The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Refrensi Menarik Untuk Mengenal Subdialek Guyup Tutur Mata Wae Dalam Konteks Legenda Sano Nggoang

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Gusty Rikarno, S.Fil, 2022-02-10 05:03:30

LEGENDA SANO NGGOANG

Refrensi Menarik Untuk Mengenal Subdialek Guyup Tutur Mata Wae Dalam Konteks Legenda Sano Nggoang

Keywords: Legenda,Budaya

Albertus Kabung

Legenda

DANAU SANO NGGOANG
SUBDIALEK GUYUB
TUTUR MATA WAE

PEREPEKTIF STUDI LINGUSITIK KEBUDAYAAN

Kata Pengantar
Prof. Tans Feliks

Editor
Gusty Rikarno & Y. B. Inocenty Loe

LEGENDA

DANAU SANO NGGOANG
SUBDIALEK GUYUB
TUTUR MATA WAE

PEREPEKTIF STUDI LINGUSITIK KEBUDAYAAN

Albertus Kabung

Kata Pengantar
Prof. Tans Feliks

Editor
Gusty Rikarno & Y. B. Inocenty Loe

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG
SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Penulis: Albertus Kabung
Editor : Gusty Rikarno & Y. B. Inocenty Loe
Lay Out & Cover : Moya Zam Zam

Hak cipta dilindungi oleh undang undang.
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh buku ini tanpa
izin tertulis dari Penerbit

Cetakan 1, Februari 2022

Penerbit
Cahaya Cakrawala Nusantara
Jl. Bundaran PU, Gang TDM IV
(Lorong Depan SMA Arnoldus-Kupang-NTT)
Email: [email protected]
WA: 081236298530/081315250239

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG
SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
Cet. 1 – Kupang: Penerbit Cahaya Cakrawala Nusantara, 2022,
xxii+ 100 hlm, 145 x 210 mm

ISBN: 978-xxx-xxxxx-x-x
1. Legenda Danau Sano Nggoang

Subdialek Guyub Tutur Mata Wae I. Judul
II. Albertus Kabung

Buku ini kupersembahkan
buat Istri tercinta,
Ny. Yosefina Yustina Hamsi

Serta

Anak-anak kekasih: Teza, Aranzo, San Diego,
Estella Prakleita si Bintang Laut
Penghibur dan si kecil Kelvin

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Ucapan
Terima Kasih

Buku yang ada di tangan pembaca saat ini merupakan sebuah
buku hasil konversi dari tesis yang ditulis tahun 2013 dengan
judul yang sama. Dalam proses penulisannya tentu saja melalui
jalan panjang dan berliku serta melibatkan begitu banyak pihak.
Untuk itu, penulis menyampaikan apresiasi dan terima kasih.

Para dosen kampus Udana Kupang, Prof. Dr. Simon Sabon
Ola, M.Hum, yang memberikan masuk dan pembelajaran tentang
arti penting sebuah daya berpikir kritis dalam mengidentifikasi
dan menganalisis permasalahan dalam dunia penelitian. Lebih
dari itu, beliau telah membantu penulis dengan meminjamkan
beberapa buku sebagai pustaka acuan yang berkaitan dengan
penelitian ini,

Drs. Johnson W. Haan, M.A., Ph.D, dosen sekaligus teman
diskusi yang begitu rendah hati telah membagi begitu banyak
hal penting mengenai kehidupan, motivasi dan penerimaan
yang begitu ramah pada saat diskusi di rumah beliau di Kupang,
memberikan masukan berharga serta mendorong penulis untuk
memublikasikan buku ini. Satu hal yang masih ingat ketika
penulis di menit-menit akhir menyelesaikan studi S2 mengalami
semacam drop energy, beliau menyampaikan hal ini, “Pa Albert,
tidak gampang memang untuk meraih hal-hal yang semakin
iv

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

tinggi. Hal ini tidak hanya Pa Albert yang alami, rata-rata dialami
setiap orang. Jalan keluar terbaik adalah kembali berpasrah
kepada yang empunya segala pengetahuan, Tuhan Yesus.” Setelah
sharing ini penulis kembali ke kos dengan penuh semangat baru
dan mulai berpasrah kepadaNya. Akhirnya terpulihlah kembali
energiku.

Prof. Drs. Feliks Tans, M.Ed., Ph.D, seorang guru besar yang
begitu humble, ‘rendah hati’ namun begitu kritis ketika cakap
dunia keakademisian. Sebegitu dekatnya penulis dengan beliau,
membuat penulis merasa terhormati untuk memberikan kata
pengantar dalam buku ini, “Memetik Makna dari Sano Nggoang”

Prof. Dr. Fransiskus Bustan, M.LIB, seorang guru besar
yang begitu kreatif dan produktif dalam menulis artikel ilmiah
berbasis kajian linguistic kebudayaan. Beliau telah membantu
penulis dalam banyak hal baik berupa bantuan literatur maupun
gagasan, terkait cara dosen Mata Kuliah Linguistik Kebudayaan
Pasca Sarjana Undana,

Dr. Drs. Marselus Robot, M.Si, dosen komunikasi di Pasca
Sarjana dan Sastra Indonesia di Kampus Undana, seorang penulis,
kritikus sastra, yang tulisannya begitu renyah untuk dinikmati,
yang telah memberikan masukan dan catatan kritis sehingga
buku ini semakin berbobot. Beliau dan penulis ‘bertengkar hebat’
tentang kata ‘buta’ yang hidup dalam budaya dan masyarakat
Manggarai. Mempertengkarkan apakah kata ‘buta’ itu kosa kata
bahasa Manggarai? Pertengkaran dalam dunia akademis adalah
hal lumrah. Tetapi di luar itu, Pa Marsel begitu ramah ketika pada
beberapa kesempatan mengunjungi rumah beliau di Kupang.

Prof. Dr. Felysianus Sanga, M.Pd, Ketua Program Studi
Linguistik Pasca Sarjana Undana, yang telah memberikan motivasi
dan sumbangan pemikiran kepada penulis dalam menyelesaikan

v

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

buku ini. Di samping itu, beliau menunjukkan rasa kekeluargaan
yang tinggi ketika berkonsultasi di rumah beliau.

Bapak Drs. Agustinus Ch. Dulla, selaku Bupati Manggarai
Barat, yang telah berkenaan mengijinkan serta memberikan SK
Tugas Belajar Pasca Sarjana kepada penulis.

Bapak Drs. Kornelis Budjen, selaku Ketua PGRI Kabupaten
Manggarai Barat, yang telah merekomendasikan penulis
untuk melanjutkan studi S2, serta memfasilitasi dana bantuan
perkuliahan pada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat.

Bapak Ismail Mudin, selaku Camat Sano Nggoang, Bapak
Kanis Toho-Sekcam Kecamatan Sano Nggoang, Bapak Eprim
Rahmat- staf Kecamatan Komodo, yang telah membantu segala
urusan penelitian selama berada di Kecamatan Sano Nggoang.

Bapak Adi Hamut, Nara Sumber, yang telah bersedia
menceritakan dan menerjemahkan legenda Danau Sano Nggoang,
serta masukan yang memperkaya hasil temuan penelitian ini.

Bapak Yoseph Subur, Kepala Desa Wae Sano sekaligus
informan, yang telah membantu melancarkan segala urusan
penelitian dan yang telah bersedia untuk memberikan informasi
yang berkaitan dengan legenda Danau Sano Nggoang, serta
mengantar penulis ke Danau Sano Nggoang, Sumber Air Panas
dan Sumber Air Hangat Wae Bobok.

Bapak Yoseph Sudin dan Bapak Mikael Sehidin, informan di
kampung Nggoang, yang telah bersedia memberikan informasi
tentang kisah Watu Nggoang serta mengantar penulis ke situs
Watu Nggoang tersebut di kampung Nggoang.

Bapak Fransiskus Rahmat, Kepala Desa Nggoang, yang telah
membantu melancarkan segala urusan yang berkaitan dengan
penelitian ini pada tahun 2013.

vi

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Bapak Petrus Jehala dan Ibu Sesilia Senia, sebuah keluarga di
kampung Nunang desa Wae Sano, yang telah bersedia memberikan
tumpangan serta pelayanan penuh kasih persaudaraan selama
peneliti melakukan penelitian di desa Wae Sano.

Bapak Ferdinandus Semadris, S.Pd, guru di SD Noggoang
dan Bapak Stefanus Tati, Kepala Desa Sano Nggoang, yang telah
membantu penulis mengukur Watu ‘batu’ Nggoang di Kampung
Nggoang pada 9 Desember 2021.

Nene Karfolina Pangul, ibunda tercinta dari mamaku,
yang telah memberikan begitu banyak makna dan nilai dalam
kehidupan penulis selama menempuh pendidikan dasar di SDK
Nul desa Pocolia. Nene Karolina, sang Nyora dari Nene Guru
Paulus Gonggo, mendidik dan membimbing penulis untuk
berjuang dan bekerja keras demi mencapai sebuah kehidupan
serta menanamkan nilai religius melalui doanya setiap malam
ketika masih bersamanya di sebuah rumah sederhana di Nul.

Bapak Frans Ompor dan Mama Martina yang telah turut
membimbing penulis selama tinggal bersama Nene Karolina di
Nul. Mama Tin selalu mendorong penulis untuk belajar dan
harus melanjutkan studi ke perguruan tinggi, meski situasi kurang
beruntung pada masa itu dari sisi finansial.

Yosephina Yustina Hamsi, isteri tercinta, yang dengan sabar
membimbing dan mengasuh putera-puteri kami sendirian, selama
penulis menempuh perkuliahan S2 di Program Pasca Sarjana
Undana Kupang, kurang lebih selama dua tahun.

Bapak Matheus Hamsi dan Ibu Maria Imakulata Sanim,
Bapak dan Mama mantu, yang telah membantu penulis dengan
caranya sendiri.

Bapak Yohanes Don Bosco Jemali, Saudara Ari Jemali dan
saudara Heribertus Hariyanto, yang dengan setia menemani

vii

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

penulis ke lokasi penelitian baik di desa Wae Sano maupun di
desa Sano Nggoang.

Saudara Kristoforus Krismas, yang dengan pelayanan
membantu mendapatkan data desa serta mengurus surat
keterangan telah melakukan penelitian di desa Sano Nggoang.

Anak Irwan Kurniawan, mahasiswa FISIP Undana, yang telah
membantu mengetik dan mengedit tulisan ini serta memberikan
masukan yang cukup berarti sehingga tulisan semakin baik.

Bapak John Tote dan Mama Neli Tote di Labuan Bajo, yang
telah membantu penulis dengan caranya sendiri.

Bapak Anton Kato dan Ibu Marselina Heni di Kupang, yang
selalu mendorong dan membangkitkan semangat penulis untuk
tetap tegar dalam menghadapi setiap tantangan yang dihadapi
dalam proses menyelesaikan tulisan ini.

Bapak Don Kumanireng dan Alm. Mama Mia serta adik-
adik Yesti, Ita, Rini, Olan, Elsa yang telah memberikan banyak
pengalaman bermakna dan bernilai bagi penulis. Bapak Don dan
Mama Mia semasa hidupnya begitu banyak membantu penulis
dalam menyelesaikan studi S1 di Undana.

Alm. Bapak Niko Manafe dan Mama Ika serta adik Jefri,
Habel, Erni, Joiys Manafe, keluraga di Kupang, yang telah
membantu penulis dengan caranya masing-masing selama
perkuliahan dan terlebih pada saat seminar dan ujian tesis. Mereka
sangat membantu penulis dalam banyak hal.

Teman-teman seperjuangan: Agnes Rafael, Adela Gultom,
Ani Bangngu Kale, Abdul Dapubeang, Arnol Cornell, Christmas
Ate, Dewi Bili Robaka, Sahendri Boymau, Jeni Ndau Manu,
Jonathan Elo Dea, Karolus Karo, Vera Menno, pada Program
Studi Linguistik.

viii

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Siapa saja, yang tidak bisa disebutkan namanya satu per satu
pada tulisan ini, yang telah membantu penulis dengan caranya
masing-masing.

Labuan Bajo, November 2021

Penulis

ix

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Untukmu
berdua

Halaman ini, sengaja penulis siapkan secara khusus buat
Almarhumah Mama Theresia Dia dan Alm. Bapak Martinus
Tinus untuk satu dua alasan. Bapak Martinus yang hanya
menempuh pendidikan sampai kelas dua SMP di SMP St. Paulus
Benteng Jawa Lamba Leda dan Mama Theresia Dia yang sempat
mengenyam Sekolah Kepandaian Putri di Ruteng (tahunnya
tidak diketahui secara pasti), tetapi itulah informasi yang penulis
dapatkan dari kisah yang pernah Bapak Martinus ceritakan kepada
penulis semasa kecilnya. Keduanya sama-sama meninggalkan ayah
dan ibu mereka masing-masing lalu membentuk keluarga mereka
berdua sendiri dan mulai berjuang menapak kehidupan keluarga
mereka sebagai petani. Mama Theresia Dia anak seorang guru
Paulus Gonggo dan Karolina Pangul yang juga ikut membentuk
diri penulis pada masa sekolah dasar di Sekolah Dasar Katolik
di Nul desa Pocolia di Kecammatan Poco Ranaka dewasa ini.
Sementara Mekas Martinus merupakan anak pasangan Kakek
Markus Wandung dan Nene Maria Ingging yang juga keluarga
petani di desa Rindi Nao Kecamatan Poco Ranaka Timur saat ini.

Dari rahim ibunda tercintaTheresia Dia lahirlah tiga anak laki-
laki (Albert, penulis buku ini, Hironimus, dan Viktor Harjaya).
Pada masa kecil sebagaimana anak-anak di kampung zaman itu,
x

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

penulis diasuh, dibimbing, dan dibesarkan dalam suasana penuh
kasih sayang. Mekas Martinus berbekal pengetahuan selama
dua tahun di SMP memiliki sedikit wawasan bae melaju ‘bisa
omong bahasa melayu’ (bahasa Indonesia). Berkat bae melaju
tadi Bapak Martinus diangkat menjadi guru gama (sebutan untuk
ketua kelompok dalam Gereja Katolik saat ini) oleh tuang Pastor
Yoseph Delang, SVD, Pastor Paroki Lawir di Kecamtan Poco
Ranaka Timur sekarang, sekaligus menjadi Ketua Stasi Tangkul
Desa Rindi Nao saat ini.

Menurut kisahnya, menjelang pesta natal, para guru gama
di seluruh pelosok Mangarai berkumpul di Ruteng untuk ret-
ret (semacam refleksi perjalanan kehidupan selama setahun). Di
Ruteng itulah Bapak Martinus berkenalan dengan tuang dari
Belanda serta guru gama dari tempat lain di Keuskupan Ruteng
yang adalah guru SD. Di samping itu, wawsannya bertambah
ketika bergaul dengan kaum pedagang di kota Ruteng dan Mano
Bealaing di antaranya Keraeng Polus Kantor.

Sebagai guru gama, Mekas Martinus juga pernah memimpin
Partai Katolik Ranting Colol pada zaman menjelang pergantian
rezim Orde Lama ke Orde Baru. Perjalanaannya dalam dunia
organisasi telah menambah horizonnya termasuk tentang arti
pentingnya pendidikan bagi seorang manusia.

Pada suatu kesempatan, kira-kira penulis berumur lima
tahun, Bapak Martinus pergi ke kota Ruteng untuk berdagang
kopi. Biasanya, pulang ke rumah selalu membawa oleh-oleh buat
penulis selain kebutuhan rumah tangga lainnya. Pada waktu
itu, oleh-oleh yang dibelikan untuk penulis adalah sebuah baju
kemeja berwarna putih bertuliskan JAKARTA pada bagian depan
dan SURABAYA pada bagian belakangnya. Kebetulan saat itu,
temannya bernama baba Koha juga berkunjung ke rumah kami.
Mendapatkan oleh-oleh seperti itu tentu saja penulis merasa

xi

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

senang. Dalam perasaan senang dan gembira itu, penulis merasa
teratrik dengan kedua tulisan itu, meski belum bisa membaca,
karena didorong rasa ingin tahu lalu bertanya kepada Mekas
Martinus, ema apa ho’o olo agu musi main baju ho’o ‘Bapak, apa yang
di bagian depan dan belakang baju ini’. Mendengar pertanyaan
tersebut, sambil tersenyum beliau menjawab, olo main baju ho’o
bacan JAKARTA, enden Republik ho’o ‘bagian depan baju ini
adalah sebuah tulisan yang dibaca JAKARTA’. Jakarta ini ibu kota
Republik Indonesia. Musi main ga bacan SURABAYA. Surabaya
ho’o ga ngasang kota, nitu taungs kumpuld kopi labok Indonesia
ho’o. Mai nitu mai ba nggere lau tana peangs ‘Bagian belakangnya
merupakan sebuah tulisan yang dibaca SURABAYA. Surabaya
adalah pusat perdagangan, semua kopi dari seluruh Manggarai
dibawa dan dikumpulkan di sana dan dibawa (diekspor) ke luar
negeri’. Eme ngoeng te cai lau hitu hau, ca y kali tetesn, ee sekolah
‘Kalau engkau ingin sampai ke sana Jakarta dan Surabaya’, satu
saja jembatannya yaitu sekolah). Bagi penulis, hal ini tentulah
belum dapat dipahami sepenuhnya.

Namun, kemudian penulis menyadari bahwa bahasa itu
memiliki kekuatan (language is a power) yang dapat membawa
pengaruh bagi kehidupan manusia. Bagaimana tidak, pada tahun
2008, dalam perjalanan mengikuti Kongres ke-20 PGRI, penulis
dan Alm. Bene Jelalu (Ketua PGRI pertama Mabar) transit
dan menginap di Jakarta untuk keesokan harinya melanjutkan
penerbangan ke kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan.

Pada saat singgah di Kota Jakarta itu, penulis berpikir
ini hanya sebuah kebetulan. Mengingat lagi baju bertuliskan
JAKARTA yang dibeli Bapak Martinus. Apakah ini kekuatan
bahasa yang telah dituturkan di atas? Ah ini hanya kebetulan.
Namun kemudian, di lain kesempatan penulis sungguh yakin dan
percaya bahwa bahasa itu sungguh-sungguh memiliki kekuatan.

xii

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Pada tahun 2009, penulis mendapat tugas tambahan
sebagai Wakasek Kurikulum di SMAN 1 Komodo. Sebagai
seorang Wakasek Kurikulum, penulis sering mengikuti pelatihan
kurikulum baik tingkat Kabupaten maupun Provinsi. Pada suatu
kesempatan, di tahun 2009, penulis mendapat surat undangan
dari Direktorat Pembinaan SMA Departemen Pendidikan
Nasional Jakarta untuk mengikuti TOT Kurikulum di kota
Surabaya. Begitu menginjakkan kaki di Bandara Juanda Surabaya,
tuturan Bapak Martinus dulu itu terngiang dan teringat kembali.
Tak sadar air mata jatuh berderai membasahi kedua pipiku. Kata-
kata Bapak Martinus ini seolah sebuah ramalan. Dan memang
begitu adanya. Kata-katanya begitu kuat tentang kota Surabaya
sebagai pusat perdagangan Kopi. Namun penulis menginjakkan
kaki di Surabaya bukan untuk menjual kopi, tetapi mengikuti
tugas Negara yang diembankan kepada penulis. Dan itu terjadi
hanya karena sekolah. Benarlah dan menjadi nyatalah apa yang
dikatakan Mekas Martinus bahwa Pendidikan merupakan
jembatan menuju perubahan kehidupan seseorang. Dan lebih dari
itu bahwasannya bahasa sesungguhnya adalah sebuah kekuatan.
Harta boleh hilang, tetapi ilmu tetap akan langgeng dan tidak
lekang dimakan ngengat selama dijejaki dan dicintai.

Dari semua pengalaman Mekas Martinus sebagai seorang
petani, pedagang kopi, pelayan gereja, dan aktif dalam dunia
politik turut membentuk diri penulis saat ini.

Selanjutnya, Mama Theresia Dia (Alm), ibunda tercinta,
yang telah melahirkan, mengasuh, membesarkan, dan mendidik
penulis, sehingga menjadi seorang anak manusia seperti saat
ini. Memiliki kisah yang sedikitnya membuat penulis terkadang
menangis mengingatnya. Menangis bukan karena Almarhumah
telah meninggal, bukan juga karena kematian adalah bagian
kehidupan yang harus diterima sebagai sebuah realita, tetapi

xiii

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

menangis karena tidak sempat membagi atau sharing apa yang
telah penulis capai meskipun dia tidak pernah mengharapkannya.

Kisah ini agak memilukan, menyedihkan dan selalu membuat
penulis menangis tatkala mengingatnya. Menjelang kembalinya
mama ke pangkuan Sang Ilahi, penulis pada tanggal 17 Agustus
1997, minta izin kepada perfek (pembina asrma) di Seminari Pius
XII Kisol, Pater Mikael Ambon, SVD, untuk pulang ke kampung
menjenguk Mama Theresia, Saat itu Almarhumah dalam kondisi
sakit. Ketika hendak pulang kembali ke Kisol, mama berpesan
“Nana, sekolah di’a-di’a (Puteraku, belajarlah dengan penuh
semangat). Ketika pesan itu terucapkan Mama, penulis tidak
pernah berpikir kalau itu adalah the last words (kata-kata terakhir).
Tuturan yang terucap tadi tidak kusadari sebagai doa seorang Ibu
yang begitu kuat. Penulis lalu pamit dan pulang ke sekolah di
Seminari Kisol. Hampir sebulan kemudian tepatnya tanggal 4
September 1987 beliau meninggalkan bumi untuk kembali pulang
ke Rumah darimana dia berasal. Berita kepergiannya membuat
penulis sedikit tertekan. Sedih memang. Tapi apalah daya, itulah
kehidupan.

Semua peristiwa dan pengalaman di atas telah membentuk
penulis menjadi seperti saat ini. Untuk itu, penulis
mempersembahkan terima kasih buat Bapak Martinus dan
Mama Theresia tercinta. Cinta kalian berdua telah membuat aku
seperti saat ini. Ingin rasanya berbagi, meski terkadang tidak bisa.
Hanya terima kasih yang mampu kuucapkan, dan setiap waktu
agar kalian berdua mengalami cinta dan bahagia abadi di Rumah
Sang Pemilik Kehidupan. Sambil kuberharap doamu untuk anak
mantumu Yustina dan kelima cucumu Teza, Aran Sansa, Estel,
dan Kelvin.

xiv

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Kata Pengantar
Memetik Nilai Mulia dari
Legenda Sano Nggoang

Keraeng Albert Kabung, selanjutnya penulis sebut AK, adalah
seorang guru profesional dan penulis berbakat. Penulis
selalu menikmati tulisannya pada media massa dan pada jurnal
ilmiah yang sempat penulis baca. Juga, tentu, buku ini. Penulis
membacanya dengan penuh semangat karena penulis tahu
daripadanya penulis pasti mendapat banyak pelajaran berharga
soal berbagai makna dan nilai mulia kehidupan ini. Apalagi lokasi
utama buku ini adalah Danau Sano Nggoang dan sekitarnya. Itu
lokasi yang sangat dekat dengan Kampung Nara, Desa Watu
Galang, Kecamatan Mbeliling, Manggarai Barat, tempat penulis
lahir. Dari Kampung Nara sendiri ada banyak sanak saudara
penulis yang sehari-harinya hidup persis di pinggiran danau yang
sangat tersohor, minimal di Flores Barat itu, sehingga danau itu,
bagi penulis, begitu melekat di hati karena sering disebut dalam
perbincangan sehari-hari berkat perikatan tali kekerabatan itu.

Walaupun demikian, legenda, cerita rakyat, tentang asal-
muasal danau itu baru penulis dengar secara langsung dari AK
sendiri ketika penulis menjadi salah satu penguji tesisnya untuk
memperoleh gelar magister dalam bidang ilmu linguistik dengan
fokus pada linguistik kebudayaan. Tesis itu, seperti yang AK
sampaikan dalam buku ini, merupakan cikal-bakal bukunya.

xv

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Kajian linguistik kebudayaan, kita tahu, pada umumnya,
kalau tidak selalu, bertautan langsung dengan kajian bentuk/
struktur, fungsi, makna, dan nilai dari legenda, ceritera rakyat,
folklore, atau apapun namanya, dan/atau dari ritus kebudayaan
milik guyub tutur/bahasa/dialek tertentu. Dengan demikian,
dalam alur pikir linguistik kebudayaan, seperti yang ditunjukkan
oleh subjudul bukunya, AK, dalam buku ini, mengupas bentuk/
struktur, fungsi dan makna serta nilai dari “Legenda Danau Sano
Nggoang pada Guyup Tutur Subdialek Mata Wae.”

Apa yang disampaikan oleh AK dalam buku ini, penulis kira,
sudah sangat sempurna. Struktur atau bentuk legendanya begitu
lengkap sehingga daripadanya dapat ditarik berbagai fungsi
seperti fungsi referensial, emotif, konatif, metalingusitik, puitik,
menghibur, dan mendidik. Juga daripadanya kita, pembaca, dapat
memetik makna religius, didaktis, historis, yuridis, sosiologis,
politis, dan ekologis. Selain itu, menurut AK, legenda itu juga
memberikan kita nilai mulia kehidupan ini, seperti keyakinan
teguh akan keberadaan Wujud Tertinggi, Mori Keraeng,
Penguasa Alam Semesta, ketaatan total kepada-Nya, totalitas dan
kesungguhan dalam menjalani hidup, apapun bentuknya, kerja
sama, dan solidaritas (hlm. 27-70).

Kedua nilai terakhir, yaitu nilai kerja sama dan solidaritas
kepada yang lemah, kecil, terpinggirkan, dan berkekurangan,
mengingatkan penulis pada buku “Lembar-Lembar Pelangi:
Membangun Mimpi Anak-Anak di Timur Indonesia,” karya Nila
Tanzil, seorang tokoh muda nasional, aktivis literasi, khususnya
perpustakaan, yang sudah punya nama besar di Indonesia. Dalam
buku yang diterbitkan oleh Publishing (Jakarta: 2016), Nila Tanzil
menulis:

Keramahan masyarakat setempat dapat dirasakan di
seluruh penjuru Indonesia. Rasanya semakin pelosok

xvi

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

daerah itu, masyarakatnya pun semakin ramah dan hangat.
Pengalamanku yang satu ini juga mencerminkan keramahan
lokal itu.
Bersama dengan lima orang teman yang bekerja di Labuan
Bajo, kami melakukan road trip mengendarai tiga motor
ke beberapa desa seperti Werang, Danau Sano Nggoang,
hingga ke Ruteng. Perjalanan mendaki bukit dikelilingi oleh
pemandangan alam yang indah dan hutan asri di kiri kanan
jalan, indah sekali.
Ketika tiba di Werang, waktu sudah menunjukkan pukul
satu siang dan kami belum makan. Kami pun sibuk mencari
warung makan, namun tidak menjumpai satu warung nasi
di sana. Di kejauhan ada seorang petani berpakaian lusuh
berjalan tanpa alas kaki sambil membawa golok. Petani
itu berjalan ke arah kami dan aku memberanikan diri
menyapanya.
“Halo Pak, neka rabo. Apa ada warung makan sekitar sini?”
tanyaku.
“Tida ada, Ibu. Tidak ada warung makan atau restoran di
kampung ini,” katanya.
“Tidak ada sama sekali, Pak?” tanyaku lagi, terbersit rasa
tidak percaya. Masa sih satu warung makan pun tidak ada?
“Iyo, Ibu. Ini kampung kecil, tidak ada warung makan di
sini,” katanya. “Memangnya kalian dari mana dan mau ke
mana?”
“kita dari Labuan Bajo, Pak dan rencana mau ke Danau Sano
Nggoang. Tapi mau cari makan dulu karena kami belum
makan siang,” jawabku.
“Wah, di sepanjang jalan besar juga tidak ada restoran, Ibu,”
katanya. “Ini penulis mau pulang ke rumah. Mari, makan
saja di rumah penulis!” undangnya.
Kami terkejut.

xvii

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

“Mari sudah … ke rumah penulis. Kita makan sama-sama,”
katanya.
Kami terdiam dan saling bertukar pandangan. Seorang petani
mengundang enam orang tak dikenal untuk makan siang
di rumahnya. Jumlah yang tidak sedikit untuk menjamu,
apalagi tamu tak dikenal. Setidaknya dia harus menyediakan
enam porsi nasi.
Bapak itu menunggu. Aku dan teman-teman berdiskusi.
Kami tidak bisa menerima ajakan itu karena terasa sungguh
merepotkan.
“Terima kasih, Pak. Tapi nanti kami merepotkan,” kataku.
“Tidak apa-apa. Ayo sudah … ibu di rumah bisa masak
untuk kalian. Rumah penulis tidak jauh dari sini, dekat saja,”
katanya.
“Tidak usah, Pak. Terima kasih banyak. Kami makannya
nanti saja,” kataku.
Meskipun Pak Petani itu bersikeras mengundang kami
untuk makan di rumahnya, kami tidak sampai hati untuk
menerima kebaikan itu. Melihat baju lusuhnya yang sudah
usang dan sobek di sana-sini, kami tidak ingin merepotkan
keluarga beliau.
Seusai berpamitan, petani itu melanjutkan perjalanannya ke
rumah. Ia habis bekerja di kebun, katanya. Aku memandangi
petani itu dari belakang. Di balik badannya yang kurus, terdapat
hati yang besar. Dengan ketulusan hati, ia mengundang
serombongan “turis” tak dikenal yang kelaparan untuk makan
siang bersama keluarganya. Mulia sekali. Ia tidak tahu siapa
kami, latar belakang kami, dan sebagainya. Namun, ia tidak
berburuk sangka. Undangan makan siang itu ia lontarkan
sema-mata karena melihat enam orang anak muda yang
sedang dalam perjalanan di siang hari dan membutuhkan
makan siang …
Aku masih tertegun melihat kepolosan dan keluguan petani

xviii

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

itu. Namun, yang paling kukagumi adalah kemurahan
hatinya. Ajakan makan siangnya terasa sama seperti
ajakannya kepada saudara dekatnya. Seperti layaknya ia sudah
mengenal kami dan kami adalah bagian dari keluarganya.
Ada kehangatan tercermin dari suranya yang kental dengan
aksen Manggarai Barat itu.
Kami meninggalkan Werang dengan perut keroncongan
dan hati diliputi rasa haru. Keramahan lokal yang luar biasa
lagi-lagi kualami di desa kecil di wilayah Timur Indonesia
(hlm.67-69).
Begitu mengagumkan dan mengharukan, bukan? Sebuah
kisah nyata tentang orang di sekitar Danau Sano Nggoang seperti
Kampung Werang yang menerapkan nilai solidaritas itu. Sebuah
contoh yang amat sangat nyata: memberi dari kekurangan, tanpa
mengharapkan imbalan, tanpa buruk sangka, dan selalu berpikir
positif terhadap orang yang tidak dikenal sekalipun. Itu, penulis
kira, secara langsung atau tidak, merupakan buah dari nilai yang
berharga dari tetesan Legenda Sano Nggoang itu.
Supaya tetesan nilai mulia itu membasahi sebanyak mungkin
orang, saran penulis, kiranya buku AK ini menjadi buku
bacaan wajib di setiap sekolah di Indonesia pada umumnya, di
Manggarai Barat khususnya. Sebab di dalam buku itu ada nilai
mulia yang daripadanya anak-anak kita, kini dan nanti, bisa petik
dan praktikkan dalam kehidupannya sehari-hari di sekolah dan
setelah tamat seperti kisah sang Petani yang disampaikan oleh
Nila Tanzil tersebut. Itu penting untuk membuat Indonesia tidak
hanya makin maju ke depan, tetapi juga makin membuka hatinya
kepada yang berkekurangan, kecil dan terpinggirkan.

Kupang, November 2021
Feliks Tans

xix

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Daftar Singkatan
dan Istilah

ANFRS = Anaforis. Referensi Anaforis merupakan unsur
wacana yang menunjuk pada unsur lain yang
sudah disebutkan sebelumnya.

DSN = Danau Sano Nggoang

GTSMW = Guyub Tutur Subdialek Mata Wae

HW = Hasil Wawancara

KTFRS = Kataforis. Referensi kataforis merupakan unsur
wacana yang menunjuk unsur lain yang akan
disebutkan dan dijelaskan sesudahnya.

KL = Klitika

LOC = Locative, menunjukkan nama tempat

MW = Mata Wae

POSS = Possesif, kata yang menunjukkan kepemilikan

POSS 3 JM = Pronomina Posesif ketiga jamak

1 JM HON = Pronomina pertama Jamak Honorofifik

1 TG = Pronomina pertama tunggal

2 TG = Pronomina kedua tunggal

2 JM = Pronomina kedua jamak

3 JM = Pronomina ketiga jamak

xx

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Keraeng = Sapaan kepada laki-laki dewasa dalam budaya
Empo Manggarai

= Kakek atau Nenek

xxi

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Daftar Isi

Ucapan Terima Kasih................................................................ iv
Untukmu berdua....................................................................... x
Kata Pengantar
Memetik Nilai Mulia dari Legenda Sano Nggoang............. xv
Daftar Singkatan dan Istilah..................................................... xx
Daftar Isi...................................................................................... xxii
BAGIAN SATU
Panorama Danau Sano Nggoang................................................... 1
BAGIAN DUA
Gambaran Umum Etnografi Budaya Masyarakat
Desa Wae Sano dan Desa Sano Nggoang................................. 10
BAGIAN TIGA
Panorama Bahasan Legenda DSN.................................................. 22
BAGIAN EMPAT
Simpulan dan Rekomendasi.............................................................. 85
Daftar Pustaka............................................................................ 92
Tentang Penulis.......................................................................... 98

xxii

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

BAGIAN SATU
Panorama Danau Sano
Nggoang

Legenda Danau Sano Nggoang adalah suatu tradisi lisan yang
melekat pada Guyub Tutur Subdialek Mata Wae (GTSMW) di
Kecamatan Sano Nggoang Kabupaten Manggarai Barat. Legenda
ini melibatkan dua tokoh utama yang bernama si Bukuk1 dan si
Buta dan serta seekor anjing yang bernama Solek, serta sesosok
manusia misterius yang dipersepsikan GTSMW sebagai Mori
Keraeng (Wujud Tertinggi).

Legenda danau Sano Nggoang sebagai tetesan masa lalu yang
diwariskan dari generasi ke generasi menarik untuk dicermati.
Dikatakan demikian karena, fenomena alam yang terletak di
pinggir danau Sano Nggoang, seperti sumber air panas, air hangat
dan bau belerang direfleksikan masyarakatnya dalam ekspresi
lingual yang menarik, khas dan unik, seperti: Sangge tau ho’o
manga eng masun acu hitu le lupi Sano Nggoang hitu (sampai saat
ini, masih ada bau anjing yang terbakar tersebut di dekat danau
Sano Nggoang); Ngasangne Wae Bobok ‘namanya Wae Bobok’; dan
dining wae lua tau kokor tete, saung pepak, ko ruha, manga kole
wae kolang tau cebong, tau dia rompong (di dekat sumber panas
yang dapat memasak ubi, daun pepak, atau telur, ada juga air

1 Dikenal juga dengan nama Boke (seorang lumpuh yang penuh dengan bisul pada
tubuhnya).

1

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

hangat untuk mandi, dan dapat menyembuhkan penyakit kulit),
dan beberapa ekspresi lingual lainnya yang dapat dicermati dalam
legenda ini.

Ekspresi lingual sebagaimana diulas pada beberapa contoh
tersebut di atas merupakan pengkategorian terhadap gejala-gejala
alam yang ada di sekitar lingkungan hidup mereka. GTSMW
mengkategorikan dengan cara demikian karena beberapa faktor,
antara lain: pertama, faktor kedekatan manusia dengan alam.
Pada zaman dulu, kehidupan manusia sangat bergantung dengan
alam sekitarnya di mana alam tidak hanya dijadikan sebagai
sumber pemenuhan kebutuhan hidup tetapi alam itu sendiri
dipercayai memiliki daya kendali terhadap kehidupan manusia.
Hal ini terbukti dengan adanya kepercayaan tradisional yang
dianut masyarakat zaman dulu. Karena kepercayaan inilah yang
melahirkan persepsi bahwa segala sesuatu dikendalikan oleh
alam termasuk cara pandang penutur terhadap fenomena bau
belerang, air mendidih, air hangat dan fenomena terjadinya
danau. Kedua, minimnya peta pengetahuan bahasa yang dimiliki
orang zaman dulu untuk memformulasikan berbagai macam
realitas dan fenomena alam yang ada di sekitar mereka. Misalnya,
kosa kata ‘belerang’ belum ada pada zaman itu, sehingga
mereka mempersepsikan bau belerang tersebut sebagai bau
anjing terbakar. Ketiga, legenda ini merupakan sebuah kemasan
pengetahuan yang diformulasikan para leluhur demi memenuhi
jawaban terhadap rasa keingintahuan (curiousity) anak-anak
mereka terhadap fenomena alam sebagaimana yang dipaparkan
di atas, yang diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi dan
menjadi tradisi budaya yang khas dan unik.

Kekhasan dan keunikan ekspresi lingual dalam legenda
DSN merupakan fitur ciri pembeda (distinctive features) budaya
guyub tutur Mata Wae. Dikatakan demikian karena bahasa

2

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

mencerminkan perbedaan budaya. Perbedaan budaya tersebut
dimungkinkan karena bahasa memandu atau menuntun
pikiran penuturnya dalam memandang dunia. Gagasan tersebut
dapat disimak dari pandangan Boas (dalam Saeed, 1997) yang
mengatakan bahwa pikiran manusia ditentukan kategori-
kategori yang tersedia dalam bahasa yang digunakan penuturnya.
Selanjutnya, Boas menegaskan bahwa bahasa yang berbeda, yang
merefleksikan atau mencerminkan praktik budaya penuturnya,
menjelma dalam klasifikasi konseptual yang berbeda dalam
memandang dunia dari setiap kelompok masyarakat sebagai
penutur bahasa bersangkutan. Singkatnya, bahasa adalah citra
yang mencerminkan perbedaan budaya suatu bangsa atau
kelompok masyarakat tertentu dalam memandang dunia.

Terkait dengan itu, dalam Hipotesis Sapir-Whorf (dalam
Thomas dan Wareing, 2007:37), dapat dicermati bahwa tiap-
tiap budaya akan menafsirkan dunia dengan cara yang berbeda-
beda dan bahwa perbedaan-perbedaan ini akan terkodekan
dalam bahasa. Dengan kata lain, bahasa yang digunakan dalam
realitas kehidupan suatu kelompok masyarakat dapat dipahami
sebagai cerminan budaya kelompok masyarakat bersangkutan
dalam memandang dunia (bdk Saeed,1997:42; Foley, 1997:214;
Duranti, 1997:58; Ibrahim, 1994:283-285). Dengan demikian,
dapat dikatakan bahwa pola berpikir itu dibentuk oleh bahasa
yang dipakai oleh suatu bangsa (Muslich dan Oka, 2010: 70).

Bahasa, menurut Piliang (2004:27), merupakan cetakan es,
bahwa realitas itu tanpa bentuk, dan bahasa adalah cetakannya.
Pandangan ini mengandung pengertian bahwa bahasalah
yang membuat segala sesuatu menjadi nyata dalam kehidupan
manusia. Bahasa inilah yang memungkinkan manusia mampu
mempersepsi realitas alam di sekitarnya dan memformulasikannya
dalam berbagai bentuk ekspresi verbal seperti tuturan ritual,

3

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

lagu atau nyanyian rakyat, ungkapan-ungkapan, cerita rakyat,
legenda dan lain-lain sebagai fitur kebudayaan suatu bangsa atau
suatu kelompok masyarakat. Dalam hubungan dengan ini, Sapir
menegaskan bahwa bahasa adalah penuntun simbolis (symbolic
guide) kebudayaan suatu kelompok masyarakat tertentu (dalam
Saeed, 1997:42), termasuk ekspresi lingual dalam legenda Danau
Sano Nggoang (DSN) pada GTSMW.

Gagasan pemikiran yang tercetak dalam kemasan legenda
DSN merupakan refleksi cara berpikir GTSMW dalam
memandang dunia, yang tentu saja tidak bisa dipandang sebagai
refleksi cara berpikir yang kolot dan primitif. Terhadap hal ini,
Lévi-Strauss dalam mitos Oedipusnya, mengatakan bahwa
“logika dalam pemikiran mitologis itu sama ketat (rigorous)-nya
dengan logika dalam sains modern”. Pembelaan Lévi-Strauss
terhadap pemikiran mitologi atau pemikiran “primitif ” tersebut
diungkapkan dalam bukunya, La Pensee Sauvage (Pemikiran Liar,
1962). Setelah mencermati data-data yang beragam dari berbagai
sistem kekerabatan, mitologi, seni dan karya sastra, termasuk
cerita rakyat, ia berkesimpulan bahwa sistem kebudayaan
bekerja dengan megklasifikasikan dunia sekitarnya. Ia menolak
pandangan yang menganggap pemikiran primitif sebagai lebih
rendah (inferior) dan menegaskan bahwa sains dan magis (magic)
merupakan “dua model paralel untuk mencapai pengetahuan”
dan menuntut “kerja otak (mental operations) yang sama” (dalam
Sutrisno, 2005:138-139).

Selanjutnya, ekspresi lingual dalam legenda DSN, merupakan
suatu tanda sebagai hasil refleksi terhadap fenomena alam yang
ada di sekitar locus di mana mereka hidup, dan tentu saja, tanda
tersebut menggurat berbagai kristal-kristal makna. Terhadap hal
ini, Danesi dan Perron (dalam Hoed, 2011:5) menamakan manusia
sebagai homo culturalis, yakni sebagai makhluk yang selalu ingin

4

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

memahami makna dari apa yang diketemukan (meaning–seeking
creature). Dengan demikian, manusia juga mencari makna dengan
melihat sejarah. Danesi dan Perron, dalam hal ini, berbicara
tentang the signifying orders yang didefinisikannya sebagai
“interconnection of signs, codes, and texts that makes up a culture
(ibid: 5). Jadi kebudayaan sebagai suatu tanda yang mengandung
makna adalah merupakan suatu wujud yang terbangun dari
interaksi antara tanda, kode, dan teks. Termasuk dalam hal ini
teks legenda DSN dalam GTSMW sebagai refleksi cara pandang
tentang dunia.

Ekspresi lingual atau ekspresi kebahasaan dalam legenda
DSN pada GTSMW merupakan tatanan makna sebagai simpul-
simpul tanda, kode, dan teks yang membentuk suatu sosok
atau wujud kebudayaan masyarakat pendukungnya. Guratan-
guratan makna dan nilai yang mengkristal di dalamnya tidak saja
berfungsi sebagai pedoman bertingkah laku bagi orang-orang
jaman dulu sedari lahir dan munculnya legenda tersebut, tetapi
juga berfungsi sebagai penataan pola tingkah laku bagi warga
GTSMW pada masa sekarang ini bahkan bagi generasi masa
datang karena legenda DSN merupakan warisan budaya kolektif
yang mentradisi dari generasi ke generasi. Karena proses pewarisan
yang sedemikian, memungkinkan berkembangnya kebudayaan
guyub tutur subdialek Mata Wae sampai saat ini. Terkait dengan
itu Edward Sapir mengatakan bahwa bahasa tidak saja berfungsi
sebagai sarana komunikasi untuk mengungkapkan pikiran,
perasaan, gagasan, dan lain-lain dalam suatu masyarakat, tetapi
bahasa dengan kesempurnaan mendasarnya telah memungkinkan
berkembangnya kebudayaan secara keseluruhan (dalam Duranti,
1997:56).

Bahasa Manggarai subdialek guyub tutur Mata Wae, demikian
halnya, selain berfungsi sebagai wahana komunikasi juga berperan

5

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

sebagai sarana pengembangan kebudayaan, antara lain melalui
pentradisian legenda DSN secara lisan dari generasi ke generasi.
Dikatakan demikian karena ekspresi lingual dalam legenda DSN
mengandung makna dan nilai luhur yang dihayati, dipahami dan
diwujudkan dalam pola tingkah laku dan tindak tutur dalam
kehidupan setiap hari yang pada akhirnya menjadi tradisi budaya
yang berkembang dalam realitas kehidupan GTSMW.

GTSMW adalah salah satu kelompok penutur dialek bahasa
Manggarai di wilayah barat Manggarai. Hal ini dapat dicermati
dari pembagian wilayah daerah bahasa Manggarai yang dilakukan
P. Jilis Verheijen, SVD. Menurut Verheijen bahasa Manggarai
terdiri dari empat bagian wilayah bahasa, yakni: subdialek barat,
timur, tengah dan subdialek SH. Di bagian barat ada subdialek
Kempo, Boleng, Mata Wae, Welak dan subdialek Komodo di
pulau Komodo (Berybe, 2007)

Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, bahwa legenda DSN
merupakan salah satu tradisi lisan yang terdapat dalam budaya
guyub tutur Mata Wae, dengan berbagai ekspresi lingual yang
menarik, unik dan khas, yang tergurat di dalamnya. Kekhasan
dan keunikan ekspresi lingual legenda DSN tentu saja menyimpan
guratan makna dan nilai yang dapat digunakan sebagai pedoman
dan penata pola perilaku dalam kehidupan bermasyarakat.
Namun dari hasil kajian pustaka yang telah ditelaah, nampaknya
bahwa legenda DSN yang berkembang dalam realitas kehidupan
guyub tutur subdialek Mata Wae belum pernah diangkat ke
permukaan melalui suatu penelitian ilmiah terutama melalui
kajian dari kaca mata linguistik kebudayaan. Isu lain yang menjadi
penting untuk dilakukannya kajian terhadap legenda DSN adalah
kecemasan akan sirna dan punahnya bahasa dan budaya lokal di
tengah hantaman gelombang budaya global yang semakin marak
dan membawa pengaruh terhadap perubahan pola cara pandang

6

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

suatu kelompok masyarakat tentang dunia. Ketika bahasa daerah
punah maka punah pula budayanya. Kepunahan bahasa dan
budaya merupakan gerbang awal bagi terjadinya krisis identitas
suatu bangsa atau kelompok masyarakat.

Bertitik tolak dari gagasan-gagasan tersebut di atas maka
dipandang perlu untuk melakukan studi yang lebih mendalam
tentang legenda DSN dengan tesis, “ekspresi lingual dalam
legenda Danau Sano Nggoang merupakan cerminan budaya guyub
tutur subdialek Mata Wae Kecamatan Sano Nggoang Kabupaten
Manggarai Barat”.

Legenda DSN sebagai cerminan budaya dan refleksi cara
pandang GTSMW tentang dunia merupakan masalah pokok
dalam buku ini yang dikaji dari perspektif linguistik kebudayaan,
dengan asumsi bahwa legenda DSN yang tetap eksis dalam
guyub tutur bersangkutan memiliki struktur, fungsi, makna, dan
nilai-nilai yang tidak saja berorientasi pada masa lalu tetapi juga
berorientasi pada masa sekarang dan masa depan, yang dapat
dijadikan panduan dalam menata pola perilaku dalam kehidupan
masyarakat demi terciptanya keharmonisan sosial dan demi
menjaga keseimbangan hidup alam sekitarnya.

Tulisan ini bertutujuan untuk mengkaji hubungan bahasa
dan kebudayaan dalam GTSMW, sebagaimana yang terlihat
dalam segi struktur, fungsi, makna, dan nilai legenda DSN sebagai
cerminan kebudayaan guyub tutur sub dialek Mata Wae. Secara
khusus dilakukan dengan tujuan sebagai berikut: 1) memaparkan
dan menjelaskan struktur legenda DSN yang merupakan
cerminan budaya GTSMW Kecamatan Sano Nggoang Kabupaten
Manggarai Barat, 2) memaparkan, menafsirkan, dan menjelaskan
fungsi legenda DSN yang merupakan cerminan budaya GTSMW
Kecamatan Sano Nggoang Kabupaten Manggarai Barat, 3)
memaparkan, menafsirkan, dan menjelaskan makna ekspresi

7

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

lingual dalam legenda DSN yang merupakan cerminan budaya
guyub tutur subdialek Mata Wae Kecamatan Sano Nggoang
Kabupaten Manggarai Barat, 4) memaparkan, menafsirkan,
dan menjelaskan nilai ekspresi lingual dalam legenda DSN yang
mrupakan cerminan guyub tutur subdialek Mata Wae Kecamatan
Sano Nggoang Kabupaten Manggarai Barat, dan 5) memaparkan
dan menjelaskan implikasi pemahaman legenda DSN terhadap
perilaku orang Manggarai terutama GTSMW Kecamatan Sano
Nggoang Kabupaten Manggarai Barat.

Selain memiliki tujuan, tulisan ini juga memiliki manfaat
baik pada tataran teoretis mapun tataran praktis. Pada tataran
teoretis, buku ini dapat bermanfaat antara lain: 1) tersedianya
gambaran objektif mengenai struktur, fungsi, makna, nilai serta
implikasi pemahaman legenda DSN yang mencerminkan budaya
GTSMW Kecamatan Sano Nggoang Kabupaten Manggarai Barat,
2) memperkaya khasanah ilmu linguistik kebudayaan sebagai
salah satu perspektif teoretis dalam bidang linguistik kognitif yang
menelaah hubungan kovariatif antara bahasa dan kebudayaan yang
terdapat dalam realitas kehidupan suatu kelompok masyarakat,
3) menjadi acuan bagi penelitian-penelitian lain, terutama
penelitian yang menggunakan acuan teori linguistik kebudayaan
dengan ditopangi berbagai pendekatan yang relevaan, sehingga
semakin tajamnya simpulan yang diambil terhadap struktur,
fungsi, makna dan nilai ekspresi lingual dalam legenda DSN
sebagai cerminan budaya guyub tutur Mata Wae Kecamatan Sano
Nggong Kabupaten Manggarai Barat.

Dalam tataran praktis, buku ini dapat bermanfaat dalam
beberapa hal sebagai berikut: 1) sebagai salah satu sumber rujukan
bagi Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dalam menyusun
dan mengembangkan materi pelajaran Muatan Lokal (MULOK)
bagi sekolah dasar dan sekolah menengah, 2) menyadarkan

8

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

guyub tutur Mata Wae dan Pemerintah Kabupaten Manggarai
Barat akan arti penting nilai-nilai budaya sebagaimana tersingkap
dalam bentuk, fungsi, makna, dan nilai legenda DSN, sehingga
dapat dijadikan sebagai rujukan dalam merancang program
pembangunan masyarakat berbasis keunggulan lokal, secara
khusus program pembangunan wisata berbasis budaya dan
berbasis ekologis, baik dalam lingkup guyub tutur Mata Wae
Kecamatan Sano Nggoang maupun kelompok masyarakat lainnya
di seluruh wilayah Kabupaten Manggarai Barat, dan 3) sebagai
upaya konkrit dalam rangka pelestarian dan pemertahanan bahasa
Manggarai pada Guyub Tutur Subdialek Mata Wae Kecamatan
Sano Nggoang Kabupaten Manggarai Barat di tengah ancaman
hempasan gelombang globalisasi saat ini.

9

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

BAGIAN DUA
Gambaran Umum Etnografi
Budaya Masyarakat Desa Wae
Sano dan Desa Sano Nggoang

Paparan etnografi budaya masyarakat Desa Wae Sano dan Desa
Sano Nggoang bertujuan untuk mendapatkan gambaran
umum konteks budaya Mata Wae yang melatari legenda DSN.
Merujuk pada kerangka etnografi budaya yang dikemukakan
Koentjaraningrat (2009:255-299), fokus bahasannya melingkupi:
(a) lokasi, lingkungan alam, dan demografi; (b) bahasa; (c) sistem
religi; dan (d) kesenian.

Desa Wae Sano secara administratif merupakan bagian dari
wilayah Kecamatan Sano Nggoang. Desa Wae Sano yang berjarak
60 km dari Labuan Bajo ibu kota Kabupaten Manggarai Barat dan
dapat diakses melalui jalan darat dengan waktu tempuh kurang
lebih 3 jam perjalanan, berbatasan dengan Desa Golo Mbo, Desa
Nampar Macing dan Desa Golo Leleng di bagian utara, di bagian
selatan dengan Desa Nanga Bere, di bagian timur dengan Desa
Wae Wako dan di bagian barat dengan Desa Pulau Nuncung,
Desa Mata Wae, dan Desa Manting. Desa yang memiliki luas
wilayah kurang lebih 4000 ha, dengan Nunang sebagai pusat
pemerintahan terdiri dari lima dusun, yaitu: (1) dusun Nunang;
(2) dusun Lempe; (3) dusun Dasak; (4) dusun Ta’al I; dan (5)
dusun Ta’al II, dan terdiri dari 14 RT, antara lain: (1) RT Nunang
I; (2) RT Nunang II; (3) RT Lempe I; (4) RT Lempe II; (5) RT
10

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Wakar I; (6) RT Wakar II; (7) RT Dasak I; (8) RT Dasak II; (9)
RT Ponceng Kalo I; (10) RT Ponceng Kalo II; (11) RT Ta’al I; (12)
RT Ta’al II; (13) RT Ta’al III; dan (14) RT Ta’al IV (Data Desa Wae
Sano Tahun 2012).
Lingkungan Alam

Desa Wae Sano, secara keseluruhan merupakan suatu wilayah
yang dikelilingi perbukitan dan pegunungan. Gunung Poco
Dedeng, Gunung Tewa Sano dan Gunung Golo Dewa atau dikenal
juga dengan sebutan Puncak Savana dengan bentangan hutan
nan hijau dan asri merupakan kawasan yang sangat potensial bagi
pengembangan wisata alam. Puncak Savana yang berlokasi di
sebelah atas kampung Nunang merupakan salah satu spot wisata
alam yang baik untuk bisa menyaksikan dan menikmati liukan
panorama di sekitar danau Sano Nggoang. Hal ini dapat dicermati
pada peta potensi wisata alam danau Sano Nggoang berikut ini.

Peta 1. Peta Potensi Wisata Alam Danau Sano Nggoang
(Sumber: Burung Indonesia)

11

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Danau Sano Nggoang
Danau Sano Nggoang merupakan suatu danau vulkanik

yang mengandung zat belerang. Danau yang berwarna hijau
ini, memiliki luas 513 ha, diameter 2.5–3 km, dengan kedalaman
mencapai 600 m. Danau yang berada pada ketinggian 750 m
di atas permukaan laut ini dikelilingi oleh perbukitan, gunung
(Puncak Savana, Gunung Tewa Sano, Gunung Poco Dedeng) serta
kelompok Hutan Sesok yang terletak di sebelah atas kampung
Nunang Desa Wae Sano (Arif, 2012). Hamparan hijau nan asri
yang diperlihatkan perbukitan, gunung serta tersebut membuat
kawasan ini menjadi suatu bentangan panorama alam yang sangat
eksotik untuk dinikmati.

Gambar 1: Pemandangan Danau Sano Nggoang dari Puncak
Savana(Foto oleh Wiguna, 2011)

Disamping itu, ada beberapa fenomena alam di sekitar
kampung Nunang tepatnya di pinggir danau Sano Nggong bagian
timur. Fenomena alam dimaksud adalah wae lua ‘sumber air
12

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

panas’. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, air ini akan
merespon dengan memberikan syarat lua ‘mendidih’ yang disertai
bunyi seperti air mendidih ketika disapa Empo, mame ga ‘Nenek,
sudah masak kah’. Wae lua ini bisa dimanfaatkan untuk merebus
daun pandan sebagai bahan dasar kerajinan tangan seperti topi,
tikar dan sokal, juga untuk merebus telur dan ubi-ubian.

Gambar 2: Wae Lua
(Foto oleh penulis)

Selain lain itu, ada juga fenomena alam lainnya yang letaknya
tidak jauh dari lokasi wae lua, yang oleh masyarakat setempat
dinamakan wae bobok. Airnya yang hangat serta mengandung
zat belerang membuat air dapat dimanfaatkan untuk mandi dan
diyakini dapat menyembuhkan penyakit kulit seperti rompong
‘kudis’ serta penyakit kulit lainnya. Lumpur yang mengandung
zat belerang yang ditemukan di sekitar air ini dapat digunakan
sebagai lulur.

13

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Gambar 3: Wae Bobok
(Foto oleh penulis)

Gambar 4. Pemandian Air Hangat Wae Bobok
(Sumber: Burung Indonesia)

Lingkungan alam sebagaimana telah dipaparkan di atas turut
membentuk persepsi dan konsepsi GTSMW tentang keberadaan
legenda DSN.
14

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Demografi
Desa Wae Sano yang berjarak kurang lebih 15 km dari

Werang ibu kota Kecamatan Sano Nggoang memiliki jumlah
penduduk 1.300 jiwa dan 260 KK yang tersebar pada lima dusun
sebagaimana telah dipaparkan di atas. Penduduk Desa Wae Sano
rata-rata bermatapencaharian bertani, beternak, dan lain-lain.
Selain melakukan pekerjaan pokok sebagai petani dan peternak,
ada juga yang melakukan usaha sampingan seperti usaha kios,
dan kerajinan tangan seperti menganyam topi, tikar dan sokal
yang diolah dari bahan dasar daun pandan.

Desa Sano Nggoang
Desa Sano Nggoang pada mulanya berada pada teritoria

adminitrasi pemerintahan Desa Wae Sano. Namun seiring
bertambahnya jumlah penduduk dan demi mendekatkan
pelayanan kepada masyarakat, Desa Wae Sano kemudian
dimekarkan menjadi dua Desa dengan nama Desa Wae Sano dan
Desa hasil pemekaran diberi nama Desa Sano Nggoang. Kepala
Desa yang pertama dijabat oleh Yohanes B. Isakar, dan dengan
SK Bupati Manggaraai Barat Nomor 01/KEP/HK/2010 tanggal
9 Januari 2010, Fransiskus Amat ditetapkan sebagai Kepala Desa
Sano Nggoang yang ke tiga.

Sebagimana Desa Wae Sano, Desa Sano Nggoang secara
administratif merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Sano
Nggoang. Desa yang memiliki luas wilayah kurang lebih 2.300 ha,
berbatasan dengan dengan Desa Golo Ndaring dan Golo Manting
di bagian utara, di bagian selatan berbatasan dengan Desa Pulau
Nuncung dan Desa Mata Wae, di bagian timur berbatasan dengan
Desa Wae Sano, dan di bagian barat berbatasan dengan Desa Golo
Sengang.

15

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Lingkungan Alam
Desa Sano Nggoang yang berada kurang lebih 7 km dari

Werang ibu kota Kecamatan Sano Nggoang memiliki kondisi
alam yang terdiri dari lembah dan perbukitan dengan curah
hujan rata-rata pertahun antara 6 s/d 8 bulan (Data Desa Sano
Nggoang tahun 2012).

Desa Sano Nggoang, sebagimana Desa Wae Sano, selain
memiliki objek wisata alam danau Sano Nggoang juga memiliki
objek wisata berupa batu alam yang dinamakan Watu Nggoang.

Watu Nggoang ‘Batu Nggoang’
Watu Nggoang merupakan sebuah batu yang terdapat di

perbukitan bagian barat Danau Sano Nggoang, tepatnya terletak
di kampung Nggoang Desa Sano Nggoang. Watu Noggoang yang
terletak di sebelah kiri jalan antara Kampung Nggoang menuju
Kampung Paku, memiliki ukuran tinggi 80 cm serta diameter
98,73 cm.

Konon, menurut cerita yang disampaikan Bapak Yosep
Sudin, bahwa pada suatu ketika di jaman dulu, Empo ‘nenek
moyang’ orang Nggoang yang berdiam di puncak gunung yang
disebut Golo Hiher (golo= gunung) setiap malam melihat suatu
nyala yang nampaknya seperti nyala api. Karena terdorong oleh
rasa ingin tahu, mereka mencoba mencari di mana sesungguhnya
sumber nyala tersebut.

Ternyata, nyala tersebut berada di tempat di mana kampung
Nggoang ada saat ini. Pada awalnya, mereka dipenuhi rasa takut
untuk mencoba datang lebih dekat ke sumber nyala itu. Namun,
dengan keberanian yang luar biasa mereka berusaha mendekat.
Semakin mereka mendekat, nyala tersebut semakin kecil dan
akhirnya menghilang. Ketika nyala tersebut menghilang,
yang tampak di depan mereka adala sebuah batu. Lalu mereka

16

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

mendekat dan mendekat dan akhirnya mereka memegang batu
tersebut. Pada saat itu mereka merasa nyaman. Karena merasa
nyaman, Empo orang Nggoang tadi berkesimpulan bahwa tempat
itu merupakan suatu tempat yang aman untuk pemukiman
mereka. Singkat cerita, akhirnya mereka pindah ke tempat
tersebut dan mereka membaptis kampung mereka dengan nama
beo ‘kampung’ Nggoang (HW)2.

Gambar 5b. Watu Nggoang di Kampung Nggoang
Desa Nggoang

(Foto oleh Pak Ferdi Semardis, S.Pd, Desember 2021)

2 Hasil Wawancara dengan Bapak Yoseph Sudin pada tanggal 22 Februari 2013 di
Kampung Nggoang.

17

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Demografi
Desa ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 1.125 jiwa

dengan jumlah KK sebanyak 237 yang tersebar di empat yaitu
dusun Nggoang, dusun Cowang Anak, dusun Bokak Rangga, dan
dusun Golo Mburing.

Penduduk Desa Sano Nggoang rata-rata bekerja sebagai
petani, dan sebagian kecil lainnya bekerja sebagai buruh kasar,
tukang bangunan, dan peternak di samping melakukan usaha
kios kecil-kecilan yang dapat memenuhi kebutuhan harian
masyarakat setempat.

Penduduk Desa Sano Nggoang mempunyai mata pencaharian
utama petani dan sebagian kecilnya sebagai buruh kasar,
pertukangan, dan peternak disamping kegiatan lain seperti
kegiatan simpan pinjam, kelompok tani dan lain-lain. Tingkat
pendidikan dari penduduk Desa Sano Nggoang masih sangat
memprihatinkan. Hal ini dapat dicermati dari data tingkat
pendidikan dimana penduduk yang buta huruf sebanyak 9. 24
persen, Sekolah Dasar 48.17 persen, SMP 11.46 persen, SMA 8.17
persen, D2 0.08 persen, D3 0 persen dan S1 0,88 persen, yang
drop out tingkat SD sebesar 2.57 persen. Kenyataan ini disebabkan
oleh tingkat ekonomi yang masih rendah dan diperparah oleh
jangkauan ke lembaga pendidikan yang ada khususnya SD cukup
jauh dari pemukiman. Tetapi bersyukurlah bahwa sekarang ini
sudah ada dua lembaga pendidikan SD yang berada di Desa Sano
Nggoang sehingga pelayanan bidang pendidikanan semakin dekat.

Bahasa
Bahasa yang digunakan oleh warga Desa Wae Sano dan

Desa Sano Nggoang baik sebagai wahana komunikasi dan
interaksi dalam konteks sosial dan konteks budaya adalah
bahasa Manggarai subdialek Mata Wae. Hal ini dapat dicermati

18

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

dari pembagian wilayah daerah bahasa Manggarai yang dilakukan
P. Jilis Verheijen, SVD. Menurut Verheijen bahasa Manggarai
terdiri dari empat bagian wilayah bahasa, yakni: subdialek barat,
timur, tengah dan subdialek SH. Di bagian barat ada subdialek
Kempo, Boleng, Mata Wae, Welak dan subdialek Komodo di
pulau Komodo (Berybe, 2007)

Secara leksikal, istilah ‘bahasa’ dalam subdialek Mata
Wae adalah nunduk yang memiliki padanan makna dengan
‘berbicara’ dalam bahasa Indonesia. Makna kata nunduk tersebut
menandakan ciri kelisanan GTSMW di Desa Wae Sano dan Desa
Sano Nggoang pada khusunya dan kecamtan Sano Nggoang pada
umumnya.

Sistem Religi
Sebagaimana guyub tutur lainnya dalam etnik Manggarai,

GTSMW juga memiliki sistem kepercayaan atau religi asli yang
diwariskan secara turun temurun dari para leluhurnya. Hal ini
sangat jelas tercermin dari penggunaan ekspresi kebahasaan
kebahasaan Keraeng ca kipi cenges agu janggok lewe agu tenteng
ca nggalak lewe ‘Keraeng yang berkumis tebal dan berjenggot
panjang, dan membawa sebatang tombak panjang’ dalam legenda
DSN, yang menggambarkan persepsi GTSMW tentang adanya
kekuatan lain yang adikodrati yang lebih berkuasa di luar dirinya.

Kesenian
GTSMW, sebagaimana guyub tutur lainnya di Manggarai,

memiliki kesenian seperti tarian caci, ndu ndu ndake, tetek alu,
nyanyian daerah (lagu rakyat), seni kerajinan tangan seperti
anyaman topi, tikar dan sokal yang berbahan dasar daun pandan,
serta tradisi lisan seperti legenda DSN, ungkapan-ungkapan serta
tradisi lainnya. Berkaitan dengan tradisi dalam bentuk ungkapan-

19

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

ungkapan dan tradisi lainnya, dapat disimak pada paparan singkat
berikut.

Ungkapan Getok de Empo dan Ungkapan One Rum Raes
One Rum Deres

Ungkapan getok de empo sesungguhnya merupakan suatu
ungkapan yang menyatakan makian. Dengan demikian
ungkapan ini merupakan sesuatu yang tabu. Tetapi dalam realitas
kehidupan warga GTSMW, ungkapan ini sering digunakan untuk
menyatakan rasa heran, misalnya getok de empo mese tu’ung wae
ho’o ‘wow, sungguh besar air ini’, untuk menyatkan rasa kagum,
misalnya getok de empo molas tu’ung ine wai hio ‘luar biasa, cantik
nian perempuan itu’, atau bisa juga untuk menyatakan rasa kesal,
misalnya ketika anak dalam rumah melakukan tindakan yang
tidak menyenangkan, orang tua langsung mengatakan getok de
empo tung anak ho’o ta ‘sungguh keterlaluan nakalnya anak ini’.

Ungkapan one rum rae one rum deres ‘akibat dari apa yang
kau lakukan akan ditanggungmu sendiri’, merupakan suatu
ungkapan yang dituturkan oleh orang tua ketika menghadapi
perlakuan yang sungguh menyentuh perasaan atau sangat
menyakitkan hati. Ungkapan ini, apabila dicermati secara
sungguh, merupakan suatu bentuk sumpah atau kutukan. Kata
rae dan deres pada ungkapan tersebut sama-sama menunjukka
pada arti merah. Dalam pengertian umum, merah adalah tanda
bahaya. Apabila ungkapan ini dituturkan itu berarti bahwa
hubungan orang tua dengan menjadi tidak harmonis lagi (HW)3.
Dengan demikian, ungkapan ini merupakan salah satu benteng
penjaga keharmonisan relasi sosial yang berkembang dalam
realitas kehidupan masyarakat Mata Wae pada khususnya dan
Manggarai Barat pada umumnya.

3 Hasil Wawancara dengan Bapak Adi Hamut di Labuan Bajo pada tanggal 1 Maret 2013

20

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Tradisi Tabe Lime (Jabatan Tangan)
Tabe lime ‘jabat tangan’ merupakan salah satu tradisi yang

masih bertahan dan berkembang dalam masyarakat Desa Wae
Sano dan Desa Sano Nggoang sebagai bagian dari GTSMW.
Tradisi ini merupakan suatu perilaku yang sangat bagus. Tabe lime
sebagai suatu tradisi khas dan unik biasanya dilakukan oleh tuan
rumah terhadap tamu yang mengunjungi rumahnya. Tindakan
tabe lime ini disertai dengan sapaan khas sang tuan rumah ite, ce’e
bo, atau hitud ite bo ‘selamat datang Pak’ sambil menganggukkan
kepala merupakan suatu simbol yang menandakan bahwa sang
tuan rumah menerima kedatangan atau kunjungan tamu dengan
ramah. Dengan kata lain, perilaku tabe lime yang disertai peri
tutur ite ce’e bo atau hitud ite bo merupakan tanda keramahan dan
kehangatan serta persabatan dalam masyarakat GTSMW. Yang
menarik adalah bahwa perilaku tersebut tidak hanya dilakukan
pada saat menerima tamu di rumah, tetapi dilakukan bila bertemu
dengan seseorang di jalan baik kepada sahabat kenalan maupun
kepada tamu atau orang asing (HW)4.

4 Hasil Wawancara dengan Bapak Yoseph Subur di Nunang pada tanggal 23 Februari
2013

21

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

BAGIAN TIGA
Panorama Bahasan
Legenda DSN

SStruktur Legenda DSN
truktur teks legenda DSN merupakan suatu proses perangkaian
gagasan atau pemikiran yang menunjukkan kemampuan
genetis untuk menstruktur gejala-gejala yang dihadapi di seputar
kehidupan para leluhur GTSMW. Gejala-gejala tersebutnya
distrukturnya dalam sebuah teks naratif yang terdiri dari bagian-
bagian yang merupakan suatu kesatuan yang utuh yang secara
holistik dapat dilihat sebagai cerminan budaya GTSMW. Untuk
menganalisis proses penstrukturan teks legenda DSN, peneliti
merujuk pada pandangan van Dijk (dalam Bungin, 2007:203)
yang mengkaji struktur makro, superstruktur, dan struktur
mikro. Kerangka konseptual tersebut dipakai sebagai model
pengkajian dalam penelitian ini dengan tujuan untuk melihat
hubungan pesan yang terkandung dalam legenda DSN. Tetapi,
dalam penelitian ini, peneliti hanya menganalisis superstruktur
yang berkenaan dengan struktur teks yang terdiri atas bagian
pendahuluan, isi, dan penutup. Ketiga bagian struktur teks
tersebut merupakan suatu rangkaian teks utuh dan saling terkait
dalam legenda DSN.
22

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Pendahuluan
Bagian pendahuluan penutur memulai kisahnya degan

memperkenalkan setting atau latar yang berpautan dengan waktu
sebagai pemarkah temporal dan tempat sebagai pemarkah lokatif
serta perkenalan tokoh yang terlibat dalam legenda DSN. Struktur
pendahuluan legenda DSN berupa latar waktu dan tempat serta
tokoh yang ditampilkan di dalamnya, dapat dilihat pada cuplikan
di bawah ini.

(01) Teks Asli
Danong one Sano Nggoang iwo manga ho’o ga; lengkong mese.
One lengkong mese hitu lodok uma data Nunang, Lokong,
Nggoang, Lempe, Kandang agu Wewa.
Uma duat data Nunang, Mberai agu Wakar Uma duat data
Lempe agu Kandang lau Sambi agu Wae Mese. Uma duat
data Lokong one Angkor agu Tana Rampas. Uma duat data
Nggoang one Kaca agu Wae Wesang-Bokak Rangga. Uma duat
data Wewa one Ta’al.
Laing ca cekeng pacek ga, taung na ata Nunang, Lempe,
Kandang, Lokong, Nggoang, agu Wewa mo one uma duat
taungs e; ai cekeng wa’u wini.
One lengkong iwo ca sano ho’o ga uma lokang dise ata beo
enem situ. Ata goe nditu, laing ca wa’u wini hitu ga; hanang
ise Bukuk agu Buta, agu ca acu ra ngasang na Solek. Acu hitu
goe ata ngance war apa ata tau tai taur apa ata manga dise.
Panden lise ga, pongo one iko acu apa ata tau tai tau dise.

Terjemahan
Pada jaman dulu di danau Sano Nggoang yang ada saat ini,

terdapat suatu dataran luas di mana terdapat lokasi pusat kebun
dan perkampungan orang-orang Nunang, Lokong, Nggoang,
Lempe, Kandang, dan Wewa.

23

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Pada saat musim tanam tiba, semua orang pergi bekerja di
kebunnya masing-masing.

Pada dataran di mana terdapat danau Sano Nggoang sekarang
ini, merupakan bekas kebun komunal ‘uma lodok’ milik orang-
orang dari keenam kampung tersebut. Yang tidak pergi ke kebun
untuk bekerja pada saat musim tanam itu, hanya si Bukuk dan si
Buta dan seekor anjing bernama Solek.

Si Solek adalah satu-satunya teman si Bukuk dan si Buta yang
dapat membantu mengatasi kebutuhan keduanya. Biasanya,
mereka mengikat pada ekor anjing tersebut apa yang hendak
mereka berikan pada satu sama lain.

Cuplikan teks di atas memperlihatkan gambaran waktu,
tempat dan tokoh utama yang berperan dalam legenda DSN.
Latar waktu yang melukiskan kapan peristiwa terjadi ditandai
dengan penggunaan kata danong ‘pada jaman dulu’ yang berfungsi
sebagai pemarkah temporal. Sedangkan tempat di mana peristiwa
itu terjadi ditandai dengan penggunaan ekspresi lingual one Sano
Nggoang iwo manga ho’o ga, lengkong mese ‘di danau Sano Nggoang
yang ada sekarang ini, terdapat suatu dataran luas’ sebagai
pemarkah lokatif. Kata yang menunjukkan tempat dapat dilihat
dari penggunaan adverbia one ‘di’.

Tokoh yang berperan sebagai pelaku utama yang dikisahkan
dalam legenda DSN adalah si Bukuk dan si Buta, serta seekor
anjing bernama Solek. Bukuk oleh si pencerita digambarkan
sebagai tokoh yang tidak bisa berjalan alias lumpuh, dan Buta
adalah tokoh yang tidak bisa melihat sebagaimana terlihat dari
namanya si Buta. Sedangkan Solek adalah seekor anjing yang setia
menemani si Bukuk dan si Buta.

Sebagai uraian lebih lanjut dari gagasan yang tertuang pada
bagian pendahuluan di atas, selanjutnya pencerita memaparkan

24

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

proses terjadinya sebuah danau (yang dewasa ini dikenal dengan
nama danau Sano Nggoang) yang merupakan peristiwa puncak
legenda DSN. Pada bagian ini, pencerita mengisahkan secara
kronologis masalah yang dialami tokoh utama, proses pemecahan
masalah dan akibat yang ditimbulkan oleh penanganan masalah
tersebut sampai dengan munculnya sosok atau wujud yang
memberikan ganjaran kepada si Bukuk dan si Buta dalam bentuk
luapan air. Selengkapnya kisah tersebut dapat disimak pada
cuplikan berikut.

(03) Teks Asli
Ca leso ga, pesa gaut api de Buta. Mai Buta ga benta Bukuk; a
o ka’e, manga api dite? Ai coe leng; pesa api gau ga? Eng ha kae
de. E coe na panden ga, bom ngance lako goe aku. Mai jaong
de Buta ga, kuing gaut acu ho’o lite go, pongo one ikon lite cupu
api ding, poli hitu ding ga kuing nge. Mai jaong de Bukuk ga,
e... e... nggitu e ga.
Mai Bukuk ga pongo api one iko de acu ho’o. Poli pongon ne ga,
nggo’o jaong ngo Buta nega, kuing Solek le hau ko. Mai buta
ga, kuing acu hitu, “Solek...., Solek o....” Mburuk acu ho’o ga,
kaping Buta.
Bo le buta toe ita e; co’e panden acu ho’o laing ca mburuk na,
laing duing kolang api. le Bukuk ita e panden acu ho’o, haem
ata pur gaut api one iko acu ho’o. “kangang .... kangang”, beka
gonggarn api. Tau mo campe le Buta, ina toe ita salang; tau mo
campe kole le Bukuk ina toe kole ngance tau lako. Oloen tawa
dise. Ruda matan acu ga, muntung le genggarn nggoangn api.
Sangge tau ho’o manga eng masun acu hitu le lupi Sano Nggoang
hitu.
Laing ca matan acu hitu ga, kembung dise o, nawes nai ai mata
acu momang ata tau lembar apa ata tau tai tau dise ata sua.

25

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Laing hitue nawes dise ga, tua gaut ca ngatae ata kipi
cenges, janggok lewe, tenteng ca nggalak lewe, agu jaong one
ise,”Bukuk...”. Wale le bukuk,”Io ite....”. Jaong kole agu buta.
“Buta...”. Wale le Buta, “Io ite....”. Co’o tara nggitun panden
acu hitu le hemi. Mai jaong de Bukuk ga, “tegi api Buta ra ite,
toe ngance lako aku, laing nggitun o mori ga, mai aku pongo api
one iko acu hitu, nggoang gaut api laing mburuk de acu hitu,
itu tara matan acu hitu.
Mai jaong na, “Darem hemi ko?”. Wale lise ga, “Io ite”. Ha....
di’am nggitu. Aku ri hemi ata sua. Apa niak gemi ata sua.
Hang kar ko hang lebo? Wale lise ga, “ Hang lebo ra ite”. Ha
...., o lebo ho’o. Cekan tu nggalak hitu le keraeng ca kipi cenges
agu janggok lewe ho’o nggere wa tana, wa mai taung nggalak
ho’o one tana. Poli hitu ga kebut nggalak hitu le keraeng ca kipi
cenges agu janggok lewe hitu, neka ....., lua gaut wae, peno gaut
lengkong uma dise ata beo enem situ.

Terjemahan
‘Pada suatu hari, api milik si Buta padam. Lalu si Buta

meminta kepada si Bukuk. Si Bukuk tidak bisa membawa api
yang diminta si Buta, karena dia tidak bisa berjalan alias lumpuh.
Mengingat api saat itu sangat dibutuhkan, si Buta mengusulkan
kepada si Bukuk untuk mengikatkan puntung api pada ekor si
Solek.

Si Bukuk mengikat api pada ekor anjing tersebut dan meminta
si Buta untuk memanggilnya. Ketika namanya dipanggil, si Solek
segera berlari menuju kepada si Buta.

Dalam perjalanan menuju kepada si Buta, puntung api
yang diikatkan pada ekor si Solek tiba-tiba bernyala. Nyala api
tersebut pelan-pelan menjalar ke bagian tubuh lain dari si Solek.
Hal tersebut membuatnya kepanasan dan berlari ke sana ke mari
sambil melolong kesakitan. Si Bukuk hendak membantunya
tetapi tidak bisa dilakukannya karena lumpuh. Yang dilakukannya
26

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

hanya menertawakan anjing yang belari ke sana dan kemari
karena kepanasan api yang membakar tubuhnya. Si Buta yang
tidak bisa melihat ikut pula menertawakannya. Api terus bernyala
dan semakin bertambah besar, sehingga akhirnya anjing tersebut
mati terbakar.

Sampai saat ini bau anjing terbakar tersebut masih dirasakan
di dekat danau Sano Nggoang. Namanya Wae Bobok.

Ketika si Solek mati, si Bukuk dan si Buta mulai bersedih.
Bersedih karena anjing yang membantu mereka sudah mati.

Pada saat si Bukuk dan si Buta mengalami kepedihan yang
sangat menyayat hat, tiba-tiba muncul di hadapan keduanya,
kakek tua yang berkumis tebal dan berjenggot panjang serta
membawa sebatang tombak. Sang kakek bertanya pada
keduanya tentang alasan kematian si Solek anjing mereka. Si
Bukuk menjawab bahwa si Buta meminta api. Karena dia tidak
bisa berjalan dan atas usulan si Buta, si Bukuk mengikatkan
puntung pada ekor anjing untuk selanjutnya di bawah kepada
si Buta. Penulisannya, sebelum sampai pada si Buta, api tiba-tiba
menyala dan membakar seluruh tubuhnya dan kemudian matilah
anjing tersebut. Mendengar jawaban tersebut, si Kakek misterius
berkesimpulan bahwa keduanya dalam keadaan lapar. Oleh karena
itu, dia menawarkan keduanya mau hang lebo ‘makan bubur’
atau hang kar ‘makan nasi’. Tanpa berpikir panjang, keduanya
serentak menjawab hang lebo. Mendengar pilihan tersebut, sang
kakek misterius langsung menancapkan tombaknya ke dalam
tanah, kemudian segera dicabutnya kembali. Pada saat tombak
tersebut dicabut, muncul luapan air yang sanagat besar dan
mulai memenuhi seluruh kebun dan perkampungan milik orang
Nunang, Lempe, Lokong, Kandang, Nggoang, dan Wewa.

27


Click to View FlipBook Version