The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Petualangan Tom Sawyer (Mark Twain)`

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-07-24 18:22:44

Petualangan Tom Sawyer

Petualangan Tom Sawyer (Mark Twain)`

PENERjEMAh
DJOKOLELONO

PETUALANGAN TOM SAWYER



PETUALANGAN TOM SAWYER

Undang-Undang Republik Indonesia

Nom or 28 Tahun 20 14 tentang Hak Cipta

Lingkup Hak Cipta

Pasal 1
Hak Cipta adalah hak eksklusif pencipta yang tim bul secara otom atis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujud-
kan dalam bentuk nyata tanpa m engurangi pem batasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Ketentuan Pidana

Pasal 113
(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak m elakukan pelanggaran hak ekonom i sebagaim ana dim aksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf

i untuk Penggunaan Secara Kom ersial dipidana dengan pidana penjara paling lam a 1 (satu) tahun dan/ atau pidana denda pal-
ing banyak Rp10 0 .0 0 0 .0 0 0 (seratus juta rupiah).
(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/ atau tanpa izin Pencipta atau pem egang Hak Cipta m elakukan pelanggaran hak
ekonom i Pencipta sebagaim ana dim aksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/ atau huruf h untuk Peng-
gunaan Secara Kom ersial dipidana dengan pidana penjara paling lam a 3 (tiga) tahun dan/ atau pidana denda paling banyak
Rp50 0 .0 0 0 .0 0 0 ,0 0 (lima ratus juta rupiah).
(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/ atau tanpa izin Pencipta atau pem egang Hak Cipta m elakukan pelanggaran hak
ekonom i Pencipta sebagaim ana dim aksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/ atau huruf g untuk Penggu-
naan Secara Kom ersial dipidana dengan pidana penjara paling lam a 4 (em pat) tahun dan/ atau pidana denda paling banyak
Rp1.0 0 0 .0 0 0 .0 0 0 ,0 0 (satu m iliar rupiah).
(4) Setiap Orang yang m em enuhi unsur sebagaim ana dim aksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pem bajakan, dipidana
dengan pidana penjara paling lam a 10 (sepuluh) tahun dan/ atau pidana denda paling banyak Rp4.0 0 0 .0 0 0 .0 0 0 ,0 0 (em pat
miliar rupiah).

PETUALANGAN TOM SAWYER

PENERJEMAH
DJOKOLELONO

Pe tu alan gan To m Saw ye r
Mark Twain
Judul Asli
The Adventure of Tom Saw yer
KPG 59 16 0 1185
Cetakan pertam a, Mei 20 16
Sebelum nya diterbitkan oleh PT Dunia Pustaka J aya
Cetakan Pertam a, 1973
Cetakan Keenam (Edisi Khusus), 20 0 8
Pe n e rje m ah
Djokolelon o
Perancang Sam pul
Teguh Tri Erdyan
Deborah Am adis Mawa
Pe n atale tak
Deborah Am adis Mawa
Ilustrasi
A. Wakidjan

TWAIN, Mark
Pe tu alan gan To m Saw ye r
J akarta: KPG (Kepustakaan Populer Gram edia), 20 16
xii+284, 14 cm x 21 cm
ISBN 978-60 2-424-0 34-9

Dicetak oleh PT Gramedia, J akarta.
Isi di luar tanggung jawab percetakan.

Daftar Isi

Daftar Isi v
Pengantar dari Pustaka Jay a vii
Pen g a n t a r
x

Perm ainan Tom , Perkelahian dan Sem bunyi-sem bunyian 1
Senim an Tukang Kapur 12
Dalam Perang dan Cinta 20
Semangat di Sekolah Minggu 28
Seorang Pendeta dan Doanya 40
Pertem uan Tom dengan Becky 47
Sebuah Perjanjian dan Sebuah Kekesalan 61
Tom Menentukan Masa Depannya 68
Perkelahian di Kuburan 75
Anjing Melolong yang Mengerikan 83
Hati Nurani yang Mengejar-ngejar 91
Kucing dan Obat yang Mujarab 98

Para Bajak Laut Berlayar 10 5
Kehidupan di Perkem ahan 115
Tom Mengintai dan Mem pelajari Keadaan 122
Bajak-bajak Laut Mem peroleh Pelajaran 128
Menghadiri Upacara Penguburan Sendiri 140
Tom Menceritakan Mim pinya 146
Tom Berterus Terang 157
“Tom , betapa m ulia hatim u!” 161
Dendam Murid-murid Terbalas 168
Disam but dengan Ayat-ayat Kitab Suci 178
Muff Potter Diadili 18 3
Hari-hari Indah dan Malam-malam Seram 191
Mencari Harta Karun 193
Dalam Rumah Hantu 202
Menghilangkan Keraguan 213
Berhadapan dengan Bahaya 217
Membalas Dendam 222
Tom dan Becky di dalam Gua 231
Tersesat di dalam Gua 242
Keluar! Mereka Ditem ukan! 254
Nasib J oe si Indian 259
Timbunan Uang Emas 272
Huck yang Terhorm at Menyatukan Diri
dengan Para Petualang 276

Pen u t u p 284

PENGANTAR
DARI PUSTAKA JAYA

DI ANTARA buku cerita yang digem ari sepanjang m asa di bawah
naungan langit baik yang kebiruan m aupun yang selalu kelabu
diliputi awan terdapat karangan Mark Twain yang berjudul
Petualangan Tom Saw y er dan pasangannya Petualangan
Huckleberry Finn. Buku itu sudah diterjem ahkan ke dalam
berbagai bahasa di seluruh dunia dan selalu dicetak ulang setiap
waktu. Ke dalam bahasa Indonesia pun sudah diterjem ahkan
beberapa kali. Ada yang lengkap, ada yang edisi singkatan.

Bahwa ada buku cerita yang diterjem ahkan ke dalam satu
bahasa berkali-kali tidaklah m engherankan. Berbagai karya klasik
dunia diterjem ahkan ke dalam berbagai bahasa, di antaranya
banyak yang berkali-kali. Tentu banyak sebabnya m engapa
begitu, di antaranya karena dianggap terjem ahan yang sudah ada
sebelum nya kurang baik atau bahasanya sudah m enjadi kuno
(karena setiap bahasa senantiasa hidup kalau masih dipakai
dalam m asyarakat dan yang hidup selalu berubah).

Pengarang buku ini, Mark Twain, dengan nama samaran
Sam uel Langhorne Clem ens (1835-1910 ), adalah jagoan hum or

Am erika yang m em beri kegem biraan kepada para pem bacanya,
term asuk juga yang bukan orang Am erika. Sebelum terkenal
sebagai pengarang, dia telah bekerja dalam berbagai lapangan,
termasuk sebagai juru mudi kapal api di Sungai Mississippi.
Tapi pekerjaan itu terhenti karena pecah perang saudara. Untuk
waktu singkat dia ikut juga bertempur, tapi segera mengikuti
saudaranya yang bekerja sebagai sekretaris gubernur di Nevada.
Pengalam annya ke daerah Barat itu direkam nya dalam buku
Roughing It (1872). Setelah bergabung dengan penerbitan kota
Virginia, Territorial Enterprise, dia m ulai m enggunakan nam a
sam aran Mark Twain yang sebenarnya sebelum nya pernah
digunakan oleh juru m udi kapal api yang lebih tua, Isaiah Sellers,
untuk tulisan-tulisannya dalam New Orleans Picay une. Clem ens
m engejek tulisan-tulisan dalam True Delta yang terbit di New
Orleans. Ejekan itu m enyebabkan Sellers m erasa begitu m alu atau
tersinggung sehingga berhenti m enulis sam a sekali. Clem ens yang
merasa bersalah, lalu menggunakan nama samaran itu sebagai
tanda penyesalan dan hasratnya untuk m erehabilitasi nam a
tersebut.

Karangan Mark Twain yang pertam a m enarik perhatian
luas ialah The Celebrated Jum ping Frogg of Calaveras County
and Other Sketches (1867) yang disusul dengan The Innocents
Abroad (1869) yang m elukiskan secara lucu perjalanan ke Laut
Tengah dan Yerusalem . Pengalam an m asa kecil hidup di sungai
Mississippi m enyebabkannya m enulis The Adventures of Tom
Saw y er (1876) dan Life on The Mississippi (1883) yang disusul
dengan The Adventures of Huckleberry Finn (1884). Sam bungan
yang ditulis sekitar sepuluh tahun kem udian, Tom Saw y er
Abroad (1894) dan Tom Saw y er Detective (1896) dianggap
kurang berhasil.

Terjem ahan Petualangan Tom Saw y er yang dikerjakan
oleh Djokolelono ini berdasarkan teks lengkap. J adi, bukan edisi
singkatan. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh Djokolelono

pada waktu m enerjem ahkannya (tahun 1970 -an) tentu berlainan
den gan bahasa Abdoel Moeis ketika pada tahun 1930 -an
m enerjem ahkannya buat Balai Pustaka. Bahasa Abdoel Moeis
lebih “m urni“, artinya lebih dekat dengan bahasa Melayu Tinggi
yang terutam a berkem bang sebagai bahasa tulisan. Sedangkan
bahasa Djokolelono lebih dekat dengan bahasa yang hidup
dipergunakan dalam m asyarakat Indonesia sekarang.

Ajip Rosidi,
Penerbit Pustaka Jay a

PENGANTAR

HAMPIR SEMUA peristiwa yang diceritakan dalam buku ini
betul-betul terjadi; satu-dua merupakan pengalamanku sendiri,
selebihnya pengalam an kawan-kawan sekolahku.

Huck Finn dilukiskan dari kehidupan sebenarnya; Tom
Sawyer dem ikian juga, tapi bukan dari satu pribadi. Ia m eru-
pakan gabungan sifat-sifat tiga orang anak yang kukenal, jadi
merupakan bentukan karangan.

Kepercayaan takhayul yan g an eh-an eh yan g disebutkan
dalam buku ini m erupakan kepercayaan yang sangat m endalam
di antara anak-anak serta para budak belian di daerah Barat pada
waktu cerita ini terjadi, yaitu tiga atau em patpuluh tahun yang
lalu.

Walaupun buku ini dimaksudkan terutama sebagai bacaan
bagi anak-anak dan para remaja, kuharap takkan dihindari oleh
orang-orang dewasa sebab sebagian dari maksudku mengarang

buku ini adalah untuk secara gembira mengingatkan para
orangtua akan dirinya bagaim ana m ereka dulu berpikir, berbicara
dan berperasaan, serta kejadian-kejadian aneh apa yang m ereka
a la m i.

Hartford, 1878
P en ga r a n g



Permainan Tom,
Perkelahian dan Sembunyi-
sembunyian

“TOM!”
Tak ada jawaban.
“Tom !”
Tak ada jawaban.
“Kenapa gerangan anak itu? Hei, Tom !”
Tak ada jawaban.
Nyonya tua itu m enarik kacam atanya ke bawah, m encari-

cari lewat bagian atas kacamata tersebut ke sekeliling ruangan;
kem udian diangkatnya kacam ata itu, m encari lewat bawahnya.
J arang, bahkan tidak pernah, kacam ata itu digunakannya untuk
m encari-cari sesuatu yang kecil seperti seorang anak. Kacam ata
itu kebanggaannya, dipakai bukan untuk kegunaannya nam un
hanya untuk bergaya—m enggunakan kacam ata itu baginya sam a
saja seperti m elihat dengan tutup kom por. Sesaat nyonya tua itu

2 Mark Twain

tampak kebingungan, kemudian berkata, tidak terlalu galak tapi
cukup keras untuk membuat perabot-perabot di kamar itu bisa
m endengar, “Hhh, awas nanti bila kau tertangkap olehku, akan
ku....”

Kalim at itu tak diselesaikan n ya. Ia m em bun gkuk dan
digebuk-gebuknya kolong tem pat tidur dengan sebatang sapu.
Untuk memukul-mukul ia perlu bernapas, maka kalimat itu
terputus. Yang keluar dari bawah kolong hanya seekor kucing.

“Anak itu betul-betul tak bisa kupegang ekornya.”
Ia pergi ke pintu yang terbuka, m em perhatikan pokok-pokok
tom at dan sem ak-sem ak jim son yang m erupakan bagian utam a
di dalam kebun. Tom tak terlihat. Dengan suara yang lebih tinggi
nyonya tua itu berteriak, “Heeei, Tom !”
Terdengar bunyi gem erisik di belakangnya dan ia berpaling
untuk m enangkap anak kecil yang sedang berlari itu.
“Heh! Mengapa tak terpikir olehku lem ari itu. Apa yang kau
kerjakan di dalam lemari itu?”
“Bukan apa-apa, Bi.”
“Bukan apa-apa! Lihat tanganm u! Dan lihat m ulutm u! Bekas
apa itu?”
“Tidak tahu, Bi.”
“Baiklah, tapi aku tahu. Itu bekas selai, tak salah lagi. Em pat
puluh kali sudah kuperingatkan padamu, jangan mengganggu
tem pat selai itu, kalau kau tak ingin kukuliti. Bawa ke m ari
cam buk itu!”
Cam buk terangkat... bahaya m engancam ....
“Astaga! Tengok ke belakang, Bi!”
Nyonya tua itu berpaling, m enyam bar gaunnya dari bahaya.
Pada saat itu juga anak itu lari, m elom pati pagar yang tinggi dan
len ya p .

Petualangan Tom Sawyer 3

Bibi Polly tertegun sesaat, kem udian terdengar tawanya yang
sehat.

“Sialan betul anak itu, m asih saja aku ditipunya. Seha-
rusnya aku saat ini sudah cukup waspada, begitu sering ia
m em perm ainkan aku. Betul-betul orang tua yang tolol adalah
yang paling tolol. Anjing tua tak bisa diajari lagi, kata peribahasa.
Tapi Tuhanku, tipuannya selalu berubah-ubah, sam a sekali tak
bisa diduga-duga. Dan agaknya ia tahu sam pai berapa jauh bisa
m enyiksaku sebelum am arahku m em uncak, dan ia tahu saja bila
ia bisa membuatku lalai sesaat atau membuatku tertawa, sehingga
segalanya beres dan aku tak tega untuk m em ukulnya. Dem i
Tuhan, aku telah melalaikan kewajibanku terhadap anak itu!
Menghem at cam buk berarti m erusak anak, kata Kitab Suci. Bila ia
tak kukerasi, berarti aku m enim bun dosa untuknya dan untukku
sendiri, aku tahu itu. Nakalnya bukan m ain, tapi ia anak alm ar-
hum adik kandungku, aduhai, tak sam pai hatiku m encam buknya.
Tiap kali ia kubebaskan dari hukuman, batinku menderita; dan
tiap kali ia kuhukum, hatiku serasa akan pecah lantaran sedih.
Hhhhhh, lelaki yang lahir dari wanita, harinya pendek dan penuh
kesulitan, seperti kata Kitab Suci. Kukira betul juga. Sore ini ia
pasti m em bolos dari sekolah dan aku terpaksa harus m enyu-
ruhnya bekerja besok pagi untuk m enghukum nya. Sungguh sulit
untuk m enyuruh dia bekerja pada hari Sabtu saat anak-anak lain
menikmati hari libur. Tetapi ia paling benci bekerja dan aku harus
m elakukan kewajibanku terhadap anak itu. Kalau tidak, aku akan
m em buat rusak hidupnya.”

Tom betul-betul membolos. Ia bermain-main sepuas hati. Ia
pulang tepat pada waktunya sehingga m asih sem pat m enolong
J im , seorang anak kulit berwarna, m enggergaji kayu untuk
keesokan harinya serta m enyerpih-nyerpih kayu bakar sebelum
m akan m alam . Setidak-tidaknya dia di situ untuk m enceritakan

4 Mark Twain

petualangannya sem entara J im m engerjakan tiga perem pat
pekerjaannya. Adik Tom (atau lebih tepat adik tirinya) Sid, telah
m enyelesaikan tugasnya (m engum pulkan serpihan kayu bakar).
Sidney adalah seorang anak pendiam dan tidak nakal.

Sementara Tom makan malam dan mencuri gula bila ada
kesem patan , Bibi Polly m en gajukan pertan yaan -pertan yaan
yan g pen uh den gan peran gkap tersem bun yi—n yon ya itu
ingin m enjebak Tom m em buka rahasia tentang kesalahan yang
dibuatnya. Seperti orang-orang yang berjiwa sederhana lainnya
Bibi Polly m erasa berbakat untuk m em ecahkan rahasia dengan
pertanyaan-pertanyaan yang berbelit-belit. Tak disadarinya
bahwa orang dengan mudah bisa mengetahui ke mana arah se-
benarnya pertanyaan-pertanyaan itu.

“Tom , hari ini di sekolah agak panas, bukan?” tanya Bibi
Polly.

“Ya, Bi.”
“Sangat panas, bukan?”
“Ya, Bi.”
“Apakah tadi kau tak ingin berenang, Tom ?”
Setitik rasa waswas m uncul di kepala Tom . Kecurigaannya
tim bul. Diperhatikannya wajah Bibi Polly, nam un wajah itu tak
m enerangkan apa-apa. Maka ia m enjawab, “Tidak, Bi... eh, ingin
juga sedikit.”
Bibi Polly m engeluarkan tangan, m eraba kem eja Tom dan
berkata, “Tapi kini kau tak m erasa panas lagi, toh?“
Dalam hati Bibi Polly m erasa san gat ban gga bisa
m engetahui kem eja Tom kering tanpa seorang pun yang tahu
bahwa m em ang itulah yang sebenarnya ingin dia ketahui. Tak
diduganya bahwa kini Tom m engerti arah pem bicaraan itu.
Tom m enunda ‘serangan’ bibinya yang berikut dengan berkata,

Petualangan Tom Sawyer 5

“Beberapa orang kawan m em om pa air untuk m em basahi kepala
kam i m asing-m asing. Coba raba, kepalaku m asih lem bap.”

Bibi Polly m erasa m en yesal sekali karen a telah m e-
lewatkan bukti kecil itu, sehingga kehilangan kesempatan untuk
m enyerang. Nam un ia m endapat ilham baru dan berkata, “Tom ,
bukankah untuk membasahi kepalamu kau tak usah membuka
leher kem ejam u yang kujahit? Buka jaketm u!”

Rasa waswas lenyap dari wajah Tom . J aketnya dibuka, leher
bajunya m asih terjahit rapat.

“Sialan! Pergilah sekarang! Kukira, kau tadi bolos dan pergi
berenang. Tapi kuam puni kau, Tom . Agaknya kau seum pam a
kucing terbakar, buruk di luar baik di dalam . Setidak-tidaknya
untuk kali ini.”

Bibi Polly agak m enyesal bahwa ‘serangan-serangannya’ tak
berhasil, tapi di balik itu girang karena sekali ini Tom patuh pada
peraturan.

Tetapi Sidney berkata, “Wah, Bi, kalau tidak salah leher kem e
ja itu Bibi jahit dengan benang putih, tapi kini benangnya hitam .”

“Astaga! Mem ang kujahit dengan benang putih! Tom !”
Tom tak menunggu lagi. Ia belari ke luar. Di pintu masih
sem pat ia berseru, “Sidney, awas nanti!”
Di sebuah tem pat yang am an Tom m em eriksa dua batang
jarum yang disim pan di leher jaketnya. Sebatang dengan benang
putih, yang lain dengan benang hitam . Tom m enggerutu, “Bibi
tak akan tahu bila tidak diberi tahu oleh Sid. Sialan! Kadang-
kadang ia m em akai benang putih, kadang-kadang pula hitam . Bi-
ngung aku. Alangkah senangnya, bila ia hanya m enggunakan satu
macam benang saja. Tetapi tak apalah, akan kuhajar Sid untuk
pengkhianatannya. Dia betul-betul harus dihajar!”
Tom bukan anak teladan yang patut dicontoh oleh anak-anak
lain di kam pung itu. Ia tahu siapa anak teladan—dan ia sangat
membenci anak itu.

6 Mark Twain

Dalam dua menit, bahkan kurang, ia telah lupa akan segala
kesulitannya. Bukan karena kesulitan itu baginya kurang berat
dan kurang pahit dibanding dengan kesulitan orang dewasa,
tetapi karena ada sesuatu yang baru dan lebih m enarik yang telah
m enghapuskan kesulitan dari pikirannya waktu itu—seperti juga
kesulitan orang dewasa akan terlupakan oleh sesuatu rangsangan
yang baru.

Bagi Tom , ‘sesuatu’ itu adalah cara baru bersiul yang baru
saja dipelajarinya dari seorang negro dan ia telah bersusah payah
untuk m elatih siulan itu tanpa diganggu. Suara siulannya seperti
lekukan nyanyi burung, sem acam nyanyian gelagak air yang
dibuat dengan jalan m enyentuhkan ujung lidah ke langit-langit
m ulut di tengah-tengah lagu yang sedang disiulkan. Mungkin
pem baca sendiri m asih ingat bagaim ana caranya jika pem baca
pern ah m en jadi an ak-an ak. Kerajin an dan kesun gguhan n ya
m enyebabkan ia cepat m enguasai ‘ilm u baru’ itu. Tom berjalan
dengan mulut penuh irama dan jiwa penuh rasa terima kasih.
Perasaan hatinya sam a dengan perasaan seorang ahli ilm u
bintang yang baru saja m enem ukan sebuah planet baru—bahkan
bila yang dijadikan ukuran adalah perasaan gem bira yang kuat
dan dalam serta m urni, m aka perasaannya jauh lebih senang dari
perasaan si ahli bintang.

Sore pada musim panas panjang. Hari belum gelap. Tiba-
tiba Tom m enghentikan siulnya. Seseorang yang belum dikenal
berdiri di depannya. Anak itu sedikit lebih besar daripadanya.
Seorang yang baru, tidak peduli um ur atau jenis kelam innya
m erupakan daya tarik perhatian yang am at kuat di desa St.
Petersburg yang kecil, m iskin, dan tak teratur itu. Anak asing ini
berpakaian mencolok, memakai pakaian serba baik pada hari
yang bukan hari Minggu, sesuatu hal yang sangat m engheran-
kan di St. Petersburg. Topinya sangat bagus, baju luarnya yang
berkancing banyak berwarna biru baru dan rapi. Begitu juga

Petualangan Tom Sawyer 7

celananya. Dan ia m em akai sepatu—m em akai sepatu pada hari
J um at! Bahkan ia m em akai dasi, dasi pita berwarna cerah.
Sekali pandang orang akan tahu bahwa anak baru ini datang
dari kota dan ini mempengaruhi pikiran Tom. Makin lama Tom
m em andang solekan anak baru itu, m akin diperjelasnya sikap
yang m enyatakan seolah-olah anak baru itu tak terpandang
sebelah m ata olehnya. Tapi m akin terasa pula betapa pakaiannya
buruk sekali bila dibandingkan dengan pakaian si anak asing.
Kedua anak itu tak ada yang berbicara. Bila seorang bergerak,
yang lain pun bergerak... dengan m iring, m em bentuk lingkaran.
Mereka terus saling berhadapan muka, mata saling pandang.
Akhirnya Tom berkata, “Aku bisa m enghajarm u!”

“Aku ingin sekali m elihatm u m encobanya.”
“Hh, aku bisa.”
“Tidak, kau tak akan bisa.”
“Bisa!”
“Tidak, kau tak bisa.”
“Aku bisa!”
“Kau tak bisa!”
“Bisa!”
“Tak bisa!”
Mereka diam penuh ketegangan. Kem udian Tom bertanya,
“Siapa nam am u?”
“Bukan urusanm u, m ungkin.”
“Hh, kubuat itu urusanku!”
“Coba saja!”
“Bila kau om ong banyak, akan kujadikan urusanku.”
“Banyak—banyak—bany ak! Nah, sudah kukatakan.”
“J angan berlagak! Aku bisa m engalahkanm u dengan satu
tangan diikat di punggungku bila saja aku mau.”

8 Mark Twain

“Lakukan segera! Kau bilang tadi kau bisa.”
“Tunggu, bila kau bikin gara-gara.”
“Oh, y ... banyak sekali kulihat seluruh keluarga m enghadapi
persoalan yang sam a.”
“Lagaknya! Kau kira kau m anusia luar biasa, huh? Cih, topi
apa itu.”
“Kau boleh m em buang topiku ini bila kau tak m enyukainya.
Ayo kalau berani... dan siapa pun yang berani m em buang topiku
ini pasti kubikin bocor hidungnya.”
“Pem bohong!”
“Kau juga!”
“Kau pura-pura berani berkelahi, tapi sebetulnya pengecut!”
“Oh, pergi sajalah!”
“Dengar... bila kau m asih saja banyak lagak akan kuam bil
batu dan kulempar kepalamu.”
“Oh, betul?“
“Kau kira aku tak berani?”
“Nah, kenapa tak segera kau lakukan om onganm u itu? Untuk
apa kau terus-terusan om ong? Aku tahu, kau tidak akan lakukan
ucapanmu itu, karena kau takut.”
“Aku tidak takut!”
“Kau takut!”
“Tid a k!”
“Ya!”
Berhenti lagi dan saling tatap, serta bergerak saling m engitari
sehingga akhirnya bahu m ereka bersentuhan.
“Pergi kau dari sini!” bentak Tom .
“Kau yang pergi!”
“Tidak m au!”
“Aku pun tak m au!”
Mereka berdiri, masing-masing dengan sebelah kaki
sebagai penopang, keduanya saling dorong dengan seluruh

Petualangan Tom Sawyer 9

“Lagaknya! Kau kira kau manusia luar biasa, huh?
Cih, topi apa itu.”

10 Mark Twain

tenaga, dengan mata penuh kebencian. Tak satu pun bergerak
m aju atau m undur. Beberapa lam a m ereka m em eras tenaga,
tubuh terasa panas dan air muka merah padam. Perlahan dan
penuh kewaspadaan masing-masing mengurangi tenaga dan Tom
berkata, “Kau pengecut. Kuadukan kau pada kakakku. Dengan
m udah ia bisa m elilitkan engkau dengan jari kelingkingnya.
Kusuruh dia m enghajarm u.”

“Kau kira aku takut pada kakakm u? Aku pun punya kakak,
lebih besar daripada kakakmu... dan ia bisa melempar kakakmu
ke balik pagar itu.” (Kedua ‘kakak’ itu hanya dalam khayalan
m a sin g-m a sin g).

“Boh on g!”
“Kata-katam u juga tak bisa dipercaya!”
Tom m em buat garis di atas tanah dengan ibu jari kakinya,
dan berkata, “Bila kau berani m elangkahi garis ini kuhajar kau
hingga kau tak akan sanggup berdiri lagi. Siapa pun yang berani
melangkahi garis ini, pastilah pencuri domba.”
Saat itu anak baru tersebut melangkahi garis tadi dan
berkata, “Lakukanlah apa yang kau katakan tadi.”
“J angan kau bikin aku m arah, hati-hati kau!”
“H hh, bukan kah kau sen diri yan g akan m en ghajarku;
mengapa tak segera kau lakukan?”
“Persetan! Dengan upah satu sen cukup bagiku untuk m eng-
hajarm u!”
Si anak baru mengambil sekeping uang tembaga lebar dari
sakunya dan m engulurkan pada Tom dengan m engejek. Tom
menampar uang itu hingga terlempar ke tanah. Sesaat kemudian
kedua anak itu bergulingan jungkir balik di tanah, saling
m encengkeram bagaikan dua ekor kucing. Kira-kira sem enit
mereka saling renggut dan tarik rambut serta pakaian masing-
masing lawan, menghantam dan mencakar hidung lawan dengan

Petualangan Tom Sawyer 11

badan bermandi debu. Segera kekacauan itu terhenti dan di
antara remang-remang terlihat Tom duduk di atas tubuh si
anak baru di tanah, m enghujaninya dengan tinju.

“Cukup enggak?” seru Tom .
Lawannya m encoba m em bebaskan diri. Kini ia m enangis,
menahan amarah.
“Cukup enggak?” seru Tom lagi, sem entara hujan tinjunya
tidak berhenti-henti.
Akhirnya si anak baru dengan susah payah berkata, “Sudah!”
Tom m em biarkan lawan n ya berdiri dan berkata, “Nah,
m udah-m udahan pelajaran ini betul-betul cukup. Lain kali hati-
hati berhadapan dengan aku.”
Anak baru itu m eninggalkan Tom sam bil m engipas-ngipas-
kan debu dari pakaiannya, tersedu-sedu, sekali-sekali m enoleh
ke belakang, menggelengkan kepala, dan meneriakkan ancaman
tentang apa yang akan diperbuatnya pada Tom , “lain kali bila
bertem u lagi.” Ancam an itu dijawab Tom dengan tawa m engejek,
ia berpaling untuk pergi dengan membusungkan dada. Tetapi
begitu Tom berpaling, si anak baru memungut sebuah batu,
m elem parnya tepat m engenai punggung Tom . Sebelum Tom
berpaling lagi, anak itu sudah berlari jauh. Tom mengejar sampai
ke rumah si pengkhianat itu, sehingga kini ia tahu tempat tinggal
anak itu. Beberapa lam a Tom berdiri di pintu pagar m enantang
m usuhnya agar keluar. Tapi si m usuh m engejeknya dari balik jen-
dela dan kem udian m enghilang. Akhirnya ibu si m usuh m uncul
dan m enyatakan Tom seorang anak jahat, kejam , dan biadab,
serta m enyuruhnya pergi. Tom pergi, setelah m enjawab bahwa
suatu kali ia akan m enghajar lagi m usuhnya.
Tom pulang, terlambat sekali malam itu. Pintu tertutup
semua. Hati-hati ia memanjat jendela, tetapi begitu masuk
didapatinya Bibi telah m enunggu; dan ketika Bibi Polly m elihat
keadaan pakaian Tom , m aka keputusannya untuk m em beri Tom
hukuman kerja pada hari Sabtu tak bisa diubah lagi.

Seniman Tukang Kapur

HARI SABTU pagi telah tiba, m em bawa kecerahan dan kesegaran
pada alam musim panas, penuh dengan kehidupan. Tiap hati
bernyanyi dan kalau kita m erasa m uda, nyanyian itu keluar dari
bibir. Tiap wajah gembira dan keriangan tampak di setiap langkah.
Pohon-pohon berkem bang harum dan arom anya sem erbak m e-
m enuhi udara. Bukit Cardiff yang terletak di luar desa, agak di
atasnya, berwarna hijau oleh tum buh-tum buhan. Dari kejauhan
tam pak bagaikan Tanah Im pian, tenang, seakan m em anggil yang
m elihatnya.

Tom m uncul di trotoar kayu dengan m em bawa seem ber
kapur dan sebuah sapu bergagang panjang. Ia memperhatikan
pagar papan yang harus dikapurnya dan sem ua kegem biraan
segera lenyap diganti oleh kem urungan yang m encengkam hati.
Hidup baginya terasa kosong, kehadirannya di dunia m alah
bagaikan beban. Pagar papan sepanjang tiga puluh meter dan

Petualangan Tom Sawyer 13

tinggi tiga meter! Sambil menghela napas panjang ia men-
celupkan sapu ke dalam ember dan menggoreskan sapu itu ke
papan paling atas, kem udian diulanginya pekerjaan itu, lalu
diulangi lagi. Dibandingkannya olesan kapur itu dengan pagar
yang belum dikapur, baginya pagar itu seolah benua luas yang tak
terlihat batasnya. Tom jadi putus asa, duduk di atas sebuah peti.
J im keluar, melompat-lompat dari pintu pagar membawa sebuah
em ber dan m enyanyikan Gadis-gadis Buffalo. Mengam bil air dari
sum ur pom pa um um m erupakan pekerjaan yang dibenci Tom ,
tetapi kini tidaklah demikian. Teringat ia bahwa di pompa umum
itu ada banyak sekali kawan. Anak-anak berkulit putih, coklat, dan
negro berkelompok di sekitar pompa menunggu giliran, beristi-
rahat, tukar-menukar barang permainan, bertengkar, berkelahi,
bersenda gurau. Dan, ia teringat walaupun sumur pompa itu
hanya seratus lim a puluh m eter jauhnya dari rum ah, J im jarang
sekali pulang dalam waktu kurang dari satu jam , itu pun biasanya
ia harus disusul. Tom berkata, “He, J im , biarlah aku yang m eng-
am bil air, kau yang m engapur.”

J im m en ggelen gkan kepala, m en jawab, “Tidak, Tom ,
Nyonya bilang harus aku yang m engam bil air. Aku dilarang ber-
henti dan berbicara dengan siapa pun. Nyonya m erasa Tom akan
m enyuruh saya m engapur, tapi saya tidak boleh m em perhatikan
kata-kata Tom , aku harus m engurus pekerjaan sendiri. Kata
Nyonya, ia sendiri yang akan m engurus pengapuran.”

“Oh, lupakanlah kata-kata Bibi, J im . Mem ang ia selalu
berkata begitu. Kem arikan em ber itu. Percayalah, sem enit saja
pasti aku telah kem bali. Bibi tak akan tahu.”

“Oh, aku tak berani, Tom . Nyonya pasti akan m encopot
kepalaku, bila ia tahu. Pasti.”

“Bibi Polly? Oh, ia tak pernah m em ukul, paling-paling
memukul kepala dengan sarung tangan. Dan siapa takut akan
sarung tangan? Ancam annya saja, tapi karena ancam an saja,

14 Mark Twain

tidak bisa sakit. Om ongannya saja banyak, tapi om ongan tidak
m enyakitkan, kalau tidak disertai m enangis. J im kuberi kau
sebutir kelereng. Kuberi kau kelereng batu pualam putih.”

J im mulai terbujuk.
“Lihat, J im , kelereng batu pualam putih, kelereng besar.”
“Wah, bagus betul kelereng ini, betul bagus. Tapi Tom , aku
sangat takut pada Nyonya....”
“Selain kelereng itu, akan kutunjukkan jari kakiku yang sakit
p ad am u .”
J im hanya m anusia biasa, hatinya jadi am at tertarik.
Diletakkannya em ber, kelereng pualam putih diterim anya dan ia
m em bungkuk untuk m em eriksa jari kaki Tom yang sakit. Dengan
penuh perhatian ia menunggu sementara perban jari itu dibuka.
Nam un tiba-tiba sebuah pukulan keras jatuh di punggungnya.
Tanpa m enoleh J im berlari dengan m em bawa em bernya, se-
m entara Tom cepat-cepat m engam bil sapu dan bekerja giat. Bibi
Polly kembali masuk rumah dengan sandal di tangan dan sinar
kem enangan pada kedua m atanya.
Kerajinan Tom tidak lam a. Ia m ulai m em ikirkan rencana
sebenarnya untuk hari itu dan kesedihan hatinya berlipat ganda.
Sebentar lagi kawan-kawannya pasti akan berm unculan, m asing-
masing mengejar kesenangan sendiri dan mereka pasti akan
m engolok-oloknya karena dihukum pada hari libur. Pikiran itu
m em buat otaknya m akin kacau. Ia berhenti bekerja, m engeluar-
kan sem ua harta bendanya, m em eriksanya—beberapa m ainan
kecil, kelereng, dan tetek bengek lainnya; cukup untuk m engupah
anak yang m au m engerjakan pekerjaannya, tapi tak cukup untuk
membeli setengah jam kebebasan. Maka Tom memasukkan
kem bali harta bendanya ke dalam kantung dan m em batalkan
rencana untuk m engupah kawan-kawannya. Pada saat pikirannya
sedang gelap, tiba-tiba ia m endapat ilham ! Betul-betul ilham
besar!

Petualangan Tom Sawyer 15

Diam bilnya sapu dan ia m ulai bekerja dengan tenang. Ben
Rogers m uncul—anak yang olok-oloknya paling ditakuti Tom !
Ben berlom pat-lom patan kecil, m enunjukkan hatinya yang riang,
melambung tinggi. Dia menggerogoti sebuah apel, berteriak-
teriak panjang berirama diikuti oleh suara ding-dong-dong, ding-
dong-dong bernada rendah. Agaknya Ben sedang m eniru bunyi
sebuah kapal uap. Ben m akin dekat, m engurangi kecepatan,
berdiri di tengah jalan, condong jauh ke sebelah kanan kapal
khayalannya, berputar berat seperti kapal uap terbesar m asa itu:
Big Missouri. Ben m enjadi kapal, sekaligus kapten kapal, lonceng
m esin, m aka ia harus m em bayangkan dirinya di geladak depan,
meneriakkan perintah serta mengerjakan perintah itu juga.

“Hentikan kapal, Tuan! Ting-a-ling-ling!” ham pir ia kehabisan
tempat, perlahan mundur ke trotoar.

“Undurkan! Ting-a-ling-ling!” kedua belah lengannya kejang
lurus di sam ping tubuh. “Hidupkan roda kanan! Ting-a-ling-
ling! J us-jus-jus! J us!” Tangan kanannya berputar m em bentuk
lingkaran besar, sebab tangan itu bergerak sebagai roda dayung
yang bergaris tengah em pat puluh kaki.

“Hidupkan roda kiri!” Tangan kiri m ulai berputar: “Ting-a-
ling-ling! J us-jus-j-jus!”

“Hentikan roda kanan! Ting-a-ling-ling! Hentikan roda kiri!
Tam bah kekuatan roda kanan! Hentikan! Biarkan bagian luar
berputar pelan! Ting-a-ling-ling! J us-jus-jus! Lem parkan tali
utam a! Cepat! Ayo, keluarkan tali pelom pat. He, apa yang kau
kerjakan di situ! Ayo, bantu si tonggak dengan gulungannya!
Siapkan pangkalan, ayo, lepaskan! Matikan m esin! Ting-a-ling-
ling! Sh’t! Sh’t! Sh’t!” (Mencoba alat pengukur tekanan uap).

Tom m engapur saja, sam a sekali tak m em perhatikan ‘kapal
uap raksasa’ itu. Ben m em andangnya sesaat, kem udian berkata,
“Haya! Kau betul-betul sebuah tunggul kayu!”

16 Mark Twain

Tak ada jawaban. Tom m em eriksa hasil sapuannya yang
terakhir dengan m ata seorang senim an, kem udian disapukannya
lagi sapu perlahan-lahan dan m em perhatikan hasilnya. Ben
berdiri di sam pingnya. Air liur Tom m enitik saat m elirik apel
di tangan Ben, tapi ia terus bekerja. Ben berkata, “Halo, Sobat
kental, kau harus bekerja, he?”

Tom berpaling tiba-tiba dan berkata, “Astaga, kau ini, Ben?
Maaf, aku tak tahu.”

“Hh? Dengar, aku akan pergi berenang. Kau pasti ingin
berenang pula, bukan? Tetapi tentu saja kau akan bilang bekerja
lebih senang daripada berenang. Betul begitu, kan?”

Tom m em an dan g Ben sesaat, “Apa yan g kau n am akan
bekerja?“

“Wah, bukankah ini bekerja nam anya?”
Tom kem bali m engapur dan m enjawab acuh tak acuh, “Hm ,
m ungkin ini bekerja, m ungkin juga tidak. Bagaim anapun, ini
sangat cocok bagi Tom Sawyer.”
“J an gan berlagak, kau kira aku percaya kau m en yukai
pekerjaan ini?”
Sapu Tom terus bekerja.
“Men yukai? Men gapa tidak? Apakah kau setiap hari
m em punyai kesem patan untuk m engapur pagar?”
Ini m enggugah pikiran Ben. Ia berhenti m enggigit apel.
Tom terus m engerjakan sapuannya dengan hati-hati, m undur
sedikit untuk m elihat hasilnya, m enam bah olesan di sana sini,
lalu m enilai lagi sem entara Ben yang m em perhatikan setiap
gerakannya m akin lam a m akin tertarik. Akhirnya Ben berkata,
“He, Tom , biarlah aku coba m engapur.”
Tom mempertimbangkan permintaan itu. Hampir saja
m eluluskannya tapi ia segera m engubah pikiran, “Tidak, tidak,
sayang sekali tidak bisa, Ben. Kau tahu, Bibi Polly sangat teliti
tentang pagar ini sebab letaknya di tepi jalan besar. Kalau pagar

Petualangan Tom Sawyer 17

belakang aku tak akan keberatan, juga Bibi Polly. Ya, dia sangat
m engutam akan pagar ini, m engapurnya harus hati-hati. Kukira
hanya ada seorang anak di antara seribu, m ungkin di antara dua
ribu, yang bisa m engapurnya seperti yang dikehendaki Bibi.”

“Masa. Biar kucoba. Sebentar saja, Tom . Bila kau m enjadi
aku, pasti kau kuperbolehkan, Tom.”

“Ben, sungguh m ati aku pun tak keberatan kau m encoba
m engapur tapi Bibi Polly... hhh.... J im ingin m engerjakannya
tetapi tidak boleh; Sid juga ingin, juga tak diizinkan. Mengertikah
kau betapa sulitn ya kedudukan ku? Bila kau kuperbolehkan
mengapur, kemudian terjadi kesalahan....”

“Oh, tak m ungkin, Tom , aku akan berhati-hati. Ayolah, m ari
kucoba. Dengar, apelku ini boleh kau ambil sebagian.”

“Baiklah, nih... oh, tidak, Ben, aku takut....”
“Apelku ini untuk kau sem ua, deh!”
Dengan air muka enggan tapi hati gembira, Tom
m em berikan sapunya. Dan sem entara m antan kapal uap Big
Missouri itu bekerja bermandi peluh di panas matahari, si
mantan seniman tukang kapur duduk di sebuah tong terlindung
dari sinar m atahari, m enggoyang-goyangkan kaki sam bil m akan
apel. Pikirannya penuh rencana untuk m encari korban lain.
Bahan untuk korban kelicikannya tak kurang. Sebentar-sebentar
m uncul seorang anak yang datang untuk m engejek tetapi kem u-
dian m engerjakan pekerjaan Tom pula. Pada saat Ben tak kuat
lagi, Tom telah m enjual giliran berikutnya pada Billy Fisher
yang m em bayar dengan sebuah layang-layang. Billy diganti oleh
J ohnny Miller dengan pem bayaran seekor tikus m ati yang diikat
tali untuk m em utarnya. Dem ikianlah seterusnya jam dem i jam .
Pada tengah hari, Tom yang pada pagi hari m em ulai pekerjaan
dalam keadaan m iskin, kini telah m enjadi kaya. Kecuali benda-
benda yang telah disebutkan di atas, ia pun m endapatkan dua
belas kelereng, sebuah belahan kecapi Yahudi, sepotong gelas

18 Mark Twain

Pikirannya penuh rencana untuk mencari korban lain.
botol biru untuk meneropong, sebuah meriam mainan dari kelos
benang, sebuah kunci yang tak bisa dipakai lagi, sepotong kapur,
tutup stoples dari gelas, serdadu mainan dari timah, sepasang
katak, enam buah petasan, seekor anak kucing bermata satu,
sebuah tombol pintu dari kuningan, seutas kalung anjing (tapi
tanpa anjingnya), gagang pisau, em pat pangsa jeruk, dan sebuah
jendela kaca yang telah rusak.

Sementara harta benda itu terkumpul, ia bersenang-senang
berm alas-m alasan. Kawannya banyak dan pagar telah dikapur
sam pai tiga kali. Bila ia tak kehabisan kapur, pasti sem ua anak di
desa itu menjadi melarat.

Tom berpendapat bahwa rupanya dunia ini tak begitu
m engecewakan seperti perkiraannya tadi pagi. Tanpa
diketahuinya, ia telah m enem ukan sebuah hukum besar dari
sifat m anusia, yaitu untuk m em buat seseorang m enghendaki
sesuatu, bikinlah ‘sesuatu’ itu sukar untuk diperoleh. Kalau

Petualangan Tom Sawyer 19

Tom menjadi seorang ahli ilsafat besar dan bijaksana seperti
pengarang buku ini, ia akan mengerti, bahwa kerja terdiri dari
apa saja yang wajib dikerjakan, sedang berm ain-m ain ialah yang
tak wajib dikerjakan oleh seseorang. Contohnya, m em buat bunga
tiruan atau memperlihatkan ketangkasan di atas jentera adalah
bekerja, sedang menggulirkan sepuluh pin bow ling atau mendaki
gunung Mont Blanc hanyalah hiburan. Banyak sekali orang kaya
di Inggris yang m engendalikan kereta penum pang berkuda em pat
sejauh dua puluh atau tiga puluh kilometer di jalan lalu lintas
um um , dan untuk m engerjakan itu m ereka harus m em bayar uang
dalam jum lah banyak; tetapi bila penum pang m em bayar, m ereka
tak akan mau mengerjakan pekerjaan itu sebab mereka bukan
bersenang-senang lagi nam anya, m elainkan m encari upah.

Beberapa saat Tom m erenungkan tentang perubahan yang
dialam inya, kem udian ia pergi ke m arkas besar untuk m elaporkan.

Dalam Perang dan Cinta

TOM MENGHADAP Bibi Polly yang sedang duduk di dekat jendela
terbuka di kam ar belakang, kam ar yang m erupakan gabungan
antara kamar tidur, kamar makan, dan perpustakaan. Udara
hangat musim panas, suasana tenang, wangi bunga-bunga, dan
suara kum ban g-kum ban g yan g m en den gun g m em buat Bibi
Polly terkantuk-kantuk di atas rajutannya. Ia tak berkawan
kecuali dengan kucingnya. Kucing itu pun telah tertidur di
pangkuannya. Agar tak jatuh, kacam ata bibi itu disisipkan di
kepalanya. Nyonya tua itu m engira, pastilah Tom telah m elarikan
diri dan sudah tentu ia heran melihat anak itu dengan berani
datang ke daerah kekuasaannya dan bertanya, “Bi, bolehkah aku
kini bermain?”

“Apa? Begini pagi? Berapa luas yang telah kau kapur?”
“Selesai sem uanya, Bi.”

Petualangan Tom Sawyer 21

“Tom , jangan berdusta, aku tak tahan kau berdusta.”
“Aku tidak berdusta, Bi, pagar itu telah selesai dikapur.“
Bibi Polly ham pir tidak percaya. Segera ia keluar untuk
m em buktikannya. Kalau pernyataan Tom itu hanya dua puluh
persen dari kebenarannya, ia akan sudah m erasa puas. Bukan
m ain tercengangnya Bibi Polly waktu m elihat bukan saja pagar itu
selesai dikapur tapi jelas terlihat bahwa pengapuran itu dilakukan
sam pai beberapa kali, bahkan tanahnya juga dikapur.
“Masya Allah!” seru Bibi Polly, “sebetuln ya kau dapat
bekerja, Tom , bila kau m au.” Kem udian ia m enetralkan pujian
itu den gan m en am bahkan , “Tapi jaran g sekali kau pun ya
kem auan untuk bekerja. Baik, pergilah berm ain tetapi jangan lupa
pulang kem bali pada waktunya. Kalau tidak, kukuliti engkau.”
Bibi Polly begitu terpesona oleh hasil kerja Tom , sehingga
Tom dibawanya ke lem ari. Dipilihnya apel yang terbaik, lalu
diberikannya kepada Tom dengan diiringi kuliah bagaim ana
harga dan rasa sesuatu sangat menonjol bila didapat dengan
kebersihan hati dan dengan usaha yang terpuji. Sem entara Bibi
Polly m enutup kuliahnya dengan kata-kata m utiara dari Kitab
Suci, Tom telah berhasil mencopet kue donat dari lemari.
Waktu Tom melompat ke luar, sekilas ia melihat Sid akan naik
tangga luar yang m enuju kam ar-kam ar belakang di tingkat dua.
Sekejap saja kepalan-kepalan tanah menghujani Sid dan sebelum
Bibi Polly sem pat m enolongnya, tujuh atau enam gum pal tanah
telah tepat mengenai sasaran, sementara Tom melompati pagar
dan m enghilang. Pagar itu m em punyai pintu tapi biasanya Tom
tidak punya waktu untuk m enggunakan pintu pagar itu. Sekarang
hatinya m erasa tenang karena telah berhasil m em balas dendam
pada Sid atas pengkhianatannya tentang benang hitam yang
m em buatnya m endapat banyak sekali kesulitan.
Tom melintasi blok itu sampai ke sebuah gang berlumpur
yang m elewati bagian belakang kandang sapi bibinya. Kini ia

22 Mark Twain

tak bisa dicapai oleh bibinya lagi dan ia bergegas m enuju tanah
lapang desa tem pat dua buah kelom pok pasukan yang terdiri
dari anak-anak telah bertemu untuk mengadakan pertempuran
sesuai dengan syarat-syarat yang diucapkan sebelum nya. Tom
adalah jenderal sebuah kelompok, J oe Harper (seorang kawan
karibnya) m enjenderali kelom pok lainnya. Kedua pem im pin
besar ini tak sudi untuk melibatkan diri dalam pertempuran
yang dilakukan oleh anak-anak yang lebih kecil. Kedua jenderal
duduk di tempat istimewa dan memimpin operasi tentara dengan
perintah-perintah yang disam paikan pada pasukan m elalui bebe-
rapa orang pembantu. Setelah bertempur sengit, pasukan Tom
m endapat kem enangan besar. Kem udian yang m ati dihitung,
tawanan-tawanan ditukar, batasan untuk perselisihan berikutnya
disetujui, hari untuk pertem puran yang dibutuhkan ditentukan.
Setelah itu kedua kelompok berbaris dan Tom sendiri pulang.

Ketika ia m elewati rum ah J eff Thatcher, Tom m elihat
seorang anak perempuan di kebun. Seorang gadis cilik bermata
biru dengan rambut pirang berkepang dua, memakai rok musim
panas putih dengan celana dalam berenda. J enderal yang baru
saja m enang perang itu seakan rubuh tanpa tertem bak. Am y
Lawrence, gadis yang selam a ini m enghias hatinya lenyap seketika,
lenyap tak berbekas. Tom pernah m engira bahwa ia bagaikan
gila m encintai Am y, ia m em uja gadis itu sepenuh hati. Ternyata
sem uanya disebabkan oleh daya tarik Am y yang kini disadarinya
tak ada seperseribu dari sebutir debu. Berbulan-bulan ia m encoba
m em ikat Am y dan sem inggu yang lalu Am y m engaku, ia pun
mencintai Tom. Selama seminggu Tom merasa menjadi anak
yang paling bangga dan paling bahagia di dunia tetapi perasaan
itu segera lenyap tak berbekas ketika ia m elihat gadis baru ini.

Dipujanya bidadari baru ini dengan m ata tak berkedip
sam pai ia m enyaksikan bidadari itu m elihatnya. Tom berpura-
pura tak tahu bahwa si gadis berada di situ. Maka ia m ulai ‘jual

Petualangan Tom Sawyer 23

tampang’ mempertontonkan berbagai keanehan cara anak lelaki
untuk menarik perhatian si gadis cilik. Dalam waktu beberapa
lam a Tom m enunjukkan tingkah tolol yang lucu sam pai satu
ketika ia tengah m elakukan senam ketangkasan yang berbahaya,
ia m elirik ke sam ping dan m elihat bahwa gadis pujaannya itu
telah meninggalkan kebun dan berjalan pulang. Tom mendekati
pagar, berdiri bertum pu pada pagar itu. Hatinya sedih, penuh
harapan, semoga si gadis itu tak segera masuk rumah. Si gadis
berhenti sesaat kemudian berjalan ke arah pintu. Tom menghela
napas panjang waktu si gadis masuk ke dalam rumah. Tetapi
air m uka Tom seketika m enjadi cerah sebab sebelum lenyap ke
dalam rumah si gadis melemparkan bunga melati melewati pagar!

Tom berlari memutar, berhenti sampai beberapa sentimeter
dari bunga itu. Tangannya ditudungkan di atas alis, m enatap
ke ujung jalan seolah-olah ada yang m enarik perhatiannya.
Kem udian diam bilnya sebatang jeram i, yang ia dirikan di atas
hidungnya sem entara ia m enengadahkan kepala jauh ke be-
lakang. Sambil menjaga keseimbangan jerami, ia bergerak ke
sam ping, m akin lam a m akin m endekati bunga sam pai akhirnya
kakinya m enyentuh bunga itu. Dengan jari-jarinya, Tom m en-
cengkeram bunga itu dan melompat-lompat menghilang untuk
m enyem atkan bunga itu di jaketnya di dekat jantung atau di dekat
perutnya. Ia tak m em punyai banyak pengetahuan tentang tubuh
m a n u sia .

Kem udian Tom kem bali ke depan rum ah si gadis sam pai
m alam tiba, ‘jual tam pang’ seperti tadi, nam un ternyata si gadis
tak keluar lagi. Tom m enghibur dirinya dengan berkata dalam
hati, mungkin si gadis berada di balik salah satu jendela dan
m em perhatikan dia. Akhirnya dengan rasa segan Tom pulang,
dengan pikiran penuh impian.

Selama makan malam Tom tampak begitu gembira hingga
Bibi Polly bertanya-tanya dalam hati, “Apa gerangan yang terjadi

24 Mark Twain

pada anak itu?” Tom tak m enghiraukan kem arahan bibinya karena
telah m elem pari Sid. Di depan m ata bibinya terang-terangan ia
m encoba m encuri gula. Karena itu, tangannya m endapat pukulan
keras. Tom m em bela diri, “Bibi tak pernah m em ukul Sid kalau ia
mengambil gula.”

“Sid tak pernah m enyiksa orang seperti engkau. Setiap saat
aku berpaling, kau selalu mencoba mengambil gula.”

Beberapa saat kem udian Bibi Pollypergi ke dapur. Kesem patan
ini digunakan oleh Sid untuk m em am erkan kekebalannya, yang
hampir tak tertahankan oleh Tom. Sid mengulurkan tangan ke
mangkuk tempat gula. Sial bagi Sid, mangkuk itu terlepas dari
tangannya dan jatuh pecah. Tak terkira kegem biraan Tom sam pai
m em buatnya m enahan m ulut untuk bersuara. Pikirannya, ia
akan terus m enutup m ulut, duduk diam sam pai bibinya bertanya
siapa yang berbuat salah; dan Tom akan berterus terang. Akan
sangat m enyenangkan untuk m elihat anak terbaik di kam pung itu
m endapat hajaran. Begitu besar harapan Tom sam pai ham pir ia
tak bisa m enahan diri waktu bibinya datang dan berdiri di depan
pecahan mangkuk dengan mata terbelalak penuh amarah di balik
kacam atanya, “Ini dia!” pikir Tom . Dan tepat pada saat itu tiba-
tiba saja ia terlem par ke lantai. Tangan bibinya sudah terangkat
lagi untuk m em ukul, ketika ia cepat berteriak, “Bi, m engapa aku
yang dipukul! Sid yang m em ecahkannya!”

Bibi Polly tertegun bingung dan Tom m enunggu belas kasihan
yang bisa m enyem buhkan rasa sakitnya. Tetapi ketika Bibi Polly
berbicara lagi, katanya, “Pukulan itu tak sia-sia sebab sudah pasti
kau berlaku nakal, luar biasa pula, waktu Bibi tadi tak di sini.”

Dalam hati Bibi Polly sangat m enyesal. Ia ingin m eng-
ucapkan yang lem but dan penuh cinta tapi ia berpikir perkataan-
perkataan serupa itu akan menimbulkan pengakuan bahwa ia
berada di pihak salah dan ini akan mengacaukan tata tertib. Maka
Bibi Polly diam saja, m engerjakan pekerjaannya dengan hati yang

Petualangan Tom Sawyer 25

berat. Tom merengut di sudut kamar, berduka cita. Ia tahu, di
dalam hatinya Bibi Polly sedang m erengek-rengek m inta m aaf
kepadanya dan ini sedikit m eringankan kem urungannya. Ia m ene-
tapkan di dalam hatinya bahwa ia sam a sekali tak akan m em beri
tanda bahwa ia telah m em aafkan kesalahan bibinya dan juga tak
akan m em perhatikan tanda-tanda perm intaan m aaf. Tom tahu,
pandangan-pandangan m em inta m aaf dilem parkan padanya
dengan mata diliputi air mata tetapi ia menolak mentah-mentah
untuk m em perhatikan sem ua itu. Dirinya seolah-olah terbaring
sakit hendak m elepaskan nyawa penghabisan dan bibinya m em -
bungkuk menantikan sepatah kata, namun ia membalikkan tubuh
menghadap ke dinding dan tak ingin mengucapkan apa-apa,
pura-pura akan m ati. Ah, bagaim ana perasaan bibinya nanti?
Dan dibayangkannya dia diangkat orang dari sungai, tubuhnya
basah kuyup dan jantungnya tak berdetak lagi. Betapa bibinya
akan m em eluknya sem entara air m ata berderai bagai hujan. Pasti
Bibi akan m em ohon kepada Tuhan, agar ia dihidupkan kem bali
dengan janji, ia tak akan m enghajarnya lagi. Tetapi Tom tak akan
hidup kembali, terbaring pucat dan dingin, tak memberi tanda
hidup sedikit pun, seorang penderita cilik yang kedukaannya kini
telah berakhir.

Begitu penuh perasaan ia m em bayangkan im pian ini hingga
kerongkongannya terasa tersekat dan m atanya penuh air m ata
yang akhirnya m engalir m elewati hidung waktu ia m engerjapkan
m ata. Menurutkan kesedihan itu begitu m enyenangkan bagi Tom
hingga ia tak sudi sedikit kegembiraan atau secercah kesenangan
m em asuki dunia kesedihannya. Kedukaannya terlalu suci untuk
dinodai oleh kegem biraan. Maka ketika Mary, sepupunya, m asuk
sambil menari, gembira kembali pulang setelah bepergian
sem inggu yang rasanya berabad-abad, Tom bangkit dengan
diselubungi kedukaan untuk menghindari sinar kegembiraan
Ma r y.

26 Mark Twain

Ia berjalan tak tentu tujuan ke tem pat-tem pat yang jauh
dari yang biasa dikunjungi oleh anak-anak m encari tem pat sepi
dan terpencil yang serasi dengan keadaan jiwanya waktu itu.
Sebuah rakit kayu di sungai bagaikan m em anggil-m anggilnya.
Tom duduk di rakit itu merenungi keluasan sungai sambil
berharap ia terbenam secepat-cepatnya, tanpa m erasakan seperti
orang-orang lain yang sungguh-sungguh terbenam . Kem udian
teringat olehnya bunga yang sekuntum itu. Dikeluarkannya bunga
itu, kum al dan layu. Kebahagiaannya pun m enjadi bertam bah
suram . Tom bertanya-tanya dalam hati, apakah si gadis m enaruh
kasihan? Mungkinkah gadis itu akan m enangis dan m em eluknya,
m enghiburnya? Ataukah si gadis juga akan m eninggalkannya
seperti dunia yang kejam ini? Bayangan tentang ini m enim bulkan
penderitaan batin yang terasa nikm at hingga Tom terus-m enerus
berkhayal sam pai akhirnya m enjadi bosan. Maka berdirilah dia
menghilang dalam kegelapan.

Kira-kira pukul sepuluh ia tiba di jalan sepi, tem pat pujaan
hatinya tinggal. Tom berhenti sesaat. Tak terdengar suara sedikit
pun. Tam pak sinar lilin bercahaya redup di sebuah jendela di
tingkat dua. Apakah pujaan hatinya di sana? Tom m em anjat
pagar hati-hati, tanpa bersuara di antara tanam-tanaman hingga
akhirnya ia berdiri tepat di bawah jendela tadi. Lam a sekali
dipandanginya jendela itu dengan penuh perasaan, kem udian
ia berbaring di tanah di bawah jendela, tangan terlipat di dada
m em egang bunga yang layu. Begitulah ia akan m ati, di tem pat
terbuka di dunia yang dingin, tanpa naungan di atas kepalanya,
tiada tangan sahabat yang m engusap keringat m aut dari alisnya,
tiada wajah penuh cinta membungkuk bila malaikat maut tiba.
Dan begitu jugalah yang akan dilihat si gadis esok hari, kalau
jendela dibuka di bawah sinar pagi. Oh, mungkinkah pujaan
hatinya akan m eneteskan air m ata pada tubuhnya yang telah tak
bernyawa, m ungkinkah ia m engeluh m elihat kehidupan yang
begitu muda terputus sebelum sempat mekar?

Petualangan Tom Sawyer 27

Di atas, tiba-tiba jendela terbuka, suara sumbang seorang
pelayan terdengar m em ecahkan suasana suci, m enyusul em ber
penuh air dicurahkan ke tubuh si jihad yang terbaring di tanah.

Pahlawan yang telah gugur itu m elom pat, m endengus m arah.
Segera terdengar desingan batu di udara, diiringi oleh suara
m akian, disusul oleh bunyi kaca pecah dan bayangan m elom pati
pagar, kem udian lenyap.

Tak lam a kem udian Tom telah berada di kam arnya sendiri,
m em perhatikan baju yang basah kuyup dalam cahaya lilin. Sid
terbangun tetapi bila ia m em punyai m aksud untuk m engucapkan
beberapa sindiran, ia cepat-cepat m enutup m ulut m elihat cahaya
ancaman di mata Tom.

Tanpa m engucapkan doa Tom tertidur. Kelalaian m em baca
doa itu dicatat oleh Sid di dalam hati.

Semangat di Sekolah Minggu

MATAHARI MUNCUL di atas dunia yang tenang, m enyinari desa
yang penuh dam ai bagaikan pem berkatan. Selesai sarapan, Bibi
Polly m engadakan kebaktian keluarga. Kebaktian itu dim ulai
dengan doa dari Kitab Suci dengan sedikit tam bahan dari Bibi
Polly sendiri dan sebagai puncaknya Bibi Polly m em bawakan
dalih-dalih Musa sehebat khotbah Musa sendiri di gunung Sinai.

Setelah itu, Tom m enyingsingkan lengan baju untuk
m enghafalkan ayat-ayat Kitab Suci. Sid telah hafal beberapa
hari yang lalu. Tom m engerahkan segenap tenaga untuk
m enghafalkan lim a buah ayat dan dipilihnya Khotbah di Bukit
yang ayat-ayatnya ia anggap pendek-pendek. Setelah setengah
jam barulah Tom m engerti secara sam ar-sam ar ayat-ayat yang
dihafalkannya. Hanya itulah, tak lebih, sebab pikirannya tertuju
pada penjelajahan m edan pikiran m anusia, sedang tangannya

Petualangan Tom Sawyer 29

sibuk m engerjakan kesenangannya sendiri. Mary m engam bil
buku Tom untuk m endengarkan hafalannya. Susah payah Tom
m encoba m engingat-ingat, “Diberkatilah m ereka yang... yang....”

“Miskin ....”
“Ya... m iskin. Diberkatilah m ereka yang m iskin... m ... m ....”
“J iwanya....”
“J iwanya. Diberkatilah m ereka yang m iskin jiwanya, sebab
mereka... mereka....”
“Milik m ereka....”
“Sebab m ilik m ereka. Diberkatilah m ereka yang m iskin
jiwanya, sebab m ilik m erekalah kerajaan surga. Diberkatilah
m ereka yang berduka cita, sebab m ereka... m ereka....“
“Ak....”
“Sebab m ereka... m ....”
“A, K, A....”
“Sebab m ereka A, K... oh, aku tak m engerti apa itu.”
“A k a n !”
“Oh, akan! Sebab m ereka akan... m ereka akan... m ... akan
berduka cita... m ... m ... diberkatilah m ereka yang akan... m ereka
apa? Mengapa tak kau beri tahu, Mary? Mengapa kau begitu
kejam padaku?”
“Oh, Tom , si tolol yang m alang, aku kejam padam u, sam a
sekali tidak. Belajarlah lagi, janganlah putus asa, Tom , engkau
pasti bisa... dan bila kau hafal, akan kuberi hadiah yang sangat
bagus. Nah, belajarlah lagi.”
“Baiklah! Apa yang akan kau hadiahkan padaku, Mary?
Ap a ?”
“Tak usah kau pikirkan, Tom , percayalah, kalau kukatakan
barang itu bagus, barang itu pasti akan bagus.”
“Benar, Mary. Nah, baiklah, akan kuhadapi pelajaran itu.“
Dan betul-betul tugas itu dikerjakannya dengan penuh
semangat berkat dorongan rasa ingin tahu dan hadiah hingga

30 Mark Twain

hasilnya gem ilang. Mary m em berinya pisau m erek Barlow, m asih
baru. Hadiah itu menimbulkan kegembiraan luar biasa di seluruh
tubuh Tom. Memang pisau itu tidak bisa dipakai memotong
apa-apa tapi pisau Barlow ‘tulen’. Itu saja sudah cukup untuk
bergerak. Sam a sekali anak-anak Barat itu tak sedikit pun m em -
punyai dugaan bahwa pisau yang terkenal itu bisa dipalsukan
dengan yang berkualitas rendah. Tom sudah m erancang untuk
m enghias lem ari dengan goresan pisau barunya dan ia akan
memulai menggores meja ketika ia dipanggil untuk berpakaian
pergi ke sekolah minggu.

Tom diberi sebaskom air dan sepotong sabun. Ditaruhnya
baskom itu di sebuah bangku di luar, kemudian dicelupkan sabun
ke dalam air. Lengan baju digulungnya, air bersabun di dalam
baskom dituangkannya perlahan sam pai habis dan ia m asuk
kem bali ke dapur, m enggosok m ukanya dengan handuk yang
bergantung di balik pintu. Tapi handuk itu diambil Mary dan
berkatalah dia, “Tidakkah kau m alu, Tom ? J angan terlalu m alas,
air tak akan m enyakitkan.”

Tom sedikit kacau. Baskom diisi kem bali dengan air dan
ditaruh lagi di bangku di luar. Untuk beberapa saat Tom berdiri
di hadapan baskom itu, mengumpulkan kemauan, menghela
napas panjang dan mulai. Tak lama ia telah masuk ke dapur,
kedua mata tertutup rapat, tangan meraba-raba mencari handuk.
Air dan busa sabun bertetesan dari m ukanya. Nam un ketika
ia keluar, m ukanya m asih belum m em uaskan Mary, karena
yang bersih hanya sam pai ke atas dagu dan rahang bagaikan
sebuah topeng. Selebihnya, di bawah dagu dan lehernya belum
tersentuh air. Kini Mary m enyeretnya ke luar dan ketika ia selesai
m em bersihkan Tom , Tom m enjelm a m enjadi anak yang patut
m enjadi saudara Mary, tanpa perbedaan warna kulit, ram butnya
disisir rapi, dikeriting kecil-kecil dan simetris. (Diam-diam Tom
m eratakan kem bali keritingan itu dengan susah payah, diratakan-

Petualangan Tom Sawyer 31

nya ram butnya rapat-rapat sebab baginya keriting hanyalah
untuk wanita; betapa ia benci kepada keritingnya yang asli). Mary
m engeluarkan pakaian Tom yang selam a dua tahun hanya dipakai
pada hari-hari Minggu, yang untuk m enggam pangkan disebut
‘pakaian yang lain’, sehingga bisa kita ketahui berapa banyak
pakaian Tom . Mary m em betulkan dandanan Tom . Baju luarnya
dikancingkan sam pai ke bawah dagu, kerah kem ejanya yang lebar
menutupi bahu ia sikat dan ia tutup kepala Tom dengan topi
jerami berbintik-bintik. Tom gelisah sebab untuk berdandan dan
bersih, hatinya m enjadi kesal. Harapannya yang terakhir adalah
m udah-m udahan Mary lupa akan sepatunya. Tapi harapan itu
ham pa. Mary m enggosok sepatunya dengan lilin hingga m eng-
kilap. Tom tak tahan lagi, ia merengut dan berkata bahwa ia selalu
dipaksa untuk m engerjakan yang tak disukainya. Tapi dengan
m em bujuk, Mary m enjawab, “Ayolah, Tom . Kau, kan, anak baik.”

Walaupun dengan bersungut-sungut, Tom terpaksa
m em akai sepatunya. Mary pun siap dan ketiga orang anak itu
berangkat ke Sekolah Minggu, sebuah tem pat yang dibenci Tom
tapi disenangi oleh Mary dan Sid.

Sekolah Minggu dimulai pukul sembilan dan berakhir pukul
setengah sebelas dengan dilanjutkan kebaktian gereja. Sid dan
Mary selalu menghadiri kebaktian dengan ikhlas, Tom dengan
hati kesal.

Gereja itu m em punyai kursi-kursi kayu tak beralas dengan
sandaran tinggi, cukup untuk tiga ratus orang. Bangunannya
kecil, sederhana, dengan sem acam kotak kayu pinus di
puncaknya sebagai m enara. Di pintu gereja Tom m em isahkan diri
dari Sid dan Mary, m endekati seorang kawan yang juga berbaju
bagus, dia bertanya, “Hai, Billy, apakah kau punya karcis kuning?”

“Ya.”
“Kau ingin apa sebagai tukarnya?”
“Kau punya apa?”

32 Mark Twain

“Kayu m anis dan kail.”
“Coba lihat.”
Tom m em perlihatkan barangnya. Tukar-m enukar terjadi.
Kem udian Tom m enukar dua buah kelereng pualam putih dengan
tiga helai karcis merah dan lain-lain dengan dua helai karcis biru.
Ia mencegat anak-anak lain. Selama sepuluh atau lima belas
menit ia membeli karcis dari berbagai warna. Ia masuk ke dalam
gereja bersama serombongan anak berbaju bersih tapi ribut,
m enuju tem pat duduk dan bertengkar dengan anak pertam a yang
dilihatnya. Gurunya, seorang tua pendiam , m elerai pertengkaran
itu. Tapi begitu sang guru berpaling, Tom menarik rambut seorang
anak di sam ping bangkunya, kem udian pura-pura m em baca
ketika si anak berpaling. Anak lain dicucuknya dengan peniti
agar m enjerit, “Aduh!” Tom m endapat teguran lagi dari gurunya.
Kawan-kawan sekelasnya tidak berbeda dengannya, gelisah, ribut
dan nakal. Bila m ereka disuruh m enghafal, tak seorang pun bisa
m enghafal dengan sem purna, selalu harus dituntun. Betapapun
kalau m ereka m au bersusah payah, m ereka bisa m endapat
hadiah berupa karcis biru. Tiap karcis m engandung ayat-ayat Al-
Kitab; sehelai karcis biru adalah upah bagi m ereka yang berhasil
m enghafalkan dua ayat. Sepuluh helai karcis biru bisa ditukarkan
dengan sehelai karcis merah; sepuluh karcis merah seharga
sehelai karcis kuning; dan bagi yang bisa m engum pulkan sepuluh
karcis kuning, Pengawas Umum akan memberi hadiah berupa
sebuah Al-Kitab yang sederhana (zam an itu berharga em pat
puluh sen). Siapa di antara pem bacaku yang punya kesanggupan
dan kem am puan untuk m enghafalkan dua ribu ayat, bahkan
bila dengan janji hadiah sebuah Al-Kitab Dore? Mary berhasil
m endapatkan dua buah Al-Kitab dengan cara ini, setelah bekerja
dengan sabar selama dua tahun, dan seorang anak berdarah J erman
berhasil memenangkan empat atau lima buah! Pernah anak itu
m enghafalkan tiga ribu ayat tanpa berhenti; tetapi tekanan pada

Petualangan Tom Sawyer 33

pikiran yang terlalu besar m em buat si anak m enjadi tolol. Suatu
kehilangan besar bagi sekolah sebab pada peristiwa-peristiwa
besar di hadapan tamu agung, Pengawas Umum (meminjam istilah
Tom) selalu memanggil anak J erman itu untuk memamerkan
kepandaiannya. Hanya m urid-m urid yang lebih tua bisa berhasil
mengumpulkan karcis dan dengan rajin berusaha terus dan
lam a untuk m em enangkan sebuah Al-Kitab. Pem berian hadiah
ini sangat jarang, m aka peristiwanya selalu m endapat perhatian
besar. Murid yang berhasil akan diagungkan dan m enjadi pusat
perhatian hingga menimbulkan keinginan di hati murid-murid
lainnya untuk m erebut hadiah, suatu keinginan yang biasanya
hanya berlangsung dua m inggu. Mungkin Tom sam a sekali tak
menginginkan hadiah itu tetapi jelas ia menginginkan
keagungan dan kem asyhuran karena m endapat hadiah itu.

Pada saat yang tepat, Pengawas Um um berdiri di depan
m im bar dengan m em egang buku nyanyian pujaan, jari telunjuk-
nya terselip di antara halam an-halam an, m em inta perhatian para
m urid. Bila seorang Pengawas Um um Sekolah Minggu m eng-
adakan pidato, m em egang sebuah buku nyanyian pujaan adalah
suatu keharusan seperti memegang kertas musik bagi seorang
penyanyi yang m aju ke panggung untuk m enyanyi di sebuah
konser. Apakah sebabnya, tidak seorang pun yang tahu, sebab
baik buku nyanyian ataupun kertas m usik itu jarang sekali di-
gunakan oleh pem egangnya. Pengawas Um um ini bertubuh kurus,
kira-kira berumur tiga puluh lima tahun, dengan jenggot kambing
dan ram but pasir. Kerah bajunya kaku, yang bagian belakangnya
ham pir m encapai telinga dan ujung depannya m encapai sudut
m ulut bagaikan pagar putih yang m em aksanya selalu m em andang
ke depan dan m em buat ia harus m em utar seluruh tubuhnya, bila
akan m elihat ke sam ping. Dagunya ditopang oleh seutas dasi
lebar, selebar dan sepanjang sehelai uang kertas dengan pinggir
berenda. Ujung sepatunya m encuat ke atas, m engikuti m ode m asa

34 Mark Twain

itu, seperti ujung ski—gaya yang ditiru dengan sabar dan giat
oleh m urid-m uridnya dengan jalan m enekankan sepatu m ereka
ke tembok berjam-jam. Tuan Walters ini berwajah sungguh-
sungguh, jujur dan tulus hati. Ia begitu menghormati benda-
benda dan tem pat-tem pat suci, serta sangat m em bedakannya
dengan keduniawian, sehingga tanpa terasa suaranya bernada
dan berlagu istim ewa jika berbicara di Sekolah Minggu, yang tak
akan terjadi pada hari-hari biasa. Ia m ulai pidatonya dem ikian:

“Nah anak-anak, aku ingin kalian duduk baik-baik, baik
sedapat-dapatnya, dan perhatikanlah aku selam a beberapa m enit
ini. Nah, begitulah. Begitulah cara duduk bagi anak-anak yang
baik. Aku m elihat seorang gadis cilik yang m elihat ke luar
jendela. Aku khawatir ia m engira aku di luar sana, m ungkin di
salah satu pohon itu, memberi pelajaran pada burung kecil. (Para
hadirin tertawa kecil). Aku ingin m engatakan pada kalian, betapa
senangnya bagiku untuk m elihat wajah-wajah cerah, bersih di
tem pat seperti ini untuk belajar m engerjakan apa yang baik dan
benar.” Dan seterusnya. Dan seterusnya. Tak ada gunanya untuk
m encatat kelanjutannya di sini sebab pidato sem acam itu selalu
sam a pola bum bunya, jadi tak ada yang aneh bagi kita.

Bagian terakhir dari pidato itu dinodai oleh perkelahian
kecil di antara beberapa anak nakal dan oleh kegelisahan serta
bisik-bisik sam pai m endekati batu-batu karang yang tak tergoda
seperti Sid dan Mary. Keributan itu berhenti tiba-tiba dengan
berkurangnya suara Tuan Walters dan pidatonya berakhir dengan
penuh rasa terima kasih oleh hadirin.

Sebagian besar dari bisik-bisik itu disebabkan oleh suatu
kejadian yang jarang terjadi, yaitu m asuknya beberapa orang
tam u: ahli hukum Thatcher, diiringi oleh seorang pria yang sudah
tua, seorang pria lain yang gagah dan tam pan beram but kelabu;
seorang wanita yang tam paknya patut dihorm ati, agaknya istri
pria yang disebut terakhir. Nyonya itu m enuntun seorang anak

Petualangan Tom Sawyer 35

perempuan. Selama itu Tom gelisah penuh keluh kesah: hati
nuraninya terpukul pula—ia tak berani m enyam but pandang m ata
Am y Lawrence yang dengan penuh cinta m em andang padanya.
Begitu m elihat m asuknya si gadis cilik yang dituntun oleh nyonya
tadi jiwanya berkobar dengan gem bira. Segera ia ‘jual tam pang’
dengan segala cara—m enam par beberapa orang kawan, m enarik-
narik ram but, m enyeringai-nyeringai hingga m irip m onyet—
pokoknya segala cara, yang kira-kira bisa m enarik perhatian si
gadis dan m em peroleh sam butannya. Hanya ada setitik noda
dalam kegem biraan n ya—ken an gan ten tan g pen ghin aan atas
dirinya di kebun sang bidadari—nam un kenangan ini bagaikan
sebuah catatan di pasir pantai, segera terhapus oleh hempasan
gelombang kebahagiaan.

Para tamu diberi tempat terhormat dan segera setelah
Tuan Walters m enyelesaikan pidatonya, ia m em perkenalkan
para tam u itu kepada m urid-m uridnya. Orang gagah setengah
um ur itu ternyata seorang yang luar biasa. Ia adalah Hakim
Daerah, jabatan yang paling m ulia di m ata anak-anak. Mereka
m enduga-duga terbuat dari bahan apa kiranya sang hakim ,
mereka setengah mengharap, sang hakim akan mengaum
dengan m enakutkan. Hakim itu datang dari Konstantinopel,
yang jauhnya dua belas m il. Hal itu berarti ia telah berjalan jauh
dan melihat separuh dunia. Sang hakim pernah melihat kantor
pengadilan daerah yang katanya m em punyai atap seng! Sem ua
itu m enam bah kekagum an anak-anak yang terbukti dari suasana
sunyi senyap serta pandangan m ata yang tak berkedip. Inilah
Hakim Thatcher, saudara dari ahli-ahli hukum setem pat. J eff
Thatcher m eninggalkan bangkunya untuk berkenalan dengan
pam annya yang agung itu. Betapa irinya sem ua anak pada J eff
dan bisik-bisik di sana sini yang terdengar oleh telinganya betul-
betul m elebihi keindahan m usik yang terindah, “Lihat padanya,
J im! Dia maju ke sana! Waduh, lihat! Ia akan berjabatan tangan

36 Mark Twain

dengan tuan hakim... ia berjabatan tangan dengan hakim daerah!
Am pun, tak inginkah kau m enjadi J eff?”

Tuan Walters juga ‘jual tam pang’ dengan berbagai m acam
kesibukan, memberi perintah-perintah, menentukan putusan,
memberikan petunjuk di sana sini dan di mana saja ia bisa
mendapat alasan untuk berbuat itu. Pegawai perpustakaan
‘jual tam pang’ lari ke sana lari ke m ari dengan tangan penuh
buku, berbicara ribut tak berarti seperti yang digem ari oleh
para pejabat rendah. Guru m uda wanita ‘jual tam pang’ secara
m anis m em bungkuk m em beri nasehat kepada m urid-m urid yang
beberapa saat lalu mereka pukul, mengangkat jari, secara manis
m em beri peringatan pada anak-anak kecil yang nakal, dengan
penuh kecintaan m em belai-belai anak-anak yang baik. Guru-
guru m uda pria ‘jual tam pang’ dengan m em bentak-bentak kecil
mempertontonkan kekuasaan dan memberi perhatian penuh
pada tata tertib—dan sem ua guru tak peduli jenis kelam innya
tiba-tiba m em punyai berbagai m acam keperluan di perpustakaan
dekat m im bar; keperluan yang selalu harus diulangi dua atau tiga
kali (dengan mempertunjukkan sedikit kegusaran). Murid-murid
perem puan ‘jual tam pang’ dengan cara-cara m ereka sendiri,
sem entara m urid-m urid lelaki begitu rajinnya ‘jual tam pang’,
hingga udara kelas itu penuh dengan peluru-peluru kertas dan
suara ribut. Di atas semua itu si orang besar duduk, mengumbar
senyum an agung, sadar akan kebesaran dirinya, sebab ia pun se-
dang ‘jual tam pang’ juga.

Hanya ada satu hal yang m enyebabkan kesukacitaan Tuan
Walters tidak sem purna, yaitu kesem patan untuk m em berikan
hadiah sebuah Al-Kitab dan m em am erkan seorang anak ajaib.
Beberapa m urid m em punyai karcis kuning tetapi tak ada yang
punya dalam jum lah cukup. Betapa bahagianya ia bila anak
J erman itu bisa sembuh kembali.


Click to View FlipBook Version