Nas Bacaan : Yesaya 64 : 1 – 12
Nas Khotbah : Markus 13 : 24 – 32
Penulis : Pdt. Friska Setia Y. Bunsit, S.Th
Sub Tema : Menyaksikan Kebaikan Allah
Ayat-ayat ini tampak menunjuk kepada kedatangan Kristus yang
kedua kali untuk menghakimi dunia. Dalam pertanyaan mereka, para murid
mengacaukan hal kehancuran Yerusalem dengan kesudahan dunia.
Kekacauan ini diakibatkan oleh kekeliruan seolah-olah Bait Allah harus
terus berdiri selama dunia masih berputar. Kristus meluruskan kekeliruan ini
dan menunjukkan bahwa akhir dunia pada hari-hari itu, yaitu hari-hari
yang kamu tanyakan itu, yang adalah hari kedatangan Kristus dan hari
penghakiman, akan datang setelah masa kesengsaraan itu, bukan
bersamaan dengannya. Biarlah orang-orang yang masih hidup untuk
melihat kehancuran bangsa Yahudi berhati-hati dalam berpikir bahwa
karena Anak Manusia tidak terlihat datang di awan-awan pada waktu itu,
maka Dia tidak akan pernah datang dengan cara itu.
Pada minggu ini tidak terasa kita telah memasuki masa adven yang
pertama, masa adven berarti adalah penantian dan pengharapan. di dalam
pengharapan ini ada hal yang bisa kita pelajari bersama kita memperingati
kembali masa-masa kita mempersiapkan diri dalam menyambut kelahiran
tuhan yesus yang sering kita sebut dengan natal. tetapi janganlah kita
melupakan juga bahwa masa adven ini adalah masa dimana kita
mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang
kedua kali. dimasa adven pertama ini mengingatkan kepada kita melalui
Firman Tuhan pada saat ini kita diberikan gambaran tentang kedatangan
Tuhan Yesus..
Markus 13 ini secara umum memberikan arahan kepada pada murid-
muridNya dalam menyikapi arus zaman yang mengerikan. Para Murid
diminta untuk waspada dan teguh menghadapi berbagai ancaman. Nast
hari ini memberikan beberapa wawasan baru. Pertama, ditengah
kekacauan dan bencana, Anak Manusia tetap melindungi “orang-orang
pilihanNya”. Nas ini juga memperlihatkan kuasa anak manusia, dengan
kuasanya yang luarbiasa Ia dapat mengutus para malaikat dan himpunan
semua orang yang percaya.
Kedua, orang percaya diminta untuk mencermati tanda-tanda zaman
agar terus mewaspadai dan senantiasa mengandalkan Firman-Nya. Ketiga,
dalam konteks Injil Markus, kata-kata Yesus diayat 30 menegaskan bahwa
penghukuman akan datang kepada orang-orang yang tidak percaya.
Melalui Firman Tuhan dalam Injil Markus, Satu hal yang harus kita pelajari
bersama bahwa kedatangan Tuhan tidak mungkin sengaja ataupun ketika
kita tidak siap, itulah sebabnya firman Tuhan ini sudah berulang kali
Rancangan Khotbah GKE 2023 | 150
mengingatkan kita agar kita bersiap-siap dan berjaga-jaga selalu akan
datangnya hari kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya dalam kehidupan
umat Kristen, tinggal tergantung bagaimana kita masing-masing
mempersiapkan diri untuk menyambut-Nya. Tetapi ketika sudah diingatkan
berkali-kali namun tetap saja kita tidak menghiraukan bahkan
mengabaikan peringatan untuk mempersiapkan diri maka akibatnya kita
tanggung sendiri.
Injil Markus mengingatkan kita agar jeli melihat berbagai tanda
kedatangan Anak Manusia. Kita harus tahu tanda-tanda kedatangan Anak
Manusia agar kita bisa mempersiapkan langkah hidup kita. Hidup ini
semuanya diawali dengan tanda. Siapa yang bisa membaca tanda dan
mampu memanfaatkannya akan tampil sebagai pemenang.
Kita menyambut Dia dalam hati kita masing-masing, Dia yang adalah
Tuhan rela menyamakan diri-Nya dengan kita manusia yang hina dan
berdosa ini. yang seharusnya kita lakukan adalah memperbaharui diri kita
menjadi manusia yang baru, karena setiap tahun bapak/ibu kita merayakan
natal tapi dalam tiap tahun yang sudah terlewati apa makna natal yang
sungguh-sungguh dapat mengubah kehidupan kita, jika yang ada di
dalam kehidupan kita hanya memperbaharui mereka baju dan gaya hidup
kita, apa artinya ssemua itu jika Tuhan tidak sungguh-sungguh hadir dalam
kehidupan kita, maka dari itu bapak ibu dan sidang jemaat sekalian, mari
kita bersama-sama, saya, bapak ibu dan kita semua memaknai kedatangan
Tuhan Yesus ini untuk memperbaharui kehidupan kita menjadi pribadi
yang lebih baik lagi.
***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***
Minggu, 10 Desember 2023
(Adven II)
Nas Bacaan : Yesaya 40 :1 – 11
Nas Khotbah : Markus 1 : 1 – 8
Rancangan Khotbah GKE 2023 | 151
Penulis : Pdt. Marly Patriasi Tigoi, M.Th
Sub Tema : Menyaksikan Kebaikan Allah
Umat kristiani sudah memasuki minggu-minggu Advent, Advent
berasal dari isitilah Latin “Adventus” yang berarti kedatangan. Istilah
kedatangan pada kata Advent, tidak hanya berarti kedatangan Yesus
Kristus pada hari Natal, tetapi sekaligus juga menunjukan pada kedatangan
Yesus yang kedua kali (Parousia) yang diyakini umat Kristen sebagai akhir
dari sejarah. Itu sebabnya pemberitaan Firman di minggu-minggu Advent
memiliki aspek ganda dari kedatangan Yesus Kristus : kedatangan dalam
konteks Natal, dan kedatangan dalam konteks Parousia.
Pada moment minggu Advent ini marilah kita belajar dari Yohanes
Pemabptis yang melakukan pekerjaannya dengann baik. Ia melakukan
pekerjaannya sesuai dengan kehendak Tuhan. Yohanes Pembaptis
mempunyai pekerjaan penting yang harus ia lakukan, yakni memberitakan
kedatangan Tuhan Yesus dan mempersiapkan jalan bagi-Nya. Itu bukan
pekerjaan yang mudah, tetapi Yohanaes Pembaptis melakukan dengan
setia dan tidak kenal lelah. Pekerjaan Yohanes Pembaptis mendatangkan
hasil yang sangat baik. Banyak orang yang datang untuk mendengarkan,
bertobat dan menyerahkan diri untuk dibaptis.
Mengapa bisa demikian? Apa yang yang bisa kita pelajari dari
Yohanes Pembaptis sehingga dapat melakukan pekerjaan dengan baik dan
berhasil.
1. Ia mengenal diri dan tugasnya (Markus 1:1-3).
Ia sadar siapa dirinya dan apa tugasnya! Ketika orang-orang Lewi bertanya
kepada-Nya, siapakah engkau ? “Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya :
“Aku bukan Mesias”. (Yoh 1:19-20). Ketika mereka terus, ia menjawab
”Akulah suara orang yang berseru-seru di
Padang Gurun. Luruskanlah jalanTuhan! Seperti yang dikatakan Nabi
Yesaya.” (Yohanes 1:23). Dari jawaban Yohanes itu tampak bahwa ia
mengerti Firman Allah dengan baik dan ia pun mengetahui dengan siapa
dirinya dan apa tugasnya. Ia bukan Mesias, tetapi ia datang untuk
mempersiapkan jalan bagi-Nya.
Hal ini penting ! Banyak pelayan-pelayan Tuhan yang gagal karena tidak tahu diri
dan tidak tahu tugasnya. Akhirnya ia mencuri kemulian Tuhan dan gagal dalam
tugasnya.
2. Ia mengenal Tuhan yang dilayaninya (Markus 1:7-8)
Yohanes Pembaptis mengenal dengan baik siapa Tuhan yang di layaninya. Ia
berkata, “sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku;
membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis
kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus. Ia tidak
hanya mengenal siapa dirinya, tetapi ia juga mengenal siapa Tuhan yang di
Rancangan Khotbah GKE 2023 | 152
layaninya. Pengenalan akan Tuhan membuatnya meninggikan Tuhan, rendah hati
dan mengarahkan orang banyak pada Tuhan.
3.Ia mengenal isi beritanya dan tahu cara memberitakannya (Markus 1:4-6).
Ia tahu bahwa isi beritanya adalah Yesus Kristus yang datang untuk
menyelamatkan dunia. Ia pun tahu bagaimana cara yang baik untuk
memberitakannya.
Pertama, ia mewujudnyatakan beritanya di dalam kehidupannya (Matius 1:6).
Bukan hanya kata-katanya tetapi seluruh hidupnya merupakan suatu berita.
Kedua, ia setia mewartakan Firman Allah yang sudah lama di wahyukan, namun
berita itu dijadikan relevan bagi pendengarnya, menyentuh hati dan menjawab
kebutuhan dalam sanubari para pendengarnya.
Saudara-saudaraku yang seiman dan sepengharapan di dalam Yesus Kristus.
Melalui momentum Advent II ini, kita dapat.belajar dari Yohanes Pembaptis yaitu:
1. Kerendahan hati.
Jika saat ini kita dipercayakan untuk melayani Tuhan itu bukan karena kuat dan
gagah kita, tetapi semata-mata karena anugerah-Nya. Orang yang rendah hati
adalah orang yang tidak menganggap dirinya paling hebat, paling pintar, paling
kaya dan sebagainya. Betapa banyak pelayan Tuhan atau hamba Tuhan yang
membusungkan dada karena merasa diri lebih rohani, lebih hebat, penuh talenta
dan karunia, makin dikenal dan di pakai Tuhan secara luar biasa. Akhirnya diri
sendirilah yang dikedepankan. ”Tuhan mengasihi orang yang rendah hati dan
membenci orang yang tinggi hati”.
2. Ingatlah, apapun pekerjaan saudara dan dimanapun saudara berada,
saudara bisa memberitakan kabar baik dari Tuhan dan “mempersiapkan
jalan bagi-Nya”. Seperti Yohanes Pembaptis yang mengenal tugasnya,
mengenal Tuhan yang dilayaninya, serta mengenal isi beritanya dan tahu
cara memberitakannya dengan baik.
Mari belajar sepeti Yohanes Pembabtis karena hidupmu adalah injil itu sendiri, yaitu
kabar baik. Selamat berproses dan menjadi Inji yang terbuka yang dibaca dan
dilihat semua orang. Selamat memasuki minggu Advent II.
***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***
Nas Bacaan : Yesaya 56 : 1 – 8 Minggu, 17 Desember 2023
(Adven III)
Nas Khotbah : Yohanes 1 : 6 – 12
Penulis :
Sub Tema : Menyaksikan Kebaikan Allah
***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***
Rancangan Khotbah GKE 2023 | 153
Minggu, 24 Desember 2023
(Adven IV)
Nas Bacaan : 2 Samuel 7 : 1 – 11
Nas Khotbah : Lukas 1 : 26 – 38
Penulis : Pdt. Edy Liverda, M.Si.Teol
Sub Tema : Menyaksikan Kebaikan Allah
Jemaat Tuhan,
Siapakah Maria dalam teks kita ? Dia adalah perempuan yang sama
dengan perempuan lain pada zamannya. Maria merindukan pasangan
hidup yang bertanggungjawab, merindukan pernikahan, merindukan
kehadiran seorang anak dan merindukan keluarga yang berbahagia.
Nampaknya kerinduan Maria akan segera terpenuhi, tetapi caranya
mungkin berbeda dari apa yang dia rencanakan dan pikirkan.
Perjumpaan antara maelakat Allah dengan Maria, dalam ayat 28 yang
berbunyi : Ketika malaikat itu masuk ke dalam rumah Maria, ia berkata :
“Salam, hai engkau yang dikarunia, Tuhan menyertai engkau”. Perjumpaan
itu menjadi semacam starting point (titik awal) yang membuat Maria
berada pada satu titik, dan pada titik yang sama akan membawanya
kepada kebahagiaan dan pada saat yang sama bisa saja akan
membawanya pada kehancuran.
Pada titik yang pertama, Allah mau menggunakan Maria menjadi
alat ditangan Allah untuk rencana keselamatanNya. Maria harus siap
mengandung, siap untuk memiliki seorang anak untuk diasuh, siap
membesarkan dan merawatnya dengan penuh tanggungjawab. Artinya
Maria siap untuk menjadi alat Allah. Dan pada titik yang sama, ia pun harus
siap melahirkan bayi tanpa ayah, siap dicela banyak orang, siap untuk tidak
bahagia dan bahkan siap ditinggalkan Yusuf yang begitu ia cintai.
Jemaat Tuhan,
Pada satu titik ini Maria harus segera mengambil keputusan dan
tentu saja ini adalah momen yang paling sulit dalam hidupnya. Dia
diperhadapkan pada Yusuf, untuk menjelaskan kepada Yusuf bahwa dia
orang yang jujur, tulus hati dan tidak menghianati pertunangan itu.
Namun pada sisi yang lain, dia tidak ada pilihan untuk mengatakan tidak,
sebab ia akan segera mengandung dan tidak mungkin bisa dibatalkan lagi.
Akhirnya Maria harus memilih yang tidak dia pilih.
Refleksi : Ada beberapa hal yang patut kita refleksikan dari pengalaman
Maria ini :
1. Pertama, Kemampuan Maria membawa pergumulannya dalam
perenungan yang mendalam. Membawa pergumulan itu dalam
Rancangan Khotbah GKE 2023 | 154
perenungan pada rangkulan tangan kasih Tuhan Allah. Maria
mampu mengolah hatinya dan menempatkan pergumulan itu
dalam hatinya, bukan pada hati orang lain. Maria tidak lari dari
pergumulan itu. Jangan sedikit-sedikit ada masalah lapor kepada
facebook, lapor ke istagram. Akhirnya facebook dan Instagram kita
penuh dengan masalah.
2. Kedua, Maria menerima agar Allah yang terlibat dalam proses
kehidupannya termasuk keluarganya yang akan segera terbentuk.
Dalam ayat 38 berujar : “Sesungguhnya aku ini adalah hamba
Tuhan ; jadilah pada ku menurut perkataanMu itu”. Pernyataan ini
bukan pernyataan Maria yang sedang kalah, tetapi seorang Maria
yang menaruh pengharapannya pada Allah. Maria yang
berpengharapan dan hidup dalam pengharapan itu, sehingga
mampu menyaksikan kebaikan Allah.
***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***
Senin, 25 Desember 2023
(Natal I)
Nas Bacaan : Yesaya 9 : 1 – 7
Nas Khotbah : Titus 2 : 11 – 15
Penulis : Pdt. Dr. Eltarani
Sub Tema : Menyaksikan Kebaikan Allah
Allah telah dan sedang mengerjakan pembebasan kita dari dosa,
penderitaan, kematian dan kuasa kejahatan. Selaras dengan maksud-Nya
ketika Ia menciptakan manusia (Kej.1-2), tetapi kejatuhan manusia dalam
Rancangan Khotbah GKE 2023 | 155
dosa (Kej.3) sehingga membuat Allah perlu menyelamatkan manusia dari
kuasa maut.
Karya keselamatan Allah juga telah dilakukan-Nya ketika Ia
berulangkali menyelamatkan Israel, pertama dari perbudakan di Mesir, juga
ketika Ia mengalahkan lawan-lawan mereka dan membuat Israel dapat
menetap di Kanaan. Lalu kemudian ketika Allah juga menyelamatkan
mereka pada saat dibuang ke Babel (Yes.43:14-16). Karya-karya
penyelamatan Allah ini juga terlihat pada ibadat yang dilakukan orang
Israel yang terpusat padab karya-karya Allah untuk menyelamatkan mereka
dari penderitaan (Ul.26:6-10). Korban yang mereka persembahkan di Bait
Allah adalah sebagai tanda penyesalan dosa dan memohon pertolongan
Allah agar mereka senantiasa menjadi umat Allah yang kudus.
Kepada umat-Nya Allah berjanji menganugerahkan kehidupan
yang baru (Yes.65:17-25). Pemenuhan itu dinubuatkan oleh para nabi
dengan kedatangan Sang Juruselamat yang akan membawa kabar baik
bagi iorang yang menderita, para tawanan, dan orang-orang miskin. Ia
akan mengikat Perjanjian Baru dengan umat-Nya (Yes.61:1-11). Ia akan
menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Mat.1:21), untuk mencari dan
menyelamatkan yang hilang (Luki.1910), Ia datang membawa keselamatan
(Luk.7:50; 19:9; Mrk.5:34), yang ditandai dengan menyembuhkan orang-
orang sakit dan memberitakan tentang pengampunan dosa.
Peristiwa Natal dalam kelahiran Yesus Kristus yang adalah
perwujudan kasih karunia Allah ini memungkinkan tercapainya hidup baru
seperti yang dianjurkan dalam ay 2-10, secara garis besar yang dimaksud
hidup baru adalah, hidup kudus agar umat dapat melaksanakan misi Allah.
Karena standar yang dikehendaki Allah ini tidak dapat dicapai oleh
manusia manapun juga dengan segala kemampuannya, tetapi itu hanya
dimungkinkan oleh kasih karunia Allah. Jadi Natal adalah kehadiran Tuhan
dalam dunia ini, yang membawa bagi kita kehidupan baru, kehidupan
yang penuh harapan dan kehidupan yang lebih baik serta berkembang.
Kasih karunia yang datang dari Allah di dalam Yesus Kristus ini
dimaksudkan untuk semua orang, dan kekuatan yang menyelamatkan itu
hanya akan bekerja jika diterima dengan iman. Dan oleh iman juga kasih
karunia yang Allah nyatakan dalam Yesus Kristus itu juga bekerja di dalam
kehidupan orang percaya melalui pekerjaan Roh Kudus. Oleh Roh Kudus
kita didorong untuk hidup baik. Sehingga juga jelas terlihat bagi kita di sini
bahwa Kasih karunia itu tidak hanya mengaruniakan pengampunan dosa,
tetapi ia juga mendidik kita, yaitu mengajar kita tentang kehendak Allah
dan memampukan kita untuk melaksanakannya.
Kasih karunia itu menolong kita untuk meninggalkan kefasikan dan
keinginan-keinginan duniawi, meninggalkan hidup yang lama. Dan
Rancangan Khotbah GKE 2023 | 156
kemudian membuat kita memiliki sikap yang baru yakni dapat menguasai
diri, bersikap adil terhadap sesama dan beribadah kepada Allah. Tentu kita
masih hidup di dunia sekarang ini yang penuh dengan dosa dan berada di
bawah kekuasaan si jahat. Namun kasih karunia Allah tidak membiarkan
dunia ini, melainkan berusaha memperbaiki keadaannya melalui kehadiran
umat Allah.
Keselamatan yang sudah boleh dialami orang percaya pada masa
sekarang menumbuhkan pengharapan akan masa mendatang. Kita tidak
lagi di bawah bayang-bayang maut dan penghukuman. Jadi, kedatangan
Yesus ke dunia tidak semata-mata untuk pengampunan dosa, melainkan
untuk mengerjakan pembaruan hidup.
Jika kita ingin benar-benar meresapi semua ini, bukankah hanya
timbul rasa syukur kepada Tuhan? Rasa syukur atau rasa terima kasih atas
pengorbanan Kristus dan kasih karunia Allah yang menyelamatkan, itulah
yang menimbulkan kerinduan dalam hati orang percaya untuk hidup bagi
kemuliaan Tuhan. Bukan lagi bagi dunia atau bagi diri sendiri. Kita diajak
untuk menjalani jalan hidup yang berbeda dengan jalan yang diajarkan
oleh dunia. Karena kita sudah diselamatkan dari dosa dan telah hidup dan
menaklukkan diri kita di bawah kasih karunia Allah.
Melalui peristiwa natal atau kelahiran Kristus, menjadi nyata bagi
kita bahwa Allah memberi diri-Nya secara total. Kasih itu berwujud dalam
Firman yang menjadi manusia. Sehingga melalui peristiwa Natal, nyatalah
kasih karunia keselamatan Allah bagi manusia (2:11). Perwujudan kasih
Allah yang didasari oleh kemuliaan dan kekudusan itu kokoh dan tidak
dapat diubah atau dibatalkan oleh kuasa apapun. Kasih itu adalah kasih
yang membebaskan. Kasih yang demikian umumnya tidak akan
berkompromi dengan berbagai perbuatan cemar, pengkhianatan dan
kekerasan, manupulasi serta sikap yang merendahkan martabat manusia.
Sebaliknya, kasih yang dilandasi oleh kemuliaan dan kekudusan akan
menjadi kasih yang selalu rela berkurban dan merendahkan diri.
Dalam menyambut penyataan Allah yang tidak terduga ini, mari
kita saksikan akan kebaikan Allah, dengan menghayati Natal sebagai
peristiwa perwujudani dan penyataan Allah dengan komitmen kasih yang
kualitasnya tidak bertentangan dengan karakter kemuliaan dan kekudusan
Allah. Melalui persembahan diri yang tulus dan murni. Sehingga pelayanan
kita dipenuhi dengan sukacita, kehidupan yang kita tawarkan dipenuhi
damai. Dengan menempatkan Allah sebagai Tuhan yang mengubah dan
membaharui hidup kita, maka Dia akan mengubah kualitas kasih kita
dengan kemuliaan dan kekudusanNya. Kita dimampukan untuk
mempersembahkan diri untuk mempermuliakan dan menguduskan Kristus
yang adalah Raja atas hidup kita, sekaligus menguduskan setiap aspek
kehidupan dengan peran kita.
Rancangan Khotbah GKE 2023 | 157
***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***
Selasa, 26 Desember 2023
(Natal II)
Nas Bacaan : Yesaya 62 : 6 – 12
Nas Khotbah : Titus 3 : 4 – 7
Penulis : Pdt. Cucue Meiyadie, S.Th
Sub Tema : Menyaksikan Kebaikan Allah
Saudara, kelahiran Yesus Kristus yang kita rayakan pada bulan
Desember ini menjadi sebuah sukacita yang tak terhingga, ketika kita
mampu memaknai betapa indahnya kisah Natal ini bagi kita saai ini. Sebuah
lirik lagu mengatakan, “Natal adalah kisah kasih yang terindah, Kasih-Nya
selamatkan setiap dosa manusia. Natal adalah kisah kasih yang terindah,
Tuhan beserta kita Imanuel.” Sungguh, Natal menjadi sebuah kisah kasih
Allah yang terindah kepada manusia yang berdosa ini. Kisah kasih yang tak
ternilai harganya, karena Allah sendiri yang berinkarnasi menjadi manusia,
Rancangan Khotbah GKE 2023 | 158
rela berkorban demi kita manusia yang berdosa dengan pencurahan
darah-Nya yang mulia di Golgota.
Memaknai Natal membuat kita semakin mensyukuri akan kebaikan
Allah yang telah diberikan-Nya kepada kita. Karena itu kebaikan Allah ini
harus dipersaksikan kepada dunia di dalam kehidupan kita sehari-hari. Dari
nas kita hari ini kita dapat belajar tentang kisah kasih Allah itu:
1. Kemurahan Allah nyata dalam Yesus Kristus (ay. 4)
Allah yang Pengasih dan Pemurah itu menyatakan diri dalam Yesus
Kristus. Yesus Kristus menjadi puncak kasih Allah yang dinyatakan kepada
manusia yang berdosa ini. Allah menunjukkan kemurahan-Nya dengan
merendahkan diri dan menjadi sama dengan manusia, kecuali dosa, serta
menunjukkan ketaatan-Nya sampai mati di kayu salib. Kemurahan Allah ini
merupakan suatu rangkaian rencana keselamatan yang dinyatakan Allah
sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Ia memilih bangsa Israel untuk
memelihara janji-Nya. Ia memakai para nabi untuk mewartakan nubuat
penyelamatan yang akan dilakukan Mesias. Ia memakai Yohanes Pembaptis
untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Semua itu menunjukkan
kemurahan Allah yang nyata kepada dunia. Jika dipikir-pikir, untuk apa
Allah “merepotkan” diri-Nya hanya untuk menebus manusia yang berdosa
ini. Bukankah Allah itu Mahakuasa? Tidak sulit bagi Allah untuk membuat
suatu bumi baru dengan manusia yang baru dan tak berdosa di tempat lain
selain bumi. Biarlah bumi hancur dengan segala keberdosaan manusia.
Tetapi Allah tidak demikian. Ia tidak dapat membohongi hakikatnya yang
adalah kasih. Ia mengasihi dunia ini sebagaimana Yohanes 3:16
mengatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia
telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang
percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Terpujilah Tuhan yang telah menyatakan kemurahan-Nya di dalam Yesus
Kristus.
2. Diselamatkan karena rahmat Allah (ay. 5-6)
Ketika Allah telah menyatakan kemurahan-Nya di dalam Yesus
Kristus, itu berarti tindakan kemurahan Allah itu hanya karena rahmat dan
kasih karunia Allah. Nas kita mengatakan bahwa Allah menyelamatkan kita
bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-
Nya. Tidak ada kekuatan manusia sedikitpun yang membuat ia
diselamatkan Allah. Hanya karena rahmat dan kasih karunia Allah manusia
itu dilayakkan dan ditebus dosanya. Karena itu manusia jangan menjadi
sombong. Bukan karena kuat dan gagah kita maka kita mendapatkan
kehidupan yang kekal, tetapi hanya karena rahmat Allah. Itu berarti kasih
Allah mendahului tindakan iman yang kita lakukan. Kita melakukan
Rancangan Khotbah GKE 2023 | 159
perbuatan baik, rajin beribadah, berdoa, membaca Alkitab dan lain
sebagainya merupakan sebuah hasil dari perwujudan iman kita yang telah
diselamatkan oleh Yesus Kristus, bukan karena kita mengharapkan kita
diselamatkan dengan melakukan perbuatan baik itu. Rahmat Allah dalam
Yesus Kristus melalui Roh Kudus telah memperbaharui hidup kita dan
dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah yang kudus dan mulia.
Sungguh ini merupakan rahmat Allah yang tak terhingga bagi kita. Begitu
besar kasih Allah yang dengan inisiatif sendiri berinkarnasi menjadi
manusia hanya untuk menebus kita, melayakkan kita menjadi anak-anak-
Nya dan menjadikan kita ahli waris kerajaan sorga. Tidak ada yang dapat
membandingi Allah kita yang begitu berlimpah kasih dan karunia-Nya
kepada dunia ini. Oleh sebab itu, rasa syukur kita yang telah diselamatkan
diwujudnyatakan dalam perbuatan-perbuatan kita yang baik yang
menggambarkan bahwa kita telah diselamatkan oleh Allah. Suatu
kerjasama antara iman dan perbuatan, sebagaimana Yakobus 2:22
mengatakan, “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-
perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.”
3. Dibenarkan untuk menerima hidup yang kekal (ay. 7)
Rahmat Allah di dalam Yesus Kristus memberikan pengharapan dan
janji yang kuat, bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus
tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Pengharapan ini
menjadi kekuatan kita untuk menapaki kehidupan di tengah-tengah dunia
yang penuh dengan pergumulan ini. Kita telah dibenarkan di dalam Yesus
Kristus. Tidak ada yang dapat mengambil rahmat Allah yang telah
diberikan-Nya kepada kita. Tinggal sekarang bagaimana kita
menampakkan kehidupan yang telah dibenarkan dan diselamatkan oleh
Allah itu dalam hidup kita sehari-hari. Sebagai orang yang telah
diselamatkan, kita harus mempersaksikan kebaikan Allah itu kepada dunia,
agar dunia tahu bahwa hidup kita penuh dengan kasih Allah. Kasih Allah
itu harus terwujud dalam kehidupan rumah tangga kita yang saling
mengasihi. Orangtua yang mengasihi anak-anaknya, demikian juga
sebaliknya. Hidup penuh kasih juga dinampakkan di dalam kehidupan
jemaat dan masyarakat. Kita dapat menjadi teladan kebaikan. Kita memiliki
tutur kata yang membawa berkat. Tindakan kita memberi pengharapan
dan semangat kepada banyak orang. Inilah makna Natal yang kita rayakan
sepanjang bulan Desember ini. Setiap orang senantiasa merasakan sukacita
Natal yang tidak pernah berakhir di dalam kehidupannya, melalui tutur
kata dan tindakan yang menampakkan bahwa ia telah dibenarkan Allah
untuk menerima hidup yang kekal di dalam Yesus Kristus.
Selamat merayakan Natal
Rancangan Khotbah GKE 2023 | 160
***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***
Minggu, 31 Desember 2023
(Tutup Tahun)
Nas Bacaan : Yosua 1 : 1 –18
Nas Khotbah : 1 Korintus 9 : 24 – 27
Penulis : Pdt. Vialinande Fabiola, S.Th, M.Si
Sub Tema : Menyaksikan Kebaikan Allah
Hal yang diharapkan dalam sebuah kompetisi khususnya bagi
seorang atlet yang professional adalah “kemenangan dan hadiah”.
Seseorang yang berkemenangan adalah seseorang yang terus melangkah
mantap serta yakin bahwa ia sanggup menghadapi lawan dan
menghadapi setiap tantangan. Ia tidak lari dari tantangan karena ia tahu
cara menaklukkannya. Tantanganlah yang membuat dirinya menjadi
seorang pemenang, karena bagaimana mungkin kita atau seseorang
menang jika tidak ada lawan yang dihadap?
Dalam teks ini, Rasul Paulus mengingatkan bahwa hidup kita ibarat
kompetisi. “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan
semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang
Rancangan Khotbah GKE 2023 | 161
mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu
memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam
pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat
demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk
memperoleh suatu mahkota yang abadi (ay.24-25)”.
Hal ini dilatarbelakangi kesadaran Paulus bahwa dalam
mengemban tugas tentunya selalu ada kemungkinan mengalami
penolakan/ditolak (dalam istilah Yunani: adokimos) yang berarti
“kegagalan” dalam ujian iman. Bahkan dalam 2 Kor.13:5 ia menggunakan
istilah yang sama, dengan pemahaman bahwa Kristus tidak tinggal di
dalam seseorang yang “gagal dalam ujian”.
Rasul Paulus mencontohkan dirinya sebagai rasul yang
mengurbankan kebebasannya, sekuat tenaganya, bahkan seluruh
kepentingan dirinya demi kepentingan-kepentingan Kerajaan Allah dan
missi penyelamatan umat manusia yang diwartakannya. Ia hendak
memperingatkan para penantangnya, pengajar-pengajar palsu, dan
jemaat yang mendengarkannya, tentang arti mejadi seorang rasul yan
sejati. Ia juga memperingatkan jemaat tentang arti Salib Kristus supaya
merekapun berani berkorban, mengekang serta mengendalikan diri, dan
berusaha memperoleh bagiannya dalam pemberitaan Injil. Paulus
menekankan beberapa hal yang harus dikerjakan:
1. Jemaat harus menguasai diri dalam segala hal supaya tidak mudah
terpengaruh dengan segala bentuk kecurangan atau dosa yang dapat
mengahambat perjalanan perjuangan.
2. Milikilah tujuan hidup yang jelas apabila jemaat menjalani sebuah
tugas, dalam bekerja maupun melayani.
3. Teruslah berlatih dan bertekun supaya menjadikan jemaat semakin kuat
mengahdapi pertandingan iman. Sebab dengan adanya ketekunan
mempersiapkan jemaat menjadi pemenang. (bdk. 1 Tim.4:8 dan 2
Tim.2:5)
Allah memanggil kita semua sebagai jemaat yang dikasihi-Nya
untuk menjadi peserta pertandingan, bukan hanya jadi penonton, sebab
jika kita hanya jadi penonton, seseorang hanya akan dengan mudahnya
berkomentar atau mengkritik saja, jarang mendapat cidera atau berpeluh,
tidak kelelahan karena hanya duduk sambil menonton.. Maka sangatlah
wajar jika seorang penonton tidak berhak atas medali atau hadiah apapun
dalam pertandingan. Sementara yang berhak memperoleh medali atau
hadiah adalah peserta pertandingan yang telah berjuang dengan keras
dan memenangkan perlombaan.
Dipenghujung Tahun 2023 ini, marilah kita kilas balik segala hal
yang sudah kita jalani atau lakukan disepanjang perjalanan bahkan setiap
pertandingan iman yang kita hadapi. Sebagai refleksi diri manakah bagian
Rancangan Khotbah GKE 2023 | 162
yang sudah kita lakukan, apakah kita sudah tekun, setia dan ulet dalam
berjuang dan bertanding atau sebaliknya? Melalui nas Firman Tuhan hari
ini, ada sebuah ajakan bagi kita dalam mengakhiri tahun 2023 ini,
hendaklah sejalan dengan sub tema , yaitu “menyaksikan kebaikan Allah”.
Kebaikan-Nya yang memampukan kita memiliki kesempatan untuk
mengalami pengalaman hidup, susah senang, bahagia maupun sedih dan
seterusnya.
Kalaupun kita masih dalam tahap perjuangan, maka janganlah kita
berputus asa! Semangat yang diperteguh oleh kemauan serta komitmen
yang sungguh akan memapukan kita di masa depan untuk mewujudkan
hal-hal sebagai berikut:
1. Meraih kemenangan sebagai wujud bahwa kita dapat melawan suatu
kegagalan, mengatasi musibah, dan bangkit dari sebuah keadaan yang
menyedihkan.
2. Meraih kemenangan adalah saat dimana seseorang yang merasa
terpuruk namun mampu berjuang menghacurkan semua tantangan
hidup.
3. Meraih kemenangan adalah manakala kita mampu berdamai dengan
masa lalu, berjuang memperbaiki keadaan dengan menata hati,
memberi diri untuk mengampuni, mengasihi dan melayani dengan
penuh ketulusan.
4. Meraih kemenangan adalah saat dimana seseorang bisa menjadi saksi
betapa kuasa Tuhan kita Yesus Kristus sungguh nyata atas kehidupan
umat yang dikasihi-Nya.
Selamat berjuang, tetaplah maju dan terus raih tujuan, kita tidak
perlu menyerah karena kelelahan atau kesulitan. Perjuangan sebagai
pengikut Kristus memanglah tidak sama dengan berpangku tangan. Ada
bagian-bagian yang harus kita kerjakan dengan penuh ketekunan dalam
setiap tugas dan tanggung jawab kita. Yakin dan percayalah di dalam
Tuhan! Sebab segala sesuatu yang dikerjakan dengan bersandar kepada
Tuhan demi mencapai tujuan sesuai dengan panggilan hidup kita, pasti
ada hasilnya, yaitu mahkota kehidupan yang abadi dari Allah.
***Tuhan Yesus memberkati. Amin.***
Rancangan Khotbah GKE 2023 | 163