Kirjan kembali turun ke pematang. Tangannya yang gemetar
meraih pipi wanita itu serta merabanya sejenak.
“Kau kumat?” tanya perempuan itu.
“Ya,” Kirjan mencoba tersenyum, “ada apa kemari?” desisnya
kering di antara giginya.
Perempuan itu tidak menyahut, menundukkan muka.
“Aku ingin cepat berbaring, supaya hangat. Pilku sudah
habis,” sekali lagi suara Kirjan dipaksakan, “tadi Wardi kuting-
galkan sendirian mengemasi perahu.”
“Besok sore saja,” perempuan itu beranjak akan pergi.
Kirjan cepat menangkap lengannya.
“Sekarang saja! Ada apa?”
“Kau sakit, Kang” tiba-tiba suara perempuan itu lebih lembut,
seolah iba dan murung.
Secepat wanita itu menghilang, secepat itu pula Kirjan masuk
ke dalam gubuk-nya.2) Angin laut sebentar turut menyelinap
melalui gerit pintu. Kirjan berjongkok di dekat amben, tangan-
nya didekatkan pada api pediangan. Bibirnya gemetar, matanya
setengah terpejam lesu memandang bara merah.
“Kirjan!”
Suara dari balik sekat dinding bambu kedengaran, disusul
batuk beruntunan.
“Ya, Yu.”3)
Kirjan mencoba membuka mata. Dia berdiri perlahan, lalu
membaringkan diri di amben. Wajahnya pucat. Napasnya kede-
ngaran beralun seirama dengan angin di luar.
“Kakangmu belum pulang?” suara itu terdengar kembali.
Kirjan tidak menjawab.
Kami keluar. Tertegun memandang tubuh adiknya yang ter-
bujur lurus dan diam.
“Kenapa kau?”
2) Pondok atau ramah sangat sederhana, biasanya terbuat dari bambu atau
papan bekas dengan atap rumbia.
3) Mbakyu, kakak perempuan.
50
Dengan susah payah, Kirjan mencoba membuka mata, lalu
terpejam lagi.
“Kumat.”
“Demam?”
“Ya.”
“Dingin?”
“Hmm.”
“Sudah kukatakan kemarin jangan turut makan tape. Itu
pantangan buat malaria. Dulu sudah diperingatkan Pak Mantri
di rumah sakit.”
Kami meneruskan gerutunya, berjalan ke belakang rumah.
“Bikin repot saja,” itulah yang kedengaran oleh Kirjan.
Ia tahu apa artinya sakit di gubuk seperti itu. Jadi, dia kembali
diam.
“Kemarin sore Minem cari kau,” Kami mendekat kembali.
Sekali lagi Kirjan memaksa membuka matanya.
Dia cari tempat kakaknya berdiri. Tubuh yang ramping kurus
itu sedang menggapai-gapai sesuatu di antara tiang dan atap.
Kirjan yang biasa pula berjingkat mencari simpanan tembakau
di sana, kini merasa pusing. Atap yang tepat di atas kepala Kami
seolah-olah akan menekannya lumat-lumat.
Cepat dia menutup kembali matanya. Bola-bola besar hitam
berdatangan seperti hendak melandanya. Ia mengeluh. Sekali
lagi dia berusaha berbicara atau berpikir, mengapa Minem men-
carinya? Minem datang kembali pagi itu. Udara yang lembab
seharusnya menyenyakkan tidur tubuh lesu yang terpanggang
sepanjang hari seperti halnya dengan Minem. Tetapi perempuan
itu keluar dari ambennya.4) Dia seperti hendak mengabarkan
sesuatu kepada Kirjan, sesuatu yang penting.
Kirjan mengeluh lagi. Dia memaksa diri menduga apa yang
akan dikatakan Minem. Mengenai hal-hal seperti biasanya? Atau
yang lain? Dia akan pulang ke desa? Atau dia mau kirim pakaian
kepada nenek, adik atau maknya di desa?
4) balai-balai.
51
Begitu saja Kirjan sudah menentukan jawabannya, bahwa
mereka, dia bersama Minem, seharusnya tidak mengirimkan
apa-apa ke kampung karena harus menyimpan uang buat kawin,
buat menyewa gubuk sendiri. Tetapi akan terus terangkah dia,
laki-laki, akan meminta kepada perempuan yang tercinta
sebagian uang simpanannya guna keperluan tersebut?
Penghasilan yang didapat setiap hari hanya bisa memberinya
makanan, dan sering kali jauh dari cukup. Laut yang memben-
tang antara pantai dan pulau-pulau kecil di teluk itu cuma mem-
berinya nafkah musiman yang tidak bisa dipastikan. Dia melaut
dan kembali ke daratan dengan antaran angin yang menghidupi
dirinya bersama kakaknya, suami-istri serta dua anak. Berarti
lima mulut yang mesti makan di gubuk kecil itu. Perahu Wardi
dan Kirjan harus kembali dengan muatan ikan yang bisa terjual
semahal-mahalnya. Musim demi musim memiliki jarak serta
ukuran hasil. Nasib dan keberuntungan mereka sangat tergan-
tung kepada kemauan alam dan persaingan dengan perahu- pera-
hu lain yang mempunyai motor.
Matahari telah mencapai atap pabrik tenun ketika Minem
sampai di sana. Sinyal pertama dari kapal keruk yang terapung
berderetan keluar dari sebelah timur, membelah permukaan air,
lembut halus lalu pecah menyeluruh teluk. Air hijau-kehitaman
di kanal itu tidak memantulkan apa pun selain bayangan yang
retak-retak. Tak ada bentuk. Tidak ada menara. Juga tak ada
tiang-tiang listrik atau atap mungil perahu-perahu yang merapati
seluruh pinggir kanal.
Minem masuk ke dalam pabrik tanpa kepastian niat. Demi-
kian pula tiada ketentuan nasibnya tentang hari esok. Seakan-
akan memang tidak ada sesuatu pun yang nyata dan pasti di
daerah itu. Bau sampah yang samar pun tidak bisa dipastikan
dari mana datangnya, untuk kemudian berganti dengan wangi
serta gurihnya minyak kelapa yang memenuhi udara kering di
seluruh teluk. Disusul bau nyinyir memuakkan, naik bagai asap
ringan, menyinggahi setiap pintu dan setiap hidung. Pendatang
baru akan bertanya dari mana berbagai bau itu datang? Tetapi
52
manusia yang tinggal di sana dihidupi oleh sungai dan kanal
beserta angin teluknya, memiliki rasa keakraban khusus yang
mencakup segalanya sebagai milik mereka.
Sinyal kapal keruk menjauh. Sosoknya perlahan semakin
hilang. Asapnya hitam berkelompokan menitiki langit bening
hari itu. Masih ada sinyal satu lagi yang akan terdengar. Saat
itulah Minem harus sudah duduk di tempatnya bersama buruh
lain, di bagian pemintalan benang.
Lorong masuk padat oleh pekerja yang beriringan datang.
Senda, ketawa dan suara mereka berdengung ditelan oleh ruang-
an luas penuh berbagai alat besar atau kecil.
Selama lima menit sinyal meraung mengabarkan kegiatan
kerja ke seluruh penduduk teluk. Orang akan memandang jam
tangan dan lonceng yang ada di rumah masing-masing. Mereka
juga lega menarik napas karena getaran suara itu memenuhi
seluruh kota.
Itu menandakan bahwa pabrik kebanggaan masih tetap
bernapas, masih menghasilkan. Dan jika pemogokan menceng-
keram teluk yang damai itu, orang akan sia-sia menunggu gaung
sinyal yang sehari-hari mengetuk pintu dan dinding rumah
mereka.
“Terlambat?”
Kawan yang berada di depan memandang kepadanya dari
celah-celah alat pemintal. Minem hanya mengangguk. Dia meng-
atur duduknya, mulai memilih juluran benang pada satu pin-
talan sebesar tinju tangan. Dia masih sempat menengok ke kiri
sebelum memutar lingkaran roda alat yang dia pegang.
“Belum datang,” kawan yang sama masih tetap menga-
wasinya.
“Tidak masuk,” sahut yang lain dari arah kanan.
Minem tersenyum ringan.
“Ke mana tadi? Kesiangan?”
Sekali lagi Minem tersenyum. Kali itu sambil menggelengkan
kepala. Kawan yang di depan menyelonong mendekatkan muka
pada roda pemutar sambil berbisik jelas,
53
“Semalam mereka bersama-sama lagi. Aku lihat sendiri!”
Minem menatap muka yang cemberut itu.
“Aku sudah tahu,” tiba-tiba jawabnya sebelum memutar
alatnya.
Dia tahu seluruh pojok ruang itu memandang kepadanya.
Seolah dia menjadikan dirinya sebagai tontonan yang meng-
asyikkan tanpa bayaran. Mereka saling berbisik. Minem berlagak
tidak peduli. Kupingnya merapat pada detak dan gerit alat
pemintalnya yang gaduh.
Minem memiliki tubuh padat, lampai, menggiurkan. Badan-
nya yang lebih tinggi dari kebanyakan perempuan di pabrik itu
saja telah cukup untuk menarik perhatian. Ditambah dengan
kesempurnaan lekuk-lekuk yang biasa merangsang laki-laki.
Hanya, dia dilahirkan di kalangan manusia yang tidak mam-
pu. Ini tidak akan menyusahkan hatinya kalau saja dia tidak
merasa dikesampingkan sejak kedatangan Suji di ruang pemin-
talan. Perempuan kampung di bilangan kota, tubuhnya kecil,
dadanya hampir kerempeng.
Satu kali Minem melihat Tarman makan di warung bersama
perempuan itu. Mereka bercanda amat menyakitkan hati.
Sebelum Suji masuk ke sana, Tarman merupakan jaminan
keuangan bagi Minem. Dia mandor kedua di seluruh ruang pe-
mintalan. Dan bisa memilih siapa yang harus pindah dan siapa
yang harus masuk siang ataupun pagi. Pada zaman sulit seperti
ini, orang berebutan mengerjakan lemburan guna mendapatkan
upah lebih banyak.
Harga-harga terus menanjak, barang kebutuhan hidup sema-
kin sukar dicari. Orang semakin menjauh dari usaha-usaha yang
jujur. Kesempatan dan waktu yang baik dicari buat kepentingan
diri sendiri.
Minem pun mendapatkan kelebihan upah lumayan selama
pergaulannya dengan Tarman. Setiap ada pembongkaran kapal,
Tarman selalu membawakan berbagai benda asing. Minem mene-
rimanya dengan selera kedesaan. Minem memakainya tanpa
menyembunyikan lagak kebanggaan.
54
Tapi sekarang ada Suji. Pembongkaran beras yang lalu,
Minem tidak menerima apa-apa dari Tarman. Dia memastikan
Suji menerima paling sedikit sepuluh kilo dari lelaki itu. Kecem-
buruannya semakin meluap ketika Sabtu yang lalu ia cuma
menerima uang kelebihan sejumlah beberapa lembar puluhan
rupiah. Sepekan terus-menerus dia masuk siang. Ini tidak adil,
katanya kesal kepada kawan- kawannya. Baru kali itulah dia
mengenal kata adil. Ia tidak pernah menyadari bahwa dia pun
pernah membikin kesal hati orang lain karena sering-sering
lembur.
Sinyal yang berikut kedengaran meraung dari cerobong
pabrik. Hari panas menyilaukan pekerja-pekerja yang berdu-
yunan keluar dan berpencaran. Angin dari laut tidak membawa
setitik kesejukan pun. Kapal-kapal hitam menodai cakrawala.
“Aku bawa ketela,” seorang kawan menawari Minem. Mereka
berjongkok di tepi pelimbahan, berlindung dari panas yang terik.
Deretan penjual es dan makanan lain memanjangi seluruh
tembok pabrik. Sebentar-sebentar, lalat pindah dari makanan
yang satu ke jajanan yang lain.
“Aku mau keluar,” kata Minem sambil mengunyah.
“Mendapat kerja di mana?”
“Belum cari. Entah nanti. Mungkin pulang ke desa.” Sebentar
tidak ada yang berbicara.
“Tidak menyesal nanti?”
Minem tidak menjawab. Apakah yang akan disesalinya?
Kehidupan kota yang diidamkan tidak bisa dia miliki. Keba-
nyakan dari kelompok yang ada di sekitarnya datang dari desa
yang sama. Tapi yang diidamkan Minem bukan hidup sederha-
na seperti waktu itu. Ia menginginkan suami yang mampu
memberi dia kehidupan berlebihan, secara layaknya orang kota.
“Semakin susah di sini,” katanya kemudian, seakan-akan
kepada dirinya sendiri.
“Panen tidak berlimpah musim ini.”
“Belum tentu. Tanah nenekku lebih baik.”
Laki-laki yang berada di deretan belakang menyambung, “Di
55
sini saja, Nem. Bisa lihat pilem, nonton wayang.”
“Kalau kau keluar, disangka kalah sama Suji.”
Mukanya tiba-tiba memerah.
“Biar aku remas matanya besok pagi kalau dia masuk! Aku
belum puas menjambaknya kemarin.”
Dan itu diiringi ketawa kawan-kawannya sambil ramai
mengingat kejadian kemarin.
Mereka menghadap ke arah kanal. Jalan di seberang penuh
buruh kapal, kuli-kuli pelabuhan dan orang-orang yang menon-
ton pembongkaran. Yang terakhir itu datang membawa bakul,
karung atau kantung dari bagor. Laki- laki dan perempuan berwa-
jah hitam, kurus. Pada hari-hari yang lalu ada pembongkaran
gula dan beras. Kadang-kadang gula dan garam. Mereka bere-
butan mengumpulkan butir-butir yang jatuh bertebaran dan ber-
timbunan, merupakan bukit-bukit kecil di atas tanah, mengalir
dari lubang karung bocor, atau yang memang dilubangi oleh
kuli-kuli pengangkut.
“Aku sudah bilang di kantor tadi,” Minem melanjutkan omong-
annya.
Bibirnya tercibir. Ia juga melonjorkan kaki serta bersandar
pada dinding pabrik.
“Kang Kirjan tahu?”
“Apa?”
“Kang Kirjan tahu kau mau keluar?”
“Belum.”
“Kawin saja, Nem!” kata lainnya.
“Dengan siapa?”
“Sama Kirjan.”
Minem tidak menjawab. Tangannya menemukan sebatang
kayu, mencoret-coretkannya pada tanah.
Sinyal keempat kedengaran memenuhi panas dan teriknya
hari. Minem berdiri diikuti kelompoknya. Ia mendekati penjual
es, mengambil sesuatu dari balik kebayanya.
“Hutang yang kemarin.”
Lalu ia melenggang di antara kelompok yang mulai masuk
56
ke dalam pabrik. Sambil bernyanyi-nyanyi kecil ia menuju de-
retan kakus. Suaranya mendengung dipantulkan dinding yang
tinggi.
“Nem! Minem!”
Ia menoleh. Dia lihat Tarman mendekat. Minem terus me-
nyanyi.
“Kata orang, kau mau keluar.”
Minem tidak menjawab, memandang kepada laki-laki yang
sama tinggi dengan dirinya.
“Mendapat kerja di mana?”
“Mau kawin,” akhirnya menyahut tak acuh.
Tarman tertawa.
“Mengapa ketawa?”
“Kau lucu! Kawin dengan siapa?”
“Memangnya tidak ada laki-laki lain yang memperhatikan
aku?” bentaknya sambil menonjolkan dadanya ke tubuh Tarman.
Lelaki itu tidak berhenti tertawa, meraih pinggang Minem.
Lalu tersengal napasnya keras,
“Nanti sore, Nem.”
Tapi Minem menolak dan meludah.
“Setan!” serunya, “kau yang janji mau mengawiniku! Kalau
tidak ada Suji, kau kembali kepadaku!”
Tarman tampak tidak mengharapkan perlakuan itu. Wajah-
nya keheranan. Tapi segera menyahut,
“O, Suji? Dia orang alim, Nem. Janda muda itu terlalu kaku.
Kaukira aku tidur dengan dia? Percuma saja aku membuang
uang buat dia.”
“Kau mengadukan kerugianmu kepadaku sekarang?”
“Ah, Nem. Aku ‘kan laki-laki! Aku punya uang. Aku bisa
menggagahi perempuan yang mana pun tanpa mengawininya.
Yang mungil seperti dia atau yang montok seperti kau.” Tangan-
nya menyelonong nyaris masuk ke balik kebaya Minem dengan
gerakan kasar. Minem memberontak dan lari menuruti jalan
panjang menuju ke pemintalan. Suara mesin dan alat terdengar
dari balik kedua dinding tinggi yang lembab itu. Terengah-engah
57
dia sampai di tempat kerjanya. Ia terus masuk tanpa menoleh
sambil membetulkan sanggul serta kebayanya. Tangannya ge-
metar mulai memutar roda, kakinya sebentar-sebentar tertegun
lupa ke mana mesti digerakkan.
Tiba-tiba dia ingin melihat Kirjan.
Laki-laki itu berasal dari desanya juga. Jauh lebih tampan
dari Tarman yang mukanya penuh bintik-bintik dan lubang
bekas cacar. Kirjan selalu berkelakuan halus terhadapnya. Ketika
bulan yang lalu Kirjan memintanya supaya kawin cepat-cepat,
ia menolaknya karena mengharapkan Tarman akan mendahu-
luinya.
Kirjan selalu sabar. Wataknya lembut dan menerima apa
adanya.
“Seadanya saja yang bisa kita makan, Nem, tapi kita harus
kawin,” kata laki-laki itu, “aku tidak suka kau terus bekerja di
pabrik begitu.”
Kata-kata Kirjan selalu lepas dari kecemburuan. Mungkin
dia mengetahui pergaulannya dengan Tarman, tetapi tidak
pernah mengusiknya.
Kini Minem memutuskan. Dia akan menemui Kirjan sore
itu. Tadi pagi Kirjan sakit. Sore ini dia akan menunggui di pon-
dok Wardi.
*
“Pulang sana! Kau pergi terlalu jauh dari rumah!”
Kirjan menegur anak kakaknya. Mereka berdiri di tepi kanal,
menentang matahari yang sedang lingsir ke barat.
“Disuruh Mak cari rontokan,” laki-laki kecil itu menengadah
menjawabnya.
Kirjan mengangkat tangannya untuk melindungi mata dari
sinar matahari. Ia memandang ke seberang, ke cerobong yang
hitam mengepul, lalu menundukkan kepala sambil mengeluh.
Kepalanya pening oleh silaunya hari.
“Pulang saja! Bilang tak ada perahu dibongkar!” katanya,
58
kembali memandangi bocah di sampingnya.
“Ada, sebentar lagi,” bantah anak itu.
Jumlah manusia yang berdiri di sana semakin bertambah.
Tangan mereka menjinjing bakul atau wadah lain yang rapat
anyamannya serta ringan. Mata mereka berkedip mengawasi
ujung kanal. Deretan perahu datang bergerak seperti terayun-
ayun di mata Kirjan. Sebentar-sebentar ia mengeluh, lalu menu-
tup mata.
Perahu pertama merapat disambut oleh papan lebar yang
menghubungkannya pada daratan. Para kuli segera mengaitkan
ganco pada karung-karung muatan, lalu memanggul dan mem-
bawanya ke dalam gudang penimbunan. Aliran putih mengucur
dari lubang bekas kaitan ganco, tumpah ke bawah di sepanjang
jalan hingga pintu gudang.
Beras! Mata orang-orang menjadi buas. Seolah-olah didorong
oleh suatu kekuatan ajaib mereka bergerak serentak, berebutan
menjumputi butir-butir yang berceceran. Berdesakan tolak-menolak,
lalu tangan mencakup beras bersama kotoran dan tanah panas.
Kirjan berlari lalu menarik kemanakannya, dibawa menjauh.
Perahu kedua yang masih berjarak beberapa ratus depa dari
daratan mulai mendekat. Orang-orang mengawasinya dengan
mata garang. Mereka menggerombol di sana-sini. Perahu perta-
ma telah habis dikerumuni badan-badan kurus. Kini perahu
kedua menjadi bagian mereka. Beberapa orang sudah terjun agar
bisa mendahului yang lain, mendapat tempat bagus guna
menjumputi butir-butir berjatuhan.
Melihat itu, Kirjan merebut bakul dari tangan kemenakan-
nya. Dia buka sarungnya.
“Pegang ini!” kemudian dia bersiap-siap, menunggu perahu
yang segera tiba di depannya.
Orang-orang berloncatan naik, berdesakan memunguti tim-
bunan barang di beberapa bagian lantai perahu. Dan tidak itu
saja. Mereka bahkan mulai mengait dan merobek karung, meng-
aduk isinya hingga bertaburan, menjadi rebutan gerombolan
yang semakin liar.
59
Polisi-polisi pelabuhan menghampiri, memukul ke sana meng-
hantam ke sini. Tetapi orang-orang itu tidak peduli. Mereka lapar.
Mereka telah lama tidak melihat makanan selezat itu dimasak di
gubuk atau pondok mereka, bahkan masuk ke perut mereka.
Mereka juga masih ingin makan nasi meskipun hanya satu
kali sehari! Sedangkan harga sembako yang membubung tidak
bisa tercapai oleh penghasilan jauh di bawah ukuran sederhana.
Kirjan mulai memunguti ceceran beras dan cepat memasuk-
kannya ke dalam bakul. Jerit dan keluh mengaduh menyeling
desakan-desakan. Masing-masing mau mendapat lebih dari yang
lain. Tinju mengayun ke kepala seorang, dibalas cekikan.
Kirjan menolak orang yang menindih punggungnya. Tetapi
tiba-tiba dia terdesak dan terlempar ke sudut. Satu pukulan
menurun pada tengkuknya. Pukulan berat, benda logam yang
panas terbakar matahari. Di saat terhuyung mencari jalan keluar,
samar-samar dia mendengar suara sempritan dan deru truk yang
berhenti, disusul oleh seruan: Tentara! Tentara datang!
Sayup-sayup terdengar sinyal terakhir hari itu, mendengung
dengan irama terputus-putus. Tubuhnya terdesak oleh arus orang-
orang yang hendak keluar, takut tertangkap oleh polisi tentara yang
mulai turun dari truk. Akhirnya Kirjan jatuh tertelungkup. Bakulnya
tertumpah. Dia terbaring dan menjadi alas berpuluh kaki telanjang
kering yang berlarian menyelamatkan diri, terjun ke kanal.
*
Minem keluar dari pintu pabrik, matanya berkedip-kedip.
Ia tidak melalui jalan di seberang kanal. Hatinya tergesa
melewati jembatan di ujung, agar langsung dapat menginjak
tanah-tanah berpetak di mulut laut. Hatinya tergesa hendak
bercerita kepada Kirjan.
Angin laut yang menampar setiap pohon pantai di sana tidak
membawa kabar apa-apa kepadanya.
60
Perjalanan
Kota ini sebenarnya tidak kusukai. Panas berdebu. Kalau
datang musim yang sejuk, itu pun disertai hujan beruntunan
tiga-empat hari lamanya. Disusul oleh genangan air di jalan-
jalan. Di sini cokelat. Di bagian kota yang lain hitam atau kotor
berlumutan. Bagaimanapun warna air itu, akibatnya sama. Lalu
lintas terhenti. Kendaraan bermotor mogok, menyebabkan
semakin macetnya ketertiban. Tak terhitung pula tegangnya urat
saraf dan orang-orang kehilangan kesabaran. Dari belakang
sebuah kemudi orang berteriak, disambut suara tukang becak
yang bersusah payah mendorong muatan. Dari belakang kemudi
lain seorang tuan membentak. Mobilnya yang berkilat tergurat
oleh serempetan penunggang sepeda. Pertengkaran mulut,
disambung semburan klakson dari mobil-mobil lain di belakang.
Semua itu diselubungi langit kelabu mengancam.
Ya, banjir di Jakarta tidak seperti banjir di kota asalku yang
kecil. Di sana, orang bersampan serta menangkapi ikan. Anak-
anak ria menimba air yang belum mencapai tinggi rumah dari
anyaman bambu. Ayah beserta paman-pamanku bersiap menye-
diakan ruangan hangat di pojok lumbung untuk kandang babi,
kerbau, bebek, dan ayam. Kalau air naik tinggi sekali, barulah
binatang ternak itu digiring melalui papan-papan tangga.
Ibuku selalu cemas ketika titik hujan yang pertama jatuh.
Dia ribut menyuruh kami membantunya. Lalu kami pun
61
berlarian mengurung binatang-binatang yang berkaki dua. Me-
reka begitu kecil dan pendek. Air terkadang cepat sekali naik,
lalu dengan mudah menelan ternak kami tersebut. Yang terakhir
kami selamatkan ialah itik-itik. Mereka demikian gembira bere-
nang ke sana kemari, tanpa mengindahkan arus deras yang da-
tang dari hulu. Kesibukan itu bernada kekeluargaan, hampir
menyenangkan. Mendekati suasana perayaan, serba ria dan rela.
Tetapi aku meninggalkan kotaku yang terletak di tepi sungai
itu.
Pusat perusahaan tempatku bekerja ada di kota ini. Sebelum
pindah, aku sering mendengar bermacam-macam hal yang tidak
menyenangkan mengenai penduduknya, mengenai kesukaran
orang mendapat nafkah. Ini tidak pernah mengkhawatirkanku.
Kota besar selalu lebih padat dengan pengaruh berbagai
golongan, baik kesusilaan maupun politik. Tetapi di samping
itu, banyak pula keuntungan atau kelebihannya jika dibanding-
kan dengan kota-kota di daerah.
Aku telah mempertimbangkan segalanya masak-masak. Or-
ang tuaku tidak pernah memberati kepergianku. Mereka bahkan
bangga dengan pekerjaan yang kupunya kini.
Sejak pagi aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Aku terlambat bangun. Dering weker sama sekali tidak ku-
dengar. Bersama kawan-kawan sekerja, aku keluar hingga larut
ke lantai dansa kemarin. Ajakan teman-teman pria yang berduit
untuk makan di restoran yang tergolong nomor satu di kota
besar itu tidak bisa kami elakkan begitu saja. Lalu kami berdansa
dan bercanda hingga jauh malam.
Aku terbangun ketika mobil perusahaan sudah menderu ber-
kali-kali menekan gas.
Demikianlah kerja di perusahaanku. Jam tugas kami tidak
teratur. Tergantung pada saat kedatangan dan ke berangkatan
pesawat, padahal kami menjadi nyonya rumah. Orang yang suka
tidur seperti aku ini tidak jarang dimaki oleh sopir perusahaan.
Tetapi aku berusaha bersikap baik kepada mereka. Sekali-dua
pada waktu aku pulang dari perjalanan luar negeri, kubagikan
62
rokok merek terkenal. Kadang-kadang di tahun baru, aku meng-
hadiahkan sekotak pisau cukur yang mahal harganya. Kuingat
siapa yang sudah atau belum menerima bagian, karena aku tidak
bisa sekaligus membeli banyak buat mereka semuanya. Dengan
jalan penyuapan kecil-kecilan itu aku mempertahankan hu-
bungan baik dengan mereka.
Pagi itu pun tanpa khawatir aku melompat dari tempat tidur,
keluar menyalakan lampu di halaman samping. Itu sebagai tanda
bahwa aku akan segera keluar. Tetapi kusempatkan diri mencuci
muka dahulu, lalu cepat-cepat mengenakan seragam. Aku akan
berhias di stasiun lapangan udara nanti. Itu memang biasa kami
kerjakan. Setelah lapor ke bagian penerbangan, kami biasa meng-
hilang ke toilet, membenahi rambut serta dandanan wajah. Sega-
lanya dapat kukerjakan dengan kecepatan yang tertib. Dan sejak
rambutku kupotong pendek, aku merasa lebih ringan. Kurasa
segalanya bisa kukerjakan lebih cepat. Apalagi di saat dinas pagi-
pagi buta seperti itu.
Orang yang berpakaian putih-putih di landasan mengacung-
kan tangan, telunjuk, dan jari tengah. Maka baling-baling sebelah
kanan pun berputar, teratur dengan aliran tenaga listrik yang
diterimanya. Makin lama makin cepat. Kemudian orang itu
mengacungkan jari telunjuk saja. Menyusullah baling-baling
sebelah kiri menyisihkan angin pagi dari laut. Beberapa waktu
kemudian, petugas-petugas lain memindahkan logam kuning
pengganjal dari roda pesawat. Lalu burung dari logam itu pun
bergerak, meluncur sepanjang landasan, menuju garis pener-
bangan sesuai petunjuk menara.
Kami memulai perjalanan hari itu dengan rentetan suguhan
yang sama: permen beraneka warna dan rasa, air wangi yang
sengak, kopi susu yang cair dan roti berisi selai atau telur dadar.
Surat-surat kabar terbitan pagi itu selalu menjadi rebutan,
karena perusahaan tidak pernah menyediakan secukupnya.
Kalau ada sindiran atau kritik dari penumpang, aku hanya ber-
masa bodoh. Sambil tersenyum tentu saja. Apa peduliku! Or-
ang-orang atasan waktu itu sibuk menimbun kekayaan pribadi
63
sehingga kurang memperhatikan kepentingan praktis, juga
lengkap tidaknya bagian-bagian dengan alat yang diperlukan.
Kebanyakan sarana kerja bermutu minim.
Aku hanya mengerjakan tugasku. Sudah! Kalau berkali-kali
mengajukan usul ini-itu tanpa mendapat hasil, aku menjadi
apatis. Aku bukan pegawai yang dibayar buat mempertahankan
nama baik perusahaan. Aku dibayar hanya buat bekerja. Begitu
saja.
Pesawat langsung berangkat ke Jawa Tengah. Hanya dua kursi
yang kosong di belakang. Kebanyakan penumpang pegawai
negeri, pengajar universitas atau tentara. Beberapa orang Tiong-
hoa, tentulah pedagang yang bisa membayar karcis.
Penumpang di samping kursi kosong memiliki wajah yang
tidak asing bagiku. Sejak semula kuperhatikan ia banyak
tersenyum kepadaku. Setelah pekerjaan mengurang, dia pergi
ke pantry*) menegurku.
“Anda dari Manado?”
Aku ingin menjawabnya tanpa berterus-terang. Tetapi tidak
sadar segera menyahut.
“Apa yang menyebabkan Anda berpikir demikian?”
“Saya mempunyai kawan baik dari sana. Kampung Hulu
Latimojong.”
Kuamati lebih teliti wajah laki-laki di depanku. Mungkinkah
aku pernah bertemu sebelumnya? Satu hal yang tidak mustahil
karena pekerjaanku. Dia barangkali pernah menjadi penumpang
pesawatku beberapa kali.
“Siapa nama kawan Anda?”
Penumpang itu menyebut nama kakakku.
“Dia kakak saya.”
Hari itu aku mengenalnya kembali.
Waktu masih kecil, Johan sering datang bersama kawan-ka-
wan kakakku yang lain. Tetapi Johan paling sering makan atau
tidur di rumah. Kadang-kadang menolong pekerjaan yang sedang
*) dapur
64
ditugaskan Ayah kepada kami. Aku masih sangat muda waktu
itu. Sama sekali tidak bisa mengingat bagaimana rupa wajahnya.
Setelah pertemuan hari itu, Johan sering menelepon atau
datang mengambilku untuk makan di luar.
Undangan demikian tidak pernah kutolak. Apalagi berasal
dari teman keluarga! Dia banyak bercerita. Di antaranya ketika
aku masih kecil sering sekali digendong-gendong di punggung-
nya. Ketika Ayah mencoba perahu motor sungai, Johanlah yang
pertama-tama turut di dalamnya. Cerita-cerita yang bagiku sama
sekali tidak membosankan, karena mengingatkan kepada kotaku.
Aku tidak hanya keluar bersama Johan. Dengan kawan-
kawan sekerja lain aku tetap sering membuat kencan, berdansa
atau makan di restoran. Perayaan-perayaan ulang tahun hampir
selalu berakhir mendekati pagi.
Tetapi keluar dengan Johan selalu kurasakan lain.
Beberapa teman menyindirku bahwa aku pelupa dan pela-
mun akhir-akhir itu. Mereka mengejek atau menyindirku: ba-
rangkali aku sedang jatuh cinta.
Benarkah? Hatiku ingin mengelak bahwa sesungguhnya aku
hanya merasa dekat dengan Johan. Bukan cinta! Tetapi mengapa
dadaku berdebar jika dia memandangiku dengan matanya yang
setengah terpejam, seolah-olah mengintipku dari celah-celah bulu
matanya?
Ya, memang segalanya baik pada pemuda itu. Ia tampan,
sikapnya manis. Hingga saat itu, di antara kami kawan sekerja
sering saling menyentuh dan mencium, menuruti apa yang kami
usulkan masing-masing. Berangkulan pinggang atau pundak
bukan merupakan keanehan.
Tetapi bersama Johan, dadaku merasa menjadi bara jika dia
menempelkan mulutnya pada dahiku waktu kami berdansa.
Umur kami jauh berbeda. Barangkali dialah yang disebut lelaki
yang sudah matang. Mungkin karena itukah maka aku lebih
merasa terikat kepadanya? Ataukah karena Johan sekampung
denganku? Dia mengenal hampir semua yang kukasihi?
Sementara aku memusingkan semua hal itu, kami tetap
65
sering keluar bersama. Semakin berani aku terima sentuhan,
rabaan dan ciumannya yang kutanggapi dengan kegairahan yang
meluap. Satu kali, Johan mengajakku singgah ke pondoknya,
sebuah paviliun yang dia sewa jika berada di ibukota. Amat
mungil dan penuh benda-benda mewah. Itu diimpikan oleh
setiap wanita, setiap istri. Lemari es, tempat memasak makanan
dan kuih, radio, piringan hitam, tempat tidur, lemari pakaian
dan kursi-kursi rotan berbantal manis. Di rumahnya itulah Johan
membujukku buat bercintaan.
Aku hampir tidak bisa menolaknya. Pergaulan antara pria
dan wanita dari daerah kami bebas. Kaum muda tidak pernah
dihebohkan jika menuruti kehendak dan keinginannya. Dan
malam itu sebetulnya aku ingin menghabiskannya bersama
Johan.
Tetapi aku menolak.
Keesokannya aku bahkan menyesal. Aku sebenarnya begitu
ingin tahu mengalami “kejadian” itu. Semacam ingin tahu yang
lebih bersifatkan binatang daripada wanita.
Setelah malam itu, aku menyadari bahwa aku benar-benar
mencintai Johan. Dan aku menginginkan agar kami berdua
kawin. Itu merupakan kesempurnaan bagiku, karena teringat
kepada upacara perkawinan megah di gereja. Aku ingin berpa-
kaian putih, diiringi keluarga serta dikagumi. Itu merupakan
idaman hampir setiap perempuan. Dan oleh sikap Johan yang
sabar terhadap penolakan itu, aku merasa semakin mencintainya.
Sedangkan Johan tampak menanggapi harapanku, tetap mau
keluar bersamaku, tetap mendapatkan janji-janjinya, yang meski-
pun tidak jelas, tapi memuaskanku. Beberapa kali dia tetap men-
coba hendak bersanggama denganku, namun aku tetap meno-
laknya, halus dan penuh cinta.
Hari itu aku terbangun di kamar hotelku.
Pesawat yang rusak kemarin malam tidak bisa berangkat ke
Nusa Tenggara. Awak pesawat dan penumpang menunggu lama
di lapangan udara. Hingga akhirnya datang keputusan, perja-
lanan ditunda sampai esok hari.
66
Kulihat jam di meja. Masih pagi. Aku meneruskan berbaring.
Tanpa sadar pikiranku melayang kepada Johan. Begitulah cinta.
Tak suatu sebab pun, orang tidak bisa melepaskan pikiran dari
yang dikasihi. Benarkah akhirnya aku akan kawin dengan dia?
Uangnya cukup banyak karena kemajuan perdagangannya. Ada
mobil. Ia menjanjikan sebuah rumah di luar kota, tempat yang
kusetujui. Di sebelah selatan Jakarta. Seandainya Johan tidak
beruang, akan cintakah aku kepadanya? Ah, aku menggeleng
menghindarkan pertanyaan yang bodoh ini.
Setelah makan pagi bersama awak pesawat, aku berkata akan
pergi ke kota, sekadar berbelanja. Sebetulnya aku tidak ingin
membeli sesuatu pun. Tetapi aku tidak pernah tinggal mengu-
rung diri di hotel. Keberangkatan pesawat ditentukan pukul
lima belas hari itu.
Pilot Kedua hendak ke kota bersamaku. Lalu kami memanggil
becak, menuju kawasan perbelanjaan. Di sana kami masuk dan
keluar toko-toko Cina, satu demi satu, akhirnya berhenti seben-
tar di warung, berangkat lagi menelusuri trotoar sambil melihat
barang-barang di etalase.
Tiba-tiba aku tertegun. Dari luar kaca etalase aku melihat
Johan bersama dua kanak-kanak di dalam toko. Mereka ber-
bicara mengiringi gerakan tangan yang ramai. Kemudian mereka
menuju ke luar. Di pintu kutangkap percakapan mereka.
“Mainanku yang lain dipatahkan adik. Papa berjanji akan
mengganti,” kata anak yang lebih besar.
“Papa akan membelikannya di Jakarta minggu depan. Di
sini tidak ada yang baik. Mari, cepat! Mama menunggu di mo-
bil.”
Johan menggandeng mereka, masing-masing dengan sebelah
tangan, hendak menyeberangi jalan. Di sana kulihat ada mobil
berhenti. Saat mereka lewat, aku memalingkan muka ke arah
kaca toko.
“Salah seorang penumpang kita yang setia,” tiba-tiba Pilot
Kedua itu berkata,
“Mana?” tanyaku dengan bodoh.
67
“Itu tadi, di dalam mobil Mercedes.”
“Kau kenal?”
“Oh, sering-sering terbang bersama.”
“Itu istrinya?” tanyaku.
“Itu istri yang pertama. Dia Indo Belanda. Putih orangnya.
Manis ya?”
Aku merasa diri semakin bodoh. Dan semakin bodoh pula
kudengar pertanyaanku,
“Istrinya yang pertama?”
Kawan sekerjaku itu beranjak meneruskan jalannya. Jawab-
nya,
“Ya, istrinya yang kedua orang Sunda. Masa kau tidak kenal
orang itu? Dia orang Manado juga. Dulu Kristen. Menjadi Is-
lam karena mau kawin lagi.”
Aku tidak menyahut. Juga tidak bertanya lagi. Segalanya
telah jelas bagiku. Hanya, mengapa kawan sekerjaku itu lebih
banyak mengenal Johan daripada diriku? Aku yang selama
hampir dua tahun bersama lelaki itu, bergaul dan keluar dengan
keakraban yang hampir mencapai puncaknya.
“Tampaknya kau mengetahui banyak hal mengenai penum-
pang-penumpang kita,” kataku memancing.
Suaraku kupaksa agar terdengar sebiasa mungkin.
“Oh, itu percakapan antara lelaki, di waktu kerja atau di
lapangan. Banyak rekan kita dari daerahmu. Langganan, begi-
tulah! Kalau ke luar negeri, khabarnya dia mengundang awak
pesawat ke kabaret-kabaret yang seram!”
Demikianlah biasanya! Orang yang berkepentingan sering
kali justru tidak mengetahui hal yang sebenarnya. Dalam
persoalan ini akulah yang buta. Dan aku tidak mengenal siapa
Johan sebenarnya. Memang banyak rekan kerja berasal dari
daerah yang sama denganku. Tetapi secara kebetulan, percakapan
kami tidak pernah satu kali pun menyinggung soal Johan.
Apakah aku harus merana oleh kebenaran yang baru kuke-
tahui? Dapatkah ini disebut sebagai kesalahan langkah? Aku
tidak tahu. Yang jelas kuketahui ialah Johan tidak puas dengan
68
milik yang satu. Dia berharta sehingga bisa melampiaskan nafsu,
membujuk perempuan yang bagaimanapun, di mana pun.
Dia membutuhkan hadirnya dua istri sebagai milik tetap.
Barangkali dua keluarga pula. Apakah aku direncanakan menjadi
yang ketiga? Ide yang benar-benar mengagetkan! Yang pertama
Indo, yang kedua Sunda, yang ketiga dia harap berasal se-
kampung dengan dirinya! Koleksi yang barangkali tidak akan
berhenti padaku saja.
Sekali lagi hal ini membuktikan betapa lelaki selalu diberi
hak lebih daripada kaum wanita. Johan sampai hati menunggangi
agama, berpindah dari yang satu ke yang lain. Tujuannya hanya
untuk mendapatkan apa yang dia kehendaki.
Aku tidak ingin mempersoalkan semua itu! Yang nyata bagi-
ku ialah watak manusia itu sendiri. Sedangkan watakku: tidak
akan membiarkan diriku tenggelam dalam kepedihan, keputus-
asaan, atau yang berbau pesimis.
Hari depanku masih panjang. Di situ juga mungkin terletak
cinta dan kehidupan keluarga yang kuidamkan, bersama seorang
suami yang puas “hanya” mempunyai satu istri.
69
Di Langit, Di Hati
“Di kabin semua tenang saja?” kapten Yasrul bertanya tanpa
melihat kepadaku.
Matanya tetap memandang ke depan. Tangannya erat pada
kemudi pesawat. Sekali-sekali badannya terayun miring seolah-
olah hendak mengatur keseimbangan.
“Seorang ibu dan anak-anaknya amat kebingungan,” sahutku
sambil meletakkan keranjang roti di lantai kokpit.
Aku segera hendak keluar ke kabin. Lenganku tiba-tiba
dipegang olehnya. Aku menoleh.
“Kau boleh tetap di sini kalau takut.”
Sebentar kutahan mata yang menatapku. Kemudian kupan-
dang tangannya yang ada di atas lenganku. Perlahan dia melepas-
kannya. Bekas merah kuusap dengan tangan kiriku.
“Tanggung jawabku di kabin,” kataku cepat sambil pergi
menghindarinya.
Di kabin kudapati keadaan seperti semula.
Perempuan berambut coklat kemerahan yang duduk di sebe-
lah kanan depan masih menundukkan kepala dengan mata ter-
pejam. Waktu aku lewat di dekatnya, penumpang yang duduk
di sampingnya tersenyum ringan. Maksudnya bercanda,
“Kita mati bersama-sama, Zus.”
Aku hanya menjawabnya dengan senyuman kecut. Panggilan
zus tidak pernah menghangati hatiku. Aku lebih suka kalau
70
penumpang menyebutku nona, karena perkataan itu bahasa In-
donesia. Kalau tidak, dik.
“Bapak anak-anak ini menunggu di Makassar, Neng. Bagai-
mana nanti,” ibu yang berkerudung selendang bertanya kece-
masan.
Sekali-sekali diusapnya air mata yang sudah ada di pipinya
dengan ujung kerudung. Dua kanak-kanak duduk di dekat jen-
dela, memandang kepadaku. Pandang bening. Sambil menunduk
mendekatkan muka, kubujuk mereka selembut mungkin.
“Bertawakal saja kepada Tuhan, Bu. Itu orang yang duduk
di depan berdoa sejak tadi. Kita semua berdoa supaya selamat.”
Sewaktu kembali ke tempat dudukku di belakang, aku ber-
pikir apakah aku juga orang yang tawakal? Apakah aku sudah
melayangkan doa kepada-Nya dalam keadaan seperti ini? Sejak
tadi aku hanya mondar-mandir ke seluruh kabin dan kokpit
sambil tersenyum atau berbicara menyuarakan bujukan yang
barangkali tak berguna.
Telah satu jam lamanya awak pesawat menyadari bahwa me-
reka mengemudikan burung raksasa ini dengan satu baling-bal-
ing yang tidak berputar semestinya.
Kapten memerintahkan ketenangan. Aku meneruskan
perintahnya ke kabin. Aku “membujuk” mereka agar tidak takut.
Untuk mengharap keselamatan. Dan selama itu, aku kurang
sadar bahwa aku juga senasib dengan mereka, bahwa aku pun
berada di dalam pesawat pincang, lemah di tengah-tengah
angkasa dan cuaca buruk. Suara hujan yang menerpa badan
pesawat bersatu dengan deru mesin tua yang sebentar-sebentar
kedengaran terhenti.
Aku memandang ke luar. Baling-baling kiri tertegun-tegun
berputar. Di sampingku Elly masih juga menangkupkan kedua
tangan. Kepalanya tertunduk lemas. Mata terpejam. Kupandangi
bentuk muka dan rambut yang dipotong selaras. Manis dia.
Tiba-tiba matanya terbuka, tangan kanan membentuk salib di
dahi dan dada.
“Panjang doanya, Elly,” kataku tanpa melihat ke arahnya.
71
Aku merasa dia menatap wajahku. Seakan-akan mencari
sesuatu.
“Ya,” akhirnya dia menjawab, “doa orang yang masih
dipenuhi keinginan hidup.”
Perkataan ini memaksaku menengok kembali kepadanya.
Dia tak acuh, memandang ke depan. Kening yang kukerutkan
terasa membuatku sakit kepala. Kali itu dia berhasil memukul
kepekaanku. Hati dan otakku yang selama ini selalu penuh
perbantahan dan pemikiran serasa tiba-tiba terlalu padat meluap.
Setiap titik hujan yang jatuh pada sayap pesawat seperti langsung
menusuk perasaanku. Semakin pening dan sakit.
Kucoba mengalihkan pandang. Kulihat Elly memberi minum-
an kepada anak kecil di depan. Bukan waktunya makan maupun
minum. Tapi memang terhadap anak-anak kami kurang mene-
pati segala macam aturan.
“Dua kali saya mengalami peristiwa seperti ini, Zus. Mudah-
mudahan ini pun selamat seperti yang lalu,” kudengar seorang
penumpang berbicara.
Dari tempatku, aku hanya bisa melihat punggung Elly. Kini
dia menolong penumpang lain memakai selimut.
“Kalau kita semua mengharapkan selamat, pastilah Tuhan
mengabulkan, Tuan,” suaranya ramah.
Dan aku hampir dapat menduga, itu juga diiringi senyum.
“Kita dekat langit, Zus. Lebih dekat dengan Tuhan.”
Elly kembali ke sampingku. Kulihat di wajahnya tak ada
pengucapan sesuatu pun. Senyum pun telah menghilang.
“Lebih dekat dengan Tuhan juga lebih tampak kejahatan-
kejahatan kita terhadap-Nya,” bisikku seorang diri menyambung
kalimat penumpang itu.
“Juga Dia lebih tahu dendam dan benci yang berkecamuk
dalam pesawat ini. Sudah terbukti sejak dulu. Menurut ajaran-
Nya, dendam dan kebencian selalu menyebabkan kehancuran.”
“Elly! Sudah, cukup!” kataku hampir tidak bisa menahan
seruku.
Dengan khawatir kulayangkan pandang ke arah penumpang-
72
penumpang. Elly bangkit dan segera pergi ke pantry, sudut tempat
mengatur perbekalan.
Untuk kesekian kalinya aku memandang ke luar, ke langit
lepas yang gelap kelabu oleh mendung dan topan. Sambil ber-
pikir, aku meneliti diriku berapa persen dari kesadaran dan
nuraniku ini yang dikuasai oleh dendam dan kebencian seperti
kata Elly. Kuraba lengan kananku, yang pernah disentuh Yasrul.
Aku pernah mencintainya, tiba-tiba hatiku berkata. Timbul
perasaan lain yang berkata: aku masih mencintainya.
“Kau bisa mengerti ini, Din, kau pasti bisa!”
Kalimat itu diucapkan Yasrul kurang lebih empat bulan yang
lalu. Percakapan kami waktu itu diberati rasa kaku yang meng-
himpit dadaku, perasaan perempuan cemburu, iri, dan merasa
diri tertipu.
“Hidup di kota yang begini ragam isinya, di sana-sini selalu
melihat pemuda berduaan, berpacaran. Sedangkan aku harus
alim karena ada gadis lain yang menungguku di suatu sudut
tanah air,” kata Yasrul.
la membela diri dengan penjelasan atas kelakuannya jang
ditimpakan terhadap diriku.
Tetapi aku juga merasa perlu membantahnya.
“Di mana letak kejujuran? Berapa kali saja kau mengatakan
mencintaiku. Berapa kali kita keluar bersama disertai ini-itu.”
Ingin kusebutkan ciuman serta rabaannya yang panas
meluap, namun suaraku tersekat di tenggorokan.
“Justru karena aku mau jujur maka kukatakan ini kepadamu
sekarang! Dengan jujur pula kuakui kini aku terikat kepadamu
lebih dari yang kusangka semula. Aku menjadi terjerat oleh
permainanku sendiri, Din,” tangannya yang berat menyentuh
bahuku.
Reaksiku adalah menghindarinya.
“Mengapa? Kita tetap berkawan, bukan?”
“Sudah terlalu banyak gadis dengan siapa kau berkawan.
Sedangkan aku sendiri sudah terlalu merasa diberati oleh pera-
saan kekawanan kita.”
73
Kemarahan dan kesesakan hati kulampiaskan dengan cara
semurah-murahnya. Aku tidak peduli lagi mempergunakan kata-
kata kasar.
“Dinarti! Kau tidak berhak berbicara begitu sinis!”
“Mengapa mesti dipungkiri kalau memang demikian kenya-
taannya? Dan kenyataan lain lagi yang tidak dapat kau mengerti,
tidak bisa dimengerti laki-laki, ialah nama baikku di kalangan
teman-teman. Aku akan sukar berada di antara mereka dengan
kepercayaan diri seperti semula.” Dan sesungguhnyalah begitu.
Pada waktu itu, aku terlalu digolaki oleh rasa malu karena tertipu,
menyesal, dan cemburu terhadap gadis pilihan yang tertinggal
di kampung Yasrul.
“Semula aku hanya iseng keluar bersama kau. Tapi semakin
aku mengenalmu, aku semakin merasakan menemukan tempat
berteduh, sebuah rumah. Aku tenggelam dalam keisengan itu,
Din. Aku tidak bisa memutuskan hubungan kita.”
Akhirnya, aku menoleh memandang kepadanya. Kuterka ma-
tanya yang kucinta itu berlinang oleh kesungguhannya. Hatiku
mengecil. Dia menundukkan kepala , meneruskan,
“Kalau aku melepaskan kau, berarti aku hanya merusak hati
seorang manusia. Tapi kalau aku melepaskan dia yang ada di
kampung itu berarti Ayah, Ibu dan dia akan mengalami kehan-
curan. Kau bisa mengerti ini. Kau pasti bisa. Kau kuat, kau
harus menolongku.”
Menolongnya? Bagaimana? Dengan membiarkan dia menga-
wini gadis di kampung? Alangkah banyaknya permintaannya!
Permintaan laki-laki!
“Penerbang harus mempunyai rasa tanggung jawab yang
penuh. Dalam hidup dan dalam tugas, itu terbawa terus. Itu
sudah mendarah daging!”
Kuanggap itu sebagai kata akhir! Aku berdiri akan mening-
galkannya. Tetapi lenganku dia pegang erat. Sinar mata yang
kupandang waktu itu menyatakan cintanya, mengabarkan
kebimbangannya. Hatiku bergetar panas oleh luapan perasaan
lembut terhadapnya. Aku tiba-tiba ingin mengatakan bahwa aku
74
memahaminya, bahwa aku menerima nasibku. Tapi yang keluar
hanya,
“Kau bisa memutuskan sendiri. Dengan mengatakan hal yang
sebenarnya kepadaku, kau telah memilih gadis dari kampungmu,
dan menyisihkanku!”
Di antara rekan kerja, aku hanya bisa berkawan akrab dengan
beberapa. Elly seorang di antaranya. Kejadian itu kuberitahukan
kepadanya. Aku bisa mendengarkan pendapat serta nasihat
mereka. Tetapi kali itu pendapat Elly tidak kusetujui.
Katanya,
“Aku tidak mengerti kelakuanmu sekarang. Kita hidup buat
berjuang. Kalau dia bimbang tidak tahu memilih kau atau gadis
di kampung, kau harus gigih berusaha supaya dia memilihmu!”
“Apa yang mesti diperjuangkan di antara sesama perempuan,
Elly? Tidak. Aku hanya mengutuk ketololanku sendiri karena
begitu lama bisa dikelabui oleh bujuk dan rayuan.”
Menuruti pikiran rekan-rekan lain, aku berusaha sekeras-
kerasnya agar kepatahan hati tidak tampak di lingkungan. Hati-
ku tidak terbunuh ataupun hancur seperti yang dia sangka. Aku
memang ingin bisa mengatasi segala kegagalan cintaku. Ingin
kutunjukkan bahwa keisengan yang dilakukannya terhadapku
telah kuterima dengan keisengan pula. Hal yang kuakui sangatlah
berat.
Aku dikejutkan oleh tangis anak kecil.
Badan pesawat bergoyang ke kiri, lalu ke kanan. Aku segera
berdiri. Elly sedang menolong seorang penumpang mengenakan
alat pelampung. Sigap dan cepat dia menalikannya melingkari
tubuh penumpang itu. Kuedarkan pandang sekilas. Mereka sibuk
dengan persiapan masing-masing. Penumpang di depan yang
selalu tersenyum hendak mati bersama, kini termangu merenung
ke luar.
Kami terbang di atas laut. Tapi yang tampak hanya kelabu,
suram, disela kilatan petir menyilaukan. Kuusap pipi anak kecil
yang dipangku ibunya. Maksud baik itu mengejutkan dia.
Tangannya berpegang pada baju ibunya.
75
“Kita akan mendarat dengan selamat, Nyonya,” kataku
bagaikan sebuah janji.
Ibu muda itu tidak menyahut. Tangisnya tertahan. Anaknya
yang lain memandang kepadaku seakan-akan bertanya. Aku
hanya tersenyum kecut dan mengelak. Hatiku tiba-tiba berontak
oleh kemauan yang tak tertahankan. Kenapa anak semanis itu
mesti mati kalau benar-benar kami harus jatuh dalam cengke-
raman badai?
Bau air wangi dan muntahan orang tercampur mengedari
kabin. Kepalaku pening. Dan sewaktu membungkuk hendak
mengambil bantal yang terlempar di lantai, isi perutku terasa
akan melompat keluar. Terhuyung-huyung aku berjalan ke bela-
kang secepat mungkin. Tenggorokanku pahit. Sekuat tenaga
kutahan napasku. Lalu kumasukkan permen pedas ke dalam
mulut.
Elly memegang alat pengapung menghampiriku.
“Hanya kau yang belum memakainya,” katanya.
Aku hanya memandang kepada temanku. Isi perut bagaikan
diaduk berdesakan. Sambil bersandar pada dinding, kuatur
napasku perlahan.
“Akan muntah?” Elly bertanya langsung menyambar kantung
kertas dan didekatkan pada mulutku.
“Tidak!” bantahku, “tidak apa-apa.”
Aku belum pernah muntah dalam menjalankan tugasku sela-
ma empat tahun. Dan aku tidak akan muntah saat itu.
“Kabin kautinggalkan!” tuduhku mengusir rekanku.
“Ini, pakai dulu!” katanya sambil memberikan alat pelam-
pung.
Sekali lagi aku hanya memandangnya.
“Perintah Kapten!” tegas Elly mengucapkannya dalam bahasa
Inggris.
“Seolah-olah kalau kita sudah memakainya, udara lalu
menjadi cerah dan kita bisa sampai kembali ke bumi dengan
selamat,” gerutuku.
“Sekarang kita juga masih hidup, selamat. Dan kita berusaha
76
untuk hidup terus selama masih bisa,” kentara Elly tidak bisa
menahan kegusarannya, “coba kalau kau berani bicara begitu
di depan penumpang!”
Dia hendak berlalu cepat, tapi secepat itu pula tanganku
sempat mencengkam lengannya.
“Aku berani!” seruku tertahan, “aku akan katakan kepada
mereka, doa-doa dan benda karet kuning yang melekat pada
tubuh mereka itu tidak ada gunanya. Akan kukatakan sekalian,
sudah waktunya pesawat yang begini tua dan bobrok jatuh ke
bumi atau ditelan laut!”
“Dan akan kaukatakan pula supaya mereka menyerah saja
kepada nasib, tidak perlu takut mati? Kausangka mereka semua
seperti kau yang memasabodohkan hidup-matimu karena . . . “
Lonceng yang menghubungkan dapur dan kokpit berdering,
lampu merah menyala. Kapten memanggil pramugari. Kertas
untuk muntahan yang ada di tangan Elly teremas oleh pengen-
dalian perasaannya. Kami berpandangan. Keadaan panik dan
kebingungan telah membikin pertengkaran antara Elly dan aku.
Dan dalam memandangi matanya yang terang cokelat aku
menemukan lanjutan kalimat yang hendak dia ucapkan semula.
Aku mengeluh, membuang muka. Temanku keluar.
Kulihat langit, hujan yang masih menderas. Di sebelah kiri
sayup-sayup tampak garis hitam kabur. Bagaikan mendapat
semangat baru, aku bangkit berlari ke kabin.
Ya. Dari sana aku dapat melihat luasan daratan, ramah dan
memanggil.
77
Keluar Tanah Air
The Flying Tiger yang membawa rombongan pelarian itu ter-
paksa terbang kembali ke Singapura untuk diperbaiki. Menurut
kata ahli teknik yang bertanggung jawab, di stasiun kami tidak
ada suku cadang yang diperlukan.
Sejak sebulan kami pekerja darat bertambah kesibukan oleh
singgahnya pesawat-pesawat yang sejenis. Kami memberinya
julukan “Si Balsem Terbang” kepadanya. Meskipun jam kerja
kami menjadi goncang tidak keruan karena kedatangan pesawat-
pesawat tersebut pada saat-saat yang aneh: jam dua puluh tiga,
dua puluh empat, satu, dua atau tiga malam, tetapi kami dengan
ringan hati datang ke lapangan. Selain menerima uang lemburan
yang sangat berguna bagi saku, kami juga mendapatkan kese-
nangan tersendiri dengan julukan yang kami berikan.
Selagi ruang kabin dibersihkan, bensin ditambah dan mesin
diperiksa, penumpang-penumpang turun ke ruang transit. Kami
menyuguhkan minuman atau sekadar makanan kecil, tergantung
pada jadwal penerbangan. Jika ternyata pesawatnya memerlukan
pemeriksaan yang lebih teliti, kami menelepon rumah makan
stasiun udara supaya menyediakan makanan lengkap buat sekian
orang. Kami sebutkan jumlah penumpang terdaftar. Lalu bebe-
rapa orang di antara kami membagikan kartu-kartu makanan
kepada mereka.
Pada umumnya mereka bertubuh besar, tebal, dan berlemak.
78
Apalagi penumpang perempuan. Jarang kami menemukan pe-
numpang yang cantik, manis atau tampan. Kalau ada yang
demikian, bergegas kami mengabarkannya ke kamar tunggu atau
ruang penerangan. Lalu bergantian kami mencuri memandang-
inya di ruang makan restoran atau kamar tunggu.
Adakalanya pesawat tiba di pagi hari. Pada waktu itu, hampir
semua laki-laki yang turun tidak berbaju. Perempuannya kepa-
nasan, mengipaskan sapu tangan atau kain pada leher serta tu-
buh. Karena mereka tidak bisa membuka baju seperti rekan
lelaki! Tampak dada mereka lepas ke depan tanpa kutang. Seben-
tar-sebentar bagian depan baju ditarik, lalu tanpa segan-segan
tangannya tenggelam ke dalam untuk mengusap keringat di
dada.
Pesawat yang rusak terbang kembali ke Singapura.
Penumpang berjumlah puluhan itu terpaksa dibagi. Mereka
ditidurkan di rumah-rumah penginapan, asrama ataupun seko-
lah-sekolah yang sudah diatur untuk keperluan tersebut. Palang
Merah yang menjadi penerima tamu selalu bisa mengurusnya.
“Tuan Anestia?” tanyaku.
Orang yang ada di depanku mengangguk.
“Sudah beberapa hari ini saya mencari Anda,” lanjutku dalam
bahasa Inggris.
Badannya cukup tegap, tetapi punggungnya terbungkuk. Mu-
kanya simpatik, salah seorang yang tergolong tampan bagi kami
pekerja-pekerja darat di stasiun penerbangan. Matanya biru te-
rang, hampir kehijauan, seperti kaca.
“Ada pesan Tuan Landish untuk Anda. Dia sekarang sedang
ke Hongkong.”
Mendengar nama kawanku itu, tiba-tiba mukanya menjadi
lebih terang. Kuberikan sampul kepadanya sambil meneruskan,
“Setiap ada pesawat emigran dari negeri Anda, saya selalu
mencari nama Anda di daftar penumpang. Baru seminggu yang
lalu saya temukan. Lalu saya cari Anda ke hotel.”
“Kami dibagi tiga. Yang di hotel hanya wanita dan kanak-
kanak, atau keluarga.”
79
Tuan Anestia berbicara dalam bahasa Inggris yang amat jelek,
terbata-bata. Dia menatapku sebentar, lalu berkata meminta
persetujuan ingin membuka suratnya. Aku menyilakannya.
Belum selesai sampul dibuka, tiba-tiba dari halaman gedung
yang luas terdengar teriakan nyaring. Serentak kami menoleh.
Seorang anak laki-laki berumur sekitar sebelas atau dua belas
tahun berbicara keras. Tangannya menunjuk-nunjuk ke jalanan.
Kami menuruti arah tangannya dengan pandangan mata.
Beberapa buruh Pekerjaan Umum tampak di sana. Seorang
memanjat tangga, yang lain-lain menolong menempelkan satu
lembar potret besar laki-laki tua berkumis. Semua pengungsi
yang ada di gedung memandang ke sana. Anak lelaki itu terus
berseru, berteriak. Nyata kalimatnya penuh kemarahan, mung-
kin berisi caci-maki sambil menunjuk gambar tersebut.
Tiba-tiba dia meludah. Diinjaknya ludah itu dengan hem-
pasan kaki. Seketika itu pula dia berlari menuju tempat kami
berdua. Wajahnya bengis kemerahan. Sambil terus berbicara
kasar tangannya menunjuk kepadaku. Di antara kata-kata yang
tidak kumengerti, tersembul “komunis-komunis” yang jelas dan
diulang-ulang. Kutahan ketenanganku. Setengah kebingungan
kutatap muka Tuan Anestia yang baru kukenal. Kudengar dia
menghela napas, berkata perlahan,
“Anak ini menyesali bahwa di sini pun ada komunis.” Dan
seakan-akan khawatir mendengar jawaban dariku, dia meng-
alihkan pandang.
Aku berpaling menghadap anak laki-laki itu. Sambil mengu-
asai perasaan sekuat tenaga, aku mencoba menerangkan, “Di
sini memang ada komunis. Tetapi yang tidak komunis jauh lebih
banyak.”
Tuan Anestia memegang bahu anak itu, lalu menerjemahkan
apa yang telah kukatakan.
Muka yang kepanasan dan garang itu kini berubah. Yang
tampak adalah keputusasaan. Lesu dia membiarkan dirinya dide-
kap Tuan Anestia. Dari matanya mengalir air yang mengiringi
tangis tertahan.
80
Kelompok-kelompok pengungsi lain diam-diam mulai
menjauhi kami. Beberapa orang masih tinggal, seolah-olah ingin
melihat kelanjutan peristiwa itu. Tuan Anestia melayangkan
mata jauh ke jalanan.
“Dia pulang sekolah sewaktu tentara komunis datang
merebut kekuasaan di kota kami. Dengan berjalan berputar-
putar akhirnya anak ini mencapai rumahnya hanya untuk mene-
mukan bangkai anjingnya. Sampai sekarang dia tidak tahu apa
yang terjadi atas diri orang tua dan adik perempuannya.”
Dia memandangi tubuh di pelukannya. Tangannya mengusap
perlahan rambut pirang dan lebat. Seorang pemuda datang men-
dekat, merangkul anak itu serta membawanya menjauh. Kenalan
baruku memandang ke halaman. Aku menirunya. Buruh-buruh
Indonesia telah selesai, keluar dari sana untuk menempelkan
gambar poster di tempat lain.
“Saya mengerti penderitaan kalian,” aku bersuara karena
merasa perlu mengatakan sesuatu, “juga saya bersimpati kepada
anak itu. Hal itu bisa terjadi di mana-mana. Di negeri ini pun
berulang kali kami mengalami zaman pengungsian. Anak-anak
di sini juga banyak mengalami kehilangan orang tua pada waktu
demikian.”
“Tapi cobalah bayangkan, anak itu seorang diri, sebatang
kara. Sekarang dia sebagai emigran pelarian, akan datang di
negeri asing yang beriklim asing. Dia barangkali belum mem-
pelajari di sekolah di mana letak Selandia Baru dan Australia
itu!”
Suara Tuan Anestia jengkel, penuh tekanan.
Memang itu benar. Mereka akan menginjak bumi baru. Me-
reka harus bergumul mencari hidup di alam baru, dengan cara
baru pula. Palang Merah sedunialah yang mengatur pembe-
rangkatan pengungsian secara besar-besaran, disesuaikan dengan
persetujuan pemerintah negeri yang masih memiliki tanah ko-
song dan belum diolah. Mereka yang singgah itu semuanya da-
lam perjalanan ke Selandia Baru dan Australia.
“Kami ini pengungsi. Kami tidak tahu bahwa negeri tempat
81
kami singgah akan menerima kunjungan pemimpin negeri yang
memburu-buru kami,” kata tuan itu.
Tiba-tiba dia berbicara dalam bahasa Jerman. Kelihatan spon-
tan, langsung keluar dari hati, lebih lancar. Rupa-rupanya dia
lebih biasa mempergunakan bahasa itu.
“Kalian tinggal di sini karena pesawat yang rusak. Hal itu
tidak pernah direncanakan. Sedangkan kedatangan kepala peme-
rintahan Uni Sovyet sudah dirancangkan sejak lama. Anda ja-
nganlah mengira, karena dia mengunjungi negeri ini, berarti
kami semua orang komunis,” jawabku.
Sebentar dia memandang kepadaku, lalu meneruskan mem-
buka suratnya.
Aku meminggir agar bisa bersandar pada tembok yang me-
nutupi sebagian ruangan teras. Beberapa pot tanaman ada di
sana.
Tampak tanahnya kering. Kakiku mulai tersiksa oleh sepatu
tinggi bertumit lancip. Tidak ada kursi buat duduk. Tapi aku
harus tinggal di situ lebih lama. Tuan Landish berpesan kepadaku
supaya mengetahui sebanyak mungkin mengenai kawannya ini.
Kalaupun ada surat jawaban, aku harus membawanya. Sean-
dainya tidak ada, aku harus menyampaikan pesan agar Tuan
Anestia berjanji segera menulis sebegitu sampai di tanah tujuan.
“Dia masih seperti dahulu, selalu optimis,” komentarnya
mengakhiri bacaannya, selalu dalam bahasa Jerman.
Aku mengerti maksudnya, tetapi tidak bisa berbicara dalam
bahasa itu. Jadi kujawab dengan bahasa Inggris.
“Ya, mungkin tampak lebih tua daripada waktu Anda ber-
jumpa dia di Budapest beberapa tahun yang lalu.” “Bagaimana
Anda tahu kami di sana?” sekali lagi suaranya agak curiga, juga
dalam bahasa Jerman, “maaf, saya lebih biasa dengan bahasa
ini.”
“Tidak mengapa, saya mengerti. Tuan Landish menceritakan
perjalanan dan negeri-negeri yang pernah dia kunjungi. Juga
siapa saja yang menjadi temannya. Dia sering berkunjung ke
rumah kami, bercakap-cakap dengan paman saya. Dia kami
82
anggap sebagai anggota keluarga, bisa datang berkunjung
sewaktu-waktu. Kami menolongnya mengenal hidup dan kebu-
dayaan negeri ini.”
Keningnya berkerut. Matanya sekali lagi mengarah ke
jalanan. Tiba-tiba sikapnya kaku. Tetapi aku merasa perlu melan-
jutkan,
“Dia menunjukkan foto-foto di Budapest. Di antaranya juga
foto Anda di depan kantor berita.”
Tuan Anestia menggumamkan sesuatu. Aku tidak mende-
ngarnya dengan jelas.
“Ada apa? Ada yang tidak beres?”
Matanya yang terang kehijauan menentang pandangku. Teta-
pi mulutnya terbungkam. Lalu kami berdiam diri. Aku ingin
cepat membuka sepatuku! Tidak mungkin kami bisa diam begini
lama-lama!
“Tuan Landish ingin menerima jawaban dari Anda. Kalau
tidak, apakah ada pesan buat dia?”
Ia kembali memandangiku seolah-olah tidak mendengar ka-
limatku. Katanya,
“Saya kehilangan istri dalam pergolakan itu.” Seakan-akan
dia berbicara seorang diri. Ataukah itu jawaban yang harus ku-
sampaikan kepada tuan Landish? Atau barangkali, tiba-tiba dia
ingin mengurangi kepenuhan isi hatinya, mengatakan hal yang
sama sekali bukan masalahku?
“Kami baru dua minggu kawin,” Tuan Anestia melanjutkan,
“seperti orang lain, saya menyewa apartemen di perkampungan
pekerja. Sewaktu pergolakan meletus, dua hari lamanya saya
tidak bisa pulang, terkurung di pabrik. Ketika keadaan telah
agak reda, saya keluar dan pulang. Tetapi istri saya tidak ada.
Seperti juga di tempat-tempat lain, perkampungan terbakar ha-
ngus. Berhari-hari saya mencari istri saya. Bersama penduduk,
saya menggabungkan diri dalam pasukan pertahanan. Akhirnya,
saya terlibat dalam kerusuhan dengan tentara penindas. Di situ
saya menemukan kawan-kawan sekampung. Saya kena tembak.
Masih sempat melihat istri saya berlari menuju tempat perlin-
83
dungan kami. Dia tersungkur di samping saya. Tiga hari kemu-
dian meninggal oleh luka-lukanya. Di sini, di pelukan saya,”
kedua lengannya terangkat, dia amati, lalu terjatuh kembali le-
mas.
Pandangnya yang hijau-kabur menerawang ke kejauhan. Ka-
ta-katanya bagaikan dalam mimpi,
“Ia tidak meninggalkan pesan apa-apa. Dia juga tidak me-
ninggalkan anak buat saya. Sebab itu anak lelaki tadi sangat
saya kasihi. Mungkin sayalah yang akan bertanggung jawab atas
dirinya di kemudian hari.”
Aku beringsut. Ingin segera berlalu dari sana.
“Perang di mana-mana sama saja,” kataku dan hendak lang-
sung meminta diri.
Tetapi Tuan Anestia berkata keras,
“Tetapi tidak seperti yang terjadi di negeri kami. Kekuatan
yang tidak seimbang! Kami berhadapan dengan panser dan me-
riam. Tidak patut beradu dengan otot dan semangat kami.”
Kulayangkan pandang ke sekitar. Pengungsi-pengungsi lain
melihat ke arah kami.
“Anda berbicara terlalu keras,” sesalku setengah berbisik.
Dia meremas sampul yang ada di tangannya. Pandangnya
berpindah ke tempat kawan-kawannya.
“Sekeras ini pun Tuhan tidak mendengarnya!” katanya de-
ngan suara ditekan.
“Itu pikiran Anda? Dia bahkan mendengar apa yang kita
katakan di dalam hati!” sanggahku.
Sebentar dia tidak berbicara.
“Ah, maafkan! Akhirnya, saya tidak tahu apakah saya percaya
atau tidak kepada Tuhan. Saya hanya ingin menjadi manusia
biasa seperti yang lain, berhaluan sosial, yang ingin supaya sega-
lanya baik-baik di dunia ini. Selamat, sehat, bisa makan dan
berpakaian secukupnya.”
Aku tidak menyalahkannya.
Sarafnya tegang, terlalu tegang selama ini. Orang seperti dia
memerlukan kegembiraan, hiburan. Yang menunggu di depan
84
adalah perjuangan untuk menyesuaikan diri di tanah yang baru.
Orang harus berjiwa perintis untuk itu.
“Sejak bertunangan, kami sering pergi ke gereja. Kami berdoa
agar di kemudian hari memiliki tanah pertanian dan mempunyai
anak-anak yang manis.”
Ia berhenti, memandang kepadaku.
“Istri saya berulang kali mengatakan, ‘Kau akan menjadi
bapak yang baik’.”
Menurutku, memang dia pantas menjadi bapak yang baik.
Tuan Landish pernah bercerita, meskipun kawannya itu terpe-
lajar dan pandai sekali, ia juga manusia biasa yang ingin hidup
seperti kebanyakan orang lain. Sebagai insinyur pabrik, dia akan
bisa memperjuangkan masa depannya dengan gigih.
Akhirnya, aku berhasil mendapatkan pesan buat kawanku
Tuan Landish. Sebegitu tuan Anestia mempunyai alamat tetap
nanti, ia akan menulis surat ke Jakarta. Kami berjabatan tangan
waktu berpisah. Untuk pertama kalinya dia tersenyum. Matanya
yang biru-hijau bersinar.
Perlahan aku meninggalkan pondokan mereka.
Beberapa pasang mata mengiringkanku sampai ke jalan besar.
Sebelum memanggil becak, aku menoleh ke arah gambar yang
tertempel di antara dua batang tiang besar.
Wajah potret itu tidak berbeda dari wajah orang biasa yang
berkulit putih, tua, dan berkumis. Mengalirnya nasib dan seja-
rahlah mungkin yang membikin dia menjalani kehidupan ber-
lainan.
85
Wanita Siam
Kuhitung semua perkakas yang menjadi tanggung jawabku.
Terbang bersama Ana, kami berdua selalu membagi tugas dengan
jujur tanpa mengeluh. Sebab itulah dia kubiarkan turun menda-
huluiku.
Sekali lagi kuperiksa jumlah nampan, gelas dan piring
pasangannya, sendok, garpu dan pisaunya. Lalu kuambil kopor
kecilku beserta kotak palang merah, kemudian menuruni tangga.
Kulihat mereka telah menungguku di bawah sayap. Ana kepanasan
mengipas-ngipaskan sapu tangannya ke leher. Dia selalu demikian.
Dalam keadaan cuaca macam apa pun selalu berkeringat.
Rupanya mereka tinggal menungguku. Yun, ahli radio kami
dengan manis hendak mengambil kopor dari tanganku. Tetapi
kutolak. Berjalan kaki di tengah lapangan hanya menjinjing se-
buah kotak kecil membuatku merasa canggung.
Kami menuju stasiun pelabuhan udara, bertingkat dua. Kali
itu pesawat berhenti dekat sekali dengan pintu keluar. Kami
berjalan melalui pinggir deretan gedung bagian muatan dan bea
cukai untuk menghindari panas matahari.
Ketika mencapai kamar tunggu dan bagian imigrasi, aku mulai
berjalan lebih hati-hati. Lantai stasiun udara itu berkilap dan
licin. Dengan sepatu dinas yang tinggi, aku terlalu biasa berjalan
di tanah dan lantai stasiun udara di tanah air yang muram-pudar.
Dari bagian imigrasi, kami menuju duane. Sekadar meme-
86
nuhi tugas rutin, dua petugas memeriksa paspor dan mela-
yangkan pandang ke dalam bagasi kami.
Iring-iringan kami hampir mencapai pintu keluar ketika seo-
rang pramugari darat bergegas mendekati kami. Di dalam peluk-
annya ada seberkas bunga terbungkus kertas kaca.
“Ada pesan buat Anda,” dia menegurku, langsung memberi-
kan kembang yang dia pegang.
“Buat saya?” dengan bodoh aku bertanya.
“Ya,” sahutnya, sekalian menyebut namaku untuk memastikan.
Termangu aku menerima berkas kembang itu. Selintas kubaca
nama yang terselip. Tiba-tiba aku merasa seperti berada di suatu
tempat yang luas dan lengang. Kakiku ringan, tak merasakan
sesuatu pun. Perlahan tubuhku menerima tikaman pedih, tidak
kuketahui dari mana datangnya.
“Terima kasih,” sayup kudengar Ana berkata kepada pra-
mugari tersebut.
Mobil beranjak dari depan stasiun udara hendak menuju
bagian penerbangan. Kapten dan ahli radio turun melapor. Se-
pintas lalu kujawab pertanyaan Ana bahwa bunga itu berasal
dari kawan yang telah lama tidak kudengar kabar beritanya.
Kemudian aku terdiam.
Dalam perjalanan ke hotel aku tidak mencampuri percakapan
rekan-rekanku. Hatiku tiba-tiba begitu murung. Kupandang
jalanan yang kami lalui. Kota pagoda yang manis. Sebenarnya,
ia tidak lebih indah dari kota-kota lain yang telah kukenal. Empat
kali aku datang ke negeri itu. Setiap kali aku menguatkan pen-
dapat bahwa wanita-wanitanya adalah yang tercantik di seluruh
Asia. Badan mereka ramping, terbungkus dengan pantas oleh
sarung yang serasi dan baju yang sepadan. Cara mereka berjalan
seperti melayang, halus penuh kegairahan dan lampai. Di ping-
gir-pinggir kota, di tempat-tempat umum yang terbuka, kulihat
mereka selalu santun dan pantas.
Kecuali di bagian kota yang dihuni orang-orang Cina atau
pendatang lain, pada umumnya yang terlihat di jalanan meru-
pakan campuran kemolekan berbagai suku bangsa. Hal yang
87
sama tidak bisa ditemukan di Filipina. Kalau ada di antara mere-
ka yang manis dan cantik, jelas orang bisa melihat pengaruh
darah Eropa, kebanyakan Spanyol. Sering kali hanyalah wanita
dan lelaki dari tingkatan atas yang molek dan cakap.
Di Thailand amat berbeda. Kalau ditemukan perempuan ma-
nis, tak dapat ditentukan dari mana pengaruh kemanisan itu. Se-
muanya melumat jadi bentuk yang serasi. Wajah bulat atau lonjong.
Mata seperti buah kacang berpinggirkan lancip dengan pelupuk sipit
maupun lebar. Bibir selalu tebal berisi, memanjang atau mengumpul.
Hidung pun selalu pipih meskipun melebar agak terepes. Itu semua
tidak bisa ditentukan pasti dari keturunan Cina, India atau Campa.
Sejak kukenal kota itu, kurasakan seolah-olah keindahannya
datang langsung dari napas kaum wanitanya.
Kuraba kembang di pangkuanku. Hanya terdiri dari tiga tang-
kai. Tapi anggrek seperti itu tidak murah. Susunan daun bunga kaya
dengan berbagai warna dan bentuk. Ketiganya benar-benar sangatlah
elok. Sekali lagi kulihat kartu namanya. Di baliknya tertulis dengan
huruf Thai. Kuulang untuk sekian kali tulisan Latinnya. Sebentar
aku ketakutan menginsafi betapa besar arti yang kudapatkan.
Kusadari betapa pentingnya, karena nama itu kukenali! Atau aku
pernah mengenalnya. Apakah ini orang yang sama?
Sampai di hotel, kami mengambil kunci kamar masing-ma-
sing. Seperti biasa pada waktu dinas berdua, Ana dan aku men-
dapat kamar bersama. Petugas di hotel, Ba-Tahung, tersenyum
di belakang meja tamu. Hidungnya tiba-tiba menghilang oleh
kelebaran senyumnya. Artinya dia mengenaliku.
“Kabar baik, Nona?”
“Selalu baik,” sahutku, “dan Anda? Apakah ada sesuatu yang
baru sejak persinggahan kita yang terakhir?”
“Mengenai saya tidak ada,” katanya, “Nona Koban dari
UBA1) singgah di sini beberapa hari yang lalu. Dia menanyakan
titipan dari Anda.”
Doris Koban dari Rangoon kawanku sejak dua tahun ini.
1) Union of Burma Airways.
88
Kegemarannya terhadap benda-benda perak kukenali benar. Kami
berdua bertukar kiriman hasil kerajinan tangan negeri masing-
masing. Kali itu aku membawa dua pasang giwang Bali dan Yogya.
Maksudku semula akan mengirimkannya melalui pos di kota itu.
“Dia terbang ke mana?”
“Ke Manila, akan terus ke Jepang, Hongkong. Lusa kembali
ke Rangoon melalui Bangkok.”
“UBA ke Manila?”
“Ya, mulai bulan ini.”
“Kalau begitu, apakah saya dapat menitipkan bungkusan
kecil buat dia di sini?”
“Tentu saja!”
Ini berarti menghemat waktu bagiku. Kantor pos tidak ter-
letak di samping hotel. Selain harus membayar pengiriman, aku
harus menyewa taksi. Kalau Ba-Tahung sanggup menyampaikan
titipan untuk Doris, aku sangat menghargainya. Sebagai ganti
jerih payah, dapat kutinggalkan sedikit upah bersamaan waktu
menyerahkan kembali kunci kamar sebelum berangkat ke Jakarta.
Kami menuju lift. Sampai di tingkat kamarku, aku berkata
kepada Kapten,
“Sehabis minum teh, saya tidak turut keluar nanti, Kapten.”
“Capek?” tanyanya sambil meneliti wajahku.
“Tidak. Saya perlu menemui seorang kawan.”
Dia mengamatiku. Aku perlu menjelaskan.
“Kawan yang mengirimi kembang.”
“Apakah saya dapat mempercayakanmu kepadanya?” suara-
nya mengganggu.
“Dia kawan lama,” itulah satu-satunya jawaban yang bisa
kutemukan.
“Jangan terlalu malam. Besok pagi-pagi berangkat.”
*
Sesudah mandi di bawah pancuran air hangat, aku terme-
nung memandang ke jalan di bawah jendela kamar. Gerimis
89
kecil seperti asap menitiki udara sore.
Ana sudah berangkat ke kota bersama Yun. Ia tidak hentinya
membuat perhitungan harga-harga emas di negeri itu.
Ana adalah kawan kerjaku yang amat hemat. Tidak pernah
dia terbang melalui kota itu tanpa pulang dengan membawa satu
atau dua perhiasan. Uangnya selalu disimpan dalam penerbang-
an-penerbangan lain dengan harapan dapat dibelanjakan per-
hiasan emas. Itu merupakan tabungannya. Tidak seperti rekan-
rekan wanita lain, Ana tidak ceroboh membeli alat kecantikan
maupun pakaian. Sore itu pun dia hampir berhasil menyeretku
ke toko-toko emas. Untunglah Yun mau mengantarkan dia.
Sebenarnya, aku tidak tahu dengan pasti apa yang harus
kukerjakan. Beberapa waktu bersendiri barangkali akan membe-
riku pikiran lebih tenang.
Sekali lagi pandangku melayang kepada bunga ungu kiriman
orang. Kartu namanya telah kutanggalkan. Kertas pembung-
kusnya kubuka pada bagian atas. Tangkai kembang kucelupkan
ke dalam gelas berair. Esok pagi kami meninggalkan kota itu
menuju Jakarta kembali. Mungkin aku akan punya kesempatan
singgah lagi di waktu mendatang. Tetapi apakah yang akan dipi-
kirkan pengirim kembang itu jika dia ketahui aku telah mene-
rima kiriman dan tidak datang ke alamat yang dia minta?
Atau barangkali aku akan bisa hanya menulis beberapa kali-
mat terima kasih melalui pos?
Mahadi. Nama itu bisa ditemukan lebih dari satu di Indo-
nesia. Mungkin nama buruh, pembantu rumah tangga atau pega-
wai pemerintah. Tetapi di kota itu tentulah hanya ada seorang.
Hatiku cemas bercampur kecut, berusaha membujukkan segala
macam yang baik. Tetapi bahwa dalam hidupku sampai waktu
itu hanya mengenal satu nama Mahadi, membuat bawah-sadarku
menyiksa seluruh rohani.
Akhirnya, aku turun. Sebentar berdiri melihat peta kota yang
tergantung pada tembok dekat penerima tamu. Tidak begitu
jauh. Aku bahkan tidak perlu naik taksi, karena Jalan ke sana
tertutup bagi kendaraan jika datang dari arah hotel.
90
Aku bercakap-cakap mengenai satu dan lain hal, lalu menolak
tawaran Ba-Tahung untuk memanggilkan taksi. Kuucapkan sela-
mat malam sekalian karena tugasnya akan diganti oleh recepsi-
onist lain untuk semalam suntuk. Sampai di pintu kurapatkan jas
hujanku, lalu kubuka payungku. Segera aku keluar dari hotel.
Angin yang membawa gerimis menampar muka.
Setelah menempuh seluruh kepanjangan jalan besar, aku
membelok ke kiri. Gedung-gedung bioskop dan opera Cina berje-
jeran bersama hotel-hotel kelas rendahan. Kemudian kelenteng
yang beratap aneka warna kelihatan menjulang.
Aku mulai menghitung jalan-jalan kecil beraspal yang terda-
pat di sebelah kanan. Menurut keterangan Ba-Tahung, alamat
yang kucari tidak jauh dari sana. Lalu aku masuk ke kampung.
Jalan itu kelihatan sudah lama tidak diperbaiki. Di sana-sini
aspalnya hampir hilang. Sambil tertunduk-tunduk menghindari
lubang yang tergenang air, aku meneliti nomor-nomor rumah.
Jauh dari mulut kampung, akhirnya aku menemukan yang ku-
cari.
Aku berhenti. Rumah itu hijau muda, warna daun tetapi
lembut. Tampak lebih bersih dan berbeda dari kelilingnya.
Kembali aku ragu-ragu. Akan masukkah aku? Belum kusadari
keputusan mana yang kuambil, kakiku telah sampai di ambang
teras. Bersamaan dengan itu seorang perempuan setengah baya
muncul dari pintu dalam, menanyaiku dalam bahasanya. Aku
tertegun sebentar, tetapi segera menyahut mempergunakan
bahasa Inggris,
“Tuan Mahadi ada?”
Perempuan itu menatapku sebentar. Kemudian menghilang
ke dalam.
Aku meneliti kelilingku. Serambi kecil dihiasi tumbuh-tum-
buhan amat sepadan. Di pojok ada kursi-kursi rotan sederhana
dan manis, bagai mengundang orang untuk beristirahat di sana.
Tepat di tentangannya terdapat tanaman air berdaun lembut,
jenis pakis yang belum pernah kulihat di tanah air. Rangkaian
daunnya turun lebat dengan gaya lentik.
91
“Akhirnya Anda datang,” kudengar suara jernih, berbicara
bahasa Inggris.
Aku menoleh.
Seorang wanita mengulurkan tangan kepadaku. Selintas ku-
amati wajah dan tubuhnya, lalu menjabat salamnya. Agak lama
tanganku digenggamnya. Lalu dia menyilakanku duduk. Kursi
yang kukagumi kesederhanaannya, kini juga kurasakan betapa
tepatnya untuk pantatku.
Tak mengetahui bagaimana mesti membuka percakapan,
dengan kaku aku melanjutkan mengamati wanita di depanku.
Ia membetulkan sarung. Kemudian mengangkat muka menen-
tang pandangku.
“Kami tidak sabar menunggu Anda. Dua bulan ini kami me-
ngirimkan kembang ke lapangan udara setiap ada penerbangan
dari negeri Anda. Tetapi itu selalu kembali ke toko, karena Anda
tidak datang.”
“Yang tadi sudah saya terima. Terima kasih.”
“Biasanya baru keesokannya saya tahu sampai-tidaknya ki-
riman tersebut. Saya menelepon ke toko, atau toko yang mem-
beritahu saya.”
Kami terdiam. Tiba-tiba mata kami beradu lagi. Sinar dari
pandangnya hitam dan indah, membikinku gelisah.
“Tuan Mahadi?” tanpa kuketahui aku tidak meneruskan
kalimatku.
Wanita di hadapanku mengambil waktu untuk menjawabku.
“Kakak Anda meninggal dunia seminggu yang lalu.” Kalimat
itu diucapkan perlahan dan jelas. Tetapi aku terkejut. Bisikan
dari alam bawah sadar yang kudengar sejak kuterima kembang
di lapangan terbang dan kutelan serta kuhimpit, kini tiba-tiba
meletus.
Kakakku! Jadi, benarlah seperti yang kutakutkan sejak semula.
Dengan rasa malu yang tidak berguna, aku mengakui telah menjadi
pengecut. Betul nama Mahadi di kartu itu adalah Mahadi satu-
satunya yang hingga waktu itu kukenal. Kakak sulungku yang selama
delapan belas tahun menjadi teka-teki perihal hidup-matinya.
92
Dia berangkat ke Purwodadi, ke Blora, ke Madiun, ke Malang
dan entah kemudian ke mana lagi bersama pemuda-pemuda
lain yang dibentuk menjadi barisan Pembela Tanah Air2) oleh
penjajah Jepang. Sampai pada suatu kali dia pergi dan tidak
pernah pulang kembali dari medan Perang Dunia, sampai perang
kemerdekaan di tanah air, bahkan sampai diakuinya kedaulatan
pemerintah RI.
“Dia sangat ingin bertemu kembali dengan Anda,” kata wa-
nita itu.
“Mengapa dia tidak pulang? Kami semua menunggunya.
Setelah revolusi berakhir, setiap kali ada iring-iringan truk ten-
tara, kami mengharapkan dia muncul kembali. Kemudian ter-
dengar berita bahwa dia meninggal. Tetapi Ibu tidak pernah
mempercayainya.”
“Ayah Anda tidak mengharapkan dia pulang, bukan?”
Pertanyaan itu bagaikan guntur menyambar kepalaku.
Jadi, dia mengetahuinya. Kuteliti wajahnya, bulat panjang
penuh kelembutan. Pandangku menurun ke dadanya. Mataku
tersangkut pada secarik pita hitam yang disematkan di antara
kancing baju.
Istri kakakku?
Warna hitam adalah tanda berkabung. Hanya keluarga terde-
kat yang wajib mengenakan warna tersebut selama waktu terten-
tu. Kalau benar ini iparku, tentulah kakakku tidak menghin-
darkan dia dari rahasia dan peristiwa pribadi dalam keluarga
kami.
Di rumah tidak pernah ada kerukunan. Antara Ibu dan Ayah
tidak pernah ada kata sepakat. Kami tujuh bersaudara disuguhi
berbagai cekcok dari hari ke hari. Kemudian aku bahkan menge-
tahui bahwa kelahiranku merupakan kehadiran yang tidak dike-
hendaki oleh Ayah maupun Ibu.
Tujuh anak!
Kini setelah dewasa, aku masih sering bertanya-tanya bagai-
2) Peta, di zaman pendudukan Jepang.
93
mana hal itu bisa terjadi di dalam keluarga yang tidak pernah
ada kedamaian. Semakin aku menjadi besar, semakin kurasakan
betapa kami terbagi dua pihak. Masing-masing menuruti
kehendak Ayah atau kemauan Ibu.
Di kepalaku terekam kejadian yang berlangsung pada suatu
malam.
Tidak kuingat berapa umurku, tapi waktu itu aku belum
tamat Sekolah Rakyat,3) dan negara dalam cengkeraman penja-
jahan Jepang. Dua kali Ibu membangunkan kami di malam hari
supaya keluar berlindung di halaman, menjauhi rumah. Masing-
masing harus membawa tas kain berisi pakaian dan bekal yang
barangkali akan diperlukan jika diharuskan mengungsi.
Malam itu, salah seorang kakakku dan aku membersihkan
meja sesudah makan. Beberapa kakak yang lain mengerjakan lati-
han pelajaran. Tiba-tiba dari kamar tengah terdengar suara keras
perbantahan. Lalu kakakku Mahadi berlari ke luar diiringi Ayah.
Mereka bergumul, berguling- guling di tanah. Mereka saling
memukul, dorong-mendorong hingga ke beranda. Tetangga-
tetangga yang melihat kejadian itu bergegas datang untuk melerai.
Peristiwa itu tidak pernah kulupakan, menetap bagaikan
gambar yang terpaku di kepalaku. Aku tidak mengetahui sebab-
sebab pertengkaran itu. Aku juga tidak pernah menanyakan
kepada siapa pun. Hanya aku menyadari bahwa sejak itulah
Ayah dan kakakku Mahadi tidak saling menegur.
Aku tidak pernah menyukai ayahku. Terjadinya peristiwa
malam itu dengan sendirinya membuat aku memihak kepada
Mahadi. Menurut kesadaran kanak-kanakku, Mahadi meru-
pakan kepala rumah tangga kami. Pada waktu kampung meng-
adakan rapat, kondangan atau pertemuan lain, selalu kakakkulah
yang datang menghadirinya. Ketika suasana pendudukan Jepang
semakin menghimpit, dengan teliti kakakkulah yang memilihi
harta Ibu yang masih ada, lalu disembunyikan di tempat-tempat
tertentu.
3) Sekolah Dasar.
94
Ayahku jarang terlihat di rumah. Waktu itu aku mengira
tentulah dia sibuk bekerja mencari makan buat kami semua.
Namun semakin besar, aku semakin sering menyaksikan bahwa
Mahadilah yang mengulurkan uang belanja kepada ibuku.
Kehilangan-kehilangan benda kecil sampai perhiasan yang selalu
dituduhkan kepada pembantu atau anak-anak, kemudian
kuketahui bahwa ayahlah yang mencuri dan menjualnya buat
berjudi.
Mahadi bekerja sebagai juru tulis, lalu mencoba berdagang
buat mencari tambahan penghasilan. Ibu menerima jahitan dari
para tetangga. Dan kami terus bersekolah dan terus makan hasil
kerja mereka. Sering kali kami menyaksikan satu percekcokan
ke percekcokan lain di antara Ibu dan Ayah yang disebabkan
karena Bapak tidak pernah tinggal lama di satu tempat bekerja.
Sikapnya suka membantah kepala atau direktur. Baginya di
dunia ini hanya dialah yang benar. Dia tidak pernah bisa tunduk
meskipun berhadapan dengan atasannya.
Akhirnya, lama kulihat Ayah menganggur di rumah. Mes-
kipun sering pergi, pulang dengan tangan hampa. Dan Ibu sam-
pai putus asa hendak meminta uang kepadanya. Jika timbul
kebutuhan istimewa di rumah tangga, kepada Mahadilah Ibu
berani mengatakannya. Karena dialah yang akan berusaha men-
dapatkan uang. Hingga pada waktu berangkat yang terakhir
pun kakakku itu bertanggung jawab atas kesejahteraan keluarga.
Dia mengirimkan sekarung beras dari dusun yang baru dilewati.
*
“Kakak Anda mengidap penyakit paru-paru, warisan dari
pengembaraannya di rawa-rawa sewaktu kerja paksa di Birma
dan hutan-hutan semenanjung Malaka,” wanita itu memulai
ceritanya.
“Bagaimana dia sampai di sana?” tanyaku tanpa bisa me-
nahan keherananku.
“Tentara Jepang mengangkutnya dengan kapal dari salah satu
95
pelabuhan di pantai selatan Pulau Jawa. Katanya, mereka berjumlah
enam atau tujuh ribu. Banyak kawannya yang tewas karena malaria
dan kekurangan makan. Tidak ada pemeliharaan kesehatan. Mereka
baru mengetahui perang telah selesai setelah beberapa pemuda
berhasil meloloskan diri dan mencapai desa-desa di Malaysia.”
Tentara penjajah semua bersifat sama. Yang dari Jepang tidak
pula merupakan kekecualian.
“Kami kawin empat belas tahun yang lalu. Anak kami tiga
orang. Dua lelaki, seorang perempuan.”
Aku hampir tidak mendengarkan kawan bicaraku.
Alangkah asing perasaanku. Tahun-tahun berlalu, kami di
rumah tidak pernah menganggap Mahadi hidup, kecuali ibuku.
Kalimat-kalimatnya seperti: “Kelak bila kakakmu Mahadi
kembali” atau “Kakakmu Mahadi tentulah gembira melihatmu
berhasil menjadi manusia berguna” menunjukkan betapa kebe-
naran perasaannya sebagai seorang ibu.
Kini aku menyadari, memang selama ini ibukulah yang benar.
“Mengapa dia tidak mengirimkan berita? Surat atau tele-
gram. Atau melalui Kedutaan misalnya,” sekali lagi aku meng-
ucapkan penyesalanku.
“Selama empat tahun kakak Anda hampir terus-menerus ting-
gal di rumah sakit. Dia bekerja di percetakan kepunyaan ayah saya.
Keduanya berkawan baik. Selama bermukim di rumah peristirahatan,
semua biaya datang dari bapak saya. Setelah kami kawin, kakak
Anda memutuskan akan menetap di negeri ini dan menjadi warga
negara. Menurut katanya kemudian, itu merupakan cara membalas
kebaikan budi orang-orang yang selama ini melingkupinya dengan
keramahan. Katanya, hidupnya yang lalu sudah lewat. Dia tidak
pernah menyebut sesuatu pun mengenai keluarganya di negeri lain.
Hingga pada suatu hari dia mengira melihat Anda di hotel.”
“Bagaimana dia mengetahui saya? Bahwa saya adiknya?”
“Anda mirip sekali ibu Anda. Katanya hanya Andalah di
dunia ini yang berwajah seperti ibunya.”
“Mengapa dia tidak menegur saya?”
“Dia masih ragu-ragu. Setelah bolak-balik berulang kali, akhir-
96
nya atas anjuran saya, dia memberanikan diri pergi ke hotel.
Bertanya ke meja penerima tamu. Tetapi terlambat. Pesawat Anda
telah berangkat. Namun dia sempat mendapat keterangan nama-
nama awak pesawat. Sejak itulah dia mulai menceritakan sedikit-
sedikit mengenai keluarganya. Berkali-kali saya anjurkan agar
dia meminta tolong ayah saya membiayai perjalanan pulang-balik
ke Jakarta menengok kalian. Tetapi dia menolak. Dia bahkan
dengan keras melarang saya membicarakannya dengan ayah saya.”
“Bagaimana dia hidup selama ini? Maafkan saya, tentu saja ada
ayah Anda. Tetapi kakak saya adalah laki-laki yang tidak bisa
menggantungkan diri kepada orang lain. Apakah pekerjaannya?”
“Anda benar. Oleh sifatnya yang tahu diri dan agung itulah
Ayah dan kami sekeluarga mencintainya. Kakak Anda menjadi
kepala bagian reklame dan perencana buku. Dan pada waktu-waktu
senggang melukis dekor teater.” Kakakku menjadi seniman, menjadi
pelukis. Alangkah mengejutkan berita ini bagi keluarga.
Sore itu, aku tidak melihat alasan tepat untuk cepat kembali
ke hotel. Selain bemaksud menemui tiga kemenakanku yang ma-
sih sekolah, aku juga ingin mengetahui banyak hal lagi mengenai
segalanya, apa yang terjadi di tahun-tahun terakhir dan tentang
keluarga iparku. Aku harus melengkapi diri dengan jawaban yang
seterang-terangnya bila ibuku menimbuniku dengan pertanyaan-
pertanyaan yang beraneka ragam dan telah bisa kubayangkan.
Tetapi betulkah aku akan dapat menjawab seluruh pertanyaannya?
Seorang tua seperti dia tidak akan mengerti, mengapa Mahadi
menutup diri, menolak mengirim kabar ke rumah, mengingkari
keluarga di tanah air. Akan dapatkah ibuku menggambarkan betapa
cinta dan perhatian keluarga yang baru ditemukan di negeri asing,
lebih-lebih di waktu sengsara, bisa atau sanggup menghapus
kenangan dari kehidupan yang lalu?
Pada akhirnya, ketika aku kembali ke penginapan, hatiku
menjadi bimbang. Mungkin akan lebih baik bila aku tidak
mengabarkan pertemuanku dengan istri Mahadi kepada siapa
pun. Juga tidak kepada ibuku.
Tetapi berhakkah aku berbuat demikian?
97
Seandainya kukatakan juga, apakah yang akan dirasakan
hati ibuku sewaktu menerima berita tersebut? Aku sendiri tidak
dapat memastikan perasaan apa yang kusimpan. Kecewa karena
kakakku yang selama delapan belas tahun ini tetap hidup tetapi
tidak berkirim kabar?
Ya. Terutama kecewa itulah yang menguasai hatiku. Dan aku
mengerti kekecewaan ini tidak akan bisa disangga4) oleh jantung
ibuku yang lelah.
Seminggu yang lalu Mahadi meninggal. Ah, seumpama or-
ang dapat menarik waktu kembali, menggeser kehidupan ke
masa lalu yang dikehendakinya!
*
Semalaman aku tidak tidur.
Mataku berkedip dan takut bergerak, khawatir mengganggu
Ana. Semakin mendekati pagi, aku semakin gelisah. Apakah
yang harus kuperbuat? Bagiku, istri Mahadi merupakan wajah
keluarga yang mengangkat kakakku ke kehidupan layak dan
penuh cinta. Aku tidak akan melupakan keramahan rumah kecil
yang baru kutemukan, penerimaan masing-masing kemenakan-
ku yang spontan, dan kesungguhan hati perempuan yang
bermaksud mengenal keluarga suaminya.
Tiba-tiba kekayaan yang baru kurasakan menyelinap di hatiku.
Aku merasa kaya oleh pengetahuan bahwa di negeri itu aku
memiliki keluarga. Aku bahkan pernah punya seorang kakak yang
selama ini menjadi model karena sifat-sifatnya yang kuhargai.
Keesokan harinya, sambil mengantuk dan senyum yang
kupaksakan, aku kembali menghadapi para penumpang. Pesawat
menuju Jakarta.
Ini adalah pertama kalinya selama bertahun-tahun bekerja
sebagai pramugari aku tidak ingin pulang.
4) diderita
98
Di Pondok Salju
“Kamar tamu ada di ujung sebelah kanan,” kata Rachel
sambil menyimpan kembali berkas kuncinya di dalam tas, dan
sambungnya lagi, “aku harap Nyonya Belino mempunyai pikiran
yang baik, sudah menyalakan api di pediangan.”
Aku menyisih, membiarkan dia mendahuluiku.
“Nyonya Belino?” tanyaku.
“Orang yang tinggal di peternakan. Dia membersihkan dan
mengawasi seluruh milik ini dua kali seminggu. Nah, masuk!”
Tangannya masih berkaus memutar tombol pintu dengan ke-
biasaan yang amat kentara. Kami memasuki sebuah ruangan besar,
dengan jendela-jendela rendah menghadap ke kebun. Kursi-kursi
besar berkulit coklat gelap memberi kesan kebungkaman. Selintas
kulihat beberapa benda antik di atas perapian.
“Terus ke sebelah,” dan tanpa menungguku dia berjalan me-
nuju ke sebelah ruangan.
“Ah, ada api,” kudengar suaranya yang menunjukkan keri-
nganan hatinya.
Ruang itu lebih kecil dari yang terdahulu. Dua jendela kaca
berwarna menghadap ke hutan dan sebagian ke kebun.
Dua kursi serta satu bangku lunak dan bulat di depan per-
apian. Dinding sebelah kiri dan kanan penuh buku dalam bendel
yang menarik. Di sudut ada meja belajar yang sederhana.
Aku membuka kancing-kancing baju mantelku sambil me-
99