The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E book ini berisi rancangan kotbah GKE tahun 2023

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mezisita05, 2022-12-29 19:12:30

Buku Rancangan Kotbah GKE 2023

E book ini berisi rancangan kotbah GKE tahun 2023

Keywords: GKEOKE

mungkin seorang bapa memberi ular jika anaknya minta roti dan memberi
kalajengking ketika anaknya minta telur (ay.11). Begitu juga dengan Bapa,
Ia akan memberikan sesuai dengan kebutuhan kita, buka sesuai keinginan
kita. Dia tahu apa yang terbaik buat anak-anak-Nya dan kita harus meyakini
bahwa doa kita didengar oleh-Nya dan Dia akan menjawab doa kita
dengan cara-Nya yang luar biasa. Jadikanlah doa sebagai fasilitas yang
mendekatkan hubungan kita dengan Tuhan, jadikanlah doa sebagai gaya
hidup orang percaya.

Dalam merayakan Hari Anak GKE, anak adalah aset atau kekayaan
yang dimiliki setiap orang tua, anak adalah generasi penerus, dan
seharusnyalah dari usia dini mereka harus dididik dan diajarkan dengan
baik dan benar, sehingga mereka bertumbuh menjadi anak-anak yang
membanggakan. Ajarilah mereka bertekun dalam doa, karena dibalik
setiap doa ada kuasa Allah bekerja.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 30 Juli 2023

Nas Bacaan : 1 Raja-Raja 3 : 5 – 15

Nas Khotbah : Matius 13 : 44 – 52

Penulis : Pdt. Antariksa F. H. Utung, M.Th

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 100

Sub Tema : Menyatakan Kasih Dan Kebaikan Tuhan

“JADIKANLAH KERAJAAN SORGA ADALAH YANG PALING BERHARGA”
Tuhan Yesus mengajarkan melalui perumpamaan mengenai

Kerajaan Sorga. Pertama di mana Kerajaan Sorga diumpamakan sebagai
harta yang terpendam di sebuah ladang dan mutiara yang sangat
berharga. Kedua perumpamaan ini menggambarkan sesuatu yang sangat
berharga, sehingga seseorang yang menemukannya rela menjual segala
miliknya demi mendapatkan sesuatu yang sangat berharga itu. Demikian
halnya Kerajaan Sorga sebagai sesuatu yang seharusnya fokus utama dan
tujuan dari kehidupan orang percaya. Tidak ada hal yang lebih istimewa
dan membahagiakan ketika memilikinya di dalam hidup ini. Kedua ialah
pukat yang menjaring berbagai ikan. Pukat diseret ke pantai, lalu kemudian
orang memisahkan ikan-ikan tersebut. Ikan-ikan yang baik dimasukkan ke
dalam pasu, sedangkan ikan-ikan yang tidak baik mereka buang. Hal ini
menceritakan tentang akhir zaman, di mana ada pemisahan antara yang
jahat dan yang baik, serta penghukuman bagi orang yang jahat dan
anugerah keselamatan bagi umat Allah yang setia sampai akhir. Jadi
perumpamaan tentang pukat yaitu bahwa lautan adalah dunia dan pukat
adalah Gereja. Sama seperti pukat harus ditebarkan ke tempat yang dalam,
maka tentunya Gereja harus juga mewartakan Kristus ke tempat yang jauh
dan dalam. Mengambil ikan yang baik dan membuang ikan yang tidak baik
adalah menggambarkan tentang akhir zaman, di mana para malaikat akan
memisahkan manusia yang baik untuk memperoleh keselamatan,
sedangkan manusia yang jahat akan mendapat ganjarannya di dalam
neraka(dapur api di mana terdapat ratapan dan kertakan gigi).

Setelah Yesus selesai menyampaikan perumpamaan tersebut, maka
Ia berpaling dan bertanya kepada para murid-Nya: Mengertikah kamu
semuanya itu? Lalu mereka menjawab: “Ya, kami mengerti.” Kemudian
Yesus melanjutkan tugas perutusan kepada mereka dengan
berkata:”Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal
Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang
baru dan yang lama dari perbendaharaannya.” Yesus menerapkan tugas
ini kepada para murid dan diteruskan oleh Gereja. Sebagai pengajar, maka
para murid harus menjaga keharmonisan antara yang lama dan yang baru,
atau Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dan perlu diingat bahwa tugas
mewartakan Kerajaan Sorga tidak hanya diberikan kepada para pejabat
gerejawi, tetapi kepada semua orang percaya. Jangan pernah berhenti
dalam mewartakan Kerajaan Sorga. Tugas Gereja adalah terus-menerus
mewartakan Kerajaan Sorga sampai Tuhan Yesus datang kedua kalinya
nanti. Tuhan Yesus sudah menyelesaikan pekerjaan-Nya di dunia ini, maka

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 101

kita harus terus melanjutkan mewartakan Kerajaan Sorga sampai kelak kita
dibawa oleh Tuhan Yesus ke sorga yang kekal.

Yang perlu kita ingat: Kita semua adalah pengikut Yesus. Sudahkah
kita “menjual seluruh milik kita?” Sudahkah hati kita bebas dari kesukaan
akan dunia ini yang melampaui kasih kita kepada Yesus? Jika kita masih
mengasihi hal-hal lain lebih daripada mengasihi Yesus, mari renungkan
kembali perumpamaan ini! Jika kita menemukan harta terpendam di dalam
sebuah ladang, yang nilainya berkali-kali lipat bila dibandingkan dengan
ladang itu, apakah kita rela korbankan segala harta milik kita untuk
memperoleh ladang itu? Kita seharusnya mengorbankan seluruh harta kita
untuk memperoleh harta yang terpendam di ladang itu, karena di
dalamnya jauh lebih bernilai lagi. Demikian juga dalam mengikut Yesus.
Apa yang kita tingggalkan pasti akan tertutup dengan bahagia lebih besar
dari segala sesuatu di dalam hidup kita, maka apa pun yang kita korbankan
untuk Kristus sebenarnya tidak membawa kita kedalam kerugian apa pun.
Karena apa yang kita peroleh di dalam Kristus jauh lebih besar daripada
apa yang kita lepaskan di dunia ini. Sekali lagi pikirkan dan putuskan untuk
kita benar-benar memilih Kerajaan Sorga yang tidak ada bandingannya
dengan harta kekayaan yang kita miliki di dunia ini. Ketika kita menemukan
Kerajaan Sorga, maka akan membawa sukacita yang besar bagi kita.
Banyak orang di dunia ini lebih senang menghabiskan hidupnya untuk
mencari kesenangan duniawi dan menimbun harta kekayaannya dan tidak
peduli dengan Kerajaan Sorga. Sebagai orang percaya apa yang lebih
utama kita cari di dalam dunia ini? Mari renungkan perkataan Tuhan Yesus:
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya
itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33).

Kerajaan Sorga merupakan suatu harta yang tidak ternilai harganya,
yang patut diinginkan melebihi segala sesuatu. Kerejaan Sorga hanya
dapat diperoleh dengan mengorbankan segala sesuatu yang mungkin
menghalangi kita menjadi anggota Kerajaan itu. “Menjual seluruh miliknya”
berarti bahwa kita harus mengalihkan segenap hati dari segala perkara lain
lalu memusatkan seluruh hidup kita kepada Kristus saja. Demikian juga
tentang ikan yang didapat oleh pukat tidak semuanya baik, begitu juga
tidak semua anggota dari kerajaan yang kelihatan merupakan anak-anak
Tuhan yang sejati. Gereja-gereja dan organisasi Kristen belum tentu searti
dengan umat Allah yang sejati, yaitu umat yang terdiri atas semua orang
percaya yang hidup dengan iman dan kebenaran yang sejati. Dalam
perumpamaan ini Kristus menekankan lagi bahwa di antara umat Allah ada
banyak orang yang tidak sungguh-sungguh setia kepada-Nya dan firman-
Nya. Karena itu jadikanlah Kerajaan Sorga yang paling berharga dan paling
utama dari segala sesuatu yang kita miliki. Marilah kita hidup yang baik dan
benar, agar kelak kita akan tinggal di Kerajaan Sorga selama-lamanya.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 102

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 6 Agustus 2023
(Hari Pemuda GKE)

Nas Bacaan : Pengkotbah 11 : 9 – 10

Nas Khotbah : Filipi 1 : 3 – 11
Penulis : Pdt. Wono, S.Th

Sub Tema : Hidup Yang Memuliakan Allah

1. Pendahuluan:
Bapak, ibu, sidang jemaat yang terkasih…

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 103

Orang-orang muda atau anak-anak muda adalah generasi emas suatu
peradaban karena mereka sedang berada pada puncak kekuatannya;
kekuatan fisiknya, energinya dan idealismenya. Sejarah perjuangan bangsa
Indonesia telah mencatat dengan tinta emas andil besar anak-anak muda
bangsa dalam menuju kemerdekaan hingga perjuangan untuk
mempertahankan kemerdekaan. Pada kontek ini tergambar bahwa orang-
orang muda memiliki peranan penting dan mampu mengadakan
perubahan.

Di masa kini tentu tantangan generasi muda bukan lagi soal
memperjuangkan kemerdekaan dengan kekuatan fisik, pegang senjata
dan berperang tetapi bagaimana mengisinya dengan hal-hal yang positif
dan konstruktif. Lalu bagaimana dengan generasi muda gereja? Barangkali
kita pernah atau sering mendengar suatu kiasan yang cukup populer yang
berbunyi: “pemuda adalah tulang punggung gereja”. Kiasan ini memberi
makna dan pengertian bahwa pemuda-pemudi gereja adalah generasi
perubahan. Wajah gereja hari ini dan di masa depan ditentukan oleh
mereka. Pertanyaannya adalah bagaimana potensi pemuda-pemudi gereja
berdayaguna dan berdampak bagi eksitensi dan pertumbuhan gereja
ditengah berbagai tantangan hari-hari ini yang memikat dan
mempengaruhi mereka dengan kuatnya? Kita akan belajar hal penting dan
prinsip dari nasehat Pengkhotbah kepada pemuda-pemudi.

2. Teks
Penulis kitab Pengkhotbah adalah Salomo. Pada teks yang kita renungkan
saat ini, Salomo mengarahkan perhatiannya kepada kaum muda dan
menulis kepada mereka sebagai anak-anak untuk menggugah mereka
supaya memikirkan hari kematian. Situasi ini mengajak kita semua untuk
merenungkan bahwa rangkaian hidup manusia adalah bagian dari proses
yang Allah rancang dan ketetapan-Nya berlaku bagi siapapun.
Pengkhotbah menulis ini dengan jujur pada pasal 3 bahwa segala sesuatu
ada waktunya.

Tiba pada usia muda adalah bagian dari waktu yang Allah tetapkan
dan anugerah yang wajib disyukuri. Waktu ini juga singkat karena perlahan
manusia akan menjadi tua. Di usia muda yang penuh dengan semangat,
energi, kreasi, inovasi dan idealisme, orang-orang muda berhadapan
dengan segala keinginan duniawi yang begitu kuat dan memikat. Namun
Salomo mengingatkan sekaligus mengarahkan bahwa ujung dari
perjalanan hidup manusia adalah kematian dan di sana ada pengadilan
Allah yang berlaku. Salamo menasehati kaum muda agar hidup takut akan
Tuhan, sehingga terhindar dari penghukuman Allah di hari kematiannya.
Allah menganugerahkan kehidupan bagi manusia, namun tidak
selamanya manusia hidup, karenanya harus di isi dengan hal-hal positif dan

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 104

konstruktif yang di dalamnya nama Allah dimuliakan. Pada pasal 12:1
Salomo berkata dengan keras dan tegas dalam nasehat kepada kaum
muda, “Ingatlah akan penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-
hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “tak ada
kesenangan bagiku di dalamnya.”

3. PenjelasanTeks
Bapak, ibu, sidang jemaat yang terkasih…
Pada ayat 9 kitab Pengkhotbah pasal 11 adalah kalimat sindiran kepada
kaum muda yang fokus hidupnya pada pemenuhan keinginan hatinya,
keinginan matanya, keinginan badan/fisiknya (duniawi) tidak peduli
apakah berkenan dihadapan Allah atau tidak. Kaum muda ketika berada
pada puncak kekuatannya memang diselimuti rasa percaya diri yang kuat,
egosentrisme dan cenderung mengacuhkan nasehat. Semua nasehat yang
mendukung keinginannya diterima yang tidak sesuai ditolak. Ini yang
dilihat dan dialami oleh Salomo muda. Karena itu, nasehat Salomo pada
ayat 9, “Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu,….dst” bukan
membenarkan pola pikir atau pun tindakan mengejar kenikmatan hidup
duniawi tetapi bentuk sindiran bahwa hal demikian menyakiti hati Allah
pencipta yang sejak mula merancang dan menetapkan bahwa manusia
hidup untuk Allah dan demi kemuliaan nama-Nya.
Bapak, ibu, sidang jemaat yang terkasih…
Salomo melanjutkan nasehatnya, pola pikir atau pun tindakan mengejar
kenikmatan hidup duniawi adalah kesia-siaan saja. Pada pasal 11: 9d
Salomo berkata, “tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah
membawa engkau ke pengadilan”. Ungkapan ini hendak menegaskan
bahwa jika manusia tetap pada keinginan hatinya menyimpang dari
kehendak Allah, maka yang terjadi adalah kehancuran. Ada konsekwensi
logis atas pemberontakan dan pelanggaran terhadap perintah Allah.
Manusia yang melanggar dan memberontak terhadap perintah dan
ketetapan Allah akan berhadapan dengan pengadilan Allah. Manusia
dimintai perhitungan atas semua kegembiraan yang bersifat kedagingan
dan kesenangan-kesenangan inderawi pada hari penghakiman.

4. Implikasi Praktis
Bapak, ibu, sidang jemaat yang terkasih…
Perenungan kita hari ini hendak menegaskan bahwa hanya Allah lah yang
berdaulat atas kehidupan. Sejak dalam kandungan ibu kita, kita melihat
dunia ini, menjalani masa-masa pertumbuhan, tiba diusia muda bahkan
seterusnya Allah lah yang mengatur semuanya. Bila engkau hari ini berusia
muda, syukurilah dengan sukacita. Ini adalah anugerah dan pemberian
Allah yang luar biasa. Namun ingat! Rasa syukur dan sukcita ini tidak boleh

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 105

hanya nampak pada ekspresi di ruang-ruang “ritual-seremonial”, tetapi
terlibat aktif dalam pelayanan gereja. Bakat, karunia, talenta yang dimiliki
harus digunakan untuk pelayanan pemberitaan kabar baik. inilah
ejawantah rasa syukur yang sesungguhnya ketika keberadaan kita yang
adalah anugerah Allah ini berfaedah bagi sesama.
Bapak, ibu, sidang jemaat yang terkasih…
Renungan hari ini juga mengajak kita untuk memikirkan dengan serius hal
ini; Segala bentuk tindakan mengandung konskewensi entah positif atau
pun negatif. Tindakan yang berpusat pada kehendak Allah membawa
berkat dan sukacita sebaliknya tindakan yang bertentangan dengan
kehendak Allah membawa kehancuran/hukuman. Sebagai warga gereja
yang taat, kita harus membangun relasi intens dengan Allah, sehingga kita
tidak hanya bertumbuh dalam iman tetapi berdayaguna bagi keluarga,
gereja dan masyarakat. Pemuda-pemudi GKE adalah pemuda-pemudi
potensial yang menjadi “tulang punggung” gereja kini dan di masa depan.

Jika demikian adanya, maka tentu saja gereja / lembaga GKE juga terus
memikirkan dan merumuskan cara bagaimana mempersiapkan dengan
matang generasi muda gereja ini baik dalam hal pelayanan maupun
kepemimpinan. Jika hal ini dilakukan secara serius, di mana pemuda-
pemudi dengan kekuatan, kreatifitas, inovasi dan idealismenya turut andil
dalam pelayanan dan kepemimpinan di GKE serta para orang tua
memberikan nasehat, bimbingan dan dukungan maksimal kepada mereka,
maka ke depan kita akan melihat GKE yang semakin kuat berakar,
bertumbuh dan berbuah / menjadi jemaat misioner. Selamat Hari Pemuda
GKE, Tuhan Yesus memberkati.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***
Minggu, 13 Agustus 2023

Nas Bacaan : 1 Raja – Raja 19 : 9 – 18

Nas Khotbah : Matius 14 : 22 – 33

Penulis : Pdt. Rinno Y. Riduan, M.Min

Sub Tema : Hidup Yang Memuliakan Allah

Bapak/Ibu/Sdr/i yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
Setelah Yesus memberi makan lima ribu orang, kemudian Yesus

menyuruh murid-murid untuk naik ke perahu mendahuluiNya ke seberang
Betsaida, yaitu ke Kapernaum. Dan Ia menyuruh orang-orang banyak itu
pulang. Namun Yesus tetap tinggal di situ seorang diri dan pergi ke sebuah

bukit untuk berdoa sampai hari malam.
Kemudian sesudah beberapa mil dari pantai, perahu yang

ditumpangi murid-murid terobang-ambing karena angin sakal. Kira-kira jam

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 106

3 subuh Yesus lalu datang kepada murid-murid dengan berjalan di atas air.
Melihat hal itu murid-murid terkejut dan mengira Dia hantu (Ay.25-26)
namun Yesuspun menyapa mereka dengan mengatakan kepada
“Tenanglah Aku ini, jangan takut!” (Ay. 27). Salah seorang dari ke 12 murid
Yesus yaitu Petrus ingin memastikan bahwa itu Yesus dan meminta supaya
Yesus memerintahkannya datang kepada-Nya dengan berjalan di atas air.
Yesuspun mengajaknya “Datanglah” Petruspun berjalan di atas air ke arah
Yesus, namun sebelum sampai kepada Yesus, karena dirasakannya tiupan
angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak “Tuhan tolonglah
aku”, Yesus segera mengulurkan tangan-Nya untuk menolong dia sembari
menegurnya: Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau
bimbang?. Yesuspun mengangkat Petrus dan bersama-sama naik ke
perahu dan anginpun reda. Para muridpun menyembahNya serta
mengatakan:Sesungguhnya Engkau Anak Allah” (ayat 33)

Bapak/Ibu/Sdr/i yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
Melalui firman Tuhan di atas, tentunya ada beberapa pokok pikiran

yang kita bisa refleksikan:
1. Dalam segala situasi dan keadaan yang kita alami dan hadapi,
bahkan di saat kita berada pada titik terendah, kita diingatkan
bahwa melalui pengalaman para murid di aast mereka merasa takut
dan terancam bahaya, yakinlah bahwa Tuhan datang tepat pada
waktunya. Yesus tidak membiarkan murid-murid sendirian
menghadapi dan melalui badai yang menghadang bahkan Yesus
selalu ada bersama mereka. Jadi dalam hal ini, kita juga harus yakin
bahwa Tuhan selalu ada dan siap menolong kita anak-anak-Nya.
Yesus selalu mengetahui apa yang yang kita hadapi dan Ia kan
selalu menemani kita menhadapi dan melalui pergumulan hidup.
Karenanya teruslah percaya dan mempercayakan hidup kita
kepada-Nya.
2. Ketika Yesus memberikan teguran kepada Petrus yang saat itu takut,
tentu inilah gambaran seseorang yang beriman takut menghadapi
tantangan dan pergumulan hidup. Hidup kita hendaknya selalu
berpusatkan pada Kristus bukan pada pergumulan hidup yang kita
alami.
Firman Allah di dalam Injil Matius 6; 25, mengingatkan kita agar
tidak kuatir, jikalau kita beriman, mendengar dan melakukan
perintah-Nya serta memfokuskan hidup kita pada Yesus, maka kita
tidak akan takut, melainkan tangguh dan kuat menghadapi segala
tantangan dan pergumulan hidup.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 107

3. Saat Petrus mengalami masalah, ia tahu kemana harus meminta
pertolongan yaitu Yesus Kristus. Pertolongan Yesus selalu tepat pada
waktunya. Saat Yesus berada di atas perahu anginpun reda
Aplikasi : Saat kita mengalami pergumulan hidup, segeralah berseru
kepada Tuhan bukan mencari pertolongan pada manusia apalagi
mengandalkan diri kita sendiri. Tuhanlah yang menjadi sumber
pertolongan dalam hidup kita dan biarkan Ia dengan cara-Nya sendiri
menolong kita menghadapi pergumulan hidup ini. Saat Yesus ada dalam
bahtera kehidupan kita, hati kitapun dapat tenang.

Bahan Renungan
Bapak/Ibu/Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
Dalam perjalanan hidup ini, kita tidak pernah terlepas dari yang namanya
“persoalan.” Setiap orang dalam hidupnya selalu memiliki persoalan atau
pergumulan hidup. Terkadang saat masalah atau persoalan yang satu
diselesaikan muncul lagi masalah yang lain. Masalah yang kita hadapi ada
yang ringan namun adapula yang berat. Karena itu ada banyak orang
Kristen yang berdoa kepada Tuhan agar Tuhan menjauhkan dia dari
masalah-masalah hidup. Namun toh, tetap saja masalah itu ada. Lalu apa
yang seharusnya kita lakukan? Saat kita menghadapi masalah itu apakah
kita lebih cenderung mengandalkan kekuatan kita ataukah mengandalkan
Tuhan? Masalah itu apakah membuat kita menjadi takut dan bimbang
ataukah justru membuat kita semakin berani menjalani hidup ini karena kita
percaya Tuhan tak kan pernah meninggalkan kita?

Bapak/Ibu/Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
Perikop bacaan kita hari ini bercerita tentang murid-murid Yesus yang

juga mengalami masalah. Ketika murid-murid berada di atas perahu
menuju daerah Kapernaum, perahu yang ditumpangi mereka dihantam
angin sakal, yaitu angin yang bertiup dari darat ke laut sehingga murid-
murid harus berjuang sekuat tenaga untuk melawan angin itu agar mereka
sampai ke pinggir pantai. Pada waktu itu Yesus tidak bersama-sama dengan
mereka di perahu karena Yesus telah memerintahkan mereka untuk lebih
dahulu ke seberang sedangkan Yesus pergi untuk berdoa kepada Bapa di
sorga. Ketika melihat murid-murid dari kejauhan sedang mengalami
masalah, Yesus segera datang untuk meredakan angin tersebut. Salah
seorang dari murid-murid yang ada di perahu itu yaitu Petrus, ketika
melihat Yesus berjalan di atas air ia ingin pergi menemui Yesus sedangkan
murid-murid yang lain terkejut, disangkanya Yesus itu hantu. Namun,
karena angin yang kencang Petrus lalu menjadi takut dan bimbang
sehingga ia akhirnya tenggelam. Segera ia meminta pertolongan Yesus
supaya ia tidak tenggelam. Yesuspun menolongnya dan menegurnya

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 108

sebagai orang yang kurang percaya dan bimbang. Lalu Yesus bersama
dengan Petrus naik perahu itu dan meredakan angin itu. Anginpun reda.
Melihat hal itu, murid-murid yang ada di perahupun akhirnya sujud
menyembah Dia, katanya : “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”
Bapak/Ibu/Sdr/I yang terkasih dalam Tuhan Kita Yesus Kristus,
Bukankah dalam hidup ini seringkali perahu kehidupan kita juga dihantam
angin kencang yang membuat kita takut dan kuatir menjalani hidup?
Bukankah selama kita hidup masalah akan terus ada seolah-olah tidak
pernah lepas dari kehidupan kita? Saat kita mengalami pergumulan hidup
ingatlah bahwa Tuhan Yesus selalu ada. Ia tidak pernah meninggalkan kita
menghadapi masalah atau pergumulan hidup itu seorang diri. Ia mau
ketika kita kita diperhadapkan pada masalah itu, kita segera datang dan
berseru kepada Dia seperti Petrus tapi dengan iman yang sepenuh hati
agar tidak ada kebimbangan. Yesus pasti akan menolong kita. Saat Yesus
berada di atas “perahu” kehidupan kita maka seberat apapun tantangan
yang kita hadapi, kita akan dapat melewatinya karena kita mempunyai
Tuhan yang Hidup dan berkuasa. Karena itu PERCAYALAH kepada Kristus.

Saat Masalah Datang, Jangan Berfokus Kepada Masalah Itu,
Tapi Percayalah kepada Tuhan, Fokuslah KepadaNya,
Maka Hati Kitapun Tenang Menghadapinya”

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***
Minggu, 20 Agustus 2023
(Hari Remaja GKE)

Nas Bacaan : Mazmur 119 : 1 – 9

Nas Khotbah : Matius 15 : 21 – 28
Penulis : Pdt. Efendi Rajagukguk, M.Th

Sub Tema : Hidup Yang Memuliakan Allah

Perempuan Kanaan yang Percaya
A. Pendahuluan

Saudara-saudari, jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus.

• Setiap orang punya alasan yang bersifat prinsip sebelum menetapkan
sesuatu. Karena itu, ia teguh mempertahankan apa yang dipilih atau
dilakukannya. Teguh, karena yakin punya kebenaran, dan kebaikan bagi
dirinya serta manfaat bagi orang lain. Contoh ril, alasan mengapa orang
beragama: 1) Diatur dalam undang-undang negara yang
mengharuskan setiap warga negara wajib memeluk suatu agama yang
diyakininya. 2) Orang beragama kerena ada kuasa yang Mahadahsyat
di luar dirinya, sebagai Pecipta dan Penguasa segala sesuatu. Dengan

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 109

keyakinan ini ia tunduk dan takluk pada Sang Pencipta, ia menyembah-
Nya dan taat melaksanakan apa yang diyakininya sebagai ajaran dari
Sang Pencipta. Dengan keyakinan ini, manusia yang beragama
berusaha menjadikan kualitas hidupnya semakin baik, sebagaimana
dikehendaki oleh Tuhan.
• Sejatinya dengan beragama kualitas hidup manusia harus semakin baik.
Manusia bisa mengendalikan dirinya dengan segala kondisi
pengalaman hidupnya. Bila sedih dan bergumul, ia menjadi
berpengharapan. Dalam sukacita, ia bersyukur. Ketika digoda hawa
nafsu, ia mampu menahan diri, sehingga tidak terjebak dalam
perbuatan yang dosa – karena dilarang oleh ajaran agama dan Tuhan.
Tetapi kenyataan bisa berbeda. Kita mencatat kejadian perseteruan,
konflik, dan perang bisa jadi dengan alasan perbedaan agama, dan
penafsiran. Dengan beragama manusia jadi sombong rohani, eksklusif
mengklaim pemahamannya paling benar, di luar dirinya salah, sesat.
Pertanyaannya, benarkah Tuhan membenarkan tindak kekerasan,
perang, pengrusakan dan anarkhis? Nas hari ini mengajar kita untuk
sadar bahwa Tuhan adalah Tuhan semua bangsa. Berkat Tuhan itu
menjangkau ke semua bangsa.

B. Konteks – Teks
• Matius menyaksikan pelayanan Yesus bersama para murid, mereka

sedang di Tirus dan Sidon. Mereka melanjutkan pelayanan
memberitakan Allah yang penuh kasih dan menghadirkan Kerajaan
Allah. Mereka dikejutkan dengan kedatangan seorang ibu asal Kanaan,
yang mengharap belas kasih Yesus, agar mengusir Setan yang
menguasai dan merasuki anak perempuannya. Anaknya sangat
menderita. Dalam konteks sosial, anak perempuan berikut keluarganya
akan terus-menerus dicela karena keadaan ini. Publik tidak melihat
mereka sebagai korban yang harus dikasihani dan ditolong. Tidak ada
yang peduli. Timbul keberanian dalam diri ibu ini karena naluri
keibuannya. Dia yakin Yesus peduli dan mau menolongnya. Keyakinan
itu membawa dia mengabaikan fakta sosial ada riwayat konflik saudara
dirinya orang kanaan (bukan Israel asli) dengan komunitas Yesus yang
asli Israel.
• Yesus melihat reaksi para murid atas permintaan ibu ini, mereka tidak
menyukainya, karena fakta riwayat konflik masa lalu. Tanggapan Yesus,
”Aku diutus hanya kepada domba yang hilang dari umat Israel.” Artinya,
Yesus hendak mendudukan fakta riwayat konflik Israel, sekaligus hendak

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 110

melihat apa dorongan yang melandasi keberanian ibu ini minta tolong
kepada-Nya yang bukan dari kelompok Kanaan? Yesus bukan menolak
menolongnya. Tapi apakah ibu mau berdamai dengan riwayat konflik
yang ada? Apakah dia sungguh percaya dengan pengajaran dan kuasa-
Nya?

• Ternyata ibu ini sungguh percaya dan tidak setuju dengan fakta riwayat
konflik yang terjadi, sehingga ia terus “memaksa” mendekat dan
menyembah Yesus, seraya berkata, “Tuhan, tolonglah aku.” Yesus
memastikan kesungguhan hatinya, dengan berkata, “Tidak patut
mengambil roti yang disedikan bagi anak-anak dan melemparkannya
kepada anjing.” Artinya, kiprah perhatian dan pelayanan Yesus adalah
bagi bangsa Israel. Yesus tidak sedang merendahkan martabat ibu ini
apalagi bermaksud melecehkannya. Dan ternyata ibu ini mengakui fakta
sosial itu – memang Yesus datang bukan untuk kelompok bangsanya
(Kanaan). Tetapi dia tegaskan bahwa permintaan ini tidaklah seakan-
akan ia merampok apa yang menjadi hak bangsa Israel. Karena itu ia
katakan, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang
jatuh dari meja tuannya.” Melihat kesungguhan hatinya, Yesus berkata,
“Hai ibu besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau
kehendaki.” Akhirnya, anaknyapun sembuh. Kesembuhan adalah fakta
mukjizat yang dilakukan Yesus, karena kesungguhan iman sang ibu
yang bernaluri keibuan. Dia meyakini bahwa kuasa mukjizat Yesus –
artinya berkat pengasihan Allah – menjangkau kepada segala bangsa,
bukan hanya khusus bagi Israel (murni) saja. Bangsa-bangsa apapun di
muka bumi ini adalah juga umat Tuhan yang berhak mendapatkan kasih
dan berkat-Nya.

C. Relevansi
1) Janganlah membangun sikap beragama yang eksklusif, sebab Tuhan

mengasihi semua orang, semua bangsa. Dia adalah Tuhan bagi semua
orang, bukan hanya Tuhan bagi umat beragama tertentu.
2) Tuhan itu tidak beragama sebagai mana banyaknya agama-agama di
muka bumi yang dianut oleh umat manusia. Agama-agama merupakan
jalan-jalan yang dipahami oleh manusia dalam berbagai persepsi yang
berbeda-beda sebagai mana perbedaan yang ada dalam bentuk
dogma/ ajaran dan tradisi yang dihasilkan, namun semua agama-agama
menuju kepada satu titik sentrum yaitu Allah sebagai yang Mahaagung.
Karena itu, perbedaan yang ada merupakan kenyataan yang bukan
menjadi pertentangan dan alasan untuk pembenaran diri sebagai yang
paling benar karena ianya hanya akan mengarah kepada konflik
(perang Salib dan lain-lain). Perbedaan yang ada sudah seharusnya
menjadi media untuk dialog dengan tujuan memperkaya pemahaman
keberagamaan setiap insan, yang akhirnya menuai pada perdamaian

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 111

dan aksi kemanusiaan bersama, apalagi terkait dengan berbagai macam
persoalan kemanusiaan dan alam.
3) Di manakah Rumah Tuhan itu sebagai tempat doa bagi semua orang?
Di sini di bumi kita yang tercinta ini. Di sinilah manusia dari berbagai
tempat dan latar belakang apapun termasuk agama yang berbeda
sekalipun, sama-sama sebagai umat Tuhan yang berhak dan wajib
dihormati dan dikasihi. Oleh karena itu, sikap beragama yang perlu
dibangun dalam kehidupan di rumah Tuhan ini adalah keintegralan
antara hidup ritual dgn sikap hidup sehari-hari. Tegakkan keadilan,
perdamaian dan kemanusiaan, merupakan representasi dari sikap
menjadikan dunia dan hidup ini sebagai rumah doa Tuhan (Yes. 56:7)

Selamat Belajar Berbagi Berkat Tuhan bagi Siapapun.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 27 Agustus 2023

Nas Bacaan : Keluaran 2 : 1 – 7

Nas Khotbah : Matius 16 : 13 – 20

Penulis : Pdt. Meri Sukawati, S.Th
Sub Tema : Hidup Yang Memuliakan Allah

Pengakuan adalah sebuah pernyataan yang dibuat oleh seseorang atau

kelompok untuk mengakui beberapa fakta pribadi. Tetapi pengakuan jika
tidak di imani dan diyakini ia akan menjadi sebuah pengakuan yang hampa
tanpa berisi. Sama hal nya juga jika pengangkuan yang bersifat pribadi
tetapi hanya berdasarkan pengakuan orang lain atau apa kata orang, juga
sama artinya dengan pengakuan yang kosong tanpa arti. Oleh sebab itu,
sebuah pengakuan akan besar kekuatannya jika itu sungguh-sungguh
berasal dari kebenaran, pemahaman, dan pengenalan yang sungguh dan
teruji.
Dalam pembacaan kita hari ini, Yesus bertanya, apakah yang dikatakan
orang lain tentang Diri-Nya (Tuhan Yesus), ada yang mengatakan dia
adalah Yohanes Pembabtis, Elia, dan Yeremia. Semua jawaban ini kurang
akurat dalam menyimpulkan siapa Yesus. Lalu siapakah Dia..? Dia adalah

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 112

Sang Mesias Anak Allah yang hidup ( ay.16), sebuah pengakuan yang sagat
berani dan akurat melewati Petrus. Pengakuan seperti ini hanya bisa
dikatakan ketika Allah berkenan menyatakannya dalam hati dan pikiran
manusia (ay. 17).
Reaksi Yesus atas jawaban Petrus tersebut adalah ungkapan
“berbahagialah” Yun : Makarios yaitu sebuah kata sifat yang dapat diartikan
: “ yang berbahagia, yang penuh bahagia, yang diberkati, yang penuh
berkat”, artinya Tuhan Yesus menyatakan kepada Petrus bahwa dirinya
adalah seseorang yang penuh dengan bahagia karena ia memiliki
pengenalan yang benar tentang gurunya. Penggunaan “Makarios “ dalam
PB digunakan untuk menunjukkan kebahagiaan yang tidak bersifat
sementara melainkan untuk menunjukkan suatu kebahagiaan yang kekal.
Respon Yesus yang lain terlihat dalam ungkapan yang menyatakan sebuah
janji (aya 18-19) “... di atas batu karang ini...”, ungkapan “Batu karang ini”
bukan menunjuk kepada Petrus, tetapi lebih kepada jawaban Petrus yang
bersifat pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias Anak Allah yang hidup.
Sehingga Jemaat atau Gereja yang dibangun atas keyakinan bahwa Yesus
adalah Mesias Anak Allah yang hidup, tidak dapat dikuasai oleh iblis.
Selanjutnya Yesus megatakan bahwa “ kepadamu akan kuberikan kunci
kerajaan Sorga (ay.19) makna pemberian kunci dalam konteks ini adalah
pemberian otoritas untuk menerapkan disiplin dan aturan gerejawi (Matius
18:15-18), otoritas untuk memberitaakan pengampunan dosa (Yoh.20:23),
dan otoritas untuk membawa manusia ke dalam pemerintahan Allah
dengan cara memberitakan kabar keselamatan yang ada dalam Firman-
Nya (Kis.15:7-9).
Saudara kekasih Tuhan, Firman Tuhan melalui Matius 16 :13-20
menegaskan :

1. Gereja adalah kumpulan orang percaya yang ditebus dari maut
oleh darah Kristus dan dipanggil keluar dari dunia ini untuk menjadi
umat Allah yang hidup, karenanya Gereja harus berdiri diatas dasar
pengakuan iman yang benar, dalam pengenalan yang benar
tentang siapa Tuhan Yesus. Tuhan Yesus adalah kepala Gereja yang
membeli Gereja dengan darah-Nya yang mulia. Gereja adalah
kumpulan orang percaya yang telah menang atas maut, karena
Yesus Sang Juruselamat telah menaklukkan maut. Inilah kekuatan
iman sejati yang Tuhan berikan kepada Gereja-Nya.

Menegaskan kepada kita bahwa Gereja didirikan oleh Yesus yang adalah
Mesias Anak Allah yang hidup, itu berarti bahwa Gereja adalah milik-Nya.
Sehingga kehadiran Gereja / Jemaat dalam persekutuan percaya harus
mengabdi untuk kepentingan rencana dan kehendak-Nya bagi dunia,
yaitu menghadirkan keadilan, kebenaran dan damai sejahtera, serta

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 113

mencerminkan bagaimana memberi hidup yang memuliakan nama
Tuhan, seperti dalam tema kita sepanjang bulan ini.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 3 September 2023
(Perayaan Hari Pendidikan Teologi)

Nas Bacaan : Keluaran 3 : 1 – 14
Nas Khotbah : Yohanes 15 : 1 – 8

Penulis : Pdt. John Asihua, M.Th

Sub Tema : Hidup Dalam Persekutuan Dengan Tuhan

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus!

Ungkapan-ungkapan dengan menggunakan simbol penuh makna adalah
umum dipergunakan oleh manusia, meskipun simbol-simbol yang sama
bisa berbeda makna dalam budaya atau daerah yang berbeda. Misalnya,
warna hitam melambangkan duka atau kejahatan dan putih
melambangkan kesucian atau kemurnian. Alkitab juga menggunakan
banyak bahasa simbol atau alegori, termasuk dalam pengajar Yesus kepada
orang banyak dan murid-murid-Nya. Salah satunya adalah tentang pohon
anggur, sebagaimana nas hari ini.

Alegori ini mengedepankan empat tokoh:
1. (Allah) Bapa sebagai pengusaha atau penggarapnya (ayat 1)
2. Yesus sebagai pokok anggur yang benar (ayat 1, 5)
3. Murid-murid (manusia) sebagai ranting-rantingnya (ayat 5)

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 114

4. Orang-orang yang tidak mengindahkan Yesus sebagai ranting-ranting
tidak berbuah (ayat 2, 6)

Alur alegori yang dikatakan oleh Yesus ini cukup sederhana, mudah untuk
dimengerti. Ada yang mengusahakan kebun buah-buahan: menanam bibit
pohon unggul, memelihara dan merawatnya agar setiap rantingnya
berbuah (banyak). Hanya saja, perawatan pohon anggur agak berbeda
dengan pohon buah lainnya, apalagi di wilayah yang sulit air di
pegunungan atau gurun Timur Tengah. Dalam setiap pokok anggur pasti
ada saja ranting-ranting yang tidak berbuah, sebagaimana kebanyakan
pohon buah. Ranting-ranting anggur yang tidak berbuah seperti ini pasti
akan dipangkas karena akan mengganggu ranting-ranting yang berbuah
dalam hal mengonsumsi air tanah.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus!

Demikianlah alegori ini memperlihatkan peran Allah Bapa sebagai Sang
Mahakuasa yang menumbuhkan, memelihara dan membersihkan umat-
Nya sehingga bisa menghasilkan perbuatan (buah) yang sesuai dengan
kehendak-Nya dan memuliakan-Nya. Untuk produktivitas terbaik, Allah
Bapa memberikan Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus, menjadi pokok anggur
yang benar (unggul). Dialah Firman yang menjadi Manusia (Yoh. 1:1, 14),
bahkan menjadi Anak Domba Penghapus dosa manusia sehingga umat
yang percaya kepada-Nya dibersihkan-Nya dari dosa. Oleh karena itu,
hanya umat yang sungguh-sungguh tinggal di dalam Dia, seperti ranting-
ranting menyatu sempurna pada pokok pohon, yang akan berbuah atau
produktif dengan kebenaran dalam perbuatannya. Sebaliknya, orang yang
tidak tinggal di dalam Tuhan maka hidupnya akan menjadi “kering”, sama
seperti ranting yang telah dipotong dari pokok pohon.

Sebagaimana pohon menghasilkan buah, manusia menghasilkan karya,
demikianlah nas ini merupakan ajakan bagi umat Tuhan agar selalu tinggal
di dalam Dia sehingga membuahkan perbuatan atau karya seturut firman-
Nya. Ajakan ini juga sangat relevan bagi kita pada masakini di mana Yesus
sudah mulai tergeser dari keutamaan hidup manusia. Kini orang banyak
yang mengutamakan teknologi, pekerjaaan, uang, kesenangan diri,
eksistensi diri, kekayaan dan lain-lain. Waktu berdoa dan baca Alkitab
terpakai oleh karena bermedsos atau tiktok. Waktu ibadah Minggu dan
ibadah lainnya terhilang oleh pekerjaan, jalan-jalan (healing-healing) atau
liburan di rumah saja (staycation). Firman Tuhan digantikan oleh pendapat
si Anu atau pendapat ahli atau pendapat motivator. Beragama dan
beribadah hanya sebuah simbol agar tidak dicap sebagai orang yang tidak

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 115

beragama. Pendapat diri sendiri yang paling benar, perkataan Yesus
dianggap mustahil, kecuali sudah pada jalan buntu dan kesengsaraan
menimpanya.

Sebagian orang yang “berjudi” berasumsi bahwa dirinya dapat membaca
pikiran Tuhan dan sebagian lagi “berjudi” dengan waktu kematian dirinya,
beranggapan bahwa nanti kalau saya sudah selesai dengan tujuan saya
baru saya bertobat dan sungguh-sungguh mengikut Tuhan. Inilah cita-cita
ganda dari asumsi manusia: menyimpang dahulu dari jalan Tuhan dan
nanti balik lagi ke jalan Tuhan. Asumsi yang sering diterapkan kepada
orang lain kini diterapkan orang juga kepada Tuhan. Manusia yang tidak
tinggal di dalam Yesus memang akan mengabaikan-Nya dan mengabaikan
kebenaran-Nya, membiarkan dirinya disesatkan oleh pikirannya dan oleh
orang lain. Kebenaran Firman Tuhan adalah kebenaran yang
mengandung kekekalan, tidak perlu diasumsikan dan bukan pula sebuah
permainan kata-kata. Marilah kita kembali kepada Yesus, pokok kebenaran,
yang dari pada-Nya kita dapat menghasilkan pemikiran, perasaan dan
perbuatan yang benar dan memuliakan Tuhan Allah. Inggatlah, Allah tidak
pantas untuk kita permainkan dan kita pun tidak pantas bermain game
kematian. Tentang hal ini, Paulus mengatakan: “Jangan sesat! Allah tidak
membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu
juga yang akan dituainya” (Galatia 6:7).

Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus!

Hari ini kita juga merayakan Hari Pendidikan Teologi GKE. Pendidikan
teologi menolong kita semua untuk menemukan kebenaran
sesungguhnya dari setiap firman Allah yang dikaruniakan Roh Kudus pada
Alkitab kita. Keilmuan ini sangat membantu agar Firman Tuhan, sekali lagi,
tidak dimaknai berdasarkan asumsi para pembaca maupun mereka yang
memberitakannya. Ia bertugas mendapatkan pesan aslinya dengan
membuka bungkus budaya, Bahasa dan konteknya, lalu mencari
kesejajaran relevansinya dalam hidup umat yang menerima pemberitaan
itu dalam konteks hidup, budaya, bahasa dan nilai kekinian. Ia tidak boleh
dipolitisi untuk mendukung kepentingan pemimpin atau membenarkan
pandangan para pembacanya. Ia harus berbicara kebenaran itu sendiri dan
kebenaran itu yang harus memimpin hidup umat Tuhan. Inilah pentingnya
Pendidikan Teologi GKE, agar kebenaran Allah terus diwartakan dengan
benar di antara manusia. Mari kita memberikan dukungan terhadap
Lembaga Pendidikan Teologi GKE, baik STT GKE di Banjarmasin maupun
STAK Abdi Wacana di Pontianak. Marilah kita nyatakan juga buah hidup
kita dari Kristus dalam doa dan dukungan materi bagi kedua Lembaga ini.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 116

Selamat merayakan Hari Pendidikan Teologi GKE!
***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 10 September 2023
(HUT UNKRIP/DIES NATALIS)

Nas Bacaan : Daniel 1 : 17 – 21

Nas Khotbah : Filipi 4 : 2 – 9

Penulis : Pdt. Dr. Yuprinadie, M.Th

Sub Tema : Hidup Dalam Persekutuan Dengan Tuhan

Pengantar
Hari ini Gereja Kalimantan Evangelis merayakan Dies Natalis/Hari

Jadi UNKRIP yang ke-36, sejak diresmikan oleh Gubernur Tingkat I
Kalimantan Tengah Bapak Gatot Amrih, S.H. pada tanggal 4 September
1987. Selama 36 tahun UNKRIP telah berkarya di Kalimantan Tengah
mendidik mahasiswa-mahasiswi yang berkuliah di sana. Harus diakui,
ditengah menjamurnya perguruan tinggi di Kalimantan Tengah,
khususnya di kota Palangka Raya, UNKRIP mendapat tantangan tersendiri
dalam berkompetisi untuk menarik minat orangtua agar menyekolahkan

anak-anaknya di universitas kebanggaan GKE ini. Kualitas dan karakter
kristiani menjadi kata kunci penting untuk memberikan kekhasan
universitas ini sehingga menjadi pembeda dan daya tarik kepada anak-
anak muda untuk kuliah di UNKRIP. Belajar dari kitab Daniel hari ini, kita
melihat kedua kata kunci itu melekat erat dalam diri Daniel dan kawan-

kawannya dalam suatu tugas yang berat yang diembankan kepada mereka
untuk berkarya di tengah-tengah masyarakat, yang dalam konteks mereka
di istana Babel, dimana raja Nebukadnezar bertahta.

Interpretasi/Aplikasi
1. Orang-orang muda kaum buangan yang mampu menjaga diri.

Kehadiran Daniel, Hananya, Misael dan Azarya di istana Babel tidak
lepas dari peristiwa pembuangan yang terjadi setelah kekalahan Yehuda
dari Babel dengan dikuasainya Yerusalem oleh Nebukadnezar pada
zaman Yoyakim raja Yehuda tahun 587 SM. Pada waktu itu, raja
Nebukadnezar memerintahkan Aspenas, kepala istananya untuk
membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan
dari kaum bangsawan, yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 117

cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat,
berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang
ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja,
supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim (Dan. 1:3-4).
Maka diantara orang-orang muda itulah, Daniel dan kawan-kawannya
dipilih. Tentu saja sebagai orang buangan mereka tidaklah mempunyai
kuasa apapun terhadap dirinya sendiri. Namun kita melihat dalam
proses keterpilihan Daniel dan kawan-kawannya, Tuhan menolong
mereka dan memudahkan jalan mereka. Sebagai contoh, dalam urusan
makanan yang diperuntukkan bagi mereka, mereka tidak ingin
menajiskan diri di hadapan Allah. Mereka hanya ingin makan sayur dan
minum air saja agar mereka tidak najis di hadapan Allah. Dan Allah
mengaruniakan kasih dan sayang pemimpin pegawai istana kepada
Daniel dan kawan-kawannya (ay. 9), sehingga ketika mereka makan dan
minum sesuatu yang tidak najis, mereka diberkati Allah, bahkan tampak
perawakan mereka lebih baik dan lebih gemuk daripada semua orang
muda yang telah makan dari santapan raja (ay. 15). Hal ini hendak
menyatakan bahwa kendati mereka sebagai orang buangan mereka,
sekaligus sebagai orang muda, mereka tetap menjaga dan menyucikan
diri dari segala hal yang najis dan tidak berkenan kepada Allah. Sikap ini
mengajarkan kepada setiap orang muda untuk tetap menjaga diri,
hidup suci di hadapan Allah, dan melakukan apa yang diperintahkan
Allah di dalam kehidupannya sehari-hari. Hari-hari ini kita tahu bahwa
kehidupan orang muda sangat rentan untuk melakukan hal-hal yang
tidak berkenan di hadapan Tuhan. Budaya luar yang buruk, sikap
mementingkan diri sendiri, pergaulan bebas, narkoba, dan hanya
menjadi beban keluarga adalah kerentanan yang kerap kali kita temui
dalam kehidupan orang muda. Belajar dari Daniel dan kawan-
kawannya, kita dapat melihat kehidupan orang muda yang sungguh-
sungguh percaya kepada Allah, taat kepada perintah-Nya dan menjauhi
segala larangan-Nya. Daniel dan kawan-kawannya dapat menjadi
contoh bagi orang muda untuk senantiasa hidup dalam persekutuan
dengan Tuhan. Kehidupan mereka yang penuh dengan tantangan di
tanah pembuangan tidak menyurutkan kehidupan persekutuan mereka
dengan Tuhan, bahkan di tanam pembuangan itu iman percaya mereka
kepada Tuhan semakin diasah dan diuji, sehingga kuat dan murni,
teguh beriman dan percaya kepada Tuhan.

2. Hanya karena anugerah Tuhan mereka memperoleh pengetahuan dan
kepandaian.
Segala yang baik yang didapatkan Daniel dan kawan-kawannya adalah
karunia Tuhan. Dalam ayat 17 dikatakan “Kepada keempat orang muda

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 118

itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-
bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian
tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi.” Mereka memperoleh
pengetahuan dan kepandaian dan berbagai hikmat hanya karena
karunia Tuhan. Tidak ada kehebatan diri mereka sendiri. Tuhan
menolong mereka. Di masa sulit di tanah pembuangan, Tuhan
menguatkan mereka dan mengaruniakan segala yang baik kepada
mereka. Hal itu merupakan sebuah wujud nyata kasih karunia Tuhan
karena mereka sungguh-sungguh percaya dan takut akan Tuhan. Hal
ini sejajar dengan motto UNKRIP yang mengatakan “Takut akan Tuhan
adalah permulaan pengetahuan” (Ams. 1:7a). Sebagai salah satu
perguruan tinggi kebanggaan GKE, UNKRIP telah meletakkan dasar
pengetahuan yang ada di dalamnya hanya karena takut akan Tuhan. Ini
menjadi kekhasan UNKRIP dalam membangun karakter kristiani bagi
anak-anak muda yang kuliah di UNKRIP. Kekhasan ini menjadi pondasi
penting agar setiap aktivitas pengetahuan yang ada di UNKRIP
berdasarkan pada takut akan Tuhan. Maka, pengejawantahan takut
akan Tuhan ini dinampakkan dalam kegiatan-kegiatan kerohanian yang
dipupuk di universitas ini. Seluruh sivitas akademika UNKRIP betul-betul
menyadari bahwa kehadiran mereka di UNKRIP hanya karena anugerah
Tuhan semata. Disitulah mereka dididik dan dilatih untuk menjadi orang
yang takut akan Tuhan, rendah hati, kuat dalam persekutuan. Karena
hidup dalam persekutuan dengan Tuhan tersimpul dalam suatu
persekutuan umat Tuhan yang ada di lembaga ini. Sikap ini menjadi
kekhasan dan daya tarik UNKRIP yang berbeda dari universitas lainnya.
Tinggal sekarang bagaimana UNKRIP terus meningkatkan kualitasnya,
terus mempromosikan dirinya dan tentu saja dukungan yang kuat dari
segenap warga gereja. Anak-anak warga gereja didorong untuk masuk
ke UNKRIP, mengisi berbagai program studi yang ada di tiap-tiap
fakultas. GKE sebagai pemilik terus memotivasi semua warga jemaat
untuk menopang UNKRIP sehingga terus berkembang, berkualitas dan
berkarakter kristiani. Hal yang sama dikembangkan dalam kehidupan
jemaat sehari-hari. Sikap takut akan Tuhan dan kesadaran penuh bahwa
segala sesuatu yang ada pada kita adalah hanya karena anugerah
Tuhan semata akan menghasilkan kehidupan yang berserah kepada
kuasa Tuhan, hidup dengan kerendahan hati, dan senantiasa kuat
dalam persekutuan dengan Tuhan.

Selamat merayakan Dies Natalis UNKRIP ke-36.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 119

Minggu, 17 September 2023

Nas Bacaan : Keluaran 14 : 19 – 31
Nas Khotbah : Matius 18 : 21 – 35

Penulis : Pdt. Herry, M.Th

Sub Tema : Hidup Dalam Persekutuan Dengan Tuhan

Shalom … Saudara (i) yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Ada satu pertanyaan tentang pengampunan atau mengampuni. Tuhan
Yesus mengajarkan kita untuk mengampuni tanpa batas 70×7x.
Pertanyaannya ialah apakah sikap kita terhadap orang yang menyakiti kita?

Biasanya kita sulit melakukan pengampunan dan mengampuni
ketika kita merasa sakit hati dan marah karena perbuatan orang lain
terhadap kita. Kesediaan untuk mengampuni orang lain akan menjadi lebih
sulit jika tidak ada permintaan maaf atau bahkan pengakuan bersalah dari
pihak yang telah menyakiti kita. Ketika kita memilih untuk mengampuni,
kita menuai manfaat yang tidak terbatas dari pengampunan.

Maka ketika Petrus bertanya, “Tuhan sampai berapa kali aku harus
mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh
kali?” (Mat. 18:21), Yesus memberi jawaban lain. "Bukan! Aku berkata
kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali
tujuh kali”. (Mat. 18:22). Yesus mau menyampaikan manfaat dan berkat
yang tidak terbatas bagi orang yang bersedia mengampuni sesamanya.
Saudara (i) yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Apakah pengampunan itu? Pengampunan seperti apa yang dimaksudkan
oleh Yesus kepada para pengikut-Nya? Pengampunan adalah tindakan
atau pilihan untuk melepaskan pelaku dari hukuman kita dan

memercayakan semuanya kepada Tuhan. Kamus mendefinisikan
pengampunan sebagai "pembatalan hutang". Kita semua percaya, bahwa
kita semua diampuni atas pelanggaran kita melalui Kristus rela mati di kayu
salib. Pekerjaan Yesus di kayu saliblah yang membatalkan hutang kita.
Pengampunan dari Yesus adalah tanpa syarat. Kita harus bisa memaafkan
kesalahan orang lain terlepas dari apakah sang pelaku meminta maaf atau
mau bertanggung jawab. Dengan kata lain, kemampuan kita untuk
memaafkan tidak bergantung pada tindakan orang lain.

Alkitab mengatakan: “Bersikaplah baik satu sama lain, lembut hati,
saling mengampuni sebagaimana Allah di dalam Kristus telah

mengampuni kamu” (Ef. 4:32). ”Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain,
dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh
dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu,

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 120

kamu perbuat jugalah demikian” (Kol. 3:13). Jawaban Yesus kepada Petrus,
maupun pesan Kitab Suci, menawarkan sebuah pilihan hidup. Memilih
untuk mengampuni berarti kita memilih untuk menikmati manfaat
pengampunan.

Pengampunan membawa “berkat”. Yesus menjawab,
“berbahagialah, mereka yang mendengar firman Tuhan dan
menaatinya”(Luk.11:28). Tidak memaafkan adalah beban yang berat juga.
Hal tersebut tetap bersama kita dan melelahkan kita, memengaruhi banyak
aspek kehidupan kita. Ketidak mengertian mengikis kesehatan kita dan
menumbuhkan kepahitan dan kebencian. Beban tidak bisa mengampuni
akan terus bertambah - menyakiti diri kita sendiri lebih dari orang lain.
Saudara (i) yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Maka pengampunan itu membebaskan kita dari “beban” yang
menggerogoti diri dan hidup kita. Pengampunan meningkatkan kualitas
kesehatan fisik, seperti menjaga detak jantung,hipertensi, dan lain
sebagainya. Pengampunan menciptakan rasa damai, tidak berprasangka
buruk, sedia memberi senyum dan memberikan tempat di hati kita untuk
orang lain. Pengampunan juga menunjukkan Kasih yang nyata dalam
tanda pribadi kehidupan dalam Tuhan Yesus Kristus, yaitu :
Pertama, Tanda pribadi yang telah mengalami pengampunan. Pribadi
yang telah diampuni pasti membuang sampah-segala sesuatu yang
merusak hati segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan
fitnah “hendaklah dibuang” dari antara kamu, demikian pula segala
kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain,
penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam
Kristus telah mengampuni kamu (Ef 4:31-32). Kemudian menguasai diri
dalam segala hal. Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat
dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan
janganlah beri kesempatan kepada Iblis (Ef 4:26-27). Dengan kata lain
pribadi yang menguasai diri; Tidak mengizinkan rasa sakit hati, terluka,
kepahitan, putus asa masuk dalam kehidupannya. Pribadi yang terjebak
dengan situasi di atas akan nampak dalam kehidupannya yang sinis, tidak
nyaman, menghindar dari perkumpulan/komunitas dan gampang
menghakimi dosa orang lain (Yoh 8:1-11).
Kedua, Tanda Pribadi yang telah mengampuni. Pengampunan tidak
segampang membalikan telapak tangan. Pengampunan dapat
dipraktekkan apabila telah mengalami pengampunan dari Tuhan. Praktek
Pengampunan sangat jelas dalam ilustrasi yang Tuhan Yesus ajarkan dalam
Matius 18:21-35, saat Petrus bertanya berapa kali dia harus mengampuni
saudaranya jika ia berbuat dosa kepadanya. Hamba yang jahat yang sudah
berhutang kepada raja 10.000 talenta ( 1 talenta = 6000 dinar, jadi
totalnya 60 juta dinar), namun tidak mau mengampuni temannya yang

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 121

cuma berhutang 100 dinar, pada akhirnya dijatuhi hukuman hingga ia
melunasi hutangnya. Pada akhir kisah yang diceritakan-Nya, Yesus
merangkumnya dengan berkata, “Maka Bapa-Ku yang di sorga akan
berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak
mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Matius 18:35). Jadi,
lakukanlah pengampunan dan mengampuni dengan sukacita.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 24 September 2023
(Bulan Doa Alkitab)

Nas Bacaan : Keluaran 18 : 1 – 12

Nas Khotbah : Matius 20 : 1 – 16

Penulis : Pdt. Tuah Kutuuni, M.Th

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 122

Sub Tema : Hidup Dalam Persekutuan Dengan Tuhan

Pada tahun 1872, seorang buruh penebang kayu Bernama
McGuire memimpin 100.000 pekerja melakukan aksi mogok untuk
menuntut pengurangan jam kerja serta menuntut ketersediaan pekerjaan
dan uang lembur untuk masyarakat dan para buruh di New York Amerika
Serikat, peristiwa ini menjadikan peringatan MAYDAY atau hari buruh di
dunia yang dilangsungkan setiap tanggal 1 Mei. Menarik memang
mengingat isu keadilan dan kesamaan hak pekerja juga menjadi
perumpamaan dalam alkitab khususnya pada Matius 20: 1-16 Cerita yang
dikenal dengan judul "Orang-orang Upahan di Kebun Anggur" ini
merupakan salah satu perumpamaan tentang Kerajaan Surga yang ditulis
oleh Matius. Walaupun sebenarnya adalah perumpamaan ini tidak secara
langsung berhubungan dengan isu pekerja/buruh dan juga bukan soal
gajih yang adil, tetapi pada perkataan dan perbuatan tuan yang secara
teologis menunjuk pada Allah yang dengan bebas memberikan karunia
yang baik kepada manusia. Jadi isu sebenarnya adalah keadilan Tuhan dan
kehendak bebas Allah yang tak terselami oleh manusia.

Ketika Yesus mengajarkan mengenai perumpamaan ini, Yesus
menghadapi pendengar yang telah terbiasa mendengar isu tentang upah
menurut kepercayaan iman Yahudi. Konteks ajaran taurat Yahudi pada
masa itu dimana manusia harus mengumpulkan perbuatan baik sebanyak-
banyaknya dan perbuatan-perbuatan baik tersebut menjadi upah di
hadapan Allah. Karena itu manusia dapat datang kepada Allah dan
menuntut upah atas perbuatannya. Kebiasaan tersebut jug dapat terlihat
dalam Matius 19:27 Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami
ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah
yang akan kami peroleh?" selalu ada proses timbal balik dengan menuntut
keuntungan dari apa yang telah kita perbuat. Yesus menjawab pertanyaan
Petrus tersebut dalam Matius 19:29-30 Dan setiap orang yang karena
nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya
perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima
kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. Tetapi
banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang
terakhir akan menjadi yang terdahulu." Yesus mengilustrasikan arti kalimat
yang terakhir "Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang
terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu" dengan memakai
perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur. Jadi, Yesus
menyimpulkan perumpamaan ini dengan kalimat yang sama, tetapi
dengan urutan terbalik, "Yang terakhir akan menjadi yang terdahulu, dan
yang terdahulu akan menjadi yang terakhir." Dengan memakai perkataan

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 123

ini Yesus tidak bermaksud menunjukkan kepada Petrus dan murid-murid
lain bahwa posisi pertama dan terakhir di dalam kerajaan akan dibalik.
Perumpamaan ini menunjukkan bahwa kesederajatan merupakan
peraturan didalam Kerajaan Surga. Pekerjaan yang dilakukan oleh murid-
murid, dan juga semua pengikut Yesus yang lain, dihargai sederajat,
meskipun pekerjaan itu sendiri mungkin berbeda-beda. Pemberian Allah
merupakan kasih karunia.

Para pendengar mula-mula dari perumpamaan ini tentu saja adalah
para murid Yesus. Tidak dapat dipastikan apakah ada orang lain juga yang
hadir pada saat itu. Sarna seperti anak-anak pada zaman mereka, murid-
murid ditekankan dengan doktrin tentang upah. Mereka perlu membuang
pengajaran ini supaya menghargai kebaikan Allah sepenuhnya, dan
mereka melihat bahwa tempat mereka di dalam Kerajaan Surga didasarkan
pada kasih karunia. Kemudian, siapa sebenarnya pekerja-pekerja yang
menggerutu? Meskipun perumpamaan ini seharusnya tidak ditafsirkan
secara alegoris, pertanyaan yang berhubungan dengan arti dari para
pekerja yang mengeluh adalah benar. Perumpamaan ini merefleksikan
sikap beberapa orang Farisi yang menempatkan diri berada di posisi tingkat
pertama di dalam Kerajaan Allah karena seman gat mereka di dalam
mematuhi hukum Allah. Orang-orang Farisi mengharapkan Allah memberi
upah atas pekerjaan mereka dan menahan berkat untuk orang-orang
berdosa yang tidak pantas untuk mendapatkannya. Dengan
menggunakan perumpamaan-perumpamaan ini, Yesus menunjukkan
kepada mereka (dengan mengasumsikan bahwa orang-orang itu sebagai
pendengar) bahwa Allah adalah Allah yang adil, Yesus juga menawarkan
"belas kasihan yang bukan berdasarkan banyaknya perbuatan" tetapi juga
kepada mereka yang tidak pantas menerimanya, meskipun demikian
mereka juga merupakan orang-orang yang berhak menerima kasih
karunia-Nya. Perumpamaan ini mengajarkan bahwa ketika seseorang
datang kepada Allah, ia tidak menerima kasih karunia ilahi berdasarkan
hitung hitungan dari sedikit banyak apa yang telah dilakukan. Pada nats ini
ingin mengingatkan kita tidak ada perbuatan manusia yang bisa sampai
pada standrt Allah yang maha suci tersebut, karena keselamatan bukan
karena perbuatan dan amal baik manusia melainkan pada kasih cinta dari
karunia melewati kematian Kristus di kayu salib, maka manusia bisa
diselamatkan dan juga dilayakan dihadapan Allah. Tetapi Allah dengan
bebas memberikan jaminan pemberian pengampunan, perdamaian,
damai, sukacita, kebahagiaan, dan kepastian kepada mereka. Semua
kebutuhannya dipenuhi "menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam
Kristus Yesus" (Filipi 4:19).

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 124

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 1 Oktober 2023
(Hari Perjamuan Kudus Sedunia dan PI Indonesia)

Nas Bacaan : Keluaran 12 : 16 – 28

Nas Khotbah : 1 Korintus 10 : 16 – 23
Penulis : Pdt. Miney Martalela, M.Th

Sub Tema : Hidup Menurut Roh

Bapak/ibu/saudara(i)…

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 125

Setiap hari kita selalu diperhadapkan pada pilihan-pilihan. Diantara
pilihan-pilihan yang kita ambil tentu ada konsekuensi yang akan kita terima.
Contohnya ketika kita mengambil keputusan untuk memilih pergi ke Gereja
atau tidak hari ini. Ketika kita memilih pergi ke Gereja, tentu kita harus
mengesampingkan beberapa hal lain yang mungkin menurut kita juga
penting. Itulah konsekuensinya.

Ketika Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Korintus, Rasul
Paulus ingin mengingatkan jemaat Korintus akan pilihan yang telah mereka
buat untuk menjadi seorang Kristen yang percaya kepada Yesus Kristus
sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Dalam suratnya Rasul Paulus memakai
kehidupan bangsa Israel sebagai contoh bagi jemaat Korintus agar jemaat
Korintus tidak mengulangi dosa dan kesalahan-kesalahan yang pernah
dilakukan bangsa Israel, yang meskipun sudah melihat merasakan
mengalami kebaikan-kebaikan Allah dalam hidupnya tapi tetap tidak setia
kepada Allah. Hal ini dapat kita baca dalam ayat yang pertama sampai ayat
sepuluh.

Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus bahwa mereka semua
telah dipersatukan sebagai tubuh Kristus melalui kematian Kristus. Dan oleh
tubuh dan darah Kristus mereka dipersekutukan dengan Allah sehingga
menjadi umat Allah yang hidup dan berkenan kepada Allah.

Sebagai umat Allah mereka harus hidup taat dan setia kepada Allah.
Oleh sebab itu, mereka wajib meninggalkan cara hidup mereka yang lama,
cara hidup yang bertentangan dengan kehendak Allah. Sebagai contoh
Rasul Paulus mengambil kebiasaan jemaat yang mereka lakukan sebelum
menjadi Kristen/pengikut Kristus dan masih mereka lakukan setelah mereka
menjadi Kristen/pengikut Kristus, yakni dalam hal penyembahan berhala.
Seharusnya setelah jemaat Korintus menjadi pengikut Kristus, hal ini tidak
boleh lagi mereka lakukan. Mereka harus konsekuen dengan pilihan
mereka. Seperti yang Rasul Paulus katakana dalam ayat 21. “Kamu tidak
dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu
tidak dapat mendapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam
perjamuan roh-roh jahat.” Jika mereka memilih percaya kepada Allah di
dalam Yesus Kristus maka mereka harus menjauhkan diri mereka dari
penyembahan berhala. Karena penyembahan berhala adalah kejijikan
dimata Allah dan dapat membangkitkan cemburu Tuhan (ayat 22). “Atau
maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari
pada Dia?”

Ketika Rasul Paulus menghendaki jemaat Korintus belajar dari dosa
dan kesalahan yang dilakukan bangsa Israel, maka kita pada masa sekarang
melalui nast ini diajak juga untuk belajar dari bangsa Israel dan kehidupan
jemaat yang ada di Korintus agar tidak mengulangi dosa dan kesalahan
yang sama. Kita harus berani memilih siapa tuan yang kita percaya dan kita

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 126

ikuti: Tuhan ataukah Iblis? Yakobus 3 : 11-12 berkata “Adakah sumber
memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? Saudara-
saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan
adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata
air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.” Jadi tidak mungkin bagi kita
untuk mengabdi dengan keduanya, kita harus memilih hidup menurut

keinginan daging kita atau hidup menurut keinginan Roh. Tidak mudah

memang meninggalkan sesuatu yang sudah biasa kita lakukan

sebelumnya, butuh perjuangan dan kemauan yang kuat tapi jika kita tekun

meminta pertolongan dari Roh Kudus dan taat melakukan apa yang
diperintahkan-Nya maka Roh Kudus akan menolong dan memampukan

kita sehingga kita tidak hidup dalam kedagingan kita tetapi hidup menurut

Roh; seperti tema kita dalam bulan ini.

Bapak/ibu/saudara(i)…
Hari ini kita merayakan hari Perjamuan Kudus Sedunia dan Pekabaran

Injil Indonesia. Kedua momen ini sangat bersejarah dan berpengaruh

dalam perjalanan hidup keberimanan kita. Jika kedua momen penting ini

kita hubungkan dengan nast kita pada hari ini. Apa yang dapat kita pelajari:

Pertama: Perjamuan Kudus adalah momentum untuk kita
menghayati pengorbanan Kristus yang telah mati untuk kita.

Sehingga kita yang mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus

berarti mengambil bagian dalam kematian Tuhan, yakni kematian

terhadap dosa dimana kita berkomitmen untuk tidak hidup lagi di

dalam dosa dan kejahatan melainkan hidup sesuai dan seturut
dengan kehendak Tuhan. Mengambil bagian dalam Perjamuan

Kudus juga berarti memberi diri menjadi roti yang terpecah dan

anggur yang tercurah di mana hidup kita menjadi berkat bagi

sesama sehingga dunia dapat melihat Kristus ada di dalam kita
dan kita di dalam Dia. Ketika kita memilih menjadi pengikut Kristus

maka tanggungjawab ini otomatis menjadi kewajiban yang harus

kita penuhi.

Kedua: melalui perayaan Pekabaran Injil Indonesia kita diingatkan

bagaimana sejarah Injil diberitakan, sehingga orang-orang yang
sebelumnya tidak mendengar Injil, mendengar Injil dan

diselamatkan. Karya Allah yang luar biasa ini bisa terlaksana tentu

tidak lepas dari diri orang-orang percaya yang mau membuka hati

untuk mau diutus menjadi pemberita-pemberita Injil ke seluruh
dunia. Kiranya ini juga memotivasi kita orang-orang percaya agar

Injil yang kita dengar tidak berhenti untuk kita saja tapi dapat kita

beritakan bagi orang-orang di sekitar kita baik melalui perkataan

maupun melalui perbuatan kita yang dapat dilihat dan dirasakan

semua orang yang bersentuhan dengan kita.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 127

Kiranya melalui Firman Tuhan, perayaan Perjamuan Kudus dan PI
Indonesia yang kita rayakan hari ini, kita diingatkan kembali untuk
memperbaharui komitmen kita sebagai orang percaya, dan kita dapat
selalu mengambil pilihan-pilihan yang benar dalam hidup ini sesuai dengan
kehendak Tuhan.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 8 Oktober 2023

Nas Bacaan : Keluaran 20 : 18 – 21

Nas Khotbah : Matius 21 : 33 – 46

Penulis : Pdt. Yulipinae Penyang, S.Th
Sub Tema : Hidup Menurut Roh

I. PENDAHULUAN
Pada umumnya dalam dunia kerja, seorang pekerja pasti

bertanggung jawab kepada bos atau pimpinannya yang memberikan
pekerjaan kepadanya. Dalam nas ini kita akan melihat sesuatu yang

sebaliknya terjadi bagaimana para pekerja melakukan perbuatan yang
tidak berkenan kepada tuannya.
II. PENJELASAN NAS

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 128

Dalam teks nas diceritakan seorang tuan tanah membuka kebun
anggur yang didalam kebun itu dilengkapi dengan menara jaga, kolam
pemerasan anggur sebagai tempat pemerasan anggur tersebut. Dalam
mengerjakan kebun anggur ini si tuan tanah memerlukan penggarap-
penggarap dengan harapan melalui tangan para penggarap ini tahun-
tahun ke depan ia akan mendapat hasil yang maksimal. Dalam narasi
jelas dikatakan bahwa kebun anggur ini disewakan kepada penggarap-
penggarap sementara si pemilik ini berangkat ke negeri yang lain.
Artinya juga penggarap-penggarap ini adalah penyewa dari kebun
anggur tersebut.

Ketika waktu panen tiba, pemilik kebun anggur mengirim hamba-
hambanya untuk mengambil bagian-Nya namun nas hamba-hamba itu
dipukul, dilempari batu dan di bunuh oleh para penggarap ini, begitu
terus terjadi ketika pemilik kebun anggur ini mengutus hamba-hamba-
Nya untuk kedua kalinya. Sampai akhirnya pemilik kebun anggur ini
memutuskan untuk mengirim anak-Nya sendiri dengan harapan supaya
para penggarap ini segan dan hormat kepada ahli waris namun yang
terjadi adalah sang Anak juga di bunuh sebab Dia adalah ahli waris,
harapan mereka kebun itu jatuhnya ke mereka. Karena kejahatan yang
mereka lakukan ini pada akhirnya kebun anggur itu tidak lagi
dipercayakan kepada mereka tetapi kepada pihak lain atau bangsa lain
yang bertanggungjawab dalam pengelolaannya kepada pemilik kebun
anggur.

Sebagaimana maksud perumpaan diatas menyampaikan bahwa
pemilik kebun anggur adalah Allah, kebun anggur itu adalah umat
Israel, hamba-hamba adalah para nabi, anak pemilik kebun anggur
adalah Yesus Kristus dan penggarap-penggarap adalah pemimpin-
pemimpin yahudi yang membunuh hamba-hamba Allah mulai dari para
nabi sampai kepada Anak Allah itu sendiri. Ketika umat Israel sebagai
bangsa pilihan itu telah menolak utusan Allah yang telah di utus di
tengah mereka bahkan menolak dan membunuh Yesus Kristus yang
telah mewartakan kerajaan Allah di tengah mereka, maka sebagai
konsekuensinya keselamatan itu akan diberikan kepada bangsa-bangsa
lain yang mau menerima dan percaya kepada Kristus.

Sejarah Israel menunjukkan bagaimana para nabi yang di utus
Allah telah ditolak, dianiaya dan di bunuh oleh penguasa dan umat
Israel. Dalam hai ini Yesus pun hendak menyampaikan bahwa Dia
sendiri sebagai Anak Allah yang di utus Bapa ke tengah-tengah dunia
ini juga akan di tolak, dianiaya dan di bunuh.

Para imam kepala dan orang farisi sadar bahwa merekalah yang
dimaksudkan Yesus dalam perumpaan itu sebagai penggarap kebun
anggur yang telah berkhianat, karena itu mereka begitu sangat marah

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 129

dan berusaha untuk menangkap Yesus namun mereka takut kepada
orang banyak di kala itu.

III. KESIMPULAN
Dari nas ini ada beberapa point penting sebagai perenungan bagi
kita bersama yaitu :
1. Kita yang dipercayakan oleh Tuhan untuk melayani umat-
Nya, biarlah kita senantiasa memiliki sikap yang
bertanggungjawab kepada Tuhan atas apa yang telah
dipercayakan kepada kita. Melayani, mengelola ladang milik
Allah dengan penuh tanggungjawab. Apa yang kita
lakukan dalam melayani dan mengelola ladang ini
semuanya untuk kemuliaan bagi nama Tuhan, bukan untuk
suatu keuntungan diri atau kemuliaan diri.
2. Tuhan telah memberikan kepada kita kesempatan yang
terbaik sebagai bagian dari pekerja di ladang kebun anggur-
Nya, ini adalah kesempatan yang istimewa, karena itu jika
kita ada di dalam bagian itu, itu bukanlah kebetulan, tetapi
itu adalah kesempatan istimewa yang di berikan oleh Allah
untuk kita, maka gunakan dan pakailah kesempatan itu
untuk menghasilkan buah karya terbaik bagi kerajaan Allah.
Amin.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 15 Oktober 2023

Nas Bacaan : Keluaran 32 : 1 – 14
Nas Khotbah : Matius 22 : 1 – 14

Penulis : Pdt. Andrian Kiky Ariawan, M.Th

Sub Tema : Hidup Menurut Roh

A. Pendahuluan
Shalom, saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus.

Pada umumnya seseorang akan bersuka cita ketika mendapat suatu
undangan dan pasti berupaya untuk menghadirinya. Apalagi yang
mengundang ada seseorang yang berpengaruh atau orang-orang yang
memiliki jabatan tertentu. Akan sangat tidak nyaman jika harus
menolaknya. Situasi yang berbeda dengan nas baru saja kita baca. Dalam
perumpamaan tersebut Tuhan Yesus Kristus menyatakan bahwa orang-
orang yang telah mendapat undangan dari raja untuk hadir dalam
perjamuan kawin anaknya, dengan sengaja tidak mau datang untuk

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 130

memenuhi undangan tersebut karena mereka harus pergi ke ladang dan
mengurus usahanya. Bukan hanya tidak mau datang, melainkan mereka
juga menangkap, menyiksa dan membunuh hamba-hamba utusan sang
raja. Konsekuensinya para pembunuh hamba-hamba raja tersebut
dibinasakan bahkan kota mereka dibakar.

B. Tafsiran
Ada dua golongan yang diundang dalam perjamuan kawin anak

raja tersebut. Pertama, ialah orang-orang yang mendapat “Undangan
Mula-Mula”, yang tertera dalam Matius 22:3 “Ia menyuruh hamba-
hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan
kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.” Dalam beberapa
tafsiran, Undangan Mula-Mula ini merujuk kepada orang-orang Israel. Di
dalam Alkitab, misalnya Ulangan 7:6, Ulangan 14:2, Yesaya 44:1 dan ayat-
ayat yang lain lagi, bangsa Israel sering disebut sebagai “Umat yang
Terpilih.” Mula-mula Allah memberikan kasih karunia-Nya kepada bangsa
Israel serta memilihnya menjadi saluran damai sejahtera bagi dunia.
Namun justru bangsa Israel menolak Allah, bahkan membunuh utusan-
utusan Allah, yakni para nabi dan para rasul. Para nabi dan para rasul inilah
yang dimaksud dalam Matius 22:6 sebagai hamba-hamba yang dibunuh
oleh para undangan. Predikat bangsa Israel sebagai ‘Umat yang Terpilih”
tidak menjadikan mereka serta merta menerima undangan Allah. Bangsa
Israel juga dikenal sebagai “Bangsa yang Tegar Tengkuk.” Secara
sederhana, Tegar Tengkuk berarti keras kepala, bebal, pembangkang dan
sulit dinasehati. Hal ini memang benar, peristiwa-peritiwa imani bangsa Israel
bersama dengan Allah, tidak membuat mereka setia kepada-Nya. Bahkan di
kemudian hari, bangsa Israel menolak dan membunuh Tuhan Yesus Yesus Kristus,
Sang Mesias yang dijanjikan.

Golongan yang kedua ialah “Undangan Terkemudian” yakni terdapat
dalam Matius 22:9-10 “Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan
jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin
itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang
yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik,
sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.” Undangan
Terkemudian ini merujuk kepada bangsa-bangsa lain selain bangsa Israel, baik
orang-orang baik maupun orang berdosa. Secara tidak langsung, penolakan
bangsa Israel terhadap udangan Allah menjadi kesempatan bagi bangsa-bangsa
lain untuk mendapat kasih karunia Allah. Bahkan kemudian juga berperan menjadi
saluran damai sejahtera bagi dunia.

Meskipun bangsa-bangsa lain juga mendapat kasih karunia Allah, namun
ada kewajiban yang dituntut oleh Allah, yakni menggunakan “Pakaian Pesta”.
Undangan yang tidak menggunakan Pakain Pesta, tidak layak masuk ke pesta
Perjamuan Kawin. Dalam Matius 22:12-13 dinyatakan demikian, “ Ia berkata

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 131

kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak
mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada
hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke
dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak
gigi.” Pakaian Pesta menjadi syarat mutlak untuk masuk ke Perjamuan Kawin.
Sedangkan Undang Terkemudian ini terdiri dari berbagai macam latar belakang,
salah satunya orang-orang di persimpangan jalan, yang mungkin mereka tidak
memiliki Pakaian Pesta. Lalu di mana salahnya jika mereka tidak menggunakan
pakaian pesta? Di dalam kebiasaan orang Israel pada waktu itu, raja atau
pembesar yang menyelenggarakan pesta akan memberikan jubah untuk
dikenakan para tamu di pintu gerbang masuk tempat pesta itu
dilangsungkan. Jika ada orang yang tidak memakai pakaian pesta yang
dibagikan itu, berarti itu kelalaian si pelanggar, bukan kelalain tuan rumah.
Artinya si pelanggar tidak benar-benar menyiapkan dirinya untuk ikut serta dalam
Perjamuan Kawin tersebut, sehingga ia harus dicampakkan ke dalam ke gelapan
yang paling gelap. Pakaian Pesta dapat diartikan sebagai “Kesiapan dan
Kesungguhan” dalam menyambut Kerajaan Sorga. Setiap orang percaya wajib
menggunakannya sehingga layak mendapat bagian dalam Kerajaan Sorga.
C. Relevansi

1. Menerima Undangan Keselamatan
Allah mengundang manusia untuk mendapatkan keselamatan.

Keselamatan merupakan inisiatif Allah sendiri. Undangan keselamatan
bersifat universal, berlaku untuk semua orang. Hal terpentingnya ialah
bagaimana respons kita terhadap undangan keselamatan yang Allah
berikan. Apakah seperti orang-orang Israel yang menolak undangan
tersebut dengan alasan pergi ke ladang dan mengurus usaha? Mengurus
ladang dan mengurus usaha itu penting, menfokuskan diri kepada
kehidupan di dunia ini penting. Namun jangan lupa, ada hal yang lebih
penting dan perlu diprioritaskan yakni Kehidupan Kekal dalam Kerajaan
Sorga. Ingat, “Harta yang Paling Berharga adalah Hidup Kekal.” Jadi
respons terbaik terhadap undangan keselamatan dari Allah ialah
menerimanya dengan suka cita.
2. Menyiapkan Diri dengan Sungguh-Sungguh untuk Menyambut Kerajaan
Sorga

Pakaian Pesta melambangkan Kesiapan dan Kesungguhan
menyambut Kerajaan Sorga. Orang yang tidak menyiapkan dirinya
dengan sungguh-sungguh tentu tidak layak masuk ke dalam Kerajaan
Sorga. Persiapan menyambut Kerajaan Sorga berbeda dengan persiapan-
persiapan lain di dunia ini. Sebagai contoh, ketika hendak pergi jauh,
mugkin seseorang perlu waktu kurang dari satu hari untuk
mempersiapkan diri, seperti menyiapkan dana, mengemas barang,
mengisi bahan bakar kendaraan, membeli tiket dan lain-lain. Setelah
persiapan tersebut selesai, maka ia dapat pergi dengan nyaman. Setelah
tujuannya dicapai dan kemudian kembali ke rumah, ia tidak perlu
menyiapkan apa-apa lagi, sebab perjalanannya telah selesai. Konsep
menyiapkan diri menyambut Kerajaan Sorga tidak seperti contoh di atas.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 132

Waktu persiapannya tidak dibatasi waktu bahkan tidak pernah selesai.
Setiap waktu yang kita lewati ialah persiapan menyambut Kerajaan Sorga.
Persiapan tersebut benar-benar paripurna tatkala kita sudah kembali
kepada-Nya.

Oleh sebab itu, bersungguh-sungguhlah dalam menyiapkan diri
menyambut Kerajaan Sorga. Konsistenlah menerapkan pola hidup yang
layak dan berkenan di hadapan Allah. Usahakanlah kekudusan, kesetiaan,
peliharalah iman serta lakukanlah aktivitas-aktivitas yang mendatangkan
kebaikan. Bagaimana pun juga, iman perlu disertai dengan perbuatan.
Keduanya menjadi paket lengkap dalam menyiapkan diri menyambut
Kerajaan Sorga.
D. Penutup
Menjadi Kristen tidak selesai pada proses baptis atau sekedar ikrar
menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ada hal lain yang Tuhan tuntut
setelah itu, yakni konsistensi menerapkan pola hidup yang sesuai dengan
kehendak-Nya. Kiranya Tuhan Yesus Kristus menyertai saudara dalam
mempersiapkan diri menyambut Kerajaan Sorga.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 22 Oktober 2023

Nas Bacaan : Keluaran 33 : 12 – 23

Nas Khotbah : Matius 22 : 15 – 22

Penulis : Pdt. Dara Natalia Kristina, S.Th
Sub Tema : Hidup Menurut Roh

Keluaran 33:12-23
Dalam bahasa Yunani, kitab Keluaran bernama Exodus artinya

“Keluaran” atau “keberangkatan”. Kitab ini menceritakan kisah karya Tuhan
kepada orang Israel yang dikeluarkan dari tanah perbudakan di Mesir.
Karya Tuhan ini sungguh luar biasa sebagai wujud nyata penyertaan
Tuhan bagi bangsa Israel. Dalam bacaan Keluaran 33 adalah konteks
perjalanan bangsa Israel menuju tanah perjanjian Kanaan. Semula karena
dosa bangsa Israel, Tuhan murka dan Israel tidak boleh masuk ke tanah
perjanjian. Tetapi karena kasih-Nya pada umat Israel, mereka
diperbolehkan Allah masuk di tanah Kanaan dan hanya disertai oleh
malaikat (Keluaran 32). Dalam teks Keluaran 33 diceritakan bahwa karena

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 133

doa dan permohonan Musa kepada Tuhan agar bukan hanya malaikat
yang menemani mereka masuk tanah perjanjian. Musa berkata kepada
Tuhan bahwa sekalipun Tuhan telah menyatakan bahwa dia telah
memperoleh kasih karunia di hadapan Tuhan, Tuhan belum memberikan
jaminan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas yang sangat berat itu.
Sikapnya menunjukkan dia menolak untuk berangkat tanpa penyertaan
Tuhan secara langsung bagi bangsa Israel yang dipimpinnya karena
mengingat tegar tengkuknya bangsa tersebut. Musa juga mengingatkan
Tuhan bahwa bagaimanapun juga Israel adalah milik Allah. Oleh karena
itu, Allah mendengarkan doa Musa dan menyertai bangsa Israel masuk ke
tanah perjanjian Kanaan. Secara harfiah, Allah berjanji bahwa diri-Nya
sendiri, bukan wakil-Nya yang akan berangkat bersama dengan Israel.
Setidaknya kita menemukan seni diplomatis Musa yang berbicara dengan
berhadapan muka dengan Allah berhasil memperoleh penyertaan Tuhan
dalam perjalanan menuju tanah Perjanjian.

Matius 22:15-22
Dalam bacaan, kita diajak melihat bagaimana Tuhan Yesus

berusaha untuk dijatuhkan di hadapan orang banyak, bagaimana orang
Farisi berusaha untuk menjebak-Nya. Dengan tameng memuji Yesus
adalah orang yang jujur, tidak takut pada siapapun karena tidak mencari
muka, mereka menjebak-Nya dengan harapan bahwa Yesus akan terjebak
untuk mengatakan “tidak” membayar pajak pada Kaisar supaya mereka
memiliki alasan Yesus menentang pemerintahan Romawi, atau
mengatakan “ya” untuk membayar pajak yang berarti Yesus membela
penjajah Romawi. Namun Yesus berlaku cerdik menjawab pertanyaan
jebakan itu dengan baik, dengan jujur dan tanpa melupakan kebenaran.
Yesus mengatakan apa yang wajib diberikan buat Kaisar, maka wajib
diberikan kepada Kaisar, demikian juga kepada Allah, apa yang wajib
diberikan kepada Allah, harus diberikan kepada Allah.

Rancangan Khotbah :
Kesetiaan merupakan sesuatu yang sangat mahal di jaman sekarang ini.
Setiap hari perjalanan kehidupan kita diperhadapkan dengan hal-hal yang
berhubungan dengan kesetiaan, baik dalam hubungan dalam
persahabatan, pacaran, rumah tangga, bisnis ataupun pelayanan.
Kesetiaan berarti keteguhan hati, ketaatan, baik dalam persahabatan
maupun perhambaan/pelayanan. Kesetiaan sering kali juga berarti
kepatuhan. Alkitab mengajarkan bahwa kesetiaan bukanlah reaksi
terhadap sebuah hal, melainkan komitmen kita terhadap suatu tanggung
jawab yang tetap. Alkitab mengajarkan bahwa walaupun orang lain
bersalah atau menyakiti kita, kita tetap harus setia mengasihi mereka.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 134

Walaupun orang tua menyakiti, kita tetap harus setia menghormati mereka.
Walaupun anak-anak mendukakan hati kita, kita harus tetap setia
mengasihi, melindungi, dan mendidik mereka. Walaupun banyak masalah
kita hadapi, kita harus tetap setia melayani Tuhan Ketekunan tidak dapat
diubah oleh situasi yang berubah. Demikian pula dengan kesetiaan. Ia
hanya berubah jika komitmen kita mulai hilang.

Hidup yang disertai oleh Tuhan menjadi pengharapan setiap umat
Tuhan. Sebagaimana dalam bacaan kita yang pertama bagaimana umat
Israel disertai Tuhan dalam perjalanan hidupnya. Mulai dibawa keluar dari
tanah perbudaan Mesir sampai masuk pada tanah perjanjian Kanaan.
Pertama kali karena dosa-dosa bangsa Israel tidak boleh masuk tanah
Kanaan, Allah murka. Namun Allah berubah pikiran dan memperbolehkan
bangsa Israel masuk tanah perjanjian, namun hanya disertai oleh Malaikat-
malaikat saja. Sampai akhirnya Musa berdoa kepada Tuhan dan akhirnya
Tuhan menyertai bangsa Israel masuk Kanaan. Dengan selalu disertai oleh
Tuhan, maka membuahkan perbuatan-perbuatan kebaikan di tengah-
tengah bangsa Israel. Dengan disertai oleh Tuhan, menjadikan bangsa
Israel bangsa yang diberkati Tuhan. Demikian dengan kehidupan kita
sekarang di jaman ini, jika kita hidup dalam dosa maka kita tidak akan
disertai oleh Tuhan, tetapi jika kita hidup dalam kebaikan, kita akan disertai
Tuhan, kita akan selalu diberkati Tuhan. Kehidupan bangsa Israel kala itu,
harusnya menjadi pelajaran atau teladan bagi kita semua saat ini, agar kita
hidup disertai oleh Tuhan dan menghasilkan buah-buah kebaikan dalam
kenyataan hidup ini.

Sebuah keteladanan tentang kesetiaan diteladankan oleh Tuhan
Yesus Kristus kepada kita semua. Dia setia pada misi menyelamatkan kita
semua meski harus menderita dan mati bagi kita semua. Demikain juga
dalam bacaan kita yang ketiga, kita diajak melihat bagaimana orang Farisi
berusaha menjatuhkan Tuhan Yesus di hadapan orang banyak dengan
menjebak-Nya. Dengan tameng memuji Tuhan bahwa Yesus adalah orang
yang jujur, tidak takut pada siapapun karena tidak mencari muka, mereka
menjebak-Nya dengan harapan bahwa Yesus akan terjebak untuk
mengatakan “tidak” membayar pajak kepada Kaisar yang artinya Yesus
menentang pemerintahan Romawi, atau berkata “ya” untuk membayar
pajak yang artinya Yesus membela penjajah Romawi dan tidak peduli
dengan bangsanya sendiri. Tetapi Yesus bisa cerdik menjawab pertanyaan
jebakan itu dengan baik, dengan jujur dan tanpa melupakan kebenaran.
Yesus mengatakan apa yang wajib diberikan buat Kaisar, maka wajib
diberikan kepada Kaisar, demikian juga kepada Allah, apa yang wajib
diberikan kepada Allah, harus diberikan kepada Allah. Disini Yesus tidak
membandingan atau menyamakan kesetiaan kepada pemerintah dan
kepada Tuhan, namun semuanya mempunyai bagian sendiri-sendiri.

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 135

Kesetiaan yang menjadi barang mahal saat ini harus berada dalam
hidup kita sebagai orang percaya, sehingga dengan begitu kita bisa hidup
seturut dengan kehendak Tuhan, disertai dan diberkati, serta menghasilkan
perbuatan-perbuatan baik yang bisa menjadi kesaksian kehidupan kita
semua. Hidup yang disertai oleh Allah, sebagaimana bangsa Israel yang
keluar dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian Kanaan, membuahkan
kebaikan-kebaikan dalam kehidupan ini. Hidup yang diberkati Allah
membuat kita mempunyai kasih, iman dan pengharapan. Dengan kasih,
iman dan pengharapan ini kita memperjuangkan keadilan dan kebenaran
dengan penuh kejujuran, tidak takut pada siapapun dan selalu setia pada
Tuhan Yesus. Kesetiaan akan perjuangan seperti yang dilakukan nenek
moyang bangsa Israel dan kesetiaan pada Tuhan menjadi teladan dalam
kehidupan bersama.

Mari hidup dalam iman, pengharapan dan kasih, serta tetap setia
pada Tuhan Yesus Kristus sebagai tanda kita hidupmenurut Roh dalam
seluruh aspek kehidupan.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 29 Oktober 2023
(Hari Reformasi dan Hari Bapak GKE)

Nas Bacaan : Ulangan 34 : 1 – 12
Nas Khotbah : Lukas 15 : 20 – 32

Penulis : Pdt. Timberno, S.Th, MM

Sub Tema : Hidup Menurut Roh

Shalom, selamat pagi, selamat hari Minggu, selamat hari reformasi

dan bapak GKE, selamat beribadah, salam sehat. Puji Tuhan! KasihNya yang
besar dicurahkan kepada kita, hari ini kita diberikan tubuh sehat dan kuat
sehingga dapat beribadah memuji dan memuliakan kebesaran kuasaNya.
Kasih dan penyertaanNya sempurna bagi kita, seperti yang disaksikan oleh
Nabi Yeremia: “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya
rahmatNya, selalu baru tiap pagi...” (Rat 3:22-23). Pada minggu ini kita
bersama dalam semangat hari reformasi dan hari bapak GKE, dihadapkan
dengan nas Ulangan 34:1-12 dan Lukas 15:20-32. Dari kedua nas ini
mengarahkan kita berbicara tentang bagaimana hidup menurut roh.

Bapak, Ibu, Saudara yang dikasihi dan mengasihi Tuhan Yesus Kristus.
Di dalam Alkitab, Allah digambarkan sebagai seorang Bapak yang sangat
menyayangi anak-anaknya. Ia mengaruniakan hidup, merawat, menjaga
dan melindungi bahkan untuk hidup di masa depan anak-anakNya, Ia

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 136

sudah mempersiapkannya dengan sangat baik. Dari Ulangan 34:4a kita
menemukan bahwa apa yang dilakukan Bapa ini untuk kebaikan anak-
anakNya, yang dicontohkanNya kepada Musa dan bangsa Israel, yang
dituntun keluar dari tanah perhambaan Mesir. Tuhan berfirman: “Inilah
negeri yang kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan
Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan kuberikan negeri itu.”, dari
nas ini memperlihatkan kasih sayang bapak kepada anak-anaknya. Bapak
menghendaki dan mepersiapkan anak-anakNya untuk mengalami
kebaikan di masa depannya, dengan menyiapkan yang terbaik yang akan
dihadapi oleh anaknya.

Saudara, Lukas 15:11-32 pada perikop Perumpamaan tentang Anak
yang hilang, khususnya bagian pembacaan ayat 20-32 ada dua karakter
yang akan kita gumuli dan renungkan bersama yaitu (1) karakter
Bapak/Allah dan (2) karakter anak bungsu/yang hilang atau yang mewakili
kita.

Pertama, karakter Bapak/Allah yang dalam pembacaan memberikan
gambaran kepada kita tentang: (1) ) Allah mempunyai belas kasihan bagi
yang hilang. Perumpamaan ini menggambarkan Allah sebagai Bapa bagi
seluruh umat manusia. Dia adalah Bapa yang
memberikan didikan dan mebagikan segala hal yang kita perlukan. Allah
adalah Tuhan dari semua orang, penuh dengan belas kasihan bagi semua
orang yang berseru kepada-Nya. Perhatikanlah dengan baik dan
renungkanlah bahwa, Allah adalah Bapa yang baik bagi semua anak-Nya,
dan Ia memberi mereka semua kehidupan, nafas, dan segala sesuatu,
bahkan kepada orang-orang yang jahat dan tidak tahu bersyukur sekalipun
Ia membagi-bagikan kehidupan kepada mereka. Dengan memberi
kehidupan kepada kita, Allah memampukan kita untuk melayani dan
memuliakan Dia. (2) Kasih Allah bagi orang berdosa/yang terhilang begitu
besar sehingga menunggu mereka kembali kepada-Nya; (3) Ketika orang
berdosa dengan tulus hati kembali kepada Allah, maka Allah pun sudah
siap untuk menerima mereka dengan pengampunan, kasih, belas kasihan,
kasih karunia dan mengaruniakan hak penuh sebagai anak yang sah.
Kekayaan kasih karunia Allah, semuanya tersedia bagi mereka yang
mencari Allah; 4) Tak terhinggalah sukacita Allah atas kembalinya orang
berdosa.

Kedua, ada karakter anak bungsu yaitu anak yang hilang, yang tabiat
dan perkaranya di sini menggambarkan tabiat dan keadaan orang-orang
berdosa, yang tidak lain adalah tabiat dan keadaan kita semua. Keadaan si
anak hilang dalam petualangannya ini menggambarkan kepada kita
suatu keadaan dosa, keadaan yang menyedihkan, yang ke dalamnya
manusia telah jatuh. Keadaan dosa adalah suatu keadaan di mana
kita meninggalkan Allah dan menjauhkan diri dari-Nya. Ia, si anak bungsu

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 137

ini pergi dan berjalan menjauh dari rumah ayahnya. Orang-orang
berdosa/orang-orang yang terhilang sering menghindar atau melarikan
diri dari Allah. Sehingga karena itu pendosa jauh dari Allah. Keadaan jauh
dari Allah ini yang membuat orang-orang berdosa sengsara. Keadaan
sengsara karena dosa dapat kita lihat seperti yang dihadapi oleh si bungsu
ini: (1) suka menghabiskan segala sesuatu (ay 30); (2) serba kekurangan (ay
14); (3) melakukan kecemaran (ay 15); (4) selalu tidak puas; (5) ketiadaan
penghiburan; (6) mati: anakku ini telah mati (ay. 24,32); (7) keadaan
terhilang: hilang dari segala sesuatu yang baik, dari segala kebajikan dan
kehormatan, hilang dari rumah ayahnya, dan keluarganya pun tidak
bersukacita karenanya. Jiwa-jiwa yang terpisah dari Allah adalah jiwa-jiwa
yang terhilang, hilang seperti seorang yang masuk ke hutan rimba dan
tersesat. (8) keadaan yang gila dan kacau-balau.

Bapak, Ibu, Saudara yang mengasihi dan dikasihi Tuhan Yesus Kristus.
Entah kita sebagai pendeta, penatua, diakon, orang tua, atau yang
mengemban peran bapak, kita tidak luput dari menghadapi situasi seperti
keadaan yang dialami oleh si anak bungsu ini. Sangat mungkin sekali terjadi
pada anggota jemaat kita, atau anak-anak kita atau justru kita sendiri yang
adalah tanpa kita sadari telah berperilaku sebagai anak yang hilang.
Contoh konkret dapat kita temukan pada siapa saja yang ada di sekitar kita
yang diindikasi sebagai orang kecanduan narkoba atau orang dalam
gangguan jiwa (ODGJ). Kita sering mendapatkan orang dalam situasi
seperti ini, orang-orang ini dapat menjadi anak yang hilang permanen jika
mereka tidak menemukan pintu pertobatan. Dalam menghadapi persoalan
seperti ini, sekali lagi perhatikanlah dengan baik, kita tidak boleh putus asa
menghadapi keadaan yang paling buruk, sebab selagi masih ada hidup,
masih ada harapan pada kasih Bapa. Anugerah Allah dapat melembutkan
hati yang paling keras, dan membalikkan keadaan yang mengecewakan ke
arah yang membahagiakan.

Jika anak yang hilang ini adalah anggota jemaat kita atau dia adalah
anak-anak kita, atau dia adalah bagian dari keluarga kita, teman atau
kerabat kita bahkan mungkin saja adalah tetangga kita mari kita
mengadopsi karakter Bapak/Allah yang telah ditunjukkan di sini: (1)
Kehadiran kita harus dapat menunjukkan kasih sayang yang besar kepada
yang hilang, (2) kita harus dapat menunjukkan mata yang penuh belas
kasihan, dan cepat melihat: ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya
(ay 20), Ini menunjukkan keinginan Allah akan pertobatan orang-orang
berdosa, dan kesediaannya untuk menemui mereka yang datang kepada-
Nya. Ia memperhatikan umat manusia, ketika mereka tersesat dari-Nya, dan
melihat apakah mereka akan kembali kepada-Nya. Ia peduli agar mereka
kembali kepada-Nya. Kita harus punya mata yang tajam, peka dan penuh
kasih memandang mereka yang memerlukan pertolongan. (3) Kita harus

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 138

menunjukkan hati yang penuh dengan belas kasihan, dan hati itu
bergejolak di dalam dirinya, rindu begitu melihat anaknya: lalu tergeraklah
hatinya oleh belas kasihan. Kesengsaraan memerlukan belas kasihan,
bahkan kesengsaraan orang berdosa. (4) Kita harus punya kaki yang
penuh dengan belas kasihan, dan kedua kaki itu cepat melangkah: ia
berlari. Ini menunjukkan betapa siap dan sigapnya Allah dalam
menunjukkan belas kasihan-Nya kepada kita. Anak yang hilang itu datang
dengan lunglai, terbeban oleh rasa malu dan takut, namun sang ayah yang
lemah lembut itu berlari menemuinya dan memberinya semangat. (5) Kita
harus punya lengan yang penuh dengan belas kasihan, dan kedua lengan
itu terentang lebar untuk memeluknya: dia merangkul anaknya. Meskipun
anaknya bersalah dan pantas dipukul, meskipun ia kotor ia tetap merangkul
anaknya, membawanya ke dalam pelukannya. Begitu dikasihinya para
petobat yang sejati oleh Allah, begitu disambutnya mereka oleh Tuhan
Yesus. (6) Kita harus punya bibir yang penuh dengan belas kasihan,
dengan senyuman membuatnya yakin bahwa ia tidak saja disambut tetapi
juga diampuni. Ini juga menunjukkan betapa Tuhan Yesus bersedia, bebas,
dan bersemangat menerima serta menghibur para pendosa malang yang
bertobat, sesuai dengan kehendak Bapa-Nya. Dengan begitu kita bersedia
menolong saudara kita yang terhilang untuk mendapatkan kasih Allah.

Saudara, orang-orang yang terhilang ada dekat dengan kita. Sering
orang yang terhilang ini tidak dapat bertobat karena ia tidak tahu jalan
keluar dari masalah yang dihadapinya, pintu pertobatan itu seolah-olah
tertutup baginya. Masalah yang membelitnya seperti ia berada terjebak di
tengah kubangan lumpur, ia tidak dapat keluar. Ia tidak dapat melihat Allah
dan ia jauh dari Allah. Ketika kasih Allah yang ada pada kita dan kita
perlihatkan kepadanya, memandangnya dengan kasih, menyambutnya
dengan kasih, memeluknya dengan kasih dengan itu akan membuat ia
dapat melihat pintu pertobatan dan mau datang pada Allah. Pada saat
orang-orang yang menjauh dari Allah kembali bertobat dan
melakukan lagi apa yang baik dan berkenan kepada Allah, maka mereka
akan diterima dan dipulihkan keadaannya: dipakaikan jubah yaitu
kebenaran Kristus, dipasangkan cincin di jarinya yaitu kesungguhan roh,
dikenakan sepatu pada kakinya yaitu kerelaan dipakai untuk meyakinkan
dan mempertobatkan orang lain melalui teladan hidup yang sudah dibarui.
Demikianlah berlimpahnya anugerah yang disediakan Allah bagi para
petobat sejati.

Saudara, di bagian akhir dari khotbah ini yaitu bahwa ada sukacita
yang besar ketika pertobatan satu jiwa dari dosa kepada Allah yang
merupakan kebangkitan jiwa itu dari kematian menuju kehidupan,
ditemukannya kembali apa yang tampak telah hilang. Ini suatu perubahan
yang besar, menakjubkan, dan membahagiakan. Pertobatan orang-orang

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 139

berdosa sangatlah menyenangkan hati Allah di sorga, dan semua yang
termasuk di dalam keluarga-Nya patutlah bersukacita bersama-Nya. Jika
mereka yang ada di sorga bersukacita, maka mereka yang ada di bumi
pun layaklah demikian; bersukacita.
Di hari Reformasi dan Bapak GKE ini mari kita hidup menurut roh yaitu
bagaimana kehidupan orang percaya meneladani sikap/karakter Allah
dalam menghadapi saudara kita yang terhilang untuk mereka kembali dan
menemukan jalan menuju pintu pertobatan dan bertobat. Terpujilah nama
Tuhan.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 5 November 2023
(Perayaan Hari Kesejahteraan Keluarga GKE)

Nas Bacaan : Mazmur 112 : 1 – 10

Nas Khotbah : Filipi 2 : 1 – 11

Penulis : Pdt. Dein G. Narang, S.Th
Sub Tema : Hidup Yang Membawa Kasih dan Damai

Pendahuluan
Kesejahteraan keluarga adalah kondisi di mana kebutuhan-

kebutuhan dasariah manusia dapat dipenuhi, kebutuhan itu meliputi
penghidupan sosial, material maupun spiritual serta ketentraman lahir dan
batin yang dirasakan oleh seluruh anggota keluarga. Kondisi-kondisi ini
patut diperjuangkan di dalam dunia yang semakin sulit ini. Hari ini kita kita
merayakan Hari Kesejahteraan Keluarga GKE sebagai upaya untuk
mengingat dan menggerakkan kita untuk terus memperjuangkan

kesejahteraan itu.
Kita telah membaca Teks Firman Tuhan dari Filipi 2:1-11, Surat ini

ditulis terutama untuk menyelesaikan berbagai persoalan dan
pertentangan dalam gereja seperti banyak surat Paulus yang lain,
persoalan jemaat Filipi antara lain : Keputusasaan Jemaat di Filipi karena
masa hukuman Paulus yang lama (Filipi 1:12-26), serta benih-benih
perpecahan yang terdapat dalam gereja Filipi (Filipi 4:2) dan ancaman
ketidaksetiaan yang selalu dalam gereja oleh karena para penganut agama
Yahudi dan orang-orang yang berfikiran duniawi (Filipi 3:1-16). Nada
utama surat ini adalah kasih sayang yang hangat dan penghargaan yang

begitu tulus terhadap jemaat dan ajakan untuk memusatkan Yesus Kristus
sebagai tujuan hidup dan pengharapan orang percaya yang akan hidup
yang kekal. Ciri-ciri utama yang terdapat dalam surat ini merupakan surat

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 140

pribadi dan penuh kasih sayang, serta mencerminkan hubungan akrab
Paulus dengan orang-orang percaya di Filipi. Mari kita hayati kebenaran-
kebenaran dasar dari tulisan Paulus ini untuk mewujudkan Kehidupan
yang membawa kasih dan damai, Hal ini terwujud Ketika umat Allah
melakukan kewajiban-kewajiban Kristen :

I. Kewajiban Pedoman Agung Injil adalah Hidup Dalam Kasih
Ketika kasih mulai memudar dan kehilangan kehangatannya
maka dipastikan keadaan akan menjadi beku dan semua yang
didalamnya akan menderita. Hukum Kerajaan Kristus mengajak
kita supaya saling mengasihi. Hukum ini digambarkan oleh
Paulus (Filipi 2:2) sebagai menjadi sehati sepikir, dalam satu
kasih, satu jiwa dan satu tujuan. Orang Kristen bisa sehati sepikir
Ketika mereka menjadi satu dalam kasih, yang menarik sekali
dalam Firman Tuhan itu adalah sekalipun mereka tidak
sepaham tetapi mereka harus satu dalam perasaan dan itulah
kekuatan dan kewajiban yang tidak boleh terabaikan.
Bagaimana kita dapat mewujudkan kasih persaudaraan yang
indah adalah melakukan perintahNYA yang membuat kita
mengalami penghiburan Tuhan yakni dengan menunjukkan
sikap saling mengasihi

II. Sikap Meneladani Keagungan Injil Hidup Dalam Kebersamaan
Kita menemukan pola Injil yang patut kita tiru dan hal itu
merupakan teladanan Tuhan Yesus Kristus "Hendaklah kamu
dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang
terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filipi 2:5). Panggilan hidup
kristiani adalah memiliki pilkiran Kristus, sebuah cara hidup yang
berjuang untuk menyerupai seperti Yesus, pikiran Kristus lah
yang akan menjadikan damai sejahtera terwujud, pikiran itu
adalah : “Yesus Kristus rendah hati”, orang yang rendah hati
akan selalu berjuang untuk senantiasa berjalan bersama
dengan orang lain.
Bagaimana mewujudkan damai sejahtera berdasarkan
keteladanan Kristus ditengah dunia yang cenderung terpisah
dan terancam perpecahan akibat perbedaan pemahaman, baik
dalam kehidupan masyarakat maupun dalam hidup keluarga
a. Mengikut sertakan Yesus dalam hidup kita
b. Menyerahkan hidup kita kepada Tuhan
c. Percaya kepada Tuhan
Relevansi
Dalam situasi kehidupan yang tidak mudah perayaan Hari
Kesejahteraan Keluarga GKE mengajak kita untuk bergerak
bersama-sama memperjuangkan kesejahteraan sebuah

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 141

pemberian Allah seperti yang tertulis dalam Injil Yohanes 14:27
“Damai sejahtera kutinggalkan bagimu, Damai sejahtera
Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti
yang diberikan dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar
hatimu”.Bagaimana mewujudkan kesejahteraan dan damai itu :
- Biarkan kasih Allah memerintah dan menggerakkan keluarga, baik
itu ayah dan ibu serta anak-anak untuk melakukan kasih dalam
perbuatan.
- Kiranya hari ini kita berjuang dan bekerja keras untuk mewujudkan
kesejahteraan dalam keluarga dan kasih sebagai motor dan sumber
kekuatan melakukan pekerjaan kita
- Ditengah-tengah dunia yang retak dan perpecahan semakin kuat,
keretakan itu terjadi dalam hubungan suami dan istri, anak-anak
dengan orang tua, mari ulurkan kasih dan perdamaian di komunitas
kita masing-masing
Penutup
Kiranya hari Kesahteraan Keluarga GKE tidak hanya dirayakan
pada sebuah ibadah, tapi diwujudkan dalam tindakan kongkrit
yakni menghadirkan kasih dan damai dalam kehidupan kita.
(DGN)

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 142

Minggu, 12 November 2023

Nas Bacaan : Yosua 24 : 14 – 28

Nas Khotbah : Matius 25 : 1 – 13

Penulis : Pdt. Oktapianti, S.Th

Sub Tema : Hidup Yang Membawa Kasih dan Damai

Saudara-saudariku yang dikasihi dalam Tuhan Yesus Kristus.
Ketika kita melihat suatu bangunan yang dibangun dengan begitu

indah, mewah dan megah pasti ada rasa kekaguman yang muncul dari
benak dan mulut kita. Begitu pula yang dirasakan oleh para murid Yesus
ketika melihat Bait Allah yang dibangun dan dihiasi dengan batu yang
indah-indah serta dengan berbagai-bagai barang persembahan, terlebih
bagi orang Yahudi Bait Allah adalah pusat atau sentral peribadatan yang
menandakan kehadiran Allah di tengah umat-Nya. Tapi sebaliknya Yesus
malah berkata apa yang mereka lihat pada saat itu akan diruntuhkan.
Segala kemegahan dan kemewahannya akan hancur tidak ada yang
tersisa. Hal ini bukanlah ancaman tapi merupakan nubuat Yesus yang pasti
terjadi, dan memang benar hal itu terjadi ketika perang Yahudi dan Romawi
Pertama pada tahun 70 M Yerusalem dan Bait Allah dihancurkan.

Kalau kita berbicara mengenai Bait Allah, harusnya kita berbicara

mengenai kehadiran Allah di dalamnya dan semua ketetapan Allah
dijalankan oleh umat-Nya. Namun, sangat disayangkan para pemimpin
dan umat-Nya pada saat itu hanya memusatkan pemikiran pada
kemegahan, kekayaan, keagungan yang dimiliki Bait Allah. Selama Bait
Allah itu tetap kokoh dan megah, Allah akan tetap hadir dan melindungi
mereka walau apapun yang mereka perbuat. Mereka menjadikan
bangunan itu sebagai jaminan keselamatan sementara hal yang mereka
perbuat tidak berkenan bagi Tuhan. Kalau kita kaitkan dalam kehidupan
masa kini, banyak orang yang berfokus pada pembangunan gereja yang
megah dan mewah sehingga menarik perhatian orang-orang untuk

beribadah, hal itu tidaklah salah, siapa yang tidak ingin bangunan
gerejanya bagus dan indah tetapi apakah bangunan gereja yang seperti
itu menjamin kualitas iman orang-orang yang ada di dalamnya. Karena

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 143

bagi kita sebagai orang yang percaya gereja tidak hanya dilihat dari
bangunan fisiknya tetapi lebih kepada orang-orang yang ada di dalamnya,
apakah memiliki iman dan pengharapan yang benar di dalam Kristus,
apakah umat-Nya memiliki kasih dan kebersamaan satu dengan yang
lainnya. Percuma memiliki bangunan gereja yang mewah kalau umatnya
tidak memiliki rasa kebersamaan dan iman yang benar di dalam Kristus.
Bangunlah iman yang benar di dalam Kristus, andalkan Ia dalam kehidupan
kita karena keselamatan yang kekal itu hanya berasal daripada-Nya.

Bagian kedua dari nas kita hari ini ialah Yesus memperingatkan
murid-muridnya agar waspada dan berjaga-jaga mengenai peristiwa-
peristiwa yang akan terjadi ke depannya, yaitu adanya penyesatan yang
menggunakan nama-Nya, pemberontakan, peperangan, bencana alam,
penyakit, kelaparan, dan penganiayaan. Melalui hal ini, Yesus ingin
memberitahu mereka akan kesusahan-kesusahan seperti apa yang akan
mereka hadapi demi nama-Nya dan Ia juga menguatkan mereka untuk
bertahan dalam menghadapi cobaan dan terus melanjutkan pekerjaan
mereka walaupun ada tantangan yang harus dihadapi. Tantangan yang
dihadapi para murid pun terjadi pada kita masa kini, kita harus berhadapan
dengan kesulitan-kesulitan yang ada beberapa contohnya yaitu situasi
pandemi Covid 19 dan bencana alam yang terjadi di mana-mana, hal ini
menghambat kita dalam pelayanan, persekutuan hingga bisa membuat
kita ragu dan jauh dari Tuhan. Penyesatan-penyesatan melalui sosial media
seperti penyebaran berita hoax, memberikan kesaksian palsu dengan
mengatasnamakan Yesus seperti penglihatan dan ramalan yang akan
terjadi untuk menambah jumlah pengikut, penonton dan subscriber.
Melalui hal ini mengingatkan dan mengajak kita untuk bijaksana dalam
menyikapi hal tersebut serta untuk saling menguatkan dan mengingatkan,
peduli satu dengan yang lainnya agar tetap beriman di dalam Kristus

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 144

Minggu, 19 November 2023

Nas Bacaan : Hakim – hakim 4 : 1 – 7

Nas Khotbah : Matius 25 : 14 – 30

Penulis : Pdt. Alisnu Abdiku A. Datin, M.Th

Sub Tema : Dipanggil Untuk Menjadi Berkat

Shalom. Salam Sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus. Jemaat yang
terkasih di dalam Tuhan kita Yesus Kristus, nas yang kita ini renungkan saat
ini dari Matius 25:14-30 dengan perikop Perumpaan Tentang Talenta.
Jemaat yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus, perumpaan tentang
talent aini disampaikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya dalam
rangkan menjelaskan tentang hal Kerajaan Surga.
Dalam perumpaan ini, Yesus menggambarkan hal Kerajaan Surga itu sama
seperti seorang tuan yang kaya raya, yang sebelum ia pergi ke luar negeri
mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya.
Tampaknya ada 3 orang hamba di sini:

- Hamba yang pertama diberinya 5 talenta.

- Hamba yang kedua diberinya 2 talenta.

- Hamba yang ketiga diberinya 1 talenta.
Tuan mempercayakan tiga orang hambanya dengan jumlah yang
berbeda-beda ini sesuai dengan kesanggupannya. Tentu tuan tahu
kemampuan masing-masing hambanya, sehingga nilai lima, dua dan satu
yang dipercayakan merupakan otoritas kepercayaan tuan dari
kesanggupan para hambanya.

Jemaat yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus. Talenta dalam
nas kita adalah satuan nilai uang Yunani. Kalau dalam Kamus Alkitab, 1
talenta nilainya sama dengan 6.000 dinar. Dinar adalah mata uang
Romawi. 1 dinar sama dengan upah buruh harian sehari. Kalau kita di
Indonesia, upah harian buruh atau karyawan lepas itu sekitar Rp. 150.000,-
per hari. Jadi kalau 1 talenta ini kita rupiahkan maka Rp. 150.000 upah kerja
per hari dikali 6.000 sama dengan Rp. 900.000.000 (sembila ratus juta
rupiah).
1 talenta sama dengan 900juta
2 talenta sama dengan 1,8 milyard
5 talenta sama dengan 4,5 milyard
Jadi, talenta yang dipercayakan oleh tuan kepada para hambanya tersebut
bukanlah kecil nilainya tetapi sangat besar nilainya. Sungguh besar

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 145

kepercayaan tuan kepada mereka sedangkan ia tidak ada bersama-sama
dengan mereka. Sehingga kepercayaan tuan kepada para hambanya ini
merupakan anugerah dan harta yang diserahkan tuan kepada para
hambanya juga merupakan tanda kepercayaan tuan kepada para
hambanya. Kalau para hamba percaya kepada tuan itu biasa tetapi kalau
tuan yang kasih kepercayaan kepada para hamba dengan kepercayaan
yang tinggi, ini yang luar biasa. Seperti umat dengan Allah, kalau umat
percaya kepada Allah itu biasa karena memang Allah layak dan pantas
dipercaya dengan segala kemahakuasaan-Nya tetapi ketika Allah
mempercayakan sesuatu kepada umat-Nya, ini yang luar biasa dan
anugerah.

Jemaat yang terkasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus, setelah
tuannya pergi, tinggallah tiga orang hamba ini tadi dengan harta yang
dipercayakan tuannya kepada mereka. Apa Tindakan mereka selanjutnya
terhadap harta tuannya ini?

Dua hamba yang menerima lima dan dua talenta langsung bekerja.
Diperlihatkan dengan kata “SEGERA PERGI”, “MENJALANKAN UANG”,
“MEMPEROLEH LABA”. Mereka berhasil mengembangkan harta tuannya,
yang 5 talenta mendapat laba 5 talenta dan yang 2 talenta mendapat laba
2 talenta. Mereka merespon kepercayaan tuannya dengan aktif dan maju.

Tapi hamba yang ketiga “Pergi”, “Menggali lubang di tanah”,
“Menyembunyikan”. Hamba yang ketiga merespon dengan membiarkan 1
talenta dikubur dan mundur. Sehingga 1 talenta tetap, tidak bertambah.
Jemaat yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus, sang tuan memberi
kepercayaan dan ada jeda waktu yang lama dari semenjak tuannya pergi
hingga kembali. Dua hamba ini tahu isi hati tuannya karena talenta yang
mereka terima itu bukan milik mereka tapi milik tuannya yang dipercayakan
kepada mereka. Ketika sang tuan memberikan kepercayaan dan mereka
meresponnya dengan segera bekerja keras tetapi hamba yang ketiga
direntang waktu yang lama itu malah menyembunyikan talenta tuannya.
Dia tidak kenal dengan tuannya dan isi hati tuannya sehingga direntang
waktu yang sangat panjang itu dia tidak hanya malas tetapi jahat dengan
tuannya.

Dan akhirnya, si tuan datang juga secara mendadak tanpa
diketahui para hambanya. Tentu pertama kali yang dilakukan oleh tuan
adalah mendengarkan laporan dari para hamba tentang harta yang
dipercayakan kepada mereka. Dari laporan para hamba tersebut diketahui
apa yang mereka lakukan terhadap harta yang dipercayakan kepada
mereka. Untuk dua hamba pertama yang bekerja keras dan mendapatkan
laba, tuan mengapresiasikan tindakan mereka sebagai perbuatan yang
baik dan setia, dan kepada mereka diberikan kepercayaan yang lebih besar
lagi karena sudah setia dalam perkara yang kecil. Kemudian mereka

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 146

dipersilahkan masuk untuk menikmati sukacita tuannya. Tetapi kepada
hamba ketiga yang tidak melakukan apa-apa atas harta yang dipercayakan
kepadanya dan tidak memperoleh laba, tuan mengatakan dia sebagai
hamba yang jahat dan malas sehingga harta yang dipercayakan
kepadanya diambil kembali oleh tuan dan diserahkan kepada hamba
pertama yang mempunyai 10 talenta. Tidak hanya itu tindakan tuan
kepada hamba yang ketiga ini, tuan juga mencampakkan dia ke dalam
kegelapan yang paling gelap karena dikatakan dia tidak berguna.

Jemaat yang terkasih di dalam Tuhan Yesus Kristus, begitu dalam
nilai yang kita temukan dari perumpaan ini. Perumpamaan tentang talenta
ini bukan tentang tuan yang melihat siapa yang bekerja keras dan tuan
dapat untung tetapi tentang MENGHARGAI KEPERCAYAAN TUANNYA.
Penghakiman (baik sekali perbuatanmu itu…….) bagi Yesus 5 Talenta dan 2
Talenta itu perkara kecil, karena Dia memiliki yang lebih besar lagi. Nas ini
juga mengingatkan kita bahwa penghakiman itu ada dan hari terakhir itu
akan datang. Di penghakiman nanti Tuhan mau melihat apakah kita
percaya kepada-Nya dan setelah percaya kepada-Nya, apa yang terjadi?
Apakah ada yang berubah dari hidup kita sesuai hukum Tuhan?

siapa yang bekerja keras sesuai kepercayaan yang diberikan itu
akan disambut. Oleh sebab itu ketika kita sedang melayani, kita sedang
menghormati Tuhan yang memberi kepercayaan kepada kita, sehingga
yang kita lakukan adalah kerjakan itu. Ketika kepada kita dipercayakan
kekayaan, maka jadikanlah kekayaan kita untuk mengembangkan
pekerjaan Tuhan. Begitu juga ketika Tuhan percayakan karunia dan
berbagai potensi kepada kita, maka kerjakan dan kembangkan untuk
memuliakan Tuhan. Kita tidak tahu kapan Tuhan akan datang dan kita juga
tidak tahu kapan kita akan mati tapi yang penting bagi kita adalah kerjakan
yang dipercayakan Tuhan bagi kita. Apapun respon orang tidak akan
membuat kita mundur karena yang penting adalah kita mengerjakan
bagian kita yaitu kepercayaan Tuhan kepada kita. Hamba yang ketiga
dicampakkan oleh tuan, padahal apakah dia merugikan tuannya? kan
talentanya disimpan dengan baik-baik di dalam tanah. Tetapi talenta
adalah tentang kepercayaan tuan. Karena kalau kita tidak mengerjakan apa
yang Tuhan percayakan berarti kita tidak percaya kepada Tuhan. Hal
Kerajaan Surga adalah tentang kepercayaan Tuhan kepada kita yang harus
kita kembangkan bagi kemuliaan nama-Nya sebagai tanda syukur, hormat
dan iman kita kepada-Nya.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 26 November 2023

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 147

Nas Bacaan : Yehezkiel 34 : 11 – 16
Nas Khotbah : Matius 25 : 31 – 46

Penulis : Pdt. Maria Ekasari, M.Div

Sub Tema : Hidup Yang Membawa Kasih dan Damai

Dalam ilmu Antropologi manusia dalam kehidupannya mengalami 2
titik krisis yaitu Krisis kelahiran dan krisis kematian yang menandakan ada
awal dan ada akhir. Dalam kepercayaan kita sebagai orang Kristen hidup
manusia bukan berakhir pada kematian. Dibalik kematian masih ada
pengharapan, masih ada peristiwa yang berlangsung yakni :

1. Kebangkitan masal ( teknisnya kebangkitan diawali oleh orang-
orang benar ( Orang-orang percaya dilanjutkan kebangkitan
seluruh orang-orang yang sudah mati ) (Kisah Para Rasul 24:15, I
Tesalonika 4:16, dan I Petrus 1:3 ). Kemudian akan terjadi
Pembaharuan hidup pada orang-orang yang masih hidup ( I
Tesalonika 4:17 )

2. Pertemuan masal. Semua orang dalam keadaan dan tempat yang
berbeda dalam kondisi masing masing akan bersama menghadap
Allah ( Matius 24:29-31, wahyu 22 : 12 )

3. Penghakiman Allah yang digambarkan dalam Nast kita hari ini.
Dalam Penghakiman Allah seperti yang ditulis dalam wahyu 20:11-
15 ada buku yang berisi tentang kehidupan dari setiap pribadi
manusia. Buku itu terbuka dan memperilhatkan Peristiwa kelahiran
sampai kematian, perbuatan yang baik dan yang buruk seperti

rekaman vidio semua terungkap dan terlihat. Kemudian setelah
Penghakiman ada pemisahan seperti seorang Gembala
memisahkan kambing dan domba. Domba ada di sebelah kanan
dan memperoleh upah yakni mahkota berupa hidup kekal dan
kambing disebelah kiri dan memperoleh upah berupa
penghukuman.
Gambaran Pemisahan antara domba dan kambing :
1. Kambing menjadi simbol manusia yang hidup dengan memiliki sifat
iri, tidak terkendali, suka berkelahi, suka keluar dari kebersamaan
karena lebih ingin melakukan keinginan sendiri, bersaing dan tidak
bisa menguasai emosi. Domba menjadi simbol pribadi manusia
yang memiliki karakter sederhana, sabar dan tenang. Bisa diatur
dan diarahkan.
2. Sikap kambing dan domba di tanah Palestina dalam menghadapi
cuaca sangat berbeda. Domba bisa menyesuaikan dan bertahan

dalam cuaca panas maupun dingin, sedangkan kambing tidak
mampu bertahan baik cuaca panas atau dingin. Domba gambaran

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 148

manusia yang mampu bertahan dalam keadaan apapun, tidak
berontak dan tidak putus asa.
3. Secara ekonomis Domba memiliki banyak manfaat ( daging, bulu
dan susu ) sedangkan kambing hanya dagingnya saja. Orang yang
benar dipakai Tuhan untuk berfungsi dan berguna dihadapan
Tuhan.
Berusaha untuk menjadi pribadi yang baik dan benar yang saatnya nanti
seperti domba ada di sebelah kanan Allah tentu harus diusahakan. Firman
Tuhan hari ini memberi pelajaran ;
1. Perbuatan baik seperti apa yang menjadi penilaian Allah kepada
kita yang akan ditempatkan di sebelah kananNya ? sangat
sederhana, mudah dan tidak berat. Ayat 40 memperhadapkan
sebuah realita kehidupan bahwa masih banyak orang yang
memerlukan perhatian, kasih dan pertolongan dari kita. Disaat
dunia menutup mata dengan mereka yang miskin, lemah tidak
berdaya dan diperlakukan semena mena, kita harus ada untuk
mereka. Perbuatan baik yang kecil dengan kasih yang besar Tuhan
tunggu untuk kita lakukan.
2. Selalu mempersiapkan diri dengan hidup taat dan setia, jangan
maksimalkan diri untk mengejar dunia karena akan berakhir dalam
kesia-sian.
3. Kita harus siap untuk mempertanggung jawabkan segala sesuatu
yang sudah kita terima baik itu talenta, waktu dan harta supaya
berkenan kepada kehendak Allah.

***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***

Minggu, 3 Desember 2023
(Adven I)

Rancangan Khotbah GKE 2023 | 149


Click to View FlipBook Version