The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2023-05-22 18:03:14

Fiqih Kontemporer EBS

Fiqih Kontemporer EBS

ka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah patung, mereka keluar dari Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari buruannya. Seandainya aku menjumpai mereka, sungguh akan aku bunuh mereka seperti kaum Ad.”64 Hadits ini memberikan faedah kepada kita dua hal: 1. Pemikiran Khawarij semenjak dahulu hingga sekarang adalah dibangun di atas mengkritik para pemimpin, mencela mereka, menguak dan membesarkan kesalahan mereka untuk mengompori api kebencian di hati rakyat. 2. Memisahkan rakyat dari roda kepemimpinan yang benar di bawah bimbingan para ulama' rabbaniyyun. Oleh karena itu, kelompok Khawarij merangkap dua kejahatan yaitu membesar-besarkan kesalahan pemimpin sebagai jembatan mengkafirkan mereka dan melecehkan para ulama'. Khawarij kuno mengarahkan bidikan dua hal tersebut pada Nabi n dan para shahabatnya f, sedangkan cikal bakal Khawarij mengarahkan bidikannya pada ulama' masa kini dan para murid-muridnya.65 4. Terkompori oleh doktrin-doktrin dan pemikiran-pemikiran sesat yang dilancarkan oleh para pengusung pemikiran takfir Tatkala para pengusung pemikiran tersebut mengetahui adanya sebagian pemuda yang semangat beragama dan cemburu dalam mengingkari kemungkaran dan keinginan kuatnya untuk mendapatkan surga, maka para pengusung tersebut mulai membawakan ayat-ayat dan hadits tentang jihad dan keutamaan mati syahid di jalan Allah. Benar, dalil tersebut tidak salah karena memang jihad merupakan amalan utama dalam Islam. Hanya, yang salah adalah doktrin mereka kepada para pemuda bahwa para pemerintah dan menteri-menterinya adalah 64 HR al-Bukhari: 6933, Muslim: 1064–1066 65 Al-Maqalat Salafiyyah fil ’Aqidah wad Da’wah wal Manhaj wal Waqi’, Salim ibn Id al-Hilali, hlm. 43–44. 42 Fiqih Kontemporer


orang pertama yang harus diperangi sehingga menggunakan ayat dan hadits bukan pada tempatnya. Solusi untuk Mengatasi Aksi Terorisme Setiap penyakit pasti ada obatnya, setiap problem pasti ada solusinya, setiap fitnah pasti ada jalan keluarnya. Demikian pula fitnah terorisme dapat kita basmi dan berantas apabila kita semua bahu-membahu dan saling membantu untuk membuntukan setiap lubangnya. Hal itu dapat ditempuh dengan beberapa cara sebagai berikut: 1. Menyebarkan ilmu syar’i dan menimbanya dari ulama' Hal ini penting sekali, terutama masalah-masalah yang berkaitan tentang aqidah dan manhaj. Hal ini dapat dilakukan dengan penyebaran buku-buku, majalah-majalah dan kaset-kaset Islami, khususnya yang berkaitan tentang manhaj, dakwah, jihad, politik dan pemerintahan. Cara lainnya lagi dengan mengadakan seminar-seminar dan dialog ilmiyyah yang dipandu oleh para ustadz yang mapan ilmunya guna menangkis beberapa syubhat yang melekat di fikiran anggota Khawarij. Cara ini sangat efektif untuk membendung dan mengobati pemikiran karena kebanyakan para pelaku tersebut adalah orang-orang semangatnya kuat tetapi jahil (bodoh) dan memiliki beberapa syubhat yang harus dihilangkan. Cara ini penulis saksikan sendiri telah berhasil diterapkan oleh negara Arab Saudi ketika penulis awal pergi ke sana sekitar tahun 1426 H banyak bermunculan bom-bom, kemudian setelah itu gencarlah kegiatan-kegiatan memberantas aksi terorisme dengan kerja sama yang baik antara pemerintah dan ulama', para da’i, penuntut ilmu, khatib, dan imam masjid sehingga—alhamdulillah— hasilnya sangat memuaskan. Dengan demikian, otomatis harus ada hubungan harmonis antara para ustadz/da’i/alim dengan para pemuda/pelajar. Orang yang berDosa-Dosa Terorisme 43


ilmu hendaknya menyayangi para pemuda dan selalu siap melayani keluhan mereka. Demikian pula sebaliknya, para pelajar/pemuda hendaknya menghormati kedudukan orang berilmu. Cara inilah yang diterapkan oleh para shahabat seperti Abdullah ibn Mas’ud a dan Abdullah ibn Abbas d serta para ulama' yang mengikuti jejak mereka menghadapi fitnah Khawarij. 2. Kekuatan Cara ini khusus bagi para pemerintah yang memiliki kekuatan dan kemampuan. Sebagai pemerintah yang mendambakan kesejahteraan rakyatnya, dia harus berupaya membersihkan segala noda-noda hitam Khawarij dan memberantas habis kekuatan mereka hingga ke akar-akarnya bukan hanya dipenjarakan sementara saja. Cara inilah yang ditempuh oleh Khalifah Ali ibn Abi Thalib a. Namun, perlu diketahui bahwa cara yang pertama jauh lebih baik daripada yang terakhir ini karena aksi-aksi terorisme itu dibangun di atas pemahaman-pemahaman keliru yang dapat diobati dengan ilmu agar hilang sampai ke akar-akarnya. Adapun sekadar dengan kekerasan dan kekuatan saja maka hal ini sekalipun bisa mengurangi, pemikiran-pemikiran tersebut akan tetap berkeliaran dan menular. Demikianlah uraian singkat tentang fitnah terorisme yang menjadi bulan-bulanan hingga saat ini. Semoga keterangan singkat menjadi sumbangsih kebaikan untuk menuju keadaan yang lebih baik. Daftar Rujukan: 1. Al-Irhab wa Atsaruhu ’Alal Afrad wal Umam. Zaid ibn Muhammad ibn Hadi al-Madkhali. Dar Sabilil Mukminin, KSA, cet. pertama, 1418 H. 2. At-Tafjirat wal Ightiyalat. Abul Hasan Musthafa ibn Isma’il asSulaimani. Darul Fadhilah, KSA, cet. pertama, 1425 H. 3. Pengeboman Jihad atau Terorisme?. Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar asSidawi. Pustaka Al Furqon, cet. pertama, 1430 H. 44 Fiqih Kontemporer


Bimbingan Islami Saat Gempa Bumi dan Tsunami Bimbingan Islami Saat Gempa Bumi dan Tsunami Mungkin masih segar dalam ingatan kita bahwa negeri Indonesia ini pernah beberapa kali dikejutkan oleh peristiwa dahsyat gempa bumi ditambah tsunami yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh, Sumatra, dan Jawa. Peristiwa dahsyat tersebut menyapu bangunanbangunan gedung dan rumah, memakan korban jiwa, menjadikan manusia luka-luka, serta menghancurkan harta dan sarana hidup manusia. Sungguh, ini merupakan peristiwa besar yang seharusnya kita bisa mengambil pelajaran darinya sehingga mempertebal keimanan kita dan memompa semangat kita demi menambah bekal amal shalih untuk menghadap Allah. Pada kesempatan kali ini, izinkanlah kami untuk membahas masalah gempa bumi ditinjau dari sudut pandang agama Islam66 dan berbagai masalah hukum fiqih yang berkaitan dengannya. Semoga bermanfaat. 66 Para ulama' kita telah membahas dan menulis masalah gempa bumi secara khusus, seperti as-Suyuthi (961 H) dalam kitabnya Kasyfu Shalshalah fi Washfi Zalzalah, Hamid ibn Ali al-’Amadi (1171 H) dalam kitabnya al-Hauqalah fi Zalzalah, dan al-Ajluni (1162 H) dalam Tahriku Sababah Fima Yata’allaqu Bi Zalzalah. Hal ini menunjukkan kepada kita kebenaran ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam al-Washiyyatush Shughra hlm. 352 (syarah Ibrahim alHamd): “Umat ini telah membahas setiap bidang ilmu secara tuntas.” Lihat dan baca juga kitab Abjadul ’Ulum oleh Shiddiq Hasan Khan. Bimbingan Islami Saat Gempa Bumi dan Tsunami 45


Definisi Gempa Gempa bumi adalah goncangan besar dan keributan yang sangat. Allah berfirman: چٹ ڤ ڤ ڤ ڤچ Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat). (QS az-Zalzalah [99]: 1)67 Al-Imam al-Baghawi v berkata: “Gempa adalah goncangan dahsyat yang menakutkan.”68 Gempa dan Tsunami Dalam Catatan Sejarah Barangsiapa yang menelaah sejarah, niscaya akan mengetahui bahwa peristiwa bencana gempa bumi dan tsunami tidak hanya ada pada zaman sekarang, namun telah ada semenjak dahulu kala sebagaimana dipaparkan secara detail tempat dan tanggal kejadiannya oleh Imam Ibnul Jauzi dalam al-Mudhisy dan as-Suyuthi dalam Kasyfu Shalshalah ’An Washfi Zalzalah. Setiap peristiwa bersejarah tersebut memuat hikmah dan pelajaran bagi setiap orang yang berakal. Tidak mungkin kami sebutkan semua peristiwa tersebut, namun cukuplah kita merenungi salah satu kisah tsunami berikut: Jumadal Ula, 460 H. Bumi membelah, memuntahkan isi perutnya. Guncangannya dirasakan hingga di kota Rahbah dan Kufah. Air laut menyusut sejauh jarak perjalanan satu hari, terserap oleh bumi hingga terlihatlah permukaan bumi dasar laut yang bertabur permata dan berbagai bentuk batu unik lainnya. Orang-orang pun berhamburan untuk memungut setiap batu unik yang tampak. Tanpa diduga, ter67 Al-Hauqalah fi Zalzalah hlm. 1, sebagaimana dalam Tahrik Silsilah Fima Yata’allaqu bi Zalzalah hlm. 26 oleh al-’Ajluni. 68 Ma’alim Tanzil 5/363. 46 Fiqih Kontemporer


nyata tiba-tiba air laut kembali pasang dan menyapu mereka hingga sebagian besar mereka tergulung dan meninggal dunia.69 Apakah yang dapat kita petik dari kisah di atas?! Salah satu di antaranya, agar kita tidak tertipu dengan dunia yang menipu!! Di Indonesia sendiri, gempa bumi akhir-akhir ini sering terjadi. Berikut ini data tentang sebagian peristiwa gempa bumi yang populer di Indonesia:70 Tanggal Kekuatan Episentrum Area Tewas Keterangan 26-12-2004 9,3 Samudra Hindia Nanggroe Aceh Darussalam dan sebagian Sumatra Utara 131.028 tewas dan sekitar 37.000 orang hilang 27-5-2006 5,9 7.977°LS 110.318°BT Bantul, Yogyakarta Daerah Istimewa Yogyakarta dan Klaten 6.234 17-7-2006 7,7 9.334°LS 107.263°BT Samudra Hindia Ciamis dan Cilacap >400 12-9-2007 7,7 4.517°LS 101.382°BT Kepulauan Mentawai 10 2-9-2009 7,3 8.24°LS 107.32°BT Tasikmalaya dan Cianjur >87 30-9-2009 7,6 0.725°LS 99.856°BT Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kota Padang, dan Agam 1.115 135.299 rumah rusak berat, 65.306 rumah rusak sedang, dan 78.591 rumah rusak ringan 9-11-2009 6,7 8.24°LS 118.65°BT Pulau Sumbawa 1 80 orang luka dan 282 rumah rusak berat 25-10-2010 7,7 3.61°LS 99.93°BT Sumatra Barat 408 orang tewas Faktor Penyebab Gempa Seringkali kita membaca komentar para penulis dan ilmuwan di media pasca kejadian gempa bumi atau tsunami yang mengatakan 69 Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 12/118. 70 Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_gempa_bumi_di_Indonesia Bimbingan Islami Saat Gempa Bumi dan Tsunami 47


bahwa faktor penyebab terjadinya gempa hanyalah karena faktor alam dan letak geografis daerah bencana yang dekat dengan laut. Namun, benarkah hanya sekadar itu sebagai faktor penyebab terjadinya gempa?! Tidakkah ada faktor lain yang lebih dominan daripada itu?! Gempa pertama pada masa Islam terjadi pada zaman Umar ibn alKhaththab a. Simaklah ucapan Shafiyyah s: “Pernah terjadi gempa bumi di Madinah pada masa Umar (a) sehingga beberapa pagar roboh, lalu Umar (a) berkhotbah: ‘Wahai penduduk Madinah, alangkah cepatnya kalian berubah. Demi Allah, seandainya gempa terulang lagi maka saya akan keluar dari kalian (karena khawatir menimpa dirinya juga).’”71 Perhatikanlah alangkah cerdasnya pemahaman Khalifah Umar a! Tatkala beliau mendapati peristiwa aneh yang belum pernah terjadi pada zaman Nabi n, 72 maka beliau mengetahui bahwa umat ini telah berbuat suatu hal baru yang menjadikan Allah mengubah keadaan bumi.73 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v berkata: “Gempa termasuk tanda kekuasaan Allah yang Allah timpakan untuk menimbulkan ketakutan pada hamba-Nya, seperti halnya gerhana matahari atau bulan dan peristiwa-peristiwa dahsyat semisalnya. Kejadian-kejadian tersebut memiliki sebab dan hikmah. Salah satu hikmahnya adalah untuk menimbulkan ketakutan. Adapun faktor penyebabnya, di antaranya adalah meluapnya uap dalam bumi sebagaimana air dan angin yang meluap di tempat yang sempit. Kalau meluap, sejatinya tentu ingin cari tempat keluar sehingga bumi terpecah dan terjadi gempa di bumi sekitar. Adapun ucapan sebagian orang bahwa sebabnya adalah karena kerbau menggerakkan kepalanya sehingga menggerakkan bumi, maka ini adalah kejahilan yang sangat nyata.74 Seandainya benar de71 Diriwayatkan al-Baihaqi dalam Sunan-nya 3/342, Ibnu Abi Syaibah dalam alMushannaf 2/473 dengan sanad yang shahih, sebagaimana dalam Ma Shahha min Atsar Shahabah 1/517 oleh Zakariya ibn Ghulam al-Bakistani. 72 Gempa belum pernah terjadi pada masa Nabi n, sebagaimana ditegaskan oleh al-Imam Ibnu Abdil Barr: “Tidak ada hadits shahih dari Nabi n yang menyebutkan bahwa pernah terjadi gempa pada zaman beliau dan tidak ada juga sunnah yang shahih tentangnya.” (at-Tamhid 3/318) 73 Al-Adzab al-Adna, Dr. Muhammad as-Suhaim, hlm. 92. 74 Mirip dengan ini, anggapan sebagian orang bahwa penyebab gempa dan 48 Fiqih Kontemporer


mikian, niscaya akan terjadi gempa pada seluruh bumi, padahal tidak demikian perkaranya.”75 Adapun penisbahan peristiwa ini kepada alam semata, maka itu termasuk kebodohan dan kelalaian yang jauh dari tuntunan agama. Asy-Syaikh Muqbil ibn Hadi al-Wadi’i v telah membantah pemikiran ini secara panjang lebar dalam risalahnya yang berjudul Idhahul Maqal fi Asbabi Zilzal war Raddu ’Ala Malahidah Dzulal. Di akhir kitab tersebut, beliau mengatakan: “Dari penjelasan yang lalu dapat disimpulkan bahwa gempa bumi bisa jadi cobaan dari Allah dan bisa jadi peringatan dari Allah karena dosa hamba.76 Dan semua itu dengan takdir Allah sebagaimana telah lalu dalilnya. Adapun orang yang mengatakan karena sebab alam jika maksudnya adalah dengan takdir Allah dan karena sebab dosa maka tidak kontradiksi dengan dalil, namun bila mereka berkeyakinan hanya sekadar faktor alam semata maka ini sangat bertentangan dengan dalil-dalil al-Qur'an dan hadits, dan ini merupakan pemikiran yang menyimpang.”77 Asy-Syaikh Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin v berkata: “Sesungguhnya kebanyakan manusia sekarang menganggap bahwa musibah yang menimpa mereka baik dalam bidang perekonomian, keamanan atau politik disebabkan karena faktor-faktor dunia semata. Tidak ragu lagi bahwa semua ini merupakan kedangkalan pemahaman tsunami adalah karena jin penjaga laut sedang marah dan murka sehingga perlu diberi tumbal-tumbal kepala kerbau dan sebagainya; maka semua ini adalah khurafat jahiliyyah yang batil sebagaimana akan kita bahas, insya Allah. 75 Majmu’ Fatawa 24/264 76 Jadi, bencana itu bisa jadi sebagai ujian dan cobaan dan bisa jadi sebagai teguran dan siksaan, tergantung pada keadaan manusia yang terkena bencana. Bila dia orang shalih maka itu adalah cobaan dan bila sebaliknya maka itu adalah peringatan dan pelajaran bagi yang semisalnya. Hanya, karena kebanyakan manusia sekarang melalaikan kewajiban agama dan melakukan dosa, maka tidaklah mustahil bila hal itu adalah sebagai peringatan bagi kita semua. (Lihat Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Ibnu Baz 2/478, al-Adzabul Adna hlm. 34–35 oleh Dr. Muhammad as-Suhaim.). Perlu diketahui bahwa adanya gempa dan semisalnya tidak mengharuskan karena dosa manusia yang menjadi korbannya, bisa jadi adalah karena dosa kita juga tetapi mereka yang kena getahnya. Oleh karenanya, hendaknya kita semua melakukan introspeksi dan memperbaiki diri. 77 Idhahul Maqal fi Asbabi Zilzal hlm. 42 Bimbingan Islami Saat Gempa Bumi dan Tsunami 49


mereka dan lemahnya iman mereka serta kelalaian mereka dari merenungi al-Qur'an dan sunnah Nabi n. Sesungguhnya di balik musibah ini terdapat faktor penyebab syar’i yang lebih besar dari faktor-faktor duniawi. Allah berfirman: چی ی ئج ئح ئم ئى ئي بج بح بخ بم بى بي تج تح تخچ Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS arRum [30]: 41).”78 Hikmah di Balik Gempa Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Oleh karenanya, hendaknya kita pandai-pandai untuk mengambil pelajaran dari peristiwa gempa bumi dan tsunami ini. Dahulu, orang bijak berkata: ترةل تن تذا بفكل لن تك ا تم ترةل ب قه بعل ي ةئ تل ل ي قكمل تشل تفبف Barangsiapa yang berotak cerdas niscaya segala sesuatu adalah pelajaran baginya.” Lantas, bagaimana kiranya dengan peristiwa besar seperti ini?!! Ada beberapa hal yang dapat menjadi renungan dan pelajaran bagi kita, di antaranya: 78 Atsar Dzunubi wal Ma’ashi hlm. 9 50 Fiqih Kontemporer


1. Peristiwa ini menjadikan seorang muslim semakin beriman dan yakin akan kekuasaan Allah q. Seorang muslim yakin bahwa Allah-lah yang mengatur alam ini sesuai dengan kehendak-Nya, dan memutuskan apa yang Dia inginkan. Tidak ada seorang pun yang bisa menolak keputusan-Nya, sekalipun semua ilmuwan berkumpul untuk menghadangnya dengan alat-alat modern dan super canggih!! 2. Peristiwa ini dapat menumbuhkan rasa takut dalam jiwa hamba-hamba-Nya sehingga mereka memperbaiki diri dari segala dosa menuju jalan yang lurus. Al-Muhallab v berkata: “Adanya gempa adalah peringatan dari Allah kepada penduduk bumi ketika mereka terang-terangan dengan kemaksiatan.”79 3. Peristiwa ini mengingatkan kita akan nikmat Allah q berupa menetapnya bumi. Aduhai, jika bumi ini bergoncang dalam sekejap saja, telah memakan korban jiwa yang tak sedikit jumlahnya, lantas bagaimana kiranya jika bergoncang sehari penuh, atau berhari-hari, apa yang akan terjadi dengan manusia di permukaannya?!! 4. Peristiwa ini mengingatkan kita akan goncangan besar kelak di akhirat yang menjadikan seorang ibu yang sedang menyusui bayinya lalai dari bayinya dan wanita hamil keguguran,80 semua itu karena sangat dahsyatnya. Dengan demikian kita akan segera bertaubat, bersemangat dalam amal shalih, dan tidak tertipu dengan dunia.81 Amalan-Amalan Ketika Terjadi Gempa Ketika gempa bumi menyapa, bila tsunami menghampiri manusia, ketika para korban berjatuhan meninggal dunia, ketika bangunan hancur berkeping-keping menjadi tanah, ketika para wanita menjadi 79 ’Umdatul Qari, al-’Aini, 7/57. 80 Lihat QS al-Hajj [22]: 2. 81 Renungkanlah kembali nasihat asy-Syaikh Abdurrazzaq ibn Abdul Muhsin al-Abbad dalam khotbahnya tentang gempa bumi, dimuat dalam Majalah Al Furqon Edisi 108 dalam judul “Ada Apa di Balik Gempa Tsunami?” Bimbingan Islami Saat Gempa Bumi dan Tsunami 51


janda dan anak-anak menjadi yatim tanpa orang tua … pada saat itu semua hendaknya kita semua lebih mendekatkan diri kepada Allah, mengingat akhirat, segera bertaubat, bersemangat ibadah, dan tidak tertipu dengan dunia yang fana. Berikut ini beberapa amalan yang hendaknya dilakukan ketika gempa dan tsunami terjadi: 1. Taubat kepada Allah Sesungguhnya peristiwa ini akan membuahkan bertambahnya iman seorang mukmin, memperkuat hubungannya dengan Allah q. Dia sadar bahwa musibah-musibah ini tidak lain dan tidak bukan adalah akibat dosa-dosa anak manusia berupa kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan. Tidaklah terjadi suatu malapetaka melainkan karena dosa, dan malapetaka itu tidak akan dicabut oleh Allah q kecuali dengan taubat. Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah v berkata: “Kadang-kadang Allah mengizinkan bumi bernapas sehingga mengakibatkan gempa dan tsunami yang dahsyat, sehingga hal itu menjadikan ketakutan kepada Allah, kesedihan, taubat, dan berserah diri kepada Allah.”82 2. Banyak dzikir, do’a, dan istighfar kepada Allah Al-Imam Syafi’i v mengatakan: “Obat yang paling mujarab untuk mengobati bencana adalah memperbanyak tasbih.” Al-Imam asSuyuthi v berkomentar: “Hal itu karena dzikir dapat mengangkat bencana dan adzab, sebagaimana firman Allah: چڻ ڻ ڻ ڻ ۀ ۀ ہ ہ ہ ہ ھ ھ ھچ 82 Miftah Dar Sa’adah 1/221 52 Fiqih Kontemporer


Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. (QS ash-Shaffat [37]: 143–144)83 Renungkanlah juga bersama saya firman Allah: چئا ئە ئە ئو ئو ئۇئۇ ئۆ ئۆ ئۈ ئۈ ئې ئې ئېچ Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS al-Anfal [8]: 33) Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa ada dua hal yang dapat melindungi manusia dari adzab: Pertama: Adanya Nabi Muhammad n di tengah-tengah manusia dan ini bersifat sementara. Kedua: Istighfar dan meninggalkan segala dosa dan ini bersifat seterusnya sekalipun Nabi n telah meninggal dunia.84 3. Membantu para korban bencana Saudaraku, bila kita sekarang dalam kenikmatan dan kesenangan, kita bisa makan, minum, dan memiliki rumah, maka ingatlah saudara-saudaramu yang terkena bencana. Saat ini mereka sedang kesusahan dan kesulitan. Maka ulurkanlah tanganmu untuk membantu mereka semampu mungkin. Rasulullah n bersabda: « ة د ب ع ر و ك س ههِلآ س ن و ع ع سلهِلآ عسهِلآ ا ف س ن ع عيلاهِلآ ن و ل ك لبهِلآ ا ر ع ك س نهِلآ و ةهِلآ لم د ب ع ر و ك س ننهِلآ ؤلم و م س نهِلآ و ع ع عسهِلآ ف س ن ع نهِلآ و م ع ملة ع عيلا للق و ولمهِلآ ا و ي ع لبهِلآ ر ع ك س نهِلآ و لم »َو . 83 Ma Rawahul Wa’un fi Akhbar Tha’un hlm. 69–70 84 Lihat Ghidza'ul Albab 2/377 oleh as-Saffarini. Bimbingan Islami Saat Gempa Bumi dan Tsunami 53


“Barangsiapa yang membantu menghilangkan kesusahan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan menghilangkan kesusahan darinya besok di hari kiamat.” (HR Muslim: 2699) Terlebih lagi orang kaya, pengusaha, pemerintah, dan bangsawan, hendaknya mereka mengeluarkan hartanya untuk membantu para korban. Dahulu, tatkala terjadi gempa pada masa Khalifah Umar ibn Abdul Aziz v, beliau menulis surat kepada para gubernurnya untuk bershadaqah dan memerintah rakyat untuk bershadaqah.85 Dan hendaknya para relawan saling membantu dan saling melengkapi antar sesama sehingga terwujudlah apa yang menjadi tujuan mereka,86 jangan sampai ada terjadi pertengkaran atau perasaan bahwa dia adalah orang yang paling pantas dibanding lainnya. 4. Menegakkan amar ma’ruf nahi munkar Sebagaimana tadi kita sebutkan bahwa termasuk faktor terjadinya gempa adalah dosa umat manusia maka hendaknya hal itu dihilangkan, salah satu caranya dengan menegakkan dakwah, saling menasihati, dan amar ma’ruf nahi munkar sehingga mengecillah kemungkaran. Adapun bila kita bersikap acuh tak acuh dan mendiamkan kemungkaran maka tak ayal lagi bencana tersebut akan kembali menimpa kita. چٹ ڤ ڤ ڤ ڤ ڦ ڦ ڦ ڦ 85 Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 5/337, Ibnu Abi Dunya dalam al-’Uqubat no. 23 dengan sanad jayyid (bagus). 86 Asy-Syaikh Ahmad an-Najmi pernah ditanya: “Bolehkah salafiyyin bekerja sama dengan orang-orang hizbi, begitu juga berangkat ke daerah tersebut melalui yayasan dakwah atau lainnya seperti salah satu stasiun televisi lokal untuk membantu korban?” Beliau menjawab: “Orang-orang hizbi yang tidak memiliki paham takfir (gampang mengkafirkan muslimin), boleh kerja sama dengan mereka. Adapun yang dikenal memiliki paham takfir, maka seharusnya tidak boleh bekerja sama dengan mereka.” (http://www.darussalaf.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=226) 54 Fiqih Kontemporer


ڄ ڄ ڄڄ ڃ ڃ ڃ ڃ چ چ چ چ ڇ ڇ ڇ ڇڍ ڍ ڌ ڌ ڎ ڎچ Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (QS al-Ma'idah [5]: 78–79) Jangan Menambah Bencana di Atas Bencana Sebagian orang bertindak konyol, ingin menolak bala' dari mereka, tetapi alih-alih bala' tersebut berkurang, justru semakin parah dan bertambah. Sebabnya tidak lain adalah banyak sekali amalan tolak bala' yang bertentangan dengan agama. Di antara amalan yang perlu kami ingatkan di sini adalah: 1. Kirim tumbal dan sesajen Ini adalah adat jahiliyyah yang masih bercokol pada tubuh sebagian kaum muslimin. Ketika terkena bencana, mereka mengirimkan sesajen dan tumbal dengan harapan dapat menolak bala', namun anehnya hal itu justru memperparah bencana. Penulis jadi teringat kisah sebagian kawan bahwa ketika ada musibah lumpur panas Lapindo, beberapa orang mengirim tumbal kerbau yang dicelupkan hidup-hidup ke lumpur panas! Namun, kenyataannya sampai sekarang pun penyelesaian tak kunjung datang, bahkan semakin parah dan bertambah. Bimbingan Islami Saat Gempa Bumi dan Tsunami 55


Adat kirim tumbal dan sesajen bukanlah dari ajaran Islam. Justru Islam telah membatalkan hal ini. Alangkah menariknya apa yang dikisahkan oleh al-Imam Ibnu Katsir bahwa pada suatu saat, Sungai Nil di Mesir pernah kering tidak mengalirkan air. Maka penduduk Mesir mendatangi Amr ibn Ash a seraya mengatakan: “Wahai Amir (Gubernur), Sungai Nil kita ini memiliki suatu musim untuk tidak mengalir kecuali dengan tumbal.” Amr bertanya: “Tumbal apakah itu?” Mereka menjawab: “Pada tanggal 12 di bulan seperti ini, biasanya kami mencari gadis perawan, lalu kita merayu orang tuanya dan memberinya perhiasan dan pakaian yang mewah, kemudian kita lemparkan dia ke Sungai Nil ini.” Mendengar hal itu, Amr mengatakan kepada mereka: “Ini tidak boleh dalam agama Islam. Islam telah menghapus keyakinan tersebut.” Beberapa bulan mereka menunggu, tetapi Sungai Nil tetap tidak mengalir sehingga hampir saja penduduk setempat nekad memberikan tumbal. Maka Amr menulis surat kepada Umar ibn Khoththob a tentang masalah tersebut, lalu beliau menjawab: “Sikapmu sudah benar. Dan bersama ini saya kirimkan secarik kertas dalam suratku ini untuk kamu lemparkan ke sungai Nil.” Tatkala surat itu sampai, maka Amr mengambilnya, ternyata isi surat tersebut sebagai berikut: Dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin kepada Nil, sungai penduduk Mesir. Amma ba’du. Bila kamu mengalir karena perintahmu sendiri maka kamu tidak perlu mengalir karena kami tidak butuh kepadamu, tetapi kalau kamu mengalir karena Allah yang mengalirkanmu maka kami berdo’a agar Allah mengalirkanmu. Setelah surat Umar a tadi dilemparkan ke Sungai Nil, dalam semalam saja Allah telah mengalirkan Sungai Nil sehingga berketinggian enam belas hasta!!”87 2. Undangan do’a bersama Sebagian orang melakukan ritual ibadah do’a bersama-sama untuk tolak bala' dengan analogi seperti shalat istisqa' (minta hujan) yang jelas disyari’atkan dalam Islam. Namun, apakah hal ini dibenarkan? 87 Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir, 7/100. 56 Fiqih Kontemporer


Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani v mengatakan: “Pada asalnya, do’a untuk menghilangkan wabah tidaklah terlarang. Namun, berkumpul untuk berdo’a bersama seperti pada shalat istisqa' maka ini termasuk bid’ah (perkara baru) dalam agama. Pada zaman sekarang, wabah tha’un pertama kali muncul di Kairo pada 27 Rabi’ul Akhir tahun 833 H, korban yang meninggal tidak lebih dari empat puluh orang. Kemudian mereka keluar ke tanah lapang pada 4 Jumadal Ula setelah dianjurkan untuk puasa seperti dalam istisqa', mereka berkumpul dan berdo'a bersama lalu pulang. Belum selesai bulan Jumadal Ula, ternyata justru korban semakin banyak sehingga setiap hari korban yang mati lebih dari seribu. Seandainya hal itu disyari’atkan, tentu tidaklah samar bagi salaf dan bagi para ulama' sepanjang zaman, sedangkan tidak dinukil dari mereka hadits atau atsar satu pun.”88 Al-Hafizh as-Suyuthi v juga menguatkan tidak bolehnya. Kata beliau: “Hal itu tidak ada dalilnya yang shahih dari Nabi n.” Lanjutnya lagi: “Bencana seperti itu terjadi pada masa Imam Huda Umar ibn al-Khaththab, sedangkan para shahabat saat itu masih banyak, namun tidak dinukil dari seorang pun dari mereka yang melakukan ritual (do’a bersama) tersebut.”89 Masalah-Masalah Seputar Gempa Bumi Ada beberapa masalah yang berkaitan dengan gempa yang kami pandang perlu untuk dikupas di sini agar kita memiliki ilmu tentangnya: 88 Badzlul Ma’un: 328–330 (secara ringkas) 89 Ma Rawahu Wa’un fi Akhbari Tha’un hlm. 167. Dan lihat masalah ini secara luas dan detail dalam risalah Hukmu Tada'ili Fi’li Tha’at fi Nawazil wa Syada'id alMulimmat oleh Syaikhuna Masyhur ibn Hasan alu Salman. Bimbingan Islami Saat Gempa Bumi dan Tsunami 57


1. Shalat ketika gempa Ketika terjadi gempa bumi, tsunami, atau bencana besar lainnya, apakah disyari’atkan kita melakukan shalat?! Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama'. Al-Imam Ibnul Mundzir v mengatakan: “Para ulama' berselisih pendapat tentang shalat ketika gempa dan bencana besar sejenisnya. 1. Sebagian ulama' berpendapat, hendaknya shalat sebagaimana shalat gerhana matahari atau bulan, sebab Nabi n mengatakan: ‘Sesungguhnya matahari dan bulan termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah.’ Demikian juga dengan gempa bumi dan bencana serupa termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah. Kami telah meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas d pernah shalat pada saat terjadi gempa di kota Bashrah.90 Dan ini merupakan pendapat Ahmad, Ishaq, dan Abu Tsaur. 2. Al-Imam Malik tidak berpendapat demikian (tidak disyari’atkan shalat). 3. Sebagian ulama' berpendapat bahwa shalat disyari’atkan secara sendirian.”91 Pendapat yang kuat adalah bahwa disyari’atkan shalat karena gempa dan semisalnya secara sendirian berdasarkan perbuatan Ibnu Abbas d dan Hudzaifah ibn al-Yaman a92 serta agar dia tidak termasuk orang yang lalai.93 Inilah yang dikuatkan al-Ajluni ketika mengatakan: “Ketahuilah bahwa menurut kami disunnahkan shalat dua raka’at ketika gempa dan semisalnya94 seperti shalat sunnah sebelum 90 Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf 3/101, al-Baihaqi 3/343, dan Ibnul Mundzir 5/314 dengan sanad shahih, sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/673 dan Zakariya al-Bakistani dalam Ma Shahha min Atsar Shahabah 1/516. 91 Al-Isyraf ’Ala Madzahib ’Ulama' 2/310 92 Diriwayatkan Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf 3/101 dengan sanad yang shahih, sebagaimana dalam Fiqhu Dalil 2/253 oleh Abdullah al-Fauzan. 93 Lihat pula al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab oleh an-Nawawi 5/59. 94 Adapun bencana lainnya selain dari gempa bumi, maka kami cenderung menguatkan bahwa tidak disyari’atkan karena tidak ada dalilnya dari Nabi n dan para shahabat f. (Lihat Fatawa Ibnu Baz 13/45 dan Fiqhu Dalil 2/254 oleh Abdullah al-Fauzan.) 58 Fiqih Kontemporer


Shubuh, tetapi secara sendirian menurut pendapat yang kuat dalam pandangan kami.” Lalu beliau melanjutkan: “Apabila gempa telah berhenti dan dia belum shalat maka tidak perlu diqadha' karena ia termasuk shalat yang memiliki sebab, yang luput jika sebabnya sudah tidak ada, seperti shalat gerhana apabila gerhana sudah berhenti.”95 Wallahu A’lam. 2. Shalat Ghaib Sebagian orang tatkala mendengar adanya korban dalam bencana gempa, mereka melakukan shalat Ghaib. Apakah disyari’atkan melakukan shalat Ghaib untuk para korban bencana? Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama' dalam beberapa pendapat: 1. Shalat Ghaib tidak disyari’atkan secara mutlak, karena shalat Ghaib yang dilakukan oleh Nabi n adalah khusus untuk beliau. Ini madzhab Abu Hanifah, Malik, dan sebuah riwayat dari Ahmad. 2. Shalat Ghaib disyari’atkan secara mutlak, dengan dalil shalatnya Nabi n pada Najasyi. Ini madzhab Syafi’i dan pendapat yang masyhur dari al-Imam Ahmad. 3. Tidak disyari’atkan kecuali pada orang yang memiliki jasa besar. 4. Tidak disyari’atkan kecuali apabila mayit diketahui belum ada yang menshalatinya. Pendapat inilah yang paling kuat, karena banyak para shahabat Nabi n yang meninggal dunia pada zaman beliau tetapi tidak dinukil bahwa beliau menshalati mereka.96 3. Qunut nazilah Apakah disyari’atkan bagi kaum muslimin untuk melakukan qunut nazilah karena bencana gempa bumi? 95 Tahriku Sababah Fima Yata’allaqu Bi Zalzalah hlm. 28 96 Muqaddimah asy-Syaikh Abdullah as-Sa’d terhadap risalah al-Qaul Shaib fi Hukmi Shalatil Ghaib oleh Sami Abu Hafsh. Lihat pembahasan bagus tentang shalat Ghaib dalam Ahkamul Jana'iz hlm. 115–120 oleh asy-Syaikh al-Albani. Bimbingan Islami Saat Gempa Bumi dan Tsunami 59


Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin v mengutarakan masalah ini dan menjawabnya. Kata beliau: “Apabila kaum tertimpa suatu bencana yang tidak ada kaitannya dengan anak Adam seperti wabah, tsunami, gempa bumi, apakah seseorang hendaknya melakukan qunut atau tidak? Jawabannya: Tidak qunut, sebab bencana seperti ini sering menimpa pada zaman Nabi n namun beliau tidak melakukan qunut. Dan setiap hal yang faktor penyebabnya sudah ada pada zaman Nabi tetapi beliau tidak melakukannya padahal tidak ada yang menghalanginya maka itu tidak disyari’atkan. Ini adalah kaidah berharga97 yang hendaknya seseorang menggigitnya dengan gigi geraham karena sangat berfaedah.”98 4. Tata cara penguburan Gempa bumi dan tsunami menelan korban yang sangat banyak sehingga menimbulkan keadaan darurat yang menyulitkan pengurusan jenazah untuk dilakukan sebagaimana ketentuan syari’at Islam dalam kondisi normal. Bagaimana pengurusan jenazah bila kondisi darurat seperti itu?! Masalah ini telah dipelajari oleh Majelis Ulama' Indonesia (MUI) dan mereka telah mengeluarkan fatwa tentang masalah ini. Berikut kami kutip fatwa mereka: Pertama: Pada dasarnya, dalam keadaan normal, mayat wajib dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dikuburkan, menurut tata cara yang telah ditentukan menurut syari’at Islam. Kedua: Dalam keadaan darurat di mana pengurusan (penanganan) jenazah tidak mungkin memenuhi ketentuan syari’at seperti di atas, maka pengurusan jenazah dilakukan sebagai berikut: 1. Memandikan dan mengkafani a. Jenazah boleh tidak dimandikan; tetapi, apabila memungkinkan sebaiknya diguyur sebelum penguburan. 97 Lihat kaidah ini dalam Iqtidha' Shirathil Mustaqim 2/594 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. 98 Fathu Dzil Jalali wal Ikram Syarh Bulughul Maram 3/295. Lihat pula Jami’ul Masa'il fi Ahkami Qunut Nawazil hlm. 56 oleh Sa’ad ibn Shalih az-Zaid. 60 Fiqih Kontemporer


b. Pakaian yang melekat pada mayat atau kantong mayat dapat menjadi kafan bagi jenazah yang bersangkutan walaupun terkena najis. 2. Menshalatkan Mayat boleh dishalati sesudah dikuburkan walaupun dari jarak jauh (shalat Ghaib), dan boleh juga tidak dishalati menurut qaul mu’tamad (pendapat yang kuat). 3. Menguburkan jenazah a. Jenazah korban wajib segera dikuburkan. b. Jenazah boleh dikuburkan secara massal dalam jumlah yang tidak terbatas, baik dalam satu atau beberapa liang kubur99 , dan tidak harus dihadapkan ke arah qiblat. c. Penguburan secara massal tersebut boleh dilakukan tanpa memisahkan jenazah laki-laki dan perempuan; juga antara muslim dan nonmuslim. d. Jenazah boleh langsung dikuburkan di tempat jenazah ditemukan.100 5. Barang peninggalan korban bencana Ketika bencana menimpa, ada beberapa barang milik korban yang tertinggal, bagaimana tentang status harta tersebut? Asy-Syaikh Ahmad ibn Yahya an-Najmi b pernah ditanya tentang hal ini, apa hukum memungut barang-barang kecil maupun besar yang ditinggalkan oleh pemiliknya atau pemiliknya mati? Beliau menjawab: “Barang-barang itu dikumpulkan dan diserahkan kepada suatu kelompok yang tugasnya menjaga barang-barang tersebut. Lalu 99 Dr. Abdullah ibn Umar as-Sahyibani v berkata: “Para fuqaha' dari kalangan Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, semuanya bersepakat tentang bolehnya mengubur lebih dari satu mayat dalam satu kubur apabila dalam kondisi darurat, seperti kondisi perang, di mana banyak yang terbunuh dan berat bagi manusia untuk menggali dan mengubur satu per satu. Demikian juga dalam kondisi bencana-bencana besar seperti gempa bumi, tsunami, wabah, dan sebagainya yang memakan banyak korban, sehingga memberatkan jika seandainya mengubur mayit satu per satu.” Kemudian beliau membawakan dalil-dalil yang menguatkan pendapat beliau. (Ahkamul Maqabir fi Syari’ah Islamiyyah hlm. 221–222) 100 Himpunan Fatwa Majelis Ulama' Indonesia hlm. 444–445 Bimbingan Islami Saat Gempa Bumi dan Tsunami 61


mengumumkan kepada yang masih hidup dari penduduk tersebut. Orang yang mengenali barangnya boleh mengambilnya. Ini lebih selamat baginya. Adapun bila barang tersebut tidak diketahui pemiliknya maka hukumnya adalah hukum barang temuan yang belum diketahui pemiliknya. Bisa saja barang tersebut untuk penemunya, bila si penemu itu orang yang berada tersebut maka barang temuan tersebut dijual kemudian dipakai oleh yayasan sosial untuk menanggung anak yatim dan janda-janda di negeri itu maka ini lebih baik.”101 6. Bolehkah lari dari bencana gempa? Boleh bahkan dianjurkan keluar untuk menyelamatkan diri dari bencana gempa bumi dan semisalnya. Hal ini bukanlah sama sekali lari dari takdir, justru ini lari dari takdir menuju takdir, sebab iman kepada takdir bukan berarti kita tidak mengambil sebab. Demikian juga boleh keluar ke negeri lain kecuali dari wabah tha’un maka tidak boleh menurut pendapat yang kuat sebagaimana orang luar tidak boleh masuk ke wilayah yang kena wabah tha’un.102 Demikian apa yang bisa kami kumpulkan dari pembahasan seputar masalah gempa bumi. Semoga Allah menjaga kita dari segala bencana dan tidak menyiksa kita karena ulah perbuatan dosa orang bodoh di antara kita. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, keluarga kami, anak dan istri kami. Ya Allah, lunakkanlah hati kami. Ya Allah, rahmatilah saudara-saudara kami yang meninggal dunia terkena bencana, sembuhkanlah orang yang sakit di antara mereka, berikanlah pengganti yang lebih baik bagi mereka. Amin. Daftar Rujukan: 1. Tahriku Sababah Fima Yata’allaqu Bi Zalzalah. Al-Ajluni (tahqiq: Sufyan ibn Ayisy Muhammad). Dar Ibnul Jauzi, Yordania, cet. pertama, 1425 H. 2. Idhahul Maqal fi Asbabi Zilzal. Muqbil ibn Hadi al-Wadi’i. 101 http://www.darussalaf.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=226 102 Tahriku Sababah Fima Yata’allaqu Bi Zalzalah, al-Ajluni, hlm. 39. 62 Fiqih Kontemporer


3. Al-Adzabul Adna. Dr. Muhammad ibn Abdullah as-Suhaim. Darul Minhaj, KSA, cet. pertama, 1430 H. 4. “Ada Apa di Balik Gempa Tsunami?”. Khotbah asy-Syaikh Dr. Abdurrazzaq ibn Abdul Muhsin al-Abbad. Ditranskip dan diterjemahkan oleh Ust. Anas Burhanuddin dan Ust. Abdullah Zaen. Bimbingan Islami Saat Gempa Bumi dan Tsunami 63


Kabut Beracun Itu Bernama Valentine’s Day Kabut Beracun Itu Bernama Valentine’s Day Tanggal 14 Februari adalah sebuah hari yang sangat istimewa bagi para pengagum Valentine’s Day (Hari Valentine), khususnya kawula muda, karena hari itu adalah hari di mana orang-orang menyatakan rasa cinta dan kasih sayang kepada orang-orang yang diinginkannya. Di hari itu ada yang menyatakan perasaan kasih sayangnya kepada teman, guru, orang tua, kakak atau adik, dan yang paling banyak ditemui adalah mereka yang menyatakan cintanya kepada pasangan atau kekasihnya. Di hari itu pula, para lelaki atau perempuan yang ingin menyatakan cintanya mengirimkan kartu atau hadiah berupa kado (atau cokelat, Ed.) kepada orang yang dituju dengan kalimat Be My Valentine ‘Jadilah Valentine-ku’ atau sama artinya ‘Jadilah kekasihku’. Di Indonesia, sejak era 1980-an perayaan Hari Valentine ini semakin meriah. Memasuki bulan Februari, rak-rak yang berjajar di tokotoko buku teah diisi beragam kartu ucapan Hari Valentine, demikian juga toko-toko suvenir yang mulai memasang aneka kado bertema Hari Valentine. Beberapa mal dan supermarket juga sudah mendekor seluruh ruangan dengan warna-warna pink dan biru lembut, dengan hiasan-hiasan berbentuk hati dan pita di mana-mana. Pada malam harinya, di jalan-jalan umum, bioskop-bioskop atau kafe-kafe yang mulai menjamur di kota-kota besar seperti Jakarta, pasangan-pasangan muda terlihat begitu mesra. Yang perempuan senga64 Fiqih Kontemporer


ja memakai busana yang didominasi warna pink dan “sang arjuna” memakai pakaian berwarna biru. Pada hari itu, kantor pos sibuk menerima dan mengirim kartu-kartu Valentine ke berbagai penjuru. Beberapa hotel, kafe, diskotek, dan tempat-tempat dugem lainnya secara spesial menggelar acara khusus bertema Hari Valentine. Tak lupa, media-media seperti televisi dan koran sangat gencar berperan aktif dalam meniup-niupkan sponsor acara-acara spesial Valentine di berbagai tempat untuk menggambarkan betapa meriahnya hari itu. Akan tetapi, hal itu tidak lepas dari usaha bisnis dari para pengusaha percetakan kartu undangan, pengusaha hotel, pengusaha bunga, dan pengusaha-pengusaha lainnya yang hendak meraup keuntungan sangat besar dari event itu, sehingga jadilah perayaan Valentine sebagai perayaan bisnis. Sekilas Sejarah Hari Valentine Ribuan literatur yang berupaya menggali sejarah awal Hari Valentine masih berbeda pendapat. Ada banyak versi tentang asal dari perayaan Valentine ini, dan yang paling populer adalah kisah dari Valentinus yang diyakini hidup pada masa Claudius II yang kemudian menemui ajal pada tanggal 14 Februari 269 M. Namun, kisah ini pun ada beberapa versi. Yang jelas dan tidak memiliki silang pendapat adalah kalau kita menilik lebih jauh lagi ke dalam tradisi paganisme (penyembahan dewa-dewi) Romawi Kuno. Waktu itu, ada sebuah perayaan yang dikenal dengan nama Lupercalia. Di dalamnya terdapat rangkaian upacara penyucian di masa Romawi Kuno (13–18 Februari). Dua hari pertama dipersembahkan untuk Dewi Cinta ‘Juno Februata’. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak. Lalu, setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk bersenangsenang dan objek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena angKabut Beracun Itu Bernama Valentine’s Day 65


gapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur. Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama paus atau pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantinus dan Paus Gregorius I. Kemudian agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari. Tentang siapakah sesungguhnya St. Valentine sendiri, seperti telah disinggung di atas, para sejarawan masih berbeda pendapat. Saat ini sekurang-kurangnya ada tiga nama Valentine yang meninggal pada tanggal 14 Februari. Di antaranya disebutkan dalam kisah yang menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah. Tindakan kaisar itu diam-diam mendapatkan tantangan dari St. Valentine dan ia secara diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga ia pun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M. Dari uraian di atas, dapat kita tarik beberapa kesimpulan: 1. Hari Valentine berakar dari upacara keagamaan ritual Romawi Kuno untuk menyembah dewa mereka yang dilakukan dengan penuh kesyirikan. 2. Upacara yang biasa dilaksanakan pada tanggal 15 Februari tersebut, pada tahun 496 M oleh Paus Gelasius I diganti dengan 14 Februari. 3. Agar masyarakat dunia menerima, maka hari itu disebarluaskan dengan dalih ‘hari kasih sayang’ yang kini telah tersebar di berbagai negeri, termasuk negeri-negeri Islam. Jangan Ikuti Budaya Kafir Saudaraku seiman, jelas sudah bahwa Hari Valentine berasal dari mitos dan legenda zaman Romawi yang seluruhnya tidak lain ber66 Fiqih Kontemporer


sumber dari paganisme syirik, penyembahan berhala, dan penghormatan kepada pastor. Perayaan valentine day adalah salah satu makar orang-orang Yahudi yang diselundupakan kepada umat Islam supaya mereka mengadopsinya atau mengkutinya, Dengan demikian maka jelaslah oleh kita, bahwa perayaan Hari Valentine merupakan salah satu acara yang diadakan oleh orangorang kafir dan orang-orang yang bergelimang dosa dalam rangka kemaksiatan dan dalam rangka mengumbar syahwat dan memenuhi hawa nafsu belaka. Di Bandung, 12 Februari 2005, Studio Carton Multi Kreasi menggelar acara lomba merapatkan dan menempelkan pipi terlama sebagai cara mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang.103 Siapa yang paling lama ciumannya dan rangkulannya, dialah pemenangnya. Acara ini sebenarnya jiplakan dari acara serupa yang lazim diselenggarakan di Amerika. Arini dari MURI menyatakan bahwa lomba serupa pernah digelar di bulan Desember 2001 di New York, AS. Nah, kalau memang demikian faktanya, lantas kenapa masih banyak para pemuda-pemudi Islam tertipu dan ikut-ikutan membeo budaya orang-orang kafir tersebut?! Ingatlah wahai kaum muslimin bahwa musuh-musuh Islam selalu berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan kalian dari ajaran agama kalian!! Allah berfirman: چٱ ٻ ٻ ٻ ٻ پ پ پ پڀچ Orang-orang Yahudi dan Nashara tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (QS al-Baqarah [2]: 120) Dari Abu Sa’id al-Khudri a dari Nabi n bersabda: « و و ل ع تهِلآ س ح ع عرا نعهِلآ ب لذ ل دعهِلآ عرا ولذ ع ودباهِلآ ودباهِلآ لش مهِلآ لش ك و س ل ع ب و ق ع نهِلآ ع ك ع نهِلآ و م ع ععنهِلآ س ع نهِلآ س ع س ب ع ت و ل ع ع م و ه س و و م س ت س ع و ب ل ت ع بهِلآ ض ق ع رهِلآ حع و ج س وواهِلآ ل س خ ع د ع د س و و ه س ل و ع لهِلآ ا للهِلآ ا ع و و س س ر ع عيلاهِلآ عنلاهِلآ ل و ق س »َو .هِلآ 103 Harian Pikiran Rakyat, 13 Februari 2005. Kabut Beracun Itu Bernama Valentine’s Day 67


لهِلآ « ع عقلا عرا ى ؟هِلآ عصلا ل س و وا ن ؟ م ع ف ع »َو . “Sungguh kalian akan mengikuti sunnah perjalanan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga mereka memasuki lubang dhab (hewan sejenis biawak di Arab). Kami (para shahabat) berkata: “Wahai Rasulullah, apakah mereka Yahudi dan Nashara?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR alBukhari: 7325, Muslim: 2669) Asy-Syaikh Sulaiman ibn Abdullah alusy Syaikh berkata: “Hadits ini merupakan mukjizat Nabi n karena sungguh mayoritas umatnya ini telah mengikuti sunnah perjalanan kaum Yahudi dan Nashara, baik dalam gaya hidup, berpakaian, syi’ar-syi’ar agama, dan adat-istiadat. Dan hadits ini lafazhnya berupa kabar yang berarti larangan mengikuti jalan-jalan selain agama Islam.”104 Menyorot Hari Valentine Tiap tahun menjelang bulan Februari, banyak remaja Indonesia, yang notabene mengaku beragama Islam, ikut-ikutan sibuk mempersiapkan perayaan Valentine. Walau sudah banyak yang mendengar bahwa Valentine adalah salah satu hari raya umat Kristiani yang mengandung nilai-nilai aqidah Kristen, hal ini rupanya tidak terlalu dipusingkan oleh mereka. “Ah, aku 'kan ngerayain Valentine buat funfun aja…” Demikianlah banyak remaja Islam bersikap. Dan masih banyak juga para pengusaha yang membantu kelancaran acara tersebut. Bisakah dibenarkan sikap dan pandangan seperti itu?!! Lajnah Da'imah (komite fatwa Arab Saudi) pernah ditanya tentang perayaan Hari Valentine, mengucapkan ucapan selamat, memberikan hadiah, dan menyediakan alat-alat untuknya, lantas Lajnah menjawab: “Dalil-dalil yang jelas dari al-Qur'an dan as-Sunnah serta kesepakatan ulama' salaf telah menegaskan bahwa perayaan dalam Islam hanya 104 Taisir Aziz al-Hamid hlm. 32 68 Fiqih Kontemporer


ada dua saja, Idul Fithri dan Idul Adhha. Adapun perayaan-perayaan lainnya baik berkaitan dengan tokoh, kelompok, atau kejadian tertentu maka perayaan tersebut adalah perayaan yang diada-adakan,105 tidak boleh bagi umat Islam untuk merayakannya, menyetujuinya, menampakkan kegembiraan padanya, atau membantu kelancarannya, karena hal itu berarti melanggar hukum Allah yang merupakan suatu kezhaliman. Dan bila perayaan tersebut merupakan perayaan orang kafir maka semakin parah dosanya, sebab hal itu termasuk tasyabbuh (menyerupai) mereka dan termasuk bentuk loyalitas kepada mereka, sedangkan Allah telah melarang kaum mukminin menyerupai orang-orang kafir dan loyal kepada mereka dalam al-Qur'an yang mulia. Dan telah shahih juga bahwa Nabi n bersabda: « م و ه س ن و وهِلآ لم ع ه س ف ع ونمهِلآ و ق ع ب ل ههِلآ ع ب س ش ع ت ع نهِلآ و م ع »َو . ‘Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut.’ (HR Abu Dawud: 4031, Ahmad 2/50, 92, dan dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh alAlbani dalam Irwa'ul Ghalil: 1269) Perayaan Hari Valentine termasuk hal di atas, karena Valentine termasuk perayaan penyembah berhala dan umat Nashrani. Maka tidak boleh bagi umat Islam yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk ikut merayakannya, menyetujuinya, dan mengucapkan selamat untuknya, bahkan yang sewajibnya adalah meninggalkannya dan menjauhinya sebagai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi sebab kemurkaan Allah. Demikian pula, diharamkan membantu semaraknya acara ini atau perayaan-perayaan haram lainnya baik dengan jual beli, mengirim kartu, mencetak, mensponsorkan, dan sebagainya, karena semua itu termasuk tolong-menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Allah berfirman: 105 Alangkah menakjubkan ucapan al-Hafizh Ibnu Rajab: “Sesungguhnya perayaan tidaklah diadakan berdasarkan logika dan akal sebagaimana dilakukan oleh ahli kitab sebelum kita, tetapi berdasarkan syari’at dan dalil.” (Fathul Bari 1/159, Tafsir Ibnu Rajab 1/390) Kabut Beracun Itu Bernama Valentine’s Day 69


چئە ئو ئو ئۇئۇ ئۆ ئۆ ئۈ ئۈ ئېئېچ Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. (QS al-Ma'idah [5]: 2).”106 Asy-Syaikh Muhammad al-Utsaimin v menyebutkan beberapa dampak negatif perayaan Hari Valentine. Kata beliau dalam fatwa yang beliau tanda tangani bertanggal 5/11/1420: “Perayaan ini tidak boleh, karena alasan berikut: Pertama: Hari Valentine merupakan hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari’at Islam. Kedua: Merayakan Hari Valentine dapat menyebabkan cinta yang semu. Ketiga: Menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salafushshalih—semoga Allah meridhai mereka—. Maka tidak halal melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya. Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan.”107 Di antara dampak buruk lainnya adalah ikut mempopulerkan ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah nilai-nilai Islam, serta memperbanyak jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka. Walhasil, maka hendaklah bagi kaum muslimin sekarang ini untuk mengetahui dan berhati-hati terhadap propaganda yang diserukan oleh orang-orang kafir yang berusaha untuk menjauhkan kaum musli106 Fatawa Lajnah Da'imah lil Buhuts ’Ilmiyyah wal Ifta' No. 21203, Tanggal 22/11/1420. 107 Majmu’ Fatawa wa Rasa'il, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, 16/199–200. Lihat pula Fatawa Ulama' Baladil Haram hlm. 1022–1024 dan as-Sunan wal Mubtada’at fil A’yad hlm. 52 oleh Dr. Abdurrahman ibn Sa’d asy-Syatsri. 70 Fiqih Kontemporer


min dari ajaran Islam dan melegalkan ajarannya yang sesat lagi menyesatkan. Valentine, Hari Cinta? “Valentine itu hari untuk menyebarkan kasih sayang dan cinta.” Benarkah demikian? Sungguh memprihatinkan! Bukankah dengan demikian seolah-olah Islam tidak mengenal cinta kasih, padahal dalam Islam ajaran cinta kasih memiliki kedudukan tersendiri dengan skala prioritas sebagaimana tercantum dalam QS al-Baqarah [2]: 165, at-Taubah [9]: 24, al-Fath [48]: 29, al-Ma'idah [5]: 54. Kelihaian dan kelicikan musuh Islam untuk menipu umat Islam patut kita acungkan jempol. Hari Valentine yang berbau syirik bisa terbungkus dan terpoles rapi hingga diminati dan digandrungi oleh generasi muda Islam yang tidak memiliki kekuatan ilmu agama. Sesungguhnya cinta dalam Hari Valentine hanyalah cinta semu yang hanya merusak akhlaq dan norma-norma agama. Oleh karena itu, perhatikanlah bersama saya bagaimana Hari Valentine bukan hanya diingkari oleh para pemuka Islam, melainkan diingkari juga oleh pemuka agama-agama lainnya. Di India, misalnya, pernah diberitakan bahwa sejumlah para aktivis dan pemuka agama Hindu berkumpul di Bombay pada hari Sabtu, 14 Februari 2004. Dengan lantang mereka menyerukan agar tidak ikut-ikutan merayakan Hari Valentine yang menganjurkan dekadensi moral dan merusak tradisi India. Seorang aktivis berteriak: “Hari Valentine bukan bagian dari kepribadian dan tradisi agama kita. Selain itu, apa yang diajarkan oleh Hari Valentine itu sungguh-sungguh akan merusak tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat warga India. Janganlah ikut-ikutan Barat.”(!!)108 Kesimpulan Hari Valentine merupakan hari raya orang kafir yang penuh dengan kesyirikan. Tidak boleh bagi umat Islam untuk ikut-ikutan mera108 Kantor berita Reuters, 12 Februari 2005. Kabut Beracun Itu Bernama Valentine’s Day 71


yakannya, mengucapkan selamat kepada yang merayakannya dan membantu untuk memeriahkannya dengan memperdagangkan alatalat penggunaannya. Wajib bagi umat Islam untuk menghindari kemurkaan Allah. Allahu A’lam. Daftar Rujukan: 1. Fatawa Ulama' Baladil Haram. Kumpulan Khalid ibn Abdurrahman alJuraisi. Cetakan ke-1, 1420 H. 2. Valentine Day. Rizki Ridyasmara. Pustaka al-Kautsar, cet. ke-4, Februari 2008. 3. Fikih Kontemporer. Dr. Setiawan Budi Utomo. Pustaka Saksi, cet. ke-1, Oktober 2000. 72 Fiqih Kontemporer


BAB THAHARAH Bab Thaharah Bab Thaharah 73


Mesin Cuci Dry Clean Menghilangkan Najis?! Mesin Cuci Dry Clean Menghilangkan Najis?! Alat-alat teknologi modern memberikan banyak kemudahan pada manusia di zaman sekarang, termasuk dalam hal mencuci pakaian. Biasanya, mencuci pakaian adalah secara manual, atau secara otomatis dengan mesin cuci yang telah terprogram; kedua teknik tersebut sama-sama menggunakan air dan tambahan sabun/deterjen untuk mengangkat kotoran. Namun, mesin cuci modern dry clean tidaklah demikian, proses mencucinya tidak menggunakan air, tetapi menggunakan bahan cairan solvent yang bahan dasarnya dari minyak mentah. Alat modern yang satu ini terkadang merupakan kebutuhan mendesak bagi sebagian kalangan, lantaran ada sebagian kain yang berharga mahal tidak bisa dicuci dengan air, bahkan bila dicuci dengan air maka kain tersebut bisa rusak. Permasalahannya adalah apakah kain yang terkena najis lalu dicuci dengan mesin cuci tanpa air tersebut maka berarti kainnya menjadi suci?! Inilah persoalan yang akan kita bahas pada kajian kali ini. Semoga Allah mencurahkan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Sekilas Tentang Dry Clean Dry clean—kalau dibahasaindonesiakan memiliki arti cuci kering— adalah proses mencuci pakaian tanpa menggunakan air. Akan tetapi, bukan berarti teknik mencuci ini benar-benar kering atau tidak basah. Istilah dry clean ini hanya diciptakan karena tidak menggunakan air 74 Fiqih Kontemporer


dalam proses pembersihannya tetapi menggunakan bahan cairan solvent yang bahan dasarnya dari minyak mentah. Istilah ini pertama kali dikenalkan oleh seorang berkebangsaan Prancis pada tahun 1855. Penelitiannya membuktikan bahwa pakaian yang dicuci dengan kerosin atau solvent (cairan dry cleaning berbahan dasar minyak mentah) akan lebih bersih. Dry cleaning diciptakan bukan karena pada saat Anda keterbatasan air. Akan tetapi, bahan pakaian seperti wol, rayon, sutra, atau berbahan khusus lainnya, cenderung akan berubah warna dan mengerut bila kita mencucinya dengan air dan sabun. Dengan mencuci dry clean, masalah-masalah tersebut bisa diatasi. Adapun bahan kimia solvent yang biasa digunakan dalam dry cleaning. Salah satu yang cukup terkenal di Indonesia adalah solvent bernama PCE atau bahasa ilmiyyahnya Tetrachloroethylene. Namun di beberapa negara, solvent lain seperti Glycol ethers, Hydrocarbon, Liquid silicone D5, Modified hydrocarbon blends, dan Liquid CO2 juga kerap digunakan untuk proses dry cleaning, tergantung dari peralatan dan mesin yang digunakan.109 Demikianlah keterangan singkat tentang gambaran dry cleaning sebelum lebih lanjut kita membicarakan pandangan fiqih syari’at tentang hukumnya apakah bisa mengangkat najis ataukah tidak?! Semoga Allah menambahkan ilmu yang bermanfaat kepada kita semua. Hukum Membersihkan Najis Dengan Selain Air Kendatipun masalah ini tampaknya adalah masalah kontemporer, sejatinya—bila kita gali lebih lanjut—ternyata pokok permasalahannya bisa dikembalikan pada pembahasan klasik yang telah dibahas tuntas oleh para ulama' dahulu yaitu tentang masalah hukum mem109 Lihat http://www.infolaundry.com/2010/07/apa-yg-dimaksud-dengan-drycleaning.html (dengan sedikit penyesuaian). Mesin Cuci Dry Clean Menghilangkan Najis?! 75


bersihkan najis dengan selain air. Dalam masalah ini ada dua pendapat di kalangan ulama':110 1. Pendapat pertama Benda suci apa pun baik cair ataupun padat dapat menghilangkan najis yang mengenai badan atau pakaian. Ini adalah pendapat Abu Hanifah111 dan salah satu riwayat al-Imam Ahmad yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.112 Adapun dalil mereka adalah: 1. Dalil al-Qur'an Keumuman firman Allah: چڭ ۇ ۇچ Dan bersihkanlah pakaianmu. (QS al-Muddatstsir [74]: 4) Dalam ayat ini Allah menyebutkan kata menyucikan secara umum, tanpa mengkhususkannya dengan air saja. 2. Dalil hadits Adanya beberapa dalil yang membolehkan menyucikan dengan selain air, di antaranya: يهِلآ ب ر ل د و ل و س سلعيندهِلآ ا ع لبهِلآ و أ ع نهِلآ و ع a ع ل ع عقلا لهِلآ ا للهِلآ ع و و س س ر ع نهِلآ س أ ع :هِلآ n ل ع عقلا ع :« ء عجلا عذاهِلآ إ ل ذا ى د أ ع دراهِلآ أوهِلآ ذ ع ق ع يلههِلآ و ل ع ع و ن ع أا ىهِلآ فهِلآ ع ر ع نهِلآ و إ ل ف ع رهِلآ و ظ س ن و ي ع ل و ف ع س لجلدهِلآ و م ع ل و لهِلآ ا ع إ ل مهِلآ ك و س د س ح ع أ ع عملا له لهِلآ لفي ب ص ع ل و س و ع ههِلآ س ح و س ع م و ي ع ل و ف ع »َو . Dari Abu Sa’id al-Khudri a bahwasanya Rasulullah n berkata: “Apabila salah seorang di antara kalian datang ke 110 Lihat Bidayatul Mujtahid 1/163–164 oleh Ibnu Rusyd, Majmu’ Fatawa 21/474, Ahkamu Najasat fil Fiqhil Islami 2/375-376 karya Abdul Majid Shalahin, AlFawakih al-’Adidah fil Masa'il al-Mufidah 1/11–12 oleh Ahmad al-Manqur. 111 Lihat Hasyiyah Ibn ’ Ābidin 1/309, Al-Hidayah Syarh al-Binayah 1/34, Thariqatul Khilaf fil Fiqh hlm. 10. 112 Majmu’ Fatawa 24/474 76 Fiqih Kontemporer


masjid maka hendaknya dia memeriksa, kalau dia melihat pada sandalnya terdapat kotoran (najis) maka hendaknya dia mengusapkannya lalu shalat dengan kedua sandal tersebut.” Dalam hadits ini Nabi n menjadikan pengusapan sandal yang terkena najis sebagai kesucian baginya, maka ini menunjukkan bahwa selain air juga bisa untuk mengangkat najis. 3. Dalil qiyas Sesungguhnya inti dari menyucikan adalah hilangnya najis tersebut, maka segala sesuatu yang dapat menghilangkan najis sekalipun bukan air berarti semakna dengannya. Oleh karena itu, seandainya ada sebuah baju yang terkena najis lalu area yang terkena najis itu dipotong dengan gunting maka baju tersebut dinyatakan suci.113 Kalau demikian, maka dry cleaning harus lebih dikatakan menyucikan dan mengangkat najis karena telah terbukti bahwa bahan-bahan yang digunakannya mampu menghilangkan najis dengan sangat bersih dan menghilangkan aroma tak sedap. 2. Pendapat kedua Benda selain tanah dan air tidak dapat mengangkat najis yang mengenai badan atau pakaian. Ini adalah pendapat mayoritas ulama', Malik, asy-Syafi’i, dan salah satu pendapat al-Imam Ahmad.114 Adapun dalil mereka: 1. Dalil al-Qur'an Allah mengkhususkan air dengan sifat menyucikan sebagaimana firman Allah: چڎ ڎ ڈ ڈ ژ ژ ڑ ڑک ک ک 113 Al-Ghurratul Munifah hlm. 15 oleh Al-Gharnawi 114 Lihat Bidayatul Mujtahid 1/164 oleh Ibnu Rusyd, Al-Majmu’ 1/23 oleh Nawawi, Al-Mughni 1/16 oleh Ibnu Qudamah. Mesin Cuci Dry Clean Menghilangkan Najis?! 77


ک گ گ گچ Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. (QS al-Furqan [25]: 48) Dalam ayat ini Allah hanya menyebutkan air saja sebagai alat penyuci, seandainya bisa dengan lainnya niscaya akan disebutkan oleh Allah. 115 2. Dalil hadits Tidak ada dalil yang jelas dari Nabi n bahwa beliau menghilangkan najis dengan selain air, yang ada hanyalah beliau membersihkan dengan air saja. Seandainya bisa dengan selain air niscaya akan dicontohkan oleh Nabi n meski hanya sekali.116 3. Dalil qiyas Menghilangkan najis adalah bersuci yang syar’i, maka tidak sah dengan selain air, seperti halnya wudhu.117 Pendapat yang Lebih Kuat Setelah mempelajari masing-masing pendapat dan argumentasinya, tampak bagi kami bahwa pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama118 yaitu bahwa membersihkan baju yang terkena najis bisa dengan benda suci apa pun yang dapat menghilangkan najis, sekalipun bukan air. Hal yang memperkuat pendapat ini adalah beberapa hal berikut: 4. Perintah membersihkan najis dengan air bukanlah perintah umum agar seluruh najis harus dengan air, tetapi dalam beberapa keadaan tertentu. Oleh karena itu, dalam hadits-hadits lain 115 Al-Majmu’ 1/24 oleh Nawawi 116 Al-Ghurratul Munifah hlm. 15 oleh al-Gharnawi 117 Al-Majmu’ 1/24 oleh Nawawi 118 Pendapat ini juga dikuatkan oleh Dr. Shalih ibn Muhammad alu Musallam dalam kitabnya, Tathhiru Najasat wal Intifa’ Biha hlm. 152. 78 Fiqih Kontemporer


dijelaskan tentang bolehnya membersihkan najis dengan selain air seperti istinja', sandal yang terkena najis, dan ujung kain baju wanita. 5. Menghilangkan najis termasuk bab turuk (yang harus ditinggalkan) sehingga tidak disyaratkan adanya niat, sehingga apabila dihilangkan dengan benda suci apa pun maka sudah sesuai dengan keinginan syari’at.119 6. Telah terbukti pada zaman sekarang adanya beberapa bahan pembersih kimia yang dapat menghilangkan najis secara tuntas.120 7. Adapun dalil-dalil yang digunakan oleh pendapat kedua maka bisa dijawab bahwa penyebutan kata air dalam konteks ayat dan hadits tersebut tidak menafikan bolehnya bersuci dengan selain air, disebut hanya air di situ karena memang air adalah alat menyucikan yang paling dominan, sering digunakan, mudah, dan lebih bersih, tetapi bukan berarti yang lain tidak boleh.121 Kesimpulan Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa pakaian yang terkena najis dapat dibersihkan dengan mesin cuci tanpa air yang dikenal dengan dry cleaning selagi najisnya hilang dan tidak menggunakan bahan-bahan najis.122 Daftar Rujukan: 1. Fiqhul Mustajaddat fi Babil ’Ibadat. Thahir Yusuf ash-Shiddiqi. Dar Nafa'is, Yordania, cet. pertama, 1425 H. 2. Tathhiru Najasat wal Intifa’ Biha. Dr. Shalih ibn Muhammad alu Musallam. Darul Fadhilah, KSA, cet. pertama, 1432 H. 119 Lihat Majmu’ Fatawa 21/475, 477. 120 Ahkamu Najasat fil Fiqhil Islami, Abdul Majid Shalahin, hlm. 375. 121 Lihat Itsarul Inshaf fi Masa'il Khilaf hlm. 47 oleh Sibt Ibnul Jauzi, Fathul Bari 1/431 oleh Ibnu Hajar. 122 Inilah yang dirajihkan oleh asy-Syaikh Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin dalam Fatawa Arkanil Islam hlm. 207 dan Dr. Abdullah al-Jibrin dalam Syarh ’Umdatil Fiqh 1/9. Wallahu A’lam. Mesin Cuci Dry Clean Menghilangkan Najis?! 79


Halal Haram Memelihara Anjing Halal Haram Memelihara Anjing Jika kita menelaah kitab-kitab fiqih, niscaya akan kita dapati bahwa mereka seringkali membahas berbagai masalah seputar hukum yang berkaitan dengan anjing123 seperti hukum memeliharanya, najis ataukah tidak, hukum makan dagingnya, atau hukum jual beli anjing, dan sebagainya. Di antara masalah yang banyak terjadi pada zaman kita sekarang adalah memelihara anjing. Saat ini, begitu seringnya kita menyaksikan dan mendengar orang yang memelihara anjing. Bahkan sebagian orang merasa bangga dan mengistimewakannya melebihi istri dan anaknya, tidur bersamanya, menciuminya, dan memberinya makanan yang lebih spesial dari manusia. Semua itu adalah akibat meniru gaya pergaulan orang-orang kafir yang rusak akalnya.124 Asy-Syaikh Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin v berkata: “Termasuk hikmah Allah bahwa yang jelek pasangannya adalah jelek juga. Oleh karenanya, orang-orang kafir dari Yahudi, Nashrani, Komunis, dan sebagainya di negara Barat atau Timur, hampir semuanya memiliki anjing. Jika dia membeli daging maka dia makan yang jelek, daging yang bagus dia berikan kepada anjingnya. Setiap hari, mereka memandikan anjingnya dengan sabun dan alat-alat pembersih lain123 Bahkan ada sebagian ulama' yang telah menulis buku khusus tentang hukum-hukum seputar anjing seperti Yusuf ibn Abdul Hadi dalam kitabnya alIghrab fi Ahkamil Kilab, dan asy-Syaikh Ihsan al-Utaibi dalam kitabnya alFawa'id al-’Idzab fi Ma Ja'a fil Kilab. 124 Masa'il Mu’ashirah Mimma Ta'ummu Bihal Balwa fi Fiqhil ’Ibadat, Nayif ibn Jam’an Juraidan, hlm. 178. 80 Fiqih Kontemporer


nya padahal sekalipun dia membersihkannya dengan seluruh air laut maka anjing tetaplah najis.”125 Kita akan lebih fokus kepada masalah hukum memelihara anjing. Dan setelah kita cermati, ternyata masalah ini ada dua keadaan: Pertama: Memelihara anjing tanpa kebutuhan Kedua: Memelihara anjing karena ada kebutuhan Oleh karenanya, dengan memohon taufiq kepada Allah, kita akan membahas masalah ini satu per satu. Semoga Allah mencurahkan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Amin. Hukum Memelihara Anjing Tanpa Kebutuhan Ketahuilah wahai saudaraku—semoga Allah memberkahimu— bahwa memelihara anjing tanpa satu kebutuhan (seperti menjaga kebun, hewan ternak, dan berburu) hukumnya tidak diperbolehkan. Hal ini dijelaskan Rasulullah n dalam banyak haditsnya, di antaranya: 1. Hadits Ibnu Umar Dari Ibnu Umar d, Rasulullah n bersabda: « ونم و ي ع سسكهِلآ ملللههِلآ ع ع ع نهِلآ و عصهِلآ لم ق ع ن ع ديلاهِلآ ر ل عضلا وهِلآ و أ ع ينةهِلآ ع عملا لش بهِلآ ع ك ع و لهِلآ س إ ل دبلاهِلآ ك ع و نهِلآ ع ت ع ق و لنهِلآ ا م ع لن عطلا عيا لق م ر عسلالل لهِلآ ع عقلا »َو .هِلآ ةهِلآ ع ر ع ي و ر ع ه س وهِلآ و ب س أ ع نهِلآ ع ك ع و ع :هِلآ a ل س و و ق س ي ع رنثَو . ح و ع بهِلآ ع ك ع و وهِلآ و أ ع :هِلآ رنثَو . ح و ع بهِلآ ع عصلا لح نهِلآ ع عوك “Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak dua qirath.”126 Salim (anak Ibnu Umar 125 Syarh Riyadhish Shalihin 6/430, terbitan Madarul Wathan, KSA. 126 Satu qirath adalah bagian yang besar. Wallahu A’lam tentang kepastian kadar ukurannya, tetapi disebutkan dalam hadits ukuran kecilnya adalah seperti Gunung Uhud. Bukan maksudnya qirath sebagaimana istilah baru yaitu 24 bagian, sebab ini adalah istilah baru, kita yakin bahwa Rasulullah n tidak Halal Haram Memelihara Anjing 81


d) berkata: “Abu Hurairah a menambahkan: ‘Atau untuk sawah,’ dan beliau adalah seorang yang memiliki sawah.”127 (HR al-Bukhari 9/759, Muslim 10/237) 2. Hadits Abu Hurairah « ب ع ك ع و لهِلآ س إ ل رطهِلآ وعيا ملللههِلآ لق ع ع ع نهِلآ و ونمهِلآ لم و ي ع سسكهِلآ سصهِلآ ق س ن و ي ع ههِلآ س ن س إ ل ف ع دبلاهِلآ ك ع و عكهِلآ س ع م و أ ع نهِلآ و م ع ينة ع عملا لش وهِلآ و أ ع رنثهِلآ ح و ع »َو . “Barangsiapa memelihara anjing, maka amalan shalihnya akan berkurang setiap harinya sebesar satu qirath (satu qirath adalah sebesar Gunung Uhud), selain anjing untuk menjaga tanaman atau hewan ternak.” (HR al-Bukhari 5/6, Muslim 10/240) 3. Hadits Abdullah ibn Mughaffal « مللله ع ع ع نهِلآ و سصهِلآ لم ق س ن ع و ي ع ههِلآ س ن س إ ل ف ع رنعهِلآ و ز ع بهِلآ ع ك ع و وهِلآ و أ ع يندهِلآ ص و ع بهِلآ ع ك ع و لهِلآ س إ ل دبلاهِلآ ك ع و ذهِلآ ع ت س ع لنهِلآ ا م ع لن عطلا عيا ونمهِلآ لق و ي ع سسكهِلآ »َو . “Rumah mana saja yang memelihara anjing selain anjing untuk menjaga binatang ternak atau anjing untuk berburu, maka amalannya berkurang setiap harinya sebanyak dua qirath (satu qirath adalah sebesar Gunung Uhud).” (HR atmungkin memaksudkan demikian atau terlintas dalam benaknya. (Lihat anNihayah fi Gharibil Hadits 4/64 oleh Ibnul Atsir dan at-Ta’liqat ’ala ’Umdatil Ahkam hlm. 685 oleh asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di.) 127 Bukan maksudnya Salim adalah mencela Abu Hurairah a atau meragukan riwayatnya sebagaimana anggapan kaum Syi’ah, namun maksudnya karena beliau (Abu Hurairah) adalah seorang pemilik sawah maka dia akan lebih perhatian dalam menghafal hadits tersebut, sebab biasanya orang yang berkecimpung dengan sesuatu akan mengetahui dan menghafal suatu hal yang tidak diketahui oleh orang lain. (Lihat al-I’lam bi Fawaid ’Umdatil Ahkam 10/155 oleh Ibnul Mulaqqin dan al-’Uddah fi Syarhil ’Umdah 3/1623 oleh Ibnul Aththar.) 82 Fiqih Kontemporer


Tirmidzi 4/80, an-Nasa'i 7/187, Ibnu Majah 2/1069, dan dinyatakan shahih oleh al-Albani) Al-Imam an-Nawawi v mengatakan: “Para shahabat kami (ulama' madzhab Syafi’i) dan selain mereka telah bersepakat tentang haramnya memelihara anjing tanpa ada kebutuhan seperti karena sekadar senang dengan model anjing tersebut atau untuk berbangga-bangga. Semua itu hukumnya haram tanpa ada perselisihan. Adapun jika ada kebutuhan yang membolehkan untuk memeliharanya maka hal itu telah dijelaskan pengecualiannya dalam hadits ini yaitu jika untuk salah satu dari tiga perkara: menjaga sawah, binatang ternak, dan berburu.”128 Asy-Syaikh Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin v mengatakan: “Adapun memelihara anjing hukumnya adalah haram bahkan perbuatan semacam ini termasuk dosa besar—wal ’iyadzu billah. Karena seseorang yang memelihara anjing selain anjing yang dikecualikan, maka akan berkurang pahalanya dalam setiap harinya sebanyak dua qirath (satu qirath sama dengan sebesar Gunung Uhud).”129 Dari keterangan ini dapat kita ketahui bahwa larangan dalam hadits ini menunjukkan haram bukan sekadar makruh sebagaimana dikatakan oleh al-Imam Ibnu Abdil Barr.130 Hikmah dari larangan ini adalah karena memelihara anjing memiliki beberapa dampak negatif, di antaranya adalah sebagai berikut: 1. Karena malaikat tidak masuk ke rumahnya (HR al-Bukhari: 5223, Muslim: 2106). 2. Mengganggu dan menakuti orang yang lewat 3. Menerjang larangan Nabi n 4. Menjilat bejana dan menajiskannya yang mungkin saja pemiliknya lalai dari membersihkannya 5. Tasyabbuh (meniru) gaya orang-orang kafir.131 128 Syarh Shahih Muslim 4/186 129 Syarh Riyadhish Shalihin 6/429 130 At-Tamhid 14/221. Lihat bantahannya dalam Fahul Bariy 5/8 oleh Ibnu Hajar. 131 Al-I’lam bi Fawaid ’Umdatil Ahkam 10/157 oleh Ibnul Mulaqqin, Fathul Bariy 5/8 oleh Ibnu Hajar. Halal Haram Memelihara Anjing 83


Hukum Memelihara Anjing Karena Kebutuhan Adapun memelihara anjing karena kebutuhan maka hal ini terbagi menjadi dua keadaan: Pertama: Kebutuhan yang disebutkan dalam hadits-hadits di atas yaitu untuk berburu, menjaga hewan dan sawah. Maka hukumnya adalah boleh berdasarkan izin dari Rasulullah n di atas. Kedua: Kebutuhan lain yang tidak disebutkan dalam hadits di atas, apakah bisa diqiyaskan? Masalah ini diperselisihkan oleh ulama' menjadi dua pendapat: a. Tidak bisa dilebarkan kepada kebutuhan lainnya b. Bisa diqiyaskan kepada kebutuhan lainnya karena ’illah (sebab) diperbolehkannya jelas yaitu karena kebutuhan. Kapan saja memang ada kebutuhan maka boleh hukumnya. Oleh karenanya, para ulama' mengatakan: “Sebuah rukhshah (keringanan) apabila diketahui hikmahnya maka mencakup umum.”132 Inilah yang dikuatkan oleh al-Imam an-Nawawi,133 Ibnul Mulaqqin,134 Waliyyudin al-Iraqi,135 dan lain-lain. Ibnu Abdil Barr v berkata: “Dan semakna dengan hadits ini juga—Ibnu Umar d—menurut saya adalah boleh juga memelihara anjing untuk seluruh manfaat dan menolak mudharat jika manusia membutuhkannya.”136 Asy-Syaikh Yusuf ibn Abdul Hadi b berkata menukil ucapan sebagian ulama': “Tidak ragu lagi bahwa Nabi n mengizinkan anjing untuk berburu dalam banyak hadits, dan dalam hadits lainnya beliau juga mengizinkan anjing untuk menjaga kebun dan hewan ternak, sehingga dapat diketahui bahwa sebab dibolehkannya memelihara anjing adalah karena kemashlahatan. Dan kaidah fiqih mengatakan: 132 Al-I’lam bi Fawaid ’Umdatil Ahkam 10/158 oleh Ibnul Mulaqqin 133 Syarh Muslim 10/236 134 Al-I’lam bi Fawaid ’Umdatil Ahkam 10/157 135 Tharhu Tatsrib 6/28 136 At-Tamhid 14/219 84 Fiqih Kontemporer


دملا د ع ع ع و ع دداهِلآ و و ج س و س للتلههِلآ س عهِلآ لع ع م ع رهِلآ س و و د س ي ع مهِلآ كس و ل و س ا ‘Hukum itu berputar bersama ’illah-nya ada dan tidaknya.’ Oleh karena itu, jika memang dijumpai kemashlahatan maka diperbolehkan memelihara anjing, apalagi jika mashlahatnya lebih besar dan lebih penting daripada mashlahat kebun dan hewan. Atau juga kemashlahatan yang setara, seperti buah setara dengan sawah, sapi setara dengan kambing atau ayam dan bebek agar tidak dimakan serigala. Demikian juga takut dari perampok dan menjadikan anjing sebagai peringatan agar tuan rumah bisa bangun, semua itu lebih besar mashlahatnya, sebab syari’at sangat memperhatikan kemashlahatan dan menolak kerusakan.”137 Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin v mengatakan: “Oleh karena itu, rumah yang berada di tengah kota maka tidak perlu anjing untuk menjaganya, sehingga memelihara anjing untuk keperluan jaga rumah yang keadaannya seperti ini hukumnya adalah haram dan berkurang pahalanya setiap hari satu atau dua qirath. Maka wajib bagi mereka untuk mengusir dan tidak memelihara anjing tersebut. Adapun jika rumahnya berada di daerah pinggiran dan sepi dari keramaian maka boleh memelihara anjing untuk menjaga rumah dan penghuninya, sebab menjaga penghuni rumah itu lebih penting dan dibutuhkan daripada menjaga kebun dan hewan.”138 Dan termasuk kemashlahatan yang sangat besar pada zaman ini adalah menggunakan anjing sebagai pelacak narkoba, bom, pelaku kejahatan, dan sebagainya yang biasa disebut dengan anjing polisi atau anjing pelacak. Maka ini mashlahatnya sangat besar bagi masyarakat, jauh lebih besar daripada untuk berburu atau menjaga hewan dan sawah yang dibolehkan syari’at.139 Karena, kebutuhan akan anjing penjaga hewan ternak hanya untuk menjaga keamanan dan harta pri137 Al-Ighrab fi Ahkamil Kilab 1/106–107 138 Majmu’ Fatawa Ibn ’Utsaimin 4/264 139 Catatan kaki al-Ighrab fi Ahkamil Kilab 1/106. Dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin juga menegaskan tentang bolehnya anjing pelacak ini. (Syarh Zadil Mustaqni’, Bab al-Washaya, kaset ketiga) Halal Haram Memelihara Anjing 85


badi, sedangkan kebutuhan anjing pelacak untuk menjaga keamanan dan harta orang banyak.140 Dua Masalah Penting Berkaitan dengan memelihara anjing, ada dua permasalahan penting yang perlu kami sampaikan: 1. Anjing hitam kelam atau memiliki dua titik Anjing hitam kelam atau memiliki dua titik tidak boleh dipelihara sama sekali secara mutlak sekalipun untuk berburu, menjaga kebun, atau menjaga hewan, sebab anjing jenis seperti itu diperintahkan untuk dibunuh sehingga tidak boleh dipelihara, diajari, atau digunakan untuk berburu. Al-Imam Ahmad ibn Hanbal v berkata: “Saya tidak mengetahui seorang pun yang membolehkan hasil buruan anjing hitam.”141 Dan ini adalah pendapat Qatadah, Hasan al-Bashri, Ibrahim an-Nakha'i, Ishaq ibn Rahawaih, dan Ibnu Hazm.142 2. Bila anjing menjilat bejana Bila anjing menjilat bejana, maka hukumnya najis sehingga bejana tersebut harus dibersihkan sebagaimana disebutkan dalam hadits: « ر ن عرا عهِلآ لم ع ب و س ع ههِلآ س ل و غ لس و لل ع مهِلآ س ث س ههِلآ س ق و ي س ل ل و ف ع مهِلآ ك و س حلد ع أ ع عنلالءهِلآ إ ل لفهِلآ بهِلآ ك س ع و ل و عغهِلآ ا ل ع و ع عذاهِلآ إ ل »َو . “Apabila seekor anjing minum dari bejana salah seorang dari kalian, maka buanglah airnya lalu cucilah tujuh kali.” (HR al-Bukhari: 418, Muslim: 422) 140 “Ahkamu Ghaiti Ma'kuli Lahmi” oleh Dr. Sami al-Majid hlm. 180, tesis di Jami’ah Imam Ibnu Su’ud, KSA, dinukil dari buku Harta Haram Muamalat Kontemporer hlm. 63 oleh Dr. Erwandi Tarmizi. 141 Ibnu Hazm berkata: “Ahmad telah menjumpai banyak ahli ilmu.” (al-Muhalla 6/174) 142 Lihat Tharhu Tatsrib 6/29 dan al-Muhalla 6/174. 86 Fiqih Kontemporer


Hadits ini mencakup seluruh jenis anjing, sebab al (alif-lam) pada lafazh kalb (anjing) dalam hadits di atas mencakup umum, tidak boleh dikecualikan tanpa adanya dalil.143 Dan hadits ini juga menunjukkan najisnya anjing—atau setidaknya adalah air liurnya—bahkan ulama' memandang tingkatannya adalah najis yang berat (mughallazhah) karena untuk menyucikannya harus dengan air tujuh kali dan salah satunya dengan menggunakan tanah.144 Hadits ini juga merupakan mukjizat ilmiyyah karena terbukti dalam riset kedokteran sekarang ditemukan melalui mikroskop bahwa mulut anjing mengandung 50 cacing pita yang menularkannya kepada manusia dan menjadi sebab manusia menderita penyakit yang berbahaya, bisa sampai mematikan.”145 Penutup dan Kesimpulan Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan sebagai berikut: 1. Haramnya memelihara anjing jika tidak ada kebutuhan. 2. Boleh memelihara anjing jika ada kebutuhan dan kemashlahatan. 3. Tidak boleh memelihara anjing hitam kelam baik ada hajat ataupun tidak. 4. Jilatan segala jenis anjing adalah najis. Akhirnya, semoga paparan singkat di atas menambah perbendaharaan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Amin. 143 Inilah yang dikuatkan oleh Imam Abu Ubaid dalam kitabnya ath-Thuhur hlm. 270 dan Ibnul Aththar dalam al-’Uddah fi Syarhil ’Umdah 1/77. 144 Para ahli medis juga melakukan penelitian tentang kandungan bakteri pada tanah, ternyata justru mereka mendapatkan tanah adalah pembasmi bakteri. (Lihat 100 Mu’jizat Zhaharat fi Hadzal ’Ashr hlm. 37 oleh Yusuf Ali al-Jasir.) Oleh karenanya, pendapat yang kuat bahwa tanah tidak bisa diganti dengan pembersih lainnya seperti sabun dan sebagainya, berdasarkan beberapa alasan yang dijelaskan oleh asy-Syaikh Abdullah al-Bassam dalam Taudhihul Ahkam 1/135. 145 Lihat 100 Mu’jizat Zhaharat fi Hadzal ’Ashr hlm. 42 oleh Yusuf Ali al-Jasir, ta’liq Syaikh Ahmad Syakir terhadap Ihkamul Ahkam 1/77 oleh Ibnu Daqiq al-Id, Taudhihul Ahkam 1/137 oleh Abdullah al-Bassam. Halal Haram Memelihara Anjing 87


Daftar Rujukan: 1. Masa'il Mu’ashirah Mimma Ta'ummu Bihal Balwa fi Fiqhil ’Ibadat. Nayif ibn Jam’an Juraidan. Dar Kunuzi Isybiliya, KSA, cet. pertama, 1430 H. 2. Al-I’lam bi Fawa'id ’Umdatil Ahkam. Ibnul Mulaqqin (tahqiq: Abdul Aziz al-Musyaiqih). Darul Ashimah, KSA, cet. pertama, 1421 H. 3. Hukmu Tarbiyatil Kilab. Asy-Syaikh Ihsan al-’Utaibi, sebagaimana dalam http://www.saaid.net/doat/ehsan/133.htm 88 Fiqih Kontemporer


BAB SHALAT Bab Shalat Bab Shalat 89


Alat Petunjuk Arah Qiblat Alat Petunjuk Arah Qiblat Pada zaman dahulu, manusia menggunakan bintang, bayangan, dan sejenisnya untuk menentukan arah. Mereka terkadang mengalami kesulitan karena adanya awan dan mendung. Dengan perkembangan zaman ditemukanlah alat-alat modern untuk menentukan arah, semisal kompas maupun alat elektronik. Alat-alat ini sangat dimanfaatkan oleh para pilot pesawat, nahkoda kapal, petualang dan sebagainya. Alat yang paling canggih saat ini adalah GPS (Global Positioning System). Alat bekerja dengan bantuan 30 satelit GPS yang mengelilingi bumi. Alat ini menerima sinyal dari satelit dan diterjemahkan dalam bahasa yang bisa kita mengenai posisi suatu titik di muka bumi ini. Alat ini dapat memberikan petunjuk arah secara teliti dan akurat bila digunakan secara benar. Seperti kalau kita menginginkan arah Ka’bah maka dengan cara memasukkan koordinat 21° 25' 21.05" LU dan 39° 49' 34.31" BT. Apabila koordinat tersebut dimasukkan maka dengan cepat ia akan memberikan petunjuk arah qiblat, di mana pun kita berada. Memang ada kemungkinan salah, tetapi tidak lebih dari 100 meter, sebuah jarak yang sedikit dan tidak berpengaruh, karena maksud dari qiblat bagi orang yang jauh dari Makkah adalah arahnya, bukan Ka’bah itu sendiri.146 Nah, bagaimana pandangan syari’at tentang alat modern ini ? Bolehkah alat tersebut digunakan untuk menentukan arah qiblat shalat?! 146 Lihat Atsaru Taqniyah Haditsah fil Khilaf Fiqhi hlm. 167–170 oleh asy-Syaikh Dr. Hisyam alusy Syaikh. 90 Fiqih Kontemporer


Masalah inilah yang akan kita kupas dalam pembahasan ini. Semoga Allah q memberikan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Menghadap Qiblat Syarat Sahnya Shalat Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa termasuk syarat sahnya shalat, baik wajib maupun sunnah adalah menghadap qiblat, hal ini berdasarkan dalil al-Qur'an, hadits, dan ijma’ para ulama'. 1. Dalil al-Qur'an چہ ہ ہ ھ ھھ ھ ے ے ۓ ۓ ڭڭچ Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. (QS al-Baqarah [2]: 144) 2. Dalil hadits Nabi n bersabda kepada orang yang jelek shalatnya: « ب ب ك ع و ع ةهِلآ ع ل ع ب و للق و للهِلآ ا ب ل ق و ت ع س و ا »َو . “Apabila kamu hendak shalat maka menghadaplah ke qiblat lalu bertakbirlah.” Alat Petunjuk Arah Qiblat 91


Click to View FlipBook Version