The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Bastian dan Jamur Ajaib (Ratih Kumala)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-08-09 18:00:28

Bastian dan Jamur Ajaib

Bastian dan Jamur Ajaib (Ratih Kumala)

http://facebook.com/indonesiapustaka lan ikan. Hidungnya telah demikian tajam sehingga ia tak perlu
lagi melihat ke laut untuk mengetahui letak ikan. Matanya telah
melihat laut yang sesungguhnya, seolah dirinya sendiri adalah
peta samudra.

Tak lama, keluarga Mencar hidup bak keluarga raja. Mereka
tak perlu lagi bekerja. Orangtuanya menjadikan Mencar sumber
penghasilan mereka. Ibunya melelang keahlian Mencar untuk
mencium bau laut, setiap pagi. Siapa pun yang memiliki pundi
paling besar, dialah yang akan diberi tahu letak gerumbulan ikan
di laut. Mencar tak pernah benar-benar keluar dari rumahnya.
Ibunya pun selalu berseloroh kepada orang-orang kampung,
“anakku menikah dengan Putri Duyung. Dia adalah pangeran
laut yang hidup di darat.”

Aku tak tahu apakah benar atau tidak, tapi ada nelayan yang
pernah melihat Mencar tengah malam ke laut, dan yakin benar
sesosok perempuan berekor ikan menemuinya di bibir pantai.
Aku cuma mendengarkan itu semua, sambil menelan olok-olok
orang-orang yang menanyakan apakah aku akan mencari pacar
baru atau bersaing dengan Putri Duyung. Itu semua membuatku
merasa seperti ombak yang pecah di tepi karang, berpencar dan
pasrah pada samudra yang menarik kembali air asin yang telah
menjadi keping, seperti itulah sakit hatiku. Retak. Rusak.

Hingga suatu malam, ketika aku yang rentan sedang mere-
sapi kesedihan, seseorang mengetuk jendela kamarku. Aku tahu,
itu pasti Mencar. Ketika kubuka jendelaku, tanganku mengham-
bur memeluk tubuh Mencar.

“Kupikir kau takkan pernah mengetuk jendelaku lagi.”
“Menikahlah denganku,” ucap Mencar.
“Tapi Putri Duyung itu?”

93

http://facebook.com/indonesiapustaka “Aku menyintaimu, meskipun Putri Duyung itu telah menye-
lamatkan nyawaku. Temui aku dari pintu depan.”

Aku menutup jendela. Tak lama, terdengar ketukan pintu
depan. Ayahku yang sedang membersihkan jala bertanya-tanya
siapa gerangan mengetuk pintu demikian keras di malam buta.

Kubuka pintu, dan sosok Mencar berdiri di situ.
“Mau apa kamu?” tanya ayahku ketus.
“Saya ingin menikahi putrimu, karena saya menyintainya.”
“Kamu sudah menikah dengan Putri Duyung, dan kamu su-
dah membuat saya kelaparan karena kamu mampu mencium
bau laut sedang saya tak mampu membayar keahlianmu. Kamu
cuma memperkaya saudagar ikan, dan membuat nelayan kecil
macam saya makin tercekik.”
“Akan kuberikan maskawin segerombolan ikan yang bisa
menghidupimu seumur hidup. Kau bisa memanennya besok,
ketika kau kembali melaut. Serta kapan pun kau pergi ke laut,
ikan-ikan akan menghampirimu.”
Setelah Mencar meyakinkan ayahku, aku dan Mencar pun
dinikahkan ayahku. Ibu dan adikku menjadi saksi. Malam itu
juga, Mencar membawaku ke bibir pantai, dan di bawah bin-
tang kami bercinta. Ia mengembalikanku ke rumah di tengah
malam buta, dan berkata pada ayahku, bahwa besok dia akan
ikut serta melaut, menghadiahiku dan keluargaku maskawin
ikan yang akan menghidupi kami seumur hidup, seperti yang
sudah dijanjikannya. Aku tak percaya pendengaranku, Mencar
akan kembali melaut.
Aku melepas Mencar, suamiku, yang pergi melaut bersama
ayahku. Aku menunggu dengan waswas di bibir pantai, setiap
pagi dan sore. Beberapa hari kemudian, ayahku kembali tanpa

94

http://facebook.com/indonesiapustaka Mencar. Dia membawa kapal penuh dengan tangkapan laut ser-
ta sejumput cerita yang kemudian menjadi legenda di kampung
kecil kami:

Seusai Mencar menunjukkan di mana ikan-ikan berada, dia
berjanji pada ayahku yang akan menjadi saudagar besar, dan di
manapun ia berada, ikan akan selalu mendatanginya. Setelah
itu, ayahku bersumpah dia melihat sesosok perempuan cantik
dengan ekor ikan yang menggeliat di sekitar kapal nelayannya.
Mencar segera terjun, menenggelamkan diri ke laut. Ayahku
mencoba mencegahnya, tetapi sosok itu memegang tangan
Mencar dan menariknya jauh ke dalam laut.

95

http://facebook.com/indonesiapustaka Pacar Putri Duyung

TAK ada yang menyintai laut melebihi laki-laki itu. 

Hari itu, seperti kemarin-kemarin juga, Gede  duduk di tepi
laut, membiarkan tubuhnya terguyur sinar matahari dan me-
nyulap kulitnya menjadi kecokelatan, rambut hitamnya menjadi
kemerahan. Sepasang kacamata hitam nongkrong di hidungnya,
membuatnya lebih nyaman memandang jauh samudra. Dia
sedang menunggu ombak. Jika ombak yang dinantinya tak
datang selama beberapa saat, maka dia akan melinting ganja,
dan tiap setengah jam sekali dia akan secara terus-menerus
mengisapnya hingga membuat kepalanya berputar. Putaran di
kepalanya mengingatkannya pada wave tube. Ketika ombak
bergulung-gulung dan ia berselancar mengejar pipa ombak
yang memanjang. Sering, jika sudah terlalu banyak ganja, maka
matanya akan memerah. Kacamata yang nongkrong di hidung-
nya multifungsi untuk menutupi matanya yang memerah. Dia
akan terlihat setengah mengantuk, tapi sejatinya penglihatannya
justru makin jelas dan tajam.

Ya, dia butuh penglihatannya untuk semakin tajam, sebab
dia sedang mencari pacarnya yang tinggal di laut. Jika ada yang
tanya, kenapa dia duduk di tepi laut seperti itu, dia akan men-
jawab:

“Aku sedang menunggu pacarku, si Putri Duyung.”
Orang-orang akan maklum dan cuma geleng-geleng kepala,
dengan komentar sama, “Kayaknya dia udah teler.” Lalu berlalu

96

http://facebook.com/indonesiapustaka dari situ, dan membiarkan Gede dengan tenang berdiam di bibir
laut.

Gede telah bertahun-tahun menjadi pengejar ombak. Dia
sudah ke Batu Karas di Pangandaran, Bali, Nias, G-Land Ba-
nyuwangi, Australia hingga Hawaii. Semua dia lakukan demi
berselancar.

Ia lupa kapan pertama kali berkenalan dengan ombak, seu-
mur hidupnya telah dihabiskan berdampingan dengan air asin.
Semua anak di kampungnya bergaul dengan pasir, pantai, air
asin, serta matahari. Ia ingat kapan ia berkenalan dengan papan
seluncur. Ketika itu usianya 6 tahun, dan seperti semua anak
kampung tempatnya tinggal, mereka berjualan apa pun demi
membantu orangtuanya, jika sedang tidak sekolah. Gede  bisa
tiba-tiba berjualan es lilin, atau ikan-ikan asin, atau aksesoris
serta kerajinan tangan. Suatu hari, seorang bule Australia datang
untuk berselancar. Gede dan teman-teman kecilnya mengamati
lelaki itu dari kejauhan dan mengaguminya. Mereka meletakkan
semua dagangannya untuk melihat bule itu berselancar. Hingga
tiba-tiba lelaki itu tergulung ombak dan menghilang. Semua
anak, termasuk Gede, khawatir melihat pemandangan itu. Tak
lama, lidah ombak membawa lelaki itu ke darat, tepat ketika
mereka semua berpikir ia telah musnah ditelan samudra. Semua
anak, termasuk Gede, berbondong-bondong mendekati tubuh
lelaki itu. Sebagian yakin dia pasti telah mati. Ketika akhirnya
laki-laki itu bergerak dan mengeluarkan sisa air asin dan pasir
yang tertelan, semua takjub. Lelaki bule itu bangkit, dan bugar
kembali, meskipun papannya terbelah dua. Sebagian patahan-
nya entah ke mana. Sebagian lagi masih terikat di kakinya. Bagi
Gede, dia adalah sosok superhero. Lelaki yang tak takut mati,

97

http://facebook.com/indonesiapustaka pikir Gede ketika saat itu. Keesokannya dia kembali menerjang
ombak dengan papan seluncur yang lain, yang masih utuh. Jika
kejadian kemarin terjadi pada Gede, tentu ia takkan lagi mau
mendekati laut, batin Gede. Tetapi tidak demikian dengan bule
itu, dia adalah manusia yang sepertinya lupa akan rasa takut,
terutama takut mati. 

Sejak itu, selama bule tersebut tinggal di kampungnya,
Gede  memastikan akan menemuinya setiap hari. Dimulai dari
menawarkan jualan apa pun yang dia punya, lalu mulai menun-
jukkan rasa penasaran dengan papan selancar milik lelaki itu.
Gede mengamat-amati papan seluncurnya, memegangnya dan
lelaki bule itu menyentak, “DON’T TOUCH IT!” Gede tak pa-
ham apa arti bahasanya, tetapi dia tahu dari nada suaranya yang
tinggi dan mimiknya yang tak suka, Gede pun segera menying-
kir dari papan itu. Dasar anak kecil, esoknya dia kembali hanya
untuk mengamati papan selancar itu lagi. Hingga akhirnya lelaki
itu mengajarkan Gede berselancar.

Seperti mimpi yang menjadi nyata, ketika lelaki itu kembali
ke negaranya, Gede mendapat warisan papan selancar miliknya.
Papan itu adalah barang yang sangat berharga bagi Gede. Ia
tumbuh menjadi remaja bersama papan itu sebagai sahabatnya.
Bertahun-tahun yang akan datang,   dia masih menyimpannya,
meski sirip belakangnya patah. Ia menempelkannya kembali
dengan lem super, lalu menyandarkannya di dinding sebagai pa-
jangan. Ia tak berani menggunakan papan itu lagi, takut makin
rusak parah. Gede  mengumpulkan uang untuk membeli papan
selancar baru.

Satu hal yang disayangkannya, ia tak ingat siapa nama bule
itu. Ketika itu, Gede yang masih kecil tak bisa berbahasa Inggris.

98

http://facebook.com/indonesiapustaka Dia hanya memanggilnya dengan sebutan ‘Mister’, seperti se-
mua anak kampungnya memanggil semua bule yang datang ke
situ. Gede tak punya foto, tak punya alamat. Meskipun bertahun
kemudian kala ia beranjak dewasa, ia berkali-kali mengunjungi
pantai Australia, tapi ia selalu merasa tersesat dalam rasa pena-
saran yang akut. Di mana si Mister? Matanya selalu menyisir ke
setiap inci pantai, ketika ia bertanding dalam kompetisi selancar
tingkat internasional di Australia. Berharap dia menemukan so-
sok Mister yang mungkin sedang menontonnya dari kejauhan
dengan binokular, mengaguminya, tanpa menyadari bahwa sang
juara selancar ini adalah muridnya.

***

Gede tumbuh menjadi salah satu peselancar terbaik Indonesia,
ketika dia ditemukan oleh seorang jurnalis majalah olahraga
ekstrem, Tim, yang tengah meliput satu acara kompetisi selan-
car. Tak lama, Tim memutuskan untuk memanajeri Gede dan
beberapa peselancar berbakat lainnya. Dengan koneksinya, Tim
bahkan berhasil menggaet sponsor untuk para peselancar asuh-
annya, termasuk Gede. Pada akhirnya, alam menyeleksi sendiri
siapa peselancar terbaik asuhan Tim, dan itu adalah Gede. Bagi
Tim, tiap kali melihat Gede berselancar, ada yang berbeda dari
peselancar lain. Para peselancar tiap kali maju menuju ombak,
terlihat seperti menantang maut. Tetapi tidak dengan Gede, tiap
kali ia menuju ombak, ia seperti pulang ke rumah.

“Itu karena aku ikan,” ujar Gede sekenanya.
Nama Gede mungkin tidak masuk dalam berita olahraga di
TV   seperti para atlet bulutangkis maupun sepak bola. Tetapi
para pecinta pantai mengenalnya dengan baik, mencatat nama-

99

http://facebook.com/indonesiapustaka nya, dan mengagumi aksinya lewat foto-foto yang terpampang
di majalah suring serta majalah olahraga ekstrem. Tim telah
membuka begitu besar kesempatan bagi Gede untuk tumbuh
dan berkembang.

Gede mengoleksi puluhan piala kemenangan kompetisi se-
lancar, mendapatkan uang, bahkan ia tak perlu lagi membeli
papan maupun baju kesehariannya, sebab beberapa clothing
line berebut mensponsorinya. Para wanita berderet mengantri.
Sebagian dari mereka bertahan beberapa bulan, sebagian lagi
beberapa hari, dan sebagian besar hanya satu malam. Hubung-
an terlama yang pernah dimilikinya hanyalah tiga bulan. Lebih
dari itu sepertinya si Monster Mata Satu, demikian ia memanggil
penisnya, merasa bosan dan akan mencari petualangan baru.
Baginya, perempuan itu ibarat kucing; manja dan sensual. Mes-
kipun suara mereka mengganggu. Jika bisa, seharusnya para
perempuan itu diam saja, bicara jika ditanya. Jika tidak, cukup
diam, sebab jika bicara berkuranglah nilai keseksian mereka.
Alasan lain yang membuatnya tak jenak berada si satu wanita
terlalu lama adalah, seperti halnya kucing, wanita membutuh-
kan perhatian yang konstan. Tak seperti anjing, mereka tak bisa
diperintah untuk duduk diam. Perempuan juga pencuri sejati.
Jika kucing yang kau pikir manis akan mencuri ikan asinmu di
meja makan, maka perempuan yang kau pikir menarik akan
mencuri hatimu. Kucing dan perempuan sama-sama pencuri. Ia
tak suka pencuri.

Jika semua orang mengira bahwa Gede  menang kompetisi
selancar karena ambisi, maka mereka salah. Gede sejatinya telah
ketagihan tube wave. Ini semacam candu baginya. Satu-satunya
tempat di mana ia bisa menemukan kedamaian yang absolut.

100

http://facebook.com/indonesiapustaka Ketika ia berada di dalam pipa ombak, segala suara tengge-
lam bersama laut. Momen favoritnya adalah ketika senja, laut
menghadiahinya ombak yang luar biasa, dan ketika ia membuka
hadiah itu, ditemukanya sebuah pipa ombak mengarah ke Barat,
tempat matahari akan tenggelam. Itu adalah kedamaian yang
absolut, yang cuma terjadi beberapa menit saja, yang akan sege-
ra hilang dirampas kembali oleh samudra. Semua ombak yang
dipijak para peselancar, memang pinjaman belaka dari segara.

Masa kecil Gede di kampungnya diakrabi dengan kisah-
kisah para nelayan mengarungi samudra. Satu kisah yang paling
legendaris adalah kisah seorang nelayan dari kampung Gede.
Kisah itu diceritakan turun-temurun pada anak-anak kecil, untuk
menakut-nakuti agar mereka pulang saat Magrib, dan tak terus
bermain di bibir pantai, sebab bisa saja putri duyung menarik-
mu ke dasar samudra. Legenda itu menceritakan tentang lelaki
bernama Mencar, nelayan yang tugasnya berdiri di puncak layar,
dan melihat jauh ke lelaut, lalu berteriak mengarahkan menuju
tempat ikan tengah bergerumbul hingga mudah ditangkap. Dia
adalah lelaki yang bisa mencium aroma laut dari kejauhan. Ko-
non, Mencar menikah dengan Putri Duyung. Dia hilang diambil
samudra, sebab di sanalah tempat dia pulang. Gede tak tahu,
cerita yang benar yang mana. Tetapi yang jelas, sebentar lagi
dia akan bertemu sesosok perempuan yang akan membuatnya
menambatkan hatinya.

***

Tim sudah mengabarkan bahwa Gede akan berselancar di Aus-
tralia. Ini bukan kali pertama, jadi Gede tak lagi euforia ataupun

101

http://facebook.com/indonesiapustaka bingung dengan persiapannya. Dia tahu apa yang perlu dibawa,
dan jiwanya pun cukup tenang untuk menghadapi kompetisi
ini. Banyak yang bilang, Gede yang sudah berkali-kali menang
seharusnya melewati saja kompetisi semacam ini. Tapi, Gede
masih menyimpan ambisi. Bukan, bukan mengejar piala atau
uang kemenangan, meskipun itu pun bonus yang menyenang-
kan. Melainkan, Gede mengejar kedamaian absolut yang akan
didapatkannya di dalam wave tube.

Gede tiba di Perth, Australia Barat. Di sinilah dia akan me-
ngejar wave tube-nya. Oktober memang bulan yang sempurna
untuk berselancar. Air membiru dan ombak bergulung seolah
mengundang semua peselancar untuk melaju di atas papannya.
Dari dulu hingga sekarang, pesan yang dikatakan Tim cuma
satu sebelum Gede mulai berselancar, “jangan mati.” Gede
mengangguk, lalu menambahkan kalau dia bisa saja mati bukan
karena berselancar, tetapi karena ditabrak bus di jalan. Tim tentu
saja tak menyukai kelakar itu. Dia lebih suka Gede baik-baik
saja dan tidak mati.

“Kau mungkin tak mati karena ditabrak bus, tetapi bisa saja
kau dimakan hiu putih.” Ya, berita tentang hiu putih pemangsa
manusia memang santer diberitakan. Foto-foto mengerikan para
korban, beredar luas di media. Hiu putih menyukai daging ma-
nusia.

Hari itu cerah. Ratusan orang berkumpul di pantai Perth.
Kebanyakan dari mereka memakai kacamata hitam. Banyak
dari mereka yang membawa handuk untuk berjemur, jika sudah
menemukan titik yang pas dan nyaman, mereka akan menge-
luarkan dua hal: binokular dan sun cream. Lantas, bergantian
mengoleskan sun cream ke tubuh temannya. Para gadis dengan

102

http://facebook.com/indonesiapustaka bikini memamerkan kulit mereka, berharap matahari akan mem-
buatnya menjadi kecokelatan. Gede mengedarkan pandangan.
Dia melihat beberapa gadis gemulai dengan bikini. Si Monster
Mata Satu mengeras, lalu katanya, “Sabar Monster, kita harus
memenangkan kompetisi ini dulu, maka kau bebas meniduri
mereka.”

Kompetisi selancar pun dimulai. Gede berlari “pulang” me-
nuju ombak. Mulai mendayung di atas papannya, memburu om-
bak. Ketika ombak yang dicari mendekat, Gede segera berdiri di
atas papan dan berusaha seimbang agar tubuhnya tidak jatuh.
Kini, ia hanya perlu mempertahankan posisinya sambil mencari
wave tube kesukaannya.

Segulung ombak datang, Gede kenal betul ciri-ciri ombak
yang bakal menjadi wave tube. Ini dia! pikirnya. Ia takkan me-
nyia-nyiakannya, diincarnya ombak itu, dan dengan kelincahan
dan kelihaiannya, dia berhasil masuk ke ombak itu. Ombak
itu seketika membentuk terowongan. Gemuruh air didengarnya,
seperti gema sekumpulan serangga kawin. Ia masuk ke gua air,
wave tube di depannya, seolah menyambutnya pulang dan bi-
lang, “selamat datang.” Gede terus mempertahankan kakinya.
Sejenak dia lupa ada dunia di luar sana, dia telah “pulang”.

Disentuhnya air yang membentuk dinding lorong itu, tiba-
tiba dari dalam air itu, samar-samar terlihat sesosok makhluk.
Gede memicingkan matanya, mencari jelas apa itu. Makhluk itu
mendekat, serupa ikan tetapi berwajah manusia. Rambutnya ge-
lap tetapi berkilau. Matanya yang bulat dan memandang Gede
sekilas. Gede tak percaya pandangan matanya. Putri Duyung?
Tangan Gede berusaha masuk untuk menyentuh makhluk itu.
Makhluk itu kaget, dengan sekali kibas tangannya dengan jemari

103

http://facebook.com/indonesiapustaka yang berselaput, Putri Duyung menghindar. Kelincahannya luar
biasa, tak pernah Gede lihat di ikan mana pun, Putri Duyung
berbalik dan sekejap kemudian menghilang ke dalam birunya
laut.

“Hei, tunggu!” teriak Gede.
Keseimbangan Gede pun goyah, ia lupa tengah berdiri di
atas papan selancar. Pijakannya pun terlepas, dan ia terjeng-
kang. Papan selancar berbalik dan seperti bumerang, papan itu
menyerangnya, mendarat tepat ke kepala Gede. Gede limbung,
pusing karena kerasnya papan yang menghantam kepalanya.
Hal terakhir yang dilihatnya adalah biru. Warna air laut.

***

Hal pertama yang diingat Gede ketika dia siuman di kamar
rumah sakit adalah sosok gadis yang ditemuinya di laut. Wa-
jahnya, dengan mata yang bulat dan tajam. Rambutnya yang
gelap tetapi berkilau. Kulitnya yang pucat, jemari tangannya
yang berselaput, buah dadanya. Pinggangnya berkilau karena
sisik, dan ekornya yang jenjang dan melambai. Seolah lambaian
tangan ketika ia berbalik menghindar, untuk selanjutnya hilang
ditelan birunya laut.

Tim muncul dari luar, gembira sekali ketika mendapati Gede
siuman.

“Are you okay, man?”
Gede linglung, dia minta air untuk diminum. Tenggorokan-
nya kering sekali. Tim menyodorkan segelas air. Sambil melihat
Gede minum, Tim meluapkan kegembiraannya.
“I’m so glad you did’nt get eaten by the Great White Shark.”
Tim senang karena Gede tak dimakan hiu putih.

104

http://facebook.com/indonesiapustaka “Shark?” Gede tak paham. Dia tak merasa bertemu hiu putih.
Lalu Tim membuka androidnya, dan segera mem-browsing
satu berita yang sedang ramai dibicarakan. Sebuah portal berita
pun terbuka, disodorkannya ke Gede. Ia membaca berita itu,
lengkap dengan foto yang dilingkari, foto hiu putih yang bere-
nang bersebelahan dengan Gede yang tengah berselancar.
Menurut Tim, agaknya Gede kaget melihat hiu putih itu, se-
hingga dia terjengkang dari papan. Tak apa dia kalah kompetisi,
yang penting nyawanya selamat, dan tubuhnya utuh. Beruntung
hiu itu lalu berenang menjauh.
“No, man... it’s not shark, it’s a mermaid.” Bukan, yang kuli-
hat bukan hiu putih, melainkan Putri Duyung.
Tim tertegun dengan penjelasan Gede, “It’s a shark. See
that?” Tim menunjuk di bagian foto yang dilingkari, lalu mem-
perbesar gambar di layar androidnya. Terlihatlah seekor hiu
putih yang besar, dengan sirip menjulang dan geligi tajam-tajam
seperti gergaji. Gede tak percaya apa yang dilihatnya di foto.

***

Foto tak bisa berbohong. Itu adalah bukti yang tak terbantahkan.
Gede memutuskan untuk diam, tak lagi mengungkit-ungkit ten-
tang Putri Duyung yang ditemuinya di wave tube. Semua orang
memberi selamat pada Gede, meskipun kali ini ia tak meme-
nangkan kompetisi selancar. Tetapi semua senang sebab Gede
selamat. Tak lama kemudian, Gede memutuskan untuk berhenti
mengikuti kompetisi. Tim sedih dengan keputusan Gede ini,
tetapi dengan besar hati dia menerimanya, menganggap mung-
kin nyali Gede tak sebesar dulu lagi, setelah bertatap muka

105

http://facebook.com/indonesiapustaka langsung dengan hiu putih. Dengan uangnya, Gede membuka
usaha penginapan di pinggir pantai bagi para peselancar dari
seluruh penjuru negeri.

Kini, dia lebih suka berdiam di bibir pantai, sambil mengisap
ganja hingga matanya merah dan menyipit, dan penglihatannya
jadi demikian tajam, terus ia pandangi laut. Jika ada yang tanya,
sedang apa dia di situ?

“Aku sedang menunggu pacarku, si Putri Duyung,” jawab-
nya, selalu.

Kegiatan lainnya adalah, dia mengkampanyekan untuk tidak
membunuh The Great White Shark, meskipun hal ini banyak
menuai pertentangan. Ketika pada suatu hari dia diwawancara
dan ditanya, kenapa malah ingin melindungi The Great White
Shark padahal hampir menjadi korbannya?

“Saya sudah melihat dari dekat. Mereka adalah makhluk
yang cantik,” jelasnya.

106

http://facebook.com/indonesiapustaka Bastian dan Jamur Ajaib

INI adalah kisah Bastian dan jamur ajaib. Membaca judulnya,

mungkin kamu akan teringat pada “Jack dan Kacang Panjang
Ajaib”. Tetapi kisahnya berbeda dari Jack.

Bastian adalah pemuda patah hati yang memutuskan untuk
berkelana demi mencari pil lupa cinta. Perjalanannya memba-
wanya pada sebuah bar, di mana seorang gadis menjadi barten-
dernya. Dia meletakkan ransel dan rasa penatnya pada sebuah
meja pojok, lalu bertanya pada gadis itu, pertanyaan yang sama,
yang sering diulang-ulang kepada siapa pun, “Kamu jual pil lupa
cinta?” Gadis bartender itu menggeleng. Tentu saja dia tak punya.

“Minum saja ini,” ujarnya, usai sedikit sibuk meracik satu mi-
numan di belakang. Dia muncul dengan sebuah gelas panjang
dengan cairan keabu-abuan, atau kecokelat-cokelatan, Bastian
tak yakin warna pastinya, sebab lampu di tempat itu remang-
remang.

“Apa ini? Jus eek?”
“Minum saja dulu, sepertinya kamu butuh.”
Bastian menenggak minuman itu, rasanya tak enak, “Kamu
mau membunuhku ya?”
Si Gadis Bartender cuma tersenyum tipis. Lalu, Bastian yang
gusar keluar dari ruangan itu. Tas dan penatnya ditinggalkan di
pojok meja, di bar. Gadis bartender tadi diam-diam mengawasi
kepergian Bastian.

107

http://facebook.com/indonesiapustaka Begitu keluar, Bastian lari menuju pantai, dia membuka selu-
ruh pakaiannya dan teriak dengan keras, “RAQUEL...!!!” Seolah
ingin melawan ombak, ia nyebur ke air laut. Tak sampai lima
menit, Bastian menyadari kebodohannya. Dia keluar dari air.
Angin pantai di malam hari yang dingin membuat pantat dan
kemaluannya menggigil dan mengkerut. Bastian mengempaskan
tubuhnya ke pasir. Tiba-tiba dia melihat bintang jatuh. Mula-
mula hanya satu, dua, lalu lima, sepuluh, banyak. Hujan meteor.
Bastian tak memercayai penglihatannya. Laut malam tiba-tiba
menjadi oranye. Seperti Negeri Senja yang ditulis oleh Seno Gu-
mira Ajidarma. Lalu, dari belakang sebuah suara memanggilnya.

“Bastian....” Suara yang sangat dikenalinya. Bastian mene-
ngok, siluet seorang gadis mendekatinya. Awalnya, Bastian tidak
bisa melihat jelas wajahnya. Tetapi dia yakin benar siapa ia. Bas-
tian mendapati perempuan yang dicintainya ada di depannya.

“Raquel...” desisnya.
“Apa kabar sayang?” Gadis itu tersenyum.
“Aku kangen.”
“Aku juga.” Dan Raquel melumat bibir Bastian. Di bawah
hujan meteor mereka bercumbu.

***

Pagi harinya, Bastian terbangun, mendapati siluet wajah seorang
gadis di hadapannya. Matahari menghalangi garis mukanya.

“Raquel?” Bastian menggeliat.
“Siapa itu Raquel?” Wajah gadis itu mulai terlihat jelas.
Suaranya jelas bukan suara Raquel. Bastian mencoba duduk,
sehingga wajah gadis itu kini terlihat jelas. “Kembalikan han-

108

http://facebook.com/indonesiapustaka dukku kalau pakaianmu sudah ketemu!” ucapnya. Lalu gadis
itu pergi. Bastian mengingat-ingat, bukankah dia gadis yang
semalam di bar? Beberapa anak kecil mengerubungi Bastian
sambil tertawa cekikikan. Seorang ibu muncul, dan dengan
muka sengit memandang Bastian sambil menarik anaknya pergi
dari situ. Bastian melihat dirinya, telanjang bulat. Sebuah han-
duk menutupi kemaluannya. Dia terhuyung beranjak, melepas
pandangannya di sekitarnya. Ada matahari, pantai, pasir. Bastian
berbalik. Jajaran bar, kafe, juga jalan ada di hadapannya. Be-
berapa bule sedang duduk-duduk berjemur. Bastian menuju ke
bar yang dia kenali, tempat semalam dia menyandarkan tas dan
penatnya. Tas ranselnya teronggok di depan tanda “close” yang
terpampang di pintu bar. Dengan selembar handuk bergulung di
pinggangnya, dan tas ransel di pundaknya, Bastian pun menyu-
suri pulau kecil itu.

Pagi itu... koreksi, sebetulnya hari sudah siang. Siang itu,
Bastian menemukan sebuah penginapan. Kali ini dia memu-
tuskan untuk berdiam di pulau kecil itu. Setelah sebelumnya
Bastian hanya singgah. Dia mungkin tidak menemukan pil lupa
cinta, tapi dia menemukan minuman, yaitu jus rasa eek—de-
mikian Bastian menyebutnya—yang menurutnya sepertinya bisa
mengobati patah hatinya.

Menjelang malam, Bastian yang kini dengan pakaian leng-
kap, membawa handuk menuju ke bar. Sambil berharap se-
malam ada di situ. Benar saja, gadis itu sedang sibuk jugling
dan beramah-tamah pada tamu-tamunya. Perhatian mereka
menjurus ke gadis itu, sesekali mereka tepuk tangan setiap kali
dia berhasil menangkap gelas racikan dan botol-botol alkohol.
Bastian menunggunya di meja pojok, sambil matanya tak lepas

109

http://facebook.com/indonesiapustaka dari gadis itu. Usai menuangkan cocktail ke dalam sebuah gelas
berkaki panjang, gadis itu keluar dari meja bar dan mendekati
Bastian.

“Handuk kamu, terima kasih,” ujar Bastian sambil memberi-
kan handuk kering yang sudah dilipatnya rapi, tapi belum dicuci.

“Sama-sama.”
“Saya ingin jus eek itu lagi.”
“Saya tidak punya menu jus eek.”
“Maksud saya minuman yang semalam kamu kasih saya.”
“Itu jus jamur.”
“Kamu kasih saya jamur yang hidup di tai kebo? Pantas bau-
nya seperti eek.”
“Kalau memang baunya seperti eek, kenapa kamu minta
lagi?”
Bastian kali ini terdiam.
“Apa yang kamu lihat ketika kamu minum jus itu?” Bastian
masih diam, “Sebentar... kamu memanggilku Raquel tadi ketika
saya membangunkanmu. Kamu pasti bertemu dengan orang
bernama Raquel kan?”
“Iya.”
“Siapa Raquel itu?” tanyanya penuh selidik.
“Pacarku.”
“Percayalah, Raquel yang muncul di saat kamu teler, itu bu-
kan dia yang sebenarnya. Lebih baik kamu telepon saja pacarmu
itu. Minta dia balik lagi, itu lebih nyata kan.”
“Tidak bisa.”
“Ya bisalah. Tinggal angkat teleponmu, pencet nomornya.”
Gadis Bartender menyodorkan HP milik Bastian yang tergeletak
di meja.

110

http://facebook.com/indonesiapustaka “Tidak bisa, karena dia ada sana.” Bastian menunjuk ke atas,
ketika bilang ‘sana’.

“Maksudnya?”
“Dia... sudah meninggal dunia.”
Gadis Bartender kehabisan suara, “...pantas,” komentarnya
pelan. Lalu mereka terdiam. Gadis Bartender melayani beberapa
orang lain yang pesan minuman.
“Jadi...?” tanya Bastian.
“Jadi?” Gadis Bartender tak mengerti.
“Jadi bisa kamu kasih saya jus eek... maksudku, jamur itu?”
“Itu jamur bukan sembarang jamur. Saya sudah tidak punya,
persediaanku habis. Terakhir kamu yang minum.”
“Terus di mana saya bisa beli? BD-nya mana?”
“Bandar?” Gadis Bartender mencibir, tertawa kecil. “Jamur
itu bukan narkoba! Itu obat.”
“Ya narkoba kan obat,” Bastian berkilah.
“Maksudku itu bukan jenis obat-obatan terlarang, psikotropi-
ka, itu jenis obat berbeda, yang punya hanya tabib,” jelas Gadis
Bartender.
“Berikan aku alamat BD-nya.”
“BD-BD! Tabib! Bukan bandar!” Gadis Bartender menegas-
kan, suaranya naik. Menarik perhatian seorang rekan bartender
lain. Bartender itu mendekatinya.
“Kamu tak apa? Dia mengganggumu?” tanyanya serius,
memberikan pandangan galak ke Bastian.
“Tidak, aku tak apa,” jawab Laksmi. Bartender itu sedikit
bergeser menjauh.
“Ya berikan aku alamat tabibnya!” Bastian masih mendesak.
“Tidak! Sampai kapan pun tidak!” Gadis Bartender menolak
keras.

111

http://facebook.com/indonesiapustaka “Terus, apa yang harus aku lakukan untuk bisa mendapatkan
alamat tabib itu?” tanya Bastian, serius. Matanya tajam menatap
mata Gadis Bartender.

Tiba-tiba, belum sempat Gadis Bartender menolak, seseorang
berteriak, “BEER PONG!!!” Dan seisi bar pun bersorak keras. Si
Bartender tadi yang meneriakannya.

***

Meja biliar ditarik ke tengah. Gelas-gelas ditata rapi berting-
kat-tingkat hingga berbentuk segitiga. Masing-masing gelas diisi
dengan bir. Sebuah bat dan bola pingpong ada di ujung meja
biliar. Sementara gelas-gelas berisi bir berada di ujung lainnya.
Suara bar ingar-bingar. DJ memainkan lagu untuk menyemarak-
kan kompetisi beer pong dadakan: Bastian VS Gadis Bartender.
Si Bartender tadi menjadi semacam wasit sekaligus host sekali-
gus bandar judi.

“Ingat peraturannya... yang muntah kalah!” ujar host, lalu
dia berteriak. “Ladies and gentlemen, malam ini kompetisi beer
pong akan dimulai! Di sisi kanan ada...” lalu Si Bartender terse-
but berbisik ke Bastian, “...namamu siapa?”

“Bastian.”
“...ada BASTIAN!” Semua pun tepuk tangan dan membu-
at suara-suara yang ribut, sebagian mendukung, sebagian lagi
menyoraki dengan “booo....!” Lantas Si Bartender melanjutkan,
“Di sebelah kiri ada gadis yang tak asing lagi, dia adalah...
LAKSMI!” Dan penonton pun makin riuh. Sepertinya pendukung
Laksmi lebih banyak daripada pendukung Bastian.
O, namanya Laksmi, batin Bastian. Dia baru menyadari tak
pernah menanyakan nama gadis bartender itu.

112

http://facebook.com/indonesiapustaka Laksmi mulai melempar bola pingpong, dan bola itu pun
masuk ke salah satu gelas bir. Penonton bersorak. Bastian kini
harus minum gelas itu dengan sekali tenggak. Dia tak mau kalah.
Bastian dan Laksmi bergantian melempar bola pingpong, dan
bola ada yang masuk ke gelas ada pula yang tidak. Lalu, mereka
bergantian minum setiap kali bola masuk. Penonton bersorak
mendukung Bastian dan Laksmi. Di telinga keduanya, suara
penonton kini mulai bergemuruh seperti sekumpulan lebah. Bir
yang mereka minum mulai menunjuk efeknya. Konsentrasi pun
mulai berkurang. Kini, melempar bola pingpong butuh fokus
lebih banyak.

Sementara, Si Bartender yang nge-host sekaligus wasit seka-
ligus bandar judi, tak berhenti menerima uang dari pengunjung
bar yang ingin bertaruh. Tak lama, wajah Laksmi mulai me-
nunjukkan tanda-tanda tak enak. Semacam dorongan dari perut
rasanya ingin keluar lewat mulut.

“Kalau tak biasa minum banyak, jangan dipaksa. Alkohol tak
baik untuk kecantikan,” ujar Bastian.

“Kamu lupa ya? Saya bartender.”
“Hanya karena kamu bisa lempar-lempar botol, bukan ber-
arti kamu peminum, kan?” Bastian melempar bola pingpong
dan masuk ke dalam satu gelas. Artinya Laksmi pun terpaksa
meminum bir itu.
Kali ini dia tak bisa menahan lagi. Dia memegang mulutnya.
Jika ini kartun, pasti tampang Laksmi sudah berubah jadi hijau.
Lalu, tiba-tiba Laksmi lari ke belakang! Host berteriak. “Dan
pemenangnya adalah... BASTIAN!”
Pengunjung bersorak. Host mulai membagi-bagikan uang ta-
ruhan bagi yang menang. Host menarik tangan Bastian ke atas,
seperti baru menang kejuaraan tinju.

113

http://facebook.com/indonesiapustaka Laksmi muntah di belakang bar, seluruh isi perutnya terkuras.
Keluarlah semua bir tadi, bersama dengan makanannya seharian
yang sudah hancur digerus lambung “HOEK...!”

Bastian muncul, sambil tertawa ngakak. “Kamu tak apa?”
Bastian menunggui Laksmi muntah. Bastian mencoba mem-
bantu Laksmi dengan memegangi rambutnya, tapi Laksmi men-
dorong Bastian agar tidak mendekatinya. Tampang Bastian sen-
diri sebetulnya sudah tak keruan, mabuk. “Ya sudah kalo tidak
mau dibantu.”
Bastian terus menunggui Laksmi muntah dengan sabar. Keti-
ka dia sudah selesai, Laksmi duduk di pinggir.
“Perlu saya ambilkan sesuatu? Biar netral. Susu? Norit?”
“Saya tidak butuh kamu kasihani,” ujar Laksmi galak.
“Siapa yang kasihan sama kamu.”
“Saya akan kasih kamu kontak orang yang punya mushroom
itu.” Laksmi mengaku kalah.
Hari selanjutnya, Bastian bangun sudah siang. Hangover tak
tertahankan. Dia melihat jam, menunjukkan pukul dua siang.
Bastian malas sekali beranjak. Dia memutuskan untuk tidur
lagi dan menunggu malam tiba. Lalu dia bersiap ke bar tempat
Laksmi bekerja. Dia disambut laksana pahlawan yang menang
melawan bir. Semua lantas memanggilnya “Drunken Master”.
Bastian cuma nyengir dengan sebutan itu. Dia menunggui Laks-
mi. Gadis itu muncul dengan selembar kertas.
“Nih...” sodornya.
Bastian membaca kertas itu, “Papuq Mamak. Ini nama BD-
nya?”
“Tabib, bukan bandar,” Laksmi menegaskan.

***

114

http://facebook.com/indonesiapustaka Bastian menuju ke rumah Papuq Mamak pagi-pagi sekali. Sebu-
ah perahu speed boat mengantarkannya hingga ke pulau yang
lebih besar. Lalu dari situ, dia menyewa sebuah Vespa. Lantas
dengan modal selembar alamat dan keberanian untuk bertanya-
tanya, Bastian akhirnya menemukan sebuah rumah tradisional.
Ketika dia masuk, dia bisa mencium aroma tahi kerbau di situ.
Sebuah alat tenun ada di depan rumah tersebut. Benang-benang
yang menjulur siap ditenun tergantung rapi di situ. Di halaman
rumah tersebut, tahi kerbau ditata dan ditanam, seperti kebun
yang terawat rapi. Jamur-jamur kecil mulai bermunculan. Tetapi
sudah pasti butuh waktu lebih lama untuk bisa dipanen.

“Permisi... permisi....” Bastian mengetuk pintu berulang-
ulang. Suasana rumah tersebut sepi. Tetapi pintunya dibuka
begitu saja.

Seorang ibu tua muncul, “Ya?”
Bastian ragu, jangan-jangan dia salah rumah. “Saya mencari
Papuq Mamak.” Katanya, akhirnya, berharap ibu tua tersebut
menunjukkan rumah Papuq Mamak yang mungkin masih tetang-
ganya.
“Ya, ada apa?” ujar ibu tua.
Bastian masih tak yakin, “Anda... Papuq Mamak?”
“Ya, ada apa ya?” tanyanya lagi. Ya, dia Papuq Mamak. Se-
orang perempuan tua, dengan garis-garis kerut yang dalam dan
khas di wajahnya.
Bastian tak yakin harus berkata apa, “Saya dapat alamat
Anda dari Laksmi, yang kerja di bar.”
“O, Laksmi. Duduk.” Papuq Mamak mempersilakan. Semen-
tara, Bastian sendiri masih bingung dengan reaksi perempuan
tua di hadapannya. “Siapa yang sakit?” tanya Papuq Mamak.

115

http://facebook.com/indonesiapustaka “Sakit?”
“Iya. Siapa yang sakit?”
“Tidak ada yang sakit,” ujar Bastian.
“O... kamu. Berikan tanganmu.”
“Saya tidak sakit.” Bastian menegaskan. Tapi Papuq Mamak
sudah langsung menarik tangan Bastian dan membaca telapak-
nya. Cengkeramannya cukup kuat untuk seorang ibu tua yang
dari tadi terlihat tak punya banyak tenaga.
“Ya, ya... kamu masih sakit. Lihat garis ini.” Papuq Mamak
menunjuk sebuah garis di telapak tangan Bastian, lalu dia me-
lanjutkan penjelasannya sambil menatap mata Bastian, “Satu-
satunya cara untuk bisa jalan lurus ke masa depan, kamu harus
berbaikan dengan masa lalu. Kamu harus bisa melepas orang
yang sudah tidak satu dunia lagi denganmu, karena kalian seka-
rang berbeda raga.”
Bastian bengong dengan penjelas itu. Bagaimana dia bisa
tahu kalau beberapa bulan terakhirnya, yang dipikirkannya
cuma gadis yang sudah beda dunia. “Kalau kamu terus terjebak
di masa lalu, hidup kamu dalam dua tahun ke depan akan han-
cur.” Bastian menarik telapak tangannya. Tiba-tiba dia merasa
tak nyaman. Ibu tua di hadapannya ini seperti menelanjanginya.
Tapi dia tak berhenti di situ saja, “Saya tahu sekarang kamu me-
ngira jamur saya itu bisa memuaskanmu, tapi sebetulnya jamur
itu obat.”
Papuq Mamak lantas ke dalam, dan sejenak kemudian dia
muncul lagi dengan sebuah kaleng biskuit Khong Guan. Dia
membuka kaleng itu, di kaleng itulah tempat dia menyimpan
jamur tersebut. Dia mengambilnya beberapa kuntum.
“Ini jamur bukan sembarangan, siapa pun yang memakannya

116

http://facebook.com/indonesiapustaka harus hati-hati, karena membuka luka paling dalam seseorang.
Ini untuk sekali makan.” Papuk Mamak menunjukkan kuntum
jamur, lalu lanjutnya, “jangan lebih dari ini, karena bisa over-
dosis.”

Bastian mengira dia bisa mendapat lebih dari itu, yang ada
di tangannya sekarang cuma satu genggam. “Kalau saya mau
beli lagi, bisa?” tanya Bastian.

“Segitu sudah cukup untuk mengobatimu.”
Papuq Mamak menutup kaleng Khong Guan-nya, di mana
jamur-jamur segar tersimpan dengan aman. Lantas, Bastian
membayar sekadarnya sebab Papuq Mamak tak menarik bayaran
yang pasti. Ini pula yang membuat Bastian tak enak hati jika dia
memaksa untuk membeli jamur lebih banyak. Jelas-jelas jamur
itu bukan barang dagangan sembarangan. Ini gila, pikir Bastian.
Bahkan bandar pun akan bersedia memberikan dagangannya
jika dibayar pantas. Tapi perempuan tua itu, sekali lagi—seperti
yang dikatakan Laksmi—dia bukan bandar.

***

“Dari mana kamu tahu rumah saya?” tanya Laksmi dengan se-
ngit. Gadis itu tak menyangka Bastian akan muncul di rumah
kontrakannya.

“Dari orang bar.”
“Resek!” umpatnya. “Ini hari liburku, aku berharap tak perlu
bertemu denganmu. Sama saja.”
“Tolong ini dibikin jus.” Bastian menyodorkan jamur dari
Papuq Mamak. “Saya tak punya blender.” Kilah Bastian, “dan
kamu satu-satunya orang yang saya kenal di pulau ini.”

117

http://facebook.com/indonesiapustaka “Jadi kamu sudah berhasil bertemu Papuq Mamak?”
Bastian mengangguk penuh kemenangan.
Sembari Bastian menunggu, dia menyalakan TV dan meng-
ganti-ganti channel-nya. Sementara di dapur, Laksmi sibuk
memblender jamur-jamur tersebut.
“Nih.” Laksmi menyodorkan jus jamur. Bastian menerimanya,
“makasih....” ujar Laksmi sendiri, dia menyindir Bastian. Segera
dia menenggak jus tersebut. “Menurut saya, kamu konyol...
jauh-jauh ke rumah Papuq Mamak mengejar jamur ini, cuma
untuk bertemu dengan perempuan yang sudah mati. Sedalam
itukah cintamu padanya?”
Jus di gelas itu habis. Bastian kini menunggu reaksinya. Ke-
duanya terdiam sambil memperhatikan TV yang acaranya sama
sekali tidak menarik.
“Bartender kayak kamu, pasti punya banyak cowok kan. Apa-
lagi kamu manis, tamu yang ngajak kamu pulang bareng pasti
antre. Kenapa tak kamu manfaatkan saja sih?” Bastian mencoba
untuk memecah kesunyian di antara mereka, tapi justru itu me-
nyulut emosi Laksmi.
“Saya bartender, bukan hostes,” ujarnya galak.
“Mau bartender, mau hostes, yang jelas kalau ada bule kaya
yang mau sama kamu, kan lumayan. Kamu bisa pensiun. Apa
susahnya ditiduri tiap malam? Kamu tinggal cari yang rada gan-
teng.”
“Kamu seharusnya lebih sopan, karena ini rumah saya.”
Laksmi beranjak dengan kesal, menuju kamarnya dan... BAM!
Dia membanting pintu. Bastian menyadari kekeliruannya. Ce-
pat-cepat dia menuju ke pintu dan mengetuk-ngetuk pintu itu,
minta maaf.

118

http://facebook.com/indonesiapustaka “Laksmi! Laksmi! Oke, oke... saya minta maaf. Saya keterla-
luan. Mulut saya memang suka kurang ajar.”

“Kalau udah selesai pergi saja sana,” jawab Laksmi dari da-
lam.

“Laksmi... Buka pintunya, Laksmi!” Bastian terus mengetuk
pintu kamar Laksmi. Akhirnya pintu dibuka. “Laksmi, maaf saya
salah...” tapi ucapan Bastian terputus. Sebab di hadapannya
yang berdiri bukan Laksmi lagi, melainkan Raquel. Ia tahu, ga-
dis di hadapannya adalah fantasinya.

“Kamu tau kan, saya selalu memaafkan semua kesalahanmu,
Bastian,” ujar Raquel, senyumnya mengembang.

“Raquel....” Bastian mendesiskan nama itu. Bastian memeluk
Raquel erat sekali. “Saya kangen, Raq. Jangan pergi lagi.”

“Saya tak ke mana-mana,” ujar Raquel. Bastian memeluk ga-
dis itu, gadis yang sebetulnya bukan Raquel, melainkan Laksmi.
Dibiarkannya Bastian menangis di pundaknya.

“Raquel... saya punya sesuatu untuk kamu.” Bastian meng-
ambil sesuatu dari celananya, dan mengeluarkan selingkar cin-
cin. “Saya cinta kamu, Raq. Saya ingin selalu pulang ke kamu,
karena kamu adalah rumah buat saya.” Kini, Bastian di hadapan
Laksmi, Bastian sedang berlutut dengan selingkar cincin di ta-
ngan. “Raquel, mau kan menikah denganku?”

Laksmi terpaku, cincin itu diterimanya.
Laksmi tak pernah membicarakan lagi soal malam itu atau-
pun cincin itu. Yang jelas, Bastian kembali muncul ke bar dan
meminta jamur tersebut. Jawaban Laksmi sudah pasti, “aku tak
punya.”
Maka, Bastian pun kembali ke rumah Papuq Mamak.
“Bastian, jangan berbuat konyol!”

119

http://facebook.com/indonesiapustaka “Aku cuma akan membeli jamur itu.”
“Kamu tak butuh jamur itu, Papuq Mamak sudah memberi-
kan cukup jamur untukmu.”
“Tak usah banyak ngomong!” Bastian segera pergi dari itu.
Dengan speed boat, dilanjutkan dengan Vespa sewaan, dia
tiba ke rumah tradisional yang masih sama seperti kemarin. Tak
sabaran, Bastian memanggil-manggil ibu tua, “Papuq Mamak!
Papuq Mamak!”
Ibu tua itu muncul.
“Aku masih butuh jamur itu,” ucapnya.
Di hadapannya ibu tua itu tajam menatap mata Bastian. Tak
serta-merta dia memberikan jamur itu seperti permintaan Basti-
an. Kali ini, tak perlulah dia mengambil telapak tangan Bastian.
Matanya seperti menembus mata Bastian, dan melihat apa yang
telah dilihat Bastian lalu mulai membacanya. “Gadis yang sudah
mati itu, dia mengandung... benar kan?”
Bastian tercekat. Papuq Mamak terus menatap mata Bastian.
“Tapi dia bukan anakmu. Entah anak siapa. Lalu kamu marah,
sebab kamu sudah membeli sebuah cincin untuk melamarnya.
Maka kamu mengusirnya, dan dia pergi sambil marah. Gadis
itu lengah, kamu juga lengah, sebuah mobil menabraknya. Lalu
kamu....”
“CUKUP!” bentak Bastian. Semua benar, apa yang dikatakan
Papuq Mamak benar. “Berikan aku jamur itu!”
“Nak, kamu tak butuh jamur itu lagi. Gadis yang datang ke
dalam fantasimu, dia tidak nyata. Rasa bersalah dan amarahmu
takkan habis dengan kehadiran dia yang cuma sementara.”
“BERIKAN JAMUR ITU!”
“Lebih baik sekarang kau pergi,” Papuq Mamak berkata di-
ngin.

120

http://facebook.com/indonesiapustaka Tiba-tiba Bastian menerabas Papuq Mamak, dia mengacak-
acak tempat itu, mencari kaleng biskuit Khong Guan. Dia me-
nemukan beberapa kaleng di belakang. Dengan tergesa Bastian
membuka kaleng itu.

“Jangan!” Papuq Mamak berusaha mencegahnya.
Tapi Bastian tak peduli, diambilnya jamur-jamur itu, lalu de-
ngan segera dia sumpal ke mulutnya, dan berusaha ditelannya.
Lalu, Bastian segera mengambil Vespanya dan melaju di jalan
raya. Kepalanya penuh dengan Raquel, tetapi tak tampak sedikit
pun Raquel di hadapannya. Cara menyetir Bastian mulai ngaco.
Mobil dan motor mengklaksonnya keras-keras, beberapa sopir
mengumpat dan mengucapkan kata-kata kasar atas cara nyetir
Bastian yang ugal-ugalan. Mereka tak tahu, jika jamur-jamur itu
tak membuatnya bisa bertemu Raquel, maka Bastian rela mati.
Bastian merem, berharap gambaran Raquel muncul. Pengaruh
jamur itu belum juga terasa. Tiba-tiba ketika melek, dia melihat
seorang pengemudi di situ menjadi Raquel.
“RAQUEL!” Bastian teriak. Dia pun berbalik arah, berusaha
mengejar pengemudi motor yang dipercayanya sebagai Raqu-
el. Tetapi motor tersebut melaju sangat cepat, Bastian tak bisa
mengejarnya. Bastian celingukan mencari sosok Raquel. Di se-
kitarnya, semua pengemudi motor maupun mobil kini berwajah
Raquel. Bastian menjadi depresi sendiri.
“Hey, bangsat! Mau mati di jalan?!” Raquel pengemudi mo-
bil mengumpat padanya.
“Brengsek!” Raquel yang lain, yang mengemudi mobil di
belakangnya juga mengumpat.
“Kalo mau celaka silakan!” kali ini Raquel pengemudi motor
yang mengumpat. Semua Raquel dengan wajah marah. Bastian

121

http://facebook.com/indonesiapustaka bingung, mana Raquelnya? Dia tak lagi memerhatikan jalan, dan
tak lama, Bastian melihat Raquel pengemudi truk muncul dari
belakang. Dia kaget, Bastian juga kaget. Sebuah suara tabrakan
terdengar. Semua Raquel yang ada di jalan itu terdiam dengan
kejadian itu. Bastian terlempar, lalu terseret. Raquel-Raquel ter-
sebut mengerumuni Bastian.

“Panggil ambulans!” ujar Raquel yang satu.
“Polisi ada di dekat sini!” Raquel yang lain menginformasi-
kan.
“Ya ampun, dia masih hidup tidak ya?” Raquel yang lain lagi
bertanya-tanya.
Suara-suara mereka riuh-rendah, sementara Bastian mela-
yang, melihat semua Raquel yang mengerumuni tubuhnya.

122

http://facebook.com/indonesiapustaka Sejarah Publikasi

“Pacar Putri Duyung” - Media Indonesia, 24 Agustus 2014
“Bau Laut” - Media Indonesia, 9 Februari 2014
“Nonik” - Esquire Indonesia, Edisi Desember 2011
“Keretamu Tak Berhenti Lama” - Jawa Pos, 24 Agustus 2008
“Rumah Duka” - Kompas, 6 Juli 2008 dan Cerpen Pilihan
Kompas 2008
“Foto Ibu” - Kompas, 1 Juni 2008
“Ah Kauw” - Suara Merdeka, 17 Februari 2008
“Tulah” - Republika, 11 November 2007
“Lelaki di Rumah Seberang” - Jurnal Nasional, 9 Juli 2006

123

http://facebook.com/indonesiapustaka Tentang Penulis

RATIH KUMALA lahir di Jakarta 1980. Ia adalah seorang

penulis profesional. Lulus dari Universitas Negeri Sebelas Maret,
jurusan Sastra Inggris. Sejak 2004, telah menerbitkan sejumlah
buku iksi, novel termutakhirnya berjudul Gadis Kretek (2012),
masuk dalam Top Five Khatulistiwa Literary Award 2013. Kum-
pulan cerpen Bastian dan Jamur Ajaib ini adalah bukunya yang
ke-6. Ratih juga menulis skenario untuk televisi dan layar lebar.
Ia kini lebih banyak bergiat di salah satu televisi swasta, selain
mengurus putri kecilnya Kidung Kinanti Kurniawan.

124

http://facebook.com/indonesiapustaka

Jamur ini bukan sembarang jamur.
Jamur ini mampu membuka luka hati siapa pun yang memakannya.

Buku ini bukan sembarang buku.
Buku ini mampu membuka dunia imajinasi yang penuh makna.

Dunia cerita Ratih Kumala mengandung rasa takut yang tidak
main-main. Karakter-karakter imajinernya sedemikian nyinyir
mengingatkan, bahwa dalam romantika yang bergelimang
keriangan, suka-cita, dan bahagia, senantiasa ada ancaman
yang bakal tiba secara tak terduga; kematian.

—Damhuri Muhammad, cerpenis, esais,
editor sastra harian Media Indonesia

Enjoyable reading and interesting story that when i finish,
i don’t want the story to end just yet.

—Awi Suryadi, sutradara

Membaca tulisan Ratih Kumala, imaji dan batinku berkelana.
—Ahmad Yusuf, sutradara

http://facebook.com/indonesiapustaka FIKSI/KUMPULAN CERITA

Penerbit
PT Gramedia Pustaka Utama
Kompas Gramedia Building
Blok I, Lt. 5
Jl. Palmerah Barat 29–37
Jakarta 10270
www.gramediapustakautama.com


Click to View FlipBook Version