The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Bersama Beriman Diranah Maya (2) . Kumpulan tulisan pendek

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by eipcusa.pastor, 2016-03-10 03:31:19

Bersama Beriman di Ranah Maya (2)

Bersama Beriman Diranah Maya (2) . Kumpulan tulisan pendek

Keywords: Beriman,Maya,Refleksi,Teologi

Hanya Sebuah Cerita Pendek (Cerpen) dari Ratapan (2)

August 26, 2009 at 9:48am

Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi;
besar kesetiaan-Mu! …Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut
kebesaran kasih setia-Nya. Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak
manusia. (Ratapan 3:22-23; 32-33)

Namaku Putri Sion. Kebodohanku telah merenggut nikmatnya keindahan diranjang cinta.
Suamiku, Sang Khalik, bahkan murka dan membiarkan baju ke-akbaran-ku dikoyak-koyak dan
tembok-tembok keagungan menjadi ratapan. Bahkan yang lebih menyakitkan, orang yang
kuanggap sedarah dan sedaging dari kakek buyutku, Edom, telah menjadi serigala yang bukan
hanya mengaum tetapi mengoyakan daging-dagingku, sehingga ratapanku bukan saja ratapan
kepiluan tetapi ratapan kematian. Terkutuklah engkau Edom, pedang-pedang Arabiah akan
meremukan kepala dan memenggal batang lehermu!!

Tetapi tiba-tiba dalam kesesakan ku aku teringat akan perjanjian nikah kami yang terucap
diketinggian Sinai: Aku adalah Suamimu dan Engkau adalah Istriku – Aku, suami mu, akan
menuntun engkau Putri Sion istriku keluar dari seluruh kesengsaraan mu – dari kekal hingga
kekal dan dalam keabadian cinta “khesed Elohim” - cinta yang tak pernah padam. Terngiang
akan janji itu, dalam kemurkaan Sang Khalik kini , aku tetap yakin bahwa ia tetap mencintai ku
dari kekal hingga kekal dalam keabadian cintanya yang tak pernah padam. Karena itulah
janjinya…keyakinan ku bahwa ia tak akan melupakanku dan meninggalkan ku selamanya.
Semalam-malaman aku bermohon “Ya sang Khalik, bawalah aku kembali padamu, baharuilah
hati kita seperti sejak awal engkau mencumbu ku di antara pohon-pohon Aras Libanon tempat
kita menghabiskan malam menyambut pagi…” Biarlah ku persembahkan kembali harum wangi
tubuhku pada mu sebagai pengganti wewangian cendana dan rempah-rempah yang dahulu kita
nikmati dengan cinta yang tak terkatakan. Tak ‘kan kubiarkan lagi tubuhku berbau busuk
kenajisan dan tak ‘kan ku biarkan lagi ranjang kenikmatan cinta kita dikoyak oleh para lelaki
Babel dan Edom yang telah menggagahi ku dengan penuh nafsu kebinatangan!!

Dalam keheningan aku berdiam diri. Sambil berucap lirih pada suami ku, Sang Khalik: Tak
berkesudahan kasih setia mu, tak habis-habisnya rahmat mu, selalu baru tiap pagi; besar
kesetiaan-mu! Karena walau engkau telah meninggalkan aku, engkau juga menyayangi menurut
kebesaran kasih setia mu. Karena tidak dengan rela hati engkau menindas dan merisaukan jiwa
ku: Khesed Elohim !!!

Dalam keheningan aku berdiam diri: inilah pengakuan ku, Putri Sion, anak-anak keabadian…!

Refleksi masa kini: Hal terpenting dalam bangkit dari keterpurukan kehidupan adalah menyadari
dan mengakui betapa berartinya kesalahan yang kita lakukan untuk menjadi cermin bagi masa
depan yang lebih baik…(selamat merenungkan arti kesalahan…dan bangkit dari keterpurukan!!)

151

CommentShare
 9 people like this.



Wir Kasut masih layakkah Sang Putri Zion mempersembahkan tubuhnya bagi Sang
Pangeran Kekudusan. Zunub 10 kali ? puasa 40 hari ? Menyiram abu gosok di
kepalanya ? mengoyak kemben dan kain pun tak berarti. ia harus mandi darah dan air
perwitasari. tapi kemana mau dicari ? kalau itu hanya mungkin jika diberi ? Hanya belas
kasih Sang Pangeran, melihat Sang Putri mengerang tak mampu lepas dari kubangan
August 26, 2009 at 10:39am · Like

152



 JO Snacks House Refleksi masa kini: Hal terpenting dalam bangkit dari keterpurukan
kehidupan adalah menyadari dan mengakui betapa berartinya kesalahan yang kita
lakukan untuk menjadi cermin bagi masa depan yang lebih baik…(selamat merenungkan
arti kesalahan…dan bangkit dari keterpurukan!!)
August 26, 2009 at 11:45am · Like



Ratty Supit Emangnya kita benar benar terpuruk ??? Atau kita membahasakan karunia
yang berkelimpahan atas nafas yang diberikan itu tidak berharga apa apa ? sehingga kita
mau menyapa dalam keterpurukan ???
Astaga, jangan merendahkan karunia yang sedang kita nikmati ini.
August 26, 2009 at 1:37pm · Like



Estiana Arifin menyentuh ya, membacanya sampai selesai. teringat diri sendiri. kayaknya
pak vic, ketika kita keluar dari kubangan bukan cuma karena kebaikan kita pada diri dan
berhenti berkeluh-kesah, tapi juag kebaikan Si Pemilik kita. Setiap orang berhak
mendapatkan kesempatan lain dalam hidup, tapi apa berbandung lurus juga dengan potensi
kebaikannya di masa depan ? itu kalu kita bicara Pengetahuan Tuhan akan kita melampaui
kehendaktahuan kita saat ini. Maaf kalu pengertiannya masih rancu, lagi belajar sih
August 26, 2009 at 2:52pm · Like



153

Frans Sahetapy terimaksih untuk di ajak merenung tetant keterbatasan dan kesalah !!!!
August 26, 2009 at 4:25pm · Like



Umbu Yanto sebuah refleksi yang sangat relefan dengan realitas kekinnian.

sebagai pribadi yang bersalah tidak cukup dengan merenungi atau mengandalkan
kekuatan pikiran untuk menyelesaikan semua perkara yang perna dilakukan tetapi perlu
ditindak lanjuti dengan pola tindak yang benar dan bijak sehingga jalan menuju keabadian
semakin tampak jelas dari pandangan mata.

berbahagialah pria2 yang menepati janjinya seperti sang khalik dan berbahagia pula putri2 yang
mengakui kesalahannya dan mengangkat dirinya dari keterpurukan laksana putri zion.
August 26, 2009 at 5:12pm · Like



Fidelis R. Situmorang Makasih Notenya Pak pendeta... Memberi pesan tentang betapa
besarnya rahmat Tuhan dalam kehidupan yang penuh dgn kekhilafan ini.
August 27, 2009 at 11:04am · Like



Leo Hutapea Sakitnya yang terasing..nih.."Kesetiaan menuntut pengorbanan karena
disampingnya yang melekat begitun banyak godaan untuk selingkuh...." (Jangan sering
dilupakan bapa Pdt....hehehe)
August 27, 2009 at 5:53pm · Like



Irene Sofiawati Harsono Satu ayat yg slalu ku ingat adalah Rat. 3:39 Mengapa orang
hidup mengeluh? Biarlah setiap orang mengeluh tentang dosanya!........alarm untuk selalu
datang mohon pengampunanNya.
August 31, 2009 at 4:36pm · Like



Priskilla Lusiana-PeWe Caterg Pak, sambil membaca tulisan bpk, tak terasa buliran air
mata ini mengalir.. Segala sesuatu pasti ada seab akibat, siapa menabur,dia akan menuai..
Semoga kita semua bangkit dari kesalahan kita&kembali pd jalan2NYA.. GBU P'Victor..
September 4, 2009 at 12:34am · Like

154

Hari ini Tuhan Ingin Menangis Atau Tertawa?

July 28, 2010 at 10:36pm

ada musibah!
ketika gempa semata bagi penguasa
ketika banjir bagi yang kafir
ketika longsor bagi ideologi berbeda
ketika ada mati
ketika ada sakit
ketika ada penjara
ketika ada lara
padahal tuhan juga menangis bersama yang menangis
(Helga Worotitjan)

Saya meminjam puisi di atas dari Helga Worotitjan, seorang sastrawati yang sering mengirimkan
puisi-puisinya kepada saya dan kepada teman-teman juga. Pusi ini berjudul “Ada Musibah”.
Saya mengatakan akan meminjamnya untuk menuliskan sebuah refleksi mengenai Tuhan
menangis.

Dalam puisinya Helga mengatakan “…padahal Tuhan juga menangis bersama yang menangis”.
Ungkapan ini sangat mengharukan tentunya. Saya sangat mengerti maksud dari puisinya:
Solidaritas Tuhan bagi yang menderita. Tetapi saya mencoba lebih menerobos lagi atas tafsir apa
yang ada dibalik puisinya ini. Saya menangkap sebuah pesan yang lebih dan sangat
mengharukan: tangisan Tuhan bersama yang menangis adalah justru penolakan sekian banyak
orang terhadap Tuhan yang demikian. Meminjam istilah Julia Kristeva mengenai abjeksi
(penolakan), tangisan Allah bersama yang menangis adalah sekaligus abjeksi dari orang-orang
yang berkuasa. Kelompok ini seolah tak tersentuh dengan segala macam persoalan bangsa ini,
karena kekuasaannya. Mereka tak berempati atas musibah, mereka hanya melihat dan
membicarakannya. Solidaritas mereka adalah solidaritas kepada Tuhan yang tertawa bukan
kepada Tuhan yang menangis. Mereka menolak Tuhan yang menangis karena Tuhan yang
demikian adalah simbol penderitaan (dan kemiskinan). Sementara negara ini senantiasa
mengeluarkan angka-angka yang senantiasa menunjukkan statistik yang dikatakan semakin baik
dan lebih baik. Padahal semakin banyak juga orang yang menangis karena beragam sebab dan
musibah. Mereka menolak kemiskinan dengan menunjukkan kemajuan angka-angka di atas garis
kemiskinan, menolak korban lumpur Lapindo dengan mengatakan bahwa upaya telah maksimal,
mereka menolak harga-harga yang semakin mahal dengan operasi pasar yang setengah hati,
menolak laporan gundulnya hutan-hutan di Bali Barat dengan menutupinya dengan slogan
turisitik yang terkesan indah tetapi menjerumuskan, dst.; padahal dengan semuanya itu mereka
sebenarnya telah menolak Tuhan yang menangis bersama semua orang dan semua persoalan
yang ada di bangsa ini. Dengan kata lain Tuhan telah diabjeksikan - ditolak, dikotori, dicemari -
dengan sebuah pemahaman yang tak dapat diganggu gugat oleh penguasa, yang senantiasa
hendak mengatakan: Tuhan seharusnya tertawa (bersama penguasa) dan bukan menangis
(bersama masyarakat). Lantas, apakah sekarang Tuhan ingin tertawa sekaligus menangis demi
keadilan semua warga negara (penguasa dan rakyat)? Tidak, hari ini Tuhan ingin mengangis –

155

meskipun DIA harus tertolak.

Bersama Pedagang Canang di Singaraja - Bali.

Catatan: Canang adalah persembahan dalam bentuk kecil yang diletakan di alas daun kelapa
berbentuk segi empat dengan isi yang beragam.

 9 people like this.



Timur Sinar Suprabana ............
kau tulis: ........“Ada Msuibah”........ tolong betulkan dulu... ~nanti aku Simak Ulang....
July 28, 2010 at 10:40pm · Like



Victor Hamel Trima kasih mas Timur...untuk koreksi yang mengganggu itu...
July 28, 2010 at 10:42pm · Like



Benidictus Tambajong Tks ,...sebuah Peencerahan....salam Pak Vic,...."Alangkah
sedihnya jika bagi TUHAN ada Tawa dan Tangis,...bukankah itu adalah CiptaanNYA?....
July 28, 2010 at 10:50pm via mobile · Like



Timur Sinar Suprabana ..........Mereka menolak Tuhan yang menangis karena Tuhan yang
demikian adalah simbol penderitaan (dan kemiskinan).

~terapan simbolik, atau bagaimana pemikiran dan permenungan dan bahkan pencarian
memperkaitpautkan Tuhan ataupun unsurunsur dan nilainilai realitas ketuhanan dan bahkan
keillahian merupakan wujud kedahagaan insan atas halhal yang Patut. dari hari ke hari makin
Patut. agar hidup dan kehidupan menjadi kian Layak.
masalahnya, dalam konteks sajak helga ataupun catatan victor, "permenungan cenderung
menjadi cermin KESEFIHAKAN dan bukan KETERFIHAKAN." apa yang ingin kukatakan: catatan ini
menjadi BERMAKNA dan BERNILAI karena bebas dari KESEFIHAKAN, juga sajak helga yang
menjadi sumber inspirasi itu... melainkan lebih merapat pada KETERFIHAKAN.
July 28, 2010 at 10:56pm · Like · 1



156

Wir Kasut yang terlintas di benak saya : Tuhan mesem kecut setelah membaca tulisan ini.
July 28, 2010 at 10:57pm · Like



Sofietje Nortje Nelia Rondonuwu menyedihkan memang,pada Tuhan pun manusia
sanggup melakukan penolakan, apalagi pada sesamanya....padahal pd orng yg menderita,
menangis, miskin, untuk merekalah DIA juga datang... mksh kak vic....sungguh
mengingatkan.
July 28, 2010 at 11:25pm via mobile · Like



Ratty Supit Penderitaan bukan ulah Tuhan. Penderitaan adalah harga dari ulah manusia.
Tuhan menangis manakala manusia semakin menjauhiNya.
July 29, 2010 at 6:36am · Like



Firman Panjaitan kemarin aku protes Tuhan, kok ada penderitaan di bumi ini? Mengapa
Tuhan tidak "turun tangan" menolong mereka? Lalu DIA menjawab. Itulah sebabnya,
mengapa aku menciptakan kamu!" Aku jadi terdiam dan malu...
Entah Tuhan menangis atau tertawa, biarlah itu terjadi; yang penting: kita bisa atau tidak
melihat wajah Tuhan dalam fenomena keseharian yang kita jumpai. Jika bisa, saya yakin: hanya
senyum Tuhan yang kita jumpai di setiap wajah sesama...
July 29, 2010 at 7:58am · Like



Ki Aryo Aldaka keberpihakan kebenaran dan tanggap sasmita terhadap seseorang yang
sedang menderita bisa saja- menjadikan sebuah tangisan bagi yang merasa tidak tergapai.
DIA ambil peranan dua-duanya- di dalam tangislah DIA sedang mengukir tawa, pada
saat mana DIA tertawa sebenarnya sebuah tangisan akan asa yg tak akan tergapai...
entahlah!
July 29, 2010 at 8:06am · Like



Yakub Setiaji Dwipa Soal keberpihakan Allah, Tuhan, Gusti, atau apapun orang
membahasakannya, menurut saya tidak terbantahkan, bahwa Beliau berpihak pada siapa
saja yang menderita. Saya pikir semua Kitab Suci yang ada di dunia ini merekam
keberpihakan Beliau terhadap mereka yang menderita. Soal mengapa Beliau membiarkan
penyebab penderitaan, dan penderitaan itu sendiri, ada dan tetap ada, bagi saya masih
merupakan sebuah misteri yang sampai saat ini dicoba dicari jawabannya. Saya kok jadi teringat
tulisan lain Bang Victor tentang "kuasa kata." Bukankah Beliau menciptakan dunia ini dengan

157

kuasa kataNya? Manusia diceritakan diciptakan dengan karya tanganNya sendiri, semata ingin
menunjukkan bahwa manusia "sama" dengan Beliau. Sama-sama memiliki kuasa kata untuk
mencipta, membangun, menghibur, menghancurkan, menyakiti, dsb. Dan tidak kalah pentingya,
memiliki kuasa rasa untuk ikut merasakan, berempati, atau "ngerasani" mensyukuri penderitaan
orang lain. Menjadi sebuah perenungan pribadi bagi saya. Apakah dengan kuasa kata dan rasa
yang saya miliki, saya sudah membuat orang lain menangis dalam penderitaannya? Tentu saja
saya bebas memilih! Tetapi, sejatinya, saya tidak bisa menutupi, menolak, bahkan
menghilangkan, bahwa kata dan rasa yang saya miliki adalah kata dan rasa Beliau! Terima kasih
atas perenungan yang membuat saya menyelidiki diri sendiri Bang ...
July 29, 2010 at 10:26am · Like · 2



Victor Hamel @ Bung Ben: Salam ku juga bung Ben...
@ Dedy:: Tampaknay akhir2 ini Tuhan sering menangis...bah!
@ Mas Timur: KETRFIHAKAN inilah yang selalu diujudnyatakan kawan Timur, terima
kasih untuk catatan yang jelas2 menunjukan KETERFIHAKAN itu...shanti!
@ PAk Wir: tau jangan2 pak Wir yang lagi mesem kecut nich...heheheh
@ Sof: Ths juga sista, selalu sama2 diingatkan...
@ Pak RAtty: Meskipun manusia sering menciptakan penderitaan atas nama Tuhan...maak
semakin menangislah Tuhan...
@ BAng Firman: "Itulah sebabnya Aku menciptakan kamu", sebuah ungkapan yang bukan
abejeksi dari Tuhan, tetapi sebuah penerimaan yang apa adanya, thx bang!
@ Ki: KAta mas Timur, itu sebuah KETERFIHAKAN...thx Ki
@ Dwipa: Ada kuasa kata tapi ada kuasa rasa, ah, kata kuasa rasa terlupakan dari catatan ini.
Thx brother, sebuah kata yang menginspirasi...
July 29, 2010 at 11:36am · Like



Wandha Chandra Meneruskan perenungan bang dwipa, Tuhan memberi kebebasan kpd
konsukuensi ada dlm manusia untuk menghasilkan keseimbangan akal akan makna
iman,pemikiran,nafsu dan pengaruh. Hal ini adl sebuah korelasi aktif ktk manusia sbg
pribadi dimanusiakan Tuhan agar memperhatikan kerja kuasa Tuhan,yg hanya memihak mrk
yg traniaya,membela penindasan dan melepaskan mrk ini dr derita. Jk manusia mau,dia bs jd
seteruNYA. Tp jk manusia sadar,dia akan bersamaNYA.
July 29, 2010 at 12:08pm via mobile · Like



Yakub Setiaji Dwipa ada satu yang terlupa ... kembali ke pertanyaan note ini : Hari ini
Tuhan ingin menangis atau tertawa? Jawabannya : ada dalam diri kita sendiri ...
July 29, 2010 at 12:14pm · Like · 2

158



Wandha Chandra Bang dwipa, dlm pengalaman kita mengamati sejarah manusia abad ke
abad, Tuhan lbh bnyk menangis. Ada sebuah puisi arab yg indah : Tuhan ada dlm hati yg
sedih, kau tak kan temui dia di pesta2 kemenangan. Sy tringat Mazmur 130, dr jurang yg
plg dlm,aku berseru padaMU ya Tuhan.Tuhan 'eksis' krn duka ada dan manusia ada.
July 29, 2010 at 12:59pm via mobile · Like · 1



Yakub Setiaji Dwipa @ Mbak Wandha : ya saya setuju Mbak hehehe ... makanya sampe
jaman sekarang ini ... buku-buku Jadul yang diakui sebagai Kitab Suci dalam semua
agama itu tetap menjadi Best Seller ... hehehe ...
July 29, 2010 at 1:08pm · Like



Wandha Chandra Hehe. semakin memastikan jadul.com eksis senantiasa.. Sebuah
keunikan ya bang,knp Kitab2 itu relevan spnjg masa. Apakah krn inti gagasan kitab2 it
unlimited atau manusia hari ini mengupayakan(memaksakan?) kitab2 it eksis dg mencari
hal2 yg bs menjawab kondisi hari ini? Sy ingin pertanyaan ini dijawab tiap kita,krn menurut sy
meyakini yg jadul bkn krn alasan2 emosi& 'smangat kemegahan nostalgik' semata. Landasan
beriman yg tepat bknkah mbw tiap pmikiran ada dlm keseimbang emosi&akal? Mhn bimbingan
semuanya..dg rndh hati. Wandha.
July 29, 2010 at 1:54pm via mobile · Like · 2



Frans Sahetapy pak pendeta terimaksih untuk tag : saya tertarik dengan photo ibu di atas.
Liat urat urat di tangan nya begitu serius dan tegas. Liat wajah nya begitu konsentrasi dan
serius. Liat jari hari nya memastikan setiap tusukan pada tempat yang tepat, agar semua
nya itu menjadikan sebuah tempat bunga untuk penyembahan itu menjadi indah. Menjawab
Tuhan menangis atau tertawa mungkin sulit. Namun menjawab setiap orang percaya untuk
berjuang dan bekerja keras agar keluar dari lingkaran kemiskinan ini penting dan di sinilah
peranan gereja saat ini.
July 29, 2010 at 2:33pm · Like



Gde Putra Astawa like this very much...all package dng comment2nya...GBU
July 29, 2010 at 3:15pm · Like



159

Yakub Setiaji Dwipa @ Mbak Wandha : satu hal yang pasti adalah ... realita penderitaan
tetap sama dari jadul sampe saat ini ...
@ Pak Wir : terima kasih jempolnya ...
July 29, 2010 at 7:24pm · Like



Gerrit Singgih terima kasih banyak untuk renungan ini. Masalahnya kan bukan pada
hatiku yang remuk, tetapi hati masyarakat yang remuk, hati rakyat...Itu yang jarang
masuk dalam pertimbangan pastoral...
July 29, 2010 at 9:49pm · Like · 1



Fidelis R. Situmorang Tuhan menangis?
Pasti akulah penyebabnya.
July 29, 2010 at 11:40pm · Like



Odjak Silalahi danke...pa'victor,sangat korrekt utk direnungkan !!JLU
July 29, 2010 at 11:40pm · Like



Yakub Setiaji Dwipa @ Bang Victor : thanks Bang jempolnya ...
July 30, 2010 at 1:23am · Like



Victor Hamel @ Wandha n Dwipa: Menempatkan Tuhan sebagai Tuhan dan manusia
sebagai manusia. Semua terkadang dalam ketegangan dan dalam relasi yang
menyenangkan. Konsekuensinya, jika demikan harusnya agama tak lagi dijadikan alat
yang represif bagi sesama.
@ Prof Gerrit: Terima kash juga sudah berkunjung Prof. Selayakanya demikian,karena Tuhan
merasakan demikian dan menangis bersama masyarakat. lucunya kita sering hanya menangisi
masyarakat dan bukan menangis bersama masyarakat yang hatinya remuk, bahasanya mas
Timur KETERFIHAKAN.
@ Gde: thx bro...lama takjumpa...
@ Fid: Thx brother, sering 2 itu semua karena kita...
@ Pak Odjek: Danke schoon, pak Odjak...
July 30, 2010 at 6:44am · Like



160

Julies Kurnia Wibowo DERITA, KUTUK ATAU BERKAT manakala kemalangan
menimpa orang saleh - Harold S Kushner
Kemalangan, penderitaan dan kematian tidak pernah pandang bulu. Semua orang terkena
lepas dari setuju, saleh, beragama atau tidak.
July 30, 2010 at 10:42am · Like



Hartono Jaatii mari kita menangis bersama mereka yang menangis....
dan tertawa bersama mereka yang bahagia....

July 30, 2010 at 1:42pm · Like



Calvin Dachi Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa dengan Allah. Teologi Tuhan
yang menangis sangat penting bagi manusia untuk menemukan gambar dirinya yang
hakiki. Saya jadi teringat dengan istilah "manusia Indonesia yang seutuhnya" di zaman
Orba. Kegagalan manusia untuk menjadi uth adalah terletak pada pengenalan mereka tentang
Allah. Karena teologi kita sebenarnya tergambar dari hati, sikap dan tindakan kita dan perilaku
kita menggambarkan siapa Allah menurut kita.
July 30, 2010 at 4:30pm · Like · 1



Besly Messakh SAYA PIKIR MUNGKIN AIR MATA TUHAN SUDAH
KERING...KADANG PENDERITAAN BUAT ORANG SAMPAI TIDAK TAHU
BAGAIMANA CARANYA AGAR BISA MENANGIS!
July 30, 2010 at 10:24pm · Like



Frans Kattu Thx Pak Vic & Sobat fb dgn notanya.
August 5, 2010 at 3:47pm · Like

161

Hening yang Ribut

April 15, 2010 at 10:08pm
Hening .. orang pikir semuanya akan diam…
Hening...orang pikir semunya tanpa suara…
Hening…orang pikir semunya tak ribut..
Dulu akupun berpikir demikian…
Tapi sekarang, lihatlah hening pun ribut..
Karena hening tak lagi ada dipikiran dan di hati,
Mulut memang bisa hening, tetapi jika pikiran dan hati tak hening…semuanya bisa jadi ribut!
Kekerasan yang terjadi akhir-akhir ini, itu bukan karena banyaknya mulut yang berbicara, dan
ribut…
Tetapi karena banyaknya hati dan pikiran yang tak jernih berkata, dan ribut…!!!
Ah, hening yang ribut!!!
Mau dibawa kemana Indonesia dengan hening yang ribut ini?
• Untuk korban-korban Tanjung Priok 14 April 2010…

162

CommentShare
 Harry Mahardika and 7 others like this.



Yakub Setiaji Dwipa sepi di tengah keramaian, begitulah kira-kira kalimat untuk
menjelaskan melamun, melamun sendiri mungkin ada kena-mengenanya dengan
terperanjat, alias hening sejenak karena suatu sebab, bisa karena takjub, bisa juga karena
terkejut melihat suatu peristiwa ... akupun hanya bisa hening sejenak terperanjat melihat
hening yang ribut ...
April 15, 2010 at 10:16pm · Like

163



Theresia N Hapsari
demikian juga aku,
dalam heningku,
seketika tersentak
berdesir darah hendak menggelegak,
tapi aah
banyak nurani disana sudah luluh lantak
heningku meriak didoa dan isak
April 15, 2010 at 10:38pm via mobile · Like



Kwek Li Na tragedi priok...sungguh membuat semua tersentak.

April 15, 2010 at 10:43pm via mobile · Like



Asnath Natar Mengapa kekerasan selalu saja terjadi di negeri ini????
April 16, 2010 at 12:16am · Like



Ratty Supit Mengapa harus tangan yang bicara terlebih dahulu, baru menyesal
dikemudian. Temperamen bangsa ini harus diredam serendah mungkin untuk
mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
April 16, 2010 at 4:53am · Like



Kristyanti Retno dulu priok... sekarang juga priok lagi..
dulu ada kait mengkaitnya dengan masalah agama, sekarang demikian juga...
agama - pembenaran - kekerasan....
gak ada matinya...
April 16, 2010 at 7:51am · Like



Matias Filemon Hadiputro tak selamanya mendung itu kelabu..
tak selamanya hening itu damai..
tak selamanya diam itu takut..
tak selamanya kuburan itu akan bebas masalah..

164

tak selamanya pentungan itu akan ampuh mengatasi persoalan..

*kasus koja memperlihatkan emosi rakyat thd sepak terjang satpol pp selama ini..
April 16, 2010 at 8:36am via mobile · Like



Julies Kurnia Wibowo diam..membutuhkan energi yang lebih besar daripada bicara
karena melibatkan segala emosi yang bergolak
dalam diam ada bicara yang tak terucap

April 16, 2010 at 10:14am · Like



Priskilla Lusiana-PeWe Caterg Tapi kadang hening itu kita butuhkan.. Dalam keheningan
saja terjadi keributan&gejolah..
Bagaimana dg bulut yg terus berkicau&meleter..
Bukan hanya keributan, tp kekacauan..
Semua kegalauan terjadi karena kebawelan para petinggi yg tiada henti ingin
mengkambing hitamkan rakyat..
Cm dengan 1 alasan... keegoisan beberapa org petinggi yg trs meleter tak tau arahnya..
April 16, 2010 at 2:17pm · Like



Tina Laheba smoga negeri ini di beri cahaya terang lewati lembah kekelaman
April 16, 2010 at 5:29pm · Like



Irene Sofiawati Harsono Bisakah batin/pikiran ini diam (berhenti), ketika batin/pikiran ini
diam/berhenti akan ada hening yang mampu melahirkan tindakan murni
(Ilahi).....tindakan penuh cinta kasih...
April 16, 2010 at 9:31pm · Like



Mayang Theophania Deita aq suka keheningan, tp msh jg ribut di benak ini y..... tengs kk
pdt
April 17, 2010 at 6:10am · Like



Putu Suksrah habis ribut datanglah keheningan

165

April 17, 2010 at 11:32am · Like



Pan Bintang di zaman serba horisontal begini...ternyata hening menceritakan suasana
vertikal...suasana yang sangat sensitif...mudah-mudahan kita segera kembali pada
universalitas nilai...yang disampaikan oleh nurani...
April 18, 2010 at 11:53pm · Like

166

Hening

October 23, 2009 at 2:04pm
.
..
....
........
.................
.....................................
..................................................
........................................................................
..........................................................................
.............................................................................
.................................................................................
..................................................................................
.......................................................................................
.........................................................................................

....................................................
..........................................
.................................
.......................
..................
...........
.....
..
.

Hening: Berarti dalam keriuhan, karena ia seperti sebuah di namika titik dalam diri...
Celakanya, Protestanisme telah banyak menghabiskan waktunnya untuk bersenang-senang
menghilangkan Hening....

167

(Lukas 5:16 Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa)

CommentShare
 7 people like this.



Benidictus Tambajong ternyata indah walau sebatas titik ...kerapatan akan memaknai
garis di sambung akan membuat bidang dan dipertemukan akan membuat ruang
,..semoga ,..ya ,..Indah dan bermakna
October 23, 2009 at 2:13pm · Like



Estiana Arifin .. But silence is words without voice, many people is speaks without
words.
October 23, 2009 at 2:15pm · Like


168

Ratty Supit protestanisme punya kekuatiran bila hening maka akan ditinggal
pergi .................... astaga
October 23, 2009 at 2:15pm · Like



Martin Pray berkat dalam keheningan.
October 23, 2009 at 2:16pm · Like



Victor Hamel @ Bung Ben: Itulah sebabnya kit a selalu perlu belajar untuk hening...thx
bung
@ Esti: Kurenungkan kedalam kalimat itu...
@ Ratty: hahhaha...bahkan tak hening saja sering ditinggalkan...
@ Martin: Itu yang luar biasa teman....
October 23, 2009 at 2:19pm · Like



Martin Pray betul betul betul
October 23, 2009 at 2:20pm · Like



Priskilla Lusiana-PeWe Caterg KArena dalam keheningan kadang kala kita mendapat
kekuatan.. Heninggg..kadang mmg diperlukan sesuai perintahNYA ada waktu utk bicara,
ada wkt utk berdiam... ^.^
October 23, 2009 at 2:27pm · Like



Syafitri Wijaksono bukannya lagi rame2nya rebutan ngeliat Julia Robert di sana?
October 23, 2009 at 2:38pm · Like



Victor Hamel @ Prsikila: Amin ku...
@ Syafitri: Rame trussss...tapi sekarang dah hening...
October 23, 2009 at 2:39pm · Like



Banq Binq Siampudan Wuah...jd ter-puji2 saya,oM.

169

October 23, 2009 at 3:07pm · Like



Wir Kasut thx pakPdt. buat persiapan natal yang sering kaya hura miskin makna.
sekaligus otokritik yg jitu. tp gmn ya, puasa fb aja syusyah...
October 23, 2009 at 3:07pm · Like



Johny S P haloo pak,, opo kbare.. saya dri banyuwangi ni...
October 23, 2009 at 3:52pm · Like



Fidelis R. Situmorang Moksha... : )
October 23, 2009 at 5:22pm · Like



JO Snacks House hening..adalah suara detak jantung yg tak pernah berhenti bekerja di
dalam kegelapan tubuh agar tetap memberi kehidupan..sungguh hening
October 23, 2009 at 5:25pm · Like



Uli Siregar Saat sunyi saat sepi ku merenung nasib ini..sesunguhnya hidup ini tiada arti
tanpa Kasih Tuhan beserta ku..(nyanyi gue..ha.ha)..
October 23, 2009 at 9:51pm · Like



Yakub Setiaji Dwipa doa model Yesus identik dengan suasana sunyi
October 24, 2009 at 1:09am · Like



Matias Filemon Hadiputro jika kata tak lagi bermakna lebih baik hening saja
................................
.....................
...........
.....
..
.
October 24, 2009 at 8:24am · Like

170



Benidictus Tambajong @ Matius ,..upsss..mantap
October 24, 2009 at 11:42am · Like



Victor Hamel @ Banq: Bah...!
@ PAk Wir: Puasa FB nantikalo FB nya dah tutup...hihihi
@ Johny: Kabare apik, salam dari Bali...
@ Fid: Ahimsa...
@ Nia: Baru kurasakan dan sadari sekarang betapa detakan itu sungguh berarti..
@ Uli: Lalalala....lalala...(nyanyi juga gue..), thx sist.
@ Dwipa: Semoga kita (kaum protestan) takmengabaikannya teman...
@ Ki:..........................
@ MAtias n Ben: Amin ku konco apik!!
@ Teddy: Hening juga suara rupanya...thx...
October 24, 2009 at 8:31pm · Like



Benidictus Tambajong Hening ,..disana kau kupuja ..karena ada sejuta
makna,..menembus Dimensi yang tak tertangkap mata telanjang ( Bukan PORNOGRAFI
ahhh..)
October 24, 2009 at 9:00pm · Like

171

JAGO

April 13, 2011 at 9:52am

Maka larilah Yefta dari saudara-saudaranya itu dan diam di tanah Tob; di sana berkumpullah
kepadanya petualang-petualang yang pergi merampok bersama-sama dengan dia (Hakim-
Hakim 11:3).

Kata mereka kepada Yefta: "Mari, jadilah panglima kami dan biarlah kita berperang melawan
bani Amon."Tetapi kata Yefta kepada para tua-tua Gilead itu: "Bukankah kamu sendiri
membenci aku dan mengusir aku dari keluargaku? Mengapa kamu datang sekarang kepadaku,
pada waktu kamu terdesak?" Kemudian berkatalah para tua-tua Gilead kepada Yefta:
"Memang, kami datang kembali sekarang kepadamu, ikutilah kami dan berperanglah melawan
bani Amon, maka engkau akan menjadi kepala atas kami, atas seluruh penduduk Gilead.
(Hakim-Hakim 11:6-8)

Dalam percakapan mengenai tradisi kekuasan di Jawa ada banyak cerita-cerita yang berkembang
mengenai Jago, Orang kuat atau Jawara. Artikel H.S. Nordholt, “The Jago in the Shadow:
Crime and Order in the Colonial State n Java” (1991), memberikan gambaran jelas bahwa peran
jago di lingkungan elit kekuasaan di Jawa sangat besar. Para jago menjadi semacam jembatan di
antara para elit kekuasan formal dan masyarakat yang mempunyai kekuatan modal seperti para
tuan tanah.

Keterlibatan para jago di lingkungan elit kekuasan dan para tuan tanah menyebabkan
kedudukan sosial mereka juga sangat bervariasi. Sebagian kedudukan mereka tak lebih dari
semacam jago yang menjadi “anjing-anjing” penguasa atau para tuan tanah, atau bahkan
kedudukan mereka akhirnya menjadi sangat penting di lingkungan politik. Dalam kasus
pembentukan Dewan Rakyat tahun 1945 di Banten dikatakan bahwa anggota dewan Rakyat
justru banyak berasal dari petani dan Jawara (William, 1985). Meskipun kemudian hari para Jago
menimbulkan masalah dalam membangun karakter politik yang santun (karena cenderung
melakukan kekerasan), tetapi dapat dipahami bahwa kekuatan pengaruh mereka dapat juga
sampai pada ranah kekuasaan dan sekaligus memberi warna dalam proses politik pada saat itu.

Gambaran singkat kondisi para jago di tanah Jawa pada masa awal kemerdekaan
memberikan pemahaman bahwa kondisi demikian juga ternyata telah ada pada masa Isreal kuno.
Yefta, seorang anak dari perempuan sundal, yang kemudian dibuang oleh keluarganya, tiba-tiba
muncul menjadi orang kuat, Jago atau Jawara. Bahkan, setelah diminta kembali oleh keluarganya
untuk memerangi bani Amon, ia diangkat menjadi panglima dan kepala atas keluarga yang
membuangnya dahulu. Tampaknya ini cerita klasik. Dan dalam banyak kotbah-kotbah muncul
semacam ‘tafsir sinetron’ yang mengedepankan kemenangan seorang yang telah hilang, disakiti,
kemudian mencapai kesuksesan. Namun cerita ini juga bisa memberikan gambaran bahwa peran
Jago dalam kehidupan sosial itu bukan merupakan ”barang baru”. Banyak kekuasaan politik
akhir-akhir ini menggunakan para Jago untuk memperoleh kekuasaan atau bahkan
mempertahankan kekuasaan. Bahkan bukan itu saja, para Jago ini sudah ikut ambil bagian dalam
kekuasaan itu sendiri. Dalam pemiliu-pemiliu kepala daerah, pemilihan anggota legislatif di

172

daerah-daerah bahkan pemilihan kepala desa, sering calon-calon yang muncul banyak dari
kalangan para Jago. Tulisan sejarah pemberotantakan Tiga Daearah karya Lucas (1985) bahkan
memberikan gambaran yang lebih dramatis bahwa para Jago – atau di sebut Jawara –
berdampingan dengan para Kyai dalam pemberontakan tahun 1926 terhadap kolonialisme.
Dalam konteks ini ranah keagamaan juga berperan membentuk kemapanan status sosial para
Jago.

Apa salahnya mengangkat Jago dalam tataran kekuasaan politik? Jawaban atas
pertanyaan ini tentu sangat bisa diperdebatkan. Tetapi William mengingatkan bahwa karakter
kekerasan dan kurang disiplin adalah ciri utama yang tidak bisa dilepaskan dari para Jago dan
kemudian hari akan dapat menjadi beban tanggungjawab sosial (William 1985). Peringatan
William ini tampaknya harus direnungkan dengan baik. Persoalan melemahnya sistem demokrasi
yang ada di Indonesia akhir-akhir ini jangan-jangan karena terlalu banyaknya para Jago yang ada
dan bermain di ranah politik Indonesia. Nilai-nilai kebangsaan menjadi surut karena mentalitas
Jago merasuki dalam sistem kebangsaan di negara ini. Mentalitas hantam, hancurkan, bakar,
serbu habiskan, adalah kosa kata yang selalu terdengar ketika berhadapan dengan persoalan-
persoalan pluralitas di negara ini. Bahayanya lagi, posisi para Jago ini terkadang telah berhimpit
erat dengan ‘institusi’ keagamaan dan menjadi sebuah kekuatan untuk membajak kekuatan
negara yang sesungguhnya. Jika demikian maka sudah sepatutnya negara mengambil peran yang
kuat dalam mengeliminasi tindakan para Jago yang telah memperkeruh suasana kebangsaan yang
ada di Indonesia. Atau, mungkin negara juga dengan sengaja menggunakan kekuatan para Jago
untuk menjawab masalah-masalah yang memang tidak bisa dijawab oleh kepemimpinan negara
yang lemah ini? Jawabannya tentu saja mungkin. Dari bawah pohon mangga…

CommentShare

 5 people like this.



Theresia N Hapsari memang, sudah sepantasnya negara mengambil peran dgn
mengeliminasi tindakan para jago yg memperkeruh suasana, tapi saya kadang pesimis
juga, jangan2 jago2 itu sengaja dipelihara oleh perternakan negara untuk kepentingan
atau tujuan tertentu

April 13, 2011 at 10:19am · Like · 3



Victor Hamel @ Theresia: Tentu sista, negara senang memelihara Jago untuk
kepentingannya sesaatnya...

April 13, 2011 at 10:21am · Like · 1



Banq Binq Siampudan Jgn2 bnyk juga 'para pemimpin umat' yg t'lah m'gunakan jasa Jago
untuk m'amankan dirinya dan 'tahta'nya, oM??

173

April 13, 2011 at 10:37am · Like



Victor Hamel Banq: Itu juga yang kumaksud dalam tulisan ini. di daerahkantong2
Kristen, dimana para rohaniawan terlibat dalam pemilihan calon legislatif, tampaknya
teori ini berlaku..heheh
April 13, 2011 at 11:01am · Like



Ratty Supit Jago dan jagoan sangat berbeda. Yang nampak sekarang mereka yang
menamakan diri JAGO tetapi sebenarnya bukan JAGOAN. Apa lagi sekarang yang
paling banyak adalah SOK JAGO ! he he he
April 13, 2011 at 11:03am · Like



Victor Hamel Pak Ratty: bahkan sok-sok jago bah...(orang medan bilang...)
April 13, 2011 at 11:04am · Like



Yakub Setiaji Dwipa Wah jadi ingat film-film Indonesa tahun 60-70-an Bang .. salah
satunya si Pitung .. hehe .. mungkin itu salah satu penyebab banyaknya jago saat ini,
karena pola didikan masa lalu yang mengajarkan untuk jadi jagoan dengan
memanfaatkan pengaruh kekuatan fisik .. hehe .. pola didik seperti ini tentu tidak boleh
diteruskan .. btw dari bawah pohon mangga .. belum ada hama ulat bulu ya Bang di
sana ??
April 13, 2011 at 12:36pm · Like



Wandha Chandra Tahukah kamu siapa yg disebut munafik itu?(yaitu) mrk yg menakut2i
org lain dg senjata&teriakan,mengatakan diri mrk yg benar,kamu bs lht tanda2 kesolehan
diwajahnya. Tapi hatinya tdk.
April 13, 2011 at 1:09pm · Like



Gagap Rasa sayangnya di negara ini sedang diternakkan 'jago2 kandang',
gak bernyali di luaran..sayang!
April 13, 2011 at 2:07pm · Like

174



Fidelis R. Situmorang Seperti pada lisah Yesta, Para pemain politik yang tampil di
pemerintahan negara ini juga memgambil keuntungan dari para Jago-jago yang ada
sekarang. Kegiatan yang simbiosis, karena para pemimpin politik akhirnya menjadi
patron bagi mereka.
April 13, 2011 at 2:35pm · Like



Wuri Ajeng terlepas dari perdebatan antara yg kasar atau tidak, di masyarakat para 'jago'
mempunyai peran yg membanggakan di satu sisi. Bahkan ada beberapa yg melestarikan
keberadaan 'jago' itu lewat keturunan, dan celakanya itulah yg dibangga2kan,hehe..
April 13, 2011 at 4:00pm · Like



Wir Kasut ........
Bahayanya lagi, posisi para Jago ini terkadang telah berhimpit erat dengan ‘institusi’
keagamaan dan menjadi sebuah kekuatan untuk membajak kekuatan negara yang
sesungguhnya. Jika demikian maka sudah sepatutnya negara mengambil peran yang kuat
dalam mengeliminasi tindakan para Jago yang telah memperkeruh suasana kebangsaan yang
ada di Indonesia.
lha kekuatan negara sudah dibajak, gimana mo ngambil peran yang kuat ?
ada orang ajak saya dukung Mahfud MD (bukan malinda dee) untuk calon Raja. saya bilang ok
kalau calon independen. orang dpr (dewan preman repiblik) mencekalnya dengan menutup
kemungkinan calon independen. independenpun kalau bagi-bagi duit dan pakai ulat bulu ya
mending gak usah. saya bilang terserah MMD menunggu didaulat apa mau cari daulat.
April 13, 2011 at 4:53pm · Like

175

Jazz dan Beragama (yang tak Membebaskan)

April 27, 2009 at 7:03pm

Apakah hubungan keduanya? Musik jazz yang sejak semula berkembang di Amerika akhir abad
18 merupakan sebuah pemberontakan orang-orang kulit hitam terhadap ideologis rasis yang
terjadi di sana. Ekspresi pemberontakan mereka lakukan melaui deksonstruski rigtime dan
harmoni musik. Dekonstruksi bermusik ini menghasilkan sebuah rasa bermusik yang berusaha
membebaskan diri kemapanan dan tekaan ideologi rasis yang dianggap benar pada saat itu.
Sehingga memahami music jazz – secara ideologis – adalah memahami makna kebebasan di
dalam ketertindasan politik rasialisme yang ada pada saat itu. Kata kuncinya adalah
KEBEBASAN.
(Ber) Agama adalah sebuah ekspresi iman guna memahami kehadiran Sang Esa di dalam
kehidupan manusia. Rumitnya ketika agama telah menjadi sebuah lembaga resmi, maka (sering)
ketentuan dan batasan-batasan melalui dogma-dogma serta ketetetapan-ketetapan hirarkis telah
menjadi batasan berelasi yang eksistensial di antara manusia yang satu dengan yang lainnya.
Dalam konteks seperti ini relasi kemanusiaan (akhirnya) terkungkung atas nama keagamaan. Jadi
jika Jazz menempatkan KEBEBASAN sebagai terma utamanya, sebaliknya agama menempatkan
KETIDAKBEBASAN sebagai termanya.
Sederhana saja, mari kita ber’jazz ria’ untuk membebaskan agama yang demikian! Let’s to Jazz
Worship: http://www.youtube.com/watch?v=E900RctHB7w
CommentShare

 Fidelis R. Situmorang likes this.



Debora Nugrahesti Jazz ? asiik tuch music , tp hubungan dgn pribumi dan pendatang di
usa hmm...serasa aura kapitalis dan rasialis pak
April 27, 2009 at 7:16pm · Like



Banq Binq Siampudan JAZZ up our life? KoQ kek iklan mobil HON...aja, oM. =,))
April 27, 2009 at 8:50pm · Like



Frans Sahetapy saya pikir juga begitu !!!!! jadi mari ke ber jazz ria (ber musik )!!!! untuk
menikmati kebebasan yang sebenar nya di miliki semua orang.
April 27, 2009 at 9:00pm · Like



Kristyanti Retno makanya pak, cepetan pulang...pulang...

176

April 27, 2009 at 11:01pm · Like



Victor Hamel @ Asiikkk, sekali2 di gereja ada ibadah penyembahan dengan suasan jazzy
@ Bang: hus...nggak terima iklan..hehehe
@ Pdt Frans: Lagi2 jazz is life!
@ Pdt. Kristyanti: hehehe....!
April 27, 2009 at 11:53pm · Like



Ratty Supit Ha ha ha
Knape ?
Tidak merasa home dengan irama yang berbunyi di dalam gereja ? ataukah mencari
nuansa baru ?
Saya sekarang di jkt sulit menikmati penyerahan di gereja, karena hampir semua lagu lagu yang
dinyanyikan saya tidak memiliki tali memori. Terlalu banyak lagu ciptaan baru yang saya tidak
kenal. Mungkin membuka diri dengan menikmati Jazz merupakan jalan keluarnya. Tetapi juga
bisa menjadi Jalan buntu .... he he he
Saya masih merindukan Tahlil dan Mazmur he he he
Manusia dari abad lalu.
April 28, 2009 at 5:19am · Like



Victor Hamel @ Pak Ratty: hahaha..hanya sebuah metafor tetang kerinduan agama yang
membebaskan orang berelasi yang eksistensial dengan keberagaman. Tapi, sekarang
sayangnya tidak banyak orang yang memainkan musik mazmur dan tahlil dengan
benar...generasi musik gereja sekarang hanya dipenuhi dengan ornamen2 musik yang
artifisial. By the way, fotonysa asik juga tuch pak...heheh
April 28, 2009 at 6:16am · Like



Princes Oktavia Fairy Nga ngerti sepenuhnya,tapi satu hal ya gek ngerti yaitu percaya
pada Tuhan tidak bisa dibatasi oleh hal2 yg dibuat oleh manusia shg menjadi kebebasan
yg terbelenggu makanya lembaga2 gereja hrs koreksi donk, bagi gek,hidup makin
bermakna kalau iman kepada Tuhan Yesus tidak terkotak kotak menurut pandangan
manusia..dgn lembaga2 gereja yg mereka buat
April 28, 2009 at 7:57am · Like



177

Darwita Purba jazznya yang membebaskan atau ideologi beragamanya yang perlu
dibebaskan?
April 28, 2009 at 9:11am · Like



Abdee SearchEngine wah musisi + pendeta... nice... pokoknya yg terbaik bagi
kemuliaanNya kak vic. Ajak MSH ngejazz?? ga kebayang...
April 28, 2009 at 10:16am · Like



Sondang Renata baru tau kak Victor penikmat jazz juga.. lagi explore utk musik gereja
nih
April 28, 2009 at 11:38am · Like



Kharis Erasta Reza Pramana "Tapi, sekarang sayangnya tidak banyak orang yang
memainkan musik mazmur dan tahlil dengan benar...generasi musik gereja sekarang
hanya dipenuhi dengan ornamen2 musik yang artifisial."--> Pak Vic, ini mengacu ke
siapa/ gereja mana? Bs kasi contoh?
April 28, 2009 at 3:07pm · Like



Victor Hamel @ gek Princes: Amin...menghayati iman kepada Kristus harfusnya
membuat kita semakin menyadari arti keberagaman
@ Abdi: Kemuliaan hanyabagi Tuhan!
@ Sondang: Menikmati jazz menikmati kebebasan...
@ Kharis: Thx udah mampir...mungkin prinsip2 dan pemahaman musik gerejawi yang
banyak tidak dipahami saat ini oleh pemusik dan penyanyi gereja. Orang tidak lagi menarik
untuk menyanyikan mazmur dan tahlil seperti yang dirindukan oleh Pak Ratty, karena dianggap
kuno.
April 28, 2009 at 5:29pm · Like



Victor Hamel @ Kharis: Padahal lagu2 seperti itu sarat makna dan memiliki tingkat
harmonisasi lagu yang sangat unik dalam permainan musiknya. Tetapi coba saja datang
ke kebanyakan gereja2 saat ini (GKPB tidak usah menilai gereja lain, di GKPB saja),
seberapa banyak lagu2 semacam ini masih dinyanyikan dan dimainkan dengan benar..tanyakan
pada pada pemerhati musik gereja, pasti mereka akan sedih melihat cara menyanyi dan
memainkan musik2 mazmur dan tahlil jika dimainkan dengan model bermusik gereja masa kini.

178

Tanpa mengurangi rasa hormat pada musik2 masa kini tetapi sebaiknya pemusik2 gereja harus
mempunyai dasar dari lagu2 seperti mazmur dan tahlil. GBU bro..
April 28, 2009 at 5:35pm · Like



Banq Binq Siampudan oM...adakah Kristus membawa 'agama' ke dalam dunia ini?saya
rasanya kog tidak yakin... Mungkin ada baeknya kita beralih dr konsep ilmu agama kpd
konsep ilmu keTuhanan...mengenal sang Khalik yg 'Sempurna' itu. ("ø)
April 28, 2009 at 7:59pm · Like



Victor Hamel @ Bang: Kalau orang sampai pada pemahamn seperti itu agakanya kita
akan sampai pada pemahaman bahwa agama bukan segala-galanya. Repotnya pemeluk
agama selalu menganggungkan agamanya. Padahal Kristus datang justru membongkar-
bangkir sistem pemahaman keagaaman yang demikan. Semoga banyak orang berpikir seperti
itu bro...meskipun pada kenyataanya agama tetap diperlukan (di Indonesia), tetapi biarlah
agama itu mampu membebaskan orang untuk dapat berelasi dalam keberagaman.
April 28, 2009 at 8:12pm · Like



Sara Sunshine Gimana dengan Etnik-jazz Gospel buat Bali pak? Buat konser dong... don't
only listen to jazz, but PLAY IT! - share the Gospel! Yakin deh temen2 FB pasti pada
mau ikutan nonton ntar aku bantu jualin tiketnya deh! Kolaborasi dengan Goldy?
April 30, 2009 at 11:07am · Like



Victor Hamel @ Sara: Wah asik juga tuch etnik-jazz-gospel...sekali boleh juga
tuch...kolaborasi dengan Goldie payah, kerjaannya sekarang gonggongin orang lewat.
tapi itu bukan bagian dari pengajaran di rumah, itu bawaan dia...heheh
April 30, 2009 at 4:46pm · Like



Farsijana Adeney-Risakotta Kuncinya adalah mendengar Jazz dengan hati bebas. Biarpun
agamanya membebaskan tetapi hati tidak bebas dari kepentingan sendiri, jazz bukan
suatu berkat. Gitu loh yang saya lihat di Chicago...berjazz untuk mendekatkan diri
dengan Allah walaupun realitasnya tidak begitu. Tapi dari sanalah komunitas gereja
berjazz terbentuk. Ngak khan harus bergereja dengan orang yang hatinya ngak berjazz.
Salam.
April 30, 2009 at 6:34pm · Like

179



Tutin Okto Lisa Djami Cool banget!Jalaludin rumi pernah buat puisi kayak gini
"Bertahun-tahun aku mengetuk pintuMu,lamaa tidak dibuka.Ketika terbuka baru aku
sadar kalau aku mengetuknya dari dalam" ....musik jazz membuat kita melihat kebebasan
untuk mengetuk pintu rumah Tuhan dari dalam diri!Cool!!
May 2, 2009 at 12:49pm · Like

180

Jika Kristus Lahir dan Berkarya di Indonesia

July 14, 2009 at 10:22pm
Judul ini tulisan ini tentu bukanlah dalam arti sebenarnya. Kristus secara fisik tidak pernah lahir
di Indonesia. Tetapi marilah membayangkan jika Kristus lahir di Indonesia saat ini. Di tengah-
tengah gonjang-ganjing politik pasca Pemilu, kemiskinan yang masih melanda banyak
masyarakat, pendidikan yang mahal, biaya obat yang semakin meningkat, korupsi yang masih
menjadi “primadona”, elit yang semakin ‘menggigit’ satu dengan lainnya dan tentuya semakin
rentannya makna menjadi Indonesia. Bayangkanlah jika Kristus lahir dan berkarya di Indonesia.
Pertanyaannya tentu adalah: perubahan macam apa yang akan Ia lakukan, dari mana Ia akan
mulai melakukannya, apakah Ia akan mulai dengan sebuah tindakan politis, populis atau
pragmatis? Apa yang Ia lakukan ketika pancaran ke-Indonesiaan yang pluralistik mulai pudar
atas nama krisis otonomi daerah, keinginan merdeka beberapa kelompok di Papua, munculnya
semangat etnosionalisme dan lokalitas kedaerahan yang semakin ekslusif yang terbingkai dalam
perda-perda bermasalah? Apakah Ia tetap memfokuskan pengajaran kasih-Nya sebagai solusi
membangun ke-Indonesiaan saat ini?
Menurut saya, jika Yesus lahir dan berkarya di Indonesia, dengan konsisten Ia akan mengatakan:
"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua,
yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua
hukum inilah tergantung 'makna menjadi Indonesia'....."
(Karena kedua hukum inilah yang sekarang ini semakin terabaikan dalam konteks menjadi
Indonesia...)

181

** Sambil minum kopi mencermati diskusi pasca Pemilu yang semakin aneh-aneh...

Ini Indonesia, warna-warni....
CommentShare

 7 people like this.



Matias Filemon Hadiputro kalo Yesus dtg skrg pasti ditolak Pak.. orang kita maunya
LANJUTKAN bkn perubahan...hehe
July 14, 2009 at 10:29pm · Like



Lady Siagian stuju banget kak! Ajaran Bapa kita itu ya untuk mengasihi sesama. Cukup
itu saja.
Sekarang setelah pemilu juga yang ada malah sikap saling menjatuhkan dari para
pemimpin dan tokoh bangsa, diskusinya pun aneh-aneh seperti yang kak victor katakan
(sempet nonton bbrp diskusi jg). lagi-lagi mereka lupa bagaimana harus mengasihi Tuhannya
dan mengasihi sesamanya manusia terlebih dahulu.

182

jadi makin diingatkan jg nih untuk sadar diri setiap saat bahwa tak ada yg lebih penting daripada
menjalankan hukum kasih tersebut.
SMANGAT!

July 14, 2009 at 10:32pm · Like



Victor Hamel @ Matias: Gemblung!!! Yo wis podo toch ndul, dulu Yesus juga
ditolak...hehehe...lanjutkan!!
@ Lady: Ayo, SEMANGAT!!!! GBU yaaa.
July 14, 2009 at 10:48pm · Like



JO Snacks House pada dasarnya ketidak harmönisan dan ketimpangan yg tjd sejak
ADAM HAWA..MENARA BABEL..NUH..SODOM GOMORA..etc adalah krisis di
bidang spiritual..moral..yg mempengaruhi mental dan emosional diakhiri dgn tindakan.
maka setiap reformer yg datang yg selalu dibenahi adl bidang spiritual dan moral. jika itu
sudah tegak..akan merembet kepada pembaharuan yg lain..tms ekonomi politik pertahanan dan
keamanan akan mengikuti dgn sendirinya
July 14, 2009 at 11:37pm · Like



Fidelis R. Situmorang Saya membayangkan Kristus berkarya di indonesia. Endingnya
Dia akan jadi tahanan politik dam di hukum mati...
July 15, 2009 at 1:31am · Like



Ratty Supit Lanjutkan ! he he he
July 15, 2009 at 4:56am · Like



Uli Siregar Semua agama memiliki konsep bahwa Allah hanya satu. Yang membedakan
Kristen dg yang lain adalah adanya penebusan dosa melalui Yesus.
Jika seseorang menerimanya dg sungguh2 semestinya dia paham dulu dong. Kalaupun
tidak kita mengimani hal itu bisa terjadi jika Roh Kudus akan menjamah hatinya untuk
memberikan pengertian (amin saudara2 ??)
Lalu kenapa harus Yesus, kenapa harus dari jauh sana dia lahir, kenapa ngak di Singaraja
(he.he.), atau di Danau Toba (lebih keras he..he nya).... itu karena budaya di tempat Yesus lahir
lebih tua... mereka lebih dahulu ada.
Indonesia, tanah air beta ini adalah tanah yang muda.Ini penjelasan secara logika menurut saya

183

lo. Omong2 saya pro rakyat...ha.ha.; Semoga banyak berkat Pdt Vic. Dan saya setuju jika kita
berandai2 kedua hukum utama yang ditulis diatas lah yang akan tetap dijalankan Yesus.
July 15, 2009 at 7:21am · Like



Leo Hutapea seandainya Yesus lahir dan berkarya di Indonesia maka yg dilakukan
pertama adalah mengajar masyarakat Indonesia untuk pertama kalinya penegenalan
diri,jati diri,lingkungan,Tuhan dan lebih luas lagi mengenal jati diri bangsa atau istilah
kerennya Profesionalisme.Krn zaman Yesus dia jug berkarya utk mengajar bgsnya dgn tema
pengenalan diri.Dan utk memudahkan masyarakat Yahudi menangkap pengajarannya Dia
melakukan berbagai tindakan mujizat.Dan pd kenyataannya pengajaranNya menyakitkan
kalangan elit sehingga Dia pun korban dari pengajarannya.Yesus pun bila di Indoensia
melakukan hal yg sama maka Dia pun jd korban.Pengajaran pengenalan diiri sendiri itu sangat
menyakitkan bagi org pendengarannya sementara sifat hakiki mns adalah menyembunyikan
kelemahannya dan menonjolkan kelebihan dan kekuatannya.Dan itu membuat mns selalu ingin
menghancurkan satu sama lain...
July 15, 2009 at 8:20am · Like



Alfons Chrisnanto Adi Sasongko Wadoh telat aku...... Klo Yesus lahir di indonesia, mesti
namanya bukan Yesus, bs2 Bambang atau Joko...hehe....

Tp bukankah Dia sudah berkarya di Indonesia ini, dengan menghadirkan anak2nya di
indonesia.. Skrg, kita sendiri sebagai anaknya mau untuk menjalankan hukum2Nya dan
menjadi garam dan terang bagi indonesia....

@Mamet: knp jd dihubungkan dgn politik dan dgn kta2 yg mnolak org itu2 lg sh met? apa
salahnya jk rakyat memilih untuk "lanjutkan"? tdk ada perubahan yg tercipta dgn instan, smua
butuh proses dan itu tak akan bs berubah dgn skejap mata....
July 15, 2009 at 9:58am · Like



Bu Adjeng Betul sekali perlakuan Kristus pasti dgn HUKUM KASIH, ttp manusia nya
tetap manusia.. yg hanya mementingkan diri sndri dan golongan2nya...
July 15, 2009 at 10:45am · Like



Daniel K Listijabudi Vic, kalau Kristus lahir di Indonesia, jelas adalah pertanyaan teologi
kontekstual. Aku nulis tentang renungan kontekstual Indonesia. 12 items. Tertarik?
July 15, 2009 at 1:13pm · Like

184



Yogi Hapsoro soal Papua klo Yesus lahir disini pasti mendukung kemerdekaan
Papua...selama ini kita juga ikut andil dalam penderitaan rakyat Papua dan selama ini
gereja sebagai wakil Yesus belom pernh bergerak karena sekali2nya bergerak bedil dan
intimidasi datang dari orang2 yang menginginkan Papua tetap indonesia.
July 15, 2009 at 1:24pm · Like



Victor Hamel @ mba Yulis: Urusan moral dan spirutualitas memang gampang2 susah ya
mba. Nampak nyata tetapi sulirt disistematisasikan. Makanya perlu sebuah perombakan
(kalau bukan mberontakan) terhadap nilai-nilai untuk menata ulang bobroknya moralita
dan spiritualitas.
@ Fidelis: Perubahan memang selalu membawa korban...
@ PAk Ratty: Lajujutkan pak!
@ Uli: menjadi Indonesia adalah sesuatu yang masih muda, tetapi benih menjadi Indonesia
sama tuanya dengan kehadiran bangsa2 yang lainnya di dunia ini..heheh...hidup orang muda..!
@ Roni: Mungkin dia akan masuk ke gedung DPR dan mengobarak-abrik 'jualan-jualan' politik
yang ada di sana dan mengatakan "Rumah rakyat bukan untuk korupsi"!!!
July 15, 2009 at 2:05pm · Like



Victor Hamel @ Alfons: hahaha...yup, aku tak bisa membayangkan jika namanya
berubah seperti yang kau usulkan teman...!
@Yetty: Jangan2 ini lebih karena kegagalan agama membentuk nilai-nilai moral dan
spiritualitas umatnya?
@ Daniel" thx brother dah mampir... dengan senag hati kita dapat berbagi melalui media
ini...atau ada forum di FB ini yang harus di buat dalam rangka mendiskusikan teologi2
kontekstual? Kita bisa mulai dengan 12 item yang ditawarkan (paling tidak langkah awal untuk
mengikuti jejak Yesus dengan 12 murid itu)..
@ Yogi: Aku tak tahu, tetapi ini menarik...bagaimana dengan Aceh, Riau, Maluku, dst...apakah
Yesus akan mendukung untuk kemerdekaannya...Bagaimana dengan nasib menjadi negara
kesatuan..? PAkah Yesus juga akan mendukungnya? Wah ini diskusi menjadi menarik nich...!
July 15, 2009 at 2:12pm · Like



Daniel K Listijabudi 12 items itu ada di bukuku "Meracik Jamu Kehidupan", terbitan
Gloria Graha tahun lalu. Sudah punya Vic? Di Bali ada ndak?
July 15, 2009 at 2:30pm · Like



185

Frans Sahetapy Pak pendeta, pertanyaan kalau Kristus lahir dan berkarya di Indonesia
kok tidak ada pertanyaan mengelitik tentang gereja kenapa pemerintah terus yang jadi
"kambing hitam". Mungkin Kristus tidak urus pemerintah yang Kristis urus adalah orang
orang yahudi yang mengaku paling religius. Dan inilah kelemahan gereja saat ini. Jadi menurut
saya kalau Kristus lahir dan berkarya IA akan sibuk dengan rasa frustasi buat gereja dan orang
percaya saat ini di Indonesia.
July 15, 2009 at 2:45pm · Like



Debora Murthy saya rasa kalau Yesus lahir di Bali, sebagai kelompok minoritas, Yesus
akan berkarya diam-diam, tanpa mempublikasi tapi terpublikasi. Ngak ikut sebagai team
sukses partai politik, ngak membuat KKR menyewa hotel atau stadion, ngak membuat
kantor megah yang membuat kelompok lain minder... mungkin begitu..mungkin juga
beda... kan ini hanya reka-reka saja
July 15, 2009 at 2:58pm · Like



Asnath Natar Menurutku bukan tempat lahir Yesus yang menentukan tingkah laku
seseorang berubah jadi baik. Lihat saja di Israel, apa kehidupan orang-orangnya jadi lebih
baik dari di tempat lain? Khan tidak. Yang penting adalah bahwa Dia sdh lahir dalam
rupa manusia dan telah memberi kita teladan bgm harus hidup sbg pengikutNya. Sekarang
terserah kita, mau meneladani Yesus atau tidak, mau jadi baik atau tidak. Semua berpulang pd
setiap orang.
July 15, 2009 at 3:20pm · Like



Djoko Wibowo Ginting Yesus lahir di Indonesia? kyknya perlu detail lagi, di kota mana?
hehehe .... maklum karakter kota2 di Indonesia, ekstrim banget bedanya .... (tapi yang
jelas, kl dia lahir di indonesia dimanapun kotanya, mungkin dia udah berkali2 masuk
penjara, karena dianggap menyesatkan agama. nasibnya ternyata gak jauh berbeda,
dimanapun dia lahir. dia tetap menderita dengan prinsip yang dia bawa).
July 15, 2009 at 4:47pm · Like



Victor Hamel @ Daniel: Aku malah belum punya...nasib...nasib...yang kalau
dikiriminlangsung sama pengarangnya asik juga hehehe...nanti aku cari di toko buku ya..
@ Pdt. Frans: hahaha...yayay..karena biasanya poisisi gereja dan negara menjadi sangat
tipis antara oportunis dan pragmatis...
@ ibu Debby: Bukan reka-reka bu, tapi nyata...
@ K'Asnath: Adakata yang menarik: "Teladan Kristus"...(merenung...!)

186

@ MAs Djoko: hahaha apalagi di era Orfde Baru ya mas...mungkin sudah di tempatkan sebagai
orang nomor satu dalam daftar PANGKOKAMTIB nya Soedomo.
July 15, 2009 at 5:25pm · Like



Timur Sinar Suprabana kautulis:

Apakah Ia tetap memfokuskan pengajaran kasih-Nya sebagai solusi membangun ke-
Indonesiaan saat ini?

menurutku:
pasti
saat ini yang dibutuhkan oleh satusatunya tanah air kecintaan ini, aku yakin, sesungguhnyalah
memang hanya Kasih. lain tidak. lainlain akan langsung terlahirhadirkan tiap Kasih berhasil
menjadi keutamaan keseharian. sayangnya, hmmmm..., Kasih tinggal jadi syair lagu pop yang
dinyanyikan oleh selebritis kawin-cerai atau yang berulang kesandung narkoba.
July 15, 2009 at 7:10pm · Like



Victor Hamel @ Mas Timur: terima kasih sudah mampir memberi warna Kasih dalam
tulisan ini...Kasih yang tak murahan seperti murahnya setiap kata kasih dalam lagu2 pop
yang dinyanyikan oleh selebritis kita...
July 15, 2009 at 8:29pm · Like



Putu Bravo Timothy Jika Yesus lahir di Indonesia mungkin dia akan berhadapan dengan
petinggi dan imam-imam-imam gereja. Karena Dia akan mengkritik pola koruptif dan
"komersialisasi" gereja yang ada di tengah kesensaraan rakyat dan tidak membawa damai
sejahtera.Yesus mungkin akan mengkritrik gereja2 krn hanya bisa bungkam atas ketidakadilan.
Yesus akan mengkritik bahkan akan mengamuk dalam gereja krn gereja yang sudah dibangun
olehnya hanya dipakai untuk tempat jual-beli jasa kepuasan spiritualitas dangkal dengan alih-
alih "berkat" jasmaniah semata.Sma seperti Yesus mengkritik dan harus berhadapan dengan
Imam dan ahli taurat yang merasa terancam posisinya dengan kehadiran Yesus yang cukup
"rebel" dan berani membongkar aib mereka.
July 15, 2009 at 8:51pm · Like



Timur Sinar Suprabana @bravo: kau tulis ......Yesus akan mengkritik ...bahkan akan
mengamuk dalam gereja.... ~aku menghela nafas, setahuku tak ada dalam Alkitab yang
menceritakan bahwa Yesus pernah mengamuk.... artinya, kalau bahwa Ia sampai
mengamuk, di Indonesia, dalam konteks tek kawan Victor, oh, betapa mendahsyatkannya

187

keparahan yang ada di negeri ini. bagusnya, "mengamuk" bukan kosa kata yang dikenal Yesus.
sebab berlawan dengan konsep Kasih yang digemakannya tanpa pernah kenal sudah. salam!
July 15, 2009 at 9:11pm · Like



Johannes Silentio jika kristus lahir di Indonesia, dia akan mendaftar ke Sekolah Tinggi
daripada Fesbukiyah....:)))
July 15, 2009 at 9:15pm · Like



Putu Bravo Timothy @Timur : bukankah yesus jg prnah marah ktika Dia mndpati bait
Allah djadikan tmpt berjualan??dan Yesus menurutku dpt dikategorikan "mengamuk"
ktika mndapati hal tersebut..Dan aku pikir hl itu bs trjadi apabila Dia hadir dalm konteks
Indonesia saat ini, dan mlihat kondisi gereja yg tak lbh srana transksional "jual-beli"
berkat jasmani dngn klaim plh bnar..
July 15, 2009 at 9:16pm · Like



Grace Anita Fredrik Indonesia bersatu...saling melengkapi..pasti damai dan tentram
bumiku negriku...(In the name of JESUS)
July 15, 2009 at 10:26pm · Like



Josias D Tatontos kalau Yesus lahir di Indonesia pasti akan banyak Mujizat terjadi ... dan
Tuhan Yesus pasti capek melihat begitu banyak orang yang harus dilayani ... juga gereja-
gereja akan bersatu karena kepala gereja datang di Indonesia
July 16, 2009 at 7:25am · Like



Grace Anita Fredrik Amin 3x
July 16, 2009 at 8:40am · Like



Adi Pidekso Dalam buku Verne Fletcher - LIHATLAH SANG MANUSIA terbitan BPK
GM, perjuangan Yesus meliputi:
1. Mematahkan lingkaran setan yang terdiri atas kekerasan dan pembalasan.
2. Menolak pola penguasaan ketundukan sebagai patokan bagi hubungan antar-manusia
3. Mempersoalkan kesetiakawanan yang kelewat sempit dan eksklusif
4. Mengesampingkan kekuasaan, kejayaan, dan gengsi sebagai pertanda pemerintahan Allah

188

5. Menisbikan segala kemutlakan buatan manusia serta bergumul melawan kuasa kejahatan.

NB- harga buku Lihatlah sang Manusia - 60.000,-
July 16, 2009 at 10:00am · Like



Helga Worotitjan Dua Full klu Yesus datang ke Indonesia & berkarya di sini, sesuai
konteks kekinian.......Ia mesti sekolah dulu yg tinggi, kerja utk publik & negara dulu
beberapa lama baru boleh komentar soal apapun, karena meski Ia memiliki sifat keilahian
tanpa bekal cukup utk melakukan apapun yg konteksnya setema dg tempat Ia di utus,
than he's nothing at all
July 16, 2009 at 10:34am · Like



Max B Surjadinata He most probably would say as he had said, "What does it profit a
person to gain the whole world, but loose their own soul?"
July 16, 2009 at 11:46am · Like



Helga Worotitjan Dua Full KONTEKSTUAL
July 16, 2009 at 11:51am · Like



Princes Oktavia Fairy ya.kk.....menurut gek sich di Indonesia udh hilang hukum
utamanya...nga kaih kepada manusia, kepad alamnya apalagi kepada Tuhan...gek setuju
dengan paragraf terkhir kalo Tuhan Yesus lahir di Indonesia dan berkarya saat ini, IA
akan membawa kita kepada kasih mulau - mula yaitu hukum utama..JBu kk
July 16, 2009 at 3:43pm · Like



Victor Hamel @ Bravo: tetapi pasti tetap dalam kerangka KasinhNya
@ mas Timur: Dengan KAsih Nya juga, seperti harapan kita mas Timur..
@ Bung Josias dan Grace: Amin...
@ Pak Adi: Terima kasih untuk mengingatka peran Yesus yang sesungguhnya seperti yang
dituliskan dalam buku itu...
@ mba Helga dan mas Trisno: Jangan-jangan Yesusakan sekolah di Sekolah Tinmggi daripa
Fesbukyah...hehehe
@ Pak Max: Amin...
@ Gek Princes: Semoga orang dapat kembali memaknai kasih yang mula-mula itu gek!!

189

July 16, 2009 at 9:21pm · Like



Irawan Yudhi Waduh...Bang kalo Yesus lahir di Indonesia pada masa sekarang ini....pasti
pak polisi kita repot ngurusin orang yg demo.......wong mo buat tempat ibadah, mo ber
ibadah aja di demo, diserang.....wah...bang aku nggak bisa ngebanyangin...tapi bang kalo
emang bener "Dia" lahir dimasa sekarang...lahirnya kalo bisa di "Petamburan" bang...
gimana bang usulan saya....??
July 17, 2009 at 2:38am · Like



Sara Sunshine "AKU di dalam engkau dan engkau di dalam AKU..." (JC)seyogyangalah
Kristus telah lahir di Indonesia dan sampai saat ini tetap menopang gereja-NYA serta
setiap orang yang percaya kepadaNya - yang memberikan tempat dalam hidupnya, untuk
DIA boleh bertahta & melanjutkan karya-NYA yang agung bagi keselamatan bangsa
Indonesia. INDONESIA RAYA, INDONESIA SELAMAT.
July 17, 2009 at 12:33pm · Like



Victor Silaen Pdt. Victor Hamel, gimana studinya di Yogya? Sukses terus ya.. Baidewei
Yakoma PGI mau adakan lokakarya Pengelolaan Media di Bali, gimana nih peluangnya
dengan gereja2 di sana?
August 26, 2009 at 10:18pm · Like



Victor Hamel @ Lae Victor: Trima kasih lae, studi di Yogya sudah rampung...thx untuk
dukungannya...Wah gereja2 di Bali pasti Welcome tuch...nanti bisa kerja sama dengan
kita di sini (GKPB) melalui lembaga Litdakom (Penelitian dan dan Komunikasi) supaya
bisa di share bersma dengan gereja2...thx dah mampir lae...
August 27, 2009 at 6:33am · Like

190

Kaku, Ngilu, Beku....

February 2, 2010 at 6:20pm
Jari terasa kaku,
Bagaimana aku akan berdoa?
Hati terasa ngilu,
Bagaimana aku merasa?
Lidah terasa beku,
Bagaimana akan berkata?
Kaku, ngilu, beku…
Berdoa, merasa, berkata…
Maju…
Berharap pada Tuhan,
Tanpa jemu!

191

CommentShare
 3 people like this.



Estiana Arifin Pasang-surut cinta kita. Aku dekat, Engkau dekat. Aku jauh, kata siapa
Kau jauh ?
February 2, 2010 at 6:42pm via mobile · Like



Sofietje Nortje Nelia Rondonuwu jiwa terasa hampa.......berharap pun ku kadang tak
mampu.
February 2, 2010 at 7:00pm · Like



Julies Kurnia Wibowo diam dan tenanglah...
February 2, 2010 at 7:50pm · Like

192

Kau Cantik koq Dengan Hitam mu...aku suka..!

May 12, 2011 at 7:48am
Janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa

memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun (Matius 5:36)

Dalam banyak tafsiran teks ini sering dipahami secara langsung terkait dengan pemahaman
mengenai boleh tidaknya orang Kristen bersumpah. Jelas teks ini memberikan pemahaman
bahwa orang Kristen tidak boleh bersumpah. Saya tidak dalam rangka membicarakan boleh atau
tidak sumpah. Yang ingin dishare-kan adalah latar belakang konteks mengenai memutihkan dan
menghitamkan. Kata hitam-putih ini sering terabaikan dalam memahami teks ini. Padahal ini
merupakan sebuah signal kuat bahwa ajaran Yesus sangat kental dengan egaliatrianisme.

Bagi orang yang berkecimpung dalam kajian-kajian budaya populer persoalan hitam dan putih
sangatlah sensitif untuk dibicarakan. Hitam dan putih sering menjadi persoalan ketika memasuki
ranah-ranah percakapan kolonialisme. Karena keunggulan putih akan melenyapkan makna
hitam. Yang uniknya akhir-akhir-akhir ini banyak sekali muncul nostalgia kolonialisme melalui
media, khususnya yang ditampilkan melalui iklan-iklan kecantikan pemutih kulit. Singkatnya,
dalam iklan-iklan kecantikan pemutih kulit tersebut, putih adalah sebuah keunggulan dan hitam
adalah tanpa makna.

Konyol tampaknya membandingkan teks di atas dengan tindakan memutihkan kulit.
Seolah memaksakan tafsiran ini untuk realita yang ada dalam dunia media. Tetapi saya kira ada
pesan khusus dalam teks ini jika membandingkannya dengan realita kecantikan kulit putih masa
kini. Teks ini hendak mengatakan bahwa sumpah tidak akan mengubah rambut menjadi putih
atau hitam, atau mungkin kulit hitam menjadi putih. Karena hal itu merupakan sebuah ‘takdir’
kemanusiaan yang tak ternilai harganya. Itu artinya sebuah realita putih dan hitam, adalah sebuah
takdir alamiah yang indah. Konyolnya, media melalui iklan-iklan pemutih kulit justru berani
menempatkan bahwa produk kecantikan tersebut dapat mengubah ‘takdir’ kulit hitam menjadi
putih. Jangan-jangan ini sebuah tindakan bersumpah ala manusia modern saat ini. Bisa jadi.

Untuk seorang teman: “Biarlah hitam karena kau sangat cantik dengan hitam mu…dan aku
suka..”

CommentShare
 Sari Newton and 10 others like this.



Ratty Supit Sekarang manusia sudah memiliki kekuasaan untuk mewarnai rambutnya
( ngecat ). Dengan demikian bersumpah demi kepala menjadi rancu he he he, selamat
pagiiiiii

193

May 12, 2011 at 8:02am · Like



Anita FoEh-Toelle Shalom pk Vic,itulah sebabnya aku sll membanggakan kehitaman
ku..hahahaha
May 12, 2011 at 8:09am · Like



Wuri Ajeng seperti sebuah syair lagu: "biar beta hitam tapi jadi rebutan..."
wkwkwkwkwk
May 12, 2011 at 8:35am · Like



Sari Newton hehehehe sebagai salah satu gadis hitam manis, i like this so very much..!!
Mau donk pak di tag juga...
May 12, 2011 at 8:48am · Like



Debora Murthy hitam juga cantik, putih juga ayu... terima apa adanya, yg penting bersih
dan sehat...
May 12, 2011 at 9:43am · Like



Lois Gloria Wah,refleksinya dalem banget..
Saya justru membayangkan sebelum ada politik apartheid mungkin ini terjadi..
Orang2 kulit berwarna (mungkin) ingin menggantikan warna kulit mereka agar mereka
tidak ditindas oleh orang2 kulit putih. Tapi,masalahnya mereka sudah "ditakdirkan"
sebagai orang2 kulit berwarna yg tidak dapat dg begitunya mengubah warna kulit mereka
menjadi putih...

May 12, 2011 at 9:55am · Like



Jane Moudy Inkiriwang @Vic : iyaa... aku juga sukaa... very contextual (heheee... secara
aku juga punya satu koleksi 'hitam manis' di rumah.. xixiiii ), btw the meaning of
egaliatrianisme? Jelasin plsss.. thanks ya
May 12, 2011 at 10:11am · Like

194



Victor Hamel @ Pak Ratty: huahahah...bersumpah modern pak...@ Anita: Aku tahu, kau
pasti cantik pasti dengan hitam mu.. @ Wuri: wkwkwkw...beta juga hitaaaaammm...@
Ida: Sudah ku gek, ku past icantik dengan hitam manis mu...@ dr. Debby: Semua cantik
dan ayu, itu pasti pesannya...
May 12, 2011 at 10:22am · Like



Any Setiyawati Om Victor ijin share yaaa
May 12, 2011 at 10:24am · Like



Rantau Siregar bersumpah mungkin sama dengan mengakui suatu kebenaran yang mutlak
yang dapat dikuasai. bersumpah adalah sebuah sikap "takabur" jadinya....
May 12, 2011 at 10:24am · Like



Victor Hamel Lois: Dan saat ini ada semacam nostalgia kolonialisme melalui iklan2
kecantikan pemutih yang ada di tv... @ K Jane: aku tahu, "sio manise hitam juaaaa..."...
(Egaliter: katanya sich, persamaan, kesederajatan...). Salam voor bung Theo...
May 12, 2011 at 10:25am · Like



Victor Hamel @ Rantau: setuju bung...pasti!
May 12, 2011 at 10:27am · Like



Victor Hamel @ Any: aku suka, silahkan di share kan...
May 12, 2011 at 10:27am · Like



Any Setiyawati Thank you yaahhh Bless your day
May 12, 2011 at 10:29am · Like



195

Wir Kasut .
aku beryukur atas rambut putihku
aku bersyukur sekalipun tidak menjadinya hitam atau abu-abu
walau bertubi-tubi hasutan agar kulakukan itu
konon agar mereka tidak keliru
anakku dikira cucuku
May 12, 2011 at 10:44am · Like



Jane Moudy Inkiriwang Thanks for your explanation Vic.. salam kembali dr bung 'hitam
maniseee'...hahaa
May 12, 2011 at 10:48am · Like



Lois Gloria Pertanyaannya: apakah penindasan itu akan menjamur lagi sbg bagian dr
nostalgia apartheid??
May 12, 2011 at 4:06pm · Like



Ellyn Kurniasih Sarah Malelak Nama saya belum masuk, pakpend...huhuhuhu...
tapi...i love your note and i love my skin...ahahha
grateful to be my colour...
May 12, 2011 at 4:39pm · Like



Sofietje Nortje Nelia Rondonuwu waaah......tadinya beberapa helai rambut putih yg telah
menghiasi kepalaku, ingin kusemir hitam....sedikit hitam di wajahku pun, ingin ku poles
dgn cream pemutih....tapi....sekarang??? gak jadi ahhhh. kusyukuri saja....

makasih ne Kak Vic......Blessing
May 12, 2011 at 11:24pm · Like



Benidictus Tambajong Terima kasih Pak Vic,....kau menyadarkan aku karena aku mulai
GILA.
May 13, 2011 at 12:40am · Like



196

Julies Kurnia Wibowo Untuk seorang teman: “Biarlah hitam karena kau sangat cantik
dengan hitam mu…dan aku suka..”==> makasih bang Victor Hamel, btw kalau dah
sampai Palur tlp ya
May 13, 2011 at 7:51am · Like



Yakub Setiaji Dwipa Yups .. hitam hampir selalu diberi muatan negatif: ilmu hitam,
kucing hitam, kambing hitam, kuasa gelap alias hitam, golongan hitam, sampai ke warna
kulit .. untung kulitku coklat kehitaman .. yaa .. warna hitam muda lah kira-kira .. ga
hitam-hitam amat .. hehehe .. makasih Bang ..
May 15, 2011 at 6:31pm · Like



Saverio Ratu Pesan yang saya tangkap adalah mensyukuri apa yang telah diberikan
dengan merawatnya dengan baik dan wajar...
June 26, 2011 at 10:58pm · Like

197






Click to View FlipBook Version