MITIGASI BENCANA Disusun : Septiani Ari Dwijayanti, S.Geo BAHAN AJAR GEOGRAFI SMA KELAS XI TAHUN 2023
3.7 Menganalisis jenis dan penanggulangan bencana alam melalui edukasi, kearifan lokal dan pemanfaatan teknologi modern 4.7 Membuat sketsa, denah, dan/atau peta potensi bencana wilayah setempat serta strategi mitigasi bencana berdasarkan peta tersebut fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Kompetensi Dasar
Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemik, dan wabah penyakit. Bencana sosial, adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakitbatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror Terjadinya peristiwa atau gangguan yang mengancam dan merusak (hazard). Peristiwa atau gangguan tersebut mengancam kehidupan, penghidupan, dan fungsi dari masyarakat. Ancaman tersebut mengakibatkan korban dan melampaui kemampuan masyarakat untuk mengatasi dengan sumber daya mereka. Bencana (disaster) adalah fenomena yang terjadi karena adannya pemicu, ancaman, dan kerentanan sehingga menimbulkan terjadinya risiko. Menurut Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Dalam Undang-undang No. 24 Tahun 2007 juga didefinisikan mengenai bencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial. 1. 2. 3. Selain itu definisi bencana seperti dipaparkan diatas mengandung tiga aspek dasar, yaitu: 1. 2. 3. Bencana dapat terjadi, karena ada dua kondisi yaitu adanya peristiwa atau gangguan yang mengancam dan merusak (hazard) dan kerentanan (vulnerability) masyarakat. Bila terjadi hazard, tetapi masyarakat tidak rentan, maka berarti masyarakat dapat mengatasi sendiri peristiwa yang mengganggu, sementara bila kondisi masyarakat rentan, tetapi tidak terjadi peristiwa yang mengancam maka tidak akan terjadi bencana. fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret A. BENCANA ALAM, BENCANA NONALAM, DAN BENCANA SOSIAL I. BENCANA ALAM DAN WILAYAH RAWAN BENCANA ALAM 1. PENGERTIAN BENCANA
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Bumi merupakan planet yang sangat dinamis yang dapat dikenali dari rotasi bumi pada porosnya, revolusi bumi mengelilingi matahari, pergerakan lempeng-lempeng tektonik bumi, arus laut di samudera, serta fenomena cuaca di atmofer. Berbagai fenomena dan lingkungan alam di buma saling berinteraksi dan hasilnya dapat mempengaruhi kehidupan makhluk hidup di bumi termasuk manusia. Interaksi antar fenomena pada litosfer, atmosfer, dan hidrosfer dapat menimbulkan dampak yang merugikan serta mengancam kehidupan manusia sehingga dikategorikan sebagai bencana alam. Bencana alam dipengaruhi oleh tenaga dari dalam bumi (endogen) dan tenaga dari luar bumi (eksogen). Pengelompokan jenis bencana alam berdasarkan penyebabnya sebagai berikut : 1) Bencana Alam Geologis a) Erupsi Gunungapi Merusak lingkungan sekitar Mengancam keselamatan penduduk Lava yang bercampur air hujan dapat menyebabkan bajir lahar Abu vulkanik menyebabkan terbatasnya pandangan dan sesak nafas Menyuburkan tanah Penyedia sumber daya mineral Sumber energi geotermal Menciptakan formasi geologi yang unik Biasanya ada tanda peringatan dan dapat diprediksi Dapat merusak struktur bangunan Aliran lava dapat mengakibatkan kebakaran Sebaran debu vulkanik dapat menjangkau areal yang luas Banjir lava dapat terjadi jika disertai hujan Indonesia berada di jalur gunungapi dunia yaitu Cincin Api Pasific (Pasific's Ring of Fire) yang menyebabkan Indonesia mempunyai banyak gunungapi aktif. Erupsi gunung api adalah bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah erupsi. Bahaya letusan gunung api dapat berupa awan panas, lontaran material (pijar), hujan abu lebat, gas racun, tsunami, dan banjir lahar. Dampak negatif erupsi gunung api yaitu : Dampak positif erupsi gunungapi yaitu : Karakteristik letusan gunung api adalah : 2. BENCANA ALAM, BENCANA NONALAM, DAN BENCANA SOSIAL a. Bencana Alam
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Tingkat status gunung berapi di Indonesia
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret No Status Tindakan 1. Awas Menandakan gunung berapi yang segera atau sedang meletus atau ada keadaan kritis yang menimbulkan bencana Letusan pembukaan dimulai dengan abu dan asap Letusan berpeluang terjadi dalam waktu 24 jam Wilayah yang terancam bahaya direkomendasikan untuk dikosongkan Koordinasi dilakukan secara harian Piket penuh. 2. Siaga Menandakan gunung berapi yang sedang bergerak ke arah letusan atau menimbulkan bencana Peningkatan intensif kegiatan seismik Semua data menunjukkan bahwa aktivitas dapat segera berlanjut ke letusan atau menuju pada keadaan yang dapat menimbulkan bencana Jika tren peningkatan berlanjut, letusan dapat terjadi dalam waktu 2 minggu Sosialisasi di wilayah terancam Penyiapan sarana darurat Koordinasi harian Piket penuh. 3. Waspada Ada aktivitas apa pun bentuknya Terdapat kenaikan aktivitas di atas level normal Peningkatan aktivitas seismik dan kejadian vulkanis lainnya Sedikit perubahan aktivitas yang diakibatkan oleh aktivitas magma, tektonik dan hidrotermal Penyuluhan/sosialisasi Penilaian bahaya Pengecekan sarana Pelaksanaan piket terbatas 4. Normal Tidak ada gejala aktivitas tekanan magma Level aktivitas dasar
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret b) Tanah Longsor Tanah longsor adalah salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran keduanya yang bergerak menuruni atau keluar lereng akibat tergantungnya kestabilan tanah ataupun batuan penyusun lereng. Longsor biasa terjadi saat musim hujan. Ketika hujan, air hujan meresap ke tanah dan membentuk bidang luncur yang mengakibatkan lapisan tanah bagian atas mudah tergelincir atau longsor. Pada daerah bebatuan yang tidak stabil mudah longsor karena faktor gravitasi. Faktor penyebab terjadinya gerakan pada lereng tergantung pada kondisi bantuan dan tanah penyusun lereng, struktur geologi, curah hujan, vegetasi penutup,dan penggunaan lahan pada lereng tersebut. Namun, secara garis besar dapat dibedakan sebagai faktor alam dan faktor manusia Munculnya retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing Biasanya terjadi setelah hujan Munculnya mata air baru secara tiba-tiba Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan Jika musim hujan biasanya air tergenang, menjelang bencana itu, airnya langsung hilang Pintu dan jendela yang sulit dibuka Runtuhnya bagian tanah dalam jumlah besar Pohon/tiang listrik banyak yang miring Halaman/dalam rumah tiba-tiba ambles Tanda-Tanda tanah longsor adalah : Kondisi geologi : batuan lapuk, kemiringan lapisan, sisipan lapisan batu lempung, strukutur sesar dan kekar, gempa bumi, stragrafi dan gunung berapi Iklim : curah hujan yang tinggi Keadaan topografi : lereng yang curam Keadaan air : kondisi drainase yang tersumbat, akumulasi massa air, erosi dalam, pelarutan dan tekanan hidrostatika Tutup lahan yang mengurangi tahan geser, misalnya tanah kritis Getaran yang diakibatkan oleh gempa bumi, ledakan, getaran mesin, dan getaran lalu lintas kendaraan. Faktor Manusia Pemotongan tebing pada penambangan batu di lereng yang terjal Penimbunan tanah urugan di daerah lereng Kegagalan struktur dinding penahan tanah Penggundulan hutan Budidaya kolam ikan diatas lereng Sistem pertanian yang tidak memperhatikan irigasi yang aman Pengembangan wilayah yang tidak di imbangi dengan kesadaran masyarakat, sehingga RUTR tidak ditaati yang akhirnya merugikan sendiri Sistem drainase daerah lereng yang tidak baik Faktor Alam
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret c) Gempa Bumi Gempa Vulkanik adalah gempa bumi yang disebabkan oleh letusan gunung berapi. Gempa Tektonik adalah gempa bumi yang terjadi karena pergerakan lempeng tektonik. Gempa runtuhan atau terban adalah gempa bumi yang disebabkan oleh tanah longsor, gua-gua yang runtuh, dan sejenisnya. Tipe gempa seperti ini hanya berdampak kecil dan wilayahnya sempit. Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi yang disebabkan oleh tumbukan atar lempeng bumi, patahan aktif, aktivitas gunung api atau runtuhan batuan. Berdasarkan penyebab terjadinya, gempa bumi dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu : Gempa bumi dalam adalah gempa bumi yang hiposentrumnya (pusat gempa) berada lebih dari 300 km di bawah permukaan bumi (di dalam kerak bumi). Gempa bumi dalam pada umumnya tidak terlalu berbahaya. Gempa bumi menengah adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada antara 60 km sampai 300 km di bawah permukaan bumi.gempa bumi menengah pada umumnya menimbulkan kerusakan ringan dan getarannya lebih terasa Gempa bumi dangkal adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada kurang dari 60 km dari permukaan bumi. Gempa bumi ini biasanya menimbulkan kerusakan yang besar. Berlangsung dalam waktu yang sangat singkat Lokasi kejadian tertentu Akibatnya dapat menimbulkan bencana Berpotensi terulang kembali Belum dapat di prediksi Tidak dapat dicegah tetapi akibat yang ditimbulkan dapat dikurangi Kekuatan getaran gempa diukur menggunakan seismograf dengan satuan ukur kekuatan gempa dinyatakan dalam Moment Magnitude (MM) dan Skala Richter (SR). Kekuatan gempa sangat dipengaruhi kedalaman pusat gempa, semakin dalam pusat gempa semakin kecil guncangannya begitu sebaliknya. Pusat gempa dipermukaan bumi yang getarannya menyebar kesegala arah disebut episenter. Titik gempa yang tepat di dalam bumi disebut hiposenter. Berdasarkan kedalamannya, gempa bumi dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu : Karakteristik gempa bumi adalah sebagai berikut :
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Satuan Ukur Kekuatan Gempa Sumber : indonesiabaik.id
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret d) Tsunami Tsunami berasal dari bahasa jepang yaitu tsu (pelabuhan) dan nami (gelombang). Secara harafiah berarti "ombak besar di pelabuhan". Tsunami dapat di artikan sebagai gelombang ombak lautan. Jadi, tsunami adalah serangkaian gelombang ombak laut raksasa yang timbul karena adanya pergeseran di dasar laut akibat gempa bumi. Gelombang tsunami bermula dari gerakan hebat lempeng bumi yang berpusat dangkal di dasar samudera. Pergerakan lempeng tersebut kemudian menunjam masuk ke dalam perut bumi, dan menyebabkan air laut surut dari bibir pantai, kemudian air laut yang terhempas masuk ke dalam patahan samudera tersebut akan menyeruak dan menggulung hebat menjadi gelombang raksasa setinggi belasan meter. Gelombang inilah yang ketika mencapai daratan dan menghempas apapun yang dilaluinya disebut sebagai gelombang tsunami. Kecepatan tsunami di tengah laut mencapai 500-1.000 km/jam dengan ketinggian 1 meter. Saat mendekati pantai, kecepatan gelombang menurun 30 km/jam dengan ketinggian gelombang bertambah hingga mencapai 30 meter. Kecepatan tsunami tergantung pada kedalaman laut dan percepatan gravitasi di tempat tersebut Ketinggian gelombang tsunami berbanding terbalik dengan kecepatan artinya jika kecepatan tsunami besar, maka ketinggian gelombang tsunami hanya beberapa puluh centimeter saja, sebaliknya untuk di daerah pantai, kecepatan tsunaminya kecil sedangkan ketinggian gelombangnya cukup tinggi bisa mencapai puluhan meter Tsunami memiliki karakteristik sebagai berikut :
Banjir Bandang adalah banjir besar yang terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung hanya sesaat yang yang umumnya dihasilkan dari curah hujan berintensitas tinggi dengan durasi (jangka waktu) pendek yang menyebabkan debit sungai naik secara cepat. Banjir bandang biasa terjadi di daerah dengan sungai yang alirannya terhambat oleh sampah. Banjir Hujan Ekstrim biasanya terjadi hanya dalam waktu 6 jam sesudah hujan lebat mulai turun. Biasanya banjir ini ditandai dengan banyaknya awan yang menggumpal di angkasa serta kilat atau petir yang keras dan disertai dengan badai tropis atau cuaca dingin. Banjir Luapan Sungai/Banjir Kiriman biasanya berlangsung dalam waktu lama dan sama sekali tidak ada tanda-tanda gangguan cuaca pada waktu banjir melanda dataran. Banjir luapan sungai/banjir kiriman terjadi setelah proses yang cukup lama. Banjir Pantai (ROB) disebabkan angin puyuh laut atau taifun dan gelombang pasang air laut. Banjir ini terjadi karena air dari laut meresap ke daratan di dekat pantai dan mengalir ke daerah pemukiman atau karena pasang surut air laut. Banjir ini biasanya terjadi di daerah pemukiman yang dekat dengan pantai. Banjir Hulu terjadi di wilayah sempit, kecepatan air tinggi, dan berlangsung cepat dan jumlah air sedikit. Banjir ini biasanya terjadi di pemukiman dekat hulu sungai. Terjadinya banjir ini biasanya karena tingginya debit air yang mengalir, sehingga alirannya sangat deras dan bisa berdampak destruktif. Kejadian dapat berlangsung lambat, cepat atau tanpa peringatan (banjir bandang) Terkait dengan musim Dampak merusak tergantung pada tinggi air, luas genangan, lamanya genangan, kecepatan aliran, material yang hanyut dan tingkat kepekatan/endapan lumpur Dapat mengakibatkan kerusakan struktur bangunan dan infrastruktur Dapat memutus akses dan mengisolasi masyarakat Karakteristik banjir antara lain sebagai berikut : fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret 2) Bencana Alam Hidrometeorologi Bencana alam hidrometeorologi adalah bencana alam yang disebabkan oleh adanya pengaruh gejala meteorologi seperti hujan, angin, dan kondisi udara. Fenomena-fenomena cuaca yang mempunyai potensi menimbulkan bencana, menghancurkan tatanan kehidupan sosial, atau yang menimbulkan korban jiwa manusia. Fenomena yang termasuk bencana alam hidrometeorologi antara lain : Banjir adalah peristiwa atau keadaan dimana terendamnya suatu daerah atau daratan karena volume air yang meningkat. Wilayah Indonesia memiliki potensi tinggi terhadap banjir karena letak Indonesia pada daerah tropis yang memungkinkan curah hujan yang tinggi setiap tahunnya. Banjir terjadi akibat sungai atau saluran air tidak mampu menampung limpasan air hujan. Daerah dataran rendah berpotensi terkena banjir. Banjir dapat disebabkan oleh faktor alam dan daktor manusia. Banjir di Indonesia terbagi menjadi beberapa jenis yaitu : a) Banjir
b) Badai Siklon Tropis adalah sistem angin pusaran yang biasanya terbentuk di lautan dengan rasius rata-rata sekitar 150 hingga 200 km. Siklon tropis terbentuk di atas lautan luas yang umumnya mempunyai suhu permukaan air laut hangat (lebih dari 26,5 derajat celcius). Siklon tropis mempunyai efek yang besar terhadap terjadinya angin kencang, hujan deras berjam-jam, bahkan berhari-hari yang dapat menakibatkan terjadinya banjir, gelombang tinggi, dan gelombang badai (storm surge). Siklon tropis dapat didefenisikan sebagai sistem tekanan rendah non frontal yang berskala luas, tumbuh diatas perairan hangat dengan wilayah perawanan konvektif, memiliki kecepatan angin maksimum mencapai 34 knot pada lebih dari setengah wilayah yang melingkari pusatnya, serta bertahan setidaknya 6 jam. Tornado adalah pusaran udara yang bergerak dengan kecepatan antara 72 sampai 400 km/jam. Pusaran tersebut berbentuk corong spiral. Tornado sangat berbahaya terutama karena mampu mengangkat benda benda besar, seperti bangunan dan pepohonan. Tornado dapat terbentuk dengan sangat cepat sehingga sulit diantisipasi. Meskipun tornado telah diamati di tiap benua kecuali Antartika, tornado lebih sering terjadi di Amerika Serikat. Tornado juga umumnya terjadi di Kanada bagian selatan, selatan-tengah dan timur Asia, timur-tengah Amerika Latin, Afrika Selatan, barat laut dan tengah Eropa, Italia, barat dan selatan Australia, dan Selandia Baru. Ciri-ciri datangnya tornado : - Langit terlihat hitam atau mendung - Terjadi hujan es di sekitar daerah (biasanya durasi 20-25 menit) - Setelah terjadi badai hujan maka suasana akan tenang namun langit semakin hitam gelap - Awan bergerak cepat sehingga mengitari daerah kita - Kemunculan tornado bisa didengar berawal suaranya seperti air terjun, namun lamalama berubah menjadi seperti suara jet yang sangat keras - Biasanya tornado bergerak dari barat daya ke timur laut, bergerak juga ke arah timur, tenggara, utara, bahkan barat laut fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Badai adalah fenomena alam yang disebabkan gangguan atmosfer yang dahsyat di darat dan air. Badai menjadi ancaman potensial utama bagi sebagian penduduk dunia karena prevalensinya, ukuran daerah yang hancur, dan skala kerusakan yang diakibatkannya. Beberapa jenis badai antara lain : Siklon Tropis Tornado
Angin Tornado dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat kerusakannya, karena kecepatannya relatif sulit dihitung, Klasifikasi level Tornado menggunakan Skala Fujita yaitu : fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret SKALA KATEGORI KETERANGAN F0 (0 - 73 mph) Kerusakan ringan Beberapa kerusakan pada cerobong asap Cabang yang patah dari pohon F1 (73 - 112 mph) Kerusakan sedang Kekuatannya sanggup memindahkan mobil serta menghancurkannya F2 (113 - 157 mph) Kerusakan berat Kekuatan nya cukup untuk menghancurkan mobil, mencabut pohon pohon besar dari akarnya, serta menerbangkan mobil F3 (158 - 206 mph) Kerusakan parah Kereta terbalik, Pohon-pohon tumbang, mobil mobil berukuran berat dilemparkan (contohnya truk dan bus), dinding- dinding rumah hancur F4 (207 - 260 mph) Kerusakan yang sangat parah Banyak bangunan hancur dan benda benda besar terlempar ke udara F5 (261 - 318 mph) Kerusakan yang sangat masi Mobil-mobil bisa terlempar lebih dari 100 meter dan bahkan bangunan bangunan besar ber pondasi kokoh pun bisa tersapu rata dengan tanah bila dilewati
c) Angin Puting Beliung fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Puting beliung adalah sebutan lokal untuk tornado skala kecil yang terjadi di Indonesia Angin puting beliung bergerak berputar seperti spiral selama 5-30 menit dengan kecepatan 60-90 km/jam dan menyapu wilayah sepanjang 5-10 km Angin puting beliung terjadi tiba-tiba sehingga sulit diprediksi lokasi kejadiannya Penyebab puting beliung adalah tekanan udara yang sangat besar pada skala lokal Munculnya angin puting beliung diawali dengan terbentuknya awan comulonimbus (CB) Angin puting beliung merusak wilayah yang dilakuinya
d) Kekeringan - Akibat Alamiah fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Rendahnya curah hujan rata-rata dalam satu musim Rendahnya pasokan air permukaan dan berkurangnya persediaan air tanah Konsumsi air secara besar-besaran oleh industri maupun individu Kerusakan wilayah tangkapan air dan sumber-sumber air Gagal panen Pengangguran Kelaparan Kebakaran hutan Kerusakan tanah Berjangkitnya wabah penyakit Kepunahan hewan dan tumbuhan Kekeringan adalah ketersediaan air yang jauh dibawah kebutuhan air untuk memenuhi kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi, dan lingkungan. Kekeringan dapat terjadi akibat beberapa faktor yaitu : Dampak kekeringan antara lain : Klasifikasi kekeringan berdasarkan penyebabnya yaitu : Kekeringan Meteorologis, berkaitan dengan tingkat curah hujan di bawah normal dalam satu musim. Pengukuran kekeringan meteorologis merupakan indikasi pertama adanya kekeringan Kekeringan Hidrologis, berkaitan dengan kekurangan pasokan air permukaan dan air tanah. Kekeringan ini diukur berdasarkan elevasi muka air sungai, waduk, danau, dan elevasi muka air tanah. Terdapat tenggang waktu mulai berkurangnya hujan sampai menurunnya elevasi muka air sungai, waduk, danau, dan elevasi muka air tanah. Kekeringan hidrologis bukan merupakan indikasi awal adanya kekeringan Kekeringan Pertanian, berhubungan dengan kekurangan lengas tanah (kandungan air dalam tanah), sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman tertentu pada periode waktu tertentu pada wilayah yang luas. Kekeringan pertanian ini terjadi setelah gejala kekeringan meteorologi Kekeringan Sosial Ekonomi, berkaitan dengan kekeringan yang memberi dampak terhadap kehidupan sosial ekonomi misalnya rusaknya tanaman, peternakan, perikanan, berkurangnya tenaga listrik dari tenaga air, terganggunya kelancaran transportasi air, dan menurunnya pasokan air baku untuk industri domestik dan perkotaan Kekeringan Hidrotopografi, berkaitan dengan perubahan tinggi muka air sungai antara musim hujan dan musim kering dan topografi lahan. - Akibat Manusia Kebutuhan air lebih besar daripada pasokan yang direncanakan akibat ketidaktaatan penguna terhadap pola tanam atau pola penggunaan air Kerusakan kawasan tangkapan air dan sumber-sumber air akibat perbuatan manusia
e) Kebakaran Hutan fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Kerusakan hutan Polusi udara Terjangkitnya wabah infeksi saluran pernapasan, gangguan penglihatan dan iritasi pada mata Menghambat aktivitas transportasi dan ekonomi Kebakaran hutan memengaruhi wilayah yang sangat luas. Contohnya kebakaran hutan yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan turut berdampak kepada penduduk di Singapura dan Malaysia Kebakaran hutan adalah peristiwa terbakarnya hutan, baik disebabkan proses alami maupun aktivitas manusia. Secara alami, kebakaran hutan umumya terjadi pada musim kemarau dan dapat disebabkan oleh sembaran petir, gas metana yang keluar dari singkapan batu bara di lahan gambut, dan lava pijar dari letusan gunung api. Kebakaran hutan juga dapat disebabkan oleh aktivitas manusia terutama dalam pembukaan lahan baru untuk ladang berpindah maupun perkebunan. Dampak yang diakibatkan oleh kebakaran hutan antara lain : 3) Bencana Alam Ekstraterestrial Bencana alam ekstraterestrial adalah bencana alam yang disebabkan gaya atau energi yang berasal dari luar bumi. Bencana ini terjadi karena asteroid, meteoroid, dan komet yang melintas di dekat bumi, memasuki atmosfer bumi, dan/atau menghantam bumi, dan oleh perubahan kondisi antarplanet yang mempengaruhi magnetosfer bumi, ionosfer, dan termosfer.
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Berdasarkan Undang-Undang 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, bencana nonalam adalah bencana yang disebabkan peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam. Contoh : Bencana sosial terjadi akibat perilaku manusia. Contoh : konflik sosial antar kelompok masyarakat dan teror. b. Bencana Nonalam c. Bencana Sosial Iklim mempengaruhi kesehatan penduduk di suatu wilayah Suatu penyakit mudah menyebar di wilayag pada iklim tertentu misalnya malaria berjangkit dan mudah menyebar di daerah tropis Wabah penyakit dapat menular dengan cepat pada masyarakat sehingga jumlah penderita meningkat melebihi keadaan normal Iklim mempengaruhi persebaran penyakit gangguan pernapasan seperti flu burung Epidemi/Pandemi dan Wabah Penyakit Pemanfaatan teknologi dalam kehidupan sehari-hari terkadang tidak sesuai harapan sehingga terkadang mengalami kegagalan Kegagalan teknologi adalah kejadian bencana yang disebabkan kesalahan desain, pengoperasian, kelalaian, dan kesengajaan manusia dalam penggunaan teknologi dan/atau alat industri Penyebabnya antara lain kebakaran, kesalahan desain keselamatan pabrik, kesalahan prosedur pengoperasian alat, kerusakan komponen peralatan pabrik, kebocoran reaktor nuklir, kecelakaan transportasi, sabotase atau perusakan akibat kerusuhan, serta dampak ikutan dari bencana alam Kegagalan Teknologi Gangguan suatu kelompok terhadap kelompok lain dapat menyebabkan konflik sosial Konflik sosial memicu suatu gerakan masal yang bersifat merusak tatanan sosial Kecemburuan sosial, budaya, dan ekonomi yang dikemas sebagai pertentangan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dapat menyebabkan konflik sosial Konflik sosial sering berawal dari adanya ketimpangan sosial, kemiskinan, kebohongan publik, penindasan, kecemburuan, fanatisme, dan prasangka subjektif terhadap suatu kelompok Konflik Sosial Terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teros atau rasa takut secara meluas Aksi terorisme dapat menimbulkan korban jiwa secara massal, kerusakan objek vital yang strategis, kerusakan lingkungan, kerusakan fasilitas publik maupun fasilitas internasionaldengan motif ideologi, politik, dan gangguan keamanan Terorisme
B. WILAYAH RAWAN BENCANA ALAM DI INDONESIA 1. PENGERTIAN DAERAH RAWAN BENCANA Telah kita pelajari bersama bahwa secara geologis Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng tekonik, yaitu lepeng Eurasia, lempeng Pasifik dan lempeng Indo-Australia dimana ketiga lempeng tersebut merupakan lempeng aktif yang saling bertumbukan. Kondisi seperti inilah yang menyebabkan potensi rawan bencana di wilayah Indonesia. Wilayah rawan bencana (hazard region) adalah suatu kawasan dipermukaan bumi yang rawan bencana alam akibat prose alam maupun non-alam. Kerawanan bencana (hazard vulnerability) adalah tingkat kemungkinan suatu objek bencana untuk mengalami gangguan akibat bencana alam. Perhitungan indeks rawan bencana Indonesia (IRBI) merupakan suatu perangkat analisis kebencanaan yang berbentuk indeks yang menunjukkan riwayat nyata kebencanaan yang telah terjadi dan menimbulkan kerugian. fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Tahukah kalian apa itu wilayah rawan bencana?
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Upaya untuk menanggulangi bencana alam ialah mengidentifikasi wilayah rawan bencana alam dengan cara memetakan wilayah rawan bencana dan risiko bencana. Prinsip dasar pemetaan wilayah rawan bencana alam antara lain : 1) Menganalisis jenis dan sebaran wilayah rawan bencana. 2) Mengkaji sejarah atau peristiwa bencana alam yang pernah terjadi sebelumnya. 3) Menentukan zona dan tingkat bahaya dalam bencana. 4) Menentukan elemen yang paling rawan terkena bencana alam. 5) Memperkirakan risiko kerusakan akibat bencana alam. 2. PERSEBARAN WILAYAH RAWAN BENCANA DI INDONESIA Sumber : BNPB Sumber : BNPB
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret a. Wilayah Rawan Gempa Wilayah Indonesia berada di perbatasan lempeng tektonik yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Batas pertemuan Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia yang membentuk garis memanjang di Semudera Hindia mulai dari barat Sumatera, selatan Jawa, selatan Nusa Tenggara hingga barat Papua. Tumbukan dua lempeng tektonik membentuk zona penunjaman (subduksi) yang merupakan sumber gempa sehingga gempa sering terjadi di wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Batas pertemuan Lempeng Pasifik dan Lempeng Eurasia tampak memanjang di utara Papua dan Maluku Utara. Selain itu, tampak garis-garis yang menunjukkan sesar batuan di wilayah Maluku, Maluku Utara, dan timur Sulawesi. Zona Subduksi dan sesar di wilayah tersebut menjadi sumber gempa di wilayah Papua, Maluku, dan Sulawesi Gambar Pertemuan Lempeng Tektonik di Indonesia Sumber : Roboguru Peta Kejadian Gempa di Indonesia Tahun 2020 Sumber : BNPB dan BMKG
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret b. Wilayah Rawan Tsunami Fenomena tsunami terjadi beriringan dengan fenomena gempa tektonik yang terjadi di dasar laut. Tsunami lebih sering dipicu aktivitas gempa tektonik dibanding longsor laut dan erupsi gunung api. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki pantai yang sangat panjang yang rawan bencana yang mengancam daerah pantai di Indonesia. Wilayah rawan tsunami berada di dekat garis pantai yang umumnya sejajar dengan garis tumbukan lempeng tektonik, dengan demikian wilayah rawan tsunami berdekatan dengan jalur gempa. Wilayah pantai yang berdekatan dengan jalur subduksi atau sesar rawan terjadinya tsunami. Tsunami juga bisa terjadi akibat adanya longsor laut dan erupsi gunung api. Indonesia pernah mengalami dua kejadian tsunami besar yaitu : Tsunami Selat Sunda (Update 14 Januari 2019) Sumber : BNPB 1) Tsunami vulkanik pada 27 Agustus 1883 yang diakibatkan erupsi Gunung Krakatau di Selat Sunda yang menyebabkan tsunami mencapai 40 meter. 2) Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 setelah gempa bermagnitudo 9,1 di dasar laut barat Aceh. Tsunmai jenis far field merambat hingga lebih dari 1.000 km. Dua jam setelah gempa tsunami yang bergerak ke barat menimbulkan gelombang setinggi 9 meter yang menghempas pantai timur India dan Sri Lanka. Tujuh jam setelah gempa, gelombang tsunami merambat lebih dari 3.000 km dan menghembas daratan di Tanduk Afrika.
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret c. Wilayah Rawan Erupsi Gunungapi Indonesia terletak di jalur junung api atau disebut Cincin Api Pasifik Cincin Api Pasifik adalah area di sekeliling Samudera Pasifikyang membentuk tapal kuda dan membentang sepanjang 40.000 km. Area tersebut memiliki 425 gunungapi atau 75 % gunungapi dunia. Sebanyak 23 dari 25 erupsi gunungapi terbesar di dunia pernah terjadi di area tersebut. Wilayah kepulauan Indonesai dilewati jalur Pegunungan Mediterania. Rangkaian gunungapi di Indonesia sejajar dengan batas tumbukan lempeng tektonik, adanya rangkaian gunungapi tersebut menyebabkan wilayah Indonesia rawan bencana erupsi gunungapi. Wilayah rawan bencana erupsi gunungapi meliputi Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Sulawesi. Pasific Ring of Fire Sumber : HowStuffWorks
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Peta Persebaran Gunungapi di Indonesia Sumber : magma.esdm.go.id Peta Persebaran Gunungapi di Indonesia Sumber : magma.esdm.go.id
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret d. Wilayah Rawan Longsor Wilayah Indonesia rawan longsor karena memiliki topografi berbukit-bukit dan bergununggunung. Pada daerah lereng bukit dan gunung yang terjal sering terjadi longsor terutama saat musim hujan. Wilayah rawan longsor beradi di sepanjang Pegunungan Bukit Barisan mulai dari Aceh sampai Lampung, Jawa bagian tengah dan selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Kalimantan bagian utara, dan Papua. Terjadinya bencana longsor dapat dipengaruhi adanya permukiman di lereng bukit dan perubahan penggunaan lahan oleh penduduk yang dapat mengakibatkan kerusakan lahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat tiga provinsi yang paling sering terjadi longsor yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Banten. Potensi longsor di Jawa Barat tersebar di Kabupaten Bogor, Purwakarta, Bandung, Sumedang, Cianjur, dan Sukabumi. Daerah perbukitan sering mengalami longsor yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti kemiringan lereng, curah hujan, dan rendahnya area tutupan lahan. Peta Wilayah Rawan Longsor Indonesia Sumber : www.cnnindonesia.com
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret e. Wilayah Rawan Banjir Daerah dengan topografi khusus misalnya kawasan dengan topografi cekungan Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan jalur aliran air alami menuju penampunagnnya Daerah banjir alami masih memiliki hubungan erat dengan tingkat elevaso yang lebih rendah dari permukaan laut. Tempat yang menjadi daerah banjir alami misalnya daerah rawa atau delta sungai Daerah perbukitan gundul, kurangnya vegetasi di perbukitan gundul membuat laju air hujan sulit terhambat dan akhirnya melaju tak terkendali. Bencana banjir yang mungkin terjadi bukan hanya banjir biasa melainkan banjir lumpur atau banjir bandang Daerah dengan sistem drainase buruk. Daerah dengan sistem drainase buruk menjadi berbahaya akibat ulah manusia. Biasanya daerah dengan sistem drainase buruk banyak ditemukan di kawasan perkotaan. Bahayanya semakin berlipat jika ditambah dengan terbatasnya daerah resapan air dan menumpuknya sampah pada saluran air akhirnya air tidak bisa masuk ke sistem drainase lalu berlari ke permukaan jalan dan pemukiman penduduk Kawasan tepi pantai, banjir di kawasan tepi pantai disebabkan oleh faktor alam seperti perubahan iklim, gerhana bulan, atau adanya badai tropis Kawasan muara sungai Daerah rawan bencana banjir antara lain : Peta Wilayah Rawan Banjir Indonesia Sumber : www.bmkg.go.id
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret f. Wilayah Rawan Kekeringan Peta Analisis InaRISK wilayah yang berpotensi terhadap bahaya kekeringan di Indonesia Tahun 2020 Sumber : BNPB g. Wilayah Rawan Puting Beliung Peta Kejadian Puting Beliung Indonesia 2022 Sumber : BNPB
No Bencana Daerah Persebaran 1 Letusan Gunung Api Bali, Banten, Bengkulu, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Maluku, Maluku Utara, NTB, NTT, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara 2 Tanah longsor Aceh, Bali, Bangka Belitung, Banten, Bengkulu, DI Yogyakarta, Gorontalo, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Lampung, Maluku, NTB, NTT, Papua, Papua Barat, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara 3 Gempa bumi Aceh, Bali, Banten, Bengkulu, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Lampung, Maluku, Maluku Utara, NTB, NTT, Papua, Papua Barat, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara 4 Banjir dan tanah longsor Aceh, Bali, Banten, Bengkulu, DI Yogyakarta, Gorontalo, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Lampung, Maluku Utara, NTB, Papua, Papua Barat, Riau, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara 5 Banjir Aceh, Bali, Bangka Belitung, Banten, Bengkulu, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Gorontalo, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kepulauan Riau, Lampung, Maluku, Maluku Utara, NTB, NTT, Papua, Papua Barat, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara 6 Tsunami Aceh, DI Yogyakarta, NTB, NTT, Papua, Sumatera Barat, Sumatera Utara fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Sebaran daerah bencana di Indonesia berdasarkan data dari DIBI (Data Informasi Bencana Indonesia) BNPB tahun 2016:
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret 7 Gelombang pasang dan abrasi Aceh, Bali, Banten, Bengkulu, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Lampung, Maluku, Maluku Utara, NTB, NTT, Papua, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Sumatera Utara 8 Puting beliung Aceh, Bali, Bangka Belitung, Banten, Bengkulu, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Gorontalo, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, Lampung, Maluku, Maluku Utara, NTB, NTT, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara 9 Kekeringan Aceh, Bali, Banten, Bengkulu, DI Yogyakarta, Gorontalo, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Lampung, Maluku, Maluku Utara, NTB, NTT, Papua, Papua Barat, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara 10 Kebakaran hutan dan lahan Banten, Bengkulu, Gorontalo, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kepulauan Riau, Lampung, NTB, NTT, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara 11 Kejadian Luar Biasa Aceh, Banten, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Lampung, Maluku, NTB, NTT, Papua Barat, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan 12 Aksi Teror Aceh, Bali, Banten, DKI JakartaJawa Barat, Jawa Timur, Maluku, Papua, Riau, Sulawesi Selatan 13 Konflik Sosial Aceh, Bali, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Lampung, Maluku, NTB, NTT, Papua, Papua Barat, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret A. SIKLUS PENANGGULANGAN BENCANA II. TINDAKAN MITIGASI BENCANA Menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang beresiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat dan rehabilitasi. Menurut Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana, rangkaian kegiatan penanggulangan bencana dapat digambarkan melalui siklus seperti pada gambar berikut. Berdasarkan gambar diatas, maka dapat diketahui bahwa dalam siklus bencana terdapat 3 (tiga) tahapan, antara lain : Tahap Pra Bencana, yaitu tahap yang dilaksanakan ketika tidak terjadi bencana dan terdapat potensi bencana; Tahap Saat Bencana, yaitu tahap yang diterapkan dan dilaksanakan pada saat sedang terjadi bencana, dan Tahap Pasca Bencana, yaitu tahap yang diterapkan setelah terjadi bencana. 1. 2. 3. Untuk memberikan gambaran lebih jelas dari ketiga tahapan tersebut, maka dibawah ini akan dijelaskan beberapa tindakan yang dapat dilakukan dari setiap tahapan pada siklus bencana.
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Kesiapsiagaan Peringatan dini, dilakukan untuk pengambilan tindakan cepat dan tepat untuk mengurangi resiko terkena bencana, serta mempersiapkan tindakan tanggap darurat. Mitigasi bencana, dilakukan untuk mengurangi resiko bencana bagi masyarakat yang berada pada kawasan rawan bencana. 2) Dalam situasi terdapat potensi terjadinya bencana a. b. c. Dalam situasi tidak terjadi bencana, penyusunan rencana penanggulangan bencana (disaster management plan) disusun. Secara garis besar proses penyusunan atau penulisan rencana peanggulangan bencana dapat dilihat pada skema berikut : 1. TAHAP PRA BENCANA Perencanaan penanggulangan bencana. Pencegahan dilakukan dengan cara mengurangi ancaman dan kerentanan pihak yang terancam bencana. Pemanduan dalam perencanaan pembangunan, dilakukan oleh pemerintah atau pemerintah daerah melalui koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi Persyaratan analisis resiko bencana Pelaksanaan dan penegakan tata ruang Pendidikan dan pelatihan serta persyaratan standar teknis penanggulangan bencana 1) Dalam situasi tidak terjadi bencana a. b. c. d. e. f.
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Tanggap darurat adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda dan pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, serta pemulihan prasarana dan sarana. Pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi, kerusakan, dan sumber daya untuk mengidentifikasi cakupan lokasi bencana, jumlah korban, kerusakan sarana prasarana, gangguan terhadap fungsi pelayanan umum dan pemerintah, dan kemampuan sumber daya alam maupun buatan. Penentuan status keadaan darurat bencana Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat meliputi: Rehabilitasi, melalui kegiatan perbaikan lingkungan daerah bencana, perbaikan sarana prasaran, bantuan perbaikan rumah, pemulihan sosial psikologis, pelayanan kesehatan, rekonsiliasi atau resolusi konflik, pemulihan sosial ekonomi budaya, pemulihan keamanan dan ketertiban, pemulihan fungsi pemerintah, dan pemulihan fungsi pelayanan publik. Rekonstruksi, dilakukan melalui kegiatan pembangunan yang lebih baik Penyelenggaraan penanggulagan bencana pada tahap pasca bencana meliputi: 1. 2. Penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana melalui upaya pencarian dan penyelamatan korban, pertolongan darurat, dan evakuasi korban Pemenuhan kebutuhan dasar meliputi: kebutuhan air bersih dan sanitasi, pangan, sandang, pelayanan kesehatan, pelayanan psikososial, dan penampungan serta tempat hunian Perlindungan terhadap kelompok rentan, yaitu dengan memberikan prioritas pada kelompok rentan berupa penyelamatan, evakuasi, pengamanan, pelayanan kesehatan, dan psikososial Pemulihan dengan segera sarana prasarana vital, dilakukan dengan memperbaiki atau mengganti kerusakan akibat bencana 2. TAHAP SAAT BENCANA (TANGGAP DARURAT) 3. TAHAP PEMULIHAN PASCA BENCANA Pengetahuan tentang mitigasi bencana sangatlah penting untuk menghadapi bencana, sebab melalui pemahaman yang tepat akan tindakan mitigasi, maka dapat meminimalisasi risiko bencana. Adapun bentuk tindakan dalam setiap tahapan mitigasi, dapat disesuaikan dengan jenis bencana yang terjadi, antara lain sebagai berikut :
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret PRINSIP - PRINSIP DALAM PENANGGULANGAN BENCANA Cepat dan tepat Prioritas Koordinasi dan keterpaduan Berdaya guna dan berhasil guna Transparansi dan akuntabilitas Kemitraan Pemberdayaan Nondiskriminatif Nonproletisi (dilarang menyebarkan agama atau keyakinan) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 terdapat prinsip-prinsip dalam penanggulangan bencana yaitu sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. TUJUAN PENANGGULANGAN BENCANA Memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana Menyelaraskan peraturan perundang-undangan yang sudah ada Menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh Menghargai budaya lokal Membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta Mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan, kedermawanan Menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Penanggulangan bencana bertujuan untuk: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret B. MITIGASI BENCANA Jenis-jenis mitigasi bencana yaitu : 1. Mitigasi Struktural Pembuatan waduk untuk mencegah banjir Pembuatan alat pendeteksi aktivitas gunung berapi Pembuatan early warning sistem untuk memprediksi gelombang tsunami Pembuatan bangunan tahan bencana atau bangunan dengan struktur yang direncanakan sedemikian rupa sehingga mampu bertahan dan tidak membahayakan para penghuninya jika bencana terjadi sewaktu-waktu Mitigasi struktural adalah upaya dalam meminimalkan bencana dengan membangun berbagai prasarana fisik menggunakan teknologi. Contoh : 2. Mitigasi Nonstruktural Undang-Undang Penanggulangan Bencana Pembuatan tata ruang kota, atau aktivitas lain yang berguna bagi penguatan kapasitas warga Mitigasi non struktural adalah suatu upaya dalam mengurangi dampak bencana melalui kebijakan dan peraturan. Contoh :
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret 1) Pra Bencana a. Gempa Menyiapkan rencana untuk penyelamatan diri apabila gempa bumi terjadi Melakukan tindakan yang dapat bermanfaat dalam menghadapi reruntuhan saat gempa, seperti menunduk, melindungi kepala, berpegangan, dan bersembunyi dikolong meja Menyiapkan alat pemadam kebakaran, alat keselamatan standar dan persediaan obat-obatan Membangun konstruksi rumah yang tahan terhadap guncangan gempa bumi dengan fondasi yang kuat. Selain itu, anda bisa merenovasi baguan bangunan yang sudah rentan, dan Memperhatikan daerah rawan gempa bumi dan aturan seputar pengguna lahan yang di keluarkan oleh pemerintah 2) Saat Bencana Ketika Didalam Ruangan Jauhi gelas, jendela, atau apa pun yang mungkin memjatuhi Anda. Tetap di tempat tidur apabila terjadi gempa, lindungi kepala Anda dengan bantal. Apabila ada kemungkinan benda berat akan menimpa Anda, segera menuju ke sisi terdekat yang aman. Tetap di dalam ruang hingga guncangan berhenti, dan keluarlah ketika sudah aman. Penelitian menunjukkan bahwa banyak orang terluka karena mereka berusaha untuk menuju ke lokasi yang berbeda atau berusaha ke luar bangunan. Waspadai segala kemungkinan yang timbul akibat arus pendek. Jangan menggunakan lift. Merunduk hingga menyentuh lantai; cari perlindungan di bawah meja atau perabot lain yang kuat; dan tunggu hingga guncangan berhenti. Apabila tidak ada meja atau perabot untuk berlindung, lindungi kepala anda dengan lengan kemudian merayap menuju ruangan. Ketika Diluar Ruangan Tetaplah di luar Jauhi dari gedung, lampu jalan, atau jaringan berkabel. Ketika di luar, tetaplah di luar hingga guncangan berhenti. Bahaya paling besar berada langsung di luar bangunan; pada pintu keluar, exterior sepanjang dinding luar
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Ketika Didalam Kendaraan Menepi dan berhenti segera. Tetap tinggal di dalam kendaraan. Hindari berhenti di dekat atau di bawah bangunan, pohon, jembatan, atau pun jaringan berkabel. Lanjutkan berkendara setelah gempa berhenti. Hindari jalan, jembatan, atau halangan yang telah rusak akibat gempa Siaga kemungkinan yang terjadi setelah gempa Dengarkan radio atau televisi yang bisa diakses Gunakan telpon untuk panggilan darurat Jauhi area yang hancur Bantu korban luka atau yang terjebak Bersihkan cairan yang berbahaya. Tinggalkan lokasi yang berbau cairan berbahaya seperti gas atau cairan kimia Periksa beberapa peralatan, seperti kebocoran gas atau kebakaran, kerusakan listrik. dan kerusakan tempat pembuangan kotoran dan saluran pipa Ketika Terjebak Didalam Reruntuhan Jangan menyalakan api Jangan bergerak atau apa pun yang menimbulkan debu Tutupi mulut Anda dengan sapu tangan atau kain Munculkan suara pada pipa atau dinding sehingga tim SAR dapat mencari posisi Anda. Gunakan peluit apabila tersedia. Berteriak adalah jalan terakhir yang dapat dilakukan, tapi hal ini dapat menyebabkan akan menghirup debu 3) Pasca Bencana b. Tsunami 1) Pra Bencana Mengetahui tanda-tanda akan terjadinya tsunami setelah gempa, seperti gempa lama dan terasa kuat, air laut surut, bunyi gemuruh dari tengah laut, dan banyak ikan menggelempar dipantai yang airnya surut Memantau informasi dari berbagai media resmi mengenai potensi tsunami setelah gempa Berlari ketempat yang lebih tinggi dan berdiam diri ditempat itu untuk sementara waktu setelah gempa besar mengguncang Menjauhi pantai setelah gempa besar atau air surut tiba - tiba Mengetahui tingkat kerawanan tempat tinggal terhadap bahaya tsunami dan jalur evakuasi tercepat kedaerah lebih tinggi 2) Saat Bencana Setelah gempa mengguncang rumah, jangan berupaya merapikan kondisi rumah. Waspada gempa susulan. Jika berada di rumah, usahakan tetap tenang dan segera bimbing keluarga untuk menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi dan aman.
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Tidak semua gempa memicu tsunami. Jika mendengar sirine tanda bahaya atau pengumuman akan terjadi tsunami, Anda perlu segera menjauhi daerah pantai. Perhatikan peringatan dan arahan dari pihak berwenang dalam proses evakuasi. Jika telah mencapai tempat tinggi, bertahanlah di sana karena gelombang tsunami kedua dan ketiga biasanya lebih besar dari gelombang pertama. Dengarkan informasi dari pihak berwenang melalui radio atau alat komunikasi lainnya. Jangan kembali sebelum keadaan dinyatakan aman oleh pihak berwenang. Tsunami tidak datang sekali, tetapi dapat sampai lima kali. Sebelum ada pengumuman kondisi telah aman dari pihak berwenang, jangan meninggalkan tempat evakuasi karena gelombang yang datang berikutnya sering lebih tinggi dan berbahaya. Hindari jalan melewati jembatan atau di dekat sungai. Anda dianjurkan untuk melakukan evakuasi dengan berjalan kaki. Jika Anda melakukan evakuasi dengan kendaraan dan terjadi kemacetan, segera kunci dan tinggalkan kendaraan serta melanjutkan evakuasi dengan berjalan kaki. Jika Anda berada di kapal/perahu yang tengah berlayar, upayakan untuk tetap berlayar dan jangan mendekati pantai/pelabuhan. Utamakan keselamatan diri, bukan barang. Waspada terhadap instalasi listrik dan pipa gas. Setelah keadaan dinyatakan aman oleh pihak berwenang, Anda dapat kembali ke rumah. Jauhi area tergenang dan rusak hingga ada informasi aman dari pihak berwenang. Hindari air menggenang yang mungkin ada kontaminasi zat berbahaya dan aliran listrik. Hindari air mengalir karena arusnya dapat membahayakan Anda. Hindari area bekas genangan agar tidak terperosok atau terjebak dalam kubangan. Jauhi reruntuhan di genangan air karena memengaruhi keamanan orang-orang di sekitar. Bersihkan sarang nyamuk dan serangga lainnya. Berpartisipasi dalam pemberian kapur ke sumber air bersih, serta perbaikan jamban dan saluran pembuangan air limbah. Hindari lokasi yang masih terkena bencana, kecuali pihak berwenang membutuhkan relawan. 3) Pasca Bencana Tetap di luar rumah yang masih dikelilingi genangan air. Hati-hati terhadap ancaman kerusakan rumah yang tidak tampak, seperti kerusakan fondasi, saat memasuki rumah. Mencuci tangan dengan sabun dan air bersih apabila terkena air genangan tsunami. Buang makanan yang terkontaminasi air genangan. Pantau informasi kondisi air, serta tempat mendapatkan bantuan tenda darurat, pakaian, dan makanan. Jika Anda terluka, segeralah menuju pos kesehatan terdekat untuk mendapat perawatan.
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret c. Erupsi Gunungapi 1) Pra Bencana Memperhatikan pengumuman dari pihak berwenang dan perkembangan aktivitas gunungapi Menyiapkan masker dan kacamata pelindung untuk mengatasi gangguan debu vulkanik Mengetahui jalur evakuasi dan shelter yang telah disiapkan oleh pihak berwenang Menyiapkan skenario evakuasi lain apabila dampak erupsi meluas diluar prediksi ahli Menyiapkan dukungan logistik, seperti makanan siap saji, lampu senter dan baterai cadangan, serta uang tunai yang cukup dan obat - obatan khusus sesuai pemakai. 2) Saat Bencana Tidak berada dilokasi yang diimbau dikosongkan oleh pihak berwenang Menjauhi lembah atau sungai yang berhulu didaerah gunung Mengenakan masker atau kain basah untuk menutup mulut dan hidung Mengenakan kacamata pelindung Jangan memakai lensa kontak Menghindari tempat terbuka. Lindungi diri dari abu vulkanik Mengenakan pakaian tertutup yang melindungi tubuh, seperti baju lengan panjang, celana panjang, dan topi. 3) Pasca Bencana Mengurangi paparan abu vulkanik Menghindari mengendarai sepeda motor/ mobil di daerah hujan abu vulkanik karena merusak mesin Membersihkan atap dari timbunan abu vulkanik karena bebannya dapat merobohkan atap dan merusak atap rumah atau bangunan Mewaspadai wilayah aliran sungai yang berpotensi terjadi banjir lahar pada musim hujan d. Tanah Longsor 1) Pra Bencana Mengenali daerah rawan longsor Mengurangi keterjalan lereng Menghindari air meresap kedalam lereng dengan drainase yang baik Menghindari pembangunan permukiman dan fasilitas utama didaerah rawan longsor Terasering dengan sistem drainase yang tidak meresapkan air ke tanah Penghijauan dengan tanaman berakar dalam dan jarak tanam yang tepat, serta dibagian dasar ditanami rumput Mendirikan bangunan dengan fondasi kuat Melakukan pemadatan tanah disekitar perumahan Membuat tanggul penahan runtuhan batuan (rock fall)
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Menutup rekahan dilereng bagian atas agar masuknya air ke tanah lebih lambat Menanami lahan gersang dengan tanaman berakar kuat, banyak, dan dalam Tidak mendirikan bangunan permanen di daerah tebing dan tanah bergerak Membuat selokan yang kuat untuk mengalirkan air hujan Waspada terhadap curah hujan tinggi Tidak menggunduli hutan dan menebang pohon sembarangan 2) Saat Bencana Segera melakukan evakuasi dengan menjauhi suara gemuruh atau datangnya longsoran Jika mendengar suara sirine peringatan longsor, segera evakuasi kearah zona evakuasi yang telah ditentukan 3) Pasca Bencana Hindari daerah longsor karena kondisi tanah yang labil Jika hujan turun setelah terjadi longsor, antisipasi longsor susulan e. Banjir 1) Pra Bencana Mengetahui istilah peringatan bahaya banjir, seperti Siaga I hingga Siaga IV dan langkah-langkah yang harus dilakukan. Mengetahui tingkat kerentanan tempat tinggal terhadap kejadian banjir. Mengetahui cara-cara melindungi rumah dari banjir. Mengetahui saluran dan jalur air banjir yang mungkin berdampak terhadap rumah. Memahami rute evakuasi dan daerah yang lebih tinggi untuk persiapan evakuasi. Membicarakan dengan anggota keluarga mengenai ancaman banjir dan tempat pertemuan jika anggota keluarga terpencar-pencar. Mengetahui jenis bantuan yang akan diberikan jika ada anggota keluarga yang kebanjiran. Mengetahui kebutuhan khusus anggota keluarga dan tetangga jika terjadi banjir. Membuat persiapan untuk hidup mandiri sekurangnya tiga hari, seperti tas siaga bencana serta makanan dan air minum. Mengetahui cara mematikan air, listrik, dan gas. Mempertimbangkan untuk mengikuti asuransi banjir. Membuat catatan kepemilikan harta, memfoto, dan menyimpannya di tempat aman. Menyimpan berbagai dokumen penting di tempat yang aman. Menghindari pembangunan rumah di daerah rawan banjir, kecuali ada upaya penguatan dan peninggian bangunan. Memperhatikan berbagai instrumen listrik yang membahayakan saat bersentuhan dengan air banjir. Melibatkan diri dalam pendistribusian bantuan. Turut serta mendirikan tenda pengungsian dan pembuatan dapur umum. Menggunakan air bersih dengan efisien.
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret 2) Saat Bencana Jika terjadi banjir, segera lakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Waspada terhadap arus bawah, saluran air, kubangan, dan tempat yang tergenang air. Mengetahui risiko banjir dan banjir bandang di daerah tempat tinggal. Contohnya, banjir bandang dapat terjadi dengan atau tanpa peringatan. Jika harus melakukan evakuasi, pastikan keamanan rumah. Jika masih tersedia waktu, tempatkan perabot di luar rumah atau di tempat yang aman dari banjir. Barang yang lebih berharga diletakkan di bagian yang lebih tinggi di dalam rumah. Matikan semua jaringan listrik apabila mendapat perintah dari pihak berwenang. Cabut kabel catu daya peralatan yang terhubung listrik. Jangan menyentuh peralatan yang bermuatan listrik apabila Anda berada di genangan air. Jika menerima perintah evakuasi dan harus meninggalkan rumah, Anda jangan berjalan di arus air karena dapat jatuh. 3) Pasca Bencana Membersihkan rumah, menggunakan antiseptik, terutama bagian lantai Menyediakan air bersih untuk mencegah penyakit seperti diare Mewaspadai munculnya hewan berbisa atau hewan penyebar penyakit Mewaspadai terjadinya banjir susulan Jika harus berjalan di genangan air, berjalanlah pada pijakan yang tidak bergerak. Gunakan tongkat atau sejenisnya untuk mengecek kekerasan tempat Anda berpijak. Jika Anda harus berjalan di air, berjalanlah pada pijakan yang tidak bergerak. Gunakan tongkat atau sejenisnya untuk mengecek kepadatan tempat Anda berpijak. Jangan mengendarai mobil di wilayah banjir. Jika berada di dalam mobil dan air mulai naik, segera keluarlah dari mobil dan menuju tempat lebih tinggi. Anda dan mobil dapat hanyut oleh arus banjir apabila tidak segera keluar mobil. Siapkan air di penampungan untuk persediaan apabila kehabisan air bersih. Waspada terhadap saluran air yang mungkin akan dilalui arus deras banjir bandang yang sering terjadi tiba-tiba. f. Kekeringan 1) Pra Bencana Menjaga sumber air (mata air). Menggunakan air dengan bijak, seperti menutup keran air setelah digunakan. Tidak merusak hutan/kawasan cagar alam. Membuat waduk (embung) secara bersama-sama untuk menampung air hujan. Memanfaatkan mulsa (material penutup tanah untuk menjaga kelembapan tanah) pada kegiatan pertanian. Membuat penampung (tandon) air hujan di rumah.
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret 2) Saat Bencana Melapor dan meminta bantuan air bersih pada pihak berwenang. Mengatur jadwal penggunaan air yang tersisa. Melaksanakan pembuatan hujan buatan. Menyimak informasi terkini dari radio, televisi, media online, dan sumber informasi resmi pemerintah. 3) Pasca Bencana Membuat sumur resapan/biopori. Membuat waduk atau bendungan untuk menampung air hujan. g. Angin Puting Beliung 1) Pra Bencana Membuat rumah/ bangunan yang kukuh Meningkatkan pengetahuan tentang angin puting beliung dan cara penyelamatan diri Memperhatikan tanda - tanda terjadinya angin puting beliung, seperti udara terasa panas, kemudian munculnya awan gelap yang berlangsung hingga sore hari 2) Saat Bencana Membawa masuk barang - barang ke dalam rumah agar tidak terbawa angin Menutup jendela dan pintu Mematikan semua aliran listrik dan peralatan elektronik Jika akan ada petir menyambar, segera membungkuk, duduk, dan peluk lutut ke dada Jangan tiarap diatas tanah Menghindari bangunan tinggi, seperti tiang listrik dan papan reklame Segera masuk ke rumah atau bangunan yang kukuh Jangan berlindung dibawah pohon besar
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret 3) Pasca Bencana Memastikan tidak ada anggota keluarga yang cedera Jika ada korban, segera berikan pertolongan darurat Jika ada kerusakan yang berhubungan dengan listrik, gas, atau kerusakan lain, segera melaporkan kepada pihak yang berwenang Jika puting beliung terjadi saat Anda dalam perjalanan, teruskan kembali dengan berhati - hati
Memberikan pedoman dan pengarahan terhadap usaha penanggulangan bencana yang mencakup pencegahan bencana, penanganan tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi secara adil dan setara Menetapkan standardisasi dan kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan bencana berdasarkan peraturan perungang-undangan Menyampaikan informasi kegiatan penanggulangan bencana kepada masyarakat; Melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada presiden setiap sebulan sekali dalam kondisi normal dan setiap saat dalam kondisi tanggap darurat Menggunakan dan mempertanggungjawabkan sumbangan/bantuan nasional dam internasional Mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang diterima dari APBN Melaksanakan kewajiban lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan Menyusun pedoman pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Perumusan dan penetapan kebijakan penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dengan bertindak cepat dan tepat serta aktif dan efisien; dan Pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu dan menyeluruh. Dibawah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang melaksanakan tugas penanggulangan bencana di seluruh Indonesia ada Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) yang melaksanakan tugas penanggulangan bencana di daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/ Kotadengan berpedoman pada kebijakan yang ditetapkan oleh Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana. BPBD dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008. Tugas BNPB sebagai berikut : Fungsi BNPB sebagai berikut : fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Kelembagaan penanggulangan bencana alam yang di bentuk mempunyai tujuan dan fungsi yang berkaitan erat yaitu upaya untuk mengurangi timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Namun, lembaga tersebut ada tugas khusus sesuai bidang masing- masing sebagai berikut : 1) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) III. LEMBAGA PENANGGULANGAN BENCANA DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MITIGASI BENCANA A. LEMBAGA PENANGGULANGAN BENCANA
Menetapkan pedoman dan pengarahan sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana terhadap usaha penanggulangan bencana mencakup pencegahan bencana, penanganan darurat, rehabilitasi, serta rekonstruksi secara adil dan merata Menetapkan standarisasi serta kebutuhan penyelenggaraan penanggulangan bencana berdasarkan peraturan perundang-undangan Menyusun, menetapkan dan menginformasikan peta rawan bencana Menyusun dan menetapkan prosedur tetap penanganan bencana Melaksanakan penyelenggaraan penanggulangan bencana pada wilayahnya Melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada kepala daerah setiap bulan dalam kondisi normal dan setiap saat dalam kondisi darurat bencana Mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang diterima dari anggaran pendapatan dan belanja daerah Melaksanakan kewajiban lain sesuai peraturan perundang-undangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah adalah badan pemerintah daerah yang melakukan penanggulangan bencana di daerah. Badan ini dibentuk oleh pemerintah daerah melalui koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Badan Penanggulangan Bencana Daerah memiliki tugas: fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret 2) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) 3) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) PVBMG adalah salah satu unit dilingkungan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral bertugas melaksanakan perumusan kebijaksanaan, bimbingan teknis dan evaluasi di bidang Vulkanologi dan mitigasi bencana alam geologi. Lembaga ini bertujuan pengelolaan informasi potensi kegunungapian dan pengelolaan mitigasi bencana alam geologi, sedangkan misi yang di emban adalah meminimalisasi korban jiwa dan kerugian harta benda dari bencana geologi.
BASARNAS atau Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan adalah lembaga pemerintah nonkementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Pencarian dan Pertolongan. Pencarian dan pertolongan adalah segala usaha dan kegiatan mencari, menolong, menyelamatkan, dan mengevakuasi manusia yang menghadapi keadaan darurat dan/atau bahaya dalam kecelakaan, bencana, atau kondisi membahayakan manusia. Tugas dan fungsi SAR adalah penanganan musibah pelayaran dan atau penerbangan, dan atau bencana dan atau musibah lainnya dalam upaya pencarian dan pertolongan saat terjadinya musibah. fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret 4) Badan SAR Nasional (BASARNAS) 5) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) adalah Lembaga Pemeintah Non Kementerian (LPNK) di Indonesia yang bertugas melaksanakan tugas pemerintah di bidang meteorologi (cuaca), klimatologi (iklim), kualitas udara, dan geofisika sesuai dengan perundangundangan yang berlaku. BMKG mempunyai tugas yaitu melaksanakan tugas pemerintahan di bidang Meteorologi, Klimatologi, Kualitas Udara dan Geofisika sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Perumusan kebijakan nasional dan kebijakan umum di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika Perumusan kebijakan teknis di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika Koordinasi kebijakan, perencanaan dan program di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika Pelaksanaan, pembinaan dan pengendalian observasi, dan pengolahan data dan informasi di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika Pelayanan data dan informasi di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika Penyampaian informasi kepada instansi dan pihak terkait serta masyarakat berkenaan dengan perubahan iklim Penyampaian informasi dan peringatan dini kepada instansi dan pihak terkait serta masyarakat berkenaan dengan bencana karena factor meteorologi, klimatologi, dan geofisika Pelaksanaan kerja sama internasional di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika Pelaksanaan penelitian, pengkajian, dan pengembangan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika Pelaksanaan, pembinaan, dan pengendalian instrumentasi, kalibrasi, dan jaringan komunikasi di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika Koordinasi dan kerja sama instrumentasi, kalibrasi, dan jaringan komunikasi di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan keahlian dan manajemen pemerintahan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika Pelaksanaan pendidikan profesional di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika Pelaksanaan manajemen data di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika Pembinaan dan koordinasi pelaksanaan tugas administrasi di lingkungan BMKG Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab BMKG Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan BMKG Penyampaian laporan, saran, dan pertimbangan di bidang meteorologi, klimatologi, dan geofisika Fungsi BMKG yaitu : fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret
Darurat yaitu memberikan bantuan penanggulangan bencana yang diberikan kepada korban bencana. Bantuan tersebut bersifat darurat dan komplemen/tambahan untuk membantu pemerintah dalam meringankan penderitaan korban bencana. Langsung yaitu bantuan yang harus diberikan secara langsung oleh tenaga PMI kepada korban bencana tanpa perantara sehingga dapat dirasakan langsung oleh korban. Materi bantuan yaitu pemberian bantuan berupa pangan atau nonpangan dan jasa. Jasa dapat diberikan dalam bentuk pendampingan, konseling, dan advokasi. Palang Merah Indonesia (PMI) adalah lembaga nasional yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan di Indonesia. PMI melakukan penanggulangan bencana melalui tiga fase yaitu prabencana, saat bencana, dan pasca bencana. Prinsip PMI dalam penanggulangan bencana yaitu : fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret 6) Palang Merah Indonesia (PMI) 8) Lembaga Internasional Lembaga usaha menyeseuaikan kegiatannya dengan kebijakan penyelenggaraan penanggulangan bencana. Lembaga usaha berkewajiban menyampaikan laporan kepada pemerintah dan/atau badan yang diberi tugas melakukan penanggulangan bencana serta menginformasikan kepada publik secara transparan. Lembaga usaha berkewajiban mengindahkan prinsip kemanusiaan dalam melaksanakan fungsi ekonominya dalam penanggulangan bencana. Lembaga usaha mendapatkan kesempatan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana baik secara tersendiri maupun bersama dengan pihak lain. Terkait dengan hal tersebut, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh lembaga usaha, yaitu: 7) Lembaga Usaha Lembaga internasional adalah organisasi yang berada dalam lingkup struktur organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa atau yang menjalankan tugas mewakili Perserikatan Bangsa-Bangsa atau organisasi internasional lainnya dan lembaga asing non pemerintah dari negara lain di luar Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Terkait dengan hal ini, dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2010-2014, telah direncanakan adanya implementasi kesiapsiagaan bencana di sekolah/madrasah. Seiring dengan rencana ini diterbitkanlah Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Nomor 4 Tahun 2012 tentang Penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana, Dalam pedoman ini diakatakan bahwa sekolah aman adalah komunitas pembelajar yang berkomitmen akan budaya aman dan sehat, sadar akan resiko, memiliki rencana matang dan mapan sebelum, saat dan sesudah bencana dan selalu siap untuk merespon pada saat darurat dan bencana. fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret 1. Penanggulangan Bencana Alam Melalui Edukasi, Kearifan Lokal, dan Pemanfaatan Teknologi B. PENANGGULANGAN BENCANA MELALUI EDUKASI, KEARIFAN LOKAL, DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI, SERTA PERAN MASYARAKAT DALAM MITIGASI BENCANA ALAM a. Penanggulangan Bencana Alam Melalui Edukasi Dalam upaya mengurangi korban dan kerugian akibat bencana alam, edukasi penanggulangan kebencanaan perlu dilakukan. Hal ini dapat dilakukan melalui pendidikan kebencanaan. Dengan kependidikan kebencanaan, diharapkan masyarakat memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap kesiapsiagaan bencana dan tanggap darurat bencana. Pendidikan kebencanaan dapat dilakukan melalui pendidikan formal maupun pendidikan informal. 1) Pendidikan Formal 2) Pendidikan Informal Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Peran orangtua dan masyarakat dalam menanamkan pendidikan kebencanaan sangat dibutuhkan agar dapat meningkatkan tindakan perlindungan dengan cara menjelaskan atau menyajikan informasi tentang bahaya dan risiko yang ditimbulkannya. Pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana harus dirancang untuk membangun budaya aman dan komunitas yang tangguh terhadap bencana.
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Kesadaran, membantu individu ataupun kelompok untuk memiliki kesadaran dan kepekaan terhadap lingkungan keseluruhan berikut permasalahan yang terkait Pengetahuan, membantu individu atau kelompok sosial memiliki pemahanam terhadap lingkungan total, permasalahan yang terkait serta kehadiran, manusia yang menyandang peran dan tanggung jawab penting di dalamnya Sikap, membantu individu atau kelompok sosial memiliki nilai-nilai sosial, rasa kepedulian, yang kuat terhadap lingkungannya, serta motivasi untuk berperan aktif dalam upaya perlindungan dan pengembangan lingkungan Keterampilan, membantu individu atau kelompok sosial mengevaluasi persyaratan-persyaratan lingkungan dengan program pendidikan dari segi ekologi, politik, ekonomi, sosial, estetika dan pendidikan. Peran serta, membantu individu atau kelompok sosial untuk dapat mengembangkan rasa tanggng jawab, dan urgensi terhadap suatu permasalahan lingkungan sehingga dapat mengambil tindakan relevan untuk pemecahannya. Pendidikan kebencanaan adalah salah satu solusi internal di masyarakat untuk mengurangi dampak bencana, serta membiasakan masyarakat untuk tanggap dan sigap terhadap bencana yang terjadi. Pendidikan kebencanaan bermacam-macam bentuknya dimulai dari penangulangan bencana berbasis masyarakat, pendidikan kebencanaan untuk menuju masyarakat sadar bencana, serta kearifan lokal masyarakat dalam menangani bencana. Adapun sasaran pendidikan kebencanaan sesuai dengan yang disampaikan Resolusi Belgrad International Conference On Environmental Education (Soetaryono, 1999), diuraikan sebagai berikut: b. Penanggulangan Bencana Alam Melalui Kearifan Lokal Budaya adalah salah satu kekayaan Indonesia yang tidak hanya mencerminkan kekayaan seni tetapi juga mengajari bagaimana keragaman budaya dari berbagai suku dalam menghadapi bencana atau sering disebut kearifan lokal. Indonesia yang terletak pada pertemuan tiga lempeng yaitu Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australisa berdampak terhadap tingginya potensi bencana di Indonesia. Tingginya potensi bencana tersebut menuntut masyarakat jaman dahulu untuk belajar bagaimana cara menghadapi dan memitigasi sehingga saat ini hal tersebut menjadi satu budaya yang terbalut dalam kearifan lokal Bangsa Indonesia yang terus dipelihara oleh masyarakat lokal di Indonesia. Kearifan lokal yang ada di Indonesia menjadi sebuah kekayaan yang harus di pertahankan di era modernisasi ini, perpaduan antara modernisasi dan kearifan lokal mungkin akan menjadi langkah efektif untuk meminimalisir dampak bencana yang terjadi di Indonesia. Kearifan lokal adalah kekayaan budaya setempat yang mengandung kebijakan hidup, pandangan hidup (way of life) yang mengakomodasi kebijakan (wisdom) dan kearifan hidup. Terkait dengan lingkungan hidup Undang-Undang nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mendefinisikan bahwa kearifan lokal adalah nilai-nilai luhur yang berlaku dalam tatanan kehidupan masyarakat untuk melindungi dan mengelola lingkungan hidup secara lestari.
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Bentuk kearifan lokal dapat berupa nilai, norma dan kepercayaan, dan aturan-aturan khusus, bahkan syair atau lagu-lagu kebudayaan tertentu. Beberapa kearifan lokal yang berperan dalam penanggulangan bencana alam antara lain : Nyabuk Gunung di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing atau Ngais Gunung di Jawa Barat atau sengkedan di Bali merupakan sistem pertanian dengan membuat terasering mengikuti garis kontur gunung (contour planting). Kearifan lokal seperti ini dapat mencegah terjadinya tanah longsor. Kearifan lokal di Pulau Simeuleu yaitu Smong yang berdampak pada sedikitnya jumlah korban akibat tsunami 2004. Kearifan lokal Smong memiliki hubungan dekat dengan mitigasi bencana tsunami secara tradisional dan telah disampaikan melalui puisipuisi yang terkandung dalam manafi-nafi (cerita rakyat), mananga-nanga (lagu pengantar tidur), nandong (bersenandung) yang telah diperkenalkan pada keturunan dari buaian sampai usia tua (Gadeng et al. 2017) yang terbukti efektif mengingat pada saat itu belum ada sistem peringatan dini terhadap ancaman bencana tsunami di pulau tersebut. Tradisi Tana’ Ulen suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur yang melarang penduduk untuk menebang pohon, membakar hutan, membuat ladang, dan melakukan aktivitas-aktivitas lain yang menimbulkan kerusakan hutan di dalam wilayah tana’ ulen. Subak di Bali yang mengelola irigasi untuk sistem pertanian dengan menjaga keseimbangan dan keharmonisan antarmanusia, alam dan Tuhan. Sistem pengairan ramah lingkungan ini di Sulawesi dikenal dengan sebutan Tolai, d Jawa Tengah dikenal dengan dharma tirta, dan di Jawa barat dikenal dengan mitracai.
fakultas keguruan dan ilmu pengetahuan ppg prajabatan gelombang 1 universitas sebelas maret Kearifan lokal di Pariaman yaitu Hoyak Tabuik (proses mengguncaang patung Tabot). Terdapat penanaman tanaman cemara dan mangrove di pesisir pantai, serta keyakinan akan terlindungi oleh pulau-pulau kecil di sekitar laut Kota Pariaman. Kearifan lokal di Suku Baduy. Dalam mengahadapi bencana gempa bumi Masyarakat Baduy menyiasatinya dengan membuat aturan adat atau pikukuh dan larangan dalam membangun rumah. Dalam hal ini, bahan bangunan yang digunakan adalah bahan-bahan yang lentur, seperti bambu, ijuk, dan kiray supaya rumah tidak mudah rusak. Rumah juga tidak boleh didirikan langsung menyentuh tanah. Hal ini dilakukan supaya rumah tidak mudah roboh selain itu dalam pembuatannya rumah tidak boleh menggunakan paku dan hanya menggunakan sasak dan tali ijuk (Suparmini dkk, 2014). Hingga saat ini tradisi tersebut masih dipegang. Cara ini efektif dalam mitigasi bencana dan tercatat hingga saat ini lingkungan Suku Baduy jarang mengalami kerusakan. Kearifan lokal di Pariaman yaitu Hoyak Tabuik (proses mengguncaang patung Tabot). Terdapat penanaman tanaman cemara dan mangrove di pesisir pantai, serta keyakinan akan terlindungi oleh pulau-pulau kecil di sekitar laut Kota Pariaman. Masyarakat Mentawai adalah kelompok individu yang tinggal di pulau-pulau kecil di bagian barat Provinsi Sumatera Barat. Wilayah Mentawai tercatat kerap dilanda gempa bumi dengan skala tinggi. Masyarakat Mentawai memiliki mitigasi yang berbasis kearifan lokal yang yang diwujudkan dalam bentuk lagu yang berjudul Teteu Amusiast Loga (gempa akan datang tupai sudah menjerit). Kata 'Teteu' diartikan sebagai kakek atau juga bisa sebagai gempa bumi. Menurut kepercayaan masyarakat Mentawai yang beraliran Arat Sabulungan, mereka percaya pada roh-roh penguasa alam sejagat. Teteu adalah salah satu penguasa bumi. Jika Teteu murka, maka ia akan menggoncangkan bumi hingga mengeluarkan gempa. Namun, sebelum gempa tersebut mengguncang, ada beberapa pertanda yang disampaikan oleh binatang. Sebagai contohnya adalah tupai akan gelisah, begitu juga dengan ayam peliharaan akan berkotek tanpa sebab. Lagu ini tak ubahnya seperti early warning system yang bersifat kultural bagi masyarakat di Kepulauan Mentawai.