The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by a510210076, 2023-01-09 01:09:29

PTK_BOLA_KECIL

PTK_BOLA_KECIL

PENGEMBANGAN MODEL PERMAINAN “TEMBAK KALENG”
SEBAGAI ALTERNATIF VARIASI PERMAINAN BOLA KECIL

DALAM PEMBELAJARAN PENJASORKES BAGI SISWA
KELAS VIII SMP NEGERI 2 PATEBON KABUPATEN
KENDAL TAHUN 2012

SKRIPSI

diajukan dalam rangka penyelesaian studi Strata 1
untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan

oleh
Gentur Tri Basuki

6101408148

PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2012

i

SARI

Gentur Tri Basuki, 2012. Pengembangan Model Permainan Tembak Kaleng
sebagai Alternatif Variasi Permainan Bola Kecil Dalam Pembelajaran
Penjasorkes pada Siswa Kelas VIII SMP N 2 Patebon. Kabupaten Kendal
Tahun 2012. Skripsi Jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi
Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang. Permasalahan
pernelitian ini adalah: Bagaimana hasil pengembangan model permainan Tembak
Kaleng sebagai alternatif variasi permainan bola kecil dalam pembelajaran
Penjasorkes bagi siswa kelas VIII SMP. Tujuan penelitian ini adalah
menghasilkan produk model permainan Tembak Kaleng sebagai alternatif
permainan bola kecil dalam pembelajaran Penjasorkes pada siswa kelas VIII.

Kata Kunci : Pengembangan, Permainan, Bola Kecil, Tembak Kaleng

Metode penelitian pengembangan yang mengacu pada Borg & Gall
dilakukan dengan langkah-langkah prosedur pengembangan: 1) Melakukan studi
pendahuluan dan mengumpulkan informasi termasuk observasi lapangan dan
kajian pustaka, 2) Mengembangkan produk awal, 3) Evaluasi para ahli serta uji
coba lapangan skala kecil, 4) Revisi produk pertama, revisi produk berdasarkan
hasil evaluasi ahli dan uji coba lapangan skala kecil. Revisi ini digukanan sebagai
perbaikan terhadap produk awal yang dibuat oleh peneliti, 5) Uji lapangan, 6)
Revisi produk akhir yang dilakukan berdasarkan hasil uji lapangan, dan 7) Hasil
akhir model modifikasi permainan Tembak Kaleng untuk siswa kelas VIII SMP N
2 Patebon. Desain uji coba menggunakan desain eksperimental dengan dua tahap:
1) skala kecil 16 siswa, 2) skala besar 34 siswa. Subjek uji coba adalah sasaran
pemakaian produk, yaitu siswa kelas VIII SMP N 2 Patebon. Teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data kualitatif dan
kuantitatif. Instrumen yang digunakan dalam pengembangan produk
menggunakan angket dan kuisioner. Teknik analisis data yang digunakan berupa
presentase untuk menguji kelayakan kualitas dan keterimaan produk terhadap
produk pengembangan berdasarkan skala klasifikasi persentase Guilford.

Hasil yang diperoleh berdasarkan hasil uji coba skala kecil persentase
jawaban sangat baik (70,8%), baik (18,75%) dan kurang baik (10,42). Hasil uji
coba skala besar dengan persentase jawaban sangat baik (87,25%), baik (7,84%),
dan kurang (4,9%). Sedangkan persentase yang diperoleh dari hasil data evaluasi
ahli yaitu ahli penjas masuk dalam kategori baik (77,33%), ahli pembelajaran I
masuk katagori baik (90,67%), ahli pembelajaran II masuk katagori cukup baik
(65,33%).

Simpulan dari penelitian ini yaitu: 1) Permainan Tembak Kaleng yang
dikembangkan dapat digunakan sebagai alternatif permainan bola kecil dalam
pembelajaran Penjasorkes bagi siswa kelas VIII SMP, 2) Pengembangan
permainan Tembak Kaleng untuk pembelajaran Penjasorkes siswa kelas VIII
SMP. Disarankan: 1) Guru pendidikan jasmani hendaknya mempertimbangkan
penggunaan produk modifikasi permainan Tembak Kaleng sebagai alternatif
dalam menyampaikan pembelajaran bola kecil, 2) Apabila produk pengembangan
model permainan Tembak Kaleng ini akan digunakan sebagai alternatif permainan
bola kecil dalam pembelajaran Penjasorkes bisa disesuaikan dengan kondisi yang
ada di Sekolah.

ii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa isi dari skripsi ini benar – benar merupakan hasil
karya tulis ilmiah yang telah saya susun sendiri dan bukan merupakan hasil
jiplakan dari karya tulis ilmiah orang lain. Berbagai pendapat serta temuan dari
orang ataupun pihak lain yang ada didalam karya tulis ilmiah ini dikutip dan
dirujuk berdasarkan pedoman kode etik etika penyusunan karya tulis ilmiah.
Semoga karya tulis ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Semarang, 7 Februari 2013
Peneliti

Gentur Tri Basuki
NIM. 6101408148

iii

PENGESAHAN

Telah dipertahankan dihadapan sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu
Keolahragaan Universitas Negeri Semarang.

Nama : Gentur Tri Basuki

NIM : 6101408148

Judul : Pengembangan Model Permainan “Tembak Kaleng” sebagai
Alternatif Variasi Permainan Bola Kecil dalam Pembelajaran
Penjasorkes bagi Siswa Kelas VIII SMP N 2 Patebon Kabupaten
Kendal Tahun 2012.

Pada hari : Senin

Tanggal : 11 Februari 2013

Panitia Ujian

Ketua Sekretaris

Drs. H. Harry Pramono, M.Si Supriyono, S.Pd., M.Or
NIP. 19591019 198503 1 001 NIP. 19720127 199802 1 001

Dewan Penguji

1. Dra. Endang Sri Hanani, M.Kes (Ketua)
NIP. 19590603 198403 2 001 (Anggota)
(Anggota)
2. Drs.Uen Hartiwan, M.Pd
NIP.19530411 198303 1 001

3. Drs. Mugiyo Hartono, M.Pd
NIP. 19610903 198803 1 002

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO
1. Kita semua hanyalah sebutir debu, yang akan segera hilang diterbangkan

angin (Kerry Livgren).
2. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum

mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri (QS Ar-Ra'd ayat: 11).

PERSEMBAHAN
1. Maha Besar Allah satu-satunya tempat

menyembah dan memohon pertolongan.
2. Kedua orang tua yang saya sayangi dan

saya cintai: Bapak Tohari dan Ibu Yarti
Puji Winarni, terimakasih atas segala
dukungan, do’a, cinta, kasih sayang, dan
nasehatnya serta adiku tercinta Putri
Arum Sulistina yang saya sayangi.
3. Teman-teman Blachan Abang : Edwin
Fatah, Rizal Alam Islami, Satria Nur Edi
Santoso
4. Teman-teman seperjuangan PJKR 08.

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karuniannya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini. Keberhasilan penulis dalam menyusun skripsi ini atas bantuan dan
dorongan dari berbagai pihak, sehingga pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan
penulis menjadi mahasiswa UNNES.

2. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang yang
telah memberikan ijin dan kesempatan dalam menyusun skripsi.

3. Ketua Jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi FIK UNNES
yang telah memberikan dorongan dan semangat untuk menyelesaikan
skripsi ini.

4. Drs. Uen Hartiwan, M.Pd, selaku Pembimbing Utama yang telah
memberikan petunjuk, dorongan dan motivasi dengan penuh sabar, jelas,
mudah dipahami serta membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi.

5. Drs. Mugio Hartono, M.Pd, selaku Pembimbing Pendamping yang telah
sabar dan teliti dalam memberikan petunjuk, dorongan dan semangat
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

6. Seluruh Dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan pada khususnya dan Dosen
Universitas Negeri Semarang pada umumnya atas ilmu yang telah
diberikan.

7. Danardono, S.Pd M.Pd selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 2 patebon
yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian.

8. Suparti, S.Pd dan Mundjari, S.Pd, selaku Guru Pendidikan Jasmani SMP
Negeri 2 patebon yang telah banyak membantu dalam menyelesaikan
penelitian ini.

9. Siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Patebon yang telah bersedia menjadi
sampel penelitian saya.

vi

10. Terimakasih untuk teman-teman yang telah membantu saya dalam
penelitian ini : Pambuko Septriadi, Galih Pangaji, Edwin Fatah, Vembi
Irwanto dan Nizar Khoirul Umam.
Atas segala bantuan dan pengorbanan yang telah diberikan penulis,

semoga amal yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan dari Allah
SWT.

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi para
pembaca semua.

Semarang, 7 Februari 2013

Penulis

vii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL .............................................................................. i

SARI ....................................................................................................... ii

HALAMAN PERNYATAAN ................................................................. iii

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................. iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ........................................................... v

KATA PENGANTAR ............................................................................ vi

DAFTAR ISI .......................................................................................... viii

DAFTAR TABEL ................................................................................... xii

DAFTAR GAMBAR .............................................................................. xiii

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... xiv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah .................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................. 4
1.3 Tujuan Pengembangan ...................................................................... 4
1.4 Spesifikasi Produk ............................................................................. 5
1.5 Pentingnya Pengembangan ................................................................ 5
6
1.5.1 Bagi Peneliti ........................................................................... 6
1.5.2 Bagi Peneliti Lanjutan ............................................................. 6
1.5.3 Bagi Guru Penjas ..................................................................... 7
1.5.4 Bagi Lemaga (FIK UNNES) ....................................................

viii

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERFIKIR

2.1 Landasan Teori ................................................................................. 8
2.1.1 Penelitian dan pengembangan....................................................... 8
2.1.2 Pengertian Pendidikan Jasmani..................................................... 9

2.1.2.1 Tujuan Pendidikan Jasmani .............................................. 11
2.1.2.2 Pelaksanaan Pendidikan Jasmani ...................................... 14
2.1.3 Permainan Rounders..................................................................... 16
2.1.3.1 Istilah dalam Permainan Rounders ................................... 16
2.1.3.2 Lapangan Rounders .......................................................... 17
2.1.3.3 Peraturan Permainan ......................................................... 18
2.1.4 Karakteristik Perkembangan Anak Sekolah Lanjutan ...................... 19
2.1.4.1 Ukuran dan Bentuk Tubuh Anak Usia 12-20 Tahun .......... 19
2.1.4.2 Perkembangan Aktivitas Motorik Kasar ............................ 20
2.1.4.3 Perkembangan Aktivitas Motorik Halus ............................ 20
2.1.4.4 Perkembangan Gerak Pada Fase Adolesensi...................... 21
2.1.5 Belajar Gerak .................................................................................. 22
2.1.4.1 Pengertian Gerak............................................................... 22
2.1.5.2 Konsep gerak .................................................................... 23
2.1.5.3 Belajar Gerak.................................................................... 26
2.1.6 Modifikasi Permainan .................................................................... 27
2.1.6.1 Modifikasi Pembelajaran Penjas ....................................... 27
2.1.6.2 Pengembangan dan Modifikasi Pembelajaran ................... 30
2.1.6.3 Permainan “Tembak Kaleng” ........................................... 32
2.2 Kerangka Berfikir ............................................................................. 33

BAB III METODE PENGEMBANGAN
3.1 Model Pengembangan ....................................................................... 35
3.2 Prosedur Pengembangan ................................................................... 36

3.2.1 Analisis Kebutuhan........................................................... 37
3.2.2 Pembuatan Produk Awal .................................................. 38
3.2.3 Uji Coba Produk .............................................................. 38

ix

3.2.4 Revisi Produk Pertama ..................................................... 38
3.2.5 Uji Coba Lapangan .......................................................... 38
3.2.6 Revisi Produk Akhir ......................................................... 39
3.2.7 Hasil Akhir ...................................................................... 39
3.3 Uji Coba Produk ................................................................................ 39
3.3.1 Desain Uji Coba ................................................................ 39
3.3.2 Subjek Uji Coba ............................................................... 39
3.4 Jenis Data .......................................................................................... 40
3.5 Instrumen Pengumpulan Data ............................................................ 40
3.6 Teknik Analisis Data ......................................................................... 42

BAB IV HASIL PENGEMBANGAN
4.1 Penyajian Data Uji Coba Skala Kecil ................................................ 44

4.1.1 Data Analisis Kebutuhan ....................................................... 44
4.1.2 Draft Awal Produk Modifikasi “Tembak Kaleng”.................. 45

4.1.2.1Sarana dan Prasarana Permainan “Tembak Kaleng” ... 46
4.1.2.2 Peraturan Permainan “Tembak Kaleng” ..................... 47
4.1.3 Ujicoba LapanganSkala Kecil Validasi Ahli .......................... 48
4.1.3.1 Validasi Draft Produk Awal ....................................... 48
4.1.3.2 Deskripsi Data Validasi ahli ....................................... 49
4.1.4 Ujicoba Lapangan Skala Kecil .............................................. 50
4.1.5 Revisi Pertama Produk modifikasi “Tembak Kaleng” ............ 53
4.1.6 Uji Coba Skala Besar............................................................. 53
4.1.7 Revisi Produk Akhir Modifikasi “Tembak Kaleng” ............... 55
4.1.8 Draft Produk Akhir Modifikasi “Tembak Kaleng” ................. 56
4.1.8.1 Sarana dan Prasarana Permainan “Tembak Kaleng” ... 56
4.1.8.2 Peraturan Permainan “Tembak Kaleng” ..................... 57
4.2 Pembahasan ....................................................................................... 59
4.3 Keunggulan dan Kelemahan Produk................................................... 61
4.3.1 Keunggulan Produk................................................................... 61
4.3.2 Kelemahan Produk .................................................................... 61

x

BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan ........................................................................................... 63
5.2 Saran ................................................................................................. 64
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 65
LAMPIRAN – LAMPIRAN ................................................................... 66

xi

DAFTAR TABEL

Tabel halaman

3.1 Faktor, Indikator, dan Jumlah Butir Kuesioner .....................................41

3.2 Skor Jawaban Kuesioner “ya” dan “tidak” ...........................................41

3.3 Faktor, Indikator, dan Jumlah Butir Kuesoner ......................................41

3.4 Klasifikasi Presentase.............................................................................43

xii

DAFTAR GAMBAR

Gambar halaman

2.1 Pelaksanaan Penjas ........................................................................... 14

2.2 Lapangan Rounders ........................................................................... 17

3.1 Prosedur Model Pengembangan Permainan Tembak Kaleng .............. 37

4.1 Draft Awal Lapangan Tembak Kaleng ............................................... 46

4.2 Grafik Rekapitulasi Persentase Skala Kecil ........................................ 52

4.3 Grafik Rekapitulasi Persentase Skala Besar........................................ 54

4.4 Lapangan Tembak Kaleng.................................................................. 56

xi ii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran halaman

1. Usulan Topik Skripsi ................................................................................... 66

2. Surat Keputusan Penetapan Pembimbing .................................................... 67

3. Surat Ijin Penelitian...................................................................................... 68

4. Surat Balasan Penelitian .............................................................................. 69

5. Program pengembangan model ................................................................... 70

6. Lembar Evaluasi Ahli .................................................................................. 72

7. Kuesioner Untuk Siswa ............................................................................... 76

8. Saran Untuk Perbaikan Model Permainan ................................................... 80

9. Hasil Evaluasi Ahli ...................................................................................... 81

10. Data Siswa Uji Skala Kecil ......................................................................... 89

11. Data Hasil Uji Coba Skala kecil .................................................................. 90

12. Lembar Pengamatan Siswa Skala Kecil ...................................................... 91

13. Data Siswa Uji Skala Besar ......................................................................... 92

14. Data hasil Uji Coba Skala Besar .................................................................. 93

15. Lembar Pengamatan Siswa Skala Besar ...................................................... 105

16. Dokumentasi ................................................................................................ 107

xi v

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pelaksanaan pendidikan jasmani, kesehatan, olahraga dan rekreasi di
sekolah menengah pertama (SMP) selama ini masih jauh dari tujuan pendidikan
jasmani itu sendiri. Banyak sekali faktor-faktor yang menjadi penyebabnya,
diantaranya adalah kurangnya sarana prasarana yang memadai, kurangnya
kompetensi guru dll. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan berbagai cara,
salah satunya adalah dengan memodifikasi pembelajaran penjasorkes dengan
syarat tujuan penjasorkes yang sebenarnya masih dapat tercapai.

Kurikulum standar isi 2006 pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan
sekolah menengah pertama kelas VIII semester 1 dengan setandar isi
Mempraktikkan kombinasi teknik dasar salah satu permainan dan olahraga beregu
bola kecil lanjutan dengan kombinasi yang baik serta nilai kerjasama, toleransi,
percaya diri, keberanian, menghargai lawan, bersedia berbagi tempat dan
peralatan (Samsudin, 2008:130).

Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan di SMP N 2
Patebon yang terletak di Jl. Raya Sunan Abinawa-Patebon kabupaten Kendal
ditemukan adanya potensi-potensi yang perlu dikembangkan mengenai
pelaksanaan pembelajaran Penjasorkes pada siswa kelas VIII khusunya dalam
materi pembelajaran permainan bola kecil. Hasil wawancara yang dilakukan oleh
penulis dengan guru mata pelajaran Penjasorkes di SMP tersebut menunjukkan

1

2

bahwa materi permainan bola kecil belum pernah diajarkan kepada siswa. Hal ini
disebabkan minimnya sarana prasarana yang memadai untuk mengajarkan siswa
permainan bola kecil, misalnya softball, tenis lapangan, bulutangkis dll. Materi
permainan bola kecil seharusnya bisa diajarkan kepada siswa karena sesuai
dengan kurikulum standar isi Penjasorkes tahun 2006.

Selain minimnya prasarana yang memadai, antusiasme siswa dalam
mengikuti pembelajaran penjasorkes juga kurang. Hal ini dibuktikan pada saat
observasi ditemukan siswa yang kurang bersemangat dalam mengikuti
pembelajaran Penjasorkes. Sehingga berdasarkan permasalahan-permasalahan
tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran di SMP N 2 Patebon tidak
berjalan dengan baik karena minimnya sarana prasarana dan kurangnya variasi
dalam pembelajaran Penjasorkes. Masalah tersebut dapat diatasi dengan variasi
pembelajaran melalui pengembangan model permainan tembak kaleng.

Produk permainan Tembak Kaleng merupakan pengembangan model
permainan yang akan dijadikan alternatif variasi permainan bola kecil dalam
pembelajaran penjasorkes. Permainan ini merupakan permainan olahraga bola
kecil beregu yang bisa dimainkan oleh 8 sampai 10 orang siswa per tim. Pada
dasarnya permainan ini mengadopsi permainan rounders yang prinsipnya adalah
menggunakan bola kecil dan regu yang paling banyak mengelilingi lapangan
permainan dinyatakan sebagai pemenang, sehingga membutuhkan kerja sama dan
kekompakkan para pemain.

Permainan Tembak Kaleng mempunyai karakteristik permainan yang
mirip dengan permainan rounders yang mempunyai jarak antar base sepanjang 15

3

meter, hanya saja jika rounders memiliki 5 base, hal ini berbeda dengan
permainan Tembak Kaleng yang hanya memiliki 4 base. Perbedaan yang
mencolok adalah cara memulai permainan, jika rounders mengawalai permainan
dengan cara lemparan pitcher yang di arahkan ke batter untuk di pukul, berbeda
halnya dengan Tembak kaleng yang mengawali permainan dengan cara
menembak susunan kaleng dengan bola tonis. Cara mengawali permainan yang
demikian adalah yang menjadi alasan mengapa permainan ini diberi nama
Tembak Kaleng.

Sarana prasarana yang digunakan dalam permainan Tembak kaleng
hanya bola tonis, kaleng bekas susu kental manis, tali ravia sebagai garis dan
lapangan yang tidak terlalu luas sehingga sarana prasarana mudah terjangkau dan
mudah didapat. Selain sarana prasarana permainan Tembak Kaleng yang mudah
didapat, keunggulan permainan tembak kaleng adalah aman dimainkan oleh anak
usia SMP karena menggunakan bola tonis yang karakteristiknya lunak dan mudah
untuk melakukan lempar tangkap menggunakan bola tersebut. Berbeda dengan
permainan bola kecil lainnya seperti softball, baseball atau rounders yang
menggunakan bola yang berat sehingga membahayakan untuk anak usia SMP.

Tujuan permainan tembak Kaleng ini meliputi domain psikomotorik
seperti perkembangan keterampilan gerak dasar dan kebugaran jasmani, domain
kognisi seperti kemampuan memecahkan masalah serta domain afektif seperti
kekompakan, kerjasama dan mau berbagi tempat/ peralatan. Hal ini sesuai dengan
tujuan pendidikan jasmani menurut Husdarta (2009:9) yang diringkas dalam
terminologi populer, maka tujuan pembelajaran pendidikan jasmani itu harus

4

mencakup tujuan dalam domain psikomotorik, domain kognitif, dan tak kalah
pentingnya dalam domain afektif. Permainan tembak kaleng ini mempunyai
banyak keunggulan sehingga perlu diujicobakan sebagai alternatif variasi
permainan bola kecil dalam pembelajaran Penjasorkes kelas VIII SMP N 2
Patebon.

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah maka penulis
mengadakan penelitian dengan judul:
“Pengembangan model permainan “Tembak Kaleng” sebagai alternatif variasi
permainan bola kecil dalam pembelajaran Penjasorkes bagi siswa kelas VIII SMP
Negeri 2 Patebon Kabupaten Kendal tahun 2012.”

1.2 Rumusan Masalah

Dalam suatu penelitian tentunya mempunyai permasalahan yang perlu
diteliti dan dianalisis untuk memecahkan permasalahan. Setelah mencermati dari
latar belakang tersebut di atas, maka permasalahan yang akan dikaji adalah :
“Bagaimana model pengembangan permainan “Tembak Kaleng” sebagai
alternatif variasi permainan bola kecil dalam pembelajaran Penjasorkes bagi siswa
kelas VIII SMP N 2 Patebon Kab. Kendal, Tahun 2012?”

1.3 Tujuan Pengembangan

Sesuai dengan permasalahan yang diajukan diatas, maka tujuan
pengembangan ini adalah untuk menghasilkan produk model permainan “Tembak

5

Kaleng” sebagai alternatif variasi permainan bola kecil dalam pembelajaran
Penjasorkes bagi siswa kelas VIII SMP N 2 Patebon Kab. Kendal, Tahun 2012.

1.4 Spesifikasi Produk

Produk yang dihasilkan melalui penelitian pengembangan ini berupa
model permainan alternatif variasi permainan bola kecil dalam pembelajaran
Penjasorkes yang sesuai dengan karakteristik siswa sekolah menengah pertama,
yang dapat mengembangkan semua aspek pembelajaran (kognitif, afektif,
psikomotor) secara efektif dan efisien, serta dapat meningkatkan intensitas fisik
sehingga kebugaran jasmani dapat terwujud, serta dapat mengatasi kesulitan
dalam pengajaran permainan bola keci. Efektif yaitu sesuai dengan produk yang
diinginkan, dan efisien yaitu sesuai dengan yang seharusnya dilakukan atau sesuai
dengan yang ingin dicapai.

1.5 Pentingnya Pengembangan

Pendidikan Jasmani pada saat sekarang ini masih jauh dari tujuan pendidikan
jasmani itu sendiri. Pendidikan jasmani seharusnya bertujuan untuk memberikan
kesempatan kepada siswa dalam mengembangkan keterampilan psikomotorik,
kognitif, dan afektifnya.

Pemecahan masalah seperti ini dapat melalui penerapan model pengembangan
dalam bentuk modifikasi permainan yang diharapkan dapat digunakan serta dapat
membantu guru pendidikan jasmani, sehingga kualitas pembelajaran dapat
meningkat dan sesuai dengan tujuan pendidikan jasmani olehraga dan rekreasi.

6

Pentingnya pengembangan bagi peneliti, peneliti lanjutan, guru penjas dan
lembaga (FIK Unnes) antara lain:
1.5.1 Bagi Peneliti

1) Sebagai bekal pengalaman di bidang penelitian dalam memodifikasi
olahraga pada umumnya dan olahraga permainan pada khususnya.

2) Sebagai dasar pengembangan hasil penelitian di masa yang akan datang.
3) Sebagai bekal dalam menyusun skripsi untuk memperoleh gelar

kesarjanaan bidang studi pendidikan jasmani, kesehatan, dan rekreasi.
1.5.2 Bagi Peneliti Lanjutan

Informasi dari pengembangan ini diharapkan dapat digunakan sebagai
pertimbangan apabila akan melakukan penelitian bola kecil yang serupa.

1.5.3 Bagi Guru Penjas

1) Hasil penelitian ini nantinya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
dalam mengajar bidang studi olahraga pada umumnya dan permainan bola
kecil pada khususnya.

2) Sebagai bahan pertimbangan dan pedoman untuk membina siswa dalam
bermain bola kecil.

3) Sebagai dorongan dan motivasi kepada guru penjas untuk menciptakan
terobosan-terobosan baru dan variasi mengajar dengan cara memodifikasi
jenis permainan olahraga sehingga siswa tidak merasa cepat bosan, serta
siswa lebih aktif bergerak.

7

1.5.4 Bagi Lembaga ( FIK UNNES)
1) Sebagai bahan informasi kepada mahasiswa tentang pengembangan model

pembelajaran permainan bola kecil melalui permainan “Tembak Kaleng”.
2) Sebagai bahan dokumentasi penelitian di lingkungan UNNES Semarang.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERFIKIR

2.1 Landasan Teori

Dalam rangka pemecahan masalah, maka sebagai acuan berfikir secara
ilmiah, pada landasan teori ini akan dimuat beberapa pendapat dari pakar.
Selanjutnya secara garis besar akan diuraikan tentang: penelitian dan
pengembangan, pendidikan jasmani, permainan rounders, karakteristik
perkembangan gerak anak sekolah lanjutan, perkembangan penguasaan gerak
pada fase adolesensi (12-20 tahun), klasifikasi ketrampilan gerak, tinjauan
ketrampilan gerak dasar usia 12-20 tahun, pengembangan pembelajaran penjas
dan pengembangan modifikasi olahraga.

2.1.1 Penelitian dan Pengembangan

Penelitian pendidikan dan pengembangan, yang lebih kita kenal dengan
istilah Research and development (R & D). Strategi untuk mengembangkan suatu
produk pendidikan oleh Borg & Gall (1983) dalam bukunya (Punaji Setyosari
2012:215) disebut sebagai penelitian dan pengembangan. Penelitian dan
pengembangan ini kadang kala disebut juga sesuatu pengembangan berbasis pada
penelitian atau disebut juga research-based development. Dalam dunia
pendidikan, penelitian pengembangan ini memang hadir belakangan dan
merupakan tipe atau jenis penilitian yang relatif baru (2012:215).

8

9

Pengertian penelitian pengembangan menurut Borg & Gall (1983)
(2012:215) adalah suatu proses yang dipakai untuk mengembangkan dan
memvalidasi produk pendidikan. Penelitian ini mengikuti suatu langkah-langkah
secara siklus. Langkah-langkah penelitian atau proses pengembangan ini terdiri
atas kajian tentang temuan penelitian produk yang akan dikembangkan,
mengembangkan produk berdasarkan temuan-temuan tersebut, melakukan uji
coba lapangan sesuai dengan latar di mana produk tersebut akan dipakai, dan
melakukan revisi terhadap hasil uji lapangan. Penelitian dan pengembangan
pendidikan itu sendiri dilakukan berdasarkan suatu model pengembangan berbasis
industri, yang temuan-temuannya dipakai untuk mendesain produk dan prosedur,
yang kemudian secara sistematis dilakukan uji lapangan, dievaluasi,
disempurnakan untuk memenuhi kriteria keefektifan, kualitas, dan standar tertentu
Gall & Borg, 2003 dalam buku (Punaji Setyosari, 2012:216).

Pengembangan berbeda dengan penelitian pendidikan karena tujuan
pengembangan adalah menghasilkan produk berdasarkan temuan-temuan dari
serangkaian uji coba, misalnya melalui perorangan, kelompok kecil, kelompok
sedang dan uji lapangan kemudian dilakukan direvisi dan seterusnya untuk
mendapatkan hasil atau produk yang memadai atau layak dipakai (2012:220).

2.1.2 Pendidikan Jasmani

Pendidikan jasmani merupakan usaha pendidikan dengan menggunakan
aktivitas otot-otot besar hingga proses pendidikan yang berlangsung, tidak
terhambat oleh gangguan kesehatan dan pertumbuhan badan. Sebagai bagian

10

integral dari proses pendidikan keseluruhan pendidikan jasmani merupakan usaha
yang bertujuan untuk mengembangkan kawasan organik neuromuskuler,
intelektual dan sosial (Abdulkadir Ateng, 1992:4).

Pendidikan jasmani bukan hanya merupakan aktifitas pengembangan fisik
secara terisolasisasi, akan tetapi harus ada dalam konteks pendidikan secara
umum general education (Samsudin, 2008:1).

Pendidikan jasmani pada dasarnya merupakan pendidikan melalui
aktifitas jasmani yang dijadikan sebagai media untuk mencapai perkembangan
individu secara keseluruhan (Adang Suherman, 2000:1)

Pendidikan jasmani dapat dibedakan berdasarkan sudut pandang, yaitu:
1) Pandangan tradisional, yang menganggap bahwa manusia itu terdiri dari 2

komponen utama yang dapat dipilah-pilah, yaitu jasmani dan rohani.
Pandangan ini menganggap bahwa penjas semata-mata hanya mendidik
jasmani atau sebagai pelengkap, penyeimbang atau penyelaras pendidikan
rohani manusia. Dengan kata lain penjas hanya sebagai pelengkap saja (Adang
Suherman, 2000:17),
2) Pandangan modern yang sering juga disebut pandangan holistik, menganggap
bahwa manusia bukan suatu yang terdiri dari bagian-bagian yang terpilah-
pilah. Manusia adalah satu kesatuan dari bagian-bagian yang terpadu. Dengan
pandangan tersebut pendidikan jasmani diartikan sebagai proses pendidikan
untuk meningkatkan kemampuan jasmani. Hubungan antara tujuan umum
pendidikan, tujuan pendidikan jasmani, dan penyelenggaraannya harus terjalin
dengan baik. Dengan demikian akan nampak bahwa pendidikan jasmani sangat

11

penting bagi pengembangan manusia secara utuh dan merupakan dari
pendidikan secara keseluruhan (Adang Suherman, 2000:19).

2.1.2.1 Tujuan Pendidikan Jasmani

Pendidikan jasmani merupakan proses pendidikan melalui aktifitas
jasmani dan sekaligus merupakan proses pendidikan untuk meningkatkan
kemampuan jasmani. Oleh karena itu, tujuan yang ingin dicapai melalui
pendidikan jasmani mencakup pengembangan individu secara keseluruhan.
Artinya, cakupan pendidikan jasmani tidak hanya pada aspek jasmani saja, akan
tetapi juga aspek mental, emosional, sosial, dan spiritual (Adang Suherman,
2000:22-23).

Tujuan pendidikan jasmani dapat diklasifikasikan ke dalam empat kategori
yaitu:
1) Perkembangan fisik. Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan melakukan

aktivitas-aktivitas yang melibatkan kekuatan fisik dari berbagai organ tubuh
seseorang (physical fitness),
2) Perkembangan gerak. Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan melakukan
gerak secara efektif, efisien, halus, indah, dan sempurna,
3) Perkembangan mental. Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan berfikir
dan menginterprestasikan keseluruhan pengetahuan tentang penjas ke dalam
lingkungannya sehingga memungkinkan tumbuh dan berkembangnya
pengetahuan, sikap, dan tanggung jawab siswa,

12

4) Perkembangan sosial. Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan siswa
dalam menyesuaikan diri pada suatu kelompok atau masyarakat (Adang
Suherman, 2000:22-23).
Tujuan pendidikan jasmani menurut Husdarta (2009:9) dapat diringkas

dalam terminologi populer, maka tujuan pembelajaran pendidikan jasmani itu
harus mencakup tujuan dalam domain psikomotorik, domain kognitif, dan tak
kalah pentingnya dalam domain afektif.
2.1.2.1.1 Pengembangan Aspek Psikomotorik

1) Ketrampilan Gerak yaitu tujuan utama dalam mengajarkan ketrampilan gerak
adalah pengembangan keterampilan untuk berpastisipasi dalam kegiatan
olahraga, serta membantu dirinya bertindak efektif dalam pelaksanaan tugas
sehari-hari setara dengan tujuan pendidikan jasmani yang berhubungan dengan
kebugaran jasmani, yaitu individu, sebagai anggota keluarga, serta sebagai
anggota masyarakat.
Ketrampilan menurut para ahli adalah sebuah cakapan atau tingkat penguasaan
terhadap suatu gerak atau pola gerak, yang dicirikan oleh tiga indikator kualitas
utama, yaitu efektif, efisien dan dapat diadaptasi. Kualitas efektifitas
merupakan hasil dari tindakan yang berorientasi pada tujuan atau sasaran
tertentu (2008:21-22).

2) Kebugaran fisik yaitu prinsip- prinsip peningkatan kondisi fisik yang meliputi
pengembangan kapasitas kardiovaskular, daya tahan otot lokal, kekuatan,
kelenturan, dan power. Implikasinya, dalam model ini peran guru adalah
mencoba menyakinkan siswa bahwa mereka akan menyukai apa yang mereka

13

lakukan. Memilih kegiatan pembelajaran ketrampilan gerak yang juga bernilai
fitness tinggi sehingga guru akan memilih kegiatan dan cabang olahraga yang
mengandung sekaligus juga mampu meningkatkan kebugaran jasmani
(Samsudin 2008:23).
2.1.2.1.2 Perkembangan Aspek Kognitif

Anak memiliki pengertian tentang pengaruh latihan atau kegiatan fisik
terhadap kesehatan tubuh yang berguna bagi mereka untuk menjalani gaya hidup
yang aktif. Beberapa konsep yang ditentukan oleh para ahli bahwa dalam
pembelajaran pendidikan jasmani aspek kognitif yang ditekankan antara lain:
Pernyataan deskripsi yang memberikan informasi tentang “apa” fakta
pengetahuan informasi.
1) Pernyataan yang dimaksud menjawab “mengapa” alasan sederhana, nilai,

pembenaran, manfaat.
2) Pernyataan yang bermaksud menjawab “mengapa” hal itu terjadi” prinsip-

prinsip kaitan, dan hukum atau dalil.
3) Pernyataan pemecahan masalah (apa yang dapat dilakukan) penerapan fakta,

prinsip dan keterhubungan (2008:25).
2.1.2.1.3 Pengembangan Aspek Afektif

Sikap positif terhadap pendidikan jasmani selera, kepercayaan, acuan nilai,
dan idealisme seseorang akan memengaruhi cara ia berprilaku. Karena siswa
berfikir dan merasa, tidak ada satu pun pembelajaran psikomotor yang terjadi
tanpa adanya rasa keterlibatan perasaan tentang dirinya sendiri, tentang

14

pelajarannya, dan tentang situasi di sekitarnya. Dalam setiap perasaan dan acuan
nilai anak terdapat daya yang sangat kuat yang mengontrol perilaku individual.
Kadang daya tersebut menghalangi terjadinya pembelajaran; di saat yang lain
malah meningkatkannya (Samsudin, 2008:30)
2.1.2.2 Pelaksanaan Pendidikan Jasmani

Bagan di bawah ini menunjukan cakupan tujuan ideal pendidikan
jasmani yang pelaksanaanya dilandaskan pada pendekatan pengajaran yang
berorientasi pada taraf perkembangan dan pertumbuhan anak.

Pendidikan Jasm ani

Praktik pengajaran
berorientasi pada karakt erist ik

perkem bangan dan

psikom otor

Kesegaran Per sep t ual
jasm ani M otorik

Kognit if

Af ekt if

Konse In t el egensia Penalaran & Pengetahuan tentang
p Diri em osional & w atak p em b uat an penjas, olahraga dan

Gambar 2.1 Pelaksanaan Penjas
(Sumber: Strategi Belajar Mengajar Penjas, 2000)

15

Pengembangan domain psikomotor yang mencakup aspek kesegaran
jasmani dan perkembangan perseptual-motorik menegaskan bahwa upaya
pendidikan jasmani berlangsung melalui gerak atau aktifitas jasmani sebagai
perantara untuk tujuan yang bersifat mendidik, dan sekaligus untuk tujuan yang
bersifat pembentukan serta pembinaan keterampilan itu sendiri. Kesegaran
jasmani merupakan sebuah topik penting dari domain psikomotor yang bertumpu
pada perkembangan kemampuan biologik organ tubuh. Konsentrasinya lebih
banyak pada persoalan peningkatan efisiensi fungsi faal tubuh dengan segala
aspeknya sebagai sebuah sistem ( misalnya, sistem peredaran darah dan sistem
pernafasan, sistem metabolisme ) (Rusli Lutan, 2000:4).

Perkembangan perseptual-motorik terjadi melalui proses kemampuan
seseorang untuk meneerima rangsang dari luar dan rangsang itu kemudian diolah
dan diprogram sampai kemudian tercipta respons berupa aksi yang selaras dengan
rangsang. Dampak langsung dari aktifitas jasmani yang merangsang kemampuan
dan kecepatan proses persepsi dan aksi itu adalah perkembangan kepekaaan
sistem saraf. (Rusli Lutan, 2000:5).

Domain kognitif mencakup pengetahuan tentang fakta, konsep, dan lebih
penting lagi adalah penalaran dan kemampuan memecahkan masalah. Aspek
kognitif dalam pendidikan jasmani tidak saja menyangkut pengusaan pengetahuan
yang berkaitan dengan landasan ilmiah pendidikan jasmani dan olahraga serta
kegiatan pengisisan waktu luang, sama halnya pengetahuan yang berkaitan
dengan kesehatan (Rusli Lutan, 2000:5).

16

Domain afektif mencakup sifat-sifat psikologis yang menjadi unsur
kepribadian yang kukuh. Tidak hanya tentang sikap sebagai kesiapan berbuat
yang perlu dikembangkan, namun lebih, diantaranya adalah konsep diri dan
komponen kepribadian lainya seperti intelegensia emosional dan watak (Rusli
Lutan, 2000:6).

2.1.3 Permainan Rounders

Rounders adalah permainan bola kecil dengan teknik dasar yang hampir
sama dengan permainan kasti yaitu melempar, menangkap, dan memukul
ditambah dengan ketrampilan mengetik dan menghindari sentuhan bola.

2.1.3.1 Istilah dalam Permainan Rounders

1) Ball : Bola yang dilemparkan pelambung salah, yaitu bola

tidak berada di atas tempat untuk memukul.

2) Strike : Bola yang dilemparkan pelambung benar, yaitu bola

yang dilemparkan meluncur di atas tempat pemukul

antara lutut dan bahu pemukul.

3) Out : Bola yang dipukul jatuh di luar garis batas pelari.

4) Base : Tempat hinggap bagi seorang pemukul atau pelari.

5) Pitcher : Pelambung, dari regu jaga, bertugas melambungkan

bola ke arah better.

6) Catcher : Penangkap bola/penjaga belakang dari regu jaga.

7) Home Base : Base tempat memukul bola.

17

8) Mengetik : Mematikan lawan dengan cara menyentuh bola.
9) Membakar : Mematikan lawan dengan memegang bola sebelum

pemain sampai di base.
10) Home Run : Pemukul dengan pukulannya sendiri dapat kembali ke

ruang bebas secara langsung.

2.1.3.2 Lapangan Rounders

15

15 15
d a

15 9m 15
c b

Gambar 2.2 Lapangan Permainan Rounders
(sumber: Permainan Bola Kecil, 2012)

KETERANGAN

a : t em pat pit cher
b : t em pat cat cher
c : ruang t unggu

18

2.1.3.3 Peraturan Permainan

1) Pitcher adalah pemain yang bertugas melempar bola kepada pemukul. Bola
harus dilemparkan dengan kuat, cepat dan tepat berada di atas home base.
Untuk mendapatkan lemparan bola yang keras dan cepat, pitcher harus
melemparkan bola dengan ayunan penuh.

2) Catcher adalah penangkap belakang yaitu salah seorang penjaga yang
ditugaskan khusus menangkap bola di belakang home base.

3) Pemukul Ketentuan bagi pemukul (batter) pemukul harus berlari jika hasil
pukulan pertama strike (baik),Pukulan ketiga tidak kena tetapi wasit
mengatakan strike (baik). Pelari waktu lari menuju base dihalang-halangi oleh
penjaga, maka pemukul bebas menuju base yang telah ditentukan oleh wasit.
Jika pitcher sudah empat kali melambungkan bola salah dan tidak dipukul,
maka pemukul dipersilahkan melakukan free walk. Bola baik (strike) meskipun
dipukul kena atau tidak kena oleh pemukul, tidak dipukul oleh pemukul,
dipukul salah (out/keluar) oleh si pemukul. Bola diangkap mati jika Bola
hilang, bola sudah dipegang oleh pitcher dan siap dilemparkan kepada
pemukul, bola out. Pada waktu bola mati, semua pelari tidak boleh
meninggalkan base yang ditempati. Pelari dianggap mati jika pada waktu lari
tidak menginjak base, melewati pelari yang ada di depannya, jika base yang
dituju telah dibakar oleh penjaga mengganggu penjaga yang sedang
menangkap bola.

3) Cara mematikan lawan yaitu dengan mengetik yaitu dengan menyentuhkan
bola ke tubuh pemain pemukul sebelum dia mencapai base. Cara membakar

19

yaitu dengan menginjakkan kaki pada base yang dituju pelari sambil
memegang bola.
4) Cara bermain rounders dimainkan oleh 2 regu, dimana tiap regu terdiri atas 12
pemain dengan 6 pemain cadangan. Sebelum permainan dimulai, dilakukan
undian. Regu yang memenangkan undian berhak memilih menjadi regu
pemukul atau regu jaga. Pemukul diberi kesempatan memukul sebanyak 3
kali, jika pukulan pertama atau kedua baik, ia harus lari menuju base. Urutan
memukul sesuai dengan normor yang telah ditentukan. Pemukul di
belakangnya tidak boleh mendahului pemukul di depannya. Setiap base hanya
boleh diisi oleh satu pemain saja. Setiap regu pemukul berpindah base, regu
jaga boleh mematikan.
5) Cara mendapatkan angka yaitu setiap base yang dilewati pemain mendapat
angka 1. Jika dibakar atau terkena tik tidak mendapat nilai pada base itu. Jika
dapat kembali ke ruang tunggu dengan pukulan sendiri dan setiap base
selamat maka akan mendapat angka 6.

2.1.4 Karakteristik Perkembangan Gerak Anak Sekolah Lanjutan

2.1.4.1 Ukuran dan Bentuk Tubuh Anak Usia 12-20 Tahun

Menurut Sugiyanto dan Sudjarwo (1993:137), Ukuran badan untuk kedua
jenis kelamin pada masa adolesensi adalah kecil, meskipun ada kecenderungan
anak laki-laki sedikit lebih tinggi dan berat dibandingkan anak-anak perempuan.
Sedangkan pada awal masa adolesensi anak-anak perempuan lebih tinggi dan
lebih berat dari anak laki-laki sebagai awal dari kematangannya. Akan tetapi

20

keadaan tersebut tidak terlali lama setelah perubahan yang cepat terjadi pada anak
laki-laki pada masa adolesensi.Akhirnya anak laki-laki mengejar dan
mengungguli tinggi dan berat badan anak perempuan, demikian pula ukuran-
ukuran yang lain, seperti tinggi togok, panjang tungkai, lebar pundak, lebar
pinggul, ukuran lengan dan sebagainya mengikuti pertumbuhan tinggi dan berat
badan yang berlangsung secara cepat.

2.1.4.2 Perkembangan Aktivitas Motorik Kasar (Gross Motor Ability)

Perkembangan motorik dasar difokuskan pada ketrampilan yang biasa
disebut dengan ketrampilan motorik dasar meliputi jalan, lari, lompat, loncat, dan
ketrampilan menguasai bola seperti melempar, menendang, dan memantulkan
bola. Ketrampilan motor dasar dikembangkan pada masa anak sebelum sekolah
dan pada masa sekolah awal dan ini akan menjadi bekal awal untuk
mempraktikkan ketrampilan gerak yang efisien bersifat umum dan selanjutnya
akan diperlukan sebagai dasar untuk perkembangan ketrampilan motorik yang
lebih khusus yang semuanya ini merupakan satu bagian integral prestasi bagi anak
dalam segala umur dan tingkatan (Yanuar Kiram, 1992:42).

2.1.4.3 Perkembangan Aktivitas Motorik Halus (Fine Motor Activity)

Kontrol motorik halus telah didefinisikan sebagai kemampuan untuk
mengatur atau mengkoordinasi penggunaan bentuk gerakan mata dan tangan
secara efisien, tepat, dan adaptif. Perkembangan kontrol motorik halus atau
ketrampilan koordinasi mata dan tangan mewakili bagian yang penting,

21

perkembangan motorik secara total anak-anak dan secara jelas mencerminkan
kapasitas sistem saraf pusat untuk mengangkut dan memproses input visual dan
menterjemahkan input tersebut ke bentuk ketrampilan. Untuk mendapatkan
ketrampilan dengan baik, maka perilaku yang perlu dilakukan anak harus dapat
berinteraksi dengan praktik dan melakukan komunikasi terhadap objek sekolah
dan lingkungan rumah (Yanuar Kiram, 1992:43).

2.1.4.4 Perkembangan Gerak Pada Fase Adolesensi (12-20 Tahun)

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam penampilan gerak pada masa
adolesensi cenderung mengikuti perubahan-perubahan dalam ukuran badan,
kekuatan, dan fungsi fisiologis. Peredaan-perbedaan dalam penampilan
keterampilan gerak dasar antara kedua jenis kelamin semakin meningkat, anak
laki-laki menunjukkan peningkatan yang terus berlangsung,sedangkan anak
perempuan menunjukkan peningkatan yang tidak berarti, bahkan menurun setelah
umur menstruasi. Hal tersebut dapat dilihat dalam berbagai gerakan, seperti lari,
lompat jauh tanpa awalan, dan melempar jarak jauh.

Dalam pengembangan koordinasi gerak, anak laki-laki pada awal
pubertas mengalami perkembangan sedikit sekali, tetapi setelah masa itu
perkembangan makin cepat. Sedangkan mengenai keseimbangan dinamis selama
adolesensi menunjukkan adanya penurunan untuk kedua jenis kelamin.
Peningkatan yang mendatar (plateau) dialami oleh anak perempuan pada umur 12
sampai 14 tahun, sedangkan bagi anak laki-laki pada umur 14 sampai 16 tahun.

22

Kuantitas penampilan keterampilan masih terus meningkat selama masa
praadolesensi sampai adolensi untuk kedua jenis kelamin. Setelah masa adolesensi
perbedaan penampilan antara anak laki-laki dan perempuan mulai nampak, sedikit
dalam lari dan lompat, tetapi dalam hal kekuatan tubuh bagian atas, seperti
melempar perbedaanya sangat nyata. Perbedaan tersebut disebabkan terjadinya
peningkatan yang terhenti, bahkan mulai menurun pada anak perempuan,
sedangkan anak laki-laki terus meningkat.

2.1.5 Belajar Gerak

2.1.5.1 Pengertian Gerak

Gerak (motor) sebagai istilah umum untuk berbagai bentuk perilaku gerak
manusia, sedangkan psikomotor khusus digunakan pada domain mengenai
perkembangan manusia yang mencakup gerak manusia. Jadi, gerak ( motor) ruang
lingkupnya lebih luas dari pada psikomotor. Pengertian gerak dasar adalah
kemampuan untuk melakukan tugas sehari-hari yang meliputi gerak jalan, lari,
lompat, lempar (Ma’mun, 2000:20).

Menurut Amung Ma’mun dan Yudha M. saputra (2000:20), kemampuan
gerak dasar merupakan kemampuan yang biasa siswa lakukan guna meningkatkan
kualitas hidup. Kemampuan gerak dasar dibagi menjadi 3, yaitu :
1) Kemampuan lokomotor, digunakan untuk memindahkan tubuh dari satu

tempat ke tempat yang lain atau mengangkat tubuh ke atas seperti loncat dan
lompat.

23

2) Kemampuan non lokomotor, dilakukan di tempat tanpa ada ruang gerak yang
memadai, contoh mendorong, menarik, dll.

3) Kemampuan manipulatif lebih banyak melibatkan kemampuan tangan dan
kaki. Bentuk-bentuk kemampuan manipulatif antara lain melempar, memulkul,
menendang dan memukul.

2.1.5.2 Konsep Gerak

Konsep gerak dalam pendidikan jasmani dapat berupa sebuah label atau
nama suatu kelompok respon gerak, seperti menangkap, melempar, menunjuk
pada pola gerak tertentu yang biasanya ditemui pada softball, kasti, basket, atletik
dan sebagainya. Untuk mengenal label atau nama ini siswa akan dihadapkan pada
keharusan memahami ciri, jenis, serta syarat yang harus dipenuhi agar gerak itu
layak disebut sesuatu (Samsudin, 2008:27). Konsep gerak dalam pendidikan
jasmani.
2.1.5.2.1 Rangkaian aksi

Rangkaian aksi merupakan kategori atau penjenisan gerakan secara
luas yang mencakup respons khusus yang beragam. Istilah seperti keseimbangan
berpindah tempat, memukul, menerima atau berputar adalah rangkaian aksi yang
bersifat konsep, sebab aksinya dapat dilakukan dalam banyak cara dan dalam
situasi yang berbeda. Seorang anak akan dapat membuat keseimbangan pada satu
kaki, dua kaki, kedua tangan, atau kepala dan kedua lengan. Seorang anak dapat
berpindah tempat dengan berlari, melompat, merangkak, atau mengguling dan
berputar dengan menggunakan bagian tubuh yang berbeda (2008:27).

24

2.1.5.2.2 Kualitas gerak

Untuk melihat respons gerak adalah dengan mengorganisasikan ke dalam
kualitas gerak yang ditunjukannya. Kualitas gerak merupakan kelompok respons
yang mengandung kualitas tertentu dilihat dari beberapa aspek, seperti aspek
ruang, aspek usaha, aspek keterhubungan. Aspek usaha menunjukan adanya
kualitas waktu, bobot, ruang, dan aliran. Sedangkan aspek keterhubungan
menggambarkan hadirnya kesesuaian, kerja sama, dan keterkaitan. Konsep
kualitas gerak tadi berasal dari rumusan deskripsi analisis sistem gerak dari
Rudolf Laban yang melihat bahwa pada dasarnya gerakan selalu berkisar di antara
ketiga kualitas di atas. Dengan konsep kualitas, guru akan melihat bahwa siswa
dapat melakukan gerak yang lambat, cepat, tiba-tiba atau diatur
berkelanjutanmengikuti ketinggian, arah dan bidang tertentu (Samsudin, 2008:28).
2.1.5.2.3 Prinsip gerak

Prinsip gerak adalah pengelompokan konsep secara meluas yang
memasukan prinsip-prinsip yang mengatur efisiensi dan efektivitas gerak.
Gagasan tentang (1) hubungan antara pemindahan berat atau gerak lanjut dan
penghasil daya, dan (2) pengaruh putaran cepat pada sudut naik suatu benda, juga
ide yang dikaitkan dengan keseimbangan dan stabilitas, semuanya merupakan
prinsip gerak yang menjadi isi utama dari pembelajaran ini, siswa akan belajar
prinsip-prinsip mekanika gerak secara dini, yang berhubungan dengan titik berat
badan serta sumber-sumber daya dan hukuman-hukuman yang menunjang dan
sekaligus membatasinya.

25

2.1.5.2.4 Strategi gerak

Strategi gerak adalah konsep yang berhubungan dengan bagaimana
gerakan digunakan dalam kaitannya dengan benda atau orang lain. Dalam konsep
ini dimasukan gagasan tentang bagaimana memberikan operan pada penerima
yang sedang bergerak, menyesuaikan langkah dalam tarikan baik sebagai
pemimpin maupun yang mengikuti danmenetapkan diri secara defensif di antara
bola dan gawang. Strategi gerak adalah kemampuan menyesuaikan gerak yang
berhasil dilakukan seseorang ketika dirinya terlibat dalam kegiatan dengan orang
lain (2008:28).
2.1.5.2.6 Pengaruh gerak

Pengaruh gerak merupakan konsep yang dikaitkan dengan pengaruh
pengalaman gerak pada perilaku. Pengaruh latihan yang keras pada jantung dan
tipe latihan yang menghasilkan daya tahan, kekuatan, dan kelentukan merupakan
konsep pengaruh gerak. Ketika suatu pengarah gerak menjadi sebuah konsep yang
harus dipelajari, tujuannya adalah agar siswa mampu menerapkan konsep itu pada
pengalaman baru (Samsudin, 2008:29).
2.1.5.2.7 Emosi gerak

Emosi atau jiwa gerak merupakan suatu pengelompokan khusus dari
konsep yang berfokus secara khusus pada wilayah efektif dari perkembangan
manusia. Konsep emosi gerak dihubungkan dengan pengungkapan perasaan,
kenikmatan gerak, kerja sama kelompok, perasaan yang menggambarkan
mengapa orang bergerak, dan pengaruh gerak, dan pengaruh gerak dan emosi.

26

Ketika emosi gerakmenjadi sasaran utama pengajaran, tujuan guru adalah
mengembangkan beberapa aspek perasaan, sikap, atau hubungan sosial yang akan
beralih pada pengalaman gerak lain dan terutama pada perilaku siswa secara
umum. Tujuan yang menetap dari program pendidikan jasmani adalah sikap yang
positif terhadap semua kegiatan fisik dan pembelajaran. Emosi gerak sebagai
materi khusus pembelajaran harus berlangsung melintasi fokus utama dari
pembelajaran harus bersifat afektif dari pada bersifat psikomotor (2008: 29).

2.1.5.3 Belajar Gerak

Menurut Amung Ma’mun (2000:3), belajar gerak merupakan studi tentang
proses keterlibatan dalam memperoleh dan menyempurnakan keterampilan gerak
(motor skill). Keterampilan gerak sangat terikat dengan latihan dan pengalaman
individu yang bersangkutan. Belajar gerak khusus dipengaruhi oleh berbagai
bentuk latihan, pengalaman, atau situasi belajar pada gerak manusia.
Ada tiga tahapan dalam belajar gerak (motor learning) yaitu :
1) Tahapan verbal kognitif, tugasnya adalah memberikan pemahaman secara

lengkap mengenai bentuk gerak baru kepada peserta didik. Sebagai pemula,
mereka belum memahami mengenai apa, kapan, dan bagimana gerak itu
dilakukan. Oleh karena itu, kemampuan verbal kognitif sangat mendominasi
tahapan ini.
2) Tahapan gerak (motorik), fokusnya adalah membentuk organisasi pola gerak
yang lebih efektif dalam menghasilkan gerakan. Biasanya yang harus dikuasai

27

peserta didik pertama kali dalam belajar motorik adalah kontrol dan konsistensi
sikap berdiri serta rasa percaya diri.
3) Tahapan otomatisasi, setelah peserta didik banyak melakukan latihan, secara
berangsur-angsur memasuki tahapan otomatisasi. Disini motor program sudah
berkembang dengan baik dan dapat mengontrol gerak dalam waktu singkat.
Peserta didik sudah menjadi lebih terampil dan setiap gerakan yang dilakukan
lebih efektif dan efisien.

Pembelajaran gerak pada umumnya memiliki harapan dengan munculnya
hasil tertentu, hasil tersebut biasanya adalah berupa penguasaan keterampilan.
Keterampilan siswa yang tergambarkan dalam kemampuannya menyelesaikan
tugas gerak tertentu akan terlihat mutunya dari seberapa jauh siswa tersebut
mampu menampilkan tugas yang diberikan dengan tingkat keberhasilan tertentu.
Semakin tinggi tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas gerak tersebut
maka semakin baik keterampilan siswa tersebut (Amung Ma’mun, 2000:57).

2.1.6 Modifikasi Permainan

2.1.6.1 Modifikasi Pembelajaran Penjas

Penyelenggaraan program pendidikan jasmani hendaknya mencerminkan
karakteristik program pendidikan jasmani itu sendiri, yaitu, Developmentally
Appropriate Practice (DAP). Artinya adalah tugas ajar yang diberikan harus
memperhatikan perubahan kemampuan anak dan dapat membantu mendorong
perubahan tersebut. Dengan demikian tugas ajar tersebut harus sesuai dengan
tingkat perkembangan anak didik yang sedang belajar. Tugas ajar yang sesuai ini

28

harus mampu mengakomodasi setiap perubahan dan perbedaan karakteristik
setiap individu serta mendorongnya kearah perubahan yang lebih baik (Yoyo
Bahagia dan Adang Suherman 2000:1).

Modifikasi merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh para
guru agar pembelajaran salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh para guru agar
pembelajaran mencerminkan DAP. Oleh karena itu, DAP, termasuk di dalamnya “
body scaling” atau ukuran tubuh siswa, harus selalu dijadikan prinsip utama
dalam memodifikasi pembelajaran penjas. Esensi modifikasi adalah menganalisa
sekaligus menegembangkan meteri pembelajaran yang potensial dapat
memperlancar siswa dalam belajarnya. Cara ini dimaksudkan untuk menuntun,
mengarahkan, dan membelajarkan siswa dari yang tadinya tidak bisa menjadi
bisa, dari tingkat yang tadinya lebih rendah menjadi memiliki tingkat yang lebih
tinggi (Yoyo Bahagia dan Adang Suherman 2000:1).

Beberapa aspek analisa memodifikasi ini tidak terlepas dari pengetahuan
tentang:
1) Tujuan modifikasi pembelajaran dapat dikaitkan dengan tujuan pembelajaran

dari mulai tujuan yanng paling rendah sampai dengan tujuan yang paling
tinggi. Modifikasi tujuan perluasan yaitu tujuan perluasan maksudnya adalah
tujuan pembelajaran yang lebih menekankan pada perolehan pengetahuan dan
kemampuan melakukan bentuk atau wujud ketermpilan yang dipelajarinya
tanpa memperhatikan aspek afisiensi dan afaktivitas (Yoyo Bahagia dan
Adang Suherman, 2000:2).

29

2) Karakteristik meteri modifikasi pembelajaran dapat dikaitkan dengan
keterampilan yang dipelajarinya. Komponen ketrampilan (skill) yaitu materi
pembelajaran dalam kurikulum dasar merupakan ketrampilan-ketrampilan
yang akan dipelajari peserta didik. Guru dapat memodifikasi keterampilan
yang dipelajari peserta didik tersebut dengan cara mengurangi atau menambah
tingkat kompleksitas dan kesulitannya. Misalnya dengan cara menganalisis
dan membagi keterampilan keseluruhan ke dalam komponen-komponen lalu
melatihnya perkomponen sebelum melakukan latihan keseluruhan (Yoyo
Bahagia dan Adang Suherman, 2000:4).

3) Kondisi lingkungan modifikasi pembelajaran dapat dikaitkan dengan kondisi
lingkungan pembelajaran. Guru dapat mengurangi atau menambah tingkat
kompleksitas dan kesulitan tugas ajar dengan cara memodifikasi peralatan
yang di gunakan untuk melakukan skill. Misalnya: (1) ukuran, berat atau
bentuk peralatan yang digunakan (2) lapangan permainan (3) waktu permainan
atau lamanya permainan (4) peraturan permainan (5) jumlah pemain (Yoyo
Bahagia dan Adang Suherman, 2000:7).

4) Evaluasi evaluasi materi maksudnya adalah penyusunan aktivitas balajar yang
terfokus pada evaluasi skill yang sudah dipelajari peserta didik pada berbagai
situasi. Aktivitas evaluasi dapat merubah fokus perhatian peserta didik dari
bagaimana seharusnya suatu skill itu. Modifikasi evaluasi, terutama yang lebih
berorientasi pada hasil dapat meningkatkan penampilan peserta didik yang
sudah memiliki skill dan percaya diri yang memadai (Yoyo Bahagia dan
Adang Suherman, 2000:8).

30

2.1.6.2 Pengembangan dan Modifikasi Olahraga

Meskipun olahraga pada umumnya diterima sebagai alat pendidikan,
namun makin banyak pula para pendidik yang semakin kritis dan
mempertanyakan keberadaannya, misal: apakah permainan olahraga bermanfaat
bagi anak-anak? Bagaimana permainan olahraga diterapkan dan dikembangkan
bagi anak-anak? Hal ini yang melandasi perlunya modifikasi dan pengembangan
permainan dan olahraga (Yoyo Bahagia dan Adang Suherman, 2000:12).
Keuntungan dari pembelajaran permainan dan olahraga yaitu antara lain:
1) Menunjukkan kemampuan pada aneka ragam bentuk aktivitas jasmani
2) Menunjukkan penguasaan pada beberapa bentuk aktivitas jasmani
3) Memiliki kemampuan tentang cara mempelajari keterampilan baru
4) Menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ketrampilan gerak
5) Mengetahui aturan, strategi, dan prilaku yang harus dipenuhi pada aktivitas

jamani yang dipilih
6) Memahami bahwa aktivitas jasmani memberi peluang untuk mendapatkan

kesenangan, menyatakan diri pribadi, dan berkomunikasi
7) Menghargai hubungan dengan orang lain yang diperoleh dari partisipasi

dalam aktivitas jasmani (Yoyo Bahagia dan Adang Suherman, 2000:15).
Adapun tujuan memilih dan mengevaluasi modifikasi permainan dan

olahraga ini antara lain:
1) Mendorong partisipasi maksimal, apakah modifikasi itu dapat mendorong atau

meningkatkan partisipasi belajar peserta didik secara maksimal? Dua kriteria
yang sering digunakan dalam menjawab pertanyaan ini adalah: jumlah waktu

31

aktif belajar gerak dan kesempatan melakukan pengulangan dan apakah alat
yang digunakannya cukup tersedia.
2) Memperhatikan keselamatan, apakah modifikasi berikut peraturanya ini dapat
menjaga keamanan? Apakah semua peralatan yang digunakannya juga aman?
Apakah gerak yang diperlukan untuk melakukan permainan itu juga aman?
Keselamatan merupakan faktor penting dalam mengevaluasi permainan atau
modofikasinya. Hampir semua permainan mempunyai resiko terhadap
keselamatan. Namun, tingkat resiko keselamatan ini harus disesuaikan
dengan tingkat perkembangan anak. Demikian juga anak harus diajarkan
menjaga keselamatan bagi dirinya dan orang lain selama melakukan
permainan sesuai dengan tingkat perkembangan belajarnya (Yoyo Bahagia
dan Adang Suherman, 2000:39).
3) Mengajar efektivitas dan efisiensi gerak, apakah modifikasi itu dapat
meningkatkan efektivitas penggunaan skill dan strategi yang sudah dimiliki
anak? Usahakan agar memodifikasi permainan tidak hanya menyenangkan
tetapi juga mengajar anak bagaimana melakukan skill atau strategi secara
efektif. Memodifikasi permainan memang perlu menyenangkan dan mengajar
anak untuk belajar menaati peraturan serta belajar memainkan peraturanyang
berbeda-beda. Namun selain itu juga modifikasi permainan diharapkan dapat
mengajar gerak, misal: belajar mengendalikan gerakan tubuh, meningkatkan
evektivitas dan efesiensi gerak (Yoyo Bahagia dan Adang Suherman,
2000:39).

32

4) Meningkatkan perkembangan emosional sosial, permainan sangat potensial
dapat mempengaruhi perkembangan sosial dan emosial anak. Modifikasi
permainan diharapkan dapat meningkatkan perkembangan emosional dan
sosial anak ke arah positif. Permaian gugur, hukuman, yang pada akhirnya
peserta didik yang lamban yang akan gugur sebaiknya dihindarkan untuk
diberikan terlebih dini. Memdorong peserta didik yang termpil untuk menjadi
pemenang meman sangat penting, namum mendorong pemain atau team yang
kalah juga sama pentingnya. (Yoyo Bahagia-Adang Suherman 2000:39)

2.1.6.3 Permainan “Tembak Kaleng”

Model pengembangan yang akan dikembangkan adalah model
pengembangan permainan “Tembak Kaleng” sebagai alternatif variasi permainan
bola kecil untuk pembelajaran penjas pada siswa kelas VIII SMP N 2 Patebon
Kabupaten Kendal. Permainan ini diadopsi dari permainan olahraga bola kecil
beregu yaitu permainan rounders. Persamaan dan perbedaanya terletak pada:
1) Persamaan Permainan Tembak kaleng dengan Rounders. Prinsip permainan

ini adalah olahraga beregu bola kecil dimana regu yang paling banyak
mengelilingi lintasan dinyatakan sebagai pemenang. Jarak antar base sama-
sama memiliki panjang 15 meter. Seorang pemain bisa memperoleh poin di
setiap base yang bisa ditempuh. Cara mematikan lawan dilakukan dengan
cara disentuhkan/ take, dibakar/ burn dan strike out sebanyak 3 kali.Cara
take, tidak menggunakan glove seperti permainan softball/ baseball. Tiap-tiap
base hanya boleh diisi oleh satu orang pemain. Seorang pemain dinyatakan

33

keluar jika memasuki base yang sudah terisi. Change/ pergantian dari regu
jaga menjadi penyerang dan sebaliknya dilakukan jika sudah 3 pemain out/
keluar.
2) Perbedaan Permainan Tembak kaleng dengan Rounders adalah jumlah base
dalam rounders adalah 5 base, sedangkan Tembak Kaleng hanya memiliki 4
base. Bola yang digunakan dalam permainan rounders adalah bola softball,
sedangkan permainan tembak Kaleng menggunakan bola tonis yang
karakteristiknya lebih lunak. Cara memulai permainan dalam rounders adalah
pitching (bola dilempar kearah better oleh seorang pitcher dari jarak 9 m),
sedangkan dalam Tembak Kaleng dilakukan dengan cara pemain penyerang
meruntuh kan susunan kaleng dengan lemparan bola tonis dengan jarak 3m.
Jumlah pemain dalam rounders adalah 12 orang per regu, sedangkan Tembak
Kaleng berjumlah 8-10 orang per regu.

2.2 Kerangka Berpikir

kurikulum Penjasorkes sekolah menengah pertama (SMP) terdapat materi-
materi pembelajaran penjasorkes seperti atletik, senam, permainan bola besar,
permainan bola kecil dan lain-lain. Materi permainan bola kecil merupakan
optional atau pilihan yang dapat diajarkan menggunakan olahraga permainan bola
kecil seperti bulutangkis, tenis meja, tenis lapangan, softbal, rounders dll.
Permainan rounders adalah permainan yang banyak memiliki persamaan dalam
sarana prasarana dan peraturan dengan model permainan Tembak kaleng
merupakan media alternatif variasi permainan bola kecil dalam pebelajaran

34

Penjasorkes. Pembuatan produk ini harus sesuai dengan hakikat, tujuan dan
pelaksanaan pendidikan jasmani. Permainan ini sejatinya mengadopsi prinsip-
prinsip berupa peraturan permainan dan beberapa sarana prasarana dari permainan
rounders yang disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak usia SMP,
perkembangan gerak anak usia SMP serta prinsip-prinsip modifikasi penjas dan
olahraga.

Oleh karena itu, model pembelajaran permainan “Tembak Kaleng”
dikembangkan sebagai alternatif permainan bola kecil dalam pembelajaran
Penjasorkes di sekolah, khususnya siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Patebon
Kabupaten Kendal.

BAB III
METODE PENGEMBANGAN

3.1 Model Pengembangan

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang bertujuan
menghasilkan produk berupa model pembelajaran bola kecil bagi siswa Sekolah
Menengah Pertama (SMP). Menurut Borg dan Gall dalam Sugiyono (2009:9),
Penelitian dan pengembangan merupakan metode yang digunakan untuk
mengembangkan atau memvalidasi produk- produk yang digunakan dalam
pendidikan dan pembelajaran.

Langkah-langkah yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
tujuh langkah yang utama, yaitu :
1) Melakukan penelitian dan pengumpulan informasi, termasuk observasi

lapangan dan kajian pustaka. Langkah awal ini dilakukan untuk analisis
kebutuhan yang bertujuan untuk menentukan model pembelajaran dibuat
memang di butuhkan atau tidak.
2) Mengembangkan bentuk produk awal, berdasarkan analisis kebutuhan, maka
langkah selanjutnya adalah pembentukan produk model pembelajaran
pendidikan jasmani sesuai materi yang dikembangkan yang didasarkan pada
kajian teori.
3) Evaluasi produk awal yang sudah dibuat oleh para ahli, dengan menggunakan
seorang ahli pendidikan jasmani (gunakan dosen yang relevan dengan meteri
yang diteliti atau biasa menggunakan salah satu pembimbing yang ekspert

35

36

dibidangnya), dan dua orang ahli pembelajaran (gunakan guru pendidikan
jasmani yang memiliki pengalaman mengajar yang cukup). Setelah dilakukan
evaluasi oleh para ahli selanjutnya lakukan uji coba lapangan skala kecil
(gunakan siswa secukupnya dengan siswa sesuai kebutuhan materi), dengan
menggunakan lembar evaluasi dan kuisioner yang selanjutnya hasilnya
dianlisis.
4) Lakukan revisi produk pertama dari hasil evaluasi ahli dan uji coba lapangan
skala kecil yang dilakukan sebelumnya.
5) Uji coba lapangan skala besar dengan manggunakan model pembelajaran yang
sudah direvisi atau hasil uji coba lapangan skala kecil yang dilakukan
sebelumnya.
6) Revisi produk akhir, dilakukan berdasarkan evaluasi dan analisis uji coba
lapangan (melalui pengamatan dan diperlukan instrument baik pengamatan
maupun melalui angket siswa pengamat).
7) Hasil akhir produk model pembelajaran pendidikan jasmani yang dihasilkan
melalui revisi setelah uji coba lapangan skala besar.
3.2 Prosedur pengembangan

Langkah-langkah penelitian atau proses pengembangan ini terdiri atas
kajian tentang temuan penelitian produk yang akan dikembangkan,
mengembangkan produk berdasarkan temuan-temuan tersebut, melakukan uji
coba lapangan sesuai dengan latar di mana produk tersebut akan dipakai, dan
melakukan revisi terhadap hasil uji lapangan. Prosedur pengambangan pada


Click to View FlipBook Version