darurat. Hal ini berbeda-beda sesuai keadaan manusia. Artinya, tidak semua orang terdesak untuk menyimpan uangnya di bank. Maka hendaknya setiap orang bertaqwa dan takut kepada Allah, janganlah meremehkan dengan alasan darurat padahal tidak ada unsur darurat sama sekali sebagaimana banyak dilakukan oleh kebanyakan kaum muslimin.444 Memanfaatkan Bunga Bank Kalau kita katakan bahwa boleh menabung di bank dalam kondisi darurat maka akan muncul pertanyaan: “Apa yang kita perbuat dengan bunga (baca: riba) yang diberikan bank kepada tabungan kita?!” Kami katakan: Ada beberapa pendapat untuk menjawab pertanyaan tersebut: 1. Mengambilnya dan memanfaatkannya seperti uang pokok. 2. Membiarkannya untuk bank agar dimanfaatkan sesuka bank. 3. Mengambilnya lalu merusaknya. 4. Mengambilnya lalu memberikannya kepada fakir miskin atau untuk keperluan umum bagi kemashlahatan kaum muslimin. 5. Mengambilnya dan memberikannya kepada orang yang dizhalimi oleh bank dengan riba. Pendapat yang paling mendekati kebenaran—menurut kami—adalah pendapat keempat yaitu mengambilnya dan memberikannya kepada fakir miskin atau keperluan umum (asalkan) bukan dengan niat sedekah melainkan untuk membebaskan diri dari uang yang haram. 444 Lihat ar-Riba fil Mu’amalat al-Mashrafiyyah al-Mu’ashirah 2/923–959, alMu’amalat al-Maliyyah al-Mu’ashirah hlm. 267, Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah hlm. 16–18 oleh Muhammad Burhanuddin, Mu’amalat Bunuk al-Haditsah hlm. 49 oleh Dr. Ali as-Salus, Fatawa Lajnah Da'imah 13/346–351. 242 Fiqih Kontemporer
Inilah pendapat yang dipilih oleh para ulama' seperti Lajnah Da'imah,445 al-Albani,446 Musthafa az-Zarqa, dan sebagainya.447 Solusi dan Seruan Setelah menyimak keterangan singkat di atas, sudah semestinya bagi kaum muslimin—khususnya para pemimpin448—untuk bersamasama mengingkari praktik riba yang berkembang di bank dan (selanjutnya) berusaha untuk mendirikan bank-bank islami yang bersih dari riba, sesuai dengan undang-undang syari’at Islam yang mulia. Alternatif lainnya adalah memperbaiki bank-bank islami yang sudah ada karena—menurut banyak kalangan—belum bersih dari praktik riba dan pelayanannya belum menjangkau semua kota. Sungguh keji ucapan seorang yang menyatakan bahwa tidak ada bank melainkan harus dengan bunga dan tidak ada kekuatan ekonomi Islam kecuali harus dengan bank.449 Ini adalah kedustaan nyata sebab 445 Lajnah Da'imah adalah lembaga fatwa di Arab Saudi, diketuai oleh asySyaikh Abdul Aziz ibn Baz, beranggotakan asy-Syaikh Abdullah al-Ghudayyan, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, asy-Syaikh Abdul Aziz alusy Syaikh, asySyaikh Bakr Abu Zaid. (Lihat Fatawa Lajnah Da'imah 13/354) 446 Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani pernah menulis surat kepada asy-Syaikh Abdul Aziz ibn Baz berisi pembahasan tentang uang riba yang disimpan di bank-bank. Beliau berkesimpulan bahwa uang-uang tersebut boleh untuk digunakan dalam kebaikan-kebaikan selain makan, minum, dan pakaian. Dan digunakan dalam hal-hal yang akan habis seperti bensin, kayu bakar, memperbaiki WC, dan jalan umum serta mencetak kitab … Asy-Syaikh Ibnu Baz lalu menulis jawaban yang menyatakan bahwa beliau setuju dengan pendapat asy-Syaikh al-Albani. (al-Imam al-Albani Durusun wa ’Ibar, Dr. Abdul Aziz ibn Muhammad as-Sadhan, hlm. 258.) 447 Lihat Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah hlm. 26–27, al-Mu’amalat al-Maliyyah alMua’shirah hlm. 276–286. 448 Alangkah bagusnya ucapan al-Imam al-Mawardi: “Adapun mu’amalahmu’amalah yang mungkar seperti zina dan transaksi jual beli haram yang dilarang syari’at sekalipun kedua belah pihak saling setuju. Apabila hal itu telah disepakati keharamannya maka merupakan kewajiban bagi pemimpin untuk mengingkari, melarang, dan menghardiknya dengan hukuman yang sesuai dengan keadaan dan pelanggaran.” (al-Ahkam as-Sulthaniyyah hlm. 406) 449 Ini adalah ucapan seorang penasihat ekonomi, Ibrahim ibn Abdillah an-Nashir, dalam Mauqif Syari’ah Islamiyyah minal Masharif hlm. 1. Kitab ini telah diingkari secara keras oleh Majma’ Fiqih Islam dalam muktamar di Makkah paAda Apa Dengan Bank Konvensional?! 243
sepanjang sejarah Islam berabad-abad lamanya perekonomian mereka stabil tanpa bank riba. Sekali lagi, kami mengimbau para ulama', para pemimpin, para ahli ekonomi, dan para pedagang besar untuk berkumpul dan mendiskusikan dengan saksama masalah ini. Dengan ini diharapkan agar bank-bank Islami yang bersih dari kotoran riba akan banyak bermunculan di negeri kita tercinta sehingga kita tidak lagi membutuhkan bank-bank riba. Setiap muslim berkewajiban untuk bahu-membahu dalam mendukung ide tersebut agar mereka selamat dari jerat riba yang menyebabkan murka Allah. Daftar Rujukan: 1. Al-Mu’amalat al-Maliyyah al-Mu’ashirah fil Fiqhil Islami. Dr. Muhammad Utsman Syubair. Dar Nafa'is, Yordania, cet. keenam, 1427 H. 2. Al-Mu’amalat al-Maliyyah al-Mu’ashirah. Sa’duddin Muhammad alKibbi. Maktab Islami, Beirut, cet. pertama, 1423 H. 3. Ar-Riba fil Mu’amalat al-Mashrafiyyah al-Mu’ashirah. Dr. Abdullah ibn Muhammad as-Sa’idi. Dar Thaibah, KSA, cet. kedua, 1421 H. 4. Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah. Muhammad Burhanuddin. Darul Qalam, Beirut, cet. pertama, 1408 H. 5. Fawa'idul Bunuk Hiya Riba al-Haram. Dr. Yusuf al-Qaradhawi. Mu'assasah ar-Risalah, Beirut, cet. kedua, 1423 H. 6. Dan lain-lain. da hari Sabtu di bulan Shafar 1408 H dan dibantah pula oleh asy-Syaikh Abdul Aziz ibn Baz dalam majalah Rabithah bulan Syawwal 1407 H dan asySyaikh Muhammad Rasyid al-Ghufaili dalam kitab Nutaful Ma’arif fir Raddi ’ala Man Ajaza Riba al-Masharif diterbitkan Darul Wathan. 244 Fiqih Kontemporer
Asuransi Konvensional, Tinjauan Kritis dan Solusinya Asuransi Konvensional, Tinjauan Kritis dan Solusinya Pada zaman sekarang, asuransi telah menggeliat dan merebak di setiap belahan bumi. Perusahaan jasa asuransi pun banyak lahir (bermunculan) di tengah hiruk-pikuknya kemajuan zaman. Berbagai produk dan sistem asuransi pun ditawarkan, mulai dari asuransi jaminan kesehatan, kematian, kebakaran, kehilangan, kecelakaan, hingga asuransi kemacetan pembayaran. Fenomena ini memancing beragam pertanyaan, apakah perusahaan asuransi kontemporer sesuai dengan hukum dan prinsip syari’at Islam?! Apakah ada sistem asuransi yang sesuai dengan prinsip Islam sebagai penggantinya?! Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan menjadi fokus bahasan kita pada edisi kali ini. Kita berdo’a kepada Allah agar diselamatkan dari yang haram dan mencukupkan kita dengan yang halal. Amin.450 Definisi Asuransi Banyak definisi yang diberikan mengenai asuransi ini, namun definisi yang mencakup adalah: “Sebuah perjanjian pihak pertama (perusahaan asuransi) kepada pihak kedua (pihak nasabah) untuk memberikan ganti atas uang yang diserahkan, baik nanti diberikan kepada pihak kedua sendiri atau orang yang ditunjuk ketika terjadi risiko ke450 Asuransi Dalam Perspektif Syariah, Dr. Husain Syahatah, hlm. xviii. Asuransi Konvensional, Tinjauan Kritis dan Solusinya 245
jadian yang telah tertera dalam akad perjanjian. Hal itu sebagai pengganti dari uang yang telah diberikan pihak kedua kepada pihak pertama, baik secara berangsur atau lainnya.”451 Sejarah Asuransi Jasa asuransi yang pertama kali muncul adalah asuransi transportasi laut di Eropa, tepatnya di Italia Utara pada abad ke-15. Penyebab kemunculannya ialah tatkala banyaknya risiko dan bencana yang menimpa kapal laut pengangkut barang-barang saat itu. Model asuransinya yaitu pemilik barang membayar uang kepada pemilik kapal dengan perjanjian apabila barangnya rusak atau hilang maka dia akan mendapatkan tambahan uang. Pemilik usaha asuransi mendapatkan keuntungan yang banyak, sedangkan pemilik barang juga merasa aman terhadap barang-barang mereka. Waktu terus berjalan dan asuransi pun menyebar ke berbagai negara, termasuk Inggris, sehingga di sana didirikan perusahaan asuransi pertama kali. Setelah kejadian kebakaran hebat di London pada tahun 1666 M, maka didirikan perusahaan asuransi kebakaran pertama kali. Setelah itu, asuransi menyebar di negara-negara Amerika pada pertengahan abad ke-18. Dan pada abad ke-19, asuransi akhirnya juga masuk ke negara-negara Arab.452 Hukum Asuransi Konvensional Perusahaan-perusahaan asuransi konvensional begitu marak pada zaman sekarang dengan berbagai model serta jenisnya. Ada asuransi jiwa, kecelakaan, kerusakan, kesehatan, pendidikan, bahkan asuransi pembayaran hutang. Namun, bagaimanakah status hukumnya?! Majelis Ha'iah Kibar Ulama', setelah mempelajari masalah ini secara terperinci, memutuskan dalam rapat mereka di Riyadh 4/4/1397 H bahwa 451 At-Ta'min wa Ahkamuhu, Dr. Sulaiman ibn Ibrahim ibn Tsunayan, hlm. 40. 452 Al-Mu’amalat al-Maliyyah al-Mu’ashirah fil Fiqhil Islami, Dr. Muhammad Utsman Syubair, hlm. 88. 246 Fiqih Kontemporer
asuransi konvensional hukumnya haram berdasarkan dalil-dalil berikut: Pertama: Akad asuransi konvensional bila ditinjau merupakan salah satu bentuk akad tukar-menukar barang yang didasarkan pada asas untung-untungan, sehingga sisi ketidakjelasannya besar, karena nasabah pada saat akad tidak dapat mengetahui jumlah uang yang harus mereka setorkan dan jumlah klaim yang akan diterima. Bisa jadi ia menyetor sekali atau dua kali setoran, kemudian terjadi kecelakaan, sehingga ia berhak mengajukan klaim yang menjadi komitmen perusahaan asuransi. Dan mungkin juga sama sekali tidak pernah terjadi kecelakaan, sehingga nasabah membayar seluruh setoran, tanpa mendapatkan apa pun. Demikian juga perusahaan asuransi tidak dapat menentukan jumlah klaim yang harus mereka bayarkan dan jumlah setoran yang akan diterima bila dicermati setiap akad secara terpisah. Padahal telah dinyatakan dalam hadits shahih dari Nabi n tentang larangan jual beli gharar (yang tidak jelas).453 Kedua: Akad asuransi konvensional mengandung salah satu bentuk perjudian, dikarenakan padanya terdapat unsur untung-untungan dalam hal tukar-menukar harta benda, dan terdapat kerugian tanpa ada kesalahan atau tindakan apa pun, dan padanya juga terdapat keuntungan tanpa ada timbal baliknya, atau dengan imbal balik yang tidak seimbang. Karena nasabah kadang kala baru membayarkan beberapa setoran atau preminya, kemudian terjadilah kecelakaan, sehingga perusahaan asuransi menanggung seluruh biaya yang menjadi klaimnya. Dan bisa saja tidak terjadi kecelakaan, sehingga saat itu perusahaan berhasil mengeruk seluruh setoran premi nasabah tanpa ada imbalan sedikit pun. Dan bila pada suatu akad unsur ketidakjelasan benar-benar nyata, maka akad itu termasuk perjudian, dan tercakup dalam keumuman larangan perjudian yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala: 453 Al-Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim 10/396: “Adapun larangan jual beli gharar (yang tidak jelas), maka hal itu merupakan pokok yang agung dalam kitab masalah jual beli. Oleh karena itu, al-Imam Muslim mendahulukannya, karena masuk dalam kaidah ini berbagai permasalahan yang banyak sekali.” Maka tak aneh bila Prof. Muhammad adh-Dharir menulis buku khusus tentang masalah ini dalam kitabnya yang berjudul al-Gharar wa Atsaruhu fil ’Uqud fil Fiqhil Islami. Asuransi Konvensional, Tinjauan Kritis dan Solusinya 247
چٱ ٻ ٻ ٻ ٻ پ پ پ پ ڀ ڀ ڀ ڀ ٺ ٺ ٺچ Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS al-Ma'idah [5]: 90) Ketiga: Akad asuransi konvensional mengandung unsur riba fadhl (riba perniagaan) dan riba nasi’ah (penundaan), karena perusahaan asuransi bila membayar kepada nasabahnya atau ke ahli warisnya atau kepada orang yang berhak memanfaatkan suatu klaim lebih besar dari uang setoran (iuran) yang mereka terima, maka itu adalah riba fadhl, sedangkan perusahaan asuransi akan membayar klaim tersebut kepada nasabahnya setelah berlalu tenggang waktu dari saat terjadi akad, maka itu adalah riba nasi’ah. Dan bila perusahaan membayar klaim nasabah sebesar uang setoran yang pernah ia setorkan ke perusahaan, maka itu adalah riba nasi’ah saja, dan keduanya diharamkan menurut dalil dan ijma’ (kesepakatan ulama'). Keempat: Akad asuransi konvensional termasuk pertaruhan yang terlarang, karena pada pertaruhan terdapat unsur ketidakjelasan, untung-untungan, dan mengundi nasib. Padahal syari’at tidak membolehkan pertaruhan selain pertaruhan yang padanya terdapat unsur pembelaan terhadap agama Islam, dan penegakan benderanya dengan hujjah, dalil, pedang, dan senjata. Dan Nabi n telah membatasi rukhshah (keringanan) pertaruhan dengan tebusan hanya ada tiga hal: « ل صن و ن ع وهِلآ و أ ع رهِلآ ن عحلالف لفهِلآ وهِلآ و أ ع فهِلآ ق خ س لفهِلآ لهِلآ س إ ل قهِلآ ع ب ع س ع لهِلآ ع »َو . “Tiada hadiah taruhan selain pada unta atau kuda atau panah.”454 454 Lafazh « ق ق ب ق س ق » memiliki dua riwayat: Pertama: Dengan memfathah huruf ba' yang berarti ‘harta taruhan’. 248 Fiqih Kontemporer
Dan asuransi tidaklah termasuk salah satu darinya, tidak juga serupa dengannya, sehingga diharamkan. Kelima: Akad asuransi konvensional padanya terdapat praktik pemungutan harta orang lain tanpa imbalan, sedangkan mengambil harta orang lain tanpa ada imbalan dalam transaksi perniagaan adalah haram, dikarenakan tercakup dalam keumuman firman Allah Ta’ala: چٹ ڤ ڤ ڤ ڤ ڦ ڦ ڦ ڦ ڄ ڄ ڄ ڄ ڃ ڃڃ ڃ چ چچ چ ڇ ڇ ڇ ڇ ڍچ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu, dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS an-Nisa' [4]: 29) Keenam: Pada akad asuransi konvensional terdapat pengharusan sesuatu yang tidak diwajibkan dalam syari’at, karena perusahaan asuransi tidak pernah melakukan sesuatu tindakan yang merugikan, tidak juga menjadi penyebab terjadinya kerugian. Perusahaan asuransi hanyalah melakukan akad bersama nasabah untuk menjamin kerugian bila hal itu terjadi, dengan imbalan iuran yang dibayarkan oleh nasabah kepadanya, sedangkan perusahaan asuransi tidak pernah melakukan pekerjaan apa pun untuk nasabahnya, sehingga akad ini diharamkan.455 Kedua: Dengan mensukun huruf ba' yang berarti ‘perlombaan’. Al-Khaththabi berkata dalam Ma’alim Sunan 3/304: “Riwayat yang shahih dalam hadits ini adalah dengan memfathah huruf ba'-nya.” (Lihat pula al-Hawafiz atTijariyyah at-Taswiqiyyah hlm. 127 oleh Syaikhuna Dr. Khalid ibn Abdillah alMushlih.) 455 Dinukil dari Riba dan Tinjauan Kritis Perbankan Syariah hlm. 81–83 oleh Ust. Muhammad Arifin bin Baderi, M.A. Asuransi Konvensional, Tinjauan Kritis dan Solusinya 249
Dan keputusan Hai'ah Kibar Ulama' Arab Saudi ini sesuai dengan keputusan Majma’ Buhuts Islamiyyah di Mesir pada bulan Muharram 1385 H, Muktamar Alami Awal lil Iqtishad Islami di Makkah tahun 1396 H yang dihadiri oleh lebih dari dua ratus ulama' dan ahli ekonomi, Majma’ Fiqih Islami di Makkah pada 10 Sya’ban 1398 H, Majma’ Fiqih Islami di Jeddah pada 10–16 Rabi’ul Akhir 1406 H.456 Adapun pendapat yang membolehkan, maka argumen-argumen mereka lemah sekali, telah dijawab oleh para ulama'.457 Jangan Tertipu Dengan Perubahan Nama Suatu hal yang telah disepakati oleh semua ahli ilmu bahwa: “Perubahan nama tidaklah merubah hakikat hukum.”458 Sesuatu yang jelek tidak bisa menjadi bagus walau kita menamainya dengan nama yang indah.(!) Demikian seterusnya. Tatkala perekonomian dengan basis syari’ah sedang gencar digalakkan maka perusahaan-perusahaan asuransi pun tidak mau ketinggalan. Mereka ramai-ramai memikat nasabah dengan berbagai produk asuransi syari’ah. Mereka mengklaim bahwa produk-produk mereka telah selaras dengan prinsip syariah. Secara global mereka menawarkan dua jenis pilihan: 1. Asuransi umum syari’ah Pada pilihan ini, mereka mengklaim bahwa mereka menerapkan metode bagi hasil (mudharabah). Yaitu bila telah habis masa kontrak, dan tidak ada klaim, maka perusahaan asuransi akan mengembalikan sebagian dana/premi yang telah disetorkan oleh nasabah, dengan ke456 Lihat Fiqhun Nawazil 3/266–287 oleh Muhammad ibn Husain al-Jizani dan Mausu’ah al-Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah wal Iqtishad Islami hlm. 379–395 oleh Dr. Ali Ahmad as-Salus. 457 Lihat secara luas dalam at-Ta'min wa Ahkamuhu hlm. 157–211 oleh Dr. Sulaiman ibn Ibrahim Tsunayyan. 458 Lihat I’lamul Muwaqqi’in 4/532 oleh al-Imam Ibnul Qayyim (tahqiq: Masyhur ibn Hasan). 250 Fiqih Kontemporer
tentuan 60 : 40 atau 70 : 30. Adapun berkaitan dana yang tidak dapat ditarik kembali mereka mengklaimnya sebagai dana tabarru’ atau hibah (hadiah). 2. Asuransi jiwa syari’ah Rincian dari jenis ini ialah bila nasabah hingga jatuh tempo tidak pernah mengajukan klaim, maka premi yang telah disetorkan akan hangus. Perilaku ini diklaim oleh perusahaan asuransi sebagai hibah dari nasabah kepada perusahaan.459 Subhanallah, bila kita fikirkan dengan saksama, kedua jenis produk asuransi syari’ah di atas, niscaya kita akan dapatkan bahwa yang terjadi hanyalah manipulasi istilah.460 Adapun prinsip-prinsip perekonomian syari’at, di antaranya yang berkaitan dengan mudharabah dan hibah sama sekali tidak terwujud; yang demikian itu dikarenakan: 1. Pada transaksi mudharabah, yang dibagi adalah hasil/keuntungan, sedangkan pada asuransi umum syari’ah di atas, yang dibagi adalah modal atau jumlah premi yang telah disetorkan. 2. Pada akad mudharabah, pelaku usaha (perusahaan asuransi) mengembangkan usaha riil dengan dana nasabah guna mendatangkan keuntungan, sedangkan pada asuransi umum syari’at, perusahaan asuransi sama sekali tidak mengembangkan usaha guna mengelola dana nasabah. 3. Pada kedua jenis asuransi syari’at di atas, perusahaan asuransi telah memaksa nasabah untuk menghibahkan seluruh atau se459 Majalah MODAL, Edisi 36, 2006, hlm.16 460 Semoga Allah merahmati al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah tatkala mengatakan: “Mengubah nama perkara haram padahal hakikatnya masih tetap, adalah menambah kerusakan sesuatu yang haram tersebut karena hal itu mengandung tipuan kepada Allah dan Rasul-Nya serta menisbahkan penipuan dan kedustaan kepada agama dan syari’at-Nya, seakan-akan Allah melarang dari suatu kerusakan tetapi membolehkan yang lebih parah darinya. Oleh karenanya, Ayyub as-Sahtiyani mengatakan: ‘Mereka menipu Allah seperti menipu anak kecil, seandainya mereka melakukan keharaman apa adanya, tentu malah lebih ringan dosanya.’” (Ighatsatul Lahfan 1/604–605, tahqiq Ali ibn Hasan) Asuransi Konvensional, Tinjauan Kritis dan Solusinya 251
bagian preminya. Disebut pemaksaan, karena perusahaan asuransi sama sekali tidak tidak akan pernah siap bila ada nasabah yang ingin menarik seluruh dananya, tanpa menyisakan sedikit pun. Padahal, Rasulullah n telah bersabda: « ه س ن و فنسهِلآ لم و ن ع لبهِلآ ب لطي ل لهِلآ س إ ل نئهِلآ ر ل م و لهِلآ ا س عملا لهِلآ ك ي ع لهِلآ ل ع »َو . “Tidaklah halal harta seorang muslim kecuali dengan dasar kerelaan jiwa darinya.”461 Asuransi Ta’awun Sebagai Solusi Islam tidak membutuhkan sistem-sistem perekonomian yang dibangun di atas keharaman, tetapi perekonomiannya dibangun atas dasar saling membantu dan sosial seperti zakat, wakaf, dan sebagainya.462 Oleh karenanya, sebagai gantinya para ulama' syariah dan ahli ekonomi Islam mengusulkan agar asuransi dibangun atas dasar ta’awun (saling membantu) sebagaimana usulan Ha'iah Kibar Ulama' dalam rapat mereka di Riyadh pada bulan Rabi’ul Awwal 1397 H,463 mereka membolehkan asuransi ta’awun yaitu bergeraknya sejumlah orang yang masing-masing sepakat untuk mengganti kerugian yang menimpa salah seorang dari mereka sebagai akibat risiko bahaya tertentu, yang itu diambil dari uang iuran yang telah disepakati pembayarannya. Hal ini bisa diperluas menjadi sebuah lembaga atau yayasan yang memiliki pegawai dan pengelola khusus. Ini adalah akad tabarru’ yang bertujuan saling membantu, bukan tujuan bisnis dan cari keuntungan, sebagaimana juga akad ini tidak mengandung riba, perjudian, spekulasi, dan lain-lain yang ada dalam asuransi konvensional.464 461 Riba dan Tinjauan Kritis Perbankan Syariah hlm. 90–92 oleh Ustadz Muhammad Arifin bin Baderi, M.A. 462 Lihat secara luas dalam an-Nizham al-Mali wal Iqtishadi fil Islam oleh Dr. Mushlih Abdul Hayyi. 463 Lihat Fatawa Ulama' Baladil Haramain hlm. 1211–1214, kumpulan Dr. Khalid alJuraisi. 464 Lihat makalah al-Ustadz al-Fadhil Khalid Syamhudi—jazahullah khairan—da252 Fiqih Kontemporer
Solusi ini sangat penting untuk diterima sebagai pengganti asuransi konvensional karena beberapa alasan berikut: 1. Banyaknya kekhawatiran dalam perekonomian manusia pada zaman sekarang. 2. Masyarakat Islam tidak seperti masyarakat dahulu yang saling bahu-membahu. 3. Negara tidak menerapkan zakat sebagaimana mestinya. 4. Tidak ada larangan dalam Islam untuk membentuk sistem muamalat baru yang mengandung kemashlahatan kaum muslimin selama tidak melanggar aturan Islam.465 Bila Terdesak Harus Asuransi Dalam sebagian negara, terkadang seorang muslim terdesak harus ikut asuransi, bila tidak maka tertahan dari kemashlahatannya, seperti ketika beli mobil misalnya, terkadang dia diharuskan untuk mengansuransikannya, bila tidak maka tertahan. Bagaimana solusinya padahal kita tahu asuransi jenis ini adalah haram?! Kita katakan: 1. Insya Allah tidak ada dosa bagi kita, yang dosa adalah yang memaksa, karena kondisi kita terpaksa dan terzhalimi sedangkan kaidah fiqih mengatakan: لت عرا و و ظ س ح و م ع ل و سحهِلآ ا ي و ب ل ت س تهِلآ س عرا و س سض و ال “Keadaan dharurat itu membolehkan sesuatu yang terlarang.” Hanya, harus diterapkan kaidah lainnya juga: عهلا ر ل د و ق ع ب ل رهِلآ س د س ق ع ت س تهِلآ س عرا و س سض و ال “Dharurat itu sekadarnya saja.”466 lam Majalah As-Sunnah Edisi 8 Th. XI (1428 H) dengan judul “Perbedaan Antara Asuransi Ta’awun Dengan Asuransi Konvensional”. 465 At-Ta'min wa Ahkamuhu, Dr. Sulaiman ibn Ibrahim Tsunayyan, hlm. 287–298. 466 Lihat al-Fatawa al-Kuwaitiyyah wal Fatawa Australiyyah hlm. 119–120 oleh asyAsuransi Konvensional, Tinjauan Kritis dan Solusinya 253
2. Bila ditakdirkan terjadi kecelakaan maka ambillah secukupnya uang yang kita bayarkan pada perusahaan asuransi, adapun selebihnya maka jangan mengambilnya karena kita tidak berhak mendapatkannya dan kita yakin bahwa akad tersebut haram dan batil. Dan bila perusahaan tetap memaksa untuk mengambilnya, maka ambil dan sedekahkan dengan niat melepaskan diri dari perkara haram. Demikianlah solusinya.467 Demikianlah pembahasan ringkas dan sederhana tentang Asuransi. Semoga bermanfaat. Daftar Rujukan: 1. At-Ta'min wa Ahkamuhu. Dr. Sulaiman ibn Ibrahim ibn Tsunayan. Dar Ibnu Hazm, Beirut, cet. pertama, 1424 H. 2. Mausu’ah al-Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah wal Iqtishad Islami. Prof. Dr. Ali Ahmad as-Salus. Dar Tsaqafah, Beirut, cet. ketujuh, 1426 H. 3. Al-Mu’amalat al-Maliyyah al-Mu’ashirah fil Fiqhil Islami. Dr. Muhammad Utsman Syubair. Dar Nafa'is, Beirut, cet. keenam, 1427 H. 4. Asuransi Dalam Perspektif Syariah. Dr. Husain Syahatah. Penerbit Amzah, Jakarta, cet. pertama, 2006 M. 5. Riba dan Tinjauan Kritis Perbankan Syariah. Ust. Muhammad Arifin Badri, M.A. Pustaka Darul Ilmi, Bogor, cet. pertama, 1430 H. Syaikh al-Albani (ta’liq asy-Syaikh Amr ibn Abdul Mun’im). Dan lihat penjelasan secara bagus tentang dua kaidah di atas dalam kitab Haqiqah Dharurat Syar’iyyah oleh Dr. Muhammad Husain al-Jizani, terbitan Darul Minhaj. 467 Asy-Syarhul Mumti’, Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin, 10/327 (terbitan Dar Ibnil Jauzi). 254 Fiqih Kontemporer
Perlombaan Modern Dalam Fiqih Islam Perlombaan Modern Dalam Fiqih Islam Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna untuk setiap tempat dan zaman. Tidak ada suatu permasalahan pun kecuali dibahas dan diatur olehnya. Maka alangkah kotornya ucapan sebagian kalangan bahwa syar’iat Islam adalah kuno dan kolot, tidak relevan lagi pada zaman modern sekarang, karena banyak hal yang masih belum dibahas oleh Islam seperti masalah olah raga badan!!! Sungguh, ini adalah kejahilan yang luar biasa karena Islam telah membahas masalah ini secara jelas sebagaimana hal itu diketahui oleh orang yang mau mempelajarinya. Berikut ini, akan kami sampaikan secara singkat beberapa masalah perlombaan modern468 agar kita bertambah yakin akan keindahan agama Islam yang mampu menjawab segala permasalahan baru. 468 Kami hanya akan menyampaikan kaidah secara umum dan contoh-contoh secara ringkas saja, karena tidak mungkin dibahas satu per satu jenis perlombaan modern dalam makalah yang singkat ini. Bagi pembaca yang ingin memperluas masalah itu secara detail, kami sarankan membaca buku al-Musabaqat wa Ahkamuha fi Syari’ah Islamiyyah oleh Dr. Sa’d ibn Nashir asy-Syatsri dan Qadhaya Lahwi wa Tarfih Baina Hajah Nafsiyyah wa Dhowabith Syar’iyyah oleh Madun Rasyid. Perlombaan Modern Dalam Fiqih Islam 255
Definisi dan Hukum Perlombaan Perlombaan adalah suatu akad antara dua orang atau lebih tentang suatu perbuatan untuk mengetahui siapakah yang lebih pintar di antara mereka. Perlombaan pada asalnya diperbolehkan dalam Islam berdasarkan dalil-dalil yang banyak sekali, di antaranya:469 1. Dalil al-Qur'an Allah berfirman tentang saudara-saudara Nabi Yusuf p: چٹ ڤ ڤ ڤ ڤ ڦ ڦ ڦ ڦ ڄ ڄڄچ Mereka berkata: “Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala.” (QS Yusuf [12]: 17) Al-Hafizh as-Suyuthi v berkata: “Dalam ayat ini terdapat dalil tentang disyari’atkannya perlombaan dan olah raga.”470 2. Dalil hadits رهِلآ ع م ع ع س لنهِلآ ب و بلدهِلآ ا للهِلآ و ع ع نهِلآ و ع d ع لهِلآ ا للهِلآ ع سو س ر ع نهِلآ س أ ع لل و n لي و ع وعيهِلآ ا ب ع قهِلآ ع ب ع عسلا عيلالء ف و ل و ع عنهِلآ ا تهِلآ لم و ر ع ضلم و أ س لتهِلآ ل س ا دا لع ع و ع ل و سةهِلآ ا ي س ثلن ع عهلاهِلآ د س م ع أ ع و ،هِلآ ل ع ل ي و ل و ع وعيهِلآ ا ب ع قهِلآ ع ب ع عسلا و ع ،هِلآ نق ي و ر ع ز س لنهِلآ ب ع س لجلدهِلآ و م ع لهِلآ ع إ ل يلةهِلآ س للن س عنهِلآ ا رهِلآ لم و م ضع و ت س مهِلآ و ل ع لتهِلآ ل س ا ن ع ب و عدهِلآ ا للهِلآ ب و ع ع نهِلآ س أ ع و ع ،هِلآ رهِلآ ع م ع س d ع عهلاَو . ب ل قهِلآ ع ب ع عسلا نهِلآ و م ع نهِلآ لفي ع ك ع 469 Dinukil dari al-Musabaqat wa Ahkamuha fi Syari’ah Islamiyyah hlm. 20–34 oleh Dr. Sa’d ibn Nashir asy-Syatsri. 470 Al-Iklil fi Istinbath Tanzil 2/870 256 Fiqih Kontemporer
Dari Abdullah ibn Umar bahwasanya Rasulullah n membuat perlombaan antara kuda yang telah dipercepat dari Hafya' dan finishnya di Tsaniyatul Wada’ dan kuda yang tidak dipercepat dari Tsaniyah sampai ke Masjid Bani Zuraiq. Dan Adalah Ibnu Umar d termasuk orang yang menang dalam perlombaan itu. (HR al-Bukhari 1/515, Muslim 1870) Al-Hafizh Ibnu Hajar v berkata: “Dalam hadits ini terdapat faedah tentang disyari’atkannya perlombaan dan hal itu bukanlah termasuk perbuatan sia-sia bahkan termasuk olah raga yang mengantarkan kepada tujuan yang mulia.”471 3. Dalil ijma’ ulama' Para ulama' telah bersepakat tentang bolehnya perlombaan secara global sebagaimana telah dinukil oleh sejumlah ulama' seperti Ibnu Abdil Barr,472 Ibnu Qudamah,473 Ibnu Hazm,474 dan sebagainya.475 Rambu-Rambu Perlombaan Dalam Islam Sekalipun perlombaan hukumnya adalah boleh, ada beberapa rambu yang perlu diperhatikan bersama: 1. Hendaknya tujuan perlombaan dan sarananya adalah disyari’atkan. 2. Bersih dari unsur perjudian seperti kalau hadiahnya dari masing-masing peserta, siapa yang menang maka dia yang mendapatkannya. 471 Fathul Bari 6/73 472 At-Tamhid 14/89 473 Al-Mughni 8/651 474 Maratibul Ijma’ hlm. 183 475 Lihat al-Furusiyyah hlm. 3–4 oleh Ibnul Qayyim, al-Ifshah 2/318 oleh Ibnu Hubairah, Tharhu Tatsrib 7/241 oleh al-Iraqi. Perlombaan Modern Dalam Fiqih Islam 257
3. Tidak menjadi faktor melakukan haram dan meninggalkan yang wajib. 4. Menutup aurat dan tidak membukanya. 5. Tidak membahayakan atau mencelakakan diri. (Lihat Masa'il Fiqhiyyah Mu’ashirah hlm. 160 oleh Dr. Abdurrahman as-Sanad, adh-Dhawabith Syar’iyyah lil Al’ab Riyadhiyyah oleh Dr. Sa’id Abdul Azhim, dan muqaddimah Syaikhuna Masyhur ibn Hasan Salman terhadap risalah al-Musara’ah ilal Mushara’ah hlm. 9–25 oleh as-Suyuthi.) Rambu-rambu ini adalah kaidah-kaidah berharga untuk menghukumi beberapa perlombaan modern yang beragam pada zaman sekarang. Maka fahamilah baik-baik!! Macam-Macam Perlombaan Perlombaan dalam tinjauan syari’at Islam terbagi menjadi tiga macam:476 1. Perlombaan yang disyari’atkan Yaitu perlombaan yang dianjurkan oleh Nabi n seperti perlombaan unta, kuda, dan memanah sebagai persiapan jihad. Dan termasuk dalam hal ini adalah perlombaan modern yang bertujuan sama seperti di atas, seperti: 1. Lomba strategi perang dan alat-alat perang modern seperti lomba menerbangkan pesawat tempur, menembak, bela diri, renang, menyelam, dan lain-lain yang bertujuan untuk persiapan jihad/perang. 2. Lomba menanggulangi narkoba atau menangkap penjahat bagi para aparat keamanan. (Syarh ’Umdah Fiqh, Dr. Abdullah al-Jibrin, 2/971) 476 Dinukil dari al-Mu’amalat al-Maliyyah al-Mu’ashirah hlm. 50–54 oleh asySyaikh Dr. Khalid ibn Ali al-Musyaiqih dengan beberapa tambahan dari rujukan lainnya. 258 Fiqih Kontemporer
3. Lomba ilmu seperti lomba hafalan al-Qur'an, hadits, atau kitab ulama', lomba cerdas cermat, lomba menulis makalah ilmiyyah, dan sebagainya. Ilmu juga termasuk jihad di jalan Allah sebab agama ini tegak dengan ilmu dan pedang.477 2. Perlombaan yang diharamkan Yaitu perlombaan yang mengandung bahaya dalam agama dengan meninggalkan kewajiban dan melakukan keharaman atau bahaya dalam dunia baik badan, harta, dan kehormatan. Berikut beberapa contoh modern: 1. Lomba balapan mobil (rally). Lomba ini sangat berbahaya, banyak menewaskan atau melukai para pemainnya, dan sebagainya.478 2. Lomba tinju dan gulat. Lomba ini sangat berbahaya dan melanggar syari’at. 3. Lomba yang menyebabkan fanatisme kelompok dan permusuhan, seperti lomba bola dengan segala jenisnya; sepak bola, bola voli, sepak takraw, dan sejenisnya. 4. Lomba yang membuka-buka aurat seperti yang terjadi pada kebanyakan lomba zaman sekarang, misalnya: renang, bulu tangkis, dan sebagainya. 5. Lomba yang melanggar agama seperti lomba keji “ratu kecantikan” karena ini termasuk tabarruj jahiliyyah dan mengandung fitnah, lomba menyanyi, joget, dan disko, karena hal itu diharamkan dalam Islam. 6. Lomba yang menyiksa hewan seperti adu ayam, adu burung, dan sebagainya. Ini hukumnya haram karena penyiksaan kepada hewan dan termasuk perbuatan jahiliyyah.479 477 Lihat Miftah Dar Sa’adah 1/70 oleh Ibnul Qayyim. 478 Lihat keterangan bagus tentang hal ini oleh Syaikhuna Masyhur ibn Hasan dalam ta’liqnya terhadap al-Furusiyyah hlm. 112–113 oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. 479 Asy-Syaikh al-Muthi’i berkata dalam Takmilatul Majmu’ 15/141: “Adapun lomba adu kambing dan ayam, maka ini termasuk perlombaan yang sangat jelek. Tidak ada seorang pun ahli ilmu yang berselisih tentang terlarangnya.” Lihat pula al-Hayah Ijtima’iyyah fil Fikril Islami hlm. 238 oleh Dr. Ahmad Syilbi, karePerlombaan Modern Dalam Fiqih Islam 259
3. Perlombaan yang diperbolehkan Yaitu perlombaan selain dari dua bagian di atas yang membawa mashlahat dan tidak mengandung bahaya seperti lomba jalan kaki, renang, balap sepeda, angkat besi, karate, bola dengan segala jenisnya (sepak bola, bola voli, sepak takraw, tenis meja) apabila bersih dari kemungkarannya. Namun, perlombaan jenis perlu diperhatikan tiga hal: 1. Tidak boleh mengandung bahaya dalam agama seperti meninggalkan shalat, mencela, dan sebagainya. 2. Tidak boleh mengandung bahaya dalam dunia baik harta, kehormatan, maupun badan. 3. Tidak terlalu sering dilakukan. Hadiah Perlombaan Para ulama' membagi hadiah dalam perlombaan menjadi tiga macam:480 1. Perlombaan yang boleh dengan hadiah dan tanpa hadiah Tidak sedikit para ulama'481 yang menukil ijma’ (kesepakatan para ulama') tentang bolehnya hadiah taruhan dalam perlombaan-perlombaan yang disebutkan oleh Rasulullah n, yaitu: berkuda, memanah, dan lomba pacuan unta, sebagaimana sabda Nabi n: 482 « ل صن و ن ع وهِلآ و أ ع رهِلآ ن عحلالف لفهِلآ وهِلآ و أ ع فهِلآ ق خ س لفهِلآ لهِلآ س إ ل قهِلآ ع ب ع س ع لهِلآ ع »َو . na beliau menceritakan apa yang beliau lihat selama di Indonesia. 480 Dinukil dari al-Hawafiz at-Tijariyyah at-Taswiqiyyah hlm. 127–137 oleh Syaikhuna Dr. Khalid ibn Abdillah al-Mushlih (dengan beberapa perubahan seperlunya). 481 Seperti Ibnu Abdil Barr dalam at-Tamhid 14/88, Ibnu Hazm dalam Maratibul Ijma’ hlm. 183, dan an-Nawawi dalam Syarh Muslim 13/14, al-Jashash dalam Mukhtashar Ikhtilaf Fuqaha' 3/515. 482 HR Ahmad 2/474, Abu Dawud: 2574, at-Tirmidzi: 1700, an-Nasa'i: 3585, Ibnu Majah: 2878, dan dinyatakan shahih oleh Ibnul Qathan dan Ibnu Daqiq al-’Id. (at-Talkhishul Habir, Ibnu Hajar, 4/161) 260 Fiqih Kontemporer
“Tiada hadiah taruhan selain pada unta atau kuda atau panah.”483 Lantas bagaimana dengan lomba-lomba lainnya yang semakna seperti lomba hafalan al-Qur'an, cerdas cermat, dan lainnya, apakah diperbolehkan hadiah di dalamnya? Masalah ini diperselisihkan ulama', tetapi pendapat yang kuat adalah boleh karena hal itu juga semakna dengan jihad, sebagaimana dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dan asy-Syaikh as-Sa’di.484 Namun, bolehnya hadiah dalam jenis perlombaan ini disyaratkan sebagai berikut: 1. Perlombaan benar-benar dalam masalah ilmu syar’i seperti alQur'an, hadits, fiqih, aqidah, dan lainnya bukan dalam ilmu lainnya. 2. Perlombaan ini tidak bertujuan bisnis, tetapi bertujuan untuk pendidikan dan ilmu.485 2. Perlombaan yang tidak boleh secara mutlak baik dengan hadiah atau tanpa hadiah Para ulama' bersepakat486 bahwa tidak bolehnya perlombaan yang mengandung keharaman dan melalaikan dari kewajiban. Lomba ini diharamkan secara mutlak baik dengan hadiah atau tanpa hadiah karena termasuk dalam keumuman firman Allah: چٱ ٻ ٻ ٻ ٻ پ پ پ پ ڀ ڀ ڀ ڀ ٺ ٺ ٺ ٺ ٿ ٿ ٿ ٿ ٹ ٹ ٹ ٹ ڤ ڤ ڤ ڤ ڦ ڦ 483 Lihat catatan kaki no. 454. 484 Lihat Majmu’ Fatawa 18/189, al-Furusiyyah hlm. 9, dan al-Irsyad hlm. 150. 485 Al-Mu’amalat al-Maliyyah al-Mu’ashirah, Dr. Khalid ibn Ali al-Musyaiqih, hlm. 58–59. 486 Sebagaimana dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa 20/250 dan Ibnu Qayyim dalam al-Furusiyyah hlm. 178. Perlombaan Modern Dalam Fiqih Islam 261
ڦ ڦڄ ڄ ڄ ڄ ڃچ Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS al-Ma'idah [5]: 90–91) 3. Perlombaan yang boleh bila tanpa hadiah dan tidak boleh bila dengan hadiah Para ulama' bersepakat487 tentang bolehnya perlombaan tanpa hadiah dalam setiap perlombaan bermanfaat dan tidak ada mudharat yang jelas, seperti lomba lari, renang, balap perahu, dan sebagainya. Lomba-lomba ini disepakati perbolehannya oleh para ulama', tetapi yang diperselisihkan oleh para ulama' adalah: “Bolehkah dengan hadiah ataukah tidak”. Namun, pendapat yang kuat adalah tidak boleh. Hanya, perlu diketahui bahwa yang tidak boleh adalah apabila hadiah tersebut dari masing-masing peserta lomba. Namun, apabila hadiah tersebut dari orang ketiga atau salah satu di antara keduanya maka hal itu boleh karena itu bukanlah taruhan perjudian namun termasuk ja’alah (sejenis sayembara) yang diperbolehkan dalam agama.488 487 Sebagaimana dinukil oleh an-Nawawi dalam Syarh Muslim 13/14, Ibnu Qudamah dalam al-Mughni 13/407, dan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 6/72. 488 Demikian faedah dari Syaikhuna Sami Muhammad dalam ta’liq kitab alFuruq wat Taqasim al-Badi’ah oleh asy-Syaikh as-Sa’di hlm. 110. Lihat pula alFiqhul Muyassar 1/217 oleh Dr. Abdullah ath-Thayyar, Dr. Abdullah al-Muthlaq, dan Dr. Muhammad ibn Ibrahim al-Musa. 262 Fiqih Kontemporer
Perlombaan di Media Tulis dan Kaca Sekarang ini banyak sekali jenis perlombaan di media dengan segala tujuan, ada yang bertujuan bisnis dan cari keuntungan, ada yang bertujuan memberikan faedah dan lainnya. Maka perlombaan harus dikembalikan sesuai kaidah-kaidah mu’malah yaitu pada asalnya adalah boleh apabila tidak ada unsur riba, penipuan, perjudian, dan kezhaliman. Oleh karena itu, kapan saja orang yang ikut lomba antara untung dan selamat maka hukumnya boleh. Namun, apabila dia antara untung dan rugi maka tidak boleh, seperti: 1. Lomba di TV atau radio Apabila yang ikut lomba perlu membayar uang atau mengeluarkan pulsa untuk membayar maka hukumnya tidak boleh karena dia berada dalam keadaan antara untung dan rugi; untung kalau dia menang dalam perlombaan tersebut, dan rugi kalau ternyata dia kalah, padahal dia sudah mengeluarkan biaya dan pulsa. Adapun kalau gratis biaya meneleponnya maka hukumnya boleh. 2. Lomba di majalah atau koran Kalau majalah atau koran tidak mensyaratkan harus beli kupon atau majalah maka hukum asalnya adalah boleh selagi perlombaannya berfaedah. Adapun apabila majalah atau koran mensyaratkan harus beli kupon tertentu atau majalah maka hukumnya tidak boleh kecuali bagi seorang yang sudah berlangganan membeli koran atau majalah tersebut sehingga dia membeli bukan karena ada perlombaannya.489 3. Lomba kuis SMS berhadiah Adapun lomba SMS berhadiah, maka hukumnya haram, karena peserta harus membayar pulsa bahkan terkadang biaya pulsa lebih dari standar. Kemudian setelah mengirim SMS, pengirim belum tentu mendapatkan hadiah padahal dia telah membayar biaya pulsa, se489 Al-Fiqhul Muyassar, Dr. Abdullah ath-Thayyar, dkk., 1/218. Perlombaan Modern Dalam Fiqih Islam 263
hingga hal ini termasuk dalam perjudian. Selain itu juga termasuk pemborosan dan membuat manusia frustasi dan hanya panjang angan-angan saja. Tentang haramnya undian SMS berhadiah ini telah ditegaskan oleh Komisi Fatwa Majelis Ulama' Indonesia (MUI) setelah melalui debat panjang dalam rapat MUI se-Indonesia II di Pondok Modern Gontor, Ponorogo yang berakhir pada tanggal 27 Mei 2006.490 Demikianlah pembahasan ringkas tentang masalah ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Daftar Rujukan: 1. Al-Musabaqat wa Ahkamuha fi Syari’ah Islamiyyah. Dr. Sa’d ibn Nashir asy-Syatsri. Darul Ashimah, KSA, cet. pertama, 1418 H. 2. Adh-Dhawabith Syar’iyyah lil Al’ab Riyadhiyyah. Dr. Sa’id Abdul Azhim. Darul Iman, Mesir, 1997 M. 3. Al-Musara’ah ilal Mushara’ah. As-Suyuthi (tahqiq: Masyhur ibn Hasan Salman). Maktabah as-Sawadi, KSA, cet. pertama, 1413 H. 4. Qadhaya Lahwi wa Tarfih Baina Hajah Nafsiyyah wa Dhawabith Syar’iyyah. Madun Rasyid. Dar Thaibah, KSA, cet. kedua, 1420 H. 5. Al-Mu’amalat al-Maliyyah al-Mu’ashirah. Dr Khalid ibn Ali alMusyaiqih (berupa tulisan komputer). 6. Al-Hawafiz at-Tijariyyah at-Taswiqiyyah. Dr. Khalid ibn Abdillah alMushlih. Dar Ibnul Jauzi, KSA, cet. kedua, 1426 H. 490 Jawa Pos, 28 Mei 2006. Lihat risalah kecil Undian Berhadiah Dalam Fiqih Islam oleh akhuna al-Ustadz Abu Ibrahim Muhammad Ali A.M. dan fatwa MUI selengkapnya bisa dilihat di Himpunan Fatwa MUI hlm. 523–527. 264 Fiqih Kontemporer
Bisnis Online Dalam Tinjauan Syari’ah Bisnis Online Dalam Tinjauan Syari’ah Perkembangan dunia elektronik pada zaman sekarang sangat menggeliat bak jamur di musim hujan. Berbagai alat modern bermunculan menawarkan kemudahan yang sangat mengherankan dan membawa perubahan dalam gaya pola hidup manusia. Di antara alat elektronik yang sangat berkembang pesat adalah internet yang sekarang menghiasi perkantoran, sekolah, dan rumah bahkan sekarang bisa dengan mudah didapatkan lewat peranti genggam semisal HP (telepon genggam) atau komputer tablet. Kemajuan teknologi informatika ini bukan hanya mendatangkan berkah bagi dunia telekomunikasi saja. Keberkahannya kini dapat dirasakan oleh umat manusia dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Dan di antara aspek yang banyak diuntungkan oleh kemajuan teknologi ini ialah dunia bisnis. Pada zaman ini, Anda dapat membeli barang dari suatu toko di negara lain tanpa harus bersusah payah pergi ke sana. Semua proses penjualan, pembelian, hingga pembayaran dapat Anda lakukan secara langsung (online), sehingga bisnis terasa lebih mudah, efisien dan tanpa harus capek-capek keluar masuk toko. Demikian juga dengan pedagang, kemajuan ini sangat menguntungkan bagi mereka karena bisa menekan biaya dan jangkauan pemasaran juga lebih luas terbentang, biaya pemasaran kecil tetapi keuntungan melimpah. Nah, permasalahannya bagaimanakah hukum syar’i tentang bisnis online dan bagaimana rambu-rambu agama tentangnya sehingga tiBisnis Online Dalam Tinjauan Syari’ah 265
dak melanggar aturan agama?! Berikut ini kami ketengahkan pembahasan sederhana mengenainya. Semoga bermanfaat. Definisi Bisnis Online Berbagai definisi diberikan untuk bisnis online, namun definisi yang bagus adalah: “Sebuah transaksi bisnis barang atau jasa untuk tujuan komersial melalui media elektronik”.491 Hukum Bisnis Online Ada sebuah kaidah berharga yang perlu disampaikan di sini bahwa “asal segala mu’amalat urusan dunia hukumnya adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya.” Kaidah ini merupakan kaidah yang sangat agung, yaitu bahwa asal semua urusan mu’amalah duniawi adalah boleh sampai ada dalil yang melarangnya.492 Banyak sekali dalil-dalil al-Qur'an dan hadits yang menunjukkan kaidah berharga ini, bahkan sebagian ulama' menukil ijma’ (kesepakatan) tentang kaidah ini.493 Cukuplah dalil yang sangat jelas tentang masalah ini adalah sabda Nabi Muhammad n: « م ك و س ن س أ و ش ع ف ع مهِلآ ك و س عيلا ن و د س رهِلآ ل م و أ ع نهِلآ و ءهِلآ لم شر ع و نهِلآ ع ك ع عذاهِلآ ل ن إ و ءهِلآ لم شر ع و نهِلآ ع ك ع عذاهِلآ إ ل و ع ،هِلآ ل ع س إ ل ف ع مهِلآ ك و س يلن و رهِلآ لد ل م و أ ع »َو . “Apabila itu urusan dunia kalian maka itu terserah kalian, dan apabila urusan agama maka kepada saya.”494 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v berkata: “Sesungguhnya perbuatan manusia ada dua macam: ibadah dan adat duniawi. Berdasarkan 491 Al-Ahkamul Fiqhiyyah lit Ta’amulat Iliktruniyyah hlm. 117 oleh Dr. Abdurrahman as-Sanad 492 Lihat penjelasan tentang kaidah ini secara bagus dalam kitab al-Hawafiz atTijariyyah at-Taswiqiyyah hlm. 17–28 oleh Syaikhuna Dr. Khalid ibn Abdillah al-Mushlih. 493 Jami’ul ’Ulum wal Hikam 2/166 oleh Imam Ibnu Rajab 494 HR Ibnu Hibban 1/201 dan sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim. 266 Fiqih Kontemporer
penelitian saksama terhadap dalil-dalil syari’at, kita mengetahui bahwa ibadah yang diwajibkan oleh Allah tidak ditetapkan kecuali berdasarkan syari’at, sedangkan masalah adat manusia maka hukum asalnya tidak terlarang kecuali yang dilarang oleh Allah. Oleh karena itu, al-Imam Ahmad dan para ahli hadits menegaskan bahwa hukum asal dalam ibadah adalah terlarang hingga ada dalil tentang disyari’atkannya. Dan hukum asal masalah adat adalah boleh hingga ada dalil yang melarangnya. Ini adalah kaidah agung dan bermanfaat.”495 Dan karena bisnis online ini adalah masalah duniawi dan mu’amalat, hukum asalnya adalah boleh sebab internet tak lebih dari sekadar sarana bagi terjalinnya interaksi antara penjual dan pembeli. Hanya, metode pembayaran dan penyerahan barangnya sedikit berbeda. Oleh karenanya, para ulama' masa kini membolehkan hal ini. Majma’ Fiqih Islami dalam rapat mereka di Jeddah, Arab Saudi, pada Sya’ban 1410 H, menegaskan sebagai berikut: “Apabila terjadi sebuah akad antara dua orang yang tidak berkumpul dalam satu tempat, tidak saling melihat langsung namun melalui tulisan atau surat. Dan masuk dalam hal ini surat pos, telegram, internet, dan sebagainya, maka dalam keadaan ini akadnya sah ketika ijab kabul telah sampai kepada kedua belah pihak yang bersangkutan.”496 Macam-Macam Bisnis Online Bisnis online terbagi menjadi dua macam: 1. Jual beli barang, di mana si pembeli memilih barang yang ditawarkan, kemudian jika setuju untuk membelinya maka dia akan segera mengirimkan informasi tentang transaksi tersebut lalu membayarnya. Jika sudah dibayar maka penjual akan mengirimkan barang ke alamat pembeli. Bisa juga barang yang dibeli berupa sebuah program tertentu yang jika sudah terjadi transaksi maka penjual akan mengirimkan datanya untuk kemudian di-download oleh pembeli. 495 Al-Qawa’id an-Nuraniyyah al-Fiqhiyyah hlm. 163–165 secara ringkas 496 Lihat dalam Fiqih Nawazil 3/105 oleh Dr. Muhammad ibn Husain al-Jizani. Bisnis Online Dalam Tinjauan Syari’ah 267
2. Jual beli jasa. Jasa ini bermacam-macam bentuknya, seperti jasa booking pesawat atau hotel penginapan, atau jasa konsultasi dokter, dan sebagainya.497 Rukun-Rukun Bisnis Online Sebagaimana dalam jual beli maka bisnis online juga harus memenuhi tiga rukun jual beli: 1. Ijab dan qabul Hal itu karena transaksi harus dibangun di atas keridhaan kedua belah pihak. Allah berfirman: چٹ ڤ ڤ ڤ ڤ ڦ ڦ ڦ ڦ ڄ ڄ ڄ ڄ ڃ ڃڃچ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. (QS an-Nisa' [4]: 29) Namun, perlu diketahui bahwa tidak ada lafazh tertentu atau bahasa tertentu yang menunjukkan ijab kabul ini, semua itu dikembalikan kepada ’urf (kebiasaan) yang berlaku, sebab lafazh hanyalah sarana semata. Maka apa yang dianggap oleh manusia sebagai ijab kabul melalui internet yang menunjukkan keridhaan kedua belah pihak, maka itu sudah cukup.498 497 Al-Ahkamul Fiqhiyyah lit Ta’amulat Iliktruniyyah hlm. 128–129 oleh Dr. Abdurrahman as-Sanad 498 Lihat al-Muwafaqat 2/87 oleh asy-Syathibi, Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 29/13, Hukmu Ijra’il Uqud bi Wasa'il Ittishal Haditsah oleh Dr. Ibrahim Fadhil ad-Dabu, sebagaimana dalam Majalah Majma’ Fiqih Islami Edisi 6, Jilid 2 hlm. 841, tahun 1410 H. 268 Fiqih Kontemporer
2. Barang Barang tersebut harus memenuhi beberapa syarat berikut: 1. Harus ada; adapun jika barang tidak ada maka—dengan kesepakatan ulama'—tidak boleh. 2. Berupa barang atau jasa 3. Milik penjual; adapun jika bukan miliknya maka tidak boleh kecuali dengan izin pemiliknya. 4. Bisa diambil pembeli, sebab tidak boleh jual beli gharar (spekulasi). 5. Diketahui secara jelas oleh kedua pihak sehingga tidak menimbulkan sengketa. 3. Penjual dan pembeli Disyaratkan harus sebagai berikut: 1. Saling ridha; adapun jika terpaksa maka tidak boleh. 2. Mukallaf (baligh dan berakal) dan mengerti bisnis, maka tidak sah jika dari orang gila atau anak kecil yang belum mengerti. Pesan Penting!! Berbisnis melalui media internet telah terbukti sangat efektif, namun bukan berarti tanpa masalah dan kendala. Masalah dan kendala terbesar ialah jarak yang memisahkan antara kedua pihak pelaksana transaksi. Kenyataan ini memaksa kedua belah pihak untuk mengandalkan kepercayaan atau amanah rekan bisnisnya. Yang demikian itu dikarenakan media internet tidak memungkinkan keduanya menjalankan bisnis langsung, ada uang ada barang. Satu-satunya cara yang dapat ditempuh, salah satu pihak terlebih dahulu memenuhi kewajibannya. Biasanya pembeli melakukan pembayaran terlebih dahulu, untuk selanjutnya penjual mengirimkan barang yang diinginkan. Dan dalam keadaan tertentu, penjual rela terlebih dahulu mengirimkan barang dagangannya, sedangkan pembayaran baru dilakukan setelah barang diterima oleh pembeli. Bisnis Online Dalam Tinjauan Syari’ah 269
Kondisi semacam ini tentu cukup membuat anda khawatir. Betapa tidak, anda rentan menjadi korban penipuan orang yang kurang takut kepada siksa Allah. Boleh jadi, anda telah mentransfer uang pembayaran, tetapi barang yang Anda pesan tidak sesuai dengan yang anda inginkan, atau bahkan tak kunjung datang. Sebaliknya, bila anda sebagai pedagang dan terlebih dahulu mengirimkan barang sebelum menerima pembayaran sedikit pun, Anda pasti khawatir, janganjangan pembeli setelah menerima barang, tidak mengirimkan uangnya. Karena itu, hendaknya kita memperhatikan dua hal penting sebagai berikut: 1. Takut kepada Allah dan jujur Hendaknya anda bersikap jujur dalam menjalankan bisnis online ini. Ingatlah bahwa kejujuran adalah fondasi utama dalam mu’amalah dan kunci utama untuk meraih keberkahan dalam perniagaan. Rasulullah n bersabda: « نلا ع ي س ب ع و ع عقلاهِلآ د صع ع نهِلآ و إ ل ف ع عقلاهِلآ ر س ف ع ت ع ي ع عقلاهِلآ أوهِلآ قلالهِلآ حتهِلآ ر س ف ع ت ع ي ع لرهِلآ ملاهِلآ لمهِلآ لعيلا و بلا ل ل لنهِلآ ععلا ي ب ل و ع ا عملا له يلع و ب ع ةهِلآ س ك ع ر ع ب ع تهِلآ و ق ع م س عبلاهِلآ ل ذ ع ك ع و ع عملاهِلآ ت ع ك ع نهِلآ و إ ل و ع عملاهِلآ له يلع و ب ع عملاهِلآ فهِلآ ه س ل ع عكهِلآ ر ل بو س »َو . “Penjual dan pembeli itu memiliki hak khiyar (melanjutkan transaksi atau menggagalkan) selama belum berpisah. Apabila keduanya jujur dan saling terus terang maka jual belinya akan diberkahi, namun jika kedunya menyembunyikan dan berdusta maka akan dicabut keberkahan jual belinya.” (HR al-Bukhari: 2079, Muslim: 1532) Sebagai contoh, bila stok barang yang ada pada anda tidak sesuai dengan kriteria yang diminta oleh calon pembeli, maka katakanlah bahwa Anda tidak memiliki barang dengan spesifikasi yang ia inginkan. Cantumkanlah segala hal yang berkenaan dengan barang dagangan anda. Dengan demikian, rekan bisnis anda mendapatkan data tentang barang-barang Anda dengan lengkap. 270 Fiqih Kontemporer
Sebaliknya, janganlah sekali-kali kita melakukan penipuan dalam bentuk apa pun, seperti iklan yang tidak sesuai kenyataan, barang yang tidak Anda miliki, pembayaran yang tidak sesuai kesepakatan, dan sebagainya. Banyak sekali hadits Nabi n yang melarang hal ini, di antaranya sabda Nabi n kepada penjual makanan yang menampakkan barang yang bagus dan menyembunyikan barang yang jelek: « ن ب عسهِلآ لم ي و ل ع ف ع شهِلآ س غ ع سههِلآ اللاسهِلآ منهِلآ عرا ي ع عكهِلآ و ععلالمهِلآ ط س عقهِلآ ال و و ف ع ههِلآ س ت ع ل و ع ع ج ع لهِلآ ع ف ع أ ع »َو . “Kenapa kamu tidak letakkan barang yang jelek itu di bagian atas saja agar diketahui oleh pembeli. Barangsiapa yang menipu maka bukanlah dari golonganku.” (HR Muslim: 102) Para ulama' juga telah ijma’ tentang haramnya melakukan penipuan dalam transaksi jual beli, sebagaimana dinukil oleh al-Maziri,499 alAini,500 asy-Syaukani,501 dan lain-lain. 2. Berbisnis menurut aturan agama Islam dan undang-undang yang berlaku di masyarakat serta memiliki ketetapan hukum negara Di antara metode berbisnis melalui internet yang aman adalah dengan mengenali situs-situs yang aman dan tepercaya. Sebagaimana hal yang tidak sepatutnya anda lalaikan ialah barang-barang bukti transaksi. Dengan berbekal bukti-bukti yang diakui oleh undang-undang yang berlaku menjadikan anda merasa aman dan tidak mengkhawatirkan nasib hak-hak anda. Tidak heran bila jauh-jauh hari Allah Ta’ala menekankan pentingnya penulisan dan persaksian atas setiap akad dan transaksi yang kita jalin. Bahkan begitu pentingnya hal ini sampai-sampai Allah Ta’ala 499 Al-Mu’lim bi Fawa'id Muslim 2/248 500 Umdatul Qari 11/273 501 Nailul Authar 6/304 Bisnis Online Dalam Tinjauan Syari’ah 271
sebutkan pada ayat terpanjang dalam al-Qur'an, yaitu ayat 282 surat al-Baqarah.502 Bila metode ini anda penuhi, dengan izin Allah Ta’ala, anda tidak perlu khawatir dan risau tentang hak anda. Karena, bila partner bisnis anda ingkar janji, maka dengan berbekal surat-surat yang sah dan resmi itu, anda dapat menuntut hak anda melalui pihak yang berwenang. Karenanya, jangan anda gegabah ketika menjalankan transaksi via internet. Waspada dan selalu jeli, itulah sikap yang sebaiknya anda ambil. Demikianlah yang dapat kami uraikan di sini. Tentu ini hanyalah sekelumit tentang beberapa hal penting dalam bisnis online. Sejatinya, berbagai perincian hukumnya sama dengan hukum yang berlaku pada jual beli secara umum. Semoga paparan singkat ini bermanfaat bagi anda. Wallahu Ta’ala a’lam. Daftar Rujukan: 1. Al-Ahkam al-Fiqhiyyah lit Ta’amulat al-Iliktruniyyah. Dr. Abdurrahman ibn Abdullah as-Sanad. Darul Warraq, KSA, cet. ketiga, 1427 H. 2. “Transparan Tentang Bisnis Online”, tulisan Ustadz Muhammad Wasitho, Lc. dalam Majalah Pengusaha Muslim, Oktober 2010. 3. Al-Qawa’id an-Nuraniyyah al-Fiqhiyyah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Dar Ibnul Jauzi, KSA, cet. pertama, 1422 H. 502 Asy-Syaikh al-Allamah al-Muhaddits Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr telah menulis risalah khusus tentang tafsir ayat ini berjudul Fiqhu Ayat Dain. Silakan menelaahnya. 272 Fiqih Kontemporer
BAB MAKANAN Bab Makanan Bab Makanan 273
Hukum Alkohol Dalam Obat dan Makanan Hukum Alkohol Dalam Obat dan Makanan Tabiat manusia adalah suka untuk makan makanan dan minuman yang baru, memakai parfum untuk keharuman badan dan bajunya, meminum obat untuk kesembuhan penyakitnya. Namun, ada suatu masalah yang sering menjadi tanda tanya umat Islam pada zaman sekarang yaitu adanya kadar alkohol pada pembuatan obat-obatan, makanan dan parfum. Lantas bagaimanakah hukum sebenarnya, apakah najis dan haram karena adanya alkohol yang merupakan intisari khamr yang jelas-jelas diharamkan dalam syari’at Islam? Ataukah hal itu diperbolehkan lantaran kadar alkoholnya hanya sedikit yang larut dengan bahan-bahan lainnya?! Inilah masalah penting yang sekarang menjadi topik bahasan kita kali ini.503 Berikut ini kami akan berusaha untuk memaparkannya, apabila benar maka itu semata dari Allah dan apabila benar maka itu adalah dari keterbatasan kami. Semoga Allah menambahkan ilmu bagi kita semua dan masukan para pembaca bagi penulis sangatlah berharga dan istimewa. 503 Masa'il Mu’ashirah Mimma Ta'ummu Bihal Balwa, Nayif ibn Jam’an Juraidan, hlm. 185. 274 Fiqih Kontemporer
Sekilas Tentang Alkohol Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dikatakan bahwa alkohol adalah: 1 cairan tidak berwarna yang mudah menguap, mudah terbakar, dipakai di industri dan pengobatan, merupakan unsur ramuan yang memabukkan di kebanyakan minuman keras; C2H5OH; etanol; 2 senyawa organik dengan gugus OH pada atom karbon jenuh. Istilah alkohol digunakan untuk tiga hal: Pertama: Istilah alkohol untuk senyawa kimia yang memiliki gugus fungsional –OH, dan senyawanya biasanya diakhiri kata alcohol atau …nol. Kedua: Istilah alkohol biasa digunakan untuk menyebut etanol. Biasa ditemui dalam parfum, mouthwash, deodoran, kosmetik, dan sebagainya. Ketiga: Alkohol untuk minuman keras. Minuman ini biasanya disebut minuman beralkohol (alcohol beverage) atau alkohol saja. Sifatnya memabukkan. Di dalam minuman ini terdapat unsur etanol. Alkohol (etanol) diproduksi melalui dua cara: 1. Cara petrokimia (proses dari bahan bakar fosil) melalui hidrasi etilena. Etanol hasil hidrasi ini biasanya digunakan sebagai feedstock (bahan sintesis) untuk menghasilkan bahan kimia lainnya atau sebagai solvent (pelarut). 2. Cara biologis melalui fermentasi gula dengan ragi (yeast). Etanol yang dikomsumi manusia (seperti minuman beralkohol) diproduksi dengan cara fermentasi. Adapun fungsi dan kegunaan alkohol (etanol): 1. Sebagai pelarut (solvent), misalnya pada parfum, perasa, pewarna makanan dan obat-obatan. 2. Sebagai bahan sintesis (feedstock) untuk menghasilkan bahan kimia lain, contohnya sebagai feedstock dalam pembuatan asam asetat (sebagaimana yang terdapat dalam cuka) Hukum Alkohol Dalam Obat dan Makanan 275
3. Sebagai bahan bakar alternatif. Bahan bakar etanol telah banyak dikembangkan di negara Barat sejak mereka mengalami krisis energi. 4. Untuk minuman beralkohol (alcohol beverage) 5. Sebagai penangkal racun (antidote) 6. Sebagai penangkal infkesi (antiseptic) 7. Sebagai deodoran (penghilang bau busuk/tidak enak)504 Najiskah Alkohol Itu? Alkohol adalah intisari khamr dan memiliki hukum khamr.505 Namun, apakah alkohol itu najis ataukah suci? Masalah ini kembali kepada masalah khamr. Khamr adalah setiap makanan atau minuman yang memabukkan baik benda cair atau padat. Hukumnya adalah haram berdasarkan dalil-dalil berikut: 1. Dalil al-Qur'an چٱ ٻ ٻ ٻ ٻ پ پ پ پ ڀ ڀ ڀ ڀ ٺ ٺ ٺچ Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS al-Ma'idah [5]: 90) 504 Menjawab Kerancuan Seputar Alkohol, Muhammad Abduh Tuasikal, hlm. 24–28. 505 Ini merupakan pendapat mayoritas ulama' kontemporer dan ditegaskan oleh Lajnah Da'imah yang diketuai oleh asy-Syaikh Ibnu Baz dalam Fatawa Lajnah Da'imah 22/107. Berbeda dengan asy-Syaikh Muhammad Rasyid Ridha dan sebagian ulama' lainnya yang menyatakan bahwa alkohol tidak termasuk hukum khamr. (Fatawa asy-Syaikh Muhammad Rasyid Ridha 4/1629–1630) 276 Fiqih Kontemporer
2. Dalil hadits Rasulullah n bersabda: « ر خر وع رهِلآ ن س لك و م س سككهِلآ م ر حعرا ع رهِلآ ن س لك و م س سككهِلآ و ع ،هِلآ »َو . “Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap khamr hukumnya haram.”506 3. Dalil ijma’ Al-Imam an-Nawawi v berkata: “Khamr hukumnya haram berdasarkan al-Qur'an, hadits mutawatir, dan ijma’.”507 4. Akal sehat Al-Hafizh Ibnu Rajab v berkata: "Ketahuilah seandainya saja tidak ada dalil yang menegaskan bahwa minum khamr adalah haram, tentunya akal yang sehat akan menganggapnya buruk. Bagaimana tidak, bukankah khamr akan merusak akal seorang sehingga menjadikannya seperti binatang, bahkan lebih jelek dari binatang, di antara mereka ada yang (ketika mabuk) bermain dengan najis, air muntah dan kotoran … Oleh karena itu, banyak di antara orang-orang jahiliyyah sebelum Islam yang mengharamkan khamr".508 Berdasarkan dalil-dalil di atas maka sangat jelaslah bagi kita bahwa khamr hukumnya adalah haram. Namun apakah khamr itu najis?! Masalah ini diperselisihkan ulama' sebagai berikut: Pendapat pertama: Najisnya khamr. Ini merupakan pendapat mayoritas ahli fiqih,509 mereka berdalil dengan beberapa dalil, di antara dalil mereka yang paling kuat adalah firman Allah: 506 HR Muslim: 5336 507 Raudhatuth Thalibin: 1769. 508 Risalah fi Dzammil Khamr hlm. 281 509 Lihat Bada'i’ush Shana'i’ 1/66, Bidayatul Mujtahid 1/90, al-Majmu’ 2/563, alMughni 2/503. Hukum Alkohol Dalam Obat dan Makanan 277
چٱ ٻ ٻ ٻ ٻ پ پ پ پ ڀ ڀ ڀ ڀ ٺ ٺ ٺچ Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS al-Ma'idah [5]: 90) Dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa khamr adalah rijs yaitu najis. Pendapat kedua: Khamr tidak najis. Ini adalah pendapat Rabi’ah ibn Abdurrahman yang terkenal dengan Rabi’ah Ra'yi, Laits ibn Sa’ad al-Mishri al-Faqih, Isma’il ibn Yahya al-Muzani shahabat al-Imam asy-Syafi’i, dan masih banyak lagi dari para ulama' mutaakhirin dari Baghdad dan Qurawiyyah; mereka berpendapat bahwa khamr adalah suci sekalipun haram diminum.510 Pendapat ini dikuatkan oleh beberapa dalil, di antaranya: يهِلآ ب ر ل د و ل و س يندهِلآ ا و سلع ع لبهِلآ و أ ع نهِلآ و ع a ع لهِلآ ا للهِلآ ع و و س س ر ع تهِلآ س ع و سلم ع لهِلآ ع عقلا ب س ط n يس ع و لهِلآ « ع عقلا ينلةهِلآ و ملد ع ل و ل ل بلا س ع ع ل ع و ع رهِلآ ل م و ل و ع بلا ل ضهِلآ س ر ب ع ع ي س علهِلآ لا ع تع ع علهِلآ سنهِلآ ا إ ل سهِلآ س سللا عهلاهِلآ ا ي ك أ ع عيلاهِلآ ع و تلف ع ن و ل و ع و ع ههِلآ س ع و ب ل ي ع ل و ف ع ءهِلآ شر ع و عهلاهِلآ ن و ههِلآ لم س د ع ن و نهِلآ لع ع ك ع نهِلآ و م ع ف ع دراهِلآ م و أ ع عهلاهِلآ ي و لهِلآ لف س ن و ل ي س س ع سلهِلآ ا بله ل لبهِلآ ل ك س لهِلآ ا ع عقلا تهِلآ س ح ع ودياهِلآ ي لس ع لهِلآ س إ ل عنلاهِلآ ث و ل ع ل عملاهِلآ ف ع لهِلآ ع عقلا »َو .هِلآ nهِلآ « ل ع ععلا ت ع علهِلآ سنهِلآ ا إ ل ب ش و ع و ي ع لهِلآ ع ف ع ءهِلآ شر ع و عهلاهِلآ ن و ههِلآ لم س د ع ن و ولع ع ةهِلآ س ي ع ه لذلههِلآ ال ع ههِلآ س ت و ك ع ر ع د و أ ع نهِلآ و م ع ف ع رهِلآ ع م و ل و ع عمهِلآ ا ر حس ع ع و ب ل ي ع لهِلآ ع و لق ع ي و ر ل ط ع لفهِلآ و عهلاهِلآ ن و ههِلآ لم س د ع ن و نهِلآ لع ع ك ع عملاهِلآ ب ل سهِلآ س سللا علهِلآ ا ب ع ق و ت ع س و لا ع لهِلآ ف ع عقلا »َو .هِلآ عهلاَو . و ك و س ف ع س ع ف ع نلةهِلآ ع ي و ملد ع ل و ا Dari Abu Sa’id al-Khudri a berkata: Saya mendengar Nabi n berkhotbah di Madinah bersabda: “Wahai manusia, 510 Al-Jami’ li Ahkamil Qur'an, al-Qurthubi, 6/88. 278 Fiqih Kontemporer
sesungguhnya Allah telah menyinggung khamr dan barangkali Allah akan menurunkan wahyu tentangnya, maka barangsiapa yang mempunyai khamr, hendaknya dia menjualnya dan memanfaatkannya.” Tak lama kemudian Nabi n bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamr, maka barangsiapa yang mengetahui ayat ini sedangkan dia mempunyai khamr, maka janganlah dia meminum dan menjualnya.” Lalu (para shahabat) yang memiliki khamr menyambut di jalan-jalan kota Madinah, lalu mereka menumpahkannya. 511 Dalam hadits ini terdapat faedah penting yaitu isyarat tentang sucinya khamr sekalipun haram hukumnya. Sebab, seandainya khamr tidak suci, niscaya para shahabat tidak akan menuangkannya di jalan-jalan dan tempat lalu lalangnya banyak orang, tetapi mereka akan membuangnya ke tempat yang jauh sebagaimana lazimnya barang-barang najis lainnya.512 Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani v berkata: “Inilah pendapat yang kuat513 berdasarkan kaidah ‘asal segala sesuatu adalah suci’, sedangkan tidak ada dalil yang memalingkannya.”514 Adapun maksud kata rijs dalam ayat yang digunakan oleh pendapat pertama, maka maksudnya bukanlah kotor secara hakikatnya tetapi bersifat maknawi, karena kata tersebut diiringkan dengan judi, berhala, dan undian, yang tidak disifatkan dengan najis secara hakikatnya. Dalilnya firman Allah: چى ئا ئا ئە ئە ئو ئو ئۇ چ 511 HR Muslim 5/39 512 Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, al-Albani, 5/460. 513 Pendapat tidak najisnya khamr dikuatkan juga oleh asy-Syaukani dalam adDarari al-Mudhiyyah hlm. 22, ash-Shan’ani dalam Subulus Salam 1/50, Ahmad Syakir dalam Ta’liq al-Muhalla 1/192, Ibnu Utsaimin dalam asy-Syarhul Mumti’ 1/366. 514 Tamamul Minnah hlm. 55 Hukum Alkohol Dalam Obat dan Makanan 279
Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang kotor dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. (QS al-Hajj [22]: 30) Patung-patung (berhala) adalah kotor secara maknawi, tetapi tidak najis menyentuhnya.515 Kaidah Berharga dan Kunci Jawaban Untuk sampai kepada status hukumnya, kami memandang penting untuk mengingatkan para pembaca dengan kaidah istihalah516 dan istihlak yang merupakan kunci jawaban masalah ini, kami katakan: Maksudnya isitihalah atau istihlak di sini adalah bercampurnya benda haram atau najis dengan benda lainnya yang suci dan halal yang lebih banyak sehingga menghilangkan sifat najis dan keharamannya, baik rasa, warna, dan baunya. Apakah benda najis yang terkalahkan oleh benda suci tersebut bisa menjadi suci? Pendapat yang benar adalah bisa menjadi suci,517 berdasarkan dalil berikut: « ث ع ب لع و ع للهِلآ ا يلم ع و مهِلآ و ل ع يهِلآ و ل ت ع ل س ق س ءهِلآ س عملا ل و عغهِلآ ا ل ع ب ع عذاهِلآ إ ل »َو . “Apabila air telah mencapai dua qullah maka tidak najis.”518 Hadits ini menunjukkan bahwa benda yang najis atau haram apabila bercampur dengan air suci yang banyak, sehingga najis tersebut lebur tak menyisakan warna atau baunya maka dia menjadi suci. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v berkata: “Barangsiapa yang memperhatikan 515 Lihat Jami’ul Bayan 10/155 oleh ath-Thabari. 516 Lihat masalah ini secara luas dalam al-Istihalah wa Ahkamuha fil Fiqhil Islami oleh Dr. Qadhafi Azzat al-Ghananim. 517 Ini merupakan madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, Zhahiriyyah, dan dikuatkan oleh Ibnu Taimiyyah. Dan sebagian ulama' dari sebagian Hanafiyyah dan Malikiyyah berpendapat bahwa istihalah tidak menyucikan. Lihat penjelasan dan argumennya secara lebih luas dalam Tathhirun Najasat wal Intifa’ Biha hlm. 72 oleh Shalih ibn Manshur alu Musallam. 518 Shahih. Lihat Irwa'ul Ghalil: 23 oleh al-Albani. 280 Fiqih Kontemporer
dalil-dalil yang disepakati dan memahami rahasia hukum syari’at, niscaya akan jelas baginya bahwa pendapat ini paling benar, sebab najisnya air dan cairan tanpa bisa berubah sangat jauh dari dalil dan logika.”519 Oleh karenanya, seandainya ada seorang yang meminum khamr yang bercampur dengan air yang banyak sehingga sifat khamr-nya hilang maka dia tidak dihukumi minum khamr. Demikian juga bila ada seorang anak bayi diberi minum air susu yang telah bercampur dengan air yang banyak sehingga sifat susunya hilang maka dia tidak dihukumi sebagai anak persusuannya.520 Alkohol Pada Obat dan Makanan Dengan memahami beberapa pembahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa: 1. Alkohol bukanlah benda najis, maka boleh digunakan untuk pemakaian luar (bukan diminum) seperti untuk pembersih luka dan pembunuh bakteri dan boleh minyak wangi. 2. Adapun penggunaannya untuk minuman dan makanan atau obat yang diminum maka hal itu diperinci sebagai berikut: Pertama: Apabila kadar alkoholnya banyak sehingga masih memiliki pengaruh memabukkan maka hukumnya haram karena itu termasuk khamr. Kedua: Apabila kadar alkoholnya sedikit sehingga larut dengan bahan-bahan pembuatan alkohol lainnya maka hukumnya boleh karena dia bukan lagi dihukumi khamr karena tidak memabukkan. Namun, bolehnya ini apabila tidak membahayakan; apabila membahayakan seperti bagi anak kecil atau ibu hamil maka hukumnya tidak boleh. Inilah pendapat para peneliti masalah ini yang tenteram di hati penulis, di antara519 Majmu’ Fatawa 21/508, al-Fatawa al-Kubra 1/256. 520 Al-Fatawa al-Kubra, Ibnu Taimiyyah, 1/423; Taqrirul Qawa’id, Ibnu Rajab, 1/173. Hukum Alkohol Dalam Obat dan Makanan 281
nya adalah Ibnu Qudmah,521 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,522 asy-Syaikh Muhammad ibn Shalih al-Utsaimin,523 Syaikhuna524 Masyhur ibn Hasan Alu Salman,525 Dr. Abdullah ath-Thariqi,526 Dr. Nazih Hammad,527 Dr. Qadhafi Azzat al-Ghananim,528 dan lainnya masih banyak lagi. Hal yang mendasari halalnya hal ini sekalipun mengandung alkohol karena yang diharamkan adalah makanan/minuman yang dalam jumlah besar memabukkan maka sekalipun jumlahnya kecil tetap diharamkan, sesuai dengan sabda Nabi n: « رام حع ع ههِلآ س ل س قللي ع ف ع ههِلآ يس س كلث ع رهِلآ كع ع س و أ ع عملاهِلآ »َو . “Sesuatu yang memabukkan dalam jumlah besar maka hukumnya haram sekalipun dalam jumlah kecil.” (HR Abu Dawud dan dinyatakan shahih oleh al-Albani) Kenyataannya, makanan ini tidak memabukkan bila dikonsumsi dalam jumlah besar, dengan demikian maka hukumnya halal dan boleh diperjualbelikan. Dan juga makanan ini sudah ada semenjak za521 Al-Mughni 7/498 522 Majmu’ Fatawa 11/501 523 Liqa' Bab Maftuh 1/240, kumpulan ath-Thayyar, terbitan Darul Wathan. 524 Pada acara daurah 22 Syawwal 1430 H di Mojokerto yang lalu, penulis mengajukan pertanyaan kepada beliau: “Bolehkah mengatakan ‘Syaikhuna Masyhur’ bagi seorang yang mengikuti karya-karya beliau dan mengikuti daurahnya padahal tidak belajar dan duduk lama bersama beliau di Yordania?” Beliau menjawab—kesimpulannya—: “Boleh dengan syarat ikhlash dan tidak sombong, karena Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan dalam Majmu’ Fatawa 11/512: ‘Siapa saja yang memberikan faedah kepadamu maka dia adalah gurumu.’” (Lihat VCD Dauroh ke-10, bagian Liqa' Maftuh). Bahkan, di luar majelis, kami pribadi meminta izin beliau apabila menukil ucapan beliau untuk menulis “Syaikhuna”, dan alhamdulillah, beliau memberikan izin kepada kami. Semoga Allah membalas kebaikan kepada beliau. 525 Sebagaimana penulis tanyakan kepada beliau dalam Liqa' Maftuh pada acara daurah di Mojokerto 22 Syawwal 1430 H. 526 Al-Idhtirar ila Ath’imah wal Adwiyah Muharramah hlm. 231–236 527 Al-Mawad al-Muharramah wa Najisah fil Ghidza' wad Dawa' hlm. 47–56 528 Al-Istihalah wa Ahkamuha fil Fiqhil Islami hlm. 208–209 282 Fiqih Kontemporer
man Rasulullah n, namun beliau tidak melarangnya. Dengan demikian maka halal hukumnya.529 Apakah Alkohol Ada Penggantinya? Sekalipun demikian, tetap kami katakan bahwa merupakan PR bagi para ahli kimia, produsen dan ahli kedokteran muslim untuk berusaha membersihkan obat-obat, makanan dan alat kosmetik dari alkohol dengan menggantinya dengan bahan-bahan lainnya seperti air dan bahan-bahan lainnya agar lebih selamat dari perselisihan tentang masalah ini. Dan termasuk kaidah fiqih yang disebutkan ulama' adalah “keluar dari perselisihan itu dianjurkan”.530 Bukankah kaum muslimin generasi dahulu sudah mengenal alkohol, namun mereka bisa menggunakan makanan dan obat-obatan tanpa alkohol? Mengapakah sekarang kita tidak bisa kalau memang demikian adanya?! Sekali lagi, ini adalah PR buat para ahli yang bersangkutan untuk menyelamatkan kaum muslimin dari keraguan. Adakah yang mau mendengarkan seruan ini?!!531 Daftar Rujukan: 1. Al-Istihalah wa Ahkamuha fil Fiqhil Islami. Dr. Qadhafi Azzat alGhananim. Dar Nafa'is, Beirut, cet. pertama, 1428 H. 2. Al-Idhtirar ila al-Ath’imah al-Muharramah. Dr. Abdullah ibn Muhammad ath-Thariqi. Maktabah al-Ma’arif, KSA, cet. pertama, 1413 H. 3. Tathhirun Najasat wal Intifa’ Biha. Shalih ibn Manshur alu Musallam. Darul Fadhilah, KSA, cet. pertama, 1432 H. 4. Ahkamul Adwiyah fi Syari’ah Islamiyyah. Dr. Hasan ibn Ahmad al-Fakki, Cet Darul Minhaj, KSA, cet. pertama, 1425 H. 5. Al-Mawad al-Muharramah wa Najasah fil Ghidza' wad Dawa'. Dr. Nazih Ahmad. Darul Qalam, Damaskus, cet. pertama, 1425 H. 6. Fiqh Shaidali Muslim. Dr. Khalid Abu Zaid ath-Thamawi. Dar Shuma’i, KSA, cet. pertama, 1428 H. 529 An-Nawazil fi Thaharah, al-Qarafi, 1/449; dinukil dari Harta Haram Muamalat Kontemporer hlm. 80 oleh Dr. Erwandi Tarmizi. 530 Al-Asybah wan Nazha'ir, as-Suyuthi, 1/296. 531 Lihat Fiqh Shaidali Muslim hlm. 89–91 oleh Dr. Khalid Abu Zaid. Hukum Alkohol Dalam Obat dan Makanan 283
284 Fiqih Kontemporer
Melacak Status Hukum Kopi Luwak Melacak Status Hukum Kopi Luwak Beberapa waktu yang lampau, ramai dibicarakan di media tentang masalah status hukum kopi luwak, apakah halal ataukah haram. Pasalnya, kopi khas Indonesia yang terkenal sangat mahal tersebut532 ternyata—setelah diselidiki proses pembuatannya—adalah dari hewan luwak (sejenis musang) memakan buah kopi yang matang lalu bijinya dikeluarkan bersama kotorannya, lalu biji-biji tersebut dibersihkan. Nah, apakah karena prosesnya yang seperti itu menjadikan kopi jenis ini najis alias haram?!! MUI telah mempelajari dan menyelidiki masalah ini lalu menyimpulkannya halal.533 Hanya, masih ada sebagian orang mempertanyakan tentang kebenaran fatwa MUI tersebut. 532 Diberitakan bahwa harga kopi luwak ini secangkirnya 100 ribu rupiah. Bahkan di Amerika bisa dijual dengan harga kurang lebih 300 ribu rupiah. Mirip hal ini adalah liur burung walet. Demikianlah kehendak dan keajaiban Allah pada sebagian makhluk-Nya. Hal ini mengingatkan penulis pada apa yang disebutkan oleh ulama' bahwa darah kijang bisa menjadi minyak kesturi yang sangat harum!!! (Lihat Diwan al-Mutanabbi 2/21 dan asy-Syarhul Mumti’ 1/98 oleh Ibnu Utsaimin.) 533 Teks fatwa MUI tersebut sebagai berikut: 1. Kopi Luwak sebagaimana dimaksud dalam ketentuan umum adalah mutanajjis (barang terkena najis), bukan najis. 2. Kopi Luwak sebagaimana dimaksud dalam ketentuan umum adalah halal setelah disucikan. 3. Mengonsumsi Kopi Luwak sebagaimana dimaksud angka 2 hukumnya boleh. 4. Memproduksi dan memperjualbelikan Kopi Luwak hukumnya boleh. Melacak Status Hukum Kopi Luwak 285
Oleh karena itu, kami memandang perlu untuk menulis pembahasan ini sebagai keterangan bagi kaum muslimin semuanya. Semoga bermanfaat. Hukum Kopi Ketahuilah wahai saudaraku seiman—semoga Allah merahmatimu —bahwa asal hukum segala jenis makanan baik dari hewan, tumbuhan, laut maupun daratan adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkannya.534 Allah berfirman: چې ى ى ئا ئا ئە ئە ئوچ Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi. (QS al-Baqarah [2]: 168) Tidak boleh bagi seorang pun untuk mengharamkan suatu makanan kecuali berlandaskan dalil dari al-Qur'an dan hadits yang shahih dan apabila seorang mengharamkan tanpa dalil, maka dia telah membuat kedustaan tentang Allah. Memang pada awal munculnya, kopi banyak diperdebatkan oleh ulama', bahkan banyak tulisan tentangnya. Ada yang mengharamkannya karena dianggap memabukkan dan ada yang menghalalkan karena asal minuman adalah halal.535 Namun, dengan berjalannya waktu, pendapat yang mengharamkan itu hilang dan para ulama'- pun bersepakat tentang halalnya kopi.536 Sampai-sampai al-Hajawi mengatakan setelah menyebutkan perselisihan ulama' tentang hukum kopi: “Orang yang mengharamkan kopi tidaklah memiliki alasan yang ilmiyyah sama sekali.” 537 534 Lihat al-Qawa’id an-Nuraniyyah hlm. 112 oleh Ibnu Taimiyyah dan Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 21/542. 535 Asy-Syaikh Abdul Qadir ibn Muhammad al-Jazuri menulis sebuah kitab berjudul ’Umdah Shafwah fi Hilli Qahwah. Dalam kitab tersebut beliau menjelaskan secara detail tentang halalnya kopi. 536 Sebagaimana dikatakan oleh Mar'i al-Karmi dalam Tahqiq Burhan fi Sya'ni Dukhan hlm. 154. 537 Ghamzu ’Uyunil Basha'ir 4/355. Lihat pula muqaddimah Syaikhuna Masyhur 286 Fiqih Kontemporer
Haramkah Luwak? Luwak adalah binatang sejenis musang. Ia adalah binatang pengecut dan sangat licik. Dengan kelicikannya dia sering bisa bersama para binatang buas menyeramkan lainnya. Di antara keajaiban kelicikannya dalam mencari rezeki dia berpura-pura mati dan melembungkan perutnya serta mengangkat kaki dan tangannya agar disangka mati. Kalau ada hewan yang mendekatinya, seketika itu dia langsung menerkamnya.538 Tentang hukum memakannya, para ulama' berselisih pendapat: Pendapat pertama: Boleh. Ini adalah madzhab Syafi’i dan salah satu riwayat dari al-Imam Ahmad. Alasannya, karena ia bukan termasuk binatang buas yang menyerang dengan taringnya. Pendapat kedua: Haram. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan pendapat yang masyhur dalam madzhab Ahmad. Alasannya, karena musang termasuk binatang buas yang diharamkan dalam hadits. ةهِلآ ع ر ع ي و ر ع ه س لبهِلآ و أ ع نهِلآ و ع a ع لبهِلآ ل ب س لنهِلآ ا ع n ع ل ع عقلا ع :هِلآ « بلا لع س ب عنهِلآ ال نبهِلآ لم عنلا يهِلآ و سككهِلآ لذ م ر حعرا ع ههِلآ س ل س ك و أ ع ف ع »َو . Dari Abu Hurairah a dari Nabi n bersabda: “Setiap binatang buas yang bertaring maka memakannya adalah haram.”539 Pendapat yang kuat bahwa musang hukumnya haram, karena musang termasuk binatang buas yang dilarang dalam hadits. Wallahu A’lam. 540 ibn Hasan alu Salman terhadap risalah Tausi’ah Mas’a hlm. 17–21. 538 Miftah Dar Sa’adah, Ibnul Qayyim, 2/153. 539 HR Muslim: 1933 540 Diringkas dari al-Ath’imah hlm. 62–63 oleh asy-Syaikh Shalih ibn Fauzan alFauzan. Melacak Status Hukum Kopi Luwak 287
Najiskah Kotoran Luwak? Masalah ini merupakan cabang dari permasalahan yang sebelumnya, karena para ulama' menjelaskan bahwa kotoran binatang terbagi menjadi dua: 1. Kotoran binatang yang dagingnya haram dimakan. Hukumnya najis dengan kesepakatan ulama'.541 2. Kotoran binatang yang dagingnya halal dimakan. Hukumnya diperselisihkan ulama'. Sebagian ulama' berpendapat najis, sedangkan sebagian ulama' lainnya berpendapat tidak najis dan inilah pendapat yang kami pilih karena kuatnya dalil-dalil mereka serta sesuai dengan kaidah asal. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v berkata: “Adapun kencing dan kotoran binatang yang dagingnya dimakan, maka mayoritas salaf berpendapat bahwa hal itu tidaklah najis. Ini merupakan madzhab Malik, Ahmad, dan selainnya. Dan bahkan dikatakan: Tidak ada seorang pun shahabat yang berpendapat najis. Kami telah memaparkan masalah ini secara panjang lebar dalam kitab khusus dengan memaparkan belasan dalil bahwa hal itu (kencing dan kotoran hewan yang dagingnya dimakan) tidak termasuk najis.” 542 Hukum Kopi Luwak Setelah melalui beberapa pembahasan di atas, sekarang kita akan membahas pokok permasalahan kita yaitu tentang status hukum kopi luwak. 541 Al-Mabsuth, as-Sarakhsi, 1/60; al-Qawanin al-Fiqhiyyah, Ibnu Juzai, hlm. 27; alKafi, Ibnu Qudamah, 1/97. 542 Majmu’ Fatawa 21/613–615 288 Fiqih Kontemporer
1. Gambaran permasalahan Sebelum melangkah lebih lanjut, kita perlu mengetahui gambaran permasalahan yang sedang kita bicarakan ini, sebab sebagaimana kata para ulama' kita: رله ل و صب ع ت ع نهِلآ و ع ع عهِلآ ر ر و ف ع سشلءهِلآ و ععهِلآ ال ع مهِلآ كس و ل و س ا “Mengukumi sesuatu itu adalah cabang dari gambarannya.”543 Kopi luwak yaitu buah kopi matang yang dimakan oleh luwak, kemudian dikeluarkan sebagai kotoran luwak, tetapi biji-biji kopi tersebut tidak tercerna sehingga bentuknya masih dalam bentuk biji kopi. Jadi, di dalam perut musang biji kopi mengalami proses fermentasi dan dikeluarkan lagi dalam bentuk biji bersama dengan kotoran luwak. Selanjutnya, biji kopi luwak dibersihkan dan diproses seperti kopi biasa. 2. Kaidah-kaidah fiqih seputar masalah Ada beberapa kaidah fiqih yang dapat kita terapkan dalam masalah ini: a. Asal makanan adalah halal Kaidah sudah kita sebutkan di atas, bahwa: ة س ر ع عهلا ط س لنهِلآ ال عيلا ع و ل ع لفهِلآ ا لهِلآ س ص و ل ع ا “Asal hukum segala jenis makanan adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkannya.”544 Al-Imam asy-Syafi’i v berkata: “Asal hukum makanan dan minuman adalah halal kecuali apa yang diharamkan oleh Allah dalam 543 Lihat al-Ushul al-Amah wal Qawa’id al-Jami’ah lil Fatawa Syar’iyyah hlm. 18 oleh Dr. Husain ibn Abdul Aziz alusy Syaikh. 544 Lihat al-Qawa’id an-Nuraniyyah hlm. 112 oleh Ibnu Taimiyyah dan Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 21/542. Melacak Status Hukum Kopi Luwak 289
Qur'an-Nya atau melalui lisan Rasulullah n, karena apa yang diharamkan oleh Rasulullah n sama halnya dengan pengharaman Allah.”545 Demikianlah, dalam masalah ini hukum asalnya adalah boleh dan halal sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya. Kita tetap dalam keyakinan ini sampai datang bukti dan dalil kuat yang dapat memalingkan kita dari kaidah asal ini, adapun sekadar keraguan maka tidak bisa. b. Hukum itu berputar bersama sebabnya Termasuk kaidah fiqih yang berkaitan dengan masalah ini adalah: دملا د ع ع ع و ع دداهِلآ و و ج س و س للتلههِلآ س عهِلآ لع ع م ع رهِلآ س و و د س ي ع مهِلآ كس و ل و س ا “Hukum itu berputar bersama sebabnya, ada dan tidaknya.”546 Dalam masalah kopi luwak, alasan bagi yang melarangnya adalah adanya najis. Namun, tatkala najis tersebut sudah hilang dan dibersihkan maka hukumnya pun menjadi suci. c. Istihalah547 Termasuk kaidah yang sangat berkaitan erat dengan masalah ini adalah kaidah istihalah dan membersihkan benda yang terkena najis: ل ك ح ع م ع ل و عرهِلآ ا ه س ط ع نلهِلآ ي و ز ل م س يهِلآ ب أ ع ب ل تهِلآ و ل ع عزا عذاهِلآ إ ل ةهِلآ س س ع عجلا ل س ا “Benda najis apabila dibersihkan dengan pembersih apa pun maka menjadi suci.”548 545 Al-Umm 2/213 546 Lihat Mughni Dzawil Afham hlm. 174 oleh Ibnu Abdil Hadi, I’lamul Muwaqqi’in 4/135 oleh Ibnu Qayyim. 547 Lihat masalah ini dalam kitab al-Istihalah wa Ahkamuha fil Fiqhil Islami oleh Dr. Qadhafi Azzat al-Ghananim. 548 Lihat Majmu’ Fatawa 21/474, Hasyiyah Ibni Abidin 1/311, asy-Syarhul Mumti’ 1/424. 290 Fiqih Kontemporer
Nah, tatkala biji kopi luwak yang bercampur dengan kotoran tersebut memang sudah dibersihkan, lantas kenapa masih dipermasalahkan lagi?! 3. Masalah-masalah serupa dalam fiqih Sebenarnya masalah kopi luwak ini dapat kita kaji melalui pendekatan masalah-masalah yang mirip dengannya yang biasa dikenal dengan istilah asybah wa nazha'ir. Ada beberapa masalah yang dapat kita jadikan sebagai pendekatan dengan masalah ini, yaitu: a. Bila hewan mengeluarkan biji Pendekatan yang paling mirip adalah apa yang dikatakan oleh para ulama' fiqih yang menerangkan jika ada hewan memakan biji tumbuhan kemudian dapat dikeluarkan dari perut, jika kondisinya tetap —sehingga sekiranya ditanam dapat tumbuh549—maka tetap suci. AlImam an-Nawawi v berkata: ل لس سمهِلآ ا ه لحس ع ر ع عنلاهِلآ ب س ص عحلا و أ ع لهِلآ ع عقلا ن و جهِلآ لم ع ر خع ع و ع ببلاهِلآ ح ع ةهِلآ س م ع ي و لله و ع ل لتهِلآ ا ع ك ع أ ع عذاهِلآ إ ل :هِلآ دحلا ي و ص لح ع عهلاهِلآ طلن و ب ت ع ع ب ع ن ع عهِلآ ع ر ل ز س وهِلآ و ل ع ثهِلآ س ي و لب ع ةهِلآ د ي ع عبلالق ههِلآ س ت س ب لع ع ص ع تهِلآ و ن ع ك ع نهِلآ و إ ل ف ع ،هِلآ ، سلةَو . ع عجلا ل س عقلالةهِلآ ا ل ع م س رلههِلآ لل ل عظلا له لهِلآ س س و غ ع بهِلآ ي س ع ل نهِلآ ل لك و ل ةهِلآ ر ر ع عطلا له ههِلآ س ن س ي و ع ع ف ع “Para shahabat kami (ulama' madzhab Syafi’i)—semoga Allah merahmati mereka— mengatakan: ‘Jika ada hewan memakan biji tumbuhan kemudian dapat dikeluarkan dari perut, jika kekerasannya tetap dalam kondisi semula, yang sekiranya jika ditanam dapat tumbuh maka tetap suci tetapi harus disucikan bagian luarnya karena terkena najis.’” 550 549 Dan penelitian LP POM MUI membuktikan bahwa secara umum biji kopi yang keluar dari kotoran luwak tidak berubah serta dapat tumbuh jika ditanam. 550 Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab 2/409. Lihat pula al-Mughni 13/347 oleh Ibnu Qudamah dan al-Mantsur fil Qawa’id 2/333–334 oleh az-Zarkasyi, Raudhatuth Thalibin 1/18 oleh an-Nawawi. Melacak Status Hukum Kopi Luwak 291