Pidatoku di Hadapan Bupati | i
Pidatoku di Hadapan Bupati
Penulis: Ahlis Qoidah Noor
ISBN
Editor:
Penata Letak : @timsenyum
Desain Sampul: @kholidsenyum
Copyright © Pustaka Media Guru, 2018
vi, 102 hlm, 14,8 x 21 cm
Cetakan Pertama, Februari 2018
Diterbitkan oleh
CV. Pustaka MediaGuru
Anggota IKAPI
Jalan Dharmawangsa 7/14 Surabaya 60286
Website: www.mediaguru.id
Dicetak dan didistribusikan oleh
Pustaka Media Guru
Hak Cipta Dilindungi Undang‐Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun
2002 tentang Hak Cipta, PASAL 72
Kata Pengantar
S elamat bertemu dengan gaya baru penulisan cerpen.
Mungkin para pembaca akan merasakan sedikit
perbedaan dalam membaca cerpen ini karena dalam
setiap cerpen ini ada penanaman budi pekerti yang sangat
kental. Dalam buku ini ada lima belas judul cerpen yang
memuat beberapa fakta dan fiksi. Banyak sekali karakter
yang muncul di sini namun semunya berakhir dengan proses
character building yang langsung dapat dinikmati dan
dirasakan dalam setiap cerpen.
Buku ini sangat sesuai dengan program pemerintah
tentang penanaman budi pekerti melalui beragam
pendekatan, cara, strategi, maupun teknik. Ke‐15 cerpen ini
sudah bersesuaian dengan Kompetensi Dasar dalam Silabus
Pengajaran Bahasa Inggris di SMK/SMA. Buku ini merupakan
buku pertama dari dua seri buku yang diterbitkan dalam
bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kekuatan dan
kekayaan cerita, hikmah, character building dalam lima belas
cerpen ini sangatlah bermanfaat bagi pengembagan budi
pekerti saat ini.
Saat ini adalah era dimana buku menjadi sumber
referensi literasi yang utama dan dianjurkan untuk dibaca
baik dari kalangan guru maupun peserta didik. Selamat
membaca dan mengambil hikmah dari setiap kejadian baik
berupa fakta dan fiksi yang disajikan dalam buku ini. Semoga
bermanfaat bagi lahirnya Generasi Emas Indonesia dan turut
Pidatoku di Hadapan Bupati | iii
serta menyumbangkan perbaikan pendidikan karakter untuk
keutuhan integritas kita. Aamin.
Semarang, Februari 2018
Ahlis Qoidah Noor
iv | Ahlis Qoidah Noor
Daftar Isi
Kata Pengantar ......................................................................... iii
Daftar Isi ..................................................................................... v
Keluargaku, Harapanku ................................................... 1
Menyongsong Sukses di SMK ......................................... 7
Touringku ke Colo, Kudus ............................................... 11
Bu Susi dan Perahu yang Tenggelam ............................ 15
Aku Juara, Aku Sengsara ................................................ 21
Pidatoku di Hadapan Bupati .......................................... 27
Bully Mengantarkanku ke RSJ ....................................... 35
Legenda Sunan Kudus ................................................... 43
Menu Hari Ini .................................................................. 55
Aku Tak Sebaik Mereka ................................................. 61
Ibu, Mau ke Mana? ......................................................... 67
Ayahku seorang Chef ...................................................... 71
Mengapa Kamu Tak Sekolah? ........................................ 81
Menurutku, Tindakanmu Sangat Kontroversial ........... 91
Ada yang Bisa Aku Bantu? ............................................. 95
Profil Penulis........................................................................... 100
Pidatoku di Hadapan Bupati | v
vi | Ahlis Qoidah Noor
Keluargaku, Harapanku
A ku baru saja pulang dari sekolah tiba‐tiba terdengar
suara piring jatuh dan diikuti oleh serangkaian gelas
pecah. Rupanya sedang terjadi perang dunia ketiga
di rumah.
Kulihat ibuku menangis di kursi panjang sementara ayah
duduk terdiam di kursi sebelah. Aku sedang berfikir siapa
yang telah melempar barang pecah belah itu. Oh ternyata
ibu.
Aku beri salam mereka walaupun muka mereka kecut.
Aku beranikan bertanya.
“Ayah, Ibu, ada apa? Kenapa kalian bertengkar?”
“Itulah ayahmu, dia sudah berani bermain perempuan di
belakang Ibu.”
Kutengok ayah, sepertinya dia kaget dengan pernyataan
ibu.
“Jangan libatkan anak kita, Bu. Dia tidak tahu apa apa,”
kudengar ayah mulai bicara.
Ibuku memang layak marah. Pengorbanannya selama ini
kepada keluarga sungguh tak terhitung. Membesarkan aku
dan adikku, merawat rumah, membersihkan semua perkakas
yang telah dipakai, memasak untuk kami sampai dengan
menyisihkan sebagian waktunya untuk jualan sedikit jajan di
depan rumah.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 1
Kami memang keluarga tidak mampu. Akan tetapi tekad
ibu untuk menyekolahkan kami setinggi‐ tingginya membuat
kami merasa bangga sebagai anaknya.
Lalu apa yang dilakukan ayah? Selingkuh di belakang ibu?
Kenapa pula ini?
Aku mulai melihat ayah lebih dekat. Bukan secara fisik
tapi secara psikologis. Dia sudah mulai menua tetapi
tampaknya dia tidak siap ditinggal ibu dengan segala
kesibukannya. Dia tampak ingin sekali dicintai dan disayangi.
Aku lihat rambutnya sudah mulai memutih.
Oh, Ayah! Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau
timpakan noda hitam di wajah keluarga ini. Dari mana saja
kau selama ini?
Sejurus ibu berkata, “Itu dia kenalan sama penyanyi di
orkes melayu, lalu berjoged, dan berkencan.”
Ah, ibu mulai mengomel lagi. Air matanya semakin
bertambah banyak kulihat mengalir di pipinya. Ibuku sayang,
ibuku malang. Ayahku sayang kenapa kau terbuang oleh
kasih sayang.
Seminggu telah berlalu, kulihat komunikasi mereka tetap
saja dingin. Tak ada sapa. Tak ada canda tawa seperti
biasanya. Tak lagi ada suara ibu yang berteriak dengan penuh
kasih sayang. Tak ada suara ayah yang marah tapi lucu.
Semua hampa. Oh ayah dan ibu, aku rindu semua itu. Aku
rindu dimarahi ayah, yang selalu menciumku setelah itu. Aku
juga rindu dijewer ibu lalu dipeluknya.
Sampai suatu ketika datanglah seorang perempuan ke
rumah kami. Dia memperkenalkan diri sebagi Rani, penyanyi
dangdut kampung seberang. Dia didampingi oleh seorang
2 | Ahlis Qoidah Noor
laki‐ laki seusia ayahku. Kulihat ibu menemui mereka.
Berdialog perlahan. Kudengar mereka meminta maaf kepada
ibu karena semua perbuatan yang dilakukan oleh perempuan
itu membuat hubungan ayah dan ibu menjadi tak harmonis
lagi. Kulihat ibu terdiam. Sanggupkah ia memaafkan? Ataukah
ia akan melanjutkan amarahnya? Waktulah yang
menentukan.
Setahun, dua tahun, tiga tahun, empat tahun telah
berlalu. Ini adalah tahun kelima setelah peristiwa itu. Kulihat
ayah dan ibu duduk di bangku depan. Kulihat mereka
bercengkerama lagi seperti biasanya. Ah, sungguh butuh
waktu lama untuk memaafkan. Sungguh luka hati itu teramat
dalam untuk disentuh oleh maaf, canda, dan tawa.
Oh ayah dan ibu. Aku kembali rindu di pelukmu. Aku
sekarang sudah kuliah dan sebentar lagi lulus dan mencari
kerja. Aku juga akan berumah tangga. Aku ingin belajar
banyak dari apa yang terjadi pada kalian.
Sesungguhnya cinta itu akan mengalami ujian dan
cobaan. Bisa jadi cobaan itu berupa cinta pula. Namun,
dengan cinta pula semua akan kita lewati. Seberapa kuat
cintamu pada keluarga mampu menyelamatkan mahligai
perkawinan. Seberapa kuat ujian cinta menghantarkanmu
untuk meraih cinta sejati yang hanya dapat ditemui dalam
keluarga. Maka, rawatlah cinta kita kepada ayah bunda,
bunda pada ayah dan ayah pada bunda. Dengan cinta kita
hidup, atas nama cinta kita perjuangkan masa depan, dan
dengan cinta keluarga kita meraihnya. Caranya, tunjukkan
bahwa kita mencintai mereka. Peluklah mereka. Ajaklah
mereka mengobrol dan bertanyalah apa saja terkait
Pidatoku di Hadapan Bupati | 3
persoalan kita serta jangan lupa doakan mereka di antara
ibadah kita kepada‐Nya. Itulah wujud cinta keluarga.
Aku belajar banyak dari apa yang terjadi pada ayah dan
ibu. Cinta pada keluarga telah dapat mengalahkan ego
mereka masing‐masing. Cinta itu diwujudkan dalam bentuk
tetap bersatu dan saling memaafkan atas apa yang terjadi
walaupun butuh banyak waktu. Ah, sudahlah. Ambil
hikmahnya, buang sisi buruknya, dan lupakan semua kejadian
yang menyakitkan. Songsong masa depan dengan semangat
persatuan keluarga.
Ada hikmah yang kuambil dari rangkaian pertengkaran
mereka. Sekecil apapun bisa menjadi bibit pertengkaran bila
tidak dilandasi kesadaran untuk mengevaluasi diri dan
introspeksi diri. Walaupun kita bukan pelaku selingkuh tapi
bisa jadi apa yang tidak sengaja kita lakukan bisa menjadi
pemicu tindakan tak terpuji itu.
Itulah gunanya melihat dari sudut pandang beragam.
Tidak cuma sekedar menyalahkan. Namun, bila kita sudah
melakukan kesalahan tidak ada salahnya memupuk cinta
dengan rasa penyesalan masa lalu dan upaya perbaikan diri
demi keluarga.
Perbaikan yang terus menerus dilakukan akan
menghasilkan karakter yang selalu baru untuk dicintai dan
dirindukan. Seorang ayah perlu memeluk istri dan mencium
anak‐anaknya sebagai wujud cinta dan kasih sayang. Seorang
ibu perlu menunjukan baktinya pada suami dengan mendidik
anaknya, mempersiapkan, dan menjadi tempat terbaik bagi
seorang anak untuk bercerita, bercengkerama, dan berbagi
keresahan, kesusahan, kebimbangan, dan juga kemesraan.
4 | Ahlis Qoidah Noor
Jadikan pula keceriaan, kelucuan, bahkan kekonyolan untuk
dirangkai dalam dialog ringan antara ibu, anak, dan ayah.
Dialog‐dialog ini akan membangun nuansa cinta yang
membahagiakan bagi seorang anak.
Kunci dari semua ini adalah kesediaan melupakan dan
memaafkan apapun yang dilakukann suami, anak, dan istri.
Mungkin butuh waktu tetapi janganlah menjadi dendam
karena dendam itu juga memakan waktu dan membebani
pikiran kita sehingga pikiran menjadi tidak produktif, tidak
fokus, dan juga tidak berinisiatif baik.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 5
6 | Ahlis Qoidah Noor
Menyongsong Sukses
di SMK
“M au jadi apa kamu kalau sekolah di SMK? Tidak
ada yang dapat kamu banggakan kalau
sekolah disana!”
Begitulah ucapan teman ibu kepadaku ketika suatu
ketika ibu menceritakan keinginanku untuk sekolah di SMK.
“Apa kamu tidak lihat, biaya sekolah di sana mahal, baju
prakteknya, juga ongkos praktiknya,” kata teman ibu
menambahkan kalimatnya yang ingin membuatku lemah
dalam semangat.
Aku diam saja, tak bergeming.
Seminggu kemudian aku mendapat pengumuman bahwa
aku diterima sekolah di sebuah SMK Pariwisata, jurusan
akomodasi perhotelan. Satu minggu aku melakaukan MOS
(Masa Orientasi Siswa), kemudian dilanjutkan dengan Kemah
Bhakti Character Building. Semua itu aku ikuti dengan senang
hati. Sudah menjadi pilihan hatiku untuk bisa sekolah di SMK.
Suatu ketika aku diminta guru untuk ikut casual di sebuah
hotel. Aku bersama sepuluh orang lainnya menjadi partimer
di sana selama satu hari. Ada event besar yang akan diadakah
oleh hotel itu dan mereka butuh banyak tenaga seperti kami
sebagai hotelier.
Sebagian kami menangani house keeping, sebagian di
front office dan sebagian lain di food and beverage. Sungguh
Pidatoku di Hadapan Bupati | 7
kenangan dan pengalaman yang sangat menarik. Kami
melayani para tamu yang sebagian kecil adalah para bule.
Kami menyediakan makanan dan minuman untuk mereka,
making bed, make up room, dan juga membersihkann area
hotel. Tak terasa satu hari telah berlalu. Kami pulang dan
mendapat fee yang lumayan dari para tamu.
“Bagaimana sekolahmu?” tanya teman ibu suatu hari
ketika berkunjung ke rumahku.
Dia melihat aku yang baru saja pulang dari sekolah. Aku
memakai baju Front Office dengan sepatu high heel yang
manis. Sedikit rambutku kutata dengan hair net. Kami
memang harus tampil rapi dan wangi ketika ke sekolah. itu
karena hospitality lah yang kami sajikan ke masyarakat.
Ibuku menjawab, “Oh, si Anita, dia baru saja menang
Lomba Keterampilan Siswa (LKS) di kota. Sekarang dia harus
persiapan untuk maju ke propinsi dan kalau beruntung ya ke
nasional.”
Tetanggaku tampak terbelalak mendengar penjelasan
ibu. Sebulan kemudian dia datang lagi dan melihat ada tiga
tropi berderet di almari bagian ruang tamu rumah kami.
“Oh, jadi anakmu maju ke nasional?” tanyanya ke ibuku.
“Ya, dia juara satu. Tahun depan kalau lulus dia akan
mendapat beasiswa empat tahun di Sekolah Tinggi
Perhotelan di Jakarta,” kata ibuku menimpali.
Aku sepertinya menemukan semangat baru setiap
tetanggaku ke rumah. Umpatannya, celaannya justru
membuatku bangkit untuk membuktikan bahwa aku bisa
menjadi yang terbaik.
8 | Ahlis Qoidah Noor
Enam tahun kemudian aku kembali ke kampung
halaman. Kubawa mobil dinas dari tempatku bekerja. Aku
belum mempunyai mobil sendiri.
“Ibu, aku datang,” kataku sambil mengetuk pintu rumah.
Kulihat ibu yang semakin menua namun wajahnya
menampakan kebahagiaan.
“Kok kalau mau pulang ndak bilang‐bilang.”
“Biar surprised, Bu. Bu, sekarang aku menjadi Hotel
Manager di Jakarta. Walaupun hotel bintang empat, tapi aku
cukup bersyukur dengan apa yang aku terima. Ibu mau ini ya?
Aku bawakan kain dan makanan khas, juga ada bir pletok
kesukaan Ibu,” kataku sambil mencium dan memeluk ibu.
Bir pletok adalah sebuah minuman khas betawi yang
dibuat dari beragam rempah sehingga rasanya segar dan
membuat badan nyaman. Bir pletok ini tidak mengandung
alkohol dan berwarna merah seperti buah naga.
Aku senang bisa membahagiakan ibu, orang tuaku satu‐
satunya yang aku miliki. Sudah tujuh tahun ayah
meninggalkanku. Aku hanya bertiga dengan ibu dan kakakku
perempuan. Kudengar ada gerakan sandal dari arah dalam
rumah.
“Oh kamu, Dik,” kata kakakku sambil memeluk dan
menciumku.
“Buat kakak, aku bawakan kain dan makanan kesukaan
Kakak,” kataku sambil memberikan bungkusan kepadanya.
Dia tampak senang dan wajahnya berseri. Bibirnya
menyungging senyum. Aku peluk dia, kutunjukkan bahwa
aku sayang dan rindu dia. Ibuku tampak senang kami rukun
Pidatoku di Hadapan Bupati | 9
selalu. Angin berhembus meniup ujung rambut kami ketika
sore itu menjadi saksi betapa bahagianya kami sekeluarga.
10 | Ahlis Qoidah Noor
Touringku ke Colo, Kudus
“B agaimana mungkin aku bisa naik di jalan yang
panjang dan berliku di sepanjang jalan ke arah
Colo ini,” kata ibuku mulai cemas dengan
perjalanannya.
“Ah jangan khawatir, nanti kita naik pakai mobil aja. Aku
semakin khawatir melihat jalan yang sangat menanjak,” kata
kakakku yang kedua.
“Apa tak sebaiknya kita jalan saja,” tanya Fita, kakakku
yang pertama.
Tiba‐tiba seorang laki‐laki, tukang ojek tampaknya,
mendekati kami.
“Bapak dan ibu, untuk naik ke Colo tidak boleh menggunakan
mobil. Ibu hanya bisa naik ojek ini, satu demi satu,” demikian
penjelasannya.
Akhirnya kami putuskan naik ojek. Ada enam ojek yang
kami sewa untuk bisa sampai ke Colo. Satu ojek meminta
ongkos kurang lebih Rp. 20.000,‐. Setelah sampai di atas,
kami menuruni bukit menuju ke arah tempat air terjun Colo.
Ah, kami agak kaget, sudah dua puluh tahun lebih kami tidak
ke sana. Dulu airnya sangat banyak dan deras mengalir.
Sekarang tinggal seperti danau kecil atau tempat untuk
berenang saja. Namun, di sekelilingnya tetap ada banyak
batu di sekitar air terjun itu. Hal yang membuat aku agak
heran adalah karena ada banyak sekali pipa‐pipa air yang
Pidatoku di Hadapan Bupati | 11
disalurkan dari puncak Colo ke tempat‐tempat rendah di
bawahnya.
Aku ingin sekali melompat dan terjun di air yang mengalir
dari atas itu. Aku mengajak kakak‐kakakku terjun ke pancuran
dan mandi air di sana. Ah, sangat dingin ternyata. Ketika aku
menempatkan kepalaku di bawah grojogan air kepalaku
seperti sedang dipijat oleh ribuan ketukan, berbunyi “klotak‐
klotak”.
Aku ingin berenang segera. Aku mulai berenang ke arah
tengah. Kakiku melangkah ke arah batu besar di bawah. Tak
terlihat tapi bisa kurasakan. Terasa ringan kakiku melangkah
di dalam air, tapi terasa licin batu kurasakan. Akhirnya setelah
puas bermain air aku pun membersihkan diri bersama
saudaraku.
Sepanjang pulang kami berjalan, ada banyak makanan
khas Kudus yang aku temui. Muulai pisang raja, buah kecil
yang manis kecut, sampai pada jajan anak‐anak sejenis cimol
dan cireng.
“Wah, ini mah jajanan dari luar nih,” batinku, “kenapa
tidak menjual makanan khas Kudus aja yang ada lentog sayur,
jenang, soto, dan sebagainya.”
Sepanjang jalan menurun aku juga mengamati di sekitar
bukit. Masih ada saja bunga‐bunga liar yang tumbuh tak
tertata. Sepertinya butuh disentuh oleh tangan‐tangan yang
terampil supaya bunga itu menjadi indah dipandang.
Setelah sampai di bawah kami pun menuju tempat
sholat. Mengambil air wudu yang sangat dingin menjadikan
wajah kami segar kembali. Air di sini memang murni sehingga
sangat berbeda dengan tempat kami di Semarang.
12 | Ahlis Qoidah Noor
Di samping masjid banyak sekali penjual makanan dan
souvenir dari Gunung Muria. Ada ratusan orang lalu lalang
menuju ke arah Colo. Aku perhatikan para pengemudi ojek
itu sangat lihai sekali menaiki jalan yang menanjak dan
berliku. Wah, mungkin kecepatanya sekitar 80 Km/jam. Suara
ojek itu sangat riuh rendah sehingga seperti irama yang tak
pernah berhenti.
Kalau kamu tinggal di kota besar maka kamu akan
kangen dengan pemandangan ini. Ada beragam jenis bunga
yang dijual oleh para penjual. Aku berpikir untuk membeli
tetapi ayah keburu mengajak masuk mobil dan segera
bersiap pulang.
Setelah foto bersama keluarga maka kami pun
melanjutkan wisata ke tempat lain di Kota Kretek ini. Ya, kami
sekarang berada di Museum Kretek di Kudus. Ada banyak
diorama yang ada di museum ini. Kisah perjalanan para
pemilik pabrik rokok kretek dipajang dengan indah di sini.
Ada juga jenis‐jenis tembakau dan juga beragam jenis mesin
pembuatan rokok kretek sampai filter dan mild. Ah, lengkap
pokoknya. Di belakang museum ada kolam renang yang bisa
dipakai oleh anak‐anak berenang dan bermain air dengan
riang gembira.
Tidak lama kami di museum ini, karena hari sudah
menjelang sore jadi kami putuskan kembali lagi ke Semarang.
Perjalanan kami membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam untuk
sampai ke Kota Lumpia ini kembali. Matahari sudah berada di
ufuk barat dan mendung agak sedikit menggantung ketika
kami jejakkan kaki di rumah.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 13
Capek mulai menggelayuti badan. Namun, kami senang
dengan touring kali ini. Pemandangan yang indah dan segar
membuat pikiran kembali fresh. Memang ada saatnya kita
perlu refreshing bersama keluarga agar segala penat dan
beban hidup jadi hilang. Kumpul bersama keluarga itu adalah
moment yang istimewa sebelum kakak‐kakakku nanti akan
menikah dan hidup bersama keluarga masing‐ masing. Oh,
indahnya hidup bersama keluarga.
14 | Ahlis Qoidah Noor
Bu Susi dan Perahu
yang Tenggelam
“Aku mau kalian selesaikan pekerjaan ini
secepatnya. Aku butuh dua kapal besar untuk
mengangkut barang‐barangku dari negeri
seberang,” terdengar Bu Susi memberi instruksi kepada anak
buahnya.
Mereka adalah awak kapal yang sudah setiap hari bekerja
untuknya. Bu Susi membuka bisnis ekspor udang dan
berbagai jenis ikan. Sasaran bisnisnya adalah restoran di Arab
Saudi. Dia ingin sekali membuka restoran di sana suatu saat
nanti.
Setiap hari ada saja kapal yang mengangkut barang
bawannya. Sifatnya yang sangat disiplin sangat disegani anak
buahnya. Dia juga tak jarang memberi tips yang banyak bila
anak buahnya sangat cekatan menangani order ekspor
dengan sukses.
Dia sudah melaksanakan ekspansi bisnis ke sekolah.
Setiap 2,5% dari profitnya dia berikan sebagai CSR (Corporate
Social Responsibilility) ke sekolah‐sekolah yang
membutuhkan. Dia juga rajin menyumbang masjid dan
yayasan yatim piatu. Sumbangan ini diambilkan dari
keuntungan dia yang berlimpah ruah.
Ada sebuah gedung sekolah yang agak unik. Bu Susi
memberinya desain seperti kapal. Di sekelilingya pun ada
Pidatoku di Hadapan Bupati | 15
beragam kolam ikan mas koki dan taman bergantung yang
indah. Di sisi sebelah kiri dan kanan sekolah itu ada padang
rumput yang bisa dipakai anak‐anak untuk sepak bola dan
playground. Sebuah kombinasi yang sangat cantik.
Hari ini Bu Susi akan kembali ke pelabuhan mengurus
bisnisnya. Dari berita yang diterima, hari ini akan datang
kapal besar yang akan memuat dagangannya ke suatu
negara. Ah, dia jadi ingat dengan kisah setahun yang lalu
ketika dia tertipu oleh pebisnis dari negara itu. Tapi dia tak
ingin terlalu terganggu. Hari ini dia akan membongkar
barangnya dan mengirimnya dengan kapal itu. Semua barang
sudah dinaikkan dan siap berangkat.
Tiba‐tiba saja ada sebuah perahu mendekat ke dermaga.
Dari perahu nampak ada tiga orang laki‐laki yang berbadan
kekar. Dia mendekati Bu Susi yang hari ini mengenakan
setelan warna abu‐abu dan sepatu bot.
“Bu Susi, ijinkan kami menyampaikan pada Ibu tentang
suatu masalah,” kata salah satu dari mereka.
“Apa itu,” kata Bu Susi dengan suaranya yang besar dan
khas.
“Kami dari salah satu kelompok yang sedang mencari
sumbangan untuk orang‐orang yang mencari suaka ke
Indonesia. Jadi kami butuh bantuan Bu Susi untuk bisa
memberikan sedikit ikan, uang, dan bantuan lainnya.”
Bu Susi agak sedikit curiga tapi akhirnya dia bilang, “ Ya
sudahlah, kalian ambli saja sebagian ikan yang ada di sana
dan kalian bawa juga sebagian uang ini untuk mereka yang
membutuhkan.”
16 | Ahlis Qoidah Noor
Ketiga orang itu pun mengambil dan bersegera
berpamitan dengan Bu Susi untuk kembali.
Sore itu sekitar pukul lima, ketika Bu Susi sedang berada
di depan TV sambil makan ketela goreng dan kopi
kesukaannya.
Dari TV tampak pembaca berita menyampaikan, “Telah
ditemukan sebuah perahu yang terapung di tengah lautan
beserta tiga orang laki‐laki yang sedang terombang‐ambing
ombak. Mereka diduga adalah orang‐orang yang ingin
mencari suaka ke Indonesia, separuh perahu itu sudah
tenggelam. Korban ditemukan dalam keadaan lemas tak
berdaya, menunggu pertolongan.”
Bu Susi bertanya dalam hati, “Bukannya mereka yang
tadi kemari dan bertemu dia. Ah, kasihan mereka. Ingin sekali
rasanya Bu Susi bisa bertemu dan mengabulkan apa yang
mereka perjuangkan. Tapi apa dayalah dia. Dia cuma seorang
pengusaha dan bukan politisi yang ngomong ke sana kemari.
“Setelah dilakukan pertolongan ternyata ketiga lelaki itu
sudah tidak bernyawa. Mereka saat ini akan dibawa untuk
diautopsi,” Bu Susi kembali menyimak berita.
Ah kasihan orang‐orang di perahu itu. Mereka tenggelam
sebelum perjuangannya berhasil. Bu Susi jadi ingat tentang
rumah kapal yang dia bangun. Dia ingin ke sana besok pagi
dan melihat kegiatan anak‐anak Sekolah Hafiz yang dia rintis
bersama beberapa ustadz.
Diiringi oleh beberapa ajudannya dia ke rumah kapal itu.
Tampak angin semilir menerbangkan rambut Bu Susi yang
sangat ikal.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 17
Di sana Bu Susi disambut oleh anak‐anak dan beberapa
ustad. Ada juga anak‐anak hafiz yang ikut serta. Sekitar dua
belas orang dengan berpakaian sarung, berpeci, dan tak lupa
sandal jepit, yang ikut menyambut. Wajah mereka sangatlah
sejuk dan cerah. Anak‐anak ini berusia sekita 11‐15 tahun.
Mereka memilih untuk jadi hafiz. Bu Susi sudah menjamin
kehidupan mereka. Mereka dibebaskan dari biaya sekolah
selama empat tahun belajar di sana. Para ustad juga tidak
bakal ada yang merasa cemas karena gaji bulanan mereka
sudah sama dengan UMR di daerah itu. Mereka juga
mendapat tunjangan berupa perumahan dan alat
transportasi untuk mengajar di rumah kapal itu. Maklumlah
jarak rumah mereka dengan rumah kapal sangat jauh. Motor
yang diberikan Bu Susi untuk mereka juga bisa dijadikan alat
transportasi anak‐anak bila memerlukan. Ada juga satu unit
mobil sekolah dan satu unit rumah sehat. Itu semacam klinik
kecil bagi para santri. Bu Susi sengaja meminta dua orang
dokter dan perawat untuk bisa menjaga klinik itu bergantian.
Sekarang Bu Susi sudah berada di depan anak‐anak.
Mereka menceritkan apa yang mereka rasakan selama
pembelajaran di rumah tahfiz itu.
“Bu Susi, kami mengucapkan terima kasih atas semua
usaha dan pemberian Bu Susi untuk kami. Semoga menjadi
amal jariah untuk ibu dan keluarga, kata anak‐ anak
serempak.
Bu Susi tampak bahagia dan matanya berkaca‐kaca
ketika seorang anak memberinya seikat bunga tanda cinta
mereka untuk Bu Susi.
18 | Ahlis Qoidah Noor
Bu Susi adalah seorang pengusaha yang sangat peduli
dengan kemiskinan dan moralitas. Dia ingin menjaga
moralitas masyarakat dengan apa yang telah diberikan untuk
rumah kapal itu.
Terima kasih Bu Susi. Engkau tidak banyak bicara tapi
banyak berkarya dan berjasa. Kebaikanmu ibarat tangan
kanan memberi dan tangan kiri tak tahu apa yang terjadi.
Tidak banyak orang tahu apa yang telah kau berikan untuk
anak‐anak yatim itu. Tak ada publikasi juga tak ada
dokumentasi serta tak ada komunikasi dengan mereka yang
biasa cari sensasi. Semua kau lakukan sendiri. Sendiri dalam
sepi namun hati penuh arti. Bu Susi,boleh kupanggil namamu
Bu Susi Pertiwi. Kuberikan bunga tanda cinta dari kami, anak
muda yang pernah kau beri.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 19
20 | Ahlis Qoidah Noor
Aku Juara, Aku Sengsara
“S elamat ya, kamu jadi murid berprestasi di kota ini.
Kamu pasti bangga dan senang. “Nanti ke kantor
bapak, ya. Ada sedikit hadiah untuk kamu,” kata
kepala sekolahku, Pak Maman.
Sejenak aku memandangnya, kulihat ada yang sedikit
aneh dari pandangannya kepadaku. Tapi aku tepiskan saja
semua prasangkaku. Kembali aku sedikit berlari ke arah kelas
untuk mengikuti pelajaran berikutnya.
“Denny, coba kemari. Selesaikan soal matematika itu,”
Bu Mae, guru matematika, menyuruhku maju.
Aku selesaikan dua soal dalam waktu lima menit. Teman‐
teman tampak senang dengan apa yang kulakukan demikian
juga dengan Bu Mae.
Jam berikutnya adalah pelajaran bahasa Inggris. Aku
sangat senang dengan pelajaran ini. Materinya selalu menarik
untuk diminati. Setiap hari metode belajarnya juga berubah.
Tidak seperti beberapa guru kebanyakan yang hanya
menyelesaikan LKS atau mengerjakan dari apa yang diminta
tanpa ada makna.
“Hai guys. Today we learn about professions. What kinds
of profession do you know?” tanya bu Asri.
Terdengar beberapa anak menjawab. Teacher, merchant,
barber, cook, manager, president. Tampak ada dua orang
anak menjawab agak berbeda.
“Pickpocket and robber, Mom,” kata mereka.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 21
“Hah, those are not professions. They are criminal,” sahut
bu guru sambil menjelaskan beda antara profesi dengan dua
yang disebut terakhir yaitu copet dan perampok.
Bu guru yang satu ini memang tidak pernah marah pada
anak‐anak yang nyeleneh. Mereka anggap anak‐anak itu
dalam masa pencarian jati diri. Jadi, boleh bereksplorasi dan
bertanya apa saja. Tugas guru adalah menjelaskan bila pilihan
mereka tidak pas atau komentar mereka kurang sesuai
namun tidak pernah sekalipun melarang.
Sambil berkeliling dan memeriksa pekerjaan kami, Bu Asri
mendekati mejaku.
“Hai Denny, you look uneasy today. What happen with
you?” Bu Asri seperti bisa membaca pikiranku. Lalu dia
lanjutkan, “Come to me at the break time, will you?”
Dia memintaku untuk menemuinya di saat istirahat.
Aku duduk di samping Bu Asri. Sambil terdiam aku
memandang wajahnya yang sejuk.
“Sekarang kamu cerita, ada apa. Kulihat kamu itu
mestinya senang. Sudah menjadi juara di tingkat kota, juara I
LKS. Itu sebuah kebanggaan yang patut dirayakan,” katanya
memulai pembicaraan.
Maka mengalirlah semua cerita dari mulutku yang selama
ini hanya kupendam saja. Aku tinggal bersama pakde dan
bude. Mereka orang‐orang yang sangat sibuk namun mau
menampung aku di rumahnya.
Lalu apa yang terjadi dengan aku? Setelah ayahku
meninggal sejak aku SD, aku tidak lagi tinggal serumah
dengan ibuku. Cara hidupnya yang membuat aku tak suka.
Dia hidup dengan seorang laki‐ laki yang dicintainya. Namun
22 | Ahlis Qoidah Noor
mereka belum menikah. Aku setiap hari bahkan sampai saat
ini selalu meminta mereka untuk segera menikah tetapi
jawaban yang aku terima malah menyakitkan. Maka
kuputuskan untuk tidak tinggal dengan ibuku. Aku tidak mau
menanggung malu di masyarakat akibat perbuatan ibu.
Terakhir chattingku dengan ibu lewat WA adalah tadi
malam. Hampir setiap hari aku chatting sama ibu. Akan tetapi
chatting itu selalu berakhir dengan kekecewaanku. Aku jadi
mengantuk di kelas dan kurang fokus.
Ini bukan kali pertama Bu Asri memanggilku. Dulu dia
pernah minta aku untuk datang ke mejanya karena melihat
aku yang sering mengantuk. Terakhir dia bilang, aku itu tipe
siswa yang kurang fokus. Namun, saat aku fokus maka
kecepatan belajarku melebihi teman‐ temanku.
“Betul begitu?” katanya suatu hari.
Aku mengangguk tanda setuju. Bu Asri menggoyang
kepalaku tanda gemes.
“Denny, kamu itu istimewa bagi ibu. Setiap anak di kelas
ibu mempunyai keistimewaan masing‐masing dan ibu
memperhatikan semua itu. Makanya kamu akan sering
melihat beberapa anak yang ibu panggil. Ibu ajak bicara
untuk meningkatkan potensi dan motivasi mereka. Kamu
bukan yang pertama. Jadi, apakah sekarang ada progres?”
Aku hanya diam sambil memperhatikan penjelasan Bu
Asri. Belum sempat aku menjawab, Bu Asri sudah
mengajukan pertanyaan lagi.
“Bagaimana hubunganmu dengan Bude dan Pakde?”
Pidatoku di Hadapan Bupati | 23
“Aku tidak banyak komunikasi dengan mereka. Aku
hanya pergi sekolah. Setelah pulang sekolah langsung ke
kamar. Bila aku ada perlu uang mereka kasih aku itu,” jelasku.
“Oh, kok begitu. Apakah kamu tidak mengobrol atau apa
gitu dengan Pakde atau Bude,” tanyanya lebih lanjut.
“Tidak. Tidak ada. Mereka juga punya anak tapi sudah
menikah dan tinggal jauh. Jadi, saya tidak berkomunikasi
dengan siapapun. Saya kesepian, Bu. Mereka orang yang
sibuk semua,” kataku.
Bu Asri memegang kepalaku ketika melihat air mataku
menetes karena baper ceritaku sendiri.
“Ya, sudahlah. Sekarang apa hobimu?” tanyanya lebih
lanjut.
“Menggambar,” kataku singkat.
“Oke. Sekarang kamu ibu beri tugas menggambar.
Gambarlah dengan pensil biasa atau warna. Tidak usah pake
caption atau kata‐kata. Hanya gambar. Serahkan ke ibu
minggu depan.”
“Lalu apa hobimu yang lain? Apakah kamu suka musik?”
selidik Bu Asri.
“Aku suka mendengarkan saja, Bu. Tak bisa bermain
musik.”
“Baik, coba kamu bicara sama Bude atau Pakde untuk
membelikan kamu kentrung, guitar, harmonika atau apa saja
yang bisa mengisi waktu luangmu dengan alat itu, bisa?” kata
Bu Asri agak mendesak.
“Baik, Bu,” kataku.
Aku tidak tahu apa yang ada di benak Bu Asri. Tampaknya
dia sedang merancang sesuatu yang hebat untukku. Aku
24 | Ahlis Qoidah Noor
tidak tahu tentang psikologi belajar atau mengajar. Namun,
kelihatannya dia sedang membawaku memecahkan
persoalanku dengan caranya sendiri.
Hari berikutnya aku bawa gambarku dan juga alat
musikku ke Bu Asri. Ada dua gambar yang aku bawa.
“Wah, bagus gambarmu! Tapi kenapa tampak sunyi
sekali gambar ini. Tak ada gerakan kehidupan dan tak ada
nuansa kegembiraan. Denny, kamu kesepian di rumah?”
tanya Bu Asri tiba‐ tiba.
Aku jadi baper lagi.
“Itulah kenapa saya sangat senang kalau ngobrol dengan
Ibu. Aku jadi kangen ibu saya. Saya tak bisa berbuat apa‐apa
karena saya tinggal berjauhan.”
Kembali aku seperti mau menangis. Tak terasa air mata
mengalir di mataku.
“Sekarang kamu usap air matamu,” kata Bu Asri sambil
mengambil tisu di sebelahnya untukku.
Sekarang Bu Asri melihat gambarku yang kedua. Aku
menggambarkan pertengkaran antara seorang laki‐ laki dan
perempuan, ditengah‐tengah ada aku. Kedua orang itu
menjambak rambutku.
“Siapa mereka? “ tanya Bu Asri.
Aku bercerita bahwa itu ayah dan ibuku dulu. Mereka
kerap bertengkar dan menyalahkan aku secara fisik dan
psikologis. Aku sering jadi sasaran mereka bertengkar.
Bu Asri tampaknya ingin memutus ceritaku lalu dia pun
bertanya, “Apakah kamu bisa memainkan alat musik itu?”
Aku sudah berlatih memainkan gitar selama seminggu
dengan tetanggaku dan hasilnya hari ini aku pamerkan ke Bu
Pidatoku di Hadapan Bupati | 25
Asri. Bu Asri tampak senang mendengar dentingan gitarku.
Dia menikmati sekali instrumen yang aku mainkan. Dibanding
harmonika dan kentrung, tingkat kesulitan gitar ada di
tengah. Oleh karenanya, aku lebih memilih gitar. Mungkin
suatu saat aku akan memilih harmonika untuk varian
instrumentalia.
Lagu kedua aku mainkan. Bu Asri tampak senang.
Sebelum selesai dia sudah memintaku berhenti karena bel
masuk jam berikutnya terdengar. Hari itu aku sangat senang
dan lega karena apa yang dilakukan oleh Bu Asri telah
membantuku untuk keluar dari zona masalahku. Aku puas
dengan sharing‐ku bersama beliau.
Beberapa hari kemudian Bu Asri berbicara denganku di
kelas dan menanyakan perihal diriku. Aku sekarang tidak lagi
sengsara. Aku tidak lagi kesepian dan aku tidak lagi
mendiamkan orang sekitar. Aku sudah jadi Denny yang
periang dan mempertahankan juara I LKS untuk maju ke level
propinsi tahun ini. Terima kasih Bu Asri. Thank you so much
for your concern.
26 | Ahlis Qoidah Noor
Pidatoku
di Hadapan Bupati
“B agaimana mungkin kamu menjadi manager. Lha
wong sekolah saja kamu tak sanggup
membiayai. Apalagi menjadi orang besar dan
disegani.” Kata‐kata itu selalu terngiang di telingaku.
Aku tidak sakit hati dengan ucapan maupun orang yang
menyampaikannya. Justru membuat aku ingin membuktikan.
Apakah aku bisa?
Inilah kali pertamaku menginjakkan kaki di Semarang,
sebuah kota di Jawa Tengah. Penuh dengan hiruk‐pikuk
impian para pendatang, termasuk aku. Seorang anak baru
lulus SMP yang ingin mengadu nasib di Semarang. Aku lulus
dari sebuah SMK yang memberikan pendidikan gratis kepada
semua muridnya.
Aku juga gratis selama tiga tahun. Makan gratis dengan
menu yang di atas rata‐rata keseharianku. Bahkan ada dessert
dan snack pagi setiap pukul 10.00 setiap harinya. Baju
seragam kudapatkan gratis setiap tahun. Ada baju putih abu‐
abu, pramuka, wear pack, dan juga seragam olah raga. Aku
juga mendapat sepatu olahraga, sepatu praktik, dan juga
sandal setiap tahunnya. Termasuk biaya untuk mencuci dan
alatnya. Tidak ada SPP yang aku bayarkan. Semua gratis
ditanggung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 27
Tidak semua anak lulusan SMP bisa bersekolah di sini.
Aku harus bisa menunjukkan prestasiku di SMP baik
akademik maupun non akademik seperti olah raga, kesenian,
jurnalistik, maupun karya ilmiah. Ada syarat lainnya yang juga
sangat mudah aku penuhi yaitu aku harus bisa menunjukkan
Kartu Indonesia Pintar dan juga kartu yang menunjukkan
bahwa keluargaku tidak mampu dan layak untuk menerima
santunan. Aku tidak malu untuk berusaha karena aku ingin
memutus rantai kemiskinan. Itu yang disampaikan Gubernur
Jawa Tengah kepada kami ketika menerima kedatangan kami
di sekolah itu.
Dominasi warna biru di hampir semua bangunannya
membuat aku sedikit terpaku. Gedung itu berlantai empat.
Gedung yang cukup tinggi untuk ukuran sebuah sekolah. Aku
bertanya kepada salah seorang panitia, ternyata itu adalah
asrama untuk kami. Ada dua asrama yang terpisah, untuk
putra dan putri. Ternyata ini boarding school yang sudah
sangat dipersiapkan. Di tengah sekolah ada rumput yang
menghijau dihiasi taman sepanjang lapangan. Angin
berhembus sangat kencang, mungkin karena sekolah di area
Semarang yang dekat dengan laut.
Kujalani tahun pertamaku di salah satu jurusan yaitu
teknik mekatronika. Di tahun kedua aku sempat ikut berbagai
macam lomba. SMK ini memang berbeda dengan
kebanyakan. Semua siswanya harus masuk boarding school.
Tidak bisa sembarangan keluar. Ada hari tertentu kami boleh
pesiar. Pesiar adalah suatu kegiatan dimana kami bisa jalan‐
jalan ke mall atau tempat keramaian untuk sekedar
28 | Ahlis Qoidah Noor
berbelanja kebutuhan sehari‐hari. Pada saat pesiar pun kami
harus berpakain khas yaitu pakaian pesiar. Sangat istimewa.
Kegiatan kami dimulai dari pukul 02.30 ketika kami harus
bangun dan segera sholat malam bersama‐ sama. Dilanjutkan
dengan antri di kamar mandi dan olah raga pagi.
Waktu sarapan kami lakukan di sebuah gedung makan
yang cukup besar, bisa diisi oleh hampir 150 orang. Jumlah
muridnya ada 360 jadi kami bergantian. Sebelum kamu duduk
sambil menunggu, semua sudah rapi kemudian berdoa
bersama. Di meja sudah tersedia sejumah makanan dan alat
makan. Semua makan tanpa bersuara. Etika makan sangat
dijaga. Sekolah ini memang semi militer tapi itu semua
memang ditujukan untuk kebaikan kami. Disiplin dan kerja
keras yang ditanamkan pada kami telah membuatkan hasil.
Bermoto “Sekolah para juara”, satu demi satu kami
mengantongi tropi kejuaraan di berbagai macam lomba.
Tropi yang baru kami dapatkan adalah ketika kami
memenangkan lomba Robotika, debat sang Kandidat di TV,
PEMILOS, lomba pramuka, Pidato bahasa Inggris, dan lomba
lainnya. Meskipun baru tahun kedua sekolah ini berdiri
kulihat berjejer piala ada di ruang tunggu tamu. Kami bangga
memilikinya.
Hari ini dan dua minggu ke depan aku mendapat libur
untuk pulang ke kampung. Setiap anak yang pulang akan
mendapat tugas untuk mewawancari pejabat yang ada di
daerahnya. Ada 34 kabupaten dan kota di Jawa Tengah yang
akan kami datangi. Semua siswa di SMK itu memang dari
sejumlah daerah itu. Kami akan berombongan tiga orang
Pidatoku di Hadapan Bupati | 29
mendatangi pejabat untuk menanyakan banyak hal terkait
daerah dan terkait kebijakan.
Hari itu aku datang ke bupatiku bersama dua kawanku.
Aku memakai baju kebesaran pesiarku. Kubawa serta buku
dan surat tugas dari sekolah yang akan kusampaikan kepada
bapak bupati. Tampak dari kejauhan bupati datang diiringi
ajudannya. Kami duduk di ruang tunggu. Sejenak ada debar
antara senang dan segan namun kami tetap harus percaya
diri di hadapan beliau.
“Mari masuk. Ini adik‐ adik dari mana ya?” tanyanya
ramah dengan senyum dan wajah yang berbinar.
“Kami dari SMK, Bapak Bupati. Kami mendapat tugas
dari sekolah untuk menemui Bapak dan ingin bertanya
beberapa hal kepada Bapak.”
“Oh dengan senang hati, santai saja. Mari … mari,”
katanya sambil mempersilahkan kami mendekatinya.
“Selamat pagi, Pak. Apa pendapat bapak tentang sekolah
gratis bagi siswa miskin, Pak?”
“Ya, itu sangat bagus. Program yang layak ditiru oleh
propinsi lain dan kalau perlu dilakukan studi banding untuk
melihat sejauh mana pelaksanaanya. Untuk memutus rantai
kemiskinan memang harus dengan pendidikan. Dengan
pendidikan pula kalian akan sukses membangun bangsa dan
mensejahterakan keluarga. Kita juga bisa peduli ke
masyarakat, lewat program dari perusahaan yang berbentuk
kerjasama antara pemerintah dan kalangan bisnis melalui
CSR(Corporate Social Responsibility). Intinya saya sangat
setuju. Jadi, lanjutkan!” kata beliau berapi‐api.
30 | Ahlis Qoidah Noor
“Kalau saya meminta adik‐adik ini memberikan testimoni
atau semacam pidato pendek di depan para staff kabupaten
bisa ndak ya, mungkin sekitar lima belas menit saja?” tanya
pak bupati tiba‐ tiba.
Kami saling berpandangan dan akhirnya aku mengambil
inisiatif untuk menyetujui permintaaan beliau.
“Baiklah, Pak.”
“Oke. Kalau begitu kebetulan besok ada apel, silakan
datang. Nanti adik‐adik bisa testimoni di sana.”
Wah, sebuah permintaan yang sangat besar bagi anak
seumuran kami yang baru kelas XI SMK. Tapi tak apa. Aku jadi
ingat motto sekolah kami, “Sekolah sang juara”, maka aku
pun harus begitu.
Hari itu tiba. Aku dan temanku pun sudah siap sejak pagi
untuk ikut apel dan selanjutnya memberikan testimoni.
“Assalamualaikum,
Yang terhormat, Bapak Bupati. Yang saya hormati, para
staff kabupaten,
Ijinkan saya berdiri di sini untuk menyampaikan
testimoni. Saya adalah seorang siswa kelas XI SMK jurusan
Tehnik Mekatronika. Saya semula ragu untuk masuk sekolah
itu karena saya orang miskin, bahkan sangat miskin sehingga
rumah pun menumpang pada saudara saya. Saya tinggal
dengan orang tua dan dua adik saya yang masih kecil.
Namun, suatu hari setelah lulus SMP saya bertemu dengan
tetangga saya, yang dengan ucapannya membuat saya
tergerak untuk mencari jalan keluar dari kondisi kami melalui
pendidikan.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 31
Akhirnya saya mendapat kabar tentang sekolah gratis
bagi orang miskin. Saya tidak malu. Saya cari semua
persyaratan. Setelah lulus Tes Potensi Akademi, Tes
Kesehatan, Tes Psikologi, dan juga Tes Fisik serta tes Online,
kami menerima pengumuman kelulusan tahap I. Tahap kedua
adalah validasi rumah kami.
Ada sebuah tim yang terdiri dari 3 orang mendatangi
kami. Namun, karena kami tidak punya rumah maka kami
persilahkan tim untuk melihat rumah saudara kami yang juga
sudah reyot. Semua diamati dari lantai, kamar mandi, tampak
depan, dan tampak tengah. Saya merasa tim ini bekerja
sangat hebat karena dapat memastikan bantuan akan
diterima oleh tangan yang berhak.
Sangat senang ketika pengumuman kelulusan kami
terima. Segera kami menjadi siswa di SMK itu. Setiap hari
kami digembleng semi militer. Pagi dan sore kami latihan
fisik. Jadwal makan dengan menu yang sangat di atas rata‐
rata kami nikmati. Pelajaran dimulai pukul 07.00‐16.00 bahkan
bila kami belum kompeten, bapak dan ibu guru kami
menunggui kami sampai pukul 10.00.
Bila ada lomba tak segan kami mendapat pelatihan yang
sangat luar biasa sehingga berderet tropi kami terima.
Terakhir kali kami juara lomba mendesain program IT di
Jakarta. Kami mendapat juara I dari 2000 peserta se‐
Indonesia. Tidak terkira rasa syukur kami sampaikan kepada
Gubernur Jawa Tengah yang telah menginisiasi dan terus
memantau perkembangan belajar kami.
Bahkan ketika program “Gubernur Mengajar”, ada dua
belas BUMN dan perusahaan yang bersama‐sama membantu
32 | Ahlis Qoidah Noor
kami dalam program CSR (Corporate Social Responsibility)
mereka. Sungguh perhatian semua khalayak kepada kami tak
terhingga.
Suatu saat kami ingin buktikan bahwa mereka tidak sia‐
sia mendidik kami. Bahwa kami lah yang akan membawa
nama baik sekolah, para guru, gubernur, dan semua pihak
yang terkait ke tingkat nasional dan internasional. Saya ingin
supaya semua kalangan bisa melihat kami dan bisa meniru
apa yang telah dilakukann banyak orang untuk membantu
orang miskin seperti kami dengan cara yang benar yaitu
dengan pendidikan. Bukan dengan cara memberi uang
ataupun santuan yang kadang‐kadang malah membuat kami
harus berdesakan mengambilnya sehingga sebagian kami
menjadi korban bahkan menjadikan kami malas berusaha.
Kami orang miskin. Kami akan berterima kasih pada
semua orang yang telah membantu kami dengan cara apa
pun. Cara memberantas kemiskinan bukanlah dengan
membenci kami tetapi memberi kesempatan pada kami
untuk berjuang dengan sedikit kail dan memberi kesempatan
pada generasi muda untuk memutus rantai kemiskinan
dengan pendidikan.
Akhirnya saya ucapkan banyak terima kasih atas
kesempatan dan waktu yang diberikan kepada kami. Semoga
kami juga dapat berkontribusi di kabupaten ini selepas kami
lulus. Terima kasih, Pak Bupati. Terima kasih, Bapak dan Ibu
semua.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Demikian aku mengakhiri pidatoku dan turun dari
mimbar apel. Kudengar gemuruh tepuk tangan yang lama
Pidatoku di Hadapan Bupati | 33
sekali. Wajah para staff kabupaten itu tampak puas dan
senang dengan pidatoku. Keringat yang bercucuran karena
harus berdiri di panas matahari tak kurasakan. Saat ini yang
ada di hadapanku adalah pidato pertamaku. Aku ingin
merayakannya juga. Maka aku segera mendatangi Bapak
Bupati dan kusalami sambil kucium tangannya, seperti yang
kulakukan kepada bapak dan ibu guruku setiap hari. Semua
staff kabupaten satu demi satu kusalami dan kuanggukkan
kepala tanda hormat dan segan kami.
Hari ini aku seperti mendapat anugerah yang tak
terhingga. Tuhan memberiku kesempatan untuk bertemu
dengan orang hebat di kabupaten ini. Alhamdulillah.
Segera saja aku pulang naik angkot bersama dua orang
temanku. Mereka juga sangat senang dengan apa yang
kusampaikan dalam pidatoku.
“Kamu hebat, Rayhan. Aku salut dengan keberanianmu
tadi. Sebuah pidato yang sangat menyentuh dan juga
komprehensif,” kata temanku.
Angin berhembus sejuk di tengkukku. Perlahan kuketuk
pintu dan dari dalam terdengar ibu menyahut salamku.
Kucium tangan dan pipi yang mulai keriput itu. Adik‐adikku
yang masih kecil menyambutku dan aku peluk mereka
berdua. Ah, sebuah pertemuan yang hanya dapat aku nikmati
enam bulan sekali. Aku jadi teringat ayahku nun jauh di
syurga. Beliau menderita penyakit dan meninggal dua tahun
yang lalu.
Ayah, anakmu akan melanjutkan perjuanganmu dan akan
kunafkahi ibu dan adik‐adikku supaya engkau pun bahagia
dan tak khawatir dengan kami di sini.
(Terinspirasi dari kisah nyata anak‐anak di SMK Boarding
School di Semarang).
34 | Ahlis Qoidah Noor
Bully Mengantarkanku
ke RSJ
K ulihat Yoyon berjalan mondar‐mandir di sekitar
mejanya. Berulang kali hal ini dilakukan sampai
membuat teman‐temannya jengah. Tapi dia tak ambil
pusing. Dari tadi aku memperhatikan dia. Tak sadar aku mulai
juga memperhatika ekspresi wajahnya. Tampak ada tekanan,
rasa tidak nyaman, marah, benci, dan jengkel campur aduk di
wajahnya yang putih namun beraura gelap‐gulita. Perlahan
aku dekati dia.
“Yoyon, kamu ada apa?” tanyaku perlahan.
Dia menatapku sejenak. Sekilas tampak wajahnya yang
semakin susah diterjemahkan. Aku mengambil tempat di
sampingnya.
“Aku mau cerita sama ibu, tapi nanti ya seusai sekolah?”
Jawabnya pendek terus duduk di kursinya.
Pelajaran sudah usai. Pak Iwan sudah mulai
membersihkan kelas dan juga halaman. Dia memandang
Yoyon.
“Kenapa kamu belum pulang, Yon?” tanya Pak Iwan.
“Menunggu, Bu Cintia, Pak,” jawab Yoyon sedikit lirih.
Berjalan mendekati Yoyon aku coba menebak apa yang
akan diceritakannya.
“Oke, Yon. Ibu sudah di sini . Sekarang kamu mau cerita
apa?” tanyaku memancing dia.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 35
Dia hanya diam. Akhirnya setelah lima belas menit,
kemudian meluncurlah semua penderitaaan hidupnya di
telinga dan hatiku.
Yoyon adalah salah satu anak muridku di kelas X Kuliner.
Aku memang bukan menjadi wali kelasnya. Namun, kami
begitu dekat karena aku melihat dia butuh perhatianku. Aku
juga menyukai prestasi dan kepribadiannya yang tidak
banyak tingkah dan santun. Sejauh ini hanya itu yang aku
tahu sampai akhirnya dia menceritakan semua yang
dialaminya dengan isak tangis yang tertahan dan sangat
lama.
Sampai pada suatu ketika dia sudah tidak mampu lagi
menahan penderitaannya. Seketika itu aku dan juga guru BP‐
nya mengajaknya ke seorang psikiater. Oleh psikiater dia
diminta menggambar. Diberikan padanya dua buah gambar.
Gambar pertama adalah kotak dan gambar kedua adalah
kertas kosong. Disediakan juga satu pak pensil warna‐warni
di samping kertas gambar itu.
Seorang psikiater memintanya menuliskan semua apa
yang dirasakannya dalam selembar kertas yang bergambar
kotak.
Dia mulai mengambil kertas itu dan mengambil semua
pensil warna untuk dituliskan di kertas itu. Setelah beberapa
menit dia penuhi kotak itu dengan tulisan “lulus – lulus –
lulus” sampai tak ada ruang untuk menuliskan kata lain selain
kata “lulus” dengan aneka warna pensil warna.
Beberapa saat dia terdiam. Psikiater mulai mengajak dia
mengobrol.
36 | Ahlis Qoidah Noor
“Sekarang kamu tuliskan apa saja yang kamu rasakan di
kertas kosong ini,” sejenak Yoyon menatap psikiater itu dan
kemudian mengambil kertas itu.
Diambilnya satu pensil warna dan dia mulai menulis
dengan huruf yang tidak beraturan, besar, dan kecil tanpa
bentuk. Semuanya adalah kata‐kata, bukan kalimat. Kalau
aku perhatikan maka tulisan itu hanya berupa kata‐kata
seperti: jengkel, benci, marah, teman, gak suka. Lembaran
kosong itu kini penuh dengan uneg‐unegnya yang ternyata
berkisar pada kemarahan, kebencian, dan ketidaksukaan
pada teman.
Melihat semua itu aku pun bertanya pada psikiater.
“Ada apa dengan anak saya? Mengapa dia menulis
seperti itu? Mengapa pula dia hanya memilih warna merah
atau pensil warna merah untuk menuliskan semua pikirannya
di kertas itu?”
Sejenak psikiater itu terdiam. Kemudian dia mendekati
Yoyon dan bertanya.
“Apakah terjadi sesuatu antara kamu dan temanmu,
Yoyon?”
Yoyon terdiam. Namun, dari matanya nampak dia
bingung ingin menyampaikan sesuatu. Aku beri kode dengan
menganggukkan kepala ke dia. Sepertinya dia mengerti.
“Aku tak suka teman‐ temanku,” jawab Yoyon.
“Kenapa tidak suka?” Psikiater itu berusaha menyelidiki.
“Dulu aku senang sekali bisa melanjutkan pendidikan di
sekolah swasta itu, karena gratis. Aku tidak sanggup sekolah
di negeri karena aku tak begitu pandai. Tetapi di sekolah itu
aku juga tidak bodoh‐bodoh amat. Aku menjadi juara bahasa
Pidatoku di Hadapan Bupati | 37
Inggris waktu di SMP. Bahkan saat aku baru kelas X di
sekolah itu aku juga juara lomba di kuliner.”
“Lalu kenapa, apa yang terjadi selanjutnya? tanya
psikiater itu.
Aku pintar tetapi aku tidak seperti mereka. Mereka suka
mem‐bully aku. Setiap hari yang mem‐bully aku bertambah
banyak sampai satu kelas kelas bersama‐sama mem‐bully aku.
Padahal aku tidak melakukan apa‐apa. Aku juga tidak jahat
dengan mereka. Aku hanya ingin sekolah dan lulus. Aku ingin
segera lulus dengan dengan nilai yang bagus jadi aku terus
belajar dan belajar. Tapi aku juga tidak kuper amat. Aku
punya teman di kampung walaupun aku tak punya teman di
kelas ini. Setiap hari mereka mengejekku. Mereka mengejek
aku orang miskin dan orang aneh. Padahal mereka juga tidak
kaya‐kaya amat. Toh, mereka juga sekolah di sekolah yang
gratis seperti aku.Yoyon mulai tampak memerah matanya.
Air matanya mulai mengalir perlahan.
Kemudian dia melanjutkan, ”Aku hanya punya satu ibu.
Ibu Cintia, itulah ibuku. Meskipun beliau hanya seorang guru
dan juga bukan wali kelasku, tapi ketulusan, perhatian, dan
bantuannya membuat aku nyaman. Walaupun aku beda
agama sama dia. Dia gak masalah. Kami saling mengisi dan
mengingatkan untuk kebaikan. Dialah ibuku, Bu ...,” dia mulai
menangis lagi.
Dengan rasa penasaran akhirnya psikiater itu pun
bertanya,
“Boleh ibu tahu kondisi ayah dan ibumu?”
“Aku dari keluarga broken home, Bu. Ayahku bercerai
dengan ibu, kemudian dia meninggal. Ibuku kerja di luar
38 | Ahlis Qoidah Noor
negeri. Satu tahun kemudian dia pulang dalam kondisi
berbadan dua. Ibu tahu apa yang dilakukan ibuku?” tanyanya
pasa psikiater itu.
“Dia menyuruhku mengakui anak yang dikandungnya
sebagai adikku sendiri. Bagaimana mungkin? Ayahnya saja
tidak diketahui siapa. Oleh karena itu aku tinggal dengan
nenekku. Nenekku memang sudah lemah dan tidak berdaya.
Namun, aku tak apa tinggal di sana, walaupun bukan
kemauan hatiku.”
Tersadarlah aku, ternyata Yoyon memiliki masalah sendiri
di luar apa yang dilakukan teman‐temannya terhadapnya.
Bertambah komplekslah permasalahan dia, internal dan
eksternal. Betapa berat ujian hidup Yoyon.
Hari terus berlalu, bulan berganti. Tiba saatnya waktu
untuk tes semeter. Kulihat Yoyon masih tampak seperti dulu.
Aku titip pesan pada wali kelasnya untuk menjaga dia karena
sesungguhnya dia adalah anak yang pintar. Namun, apa yang
kuinginkan itu tidak dilaksanakan oleh wali kelasnya.
Akhirnya dengan persetujuan kepala sekolah kami bertukar
posisi wali kelas supaya aku bisa menjaga dia dan memantau
perkembangan jiwanya.
Tibalah saatnya untuk sidang pleno menentukan
kenaikan para siswa ke kelas XI. Dalam sidang itu tampak
semua guru tidak nyaman dengan Yoyon. Bukan terkait
psikologisnya tetapi prestasinya yang mereka pandang mulai
menurun. Aku juga tidak bisa mempengaruhi Yoyon
sepenuhnya karena ternyata banyak sekali pengaruh dalam
kehidupannya. Aku hanya bisa memperjuangkan supaya dia
naik kelas XI dengan sukses.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 39
Tak terasa bulan Juli sudah dilalui. Yoyon tampak sudah
duduk di kelas XI. Di kelas ini ada program magang bagi kelas
XI yang dilaksanakan selama 3 bulan. Aku pun merasa senang
karena Yoyon akan juga merasakan kehidupan lain di dunia
industri bersama teman‐ temannya.
Tetapi siang itu aku tidak melihat Yoyon di kelasnya. Aku
bertanya ke semua anak. Mereka jawab tidak tahu. Kemudian
aku ke guru BP dan jawaban yang aku dapat sangatlah
mengejutkan.
“Yoyon sudah dikeluarkan, Bu. Kepala sekolah yang
melakukannya.”
Aku kaget setengah mati, mengapa kepala sekolah
mengeluarkan anakku tanpa memberi tahu ataupun
berdiskusi dengan aku selaku wali kelasnya. Lalu apa gunanya
aku disini? Segera saja aku meminta konfirmasi pada kepala
sekolah.
“Dia tidak layak di sini. Di sini bukan tempat orang seperti
itu,” kata kepala sekolah.
“Tapi dia anak pintar, Pak. Dia hanya butuh bimbingan
dan perhatian. Kalau saja teman‐temannya tidak mem‐bully
dia terus‐menerus, dia tidak akan under pressure seperti itu.
Dia akan sehat‐sehat saja.”
“Ibu tidak perlu khuatir, semua teman‐teman sekalasnya
sudah saya beri peringatan.”
“Tapi apa yang Bapak lakukan sudah terlambat. Mestinya
hal itu dilakukan sejak kelas satu seperti permintaan saya.”
“Ibu ini bagaimana. Tidak usahlah mempertahankan anak
seperti itu. Sebentar lagi dia juga akan masuk ke RSJ.”
“Masuk RSJ? Maksud, Bapak, dia gila?”
40 | Ahlis Qoidah Noor
“Lihat saja sebentar lagi, Bu,” jawab kepala sekolahku
enteng.
Tiga bulan kemudian aku mendapat kabar bahwa Yoyon
masuk Rumah Sakit Jiwa di suatu kota. Segera saja aku ke
tempat itu untuk memastikan bahwa dia ada di sana.
Tampak seorang anak berwajah tampan, putih, dan agak
kurus datang berlari‐lari mendekati aku. Dia memang putih
karena dari etnis tertentu. Ayah dan ibunya perpaduan dari
dua etnis yang berbeda. Berlari‐lari kecil dia menghampiri
aku.
“Ibu ... ibu ... ibu,” tampak wajah cerahnya semakin
berbinar, “aku kangen Ibu. Aku kangen Ibu.”
Meleleh air mataku melihatnya. Aku tidak bisa berbuat
apa‐apa karena aku bukan anggota keluarganya. Aku juga
tidak bisa menentukan dia harus bagaimana masa depannya
karena aku tak berhak untuk itu. Kusambut ia dengan
senyum. Ingin sekali kukuatkan raga dan jiwanya dengan
senyumanku.
Dia duduk di sampingku dan mulai bercerita kegiatannya
selama di RSJ. Aku mendengarkan sambil tak tahan meleleh
air mataku tanpa kusadari. Ah, Yoyon kecilku semoga engkau
lekas sembuh dan mendapat pengganti keluarga yang lebih
baik. Aku berharap suatu saat kamu bisa bersekolah lagi dan
sukses sesuai dengan cita‐ citamu.
(Dari kisah nyata seorang guru SMK yang menangis
untuk muridnya yang di‐bully dan berakhir di RSJ). Semarang,
17 Januari 2018: 11.20
Pidatoku di Hadapan Bupati | 41
42 | Ahlis Qoidah Noor