LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
Jalan cerita tentang terjadinya danau Sano Nggoang terlihat
jelas dalam penggalan teks di atas. Pencerita menceritakan secara
kronologis mulai dari awal peristiwa yang ditandai dengan
pemakaian frasa ca leso ga ‘pada suatu hari’ yang dilanjutkan
dengan mengisahkan masalah pesa ‘padam’nya api si Buta.
Karena kebutuhannya mendesak, si Buta meminta api kepada
si Bukuk. Memang si Bukuk mempunyai api, tetapi dia tidak
dapat membawakannya pada si Buta karena dia sendiri tidak bisa
berjalan alias lumpuh. Si Buta tidak putus asa. Demi mendapatkan
api yang sangat dibutuhkannya saat itu, si Buta mengusulkan
kepada si Bukuk untuk meggunakan si Solek anjing milik mereka
sebagai media untuk membawanya, dengan cara pongo ‘mengikat’
puntung api pada ekornya. Usulan yang disampaikan si Buta
disetujui oleh Bukuk. Kemudian dia mengikatkan puntung api
pada ekor anjing milik mereka dan meminta si Buta untuk kuing
‘memanggil’.
Dalam perjalanan menuju kepada si Buta, puntung api
pada ekor si Solek tiba-tiba saja menyala seperti ada yang
meniupkannya. Semakin anjing itu berlari, beka genggarn nggoang
api ‘kobaran nyala api makin bertambah besar’. Hal tersebut
tentu saja membuat tubuh si Solek mengalami kepanasan. Karena
mengalami panasnya api, anjing tersebut berlari ke sana ke mari.
Menyaksikan peristiwa itu, si Bukuk mulai tertawa. Si Buta yang
tidak melihat apa yang sesungguhnya sedang terjadi ikut pula
tertawa. Oloen tawa dise ‘mereka terus menertawaknnya’. Dan
akhirnya anjing tersebut mati terbakar serta meninggalkan masun
‘baunya’ sampai saat ini di pinggir danau Sano Nggoang.
Selanjutnya, pencerita menuturkan kronologis kisah
tenggelamnya perkampungan dan bekas kebun komunal ‘uma
lodok’ milik masyarakat kampung Nunang, Lempe, Lokong,
Kandang, Nggoang, dan Wewa. Penutur memulainya dengan
28
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
menceritakan kesedihan yang mendalam yang dialami si Bukuk
dan si Buta karena mengingat anjing yang sering membantu
mereka telah mati. Pada saat mereka sedang menglami kesedihan
yang amat mendalam, tiba-tiba muncul seseorang yang berkumis
tebal dan berjenggot panjang serta membawa sebatang tombak,
dan menanyakan sebab kematian anjing pada keduanya. Dalam
keadaan takut si Bukuk menjawab bahwa temannya si Buta
membutuhkan api. Tetapi dia tidak dapat membawanya kepada
si Buta karena dia lumpuh. Oleh sebab itu, dia mengikatkan
puntung api pada ekor anjing, namun api tersebut menyala dan
membakar seluruh tubuhnya. Hal itulah yang membuatnya
mati. Mendengar keterangan tersebut, si Keraeng yang berkumis
tebal dan berjenggot panjang menyimpukan bahwa keduanya
melakukan hal tersebut karena lapar. Kemudian dia menawarkan
pada keduanya apakah mereka mau hang kar ‘makan nasi keras’
atau hang lebo ‘makan bubur’. Tanpa berpikir panjang akibat
dari pilihannya, si Bukuk dan si Buta langsung menjatuhkan
pilihannya pada hang lebo. Berdasarkan pilihan tersebut, sang
tokoh misterius tersebut langsung menancapkan tombaknya ke
dalam tanah dan kemudian mencabutnya kembali. Dan seiring
dicabutnya tombak itu, meluaplah air dalam jumlah yang besar
dan memenuhi seluruh dataran luas di mana terdapat lokasi bekas
kebun dan perkampungan milik masyarakat Nunang, Lempe,
Lokong, Kandang, Nggoang, dan Wewa.
Penutup
Pada bagian penutup legenda DSN, dikisahkan oleh pencerita
tentang kembalinya orang-orang Nunang, Lempe, Lokong,
Kandang, Nggoang dan Wewa dari kebun-kebun mereka karena
pekerjaan menanam benih telah selesai. Setibanya di kampung,
mereka dikejutkan oleh suatu hamparan air yang begitu luas
29
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
dan menyaksikan bahwa bekas kebun dan kampungnya telah
tenggelam. Hal itu dapat disimak pada cuplikan kisah berikut.
(04) Teks Asli
Poli wa’u wini dise one uma duat dise ga, kole one beo enem so’o,
lelo nggo lise selir gaut wae.
One beo Nggoang ho’o ga ca watu, ome le wie ga nggoang nge...
ita taung lata one tadang mai. Neteng ata ri:”nia wan wae selir
ko tiwu mese hitu”??? Walen lise ga:”manga watunna, ome le
wie nggoang e”... Laing hitu danong ngasang’n lata tua,”tiwu
mese le watu nggoang”.
Dining wae lua tau kokor tete, saung pepak,ko ruha, manga
kole wae kolang tau cebong, tau di’a rompong. Ngasangna wae
bobok.
Itu e nunduk tara mangan Sano Nggoang.
Terjemahan
Ketika penanaman benih telah selesai, kembalilah mereka
masing-masing ke enam kampung mereka. Di sana, mereka tidak
lagi mendapat kampung dan kebun mereka, tetapi yang ada
hanyalah kumpulan air yang sangat besar dan merata di mana-
mana.
Di kampung Nggoang terdapat suatu batu yang akan
menyala jika malam hari tiba. Dan nyala tersebut bisa terlihat
dari kejauhan. Ketika setiap orang bertanya, dimanakah kolam
atau danau besar tersebut, orang-orang menjawabnya di dekat
batu yang bernyala apabila malam tiba. Orang tua pada jaman
dahulu menyebutnya kolam atau danau besar di Watu Nggoang.
Di pinggir danau tersebut terdapat wae lua ‘air mendidih’ yang
mencapai titik didih 100 derajat celcius dan dapat dimanfaatkan
untuk merebus ubi, daun pepak, atau telur. Di samping itu ada
30
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
juga sumber air hangat yang mengandung belerang dan diyakini
dapat menyembuhkan penyakit kulit seperti kudis dan penyakit
kulit lainnya.
Itulah kisah terjadinya danau Sano Nggoang.
Dari cuplikan di atas, pencerita menceritakan tentang
suatu pemandangan baru di hadapan orang-orang dari keenam
kampung tersebut yang baru saja pulang dari kebun mereka,
yakni suatu kumpulan air yang merata di seluruh dataran bekas
kebun dan kampung milik mereka.
Selain itu, pencerita juga menceritakan keberadaan sebuah
watu ‘batu’ yang berada di kampung Nggoang. Batu ini, konon
menurut cerita, akan mengeluarkan cahaya apabila malam tiba, dan
cahayanya dapat dilihat dari kejauhan. Setiap kali orang bertanya
tentang lokasi tiwu mese ‘kolam besar’, jawabannya seperti ini
manga watuna, ome le wie nggoang e ‘ada bataunya, kalau malam
hari bercahaya’. Pada jaman dulu orang tua menamakannya tiwu
mese le watu nggoang ‘kolam besar di batu nggoang’. Di dekat
danau tersebut terdapat wae lua ‘sumber air panas’ yang dapat
dimanfaatkan untuk merebus ubi-ubian, telur, dan daun pepak,
juga wae kolang ‘air hangat’ yang dapat digunakan sebagai tempat
pemandian dan dapat menyembuhkan penyakit kudis. Namanya
Wae Bobok. Itulah kisah terjadinya danau Sano Nggoang.
Fungsi
Sebagaimana halnya dengan legenda yang hidup dan
berkembang dalam realitas kehidupan kelompok masyarakat
lain, legenda DSN yang berkembang dalam realitas kehidupan
GTSMW juga memiliki beberapa fungsi yang saling terkait dalam
satu kesatuan secara holistik sesuai realitas yang dihadapi GTSMW.
Dalam tulisan ini, fungsi legenda DSN dipilahkan atas dua yaitu
fungsi tekstual yang berkaitan dengan karakteristik bahasa yang
31
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
digunakan dan fungsi kontekstual yakni fungsi yang bertautan
dengan konteks yang melatari penggunaan ekspresi lingual yang
digunakan dalam legenda DSN, yang dalam pandangan Merton
(dalam Endraswara, 2006:102) disebut sebagai fungsi manifest
dan fungsi laten.
Fungsi Tekstual Legenda DSN
Mengingat ekspresi lingual dalam legenda DSN tidak bersifat
beku sebagaimana halnya sifat kebahasaan dalam tuturan ritual,
karena gaya penceritaannya berbeda antara penutur yang satu
dengan yang lainnya, maka dalam penelitian ini, ekspresi lingual
yang dianalisis adalah ekspresi lingual yang keberterimaannya
(acceptability) dianggap mendekati bentuk aslinya.
Analisis fungsi ekspresi lingual dalam legenda DSN,
mengacu kepada pandangan Jacobson (dalam Hébert, 2011), yang
mengatakan bahwa bahasa yang digunakan dalam setiap peristiwa
komunikasi mengemban enam fungsi, yaitu: (1) fungsi referensil
(referential function); (2) Fungsi emotif (emotive function);
(3) Fungsi konatif (conative function); (4) Fungsi fatik (phatic
function); (5) Fungsi metalinguistik (metalingual function); dan
fungsi puitik (poetic function)
Fungsi bahasa dalam legenda DSN dapat disimak pada
paparan di bawah ini.
Fungsi Referensial
Fungsi referensial berkaitan dengan bahasa yang digunakan
untuk membicarakan objek atau kejadian dalam lingkungan atau
budaya tertentu. Dalam budaya GTSMW, objek atau kejadian
dimaksud dapat disimak dari ekspresi lingual legenda DSN
sebagai berikut.
32
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
26 Sangge tau ho’o manga-eng masu- n acu h- itu le
lupi Sano Nggoang h-itu.
terus mati KL anjing KL terbakar oleh besar KTFRS nyala
KTFRS api.
‘Akhi’Akhirnya matilah anjing tersebut, karena terbakar oleh
nyala api yang begitu dahsyat pada seluruh tubuhnya’
27 Sangge tau ho’o manga-eng masu- n acu h- itu le lupi Sano
Nggoang h-itu.
Sampai untuk ini ada KTFRS bau KTFRS anjing ANFRS itu
di pinggir NAMA ANFRS itu.
‘Sampai saat ini masih ada bau anjing terbakar tersebut di
pinggir danau Sano Nggoang’
28 Ngasang-na Wae Bobok.
Nama KTFRS NAMA
‘Namanya Wae Bobok’
30 Laing h- itu-e nawes d-ise ga
Sementara KTFRS itu KLTK sedih POSS 3JM KL
‘Pada saat mereka sedang mengalami kesedihan yang mendalam’
tua gaut ca ng- ata- e ata kipi cenges, janggok lewe,
muncul saja satu KTFRS orang KL orang kumis tebal,
janggut panjang,
‘tiba-tiba muncul seseorang yang berkumis tebal, dan berjenggot
panjang’
tenteng ca nggalak lewe
bawa satu tombak panjang
‘membawa sebatang tombak panjang’
55 Dining wae lua tau kokor tete, saung pepak, ko ruha,
Dekat air didih untuk rebus ubi, daun NAMA, atau telur,
‘Di dekat air untuk merebus ubi daun pepak, atau telur’
33
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
manga kole wae kolang tau cebong, tau di’a rompong.
Ada kembali air panas untuk mandi, untuk baik kudis.
‘ada juga air hangat untuk mandi, yang bisa menyembuhkan
penyakit kudis’
Pada data (26-28), penutur menceritakan tentang keberadaan
wae bobok yang terletak sekitar 30an meter dari tepi danau Sano
Nggoang. Aroma air tersebut merupakan sisa bau anjing yang
mati terbakar karena puntung api yang diikatkan pada ekornya
menyala dan membakar seluruh tubuhnya. Ini merupakan
suatu hal menarik. Dikatakan demikian karena, kenyataan yang
ada menunjukkan bahwa air ini merupakan air hangat yang
mengandung belerang. Bau belerang inilah yang dilukiskan
pencerita sebagai masu ‘bau’anjing yang mati terbakar.
Selanjutnya pada data (30), pembawa cerita ingin
menyampaikan kepada pendengar tentang adanya sesosok
manusia yang berwibawa dan memiliki kekuatan supernatural
yang kehadirannya sering tidak disadari manusia, sebagaimana
kehadirannya yang tiba-tiba di hadapan si Bukuk dan si Buta.
Dalam konteks budaya GTSMW, hal ini merujuk kepada
eksistensi suatu tokoh yang mistis dan transendental atau Wujud
Tertinggi.
Kemudian daripada itu, pencerita juga menceritakan tentang
objek wae lua ‘air mendidih/hot spring’ sebagaimana terlihat pada
data (55). Wae lua ini juga terletak sekitar 30an meter dari tepi
danau Sano Nggoang dan berdekatan dengan Wae Bobok (data 28).
Di dekat wae lua yang titik didihnya diperkirakan mencapai 100
celcius, ada juga wae kolang ‘air hangat’ yang bisa digunakan untuk
mandi dan dapat menyembuhkan penyakit kulit seperti kudis.
Mengenai namanya, Bapak Yoseph Subur mengatakan bahwa air
34
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
tersebut dinamakan juga Wae Bobok (HW)5. Posisi ketiga objek
yang disampaikan pencerita dapat dilihat pada gambar berikut.
(Wae Kolang ‘Air hangat’)
(Wae Bobok)
5 Hasil Wawancara dengan Bapak Yoseph Subur di Nunang Desa Wae Sano pada
tanggal 23 Februari 2013.
35
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
(Wae Lua ‘Air Panas’)
Danau Sano Nggoang
Keterangan: lokasi Wae Lua, Wae Kolang, dan Wae Bobok,
dan Danau Sano Nggoang.
Fungsi Emotif
Fungsi emotif dalam legenda DSN tidak tampak secara nyata
melalui penggunaan kata seru sebagaimana strata emotif yang
paling murni dalam bahasa. Fungsi emotif dalam legenda DSN
hanya diungkapkan dalam ekspresi lingual yang menggambarkan
keadaan penutur, sebagaimana dilihat pada data berikut.
36
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
29 Laing ca mata-n acu h- itu ga, kembung d- ise o,
Saat satu mati KTFRS anjing ANFRS itu KL ingat POSS 3JM KL,
‘ketika anjing tersebut mati, keduanya merasa kehilangan’
30 nawes nai ai mata acu momang ata tau lembar
pedih napas karena mati anjing kesayangan Orang untuk pikul
‘Pedih rasanya karena anjing kesayangan mereka mati yang
menghantar’
apa ata tau tai tau d- ise ata sua.
apa orang untuk beri untuk POSS 3JM orang dua
‘apa yang ingin mereka berikan kepada satu sama lain’
Dari data (29) di atas fungsi bahasa yang menunjukkan
perasaan jiwa pelakunya ditandai dengan penggunaan kata
kembung ‘rindu, ingat’ dan frasa nawes nai ‘hancur hati’. Kedua
tanda kebahasaan tersebut menggambarkan perasaan sedih yang
amat mendalam yang dialami DSN karena anjing kesayangan
mereka Solek telah pergi untuk selamanya.
Fungsi Konatif
Fungsi konatif berkaitan dengan keinginan penutur agar
mitra tutur melakukan atau berpikir seperti yang diinginkan
penutur, sebagaimana tersingkap pada cuplikan berikut.
11 Ca leso ga, pesa gaut api de Buta
Satu hari KL, padam saja api POSS NAMA.
‘Pada suatu hari, api milik si Buta padam’
12 Mai Buta ga benta Bukuk; a o ka’e, manga api d- ite?
Datang NAMA KL panggil NAMA; a o kakak ada api POSS
1JM HON
‘Lalu si Buta memanggil si Bukuk; a o kakak ada apikah?’
37
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
13 Ai coe leng; pesa api gau?
Karena bagaimana begitu; padam api 2TG
‘Ada apa; apakah apimu padam?’
14 Eng ha kae de.
Ya KLTK kakak KL.
‘Betul kakak’
15 E coe na pande-n ga, bom ngance lako goe aku
E bagaimana KTFRS buat KTFRS KL jika bisa jalan hanya 1 TG
‘Ya, tetapi bagaimana caranya, karena saya tidak bisa jalan’
16 Mai jaong de Buta ga, kuing gaut acu ho’o l- ite go,
Datang omong POSS NAMA KL panggil saja anjing ini oleh
1JM HON KL
‘Kemudian si Buta berkata, kakak panggil saja anjing ini’
pongo one iko n l- ite cupu api ding,
ikat dalam ekor ANFRS oleh 1JM HON puntung api sebentar
‘Nanti kakak ikat saja puntung api pada ekornya’
poli hitu ding ga kuing e.
Sudah itu sebentar KL panggil ANFRS
‘Lalu panggil ke situ’
17 Mai jaong de Bukuk ga, e... e... nggitu e ga.
Datang kata POSS NAMA KL, e... e... begitu ANFRS KL.
‘Si Bukuk berkata, baiklah kalau begitu’
18 Mai Bukuk ga pongo api one iko de acu ho’o.
Datang NAMA KL ikat api dalam ekor POSS anjing ini.
‘Lalu si Bukuk mengikat api pada ekor anjing tersebut’
38
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
19 Poli pongo-n ne ga, nggo’o jaong ngo Buta ne ga
Sudah ikat ANFRS ANFRS KL begini kata kepada NAMA
ANFRS KL
‘Setelah mengikat punting api tersebut, lalu dia berkata kepada
si Buta’
kuing Solek le hau ko.
panggil NAMA oleh 2TG KL.
‘Sekarang kau panggil si Solek’
Pada data (11-19) di atas secara keseluruhan memuat dialog
antara si Bukuk dan si Buta. Dialog tersebut bermula dari
padamnya api si Buta (data 11). Dan untuk memenuhi kebutuhan
akan api, si Buta meminta api kepada si Bukuk (data 12). Maksud
yang disampaikan si Buta dipahami oleh si Bukuk (data 13).
Namun, si Bukuk tidak bisa membawakan api dimaksud kepada
si Buta, karena dia tidak bisa jalan alias lumpuh (data 15). Hal
tersebut dapat dipahami si Buta, lalu dia mengusulkan kepada si
Bukuk untuk memanggil anjingnya dan mengikatkan puntung api
pada ekor anjing tersebut (16). Intensi yang disampaikan oleh si
Buta dapat ditangkap oleh si Bukuk. Hal itu terlihat dari jawaban
si Bukuk (data 17) yang kemudian diikuti tindakan mengikatkan
api pada ekor anjing (data 18). Setelah mengikat api pada ekor
anjing tersebut, si Bukuk meminta si Buta untuk memanggilnya
(19) dan kemudian si Buta memanggil anjing tersebut (data 20).
Dari informasi di atas terungkap dengan jelas bahwa maksud
yang disampaikan dalam peristiwa interaksi tersebut dapat
dipahami dengan baik oleh penutur dan mitra tutur, dalam hal
ini antara si Bukuk dan si Buta.
39
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
Fungsi Metalinguistik
Fungsi metalinguistik (metalingual function) berfokus pada
bahasa yang dipakai dengan tujuan untuk mengecek apakah
penutur atau mitra tutur menggunakan kode yang sama (mutual
agreement on the code). Fungsi metalinguistik legenda DSN
tercermin dalam penggunaan bahasa Manggarai yang dipahami
oleh penutur dan mitra tutur ketika legenda tersebut diceritakan,
karena mereka menggunakan kode yang sama, yaitu bahasa
Manggarai subdialek Mata Wae. Selain menggunakan kode yang
sama, mereka juga memiliki pemahaman dan pemaknaan yang
sama terhadap norma-norma sesuai kaidah yang berlaku dalam
bahasa Manggarai subdialek Mata Wae yang digunakan dalam
legenda DSN.
Fungsi Puitik
Fungsi puitik atau yang disebut sebagai fungsi imajinatif
merupakan fungsi bahasa yang berkaitan dengan cara penyampaian
pesan. Cara-cara tertentu membuat pesan yang disampaikan
menjadi berkesan karena dibawakan dengan menggunakan
bahasa yang indah.
Satuan kebahasaan dalam legenda DSN yang bernada puisitas
dalam pengertian mengandung efek estetis ketika dituturkan,
dapat dilihat dan disimak pada data berikut.
30 Laing h- itu-e nawes d- ise ga,
Sementara KTFRS itu KL sedih POSS 3JM KL
‘Pada saat mereka sedang mengalami kesedihan yang mendalam’
tua gaut ca ng- ata- e ata kipi cenges, janggok lewe,
muncul saja satu KTFRS orang KL orang kumis tebal, janggut
panjang,
40
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
‘Tiba-tiba muncul seseorang yang berkumis tebal, dan
berjenggot panjang’
tenteng ca nggalak lewe
bawa satu tombak panjang
‘membawa sebatang tombak panjang’
Data (30) di atas memiliki ciri puisitas yang mengandung
keindahan bentuk dan rasa kenikmatan inderawi ketika disimak.
Ciri tersebut antara lain: pertama, diksi atau pilihan kata. Kata-
kata yang dipilih pencerita adalah kata biasa, tetapi aliterasi
konsonan /k/ pada nomina janggok ‘jenggot’ dan nggalak ‘tombak’,
serta pengulangan adjektiva lewe ‘panjang’ menghasilkan efek
atau kesan puisitas pada kalimat tersebut. Kedua, dari struktur
batin, data di atas mempunyai intensi atau maksud yang hendak
disampaikan kepada pendengar tentang suatu sosok yang sangat
berwibawa dan mistik serta mempunyai kuasa atas seluruh
kehidupan.
Fungsi Kontekstual Legenda DSN
Sebagaimana folklore pada umumnya, legenda DSN yang
berkembang dalam realitas kehidupan GTSMW juga memiliki
fungsi antara lain sebagai sarana pendidikan dan sarana hiburan.
Sebagai Sarana Pendidikan
Legenda DSN sebagai tradisi lisan yang berkembang dalam
realitas kehidupan GTSMW dapat mengemban fungsi sebagai
sarana pendidikan bagi masyarakat pendukungnya. Dikatakan
demikian karena, satuan kebahasaan didalamnya mengguratkan
berbagai ajaran yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk
membagun hubungan yang serasi baik dengan sesama, lingkugan
alam maupun dengan Tuhan. Ajaran tersebut terserap secara
41
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
tak sadar oleh pendengar ketika legenda tersebut dinarasikan,
sebagaimana dapat disingkap pada paparan berikut.
06 Laing ca cekeng pacek ga,
Saat satu musim tanam KL
‘Pada saat musim tanam’
Taung na ata Nunang, Lempe, Kandang, Lokong, Nggoang agu Wewa
Habis KL orang LOC, LOC, LOC, LOC, LOC dan LOC
‘Semua orang Nunang, Lempe, Kandang, Lokong, Nggoang
dan Wewa’
Mo one uma duat taung- se ai cekeng wa’u wini
Pergi dalam kebun kerja semua ANFRS karena musim tanam
benih
‘Semuanya pergi bekerja di kebun karena musimnya untuk
tanam benih’
07 One lengkong iwo ca sano ho’o ga
Dalam dataran bagian satu danau ini KL
‘Pada dataran yang sekarang ini menjadi lokasi danau
merupakan’
Uma lokang d- ise ata beo enam s- itu.
kebun bekas POSS 3JM orang kampung enam ANFRS itu.
‘Bekas kebun milik masyarakat dari keenam kampung tersebut’
08 Ata goe nd- itu, laing ca wa’u wini h- itu ga;
Orang hanya ANFRS itu, pada satu turun bibit ANFRS itu KL
‘Yang ada di tempat tersebut, pada saat musim tanam itu’
hanang ise Bukuk agu Buta, agu ca acu ra ngasang na Solek.
Sendiri 3JM NAMA dan NAMA, dan satu anjing ANFRS nama
KTFRS NAMA.
42
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
‘Hanya si Bukuk dan si Buta, dan seekor anjing milik mereka
yang bernama Solek’
09 Acu h- itu goe ata ngance wa- r
Anjing ANFRS itu hanya orang bisa bawa KTFRS
‘Hanya anjing tersebut saja yang bisa membawa’
apa ata tau tai tau- r apa ata manga d- ise.
apa orang untuk beri untuk KTFRS apa orang ada POSS 3JM
‘Apa yang ada dan yang ingin mereka berikan kepada satu sama
lain’
10 Pande-n l- ise ga,
Buat ANFRS oleh 3JM KL
‘Yang mereka lakukan adalah’
pongo one iko acu apa ata tau tai tau d- ise.
ikat dalam ekor anjing apa orang untuk beri untuk POSS 3JM
‘mengikat sesuatu yang ingin mereka berikan kepada satu sama
lain pada ekor anjing’
11 Ca leso ga, pesa gaut api de Buta
Satu hari KL, padam saja api POSS NAMA.
‘Pada suatu hari, api milik si Buta padam’
12 Mai Buta ga benta Bukuk; a o ka’e, manga api d- ite?
Datang NAMA KL panggil NAMA; a o kakak ada api POSS
1JM HON
‘Si Buta memanggil si Bukuk; a o kakak ada apikah?’
13 Ai coe leng; pesa api gau?
Karena bagaimana begitu; padam api 2TG
‘Ada apa; apakah apimu padam?’
43
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
14 Eng ha kae de.
Ya KLTK kakak KL.
‘Betul kakak’
15 E coe na pande-n ga, bom ngance lako goe aku
E bagaimana KTFRS buat KTFRS KL jika bisa jalan hanya 1 TG
‘Ya, tetapi bagaimana caranya, karena saya tidak bisa jalan’
16 Mai jaong de Buta ga, kuing gaut acu ho’o l- ite go,
Datang omong POSS NAMA KL panggil saja anjing ini oleh
1JM HON KL
‘Kemudian si Buta berkata, kakak panggil saja anjing ini’
pongo one iko n l- ite cupu api ding,
ikat dalam ekor ANFRS oleh 1JM HON puntung api sebentar
‘Nanti kakak ikat saja puntung api pada ekornya’
poli hitu ding ga kuing e.
Sudah itu sebentar KL panggil ANFRS
‘Lalu panggil ke situ’
17 Mai jaong de Bukuk ga, e... e... nggitu e ga.
Datang kata POSS NAMA KL, e... e... begitu ANFRS KL.
‘Si Bukuk berkata, baiklah kalau begitu’
18 Mai Bukuk ga pongo api one iko de acu ho’o.
Datang NAMA KL ikat api dalam ekor POSS anjing ini.
‘Lalu si Bukuk mengikat api pada ekor anjing tersebut’
19 Poli pongo-n ne ga, nggo’o jaong ngo Buta ne ga
Sudah ikat ANFRS ANFRS KL begini kata kepada NAMA
ANFRS KL
‘Setelah mengikat punting api tersebut, lalu dia berkata kepada
si Buta’
44
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
kuing Solek le hau ko.
panggil NAMA oleh 2TG KL.
‘Sekarang kau panggil si Solek’
20 Mai Buta ga, kuing acu hitu, “Solek...., Solek o....”
Datang NAMA KL panggil anjing itu, NAMA
‘Lalu si Buta memanggil anjing tersebut, katanya, “Solek..., Solek...o’
21 Mburuk acu ho’o ga, kaping Buta.
Lari anjing ini KL dekat NAMA.
‘Kemudian anjing ini berlari menuju si Buta’
22 Bo le Buta toe ita e;
Memang oleh NAMA tidak lihat KTFRS;
‘Si Buta tidak melihat’
co’e pande-n acu ho’o laing ca mburuk na,
bagaimana buat KTFRS anjing ini saat satu lari ANFRS,
‘Apa yang anjing ini lakukan pada saat sedang berlari’
laing duing kolang api.
Saat rasa panas api.
‘Ketika merasakan panasnya api’
23 Le Bukuk ita e pande-n acu ho’o,
oleh NAMA lihat KTFRS buat KTFRS anjing ini,
‘Tetapi si Bukuk melihat apa yang anjing ini lakukan,
haem ata pur gaut api one iko acu ho’o.
Seperti orang tiup saja api dalam ekor anjing ini.
tiba-tiba saja api menyala pada ekor anjing tersebut.
45
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
“kangang .... kangang”, beka gonggar-n nggoang api.
Suara erangan anjing tambah kobaran KTFRS nyala api.
Anjing itu terus melolong dan semburan nyala api semakin
bertambah besar.’
24 Tau mo campe le Buta, ina toe ita salang;
Untuk pergi bantu oleh NAMA, karena tidak lihat jalan;
Si Buta ingin pergi membantu, tetapi dia tidak bisa melihat jalan
tau mo campe kole le Bukuk ina toe kole ngance tau lako.
Untuk pergi bantu juga oleh NAMA karena tidak lagi bisa
untuk jalan.
demikian juga Si Bukuk ingin pergi membantu, tetapi dia tidak
bisa berjalan.
25 Oloen tawa d- ise.
Depan KTFRS tawa POSS 3JM.
‘Mereka terus menertawakannya.’
26 Ruda mata-n acu ga,
terus mati KL anjing KL
‘Akhirnya matilah anjing tersebut,
muntung le genggar -n nggoang-n api.
terbakar oleh besar KTFRS nyala KTFRS api.
karena terbakar oleh semburan nyala api yang begitu dahsyat
pada tubuhnya.’
Pada data (06 dan 08) di atas, pencerita menyampaikan pesan
kepada pendengar agar membina dan menjaga hubungan yang
haromis dengan sesama lebih-lebih kaum kecil dan tak berdaya
seperti si Bukuk dan si Buta. Melalaikan perhatian terhadap
sesama merupakan gerbang awal menuju ketidakseimbangan
hubungan dengan sesama. Semua orang boleh saja sibuk bekerja,
mengejar harta dan kekayaan, tetapi hendaknya tidak lupa
46
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
mengembangkan visi karitatif dengan memberikan perhatian dan
membantu orag-orang yang termarjinalkan dalam berbagai segi
kehidupan, misalnya kesehatan, ekonomi, pendidikan dan lain-
lain.
Selanjutnya, data (11-26) tersirat didikan agar pendengar
dalam menapaki kehidupan yang fana ini tidak mudah menyerah
atau pasarah pada keadaan. Belajarlah dari si Bukuk dan si Buta,
yang dalam segala keterbatasan fisik yang disandangnya, mampu
memaksimalkan kemampuan dan potensi yang dimilki dalam
dirinya dan potensi yang ada di luar dirinya. Pikiran keduanya
tidak terkungkung dalam belenggu keterbatasan, tetapi terbuka
untuk mencari jalan keluar terhadap persoalan yang dihadapinya.
Keduanya menggunakan seekor anjing sebagai wahana untuk
membantu membawa puntung api yang dibutuhkan. Disamping
itu, keduanya mampu membangun dan menumbuhkan
kerjasama yang baik. Si Bukuk dan si Buta meyadari betul arti
penting kerja sama. Karena dalam kebersamaan setiap persoalan
mudah diatasi. Gagasan together we can ‘bersama kita bisa’ yang
sering didendang pada jaman modern ini, sesungguhnya sudah
dicanangkan para leluhur sedari dulu kala.
Dalam pada itu, data (22-25) tersirat pesan agar pendengar
sedapat mungkin membantu sesama dalam kehidupannya. Jika
terpaksa tidak dapat dilakukan, maka hendaknya tidak merasa
senang ketika sesama mengalami kegagalan atau penderitaan (25).
Adalah sesuatu yang ironi, ketika sesama mengalami nasib yang
malang lalu ditertawakan.
Sebagai Sarana Hiburan
Sebagaimana cerita rakyat atau legenda yang ada pada
realitas kehidupan masyarakat lain, legenda DSN yang hidup
dan berkembang dalam GTSMW juga memiliki fungsi sebagai
47
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
sarana hiburan. Fungsi dimaksud adalah sebagai salah satu sarana
pengantar tidur malam bagi anak-anak. Ketika mendengarkan
cerita ini pendengar (anak-anak) merasa terhibur dan tak
sadar akhirnya tertidur. Terhadap hal ini, Bapak Yoseph Subur
mengatakan, eme nanang loce ise ine, ise ame ga nengeng agu mantar
‘pada saat ibu-ibu menganyam tikar, kaum bapak menceritakan
dongeng untuk meninabobokan anak-anak’(HW)6.
Disamping mendapat hiburan, anak-anak secara tak sadar
mendapatkan masukan berbagai pesan yang mengandung ajaran
moral, yang dapat dijadikan sebagai penuntun pola perilaku
mereka dalam kehidupan bermasyarakat.
Makna
Selaras dengan beberapa fungsi yang dipaparkan dan
dijelaskan di atas, bentuk lingual dalam legenda DSN mengandung
sejumlah makna yang terkait satu sama lain. Beberapa makna
yang terkandung dalam ekspresi lingual legenda DSN adalah
makna religius, makna didaktis, makna historis, makna yuridis,
makna sosiologis, makna politis, dan makna ekologis sebagaimana
dipaparkan dan dijelaskan berikut ini.
Makna Religius
Kandungan makna religius yang termuat dalam legenda DSN
bersentuhan dengan cara pandang GTSMW tentang eksistensi
tokoh yang mistis dan trasendental yang diyakini memiliki
kekuatan yang bisa menembus ruang dan waktu sekaligus
bertindak sebagai Penguasa dan Pengontrol seluruh kehidupan
di alam semesta ini. Hal tersebut dapat dicermati dalam satuan
kebahasaan pada data di bawah ini.
6 Hasil Wawancara dengan Bapak Yoseph Subur di kampung Nunang Desa Wae Sano
pada tanggal 23 Februari 2013.
48
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
30 Laing h- itu-e nawes d-ise ga,
Sementara KTFRS itu KLTK sedih POSS 3JM KL
‘Pada saat mereka sedang mengalami kesedihan yang mendalam,
tua gaut ca ng- ata- e ata kipi cenges, janggok lewe,
muncul saja satu KTFRS orang KL orang kumis tebal, janggut
panjang,
‘tiba-tiba muncul seseorang yang berkumis tebal, dan berjenggot
panjang’
tenteng ca nggalak lewe
bawa satu tombak panjang
‘membawa sebatang tombak panjang’
31 Agu jaong one ise,”Bukuk...”.
Dan kata dalam 3JM NAMA
‘Dan berkata kepada mereka, Bukuk....’
35 Co’o tara nggitu-n pande-n acu hitu le hemi.
Kenapa bentuk begitu KTFRS buat KTFRS anjing itu oleh 2
JM.
‘Mengapa kamu memperlakukan anjing tersebut seperti itu.’
36 Mai jaong de Bukuk ga,
Datang kata POSS NAMA KL
Si Bukuk menjawab,
tegi api Buta ra ite, toe ngance lako aku.
Minta api NAMA ANFRS 1JM HON tidak bisa jalan 1TG
Si Buta meminta api tuan, tetapi saya tidak bisa jalan
37 laing nggitu-n no mori ga,
sementara itu KTFRS KTFRS tuan KL
karena hal itu tuan
49
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
mai aku pongo api one iko acu h- itu
datang 1TG ikat api dalam ekor anjing ANFRS itu,
maka saya mengikatkan api pada ekor anjing itu.
38 nggoang gaut api laing mburuk de acu h- itu
nyala saja api saat lari POSS anjing ANFRS itu,
‘tiba-tiba saja api menyala pada saat anjing itu berlari’
39 itu tara mata-n acu h- itu.
itu sebab mati KTFRS anjing ANFRS itu.
‘Hal tersebutlah yang meyebabkan anjing itu mati.’
40 Mai jaong na, “Darem hemi ko?”.
Datang omong KTFRS lapar 2JM KL
‘Kemudian dia berkata, kamu lapar kah?’
41 Wale l- ise ga, “Io ite”.
Jawab oleh 3JM KL ya 1 JM HON
‘Mereka menjawab, ya tuan’
42 Ha.... di’a-m ngg- itu, aku ri hemi ata sua.
Hmm baik ANFRS ANFRS itu, 1TG tanya 2JM orang dua
‘Hmm. Baiklah kalau begitu saya bertanya pada kamu berdua.’
43 Apa niak gemi ata sua. Hang kar ko hang lebo?
Apa ingin 2JM orang dua. Makanan kering atau makan bubur
‘Apa yang kalian berdua inginkan. Nasi atau bubur.’
44 Wale l- ise ga, “ Hang lebo ra ite”.
Jawab oleh 3JM KL makan bubur ANFRS 1JM HON
‘Lalu mereka menjawab, makan bubur tuan.’
45 Ha ...., o lebo ho’o.
Hmm..., ini bubur ini
‘Hmm..., ini buburnya.’
50
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
46 Ceka- n tu nggalak h- itu
Tancap KTFRS KTFRS tombak ANFRS itu
‘Tombak itu ditancapkan
le keraeng ca kipi cenges agu janggok lewe ho’o
oleh keraeng satu kumis tebal dan jenggot panjang ini
oleh keraeng yang berkumis tebal dan berjenggot panjang ini
nggere wa tana, wa mai taung nggalak ho’o one tana.
ke bawah tanah, bawa datang semua tombak ini dalam tanah.
ke dalam tanah, dan tombak tersebut tertancap seluruhnya
dalam tanah
47 Poli h- itu ga kebut nggalak h- itu
Sudah ANFRS itu KL cabut tombak ANFRS itu
Setelah itu tombak tersebut dicabut
le kraeng ca kipi cenges agu janggok lewe h- itu,
oleh keraeng yang berkumis tebal dan berjenggot panjang itu,
oleh keraeng yang berkumis tebal dan berjenggot panjang itu,
neka ....., lua gaut wae,
jangan..., didih saja air,
tiba-tiba saja air menyembur keluar dari dalam tanah dan meluap
peno gaut lengkong uma d- ise ata beo enem s- itu.
Penuh saja dataran kebun POSS 3JM orang kampung enam
ANFRS itu.
memenuhi dataran kebun milik orang-orang keenam kampung
tersebut.’
Satuan kebahasaan pada data (30) mengandung konsep
keyakinan GTSMW tentang adanya wujud atau sosok di luar
diri manusia yang memiliki kekuatan adikodrati serta dapat
51
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
menembus segala ruang dan waktu. KehadiranNya sering
tidak disadari manusia. Sebagai sosok yang adikodrati, tokoh
yang digambarkan di atas adalah tokoh sangat berwibawa dan
mempunyai kuasa penuh dan mutlak atas seluruh mahkluk
hidup, termasuk anjing yang mati terbakar api. Dan dia selalu
mengontrol setiap mahkluk ciptaanNya, termasuk perlakuan
manusia terhadap sesama ciptaan (data 35). Setiap perlakuan
atau tindakan manusia yang merugikan sesama ciptaan pasti dan
selalu diberinya ganjaran (45 dan 46). Ganjaran tersebut tentu
saja sangat merugikan manusia itu sendiri (data 47).
Terhadap hal ini, Bapak Yoseph Subur, ketika ditanya apa
artinya ekspresi lingual Keraeng ca kipis cenges agu janggok lewe,
agu tenteng ca nggalak lewe ‘‘Keraeng yang berkumis tebal dan
berjenggot panjang dan membawa sebatang tombak panjang’
mengatakan bahwa hal itu berarti Muri kaut ho’o ta ite ‘ini adalah
Tuhan Allah, pak’ (HW)7. Apa yang disampaikan Bapak Yoseph
Subur merupakan pernyataan yang menunjukkan bahwa GTSMW
memiliki keyakinan terhadap eksitensi Wujud Tertinggi.
Makna Didaktis
Selain makna religius, legenda DSN juga mengandung makna
didaktis. Makna didaktis berpautan dengan makna yang bersifat
instruksi atau bersifat pengajaran. Makna yang bersifat instruksi
dalam legenda DSN tersirat dalam pesan secara keseluruhan pada
data berikut.
11 Ca leso ga, pesa gaut api de Buta
Satu hari KL, padam saja api POSS NAMA.
‘Pada suatu hari, api milik si Buta padam’
7 Hasil Wawancara dengan Bapak Yoseph Subur di kampung Nunang Desa Wae Sano
pada tanggal 23 Februari 2013.
52
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
12 Mai Buta ga benta Bukuk; a o ka’e, manga api d- ite?
Datang NAMA KL panggil NAMA; a o kakak ada api POSS
1JM HON
‘Lalu si Buta memanggil si Bukuk; a o kakak ada apikah?’
13 Ai coe leng; pesa api gau?
Karena bagaimana begitu; padam api 2TG
‘Ada apa; apakah apimu padam?’
14 Eng ha kae de.
Ya KLTK kakak KL.
‘Betul kakak.’
15 E coe na pande-n ga, bom ngance lako goe aku
E bagaimana KTFRS buat KTFRS KL jika bisa jalan hanya 1 TG
‘Ya, tetapi bagaimana caranya, karena saya tidak bisa jalan’
16 Mai jaong de Buta ga, kuing gaut acu ho’o l- ite go,
Datang omong POSS NAMA KL panggil saja anjing ini oleh
1JM HON KL
‘Kemudian si Buta berkata, kakak panggil saja anjing ini’
pongo one iko n l- ite cupu api ding,
ikat dalam ekor ANFRS oleh 1JM HON puntung api sebentar
‘nanti kakak ikat saja puntung api pada ekornya’
poli hitu ding ga kuing e
Sudah itu sebentar KL panggil ANFRS
‘lalu panggil ke situ’
17 Mai jaong de Bukuk ga, e... e... nggitu e ga
Datang kata POSS NAMA KL, e... e... begitu ANFRS KL
‘Si Bukuk berkata, baiklah kalau begitu’
53
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
18 Mai Bukuk ga pongo api one iko de acu ho’o
Datang NAMA KL ikat api dalam ekor POSS anjing ini
‘Lalu si Bukuk mengikat api pada ekor anjing tersebut’
19 Poli pongo-n ne ga, nggo’o jaong ngo Buta ne ga
Sudah ikat ANFRS ANFRS KL begini kata kepada NAMA
ANFRS KL
‘Setelah mengikat punting api tersebut, lalu dia berkata kepada
si Buta’
kuing Solek le hau ko
panggil NAMA oleh 2TG KL
‘Sekarang kau panggil si Solek’
20 Mai Buta ga, kuing acu hitu, “Solek...., Solek o....”
Datang NAMA KL panggil anjing itu, NAMA
‘Lalu si Buta memanggil anjing tersebut, katanya, “Solek...,
Solek...o’
21 Mburuk acu ho’o ga, kaping Buta.
Lari anjing ini KL dekat NAMA.
‘Kemudian anjing ini berlari menuju si Buta.’
22 Bo le Buta toe ita e;
Memang oleh NAMA tidak lihat KTFRS;
Si Buta tidak melihat
co’e pande-n acu ho’o laing ca mburuk na,
bagaimana buat KTFRS anjing ini saat satu lari ANFRS,
‘Apa yang anjing ini lakukan pada saat sedang berlari’
laing duing kolang api.
Saat rasa panas api.
‘Ketika merasakan panasnya api.’
54
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
23 Le Bukuk ita e pande-n acu ho’o,
oleh NAMA lihat KTFRS buat KTFRS anjing ini,
‘Tetapi si Bukuk melihat apa yang anjing ini lakukan,’
haem ata pur gaut api one iko acu ho’o.
Seperti orang tiup saja api dalam ekor anjing ini.
‘Tiba-tiba saja api menyala pada ekor anjing tersebut.’
“kangang .... kangang”, beka gonggar-n nggoang api.
Suara erangan anjing tambah kobaran KTFRS nyala api.
‘Anjing itu terus melolong dan semburan nyala api semakin
bertambah besar.’
24 Tau mo campe le Buta, ina toe ita salang;
Untuk pergi bantu oleh NAMA, karena tidak lihat jalan;
‘Si Buta ingin pergi membantu, tetapi dia tidak bisa melihat jalan
tau mo campe kole le Bukuk ina toe kole ngance tau lako.
Untuk pergi bantu juga oleh NAMA karena tidak lagi bisa
untuk jalan.
‘Demikian juga Si Bukuk ingin pergi membantu, tetapi dia tidak
bisa berjalan.’
25 Oloen tawa d- ise.
Depan KTFRS tawa POSS 3JM.
‘Mereka terus menertawakannya.’
26 Ruda mata-n acu ga,
terus mati KL anjing KL
‘Akhirnya matilah anjing tersebut,’
muntung le genggar -n nggoang-n api.
terbakar oleh besar KTFRS nyala KTFRS api.
‘Karena terbakar oleh semburan nyala api yang begitu dahsyat
pada tubuhnya.’
55
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
27 Sangge tau ho’o manga-eng
Sampai untuk ini ada KTFRS
‘Sampai saat ini masih ada’
masu- n acu h- itu le lupi Sano Nggoang h- itu.
bau KTFRS anjing ANFRS itu di pinggir NAMA ANFRS itu.
‘Bau anjing terbakar tersebut di pinggir danau Sano Nggoang.’
Penggalan dialog di atas melibatkan partisipan yang bernama
Bukuk dan Buta. Kedua tokoh tersebut dikategorikan sebagai
manusia yang mengalami keterbatasan secara fisik, yakni tidak
bisa berjalan atau lumpuh dan tidak bisa melihat alias buta (data
15 dan 24). Pertanyaannya adalah gagasan apa yang tersirat dibalik
gambaran kedua tokoh tersebut? Pertama, keterbatasan fisik yang
disandang si Bukuk dan si Buta tidak menghalangi keduanya
dalam upaya mempertahankan hidup. Hal ini mengandung
ajaran agar pendengar dalam hal ini GTSMW tidak mudah putus
asa dan menyerah pada keadaan dalam menapaki kehidupan.
Kedua, fisik boleh saja terbatas, tetapi itu tidak berarti pikiran
juga terbatas. Usulan si Buta kepada si Bukuk untuk mengikatkan
puntung api pada ekor anjing (data 17) menggambarkan suatu
kecerdasan dalam mencari cara untuk mengatasi persoalan yang
dihadapinya. Dalam pikiran si Buta, anjing adalah satu-satunya
wahana yang dapat dimanfaatkan untuk membantu membawa
api yang dibutuhkannya. Suatu ajaran yang ditujukan kepada
GTSMW untuk mengasa kemampuan berpikir serta mencari
cara atau metode untuk memanfaatkan dan memaksimalkan
potensi yang dimilikinya. Dan ketiga, keterbatasan fisik yang
dialami si Bukuk tidak melumpuhkan hatinya untuk berempati
terhadap kebutuhan api si Buta. Pesan yang mau disampaikan
agar GTSMW tidak antipati terhadap kekurangan dialami
56
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
sesamanya, tetapi harus bersimpati dengan berusaha menolong
dengan penuh ketulusan meskipun dalam kondisi terbatas.
Terlepas dari kelebihan yang dimiliki si Buku dan si Buta,
sebagaimana diuraikan sebelumnya, dari cuplikan di atas juga
ditemukan makna yang menggambarkan sesuatu yang ironi
seperti yang terlihat pada data (26). Dalam perjalanan menuju si
Buta, anjing mulai mengalami kepanasan karena puntung api yang
diikatkan pada ekornya mulai menyala dan membakar tubuhnya.
Anjing berlari ke sana ke mari karena kepanasan dipandang
Bukuk sebagai sesuatu yang lucu sehingga membuatnya tertawa.
Lebih ironis lagi, si Buta yang tidak mengetahui apa yang sedang
terjadi ikut menertawakannya, tanpa memikirkan lagi bahwa
keduanya adalah manusia yang mengalami keterbatasan. Hal
ini terbersit ajaran agar GTSMW tidak menertawakan binatang
yang sedang mengalami penderitaan. Lebih dari itu, GTSMW
diperingatkan dan dididik untuk tidak sekali-kali menertawakan
sesama yang tertimpa kemalangan atau penderitaan tetapi harus
dibantu sedapat mungkin.
Selanjutnya, makna didaktis juga dapat tersingkap dari data
(26). Menurut Bapak Yoseph Subur, ekspresi lingual tersebut
menggambarkan keadaan masyarakat yang belum terlalu cerdas
dalam berpikir. Hal itu dikarenakan masih rendahnya kualitas
pendidikan yang dimiliki masyarakatnya. Kendati demikian,
masyarakat seperti itu tidak boleh ditindas dan diperlakukan
dengan tidak adil. (HW)8.
Apa yang disampaikan oleh Bapak Yoseph Subur di atas
merupakan suatu gambaran kondisi sosial GTSMW. Pesan yang
disampaikan adalah agar GTSMW harus segera keluar dari kondisi
yang ada dengan cara melalui peningkatan SDM. Peningkatan
8 Hasil Wawancara dengan Bapak Yoseph Subur di Nunang Desa Wae Sano pada
tanggal 23 Februari 2013
57
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
SDM hanya bisa tercapai jika semua warga masyarakatnya
memiliki kesadaran untuk berjuang baik melalui jalur pendidikan
formal maupun jalur non formal misalnya pendidikan dan
pelatihan dalam bidang kerajinan tangan, wira usaha dan usaha di
bidang pariwisata dengan menangkap peluang yang ditawarkan
oleh danau Sano Nggoang dan potensi alam lain di sekitarnya.
Makna Historis
Disamping guratan makna didaktis, legenda DSN juga
mengandung makna historis. Dikatakan demikian karena
satuan kebahasaan dalam legenda DSN memiliki kisah secara
kronologis dan tempat terjadinya peristiwa. Hal ini sesuai dengan
pandangan yang dikemukakan Fox (dalam Derman, 2009:63),
yang mengatakan bahwa untuk menjadi sejarah (history), suatu
kisah harus didukungi oleh kronologis peristiwa dan tempat
(locus) di mana peristiwa itu terjadi. Kronologis peristiwa serta
tempat terjadinya peristiwa dalam legenda DSN, dapat dicermati
pada penggalan berikut.
03 Danong one Sano Nggoang iwo manga ho’o ga; lengkong mese.
Dulu dalam NAMA bagian ada ini KLTK; dataran besar.
‘Pada jaman dulu di danau Sano Nggoang yang ada sekarang ini,
terdapat suatu dataran yang luas’
04 One lengkong mese hitu lodok uma
Dalam dataran besar itu pusat kebun
‘Pada dataran yang luas tersebut terdapat pusat kebun’
d- ata Nunang, Lokong, Nggoang, Lempe, Kandang agu Wewa.
POSS orang LOC, LOC, LOC, LOC, LOC dan LOC
‘Milik orang-orang Nunang, Lokong, Nggoang, Lempe,
Kandang dan Wewa.’
58
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
06 Laing ca cekeng pacek ga,
Saat satu musim tanam KL
‘Pada saat musim tanam’
Taung na ata Nunang, Lempe, Kandang, Lokong, Nggoang agu
Wewa
Habis KL orang LOC, LOC, LOC, LOC, LOC dan LOC
‘Semua orang Nunang, Lempe, Kandang, Lokong, Nggoang
dan Wewa
Mo one uma duat taung- se ai cekeng wa’u wini
Pergi dalam kebun kerja semua ANFRS karena musim tanam
benih
‘Semuanya pergi bekerja di kebun karena musimnya untuk
tanam benih’
07 One lengkong iwo ca sano ho’o ga
Dalam dataran bagian satu danau ini KL
‘Pada dataran yang sekarang ini menjadi lokasi danau
merupakan’
Uma lokang d- ise ata beo enam s- itu.
kebun bekas POSS 3JM orang kampung enam ANFRS itu.
‘Bekas kebun milik masyarakat dari keenam kampung tersebut.’
08 Ata goe nd- itu, laing ca wa’u wini h- itu ga;
Orang hanya ANFRS itu, pada satu turun bibit ANFRS itu KL
‘Yang ada di tempat tersebut, pada saat musim tanam itu’
hanang ise Bukuk agu Buta, agu ca acu ra ngasang na Solek.
Sendiri 3JM NAMA dan NAMA, dan satu anjing ANFRS nama
KTFRS NAMA.
‘Hanya si Bukuk dan si Buta, dan seekor anjing milik mereka
yang bernama Solek.’
59
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
09 Acu h- itu goe ata ngance wa- r
Anjing ANFRS itu hanya orang bisa bawa KTFRS
‘Hanya anjing tersebut saja yang bisa membawa’
apa ata tau tai tau- r apa ata manga d- ise.
apa orang untuk beri untuk KTFRS apa orang ada POSS 3JM
‘Apa yang ada dan yang ingin mereka berikan kepada satu sama
lain.’
10 Pande-n l- ise ga,
Buat ANFRS oleh 3JM KL
‘Yang mereka lakukan adalah’
pongo one iko acu apa ata tau tai tau d- ise.
ikat dalam ekor anjing apa orang untuk beri untuk POSS 3JM
‘Mengikat sesuatu yang ingin mereka berikan kepada satu sama
lain pada ekor anjing’
Penggalan di atas memperlihatkan bahwa cerita tentang
Bukuk dan Buta dalam legenda DSN merupakan suatu peristiwa
yang terjadi pada jaman dahulu (danong). Si Bukuk dan si Buta
yang pernah hidup di (one) suatu dataran luas yang merupakan
bekas kebun komunal (uma lodok) dan perkampungan milik
masyarakat Nunang, Lempe, Lokong, Kandang, Nggoang dan
Wewa, ditinggalkan berduaan saja ketika semua orang pergi bekerja
di kebun. Demi mempertahankan hidup, keduanya terpaksa
memanfaatkan anjing untuk membawa puntung api. Cara yang
tampaknya cerdas tetapi tidak pernah mempertimbangkan akibat
yang ditimbulkan, yakni anjing terbakar dan akhirnya mati.
Kematian anjing tersebut membuat keduanya harus menerima
ganjaran dari Sang Pemilik kehidupan. Ganjaran dalam bentuk
luapan air yang menenggelamkan seluruh dataran uma lodok
60
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
(kebun komunal) dan keenam kampung sebagaimana telah
dipaparkan di atas.
Peristiwa sejarah masa lalu tersebut patut dijadikan basis
refleksi bagi generasi penerus GTSMW agar mampu memilih dan
memilah antara dua kutub kehidupan yang sulit dilepaskan yakni
yang baik dan tidak baik. Oleh karena itu, suatu hal penting yang
mau disampaikan lewat legenda DSN ini bahwa GTSMW, jangan
sekali-kali melupakan sejarah masa lalu. Dikatakan demikian,
karena dalam sejarah terdapat banyak bisikan-bisikan kebajikan
moral (moral values) yang sangat berguna dalam menuntun dan
menata pola perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat.
Makna Yuridis
Selain beberapa makna yang dipaparkan di atas, ekpresi
kebahasaan dalam legenda DSN juga mengandung makna
yuridis. Menurut KBBI (2008:1567), kata yuridis berarti segala
sesuatu yang berhubungan dengan hukum atau segala sesuatu
menurut hukum. Makna yuridis dalam tulisan ini berkenaan
dengan konsekuensi hukum yang diterima si Bukuk dan si Buta
yang telah menghilangkan hak hidup si Solek anjing mereka,
seperti dapat disimak pada data di bawah ini.
30 Laing h- itu-e nawes d-ise ga,
Sementara KTFRS itu KLTK sedih POSS 3JM KL
‘Pada saat mereka sedang mengalami kesedihan yang mendalam,’
tua gaut ca ng- ata- e ata kipi cenges, janggok lewe,
muncul saja satu KTFRS orang KL orang kumis tebal, janggut
panjang,
‘Tiba-tiba muncul seseorang yang berkumis tebal, dan
berjenggot panjang’
61
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
tenteng ca nggalak lewe
bawa satu tombak panjang
‘Membawa sebatang tombak panjang’
31 Agu jaong one ise,”Bukuk...”.
Dan kata dalam 3JM NAMA
‘Dan berkata kepada mereka, Bukuk....’
35 Co’o tara nggitu-n pande-n acu hitu le hemi.
Kenapa bentuk begitu KTFRS buat KTFRS anjing itu oleh 2 JM.
‘Mengapa kamu memperlakukan anjing tersebut seperti itu.’
36 Mai jaong de Bukuk ga,
Datang kata POSS NAMA KL
‘Si Bukuk menjawab,’
tegi api Buta ra ite, toe ngance lako aku.
Minta api NAMA ANFRS 1JM HON tidak bisa jalan 1TG
‘Si Buta meminta api tuan, tetapi saya tidak bisa jalan’
37 laing nggitu-n no mori ga,
sementara itu KTFRS KTFRS tuan KL
‘Karena hal itu tuan’
mai aku pongo api one iko acu h- itu
datang 1TG ikat api dalam ekor anjing ANFRS itu,
‘Maka saya mengikatkan api pada ekor anjing itu.’
38 nggoang gaut api laing mburuk de acu h- itu
nyala saja api saat lari POSS anjing ANFRS itu,
‘Tiba-tiba saja api menyala pada saat anjing itu berlari’
39 itu tara mata-n acu h- itu.
itu sebab mati KTFRS anjing ANFRS itu.
‘Hal tersebutlah yang meyebabkan anjing itu mati.’
62
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
40 Mai jaong na, “Darem hemi ko?”.
Datang omong KTFRS lapar 2JM KL
‘Kemudian dia berkata, kamu lapar kah?’
41 Wale l- ise ga, “Io ite”.
Jawab oleh 3JM KL ya 1 JM HON
‘Mereka menjawab, ya tuan’
42 Ha.... di’a-m ngg- itu, aku ri hemi ata sua.
Hmm baik ANFRS ANFRS itu, 1TG tanya 2JM orang dua
‘Hmm. Baiklah kalau begitu saya bertanya pada kamu berdua.’
43 Apa niak gemi ata sua. Hang kar ko hang lebo?
Apa ingin 2JM orang dua. Makanan kering atau makan bubur
‘Apa yang kalian berdua inginkan. Nasi atau bubur.’
44 Wale l- ise ga, “ Hang lebo ra ite”.
Jawab oleh 3JM KL makan bubur ANFRS 1JM HON
‘Lalu mereka menjawab, makan bubur tuan.’
45 Ha ...., o lebo ho’o.
Hmm..., ini bubur ini
‘Hmm..., ini buburnya.’
46 Ceka- n tu nggalak h- itu
Tancap KTFRS KTFRS tombak ANFRS itu
‘Tombak itu ditancapkan’
le keraeng ca kipi cenges agu janggok lewe ho’o
oleh keraeng satu kumis tebal dan jenggot panjang ini
‘oleh keraeng yang berkumis tebal dan berjenggot panjang ini’
nggere wa tana, wa mai taung nggalak ho’o one tana.
ke bawah tanah, bawa datang semua tombak ini dalam tanah.
‘Ke dalam tanah, dan tombak tersebut tertancap seluruhnya
dalam tanah’
63
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
47 Poli h- itu ga kebut nggalak h- itu
Sudah ANFRS itu KL cabut tombak ANFRS itu
‘Setelah itu tombak tersebut dicabut’
le kraeng ca kipi cenges agu janggok lewe h- itu,
oleh kraeng yang berkumis tebal dan berjenggot panjang itu,
‘oleh kraeng yang berkumis tebal dan berjenggot panjang itu,’
neka ....., lua gaut wae,
jangan..., didih saja air,
‘tiba-tiba saja air menyembur keluar dari dalam tanah dan
meluap’
peno gaut lengkong uma d- ise ata beo enem s- itu.
Penuh saja dataran kebun POSS 3JM orang kampung enam
ANFRS itu.
‘memenuhi dataran kebun milik orang-orang keenam kampung
tersebut.’
Data (30-47), secara keseluruhan menggambarkan bahwa
setiap tindakan yang menyebabkan hilangnya hak hidup
termasuk hak hidup binatang pasti mendapatkan ganjaran atau
konsekuensi hukum dari Sang Pemilik kehidupan.
Hak hidup anjing telah dirampas oleh si Bukuk dan si Buta.
Perampasan hak hidup tersebut harus dipertanggungjawabkan
keduanya melalui suatu proses peradilan. Proses peradilan
dimaksud, dilakukan oleh seorang tokoh misterius seperti yang
digambarkan pada data (30) dengan penyelidikan terhadap sebab
kematian anjing sebagaimana tersingkap dalam satuan (35).
Si Bukuk mengemukakan alasannya pada (36). Alasan ini coba
dikemukan si Bukuk dengan tujuan melempar kesalahan pada si
Buta. Lempar batu sembunyi tangan. Tidak ada kejujuran dalam
diri si Bukuk ketika mendapatkan tekanan. Alasan lain yang
64
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
disampaikan si Bukuk adalah keterbatasan fisik yang dialaminya
yakni tidak bisa berjalan (37). Kedua alasan ini dijadikan sebagai
alat pembenaran atas tindakan yang telah dilakukannya pada
anjing.
Mendengar keterangan yang disampaikan si Bukuk, sang
tokoh siluman berkesimpulan bahwa keduanya lapar. Hal ini
dapat dilihat dari pertanyaan yang diajukannya pada data (40)
dan si Bukuk membenarkannya (42). Data (43) merupakan
proses penawaran hukuman atau ganjaran yang diterima si
Bukuk dan si Buta. Dan keduanya memilih makan bubur, tanpa
mempertimbangkan lagi konsekuensi atas pilihan tersebut (data
44). Proses pengadilan tersebut diakhiri dengan eksekusi hukuman
(data 45). Eksekusi hukuman tersebut dilakukan dengan cara
menancapkan tombak ke dalam tanah (45), dan disertai dengan
dicabutnya tombak (45). Akhirnya, si Bukuk dan si Buta menerima
hukuman, bukan dalam bentuk bubur dalam arti sesungguhnya,
tetapi dalam bentuk luapan air dalam jumlah yang sangat banyak
dan memenuhi seluruh dataran besar bekas kebun komunal (uma
lodok) dan seluruh perkampungan milik masyarakat keenam
kampung sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya. Itulah
hal ihwal terbentuknya danau Sano Nggoang, yang merupakan
bukti ganjaran yang diterima si Bukuk dan si Buta.
Selain itu, dalam cuplikan di atas tersingkap makna bahwa
si pemberi hukuman tidak otoriter dalam memberikan sanksi,
tetapi melalui sebuah mekanisme hukum yang adil dan bijak.
Hal ini ditegaskan dengan menawarkan pilihan. Hal ini mau
menegaskan bahwa ketika terjadi penyimpangan seyogyanya
ditelaah dulu akar masalahnya lalu dipertimbangkan secara bijak
dan akhirnya menjatuhkan hukuman secara adil. Dengan kata
lain, tidak boleh main hakim sendiri ketika terjadi penyimpangan
sosial dalam hidup bermasyarakat.
65
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, ketika si Bukuk dan si
Buta memilih hang lebo ‘nasi bubur’ (data 43), maka yang mereka
dapatkan adalah luapan air. Apa yang terjadi kalau keduanya
memilih hang kar ‘nasi kering’. Terkait dengan itu, Bapak Adi
Hamut mengatakan, jika memilih hang kar, mereka mungkin
menjadi batu (HW)9. Pernyataan tersebut menggambarkan dua
pilihan yang sama-sama tidak mengenakkan bak si buah malakama.
Artinya, setiap pelanggaran norma yang mendisharmonikan relasi
sosial tetap berdampak pada konsekuensi hukum atau ganjaran.
Dengan demikian, kata lebo dalam uraian di atas dapat dipahami
sebagai konsep tentang kiamat dalam pandangan GTSMW.
Makna Sosiologis
Makna sosiologis berkaitan dengan hubungan antar individu
atau antar pribadi dalam realitas kehidupan bermasyarakat. Secara
kontekstual, makna sosiologis yang tersirat dari ekpresi kebahasaan
dalam legenda DSN dapat dicermati dari hubungan dialogis
antara penutur dan pendengar. Legenda DSN dapat dikisahkan
apabila ada yang mendengarkan dan ada yang menceritakan.
Kontak antar pendengar dan penutur sangat dibutuhkan
agar tercapai sasaran yang ditargetkan oleh penutur. Sasaran
atau target yang dimaksud adalah pesan yang ingin disampaikan
setelah legenda itu diceritakan. Bisa dikatakan, legenda DSN
merupakan wahana komunikasi untuk menyampaikan pesan.
Makna sosiologis yang tersirat dalam legenda DSN terlihat
pada paparan berikut.
11 Ca leso ga, pesa gaut api de Buta
Satu hari KL, padam saja api POSS NAMA.
‘Pada suatu hari, api milik si Buta padam.’
9 Hasil Wawancara dengan Bapak Adi Hamut di Labuan Bajo pada tanggal 1 Maret
2013.
66
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
12 Mai Buta ga benta Bukuk; a o ka’e, manga api d- ite?
Datang NAMA KL panggil NAMA; a o kakak ada api POSS
1JM HON
‘Lalu si Buta memanggil si Bukuk; a o kakak ada apikah?’
13 Ai coe leng; pesa api gau?
Karena bagaimana begitu; padam api 2TG
‘Ada apa; apakah apimu padam?’
14 Eng ha kae de.
Ya KLTK kakak KL.
‘Betul kakak.’
15 E coe na pande-n ga, bom ngance lako goe aku
E bagaimana KTFRS buat KTFRS KL jika bisa jalan hanya 1 TG
‘Ya, tetapi bagaimana caranya, karena saya tidak bisa jalan’
16 Mai jaong de Buta ga, kuing gaut acu ho’o l- ite go,
Datang omong POSS NAMA KL panggil saja anjing ini oleh
1JM HON KL
‘Kemudian si Buta berkata, kakak panggil saja anjing ini’
pongo one iko n l- ite cupu api ding,
ikat dalam ekor ANFRS oleh 1JM HON puntung api sebentar
‘nanti kakak ikat saja puntung api pada ekornya,’
poli hitu ding ga kuing e.
Sudah itu sebentar KL panggil ANFRS
‘lalu panggil ke situ.’
17 Mai jaong de Bukuk ga, e... e... nggitu e ga.
Datang kata POSS NAMA KL, e... e... begitu ANFRS KL.
‘Si Bukuk berkata, baiklah kalau begitu.’
67
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
18 Mai Bukuk ga pongo api one iko de acu ho’o.
Datang NAMA KL ikat api dalam ekor POSS anjing ini.
‘Lalu si Bukuk mengikat api pada ekor anjing tersebut.’
Paparan di atas menunjukkan si Bukuk dan si Buta merupakan
gambaran manusia yang tidak sempurna (non homo perfectus est).
Ketidaksempurnaan dapat diatasi jika manusia memiliki kepekaan
sosial terhadap kekurangan yang dialami sesama dan berusaha
untuk melengkapinya. Dalam hal si Bukuk memiliki kepekaan
sosial terhadap situasi ketiadaan api si Buta. Sebagai bentuk dari
rasa empati tersebut, ia tidak hanya menyampaikannya lewat kata-
kata belaka tetapi diikuti sebuah aksi atau tindakan nyata seperti
yang tersingkap dalam data (18). Hal ini mau menegaskan bahwa
manusia tidak bisa hidup tanpa kehadiran manusia lainnya.
Eksistensi hidup seorang manusia akan memiliki arti apabila
mempunyai kepekaan sosial terhadap kekurangan sesamanya,
dan melakukan tindakan nyata dalam mengisi atau mengatasi
kekurangan yang dialami sesama. Inilah salah satu hakikat utama
dari pengertian manusia sebagai makhluk sosial (homo socius)
Sebagai makhluk sosial GTSMW senantiasa berusaha
mengutamakan relasi yang harmoni dalam kehidupan bersama
di tengah masyarakat. Salah satu cara yang dilakukannya adalah
menggunakan pronomina ite ‘kita’ (data 12) dalam berinteraksi
atau berkomunikasi dengan sesama dengan tujuan menjadikan
sesama yang lain sebagai bagian dari dirinya. Eskpresi lingual
manga api dite ‘kita punya api’ menonjolkan kekolegian dalam
realitas kehidupan bersama yang dengan cara sedemikian dapat
menghilangkan tembok pemisah atau tak ada lagi jarak sosial
antara satu dengan yang lain. Ketika itu yang terjadi maka
meningkatlah harmoni sosial dalam kehidupan bersama, dan
pada gilirannya bersemilah suatu dunia kehidupan yang penuh
dengan kedamaian.
68
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
Makna Politis
Secara harafiah, kata politis berarti bersifat politik, atau
sesuatu yang berkaitan dengan politik. KBBI (2008:1092. George
Orwell (dalam Thomas dan Wareing, 2007:50) berpendapat, “Di
zaman ini tidak mungkin orang bisa lepas dari politik. Semua
masalah adalah selalu masalah politik.” Masalah politik, menurut
Thomas dan Wareieng (2007:5), tidak hanya terbatas pada
masalah kekuasaan untuk membuat keputusan, mengendalikan
sumber daya, mengendalikan perilaku orang lain, dan seringkali
juga mengendalikan nilai-nilai yang dianut orang lain. Tetapi
lebih dari itu, keputusan-keputusan biasa yang dilakukan dalam
kehidupan sehari-hari dapat dipandang dari sudut politik.
Bertalian dengan hal itu, makna politis yang dimaksudkan
dalam legenda DSN adalah keputusan yang dibuat si Bukuk dan
si Buta dengan tujuan untuk mengatasi persoalan yang dihadapi
si Buta, sebagaimana tersingkap pada data berikut.
11 Ca leso ga, pesa gaut api de Buta
Satu hari KL, padam saja api POSS NAMA.
‘Pada suatu hari, api milik si Buta padam.’
12 Mai Buta ga benta Bukuk; a o ka’e, manga api d- ite?
Datang NAMA KL panggil NAMA; a o kakak ada api POSS
1JM HON
‘Lalu si Buta memanggil si Bukuk; a o kakak ada apikah?’
13 Ai coe leng; pesa api gau?
Karena bagaimana begitu; padam api 2TG
‘Ada apa; apakah apimu padam?’
14 Eng ha kae de.
Ya KLTK kakak KL.
‘Betul kakak.’
69
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
15 E coe na pande-n ga, bom ngance lako goe aku
E bagaimana KTFRS buat KTFRS KL jika bisa jalan hanya 1 TG
‘Ya, tetapi bagaimana caranya, karena saya tidak bisa jalan’
16 Mai jaong de Buta ga, kuing gaut acu ho’o l- ite go,
Datang omong POSS NAMA KL panggil saja anjing ini oleh
1JM HON KL
‘Kemudian si Buta berkata, kakak panggil saja anjing ini’
pongo one iko n l- ite cupu api ding,
ikat dalam ekor ANFRS oleh 1JM HON puntung api sebentar
‘nanti kakak ikat saja puntung api pada ekornya,’
poli hitu ding ga kuing e.
Sudah itu sebentar KL panggil ANFRS
‘lalu panggil ke situ.’
17 Mai jaong de Bukuk ga, e... e... nggitu e ga.
Datang kata POSS NAMA KL, e... e... begitu ANFRS KL.
‘Si Bukuk berkata, baiklah kalau begitu.’
18 Mai Bukuk ga pongo api one iko de acu ho’o.
Datang NAMA KL ikat api dalam ekor POSS anjing ini.
‘Lalu si Bukuk mengikat api pada ekor anjing tersebut.’
Rangkaian dialog antara si Bukuk dan si Buta dalam
cuplikan di atas menarik untuk dicermati. Mengapa menarik.
Karena dialog tersebut menggambarkan suatu proses diskursus
dalam rangka melahirkan keputusan dengan tujuan memenuhi
kebutuhan api si Buta. Si Bukuk yang mendengar permintaan si
Buta, tidak langsung menjawab dengan mengatakan bahwa dia
mempunyai api, tetapi dia mengkonfirmasinya terlebih dahulu
(data 13). Hal ini menunjukkan suatu strategi mengindentifikasi
masalah dengan tujuan agar menemukan cara mengatasinya.
Namun si Bukuk sendiri tidak menemukan cara untuk membawa
70
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
api kepada si Buta karena keterbatasan fisik yang dialaminya (data
15). Menanggapi hal ini, si Buta mengusulkan kepada si Bukuk
untuk memanfaatkan anjing sebagai media untuk membawa
puntung api dengan cara diikatkan pada ekornya (data 16).
Usulan ini disetujui oleh si Bukuk (data 17) yang langsung diikuti
pelaksanaan eksekusi keputusan (data 18).
Hal di atas mau menegaskan bahwa dialog sangat penting
dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat. Dikatakan
demikian karena, dialog merupakan suatu wahana yang dapat
memecahkan persoalan yang dihadapi dan dapat melahirkan
keputusan yang bermanfaat bagi kehidupan bersama.
Makna Ekologis
Makna ekologis yang dimaksudkan dalam penelitian
ini berkaitan dengan persepsi masyarakat Mata Wae tentang
keberadaan Danau Sano Nggoang dan alam sekitarnya sebagai
suatu ekosistem yang merupakan suatu anugerah yang sangat
potensial bagi kehidupan masyarakat sekitarnya. Sebagai suatu
ekosistem yang potensial, tentu dibutuhkan suatu kesadaran
kolektif dan individu untuk menjaga dan melestarikannya.
Terkait dengan itu, Bapak Yoseph Subur, ketika menjawab
pertanyaan penulis, apa makna keberadaan Danau Sano Nggoang
bagi GTSMW, mengatakan sebagai pemerintah desa dan
masyarakat merasa bangga dengan aset dan potensi Sano Nggoang.
Karena kebanggaan itulah, Pemerintah Desa dan masyarakat
mempunyai komitmen dengan NACARIPU (Nempung Cama
Riang Puar) tau riang tana tiwa lami tana taki ‘bersepakat menjaga
hutan dengan tujuan menjaga keutuhan serta melestarikan tanah
pusaka’ sebagai aset dan keindahan yang akan diwariskan ke
generasi penerus (HW)10.
10 Hasil Wawancara dengan Bpk Yoseph Subur di Nunang pada tanggal 23 Februari
71
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
Pernyataan tersebut mengisyaratkan salah bentuk pemaknaan
masyarakat Desa Wae Sano sebagai bagian dari GTSW terhadap
arti penting eksistensi Danau Sano Nggoang dan kawasan hutan
di sekitarnya. Pemaknaan tersebut diwujudkannya dalam sebuah
komitmen yang disebutnya sebagai NACARIPU merupakan
suatu kesepakatan yang bertujuan mulia yakni menjaga dan
melestarikan hutan sebagai suatu warisan yang harus diwariskan
kepada generasi berikutnya. Sebagaimana tradisi lisan legenda
DSN diwariskan secara turun temurun demikian juga danau Sano
Nggoang dan lingkungan alam nan asri di sekitarnya juga harus
dipertahankan dan diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya.
Karena aset tersebut sangat potensial bagi peningkatan hidup
masyarakat Mata Wae khususnya dan masyarakat Manggarai
Barat umumnya.
Nilai Legenda DSN
Selain memiliki struktur, fungsi, dan makna sebagaimana
yang telah dipaparkan di atas, legenda DSN juga menggurat
beberapa nilai. Nilai merupakan sesuatu yang dipandang berharga
dan membantu dalam diri setiap warga dari suatu kelompok
masyarakat tidak terkecuali kelompok masyarakat Mata Wae.
Nilai tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman dan pengarah
bagi setiap warganya dalam menata pola sikap dan tingkah laku
dalam realitas kehidupan bermasyarakat.
Nilai yang terkandung dalam legenda DSN adalah nilai
keyakinan dan nilai ketaatan terhadap Wujud Tertinggi, nilai
hidup, nilai kerja sama, dan nilai solidaritas, sebagaimana dapat
disimak pada uraian berikut ini.
2013
72
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
Nilai Keyakinan dan Ketaatan Terhadap Wujud Tertinggi
Nilai keyakinan dan ketaatan terhadap Wujud Tertinggi
dalam GTSMW bertautan dengan eksistensi sosok yang mistik
yang dapat menembus ruang dan waktu serta memiliki kekuasaan
penuh atas seluruh kehidupan di jagat raya ini, seperti yang
tampak pada data di bawah ini.
30 Laing h- itu-e nawes d-ise ga,
Sementara KTFRS itu KLTK sedih POSS 3JM KL
‘Pada saat mereka sedang mengalami kesedihan yang mendalam,’
tua gaut ca ng- ata- e ata kipi cenges, janggok lewe,
muncul saja satu KTFRS orang KL orang kumis tebal, janggut
panjang,
‘tiba-tiba muncul seseorang yang berkumis tebal, dan berjenggot
panjang’
tenteng ca nggalak lewe
bawa satu tombak panjang
‘membawa sebatang tombak panjang’
31 Agu jaong one ise,”Bukuk...”.
Dan kata dalam 3JM NAMA
‘Dan berkata kepada mereka, Bukuk....’
35 Co’o tara nggitu-n pande-n acu hitu le hemi.
Kenapa bentuk begitu KTFRS buat KTFRS anjing itu oleh 2 JM.
‘Mengapa kamu memperlakukan anjing tersebut seperti itu.’
36 Mai jaong de Bukuk ga,
Datang kata POSS NAMA KL
‘Si Bukuk menjawab,’
tegi api Buta ra ite, toe ngance lako aku.
Minta api NAMA ANFRS 1JM HON tidak bisa jalan 1TG
‘Si Buta meminta api tuan, tetapi saya tidak bisa jalan’
73
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
37 laing nggitu-n no mori ga,
sementara itu KTFRS KTFRS tuan KL
‘karena hal itu tuan’
mai aku pongo api one iko acu h- itu
datang 1TG ikat api dalam ekor anjing ANFRS itu,
‘maka saya mengikatkan api pada ekor anjing itu.’
46 Ceka- n tu nggalak h- itu
Tancap KTFRS KTFRS tombak ANFRS itu
‘Tombak itu ditancapkan’
le keraeng ca kipi cenges agu janggok lewe ho’o
oleh keraeng satu kumis tebal dan jenggot panjang ini
‘oleh keraeng yang berkumis tebal dan berjenggot panjang ini’
nggere wa tana, wa mai taung nggalak ho’o one tana.
ke bawah tanah, bawa datang semua tombak ini dalam tanah.
‘ke dalam tanah, dan tombak tersebut tertancap seluruhnya dalam tanah’
47 Poli h- itu ga kebut nggalak h- itu
Sudah ANFRS itu KL cabut tombak ANFRS itu
‘Setelah itu tombak tersebut dicabut’
le keraeng ca kipi cenges agu janggok lewe h- itu,
oleh keraeng yang berkumis tebal dan berjenggot panjang itu,
‘oleh keraeng yang berkumis tebal dan berjenggot panjang itu,’
neka ....., lua gaut wae,
jangan..., didih saja air,
‘tiba-tiba saja air menyembur keluar dari dalam tanah dan meluap’
peno gaut lengkong uma d- ise ata beo enem s- itu.
Penuh saja dataran kebun POSS 3JM orang kampung enam ANFRS itu.
‘memenuhi dataran kebun milik orang-orang keenam kampung
tersebut.’
74
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
Dari data di atas, pencerita ingin menyampaikan pesan
kepada pendengar bahwa, di luar diri manusia ada satu Wujud
Tertinggi yang melampaui segala kehidupan dan memiliki
kekuatan luar biasa yang kehadiranya tidak pernah dirasakan
manusia itu sendiri. Pendengar dalam hal GTSMW diminta
untuk meyakini keberadaan sosok atau Wujud Tertinggi tersebut
dalam kehidupannya. Mengapa harus diyakini. Karena sosok
sebagaimana dilukiskan pada data (30) mempunyai kuasa atas
seluruh mahluk hidup ciptaanNya, termasuk anjing (data 35).
GTSMW tidak hanya diminta untuk meyakini Sang Wujud
Tertinggi tersebut, tetapi juga diminta untuk mentaati segala
perintah dan laranganNya. Ketaatan tersebut harus diwujudkan
dalam bentuk menjaga keseimbangan hubungan antara manusia
dengan alam sekitarnya. Menjaga hubungan yang harmonis
antara manusia dengan alam merupakan suatu bentuk ketaatan
yang mutlak dari manusia terhadap Sang Wujud Tertinggi. Ketika
manusia tidak mentaati perintahNya untuk menjaga keselarasan
alam, maka manusia akan mendapatkan ganjaran yang setimpal
(data 46) dan berdampak terhadap seluruh kehidupan manusia
itu sendiri (data 47). Intinya, disharmoni hubungan manusia
dengan alam, dampaknya tidak kecil tetapi sebaliknya sangat
merugikan kehidupan manusia secara keseluruhan.
Dengan demikian, adalah mutlak bagi GTSMW untuk
mengakui adanya Sang Wujud Tertinggi dalam seluruh
kehidupanya dan mentaati segala perintah dan laranganNya
dalam bentuk memelihara hubungan yang harmonis dengan
alam sekitar sebagai bagian dari ciptaanNya.
Nilai Hidup
Nilai hidup berkaitan dengan upaya manusia untuk
memperoleh kebebasan dan bangkit dari belenggu-belenggu
75
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
keterpurukan. Nilai hidup dalam legenda DSN dapat disimak
dari ekspresi lingual sebagaimana tersingkap pada data berikut.
06 Laing ca cekeng pacek ga,
Saat satu musim tanam KL
‘Pada saat musim tanam’
Taung na ata Nunang, Lempe, Kandang, Lokong, Nggoang agu Wewa
Habis KL orang LOC, LOC, LOC, LOC, LOC dan LOC
‘Semua orang Nunang, Lempe, Kandang, Lokong, Nggoang
dan Wewa’
Mo one uma duat taung- se ai cekeng wa’u wini
Pergi dalam kebun kerja semua ANFRS karena musim tanam benih
‘Semuanya pergi bekerja di kebun karena musimnya untuk
tanam benih’
Data (06) di atas menyiratkan pesan agar semua orang harus
pergi bekerja di kebun atau ladang mereka ketika musim tanam
tiba, karena hanya pada musim tanam saja segala tumbuhan bisa
bertumbuh, berkembang dan memberikan hasil bagi manusia.
Hidup yang lebih baik dan bermartabat hanya bisa terwujud
melalui kerja keras dan pemanfaatan segala potensi yang dimiliki.
Verba duat ‘kerja’ merupakan perwujudan dari eksitensi manusia
itu sendiri sebagai homo laborem, bukan sebagai manusia yang
berleha-leha. Tidak ada pencapaian taraf kehidupan yang
bermartabat yang tidak melalui kerja. Dalam hal ini, para leluhur
GTSMW memperingatkan generasi penerusnya bahwa tidak ada
jalan pintas dalam mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan
bermartabat, tetapi melalui kerja keras.
Nilai Kerja Sama
Manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial (homo
socius). Dikatakan demikian karena manusia yang memiliki segala
76
LEGENDA DANAU SANO NGGOANG SUBDIALEK GUYUB TUTUR MATA WAE
Perepektif Studi Lingusitik Kebudayaan
keterbatasan tidak bisa hidup tanpa bantuan dari sesamanya.
Maka dari itu, dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dia tidak
bisa tidak terlepas dari campur tangan manusia lain. Untuk
mengisi keterbatasan tersebut, maka diperlukan kerja sama
berupa sumbangan pikiran dan tindakan nyata sebaimana dapat
dicermati dari fragmen berikut ini.
11 Ca leso ga, pesa gaut api de Buta
Satu hari KL, padam saja api POSS NAMA.
‘Pada suatu hari, api milik si Buta padam.’
12 Mai Buta ga benta Bukuk; a o ka’e, manga api d- ite?
Datang NAMA KL panggil NAMA; a o kakak ada api POSS
1JM HON
‘Lalu si Buta memanggil si Bukuk; a o kakak ada apikah?’
13 Ai coe leng; pesa api gau?
Karena bagaimana begitu; padam api 2TG
‘Ada apa; apakah apimu padam?’
14 Eng ha kae de.
Ya KLTK kakak KL.
‘Betul kakak.’
15 E coe na pande-n ga, bom ngance lako goe aku
E bagaimana KTFRS buat KTFRS KL jika bisa jalan hanya 1 TG
‘Ya, tetapi bagaimana caranya, karena saya tidak bisa jalan’
16 Mai jaong de Buta ga, kuing gaut acu ho’o l- ite go,
Datang omong POSS NAMA KL panggil saja anjing ini oleh
1JM HON KL
‘Kemudian si Buta berkata, kakak panggil saja anjing ini’
pongo one iko n l- ite cupu api ding,
ikat dalam ekor ANFRS oleh 1JM HON puntung api sebentar
‘nanti kakak ikat saja puntung api pada ekornya,’
77