The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Refrensi Menarik Untuk Mengenal Subdialek Guyup Tutur Mata Wae Dalam Konteks Legenda Sano Nggoang

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Gusty Rikarno, S.Fil, 2022-02-10 05:03:30

LEGENDA SANO NGGOANG

Refrensi Menarik Untuk Mengenal Subdialek Guyup Tutur Mata Wae Dalam Konteks Legenda Sano Nggoang

Keywords: Legenda,Budaya

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

poli hitu ding ga kuing e.
Sudah itu sebentar KL panggil ANFRS
‘lalu panggil ke situ.’

17 Mai jaong de Bukuk ga, e... e... nggitu e ga.
Datang kata POSS NAMA KL, e... e... begitu ANFRS KL.
‘Si Bukuk berkata, baiklah kalau begitu.’

18 Mai Bukuk ga pongo api one iko de acu ho’o.
Datang NAMA KL ikat api dalam ekor POSS anjing ini.
‘Lalu si Bukuk mengikat api pada ekor anjing tersebut.’

Dari fragmen di atas, tersingkap pesan yang mau disampaikan
kepada pendengar bahwa suatu masalah bisa diatasi hanya
melalui kerja sama. Kerja sama diyakini sebagai sebuah upaya
untuk saling mengisi atau melengkapi kekurangan yang dimiliki.
Dalam kerja sama terjadi proses interaksi satu sama lain. Ketika
proses interaksi berlangsung, maka akan tercipta hubungan yang
harmonis di antra sesama manusia.

Lebih dari itu, pesan yang lebih mendalam yang mau
disampaikan bahwa pada dasarnya kerja sama muncul bukan
karena persoalan mampu dan tidak mampu, tetapi bagaimana
manusia memiliki kepekaan sosial terhadap situasi kekurangan
sesamanya. Keterlibatan diri seseorang dalam kerja sama demi
mengatasi persoalan merupakan suatu upaya menjadikan diri
sendiri sebagai bagian dari yang lain (being other self)

Sacara keseluruhan dapat dikatakan bahwa jika si Bukuk dan
si Buta yang dengan segala keterbatasan mampu membangun
suatu kerja sama yang baik dalam upaya pengatasan masalah yang
dihadapi, maka seharusnya manusia yang sempurna secara fisik
jauh melebihi keduanya dalam mengatasi setiap permasalahan
yang dalam realitas kehidupan bersama dalam masyarakat.

78

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Nilai Solidaritas
Nilai solidaritas bertautan dengan rasa empati terhadap

persoalan yang dihadapi orang lain. Nilai solidaritas dalam
legenda DSN dapat dicermati pada data-data berikut.

03 Danong one Sano Nggoang iwo manga ho’o ga; lengkong mese.
Dulu dalam NAMA bagian ada ini KLTK; dataran besar.
‘Pada jaman dulu di danau Sano Nggoang yang ada sekarang ini,
terdapat suatu dataran yang luas’

04 One lengkong mese hitu lodok uma
Dalam dataran besar itu pusat kebun
‘Pada dataran yang luas tersebut terdapat pusat kebun’

d- ata Nunang, Lokong, Nggoang, Lempe, Kandang agu Wewa.
POSS orang LOC, LOC, LOC, LOC, LOC dan LOC
‘Milik orang-orang Nunang, Lokong, Nggoang, Lempe,
Kandang dan Wewa.’

06 Laing ca cekeng pacek ga,
Saat satu musim tanam KL
‘Pada saat musim tanam’

Taung na ata Nunang, Lempe, Kandang, Lokong, Nggoang agu Wewa
Habis KL orang LOC, LOC, LOC, LOC, LOC dan LOC
‘Semua orang Nunang, Lempe, Kandang, Lokong, Nggoang
dan Wewa’

Mo one uma duat taung- se ai cekeng wa’u wini
Pergi dalam kebun kerja semua ANFRS karena musim tanam benih
‘Semuanya pergi bekerja di kebun karena musimnya untuk
tanam benih’

07 One lengkong iwo ca sano ho’o ga
Dalam dataran bagian satu danau ini KL
‘Pada dataran yang sekarang ini menjadi lokasi danau merupakan

79

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Uma lokang d- ise ata beo enam s- itu.
‘kebun bekas POSS 3JM orang kampung enam ANFRS itu.’
‘bekas kebun milik masyarakat dari keenam kampung tersebut.’

08 Ata goe nd- itu, laing ca wa’u wini h- itu ga;
Orang hanya ANFRS itu, pada satu turun bibit ANFRS itu KL
‘Yang ada di tempat tersebut, pada saat musim tanam itu’

hanang ise Bukuk agu Buta, agu ca acu ra ngasang na Solek.
Sendiri 3JM NAMA dan NAMA, dan satu anjing ANFRS nama
KTFRS NAMA.
‘Hanya si Bukuk dan si Buta, dan seekor anjing milik mereka
yang bernama Solek.’

Ekspresi lingual pada data di atas memberi pesan kepada
pendengar dalam hal ini warga guyub tutur subdialek Mata
Wae untuk selalu solider dengan sesama yang menderita yang
ada dalam realitas kehidupan masyarakat. Nilai solidaritas yang
dimaksudkan dalam legenda DSN sebagaimana tampak pada
data di atas bahwa semua orang boleh saja sibuk mengejar harta
dan kekayaan (data 06) tetapi jangan sampai lupa memperhatikan
orang-orang kecil yang tak berdaya baik secara ekonomi maupun
secara fisik (data 08). Dalam konteks yang lebih luas, ekspresi
lingual di atas menyiratkan pesan agar pemimpin, dalam
merencanakan dan melaksanakan pembagunan, hendaknya tidak
sampai mengorbankan kepentingan orang-orang kecil seperti
yang digambarkan dalam diri tokoh si Bukuk dan Buta.

Implikasi Pemahaman Legenda DSN Terhadap Perilaku
GTSMW

Implikasi pemahaman terhadap legenda DSN merupakan
suatu bentuk kesadaran kolektif GTSMW terhadap penghayatan
nilai sebagaimana dipaparkan di atas, yang terlahir dari kesadaran

80

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

individu, dan muncul atau tampak dalam perilaku setiap setiap
orang dalam realiatas kehidupannya. Implikasi pemahaman
tersebut dapat dicermati pada paparan berikut.

Ekspresi Verbal Empo Mame Ga
Ekspresi verbal Empo mame ga ‘Nenek sudah masak kah’

merupakan suatu tuturan yang diungkapkan ketika melewati
wae lua ‘sumber air panas’. Menurut kepercayaan masyarakat
Mata Wae, sebagaimana disampaikan Bapak Yoseph Subur,
bahwa ketika orang menyapanya demikian air tersebut akan lua
‘mendidih’. Sapaan ini merupakan suatu tanda hormat terhadap
Empo yang memasak air tersebut hingga mendidih. Sapaan
tersebut disampaikan atas dasar keyakinan bahwa ada sesuatu
yang menyebabkan air tersebut mendidih dan panas sepanjang
waktu. Itulah Empo, sang tokoh misterius (HW)11. Selain sebagai
bentuk penghormatan, tuturan tersebut merupakan suatu bentuk
proteksi terhadap keberadaan wae lua sebagai salah bagian yang
tak terpisahkan dari DSN sekaligus mengandung larangan bagi
warga masyarakat untuk tidak membuang kotoran atau sampah
ke dalam dan di sekitarnya.

Ritual Memotong Pohon Kayu di Hutan.
Kayu merupakan salah bagian penting dalam kehidupan

manusia. Kayu dapat dimanfaatkan untuk membuat rumah
atau pondok sebagai tempat berlindung. Jika masyarakat hendak
memotong pohon kayu untuk keperluan membuat rumah atau
pondok maka harus mempersembahkan sebutir telur yang
didahului dengan tuturan Ee denge di’a lite Mori. Haju iwo dedek
dite manga perlun le hami ‘Ee Tuhan simaklah oleh Mu dengan
cermat. Kayu yang Engkau ciptakan kami butuhkan. Rantang

11 Hasil Wawancara dengan Bapak Yoseph Subur di Nunang pada tanggal 23 Februari
2013

81

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

le mu’u kanang ho’o tuak bongko12 ‘Ini tuak bongko sebagai bukti
tuturan’. Setelah tuturan selesai, sebutir telur dilubangi pada satu
sisinya dengan cara meretaknya dengan perlahan-lahan, kemudian
diletakkan dibawah pohon yang hendak ditebang.

Tuturan ritual ini dilakukan dengan tujuan meminta ijin
kepada Sang Pemilik pohon kayu. Basis argumentasi dilakukannya
ritual ini adalah bahwa GTSMW meyakini bahwa segala macam
pohon di hutan tidak tumbuh begitu saja, tetapi dia bertumbuh
karena ada yang merawat dan menjaganya. Persembahan telur
dengan tuturannya tersirat pesan larangan untuk tidak menebang
pohon secara tidak bertanggung jawab.

Larangan Memotong Kayu atau Tumbuhan di Sekitar Danau
Segala macam tumbuhan dan pepohonan di sekeliling DSN

dilarang untuk ditebang baik sengaja maupun tidak sengaja.
Apabila anak-anak bermain di sekitar danau dan memotong kayu
tanpa sengaja, maka dia akan mengalami sakit setibanya di rumah.
Ketika terjadi demikian, maka orang tua mendatangi ata mbeko
(dukun) untuk menanyakan penyebab sakit anak tersebut. Ata
mbeko menjawabnya kalau-kalau si anak telah memotong sebatang
pohon di sekitar danau meskipun tanpa sengaja. Jika demikian,
maka ata mbeko meminta keluarga untuk pergi meminta maaf
kepada pohon yang telah ditebangnya dengan membawa sebutir
telur. Telur tersebut dilubangi pada satu sisinya dengan diretakkan
secara perlahan dan diletakkan di bawah pohon tersebut setelah
menuturkan tuturan Ae denge di’a lite, toe kujung lise, neka rabo
ite. Oe tuak bongko ‘Ae simaklah dengan cermat oleh kita Empo,
mereka tidak sengaja melakukannya, janganlah kita marah. Ini
tuak bongko.

12 Tuak Bongko (Tuak=sadapan air nira atau enau. Bongko sebuah wadah yang terbuat
dari sejenis kestela kering. Tuak bongko bagi leluhur yang telah meninggal dan roh-
roh atau mahkluk halus adalah telur mentah.

82

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Persembahan telur dengan tuturan tersebut bertujuan untuk
memulihkan hubungan si anak yang sakit dengan roh leluhur dan
mahkluk halus yang berdiam di sekitar pohon yang dipotong.
Ketika relasi tersebut terpulihkan maka diyakini si anak pasti
sembuh. Selain pemulihan hubungan, tuturan serta persembahan
telur tersebut merupakan suatu petunjuk agar anak-anak tidak
memotong atau menebang kayu di sekitar DSN.

Neka Benggat Darat
Ekpresi lingual neka benggat darat ‘jangan menyebut darat’

merupakan suatu ungkapan yang mengandung negasi untuk tidak
menyebut nomina darat ketika lewat di sekitar DSN atau ketika
masuk hutan. Kalau sampai dituturkan, akan menimbulkan
sakit. Menyebut kata darat ketika lewat di sekitar danau atau
di dalam hutan akan mengusik ketenangan roh atau mahkluk
halus darat, karena hutan adalah tempat kediamanya. Larangan
ini bertujuan untuk menghormati dan menjaga alam DSN dan
hutan di sekitarnya.

Terkait dengan itu, Verheijen (1991:224-225) mengatakan
bahwa darat dalam pandangan orang Manggarai merupakan wujud
yang menguasai sisi lain, sisi gaib di bumi ini. Darat merupakan
roh alam yang mempunyai sifat individual yang biasanya baik,
tetapi ada kekecualian. Mereka tidak menyusahkan kita, kalau
kita mengindahkan hak-hak mereka. Darat berhubungan erat
dengan bumi, dan berdiam dalam hutan, di pohon-pohon besar,
di puncak-puncak gunung, di wadas-wadas.

Pendapat di atas hendak menegaskan bahwa larangan benggat
darat merupakan suatu perintah untuk menghormati dan menjaga
ketenangan (baca keseimbangan) alam yang secara tidak langsung
melarang orang untuk tidak menebang atau memotong pohon
kayu di sekitar DSN dan hutan di sekitarnya. Menebang hutan

83

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

akan menimbulkan keributan yang mengganggu ketenangan
roh alam termasuk darat. Tidak hanya mengganggu ketenangan
alam, tetapi juga menimbulkan bencana alam yang pada akhirnya
merugikan manusia itu sendiri.
Larangan Tidak Boleh Menyengsarakan Binatang.

Binatang sebagai bagian dari alam sekitar dan bagian dari
ciptaan Sang Wujud Tertinggi, sekali-kali tidak boleh disakiti dan
disiksa yang membuatnya hidup sengsara. Jika hal itu dilakukan,
si pelaku akan mengalami saring atau ciwek ‘menderita atau sakit’
sebagaimana yang dialami binatang yang disiksanya.

Paparan di atas menunjukkan bahwa legenda DSN
merupakan suatu teks lisan yang kaya akan fungsi, makna, nilai
serta mempunyai implikasi yang berguna bagi penataan pola
perilaku bagi GTSMW.

84

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

BAGIAN EMPAT
Simpulan dan Rekomendasi

Tujuan utama yang hendak dicapai dalam penulisan
buku ini adalah untuk memaparkan, menafsirkan, dan
menjelaskan secara mendalam tentang struktur, fungsi, makna,
nilai serta implikasi pemahaman legenda DSN dalam realitas
kehidupan GTSMW. Dalam kaitan dengan itu, pada bab ini
penulis menyajikan beberapa simpulan sebagai serapan gagasan
pemikiran yang telah ditelaah dalam tesis ini yang disertai dengan
beberapa rekomendasi, baik rekomendasi yang bersifat teoretis
maupun yang bersifat praktis berkaitan dengan permasalahan
yang dihadapi dewasa ini.
Simpulan

Dalam buku ini, penulis mengkaji ekspresi lingual dalam
legenda DSN yang merupakan cerminan budaya GTSMW.
Cerminan budaya yang terpantul dari legenda DSN dapat
dilihat dari hasil analisis struktur, fungsi, makna, dan nilai yang
terkandung di dalamnya, serta implikasi pemahamannya terhadap
pola perilaku GTSMW dalam realitas kehidupan bermasyarakat.

Berdasarkan hasil analisis struktur, fungsi, makna dan nilai yang
tersingkap dalam legenda DSN, penulis menyampaikan beberapa
simpulan sebagai berikut. 1) Legenda DSN merupakan sebuah teks

85

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

naratif yang yang diwarnai beberapa rangkaian dialog. Ditinjau
dari struktur penceritaannya, legenda DSN terdiri atas tiga bagian,
yaitu: pendahulaun, isi, dan penutup. Pada bagian pendahulaun
penutur memperkenalkan latar waktu yang ditunjukkan dengan
penggunaan kata danong ‘pada jaman dahulu’ dan latar tempat
yang ditunjukkan dengan penggunaan satuan kebahasaan one Sano
Nggong iwo manga ho’o ga, ca lengkong mese ‘di danau Sano Nggoang
yang ada sekarang ini, terdapat suatu dataran luas dan besar’. Tokoh
yang terlibat dalam legenda ini adalah si Bukuk yang dilukiskan
sebagai seseorang yang lumpuh dan si Buta.

Pada bagian isi, penutur menuturkan jalannya cerita secara
kronologis mulai dari padamnya api si Buta sampai kepada
pengatasan masalah ketiadaan api dengan mengusulkan kepada
si Bukuk untuk memanfaatkan anjing sebagai media dengan cara
mengikatkan puntung api ekor si Solek anjing mereka. Dalam
perjalanan menuju kepada si Buta, puntung mulai menyala dan
membakar seluruh tubuh anjing tersebut dan akhirnya mati.
Ketika anjing mati mereka merasa kepedihan yang mendalam. Di
tengah situasi tersebut, muncullah seorang misterius yang berkumis
panjang dan berjenggot panjang serta membawa sebatang tombak.
Dia menanyakan kepada si Bukuk dan si Buta tentang apa yang
mereka telah lakukan pada anjing tersebut. Si tokoh misterius
kemudian menawarkan keduanya, mau makan nasi atau makan
bubur. Karena mereka memilih makan bubur, dia lalu menancapkan
tombaknya ke dalam tanah dan mencbutnya kembali yang segera
diikuti luapan air yang deras dan memenuhi seluruh dataran kebun
dan perkampungan milik keluarga Bukuk dan Buta.

Bagian penutup dari cerita tersebut, dikisahkan bahwa orang-
orang yang baru saja pulang dari pekerjaan menanam benih, tidak
lagi mendapatkan bekas kebun dan kampung mereka, tetapi yang
mereka saksikan adalah genangan air dalam jumlah yang banyak

86

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

dan merata di mana-mana. Itulah tiwu mese ‘kolam besar’, atau
Wae Sano ‘Air Danau’. Di samping itu, pencerita juga menceritakan
tentang keberadaan Watu Nggoang ‘batu Nggoang’ di kampung
Nggoang, yang konon ceritanya, batu tersebut akan bernyala pada
malam hari. Itulah danau Sano Nggoang, 2) Berdasarkan hasil
telaahan struktur, legenda DSN memiliki beberapa fungsi yang
saling terkait dalam satu kesatuan secara holistik dengan realitas
kehidupan GTSMW, yaitu sebagai sarana pendidikan dan sarana
hiburan.

Di samping sebagai sarana pendidikan dan sarana hiburan,
secara tekstual legenda DSN mengemban fungsi referensial, fungsi
konatif, fungsi emotif, fungsi metalinguistik, dan fungsi puitik,
3) Selain mengandung fungsi, legenda DSN juga menyingkap
beberapa makna antara lain sebagai berikut. Pertama, makna
religius. Makna religius bertautan dengan konsep Wujud
Tertinggi yang berkembang dalam realitas kehidupan GTSMW.
Kedua, makna didaktis. Makna didaktis bertautan dengan data
kebahasaan dalam legenda DSN yang mengandung ajaran, antara
lain: (1) manusia tidak boleh mudah menyerah dalam perjuangan
mempertahankan hidup meskipun kondisi fisik terbatas (lumpuh,
buta); (2) manusia harus senantiasa berempati dengan sesama yang
berkekurangan dan berusaha menolong dengan penuh ketulusan;
(3) manusia dididik untuk memaksimalkan potensi dalam dirinya
serta potensi sumber daya alam.

Ketiga, makna historis berkenaan dengan latar waktu dan
tempat dan tokoh yang terlibat serta peristiwa yang terjadi.
Keempat, makna yuridis. Makna yuridis berkaitan dengan norma
dalam membina dan menjaga hubungan manusia dengan alam
dan hubungan manusia dengan Sang Penciptanya. Kelima, makna
sosiologis. Makna sosiologis bertalian dengan hakikat manusia
sebagai homo socius yang harus peka terhadap siatuasi kekurangan

87

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

yang dialami sesama serta membantu mengatasi kekurangan yang
dialaminya. Keenam, makna politis. Makna politis bersentuhan
dengan proses diskursus melahirkan keputusan demi tercapainya
suatu tujuan.

Yang terakhir adalah makna ekologis. Makna ekologis
berkaitan pandangan GTSMW terhadap keberadaan DSN dan
hutan di sekitarnya sebagai suatu aset yang sangat potensial
bagi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu perlu ditanamkan
kesadaran untuk menjaga dan melestarikan danau Sano Nggoang
demi terciptanya hubungan yang haromonis baik manusia
dengan alam, maupun manusia dengan Sang Pencipta. 4) Di
samping mengemban beberapa makna, legenda DSN juga
memiliki berbagai nilai, antara lain: Pertama, nilai keyakinan
dan ketaatan terhadap Wujud Tertinggi. Terkait dengan nilai
ini, GTSMW diajak untuk meyakini Sosok Wujud Tertinggi
sebagai Pencipta dan Penguasa kehidupan, serta diminta untuk
mentaati segala PerintahNya. Kedua, nilai hidup. Dalam nilai ini
tersirat pesan agar GTSMW memanfaatkan potensi lahan yang
dimiliki serta pandai memanfaatkan peluang demi peningkatan
taraf hidup yang lebih baik. Ketiga, nilai kerja sama. Mengingat
hakekat manusia yang tidak sempurna, maka GTSMW diajak
untuk bekerja sama dalam mengatasi setiap persoalan hidup yang
dihadapinya, karena dalam kebersamaan semuanya bisa. Dan
Terakhir, nilai solidaritas. Pesan yang disampaikan dari nilai ini
adalah agar GTSMW menyadari visi karitatif dalam hidupnya
dengan membantu sesama yang berkekurangan.

Implikasi
Implikasi pemahaman kebahasaan dalam legenda DSN

terhadap prilaku orang Manggarai terutama GTSMW dapat
disimpulkan sebagai berikut. Pertama, ungkapan Empo, mame ga

88

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

‘Empo, sudah masak kah’ merupakan sapan kehormatan terhadap
Sang Pencipta alam semesta. Kedua, tuturan sebelum menebang
pohon merupakan suatu perintah untuk tidak menebang pohon
secara tidak bertanggung jawab. Ketiga, Tuturan Ae denge di’a lite,
toe kujung lise, neka rabo ite. Oe tuak bongko menyiratkan pesan
untuk senantiasa menjaga keseimbangan alam DSN dengan
tidak menebang pepohonan di sekitarnya. Keempat, Espresi
neka benggat darat sesungguhnya mengandung perintah untuk
menjaga keseimbangan alam DSN. Dan kelima, menyengsarakan
binatang hendaknya dihindari, karena akan mendatangkan
kerugian manusia itu sendiri. Menyengsarakan binatang adalah
tindakan pengkhianatan terhadap Sang Wujud Tertinggi yang
telah menciptakan alam semesta termasuk binatang.

Rekomendasi
Perkembangan teknologi yang berkembang dengan pesat

dewasa ini membuat komunikasi dan informasi kian mudah
dan lancar. Tetapi perlu disadari bahwa ditengah kemudahan
dan kelancaran tersebut, semua orang terseret masuk ke dalam
arus globalisasi, suatu wilayah di mana berbagai bentuk nilai
dan gaya hidup modern ditawarkan. Tentu saja hal ini akan
mempengaruhi tradisi lisan yang kaya akan fungsi, makna dan
nilai-nilai yang sangat berperan dalam kehidupan masyarakat,
termasuk fungsi, makna dan nilai legenda DSN yang terdapat
dalam realitas kehidupan GTSMW. Oleh karena itu, dalam
rangka mempertahankan keberadaan legenda dimaksud, perlu
disampaikan beberapa rekomendasi baik pada tataran teoretis
maupun praktis seperti yang dipaparkan berikut.

Rekomendasi Teoretis
Rekomendasi teoretis yang dapat disampaikan dalam tulisan,

antara lain: 1) Menyediakan gambaran objektif mengenai struktur,

89

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

fungsi, makna, nilai serta implikasi pemahaman kebahasaan dalam
legenda DSN yang mencerminkan budaya GTSMW Kecamatan
Sano Nggoang Kabupaten Manggarai Barat, 2) Memperkaya
khasanah ilmu linguistik kebudayaan sebagai salah satu perspektif
teoretis dalam bidang linguistik kognitif yang menelaah hubungan
kovariatif antara bahasa dan kebudayaan yang terdapat dalam
realitas kehidupan suatu kelompok masyarakat, 3) Menjadi salah
satu rujukan atau acuan bagi penelitian-penelitian lain, terutama
penelitian yang menggunakan acuan teori linguistik kebudayaan
dengan ditopangi berbagai pendekatan yang relevan, sehingga
semakin tajamnya simpulan yang diambil terhadap struktur,
fungsi, makna dan nilai ekspresi lingual dalam legenda DSN
sebagai cerminan budaya guyub tutur Mata Wae Kecamatan Sano
Nggoang Kabupaten Manggarai Barat.

Rekomendasi Praktis
Menyadari eksistensi legenda DSN yang memiliki struktur,

fungsi, makna dan nilai serta implikasi pemahamannya terhadap
perilaku masyarakat Manggarai terutama GTSMW, maka penulis
menyampaikan beberapa rekomendasi praktis yang ditujukan
kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dan instansi
terkait serta warga GTSMW dalam rangka pemertahanan dan
reorientasi makna dan nilai-nilai yang tergurat dalam legenda
DSN agar tetap hidup dan berkembang dalam realtas kehidupan
GTSMW pada khususnya dan masyarakat Manggarai Barat
umumnya. Pertama, menyediakan sumber belajar dengan cara
menyusun dan mengembangkan mata pelajaran Mulok yang
memuat materi tentang struktur, fungsi, makna dan nilai legenda
atau cerita rakyat baik pada tingkat sekolah dasar maupun
sekolah menengah. Kedua, merencanakan dan mengembangkan
program pembangunan yang menggunakan pendekatan berbasis
budaya dan lingkungan. Dalam hal ini pemerintah selaku

90

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

pengambil kebijakan memberikan pemberdayaan kepada warga
GTSMW pada khususnya dan masyarakat Manggarai Barat
pada umumnya agar meningkatkan kesadaran akan arti penting
kebajikan lokal seperti termaktub dalam struktur, fungsi, makna,
dan nilai ekspresi lingual legenda DSN serta cerita rakyat lainnya
yang berkembang dalam masyarakat. Ketiga, merancangkan
program pengembangan pariwisata Danau Sano Nggoang dengan
meningkatkan kualitas infrastruktur jalan yang mengakses Desa
Wae Sano dan Desa Sano Nggoang dari Werang ibu kota Kecamatan
Sano Nggoang. Pengembangan pariwisata tersebut hendaknya
melibatkan masyarakat setempat dengan memperhatikan
kebajikan lokal (local wisdom) yang dimilikinya, misalnya makna
dan nilai sebagaimana yang tersingkap dalam legenda DSN.

91

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Daftar
Pustaka

Alasuutari, P. 2004. Social Theory and Human Reality.London:
SAGE Publications Ltd.

Anonim. 2008. Danau Sano Nggoang-Manggarai Barat NTT.
http://momang.wordpress.com/2008/07/26/danau-sano-
nggoang-manggarai-barat-ntt/

Anonim, 2013. Kelompok Etnis Indonesia. http://jari-
jarikuberbicara.blogspot.com/2013/01/kelompok-etnis-
indonesia.html. Diakses pada tanggal 15 Juni 2013, 11.25
Witeng.

Anonim. 2009. Legend (Folklore). Mirosoft Student (DVD).
Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008. http://
www.rapidshare.com/.

Anonim. 2012. Peta Kabupaten-Kabupaten di Pulau Flores.
Peta Kabupaten Manggarai Barat. http://www.floresku.
wordpress.com/

Anonim. 2011. Peta Kecamatan Kabupaten Manggarai Barat.
http://www.infonusatenggaratimur.blogspot.com/
manggarai-barat-menggeliat.html.

Arif, J. 2012. Hutan Mbeliling – Perpaduan Keunikan Wisata
Budaya dan Keindahan Ekosistem. Labuan Bajo: Burung
Indonesia. www.floresecotourism.com.

92

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Aslinda & Syafyahya, L. 2007. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung:
PT Refika Aditama.

Barker, C. and Âski. G. D. 2001. Cultural Studies and Discourse
Analysis: A Dialogue on Language and Identity. London:
SAGE Publications

Barker, C. 2004. Cultural Studies:Teori dan Praktik. Diterjemahkan
oleh Nurhadi. Yogyakarta: Penerbit Kreasi Wacana.

Berybe,W.2007.Triple Manggarai Three in One, Sir!, http://
tombokilo.blogspot.com/2007/12/riple-manggarai-three-in-
one-sir.html).

Brown, D. H. 2008. Prinsip Pembelajaran Dan Pengajaran
Bahasa. Edisi Kelima, Kedutaan Besar Amerika Serikat
Di Jakarata. Penerjemah : Noor Cholis Dan Yusi Avianto
Pareanom.

Bungin, B. 2007. Peneleitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi,
Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarata:
Kencana.

Bustan, F. 2009 . Peran Tu’a Golo Sebagai Pemimpin Tertinggi
Dalam Struktur

Sosial Kelompok Etnik Manggarai Ditinjau Dari Perspektif
Linguistik

Kebudayaan dalam E-Journal Linguistika Vol.16. No.30, Maret
2009 Universitas Udayana, Denpasar. www.ojs.unud.
ac.id /index.php/ linguistika/article/ download /313 /257.
Diakses tanggal 14 Juni 2013.

Cahyono, Y. B. 1995. Kristal-Kristal Ilmu Bahasa. Surabaya:
Airlangga University Press.

Cason, W. R.1981. Langauage, Culture, and Cognition. New
York:Macmillan Co.,Inc.

Chaer, A. Linguistik Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Chaer, A dan Agustina Leonie.2004. Sosiolinguistik: Perkenalan

Awal. Jakarta: PT.Rineka Cipta.

93

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Chafe, L.Wallace. 1970. Meaning and the Structure of Language.
Chicago: The University of Chicago Press.

Culler, J. 1996. Saussure. Diterjemahkan oleh Rochayah dan Siti
Suhayati. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa.

Depdiknas. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi keempat.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Derman, M. 2009. Cerita Rakyat Kambu Lawang: Gambaran
Pandangan Dunia Guyub Tutur Subsubdialek Congkar,
Kabupaten anggarai Timur. Tesis. Kupang: Universitas
Nusa Cendana.

Duranti, A.1997. Linguistic Anthropology. Cambridge: Cambridge
University Press.

Duranti, A.2001. (Editor). Linguistic Anthropology: A Reader.
Massachusetts USA: Blackwell Publishers Ltd.

Duranti, A. 2009. Linguistic Anthropology. Copyrighted
Material. www. media.johnwiley.com.au Diakses pada
tanggal 16 Juni 2013, jam 20.33.

Eastman, Carol M., and Longyear, Christopher. “Linguistics.”
Mirosoft Student (DVD). Redmond, WA: Microsoft
Corporation, 2008. http://www.urbanlegends.com/.

Endraswara, Suwardi. 2006. Metodologi Penelitian Kebudayaan.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Erb, Maribeth. 1999. Vanishing Cultures of the World, THE
MANGGARAIANS: A Guide to Traditional Lifestyles.
Singapore: Times Editions Pte Ltd.

Fiske, J. (Gen.Ed). 1994. Key Concepts In Communication And
Cultural Studies. Second Edition. London: Routledge.

Foley, A. William.1997. Anthropological Linguistics: An
Introduction. Oxford: Blackwell Publishers.

Frawley, W. 1992. Linguistic Semantic. Hillsdale, Newjersey:
Lawrence Erlbaum Associates, Inc., Publishers.

94

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Halliday, M.A.K. dan Hasan, R. 1994. Bahasa, Konteks dan
Teks:Aspek-Aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotik
Sosial. Diterjemahkan oleh Asrudin Barori Tou dan M.
Ramlan. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press.

Hoed, H. B. 2011. Semiotika dan Dinamika Sosial Budaya.
Depok:Komunitas Bambu.

Ibrahim, A.S. 1994. Pamduan Penelitian Etnografi Komunikasi.
Surabaya: Penerbit Usaha Nasional.

Ives, P. R. 2004. Language and Hegemony in Gramsci. London :
Pluto Press.

Jendra, I. Wayan. 1991. Dasar-Dasar Sosiolinguistik. Denpasar:
Penerbit Ikayana

Jenks, Ch. 1993. Culture. London: Routledge.
Jupp, V. 2006. The Sage Dictionary of Social Research Methods.

London: SAGE Publications Ltd.
Kato, A. 2007. Wacana Ritual SUA SONGGA Masyarakat Ende

di Kecamatan Ende. Kajian Linguisti Kebudayaan. Tesis.
Denpasar : Program Pasca Sarjana Universitas Udayana.
Kinayati, Djojosuroto. 2007. Filsafat Bahasa. Jakarta: Pusataka
Book Publisher.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta:
Rineka Cipta.
Leech, G. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. Jakarta: Penerbit
Universitas Indonesia. Diterjemahkan oleh M.D.D.Oka.
Judul Asli; The Principles of pragmatics.
Louis Hébert (2011), « The Functions of Language », in Louis
Hébert (dir.), Signo [online],Rimouski(Quebec),http://
www.signosemio.com/jakobson/functions-of-language.
asp.
Mashun, M.S. 2011 (Edisi Revisi). Metode Penelitian Bahasa:
Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada.

95

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Moleong. J. L. 2010 (Edisi Revisi). Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mulyana, R. 2004. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung:
Penerbit CV. Alfabeta.

Muslich, M. dan Oka, N.G.I. 2010. Perencanaan Bahasa pada Era
Globalisasi. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Ola, Simon. S. 2004. Tuturan Ritual Dalam Konteks Perubahan
Budaya Kelompok Etnik Lamaholot di Pulau Adonara,
Flores Timur. Disertasi. Denpasar: Program Pascasarjana
Universitas Udayana.

Oswell, D. 2006.Culture and Society: An Introduction to Cultural
Studies. London: SAGE Publications

Pampe, P. 2007. Pemakaian Bahasa Manggarai dalam Kegiatan
Keagamaan Katolik di Kabupaten Manggarai. Disertasi.
Denpasar: Program Pascasarjana Universitas Udayana.

Patrick, L. P. 2012. The Speech Community: Some Definitions.
http://courses.essex.ac.uk/lg/lg232/SpeechCom Defs.
html Diakses pada tanggal 16 Juni 2013. Jam 20.43

Piliang. A.Y. 2004. Posrealitas: Realitas Kebudayaan dalam Era
Postmetafisika. Yogyakarta: Jalasutra.

Ritzer, G. 2005. Encyclopedia Of Social Theory. Volume
II.California: Sage Publications, Inc.

Saeed, I. J. 1997. Semantics. Oxford, UK: Blackwell Publishers
Ltd.

Spradley, J.P. 1997. Metode Etnografi. Diterjemahkan oleh Misbah
Zulfah Elisabeth. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Sudikan, S. Y. 2001. Metode Penelitian Kebudayaan. Surabaya:
Unesa Unipress bekerjasama dengan Citra Wacana.

Sugiharti, B. I. 1996. Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Suriasumantri, S. J. 1995. Filsafat Ilmu. Sebuah Pengantar Populer.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

96

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Suseno, M.F. 1992. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius.

Sutrisno, M. & Putranto. H. (Ed.). 2005. Teori-Teori Kebudayaan.
Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Thomas, Linda dan Wareing Shan. 2007. Bahasa, Masyarakat
dan Kekuasaan. Diterjemahkan oleh Sunoto, dkk.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Troike, S.M. 2003. The Etnography of Communication: An
Introduction. 3rd Edition. Oxford: Blackwell Publishing.

Verheijen, J.A.J. 1991. Manggarai danWujudTertinggi. Penerjemah
Alex Beding dan Marcel Beding. Jakarta:LIPI-RUL.

Wiguna, M.H. 2011. Danau Sano Nggoang, Keindahan, dan
Keasrian Alam Jadi Satu. http:wwwindonesia travel
iddestinatination_files/danau-sano-nggoang-keindahan-
dan-keasrian-alam-jadi-satu.htm.

Saeed, I. . (1997). Semantics (pp. 41–42). Blackwell Publishers Ltd.

97

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Tentang
Penulis

Nama : ALBERTUS KABUNG
Tempat/Tanggal Lahir : Tangkul, Manggarai, 21 November 1968

Agama : Katolik
Status Perkawinan : Menikah
Alamat : Labuan Bajo

Keluarga : Yustina Yosephina Hamsi
Isteri : Theresia Arranzetiani Nova Kabung,
Anak-Anak
Oktavianus Aranzo Naka Maro, Diego
San Vitores Maro, Maria Estella Parakleita
Kabung, Christiano Kelvin de Maro

Pendidikan : SDK St. Yoseph Nul
1975-1982 : SMP Seminari Pius XII Kisol
1982-1985 : SMA Seminari Pius XII Kisol
1985-1987 : SMA Negeri 2 Ruteng
1987-1988 : Program Studi Bahasa Inggris, Universitas
1988-1993
Nusa Cendana Kupang.
2011-2013 : Program Pasca Sarjana Universitas Nusa

Cendana Kupang

98

LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan

Pekerjaan
1995-Sekarang : Guru Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMA

Negeri 1 Komodo Labuan Bajo

Pengalaman Organisasi

2007-2012 : Wakil Sekretaris PGRI Kabupaten
Manggarai Barat

2013-2018 : Sekretaris PGRI Kabupaten Manggarai Barat
2018-2020 : Wakil Ketua II PGRI Kabupaten Manggarai
Barat
2020-sekarang : Ketua PGRI Kabupaten Manggarai Barat

Pendidikan dan Pelatihan

2009 : TOT Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) di Surabaya
2009 : Pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) di Hotel Ina Putri,
Denpasar, Bali.
2010 : Pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) di Hotel Grand Ina,
Denpasar Bali.
2010 : Pendamping MGMP SMA se-Kabupaten
Manggarai Timur di Kisol, Kecamatan Kota
Komba, Kabupaten Manggarai Timur
2017 : Pelatihan Instruktur Kurikulum 13
Kabupaten/Kota Hotel Nakata Kupang

99

wKUwNwJ.UcaNkGrIa:walantt.com
www.cakrawalanttonline.com

PENERBITAN JURNAL ILMIAH SAHABAT
PENGGERAK
LITERASI NTT

PELATIHAN DAN PENULISAN KARYA ILMIAH

PENULISAN DAN PENERBITAN BUKU

PENERBITAN MAJALAH PENDIDIKAN CAKRAWALA NTT

ALAMAT:
REDAKSI MEDIA PENDIDIKAN CAKRAWALA NTT
JL. TDM IV, OEBOBO-KOTA KUPANG
(LORONG DEPAN SMA ARNOLDUS-TDM)

+62 812-3629-8530 [email protected]
[email protected]

Begitu mengagumkan dan mengharukan, bukan? Sebuah
kisah nyata tentang orang di sekitar Danau Sano Nggoang
seperti Kampung Werang yang menerapkan nilai solidaritas
itu. Sebuah contoh yang amat sangat nyata: memberi dari
kekurangan, tanpa mengharapkan imbalan, tanpa buruk
sangka, dan selalu berpikir positif terhadap orang yang tidak
dikenal sekalipun. Itu, penulis kira, secara langsung atau tidak,
merupakan buah dari nilai yang berharga dari tetesan Legenda
Sano Nggoang itu.

Supaya tetesan nilai mulia itu membasahi sebanyak
mungkin orang, saran penulis, kiranya buku AK ini menjadi buku
bacaan wajib di setiap sekolah di Indonesia pada umumnya, di
Manggarai Barat khususnya. Sebab di dalam buku itu ada nilai
mulia yang daripadanya anak-anak kita, kini dan nanti, bisa
petik dan praktikkan dalam kehidupannya sehari-hari di sekolah
dan setelah tamat seperti kisah sang Petani yang disampaikan
oleh Nila Tanzil tersebut. Itu penting untuk membuat Indonesia
tidak hanya makin maju ke depan, tetapi juga makin membuka
hatinya kepada yang berkekurangan, kecil dan terpinggirkan.

Prof. Tans Feliks
Dosen Universitas Nusa Cendana Kupang

Jl. Bundaran PU, Gang TDM IV
(Lorong Depan SMA Arnoldus-Kupang-NTT)
Email: [email protected]
WA: /


Click to View FlipBook Version