The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Petualangan Tom Sawyer (Mark Twain)`

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tlogosadangmtsm, 2022-07-24 18:22:44

Petualangan Tom Sawyer

Petualangan Tom Sawyer (Mark Twain)`

Petualangan Tom Sawyer 237

Penjaga hutan harus menceritakan kejadian itu. Rasa terima
kasih Nyonya J anda yang sudah m endapat perlindungan tidak
terkira.

“J angan berterim a kasih padaku, Nyonya, ada orang lain
yang lebih berhak untuk m enerim a ucapan itu daripada saya
dan anak-anak saya. Sayang, ia m elarang saya m enyebutkan
nam anya. Tanpa dia, kam i tak akan tahu tentang kejahatan itu.”

Pernyataan itu m enim bulkan rasa ingin tahu yang begitu
besar hingga malahan mendesak minta untuk mengetahui
kejadian utam anya—tapi penjaga hutan tak m au m em uaskan rasa
ingin tahu para tam unya yang pasti nanti diteruskan ke seluruh isi
kota. Ia tak m au m em buka rahasianya.

Ketika hal-hal lain telah diketahui, Nyonya J anda berkata,
“Aku pergi m em baca di tem pat tidur. Aku sam a sekali tak
terbangun, walaupun terjadi keributan itu. Mengapa aku tidak
d ib a n gu n ka n ?”

“Kam i kira itu tak ada gunanya. Orang-orang itu tak akan
datang kembali. Mereka tak akan bisa bekerja tanpa alat-alat.
Apa gun an ya m em ban gun kan dan m en akut-n akuti Nyon ya?
Apa gunanya m em bangunkan Nyonya? Tiga orang budak negro
suruhan saya, berjaga sem alam -m alam an di rum ah Nyonya;
mereka baru saja kembali.”

Makin banyak tam u datang, hingga cerita itu harus diulang
dan diulang lagi selama dua jam.

Dalam liburan sekolah, tak ada Sekolah Minggu namun
pagi-pagi telah banyak orang berkum pul di gereja. Berita yang
m enggem parkan itu telah tersebar. Berita terakhir m engatakan
bahwa jejak kedua orang penjahat belum diketem ukan. Ketika
upacara kebaktian selesai, Nyonya Hakim Thatcher m enunggu
Nyonya Harper yang sedang berjalan di gang antara kursi-kursi
gereja. Setelah dekat dia berkata, “Apakah Becky anakku, akan
tidur sepanjang hari? Mungkin ia hampir mati kelelahan.”

238 Mark Twain

“Becky, Nyonya?”
“Ya,” dengan terkejut, “Apakah ia tidak berm alam di rum ah
Nyonya tadi m alam ?”
“He, tidak.”
Nyonya Thathcer pucat seketika. Terhenyak dia di kursi yang
terdekat pada saat Bibi Polly lewat, yang sedang berbicara ram ai
dengan seorang tem an. Melihat Nyonya Harper dan Nyonya
Thatcher, Bibi Polly berkata, “Selam at pagi, Nyonya Thatcher,
selam at pagi Nyonya Harper. Aku m em punyai seorang anak lelaki
yang hilang. Kukira Tom tinggal di rum ah Nyonya. Dan sekarang
ia takut ke gereja. Ia harus berurusan dengan saya.”
Nyonya Thatcher m enggelengkan kepala dan m akin pucat.
“Ia tidak berm alam di rum ah kam i,” kata Nyonya Harper
m ulai khawatir. Kekhawatiran juga nam pak di wajah Bibi Polly.
“J oe Harper, apakah kau m elihat Tom pagi ini?”
“Tidak, Nyonya.”
“Kapan kau m elihatnya paling akhir?”
J oe m encoba m engingat-ingat, tapi tak begitu yakin ia bisa
mengatakan. Orang-orang berhenti bergerak ke luar gereja. Orang
mulai berbisik-bisik; setiap muka mulai menunjukkan perasaan
gelisah. Dengan cem as anak-anak ditanyai, begitu juga guru-guru
m uda. Sem ua m engatakan tak m em perhatikan, apakah Becky
dan Tom ada di kapal tambang dalam perjalanan pulang. Waktu
itu hari telah gelap tak ada yang ingat untuk m em eriksa, apakah
ada yang ketinggalan. Akhirnya seorang pem uda m enyatakan
kekhawatirannya, jangan-jangan kedua anak itu m asih di dalam
gua. Nyonya Thatcher seketika itu juga pingsan. Bibi Polly
meremas-remas tangan sambil menangis.
Dari mulut ke mulut, dari kelompok ke kelompok, dari jalan
ke jalan, berita duka itu tersiar. Dalam waktu lima menit lonceng
dibunyikan dan seluruh isi kota terbangun! Kejadian di Bukit
Cardiff dilupakan orang, para penjahatnya tidak diingat lagi,

Petualangan Tom Sawyer 239

pelana kuda dipasang, biduk disiapkan, kapal tambang diperintah
untuk m eninggalkan tugasnya, dan sebelum berita tentang hilang
Tom dan Becky itu tersiar pula, dua ratus orang telah m em banjir
ke arah gua dengan menggunakan jalan darat dan jalan air.

Sepanjang sore hari desa itu tampak kosong dan mati.
Banyak wanita m engunjungi Nyonya Thatcher dan Bibi Polly,
untuk m enghibur m ereka. Mereka pun ikut m enangis, yang lebih
menghibur dari kata-kata.

Malam tiba, seluruh kota masih menunggu berita. Tapi
ketika pagi m enyingsing, berita yang datang hanyalah, “Kirim kan
lilin lebih ban yak—dan kirim m akanan .” Nyon ya Thatcher
ham pir-ham pir gila; Bibi Polly dem ikian juga. Hakim Thatcher
m engirim kan pesan yang penuh harapan dan m enggem birakan
dari dalam gua, namun pesan-pesan itu tak berisi kegembiraan
yang sesungguhnya.

Si penjaga hutan tua tiba di rum ahnya sebelum m atahari
terbit, seluruh tubuhnya penuh tetesan lilin dan goresan tanah
liat; tenaganya habis. Ditem uinya Huck, yang m asih terbaring di
tempat tidur dan mengigau karena demam. Dokter-dokter ikut
pergi ke gua, m aka Nyonya J anda Douglas datang untuk m engurus
penderita kecil itu. Nyonya J anda berkata ia akan m erawat Huck
sebaik-baiknya, tak peduli apakah ia baik atau jahat atau tidak
penting. Bagaim anapun, ia adalah um at Tuhan dan um at Tuhan
tak bisa diabaikan begitu saja. Si penjaga hutan berkata bahwa
Huck m em punyai titik-titik kebaikan. Nyonya J anda m enyahut,
“Hal itu sudah pasti. Itulah tanda-tanda yang diberikan Tuhan
pada setiap m akhluk yang pernah diciptakannya.”

Menjelang tengah hari orang-orang yang m erasa letih m ulai
m em asuki desa, sedang orang-orang yang m asih kuat terus
m encari. Berita yang dibawa hanyalah bahwa sudut-sudut gua
yang terjauh telah diselidiki sem ua, tem pat-tem pat yang belum
pernah dikunjungi manusia diperiksa; ke mana pun orang pergi

240 Mark Twain

di gang-gang lingkaran setan itu pasti akan m elihat cahaya lilin
di mana-mana, teriakan dan tembakan pistol sekali-sekali meng-
getarkan langit-langit gua. Di suatu tempat, jauh dari daerah
yang biasa dilalui oleh para wisatawan, tertulis “BECKY & TOM”
di dinding gua dengan asap lilin, dan di dekatnya terdapat pita
yang penuh bekas lilin. Nyonya Thatcher m engenal pita itu dan
m enangis. Katanya, itulah peninggalan yang bisa dim ilikinya dari
anaknya yang hilang; tak ada benda yang lebih berharga dari pita
itu, karena benda itu yang disentuh paling akhir sebelum m aut
tiba. Ada yang berkata bahwa sesekali di dalam gua, di kejauhan
tam pak kelipan cahaya, teriakan gem bira yang diteriakkan dan
orang-orang berlari-larian menuju tempat itu untuk menemukan
kekecewaan sebab ternyata anak-anak itu tak ada di sana. Cahaya
itu cahaya lam pu kelom pok pencari yang lain.

Tiga hari tiga m alam terasa berat dan m enyedihkan bagi
desa itu, jam-jam berjalan amat lambat, seakan tak ada lagi
harapan. Tak ada minat untuk mengerjakan apa pun bagi setiap
orang. Suatu penem uan yang tak sengaja yang m em punyai berita
besar tidaklah menggugah perhatian penduduk. Penemuan itu
adalah bahwa pem ilik Penginapan Anti Minum an Keras m em pu-
nyai tim bunan m inum an keras. Pada suatu saat waktu pikiran
Huck terang, lemah sekali Huck memimpin percakapan tentang
rum ah penginapan dengan perawatnya, Nyonya J anda Douglas,
dan akhirnya bertanya—dengan m em endam rasa takut, apakah
sesuatu telah diketem ukan di Penginapan Anti Minum an Keras
sejak ia sakit.

“Ya,” jawab Nyonya J anda.
Huck tersentak bangun, m atanya m elebar.
“Apa? Apakah yang telah diketem ukan?”
“Minum an keras! Dan kini penginapan itu telah ditutup.
Berbaringlah, Nak, engkau m em bikin aku terkejut.”

Petualangan Tom Sawyer 241

“Katakan satu hal lagi—hanya satu hal—tolong beri tahu aku.
Apakah Tom Sawyer yang m enem ukannya?”

Tiba-tiba Nyonya J anda m encucurkan air m ata. “Diam ,
diam, Nak, diamlah! Telah kukatakan, kau belum boleh berbicara.
Kau sakit sekali.”

J adi hanya m inum an keras yang diketem ukan. Akan ribut
sekali bila yang diketem ukan adalah em as. Maka harta karun
itu telah lenyap—lenyap untuk selam a-lam anya! Tapi, m engapa
Nyonya J anda m enangis? Aneh sekali.

Pikiran ini merambat dalam kegelapan otak Huck, dan
pikiran itu m em buatnya lelah hingga jatuh tertidur. Nyonya
J anda berkata pada dirinya sendiri, “Nah, kini ia tidur, Anak
m alang. Tom Sawyer m enem ukannya! Sedang untuk m enem ukan
Tom Sawyer saja sudah sangat sulit! Ah, sudah tak banyak lagi
orang m em punyai harapan dan tenaga untuk terus m encarinya.”

Tersesat di dalam Gua

MARILAH KITA kem bali pada Tom dan Becky dalam pikniknya.
Mereka menjelajahi gang-gang gelap bersama peserta piknik
lainnya, m engunjungi keanehan-keanehan yang telah dikenal,
m isalnya “Kam ar Tam u”, “Gereja Besar”, “Istana Aladin” dan
sebagainya. Segera perm ainan sem bunyi-sem bunyian dim ulai.
Dengan penuh sem angat Tom dan Becky m enyertai perm intaan
itu sam pai m ereka m erasa bosan. Kem udian m ereka m enjelajah
suatu gang besar berkelok-kelok, lilin terangkat tinggi, membaca
coretan-coretan di dinding, tulisan-tulisan nama, alamat, tanggal
dan sem boyan yang berdesak-desakan ditulis di dinding dengan
asap lilin. Mereka mengikuti gang itu sambil bercakap-cakap, tak
sadar bahwa dinding di sekitar mereka bersih dari tulisan-tulisan.
Di bawah sebuah lekukan, Mereka menuliskan nama mereka dan
terus berjalan. Sampailah mereka ke sebuah tempat, di mana

Petualangan Tom Sawyer 243

sebuah anak sungai tercurah dari suatu batu ceper. Curahan itu
dengan m engikis tem patnya m engalir sam pai ke lapisan batu
paling keras yang tak terkikis hingga m em bentuk air terjun,
sem acam Niagara kecil yang berdesau-desau. Tom m enyelinap
ke belakang air terjun untuk m eneranginya agar bisa dinikm ati
keindahannya oleh Becky. Didapatinya, air terjun itu m enutupi
suatu tangga batu alam, terapit oleh dua dinding batu. Seketika
itu juga keinginannya untuk m enjadi seorang penem u m enguasai
dirinya dan Becky m enyetujui ajakan Tom . Setelah m em baut
tanda di dinding untuk penuntun kelak dengan mempergunakan
asap lilin, m ereka m em ulai perjalanan penyelidikan. Mereka
berbelok-belok m engikuti gang sem pit, yang m akin lam a m akin
turun, jauh ke bawah ke kedalam an gua itu yang penuh rahasia.

Tom membuat suatu tanda lagi dan membelok untuk mencari
keanehan-keanehan yang bisa diceritakan di atas tanah.

Di suatu tempat mereka menemukan sebuah ruangan gua
yang am at luas, yang atapnya penuh dengan batu stalaktit
bersinar-sinar, sepanjang dan sebesar kaki manusia dewasa.
Mereka berkeliling-keliling dalam ruangan besar ini, penuh
kekaguman. Ruang itu mereka tinggalkan dengan memasuki salah
satu dari sekian banyak gang yang m asuk ke dalam nya. Gang itu
m em bawa m ereka ke sebuah sum ber air yang m enakjubkan, yang
membentuk kolam dengan kristal-kristal air beku gemerlapan
m elengket di dinding-dindingnya. Kolam kecil itu di sebuah
gua yang dinding-dindingnya ditopang oleh tiang-tiang aneh,
terbentuk oleh pertemuan batu-batu stalaktit dan stalagmit, hasil
karya tetesan air selam a berabad-abad. Di atap gua berkelom pok-
kelom pok kelelawar bergantungan, ribuan ekor jum lahnya.

Cahaya lilin m engganggu m ereka dan beratus-ratus binatang
itu terbang ke bawah, m enjerit-jerit m enyam bar ganas ke arah
lilin. Tom tahu kebiasaan kelelawar dan m engerti bahaya serangan
m ereka. Maka disam barnya tangan Becky, diajak m asuk ke dalam

244 Mark Twain

gang yang ditem uinya. H am pir terlam bat, seekor kelelawar
m em adam kan lilin di tangan Becky. Kelelawar-kelelawar itu
mengejar kedua anak sampai jauh, berbelok-belok memasuki
gang dan akhirnya lolos dari kejaran m akhluk-m akhluk yang
mengerikan itu. Tom menemukan sebuah danau di bawah tanah
yang tepi seberangnya tak terlihat dalam kegelapan. Ingin sekali
ia m enyelidiki sepanjang tepi danau itu, nam un istirahat lebih
perlu. Mereka berdua duduk. Dan kini kesunyian m endalam
dari tem pat itu m ulai terasa m encengkam . Becky berkata, “Oh,
tak kuperhatikan, tapi rasanya sudah lam a aku tak m endengar
kawan-kawan lain.”

“Benar, Becky, kita jauh di bawah m ereka—dan entah berapa
jauhnya ke sebelah utara, selatan, atau tim ur atau ke m ana pun.
Kita tak akan bisa m endengarkan m ereka di sini.”

Becky m erasa khawatir.
“Berapa lam a kita di sini, Tom ? Lebih baik kita kem bali saja.”
“Kukira begitulah. Mungkin kita lebih baik pulang saja.”
“Bisakah kau m encari jalan, Tom ? Aku bingung.”
“Kukira bisa kucari lagi—tapi kelelawar-kelelawar itu. Bila
m ereka m em atikan kedua lilin kita, betul-betul akan berabe. Kita
coba m encari jalan lain, supaya tak usah kita lewat sana.”
“Baiklah, asal kita tak tersesat. Alan gkah m en gerikan ,
bila kita tersesat di tem pat ini!” Becky m enggigil m em ikirkan
kem ungkinan yang m enakutkan itu.
Mereka berjalan sepanjang gang tanpa berbicara. Tiap gang
m uncul m ereka m em perhatikan m ulutnya, m engingat-ingat
apakah gang itu pernah mereka lewati. Tetapi semua nampak
asing. Setiap Tom m em eriksa suatu m ulut gang, Becky m em -
perhatikan wajahnya harap-harap cem as m enunggu tanda yang
m enim bulkan harapan, tetapi Tom hanya berkata dengan nada
gem bira dibuat-buat, “Oh, bukan ini, tapi dengan segera akan kita
tem ukan gang yang tepat.”

Petualangan Tom Sawyer 245

Tapi harapannya kian lam a kian habis setelah sekian lam a
tak m enem ui gang yang dicarinya. Segera ia m em asuki gang-gang
secara tidak teratur dengan harapan nekad bisa menemukan gang
yang tepat. Ia m asih m engatakan bahwa gang-gang itu ‘beres’
tetapi hatinya dipenuhi rasa takut, hingga kata-kata itu bagi
Becky terdengar seakan ‘Tak ada harapan lagi!’ Becky m em egang
erat-erat tangan Tom, berusaha keras untuk menahan air mata,
tapi akhirnya air m ata itu pasti keluar. Becky berkata, “Oh, Tom ,
jangan pedulikan kelelawar-kelelawar itu, mari kita kembali lewat
sana lagi. Nam paknya m akin lam a kita m akin tersesat.”

Tom berhenti.
“Dengarkan!” katanya.
Am at sunyi, begitu sunyinya sam pai napas terdengar keras
sekali rasanya. Tom berteriak. Teriakan itu dipantulkan ke sana
ke m ari berkali-kali oleh dinding-dinding, hingga akhirnya lenyap
di kejauhan, m em buat suara itu m enyerupai suara tawa m engejek.
“Oh, Tom , jangan berteriak lagi, terlalu ngeri,” desak Becky.
“Mem ang ngeri, Becky, tapi terpaksa. Mereka m ungkin bisa
mendengar suara kita,” dan ia berteriak lagi.
Kata ‘m ungkin’itu lebih m enakutkan daripada setan disebab-
kan teriakan Tom , sebab kata itu m enunjukkan hilangnya harapan.
Kedua anak terdiam m em asang telinga, tapi tak ada akibat yang
m enyenangkan. Tom berbalik, m engikuti jalan yang pernah
dilaluinya. Beberapa saat kem udian tam pak suatu keraguan lagi
dalam tindakannya, dan Becky sadar akan sebabnya—Tom tak
bisa mencari jalan kembali!
“Oh, Tom , kau tak m em buat tanda-tanda tadi!”
“Becky, aku betul tolol. Sangat tolol! Tak pernah kupikirkan
bahwa kita harus kem bali! Tidak—aku tak bisa m enem ukan jalan
kem bali. Sem uanya m em bingungkan.”
“Tom , kita tersesat! Kita tersesat! Kita tak akan bisa lagi
keluar dari tempat seram ini! Oh, mengapa kita meninggalkan
ka wa n -ka wa n !”

246 Mark Twain

Becky roboh dan m enangis begitu hebat hingga Tom m erasa
takut, kalau-kalau gadis itu mati atau gila. Ia duduk di samping
Becky, m em eluknya. Becky m em benam kan kepala di dada Tom ,
m enyatakan rasa takutnya, rasa sesal yang sia-sia, sem entara
suaranya terus dipantulkan oleh dinding-dinding gua m enjadi
tawa ejekan. Tom m em ohon, agar Becky m engerahkan harapan
lagi. Becky m enjawab, ia tak m am pu. Tom m ulai berkeluh kesah,
m engutuk dan m em aki-m aki dirinya yang telah m enyeret Becky
dalam keadaan celaka itu. Ini m em punyai akibat yang lebih baik
dari hiburannya. Becky m enyatakan akan m encoba m enim bulkan
harapan lagi. Ia akan m engikuti ke m ana Tom m em bawanya,
asal Tom tak berbicara lagi. Sebab m enurut Becky yang bersalah
bukan hanya Tom , tapi dirinya juga.

Mereka bergerak lagi—tak tentu arah. Yang m ereka kerjakan
hanya bergerak dan terus bergerak. Untuk beberapa saat harapan
m em ang sedikit—tanpa alasan, kecuali m em ang begitu kebiasaan
suatu pengharapan, bila sum bernya belum kering oleh um ur dan
terlalu banyak m enjum pai kegagalan.

Setelah agak lam a. Tom m en gam bil lilin Becky dan
m eniupnya padam . Penghem atan ini besar sekali artinya. Kata-
kata tak diperlukan untuk m enerangkan tindakan itu. Becky
m engerti dan harapannya lenyap kem bali. Ia tahu bahwa Tom
m asih m em punyai sebatang lilin serta tiga atau em pat potong di
kantungnya—nam un ia harus m enjalankan penghem atan.

Akhirnya kaki Becky tak m au diajak berjalan lagi. Tom
pun beristirahat di sam pingnya. Mereka m em bicarakan rum ah,
kawan-kawan, tem pat tidur yang m engim bau, di atas segala-
galanya: cahaya m atahari! Becky m enangis, Tom m encoba untuk
m enghiburnya, tapi sem ua percobaan telah usang dan kedengaran
m alah m enyakitkan hati. Kelelahan begitu m enekan Becky hingga
tak terasa ia mengantuk dan tertidur. Tom berterima kasih karena
itu. Ia duduk m em perhatikan wajah Becky. Rasa ketakutan di

Petualangan Tom Sawyer 247

Kelelahan begitu menekan Becky hingga tak terasa ia mengantuk
dan tertidur.

248 Mark Twain

wajah itu lama-lama berubah menjadi lembut oleh impian-impian
yang m enyenangkan, bahkan akhirnya tam pak senyum di wajah
itu yang tak terhapus lagi. Wajah penuh dam ai itu m em buat
jiwa Tom m erasa dam ai dan segar lagi, pikirannya m engem bara
jauh ke masa-masa lalu dan kenang-kenangan indah. Waktu ia
terbenam dalam renungannya, Becky terbangun dengan tawa
kecil—tawa yang segera lenyap dan digantikan oleh keluhan.

“Oh, bagaim ana aku bisa tertidur di saat seperti ini. Oh,
betapa senangnya bila aku tak terbangun lagi! J angan, jangan,
Tom jangan m elihatku begitu! Aku tak akan m engatakannya lagi.”

“Aku gem bira kau bisa tidur, Becky. Kini tenagam u telah
pulih. Akan kita cari jalan ke luar.”

“Akan kita coba, Tom , tapi aku m elihat suatu negeri yang
sangat indah dalam im pian. Kukira, kita akan pergi ke sana.”

“Mungkin juga tidak, m ungkin juga tidak. Gem biralah, Becky,
dan mari kita teruskan percobaan.”

Mereka bangkit, berjalan lagi, bergandeng tangan, tidak
m em punyai harapan. Mereka m encoba m engira-ngira sudah
berapa lam a m ereka di dalam gua itu, tapi yang m ereka ketahui
hanya seakan-akan telah berhari-hari dan berm inggu-m inggu
mereka di sana. Namun mereka pun tahu, hal itu tak mungkin
sebab lilin belum habis. Lam a setelah pem bicaraan, m ereka tak
tahu sudah berapa lama, Tom berkata, mereka harus bergerak
tanpa berbicara untuk mendengarkan tetesan air; mereka harus
m encari sum ber air. Sum ber air itu cepat juga diketem ukan. Kata
Tom , telah tiba waktunya untuk beristirahat. Keduanya am at
lelah, tapi Becky berkata, ia m asih sanggup berjalan agak jauh.
Betapa herannya Becky, Tom m enolak tawaran itu. Sam a sekali
tak dim engertinya. Mereka berdua duduk. Tom m enancapkan
lilinnya di depan m ereka, dengan diperkuat lapisan lum pur pada
batang lilin. Mereka diam , sibuk dengan pikirannya m asing-
m asing. Kem udian Becky berkata, “Tom , aku lapar.”

Petualangan Tom Sawyer 249

Tom m engam bil sesuatu dari kantungnya.
“Ingatkah kau apa ini?” tanyanya.
Becky ham pir tersenyum .
“Kue pengantin kita, Tom .”
“Ya—alangkah senangnya bila kue ini sebesar tong, sebab
tinggal ini sajalah milik kita.”
“Aku telah m enyisakannya dari kue piknik kita Tom , untuk
bermimpi nanti. Seperti orang-orang dewasa bermimpi dengan
kue pengantin—tak kuduga, kue itu akan m enjadi—”
Becky m em utuskan kalim atnya. Kue itu oleh Tom dibagi
dua dan Becky m akan dengan lahap, sem entara Tom hanya
m enggigit bagiannya kecil-kecil. Banyak tersedia air dingin untuk
m engakhiri pesta m ereka. Kem udian Becky m engusulkan agar
m ereka berjalan lagi. Sesaat Tom berdiam dan berkata, “Becky,
bisakah kau m endengarkan hal yang m engecewakan lagi?”
Becky pucat, nam un ia m enjawab bisa.
“Nah, dengar, Becky. Kita harus tetap tinggal di sini, di m ana
ada air untuk m inum . Potongan kecil lilin itu adalah lilin kita yang
t er a kh ir !”
Becky m enangis tersedu sedan. Tom m em bujuknya, tapi
hasilnya sedikit sekali. Akhirnya Becky berkata, “Tom !”
“Apa, Becky?”
“Orang-orang pasti kehilangan kita, bukan?”
“Ya, pasti! Mereka m esti m encari kita!”
“Mungkin kini m ereka sedang m encari kita, Tom .”
“Kukira m ungkin begitu. Mudah-m udahan!”
“Kapan m ereka m erasa kehilangan kita, Tom ?”
“Bisa jadi waktu m ereka kem bali ke kapal.”
“Tom , waktu itu hari pasti sudah gelap. Mungkinkah m ereka
mengetahui, kita tidak ada?”
“Aku tak tahu. Tetapi betapapun, ibum u akan tahu engkau
tidak ada di antara kawan-kawan.”

250 Mark Twain

Ketakutan tergam bar di wajah Becky yang m enyadarkan
kepada Tom bahwa ia telah berbuat kesalahan . Becky tak
diharapkan pulang m alam itu! Kedua anak berdiam diri, berpikir-
pikir. Sesaat kemudian kesedihan memancar lagi dari wajah
Becky yang m em buat Tom sadar bahwa yang terpikir olehnya
terpikir pula oleh Becky, yaitu Minggu pagi akan lalu sebelum
Nyonya Thatcher m engetahui bahwa Becky tidak m enginap di
rum ah Nyonya Harper.

Tom dan Becky terpaku m em andang lilin, yang m akin lam a
m akin kecil, m encair perlahan. Akhirnya tinggal sum bu sepanjang
satu senti berdiri sendiri. Kem udian sinar yang lem ah naik turun
sepanjang asap tipis m enegak. Di puncak asap itu nyala kecil
berm ain-m ain sebentar; kem udian—gelaplah alam sekitar.

Berapa lam anya Becky tak sadarkan diri m enangis dalam
pelukan Tom , keduanya tak tahu. Yang m ereka ketahui hanyalah,
m ereka telah m enjelang waktu yang panjang sekali dengan tidur
bagai terbius dan bangun kembali menghadapi kemalangan. Tom
berkata, hari itu m ungkin hari Minggu—m ungkin juga Senin.
Dicobanya untuk m em buat Becky berbicara, nam un kesedihan
Becky begitu m enekan, sehingga sem ua harapannya lenyap.
Menurut Tom, semua orang mesti telah mengetahui kehilangan
mereka. Tak ragu lagi rombongan pencari telah memasuki gua.
Ia akan berteriak, m ungkin ada yang m endengar. Ia betul-betul
berteriak, namun suara gema di kejauhan itu begitu menakutkan
hingga ia tak m encobanya lagi.

Waktu berlalu terus, dan mereka disiksa lapar. Sebagian dari
separuh kue m ilik Tom m asih ada. Bagian kecil itu dibagi dua.
Namun setelah makan perasaan lapar makin menjadi. Makanan
yang sedikit m alah m enam bah napsu m akan.

Beberapa lam a kem udian Tom berkata, “Ssssh! Kau dengar
itu?”

Petualangan Tom Sawyer 251

Keduanya m enahan napas, m em asang telinga. Terdengar
suara yang m elengking am at jauh. Seketika itu juga Tom berteriak
m enyahut. Sam bil m enuntun Becky ia m eraba sepanjang gang
ke arah teriakan tadi. Ia mendengarkan lagi, suara itu terdengar
kem bali, dan nyata sekali tem patnya m akin dekat.

“Itu m ereka,” kata Tom , “m ereka datang! Marilah, Becky,
kini sem uanya beres!”

Kegem biraan kedua orang tawanan itu m eluap-luap. Nam un
m ereka tak bisa bergerak cepat sebab di tem pat itu banyak jurang
yang harus dihindari. Ada yang dalam nya hanya satu m eter tapi ada
pula yang lebih dari dari tiga puluh m eter. Mereka tertahan oleh
jurang-jurang itu, sam a sekali tak ada jalan untuk m elintasinya.
Tom berbaring di tepi jurang, menjulurkan tangan ke bawah. Tak
bisa m enyentuh dasarnya. Terpaksa m ereka berhenti, m enunggu
hingga para pencari tiba. Mereka mendengar-dengarkan, tetapi
teriakan-teriakan itu m akin jauh! Bahkan sesudah beberapa
saat, teriakan-teriakan itu lenyap. Mereka berputus asa Tom
berteriak hingga suaranya habis, nam un tak ada gunanya. Dengan
penuh harapan Tom m encoba m enggem birakan Becky; nam un
setelah m enunggu dengan harap-harap cem as selam a waktu yang
rasanya seabad, suara-suara tak terdengar lagi.

Kedua anak m eraba-raba kem bali ke tem pat sem ula di dekat
sumber air. Waktu berjalan penuh siksaan. Mereka tertidur lagi
dan bangun dengan perasaan lapar dan sedih. Menurut Tom, hari
itu hari Selasa.

Suatu pikiran muncul dalam benak Tom. Dekat di sana
terdapat beberapa gang kecil. Daripada berputus asa dengan
hampa, ia merasa lebih baik memeriksa gang-gang kecil
tersebut. Tom m engeluarkan benang layang-layang dari sakunya,
m engikatkan salah sebuah ujungnya pada sebuah batu yang
mencuat dari dinding. Dia mengulur benang, sambil berjalan.

252 Mark Twain

Tom dan Becky bergerak lagi; Tom di depan dengan m eraba-
raba. Sesudah langkah kedua puluh, gang itu terputus oleh celah
dalam. Tom bersimpuh di tanah, meraba ke bawah, kemudian
m eraba m engitari sudut belokan patah itu sebisa-bisa tangannya.
Ia pun m encoba m erenggangkan tubuhnya sejauh m ungkin ke
kanan dan saat itu, tak lebih dari dua puluh meter, ada tangan
manusia dengan sebatang lilin muncul dari balik sebuah batu!
Tom berteriak karena saat itu juga muncul sebuah tubuh manusia
yang tak lain adalah J oe si Indian! Tom serasa lum puh, tak bisa
bergerak. Betapa lega hatinya, si ‘orang Spanyol’ itu lari terbirit-
birit dan lenyap dari pandangan. Heran sekali Tom , m engapa
J oe tak m engenali suaranya dan datang untuk m em bunuhnya
karena bersaksi di pengadilan. Agaknya gem a di gua itu m em buat
suaranya tak bisa dikenal. Tak ragu lagi itulah sebabnya. Karena
ketakutan, Tom m erasa seluruh tubuhnya lem as. Ia berjanji, bila
ia merasa kuat untuk kembali ke sumber air, ia akan terus di
sana. Tidak ada yang bisa m em bikin dia pergi dari sana dengan
kemungkinan akan bertemu lagi dengan J oe. Dia mesti berhati-
hati, jangan sam pai Becky m engetahui apa yang dilihatnya.
Katanya ia berteriak hanya ‘untung-untungan’.

Namun lama-kelamaan karena lapar dan sedih, dia tidak
merasa takut lagi. Disebabkan terlalu lama menunggu dan
sesudah lam a tertidur, Tom m em buat keputusan. Kedua anak
itu terbangun oleh kelaparan. Tom mengira hari itu adalah
hari Rabu atau Kam is; m ungkin juga J um at atau Sabtu. Ia
m engusulkan untuk m enyelidiki gang yang lain. Ia bersedia untuk
bertem u dengan J oe si Indian sekalipun atau dengan yang m e-
ngerikan lainnya. Tapi Becky sangat lem ah tubuhnya. Dia begitu
berputus asa, hingga dia tak ada m inat untuk apa pun. Ia hanya
berkata m enunggu m aut, yang pasti tak akan lam a lagi tiba. Ia
m em perbolehkan Tom pergi dengan tali layang-layangnya untuk
m enyelidiki gang-gang sekitar, asal sebentar-sebentar ia kem bali.

Petualangan Tom Sawyer 253

...tangan manusia dengan sebatang lilin muncul dari balik sebuah
batu!

Dan Tom harus berjanji. Bila m aut tiba ia harus di sam pingnya,
m em egang tangannya hingga sem uanya selesai.

Dengan kerongkongan tersum bat Tom m encium Becky, dan
berbuat seolah-olah ia yakin, kalau tidak bertem u dengan para
pencari pasti ia m enem ukan jalan keluar. Kem udian diam bilnya
ujung tali layang-layang, m erangkak m elalui gang, sedih oleh
perasaan lapar dan nasib buruk yang dihadapinya.

Keluar! Mereka Ditemukan!

SELASA SORE. Kota kecil St. Petersburg m asih diliputi suasana
berkabung. Anak-anak yang hilang belum diketem ukan. Doa
penduduk dipanjatkan untuk m ereka. Selain itu banyak orang
bermohon untuk keselamatan mereka. Tapi tak ada juga kabar
baik dari gua. Sebagian besar dari yang m encari telah pulang dan
kembali bekerja seperti biasa dengan mengatakan, anak-anak itu
tak bisa diketem ukan. Nyonya Thatcher sakit parah, m engigau
sepanjang waktu. Kata orang sungguh m em buat hati sedih untuk
m endengarnya m em anggil-m anggil nam a puterinya. Sesekali
mengangkat kepala dan mendengar-dengarkan, kemudian
berbaring lagi dengan berkeluh kesah. Bibi Polly m erasa kehi-
langan sem angat, ram butnya yang abu-abu tiba-tiba berubah
menjadi putih. Malam itu seluruh desa tidur dengan perasaan
sedih.

Petualangan Tom Sawyer 255

Nam un tengah m alam kesunyian dikoyakkan oleh suara
lonceng berdentang-dentang. Seketika itu juga jalan-jalan diserbu
penduduk dengan pakaian setengah dipakai, “Keluar! Keluar!
Mereka sudah ditem ukan!” Penggorengan seng dipukul-pukul,
terompet ditiup menambah suara ribut. Orang berbondong-
bondong m enuju tepi sungai, m enyam but rom bongan yang
m engantar Becky dan Tom . Keduanya naik kereta terbuka, ditarik
orang banyak, dikelilingi dan diiringkan ke jalan utam a dengan
sorak riang gembira.

Lam pu-lam pu dinyalakan, tak seorang pun tidur lagi.
Malam itu adalah m alam paling m eriah yang pernah dialam i St.
Petersburg. Selama setengah jam arak-arakan melalui rumah
H akim Thatcher, m em eluk dan m encium kedua anak yang
diselam atkan berjabat tangan dengan Nyonya Thatcher. Tak ada
yang bisa m engucapkan kata-kata, begitu terharunya, tem pat itu
betul-betul dihujani air mata.

Bibi Polly betul-betul gem bira dan kegem biraan Nyonya
Thatcher m encapai puncaknya setelah berita gem bira itu
disam paikan pada suam inya yang m asih berada di dalam gua.

Tom berbaring di sebuah sofa, dikerum uni oleh orang banyak
yang sangat ingin m endengarkan pengalam annya. Tom tak
mengecewakan mereka. Panjang lebar dia bercerita, membumbui
sebanyak-banyaknya tentang petualangannya di dalam gua. Cerita
itu diakhiri dengan menceritakan bagaimana ia meninggalkan
Becky untuk m engadakan penyelidikan dengan m em pergunakan
tali layang-layang. Diceritakannya bagaim ana dua gang telah
diselidikinya sam pai benang layang-layang habis. Gang ketiga
diselidikinya, sejauh benang layang-layang itu m engizinkan, dan
ia sudah hampir berpaling kembali ketika di kejauhan ia melihat
sebuah titik yang nam paknya seperti sinar m atahari. Dilepas-
kannya ujung benang yang dipegangnya dan ia m erangkak m enuju
titik cahaya itu. Akhirnya ia m eneroboskan kepala dan bahu di

256 Mark Twain

sebuah lubang dan terentanglah sungai raksasa Mississippi tenang
di depannya! Kalau hal itu terjadi pada m alam hari, niscaya ia
tak akan m elihat titik cahaya itu dan tak akan m enyelidiki gang
tadi sekali lagi! Diceritakannya, bagaim ana ia kem bali kepada
Becky untuk m enceritakan berita gem bira itu. Becky m em inta
agar Tom tak m em bujuknya lagi dengan kata-kata seperti itu
karena ia merasa sangat lelah dan mungkin sudah dekat kepada
m aut. Diceritakan Tom , bagaim ana ia m eyakinkan Becky, hingga
Becky m au diajaknya ke tem pat itu, bagaim ana Becky kegirangan
sam pai ham pir m ati ketika m elihat titik cahaya siang dengan
mata kepala sendiri, bagaimana ia menerobos ke luar, kemudian
m enolong m engeluarkan Becky. Keduanya duduk di tepi sungai,
di bawah sinar matahari menangis kegirangan sampai beberapa
orang datang dengan sebuah biduk. Tom memanggil mereka, dan
m enceritakan keadaannya.

Mula-m ula orang-orang itu tak percaya. “Sebab,” kata m ereka
“engkau berada tujuh kilom eter di hilir sungai dari lem bah di
m ana gua itu berada.” Kem udian keduanya dibawa naik biduk itu
ke sebuah rum ah. Di sana keduanya diberi m akan dan disuruh
beristirahat selam a dua atau tiga jam . Baru m ereka diantarkan
p u la n g.

Sebelum fajar, dengan m engikuti tali-tali yang m ereka ren-
tangkan di belakang, Hakim Thatcher dan beberapa orang pencari
ditemukan di dalam gua dan diberi tahu tentang kabar gembira
itu.

Tom dan Becky segera m engetahui bahwa tiga hari tiga
malam dengan lelah dan lapar di dalam gua tidak bisa diabaikan
begitu saja. Mereka terpaksa berbaring terus selama hari Rabu
dan Kam is, m alah m erasa lebih lelah dan lem as. Tom bangkit
di hari Kam is dan sudah bisa berjalan-jalan lagi di hari J um at.
Hampir boleh dikatakan, sembuh sama sekali pada hari Sabtu.

Petualangan Tom Sawyer 257

Tetapi Becky tak bisa m eninggalkan kam arnya sam pai hari
Minggu, dan pada waktu ia bisa berjalan, ia tampak seakan-akan
baru saja sakit parah.

Hari J umat Tom mengetahui Huck sakit. Ia mengunjungi
sahabatnya itu tapi belum boleh m asuk ke tem pat tidurnya, begitu
pula hari Sabtu dan Minggu. Sesudah hari Minggu boleh masuk,
nam un tak boleh m em percakapkan hal-hal yang m engejutkan
hati ataupun pengalam annya di gua. Selam a berkunjung, Nyonya
J anda Douglas m enunggunya terus agar perintah tadi dipatuhi.

Di rum ah, Tom diberi tahu tentang ‘peristiwa Bukit Cardiff’
dan tentang diketem ukannya m ayat ‘si orang com pang-cam ping’,
kawan J oe si Indian di sungai dekat tambatan kapal tambang.
Mungkin orang itu terbenam waktu akan melarikan diri.

Kira-kira dua m inggu setelah Tom keluar dari gua, ia pergi
m engunjungi Huck yang kini telah bisa dianggap kuat untuk
m endengarkan cerita-cerita yang m engagetkan. Dan pada
pikiran Tom ia punya sebuah cerita yang pasti bisa m em buat
Huck terkejut. Dalam perjalanan Tom melewati rumah Hakim
Thatcher. Tom singgah untuk m elihat keadaan Becky. Hakim
Thatcher dan beberapa orang rekannya m engajak Tom berbicara,
dan seseorang dengan nada m engejek bertanya, apakah Tom m au
masuk kembali ke dalam gua. Tom menjawab, tak ada alasan
mengapa tidak mau.

“Hm , banyak orang seperti engkau, Tom ,” Hakim Thatcher
ikut berbicara, “pasti. Nam un hal itu telah aku cegah, tak akan ada
yang bisa tersesat lagi dalam gua.”

“Men ga p a ?”
“Sebab pintu besarnya telah kututup dengan rangka besi dua
m inggu yang lalu dan kukunci dengan tiga buah kunci. Kunci-
kuncinya sem ua kusim pan sendiri.”

258 Mark Twain

Mendadak wajah Tom pucat hingga Hakim Thatcher terkejut,
“Kenapa, Nak? Cepat, am bilkan air dingin!”

Air dingin segera dibawakan orang dan disiram kan ke m uka
Tom .

“Ah, kau kini telah sadar. Apa yang m em buatm u terkejut,
Tom ?”

“Oh, Tuan Hakim , J oe si Indian ada dalam gua itu!”

Nasib Joe si Indian

DALAM WAKTU beberapa m enit saja berita itu tersiar ke m ana-
m ana. Lebih dari sepuluh biduk m eluncur ke arah Gua McDougal,
penuh dengan yang akan m encari, disusul oleh kapal tam bang
yang juga penuh penum pang. Tom Sawyer sebiduk dengan
Hakim Thatcher.

Ketika pintu gua dibuka, suatu pem andangan m engerikan
m enyam but orang-orang itu dalam rem ang-rem ang. J oe si Indian
terkapar di tanah, m ati, dengan m atanya terpaku ke arah sebuah
retak di pintu, seakan pandang terakhir, terpukau oleh cahaya
dan kegembiraan dunia bebas di luar. Tom terharu, sebab dengan
pengalam annya sendiri ia tahu, betapa besar penderitaan orang
m alang ini. Runtuh belas kasihannya, nam un ia pun m erasa
lega dan am an kini yang m em buatnya sadar besarnya ketakutan
m enekan hatinya sejak ia bersaksi m elawan penjahat haus darah
in i.

260 Mark Twain

Pisau J oe tergeletak di dekatnya, logam nya patah jadi
dua. Tiang dasar yang besar dari pintu gua telah dikerat dan
diserpih-serpihkan. Dengan rajin tapi sia-sia, sebab di luar
tiang kayu itu batu karang m em bentuk bingkai yang tak bisa
ditem bus pisau. Yang rusak hanya pisau itu sendiri. Bahkan
bila di luar tak terdapat bingkai karang ini, pekerjaan itu tetap
sia-sia, sebab walaupun tiang dasar itu bisa dilubangi, takkan
m ungkin J oe bisa keluar m elalui lubang yang kecil itu. J oe tahu
pula hal ini; ia m engorek-ngorek tem pat itu hanya untuk m ele-
watkan waktu—untuk m elupakan penderitaan. Biasanya orang
menemukan potongan-potongan lilin tertancap di lekuk-lekuk
dinding ‘seram bi’ itu, tapi kini bersih, tak tam pak bekas-bekas
yang ditinggalkan oleh para wisatawan. Rupanya J oe si Indian
telah m em akannya sem ua. Ia juga telah m enangkap kelelawar
dan m em akannya dengan hanya m enyisakan kuku-kuku binatang
itu. Tak jauh dari tempat dia meninggal, selama bertahun-tahun
sebuah batu stalagmit tumbuh perlahan dari tanah, terbentuk
oleh tetesan air dari batu stalaktit di atasnya. J oe si Indian
telah m em atahkan batu stalagm it itu, dan pada patahannya ia
m eletakkan sebuah batu yang telah dibentuknya hingga cekung
untuk menampung tetesan air dari atas. Tetesan itu jatuh tiap
tiga m enit sekali dengan ketetapan m enetes yang m em bosankan
bagaikan detik jarum arloji—kira-kira air sesendok teh tiap
dua puluh empat jam. Tetesan itu menetes pada saat di Mesir
dibangun piram ida-piram ida, pada saat Troya runtuh, pada
saat sendi-sendi dasar Rom a dibentuk, pada saat Yesus disalib,
pada saat sang penakluk m em bangun Kerajaan Inggris, pada
saat Kolum bus m ulai berlayar, pada saat pem bunuhan besar-
besaran di Lexington m erupakan berita hangat. Tetesan itu
kini masih menetes dan akan terus menetes kalau semua telah
tenggelam dalam senja sejarah, bila adat istiadat mulai mengabur
dan tenggelam di kekelam an kelalaian. Betulkah segala sesuatu

Petualangan Tom Sawyer 261

itu diciptakan dengan m aksud tertentu? Apakah tetesan air itu
menetes selama lima ribu tahun dengan penuh kesabaran untuk
m em enuhi keinginan m anusia yang hidup sangat pendek itu? Dan
apakah tetesan air itu m em punyai tugas pula untuk m asa sepuluh
ribu tahun mendatang? Tidak mengapa, tak perlu dipikirkan.
Tahun-tahun berlalu sejak peranakan Indian yang m alang itu
m engeruk sebuah batu untuk m enam pung tetesan yang baginya
sangat berharga itu, tapi sampai saat ini para wisatawan mesti
m enatap batu yang beriwayat serta air yang m enetes itu, bila
mereka mengunjungi Gua McDougal. Mangkuk J oe si Indian
menduduki tempat pertama dalam urutan keajaiban gua itu,
bahkan Istana Aladin tak dapat m engalahkannya.

J oe dikubur dekat m ulut gua. Banyak orang datang untuk
m enonton penguburannya, naik kereta dan perahu, dari kota-
kota dan desa-desa kecil sampai kira-kira sepuluh kilometer
jauhnya. Mereka berdatangan m em bawa anak istri, serta berbagai
macam bekal makanan. Menurut mereka, melihat penguburan itu
sam a puasnya m elihat penggantungannya.

Penguburan ini m enghentikan pula suatu hal yang sedang
berkem ban g—yaitu perm oh on an kepada gubern ur un tuk
m engam puni J oe si Indian. Surat perm ohonan itu telah banyak
yang m enandatangani; pertem uan-pertem uan yang bisa
mencucurkan air mata dilangsungkan. Sebuah komite terdiri
dari wanita-wanita yang banyak air m atanya direncanakan
dengan berpakaian berkabung guna menghadap gubernur, dan
m engelilinginya dengan m enangis, agar beliau m au m enjadi
keledai yang m urah am punnya serta m enginjak-injak tugasnya.
Diperkirakan J oe telah membunuh lima orang penduduk desa itu.
Walaupun demikian, walaupun dia setan sendiri, pasti akan ada
saja orang-orang lem ah yang m au m enuliskan nam anya dalam
surat permohonan ampun dan meneteskan air mata dari sumber
yang tak kunjung kering.

262 Mark Twain

Menurut mereka, melihat penguburan itu sama puasnya dengan
melihat penggantungannya.

Petualangan Tom Sawyer 263

Pagi hari setelah penguburan J oe, Tom membawa Huck
ke suatu tempat sepi untuk pembicaraan rahasia. Huck telah
m endengar segala pengalam an Tom dari Nyonya J anda Douglas
dan si penjaga hutan, tapi m enurut Tom ada satu hal yang belum
diketahui oleh kedua orang itu, dan itulah yang akan dibicarakan
dengan Huck. Huck m enjadi sedih, dan ia berkata, “Aku tahu,
apa yang akan kau katakan. Kau telah m em asuki No. 2 dan tidak
menemukan apa-apa, kecuali minuman keras. Dan tak seorang
pun m engatakan bahwa yang m em bongkar rahasia No. 2 itu
engkaulah, namun segera setelah aku mendengar kabar itu, aku
tahu kaulah yang m enjadi biang keladinya. Dan aku tahu, kau tak
berhasil mendapatkan uang itu, sebab bila tidak, pasti kaukata-
kan itu padaku, walaupun kau menutup mulut pada lain orang.
Tom, aku mendapat irasat, kita tidak akan menemukan uang­
uang itu.”

“Wah, Huck, aku tak pernah m em buka rahasia pem ilik peng-
inapan itu. Kau tahu penginapannya baik-baik saja di hari Sabtu,
waktu aku pergi piknik. Tak ingatkah kau harus berjaga-jaga
malam itu?”

“Oh, ya. Wah, rasanya hal itu telah setahun yang lalu. Tepat
m alam itu aku m engikuti J oe si Indian ke rum ah Nyonya J anda.”

“Kau m engikutinya?”
“Ya, tapi jangan kau katakan pada siapa pun. Mungkin J oe
m asih punya banyak tem an dan aku tak ingin m ereka m enganiaya
aku karena ia pernah kubuat gagal dalam rencananya. Kalau
bukan karena aku, pasti J oe sekarang sudah ada di Texas.”
Kem udian Huck m enceritakan pengalam annya pada Tom ,
dengan janji Tom harus m enutup m ulut. H anya sebagian
pengalam an Huck yang didengar Tom dari si Penjaga Hutan.
“Nah,” kata Huck setelah ceritanya selesai. Kem bali pada
persoalan utam a, “siapa pun yang m enem ukan m inum an keras di
No. 2, m enem ukan pula uangnya kukira. Tetapi uang itu tak bisa
kita kejar lagi, Tom.”

264 Mark Twain

“Huck, uang itu tak pernah ada di No. 2!”
“Apa!” H uck m en atap wajah Tom , “Tom , apakah kau
m enem ukan jejak uang itu!”
“Huck, uang itu ada di gua!”
Mata Huck bersinar.
“Katakan lagi, Tom !”
“Uang itu ada di gua!”
“Tom —jan gan bergurau—betul-betul ataukah bercan da
saja?”
“Betul-betul, H uck, sun gguh -sun gguh , beran i m ati.
Maukah kau masuk ke dalam gua bersama aku, membantu aku
mengeluarkan uang itu?”
“Tentu aku m au! Aku m au bila saja kita datangi tem pat itu
asal kita tidak sesat!”
“Huck, kita bisa am bil uang itu tanpa kesulitan sedikit pun.”
“Bagus! Bagaim ana kau bisa yakin bahwa uang itu—”
“Huck, tunggu sam pai kita tiba di tem pat itu. Bila kita tak
menemukan uang itu, boleh kauambil genderangku dan semua
barang yang kum iliki. Berani bersum pah?”
“Bagus, jadilah! Kapan kita berangkat?”
“Sekarang, kalau kau setuju. Cukup kuatkah engkau?”
“J auhkah tem patnya di gua? Aku baru bisa berjalan tiga atau
em pat hari, tapi rasanya aku tak akan kuat untuk berjalan lebih
dari satu m il, Tom , setidak-tidaknya begitulah perkiraanku.”
“Bila m elalui jalan yang biasa ditem puh orang, jaraknya kira-
kira lim a m il, Huck, tapi ada satu jalan m em intas yang sangat
singkat, yang hanya diketahui olehku. Huck, kubawa kau ke jalan
itu dengan biduk. Kita berhanyut-hanyut dengan biduk itu, dan
kem balinya aku saja yang berdayung, kau tak usah m enggerakkan
t a n ga n .”
“Mari kita berangkat, Tom .”

Petualangan Tom Sawyer 265

“Baiklah. Kita harus m em bawa beberapa potong roti dan
daging, juga pipa dan satu atau dua kantong dan dua atau tiga
gulung benang layang-layang. J angan lupa m em bawa benda baru
yang bernam a ‘korek api’. Betapa senangnya dulu bila waktu aku
tersesat m em punyai korek api baru ini.”

Beberapa saat setelah tengah hari, kedua anak itu m em injam
sebuah biduk yang pem iliknya sedang tak ada, dan berangkat
segera. Ketika m ereka sudah beberapa m il di sebelah hilir ‘Gua
Kosong’, Tom berkata, “Kau lihat, Huck, batu-batu karang di tepi
itu nam paknya sam a sem ua, bila dilihat dari Gua Kosong. Tak
ada rum ah, tak ada tem pat pengum pulan kayu, sem ak-sem ak liar
melulu. Tapi tampakkah olehmu tempat putih di atas itu, bekas
tanah longsor? Itulah salah satu tanda yang kuhafal. Kita sam pai
seka r a n g.”

Mereka mendarat.
“Nah, Huck, dari tem pat kita berdiri ini, kau bisa m enyentuh
lubang tempat aku keluar dari gua dengan mempergunakan
tangkai pancing. Coba cari kalau bisa.”
Huck m encari keadaan sekitarnya dengan teliti, nam un tak
bisa menemukan apa-apa. Dengan bangga Tom mendekati semak-
sem ak dan berkata, “Inilah! Lihat, Huck, inilah lubang yang paling
tersem bunyi di daerah ini. Kau harus tutup m ulut. Sudah lam a
aku ingin m enjadi peram pok, tapi aku tahu harus m em punyai
tempat semacam ini. Sebelum kutemui tempat ini, itulah salah
satu kesulitan untuk bisa m enjadi peram pok yang baik. Kini kita
telah m em punyai m arkas rahasia, kita harus m enutup m ulut
tentang ini. Hanya J oe Harper dan Ben Rogers yang akan kita beri
tahu, sebab m ereka akan turut dengan gerom bolan kita. Kalau
tidak, tak akan m encukupi syarat. Gerom bolan Tom Sawyer—
enak bukan kedengarannya, Huck?”
“Tepat sekali, Tom . Siapa yang akan kita ram pok?”
“Oh, sem ua orang. Kebanyakan kita hadang orang yang
b er p er gia n .”

266 Mark Twain

“Dan m em bunuh m ereka?”
“Tidak, tidak selalu. Kita sem bunyikan m ereka di gua, sam pai
mereka bisa mengumpulkan tebusan.”
“Tebusan? Apa itu?”
“Uang. Kita buat m ereka m engum pulkan uang sebanyak-
banyaknya dengan bantuan kawan-kawan m ereka. Dan bila
dalam setahun uang itu belum terkumpul, kita bunuh mereka.
Itulah garis besar pekerjaan seorang perampok. Tetapi kaum
wanita tidak akan kita bunuh. Kita tawan wanita-wanita itu, tapi
tidak akan dibunuh. Mereka cantik dan kaya dan m ulanya sangat
ketakutan. Harta bendanya kita ram pas, tapi kita perlakukan
m ereka dengan sopan. Tak ada orang yang lebih sopan daripada
peram pok. Bisa kau buktikan dalam buku-buku. Nah, wanita-
wanita itu lama-kelamaan akan jatuh cinta pada kita. Setelah
satu-dua minggu di gua, mereka tak akan menangis lagi, malahan
m ereka tak ingin pulang. Bila m ereka kita usir pasti m ereka akan
kem bali lagi. Begitulah m enurut buku-buku.”
“Wah, Tom , alangkah m enyenangkannya. Kukira itu lebih
baik daripada jadi bajak laut.”
“Ya, dalam beberapa hal lebih m enyenangkan, sebab kita tak
usah menjauhi rumah atau sirkus.”
Saat itu mereka telah siap untuk masuk. Tom membimbing
Huck. Payah m ereka m erangkak m elalui terowongan sem pit.
Sesudah m elalui terowongan, m ereka berada dalam gua. Benang
layang-layang yang telah m ereka rangkap, m ereka ikat erat-erat
pada sebuah batu, dan m ereka m aju lagi. Beberapa langkah
kem udian m ereka tiba di sum ber air, tem pat Becky m enanti
m aut. Tom m enggigil. Ia m enunjukkan pada Huck sisa lilinnya
yang m asih m enancap di dinding, dilekatkan dengan tanah liat.
Diceritakanlah bagaim ana ia dan Becky m engawasi lilin itu
m enyala m akin lam a m akin kecil.

Petualangan Tom Sawyer 267

Kedua anak m erasa ada yang m enekan jiwa, hingga m ereka
hanya berani berbicara, dengan berbisik. Mereka m aju, sam pai
m ereka m em asuki gang yang dulu diselidiki oleh Tom pertam a
kali. Diikutilah gang itu sam pai ke tem pat ‘patahan’, yang ternyata
bukanlah sebuah jurang, nam un hanya sem acam bukit tanah liat,
kira-kira dua puluh atau tiga puluh kaki tingginya, yang sangat
curam . Tom berbisik, “Lihatlah, Huck!”

Diangkatnya lilin tinggi-tinggi dan berkata, “Lihat, di sudut
itu, sejauh pandanganm u. Kaulihat itu? Tuh – di batu besar di
sana– dibuat dengan asap lilin.”

“Tom , itu tanda salib!”
“Nah, kau ingat? Di m anakah No. 2? ‘Di baw ah tanda
salib’, hei? Tepat di tem pat itu kulihat J oe si Indian m engangkat
lilin n ya .”
Beberapa saat Huck bagai terpukau oleh tanda salib di
dinding gua itu dan dengan suara gem etar ia berkata, “Tom , m ari
cepat-cepat kita pergi dari sini.”
“Apa? Dan kita tinggalkan harta karun itu di sini?”
“Ya, kita tinggalkan saja. Aku yakin hantu J oe si Indian
berkeliaran di sini.”
“Tidak, Huck, tak m ungkin. Tak m ungkin. Ia akan m enghantui
tem patnya m ati—di m ulut gua—lim a m il dari sini.”
“Tidak, Tom , bukan begitu. Ia pasti m enghantui tem pat ia
m enyim pan uang. Aku paham akan kebiasaan hantu dan kau pun
tahu.”
Tom merasa takut bahwa Huck benar. Ia sudah akan kecewa,
nam un pikiran baru m uncul di otaknya, “Dengar, Huck, kita
betul-betul tolol! Hantu J oe si Indian tak akan berani berkeliaran
di sekitar tanda salib!”
Pendapat Tom dianggap betul. Akibatnya m enggem birakan.
“Tom , hal itu tak terpikir olehku. Benar sekali. Untung, ada
salib untuk pelindung kita. Nah, kalau begitu, mari kita turun dan
m encari kotak harta itu!”

268 Mark Twain

Tom turun lebih dahulu, sambil menakik-nakik lereng bukit
tanah itu untuk lewat Huck. Batu karang besar yang dilihat Tom
tadi letaknya di tengah sebuah ruang gua, dengan em pat buah
lorong merupakan jalan ke luar. Tiga buah lorong mereka selidiki
tanpa hasil yang m em uaskan. Mereka m enem ukan sebuah lubang
dekat dasar batu karang, tapi isinya hanyalah setum puk seli-
mut, sebuah celana tua, kulit babi, dan tulang-tulang burung
hantu, dua atau tiga ekor, licin tandas dagingnya digerogoti. Tak
ada kotak uang. Anak-anak itu m em eriksa dan m em eriksa lagi,
tetap nihil. Tom berkata, “J oe si Indian berkata bahwa kotak itu
ditaruhnya di bawah tanda salib. Di m ana lagi? Inilah tem pat
yang terdekat di bawah tanda salib. Mungkinkah di bawah batu
ini? Namun batu ini kokoh tertanam di tanah.”

Mencari lagi di setiap tempat di sekitar itu tanpa hasil,
mereka duduk putus asa. Huck tak bisa mengusulkan apa-apa.
Akhirnya Tom berkata, “Dengar, Huck, kau lihat ini. Di sebelah
batu ini banyak terlihat jejak kaki dan tetesan lilin, tapi di sebelah
sana bersih sam a sekali. Nah, apa artinya? Aku berani bertaruh,
uang itu di bawah batu ini. Aku akan gali tanah liatnya.”

“Pikiran bagus, Tom !” sahut Huck gem bira.
Pisau ‘Barlow asli’ Tom segera keluar dan digunakan. Belum
sam pai sepuluh sentim eter, pisau itu sudah m enum buk kayu.
“He, Huck! Kau dengar?”
Huck turut m enggali serta m encakar-cakar tanah. Beberapa
bilah papan tam pak, yang segera m ereka angkat. Di bawah papan-
papan itu terdapat sebuah lubang, yang m em buat terowongan ke
bawah batu karang. Tom melompat masuk ke dalam terowongan
itu m engangkat lilin setinggi-tingginya. Tapi ujung terowongan
tak bisa dilihatnya. Ia m enyarankan supaya terowongan diseli-
diki. Ia m em bungkuk, m enyelinap m asuk. Terowongan itu m akin
lam a m akin m enurun. Tom terus m engikutinya, sekali berbelok
ke kanan, sekali ke kiri, diikuti oleh Huck. Tom membelok di
suatu belokan pendek dan berseru tiba-tiba, “Huck, lihat ini!”

Petualangan Tom Sawyer 269

Di hadapan mereka terlihat kotak harta karun itu, di sebuah
gua kecil di mana juga tampak sebuah tong mesiu, dua buah
senapan dalam bungkus kulit, dua atau tiga pasang sepatu Indian,
sebuah ikat pinggang kulit dan beberapa benda lain, sem uanya
dalam keadaan basah.

“Akhirnya kita tem ukan!” kata Huck, m em ainkan uang em as
di tangannya. “Wah, kita kini kaya raya, Tom .”

“Huck, aku selalu punya dugaan, akhirnya harta karun ini
akan jatuh ke tangan kita. Dugaan yang nam paknya khayalan,
nam un akhirnya m enjadi kenyataan! He, lebih baik kita tak lam a-
lam a di sini, Huck. Mari cepat-cepat kita bawa ke luar. Coba,
bisakah aku angkat kotak itu.”

Berat kotak itu dua puluh lim a kilo. Setelah berusaha keras
Tom sanggup m engangkatnya, nam un tak sanggup m em bawanya
dengan mudah.

“Sudah kuduga,” kata Tom , “di rum ah hantu kem arin itu
tam pak, betapa sukar m ereka m em bawanya. Ternyata betul
dugaanku. Itulah sebabnya aku bawa kantong-kantong ini.”

Uang-uang itu segera dipindahkan ke kantong-kantong itu
dan kedua anak segera m em bawanya ke batu karang di bawah
tanda salib.

“Mari kita am bil senapan itu,” usul Huck.
“Tidak, Huck—biarkan benda-benda itu di sana, untuk alat-
alat kita. Kita sim pan di sana. Dan di sana pulalah akan kita
adakan upacara rahasia. Tepat untuk keperluan semacam itu.”
“Upacara rahasia apa?”
“Aku tak tahu. Tapi peram pok selalu m em punyai upacara
rahasia, jadi kita pun harus punya. Marilah, Huck, kita sudah
terlalu lam a di sini. Telah m alam agaknya. Dan aku pun lapar.
Kita m akan dan m erokok di biduk.”
Ternyata hari m asih senja ketika dengan hati-hati m ereka
m enyem bulkan kepala di antara daun-daun sem ak. Segala-

270 Mark Twain

nya am an. Mereka keluar dan segera m akan serta m erokok di
dalam biduk. Ketika m atahari m ulai terbenam Tom m enjalankan
biduknya, berdayung sepanjang tepian sam bil bercakap-cakap
gembira dengan Huck. Mereka berlabuh beberapa saat setelah
gelap.

“Nah, Huck,” kata Tom , “kita sem bunyikan uang ini di tem pat
penim bunan kayu Nyonya J anda. Dan besok pagi kuam bil untuk
kita hitung dan kita bagi dua. Kem udian kita cari suatu tem pat
tersem bunyi di hutan untuk m enyem bunyikannya. Tunggu dan
jaga di sini, akan kuam bilkan gerobak kecil m ilik Benny Taylor.
Aku pergi hanya sebentar.”

Betul-betul ia hanya pergi sebentar. Segera dia kem bali
dengan m em bawa gerobak. Kedua kantong berisi uang em as
ditaruhnya di atas gerobak, ditutupi beberapa kain rom beng.
Beran gkatlah keduan ya. Tom yan g m en arik. Dekat rum ah
penjaga hutan mereka berhenti untuk beristirahat. Dan tepat
pada saat mereka akan berangkat lagi, si penjaga hutan keluar
dari rum ahnya, berseru, “Halo, siapa itu?”

“Huck dan Tom Sawyer.”
“Bagus! Mari ikut aku, kalian m em buat banyak orang m e-
nunggu. Ayo, cepat, biar kutarik gerobakm u ini. Wah, tak seringan
dugaanku. Apa isinya? Batu bata atau besi tua?”
“Besi tua,” jawab Tom .
“Betul juga dugaanku. Anak-anak di kota ini lebih suka
bermalas-malasan dan membuang-buang waktu dengan mencari
besi tua yang hanya berharga enam ketip untuk dijual ke pandai
besi daripada mendapatkan upah dua kali lipat dengan pekerjaan
yang wajar. Tapi m em ang begitu sifat m anusia. Ayo lari cepat!”
Kedua anak itu ingin tahu m engapa m ereka harus berlari-
lari.
“Tak usah tahu. Nanti juga akan tahu, bila telah sam pai di
rum ah Nyonya J anda Douglas.”

Petualangan Tom Sawyer 271

Dengan penuh rasa khawatir karena sering mendapat tuduh-
an palsu, Huck m encetus, “Tuan J ones, kam i tak berbuat salah.”

“Oh, entahlah, Huck, entahlah,” si penjaga hutan tertawa,
“bukankah kau dan Nyonya J anda bersahabat baik?”

“Yah, benar, ia m em perlakukanku dengan baik.”
“Nah, baiklah. Untuk apa kau m erasa takut?”
Pertanyaan itu belum sam pai terjawab oleh Huck sam pai
saat ia sadar bahwa dirinya didorong m asuk bersam a Tom ke
dalam ruang tam u rum ah Nyonya J anda Douglas. Tuan J ones
m enaruh gerobaknya di dekat pintu dan ikut m asuk.
Ruangan itu diterangi dengan banyak lam pu. Dan
sem ua orang yang punya kedudukan di desa itu hadir.
Keluarga Thatcher, keluarga Harper, keluarga Rogers, Bibi Polly,
Sid, Mary, pendeta, redaktur surat kabar dan banyak lagi, sem ua
berpakaian bagus. Nyonya J anda m em aksa untuk m enyam but
kedua anak dengan hati riang. Keduanya penuh lum pur dan
tetesan lilin. Merah wajah Bibi Polly, kem alu-m aluan m elihat
Tom . Tapi tak ada yang lebih m enderita daripada kedua anak itu
sen d ir i.
Tuan J ones berkata, “Tom belum tiba di rum ah, aku berputus
asa m encarinya. Tapi aku kepergok dengan dia dan Huck dekat
rumahku. Maka kuajak mereka datang ke mari.”
“Tepat tindakanm u,” kata Nyonya J anda, “ayo, ikut aku,
Anak-anak.” Tom dan Huck dibawanya ke sebuah kam ar tidur.
“Nah, bersihkan tubuhm u dan berpakaianlah yang baik,” kata
Nyonya J anda. “Ini ada dua pasang pakaian; kem eja, celana, kaus
kaki, segalanya lengkap. Tak usah berterim a kasih padaku, Huck,
keduanya m ilikm u, tapi yang satu pem belian Tuan J ones dan
yang satu pem belianku. Kukira keduanya cukup baik bagi kalian
berdua. Nah, berpakaianlah cepat-cepat. Kam i akan m enunggu.
Cepat turun bila kalian telah berdandan rapi.”
Nyonya J anda m eninggalkan m ereka.

Timbunan Uang Emas

HUCK BERKATA, “Tom , kita bisa turun dengan m enggunakan
tali, jendela ini tak begitu tinggi.”

“Bah, untuk apa kita turun?”
“Aku tak pernah m enghadapi orang banyak seperti di bawah
itu. Aku tak tahan. Aku tak m au turun.”
“Oh, jangan pedulikan m ereka! J angan takut. Kau akan
kujaga.”
Sid muncul.
“Tom ,” katanya, “sepanjang hari Bibi m enantim u. Mary telah
m enyiapkan pakaianm u untuk hari Minggu dan sem ua orang
gelisah karena engkau. Eh, apakah ini bekas lumpur dan lilin di
b a ju m u ?”
“Tuan Siddy, jangan cam puri perkara orang. Untuk apa
keramaian ini?”

Petualangan Tom Sawyer 273

“Oh, pesta biasa, seperti yang diadakan oleh Nyonya J anda.
Kali ini untuk m enghorm ati Penjaga Hutan dan anak-anaknya
yang telah m elindunginya beberapa m alam yang lalu. Dan dengar,
kalau kau ingin tahu, bisa kukatakan padamu.”

“Apakah itu?”
“Tuan J ones tua itu m alam ini akan m em buat orang-orang
tercengang dengan suatu rahasia. Tadi pagi aku telah mendengar
rahasia itu waktu ia m engatakannya pada Bibi. Kukira rahasia itu
kini bukan rahasia lagi. Sem ua orang telah tahu, Nyonya J anda
juga, walaupun pura-pura tak m engetahuinya. Tuan J ones ber-
kata bahwa Huck harus hadir. Tanpa kehadirannya dia tak bisa
m em buka rahasianya, kau tahu.”
“Rahasia tentang apa, Sid?”
“Tentang Huck m engikuti para penjahat ke rum ah Nyonya
J anda! Kukira, Tuan J ones akan bangga m em buat sem ua orang
tercengang, tapi aku berani bertaruh ia pasti gagal.”
Sid tertawa puas.
“Sid, kaukah yang m enyiarkan rahasianya?”
“Oh, tidak m enjadi soal, siapa yang m enyiarkan. Pokoknya
rahasia itu telah tersiar. Cukup, bukan?”
“Sid, hanya ada seorang m anusia di seluruh desa ini yang
sifatnya begitu rendah untuk m engerjakan hal itu dan orang
yang rendah budi itu adalah engkau! Bila yang m engikuti para
penjahat itu engkau dan bukan Huck, sudah pasti engkau akan
lari pontang-panting tanpa memberitahukan kepada siapa pun.
Kau tak bisa mengerjakan apa pun, kecuali itnah yang kotor­
kotor! Kau tak tahan m elihat orang lain dipuji karena m elaku-
kan pekerjaan mulia. Nah, tak usah berterima kasih seperti kata
Nyonya J anda tadi.” Tom m enem peleng Sid sekeras-kerasnya dan
m enendangnya berkali-kali, hingga Sid terpelanting ke luar pintu.
“Kini m engadulah pada Bibi, jika berani—besok kuberi upah!”

274 Mark Twain

Beberapa m en it kem udian , sem ua tam u Nyon ya J an da
Douglas duduk m engelilingi m eja untuk m akan m alam . Anak-
anak m akan di ruangan yang sam a, di m eja-m eja kecil seperti
m enjadi adat daerah itu. Pada saat yang direncanakan Tuan J ones
mengucapkan pidato kecil. Ia mengucapkan terima kasih kepada
Nyonya J anda atas kehorm atan yang diperolehnya beserta kedua
anaknya, tetapi sesungguhnya kehorm atan itu harus diterim a oleh
orang lain yang begitu bersifat sederhana, sehingga... dem ikianlah
set er u sn ya .

Ia membuka rahasia tentang peranan Huck dalam
peristiwa Bukit Cardiff. Gayanya sungguh baik, sebaik yang
bisa dilakukannya, para pendengar pura-pura tercengang, yang
m enjadikan suasana tidak begitu m eriah. Nyonya J anda pura-
pura terkejut. Dibanjirinya H uck dengan sanjungan dengan
ucapan-ucapan terima kasih, sehingga Huck hampir lupa akan
pakaiannya yang ham pir tak tertahankan dalam keadaan, di m ana
orang m em andang kepadanya, yang sam a sekali tak enak baginya.

Nyonya J anda Douglas berjanji untuk m em beri Huck tem pat
bernaung di rum ahnya serta m enyekolahkannya; dan kelak
bila ia bisa m enyisihkan uang, ia akan m em beri Huck m odal
untuk pegangan hidup secara sederhana. Inilah kesem patan yang
ditunggu-tunggu Tom . Ia berkata, “Hal itu tidak perlu. Huck
sudah kaya. Ia tak m em erlukan pem berian dari siapa pun.”

Hanyalah karena kesopanan saja yang m em buat hadirin
tak tertawa atas ‘lelucon’ Tom itu. Tapi terasa juga betapa sunyi
situasi akibat pernyataan Tom yang kaku itu. Tom m em ecah
kesunyian itu dengan berkata, “Huck m em punyai banyak uang.
Mungkin kalian tak percaya, nam un uangnya sungguh berlim pah-
lim pah. Oh, tak usah tertawa. Kukira, aku bisa m enunjukkan
buktinya. Tunggu sebentar!”

Petualangan Tom Sawyer 275

Tom berlari ke luar melalui beberapa pintu. Hadirin saling
pandang dengan perasaan tercengang dan memandang penuh
tanya pada Huck yang m erasa lidahnya kelu.

“Sid, kenapa Tom ?” bisik Bibi Polly, “Ia... wah, betul-betul
aku tak bisa memahami anak itu. Tak pernah aku....”

Tom m asuk, terhuyung oleh kantung yang berat, m em buat
Bibi Polly tak m eneruskan pem bicaraannya. Tom m enuang uang
em as itu ke atas m eja dan berkata, “Nah, apa kataku? Separuh
dari uang ini milik Huck, separuh milikku.”

Sem ua orang lupa bernapas. Sesaat sem ua hanya m elongo.
Kem udian sem ua ribut m inta penjelasan. Tom berkata bahwa ia
dengan senang hati akan memberi penjelasan. Ia menceritakan
suatu cerita yang panjang dan penuh hal-hal yang m enarik.
Ham pir tak ada yang m enyela, takut untuk m em utuskan cerita
yang m em ikat itu. Setelah Tom selesai, Tuan J ones berkata,
“Kukira aku telah m enyiapkan suatu cerita yang m enarik untuk
pesta ini, nam un ternyata ceritaku tak berarti. Cerita Tom
membuat ceritaku tidak berarti. Harus kuakui.”

Uang itu dihitung, jum lahnya lebih sedikit dari dua belas ribu
dolar. J um lah itu jum lah paling banyak yang pernah dilihat siapa
pun di antara hadirin dalam satu tumpukan, walaupun beberapa
orang m em punyai jum lah yang lebih besar.

Huck yang Terhormat
Menyatukan Diri dengan Para
Petualang

PARA PEMBACA tentu tak perlu diberi tahu, bagaim ana harta
karun Tom dan Huck itu telah m em buat geger desa kecil yang
miskin seperti St. Petersburg itu. J umlah sebegitu besar dalam
satu tum pukan, ham pir-ham pir tak dapat m ereka bayangkan.
Berita itu dibicarakan, diperdebatkan, diagung-agungkan, sam pai
banyak orang kehilangan akal. Sem ua ‘rum ah hantu’ di sekitar
St. Petersburg dibongkar, papan dem i papan, bagian dasarnya
digali untuk m encari harta karun. Bukan saja anak-anak, tetapi
juga orang tua. Beberapa di antaranya adalah orang-orang yang
selalu berpikir dan berbuat dengan kesungguhan hati, tak pernah
bermain-main. Di mana pun, Tom dan Huck dikelilingi, dikagumi
dan ditonton. Kedua anak itu tak pernah ingat sebelum nya bahwa
kata-kata m ereka m em punyai arti. Kini setiap perkataan m ereka
dianggap berharga dan diulang-ulangi. Apa pun yang m ereka

Petualangan Tom Sawyer 277

kerjakan, selalu dianggap luar biasa. Agaknya m ereka tak bisa
berbuat atau berbicara seperti orang biasa lagi. J uga penga-
laman-pengalaman mereka di masa lalu diperbincangkan untuk
membuktikan bahwa masa lalu itu penuh dengan perbuatan dan
perkataan yang m engandung tanda-tanda kem urnian yang nyata.
Surat kabar di desa itu bahkan m em buat riwayat hidup kedua
anak itu.

Nyonya J anda Douglas m enyim pankan uang Huck di bank
dengan bunga enam persen, begitu juga Hakim Thatcher berbuat
yang sam a atas uang Tom untuk m em enuhi perm intaan Bibi
Polly. Kini kedua anak itu m em punyai gaji yang betul-betul
term asuk luar biasa—sedolar tiap hari biasa dan setengah dolar
di hari Minggu sepanjang tahun! Gaji yang sam a seperti yang
diterim a Tuan Pendeta, setidak-tidaknya jum lah itulah yang
dijanjikan kepadanya, nam un jarang diterim a. Satu seperem pat
dolar waktu itu cukup untuk sewa kamar dan makan seorang
anak, serta pakaian dan cucian dalam waktu seminggu.

H akim Thatcher m em punyai harapan besar akan m asa
depan Tom . Dalam pendapatnya, seorang anak biasa tak m ungkin
bisa m engeluarkan anak perem puan dari dalam gua. Ketika Becky
secara rahasia menceritakan, bagaimana Tom berdusta untuk
m enyelam atkan dirinya dari hukum an cam buk, hakim itu sangat
terharu. Becky m em ohon am pun atas dusta Tom itu, dusta yang
m em indahkan hukum an cam buk dari punggungnya ke punggung
Tom. Hakim Thatcher dengan penuh kebanggaan mengatakan,
dusta semacam itu adalah dusta dari hati mulia, dusta dari hati
yang pem urah—dusta yang berharga untuk dikenangkan sejarah
di sam ping Kebenaran George Washington yang term asyhur
tentang kapaknya. Bagi Becky, beum pernah ayahnya nam pak
begitu tinggi dan gagah seperti waktu beliau berjalan mondar-
mandir sambil mengucapkan itu semua. Saat itu juga ia pergi
untuk menemui Tom serta mengatakan hal itu.

278 Mark Twain

Hakim Thatcher ingin melihat Tom menjadi seorang ahli
hukum atau ahli m iliter yang term asyhur kelak. Ia berjanji untuk
m eratakan jalan bagi Tom guna m em asuki Akadem i Militer
Nasional dan kem udian belajar di sekolah hukum yang terbaik di
Am erika Serikat, agar ia siap untuk m enjalankan salah satu dari
bidang tadi atau kedua-duanya.

Kekayaan Huck Finn dan kenyataan bahwa kini ia berada di
bawah naungan Nyonya J anda Douglas m em perkenalkan dirinya
pada pergaulan m asyarakat beradab, bukan—bukan m em per-
kenalkan, tapi m enariknya, m elontarkannya ke m asyarakat
den gan paksa—dan pen deritaan n ya ham pir tak tertahan kan
olehnya. Para pelayan Nyonya J anda selalu m em buatnya bersih
dan rapi, m enyisir dan m enyikat ram butnya, m enidurkannya di
tem pat tidur yang tak bersahabat dengannya, segalanya putih
bersih, tak ada noda setitik pun yang bisa ditekankan ke dadanya
untuk dianggapnya sebagai sahabat. Ia harus m akan dengan
pisau dan garpu, ia harus menggunakan serbet, cangkir, dan
piring; ia harus belajar, ia harus pergi ke gereja; ia harus berbicara
dengan sopan hingga baginya setiap perkataan terasa ham bar di
mulut; ke mana pun ia berpaling, belenggu dan terali peradaban
m engungkungnya, m engikatnya erat-erat.

Tiga m inggu dengan gagah berani dihadapinya sem ua
penderitaan ini, dan kem udian ia lenyap. Em pat puluh delapan
jam Nyonya J anda m encarinya di m ana-m ana dengan hati sedih.
Masyarakat pun ikut terpengaruh, m ereka m encari Huck Finn
di setiap tem pat, m enjelajahi sungai untuk m encari m ayatnya.
Di hari ketiga, pagi-pagi sekali, secara bijaksana Tom Sawyer
turun tangan, mencari di antara tong-tong tua di belakang rumah
pem bantaian. Dan di salah sebuah tong diketem ukannya anak
hilang itu. Huck tidur di dalam tong, baru selesai dengan sarapan
yang terdiri dari m akanan-m akanan curian, kini berbaring
m enikm ati pipanya. Ia tam pak tidak terurus, ram butnya tak

Petualangan Tom Sawyer 279

disisir, berpakaian com pang-cam ping yang m em buatnya sedap
dipandang, bebas, m erdeka, bahagia. Tom m enariknya ke luar
tong, m enceritakan kekacauan yang diakibatkan olehnya dan
m em inta agar H uck segera pulang. H uck yang m enghirup
kemerdekaan itu sekarang menjadi sedih.

“J angan berbicara tentang itu lagi, Tom ,” kata Huck, “telah
kucoba dan aku gagal. Kehidupan sem acam itu tak cocok bagiku.

Huck tidur di dalam tong.

Nyonya J anda m em ang baik padaku, tetapi aku tak tahan caranya
menjalankan hidup. Ia membangunkan aku pada jam itu-itu juga
tiap pagi, m enyuruh aku m encuci m uka, pelayannya m enyisir
rambutku habis-habisan, ia tak memperbolehkan aku tidur di
gudang kayu, aku harus berpakaian yang ketat yang tak ada jalan
keluar masuk bagi udara. Pakaian-pakaian itu begitu bagus,
hingga aku tak dapat duduk atau berbaring atau bergulung di

280 Mark Twain

rum put. Aku tak pernah lagi m enerobos pintu gudang di bawah
tanah. Hm m , kira-kira setahun kurasa, bertahun-tahun! Aku
harus pergi ke gereja, sam pai aku berm andi peluh. Aku benci
m endengarkan khotbah-khotbahnya; aku tak boleh m enangkap
lalat di sana atau m engunyah. Aku pun harus terus m em akai
sepatu sepanjang hari Minggu. Nyonya J anda m akan m enurut
bunyi lonceng, tidur m enurut bunyi lonceng; sem uanya begitu
ditetapkan waktu, hingga membuat orang tak tahan.”

“Tetapi sem ua orang hidup secara itu, Huck.”
“Tak ada bedanya, Tom . Aku tidak seperti orang lain, dan
aku tak tahan. Aku tak senang untuk selalu hidup terkekang. Dan
makanan mudah sekali didapat, aku tak senang pada makanan
yang m udah didapat. Untuk pergi m engail aku harus m inta izin,
untuk pergi berenang harus m inta izin—untuk segala-galanya
harus m inta izin dulu. Dan aku harus berbicara dengan baik
sehingga membuatku tak enak badan, sampai terpaksa tiap hari
aku harus naik ke loteng untuk bisa berbicara bebas, walaupun
sendirian, agar bisa kurasakan kebebasan berbicara. Kalau tidak,
pasti aku m am pus. Nyonya J anda tak m em perkenankan aku
merokok, tak memperkenankan aku berteriak, tak memper-
kenankan aku melongo, menggaruk atau menggeliat di depan
orang banyak.”
Dengan tambahan perasaan derita dan luka hati istimewa,
Huckleberry m enam bahkan keluh kesahnya, “Dan sialan betul;
tiap saat ia berdoa! Belum pernah kulihat seorang wanita seperti
dia, Tom ! Aku harus pergi, aku harus, Tom . Dan lagi sebentar
lagi m usim libur selesai dan sekolah dim ulai. Aku pun harus
m asuk sekolah nanti—dan itu tak bisa kutahan. Tom , m enjadi
kaya ternyata tak seenak yang kubayangkan. Setiap saat khawatir,
setiap saat berkeringat dan mengharapkan kedatangan kematian
selalu. Nah, pakaian ini cocok bagiku, tong ini cocok bagiku, dan
tak akan pernah kulepaskan lagi. Tom, aku tak akan pernah me-

Petualangan Tom Sawyer 281

nem ui kesulitan begini banyak, bila tidak karena uang itu. Kini,
baiklah kau am bil bagianku sem ua, hanya kadang-kadang berilah
aku sepuluh sen—tak usah terlalu sering, sebab aku tak bisa
m enghargai yang bisa kudapatkan tanpa berusaha keras lebih
dahulu. Dan tolong m inta agar Nyonya J anda m elepaskan diriku.”

“Oh, Huck, tak bisa kulakukan itu. Tak adil, cobalah sekali
lagi, m ungkin kau bisa m enyukainya.”

“Menyukainya—ya, m ungkin akan kusukai seperti aku akan
m enyukai sebuah kom por panas, bila telah kududuki cukup lam a.
Tidak, Tom , aku tak m au kaya dan aku tak m au hidup di rum ah
yang tak ada udaranya itu. Aku senang hidup di hutan, di sungai,
di tong kosong, dan tak kan kuubah hidupku itu. Terkutuk se-
m uanya! Pada waktu kita telah m em punyai senjata, dan gua,
dan siap untuk merampok, semua ketololan ini muncul untuk
m enggagalkan rencana kita!”

Tom melihat kesempatan untuk mengubah pandangan Huck.
“Dengar Huck, kekayaan tak m enghalangiku untuk m enjadi
p er am p ok.”
“Betulkah, Tom ? Betulkah katam u itu?”
“Betul, Huck. Tapi Huck, kau tak bisa m asuk ke dalam
gerom bolan peram pok, bila kau tidak m em punyai penghidupan
yang terhom at. Kau tahu.”
Kegem biraan Huck lenyap.
“Aku tak boleh m asuk, Tom ? Bukankah kau m em perbolehkan
aku menjadi bajak laut?”
“Ya, tapi beda sekali. Seoran g peram pok lebih tin ggi
derajatnya daripada seorang bajak laut—secara keseluruhannya.
Di beberapa negara perampok terdiri dari bangsawan-bangsawan
tinggi, pangeran dan sebangsanya.”
“Tom , bukankah kau selalu bersahabat dengan aku? Kau tak
akan m engeluarkan aku dari gerom bolanm u, bukan? Kau tak

282 Mark Twain

akan sekejam itu.”
“Huck, aku tak ingin dan tak akan bertindak sem acam

itu. Tapi apa kata orang banyak? Mereka pasti berkata, ‘Puh,
gerom bolan Tom Sawyer? An ggota-an ggotan ya bertin gkat
rendah.’ Yang m ereka m aksudkan adalah engkau, Huck! Kau
pasti tak suka dikatakan begitu, aku pun tidak.”

Huck terdiam , pertarungan sengit terjadi dalam benaknya.
Akhirnya ia berkata, “Nah, baiklah, aku akan kem bali ke rum ah
Nyonya J anda sebulan lagi dan akan kulihat apakah aku bisa
m enahan penderitaan itu. Asal kau perkenankan aku jadi anggota
gerom bolanm u, Tom !”

“Baik, Huck, janji deh! Marilah, Sahabat, akan kum inta agar
Nyonya J anda tak terlalu keras bertindak terhadapm u!”

“Betulkah, Tom betulkah akan kau m inta pada Nyonya
J anda? Bagus kalau begitu. Bila ia m au m engendurkan beberapa
peraturan kerasnya, aku akan m erokok dengan sem bunyi-
sem bunyi, m em aki bersem bunyi-sem bunyi, dan akan kujalani
penghidupan itu sekuat hati. Kapankah kau m ulai m em bentuk
ger om b ola n m u ?”

“Oh, sekarang juga. Kita kum pulkan anak-anak dan m ungkin
malam ini kita buat upacara pentahbisan.”

“Upacara apa?”
“P en t a h b isa n .”
“Apa itu?”
“Upacara sum pah setia satu dengan yang lain sesam a anggota
gerom bolan . Bersum pah un tuk tidak m em bocorkan rahasia
gerom bolan walaupun dicincang sam pai lem but. Bersum pah
untuk m em bunuh siapa saja bersam a seluruh sanak keluarganya
yang berani m enyakiti salah seorang anggota gerom bolan.”
“Bagus, Tom , hebat sekali.”
“Mem ang dem ikian. Dan sum pah itu harus dilakukan di
m alam hari, tengah m alam , di suatu tem pat yang paling sepi,

Petualangan Tom Sawyer 283

paling seram . Kalau m ungkin di sebuah rum ah hantu. Sayangnya
semua rumah hantu telah dibongkar orang.”

“Tengah m alam cukup baik, Tom .”
“Tepat. Dan kita harus bersum pah di dalam peti m ati,
menandatangani dengan darah.”
“Bukan m ain hebatnya. Lebih hebat daripada m enjadi bajak
laut. Aku akan tinggal bersam a Nyonya J anda sam pai aku
mati, Tom. Dan bila kelak aku telah menjadi seorang perampok
yang term asyhur, pastilah Nyonya J anda m erasa bangga telah
menolong aku dari dalam lumpur.”

Penutup

DEMIKIANLAH, habis sudah cerita ini. Karena cerita ini
cerita tentang seorang anak, maka berakhirlah sampai di sini.
Cerita ini tak bisa dilanjutkan sam pai m enjadi cerita seorang
dewasa. Bila seseorang m enulis rom an tentang orang dewasa, ia
tahu, di m ana harus berhenti—yaitu pada perkawinan; tapi bila
yang ditulis itu cerita tentang anak-anak, ia harus berhenti di
m ana ia bisa berhenti dengan sebaik-baiknya.

Hampir semua pelaku dalam cerita ini masih hidup,
sejahtera, dan bahagia. Suatu hari m ungkin ada baiknya untuk
menelaah kembali cerita kehidupan anak-anak guna melihat
m ereka m enjadi apa setelah dewasa. Karena itu saat ini tak
bijaksana untuk menceritakan kehidupan mereka sekarang.



MARK TWAIN

PETUALANGAN TOM SAWYER

Kisah petualangan remaja karangan Mark Twain dengan latar belakang alam
bebas di tepi Sungai Mississippi ini merupakan salah satu karya klasik Amerika.
Tom yang nakal inggal di rumah Bibi Polly yang dermawan. Setelah bertengkar
dengan sahabatnya, Becky Thatcher, Tom pergi bertualang bersama Huck Finn,
temannya. Secara kebetulan keduanya menyaksikan penjahat menusuk seorang
dokter hingga meninggal. Si pembunuh menggenggamkan pisau itu di dalam
tangan seorang pemabuk. Diselingi pengembaraan dan ingkah polah yang serba
nakal dan berani, Tom dan Huck dapat menemukan tempat persembunyian si
pembunuh.

SASTRA

KPG: 59 16 01185

KPG (KEPUSTAKAAN POPULER GRAMEDIA)
Gedung Kompas Gramedia, Blok 1 Lt. 3, Jl. Palmerah Barat 29-37,Jakarta 10270
Telp. 021-53650110, 53650111 ext. 3359; Fax. 53698044, www.penerbitkpg.com

KepustakaanPopulerGramedia; @penerbitkpg; penerbitkpg


Click to View FlipBook Version