E. Refleksi
Isilah penilaian diri ini dengan jujur dan benar sesuai dengan perasaan kalian ketika
mengikuti pembelajaran ini!
1. Bubuhkanlah tanda centang (√) pada salah satu gambar yang dapat mewakili perasaan
kalian setelah mempelajari materi ini!
1. Apa yang sudah kalian pelajari pada materi ini?
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
3. Apa yang kalian kuasai dari materi ini?
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
4. Bagian apa yang belum kalian kuasai?
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia Kelas IX 51
4. Apa upaya kalian untuk menguasai yang belum kalian kuasai?
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
5. Sebutkan hal yang menarik dari aktivitas pembelajaran yang sudah kalian lakukan!
Berikan alasannya!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
6. Sebutkan hal yang tidak menarik dari aktivitas pembelajaran yang sudah kalian lakukan!
Berikan alasannya!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………………………………
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia Kelas IX 52
F. Uji Kompetensi
A. Pilihan Ganda
Jawablah Pertanyaan Berikut dengan Tepat!
1. Dalam teks pidato persuasif terdiri dari tiga bagian, yakni salam pembuka, ucapan
(sapaan), dan ucapan rasa syukur. Bagian tersebut dalam struktur …
A. Isi Pidato
B. Penutup
C. Pembuka
D. Pengantar
2. Salam sejahtera bagi kita semua yang hadir disini. Kalimat tersebut merupakan bagian
A. Sapaan
B. Salam Pembuka
C. Ucapan Syukur
D. Sapaan Sejahtera
3. Kita harus mempunyai mental tangguh dalam menyikapi masa pandemi ini. Kata
mempunyai menunjukkan penggunaan …
A. Pasif
B. Aktif
C. Majemuk
D. Sinonim
4. Penggunaan media sosial, seperti instagram, facebook, whatsapp, dan lain-lain
sebaiknya digunakan dengan bijak. Kata cetak miring di atas merupakan penggunaan …
A. Kosa Kata Bidang Ilmu
B. Sinonim
C. Kalimat Aktif
D. Kata Benda Abstrak
5. Menyimak pidato secara langsung, jangan lupa untuk memerhatikan ... sang orator. Hal
ini dimaksudkan agar kita lebih memahami maksud atau isi pidato yang disampaikan
melalui bahasa tubuh.
Kata yang tepat untuk melengkapi pernyataan di atas adalah …
A. Bahasa
B. Gerak Tubuh
C. Penampilan
D. Suara
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia Kelas IX 53
6. Perhatikan kutipan pidato persusif berikut!
Para hadirin yang terhormat,
Izinkan saya mewakili teman-teman untuk menyampaikan kesan selama tiga tahun sekolah
di Tarakanita. Saya sanagt bersyukur dibimbing oleh bapak/ibu guru dengan penuh
perhatian dan kesabaran. Kami tidak hanya diberi banyak ilmu, tetapi ajaran kehidupan pula.
Semoga bekal yang kemi peroleh ini berguna untuk masa depan kami.
Kalimat terakhir dalam kutipan pidato di atas berisi ungkapan …
A. Rasa Syukur
B. Terima Kasih
C. Harapan
D. Permintaan Maaf
7. Bacalah penggalan teks pidato berikut!
…
Kita bersama-sama berkumpul di Aula SMP Tarakanita ini untuk serah terima peserta didik
yang telah usai belajar selama tiga tahun.
Kalimat pembuka pidato yang tepat adalah …
A. Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke pada Tuhan atas berkat dan limpahan kasih-
Nya.
B. Demikian pidato saya, semoga kita berjumpa di lain kesempatan.
C. Sungguh hari ini merupakan kesempatan yang istimewa.
D. Marilah kita bersoa bersama agar perjuangan kita di masa depan diberikan rahmat
kelancaran.
8. Judul yang tepat untuk pidato pendidikan adalah …
A. Pentingnya pengaruh globalisasi pada remaja
B. Pendidikan wajib usia dini
C. Sosialisasi kesehatan di kalangan usia lanjut
D. Prioritas utama untuk anak
9. Tiga bagian utama dalam pidato yakni …
A. Pembuka, isian, penjelas
B. Pembuka, akhir, isi
C. Pembuka, isi, penutup
D. Pembuka, penjelasan, ajakan
10. Sebelum membacakan naskah pidato atau berpidato, hal yang terlebih dahulu kita
lakukan adalah …
A. Mencari buku panduan pidato
B. Menghafalkan naskah pidato
C. Bertanya kepada seseorang yang sudah terbiasa pidato
D. Menentukan topik pidato
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia Kelas IX 54
B. Uraian
1. Buatlah kalimat salam pembuka dalam pidato persuasif!
2. Buatlah satu paragraf pada bagian penutup pidato “Perpisahan Kelas IX”!
3. Buatlah dua kalimat aktif!
4. Buatlah dia kalimat dengan kosakata emotif!
5. Buatlah dua kalimat dengan kata benda abstrak!
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia Kelas IX 55
BAB
3
MENYUSUN
CERITA PENDEK
KOMPETENSI DASAR
3.5 Mengidentifikasi unsur pembangun karya sastra dalam teks cerita pendek
yang dibaca atau didengar.
3.6 Menelaah struktur dan aspek kebahasaan cerita pendek yang dibaca atau
didengar.
4.5 Menyimpulkan unsur-unsur pembangun karya sastra dengan bukti yang
mendukung dari cerita pendek yang dibaca atau didengar.
4.6 Mengungkapkan pengalaman dan gagasan dalam bentuk cerita pendek
dengan memperhatikan struktur dan kebahasaan.
INDIKATOR
3.5 Peserta didik mampu mengidentifikasi cerpen.
3.6 Peserta didik mampu menelaah struktur dan kebahasaan cerpen.
4.5 Peserta didik mampu menyimpulkan unsur-unsur yang membangun cerpen.
4.6 Peserta didik mampu menulis cerpen.
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia Kelas IX 54
TUJUAN PEMBELAJARAN
Hai, generasi hebat Indonesia, apa kabar? Semoga kalian dalam keadaan
sehat, semangat, sukacita, dan syukur. Terima kasih kalian sudah menunjukkan
semangat belajar walau dalam situasi dan kondisi apapun. Generasi hebat
Indonesia mencerminkan kemajuan bangsa di masa yang akan datang.
Pada pembelajaran ini, melalui pendekatan saintifik dan metode discovery
learning kalian akan melakukan berbagai aktivitas, yaitu membaca cerita pendek,
mengidentifikasi cerita pendek, menelaah dan menganalisi struktur dan
kebahasaan cerpen, menyimpulkan unsur-unsur yang membangun cerpen, dan
menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi. Dengan demikian dapat
menimbulkan kepekaan berupa rasa simpati, empati, dan bisa menjadi sumber
inspirasi dalam kehidupan.
NILAI-NILAI KETARAKANITAAN
Melalui pembelajaran ini peserta didik akan semakin bertambah
pengetahuan (Competence) dan kreatif dalam menulis dan mengembangkan cerpen
berdasarkan pengalaman yang pernah dialami (Creativity)
FOKUS PENGUATAN KARAKTER 57
1. Tanggung jawab
2. Peduli
3. Jujur
4. Kerja sama
5. Berani
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
AKTIVITAS PEMBELAJARAN
Sebelum memulai aktivitas pembelajaran, mari kita berdoa terlebih dahulu
memohon rahmat dan pendampingan dari Tuhan yang Maha Esa, semoga
pembelajaran ini dapat memberikan nilai dan manfaat bagi kehidupan. Selanjutnya
baca dengan cermat teks cerita pendek. Setelah itu lakukan aktivitas pembelajaran
yang menyertainya.
Pernahkan kalian membaca cerita pendek? Lalu perasaan dan pikiran kalian
menjadi tergugah dan tersentuh? Ya, itu tandanya orang tersebut sudah menjadi
sumber inspirasi dan motivasi bagi kalian. Dalam kehidupan sehari-hari terkadang
kita mendapat pelajaran hidup dari seseorang yang kita lihat, kita dengar, dan kita
rasakan atau sebaliknya apa yang kita lakukan bisa menjadi pelajaran hidup untuk
orang lain dan bahkan untuk diri sendiri tentunya.
Apa kalian pernah menulis cerita pendek? Atau apa kalian mengetahui
bagaimana cerita pendek itu ditulis?
Ya, itu tandanya orang tersebut sudah menjadi sumber inspirasi dan
motivasi bagi kalian. Dalam kehidupan sehari-hari terkadang kita mendapat
pelajaran hidup dari seseorang yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan atau
sebaliknya apa yang kita lakukan bisa menjadi pelajaran hidup untuk orang lain dan
bahkan untuk diri sendiri tentunya.
58
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
A. MENGIDENTIFIKASI CERITA PENDEK
Kalian tentunya sudah pernah membaca sebuah cerpen.
Berikut ini terdapat sebuah cerpen “Intuisi”, kalian diminta untuk membaca dan
mengidentifikasi unsur pembangunnya.
Intuisi
Katanya, bintang tak akan meninggalkan purnamanya. Katanya, awan 59
tidak akan meninggalkan langitnya. Katanya, lebah tidak akan meninggalkan
bunganya. Tapi, kenapa air mata meninggalkan tempatnya?
Sore ini, Setho—Laki-laki itu menangis di bawah gundukan tanah,
makam ibunya. Laki-laki itu bercerita sambil tersedu-sedu. Tersedu, bercerita
sambil diiringi angin sore adalah sesuatu yang bisa membuatnya lega. Laki-laki
yang biasanya bersikap tangguh, cuek, kejam, kasar dan mempunyai hati mati
rasa itu akhirnya hari ini menangis untuk kedua kalinya. Tangisan pertamanya
sudah ditumpahkan saat pemakaman ibunya. Dan kini, akhirnya ia menangis
lagi. Akan benar-benar lega bukan?
Permasalahan hari ini begitu rumit, hingga ia bingung untuk bercerita
pada siapa. Karena ia merindukan ibunya, sekalian saja ia bercerita. Hari ini ia
resmi dikeluarkan dari kampus—tempat ia berkuliah. Bukan masalah
tunggakan uang kuliah saja, tapi pagi tadi ia terlibat masalah pukul-memukul
antar mahasiswa. Ya, tadi pagi ia adu hantam dengan mahasiswa lain. Setho
yang terlalu emosi memukul dengan brutal. Akhirnya, yang menjadi korban
harus dilarikan ke rumah sakit dan ia harus di drop out dari kampus.
Sebenarnya pihak kampus tahu ini bukan masalah yang sangat besar, tapi
mengingat kondisi keuangan Setho yang menunggak, pihak kampus terpaksa
mengeluarkannya dan memberi keringanan untuk tidak bertanggungjawab atas
kejadian tadi.
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
Awalnya, pihak kampus memberi 2 pilihan. Yang pertama, Setho akan
terus berkuliah tapi harus bertanggung jawab atas perbuatannya dengan
menanggung segala biaya. Dan yang kedua, Setho di DO tapi semua tanggung
jawab dengan biaya akan ditanggung oleh pihak kampus. Karena emosi masih
mengelilingi otak jernihnya, dengan yakin Setho memilih opsi yang kedua. Tapi
sekarang tampaknya Ia menyesal memilih opsi kedua.
“Maafin Setho, Bu. Maaf..”
Hanya kalimat itu yang Ia ucapkan dari awal Ia datang sampai sekarang.
Suara petir tiba-tiba bersahut-sahutan. Tampaknya, langit ingin ikut menangis
bersama dirinya. Setho yang belum puas menangis seketika harus pulang.
“Setho pulang dulu ya, Bu.” Katanya berbicara pada gundukan batu itu.
***
“Dari mana kamu, Setho?”
Setho tahu itu adalah suara ayahnya. Ayahnya yang gila kerja. Tanpa
mempedulikan suara ayahnya, ia berjalan menuju kamarnya. “SETHOO!” Geram
ayahnya.
Setho berhenti melangkah dan berbalik. “Dari makam.”
Setelah 2 kata yang diucapkannya, Setho melangkah kembali ke
kamarnya tanpa berbicara apapun. Ayahnya pun hanya bisa menggeram melihat
tingkah anaknya.
Setho merebahkan tubuhnya diranjang. Begitu banyak permasalahan
hari ini hingga membuatnya pusing. Bahkan Ia belum berbicara pada ayahnya
mengenai di drop outnya Setho dari kampusnya. Mungkin akan menjadi
masalah baru jika membicarakan itu. Ayahnya mungkin akan marah besar
bahkan bisa saja kaget hingga terkena stroke mengingat risiko dari penyakit
jantung.
“Ah! Bisa pecah nih otak kalau gini!” Gumam Setho kesal.
60
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
Untuk memikirkan masalah ini butuh kesegaran. Dengan bergegas,
Setho meraih handuknya kemudian mandi. Untuk berpikir membutuhkan otak
yang jernih, kan?
***
Malam ini tiba-tiba mati lampu. Tumben sekali. Mati lampu begini
sangat jarang di komplek Setho. Ia yang baru selesai mandipun langsung
bergegas mencari lilin di dapur. Dengan cahaya seadanya, Ia mencari lilin sambil
melihat keseliling mencari keberadaan sosok ayahnya.
Dengan tidak kepeduliannya, Ia melangkah ke kamar setelah
menghidupkan lilin sambil memegangnya. Matanya sontak melotot melihat apa
yang terjadi. Sambil memegang kenop pintu, Ia mundur beberapa langkah. “K-
Kamar ini kenapa jadi gini?” Gumamnya bertanya-tanya.
Mata Setho terfokus pada perempuan yang duduk di pinggir pantai itu.
Ya! Kamar Setho berubah menjadi pintu masuk dimensi lain! Ia juga tidak tahu
ini dimana. Yang jelas, di matanya tempat itu adalah sebuah desa yang ramai
akan penduduk yang sedang beraktivitas. Suasana cerah juga menambahkan
kesan siang hari yang ceria.
Dengan pelan tapi pasti, Setho berjalan masuk. Kakinya menginjak pasir
pantai. Dengan langkah ragu, Setho menatap seluruh untuk semua yang Ia lihat.
Anehnya, semua orang yang Ia lihat tidak melihat balik ke arahnya dan tetap
melanjutkan kerjaannya masing-masing.
Ia berjalan ke arah perahu yang ada di pesisir pantai. Tujuannya bukan
karena ingin melihat kapal itu apalagi berencana kabur. Tapi karena matanya
terpaku pada gadis yang bersandar pada tiang perahu. Semakin dekat, rasanya
semakin terlihat wajah gadis itu.
61
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
“Setho Pramoedya, nama kamu ‘kan?” Ujar gadis itu kemudian menatap
Setho tersenyum ceria. Setho yang mendengarnya kaget. “Tahu dari mana
kamu?!” Bentak Setho.
Dengan sigap gadis itu menaruh jari telunjuknya di bibir Setho tanda
untuk diam. “Ngomong di desa ini harus sopan. Jadi jangan teriak-teriak..” Jelas
gadis itu.
Setho mendadak kicep. Ia tidak ingin membuat masalah. Di desa mana
inipun Ia tidak tahu.
“hhuuuuuhhfftt.” Tiup gadis itu pada lilin yang ia pegang. Bahkan
Sethopun lupa kalau Ia sedang memegang lilin.
“Namaku Gendis. Gen-dis.” Eja gadis itu dengan ceria, sambil
mengulurkan tangan. Sangat amat menarik. Rambutnya yang diikat kepang
dengan memakai kebaya modern membuatnya terkesan imut. Betapa
cantiknya gadis itu di mata Setho.
“Setho.”
“Iya udah tahu, hehe..”
“Kamu tahu dari mana?” Kepo Setho.
“Ayah kamu.”
“Ayah?”
“Iya.”
Setho makin dibuat pusing saja. Banyak sekali pertanyaan bermunculan
di benaknya. Ingin sekali ia bertanya gadis ini siapa, Ia sedang di desa mana,
mengapa ayahnya membicarakan soal namanya pada gadis ini, banyak sekali!
“Ayo ikut aku!” Kata Gendis menarik tangan Setho. Setho mengikuti
Gendis dari belakang.
62
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
Setiap bertemu orang, Gendis menunduk sambil menyapa. Mau tidak
mau Ia harus ikut menunduk sambil tersenyum. Selain itu, bahasa yang
digunakan terlihat seperti bahasa Jawa. Sudah diyakini Ia berada di suatu desa
yang terletak di daerah Jawa.
Sedari tadi Gendis terus menariknya jalan. Terlihat Ia mengajak keluar
dari kawasan pantai dan memasuki sawah-sawah. Setho yang lelah mulai
menghempaskan tangan Gendis kasar.
“Capek! Kita di mana sih?! Dari tadi jalan ga berhenti-berhenti!” Kesal
Setho.
Anehnya, seketika suasana desa yang ramai menjadi hening dan semua
orang menatap Setho. Begitu pula dengan Gendis. Bukan tatapan pujaan, tapi
tatapan tidak suka. Setho menjadi malu sekaligus risih ditatap hampir se-desa
ini. Dengan cepat Gendis menunduk meminta maaf. “Maaf pakde, maaf bude,
maaf semua..”
Setelah itu menarik Setho lagi dan menjauh dari orang-orang kampung.
Gendis berhenti di sebuah pondok di tengah sawah. Sambil membenarkan letak
kepangan rambutnya yang agak berantakan dan kusut, Gendis menatap Setho
marah.
“Kan tadi aku udah bilang, di sini harus santun. Jangan marah-marah
apalagi ngegas. Orang se-desa bisa gak nyaman atau bisa aja marah sama
kamu..” Kata Gendis lembut, sangat lembut. Suaranya seperti orang yang
sedang menyanyikan penghantar tidur. Ah! Lama-lama Ia bisa nyaman kalau
begini terus!
“Tapi bicara santun itu ga santai. Formal banget.” Keluhnya.
“Itu alasan kamu dikirim ke sini. Biar kamu belajar cara jadi santun sama
orang-orang.”
63
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
“Dikirim?”
“Iya.”
“Setho, apapun masalah kamu, jangan sampai cuek apalagi marah ke
ayah kamu ya..” Pesan Gendis tiba-tiba membahas ayahnya.
“Kenapa, emangnya”
“Karna itu ayah kamu. Sebelum santun ke orang lain, kamu harus mulai
santun ke ayah kamu.” Potong Gendis lebih dulu.
“O-Oke..”
“Eh Setho! Ayo kita tangkap belut di sawah!” Ajak Gendis ceria.
Setho tersenyum. “Ayo!”
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Malam ini mereka berdua duduk diatas perahu. Sudah banyak sekali
yang mereka bicarakan. Mulai dari kenapa desa ini harus menuntut sopan
santun, lalu mengapa ia dikirim ke desa itu, dan masih banyak lagi.
Kalau kata Gendis, desa disini termasuk desa pedalaman yang katanya
masih masuk Indonesia. Desa itu sama seperti kota-kota atau perkampungan di
daerah jawa, yaitu mengutamakan santun dalam berbahasa. Persoalan tentang
mengapa Ia dikirim ke desa itu karena sebuah doa. Doa dari ayahnya. Saat
mendengar penjelasan Gendis, rasanya Setho ingin menangis.
Ayahnya memang gila kerja. Sampai-sampai saat ibunya masih hiduppun
Ia jarang dirumah. Di kantor, di kantor, dan di kantor. Mungkin kalian akan
berpikir, tapi kenapa persoalan uang kuliah Setho harus menunggak? Setholah
yang memutuskan untuk tidak membayar uang kuliah. Uang itu Ia beri pada
ibunya yang saat itu sudah sering bolak-balik ke rumah sakit. Ibunya yang tidak
ingin memberi tahu ayah Setho. Sedangkan Setho tahu karena melihat ibunya
pergi ke rumah sakit dan melihat hasil test penyakitnya secara diam-diam. Tidak
ada pilihan lain selain Ia berjanji untuk merahasiakan semua dari ayahnya.
64
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
Hingga ibunya meninggal, ayahnya baru mengetahui semua dan
mencoba mengerti. Cerita singkatnya begitu. Setho hanya bisa tersenyum atas
apa yang Ia lalui hari ini. Begitu banyak pelajaran yang Ia dapat hari ini.
Entah desa fantasi apa ini, tapi Ia senang karena Gendis sudah berbaik
hati mengubah suasana hatinya.
“Ndis.” Panggil Setho.
“Ya?”
“Makasih.”
KKRRIINGGGGGG
Suara alarm membuatnya terbangun dari tidur. Setho membuka
matanya dan tersadar akan sesuatu. Kamarnya. Ia berada di kamar. Di mana
Gendis? Dimana desa itu?
Sebuah ketukan membuat Setho sontak menatap kearah pintu. Dengan
gerakan cepat Ia membuka pintu.
“Setho, ayo sarapan.” Ajak ayahnya ceria.
Setho yang teringat ucapan Gendis seketika memeluk ayahnya untuk
pertama kalinya.
“Maafin Setho, Yah.” Ayahnya hanya tertawa terharu sambil menepuk-
nepuk punggung Setho.
“Maafin Setho juga karna—”
“Karna dikeluarin dari kampus?” Potong ayahnya.
Setho melepaskan pelukannya. “Ayah tahu?”
“Ya, ayah tahu. Pihak kampus kemarin telfon ayah.”
“Maaf ya, Yah.”
“Gak apa-apa, Gak apa-apa. Lagian ayah juga tahu itu bukan bidang
kamu. Ayah hanya tunggu kamu mengeluh saja. Tapi ternyata enggak. Sampai
situ ayah sudah cukup bangga.” Kata ayahnya.
65
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
“Makasih, Yah.”
“Iya, Setho. Ayo sarapan.”
Bapak dan anak itu langsung menuju meja makan. Menyantap makanan
dengan lahap, tiba-tiba ketukan pintu dan suara seseorang membuat mereka
menoleh.
“Permisi..”
“Gendis?!” Kaget Setho.
“Hai, Setho.” Sapanya tersenyum.
Ni Luh Djevanya / IXC
SMP Sint Carolus Bengkulu
UJI KOMPETENSI 1
Pertanyaan identifikasi:
1. Apakah judul cerpen di atas menarik orang untuk membacanya?
2. Apakah judul cerpen mencerminkan isi cerpen?
3. Apakah yang dimaksud “Intuisi” dalam cerpen itu?
4. Ceritakan kembali tokoh dalam cerpen “Intuisi”!
5. Bagaimana kesan Anda terhadap cerpen tersebut?
66
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
B. MENYIMPULKAN UNSUR-UNSUR CERITA PENDEK
Pengertian Cerpen
Cerita pendek atau cerpen adalah salah satu dari bagian dalam prosa
yang berbentuk cerita fiksi dengan hanya satu konflik. Sementara itu, fiksi sendiri
memiliki pengertian berupa tulisan prosa tentang peristiwa dan karakter yang
dibayangkan (tidak nyata). Berbeda dengan novel ataupun novelet, cerpen lebih
pendek dari segi isi. Pada umumnya, sebuah cerita pendek dapat berkisar 1.600
hingga 10.000 kata.
Karena panjangnya yang lebih pendek, sebuah cerpen biasanya berfokus
pada satu plot, satu karakter utama (dengan beberapa karakter tambahan), dan
satu tema sentral, sedangkan sebuah novel dapat menyajikan berbagai plot dan
tema, dengan berbagai karakter yang menonjol sehingga lebih kompleks.
Berbeda dengan novel yang satu buku terdiri atas satu judul beserta subjudul,
cerpen pada umumnya berbentuk kumpulan.
Ciri-Ciri Cerpen
• Terdiri atas 1.600—10.000 kata sehingga membutuhkan 10 – 30 menit saja
untuk membacanya.
• Cerpen biasanya berfokus pada satu subjek atau tema. Subjek atau tema
berupa sesuatu yang biasa seperti tugas sehari-hari sehingga mempunyai
nilai moral yang tinggi.
• Cerpen biasanya berlangsung dalam satu latar sehingga berfokus pada satu
alur sehingga hanya bersifat satu konflik dan tidak ada konflik turunan.
67
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
• Cerpen biasanya fokus hanya pada satu atau beberapa karakter sehingga
karakter bersifat datar atau watak yang dimiliki tidak berubah secara
berangsur-angsur
• Diksi yang digunakan bersifat mudah dipahami
Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Cerpen
Unsur Intrinsik
Unsur Intrinsik Cerpen terdiri atas tema, tokoh, penokohan, watak, latar,
alur/plot, sudut pandang, dan amanat.
• Tema
Tema berbeda dengan judul. Tema bersifat lebih umum dari permasalahan
yang diangkat dan pada umumnya disampaikan dalam bentuk kata benda
(nomina), seperti kesetiakawanan, persahabatan, percintaan, perjuangan
kelas, pertempuran, dsb. Tema emansipasi wanita contohnya cerpen
berjudul “Dua Dunia” karya N.H Dini; tema kemiskinan contohnya cerpen
berjudul “Hari Pertama di Bulan Ini” karya Surya Gemilang; tema percinta
contohnya cerpen berjudul “Cintaku Setahun Jagung” karya Ramlis
Harman; dsb.
• Tokoh
Tokoh adalah sosok rekaan yang diciptakan penulis, yang setelahnya akan
diberikan watak dan penempatan. Tokoh-tokoh ini tentunya ada yang
diberikan nama ataupun terjadi secara umum, seperti ayah, ibu, nenek,
kakek, dsb. Pada beberapa cerpen, pemberian nama tokoh menjadi hal
yang penting, dan beberapa di antaranya memakai konsep etimologi.
68
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
• Penokohan
Tokoh yang telah diberi watak dan kapan dia akan muncul disebut dengan
penokohan.
• Watak
Watak atau sifat diberikan pada tokoh sehingga dapat diklasifikasi menjadi
tiga: tokoh protagonis (baik), tokoh antagonis (jahat), dan tokoh tirtagonis
(penengah). Berdasarkan perubahan wataknya, tokoh terbagi menjadi dua:
tokoh datar dan tokoh bulat. Tokoh datar adalah tokoh yang tidak
mengalami perubahan watak dan tokoh bulat adalah kebalikannya.
• Latar
Latar atau setting terbagi menjadi tiga: latar suasana, latar tempat, dan
latar waktu. Latar suasana diperlukan pada setiap momen cerita: apakah
suasana haru, menegangkan, sedih, dsb. Latar tempat dibutuhkan untuk
mengenali budaya dari cerita yang diangkat. Latar waktu digunakan sebagai
penunjuk untuk membangun suasana yang diciptakan.
• Alur
Alur atau plot terbagi menjadi dua: linier dan kilas balik. Alur liner terjadi
jika cerita bersambung ke depan. Cerpen yang isi ceritanya terdapat bagian
mengisahkan masa lalu disebut dengan alur kilas balik.
• Sudut pandang
Sudut pandang atau point of view terbagi menjadi dua: sudut pandang
orang pertama dan sudut pandang orang ketiga. Sudut pandang orang
pertama terbagi menjadi dua: sudut pandang orang pertama sebagai
pelaku utama dan sudut pandang orang pertama sebagai pelaku
sampingan. Jika di dalam cerita, tokoh utama menggunakan kata ganti Aku
atau saya atau gue dan tidak disebutkan nama tokoh lain, sudut pandang
ini disebut sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama.
69
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
Jika terdapat nama tokoh lain, artinya cerita menggunakan sudut pandang
orang pertama sebagai pelaku sampingan. Sementara itu, sudut pandang
orang ketiga artinya di dalam cerita menggunakan kata ganti orang ketiga
atau nama langsung. Jika tokoh dapat mengetahui hal-hal yang tak kasat
mata, seperti perasaan tokoh, sudut pandang yang dibuka berupa sudut
pandang orang ketiga serba tahu, jika sebaliknya, artinya sudut pandang
orang ketiga sebagai pelaku sampingan.
• Pesan atau amanat
Pada dasarnya, seorang penulis menyiapkan amanatnya terlebih dahulu
kemudian dituangkan ke dalam cerita. Amanat disampaikan baik secara
eksplisit maupun implisit. Selain itu, amanat dari sebuah cerpen akan
bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Unsur Ekstrinsik Cerpen
Unsur ekstrinsik cerpen digunakan agar dapat mengetahui lebih dalam tentang
isi cerita. Unsur-unsur tersebut terdiri atas:
• Latar Belakang Masyarakat
Latar belakang masyarakat dapat diketahui dengan cara dilihat dari sisi
kondisi ekonomi, sosial budaya, politik, dan ideologi. Hal-hal ini diperlukan
semata-mata demi memahami secara kompleks maksud dan tujuan, serta
motif mengapa cerita tersebut diciptakan.
• Kepengarangan
Sejarah hidup penulis mulai dari kondisi sosial, psikologis, bahkan aliran
sastra yang dianut memberikan gambaran lebih dalam ketika menganalisis
cerpen.
70
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
UJI KOMPETENSI 2
Setelah kalian membaca cerpen “Intuisi” simpulkan unsur intrinsik cerpen tersebut!
Unsur Simpulan dan bukti
Tema
Kutipan Cerpen
Unsur Simpulan dan bukti
Tokoh, watak, dan
penokohan
Kutipan Cerpen
Unsur Simpulan dan bukti
Latar waktu
Kutipan Cerpen
71
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
Unsur Simpulan dan bukti
Latar tempat
Kutipan Cerpen
Unsur Simpulan dan bukti
Latar suasana
Kutipan Cerpen
Unsur Simpulan dan bukti
Alur/plot
Kutipan Cerpen
72
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
Unsur Simpulan dan bukti
Sudut pandang
Kutipan Cerpen
Unsur Simpulan dan bukti
Pesan/amanat
Kutipan Cerpen
73
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
C. MENELAAH STRUKTUR CERPEN
⮚ Abstrak merupakan ringkasan ataupun inti dari cerita pendek yang hendak
dibesarkan jadi suatu rangkaian- rangkaian kejadian ataupun dapat pula
bagaikan cerminan dini dalam cerita. Abstrak bertabiat opsional ataupun
dalam artian kalau tiap cerpen boleh tidak ada struktur abstrak tersebut.
⮚ Orientasi
Pada bagian ini, tokoh dan latar diperkenalkan. Latar, yang terdiri atas latar
waktu, suasana, dan tempat, diceritakan baik langsung maupun tak langsung,
begitupun dari watak tokoh.
⮚ Komplikasi
Di bagian tengah, seorang penulis memiliki tugas yang sulit untuk membuat
pembaca tertarik, sebelum mencapai akhir cerita. Tokoh-tokoh akan
menghadapi konflik, dan seringkali hal-hal menjadi lebih buruk bagi mereka
dan mereka perlu menemukan cara untuk membereskannya. Bagian inilah
disebut dengan komplikasi.
⮚ Evaluasi
Bagian ini menyajikan perjalanan konflik sampai ke titik tertinggi (klimaks)
yang setelahnya akan ditemukan pemecahan ataupun peleraian.
⮚ Resolusi
Bagian ini disebut juga dengan peleraian, yaitu saat titik tertinggi mulai
menurun hingga bertemu pada bagian koda.
⮚ Koda
Bagian ini adalah bagian akhir dari cerpen. Penulis akan menyampaikan pesan
moralnya baik secara eksplisit maupun implisit.
74
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
UJI KOMPETENSI 3
Setelah membaca cerita pendek “Intuisi” kalian dapat menelaah bagian-bagian
struktur teks cerita pendek dengan menuliskan bukti kalimat dalam teks. Sertakan
pula simpulan isi teksnya.
Struktur Teks Bukti Simpulan
Orientasi
Rangkaian Peristiwa
Komplikasi
Resolusi
75
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
D. ASPEK KEBAHASAAN CERPEN
Kaidah Kebahasaan Cerpen
Cerpen juga karakteristiknya dapat dikenal dari bahasa yang digunakan di
dalamnya, ciri bahasa dari cerpen adalah sebagai berikut:
⮚ Memuat kata sifat yang mendeskripsikan pelaku seperti penampilan fisik juga
kepribadian tokoh yang diceritakan dalam cerpen, seperti misalnya sosoknya
tinggi atau perawakannya gagah, rambutnya beruban dan sifat tokoh lainnya.
⮚ Memuat kata keterangan untuk mendeskripsikan latar waktu tempat dan
suasana, sebagai contoh misalnya: di pagi hari yang cerah, di kebun bambu
yang rimbun dengan dedaunan, dan lain sebagainya.
⮚ Menggunakan kalimat langsung dan juga tidak langsung untuk penulisan dalam
percakapan di dalam cerpen.
⮚ Bisa menggunakan gaya bahasa yang bersifat konotasi seperti misalnya : pucuk
langit, memanggang bus, bajing loncat, dan mulut terminal.
⮚ Bahasa yang digunakan tidak baku dan tidak formal.
⮚ Bisa menggunakan gaya bahasa perbandingan, pertentangan, pertautan,
maupun perulangan.
76
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
UJI KOMPETENSI 4
Setelah membaca cerita pendek “Intuisi” kalian dapat menganalisi kaidah
kebahasaan teks cerita pendek tersebut
Kaidah kebahasaan Hasil analisis
Kata sifat
Kata keterangan
Kalimat langsung dan tidak langsung
Kalimat konotasi
Bahasa tidak baku
Majas
77
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
E. MENGUNGKAPKAN PENGALAMAN DAN GAGASAN DALAM
BENTUK CERPEN
Menulis atau mengarang adalah proses kreatif dalam berkarya. Kalian harus selalu
berlatih menulis, agar kalian dapat menuangkan segala ide, gagasan, dan pikiran
yang ada dalam diri kalian. Kalian harus tahu bahwa keterampilan menulis tidak
dapat dilakukan dengan begitu saja tanpa berlatih dengan tekun. Apalagi dalam
menulis karya sastra, jika terus dilakukan, selain mengasyikkan juga akan
menghasilkan karya yang baik.
LANGKAH-LANGKAH MENULIS CERPEN
Agar kita mampu memproduksi sebuah cerpen maka kita harus menggunakan
pendekatan khusus berupa langkah-langkah dalam menulis cerpen, sebagai
berikut:
1. Observasi (pengamatan) dan menentukan tema
Melakukan observasi (pengamatan, penelitian, dan mengungkap
pengalaman) dapat memunculkan tema tertentu. Rumusan tema kadang-
kadang membutuhkan penjabaran melalui observasi. Jadi observasi dan
tema bisa saling melengkapi. Observasi dapat dilakukan dengan melihat
suatu peristiwa, mendengar cerita orang lain, atau pengalaman pribadi.
2. Menentukan latar , tokoh ,sudut pandang, dan konflik
Menentukan latar, tokoh, konflik, dan sudut pandang dalam cerpen yang
akan ditulis berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan.
3. Menyusun peristiwa-peristiwa
Menyusun peristiwa-peristiwa yang akan diceritakan dalam rangkaian alur
yang dimainkan dalam latar tertentu. Peristiwa-peristiwa tersebut memuat
konflik yang dialami oleh tokoh dalam cerpen.
78
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
3. Menyusun peristiwa-peristiwa
Menyusun peristiwa-peristiwa yang akan diceritakan dalam rangkaian alur
yang dimainkan dalam latar tertentu. Peristiwa-peristiwa tersebut memuat
konflik yang dialami oleh tokoh dalam cerpen.
4. Memilih kata-kata
Mengembangkan peristiwa menjadi cerpen dengan pilihan kata yang
menarik. Pilihan kata yang digunakan dapat menggunakan kata-kata dari
bahasa daerah, bahasa asing , dan bahasa gaya remaja.
UJI KOMPETENSI 5
Buatlah cerpen berdasarkan pengalaman pribadi yang kalian alami, baik
pengalaman yang menyenangkan, menyedihkan, menjengkelkan,
menegangkan, dan lain-lain dengan memperhatikan unsur intrinsik,
struktur, dan kaidah kebahasaannya.
79
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
F. UJI KOMPETENSI
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat!
1. Jenis karya sastra berbentuk prosa dan bersifat fiktif yang menceritakan
suatu kisah yang dialami suatu tokoh secara ringkas disertai berbagai konflik
dan terdapat penyelesaian dari masalah yang dihadapi, disebut ….
a. cerita pendek
b. syair
c. pantun
d. puisi
2. Dalam struktur cerpen, nilai atau pelajaran yang bisa didapat dari teks cerita
pendek oleh pembaca disebut ….
a. abstrak
b. koda
c. resolusi
d. orientasi
3. Yang termasuk unsur intrinsik cerita pendek adalah ….
a. evaluasi
b. komplikasi
c. latar
d. biografi
4. Pelaku yang ada di cerita pendek disebut ….
a. penokohan
b. latar
c. sudut pandang
d. tokoh
80
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
5. Struktur yang berisi pengenalan latar cerita berkaitan dengan waktu, ruang,
dan suasana terjadinya peristiwa dalam cerpen terdapat dalam ….
a. abstrak
b. orientasi
c. komplikasi
d. deskripsi umum
6. Gagasan utama yang menjadi dasar cerita jalannya cerita pendek adalah ….
a. paragraf
b. tema
c. judul
d. ide pokok
7. Kuingin kau berbohong padaku. Seperti yang kau utarakan kemarin, dan
kemarin dulu itu. Ketika mentari meredup berpendar di pucuk daun sebelah
barat rumah dan ketika kerumunan itu tak lagi bersamamu, kau mulai
dengan kisah kebohonganmu yang pertama kepadaku.
Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar waktu sore adalah ….
a. mentari di sebelah barat
b. kuingin kau bohong padaku
c. mulai kisah kebohonganmu
d. kemarin dan kemarin lagi
8. Salah satu hal yang membedakan cerpen dan puisi adalah ….
a. adanya alur
b. adanya tema
c. adanya amanat
d. adanya gaya bahasa
81
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
9. Pada teks cerpen, pembaca dapat mengetahui karakter atau watak pelaku
cerita dalam tahapan ….
a. komplikasi
b. abstrak
c. orientasi
d. evaluasi
10. Resolusi pada teks cerpen adalah tahapan di mana ...
a. pengarang menghidupkan cerita dan meyakinkan pembaca
b. berbagai kerumitan bermunculan
c. konflik mencapai tingkat intensitas tertinggi
d. konflik mencapai sebuah selesaian atau leraian
82
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
Tak Perlu Diubah Jika Sudah Indah
Fidelia Maria A.H (IX D)
Senin, 8 Juni 2020. 07.45 AM
Aku terkejut saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 07.45 pagi, yang artinya
aku sudah lumayan telat untuk absen. Akhirnya aku segera membuka salah satu
grup dan mengetikkan sesuatu di layar handphone-ku.
Bianca : Girls Squad
Devina : Shaula mana nih? jangan jangan belum bangun.
Iya,kemana dia ya,kebiasaan sih tidur malem.
Eh P : Shaula
Woy aing telattt : Shaula
Hai, Namaku Shaula. Aku duduk di bangku kelas IX. Aku bisa termasuk
murid yang rajin, tepat waktu, sopan. Tapi itu dulu,sebelum adanya daring
seperti saat ini. Belajar online membuat ku lebih malas untuk melalukan sesuatu.
Sampai pada saat pertengahan libur Corona ini, aku jadi lebih banyak memiliki
teman online daripada teman sekolah.
Langit : Grup Kelas IX F
Fiolin : Langit hadir 06.30
dst. Fiolin hadir 06.45
07.47 P : Shaula
07.47 Woe aing telat astaga : Shaula
Shaula
07.48 Shaula hadir :
83
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
Pak Budi : Shaula,kenapa bisa telat ya? Biasakan mengucap
salam ya nak kalau memulai chat. 07.50
Read.
08.00
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 dimana pelajaran pertama dimulai.
Pelajaran pertama kali ini ialah, Fisika. Dimana pelajaran itu adalah pelajaran
yang paling Shaula benci.
“Ahhhh, baru juga melek udah disuguhi pelajaran ini aja,” ucap Shaula kesal.
Tugas pun diberikan melalui Wali Kelas di grup kelas masing-masing. Namun
karena Shaula asyik telfonan dengan sahabatnya, akhirnya ia tidak sadar hal ini
terjadi.
Grup Kelas IX F
Gile woe,tugas fisika susah banget woe.
Dikiranya otak gw lancar gitu? : Shaula
Shaula mengetikkan kekesalannya pada grup itu yang Ia pikir grup
bersama dengan sahabatnya. Saat itu Shaula tidak sadar bahwa Ia telah
berpindah roomchat dari grup dengan sahabatnya menjadi grup kelasnya.
Sampai pada akhirnya, Pak Budi pun membaca pesan tersebut. Tak lama
kemudian, Shaula mendapat notif chat dari Pak Budi yang menanyakan apa
maksud dari chat yang Ia kirimkan ke grup kelas tersebut. Shaula hanya melongo
kaget dan Ia baru sadar bahwa Ia salah mengirim pesan.
“Assalamualaikum Shaula, bapak mau bertanya. Kenapa ya kamu
berbahasa seperti itu di grup kelas?” kira-kira seperti itulah chat Pak Budi
kepada Shaula. Karena ketakutannya, Shaula pun beralasan bahwa itu adalah
ulah sepupunya.
84
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
“Waalaikumsalam Pak. Emmm anu, maaf pak itu tadi ulah sepupu saya,”
jawab Shaula.
“Okelah kalau begitu. Lain kali kalau di grup kelas itu harus menjaga
sopan santun terutama dalam berbahasa, mau itu diri kamu sendiri ataupun
orang lain,” jawab Pak Budi yang mempercayai pernyataan dari Shaula tersebut.
Shaula membuang nafas lega. Akhirnya Ia pun tetap melanjutkan segala
tugasnya hingga waktu daring hari itu selesai.
19.20
Malam hari pun tiba. Kini keluarga Shaula sedang berkumpul di meja
makan untuk menikmati makan malam. “Gimana Shaula, daring hari ini?” tanya
Ayah Shaula.
“Baik kok yah, tugas Shaula udah selesai semua,” jawab Shaula
berbohong.
Saat makan malam selesai, Bunda Shaula meminta handphone Shaula
untuk diperiksa karena itu sudah menjadi kebiasaan Bundanya untuk tetap
memantau pergaulan yang terjadi pada Shaula melalui Handphone nya.
“Shaula,s ini HP nya, mau bunda periksa,” ujar Bunda Shaula. Shaula
terkejut saat ia sedang asyik memainkan handphone nya sambil menyelesaikan
makannya.
‘Mampus, lupa hapus chat-chatku,’ ujar Shaula dalam hati. Dengan berat
hati akhirnya Shaula memberikan handphone nya kepada bundanya untuk
diperiksa walau ia belum sempat menghapus chat-chatnya.
Akhirnya, bunda Shaula mulai memeriksa handphone Shaula satu persatu
peraplikasi. Sehingga pada akhirnya bunda Shaula membuka aplikasi WhatsApp
untuk diperiksa isi chat Shaula. Pertama, bunda Shaula membuka chat Shaula
dengan salah satu temannya, ternyata isinya hanya menanyakan tugas sekolah.
85
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
Lalu berlanjut dengan memeriksa isi chat Shaula dengan gurunya yaitu, Pak Budi. 86
Bunda Shaula mulai membaca segala chat Shaula dengan Pak Budi dari awal
hingga akhir. Sampai pada saat bunda Shaula membaca pesan yang dikirimkan
Shaula ke gurunya itu yang berisi ‘Waalaikumsalam pak. Emmm anu, maaf pak
itu tadi ulah sepupu saya,’ bunda Shaula menyadari bahwa pernyataan itu tidak
benar. Akhirnya bunda Shaula bertanya pada Shaula, apa maksud pernyataan
tersebut.
“Shaula,ini kenapa nak? Kamu berbohong?” tanya bunda Shaula kepada
Shaula.
Shaula menjawab dengan gugup, “Emmm iya bund, Shaula tadi gak
sengaja salah kirim pesan ke grup kelas. Disitu Shaula mengirimkan chat yang
tidak baik bahasanya bund, sehingga Pak Budi bertanya kenapa Shaula
berbahasa seperti itu di dalam grup kelas, bahkan tidak mengucapkan salam,”
jelas Shaula.
“Memangnya seperti apa pesan yang kamu kirimkan?” tanya bunda
Shaula. Akhirnya Shaula mengambil kembali handphone nya dan menunjukkan
pesan yang Ia maksud tadi. Bunda Shaula sedikit kaget melihat cara anaknya
berbahasa jika melalui chat, karena biasanya Ia bisa berbahasa yang baik,
dimanapun, dengan siapapun, dan kapanpun.
“Astaga Shaula, belajar darimana kamu bahasa seperti ini?” tanya bunda
Shaula. “Setau bunda, kamu tidak pernah seperti ini bahasanya,” lanjut bunda
Shaula.
Ayah Shaula yang mendengar hal tersebut langsung bangkit dari tempat
duduknya, meninggalkan ruang TV dan menghampiri meja makan. “Ada apa ini
bund?” tanya ayah Shaula.
Saat itu Shaula hanya bisa menunduk dan gemeteran. “Lihat yah, seperti
ini sekarang Bahasa chat Shaula jika di handphone. Ayah Shaula pun ikut melihat
isi pesan di handphone Shaula. Saat Ayahnya masih sibuk memeriksa isi
……………………………..
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
handphone nya, Shaula pun memberanikan diri untuk menjawab dengan jujur.
“Maaf yah, bund. Semenjak semua serba online, Shaula juga banyak
teman online dari berbagai grup. Akhirnya Shaula jadi ikut terbiasa sama bahasa
yang mereka gunakan,” jelas Shaula.
Sehabis itu, ayah Shaula hanya membuang nafas sambil melihat Shaula.
“Nak, ayah kenal kamu sebagai Shaula yang bisa berbahasa dengan baik, bukan
yang seperti ini nak. Kamu boleh berteman dengan siapa saja, mau itu online
ataupun teman sekolah. Tapi bukan berarti kamu juga harus mengikuti gaya
berbahasa mereka hanya untuk terlihat gaul atau mengikuti zaman,” ujar ayah
Shaula menasihati. Shaula pun menyimak perkataan ayahnya yang memang ada
benarnya itu. “Terlebih lagi kamu calon generasi mendatang, harusnya kamu
bisa berbahasa yang baik, yang sehat untuk Indonesia. Jangan jadikan bahasa
kita jadi tidak benar seperti itu,” lanjut ayahnya. “Iya yah, maafin Shaula. Shaula
janji, gak akan kaya gitu lagi. Shaula janji gak bakal ikutin bahasa teman-teman
yang tidak sehat. Shaula juga janji gak akan bohong lagi sama siapapun itu walau
untuk menutupi kesalahan Shaula,” jawab Shaula.
“Ayah boleh kok keluarin Shaula dari grup-grup yang tidak sehat
bahasanya,” lanjut Shaula.
Ayah dan bunda Shaula hanya tersenyum melihat tingkah Shaula yang
seperti itu jika mengalami kesalahan. “Tidak apa-apa nak, tidak perlu keluar dari
grup-grup itu. Asal Shaula bisa menjaga bahasa Shaula dengan baik, Shaula
masih boleh berada didalam grup itu. Biar Shaula juga menambah teman,” ujar
ayah Shaula dengan lembut. “Sekarang Shaula hanya perlu meminta maaf
kepada Pak Budi atas pernyataan Shaula yang tidak benar tadi. Karena itu juga
merugikan Pak Budi,” lanjut ayah Shaula. “Iya yah,” jawab Shaula. Akhirnya
Shaula mengambil kembali handphone nya yang digenggam bundanya dan mulai
mengetikkan pesan permintaan maaf kepada wali kelasnya tersebut. Sesudah
……
87
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
itu, ayahnya berpesan pada Shaula, “Jika Bahasa yang baik saja sudah indah, buat
apa diubah? Jawab salam itu dengan Assalamualaikum, bukan ‘P’. Memanggil
siapapun melalui chat harus dengan bahasa yang baik dan sopan, bukan ‘woe’ ,”
kata ayah Shaula pada Shaula agar Shaula lebih mengerti lagi kedepannya. “Iya
yah, sekarang Shaula paham,” jawab Shaula. Ayah dan bunda Shaula tersenyum.
“Oh iya yah, Shaula boleh kan menegur teman Shaula yang masih berbahasa
seperti itu?” lanjut Shaula. “Boleh sekali. Tapi ingat ya nak, tetap menggunakan
bahasa yang baik dan sopan,” jawab Ayah Shaula.
“Sekarang handphone Shaula, bunda yang pegang ya? biar Shaula juga
fokus belajar,” ujar bunda Shaula. “Iya bunda,” jawab Shaula. Ayah dan bunda
Shaula pun tersenyum dan mengelus pucuk kepala Shaula dengan tulus dan raut
wajah bangga karena anaknya bisa cepat tangkap untuk memahami maksud
kedua orang tua nya.
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan tepat!
1. Apa tema cerpen “Tak Perlu Diubah Jika Sudah Indah”? dan berikan
penjelasannya!
2. Temukan latar cerpen “Tak Perlu Diubah Jika Sudah Indah” tersebut dengan
bukti faktual!
3. Temukan nilai-nilai kehidupan yang positif dan negatif yang ada dalam cerpen
“Tak Perlu Diubah Jika Sudah Indah” tersebut!
4. Temukan karakter tokoh dalam cerpen “Tak Perlu Diubah Jika Sudah Indah”
bersama bukti yang meyakinkan!
5. Simpulkan nilai kehidupan dalam cerpen “Tak Perlu Diubah Jika Sudah Indah”
yang dapat menjadi teladan bagi siswa!
88
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
G. REFLEKSI
Isilah penilaian diri ini dengan jujur dan benar sesuai dengan perasaan kalian ketika
mengikuti pembelajaran ini!
1. Bubuhkanlah tanda centang (√) pada salah satu gambar yang dapat
mewakili perasaan kalian setelah mempelajari materi ini!
1. Apa yang sudah kalian pelajari pada materi ini?
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
3. Apa yang kalian kuasai dari materi ini?
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………
89
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
4. Bagian apa yang belum kalian kuasai?
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
5. Apa upaya kalian untuk menguasai yang belum kalian kuasai?
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
6. Sebutkan hal yang menarik dari aktivitas pembelajaran yang sudah kalian
lakukan! Berikan alasannya!
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
7. Sebutkan hal yang tidak menarik dari aktivitas pembelajaran yang sudah
kalian lakukan! Berikan alasannya!
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………………………
90
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
H. KEGIATAN LITERASI
Bacalah dari antologi cerpen yang isinya dapat memberi motivasi, menginspirasi,
dan memberi manfaat atau pesan yang baik. Buatlah laporan dari kegiatan literasi
tersebut.
91
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
BAB
4
MEMBERI TANGGAPAN
DENGAN SANTUN
KOMPETENSI DASAR
3.7 Mengidentifikasi informasi berupa kritik, sanggahan, atau pujian dari teks
tanggapan (lingkungan hidup, kondisi sosial, dan/atau keragaman budaya,
dll) yang didengar dan/atau dibaca.
3.8 Menelaah struktur dan kebahasaan dari teks tanggapan (lingkungan hidup,
kondisi sosial, dan/atau keragaman budaya, dll) berupa kritik, sanggahan,
atau pujian yang didengar dan/atau dibaca.
4.7 Menyimpulkan isi teks tanggapan berupa kritik, sanggahan, atau pujian
(mengenai lingkungan hidup, kondisi sosial, dan/atau keragaman budaya)
yang didengar dan dibaca.
4.8 Mengungkapkan kritik, sanggahan, atau pujian dalam bentuk teks
tanggapan secara lisan dan/atau tulis dengan memperhatikan struktur dan
kebahasaan.
INDIKATOR
3.7 Peserta didik mampu mengidentifikasi informasi berupa kritik, sanggahan,
atau pujian dari teks tanggapan.
3.8 Peserta didik mampu menelaah struktur dan kebahasaan teks tanggapan
berupa kritik, sanggahan, atau pujian.
4.7 Peserta didik mampu menyimpulkan isi teks tanggapan berupa kritik,
sanggahan, atau pujian.
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia Kelas IX 90
4.8 Peserta didik mampu mengungkapkan kritik, sanggahan, atau pujian dalam
bentuk teks tanggapan secara lisan dan/atau tulis dengan memperhatikan
struktur dan kebahasaan
TUJUAN PEMBELAJARAN
Melalui aktivitas belajar mandiri, peserta didik dituntun untuk
mengidentifikasi informasi/isi berupa kritik, sanggahan atau pujian, dan
menyimpulkan isi teks tanggapan. Berdasarkan kegiatan belajar ini diharapkan
peserta didik menjadi siswa yang memiliki rasa ingin tahu dan mampu berpikir kritis
dalam menyikapi suatu hal.
FOKUS PENGUATAN KARAKTER
1. Tanggung jawab
2. Peduli
3. Jujur
4. Kerja sama
5. Berani
93
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
AKTIVITAS PEMBELAJARAN
Sebelum pembelajaran dimulai, marilah kita berdoa semoga kegiatan ini
menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat. Rasa syukur dan bangga, serta
senang sekali mengetahui kondisi kalian tetap bersemangat melakukan proses
pembelajaran di situasi pandemi Covid-19 ini. Selalu bersyukur kepada Tuhan atas
segala berkat yang diberikan. Jagalah kesehatan mengingat saat ini, virus korona
sedang mewabah. Patuhi protokol kesehatan dengan baik, dengan cara rajin
mencuci tangan memakai sabun, menggunakan masker, menjaga jarak,
menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.
94
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
A. MENGIDENTIFIKASI TEKS TANGGAPAN
Bacalah tiga kutipan teks tanggapan berikut, kemudian lakukan aktivitas yang
menyertainya!
Teks 1
Judul : Di depan Sebuah Harapan
Perupa : Abdul Malik
Pada dasarnya lukisan tersebut sangatlah baik dalam penggunaan ide, dengan
judul “Di depan Sebuah Harapan” sang perupa menggunakan seekor kuda
tunggangan sebagai simbol perjalanan menuju suatu tujuan dengan kata lain
menggapai suatu keinginan atau harapan. Tapi pada penerapan tekniknya,
terlihat bahwa kayu penopang (berwarna hijau) seakan-akan menyatu dengan
daging kuda. Tapi secara keseluruhan, lukisan tersebut sangatlah menarik.
Teks 2
Pandemi Corona atau coronavirus disease 2019 (covid 19) memberikan
banyak pelajaran berharga dalam setiap sendi kehidupan. Sebagian besar
karyawan melaksanakan work from home (WFH) dan para siswa juga
“memindahkan’ kegiatan belajar di rumah, secara online. Ini semua sejalan
dengan upaya pemerintah dalam mengurangi dampak penyebaran virus corona.
Dan seperti yang telah ditetapkan, kegiatan belajar dari rumah ini pun masih
akan berlangsung hingga 29 Mei mendatang.
Pemindahan kegiatan belajar dari sekolah ke rumah ini, sebagai upaya
untuk menjaga jarak sosial. Mau tak mau membuat para orang tua mempunyai
……
95
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
peran yang baru, yakni sebagai guru dadakan. Itu artinya, para orang tua lah
yang menjadi garda terdepan untuk membimbing proses kegiatan belajar hingga
pandemi ini berakhir.
Dengan segala keterbatasan yang ada, tidak mengherankan jika para
orang tua menemui banyak kendala dalam pelaksanaannya. Tengok saja, hampir
sebagian besar laman sosial media mengunggah suka dan duka para orang tua
yang menjadi guru dadakan untuk membimbing anak-anaknya belajar di
rumahnya masing-masing. Tidak hanya jeritan hati atau duka yang dirasakan
orang tua yang menjadi guru dadakan di rumah, namun tidak sedikit juga yang
bersuka hati menjadi guru dadakan membimbing anak-anaknya belajar dari
rumah. Nah, mau tahu apa saja suka duka belajar online saat pandemi corona?
Para orang tua memang tidak semuanya memiliki kesiapan untuk
menjadi pembimbing belajar online untuk anak-anaknya. Tanggapan positif
banyak dikemukakan, mulai dari kedekatan secara psikologis dengan anak
lantaran membimbing secara langsung proses belajar online; mengetahui
perkembangan akademis anak dan menumbuhkan kebersamaan serta
membangun komunikasi yang baik dalam lingkungan rumah. Bagi orang tua yang
biasanya menganggarkan katering untuk bekal sekolah anak, saat ini bisa
menghemat anggaran untuk dialokasikan kepada kebutuhan lainnya. Meski
begitu, tidak sedikit juga yang mengalami beberapa kendala sepanjang menjadi
pembimbing dalam pelaksanaan belajar online di rumah, mulai dari kendala
eksternal maupun internal.
Kendala eksternal lebih banyak didominasi oleh jaringan internet yang
tidak mendukung ataupun kondisinya yang lemot. Bahkan di beberapa daerah
banyak yang belum memiliki alat pendukungnya, seperti gadget, sehingga
terpaksa mengandalkan warung internet untuk melaksanakan belajar secara
online. Nah, tidak sedikit pula yang kemudian berakhir dengan bermain game
online.
96
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
Kendala internal juga tak kalah banyak, mulai dari para orang tua yang
mengaku kesulitan karena tidak memiliki penguasaan materi-materi pelajaran
sekolah hingga anak yang kurang disiplin, karena mereka menganggap di rumah
berarti libur. Selain itu, perubahan suasana hati (moody) anak dalam belajar
online juga menjadi hal penting lainnya yang perlu dijaga. Lantaran, tugas sekolah
yang terlalu banyak sehingga menimbulkan rasa bosan anak. Sedangkan, belajar
dengan metode ini membutuhkan daya tangkap yang cepat. Disamping itu, dari
sisi tenaga pendidik misalnya, dengan memberikan materi belajar online
dianggap lebih sulit daripada tatap muka di kelas. Guru merasa kesulitan
mengajak para siswanya untuk aktif, komunikatif bahkan di ruang diskusi yang
sengaja diadakan.
Teks 3
1. Sebenarnya saya setuju dengan pilihan desain dan warna perabotan rumah
ini. Tetapi akan lebih baik jika semuanya dibicarakan terlebih dahulu dengan
pemilik rumah, bukan asal ambil keputusan.
2. Saya memang menolak penggusuran ini, namun saya juga mendukung
langkah pemerintah untuk menata ulang wilayah ini.
3. Bukannya saya tidak mau menurunkan ego, akan tetapi setiap orang di sini
selalu memaksakan kehendak mereka masing-masing.
4. Rangkuman materi yang diberikan oleh Bu Dewi memang sangat lengkap,
tetapi justru membuat kami bingung untuk mempelajari mana yang lebih
penting.
97
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
UJI KOMPETENSI 1
Setelah kalian membaca ketiga teks tersebut tuliskan informasi/isi, jenis teks
tanggapan serta alasannya ke dalam tabel di bawah ini!
Sanggahan, pujian, Alasan
Teks Informasi/isi
atau kritikan
Teks 1
Teks 2
Teks 3
Dengan demikian, setelah melaksanakan uji kompetensi pertama, kalian telah
memahami teks tanggapan yang merupakan pujian, kritikan, maupun sanggahan.
98
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
B. MENYIMPULKAN INFORMASI ISI TEKS
TANGGAPAN
Pengertian Teks Tanggapan
Teks tanggapan adalah teks yang berupa tanggapan dalam bentuk pujian
atau dukungan, hingga kritik dan penolakan terhadap suatu karya, hal, atau
peristiwa yang diberikan oleh penanggapnya sebagai bentuk apresiasi atau saran
yang dapat membangun.
Teks tanggapan ini mirip dengan teks ulasan pada materi kelas 8.
Keduanya sama-sama menganalisis dan memaparkan suatu karya atau hal
kemudian menilai karya tersebut. Apa saja persamaannya?
Pertama, keduanya mirip karena sama-sama memiliki bagian deskripsi
dan penilaian yang berarti menggunakan eksposisi (argumentasi). Namun, teks
tanggapan cenderung lebih bebas dan boleh dikatakan versi lebih luwes dari
ulasan. Ulasan mengulas suatu karya, sementara tanggapan dapat menanggapi
suatu peristiwa atau berita yang sedang hangat dibicarakan. Kemudian, teks ini
juga tidak harus menilai, bisa jadi teks tanggapan hanya memuji atau mengkritik
saja.
Teks Tanggapan Kritis
Teks tanggapan juga identik disandingkan dengan kata Kritis. Mengapa?
Karena pada bagian penilaian, kita harus mampu berpikir kritis. Berpikir kritis
mungkin terdengar seakan kita harus memberikan kritik yang tajam dalam
menanggapi sesuatu. Tidak selalu dan sebenarnya bukan itu esensinya.
Teks Tanggapan Kritis adalah teks yang berisi kritik tajam terhadap suatu
hal yang mengenai kesalahan. Tanggapan Kritis juga bisa dikatakan menganalisa
suatu pendapat. Kita harus menerima semua tanggapan yang diberikan oleh
aaaaaa
99
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX
seseorang atau teman kita saat kita memberikan pendapat. Karena setiap
tanggapan yang mereka berikan pasti ada alasan dan bisa membuat kita
menjadi lebih baik.
Berpikir kritis artinya kita harus harus mampu menguraikan asumsi-
asumsi terhadap peristiwa atau hal yang ditanggapi dengan hati-hati dan
bijaksana. Semua aspek diperhatikan dengan teliti dan dilihat sisi baik dan
buruknya. Biasanya pemikiran seperti ini memang akan menghasilkan kritik
tajam namun mampu memperlihatkan keunggulan yang tak dapat dilihat oleh
orang lain pula.
Ciri Teks Tanggapan Kritis
1. Teks ini memuat tanggapan terhadap fenomena yang terjadi di sekitar
dengan disertai fakta dan alasan.
2. Mempunyai 3 Struktur teks yaitu : Evaluasi , Deskripsi Teks , dan Penegasan
Ulang.
3. Mengandung kaidah kebahasaan atau ciri kebahasaan yang dimiliki teks
tanggapan kritis.
Fungsi Teks Tanggapan
1. Mengapresiasi suatu karya atau hal yang dilakukan oleh orang lain dengan
cara yang sedetail dan sejelas mungkin.
2. Memberikan kritik membangun yang dapat membantu suatu hal untuk
diselesaikan atau menjadi lebih baik lagi.
3. Wahana atau sarana dari hal yang ditanggapi agar sesama pemuji atau
pengkritik dapat berdialog dengan lebih baik melalui konteks, deskripsi, dan
penilaian yang diberikan oleh teks tanggapan.
100
Yayasan Tarakanita Bahasa Indonesia IX