Trezadigjaya dan Anggi Afriansyah 2022 KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI BADAN STANDAR, KURIKULUM, DAN ASESMEN PENDIDIKAN PUSAT PERBUKUAN Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan SMP/MTs Kelas IX
Hak Cipta pada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Dilindungi Undang-Undang. Disclaimer: Buku ini disiapkan oleh Pemerintah dalam rangka pemenuhan kebutuhan buku pendidikan yang bermutu, murah, dan merata sesuai dengan amanat dalam UU No. 3 Tahun 2017. Buku ini disusun dan ditelaah oleh berbagai pihak di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Buku ini merupakan dokumen hidup yang senantiasa diperbaiki, diperbarui, dan dimutakhirkan sesuai dengan dinamika kebutuhan dan perubahan zaman. Masukan dari berbagai kalangan yang dialamatkan kepada penulis atau melalui alamat surel [email protected] diharapkan dapat meningkatkan kualitas buku ini. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX Penulis Trezadigjaya Anggi Afriansyah Penelaah Sapriya Adi Darma Indra Penyelia/Penyelaras Supriyatno E. Oos M. Anwas Arifah Dinda Lestari Futri F. Wijayanti Ilustrator Yuntarto Dimas Nurcahyo Editor Yocta Nur Rahman Desainer Imron Mustakim Penerbit Pusat Perbukuan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Kompleks Kemdikbudristek, Jalan RS. Fatmawati, Cipete, Jakarta Selatan https://buku.kemdikbud.go.id Cetakan pertama, 2022 ISBN 978-602-244-312-4 (no.jil.lengkap) ISBN 978-602-244-446-6 (jil.3) Isi buku ini menggunakan huruf Noto Serif 10/14 pt, SIL. xii, 156 hlm.: 17,6 × 25 cm.
Kata Pengantar Pusat Perbukuan; Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan; Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi memiliki tugas dan fungsi mengembangkan buku pendidikan pada satuan Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah. Buku yang dikembangkan saat ini mengacu pada Kurikulum Merdeka, dimana kurikulum ini memberikan keleluasaan bagi satuan/program pendidikan dalam mengembangkan potensi dan karakteristik yang dimiliki oleh peserta didik. Pemerintah dalam hal ini Pusat Perbukuan mendukung implementasi Kurikulum Merdeka di satuan pendidikan Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah dengan mengembangkan Buku Teks Utama. Buku teks utama merupakan salah satu sumber belajar utama untuk digunakan pada satuan pendidikan. Adapun acuan penyusunan buku teks utama adalah Capaian Pembelajaran PAUD, SD, SMP, SMA, SDLB, SMPLB, dan SMALB pada Program Sekolah Penggerak yang ditetapkan melalui Keputusan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Nomor 028/H/KU/2021 Tanggal 9 Juli 2021. Sajian buku dirancang dalam bentuk berbagai aktivitas pembelajaran untuk mencapai kompetensi dalam Capaian Pembelajaran tersebut. Buku ini digunakan pada satuan pendidikan pelaksana implementasi Kurikulum Merdeka. Sebagai dokumen hidup, buku ini tentu dapat diperbaiki dan disesuaikan dengan kebutuhan serta perkembangan keilmuan dan teknologi. Oleh karena itu, saran dan masukan dari para guru, peserta didik, orang tua, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk pengembangan buku ini di masa yang akan datang. Pada kesempatan ini, Pusat Perbukuan menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan buku ini, mulai dari penulis, penelaah, editor, ilustrator, desainer, dan kontributor terkait lainnya. Semoga buku ini dapat bermanfaat khususnya bagi peserta didik dan guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Jakarta, Juni 2022 Kepala Pusat, Supriyatno NIP 19680405 198812 1 001 iii
Tidak ada hal yang lebih pantas kami haturkan pada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, selain rasa syukur sedalam-dalamnya. Atas perkenaanNya-lah kami dapat menyelesaikan buku teks Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) untuk peserta didik Sekolah Menengah Pertama (SMP) Kelas IX ini dengan baik. Tantangan untuk menuntaskan buku ini tidak mudah. Perkembangan pesat teknologi informasi sejalan dengan gelombang Revolusi Industri 4.0 telah mengubah secara mendasar kehidupan sosial, termasuk di lingkungan dunia pendidikan. Peserta didik secara umum semakin tidak ingin diarahkan, sedangkan minat literasinya terhadap narasi panjang cenderung menurun. Publik termasuk peserta didik cenderung semakin menjadikan media sosial sebagai sumber informasi utamanya. Keadaan tersebut dapat membuat peran buku tersingkirkan apabila buku tidak dikembangkan secara baik. Pada saat yang sama, derasnya budaya global juga dapat menggoyahkan jiwa kebangsaan di masyarakat tanpa terkecuali pada diri para siswa. Dengan tantangan tersebut maka perlu hadir buku teks PPKn dengan pendekatan yang berbeda dengan sebelumnya. Kalimat perlu disusun secara lebih ringkas serta bernuansa kasual, dan dilengkapi ilustrasi serta tautan yang relevan. Hal tersebut sejalan pula dengan gerakan Merdeka Belajar yang diluncurkan dalam membantu para peserta didik bersiap menghadapi tantangan global Abad ke-21. Terima kasih kami ucapkan kepada Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia yang telah mempercayakan amanah menulis buku ini pada kami. Terima kasih juga kami ucapkan kepada para penelaah, Prof. Dr. Sapriya M.Pd dan Adi Dharma Indra M.Pd, serta tim pengolah buku dari Rumah Buku. Dukungan penelaah serta tim pengolah yang membuat buku ini menjadi penting dan asyik untuk dipelajari oleh peserta didik kelas IX SMP/MTs. Selamat belajar! Jakarta, Oktober 2021 Penulis Prakata iv
Kata Pengantar ......................................................................................... iii Prakata ..................................................................................................... iv Daftar Isi ................................................................................................... v Daftar Gambar .......................................................................................... viii Petunjuk Penggunaan Buku .................................................................... x Bab I Dinamika Penerapan Pancasila ................................................ 1 A. Penerapan Pancasila di Kepemimpinan Sukarno .................... 4 B. Penerapan Pancasila di Kepemimpinan Suharto ...................... 11 C. Penerapan Pancasila di Masa Reformasi .................................... 15 D. Tantangan Penerapan Pancasila di Masa Depan ...................... 19 Ringkasan Materi ....................................................................................................... 24 Refleksi ......................................................................................................................... 25 Tautan Pengayaan ..................................................................................................... 25 Uji Kompetensi ........................................................................................................... 26 Bab II Peraturan Perundang-Undangan Nasional .............................. 27 A. Hierarki Peraturan Perundang-Undangan Nasional ............... 30 B. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat .......... 33 C. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang .................................................................................. 36 D. Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden ........................ 39 E. Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota .................................................................................. 41 Ringkasan Materi ....................................................................................................... 44 Refleksi ......................................................................................................................... 45 Tautan Pengayaan ..................................................................................................... 45 Uji Kompetensi ........................................................................................................... 46 Daftar Isi v
Bab III Peran Indonesia dalam Tatanan Dunia .................................... 47 A. Peran Indonesia dalam Kerja Sama Bilateral ............................ 50 B. Peran Indonesia dalam Kerja Sama Regional ............................ 56 C. Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral ...................... 60 Ringkasan Materi ....................................................................................................... 68 Refleksi ......................................................................................................................... 69 Tautan Pengayaan ..................................................................................................... 69 Uji Kompetensi ........................................................................................................... 70 Bab IV Harmoni dan Solidaritas Global ............................................... 71 A. Harmoni dan Solidaritas Global bagi Bangsa Indonesia ......... 74 B. Solidaritas Global Indonesia dalam Isu Global .......................... 79 C. Tantangan dalam Menjaga Harmoni dan Solidaritas Global bagi Bangsa Indonesia ......................................................... 88 Ringkasan Materi ....................................................................................................... 93 Refleksi ......................................................................................................................... 93 Tautan Pengayaan ..................................................................................................... 94 Uji Kompetensi ........................................................................................................... 94 Bab V Tenggang Rasa, Toleransi, dan Kolaborasi ............................... 95 A. Makna Tenggang Rasa, Toleransi, dan Kolaborasi ................... 99 B. Perwujudan Tenggang Rasa, Toleransi, dan Kolaborasi di Tengah Masyarakat ....................................................................... 102 C. Tantangan Penerapan Tenggang Rasa, Toleransi, dan Kolaborasi di Tengah Masyarakat ................................................. 107 Ringkasan Materi ....................................................................................................... 113 Refleksi ......................................................................................................................... 114 Tautan Pengayaan ...................................................................................................... 114 Uji Kompetensi ........................................................................................................... 114 vi
Bab VI Komitmen Kebangsaan dalam Kebinekaan Global ................. 115 A. Komitmen Kebangsaan Indonesia ................................................. 119 B. Komitmen terhadap Kebinekaan Global ..................................... 126 C. Tantangan Kebinekaan Global terhadap Kebangsaan Indonesia .............................................................................................. 133 Ringkasan Materi ....................................................................................................... 137 Refleksi ......................................................................................................................... 138 Tautan Pengayaan ..................................................................................................... 138 Uji Kompetensi ........................................................................................................... 139 Glosarium ................................................................................................. 140 Daftar Pustaka........................................................................................... 142 Daftar Sumber Gambar ........................................................................... 147 Profil Pelaku Perbukuan ......................................................................... 151 vii
Gambar 1.1 Syafrudin Prawiranegara.............................................................. 7 Gambar 1.2 Kampanye Pemilu 1955 ................................................................. 9 Gambar 1.3 Repelita Pertanian, Pendidikan, dan Kesehatan..................... 13 Gambar 1.4 Sumur Lubang Buaya..................................................................... 14 Gambar 1.5 Lima Presiden setelah Reformasi................................................ 15 Gambar 1.6 Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi .................................. 17 Gambar 1.7 Moda Raya Terpadu........................................................................ 19 Gambar 2.1 Pohon Sistem Hukum..................................................................... 33 Gambar 2.2 Gedung MPR Senayan..................................................................... 35 Gambar 2.3 Proses Pembentukan RUU menjadi UU ..................................... 37 Gambar 2.4 Petugas di Rumah Sakit.................................................................. 39 Gambar 2.5 Aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar ............................... 41 Gambar 3.1 Negara dengan Jumlah Kerja Sama terbanyak ....................... 54 Gambar 3.2 Perkembangan Perdagangan Luar Negeri ............................... 55 Gambar 3.3 Presiden Joko Widodo .................................................................... 63 Gambar 3.4 Kerja Sama Multilateral Indonesia ............................................. 66 Gambar 3.5 Manfaat Kerja Sama Multilateral................................................ 67 Gambar 4.1 Gotong Royong di tengah Covid-19 ............................................. 76 Gambar 4.2 Pemimpin KTT Non Blok ............................................................... 77 Gambar 4.3 Faktor Perubahan Iklim................................................................. 80 Gambar 4.4 Presiden Joko Widodo saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi COP26...................................................................... 81 Daftar Gambar viii
Gambar 4.5 Pernyataan terhadap Terorisme ................................................. 83 Gambar 4.6 Gotong Royong perkuat Ketahanan Keluarga ......................... 84 Gambar 4.7 Menteri Luar Negeri RI.................................................................. 85 Gambar 4.8 Presiden Joko Widodo dan Kontingen Pasukan Perdamaian PBB .............................................................................. 87 Gambar 4.9 Pelajar gunakan Gawai.................................................................. 88 Gambar 4.10 Peta Areal Terdampak Longsor ................................................... 91 Gambar 5.1 Contoh Baik Toleransi .................................................................... 99 Gambar 5.2 Foto Suporter Sepak Bola .............................................................. 108 Gambar 5.3 Penolakan terhadap Perlakuan Diskriminatif......................... 111 Gambar 5.4 Teror Bom Bunuh Diri.................................................................... 119 Gambar 6.1 Budaya Menyapa di Setiap Negara ............................................. 121 Gambar 6.2 Rumah Pengasingan Sukarno-Hatta di Rengasdengklok...... 122 Gambar 6.3 Antrian Beli Produk Sepatu Lokal............................................... 123 Gambar 6.4 Jend. Sudirman, Pangeran Diponegoro, dan Kapiten Pattimura ........................................................................................... 123 Gambar 6.5 Tradisi Gotong Royong Ngayah di Bali ...................................... 125 Gambar 6.6 Joko Widodo Pidato di Sidang Umum PBB ............................... 128 Gambar 6.7 Hatta-Syahrir .................................................................................... 129 Gambar 6.8 Atlet Indonesia Memenangi Turnanem Esport....................... 130 Gambar 6.9 Hindari Hoaks................................................................................... 131 Gambar 6.10 Perkembangan Revolusi Industri 1–4 ........................................ 134 Gambar 6.11 Batik Indonesia sudah mendunia ............................................... 135 ix
Sebelum kamu menggunakan buku ini, kamu perlu membaca bagian petunjuk ini untuk mempermudah kamu dalam memahami isi dari buku ini. Selamat belajar! Pembatas Antar Bab, akan tertera materi yang akan dipelajari dan dilengkapi dengan tujuan pembelajaran. Peta konsep, digunakan untuk memudahkan dalam membaca keterkaitan antara materi yang ada dalam bab. Di dalamnya dimuat konsep-konsep yang menguaikan materi yang akan dipelajari. Materi, berisi penjelasan mengenai materi-materi pokok yang disampaikan dalam bab untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dinamika Penerapan Pancasila Tujuan Pembelajaran: Bab I: Dinamika Penerapan Pancasila 1 9 Peta Konsep 2 Penerapan Pancasila di Kepemimpinan Suharto Penerapan Pancasila di Masa Reformasi Tantangan Penerapan Pancasila di masa depan Penerapan Pancasila di Kepemimpinan Sukarno Dinamika Penerapan Pancasila Petunjuk Penggunaan Buku x
Cerita inspiratif, berisi kisah-kisah inspiratif yang dapat digunakan untuk merangsang keingintahuan peserta didik melalui praktik baik kewarganegaraan yang dapat dicontoh. Desa Wisata Maju dengan Peraturan Daerah (Perda) 29 Siswa aktif, berisi aktivitas yang dapat dilakukan oleh peserta didik untuk berpikir kritis, mandiri, dan berinovasi melalui diskusi atau praktik kewarganegaraan lainnya. Ringkasan Materi, digunakan untuk mengetahui secara utuh ringkasan mengenai materi yang sudah disampaikan. Tautan pengayaan, digunakan sebagai materi pengayaan yang disertai link qr code. Siswa Aktif B. UUD NRI Tahun 1945 dan Ketetapan MPR 33 Tautan Pengayaan Salah satu tujuan dari Negara Indonesia adalah mewujudkan perdamaian dunia. Maka dari itu peranan Indonesia menjadi penting dalam pergaulan internasional. Hal tersebut dapat dimanfaatkan dengan cara terlibat aktif dalam menjaga perdamaian dunia, seperti mengirimkan pasukan perdamaian untuk Negara berkonflik. https://www.youtube.com/ watch?v=VjHjclXm7Sk https://www.youtube.com/ watch?v=NdDoWFYOrfM Uji Kompetensi 1. Dalam beberapa kesempatan, Negara Indonesia masih menghadapi permasalahan terorisme meskipun dalam skala kecil. Di sisi lain, negara–negara maju juga masih memperlihatkan adanya diskriminasi terhadap ras atau etnis tertentu yang kemudian menjadi konflik sosial. Bagaimana menurut kalian Indonesia harus bersikap? Lebih mendahulukan permasalahan nasional atau permasalahan global? 2. Mengenai hubungan yang dijalin antar negara, termasuk Indonesia khususnya dalam membangun solidaritas global. Menurut kalian bentuk kerja sama seperti apa yang seharusnya dilakukan untuk menciptakan solidaritas global saat ini? 3. Dalam menyiapkan kehidupan global untuk menjalin harmoni serta solidaritas antar negara, dibutuhkan komitmen oleh masyarakat untuk mendukung hal tersebut. Apa yang dapat masyarakat lakukan dalam memupuk rasa harmoni serta membangun solidaritas secara global di daerahnya masingmasing? Sehingga Indonesia akan dikenal sebagai negara yang mendukung kehidupan yang harmoni serta mengedepankan solidaritas. Jelaskan pandangan kalian! 94 Ringkasan Materi Kerja sama bilateral merupakan kerja sama yang dilakukan oleh dua negara untuk kepentingan masing-masing negara. Kerja sama multilateral dimanfaatkan oleh Indonesia untuk mewujudkan tujuan negara Indonesia, seperti mewujudkan perdamaian dunia dengan cara bergabung dengan PBB. Kerja sama bilateral memiliki peran sangat penting diawal kemerdekana Indonesia, yaitu sebagai sarana mendapatkan pengakuan negara lain. Kerja sama regional seperti ASEAN dimanfaatkan oleh Indonesia untuk meningkatkan kerja sama diantara negara Asia Tenggara. 1 Siswa Aktif 2 3 4 68 xi
Uji kompetensi, digunakan sebagai bentuk penilaian terhadap capaian kompetensi yang telah dituju baik ranah sikap spiritual, sosial, ranah keterampilan, maupun pengetahuan. Uji Kompetensi 1. Dalam perjalanannya, Pancasila mengalami berbagai dinamika. Terdapat beberapa peristiwa yang bertujuan untuk mengganti Pancasila sebagai dasar negara. Menurut kalian, mengapa rakyat Indonesia bersatu padu dalam mempertahankan Pancasila sebagai dasar Negara? Jelaskan pendapatmu. 2. Pancasila merupakan salah satu alat untuk mewujudkan cita–cita, serta tujuan Negara Indonesia. Namun, dalam pelaksanaannya terdapat cara–cara yang dianggap tidak tepat, hingga indoktrinasi. Menurut kalian, upaya apa yang harus dilakukan agar Pancasila dapat dijalankan atas dasar kesadaran, bukan berdasarkan paksaan atau tekanan? 3. Keadaan zaman yang terus berubah, menjadikan tantangan tersendiri bagi penerapan Pancasila ditengah masyarakat. Bagaimana upaya yang harus dilakukan oleh masyarakat untuk terus memelihara Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa, dan bernegara. 26 Refleksi, digunakan sebagai bentuk penilaian individu terkait materi yang sudah disampaikan. Refleksi Setelah mempelajari dan memaknai Bab 2, tentang peraturan perundang–undangan nasional, apa yang kalian dapatkan hikmah dari materi tersebut? Bagaimana jika dalam kehidupan kalian sehari– hari tidak terdapat peraturan? Berdasarkan hal tersebut, tentu kalian akan berpikir bahwa peraturan menjadi hal penting dalam hidup kalian, karena akan sangat berpengaruh terhadap kepentingan hidup kalian masing–masing. Bagaimana pelaksanaan berbagai peraturan perundang–undangan yang berada di wilayah kalian tinggal? Berbagai aturan tersebut diciptakan oleh karena Indonesia merupakan Negara hukum. Dengan demikian tentu Negara harus menciptakan rasa aman dan nyaman, serta ketertiban ditengah masyarakat. PP merupakan aturan untuk menjalankan perintah UU. Setiap Perda dibentuk oleh DPRD di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota, namun tetap harus mendapatkan persetujuan bersama Gubernur di tingkat Provinsi, Bupati di tingkat Kabupaten, atau Wali Kota di tingkat Kota. Perpres dikeluarkan oleh Presiden untuk melaksanakan PP yang ada. Perda merupakan aturan yang berada di wilayah Provinsi maupun Kabupaten/Kota Tautan Pengayaan UUD NRI Tahun 1945 merupakan hukum dasar yang ada di Indonesia. Di dalamnya terdapat aturan yang mengatur mengenai hubungan 7 8 9 10 45 xii
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2022 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX Penulis : Trezadigjaya dan Anggi Afriansyah ISBN : 978-602-244-446-6 (jil.3) Tujuan Pembelajaran: 1. Peserta didik mampu memahami dinamika yang terjadi dalam penerapan Pancasila di masa kepemimpinan Presiden Sukarno, Presiden Suharto, dan di masa Reformasi. 2. Peserta didik mampu menganalisis tantangan penerapan Pancasila di masa depan. 3. Peserta didik berpartisipasi dalam penerapan Pancasila di kehidupan sehari-hari. Bab I Dinamika Penerapan Pancasila
Peta Konsep Penerapan Pancasila di Kepemimpinan Suharto Penerapan Pancasila di Masa Reformasi Tantangan Penerapan Pancasila di masa depan Penerapan Pancasila di Kepemimpinan Sukarno Dinamika Penerapan Pancasila 2 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX
Sumber gambar: kompas/regional.kompas.com (2020) Reformasi 1998 Hari itu, masyarakat menyimak televisi yang melakukan siaran nasional secara serempak. Dalam siaran tersebut, Presiden Suharto berpidato menyatakan sikapnya, “saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998”. Sontak masyarakat yang mendengar pidato tersebut bersuka cita, terutama para demonstran yang sudah beberapa hari menduduki Gedung DPR/MPR di Senayan, Jakarta. Mereka menuntut agar Presiden Suharto mengundurkan diri setelah terjadi kerumunan massal di Jakarta. Awalnya adalah krisis keuangan atau Krisis Moneter di beberapa negara di Asia termasuk Indonesia. Para pebisnis dunia seperti George Soros tiba-tiba melakukan jual beli terhadap beberapa mata uang termasuk rupiah dalam jumlah besar hingga nilai tukar rupiah jatuh. Banyak bank mengalami kesulitan keuangan, dan masyarakat mendadak jatuh miskin. Mahasiswa yang berdemontrasi di kampus Trisakti Jakarta malah ditembak hingga empat orang tewas. Lalu terjadilah kerusuhan dan penjarahan toko-toko di Jakarta, dan diikuti di beberapa kota lain di Indonesia. Dimotori oleh mahasiswa, masyarakat menuntut pemerintah untuk mundur. Sampai akhirnya Presiden Suharto pun mundur, dan peristiwa itu disebut sebagai Reformasi 1998 sebagai titik awal perubahan tatanan politik di Indonesia. Bab I Dinamika Penerapan Pancasila 3
A. Penerapan Pancasila di Kepemimpinan Sukarno Kalian tahu bahwa setelah Pancasila disepakati sebagai pondasi negara Republik Indonesia, maka tiba saatnya Pancasila dilaksanakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Penerapan tersebut dari masa ke masa penuh dengan dinamika, seperti tercermin pada Peristiwa Reformasi 1998 tersebut di atas. Pemerintahan Presiden Sukarno (1945–1966) menjadi pemerintahan pertama yang harus menerapkan Pancasila dengan berbagai tantangannya. Tantangan utama Indonesia setelah merdeka adalah menyatukan seluruh masyarakat Indonesia yang beragam dan menghadapi ancaman-ancaman terhadap kemerdekaan. Tantangan inilah yang harus dihadapi pemerintahan Presiden Sukarno. Dengan tantangan tersebut maka Presiden Sukarno mengingatkan rakyat untuk tetap berjuang, meskipun Indonesia sudah merdeka. Dalam pidato pertamanya Presiden Sukarno menyebut agar rakyat, “Tetaplah tenang, tinggallah tenteram, peganglah teguh-teguh disiplin, siapsedialah untuk berjuang guna kemerdekaan negeri kita dalam waktu yang maha genting ini!” Dengan pidatonya tersebut proklamator ini menyiapkan rakyat untuk menghadapi tantangan yang tidak ringan dalam menerapkan Pancasila. Dinamika penerapan Pancasila semasa kepemimpinan Presiden Sukarno mencakup perbedaan pendapat sesama pemimpin bangsa serta agresi militer yang dilakukan Belanda yang belum rela Indonesia menjadi negara yang merdeka. Selain itu, di masa awal kemerdekan juga banyak terjadi pemberontakan terhadap pemerintah pusat. Cara penerapan demokrasi juga menjadi dinamika sendiri dalam era pemerintahan Presiden Sukarno. 1. Dwi Tunggal Sukarno-Hatta Siapa yang tidak mengenal nama Sukarno dan Hatta? Ya, kalian pasti mengetahui nama yang tidak asing tersebut. Banyak nama jalan-jalan di banyak kota yang menggunakan nama tersebut, mungkin juga ada di daerah kalian nama jalan Sukarno Hatta? Bahkan hingga bandara internasional terbesar di Indonesia juga menggunakan nama tersebut. Sukarno dan Hatta lah yang disebut dengan istilah ‘Dwi Tunggal’. Sukarno dan Hatta merupakan tokoh yang memiliki peran besar dalam perjuangan bangsa Indonesia dalam melepaskan diri dari penjajahan selama ini. Keduanya pernah sama-sama diasingkan oleh pemerintah penjajah Hindia4 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX
Belanda. Bung Karno pernah dibuang ke Ende, Flores–Nusa Tenggara Timur. Sedangkan Bung Hatta pernah dibuang ke Banda Neira, Maluku. Dengan segala kelebihan masing-masing, Sukarno dan Hatta dikenal banyak pihak sebagai pasangan pemimpin yang serasi dan saling melengkapi. Dwi Tunggal ini bersama-sama saat menyusun rumusan sila Pancasila di Panitia Sembilan. Mereka pula yang mewakili bangsa Indonesia dalam pernyataan teks proklamasi, seperti yang tertera pada naskah teks proklamasi “atas nama bangsa Indonesia, Sukarno-Hatta”. Ketokohan keduanya diakui para pemimpin bangsa saat itu. Sukarno adalah seorang insinyur dengan jiwa semangat nasionalis yang kuat serta dekat dengan rakyat, sedangkan Hatta adalah ahli ekonomi yang sangat mementingkan nilai-nilai demokrasi hasil pendidikannya di Eropa. Keduanya secara aklamasi diangkat sebagai Presiden dan Wakil Presiden berdasarkan keputusan sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Meskipun dinilai banyak pihak sebagai pasangan pemimpin yang serasi, namun, ternyata Sukarno dan Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden memiliki cara pandang berbeda dalam memimpin Indonesia sebagai negara. Perbedaan pendapat sering terjadi antara keduanya. Puncaknya adalah saat Hatta mengeluarkan Maklumat Wakil Presiden Nomor X tanggal 3 November Tahun 1945. Maklumat tersebut menekankan bahwa penerapan demokrasi berdasarkan Pancasila di Indonesia adalah perlu menggunakan banyak partai atau multipartai. Hal itu dipandang akan membuat kehidupan bernegara lebih demokratis. Padahal saat itu Presiden Sukarno berpendapat bahwa Indonesia perlu satu partai saja atau partai tunggal. Maklumat Wakil Presiden jelas bertentangan dengan pandangan Presiden. Sistem multi partai akhirnya terwujud, hingga terlaksana Pemilihan Umum (Pemilu) 1955. Partai Nasionalis Indonesia (PNI) yang dipimpin Sukarno memenangkan pemilu dengan 8,4 juta suara, disusul Masyumi dengan 7,9 juta suara, Nahdlatul Ulama (NU) dengan 6,9 juta suara. Setelah Pemilu 1955, situasi politik malah menjadi semakin tidak stabil, hingga Hatta memilih untuk mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Tanggal 1 Desember 1956, Hatta secara resmi bukan lagi menjabat sebagai Wakil Presiden. Dengan mundurnya Hatta dari jabatannya, mengakhiri pula kisah Dwi Tunggal yang memimpin negeri ini, dan Sukarno memiliki tanggungjawab penuh atas penerapan Pancasila di Indonesia. Meskipun demikian, hubungan pribadi antar kedua pemimpin bangsa itu tetap berjalan dengan baik. Bab I Dinamika Penerapan Pancasila 5
2. Agresi Militer Belanda Apakah kalian tahu bahwa Belanda kembali datang ke Indonesia untuk menguasai wilayah Indonesia? Ternyata, proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 tidak langsung membuat Indonesia lepas dari tekanan dari pihak luar. Khususnya dari tekanan Belanda yang pada saat itu masih tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Belanda berusaha menguasai kembali Indonesia secara de facto. Mengapa demikian? Karena Belanda menganggap Indonesia secara de jure atau aturan hukum internasional pada saat itu masih merupakan wilayah jajahan Belanda, sebab Jepang sudah kalah dalam Perang Dunia II. Namun, apakah rakyat Indonesia hanya diam ketika terjadi serangan-serangan yang dilakukan oleh Belanda serta sekutu? Ternyata tidak. Rakyat Indonesia pada saat itu melakukan perlawanan secara fisik guna mempertahankan kedaulatan negara Indonesia. Seperti saat pasukan Belanda yang bergabung dalam pasukan sekutu, atau tentara gabungan antarnegara pimpinan Amerika Serikat dan Inggris, hendak menguasai Surabaya. Terjadi pertempuran sengit yang saat ini kita kenal sebagai Hari Pahlawan tanggal 10 November 1945. Berbagai perlawanan lain terhadap pasukan Belanda terjadi di beberapa tempat seperti perlawanan Bandung Lautan Api, Puputan Margarana di Bali, hingga Pertempuran Ambarawa. Akhirnya, berbagai pertempuran di wilayah Indonesia dapat berhenti karena adanya upaya yang dilakukan oleh pemerintah dengan cara mendorong dukungan dari dunia internasional atas kemerdekaan bangsa Indonesia. Upaya yang dilakukan oleh pemerintah menuai hasil dengan adanya perjuangan secara diplomasi, dan akhirnya disepakati beberapa hal antara Indonesia dengan Belanda melalui Perundingan Linggarjati pada tahun 1946. Sayangnya, Perundingan Linggarjati dikhianati oleh pihak Belanda, dan mereka melakukan agresi militer pertama pada 21 Juli 1947. Wilayah Sumatera dan Jawa diserang oleh pasukan Belanda menggunakan persenjataan lengkap dan modern. Dengan kondisi demikian, para pemimpin terus melakukan perjuangan diplomasi mencari dukungan internasional agar mengakui kemerdekaan Indonesia, seperti melalui Perjanjian Renville. Tetapi pada 19 Desember 1948, Belanda malah melakukan agresi militer kedua. Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Hatta ditangkap Belanda dan diasingkan ke Muntok, Bangka. Perlawanan terus dilakukan secara gerilya oleh Tentara Rakyat Indonesia di bawah Komando Jenderal Sudirman. Sedangkan pemerintahan dimandatkan 6 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX
kepada Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang diketuai Syafruddin Prawiranegara. Perjuangan untuk meraih simpati dari dunia tersebut akhirnya menghasilkan beberapa perundingan yang kemudian dilakukan oleh Indonesia dengan pihak Belanda, seperti Perundingan Roem– Royen pada Mei 1949 hingga Konferensi Meja Bundar (KMB). Perundingan terakhir, yaitu KMB yang berlangsung AgustusNovember 1949 merupakan perundingan yang membuat Indonesia diakui sebagai negara merdeka oleh Belanda. Perjanjian ini memiliki dampak terhadap pelaksanaan Pancasila sebagai pondasi negara Indonesia. Indonesia dipaksa untuk mengubah bentuk negara, dari negara kesatuan menjadi negara serikat. Dengan demikian, UUD NRI Tahun 1945 yang didalamnya memuat dasar negara Pancasila menjadi tidak berlaku. Nama Indonesia sebagai negara pun berubah menjadi Negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Syukurlah negara serikat tersebut tidak berlangsung lama. Pada Agustus 1950, atau lima tahun setelah proklamasi kemerdekaan, semua sepakat untuk mengembalikan bentuk negara dari negara serikat yakni RIS menjadi negara kesatuan, yakni RI. Meskipun demikian UUD NRI Tahun 1945 belum dapat diberlakukan karena saat itu Indonesia masih harus menggunakan Undangundang Dasar Sementara (UUDS). 3. Pemberontakan-Pemberontakan Dengan adanya pengakuan Belanda terhadap negara Indonesia serta berakhirnya bentuk negara serikat untuk kembali menjadi negara kesatuan tidak berarti tantangan pemerintahan Sukarno berakhir. Banyak yang masih ingat pada pidato pertama Presiden Sukarno tanggal 23 Agustus 1945, yang menyemangati rakyat untuk terus bersama-sama mewujudkan cita-cita kemerdekaan untuk mewujudkan bangsa yang adil makmur. Ternyata perjalanan untuk mewujudkan bangsa yang adil makmur tersebut penuh dengan tantangan, termasuk tantangan menyangkut bangsa Indonesia sendiri. Banyak kepentingan yang muncul dikalangan para Gambar 1.1 Syafrudin Prawiranegara, Presiden sementara PDRI Sumber: kemdikbud/syafrudin prawiranegara/ kebudayaan.kemdikbud.go.id (2020) Bab I Dinamika Penerapan Pancasila 7
tokoh menjadikan kehidupan politik Indonesia tidak stabil hingga terjadi pemberontakan yang bertujuan mengganti Pancasila sebagai dasar negara, hingga tindakan separatisme seperti pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS). Pemberontakan besar untuk mengganti dasar negara Pancasila setidaknya terjadi dua kali. Pertama adalah pemberontakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun tahun 1948. Pemberontakan tersebut merupakan salah satu upaya dari PKI untuk mengganti dasar negara berupa Pancasila menjadi komunisme. Pemberontakan tersebut berhasil ditumpas oleh tentara didukung oleh rakyat yang berkehendak mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. Selain itu, terjadi pula pemberontakan yang ingin mendirikan negara sendiri, yaitu dilakukan oleh Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di beberapa daerah, seperti Jawa Barat, Jawa tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Aceh. Pemberontakan ini berlatar kekecewaan sebagian kalangan Islam yang dipimpin oleh Kartosuwiryo atas pemerintah pusat dikarenakan penandatangan Perjanjian Renville yang dianggap melecehkan harkat dan martabat para pejuang kemerdekaan. Pemberontakan ini berakhir setelah Kartosuwiryo ditangkap pada tahun 1962. Munculnya kekecewaan terhadap berbagai kebijakan pemerintah pusat juga menjadi pemicu timbulnya pemberontakan. Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Pemberontakan Semesta (Permesta) di Sumatera dan Sulawesi merupakan pemberontakan akibat kekecewaan beberapa pihak terhadap kepemimpinan Sukarno yang dianggap kurang memerhatikan daerah. Pemberontakan tersebut dapat diakhiri melalui operasi militer dengan korban jiwa yang sangat besar. Pemerintahan Sukarno sukses mengatasi tantangan berupa berbagai pemberontakan-pemberontakan tersebut. Berbagai separatisme yang dapat membuat Indonesia terpecah belah dapat diatasi. Pancasila sebagai dasar negara dapat tetap berdiri tegak sebagaimana saat negara Indonesia dibangun pada tahun 1945. 4. Demokrasi Terpimpin Mempertahankan kemerdekaan khususnya secara fisik telah berhasil dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Tantangan yang lebih berat adalah mengisi kemerdekaan dengan menerapkan berbagai kebijakan sesuai dengan nilainilai Pancasila. Hal tersebut antara lain dilakukan dengan pemilu di tahun 1955 untuk memilih Dewan Konstituante serta Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai bentuk penafsiran dari sila keempat Pancasila. 8 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX
Gambar 1.2 Kampanye Pemilu 1955 Sumber: kemdikbud/pemilu 1955/kebudayaan.kemdikbud.go.id (2019) Setelah pemilu, kondisi politik malah menjadi tidak stabil. Apalagi kemudian Hatta mundur sebagai Wakil Presiden. Sukarno lalu mengambil keputusan dengan memberlakukan Demokrasi Terpimpin yang ditandai dengan adanya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dekrit Presiden sendiri berisi keputusan yang diambil langsung oleh Presiden Sukarno, yaitu: a. membubarkan Dewan Konstituante, b. tidak berlakunya UUD Sementara (UUDS) 1950, c. kembali ke UUD NRI Tahun 1945, d. dibentuk Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), dan Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS). Keputusan untuk menerapkan Demokrasi Terpimpin tersebut malah menimbulkan kritik terhadap bentuk penerapan Pancasila yang semestinya. Pembubaran Konstituante atau DPR dinilai sebagai penyimpangan terhadap nilai Pancasila. Apalagi Presiden Sukarno juga mendorong kerja sama politik kalangan nasionalis-agama-komunis yang disingkat Nasakom. Padahal komunis jelas-jelas bersebrangan dengan Pancasila Pancasila dan telah melakukan Pemberontakan PKI 1948. Situasi politik menjadi semakin tidak stabil, yang berpengaruh pada kondisi perekonomian yang semakin memburuk. Cita-cita kemerdekaan untuk mewujudkan masyarakat yang adil makmur sesuai sila kelima Pancasila makin jauh dari terwujud. Meskipun demikian, pada situasi sulit tersebut, pemerintahan Presiden Sukarno malah berhasil mewujudkan bagian dari sila ketiga Pancasila berupa persatuan Indonesia. Bab I Dinamika Penerapan Pancasila 9
Pemerintahan Sukarno berhasil merebut Papua yang dulu disebut Irian Barat yang masih dikuasai Belanda untuk sepenuhnya menjadi bagian dari wilayah Indonesia pada tahun 1963. Namun dua tahun kemudian, pada tanggal 30 September 1965, terjadi tragedi pembunuhan terhadap para jenderal dalam Peristiwa G30S yang didukung PKI. Pancasila menjadi terancam, karena bila PKI berkuasa tentu Pancasila diganti dengan komunisme. Dengan dukungan rakyat, militer lalu menumpas PKI. Presiden Sukarno memberikan mandat kepada Suharto sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat untuk melakukan pengamanan jalannya pemerintahan, melalui Surat Perintah tanggal 11 Maret 1966 yang disingkat Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret). Selanjutnya Presiden Sukarno menyampaikan laporan pertanggungjawaban pada Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), namun ditolak. Pada tanggal 7 maret 1967, MPRS memberhentikan Sukarno sebagai Presiden hingga berakhirlah kepemimpinan yang telah berlangsung selama lebih dari 20 tahun. Selama masa itu, pemerintahan Sukarno berhasil mengatasi tantangan besar untuk menyatukan seluruh wilayah Indonesia dan mendapat pengakuan dari internasional atas kedaulatan negara Indonesia. Siswa Aktif Bentuklah kelompok yang terdiri dari 3 – 4 anggota. Tiap kelompok mendiskusikan mengenai penerapan Pancasila di kepemimpinan Sukarno. Setelah itu, setiap individu dalam kelompok mengidentifikasi permasalahan yang muncul dalam penerapan Pancasila di kepemimpinan Sukarno. Setelah itu, masing-masing individu menyampaikan hasil identifikasi permasalahan yang muncul. Kemudian masing-masing kelompok membuat kesimpulan serta memberikan pandangan mengapa nilai-nilai Pancasila tetap dipertahankan oleh rakyat pada masa itu meskipun mengalami banyak permasalahan. 10 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX
B. Penerapan Pancasila di Kepemimpinan Suharto Tahukah kalian istilah Orde Lama? Itulah istilah yang digunakan pemerintahan Suharto untuk menyebut masa pemerintahan Sukarno. Sedangkan kepemimpinan Suharto sendiri disebut dengan istilah Orde Baru. Penggunaan kedua istilah itu mewarnai naiknya Suharto sebagai Presiden kedua Republik Indonesia. Suharto mulai memimpin negara setelah diangkat oleh MPRS sebagai Pejabat Presiden Republik Indonesia melalui Ketetapan Nomor XXXIII/1967 pada 22 Februari 1967. Hal tersebut berlangsung hingga dipilih secara resmi oleh MPR setelah diselenggarakannya pemilu. Bila tantangan pemerintahan Sukarno adalah menegakkan kedaulatan negara dan menyatukan seluruh elemen bangsa, tantangan pemerintahan Suharto adalah membangun stabilitas politik dan kesejahteraan rakyat melalui penerapan Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945 secara murni dan konsekuen. 1. Demokrasi Pancasila Demokrasi Terpimpin di masa pemerintahan Sukarno dinilai merupakan salah satu bentuk penyimpangan dari penerapan nilai-nilai Pancasila. Suharto mengubah Demokrasi Terpimpin tersebut dengan Demokrasi Pancasila untuk menjalankan pemerintahannya, sebagai koreksi atas penyimpangan penerapan Pancasila yang terjadi sebelumnya. Demokrasi Pancasila dijanjikan menjadi penawar berbagai masalah terdahulu yang membuat sendi kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi rusak. Janji-janji itu disampaikan oleh Suharto dan mendapatkan dukungan besar dari berbagai golongan serta rakyat Indonesia. Suharto dianggap dapat membuat kondisi negara menjadi lebih stabil dalam waktu singkat, setelah memberantas G30S/PKI. Kekuatan Demokrasi Pancasila dalam pemerintahan Suharto mengandalkan pada militer yang saat itu disebut ABRI, atau Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, yang menjalankan peran ‘dwi fungsi’. Selain menjalankan peran militer, ABRI juga terlibat dalam kegiatan sosial politik masyarakat. ABRI ditempatkan sebagai penjaga utama tegaknya nilai-nilai Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945. Selain menggunakan peran militer, pemerintahan Suharto juga membentuk kekuatan politik yang disebut Golongan Karya, atau Golkar, yang menjalankan fungsi sebagai partai politik. Pada tahun 1971, pemerintahan Suharto menyelenggarakan pemilihan umum yang diikuti oleh 10 peserta, yaitu Golkar dan sembilan partai. Bab I Dinamika Penerapan Pancasila 11
Setelah itu Orde Baru menyelenggarakan lima kali lagi pemilu, yaitu pada tahun 1977, 1982, 1987, 1992 dan 1997. Mulai pemilu 1977, hanya ada dua partai yang boleh ikut serta berkompetisi dengan Golkar, yaitu Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sehingga semua partai yang ada harus bergabung ke dalam PDI atau PPP. Pembatasan partai politik tersebut dikritik beberapa pihak sebagai cara Suharto untuk mempertahankan kekuasaan. 2. Pembangunan Ekonomi Salah satu penerapan Pancasila di masa pemerintahan Suharto yang dianggap berhasil adalah dalam pembangunan ekonomi. Untuk pembangunan ekonomi tersebut, Suharto mengenalkan gagasan Trilogi Pembangunan yang berisi: (a) Pemerataan pembangunan; (b) Pertumbuhan ekonomi; dan (c) Stabilitas nasional. Pembangunan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dilakukan melalui Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita). Program ini kemudian berhasil mengeluarkan Indonesia dari negara berpendapatan rendah di tahun 1960-an menjadi negara berpenghasilan menengah, serta menurunkan angka kemiskinan secara nyata. Bahkan pada kepemimpinan Suharto, Indonesia mampu mencapai swasembada beras dan dijadikan contoh banyak negara di dunia dalam menjalankan pembangunan. Dalam bidang pertanian, pemerintah membuat program Bimas dan Inmas Pertanian yang dapat meningkatkan produktivitas padi bagi para petani. Untuk mendukung hal tersebut, dibangun pula Koperasi Unit Desa (KUD) di setiap desa. Selain itu didirikan lembaga nasional bernama Badan Urusan Logistik (BULOG) untuk menjaga kesetabilan harga bahan pokok. Pemerintah juga banyak membuat bendungan serta saluran irigasi untuk pertanian. Untuk bidang pendidikan, pemerintah mengembangkan SD Inpres secara nasional yang diikuti dengan program wajib belajar. Untuk bidang kesehatan, pemerintah membangun Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), serta program Keluarga Berencana. Sedangkan untuk membangun infrastruktur terdapat program ABRI Masuk Desa untuk membangun jalan-jalan di perdesaan, serta program Listrik Masuk Desa. Berbagai program tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, meningkatnya ekonomi Indonesia tersebut juga diwarnai dengan meningkatnya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang menimbulkan ketidakpuasan masyarakat. Perekonomian Indonesia hancur dalam krisis moneter 1998 yang berlanjut dengan reformasi politik, hingga mendorong Suharto mundur sebagai Presiden. 12 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX
REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun) Bimas Inmas KUD Irigasi SD Inpres Wajib Belajar Posyandu Puskesmas Keluarga Berencana Pertanian Pendidikan Kesehatan Gambar 1.3 REPELITA pertanian, pendidikan, dan kesehatan • Sumber: kompas.com • Sumber: beritaaktual.co • Sumber: kompasiana.com 3. Program Pengamalan Pancasila Seperti telah disebut di atas, pemerintahan Suharto menjanjikan penerapan Pancasila “secara murni dan konsekuen.” Maksudnya adalah menerapkan Pancasila sebaik-baiknya menurut pemerintahan Suharto. Untuk itu, Pancasila digunakan langsung untuk landasan pembangunan politik Indonesia. Kegagalan PKI untuk berkuasa setelah terjadi Peristiwa G30S/PKI dimanfaatkan Suharto untuk menguatkan Pancasila. Tanggal 1 Oktober 1965 ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila karena dianggap sebagai hari yang menandai kegagalan PKI untuk berkuasa. Bila berkuasa, PKI dapat mengganti Pancasila dengan paham komunisme. Sumur di daerah Lubang Buaya Jakarta Timur yang dijadikan sebagai tempat pembuangan jenazah para jenderal yang dibunuh dalam Peristiwa G30S/PKI ditetapkan sebagai lokasi Monumen Kesaktian Pancasila. Bab I Dinamika Penerapan Pancasila 13
Gambar 1.4 Sumur Lubang Buaya Sumber: Kemendikbud/Trezadigjaya (2020) Setelah itu, Suharto menerapkan aturan Asas Tunggal Pancasila yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1985. Asas Tunggal maksudnya adalah agar setiap organisasi, termasuk partai politik, harus menggunakan Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasi. Penyeragaman politik dilakukan atas nama Pancasila itu membuat situasi politik memang stabil, namun juga dipandang membatasi hak berpolitik masyarakat yang dijamin UUD NRI Tahun 1945. Selain menerapkan Asas Tunggal Pancasila, Suharto juga membentuk lembaga yang disebut sebagai Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7). Tugas BP7 adalah menyelenggarakan pelatihan atau lebih sering disebut sebagai penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Program Penataran P4 juga dikenal sebagai Eka Prasetya Pancakarsa, yang berarti satu sumpah setia untuk menjunjung lima kehendak berupa lima sila Pancasila. Penataran tersebut dilakukan di seluruh Indonesia, dan wajib diikuti oleh pegawai pemerintah, pelajar, mahasiswa hingga tokoh masyarakat. Dalam Program P4, nilai Pancasila dijabarkan melalui 36 butir Pancasila untuk dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. 14 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX
Jika ditinjau dari jumlah peserta yang telah mengikutinya, Penataran P4 merupakan kampanye ideologi Pancasila yang berhasil. Namun, penataran tersebut juga dikritik, dianggap hanya sebagai upaya indoktrinasi politik Orde Baru. Program pengamalan Pancasila melalui Penataran P4 tersebut berhenti setelah pemerintahan Suharto berakhir. Penerapan Pancasila oleh pemerintahan Suharto berhasil membangun stabilitas politik dan kemajuan ekonomi, namun gagal mewujudkan kehidupan demokrasi di masyarakat. C. Penerapan Pancasila di Masa Reformasi Tahukah kalian mencakup pemerintahan siapa saja yang disebut sebagai pemerintahan masa Reformasi? Untuk itu, perlu diingat kembali bahwa masa Reformasi dimulai pada tahun 1998 setelah Suharto mundur sebagai Presiden. Dengan begitu hingga saat ini terdapat lima pemerintahan di masa Reformasi, yakni pemerintahan Bacharuddin Jusuf Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, serta Joko Widodo. Bila tantangan pemerintahan Suharto adalah membangun stabilitas politik dan memajukan ekonomi, tantangan pemerintah di masa Reformasi adalah membangun kehidupan berdemokrasi dengan tetap mempertahankan stabilitas politik dan melanjutkan kemajuan ekonomi. Tantangan untuk meraih kemajuan ekonomi dengan berdemokrasi seluas-luasnya ini juga menjadi kecenderungan banyak bangsa di dunia di Abad ke-21 sekarang. 1. Masa Pemerintahan Bacharuddin Jusuf Habibie (1998– 1999) Bacharuddin Jusuf Habibie atau Habibie adalah ahli pembuatan pesawat terbang yang diangkat menjadi Wakil Presiden di pemerintahan Presiden Suharto. Begitu Suharto mengundurkan diri, Habibie pun diangkat MPR untuk menggantikan sebagai Presiden dengan tantangan memulihkan ekonomi Indonesia yang hancur akibat krisis moneter yang terjadi di Asia. Gambar 1.5 Lima Presiden setelah reformasi Sumber: Kemendikbud/Trezadigjaya (2020) Bab I Dinamika Penerapan Pancasila 15
Rupiah yang sebelum krisis senilai Rp 2.450 melemah menjadi sekitar Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat (AS), sedangkan angka inflasi mencapai lebih dari 60 persen. Pemerintahan Habibie berhasil menguatkan nilai tukar rupiah menjadi sekitar Rp 8.000 per dolar AS, dan menekan inflasi di bawah 10 persen, dalam waktu yang singkat. Selanjutnya adalah penerapan Pancasila dalam kehidupan demokrasi melalui kekebasan berpolitik dan kebebasan pers. Para tahanan politik dari masa Orde Baru dibebaskan, keharusan mendapat izin khusus untuk membuat penerbitan media dicabut, mendirikan partai politik tidak lagi dibatasi. Maka saat tahun 1999 diadakan pemilu, terdapat 48 partai politik yang menjadi pesertanya. Di masa pemerintahan Habibie, masa jabatan Presiden dibatasi menjadi maksimal dua periode melalui amendemen UUD NRI Tahun 1945. Lembaga BP7 dibubarkan diganti dengan Badan Pengembangan Kehidupan Bernegara, dan butir-butir pengamalan Pancasila dikembangkan dari 36 butir menjadi 45 butir. Masa pemerintahan Habibie hanya selama 18 bulan setelah MPR menolak pertanggungjawabannya sebagai Presiden, menyusul lepasnya provinsi Timor Timur menjadi negara sendiri, yaitu Timor Leste. 2. Masa Pemerintahan Abdurrahman Wahid (1999–2001) Sebelum menjadi Presiden, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah seorang ulama terkenal karena sikapnya yang sangat menghargai keberagaman masyarakat sekaligus sebagai ketua umum organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Abdurrahman Wahid diangkat menjadi Presiden oleh MPR Hasil Pemilu 1999. Di masa pemerintahannya dilakukan amendemen UUD NRI Tahun 1945 untuk membentuk Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai lembaga sendiri yang beranggotakan wakil-wakil dari setiap provinsi. Selain itu juga amendemen juga menyangkut pembentukan Mahkamah Konstitusi (MK) untuk peradilan sengketa konstitusi atau perundang-undangan, serta pembentukan Komisi Yudisial (KY) yang berfungsi menjadi lembaga pengawasan dalam bidang peradilan di Indonesia. Penerapan nilai Pancasila di masa kepemimpinan Abdurrahman Wahid yang banyak dipuji adalah terkait penghargaan pada pluralisme atau keberagaman. Di masa pemerintahan ini, Konghucu diakui sebagai agama secara resmi di Indonesia. Selain itu, penggunaan nama Provinsi Papua menggantikan nama Provinsi Irian Barat juga disetujuinya. Kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid dihentikan oleh MPR setelah gagal menghadapi tekanan politik pada saat itu. 16 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX
3. Masa Pemerintahan Megawati Sukarnoputri (2001–2004) Megawati Sukarnoputri adalah politisi putri Presiden Sukarno yang aktif di Partai Demokrasi Indonesia (PDI) sebagai partai oposisi di masa Orde Baru. Setelah Reformasi, Megawati mengembangkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan menjadi ketua umumnya. Dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden di tahun 1999, Megawati terpilih menjadi Wakil Presiden mendampingi Presiden Abdurrahman Wahid. Gambar 1.6 Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Sumber: gedungkpk/sindonews.com (2020) MPR kemudian mengangkat Megawati sebagai Presiden menggantikan Presiden Abdurrahman Wahid. Penerapan Pancasila di masa kepemimpinan Presiden Megawati adalah melanjutkan yang telah dirintis oleh pemerintahan sebelumnya, terutama yang menitikberatkan pada menghargai keragaman masyarakat. Penerapan Pancasila yang penting pada masa pemerintahan Presiden Megawati adalah pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tahun 2003, serta pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) secara langsung oleh rakyat, yaitu dalam Pilpres 2004. Inilah sistem pemilihan Presiden dan Wakil Presiden secara langsung yang pertama kali dilakukan di Indonesia. Pemerintahan Megawati selesai dengan berakhirnya masa jabatan sebagai Presiden. Bab I Dinamika Penerapan Pancasila 17
4. Masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (2004–2014) Susilo Bambang Yudhoyono, yang dikenal dengan sebutan SBY, adalah seorang jenderal yang diangkat menjadi menteri di masa pemerintahan Presiden Megawati. Menang dalam Pilpres 2004, SBY pun diangkat menjadi Presiden. Tantangan utama pemerintahannya adalah melanjutkan upaya tiga pemerintahan Reformasi sebelumnya, yakni untuk mengokohkan demokrasi guna mewujudkan kesejahteran masyarakat. Masa pemerintahannya ditandai dengan penguatan demokrasi di seluruh lini, dengan penguatan lembaga-lembaga negara seperti KPK. Pemberantasan korupsi dilakukan tanpa pandang bulu, walaupun menyangkut orang-orang yang dekat dengan Presiden. Dalam hal pembangunan, masa pemerintahan ini juga ditandai dengan pengubahan rencana pembangunan dari Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) menjadi Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). Pemerintahan SBY pun menyusun RPJP 2005–2025 yang mencakup masa 20 tahun pembangunan. Terkait Pancasila sebagai ideologi bangsa, di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, MPR mengenalkan Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara. Keempatnya adalah Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, NKRI, serta Bhinneka Tunggal Ika. Empat pilar tersebut disosialisasikan ke partai politik dan organisasi masyarakat melalui Pendidikan. Masa pemerintahan ini selesai seiring dengan berakhirnya masa jabatan SBY sebagai Presiden di periode kedua. 5. Masa Pemerintahan Joko Widodo (2014–2024) Pada awalnya Joko Widodo adalah seorang pengusaha yang berhasil menjadi kepala daerah, yaitu sebagai Walikota Surakarta dan kemudian Gubernur DKI Jakarta. Dalam Pilpres 2014, Joko Widodo terpilih sebagai Presiden dan kemudian berulang lagi dalam Pilpres 2019. Di dalam pembangunan, pemerintahan Presiden Joko Widodo dikenal dengan kesungguhannya membangun infrastruktur terutama untuk transportasi. Pembangunan jalan tol bukan hanya di Jawa, namun juga di Sumatera, Kalimantan, serta Sulawesi. Di Jakarta dibangun kereta cepat bawah tanah yang disebut Mass Rapid Transport (MRT) serta kereta layang atau Light Rapid Transport (LRT). Pembangunan kawasan timur Indonesia seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur berkembang pesat di masa pemerintahan ini. Begitu pula dukungan terhadap bisnis ekonomi kreatif global berbasis teknologi informasi yang memang menjadi kecenderungan dunia. 18 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX
Pemerintahan Jokowi juga sangat memperhatikan Pancasila sebagai ideologi. Hal tersebut antara lain ditunjukkan dengan pembentukan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP) pada tahun 2017. Setahun berikutnya, pada tahun 2018, unit kerja ini dikembangkan menjadi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Dengan adanya BPIP tersebut diharapkan ideologi Pancasila akan semakin diterapkan oleh seluruh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Gambar 1.7 Moda Raya Terpadu (MRT) sebagai kemajuan zaman dalam bidang transportasi Sumber: keretamrt/setkab.go.id (1019) D. Tantangan Penerapan Pancasila di Masa Depan Kalian sudah memahami dinamika penerapan Pancasila dari masa ke masa yang penuh dengan tantangan. Upaya-upaya yang dilakukan oleh semua pemerintahan itu dimaksudkan untuk mewujudkan tujuan negara Indonesia. Seperti disebut dalam UUD NRI Tahun 1945, tujuan negara Indonesia tersebut adalah “melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.” Bab I Dinamika Penerapan Pancasila 19
Kita patut bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa (YME) bahwa meskipun Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar, negara tetap berusaha untuk melindungi seluruh rakyat dengan berbagai upaya yang dilakukan serta berusaha meningkatan kesejahteraan masyarakatnya tahap demi tahap. Hal tersebut terjadi antara lain karena besarnya karunia Tuhan YME pada bangsa Indonesia berupa kekayaan alam. Tingkat kesejahteraan masyarakat secara umum yang mencapai rata-rata pendapatan sekitar 4.050 Dolar AS per orang pada tahun 2020 termasuk berada di peringkat menengah atas di dunia. Dalam hal kecerdasan bangsa, rata-rata tingkat pendidikan masyarakat juga terus meningkat. Sementara itu, peran Indonesia untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia juga terus berkembang. Di antaranya adalah mendukung kemerdekaan Palestina, upaya perdamaian di Afghanistan, hingga menjadi Presiden Dewan Keamanan PBB serta anggota Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada 2020. Penerapan nilai-nilai Pancasila berperan besar dalam upaya mewujudkan berbagai pencapaian tersebut. 1. Tantangan Pemerintah Meskipun Indonesia telah mencapai banyak kemajuan, namun tantangan penerapan Pancasila dalam kehidupan bernegara masih sangat besar. Di antara tantangan tersebut adalah mewujudkan demokrasi Pancasila sebaikbaiknya, melakukan penegakan hukum, serta memajukan ekonomi nasional guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat. a. Demokrasi Pancasila Di masa Reformasi, pelaksanaan demokrasi berkembang dengan pesat dengan kebebasan untuk berpendapat dan berserikat yang ditandai dengan pemilihan umum, pemilihan kepada daerah, serta pemilihan Presiden. Meskipun demikian, pelaksanaan demokrasi Indonesia dipandang baru berada di tahap demokrasi formal, belum sampai ke tahap demokrasi substansial. Padahal semangat Demokrasi Pancasila adalah demokrasi substansial atau demokrasi sepenuhnya. Maka Indonesia perlu mengembangkan praktik demokrasi sepenuhnya sebagai perwujudan Demokrasi Pancasila. Untuk itu, demokrasi di Indonesia perlu dibebaskan dari praktik ‘politik uang’ atau penggunaan uang untuk mempengaruhi pilihan suara masyarakat. Praktik demokrasi di Indonesia perlu benar-benar dapat menyuarakan suara hati masyarakat secara tulus tanpa dicemari dengan pengaruh uang untuk menentukan pilihan suara. 20 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX
b. Penegakan Hukum Untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang adil dan makmur, penegakan hukum merupakan kunci utamanya. Kualitas penegakan hukum tersebut di Indonesia masih harus ditingkatkan hingga terbebas dari kepentingan uang, melainkan benar-benar untuk kepentingan keadilan terutama bagi masyarakat bawah. Dengan demikian, sindiran bahwa “hukum tajam ke bawah, dan tumpul ke atas” perlu diubah menjadi “hukum tajam ke atas dan ke bawah.” Salah satu hal penting dalam penegakan hukum adalah pemberantasan praktik korupsi. Praktik korupsi di berbagai kalangan pemerintahan masih sangat banyak walaupun ada lembaga pemberantasan korupsi (KPK), termasuk di lingkungan aparat penegak hukum. Korupsi tersebut perlu sungguh-sungguh diatasi karena bertolak belakang dengan nilai sila pertama Pancasila menyangkut kejujuran, serta menjadi penghambat terwujudnya sila kelima berupa keadilan sosial atau kesejahteraan warga. c. Ekonomi Pancasila Kalian tahu bahwa secara ekonomi, negara Indonesia termasuk dalam kelas menengah bila diukur dari rata-rata tingkat penghasilan masyarakat. Tingkat pertumbuhan ekonomi juga cukup baik, dengan berada di sekitar 5 persen per tahun sebelum masa pandemi Covid-19. Indonesia juga masuk anggota G-20 atau 20 negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia, sedangkan tingkat kemiskinan di masyarakat pun berhasil ditekan menjadi sekitar 9,22 persen. Walaupun secara persentase rendah, namun jumlah warga miskin masih sebesar 24,97 juta jiwa dan meningkat menjadi 26,42 juta jiwa di awal pandemi Covid-19. Dalam hal ketimpangan kekayaan, Indonesia juga termasuk negara yang memiliki ketimpangan tinggi setelah Rusia, India, serta Thailand. Sementara itu, dalam industri Indonesia juga tertinggal dari negaranegara tetangga. Indonesia perlu lebih keras membangun industri agar tidak bergantung pada sumber daya alam seperti selama ini, padahal sumber daya alam terbatas dan dapat habis. 2. Tantangan Masyarakat Kalian tentu memahami bahwa tantangan penerapan Pancasila untuk masa mendatang bukan hanya dihadapi pemerintah, namun juga oleh setiap warga negara. Tantangan tersebut baik dalam dalam keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari di Indonesia, maupun juga dalam kaitannya dengan perkembangan masyarakat dunia maupun global. Bab I Dinamika Penerapan Pancasila 21
Kecenderungan radikalisme di masyarakat masih terjadi termasuk yang terpicu oleh faktor kemiskinan, ketidakadilan, serta ketimpangan ekonomi. Begitu juga kecenderungan intoleransi terhadap kelompok masyarakat yang berbeda, baik suku, agama, maupun juga perbedaan status sosial. Radikalisme serta intoleransi tersebut menjadi hambatan bagi Indonesia untuk dapat melangkah lebih maju. Sementara itu, lingkungan sosial, ekonomi, bahkan juga politik juga berubah dengan cepat antara lain dengan perkembangan teknologi informasi di awal Abad ke-21 saat ini. Perkembangan teknologi informasi atau dunia digital bernilai positif untuk mendorong kemajuan, namun juga dapat disalahgunakan di antaranya untuk penyebaran berita palsu (hoaks) yang harus dihindari. Semua tantangan tersebut harus dihadapi untuk dapat menerapkan nilai-nilai Pancasila sebagai anggota masyarakat maupun sebagai warga dunia atau warga global. a. Tantangan sebagai Anggota Masyarakat Setiap warga perlu terus meningkatkan kualitas penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan masing-masing. Hal tersebut perlu diawali dari meningkatkan penerapan nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai kerakyatan atau gotong royong, serta nilai keadilan sosial atau kesejahteraan. Hanya dengan terus meningkatkan penerapan nilainilai Pancasila tersebut, berbagai tantangan yang menghadang dapat diatasi. Meningkatkan kualitas ibadah, menjaga sopan santun, meningkatkan rasa cinta bangsa, mementingkan bekerja sama, serta berperilaku adil merupakan contoh nyata menerapkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula dengan menjaga kesehatan, terus meningkatkan etos dan kompetensi masingmasing, kesadaran bersama menjaga lingkungan, hingga kesadaran untuk berkomunikasi secara bijak tanpa terjebak dalam penyebaran hoaks. b. Tantangan sebagai Warga Global Kemajuan teknologi informasi serta perkembangan transportasi membuat hubungan antar bangsa semakin dekat. Hubungan suatu negara dengan negara-negara lain, hubungan suatu bangsa dengan bangsa-bangsa lainnya, semakin rapat dan bahkan juga semakin saling bergantung. Dengan demikian warga suatu negara tidak dapat disebut sebagai semata-mata warga bagi negaranya sendiri, melainkan juga menjadi bagian dari warga dunia atau warga global. 22 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX
Saat menyampaikan pikirannya menyangkut Pancasila sebagai dasar negara, Bung Karno mengaitkan kemanusiaan dengan internasionalisme. Kemanusiaan dalam Pancasila bukan hanya di lingkungan bangsanya sendiri, melainkan berlaku untuk seluruh umat manusia di lingkungan internasional atau antar bangsa. Pemikiran Bung Karno tersebut di Abad ke-21 sekarang makin terbukti kebenarannya. Setiap orang makin dituntut untuk juga menjadi warga global, yang berinteraksi dengan masyarakat lain dari seluruh dunia. Untuk menghadapi hal tersebut, maka setiap warga Indonesia perlu menyiapkan diri untuk juga menjadi warga global. Untuk itu, perlu meningkatkan kemampuan dalam kecakapan atau kompetensi sebagai warga global seperti kemampuan berkomunikasi serta presentasi dalam bahasa asing secara baik. Begitu pula kemampuan dalam bidang teknologi informasi atau dunia digital yang di masa mendatang akan menjadi tuntutan di dunia. Peningkatan interaksi dengan orang-orang dari bangsa lain juga semakin diperlukan di zaman yang disebut sebagai era industri 4.0 yang mengedepankan teknologi informasi sekarang. Untuk itu, sudah saatnya kaum muda Indonesia lebih aktif untuk berdiaspora dan bermukim ke berbagai negara di dunia untuk berkarir dan berkarya dengan mengenalkan budaya Indonesia ke mancanegara. Dalam hal diaspora tersebut, bangsa Indonesia tertinggal dibanding Filipina serta India yang mampu mengirimkan jutaan warganya untuk menjadi tenaga profesional dan eksekutif di seluruh dunia. Sudah saatnya kaum muda Indonesia lebih banyak berdiaspora dan berkolaborasi dengan bangsa-bangsa lain di dunia dengan berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Siswa Aktif Bersama teman kelompokmu, buatlah kampanye berupa poster edukasi atau infografis dalam bentuk kertas gambar maupun gambar digital yang ditujukan untuk lingkungan sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Isi dari poster atau infografis tersebut yaitu ajakan kepada masyarakat agar bijak dalam bermedia sosial, yang didalamnya juga berisi materi mengenai tantangan penerapan Pancasila di masa depan. Bab I Dinamika Penerapan Pancasila 23
Ringkasan Materi Menyatukan seluruh masyarakat Indonesia yang beragam dan banyak menghadapi ancaman-ancaman terhadap kemerdekaan adalah dinamika penerapan Pancasila di kepemimpinan Sukarno. Perbedaan cara pandang antara dwi tunggal Sukarno-Hatta, agresi militer Belanda, pemberontakan dalam negeri, dan penerapan demokrasi terpimpin menjadikan situasi menjadi tidak stabil di dalam negeri. Kepemimpinan Suharto dengan demokrasi Pancasila merupakan respon atas implementasi Pancasila yang terjadi di Orde Lama. Penerapan Pancasila di masa reformasi diwarnai dengan adanya amendemen terhadap UUD NRI Tahun 1945 yang berdampak pada banyak perubahan aturan ketatanegaraan, seperti masa jabatan Presiden dan Wakil Presiden, pembentukan MK, MA, dan KY. Terjadi pergantian kepemimpinan secara teratur, sebagai bagian dari penguatan demokrasi pancasila di Indonesia serta mempertahankan stabilitas politik dan melanjutkan kemajuan ekonomi. Dalam penerapan Pancasila di masa reformasi menghadapi beberapa tantangan, diantaranya pelaksanaan demokrasi sendiri, serta penegakan hukum dalam praktik berdemokrasi pancasila. Orde Baru melakukan pendekatan pembangunan ekonomi, stabilisasi keamanan dan politik, serta penguatan terhadap ideologi Pancasila melalui P4 untuk penerapan Pancasila di Indonesia. 1 2 3 4 5 6 7 24 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX
Adanya radikalisme, intoleransi serta perkembangan zaman di era industri 4.0 menjadi tantangan dalam penerapan Pancasila di tengah masyarakat di masa reformasi. Refleksi Bagaimana kalian menanggapi dinamika yang terjadi dalam masingmasing kepemimpinan? Tentu berbagai dinamika tersebut memiliki dampak langsung kepada masyarakat. Apa saja hikmah dari materi tersebut sehingga dapat menjadi manfaat mempelajari materi tersebut? Bagaimana kalian menanggapi materi tersebut? Mengapa kalian harus mempelajari materi tersebut? Apa yang menjadi tindak lanjut dari pembelajaran ini menurut kalian? Tautan Pengayaan Reformasi di Indonesia terjadi tahun 1998 membuat keadaan di tengah masyarakat menjadi tidak stabil, dari keamanan hingga ekonomi. Namun peristiwa tersebut membuat perubahan yang besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Untuk memperdalam materi terkait silahkan akses tautan berikut: Sumber: https://www.youtube.com/ watch?v=rGcrbzg5QrI Sumber: https://www.youtube.com/ watch?v=3DjKT51R0ms 8 Bab I Dinamika Penerapan Pancasila 25
Uji Kompetensi 1. Dalam perjalanannya, Pancasila mengalami berbagai dinamika. Terdapat beberapa peristiwa yang bertujuan untuk mengganti Pancasila sebagai dasar negara. Menurut kalian, mengapa rakyat Indonesia bersatu padu dalam mempertahankan Pancasila sebagai dasar Negara? Jelaskan pendapatmu! 2. Pancasila merupakan salah satu alat untuk mewujudkan cita-cita, serta tujuan Negara Indonesia. Namun, dalam pelaksanaannya terdapat cara-cara yang dianggap tidak tepat, hingga indoktrinasi. Menurut kalian, upaya apa yang harus dilakukan agar Pancasila dapat dijalankan atas dasar kesadaran, bukan berdasarkan paksaan atau tekanan? 3. Keadaan zaman yang terus berubah, menjadikan tantangan tersendiri bagi penerapan Pancasila di tengah masyarakat. Bagaimana upaya yang harus dilakukan oleh masyarakat untuk terus memelihara Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa, dan bernegara. 26 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA, 2022 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX Penulis : Trezadigjaya dan Anggi Afriansyah ISBN : 978-602-244-446-6 (jil.3) Tujuan Pembelajaran: 1. Peserta didik mampu memahami hierarki peraturan perundang-undangan nasional. 2. Peserta didik mampu menjelaskan peraturan perundang-undangan nasional. 3. Peserta didik berdisiplin dalam mematuhi peraturan perundang-undangan nasional. Bab II Peraturan PerundangUndangan Nasional
Peta Konsep UUD NRI Tahun 1945 dan Ketetapan MPR Undang-undang / Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden Peraturan Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota Hierarki Peraturan Perundang-Undangan Nasional Peraturan Perundang -Undangan Nasional 28 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX
Sumber gambar: kawahijan/ jabanyuwangibagus.com (2013) Banyuwangi merupakan kabupaten di Jawa Timur yang saat ini dikenal karena banyak obyek wisatanya. Mulai dari kawah biru Gunung Ijen, Taman Nasional Baluran, Pantai Merah dan lain-lain. Pengunjung berdatangan ke daerah ini, bukan hanya dari berbagai daerah melainkan juga dari mancanegara. Tidak hanya lokasi wisata yang ditawarkan oleh Banyuwangi, melainkan juga wisata budayanya. Kuliner khas daerah ini juga semakin dicari para pendatang, parade budaya digelar hampir sepanjang tahun, juga budaya Osing warisan yang menjadi ciri khasnya juga menarik perhatian. Masyarakat pun makin antusias mengembangkan wisata daerah ini, tidak mau kalah dengan masyarakat Bali yang ada di seberangnya yang terpisah oleh Selat Bali. Untuk mendukung semangat masyarakat mengembangkan pariwisata, maka pemerintah Kabupaten Banyuwangi pun membuat Peraturan Daerah Khusus, yakni Daerah No 1 Tahun 2017 tentang Desa Wisata. Dengan aturan ini, masyarakat mendapat petunjuk bagaimana mereka dapat mengembangkan potensi di desa masingmasing untuk menjadi tujuan wisata, serta bagaimana mengelolanya dengan baik melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Dengan adanya Perda tersebut, desa-desa wisata bertumbuhan dengan baik, dan wisatawan tidak lagi sekadar berkunjung lalu pulang, melainkan banyak yang menginap untuk melihat obyek wisata lainnya. Dengan demikian, Perda tentang Desa Wisata itu telah ikut berkontribusi memajukan Banyuwangi dan memakmurkan masyarakatnya. Desa Wisata Maju dengan Peraturan Daerah (Perda) Bab II Peraturan Perundang-Undangan Nasional 29
A. Hierarki Peraturan Perundang-Undangan Nasional Peraturan Daerah yang dibuat untuk mengembangkan desa wisata tersebut di atas hanyalah salah satu aturan yang ada di Indonesia. Aturan tersebut dibuat agar kehidupan bermasyarakat tertata dengan baik, dan lebih bermanfaat bagi semua orang. Apalagi di masyarakat serta bangsa dengan kehidupan yang beragam seperti Indonesia. Harus ada suatu pengikat bersama agar kehidupan yang berbeda tersebut berjalan dengan harmonis. Apa yang dibutuhkan untuk itu? Ya, aturan. Perlunya aturan adalah seperti halnya pada kehidupan kalian di keluarga. Pada setiap keluarga tentu ada aturan untuk mengatur pola tingkah laku bersama di lingkungan rumah bukan? Demikian pula di lingkungan sekolah. Sekolah juga akan mengatur tingkah laku semua agar tercipta sebuah ketertiban dan tetap sesuai dengan yang diharapkan bersama. Apalagi dalam negara seperti Indonesia yang memiliki wilayah sangat luas, jumlah penduduk yang besar, serta keberagaman yang luar biasa. Tentu perlu semacam petunjuk agar setiap masyarakat di wilayah Indonesia dapat hidup dengan aman dan tertib sesuai yang diharapkan bersama. Petunjuk itulah berupa aturan yang harus dipatuhi semua anggota masyarakat. 1. Pengertian Hierarki Peraturan Perundang-Undangan Nasional Secara bahasa, hierarki berarti “urutan tingkatan” yang dimulai dari tingkatan yang paling dasar, disusul dengan tingkatan-tingkatan selanjutnya. Ibarat pohon, tingkatan paling dasar adalah batang utamanya. Tingkatan selanjutnya adalah cabang-cabang besarnya, lalu cabang-cabang kecil, dan akhirnya adalah ranting-rantingnya. Urutan semacam itu juga diberlakukan dalam membuat peraturan perundang-undangan. Seperti telah kalian pelajari tentang norma, setiap negara memerlukan norma-norma termasuk norma hukum. Bentuk norma hukum yang berlaku dalam sebuah negara adalah berupa undang-undang dan peraturan-peraturan. Dengan undang-undang serta peraturan-peraturan itulah kehidupan berbangsa dan bernegara diatur sebagaimana yang diamanahkan para pendiri bangsa melalui Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) Tahun 1945 bahwa “Indonesia adalah negara hukum.” 30 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX
Apa dampak dari adanya pernyataan bahwa Indonesia adalah negara hukum itu? Yakni bahwa Negara Indonesia mengedepankan hukum dalam menjalankan segala sesuatu dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pelaksanaan hukum tersebut diatur dengan undang-undang dan peraturan-peraturan. Agar dapat tercipta undang-undang serta peraturanperaturan yang baik dan rapi, maka pembuatannya pun perlu diatur dengan menggunakan sistem hierarki. Dengan sistem hierarki, maka akan selalu ada norma hukum yang ditempatkan sebagai hukum dasar atau batang utama dari hierarki tersebut. Selanjutnya ada norma hukum yang diposisikan sebagai turunan atau cabang dari batang utama tersebut. Disusul lagi dengan pembuatan aturan selanjutnya yang didasarkan cabang-cabang tersebut, menjadi cabang-cabang kecil dan akhirnya ranting-rantingnya. Rangkaian undang-undang serta peraturan-peraturan dibuat secara berhierarki, hingga menjadi satu kesatuan sistem hukum yang utuh. Penataan undang-undang dan peraturan-peraturan disebut sebagai hierarki peraturan perundang-undangan. Hal itulah yang membuat negara seperti Indonesia memiliki hukum yang dapat mengatur berbagai hal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara lengkap. 2. Dasar Penyusunan Peraturan Perundang-Undangan Nasional Para tokoh bangsa Indonesia menyadari bahwa ketentuan hukum seperti undang-undang tidak dapat dibuat secara sembarangan. Pembuatan undangundang juga harus diatur agar dapat melahirkan undang-undang yang baik. Karena itu, dalam UUD NRI Tahun 1945 disebutkan perlunya dibuat undangundang untuk mengatur pembuatan undang-undang seperti yang tertulis pada Pasal 22 A: “Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara pembentukan undangundang diatur dengan undang-undang.” Berdasarkan UUD NRI Tahun 1945 tersebut di atas, untuk dapat menyusun undang-undang, telah dibuat aturan berupa Undang-undang No 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Aturan ini kemudian disempurnakan lagi melalui Undang-undang No 15 Tahun 2019. Meskipun terdapat perubahan, tetapi tata urutan atau hierarki perundang-undangannya tetap sama, tanpa mengubah urutannya. Bab II Peraturan Perundang-Undangan Nasional 31
3. Tata Urutan Perundang-Undangan Nasional Dalam pembuatan undang-undang, hierarki perundang-undangan sering juga disebut sebagai tata urutan perundang-undangan. Seperti telah disebut di atas, tata urutan ini didasarkan pada Undang-Undang No 12 Tahun 2011, yang disempurnakan lagi dengan Undang-undang No 15 Tahun 2019. Seluruh penyusunan undang-undang serta peraturan-peraturan untuk negara perlu memenuhi beberapa asas, yaitu: Kejelasan tujuan; kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat; kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan; dapat dilaksanakan; kedayagunaan dan kehasilgunaan; kejelasan rumusan; serta keterbukaan. Selanjutnya, seluruh undang-undang dan peraturan-peraturan ditempatkan dalam tata urutan sebagai berikut: a. UUD NRI Tahun 1945. b. Ketetapan MPR (Tap MPR). c. Undang-undang (UU) / Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu). d. Peraturan Pemerintah (PP). e. Peraturan Presiden (Perpres). f. Peraturan Daerah Provinsi (Perda Provinsi). g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota (Perda Kabupaten/Kota). Bila tata urutan peraturan perundang-undangan itu diumpamakan seperti pohon, maka UUD NRI Tahun 1945 dan Ketetapan MPR merupakan batang utamanya yang tegak berdiri di atas nilai-nilai Pancasila sebagai akarnya. Kemudian undang-undang, peraturan pemerintah, serta peraturan Presiden menjadi seperti cabang-cabang yang tumbuh dari batang pohon. Lalu peraturan daerah provinsi dan peraturan daerah kabupaten/kota seperti ranting-ranting dari pohon hukum di Indonesia. 32 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX
Pohon Sistem Hukum Pancasila UUD 1945 dan Ketetapan MPR Peraturan daerah provinsi, peraturan daerah kabupaten/ kota Undang-undang/ Peraturan pemerintah pengganti undangundang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden Gambar 2.1 Pohon sistem hukum Siswa Aktif Buatlah enam kelompok, dan bagilah seluruh peserta didik ke dalam masing-masing kelompok. Kelompok 1, mencari contoh Ketetapan MPR; Kelompok 2, mencari contoh Undang-undang; Kelompok 3 mencari contoh Peraturan Pemerintah, Kelompok 4 mencari contoh Peraturan Presiden; Kelompok 5 mencari contoh Peraturan Daerah Provinsi; Kelompok 6 mencari contoh Peraturan Daerah Kabupaten/ Kota. Diskusikan di masing-masing kelompok, hal apa yang paling menarik bagi kalian dari masing-masing ketentuan hukum tersebut. Lalu presentasikan/sampaikan hasil diskusi kalian di depan kelas secara berkelompok, disertai gambar atau ilustrasi yang menarik. B. UUD NRI Tahun 1945 dan Ketetapan MPR Seperti digambarkan di atas, dalam tata urutan peraturan perundangundangan, UUD NRI Tahun 1945 dan Ketetapan MPR dapat diibaratkan sebagai batang utama sistem hukum di Indonesia. Maka, pembuatan segala aturan hukum harus didasarkan pada UUD NRI Tahun 1945 serta Ketetapan MPR yang berlaku. Bab II Peraturan Perundang-Undangan Nasional 33
Kedua hal ini, yakni UUD NRI Tahun 1945 serta Ketetapan MPR merupakan tanggung jawab MPR untuk menjaganya. UUD NRI Tahun 1945 disusun oleh para pendiri bangsa setelah amendemen atau dilakukan perubahan isinya oleh MPR menyesuaikan dengan perkembangan bangsa Indonesia. Adapun Ketetapan MPR memang disusun langsung oleh MPR untuk menjadi acuan lebih lanjut bagi pemerintah dalam menjalankan pemerintahan. 1. UUD NRI Tahun 1945 Kalian ingat bahwa Undang-undang Dasar Republik Indonesia yang dikenal sebagai UUD NRI Tahun 1945, disusun oleh Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan (BPUPK) sebelum kemerdekaan Indonesia. UUD NRI Tahun 1945 sempat digantikan dengan Undang-undang Dasar Sementara (UUDS) tahun 1950. Namun kemudian pemerintahan Presiden Sukarno kembali menggunakan UUD NRI Tahun 1945 sebagai hukum dasar negara pada 1959. Dalam perjalanan waktu, isi UUD NRI Tahun 1945 tersebut juga telah mengalami perubahan beberapa kali melalui proses amendemen oleh MPR setelah masa Reformasi. Meskipun demikian, amendemen tersebut tidak mengubah esensi UUD NRI Tahun 1945 sebagai turunan dari nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian UUD NRI Tahun 1945 tetap merupakan rujukan pertama untuk penyusunan perundang-undangan. Perlu kalian ketahui juga, bahwa dalam melakukan perubahan UUD NRI Tahun 1945 terdapat beberapa kesepakatan mendasar, yaitu: Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 tidak dapat diubah; bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia dipertahankan; menegaskan sistem pemerintahan presidensial; penjelasan yang memuat hal-hal bersifat normatif (hukum) akan dimasukkan ke dalam pasal-pasal; melakukan perubahan dengan cara adendum, yang artinya menambah pasal perubahan tanpa menghilangkan pasal sebelumnya, dengan tujuan agar bukti sejarah tetap ada. Secara keseluruhan, UUD NRI Tahun 1945 tetap mencakup 16 Bab serta 37 Pasal. Bab-bab yang diatur dalam UUD NRI Tahun 1945 adalah: Bentuk dan Kedaulatan; Majelis Permusyawaratan Rakyat; Kekuasaan Pemerintahan Negara; Kementerian Negara; Pemerintah Daerah; Dewan Perwakilan Rakyat; Dewan Perwakilan Daerah; Pemilihan Umum; Hal Keuangan; Badan Pemeriksa Keuangan; serta Kekuasaan Kehakiman. Selain itu, bab-bab dalam UUD NRI Tahun 1945 juga mengatur soal: Wilayah Negara; Warga Negara dan Penduduk; Hak Asasi Manusia; Agama; Pertahanan dan Keamanan Negara; Pendidikan dan Kebudayaan; Perekonomian Nasional 34 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX
dan Kesejahteraan Sosial; Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara; Lagu Kebangsaan; serta Perubahan Undang-undang Dasar. Hal-hal tersebut di atas menjadi landasan untuk menyusun seluruh ketentuan hukum di Indonesia. 2. Ketetapan MPR (TAP MPR) TAP MPR memiliki kedudukan mendasar dalam sistem hukum di Indonesia, yakni menempati posisi setelah UUD NRI Tahun 1945. Hal tersebut terjadi karena MPR sebagai perwakilan dari rakyat, dengan demikian aturan yang dikeluarkan MPR yang disebut Ketetapan MPR merupakan aturan hukum kedua, setelah UUD NRI Tahun 1945, yang mengikat seluruh bangsa Indonesia. Kalian tentu tahu bahwa sebelum tahun 2004, MPR-lah yang memilih Presiden dan Wakil Presiden. Baru setelah itu, berdasarkan amendemen UUD NRI Tahun 1945, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden diubah menjadi pemilihan langsung oleh rakyat. Meskipun demikian, MPR tetap memiliki peran penting dalam sistem hukum, melalui ketetapan yang dibuatnya. Yang dimaksud Ketetapan MPR adalah mencakup ketetapan yang masih berlaku baik yang dibuat oleh MPR maupun juga yang dibuat oleh Majelis Permusyaratan Rakyat Sementara (MPRS). Hal itu ditegaskan dalam Undangundang No. 15 Tahun 2019. Diantara TAP MPR yang sampai saat ini masih berlaku adalah sebagai berikut: a. Ketetapan MPRS RI Nomor XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI), Pernyataan sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah NKRI bagi PKI, dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarluaskan atau Mengembangkan Paham atau Ajaran Komunisme/ Marxisme-Leninisme. b. Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih, Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Gambar 2.2 Gedung MPR Senayan Sumber: Gedung MPR-DPR-DPD/nasional.kompas.com (2019) Bab II Peraturan Perundang-Undangan Nasional 35
Siswa Aktif Bentuklah kelompok kecil, masing-masing sekitar 5 orang! Carilah bahan dan pelajari: (1) Bab Ekonomi Nasional dan Kesejahteraan Sosial pada UUD 1945, (2) Ketetapan MPR tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih, Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Diskusikan bersama, apa hubungan antara isi UUD 1945 soal ekonomi dengan TAP MPR tentang penyelenggaraan negara yang bersih tersebut? C. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Sebuah rumah tidak hanya memiliki ruang utama atau ruang tamu, melainkan juga memiliki kamar-kamar dan bagian-bagian lain. Semua ruangan tersebut memiliki pintu dan setiap pintu ada kuncinya masing-masing. Kalian telah memiliki kunci utama rumah tersebut, namun belum memiliki kunci-kunci lainnya. Dapatkah kalian masuk ke dalam setiap kamar untuk menata semua kamar yang ada, sedangkan kunci yang ada hanya kunci ruang utama? Tentu saja tidak. Dengan kunci utama, kalian dapat masuk rumah dan berada di sana hingga bisa menatanya. Tetapi kalian belum bisa memasuki setiap kamar, karena perlu kunci dari masing-masing kamar tersebut. Serupa itu pula dengan keberadaan aturan hukum dalam hierarki peraturan perundang-undangan. UUD NRI Tahun 1945 dan TAP MPR yang ada baru merupakan semacam kunci utama untuk menata bangsa dan negara. Namun masih perlu kunci-kunci lainnya untuk menata semuanya secara menyeluruh. Untuk itu, UUD NRI Tahun 1945 perlu didukung dengan berbagai undangundang yang menjadi ketentuan hukum di berbagai bidang masing-masing. UUD NRI Tahun 1945 menjadi aturan atau hukum dasarnya, sedangkan undang-undang merupakan penjabaran atau pengaturan lebih terinci dari isi UUD NRI Tahun 1945 tersebut. Berapa banyak undang-undang yang diperlukan suatu negara tergantung seberapa banyak pula urusan yang mau diatur. Undang-undang dibuat untuk mengatur setiap urusan secara lebih terinci di masing-masing bidang. Namun, karena banyaknya tantangan dalam pelaksanaan, seringkali penerapan undang-undang tidak dapat berjalan dengan baik. Bila kondisi demikian terjadi, penerapan undang-undang tersebut tidak terlaksana atau karena ada kepentingan yang memaksa serta mendesak, maka pemerintah dapat membuat Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang (Perppu). 36 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX
1. Undang-Undang (UU) Tahukan kalian bahwa kegiatan kalian menempuh pendidikan saat ini diatur oleh undang-undang? Pengaturannya diawali dengan UUD NRI Tahun 1945 dalam Bab Pendidikan dan Kebudayaan. Namun pengaturan tersebut masih bersifat landasan umum, belum terinci ke semua aspek pendidikan. Karena itu, disusun pula undang-undang secara khusus dalam bidang pendidikan, yaitu Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-undang tersebut merupakan salah satu contoh dari berbagai undang-undang yang ada di Indonesia. Setiap bidang memiliki undang-undang sendiri untuk mengatur bidang tersebut. Yang menyusun undang-undang dalam peraturan perundang-undangan adalah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dengan persetujuan bersama Presiden sebagai pimpinan pemerintahan. Mengapa dalam membuat undang-undang DPR harus mendapat persetujuan pemerintah? Hal itu dikarenakan Presiden merupakan pelaksana dari undangundang tersebut. Proses membuat undang-undang diawali dengan pembuatan Rancangan Undang-undang (RUU) oleh DPR. RUU tersebut lalu diajukan kepada Presiden secara tertulis untuk dapat diproses lebih lanjut. Untuk tahap berikutnya, Presiden menugasi Menteri di bidang yang terkait untuk membahas RUU bersama DPR. Setelah tercapai kesepakatan antara DPR dengan pemerintah yang diwakili oleh menterinya, RUU disahkan oleh Presiden menjadi UU. Proses Pembentukan RUU menjadi UU RUU dibahas oleh DPR dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama Berhak mengajukan RUU (Pasal 5 (1)*] Tidak mendapat persetujuan bersama Mendapat persetujuan bersama Presiden Dalam hal RUU tidak disahkan dalam waktu 30 hari, hari RUU tersebut sah menjadi UU dan wajib Mengesahkan UU (Pasal 20 (4)*] Tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan masa itu Dapat mengajukan RUU yang sesuai dengan kewenangannya Memegang kekuasaan membentuk UU (Pasal 20 (1)*] Anggota berhak mengajukan Usul RUU (Pasal 20 (1)*] Ikut membahas dan memberikan pertimbangan atas RUU yang sesuai dengan kewenangan (Pasal 22D (2)***) DPR Gambar 2.3 Proses pembentukan RUU menjadi UU Sumber: Sosialisasi MPR, 2012 Bab II Peraturan Perundang-Undangan Nasional 37
Apakah lembaga negara lainnya tidak dapat membentuk Undang-undang? Tidak. Selain DPR, RUU juga dapat diajukan oleh Presiden untuk dibahas bersama oleh DPR, dengan proses yang sama seperti pengajuan RUU oleh DPR. Sementara, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) tidak dapat terlibat langsung membuat UU, melainkan hanya dapat mengajukan RUU mengenai daerah kepada DPR. Untuk itu, DPD mengajukan usul RUU secara tertulis kepada DPR. Kemudian DPR membahas rancangan usulan DPD tersebut. Bila setuju atas usulan itu, DPR pun memproses RUU tersebut bersama pemerintah hingga menjadi UU. 2. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Untuk menyusun undang-undang biasanya diperlukan waktu yang panjang karena harus memenuhi seluruh tahap persyaratannya. Padahal kadangkadang terdapat situasi yang mendesak yang perlu diatasi dengan cepat, yang belum ada ketentuan hukumnya. Seperti dalam penanganan pandemi Covid-19 di awal tahun 2020 lalu. Dengan adanya pandemi tersebut, banyak daerah yang terkena akibatnya hingga memerlukan dukungan keuangan dari pemerintah pusat. Untuk itu, pemerintah pusat harus memberikan anggaran secara langsung ke pemerintah daerah yang terimbas pandemi tersebut. Untuk itu, pemerintah harus melakukan perubahan alokasi anggaran dari yang sudah direncanakan sebelumnya. Untuk merubah alokasi anggaran, aturan yang tersedia adalah Undangundang mengenai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tetapi dalam undang-undang tersebut tidak ada ketentuan yang membolehkan perubahan alokasi anggaran yang semula dipakai untuk keperluan lain, dialihkan untuk keperluan penanganan dampak pandemi. Untuk itu, perlu dibuat aturan baru sebagai pengganti undang-undang, yakni berupa Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu). Perppu merupakan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa. Kondisi genting dan memaksa merupakan keadaan yang dipandang darurat dan perlu payung hukum untuk melaksanakan suatu kebijakan pemerintah. Kedudukan Perppu setara dengan UU dan memiliki muatan materi yang sama dengan UU. Dalam UUD NRI Tahun 1945, ketentuan menyangkut Perppu dimuat pada Pasal 11. Dalam tiga ayat di pasal tersebut dinyatakan: a. Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang. 38 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP/MTs Kelas IX