KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas segala rahmat dan hidayah-Nya proses pembuatan restrukturisasi potfolio ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu. Dalam pembuatan restrukturisasi portofolio mata kuliah Computational Thinking ini ternyata hasil dari keterlibatan semua pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada: 1. Ibu Diena San Fauziya, M,Pd. Selaku dosen pengampu mata kuliah Computational Thinking yang telah membimbing dan mendidik selama satu semester ini. 2. Rekan-rekan mahasiswa PPG Prajabatan Gelombang 1 Tahun 2024 Prodi Bahasa Indonesia IKIP Siliwangi yang telah belajar dan bekerja sama dengan baik. 3. Penyelenggara program PPG Prajabatan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mempelajari lebih dalam mata kuliah Computational Thinking. Semoga atas bantuan dan dukungan yang telah diberikan mendapatkan pahala dan barokah dari Allas SWT. Penulis tentunya menyadari bahwasannya restrukturisasi portofolio ini masih banyak kekurangan, dengan demikian kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat diharapkan. Semoga portofolio ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Majalengka, 13 Mei 2024 Penulis Citra Arum Febrianty, S.Pd.
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………i DAFTAR ISI………………………………………………………………………………….ii BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………………. Topik 1 Pendalaman Pemahaman Computational Thinking 1. Eksplorasi Konsep……………………………………………………………… 2. Ruang Kolaborasi………………………………………………………………. 3. Demonstrasi Kontekstual………………………………………………………. 4. Aksi Nyata………………………………………………………………………. Topik 2 Computational Thinking dalam Kurikulum 1. Mulai dari Diri………………………………………………………………….. 2. Eksplorasi Konsep……………………………………………………………… 3. Ruang Kolbaorasi………………………………………………………………. 4. Demonstrasi Kontekstual……………………………………………………… 5. Koneksi Antar Materi………………………………………………………….. 6. Aksi Nyata……………………………………………………………………… Topik 3 Computational Thinking dan Problem Solving Subtopik 1 (CT dan Bebras) 1. Eksplorasi Konsep……………………………………………………………… 2. Ruang Kolaborasi………………………………………………………………. Subtopik 2 (CT dan PISA) 1. Eksplorasi Konsep……………………………………………………………... 2. Ruang Kolaborasi……………………………………………………………… 3. Demontrasi Kontekstual………………………………………………………. Subtopik 3 1. Koneksi Antar Materi…………………………………………………………. 2. Aksi Nyata……………………………………………………………………… Topik 4 Computational Thinking dan Proyek (STEM) 1. Eksplorasi Konsep…………………………………………………………….. 2. Ruang Kolaborasi……………………………………………………………... 3. Demonstrasi dan Elaborasi…………………………………………………… 4. Aksi Nyata……………………………………………………………………… Topik 5 Integrasi CT dalam Mata Pelajaran 1. Eksplorasi Konsep……………………………………………………………... 2. Ruang Kolaborasi……………………………………………………………… 3. Demonstrasi Kontekstual……………………………………………………... 4. Koneksi Antar Materi…………………………………………………………. 5. Aksi Nyata……………………………………………………………………....
6. RPP Berintegrasi CT…………………………………………………………. Kelengkapan Portofolio, Post, dan Pertanyaan Reflektif………………………………..
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Computational Thinking atau yang selanjutnya disingkat dengan CT adalah proses berpikir dalam memformulasikan persoalan dan berstrategi dalam memilih solusi yang paling efektif, efisien, optimal untuk dikerjakan oleh agen pemroses informasi. Agen informasi ini dapat berupa manusia atau komputer (perangkat keras, perangkat lunak atau kombinasi perangkat keras dan perangkat lunak). Saat ini, CT yang dinyatakan sebagai literasi baru abad ke-21, di Indonesia diimplementasikan dalam Kurikulum Merdeka. Namun, karena CT adalah hal yang termasuk baru di Indonesia, masih terdapat beberapa kesalahan persepsi tentang CT, misalnya menganggap CT itu berpikir seperti komputer atau CT itu identik dengan pemrograman. Maka selain mengoreksi salah persepsi tentang CT, mata kuliah CT dalam pendidikan ini perlu untuk memperjelas pemahaman CT bagi para guru, dan meletakkan CT pada jenjang usia yang sesuai. Dasar dari CT adalah berbagai konsep dalam bidang Informatika (dalam Bahasa Inggris: informatics, computing, atau computer science). Berkembangnya ilmu Informatika berdampak pada semakin banyaknya persoalan yang dapat diselesaikan dengan bantuan komputer. Komputer terlihat pintar karena dapat membantu manusia menyelesaikan berbagai persoalan. Kepintaran komputer ini sebenarnya disebabkan karena adanya para computer scientist yang bekerja di belakang layar. Computer scientist bekerja sedemikian rupa sehingga komputer dapat menyelesaikan berbagai persoalan dengan efektif, efisien, dan optimal. Pola pikir computer scientist inilah yang mendasari CT. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa CT itu bukan mengajarkan manusia berpikir seperti komputer karena computer scientist adalah seorang manusia yang terus berlatih menyelesaikan berbagai persoalan. CT adalah proses berpikir yang hasilnya tidak selalu berakhir dengan membuat program komputer. Karena CT adalah hal baru, dapat dipahami bahwa masih diperlukan waktu, latihan, dan adaptasi dari para pendidik untuk mengimplementasikan CT sebagai literasi. CT perlu diajarkan sesuai usia karena problem yang perlu diselesaikan pun semakin kompleks seiring dengan perkembangan usia. Karena CT adalah literasi, maka CT tidak terbatas pada keterampilan kognitif, melainkan berkaitan dengan sikap dan penghayatan akan proses berpikir ini. Dengan demikian, CT tidak dapat diajarkan secara teoritis, melainkan perlu ditularkan oleh guru kepada para siswanya. Sebelum mengajarkan CT, seorang guru harus menjadi seorang computational thinker terlebih dahulu. B. Tujuan Penulisan Portofolio ini dilihat untuk memenuhi tugas mata kuliah Computational Thinking sebagai bentuk kumpulan hasil kerja mahasiswa dari pengalaman belajar perkuliahan Computational Thinking. C. Manfaat Penulisan 1. Laporan ini dapat digunakan sebagai alat evaluasi Bapak/Ibu dosen pada mata kuliah Computational Thinking mengenai sejauh mana pemahaman mahasiswa terhadap mata kuliah ini 2. Laporan ini dapat dipergunakan sebagai bahan refleksi bagi mahasiswa PPG Prajabatan 2024 mengenai proses pembelajaran yang sudah diikuti selama perkuliahan Computational Thinking.
Nama : Citra Arum Febrianty NIM : 24920012 Mata Kuliah : Computational Thinking SEL.09.2-T1-3a. Eksplorasi Konsep 1. Hal atau persoalan yang zaman sekarang tidak memakai komputer, TIK, dan robot tetapi membutuhkan CT diantaranya: 1. Memasak 2. Memakai skincare 3. Mengerjakan pekerjaan rumah 4. Olahraga 2. Empat pondasi dalam CT Memasak 10 porsi opor ayam a. Dekomposisi : Ketika kita ingin memasak 10 porsi opor ayam, kita harus memahami bagaimana cara membuat opor ayam, dan bahan apa saja yang dibutuhkan. Dalam membuat opor ayam kita harus menyiapkan alat masak, daging ayam, santan, kunyit, jahe, bawang merah dan bawang putih, kemiri, daun jeruk, daun salam, sereh, garam, gula pasir, merica, minyak goreng, dan lain sebagainya. b. Pengenalan Pola : Dalam memasak pada jumlah yang besar kita harus mempertimbangkan waktu yang dibutuhkan untuk memasak, ukuran alat masak yang dibutuhkan, dan jumlah bahan-bahan yang dibutuhkan. Untuk itu, kita memfokuskan bagaimana kita memasak opor ayam dengan porsi yang banyak dalam satu waktu dengan rasa yang pas. c. Abstraksi : Pada saat memasak dalam porsi besar kita harus mempertimbangkan seberapa banyak bahan yang diperlukan. Dalam memasak opor ayam bahan yang kita butuhkan pada umunya sama, hanya saja dari segi penggunaan alat masak seperti ukuran wajan yang digunakan, bumbu dan bahan lain yang dibutuhkan tergantung dari banyak atau tidaknya porsi yang kita masak. d. Algoritma : Bahan dan langkah-langkah memasak 10 porsi opor ayam Bahan: 1) 3 ekor ayam kampung 2) 15 siung bawang putih 3) 10 siung bawang merah 4) 50 gram kemiri 5) 3 cm kunyit 6) 5 cm jahe 7) 3 lembar daun salam 8) 2 lembar daun jeruk 9) 2 batang sereh 10) 800 ml santan encer 11) 200 ml santan kental 12) 200 ml air 13) 3 sendok garam 14) 2 sendok gula pasir 15) 1/2 sendok merica bubuk 16) Minyak goreng
Langkah-langkah: 1) Siapkan bumbu halus seperti bawang merah, bawang putih, kemiri kunyit dan jahe. 2) Cuci bersih ayam potong, daun salam, daun jeruk, sereh, jahe, kunyit. Geprek sereh lalau sisihkan. 3) Panaskan minyak goreng secukupnya dalam wajan berukuran besar. Kemudian tumis bumbu yang sudah dihaluskan, masukan daun salam, daun jeruk, dan sereh yang sudah digeprek. Setelah itu, masukan 200 ml air dan tunggu hingga mendidih. 4) Masukan ayam yang sudah dicuci bersih, tunggu hingga setengah matang, kemudian masukan 200 ml santan kental dan 800 ml santan encer. Agar ayam matang dengan sempurna, gunakan api sedang untuk memasaknya dan aduk secara perlahan agar santan tidak pecah. 5) Masukan 3 sendok garam, 2 sendok gula pasir, 1/2 sendok merica bubuk, aduk rata dan koreksi rasa. Masak hingga matang. 6) Setelah matang, matikan kompor. Opor ayam siap dihidangkan.
Ruang Kolaborasi Kelompok 1 Nama/No. Kelompok: Kelompok 1 No. Induk/ Nama Mahasiswa 1. Rizka Retno Muliati/24920009 2. Citra Arum Febrianty/24920012 3. Vinna Rumayara/24920018 4. Febriana Ninggih Ningrum/24920008 Hasil Diskusi secara umum: Kegiatan sehari-hari yang tidak menggunakan robot dapat melibatkan CT maupun tidak melibatkan CT. Penerapan empat pondasi CT dilakukan untuk menunjukan langkahlangkah sampai terdapat penyelesaian masalah. Namun, permasalahan yang tidak melibatkan CT tidak terpapar secara jelas penyelesaian masalahnya. Contoh hal atau persoalan zaman sekarang yang tidak memakai “komputer”, TIK, dan robot tapi membutuhkan CT. 1. Mengatur keuangan bulanan sebagai anak kos 2. Menjaga Stabilitas Berat Badan berdasarkan Karakteristik Tubuh 3. Pentingnya Ilmu Public Speaking untuk Menunjang Profesi Guru Penerapan fondasi CT dalam kehidupan sehari-hari. A. Jawaban yang sudah tepat 1. Mengatur Keuangan bulanan sebagai anak kos • Dekomposisi 1) Membeli jajanan yang terjangkau harganya 2) Mengetahui tempat membeli makanan yang enak, bersih, dan terjangkau harganya maupun jaraknya 3) Menyiapkan persediaan makanan atau cemilan dari rumah • Pengenalan Pola Mengatur uang bulanan (per satu bulan), lalu dibagi jumlah hari dalam satu bulan (misalnya 30 hari), setelah itu akan diketahui maksimal pengeluaran per hari. Jika jumlah pengeluaran per hari terdapat sisa, maka dapat ditabung untuk memenuhi keinginan • Abstraksi Memehuni kebutuhan daripada keinginan, karena keinginan dapat dikesampingkan • Algoritma 1) Langkah-langkah yang dapat dilakukan, sebagai berikut 2) Mengetahui jumlah uang yang didapatkan dalam satu bulan 3) Membagi uang bulanan tersebut dengan cara (jumlah uang bulanan dibagi dalam 30 hari) 4) Mengetahui maksimal pengeluaran perhari menabung sisa dari uang haria 5) Merealisasikan keinginan menggunakan tabungan uang tersebut 2. Menjaga Menjaga Stabilitas Berat Badan berdasarkan Karakteristik Tubuh • Dekomposisi 1) Mengatur waktu yang pas untuk sarpan, makan siang, makan malam, 2) Mengetahui makanan apa saja yang baik untuk defisit kalori, 3) Mengetahui makanan apa saja yang perlu dihindari ketika defisit kalori, 4) Melakukan olahraga • Pengembangan Pola Dalam melakukan defisit kalori kita perlu mengkonsumsi kalori sebanyak 1.800 sampai 2.000 kalori. Makanan yang baik untuk dikonsumsi ketika melakukan difisit
kalori yaitu lebih memperbanyak memakan sayur dan buah. Dan yang terpenting dalam melakukan defisit kalori yaitu bagaimana kita mengatur waktu yang baik dalam mengkonsumsi makanan pada saat sarapan, makan siang, makan malam dan berolahraga minimal seminggu 2 kali. • Abstraksi Gamaimana kita merealisasikan program diet dengan defisit kalori disela-sela aktivitas yang padat. • Algoritma Tips dalam melakukan defisit kalori disela-sela aktivitas yang padat: 1) Belanja kebutuhan makanan yang diperlukan ke supermarket terdekat atau pasar yang dilakukan di waktu luang ( hari libur). 2) Menyiapkan menu makan harian baik untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Menyiapkan bekal sebelum mulai beraktivitas. 3) Berolahraga dihari libur bisa dengan berolahraga lari, yoga filates dan lain sebagainya. Tidur yang cukup. 3. Pentingnya Ilmu Public Speaking untuk Menunjang Profesi Guru • Dekomposisi 1) Menyampaikan materi pembelajaran dengan efektif. 2) Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan 3) Mampu mengendalikan situasi kelas selalu stabil 4) Menumbuhkan sikap/karakter siswa yang lebih baik. 5) Membuka peluang karir yang lebih besar • Pengenalan Pola Guru merupakan profesi yang membutuhkan keterampilan dalam berbicara. Oleh sebab itu ilmu public speaking bagi guru sangat penting, selain akan mampu menyampaikan materi dengan baik, efektif dan menarik, membangun hubungan dengan peserta didik dan memengaruhi pola pikir dan perilaku mereka. Guru yang pintar public speaking akan mudah menghadapi situasi yang tidak terdung sebelumnya. Jika guru memiliki banyak wawasan luas serta dapat menyampaikan ilmunya dengan baik kepada siswa, maka proses pembelajaran di kelas akan lebih bermakna dan menyenangkan. • Algoritma Hal yang dapat dilakukan dengan cara: 1) Mengetahui teknik dasar publik speaking meliputi intonasi, vokal, gestur dan mimik wajah. 2) Memperbanyak ilmu pengetahuan baru dengan cara banyak membaca buku. 3) Aktif berpartisipasi dalam forum diskusi kelompok/komunitas. 4) Menguasai topik/materi yang akan disampaikan. 5) Berani untuk bertanya dan menuangkan ide yang dimiliki. 6) Mampu mengontrol emosi 7) Selalu fokus 8) Menguasai topik/materi yang akan disampaikan. B. Jawaban yang kurang tepat 1. Mengatasi Wajah Berjerawat • Dekomposisi Dalam cerita diatas, saya dapat mengklasifikasikan penyebab permasalahan pada wajah berjerawat, mulai dari ketidak cocokan skin care yang digunakan, bakteri dari lingkungan berupa debu, pola hidup yang tidak sehat (makanan berminyak dan kacang-kacangan), dan tidak membersihkan wajah secara maksimal. • Pengenalan Pola Pada awalnya saya mengalami ruam kemerahan di area wajah. Beberapa hari berikutnya muncul bintik-bintik kecil berupa jerawat di area wajah. Setelah
mengalami permasalahan hal tersebut saya mulai memikirkan beberpa faktor penyebabnya. • Abstraksi Permasalahan jerawat pada wajah saya bisa diatasi dengan cara berkonsultasi dengan dokter kecantikan, namun saya tidak melakukan hal tersebut dikarenakan biaya yang cukup mahal. Sehingga saya mengatasi masalah tersebut dengan cara menganalis beberapa faktor penyebab wajah berjerawat. • Algoritma Berdasarkan pengetahuan yang saya miliki mengenai permasalahan wajah berjerawat, terdapat empat faktor penyebab wajah berjerawat yaitu ketidak cocokan skin care yang digunakan, bakteri dari debu, pola hidup yang tidak sehat, dan tidak membersihakan wajah secara maksimal. Setelah menganalisis beberapa penyebab wajah berjerawat, inti dari permasalahannya yaitu terletak pada skin care yang digunakan.
Demonstrasi Kontekstual Kelompok 1 Nama Anggota: 1. Rizka Retno Muliati/24920009 2. Citra Arum Febrianty/24920012 3. Vinna Rumayara/24920018 4. Febriana Ninggih Ningrum/24920008 Nama/No. Kelompok: Kelompok 2 No. Induk / Nama Mahasiswa: 1. Tria Wibawa 2. Khairunnisa Fitriany Yustikasi 3. Anisa Ayu Fitria 4. Kuswari Feedback/pertanyaan: Tanggapan/solusi: Kelompok 1 masih meletakan informasi yang bersifat kontekstual di awal bahan presentasi. Alangkah baiknya, penyajian materi pada slide pertama menyertakan pertanyaan faktual misalnya menyertakan mengenai pengertian CT ataupun teori mengenai fondasi CT secara jelas. Contoh CT nya sudah tepat dan suka memuat empat pondasi CT, tetapi solusi yang dipilih kurang tepat karena masih menggunakan teknologi mesin atau robot (masih menggunakan teknologi). Menemukan penyelesaian permasalahan yang tidak menggunakan teknologi. Nama/No Kelompok: Kelompok 3 No. Induk / Nama Mahasiswa: 1. Ranti Minhaqillah 2. Fadilah Nur Rahma 3. Novianti Ramadhani Putri 4. Alni Dwi Septiani
Feedback/pertanyaan: Tanggapan/solusi: Pada Power Point yang dibuat oleh kelompok 3 diawali dengan informasi konseptual. Alangkah baiknya, penyajian materi diawali dengan informasifaktual, agar audiens mengetahui materi. CT yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sudah runtut disertai 4 fondasi CT yang jelas - Penerapan CT dalam kehidupan sehari-hari dicantumkan berdasarkan pengalaman Tanggapan: saat menyampaikan secara lisan, pemateri sudahhafal karena contoh penerapan CT sudah pernah dialami. Nama/No Kelompok: Kelompok 4 No. Induk / Nama Mahasiswa: 1. Romadhoniyati R W 2. Regita Widiarti 3. Suciani 4. Pratiko Feedback/pertanyaan: Tanggapan/solusi: Power poit yang disajikan masih diawali dengan pertanyaan konseptual. Tanggapannya Konsep PPT akan lebih tepat jika informasi yang bersifat faktual disimpan di bagian pembuka/awal. Perbedaan antara pertanyaan faktual dan konseptual yaituPertanyaan faktual menanyakan jawaban yang sederhana danlugas berdasarkan fakta atau kesadaran yang jelas. SedangkanPertanyaan konsep harus memeriksa pemahaman itembahasa, bukan situasi. Pemilihan contoh dalam penggunaan CT dalam kehidupan sehari-hari - sudah tepat. -
Nama : Citra Arum Febrianty NIM :24920012 SEL.09.2-T1-8. Aksi Nyata 1. Apa harapan/target Anda dalam mengikuti mata kuliah ini? Jawab: Melalui pengetahuan baru dari pemahaman CT diharapkan saya mampu memahami konsep CT dengan baik dan benar, mampu mengembangkan pemikiran dan memiliki keterampilan CT yang baik, mengelola suatu permasalahan dengan menguraikan sesuai dengan pondasai CT sehingga terselesaikan dengan baik. Selain itu, saya berharap dapat menerapkan pemahaman CT dalam menganalisis suatu permasalahan mengenai peserta didik sehingga dapat terpecahkan dan terselesaikan dengan menerapkan langkah-langkah cara berpikir 4 fondasi CT (dekomposisi, pengenalan pola, abstrak, dan algoritma). Dan yang terpenting bisa menjadi seorang pendidik yang mampu memiliki kepribadian yang bijak dalam dunia pendidikan dengan menggunakan konsep Computational Thinking (CT). 2. Pemahaman baru apa yang Anda dapatkan setelah mempelajari CT? Jawab: Setelah mempelajari CT saya dapat memahami bahwa CT merupakan cara berpikir untuk menemukan sebuah pemecahan atau solusi yang efektif, efisien, dan optimal. Memahami 4 fondasi landasan pemecahan masalah yang sangat penting diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan pembelajaran. 3. Bagaimana pendapat Anda mengenai keberadaan CT dalam kehidupan Anda? Jawab: Dengan adanya keberadaan CT dalam kehidupan sangat penting, karena dengan adanya CT sangat membantu dalam menghadapi persoalan sederhana maupun kompleks dalam kehidupan sehari-hari. Dapat menyelesaikan persoalan dengan melakukan penyusunan strategi, menganalisis, mengkonsep masalah sehingga mendapatkan solusi yang efektif, efisien, dan optimal. Sebagai guru keberadaan CT akan memudahkan saya sebagai seorang guru dalam menyelesaikan permasalahan dalam pembelajaran. 4. Bagaimana perasaan Anda setelah belajar mengenai CT? Jawab: Sebagai calon guru profesional yang memiliki tanggung jawab yang besar terhadap peserta didik saya senang karena dapat belajar dan mendapatkan ilmu yang baru terkait dengan CT. Selain itu saya dapat mengaplikasikan di kehidupan sehari-hari maupun dalam proses pembelajaran dan membawa pemikiran peserta didik yang siap untuk bersaing di era global untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi. 5. Apa potensi kendala yang mungkin akan Anda alami selama mengikuti kuliah ini? Jika ada, tindakan apa yang akan Anda lakukan untuk mengantisipasinya? Jawab: Materi CT yang masih baru untuk saya membuat saya tidak langsung paham terhdap materi CT, dan hal tersebut mejadi salah satu kendala bagi saya. Hal yang saya lakukan untuk mengantisipasi permasalahan tersebut dengan memaksimalkan diri menggali lebih dalam tentang semua hal yang berkaitan dengan CT melalui cara berdiskusi dengan teman dan lebih banyak membaca referensi mengenai CT dan penerapanya.
Nama : Citra Arum Febrianty NIM : 24920012 SEL.09.2-T2-2. Mulai Dari Diri 1. Bagaimana pendapat Anda mengenai keberadaan CT di dalam Kurikulum Merdeka? Jawab: Kurikulum merdeka mendalami enam elemen yang dimuat dalam P5 diantaranya, berakhlak mulia, berkebhinekaan global, mandiri, gotong royong, bernalar kritis, dan kreatif. Dari pemahaman dan tujuan yang terkandung dalam kurikulum merdeka ini, menurut saya keberadaan CT sudah sangat baik mengingat adanya tujuan pembelajaran yang mewujudkan peserta didik untuk bernalar kritis dan kreatif sesuai dengan konsep CT. Hal ini dapat dilihat dari project P5 yang dilaksanakan di sekolah setiap bulanya yang mengarahkan peserta didik membuat suatu karya/ project sesuai dengan bakat dan minat yang mereka tuangkan dalam konsep berpikir CT. 2. Karena CT berada dalam kurikulum, CT dipandang sebagai sesuatu yang perlu dipelajari oleh peserta didik. Menurut Anda, mengapa CT tidak diberikan sebagai mata pelajaran tersendiri? Jawab: Menurut pendapat saya, CT tidak diberikan sebagai mata pelanajaran tersendiri melainkan karena mengingat bahwa CT merupakan suatu konsep berpikir. Dimana hal ini menjelaskan bahwa CT dapat digunakan di segala bidang dan mata pelejaran apapun tanpa harus menciptakan mata pelejaran itu sendiri. CT merupakan suatu keterampilan berpikir yang harus ada pada setiap mata pelajaran. 3. Pada saat Anda membaca referensi-referensi yang ditugaskan oleh dosen Anda, bagian mana yang: • Paling menarik untuk Anda? Mengapa? • Paling sulit untuk diajarkan? Mengapa? Jawab: CT dapat digunakan disegala bidang terlebih setiap mata pelajaran sehingga membentuk pola pikir yang kritis dan analitis. Melalui kebijakan penerapan CT dalam kurikulum ini, diharapkan dapat mengubah paradigma belajar di sekolah yang selama ini masih cenderung berpusat pada guru menjadi pembelajaran berpusat pada siswa (Student Centered Learning). Salah satu tantangan terbesar adalah cara menyederhanakan konsep CT agar siswa dapat memahaminya dan mengimplementasikannya dalam pembelajaran dan kehidupan seharihari. • Paling menarik untuk Anda? Mengapa? Yang menarik bagi saya yaitu CT yang harus diterapkan kepada peserta didik. karena CT merupakan pemecahan masalah dan juga mencari solusi sehingga harus diintegrasikan di semua mapel dan pemecahan masalah di kehidupan sehari-hari. • Paling sulit untuk diajarkan? Mengapa? Yang paling sulit menurut saya yaitu menentukan pada permasalahan dalam CT juga dapat mengaplikasikan CT kedalam pembelajaran yang memuat fondasi CT karena harus runtut dalam setiap step pembuatan CT.
Nama : Citra Arum Febrianty NIM : 24920012 SEL.09.2-T2-3a. Eksplorasi Konsep – Lembar Kerja Mahasiswa Nama/NIM Citra Arum Febrianty/24920012 Fase (A/B/C/D/E/F) D CP Pada akhir fase D, peserta didik dapat menggunakan pemikiran komputasional untuk menghasilkan berbagai solusi dari masalah dengan data diskrit bervolume kecil dan mengintegrasikan pemikiran komputasional kea dalam bidang lain, terutama dalam literasi, numerasi, dan literasi sains (computationally literate). Kata-kata atau istilah yang belum diketahui maknanya Makna yang didapat setelah mencari tahu lebih lanjut mengenai kata/istilah tersebut: 1. Mendisposisikan 2. Data diskrit 3. Volume 1. Tesaurus tematis Bahasa Indonesia menggambarkan bahwa “mendisposisikan” memiliki arti seperti memerintahkan, menempatkan (orang), mengesankan, menginstruksikan, mengumumkan, menyatakan, menyuruh, dan merekomendasikan. Sementara menurut KBBI, “mendisposisikan” berasal dari kata “disposisi” yang artinya mengatur, menyusun, dan menempatkan. 2. Data diskrit adalah data yang memiliki nilai terbatas dan dapat dihitung secara pasti, umumnya dalam bentuk grafik atau diagram batang. 3. Menurut tesaurus tematis Bahasa Indonesia, “volume” memiliki arti seperti ukuran, besar, kadar, kandungan, kapasitas. Sementara menurut KBBI, “volume” memiliki arti banyaknya, besarnya, dan bobot.
Tuliskan pemaknaan mengenai CP tersebut setelah Anda memahami setiap istilah yang terdapat pada CT tersebut: Setelah mencari makna dari istilah-istilah yang belum dimengerti, saya mendapatkan pemahaman dari nalar saya untuk memahami CP pada fase D. Setelah mempelajari informatika, diharapkan peserta didik dapat mengasah keterampilan dalam memecahkan persoalan dengan menghasilkan solusi dari data yang terbatas. Setelah mengasah keterampilan tersebut, diharapkan peserta didik mampu mengintegrasikan Pemikiran Komputasional (CT) pada mata pelajaran lain dengan menginstruksikan pikirannya untuk memecahkan masalah. Dalam konteks ini, guru dapat merangsang peserta didik agar mampu mengintruksikan untuk berpikir komputasional.
Ruang Kolaborasi Kelompok 1 Nama/NIM anggota Nama/NIM anggota Nama/NIM anggota Nama/NIM anggota Rizka Retno Muliati/24920009 Febriana Ninggih N/ 24920008 Citra Arum Febrianty/24920012 Vinna Rumayara/24920018 Fase (A/B/C/D/E/F) Fase D CP Pada akhir fase D, peserta didik mampu menerapkan berpikir komputasional untuk menghasilkan beberapa solusi dari persoalan dengan data diskrit bervolume kecil serta mendisposisikan berpikir komputasional dalam bidang lainterutama dalam literasi, numerasi, dan literasi sains (computationally literate). Istilah dan makna dari kata-kata yang sudah disepakati oleh kelompok: 1. Mendisposisikan 2. Data Diskrit 3. Literasi sains Kata-kata yang dipahami sebagai makna yang berbeda oleh anggota kelompok. Diskusikan lebih lanjut tentang perbedaan makna tersebut! Diskusikan juga dengan konsep pada saat eksplorasi konsep! 1. Menurut tesaurus tematis bahasa indonesia mendisposisikan artinya memerintahkan, menempatkan (orang), mengesahkan, menginstruksikan, mengumumkan, menyatakan, menyuruh, merekomendasikan. Sementara menurut KBBI berasal dari kata disposisi yang artinya mengatur, menyususun dan menempatkan. Mendisposisikan juga dapat dikatakan sebagai sebuah instruksi yang nantinya akan menghasilkan sebuah tanggapan dari apa yang yang telah di instruksikan. Setelah diberikan instruksi dan mendapatkan sebuah tanggapan, maka akan dilaporkan secara keseluruhan dari hasil tanggapan yang telah di dapat. 2. Secara umum data diskrit yaitu data yang mempunyai jumlah terbatas dan tentunya merupakan data yang bisa dihitung. Data diskrit juga mampu untuk mengakses, mengolah, dan menganalisa sebuah data ssecara efektif, efisien, terstruktur, dan sistematis.
Literasi sains menurut KBBI merupakan kemampuan untuk memahami fenomena alam dan sosial serta kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat secara ilmiah untuk dapat hidup dengan nyaman sehat dan baik. OECD (2004) menjelaskan bahwa domain literasi sains terdiri atas konteks, pengetahuan,pendidikan dan sikap. Oleh sebab itu literasi sains dapat didefinisikan sebagai Literasi sains didefinisikan sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan sains, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan buktibukti, dalam rangka memahami serta membuat keputusan berkenaan dengan alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia. Tuliskan pemaknaan mengenai CP yang dibahas di kelompok, sesuai pemahaman bersama seluruh anggota kelompok! Berdasarkan pemahaman kelompok kami capaian pembelajaran yang disebutkan menunjukkan bahwa pada akhir fase D, peserta didik memiliki kemampuan berpikir komputasional dalam memecahkan masalah dengan data diskrit yang memiliki volume kecil. Mereka tidak hanya mampu menghasilkan beberapa solusi untuk masalah tersebut, tetapi juga dapat menerapkan konsep berpikir komputasional secara luas termasuk dalam literasi, numerasi, dan literasi sains. Secara lebih spesifik, capaian pembelajaran tersebut menunjukkan bahwa peserta didi mampu: 1. Memahami konsep berpikir komputasional dan menerapkannya dalam memecahkan masalah dengan data diskrit. 2. Mampu menghasilkan beberapa solusi yang memanfaatkan pemikiran komputasional untuk menyelesaikan masalah. 3. Mampu menghubungkan dan menerapkan berpikir komputasional dalam konteks literasi (kemampuan membaca dan menulis), numerasi (kemampuan berhitung dan pemahaman matematika), dan literasi sains (pemahaman konsep-konsep ilmiah). Dengan demikian, peserta didik diharapkan menjadi kompeten dalam memecahkan masalah di berbagai konteks dengan menggunakan alat yaitu berpikir komputasional, serta memiliki pemahaman tentang bagaimana berpikir komputasional dapat diterapkan secara efektif dalam kehidupan sehari-hari dan dalam disiplin ilmu yang berbeda. Peserta didik juga akan lebih memahami materi yang telah disampaikan secara penuh dan dapat diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari. Fse D juga membuat peserta didik memiliki kesiapan dalam pembelajaran yang nantinya juga membentuk karakteristik peserta didik dengan baik
Nama : Citra Arum Febrianty NIM : 24920012 SEL.09.2-T2-5a. Demonstrasi Kontekstual Nama/NIM: Citra Arum Febrianty/24920012 Fase Istilah yang baru diketahui maknanya Makna dari istilah D 1. Data diskrit 2. Literasi sains 3. Mendisposisikan 1. Data diskrit adalah data yang diperoleh dengan cara mencacah atau menghitung. Contoh : jumlah pramuniaga, jumlah mesin, jumlah pengunjung, jumlah anak dan sebagainaya. 2. Literasi sains dapat diartikan sebagai pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta, memahami karakteristik sains, kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan alam, intelektual, dan budaya, serta kemauan untuk terlibat dan peduli terhadap isu-isu yang terkait sains (OECD, 2016). 3. Mendisposisikan adalah tindakan atau proses menempatkan atau mengatur sesuatu pada posisi atau tempat tertentu. Ini bisa merujuk pada cara seseorang mengatur atau mengorganisir barang- barang, informasi, atau orang-orang untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks tertentu, mendisposisikan juga dapat merujuk pada pengaturan atau penempatan hukum atau dokumen secara formal.
E 1. Strategi Algoritmik 2. Justifikasi 1. Kumpulan metode atau teknik untuk memecahkan masalah guna mencapai tujuan yang ditentukan, yang dalam hal ini deskripsi metode atau tehnik tersebut dinyatakan dalam suatu urutan langkah – langkah penyelesaian. 2. Pembuktian atau suatu proses untuk menyodorkan fakta yang mendukung suatu hipotesis atau proposisi. Tuliskan pemahaman yang Anda dapat dari presentasi rekan Anda mengenai CP CT pada fase yang berbeda dari fase yang Anda kerjakan dalam kelompok! Fase D Pemaknaan CP Peserta didik diharapkan dapat menyelesaikan berbagai persoalan (penugasan) dengan berpikir komputasional. Dalam hal ini, peserta didik mampu mampu menyelesaikan permasalahan tersebut dengan berbagai solusi. Fase E Pemaknaan CP Sama halnya seperti pada fase D, bahwa peserta didik harus mampu menemukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan, sehingga permasalahan dapat diselesaikan dengan efesien dan optimal.
Nama : Citra Arum Febrianty NIM : 24920012 SEL.09.2-T2 -T2-8. Aksi Nyata 1. Bagaimana perasaan Anda saat menelaah lebih lanjut mengenai CP CT dalam pertemuan kuliah ini? Jawab: Setelah membaca dan menelaah mengenai CP CT saya bahwa ada beberapa kata asing yang baru saya dengar dan saya merasa kebingungan dengan mata kuliah CT ini megenai CP CT. Dengan adanya modul dan lembar kerja yang menjadi panduan membuat merasa saya terbantu serta saya mempunyai ilmu baru terkait mata kuliah yang baru saya temui ini. Setelah saya mempelajari CT pada kuliah ini, memang diperlukan adanya pemahaman CT bagi peserta didik. Maka dengan begitu peserta didik akan terbiasa menyelesaikan permasalahan dengan menerapkan CT. Dengan demikian saya tertarik dan senang untuk mempelajarai CT. 2. Tuliskan pengetahuan-pengetahuan baru yang Anda dapatkan dari pertemuan ini Jawab: Saya mendapatkan pengetahuan baru bahwa CT merupakan diterapkan literasi berpikir yang harus terus dilatih sehingga dapat diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari untuk memecahkan permasalahan. Dengan mempelajari CT melalui aktivitas problem solving menggunakan soal bebras, saya dapat mengembangkan kemampuan pemecahan masalah, pemikiran logis dan pemahaman tentang konsep-konsep dasar dalam ilmu komputer. Saya juga sekarang mengengetahui kenapa CT tidak diajarkan sebagai mata pelajaran terpisah karena mengetahui keterkiatan CP CT dengan CP pembelajaran serta mampu menyelesaikan permasalahan dengan CT. Setelah berdiskusi teman-teman saya juga mendapat pengetahuan mengenai baru CP CT setiap fase dan juga keterakitannya CP CT untuk fase D-fase F.
Nama : Citra Arum Febrianty NIM : 24920012 SEL. SEL.09.2-T3-2 - 02.03. Lembar Kerja Reflektif individual Subtokpik 1_Eksplorasi Konsep1 Jenjang Judul Soal Jawaban SD Karangan Bunga Menurut saya soal yang diberikan pada jenjang SD sudah sesuai. Namun soal tersebut tidak berlaku untuk semua tingkatan kelas. Khususnya pada tingkat kelas 1-3, mengingat tingkat pemahaman membaca peserta didik yang belum mumpuni. Sedangkan pada tingkat kelas 4-6, mereka akan dapat menyelesaikan masalah pada soal tersebut. Karena pada tingkat kelas tersebut peserta didik sudah mumpuni dalam membaca, yaitu dalam menyesuaikan gambar dengan syarat yang ditentukan. Berdasarkan jenisnya yang memang membutuhkan kemampuan literasi membaca, maka soal ini relevan dengan bidang pembelajaran bahasa Indonesia. SMP Kursi Musik Menurut saya soal yang diberikan sudah sesuai dengan tingkatan pemahaman SMP yang sudah mampu menyederhanakan algoritma kemudian melakukan analisis dan pada akhirnya mampu menemukan solusi dari uraian informasi-informasi, gambar serta alur pengerjaan. Namun, waktu yang dibutuhkan oleh peserta didik tidaklah sedikit dalam pengerjaan soal tersebut. Berdasarkan jenisnya yang memang membutuhkan kemampuan literasi membaca, maka soal ini relevan dengan bidang pembelajaran bahasa Indonesia. SMA Titik Utama Wifi Menurut saya soal yang diberikan sudah sesuai dengan tingkatan peserta didik pada jenjang SMA. Hal ini berkaitan dengan kemampuan peserta didik pada tingkat terkait yang dirasa memang sudah mampu melakukan evaluasi dan analisis secara abstrak dan mampu memiliki solusi yang lebih beragam untuk memecahkan suatu permasalahan. Berdasarkan jenisnya yang memang membutuhkan kemampuan berliterasi, maka soal ini relevan dengan bidang pembelajaran bahasa Indonesia.
Judul soal : Memindahkan Dadu Kode soal : I-2017-MY-05 Jenjang : SD, SMP, dan SMA Deskripsi Soal Jack si berang-berang menggulirkan sebuah dadu sepanjang jalan tanpa penggeseran. Untuk memindahkan dadu dari satu petak ke petak berikutnya, Jack memutar dadu sepanjang pinggir yang ada di perbatasan antara dua petak. Dia melakukannya n kali sampai dadu mencapai petak berisi bulatan putih. Masing-masing jenjang (SD, SMP, SMA) menggunakan nilai n yang berbeda. Perhatikan Gambar 3.10 berikut ini! Gambar 3.10: Soal Memindahkan Dadu untuk Jenjang SD, SMP, SMA. Gambar diadaptasi dari (NBO Bebras Indonesia, 2019) Perhatikan bahwa jumlah titik-titik pada dua sisi yang berlawanan di sebuah dadu selalu 7 (1 berlawanan dengan 6; 2 berlawanan dengan 5; 3 berlawanan dengan 4). Pada mulanya, sisi dengan 1 titik (berlawanan dengan sisi 6) ada di dasar dadu, seperti ditunjukkan pada gambar. Setelah memutar dadu sekali ke petak kedua, sisi dengan 2 titik (berlawanan dengan 5) akan berada di dasar dadu. Tantangan Sisi dadu dengan berapa titik ada di atas permukaan dadu saat dadu mencapai petak hijau di ujung? Nama : Citra Arum Febrianty NIM : 24920012 Subtokpik 1_Eksplorasi Konsep2
Setelah Anda mempelajari contoh yang diberikan pada paparan konsep, Anda diberikan sebuah soal latihan untuk dikerjakan. Soal ini dapat digunakan untuk jenjang SD, SMP, SMA. Perbedaan untuk masingmasing jenjang adalah kompleksitas soal. Tujuan diberikan soal ini adalah agar Anda dapat melihat bahwa sebuah ide soal dapat diberikan ke jenjang yang berbeda-beda dengan menyesuaikan tingkat kesulitan soal. Dari latihan soal ini, Anda juga mengamati perbedaan kesulitan soal pada jenjang yang berbeda-beda. Nama/ NIM Citra Arum Febrianty/24920012 Jenjang/mata pelajaran yang diampu SMP/Bahasa Indonesia Judul Soal Memindahkan Dadu No Pertanyaan Jawaban 1. Tuliskan solusi untuk masing-masing soal! Jenjang SD Solusi: Dalam konteks yang diberikan, angka yang tepat adalah 5. Ini disebabkan oleh fakta bahwa ketika mencapai petak terakhir, sisi dadu yang menunjukkan jumlah titik 2 berada di bagian bawah dadu. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa sisi dadu yang memiliki 5 titik berada di bagian atas dadu, sementara sisi dadu yang memiliki 2 titik berada di sisi bawah dadu. Jenjang SMP Solusi: Dalam hal ini, jawaban yang benar adalah 3. Ini disebabkan oleh fakta bahwa ketika mencapai petak terakhir, sisi dadu yang memiliki jumlah 4 titik berada di bagian bawah dadu. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa sisi dadu yang memiliki 3 titik berada di bagian atas dadu, sementara sisi dadu yang memiliki 4 titik berada di bagian bawah dadu. Jenjang SMA Solusi: Dalam konteks ini, jawabannya adalah 4. Hal ini karena pada petak terakhir, sisi dadu dengan jumlah 3 titik berada di bagian bawah dadu. Sebagai hasilnya, dapat disimpulkan bahwa sisi dadu yang memiliki 4 titik berada di bagian atas dadu. Sisi dadu yang memiliki 3 titik berada di sisi bawah dadu, sesuai dengan aturan awal bahwa jumlah total sisi yang berlawanan pada dadu adalah 7. 2. Tuliskan langkah-langkah berpikir anda hingga mendapat solusi dari masing-masing soal! Jika anda menggunakan lebih dari sat cara pikir, tuliskan pada jenjang mana anda menggunakan cara pikir tersebut! Saya menggunakan pendekatan visual konkret untuk memecahkan masalah ini. Setiap kali saya menghadapi masalah, saya selalu mengingat aturan bahwa jumlah titik pada sisi yang berlawanan haruslah 7. Berikut ini adalah penjelasan langkah-langkah penyelesaiannya: 1. Membuat sebuah perangkat sederhana yang terdiri dari dadu dan jalur berpetak.
2. Mengatur posisi titik pada dadu sesuai dengan aturan yang berlaku, yaitu memastikan bahwa jumlah titik pada sisi-sisi yang berlawanan sama dengan 7. 3. Menetapkan letak awal dadu sesuai dengan ilustrasi yang telah ditentukan sebelumnya, dengan sisi atas menampilkan angka 6, sisi bawah menampilkan angka 1, sisi kanan menampilkan angka 3, dan sisi kiri menampilkan angka 4. 4. Menggulirkan dadu sepanjang jalur berpetak yang telah ditentukan. 5. Mengamati titik yang muncul di bagian atas dadu setiap kali dadu digulirkan satu petak. 6. Mencatat titik yang muncul di bagian atas dadu setiap kali melakukan satu langkah di jalur berpetak. 7. Jika dadu telah mencapai ujung jalur berpetak, titik yang berada di bagian atas dadu dapat ditentukan. 3. Identifikasi 4 fondasi CT yang Anda gunakan dalam menyelesaikan persoalan ini! 1. Dekomposisi: Pada tahap ini, persoalan diuraikan menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana, seperti pembuatan alat peraga dadu dan lintasan. 2. Pengenalan Pola: CT diterapkan dengan mengenali pola bahwa sisi dadu yang berlawanan jika dijumlahkan akan selalu sama dengan 7, yang membantu dalam memprediksi hasil dadu. 3. Abstraksi: Melakukan penyederhanaan dengan hanya mencatat sisi atas dan bawah dadu, karena informasi lainnya dapat direpresentasikan melalui kedua sisi tersebut. 4. Algoritma: Langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah dipetakan secara berurutan dan sistematis, mulai dari membuat alat peraga, menggulirkan dadu, mencatat, hingga menarik kesimpulan. 4. Adakah contoh pada kehidupan sehari-hari yang mengimplementasikan konsep yang ada pada soal ini? Contoh kehidupan sehari-hari yang mencerminkan konsep-konsep yang terdapat dalam soal ini adalah bermain ular tangga dan catur. Dalam permainan ular tangga, pemain memiliki tujuan yang jelas, yaitu mencapai garis finish secepat mungkin. Jalur permainan yang terdiri dari banyak petak berderet mencerminkan konsep lintasan dalam soal. Setiap pemain melangkah ke depan berdasarkan hasil lemparan dadu, yang bisa dianggap sebagai penggunaan konsep angka pada sisi dadu. Sementara itu, dalam permainan catur, pemain juga memiliki tujuan yang pasti, yaitu menyekak raja lawan. Setiap bidak memiliki pola gerakan yang unik, misalnya gerakan diagonal untuk gajah, horizontal dan vertikal untuk benteng, serta berbagai pola lainnya untuk bidak-bidak lainnya. Pemahaman pola gerakan ini membutuhkan pengenalan pola
5. Tuliaskan perbedaan kompleksitas persoalan untuk masing-masing jenjang yang terdapat di soal ini! seperti yang dijelaskan dalam soal. Dengan demikian, kedua permainan ini mencerminkan penggunaan konsep dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma seperti yang terdapat dalam soal. Berdasarkan tingkat pendidikan masing-masing, terlihat jelas bahwa kompleksitas permasalahan berbeda-beda. Salah satu aspek kompleksitas adalah dalam hal bentuk lintasan dan jumlah petak pada lintasan. Setiap tingkat pendidikan menghadirkan peningkatan jumlah petak sebanyak 2 kotak dari tingkat sebelumnya. Misalnya, di SD terdapat 6 petak, di SMP terdapat 8 petak, dan di SMA terdapat 10 petak. Selain itu, bentuk lintasan juga menjadi lebih kompleks seiring dengan peningkatan tingkat pendidikan. Pada tingkat SMP dan SMA, terdapat lebih banyak lintasan yang berkelok-kelok, sementara pada tingkat SD hanya terdapat satu lintasan yang berkelok. Misalnya, di SD terdapat satu lintasan berkelok, di SMP terdapat tiga lintasan berkelok, dan di SMA terdapat empat lintasan berkelok. Semakin banyak lintasan yang berkelokkelok, semakin banyak juga perubahan arah yang harus dihadapi oleh dadu. Hal ini mengharuskan pemain untuk lebih berkonsentrasi dan teliti dalam menentukan pola, melakukan abstraksi, dan mengikuti algoritma baru yang mungkin diperlukan.
Kelompok : 1 Anggota : Citra Arum Febrianty Febriana Ninggih Ningrum Rizka Retno Muliawati Vinna Rumayara Tabel 3.1 Penilaian Teman Kelompok Penilaian dari teman kelompok Kriteria Penilaian Anggota 1 (Febri) Anggota 2 (Rizka) Anggota 3 (Vinna) Apakah cara mengerjakan soal yang dituliskan dapat dipahami? Cara pengerjaan soal sudah sistematis dan mudah dipahami (A) Cara pengerjaan soal sudah sistematis dan mudah dipahami (A) Cara pengerjaan soal sudah sistematis dan mudah dipahami (A) Apakah cara mengerjakan sudah lengkap? Dalam setiap jenjang cara mengerjakan soal sudah lengkap (A) Dalam setiap jenjang cara mengerjakan soal sudah lengkap (A) Dalam setiap jenjang cara mengerjakan soal sudah lengkap (A) Apakah cara mengerjakan dapat diikuti tanpa menimbulkan keambiguan? Secara keseluruhan cara pengerjaan sudah sistematis dan dapat dipahami (A) Secara keseluruhan cara pengerjaan sudah sistematis dan dapat dipahami (A) Secara keseluruhan cara pengerjaan sudah sistematis dan dapat dipahami (A) Apakah 4 fondasi CT yang ditulis benar? Terdapat 4 fondasi CT ditulis dengan bai dan benar (A) Terdapat 4 fondasi CT ditulis dengan bai dan benar (A) Terdapat 4 fondasi CT ditulis dengan bai dan benar (A) Apakah 4 fondasi CT yang dituliskan dijelaskan dengan lengkap? 4 fondasi CT sudah tertera dengan jelas dan lengkap (A) 4 fondasi CT sudah tertera dengan jelas dan lengkap (A) 4 fondasi CT sudah tertera dengan jelas dan lengkap (A) Apakah contoh masalah sehari-hari yang dituliskan sesuai dengan persoalan yang diselesaikan? Contoh persoalan sudah ditampilkan sesuai dengan persoalan yang diselesaikan (A) Contoh persoalan sudah ditampilkan sesuai dengan persoalan yang diselesaikan (A) Contoh persoalan sudah ditampilkan sesuai dengan persoalan yang diselesaikan (A)
Tabel 3.2 Perbaikan yang perlu dilakukan Tabel 3.2: Perbaikan yang Perlu Dilakukan Nomor Soal Hal yang perlu diperbaiki Masukan atau saran perbaikan 1. Tidak perlu diperbaiki - 2. Tidak perlu diperbaiki - 3. Tidak perlu diperbaiki - Tabel 3.3: Rubrik Penilaian untuk Maing-masing Kriteria A = Sangat Baik B = Baik C = Cukup D = Kurang Jika ketiga soal memenuhi kriteria Jika hanya 2 soal yang memenuhi kriteria Jika hanya 1 soal yang memenuhi kriteria Jika ketiga-tiganya tidak memenuhi kriteria
Nama : Citra Arum Febrianty NIM : 24920012 SEL.09.3-T3-12 Aksi Nyata 1. Pengalaman menarik apa saja yang Anda dapatkan dari mengimplementasikan CT untuk menyelesaikan berbagai jenis persoalan? Anda bisa menceritakan keberhasilan dan kegagalan yang Anda alami dalam mempelajari topik ini. Jawab: Pengalaman menarik yang saya dapatkan dari mengimplementasikan Computational Thinking (CT) untuk menyelesaikan berbagai jenis persoalan adalah saya menemukan metode baru dalam menyelesaikan masalah secara struktural, langkah demi langkah. Saya memahami bahwa menggunakan CT membantu saya dalam menyelesaikan soal-soal Bebras, PISA, dan AKM dengan lebih tepat dan efisien. Dengan membangun fondasi CT, saya merasa lebih percaya diri dalam menghadapi soal-soal yang menuntut berpikir tingkat tinggi (HOTS), seperti yang diuji dalam PISA/AKM. Keberhasilan saya dalam mempelajari topik ini terutama terlihat dalam kemampuan saya untuk menyelesaikan soalsoal HOTS seperti PISA/AKM dengan menggunakan pendekatan CT. Dengan menerapkan prinsip-prinsip CT, saya dapat merancang strategi pemecahan masalah yang lebih sistematis dan efektif, sehingga meningkatkan kemampuan saya dalam menghadapi tantangan yang kompleks. Melalui pengalaman ini, saya juga memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya CT dalam membantu pemecahan masalah di berbagai konteks. 2. Apakah terjadi perubahan cara berpikir yang Anda alami setelah mempelajari topik CT dalam problem solving? Jawab: Iya terjadi. Ketika saya dihadapkan suatu permasalahan, saya dapat percaya diri dalam menghadapi permasalahan dan mencari solusinya. Hal tersebut dikarenakan saya telah mengetahui apa yang harus saya lakukan setelah mempelajari dan mengetahui fondasi CT yang dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan sehari-hari. Adapun 4 fondasi dalam CT yaitu 1) Decomposition (Dekomposisi): Kemampuan untuk memecahkan masalah yang kompleks menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola; 2) Pattern Recognition (Pengenalan Pola): Kemampuan untuk mengidentifikasi pola atau hubungan dalam data atau informasi; 3) Abstraction (Abstraksi): Kemampuan untuk mengekstrak informasi penting dari detail yang kompleks dan memfokuskan pada aspekaspek yang relevan; 4) Algorithmic Thinking (Pemikiran Algoritmik): Kemampuan untuk merancang algoritma, yaitu serangkaian langkah-langkah logis yang memecahkan masalah secara sistematis. 3. Apakah ada perbaikan yang dapat Anda lakukan terhadap cara mengajar Anda nantinya setelah mempelajari topik CT dalam problem solving? Jawab: Ada. Perbaikan tersebut itu dalam proses pembelajaran, karena saya akan mengimplementasikan fondasi CT dalam kegiatan pembelajaran dan asesmen. Kemudian saya juga akan menambahkan asesmen dari soal AKM agar dapat menumbuhkan berfikir tingkat tinggi (HOTS) yang sangat dibutuhkan oleh peserta didik abad 21.
Portofolio Citra Arum Febrianty Topik 4_Computational Thinking 24920012
Nama : Citra Arum Febrianty NIM : 24920012 Mata Kuliah : Computational Thinking SEL.09.2-T4-2a. Eksplorasi Konsep Nama Citra Arum Febrianty NIM 24920012 Judul Proyek STEM yang dipilih Proyek Mikroskop Sederhana Pada Pembelajaran IPA Di SMP Negeri 3 Karangmojo Sumber http://e-journal.unipma.ac.id/index.php/JTA/article/view/13909/4856 Deskripsi singkat tentang proyek STEM yang dipilih Jurnal tersebut berisikan tentang pemanfaatan STEM dalam mata pelajaran biologi. Materi biologi yang terdapat pada artikel tersebut yaitu mengenai struktur dan fungsi tumbuhan. Dalam hal ini, siswa SMPN 3 Karangmojo belum pernah mengoperasikan dan melakukan pengamatan dibawah mikroskop dikarenakan keterbatasan dan kelayakan mikroskop yang tersedia. Berdasarkan masalah tersebut, masyarakat sekolah SMP Negeri 3 Karangmojo Yogyakarta untuk mulai mengenalkan dan menerapkan STEM “pembuatan mikroskop sederhana” pada pembelajaran IPA agar siswa dapat melakukan pengamatan diamanapun mereka berada dengan memanfaatkan barang-barang bekas yang mudah ditemukan di kehidupan sehari-hari. Klasifikasi STEM 1) Science Memahami konten jaringan tumbuhan (jaringan epidermis, korteks, pengangkut, dan lain-lain), dan memahami konsep dasar bagaimana cara kerja mikroskop sehingga dapat melihat jaringan tumbuhan tersebut. 2) Technologi Siswa menguji coba mikroskop sederhana hasil rancangan mereka dengan mengamati secara langsung preparat stomata daun “Hibiscus tilliaceus” menggunakan smart phone dan fisheye/ lensa laser. 3) Engineering Siswa mengembangkan desain proyek microskop sederhana dalam bekerja secara kolaborasi. 4) Mathematic Siswa memperhatikan pendataan, mengukur dan mempresisi alat dan bahan yang akan digunakan.
Nama : Citra Arum Febrianty NIM : 24920012 Mata Kuliah : Computational Thinking SEL.09.2-T4-3. Mulai Dari Diri 1. Jika Anda memilih proyek STEM yang sudah pernah Anda lakukan, kendala apakah yang Anda hadapi dalam melaksanakan proyek STEM tersebut? Jika Anda memilih proyek STEM yang belum pernah Anda lakukan (mengambil proyek yang ada di media lain seperti buku dan internet), potensi kendala apa yang mungkin dihadapi jika proyek STEM tersebut dilaksanakan? Jawab : Saya belum memiliki pengelaman dalam melakukan atau menerapkan proyek STEM. Jika saya memilih untuk melakukan proyek STEM seperti membuat mikroskop sederhana. Kemungkinan kendala yang mungkin saya hadapi dalam proyek STEM adalah memerlukan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikanya. Selain itu, membutuhkan perhatian dan pengawasan ekstra dalam mengatur cahaya dan kamera handphone untuk melihat objek preparat agar terlihat jelas pada saat pengerjaan mikroskop sederhana. 2. Tuliskan usulan Anda untuk mengatasi kendala-kendala yang telah Anda sebutkan di atas! Jawab: Usulan dari saya untuk mengatasi kendala yang terjadi adalah menerapkan pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek (PJBL). Metode ini dipilih karena menyediakan kerangka kerja yang terstruktur untuk memandu setiap langkah peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu, sebagai pendidik kira harus memberikan pengawasan, bimbingan, dan perhatian ekstra pada setiap kelompok saat mereka melakukan proyek.
COMPUTATIONAL THINKING EKSPLORASI KONSEP Citra Arum Febrianti Febriana Ninggih Ningrum Rizka Retno Muliati Vinna Rumayara PPG PRAJABATAN GELOMBANG 1 IKIP SILIWANGI BANDUNG 2024 SEL.09.2-T4-2a Oleh Kelompok 1 PEMILIHAN PROJEK STEM
PROYEK STEAM YANG DIPILIH KELOMPOK 1 Judul Proyek STEM yang Dipilih Menguji Daya Apung pBotol Rakit Sumber https://youtu.be/Pawb6M5Zp-A?si=cOG7mEf_Dt9QE9K7 Deskripsi Singkat tentang Proyek STEM yang Dipilih Sumber acuan berisikan tentang integrasi STEM terhadap pemahaman siswa pada materi gaya apung dan masa jenis, hal ini diwujudkan dengan pembuatan projek Botol Rakit. Projek dibuat dengan membuat rakit dari stik es krim dengan botol bekas sebagai media untuk mengapung di air, serta batu krikil sebagai bahan untuk uji coba apakah rakit berhasil mengapung atau malah menekuk. Adapun klasifikasi STEM terhadap karya yang dibuat siswa, sebagai berikut: a. Science Hasil projek siswa berupa botol rakit, dalam hal ini berkaitan dengan bidang science yaitu konsep gaya apung dan masa jenis. Materi ini terdapat pada mata pelajaran IPA kelas 7. b. Technologi Siswa dapat mempresentasikan hasil pembuatan karya melalui powerpoint dengan didukung dokumentasi-dokumentasi proses pembuatan, dalam hal ini melibatkan teknologi smartphone atau laptop. Selain itu, dalam mencari referensi bacaan, siswa dapat mencarinya di berbagai literature, salah satunya dari internet. c. Engineering Teknik yang terkandung dalam pembuatan projek ini yaitu siswa merancang pembuatan model botol rakit. d. Mathematic Pada projek ini, terdapat beban berupa batu krikil yang beratnya dapat diukur menggunakan timbangan. Hal ini berhubungan dengan bidang matematika yaitu satuan berat. Gambar projek
Nomor Kelompok Kelompok 1 Anggota Kelompok 1. Febriana Ninggih Ningrum/24920008 2. Rizka Retno Muliati/24920009 3. Citra Arum Febrianty/24920012 4. Vinna Rumayara/24920018 Nama Proyek Menguji Daya Apung Botol Rakit Deskripsi Singkat Proyek Sumber acuan berisikan tentang integrasi STEM terhadap pemahaman siswa pada materi gaya apung dan masa jenis, hal ini diwujudkan dengan pembuatan projek Botol Rakit. Projek dibuat dengan membuat rakit dari stik es krim dengan botol bekas sebagai media untuk mengapung di air, serta batu krikil sebagai bahan untuk uji coba apakah rakit berhasil mengapung atau malah menekuk. Adapun klasifikasi STEM terhadap karya yang dibuat siswa, sebagai berikut: a. Science Hasil projek siswa berupa botol rakit, dalam hal ini berkaitan dengan bidang science yaitu konsep gaya apung dan masa jenis. Materi ini terdapat pada mata pelajaran IPA kelas 7. b. Technologi Siswa dapat mempresentasikan hasil pembuatan karya melalui powerpoint dengan didukung dokumentasidokumentasi proses pembuatan, dalam hal ini melibatkan teknologi smartphoneatau laptop. Selain itu, dalam mencari referensi bacaan, siswa dapat mencarinya di berbagai literature, salah satunya dari internet. c. Engineering Teknik yang terkandung dalam pembuatan projek ini yaitu siswa merancang pembuatan model botol rakit.
d. Mathematic Pada projek ini, terdapat beban berupa batu krikil yang beratnya dapat diukur menggunakan timbangan. Hal ini berhubungan dengan bidang matematika yaitu satuan berat. Outline Proyek 1. Peserta didik mempelajari gaya apung dan massa jenis. 2. Peserta didik merancang dan membuat botol rakit. 3. Peserta didik mempresentasikan hasil rancangan yang telah dibuatnya melalui teks LHO. Tujuan Pembelajaran 1. Peserta didik mampu mengidentifikasi gaya apung dari botol rakit dan massa jenis berat dari batu krikil. 2. Peserta didik mampu merakit botol rakit dari stik ice cream dan botol bekas. 3. Peserta didik mampu mempresentasikan teks LHO dari pryoyek yang telah dibuat. Driving Question 1. Bagaimana kita dapat membuat rancangan dari botol rakit dari stik ice cream dan botol bekas? 2. Bagaimana kita dapat menyusun teks LHO berdasarkan haril proyek botol rakit? Produk Akhir 1. Botol Rakit 2. Teks LHO botol rakit Hands-on Activities 1. Merancang botol rakit dan menguji rancangan botol rakit tersebut untuk menguji daya apung dan massa jenis benda. 2. Merancang teks LHO berdasarkan proyek botol rakit yang telah dibuat. Asesmen 1. Kompetensi hasil rancangan botol rakit. 2. Rancangan botol rakit yang dapat mengapung. 3. Membuat tek LHO.
Resources yang Dibutuhkan 1. Stik ice cream 2. Botol bekas 3. Karet gelang 4. Mangkok sterofoam 5. Timbangan 6. Lem 7. Krikil 8. Air 9. Wadah plastik. Integrasi CT dalam proyek STEM (Baek et al., 2021) Abstraksi: Mengidentifikasi langkah-langkah membuat botol rakit. Algoritma: Langkah-langkah membuat botol rakit: 1. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan. 2. Letakan 11 stik ice cream, kemudian ambil 2 buah stik ice cream lalu lem pada bagian ujung dan tempel pada bagian atas dan bawah pada 11 stik ice cream yang telah disusun. 3. Letakan 3 buah stik ice cream dan beri jarak, dan lem bagian ujungnya. 4. Tekan dua buah stik ice cream di atas lem. 5. Buat dua buah stik ice cream berbentuk huruf E. Setelah lem mengering masukan dua buah karet di masingmasing ujungnya. 6. Rekatkan bentuk huruf E pada rakit. Diamkan rakit sampai lem mengering. 7. Letakan botol bekas pada rakit, pastikan botol tertutup rapat. 8. Botol rakit siap diuji coba. Langkah-langkah mengujicobakan botol rakit: 1. Timbang mangkok berisi krikil.
2. Lalu letakan rakit diatas air dan letakan mangkok berisi krikil diatas rakit. 3. Lihat hasil uji coba dari botol rakit dengan batu krikil. 4. Untuk memastikan kekuatan botol rakit, selanjutnya uji cobakan botol rakit dengan pasir. 5. Dari kedua uji coba (krikil dan pasir) ternyata botol rakit tersebut tidak melengkung ketika diuji dengan batu krikil. Hal itu berkaitan dengan massa jenis (krikil yang lebih kecil karena pengarung tekanan udara pada botol. Komunikasi: dilakukan pengarahan terhadap peserta didik mengenai project yang akan dibuat dengan memperhatian berbagai aspek mulai dari kesiapan diri, alat dan bahan, manfaat dan tujuan. Conditional Logic: dilihat dari tujuan dibuatnya project tersebut dengan melihat perhitugan perhitungan sesuai dengan aturan yang melibatkan sebuah masa dan volume pada benda. Pengumpulan Data: Pengumpulan data diambil ketika project telah diuji coba meggunakan alat dan bahan untuk membuat botol rakit sesuai dengan data yang telah diambil melalui youtube. Struktur Data, Analisis dan Representasi Data: Struktur data diambil dari pemanfaatan sebuah bahan bekas yang didaur ulang menjadi sebuah project pengetahuan yang akan diuji coba oleh peserta didik dengan mengaitkan mata pembelajaran yang menghasilkan teks LHO menggunakan pengaplikasian project tersebut dengan massa dan volume untu mendapatkan hasil yang diinginkan.
Analisis didapat ketika project tersebut telah di uji coba dan menghasilkan teks LHO yang berisikan pengetahuan baru terhadap massa dan volume pada suatu benda. Representasi Data: dilakukan uji coba dengan menyiapkan alat dan bahan sesuai kebutuhan dan menghasilkan sebuah kesimpulan baru terhadap hal yang diuji coba. Dekomposisi: Menyiapkan alat dan bahan untuk membuat botol rakit. Pengenalan Pola: Mengidentifikasi ciri-ciri botol rakit yang dianggap berhasil dalam uji coba proyek. Pemodelan dan Simulasi: Link Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=Pawb6M5Zp-A
Perbedaan Proyek STEM sebelum dan sesudah Diintegrasikan dengan CT Proyek STEM sebelum diintegrasikan dengan CT merupakan suatu ide dan konsep untuk mengetahui massa jenis menggunakan botol rakit, serta hanya terdapat deskripsi singkatnya saja. Sedangkan proyek STEM setelah diintegrasikan dengan CT dapat berupa alur pikir yang menerapkan berpikir komputasional dalam menyelesaikan proyek serta hasil coba dari proyek tersebut secara terstruktur. Proyek STEM sebelum diintegrasikan dengan CT biasanya hanya berfokus pada aplikasi teknologi tanpa mempertimbangkan kebutuhan dari suatu permasalahan/konteks tertentu, yaitu untuk menguji massa jenis melalui benda. Sedangkan setelah diintegrasikan dengan CT, proyek STEM menjadi lebih terarah dan komprehensif dalam menyelesaikan masalah, karena CT membantu mengatur cara berpikir dan merancang algoritma untuk menyelesaikan masalah tersebut. Hal ini memungkinkan proyek STEM untuk lebih fokus pada solusi yang tepat dan efektif, efisien yang nantinya akan menjadi projek yang optimal. Dengan adanya integrasi CT, proyek STEM juga menjadi lebih efektif dalam mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan keterampilan berpikir tingkat tinggi pada peserta didik. Integrasi ini dapat membantu peserta didik belajar bagaimana memecahkan masalah secara sistematis dan logis, sehingga mereka dapat mengembangkan keterampilan yang dapat digunakan pada kehidupan nyata. Secara keseluruhan proyek STEM sebelum dan sesudah diintegrasikan dengan CT terletak pada kompleksitasnya. Sebelum proyek STEM diintegrasikan dengan CT, proyek hanya dijabarkan dengan cukup sederhana. Namun, setelah diintegrasikan dengan CT proyek dijabarkan dengan cukup kompleks. Sebagai kesimpulan, integrasi CT pada proyek STEM sangat membantu untuk mengarahkan proyek tersebut menjadi lebih terkontrol, efektif, dan dapat meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi pada guru maupun peserta didik.
SEL.09.2-T4-5 Demonstrasi Kontekstual dan Elaborasi Pemahaman COMPUTATIONALTHINKING Kelompok 1 Nama Anggota Kelompok: 1.Febriana Ninggih Ningrum 2.Citra Arum F 3.Rizka Retno Muliati 4. Vinna Rumayara PPGPRAJABATAN 1 IKIPSILIWANGI 2024 PPGPRAJABATAN 1 IKIPSILIWANGI 2024
Nomor Kelompok Kelompok 1 Anggota Kelompok 1. Febriana Ninggih Ningrum (24920008) 2. Citra Arum F (24920012) 3. Rizka Retno Muliati (24920009) 4. Vinna Rumayara (24920018) Nama Proyek Menguji Daya Apung Botol Rakit Catatan-catatan Perbaikan yang Perlu Dilakukan Berdasarkan Masukan dari Dosen Tugas sebaiknya dikirimkan dalam satu file dan diuji dengan cara melakukan simulasi proyek tersebut Catatan-catatan Perbaikan yang Perlu Dilakukan Berdasarkan Masukan dari kelompok lain 1. Pada tahap perencanaan lebih baiknya harus diidentifikasi terlebih dahulu kendala apa saja yang akan terjadi sehingga dapat mempertimbangkan apakah proyek tersebut mampu dikerjakan atau tidak. Misalnya, pada proses identifikasi gaya apung dan massa jenis berat itu jelas memerlukan pemahaman yang matang mengenai bagaimana cara mengidentifikasi hal tersebut. Kemudian, nantinya akan mengetahui berapa lama proses pembuatan proyek tersebut jika dihitung dengan proses penyusunan laporan hasil observasi terhadap proyek yang telah dibuat sehingga dapat terencana dengan baik. 2. Perbaikan terdahap PPT yang telah dibuat karena cukup banyak kata yang typo pada setiap penjelasannya. Selain itu, akan lebih baik PPT dapat dibuat lebih menarik dengan ditambah komunikasi interaksi secara tidak langsung.
Nomor Kelompok Kelompok 3 Anggota Kelompok 1. Tria Wibawa 2. Khairunnisa Fitriany Yustikasari 3. Kuswarni 4. Anisa Ayu Fitria 5. Siti Rofi'a Darojat Nama Proyek Pemanfaatan Botol Bekas dalam Mendesain SVC (Simple Vacum Cleaner) untuk Meningkatkan Metaliterasi Siswa Catatan-catatan Perbaikan yang Perlu Dilakukan Berdasarkan Masukan dari Kelompok 1 1) Kelompok memberikan beberapa referensi kepada peserta didik yang akan melakukan projek tersebut supaya mereka tetap mendapatkan pengarahan tanpa melakukan kesalahan di luar instruksi yang sudah diberikan oleh kelompok tersebut. 2) Kelompok harus tetap membuat kelebihan dan kekurangan jikalau hasil proyek tersebut dikatakan berhasil, akan tetapi jika ternyata proyek tersebut dilakukan tidak berhasil kelompok sudah mengetahui apa yang perlu dilakukan. Dapat dikatakan kelompok sudah memiliki jangka panjang akan permasalahan tersebut. 3) Kelompok harus memperhitungkan kembali mengenai jadwal pembuatan proyek dari awal hingga akhir supaya dapat dilakukan dengan maksimal dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan
Nomor Kelompok Kelompok 2 Anggota Kelompok 1. Fadilah Nur Rahma 2. Novianti Ramadhani Futri 3. Ranti Minhaqillah 4. Algi Agustina Sudrajat 5. Alni Dwi Septiani Nama Proyek Pemanfaatan Botol Bekas dalam Mendesain SVC (Simple Vacum Cleaner) untuk Meningkatkan Metaliterasi Siswa Catatan-catatan Perbaikan yang Perlu Dilakukan Berdasarkan Masukan dari Kelompok 1 1) Kelompok memberikan beberapa referensi kepada peserta didik yang akan melakukan projek tersebut supaya mereka tetap mendapatkan pengarahan tanpa melakukan kesalahan di luar instruksi yang sudah diberikan oleh kelompok tersebut. 2) Kelompok harus tetap membuat kelebihan dan kekurangan jikalau hasil proyek tersebut dikatakan berhasil, akan tetapi jika ternyata proyek tersebut dilakukan tidak berhasil kelompok sudah mengetahui apa yang perlu dilakukan. Dapat dikatakan kelompok sudah memiliki jangka panjang akan permasalahan tersebut. 3) Kelompok harus memperhitungkan kembali mengenai jadwal pembuatan proyek dari awal hingga akhir supaya dapat dilakukan dengan maksimal dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan