The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Janda Muda (Nh. Dini)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-09-11 01:09:51

Janda Muda

Janda Muda (Nh. Dini)

Janda Muda

Ya, kita telah sama-sama menjadi saksi
dari suatu kejadian,

yang kita tidak tahu apa-apa,
namun lahir dari perbuatan kita.

Rendra
(dari “Sajak Kenalan Lamamu”)

Janda Muda

Kumpulan Cerita Pendek

Nh. Dini

JANDA MUDA
Kumpulan Cerita Pendek

Karya Nh. Dini
Diterbitkan oleh
PT Dunia Pustaka Jaya
Jl. Gumuruh No. 51, Bandung 40275
Telp. 022-7321911 Faks. 022-7330595
Email: [email protected]
Anggota Ikapi
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Desain sampul: Ayi R. Sacadipura
Cetakan tahun 2003 oleh Grasindo
EDISI PUSTAKA JAYA
Cetakan pertama, 1983
dengan judul Segi dan Garis
Cetakan kedua, 2014
ISBN 978-979-419-419-5

Kata Pengantar

Di dalam kumpulan ini, saya tidak meninggalkan kebiasaan
dalam mengarang, yaitu memasukkan unsur kehidupan nyata
yang saya baca di surat kabar atau kebetulan saya lihat/dengar
di lingkungan. Tidak jarang kejadian di suatu tempat saya ga-
bungkan dengan bacaan dari koran-koran itu.

Cerpen “Pandanaran”, “Hujan”, dan “Sebuah Teluk” tampak
nyata merupakan hasil pengamatan saya di daerah asal, yaitu
kota Semarang dan kawasan hunian nelayan yang serba keku-
rangan, yang bahkan sampai kini di awal abad ke-21 pun masih
belum direngkuh kehidupan sejahtera.

Tokoh-tokoh di dalam cerpen “Pandanaran” mungkin bisa
tinggal di kampung lain. Tetapi di masa saya menulisnya, Jalan
Pandanaran merupakan satu jalur jalan besar yang dipinggiri
rumah-rumah gedung amat mewah jika dibandingkan dengan
kerumunan kampung di belakangnya. Dan saya sangat sering
lewat di sana untuk pergi ke RRI, sambil selalu mengawasi peng-
huni rumah-rumah reyot yang merana itu lalu lalang sebagai
tukang becak atau buruh. Demikian kontrasnya sehingga rasa
iba mendorong saya untuk mengabadikan nama jalan itu di
dalam cerpen saya.

Cerpen-cerpen “Di Langit, di Hati”, “Ke Luar Tanah Air”,
“Perjalanan”, dan “Wanita Siam” saya tulis ketika saya masih
bekerja di perusahaan penerbangan Garuda di paruh kedua

5

tahun 50-an. Seperti pembaca dapat melihat sendiri, lingkungan
yang saya gambarkan erat berhubungan dengan profesi saya di
masa itu.

Cerpen ‘Janda Muda” saya tulis kemudian, sekitar tahun
1970-an untuk merekam betapa sikap umum masyarakat terhadap
kaum janda. Hal ini di kemudian hari (dekade berikutnya) saya
kembangkan lagi di dalam novel saya Jalan Bandungan (1989).

Cerpen-cerpen lainnya adalah hasil observasi saya dalam
kehidupan Barat, di Eropa di tahun 1960-an. Ada yang saya
tulis di Versailles, yaitu rumah tempat tinggal pertama saya di
negeri adoptif Prancis; ada yang saya kerjakan di rumah sahabat
saya Mireille Labat, yaitu sebuah vila bernama La Barka di Trans-
en-Provence (Prancis Selatan). Bahkan ada yang saya kerjakan
di sebuah kapal.*

Ternyata ragam kehidupan di mana pun tetap sama: bergerak
penuh liku-liku yang menyengsarakan dan menggoda manusia.
Kita harus tanggap dan berlaku bijak dalam menyikapinya.

Sendowo, Mlati,
Juli 2003
Nh. Dini

* Seri Kenangan, buku Dari Parangakik ke Kampuchea (2003).

6

Daftar Isi

Kata Pengantar — 5

Janda Muda — 9
Pandanaran — 26
Hujan — 35
Sebuah Teluk — 49
Perjalanan — 61
Di Langit, Di Hati — 70
Keluar Tanah Air — 78
Wanita Siam — 86
Di Pondok Salju — 99
Ibu Jeanette — 108
Penanggung Jawab Candi — 117
Kebahagiaan — 128

Biografi Singkat — 142

7

8

Janda Muda

Warsiah telah siap berdandan.
Sore itu dia mengenakan kain kebayanya yang terbaru, dibeli
untuk berlebaran tahun lalu. Kainnya bukan batik tulis. Terlalu mahal
bagi sakunya yang tipis. Itu hanya batik cap-capan, tetapi berasal
dari Sala, dibawa langsung oleh kakak iparnya pedagang ulang-alik
antara kota-kota di sekitarnya. Coraknya lembut Daniris,1 disela
oleh beberapa bentuk bunga di sana-sini. Zaman sekarang banyak
terdapat tambahan pada pola dan corak batik klasik atau setengah
asli. Demikian pula campuran warna yang beraneka ragam. Warsiah
suka kepada kain itu. Daniris memberikan pandangan keseluruhan
yang nyaman, tanpa gambaran menonjol. Warna coklat terang sesuai
dengan suasana yang akan dia hadiri.
Kebayanya hijau agak gelap. Disampiri selendang tipis dari
bahan sederhana merah cerah. Ini cukup memberi nada ketidak-
murungan bagi keseluruhan pakaiannya.
Sore itu, dia akan menghadiri pertemuan perkenalan guru-guru
Sekolah Menengah di bagian kota sebelah barat. Surat undangan
menyebutkan pertemuan ramah-tamah, yang bagi Warsiah merupa-
kan perkenalan karena dia pendatang baru. Tetapi di dalam hati,
Warsiah menyimpan harapan tersembunyi, yang bahkan dia sendiri
pun dengan rasa malu berusaha menyingkirkannya.

1. udan riris, motif hujan gerimis dalam batik

9

Setiap kali “itu” singgah di kepalanya, dengan susah-payah
ia menyibukkan diri mengerjakan sesuatu yang bisa merebut
perhatiannya. Namun di samping itu, Warsiah kadang-kadang
termenung serta bergulat dalam hati untuk menentang bahwa
itu bukanlah perasaan yang patut dihindari.

Lalu dia biarkan lamunan itu menggambarkan kejadian-
kejadian yang akan datang, yang diharapkan bisa terjadi. Biasa-
nya itu berlarut-larut serta merupakan bayangan yang terlalu
berbahaya. Warsiah terbangun sadar dan kecewa menemukan
hal yang sebenarnya, jauh berbeda dari apa yang dia impikan.
Hal tersebut tidak menghalanginya buat mengulang lamunan
yang sama pada kesempatan yang datang kembali.

Sebagai anak terakhir keluarga biasa, Warsiah memikat pan-
dang tetangga maupun sanak-saudara karena warna kulitnya
yang kekuningan seperti buah langsat. Sedari kecil, tubuh yang
lebih terang dari keempat saudara kandungnya itu menjadikan-
nya anak sanjungan bapaknya. Pada waktu ibunya tidak mene-
mukan lagi alasan untuk mencegah anak-anak yang lebih besar
agar tidak berenang atau mandi-mandi di sungai di pinggir desa,
maka ia akan berseru,

“Lihatlah bagaimana kuningnya Warsiah! Ia tidak sering ke-
luar rumah! Kalau ke ladang selalu memakai caping. Kalau kalian
juga demikian, pastilah Bapak akan lebih senang kepada kalian.”

*
Dari kelima anak, Warsiah pulalah yang dapat dibanggakan
di lapangan pengajaran. Ia sampai pada tingkatan pendidikan
guru. Dengan izin istimewa dari bapaknya, Warsiah keluar dari
desa dan tinggal di asrama serta mengikuti pelajaran selama
tiga tahun.
Sebenarnya tidak jauh. Ada bus yang menghubungkan kedua
tempat itu dengan mudah. Kereta api juga tersedia, bahkan de-
ngan biaya jauh lebih rendah. Tapi Warsiah mempergunakan
bus guna mengunjungi keluarga pada waktu-waktu libur. Bus
10

itu dapat berhenti di pinggir jalan besar, dekat dengan kam-
pungnya.

Sejak turun dari kendaraan, dia lebih sering bertemu dengan
kenalan atau tetangga, kadang sanak-saudara, yang tanpa sem-
bunyi-sembunyi memperlihatkan kekagumannya. Karena War-
siah salah seorang di antara sebegitu sedikit anak perempuan di
desa itu yang bisa meneruskan sekolah melampaui tingkatan
dasar.

Pemuda-pemuda pun jarang yang meneruskan pendidikan.
Kalaupun ada, akhirnya mereka tidak lagi pulang kampung,
karena mendapat atau memilih bekerja di kota besar.

Selama tiga tahun Warsiah menerima anugerah ikatan dinas
dari pemerintah. Untuk membayarnya, bapaknya yang lanjut
usia itu menyarankan anak kesayangannya mengajukan permo-
honan ditempatkan di desa setelah lulus dari pendidikan guru.
Sebetulnya Warsiah ingin melihat kota, mengenal daerah lain.
Tetapi dia bukan anak yang bersifat membantah kemauan or-
ang tua. Dengan jelas, dia juga bisa melihat betapa keluarganya
hendak membanggakannya. Ia termasuk pengajar pertama yang
berasal dari desa itu setelah perang revolusi.

“Nak Warsiah adalah guru yang sesungguhnya,” kata Kepala
Desa bilamana ia turut duduk mengobrol di warung dekat jalan
besar, sambil menanti lewatnya bus-bus dari Ibu Kota. Bagi
mereka, guru yang sesungguhnya ialah guru lulusan dari Sekolah
Guru. Karena sejak perang revolusi, sekolah-sekolah yang dise-
lenggarakan di kampung-kampung mengambil guru dari kalang-
an mana saja, seadanya.

*
Seorang guru dalam keluarga! Alangkah bangganya! Seorang
perempuan yang mengajar di sekolah desa, tempat tinggal keluar-
ganya.
Betul umurnya yang muda dan tubuhnya yang kecil itu ba-
rangkali kurang meyakinkan orang terhadap Warsiah melak-

11

sanakan tugasnya. Tetapi baginya, mengajar di kelas rendahan
tidak memerlukan pengetahuan otak yang berbelit-belit. Apalagi
pada waktu itu, negara baru keluar dari kekacauan. Organisasi
belum teratur benar di segala lapangan. Mengajar di Sekolah
Dasar, yang dipentingkan ialah pengertian agar dapat dimengerti
oleh murid. Hal ini Warsiah dapat mencakupnya.

Dia suka kepada anak-anak. Ditambah dengan ajaran ilmu
jiwa yang diterima pendidikannya, ia bisa menanamkan penger-
tian. Hal itu menjadi lebih mudah lagi karena Warsiah molek-
moblong oleh wajah yang terang kekuningan. Dia mendapat sebut-
an cantik. Kepala sekolah melarang guru wanita bersolek. Waktu
itu, di kalangan tertentu, ramuan hiasan wajah dianggap sebagai
barang haram yang hanya dipergunakan oleh golongan perem-
puan tertentu dan kupu-kupu malam. Kalaupun itu boleh dipa-
kai, hanyalah sebagai hiasan pengantin yang bersanding di pela-
minan.

Beberapa mulut usil yang cemburu mengatakan badan War-
siah tidak begitu sehat. Karena itu, warna kulit tidak segelap
kebanyakan orang desa.

“Wajahnya selalu pucat,” sambung yang lain.
Memang mukanya tampak datar oleh garis kebiruan bibir-
nya. Apalagi pada musim-musim sejuk kala hujan yang tidak
berkeputusan melembabkan seluruh sawah-ladang. Tapi di sam-
ping itu, orang tidak dapat membantah bahwa Warsiah mempu-
nyai rambut lebat dan hitam, warisan dari ibunya. Matanya
biasa, membulat sederhana berwarna coklat tua. Demikian pula
alis serta bulu matanya lurus. Hidungnya kecil melebar, dengan
lubang yang kelihatan terlalu besar. Mulutnya menggaris dengan
bibir bawah yang tebal nggandul manas ati, menggantung dan
merangsang hati. Bagi laki-laki merupakan daya tarik tersendiri.
Dengan bekal itulah Warsiah mulai bekerja, mengajar di se-
kolah desanya. Hidup berlangsung tanpa perubahan- perubahan
yang mendadak. Lingkungan desa meluas. Rumah baru muncul
di sana-sini, mendesak dan menelan ladang serta sawah.
Tahun berganti tahun; batas desa yang satu dan desa lainnya
12

tidak kelihatan lagi karena kepadatan penduduk serta atap
rumah. Akhirnya, desa merupakan kota kecil yang kemudian
memiliki taman-taman dan gedung bioskop. Rombongan wayang
orang dan ketoprak bergiliran datang memeriahkan bangunan
bambu yang tersedia di alun-alun.

Demikian semuanya berlangsung hingga datanglah saatnya
pemerintah daerah merencanakan pembangunan tempat cadang-
an air minum yang akan disalurkan ke ibu kota provinsi, tidak
jauh dari sungai di pinggir desa itu.

Begitu kabar sampai di telinga mereka, pokok pembicaraan
yang baru merupakan kesibukan selama beberapa waktu. Wa-
rung di tepi jalan tempat orang-orang menunggu lewatnya bus
dan kendaraan lain menjadi pusat pemberitaan. Mereka berba-
hagia dapat menemukan pokok percakapan yang lepas dari ke-
biasaan. Dan dari sanalah pula tersebar kabar bahwa seorang
asisten insinyur bangunan tersebut adalah pemuda tegap ber-
wajah tampan yang berasal dari desa itu juga. Berduyunan pen-
duduk pergi menyelidik, memperhatikan, dan mengawasi para
buruh dan pekerja.

Bapak Warsiah telah lama mengandung kekhawatiran di
dada. Tiga tahun sudah berlalu sejak anak perempuan yang dika-
sihi itu kembali ke desa, menjalankan tugas yang dipercayakan
pemerintah mendidik calon-calon warga negara yang baik. Dari
tahun ke tahun pula bapak yang tua itu mengharapkan seorang
laki-laki yang dapat dijodohkan bagi Warsiah.

Sekali dua kali, seorang guru lelaki rekan anaknya berkun-
jung. Tetapi hanya sampai kepada pergaulan biasa. Tampaknya,
anak perempuan itu tidak mempunyai perhatian yang lebih dari-
pada kerja sama mengenai soal-soal sekolah. Berdua mereka bah-
kan mengawal anak-anak kelas tertinggi waktu berdarmawisata
ke Candi Borobudur. Lalu ia tidak menemukan kelanjutan yang
diharapkan oleh keduanya.

Ia juga bertanya-tanya di antara tetangga yang mempunyai
anak-anak muda. Dia mendengar tentang seorang pemuda yang
belajar di Sekolah Tinggi Teknik di Jawa Barat. Anak muda itu

13

tidak pernah pulang sejak keluar dari sekolah. Dengan bapak
pemuda itu ia sering bertemu di warung pinggir jalan. Sekali-
sekali keduanya berhubungan mengenai pembagian benih baru
atau persoalan lain mengenai persawahan.

Bapak Warsiah tidak melihat kemungkinan mengawinkan
anaknya dengan pemuda dari Sekolah Tinggi itu.

Hingga tiba saat pembangunan bak cadangan air di pinggir
desanya. Seolah dia sendirilah yang akan kawin, hatinya ber-
debar ketika melihat pemuda itu untuk pertama kalinya sejak
bertahun-tahun. Gembira bercampur khawatir.

Akhirnya dia berkesempatan berbicara dengan bapak pe-
muda itu. Dari percakapan ke percakapan, keduanya akan mem-
pergunakan kebijaksanaan Mak Sum, perempuan setengah umur
yang kerjanya menggugah niat perkawinan atau hubungan gelap.
Hal itu tidak mengambil waktu lama. Nama Warsiah sendiri
cukup baik sebagai jaminan menjadi menantu. Pertemuan kedua
muda-mudi itu pun direncanakan. Dulu mereka telah saling
mengenal, tetapi telah lama tidak bertemu muka. Tahun dan
waktu menumbuhkan masa muda berkembang dan berseri, me-
nuruti lingkungan masing-masing.

Warsiah tidak mengetahui maksud bapaknya. Tapi di dalam
hati dia mengakui, hingga waktu itu, pemuda itulah yang paling
menarik. Mungkin ini disebabkan oleh caranya berpakaian yang
rapi atau pantas. Tidak seperti rekan-rekan guru atau pemuda
lain yang dia kenal. Atau barangkali oleh caranya berbicara yang
lemah lembut, suara rendah penuh perhatian.

Dua kali bertemu, Warsiah telah merindukannya. Lalu sam-
pailah saat mereka keluar bersama menonton film Amerika di
satu-satunya gedung bioskop kawasan desa. Mereka pergi ke
kota menonton pasar malam. Bersama para insinyur, keduanya
bertamasya ke candi Ratu Baka dan makan siang di sana.

Warsiah bahagia.
Akhirnya, bapaknya memberitahukan bahwa orang tua ke-
dua pihak sedang mempersiapkan perkawinan. Musim panen
segera datang. Sawah akan menghasilkan tabungan cukup jika
14

tikus dan hama tidak merajalela.
“Ini merupakan perkawinan terakhir yang kami seleng-

garakan,” kata bapaknya, “yang terakhir dan terbesar, karena
kau guru dan bakal suamimu calon insinyur!”

Warsiah termenung sebentar mendengarnya.
Bapak itu tidak menyembunyikan betapa besar kebanggaan
yang menguasai dadanya. Perkawinan itu akan merupakan pun-
cak kehidupannya hingga Tuhan akan memanggilnya kembali.
Warsiah mulai menyadari bahwa semua kejadian, pertemuan,
makan bersama sebagai selamatan ulang tahun, kunjung-me-
ngunjungi antara kedua keluarga, semuanya telah diatur serta
direncanakan.
Namun, ia pun tidak menyesali hal tersebut. Benih keka-
guman telah tumbuh menjadi kasih sayang. Pada waktu mereka
keluar berdua, dengan gemetar Warsiah mengharapkan perla-
kuan akrab pemuda itu. Sentuhan tangan, rangkulan di pundak.
Tetapi itu tidak pernah terjadi. Satu kali di gedung bioskop,
dan kali lain di dalam becak waktu hujan, tiba-tiba pemuda itu
meraih tengkuk dan mencium mulutnya dalam-dalam. Lidah
panjang dan panas hampir mencekiknya dan membuatnya ingin
muntah.
Gerakan yang kasar. Yang mengejutkan. Tetapi Warsiah tidak
berani membantah. Membiarkan dirinya dipeluk dan diraba.
Tangannya tergagap mencari pegangan. Demikian pula ketika
berkesempatan berdua di gubuk sawah bapaknya. Dalam ke-
asyikan diciumi oleh pemuda itu, Warsiah tidak sadar bahwa
gaunnya telah tersingkap, dan tangan pemuda pasangannya le-
luasa membelai bagian-bagian lekuk antara kedua pahanya. Dia
hampir berteriak ketika merasakan aliran listrik menyengat kepe-
kaan kulit itu. Namun, suaranya tenggelam jauh di tenggorokan,
tersumbat oleh mulut kekasihnya.
Dia tidak pernah mendapat pelajaran tentang terjadinya
kehidupan benih manusia. Di sekolah guru pun tidak diberita-
hukan hal-hal yang bersangkutan dengan hubungan laki-laki
perempuan. Tetapi di asrama, gadis-gadis biasa bertukar pikiran,

15

saling memberitahukan pengetahuan yang pernah didengar. Ke-
tika dulu pertama kali menyadari mengalirnya cairan merah
dari sudut rahasia tubuhnya, dengan tersedan dia mengabarkan
kepada ibunya. Lalu orang tuanya hanya membujuk dan menga-
takan bahwa hal itu biasa terjadi pada gadis kecil yang menjadi
dewasa. Di sekelilingnya sanak-saudara perempuan bergantian
mulai menggoda dengan senda atau ejekan manis. Mereka meng-
adakan selamatan menandai meningkatnya ke alam akilbalik.
Hari itu pula Warsiah menerima hadiah-hadiah sebagai pisung-
sung masuknya ke alam dewasa.

Seperti kebanyakan gadis maupun perempuan, Warsiah mem-
punyai impian bagaimana pemuda yang ingin dia cintai. Dia
juga membayangkan bagaimana pergaulan yang hendak dilaks-
anakan bersamanya. Baginya, laki-laki yang mencinta selalu
berkelakuan lemah lembut, penuh bujukan. Dua kali pemuda itu
memeluk dan menciuminya. Dan keduanya menyimpang sama
sekali dari apa yang selalu dibayangkan Warsiah. Tidak ada per-
kataan merayu atau memuji. Tanpa ada pandangan mengusap
yang meruntuhkan hati. Ajakan bercinta yang datangnya dengan
tiba-tiba tidak mengena di hati Warsiah yang polos, karena lebih
berupa serangan daripada cumbuan. Ciuman dan rabaan yang
dia terima tidak terasa kenikmatannya. Dan ketika yang ketiga
kalinya pasangannya mencium serta mengusapkan tangan pada
kulit pahanya, Warsiah lebih tersengat oleh naluri daripada kelem-
butan rayuan.

Agaknya naluri pulalah yang menyebabkan dia bermenung
ketika mendengar suara bapaknya mengabarkan bakal perka-
winannya dengan pemuda itu. Warsiah menyadari, ia tidak me-
ngenal pemuda itu baik-baik. Mereka bertetangga. Sama-sama
menjadi kebanggaan orang tua.

Umur Warsiah lebih tua beberapa bulan dari pasangannya.
Tingkatan pendidikan boleh dikatakan seimbang.

Dipandang sepintas lalu, segalanya bisa berlangsung dengan
baik. Perkawinan yang sepadan. Pasangan yang cocok!

Namun, Warsiah tidak puas. Dirasakan ada sesuatu yang
16

tidak pada tempatnya. Selama beberapa hari pada saat-saat me-
nyendiri, ia memikirkan apa yang tidak beres mengenai per-
gaulan mereka. Dan tunangannya, begitulah orang mulai menye-
butnya di rumah, terlalu mengenal kota besar. Terlalu mengerti
seluk-beluk kehidupan kota. Dia tentulah mengenal banyak gadis
dan wanita di sana. Dia bahkan mungkin telah beribu kali me-
ngelus dan mencium mereka seperti yang telah dikerjakan ter-
hadap dirinya.

Perkawinan bukan untuk dua atau tiga hari. Warsiah me-
nginginkan pengenalan lebih lanjut guna menyelami watak serta
sifat bakal suaminya. Tetapi desakan dari sana- sini meng-
himpitnya. Apa lagi yang ditunggu? Pertanyaan semacam itu
berulang kali terdengar, datangnya dari mulut yang berlainan.

Ya, apa yang dia tunggu?
Umurnya dua puluh empat tahun. Terlalu banyak gadis yang
tinggal di kota kecil maupun desa padat yang saling mengenal
dan memiliki hak buat membicarakan kehidupan gadis lain.
Kelompok Candi Loro Jonggrang yang megah menguasai kelu-
asan pemandangan sekitarnya, menambahkan pula ketergesaan
setiap keluarga untuk mengawinkan gadisnya. Anak-anak perem-
puan di daerah itu tumbuh dan dibesarkan oleh ancaman kutuk-
an Bandung Bondowoso bahwa jenis mereka tidak akan laku
kawin dan menjadi perawan tua.
Takhayul yang kemudian menjadi kepercayaan ini berlang-
sung sampai zaman mutakhir. Dan Warsiah yang telah mengecap
pendidikan tinggi di kalangan keluarganya pun tidak bisa mele-
paskan diri dari cengkeraman itu. Dalam hati kecil ia mengakui
ketakutannya terhadap kutukan tersebut. Barangkali itulah se-
babnya mengapa dia memutuskan tidak mencari-cari lagi apa
yang menyebabkan dia ragu-ragu mengawini pemuda tampan
si calon insinyur.
Perkawinan berlangsung meriah. Berbagai tontonan diseleng-
garakan. Kedua keluarga menghabiskan panen tahun ini. Meng-
gadaikan hasil yang akan datang. Tidak mengapa berutang sela-
ma bertahun-tahun yang menjelang. Pokoknya orang di desa

17

tidak cepat melupakan perhelatan yang megah itu.
Selama tiga hari tiga malam bergantian pertunjukkan dihi-

dangkan. Dari orkes keroncong, gamelan, tarian daerah yang
disuguhkan murid-murid sekolah, hingga wayang kulit yang
dilakukan oleh dalang terkenal di malam akhir. Demikian pula
pada hari ketujuh dan kedelapan, pesta disambung lagi karena
pengantin pindah dari rumah pihak perempuan ke pihak laki-
laki.

Warsiah bahagia.
Dia mengira sungguh-sungguh akan bahagia. Dari malam
pertama ke malam-malam selanjutnya ia mulai belajar mengenal
rahasia keakraban suami-istri. Dan dari hari ke hari dia merasa
mengetahui sifat laki-laki yang dia nikahi.
Sebulan sekali, selama beberapa hari, suaminya pergi ke Jawa
Barat untuk mengikuti kuliah beberapa mata pelajaran. Beberapa
hari pula pergi ke kota guna mengikuti pertemuan dengan para
ahli yang bertanggung jawab atas perkembangan bangunan di
sekitar. Setiap kali suami itu bepergian, Warsiah merasakan beta-
pa panjangnya hari, betapa lambatnya waktu berlalu.
Enam bulan telah lewat.
Tempat cadangan air yang dibangun di pinggir desa mende-
kati penyelesaiannya. Suami yang muda telah menghabiskan
masa prakteknya dan harus kembali ke kota tempatnya me-
nuntut pelajaran. Setelah berunding dengan keluarga, mereka
sepakat melepaskannya seorang diri. Warsiah menunggu di desa,
tinggal di tempat mertua. Sekali sebulan akan dikirim uang tam-
bahan supaya suami yang masih mahasiswa itu dapat datang
menengok istri.

*
Waktu berlalu dengan lambat dan berat.
Bagi Warsiah, setiap hari hanya merupakan penungguan su-
rat dan berita. Sebulan, dua bulan, tiga bulan. Segalanya ber-
langsung dengan baik sebagaimana direncanakan. Bulan yang
18

keempat terjadi musibah gugurnya bayi yang berumur dua bulan.
Dari rumah sakit, Warsiah langsung pulang ke rumah orang
tuanya sendiri.

Seolah-olah sejak waktu itu dia telah merasakan akan adanya
perubahan dalam hubungannya dengan si suami. Padahal yang
sebenarnya, dokter menasihatkan agar Warsiah banyak ber-
istirahat. Untuk itu, baginya, rumah orang tua sendiri selalu
merupakan tempat yang paling tepat. Karena ibu dan saudara-
saudara sekandung selalu lebih mengerti daripada pihak mertua.

Suaminya pulang selama dua hari menunggui Warsiah yang
berbaring lemah. Tetapi setelah itu, sebulan berlalu tanpa kun-
jungan. Surat-surat beruntunan datang mengabarkan kesibukan
ujian dan sebagainya. Berita urusan kuliah yang tidak habis-
habisnya diterima Warsiah tanpa kecurigaan. Dan ketika waktu-
nya tiba untuk mengajar lagi, ia menemukan sekolahnya kembali
dengan gembira. Dia rasakan murid-murid lebih menurut serta
mencintainya.

Barangkali selama dia sakit, kelasnya dipegang oleh Kepala
Sekolah yang terkenal keras.

Liburan panjang pun tibalah.
Suaminya mengirim surat mengatakan bahwa akan bisa pu-
lang selama sepekan. Kemudian akan kembali lagi ke tempat
belajarnya karena mendapat pekerjaan penting bagi kelanjutan
kariernya.
Seminggu bersama-sama dalam waktu liburan itu, Warsiah
hampir melupakan masa perpisahan yang lalu. Tetapi akhirnya
dia harus menginsyafi bahwa suaminya memang masih akan
meneruskan kuliah. Perundingan keluarga diperbarui dengan
usul barangkali Warsiah akan bisa mengajukan permintaan pin-
dah ke Jawa Barat. Tetapi anehnya justru suaminyalah yang
menentang. Karier dan kebiasaan istri tentang daerahnyalah
yang selalu ditonjolkan. Katanya lagi, dia tidak akan bisa belajar
dengan tenang jika Warsiah selalu mendampinginya.
Demikian sebulan berlalu. Lebaran datang, tapi suami berada
di tempat jauh. Bulan-bulan yang lain menyusul tanpa keha-

19

dirannya. Surat-surat yang datang pun semakin lama semakin
berkurang. Pada waktu Warsiah tidak sabar dan dengan tegas
bermaksud tidak akan menulis surat kepada suaminya, orang
tuanya atau keluarga cepat-cepat campur tangan.

“Bersekolah di perguruan tinggi tidak mudah. Sabarlah! Kau
yang harus menyurati, memberitahukan bagaimana keadaan-
mu,” kata orang.

“Barangkali dia sakit. Kasihan di rantau orang,” kata lainnya.
Dan hati Warsiah menjadi lumat kembali.
Memang benar. Seandainya suami itu sakit, alangkah me-
rananya. Lalu dalam suratnya yang kemudian, lemah lembut ia
menulis dan meminta agar sudi mengirimkan kabar barang seba-
ris pun. Kalau mungkin malahan datang menjenguk ke desa.
Lima bulan tanpa kabar berita.
Keluarga mertua mulai gelisah bercampur khawatir, marah
dan malu terhadap menantunya. Untuk ke sekian kalinya mere-
ka menulis sendiri, di samping menanyakan apakah kiriman-
kiriman uang sampai dengan selamat? Ditambah anjuran supaya
segera menulis berita sebagaimana layaknya.
Warsiah mengajar di sore hari juga untuk mengisi waktunya
yang semakin sukar dihabiskan tanpa merenung. Sepekan tiga
kali ke kota untuk belajar bahasa Inggris. Karena akhir-akhir
itu merupakan bahasa terpenting setelah bahasa nasional.
Ketika segala upaya surat-menyurat tidak membawa hasil,
bapak mertua memutuskan berangkat ke Jawa Barat. Sebagai
menantu yang semestinya, Warsiah mengantarkan ke stasiun.
Tetapi dia sendiri tidak mengharapkan sesuatu pun. Dalam
dirinya terkandung perasaan yang membisikkan bahwa semua-
nya telah berakhir. Bahwa satu kesalahan terjadi seperti yang
telah dia rasakan sejak semula. Naluri kewanitaan pulalah yang
mendorongnya semakin giat bekerja, tekun berusaha mempela-
jari sesuatu yang baru. Dia mulai menghargai kesendirian yang
dialaminya. Pada mulanya, dia bersusah payah menghabiskan
malam-malamnya yang panjang dan sedih. Tetapi sejak dua
bulan ini, Warsiah merasa lebih tenang. Sedikit demi sedikit, ia
20

mulai berpikir bahwa perkawinannya dengan pemuda tampan
itu merupakan masa yang telah lalu. Demikian pula waktu-
waktu penungguan yang penuh lamunan serta menyakitkan.
Karena memang betul-betul menyakitkan. Warsiah memerlukan
masa lebih panjang supaya hal itu bisa sekaligus terhapus. Yang
perlu selanjutnya adalah dia merasa lebih ringan supaya tidak
lagi merana dalam penungguan.

Seorang perempuan tidak semudah itu benar melepaskan
diri dari hari-hari yang lewat. Dengan cerdik Warsiah melipat
serta menyembunyikan sinar kecil harapan yang mencuat di
bawah sadarnya, yang kadang-kadang muncul mengatasi pera-
saan-perasaan lain. Tanpa kepastian, dia sendiri tidak mengerti
apakah yang dia harapkan. Agar mertua kembali bersama laki-
laki itu? Ataukah suatu kesimpulan? Suatu kata akhir kebenaran
dan tegas, yang bisa dianggap sebagai titik penutup ketidakpas-
tian?

Bagaimanapun, sepuluh hari kemudian mertua itu kembali.
Malamnya, ditemani istri, berkunjung ke rumah keluarga me-
nantu.

Tampak wajahnya muram. Keriput di dahi seakan-akan ber-
tambah dalam. Garis lengkung di bawah mata pun bagaikan
jurang yang mengerikan. Dengan terbata-bata dia menceritakan
bahwa alamat yang dipergunakan anaknya bukanlah tempat ber-
mukim yang sesungguhnya. Berhari-hari bapak itu mencari ru-
mah anaknya. Akhirnya, dapat bertemu.

Tetapi suami Warsiah telah berumah tangga dengan wanita
Priangan serta beranak satu. Konon inilah yang selalu dikha-
watirkan ibu mertua. Sebagai seorang ibu dan perempuan, sekali
lagi nalurinya berbicara dengan tepat. Selama suaminya menu-
turkan peristiwa tersebut, dia tak berkata sepatah pun, terisak
di pojok tanpa berani menatap mata menantunya.

Warsiah juga berdiam diri.
Akhirnya, bapak itu berkata bahwa bersama istrinya ia me-
rasa malu terhadap Warsiah dan kepada orang sekampung. Ka-
rena perkawinan yang disangkanya untuk pertama kali itu, tidak

21

lain dan tidak bukan ternyata yang kedua kalinya. Tidak dika-
takan olehnya bagaimana penyelesaian urusan pernikahannya
yang pertama dan pernikahan yang kedua.

Lalu kedua besan pun berunding. Dikemukakan hukum aga-
ma. Para istri membungkam. Warsiah terdiam mendengarkan
pembicaraan tersebut. Di dalam dadanya terasa suatu bongkahan
yang keras dan berat. Tetapi matanya tidak berlinang, kering.

*
“Kalau Nak Warsiah bersedia menjadi istri yang kedua, sua-
minya akan segera pulang dan dapat tinggal beberapa hari di
sini. Kebetulan sekarang mendekati waktu senggang di seko-
lahnya,” kata mertuanya.
Warsiah tidak segera menjawab. Bapaknya menoleh kepada-
nya. Warsiah sebentar menoleh ke arah ibunya, lalu berkata,
“Telah berbulan-bulan kami tidak hidup bersama. Juga telah
berbulan-bulan saya hidup dengan mempergunakan nafkah saya
sendiri. Jadi, kalau saya minta cerai, hukum akan membenarkan
saya maupun keluarga saya.”
“Warsiah!” seru bapaknya.
“Lebih baik engkau tunggu beberapa hari. Saya tahu, hal ini
merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan,” kata bapak
mertuanya.
Apakah menjadi istri kedua merupakan pengalaman yang
menyenangkan?
Dengan selemah-lembut mungkin Warsiah mengulangi ke-
hendaknya yang sebenarnya. Ibu dan bapaknya sendiri tidak
berkata apa-apa lagi. Tetapi begitu kunjungan berakhir, mereka
bergantian membujuknya supaya menerima kedudukan sebagai
istri kedua. Agar muka dapat diselamatkan dari cemoohan dan
ejekan sekampung.
Namun, Warsiah tidak berubah pikiran. Dari semula ada
ketidakcocokan dalam pergaulannya bersama pemuda itu.
Kemudian dia telah belajar mencintainya, merindukannya.
22

Jodoh yang selalu disebut-sebut orang sebenarnya hanya ada
karena diadakan. Mereka merupakan pasangan yang kebetulan
terjalin disebabkan karena berbagai hal dan peristiwa. Dan jika
terjadi perpecahan seperti yang dia alami, orang pun akan ber-
seru lagi mencari dalih: karena ia bukan jodohnya! Seorang wa-
nita kebanyakan merasa dirinya sebagai belahan dari lelaki yang
menyentuh dan menidurinya. Bagi Warsiah yang tidak mengenal
laki-laki lain, suaminya adalah tujuan hidupnya, puncak keber-
hasilan yang diinginkan oleh keluarga dan dirinya sendiri. Se-
orang muda tampan sekaligus bernafsu di tempat tidur. Sejenak
tubuh Warsiah merasakan aliran listrik. Naluri kebinatangannya
tergugah. Tetapi harga dirinya segera menenggelamkannya kem-
bali.

*
Warsiah menyingkapkan kain jendela dan menjenguk ke luar.
Tukang becak yang tinggal tidak jauh dari pondoknya harus
datang menjemput sore itu. Ia akan mampir ke rumah seorang
rekan di jalan yang menuju ke tempat pertemuan. Bersama-
sama menghadiri undangan atau rapat lebih menyenangkan dari-
pada seorang diri.
Selama beberapa bulan ia sendiri mengurus permintaan cerai-
nya. Alasan cukup kuat dan terbukti untuk memenangkan hak-
nya. Setelah selesai, dia mengajukan permintaan meneruskan
pelajaran ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
Pada waktu itu, tata pemerintahan mulai teratur. Di kota-
kota besar dibentuk sekolah-sekolah kejuruan yang diarahkan
sebagai pengajar Sekolah Lanjutan. Warsiah mengambil pendi-
dikan bahasa Inggris. Dan seperti pada masa silam, ia belajar
baik dan selalu berhasil pada waktu ujian.
Juga seperti pada masa yang lalu, kawan wanita dan pe-
ngagum lelaki pun tidak pernah kosong dari sampingnya. Seka-
rang dia mempergunakan nama bapaknya di belakang nama
Nyonya Warsiah. Oleh sebutan itu, dia sering kali merasa dijauhi

23

atau bahkan didekati, tergantung apa maksud sebenarnya pihak
laki-laki yang mengenalnya.

Sebagian menganggap tambahan “Nyonya” sebagai tanda
keamanan. Namun, seketika mereka mengetahui bahwa Warsiah
janda, beberapa di antara mereka berubah sikap. Seakan-akan
itu menjadi merek, tanda mutu dagangan. Seorang wanita yang
pernah bercerai dianggap mempunyai cela atau cacat, sehingga
patut dijauhi. Janda karena perceraian lain mutunya dari janda
yang ditinggal mati suami. Warsiah dengan sabar menanggung
akibat sikap dan pandangan lingkungannya.

Sekali lagi, dia menyibukkan diri menggali ilmu dan mende-
kati kaum muda yang dia didik.

Bagaimanapun juga, ia tetap manusia biasa. Dia merasa peka
terhadap perbedaan tanggapan rekan, baik lelaki maupun wanita
kepada dirinya. Semakin hari semakin dia merasakan keku-
rangannya bergaul dengan orang-orang muda sebayanya. Umur-
nya baru dua puluh lima tahun. Tetapi yang dia erati kebanyakan
keluarga yang lebih tua. Pada waktu tamasya serta pertemuan,
Warsiah berkesempatan berkenalan dengan pemuda-pemudi te-
man baru. Meskipun dia akan kembali ke pengalaman lama,
untuk beberapa saat dia bersenang hati merasakan pergaulan
tanpa pamrih yang bebas dan berudara cerah. Pemuda lebih
memilih berdekatan dengan wanita yang tidak mempunyai
sebutan “Nyonya” di depan namanya. Orang semakin mabuk
menuliskan gelar dan tingkat kesarjanaan yang dimilikinya. Se-
dangkan Warsiah dengan jujur mencantumkan kata “Nyonya”
dalam ijazah dan surat-surat resmi lainnya. Justru itu dianggap
sebagai momok yang menakutkan para lelaki muda.

Setiap kali, segalanya berulang. Setiap kali, harapan Warsiah
menipis. Tidakkah hadir di luasan negeri ini seorang laki-laki
muda yang sudi memperhatikan dia sebagai wanita muda pula,
yang mengajak dia keluar menonton atau makan di restoran
secara wajar?

Warsiah wanita muda yang oleh suatu kesalahan ataupun
kemalangan nasib, tergantung dari segi mana orang memandang,
24

telah memasuki dunia perkawinan dan kehilangan keperawanan.
Yang terakhir ini pun dengan “pertolongan” seorang laki-laki!

Warsiah tidak berhenti tetap mengharap.
Setiap kali ada pertemuan serta perhelatan, dengan rapi dan
teliti ia berdandan. Kekenesan wanita merupakan satu di antara
daya tarik yang dapat diandalkan.

*
Suara dering bel becak terdengar dari depan pondokan.

25

Pandanaran

Tek-tek-tek-dung tek-dung tek-dung, tek-tek-tek-dung tek-
dung, tek-tek-tek-dung ....

Lagunya berirama tunggal nada dan datar.
Kera berbaju merah itu berputar-putar bergulingan di atas
tanah, dekat batas lingkaran penonton. Sekali-sekali dia tertegun,
tegak, lalu menyeringai menentang mata orang tua yang meme-
ganginya serta menarik-narik rantai pengikat. Pandangannya
meronta, tapi beku dan tak berarti bagi orang tua itu. Dan gendang
yang dipukul dengan tongkat bambu terus berkumandang.
“Paidin main kepala bawah, Paidin main kepala bawah,”
orang tua itu berseru.
Tangannya terus menarik-narik rantai pada leher dan badan
kera. Satu kali binatang itu meringis menentang wajah tuannya.
Dia berjungkir balik seirama dengan tarikan rantai di leher.
Sebentar ia mempergunakan kepala sebagai kaki, kemudian
jatuh berguling sambil meringkik-ringkik. Lalu kaki belakang
berpegang pada rantai logam itu, seakan-akan mengirimkan
isyarat kepada tuannya agar mengurangi sentakan.
Dentang lagu sederhana, irama jungkir-balik, irama Paidin
main kepala bawah, itu seluruhnya menyatu di udara siang,
menyatu pada pelaksanaan tugas yang mesti dikerjakan seka-
ligus dengan kemasabodohannya. Karena itu semua buat pengisi
perut.
26

“Sekarang Painem akan berbelanja. Painem berbelanja
membawa tas. Painem berbelanja.”

Rantai yang pertama dijepit dengan ibu jari kaki.
Maka kera yang berbaju hijau pun berputar mengelilingi tu-
annya yang tetap berjongkok. Orang tua itu melemparkan se-
buah tas plastik berwarna hijau, lusuh usang. Binatang itu me-
ngendap-endap menyandang tas dan berjalan memutari ling-
karan sambil mengamati hadirin. Pandangnya nyata khawatir.
Kadang-kadang dia berhenti di dekat kawannya si baju merah.
Atau di lain saat berhenti meneliti tubuhnya sendiri, serta tiba-
tiba menggigit sesuatu yang dia kira kutu. Tapi pada saat itu,
rantai pengikat tubuhnya tersentak. Dan dia tersirik-sirik me-
megangi benda logam panjang tersebut untuk kemudian mene-
ruskan pertunjukannya.
“Paidin dan Painem sekarang berpidato. Pidato bersama-
sama.”
Kedua kera meloncat ke atas bangku kecil.
“Paidin dan Painem kasih salam: Merdeka! Paidin dan Pai-
nem pidato bersama-sama.”
Dan kaki depan keduanya pun terangkat tinggi-tinggi.
Inilah akhir tontonan tersebut. Lalu binatang-binatang itu
kembali menyeret langkah membawa bakul-bakul kecil menge-
lilingi lingkaran penonton untuk meminta uang sekadarnya.
Orang tua itu tetap berjongkok, memandang ke depan seolah-
olah tanpa melihat sesuatu pun. Mulutnya komat-kamit. Tangan-
nya tetap memegangi rantai. Semuanya itu juga datar seperti
irama gendang, seperti irama kotekan bambu. Kalau diperha-
tikan benar, lama-lama muka yang berkerut kurus itu mirip ben-
tuk muka kedua kera. Alis yang lengkung lebat amat putih, kaku
melindungi sinar mata yang telah kabur. Kumis serta jenggotnya
pun putih. Rambut di kepala demikian pula. Keseluruhan tulang
belulangnya menonjol seperti kekakuan setiap segi hidup yang
ditempuh.
Lalu rombongan itu berangkat dari sana mirip kedataran di
hari-hari lainnya: orang tua berjalan di depan bersama kera

27

berbaju merah di atas bahunya, Kardan memikul tempat gendang
serta alat-alat lain, kera berbaju hijau berayun di pikulan itu.
Iring-iringan berjalan seharian menapaki sepanjang lorong dan
kampung. Panas serta debu musim kering menjilati kulit mereka.

“Berapa, Dan?” parau orang tua itu bertanya tanpa menoleh.
Kera yang bertengger di atas bahu terangguk-angguk. Wajah
keduanya semakin mirip satu dengan yang lain.
“Delapan rupiah,” Kardan menjawab mertuanya.
Tanpa berbicara lagi, mereka meneruskan berjalan. Kediaman
turut menyertai sepanjang petualangan. Baru sembilan rupiah
yang mereka peroleh hari itu. Jumlah yang mengecutkan hati
buat menghidupi seisi rumah esoknya. Orang tua itu terus ter-
tunduk di depan. Mereka menelusuri setiap lorong. Kardan se-
bentar-sebentar memukul gendang sambil berseru,
“Kethek Ogleng! Kera menari! Joged kera! Kera berpidato!”
Hati mereka diberati beban tugas yang harus ditunaikan.
Di hati orang tua itu ada panji-panji kemenangan yang hingga
saat itu bisa terus dia pertahankan. Sampai hari itu dia dan
menantunya telah berhasil melalui gelombang kesulitan serta
cobaan agar bisa membawa sebungkus ketela, sekilo jagung atau
beberapa liter nasi menir.
Mereka hidup berenam dan tinggal jauh di kampung: istri,
anak perempuan, dan Kardan beserta kedua cucunya lelaki-pe-
rempuan. Keduanya tumbuh segar. Keduanya milik Emak, Ba-
pak, Nenek dan Kakek. Umur keduanya berbeda cukup jauh
sebagai kakak-adik yang saling menyayangi. Ketajaman panca-
indra keenam si Kakek mengatakan bahwa hanya kedua anak
itulah yang bisa lahir dari rahim anak perempuannya. Kemam-
puannya mengetahui makna sesuatu peristiwa secara gaib, me-
nyebabkan dia sanggup mengatasi pasang surutnya nilai-nilai
kehidupan.
Orang-orang kampung menganggapnya sebagai orang pintar.
Dengan campuran obat-obat sederhana yang ditumbuk istrinya,
kebetulan para tetangga bisa sembuh dari berbagai penyakit.
Dia tahu perhitungan hari buat pernikahan, pindah rumah, dan
28

sebagainya. Dia juga mengetahui doa-doa yang pernah dia
pelajari di pesantren desanya dulu. Dan kalau dia mengatakan
bahwa Kardan dan istrinya tidak akan mempunyai anak lagi,
itu merupakan ucapan yang pasti dipercaya oleh seluruh peng-
huni pondok maupun seluruh kampung.

Juga ketika dia berkata, bahwa cucu lelaki dan perempuannya
harus diruwat, harus diadakan kenduri secara khusus supaya
selamat dari segala godaan dan penyakit, Kardan dan seisi gubuk
mempercayai dia. Lalu berusaha agar dapat melaksanakannya
di kemudian hari.

Kedua anak yang mendapat sebutan gedhana-gedhini oleh
orang kampung itu tidak sedikit pun menunjukkan fisik yang
harus diselamatkan dengan kenduri. Mereka tampak sehat, lebih
gemuk dan berseri daripada anak-anak lain di kampung. Tetapi
semakin besar, Emak, Bapak, Nenek dan Kakek semakin kha-
watir terhadap malapetaka yang mungkin menimpa kedua anak
tersebut.

Bila mereka berangkat ke sekolah, suami-istri yang muda
itu saling berpandangan dengan rasa bangga, lalu berusaha be-
kerja lebih baik lagi hari itu. Masing-masing pergi, Kardan ber-
sama mertuanya menelusuri lorong-lorong kota, istrinya ke
pabrik rokok menggulung batang demi batang. Dan uang penda-
patan mereka sisihkan seberapa mungkin, untuk kenduri ruwat-
an anak terkasih.

Tiba-tiba orang tua itu tertunduk di depan gedung Sekolah
Lanjutan Atas. Tangannya memijat-mijat kepala. Kera di bahu
melompat ke tanah, langsung hendak menjauh. Tetapi rantai
tetap dipegang tangan pemiliknya.

“Mengapa, Pak?”
Kardan berhenti di samping mertuanya. Pikulan diletakkan,
lalu duduk.
“Sakit kepala.”
“Kita istirahat sebentar.”
Kardan mengambil rantai dari tangan si Kakek.
Jalan besar di depan mereka silau oleh matahari yang panas.

29

Pandang Kardan berkedip. Dia berpaling, melayangkan mata
ke belakang.

Anak-anak sekolah memenuhi pekarangan gedung. Tepat di
balik pagar kawat, beberapa di antara mereka bermain bola vol-
ley. Wajah mereka ria dan sehat. Pikiran Kardan terbang kepada
anak-anaknya. Degup kelelahan jantungnya semakin keras.
Setidak-tidaknya anak-anak itu harus melebihi tamatan Sekolah
Rendah*) katanya di dalam hati. Bagaimanapun juga! Dia akan
sangat bangga melihat anaknya menempati gedung sekolah yang
semegah itu!

“Panas sekali!” tiba-tiba keluh orang tua itu.
Matanya kabur, dia mencoba berdiri.
“Tunggu dulu kalau masih pening.”
Kakek itu terduduk kembali. Dia memandang ke arah kiri.
Air sirop merah beserta ramuan buah-buahan bermacam warna
memikat tenggorokannya. Air segar menetes semakin
menggairahkan. Tapi cepat ia menundukkan kepala. Kardan
memberikan rokok.
“Kita minum rokok saja,” kata menantunya, mengerti
kehausan mertuanya.
“Lama tidak hujan,” kata orang tua itu seolah-olah hendak
melarikan pikiran ke hal lain.
“Musim pancaroba, Pak. Panas dan banyak angin. Padi di
desa semakin tua,” jawab Kardan.
Ada kelembutan pada suara itu. Dan Kakek menoleh sebentar
ke arah menantunya, kemudian memandang ke jalan besar di
depannya. Serombongan tentara lewat berbaris. Pakaian hijau
menyejukkan mata di tengah-tengah terik panas. Barisan itu
menghilang di balik gedung sebelah kanan. Deru truk pergi dan
datang. Kardan dan orang tua itu mengikutinya. Serentak ingat-
an mereka berdua melayang ke desa ketika menjadi markas pim-
pinan angkatan perang di zaman gerilya. Ketika memberikan
pertolongan bahan makanan kepada para pemuda yang maju

*) SD

30

ke medan perang melawan serdadu Belanda.
“Sudah, Pak?”
Kakek itu tidak menjawab, berdiri perlahan, lalu mengambil

rantai kera dari tangan Kardan. Mereka beranjak, berjalan ber-
iringan.

*
Senja itu angin bertiup dari selatan.
Mendung yang semula berkumpul di atas bukit kecil di
belakang kota, kini tersebar rata di langit. Titik-titik air mulai
turun. Hujan musim pancaroba yang dibenci penduduk telah
tiba.
Kijah berdiri ragu di pelimbahan dekat pintu pabrik.
“Ambil becak saja, Jah!” kata Cina pembagi upah seraya men-
dekatinya.
“Ya?”
Hujan tidak reda-redanya. Awan yang kelabu padat meng-
isyaratkan tumpahan air yang panjang.
“Hujan begini tidak akan cepat habis. Mau becak?”
“Tidak, Tuan,” jawab Kijah tanpa memandang Cina itu.
Di antara pekerja-pekerja pabrik yang berlindung tidak jauh
dari situ muncul beberapa suara.
“Saya saja, Tuan Can!”
“Becak sih, saya mau! Bisa cepat sampai rumah.”
“Kalau bersama tuan Can ‘kan tidak langsung pulang ke
rumah,” ada suara terkikih.
“Saya saja Tuan Can!”
‘Ah, ‘kan Kijah yang ditawari. Jangan menawarkan diri be-
gitu!”
Serentak mereka tertawa ramai.
Kijah bergeser menjauhi Tuan Can. Dia awasi sebentar langit
yang mengancam. Lalu tiba-tiba dia memutuskan, turun dari
tempat berteduh, tertunduk-tunduk berjalan di bawah hujan.
Kepalanya tertutup selendang. Air yang menyelinap ke balik

31

kebaya terasa dingin menyentuh kulit.
Jalan yang diturutinya memanjang dan licin. Ujung-ujung

pohon yang berjajar di kedua tepinya kelihatan rapi menutupi
sebagian langit. Rumah-rumah batu kelihatan aman dan hangat,
cemerlang oleh lampu-lampu, sinarnya dipantulkan oleh kaca-
kaca jendela berwama-wami. Di sana-sini deretan cahaya yang
terang itu terpenggal oleh kelompok kemuraman yang hanya
disinari kelap-kelip lampu minyak.

Ke arah lingkungan yang muram itulah Kijah setiap malam
pulang. Ia tidak pernah menengok ke gedung-gedung yang te-
rang-benderang. Ia tidak pernah memikirkan betapa lembab dan
dingin tanah pondoknya jika dibandingkan dengan lantai ber-
kilat gedung-gedung milik orang Cina itu. Dia merasa wajar
hidup di pondok kampungnya.

Kijah tersaruk-saruk di bawah hujan. Sayup-sayup suara
gamelan dari gedung RRI terbawa angin. Kijah masuk ke jalan
yang menyobek kegelapan. Bibirnya biru gemetar. Lalu dia mem-
buka pintu gubuknya.

“Tidak mau makan kalau tidak ada cabenya,” terdengar suara
emaknya.

“Tidak ada cabe?” tanya Kardan.
“Satu biji harganya serupiah disuruh beli?” bantah si Emak.
Kijah memeras selendangnya. Dia kenakan sarung Kardan
sebagai ganti kain yang basah kuyup, kemudian mendekati anak-
nya.
“Tidak baik makan cabe saja, Nang. Malam ini makan apa
yang ada dulu. Besok aku belikan. Tadi akan belanja, hujan
turun.”
Anak itu cemberut, tidak menyentuh makanannya.
“Besok pagi sekolah, tapi tidak ada sarapan, ya! Makan seka-
rang saja,” Kardan menyambung.
“Limah sudah makan?” tanya Kijah.
“Badannya panas. Itu, di dalam.”
Kijah masuk ke dalam bilik.
“Makan, Mah!”
32

Mata gadis kecil itu hanya memandang sayu. Kijah tiba-tiba
terkejut. Hatinya tercekam kecemasan. Mata anak itu seperti
menagih sesuatu yang telah dijanjikan.

“Mak makan dulu ya, nanti kembali lagi,” katanya, lalu keluar
dengan cepat.

“Bapak di mana?” Kijah bertanya sambil duduk hendak ma-
kan.

“Ke rumah Dimin.”
“Hujan begini?”
“Anak Dimin kerasukan setan. Panas, mengigau terus sejak
siang.”
“Dijemput dengan payung tadi?”
“Tidak,” emaknya meyambung, “sudah pesan sejak pagi su-
paya Bapak ke sana.”
“Hujan begini nekat saja!” Kijah menggerutu. “Menolong
tetangga, Jah. Lagi pula Dimin banyak uang. Kita harus mem-
perhatikan orang seperti itu!”
“Ya, menolong orang lain, tapi setelah pulang nanti batuknya
menjadi-jadi! Siapa yang bisa tidur kalau sudah begitu! Mana
cucunya sendiri sakit!”
Dan hampir terlompat dari mulutnya bahwa mungkin
anaknya mati malam itu. Mungkin maut akan merenggutnya
karena kenduri belum juga terlaksana. Barangkali gedham-gedhini
akan menjadi mangsa Batara Kala malam itu!
Kardan termangu memandangi istrinya. Tiba-tiba ia berdiri,
pergi ke bilik. Dielusnya pipi anaknya. Panas! Mata yang semula
pejam, terbuka perlahan.
“Mah,” bisiknya.
Lalu bapak itu membaringkan diri di sampingnya seperti
hendak menjaganya, seolah hendak mengusir maut yang meng-
ancam si anak.
Malam itu, batuk Kakek meloncat-loncat dari satu bilik ke
bilik lain di dalam pondok. Tertahan-tahan, kadang-kadang
diselingi suara mengerang. Waktu Kijah bangkit menengoknya,
orang tua itu minta minum.

33

“Bagaimana, Pak? Masih pening? Saya gosok lagi dada dan
punggung dengan jahe?”

Orang tua itu tidak menyahut. Matanya yang kabur tidak
kelihatan jelas di dalam samar kegelapan seperti itu. Tiba-tiba
ia mengerang. Tubuhnya terlonjak. Tangannya memegang dada
sebelah kiri. Dari kerongkongan terdengar suara tersumbat.
Kemudian diam, berbaring lemas.

“Pak! Pak!” Kijah menggoyang-goyangkan badan kakek tua
itu.

Kijah mendekatkan pelita minyak dari meja samping.
Tampak olehnya mata bapaknya meredup, dan kian meredup.
Kemudian terpejam perlahan.

“Pak!” teriak anaknya.
Kijah berseru memanggil suami dan emaknya.
Ketiganya tertegun. Batara Kala datang di pekat malam itu,
tapi bukan untuk gedhana-gedhini. Barangkali kakek tua itu
berhasil melakukan tawar-menawar, serta rela menggantinya.
Jalan Pandanaran tetap memanjang di sana dengan jajaran
gedung di kanan-kiri, terseling oleh atap-atap rumbia dan juluran
lorong lembab berliku.
Di sana, seperti juga di rumah-rumah batu yang kokoh serta
hangat, bertumbuhan nyawa demi nyawa, kanak-kanak yang
dibesarkan berlarian ria.
34

Hujan

Sarman berhenti sebentar di muka warung. Seperti meng-
ingat-ingat sesuatu dia tertegun. Kemudian masuk.

“Tembakau.”
Tangannya menunjuk stoples berkaca buram di antara
deretan yang dijajakan di atas meja. Dia keluarkan uang sepuluh
rupiah.
“Dua rupiah,” katanya lagi.
Perempuan berambut putih di belakang meja mengambil
secarik kertas. Dengan ujung jari, dia tarik-tarik gumpalan coklat
hitam dari dalam stoples.
Diam-diam Sarman memandangi. Ketika perempuan itu
hendak melipat bungkusan, mata Sarman setengah membelalak
berkata,
“Hanya itu?”
“Tambah uangnya, kutambah tembakaunya.”
“Biasanya bisa dibikin tiga rokok,” kata Sarman.
“Naik lagi. Kalau mau tambah tiga rupiah, bisa kuberi
seperempat gumpal.”
Sarman tidak menyahut.
“Tambah atau tidak?”
Dia hanya menganggukkan kepala.
Sudah lima hari tidak membeli, harganya melonjak tanpa
diketahui. Sarman merogohkan tangan ke dalam saku untuk

35

meraba dua lembaran ratusan rupiah.
Perempuan itu memberikan bungkusan tembakau kepada-

nya, lalu menghitung sisa harganya.
“Uang rupiah semua tidak mengapa ya, Man,” sambil mengu-

lurkannya kepada Sarman.
Sarman tidak menyahut, hendak cepat berlalu.
“Tidak minum dulu? Akhir pekan begini ‘kan terima upah,”

kata perempuan tua itu lagi.
Sarman tetap diam, beranjak dari warung. Belum jauh dari

sana seseorang berseru,
“He, Man! Sarman!”
Tetapi Sarman meneruskan jalannya tanpa menoleh. Mata-

hari sore yang kering ada di belakangnya.
“Man!”
Seseorang yang mengayuh sepeda mendekati Sarman, ber-

jalan mengiringinya,
“Lihat, Man! Aku mendapat ini!”
Sarman menoleh dan memandang kepada yang mendekati.

Saleh turun dari sepeda sambil mengeluarkan sesuatu dari saku
celana.

“Kau mendapat apa?”
Sarman menatap benda yang ada di tangan kawannya.
“Kau mendapat apa?” Saleh mengulangi pertanyaannya.
“Tidak mendapat apa-apa.”
“Ah, kau! Bodoh benar!” maki Saleh tanpa sembunyi-
sembunyi, lalu sambungnya, “sudah berkali-kali kukatakan,
kalau ada kesempatan, ambil apa saja!”
“Ada polisi.”
“Mereka tidak selalu mengawasi!”
“Takut.”
“Kalau kau bisa mengambil hati, katakan saja hasilnya sete-
ngah-setengah, dibagi.”
Sarman kembali meneruskan langkahnya. Saleh mengikuti-
nya sambil menuntun sepeda.
“Pembongkaran kapal besar seperti itu tidak terjadi setiap
36

hari, Man,” kata kawannya lagi menyesali.
Sarman tidak menyahut.
“Kau bukan kuli pelabuhan yang sebetulnya. Tidak tulen!”

“Barangkali kau benar,” akhirnya Sarman menyetujui. “Ini
hanya soal keberanian!” teman itu berkata lagi. “Aku tidak mau
mencuri. Takut.”

Saleh mengeluh. Kesal!
“Itu kepunyaan orang-orang kaya! Milik orang-orang yang
berkehidupan lebih baik daripada kita, Man! Kita hanya
mengambil satu atau dua barang kecil. Itu tidak kelihatan. Tidak
merugikan buat mereka!”
Keduanya berjalan sepanjang tepi kanal yang melonjok
masuk pantai. Sarman tertunduk menuruti garis putih, ter-
bentuk dari ceceran tepung gandum yang keluar dari sisa ang-
kutan menuju gudang. Tiba-tiba matanya merasa sakit. Panas
matahari sore yang memantul dari tanah serta tepung menim-
bulkan rasa ngilu.
Akhirnya, Saleh menoleh dan berkata,
“Kau mau bawa ini ke kota?”
“Mengapa aku?”
“Aku tidak bisa pergi ke kota malam nanti maupun besok.”
Sarman diam sebentar.
“Biasanya Wardi yang menjualkan.”
“Wardi tidak punya waktu sampai pekan yang akan datang.”
Sekali lagi Sarman terdiam, tetap berjalan dengan langkah-
nya yang menyaruk tanah. Sebentar-sebentar keduanya me-
nyisih masuk ke pinggiran jalan yang berilalang untuk meng-
hindari becak.
“Jauh,” akhirnya Sarman berkata lagi.
“Kalau kau pergi ke kota malam ini, pakai sepedaku. Besok
aku memerlukannya.”
Karena tidak mendapat jawaban, Saleh meneruskan,
“Kaubawa ke toko yang nomor tiga sebelah kiri dari tempat
penitipan sepeda depan bioskop di alun-alun. Katakan, dari
Saleh yang bekerja di pelabuhan. Orang di sana sudah tahu.”

37

Saleh berhenti. Sekali lagi benda yang sama keluar dari saku
celananya. Sarman turut berhenti. Dia awasi kawannya menyan-
darkan sepeda pada tubuh, lalu membuka kotak kecil hitam
yang ada di tangan kirinya. Sebuah arloji bulat dan berkilat.

“Nanti kau menerima bagian,” kata Saleh, “bawa saja!” sam-
bil menyerahkan kotak itu kepada Sarman.

Tiba-tiba Sarman beranjak meneruskan jalannya.
“Simpan saja dulu! Aku khawatir menghilangkannya di ru-
mah.”
Saleh menyumpah.
“Kau tidak mau membawanya ke kota?”
Sarman diam.
“Terus terang saja! Kau ini memang penakut! Lelaki apa
kau ini!”
Sarman tidak peduli, meneruskan berjalan.
“Kapan kau akan jadi kaya dan hidup lebih baik kalau terus
begini? Kau tidak punya malu! Kaulihat semua kawan dari desa
kita sudah hidup cukup, punya uang buat melancong bersenang-
senang. Sedangkan kau?”
Sarman berpendapat bahwa dirinya dan keluarganya hidup
berkecukupan. Bisa makan. Apa perlunya melancong dan
pakaian lebih dari tiga potong? Tetapi dengan Saleh, Sarman
tidak suka berbantah. Kawannya itu selalu bersedia menolong
di waktu kesukaran.
“Aku tidak bisa pergi nanti malam,” akhirnya dia menyahut.
“Besok malam?” tanya Saleh.
“Juga tidak. Ikannya sudah tua, harus dijaga. Banyak maling
di tambak akhir-akhir ini.”
Jalan membelok, kelihatan agak naik ke titian yang menuju
rumah di antara petak-petak empang.
“He, Man!” Saleh tertinggal di pinggir memanggil kembali.
Sarman berhenti dan menoleh.
“Kutunggu di warung besok pagi kalau malam mau ke kota.”
Sarman hanya melambaikan tangan memberi tanda tidak,
lalu berjalan di pematang. Sebentar-sebentar menarik ranting
38

atau dahan pohon yang jatuh di pinggir tambak. Dengan seba-
tang tongkat, dia sisihkan daun-daun kering yang mengambang
ke tepi empang.

Sudah tiga musim dia menjaga peternakan ikan itu.
Setiap musim memberinya hasil sampingan yang dapat diper-
gunakan pulang ke desa pada hari Lebaran. Gaji yang didapatkan
sebagai kuli harian di pelabuhan hanya cukup buat membeli
makanan sekedarnya.
Sarman merasa bahagia bersama istri dan ketiga anaknya.
Dua di antaranya lahir dan tumbuh di pantai, ditempa sinar
matahari laut. Yang sulung berusia enam tahun, lahir ketika
Sarman berangkat ke kota. Badannya pipih meninggi, sekering
desanya yang jarang disinggahi hujan. Daerah yang gersang.
Batang-batang jagung yang bisa ditumbuhkan, daunnya pun
kuning menantang kegersangan. Penduduknya berturut-turut
meninggalkan desa menuju pinggir kota-kota besar, kemudian
terjun menjelajahi keluasannya. Selalu dengan harapan sama:
mencari nafkah.
Semarang tidak ketinggalan, menjadi serbuan penduduk
tanah kering sekitarnya. Kota pelabuhan itu tidak hanya mem-
berikan kelebihan kehidupan yang dimilikinya. Mereka yang
datang juga diajar hidup dengan watak dan perbuatan wajar
menurut kemampuan pribadi masing-masing. Segala macam
pengaruh serta kejahatan berkeliaran menyergap.
Hingga waktu itu Sarman masih dapat bertahan. Timangan
emak di desa yang miskin hanya satu: hidup baik dengan jalan
yang baik. Bagi orang seperti dia hanya sesuatu yang baiklah
yang akan abadi. Dan bagi Sarman yang kini telah menjadi
bapak, dia ulang-ulangi perkataan emaknya itu kepada anak-
anaknya pula.
Sarman berhenti di bawah lindungan pohon ketika anak
sulungnya berlari-lari kecil menuruni pematang.
“Pak! Pak!”
Terengah-engah Kardi menjinjing tas sekolahnya. Peluhnya
bertitik-titik di atas dahi. Sarman tersenyum memandangi. Lalu

39

tangannya terulur hendak menjangkau pelita minyak yang
terkurung rapi di dalam kotak kaca dan tergantung pada sebuah
dahan.

“Kuambilkan, Pak!”
Tanpa menunggu jawaban, Kardi sigap memanjat pohon yang
tumbuh di pantai itu. Dari atas dia berikan pelita tersebut kepada
bapaknya.
“Biarkan aku yang mengisi minyak ya, Pak. Mari kita ambil
pelita-pelita lain dari samping rumah. Tadi pagi waktu berangkat
sekolah kulihat minyaknya tinggal sejari.”
Lalu badan yang ramping itu meloncat turun, segera menge-
masi tas yang tersia di tanah hitam lembab.
“Kami libur seminggu, Pak. Aku boleh ikut Bapak ke pela-
buhan besok pagi?”
“Mengapa libur?”
Matanya memandang ke seberang tambak.
Langit berat dan kelabu. Udara panas pengap. Apakah itu
hujan lebat yang bersiap-siap di cakrawala? Tetapi suara Kardi
kedengaran lagi,
“Terima rapor. Lihatlah nanti, angka-angkaku tidak ada yang
merah. Berhitung mendapat delapan, Pak!”
Sarman tersenyum. Menoleh ke arah anaknya.
“Belikan sepatu ya, Pak,” suara Kardi membujuk.
“Bapak dulu tidak pernah memakai sepatu ke sekolah.”
“Panas sekali kakiku kena aspal, Pak. Apalagi sekarang di
kota. Kalau di desa tidak pakai sepatu tidak apa-apa, Pak.”
Sarman tertegun. Sekali lagi menoleh memandangi anaknya.
Sebentar mata keduanya beradu.
“Ya, Pak?”
Sambil menyembunyikan keluhan, akhirnya Sarman menya-
hut,
“Kalau betul-betul tidak ada merahnya.”
“Sungguh, Pak! Boleh lihat nanti!”
“Tapi kalau Bapak beli sepatu, bukan karena kau sekolah di
kota, melainkan karena kakimu kepanasan.”
40

Kardi tidak membantah. Mereka beriringan meniti tanggul
menuju ke samping pondok.

“Kauambil pelita-pelita yang kosong! Lalu cepat ke rumah!
Bapak lapar. Tadi siang cuma sempat makan ketela tiga potong.
Mana tasmu! Biar Bapak lihat rapornya sekalian.”

Kardi memberikan tas sekolahnya.
“Kita mengunjungi Nenek Lebaran nanti, Pak?”
“Ya.”
“Kita bawa apa buat Nenek?”
Sarman tidak menjawab.
“Kata Emak, Nenek ingin baju hangat yang tebal. Kita beli
kelak ya, Pak.”
“Kalau ada rezeki nanti. Lebaran masih dua bulan lagi.”
“Tiga bulan, Pak. Ini rapor terakhir sebelum kenaikan kelas.
Kata Ibu Guru, kalau aku belajar baik terus, aku naik kelas
Puasa ini.”
“Jadi masih ada waktu untuk beli baju Nenek. Cepat bawa
pelita-pelitanya!”
Mereka berpisah.
Seperti biasa, seisi pondok duduk di bangku panjang di depan
jendela untuk makan. Angin laut mulai menyiramkan kesejukan
sedikit. Namun udara tetap berat dan cuaca suram. Di sebelah
barat, langit bersemburatkan merah-ungu yang tebal.
Kadang-kadang Sumi melongokkan kepala untuk melihat
piring anak-anaknya. Tangannya sering diulurkan mencapai tu-
lang-tulang ikan, dia sisihkan dari jauh. Anaknya yang bayi ter-
baring di amben, menarik-narik cabikan kain berwarna-warni
yang tergantung di atasnya.
Sarman berdiri begitu selesai makan, keluar ke belakang. Di
samping pintu ada gentong tempat air. Kemudian kembali duduk
di tempatnya semula. Dia keluarkan bungkusan tembakau serta
helaian kertas tipis dari saku celana.
“Ada rokok di atas para,” kata Sumi.
Sarman meletakkan gulungan rokok, lalu pergi ke samping
amben. Kembali dengan dua bungkus rokok kretek dan rokok

41

putih. Baginya tidak merupakan keanehan jika ada merek-merek
rokok yang nikmat di pondoknya. Itu tanda bahwa pemilik
tambak telah singgah memeriksa ikan atau ada keperluan lain.

“Tuan tidak bertanya aku pergi ke mana?”
“Kukatakan, kau ke pasar Cina beli minyak lampu.”
Berjalan ke pasar itu cukup jauh. Tentu saja Sumi tidak akan
berterus terang bahwa suaminya bekerja membongkar muatan
di pelabuhan. Pemilik tambak yang cukup uang itu tidak akan
berpikir lebih jauh, bahwa orang-orang seperti Sarman tidak
dapat hidup nyaman hanya dengan satu macam penghasilan
saja. Hampir setiap buruh maupun pegawai kecil merangkap
dua atau tiga pekerjaan buat mencukupi biaya hidup. Selama
tiga musim ini pemilik tambak telah menunjukkan kebaikan
hatinya yang dermawan. Tetapi orang tidak bisa memuaskan
diri dengan apa yang diperolehnya.
Sarman bekerja sebaik-baiknya. Dia mengikuti nasihat ten-
tang kejujuran yang diajarkan emaknya. Tetapi dia ingin mem-
pergunakan waktu luang guna mendapatkan uang lebih banyak.
Ketika mendengar kabar bahwa di pelabuhan diperlukan kuli-
kuli harian, Sumi menyetujui suaminya mencatatkan diri. Hanya
satu syarat, apabila pemilik tambak datang dan bertanya, Sar-
man sedang berada di seberang kanal.
“Sudah kukatakan kepadanya, pagar bambu di pintu air ha-
rus diganti menjelang musim hujan,” kata istrinya lagi.
“Apa katanya?”
“Dia akan memesannya.”
“Tidak menentukan hari panen?”
“Katanya, barangkali pertengahan bulan. Dia pergi ke em-
pang sebelah barat, melihat benih-benih baru. Katanya masih
belum cukup besar buat panen bersama-sama. Jadi, barangkali
malahan sekaligus panen di akhir bulan.”
Panen yang lalu tidak menyenangkan bagi Sarman. Dia
tinggal di ambennya menahan panas-dingin malaria yang me-
lumpuhkan. Biasanya musim panen ikan begitu memberinya
banyak rezeki.
42

Tengkulak-tengkulak borongan maupun pembeli perseo-
rangan yang datang dan kemudian menentukan harga sering
kali menginap mulai malam sebelum panen. Mereka mendirikan
gubuk atau tenda sementara, tidak jauh dari empang. Pemilik
menyediakan tanah untuk keperluan tersebut. Sumi juga me-
nyiapkan air panas buat teh, kopi atau wedang jahe guna meng-
hangatkan tubuh pada malam hari yang sejuk di pantai. Rasa
air yang agak asin memberikan kesedapan tersendiri.

Lalu pada hari panen, tengah hari tepat bersamaan dengan
dengungnya sinyal pabrik di pelabuhan, orang-orang berhenti
mengeduk empang, lalu mengelilingi Sumi membuka dandang
serta menyaksikan berkepulnya nasi yang nikmat. Di dekatnya
telah dinyalakan api ranting, dan orang-orang dapat membakar
ikan bandeng pilihannya. Ikan-ikan itu ditusuk dengan bilah
bambu, terbungkus oleh tanah liat yang asin serta ramuan
bumbu sesukanya. Para pembeli bisa makan berkelompok di
bawah naungan pohon-pohon pantai atau di gubuk dan tenda.
Udara pantai yang terik segera diwangikan oleh bau ikan bakar
bersama rempah-rempah yang membangkitkan selera makan.

Ini adalah hasil pikiran Sarman yang dipuji majikannya. Cara
demikian mendatangkan pengunjung. Karena dari musim ke
musim seorang langganan selalu mengundang kawan atau ke-
nalan. Dan kenalan serta kawan mereka bergantian mengun-
dang kenalan atau kawannya yang lain pula. Sumi bisa menjual
sekadar makanan dan minuman. Sedangkan Sarman menerima
upah karena melayani mereka. Harga yang dibayarkan kepada
pemilik hanyalah harga ikan yang mereka ambil sendiri. Masing-
masing bergembira memancing. Orang-orang kota itu merasa
puas dapat makan di pantai, sejenak lepas dari kebiasaan hidup
sehari-hari. Pada waktu pulang, sering kali membawa hasil panen
yang dibeli lebih murah daripada harga di kota.

Malam itu, Sarman terbangun oleh detak air hujan yang
gaduh di atas atap. Bunyi angin melanda pohon-pohon bakau,
terdengar amat dahsyat.

Dia tarik sarungnya, lalu turun dari amben. Tetapi dia
43

terkejut karena kakinya terasa basah. Tangannya menggapai
pelita di atas kepala Sumi. Dengan gugup dia besarkan nyalanya.
Dia turunkan mendekati lantai.

Air! Dingin dan gelap melimpah memantulkan api pelita.
Nyala itu bergerak-gerak dihembus angin yang menerobos
dinding pondok.
“Sumi! Bangun, Mi!” serunya sambil menggoyang- goyang-
kan tubuh istrinya.
Tanpa menunggu, Sarman melompat turun, mengambil ca-
ping serta kelewang. Sarungnya dilemparkan ke atas amben.
“Ke mana?”
Sumi terduduk. Sarman berseni,
“Lihat ini! Air naik! Aku melihat ke luar sebentar! Kalau-
kalau di pantai diperlukan bantuan.”
Dalam sinar pelita yang menggeliat liar, Sarman berusaha
menemukan suluh-suluh bambu. Dia tahu masih ada obor sisa-
sisa musim panen yang lalu.
“Di atas para. Paling atas!” kata istrinya mencoba memban-
tunya dari jauh.
Bersamaan dengan terbukanya pintu, pelita di meja bagaikan
tertampar mendekati ajalnya. Sarman menuju belakang pondok.
Di sanalah pantai dan perkampungan nelayan. Selalu ada bebe-
rapa perahu yang bergantian beristirahat di atas pasir.
“Hooooooooooooi!” Sarman berseru.
Teriaknya disambut deru laut. Barangkali air telah naik
sampai batas tanah pabrik teluk.
“Hooooooi!” sekali, dua kali dia mengulangi panggilannya.
Di tanah yang lebih tinggi dari bagian empang, air telah
sampai pertengahan betis. Dan ketika Sarman mulai turun
menuju pesisir, dengan susah payah harus mengarungi air yang
mencapai lutut.
Angin keras mengancam nyala dua suluh di tangannya. Semua
ribut. Gaduh. Ditambah bunyi pukulan hujan pada capingnya.
“Hoooooooi!” samar-samar Sarman menangkap seruan yang
sama.
44

Hitam malam berbadai menelan segalanya. Tetapi Sarman
mengenal baik-baik daerahnya. Dia mengubah tujuan. Beberapa
waktu kemudian dia menangkap cahaya obor-obor yang
berkelompok. Dia semakin mempercepat jalannya di atas pasir
yang lunak, namun memenjarakan setiap langkahnya.

Dari kejauhan Sarman melihat beberapa kenalan dan te-
tangga sedang berjuang mempertahankan sebuah perahu agar
tertambat di darat. Mereka harus menyelamatkannya dari reng-
kuhan laut yang berlengan panjang malam itu.

Seseorang menunjuk-nunjuk ke lepas lautan.
“Apa? Ada apa?”
“Perahu Mardi!”
“Di mana Mardi?”
“Dia biasa tidur di dalam perahunya.”
“Hooooooooi!” salah seorang berseru, disambung yang lain-
lainnya berimbalan.
“Mardiiiiiii! Hoooooooi!”
Dari tempat mereka berdiri, tampak sebuah perahu nelayan
dilengkapi tiang serta atap peneduh. Oleh tarikan ombak dan
hembusan angin, perahu itu semakin jauh dari tepian.
“Masa dia tidak terbangun oleh ayunan keras begitu?”
“Barangkali dia tidak ada di sana!”
“Ada! Dia biasa tidur di atas perahu!”
Lalu mereka terdiam. Yang sibuk menarik perahu pun ter-
henti. Semua mata mengawasi benda yang kelihatan mengecil
serta tak berdaya dipermainkan gelombang.
“Bapaaaaaaak!”
Serentak mereka mengalihkan pandang ke tempat asal suara.
Seorang anak setengah berenang setengah melompat mendekati
mereka. Api suluh di tangan kanannya sebentar muncul sebentar
menghilang oleh pukulan angin. Ketika lebih dekat, Sarman
mengenali anak sulungnya. Dia melambai dan menyongsongnya.
“Pak!” seru anak itu, tegak beberapa depa dari bapaknya,
napasnya tersengal sambil mengusap air dari wajahnya, “empang
ikan, Pak!”

45

Sarman terkejut: ikan!
Cepat dia berbalik hendak meninggalkan pantai. Kardi ter-
lonjak-lonjak mengejarnya.
“Emak bilang, Bapak ingat hendak menolong tetangga, tapi
barangkali lupa, sekatan di pintu air sudah lapuk. Jangan-jangan
bedah. Lalu Emak menyuruhku mencari Bapak.”
Sarman seperti hendak terbang mengarungi air!
Pasir di kakinya berganti menjadi lumpur yang licin. Keha-
bisan napas keduanya mencapai empang di seberang kanal.
Titian telah tertutup air, tapi masih bisa diterka oleh rentangan
tali-tali batas yang dipasang setinggi badan.
Kardi tetap membuntuti bapaknya dengan sigap. Sekali-
sekali tergelincir ke dalam air yang menggenangi tambak hingga
setinggi tubuhnya, tapi cepat berenang ke tepi dan berpegang
pada tali yang warnanya masih cukup jelas dalam kepekatan
malam dan badai.
Mereka terus menuju ke barat, lalu berbelok ke arah laut.
Tiba-tiba Kardi terpeleset untuk kesekian kalinya. Untung
ia sempat berpegangan pada dahan pohon yang kebetulan ter-
gapai oleh tangannya.
“Ikan, Pak!”
Sarman melihat anaknya memeluk seekor ikan yang bergerak
liar. Sisiknya keperakan berkilat kena sinar suluh.
“Lepaskan!” dengan gugup Sarman berseru.
“Barangkali semuanya sudah turun ke laut,” suara Kardi
tanpa sengaja menggugah kemarahan bapaknya.
“Bagaimana kau tahu! Kita akan mengurungnya!”
“Dengan apa?”
Ya, dengan apa? Perkataan Kardi amat menyakitkan hati
bapaknya. Karena sesungguhnya, Sarman sendiri tidak tahu de-
ngan apa akan menyelamatkan panen yang demikian diharapkan.
Diam-diam mereka meneruskan langkah menuju batas em-
pang dan kanal yang mengairi tambak-tambak dengan air laut.
Semakin dekat, semakin tampak berkas-berkas bambu yang
terapung di sana sini.
46

Pintu air yang memang harus diperbaiki telah sampai pada
puncak kelapukannya. Tapi Sarman harus melakukan apa yang
bisa dikerjakan. Kardi membantu tanpa ragu-ragu. Terjun dan
berenang ke sana kemari, kembali menggigit atau menarik
bambu sebisanya.

Keduanya tiba di dekat pintu air. Sarman melihat sebatang
pohon pantai yang tumbang. Akar-akarnya mencuat dari
permukaan, sebagian masih bertahan di dasar. Dia potong kayu
seperlunya. Ditambah ranting, dahan serta berkas-berkas bambu,
dibentuk semacam pagar, segera dipasang membentengi pintu
yang lama.

“Lepaskan tali dari berkas bambu yang ketinggalan itu!”
Kardi menuruti perintah, memberikan tali kepada bapaknya.
Tetapi usaha itu tidak mencukupi. Sarman tahu bahwa tekanan
air akan semakin keras jika hujan dan angin akan terus seperti
itu. Dia harus mencari batang-batang kayu lain.
“Pegang ini!” serunya kepada Kardi, “jangan bergerak!”
Kardi mendekati bapaknya dan berdiri di sampingnya.
Belum sempat Sarman naik kembali ke titian, sebuah gelom-
bang dari laut datang mengguncang air kanal dan bergulung
dengan kekuatan dahsyat.
Suluh-suluh tersiram padam. Sejenak tak kelihatan sesuatu
pun. Semuanya hitam. Dan ketika air tersedot kembali ke laut
bagaikan helaan napas, tampak sosok pintu air, pohon-pohon
pantai yang terlipat dan merunduk menahan timpaan angin
dan hujan. Dahan-dahan patah berserakan, terapung di per-
mukaan air.
Sarman menggapai-gapaikan tangan mencari anaknya.
“Di! Kardi!” serunya, “di mana kau, Kardi!”
Sarman berenang. Kakinya menemukan tanah, ia naik hingga
air sampai di paha.
“Diiiiiii! Kardiiiiiiii!”
Semua gelap menyeramkan.
Tiba-tiba Sarman menggigil kedinginan. Sejak dia keluar dari
pondok hanya bercelana dalam tidak dia rasakan dingin maupun

47

besarnya titik hujan yang mengiris punggung dan tubuhnya.
Tiba-tiba dia merasa merana.

“Kardiiiii! Di mana kau!”
“Pak!”
Suara Kardi sekaligus merupakan cahaya yang lembut namun
pasti.
“Di sini, Pak. Pak!”
Setelah matanya terbiasa dengan kegelapan, Sarman bisa
melihat anaknya beberapa depa dari tempatnya, dilingkungi
akar-akar bakau yang menonjol ke atas air. Sarman berenang ke
arahnya. Kardi tidak beringsut. Seakan-akan dirinya tersangkut
di sana. Sampai di tempat itu, Sarman meraba kepala anaknya
dengan mesra. Dan keduanya saling mendekatkan tubuh seakan-
akan hendak mencari kehangatan.
“Ada akar pohon di sini yang berkali-kali akan Bapak potong.
Ingat? Untung Bapak selalu lupa. Kalau tidak ....?”
Kardi tidak menghabiskan kalimatnya. Tetapi masing-
masing telah mengerti.
“Kita pulang,” akhirnya kata Sarman lemas.
Kedengaran gigi mereka gemelutuk dan gemetar.
Mereka berpegangan mencari-cari tanah ketinggian, lalu
berdiri mengikuti rentangan tali menuju ke arah pondok.
Letaknya jauh dari sana.
Sarman berpikir, biarlah panen tidak menguntungkan kali
itu. Lebaran mereka tidak akan bisa pulang menengok ke desa.
Di matanya terbayang unggun bara arang yang hangat dan kopi
panas yang disediakan istrinya.
48

Sebuah Teluk

Tangannya menggigil mengatur tali-temali di tiang layar.
“Sudah, tinggal saja, Jan!”
Angin laut yang membawa napas fajar semakin menggigit
tulang-tulangnya. Sarungnya diselimutkan rapat pada tubuh.
Lalu dia berjalan ke deretan rumah-rumah kecil di tepi perairan.
Nyaman dan asri pandangan terhadap sederet rumah tersebut,
berbataskan putih ujung lidah laut yang gemerlap kena sinar
langit fajar. Kirjan berjalan merunduk-runduk menahan angin
yang bersilangan arah antara darat dan laut. Matanya merin-
dukan pediangan api sekam, hangat di tengah gubuknya.
“Dapat banyak, Jan?” seseorang yang berjongkok di pema-
tang tambak bertanya.
“He-eh.”
“Apa? Dapat blanak juga?”
Tapi Kirjan telah jauh, meneruskan berjalan sambil meme-
gangi sarungnya erat-erat. Deru dari laut dikirim angin me-
ngoyak pohon bakau di sekitar. Kirjan semakin terhuyung mena-
han udara dingin, meniti pematang sepanjang tambak ikan. Ia
membelok ke kanan. Kakinya sudah melangkah menaiki hala-
man gubuknya ketika tiba-tiba matanya yang redup menang-
kap sesosok tubuh di samping pondok.
“Kang.”1) setengah memanggil, perempuan itu mendekat.

1) Kakang, abang dalam bahasa Jawa, sama dengan Mas.

49


Click to View FlipBook Version