Petualangan Tom Sawyer 187
telinga, nam un berita yang didengarnya selalu sam a—m akin lam a
m akin nyata kesalahan Muff Potter. Di akhir hari kedua, tersiar
berita bahwa kesaksian Indian J oe teguh tak berubah dan tak
ragu lagi akan keputusan hakim siapa yang bersalah.
Malam itu Tom pulang larut sekali; masuk kamar lewat
jendela. Perasaan hatinya tak keruan. Berjam -jam kem udian baru
ia bisa tidur.
Keesokan harinya seluruh penduduk desa berkum pul di
pengadilan sebab itulah hari yang telah lam a m ereka tunggu.
Pria dan wanita memenuhi ruangan. Setelah agak lama baru
para juri masuk, duduk di tempat masing-masing. Segera setelah
itu Muff Potter dibawa m asuk, pucat dan kum al, m alu dan tak
punya harapan, tangan dirantai, didudukkan di tem pat seluruh
hadirin bisa m em perhatikannya. Indian J oe yang berm uka dingin
juga mendapat perhatian besar. Sesudah agak lama menunggu,
m asuklah hakim dan sidang dibuka oleh sherif. Seperti biasa
hakim -hakim berbisik dan kertas-kertas dikum pulkan, yang
menambah suasana bertambah tegang.
Seorang saksi dipanggil. Ia m enyatakan telah m enem ui Muff
Potter mandi pagi-pagi di anak sungai pada waktu pembunuhan
terjadi dan terlihatlah si tertuduh m enyelinap pergi. Setelah
beberapa pertanyaan, jaksa penuntut um um berkata, “Periksalah
saksi itu.”
Tertuduh mengangkat kepala, tapi menunduk lagi sementara
pem bela m enyahut, “Saya tak punya pertanyaan.”
Saksi kedua m em buktikan penem uan pisau dekat m ayat
korban. J aksa penuntut um um berkata, “Silakan periksa saksi
in i.”
“Saya tak punya pertanyaan,” sahut pem bela Potter.
Saksi ketiga bersumpah, ia sering melihat pisau itu di tangan
Muff Potter.
188 Mark Twain
“Silakan m em eriksa saksi!”
Pem bela Muff Potter m enolak untuk m enanyai saksi.
Hadirin m ulai m enunjukkan rasa tak puas. Apakah pem bela akan
m enyerahkan nyawa tanpa berusaha m enolong sam a sekali?
Beberapa orang saksi m enyatakan tingkah laku Potter, ketika
ia dibawa ke tempat pembunuhan. Saksi-saksi ini pun tak
diperiksa oleh pembela.
Setiap segi keadaan yang m erusakkan nam a Potter yang
terjadi di pekuburan di pagi hari yang diingat baik-baik oleh para
hadirin diungkapkan dengan m eyakinkan oleh para saksi, tapi
tak seorang pun di antara mereka diperiksa oleh pembela Potter.
Kekacauan dan rasa tak puas para hadirin dinyatakan oleh gerutu
m ereka yang begitu keras hingga terpaksa diperingatkan oleh
hakim . J aksa penuntut um um kini berkata, “Dem i sum pah para
penduduk yang kata-katanya sam a sekali bisa dipercaya, kam i
telah menentukan tindak kejahatan ini, tanpa keragu-raguan
lagi dengan kesalahan sepenuhnya pada si tertuduh. Tugas kam i
selesai.”
Muff Potter m engeluh berat; ditutup m ukanya dengan
kedua belah tangan, tubuhnya bergoyang ke kiri. Tiba-tiba ruang
pengadilan sunyi senyap. Banyak pria yang terharu, tak sedikit
kaum wanita yang m encucurkan air m ata. Pem bela Muff Potter
berdiri dan berkata, “Yang m ulia, dalam sam butan kam i di
pembukaan perkara ini, telah kami majukan maksud kami untuk
m em buktikan bahwa nasabah kam i m elakukan tindakan yang
mengerikan itu di bawah pengaruh minuman keras hingga ia sama
sekali tak bisa m enguasai dirinya. Nam un pikiran kam i berubah.
Kam i tak akan m em pergunakan itu sebagai alasan perm ohonan
am pun.” (Kepada jurutulis), “Panggil Thom as Sawyer!”
Semua air muka terangkat heran, tak terkecuali air muka
Muff Potter. Setiap m ata tertuju pada Tom Sawyer yang bangkit
berjalan ke tem pat saksi. Anak itu tam pak sangat liar sebab
ia sedang dilanda ketakutan yang am at sangat. Tom segera
mengangkat sumpah.
Petualangan Tom Sawyer 189
“Thom as Sawyer, di m anakah engkau berada pada tanggal 17
J uni sekitar tengah malam?”
Tom m elirik pada Indian J oe yang berm uka keras. Lidahnya
terlalu kelu. Hadirin menahan napas, mendengarkan, namun
tak sepata kata pun terdengar. Setelah beberapa saat, Tom
mendapat kekuatan sehingga ia bisa bersuara sedikit, hadirin bisa
m endengar, “Di kuburan.”
“Harap berbicara agak keras. J angan takut. Kau ada di....”
“Di kuburan.”
Senyum m engejek m elintas di wajah Indian J oe.
“Apakah kau di dekat kuburan Hoss William s?”
“Ya, Tuan.”
“Keras sedikit. Berapa kira-kira jaraknya?”
“Sejauh Tuan dari saya.”
“Apakah kau bersem bunyi ataukah tidak?”
“Bersem bunyi.”
“Di m ana?”
“Di belakang pohon-pohon elm di tepi kuburan.”
Hampir tak terlihat perubahan wajah Indian J oe.
“Kau bertem an?”
“Ya, Tuan, saya ke tem pat itu dengan....”
“Tunggu, tunggu sebentar. J angan ucapkan nam a tem anm u
itu. Akan kam i panggil nanti bila saatnya tiba. Apakah yang kau
bawa waktu itu?”
Tom ragu, tampak bingung.
“Katakan, Anakku, jangan m alu. Kebenaran selalu terhorm at.
Apa yang kau bawa pada waktu itu?”
“Hanya se... ekor bangkai kucing.”
Terdengar tawa yang segera dihentikan oleh sidang.
“Kam i akan m em perlihatkan kerangka kucing itu nanti.
Kini, Anakku, katakan sem ua yang telah terjadi. Katakan dengan
caramu sendiri, jangan lewatkan sedikit pun dan jangan takut.”
190 Mark Twain
Tom mulai bercerita. Mula-mula tertegun-tegun, tetapi
m akin lam a m akin lancar. Dalam beberapa saat yang terdengar
hanya suaranya sendiri. Hadirin m engikuti setiap kata, yang
keluar dari bibir Tom dengan ternganga dan sambil menahan
napas, sem ua lupa keadaan sekelilingnya, terpukau oleh cerita
yang seram itu. Ketegangan m encapai puncaknya pada waktu
Tom berkata, “... dan pada saat itu Dokter Robinson m em ukul
Muff Potter dengan papan hingga roboh, J oe si Indian m elom pat
dengan pisau teracung, dan—”
Brang! Secepat kilat si peranakan Indian itu m elom pati
jendela, m enerobos sem ua yang m enghalanginya, dan kabur!
Secepat kilat si peranakan Indian itu melompati jendela.
Hari-hari Indah
dan Malam-malam Seram
SEKALI LAGI Tom m enjadi pahlawan gem ilang—buah bibir
orang-orang tua dan sasaran anak-anak m uda yang iri hati.
Nam anya bahkan diabadikan dengan cetakan sebab surat kabar
desa ikut m em uja-m ujanya. Banyak orang berpendapat bahwa
Tom m ungkin bisa m enjadi Presiden kelak, jika saja nyawanya
tak putus oleh hukuman gantung.
Sebagaim ana biasa, dunia yang penuh tingkah dan tak
berpikiran sehat m enerim a dan m em anjakan Muff Potter dengan
berlebih-lebihan, seperti dulu ia diejek dan dihina dengan
berlebih-lebihan pula. Tetapi tingkah semacam itu memang adat
dunia, jadi tak bisa kita salahkan.
Hari-hari Tom dipenuhi kegemilangan dan kegembiraan.
Tapi malam-malam hari ia diganggu mimpi buruk. J oe si Indian,
lengkap dengan nafsu m em bunuh di m atanya. Dengan upah apa
pun Tom akan m enolak untuk keluar m alam . Huck yang m alang
192 Mark Twain
juga m engalam i yang sam a, takut dan m enderita sebab m alam
sebelum hari pengadilan itu Tom telah menceritakan segala-
galanya pada pem bela Muff Potter. Huck setengah m ati takut
kalau-kalau peranannya dalam peristiwa itu bocor, tak peduli
bahwa kaburnya J oe si Indian m enyebabkan ia lolos dari pen-
deritaan untuk m enjadi saksi di ruang pengadilan. Anak m alang
itu telah m endapat janji dari pem bela bahwa nam anya akan tetap
dirahasiakan. Tapi apakah gunanya janji itu? Bukankah Tom yang
telah terikat oleh sum pah yang paling seram dan luar biasa m asih
juga terpaksa m em buka rahasia, karena desakan hati nuraninya?
Kepercayaan Huck pada anak turunan Adam ham pir lenyap.
Di siang hari, rasa terim a kasih Muff Potter yang am at besar
membuat Tom merasa gembira ia telah membuka rahasia, tapi
bila m alam tiba ia sangat m enyesal sudah m em buka m ulut.
Di samping merasa takut jika J oe si Indian tak segera ter-
tangkap, Tom merasa khawatir pula, bila buronan itu tertangkap.
Ia yakin bahwa ia tak akan bisa lagi bernapas dengan senang
sebelum J oe si Indian m ati dan ia m enyaksikan m ayatnya.
Diumumkanlah hadiah untuk menangkap J oe. Seluruh
daerah diselidiki, nam un J oe betul-betul telah lenyap. Salah satu
dari orang-orang yang m ahatahu dan tum puan kekagum an, yaitu
seorang detektif, datang dari St. Louis, m enyelidiki ke sana ke
m ari, m enggelengkan kepala. Dengan wajah pintar ia m enyatakan
telah berhasil m endapat jejak, sesuatu yang gem ilang yang selalu
didapat oleh anggota-anggota dari pekerjaan semacam itu. Ia
telah m endapatkan suatu ‘kunci pem buka rahasia’ hilangnya J oe
si Indian. Nam un orang tak bisa m enggantung ‘kunci pem buka
rahasia’ untuk menghukum seorang pembunuh. Maka setelah itu,
detektif tadi pulang meninggalkan tempat itu. Tom merasa sama
tidak am annya seperti sebelum kedatangan sang detektif.
Hari-hari berlalu dengan lam bat. Akan tetapi sem akin ber-
kuranglah ketegangan di hati Tom.
Mencari Harta Karun
DALAM KEH IDUPAN seoran g an ak lelaki pada suatu saat
pastilah akan timbul keinginan untuk pergi ke suatu tempat dan
menggali harta karun. Pada suatu hari keinginan semacam itu
tim bul pula di hati Tom . Dicarinya J oe Harper, tetapi tak berhasil.
Kem udian dicarinya Ben Rogers; Ben telah pergi m engail. Segera
juga dijum painya Huck Finn si Tangan Merah. Huck setuju. Huck
selalu setuju untuk ikut dalam usaha yang akan m em berikan
keuntungan tanpa m odal sebab ia m em punyai waktu banyak
sekali, tetapi uang tidak ada. Waktu bukanlah uang baginya.
“Di m ana kita akan m enggali?” tanya Huck.
“Oh, di m ana saja.”
“Wah, apakah harta karun itu terpendam di m ana saja?”
“Mem ang tidak. Harta itu terpendam di tem pat-tem pat isti-
m ewa, Huck. Kadang-kadang di sebuah pulau, kadang-kadang di
194 Mark Twain
kotak tua yang terpendam di bawah akar pohon tua, tem pat di
m ana bayang-bayangnya jatuh di tengah m alam . Kebanyakan di
bawah lantai rumah-rumah hantu.”
“Siapa yang m enyim pannya di sana?”
“Siapa lagi kalau bukan peram pok? Mungkin pengawas
umum Sekolah Minggu?”
“Aku tak tahu. Bila harta itu m ilikku, tak akan kupendam ,
tetapi akan kupakai bersenang-senang.”
“Aku begitu juga. Tetapi peram pok m em punyai kebiasaan
sendiri. Mereka selalu memendam harta.”
“Apakah m ereka tak kem bali untuk m engam bilnya?”
“Maksudn ya, sih, begitu. Tetapi biasan ya m ereka lupa
akan tanda-tanda tem pat persem bunyian atau m ereka terburu
m am pus. Apa pun penyebabnya, harta itu terpendam sam pai
bertahun-tahun dan berkarat. Seseorang menemukan sehelai
kertas kuning yang m enyatakan cara m encari tanda-tanda tem pat
persem bunyian harta itu. Sehelai kertas itu harus dipecahkan
rahasianya dalam waktu berm inggu-m inggu sebab biasanya yang
terdapat hanya tanda-tanda dan hieroglif.”
“H ier o—a p a ?”
“Hieroglif—gam bar-gam bar dan sebagainya, kau tahu, yang
seperti tak punya arti apa-apa.”
“Apakah kau m em punyai kertas serupa itu, Tom ?”
“Tid a k.”
“Bagaim an a kau bisa m en em ukan tan da-tan da tem pat
persem bunyiannya?”
“Aku tak m em erlukan tanda-tanda. Mereka selalu m enanam
hartanya di bawah rum ah hantu atau di sebuah pulau atau di
bawah pohon m ati, yang akarnya m encuat ke luar. Kita telah
m encoba m enggali sedikit di Pulau J ackson. Kapan-kapan kita
coba lagi. Ada rum ah hantu tua di atas sim pangan Still-House dan
banyak sekali pohon-pohon m ati. Banyak sekali.”
Petualangan Tom Sawyer 195
“Sem ua ada harta karunnya?”
“Tolol! Tentu saja tidak.”
“Lalu, bagaimana kau bisa memilih yang mana akan kau gali?”
“Kita gali sem ua!”
“Tom ! Itu akan m em akan waktu berbulan-bulan.”
“Lalu kenapa? Bayangkan, bila kau m enem ukan sebuah guci
kuningan dengan uang seratus dolar emas atau sebuah peti penuh
dengan intan, bagaimana?”
Mata Huck bersinar-sinar.
“Hebat, Tom . Lebih senang bila kau berikan yang seratus
dolar itu padaku. Aku tak m enginginkan intan.”
“Baiklah, tapi aku berani bertaruh aku tak akan m em buang
intan itu begitu saja. Beberapa butir intan berharga dua puluh
dolar sebutirnya. Itu sangat jarang. Biasanya berharga enam ketip
atau sedolar.”
“Bet u lka h ?”
“Setiap orang akan berkata begitu. Kau tak pernah m elihat
intan, Huck?”
“Belum pernah.”
“Para raja m em punyainya bertum puk-tum puk.”
“Aku belum pernah m elihat raja, Tom .”
“Kukira m em ang begitu. Tapi bila kau pergi ke Eropa, kau
akan m elihat banyak raja berlom patan di sekelilingm u.”
“Apakah m ereka berlom patan?”
“Berlom patan? Nenekm u! Tentu saja tidak.”
“Kalau begitu, m engapa kaukatakan m ereka berlom patan?“
“Bah, m aksudku, kau m udah sekali m elihat m ereka, tidak
berlom patan tentunya, untuk apa m ereka berlom patan? Maksud-
ku kau akan sering melihat mereka berkeliaran ke mana-mana,
kau tahu? Seperti si bongkok tua Richard itu.”
“Richard? Siapa nam a keluarganya?”
“Ia tak punya nam a lain. Raja hanya m em punyai nam a depan
saja.”
196 Mark Twain
“Hanya itu saja?”
“Ya, hanya itu saja.”
“Bila m ereka sen an g, biarlah, Tom , tapi aku tak in gin
m enjadi raja kalau begitu, m asa harus m em punyai sebuah nam a
saja seperti orang-orang negro. Tapi, di mana akan kau mulai
m en gga li?”
“Aku tak tahu. Bagaim ana kalau kita m ulai dengan m enggali
di bawah pohon mati di bukit sebarang simpang Still-House?”
“Aku setuju.”
Keduanya m em bawa sebuah singkup dan sebuah beliung tua,
m enem puh tiga m il m enuju ke tem pat yang dim aksud. Perjalanan
itu m em buat tubuh m ereka panas dan terengah-engah. Begitu
tiba, mereka merebahkan diri di bawah pohon, beristirahat dan
merokok.
“Senang aku seperti ini,” kata Tom .
“Aku juga.”
“He, Huck, bila kita m endapatkan harta karun di sini, apa
yang akan kau lakukan dengan bagianm u?”
“Hm , akan kubeli kue dan segelas soda tiap hari, dan aku
akan m enonton setiap sirkus yang datang di kota kita. Aku
bertaruh, aku akan bersenang-senang terus setiap hari.”
“Apakah kau tak berm aksud untuk m enabungnya sebagian?”
“Untuk apa?”
“Untuk hidupm u, tentu.”
“Tidak perlu. Bapakku pasti datang kem bali ke kota ini dan
akan merampas uang tabunganku, bila aku tak segera menghabis-
kannya. Percayalah, ia akan m enghabiskannya sendiri dengan
cepat. Apa yang akan kau kerjakan dengan bagianm u, Tom ?”
“Aku akan m em beli sebuah gedung baru, sebilah pedang
bukan tiruan, dasi merah, seekor anjing, dan kawin.”
“Ka win !”
“Ya, benar.”
Petualangan Tom Sawyer 197
“Tom , kau—wah, betul-betul kau sudah gila.”
“Tunggu, lihat saja nanti.”
“Itu perbuatan paling tolol yang bisa kau kerjakan. Lihat
saja bapak dan ibuku. Bertengkar terus! Tak ada pekerjaan lain
daripada berkelahi. Aku teringat hal itu.”
“Itu bukan m asalah. Gadis yang akan kukawini tak akan m au
b er kela h i.”
“Tom , aku yakin sem ua betina sam a. Mereka akan m enjadi
duri dalam hidupmu. Pikirkan sekali lagi nasihatku, pikirlah
sekali lagi. Siapa nama betina itu?”
“Bukan betina, Huck, gadis.”
“Ah, sam a saja. Ada yang m enam ai m ereka gadis, ada pula
betina—keduanya benar. Siapakah nam anya?”
“Akan kukatakan padam u kapan-kapan. Tidak sekarang.”
“Baiklah cukup. Hanya, bila kawin, aku akan lebih kesepian.”
“Tak m ungkin. Kau tinggal di rum ahku nanti. Nah, sudahlah,
mari kita menggali.”
Selama setengah jam mereka bekerja keras, tapi tidak
menemukan apa-apa. Setengah jam lagi bekerja. Tetapi tak
ada hasil. Huck bertanya, “Apakah m ereka selalu m enanam
barangnya sedalam ini?”
“Kadang-kadang—tidak selalu. Tidak seperti biasa. Kukira,
ini bukanlah tem pat yang tepat.”
Mereka memilih tempat baru dan mulai menggali lagi.
Kini m ereka bekerja agak lam bat, tapi hasilnya cukup lum ayan.
Beberapa saat m ereka m enggali tanpa berbicara. Akhirnya Huck
bertopang pada singkupnya, m engusap peluh dari alisnya dengan
lengan baju dan berkata, “Ke m ana kau akan m enggali lagi setelah
tempat ini?”
“Kukira kita akan m enggarap pohon tua di balik Bukit Cardiff
itu, di belakang rum ah Nyonya J anda.”
198 Mark Twain
“Tem pat yang cukup bagus. Tetapi Tom , apakah Nyonya
J anda tak akan merampas harta itu dari kita karena kita menemu-
kan di tanahnya?”
“Dia m eram pas dari kita? Coba saja jika berani. Siapa pun
yang m enem ukan dialah pem ilik syah dari harta karun itu. Tak
peduli di m ana, ia m enem ukannya.”
Keterangan itu m em uaskan. Pekerjaan terus berjalan. Setelah
agak lam a Huck berkata, “Bangsat! Mungkin ini bukan tem pat
yang tepat pula, Tom . Bagaim ana pendapatm u?”
“Aneh sekali, Huck, aku tak m engerti. Mungkin ada tukang
tenung yang ikut cam pur. Mungkin itulah sebabnya kita tak
mendapat apa-apa.”
“Bah, tukang tenung tak berdaya siang hari.”
“Ya, m em ang. Tak terpikir olehku. Oh, aku m engerti kini.
Alangkah tololnya kita. Kita harus m encari tem pat persem bunyian
harta itu dengan m elihat jatuhnya bayangan pohon di tengah
m alam !”
“Tolol, kalau begitu kita m em buang tenaga saja. Betul-betul
sial, kita harus datang kembali malam nanti. Tempat ini cukup
jauh. Bisakah kau keluar?”
“Kukira bisa. Kita harus m engerjakannya m alam ini, sebab
bila ada seseorang melihat lubang-lubang ini pastilah mereka
tahu, apa yang terpendam di sini dan ikut m encari.”
“Nah, baiklah, nanti m alam aku ke rum ahm u dan m engeong.”
“Baik. Kita sem bunyikan alat-alat ini di sem ak-sem ak.”
Malam itu, kedua anak tersebut berada di tem pat yang
ditentukan, pada saat yang tepat. Mereka duduk di bayang-
bayang pohon, m enunggu. Suasana sunyi, waktunya pun dianggap
keramat oleh tata cara kuno. Hantu-hantu bagaikan berbisik
di antara daun-daun, bersem bunyi di tem pat-tem pat gelap.
Di kejauhan terdengar salak anjing, yang dijawab oleh suara
Petualangan Tom Sawyer 199
burung hantu. Keseram an ini m enekan hati kedua anak, sehingga
m ereka berbicara hanya sepatah dua patah kata saja. Akhirnya
m ereka m enduga hari telah pukul dua belas m alam . Ditandainya
tem pat jatuh bayangan pohon dan m ulailah m ereka m enggali.
Harapannya m em bubung tinggi. Minat m ereka bertam bah kuat
dan karena itu kerjanya m akin giat. Lubang galian m akin lam a
makin dalam, tapi tiap-tiap kali harapan mereka melonjak karena
beliung mengenai sesuatu, mereka selalu mendapat kekecewaan.
Beliung itu hanya m engenai batu atau kayu. Akhirnya Tom
berkata, “Tak ada gunanya, Huck, kita salah lagi.”
“Bagaim ana bisa? Kita tandai bayang-bayang itu tepat sekali.”
“Aku tahu, tapi ada hal-hal lain.”
“Apa itu?”
“Waktun ya han ya dikira-kira. Mun gkin terlalu cepat,
mungkin terlalu lambat.”
Huck m enjatuhkan singkupnya.
“Itulah! Itulah yang m enjadi penghalang kita. Kita tak akan
bisa m enentukan waktu yang tepat. Lagi pula keadaannya begini
seram, waktu ini adalah waktu para hantu dan tukang-tukang
tenung berkeliaran. Aku m erasa sesuatu berada di belakangku
terus-menerus, dan aku takut untuk berpaling sebab bila aku
berpaling siapa tahu di depanku telah ada pula yang lainnya siap
untuk bertindak. Badanku gem etar sejak aku di sini.”
“Aku dem ikian juga, Huck. Biasanya di atas harta karun itu
diletakkan m ayat seorang m anusia. Sebagai penjaganya.”
“Ya, Tuhan!”
“Begitulah. Begitulah apa yang kudengar.”
“Tom , aku tak in gin berkeliaran di dekat oran g m ati.
Seseorang pasti akan mendapat kesulitan dengan mereka, pasti.”
“Aku pun tak ingin m em bangunkan m ereka. Bayangkan, bila
tiba-tiba yang berada di sini m enjulurkan kepalanya.”
“J angan, Tom ! Ngeri!”
200 Mark Twain
“Tetapi begitulah keadaanya, Huck. Aku tak m erasa senang
sedikit pun.”
“Tom , lebih baik kita biarkan saja tem pat ini dan m encari
tempat lain.”
“Baiklah, kukira itulah yang sebaik-baiknya.”
“Di m ana sekarang?”
Tom berpikir beberapa saat dan m enjawab, “Di rum ah hantu!
Di situ pasti ada!”
“Tolol, aku tak senang pada rum ah-rum ah hantu. Mereka
lebih buruk daripada orang-orang mati. Orang mati mungkin
bisa berbicara, tetapi sedikitnya m ereka tak m au m enakut-
nakuti seperti hantu, muncul dengan tiba-tiba di sisimu
dengan berbungkus kain kafan, m enjenguk lewat bahum u dan
m enggertakkan giginya. Aku tak tahan m enanggung ketakutan
seperti itu, Tom , tak akan ada orang yang tahan.”
“Benar, Huck, tapi hantu hanya berkeliaran di m alam hari.
Mereka tak akan menggoda kita di siang hari, waktu kita menggali
rumah itu.”
“Benar. Tapi kau sendiri tahu, tak ada orang yang berani
memasuki rumah itu, baik siang maupun malam.”
“Hm , itu disebabkan karena orang tak pernah m au pergi ke
tempat di mana pernah terjadi pembunuhan. Tetapi betapapun
tak pernah ada sesuatu terlihat di sekitar rumah itu kecuali di
m alam hari, kadang-kadang terlihat cahaya biru di jendela. Bukan
hantu biasa.”
“Tom , di m ana pun kau lihat cahaya biru berkelip-kelip, di
belakang cahaya itu pasti ada hantunya. Sebab kau tahu, hanya
hantu-hantulah yang m enggunakan cahaya seperti itu.”
“Ya, m em ang. Bagaim anapun, hantu tak berkeliaran di siang
hari, jadi untuk apa kau takut?”
“Nah, baiklah, kita garap rum ah hantu itu bila kau kehendaki,
tapi kukira ada juga bahayanya.”
Petualangan Tom Sawyer 201
Sambil berbicara, mereka berjalan menuruni bukit. Di sana,
di tengah lem bah yang diterangi cahaya bulan, tam paklah ‘rum ah
hantu’ itu, terpencil, pagarnya telah roboh, halam an ditum buhi
rum put liar sam pai ke pintunya, cerobong asap hancur, bingkai
jendela tiada lagi, atapnya pun ujungnya rebah. Kedua anak
m em perhatikan rum ah itu, berharap bisa m elihat kelipan cahaya
biru melintas di jendela. Sambil berbicara dengan nada rendah,
sesuai dengan keadaan, mereka membelok ke kanan, mengitari
rum ah itu dalam jarak yang jauh, kem udian pulang m enem bus
hutan yang m enghiasi bagian belakang Bukit Cardiff.
Dalam Rumah Hantu
MENJ ELANG TENGAH hari keesokan harinya, kedua anak itu
tiba di pohon mati untuk mengambil alat-alat. Tom tak sabar
untuk pergi ke rumah hantu; Huck begitu juga, namun tiba-tiba
ia berseru, “Hai, Tom , tahukah kau hari ini, hari apa?”
Tom m enghitung-hitung hari, dan tiba-tiba m atanya
m enyinarkan rasa terkejut, “Astaga! Tak pernah kupikirkan
tentang harinya Huck!”
“Aku juga, tapi m endadak saja aku ingat, hari ini hari J um at!”
“Tolol! Bagaim ana kita bisa begini ceroboh. Kita bisa m en-
dapatkan bencana m engerjakan hal seperti ini di hari J um at!”
“Bisa? Lebih baik katakan pasti! Mungkin pada hari-hari lain
mendatangkan untung, tapi hari J umat....”
“Setiap orang tolol tahu hal itu, Huck. Kukira bukan kaulah
yang pertam a kali m enem ukan hal itu.”
Petualangan Tom Sawyer 203
“Aku tidak m enyatakan bahwa akulah penem unya. Dan
bukan hanya karena hari J um at saja, tadi m alam aku berm im pi
buruk, mimpi tentang tikus.”
“Masya Allah. Pasti akan ada bahaya! Apakah tikus-tikus itu
b er kela h i?”
“Tid a k.”
“Bagus. Bila tak berkelahi, berarti ada bahaya m engancam ,
tapi tak sam pai m engenaim u. Kau tahu. Kita harus waspada.
Biarlah hari ini kita tidak m enggali, kita berm ain-m ain saja.
Tahukah kau Robin Hood, Huck?”
“Tidak. Siapakah Robin Hood itu?”
“Wah, dialah orang terbesar di Inggris. Dan yang terbaik
juga. Ia seorang perampok.”
“Busyet! Senang sekali, bila aku bisa m enjadi dia. Siapa yang
diram poknya?”
“Kom isaris, uskup, orang-orang kaya dan raja-raja, serta
bangsanya. Ia tak pernah m engganggu orang m iskin. Ia m encintai
orang-orang m iskin. Hasil ram pokannya dibagikannya kepada
orang-orang miskin.”
“Baik sekali hatinya.”
“Berani bertaruh, m em ang dem ikianlah, Huck. Dialah orang
yang term ulia hatinya. Kini tak ada lagi orang-orang sem acam
dia, percayalah. Ia bisa m engalahkan setiap jagoan di Inggris
dengan tangan sebelah diikat di punggungnya. Dengan busur
y ew -nya ia bisa m em anah tepat sebuah m ata uang ketip sejauh
setengah mil.”
“Apakah busur y ew itu?”
“Aku tak tahu. Sem acam busur tentunya. Dan bila anak
panahnya hanya m engenai pinggiran m ata uang itu, ia akan
jatuh terduduk, menangis dan memaki-maki. Tapi, marilah kita
berm ain Robin Hood. Pasti m enyenangkan. Kuajari engkau.”
“Ba ikla h .”
204 Mark Twain
Maka mereka berdua bermain Robin Hood sepanjang hari,
sesekali melemparkan pandangan ke rumah hantu di bawah
bukit dengan penuh keinginan sam bil m em bicarakan apa yang
kira-kira m ereka tem ui di rum ah itu besok. Ketika m atahari m ulai
terbenam , keduanya pulang m elewati bayang-bayang panjang
pohon-pohon di hutan dan segera lenyap dari pandangan.
Pada hari Sabtu, lewat sedikit tengah hari, kedua anak
kembali pula ke pohon mati. Sebentar mereka merokok dan
bercakap-cakap, kem udian m enggali lubang yang terakhir.
Bukan karena m en aruh harapan, tapi m en urut Tom sering
terjadi, bila seseorang menghentikan menggali tanpa hasil dan
m eninggalkannya, tak tahunya ketika orang lain m eneruskan
galian itu sedalam enam inci lagi terdapatlah harta karun itu.
Sayangnya, m ereka gagal lagi. Maka kedua anak itu m em anggul
alat-alatnya dengan perasaan bahwa m ereka telah bekerja
sekeras-kerasnya, jadi bukan m enentang nasib.
Mereka tiba di rumah hantu. Sesaat mereka tak berani
m asuk. Rum ah itu diliputi kesuram an yang m engerikan dengan
kesunyian yang m encekam di bawah terik m atahari. Tem patnya
pun begitu sepi dan terpencil. Perlahan mereka masuk, gemetar
mengintai ke dalam. Terlihatlah oleh mereka sebuah kamar tanpa
lantai. Lantainya ditum buhi rum put liar, dinding tak berlapis,
perapian kuno, jendela tak tertutup, tangganya bobrok. Di m ana-
m ana terlihat jaringan sarang laba-laba. Dengan denyut nadi
makin cepat, mereka masuk, berbisik-bisik, telinga dipertajam
untuk m endengarkan suara yang paling kecil, otot-otot siap
melarikan diri.
Setelah agak lama, ketakutan mereka berkurang. Dise-
lidikinya kam ar itu penuh gairah; sem entara itu dalam hati,
m ereka m em uji-m uji keberanian sendiri. Kem udian m ereka ingin
m elihat ke atas. Kalau ke atas, m ereka berpendapat, jalan untuk
lari seakan-akan terputus, tapi setelah saling menantang, mereka
Petualangan Tom Sawyer 205
m enaiki tangga. Akhirnya hanya ada satu akibatnya—m ereka naik
setelah membuang alat di sudut ruangan. Di atas terlihat jelas
tanda-tanda kehancuran, seperti juga di bawah. Di sebuah sudut
terlihat sebuah lem ari yang agaknya m engandung rahasia. Tapi
harapan itu sia-sia, tak ada apa-apa di dalam nya. Kini keberanian
mereka betul-betul timbul. Mereka sudah akan turun untuk mulai
bekerja ketika tiba-tiba Tom berbisik, “Sssh!”
“Ada apa?” tanya Huck, pucat ketakutan.
“Ssh! Kau dengar itu?”
“Ya! Oh, astaga! Mari kita lari!”
“Diam ! J angan bergerak! Mereka datang ke pintu!”
Kedua anak itu berbaring m enelungkup di lantai loteng,
dengan mata di lubang papan, melihat ke bawah, menunggu
dengan ketakutan.
“Mereka berhenti.... Tidak, datang ke m ari.... Itu m ereka.
J angan berbisik, Huck, m asya Allah, bagaim ana aku bisa terlibat
hal ini!”
Dua orang lelaki m asuk. Anak-anak itu berkata dalam hati,
“Itu orang tua Spanyol yang bisu tuli, yang pernah datang ke kota,
satu dua kali. Yang lain belum pernah aku lihat.”
‘Yang lain’ itu berpakaian com pang-cam ping tubuhnya tak
terurus, m ukanya sam a sekali tak m enyenangkan. Si orang
Spanyol m em akai selim ut lebar, berkum is putih lebat, ram but
putih terjurai dari bawah topinya yang lebar, m em akai kaca m ata
hijau. Waktu m asuk, ‘yang lain’itu berbicara dengan nada rendah.
Mereka duduk di tanah, bersandar ke dinding menghadap pintu
yang berbicara m eneruskan pem bicaraannya, sikapnya m ulai
kurang waspada dan suaranya terdengar jelas, “Tidak, telah
kupikirkan baik-baik. Aku tak m enyukainya. Terlalu berbahaya.”
“Bahaya!” gerutu orang Spanyol yang ‘bisu tuli’ itu, m em buat
kedua orang anak di loteng sangat terkejut, “Ingusan!”
206 Mark Twain
Suara itu membuat tubuh Tom dan Huck gemetar. Suara J oe
si Indian! J oe berkata lagi, “Tak lebih berbahaya dari pekerjaan
kita di atas itu—dan tak terjadi apa-apa pada diri kita.”
“Berbeda sekali. Pekerjaan yang baru kita selesaikan itu
tem patnya sangat jauh di hulu sungai, terpencil tak ada tetangga.
Tak akan diketahui bahwa kita telah m encobanya sebab kita tidak
b er h a sil.”
“Hm , bukankah lebih berbahaya kita datang ke sini di siang
hari! Setiap orang bisa mencurigai kita.”
“Aku tahu, tapi tak ada tem pat lain yang lebih sesuai setelah
kita m elakukan pekerjaan tolol itu. Aku ingin pergi dari gubuk ini.
Kem arin pun aku ingin pergi tapi tak ada gunanya pergi dari sini
dengan kedua anak terkutuk itu bermain-main di puncak sana
memperhatikan tempat ini.”
‘Kedua anak terkutuk’ di atas loteng itu bergetar m en-
dengar pernyataan ini, m em ikirkan betapa untungnya kem arin
mereka ingat bahwa kemarin hari J umat dan menunggu sehari
untuk m asuk rum ah itu. Alangkah senangnya bila m ereka bisa
menunggu setahun.
Di bawah, kedua orang itu mengeluarkan makanan untuk
m akan siang. Setelah agak lam a, dalam kesunyian J oe si Indian
berkata, “Dengarlah, pulang ke udik, tunggu sam pai kuberi
kabar. Akan kucoba untuk sekali lagi m asuk kota ini. ‘Pekerjaan
berbahaya’ itu akan kita kerjakan setelah aku m elihat-lihat
keadaan. Kem udian kita pergi ke Texas bersam a-sam a.”
Usul itu disetujui. Kedua orang m ulai m enguap, dan J oe si
Indian berkata, “Aku ngantuk. Giliranm u berjaga.”
Ia berbaring melingkar di rumput dan segera jatuh
m endengkur. Rekannya m engguncang tubuhnya sekali dua hingga
suara dengkur itu hilang. Segera si penjaga mulai terkantuk-
kantuk. Kepalanya m akin lam a m akin tunduk dan akhirnya kedua
orang itu sama-sama mendengkur.
Petualangan Tom Sawyer 207
Di loteng, Tom dan Huck lega menarik napas. Tom berbisik,
“Inilah kesem patan kita—ayo!”
“Tak bisa—aku akan m ati bila m ereka bangun,” sahut Huck.
Tom m endesak, tetapi Huck tetap m enolak. Akhirnya Tom
bangkit perlahan, melangkah sendiri. Namun baru saja ia maju
selangkah, lantai yang diinjaknya berderak, hingga cepat-cepat ia
duduk lagi, hampir mati ketakutan. Ia tak berani mencoba lagi.
Kedua anak berbaring m enghitung-hitung waktu yang berlalu
lambat sekali, sampai mereka merasa bahwa waktu tidak berjalan
lagi. Dengan rasa terima kasih, mereka melihat, matahari akan
terbenam.
Dengkur yang seorang berhenti. J oe si Indian bangkit,
m em perhatikan rekannya yang duduk tertidur dengan senyum
dingin. Dengan kaki dibangunkannya rekan itu dan berkata, “He!
Bagusnya kau berjaga! Untung saja tak ada apa-apa.”
“Wah, apakah aku tertidur?”
“Oh, sedikit tertidur, m ungkin. Sekarang kita berangkat,
Kawan. Apa yang kita kerjakan dengan sisa uang kita?”
“Aku tak tahu—sim pan saja di sini seperti biasa kita lakukan.
Tak ada gunanya kita m em bawanya sebelum kita lari ke Selatan.
Enam ratus lim a puluh dolar dalam uang perak itu beban yang
cukup berat untuk dibawa-bawa.”
“Baiklah, tak apa untuk datang ke m ari sekali lagi.”
“Benar, tapi lain kali baiklah kita ke m ari di m alam hari
seperti biasanya.”
“Ya, tapi dengar. Mungkin agak lam a baru bisa kudapat
waktu yang tepat untuk m engerjakan pekerjaan itu. Sem entara
itu segalanya bisa tejadi. Tem pat ini bukan tem pat yang terbaik,
karena itu lebih baik kita tanam uang kita, dalam-dalam.”
“Bagus,” jawab rekannya, yang segera pergi ke perapian,
berlutut, mengangkat salah satu batu di bagian belakang perapian
208 Mark Twain
dan m engam bil sebuah kantong yang berdencing m erdu. Dari
kantong itu dikeluarkan dua puluh atau tiga puluh dolar untuk
dirinya dan jum lah uang yang sam a untuk J oe si Indian. Kem udian
diberikannya kantong itu kepada J oe, yang sedang m enggali
tanah di sudut dengan m em pergunakan pisau bow ie-nya.
Seketika itu juga semua ketakutan dan siksaan batin
kedua orang anak di loteng itu lenyap. Dengan tam ak, m ereka
memperhatikan setiap gerakan di bawah. Untung! Perasaan
keuntungan mereka sama sekali tak bisa digambarkan. Enam
ratus dolar cukup kaya untuk m em buat enam orang anak kaya
raya! Inilah pencarian harta karun yang term udah! Tak ada lagi
keraguan di mana harus menggali. Setiap saat kedua orang anak
itu saling m enggam it. Gam itan lem but yang m udah dim engerti,
“Oh, tidak senangkah kau kini, bahwa kita pergi ke sini?”
Di bawah, pisau J oe mengenai sesuatu.
“Halo!” serunya.
“Ada apa?” tanya rekannya.
“Papan busuk—oh, bukan, sebuah kotak agaknya. Kem arilah.
Tolong bantu aku dan kita lihat apa isi kotak ini. Tak usah, aku
telah m em buat sebuah lubang.” Ia m em asukkan tangannya, dan
m enariknya ke luar, berseru, “Astaga! Uang!”
Kedua orang itu m em perhatikan uang logam di genggam an
J oe. Uang em as! Kedua orang anak di loteng segem bira m ereka
juga.
Rekan J oe berkata, “Cepat kita keluarkan. Tadi kulihat
sebuah beliung berkarat di rum put dekat perapian. Biar kuam bil.”
Ia berlari, mengambil alat-alat Tom dan Huck. J oe mengambil
beliungnya, m em eriksa dengan penuh perhatian, m enggelengkan
kepala dan m enggerutu, tapi akhirnya alat itu dipergunakannya.
Kotak tadi segera terangkat keluar. Tak begitu besar, terikat oleh
lem peng besi, tadinya sangat kuat tapi telah term akan oleh waktu.
Petualangan Tom Sawyer 209
Ia memasukkan tangan dan menariknya, “Astaga! Uang!”
Dengan kesunyian gem bira kedua orang itu m em perhatikan harta
yang baru m ereka tem ui.
“Kawan, ada ribuan dolar di peti ini,” kata J oe.
“Kata orang gerom bolan Murrel pernah berkeliaran di sini
pada suatu m usim panas,” sahut tem annya.
“Aku tahu dan inilah harta m ereka agaknya.”
“Kini kau tak usah m engerjakan pekerjaan itu.”
Si peranakan Indian itu mengerutkan kening dan berkata,
“Kau belum kenal aku. Sedikitnya kau tak m engetahui seluk-
beluk pekerjaan itu. Sama sekali bukan perampokan, tetapi
pem balasan dendam !”
210 Mark Twain
Cahaya bersinar di m ata J oe. “Aku m em erlukan bantuanm u.
Bila selesai—kita ke Texas. Pulang ke Nance-m u dan anak-
anakmu, tunggu kabar dariku.”
“Nah, baiklah. Lalu akan kita apakan ini? Menanam nya
kem b a li?”
“Ya. (kegem biraan m eluap di atas) Tidak! Dem i Sachem
agung, tidak! (kesedihan mendalam di atas) Hampir aku lupa.
Beliung itu ada bekas-bekas tanah baru. (Sesaat anak-anak itu
dicengkam ketakutan). Bagaim ana sebuah beliung dan sebuah
singkup bisa di sini? Bagaim ana bisa keduanya m em punyai
bekas-bekas tanah baru? Siapa yang m em bawanya ke m ari?
Dan ke m ana m ereka pergi? Apakah kau m elihat seseorang—
m endengar seseorang? Apa! Menanam lagi di sini hingga pem ilik
kedua benda itu m elihat bekas galian? Tidak! Tidak! Kita bawa ke
sa r a n gku .”
“Oh, tentu. Mengapa tak terpikirkan olehku. Kau m aksud
Nomor Satu?”
“Tidak—Nom or Dua—di bawah tanda silang. Tem pat yang
satunya itu tak baik. Terlalu um um .”
“Baiklah. Sudah ham pir gelap, waktu untuk berangkat.”
J oe si Indian bangkit, pergi dari satu jendela ke jendela lain,
hati-hati m engintai keluar. Segera ia berkata, “Siapa kira-kiranya
yang m em bawa alat-alat itu ke m ari? Mungkinkan m ereka m asih
di atas?”
Kedua anak itu tak berani bernapas. J oe si Indian m em egang
pisaunya, berhenti sesaat, ragu, kem udian bergerak ke tangga.
Kedua anak itu m em ikirkan lem ari tadi, tapi kekuatan m ereka
terasa terbang. Terdengar langkah J oe berderik di tangga—
kengerian yang tak tertahankan lagi itu m enim bulkan kenekatan
dalam diri anak-anak—m ereka sudah akan m elom pat untuk
bersem bunyi di lem ari ketika tiba-tiba terdengar derakan kayu
Petualangan Tom Sawyer 211
busuk dan J oe jatuh di antara serpihan-serpihan tangga. Ia
bangkit, memaki-maki.
Kawan n ya berkata, “Apa gun an ya sem ua itu? J ika ada
orang di atas, peduli apa? Bila m ereka ingin m elom pat turun
dan mendapatkan kesulitan, siapa berkeberatan? Dalam lima
belas menit lagi hari akan gelap, bila mereka mau biarlah
mereka mengikuti kita aku bersedia menunggu mereka. Menu-
rut pendapatku, siapa pun yang m em bawa kedua benda itu telah
m elihat kita dan m engira bahwa kita adalah hantu atau setan. Aku
berani bertaruh mereka telah melarikan diri.”
J oe m enggerutu, kem udian setuju dengan pendapat tem annya
bahwa waktu yang m asih ada cahaya harus dipergunakan sebaik-
baiknya untuk berkem as-kem as. Di kesuram an senja m ereka
berdua m enyelinap ke luar, ke arah sungai dengan m em bawa peti.
Tom dan Huck bangkit, lemah tapi lega, mengintai kedua
orang dari antara tiang loteng. Mengikuti keduanya? Tak sudi.
Mereka puas untuk mencapai tanah tanpa leher patah dan pulang
dengan melintasi bukit. Sedikit sekali mereka berbicara. Mereka
benci kepada nasib sendiri yang telah m eninggalkan beliung serta
singkup. Kalau bukan karena kedua benda itu, sudah pasti J oe
si Indian tak akan m enaruh curiga. J oe akan m enyem bunyikan
perak bersam a em as itu dan m enunggu hingga ‘dendam nya’
terbalas. Kem udian akan didapatinya bahwa sim panannya hilang
lenyap. Betul-betul nasib jelek dengan m em bawa alat-alat itu ke
sana!
Tom dan Huck m em utuskan untuk m engawasi orang Spanyol
itu bila ia datang ke kota untuk memata-matai keadaan bagi pem-
balasan dendam nya, dan m engikutinya ke ‘Nom or Dua’ di m ana
pun tem pat itu berada. Muncullah pikiran yang m engerikan di
otak Tom.
“Pem balasan dendam ? Bagaim anakah kalau yang dim aksud-
kannya adalah kita, Huck?”
212 Mark Twain
“Oh, jangan!” Ham pir saja Huck pingsan.
Mereka terus m em bicarakannya dan ketika m ereka m e-
m asuki kota, m ereka m ufakat yang m enjadi sasaran J oe adalah
orang lain. Setidak-tidaknya, m udah-m udahan bukan Tom , sebab
hanya Tom -lah yang bersaksi di pengadilan.
Sedikit sekali kesenangan yang diperoleh Tom dalam m eng-
hadapi sendiri bahaya. Alangkah senangnya, jika ia m em punyai
teman.
Menghilangkan Keraguan
PENGALAMAN HARI itu m enyiksa Tom dalam im pian di m alam
harinya. Em pat kali tangannya m enyentuh harta karun dan
em pat kali harta itu lenyap. Kalau ia sadar, teringatlah betapa
sial dia. Pada pagi hari ia berbaring, mengingat-ingat kehebatan
pengalam annya. Tetapi pengalam an itu kabur dan jauh, seakan-
akan terjadi di dunia lain. Tim bul keyakinannya, sem ua itu
hanyalah m im pi. Ada bukti yang kuat untuk keyakinan ini—yaitu,
jum lah uang logam yang dilihatnya terlalu banyak untuk bisa
dianggap betul-betul terjadi. Belum pernah ia m elihat uang lebih
banyak dari lim a puluh dolar. Seperti anak-anak lain, ia m eng-
anggap, ‘ratusan’ dan ‘ribuan’ dolar hanya dalam percakapan saja,
tetapi jum lah sebanyak itu tak ada di dunia ini. Belum pernah
terbayangkan olehnya uang logam seratus dolar bisa ditem ukan
dalam m ilik seseorang. Bila gam baran tentang harta karunnya
214 Mark Twain
diselidiki, akan kedapatan bahwa bayangan tentang harta karun
itu terdiri dari segenggam ketip yang nyata serta setum puk uang
dolar yang tak dapat diraih.
Nam un m akin dipikirkan, m akin nyata, pengalam annya
itu m akin terbayang dalam pikirannya, hingga lebih m endekati
kenyataan daripada im pian. Keragu-raguan ini harus segera
dilenyapkan; ia harus cepat-cepat sarapan dan m encari Huck.
Didapatinya Huck sedang duduk di tepi sebuah perahu,
kakinya terjuntai ke dalam air dan nam paknya sedih. Tom
memutuskan untuk membiarkan Huck memulai persoalan itu.
Bila ia tak m em ulai percakapan tentang harta karun, berarti
sem ua pengalam annya betul-betul suatu im pian.
“Halo, Huck!”
“Halo, kau sendirian?”
Diam, selama satu menit.
“Tom , bila alat-alat itu kita tinggalkan di pohon m ati, pasti
harta itu sudah jadi m ilik kita! Sial!”
“J adi itu bukan m im pi! Bukan m im pi! Ham pir-ham pir aku
berharap itu sem ua m im pi, Huck. Betul!”
“Apa yang bukan m im pi?”
“Kejadian kem arin. Kupikir itu sem ua m im pi.”
“Mim pi? J ika tangga itu tidak patah, Tom , akan kaurasakan,
apakah itu semua mimpi atau bukan. Tadi malam aku mimpi
banyak dan dalam im pian itu setan Spanyol yang bertutup m ata
itu m engejar-ngejar aku. Sem oga m am pus dia!”
“J angan, jangan m am pus. Kita harus m encarinya. Kita cari
uang itu.”
“Kita tak akan bisa m enem ukannya, Tom . Hanya ada satu
kesempatan bagi seseorang untuk melihat tumpukan uang
sebanyak itu. Dan kesem patan itu telah lenyap. Lagi pula aku
akan gem etar setengah m ati, bila bertem u kem bali dengannya.”
“Aku juga, tapi aku ingin m elihat dia kem bali, m encari
jejaknya ke Nom or Dua.”
Petualangan Tom Sawyer 215
“Nom or Dua—ya, itulah. Aku m encoba m em ecahkan hal itu.
Tapi aku tak tahu apa artinya. Apa dugaanm u?”
“Aku tak tahu, Huck, terlalu sulit. He, Huck—m ungkin itu
nom or rum ah!”
“Benar! Ah, tidak, Tom . Bila betul nom or rum ah, tak m ungkin
di kota kecil ini. Di sini rumah-rumah tak bernomor.”
“Hm , m em ang begitu. Biar kupikir lagi. Nah, itu adalah
nom or kam ar—di penginapan, m isalnya.”
“Tepat! Di sini hanya ada dua buah penginapan. Bisa kita
ketahui dengan cepat.”
“Tunggu di sini, Huck, sam pai aku tiba.”
Tom segera berangkat. Ia tak ingin terlihat di tempat umum
bersam a Huck. Ia pergi selam a setengah jam . Di penginapan yang
terbaik kamar No. 2 ditempati oleh seorang ahli hukum muda,
sudah sejak lam a ia tinggal di situ. Di penginapan yang kurang
m egah kam ar No. 2 diliputi oleh rahasia. Kata anak pem ilik
penginapan, kam ar nom or 2 selalu tertutup pintunya. Tak pernah
ia melihat orang keluar-masuk, kecuali pada malam hari. Ia tak
tahu tentang sebabnya tentang keadaan yang aneh ini. Mem ang ia
ingin tahu, nam un perasaan ingin tahu itu tak berapa kuat. Anak
itu m em uaskan rasa ingin tahunya dengan m erasa yakin bahwa
kam ar itu ada hantunya. Malam kem arin ia m elihat cahaya dalam
kamar itu.
“Itulah yang kuketahui, Huck. Kukira itulah Nom or Dua yang
kita cari.”
“Begitulah, Tom . Kini apa yang akan kita lakukan?”
“Tunggu, kupikir sebentar.”
Tom berpikir lam a sekali, baru berkata lagi, “Beginilah. Pintu
belakang kam ar No. 2 itu adalah pintu yang m enghadap gang
sem pit di antara penginapan dan toko bata yang kecil dan tua.
Nah, kini kum pulkanlah sem ua anak kunci yang bisa kau tem ui,
sedangkan aku akan m encopet sem ua m ilik Bibi. Pada m alam
216 Mark Twain
gelap yang pertam a kita pergi ke tem pat itu untuk m encoba
semua kunci. Dan ingat harus kau perhatikan kalau-kalau kau
m elihat J oe si Indian. Mungkin ia datang sebab seperti katanya,
ia akan m encari kesem patan untuk m em balas dendam . Bila kau
m elihatnya ikuti dia. J ika ia tak pergi ke No. 2, itu bukanlah
tem pat yang tepat.”
“Tuhanku! Aku tak ingin m engikuti dia sendirian!”
“Mengapa? Pasti hal itu terjadi pada m alam hari. Ia tak akan
m elihat engkau. Kalau ia m elihat, ia tak akan berpikir apa-apa,
tak akan curiga.”
“Baiklah, bila m alam nya sangat gelap, m ungkin akan kuikuti
dia. Aku tak tahu—aku tak tahu. Akan kucoba.”
“Berani bertaruh, jika hari gelap dan kulihat dia, dia pasti
kuikuti. Mungkin ia berpendapat, tak ada kesem patan baginya
untuk membalas dendam dan membawa kabur uang itu.”
“Betul juga, Tom , betul juga. Nah, biarlah, akan kuikuti dia,
apa pun yang akan terjadi.”
“Nah, itu baru perkataan seorang sahabat. J angan kau
berhati lemah, Huck, aku juga tidak.”
Berhadapan dengan Bahaya
MALAM ITU Tom dan Huck siap untuk bertualang. Mereka
berputar-putar di sekitar penginapan itu sampai lewat pukul
sembilan. Seorang mengawasi gang kecil di sebelah penginapan
itu dari jauh, yang lain m engawasi pintu penginapan. Tak seorang
pun keluar atau m asuk ke dalam gang, tak seorang pun yang
m irip si Spanyol m em asuki atau keluar dari pintu penginapan.
Malam itu langit agaknya akan cerah. Maka Tom pulang dengan
perjanjian, bila m alam m enjadi gelap Huck akan m enyusulnya
dan m engeong. Tom akan keluar dan m encoba kunci-kuncinya.
Ternyata langit tetap cerah, Huck m enghabisi waktu jaga dan
tidur di dalam tong bekas bula sekitar pukul dua belas.
Hari Selasa anak-anak itu tetap sial. Begitu juga hari Rabu.
Tapi hari Kam is agaknya ada harapan. Di saat yang baik Tom
m enyelinap keluar, m em bawa lentera seng tua m ilik bibinya
dan selem bar handuk besar untuk m enutupi lentera. Lentera itu
218 Mark Twain
disem bunyikan dalam tong gula Huck. Berdua m ereka m engawasi
penginapan. Sejam sebelum tengah malam, penginapan tutup,
lam punya (satu-satunya yang ada) dipadam kan. Tak ada seorang
Spanyol pun terlihat. Tak ada orang keluar atau m asuk gang.
Sem ua m em beri harapan baik. Langit m ulai pekat, hanya
terpecahkan oleh suara guruh di kejauhan.
Tom m engam bil lenteranya, dinyalakannya di dalam tong,
dibungkus erat-erat dengan handuk dan kedua orang petualang
itu berjalan dalam kelam menuju ke penginapan. Huck berjaga di
ujung gang, Tom masuk meraba-raba. Mulailah waktu menunggu
bagi Huck, m enunggu dengan was-was yang m enekan hatinya
seberat gunung. Ia berharap agar ia bisa m elihat kilasan cahaya
lentera. Hal itu akan m enakutkannya, nam un setidak-tidaknya
akan m em beri bukti bahwa Tom m asih hidup. Rasanya telah
berjam -jam Tom lenyap. Pastilah ia telah pingsan, m ungkin juga
m ati. Mungkin hatinya m eletus tak kuat m enahan takut atau
kegem biraan. Dalam kegelisahannya tak terasa Huck m eram bat
makin lama makin dalam memasuki gang, takut akan hal-
hal yang m engerikan dan m engharapkan bencana yang akan
m enghabiskan napasnya. Tak banyak napas yang bisa dihabiskan,
sebab ia hanya bisa bernapas sedikit dan pastilah dadanya akan
segera rusak, disebabkan debarannya begitu keras. Tiba-tiba
terlihat cahaya lentera dan Tom berlari di sam pingnya sam bil
berteriak, “Lari, cepat! Selam atkan dirim u!”
Perintah itu tak perlu diulang, sekali sudah cukup. Sebelum
ulangan sempat diucapkan, Huck telah berlari dengan kecepatan
tiga puluh atau em pat puluh m il sejam . Kedua anak berlari
sam pai m ereka m encapai gudang terbuka, yang tak terpakai lagi
dari rumah pembantaian di ujung desa. Tepat pada waktu mereka
terlindung, hujan bercam pur angin turun dengan lebatnya. Segera
setelah Tom bisa berbicara lagi ia berkata, “Huck, m engerikan!
Kucoba dua kunci perlahan-lahan. Tapi suaranya begitu keras,
Petualangan Tom Sawyer 219
hingga aku ketakutan. Dengan dua kunci itu pintunya tak bisa
dibuka. Tanpa kusadari kupegang tombol pintu, dan pintu itu
terbuka! Ternyata sam a sekali tak terkunci! Aku m elom pat
m asuk, m em buka pem bungkus lentera, dan... dem i hantu Kaisar
Agu n g!”
“Apa! Apa yang kau lihat, Tom ?”
“Huck, ham pir saja aku m enginjak tangan J oe si Indian!”
“Bet u lka h ?”
“Ya! Ia berbaring di lantai, tidur nyenyak, m atanya tertutup
kain, tangannya terbentang lebar.”
“Tuhanku! Apa yang kau perbuat? Apakah ia terbangun?”
“Tidak, tak bergerak sedikit pun. Mabuk, kukira. Kusam bar
handukku dan lari.”
“Tidak, tak bergerak sedikit pun. Mabuk, kukira.”
220 Mark Twain
“Aku tak akan ingat akan handuk itu, pasti!”
“Terpaksa. Kalau tidak, pasti Bibi Polly m arah padaku.”
“Hei, Tom , kau lihat kotak itu?”
“Huck, aku tak sem pat m elihat berkeliling. Tak kulihat peti
itu, tak kulihat tanda silang. Tak kulihat apa pun, kecuali sebuah
botol dan sebuah cangkir seng di lantai dekat si J oe; dan aku pun
m elihat dua tong serta banyak botol di kam ar itu. Tahukah kau
kini apa sebenarnya kam ar hantu itu?”
“Ap a ?”
“Kam ar itu dihantui m inum an keras! Mungkin sem ua Peng-
inapan Anti Minum an keras selalu m em punyai sebuah kam ar
hantu, bukan, Huck?”
“Mungkin juga, siapa yang akan m engira? Tapi, Tom , kini
saat yang tepat untuk m engam bil kotak itu, bila si J oe m abuk.”
“Betul, kau saja yang m engam bilnya.”
Huck gemetar sesaat.
“Ah, tidak, jangan aku.”
“Aku pun tak m au, Huck, hanya ada satu botol kosong di
dekat J oe si Indian dan itu tak cukup. Bila ada tiga buah, ia m abuk
dan aku berani.”
Agak lam a keduanya terdiam , berpikir-pikir. Kem udian Tom
berkata, “Dengar Huck, baiklah kita tak m encoba, bila kita tahu
bahwa si J oe m asih ada di sana. Sangat m enakutkan. Kini kita
awasi tiap m alam , sam pai kita m erasa yakin benar ia tak ada di
kam ar itu. Begitu ia keluar, secepat kilat kita ram pas kotaknya.”
“Aku setuju. Akan kuawasi sepanjang m alam , dan setiap
m alam pula, asal kau kerjakan tugas yang lain itu.”
“Baiklah, yang harus kau kerjakan hanyalah lari satu blok
ke jalan Hooper dan m em eong—dan bila aku m asih juga tidur,
lemparkan beberapa kerikil ke jendelaku, pasti aku terbangun.”
“Se t u ju .”
Petualangan Tom Sawyer 221
“Nah, Huck, hujan reda. Aku pulang. Dua jam lagi fajar
m enyingsing. Kau m au, bukan, m engawasi untuk dua jam lagi?”
“Telah kukatakan, Tom , itu tugasku. Aku bersedia m eng-
awasi penginapan itu tiap m alam selam a setahun. Aku akan tidur
sepanjang siang, dan berjaga sepanjang malam.”
“Bagus. Di m ana kau tidur?”
“Di gudang jeram i Ben Rogers. Ia m em bolehkan, begitu juga
budak negro ayahnya, Pam an J ake. Aku selalu m engangkut air
untuk Pam an J ake bila dim intanya, dan jika aku m enginginkan
m akanan, diberinya aku sedikit, kalau ada untuk berdua. Ia negro
yang baik. Ia senang padaku sebab aku tak bertingkah seolah-olah
aku berderajat lebih tinggi. Kadang-kadang aku m alah duduk
makan bersama dia. Tapi jangan ceritakan hal itu pada siapa pun.
Tiap orang harus m elakukan yang tak disenanginya bila ia sangat
kela p a r a n .”
“Nah, kalau kau tak kuperlukan di siang hari, akan kubiarkan
kau tidur. Tak akan kuganggu kau. Dan tiap saat ada sesuatu yang
penting di malam hari, jangan ragu untuk membangunkan aku.”
Membalas Dendam
KABAR PERTAMA yang sam pai kepada Tom pada J um at pagi
adalah suatu kabar gem bira. Malam sebelum nya ternyata keluarga
Hakim Thatcher telah kembali ke kota. Tentang si J oe, maupun
tentang harta karun tersisihkan dalam pikirannya, dan Becky
m uncul dalam angan-angannya. Ia m engunjungi Becky bersam a
tem an-tem an lain. Mereka berm ain sem bunyi-sem bunyian
sampai lelah sehari suntuk. Dan hari itu disempurnakan dengan
secara istim ewa: Becky m endesak, agar ibunya m enentukan esok
harinya hari piknik yang telah lam a dijanjikan dan ditunda-tunda.
Ibu Becky setuju. Kegem biraan Becky tak terlukiskan; Tom begitu
juga. Sebelum matahari terbenam undangan-undangan telah
diedarkan, dan seketika itu juga semua kaum muda di desa itu
sibuk dengan persiapan, yang penuh kegem biraan. Tom tak bisa
cepat tidur; besar harapannya akan m endengar suara m engeong
Huck Finn agar keesokan harinya ia bisa m em buat Becky serta
Petualangan Tom Sawyer 223
para peserta piknik lainnya heran dengan harta karunnya. Tetapi
ia kecewa, harapannya tak terkabul. Tak ada tanda-tanda sam pai
pagi tiba.
Pukul sepuluh esok harinya, sekelom pok anak-anak dan
beberapa orang m uda yang gem bira ria berkum pul di rum ah
Hakim Thatcher. Bukanlah adat daerah itu bagi orang-orang
dewasa untuk m engurangi kegem biraan berpiknik. Anak-anak
itu dianggap cukup aman di bawah perlindungan beberapa gadis
berumur delapan belas tahun dan beberapa orang muda berumur
sekitar dua puluh tiga tahun. Sebuah kapal tambang uap disewa
untuk piknik itu. Beberapa saat setelah berkum pul, rom bongan
yang gem bira itu m em enuhi jalan, dibebani oleh keranjang-
keranjang berisi perbekalan. Sid sakit, jadi tak bisa ikut. Mary
harus m erawatnya di rum ah.
Kata-kata terakhir yang diucapkan Nyonya Thatcher kepada
Becky ialah, “Kau akan pulang terlam bat. Agaknya lebih baik,
bila kau berm alam di rum ah tem an-tem an yang tinggal dekat
pelabuhan kapal tambang.”
“Kalau begitu, aku akan berm alam di rum ah Susy Harper,
Bu .”
“Baiklah. Tapi ingat, baik-baik jangan m em buat kesulitan di
rumah orang.”
Beberapa saat kem udian setelah m ereka m en in ggalkan
rum ah, Tom berkata pada Becky, “Dengar, kuberi tahu apa yang
akan kita lakukan. Daripada pergi ke rumah J oe Harper, lebih
baik kita pulangnya m endaki bukit dan berm alam di rum ah
Nyonya J anda Douglas. Pasti ia m em punyai es krim . Setiap hari
ia m em buatnya banyak sekali. Ia pun akan senang, bila kita
berkunjung ke sana.”
“Oh, senang juga, tapi apa kata ibuku nanti?”
“Bagaim ana ibum u bisa m engetahuinya?”
Becky m em ikirkan usul Tom beberapa saat, kem udian
224 Mark Twain
m enjawab agak ragu, “Kukira itu m enyalahi janjiku, tapi....”
“Tapi apa! Ibum u tak akan tahu, jadi tak ada salahnya,
bukan? Yang diinginkannya hanyalah agar kau selam at, dan
aku berani bertaruh ia akan m enyuruhm u berm alam di rum ah
Nyonya J anda, bila tadi dia teringat. Pasti itulah yang akan
dikatakannya kepadam u.”
Keram ah-tam ahan janda Douglas m erupakan godaan yang
kuat, apalagi Tom m em bujuk terus, hingga akhirnya Becky
m enyerah. Diputuskan juga, m ereka tak akan m engatakan
rencana itu pada anak-anak lain. Namun, ketika Tom ingat akan
janjinya pada Huck, kegem biraannya agak berkurang. Bagaim ana,
kalau nanti m alam Huck m em beri tanda ke rum ahnya? Tetapi
kesenangan yang bisa didapatnya di rum ah J anda Douglas
tak bisa dilalaikan begitu saja. Dan untuk apa kesempatan itu
dilepaskan begitu saja. Malam yang lalu tanda yang dinanti-nanti
itu tak kunjung datang, bagaimana mungkin malam itu akan
datang? Kesenangan yang m eyakinkan harta karun yang m asih
dalam keragu-raguan dan seperti halnya anak-anak sebayanya, ia
m enyerah pada daya tarik yang lebih besar dan tak m engizinkan
dirinya untuk m em ikirkan kotak harta karun di hari itu.
Tiga mil dari hulu kota, kapal tambang itu berhenti di mulut
sebuah teluk, yang berhutan dan berlabuhlah. Penum pangnya
berlari-lari turun ke darat; hutan itu segera penuh dengan
sorak-sorai dan tawa ria. Setiap cara untuk melelahkan tubuh
dijalankan dan akhirnya sem ua kem bali dengan rasa lapar dan
digem purlah m akanan-m akanan yang dibawa. Sehabis m akan,
mereka beristirahat, sambil bercakap-cakap di bawah naungan
pohon-pohon yang besar. Tak lam a kem udian terdengar seseorang
berteriak, “Siapa yang berani m asuk dalam gua?”
Sem ua berani. Bungkusan-bungkusan lilin dikeluarkan, dan
seketika itu juga semua berlomba-lomba menaiki bukit. Mulut
gua terletak di sisi bukit, berbentuk huruf A. Pintu kayunya yang
Petualangan Tom Sawyer 225
tebal dan kuat terbuka. Di balik pintu terdapat sebuah ruang
kecil, dingin seperti lem ari es, dindingnya dari batu kapur keras
berembun dingin. Ruang itu menarik, karena penuh rahasia. Da-
lam kegelapan, m em andang ke luar, ke lem bah yang berm andikan
sinar m atahari. Tapi perasaan yang m enim bulkan segan itu
segera lenyap dan penjelajahan dim ulai. Waktu sebatang lilin
dinyalakan, terjadi pengeroyokan atas yang m enyalakan lilin
itu. Perebutan dan pertahanan dilakukan dengan sengit sampai
akhirnya lilin itu padam . Mungkin jatuh atau tertiup, kem udian
dimulailah kejar-mengejar dengan diiringi teriakan-teriakan dan
tawa. Nam un sem ua ada akhirnya. Anak-anak itu m engadakan
arak-arakan dengan lilin di gang-gang gelap dalam gua itu.
Barisan lilin m em perlihatkan langit-langit gua tem pat dinding gua
itu bertemu kira-kira enam puluh kaki di atas para peserta piknik.
Gang utam a dari gua itu lebarnya kira-kira delapan atau sepuluh
kaki. Dari tepi kanan dan kiri terdapat gang-gang yang lebih
kecil—sebab Gua McDougal sebenarnya adalah sekelom pok jalan
setan yang terdiri dari gang-gang yang bengkak-bengkok, terjalin
satu sam a lain. Kata orang seseorang bisa m engem bara berhari-
hari dan berm alam -m alam di jaringan yang m em bingungkan itu
tanpa bisa m enem ukan ujung gang yang sedang dijalaninya. Bila
diikuti jalan yang m enurun, dan m enurun terus, jauh ke dalam
bum i, akan didapatinya hal yang sam a, lingkaran setan dem i
lingkaran setan tak berujung. Tak seorang pun tahu keadaan
di dalam gua itu. Banyak di antara orang m uda m engetahui
beberapa bagian dari gua ini, dan mereka menganggap bijaksana,
jika tidak m elewati batas yang telah m ereka ketahui. Tom Sawyer
tahu juga beberapa bagian dari gua itu.
Selama kira-kira tiga perempat mil, arak-arakan lilin
m enggunakan gang utam a. Kem udian kelom pok-kelom pok kecil
dan pasangan-pasangan m ulai m enyelinap ke gang-gang kecil di
kanan-kiri gang utam a itu, berlarian di gang-gang yang seram
226 Mark Twain
untuk m enakut-nakuti kelom pok lain di gang-gang yang m ereka
lalui, kalau berpotongan dengan gang lain. Kelom pok-kelom pok
itu bisa menghindari pertemuan dengan kelompok-kelompok
lain untuk setengah jam tanpa m eninggalkan bagian yang telah
dikenal baik.
Akhirnya, kelom pok dem i kelom pok m uncul kem bali di pintu
gua, terengah-engah, riuh-rendah, dari kepala sampai ke kaki
kena tetesan lilin. Di sana-sini tubuh mereka berbecah lumpur,
tapi sem ua girang, tandanya piknik itu berhasil baik. Sem ua
tercengang bagaimana waktu cepat berjalan dan malam hampir
tiba. Selama setengah jam lonceng kapal berdentang-dentang me-
manggil mereka. Ini bagaikan menutup hari penuh petualangan
dengan cara yang rom antis, dan karena itu, sangat m em uaskan.
Ketika kapal didorong ke dalam arus, tak seorang pun di antara
para penum pang yang bertingkah laku liar itu peduli akan waktu,
kecuali kapten.
Huck berjaga-jaga waktu lampu-lampu kapal gemerlapan
melintasi dermaga. Ia tak mendengar suara ribut dari atas kapal itu
sebab kini para penum pangnya m ulai lelah. Huck bertanya-tanya
dalam hati, kapal apa itu dan mengapa tak berlabuh di dermaga.
Tetapi pikiran itu segera lenyap, sebab perhatiannya tertuju
pada tugasnya. Langit m endung dan gelap. Pukul sepuluh m a-
lam suara kendaraan tak terdengar lagi, lampu-lampu bergantian
padam ; orang yan berjalan kaki lenyap. Desa itu m ulai tidur,
m eninggalkan jaga m alam kecil itu hanya bertem an kesunyian
malam dan hantu-hantu. Pukul sebelas, lampu penginapan
dipadam kan. Kini sem uanya gelap. Huck m enunggu, baginya
waktu berjalan amat lambat dan mengesalkan. Tapi tak ada
yang terjadi. Kepercayaannya m ulai goyah. Adakah gunanya ia
berjaga? Apakah m anfaatnya? Mengapa harus dihiraukan dan
tidak tidur saja?
Petualangan Tom Sawyer 227
Ada bunyi terdengar; sekejap ia waspada. Pintu di gang
penginapan tertutup perlahan. Huck melompat ke sudut tembok.
Saat kemudian dua orang berlalu dekat sekali; seorang membawa
benda berat di bawah lengannya. Pasti kotak harta karun itu!
Mereka akan m em indahkan hartanya! Mengapa harus m em anggil
Tom sekarang? Pikiran tolol; orang-orang itu akan lenyap dan
tak bisa diketemukan lagi. Tidak, ia akan mengikuti mereka;
kegelapan ini akan m elindunginya. Setelah berunding sendiri,
bagaikan kucing ia berjalan tak bersuara di belakang orang-orang
itu. Dengan kaki telanjang ia m enyelinap cukup jauh tak bisa
dilihat dari depan.
Kedua orang itu bergerak sepanjang sungai kira-kira tiga
blok, kemudian membelok ke kiri di sebuah perempatan jalan.
Mereka m engikuti jalan itu, sam pai jalan itu bercabang ke Bukit
Cardiff. Mereka m engam bil jalan ini. J alan itu m enanjak, m ereka
terus mendaki tanpa ragu, melewati rumah penjaga hutan di
setengah jarak ke puncak bukit. Bagus, pikir Huck, m ereka akan
m enanam harta itu di lubang galian bekas tam bang. Tapi ternyata
mereka tak berhenti di lubang galian itu. Mereka menuju jalan
sem pit di antara sem ak-sem ak yang tinggi. Keduanya lenyap di
kegelapan. Huck mempercepat langkah untuk mendekati mereka,
sebab kini m ereka tak akan bisa m elihatnya lagi. Ia berlari-lari
kecil, kemudian mengurangi kecepatan, takut kalau-kalau ia ber-
jalan terlalu cepat. Setelah itu ia berhenti, mendengarkan; tak
terdengar suara sedikit pun kecuali detakan jantungnya. Suara
seekor burung hantu terdengar dari atas bukit. Tapi tak terdengar
bunyi langkah kaki. Tuhanku, apakah ia telah kehilangan jejak?
Huck sudah hampir saja lari, ketika tiba-tiba terdengar seseorang
m endeham pada jarak kurang dari em pat kaki di dekatnya!
J antung Huck bagaikan m elom pat ke m ulutnya, nam un cepat-
cepat ditelannya kem bali. Seketika itu juga Huck m enggigil
228 Mark Twain
seakan-akan dua belas penyakit dem am m enjangkitinya serentak.
Tubuhnya begitu lem ah, hingga rasanya ia akan roboh. Ia tahu,
di m ana dia sekarang. Kira-kira lim a langkah dari pintu kecil
yang m enuju halam an rum ah besar Nyonya J anda. Biarlah, bila
m ereka akan m enanam kan harta itu di situ, m udah m encarinya
kelak.
Terden gar suara san gat ren dah—suara J oe si In dian ,
“Terkutuk dia, m ungkin ia sedang m enerim a tam u, selarut ini
lam punya m asih m enyala.”
“Tak ada kulihat lam pu.”
Suara terakhir itu asing, suara orang asing di rumah hantu!
J antung Huck berhenti berdetak—inilah, jadi inilah pem balasan
dendam yang dim aksud itu! Pikiran pertam anya: lari! Kem udian
teringat J anda Douglas yang suka m em beri pertolongan, dan
m ungkin sekali orang-orang ini akan m em bunuh nyonya yang
baik hati itu. Ingin sekali ia m em beri peringatan kepada Nyonya
Douglas, nam un ia tahu ia tidak berani. Kedua orang itu m ungkin
akan m engejar dan m enangkapnya. Ini dan banyak lagi m enjadi
bahan pikirannya dalam waktu antara jawaban si orang asing
dengan kata-kata selanjutnya, yaitu, “Sem ak-sem ak m enghalangi
m atam u. Nah—ke sinilah—kini kau lihat, bukan?”
“Ya. Ada tam u di sana. Lebih baik kita gagalkan saja rencana
in i.”
“Gagalkan? Sedang ini adalah kali terakhir aku di tem pat ini?
Takkan kudapat kesempatan lain. Telah berkali-kali kukatakan
padam u. Aku tak peduli akan uangnya, boleh kau am bil sem ua.
Tetapi suam in ya san gat kasar perlakuan n ya padaku—serin g
berlaku kasar padaku—bukan hanya karena ia adalah hakim yang
menghukumku karena tuduhan bahwa aku seorang gelandangan.
Bukan itu saja. Setelah m enyerahkan aku, aku dicam buknya
dengan cam buk kuda—dicam buk di depan penjara seperti seorang
n egro!—den gan dilihat seluruh pen duduk kota. Dicam buk!
Petualangan Tom Sawyer 229
Mengertikah kau? Sungguh tidak adil, ia mampus sebelum aku
sempat membalas dendam. J adi dendam itu kubalaskan pada
ist r in ya .”
“Oh, jangan bunuh dia. J angan!”
“Mem bunuh? Siapa berbicara tentang pem bunuhan? Bila
suam inya m asih ada pasti ia kubunuh, tetapi tidak begitu dengan
istrinya. Bukan begitu caranya pem balasan dendam pada seorang
wanita—hancurkan m ukanya! Robek cuping hidungnya, potong
daun telinganya seperti babi.”
“Dem i Tuhan! Itu....”
“J angan ucapkan tanggapanm u, itu lebih am an bagim u. Ia
akan kuikat di tem pat tidur. Bila ia m am pus kehabisan darah,
apakah itu salahku? Aku tak akan m enangis bila ia m am pus.
Kawan, kau harus m em bantuku dalam hal ini—dem i aku—karena
itulah kau ada di sini—m ungkin tak bisa kukerjakan sendiri. Bila
kau m enolak, kubunuh kau, kubunuh dia—dan kukira tak akan
ada lagi yang tahu, siapa yang m engerjakannya.”
“Kalau begitu, m ari cepat-cepat kita selesaikan saja. Lebih
cepat lebih baik—badanku gem etar.”
“Sekarang? Dengan tam u di sana? Dengar—jangan buat aku
curiga padam u, itulah yang harus kauingat. Tidak, kita tunggu
sampai lampu-lampu itu padam. Tak perlu tergesa-gesa.”
Huck merasa bahwa mereka tak akan berbicara lagi dan
kesunyian akan tiba—kesunyian yang lebih m engerikan daripada
segunung percakapan perkara pembunuhan. Dengan menahan
napas ia m elangkah m undur. Satu per satu kakinya diangkat
hati-hati, diletakkan dengan teguh. Setelah berdiri agak lama
dengan satu kaki ham pir-ham pir dia roboh. Langkah-langkah
m undur itu diulangi dengan cara yang sam a, sam pai tiba-tiba
kakinya m em ijak sebatang ranting kering yang berderak patah!
Napasnya terhenti, telinganya dipasang. Tapi tak terdengar suara,
sunyi betul-betul. Rasa terim a kasihnya tak terhingga. Kini di
230 Mark Twain
antara semak-semak dia memutar tubuh dengan perlahan seakan
dirinya sebuah kapal di sebuah terusan—kem udian m elangkah
cepat dengan hati-hati. Waktu lubang galian lam a dicapainya, ia
m erasa am an, kakinya yang tangkas m em bawa tubuhnya berlari.
Terus, terus ke bawah, sam pai dicapainya rum ah penjaga hutan.
Digedornya pintu rum ah itu keras-keras sam pai kepala penjaga
hutan yang tua itu m uncul bersam a kedua orang anaknya yang
tegap-tegap di jendela. Dia bertanya, “Keributan apa itu? Siapa
yang m enggedor pintu? Ada apa?”
“Izinkan saya m asuk—cepat! Nanti kuceritakan sem uanya!”
“Wah, siapa engkau?”
“Huckleberry Finn. cepat, izinkan aku m asuk!”
“Astaga, H uckleberry Fin n ! Bukan n am a yan g bisa
m em bukakan setiap pintu. Tapi biarlah dia m asuk, Anak-anak!
Dan m ari kita lihat apa yang m au jadi kesulitannya.”
“J angan katakan bahwa aku yang bercerita,” kata Huck m ula-
m ula waktu ia telah di dalam . “Berjanjilah, kalau tidak aku pasti
akan dibunuh. Nyonya J anda baik sekali padaku dan aku ingin
katakan—aku akan katakan asal kau berjanji tak akan m em beri
tahu orang lain bahwa yang berkata adalah aku.”
“Dem i Tuhan, agaknya ia m em punyai cerita yang am at
penting, kalau tidak tak m ungkin begini tingkahnya!” seru
penjaga hutan tua itu. “Katakanlah tak akan ada yang m em buka
rahasiamu di sini.”
Tiga m enit kem udian orang tua dan kedua anaknya telah
menaiki bukit dengan persenjataan lengkap. Huck mengantar
m ereka sam pai ke jalan kecil yang m em asuki sem ak-sem ak, lebih
dari itu tak berani. Ia bersem bunyi di balik batu besar, m em asang
telinga. Lam a sekali terasa kesunyian penuh ketegangan, sam pai
kesunyian itu dipecahkan oleh suara ledakan tem bakan dan
jer it a n .
Dengan tidak menunggu lagi, Huck melompat dan bagaikan
terbang dia lari menuruni bukit.
Tom dan Becky di dalam Gua
MENJ ELANG PAGI di hari Minggu, Huck m endaki bukit dan
mengetuk pintu penjaga hutan. Isi rumah masih tidur, namun
tidur yang tak lelap oleh pengalam an tadi m alam . Dari jendela
terdengar, “Siapa itu?”
Dengan berbisik Huck m enjawab ketakutan, “Izinkan aku
m asuk. Aku Huck Finn.”
“Nam a itu bisa m em buka pintu rum ah ini siang atau m alam ,
Nak! Selam at datang!”
Perkataan-perkataan itu sangat asing bagi anak gelandangan
itu, tetapi yang paling m erdu yang pernah didengarnya. Belum
pernah kata-kata itu diucapkan padanya. Segera pintu terbuka,
dan ia masuk. Ia diberi kursi untuk duduk, sementara itu si orang
tua berpakaian, juga anak-anaknya yang bertubuh tinggi besar.
“Nah, Nak, kuharap kau betul lapar, sebab setelah m atahari
terbit sarapan akan siap. Sarapan hangat, jangan khawatir, aku
dan anak-anak telah berharap kau akan kembali tadi malam.”
232 Mark Twain
“Aku sangat ketakutan,” kata Huck, “dan aku lari. Aku lari
waktu kudengar suara pistol, dan tak berhenti-henti selama lima
kilom eter. Aku datang lagi karena ingin tahu tentang tadi m alam ,
dan aku datang sebelum matahari terbit sebab aku tak ingin
berpapasan dengan setan-setan itu, meskipun mereka telah mati.”
“Anak m alang, nam pak sekali betapa m enderitanya kau
tadi malam. Tapi di sini ada tempat untuk sarapan. Tidak, Nak,
m ereka belum m ati, kam i sangat m enyesal. Kau tahu, kam i
mengetahui dengan tepat di mana para penjahat itu sekarang
berkat keteranganm u yang lengkap. Berjingkat kam i m endekati
m ereka sam pai kira-kira lim a m eter dari mereka. Gelap jalan
di antara sem ak-sem ak itu—dan tepat pada saat itu hidungku
terasa gatal akan bersin. Sial betul! Kutahan, tapi tak berhasil.
Aku di depan dengan pistol yang teracung dan ketika aku bersin
bangsat-bangsat itu m elarikan diri. Maka aku berteriak, ‘Tem bak,
tem bak!’ Kam i m enem baki suara gem ersik di sem ak-sem ak.
Tetapi bangsat-bangsat itu lolos. Kam i kejar m enem bus rim ba.
Kukira tem bakan kam i tak ada yang m engena. Bangsat-bangsat
itu membalas, masing-masing melepaskan satu kali tembakan,
tetapi pelurunya berdesing lewat kam i. Segera setelah suara
kaki m ereka lenyap, kam i m enghentikan pengejaran dan pergi
untuk membangunkan para petugas keamanan. Sekelompok
menjaga tepi sungai dan segera setelah agak terang sherif dan
pengawalnya akan m enggeledah hutan. Anak-anakku akan ikut
dengan m ereka. Kalau kam i tahu rupa bangsat-bangsat itu pasti
pekerjaan kam i akan m udah. Tetapi agaknya kau tak bisa m elihat
wajahnya di kegelapan bukan, Nak?”
“Oh, ya, aku m engikuti m ereka dari kota.”
“Bagus! Katakan tanda-tanda m ereka, Nak, ayohlah!”
“Yang satu si orang Spanyol tua, bisu dan tuli, pernah berke-
liaran di kota ini. Yang lain rupanya kejam, berpakaian compang-
ca m p in g.”
Petualangan Tom Sawyer 233
“Cukup, Nak, kam i tahu m ereka. Suatu hari kam i m em ergoki
keduanya di hutan, di belakang rum ah Nyonya J anda. Mereka
m enyelinap pergi. Cepat berangkat, Anak-anak, katakan kepada
sherif. Kalian sarapan nanti saja!”
Anak penjaga hutan itu segera berangkat. Waktu m ereka
sam pai ke pintu, Huck m elom pat dan berteriak, “Oh, jangan
katakan kepada siapa pun bahwa akulah yang m enem ukan
m ereka! J angan sekali-kali!”
“Baiklah kalau begitu keinginanm u, Huck, tapi sebenarnya
engkaulah yang m endapat kehorm atan.”
“Oh, tidak, tidak! J angan dikatakan!”
Ketika kedua orang m uda itu telah pergi, si penjaga hutan
berkata pada Huck, “Mereka tak akan m em buka rahasia, Huck,
begitu juga aku. Tapi mengapa kau tak mau jasa-jasamu disebut?”
Huck tak m au m enerangkan. Dia hanya m enerangkan bahwa
dia mengetahui benar tentang salah seorang di antara kedua
orang itu. Tetapi dia tidak suka, bila orang itu mengetahui bahwa
ia m engetahui rahasianya, sebab pastilah ia akan dibunuh.
Orang tua itu berjanji akan m em egang teguh rahasianya dan
bertanya, “Mengapa kau m engikuti kedua orang itu, Nak? Apa
yang m enyebabkan engkau curiga?”
Huck terdiam sesaat, m em ikirkan jawaban yang tak m em -
bahayakan dirinya, “Hm , seperti Bapak ketahui, aku keras kepala;
dem ikianlah kata orang dan aku tak m em bantahnya—kadang-
kadang aku tak bisa tidur memikirkan kehidupanku, mencari
cara untuk m engubahnya. Begitu juga m alam tadi. Aku tak bisa
tidur. Maka menjelang tengah malam aku berjalan-jalan, sambil
berpikir-pikir dan ketika aku sampai ke toko kecil penjual batu
bata dekat penginapan Anti Minum an Keras, aku bersandar di
dinding untuk berpikir lagi. Tepat pada saat itu keluarlah kedua
orang itu, m enyelinap dengan m em bawa sesuatu di bawah
lengan m ereka. Kuduga, itu adalah hasil curian m ereka. Seorang
234 Mark Twain
di antaranya m engisap cerutu, m em inta api. Tepat di depanku
keduanya berhenti dan cahaya api cerutu m enerangi wajah
m ereka. Yang satu yang bertubuh besar adalah orang Spanyol
yang bisu tuli itu, dengan cam bang dan ram butnya yang putih
serta penutup m ata. Yang lain ialah si setan berbaju com pang-
ca m p in g....”
“Bisakah kau m elihat com pang-cam ping bajunya itu dalam
cahaya cerutu?”
Huck tertegun sesaat. “Aku tak tahu. Tetapi seolah-olah
begitulah kulihat.”
“Mereka pergi terus dan engkau....”
“Mengikuti m ereka, ya, begitulah. Aku ingin tahu, apa m aksud
m ereka—m aka aku m em buntuti m ereka. Kuikuti m ereka hingga
dekat pintu pagar Nyonya J anda. Aku bersem bunyi di tem pat
gelap. Orang com pang-cam ping itu m em inta, agar Nyonya J anda
jangan dibunuh, dan si Spanyol bersum pah akan m enghancurkan
m ukanya seperti yang kukatakan kepada Bapak dan anak-anak
Ba....”
“Apa! Orang Spanyol bisu tuli itu berbicara?”
Huck telah membuka kesalahan besar! Dengan berbelit-
belit ia m encoba untuk m enyesatkan pikiran si penjaga hutan,
agar tak bisa m enduga, siapa sebenarnya orang Spanyol itu,
nam un betapapun agaknya lidahnya tak bisa dikuasainya. Ia
berusaha lagi untuk berdusta, namun mata si penjaga hutan
terus m em andangnya dengan tak berkedip, hingga dusta-dusta
Huck saling berbelitan tak keruan. Akhirnya si penjaga hutan itu
berkata, “Anakku, jangan takut kepadaku. Kau tak akan kusakiti,
walau seujung ram butm u sekalipun. Tidak—kau akan kulindungi.
Orang Spanyol itu sebetulnya tidak bisu, tidak tuli. Hal itu telah
kau katakan tanpa kausadari. Tak bisa lagi kau tarik kembali
kata-katam u. Kau tahu siapa sebenarnya dia, tapi kau tak m au
m engatakannya. Kini percayalah padaku, katakan siapa sebenar-
nya dia, percayalah padaku—aku tak akan m engkhianatim u.”
Petualangan Tom Sawyer 235
Huck m em perhatikan m ata orang tua itu yang jujur, m enun-
dukkan kepala dan berbisik, “Dia bukan orang Spanyol, m elainkan
J oe si Indian!”
Penjaga hutan itu ham pir terlom pat dari kursinya. Sesaat
kem udian dia berkata, “Kini jelas sem ua bagiku. Waktu kau
berkata tentang telinga yang dipotong dan hidung yang dirobek,
kukira semua karanganmu saja, sebab tak mungkin orang kulit
putih bisa m em balas dendam sam pai m em punyai rencana
pem balasan dendam sebegitu rupa. Tapi seorang Indian! Lain
lagi halnya.”
Percakapan berlangsung selama sarapan. Menurut orang tua
itu sebelum m ereka pergi tidur ia dan anak-anaknya m em bawa
lentera untuk memeriksa bekas tempat para penjahat itu guna
m engetahui kalau-kalau ada bekas darah. Tetapi tidak ada, yang
ada hanyalah sebungkus besar....”
“Sebungkus besar APA?”
Kata-kata itu m eluncur dengan kecepatan kilat dari m ulut
Huck dengan tiba-tiba dan bibir yang pucat. Matanya m em besar,
napasnya terhenti—m enunggu jawaban. Penjaga hutan terkejut—
m em balas dengan m ata m em besar juga—tiga detik—lim a detik—
sepuluh detik—baru ia m enjawab, “Sebungkus besar alat-alat
pencuri. Wah, mengapa engkau ini?”
Huck kembali duduk, terengah-engah, rasa terima kasih mem-
bayang di m ukanya. Tenang sekali penjaga hutan m em andangnya
penuh perhatian, kem udian berkata, “Ya, apa yang kau harapkan
kami temui?”
Huck tersudut lagi; pandangan tajam itu tertuju kepadanya;
betapa senangnya, bila ia bisa m em beri jawaban yang tepat—tak
ada pikiran sam a sekali untuk itu—pandangan m ata orang tua itu
seakan m enem bus hatinya—suatu jawaban yang sam a sekali tak
m asuk akal diberikan—tak ada waktu untuk m em pertim bangkan,
236 Mark Twain
m aka untung-untungan ia m enjawab dengan lem ah, “Mungkin
buku-buku Sekolah Minggu.”
Huck yang m alang, yang terlalu sedih untuk tersenyum , lain
halnya dengan si penjaga hutan yang tertawa keras terbahak-
bahak hingga seluruh tubuhnya bergetar. Diakhirinya tertawa itu
dengan berkata bahwa tawa semacam itu bagaikan uang. Dengan
suka tertawa berkuranglah rekening dokter. Ditam bahkannya
pula, “Anak m alang, kau begitu pucat. Kau tidak sehat. Tak heran,
kau selalu takut dan tak punya keseim bangan pikiran. Tapi kau
pasti akan sehat kembali. Setelah tidur dan beristirahat, kau akan
seperti sediakala.”
Betapa m arahnya Huck pada diri sendiri yang secara tolol
telah m enunjukkan kecurigaan yang berlebih-lebihan. Ia telah
m enduga, bungkusan yang dibawa oleh J oe dan kawannya bukan
harta karun setelah mendengarkan pembicaraan mereka di depan
pintu kecil tadi m alam . Ia hanya berpikir, benda itu bukan harta
karun—ia tak tahu dengan pasti—m aka berita tentang bungkusan
yang tertinggal itu m em buatnya tak bisa m enahan diri. Akhirnya
ia merasa senang juga akan salah paham itu, setelah kini ia boleh
yakin bahwa harta karun m asih ada di penginapan. Tam paknya
semua menguntungkan keadaan harta karun masih ada di No. 2.
Kedua orang itu pasti tertangkap dan terpenjara, hingga Tom dan
dia tanpa kesukaran bisa mengambil emas itu nanti malam.
Begitu sarapan selesai, terdengar ketukan di pintu. Huck m e-
lom pat untuk m encari tem pat persem bunyian, sebab ia tak m au
terlibat dengan kejadian tadi m alam . Penjaga hutan m enyilahkan
m asuk beberapa orang laki-laki dan perem puan di antaranya
tam pak Nyonya J anda Douglas. Tam pak juga penduduk desa
sedang mendaki bukit untuk melihat pintu kecil pekarangan
Nyonya J anda. J adi berita tentang kejadian tadi m alam telah
m elu a s.