aku tak peduli, langsung berjalan ke jalur empat. Dari
kejauhan, kereta mulai mendekat, lalu berhenti. Aku berjalan ke
70
http://facebook.com/indonesiapustaka arah kepala gerbong. Kucari-cari wajah Pak Kasdi, apakah dia di
sini? Sebuah suara menegurku dari belakang, “Ning?” Aku kenal
betul suara itu. Pak Kasdi! Aku menujunya sambil menangis. Dia
menyuruhku untuk mengendalikan diri, lalu memeriksa bengkak
di wajahku.
“Ikutlah denganku!” ujarnya. Aku ragu. Bel empat nada
berbunyi lagi, pengumuman dilantangkan lagi, kereta di jalur
empat segera diberangkatkan. “Ayo!” ajaknya lekas-lekas. Aku
makin bimbang, yang terbayang dalam benakku wajah Dono.
Anak itu tadi masih tidur di rumah. Pak Kasdi memegangi ta-
nganku, katanya lagi, “ayo!”
Sedetik kemudian, kakiku sudah menjejak ke dalam ger-
bong. Kurasakan kereta bergerak. Samar dari kejauhan, kulihat
Mas Jarno berjalan sempoyongan, tanpa daya memaksa kereta
berhenti, dan Dono berjalan gontai di belakangnya sambil me-
nangis.
71
http://facebook.com/indonesiapustaka Rumah Duka
HAL pertama yang muncul di kepala saat laki-lakiku mena-
matkan sisa nyawanya adalah; mungkin perempuan itulah yang
lebih kehilangan dibanding aku, istri sahnya. Ketika itu jarum
jam menggenapkan pukul tiga pagi. Anak perempuanku mena-
ngis berteriak memanggil-manggil nama papahnya, gema suara-
nya menyayat ke sudut-sudut koridor rumah sakit. Aku menangis
tertahan. Sedang anak laki-lakiku menjadi bisu dan dingin.
Entah siapa yang mewartakan, tahu-tahu perempuan itu
muncul di depan kamar rumah sakit ini. Wajahnya menghitam
karena duka. Ia hendak masuk ke kamar ini, mendekati mayat
suamiku. Tapi aku tak membiarkannya.
“Tolong… hormati keluarga kami yang sedang berduka,”
desisku. Ia menghentikan langkah, menatapku sebentar, lantas
berbalik dan berlalu. Mungkin sambil menangis.
Kami segera mengurus segala hal untuk kremasi. Rumah
duka kami booking. Rangkaian bunga dukacita dari kolega-
kolega suamiku mulai berdatangan. Hari ini, mayatnya dirias,
sebelum diistirahatkan. Tujuh belas tahun! Tujuh belas tahun!
Perempuan itu mencuri tujuh belas tahun dari tiga puluh empat
tahun pernikahan kami. Aku mengumpat sambil memilih jas
terbaik untuk suamiku. Aku selalu tahu, suamiku suka mencicipi
banyak perempuan. Seperti kesukaannya mencicip makanan
di banyak restoran (kami tak punya restoran favorit keluarga,
72
http://facebook.com/indonesiapustaka acara makan malam di luar rumah selalu berpindah lokasi).
Aku tahu, dan diam-diam aku tak keberatan, dengan syarat;
perempuan-perempuan itu tetap sebagai ‘makanan’ dan bukan
sebagai ‘anjing’. Ya, sebab jika sudah menjadi ‘anjing’, berar-
ti dia dipelihara. Kadang jika ketahuan baru ‘jajan’, aku akan
marah-marah. Tapi toh, diam-diam aku tak keberatan, selama
jajanan tak dibawa ke rumah. Aku punya alasan sendiri untuk
ini. Ia biasa beralasan tugas di luar kota, atau pulang pagi kare-
na lembur, dan sampai di kamar ini, tanpa melepaskan keme-
janya ia langsung tidur mendekap guling mirip udang. Tapi ia
tetap milikku, pulang kepadaku. Hingga si jalang itu datang ke
kehidupan kami. Penyanyi kafe jazz bersuara berat, berusia per-
tengahan dua puluh, berkulit agak gelap, dan (tentu saja) lebih
langsing dariku. Aku mengobrak-abrik lemari, mencari sebuah
dasi sebagai pelengkap pakaian suamiku. Ada banyak dasi, tapi
yang kumaksud belum juga ketemu. Dasi yang kubelikan di
Singapura.
Suamiku sejak kecil berlatih saksofon. Ada masa ia ingin
menjadi seorang musisi, tetapi orangtuanya tak setuju. Ia me-
ngubur impiannya. Menahan saksofon untuk sekadar hobi.
Kupandangi kotak saksofon yang ditinggal empunyanya. Kubu-
ka, warnanya masih mengkilat. Beberapa hari sebelum masuk
rumah sakit, suamiku sempat membersihkan saksofon ini. Kini
ia teronggok bisu di dalam kotak. Jazz adalah musik sejati su-
amiku. Aku pun penyuka musik, tapi sungguh… sampai ajal
suamiku, aku tetap tak bisa menikmati jazz. Aku lebih suka pop
dengan nada-nada slow. Musik-musik orang kebanyakan. Musik
yang bisa dinikmati semua orang. Musik yang tidak eksklusif.
Perhatianku teralih ke lemari lagi, masih mencari dasi yang ku-
73
http://facebook.com/indonesiapustaka maksud. Mungkin, awalnya perempuan itu hanya ‘makanan’,
tapi ia makanan yang diramu oleh chef yang andal, jadilah su-
amiku ketagihan. Lama-kelamaan, ‘makanan’ itu menjelma jadi
‘anjing’ peliharaan. Entah kenapa, aku jadi malah membongkar
seisi lemari, bahkan lemari bagian pakaianku pun isinya sudah
bertebaran di lantai kamar kami.
***
Ranjang di kamarku serasa hangat, seperti tuntas ditiduri sosok
manusia malam itu. Malam ketika Bim meninggal dunia. Dari
pukul sembilan aku berusaha memejamkan mata, tapi tak bisa.
Sudah satu minggu Bim masuk rumah sakit, dan aku (tentu saja)
tak bisa menengoknya. Siapalah aku, orang luar perusuh rumah
tangga orang. Meski aku cinta setinggi langit sedalam lautan, itu
tak mengubah apa pun. Apalagi statusku.
Tujuh belas tahun lalu, Bim muncul dalam hidupku. Saat
malam-malam aku masih menyanyi di sebuah kafe jazz. Dia
datang bersama sekelompok teman. Salah satu dari mereka
diperkenalkan sebagai istrinya, yang naga-naganya tak terlalu
menikmati musik jazz. Tapi Bim kulihat sangat menghayati
lagu-lagu yang kami suguhkan. Lalu, ketika band kami istirahat
sejenak, dan panggung kosong, Bim tiba-tiba maju. Dengan per-
caya diri ia mengeluarkan saksofon milik pribadi dan meminta
izin untuk memainkannya. Smoke Gets in Your Eyes mengalun.
Aku yang tadinya hendak mengistirahatkan suara, jadi tertarik
untuk bernyanyi dengan iringan tiupan saksofon Bim. Aku lang-
sung menyambar mikrofon. Pengunjung kafe bersorak dengan
penampilan kami.
74
http://facebook.com/indonesiapustaka Bim mulai jadi pengunjung setia kafe jazz. Awalnya, masih
bergerombol dengan teman-temannya (kadang pula dengan istri).
Lama-kelamaan, teman yang ikut makin sedikit, dan akhirnya, ia
lebih sering datang sendiri. Setelah ketujuh kalinya datang solo,
ia menunggu hingga kafe tutup jam dua pagi. Lantas mena-
wariku untuk diantar pulang. Ketika itu, aku sudah sangat tahu
bahwa ia kerap datang hanya untuk melihatku. Kami tak lang-
sung pulang, ia menawariku makan tengah malam. Satu-satunya
tempat makan yang masih buka jam segitu, yang nyaman untuk
ngobrol, adalah restoran di hotel berbintang. Kami berbincang
tentang musik. Dari situ aku tahu, ia adalah pengagum Louis
Armstrong. Betapa selera kami sama, dan itu adalah pemantik.
Sebab hari itu berakhir dengan check-in.
“Istrimu… apa dia tidak mencarimu?”
“Dia tahu, aku sering kerja sampai pagi.”
Jam lima pagi, kami check-out. Ia mengantarku pulang ke
kos. Aku melanjutkan tidur dalam damai. Seks yang hebat, pi-
kirku, habis ini ia tak akan pernah muncul lagi karena yang
diinginkan sudah ia dapat. Tak pernah terpikir, bahwa malam itu
hanya awal dari tujuh belas tahun hubungan kami berikutnya.
Hingga ia diambil Tuhan.
Aku terbiasa tidur dengan ranjang yang dingin. Ia pulang ke
tempat istrinya, dan hanya datang kalau sedang alasan tugas ke
luar kota. Atau mampir ketika waktu makan siang. Tak sekadar
untuk sex after lunch, lebih dari itu… ia bahkan datang hanya
untuk makan masakanku. Ya, kami kucing-kucingan macam
ini. Tapi malam itu, malam ketika ia diambil Tuhan, ranjangku
hangat. Aku bisa mencium odornya di bantal, di selimut, di
guling. Ia selalu tidur mirip keluwing, dengan guling didekap
75
http://facebook.com/indonesiapustaka erat. Bahkan aku bisa merasakan aroma sisa percintaan kami.
Kupandangi parfumnya di meja riasku, dan selembar celana
pendeknya yang tergantung di pintu. Sedikit barang yang se-
ngaja ditinggalkannya di sini. Aku tahu ia di rumah sakit mana,
meski aku tak pernah mengunjunginya. Aku harus menemuinya!
Harus!
***
Aku tak pernah menyangka bahwa suamiku akan mati terlebih
dahulu. Gagal ginjal sudah lama mengancamku di sudut jalan
dengan belatinya. Aku selalu bersiap ia menggorok leherku, dan
mencongkel nyawaku. Bertahun-tahun aku harus menjalani cuci
darah. Bertahun-tahun pula aku mencari donor ginjal. Meski
kedua anakku menawarkan satu ginjal mereka untukku, aku tak
mau menerimanya. Lebih baik aku cuci darah seumur hidup,
ketimbang menerima ginjal itu. Sebab itu berarti aku merampas
masa depan mereka. Tak sia-sia, aku menemukan ginjal di India.
Malah suamiku yang tiba-tiba anfal. Maut memang suka bergu-
rau dengan hidup. Inilah kenapa, aku diam-diam tak keberatan
suamiku ‘jajan’.
Rumah duka mulai penuh. Aku tak berhasil menemukan dasi
yang kumaksud. Ia terlihat tampan dengan setelan jas Armani
miliknya. Ah, harusnya kuminta ia dipakaikan kaos panjang
model turtle neck saja. Dipadu dengan jas ini, tentu keren dan
lebih terlihat muda. Kenapa pula aku harus memilih kemeja,
kalau dasi yang kumaksud tak ketemu.
Perempuan itu, si jalang itu… aku tahu, ketika lama aku
dirawat di rumah sakit, atau berobat ke luar negeri, pasti su-
76
http://facebook.com/indonesiapustaka amiku pergi ke rumahnya. Pembantuku yang lapor. Katanya,
“selama Nyonya pergi, Tuan juga tidak pulang.” Anak-anak lebih
menjaga perasaanku, tak mau mengadukan perihal macam ini.
Hal yang menyebabkan aku sedih.
Aku tahu, suamiku masih sayang padaku. Cinta mungkin
sudah tidak. Tapi sayang, masih. Dia terlihat sedih ketika lama
aku sakit. Kadang membawakan makanan yang kusuka. Aku
tak memakannya, karena dokter melarangku. Toh, aku cukup
senang dengan perhatiannya. Maka ketika pembantuku lapor
demikian, meski marah (dan sejatinya aku tak punya kekuatan
untuk marah), diam-diam aku bersyukur; ada orang lain yang
mengurus suamiku, melayaninya dengan baik. Bahkan bisa di-
ajaknya perempuan itu bertukar pikiran tentang jazz yang tak
pernah kupahami. Kupikir, masa’ kah perempuan itu cuma mau
mengeruk harta suamiku? Sebab jika ya, tak mungkin usia hu-
bungan mereka sampai belasan tahun.
Sehari setelah suamiku meninggal, aku baru bisa memahami
air mataku. Bahwa ia mengalir untuk ‘bapak dari anak-anakku’
yang kini jadi yatim (meski semua telah dewasa dan mandiri),
dan bukan mengalir untuk ‘suamiku’. Senyatanya aku tak merasa
sekehilangan itu. Sebab meski aku memilikinya, aku tak pernah
benar-benar bisa menggenggamnya. Lihat saja daftar perempu-
annya. Mungkin juga aku bukan istri yang baik, jika ya, tentu ia
tak akan ‘jajan’ di luar. Bahkan diam-diam memelihara ‘anjing’.
Aku pernah menemui perempuan itu. Meminta dia untuk tak
mengganggu rumah tangga kami. Untuk sejenak, memang sua-
miku kelihatan lebih banyak di rumah. Sehabis ngantor, lang-
sung pulang. Tapi itu tak bertahan lama. Meski aku tak melihat
dengan mata kepala sendiri, tapi aku tahu makin dekat. Malah
77
http://facebook.com/indonesiapustaka kemudian, aku juga tahu suamiku diam-diam membelikannya
rumah dan mobil. Ketika aku mencoba mencarinya di kafe jazz,
hendak melabrak dengan murka, mereka bilang dia sudah tak
bekerja di situ lagi.
***
Aku tak berhasil menemui kekasihku malam itu, malam ketika
Bim dipanggil Tuhan. Aku pulang dengan hati kosong, menangis
di ranjang kosong yang sudah berubah dingin. Kupeluk guling
Bim, mencari sisa aroma tubuhnya di situ. Ah… Bim… apa
kau tak tahu, aku lebih kehilangan dirimu ketimbang istrimu
itu? Kau milikku yang tak pernah benar-benar kugenggam. Sial
kau! Gara-gara kau, aku melewati usia pernikahanku! Gara-gara
kau juga, aku menahan diri untuk tidak hamil. Aku tak mau
memberimu masalah, sebab kau bilang, jika aku hamil berarti
itu masalah. Gara-gara kau, aku sekarang kesepian. Sial kau,
Bim! Terkutuklah kau di neraka jahanam sana!
Aku pernah menuntut Bim untuk memilih, antara aku dan
istrinya. Ia selalu bilang, tak akan menceraikan istrinya, sebab
agamanya melarang. Mengajarinya untuk menikah satu kali, dan
hanya sekali. Tak boleh bercerai. Aku pun tak mau dijadikan istri
kedua, meski agamaku memperbolehkan poligami.
“Kan bisa pembatalan pernikahan!” protesku.
“Prosesnya tak gampang. Tahunan.” Alasannya. Biarpun ta-
hunan, akan kutunggu kau! Toh Bim tak pernah mengajukan
pembatalan pernikahan. Menurutku, bukan agama yang menja-
di alasannya. Ia masih cinta. Ya, ia masih cinta perempuan itu.
Ini terlihat jelas ketika istrinya sakit keras. Kata Bim, seminggu
78
http://facebook.com/indonesiapustaka dua kali istrinya mesti cuci darah. Aku sempat mengangankan,
sebentar lagi kami akan jadi suami-istri. Sebentar lagi perempu-
an itu game over. Tapi aku keliru.
Meski ketika perempuan itu berobat ke luar negeri Bim ting-
gal di tempatku, toh ia tak berhenti membicarakan istrinya. Ke-
nangan mereka, awal-awal pernikahan mereka dan bagaimana
mereka berjuang bersama dari nol (yang tak pernah kualami),
serta ketakutan karena istrinya sekarat. Aku cemburu. Sangat
cemburu. Terlebih ketika tema musik jazz tak lagi menarik
baginya. Lalu suatu hari, ketika telah dua minggu Bim tinggal
di rumahku selama istrinya berobat, dan aku mulai merasa ia
milikku sepenuhnya, tanpa harus pulang ke rumah sana, Bim
menerima telepon. Ia girang bukan kepalang, dengan semangat
ia bilang padaku, “ginjalnya dapat! Ginjalnya dapat!” lalu dici-
umnya pipiku, saking gembiranya. Diam-diam aku menyumpah,
aku marah pada Tuhan. Kenapa Ia mempermainkan perasaanku.
Impian-impianku, rasa nyaman adanya Bim di rumahku, tercera-
but kasar. Aku sadar lagi; Bim belum jadi milikku, dan memang
tak pernah jadi milikku.
Obituari Bim muncul di koran pagi ini, memberitahuku ia di-
semayamkan di rumah duka mana. Dia masih kekasihku, meski
sudah tak bernyawa. Dan aku merasa, meski tak satu hal mam-
pu mengubah keadaan apa pun—apalagi statusku—aku tetap
mencintai Bim. Setinggi langit sedalam lautan. Aku akan me-
nyetir pelan-pelan, sambil mengisi penuh tangki keberanianku.
Aku harus menemui Bim, memberinya penghormatan terakhir
sebelum dia dibakar jadi abu.
***
79
http://facebook.com/indonesiapustaka Ia datang lagi, perempuan jalang itu. Pasti ia baca obituari di
koran. Ini risikonya. Ia jadi tahu. Beberapa orang memandangi
kedatangannya, beberapa berbisik-bisik. Tentu mereka tahu si-
apa perempuan itu dan bagaimana statusnya. Ia mendekatiku.
Apa ia tak sadar, aku bisa jadi harimau yang tiba-tiba menerkam
anjing buduk.
“Maaf, ini dasi kesayangan Bim. Mungkin dia mau mema-
kainya.”
“….” Kupandangi dasi yang dilipat rapi itu. Dasi yang dua
hari terakhir ini kucari-cari. Tak terpikir bahwa suamiku akan
menyimpan di rumahnya. Tentu ada barang lainnya di sana. Ba-
rang-barang pribadi suamiku yang tiba-tiba hilang. Aku mengerti
sekarang, rumah perempuan itu, bagi suamiku adalah rumahnya
juga. Atau mungkin aku sudah tahu, tapi coba mengelak. Kute-
rima dasi itu.
“Bolehkah saya…”
“Silakan,” potongku.
“Terima kasih.”
Entah kenapa, aku seraya lega. Meski kulihat perempuan itu
mencium suamiku. Suamiku yang semakin tampan dengan dasi
ini.
80
http://facebook.com/indonesiapustaka Foto Ibu
SUDAH kupikir masak-masak, jika aku kelak membuat tatto,
maka tatto itu adalah wajah ibuku. Akan kuukir di kulit pung-
gungku, lebih tepatnya lagi di bagian tengah punggung, agar
tak kelihatan jika aku memakai baju berpunggung agak rendah,
atau kaos yang terlalu tinggi potongan pinggangnya, atau baju
renang. Aku tak ingin ibuku melihatnya. Tentu ia akan menga-
muk jika tahu aku membuat tatto, meskipun itu tatto wajahnya.
Aku bisa membayangkan ibuku akan berkhotbah; orang yang
ada gambar di kulit, salatnya tidak akan diterima, lalu akan
masuk neraka. Sayangnya aku tak percaya neraka itu ada, se-
perti pesimisnya aku akan keberadaan surga. Yang aku percaya
adalah reinkarnasi. Tapi ibuku percaya, dan aku tak mau menge-
cewakannya. Cita-cita ibuku adalah; kami sekeluarga—Ibu, aku,
kedua adikku, dan Bapak—masuk surga bersama-sama. Sedang
cita-citaku adalah; di kehidupan yang akan datang, aku ingin
dilahirkan sebagai ibu dari ibuku, agar aku bisa membalas kasih
sayangnya di kehidupan yang sekarang.
Ibu pernah muda. Itulah kesimpulan yang kutarik ketika
kami membuka-buka kembali album foto lama keluarga. Ia per-
nah menjadi gadis yang baru berkembang. Meski sekarang Ibu
melarangku memakai celana pendek (terutama jika bepergian),
toh kutemukan selembar foto Ibu sedang bergaya dengan cela-
na pendek yang sekarang populer dengan sebutan ‘hot pants’.
81
http://facebook.com/indonesiapustaka Ketika itu, usianya sekitar 13 tahun. Tipikal foto zaman itu, ba-
gian pinggirnya dipotong dengan cara yang khas, seperti diukir.
Kenapa foto-foto sekarang tidak dipotong demikian, ya? Aku
tak pernah mendengar cerita Ibu punya pacar ketika berusia
ABG (=anak baru gede). Aku ingat ketika aku duduk di bangku
SMP, Ibu marah-marah padaku saat seorang teman laki-lakiku
mulai rutin telepon ke rumah. Tentu saja, temanku itu naksir
aku. Meski aku tidak naksir dia, tapi aku tetap menerima tele-
ponnya baik-baik. Ibu mulai rajin angkat telepon, dan jika itu
ditujukan untukku, Ibu kerap berkata bahwa aku sedang tidur
atau sedang belajar. Jika pun disampaikan padaku, Ibu akan
menginterogasinya terlebih dahulu. Ibu mulai menghapal suara
teman-temanku.
“Ini foto waktu aku sudah lulus kuliah, dan mau cari kerja,”
komentar Ibu pada selembar foto hitam putih. Menurut Ibu, pas
foto sekarang terlalu kaku. Semua melihat ke arah kamera, jika
kau terlalu menunduk maka jidatmu yang lebar akan terlihat
semakin jembar. Sedang jika terlalu mendongak, maka bibirmu
kelihatan tambah maju. Belum lagi baju yang harus berkerah,
semakin menambah kesan kaku. Ibu berfoto demikian baru ke-
tika akan menikah. KUA mengharuskan foto model kaku begitu.
Lalu setelah menikah, disusul foto-foto kaku lainnya yang senga-
ja diambil secara massal berbarengan dengan ibu-ibu Dharma
Wanita lainnya. Tentu saja latar yang dipergunakan berwarna
merah, dengan seragam Dharma Wanita yang berwarna pink
keungu-unguan.
“Jaman dulu, semua pas foto lamaran kerja berupa ‘proil’
yang kupingnya harus kelihatan, dan difoto menyamping,” jelas
Ibu. Memang kelihatan lebih anggun.
82
http://facebook.com/indonesiapustaka “Jaman sekarang, kalau aku melamar kerja dengan foto mo-
del begitu, pasti tidak diterima. Bisa-bisa disangka genit pula
kirim foto model gitu,” ujarku.
Ibu ingin aku menjadi pegawai negeri, “lebih bagus lagi ka-
lau bisa kerja di bank!” ujar Ibu, ketika aku baru lulus kuliah.
Sejujurnya, aku tak tertarik bekerja di bank, meski ada uang
pensiun. Bapakku bekerja di bank. Dulu, ibuku sering bilang,
“siapa tahu nanti bapakmu bisa memasukkanmu ke bank ini
atau ke bank itu.” Suatu hari aku mengantarkan Ibu pergi ke
bank untuk mengambil uang (ketika itu ATM belum tren), teller-
nya cantik-cantik dengan make-up tebal, seragam necis, ruang
kerja ber-AC. Nasabah bergantian dilayani. Tiba-tiba aku meli-
hat mereka mirip robot yang sudah diprogram; caranya memberi
salam, melayani, tersenyum, sampai mengucapkan terima kasih.
Aku ke luar bank, dan mendapati diriku muntah-muntah demi
melihat itu semua. Sejak itulah aku bersumpah, tak mau kerja di
bank. Tapi Ibu punya cerita lain lagi soal bank:
“Waktu aku kecil,” Ibu memulai ceritanya, “kakekmu itu
kerjanya pedagang. Kalau lagi ramai, kami sekeluarga jadi kaya.
Tapi kalau lagi sepi, kami bisa kelaparan. Suatu hari, ketika
kami sedang kelaparan, aku melihat ada pegawai bank yang
makan bakso di depan kantornya. Mereka bisa mengambil sen-
diri bakso yang mau dibeli. Sejak itu, cita-citaku ingin kerja di
bank atau punya suami pegawai bank.” Dan ternyata Tuhan me-
ngabulkan doa-doa ibuku (ngomong-ngomong cerita ini kerap
diulang-ulang dituturkan padaku).
Kami membuka-buka kembali album foto yang berserakan.
Gambar-gambar itu bercerita dengan bahasanya sendiri-sendiri.
Jika dipikir-pikir, ibuku itu sebetulnya hobi difoto. Ada banyak
83
http://facebook.com/indonesiapustaka gambar dengan kostum yang berbeda-beda. Entah itu sedang
duduk di depan kaca, sambil memegang bunga, duduk di
bangku taman, di dekat sebuah mobil (yang zaman itu) mewah,
dan lain-lain. Aku jadi geli sendiri. Bahkan aku pun tidak se-
banci-kamera itu. Terakhir aku niat difoto dengan mimik cantik
dan pakaian anggun adalah setelah Ibu berhasil memasukkanku
untuk kursus pengembangan kepribadian. Menurut Ibu, anak
gadis satu-satunya ini terlalu tomboi, kursus itu dianggapnya
mampu menyelamatkan hidupku.
Foto pernikahan Ibu yang dicetak besar hanya ada satu, yaitu
ketika difoto bersama orangtua dan mertuanya (kakek dan ne-
nekku). Ibu dan bapakku berpakaian adat Jawa, lengkap dengan
paes dan blangkonnya. Mereka menikah dengan pakaian adat
Yogyakarta. Konde Ibu kempes. Mungkin zaman itu belum mu-
sim pengantin di-hairspray.
“Dulu sebelum bapakmu, pacar Ibu pilot.” Kuingat Ibu per-
nah bercerita demikian. Dulu… dulu sekali, waktu aku masih
SD. Lalu aku membayangkan punya Bapak yang bisa mener-
bangkan pesawat. Pasti keren.
“Kok tidak menikah sama yang itu saja, Bu?” tanyaku waktu
itu.
“Dia meninggal, pesawatnya kecelakaan,” ujar Ibu. Di kepa-
laku tiba-tiba muncul gambar pesawat njebluk ke tanah. “Lagi-
pula, kalau Ibu menikah sama dia, kamu tidak bakalan lahir,”
sambung Ibu.
Aku tak pernah menanyakan lagi pada Ibu tentang pacarnya
yang dulu. Yang kutahu kemudian, Ibu cukup bahagia hidup de-
ngan Bapak. Ada aku dan adik-adikku yang meramaikan hidup
mereka. Aku tak pernah membaca kesusahan di wajah Ibu, tak
84
http://facebook.com/indonesiapustaka pula membaca kegirangan yang teramat sangat. Hidup ibuku
berjalan seperti seharusnya kehidupan seorang perempuan; se-
kolah, menikah satu kali, membesarkan anak, mengurus rumah,
menjahit, menanam bunga, sementara suaminya bekerja.
Gagal menikah dengan pilot, cintanya tertambat pada seo-
rang pegawai bank. Baginya, kerja di bank berarti kemapanan;
ada gaji tetap, ada tunjangan untuk keluarga, ada uang pensiun.
Singkatnya, kehidupan terjamin.
Ibuku selalu bilang, bahwa seorang istri membawa rezeki
sendiri-sendiri bagi suaminya. Setelah menikah dengan Ibu, ka-
rier Bapak terbukti menanjak. Mereka memulai hidup dari nol.
Hingga kemudian bisa beli tanah, beli mobil, bikin rumah yang
bagus. Konon, sampai-sampai kakekku ketika berkunjung ke
rumah baru mereka bergumam begini, “Masya’allah… anakku
bisa bikin rumah sebesar ini!” Tapi aku lalu menemukan kenya-
taan lain; teman sekolahku, bapaknya kerja jadi tukang becak.
Jelas-jelas itu bukan karier yang menanjak. Aku bertanya-tanya,
apa dulunya sebelum orangtua temanku menikah, bapaknya itu
pengangguran? Sehingga jadi tukang becak saja berarti sudah
merupakan kenaikan pangkat. Hingga suatu hari aku membuka-
buka sebuah majalah tua, sebuah artikel menarik perhatianku;
‘Letak Tahi Lalat dan Artinya’. Aku menemukan satu rahasia!
Ibuku punya semacam tahi lalat di ujung jemarinya, tepatnya di
salah satu jari manis tangannya. Konon, perempuan dengan tahi
lalat di posisi ini, membawa rezeki untuk suaminya! Tiba-tiba
aku jatuh kasihan, ibunya temanku pasti tidak punya tahi lalat
di ujung jarinya….
Kubandingkan foto-fotoku dengan foto-foto ibuku. Ada
gambar aku cemberut, tertawa keras-keras, bergaya ala rapper,
85
http://facebook.com/indonesiapustaka sampai foto aku menangis gara-gara rebutan bantal kesayang-
an dengan adikku pun ada. Foto-foto Ibu, tak ada satu pun
yang berekspresi berlebihan. Wajahnya selalu dengan senyum
tertahan yang tak genap menjadi sunggingan. Ibu bahkan sangat
jarang memperlihatkan geliginya di foto. Mimiknya selalu te-
nang. Ia tahu sudut mana dari wajahnya yang paling apik ketika
difoto. Rambutnya pun tak pernah tak rapi. Berbeda denganku,
yang bersisir pun malas. Bahkan ada fotoku yang baru bangun
tidur dengan rambut acak-acakan. (Taruhan, ibuku pasti tak
akan mau difoto ketika bangun tidur.) Ibu selalu menganggapku
terlalu emosional, mungkin Ibu benar. Buktinya, lihat saja foto-
fotoku. Mulai dari menutup pintu yang menurutnya terlalu keras
(aku selalu menganggap, ini bukan salahku, melainkan salah
pintunya yang susah dibuka-tutup), berjalan dengan langkah
yang terlalu tergesa, hingga memencet mesin ketik dengan keras
sehingga menimbulkan bunyi berisik (dan menurutku ini pun
salah mesin ketiknya yang terlalu keras untuk dipencet). Ketika
aku marah akan suatu hal yang mengesalkan, ibuku mengingat-
kan bahwa berdoa lebih baik ketika sedang merasa teraniaya.
Sebab Tuhan akan menjamin doamu terkabul. Tentu ini lebih
baik ketimbang marah-marah tak jelas juntrungannya. Ketika
aku sedang senang dan tertawa cekikikan dengan teman-teman
pun, Ibu tak alpa mengingatkan, “jangan terlalu girang!” Sebab
bisa saja setan lewat dan mengubah segala kesenangan jadi
musibah.
Aku tak pernah mengingat Ibu menangis, tidak sebelum ke-
jadian itu; ketika foto seorang anak ditemukan di dalam dompet
Bapak. Ketika itu, aku sudah tahu… dan Ibu pun sebetulnya
tahu… tapi tak ada dari kami yang berani mengutarakannya.
86
http://facebook.com/indonesiapustaka Toh Ibu masih berusaha berpikiran baik, perihal kemungkinan-
kemungkinan foto seorang anak yang ketinggalan dan dipungut
bapakku di pinggir jalan. Ia tak menanyakan langsung pada
Bapak. Hingga detik ia tak mampu lagi menahannya; aku
bersembunyi di ruang sebelah sambil memasang kuping lebar-
lebar. Ibu menangis sambil membanting pot kembang plastik
yang tak pecah. Bapak mengaku; foto itu adalah anak Bapak
dari perempuan lain. Sementara setelah kejadian itu aku menge-
luarkan segala sumpah serapah kebun binatangku pada Bapak,
sedang Ibu cuma bilang, “Bapakmu… aroma surga pun tak akan
pernah diciumnya!” Itu kalimat paling kasar yang pernah diu-
capkannya. Ibuku terdiam lagi ketika pembantu kami mengelap
air dan menyelamatkan nyawa tanaman hias yang tumpah dari
pot kembang.
Ibuku, seperti foto-fotonya, tahu sisi mana yang paling apik
yang harus diperlihatkan kepada orang lain. Kepadaku. Meski
itu berarti ia harus menahan diri. Aku tahu Bu, sesekali kau
ingin girang menari. Maka izinkanlah jarum bertinta itu bermain
di kulitku, kau boleh berdansa di punggungku.
87
http://facebook.com/indonesiapustaka Bau Laut
KETIKA lelaki itu kembali dari lelaut, ia menemuiku. Kupikir
ia telah mati ditelan air. Tubuhnya legam, air asin dan matahari
telah memanggang kulitnya. Rambutnya kemerahan, matanya
menyipit dan cekung. Aku bisa melihat ceruk ketakutan di situ,
sekaligus sejuta perlawanan seperti dalam tempur yang tak ber-
kesudahan. Aku memang tidak mengerti laut, meskipun seumur
hidup aku hidup di pinggiran laut. Tetapi aku tidak paham, apa
yang mesti ditakutkan di laut yang tak ada apa-apa selain ikan,
air dan matahari. Mungkin karena ketidakada-apa-apaan itulah
dia menjadi takut.
Namanya Mencar. Ia adalah bocah nelayan yang menjadi
dewasa di dalam kapal. Sejak kecil ayahnya membawanya ke
laut untuk mencari ikan. Dia bisa melihat ikan dari kejauh-
an, matanya sangat tajam dan awas. Hingga dewasa, dia terus
bertugas memberi tahu anak buah kapal di mana mereka bisa
menemukan segerombolan ikan untuk dipanen. Dia akan naik
ke tiang kapal, bergelantung di atasnya serupa layar, dan dia
akan berteriak dengan semangat sambil tangannya menunjuk
ke satu titik.
“IKAAAN…!”
Mencar dan aku tak pernah akur. Semasa kami bocah, dia
adalah anak yang menyebalkan. Menakut-nakutiku dengan
membawa kepiting besar hingga aku harus berlari menghindari-
88
http://facebook.com/indonesiapustaka nya. Aku terus menghindari Mencar sampai aku menjadi remaja.
Hingga suatu sore aku melihat ayah Mencar mengajak bocah itu
melaut. Di pinggiran pantai, aku melihatnya memperhatikanku.
Ada yang salah pada pandangan matanya. Meski tubuhnya ma-
sih anak-anak, tetapi sorot matanya sudah menjadi mata lelaki
dewasa. Aku bahkan lebih tinggi darinya. Tetapi sorot mata itu
membuatku jengah.
Beberapa hari kemudian, Mencar kembali. Laut memang
penyihir yang mahadahsyat, mampu mengubah semua orang.
Mencar, teman kecilku itu, berubah menjadi lelaki pada suatu
hari dia sepulang dari melaut. Aku tak melihat lagi tanda-tan-
da bocah di tubuhnya. Badan Mencar liat dan terbakar. Ketika
dia melewatiku pun, kuperhatikan kini tubuhnya menjadi lebih
tinggi. Padahal tempo hari dia lebih pendek dariku. Sorot mata
itu masih sama, seperti menelanjangiku. Malamnya, itulah yang
dilakukan tangannya: menelanjangiku. Kami bercumbu beralas-
kan pasir dan beratap bintang, serta bau laut yang menerpa
wajah kami. Bibirnya terasa asin. Mencar menjadi kekasihku.
Setiap Mencar pergi melaut, aku akan selalu melepasnya.
Ibunya memegang tanganku, mencari kekuatan dan menco-
ba meyakinkan diri sendiri bahwa suami dan putranya akan
kembali pulang. Dan inilah tugas kami, para perempuan yang
bersanding dengan nelayan: menunggu di rumah dengan was-
was dan berusaha bersahabat dengan laut dengan mengirimkan
doa-doa yang tak terbatas.
Pada satu percumbuan kami, Mencar bercerita dia bermimpi
dengan seorang perempuan yang muncul dari laut.
“Apakah itu Nyai Ratu Kidul?” tanyaku.
“Bukan. Aku tahu itu bukan Nyai Ratu Kidul.”
89
http://facebook.com/indonesiapustaka “Siapa?”
Penjelasan Mencar atas pertanyaanku tak bisa kupercaya.
“Dia adalah perempuan yang tak memiliki kaki, tetapi ekor ikan
yang menjuntai dari pinggang ke bawah.” Seumur-umur aku
hidup berdampingan dengan laut, tapi aku tak pernah memerca-
yai Putri Duyung benar adanya. “Dia menyuruhku untuk minum
air laut di ujung geladak dan buritan sebelum aku melaut lagi
besok.”
Para nelayan terbiasa membaca tanda-tanda alam, seaneh
apa pun itu. Sore keesokan harinya, para perempuan melepas
laki-laki mereka untuk melaut. Mencar menuruti mimpinya. Dia
mengambil segelas air dari ujung geladak dan buritan kapal
yang ditumpanginya. Teman-teman awak kapal bertanya-tanya
apa yang dilakukan Mencar. Toh meski awalnya mereka meng-
anggap itu aneh, tetapi mereka mengikuti apa yang dilakukan
Mencar. Mencar turun sejenak dari kapal, berlari dan meme-
gang tanganku.
“Sepulang dari melaut ini, aku akan meminangmu.” Dia
memelukku demikian erat, hingga dipanggil lagi oleh ayahnya
untuk segera kembali ke kapal. Ibu Mencar seperti biasa meng-
genggam jemariku sambil mulutnya merapal doa-doa. Biasanya,
aku bukanlah orang yang takut akan kepergian Mencar. Tetapi
kali ini berbeda. Segera setelah dia mengucapkan kalimat itu,
ada ketakutan yang menjurusku. Kali ini, aku menggenggam
tangan ibu Mencar lebih erat. Perempuan itu bisa merasakan
ketakutanku.
Keesokan malamnya, badai menghampiri langit. Semua
perempuan keluar melongokkan kepalanya demi memastikan
benarkah badai yang tengah bertandang. Setelah itu, mereka
semua masuk ke rumah masing-masing dan bersembunyi sambil
90
http://facebook.com/indonesiapustaka merapalkan doa. Seusai badai puas mengamuk, kami mende-
ngar kabar kapal-kapal yang hancur dihantam badai. Hatiku
seketika itu juga menjadi suwung. Ibu Mencar setiap hari mem-
bawakan sesaji untuk laut dan menangis setiap sore, memohon
pada samudra untuk mengembalikan suami dan anaknya.
Beberapa hari kemudian, sebuah keanehan terjadi. Satu per
satu nelayan terdampar. Mereka seolah dikembalikan oleh lidah
ombak. Termasuk ayah Mencar yang pulang dengan utuh. Se-
telah semua nelayan yang terdampar terkumpul, kami melihat
kesemuanya adalah awak kapal tempat Mencar turut serta. Se-
muanya kembali. Sedangnya awak kapal lain menyisakan janda-
janda dan anak-anak yatim yang kini harus bertahan sendiri
tanpa kepala keluarga.
Semua kembali... kecuali Mencar.
Sudah lebih dari sebulan aku dan ibu Mencar setiap sore
pergi ke bibir laut dan menyuguhkan sesajen agar Mencar kem-
bali. Ketika aku berpikir sudah tak ada lagi harapan, ketika itu-
lah lidah ombak menggulung seseorang dari tengah laut. Kami
berdua menghampiri sosok yang tergeletak itu.
“Mencar! Mencar anakku!” teriak ibu Mencar. Aku tak me-
mercayai ini, Mencar kembali dan masih utuh setelah sebulan
lebih dia menjadi tawanan laut.
Malam itu, semua penghuni desa nelayan kami ramai mem-
perbincangkan kembalinya Mencar. Mencar sendiri langsung
dirawat oleh keluarganya, dan aku yang selalu mendampingi
kekasihku yang tampangnya nyaris tak kukenali.
“Mencar, aku pulang. Besok aku akan kembali,” ucapku
pada Mencar saat aku harus kembali ke rumah.
Ketika aku kembali keesokannya, rambut dan jenggot
Mencar sudah rapi. Ibunya telah menggunting rambutnya tadi
91
http://facebook.com/indonesiapustaka malam. Kupandangi Mencar yang masih belum mau berbicara.
Mulutnya diam seolah dia tak mengerti bahasa manusia. Tetapi
matanya... mata itu nyalang dan menyimpan sejuta cerita yang
tak terkatakan.
Beberapa malam kemudian, aku tak menyangka. Mencar
datang mengetuk jendela kamarku. Seperti malam-malam se-
belum dia pergi melaut, sebelum badai itu menghantam, inilah
yang biasa dia lakukan: mengajakku pergi ke bibir pantai dan
bercinta di bawah bintang.
Mencar, lelakiku, telah kembali.
“Kupikir kau telah mati ditelan laut,” ucapku. Mencar tak
berkata apa-apa. Dia mulai mencumbui leherku. Sepanjang dia
berada di atas tubuhku, kupandangi ceruk matanya yang seda-
lam samudra. Aku seolah berenang dalam sorot mata yang telah
menjadi keabu-abuan. Matanya kini menjelma liar.
“Apa yang telah terjadi?”
“Maafkan aku, aku sudah kawin dengan Putri Duyung. Aku
tak bisa menikahimu.”
Mencar mengembalikanku lompat ke jendela kamar, mata-
nya yang sedikit meredup, berat melepasku menutup jendela
kamarku. Dia pergi menembus gelap malam dan angin laut.
Mencar tak pernah lagi melaut. Berita bahwa Mencar sudah
kawin dengan Putri Duyung sudah menyebar seperti jamur. Dan
tiba-tiba, rumahnya setiap pagi penuh dihampiri oleh para nela-
yan. Mereka memberikan pundi-pundinya untuk Mencar karena
kini ia tak perlu melaut. Mencar hanya perlu keluar ke halaman
rumahnya, lalu mencium bau laut dalam-dalam, dan dia akan
membisikkan kepada seorang nelayan ke arah mana mereka
harus melaut, di situlah mereka akan menemukan segerumbu-
92