The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E book ini berisi rancangan kotbah GKE tahun 2023

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mezisita05, 2022-12-29 19:12:30

Buku Rancangan Kotbah GKE 2023

E book ini berisi rancangan kotbah GKE tahun 2023

Keywords: GKEOKE

II. PEMBAHASAN
Sidang jemaat yang dikasihi dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Dalam
perikop sebelumnya, Yohanes 19:28-42 diceritakan terkait peristiwa
penguburan mayat Yesus. Sehingga dari bagian ini jelas, bahwa Yesus
pada saat itu sudah mati. Namun, kemudian dalam nas kita pada hari
ini juga berbicara terkait saksi? Saksi yang seperti apa? Pertama, dalam
ayat 1, diceritakan bahwa ketika hari masih gelap di hari pertama
Minggu itu. Artinya memang kondisi saat pagi buta di hari Minggu
menurut perhitungan hari Yahudi bahwa hari pertama adalah hari
Minggu, ada seorang perempuan bernama Maria Magdalena pergi ke
kubur Yesus.

Maria Magdalena pergi ke sana bersama-sama dengan perempuan
lain (Bdk. Ayat 2 terkait kalimat “kami tidak tahu”; Bdk. Mrk. 16:1; Luk.
24:1). Yang menarik kemudian sebagai saksi, dia melihat bahwa “batu
telah diambil dari kubur“. Dengan kata lain, batu yang menutup kubur
Yesus ternyata sudah berpindah tempat (Bdk. Luk. 24:2). Sebagai saksi,
Maria tidak menemukan mayat Yesus. Oleh sebab itu, ia segera berlari
mencari Simon Petrus dan murid lain dengan menyatakan bahwa
“Mayat Yesus telah diambil orang atau dicuri“ (Ayat 2). Hal tersebut
ternyata ditanggapi dengan respons yang cepat dari Petrus dan murid
lain. Dalam beberapa tafsiran, murid lain yang dimaksud di sini
menunjuk pada Rasul Yohanes (Ayat 3).

Ketika murid lain yang dikasihi di sini tiba, ia menjenguk ke dalam
kubur dan melihat bahwa kain kapan Yesus terletak di tanah (Ayat 5).
Namun, kemudian datanglah Petrus. Di dalam kubur tersebut, sebagai
saksi Petrus melihat secara jelas bahwa kain kapan terletak di tanah dan
kain peluh yang awalnya ada di kepala Yesus, berada di samping dan
sudah tergulung (Ayat 6-7). Murid yang lain di sini kemudian masuk
pula ke dalam kubur itu, dan melihat apa yang dilihat oleh saksi kedua.
Namun, ada respons berbeda yang disampaikan yakni “ia melihatnya
dan percaya” (Ayat 8). Hal tersebut menjadi peristiwa penting yang
membuka pemahaman mereka, sebab sebelumnya mereka dikatakan
belum mengerti isi Kitab Suci yang menyatakan bahwa Yesus harus
bangkit dari antara orang mati (Ayat 9). Setelahnya keduanya pun
pulang ke rumah.

III. RELEVANSI
Sidang jemaat yang dikasihi dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Pada
dasarnya dari nas ini kita bisa melihat dua gambaran utama respons
ketika menjadi saksi atas peristiwa kebangkitan Yesus ini:

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 50

1. Maria Magdalena dan Petrus menjadi saksi awal yang masuk dalam
kubur Yesus, namun kemudian teks tidak menunjukkan gambaran
bahwa mereka menjadi percaya. Teks menggambarkan bahwa
Maria Magdalena menyatakan bahwa kubur Yesus kosong, dan
mayat-Nya dicuri. Walaupun kemudian dalam Yohanes 20:18, ada
pengakuan penting dari Maria Magdalena bahwa ia telah melihat
Tuhan Yesus bangkit. Sedang Simon Petrus tidak digambarkan
melihat peristiwa tersebut dan percaya atas peristiwa tersebut.

2. Saksi yang terakhir digambarkan berbeda dari saksi pertama dan
kedua. Ia masuk terakhir dari saksi yang lain, namun kemudian
menjadi percaya. Dengan kata lain, respons yang ditunjukkan
menggambarkan bahwa ia memahami semua peristiwa tersebut
karena Yesus sudah pernah menyampaikannya kepada mereka
sebagai sebuah nubuatan atas diri-Nya. Ia mengingat dan
menyadari bahwa peristiwa yang terjadi merupakan nubuatan
yang digenapi. Dengan kata lain, peristiwa kebangkitan Yesus harus
bermuara pada keyakinan iman, percaya (Ayat 8) .

Sidang jemaat yang dikasihi dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Harus
diakui bahwa peristiwa kebangkitan Yesus menjadi peristiwa penting
yang diingat dan dirayakan oleh umat Kristen. Sebab kebangkitan
Yesus adalah dasar pengharapan dan kepercayaan kita (Lih. 1 Kor.
15:17). Hari Sabat sebenarnya jatuh pada hari Sabtu, tetapi sejak
kebangkitan Tuhan Yesus yang terjadi pada hari Minggu, orang-orang
Kristen beribadah pada hari Minggu (Lih. Yohanes 20:19; Kis. 20:7; 1
Kor. 16:2). Oleh sebab itu, peristiwa kebangkitan Yesus ini menjadi
dasar penting, bahwa setiap minggu orang-orang Kristen mengingat
dan menghayati kebangkitan Yesus dalam ibadah yang bermuara pada
iman.

Dalam konteks masa kini, memang sering kali ditemui pengajaran-
pengajaran bahkan klaim-klaim yang meragukan kebangkitan Yesus
ini.* Kalau kita melihat misalnya dalam dialog antar agama, salah satu
pokok iman yang sering kali dipertanyakan adalah terkait kebangkitan
Yesus. Tetapi sebagai orang Kristen, nas hari ini memberikan gambaran
yang jelas bagi kita, bahwa peristiwa kebangkitan Yesus tidak terjadi
secara sembunyi-sembunyi. Ada saksi yang dinyatakan oleh Alkitab,
bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Maria Magdalena dan
perempuan-perempuan lain adalah saksi kebangkitan tersebut, Petrus,
dan murid-murid lainnya pun adalah saksi kebangkitan. Dalam kitab
Kisah Para Rasul, mereka menjadi saksi yang setia senantiasa
mengabarkan Injil keselamatan bagi semua bangsa. Pengharapan yang
awalnya seolah hilang, kini memunculkan harapan baru (Bdk. Yeremia
31:1-6), harapan yang pasti membawa pada keselamatan. Oleh sebab

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 51

itu, kuatkan iman percaya kita, mari menjadi saksi dan pewarta
kebangkitan Kristus.

Ket: * Untuk relevansi disesuaikan dengan konteks di jemaat/resort
masing-masing.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 16 April 2023

Nas Bacaan : Mazmur 16 :1 – 11
Nas Khotbah : Yohanes 20 : 19 – 23

Penulis : Pdt. Bimbing Kalvari, M.Th

Sub Tema : Menjadi Saksi Bagi Kristus

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus,

Apakah hal terbaik yang menjadi bagian dalam hidup kita?
Mungkin ada yang menjawabnya ketika dapat masuk sekolah favorit,
mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, kenaikan jabatan, sembuh dari
sakit, mendapatkan pasangan hidup, dan berbagai hal yang bisa membuat
senang. Jika bisa memilih, sebagai manusia, kita akan lebih suka dengan

pengalaman yang menyenangkan tersebut dan bukan sebaliknya. Tetapi
hidup tentu saja bukan hanya berisi pengalaman yang menyenangkan
tetapi juga yang kurang menyenangkan.

Daud memiliki beragam pengalaman dalam hidupnya. Beberapa
kali, dia harus berhadapan dengan situasi yang mengancam jiwanya
seperti ketika dia berhadapan dengan binatang liar saat menggembalakan
ternak, berhadapan dengan Goliat yang adalah seorang tentara terlatih
dari bangsa Filistin, juga ketika dia dikejar-kejar oleh Saul yang akan
membunuhnya. Daud seringkali mengungkapkan syukurnya dalam bentuk
nyanyian nyanyian pujian sekaligus doa-doa memohon pertolongan.

Dalam bagian Alkitab yang kita baca hari ini, Daud
mengungkapkan kepercayaannya bahwa Tuhan adalah bagian terbaik
yang dimilikinya. Pengalaman pernah lepas dari ancaman maut,

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 52

kesukaannya bergaul dengan orang-orang kudus, dan pilihannya untuk
menjauhkan diri dari orang-orang yang mengikuti ilah lain memberikannya
kesempatan untuk melihat dan merasakan kebaikan Tuhan. Daud
mendaftarkan kebaikan Tuhan: memiliki milik pusaka yang permai,
memperoleh nasihat dan pengajaran dari Tuhan, kekuatan (aku tidak
goyah), kegembiraan/ sukacita, ketenangan, keselamatan (luput dari
maut), dan pedoman kehidupan (jalan kehidupan). Oleh karena Tuhan
adalah bagian terbaik yang dimilikinya, maka Daud mempercayakan
hidupnya hanya dalam penjagaan Tuhan.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus,
Kepercayaan Daud yang menyatakan bahwa Tuhan adalah bagian

terbaiknya merupakan hasil dari pengalaman hidup yang dijalaninya.
Sebagai orang yang sering mengalami keadaan yang membahayakan jiwa,
bahkan harus dibenci dan akan dibunuh oleh mertuanya (Mikhal, isteri
Daud adalah anak Saul), Daud tidak menyimpan kemarahan atau
kepahitan yang membuat dirinya terperangkap dalam sikap dan tindakan
membalas dendam tetapi justru menumbuhkan imannya menjadi dewasa.
Dia mengampuni Saul dan menyatakan bahwa Tuhanlah yang telah
melepaskan dia dari maut. Demikian juga dengan pengalaman
menyenangkan yang telah dilaluinya seperti keberhasilan Daud yang
paling mencolok adalah merebut Yerusalem dan menjadikan kota tersebut
sebagai ibu kota Israel tidak membuat dirinya menjadi sombong tetapi
keberhasilan tersebut diakui sebagai campur tangan Tuhan yang
memberikan milik pusaka kepadanya.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus,
Kepercayaan Daud ini juga tidak lepas dari pilihan hidupnya yang

lebih menyukai bergaul dengan orang-orang kudus dan menjauhkan diri
dari orang-orang yang tidak mengenal Allah. Beberapa mazmur Daud
mengungkapkan kesukacitaannya ketika menggambarkan suasana
peribadatan di Bait suci dan seringkali juga mengungkapkan ketidaksukaan
terhadap orang-orang yang menyembah ilah-ilah lain. Memilih dan
menciptakan lingkungan tempat kita bergaul akan sangat mempengaruhi
bagaimana cara kita bersikap dan mengambil keputusan. Memilih dan
bergaul dengan orang-orang yang memiliki kebiasaan baik, akan
berdampak baik juga, demikian sebaliknya. Janganlah kamu sesat,
pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik (1 Kor 15:33)

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus
Berbagai pengalaman hidup yang kita jalani setiap hari, tidak

menjadikan kita kecewa dan putus asa ketika hal tersebut tidak sejalan

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 53

dengan kemauan kita. Juga ketika harus berhadapan dengan berbagai hal
baik dan menyenangkan menjadikan kita tidak sombong tetapi melihatnya
sebagai kebaikan dari Allah. Biarlah bersama dengan Daud, kita
menyatakan "Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain
Engkau!". Ya, Tuhan adalah bagian terbaik dalam hidup kita.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 23 April 2023

Nas Bacaan : Mazmur 116 :1 – 19

Nas Khotbah : Lukas 24 : 13 – 35
Penulis : Pdt. Dr. Tahan Metria Cambah, M.Th

Sub Tema : Menjadi Saksi Bagi Kristus

I. Pendahuluan
Shalom, setiap tahun, perayaan tahun liturgi selalu mengulangi

peristiwa Paskah dan sekitar perayaan Paskah. Kisah tentang kematian dan
kebangkitan Kristus biasanya menjadi bahan perenungan dalam setiap

momen tersebut. Tidak jarang nas yang dibacakan dan direnungkan juga
mengulang pembacaan kalender liturgi yang biasanya disusun secara
sengaja mengikuti kisah pelayanan Tuhan Yesus.

Pembahasan nas kali ini juga merupakan pembahasan mengenai

kisah kebangkitan Tuhan Yesus yang dibicarakan secara terus menerus
dalam kisah Injil, baik di dalam Lukas maupun pada ketiga Injil lainnya
(Matius, Markus dan Yohanes). Kisah kebangkitan Yesus Kristus sepertinya
menjadi berita yang mengejutkan pada zaman itu. Banyak yang percaya
dan ada pula yang tidak percaya. Kisah kebangkitan senantiasa menjadi

topik yang selalu menantang di setiap saat. Apakah kebangkitan itu
penting bagi orang percaya? Apa yang membuatnya penting? Apakah
makna kebangkitan itu bagi saudara?

II. Penelusuran teks dan arah tafsir
Lukas 23: 13-35: Pembagian teks berdasarkan narasi

Ayat 13-14: Percakapan murid-murid di kampung Emaus. Menurut
tafsiran Matthew Henry, pertemuan Yesus dengan para murid tersebut

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 54

adalah hari yang sama ketika kebangkitan-Nya dikabarkan.1 Uniknya para
murid belum mengenal Yesus secara utuh.

Ayat 15-24: Percakapan murid-murid kepada Yesus (pada saat itu
belum dikenali) tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Penulis
Injil Lukas memberitakan bahwa mata para murid seperti terselubung pada
saat mereka berbicara dengan Yesus Kristus. Bahkan mereka menganggap-
Nya sebagai orang asing (ayat 17). Dapat dibayangkan oleh para pembaca
bagaimana hati Yesus ketika Ia dianggap tidak tahu menahu dengan
peristiwa menghebohkan pada waktu itu.

Ayat 25-27: Yesus menjelaskan apa yang telah diceritakan para
murid tentang diri-Nya. Pada bagian ini Yesus seolah mengingatkan
mereka akan pengajaran-pengajaran yang telah disampaikan-Nya
sebelumnya. Ia bahkan memanggil mereka sebagai orang bodoh!
Rupanya, pengetahuan para murid tentang Kristus dan kebangkitan-Nya
tidak mendalam. Mereka masih belum paham betul, bahkan ketika
berhadapan langsung dengan Kristus.2

Ayat 28-32: Murid-murid makan Perjamuan dengan Tuhan Yesus
dan mata mereka terbuka serta mengenali Kristus. Akhirnya mata para
murid terbuka dan mengenali Dia yang telah bangkit dari kematian.
Mereka pun akhirnya mengingat saat-saat mereka sedang berada di
Emaus. Bagaimana hati mereka berkobar-kobar. Robert C. Tannehill
menulis bahwa kesadaran kepada diri Yesus Kristus itu terjadi atas repetisi
Perjamuan yang dilakukan oleh Yesus Kristus kepada para murid yang
bertemu dengan-Nya di Emaus.3 Ternyata repetisi berguna untuk
menguatkan akan ingatan para murid kepada Yesus Kristus semasa Ia
Bersama para murid.

Ayat 32-35: Murid-murid tersebut kembali ke Yerusalem dan
memberi kesaksian atas kebangkitan Yesus Kristus dan bagaimana Ia
menampakkan diri-Nya. Pada bagian akhir dari ayat yang dibacakan hari
ini, dampak dari pertemuan para murid dengan Yesus Kristus adalah
bangkitnya semangat para murid untuk mengabarkan berita Injil
keselamatan.

I. Tema-tema khotbah pilihan
A. Kebangkitan Kristus, membangkitkan iman orang percaya

1 Matthew Henry Commentary dalam aplikasi e-sword 2022.
2 “(e-SH) 06 April -- Lukas 24:13-35 - Anda mengenal Kristus? | SANTAPAN ROHANI
- RENUNGAN HARIAN,” diakses 28 November 2022,

http://renungan.stefanussusanto.org/2015/04/e-sh-06-april-lukas-2413-35-anda.html.
3 Robert C. Tannehill, The Narrative Unity of Luke-Acts a Literary Interpretation:

Volume one: The Gospel According to Luke (Philadelphia: Fortress Press, 1996), 290.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 55

Kisah kebangkitan Yesus didahului dengan kisah kematian-Nya.
Beberapa penafsir menyatakan bahwa kematian Yesus Kristus membuat
para murid kecewa dan putus asa.4 Kekecewaan dan keputusasaan juga
dirasakan kedua belas murid yang awalnya lari kocar-kacir ketika Yesus
ditangkap dan disalibkan. Kebangkitan Yesus mengubah semua
kekecewaan dan keputusasaan tersebut menjadi kekuatan dan
kemenangan. Kebangkitan telah mengubah iman para murid dan orang
percaya bahwa “Kehidupan” setelah kematian itu ada. Berita baiknya,
Tuhan Yesus berkuasa atas alam maut dan memberi harapan bagi mereka
yang percaya kepada-Nya. Berita itu juga menggemparkan dan membuat
kalangan para pemimpin Yahudi saat itu harus menyebarkan berita hoaks,
agar kebangkitan Yesus bisa diredam. Namun, berita kebangkitan itu tidak
dapat diredam oleh orang Yahudi, tetapi justru menjadi semakin populer.

B. Kebangkitan Kristus dan kebenaran Kitab Suci
Kebangkitan Kristus juga menjadi penggenapan akan nubuat Kitab

Suci yang menyatakan bahwa Mesias harus mati dan bangkit pada hari
ketiga (perhatikan ayat 25-27). Penggenapan kebangkitan-Nya menjadi
penanda bahwa Kristus adalah Mesias. Hal mengenai kebangkitan juga
dituliskan berulang-ulang hampir di seluruh tulisan kitab Perjanjian Baru.
Berulangnya berita kebangkitan tersebut menunjukkan bahwa berita
tersebut adalah berita yang penting. Yesus sendiri telah menubuatkan
kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Menurut Josh McDowell, nubuat
Yesus tentang kematian dan kebangkitan-Nya telah mematahkan berbagai
penyangkalan akan kebangkitan Yesus dari kalangan kelompok agama
tertentu.5 Argumen tersebut didasarkan bahwa Yesus telah menyatakan
sendiri akan kematian dan kebangkitan-Nya dan Ia telah menggenapi-Nya.

C. Kebangkitan Kristus mengobarkan pelayanan orang percaya
Setelah mengetahui bahwa mereka telah bertemu dengan Guru

Agung yang bangkit, para murid mulai bersemangat dan memiliki hati
yang berkobar-kobar memberitakan tentang kebangkitan-Nya.
Penampakan Yesus juga tidak hanya berhenti pada Emaus. Yesus juga
menampakkan diri kepada semua murid yang masih tersisa. Bahkan dalam
surat Paulus kepada Jemaat Korintus diberitakan bahwa Ia menampakkan
diri kepada lebih dari 500 orang (baca dalam 1 Kor. 15:6).

Kisah kebangkitan inilah juga yang mengobarkan pelayanan para
murid. Dalam Kisah Para Rasul 1:8 tertulis, “Tetapi kamu akan menerima

4 johnratueda, “Bangkit Dari Kekecewaan,” Khotbah Kristen (blog), diakses 28

November 2022, https://kumpulankhotbahalkitabiah.blogspot.com/2020/06/bangkit-dari-

kekecewaan.html.
5 Josh, McDowell, Evidence for The Resurrection (California: Regal from Gospel Light,

2009), 297.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 56

kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-
Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung
bumi." Perintah ini mendorong agar para murid selalu bersaksi, bahkan
sampai ke ujung bumi. Demikianlah, para murid pada masa kini harusnya
tetap berkobar dalam memberitakan kasih Kristus akan dunia ini. Marilah
saudara-saudara, masih banyak tugas orang percaya yang menanti di bumi
ini. Andalah saksi-saksi Kristus pada zaman ini. Bersemangatlah. Beritakan
Dia sebagai Tuhan dan Penebus kita. Kini dan selama-lamanya.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***
Minggu, 30 April 2023

Nas Bacaan : Mazmur 23 : 1 – 6

Nas Khotbah : Yohanes 10 : 1 – 10
Penulis : Pdt. Happy Seviana Undas, M.Th

Sub Tema : Menjadi Saksi Bagi Kristus

Bersaksi atas Kasih Sang Gembala Agung
Mazmur 23:1-6

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Jika melihat Mazmur pada pasal sebelumnya, yaitu pasal 22, maka kita akan
menemukan bahwa Mazmur 22 menggambarkan pengalaman kehidupan
Daud ketika harus melarikan diri dari Saul dan para prajurit yang siap
menghabisi Daud dan para pengikutnya. Sedangkan Mazmur 23
menggambarkan Pertolongan yang diterima oleh Daud dari TUHAN
mengingatkannya tentang pengalamannya sebagai seorang gembala.
TUHAN yang menjaga, memelihara, dan melindunginya sama seperti
pekerjaan seorang gembala kepada kawanan dombanya. Namun, TUHAN

melampaui pekerjaan gembala manusia pada umumnya, Ia dapat
memastikan dan menjamin bahwa domba-domba-Nya akan terus
mengalami keselamatan dalam berbagai jalan yang harus dihadapi. Oleh
sebab itu tidak berlebihan jika kita membaca kitab Mazmur sebagai kitab
yang ditulis dalam tuntunan Roh Kudus, melalui manusia seperti Daud
untuk melihat dinamika keberimanan antara TUHAN dan orang-orang
percaya berdasarkan pengalaman hidup mereka.

Mazmur 23 merupakan pengakuan domba atas pemeliharaan Gembala
yang penuh kasih dan kesetiaan. Menurut Enskilopedi Alkitab Jilid I,
domba merupakan hewan ternak yang umum dipelihara oleh bangsa
Israel. Domba merupakan hewan yang jinak, bersih, penurut, dan peka
terhadap tindakan penuh kasih sayang. Namun, domba memiliki

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 57

kelemahan yaitu dianggap sebagai hewan yang dungu. Itulah yang dapat
menyebabkannya tersesat dan hilang dari kawanan domba, jika kurang
dijaga dan diarahkan dengan baik oleh para gembala. Tanpa seorang
gembala, maka domba-domba menjadi hewan yang rentan binasa karena
dengan mudah menjadi target dari perburuan liar ataupun dimangsa oleh
hewan buas lainnya. Selain itu, bagi bangsa Israel, domba juga dapat
menjadi hewan yang dibawa ke Bait Allah untuk menjadi persembahan
korban bakaran. Domba yang dikorbankan biasanya adalah domba yang
tidak bercacat cela, artinya yang sejak awal ia dilahirkan, ia akan
dikhususkan oleh si pemilik untuk menjadi korban persembahan bagi
Allah.

Mazmur 23 menggunakan analogi gembala dan domba sebagai
relasi antara TUHAN dan orang percaya. TUHAN sebagai Gembala Agung
dan orang percaya sebagai domba. Ayat pertama memperlihatkan
pengakuan domba tentang Gembalanya: “TUHAN adalah gembalaku”,
dan dilanjutkan dengan komitmen orang percaya bahwa dirinya sebagai
domba gembalaan-Nya atau himpunan orang percaya yang setia kepada
TUHAN-nya. Pernyataan tersebut dituliskan: “… takkan kekurangan aku”.
Ayat kedua memperlihatkan betapa dekatnya hubungan Gembala dan
domba-Nya, Ia membawa domba-Nya ke padang rumput yang hijau agar
mereka dapat makan dan beristirahat dengan tenang, dan membawa
mereka ke air yang tenang untuk memuaskan dahaga para domba-Nya.
Selagi domba-Nya beristirahat, Ia akan menjaga dan melindungi mereka.
Domba merasa aman dengan Gembala berada di dekatnya. Ayat ketiga
memperlihatkan ketika domba sudah makan, minum, dan beristirahat
dengan aman, ia bangun dan mengalami kesegaran lahir-batin. Ia
bersedia untuk berjalan ke arah yang dikehendaki oleh Sang Gembala,
karena domba telah mengalami keamanan dari Sang Gembala. Gembala
menuntunnya berjalan pada jalan yang benar (ay.3), meskipun jalan yang
benar itu harus melewati lembah gelap yang menakutkan, domba belajar
bahwa Gembala tidak meninggalkannya dan akan melindunginya serta
menghiburnya dengan gada serta tongkat-Nya (ay.4). Pada ayat ke-4 dan
ke-5, merupakan ungkapan yang tidak lagi menganalogikan orang
percaya sebagai domba, tetapi menempatkan mereka sebagai manusia.
TUHAN sebagai Gembala bagi manusia melakukan perbuatan-perbuatan
yang menyelamatkan. Ia melakukan kebaikan kepada orang yang
mengandalkan-Nya, Ia menyediakan hidangan bagi mereka di hadapan
para lawannya; Ia mengurapi kepala mereka dengan minyak; dan
menyertai mereka dengan kebajikan serta kemurahan (ay.5-6). Pernyataan
akhir merupakan pengakuan dan komitmen orang yang percaya kepada
TUHAN bahwa: “… aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 58

Nas ini menjadi menarik karena dimulai dan diakhiri dengan pengakuan
dan komitmen.

Dari nas ini kita dapat belajar untuk menghayati subtema “Menjadi
Saksi bagi Kristus” sebagai berikut:
1. Peristiwa Paskah yang telah kita rayakan dan masih kita hayati sampai

saat ini ingin menunjukkan kesejatian TUHAN sebagai Gembala
Agung demi menyelamatkan umat manusia yang penuh dosa. Ia yang
adalah Gembala Agung telah mengkhususkan Anak Tunggal-Nya
sendiri, Anak yang dikasihi dan diperkenan-Nya, yang diam dalam Diri-
Nya, dan Diri-Nya dalam Diri Anak-Nya, Yesus Kristus sebagai Domba
Agung dan Suci yang menebus dosa manusia. Disinilah pengorbanan
dan penebusan agung itu, bahwa Gembala Agung juga turut serta di
dalam pengorbanan tersebut dengan berkorban menjadikan Anak-
Nya sendiri yang sehakikat dengan Diri-Nya sebagai korban Domba
yang Tidak Bercacat Cela. Kebangkitan Yesus Kristus menjadi jaminan
pemeliharaan TUHAN atas kehidupan semua manusia yang
merespons anugerah keselamatan-Nya. Karya keselamatan-Nya
memastikan bahwa ketika orang percaya yang masih berziarah di
dunia, akan mendapatkan keselamatan ketika ia melewati lembah
kelam di dunia ataupun ketika ia mati, jaminan keselamatan tersebut
tidak akan meninggalkannya. Setiap orang percaya yang merespons
anugerah keselamatan tersebut masuk menjadi kawanan domba
Allah, Sang Gembala Agung, sekaligus dalam kehidupan ini diutus
menjadi gembala-gembala yang memberi kesaksian tentang Sang
Gembala Agung tersebut.
2. Dalam peran orang percaya yang dianalogikan sebagai domba, maka
ketika ia telah menerima jaminan perlindungan, pemeliharaan, dan
keselamatan, maka ia dapat bersaksi tentang kasih Gembalanya itu
dengan menjadi saksi bagi sesamanya. Ketika seorang percaya
menjadi saksi atas kasih TUHAN melalui pengorbanan Yesus Kristus
yang memberikan keselamatan, maka ia sebagai saksi juga menjadi
gembala dalam berbagai peran dan tanggung jawab kehidupannya.
Ketika ia mengambil peran sebagai gembala, maka ia mengingat,
belajar dan meneladani Sang Gembala Agung. Gembala Agung
memberi diri agar domba merasa aman, maka ketika orang percaya
menjadi gembala, ia pun belajar untuk memberi kesaksian melalui
pelayanan kepada semua orang. Ia melayani dengan selalu
mendasarkannya dari Kebenaran Firman Tuhan yang dialaminya
dalam kehidupannya. Ia mengandalkan kuasa, hikmat serta wibawa
dari Tuhan, dan terbuka pada segala kemungkinan yang Tuhan
perkenankan terjadi. Ketika seorang percaya menjadi gembala yang

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 59

melayani dengan integritas, maka antara iman, pikiran, perkataan dan
perbuatan bersesuaian dengan terang Firman Tuhan.

Sang Gembala telah mengajar, memberi contoh, dan teladan, mari
kita kerjakan, karena Sang Gembala akan tetap beserta!

Belajar dan Kenalilah Gembala yang Baik
Yohanes 10:1-10

Saudara-saudari yang dikasihi Yesus,
Jika kita sangat akrab dengan seseorang, maka seringkali ketika hanya
mendengar suaranya, kita langsung mengenali orang tersebut. Ada orang-
orang yang memiliki pendengaran yang sangat tajam, sehingga dapat
mengenali orang yang sedang berbicara. Kelebihan ini juga yang mungkin
dimiliki oleh saudara-saudari kita yang buta, yaitu kemampuannya yang
kuat untuk mengenali dan mengingat bunyi-bunyian dan suara. Itulah
sebabnya ada banyak para pemusik yang meskipun tidak dapat melihat,
namun dengan piawai dapat memainkan alat musik.Baik bagi orang yang
bisa melihat atau tidak melihat, mengenali seseorang hanya dari suaranya
saja tentu melibatkan seluruh indra pada dirinya. Bagi kawanan domba
yang digunakan Tuhan Yesus dalam perumpamaan-Nya, sangat penting
bagi mereka untuk mengenali suara gembala agar mereka tidak hilang dan
tersesat dari kawanan dan pemeliharaan gembalanya. Komunitas orang
percaya sebagai kawanan domba Allah juga tidak hanya bergantung pada
kemampuannya melihat atau mendengar suara Gembala yaitu Tuhan.
Untuk mendengar Suara Tuhan, maka kita sebagai komunitas orang
percaya, seperti kawanan domba harus mengerahkan seluruh kemampuan
dan iman percaya untuk mendengar Suara Tuhan.

Dalam tradisi bangsa Israel dan suku bangsa yang berada di wilayah Timur
Dekat Kuno, berternak dan menjadi gembala domba merupakan hal yang
lazim dilakukan. Domba sendiri bagi bangsa Israel memiliki
kebermanfaaatan yang tinggi, daging dan bulu domba dapat menjadi
komoditi ekonomi dan konsumsi pribadi. Kebermanfaatannya juga
dirasakan oleh orang-orang Yahudi yang dalam peribadatan dengan
memberikan domba sebagai persembahan korban. Bagi bangsa Israel,
orang yang memiliki banyak domba melambangkan kemakmuran yang
dimiliki orang tersebut. Pemilik domba dapat sekaligus menjadi gembala,
namun ia juga dapat mengupah beberapa orang menjadi gembala bagi
kawanan ternak dombanya yang banyak. Perumpamaan Tuhan Yesus
tampaknya merujuk pada kawanan domba yang banyak yang dimasukkan
ke tempat dengan tembok-tembok yang tinggi. Untuk masuk ke dalamnya

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 60

maka ada pintu yang khusus dijaga. Tempat yang bertembok dan penjaga
tempat tersebut menandakan bahwa ada banyak kawanan domba, dan si
pemilik merupakan orang yang terpandang. Dengan kawanan domba
yang banyak, maka tidak dapat dipungkiri tempat tersebut tentu akan
menjadi incaran pencuri, apalagi jika penjaga pintu lengah dan tertidur.

Dari perumpamaan ini, Tuhan Yesus menyampaikan tentang gembala
domba dan pencuri. Tanda-tanda seorang pencuri: (i) ia datang sebelum si
gembala, penjaga pintu, dan pemilik domba datang (ay.7); (ii) masuk
dengan memanjat tembok (ay.1); (iii) jika ia mengeluarkan suara asli atau
berusaha menirukan suara gembala, domba-domba akan berlarian karena
suara tersebut asing bagi mereka (ay.5); (iv) tujuan pencuri yaitu untuk
membunuh dan membinasakan. Gembala memiliki tanda-tanda yang
berbeda sbb: (i) Gembala dikenali oleh penjaga pintu, sehingga ia
membukakan pintu baginya (ay.2); (ii) Gembala itu bersuara memanggil
domba-dombanya menurut nama mereka satu persatu dan menuntun
mereka keluar (ay.3); (iii) Gembala berada di depan kawanan dombanya
sambil bersuara sehingga mereka mengikutinya karena mereka mengenali
suaranya (ay.4); (iv) Gembala bertujuan memberikan hidup yang
berkelimpahan (ay.10). Yesus pun menyampaikan bahwa Diri-Nya adalah
pintu bagi Gembala dan domba keluar serta masuk (ay.7-9). Maksudnya,
Yesus menempatkan Diri-Nya sebagai pintu bagi Gembala Agung sekaligus
Pemilik Kawanan Domba yaitu Allah untuk menuntun kawanan domba-
Nya yaitu setiap orang berdosa yang bertobat serta percaya kepada-Nya,
dalam keluar-masuknya mereka mengalami jaminan keselamatan yang
disediakan oleh Sang Gembala Agung sebagai Gembala yang Baik. Itu
berarti bahwa Yesus benar-benar datang dari Allah, karena Ia sebagai Pintu
yang hanya terbuka bagi Sang Gembala Agung, yaitu Allah.

Melalui nas ini, kita hendak menghayati subtema “Menjadi Saksi bagi
Kristus” sebagai berikut:
1. Kita sebagai kumpulan orang percaya yang dianalogikan sebagai

kawanan domba milik Allah, maka kita harus belajar dan melatih diri
kita mengenali Suara Allah. Suara Allah seringkali tidak sejelas seperti
kita berbicara satu dengan yang lain, oleh sebab itu kita perlu
memohon hikmat Roh Kudus dan terus mengasah kepekaan iman kita
untuk mendengarkan Suara Allah. Salah satu sumber Suara Allah
dapat kita temukan melalui Alkitab, dalam perenungan kita, dan dalam
dialog iman kita dengan Allah. Suara Allah dapat berkata-kata dalam
maksud dan kehendak Allah, oleh sebab itu suara-Nya dapat berupa
kekuatan, dapat berupa pengharapan, dapat berupa jawaban, dapat
berupa pertanyaan, dapat berupa petunjuk, dapat berupa hardikan,

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 61

dapat berupa teguran. Dengarkanlah dan ikutilah, karena semua suara
tersebut akan menuntun kita pada jalan-Nya yang baik.
2. Yesus yang berkorban adalah Anak Domba Allah yang Tersuci,
sehingga layak untuk menebus dosa semua manusia. Ia juga menjadi
Pintu dan Jalan yang memulihkan kembali hubungan Allah dan
manusia yang telah rusak karena dosa. Tanpa-Nya tidak ada satu orang
pun yang dapat datang kepada Allah Bapa (bdk.Yoh.10:7-9; Yoh.14:6-
7). Kebangkitan-Nya memberikan anugerah dan jaminan keselamatan
bagi manusia untuk hidup kekal di dalam Tuhan.
3. Kawanan domba yang telah mengalami pemeliharaan, perlindungan,
dan keselamatan dari gembalanya, maka ia akan menjadi dekat dan
patuh kepada suara gembalanya. Sama seperti juga dengan komunitas
orang percaya yang telah menerima dan mengalami keselamatan dari
Allah, maka ketaatan dan kesetiaan kita juga bisa membawa kita
sebagai saksi-saksi bagi Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus. Ketika kita
menjadi saksi-saksi Kristus, maka kita harus menyadari bahwa kesaksian
kita melalui kata dan tindakan nyata dapat menjadi “suara-suara” Allah
bagi sesama kita. Oleh sebab itu penting bahwa kita selalu
memurnikan suara kesaksian hidup kita dengan Suara Allah itu sendiri
melalui permohonan untuk selalu dituntun oleh Roh Kudus, sehingga
kita harus menyendengkan pendengaran kita untuk mengenali suara-
Nya dalam pengalaman rohani kita yang berdasarkan Kebenaran
Firman Tuhan, dapat diuji, tahan uji, dan hanya Allah-lah yang
dimuliakan dari kesaksian kita. Agar jangan sampai suara-suara palsu
memalsukan kesaksian kita.

Dengarkanlah suara-Nya, percayalah kepada-Nya dan selamat setia
mengikuti Gembala Agung!

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 7 Mei 2023

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 62

Nas Bacaan : Ulangan 6 : 1 – 9 (Hari Pendidikan GKE)

Nas Khotbah : 2 Timotius 3 : 14 – 17

Penulis : Pdt. Dr. Keloso S. Ugak

Sub Tema : Roh Kudus Memberi Pengharapan Akan Masa Depan

Pengantar
Hari Minggu ini merupakan hari dimana kita bersama merayakan Hari
Pendidikan GKE. Secara definisi, terkandung hal yang sungguh-sungguh
mulia dalam apa yang disebut dengan “pendidikan”. Ki Hadjar Dewantara
mengungkapkan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan
bertumbuhnya budi pekerti, kekuatan batin, karakter, pikiran intelek dan
tubuh anak, dalam rangka kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan
dunianya. Pendidikan itu membentuk manusia yang berbudi pekerti,
berpikiran pintar, cerdas dan bertubuh sehat.
Tujuan pendidikan adalah menciptakan seseorang yang berkwalitas dan
berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk
mencapai suatu cita- cita yang diharapkan dan mampu beradaptasi secara
cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan. Karena pendidikan itu
sendiri memotivasi diri setiap orang untuk lebih baik dalam segala aspek
kehidupan.
Berikutnya, menurut UU No. 20 tahun 2003, pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana pembelajaran dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya sendiri, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Tampak betapa sungguh mulianya pengertian pendidikan tersebut. Tetapi
apa memang benar demikian pola hidup dan perilaku dari orang-orang

yang sudah selesai mengenyam pendidikan, termasuk mereka yang
mampu sampai ke pendidikan tinggi? Apakah benar bahwa seseorang
yang berhasil meraih sederet gelar akademik bisa menjadi jaminan bahwa
pola hidup dan perilaku yang bersangkutan sungguh-sunguh luhur dan
mulia? Bukankah betapa banyaknya praktik hidup jahat, dalam berbagai
bentuk, dilakukan oleh orang-orang terpelajar, baik secara perseorangan
maupun bersama-sama? Kadang terjadi, kecerdasan seseorang bukan
untuk membuat yang bersangkutan menjadi lebih baik, melainkan makin
cerdas dalam berbagai kejahatan.

Pendidikan memperlengkapi seseorang untuk berbuat baik.
Firman Tuhan untuk kita hari ini, baik dalam Ulangan 6:1-9 maupun 2
Timotius 3:14-17 meletakkan landasan dasar, baik dalam memahami

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 63

maupun melaksanakan kegiatan pendidikan menurut perspektif iman
Kristen. Landasan dasar agar praktik hidup dari orang-orang yang sudah
mengenyam pendidikan sungguh-sungguh sesuai dengan penegasan
dalam 2 Tim. 3:17, yaitu “Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan
Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik”. Alkitab menegaskan
bahwa tujuan pendidikan adalah memperlengkapi tiap-tiap orang untuk
setiap perbuatan baik.
Ada beberapa pokok penting nasihat dari Ulangan 6:1-9 yang didukung
dalam penegasan Paulus kepada Timotius dalam 2 Timotius 3:14-17
berkaitan dengan Pendidikan bagi orang-orang percaya. Pertama,
Pendidikan adalah peletakan dasar iman kepada Tuhan dalam bentuk
“takut kepada TUHAN Allah dan berpegang pada perintah-Nya” (Ul. 6:2).
Atau mengaruniakan hikmat yang menuntun seseorang untuk memiliki
keselamatan oleh iman kepada Yesus Kristus (2 Tim. 3:15). Hal pertama ini
menekankann pentingnya keteguhan iman kepada Tuhan sebagai sumber
pengetahuan dan keselamatan. Ini adalah dasar pertama-tama bagi setiap
orang percaya untuk nantinya bisa berbuat baik kepada semua orang.
Kedua, pendidikan didasarkan dan bersumber pada Firman Tuhan, baik
Firman Tuhan dalam bentuk pengakuan iman kepada Tuhan (Ul. 6:4)
maupun Firman Tuhan dalam bentuk “segala sesuatu yang diilhamkan
oleh Allah” (2 Tim. 4:16). Hal ini hendak menegaskan bahwa seluruh
muatan pendidikan tidak boleh bebas nilai, melainkan merupakan wujud
pengakuan iman kepada Tuhan dan berdasarkan apa yang diilhamkan
oleh Tuhan. Hikmat yang manusia miliki untuk menghadilkan segala
sesuatu dipahami bersumber atau diilhamkan oleh Allah. Kecerdasan untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan dan berbagai produk kebudayaan
diakui berdasar atas hikmat yang datang dari Tuhan.
Ketiga, pendidikan menghantar seseorang untuk “kasihilah TUHAN,
Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan jiwamu dan dengan
segenap kekuatanmu” (Ul. 6:5). Beriman kepada Tuhan tidak sekedar
percaya. Di dalamnya ada tindakan “mengasihi” yang melibatkan seluruh
aspek hidup seseorang, baik pengetahuan maupun keterampilan atau
keahlian. Itu berarti bahwa seluruh pengetahuan dan keterampilan
dipersembahkan untuk mengasihi Tuhan. Tindakan mengasihi Tuhan
tersebut mewujud dan berdampak dalam tindakan mengasihi atau
melakukan perbuatan baik kepada semua orang (2 Tim. 3:17).
Keempat, proses pendidikan tersebut berlangsung pada seluruh peristiwa
kehidupan dan pada sepanjang waktu, baik dilakukan secara formal
maupun informal, baik oleh lembaga pendidikan maupun dalam keluarga
(Ul. 6:7-9). Hal ini hendak menegaskan bahwa setiap Lembaga Pendidikan
milik Gereja harus berdasar dan berkarakter kristiani dalam seluruh aspek
pengelolaan pendidikan, sebagaimana beberapa pesan penting terdahulu.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 64

Demikian halnya keluarga, perlu menjadi wadah kegiatan pendidikan yang
terus berkelanjutan yang di dalamnya setiap orang selalu berada dalam
keadaan belajar agar nantinya siap untuk “berbuat baik”.
Kelima, pendidikan menjadi wujud kesaksian dan diakonia Gereja kepada
dunia dimana Gereja ditempatkan. Bagi umat Allah dalam PL, melalui
pendidikan melahirkan umat yang kudus dan unggul di antara bangsa-
bangsa, sekaligus menjadi berkat bagi segala bangsa. Dalam PB (2 Tim
3:17), layanan pendidikan yang dilakukan oleh Gereja merupakan wujud
“perbuatan baik” yang ditujukan kepada semua orang, dan proses
menyiapkan segenap orang percaya untuk melakukan berbagai bentuk
“perbuatan baik”.
Memperhatikan beberapa pokok pesan tersebut, maka ketika hari ini kita
merayakan Hari Pendidikan GKE, menjadi penting untuk melakukan
evaluasi dan kritik terhadap layanan pendidikan yang dilakukan oleh GKE
maupun evaluasi dan kritik bagi segenap warga GKE yang sudah
mengenyam pendidikan. Sejauh mana muatan “kristiani” mewarnai
pengelolaan seluruh Lembaga Pendidikan GKE, dan sejauhmana warga
GKE yang terdidik sungguh-sungguh menjadi “manusia kepunyaan Allah
diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik”.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 14 Mei 2023

Nas Bacaan : Mazmur 66 : 8 – 20

Nas Khotbah : Yohanes 14 : 15 – 20

Penulis : Pdt. Maria A. Angela, S.Th, M.Si

Sub Tema : Roh Kudus Memberi Pengharapan Akan Masa Depan

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 65

PENOLONG

Yatim piatu adalah kondisi tidak beribu dan tidak berayah karena ditinggal
pergi atau mati (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Kondisi yang menurut
sebagian besar orang menyedihkan, memprihatinkan, menakutkan,
sekaligus mengkuatirkan. Situasi yang menuntut dan memaksa seseorang
untuk menjalani hidup secara mandiri dalam segala hal tanpa orangtua.
Hidup dalam kemandirian dengan tantangan dunia yang semakin
bergelora bukanlah perkara mudah. Meskipun demikian, bukankah hidup
harus terus berlanjut?

Yesus telah mempergunakan istilah yatim piatu (ay. 18) untuk
menunjukkan janji kepada murid-murid-Nya dan tidak akan meninggalkan
mereka begitu saja, bahkan akan datang kembali. Kepergian Yesus tidak
berarti bahwa jalinan relasi yang sudah terbangun istimewa tersebut
terputus, jalinan relasi istimewa antara Yesus dan murid-murid-Nya akan
tetap terhubung dengan Roh Kudus (ay. 16-17). Perhatian dan kasih
sayang akan tetap berlaku dan ada sebagaimana yang diberikan orangtua
kepada anak-anaknya. Demikian halnya dengan murid-murid-Nya akan
memperoleh yang sama ketika Yesus tidak lagi bersama dengan mereka
yaitu melalui hadirnya seorang Penolong. Penolong (Yunani: παράκλητος,
paráklētos) yang juga berarti penghibur atau pembela atau pengantara
atau perantara, seringkali dipergunakan sebagai sebutan Roh Kudus.
Dalam hal ini dapat dipahami bahwa peran paráklētos dapat diasumsikan
sebagai: Pertama, Roh Kudus yang akan berperan untuk membantu atau
menolong; untuk mengajarkan segala sesuatu, untuk mengingatkan setiap
pengajaranNya (Yoh. 14:15-17, 25-26; 16:4-15), seperti yang telah
dilakukan Yesus saat masih bersama dengan murid-muridNya. Kedua,
paráklētos untuk menunjukkan bahwa Tuhan Yesus ada sebagai penolong
di surga dan Roh Kudus akan menolong kita untuk menjalani kehidupan di
dunia ini. Ketiga, Roh Kudus juga Roh Kebenaran yang adalah Yesus
sebagai kebenaran, untuk menyingkapkan hal-hal yang tidak benar, untuk
memperlihatkan apa yang benar, untuk menuntun dan memimpin hidup
agar tetap dalam kebenaran. Roh Kudus akan tinggal bersama-sama
dengan murid-murid bahkan dengan setiap orang yang percaya, bersedia
mengasihi, dan menuruti perintah-Nya.

Yesus adalah realitas kasih yang akan senantiasa menolong dan
pertolongan-Nya adalah kebenaran. Penolong yang akan selalu menyertai
untuk selama-lamanya. Penolong yang datang dengan cara yang istimewa.
Penolong yang akan selalu mengingatkan agar hidup dalam pengajaran-

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 66

Nya dan kebenaran. Penolong yang tidak terbatas untuk menolong karena
kasih-Nya yang besar. Sebagai pengikut Kristus maka perwujudan realitas
untuk mengasihiNya memerlukan kesetiaan dan komitmen yang tinggi
ditengah berbagai macam pengalaman hidup manusia. Pengalaman
spiritualitas akan membentuk setiap orang agar semakin dekat dengan
Tuhan dalam keberimanannya. Mengasihi memerlukan bukti yang real
yaitu menuruti segala perintah Tuhan (ay. 15).

Ketika Yesus telah berjanji, maka ini bukanlah sembarang janji. Janji Yesus
akan menghibur kita untuk menghadapi berbagai permasalahan yang
dialami saat ini dalam keluarga, pekerjaan, perekonomian, perpolitikan,
relasi sosial, sakit penyakit, pelayanan dan sebagainya. Hal ini menunjukkan
bahwa dalam kondisi yang sulit, terhimpit dengan berbagai beban
permasalahan, maka Roh Kudus akan senantiasa menyertai umat-Nya.
Masa depan sudah Tuhan sediakan yang terbaik, sebelum kita meminta
Tuhan sudah mengetahui yang paling tepat untuk umat-Nya. Hidup dalam
kebenaran dan ketaatan adalah bukti bahwa kita sungguh mengasihi
Tuhan. Roh Kudus akan menolong, menghibur, dan membimbing.

PKJ. 95. DATANG, YA ROH KUDUS (bait 2)
Kaulah Penolongku, Kaulah Penghiburku,

Perisaiku, Pembimbingku,
Roh Yesus Kristus dari takhta yang mulia
Datang, ya Roh Kudus, dalam hidupku.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Kamis, 18 Mei 2023
(Kenaikan Tuhan Yesus Ke Sorga)

Nas Bacaan : Mazmur 47 :1 – 10

Nas Khotbah : Lukas 24 : 50 – 53
Penulis : Pdt. Ripaldi, M. Th

Sub Tema : Roh Kudus Memberi Pengharapan Akan Masa Depan

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 67

I. PENDAHULUAN
Shalom, Selamat pagi sidang jemaat yang dikasihi dalam nama Tuhan
Yesus Kristus. Hari ini kita memperingati Hari Kenaikan Tuhan Yesus Ke
Sorga. Di mana peristiwa ini menjadi akhir dan penutup pelayanan Yesus
dalam Injil Lukas. Sidang jemaat yang dikasihi dalam nama Tuhan Yesus
Kristus, salah satu pertanyaan utama yang sering ditanyakan ketika
mengingat peristiwa penting hari ini adalah benarkah Yesus terangkat ke
sorga secara fisik? Dan apakah peristiwa ini benar-benar terjadi. Apakah
Yesus naik ke sorga layaknya superhero dalam film-film aksi yang pernah
kita lihat seperti Superman?
II. PEMBAHASAN
Sidang jemaat yang dikasihi dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Peristiwa
kenaikan Tuhan Yesus Ke Sorga jelas ditunjukkan dalam Injil Lukas 24:50-
53, Injil Markus 16:19-20 maupun dalam Kisah Para Rasul 1:6-11. Seluruh
teks baik Injil maupun Kisah Para Rasul menceritakan dengan jelas bahwa
Yesus benar-benar terangkat ke sorga, dan disaksikan oleh banyak orang.
Tetapi ada yang menarik apakah terjadi perbedaan waktu dan tempat
dalam teks Injil maupun Kisah Para Rasul? Sebab jika dicermati, dalam Lukas
24:50 peristiwa tersebut terjadi di Betania. Sedangkan dalam Kisah Para
1:12, para rasul Kembali ke Yerusalem setelah mereka berada di sebuah
bukit yang disebut dengan Bukit Zaitun. Dengan kata lain, bahwa peristiwa
kenaikan Tuhan Yesus ke sorga terjadi di Bukit Zaitun. Bukankah dalam
Lukas 24:50, peristiwa tersebut terjadi di Betania?
Sidang jemaat yang dikasihi dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Jika
dicermati lebih mendalam, Bukit Zaitun terletak di sebelah timur Yerusalem
(Zak. 14:4) sedangkan Betania hanya berjarak 3,2 kilometer (Yoh. 11:18)
dan terletak di lereng sebelah tenggara Bukit Zaitun. Dalam beberapa teks
Alkitab disebutkan bahwa Betania merupakan bagian dari Bukit Zaitun.
Dalam Markus 11:1 secara eksplisit diberikan keterangan teks Alkitab yakni:
“Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem, dekat Betfage
dan Betania yang terletak di Bukit Zaitun.” Dalam teks lain pun disampaikan
bahwa pada hari-hari terakhir Yesus berada di Yerusalem sebelum Dia
ditangkap, Injil Lukas mencatat bahwa setiap malam Yesus tinggal di Bukit
Zaitun (Luk. 21:37), sementara dalam Injil yang lain dijelaskan bahwa Yesus
tinggal di Betania (Mat. 21:17-18; Mrk. 11:11-12). Jadi, dapat kita simpulkan
Betania memang terletak di Bukit Zaitun.
Menarik untuk mengulik teks ini lebih lanjut. Dalam ayat yang ke-50
bagian akhir dikatakan bahwa di Betania, Yesus mengangkat tangan-Nya
dan memberkati kesebelas murid (Luk. 24:33). Apa yang istimewa dari
berkat ini? Dalam Lukas 24:37, ketika Yesus datang setelah kebangkitan-
Nya kepada mereka, mereka mengira Ia adalah hantu dan begitu terkejut.
Bahwa hal tersebut dipandang oleh Yesus sebagai bentuk keraguan

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 68

mereka (Luk. 24:38). Dalam Lukas 24:41, mereka masih pada sikap belum
percaya dan masih larut dalam keheranan. Sehingga karena hal tersebut.
Yesus kemudian menjelaskan bahwa apa yang mereka lihat merupakan
kegenapan dari apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama (Luk. 24:44).
Pikiran mereka kemudian dibuka oleh Yesus, sehingga mereka memahami
Kitab Suci (Kis. 24:45).

Setelah Yesus memberkati mereka saat kenaikan-Nya ke sorga, mereka
pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita (Luk. 24:52). Bahkan
kemudian senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah.
Mereka yang awalnya terkejut, takut, heran bahkan ragu kemudian
menjadi pribadi yang penuh sukacita, dan bahkan tidak gentar untuk
berada di Bait Allah sepanjang waktu, memuliakan nama-Nya. Yesus
memberikan kekuatan dan keberanian kepada mereka. Bahkan untuk
berada terang-terangan di Bait Allah senantiasa (Luk. 24:53)

Terlebih kemudian setelah janji Yesus dalam Lukas 24:49 bahwa mereka
akan diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi yakni Roh Kudus
yang diwujudkan dalam peristiwa Pentakosta dalam Kisah Para Rasul 2:1-
13, mereka diberikan kekuatan dan keberanian untuk memberitakan Injil
ke seluruh dunia. Bahkan setelah peristiwa tersebut, kira-kira 3000 orang
dibaptis dalam satu hari (Kis. 2:41). Bukankah ini merupakan suatu hal yang
luar biasa?

III. RELEVANSI
Dari teks ini terlihat jelas bahwa murid-murid diubahkan sejak Yesus
membuka pikiran mereka (Luk. 24:45). Dalam Injil Lukas 24:9-11, saat para
perempuan menemukan bahwa kubur Yesus kosong, dan
memberitahukannya kepada kesebelas murid tersebut, mereka hanya
mendengarnya seakan-akan hanya sebuah omong kosong. Sehingga
jelaslah bahwa sebelum itu, mereka berada dalam sikap yang bimbang?
Pengertian mereka akan Kitab Suci menjadi awal bagi mereka untuk tidak
menjadi terkejut, takut, heran, bahkan ragu dalam mengimani Yesus.
Bahkan setelah Yesus memberkati mereka dalam peristiwa kenaikan-Nya ke
sorga. Mereka menyembah-Nya, begitu bersukacita ketika pulang ke
Yerusalem. Bahkan senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan
nama-Nya. Bukankah ini sebuah tindakan yang sangat berani?
Bahkan karena hal ini, para murid menjadi berani untuk memberitakan
Injil yang kemudian diberitakan ke segala bangsa, sehingga bangsa-bangsa
lain pun memuliakan Allah. Bukankah Mazmur 47:1-10 digenapi bahwa
segala bangsa akan bertepuk tangan mengelu-elukan Allah? Bukankah Ia
adalah Allah yang besar atas seluruh bumi? Bukankah Ia adalah Allah Raja
seluruh bumi dan memerintah atas bangsa-bangsa? Bukankah
keberhasilan Israel adalah karena Allah yang dahsyat dan berkuasa. Oleh

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 69

sebab itu, segala bangsa akan berkumpul dan memuliakan Allah. Ia sangat
dimuliakan.

Dari Lukas 24:50-53 ini firman Tuhan membawa kita untuk belajar
bahwa kenaikan Tuhan Yesus ke sorga itu memberikan kekuatan bagi
setiap orang percaya. Ia mengubah keraguan menjadi sebuah kekuatan
bahwa kenaikan Yesus ke sorga merupakan suatu kenyataan yang
memberi keberanian dan keyakinan iman. Peristiwa tersebut adalah fakta
tidak terbantahkan. Ia menjadi dasar iman yang hakiki dalam kehidupan
kita selaku orang percaya. Sungguh mengubahkan kehidupan. Dalam
tema kita di bulan ini “Roh Kudus Memberi Pengharapan Akan Masa
Depan” memberikan sebuah harapan nyata bahwa Tuhan Yesus secara
setia sudah menyertai murid-murid-Nya sehingga mereka menjadi pribadi
yang tidak ragu dan setia. Begitu pula dalam tantangan kehidupan kita
masing-masing. Dalam kondisi yang sulit yang kita hadapi, pengharapan
akan masa depan akan selalu ada bagi kita di dalam Roh Kudus yang
menuntun dan menopang kita*. Amin.

Keterangan: *Makna relevansi diharapkan disesuaikan dengan konteks
kehidupan di resort/jemaat masing-masing.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 21 Mei 2023

Nas Bacaan : Mazmur 68 : 1 – 10

Nas Khotbah : Yohanes 17 : 1 – 11

Penulis : Pdt. Em. D. Petrus Jarob, S. Th

Sub Tema : Roh Kudus Memberi Pengharapan Akan Masa Depan

A. Yohanes 17: 1-11 bagian yang sangat penting dalam kaitan antara
Tuhan Yesus dan Allah Bapa mengutus, kemudian relasi dengan para
murid-Nya. Sebelum ia ditangkap, ia mengadakan pertemuan dengan para
murid”nya Dalam kesempatan itu digunakan untu mengajak para murid
sebagai bentuk peneguhan.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 70

Ayat 1 sambil menengadah ke langit lalu ia berkata “ ya bapa sekarang
tibalah saatnya “ waktunya telah tiba, waktu dimana ia menjalani proses
perjalanan salib, sebuah perjalanan yang sangat penting. Dan menjadi
fundamen kepercayaan umat-Nya yang percaya. Dengan kekuatan dari
Allah Bapa yang mengutus-Nya, dia mampu menyerahkan hidupnya di
atas salib, menjalani penangkapan, penghinaan, penyaliban, kematian. Di
atas salib bagian dari karya penyelamatan terhadap umat manusia yang
percaya kepadanya. Jalan dan keselamatan yang kekal hanya melalui
Tuhan Yesus.

Ayat 3-4 “ aku sudah memuliakan engkau, artinya tugasnya telah
diselesaikan dengan pengajaran kepada semua orang dan murid-murid-
Nya.
Ada relasi yang sangat kuat antara Allah Bapa dan Tuhan Yesus, sehingga
melalui Yesus orang mengenal Allah Bapa. Semua milik-Nya adalah milik
Allah Bapa, menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Ayat 5-8 ‘ aku sudah menunjukkan engkau kepada semua orang dan dunia
yang engkau serahkan kepadaku. Oleh sebab itu semua orang tahu, sebab
semuanya sebagai seorang guru sudah diajarkan.
Sebab itu ia memahami secara khusus “ ya Bapa muliakanlah aku sekarang
dengan kemuliaan yang aku miliki bersama-sama itu Sebelum dunia
dijadikan ( lihat yohanes 1:1 )

Ayat 9-11 “ Aku berdoa untuk mereka dan bukan dunia. Mereka menuju
kepada jalan orang percaya, yang percaya kepada kematian dan
kebangkitan Tuhan Yesus. Mereka yang percaya bahwa dosa-dosa mereka
telah di hapuskan. Bilur-bilur dan darah-Nya yang di curahkan di langit
bukit golgota telah menyucikan.
Oleh sebab itu secara khusus ia berdoa, agar mereka yang percaya ini
menjadi satu adanya.
Yesus telah menyelesaikan secara tuntas tugas-Nya, oleh sebab itu mau
agar setiap orang yang percaya harus terus mengerjakan dan melakukan
apa yang sudah Yesus ajarkan.
Kasih Allah Bapa, yang mengaruniakan anaknya ( yohanes 3 : 16 ), telah
direlasasikan oleh Tuhan Yesus dengan mengasihi dunia sehingga dia rela
mati.

Saudara” apa yang dapat kita hayati dan lakukan dari Yohanes 17 : 1 -11
ini:

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 71

Pertama : Tuhan Yesus berdoa untuk para murid-murid-Nya, karena
sebentar lagi ia tidak bersama-sama lagi dengan mereka. Doa ini untuk
memberikan kekuatan dan peneguhan agar mereka tetap teguh, tekat dan
setia sampai akhir, pada saat mereka menghadapi berbagai serangan dan
tekanan orang” yang memusuhi. Menjadi contoh bagi kita semua bahwa
para murid tetap setia, dan tidak meninggalkan Yesus.
Tuhan Yesus juga berdoa untuk umat-Nya agar mereka tetap setia dan
tidak meninggalkan Yesus.
Tuhan Yesus berdoa cuntuk gereja-gereja agar tetap setia untuk
memuliakan Allah dan terus mengabarkan berita keselamatan.

Kedua : bagi orang” yang percaya agar tetap bekerja , melayani dan
memberitakan pemberitaan injil. apapun tantangan, harus yakin bersama
Tuhan Yesus kita mampu menyelesaikannya.

Ketiga : Doa adalah nafas imam kita, setiap kita harus meminta memohon
pertolongan Tuhan Yesus. Agar kita mampu mengatasi, berdoa tidak hanya
untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain.
Keempat, Dalam situasi umat Tuhan menghadapi berbagai tantangan dun
serta kesulitan hidup ditengah -tengah dunia in, kesulitan ekonomi,
terbatasnya lapangan kerja, tekanan – tekanan secara ekternal terhadap
umat percaya, maka mengutamakan Tuhan sebagai penopang dan
penguat. Hal itu hanya dapat kita peroleh dan dapatkan jika kita dengan
penuh penyerahan diri dan percaya , yang diaktualisasikan melalui doa.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 28 Mei 2023
(Pentakosta I, Perayaan Bulan Oikumene)

Nas Bacaan : Bilangan 11 : 24 – 30

Nas Khotbah : Kisah Para Rasul 2 : 1 – 13

Penulis : Pdt. Lia Afriliani, M.Th

Sub Tema : Roh Kudus Memberi Pengharapan Akan Masa Depan

“Eksistensi Roh Kudus yang Tak Terbatas”
Pengantar

Pada November 2022, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi
Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang diselenggarakan di Bali. Salah satu hal yang
menarik dan menimbulkan kekaguman dari para pemimpin negara adalah
pertunjukan yang ditampilkan pada saat gala dinner. Para pemimpin dari
berbagai negara di dunia beserta para undangan yang hadir disuguhkan

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 72

berbagai hal yang spektakuler, mulai dari konsep kuliner nusantara yang
disantap, atraksi para seniman dan artis ternama, hingga pesta kembang
api. Digelar mewah dan jauh dari kesan kaku membuat acara ini menjadi
kenangan tersendiri bagi yang hadir maupun kita yang hanya menyaksikan
lewat media saat itu. Ya, sesuatu yang spektakuler atau menarik perhatian
merupakan suatu hal yang disukai oleh orang-orang. Namun, ada beragam
respon dalam menanggapinya. Ada respon kagum, tetapi tidak menutup
kemungkinan juga ada respon tidak suka, misalnya bertanya-tanya, bahkan
terkesan mengomentari untuk menjatuhkan.

Pembahasan/Pokok pemikiran yang dapat dikembangkan dalam khotbah
Inilah yang terjadi ketika peristiwa pencurahan Roh Kudus terjadi

kepada orang percaya yang sedang berkumpul di suatu ruangan. Dalam
teks digambarkan peristiwa yang terjadi, yakni ada bunyi seperti tiupan
angin keras dan tampaklah lidah-lidah seperti nyala api, serta diikuti
dengan setiap murid berkata-kata dalam berbagai bahasa (Kis.2:2-4). Inilah
peristiwa spektakuler yang sangat luar biasa! Tetapi lihatlah bahwa ada
beragam respon berbeda yang disampaikan oleh orang-orang yang
menyaksikannya. Mereka tercengang-cengang, heran, bertanya-tanya,
bahkan ada yang menyindir (Kis.2:7-13).

Namun, pokok utama sesungguhnya bukanlah respon orang-orang
ini, melainkan bagaimana Roh Kudus yang sudah dicurahkan itu mampu
menolong dan memberikan keberanian kepada semua murid untuk mulai
keluar dari zona ketakutan mereka. Roh Kudus segera berkarya melalui
Petrus yang langsung berkhotbah kepada orang banyak itu, bahkan Petrus
menjawab sindiran itu dengan penegasan bahwa tidak ada di antara
mereka yang sedang mabuk (Kis.2:14-40). Alhasil, ada kira-kira tiga ribu jiwa
yang kemudian memberi diri dibaptis (Kis.2:41) dan karya Roh Kudus terus
berlanjut dalam sepanjang sejarah gereja. Pada intinya, eksistensi Roh
Kudus ada dulu hingga masa kini yakni di tengah-tengah kehidupan umat-
Nya. Berbagai pengalaman yang dialami oleh orang Kristen menjadi
bentuk pengenalan dan penguatan akan kuasa dan Pribadi Roh Kudus.
Pokok pemikiran pertama: Roh Kudus tidak bisa dikurung oleh waktu dan
tempat

Roh Kudus adalah Allah yang tidak bisa dikurung oleh waktu dan
tempat. Hal ini terbukti jelas juga dengan teks Kisah Para Rasul 2:1-13
bahwa walaupun para murid berada di ruangan tertutup, tetapi Roh Kudus
dapat hadir di tengah-tengah mereka. Jika memperhatikan peristiwa
pencurahan Roh Kudus di sepanjang Kitab Kisah Para Rasul, maka dapat
dicatat ada empat peristiwa yang terjadi, yakni di Yerusalem pada saat
Pentakosta (Kis. 2), dalam pelayanan Filipus di Samaria (Kis.8), dalam
pelayanan Petrus kepada Kornelius dan seisi rumahnya (Kis.10:1-48), dan

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 73

dalam pelayanan Paulus kepada jemaat di Efesus (Kis.19:1-7). Berbagai
peristiwa turunnya Roh Kudus ini membuktikan bahwa Roh Kudus tidak
terbatas. Ia dapat turun dan mendiami siapa saja yang berkenan kepada-
Nya, tanpa batasan bangsa. Dengan demikian, kehadiran Roh Kudus pada
masa kini pun di segala masa dan tempat adalah sebuah keniscayaan atau
sesuatu yang pasti tak terbantahkan.
Pokok pemikiran kedua: Kehadiran Roh Kudus tidak dapat dibatasi oleh
ukuran pemikiran manusia

Alkitab menyaksikan berbagai lambang dari kehadiran Roh Kudus.
Peristiwa pembaptisan Yesus, menunjukkan bahwa Roh Kudus turun dalam
rupa burung merpati (Luk.3:22). Merpati sangat sering dipakai untuk
melambangkan Roh Kudus, karena sifatnya yang pengasih, pencinta
damai, mementingkan kebersihan bulunya (kesucian), dan sangat
mencintai sarangnya. Di bagian lain, Roh Kudus digambarkan sebagai api.
Api dalam Perjanjian Lama menjadi lambang kehadiran Allah, misalnya
belukar berduri yang menyala di Gunung Horeb (Kel.3:3) dan tiang api
yang menyertai perjalanan orang Israel (Kel.13:21). Sebagai lambang Roh
Kudus, api menyatakan kuasa Roh sebagai sumber kekuatan. Dalam
peristiwa Pentakosta ini, Roh Kudus tampak dalam lidah seperti api yang
turun ke atas kepala para murid. Dalam peristiwa yang sama juga, Roh
Kudus hadir melalui angin (Kis.2:2). Berdasarkan beberapa catatan Alkitab
di atas tentang lambang, maka Roh Kudus bisa hadir dengan cara yang
tidak terbatas. Jangan berpikir bahwa Roh Kudus hadir hanya dengan cara
atau keadaan yang spektakuler saja seperti peristiwa Pentakosta ini.
Namun, percayalah bahwa Roh Kudus juga dapat hadir dalam keadaan
yang biasa atau suasana penuh ketenangan.
Pokok pemikiran ketiga: Makna pencurahan Roh Kudus

Karya Allah dalam Yesus Kristus adalah puncak dari seluruh karya
penyelamatan-Nya. Ketika Kristus melakukan penebusan di kayu salib dan
bangkit pada hari yang ketiga, disinilah puncak tersebut tercapai. Namun,
bukan berarti bahwa karya Allah menjadi selesai. Setelah kebangkitan dan
kenaikan Yesus ke sorga, Allah kembali melanjutkan karya penyelamatan-
Nya melalui Roh Kudus. Ketika Yesus melakukan pelayanan-Nya, Ia juga
mengajarkan Roh Kudus kepada murid-murid-Nya, bahkan menjadi suatu
janji Yesus bagi para murid (Yoh.4:16-18). Makna pencurahan Roh Kudus
dalam peristiwa Pentakosa memberikan beberapa poin penting. Pertama,
menegaskan bahwa Yesus yang telah berjanji kepada para murid adalah
sungguh Allah yang memenuhi janji-Nya kepada semua orang percaya.
Kedua, inilah awal terbentuknya kumpulan orang percaya serta Gereja
yang diperlengkapi dengan kuasa untuk melakukan pelayanan. Ketiga,
menunjukkan ketergantungan Gereja dan orang percaya kepada kuasa
Allah Tritunggal.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 74

Relevansi
Beberapa poin relevansi masa kini yang bisa dikembangkan:

1. Pergumulan kehidupan yang dialami masing-masing kita, baik secara
pribadi, keluarga, hubungan di tempat kerja, situasi ekonomi,
kesehatan, dan lain sebagainya seringkali membuat putus asa.
Namun eksistensi Roh Kudus yang tidak terbatas memberikan
pengharapan kepada Gereja dan orang percaya untuk setiap
pergumulan yang dihadapi pada masa kini. Roh Kudus senantiasa
menjadi Penghibur, Penolong, dan Pemimpin yang mengarahkan
pada Kebenaran akan sangat diperlukan dalam menghadapi situasi
kehidupan. Oleh sebab itu, tetap berdoa memohon tuntunan Roh
Kudus.

2. Kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan setiap orang adalah hal yang
pasti. Walaupun mungkin tidak spektakuler, tetapi dengan realitas
bahwa kita bisa bekerja dan berkarya hingga saat ini, maka inilah
bukti nyata Roh Kudus itu selalu hadir mengiringi kehidupan setiap
orang percaya. Oleh sebab itu, jangan ragukan kuasa Roh Kudus di
dalam kehidupan kita.

3. Pekerjaan Roh Kudus memimpin Gereja kepada Kebenaran Kristus,
karenanya Gereja juga harus benar-benar menyampaikan tentang
Kebenaran Kristus. Gereja dan seluruh yang terlibat melayani
dipanggil untuk selalu bergantung pada pemeliharaan dan pimpinan
Roh Kudus. Bukan bermegah atau mengklaim keberhasilan diri atas
setiap pencapaian yang telah dilakukan di dalam pelayanan,
melainkan sadar bahwa Gereja tidak dapat melaksanakan tugas
panggilannya tanpa kuasa Roh Kudus. Ada hal-hal yang menjadi
tantangan bagi Gereja dalam melaksanakan panggilannya,
karenanya Gereja perlu berserah pada Kuasa Roh Kudus untuk
memberi keberanian dan pertolongan dalam setiap pelayanan demi
kemuliaan nama Tuhan!

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 75

Senin, 29 Mei 2023
(Pentakosta II)

Nas Bacaan : Yoel 2 : 18 – 27

Nas Khotbah : Roma 8 : 18 – 30

Penulis : Pdt. Gabriela Tarra Y, S.Th

Sub Tema : Roh Kudus Memberi Pengharapan Akan Masa Depan

Saat terluka (entah itu luka fisik maupun luka batin), kita pasti
berharap agar luka tadi segera pulih, karena terluka untuk waktu yang lama
tentu tidak nyaman. Harapan untuk bisa segera sembuh dan pulih dari luka
batin juga tengah dirasakan oleh orang Israel dalam teks ini. Telah cukup
lama, mereka hidup dalam situasi yang tidak nyaman. Bangsa Israel
menderita kelaparan dan dipandang rendah oleh bangsa-bangsa
tetangga, sehingga ada luka tak kasat mata yang ‘diidap’ oleh umat.
Mereka kecewa, bingung, putus asa, dan hilang arah. Lantas, mengapa
semua kesulitan ini dapat muncul? Tidak lain karena ulah umat yang ‘tebal
telinga’ dan sulit taat pada aturan TUHAN.

Kabar baiknya, tidak ada yang permanen di dunia, selain TUHAN itu
sendiri. Maka hukuman dan penderitaan bangsa Israel juga demikian! Ada
saatnya semua luka, kesulitan, dan rasa malu akan lenyap. Hanya saja, jalan

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 76

menuju kehidupan yang dipenuhi damai, tidaklah mudah. Prosesnya
panjang dan perlu keseriusan, umat diminta taat berjalan menurut
kehendak Allah dan bukan kehendak diri sendiri. Bangsa Israel mesti
bertobat demi menerima pemulihan hidup, sehingga tidak heran ay.18-27
membahas janji pemulihan bagi umat yang bertobat. Istilah ‘bertobat’
sendiri bukan hal asing di telinga kita. Tobat artinya sadar dengan dosa
maupun kesalahan yang dilakukan, lalu berusaha tidak jatuh dalam hal
yang sama lagi.

Tapi apakah cukup bertobat hanya satu kali? Tentu tidak! Sebab
dalam sifat kemanusiaan kita yang hina, akan selalu muncul keinginan
berbuat dosa, lagi dan lagi. Bangsa Israelpun demikian. Mereka terjebak
dalam lingkaran dosa-tobat-dosa lagi. Kadang umat bisa hidup taat, namun
lebih sering mereka mendukakan TUHAN. Syukurlah Allah Israel amat
panjang sabar dan pengasih kepada umat-Nya yang keras kepala. Tidak
terhitung berapa kali Ia mengampuni orang Israel, hanya saja mereka
malah menyia-nyiakan pengampunan itu dan menyalahgunakannya
untuk berdosa lagi. Baru setelah merasakan langsung kesulitan hidup,
bangsa Israel dapat sadar terhadap kesalahan mereka, lalu bersedia taat
dan bertobat. Ketika umat mau taat, ada hal-hal indah sebenarnya yang
TUHAN sediakan, yaitu: hasil panen yang melimpah, perut yang
dikenyangkan, dan tidak ada lagi rasa malu (ay.22-26). Janji berkat dan
pemulihan yang Allah sampaikan, bukan omong kosong tapi sungguh
terbukti. Dalam dunia anak muda, ada istilah PHP (Pemberi Harapan Palsu).
Ini sebutan bagi orang yang senang berjanji atau memberi harapan,
namun tidak menepatinya. Nah, Allah juga adalah PHP, namun dalam
artian yang positif, yaitu: Pemberi Harapan Pasti bagi siapa yang percaya
pada-Nya. Tidak ada janji yang diingkari dan tidak ada perkataan yang
gagal ditepati oleh Allah.

Saat ini kita bersyukur karena boleh memperingati hari Pentakosta
II. Hari ketika Roh Kudus turun kepada orang-orang percaya, seperti dicatat
dalam Kisah Para Rasul 2:1-13. Dengan Roh Kudus, para rasul dan orang
percaya beroleh keberanian untuk semakin giat menceritakan kebenaran
serta menjadi teladan dalam kehidupan di tengah banyak orang. Roh
Kudus juga yang menggerakkan hati pendengar Injil agar mau mengaku
percaya. Ketika seorang sungguh percaya pada Allah, ia tidak sekadar
mengaku lewat perkataan, tapi berusaha pula memupuk iman serta
menumbuhkan kepekaan hati menjalani hidup. Saat berdosa, ia segera
sadar, bertobat, dan berupaya mengubah yang kurang baik dalam
hidupnya. Contoh, bila dulu ia senang berdusta dan berucap tidak pantas,
maka setelah bertobat, ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak berdusta
lalu menjaga perkataannya atau minimal mengurangi kebiasaan yang
kurang baik itu.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 77

Hidup yang peka terhadap kehendak-Nya dan hati yang terbuka
lebar menyambut Roh Kudus adalah dua hal yang amat dibutuhkan oleh
semua orang percaya, karena hanya itulah satu-satunya pintu bagi Roh
Kudus masuk dalam hati kita. Andai saja sejak awal, bangsa Israel punya
kepekaan ini, niscaya penghukuman dan rasa malu tidak akan terjadi.
Artinya, bila sekarang kita merayakan hari Pentakosta II, rayakan itu dengan
kesungguhan hati dan tekad yang bulat untuk membaharui hidup lewat
pertobatan. Lalu penting pula menjadi peka dan merendahkan diri
menerima Roh-Nya bekerja. Biarkan Dia menuntun supaya kaki kita tidak
melangkah ke tempat yang salah dan hati kita tidak terpengaruh dengan
hal-hal yang mungkin merusak hidup ke depannya. Peganglah prinsip
untuk mengizinkan kehendak Tuhan yang terjadi dalam hidup, dan bukan
kehendak kita sendiri. Bukankah prinsip itu yang dipegang Yesus
menjelang kematian-Nya? Yesus katakan agar kehendak Bapa saja yang
terjadi dan jangan kehendak-Nya (Mat.26:39)

Yesus bahkan merendah sedemikian rupa dalam kemahakuasaan-
Nya dan inilah teladan bagi orang percaya. Ingat, Roh Kudus bisa bekerja
dengan leluasa jika kita mengizinkan-Nya berkuasa penuh atas diri kita, jadi
jangan tolak Roh-Nya masuk dan berkarya. Hanya dengan penyertaan Roh
Kudus, kita beroleh penggenapan janji Tuhan yang mendatangkan damai
sejahtera. Hidup manusia memang tidak selalu damai lancar, namun imani
bahwa Ia lebih dari sanggup menyertai kita melewati badai kehidupan
segelap apapun. Jalan hidup di depan memang tidak dapat ditebak,
semuanya masih abu-abu dan barangkali kita dilanda keraguan, tapi
renungkan kembali kuasa-Nya. Bangsa Israel dengan jumlah yang banyak
saja bisa dipulihkan oleh-Nya, apalagi kita! Mari percaya bahwa Roh Kudus
sungguh memberi pengharapan dan masa depan yang pasti.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 78

Minggu, 4 Juni 2023
Hari Pertanian GKE

Nas Bacaan : Kejadian 1 : 1 – 31

Nas Khotbah : Markus 4 : 26 – 29

Penulis : Pdt. Mediorapano, S.Th, M.Min

Sub Tema : Menjadi Teman Sekerja Allah

Pendahuluan
Saudara-saudara yang dikasih oleh Tuhan kita Yesus Kristus, bagi

warga GKE yang berada di pulau Kalimantan apalagi di pedesaan dan
berusia 35 tahun ke atas, bila mendengar kata benih atau bibit bisa
dipastikan dapat memahaminya. Berbeda dengan warga jemaat yang di
perkotaan apalagi generasi muda banyak yang kurang memahami tentang
bibit atau benih. Benih adalah bagian dari tanaman yang akan
dikembangbiakkan seperti biji, stek, umbi dan lain-lain sedang bibit adalah
tumbuhan muda dari benih yang sudah tumbuh, bisa masih dipersemaian
atau sudah dalam polybag.

Berbicara tentang benih yang tumbuh secara hurufiah pasti secara
tidak langsung akan mengingatkan kita bahwa hari ini bertepatan dengan
“Hari Pertanian GKE”. Wilayah GKE yang sebagian besar di pedalaman
sangat berkaitan erat dengan pertanian dalam arti luas berkaitan dengan
perikanan dan perkebunan. GKE memiliki sekolah pertanian di Tumbang
Lahang yaitu SMK GKE Agri Karya Tumbang Lahang sebagai wujud nyata

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 79

karya Gereja dalam bidang pendidikan pertanian. Warga GKE secara
pribadi dan kelompok juga banyak yang bergerak dan hidup dari
pertanian, perikanan dan perkebunan, maka sangat perlu untuk
mensyukuri “Hari Pertanian GKE”. Hal ini penting untuk tetap
memperhatikan Sekolah pertanian dan juga warga GKE yang bergerak
dalam bidang pertanian, perikanan dan perkebunan perlu mendapat
dukungan nyata dan doa dari gereja. Pada Nas kita hari ini Markus 4 : 26
-29 Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan tentang benih yang
tumbuh untuk mengajarkan perihal Kerajaan Allah. Bagaimana Kerajaaan
Allah itu berkembang melalui Firman Allah yang ditaburkan terus bekerja
siang dan malam oleh kuasa Firman Allah sampai berbuah lebat dan
menguning siap untuk dituai.
Isi Nas :

1. Dalam ayat 26 : Tuhan Yesus mengajar tentang Kerajaan Allah
melalui perumpamaan tentang benih yang tumbuh. Ia mulai
dengan mengatakan bahwa “Kerajaan Allah itu seumpama orang
yang menabur benih di tanah. Seperti dikatakan di atas benih
adalah berupa biji, stek, umbi dan lain-lain yang perlu di tabur,
disemai atau ditanam langsung di tanah pertanian. Dalam Markus
4 : 4-8 ada beberapa jenis tanah tempat benih itu jatuh. Benih pasti
tumbuh, tetapi tingkat berhasil atau gagalnya benih itu, sangat
tergantung pada kondisi tanah. Dalam Markus 4 : 15-20 Tuhan
Yesus menjelaskan bahwa gambaran kondisi tanah dalam ayat 4-8
adalah gambaran tentang bagaimana penerimaan orang akan
Firman Allah dan bagaimana firman itu berbuah dalam
mempengaruhi hidup seseorang.

2. Pada ayat 27-29 menggambarkan bahwa seorang penabur
bertugas menabur benih itu di ladang, setelah itu ia tidur atau
mengerjakan pekerjaan lain. Tetapi benih itu dengan sendirinya
dari kekuatan dalam diri benih itu ia bertunas, bertumbuh makin
tinggi dan besar dan terus berproses sampai pada musim panen
tiba. Dapat dipahami pada bagian ini tugas seorang penabur hanya
menabur soal bertumbuh sampai berbuah ia tidak dapat berbuat
apa-apa, selain melakukan perawatan dan pemeliharaan, tetapi soal
proses tumbuh sampai berbuah itu kemampuan dari benih itu
sendiri. Paulus dalam I Korintus 3 : 6-8 mengatakan “ aku menanam,
Apolos yang menyiram, tetapi Tuhan yang memberikan
pertumbuhan”. Perkataan Paulus ini sangat membantu kita
memahami nas kita hari ini. Nas hari ini berbicara tentang benih
yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri setelah ditabur oleh
seorang penabur, sedang penabur hanya melakukan tugasnya
dengan baik selebihnya benih itu berproses dalam kekuatannya

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 80

sendiri. Ini mengandung makna tentang bagaimana Kerajaan Allah
itu bekerja. Benih sebagaimana dalam Mrk 4 : 4-20 adalah Firman
Allah. Demikian juga dalam nas hari ini benih itu adalah Firman
Allah dan Penaburnya adalah setiap orang yang menyampaikan
Firman Allah. Firman Allah yang disampaikan itu akan bekerja pada
setiap orang yang menerima Firman itu dalam hatinya. Firman yang
ditabur itu kapan saja bisa mengingatkan, menegor, membuat
orang bertobat, membuat orang bersyukur dan membuat orang
semakin percaya kepada sang empunya Firman yaitu Tuhan Allah
dalam Yesus Kristus. Benih Pasti Tumbuh dari Kekuatannya sendiri,
sama dengan Firman Allah yang ditabur itu akan terus
membesarkan Kerajaan Allah. Yesaya 55 : 11 bahwa Firman yang
keluar dari mulut Allah tidak akan kembali dengan sia-sia.

Penerapan Nas
1. Tugas Penabur sangat penting untuk membuat benih itu sampai ke
tanah tempat benih bertumbuh. Demikin juga dalam
perkembangan Kerajaan Allah Firman Tuhan sangat penting untuk
disampaikan kepada sebanyak-banyaknya orang sebagai sasaran
Firman Allah itu bertumbuh. Pengkotbah atau penyampai Firman
Allah jangan berpikir takut khotbah tidak diterima, tidak didengar,
ditolak, tidak menarik yang penting sampaikan saja, taburkan saja
itu bagian kita, tetapi Firman Tuhan punya kekuatan yang luar
biasa, firman terus bekerja. Firman yang disampaikan oleh Para
nabi, para Rasul, para Penatua zaman dulu terus bekerja sampai
sekarang dan akan terus bekerja menghasilkan buah bagi Kerajaan
Allah. Tugas kita memberitakan Firman Tuhan atau berita injil
seluas-luasnya, Roh Kudus Tuhan akan bekerja melalui firman Allah
itu untuk membawa jiwa-jiwa kepada keselamatan dalam Yesus
Kristus.
2. Kerja dari Firman yang ditabur dalam hidup seseorang adalah
Firman itu akan berkerja menegor, mengingatkan, menguatkan,
meneguhkan, menghiburkan, memelihara orang yang mendengar
firman Allah tersebut. Itu semua merupakan buah dari Firman Allah
yang telah ditabur itu.
3. Hari ini adalah Hari Pertanian GKE, mari kita dukung, dan doakan
sekolah pertanian di Tumbang Lahang yaitu SMK GKE Agri Karya
Tumbang Lahang, mari kita berikan dukungan nyata dan doa bagi
pengembangan pertanian, perikanan dan perkebunan yang di
dilakukan oleh warga GKE, sehingga membawa kesejahteraan bagi
warga GKE.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 81

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 11 Juni 2023
(UEM Sunday)

Nas Bacaan : Kejadian 12 : 1 – 9

Nas Khotbah : Yohanes 17 : 9 – 26
Penulis : Pdt. Ayang Setiawan, M.Th

Sub Tema : Menjadi Teman Sekerja Allah

Saudara-saudara terkasih,
Umat Kristen diajarkan untuk berdoa sebagai bentuk komunikasi kita

kepada Allah. Apa maksud dan tujuan kita berdoa? Pada umumnya doa adalah
sarana untuk kita menyampaikan ucapan syukur kepada Allah atas segala karunia
dan berkat yang IA anugerahkan kepada kita. Melalui doa kita juga menyampaikan
permohonan kepada-Nya. Permohonan bisa didasarkan pada apa yang
diharapkan atau yang dicita-citakan, tetapi juga apa yang menjadi keprihatinan.
Melalui isi doa yang diucapkan seseorang, kita bisa mengetahui apa yang menjadi
keprihatinan atau apa yang menjadi perhatian si pendoa.

Bacaan Alkitab hari ini dari Yohanes pasal 17 (pasal sebelum peristiwa
penangkapan dan penyaliban Yesus, artinya sesaat sebelum Yesus berpisah
dengan para murid) merupakan bagian dari doa Yesus yang secara jelas dan tegas
ditujukan bagi para murid-Nya. Isi doa yang Tuhan Yesus sampaikan
memperlihatkan adanya perhatian serius dan keprihatinan-Nya tentang kondisi
para murid. Mari kita perhatikan beberapa ayat berikut:
o Yohanes 17:11 … peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang

telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti
Kita.
o Yohanes 17:21… supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya
Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita,
supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 82

o Yohanes 17:22 … Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang
Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita
adalah satu.

o Yohanes 17:23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya
mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah
mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau
mengasihi Aku

Tuhan Yesus tercatat 4 (empat) kali menyampaikan isi doa yang sama
kepada para murid: supaya mereka semua menjadi satu. Pengulangan permintaan
yang sama kepada Bapa agar para murid bisa menjadi satu memperlihatkan apa
yang menjadi keprihatinan Yesus. Selama beberapa tahun membimbing dan
mengajar murid-murid-Nya, Yesus tetntu sangat mengenal karakter murid-murid
dan IA menemukan satu titik kelemahan yang menjelma menjadi virus berbahaya
yang dapat merusak panggilan dan pengutusan para murid itu sendiri.
Keprihatinan itu tertuju pada kecenderungan para murid untuk tidak dapat
bersatu. Jika kita melihat catatan dalam Injil, gejala ketidakbersatuan itu memang
nampak pada beberapa peristiwa, misalnya pertengkaran sengit yang pernah
terjadi di antara murid gara-gara perebutan posisi terhormat dan mulia dengan
mempersoalkan siapa yang terbesar di antara mereka, atau ketika ibu Yakobus dan
Yohanes meminta agar kedua anaknya menduduki posisi terhormat dan penting
di kiri kanan Yesus; permintaan yang memicu kemarahan murid-murid lainnya. Jika
para murid saat ini masih bisa bersatu, itu karena Yesus masih berada di tengah-
tengah mereka. Namun jika DIA akan ditangkap dan disalibkan, tidak ada lagi
tokoh atau sosok yang bisa mempersatukan mereka. Demikian kita bisa mengerti
mengapa Tuhan Yesus dalam isi doanya sangat meminta kepada Bapa agar murid-
muridNya tetap dapat menjadi satu, bersatu, tetap kompak, tetap solid sebagai satu
tim. Misi yang mesti mereka lanjutkan hanya bisa berhasil dengan tetap menjadi
satu, menggalang kekuatan bersama dan mengatasi kelemahan satu sama lain.

Jemaat yang terkasih,…
Jika kita mau jujur, persoalan yang sama bukan hanya dialami para murid
di zaman Yesus. Persoalan yang dialami banyak gereja atau jemaat zaman
sekarangpun masih memperlihatkan hal yang sama: sulit untuk bersatu.
Pertengkaran, konflik, perpecahan atau pertikaian dengan pelbagai penyebab
sering terjadi di antara sesama orang Kristen, entah itu konflik antara para pelayan
Tuhan (pendeta, penatua, diakon, guru SHM) ataupun yang melibatkan warga
jemaat. Masalah dan tantangan pertumbuhan jemaat seringkali sebenarnya bukan
karena sumber keuangan yang minim atau karena ada “musuh dari luar jemaat”,
tetapi justru muncul dari ketidakmampuan untuk bersatu. Konflik atau
ketidakbersatuan juga bisa menjalar antar institusi atau denominasi gereja.
Ketidakbersatuan yang akhirnya bisa menjadi penyebab kesulitan umat Kristen
untuk menjadi saksi, garam dan terang-Nya di dunia.
Dari isi doa Yesus ini kita tertolong untuk mengerti mengapa sesaat
sebelumnya Tuhan Yesus melakukan sebuah tindakan simbolik dengan melakukan
pembasuhan kaki bagi para murid (Yoh. 13: 1-20). Rupanya melalui tindakan
simbolik tersebut, Tuhan Yesus mengajarkan dan menanamkan satu karakter

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 83

rohani yang mesti dimiliki para murid agar bisa tetap bersatu: rendah hati dan setia
melayani. Mari kita berdoa agar para pendeta kita, penatua diakon dan warga
jemaat kita bisa berakar dan bertumbuh dalam karakter rohani ini.
Saudara-saudara terkasih,…

Sebagai anggota UEM, minggu ini kita ikut merayakan “UEM Sunday”.
UEM adalah singkatan dari United Evangelical Mission (UEM), sebuah organisasi
oikumene yang bergerak dalam misi dan persekutuan gereja-gereja. Dari
sejarahnya, UEM merupakan perkembangan dari RMG (Rheinische
Missionsgesellschaft) atau Zending Barmen, badan misi yang mengutus Misionaris
J.H. Barnstein ke Kalimantan pada tahun 1835. Sebelum internasionalisasi UEM
tahun 1996, UEM Jerman menjadi induk bagi gereja-gereja mitra di Asia dan Afrika.
Namun, sejak UEM menjadi lembaga internasional, maka seluruh gereja di Jerman,
Asia, dan Afrika menjadi anggota UEM. Setiap anggota memiliki panggilan yang
sama. Tidak ada lagi induk dan anak, mitra-mitra, yang ada adalah seluruh anggota
yang saling mendukung kehidupan bersama. Selama ini dukungan gereja-gereja
Jerman untuk UEM tetap menjadi bagian terbesar pembiayaan program-program
UEM dalam mewujudkan panggilannya. Namun, kesadaran keanggotaan
bersama memanggil setiap anggota UEM untuk terlibat aksi dan pembiayaan UEM.
Aksi inilah yang disebut dengan United Action. Sehingga, United Action dapat
dimakna: pertama, Sosialisasi UEM kepada setiap unit terkecil dari anggota UEM,
supaya UEM, segala karya, dan kegiatannya bisa dikenal hingga di tingkat warga
jemaat. Secara sederhana, jika ada warga jemaat GKE yang ditanya apakah mereka
tahu UEM, maka kita bisa menjawab dengan mantap, "Iya saya tahu!" Siapa UEM?
"Saya UEM!". Kedua, United Action dapat dimaknai sebagai gerakan penggalangan
dana dengan berbagai cara, termasuk melalui kantong-kantong persembahan
oleh gereja-gereja anggota (juga gereja-gereja GKE) untuk mendukung karya dan
kegiatan UEM.

GKE dan Gereja-gereja lainnya yang menjadi anggota UEM adalah
keluarga besar. United action merupakan aksi bersama gereja-gereja anggota UEM
untuk membantu saudara di berbagai belahan dunia, dan kita bangga dan
bersyukur bahwa warga GKE bisa menjadi bagian dari arak-arakan bersama
gereja-gereja ini. Mungkin ada yang berpikir, bagaimana kita bisa memberi atau
menolong orang di tempat lain sementara kita sendiri mengalami kekurangan?
Saudaraku, justru dalam hal inilah kita diingatkan kembali akan keprihatinan yang
tergambar dalam isi doa Tuhan Yesus, yakni ketika umat Kristen tergoda hanya
selalu memikirkan dirinya sendiri, kepentingan atau keberhasilannya sendiri.
Melalui perayaan UEM Sunday hari ini, mari kita teguhkan semangat untuk
menjadi satu sebagaimana yang Tuhan Yesus harapkan dan doakan bagi kita.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 84

Minggu, 18 Juni 2023
(Perayaan Hari Pengucapan Syukur 188 Thn PI GKE)

Nas Bacaan : Yesaya 61 : 1 – 11

Nas Khotbah : Matius 9 : 35 – 38

Penulis : Pdt. Lepina Sinjal, S.Th

Sub Tema : Menjadi Teman Sekerja Allah

Saudara-saudara
Pengajaran Yesus yang penuh hikmat dan luar biasa! Tanda dan kuasa
yang Yesus lakukan menyertai setiap perkataan-Nya! Membuat orang tidak
dapat tahan untuk diam ditempatnya, ketika mendengar bahwa Yesus
sedang melakukan perjalanan keliling dari satu tempat ke tempat yang lain.
Bagai magnet! Yesus punya daya tarik yang hebat, sehingga dimana Yesus

ada disana dipastikan ada banyak orang yang mengikuti-Nya. Terlepas dari
apapun motivasi orang banyak itu, yang pasti dimana Yesus ada,
disekeliling-Nya pasti ada banyak orang.

Saudara-saudara
Dari sekian banyak orang yang mengikuti-Nya : ada yang lelah, ada yang
sakit, ada yang kerasukan setan, ada yang miskin dan susah, ada yang
terlantar, bahkan ada dimana ditangan mereka tidak ada sesuatu yang
baik yang berguna.

Saudara – saudara
Seluruh keadaan tersebut hendak menggambarkan bahwa inilah keadaan
manusia yang sesungguhnya di dunia ini, keadaan yang “ sengsara “.
Karenanya manusia yang sengsara itu perlu Yesus ! Manusia perlu dan
harus ada di mana Yesus itu ada !
Saudara-saudara
Yesus tidak akan membiarkan orang yang mengikuti-Nya mengalami
kesengsaraan. Tergeraklah hati-Nya melihat keadaan yang terjadi

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 85

disekeliling-Nya, dan Ia segera bertindak : Ia lenyapkan penyakit dan
kelemahan mereka dengan memberi makan bagi yang lapar rohaninya
dan memberi minum bagi mereka yang haus rohaninya! Ia
menyembuhkan segala sakit penyakit dan mengusir setan dari orang-
orang kerasukan oleh roh jahat. Dalam hal ini kita melihat bahwa “
kesengsaraan “ adalah objek sasaran belas kasihan, dan kesengsaraan yang
dirasakan oleh jiwa yang berdosa dan menghancurkan diri sendiri adalah
kesengsaraan yang paling mendalam.

Saudara-saudara
Pekerjaan Tuhan Yesus ternyata tidak berhenti hanya sampai pada
tindakan kasih yang penuh belas kasihan. Karena tindakan kasih itu
barulah permulaan dari apa yang Yesus inginkan. Yesus menganalogikan
bahwa mereka yang mengalami tindakan kasih itu ibarat biji benih yang
baru dituai yang bisa saja mengalami penurunan kualitas atau bahkan
rusak jika tidak dipelihara, dirawat dan diperhatikan dengan ketulusan,
dengan keikhlasan dan dengan kesiapan dari para penuainya. Dengan
demikian Yesus menghendaki agar mereka yang sudah memperoleh kasih
dan selamatNya harus tetap terus berada dalam lingkaran keselamatan itu
dan kepada mereka khabar selamat itu tetap dan terus diberitakan.
Saudara-saudara
Kita diselamatkan untuk memberitakan keselamatan ! Kita diberkati agar
kita memberkati ! Dan kita menerima Injil agar kita mengabarkan Injil! Dan
itu berarti kitalah pemenuh dari harapan dan keinginan Yesus.
Maka pada hari Pengucapan Syukur 188 tahun dan Pekabaran Injil GKE,
ada beberapa hal yang menjadi penegasan :

1. Bersyukurlah atas sejarah yang Tuhan ukir di Gereja Kalimantan
Evangelis, bersyukurlah terang Injil bersinar ditanah Kalimantan
dan bersyukurlah kegelapan telah Tuhan ubah menjadi Terang.

2. Pekabaran Injil adalah tugas utama yang merupakan titik sentral
dari misi gereja untuk menghadirkan Kerajaan Allah ditengah
dunia. Maka lakukan tindakan nyata, lipatgandakan pekerja-
pekerja untuk menyelamatkan “manusia dunia” yang terlantar
seperti domba tak bergembala.

3. Teladani pola pelayanan Yesus dengan melakukan perjalanan
berkeliling dan jadikan setiap ruang baik di kota atau di desa
sebagai mezbah dan altar pemberitaan Firman karena siapapun
harus menerima kabar selamat.

4. Kita harus lebih giat lagi dalam pekerjaan Tuhan karena bersama
Tuhan Yesus banyak hal besar bisa kita lakukan, bersama Tuhan
Yesus tabir kegelapan bisa dihalau.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 86

5. Wujudkan rasa syukur lewat segala perbuatan baik berdasarkan
kasih, dimana lewat itu semua kita bisa memuliakan Allah. Ingatlah
adalah merupakan kehormatan yang besar jika kita menerima
panggilan untuk melayani Tuhan.

6. Mari bersama kita maju, dukunglah gereja dan hamba Tuhan baik
dalam doa, tenaga, pikiran, keuangan, publikasi dan sebagainya.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 25 Juni 2023

Nas Bacaan : Kejadian 21 : 8 – 21

Nas Khotbah : Matius 10 : 24 – 33

Penulis : Pdt. Esther Puput Kalpikasari, S. Th
Sub Tema : Menjadi Teman Sekerja Allah

JANGAN TAKUT DAN GENTAR, BERITAKANLAH!
SEBAB TUHAN BESERTAMU

I. PENDAHULUAN
Menjadi pribadi yang dipilih Tuhan untuk menjadi bagian dari
Pemberitaan Kerajaan Allah di bumi merupakan sebuah keistimewaan dan
tentunya dipilih bukan karena kelebihan dan kekuatan pribadi tersebut,
melainkan karena kasih karunia Allah yang melayakkan kita menjadi pribadi
dan umat pilihanNya.
Dalam dua bagian teks Alkitab ini disampaikan tentang bagaimana
konsekuensi dan sikap yang harus diambil sebagai pribadi yang dipilih
Allah untuk menjadi rekan sekerjaNya.
II. PENJELASAN TEKS

a) Kej. 21:8-21
Keluarga Abraham dipakai Allah sebagai gambaran dari kehidupan

manusia pada umumnya, dimana di dalamnya ada konflik, ada keputusan
yang harus diambil, ada juga kekuasaan, iri hati, merasa tersaingi dan
pengorbanan.

Abraham sebagai kepala keluarga harus mengambil sebuah sikap,
keputusan yang berat untuk melepaskan Ismael dan Hagar, tetapi disatu
sisi dia harus mempertahankan rumah tangganya. Meskipun demikian
Abraham tetap melepaskan Hagar dan Ismael dan mempersiapkan
perjalanan mereka. Abraham adalah hamba yang setia dan percaya

kepada janji Tuhan Allah, meskipun dia harus mengambil keputusan yang
sulit.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 87

Sara sebagai istri Abraham merasa kehidupannya tersaingi oleh Hagar
(seorang hamba) karena kehadiran Ismael sebagai anak Abraham,

meskipun Sara sendiri yang memilih Hagar untuk melahirkan keturunan

bagi Abraham.

Sara takut Ismael dan Hagar akan merebut posisinya dan anaknya Ishak,
Sara dipenuhi iri hati, sehingga dia berinisiatif untuk mengusir Hagar dan
Ismael. Rasa belas kasihannya hilang, dan mata hatinya dibutakan karena
ketakutan dan kekuatiran, serta iri hati.

Hagar dan Ismael, sebagai hamba mereka tidak bisa menolak keputusan

tuannya, meskipun berat dan menyakitkan. Saat mereka berada di padang
gurun, kesulitan mulai dirasakan, saat mereka kehabisan air, Hagar merasa
putus asa, tidak punya harapan, dia pasrah dengan keadaan, mata hatinya
tertutup karena kesedihan.
Namun, Tuhan Allah tidak membiarkan umatnya mati dalam keputusasaan,
Dia membuka mata hati Hagar dan menyediakan apa yang Hagar dan
Ismael perlukan, serta menyatakan janjiNya bagi keturunan Abraham.

b) Mat 10:24-33

Tuhan Yesus dalam mewujudkan pemberitaan Kabar Keselamatan

memilih 12 orang murid yang diberiNya kuasa untuk mengusir roh jahat
dan melenyapkan segala penyakit dan kelemahan (ay.1)

Yesus juga mengutus mereka untuk melakukan apa yang telah diajarkan

olehNya. Yesus tahu kesulitan-kesulitan yang pasti akan ditemui oleh para

murid. Oleh sebab itu Ia membekali para murid dengan keyakinan (Iman)

dan keberanian.
Teks ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut :

Ay. 24 : Kemampuan seorang murid tentunya tidak bisa melebihi gurunya,

atau hamba daripada tuannya. Bagian ini menjelaskan meskipun para

murid telah diberikan kuasa tetapi mereka tidak bisa melebihi kekuasaan
Yesus dan Bapa, oleh sebab itu tidak ada alasan bagi para murid untuk

menyombongkan diri dengan kemampuan yang dimiliki.
: bagian ini menyebutkan tentang Beelzebul. Sejarah
Ay. 25b

menuturkan bila Yesus disebut orang ketika itu mengajar dan melakukan

mujizat bukan dengan kuasa mesianis yang berasal dari Allah Bapa, tetapi
menggunakan kuasa Beelzebul (Iblis). Jika Yesus saja disebut Beelzebul
apalagi para murid, tentunya orang-orang pun akan mengejek dan

menolak para murid, bahkan menganggap mereka melakukan kuasa

penyesatan.
Ay. 26-31: Yesus memberikan kekuatan bagi para murid untuk tidak takut
menghadapi ejekan, penolakan bahkan penganiayaan, karena kuasa
kegelapan yang telah membutakan mata hati manusia untuk melihat
keselamatan akan dibukakan dengan kuasa Tuhan Yesus.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 88

• Jangan takut untuk memberitakan kebenaran, ay. 27”…katakanlah
dengan terbuka (εϊπατε έν τω φωτί)” untuk menerangi dan memberi
pengharapan bagi setiap umat manusia

• Jangan takut kepada kuasa manusia yang hanya bisa membunuh
fisik tetapi takutlah akan kuasa Tuhan Allah yang akan
membinasakan fisik dan jiwa, jika tidak menuruti kehendak dan
firman-Nya.

• Jangan takut dan kuatir, percayalah pada kuasa dan pemeliharaan
Tuhan sebab Dia akan menjaga dan melindungi dari marabahaya
yang mengancam.

Ay. 32-33: Tuhan Yesus menegaskan bahwa pengakuan dan pengenalan
terhadap Yesus merupakan salah satu jaminan keselamatan, tetapi bagi
yang menyangkal Yesus tidak akan mendapatkan keselamatan.

III. RELEVANSI
Dari dua teks Alkitab tersebut dapat direnungkan untuk diaplikasikan
dalam kehidupan sebagai pribadi yang dipilih menjadi rekan sekerja Allah
:

1. Manusia seringkali dibutakan mata hatinya karena kekuasaan,
kepercayaan, kecukupan, iri hati, ketakutan, kekuatiran, kesedihan.
Sehingga tidak bisa melihat pengharapan dan bahkan keselamatan
yang telah disediakan oleh Tuhan. Sara, Hagar, Orang Farisi, Saduki,
tua-tua dan imam kepala Yahudi mewakili gambaran sikap dan sifat
manusia. Kebutaan itu menjadikan manusia bahkan diri kita sebagai
pengikut Kristus melupakan ajaran Kristus, berbuat sesuka hati kepada
sesama, kehilangan kasih, dan bahkan menghalalkan segala cara
untuk mencapai tujuan.

2. Kita adalah rekan sekerja Allah yang dipilih dan diberikan mandat
untuk memberitakan Kerajaan Allah dimanapun dan kapanpun kita
berada (Mat. 28:18-20). Sebagai rekan sekerja Allah, seperti Kristus
Yesus diperlakukan, demikian pula kitapun tidak terluput dari
penolakan, penganiayaan, ejekan, bahkan kematian. Tetapi janganlah
hal ini menjadi halangan atau alasan untuk tidak melakukan tugas
panggilan yang telah diberikan Tuhan Allah bagi kita. Jangan takut
dan gentar, teruslah beritakan dan sampaikan Firman Tuhan, sebab
tidak ada kuasa dunia yang dapat menghadapi kuasa Tuhan Yesus,
kegelapan akan diterangi, segala yang tertutupi akan dibuka dengan
kuasa dan kebenaran Firman Tuhan.

3. Dalam menghadapi situasi sulit, kita sering diperhadapkan kepada
pilihan yang sulit, bahkan tidak jarang menyakitkan (seperti Abraham,
Hagar dan para murid). Namun, jangan takut sebab dibalik setiap
keputusan, pemeliharaan dan janji Tuhan sungguh sempurna

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 89

dinyatakan dalam hidup kita (Mat. 10:29-31). Pengakuan dan
pengenalan yang sungguh kepada Yesus Kristus akan menyelamatkan
setiap orang yang percaya. Yesus menginginkan tindakan dan kasih
yang nyata, bukan hanya sekedar menjadi pengikut, bukan hanya
menjadi rekan sekerja Allah yang asal bekerja dan mendapat untung,
tetapi kesiapan untuk tetap mengakui Iman kepada Yesus Kristus
dalam situasi sulit sekalipun, dan melakukan pekerjaan Allah dalam
ketulusan dan kerendahan hati (Kol.3:23)
4. Bagi yang tidak setia, menyangkal Yesus karena ingin mendapat
keselamatan, sanjungan dan kehormatan dari dunia, yang bersifat
sementara, tidak kekal, maka penyangkalan dari Kristus Yesus dan
penghukuman serta kebinasaan yang kekal akan diterima pada hari
penghakiman Kristus.
Pilihan ada pada diri kita, Tuhan Yesus telah menetapkan Jalan
Keselamatan bagi kita, kuasa telah diberikan oleh-Nya, berjaga-jaga dan
berdoalah (Mat 26:14), siap sedialah untuk menghadapi penyangkalan dari
dunia, teruslah beritakan (2 Tim 4:2), jangan takut dan gentar, sebab Tuhan
besertamu.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 90

Minggu, 2 Juli 2023

Nas Bacaan : Kejadian 22 : 1 – 14

Nas Khotbah : Matius 10 : 40 – 42

Penulis : Pdt. Paulus Ajong, M.Th

Sub Tema : Menyatakan Kasih Dan Kebaikan Tuhan

PENGANTAR
Dalam ayat-ayat sebelumnya (10:34-39), Yesus menyampaikan

konsekuensi mengikutiNya. Bahwa akan ada penolakan bahkan
pertentangan. Hal itu terjadi bisa dalam lingkup terkecil yaitu dalam
keluarga; antara anak dan orang tua, saudara dengan saudara, menantu
dan mertua sampai lingkup lebih luas dalam masyarakat. Karenanya, Yesus
katakan, bukan kedamaian yang terjadi justru pertentangan, penolakan
bahkan kekerasan (pedang). Yesus juga mengingatkan bagi siapa saja
yang mengikut dan beriman kepadaNya; penolakan dan pertentangan
yang diterima adalah bagian dari salib yang harus dipikul. Memikul salib
berarti siap menerima penolakan, diskrimnasi, bahkan kekerasan yang bisa
menghilangkan nyawa. Lebih lanjut, Yesus meyakinkan para pengikutNya,
jika karena iman kepada Yesus, membuat kita kehilangan nyawa; maka
akan memperoleh nyawa (kehidupan kekal).

Selanjutnya dalam ayat 40-42, Yesus mengingatkan kepada pihak
yang menerima pemberitaan Injil. Yesus meyakinkan bahwa siapapun yang
menerima kamu, maka ia menerima Aku dan menerima Dia yang
mengutus Aku (40). Pernyataan Yesus tersebut hendak menegaskan:
Pertama, bahwa motivasi kita memberitakan Injil harus sesuai dengan
kehendak dan maksud Yesus. Saat kita sungguh-sungguh memberitakan
Injil sesuai dengan maksud dan kehendak Kristus, maka kita tidak sendiri,
tetapi Kristus bersama-sama dengan kita (melalui Roh Kudus). Itu berarti
cara dan pendekatan kita tidak boleh menyimpang dengan cara dan
pendekatan Kristus. Cara dan pendekatan Kristus itu penuh Kasih dan
Kebaikan Tuhan. Kasih dan kebaikan Tuhan itu, Yesus nyatakan dengan
kepedulian, bela rasa, solidaritas tanpa pamrih kepada siapapun yang
membutuhkan pertolongan. Itulah sebabnya pelayanan Yesus selalu
menyentuh pergumulan konkret orang-orang pada zamannya.

Kedua, jika motivasi, cara dan pendekatakan kita dalam
pemberitaan Injil Kristus telah sesuai dengan orientasi dan kehendak
Kristus, maka bagi siapapun yang menerima kita, mereka juga menerima

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 91

Kristus dan Bapa yang mengutus Kristus. Sebaliknya jika kita sudah
sungguh-sungguh melayani sesuai dengan kehendak Kristus (penuh kasih,
kepedulian, solidaritas) namun juga tetap ditolak, maka selanjutnya mereka
juga menolak Kristus. Hal itu bukan tanggung jawab kita. Biarlah itu
menjadi tanggung jawab mereka dengan Allah. Kita tidak perlu harus
memaksa, membujuk, merayu apalagi dengan menghalalkan segala cara.
Disampaikan dengan cara baik dan simpatik saja mereka tidak bisa
menerima, apalagi dengan cara yang sembarangan dan kurang beretika;
maka penolakan dan penentangan pasti akan lebih keras lagi.

Apa arti Pengajaran Yesus bagi kita?
1. Melayani dalam pekerjaan Tuhan, berbeda dengan pekerjaan biasa

lainnya. Melayani dalam pekerjaan Tuhan ada campur tangan Ilahi
melalui Roh Kudus Tuhan. Tuhan tahu motivasi kita. Tuhan tahu
cara dan pendekatan kita. Karenanya, jangan pernah bertentangan
dengan kehendak dan orientasi Tuhan, yaitu terus menyatakan
Kasih dan Kebaikan Tuhan. Jika pekerjaan lainnya, walaupun tidak
semua; seringkali pernyataan Kasih dan Kebaikan, karena ada
maunya, ada maksud terselubung. Apalagi menjelang tahun-tahun
politik. Banyak orang-orang baik mendadak bermunculan, menjadi
sangat dermawan, menjadi sangat pengertian. Hal itu tentu baik,
tetapi kita ingin tidak hanya muncul saat-saat menjelang tahun
politik. Kita berharap kebaikan-kebaikan itu menjadi ciri khas tanpa
dipengaruhi ada maksud tertentu.
2. Jangan pernah Lelah untuk menyatakan Kasih dan Kebaikan
Tuhan. Apalagi kalau kurang mendapat respon yang setimpal dari
pihak orang lain. Teruslah berbuat kasih. Teruslah berlaku baik.
Apapun perlakuan orang lain terhadap diri kita, jangan larut dan
ikut dengan gaya dan cara mereka. Mereka berlaku jahat, balaslah
mereka dengan kasih dan kebaikan. Mereka mengumpat dan
memberikan sumpah serapah, ampuni mereka dan berkati mereka.
Ingat, saat kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan bukan
karena kita kalah; tetapi kita menang; yaitu tetap menyatakan Kasih
dan Kebaikan Tuhan.
3. Kasih dan Kebaikan Tuhan harus kita hadirkan dalam keluarga,
gereja dan masyarakat. Karena saat ini keluarga, gereja dan
masyarakat mengalami kelangkaan kasih dan kebaikan Tuhan.
Sebaliknya keluarga, gereja dan masyarakat; sangat lumrah kita
temukan berbagai kebencian, kejahatan dan kekerasan. Kasih dan
Kebaikan harus kita mulai dari diri kita, hadirkan dalam keluarga,
gereja dan masyarakat. Itulah wujud Pemberitaan Injil yang sesuai
dengan kehendak Kristus.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 92

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***
Minggu, 9 Juli 2023

Nas Bacaan : Zakaria 9 : 9 – 17
Nas Khotbah : Matius 11 : 16 – 19

Penulis : Pdt. Mariyadi, M.Th

Sub Tema : Menyatakan Kasih Dan Kebaikan Tuhan

Seorang pelatih Bisbol Amerika Serikat, Chili Davis, pernah
mengatakan, “Growing old is mandatory, growing up is optional”. Dalam
bahasa Indonesia kalimat ini dapat diterjemahkan “bertambah umur sudah
seharusnya terjadi, tapi menjadi dewasa adalah pilihan”. Artinya semua
orang pasti menjadi tua, tapi tidak semua orang menjadi dewasa saat ia
menjadi tua. Ada banyak orang yang sudah tua, tetapi cara berpikir dan
berperilakunya masih seperti anak-anak, misalnya ceroboh, tidak peka,
tidak peduli, tidak bijaksana dan tidak melakukan yang baik dan benar.
Sikap seperti anak-anak inilah yang digambarkan Tuhan Yesus ada dalam
diri orang-orang Yahudi pada waktu itu. Mereka adalah orang-orang yang
sudah menikmati pelayanan Yohanes Pembaptis dan sudah menyaksikan
pelayanan Tuhan Yesus, namun mereka menyia-nyiakan atau menolaknya.
Tuhan Yesus mengumpamakan mereka seperti anak-anak, yaitu
memperoleh pengajaran tetapi tidak berubah menjadi lebih baik karena
pengajaran itu.

Tuhan Yesus dan Yohanes Pembaptis datang membawa pengajaran
baik kepada orang Yahudi untuk membawa mereka pada keselamatan.
Apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dan Yohanes Pembaptis adalah
sesuatu yang besar dan membutuhkan pengorbanan, namun pada
pandangan orang-orang Yahudi, pengorbanan itu tidak berarti apa-apa.

Yohanes Pembaptis sendiri pada waktu itu harus masuk penjara karena
kebenaran yang diberitakannya (Mrk. 6:17). Yohanes Pembaptis adalah
perintis jalan bagi Tuhan Yesus yang menyerukan pertobatan. Tuhan Yesus
mengumpamakan bahwa Yohanes Pembaptis telah menyanyikan kidung
duka, yaitu menyampaikan berita penghukuman atau ancaman kepada
orang-orang berdosa yang seharusnya membuat orang merasa takut dan
terdorong untuk kembali kepada Allah, namun mereka tidak
menghiraukannya. Mereka tidak menyesal dan tidak berduka karena dosa
mereka, tetapi bertahan dalam kekerasan hati mereka. Yohanes Pembaptis
mempraktekkan gaya hidup yang sangat sederhana, yaitu tinggal sendiri

di padang gurun tanpa bergaul dengan siapa pun. Ia juga tidak makan roti
dan tidak minum anggur, hanya makan belalang dan madu hutan, namun

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 93

ia dianggap sebagai orang yang kerasukan setan. Sehingga ia ditolak dan
tidak diterima oleh orang-orang Yahudi pada waktu itu.

Berbeda dengan Yohanes Pembaptis, Tuhan Yesus
mengumpamakan diri-Nya datang ke dunia ini dengan meniup seruling
yang seharusnya membuat orang menari. Tuhan Yesus mengajarkan dan
memberitakan Injil yang memuat janji dan pengharapan akan
keselamatan. Ia juga menyatakan kasih dan mujizatNya dengan kuasa-Nya
yang luar biasa. Namun semua itu tidak membuat orang Yahudi
bersukacita menerima-Nya. Malahan mereka menuduh Tuhan Yesus
seorang pelahap dan peminum, yaitu julukan yang ditujukan untuk orang-
orang yang berada dalam pemberontakan melawan Allah, yang hatinya
degil dan membangkang (Ul. 21:18-20). Karena Tuhan Yesus bergaul
dengan semua orang dari berbagai kalangan, seperti pemungut cukai,
orang berdosa, perempuan Samaria, orang-orang sakit dan lain-lain. Tuhan
Yesus datang untuk menjadi sahabat bagi mereka dan untuk
menyelamatkan mereka bahkan menyelamatkan orang yang paling
berdosa sekalipun, namun orang-orang Yahudi mencela pergaulan Tuhan
Yesus. Perasaan mereka tidak tersentuh baik oleh cara hidup Yohanes
Pembaptis maupun cara hidup Tuhan Yesus. Mereka seperti anak-anak
yang duduk-duduk di pasar yang hanya ingin main-main saja, tidak mau
peduli dan tidak mau bersungguh-sungguh dalam menerima anugerah
keselamatan yang disediakan bagi mereka. Padahal mereka adalah orang-
orang yang telah lama menantikan Mesias. Pengharapan akan kedatangan
Mesias tersebut dinyatakan dalam nubuat para Nabi, seperti nubuat nabi
Zakharia dalam Zakharia 9:9-17. Dalam nubuat tersebut dinyatakan bahwa
pada saatnya akan datang seorang Raja yang akan memulihkan Israel,
tetapi ketika Mesias itu datang mereka menolak-Nya dengan mengeraskan
hati mereka. Mereka memang mengetahui ajaran Kitab Suci, tetapi mereka
tidak mampu memahami maksud dan kehendak Allah yang dinyatakan
kepada mereka. Mereka mengetahui ajaran Yohanes Pembaptis dan
melihat kuasa Tuhan Yesus, tetapi mereka tidak mengimaninya. Mereka
adalah orang-orang yang dewasa dari segi umur dan pengetahuan, tetapi
iman mereka masih seperti anak-anak.

Di akhir bagian dari nats Firman Tuhan ini, Tuhan Yesus berkata :
“Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya." Dari kalimat ini
terlihat bagaimana Tuhan Yesus menghendaki agar setiap orang beriman
mengenal dan menemukan kembali cara beriman yang sesungguhnya,
yakni menemukan dan mengenal hikmat Allah. Artinya, setiap orang yang
beriman kepada Allah harus mengarahkan pikiran, perasaan, perkataan
dan perbuatannya pada kebenaran Allah. Sehingga kita dapat mengenal
mana yang benar-benar dari Allah dan mana yang bukan. Kita pun tidak

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 94

terjebak dalam hikmat atau logika kita sendiri, tetapi hikmat Allah lah yang
menuntun hidup kita untuk mengenal kasih dan kebaikan-Nya. Contoh
nyata dari hikmat Allah itu terlihat dari tindakan Yohanes Pembaptis dan
Tuhan Yesus yang menuntun manusia pada keselamatan.

Dari uraian nats Firman Tuhan ini, ada beberapa pokok perenungan
yang dapat kita aplikasikan dalam kehidupan kita sekalian, yaitu :
1. Seiring dengan bertambahnya usia kita, kita juga diharapkan semakin

dewasa dalam iman kita kepada Tuhan. Wujud dari kedewasaan iman
tersebut dapat dinyatakan melalui kepekaan kita terhadap kebenaran
yang dinyatakan Allah bagi kita, yaitu dengan tidak mengeraskan hati
dan tidak memandang rendah kebaikan dan karunia yang dinyatakan
Allah bagi kita. Melainkan selalu membuka hati menerima dan bersyukur
atas setiap anugerah, terutama keselamatan yang diberikanNya kepada
kita.
2. Dalam melihat pekerjaan Tuhan, kita tidak hanya dapat menilai seorang
utusan-Nya dari penampilan fisik atau dari isu-isu yang beredar saja,
tetapi kita juga perlu melihat ketulusan, pengabdian dan pengorbanan-
Nya. Artinya jangan menilai seseorang secara subjektif, atau hanya
berdasarkan dugaan dan perasaan saja, tetapi mari melihat segala
sesuatu secara objektif, yaitu melihat apa yang dikerjakan dan buah dari
pekerjaan itu. Dengan demikian kita akan terhindar dari sikap yang
dapat menghakimi orang lain, tetapi kita dapat menjadi pendukung dari
setiap pekerjaan Tuhan yang dilakukan oleh utusan atau hamba-hamba-
Nya.
3. Allah yang kita sembah dalam Tuhan kita Yesus Kristus adalah Allah
yang sangat mengasihi umatNya. Karena kasih-Nya yang besar dan luar
biasa itu, Ia menyediakan keselamatan bagi setiap orang percaya. Berita
keselamatan itu sudah sejak lama disampaikan, di antaranya oleh
Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus sendiri. Jika bangsa Israel pada
waktu itu menolak-Nya, maka kita sebagai umat percaya di masa ini
harus mampu melihat cara Allah bekerja untuk menyelamatkan kita.
Bahwa ada banyak cara Allah, mulai dari hal-hal biasa sampai pada hal-
hal yang luar biasa untuk menyatakan kasih dan kebaikan-Nya kepada
kita. Dengan demikian, maka keselamatan itu akan dianugerahkan-Nya
kepada kita dan kita dapat menjadi saksi dari kasih dan kebaikan-Nya
bagi dunia.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 95

Minggu, 16 Juli 2023
(Hari Perempuan GKE)

Nas Bacaan : Rut 1 : 1 – 22
Nas Khotbah : Yohanes 20 : 11 – 18

Penulis : Pdt. Guste, M.Th

Sub Tema : Menyatakan Kasih Dan Kebaikan Tuhan

A. PENGANTAR
Sapaan merupakan tanda perhatian, kasih dan kepedulian
seseorang kepada orang lain. Dalam budaya Timur, sapaan
merupakan bagian dari “gaya hidup” dalam rangka memelihara
hubungan/relasi sosial dalam masyarakat. Ketika kita menyapa
sesorang, berarti kita mengenalnya, atau setidaknya mau menjalin
komunikasi dengan orang itu. Itulah yang terjadi antara Maria
Magdalena dan Tuhan Yesus, ketika Maria Magdalena mengira
“kehilangan Tuhan” di kubur itu, di situlah Tuhan hadir menyapa
dia.

B. PENDALAMAN NAS
Perjumpaan Maria Magdalena dan Yesus.
Maria Magdalena adalah seorang perempuan yang berkomitmen
untuk ikut melayani Yesus setelah dia disembuhkan oleh Yesus dari
7 roh jahat (Lukas 8 : 1-3). Dalam pelayanannya, dia setia mengikut
Yesus bahkan menyaksikan saat-saat tragis Yesus disalibkan. Dari
sini kita mendapat gambaran bahwa dia adalah orang yang
bersungguh-sungguh mengikut Yesus dengan penuh kasih
sehingga diapun mau mendatangi kuburan Yesus untuk memberi

rempah-rempah pada mayat Yesus agar tidak membusuk dengan
cepat sebagai tanda kasihnya.
Tapi apa yang dijumpai adalah sebuah kenyataan bahwa kubur itu
telah kosong, Tuhannya tidak ada di sana, sehingga menimbulkan
kesediahan dan duka mendalam bagi dia. Menangis adalah caranya
mengungkapkan kesedihan itu (ayat 11). Menangis juga adalah
ungkapan keputusasaan bahwa Tuhannya bukan hanya sudah
mati tapi juga hilang diambil orang di kubur itu. Maria terperangkap
pada kesedihan dan kematian serta hilangnya mayat Yesus. Ia
belum mengerti tentang kebangkitan sebagaimana yang berkali-

kali Yesus katakan kepada murid-murid-Nya. Matanya telah tertutup
oleh air mata sehingga membuat dia tidak mengenali Yesus.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 96

Menarik di sini bahwa Malaikat dan Yesus pada mulanya menyapa
Maria dengan sebutan “Ibu” :
1. Malaikat menyapa Maria dengan sebutan ibu (ayat 13).Dengan

pertanyaan : “Mengapa engkau menangis” ?
2. Yesus menyapa Maria dengan sebuatan ibu (ayat 15). Dengan

pertanyaan : “Mengapa engkau menangis ? siapa yang engkau
cari ?.
3. Sapaan ketiga Yesus langsung menyebut namanya “Maria”
disertai dengan perintah agar jangan memegang-Nya dan
supaya dia pergi menyampaikan kepada murid-murid yang lain
tentang apa yang dia lihat.
Dari sini kita dapat melihat bahwa sapaan malaikat dan Yesus
dengan sebutan “Ibu” merupakan sapaan formal sekaligus
penghormatan atas dirinya. Tetapi sapaan “Ibu” itu dirasanya belum
menyentuh dia sehingga dia belum mengenal siapa sesungguhnya
yang menyapa dia. Kesedihan dan airmatanya telah menutup
matanya bahwa sesungguhnya dia ada dekat dengan Tuhan.
Tetapi ketika Yesus menyapa dia dengan nama dirinya “Maria”,
barulah dia terkejut bahwa ternyata itu “Rabuni” guru yang
sekarang sedang dia cari.
C. APLIKASI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Dari penjelasan nas di atas, ada beberapa hal yang kita pelajari :
1. Seringkali kita tidak mengenal Yesus walaupun kita sibuk
pelayanan bahkan rajin mengikut Dia. Karena hubungan kita
dengan Tuhan seringkali terasa formal sehingga tidak
menyentuh ke dalam hati sanubari kita secara pribadi. Iman kita
cenderung untuk “Dipertontonkan/show” sehingga kita sendiri
sesungguhnya merasa kering dan hampa bahkan seolah-olah
“Tuhan hilang” dalam hidup kita. Kita cenderung menjadikan
Tuhan sebagai “Obyek” dari keinginan hati kita sehingga kita
ingin mengatur Tuhan seperti mau kita. Padahal Tuhan itu
Maha segalanya. Pengalaman Maria ini mengajak kita untuk
rendah hati mengakui bahwa kita memang manusia berdosa
yang selalu ingin mengenal Tuhan secara sungguh-sungguh
dan belajar peka mendengar suara dan sapaan Tuhan pada
kita.
2. Pergumulan, persoalan dan beban hidup membuat hidup kita
terasa berat dan Tuhan terasa jauh bahkan “Hilang” dari kita.
Kita sering mengira bahwa Tuhan tidak mau ,mendengar keluh
kesah dan doa-doa kita. Kita terlalu sibuk dengan beban hidup
kita, mata dan hati kita telah terfokus pada masalah yang ada di
hadapan kita. Kita mengira Tuhan tidak mau lagi peduli pada

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 97

kita, padahal sesungguhkan kita sendirilah yang tidak
mengijinkan Tuhan menolong kita.
Tema bulan ini : Menyatakan Kasih dan Kebaikan Tuhan,
mengajak kita belajar ikhlas dalam menjalani hidup dan
mengenali Yesus melalui pengalaman buruk sekalipun. Belajar
percaya bahwa sesungguhnya Dia ada bahkan sangat dekat
dengan kita. “Tuhan tidak hilang dan tidak diambil orang”. Dia
bahkan selalu menyapa kita secara pribadi dengan penuh kasih,
Dia mengenal kita dan kebaikan Tuhan tiada bertara. Tetapi
seringkali kita yang menjauh dan tidak mengenal Dia.
Sapaan Tuhan secara pribadi kepadanya membuat Maria
diubahkan. Dia tidak lagi sedih dan berduka. Dia mengalami
pembaharuan. Dia segera bergegas pergi memberitakan
bahwa “Aku telah melihat Tuhan”. Perjumpaan dan
pengenalannya akan Tuhan telah mengubah hidupnya. Dia
bukan lagi Maria yang penuh dengan beban hidup dan
kesedihan, melainkan Maria yang siap menjadi saksi Tuhan,
Maria yang penuh semangat dan sukacita.
3. Hari ini adalah Hari Perempuan GKE. Semoga pengalaman
Maria ini menjadi inspirasi dan motivasi bagi perempuan GKE
untuk lebih mengembangkan dirinya dan menjadi saksi Tuhan
dengan pengenalan akan Tuhan yang sungguh-sungguh dan
siap menjadi saluran berkat melalui karya dan talenta yang
dimiliki.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 23 Juli 2023
(Hari Anak GKE)

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 98

Nas Bacaan : Mazmur 127 : 1 – 5

Nas Khotbah : Efesus 6 : 1 – 9

Penulis : Pdt. Sri Wahyuni, S.Th

Sub Tema : Menyatakan Kasih Dan Kebaikan Tuhan

Bapak, ibu, secara khusus orang tua, pernahkah anak-anak meminta
kita untuk mengajarkan mereka berdoa??? Mungkin sedikit persennya,
yang sering terjadi adalah kita sebagai orang tualah yang mengajarkan
mereka berdoa.

Sebenarnya doa tidak dapat dipelajari seperti orang belajar ilmu. Doa
juga bukan suatu metode yang dapat dikuasai melalui banyak latihan. Doa
adalah hubungan yang spesial dengan Allah yang bertumbuh semakin
mesra sehingga menjadi sesuatu yang hidup. Selain hubungan komunikasi
manusia dengan Allah, doa juga merupakan nafas kehidupan, suatu sarana
mendekatkan diri kepada Allah dan jembatan kehidupan yang memberi
kita kekuatan, pengharapan dan perlindungan. Apakah berdoa itu
penting? Sangat penting, karena doa merupakan kebutuhan pokok
manusia, sama halnya dengan kita makan dan minum setiap hari.

Jemaat Tuhan, sebagaimana Yohanes, Tuhan Yesus juga diminta
oleh para murid-Nya untuk mengajarkan doa (ay.1). Doa Bapa Kami versi
Lukas ini agak berbeda dengan versi Matius yang biasa kita ucapkan
bersama mengakhiri doa syafaat kita. Ketika murid-murid Tuhan Yesus
sudah mengikuti Dia selama kurang lebih satu setengah tahun, mereka
sering melihat Dia berdoa. Suatu hari mereka menyampaikan sebuah
permintaan yang memang pantas sekali disampaikan kepada Tuhan Yesus,
“Tuhan ajarilah kami berdoa……….”. Tuhan Yesus memenuhi perintah itu,
dan mengajarkan mereka berdoa (ay. 2-4). Dan Yesus menunjukkan
beberapa keharusan yang harus ada dalam setiap doa:
1. Harus berdoa sesuai dengan kehendak Allah: Nama Allah dikuduskan,

kerajaan Allah datang, makanan kita dicukupkan, keampunan dosa, dan
pemeliharaan dari pencobaan.
2. Disampaikan dengan terus terang: dengan tidak malu dan tidak putus
asa.
3. Berpegang pada janji Allah : mintalah, carilah dan ketoklah (ay. 9-10).

Setiap kita pasti rindu bahwa doa-doa kita didengar dan dijawab oleh
Tuhan. Tetapi ada banyak orang yang kecewa, bahwa doa yang dinaikan
kepada Tuhan tak kunjung dijawab. Apakah benar doa kita tidak dijawab?
Tidak. Tuhan menjawab doa kita, karena Dia Bapa yang baik, tidak

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 99


Click to View FlipBook Version