narik napas.
“Kedinginan? Sebentar lagi api tentu menghangatkan
ruangan.”
Sambil berdiri aku melayangkan pandang lebih teliti. Ada
sesuatu yang menarik dalam ruangan itu. Yang pasti ialah
keakraban yang menyentuh hati dan membuat seseorang merasa
tidak terlalu diamati.
“Lihat bagaimana Nyonya Belino menyiapkan segalanya!
Ada ketel kopi di perapian. Nanti kita akan melihat ke dapur,
apa yang ada untuk makan siang.”
Dari kotak meja kecil di samping perapian dia mengeluarkan
dua cangkir dan mulai menuangkan isi ketel. Harum kopi dusun
mengembang di ruangan itu.
“Terima kasih,” kataku menerima cangkirku, “amat manis
ruangan ini.”
Dia tidak menjawab, seperti tidak mendengarku. Diam-diam
aku menikmati kopiku. Panasnya serasa mengaktifkan kembali
aliran darah.
Udara bulan Mei masih membawa angin dingin. Dan di ru-
mah besar itu, aku merasa seolah setiap jengkal dinding menyim-
pan kelembaban yang tidak habisnya.
“Jadi kau akan kawin,” tiba-tiba dia berkata.
Nadanya tidak bertanya. Seakan-akan dia mengucapkan su-
atu tuduhan. Aku yang mengharapkan percakapan tidak akan
sampai ke sana, menggumamkan sesuatu yang bahkan aku sen-
diri tidak begitu pasti. Sekali dua, kuhirup kembali isi cangkirku.
“Kau orang yang beruntung,” katanya sambil melepaskan
sebuah keluhan lemah.
Dari atas cangkir masing-masing mata kami saling berpan-
dangan. Aku merasa diriku tersenyum. Mengapa tidak kalau
memang aku orang yang beruntung.
“Karena ada laki-laki yang mau mengawiniku?”
Sekali lagi kudengar ia mengeluh.
“Tentu saja bukan itu yang kumaksud, Raymonde. Kau
terlalu perasa.”
100
Kalaupun itu yang dimaksud, tak mengapa bagiku. Aku
terlalu biasa berpikir sendiri dan selalu seorang diri, kini ada
lelaki yang melamarku.
Sejak kecil aku mendengar dan diajar menyadari bahwa aku
tidak cantik, bahwa mataku terlalu besar untuk muka yang sede-
mikian ciut. Waktu mendengar bahwa aku akan kawin, ibuku
mulai memompakan berbagai pikiran, di antaranya aku tidak
seharusnya terlalu mencintai dan mengikat diri kepada seorang
laki-laki, karena aku akan amat menderita kalau sekali waktu
nanti laki-laki itu bosan kepadaku. Aku bukan “potongan” per-
empuan yang patut dicintai sampai hari matiku.
Di depan Rachel, aku tidak perlu mengatakan anggapan sinis
orang yang terdekat dalam keluargaku. Aku orang yang ber-
untung. Aku singgah beberapa jam di Jenewa untuk membeli
perbekalan yang akan kukirimkan kepada kawanku di Timur
Jauh. Dan aku sengaja menemuinya di toko tempatnya bekerja.
Wajah Rachel tetap muda. Rambutnya dipotong lebih pendek
dari musim panas tahun lalu. Badannya tegap dan segar dengan
bentuk yang pantas untuk seorang olah-ragawati.
Kami bertemu yang pertama kali di penginapan para pelan-
cong dan pemain ski. Disusul oleh pertemuan-pertemuan lain
yang cukup membawa kami saling mengenal, membicarakan
musik, buku-buku dan pengalaman-pengalaman yang tidak ter-
lalu menjemukan.
Hari itu dia mengundangku untuk mengunjungi rumah besar
di desa, untuk sekali lagi mengamatinya sebagai milik pribadi
sebelum para pelelang datang menentukan harganya.
“Ini kamar studi ayahmu?” suaraku kaku memecah ke-
sunyian.
Tiba-tiba aku merasa sayang kalau kamar secantik itu diubah
dan jatuh ke tangan orang yang tidak berselera.
“Ini kamar studi ayahku. Kau benar!”
Aku tidak suka caranya mengulang kata-kataku. Tetapi aku
tidak berkata lebih lanjut, berdiri melihat barisan buku yang
judul-judulnya tertulis dengan tinta emas.
101
“Kau juga akan melelang semua ini?” pandangku menunjuk
dua belah dinding yang tertutup rak buku sampai ke langit-
langit.
“Ada sebagian yang akan kupindahkan ke apartemenku di kota.
Sebagian lagi tentu saja tergantung kepada Pascal dan Michel.”
Aku mengerutkan kening dan menatapnya. Aku mendengar
keluhnya sebagai jawaban.
“Di mana mereka?”
“Michel tetap di Paris. Pascal tinggal di Jenewa sejak bulan
Januari.”
“Bekerja?”
Seperti mengumpulkan segala kekuatannya, Rachel mene-
ngadah memandang plafon kuning lemah dengan lampu kristal
yang cerah.
“Apakah kau bahagia, Raymonde?”
Tubuhnya tersandar pada kursi, dia bertanya. Tidak tahu
apa yang harus kukatakan, aku ganti bertanya,
“Dan kau?”
“Aku?” dia tertawa gugup, “eh, memang orang mempunyai
alasan yang baik dan mengira aku bahagia, beruntung. Ayahku
meninggal, atau tepatnya ayah angkatku meninggal dan aku
ahli waris utamanya.”
Dia angkat kepalanya, lalu menoleh ke arahku.
“Kau dengar? Aku yang mewarisi semua ini.” Disambung
lagi dengan ketawa tergagap,
“Tentu saja Michel dan Pascal disebut dalam surat warisan.
Tapi hanya sebagian. Sebagian kecil. Bahkan amat kecil,” sekali
lagi dia terkikih dengan anehnya.
Kurasa tak ada yang lucu dalam hal ini.
“Kira-kira sebulan sebelum meninggal, ayahku mempercayakan
suatu cerita yang sebenarnya konyol mengenai diriku. Dia tidak
pernah kawin. Suatu pagi, dia dibangunkan oleh lonceng pintu yang
ditekan orang. Dia turun dari tempat tidur dan didapatinya sebuah
keranjang dengan bayi yang ungu kedinginan dengan tulisan: namaku
Rachel. Seterusnya kaulihat sendiri sampai sekarang.”
102
Rachel Valade. Dan kini bayi itu menjadi pewaris utama
orang itu. Aku merasakan suatu keharuan yang mendesak di
dalam hati. Rachel yang manis! Mengapa dia harus mengerti
kebenaran yang seharusnya dibawa ke kubur. Kini tentunya dia
merasa terlalu sendirian.
“Mengapa kau diam? Seolah-olah kau meragukan ceritaku.
Tapi semuanya benar, Raymonde,” matanya melebar dan su-
aranya menanjak seperti hendak berteriak, ’’berkatalah sesuatu.
Umpamanya ucapkanlah selamat kepadaku atas semua warisan
ini.”
Tangannya melayang melukiskan seluruh rumah. “Kata-
kanlah umpamanya, bahwa aku orang kaya kini; bahwa aku
bisa membeli empat-lima mobil atau membeli toko tempatku
bekerja.”
“Kau orang yang beruntung,” dengan sederhana dan tenang
aku berkata.
Sejenak dia terdiam menatapku, kemudian kembali
terhenyak di kursinya.
“Aku orang yang beruntung,” ulangnya, suara perlahan, dite-
kankan pada setiap kata, “aku mempunyai kawan, pekerjaan
dan karier. Dan kini harta.”
“Orang hidup tidak cukup hanya dengan semua itu,” kataku.
Sebentar ia terdiam. Kukira dia tidak mendengarku. Akhir-
nya, dia berbicara, suaranya perlahan tapi terang.
“Kau selalu penuh pengertian. Sebab itu aku suka kepa-
damu.”
Dia menarik napas panjang.
“Kau ingat suatu waktu ketika kita berhenti di pondok kedua
dengan sepatu ski dan memerlukan tali yang lebih erat? Michel
yang datang dengan rombongannya berkata, ayahku ingin su-
paya aku kawin dengan salah seorang kerabat, atau seorang ke-
manakannya. Tentu saja aku mengerti maksud ayahku. Dia ingin
menyelamatkan harta ini dari tangan orang lain. Harta yang
menurut katanya merupakan hasil usahanya seorang diri.”
Orang tua yang baik hati. Aku ingat satu kali dibawa makan
103
siang Rachel dan dikenalkan kepada ayahnya. Michel datang
kemudian, menyambut tanganku dengan pandang ramah. Aku
merasa betapa orang tua itu menyembunyikan kekhawatiran
tentang tanggapan kemanakannya terhadapku waktu itu. Kami
berdua sering bersama di pondok dan meluncuri daerah-daerah
bersalju di antara pohon-pohon cemara. Aku menyukai Michel.
Tetapi tidak sebagai kawan hidup seterusnya. Dia terlalu cerewet
hingga kadang-kadang menjemukan.
“Aku berusaha menyenangkan hati ayahku. Dia begitu baik.
Karena cintanya kepadaku, tak pernah terlihat bahwa aku hanya
bayi yang mengetuk pintunya mencari perawatan,” dia mene-
gakkan kepala, menoleh kepadaku, “kukira antara Michel dan
kau ada apa-apa. Sebab itu aku mencoba melimpahkan perhatian
kepada Pascal.”
Suaranya terhenti.
“Cinta yang direncanakan,” aku menyela.
“Tapi aku tidak bisa mencintainya. Kau tahu sendiri dia agak
aneh, maksudku tidak seperti laki-laki lain, hidup dengan aturan
dan lain-lain.”
“Dia seniman,” kupotong kata-katanya.
“Ah, seniman juga bisa hidup seperti orang lain. Umpamanya,
menaruh perhatian sedikit saja kepada lingkungannya. Satu kali
dia mencoba melukisku. Aku keheranan karena menjumpai diri-
ku di kanvas terpenggal dalam keretakan-keretakan bentuk seper-
ti gitar. Ketika kutanya mengapa dia menggambarku demikian,
dia tersinggung dan berkata, bahwa jika aku bisa menarik garis-
garis sejajar di salju dengan sepatu ski, mengapa dia tidak berhak
membuat garis-garis menurut seleranya. Ah, sejak itu aku merasa
seperti ada suatu jarak yang tak tersambungkan antara dia dan
aku. Dan Alain ...” tiba-tiba dia berhenti.
“Alain?”
Dengan gelisah dia menjelaskan,
“Kau ingat? Dia kawan ayahku yang pernah satu kali
membawa kita naik sampai ke pos ketiga dengan mobilnya.”
Waktu itu, aku bertemu Rachel yang ketiga kalinya. Dia
104
sedang menyiapkan diri untuk kejuaraan besar se-Eropa. Seperti
biasa, aku mengambil liburan tahun itu untuk mengunjungi
bibiku di kota kecil di seberang Danau Leman, lalu naik gunung.
“Ada apa dengan Alain?”
“Dia mengatakan bahwa Pascal mempunyai anak dengan
seseorang.”
“Itu hanya karangan Alain,” aku tiba-tiba memastikan.
“Aku sudah bertemu dengan perempuan itu. Anaknya laki-
laki. Alain ingin menyelamatkan aku,” suaranya terang men-
datar.
Tiba-tiba kamar itu menjadi sepi.
Lagi satu kebenaran yang melemparkan Rachel ke sudut sen-
dirian. Rachel yang manis. Yang ingin menyenangkan hati ayah-
nya. Yang ingin menyelamatkan kekayaan ayah angkatnya.
“Kaucoba berhubungan dengan Michel?”
Dia tidak menjawab.
“Kini setelah kau tahu bahwa antara dia dan aku tidak ada
apa-apa, kau bisa mendekatinya. Dia baik. Kurasa dia akan men-
jadi suami yang baik buat kau.”
Dalam hati aku tersenyum. Michel memang baik. Antara dia
dan aku tidak ada apa-apa. Hanya beberapa ciuman dan belaian
untuk memanaskan darah di padang putih yang tingginya lebih
dari tiga ribu meter. Suatu malam, dia kubiarkan masuk ke dalam
kamarku dan kami menghabiskan malam hangat, berdua di atas
tempat tidur yang sempit. Keesokan harinya, dia semakin
menampakkan perhatiannya kepadaku. Tapi bagiku, dia seperti laki-
laki lain yang menyukai pengalaman-pengalaman menggetarkan.
“Sekali dua kali kami bersama dan makan malam di apar-
temenku. Tetapi sesudah itu, aku memutuskan tidak bisa hidup
dengan dia,” suaranya menurun, “aku selalu memikirkan Alain.”
“Tapi!” aku hampir berteriak, dan meneruskan dengan suara
tertahan, “tapi Alain sudah kawin bukan?”
“Anaknya satu.”
Aku mendekatinya agar bisa melihatnya dengan terang, jelas
seraya menatap matanya.
105
“Mengapa kau memandangiku seperti ini? Kau seperti
hendak menelanku hidup-hidup,” protesnya tenang dan tetap,
“salahkah aku jika kebetulan Alain yang kucintai? Karena dia
sudah kawin? Itu bukan satu kejahatan, Raymonde. Kau yang
selalu mengerti, kali ini pun kau masih bisa mengertiku,”
suaranya begitu pasti.
Aku berdiri tegak di depannya, memandang tepat ke matanya
yang biru jernih kehijauan. Seperti alirnya waktu yang berangsur
perlahan tapi tak tersadarkan, aku kini merasa ada sesuatu yang
berubah pada dirinya. Pandangnya yang dulu tajam dan kaku,
kulihat kini bersinar seperti kristal yang tergantung lena di
plafon. Dadanya lebih menonjol dengan kepenuhannya yang
rahasia. Seperti ada suatu persiapan yang suci dalam tubuhnya.
Dan aku tetap menatapnya diam-diam. Aku tahu kediaman
lebih berharga untuk menemukan hal yang sebenarnya. Kuingat
di dalam mobil dia berkata bahwa untuk tahun itu, dia meng-
undurkan diri dari kejuaraan yang sebelumnya selalu merupakan
bagian dari hidupnya.
Kuingat juga laki-laki yang menamakan diri Alain. Lembut,
penuh perhatian, berambut hitam kelam. Aku tidak tahu umur-
nya. Tapi wajahnya menunjukkan kebijakan yang abadi.
Wajah yang bijaksana. Ah, betapa senangnya aku kepada
orang yang berbahagia memiliki wajah jernih lepas dari kekha-
watiran. Dan Rachel mencintainya. Rachel yang tersentak dari
Pascal, pindah kepada Michel dan mungkin beberapa lainnya,
akhirnya memerlukan sesuatu yang tenang, sesuatu yang bisa
mengundangnya berteduh serta merasa tak lagi tersendiri.
Aku memahaminya. Aku telah menyeberangi pengalaman-
pengalaman perempuan muda yang bebas. Kini ada seorang
yang benar-benar membutuhkan aku, mencintai aku. Dan aku
orang yang beruntung. Laki-laki itu masih berhak mengawiniku.
“Kau sedang berpikir bahwa aku telah bertindak dengan
kelancangan yang tak bisa dimaafkan.”
“Aku sedang berpikir kau memerlukan seseorang. Dan seseo-
rang itu kebetulan Alain Stultz,” jawabku.
106
Bibirnya yang tipis menggariskan senyum dengan seder-
hananya.
“Umurku tiga puluh tahun, Raymonde,” dia berkata sambil
memandang ke arah lain, “aku telah berusaha mencintai dan
hidup menurut adat semestinya. Tetapi nasib menolakku. Kini
ada seseorang yang mencintaiku, yang kucintai, dia sudah ber-
istri. Mengapa mesti aku melarikan diri? Aku ingin memiliki
sesuatu yang tetap dari dirinya, yang memerlukanku. Aku tidak
mempunyai keberanian untuk hidup seterusnya dengan kesepian
yang seperti ini.”
“Rachel,” aku tiba-tiba ingin mendukung keberaniannya; dan
aku hanya bisa menyebut namanya perlahan.
“Mungkin aku yang lemah. Alain datang ke gunung bukan
untuk ski. Meski dia bisa bermain ski. Kemudian aku menyadari
dia ingin menyertaiku. Dan kami keluar bersama. Ber-Sabtu-
Minggu bersama. Kemudian kelengahan pertama kali mengu-
asaiku untuk berpasrah. Aku mencintainya, Raymonde. Aku
tidak berusaha untuk bersusah-payah menolaknya. Kesempatan-
kesempatan yang lain kami nikmati di kamarku. Kini aku memi-
liki apa yang kuinginkan. Ayahku pernah berkata, anak di luar
perkawinan bukanlah suatu kejahatan. Dia juga suci. Dia juga
berhak memiliki nama. Ayahku yang malang. Seakan dia melihat
garis nasib gadis angkatnya,” suaranya mendatar tapi lancar.
“Dan Alain?”
“Dia tidak mengetahuinya. Aku tidak memerlukan siapa pun
kini. Secepatnya rumah dan beberapa isinya terjual, aku akan
memiliki dua pertiga hasil penjualan. Lain bagian untuk Michel
dan Pascal, sesuai dengan kehendak ayahku. Mengapa? Oh, kau
tak perlu mengkhawatirkan nasibku. Kau baik. Aku suka kepa-
damu, Raymonde. Kau tahu benar bahwa aku akan bisa menjaga
diriku dengan apa yang kumiliki ini.”
“Kau orang yang tabah.”
Dia ketawa. Suaranya renyah. Ruangan itu tiba-tiba tambah
berseri karenanya.
107
Ibu Jeanette
“Madame, apa yang bisa saya kerjakan untuk Anda?”
“Ya, apa saja. Berilah saya pekerjaan misalnya ....”
“Apa yang bisa Anda kerjakan?”
Apa yang bisa aku kerjakan? Mengapa orang bertanya apa
yang bisa aku kerjakan? Aku bisa menjaga kafe, aku bisa me-
nyenangkan hati laki-laki!
Ah, tentu saja. Apakah aku akan mengatakannya kepada
Tuan Konsul yang terhormat ini?
Lalu tiba-tiba aku menemukan diriku bercerita panjang lebar
mengenai masa mudaku, masa kanak-kanakku yang terlalu sing-
kat dan yang selama ini mengendap dalam-dalam seperti air
asin di pelabuhan Marseille.
Kalau kabut tipis musim dingin turun, hal yang amat jarang
terjadi di pantai selatan negeriku, aku senang mengayun-ayun-
kan kaki di papan-papan yang berderet di pinggir air. Orang-
orang pelabuhan bersilangan mengurus pembongkaran atau pe-
muatan barang. Kalau hari lembab dan dingin sampai di bawah
sepuluh derajat, tubuh mereka harus menanggung beban dua
atau tiga baju dingin berlapis. Mereka melangkah dengan sepa-
tunya yang besar dan gaduh. Malam hari aku mengamati cahaya-
cahaya kapal dan lampu jalan yang bermain dan berayun. Kalau
hari berangin sedikit, kapal-kapal kecil terayun-ayun manja di
atas air kotor gelap. Aku berjalan dari ujung jalan ke ujung
108
lainnya, atau duduk-duduk di atas peti yang terkumpul satu-
dua di samping rumah-rumah kopi.
Waktu itu, hari sedang terang. Bibiku pergi ke Toulon untuk
keperluan yang tidak kuketahui. Kafe dijaga oleh saudara sepu-
puku yang berumur sepuluh tahun lebih dariku. Aku membantu
menebah-nebah bangku dan menyajikan kopi seperti biasanya.
Tiga kelasi masuk ke dalam kafe, lalu duduk rapi. Salah seorang
di antaranya berjenggot, lengannya penuh dengan tato berwarna-
warni. Aku mengamatinya penuh keingintahuan.
“Mari sini. Lihat! Pegang, ini betul-betul. Bukan tiruan, bu-
kan tempelan,” katanya ramah.
Aku berdiri berpegang pada tiang yang tak berapa jauh sambil
tetap mengamatinya. Tiba-tiba orang itu berdiri, mendekatiku
sambil berkata,
“Pegang!” tangannya yang besar memegang tanganku lalu
digosok-gosokkan pada bagian lengannya yang bergambar ra-
jah.
“Ini bukan palsu. Bagaimana pendapatmu? Oh, kau begitu
kecil. Mari!”
Dengan sekali gerak aku diangkat dan didudukkan di atas
pangkuannya.
Aku tidak berkata suatu pun. Kepalanya masih amat jauh di
atasku. Dadanya luas tegang rata oleh kaus kelasinya yang ber-
garis-garis. Aku menengadah memandangi jenggotnya. Warna-
nya kelabu bertitik putih-putih seperti salju yang bersih. Aku
menjangkaukan tanganku untuk menyentuhnya. Kudengar
mereka tertawa.
“Oh, kau manis, kau anak yang manis sekali.”
Orang itu menundukkan kepala serta mendekapku. Aku
tergesa turun dari pangkuannya.
“Aku belikan kau satu cangkir coklat dan makanan kecil yang
kausuka. Ambil yang mana.”
Saudara sepupuku dan aku masing-masing mendapat roti
krim dan secangkir coklat yang hangat.
Aku tidak pernah melupakan saat itu. Kapalnya bernama
109
Negara Angin, berlabuh di sebelah utara gudang. Tuan berjenggot
singgah tiga kali, kemudian dua bulan tidak pernah muncul.
Aku mendengarkan percakapan di antara kelasi dan tak hentinya
mengharapkan kedatangan kapalnya yang hitam bergaris putih
bagaikan ikat pinggang. Setahun kemudian tuan itu datang,
dan serta-merta mengangkatku tinggi-tinggi.
“Kau tambah besar. Tidak patut lagi duduk di pangkuanku.
Lihat ini, kakimu yang dulu kecil, kini telah panjang. Kaupotong
rambutmu? Jangan lagi. Laki-laki tidak suka kepada perempuan
berambut pendek. Di negeriku, semua perempuan berambut
panjang.”
“Di mana?”
“Kau duduk di kelas berapa?”
Aku baru saja meninggalkan sekolah. Bibiku tidak suka mem-
biarkanku belajar menghadapi buku, sedangkan di rumah ba-
nyak pekerjaan. Katanya, anak perempuan tidak boleh menjadi
pandai. Tapi aku tidak mau menceritakan ini kepada tuan ber-
jenggot itu. Lagi pula, kulihat kehadiran bibiku yang memelo-
totkan matanya dari sebelah meja panjang.
“Kelas enam,” jawabku tanpa berpikir panjang.
Dia berjongkok. Dengan jarinya dia menggambarkan bentuk.
“Di sini Negeri Arab, ini Laut Tengah. Nah, ini, yang terjepit
kecil ini negaraku. Kecil, bukan? Tetapi manis dan selalu banyak
angin!”
“Negeri Angin,” kataku sendirian.
“Ya,” sahutnya, kemudian seperti terkejut dia memandangku
tepat pada mata, “eh, kau ini anak cerdas! Kau harus datang ke
negeriku. Negeriku memerlukan orang cerdas seperti kau,” lalu
diusap jenggotnya sambil tetap memandangiku.
Itulah kali terakhir aku melihatnya. Orang pertama yang
berbaik hati kepadaku, yang mengundangku ke negerinya. Aku
tidak pernah melupakannya.
Aku tidak pernah mengingat wajah ayahku dengan jelas.
Ibuku meninggal ketika aku berumur lima tahun. Sejak itu,
yang kuingat pamanku yang memegang tanganku di samping
110
galian kuburan. Kemudian aku hidup atas belas kasihan keluar-
ganya, warungnya dan istrinya yang menimbuniku dengan ber-
bagai pekerjaan.
Seakan-akan tergesa oleh masa menjelang dewasa, pada suatu
malam aku menghabiskan keperawananku di pojok gudang de-
ngan seorang kelasi Inggris. Umurku tiga belas tahun. Tidak
kusesali benar pengalaman yang mengarahkanku ke masa dewasa
ini. Mengapa harus begitu? Aku pun tidak mengetahui. Bukan
salahku kalau Paman meninggal karena pencernaannya yang
terlalu payah oleh makanan berlemak, dan Bibi mengurus
dagangan, saudara-saudara sepupuku bergantian meninggalkan
rumah menuju tempat lain mengikuti suami atau kekasih, meng-
adu untung di ibukota.
Sedangkan aku, aku tinggal di tempat semula. Sekali-sekali
aku juga berhak menghibur diri di waktu senggang, bukan? Bibi
sering berkata bahwa aku tidak cantik, mukaku pucat, tubuhku
terlalu kerempeng. Tapi pada suatu malam ada laki-laki berbisik
di telingaku bahwa aku memiliki raut muka yang manis, lalu
mendorongku ke samping warung sampai tembok gudang. Di
antara napasnya yang sengal panas di leher dan bibirku, dia
berkata akan menungguku di belakang rumah sesudah warung
usai.
Paginya aku merasa dewasa. Hari lebih terang dari biasanya
di balik mataku yang berkejap bangun kesiangan.
Lima tahun kemudian, aku sampai di Negeri Angin. Orang-
orang di pelabuhan mengatakan, aku diculik oleh pedagang
budak. Lainnya mengutukku mau dipergundik oleh kelasi asing.
Tapi apakah bedanya kelasi itu dengan laki-laki lain? Masing-
masing memiliki caranya untuk menggenggam kesenangan di
dunia ini.
Yang sebenarnya, aku “terbawa” oleh kapal pengangkut babut
dan minyak. Kelasi yang menanggungku mampu memancang-
kanku di sebuah rumah yang layak. Aku mulai mengenal negeri
dan orang-orang yang sejak masa kecil menggariskan wajah or-
ang ramah yang berjenggot.
111
Kemudian datang perang. Kelasiku tidak pernah kembali.
Perang merembet ke Negeri Angin, dan aku mulai menyadari kedu-
dukanku. Suatu malam ketika aku berada di pelukan seorang
perayu, aku menyatakan kekhawatiranku. Kawanku berkata,
“Pergilah ke tempat konsulmu. Dia akan memberimu na-
sihat.”
Sebelum pergi ke konsulat aku masih sempat berpikir apakah
sebenarnya aku ini. Aku bersiap-siap menerima kata-kata yang
paling kejam pun dari wakil negeriku yang terhormat.
Dia mengikuti ceritaku seluruhnya. Kepalanya tunduk, kedua
tangannya ditangkupkan seperti pendeta alim. Sebentar-sebentar
memandangiku dengan teliti, seolah hendak membenarkan atau
menyalahkan bibiku, mengukur mukaku yang pucat atau me-
narik. Pandangnya tidak jarang menurun ke lekuk leher, kadang
selintas sampai ke betisku.
Pada akhir ceritaku, keningnya berkerut. Dan suaranya ren-
dah tanpa aling-aling,
“Tetapi, Madame, tidak ada pekerjaan di konsulat.”
“Sebagai apa saja, misalnya tukang sapu, atau pembantu
untuk membersihkan kantor,” kataku.
“Tetapi tidak ada seorang Prancis pun yang bekerja sebagai
penyapu di konsulat kita, di mana pun juga. Kami selalu meng-
ambil orang-orang pribumi sebagai pekerja kasar begitu.”
Dan kami berpandangan. Lama. Seperti saling bertanya apa-
kah memang sebenarnya tidak ada yang bisa kukerjakan.
Tuan Konsul itu tinggi. Rambutnya coklat tua berkilap, berse-
lingkan warna-warna putih di kedua pelipisnya. Matanya coklat
dengan pandang yang menggairahkan. Aku gemetar. Tiba-tiba
dia berdiri, membuka kamar di sebelah dan menyilakanku ma-
suk. Aku melewati ambang pintu. Dia berkata setengah berbisik,
“Bersiap-siaplah. Saya datang seperempat jam lagi.”
Kamar itu seperti sebuah salon, dengan kursi panjang ber-
kasur lunak dan amat lebar. Sebuah meja tidak seberapa tinggi,
satu piring hitam, keranjang sampah; rak-rak buku yang hampir
memenuhi dinding.
112
Apa yang harus kupersiapkan? Seperti diingatkan oleh se-
suatu, aku tersenyum. Kulepas sepatuku menyentuh babut yang
lembut dengan ujung-ujung jari kaki. Aku berdiri di atasnya,
seolah-olah tenggelam dalam bulu-bulu yang memerah anggur.
Pintu terbuka bahkan sebelum lima belas menit berlalu.
Serta-merta Tuan Konsul mencium mulutku. Dan aku tidak
bertanya-tanya lagi apa yang mesti kupersiapkan.
Sekali lagi aku tidak menyesali hidup yang mengemudikan-
ku. Aku hanyut menuruti alirnya air yang membawaku ke tepian
sejuk atau pantai pasir yang panas. Ketika perang mengulurkan
cakarnya ke Negeri Angin, aku telah menemukan sebuah rumah
yang tidak begitu mahal, terbuat dari tanah dan terbagi atas
beberapa ruang. Tuan Konsul dan aku menjadi dua orang sahabat
yang tidak pernah ada di dunia ini. Dia halus, selalu memper-
lakukanku dengan sikap yang membelai hati.
Suatu petang, aku terpaksa keluar membeli roti untuk makan
malam. Di tengah jalan terdengar tanda bahaya serangan. Sinyal-
nya berulang dua kali ketika aku mendengar dentuman-dentum-
an dan suara pesawat terbang. Aku yang semula tetap berjalan
menepi, terpaksa melemparkan diri ke parit terdekat. Lampu-
lampu telah dipadamkan seluruhnya.
Pada musim itu langit gulita, tidak ada seraut sinar kutub
yang tertinggal untuk sekadar menduga bayangan. Semuanya
gelap. Di seberang jalan kuingat ada ruangan warung kopi yang
lebar. Aku akan berusaha lari ke sana mencari tempat berlindung
sementara. Kutunggu suasana mereda. Kemudian dengan
menunduk dan kaki setengah gemetar aku menyeberangi jalan.
Ketika kakiku hampir melangkah masuk ke dalam kafe, tiba-
tiba sebuah pesawat meluncur bersama tembakan mengga-
duhkan. Sekali lagi aku melemparkan diri ke arah kegelapan.
Sikuku terbentur pada suatu sudut keras, mengakibatkan sen-
takan listrik pada uratku.
“Oh, bajingan, les salauds,” seruku seorang diri.
Tembakan senapan terdengar beruntun. Sekaligus padat,
sarat mengerikan. Lalu menjauh, menghilang bersama suara
113
pesawat. Kemudian sepi.
Entah berapa lama, disusul sinyal tanda berakhirnya bahaya.
Aku masih meringkuk di sudut, mulai membiasakan mataku
menembus kegelapan. Kudapati beberapa orang di keliling,
berbaring atau duduk dengan lutut ditarik ke dada, sosok yang
samar-samar.
Orang menyalakan lampu di dalam, lalu aku berdiri. Tiba-
tiba seseorang bertanya dalam bahasa ibuku,
“Maafkan saya, Madame, apakah Anda orang Prancis?”
Kulihat empat lelaki berpakaian tentara mengelilingiku. Aku
membetulkan letak rambut dan bajuku.
“Ya, dan tuan-tuan juga orang Prancis?”
“Oh, alangkah senangnya dapat berbicara sesama bahasa ibu
dengan seorang wanita,” tiba-tiba salah seorang di antara mereka
berseru kegirangan.
Mereka menemaniku ke rumah. Kusediakan makanan dingin
sederhana. Mereka menghabiskannya; ramai berbicara ramah
dan tidak henti-hentinya. Rupanya mereka beberapa hari yang
lalu baru memasuki negeri ini setelah menyelundup menyebe-
rangi padang pasir. Hal ini sering-sering diramalkan oleh ka-
wanku Tuan Konsul.
“Tetapi bagaimana kalian dapat menduga bahwa saya ber-
kebangsaan Prancis?”
“Mudah saja. Tidak ada orang lain di dunia ini yang me-
nyumpahkan ‘salaud’ selain seorang Prancis yang baik!” Kami
tertawa bersama oleh kebenaran kalimat itu; meskipun dalam
hati aku merasakan sedikit keengganan. Cacian tersebut tidak
patut keluar dari mulut orang yang sopan!
Bagaimanapun mulai hari itu rumahku terbuka untuk me-
reka. Bergiliran datang, bergerombol menurut selera masing-
masing. Sekali lagi aku segera mengerti ke arah mana angin
menyorongku.
Kukumpulkan tiga-empat perempuan baik-baik yang lancar
atau sedikit-sedikit bisa berbicara bahasa Prancis untuk mene-
mani tamuku. Kemudian aku mulai memerlukan kamar-kamar
114
terpisah. Semula hanya ada dua. Mereka bergantian sepasang
demi sepasang masuk-keluar. Hingga pada suatu waktu seorang
yang berbadan besar dan seram datang menjumpaiku.
“Madame, Anda memiliki istana mungil yang patut diper-
besar.”
Suaranya parau. Matanya tidak berhenti menatapku, dengan
cara memandang dari atas yang menjengkelkanku.
Dia jenderal dari kesatuan yang hingga waktu itu selalu ku-
sambut dengan baik. Dan dia katakan pula bahwa aku telah
menolong tanah air dari keruntuhan.
“Anak-anak yang berperang itu memerlukan hiburan, perlu
ditingkatkan semangatnya.”
Mukanya berpaling dan memandang keluar. Tampak tamu-
tamuku duduk berdesakan minum atau makan di meja-meja
yang sempit.
Dia memintaku agar meneruskan menolong tentaranya yang
membela tanah air itu.
“Saya akan memberi Anda sebuah rumah yang lebih besar.
Tetapi dengan satu syarat: Anda membuka rumah itu untuk
siapa saja, terutama orang-orang kaya negeri ini. Kalau Anda
mendengar suatu cerita yang seremeh-remehnya pun, Anda ha-
rus menyampaikannya kepada saya.”
Pada mulanya, aku tidak menyadari benar arti syarat se-
derhana itu.
Rumahku kemudian berkamar dua belas, di sebelah depan
kujadikan kafe temaram, yang selalu sesak oleh kepulan asap
rokok dan candu.
Setelah segalanya teratur dan berjalan baik, aku baru sadar
apa jenis pekerjaan yang diberikan jenderal itu kepadaku.
Suatu kali, kami mengejutkan musuh yang menyerang dari
udara dengan tangkisan yang telah disiapkan sebelumnya. Kali
yang lain kesatuan Prancis berhasil merampas senjata selun-
dupan dari Eropa Tengah. Sebagai sahabat, aku semakin diper-
lukan oleh jenderal itu, Tuan Konsul, para perwira dan prajurit.
Sering pula datang berkunjung pedagang-pedagang negeri
115
ini yang berperut gendut. Kepada mereka aku tidak suka mela-
yani sendiri. Tapi kadang-kadang, untuk kepentingan tanah air,
aku terpaksa membelai kepala botak mereka dan kulit keriput
yang telah kehilangan kesegarannya, disertai bisikan cinta yang
itu-itu juga.
Perang telah lama berakhir. Tetapi aku belum berniat me-
ninggalkan Negeri Angin yang telah menimangku dengan nasib
yang jarang diterima oleh perempuan-perempuan lain di dunia
ini.
*
Hari ini aku menerima bintang kehormatan Légion d’Honneur
dari pemerintah Prancis, pada umurku yang ketujuh puluh tujuh.
Aku bangga oleh kata-kata Tuan Konsul yang baru. Tentulah
dia tidak asing terhadap segala keterangan mengenai diriku, an-
tara lain laporan yang ditulis oleh Konsul pelindungku pada
masa yang lampau.
“Madame Jeanette telah menyelamatkan semangat anak-anak
kita, pembela tanah air dan kedamaian dunia. Berkat kerja sama
itu pula, tentara kita berkali-kali mencapai kemenangan. Per-
juangan di lapangan itu patut dihargai, dan ucapan terima-kasih
negara yang tak terhingga menyertai tanda penghargaan ini.”
Hadirin berdesakan mendengarkan tekun. Warga negara
Prancis yang menjadi penting kedudukannya dan semakin ba-
nyak jumlahnya setelah perang, semua datang untuk minum
sampanye demi kesehatanku.
Aku berdiri lurus. Kepalaku tegak. Aku sekarang menjadi
wanita terhormat. Sikapku harus dapat dijadikan teladan.
Sebentar kutarik bagian leher bajuku untuk menutupi kulit
yang semakin menjauhi kemudaan.
116
Penanggung Jawab Candi
Turun dari tempat tidur, cepat dia mengenakan sarung yang
semula tersampir pada gantungan pintu. Lalu dia hentikan alat
pendingin.
Brrrrrr, sejak beberapa hari udara nyata menjadi lebih sejuk.
Musim hujan dengan angin musonnya tidak lama lagi akan men-
jenguk negeri itu. Perbaikan-perbaikan candi yang ada di bawah
pengawasannya, yang memang tidak berjalan lancar, akan ter-
henti sama sekali selama musim basah. Tetapi, oh, itu tidak
mengapa. Yang penting, dia tetap dibayar oleh pemerintah tuan
rumah. Tidak menjadi soal baginya jika pegawai serta pekerja
kecil bawahannya menerima gaji harian. Itu urusan mereka de-
ngan rajanya.
Dia keluar dari kamar, langsung duduk di hadapan meja
makan yang panjang dan lebar, menghadap kebun, lepas me-
minggiri semak-semak hutan di sekeliling komplek candi.
Dua puluh dua tahun sekarang jadinya. Selama itu dia ber-
tanggung jawab atas rumpunan bangunan kuno di negeri itu.
Waktu yang cukup untuk menjadikan seseorang dewasa. Buat
dia sendiri, jumlah itu merupakan jaminan akan tetap tinggal
di negeri tersebut tanpa gugatan serta usiran pihak pemerintah.
Dia orang penting. Menjadi penyelamat kumpulan bangunan
batu pemujaan nenek-moyang raja. Dia berhak menerima san-
jungan dan berbagai bentuk kebaikan hati semua penduduk.
117
Terutama dari raja sendiri.
Mereka, begitu pula orang-orang sebangsanya yang tinggal
di negeri itu, setiap kali mendengar namanya, berebutan saling
mengatakan berkenalan baik dengan dia, telah membaca atau
melihat buku-buku tulisannya.
Setiap kali dia turun ke Ibu Kota, kenalan dan pejabat tinggi
berebutan pula mengundang makan. Pengertian kesadaran untuk
itu semua membikin dia membusungkan dada oleh rasa bangga.
Siapa yang tidak senang hidup seperti dia! Apalagi jika semua
itu tercapai tanpa kerja keras maupun pemerasan tenaga yang
berlebihan. Karena semua itu adalah hasil dari keberuntungan
belaka.
Kebetulan dia lahir sebagai anak tunggal bapaknya, yang
pada waktu itu telah menjadi penanggung jawab candi di sana.
Orang tuanya memang telah bekerja keras; mengetahui setiap
lipatan batu-batu candi, mengenal setiap sudut dan mangan
tiap bangunan kuno di negeri itu. Siang-malam menyelidiki,
menemukan dan akhirnya mengerti makna gambaran atau
tulisan lama yang terdapat di situ. Dia mengumpulkan berbagai
teori, memperbandingkan kesamaan berbagai bahasa kuno yang
terdapat di sekeliling rumpunan candi, lalu mendengarkan pen-
dapat atau tafsiran penduduk lanjut usia.
Dia sendiri? Oh, biasa saja. Seperti telah menjadi tradisi,
dari Sekolah Menengah dia meneruskan studi ke tingkat ter-
tinggi. Dan seperti telah menjadi tradisi pula, dia memilih atau
diarahkan untuk memilih jurusan yang sama dengan lapangan
pengetahuan bapaknya. Tidak ada kemauan sendiri untuk meno-
lak. Baginya itu sama dengan pekerjaan lain. Tidak ada yang
dia sukai benar. Kalau memang dia mewarisi nama keluarga
bapaknya, lebih baik menjabat pekerjaan yang sama pula. Selain
merupakan kelanjutan, setidak-tidaknya banyak keuntungan pri-
badi yang akan dapat dia terima dari negeri bermatahari itu.
Jadi, dia pun mengarahkan pendidikannya ke sana. Benar
juga menghabiskan waktunya untuk belajar, untuk melalui ujian-
ujian, tetapi semuanya hanya berupa hafalan yang tidak banyak
118
meminta tenaga lebih dari semestinya. Apalagi itu disebabkan
karena sebagian besar guru yang memberi kuliah bukanlah ahli-
ahli yang mahir benar. Juga kemudahan yang dia terima di per-
guruan tinggi itu disebabkan karena sejak kecil dia telah berke-
cimpung di bidang tersebut. Dapat dikatakan dia tumbuh ber-
sama mengalirnya teori-teori yang muncul dari kepandaian ba-
paknya dalam seluk-beluk bangunan kuno.
Kemudian, setelah bapaknya meninggal, tepat ketika dia lulus
dari perguruan tinggi, catatan-catatan yang teliti dan menarik
dia temukan di laci bapaknya. Itu merupakan salah satu pe-
ninggalan yang berharga. Peninggalan lain yang tidak kurang
menyenangkan ialah jabatan sebagai penanggung jawab bangun-
an kuno. Barangkali raja dan lingkungannya berpendapat bahwa
itu lebih mudah daripada mencari orang lain. Barangkali pula
karena orang-orang itu memperkirakan kepandaian yang sama,
ketekunan yang sepadan serta ketelitian cara kerja yang sama
seperti ayahnya.
Dan dia tidak mau mengecewakan mereka. Dia memang
menunjukkan dinamika kerja. Dengan jipnya, orang dapat meli-
hat dia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Turun se-
bentar dari kendaraan untuk melihat ini-itu. Lalu menghilang.
Sekali-sekali, dikeluarkannya beberapa garis kalimat catatan
bapaknya untuk memperlihatkan hasil kerjanya.
Dalam laporan tertuju kepada raja, bercampur aduk dia susun
pendapat pribadi, ditambah hasil percakapannya dengan pelan-
cong cendikia yang dia jumpai ditambah teori hasil penyelidikan
bapaknya.
Pada waktu yang diperlukan, dia terpaksa benar-benar tekun
mempelajari buku-buku atau batu-batu kuno yang kebetulan
ditanyakan orang. Dengan demikian, dia selalu dapat memberi
jawaban pasti serta menyenangkan hati raja. Begitu tenar nama
yang diwarisi dari bapaknya, sehingga orang selalu menerima
pendapatnya. Maka tinggalnya di negeri itu semakin terjamin
kelanjutannya.
Makanan pagi dibawa oleh seorang wanita pribumi. Pakaian-
119
nya kain hitam mengkilat, turun hingga ke batas telapak kaki,
dengan baju berkembang-kembang warna terang, tepat sampai
di pinggang. Semua itu menunjukkan keindahan garis lekuk
punggung yang menuruni pinggul.
Dari kursinya, dia menuruti godaan yang dirasakannya. Ta-
ngan terulur untuk mengelus sejenak kenikmatan garis yang
tersuguh. Lalu naik menyelinap ke bawah baju. Perempuan itu
terkikih, melengoskan pandang sebentar ke arah Tuan, si ma-
jikan. Karena memang itulah sebutan yang diharapkannya di
tempat tinggalnya.
Lima hari yang lalu perempuan itu berganti menjadi “peng-
atur rumah tangga”. Setiap kali ada wanita pendatang baru,
Tuan menjelaskan agar hubungan di luar tempat tidur tetap
sebagai pekerja dan majikan. Di negeri yang masih serba penuh
dengan pengertian feodal, ini tidak merupakan kesukaran.
Perempuan-perempuan itu tidak begitu peduli. Yang penting
bagi mereka ialah memiliki kehidupan lebih baik daripada or-
ang-orang lain sebangsanya. Dapat bersolek, berdandan dan
makan lebih dari cukup. Ditambah hormat orang karena mela-
yani Tuan Besar.
“Tukang masak sudah ke pasar?” tanyanya dalam bahasa
pribumi yang beraksen keras.
“Belum. Menunggu Tuan. Saya bawakan buku belanjanya.”
Tukang masak telah lama tinggal bersamanya. Dia seorang
perempuan tua. Rambutnya dipotong seperti laki-laki. Entah
untuk memudahkan gerak atau kemalasan, sekalian disebabkan
oleh jarangnya air di musim kemarau, perempuan yang melam-
paui batas umur tertentu tidak lagi memiliki hiasan di atas ke-
pala. Kebanyakan pula nenek-nenek yang telah lanjut usia ber-
kepala licin halus. Dipandang dari jauh mereka tidak bisa
dibedakan dari kaum lelaki. Dada mereka rata dan keriput.
Sejak umur sebelas tahun, tukang masak itu tinggal di sana.
Tidak banyak jenis makanan atau lauk yang dapat dihidangkan.
Tetapi itu tidak menjadi soal. Yang penting bagi Tuan, perempuan
tua itu dapat mengikuti dan menuruti kemauannya. Tidak
120
banyak bicara. Pembantu tua itu sudah menyaksikan datang
dan perginya berbagai pengunjung, keluar masuknya “pengurus
rumah tangga”. Di samping itu, tidak seperti kebanyakan tukang
masak yang bekerja di rumah orang asing, perempuan tua itu
tidak terlalu menipu, menaikkan harga-harga makanan yang
dibeli di pasar maupun di warung.
Wanita itu datang kembali, memberikan buku tulis dengan
pensil pendek dan tumpul.
Dia melayangkan pandang selintas ke deretan angka. Harga-
harga belanja tertulis di situ. Beberapa tampak sekali atau dua
kali diganti dengan angka lebih tinggi.
“Masih ada sisa uang buat pelajaran menjahit dari yang kau-
bayarkan kemarin?” tanyanya.
“Masih,” jawab perempuan di samping Tuan.
“Berikan itu dulu untuk belanja!” perintahnya.
Dia menutup buku tulis, lalu hendak meneruskan makan.
Pengurus rumah tangga tetap berdiri di sana. Sebentar seperti
akan berlalu, tetapi ragu-ragu.
“Apa lagi?” tanya majikannya sambil mengunyah roti, “beri-
kan uang itu sekarang, sehingga tukang masak dapat pergi!”
“Uang sisanya buat membeli bahan.”
“Sudah atau belum?”
“Belum.”
“Berikan itu dulu, nanti kuganti!” dia mengulang. Perempuan
itu belum juga beranjak.
Dia mengangkat muka di atas kopinya untuk memandang
kepada perempuan muda itu. Tiba-tiba keduanya bertatapan
pandang. Wajah lonjong yang segar hitam itu seakan-akan berca-
haya dengan senyum merata. Dengan kepala yang digerakkan
manja, pengurus rumah tangga itu berkata,
“Sekolah menjahit itu jauh. Saya akan memerlukan sepeda.
Kalau tidak, harus selalu naik siklo*) pergi-pulang.” Sejak hari
pertama perempuan itu datang, telah berapa kali meminta ini
*) siklo: becak di kamboja.
121
dan itu. Lebih banyak menarik uang daripada para pendahu-
lunya. Majikan menurunkan pandangnya ke dada perempuan
muda itu. Lebih montok dan keras daripada yang lain. Meskipun
pinggangnya tidak seramping yang dulu, tetapi kakinya panjang
dan kuat buat kenikmatan-kenikmatan yang membutuhkan
waktu lama.
“Kita lihat nanti! Cepat berikan uang kepada tukang masak!
Katakan dia mesti berangkat sekarang.”
Akhirnya, perempuan itu berlalu. Langkahnya lampai indah.
Tuan mengikuti gerak betis yang membayang pada lapisan
sarung hingga ke pintu dapur.
Dia dapat leluasa membelanjakan uangnya. Rumah tempat
tinggal adalah milik yayasan di mana dia menjadi anggota.
Gajinya besar, ditambah hadiah serta biaya ini-itu yang dibayar-
kan pemerintah tuan rumah maupun Sekolah Tinggi di Paris.
Belum lagi terhitung warisan penjualan buku-buku tulisan bapak-
nya dan satu buku karangannya sendiri. Itu semua mengumpul
menjadi kekayaan menyenangkan.
Kelihatan benar bahwa dia memiliki kehidupan yang mudah.
Belum mencapai umur tiga puluh tahun, tubuhnya menggelem-
bung seperti balon karet. Badannya pendek bulat terlalu tebal.
Wajahnya selalu kemerahan oleh panas daerah tropis dan mi-
numan bir. Dia tidak melakukan sesuatu macam olahraga pun,
sehingga tubuhnya lembek, otot-otot kendur. Dari tahun ke ta-
hun, mukanya semakin tampak tua mendahului umurnya.
Sebetulnya banyak kesempatan yang tersedia untuk sekedar
berjalan dengan kakinya. Beberapa candi terletak jauh dari tem-
pat pengawasan utama di candi terbesar. Tetapi dia lebih suka
mengeram di sana. Kadang-kadang berteriak menyerukan bebe-
rapa perintah melalui jendela. Lalu asistennya datang berlari-
lari untuk mendengarkan instruksinya secara teliti.
Sekali-sekali jika kewajiban menghendaki, baru dia keluar
rumah, mengawasi perbaikan-perbaikan yang dikerjakan pe-
gawai-pegawai bawahannya. Kalau turun dari kendaraan, dia
hanya akan berjalan sampai teras candi induk. Kuli-kuli di sana
122
merunduk-runduk menyalaminya, perempuan penjual makanan
di warung tersenyum berusaha menarik hatinya.
Sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah buat membaca
kiriman roman-roman terbaru dari Prancis. Kadang-kadang
mendengarkan piringan hitam, dan tentu saja bercumbu dengan
pengurus rumah tangganya. Di atas meja kerja yang tebal dan
lebar selalu bertumpukan buku ilmu bangunan kuno, kertas-
kertas. Beberapa lembar sengaja dibiarkan terbuka. Pada waktu
ada kunjungan secara tiba-tiba, pembantu selalu membawa tamu
itu ke kamar tersebut. Maka dapatlah ditunjukkan bahwa pe-
nanggung jawab candi itu sedang bekerja dengan tekun. Oleh
karenanya, si pengunjung yang pada umumnya bersifat sopan,
akan berusaha meninggalkan tempat itu secepat-cepatnya.
Pagi itu, dia harus turun ke candi induk. Seperti telah diperin-
tahkan dan sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang dia berikan,
para pekerja telah membuat patung singa dari semen untuk
menjadi pasangan singa lain dari batu yang terdapat di gerbang
teras candi. Hari itu orang akan membawa singa baru ke tem-
patnya. Kejadian penting yang harus dia awasi. Dia akan me-
nyaksikan untuk pertama kalinya sejak menjabat kerja tersebut
dua singa mengapit pintu masuk candi induk. Dua penjaga
seperti berabad-abad yang lalu.
Cepat dia hirup sisa kopi dari cangkirnya. Lalu menoleh ke
dapur dan memanggil. Perempuan muda yang tadi muncul dari
kamar tidur, berdiri di ambang sambil memandang. Tuan menyo-
rong kursinya dengan gaduh, lalu menghampiri pasangannya.
Dia tarik pinggang yang pasrah. Berdua menghilang ke kamar.
*
Sekali lagi, sesungguhnya dia bisa berjalan menuju candi
induk, tidak jauh dari pagar depan tempat kediamannya. Tetapi
tubuhnya terlalu berat untuk dibawa-bawa. Sebab itulah dia me-
nyetir kendaraan kantor, keluar dari gedung tua namun megah,
lalu membelok melewati jalanan tanah. Tanpa tergesa. Dalam
123
ingatannya dia masih sempat mengulangi kesedapan yang segar
serta muda dari badan pasangannya beberapa saat yang lewat.
Pertama kali dia melihat gadis itu ialah dalam perjalanan ke
Battambang, berkeliling memeriksa kumpulan candi lain. Ber-
henti minum di sebuah warung, dia tertarik oleh ketinggiannya
yang lampai. Lebih-lebih garis betis kaki memanjang, tergambar
di balik lipatan sarung hitam. Begitu saja dia rasakan rangsangan
kuat yang menggelapkan pandang.
Lalu dia berbicara kepada gadis itu. Tidak sukar. Orang asing
seperti dia tidak lagi dianggap asing oleh penduduk pribumi.
Yang menjadi keinginannya merupakan perintah. Sebentar ber-
bicara, malam itu juga gadis itu langsung dia bawa ke Battam-
bang. Lalu keperawanan gadis yang siang tadi dia lihat, malam
itu telah dia miliki.
Dua kali perjalanan, pada ketiga kalinya dia mengambil kepu-
tusan. Sesampai kembali di tempat kediamannya, dia membekali
pengatur rumah tangga yang hingga saat itu mengikutinya
dengan sejumlah uang. Beberapa hari kemudian, datanglah keka-
sihnya yang baru.
Itu adalah hidup yang mudah dan nyaman! Seperti ini tidak
akan dia miliki seandainya dia pulang serta menetap di negeri
asalnya. Orang-orang di sana hidup dengan cara tergesa. Masing-
masing berkepribadian kuat dan keras kepala. Segalanya mema-
kan biaya besar. Mengenai perempuan, tidak ada yang sepatuh
wanita negeri itu. Apabila tiba masa kebosanan, dia bisa berganti
tanpa soal tanpa kesulitan.
Ya, pada hakikatnya dia puas hidup begini. Selama negeri
tuan rumah penuh dengan orang bodoh dalam lapangan pengeta-
huan bangunan kuno, selama itulah dia dapat mempertahankan
kedudukannya. Sebab itulah dia berbuat sekuat tenaga untuk
mencegah berhasilnya orang-orang muda pribumi mencapai
ijazah ilmu bangunan tersebut. Banyak orang di perguruan tinggi
di Paris yang menjadi sekutunya.
Pengalaman yang dia peroleh dari sebuah negeri tetangga tidak
dia lupakan. Itu juga disebabkan karena negara tersebut memiliki
124
anak-anak negeri yang ahli dalam lapangannya. Ketika pada suatu
kali, disebabkan oleh suatu hal, dia diperbantukan oleh pemerintah
negeri tuan rumah ke negeri tetangga, terjadilah bentrokan beberapa
kali dengan ahli-ahli di sana. Karena para ahli itu tidak membiarkan
dia bekerja secara sembrono dan semaunya.
Negara tetangga itu ternyata lebih pintar daripada yang dia
sangka semula. Tanpa suara dia mengundurkan diri setelah me-
nerima surat dari kepala ahli bangunan kuno negeri itu. Isi surat
mengatakan, mereka tidak memerlukan kehadiran maupun per-
tolongannya. Dengan kemarahan yang tertahan di hati, dia
pulang ke kelompok candi yang menjadi tanggung jawabnya.
Sebagai pembalasan dendam, dia menyebarkan cerita fitnah dan
komentar mengenai candi-candi tetangga yang dibangun kembali
berdasarkan cara-cara yang salah.
Dia hentikan kendaraan tepat di depan tangga candi sambil
membalas salam beberapa orang yang dia kenal dengan anggukan
kepala. Setelah berkeliling sebentar agar kelihatan sedikit sibuk, ia
mendekati pegawai-pegawainya. Mereka sedang membuka pem-
bungkus singa semen. Seorang bawahannya memberikan surat-surat
yang tiba pagi itu di kotak pos perguruan tinggi yang dia wakili.
Sambil menunggu, dia sobek beberapa sampul untuk mengetahui
isinya. Satu di antaranya bertuliskan tangan. Dia baca nama si
pengirim. Dia teringat, kepala sekolah pernah mengabarkan
mengenai si pengirim sampul tersebut. Penuh perhatian dia membaca
lembaran kertas tipis di tangannya. Bersama keluarganya, si penulis
surat ingin mengunjungi negeri yang terkenal penuh candi itu. Surat
tersebut berisi bermacam-macam pertanyaan serta permintaan
keterangan mengenai hal-hal praktis: kendaraan, hotel yang tidak
terlalu mahal, termasuk pula kemungkinan mendapatkan seorang
pembantu perempuan sebagai pamong anak berumur setahun.
Karena dia bersama keluarganya ingin tinggal sebulan lamanya.
Dia mengerutkan kening. Tidak pernah dia menyukai
pelancong yang terlalu bersungguh-sungguh, mengerti terlalu
banyak mengenai batu-batu kuno maupun yang membuat foto
terlalu baik. Kalau dia tidak keliru, kepala perguruannya telah
125
menyebutkan bahwa si pengirim surat itu termasuk orang serius
dan mengenal bangunan-bangunan kuno.
Sambil meneliti lembaran surat sepintas lalu, dia mulai me-
ngarang jawaban. Akan dia katakan kesukarannya untuk mene-
mukan pengasuh di negeri itu, supaya si pelancong membatalkan
kunjungannya. Akan ditambahkan bahwa tugasnya di negeri
tersebut sebagai ahli bangunan kuno. Bukan sebagai agen pari-
wisata yang dapat memberikan berbagai keterangan.
Seseorang memberitahukan bahwa singa dari semen telah
dikeluarkan dari bungkusan. Segalanya siap untuk penempatan-
nya. Dengan gerobak rendah, kuli-kuli mengangkut singa itu
menuruti jalan sampai ke pinggir tangga gerbang. Kelihatannya
berat; kereta itu bergoyang, kadang ke kiri kadang ke kanan,
diiringi suara gaduh para kuli.
Dia mengikuti dari belakang. Sampai di dekat tangga, pe-
gawai-pegawai bawahannya menurunkan singa ke tanah, kemu-
dian mengusungnya ke tingkat teras, berseberangan dengan singa
lain, yang terletak di sana sejak berabad-abad lamanya.
Perlahan dan hati-hati, para kuli mengangkat singa semen
ke atas batu alas sebagai tempat duduk.
Pada waktu itulah orang baru melihat bahwa singa dari semen
itu menolehkan kepalanya ke arah luar, berarti memunggungi
pasangannya! Dengan perkataan lain, merupakan tiruan tepat dari
singa yang telah ada di seberangnya. Padahal yang diperlukan adalah
singa yang menoleh ke arah dalam, tempat pengunjung candi
berduyunan masuk ke pintu teras. Dengan demikian kedua singa
itu seharusnya saling berhadapan, memandang satu jurusan!
Untuk beberapa waktu, tidak ada yang berani mengucapkan
kata-kata meskipun menyadari kesalahan tersebut. Para kuli
saling berbisik, pegawai bawahan mengelus kepala singa, seolah-
olah dengan sentuhan, binatang semen akan berbalik meno-
lehkan tengkuk ke arah lain. Masing-masing mencari kesibukan
untuk menghindarkan pertanyaan penanggung jawab candi yang
tertuju kepada mereka.
Tuan penanggung jawab candi bergerak ke belakang. Meman-
126
dang sebentar kepada dua singa yang saling memunggungi. Maju
lagi menyentuh kepala singa semen, lalu undur selangkah. Dia
memegang dagunya seolah berpikir keras. Lalu sekali lagi melihat
ke kedua singa yang saling membelakangi. Kemudian mengusap-
kan lengan pada dahi yang jelas bertitikkan keringat karena
panas matahari dan kekesalan hati.
Tiba-tiba dia memberi perintah. Seseorang datang membawa
palu besi. Setelah menerimanya, ia mendekati singa dari semen.
Dengan sekali pukul, dia menghajar singa baru itu. Debu keluar
dari kuping yang hancur mengepul. Dia minta pensil dari
pegawainya. Ditandainya keliling leher singa tersebut, melingkar
bagaikan kalung. Lalu dia memberi perintah supaya kepala singa
itu dihancurkan hingga ke leher sesuai dengan tanda yang dia buat.
Serentak orang beramai-ramai melaksanakan perintah.
Masing-masing pegawai dan kuli bersenjatakan batu atau
alat lain memukul keras kepala singa yang malang. Sebentar
kemudian, dari dalam semen muncullah juluran besi yang diper-
gunakan pematung sebagai rangka penegak. Itu pun dihantam,
dilengkungkan mengarah ke bawah serendah mungkin.
Kerja selesai, tuan penanggung jawab candi menapakkan kaki
lagi ke belakang untuk mengamati hasil jerih payah pegawainya.
Dari jauh kelihatan sempurna. Singa semen seolah-olah terletak
di sana sejak berabad lamanya, dengan kepala yang hilang entah
mengapa. Sedangkan singa pasangannya melihat keheranan.
Tentu saja jika diteliti dari dekat, orang-orang pandai dapat
menemukan garis leher singa baru itu yang menengok ke luar.
Tetapi itu tidak mengapa. Tidak akan banyak pelancong pandai
pergi ke sana. Kalaupun ada, biasanya mereka langsung melihat
dinding berukir di dalam candi, tidak akan memperhatikan
singa-singa maupun hiasan di pintu gerbang.
Dengan kedua tangan di dalam saku, penanggung jawab candi
mulai memerintahkan pembersihan sisa-sisa yang dihancurkan.
Dia layangkan pandangnya lagi ke arah singa yang baru.
Sekali lagi dia puas dengan kehidupan yang dia miliki. Perla-
han dia menuruni tangga, menuju kendaraannya.
127
Kebahagiaan
Hari itu Danau Leman menemukan wajah biasanya di hari
akhir musim panas. Rantai Alpen jelas dengan puncak-puncak
tajam bertaburan warna putih berkilat. Burung-burung camar
datang dari pulau kecil di tengah danau. Mereka mencari sisa-
sisa makanan yang dilemparkan ke air oleh para pengunjung
baik hati. Istana tua dengan dindingnya yang keemasan oleh
sinar matahari itu pun tetap berwujud segi tiga, digarisi oleh
jalan sempit dari batu-batu keras.
Aku tetap duduk di belakang setir sambil sekali-sekali melihat
tamasya, hangat dan cerah. Rokok yang keempat kunyalakan.
Aku masih belum bisa menemukan kepastian apa yang mesti
kuperbuat untuk menghabiskan waktuku sore itu.
Aku berusaha mengingat, menjalin serta merangkai kembali
hal-hal yang selama ini menyela dalam rumah tanggaku. Mung-
kin itu hanya merupakan kejadian kecil, yang remeh. Tetapi
kini keingintahuanku sebagai perempuan menguasai kecembu-
ruanku.
Sekali lagi aku mengulang dari awal, mencari kepincangan
kecil yang mungkin menjadikan dasar kenyataan sekarang. Per-
kawinan kami sudah berumur lima belas tahun. Anne lahir, di-
susul Marie Claude, kemudian Jean-Raoul yang mengakhiri
urutan keluarga kecil kami, dan menggunakan nama sama
dengan suamiku. Selama ini kukira kami hidup dalam
128
ketenteraman yang wajar di lingkungan suami istri, yang
berusaha untuk saling mengerti. Di sana-sini terseling beberapa
pertentangan. Dua hati berjalan bersama tidak selalu memiliki
pendapat sejajar. Dan dalam hal ini, suamiku selalu memperlihat-
kan kebaikannya, pengertiannya. Selalu.
Ah, tetapi justru karena itu maka kini aku semakin membuka
mataku lebih lebar. Aku bukan orang yang berwatak selalu ingin
tahu. Tapi ketika suatu kali, secara kebetulan aku melihat secarik
kertas berisi tulisan kecil-kecil yang ditandai nama perempuan
bukan kenalan kami, aku mulai mencium bau aneh dalam ling-
kungan keluargaku.
Selama kira-kira dua bulan, suamiku sering keluar untuk
makan malam. Katanya urusan perusahaan, diundang oleh
kenalan guna membicarakan pengiriman sesuatu barang. Atau
mengantarkan tamu dari luar negeri. Sebelumnya, aku selalu
menyertainya pada kesempatan-kesempatan semacam itu.
Aku tidak bertanya. Aku menerima sebagaimana adanya.
Atau jika aku mempunyai maksud menggodanya, aku bertanya,
“Undangan untuk Tuan saja?”
Dia menjawab setengah bersungut,
“Ini urusan pabrik. Kesulitan pekerjaan tidak dibicarakan
di depan istri.”
Alangkah baiknya mereka, pikirku waktu itu. Mereka mem-
beri kehidupan yang sebaik-baiknya kepada para istri, tidak mau
menyelipkan kekhawatiran dalam hati mereka.
Tetapi semua itu hanyut dalam pemikiran yang mengerikan
ketika pada suatu siang aku mengeluarkan semua pakaian musim
dingin suamiku untuk menyikatnya sepasang demi sepasang.
“Kekasih, tempat sudah dipesan. Pasangan Peseux tidak jadi
datang. Kita hanya berdua, tête à tête. Sampai Sabtu malam.
Sabine.”
Apakah yang diperbuat oleh seorang istri yang merasa
kebahagiaannya sedang bersiap-siap meluncur lepas dari jari-
jari tangannya?
Dua hari aku mengatur dan merancang bagaimana mestinya
129
aku bertanya kepada suamiku mengenai secarik kertas tersebut.
Tapi aku harus mengetahuinya. Aku istrinya dan aku berhak
mengetahui nasibku, kalau itu memang merupakan nasib.
Dia melihat sebentar kertas itu. Keningnya berkerut. Ke-
mudian melihat ke atas seperti mengingat sesuatu dengan susah-
payah.
“Ah,” akhirnya dia berkata, suaranya puas, “ini pesan dari
istri kawan sekerja untuk suaminya.”
“Pesan? Tapi mengapa kau menyimpannya dalam saku jas?
Betul-betul aku tidak mengerti.”
“Aku meneleponnya dan membacakan surat kecil itu un-
tuknya, lalu,” suaranya berubah jengkel, dan terputus-putus,
“lalu tanpa kusadari aku memasukkannya ke dalam saku.”
Kami berpandangan. Tapi hanya sebentar. Dia mengelak,
menyambung,
“Lagi pula mengapa kau begitu ingin tahu? Kau menemukan
kertas yang sudah kumal, sebaiknya kau melemparkannya ke
dalam keranjang. Kau tidak perlu menggelarnya untuk menge-
tahui isinya.”
Ya, mengapa aku ingin melicinkannya dan membacanya?
Aku hanya ingin tahu kalau-kalau itu secarik kertas berharga
yang seharusnya tersimpan di dalam berkas map suamiku. Aku
hendak mengatakannya, tetapi sejenak kuputuskan diam. Aku
memang diam, namun menyimpan berbagai pikiran yang mem-
buruku.
Suatu malam sewaktu makan, Marie Claude berkata, “Siang
tadi aku melihat Papa.”
“Hm, hm,” sahut suamiku tampak tanpa perhatian, dan sam-
bungnya, “di mana?”
“Di kafe,” jawab anakku.
Suamiku berhenti makan, tertegak memandangnya.
“Ya, di kafe. Aku melihat Papa dari bus. Kelas kami mengun-
jungi museum siang tadi. Kulihat Papa dengan seorang wanita.
Aku memanggil-manggil, tapi Papa tak mendengar.” Segera udara
yang beku dan berat bergabung di atas meja makan. Suamiku
130
terpaku memandangi Claude, lalu melirik gugup ke arahku. Ke-
mudian meneruskan menyuap butir-butir kentang dengan
tergesa.
“Kau pasti itu Papa?” aku turut bersuara.
“Tapi Mama, aku melihat dengan jelas! Dan aku mengenal
Papa dengan baik bukan?”
Tidak tahu apa yang mesti kukatakan, aku menoleh kepada
suamiku.
“Tentunya pada waktu makan siang.”
“Tepat. Aku mengajak Nyonya Bosch, juru tulis yang kau-
kenal itu makan beberapa potong roti,” dia menjawab tanpa
melihat kepadaku.
Cerita itu kubiarkan berlalu. Selama beberapa hari dia keli-
hatan penuh sayang kepada anak-anak, membawaku ke bioskop,
dan tinggal di rumah pada hari-hari libur. Sekali dua kali dia
tidak makan di rumah. Tapi dia pulang tidak terlalu malam
dengan alasan bahwa tamunya kurang menarik, bahwa keesokan
harinya banyak pekerjaan di pabrik.
Seharusnya aku menerima keadaan itu dengan lega. Tetapi
tidak. Aku bahkan semakin berhati-hati menafsirkan perubahan
itu. Atau mungkin aku melihat ada sikap suamiku yang tidak
wajar. Terlalu sering bertanya keadaanku atau keadaan anak-
anak di saat dia pulang dari kerja.
Suatu malam Minggu dia ke luar kota, beberapa puluh kilo-
meter dari tempat tinggal kami. Katanya untuk meninjau pen-
dirian pabrik baru.
Senin sore sebelum makan aku menolong Anne menggarap
pekerjaan sekolahnya. Waktu aku berdiri hendak turun ke dapur,
Anne berkata,
“Mama, kawanku berkata, ibunya melihat Papa di Rolle
kemarin.”
Aku berhenti di pintu memandang kepadanya. Tenang ku-
coba menanggapi,
“Papa memang ke luar kota sejak Sabtu.”
“Tapi Papa berkata ke Zurich, bukan?”
131
Kami berpandangan dengan anehnya. Di mata Anne kulihat
satu bahasa yang tidak kumengerti. Satu kekhawatiran? Atau
satu perasaan kasihan mungkin. Kasihan kepadaku? Atau kepada
dirinya? Kepada adik-adiknya? Dengan umurnya yang segera
mencapai empat belas tahun, dia mulai melihat sinar yang
sebenarnya dalam kehidupan keluarga kami.
“Kalau sudah selesai mengatur buku-bukumu, datanglah
menolong mengatur meja dengan Jean-Raoul,” kataku kepa-
danya, “dan kalau Papa datang, tidak perlu memberitahukan
kepadanya tentang cerita kawanmu. Dia terlalu lelah.” Jadi, dia
pergi ke Rolle, kataku dalam hati sambil menuruni tangga. Tapi
aku tidak mau dikuasai oleh bayangan-bayangan yang menya-
kitkan hati. Aku ingin mengetahui yang sebenarnya. Dan aku
ingin melihat sendiri. Jika memang ada kebenaran itu.
Sepuluh hari kemudian, datanglah liburan musim panen ang-
gur bagi anak-anak. Seperti biasanya, mereka pergi ke desa ke
tempat bibiku. Aku mengantarkan dan ingin tinggal beberapa
hari menghirup udara dusun.
“Kalau bisa, aku ingin membawa mobil,” kataku kepada su-
amiku.
“Tentu saja, sayang. Jadi, kau bisa membawa anak-anak ber-
tamasya ke tepi danau atau ke bukit bila udara baik.”
“Kau bagaimana?”
“Ah, jangan khawatir mengenai diriku. Aku bisa pinjam mobil
dari pabrik atau ambil taksi.”
Dalam kalimat itu aku merasa ada nada kegembiraan.
Aku tinggal selama tiga hari di tempat bibiku. Pada waktu
kembali ke kota, aku mampir ke salon rambut. Sekeluar dari
sana aku menelepon suamiku di kantor. Sekretarisnya menerima
teleponku.
“Harap disambung dengan tuan Roth.”
“Nama Nyonya?”
“Nyonya Roth,” jawabku, “apakah suami saya ada, Nyonya
Bosch?”
“Selamat siang, Nyonya. Tuan baru saja keluar, katanya akan
132
mengambil sesuatu di rumah.”
Aku berpikir sebentar.
“Nyonya Roth?” suara juru tulis memanggilku.
“Ya, baik, terima kasih. Saya akan menelepon ke rumah saja.”
“Nyonya di mana sekarang?”
“Di salon rambut. Baik, Nyonya Bosch. Terima kasih.”
Aku tidak menelepon ke rumah. Aku mengemudikan mobil
tanpa tujuan.
Aku tidak ingin pulang. Hari terang. Udara yang baik akan
segera berakhir diusir angin dan hujan musim gugur. Dan selama
ada matahari, orang-orang berbondong keluar untuk menikmati
sinar yang tidak hadir setiap hari di dunia sebelah utara ini.
Perempuan-perempuan menyorong kereta bayi dan anak-
anak berjalan mengisap cuaca di luar kesempitan rumah mereka.
Trotoar penuh para pejalan kaki. Kafe-kafe juga berlimpah hingga
ke teras.
Dari perempatan ke perempatan lain, tiba-tiba aku mene-
mukan diriku di depan kantor suamiku. Aku berhenti, masuk
ke gedung, langsung menuju ke tingkat dua. Tidak ada orang.
Hanya tukang sapu yang mengatakan bahwa orang-orang telah
berangkat makan siang, bahwa aku kini semakin langsing dan
segar, bahwa anak-anak lelakinya akan segera mencapai ting-
katan yang lebih tinggi dari dirinya, dan lain-lain lagi.
Aku masuk ke dalam ruangan. Kulihat surat-surat yang ter-
timbun di atas mejanya. Tiba-tiba telepon berdering. Sebentar
aku terperanjat. Kubiarkan beberapa detik, kemudian memu-
tuskan cepat, kuambil telepon itu.
Aku lebih dulu mendengarkan.
“Halo, Raoul?”
“Perusahaan AL,” kataku berdebar.
“Oh, apakah tuan Roth sudah datang?” suaranya jelas dan
dekat.
“Dia keluar makan. Siapa yang berbicara?”
“Dia sudah pergi? Baik, terima kasih,” tanpa menunggu dia
memutuskan hubungan.
133
Suara perempuan. Lembut dan penuh belaian memanggil
nama suamiku. Ia tidak mau memberikan namanya. Dia me-
nunggu suamiku di suatu tempat.
Ah, kalau saja aku bisa menghapuskan itu dari hatiku. Tapi
mengapa? Tidakkah aku mempunyai hak untuk menentukan
kebahagiaanku? Mataku selintas terpaku pada sebuah buku
catatan kecil, tergeletak di lantai seperti barang yang tak ber-
harga. Perlahan aku mengambilnya dan mulai membukanya se-
lembar demi selembar. Buku alamat dan telepon suamiku. Aku
tidak pernah mengetahui bahwa dia menyimpan catatan sema-
cam itu selain buku telepon yang kami miliki bersama di rumah.
Seperti gerakan yang pasti aku mencari huruf S. Jalan Jen-
deral Anu Nomor 14, Sabine Roth? Dia senama dengan suami-
ku! Keluarga? Dia tak pernah mengatakan sesuatu pun mengenai
hal itu selain ibunya yang meninggal dua tahun lalu serta
kakaknya yang kini di Amerika. Aku tidak sempat membongkar
ingatanku.
Aku menuruni tangga serta menggumamkan sesuatu untuk
memuaskan hati perempuan pekerja yang sedang membersihkan
kantor.
Sore itu pertemuanku dengan suamiku amat sederhana.
Sebagai tatacara dia menciumku dan menanyakan kabar bibiku
serta anak-anak di dusun. Aku menceritakan semua yang kami
kerjakan bersama ketiga anak, panen anggur yang sudah dimulai
sehari sebelum libur, dan kegembiraan kami sebagai pendatang
dari kota. Aku menceritakan semua itu tidak sebagai basa-basi,
tetapi sebagaimana mestinya seseorang bercerita untuk menarik
kembali perhatian orang yang dicintai, dan yang sedang dira-
gukan apakah orang itu juga mencintainya.
Lima belas tahun perkawinan. Selama itu aku tidak pernah
meragukan kesetiaan laki-laki yang telah mengambil sumpah
di depan altar gereja untuk menjadi suamiku sampai akhir kehi-
dupannya. Kini aku merasa bahwa akhir kehidupan itu masih
panjang, tetapi kebahagiaanku dan kebahagiaan anak-anakku
terasa menggeser jauh sehari demi sehari.
134
Malam itu, selesai makan kami duduk di ruang tamu seperti
biasanya, mendengarkan musik sambil membaca. Sekali-sekali
aku bersiap hendak berbicara kepadanya. Tetapi aku tidak
sampai hati merobohkan ketenangan kami berdua di malam
yang sejuk itu, seperti malam-malam lain sebelum aku menyadari
perubahan tingkah laku suamiku. Dia ramah, kelihatan bahagia
oleh sesuatu yang tidak kuketahui namun kucurigai bentuk keju-
jurannya.
Keesokan pagi aku mengantarnya ke pabrik, karena aku me-
merlukan mobil untuk berbelanja ke tempat lain. Seperti biasa,
dia berterima kasih sebelum turun, dan menyambung,
“Aku tidak pulang makan siang.”
“Ada janji?” tanyaku.
“Tidak. Aku mau makan roti di kantin pabrik saja, lebih
cepat.”
“Tapi kau pulang makan malam?”
“Tentu, sayang.”
Perasaanku berkata bahwa dia sekali lagi memalingkan hati-
nya dariku. Sekali ini kecemburuanku mendesak-desak hendak
membuntutinya, melihatnya dari jarak tertentu. Mungkin akan
menyaksikan mereka berdua, dia bersama perempuan yang
begitu sering dilihat oleh anakku dan temannya.
Tapi aku tidak melakukan itu. Dengan tenang, aku berbelanja
untuk persediaan makanan. Ketika pulang, aku berkeliling jauh
ke pinggir kota, dan akhirnya berlabuh di jalan yang bersih,
hampir tidak ada yang lewat. Beberapa mobil berhenti di sudut.
Aku berhenti tidak jauh dari rumah nomor empat belas.
Sebuah gedung tua bertingkat empat. Aku masuk, melihat pa-
pan-papan nama dan kotak surat masing-masing. Tidak kute-
mukan nama yang kucari. Kulihat penjaga gedung yang sedang
membersihkan tangga.
“Nyonya bukan penghuni di ini. “suaranya menentukan,
dia mengawasiku.
“Saya mencari Nona Roth.”
Dia mengerutkan keningnya yang cokelat lebat.
135
“Tidak kenal,” katanya sambil menegakkan diri.
Tangan satu terpancang pada pinggul yang menonjol berat
ke kanan oleh kerja keras, sedang sebelahnya tergantung di
samping memegang kain kumal oleh minyak lantai.
“Oh, tunggu,” sambungnya kemudian, “wanita yang
berambut perak. Di sana, tingkat tiga di tempat Nona Batzli.
Oh, dia cuma menumpang beberapa bulan di sana. Suaminya
meninggal. Dia sedang mencari tempat yang cocok. Keduanya
sama saja, nona-nona itu. Tidak pernah pulang malam. Pagi-
pagi pukul empat atau lima baru tampak dan jalannya setengah
mabok. Kalau Anda mau ketemu dia, memang ini waktu yang
paling baik. Hanya mungkin Anda sedikit terlalu pagi. Dia ba-
ngun jam setengah dua belas.”
Perempuan yang cerewet. Dari dia aku hampir mengetahui
riwayat hidupnya! Jadi, dia berambut putih perak. Cantik?
Menarik? Ketika kutekan lonceng pintu, aku tidak mendapat
jawaban. Kuulangi menekan lagi lebih panjang. “Ya, ya, segera
datang! Oh, begini pagi mau apa dia.” Kudengar gerutu yang
mendekat. Lalu bunyi kunci. Pintu dibuka hanya cukup untuk
melongokkan kepala. “Ya?”
Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Lorong dalam rumah
tempatku berdiri itu tidak ditembus sinar dari atap. Kulihat
kepalanya terbungkus jaring rambut dan cepitan-cepitan penge-
riting.
“Saya ingin bertemu dengan Nona Roth. Sabine Roth.”
“Oh, masuk.”
Dia membukakan daun pintu selebar-lebarnya. Aku masuk,
menunggu. Dia menutup pintu dan menyilakan duduk. Ku-
dengar suara air dari kamar lain. Sambil berusaha mengatur
letak barang-barang di atas meja dan sandaran kursi, dia berkata
keras,
“Sabine! Tamu buat kau.”
“Siapa?” suara tinggi keluar dari kamar, tapi tidak bisa dipas-
tikan keramahannya.
“Seorang nyonya. Seorang nyonya yang berpakaian amat
136
rapi,” jawabnya berteriak sambil sekali lagi mengamatiku dari
rambut sampai kaki.
“Cepat! Aku mau meneruskan tidurku!”
Dia menghilang di balik salah satu pintu sambil menyeret
kaus-kaus kaki serta tas wanita yang semula terletak di kursi
panjang.
Dua menit, tiga menit aku menunggu. Ruang tempatku
duduk amat silau oleh sinar jendela yang menganga di sebelah
selatan gedung. Selintas aku melihat jelas bahwa ruangan itu
tidak sering diatur atau dibersihkan semestinya.
Tiba-tiba sepi. Air yang tercurah di ruang lain sudah berhenti
entah berapa lama. Kulihat seseorang keluar dari pintu sebelah
kiri. Dia langsung duduk di depanku sambil mengamatiku.
“Nyonya?”
“Anneli Roth,” jawabku.
Aku tidak mengulurkan tangan, ganti memandang
kepadanya tanpa rasa segan setitik pun.
“Oh,” kudengar teriakan kecil yang terluncur dari mulutnya.
Dia semakin mengamatiku. Pada wajahnya aku tidak melihat
perubahan ekspresi yang mengesankan. Aku terpaksa berpikir
bahwa perempuan itu berkepala dingin. Dia sanggup menyimpan
perasaannya dalam-dalam.
“Nyonya akan berkencan dengan suami saya siang ini,
bukan?” tanyaku.
Aku keheranan oleh kebiasaan suaraku. Dan aku memang-
gilnya “nyonya”, seorang perempuan yang belum kukenal, tapi
yang tidak lagi kelihatan berumur belasan tahun.
Dia tidak menjawab. Matanya yang tetap menikamku itu
tiba-tiba meluap oleh kebencian, dengki bercampur ketakukan.
Ya, ketakutanlah yang lebih tercermin padanya.
“Nyonya takut,” tuduhku tanpa bisa menahan kegembiraan
dalam suaraku.
“Jadi akhirnya Nyonya mengetahui,” perlahan seperti tanpa
harapan dia berkata, “ya, saya takut. Saya takut kebahagiaan
yang memeluk diri saya selama tujuh tahun ini hancur. Ya,
137
memang saya takut.”
“Selama itukah pergaulan Nyonya dengan suami saya?”
sekali lagi aku keheranan atas nada suaraku yang lancar dan
pasti, “tadinya saya kira, Nyonya masih bersaudara dengan dia.”
“Kami saudara sepupu. Tidak ada salahnya kami bercintaan.
Dia kawin dengan Anda, saya bersuami tapi kami saling men-
cintai,” nada suaranya menurun, “dia mencintai saya. Dia ber-
buat apa pun untuk saya. Buktinya Anda tak mengetahui sedikit
pun mengenai diri saya selama ini.”
Aku merasa kupingku memanas. Dadaku seperti menciut
oleh kengerian hatiku ketika mendengarnya. Suamiku mencin-
tainya. Mencintai perempuan lain.
Kuamati perempuan di depanku itu dengan rasa iri. Tubuh-
nya terselip di balik gaun kamar berkembang biru. Rambutnya
yang seperti perak lurus, terikat oleh sepotong pita dengan pan-
tasnya. Wajahnya menarik oleh pengucapannya yang tajam. Dia
lebih muda dariku. Aku mengerti mengapa suamiku mencintai-
nya. Tapi pengertian itu menambah sakit hatiku.
“Nyonya hanya memikirkan diri sendiri. Nyonya tidak me-
mikirkan anak-anak kami,” kataku.
Dia menengadahkan kepala, lalu tertawa seperti hendak
melemparkan kegeliannya pada sandaran kursi.
“Oh, Nyonya terlalu membesar-besarkan. Kami selalu ber-
hati-hati menentukan pertemuan kami.”
“Tidak akhir-akhir ini! Anak saya Claude melihat Nyonya
bersama suami saya.”
Ketawanya terhenti, matanya menentangku. Aku cepat
meneruskan,
“Kalian berdua memasabodohkan perasaan anak-anak yang
mulai remaja dan berpikir secara wajar. Mengapa kalian tidak ber-
sembunyi seperti pada waktu yang lalu hingga tak seorang pun di
antara kami menyadari kehadiran Anda di dunia ini? Kalau Nyonya
mempunyai anak-anak seperti saya, Nyonya baru akan mengetahui
perasaan saya,” nada suaraku tiba-tiba penuh emosi.
Aku menatap kedua matanya dengan kegeraman yang tak
138
bisa kutahan.
Sejenak sepi. Dia mengalihkan pandangnya. Kemudian,
sambil menarik napas dia berkata seperti kepada dirinya sendiri,
“Anak! Setelah keguguran tiga kali, tak ada harapan bagi
saya untuk memilikinya.”
Sebentar suaranya terhenti seperti dihalangi oleh keraguan
yang tiba-tiba, lalu sambungnya,
“Sejak kecil saya mengaguminya. Ketika mendengar dia
kawin, saya amat kecewa. Sekeluar dari sekolah, saya bekerja di
tempat sejauh mungkin. Kemudian saya bertemu dengan Roger,
suami saya. Lalu kami berangkat ke Italia. Pada suatu liburan
saya pulang ke Swiss, dan secara kebetulan bertemu dengan
Raoul.”
Sekali lagi dia berhenti. Matanya menghadapku dengan
pandang yang bermimpi.
“Sejak itu saya menemukan kembali cinta yang lama ter-
pendam. Dan sejak itu pula saya mempergunakan segala waktu
dan kesempatan berlibur untuk menemuinya. Dia menceritakan
keadaan Anda dan anak-anak sebagaimana mestinya. Tapi saya
tidak peduli. Saya hanya mempedulikan kami berdua, bahagia
bersama-sama.”
Mulutnya yang pucat tipis gemetar oleh kepadatan pera-
saannya.
Jadi, selama itulah mereka telah bergaul bersama. Jadi, selama
itulah suamiku menipu aku dan anak-anakku, dengan alasan
kerja dan perjalanan kelilingnya pada musim panas dan keluar
kota pada hari libur Paskah.
Laki-laki yang malang. Anak-anak yang malang. Dan seka-
rang akhirnya aku yang malang. Selama ini kami hidup dalam
suatu panggung sandiwara yang diatur oleh dua kekasih.
Berbagai perasaan bergumul dalam diriku. Dendam, keben-
cian, dan terutama kesakitan yang tak terkirakan karena selama
ini aku dilecehkan oleh laki-laki yang kuberi seluruh perhatianku.
Aku selalu berusaha menyediakan makanan yang dia sukai. Aku
mengatur rumah bertingkat dua dengan tenaga sendiri setiap
139
hari agar di saat pulang dari kerja, mata suami yang lelah dapat
melihat kerapian yang segar.
Ataukah aku tidak bisa memuaskan dia dalam hal yang lain?
Rambutku cokelat tua, bukan perak berkilat seperti perem-
puan itu. Wajahku lebih condong pada melankoli dibandingkan
dengan pengucapan wajah wanita itu. Kalaupun dia hendak meng-
isap tubuh perempuan lain, aku tidak hendak melepaskan hati-
nya. Dia milikku. Hatinya termasuk milikku yang disahkan gereja.
Aku tidak mempedulikan kenikmatan badan yang dia cari.
Tapi kini kuketahui, dia telah memberikan hatinya kepada
perempuan itu. Dia sepupunya. Kini aku melihat jelas kehidupan
yang didasari oleh segala alasan palsu.
Aku bangkit akan menuju pintu. Kurasa tidak perlu mem-
perpanjang kehadiran di tempat yang tak menghendaki diriku.
“Sekarang apa yang akan Anda perbuat?”
Pertanyaan itu mengejutkanku. Aku sendiri belum memikir-
kannya di saat itu. Dia telah mengingatkan satu tugas penting.
“Nyonya akan mengatakan semua ini kepada Raoul dan ke-
mudian minta cerai?”
Aku menatapnya. Sebentar aku berpikir.
“Itu nasihat Nyonya?” tanyaku.
“Eh, itu hal yang biasa,” katanya setengah terputus-putus,
“seorang istri yang mengetahui suaminya tidak mencintainya,
akhirnya tentu meminta cerai.”
Jalan keluar yang gampang. Keputusan yang biasa!
“Dan sesudah itu?” aku tetap berdiri.
“Eh, sesudah itu tentu saja Nyonya bebas, Raoul bebas. Dan
masing-masing bisa berbuat sekehendak hatinya.”
Aku tiba-tiba melihat sinar yang memancar di sudut hatiku.
“Nyonya juga bebas sekarang,” kataku.
Agak ragu-ragu dia berkata,
“Suami saya meninggal empat bulan yang lalu.”
“Kalau Raoul bebas, dia akan mengawini Anda?”
“Kami tidak pernah berpikir sampai perkawinan. Tetapi kini
setelah suami saya meninggal, dan kalau Nyonya bercerai ....”
140
“Perempuan yang malang,” kataku, suaraku pasti memutus-
kan bicaranya.
Dia tertegak, mengerutkan kening.
“Nyonya memikirkannya terlalu baik, terlalu lurus,” aku ter-
senyum pahit, “saya tidak akan minta cerai. Kalaupun Raoul
yang memintanya, saya mempunyai hak menolaknya karena
usia anak-anak. Dan kami masing-masing akan meneruskan ke-
hidupan ini. Dia tidak akan mengawini Nyonya.”
Aku cepat membuka pintu, meninggalkan rumah yang penuh
debu itu.
*
Raoul tidak akan mengawininya, hatiku berkata sekali lagi.
Aku tidak pulang ke rumah, tapi harus terus menjalankan
mobilku dengan pikiran pasti dan terang. Aku ingin melihat
suatu tempat yang lapang, untuk menenangkan pergolakan yang
mendidih di dalam diriku.
Di tepi danau cerah hijau ini aku menemukan kedamaian.
Nyaris aku tidak bisa mempercayai kejadian siang itu. Seolah-
olah bangun di tengah malam oleh mimpi yang menakutkan.
Lonceng gereja kecil di seberang jalan berdentang mengi-
rimkan lagu lembut ke tepi di mana aku merenung.
Kulihat jam tanganku. Tiba-tiba aku merasa lapar. Aku telah
melewati lebih dari lima jam tanpa sepotong roti pun.
Lalu aku mulai memanaskan mesin, hendak mencari rumah
makan terdekat.
Sesudah itu, aku ingin pergi ke bioskop, kemudian kembali
ke dusun menjumpai anak-anakku. Aku ingin merengkuh kem-
bali kebahagiaanku tanpa suamiku, tanpa seorang pun yang tidak
memperhatikan diriku.
Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun, aku mema-
sabodohkan apa yang akan dimakan malam itu oleh suamiku.
Versailles, 1962
141
Biografi Singkat
Nh. Dini dilahirkan di Semarang, 29 Februari 1936. Berpendidikan
SMA Bagian Sastra (1956), Kursus Pramugari Darat GIA Jakarta
(1956), dan Kursus B-I Jurusan Sejarah (1957). Tahun 1957-1960
ia bekerja di GIA Kemayoran, Jakarta. Setelah menikah dengan
seorang diplomat Prancis, berturut-turut ia bermukim di Jepang,
Prancis, dan Amerika Serikat. Sejak Tahun 1980, ia kembali ke In-
donesia, dan kini menetap di Semarang.
Ia mulai menulis sejak tahun 1951. Karya-karyanya antara
lain: Dua Dunia (1956), Hati yang Damai (1961), Pada Sebuah Kapal
(1973), La Barka (1975), Keberangkatan (1977), Namaku Hiroko
(1977), Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang
Rumah (1979), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979), Sekayu (1981),
Amir Hamzah Pangeran dari Seberang (1981), Kuncup Bersen (1982),
Tuileries (1982), Segi dan Garis (1983), Orang-Orang Tran (1985),
Pertemuan Dua Hati (1986), Jalan Bandungan (1989), Tirai Menurun
(1993), Panggilan Dharma Seorang Bhikku (1997), Tanah Baru, Tanah
Air Kedua (1997), Kemayoran (2000), Jepun Negerinya Hiroko (2002),
Monumen (2002), Istri Konsul (2003), dan Dari Parangakik ke Kam-
puchea (2003). Terjemahannya: Sampar (karya Albert Camus, 1985).
Ia pernah menjadi pemenang Lomba Penulisan Naskah Skenario
untuk Radio se-Jawa Tengah (1955) dan mendapat hadiah pertama
untuk Lomba penulisan Cerita Pendek dalam bahasa Prancis se-
Indonesia untuk cerpennya “Sarang Ikan di Teluk Jakarta” (1988).
Ia pun mendapat Hadiah Seni dari Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan RI (1989) dan memperoleh Piagam Penghargaan Upa-
pradana dari Pemda Tingkat I Jawa Tengah (1991).
Studi mengenai Nh. Dini dan karyanya: Sariyati Nadjamuddin-
Tome, Isu Wanita dalam La Barka (1997) dan Th. Sri Rahayu Prihatmi,
Nh. Dini: Karya dan Dunianya (1999).
142
143
Jandd Muda
Dalam kumpulan cerita pendek ini, Nh. Dini lebih dalam
memasuki dunia batin perempuan. Di dalam kehidupan
m ereka ada cinta, kepasrahan, pem berontakan,
pengkhianatan, pertarungan dan persaingan yang getir. Selain
itu ada kisah tentang orang-oang yang hidup dalam
kesempitan rezeki. Satu keluarga yang bergantung pada usaha
pertunjukan topeng monyet keliling. Ada juga keluarga kecil
petani tam bak yang menaruh harapan pada panen ikan yang
sebentar lagi, namun sekonyong-konyong ham s rela
menyaksikan impian mereka yang sederhana hancur lebur
oleh hujan badai satu malam.
PU STA K A JA V A
Jl. Gumuruh No. 51 Bandung 40275
Telp 022 7321911 Fax : 022 7330595
e-mail: [email protected]