b. Telur yang masih dalam bangkai Masalah lain yang mirip dengan permasalahan ini adalah masalah telur yang berada di bangkai ayam, apakah najis ataukah tidak, pendapat yang kuat bahwa apabila telur sudah berkulit dan terpisah maka hukumnya suci. Al-Imam Ibnu Qudamah v berkata: ة س ج ع عجلا ل س وتهِلآ ا ت ع عملا نهِلآ و إ ل و ع شعهلا س و بهِلآ لق ع ل س ص ع دهِلآ و ق ع ةهِلآ ر ض ع ي و ب ع عهلاهِلآ طلن و ب ع لفهِلآ و ل ،هِلآ ه ع ع ف ع ،هِلآ للا ع ع و ع رهِلآ ل نلذ و م س ل و لنهِلآ ا ب و عوا يلةهِلآ س سشلالفلع ع لضهِلآ ال و ب ع و ع ةهِلآ ع ف ع حلني ع لبهِلآ أ ع لهِلآ س و و ق ع عذاهِلآ ه ل و ع ةَو .هِلآ ر ر ع عطلا له ش و ل للق و سةهِلآ ا ب ع ل و ص س ةهِلآ ر ض ع ي و ب ع عهلاهِلآ ن س أ ع عهلا ي و ل ع ع ع ةهِلآ س س ع عجلا ل س وتهِلآ ا أ ع ر ع ط ع ،هِلآ و و ل ع عملاهِلآ ههِلآ ع ب ع ش و أ ع ف ع ،هِلآ ننسَو . ع ل عملانءهِلآ لفهِلآ تهِلآ و ع ع ق ع و ع “Apabila ada ayam mati (bangkai) dan di perutnya ada telur yang sudah mengeras kulitnya maka (telur tersebut) hukumnya suci. Inilah pendapat Abu Hanifah dan sebagian Syafi’iyyah dan Ibnul Mundzir. Alasan kami, karena telur yang sudah berkulit keras tadi terkena najis, mirip kalau seandainya ia jatuh pada air yang najis (lalu dibersihkan maka jadi bersih).”551 c. Emas yang ditelan orang Masalah yang mirip juga dengan masalah ini adalah kalau seandainya ada seorang menelan emas atau uang logam kemudian keluar bersama kotorannya. Bukankah emas atau uang logam tadi bila sudah dibersihkan maka ia suci, wahai saudaraku?!! Fikirkanlah!! Kesimpulan Terlepas dari perselisihan ulama' tentang musang apakah haram ataukah tidak, dan terlepas dari perselisihan ulama' apakah kotoran hewan itu najis ataukah tidak, kami berpendapat bahwa biji kopi luwak yang bercampur dengan kotoran kalau memang sudah diber551 Al-Mughni 1/101. Dan ini juga dikuatkan oleh al-Imam an-Nawawi dalam alMajmu’ Syarh al-Muhadzdzab 1/132. 292 Fiqih Kontemporer
sihkan maka hukumnya adalah suci dan halal. Barangsiapa yang mengharamkan maka dia dituntut untuk mendatangkan dalil yang akurat. Wallahu A’lam. Daftar Rujukan: 1. Al-Mughni. Ibnu Qudamah (tahqiq: Abdullah at-Turki dan Abdul Fattah al-Hulw). Dar Alamil Kutub, KSA, cet. kelima, 1419 H. 2. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab. An-Nawawi (tahqiq: Muhammad Najib al-Muthi’i). Dar Alamil Kutub, KSA, cet. kedua, 1427 H. 3. Al-Ath’imah. Asy-Syaikh Shalih ibn Fauzan al-Fauzan. Maktabah Ma’arif, KSA, cet. kedua, 1419 H. 4. As-Sa’yul Hamid fi Masyru’iyyatil Mas’a al-Jadid. Masyhur ibn Hasan alu Salman. Dar al-Atsariyyah, Yordania, cet. pertama, 1428 H. 5. CD Himpunan Fatwa Majelis Ulama' Indonesia. Jakarta, 2010. Melacak Status Hukum Kopi Luwak 293
Berburu Dengan Senapan, Halalkah?! Berburu Dengan Senapan, Halalkah?! Muqaddimah Bagi seorang muslim, halal haram suatu makanan merupakan hal yang sangat penting dan berarti sekali, karena baik tidaknya makanan yang dia makan sangat berpengaruh pada kejernihan hati dan akhlaqnya, serta berpengaruh pada do’a yang dia panjatkan kepada Allah. Di antara masalah yang sangat penting untuk diketahui adalah status hukum hewan buruan yang mati dengan menggunakan senapan modern, apakah halal atau haram. Bagaimana juga komentar para ulama' seputar masalah ini?! Apakah masalah ini sudah pernah dibahas ulama' dahulu kala?! Ikutilah kajian sederhana berikut. Berburu Hukum Asalnya Boleh Berburu adalah memburu hewan liar yang halal dimakan, tidak ada pemiliknya, dan tidak mampu untuk ditangkap.552 Dan hukum asal berburu adalah halal, berdasarkan dalil al-Qur'an, hadits, dan ijma’. 552 Kasyaful Qana’ 6/213 oleh al-Buhuti 294 Fiqih Kontemporer
1. Dalil al-Qur'an چٱ ٻ ٻ ٻ ٻ پ پ پپچ Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan. (QS alMa'idah [5]: 96) چٷ ۋ ۋۅچ Dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. (QS al-Ma'idah [5]: 2) 2. Dalil hadits Banyak hadits yang menunjukkan bolehnya berburu, di antaranya adalah hadits Abu Tsa’labah al-Husyani a tatkala bertanya kepada Nabi n tentang berburu dengan panah, anjing terlatih, dan anjing tak terlatih, maka Nabi n bersabda kepadanya: « ك س و و ع عمهِلآ ا للهِلآ س و ورهِلآ ا ك س ذ و عفلا عكهِلآ ولس و ق ع ب ل تهِلآ ع د و لص عملاهِلآ ف ع ك ع ب ل ل ك و ع ب ل تهِلآ ع د و لص عملاهِلآ و ع ،هِلآ ك س و و ع عمهِلآ ا للهِلآ س و ورهِلآ ا ك س ذ و عفلا للمهِلآ س ع ع م س ل و ا س ع ي و ل ع يهِلآ و ل س عكهِلآ ا ل ب ل ل ك و ع ب ل تهِلآ ع د و لص عملاهِلآ و ع ،هِلآ ه س ك س و ف ع ههِلآ س ت ع ك ع ذ ع تهِلآ ع ك و ر ع د و أ ع ف ع لنمهِلآ س ع ع م س ب ل »َو . “Apa yang kamu buru dengan panahmu maka sebutlah nama Allah lalu makanlah. Dan apa yang kamu buru dengan anjingmu yang terlatih maka sebutlah nama Allah lalu makanlah. Dan apa yang kamu buru dengan anjingmu yang tak terlatih lalu kamu mendapatinya masih hidup sehingga kamu menyembelihnya maka makanlah.” (HR al-Bukhari 7/112, Muslim 3/1533) Berburu Dengan Senapan, Halalkah?! 295
3. Dalil ijma’ Ibnu Qudamah v berkata: “Ahlul ilmi bersepakat tentang bolehnya berburu dan memakan hasil buruan.”553 Ibnu Hubairah v berkata: “Para ulama' bersepakat bahwa Allah membolehkan buruan.”554 Namun, harus dipahami bahwa hukum boleh ini adalah apabila berburu hewan untuk memanfaatkannya dan tidak melalaikan dari amalan-amalan yang lebih utama. Definisi Senapan Senapan dalam bahasa Arab disebut bunduq, sedangkan bunduq secara bahasa adalah alat untuk melempar.555 Asal katanya adalah sebuah nama buah-buahan di Persia lalu dialihkan menjadi Arab.556 Dalam istilah ulama' salaf, bunduq itu semacam bulatan kecil yang terbuat dari tanah sebagai alat untuk melempar. Kemudian istilah ini pada zaman sekarang digunakan untuk menyebut senapan karena sama-sama sebagai alat untuk melempar. Perselisihan Ulama' Tentang Hasil Buruan Dengan Senapan Bunduq memiliki dua makna, makna lama (dahulu) dan makna baru (sekarang): 553 Al-Mughni 13/257. 554 Al-Ifshah 2/302. 555 Lisanul ’Arab 10/29 556 Al-Mu’arrab hlm. 107 oleh al-Jawaliqi 296 Fiqih Kontemporer
1. Makna lama Makna lama bunduq adalah bulatan kecil yang terbuat dari tanah atau selainnya untuk melempar buruan dengan bantuan kayu (persis dengan katapel).557 Tentang hukum buruan hasilnya, para ulama' berselisih pendapat menjadi dua pendapat: Pertama: Haram. Ini merupakan pendapat para imam empat, Ibnu Umar, Mujahid, Ibrahim, Atha', Hasan.558 Dikuatkan oleh alBaghawi559, al-Bukhari, bahkan Syaikhul Islam dan al-Hafizh Ibnu Hajar telah menukil adanya ijma’ ulama' tentang haramnya.560 Hal itu karena hasil buruannya termasuk al-mauqudzah yang disebutkan oleh Allah: چٱ ٻ ٻ ٻ ٻ پ پ پ پ ڀ ڀ ڀ ڀ ٺ ٺ ٺ ٺ ٿ ٿ ٿ ٿ ٹ ٹ ٹ ٹچ Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. (QS al-Ma'idah [5]: 3) Al-Imam Ibnu Katsir v berkata: “Al-mauqudzah adalah hewan yang dipukul dengan benda keras hingga mati—sebagaimana kata Ibnu Abbas d dan lainnya. Qatadah berkata: ‘Adalah 557 Lihat Raddul Mukhtar 10/59 oleh Ibnu Abidin dan Hadyu Sari hlm. 90 oleh Ibnu Hajar. 558 Munyah Shayyadin hlm. 94 559 Syarhus Sunnah 11/202 560 Mukhtashar al-Fatawa al-Mishriyyah hlm. 520 dan Fathul Bari 9/607 Berburu Dengan Senapan, Halalkah?! 297
orang-orang jahiliyyah memukuli hewan dengan tongkat, sampai kalau sudah mati maka mereka memakannya.’”561 Pendapat kedua: Halal. Ini adalah pendapat Ammar ibn Yasir, Sa’id ibn Musayyib, Abdurrahman ibn Abi Laila, dan sebagainya.562 Mereka berdalil dengan keumuman firman Allah: چڻ ڻ ڻ ڻ ۀ ۀ ہ ہ ہ ہ ھ ھ ھ ھ ے ےۓچ Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. (QS al-Ma'idah [5]: 94) Dalam ayat ini Allah membolehkan bagi kita semua buruan yang didapatkan oleh tangan dan senjata kita, sedangkan apa yang didapatkan dengan bunduq termasuk keumuman ayat ini. Pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama, sebab dalil mereka lebih khusus, sedangkan dalil pendapat kedua masih bersifat umum. Dalam kaidah ushul fiqih disebutkan bahwa dalil yang khusus lebih didahulukan daripada dalil yang umum.563 2. Makna baru Adapun bunduq dengan makna baru yaitu peluru besi yang dimasukkan pada senapan untuk menembak.564 Masalah ini belum pernah dibicarakan oleh para ulama' salaf dahulu karena belum ada pada zaman mereka. Senapan baru muncul se561 Tafsir al-Qur‘an al-’Azhim 3/15 562 Lihat al-Mushannaf 4/475 oleh Abdurrazzaq, al-Mushannaf 4/252 oleh Ibnu Abi Syaibah. 563 Lihat Raudhah Nadhir 2/723 oleh Ibnu Qudamah. 564 Fathul Qadir, asy-Syaukani, 2/14; Subulus Salam, ash-Shan’ani, 4/85. 298 Fiqih Kontemporer
kitar tahun 700 atau 800.565 Adapun mengenai hukum buruan dengan senapan ini, telah dibicarakan oleh para ulama' belakangan secara panjang lebar566 dan mereka berselisih pendapat tentangnya menjadi dua pendapat: Pertama: Halal. Ini adalah pendapat mayoritas ulama', bahkan Syaikh Abdul Qadir al-Fasi al-Maliki menukil ijma’ ulama' tentang kehalalannya, seraya membuat bait: يتدا تص ا بص بصل بر لنقد بق ال ب ق تم ا بب تو يتدا ل لسقتبف أتا لكبل به قت بد ا قز توا تج بواهق أ بأ ل قدتن ا ال تواب تتى بب به الف أت تواهق لن تفلت قع بم تم ا لج بإأ تعتقتد ال توانل Peluru senapan untuk berburu Tentang kehalalannya telah diputuskan Ayahanda kami yang terhormat berfatwa demikian Dengan fatwa tersebut terjadi ijma’.567 Pendapat ini dikuatkan oleh asy-Syaukani,568 asy-Syaikh Muhammad ibn Ibrahim alusy Syaikh,569 Lajnah Da'imah yang diketuai oleh asy-Syaikh Ibnu Baz,570 asy-Syaikh al-Albani,571 asySyaikh Shalih al-Fauzan,572 dan sebagainya. 565 Lihat Hasyiyah ad-Dasuqi 2/360, Fathul Qadir 2/14. 566 Banyak para ulama' yang telah menulis kitab mengenai hukum berburu dengan senapan, di antaranya adalah Mahmud al-Hamzawi al-Hanafi (1305 H) dalam risalahnya Fatwa al-Khawwash fi Hilli Ma Shida bir Rashash, Muhammad Bairam (1307 H) dalam risalahnya Tuhfatul Khawwash fi Hilli Ma Shaidi Bunduq Rashash, Abdul Qadir Ibnu Badran dalam risalahnya Durratul Ghawwash fi Hukmi Dzakati bi Rashash. 567 Manarus Sabil 2/428–429 568 As-Sailul Jarrar 4/60 569 Majmu’ Fatawa 12/218 570 Fatawa Lajnah Da'imah No. 7415, Tanggal 7/9/1404 H 571 Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 5/511. 572 Kitabul Ath’imah hlm. 171, al-Mulakhkhash al-Fiqhi 2/472. Berburu Dengan Senapan, Halalkah?! 299
Kedua: Haram. Ini merupakan pendapat sebagian Hanafiyyah seperti Ibnu Nujaim dan az-Zaila’i, juga sebagian Syafi’iyyah seperti al-Baijuri dan al-Qalyubi.573 Mereka menyamakan senapan sekarang dengan bunduqiyyah dengan makna lama semacam katapel yang hasil buruannya diharamkan oleh mayoritas ulama' salaf. Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama yang mengatakan halalnya buruan hasil senapan modern, karena sangat jauh perbedaannya antara senapan modern dengan katapel sekalipun istilahnya sama dalam bahasa Arab. Asy-Syaikh Ibnu Badran menyebutkan tiga perbedaan antara keduanya: 1. Katapel yang disebut dalam hadits tidaklah menusuk dan mengeluarkan darah, sedangkan senapan menusuk dan menumpahkan darah. 2. Senapan sangat berbeda dengan katapel baik bahannya, bentuknya, dan cara penggunaannya. 3. Nabi n menyebutkan bahwa katapel tidak menakutkan musuh, hal ini berbeda dengan senapan yang menakutkan musuh dalam peperangan, lebih daripada pedang dan panah.574 Sepertinya, para ulama' yang melarangnya belum mengetahui perbedaan ini sehingga mereka menilai senapan sama dengan katapel karena persamaan istilah Arabnya, padahal antara keduanya banyak perbedaan sebagaimana telah kita sebutkan. Dahulu para ulama' mengatakan: رله ل و ك ص ع ت ع نهِلآ و ع ع عهِلآ ر ر و ف ع سشلءهِلآ و ععهِلآ ال ع مهِلآ كس و ل و س ا “Menghukumi sesuatu itu merupakan cabang dari gambaran permasalahannya.” Wallahu A’lam. 573 Lihat Raddul Mukhtar 10/59, Tabyinul Haqa'iq 6/59, Hasyiyah al-Qalyubi ’alal Minhaj 4/244, Hasyiyah al-Baijuri ’ala Ibnil Qasim 2/541. 574 Lihat Raudhatul Arwah hlm. 150–152. 300 Fiqih Kontemporer
Kesimpulan Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan beberapa hal: 1. Berburu adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam syari’at Islam. 2. Buruan yang mati karena katapel haram hukumnya. 3. Buruan yang mati karena senapan halal hukumnya apabila telah memenuhi syarat-syaratnya. 4. Pentingnya mengetahui gambaran permasalahan terlebih dahulu sebelum menghukuminya. Daftar Rujukan: 1. Iqamatus Suradiq fi Hukmi Shadil Banadiq, termuat dalam Buhuts ’Ilmiyyah Nadirah. Fahd ibn Abdillah ash-Shaq’abi. Darul Ashimah, KSA, cet. pertama, 1427 H. 2. Durratul Ghawwash fi Hukmi Dzakat bi Rashash. Asy-Syaikh Abdul Qadir ibn Badran (tahqiq: Muhammad ibn Nashir al-Ajmi). Darul Basya'ir Islamiyyah, Beirut, cet. pertama, 1428 H. 3. Dan lain-lain. Berburu Dengan Senapan, Halalkah?! 301
302 Fiqih Kontemporer
BAB KEDOKTERAN Bab Kedokteran Bab Kedokteran 303
Otopsi Jenazah Dalam Perspektif Hukum Islam Otopsi Jenazah Dalam Perspektif Hukum Islam Sesungguhnya agama Islam yang mulia sangat menjaga lima perkara penting: agama, nyawa, kehormatan, harta, dan akal. Al-Imam asy-Syathibi v berkata: “Seluruh umat, bahkan semua agama bersepakat bahwa syari’at itu diletakkan guna menjaga lima kebutuhan pokok, yaitu: agama, nyawa, kehormatan, harta, dan akal.”575 Menjaga jiwa termasuk tujuan pokok syari’at yang mulia. Karena itu, begitu banyak ayat-ayat al-Qur'an dan hadits Nabi n yang memerintahkan untuk menjaga nyawa dan melarang keras dari segala hal yang dapat melukai atau mencederainya apalagi sampai menumpahkan darahnya. Nabi Muhammad n bersabda: « ي و ل غ ع ب ل سلللمهِلآ و م س ل و للهِلآ ا ت و ق ع نهِلآ و لهِلآ لم ل ل عدهِلآ ا ن و نهِلآ لع س و ع ه و أ ع عهلاهِلآ ي و عملاهِلآ لف و ع عيلاهِلآ ن و ل ك لهِلآ ا س عوا ز ع ل ع ق ق ح ع »َو . “Hilangnya dunia beserta isinya sungguh lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim dengan tidak benar.”576 Oleh sebab itu, tidak boleh bagi seorang anak manusia untuk melakukan bunuh diri, atau melukai badannya—seperti dengan tato dan 575 Al-Muwafaqat 1/31 576 HR Ibnu Majah: 2668, at-Tirmidzi: 1395, an-Nasa'i: 3998 dengan sanad shahih. 304 Fiqih Kontemporer
sejenisnya. Al-Qarrafi v mengatakan: “Allah mengharamkan pembunuhan dan mencederai diri dalam rangka menjaga badan dan manfaat anggota tubuhnya. Seandainya ada seorang hamba yang ridha dan rela haknya digugurkan dalam masalah itu, maka kerelaannya tidak dianggap dan tidak ditunaikan.”577 Tidak hanya sampai di situ saja, syari’at Islam juga menjaga badan seorang muslim sekalipun dia telah meninggal dunia. Oleh karenanya, Rasulullah n melarang menginjakkan kaki di atas kuburan mayit atau duduk bersandar di atasnya karena perbuatan tersebut termasuk merendahkan dan menghinakan penghuni kubur. Dalam sebuah hadits, beliau n bersabda: « لله و لج ل علهِلآ إ ل عصهِلآ ل س خ و ت ع سههِلآ ف ب ع عيلا قهِلآ لث ع ر ل ح و ت ع ف ع رنةهِلآ جع ع و ععهِلآ ع مهِلآ ك و س د س ح ع أ ع عسهِلآ يلل ع و نهِلآ و ل ع ب و ن ق ع ععهِلآ ع عسهِلآ يلل ع و نهِلآ و أ ع نهِلآ و لهِلآ لم ع س يهِلآ ور خ ع »َو . “Sungguh salah seorang di antara kalian duduk di atas bara api dan membakar bajunya hingga membakar kulitnya adalah lebih baik daripada duduk di atas kuburan.”578 Al-Hafizh Ibnu Hajar v pernah berkomentar tentang suatu hadits seputar masalah ini: “Dalam hadits ini terdapat faedah bahwa kehormatan seorang mukmin setelah mati itu tetap berlangsung sebagaimana di masa hidupnya.”579 Lantas, bagaimana hukumnya otopsi (autopsi) yang tampak sangat bertentangan dengan kaidah ini?! Bagaimana jika memang terdesak untuk dilakukannya otopsi karena keperluan dan kemashlahatan yang lebih besar?!! Inilah yang akan kita coba untuk menelusuri status hukumnya karena masalah ini sering ditanyakan pada zaman sekarang sehingga pantas dimasukkan dalam kategori masalah kontemporer.580 Sungguh, pembicaraan mengenai hukum bedah mayat, atau yang lebih dikenal dengan otopsi/autopsi, tidak lepas dari kajian fiqih kontem577 Al-Furuq 2/87 578 HR Muslim: 971 579 Fathul Bari 14/297 580 Fiqhun Nawazil, Bakr Abu Zaid, 1/17. Otopsi Jenazah Dalam Perspektif Hukum Islam 305
porer sebab praktik otopsi sebagaimana yang dilakukan sekarang merupakan permasalahan yang muncul dewasa ini. Dalam Islam, segala permasalahan yang timbul hendaknya dicarikan jalan keluar berdasarkan al-Qur'an atau as-Sunnah dengan ditopang oleh pendapat dan ijtihad ulama' dengan memperhatikan aturan dan kaidah-kaidah yang telah ditentukan.581 Semoga Allah selalu memberikan taufiq-Nya kepada kita semua. Urgensi Pembahasan Pembahasan tentang otopsi beserta hukumnya sangat penting untuk diketahui karena beberapa alasan: 1. Otopsi jenazah sering dilakukan untuk kepentingan pemeriksaan, penyelidikan, riset, atau pendidikan. 2. Otopsi jenazah dibutuhkan dan cenderung meningkat seiring dengan dinamika dan perkembangan sosial budaya masyarakat. 3. Seringnya muncul pertanyaan di masyarakat seputar hukum otopsi jenazah. Definisi Otopsi Otopsi adalah pembedahan dan pemeriksaan organ-organ dan jaringan mayat untuk menemukan penyakit dan cedera yang menyebabkan atau berkontribusi terhadap kematian.582 Macam-Macam Otopsi Untuk mengetahui kondisi manusia secara nyata, dalam dunia kedokteran dikenal adanya tiga jenis otopsi: 1. Otopsi anatomi, yaitu otopsi yang dilakukan mahasiswa kedokteran atau dokter untuk mempelajari ilmu anatomi. 581 Perspektif Hukum Islam Terhadap Otopsi, hlm. 9, Skripsi diajukan oleh Dyah Hastuti, Fakultas Syariah Universitas Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. 582 Lihat http://kamuskesehatan.com/arti/otopsi/ 306 Fiqih Kontemporer
2. Otopsi keilmuan/klinik, yaitu otopsi untuk mengetahui berbagai hal yang terkait dengan penyakit (misal jenis penyakit) sebelum mayat meninggal. 3. Otopsi forensik, yaitu otopsi yang dilakukan oleh penegak hukum terhadap korban pembunuhan atau kematian yang mencurigakan, untuk mengetahui sebab kematian, menentukan identitasnya, dan sebagainya.583 Hukum Asal Otopsi Mayat Pada dasarnya mengotopsi mayit adalah haram hukumnya dalam pandangan syari’at Islam karena kehormatan seorang muslim yang sudah meninggal sama seperti halnya ketika hidup. Hal yang mendasari hukum asal ini adalah beberapa argumen sebagai berikut:584 1. Dalil al-Qur'an Allah q berfirman: چ ک ک ک گ گ گ گ ڳ ڳ ڳ ڳ ڱ ڱ ڱ ڱ ں ں ڻ چ Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS al-Isra' [17]: 70) 583 Lihat Ilmu Kedokteran Kehakiman hlm. 19–20, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1992; dinukil dari Perspektif Hukum Islam Terhadap Otopsi, hlm. 4, Skripsi diajukan oleh Dyah Hastuti. 584 Lihat Ahkamul Jirahah ath-Thibbiyyah hlm. 116–118 oleh Dr. Muhammad asySyinqithi. Otopsi Jenazah Dalam Perspektif Hukum Islam 307
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memuliakan anak Adam dan ini mencakup saat mereka masih hidup dan setelah meninggal dunia. Sementara itu, otopsi jenazah berarti menghinakan anak Adam sebab pada otopsi terdapat memotong anggota tubuh mayat dan membedah perutnya dan sebagainya dari hal-hal yang bertentangan dengan ayat ini. Oleh karenanya, otopsi hukumnya terlarang. 2. Dalil hadits ةهِلآ ع ش ع عئل ع نهِلآ و ع s ع لهِلآ ا للهِلآ ع سو س ر ع نهِلآ س أ ع n ل ع عقلا ب :هِلآ « ي لت م ع ل و ظلمهِلآ ا و ع ع سهِلآ س و ك ع بيلا ح ع سلههِلآ و ك ل ع ك ع »َو . Dari Aisyah s dari Nabi n bahwa beliau bersabda: “Sesungguhnya memecahkan tulang seorang mukmin tatkala mati seperti halnya memecahkan tulangnya saat hidup.”585 Hadits ini menunjukkan haramnya memecahkan tulang mayat seorang mukmin, sedangkan otopsi mengandung hal itu sehingga termasuk dalam larangan hadits ini.586 3. Dalil qiyas Dalam beberapa hadits disebutkan larangan duduk di atas kuburan dan bahwasanya penghuni kubur tersebut merasa tersakiti oleh perbuatan tersebut,587 padahal duduk di atas kuburan tidak secara langsung mengena badan mayat. Maka, tentu saja bedah mayat dan otopsi jauh lebih terlarang karena langsung berkaitan dengan badan mayat. 585 HR Ahmad dalam Musnad-nya 6/364, Abu Dawud 3/543, al-Baihaqi 4/58; dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Irwa'ul Ghalil 3/212–214. 586 Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah hlm. 65 587 Seperti dalam riwayat Muslim 2/384, 385. 308 Fiqih Kontemporer
4. Kaidah fiqih Di antara kaidah fiqih yang penting dan agung adalah kaidah yang diambil dari sebuah hadits yaitu: « ر ع لضا ع لهِلآ ع و ع رهِلآ ع عضع لهِلآ ع »َو . “Tidak boleh memudharatkan diri sendiri dan orang lain.”588 Kaidah ini menunjukkan haramnya memudharatkan orang lain, sedangkan otopsi berarti memudharatkan mayat sehingga hukumnya tidak boleh. Bila Terdesak Harus Otopsi Sekalipun hukum asalnya adalah terlarang, hanya saja, terkadang terdapat beberapa kondisi yang mengharuskan untuk otopsi sehingga keluar dari kaidah asal tadi., sebab saat ini otopsi sering digunakan sebagai salah satu bagian dari proses hukum, untuk mencari atau menguatkan bukti. Hasil dari pemeriksaan otopsi tersebut ditulis dalam sebuah surat keterangan dokter yang lazim dalam dunia kedokteran adalah visum et repertum yakni laporan atau surat keterangan dari seorang dokter untuk pengadilan dalam perkara pidana.589 Selain itu, otopsi juga memiliki peran cukup penting dalam dunia medis bahkan menjadi sebuah tuntutan. Munculnya cairan penyakit baru yang ganas dan misterius juga memerlukan penanganan yang lebih serius dan otopsi bisa menjadi salah satu proses untuk mencari solusi. Otopsi dapat dilakukan tanpa melalui bedah mayat. Misalnya dengan memeriksa kondisi jasad, sidik jari, luka, dan sebagainya. Namun, tak jarang pula dilakukan pembedahan pada beberapa organ dalam bahkan mayat yang sudah dikubur pun digali kembali.590 588 Al-Asybah wan Nazha'ir, as-Suyuthi, hlm. 86; al-Asybah wan Nazha'ir, Ibnu Nujaim, hlm. 87. 589 Dekonstruksi Syariah, Wacana Kebebasan Sipil, Hak Asasi Manusia dan Hubungan Internasional Dalam Islam hlm. 53 590 Perspektif Hukum Islam Terhadap Otopsi, hlm. 10, Skripsi diajukan oleh Dyah Otopsi Jenazah Dalam Perspektif Hukum Islam 309
Dan sebagaimana keterangan dalam macam-macam otopsi di atas, maka dapat kita simpulkan bahwa tujuan otopsi terbagi menjadi tiga: 1. Untuk penelitian kasus kriminal 2. Untuk penelitian sebuah penyakit wabah guna dicarikan solusi dan antisipasinya 3. Untuk keperluan penelitian ilmiyyah baik belajar atau mengajarkannya. Kami berkata: Untuk alasan pertama dan kedua, maka jelas hukumnya adalah boleh berdasarkan kaidah: لت عرا و و ظ س ح و م ع ل و سحهِلآ ا ي و ب ل ت س تهِلآ س عرا و س سض و ال “Keadaan darurat itu membolehkan sesuatu yang terlarang.” Hanya, harus diterapkan kaidah lainnya juga: عهلا ر ل د و ق ع ب ل رهِلآ س د س ق ع ت س تهِلآ س عرا و س سض و ال “Darurat itu sekadarnya saja.”591 Oleh karenanya, jika memang bisa dicari cara lain tanpa otopsi maka otopsi kembali kepada hukum asalnya yaitu haram. Perhatikanlah!! Namun, untuk keperluan ketiga yaitu penelitian ilmiyyah kedokteran, maka hal ini diperselisihkan ulama' menjadi dua pendapat:592 1. Tidak boleh otopsi untuk keperluan penelitian kedokteran belajar atau mengajarkannya, berdasarkan dalil-dalil yang kami sebutkan tentang hukum asal otopsi.593 Hastuti, Fakultas Syariah Universitas Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. 591 Lihat penjelasan secara bagus tentang dua kaidah di atas dalam kitab Haqiqah Dharurat Syar’iyyah oleh Dr. Muhammad Husain al-Jizani, terbitan Dar alMinhaj. 592 Lihat Ahkamul Jirahah ath-Thibbiyyah hlm. 112–120 (secara ringkas). 593 Di antara yang menguatkan pendapat ini adalah asy-Syaikh Muhammad Bukhait al-Muthi’i, Muhammad Burhanuddin as-Sanbahali, Muhammad Abdul Wahhab al-Buhairi, Hasan ibn Ali as-Saqqaf. Lihat Qadhaya Fiqhiyyah 310 Fiqih Kontemporer
2. Boleh otopsi untuk keperluan tersebut. Inilah fatwa kebanyakan lembaga fatwa di berbagai negara seperti Hai'ah Kibar Ulama' Arab Saudi, Majma’ Fiqih Islami, Lajnah Ifta' di Yordania, Lajnah Ifta' di Mesir, MUI (Majelis Ulama' Indonesia), dan yang dipilih oleh sebagian penulis dan peneliti. Alasan mereka sebagai berikut: a. Termasuk kaidah dalam syari’at Islam bahwa apabila dua kemashlahatan berbenturan maka yang lebih besar kemashlahatannya didahulukan, dan apabila dua kerusakan berbenturan maka yang lebih ringan kerusakannya didahulukan. Tentu saja, ketiadaan otopsi merupakan semata-mata kemashlahatan pribadi mayat, sedangkan dilakukannya otopsi akan mengandung kemashlahatan yang lebih besar dan umum. Kemashlahatan umum hendaknya lebih didahulukan daripada kemashlahatan pribadi. b. Mereka menganalogikan dengan permasalahan fiqih jika seorang ibu meninggal dunia sedangkan di perutnya ada janin yang masih hidup dan diharapkan masih hidup, maka boleh untuk melakukan bedah perut mayat ibu tersebut. Pendapat yang kuat menurut kami adalah bahwa boleh otopsi mayat orang kafir bukan mayat muslim karena beberapa alasan sebagai berikut: 1. Hukum asal otopsi adalah haram pada mayat muslim, maka tidak boleh kecuali dalam batas-batas syari’at ketika kondisi darurat saja. 2. Otopsi untuk keperluan penelitian kedokteran tersebut bisa dilakukan dengan mayat orang kafir karena kehormatan muslim sangat tinggi di sisi Allah baik ketika hidup maupun sesudah mati. Berbeda halnya dengan orang kafir yang tidak memiliki kehormatan tersebut. Allah q berfirman: چک ک ک ک گ گ گگ ڳ ڳ ڳ ڳ ڱ ڱ ڱچ Mu’ashirah hlm. 66 oleh as-Sanbahali dan al-Imta’ wal Istiqsha’ hlm. 27–28 oleh as-Saqqaf. Otopsi Jenazah Dalam Perspektif Hukum Islam 311
Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (QS al-Hajj [22]: 18) 3. Otopsi seorang muslim menjadikan terbengkalainya kebanyakan kewajiban yang berkaitan dengannya setelah mati seperti memandikan jenazah, menshalatinya, menguburkannya, dan sebagainya yang dianjurkan oleh syari’at untuk dilakukan dengan segera tidak ditunda-tunda. Berdasarkan alasan-alasan inilah, kami menguatkan bolehnya otopsi mayat kafir bukan muslim. Namun, para dokter dan sebagainya yang melakukan otopsi harus melakukannya sesuai kadar hajat dan kebutuhan. Jika memang kebutuhan tersebut telah terpenuhi, maka tidak boleh otopsi mayat kafir sekalipun, sebab kaidahnya apa yang diperbolehkan karena suatu udzur maka batal dengan hilangnya udzur tersebut.594 Fatwa dan Keputusan Penting Hai'ah Kibar Ulama' (dewan para ulama' besar di Arab Saudi) mengeluarkan keputusan No. 47 tertanggal 20/8/1396 yang salah satu isinya tentang pembagian otopsi terbagi menjadi tiga: 1. Untuk penelitian kasus kriminal 2. Untuk penelitian sebuah penyakit wabah guna dicarikan solusi dan antisipasinya 3. Untuk penelitian ilmiyyah baik belajar atau mengajarkannya. Setelah dialog dan tukar pendapat serta mempelajari masalah ini, maka majelis menetapkan: Untuk poin pertama dan kedua maka diperbolehkan karena mengandung kemashlahatan yang sangat banyak dalam bidang keamanan, keadilan, dan menjaga masyarakat dari wabah penyakit. Adapun kerusakan mayat yang diotopsi masih kalah dengan kemashlahatan yang banyak serta bersifat umum dan positif tersebut. Karena itu, ma594 Al-Asybah wan Nazha'ir, as-Suyuthi, hlm. 85; al-Asybah wan Nazha'ir, Ibnu Nujaim, hlm. 86. 312 Fiqih Kontemporer
jelis secara sepakat membolehkan otopsi untuk dua tujuan ini baik mayat yang diotopsi tersebut muslim atau kafir. Adapun untuk keperluan ketiga yaitu otopsi untuk kepentingan penelitian, maka mengingat: 1. Karena syari’at Islam datang untuk mendatangkan kemashlahatan dan membendung kerusakan serta mengambil kerusakan yang lebih ringan jika berbenturan. 2. Otopsi selain manusia berupa hewan tidak mencukupi dibandingkan otopsi manusia. 3. Dalam otopsi terdapat kemashlahatan yang banyak untuk kemajuan pengetahuan ilmu kedokteran. Dengan demikian maka majelis secara global membolehkan otopsi manusia untuk keperluan ini. Hanya, mengingat pula: 1. Bahwa syari’at Islam sangat perhatian akan kemuliaan seorang muslim setelah meninggal seperti halnya ketika masih hidup, sebagaimana dalam riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dari Aisyah s bahwasanya Nabi n bersabda: « يلا ب ح ع سلههِلآ و ك ل ع ك ع ي لتهِلآ ب م ع ل و ظلمهِلآ ا و ع ع سهِلآ س و ك ع »َو . “Sesungguhnya memecahkan tulang seorang mukmin tatkala mati seperti halnya memecahkan tulangnya saat hidup.” 2. Dalam otopsi terdapat pengrusakan terhadap kemuliaan manusia dan kebutuhan darurat tersebut bisa tertutupi dengan mendapatkan mayat-mayat yang tidak ma’shum (kafir harbi, Pen.). Maka majelis berpendapat untuk mencukupkan diotopsi dengan mayat-mayat seperti ini dan tidak menggunakan mayatmayat orang yang ma’shum (muslim, kafir dzimmi, kafir musta'min) jika keadaannya demikian. Semoga Allah memberikan taufiq. Shalawat serta salam untuk Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan shahabatnya.595 595 Lihat Fiqhun Nawazil 4/206–207 kumpulan Dr. Muhammad Husain al-Jizani. Otopsi Jenazah Dalam Perspektif Hukum Islam 313
Ketentuan Otopsi yang Harus Diperhatikan Kita telah sama-sama mengetahui bahwa pada dasarnya setiap jenazah harus dipenuhi hak-haknya, dihormati keberadaannya, dan tidak boleh dirusak, juga otopsi jenazah itu dibolehkan jika ada kebutuhan mendesak yang ditetapkan oleh pihak yang punya kewenangan untuk itu. Selanjutnya, dalam otopsi untuk kepentingan penelitian kedokteran, perlu diperhatikan beberapa ketentuan sebagai berikut: 1. Otopsi jenazah didasarkan pada kebutuhan yang dibenarkan syar’i (seperti mengetahui penyebab kematian untuk penyelidikan hukum, penelitian kedokteran, atau pendidikan kedokteran), dan ditetapkan oleh orang atau lembaga yang berwenang dan dilakukan oleh ahlinya. 2. Otopsi merupakan jalan keluar satu-satunya dalam memenuhi tujuan sebagaimana dimaksud. 3. Tidak boleh otopsi dengan menggunakan mayat muslim. 4. Otopsi hanya sesuai dengan kebutuhan darurat saja sehingga tidak boleh mempermainkan jasad mayat. 5. Jenazah yang akan dijadikan objek otopsi harus memperoleh izin dari dirinya sewaktu hidup melalui wasiat, izin dari ahli waris, dan/atau izin dari pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 6. Mayat wanita tidak boleh diurusi dan dibedah kecuali oleh dokter wanita pula, kecuali jika memang tidak ada dokter wanita. 7. Setelah selesai otopsi, maka seluruh bagian jenazah harus dikuburkan secara utuh, tidak boleh dikurangi. Dan jika memang mayat yang diotopsi adalah muslim maka harus ditunaikan hak-haknya berupa dikafani, dimandikan, dishalati, dan dikubur di kuburan kaum muslimin.596 596 Lihat Fatwa Majma’ Fiqih Islami dalam Fiqih Nawazil 4/209 dan Himpunan Fatwa MUI hlm. 545. 314 Fiqih Kontemporer
Daftar Rujukan: 1. Ahkamul Jirahah ath-Thibbiyyah. Dr. Muhammad ibn Muhammad alMukhtar asy-Syinqithi. Maktabah ash-Shahabah, Emirat, cet. ketiga, 1424 H. 2. Fiqhun Nawazil. Kumpulan Muhammad Husain al-Jizani. Dar Ibnul Jauzi, KSA, cet. ketiga, 1429 H. 3. Himpunan Fatwa Majelis Ulama' Indonesia. Edisi ketiga, Jakarta, 2010. 4. Perspektif Hukum Islam Terhadap Otopsi. Skripsi oleh Dyah Hastuti, Fakultas Syariah Universitas Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Otopsi Jenazah Dalam Perspektif Hukum Islam 315
Fiqih Donor Darah Dalam Islam Fiqih Donor Darah Dalam Islam Syari’at Islam telah membahas segala seluk-beluk urusan manusia termasuk masalah-masalah kontemporer yang belum dikenal pada zaman dahulu. Dan di antara masalah kontemporer tersebut adalah masalah donor darah. Masalah ini penting untuk kita kaji karena sering terjadi pada zaman sekarang seiring dengan seringnya kejadian kecelakaan sehingga menyebabkan keluarnya darah yang banyak, operasi, atau lainnya, apalagi masalah ini menyangkut banyak hukum yang berkaitan dengannya. Semoga kajian berikut menambah ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Sekilas Tentang Donor Darah Donor darah adalah proses pengambilan darah dari seseorang secara sukarela untuk disimpan di bank darah untuk kemudian dipakai pada transfusi darah. Donor darah biasa dilakukan rutin di pusat donor darah lokal. Dan setiap beberapa waktu, akan dilakukan acara donor darah di tempattempat keramaian, misalnya di pusat perbelanjaan, kantor perusahaan besar, tempat ibadah, serta sekolah dan universitas. Pada acara ini, para calon pendonor dapat menyempatkan datang dan menyumbang tanpa harus pergi jauh atau dengan perjanjian. Selain itu, sebuah mobil darah juga dapat dipergunakan untuk dijadikan tempat menyumbang. Biasanya bank darah memiliki banyak mobil darah. 316 Fiqih Kontemporer
Untuk dapat menyumbangkan darah, seorang donor darah harus memenuhi syarat sebagai berikut: 1. Calon donor harus berusia 17–60 tahun. 2. Berat badan minimal 45 kg. 3. Tekanan darah 100–180 (sistole) dan 60–100 (diastole). 4. Menandatangani formulir pendaftaran 5. Lulus pengujian kondisi berat badan, hemoglobin, golongan darah, dan pemeriksaan oleh dokter 6. Untuk menjaga kesehatan dan keamanan darah, calon donor tidak boleh dalam kondisi atau menderita sakit seperti alkoholik, penyakit hepatitis, diabetes mellitus, epilepsi, atau kelompok masyarakat risiko tinggi mendapatkan AIDS serta mengalami sakit seperti demam atau influenza; baru saja dicabut giginya kurang dari tiga hari; pernah menerima transfusi kurang dari setahun; begitu juga untuk yang belum setahun menato, menindik, atau akupunktur; hamil; atau sedang menyusui. Donor darah juga memberikan manfaat kesehatan bagi sang pendonor. Setidaknya, ada lima manfaat kesehatan yang bisa kita rasakan: 1. Menjaga kesehatan jantung 2. Meningkatkan produksi sel darah merah 3. Membantu penurunan berat tubuh 4. Mendapatkan kesehatan psikologis 5. Mendeteksi penyakit serius.597 Donor Darah Dalam Tinjauan Syari’at Donor darah termasuk masalah kontemporer yang hukumnya telah dibahas oleh para ulama' masa kini. Oleh karena itu, kita lihat mereka telah bersepakat tanpa perselisihan di antara mereka bahwa hukum asal donor darah adalah boleh berdasarkan beberapa argumen sebagai berikut:598 597 Dari http://id.wikipedia.org/wiki/Donor_darah dan Info Sehat. 598 Diringkas dari kitab al-Bunuk ath-Thibbiyyah al-Basyariyyah wa Ahkamuha alFiqhiyah hlm. 253–260 oleh Dr. Ismail Marhaba. Fiqih Donor Darah Dalam Islam 317
1. Dalil al-Qur'an Di antara dalil yang menunjukkan bolehnya donor darah adalah keumuman firman Allah yang menganjurkan untuk tolong-menolong dalam kebaikan. Allah berfirman: چئە ئو ئو ئۇئۇچ Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa. (QS al-Ma'idah [5]: 2) چڻ ڻ ڻ ڻ ۀ ۀ ہ ہ ہہ ھھ ھ ھ ے ے ۓچ Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS al-Baqarah [2]: 195) چۈ ٷ ۋ ۋ ۅ ۅۉ ۉ ې ې ې ېچ Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (QS al-Hujurat [49]: 10) Segi perdalilannya sangat jelas, ayat-ayat di atas menganjurkan untuk berbuat baik, tolong-menolong dan memupuk persaudaraan. Dan di antara bentuk untuk semua itu adalah dengan melakukan donor darah untuk saudara kita yang membutuhkan transfusi darah. 318 Fiqih Kontemporer
2. Dalil hadits Di antara dalil yang menunjukkan bolehnya adalah keumuman hadits Nabi n menganjurkan kita untuk membantu saudara kita dan menghilangkan beban penderitaan mereka. Rasulullah n bersabda: « ل و ع ع ف و ي ع ل و ف ع ههِلآ س عخلا أ ع عهِلآ ع ف ع ن و ي ع نهِلآ و أ ع مهِلآ ك و س ن و عهِلآ لم ع عطلا ت ع س و لنهِلآ ا م ع »َو . “Barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk memberikan manfaat kepada saudaranya maka hendaknya dia melakukannya.” (HR Muslim 4/1476) Hadits ini berisi anjuran untuk memberikan manfaat kepada saudara kita, sedangkan donor darah sangat bermanfaat bagi orang yang membutuhkannya. Dengan demikian, barangsiapa yang mampu untuk donor darah tanpa mencelakai dirinya maka hal itu dianjurkan. Asy-Syaikh Muhammad al-Buhairi berkata: “Manfaat apa yang lebih besar dibandingkan engkau menyelamatkan saudaramu dengan beberapa tetesan darahmu tanpa membahayakan dirimu?!!”599 3. Tidak ada ulama' yang melarangnya Para ulama' pada zaman sekarang telah bersepakat tentang bolehnya donor darah dan tidak ditemukan perselisihan dalam hal ini. Dr. Muhammad Ali al-Bar berkata: “Ahli fatwa pada masa ini telah bersepakat tentang bolehnya donor darah sesuai persyaratannya.”600 Lembaga-lembaga fatwa di negara-negara Islam memfatwakan bolehnya donor darah seperti Lajnah Da'imah (komite fatwa Arab Saudi) dalam Fatwa mereka No. 2308, Lajnah Fatwa Mesir sebagaimana dalam Majalah al-Azhar tahun 1368 H, dan masih banyak lagi lainnya. 599 Naqlu Dam wa Ahkamuhu Syar’iyyah hlm. 67 600 Al-Mauqif al-Fiqhi wal Akhlaqi min Qadhiyyati Zar’il A’dha hlm. 133 Fiqih Donor Darah Dalam Islam 319
4. Kaidah fiqih Bolehnya donor darah juga sesuai dengan kaidah-kaidah fiqih yang telah diletakkan oleh para ulama', seperti: ل س عزا ي س رهِلآ س عضس ال “Menghilangkan mudharat/bahaya.”601 Sementara itu, orang sakit terkena bahaya dan kesulitan yang harus dihilangkan. ب ر لج عوا وهِلآ ع ه س ف ع بلههِلآ ل لهِلآ س إ ل بهِلآ س لج عوا ل و كمهِلآ ا يلت ع لهِلآ ع عملاهِلآ “Suatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengannya maka hal itu menjadi wajib pula.”602 Demikian juga menolong saudara kita dari kematian adalah wajib. Nah, jika hal itu tidak mungkin terwujud kecuali dengan donor darah maka donor darah menjadi wajib. Alangkah bagusnya ucapan asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di v: “Apabila para pakar (ahli) kedokteran telah menegaskan bahwa donor darah tidak membahayakan bagi yang diambil dan justru akan membuahkan kebaikan bagi dirinya dan orang lain maka hal itu merupakan kemashlahatan yang murni dan tidak ada mafsadat di dalamnya.”603 Maka jelaslah dengan keterangan di atas bahwa donor darah hukumnya adalah boleh bahkan dianjurkan. 601 Lihat kaidah ini dalam al-Asybah wan Nazha'ir hlm. 83 oleh as-Suyuthi dan alAsybah wan Nazha'ir oleh Ibnu Nujaim hlm. 84. 602 Lihat kaidah ini dalam Raudhah Nadhir 1/83 oleh Ibnu Qudamah dan alQawa’id wal Fawa'id al-Ushuliyyah hlm. 130 oleh al-Ba’li. 603 Al-Mukhtarat al-Jaliyyah minal Masa'il al-Fiqhiyyah hlm. 234 320 Fiqih Kontemporer
Rambu-Rambu Donor Darah Kendatipun hukum asal donor darah adalah boleh, harus diperhatikan rambu-rambu mengenainya sebagai berikut: 1. Donor darah tersebut betul-betul untuk kebutuhan, jangan sampai kemudian dijadikan untuk suatu hal yang sia-sia. 2. Mendapatkan izin dari pendonor. 3. Tidak ada solusi obat lainnya bagi pasien selain dengan tambahan darah. 4. Lulus seleksi tes dan syarat-syarat kedokteran sehingga tidak malah membahayakan bagi pendonor dan juga bagi yang mendapat donor. 5. Tidak dijadikan sebagai bisnis jual beli darah karena itu terlarang.604 Beberapa Masalah Fiqih Seputar Donor Darah Masalah donor darah menyimpan segudang permasalahan hukum fiqih yang banyak. Di antara masalah penting yang berkaitan dengannya adalah sebagai berikut: 1. Bolehkah donor darah kepada nonmuslim atau sebaliknya? Hukum bolehnya donor darah ini tidak ada perbedaan antara muslim dengan kafir, maka boleh seorang mendonorkan darahnya untuk orang kafir atau menerima donor dari nonmuslim. Hal ini berdasarkan beberapa argumen: 1. Allah berfirman: 604 Lihat ad-Dam wal Ahkam al-Muta’alliqah Bihi Syar’an hlm. 153–154 oleh Dr. Abdullah ibn Muhammad ath-Thariqi. Fiqih Donor Darah Dalam Islam 321
چڃ چ چ چ چ ڇ ڇ ڇ ڇ ڍ ڍ ڌ ڌ ڎ ڎ ڈ ڈژ ژ ڑ ڑ ک ک ک ک گ گ گ گ ڳ ڳ ڳ ڳ ڱ ڱ ڱ ڱ ں ںڻ ڻ ڻ ڻ ۀ ۀ ہ چ Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. (QS al-Mumtahanah [60]: 8–9) Segi perdalilannya, karena Allah tidak melarang kita untuk berbuat baik kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslim. Dan di antara bentuk berbuat baik kepada mereka adalah dengan mendonorkan darah kita untuk mereka pada saat mereka membutuhkannya. 2. Kalau memberikan hadiah kepada orang kafir dan menerima hadiah mereka diperbolehkan, maka demikian juga dengan donor darah. 3. Kalau seorang muslim menikah dengan wanita ahli kitab dan lahirnya anak dari pernikahan ini hukumnya diperbolehkan, maka sekadar donor darah tentunya lebih dibolehkan karena hal itu tidak membentuk jasad.605 605 Al-Ijtihad al-Fiqhi lit Tabarru’i bid Damm wa Naqlihi hlm. 46, al-Masa'il ath-Thibbiyyah al-Mustajaddah 2/360. 322 Fiqih Kontemporer
2. Problem jual beli darah dan pemberian hadiah? Pada dasarnya darah adalah termasuk barang yang tidak boleh diperjualbelikan sebagaimana dalam hadits dan kesepakatan para ulama'. Namun, kadang-kadang badan yang menangani donor darah memberikan imbalan berupa hadiah bagi yang mendonor, apakah ini diperbolehkan?! Jawabannya adalah diperinci: Pertama: Apabila dia mendonorkan dengan adanya persyaratan imbalan hadiah seperti mengatakan: “Saya mau donor darah dengan syarat diberi imbalan ini dan itu”, maka ini tidak diperbolehkan karena menjadikan darah sebagai barang, dan itu tidak boleh. Kecuali, apabila dalam kondisi darurat tatkala seorang tidak mungkin mendapatkan darah kecuali dengan membeli maka boleh hukumnya karena darurat dan tidak ada dosa baginya, namun dosa bagi penjual. Kedua: Apabila memberikan hadiah tersebut sekadar sebagai motivasi dan hadiah atas amal sosial ini maka hukumnya boleh karena termasuk akad tabarru’ (pemberian) bukan mu’wadhat (imbal balik seperti jual beli).606 3. Donor darah membatalkan puasa? Masalah donor darah, para ulama' kontemporer menyamakan status hukumnya dengan hukum berbekam. Dan pendapat yang kuat adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama' yang mengatakan bahwa bekam tidak membatalkan puasa. Dengan demikian donor darah hukumnya tidak membatalkan puasa. Wallahu A’lam.607 4. Donor darah membuat mahram? Para ulama' membolehkan donor darah dari lelaki untuk wanita atau sebaliknya, dan mereka bersepakat bahwa hal itu tidak menjadikan606 Al-Bunuk ath-Thibbiyah hlm. 264–268 607 Lihat al-Mufthirath al-Mu’ashirah hlm. 94 oleh asy-Syaikh Ahmad al-Khalil. Fiqih Donor Darah Dalam Islam 323
nya sebagai mahram, tidak bisa disamakan dengan persusuan karena dua hal: 1. Darah bukanlah makanan seperti susu. 2. Syari’at telah membatasi sebab-sebab mahram pada tiga perkara: nasab, pernikahan, dan persusuan dengan syarat-syaratnya.608 Demikianlah beberapa pembahasan tentang fiqih donor darah. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan kepada kita semua dan menjadikan kita semua manusia yang suka menolong saudaranya. Daftar Rujukan: 1. Al-Bunuk ath-Thibbiyyah al-Basyariyyah wa Ahkamuha al-Fiqhiyyah. Dr. Isma’il Marhaba. Dar Ibnul Jauzi, KSA, cet. pertama, 1429 H. 2. Ad-Damm wal Ahkam al-Muta’alliqah Bihi Syar’an. Prof. Dr. Abdullah ibn Muhammad ath-Thariqi, Riyadh, KSA, cet. pertama, 1426 H. 3. Dan lain-lain. 608 Fatwa Lajnah Da'imah No. 19477 324 Fiqih Kontemporer
Kontroversi Hukum Imunisasi Polio Kontroversi Hukum Imunisasi Polio Tidak samar lagi bahwa ilmu kedokteran modern telah menemukan berbagai jenis obat-obatan dan alat penyembuhan yang tidak dikenal sebelumnya. Hanya, yang amat disayangkan, kebanyakan obatobatan tersebut ditemukan dan dibuat oleh tangan-tangan yang tidak peduli dengan hukum syari’at Islam, padahal dalam waktu yang sama kaum muslimin harus mengikuti perkembangan zaman yang ada. Oleh karena itu, seringkali muncul permasalahan dan pertanyaan di kalangan kaum muslimin di berbagai tempat yang tentunya membutuhkan jawaban yang benar sesuai dengan hukum agama Islam itu sendiri.609 Nah, di antara permasalahan yang masih menyisahkan tanda tanya, diskusi hangat, dan polemik panjang adalah masalah imunisasi. Dan yang kami maksud secara khusus di sini adalah imunisasi jenis vaksin polio khusus (IPV) yang diinformasikan menggunakan enzim yang berasal dari babi. Kajian berikut ini mencoba untuk mengetengahkan permasalahan secara sederhana dan pendapat yang kami nilai sebagai kebenaran, sekalipun kami menyadari mungkin akan ada sebagian saudara kami yang tidak sependapat dengannya. 609 Al-Mawad al-Muharramah wa Najasah fil Ghidza' wad Dawa', Dr. Nazih Hammad, hlm. 7–8. Kontroversi Hukum Imunisasi Polio 325
Harapan kami, semoga tulisan ini menggugah semuanya untuk mengkaji kembali masalah ini lebih dalam lagi sehingga bisa menghasilkan status hukum yang kuat dan jelas. Sekilas Tentang Imunisasi Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, imunisasi diartikan pengebalan (terhadap penyakit). Kalau dalam istilah kesehatan, imunisasi diartikan pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu. Biasanya, imunisasi bisa diberikan dengan cara disuntikkan maupun diteteskan pada mulut anak balita (bawah lima tahun). Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi tubuh terhadap penyakit. Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul pada masa kanakkanak. Imunisasi memiliki beberapa jenis, di antaranya Imunisasi BCG, Imunisasi DPT, Imunisasi DT, Imunisasi TT, Imunisasi Campak, Imunisasi MMR, Imunisasi Hib, Imunisasi Varisella, Imunisasi HBV, Imunisasi Pneumokokus Konjugata. Perinciannya bisa dilihat dalam buku-buku kedokteran. Intinya, jenis imunisasi sesuai dengan penyakit yang perlu dihindari. Vaksin secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin maka banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah jarang ditemukan.610 Jadi, imunisasi merupakan penemuan kedokteran yang sangat bagus dan bermanfaat besar sekali dalam membentengi diri dari berbagai penyakit kronis, padahal biayanya relatif murah.611 610 Sumber: http://medicastore.com/ Lihat pula al-Adwa hlm. 126 oleh Ali al-Bar, Ahkamul Adwiyah hlm. 128 oleh Dr. Hasan al-Fakki. 611 Ahkamu Tadawi, Ali al-Bar, hlm. 22. 326 Fiqih Kontemporer
Hukum Asal Imunisasi Imunisasi hukumnya boleh dan tidak terlarang, karena imunisasi termasuk penjagaan diri dari penyakit sebelum terjadi. Rasulullah bersabda: « م ن س س ولمهِلآ و ل و ع عكهِلآ ا ذلل ع لفهِلآ و ههِلآ س سضس ي ع مهِلآ و ل ع ونةهِلآ جع و ع ع لتهِلآ عرا م ع ت ع عهِلآ ع ب و س ع ونمهِلآ و ي ع سسكهِلآ حهِلآ ع ب صس ع ت ع نهِلآ و م ع ر حر و لهِلآ لس ع و ع »َو . “Barangsiapa yang memakan tujuh butir kurma ajwah, maka dia akan terhindar sehari itu dari racun dan sihir.” (HR al-Bukhari: 5768, Muslim: 4702) Hadits ini menunjukkan secara jelas tentang disyari’atkannya mengambil sebab untuk membentengi diri dari penyakit sebelum terjadi.612 Demikian juga kalau dikhawatirkan terjadi wabah penyakit lalu diimunisasi untuk membentengi diri dari wabah yang menimba maka hukumnya boleh sebagaimana halnya boleh berobat tatkala terkena penyakit.613 Penggunaan Vaksin Polio Khusus (IPV) Setelah sekelumit info tentang imunisasi di atas, sekarang kita masuk kepada permasalahan inti yang menjadi polemik hangat akhirakhir ini, yaitu imunisasi dengan menggunakan vaksin polio khusus (IPV) yang dalam proses pembuatannya menggunakan enzim yang berasal dari babi. Bagaimanakah gambaran permasalahan yang sebenarnya?! Dan bagaimanakah status hukumnya?! 612 Ibnul Arabi berkata: “Menurutku bila seorang mengetahui sebab penyakit dan khawatir terkena olehnya, maka boleh baginya untuk membendungnya dengan obat.” (al-Qabas 3/1129) 613 Majmu’ Fatawa wa Maqalat, asy-Syaikh Ibnu Baz, 6/26. Kontroversi Hukum Imunisasi Polio 327
1. Gambaran permasalahan Berdasarkan surat Menteri Kesehatan RI Nomor: 1192/MENKES/IX/2002, tanggal 24 September 2002, serta penjelasan Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Depertemen Kesehatan, Direktur Bio Farma, Badan POM, LP POM-MUI, pada rapat Komisi Fatwa, Selasa, 1 Sya’ban 1423 (8 Oktober 2002), dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Pemerintah saat ini sedang berupaya melakukan pembasmian penyakit polio dari masyarakat secara serentak dengan cara pemberian dua tetes vaksin Polio oral (melalui saluran pencernaan). 2. Penyakit (virus) Polio, jika tidak ditanggulangi, akan menyebabkan cacat fisik (kaki pincang) pada mereka yang menderitanya. 3. Terdapat sejumlah anak balita yang menderita immunocompromise (kelainan sistim kekebalan tubuh) yang memerlukan vaksin khusus yang diberikan secara injeksi (vaksin jenis suntik). 4. Jika anak-anak yang menderita immunocopromise tersebut tidak diimunisasi, mereka akan menderita penyakit Polio serta sangat dikhawatirkan pula mereka akan menjadi sumber penyebaran virus. 5. Vaksin khusus tersebut (IPV) dalam proses pembuatannya menggunakan enzim yang berasal dari porcine (babi), namun dalam hasil akhir tidak terdeteksi unsuk babi. 6. Sampai saat ini belum ada IPV jenis lain yang dapat menggantikan vaksin tersebut dan jika diproduksi sendiri, diperlukan investasi (biaya, modal) sangat besar sementara kebutuhannya sangat terbatas.614 2. Jembatan menuju jawaban Untuk sampai kepada status hukum imunisasi model di atas, kami memandang penting untuk memberikan jembatan terlebih dahulu de614 Himpunan Fatwa Majelis Ulama' Indonesia hlm. 369 328 Fiqih Kontemporer
ngan memahami beberapa masalah dan kaidah berikut, setelah itu kita akan mengambil suatu kesimpulan hukum:615 1. Masalah istihalah Maksud istihalah di sini adalah berubahnya suatu benda yang najis atau haram menjadi benda lain yang berbeda nama dan sifatnya. Seperti khamr berubah menjadi cuka, babi menjadi garam, minyak menjadi sabun, dan sebagainya.616 Apakah benda najis yang telah berubah nama dan sifatnya tadi bisa menjadi suci?! Masalah ini diperselisihkan ulama'. Hanya, pendapat yang kuat menurut kami bahwa perubahan tersebut bisa menjadikannya suci, dengan dalil-dalil berikut: a. Ijma’ (kesepakatan) ahli ilmu bahwa khamr apabila berubah menjadi cuka maka menjadi suci. b. Pendapat mayoritas ulama' bahwa kulit bangkai bisa suci dengan disamak, berdasarkan sabda Nabi n: « ر ع ه س ط ع دهِلآ و ق ع ف ع بهِلآ س عهلا لل عغهِلآ ا ب ل د س عذاهِلآ إ ل »َو . “Kulit bangkai yang disamak maka suci.” (Lihat Shahihul Jami’: 2711) c. Benda-benda baru tersebut—setelah perubahan—hukum asalnya adalah suci dan halal, tidak ada dalil yang menajiskan dan mengharamkannya. Pendapat ini merupakan madzhab Hanafiyyah dan Zhahiriyyah,617 salah satu pendapat dalam madzhab Malik dan Ahmad.618 Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah,619 Ibnul Qayyim, asy-Syaukani,620 dan lain-lain.621 615 Lihat al-Mawad al-Muharramah wa Najasah hlm. 16–38 oleh Dr. Nazih Hammad, Ahkamul Adwiyah fi Syari’ah Islamiyyah hlm. 187–195 oleh Dr. Hasan alFakki, Fiqih Shaidali al-Muslim hlm. 72–84 oleh Dr. Khalid Abu Zaid. 616 Lihat Hasyiyah Ibni Abidin 1/210. 617 Raddul Mukhtar 1/217, al-Muhalla 7/422. 618 Al-Majmu’ 2/572, al-Mughni 2/503. 619 Al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyyah hlm. 23 620 As-Sailul Jarrar 1/52 621 Lihat masalah ini secara luas dalam kitab al-Istihalah wa Ahkamuha fil Fiqhil IsKontroversi Hukum Imunisasi Polio 329
Alangkah bagusnya ucapan al-Imam Ibnul Qayyim v: “Sesungguhnya benda suci apabila berubah menjadi najis maka hukumnya najis, seperti air dan makanan apabila telah berubah menjadi air seni dan kotoran. Kalau benda suci bisa berubah najis, lantas bagaimana mungkin benda najis tidak bisa berubah suci? Allah telah mengeluarkan benda suci dari kotoran dan benda kotor dari suci. Benda asal bukanlah patokan, tetapi yang menjadi patokan adalah sifat benda tersebut sekarang. Mustahil benda tetap dihukumi najis padahal nama dan sifatnya telah tiada, padahal hukum itu mengikuti nama dan sifatnya.”622 2. Masalah istihlak Maksudnya istihlak di sini adalah bercampurnya benda haram atau najis dengan benda lainnya yang suci dan halal yang lebih banyak sehingga menghilangkan sifat najis dan keharamannya baik rasa, warna, dan baunya. Apakah benda najis yang terkalahkan oleh benda suci tersebut bisa menjadi suci? Pendapat yang benar adalah bisa menjadi suci, berdasarkan dalil berikut: « ئ ر ي و ش ع ههِلآ س س ج س ب ن ع ي س لهِلآ ع رهِلآ ر و و ه س ط ع ءهِلآ س عملا ل و ا »َو . “Air itu suci, tidak ada yang menajiskannya sesuatu pun.” (Shahih. Lihat Irwa'ul Ghalil: 14.) « ث ع ب لع و ع للهِلآ ا يلم ع و مهِلآ و ل ع يهِلآ و ل ت ع ل س ق س ءهِلآ س عملا ل و عغهِلآ ا ل ع ب ع عذاهِلآ إ ل »َو . “Apabila air telah mencapai dua qullah maka tidak najis.” (Shahih. Lihat Irwa'ul Ghalil: 23.) Dua hadits ini menunjukkan bahwa benda yang najis atau haram apabila bercampur dengan air suci yang banyak, sehingga najis tersebut lebur tak menyisakan warna atau baunya maka dia menjadi suci. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah v berkata: lami oleh Dr. Qadhafi Azzat al-Ghananim. 622 I’lamul Muwaqqi’in 1/394 330 Fiqih Kontemporer
“Barangsiapa yang memperhatikan dalil-dalil yang disepakati dan memahami rahasia hukum syari’at, niscaya akan jelas baginya bahwa pendapat ini paling benar, sebab najisnya air dan cairan tanpa bisa berubah sangat jauh dari dalil dan logika.”623 Oleh karena itu, seandainya ada seorang yang meminum khamr yang bercampur dengan air yang banyak sehingga sifat khamrnya hilang maka dia tidak dihukumi minum khamr. Demikian juga bila ada seorang anak bayi diberi minum air susu yang telah bercampur dengan air yang banyak sehingga sifat susunya hilang maka dia tidak dihukumi sebagai anak persusuannya.624 3. Dharurat dalam obat Dharurat adalah suatu keadaan terdesak untuk menerjang keharaman, yaitu ketika seorang memiliki keyakinan bahwa apabila dirinya tidak menerjang larangan tersebut niscaya akan binasa atau mendapatkan bahaya besar pada badannya, hartanya atau kehormatannya. Dalam suatu kaidah fiqhiyyah dikatakan: لت عرا و و ظ س ح و م ع ل و سحهِلآ ا ي و ب ل ت س تهِلآ س عرا و س سض و ال “Dharurat itu membolehkan suatu yang terlarang.”625 Namun, kaidah ini harus memenuhi dua persyaratan; tidak ada pengganti lainnya yang boleh dan mencukupkan hanya sekadar kebutuhan saja. Oleh karena itulah, al-Izzu ibn Abdissalam v berkata: “Seandainya seorang terdesak untuk makan barang najis maka dia harus memakannya, sebab kerusakan jiwa dan anggota badan lebih besar daripada kerusakan makan barang najis.”626 4. Kemudahan saat kesempitan 623 Majmu’ Fatawa 21/508, al-Fatawa al-Kubra 1/256. 624 Al-Fatawa al-Kubra, Ibnu Taimiyyah, 1/423; Taqrirul Qawa’id, Ibnu Rajab, 1/173. 625 Al-Asybah wan Nazha'ir, Ibnu Nujaim, hlm. 94; al-Asybah wan Nazha'ir, asySuyuthi, hlm. 84. 626 Qawa’idul Ahkam hlm. 141 Kontroversi Hukum Imunisasi Polio 331
Sesungguhnya syari’at Islam ini dibangun di atas kemudahan. Banyak sekali dalil-dalil yang mendasari hal ini, bahkan alImam asy-Syathibi v mengatakan: “Dalil-dalil tentang kemudahan bagi umat ini telah mencapai derajat yang pasti.”627 Semua syari’at itu mudah. Namun apabila ada kesulitan maka akan ada tambahan kemudahan lagi. Alangkah bagusnya ucapan al-Imam asy-Syafi’i v tatkala berkata: ت و ع ع س ع ت س وتهِلآ ا ق ع عضلا عذاهِلآ إ ل ءهِلآ ع عيلا ش و ل ع سنهِلآ ا أ ع ععهِلآ ع لهِلآ س و ص و س ل س ي لتهِلآ ا ع بلن س “Kaidah syari’at itu dibangun bahwa segala sesuatu apabila sempit maka menjadi luas.”628 5. Hukum berobat dengan sesuatu yang haram Masalah ini terbagi menjadi dua bagian: a. Berobat dengan khamr. Hukumnya adalah haram sebagaimana pendapat mayoritas ulama', berdasarkan dalil: ء ر عدا ههِلآ س ن س ل لك ع و ع عوانءهِلآ د ع ب ل عسهِلآ ي و ل ع ههِلآ س ن س إ ل “Sesungguhnya khamr itu bukanlah obat, melainkan penyakit.” (HR Muslim: 1984) Hadits ini merupakan dalil yang jelas tentang haramnya khamr dijadikan sebagai obat.629 b. Berobat dengan benda haram selain khamr. Masalah ini diperselisihkan ulama' menjadi dua pendapat: Pertama: Boleh dalam kondisi dharurat. Ini pendapat Hanafiyyah, Syafi’iyyah, dan Ibnu Hazm.630 Di antara dalil mereka adalah keumuman firman Allah: 627 Al-Muwafaqat, asy-Syathibi, 1/231. 628 Qawa’idul Ahkam hlm. 60 629 Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi, 13/153; Ma’alim Sunan, al-Khaththabi, 4/205. 630 Lihat Hasyiyah Ibni Abidin 4/215, al-Majmu’ 9/50 oleh an-Nawawi, al-Muhalla 7/426 oleh Ibnu Hazm. 332 Fiqih Kontemporer
چڀ ڀ ڀ ڀ ٺ ٺ ٺ ٺ ٿ ٿٿچ Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. (QS al-An’am [6]: 119) Demikian juga, Nabi n membolehkan sutera bagi orang yang terkena penyakit kulit, Nabi n membolehkan emas bagi Shahabat Arfajah a untuk menutupi aibnya, dan bolehnya orang yang sedang ihram untuk mencukur rambutnya apabila ada penyakit di rambutnya. Kedua: Tidak boleh secara mutlak. Ini adalah madzhab Malikiyyah dan Hanabilah.631 Di antara dalil mereka adalah sabda Nabi n: « ء ع لعوا س عوهِلآ ا ءهِلآ ع سلا عقهِلآ ا ل ع خ ع علهِلآ سنهِلآ ا إ ل ووا و ع عدا ت ع ف ع ،هِلآ رانم لبع ع وواهِلآ و ع عدا ت ع ت ع لهِلآ ع وهِلآ ع ،هِلآ »َو . “Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obat, berobatlah dan jangan berobat dengan benda haram.” (ash-Shahihah 4/174) Alasan lainnya karena berobat hukumnya tidak wajib menurut jumhur ulama', dan karena sembuh dengan berobat bukanlah perkara yang yakin. Pendapat yang kuat: Pada asalnya tidak boleh berobat dengan benda-benda haram kecuali dalam kondisi dharurat, yaitu apabila penyakit dan obatnya memenuhi kriteria sebagai berikut: 1) Penyakit tersebut termasuk penyakit yang harus diobati. 2) Benar-benar yakin bahwa obat ini sangat bermanfaat pada penyakit tersebut. 3) Tidak ada pengganti lainnya yang mubah.632 6. Fatwa-Fatwa Dalam kasus imunisasi jenis ini, kami mendapatkan dua fatwa yang kami pandang perlu untuk menukilnya di sini: 631 Lihat al-Kafi hlm. 440, 1142 oleh Ibnu Abdil Barr, al-Mughni 8/605 oleh Ibnu Qudamah. 632 Ahkamul Adwiyah, Dr. Hasan al-Fakki, hlm. 187. Kontroversi Hukum Imunisasi Polio 333
a. Fatwa Majlis Eropa lil Ifta' wal Buhuts Dalam ketetapan mereka tentang masalah ini dikatakan: “Setelah Majlis mempelajari masalah ini secara teliti dan menimbang tujuan-tujuan syari’at, kaidah-kaidah fiqih serta ucapan para ahli fiqih, maka Majlis menetapkan: 1) Penggunaan vaksin ini telah diakui manfaatnya oleh kedokteran yaitu melindungi anak-anak dari cacat fisik (kepincangan) dengan izin Allah. Sebagaimana belum ditemukan adanya pengganti lainnya hingga sekarang. Karena itu, menggunakannya sebagai obat dan imunisasi hukumnya boleh, karena bila tidak maka akan terjadi bahaya yang cukup besar. Sesungguhnya pintu fiqih luas memberikan toleransi dari perkara najis—kalau kita katakan bahwa cairan itu najis—apalagi terbukti bahwa cairan najis ini telah lebur dengan memperbanyak benda-benda lainnya. Ditambah lagi bahwa keadaan ini masuk dalam kategori dharurat atau hajat yang sederajat dengan dharurat, sedangkan termasuk perkara yang dimaklumi bersama bahwa tujuan syari’at yang paling penting adalah menumbuhkan mashlahat dan membendung mafsadat. 2) Majlis mewasiatkan kepada para pemimpin kaum muslimin dan pemimpin markaz agar mereka tidak bersikap keras dalam masalah ijtihadiyyah seperti ini yang sangat membawa mashlahat yang besar bagi anak-anak muslim selagi tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang jelas.633 b. Fatwa MUI (Majelis Ulama' Indonesia) Majelis Ulama' Indonesia dalam rapat mereka pada 1 Sya’ban 1423 H, setelah mendiskusikan masalah ini, mereka menetapkan: 1) Pada dasarnya, penggunaan obat-obatan, termasuk vaksin, yang berasal dari—atau mengandung—benda najis ataupun benda terkena najis adalah haram. 633 Website Majlis Eropa Lil Ifta’ wal Buhuts http://www.e-cfr.org/ dinukil dari kitab Fiqih Shaidali Muslim hlm. 107 oleh Dr. Khalid Abu Zaid. 334 Fiqih Kontemporer
2) Pemberian vaksin IPV kepada anak-anak yang menderita immunocompromise, pada saat ini, dibolehkan, sepanjang belum ada IPV jenis lain yang suci dan halal.634 Demikian juga fatwa MUI No. 6 Tahun 2010 pada 4 Sya’ban 1431 yang menyatakan ada jenis vaksin meningitis yang halal untuk para jama’ah haji atau umrah yang disyaratkan harus diimunisasi terlebih dahulu. Kesimpulan dan Penutup Setelah keterangan singkat di atas, kami yakin pembaca sudah bisa menebak kesimpulan kami tentang hukum Imunisasi IPV ini, yaitu kami memandang bolehnya Imunisasi jenis ini dengan alasan-alasan sebagai berikut: 1. Imunisasi ini sangat dibutuhkan sekali sebagaimana penelitian ilmu kedokteran. 2. Bahan haram yang ada telah lebur dengan bahan-bahan lainnya. 3. Belum ditemukan pengganti lainnya yang mubah. 4. Hal ini termasuk dalam kondisi dharurat. 5. Sesuai dengan kemudahan syari’at di kala ada kesulitan. Namun, sekalipun kami menilai bolehnya penggunaan ini, dalam waktu yang sama kita semua ingin agar obat-obatan kita bersih dari unsur-unsur keharaman sehingga tidak membingungkan masyarakat. Oleh karena itu, merupakan tugas para ahli kedokteran untuk mengupayakan jenis-jenis imunisasi yang bersih dari unsur-unsur haram seperti ini. Inilah analisis kami tentang masalah ini. Maka janganlah kita meresahkan masyarakat dengan kebingungan kita tentang masalah ini. Namun, seperti yang kami isyaratkan di muka bahwa pembahasan ini belumlah titik, masih terbuka bagi semuanya untuk mencurahkan pengetahuan dan penelitian baik dari segi ilmu medis maupun ilmu syar’i agar bisa sampai kepada hukum yang sangat jelas. Kita memo634 Himpunan Fatwa Majelis Ulama' Indonesia hlm. 664 Kontroversi Hukum Imunisasi Polio 335
hon kepada Allah agar menambahkan bagi kita ilmu yang bermanfaat. Amin. Daftar Rujukan: 1. Ahkamul Adwiyah fi Syari'ah Islamiyyah. Dr. Hasan ibn Ahmad al-Fakki. Darul Minhaj, KSA, cet. pertama, 1425 H. 2. Al-Mawad al-Muharramah wa Najasah fil Ghidza' wad Dawa'. Dr. Nazih Ahmad. Darul Qalam, Damaskus, cet. pertama, 1425 H. 3. Fiqih Shaidali Muslim. Dr. Khalid Abu Zaid ath-Thamawi. Dar Shuma’i, KSA, cet. pertama, 1428 H. 4. Himpunan Fatwa Majelis Ulama' Indonesia. 5. Dan lain-lain. 336 Fiqih Kontemporer
Kriminal Aborsi Dalam Hukum Islam Kriminal Aborsi Dalam Hukum Islam Muqaddimah Sesungguhnya agama Islam yang mulia ini dibangun di atas kemaslahatan bagi hamba. Sebab itu, Islam sangat menjaga lima perkara penting: agama, nyawa, kehormatan, harta, dan akal. Menjaga jiwa termasuk tujuan pokok syari’at yang mulia. Karena itu, begitu banyak ayat-ayat al-Qur'an dan hadits Nabi n yang memerintahkan untuk menjaga nyawa dan melarang keras dari segala hal yang dapat melukai atau mencederainya apalagi sampai merenggut nyawanya. Nabi Muhammad n bersabda: « ي و ل غ ع ب ل سلللمهِلآ و م س ل و للهِلآ ا ت و ق ع نهِلآ و عدهِلآ ا للهِلآ لم ن و نهِلآ لع س و ع ه و أ ع عهلاهِلآ ي و عملاهِلآ لف و ع عيلاهِلآ ن و ل ك لهِلآ ا س عوا ز ع ل ع ق ق ح ع »َو . “Hilangnya dunia beserta isinya sungguh lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim dengan tidak benar.”635 Tidak hanya sampai di situ saja, syari’at Islam bahkan menjaga nyawa janin yang masih dalam kandungan seorang ibu. Karena itu, 635 HR Ibnu Majah: 2668, at-Tirmidzi: 1395, an-Nasa'i: 3998 dengan sanad shahih. Kriminal Aborsi Dalam Hukum Islam 337
wanita yang hamil di bulan puasa Ramadhan jika khawatir terhadap dirinya atau janinnya maka boleh berbuka dengan kesepakatan ulama',636 dan juga jika ada seorang wanita yang bersuami lalu berzina dan tengah hamil maka tidak dirajam sampai melahirkan anaknya dengan kesepakatan ulama',637 demikian juga wajibnya memberi nafkah kepada istri tatkala hamil sekalipun telah cerai demi kemashlahatan bayi,638 dan sebagainya dari bukti perhatian Islam terhadap janin.639 Nah, pada kesempatan kali ini, kita akan mengkaji tentang kejahatan tindak kriminal aborsi dan pandangan hukum Islam terhadapnya. Semoga bermanfaat. Urgensi Pembahasan Ada beberapa faktor yang menunjukkan pentingnya bahasan tentang aborsi ini: 1. Banyaknya pertanyaan masyarakat mengenai hukum aborsi. 2. Kemajuan ilmu kedokteran modern sehingga praktik aborsi pada zaman sekarang begitu mudah sekali. 3. Praktik aborsi telah begitu marak dan merajalela pada zaman sekarang di belahan negara dunia, termasuk Indonesia akibat pergaulan bebas dan seks bebas (baca: zina) yang marak. Fenomena dan data praktik aborsi sungguh sangat mencengangkan dan mengerikan serta menyentak hati nurani. 4. Masalah aborsi banyak berhubungan dengan beberapa pihak terkait baik ahli kedokteran, ahli hukum, ulama', tokoh masyarakat, suami istri, dan lain-lain. 5. Aborsi banyak berkaitan dengan hukum Islam yang masih jarang diketahui oleh masyarakat, bahkan ada beberapa fatwa serampangan tentang masalah aborsi.640 636 Al-Mughni, Ibnu Qudamah, 3/139. 637 Al-Ijma’, Ibnul Mundzir, hlm. 142. 638 QS ath-Thalaq [65]: 6 639 Lihat penjelasan lebih luas tentang perhatian Islam kepada janin dalam Huququl Janin fi Syari’ah Islamiyyah oleh Abdullah ibn Abdurrahman ad-Duwaisy. 640 Lihat al-Ijhadh fil Fiqhil Islami hlm. 7–8 oleh Dr. Ibrahim ibn Muhammad Qasim, al-Masa'il ath-Thibbiyyah wal Mu’amalat al-Maliyah al-Mu’ashirah hlm. 2 338 Fiqih Kontemporer
Definisi Aborsi Secara etimologis, aborsi adalah menggugurkan anak sehingga ia tidak hidup. Adapun secara terminologis, aborsi adalah praktik seorang wanita yang menggugurkan janinnya sehingga tidak hidup padahal telah tampak sebagian ciptaannya, baik dilakukan sendiri ataupun orang lain.641 Sejarah Aborsi Aborsi adalah buah ideologi untuk membatasi pertumbuhan penduduk dan pembatasan keturunan. Pada akhir abad ke-18 M, berkembanglah di Eropa sebuah pemikiran yang dipelopori oleh pendeta bernama Thomas Robert Malthus, ia berpendapat bahwa pertambahan populasi penduduk yang begitu pesat dari 2, 4, 8, 16, 32, … dst., sedangkan data devisa negara hanya dapat mencukupi antara 3, 4, 5, 6, 7, 8, … dst. Oleh karena itu, negara terancam kelaparan bila hal ini terus dilestarikan, maka ia mengajak kepada pembatasan keturunan dengan jalan memakai gaya hidup rahib (tidak menikah), atau mengakhirkan proses perkawinan sampai populasi penduduk tidak bertambah pesat. Teori Malthus ini diikuti oleh masa berikutnya, tetapi dengan menggunakan alat-alat pembatasan keturunan. Teori ini berkembang di Amerika. Awalnya, mendapatkan protes dan pertentangan keras sampai terjadi Perang Dunia I tahun 1914–1918 M, lalu berubahlah persepsi masyarakat disebabkan masuknya wanita ke lapanganlapangan kerja dan buruh. Berangkat dari sinilah berkembang beraneka ragam alat pencegah kehamilan. Pada tahun 1942, ada undang-undang pembatasan keturunan di Amerika dan hal itu mendapatkan dukungan hangat dan respons positif masyarakat sehingga diadakan berbagai seminar dan dibagikan berbagai selebaran tentang anjuran penggunaan alat pembatasan keoleh Dr. Khalid ibn Ali al-Musyaiqih. 641 Demikian definisi yang dipilih oleh Dr. Ibrahim Qasim dalam kitabnya, alIjhadh fil Fiqhil Islami hlm. 88 setelah memaparkan beberapa definisi yang disampaikan para ulama' dan ahli kedokteran. Kriminal Aborsi Dalam Hukum Islam 339
turunan demi mengantisipasi melonjaknya angka pertumbuhan penduduk sehingga pada tahun 1964 menjadi undang-undang resmi dan diikuti oleh beberapa negara lainnya, termasuk negara-negara Islam juga.642 Sikap Berbagai Agama dan Negara Memandang Aborsi Aborsi dalam pandangan agama-agama sebelum Islam adalah haram dan termasuk tindak kejahatan. Dalam agama Yahudi, mereka mengharamkan aborsi. Mereka menetapkan sanksi yang amat berat bagi suami istri yang melakukan aborsi dengan unsur kesengajaan. Akan tetapi, hukuman tersebut tidak sampai pada taraf hukuman mati. Dalam agama Nashrani, mereka mengharamkan aborsi secara mutlak dan memberikan sanksi mati serta menganggap aborsi sebagai bentuk kriminal pembunuhan. Oleh karena itu, di Inggris sampai pada tahun 1524 hukuman bagi pelaku aborsi adalah hukuman mati. Kemudian hukuman aborsi diringankan menjadi penjara seumur hidup, lalu diringankan lagi sampai menjadi boleh di berbagai negara. Sebagai contoh di Amerika, awalnya hukuman aborsi di sana adalah hukuman mati, lalu diringankan menjadi penjara seumur hidup lalu menjadi boleh. Negara yang pertama kali membolehkan aborsi adalah Uni Soviet pada tahun 1920, kemudian pada tahun 1935 mereka melarang karena banyak kasus kematian wanita yang melakukan aborsi. Lalu diikuti oleh negara Jepang pada tahun 1948, kemudian Cina, Italia, dan negara-negara Eropa lainnya. Adapun negara Islam yang membolehkan undang-undang aborsi pertama kali adalah Tunisia bagi yang memiliki lima anak.643 Bagaimana dengan Indonesia? Menurut hukum-hukum yang berlaku di Indonesia, aborsi (pengguguran janin) termasuk kejahatan yang 642 Al-Ijhadh fil Fiqhil Islami, Dr. Ibrahim ibn Muhammad Qasim, hlm. 93–96. 643 Al-Ijhadh fil Fiqhil Islami, Dr. Ibrahim ibn Muhammad Qasim, hlm. 97–101 (secara ringkas). 340 Fiqih Kontemporer
dikenal dengan istilah abortus provocatus criminalis. Yang menerima hukuman adalah ibu yang melakukan aborsi, dokter atau bidan atau dukun yang membantu melakukan aborsi, dan orang-orang yang mendukung terlaksananya aborsi. Disebutkan pada Pasal 346: Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. Juga disebutkan pada Pasal 348: 1. Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. 2. Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun.644 Data Statistik Aborsi yang Mencengangkan Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), jumlah janin yang digugurkan karena aborsi hingga tahun 1984 M telah mencapai 50 juta jiwa, sedangkan ibu yang meninggal karena aborsi 170 hingga 200 ribu jiwa. Di Amerika, misalnya, jumlah janin yang gugur karena aborsi antara tahun 1973–1983 mencapai 15 juta jiwa. Pada tahun 1971 terdapat 1.156 wanita yang melakukan aborsi di kota New York. Di kota tersebut terdapat lebih dari 300 rumah sakit yang menerima aborsi, bahkan ada sebuah iklan yang dipajang di tempat fasilitas umum: “Anda ingin aborsi? Segera hubungi kami”.(!!!) Di Jepang, pada tahun 1955, data aborsi di sana baik resmi atau ilegal sekitar 2 juta jiwa. Di Uni Soviet—negara yang pertama kali membolehkan undang-undang aborsi—data aborsi di sana hingga tahun 1978 sekitar 700 juta jiwa. Dan di Prancis, jumlah aborsi di sana lebih 644 Lihat makalah “Aborsi Menurut Perspektif Usul Fiqih” oleh Rizki Sugianto, Skripsi S1 Sekolah Tinggi Agama Islam Miftahul Ula, Nganjuk, Jawa Timur. Kriminal Aborsi Dalam Hukum Islam 341