dosa; kecondongan kepada yang jahat ini dinamakan "concupiscentia".
Karena Pembaptisan memberikan kehidupan rahmat Kristus, ia menghapus dosa asal dan
mengarahkan manusia kepada Allah lagi, tetapi akibat-akibat untuk kodrat, yang sudah
diperlemah tinggal dalam manusia dan mengharuskan dia untuk berjuang secara rohani.
Jadi kayaknya salah alamat deh kalau nuduh HAWA.. hihihihi
September 27, 2009 at 12:13am · Like
Syafitri Wijaksono koq terpesona liat fotonya ya? kenapa pemerannya jadi KKN begitu?
hiks... That's why, wanita yang jadi bos harus kerja ekstra keras setiap kali mengambil
keputusan, karena harus memindahkan dominasi hati ke logika.
September 27, 2009 at 12:23am · Like
Limantina Sihaloho "Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan
dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu
ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya
yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya (Kejadian 3:6)."
Pertanyaan:
1. Kenapa Tuhan kok melarang makan buah yang menarik hati dan memberi pengertian? Kok
asal main larang aja toch? Lalu Tuhan mau mereka makan buah yang bagaimana? Buah yang
sudah busuk gitu?
2. Waktu Tuhan larang makan buah itu Hawa ada tidak ya? Kalau tidak, Adam itu bego amat ya!
Kan sudah tahu dia kalau buah itu nggak boleh dia makan, eh, kok dia makan juga? Otaknya di
mana tuch?
Hehehe...
September 27, 2009 at 1:52am · Like
Limantina Sihaloho Saya lebih tertarik melihat persoalan mengapa kok Tuhan melarang-
larang orang makan buah yang menarik hati dan memberikan pengertian; apa Dia mau
orang-dua itu bego-bego saja tidak berpengertian apa?
Sengaja ya bikin godaan di tengah taman itu?
September 27, 2009 at 1:55am · Like
51
Limantina Sihaloho Kok malah tanya: "Adam...di mana kau?" Apa itu bukan kura-kura
dalam perahu...?
September 27, 2009 at 1:56am · Like
Limantina Sihaloho ...and pura-pura tidak tahu?
September 27, 2009 at 1:57am · Like
Benidictus Tambajong Tak kuasa menolak keinginan RAGA...
September 27, 2009 at 3:43am · Like
Yakub Setiaji Dwipa @Bang Vict: kayaknya emang LAI harus merevisi judul perikop
ini, karena sudah memberikan penafsiran tertentu. Aku kok melihat Ps. 3 ini lebih ke
cerita asal usul "kodrat" manusia (dalam konteks wkt itu tentunya) perempuan dan laki-
laki, bukan asal-usul dosa (ay.16-24) @Limantina: kalo aku lihat lagi Kej. ps. 3 asumsinya Hawa
sudah tau ada larangan itu (ay.2). Pertanyaanmu no. 2 justru aku lihat bahwa pemahaman laki2
lebih menggunakan rasio mungkin keliru, bahkan justru perempuan lebih rasional karena Adam
cuma ngikut aja seperti kerbau dicocok hidung. Makanya sampe ada penafsiran bahwa teks ini
adalah bentuk ketakutan laki2 terhadap dominasi perempuan. Truz, kalo pertanyaanya mengapa
kok Tuhan ... wah itu mah berat atuh euy jawabannya, sama dengan pertanyaan kenapa kok
Tuhan tidak menciptakan aku sebagai Brad Pitt ...
September 27, 2009 at 4:41am · Like
Estiana Arifin Nimbrung dkt. Mnrt sy apa yg diptnykn limantina adl kritik yg diajukan
smua kita jk redaksi kjadian ps.3 spt itu. Mrujuk dr sjarah pristiwa kejatuhan adam&eve
dr eden (pak vic tentu brsedia&lbh akurat dlm mjelaskn hal ini),adam jg bkn phk yg
pasif, seolah sbg pria dia mdengarkan hawa bgtu sj,krn dr awal kejadian adam disana. Knp hawa
yg ditekankan pd ps.3 itu? Ada 2 hal yg bs diamati: 1.tggjwb kaum adam adl bsar ktk sbuah
pelanggaran tjd,jk dia mendiamkan&menyerahkan pd hawa membuat sbuah ksmpulan,bkn krn
hawa lemah akalnya,tp krn hawa kuat hatinya.dan adam kuat rasionya. Tuhan ingn
menunjukkan,jk dlm suatu kejatuhan kalian brdua (laki2&prp) tdk slg brdampingn
mengingatkan&tdk slg mbiarkan,niscaya buah larangan yg byk tmbuh di bumi mkn menyebabkn
byk kerusakan lg kpd ke2nya. 2.prstw kejatuhan adam&eve krn sbuah buah,tdk bs brhenti
dpandang dr sudut luar kejadian itu. Trlalu sdrhana jika sbb itu Tuhan marah pd manusia yg ktk
diciptakanNya Dia agungkan sbh ksempurnaan karyaKu. Tuhan ingn menunjukkn disisi laki2&prp
ada phak ke3 yg disbt iblis. Jk manusia tdk slng menyadari mrk brasal dr 2 diri yg 1,mrk(laki2
atau prp) akan memilih iblis sbg sekutu,dan trlepaslah tgn yg 1(laki2 at prp) kpd tgn Tuhan&tgn
pasangannya. Kjdn ps.3 adl bagian yg mempesona dr kitab,krn didlmnya bcr hak gender 1 thd
52
lainnya,kegagalan manusia jk mlupakn peran gender,&pengajaran Tuhan kpd kita knp sbuah
peran(laki2&prp) diuji dg ptnggjwbn yg seimbang. Hndaknya kt tdk menyalahkn ke2 ibu-
bapa/hawa-adam krn hal ini. Apalg menyalahkn hawa,adam sndri tdk pnh menggerutu kpd
hawa ktk diturunkan. Hal ini mjadi sft bawaan pria yg indah: mengerti&memaafkan. Pak vic,mhn
maaf nimbrungnya pnjg. Mf kalu konklusinya mengacaukan.
September 27, 2009 at 8:26am · Like
Yakub Setiaji Dwipa ada lagi yang menarik, Tuhan menciptakan manusia dengan free
will, artinya Tuhan menciptakan kemungkinan manusia untuk melakukan kesalahan,
why, tentu jawabannya hanya Tuhan yang tau. Kalo soal Adam yang ga ada otaknya, bisa
tidak dan ya. Tidak, karena ia cukup cerdik untuk menjadikan Hawa sebagai terdakwa. Ya,
mungkin karena Adam memang betul-betul hanya memiliki rasa, sehingga membiarkan istri
yang dikasihinya itu makan buah terlarang. Trus soal lempar2an tanggung jawab antara Adam
dan Hawa, justru apa yang dikatakan Limantina menurut saya mungkin ada benarnya, kok jadi si
ular yang disalahkan, padahal kan semuanya ciptaan Tuhan. Mungkin ini juga salah satu cerita
asal usul ular yang banyak dibenci manusia sampai saat ini. Kasian banget ya tuh ular. Atau juga
mungkin sebagai cerita asal usul DALIL 1: TUHAN TIDAK PERNAH MELAKUKAN KESALAHAN,
DALIL 2: kalau Tuhan melakukan kesalahan lihat DALIL 1. Wah jadi makin ngelantur nih Bang
Vict... bantuin kita dong ...
September 27, 2009 at 9:07am · Like
Estiana Arifin YSD,wah jk dikembangkan jebakan agnostic lagi2. Tuhan itu kita,dlm
bntuk kemahakuasaan. Kesalahan kita adl kesalahanNya,krn kelemahan adl kt smtr
kemahatdklemah adl Dia. Ini dalil brikut. Manusia mnta ampun pd Zat yg Maha Kuasa
yg disbt Tuhan ini. LaluTuhan mberi ampunan,lalu menekankan iblis
musuhmu,mencelakakanmu,Akulah Tuhanmu,shbtmu,mencintaimu. Ini fakta religi. Inilah awal
manusia kenal kata 'musuh'. Persis ktk buah udah ketelen,dan dg innocent si ular blng: lu aje yg
mao,gw kan nawarin.lagian ngapain Tuhan membatas2i elu pade? Kondisi inilah yg disebut trap
of faith. Sy mati2an pahamin,tp ya emg mnta pak vic jelasin buanget2 neh
September 27, 2009 at 9:21am · Like
Yakub Setiaji Dwipa Mbak Estiana, ha ha ha ha, emang kalo mau dikebangin mah bisa
kayak roti. Tapi memang Kisah Kejadian selalu membuat kita jadi berpikir ulang tentang
banyak hal. Positifnya apa yang kita yakini selalu menjadi dinamis, tidak terpaku secara
"dogmatis" menjadi metafor yang mati tidak bermakna tanpa harus terjebak pada agnostic
atau trap of faith tadi. Negatifnya, kalo yang baca ini kaum status quo/fundamentalis pasti ga
berkembang rotinya, alias dianggap ajaran sesat. Persoalannya, kalo kita mau jujur, banyak
bahasa agama/metafor yang sudah mati tidak bermakna, hasilnya ya bunuh2an lah atas nama
metafor yang mati tadi. Tapi aku ga bermaksud demikian, aku juga yakin tujuan Bang Victor
53
supaya pembaca semua berpikir ulang tentang apa yang kita yakini. Bener ga Bang..., eh Bang,
jangan pergi duyu, bantuin kita dong ...
September 27, 2009 at 10:51am · Like
Bu Adjeng Pak Vict...di taman eden kok ya bisa ada iblis ? yg berujud ular??kok ya sama
Tuhan diperbolehkan hidup disitu??
September 27, 2009 at 12:01pm · Like
Estiana Arifin yuph,ya YSD. Sy stju ktk bcr dogma kt tdk lantas pensiun
mengembangkan 'roti', krn roti subsidi Allah slm '40th' di gurun bsama 'madu'. byk kt
trperangkap suasana&warisan pemikiran lampau. Pak vic,salut banget. Tdk brhenti pd
ksmpulan yg ada,memperbaharui pemikiran tiap saat,, wah..wah.WAH!
September 27, 2009 at 12:08pm · Like
Besly Messakh ka itor aku agak gerit aja ah. MEmang teks ini sangat patriakhal. Itu dulu
diakui br kita bsa kmbgkn dialektika spt yg ka itor blg.
September 27, 2009 at 12:48pm · Like
Victor Hamel @ Theresia: Concupiscentia: itulah sebabnya kita tetap harus
menempatkan rahmat Nya sebagai bagian dari kesadaran bahwa kita cenderung tidak taat
kepada perintahNya...
@ mba Nia: Drama itu aalah drama kemanusiaan...drama laki-laki dan perempuan...
@ Ben: Pasti! karena begitulah kuatnya keinginan daging...
@ Dwipa n Limantina: Yang perlu dipertanyakan dalam konteks saat ini apakah sebuah Drama
sosial memerlukan seorang sutradara agar cerita itu bisa berjalan dengan baik. Kalau aku masih
perlu...entah bagimana perannya, itulah yang perlu kita sepakati bersama saat ini...(Jika Tuhan
adalah sang Sutradara?...)
September 27, 2009 at 1:24pm · Like
Victor Hamel @ Esti, Dwipa n Limantina: Itu percakpan menarik, tak perlu
disimpulkan...bahwa kesadaranmebaca teks2 seperti itu harusnya tetap terbuka pada
pemahaman kekinian, bukan saja pada pemahaman masa lalu. Tak apa membenturkan
pemahaman,karena akan muncul sebuah pemahaman baru, seperti teori Tafsir Gadamer
tentang fusi of horizon, akibat munculnya benturan dua pemahaman:masa kini dan masa akan
lalu menghasilkan sebuah pemahman baru...
54
@ Ka Ecy: teks2 itu memang selalu maskulin, itulah sebabnya selalu indah untuk dibicarakan dari
udut sang feminis...
@ Yetty: Pemahaman itu yang selalu menjadi biasa bu, di sana ada ular bukan iblis....pemahamn
itu terjadi karena judulnya oleh LAI sejak awal sudahmenggiring pembaca untk menyimpulkan
bahwa dosa berasala dari iblis dan iblis itu adalah ular...(catatan Kejadian: ular adalah binatang
yang paling cerdik)
September 27, 2009 at 1:28pm · Like
Limantina Sihaloho Estiana, trims untuk komentar yang panjang; tapi, hehe, rapat kali
kau bikin tulisanmu dan banyak singkatan, malah perlu lebih banyak waktu membacanya
karena terlalu rapat...
September 27, 2009 at 1:57pm · Like
Estiana Arifin He3. Tq juga,dear LS. Iya ya, mohon maaf.. Kebanyakan menyingkat
ini,trus juga terlalu rapat itu, emang menganggu. Ha.ha.ha.
Tq pak vic,penjelasannya. Note yg selalu ditunggu.
September 27, 2009 at 2:05pm · Like
Yakub Setiaji Dwipa si erbinaga enggo reh (bhs. Karo: yang jualan dah datang) ... ha ha
ha, buka Warung Catatan kok ditinggal2 Bang ... OK Bang ..., yang penting pemikiran
kita makin dinamis tidak kaku dan terpaku seperti patung-patung (pake logat Bali), maju
terus Bang Victor ...
September 27, 2009 at 2:27pm · Like
Uli Siregar Sikap yang menyudutkan terhadap pihak perempuan sebagai pelaku utama
memang jelas tampak di cerita ini;
Tafsir terhadap suatu apa pun bisa bias makna nya;dan di satu sisi manusia diberikan
kebebasan untuk menafsirkan mengutarakan buah pikirannya.
Saya teringat akan petuah leluhur saya dan tertera di dinding depan rumah warisan di kampung
:
"Di lihat jangan percaya; Di dengar jangan percaya; Diperiksa baroe lah percaya"
Siapa yang bisa memeriksa dan meneliti bahwa itu adalah kesalahan kolektif?...hanya orang
yang diberi kebijaksanaan dan mau mengabarkannya ke orang lain...
GOD BLESS YOU PDT VIC..
am proud of you.
September 28, 2009 at 9:51am · Like
55
Fidelis R. Situmorang Suaminya sangat mencintai perempuan itu, Sehingga ia bersedia
memakan buah terlarang. Dia tidak ingin perempuan itu menanggung akibatnya
sendiri. : )
September 28, 2009 at 8:33pm · Like
Estiana Arifin terimakasih TD. Seorang anak laki2 yg santun&menghormati
siapapun&apapun adl didikan dr ayah&ibu yg baik. Saya salut sama TD.
September 29, 2009 at 5:54pm · Like
Yakub Setiaji Dwipa wah ternyata semakin banyak tanggapan terhadap catatan Pdt.
Victor ini, berarti memang benar2 topik yang kontekstual. Khusus untuk Mbak Estiana,
terima kasih atas dialog yang menarik.
September 29, 2009 at 6:28pm · Like
Estiana Arifin YSD,saya juga makasih u/ masukan di koment note ini. Senang kita bisa
discuss disini dan tq buat pak vic yg udah tag, bukan main notesnya selama ini !
September 29, 2009 at 7:29pm · Like
56
Bukan Menggapai Bayang-Bayang
January 10, 2009 at 8:37pm
(Mazmur 126:1-6)
Bagaimankah kita memandang kehidupan? Tentu tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini.
Dan jawabannya tentu sangat beraneka ragam. Setiap orang melihat kehidupan dengan caranya
masing-masing. Ada yang melihat kehidupan dengan indahnya (orang yang optimis), ada yang
biasa-bisa saja (orang yang realistik) tetapi ada yang melihat kehidupan sebagai sesuatu yang
menyulitkan (orang yang pesimitik). Tetapi pernakah kita melihat kehidupan ini seperti sebuah
bayangan dipinggir lautan? Atau tepatnya bayangan diri kita di tepi lautan ketika sore menjelang.
Bayangan kita telah lebih dahulu mendahului kita. Sinar sore dari ufuk barat menyebabkan
bayangan kita berada di depan kita.
Hidup selalu harus dimaknai seperti bayangan sore di tepi lautan. Bayangan di sore hari
bukanlah suatu kenyataan tetapi dia selalu ada di depan. Hidup masa depan memang bukan
kenyataan masa kini, tetapi kita seharusnya sudah dapat melihat dalam bayangan masa depan.
Orang yang tidak dapat membayangkan masa depan sama seperti orang yang tak memiliki
harapan. Memang tidak mudah untuk membayangkan masa depan, tetapi ingatlah: hidup tidak
pernah berjalan mundur ke belakang, dia selalu maju ke depan. Mengejar bayangan tak akan
pernah tergapai tetapi berjalan dan berlari mengejar bayangan adalah cara untuk tetap maju ke
masa depan. Yang kita gapai tentunya bukan sang bayangan tetapi tanah tempat bayangan
berada. Tanah adalah kehidupan. Menggapai bayangan seharusnya adalah menggapai “tanah
kehidupan” bukan menggapai bayang-bayang. Itulah kehidupan yang sejati dan berarti. Orang
yang dapat melihat bayangan masa depan adalah orang yang sadar akan dirinya yang sedang
berada di tepi pantai pada sore hari. Tak lama mentari kan redup maka bayangan akan lenyap.
Tetapi siapa memahami , menyadari dan berjalan maju ke masa depan tak takut akan mentari
yang semakin redup: “dan akan pulang membawa berkas-berkasnya”.
CommentShare
Dew Miek Pantja ga sia sia kan?have a nice weekend,met bertugas n melayani..Gbu
January 10, 2009 at 10:25pm · Like
Sara Sunshine 2 Kor 4:18 "... karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang
tidak kelihatan adalah kekal."
January 12, 2009 at 10:23am · Like
Tutin Okto Lisa Djami Jika hidup ibarat garis linear maka setiap goresan dalam tarikan
garis linear mempunyai makna, jika hidup adalah kebijaksanaan maka dalam goresan
57
dalam tarikan garis linear mengajarkan kebijaksanaan, jika hidup adalah perjuangan
maka setiap goresan dalam tarikan garis linear memberi perjuangan untuk belajar
memahami makna hidup sehingga menjadi semakin bijaksana.
January 12, 2009 at 7:14pm · Like
58
Caleg Perempuan 2009: Tarung bebas di arus budaya
Patriaki
February 11, 2009 at 9:29am
Tarung bebas di pemilu 2009 bagi perempuan bersifat dilematis. Satu sisi perempuan tidak
senang untuk dikasihani, oleh sebab itu tarung bebas: Siapa Takut! Tapi pada sisi lain, budaya
patriaki yang begitu kuat dengan jejaringan sosial yang masih bias gender, membuat sebagian
caleg perempuan berkata:Harapan kehadiran perempuan dalam politik, hanya basai-basi! Saran
saya pada caleg perempuan: hanya mitos yang mengatakan budaya patriaki adalah segalanya.
Ditengah arus budaya patriaki, perempuan selalu mempunyai arti! Selamat berjuang dengan hati
di tengah budaya politik yang menjauh dari nurani!
CommentShare
Anna Marsiana Emang, aku jg setju: berjuang untuk suara terbanyak, siapa takut? tapi
persoalannya di sini adlaah ketidakkonsistenan pemerintah dalam sikap afirmasi
partisipasi politik perempuan. Jaminan 30% bukanlah sebuah sikap KASIHAN terhadap
perempuan, melainkan afirmasi politik untuk perempuan...
February 11, 2009 at 9:36am · Like
Ratty Supit Selama calonnya sdh teruji dan layak, mengapa tidak !
February 11, 2009 at 11:59am · Like
Dr.Dharmayuwati Pane Perjuangn pr dlm segala bidang tdk lah mudah dng peran ganda
dn nilai2 budaya,sosial,agama dn skrng pol yng msh bias gender.Tdk cukup pr secara
biologis beda dari lk2 tp jg hrs tampil dn bersifat'feminin'
lembut,pasif,menerima,apatis,ruang lingkup domestikcinta damai,tdk egois.dll versus tamiln
dn sifat 'maskulin"nah kalu pr didunia pol sdh tdk lazim,krn sdh nmeninggalkn wilayh
domestik,aplg bila memiliki sifat maskulin spt tegas tdk terl lembut'agresif,aktif ,tdk mau nerima
saja dll, wah sdh pasti lk2 merasa terancam..ha ha tdk heran keputusn MK suara terbnyk lsng
mementahkn affirmative action psl 55 yng sdh disepakati seblmny ha ha pr disuruh tanding
fair,apany yng fair,medan lagany sj tdk kondusif tuk pr,pak pendeta..jd gimn dong?jngn ngimpi
deh pr akn terwakili secara signifikan di DPRRI bila Bpk2 tdk milih kami politisi pr yng berkualitas
February 11, 2009 at 12:19pm · Like
59
Dr.Dharmayuwati Pane Pilih caleg pr berkualitas lintas partai,agr keterwakiln pr di
DPRRI bisa terealisir pemilu ini dn tdk perlu tunggu pemilu 5 thn lg,terl lm.Perubhn hrs
terjd skrng,krn Rumah Rakyat sdh terl kotor,hrs disapu bersih oleh ibu2 Ind yng bw
perlengkpn kebersihn, agr rakyat merasa nyaman kembali..hayo action carany bgmn agr
pr terwakili significan di DPRRI.Sy percaya msh bnyk yng punya NURANI pak
pendeta..Slm Perjuangan..
February 11, 2009 at 12:36pm · Like
Helga Worotitjan Full Saya dukung pernyataan Dr. Dharmayuwati. Saya yakin sebagian
besar caleg perempuan sdh layak & kasitasnya teruji pengabdian. Hanya saja ladangnya
utk bertaninya mmg mesti ada, artinya kesempatan harus diberikan. Nah berani bertaruh
laki2 mana yg mau berbesar hati memberi kesempatan itu dg kaca mata keputusan MK
terakhir ?
February 11, 2009 at 12:57pm · Like
Dew Miek Pantja uwaah..kok uda mulai..pak pendeta,kan bsok kita mau gebrak denpasar
neh..trus maret dgr2 ada bintang tamu akan bwa makalah neh..pengen denger Dr fresh
graduated nehh...
kita tunggu ya??"hidup perempuan"
February 11, 2009 at 1:09pm · Like
Hehanussa Jo Vic..yang repot adalah kadang ada partai yang asal saja milih perempuan
untuk jadi Caleg. Yang penting memenuhi target Quota yang ada. Ketika kemarin berada
di jogja...saya kaget dengan beberapa caleg perempuan yang fotonya terpajang di
beberapa tempat. Bukan meragukan kemampuan perempuan khususnya calon ini...tetapi
saya hanya bertanya dalam hati...apa tidak ada lagi calon yang lain?
February 11, 2009 at 3:28pm · Like
Putu Bravo Timothy ikutan donk..
klo aq melihat bukan sekedar dari kacamata budaya patriaki semata, karena sebenarnya
kebijakan affirmatif yang diterapkan KPU dalam penetuan caleg terpilih merupakan suatu
upaya " pendobrakan" arus utama patriaki yang ada, disini mimpi keterwakilan yang
berimbang dari pria dan wanita bisa terwujud. Tetapi ketika kita melihat masalah ini dalam
60
sudut pandang hukum tentu hal ini kemudian dapat dikatakan " cacat hukum" karena pasca
putusan MK mengenai perolehan didiasarkan atas suara terbanyak. Otomatis hal
tersebut/putusan MK itu bersifat final dan mengikat ( bndk psl 24 UUD 45 tentang kekuasaan
kehakiman dan UU MK ), peranan MK sebagai penafsir tunggal UU terhadap UUD merupakan
hal yang seharusnya berbanding lurus dengan putusannya. Putusan MK dianggap setara dengan
UU itu sendiri, dan pabila kembali merunut mengenai putusan KPU mengenai kebijakan
affirmatif maka dapat dilihat bahwa putusan MK tersebut bertentangan dengan UU itu sendiri
( baca; putusan MK ).
February 11, 2009 at 4:29pm · Like
Putu Bravo Timothy Lanjutan..
Mengacu pada UU No. 10 Tahun 2004 mengenai tata urutan perundang-undangan
kedudukan keputusan KPU dapat dikatakan tidak ada di dalamnya, tetapi putusan KPU
dapat digolongkan kedalam putusan administratif lembaga negara. Dan otomatis maka hal
tersebut ( putusan KPU ) tersebut harus mengacu pada peraturan perundang-undangan di
atasnya ( baca ; putusan MK ).Apabila kemudian hal ini ( kebijakan affirmatif ) dipaksakan maka
akan terjadi suatu pertentangan hukum yang pada akhirnya keputusan KPU tersebut akan batal
demi hukum dengan sendirinya.
Tetapi menurut saya, hal ini dapat dibijaksanai dengan memintakan fatwa kepada MK apakah
kebijakan affirmatif ini dapat diterapkan meskipun secara langsung tidak dikatakan seperti itu
dalam UU dan tidak bertentangan dengan maksud dari UU serta esensi UU itu sendiri. Karena
aspek keadilan perlu diperhatikan dalam suatu produk legislasi dengan mempertimbangkan
aspek filosofi dari hukum itu sendiri..
Ut Omnes Unum SintFebruary 11, 2009 at 4:39pm · Like
Victor Hamel @ Anna: Oke deh Na, emang masih terus digumulkan persoalan itu...
@ Antok: Semoga para patriak lebih bijak mas...
@ Pak Ratty: kita dukung yang caleg2 perempuan yang sudah teruji pak!...
@ pak Anand: semoga ada perempuan2 yang mempimpin lembaga2 keagamaan seperti itu paka
Anand. Kita dukung pak
@ Dr Dhamayuwati : Kita berharap ada Caleg2 perempuan seperti ibu. Maju terus bu, kita
dukung...
@ Helga: Mari kita menggarap ladang yang sudah ada, maju terus mba!
@ Bung Oce: Itulah probelm, bagaimana menjadi pemilih cerdas...!
@ Mba Dewi: hahaha...kita ketemu bulanMaret ya..Dian Kristawati is the best lah...
@ Bravo: Bravo...bravo...jangan lupa pulang ke Bali...membangun Bali! Thx ur comment!
February 11, 2009 at 7:55pm · Like
61
Jaleswari Pramodhawardani Boleh nanya gak? Kenapa sih setiap perempuan yang maju
ke ranah politik selalu dipertanyakan kualitasnya, sedangkan kawan-kawan laki2 gak?
Mengapa wilayah yang selalu dilabeli "dunia laki2, membuat kawan2 perempuan selalu
harus membuktikan kemampuannya dua kali lebih baik dari laki2 agar bisa diterima? sikap itu
aja udah bikin start perempuan dan laki2 beda, justru kemudahan selalu dibukakan terhadap
kawan laki2 tidak kawan2 perempuan. Bagaimana kita bersaing secara setara? Buktinya adalah
wajah senayan kita hari ini. Apakah itu cerminan "kualitas" kita juga? Kita ini sering berlaku
standar ganda dalam memperlakukan banyak hal.Dalam pengalaman Indonesia belakangan,
demokrasi bukan hanya sama sekali jauh dari memadai untuk membawa kembali politik ke
hakekatnya yakni untuk keutamaan umum dan membersihkan politik dari korupsi, manipulasi,
suap, ketidak adilan dsb. Mungkin perempuan justru harus membuktikan kepedulian dan kerja
kerasnya di wilayah ini. Ini tantangan nyata. Siapa takut?
February 12, 2009 at 6:02am · Like
Victor Hamel @ mba Dhani: Setuju mba Dhnai, siapa takut!
February 12, 2009 at 9:07am · Like
Marthen Tahun ikut nimbrung... saya setuju bahwa penilaian kualitas seseorang mesti
independent terhadap faktor gender...memang ada beberapa peran yang terkait secara
eklusif terhadap faktor gender... .dan peran sebagai anggota legislatif atau pemimpin
negara BUKAN termasuk peran eksklusif dimaksud... menurut saya setiap orang, perempuan
atau laki-laki, mesti mendapat kesempatan yang sama untuk menjadi yang terbaik dalam peran
yang ia lakoni dalam masyarkat....kalau seorang perempuan bisa lolos dalam persaingan yang
sehat untuk mendapatkan suatu peran karena kualitasnya, kenapa tidak kita dukung... tentu saja
ini bertolak belakang dengan memberikan suatu peran kepada seseorang hanya karena ia laki-
laki atau karena ia perempuan..Pendekatan kuota 30% merupakan pintu masuk bagi perempuan
yang lebih besar di legislatif.. kalau demikian, maka 30% keterwakilan perempuan merupakan
kesempatan untuk membuktikan diri...kita gembira, tetapi jangan memberi ekpektasi yang
berlebihan kepada mereka yg terpilih.
February 12, 2009 at 5:33pm · Like
Debora Nugrahesti masak pake dikasih jatah 30 % gitu rek !
aq yakin di Indonesia itu banyak perempuan cerdas...liat saja siapa puncak pimpinan
Pertamina yg baru saja diresmikan...
trus menteri perdagangan dan industri memang ahli di bidangnya !
Hmm seorang perempuan cerdas tentunya, jadi jangan pasang takaran 30 %
downk...Chayo perempuan Indonesia !!!
February 12, 2009 at 11:35pm · Like
62
Victor Hamel @ Marthen: Selain tidak berlebihan dalam ekspetasi juga harus tetap kritis
dengan para caleg yang terpilih khususnya perempuan.
@ Agustin: Semoga perempuan2 seperti mereka dapat lebih banyak menjadi bagain
dalam politik di Indonesia. Bravo!
February 13, 2009 at 4:05am · Like
Rolandi H Situmorang Pemberian jatah 30%, sudah merupakan sikap kasihan terhadap
kaum perempuan. Sebaiknya itu tidak di berlakukan untuk menunjukkan eksistensi
Perempuan yang selayaknya di perjuangkan. Pemberian jatah 30% adalah bentuk
penyepelean terhadap perempuan yang dilihat tidak mampu berjuang dan bersaing. Maju
trus untuk berjuang, tapi jangan salah alur. Bravo
February 13, 2009 at 8:23am · Like
John E Serang kalau tambah banyak perempuan berpolitik...kira kira generasi muda
sekarang, nanti jadi apa ya? ibu ibunya pada sibuk rapat parpol dll...mungkin jasa baby
sitting akan semakin diperlukan! trus para suami gimana? siapa yang ngurus? wah... bisa
bisa jasa WIL juga akan semakin diperlukan????????????
February 13, 2009 at 10:42am · Like
Victor Hamel @ Roland: asal jangan mendiskriminasikan perempuan dalam politik!
@ John: Itulah pendapat laki2 yang selalu meragukan dan mendiskriminasikan
kemampaun perempuan. Tidak berpolitik saja peran ganda perempuan sudah
didiskriminasikan oleh laki2, jadi sebenrnya nggak perlu meragukan kemampuan
perempuan untuk mengatur rumah tangganya.
February 13, 2009 at 3:05pm · Like
63
Catatan Kecil untuk Ketika Cinta Bertasbih…
June 22, 2009 at 5:22pm
Saya menonton film ini rame-rame dengan keluarga Muslim saya. Menonton film yang katanya
sejak awal sudah ditunggu-tunggu kehadirannya. Saya berpikir jika film ini ditungu-tunggu pasti
terlihat menarik tentunya. Ketika film mulai saya agak sedikit gelisah karena film Ketika Cinta
Bertasbih (KCB) ini berjalan begitu lambat. Tetapi saya masih terhibur dengan panorama Mesir,
Sungai Nil, Pyramid, Sphinx, Kota Alexandria, Laut Mediterania, dan Benteng Qait Bay yang
indah- meskipun dalam beberapa pengambilan gambar terlihat goyang…(sayang sekali)…Selain
itu juga secara sinematografis –meskipun saya tidak ahli dalam bidang ini – masih terlihat sekali
potongan-potongan gambar yang kasar, latar musik yang terasa tidak sinkron dengan gambar,
dan yang pasti dialog atau percakapan yang terkesan kaku – tidak mengalir seperti layaknya
sebuah percakapan seseharian. Dan tentu iklan yang mampir di sana-sini…heheheh
Namun setelah mengikuti alur film ini secara perlahan saya dapat menangkap beberapa hal
menarik dalam film ini (KCB1). Pertama, pentingnya memhamai sebuah arti kerja keras dirantau
orang. Tentu film ini baik ditonton untuk mahasiswa-mahasiswa yang datang dari berbagai
daerah yang menuntut ilmu jauh dari keluarga. Tokoh Azzam adalah contoh bagaimana kerja
keras tidak mematahkan semangat untuk maju dan berhasil. Kedua, Tokoh Anna Althafunnisa
mahasiswa S2 dari Kuliyyatul Banaat di Alexandria – seorang perempuan – agaknya akan
menjadi model baru dalam memahami prinsip-prinsip perempuan Islam di Indonesia. Khususnya
dalam pernikahan dimana ia mensyaratkan untuk tidak di dipoligami oleh Furqon. Hal yang
menarik adalah bahwa ia tidak mengharamkan poligami tetapi – menurutnya – silahkan
melakukannya asal bukan dengan dirinya (selama ia masih mampu menjalankan tugasnya
sebagai istri).
Namun ada yang menggelitik saya ketika Furqon mengalami penipuan di Hotel oleh seorang
perempuan yang ternyata adalah bagian dari mafia yang sering memeras – dan perempuan ini
ternyata adalah seorang Israel. Saya tidak memahami konteks di Mesir, apakah memang ada
kelompok-kelompok seperti ini sehingga pilihannya adalah perempuan yang dalam latar
belakang sebagai orang Israel. Tanpa harus berpolemik secara politis tentu secara alur cerita
harusnya dapat dijelaskan agar tidak terdapat interpretasi yang beragam dan menjadi bahan
percakapan yang politis.
Sebagai sebuah film yang memberikan pesan-pesan moral film ini perlu juga ditonton oleh
teman-teman dari agama non Islam agar dapat belajar mengenai konteks dan nilai-nilai sosial
yang melatarbelakangi ke-Islaman khususnya di Indonesia…(Tanpa mengurangi rasa hormat
kepada sutradara, film KCB1 ini rasanya belum dapat nilai bintang lima, mungkin bintang 3 saja
dulu. Semoga KCB2 bisa memuaskan penonton dari sisi sinematografisnya)….
CommentShare
4 people like this.
Jeannita Adisty saya jadi pengen nonton pak.. terlepas saya bukan muslim, tapi pesan
moralnya patut jadi pembelajaran jg buat saya
64
pelajaran moral berlaku utk semua org kan pak.. hehehe..
thanks ya Pak Victor
ditunggu resensi berikutnya ^^v
June 22, 2009 at 5:37pm · Like
Joseph Maruli Oka sepertinya sech ada sedikit "penanaman image" dlm alur
cerita...takutnya melebar ke freemason...wah..gmn klo kak victor bawa topik ini ke
pemuda
June 22, 2009 at 5:39pm · Like
Victor Hamel @ Jean: Pesan moral memang perlu belajar dari siapa saja...tentu baik
untuk membangun diri dan persahabatan pada siapa saja...
@ Joseph: Asik juga...meskipun sebaiknya nonton yang kedua juga...hehehe
June 22, 2009 at 5:41pm · Like
Dew Miek Pantja gmn kl film dbawa bsok retreat..kita nonton bareng buat anak2 remaja
n emak2nya??heheheh..
June 22, 2009 at 5:42pm · Like
Victor Hamel @ mba Dewi: hahahaha...itu sich emak2 nya yang doyan nonton....
June 22, 2009 at 5:43pm · Like
Koukina Josei hehehe..pandai kali ka' victor ini mengomentari film KCB..
tp koukina setuju tuch ka' mmng aga mengecewkan ktk film yg ditnggu2 tdk di tata
sdmikian rupa u bisa mjd sbuah film yg tdk brkesan BIASA saja. entah apa krn ini adl
awal u mmbuat org pnsrn, dg KCB2 yg akan dtng...ato justru mmg krg mtngny dlm pmbuatan
film tsb.
Pdhl kl kita mmbaca novelnya..ada energi yg mmbuat cerita tsb sngt mmbuat pembaca
trkesan...tp di filmnya saya g mndptkan energi tsb.
Yach...sbg org awam yg mengomentari sebuah film...bg koukina film ini jauh...dr prkiraan org yg
akn menonton apalgi jk dibndingkan dg novelny....
Bg koukina film ini sangat jauh di bwh film "Laskar pelangi".
Tp kl u makna ato pesan yg ingin dismpaikan...dlm film KCB bnyk makna yg tersirat yg bisa kt
65
pelajari, g kalahlah dg Laskar Pelang, wlpun beda misi...!!!
Mg KCB2 g akan lebih baik lg....!!!^_^
June 22, 2009 at 5:44pm · Like
Jeannita Adisty @Pak Pdt
iya pak.. saya jadi penasaran.. awalnya sih rada2 malas.. jujur saya kurang suka film2
indonesia karena kebanyakan ngobral drama cinta yg berlebihan, mengajarkan penonton
scr tidak langsung ke hal2 yg amora, mistikl bahkan matrealistis dan konsumtif. kalau yg
berbau pendidikan br saya g akan lewatin.. hehehe...
trims pak buat tag saya di note ini..
saya jadi tau resensi filmnya... terakhir nonton ayat-ayat cinta saya kecewa sih.. tp smoga utk
film ini saya g kecewa, hehehe
June 22, 2009 at 5:47pm · Like
Victor Hamel @ Koukina (Vina): Kita harap yang kedua oke yaaa...dan nonton bareng
lagi ya...tapi di Bali...hehehe
@ Jean: Paling tidak film ini nggak menampilkan setan2, pembunuhan, kekerasan yang
sekarangbanyak di jual oleh film2 Indonesia. Mungkin film ini juga belum memuaskan
dari segi sinematografisnya tetapi pesan2nyatentu bisa dipelajari bersama, khususnya
peran perempuan dalam bersikap...
June 22, 2009 at 5:54pm · Like
Jeannita Adisty @pak Pdt..
whuah kalau yg setan2, pembunuhan, sok2 gengster2 g jelas, pergaualan bebas anak
muda, dsb yg g mendidik itu..mending sya nonton Laskar pelangi ato denias berkali2
pak.. ehehhee..
June 22, 2009 at 5:55pm · Like
Victor Hamel @ Jerry: Sama2...pesan2 moral yang baik pasti baik juga bagi
kehidupan...selamat melayani juga...GBU.
June 22, 2009 at 6:11pm · Like
66
Ellyasa heheh saya ga punya hasrat ingin nonton film ini, jadi makasih atas resensinya
wakakakakaka
June 22, 2009 at 6:25pm · Like
Helga Worotitjan Full Sebenarnya sjk awal aq sudah malas nonton film ini spt jg bhw
hgga sekarang aq blm nonton ayat2 cinta, bkn krn ini film syiar yg jg menjual air mata, tp
pesan2 ttg poligami ada tersirat di sana sementara aq penentang poligami. Tapi krn ulasan
Abang, boleh jg kuusahakan menontonnya......hehehe!
June 22, 2009 at 6:36pm · Like
Koukina Josei siip ka....mdh2n kesempatan kokina u k Bali...oc!!!
June 22, 2009 at 6:58pm · Like
Muhammad Amin KCB1 memang bukan film berkualitas Pak Victor hehehe, amat jauh
jika disandingkan dng Gie, Daun di atas bantal, bahkan Rindu kami Padamu.
Tentu ada yg tetep bs dipelajari, tapi tentunya sinema Indonesia mayoritas kualitasnya
masih belum bisa dibanggakan. Mari kita tunggu film Garin dr karya Pram 'Bumi
Manusia' . Walaupun blom jadi, saya bisa jamin filmnya bakal mantap
June 22, 2009 at 7:02pm · Like
Allyn Marlina Vic, aku dah baca bukunya jauh2 hari sebelum filmnya dibuat. bagi aku
bukunya cukup bagus untuk menambah wawasan, yang menggambarkan kehidupan di
Mesir dan Tim Teng, diluar berita perang yang selalu hadir di TV. Tapi filmnya kata
beberapa org teman emang kurang bagus. Sayang sekali ya, jadi aku kurang tertarik nih.
Mungkin mau nonton kalau udah di TV aja.
June 23, 2009 at 6:03am · Like
Victor Hamel @ mas Ellyasa: pasti mengecewakan scara sinematografis (dan sedikit
politis..anti Yahudi..hehe)
June 23, 2009 at 6:43am · Like
Victor Hamel @ mba Helga: pemotongan ending tak nikmat..tp nikmatilah mba..hehe
67
June 23, 2009 at 6:46am · Like
Victor Hamel @ Amin: aq juga rindu film2 Indonesia yg berkulitas..semoga
June 23, 2009 at 6:48am · Like
Victor Hamel @ Allyn: membaca slalu lebih nikmata kawan..heee
June 23, 2009 at 6:50am · Like
Syafitri Wijaksono wah, sejak kejadian Ayat2 Cinta yang filmnya 'jauh' dari novel-nya,
koq kayaknya gak selera nonton KCB ini ya. Sama seperti "Twilight'", koq rasanya tokoh
Edward-nya jauh dari yang dibayangkan kalo baca novelnya. Jadi, dari pada ntar kecewa
lagi, kayaknya no thanks ya, Vic..
June 23, 2009 at 9:01am · Like
Romo Crusade Iromo Saya sangat mengapresiasi anda telah bersedia menengok Islam
lewat film KCB
Semoga kebersamaan kita tidak lagi dirusak rasa saling mencurigai
June 23, 2009 at 10:54am · Like
Victor Hamel @Romo: tak ada yg hrus dicurigai kalau memaknai agama sbagai cara
pandang bagi perdamaiana. Apalagi ada bnyak keluarga dlm latar agama yg
berbeda..mari membangun keragaman..
June 23, 2009 at 12:11pm · Like
Victor Hamel @ Ipit: hahaha..aq jd kuatir film2 begini idealisme religiusnya jd hilang
atas nama kapitalisme..itulah sebabnya membaca novel akan lebih imajinatif..hehe..
June 23, 2009 at 12:19pm · Like
Retno Sari Suryo mmm....... jujur saya tidak tertarik sama sekali nonton film ini.. hbis
kesannya cenderung dibesar2kan (mudah2an pendapat saya salah) ditambah lg dengan
refensi dari Bapak Victor ini.. hehehe maav loh..
68
June 23, 2009 at 4:47pm · Like
Victor Hamel @ Retno: hihihi..hanya catatan kecil tak sekritis resensi.._heee
June 23, 2009 at 5:40pm · Like
Djoko Wibowo Ginting tak sabar menunggu tulisanmu ttg KCB2 ...
June 23, 2009 at 7:20pm · Like
Dew Miek Pantja setujaa bang...baca novel lbh imajinatif...untungnya mb ga suka
nonton...tks ya??jd g usah d tunggu...
ada yg hilang dr retret kalee ini neh...
June 23, 2009 at 9:57pm · Like
69
Catatan Pinggir Sambil Menunggu Teman di Bawah Pohon
Mangga: Perceraian dan Media
August 22, 2009 at 9:05pm
Munculnya pemberitaan-pemberitaan mengenai perceraian dan perselingkuhan akhir-akhir ini
telah memunculkan sebuah pertanyaan apakah hubungan antara perceraian dan peran media –
baik televisi maupun majalah-majalah infotainmen? Dua hal ini seolah-olah berada pada enclave
yang berbeda. Perceraian berada dalam ranah moralitas yang mengangkat aspek-apek, nilai-nilai
dan tatanan kehidupan khususnya dalam keluarga, sedangkan media berada dalam ranah
komunikasi yang mengedepankan peran artistik, virtualitas dan estetik. Sejak lama keduanya
berjalan secara linear dan tidak ingin menyentuh satu dengan yang lainnya. Namun sejalan
dengan waktu telah terjadi sebuah perselingkuhan diantara keduanya yang dimotori oleh peran
kapitalisme. Dari sisi ini dimensi tubuh – yang mewakili pasangan suami istri – dianggap sebagai
komoditi untuk memuaskan hasrat dari kapitalisme melalui peran media. Atau dengan kata lain
peran media telah menjadikan tubuh sebagai produk yang dapat dipasarkan guna memperoleh
keuntungan.
Persekutuan media dan kapitalisme akhir-akhir ini ini telah berjalan ke arah yang sangat
membahayakan. Eksplorasi terhadap masalah-masalah kemasyarakatan sering tidak lagi dilihat
sebagai usaha menciptakan perdamaian dan keutuhan tetapi justru memprovokasi ke arah
perpecahan dan disintegrasi. Hal ini nampak dengan jelas dalam pemberitaan mengenai kasus-
kasus perceraian. Pemberitaan yang diangkat lebih didominasi oleh pemberitaan tentang usaha
perceraian dari pada pemberitaan tentang usaha ke arah perdamaian dan kesatuan serta keutuhan
rumah tangga. Hal ini kemudian diekspos sedemikian rupa guna memperoleh rating pemberitaan
yang tinggi atau oplah yang tinggi bagi penjulan majalah. Bahkan sering terjadi duplikasi
pemberitaan karena dianggap tetap menarik untuk diberitakan. Dalam kasus seperti ini dapat
dikatakan bahwa perselingkuhan antara media dan kapitalisme telah menunjukan wajahnya yang
buruk dengan cara mengeksplorasi dan mengeksploitasi salah satu dimensi privat (keluarga)
secara berlebihan dan dijual ke ranah publik untuk kepentingan pasar. Dari sisi ini kapitalisme
telah memainkan peran yang sangat tidak ramah dengan menggunakan media dan pada sisi lain
media juga telah banyak kehilangan dimensi moralitasnya demi demi meraup keuntungan
semata-mata.
Wajah buruk seperti ini mengingatkan kita akan anjuran dari Rich DeVos (1995) mengenai
compassionate capitalism (kapitalisme yang berbela rasa). Kapitalisme tidak saja memiliki
karakter yang semata-mata ingin meraup keuntungan yang berlebihan tetapi di dalamnya juga
harus memiliki belas kasih dan berbela rasa. Wajah buruk yang ditampilkan melalui
pemberitaan-pemberitaan media yang semata-mata mengksploitasi perceraian tanpa
memfoksukan pada pemberitaan terhadap usaha-usaha perdamaian, kerukunan, kesatuan
keluarga, merupakan passionate capitalism (kapitalisme penuh nafsu) yang hanya berorientasi
pada keuntungan semata-mata. DeVos dalam compassionate capitalism-nya melihat bahwa usaha
mencari keuntungan yang sebesar-besarnya adalah sama pentingnya dengan usaha melakukan
kebajikan-kebajikan sosial. Dalam bahasa komunikasi hal ini tercermin dari bagiamana
70
pemberitaan tersebut menjadi sebuah pemberitaan yang seimbang, dimana perceraian sebagai
sebuah realitas sosial yang – mungkin – tidak dapat dihindari oleh pasangan suami istri namun
dapat diusahakan semaksimal mungkin pemberitaan yang mengarah pada terciptanya keutuhan
rumah tangga. Atau dengan kata lain dimensi kapitalisme sebagai usaha mencari keuntungan
sebesar-besarnya dengan menggunakan media seharusnya juga memfokuskan perhatian
mengenai usaha perdamaian bagi keutuhan ciptaan dan keluarga. Sudah saatnya – dan sangat
diharapkan oleh masyarakat yang sudah bosan dengan pemberitaan-pemberitaan seperti itu -
media mempertimbangkan sebuah gerakan compassionate capitalism dan bukan hanya
passionate capitalism.
CommentShare
3 people like this.
Leo Hutapea Ketika cinta dibisniskan maka yang terjadi adalah penghinaan terhadap
hakikat cinta dan ini membuat manusia jadi terasing dengan dunianya sendiri.Dan juga
sangat absurd, figur publik menjadi komoditas bisnis juga mempertontonkan penghinaan
terhadap jati dirinya sendiri dan cinta yang dimiliki. Atau meminjam istilah Erich Form (1993)
Dunia dalam cenkraman kapitalis..dimana individu diukur dengan matematis keuntungan yang
dihasilkannya maka seharga itulah ia dibayar....termasuk cinta.
71
August 22, 2009 at 9:26pm · Like
Priskilla Lusiana-PeWe Caterg Karena yg di ekspos ttg bagaimana memisahkan keluarga,
bukan bagaimana menyatukan keluarga. Yg nyaring terdengar di telinga,lagu2 bagaimana
menceraikan rasa cinta, bukan bagaimana menyatukan cinta&menjaga cinta itu sendiri.
Semua kembali pada stp individu, mana yg mereka mau pelajari, bagaimana menjaga cinta
mereka atau membunuh cinta mereka&mencari di tempat lain. Padahal jelas TUHAN katakan
apa yg telah disatukan TUHAN tdk bs diceraikan oleh manusia, dg alasan apapun itu..!!!
August 22, 2009 at 10:56pm · Like
Ratty Supit Sejak media dikategorikan sebagai industri, maka tidaklah heran kalau sikap
sikap itu muncul dalam pemberitaan. Pembaca pada umumnya menghendaki sesuatu "
yang lain " yang tidak sama dengan ukuran rasional yang berlaku, karena kalau sama, itu
bukan berita !! Itu tidak laku. Semakin banyak pemberitaan perceraian/perselingkuhan, itu
menandakan pembaca membutuhkan pemberitaan yang sangat ekstrim yang sebenarnya
mereka tidak inginkan terjadi pada diri mereka, hanya untuk memacu "adrenalin " pengetahuan
pemberitaan itu. Sama dengan Khotbah. Khotbah yang di "kategorikan diinginkan" adalah
khotbah khotbah yang "kontroversial" . Khotbah2 yang banyak berkutat pada harahan2
irrasional cenderung membuat jemaat tertidur .
August 23, 2009 at 6:50am · Like
Besly Messakh ka itor...analoginya sama juga dgn interplay antara media dan terorisme.
August 23, 2009 at 5:34pm · Like
Victor Hamel @ Roni: cinta ala kapitlaisme bro...
@ Priskila: Amin ku bu Priskilla, itulah yang kita harapkan...
@ Pak Ratty: Komentar yang meanrik khususnya dalam analogi kotbah yang
kontroversial...thx pak..
@ K Ecy: apik tenan, karena terorisme juga sudah bagian dari kapiltalisme global.
jangan-jangan ada media yang berperan dalam menciptakan sense of global
terrorism...thx bro..
August 23, 2009 at 6:41pm · Like
72
Estiana Arifin Nampaknya media apapun jgn mjdkn kita korban proses belajar
(learning),kita harus mdpkn kmbli kpribadian kita dg melakukan proses mementahkan yg
kt dptkn it (delearning).
August 23, 2009 at 7:55pm · Like
JO Snacks House kita tak bisa mengekang/mengatur apalagi menyalahkannapa yg tjd
diluar, yg perlu di lakukan adalh pembentengan thd lingkup intern yg kuat. Ibarat semedi,
yg disebut berhasil jika tak tergoda oleh godaan yg bersliweran saat semedi, sampai
semedi itu berakhir.
August 23, 2009 at 11:21pm · Like
Victor Hamel @ Esti dan mba Nia: Lagi-lagi memang harus kembali pada kita....(catatan
kecil: dalam budaya populer, proses hibriditasi sosial itu sudah tak dapat dibentengi lagi,
karena telah merasuk seluruh aspek kehidupan manusia...jadi memang harus ekstra ketat
untuk menjaga status kita di tengah2 budaya yang sudaj sangat kompleks dan
hibrid...semoga bisa)
August 24, 2009 at 6:34am · Like
Estiana Arifin menariknya pak vic, kt tralienasi mulu. Istilah sartre : prilaku g otentik.
Kita diarahkam,dikendalikan&diatur. Jdnya khilangan kbranian menyatakan diri(timid
souls). Kawatir jk gagal&g dibntu dg bnr, generasi skrg&bsk jd bgni. Agama&manusia
khlngn daya dukung.
August 24, 2009 at 6:45am · Like
Wir Kasut dana csr industri media (broadcast) seberapapun mungkin tidak cukup untuk
merecovery komponen lingkungan yang terkena dampak negatifnya. apa lagi bagaimana
menggunakannya mau seperti apa juga susah dibayangkan karena wilayahnya yang tak
jelas batasnyakalau sadar begini siapa yang berani jadi menkominfo ? industri broadcas
sepertinya menurut menlh gak wajib amdal, mungkin ujung-ujungnya bingung juga menentukan
wilayah studinya. salut deh pak vict
August 25, 2009 at 9:06am · Like
Estiana Arifin @mas wiratno : bnr mas, susahny emg dsn. G ckp dg merecovery kompnn
lingk.nya saja. Kt mesti reevaluasi lg uu yg ada mrujuk apa&gmn
73
Celaka Peradaban
January 8, 2009 at 3:02pm
Gempuran mesin-mesin perang Israel terhadap Palestina telah merusak sendi-sendi kehidupan
kemanusiaan. Selain terbunuhnya sekian banyak manusia dalam pertempuran ini yang juga
paling disayangkan adalah hancurnya sumber-sumber peradaban berupa situs-situs sosial seperti
rumah ibadah, perpustakaan, univesitas, tempat-tempat bersejarah. Sangat disayangkan, perang
tidak saja menghancurkn dan membunuh manusia tetapi juga peradaban manusia. Semua orang
telah memprotes akan hal itu. Tetapi apa yang terjadi di negri nun jauh di sana terjadi pula
dinegri ini yang katanya menjunjung tinggi peradaban. Harusnya mata dan hati kita juga
diarahkan pada hancurnya beberapa sumber peradaban yang ada di Trowulan saat ini atas nama
pembangunan Informasi Majapahit. Bagi saya, gerakan pengahancuran situs budaya tersebut
sama celakanya dengan penghancuran melalui mesin-mesin perang yang ada di Palestina. Mari
kita buka hati dan mata untuk melihat kehancuran yang ada di negri kita saat ini, di Trowulan.
CommentShare
Ratty Supit Ada kekuatiran, bahwa kita akan lebih mudah terperangkap untuk
mempertahankan situs2 sosial ini sebagai simbol dari penghargaan kita kemasa lalu yang
tidak akan kembali lagi, mungkin juga kehancuran ini megambarkan putusnya ikatan
peradaban lama dengan peradaban baru yang ambrul adul seperti sekarang .
Saya merasa risi untuk peninggalan peradaban kini kepada masa depan manusia, karena
semuanya sudah kita rusak, sedangkan fisik peradaban sekarang ini begitu ambrul adul.
Makaseh atas ungkapannya. gbu
January 8, 2009 at 7:04pm · Like
Ratty Supit Mungkin harus dibalik, bukannya Celaka Peradaban, tetapi yang lebih baik
adalah Peradaban Celaka he he he
January 8, 2009 at 7:05pm · Like
Victor Hamel Makasih untuk komentarnya...Peradaban Celaka...Thx Pak!
January 8, 2009 at 7:38pm · Like
Dew Miek Pantja mari kta pikirkan smua dg bijaksana,jgn terlalu jauh brother... see
around us..kyknyabanyak celaka peradaban or peradaban celaka??
mari kita berdoa,he he he..
January 9, 2009 at 8:12am · Like
74
Victor Hamel eheheheh....jangan22 gerja yang celaka...!
January 9, 2009 at 11:46am · Like
Ratty Supit salah satunya
January 9, 2009 at 4:37pm · Like
75
Dicari: Ruang Spiritualitas di Bali!
January 27, 2009 at 6:52pm
Bali adalah surga bagi spiritualitas. Bagi yang meyakininya, setiap jengkal tanah, air, udara,
hutan, laut, danau dan gunung di Bali adalah bermakna spiritualitas. Spirit dan spiritualitas
menyatu dalam kehidupan sekala (kini dan di sini) dan niskala (masa depan dan “di sana”).
Setiap ruang spiritualitas selalu dimaknai dalam ritual-ritual yang bersifat seremonial maupun
dalam kehidupan sesehari. Lantunan doa Puja Trisandya di setiap pagi, siang dan sore hari
merupakan keagungan doa bagi keselamatan manusia (mikrokosmos) dan jagat raya
(makrokosmos).
Namun akhir-akhir ini ruang spiritualitas semakin menyempit karena diganti dengan ruang
spiritualitas baru yaitu kapitalisme. Danau Buyan contohnya. Kalau kita ke Bedugul nampak
dengan indah sebuah danau – dari beberapa danau yang ada di sana – yang akan dijadikan “The
Eco Cultural Heaven”, begitu katanya. Eco cultural heaven nampaknya tetaplah sebuah bagian
dari spiritualitas yang hendak dibangun, tetapi dengan cara menyingkirkan ruang spiritualitas
yang sudah ada. Ruang spiritualitas baru itu adalah mengeruk danau dan membangun panggung
terapung di atasnya. Entah untuk siapa panggung itu. Mungkin untuk tamu-tamu yang datang
dan ingin melihat keindahan Danau Buyan dengan segala atraksi yang ada di atasnya. Ruang
bagi atraksi kehidupan orang Bali yaitu ritual dan persembahan di danau Buyan diganti dengan
ruang dan persembahan atraksi yang artifisial, bukan untuk menyenangkan Sang Hyang Widhi
Wasa tetapi menyenangkan para kaum hedonis. Jika hal itu terjadi, maka: Dicari: Ruang
spiritualitas di Bali! Karena sejalan dengan semakin kecilnya pulauBali karena abrasi maka
semakin kecilnya ruang spiritualitas di Bali.
CommentShare
Teguh Ariffianto likes this.
Helga Worotitjan Full Benar2 prihatin ya Bang....beberapa wkt lalu ketika saya di sana,
jiwa saya, seperti kunjungan2 sebelumnya selalu lebur dalam pesona spiritualisme itu,
tapi bila gejala hedonisme thp spiritualisme itu terus dibiarkan, akankah Pulau Dewata
tetap menjadi nama agung bg Bali ?
January 27, 2009 at 7:35pm · Like
Kus Aprianto Digambarkan manusia dalam perspektif yang ceteris paribus (melihat dan
menekankan satu segi dengan tetap mengakui segi yang lain) adalah homo ludens
(bermain),homoni lupus (serigala bagi sesama),homo educationist (belajar), homo
oeconomicus (ekonomi). Sayang, homo oeconomicus (makhluk ekonomi) kini semakin
menjadi menjadi satu-satunya yang mutlak merasuk dalam diri setiap manusia. Seakan-akan
semua pergerakan manusia kini hanya dikendalikan ekonomi.
Pelan namun pasti, air, gunung, tanah, hutan, beras, kedelai, bensin, kangkung, budaya, seni,
bahkan agama masuk dalam wilayah taklukkan homo oeconomicus. Bali..? Wah sudah terlihat
76
sejak dulu terlihat begitu Pak Pendeta. Terus terang, saya orang tidak pernah kepingin
mengunjungi Bali. Bali yang sangat kesohor di mancanegara, sekaligus adalah gerbang terbuka
bagi merajanya manusia ekonomi dalam kemasan wisata. Namun Bang, sebagai sesama
Pendeta, aku berdoa untuk perjuangan Anda di sana...Salam dari pinggiran sungai Musi.
January 27, 2009 at 9:54pm · Like
Rai Utama Sebenarnya, Ruang spritual itu adalah ruang hampa. Dia tidak dapat
ditemukan disuatu tempat yang terlihat oleh mata jasmani. Dia tidak dapat ditemukan di
sebuah DANAU
January 28, 2009 at 8:06am · Like
Rai Utama atau disebuah bangunan tua "gedung gereja" atau masjid atau pura apalagi
"pura-pura"
January 28, 2009 at 8:07am · Like
Rai Utama Ketika Yusuf dan Maria mencari penginapan, mereka tidak dapat menemukan
penginapan yang kosong buat kedamaian spritual
January 28, 2009 at 8:09am · Like
Rai Utama Hati kita terlalu penuh buat tempat spritual itu sendiri, lalu dimanakah spritual
itu sebenarnya. "DIA ADA DI PENGINAPAN YANG KOSONG" namun sayang, hanya
sebuah kandang domba
January 28, 2009 at 8:11am · Like
Rai Utama entar disambung lagi, hati lagi penuh...hahahaha!
January 28, 2009 at 8:12am · Like
Ratty Supit Mengapa ruang hampa ? Setahu saya, bali banyak menyimpan ritual spiritual
mengenai banyak keperluan masyarakat. Persoalannya, apakah spiritual bali itu hanya
merupakan sisipan dari dimensi spiritual jagat saja atau merupakan spiritual tuntunan
sang penguasa jagat. Mungkin bisa diupayakan perkapan yang lebih intens dengan para
pendito, atawa pewaris laksana ritual dengan Bapak. Semoga bermanfaat.
77
January 28, 2009 at 8:25am · Like
Dew Miek Pantja komodo gg 3 no 1....slalu siap...;)Gbu bro
January 28, 2009 at 11:50am · Like
Victor Hamel @ mba Dew: hik...untuk BPI nya Bungkulan aja yaaaa...hihi
January 29, 2009 at 5:24am · Like
Victor Hamel @ bli Rai: Padahal waktu dunia diciptakan dengan segala isinya , Tuhan
sudah memberitahu bahwa semuanya sungguh amat baik: Itu kan spiritualitas - yang
tidak berada diruang kosong...
January 29, 2009 at 5:26am · Like
Victor Hamel @ mas Kus: Tapi saya masih mengundang mas Kus kapan2 main ke Bali
kalo ada waktu ya...
January 29, 2009 at 5:28am · Like
Darmayanti Riri pak pdt, gmana klu kata "ruang spiritualitas" dirubah menjadi 'ruang"
dan "spiritualitas", sepertinya dua2nya akan tempat masing2 di Bali untuk bisa brtumbuh
lebih baik kaleee.....
January 29, 2009 at 4:06pm · Like
Victor Hamel @ Riri: Oke juga tuch Ri!
January 29, 2009 at 9:27pm · Like
Teguh Ariffianto Ruangan yang hanya ada Tuhan bersembunyi disana
February 14, 2009 at 12:14pm · Like
78
Doa Rakyat Bagi Pemimpin (Dalam rangka Pemilu 2009)
July 6, 2009 at 11:39pm
Kami rakyat Indonesia berdoa pada Allah yang satu…
Dahulu, kami bukanlah sebuah bangsa…kami hanyalah untaian zamrud katulistiwa,
Dahulu, kami bukanlah bangsa…kami hanyalah segugus pulau-pulau,
Dahulu, kami bukanlah bangsa…kami hanyalah nusa-antara
Kami rakyat Indonesia berdoa kepada Allah yang menciptakan keragaman…
Tapi kini kami adalah sebuah bangsa…
Yang entah mengapa kami mampu mengatakan bahwa diri kami adalah bangsa dan negara
sebagai kesatuan…
Tak ada yang memaksa, meskipun ancaman untuk terbelah selalu nyata…
Terbelah karena kedegilan kami untuk menjadi raja-raja atas nusa-antara,
Tetapi juga terbelah karena kerakusan kekuasaan yang tak ada iba mengambil hasil kekayaan
nusa-nusa antara..
Kami rakyat Indonesia berdoa kepada Allah yang “buta warna” yang menciptakan manusia yang
‘mengetahui dan membeda-bedakan’ begitu banyak warna…
Akan menuju enam puluh empat tahun kami berbangsa dan bernegara, sekian banyak pemimpin
telah berganti, sekian bentuk pemerintahan telah kami lewati… dan melewati semuanya itu
sejarah kami sebagai bangsa tak luput dari petaka politik yang mencabik-cabik tubuh bangsa..
Dari PRRI-Permesta-DI/TII hingga Lubang Buaya, dari Tanjung Priok hingga Lampung
berdarah, dari Gerakan Aceh Merdeka hingga Papua Merdeka, dari sadisnya pemerkosaan para
perempuan Tionghoa hingga Semanggi satu dua, dari Poso berdarah hingga Maluku dan
Halmahera, dari tewasnya sang Moses di Yogyakarta hingga pembunuhan sang Martir Munir di
pesawat Garuda, dari hukum yang tak membela orang kecil hingga korupsi yang merajalela…
Tak mampu kami menyebutkannya satu demi satu…karena selalu ada air mata…
Kami berdoa kepada Allah yang mengirim hujan kepada sang alim dan sang bejat…
Kini sehari dua kami bangsa Indonesia akan memilih para pemimpin negara kami…
Jauhkanlah pemimpin bangsa kami dari mabuk kekuasaan, keinginan untuk memperkaya diri,
arogansi politis, dan…hanya mengejar nafsu kekuasaan..
Berilah kepala mereka untuk memikirkan nasi sepiring untuk sang miskin, berilah tangan mereka
untuk memegang lumpur sebelum menanam padi, berilah kaki mereka tak menendang Hak Asasi
Kemanusiaan dan berilah hati mereka rendah hati seperti Yesus, Muhammad, Buddha,
Konghucu, dan para Dewa-Dewa yang mencintai manusia dengan cintanya..
Kami tau tak mudah bagi mereka…itulah sebabnya kami berdoa untuk mereka…Amin!!!
9 people like this.
79
Fidelis R. Situmorang Amin.
July 6, 2009 at 11:57pm · Like
Timur Sinar Suprabana aaamiiiin....!
July 7, 2009 at 12:07am · Like
Josias D Tatontos Amin
July 7, 2009 at 1:13am · Like
Timur Sinar Suprabana lukisan affandi itu.... hmmmm...! melengkapkan gairah ketulusan
dan energi Doa itu.
July 7, 2009 at 3:16am · Like
Ratty Supit Astaga booozzz, mesra sekali !!!
Sy ikut mendaftar dalam doa ini !!!
July 7, 2009 at 7:48am · Like
Johan Kristantoro Amin, Pak Pdt. Biarlah hikmat Allah bergulung-gulung bagaikan
ombak memenuhi bangsa dan negara ini.
July 7, 2009 at 7:53am · Like
Leo Hutapea doa yg mulia sekaligus memukul setiap hati nurani kemanusiaan kebangsan
kita krn bgs kita lebih menghargai dolar dr rupiah,lebih menyembah org asing dr pd
mencintai ibu pertiwi,lebih mau didikte org asing dr pd mendengar jeritan anak Indonesia
yg kekurangan gizi...sehingga lahir generasi yg lebih mengandalkan otot dr pd otak,yg
lebih mengutamakan emosi dr pd rasio, yg lebih mengedepankan nafsu dr pd cinta
kasih....
July 7, 2009 at 9:15am · Like
Leo Hutapea Dan dcemokrasi yg kita jlnkan tdk lain demokrasi plagiat dr konsep
demokrasi asing.Pd hal hakikat demokrasi itu menghargai hak setiap manusia tanpa
80
pandang bulu dan penjagaan hak hidup terhadap setiap individu dimanapun
berada.Smntra demokrasi kita sbgalasan utk menindas satu sama lain...dgn dmkian demokrasi
kita ini demokrasi setengah hati atau demokrasi kebabalasan?Semoga Tuhan tdk tuli mendengar
doa di atas dan Tuhan tdk buta melihat demokrasi kita yg lebih tepat disebut dgn demokrasi
haus darah,kekayaan dan kuasa...
July 7, 2009 at 9:24am · Like
Rolandi H Situmorang Amin
July 7, 2009 at 9:50am · Like
Helga Worotitjan Dua Full Amiiiin....!
Doaku : jagalah pemilu kami agar aman & sportif....& jadilah kehenfakMU saja!
July 7, 2009 at 10:20am · Like
Bu Adjeng siapapun yg menjadi pemimpin kita nanti , adalah sosok yg takut akan
Tuhan,pnh perhatian pd semua rakyat, tdk hanya kelompoknya saja...
July 7, 2009 at 10:24am · Like
Wayan Risna SETUJU....
July 7, 2009 at 11:06am · Like
Yogi Hapsoro pak viktor ada yang lupa peristiwa 1 Oktober..
sesuai topik skripsi saya...
jangan dilupakan itu yang paling mengerikan..
tp selain itu saya berharap bukan no2 yang memimpin bangsa ini,,,amin
July 7, 2009 at 11:27am · Like
JO Snacks House Tuhan..berikan kepimpinan yg Teokrasì di negeri ini..dalam namaMu
yg Agung kami berdoa..amin
July 7, 2009 at 12:24pm · Like
81
Frans Sahetapy refleksi setelah "dipaksa istirahat" oleh istry ternyata luar biasa !!!!
terimakasih.... semoga harapan itu ada bagi semua anak negri.
July 7, 2009 at 2:43pm · Like
Victor Hamel @ Fidelis, Timur, bung Josias, Johan, Rolandi, Helga: Amin ku juga..
@ Pak Ratty: Tak semesra kata2 pak Ratty untuk komentar ini...
@ mba Nanik: Semua berharap yang sama mba..thx.
@ roni: terima kasih telah memberi keluasan makna dalam bait doa sederhana...
@ mba Yetty: Aku setuju mba!
@ bli wayan: Pasti!!
@ Yogi: Mengingatnya juga pasti dengan air mata..thx teman suah mengingatkan satu peristiwa
bermakna
@ mba Yulis: Amin...
@ Pdt. Frans: sebuah renungan dari "terpaksa istirahat"..thx bro..
July 7, 2009 at 8:49pm · Like
Victor Hamel @ teman2: terima kasih untuk jempolnya...
July 7, 2009 at 8:51pm · Like
Jeannita Adisty AMIN!!!
Jean yakin Tuhan mendengar doa anak2Nya
Semoga yg bisa memilih hari ini bisa memberikan hak pilihnya dengan baik sehingga
nanti berbuah yg baik jg untuk perubahan bangsa kita
trims Pak Pdt jean sudah di tag.. Sekaligus mengingatkan jean saat doa pagi ini jg berdoa
utk pemilu
July 8, 2009 at 7:55am · Like
Alf Tiranda Kmarin dikntrku tman2 pd bbisik2 myampaik kerisauan mrka ttg kandidat2
yg hrs dipilih, msing2 org myampaik argumennya dg mplhatk sms2 nyasar yg msk ke hp
mrka dimana menunjukkan kejelekan para kandidat dimana intinya mkin tjepitnya kaum
minoritas. Dlm hati sy bkata memilih dr 3 kandidat yg menurut sy sama buruknya,haha...tp sy
boleh di ingatk yusuf di mesir jadi raja so utk kaum minoritas siapapun yg tpilih kta harus imani
itu smua se ijin dr Allah so enyahk sgala ketakutan n kekhawatiran krn kta percaya smakin
dibabat smakin merambat, yg tpilih siapapun dia mrupak wkl Tuhan dlm pmerintahan dunia so
Taat n Patuhilah!
82
July 8, 2009 at 8:26am · Like
Kus Aprianto "Trimaskasih Tuhan,
Engkau tetap memberi keberanian kepada kami untuk membangun mimpi bagi negeri ini.
Kami harus realistis, belum atau tidak ada figur seperti Nehru, Gandhi, Teresa, Luther
King, Hatta. Kami bersyukur karena akan ada yang Engkau percayakan memangku jabatan
pemimpin bangsa ini. Siapapun dia. Trima kasih Tuhan karena kami percaya, Engkau berkenan
bekerja lewat setiap suara warga bangsa ini. Kami berterimakasih, dan akan berdoa bagi
kebaikan mereka yang terpilih nanti, dari pada mengorek-ngorek keburukan mereka. Amin."
July 8, 2009 at 12:24pm · Like
Victor Hamel @ Jean: Thx untuk melanjutkan doa-doa ini..
@ Afrida: Semoag yangterpilih tetap meberpihak pada rakyat!
@ Kus: Semoga kebaikan mengalahkan keburukan...!
July 8, 2009 at 6:00pm · Like
Banq Binq Siampudan Ya TUHAN ALLAH kami..dengarkanlah doa dan seruan kami.
Amin!
July 8, 2009 at 9:54pm · Like
Jeannita Adisty @Pak Pdt Victor
justru saya yg harus bilang thx pak
awalnya saya cuma mendoakan sepintas aja, karena saya g jadi nyontreng. KTP saya
sebelumnya masih dr kalimantan & mati akhir Juni kemarin. Saya sdh ngurus
perpindahan penduduk & sekaligus KTP bali biar bisa ikut nyontreng. Awalnya pihak
kelurahan bilang sy bisa ikut, ternyata saya confirm saya g terdaftar & KTP baru jadi besok
otomatis saya golput.
Tapi walau saya g memberikan hak suara, saya masih bisa memberikan doa...
Terima kasih pak Pendeta ^^v
Tuhan memberkati...
July 9, 2009 at 12:29am · Like
83
Victor Hamel @ Bang: kemana ajreee...lama tak nongol!! sampai ketemu tanggal 26 di
GKI
July 9, 2009 at 8:46am · Like
Banq Binq Siampudan anu...Om, nyelamatin oeltahnya batavia kpd mr.foke.
July 9, 2009 at 11:08am · Like
84
"Dolanan" di Kampung Amish
September 3, 2012 at 1:41pm
Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan
perbuatan dan dalam kebenaran ( I Yohanes 3:18)
Berjalan-jalan di perkampungan kaum Amish serasa berada di beberapa abad yang lalu dalam
kehidupan. Tenang, sepi, dan tak banyak bunyi kendaraan yang lalu lalang, kecuali bunyi buggy
(semacam delman) yang ditarik oleh kuda. Seperti yang kebanyakan kita sudah tahu, sejarah
kaum Amish di Amerika adalah sebuah sejarah panjang tentang pengungsian orang Swiss-
Jerman akibat perbedaan pemahaman mengenai tata cara keagamaan. Merupakan sisi-sisi lain
dari sejarah gerakan Reformasi. Tulisan pendek ini tidak membahas tentunya mengenai sejarah
itu.
Ada hal yang menarik melihat sisi kehidupan kaum Amish di Amerika yang masih “teguh”
memegang prinsip kesederhanaan dalam kehidupan. Meski tampak naif dalam dunia Amerika
yang super modern, dengan jaminan sosial kehidupan yang tinggi melalui sistem asuransi dan
jaminan sosial lainnya yang sangat memadai, kelompok ini sebagian besar justru masih hidup
dalam konteks yang sangat tradisional. Soal berpakaian sudah menjadi ciri khasnya, kendaraan
yang digunakan dalam keseharian hanyalah buggy, mata pencaharian kehidupan lebih banyak di
dunia pertanian. Meski dalam perkembangannya sudah banyak kaum Amish yang sudah
menggunakan teknologi, tetapi tampaknya kita harus sepakat bahwa sebagian besar prinsip
kesederhanaan ini masih sangat dominan. Problem yang sangat besar adalah bagaimana mereka
tetap dapat mempertahankan hidup secara tradisional dalam dunia Amerika yang super modern
ini. Saya hanya melihat pelajaran dasar yang menjadi pegangan kaum Amish ini adalah
komitmen. Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya baik dari sisi ajaran, sosial, budaya dan
nilai-nilai yang dianut, komitmen terhadap sebuah pemahaman tampaknya menjadi dasar yang
sangat kuat untuk dijadikan landasan kehidupan keseharian dalam sistem masyarakat. Apakah
akan terjadi konflik sosial di dalamnya? Jawabannya pasti. Tetapi mengapa sejarah Amerika
tidak mencatat adanya konflik yang tajam berdarah-darah di antara masyarakat sekitar dan kaum
Amish ini? Ada empat faktor yang utama: pertama, konstitusi yang menempatkan kebebasan
beragama sebagai salah satu unsur penting dalam membangun Amerika (seperti yang tercantum
dalam Konstitusi Amerika) tidak saja mempengaruhi dalam perihal keagamaan tetapi juga dalam
kehidupan sosial. Hal ini mengakibatkan setiap orang atau kelompok agama yang ada di
Amerika, selama ia/mereka tidak merusak tatanan yang ada dalam konstitusi, hal itu merupakan
bagian yang juga dapat diterima secara sosial. Kedua, ketatnya persoalan hukum di Amerika
dan dijalankan secara adil dengan cara menjunjung tinggi hak-hak kemanusiaan seutuhnya di
Amerika merupakan dasar dari tereliminasinya konflik fisik yang ingin menggerus pemahaman
lain di luar pemahaman yang dianggap mainstream (khususnya dari segi keagamaan yang
berkembang di Amerika). Ketiga, munculnya modernisasi yang begitu dominan di Amerika
menempatkan sistem sosial kekerabatan bukan lagi menjadi faktor penentu dalam kehidupan
seseorang. Sikap penghargaan terhadap individualitas menjadi dominan dan dengan demikian
memberikan ruang bagi semua orang secara individu untuk mengekspresikannya tanpa takut
85
akan diekskomunikasikan dari lingkungannya. Ini menyebabkan pengekspresian nilai-nilai
individu atau kelompok menjadi sangat tinggi. Keempat, gerakan anti kekerasan sebagai dasar
salah satu dasar ajaran utama dari kaum Amish menjadi modal sosial yang tinggi untuk dapat
diterima dalam konteks masyarakat Amerika yang individualistik dan lebih mengutamakan
perdamaian dan kebebasan yang tertata.
Belajar dari pengamatan sederhana di atas, tanpa ingin membandingkan dengan konteks
Indonesia saat ini yang sangat rawan dengan kekerasan dan konflik sosial (maupun individu),
maka nilai-nilai yang patut kita pelajari bersama dalam menata persoalan keragaman publik
adalah tentu dengan memberi ruang yang besar bagi penegakan hukum yang adil dan berwibawa,
membangun sistem sosial yang menempatkan kebebasan bukan sebagai sesuatu yang tanpa
aturan dan juga membangun basis-basis pemahaman keagamaan yang menempatkan gerakan
nir-kekerasan sebagai gerakan masa kini. Saya paham hal-hal ini sering dianggap
mempermudah komplikasi masalah yang ada dalam konteks bangsa saat ini. Tetapi suara ini
masih tetap harus didengungkan sebagai gaung renungan bagi perdamaian manusia Indonesia
dan manusia sejagat.
Salam dari Negeri Seribu warna.
86
23 orang menyukai ini.
Ina VTr Tobing damai tidak selalu harus diartikan sebagai kita harus sama..damai yg sejati
sesungguhnya berasal dari kemampuan dan kecerdasan spiritual menerima yg berbeda..trm
kasih pencerahannya,kak vic..like this very much
3 September 2012 pukul 14:11 · Suka · 1
Timur Sinar Suprabana ....................
Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan
perbuatan dan dalam kebenaran ( I Yohanes 3:18)
SESUNGGUHNYALAH MENGASIHI ITU MESTINYA JUGA DENGAN PERKATAAN ATAU DENGAN
87
LIDAH. SEBAB JIKA ENGKAU TAK MAMPU MENGASIHI DENGAN PERKATAAN ATAU DENGAN
LIDAH, MAKA MUSTAHIL BAGIMU UNTUK BISA MENGASIHI DENGAN PERBUATAN atau apa lagi
DALAM TINDAKAN. (AMSAL CINTA I. Timur Sinar Suprabana)
itulah sebabnya, mengapa bahkan dalam BERUCAP pun aku berupaya untuk senantiasa
menunjukkan padamu; AKU MENGASIHIMU, saudaraku Victor Hamel. sebagaimana ALLAH JUGA
MENGASIHIKU tanpa kenal sudah.
muuuuuuuaaaaaach....
3 September 2012 pukul 15:43 · Suka · 1
Wir Kasut terimakasih pak Vict. maaf tanpa menunggu persetujuan, saya bagikan. saya percaya
pak Vict akan memaafkanku karena pak Vict mengasihiku.
3 September 2012 pukul 18:00 · Suka
Mahatma Anto hehe... gak boleh motret orang amish loh...
3 September 2012 pukul 18:06 · Suka · 1
Gaibin Endra Nata Oom Wir kulå nèk ningali film berlatar kehidupan komunitas tiang amish njuk
mbayangké kados kehidupan tiang jawi teng kampung bangun griyå kanthi cårå sambatan.
3 September 2012 pukul 18:14 melalui seluler · Suka · 1
Wir Kasut sekarang mungkin sudah semakin sulit dicari model sambatan. mungkin emoh
rebyek , praktis tur luwih irit. ukurannya materi, bukan menikmati keindahan guyub. tandur
derep juga sudah tidak seperti masa kecil saya.
3 September 2012 pukul 18:26 · Suka
Gaibin Endra Nata Nèk teng kampung semaki kilèn teksih onten. Nanging tènågå mawon. tur
teksih sedhèrèk nak sanak. Lè sambatan nggih namung dinten minggu.
3 September 2012 pukul 18:31 melalui seluler · Suka · 1
88
Mahatma Anto orang amish dengan eksotismenya "sudah dijual" sebagai obyek ke industri
pariwisata amerika. mungkin mirip dengan kita yang menjual eksotisme kehidupan desa
terpencil atau keunikan adat kraton kepada para wisatawan manca.
saya pernah "nanggap" makan siang bersama keluarga amish di pennsylvania. makanannya asli
dari dapur mereka sendiri. habis makan diberi sajian paduan suara mereka sekeluarga dengan
lagu2 rohani yang hampir semua kita kenal, wong sumbernya juga dari belanda/jerman seperti
nyanyian rohani kita... bubar kuwi njuk bayaran... lha memang ini kayak pertunjukan saja kok.
kita tinggal pesen mau makan di rumah mana di desa mereka itu, dengan sajian apa saja, pakai
acara degnerin koor nggak, pakai acara meres susu sapi sendiri gak... dst.
3 September 2012 pukul 19:24 · Suka · 1
Victor Hamel Ina VTr Tobing: terima kasih sista...akun menerima pencerahan dari komen
ini...mauliate..
3 September 2012 pukul 21:00 · Suka · 1
Victor Hamel Mas Timur Suprabana: maturnuwun mas, betapa indah kata dan perbuatan dalam
menghadirkan kasih bagus sesama...maturnuwun..maturnuwun...muaaach juga..
3 September 2012 pukul 21:02 · Suka
Victor Hamel Pak Wir Kasut: monngo pak, karena ku tahu juga pak Wir sangat mengasihi ku
juga...
3 September 2012 pukul 21:03 · Suka · 1
Victor Hamel Gaibin Endra Nata: matur nuwun mas sudah mampir....
3 September 2012 pukul 21:03 · Suka
Victor Hamel Pak Mahatma Anto: hal kormersialisasi dalam dunia pariwisata tampaknya sama
dimana2 yaa...hehehe...
89
3 September 2012 pukul 21:07 · Suka
Dinka Nehemia Utomo saya yakin.. kaum Amish senantiasa mengalami damai dan bahagia
sejati..
3 September 2012 pukul 22:23 · Suka
Victor Hamel Dinka Nehemia Utomo: meski mereka juga selalu mendapat tekanan yg berarti
dari modernisasi...damai...damai...
3 September 2012 pukul 23:20 · Suka
Yakub Setiaji Dwipa Terima kasih Bang note-nya .. kontras memang dengan negara kita .. makna
damai itu relatif .. ada yang merasa damai dengan cara mentidakdamaikan orang lain .. demikian
halnya dengan merdeka .. merdeka juga relatif maknanya Bang .. para penegak kemerdekaan
merasa merdeka untuk lepas tangan .. hehehe .. Salam dari Negeri Seribu makna
4 September 2012 pukul 0:47 · Suka
Victor Hamel Dwipa: kumaknai kerlatifan itu...kumakanai...dan kumengerti sebagai sebuah
perjuangan...semangat!
4 September 2012 pukul 7:50 · Suka
Yakub Setiaji Dwipa Betul Bang .. ada pepatah yang mengatakan "hujan warna di negri orang
hujan makna di negri sendiri, lebih ber-wakna (warna dan makna) di negri sendiri" hehehe ..
semangat menunggu bulan Oktober nih Bang Kami tunggu kedatangan kalian di negri seribu
panggang .. hahaha
4 September 2012 pukul 9:38 · Suka
Victor Hamel Dwipa: hahaha...negri seribu panggang...sedap kale kuntengok istilah itu...
5 September 2012 pukul 4:56 melalui seluler · Suka · 1
90
Lois Gloria Terima kasih untuk share-nya, pak Vic... Saya jadi kepingin merasakan dan belajar
tentang perdamaian dari kehidupan suku Amish... kapan ya bisa mampir ke sana?
6 September 2012 pukul 12:35 · Suka
Victor Hamel Sama2 sista..dengan senang hati jika bisa mampir
kesini...mampirlah..kutunggu..heheh...
6 September 2012 pukul 12:37 melalui seluler · Suka · 1
Lois Gloria masih bermimpi, pak... hehe
6 September 2012 pukul 12:40 · Suka
Victor Hamel Lois Gloria: semuanya mulai dari mimpi kan...heheh..
6 September 2012 pukul 12:51 melalui seluler · Suka · 1
Lois Gloria Betul,Pak
6 September 2012 pukul 13:34 · Suka
Jane Moudy Inkiriwang Victor Hamel: finally... bisa baca renungan/tulisan mu lagi love this! two
thumbs up
11 September 2012 pukul 4:58 · Suka
Victor Hamel K Jane: hahaha...udah dimarahin banyak orang karena malam tak
menulis...heheheh...
11 September 2012 pukul 7:03 · Suka · 1
91
DROMOLOGI Briptu Norman
April 7, 2011 at 7:01pm
Ketika Justine Bieber, Sinta-Jojo dan Udin menggelar aksinya di Youtube, saya sendiri
tak tertarik untuk mengomentarinya. Tetapi ketika Briptu Norman melakukan aksinya lipsinc dan
tari India-nya yang di upload di Youtube saya menjadi tergelitik untuk ikut nimbrung memberi
komentar.
Tentu menarik untuk melihat bahwa kecepatan informasi melalui media telah mampu
membuat orang yang berjarak jauh, mungkin di pelosok, tadinya orang biasa saja, kemudian
mendadak menjadi terkenal dan digemari orang. Atau mendadak menjadi artis. Yang menarik
adalah terjadi proses percepatan ketenaran yang luar biasa ditandai dengan banyaknya orang
melihat aksi yang dilakukannya melalui media (video) sharing di mana aksinya di upload. Dalam
hal ini media (video) sharing tidak lagi semata menjadi sarana ekspresi ketenaran tetapi menjadi
media percepatan ketenaran. Pengaruh sosial dari dua pemahaman ini sangat berbeda.
Pemahaman pertama (media sebagai ekspresi ketenaran) menempatkan masyarakat sebagai
objek (pasif) terhadap kemajuan teknologi telekomunikasi. Sedang pemahaman yang kedua
(media sebagai sarana percepatan ketenaran) menempatkan masyarakat menjadi subjek (aktif)
terhadap kemajuan teknologi komunikasi. Jika dahulu untuk menjadi tenar orang harus
menunggu serta sangat ditentukan keberadaannya oleh media komunikasi (mis. radio, televisi
atau apapun namanya), yang sudah tentu terkadang menggunakan sarana “pelicin” untuk orang
bisa menjadi tenar/artis. Tetapi saat ini semua orang bisa secara aktif menjadi sangat terkenal dan
dicari-cari oleh media komunikasi tersebut, dan sudah barang tentu terkadang terjadi juga pola-
pola dieksploitasi.
Saya bukan pakar teknologi komunikasi. Tetapi saya jadi teringat apa yang secara
konseptual telah dipaparkan oleh Paul Virilio, seorang teoretisi Prancis yang menggembar-
gemborkan teori DROMOLOGI. Drome, sebuah kata yang diambil dari lingkungan olah raga
kecepatan, misalnya arena balap mobil, balap sepeda atau jalur lomba lari. Menurutnya,
kecepatan informasi (melalui media) saat ini adalah hal yang telah menembus ruang dan waktu
dan tak ada batas diantaranya. Di sini dan di sana menurutnya sekarang tidak ada beda.
Kecepatan informasi melalui media komunikasi telah menghancurkan fisik dan dimensi spasial.
Yang ada adalah percepatan menuju percepatan. Problem yang muncul adalah ketika percepatan
ini tidak diimbangi dengan percepatan pemahaman masyarakat dalam sebuah komunitas. Jika hal
ini terjadi maka, meminam istilah Virilio, terjadi pola-pola endokolonialisasi, penjajahan
terhadap tubuh. Teknologi komunikasi menjajah tubuh manusia dengan percepatannya.
Kembali pada Briptu Norman yang saat ini telah diberi apresiasi (dan juga sanksi) oleh
Kapolri. Tampaknya Polri ingin menggunakan kesempatan ini untuk percepatan perubahan citra
lembaga kepolisian yang saat ini sedang terpuruk di mata masyarakat. Dan ini rupanya juga
berasal dari respon masyarakat yang sebagian besar tampaknya tidak ingin Briptu Norman
dihukum karena perbuatannya. Karena bagi masyarakat mungkin ini adalah sebuah hiburan.
Tetapi peringatan dini dari Virilio harusnya menyadarkan kita bahwa akan ada korban baru
dalam proses percepatan menuju percepatan ini yaitu Briptu Norman sendiri dalam konteks
92
endokolonialisasi. Dia akan dijajah oleh sekian banyak kepentingan di dalamnya, apakah itu
kepolisian, media, dan juga masyarakat yang tidak menyadari akan hal ini.
Bagi saya, kembalikanlah Briptu Norman dalam tugas utamanya sebagai abdi masyarakat. Bukan
sebagai sarana percepatan menuju percepatan demi kepentingan banyak orang di dalamnya.
Sambil menikmati lagu
“Bebek Adus Kali” di bawah Pohon Mangga
Herma Jean Jarra and 9 others like this.
Gagap Rasa ha..ha..inspiratif! Budaya narsis yg mulai terkooptasi oleh kepentingan
media dan kehausan masyarakat akan kekonyolan2 hidup. Huh, padahal hidupku dah
konyol! Thanks bung!
April 7, 2011 at 7:05pm · Like · 1
Victor Hamel hihihi....dan untuk itulah tampilan gambar2 yang diupload oleh
panjenengan selama ini telah memberi inspirasi realita kehidupan yang
senyatannya...bukan sebuah percepatan demi percepatan...
April 7, 2011 at 7:12pm · Like · 2
Timur Sinar Suprabana saya kutib utuh yang saya juga bersikap sebagaimana engkau
bersikap, saudaraku Victor Hamel: ......Bagi saya, kembalikanlah Briptu Norman dalam
tugas utamanya sebagai abdi masyarakat. Bukan sebagai sarana percepatan menuju
percepatan demi kepentingan banyak orang di dalamnya.....
April 7, 2011 at 7:47pm · Like
Thesa Hamel De...., udh liat foto2 loe di fb cie....
April 7, 2011 at 8:26pm · Like
Julies Kurnia Wibowo bang Vict kapan2 bikin video bareng trus masukin ke
youtube..jangan lupa undang saudara Pedan dan Pituruh, pasti cepet terkenal xi xi xi
April 7, 2011 at 9:22pm · Like · 1
93
Besly Messakh bro. Waktu pilatus menuliskan raja org Yahudi dlm tiga bhs, itu jg
dromologi ka?
April 8, 2011 at 6:57am · Like
Asnath Natar Budaya nunut (aji mumpung) atau memanfaatkan ini sdh biasa di
masyarakat kita. Ikut yang lagi heboh,tp dengan motivasi demi kepentingan pribadi
sambil mengeksploitasi (menjajah) orang lain. Waktu lihat gaya polisi memperlakukan Si
Norman di TV, saya sendiri geli......kok tiba-tiba jadi sibuk bgt...
April 8, 2011 at 12:41pm · Like
Matias Filemon Hadiputro yaaaa... itulah harga dari sebuah percepatan... punahnya
ruang-waktu nyata dalam persepsi dan pikiran seseorang, oleh karena pikiran itu kini
dikuasai oleh model ruang-waktu virtual... sehingga tidak lagi mampu membedakan
mana kenyataan dan mana kesemuan... mana kebenaran dan mana kepalsuan... saling
berlomba-lah elite-elite membentuk pencitraan...
April 9, 2011 at 9:41am · Like · 1
Odjak Silalahi pa'victor..sy no comment deh utk selingan2 sesaat dari publikasi
media,jangan2 ini juga bentuk pengalihan isu...,ha,ha
April 9, 2011 at 11:45pm · Like
Victor Hamel @ Nia: Aku yakin gereja2 akan mengeluarkan surat penggembalaan
kepada ketiga saudara Bali, pedan dan Pituruh...xixixix.....Rockeeeeeerr!!!!
April 13, 2011 at 10:11am · Like
Victor Hamel @ Besly: Bisa jadi itu...mari ditelusuri...
April 13, 2011 at 10:12am · Like
Victor Hamel K Asnath: Dan akhirnya semuanya sudah kebablasan...malah jadi
aneh...semuanya mempunyai kepentingan di dalamnya...hehehe
94
April 13, 2011 at 10:13am · Like
Victor Hamel @ MAtias: Pencitraan, lagi2 kata itu...tampaknya ia dahsyat bro...hehehe
April 13, 2011 at 10:13am · Like
Victor Hamel @PAk Odjak: Apalagi saya pak, hanya mengingatkan lagi bahwa model2
seperti ini yang jadikorban hanya orang2 yang dimanfaatkan oleh kepentingan2 itu...
April 13, 2011 at 10:14am · Like
Ratty Supit Mestinya POLRI sekalian bikin band aja he he he
April 13, 2011 at 11:05am · Like
95
Empat Hari Berteka-teki Bersama Amsal: (1)
September 8, 2009 at 6:28am
Kalau kata 'aku' dalam teks adalah saudara para pembaca note ini, apakah hal yang ingin saudara
katakan tentang ayat ini?
"Ada tiga hal yang mengherankan aku, bahkan, ada empat hal yang tidak kumengerti: jalan
rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang
laki-laki dengan seorang gadis".(Amsal 30:18-19)
CommentShare
3 people like this.
Ratty Supit Ayat yang mana ?
September 8, 2009 at 6:33am · Like
Victor Hamel Amsal dibawahnya pak (Amsal 30:18-19)...heheh
September 8, 2009 at 6:34am · Like
Ratty Supit ha ha ha, aku musti buka dulu dong.
September 8, 2009 at 6:38am · Like
Victor Hamel hehehe....bunyinya: "Ada tiga hal yang mengherankan aku, bahkan, ada
empat hal yang tidak kumengerti: jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan
kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis".(Amsal
30:18-19)
September 8, 2009 at 6:40am · Like
Ratty Supit Sorry, baru ketemu. Saya kira jangan diputus pada ayat 18 s/d 19 aja, musti
diteruskan paling tidak hingga ayat 23. Sy mencoba melihat hubungannya dengan
keadaan didekat kita kini, terutama kejadian malam kemarin.
Pertanyaan Bpk Pendeta adalah merupakan pertanyaan ummat yang setia yang mencoba
menembus pikiran untuk mendapatkan jawaban. Ada harapan agar jawaban itu bisa
menenteramkan pikiran atas ketidak tahuan yang bisa mengantar ke penyesalan. Ketiga
pernyataan itu hanya menggambarkan posisi manusia dalam melihat apa yang harusnya dituju,
96
tetapi yang keempat justru merupakan peringatan akan godaan yang paling berat akan tampil
dalam kehidupan.
Jika kita terus hingga ayat 23 lebih menjelaskan tentang argumentasi mengapa hal itu menjadi
godaan.
Wah, terlalu serius pagi pagi gini, entah karena godaan kali ? he he he Salambae pak Pendeta !!!
September 8, 2009 at 6:53am · Like
Hamel Denny waduh pak Pdt aja bertanya kpd kami bgmn penulis Amsal tidak mengerti
akan jalan jalan ydm ? Tetapi hal yg sama dari ke empatnya adalah jalan. Ini sepertinya
proses ! Panjang nanti jawabannya. Tetapi konteks ketidak mengertian inilah yg akan
diterjemahkan pada salah satu ayat yg terkenal : Carilah dahulu kerajaan Allah maka semuanya
itu akan ditambahkan kepadamu (Matius 6:33). Saya mau cari dulu kerajaan Allah sebelum
menjawab pertanyaan ini ya De ... Syalom.
September 8, 2009 at 7:41am · Like
Johan Kristantoro Salomo yang berhikmat saja nggak ngerti, apalagi aku. Hahaha.
September 8, 2009 at 8:16am · Like
Victor Hamel @ Pak Ratty: hahah teologi menggoda...! Harusnya ini bisa menjadi salah
satu kunci jawaban ...
@ Bung Denny: heheh ya nanti kalau dah dapat jangan pua jawab yaaa....
@ Jo: hahaha...keit asemua memang sering dibuat bingung dengan Sang Raja...sekarang
ia membuat teka-teki yang katanya jelas2 nggak kontekstual untuk saat ini...hohoho
September 8, 2009 at 8:32am · Like
Wir Kasut giliran gue nih, sok boleh dong...hik hik. tapi gak pake buka amsal orang
laptopnya gak ada aknya. buka pun gak tau konteks teksnya, orang sekolahnya sp
(sorpring). jadi main comot ayat aja. lagian ayat itu sekarang bukan ayat salomo tapi ayat
masVictor so minurut mbah nih ya :
1. yang namanya mistery tetap akan ada
2. kebutuhan kepuasan intelektual (mengerti) itu ada dan anugerah, tapi klo lupa no.1 bisa jadi
jebakan penasaran yang gak berujung pangkal dan gak jelas manfaatnya.
3. menikmati misteri kadang justru mengasyikkan, indah, banyak kejutan (bikin hidup lebih
hidup), kadang lebih nikmat dari kepuasan intelktual
4. kenikmatan mendengar lagu barat, adzan, tahlil tanpa pernah ingin mengerti apa artinya,
bisa. melihat indahnya gunung tanpa ingin melihat detailnya, bisa. kenikmatan melihat tari bali,
bisa sama nikmatnya dengan melihat pantomim.
97
5. kehadiran Allah justru dalam mistery....misunderstanding...mistik...miskin... mising link.. miss
u...lbnl...missunivers yang cantek..cantek ...tak iye...
September 8, 2009 at 8:47am · Like
Yogi Hapsoro itu mungkin garis hidup atau takdir...atau kata tepatnya misteri illahi...ga
usah dipikir udah dari sononya begitu..hehehe
September 8, 2009 at 9:00am · Like
Estiana Arifin @b samuel : setuju. Krn emg begitu. Namanya kekuatan kalbu. Jd Tuhan
dimana2 selalu. Di kapal atau perahu. Bkn sok tau. Emang buka buku kudu. Untung ada
b samuel bantu. Jd komentnya niru. (pak vic,maap2. Kalu sjk srng2 maen sm temen2 esti
b samuel gaya bhsnya brnafas dlm lumpur).
September 8, 2009 at 10:21am · Like
Wir Kasut asem, ape name bandar negri sembilan, awak carilah sampe petang, awak kire
putri negeri sembilan, tak taunya gadis padang... tak ciwel pipimu lho....
September 8, 2009 at 11:00am · Like
Victor Hamel @ PAk Wir: Ini juga bisamenjadi salah satu jawab teka-teki sang
Amsal...thx pak dah bermisteri bersama sang Amsal...
@ Ki; Akujuga selalu tergoda dengan dirimu Ki...
@ Yogi: Lagi-lagi misteri, seprti jalanya dua manusia: laki dan perempuan...misteri...
@ Esti: Kaya judul film yaaa...bernafas dalam lumpur...heheh
September 8, 2009 at 11:00am · Like
Victor Hamel @ Pak Wir: hahahha....ini juga pantun2 dari negri sembilan?
September 8, 2009 at 11:01am · Like
Matias Filemon Hadiputro kalo salomo yang tidak dipahami cuma empat hal...
lha aku semua hal tidak dipahami...
ayatnya jadi begini deh bunyinya:
"Ada banyak hal yang mengherankan aku, bahkan, ada banyak hal yang tidak kumengerti: jalan
rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang
98
laki-laki dengan seorang gadis, jalan para pembesar diantara rakyat jelata, jalan pengemis
ditengah lampu merah, semua jalan nampak membingungkan."
hehehe...
September 8, 2009 at 11:12am · Like
Estiana Arifin @b samuel : bandar negri 9 tak buke petang, plainnye terbang jth k
lumpur, awak ni bkn dr bandar at pdang, awak ne produk global hasil asimilasi
religi&kultur. (pak vic,peace tiga kali.he3)
September 8, 2009 at 11:13am · Like
Wir Kasut iso-isone, hooh produk global paradoks (dah ganti istilah jadi gombal
paradoks). gombal paradoks , wawasan internasional mangane karedoks...
September 8, 2009 at 11:42am · Like
Estiana Arifin Nah,tu dia. Konsep perempuan indonesia. Tetep makan karedoks. Pak vic,
peace lg. Karedoks¶doks emang oks
September 8, 2009 at 11:51am · Like
Wir Kasut cakap encik, dah dapat kalimat konsep
September 8, 2009 at 12:30pm · Like
Estiana Arifin Saye stj ape kate ebiet g ade ttg prp, dlm die punye song : istriku(mksd die
prp juge ke) hrs cantik lincah dan gesit. Dia jg hrs cerdik dan pintar. Siapa tau nanti aku
kan trpilh jd kpl desa,kan kubangun desaku..dst sampe tamat. Jd u jd kpl desa harus pny
istri dmkn. Lbh kurang it konsepnya.
September 8, 2009 at 12:39pm · Like
Dond Widy kalau ayat ini sbuah perumpamaan,..aku tambah gak ngerti pak
Vic..hehehe..aku nunggu teka teki berikutnya deh, mungkin jika di rangkaikan nanti akan
menjadi indah.. dan smoga aku bisa sdikit ngerti..(^_^)
September 8, 2009 at 5:51pm · Like
99
Besly Messakh juru amsal lagi mau blg bhw TUHAN sanggup bt
yg tdk mungkin jadi mungkin
September 8, 2009 at 11:54pm · Like
Wir Kasut teka-teki nih kok nyambung sama cerita mbak novi, ada nenek yang kangen
misa pake bahasa latin yang dia nggak mudheng. katanya itu bahasa surga. nek di
dhongke 'niku bahasa latin mbah' ya ngeyel
100