Legenda Sunan Kudus
S hanti terkejut ketika ayahnya ingin memasang sebuah
lukisan di dinding kamar tamu. “Ayah, itu siapa?
Apakah eyang yang sudah meninggal?”
“Bukan, ini lukisan Sunan Kudus, Syech Ja’far Shodiq.
Kamu kenal beliau, Shanti?” tanya ayah.
“Tidak ayah. Apakah beliau masih hidup? Dimana tempat
tinggalnya?” tanya Shanti penasaran.
Shanti adalah anak kecil yang sangat besar
keingintahuannya. Beraneka ragam buku dibacanya, tanpa
memilih jenis topiknya. Kebiasannya ini dimulai dari
kebiasaan ayahnya yang suka mendongengkan di sela
waktunya. Kadang hanya obrolan kecil selepas pulang kerja.
Kadang untuk menunggu masakan matang. Kearifan lokal
yang biasa didengarnya membuat Shanti sangat kritis
melebihi usia kebanyakan.
Sore itu ayah dan anak ini duduk di ruang tamu. Udara
sore sangat sejuk. Di ujung rumahnya ada bunga dan di atas
bunga ada lukisan‐lukisan yang dibuat Shanti, hasil dari
melukis di sekolahnya.
Tak sabar Shanti ingin mendengar jawaban ayahnya.
Maka berkisahlah ayah Shanti.
“Shanti. Sunan Kudus itu seorang ulama besar. Beliau
salah satu dari Walisongo di tanah Jawa. Beliau sudah lama
wafat. Makamnya ada di dekat Masjid Menara Kudus.”
Pidatoku di Hadapan Bupati | 43
“Oh, aku ingat, Ayah. Kalau tidak salah minggu kemarin
bu guru Sejarah bercerita tentang Sunan Kudus, Joko Tingkir,
dan Arya Penangsang. Siapa saja mereka? Bu guru ceritanya
sedikit, aku kepingin Ayah cerita lagi ya.”
Shanti yang sudah kelas V SD ini tampaknya mulai
tertarik.
“Baik. Minggu besok kita ke sana ya, ke Makam Sunan
Kudus dan Juga Masjid Al Aqsho, bersama mama dan kakak
ya?” ayah Shanti menjanjikan sebuah wisata religi ke sana.
Maka mengalirkah cerita tentang Sunan Kudus dan Aryo
Penangsang pada saat Shanti hendak tidur malam.
“Shanti. Kamu lihat sekarang banyak orang yang suka
kekerasan ya. Itu salah. Mereka mestinya meneladani apa
yang diperbuat oleh Sunan Kudus. Sunan Kudus muda, suka
sekali mencari ilmu di pesantren. Salah satunya adalah
berguru kepada Kanjeng Sunan Kalijogo.”
“Sunan Kalijogo? Apakah itu salah satu wali, Yah?”
“Ya, benar sekali. Sunan Kalijogo menyampaikan agama
Islam di tanah Jawa , sama seperti 8 wali yang lain. Ada
berapa wali di Jawa ini, Shanti?” tanya ayah.
Tampak Shanti mulai mengernyitkan dahinya. Dia berpikir
keras. Sejurus kemudian dia berkata.
“Ada 9 ayah, Sunan Gresik, Sunan Ampel, Sunan Bonang,
Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria,
Sunan Gunung Jati, dan Sunan Giri. Betul, Yah?”
“Betul sekali,” kata ayah sambil menggoyang‐goyangkan
kepala Shanti dan mencium keningnya.
“Lalu siapa orang tua Sunan Kudus, Yah?”
44 | Ahlis Qoidah Noor
“Ada beberapa sumber berita yang mengatakan bahwa
ada seorang syech dari Arab keturunan Al Alawiyin dari
Hadramaut namanya Imam Alwi bin Muhammad Shahib
Mirbath. Beliau mempunyai 4 orang anak lelaki. Salah
satunya bernama Abdul Malik yang keturunannya disebut al–
Azhamat Khan merupakan leluhur sebagian Walisongo.”
“Jadi Walisongo itu ada keturunan dari orang Arab ya,
Yah?”
“Ya, sebagian dari mereka. Ayah lanjutkan ya? Abdul
Malik ini meninggalkan Hadramaut menuju India dan
menikah di sana serta mempunyai beberapa anak lelaki
diantaranya Sayid Amir Khan. Beliau mempunyai anak
bernama Amir al Mu’azhom Syah Maulana Ahmad. Maulana
Ahmad mempunyai anak bernama Jamaluddin Husein yang
datang ke pulau Jawa dan seterusnya sampailah pada
Ibrahim al – Ghazi yang berputra dua orang yaitu Maulana
Ishaq dan Maulana Rahmatullah (Sunan Ampel).”
“Lalu mereka punya anak siapa saja, Yah?” tampak Shanti
mulai menikmati kisah perjalanan spiritual ini. Dia semakin
mendekat duduknya ke Ayah sambil bergelendotan.
“Maulana Ishaq menikah dan mempunyai putra Sayid
Ainul Yakin (Sunan Giri). Sunan Ampel dikarunia anak
bernama Maulana Hasyin (Sunan Drajat) , Maulana Makdum
Ibrahim (Sunan Bonang) , Maulana Ja’far Shodiq (Sunan
Kudus) dan Ahmad Hisan (Sunan Lamongan).”
“Jadi, sebagian Walisongo itu saudaraan ya, Yah?” kata
Shanti menyimpulkan, “wah mereka ternyata keturunan
orang‐orang sholeh ya, Yah,” Shanti kagum atas hirarki
keluarga Walisongo.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 45
“Kenapa ya, Yah, bu guru bilang kalau Sunan Kudus itu
toleransi beragamanya tinggi?”
“Ah, kamu pemerhati bu guru ya? Begini Shanti. Sunan
Kudus itu dalam mengajarkan agama Islam sangat
memadukan budaya. Kamu tahu apa itu budaya?” tanya ayah
balik.
“Aku tahu, Yah. Kata bu guru, budaya itu hasil budi daya
manusia baik pikiran maupun kebiasaan dan tindakan.”
“Betul kamu. Kebiasaan orang Kudus itu, mereka
menghormati sapi sebagai binatang yang disucikan dan juga
mempunyai kepercayaan tentang kebenaran mereka sendiri.
Orang Kudus pada masa lalu juga ada sebagian yang
beragama Hindu dan Budha.”
“Lalu apa yang dilakukan Sunan Kudus, Yah?”
“Sunan Kudus itu sangat berilmu. Maka beliau mendapat
julukan ‘Al‐Ilmi’ artinya orang yang berilmu pengetahuan.
Maka untuk menghindari perselisihan antar agama, beliau
mengajak orang atau berdakwah untuk masuk Islam melalui
budaya dan kerukunan di masyarakat.”
“Maksud Ayah, apa sih? Aku belum paham,” tanya Shanti
agak bengong.
“Misalkan, dalam agama Hindu, sapi itu disucikan, jadi
kita tidak menyembelih sapi sebagai gantinya kita
menyembelih kerbau bila butuh dagingnya untuk kurban
maupun lauk sehari‐hari.”
“O, begitu. Aku tahu, Yah. Lalu kalau menara di Kudus itu
apa istimewanya dan kenapa beliau disebut Sunan Kudus?”
“Sunan Kudus itu belajar banyak dari suatu tempat di
Yerusalem, Palestina. Di sana ada masjid namanya Al–Quds.
46 | Ahlis Qoidah Noor
Jadi, ya mengambil dari nama di tempat itu. Jadilah Sunan
Kudus. Beliau juga belajar banyak dari Sunan Bonang dan
Sunan Drajat.”
“Meskipun sudah berilmu, tetapi beliau tetap belajar dari
orang lain ya, Yah?”
“Ya..betul sekali. Kita jangan pernah merasa pintar
sendiri. Kita perlu belajar sepanjang hayat seperti beliau.”
“O,begitu. Aku mau lho, Yah begitu,” kata Shanti girang.
“Lanjutkan, Yah!”
“Karena kebijakan dan kepandaiannya, beliau diminta
memimpin Kudus sehingga beliau juga bisa menyebarkan
agama Islam di kalangan priyayi dan pejabat bangsawan
kerajaan di Jawa.”
“Sunan Kudus itu banyak menciptakan cara‐cara dakwah
yang istimewa, karena ilmunya yang luas. Pada saat
berdakwah beliau menyelipkaan ajaran Islam pada adat dan
kebiasaan masyarakat Kudus. Inilah kunci kesuksesan
penyebaran agama Islam di kota kita ini.”
“Apakah Sunan Kudus suka jalan‐jalan, Yah?” selidik
Shanti
“Ya, kita dulu menyebutnya berkelana. Bukan jalan‐jalan
seperti anak jaman now. Sunan Kudus gemar berkelanan
terutama ke daerah tak subur dan tandus seperti Gunung
Kidul. Sunan Kudus adalah murid dari Sunan Kalijaga. Beliau
sangat toleran. Hal ini menurun pada Sunan Kudus juga.
Sunan Kudus juga sangat menjaga toleransi budaya dengan
pemeluk agama lain walaupun waktu itu pemeluk Hindu dan
Budha sangat kuat di Kudus.”
Pidatoku di Hadapan Bupati | 47
“Sekarang aku mau Ayah ceritakan tentang makamnya
yang kata bu guru ada di dekat menara.”
“Ya, kamu pintar. Masih ingat cerita bu guru. Baik, ayah
akan lanjutkan. Bila kita ke area kompleks pemakaman Sunan
Kudus, maka akan kita jumpai menara Kudus yang
merupakan simbol perpaduan antara tiga budaya yaitu
budaya Islam, Hindu, dan Budha. Masjid ini desainnya
campuran antara agama Hindu, Budha, dan Islam. Bentuk
menaranya yang antik, terbuat dari bata merah tanpa semen
dan mempunyai desain unik, lain dari menara kebanyakan
yang sangat dipengaruhi budaya Arab. Bentuk gerbang juga
menyerupai pura Agama Hindu. Sedangkan pancuran tempat
wudhunya juga unik.”
“Waah, aku jadi penasaran, Yah. Aku nanti mau sholat di
sana lho, Yah bareng sama Ayah.”
Hari ini hari Minggu. Shanti , ayah, ibu, dan kakak sedang
menuju ke Masjid Menara di Kudus. Mereka berempat naik
taksi on line yang baru dua bulan boleh beroperasi di kota ini.
Ini pas dimana hari “Dhandangan” tiba. Ini adalah tradisi
sebelum dimulainya puasa Ramadhan. Lima hari sebelum
puasa, biasanya di area Masjid Menara sampai Simpang Tujuh
sudah dipenuhi beraneka ragam dagangan. Mereka
mengharap berkah datangnya rejeki menjelang puasa.
Sesampai di menara, Ayah tampak mengajak ibu, kakak,
dan Shanti masuk ke area menara dan makam Sunan Kudus.
Memasuki kompleks menara, pengunjung sudah disambut
oleh bentuk menara yang unik. Ada bedug dan kentongan di
sana.
48 | Ahlis Qoidah Noor
“Yah, Ayah lihat. Itu ada bedug dan kentongan. Untuk
apa itu, Yah?”
“Itu alat untuk memanggil para jamaah atau juga
menandai awalnya puasa. Bedug itu akan dibunyikan pada
saat itu.”
“Yah, kata guruku, Sunan Kudus itu kalau dakwah suka
bawa sapi, betul ndak, Yah?”
“Oh, itu. Ceritanya begini. Waktu itu Sunan Kudus ingin
mengadakan pengajian. Beliau menambatkan sapi di sebelah
tempat pengajian karena orang‐orang Hindu waktu itu
sangat menghormati sapi. Nah, itulah cara cerdik Sunan
Kudus. Sekalian beliau ingin menjelaskan ayat Al Baqoroh
yang berarti sapi betina.”
“Bagus ya, Yah. Kalau bu guru bilang, itu namanya
mengajar sambil bawa alat peraga. Katanya, Sunan Kudus
juga suka mendongeng ya, Yah.”
“Betul sekali. Sunan Kudus suka sekali menggubah
beberapa cerita seribu satu malam secara bersambung
sehingga mereka yang ikut mengaji merasa senang ingin
mendengar kelanjutan ceritanya pada pengajian berikutnya.”
Sambil berjalan, tak henti‐hentinya mereka bercerita
sambil selfi di taman dekat masjid menara. Ada banyak orang
yang selfi di sana. Di depan masjid juga banyak penjual aneka
ragam suvenir khas Kudus. Ada baju, sajadah, mukena,
tasbih, mainan anak, makanan kecil, dan lainnya.
Sampailah mereka di tempat makam. Setelah mengambil
air wudhu dan berdoa, membaca surat Yaasin yang ditujukan
pada mereka yang telah meninggal, Shanti dan keluarga
melanjutkan perjalanan mengelilingi area Menara dan
Pidatoku di Hadapan Bupati | 49
sekitarnya dengan mengendarai dokar. Tampak Shanti dan
yang lainnya menikmati pemandangan yang unik dari kota
Kudus. Dokar ini ditarik kuda yang dihias warna‐warni. Sambil
naik dokar kembali Shanti bertanya.
“Lalu , siapa Arya Penangsang, Yah?”
“Arya Penangsang itu salah satu murid Sunan Kudus. Dia
anak dari Raden Kikin. Raden Kikin ini dibunuh oleh adiknya di
pinggir kali selepas dia sholat Jumat dengan menggunakan
Keris Kyai Setan Kober yang dicuri dari Sunan Kudus. Raden
Kikin ini adalah Putra Raja Demak pertama, Raden Fatah.
Masyarakat menyebut Raden Kikin dengan nama Pangeran
Sekar Sedalepen. Ibu Raden Kikin adalah Putri bupati Jipang.
Sehingga Aryo pun memerintah disana. Aryo juga
mempunyai saudara lain ibu namanya Aryo Mataram. Aryo
Penangsang terkenal sebagai seorang yang gagah berani.
Perawakannya tinggi, tegap, dan kekar. Arya penangsang
juga terkenal dengan wataknya yang keras. Kumisnya juga
tebal.
“Jadi, Aryo Penangsang ini yatim, Yah. Kenapa?”
“Sebetulnya pada saat ayah si Aryo akan di bunuh itu,
ada keluarga yang mengikutinya tetapi mereka lari. Lalu
karena kondisi terdesak dan terancam Pangeran Kikin pun
menyelamatkan bayinya ke sungai sampai tersangkut (jawa:
nyangsang) di akar‐akar sungai. Oleh Sunan Kudus, bayi ini
ditemukan dan kemudian dibesarkan dan diberi nama Aryo
Penangsang. Kemudian pakde dari Aryo Penangsang yaitu
Pangeran Prawoto menjadi raja karena dia sudah berhasil
melenyapkan Pangeran Sekard Seda Lepan yang mestinya
menduduki tahta pertama.
50 | Ahlis Qoidah Noor
“Kasian ya, Yah, Aryo Penangsang itu. Bagaimana sifat si
Aryo, Yah?”
“Arya Penangsang itu terkenal dengan kesaktiannya. Dia
berkepribadian tegas dan kukuh. Baginya tidak ada kata
kompromi dalam membela dan mempertahankan kebenaran.
Sifat yang demikian ternyata telah membuat gerah banyak
orang.”
“Gerah, Yah?”
“Banyak orang yang merasa kedudukannya terancam
dan khawatir si Aryo akan menuntut balas kematian
ayahnya.”
“Terus selanjutnya, Yah?”
“Benarlah apa yang dikatakan orang. Dia ingin meminta
kembali keris Kyai Setan Kober yang telah dicuri. Maka ia
mengamuk dan menantang pangeran Hadiwijaya. Hadiwijaya
tidak menanggapi malah membuat sayembara untuk siapa
saja yang bisa membunuh si Aryo bakal mendapat hadiah.”
“Apakah si Aryo melawan, Yah?”
“Sebetulnya dia amat marah, tetapi dia disuruh puasa
selama empat puluh hari oleh Sunan Kudus. Dia pun
menurut. Dia pun diminta untuk mengungsikan anak dan
istrinya ke suatu tempat karena dikhawatirkan
keselamataannya.”
“Wah, pintar ya, Yah. Mereka bisa memperkirakan
kejadian.”
“Ya, kamu benar. Mereka bisa membaca situasi dan
melakukan antisipasi. Sebagai seorang murid yang baik Aryo
Penangsang pun menuruti perintah gurunya uintuk puasa.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 51
Pada saat merayakan puasanya yang sudah 40 hari itu
datanglah Hadiwijaya (Jaka Tingkir) dan Sutawijaya (salah
seorang senopati Pajang) serta pasukanya menantang Arya.
Jaka Tingkir (Mas Karebet ini merupakan menantu dari Sultan
Trenggono). Atas petunjuk Ki Juru Mertani (seorang
penasehat militer Pajang), Sutawija diminta membawa
pasukan kuda betina saja supaya dapat merayu kuda jantan si
Aryo di sisi Bengawan Solo yang lain.
Si Aryo sudah diperingatkan oleh Sunan Kudus supaya
jangan menyeberang sungai karena ini pancingan saja. Sunan
Kudus juga berpesan supaya kalau dia menyeberang sungai
maka akan terjadi keburukan mengingat di seberang adalah
kuda betina. Bila kedua binatang ini saling bertemu maka
mereka tidak akan fokus pada perintah penunggang.
Awalnya si Aryo menurut tapi ketika kudanya meronta‐ronta
melihat kuda betina di seberang sungai dia tidak bisa
mengendalikan emosinya dan langsung ikut terbawa panas
amarahnya. Kuda yang ditungganginya pun menyeberang
Bengawan.
Sebenarnya si Aryo ini meladeni Sutawijaya dengan tidak
sungguh‐sungguh karena Sutawijaya adalah keponakannya
sendiri. Dia hanya sekedar menangkis serangan Sutawijaya
dengan ringan. Maka ketika Tombak Kyai Plered mengenai
perut si Aryo dia tetap santai saja melanjutkan pertarungan.
Sebenarnya, yang ingin diajak berhadapan adalah Jaka
Tingkir, orang yang telah membunuh ayahnya. Namun, tidak
demikian dengan Sutawijay. Ia tetap serius bertarung dan
menganggap si Aryo adalah musuhnya. Dengan bujukan
52 | Ahlis Qoidah Noor
penguatan dari ki Juru Mertani terjadilah peristiwa yang
memilukan itu.”
“Kenapa, Yah?”
“Arya Penangsang bersama kuda jantannya yang
bernama Gagak Rimang melarikan diri dalam keadaan yang
berdarah darah.”
“Ah, kasihan si Aryo. Karena keburu amarah dia jadi
tewas.”
“Belum. Dia belum tewas pada saat itu. Dia lari ke suatu
tempat dan mungkin di sana dia wafat.”
“Kalau ditengok sejarahnya sebenarnya yang berhak atas
kerajaan Demak adalah si Aryo Penangsang, karena dia
adalah cucu hidup dari anak pertama raja Demak, Sultan
Fatah. Tetapi perebutan kekuasaan membuat dia
disingkirkan.”
“Yah. Si Aryo itu masih punya keluarga apa ndak, Yah?
Lalu makamnya dimana?”
“Menurut kabar dari para keluarganya ada cucu beliau
yang bernama Arya Rejo dari Arya Kromo ada di Dusun
Sekaru, Gudo, Jombang, Jawa Timur. Kemungkinan besar
masih ada kerabatnya di sana.”
“Ayah, kenapa orang jaman dahulu suka kejam ya, saling
membunuh?”
“Ayah juga tidak tahu, tapi sebaiknya kita jangan begitu.
Nyawa itu milik Allah yang dititipkan ke kita. Kita tidak boleh
mencabut sesuka kita. Bukan hak kita sebagai manusia.”
“Lalu, apa yang dapat kita ambil hikmah dari cerita di
atas, Shanti?” tanya ayah.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 53
“Pertama ya, Yah. Kita harus menghormati orang. Jangan
menyakiti apalagi membunuh. Jangan dendam, jangan
melakukan segala cara untuk mencapai tujuan. Jangan
mudah marah dan ikuti petunjuk guru kita.”
“Yang kedua apa?”
“Ehmmm kita harus segera makan dan minum kalau
sudah capek cerita. Ha..hhaaa,” kata Shanti sambil terkekeh
lucu.
“Baik kita akan makan nasi pindang, soto, atau sate
kerbau?”
“Ah..aku mau ketiganya, Yah. Ibu sama kakak juga mau
kan?”
Terlihat ibu dan kakak masih selfi di sebelah Masjid
Menara. Tampak mereka juga membeli beberapa suvenir dan
mainan anak‐anak.
Segera saja mereka berempat ke sebuah warung makan
untuk bersantap siang sambil menikmati pemandangan di
sekitar Masjid Menara.
Cerita ini diolah dari berbagai sumber di bawah ini:
https://benmashoor.wordpress.com/2008/07/26/wali‐
songo‐benarkan‐mereka‐keturunan‐nabi‐saw/
https://informazone.com/wali‐
songo/#Sejarah_Singkat_Sunan_Kudus
https://www.kompasiana.com/banyuwijaya/sejarah‐jaka‐
tingkir‐arya‐penangsang‐dan‐pajang
https://id.wikipedia.org/wiki/Arya_Penangsang
hhttps://rodenrespati.wordpress.com/2012/12/28/arya‐
penangsang/
http://www.akarasa.com/2014
54 | Ahlis Qoidah Noor
Menu Hari Ini
“W ah, ini sekolah, hotel, kantin, salon, atau
butik ya?” Tanya temanku kepadaku ketika
memasuki sebuah gedung depan dan lobby.
“Kamu nikmati dulu aja pemandangan ini. Trus kagumnya
disimpan dulu karena nanti tentu akan bertambah dan
membuatmu tak ingin pergi jauh‐jauh dari tempat ini,” kataku
menanggapi respon temanku.
Aku masuk bersama dia di gedung itu. Sejurus mata
memandang ada lobby hotel dengan 18 kamar siap huni di
sebelah kiri. Ada anak‐anak yang tampaknya sedang hotel
training di situ. Di sebelah kanan ada display untuk butik
dengan beraneka ragam baju pesta dan baju siap pakai yang
manis, semanis mannequin di sana. Di belakangnya ada salon
dengan dua orang kapster sedang melayani creambath dan
potong rambut. Di seberangnya ada dapur advance yang
transparan. Pengunjung bisa memesan makanan apa saja dan
langsung pula tahu memasaknya.
Selanjutnya kami berjalan sepanjang lorong. Tampak
berderet piala prestasi disusun rapi. Terlihat aquarium agak
besar di sampingya. Sejurus masuk 100 meteran kulihat
ruangan panjang agak transparan. Ternyata itu dapur dan
restoran. Ada beberapa anak sedang makan di sana. Meja
tertata rapi dan bersih. Ada juga anak yang menjadi waiter
dan waitress sedang melayani teman‐ temannya.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 55
“Ah, aku tahu. Ini sekolah pariwisata ya?” tanyanya
dengan dengan muka berseri‐seri.
“Bukannya kamu tadi membaca papan nama di depan?”
tanyaku kembali.
“Ndak,karena yang aku temui di depan tadi kan lobby
hotel dan deretan ATM. Ya aku pikir ini gedung apa gitu,”
jawabnya polos.
“Ini SMK Pariwisata, jurusan perhotelan, tata busana,
tata boga, dan tata kecantikan,” kataku.
“Aku tadi lihat sebagian anak rambutnya berwarna
warni,” tanya dia agak kepo.
“Loh, itu tadi anak yang baru saja jadi model LKS ( Lomba
Keterampilan Siswa). Mereka menjadi model untuk jurusan
kecantikan dan harus menjadi peragawati di atas catwalk.
Maka jadilah rambutnya di hair coloring.”
“Wah bisa bertahan berapa hari itu? Maksudku harus
diubah ke hitam lagi berapa lama?”
“Ya, tergantung kualitas semir rambut. Kalau kualitas
bagus, ya butuh waktu satu bulan untuk bisa disemir hitam
lagi, tapi kalau kualitas kurang bagus ya, paling dua minggu
sudah berubah warna,” kataku menimpali.
Temanku SMP kelas sembilan ini sedang ingin observasi
SMK dan SMK, makanya aku mengajaknya ke berbagai
sekolah supaya dia tidak salah pilih. Setelah berkeliling,
sampailah kami di ruana praktik memasak. Tampak anak‐anak
dengan memakai topi junior chef sedang membuat beragam
jenis kue dan masakan lain. Mereka menghiasinya dengan
garnish ataupun topping.
56 | Ahlis Qoidah Noor
Setelah membeli minuman di kantin dekat dapur, kami
melanjutkan perjalanan ke jurusan kecantikan. Tampak ada
banyak ibu‐ibu sedang bergerombol di depan ruangan.
“Lha, kalau itu mak‐mak sedang apa, Dian?” tanyanya
penasaran.
“Oh, mereka sedang antri untuk masuk dan menjadi
model untuk creambath, facial, ataupun body massage.”
“Bayar berapa?” tanyanya.
“Ah enggak, itu gratis. Setiap anak SMK jurusan
kecantikan harus mencari model untuk beragam kegiatan di
kelas mulai dari hair cutting, hair coloring, hair curling,
rebonding, creambath, facial, body massage, dan lainnya.
Kalau tidak dapat model, ya mereka tak bisa praktek.”
Dia semakin penasaran. Lalu mengajakku ke koperasi
untuk membeli sedikit snack. Ada beragam makanan kecil
yang dijajakan di sana.
“Kenapa kita tidak ke kantin sekalian?” tanyaku.
“Aku mau ke kantin tapi lihat‐lihat aja ya? Aku pingin
mencoba restoran yang di depan tadi,” katanya.
Di kantin ada empat jenis warung. Warung bakso, jus,
ramesan, dan lainnya. Selain itu juga ada beberapa meja
melingkar yang dikelililingi kursi. Tampak sebagian anak mulai
antri jajan. Di sebelah kantin ada laundry dan tempat
pembuatan jamu. Laundry ini adalah unit usaha perhotelan
dan jamu unit usaha kecantikan. Ada jamu kunyit asam, bir
pletok, beras kencur, dan lainnya yang dijajakan oleh anak‐
anak kelilling di berbagai instansi di kota Semarang dengan
harga terjangkau. Antara enam sampai dua belas ribu rupiah,
tergantung ukuran botol.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 57
“Baik, mari kita ke depan untuk makan siang di sana,”
kataku pada temanku itu.
Tampak meja berjajar rapi dengan kursinya. Semuanya
baru, kelihatannya sumbangan dari pusat. Ada beberapa
anak memesan makanan. Seorang waiter datang ke meja
kami.
“Mau pesan apa mbak?” tanyanya.
Aku lihat menu hari itu, zuppa soup, soto betawi, es teh,
es jeruk, gado‐ gado, dll. Wah asyik juga nih. Hampir semua
aku suka.
“Kamu pesan apa, Dian,” tanya temanku.
“Kalau zuppa soup, soto dan es teh gimana?”
“Kok banyak sekali, Dian?” Apa cukup uangmu? tanya
Antik khawatir.
“Ya udah, kalau gitu nanti kita berdua satu piring. Jadi
tiga menu kita lahap bersama, gimana?” aku berikan
penawaran.
Ah, Antik memang benar‐benar anak yang antik. Dia tidak
mau keluar uang banyak. Tapi tidak apa‐apa aku suka dengan
keterusterangannya.
Tak berapa lama, di depan kami sudah tersaji pesanan
kami.
Pertama yang kulihat, zuppa soup. Wow, ada jagung
manis dan krim di dalamnya, juga jamur. Di atasnya ditutup
dengan lembaran tepung yang berbentuk roti persis
menutupi, membuat lidahku tak sabar ingin mencuilnya.
Hmmmm. Tampak Antik sudah memberi kode untuk segera
melahapnya. Crispy banget.
58 | Ahlis Qoidah Noor
Menu kedua adalah soto betawi. Soto ini berbeda
dengan yang kita temui di Semarang. Ada santan, telur, dan
juga ayam. Gurih namun segar bila diberi sedikit perasan
jeruk nipis. Rasanya agak beda dengan soto kebanyakan.
Dihidangkan dengan tempe goreng dan sebuah gorengan
kecil dari kentang yang biasa disebut perkedel. Diakhiri
dengan es teh aku dan Antik menghabiskan menu di restoran
itu.
Hari itu kami puas mengelilingi salah satu SMK pariwisata
di Semarang. Kupersilahkan dia untuk memilih mana yang
terbaik agar dia tak salah pilih. Semoga dia juga mendapat
yang terbaik dari yang dipilihnya.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 59
60 | Ahlis Qoidah Noor
Aku Tak Sebaik Mereka
A licia baru saja masuk ke kelas barunya di SMA. Dia
memandang sekeliling. Tampak taman dan
pepohonan di depan kelas, membujur berbentuk
huruf U. Kelas Alicia terletak di paling ujung, ya kelas X‐1.
Desain pintu‐pintu yang terhitung tua peninggalan Belanda
dengan cat abu‐abu yang sudah usang dan tak jelas kemana,
membuat sekolah itu persis seperti Lawang Sewu dilihat dari
luar. Namun, ketika masuk ke dalam terasa kesejukan
langsung menyeruak dan udara segar langsung menyapa
kulit. Tidak ada AC juga tidak ada fan di kelasnya. Kata orang‐
orang, ini adalah sekolah favorit di kotanya. Namun, yang
mendapat perbaikan justru di bagian tengah bukan di kelas
tempat di mana Alicia belajar.
Masuk ke lorong yang lain Alicia dihadapkan pada
lapangan olah raga yang lumayan luas namun belum
tersentuh seni sama sekali dalam penataan tamannya. Dia
sedikit agak kecewa dengan penataan bunga yang sangat
seadanya dan sederhana.
Tiba‐tiba serombongan anak‐anak yang seusia
dengannya mendekatinya.
“Hai, kamu anak kelas mana?” tanya mereka.
“Aku X‐1, di ujung sana. Ni lagi jalan‐jalan, lihat‐lihat
doang. Kalian anak baru juga?”
“Ya, kami X‐2, sebelahmu. Ini juga sedang keliling aja.”
Pidatoku di Hadapan Bupati | 61
Maka tibalah pada pelajaran pertama di hari pertama
masuk sekolah. Alicia duduk di bangku paling depan, nomor
dua dari kiri bersama seorang teman yang belum ia kenal baik
juga. Hampir semua anak belum saling kenal karena mereka
berasal dari enam belas kecamatan dari kabupaten itu.
Merekalah anak‐anak terbaik yang lolos seleksi dan menjadi
peserta didik di sekolah unggulan di kabupaten kecil itu.
Tidak banyak yang tahu latar belakang masing‐masing,
karena mereka memang heterogen dan sangat berjauhan
lokasi rumahnya.
Hari berlalu, minggu berganti dan bulan sambut‐
menyambut.
Inilah hari yang dinanti Alicia. Hari ini ada pelajaran
menari. Menari adalah hal baru bagi Alicia. Dia tidak pandai
menari tapi ingin menari. Waktu SMP gurunya tidak pernah
mengajarkan dia dan temannya menari. Mereka hanya belajar
gambar dan musik itu pun teori tanpa pernah memegang alat
musik yang diceritakan gurunya.
Alicia sudah menyiapkan sampur untuk menari. Sampur
adalah selendang panjang yang agak tipis dan berwarna‐
warni biasanya sebagai salah satu sarana yang harus dipakai
penari. Sampur itu kemudian dia lilitkan ke pinggangnya yang
ramping.
Alicia bukanlah gadis yang cantik namun dia cukup manis.
Rambutnya yang ikal sebahu sering dia ikat atau dikepang
dan diberi pita kecil di kiri dan kanan. Dia kadang juga suka
mengeroll rambut poninya di malam hari agar menjadi indah
di pagi hari sampai siangnya. Permainan gaya rambutnya tak
pernah habis. Kadang dia potong agak pendek untuk tujuan
62 | Ahlis Qoidah Noor
lebih muda dirapikan. Namun, ketika kembali panjang dia
bermain‐main lagi dengan pita, kuncir, dan kepang. Sebuah
kebiasaan anak perempuan. Tidak ada yang istimewa dari
Alicia. Kulitnya yang coklat cenderung gelap membuat dia
tampak aneh di mata teman‐teman perempuannya. Namun
dia tidak merasakan itu sebagai kekurangan. Dia tetap enjoy
dan pede aja dalam pergaulan.
Sampailah pada giliran kelompoknya menari. Alicia dan
kawan‐kawannya menarikan beberapa tarian yang baru saja
diajarkan. Ada Minak Jinggo, tarian perjuangan, tarian
gambyong pareanom, dan sebagainya. Meskipun dia tidak
mahir tetapi sangat menikmati semua tarian. Merasa kurang
mahir, akhirnya dia dan teman‐temannya pun bergabung
untuk berlatih sendiri. Dia tidak punya tape recorder dan
kaset ataupun CD player untuk berlatih, tetapi kemauannya
keras untuk bisa dan belajarlah dia dari teman‐temannya.
Tibalah giliran dia dan kawan‐kawannya tampil di
panggung sekolah. Dengan persiapan maksimal dia menari,
berlenggak‐lenggok seperti yang diajarkan gurunya selama
sebulan. Mereka berhasil memukau para penonton yang
terdiri dari guru, kepala sekolah, dan juga para siswa kelas X,
XI, dan XII di SMA favorit itu.
Hari berikutnya, seperti biasa dia mengendari sepeda
motor untuk pergi ke sekolah. Setelah parkir di bagian
belakang, dengan riang gembira dia masuk ke kelasnya. Dia
terbiasa masuk kelas paling pagi, membuka jendela dan
pintu, mematikan lampu, dan ketika ada jadwal piket maka
dia akan menyapu sekalian.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 63
Namun, pagi itu dia langsung duduk di bangku dan belum
sempat melakukan apa yang biasa dia kerjakan. Matanya
tertuju pada tulisan di atas mejanya, ada yang manarik. Di situ
tertulis “I Love Your Dance”. Tulisan itu diukir indah di atas
mejanya dengan menggunakan benda tajam serupa cutter
atau pemes istilah anak‐anak sekolah. Dia yakin si penulis
dengan sengaja menuliskan dan itu butuh waktu lama.
Sementara kemarin semua anak bersama‐sama di aula dan
menonton pertunjukan tarinya bersama teman teman.
Ah sudahlah. Dia tidak mau ambil pusing. Dibiarkan saja
tulisan itu karena dia juga tidak tahu siapa yang menulis.
Tetapi, kenapa di hatinya ada debar‐debar senang yang tak
jelas. Entah untuk siapa debar‐debar itu, dia tidak tahu. Dia
simpan saja semua di hati karena tujuan dia datang ke
sekolah ini untuk menggapai cita‐citanya.
Waktu terus berlalu, tiga tahun terasa cepat sekali.
Tibalah saat di mana semua siswa seangkatan Alicia diwisuda.
Dia pun senang telah bisa menyelesaikan studinya dengan
tepat waktu. Perjuangan dia di SMA itu bukanlah perjuangan
yang ringan karena dia hadir di antara para juara SMP di
enam belas kecamatan di kota kecil itu.
Tibalah saat mereka melakukan perpisahan bersama
teman‐temannya di SMA. Hari‐hari yang berat telah
dilaluinya. Dia ingin segera menginjakkan kakinya ke UGM,
sebuah perguran tinggi favorit di tanah air. Dia ingin
membuktikan bahwa anak desa pun bisa melanjutkan
sekolah sampai tinggi sesuai yang dicita‐citakannya, emak,
dan bapaknya.
64 | Ahlis Qoidah Noor
Kampus itu sangatlah megah. Mungkin ribuan orang ada
di dalamnya. Alicia menapakkan kakinya ke tempat di mana
semua orang berebut untuk mendapatkannya. Dia tersenyum
memandang gedung tempat kuliahnya. Fakultas ekonomi
menjadi piliannya. Senang hatinya bisa memasuki kampus
para orang pintar Indonesia. Tiba‐ tiba seseorang
memanggilnya.
“Alicia!”
Dia menolh. Sepertinya dia kenal suara dan wajah itu tapi
siapa ya.
“Kamu tidak kenal aku ya? kita satu sekolah bahkan
pernah satu kelas waktu kelas X. Kenalkan lagi aku Rendra
Bening,”
Seorang laki‐laki yang mengaku Rendra memperkenalkan
diri kepada Alicia. Mereka akhirnya ngobrol kesana‐kemari.
Sampai pada suatu percakapan.
“Alicia, apakah kamu pernah ingat ada tulisan di mejamu
waktu kamu kelas X?”
Alicia mencoba merangkai memori. Ah ya. Dia ingat. Ada
tulisan “I love Your Dance” dengan guratan yang sangat
artistik di mejanya.
“Ya aku ingat sekarang. Apakah kamu yang
menuliskannya?” tanya Alicia.
Rendra pun menyampaikan ceritanya saat dia ingin sekali
berkenalan dengan Alicia tapi tak pernah punya waktu untuk
berdua. Maka dia pun mewujudkan idenya dengan cara
tersebut. Dia datang pagi hari jam 6 sebelum siswa pada
datang dan menuliskan kalimat itu lalu dia pergi ke kantin
Pidatoku di Hadapan Bupati | 65
untuk menghindari pertanyaan temannya tentang betapa
paginya di ke sekolah pagi itu.
“Alicia, aku ingin berterus terang. Aku ingin bersahabat
dengan kamu. Kamu itu anak yang sederhana dan apa
adanya. Tapi kamu bisa memanfaatkan semua yang ada
padamu untuk tetap eksis di kelas. Bolehkah?” tanya Rendra
sambil memandang mata Alicia yang sedikit coklat dengan
rambut sebahu yang dibiarkan tergerai.
“Ah kamu, berteman saja pake acara begitu. Ayoo.”
Alicia pun menguluran tangannya untuk mengajak
Rendra bersalaman. Akhirnya mereka menyusuri lorong di
kampus dan makan di kantin belakang. Mereka tampak
seperti reunian anak SMA. Ah, masa SMA yang manis telah
lewat. Kini waktunya untuk belajar lebih giat dan mencapai
cita‐cita.
66 | Ahlis Qoidah Noor
Ibu, Mau ke Mana?
H ari baru saja menginjak sore hari ketika aku meluncur
ke arah jalan Pandanaran, Semarang. Sejurus
kemudian signal di HP‐ku menuntunku untuk
menjemput penumpang dari arah salah satu rumah sakit di
Semarang. Tanpa pikir panjang aku pun meluncur ke arah
yang diminta.
Ku telepon calon penumpangku. Dia meminta dijemput
di Kamar Mayat di ujung pintu keluar. Aku segera mencari
arah itu. Kutemukan seorang perempuan berpakain seragam
putih. Wajahnya tampak pucat sekali. Melihat seragamnya
kupikir ia seorang Coach.
Segera kubukakan pintu. Dalam perjalanan aku bertanya
“Mau diantar kemana, Bu?”
“Ke arah Ambarawa, Pak.”
“Lewat jalan TOL atau biasa, Bu?”
“Biasa aja, Pak. Banyak Kenangan saya di sana,” jawab
ibu muda itu.
Segera saja aku meluncur ke arah Ambarawa. Sepanjang
perjalanan kami, tidak sepatah kata pun terucap dari ibu itu.
Aku dengan tenang saja menyetir. Kulalui jalan yang mulai
sepi. Hanya lampu di jalan raya dan sorotan dari pengendara
lain yang sedang berpapasan yang yang memberi kesadaran
bahwa aku tidak sendiri.
Malam kian larut ketika pukul menginjak 11.00. Sengaja
aku tidak menghidupkan tape di mobilku karena aku takut
Pidatoku di Hadapan Bupati | 67
musik atau acaranya mungkin tidak akan berkenan di hati
para penumpang. Bisa jadi selera mereka berbeda dengan
aku yang orang kebanyakan. Lagian aku juga diburu target
dan point yang harus aku kejar setiap saat.
Aku pakai GPS untuk menuntun perjalananku sesuai yang
dia tuju. Memasuki sebua gang kecil sekitar pukul 11.30. Aku
pelankan laju mobilku karena memasuki area perkampungan
yang teramat sempit untuk dua mobil berlalu.
Sampailah aku di rumah ibu muda itu. Belum sempat ibu
muda itu membuka pintu, dari arah rumah datanglah seorang
laki‐ laki menyambut kami.
“Silakan, Nak. Masuk sebentar,” kata bapak tua itu
kepadaku. Kulihat ibu muda itu masuk tanpa memberi salam
atau pun melihat
kami. Dia langsung ngeloyor masuk. Kemudian bapak tua
itu bertanya kepadaku tentang ongkos yang harus dibayar
kepadaku. Lalu aku sebutkan nominal angka dan dia segera
memberikannya kepadaku.
Tiba‐ tiba dia berbisik kepadaku.
“Nak, jangan kaget . Anakku tadi mungkin sedang
kangen dan ingin pulang,” kata bapak tua tadi.
Aku agak merasa aneh dengan kalimat itu. Lalu aku tanya
“Memang kenapa?”
Dia menjelaskan, sebetulnya ibu muda tadi itu sudah
meninggal beberapa bulan yang lalu. Kemudian dia
menceritakan sebuah kecelakaan di perlintasan kereta api
Bangetayu beberapa bulan yang lalu yang kemudian para
jenazahnya di bawa ke RS Karyadi untuk diautopsi.
68 | Ahlis Qoidah Noor
Meskipun bulu kudukku berdiri, namun aku berusaha
tidak takut atas kejadian malam itu. Setelah berpamitan
segera saja aku meluncur untuk kembali ke arah Semarang.
Hari berganti sangat larut dan pagi menjelang aku baru
tiba di Semarang. Segera saja aku pulang dan istirahat
sebentar. Aku masih agak shock dengan kejadian itu.
Bagaimana mungkin makhluk astral itu bisa
menggunakan akun di HP untuk memesan mobil on line.
Bagaimana pula mereka membuat akun dan mengaksesnya.
Namun, aku tidak mendapat jawaban dari semua itu. Lama‐
lama aku capek dan tertidur
Sekitar pukul sembilan istriku membangunkanku dan
bertanya kapan aku berangkat kerja. Seperti biasa dia sudah
menyiapkan untukku sepiring nasi, segelas kopi, dan sedikit
kue. Aku belum menceritakan kejadian semalam ke dia
karena aku ingin mendapat kepastian tentang peristiwa yang
barusan aku alami ini.
Segera saja aku meluncur ke kelompok driver‐on line. Aku
temui mereka dan aku ceritakan apa yang kualami. Ternyata
aku malah lebih terkejut lagi karena beberapa diantara
mereka memiliki pengalaman yang serupa denganku. Oleh
karena itu mereka sepakat tidak akan mengambil
penumpang dari tempat itu dan menuju ke Ambarawa itu.
Ada juga yang menceritakan bahwa dia baru saja
mengantar penumpang ke suatu tempat. Di tengah
perjalanan dia dihentikan oleh penduduk setempat. Oleh
penduduk dia ditanya dari mana dan nge‐drop penumpang di
mana. Dijawabnya bahwa dia baru saja nge‐drop penumpang
di kampung sebelah desa itu. Oleh penduduk disampaikan
Pidatoku di Hadapan Bupati | 69
bahwa di sebelah desa itu tidak ada perkampungan lagi dan
itu adalah kuburan besar. Mengetahui hal itu si driver
terkaget‐kaget. Segera saja dia putar balik menuju ke
Semarang.
Apa yang terjadi dengan dunia ini dan dunia mahluk
astral? Apakah mereka juga sudah belajar mengakses akun
ataukah mereka bisa menyerupai manusia dan meminta
tolong manusia lain untuk memesankan mobil on‐line.
Satu minggu sebelum kejadian ini pun aku mendapat
pengalaman yang serupa. Tertulis di akun pemiliknya adalah
Suketi dan tujuan penjemputannya adalah di sebelah
gerbang makam di area Jalan Gajah. Ketika aku angkat itu
nomor Amerika dan tidak ada jawaban. Namun, tidak bisa
kubatalkan. Akhirnya aku menceritakan kejadian ini ke
Customer Service bahwa aku tidak bisa membatalkan
penumpang tersebut. Oleh customer aku dibantu sampai aku
bisa melakukannya. Bila tidak, maka performaku sebagai
driver akan turun .
Ya sudahlah. Aku tak ingin berpusing‐ pusing dengan
mereka. Biarlah ini pengalaman para driver on line dalam
menangani dan melayani para penumpangnya. Semoga ini
menjadikan kami lebih hati‐hati dan selalu dilindungi oleh‐
Nya.
(Seperti dituturkan sejumlah driver on line kepada
narasumber).
70 | Ahlis Qoidah Noor
Ayahku seorang Chef
P ernahkah kalian makan duren? Buah ini kulitnya
berduri tajam tapi enak sekali dagingnya. Sebagian
orang tidak berani mengonsumsinya tapi sebagian
sangat menikmatinya. Duren yang akan dibahas di sini
bukanlah duren buah tetapi seorang duda keren yang sangat
menjadi perhatian banyak gadis dan mama muda.
Duda itu bernama Alexander. Berperawan tinggi sekitar
178 Cm, berwajah di atas rata rata, berkulit bersih, dan
bermata cerah. Dengan senyum yang sedikit melebar maka
siapa pun pasti akan dibikin meleleh. Dengan suaranya yang
merdu membuat Alexander sempurna sebagai laki‐laki.
Namun, kehidupan rumah tangga tidak berpihak padanya.
Dia justru ditinggal oleh istri yang sangat dicintainya. Baru
berumah tangga sekitar lima tahun istrinya menderita kanker
payudara stadium lanjut. Pada tahun kelima itulah istrinya
berpulang. Istrinya memberinya dua orang anak yag manis
dan cakep.
Waktu berlalu dengan begitu cepatnya. Sekarang dua
anak itu tumbuh remaja. Anak yang besar kelas tiga SMP,
sedangkan yang kecil enam SD. Alexander sekarang bisa
lebih fokus ke usahanya yang selama ini dijadikan penopang
hidupnya.
Menggeluti dunia chef dan menjadi senior chef di sebuah
hotel ternama menjadikan Alexander menghabiskan
Pidatoku di Hadapan Bupati | 71
waktunya untuk mengoordinasi para stafnya yaitu para junior
chef bila pekerjaan itu harus diselesaikan.
Kadang‐kadang dia bekerja seharian dan menciptakan
menu baru untuk event tertentu. Dia mempunyai cita rasa
yang tinggi untuk kuliner. Taste‐nya sangat tinggi dan itu
diwariskan pada Deo, anaknya.
Meskipun Deo laki‐laki tetapi dia sering membantu
Alexander memasak di dapur. Beragam masakan oriental dan
juga tradisional Deo kuasai. Hari Minggu mereka biasa
membuat menu baru dan akan dipamerkan pada waktu
makan siangnya. Ayah Deo tak segan‐segan membantunya
menciptakan menu baru. Bila berhasil maka mereka akan
meng‐upload di you tube.
Ayah Deo tipe lelaki yang tak bisa kesepian. Dia butuh
pendamping hidup dan Deo pun butuh mama untuk bisa
mengawasinya. Waktu semakin lama semakin menambah
usianya. Namun, Alexander tak juga bisa melupakan kekasih
hatinya yang telah berpulang belasan tahun yang lalu. Suatu
hari dia dan kedua anaknya berjalan di suatu mall.
“Daddy, aku mau mainan itu. Kakak juga mau? tanya si
kecil, adik Deo, kepada Alexander dan Deo.
“Okay, Sayang mau itu. Ayo kita kesana,” kata
Alexander.
Mereka bertiga pun mendekati toko itu dan menanyakan
harganya pada seorang pramuniaga.
“Bapak mau mengambil ini, dua buah boneka dan satu
mobil, silakan Bapak bayar di sini.”
Segera saja Alexander menuju ke arah yang ditunjuk
pramuniaga itu.
72 | Ahlis Qoidah Noor
“Sepertinya kita pernah bertemu ya?” tanya perempuan
pemilik toko itu kepada Allexander.
Alexander agak ragu sejenak.
“Ya, mungkin. Tapi di mana ya?” selidik Alexander.
Dia benar‐benar tidak bisa mengingat di mana dia
bertemu perempuan itu.
Dengan mengendarai mobil yang cukup mewah akhirnya
mereka bertiga kembali ke rumah. Tidak tampak ada yang
aneh ketika mereka sampai di depan gerbang. Namun, ketika
turun dari mobil, Alexander melihat ada seseorang yang
sedang menunggu kedatangannya. Alexander dan kedua
anaknya pun menuju rumah.
“Silakan masuk. Ibu mencari saya?” Tanya Alexander
sambil mempersilahkah perempuan itu masuk.
“Ya, Nak? Namamu Alexander, kan?” tanya perempuan
itu.
“Ya, Ibu. Silahkan!”
Maka perempuan itu pun menceritakan maksud
kedatangannya.
Ia adalah salah satu dari orang tua siswa di SMA, di kota
Alexander. Dia ternyata orang tua dari Zwa, temannya yang
terkenal pendiam namun pandai dan senang sekali
membantu mereka yang berkekurangan. Zwa berpenampilan
sederhana, berwajah oriental, dan berkulit paling cerah di
antara yang lain. Tidak ada yang menyaingi kebaikannya di
kelas. Namun, kebanyakan teman sekelas Zwa menganggap
dia dermawan karena orang tuanya pun kaya. Sehingga itu
bukan sifat aslinya. Itu kata‐kata temannya. Alexander tak
ambil pusing. Baginya, itu hak seseorang untuk bersikap dan
Pidatoku di Hadapan Bupati | 73
itu sudah ditunjukkan oleh Zwa. Dia tidak tahu seperti apa
Zwa sekarang dan juga sudah melanjutkan studi ke mana?
“Maaf, maksud Ibu kemari untuk keperluan apa, mungkin
saya bisa membantu,” tanya Alexander kepada ibunya Zwa.
Perempuan itu tampak tersenyum sambil menghela
untuk mengatur nafas. Dia tampak menata duduknya sambil
melihat sekeliling ruangan tamu. Kemudian dia beringsut
mendekati Alexander.
“Zwa ingin kamu datang menemuinya. Dia tidak pernah
berubah, selalu menjadi gadis pemalu.”
“Gadis pemalu?” pikir Alexander.
Sejauh ini dia belum menikah. Bukankah berarti usia dia
sekitar 35 tahun. Bukankah itu cukup umur untuk seorang
perempuan menikah? Namun, Alexander tidak banyak
bertanya. Dia iyakan untuk menyenangkah hati ibunya.
Kemudian ibu itu memberinya alamat yang dituju.
Seminggu kemudian setelah semua pekerjaan Alexander
selesai dia teringat wanita tua itu, Zwa, dan alamat yang
ditinggalkan. Dia mulai mencari alamat itu. Ia temukan
sebuah rumah mungil yang asri. Tidak terlalu luas tapi rapi
dan hijau di sekitar rumah itu. Ada pepohonan yang agak
rimbun di belakang rumah. Kelihatannya semacam pohon
rambutan atau buah yang lainnya.
Alexander masuk dan memberi salam.
”Apakah ini benar rumah Zwa?” tanyanya pada
seseorang di rumah itu.
Dari dalam rumah datang wanita yang pernah
menemuinya. “Oh, Nak Alexander. Silahkan masuk,” wanita
itu mempersilahkan, “ sebentar aku panggilkan Zwa.”
74 | Ahlis Qoidah Noor
Tak berapa lama datanglah seorang perempuan berusia
sekitar 35 tahun dengan wajah oriental dan senyum yang
mulai mengembang melihat Alexander.
“Hai, aku Zwa. Masih ingat? Aku sengaja minta bantuan
mamaku untuk menemuimu karena aku teramat malu untuk
bertemu kamu di rumahmu yang sangat mewah itu.”
Alexander tidak berkata banyak untuk menanggapi apa
yang disampaikan Zwa. Wajah itu masih sama seperti
beberapa tahun yang lain. Hanya mulai ada gurat di lipatan
pipi. Matanya masih tajam, senyumnya masih suka dikulum.
Tangan itu, tangan yang masih suka tampak kaku bila di
hadapannya. Alexander mencoba mencairkan suasana
dengan bertanya banyak hal tentang dia. Maka Zwa pun
mulai mengalir ceritanya.
Bisnis orang tuanya telah bangkrut sejak lima tahun yang
lalu. Sekarang dia berbisnis konsultan pendidikan pada
Sistem Manajemen Mutu di sekolah‐sekolah. Banyak yang
harus dia kerjakan dan dia ingin mendapatkan partner yang
mengetahui seluk‐beluk dunia kuliner karena dia ingin
merambah ke sana. Awalnya dia merasa minder untuk
mendekati Alexander karena menganggap Alexander telah
berubah sehingga dia meminta bantuan ibunya. Dia tidak siap
untuk ditolak orang. Alexander terkekeh mendengar
penjelasannya. Dia pikir Alexander sudah melupakan semua
teman‐temannya.
“Kamu tahu Zwa, hampir setiap bulan selalu ada teman
SMA kita yang berkunjung ke rumahku. Aku tidak selalu ada
memang tapi mereka juga bisa sabar mengganti hari bila
mereka tidak konfirmasi ke aku lewat WA ataupun SMS.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 75
Kamu tahu Zwa, aku tak pernah berubah. Rumahku adalah
rumah kedua mereka. Apa yang aku punya selama ada yang
bisa aku tolong akan aku beri. Itulah aku,” Kata Alexander
sedikit menekankan kondisinya.
Zwa melanjutkan ceritanya. Dia bilang bahwa adiknya
yang bernama Sonya pernah bertemu Alexander di toko
mainannya. Oh, sekarang dia baru ingat. Perempuan yang
menyapanya di toko itu pastilah adiknya Zwa.
Zwa menambahkan bahwa dia ingin Alexander
menjalankan bisnisnya dan dia tidak mau ikut campur . Dia
ingin fokus pada pekerjaanya. Alexander tak habis pikir
bagaimana mungkin dia percaya begitu saja kepadanya untuk
asetnya yang milyaran itu. Dia memang mempunyai rumah
yang mungil, tetapi dia mempunyai tanah di area
pegunungan. Itulahyang akan dijadikan sebagai area untuk
calon perumahan dan kuliner. Dia memasrahkan pada
Alexander, teman yang sangat lama bahkan mungkin tidak
begitu mengenal dia.
Kemudian Alexander menyampaikan keraguannya itu.
“Baiklah Zwa, aku tidak punya pilihan. Aku akan coba
jalankan amanatmu. Semoga Tuhan selalu menjagaku agar
tetap berada di track yang benar. Aku ingin pertemanan kita
abadi dan tidak diganggu oleh rumitnya bisnis yang mungkin
aku jalani. Zwa, terima kasih untuk semuanya.”
Sekarang, di bukit itu sudah berdiri ratusan unit
perumahan untuk rakyat dengan DP nol rupiah. Banyak
masyarakat yang tertolong dengan perumahan rakyat itu.
Kebanyakan mereka adalah kalangan yang berpendapatan
rendah.
76 | Ahlis Qoidah Noor
Perumahan itu dipadu dengan beberapa spots untuk
wisata kuliner dan wisata taman bunga. Taman bunga itu
diatur sedemikian rupa sehingga banyak area bunga dengan
tema tertentu yang dihiasi dengan ragam miniatur menara
eifel, rumah hobbit, dan juga taman bergantung mini.
Di tengah ada spot untuk kuliner rakyat yang menjajakan
hasil olahan makanan mereka. Alexander mengatur semua
counter makanan sesuai dengan tema juga. Ada counter sosis
bakar, cimol, cireng, dan jajanan anak lainnya. Di sebelahnya
ada aneka olahan ayam, seperti ayam bakar, ayam panggang,
ayam betutu, dan ayam kare. Selain makanan, juga
disediakan aneka ragam minuman tradisional seperti jamu,
bir pletok, kunyit asam, beras kencur, dan lainnya. Di sana
juga dijual aneka bubur seperti bubur candil, bubur ketan
hitam, bubur putih santan, dan bubur mutiara.
Alexander melatih para penjual itu untuk sadar
lingkungan dengan cara tidak membuang sampah
sembarangan dan membuat bank sampah pada masing‐
masing unit untuk disetor sebagai modal berputar. Alexander
juga melatih cara menyajikan menu sehat, cara memilih, dan
memasak bahan ayam agar tidak berlemak jenuh namun
tetap lezat dimakan konsumen.
Setiap bulan sekali para penjaja makanan itu di‐briefing
oleh Alexander untuk peningkatan mutu makanan dan variasi
makanan, sehingga setiap bulan menu mereka ganti.
Demikian juga dengan sajian garnish dan topping yang selalu
menarik. Selama satu tahun para penjaja makanan akan
berganti variasi makanan sebanyak empat kali. Jadi, setiap
Pidatoku di Hadapan Bupati | 77
tiga bulan sekali mereka berganti menu. Hal ini betujuan
membuat para pembeli tidak bosan.
Di tengah taman ada restauran yang sangat higienis,
harga yang reasonable dan juga menu yang menarik dan
variatif. Beragam appetizer/starter (hidangan pembuka) yang
berfungsi sebagai pembangkit selera makan juga disediakan.
Appetizer ini porsinya kecil dengan rasa asam, asin, atau
pedas. Appetizer juga memiliki rasa yang enak (tastefull),
ringan (ligth), menyegarkan yang disajikan dengan
penampilan menarik. Alexander menyajikan beragam
appetizer panas seperti canape, fritters, soup, dan muffin.
Appetizer yang dingin seperti chilled fruit cocktal atau shrimp
cocktail. Menu soup bisa dihidangkan dengan rumput laut,
jamur, sampai sea food. Sajian appetizer ini sangat menarik
bisa berwarna kuning atau merah terang. Aroma appetizer
sangat menyeruak hidung. Dalam penyajiannya, appetizer
disajikan dalam porsi kecil sehingga disebut dengan finger
food.
Menu main course, Alexander menyajikan grilled chicken
with mushed potatoes and sautee vegetables, chicken cordon
bleu, dan fettucine carbonara. Menu pertama adalah olahan
dari ayam, mustard, kentang, cream, keju, chopped parsley,
wortel, buncis, brokoli, garam, merica, dan herb. Pada menu
kedua yaitu chicken cordon bleu disajikan dada ayam tanpa
kulit, smoked beef, keju, tepung panir, minyak goreng, telur,
kentang, wortel, dan saus sambal. Untuk sajian terakhir yaitu
fettucini terdiri dari fettucini, garam, merica, salad, chopped
garlic, chopped onion, parsley, cream, keju, dan smoked beef.
78 | Ahlis Qoidah Noor
Hidangan penutup (dessert) patut disajikan dengan
aneka pilihan. Fungsi dessert ini sebagai hidangan yang
menyegarkan setelah menyantap main course yang
beraroma.
Alexander menambahkan beberapa buah dan cake, pie
serta ice cream yang dipadukan dengan sauce, buah, sirup
atau cream. Tersedia juga fruit pie, agar‐agar, dan cake
seperti brownies dessert, mini strawberry dessert, cannoli
dessert.
Aneka ragam appetizer, main course, dan dessert di atas
juga berganti setiap hari. Alexander telah berhasil
memberdayakan masyarakat sekitar untuk memanfaatkan
lahannya menjadi produktif untuk lahan bisnis juga mengenal
aneka kuliner manca negara dan domestik.
Wisata kuliner yang dikelilingii oleh taman bunga itu
sekarang sedang menjadi trending topic di berbagai daerah.
Banyak pengunjung yang memanfaatkan hari Sabtu dan
Minggu untuk family time di sana.
Alexander duduk di depan restauran ketika tampak mobil
silver mendekati area. Dari dalam mobil tampak Zwa dan
ibunya berjalan beriringan mendekati Alexander dan Deo
yang sedang menikmati lemon tea di sore hari. Tampak
senyum mulai mengembang di antara mereka. Zwa bukan
lagi perempuan muda yang pemalu. Sore ini dia sangat
anggun dengan high heel dan pulasan merah di pipinya.
Sementara ibunya Zwa tampak bahagia melihat apa yang
sudah dikerjakan Alexander. Melihat kedatangan mereka,
Deo dan Alexander menjemput mereka berdua.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 79
“Hai, Deo sudah besar, kelas berapa sekarang?” tanya
Zwa pada Deo.
“Kelas IX tante, sekarang saya mau masuk SMA tante.
Tapi saya mau ke SMK saja yang bisa bikin masakan dan
beragam menu seperti Papi. Saya ingin jadi chef seperti Papi
,” kata Deo ceriwis.
“Tentu, Sayang. Banyak chef besar dan hebat dari
kalangan pria. Kamu pun bisa, bahkan bisa lebih hebat dari
papimu,” kata Zwa sambil mengerling Alexander.
Alexander senang melihat kerlingan itu. Zwa sekarang
sudah tampil beda.
Sebagian materi diambil dari sumber di bawah ini :
https://dianmahayanti.wordpress.com/f‐b‐product‐
2/appetizer/pengertian‐appetizer/
http://makanankontinental12.blogspot.co.id/2015/09/mca
m‐macam‐main‐course.html
http://fransiskawendy.blogspot.co.id/2012/11/macam‐
macam‐dessert.html
https://jauharima.wordpress.com/2014/04/22/hidangan‐
penutup‐dessert/
80 | Ahlis Qoidah Noor
Mengapa Kamu
Tak Sekolah ?
“E mir, tunggu aku!” terdengar terikan Dilan dari
jauh. Segera Emir menengok dan mendapati
Dilan terengah‐engah mengejarnya.
“Kenapa kamu terlambat, tidak seperti biasanya, datang
lebih awal. Kalau aku kan rumahku dekat jadi jalan saja udah
nyampe. Mana sepedamu?” ujar Emir setelah Dilan berada di
di depannya.
“Sepedaku rusak, aku baru saja selesai menyuapi ibu
yang sakit. Sedang ayahku masih di luar kota dan adikku
sudah berangkat sekolah duluan,” jawab Dilan sambil
berjalan bergegas.
Sepuluh menit kemudian sampailah mereka di sekolah.
Sebuah SMA favorit di kota itu dengan gedung yang sangat
megah dilingkari oleh taman yang menghijau .Di samping
gerbang berderet mobil, sepeda motor, dan sepeda milik
para siswa. Di depan ada pak satpam yang mengawasi dan
menjaga ketertiban para siswa dan pengunjung lainnya.
Pagi itu Emir dan Aleks sedang duduk di teras sekolah
pada saat istirahat pertama. Waktu menunjuk pukul 10.00.
Belum terlalu telat untuk ke kantin bila mau makan snack
atau sekedar bercengkerama dengan teman. Dilan datang
menghampiri mereka.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 81
Dilan sekarang di kelas XII IPA‐1. Dia masuk karena jalur
prestasi meskipun dia juga punya KIP (Kartu Indonesia Pintar)
untuk bisa memanfaatkan privilege (hak istimewa) bagi
warga miskin. Tapi dia memilih bersaing secara wajar. Harga
dirinya sangat tinggi untuk tidak menggunakan point 1,5 bagi
warga miskin untuk mendapatkan kuota di kotanya. Dia juga
tak mau menggunakan zonasi tempat tinggalnya.
Rumahnya memang tak jauh dari sekolah, sekitar satu
kilo, tetapi point istimewa itu tidak dia gunakan. Dia ingin
mengukur sejauh mana dia bisa bersaing dengan teman‐
temannya. Barulah pada saat masuk dan mendapat beasiswa
atas prestasi dia bersedia menerimanya.
Dilan memang rajin dan pekerja keras tetapi dia sangat
santun dan juga humoris. Banyak sekali kawannya yang
sangat menyukai karakternya.
Pagi itu mereka bertiga sedang berencana ikut kegiatan
stand up comedy yang diadakan di kotanya. Ada event temu
rutin yang diadakan oleh komunitas stand up comedy, SUCKS
(Stand Up Comedy Kota Semarang). Dilan ingin ikut openmic.
Kalian tentu tahu apa itu openmic? Ya, itu adalah uji coba
bagi para pecinta stand up comedy untuk ajang mereka
berlatih. Di sini mereka bisa belajar menyampaikan materi
banyolan atau kelucuan mereka dan mencoba cara yang
sesuai dengan topik yang dipilih. Event ini dilaksanakan di
waktu malam sehingga disebut amateur night. Siapapun yang
tertarik boleh mencoba event ini. Maka, bila kalian ditawari
oleh MC atau host di acara itu, ambil saja kesempatan itu
lakukan dan sampaikan apa yang ada di pikiranmu.
82 | Ahlis Qoidah Noor
Jangan takut tidak lucu atau dalam istilah stand up
comedian disebut ngebomb. Meskipun berakibat penonton
tidak tertawa karena kita gagal mengocok perut mereka, ya
biarkan saja. Lain waktu kita coba preparation yang lebih baik
dan coba lagi, coba lagi. Ada pepatah “Practice makes
perfect”, bila kita sering berlatih maka semuanya akan
dilewati dengan sempurna alias berhasil.
Cara lain yang bisa ditempuh adalah dengan rewriting
topik. Penulisan ulang topik ini untuk mengevaluasi dan
menambah sisi‐sisi yang bisa membuat para penonton gerr.
Bila ini dilakukan dengan baik maka proses membuat
penonton terpingkal‐pingkal akan lebih mudah. Namun, jika
gagal maka perlu diganti topiknya. Ini namanya evaluasi. Bila
berhasil membuat mereke gerrr maka itu artinya kita berhasil
nge‐kill mereka.
Tingkat kelucuaan ditentukan banyak hal mulai dari
topik, materi sampai cara penyampaian. Jam terbang juga
sangat menentukan keberhasilan. Oleh karena itu, kita perlu
latihan pada openmic. Kegiatan ini adalah sebuah proses , bila
belum berhasil itu wajar. It takes time. Selain itu, supaya
mental kita bagus pada saat manggung maka kita butuh
mengajak teman untuk nonton kita di openmic karena di
event ini gratis.
Bila komikan sudah berhasil silakan pindah ke Stand Up
Night. Inilah ajang mencari duit, menambah kantong tebal
dan juga nama terkenal.
Malam ini Dilan, Emir, dan Aleks betiga ke area sebuah
mall di kota Semarang. Di situ para komikan berkumpul untuk
event openmic. Gratis untuk semua pengunjung. Tampak ada
Pidatoku di Hadapan Bupati | 83
orang sedang berlatih dipanggung. Beberapa penonton
tampak cengar‐cengir. Sebagian menahan tawa dan sebagian
cemberut karena materi komikan mereka tidak lucu, kurang
kocak, agak garing, kurang greget, sedikit sinting, kurang
memancing tawa, dll.
Inilah penampilan Dilan di malam pertama dia pada
openmic.
(Keluar panggung. Langkah dibikin gagah, tebar senyum
kanan kiri, pegang mikrofon, ambil napas dalam‐dalam buat
ngilangin nervous).
Selamat malam,
Perkenalkan nama saya Dilan. Saya siswa kelas XII IPA.
Kali ini saya akan mengambil tema yang ringan aja yaitu
tentang anak IPA dan IPS. Kalau ngambil kelas kedokteran
gak mungkin karena saya belum lulus apalagi kelas mengelas
karena saya bukan lulusan SMK.
Mungkin para sobat ada yang berpikir: Emang ada apa
dengan anak IPA dan IPS.
Karakter anak IPA itu jauh berbeda banget sama karakter
anak IPS. Berdasarkan pengalaman aku waktu SMA kelas X
dan XI dulu, anak‐anak IPA itu memang alim. Mereka datang
ke sekolah lebih awal, dengan baju yang terata rapi. Lengan
diseterika klimis, rambut disisir rapi. Tapi tidak pake pomade.
Kalau yang pake pomade itu berarti anak IPS. (penonton
gerrr)
Anak‐anak IPA sama sekali jarang membuat kesalahan di
sekolah bahkan gak pernah sama sekali. Anak‐anak IPA itu
selalu taat pada aturan sekolah atau guru‐guru mereka.
84 | Ahlis Qoidah Noor
“Anak‐anak kita akan ulangan bab II. Silahkan persiapkan
kertas ulangan kalian dan kita mulai. Ibu sudah sampaikan ya
kemarin bahwa hari ini kita ulangan. Sudah pada belajar
semua kan?” ucap guru sambil mempersiapkan soal.
Maka anak IPA akan menjawab, “Sudah,” dan segera
mengambil kertas dan langsung tulis identitas sambil
menunggu soal yang didiktekan gurunya atau nunggu kertas
soal diberikan.
Sedangkan anak IPS akan menjawab, “Kami belum
belajar, Bu. Beri kami waktu tiga puluh menit untuk belajar
dulu.”
Maka guru pun memberi waktu sampai lebih dari empat
puluh menit karena mereka ulur‐ulur terus. Akhirnya ulangan
yang mestinya lima soal menjadi cuma satu soal. (penonton:
gerrrr)
Suatu ketika karena sesuatu hal, anak IPA terlambat dan
ditanya “Kenapa kamu terlambat?”
Anak IPA ini pun menjawab bahwa dia sedang mengantar
ibunya yang sakit ke dokter. Kemudian dia disuruh masuk
kelas setelah menulis surat keterangan terlambat.
Ketika datang anak IPS yang terlambat, sambil ucek‐ucek
mata karena belum mandi dia bertemu gurunya, “Kenapa
kamu terlambat?”
Anak IPS ini pun menjawab, “ Tadi malam saya chatting
dengan pacar saya sampai malam, Bu. Lalu saya main game,
jadinya saya kesiangan. Bangun udah pukul 06.30.”
Lalu bu guru pun meminta dia membersihkan kamar
mandi seperti anak‐anak yang lain. Maklum, ini beda sekolah
jadi hukuman terlambatnya beda‐beda. (penonton: gerr)
Pidatoku di Hadapan Bupati | 85
Tetapi tidak selalu anak IPS itu berkarakter begitu. Ada
juga dan banyak juga yang berperilaku baik. Contohnya
berikut ini.
Suatu ketika anak IPA mengajak main temannya yang IPS
karena si anak IPA ini baru saja menyelesaikan tugasnya.
“Yuk, kita main ke Simpang Lima?”
Anak IPS pun menjawab, “Ogah ah. Aku mau wisata
kuliner aja, sekali jalan, perut kenyang.”
Anak IPA ini pun merespon, “Wah, aku sudah banyak
pengeluaran bulan ini, beli buku, beli pulsa, beli yang lain
juga.”
Lalu anak IPS menjawab, “Ya, sudah. Aku yang traktir
tapi uange ngutang dulu ke kamu ya?” (penonton: ha ha ha)
Suatu kali ada anak IPS sedang ngobrol di Kafe Meong.
Mereka suka sekali di sana apalagi dengan adanya free Wi‐Fi.
Datanglah seorang anak IPA.
“Yuk, kita ke toko buku. Temani aku ya?”
Anak IPS pun menjawab, “Tak usah ke toko buku. Kita
cari download yang gratisan aja. Uang buat ke toko buku kita
buat jajan di sini aja?” (penonton: haah)
Si anak IPS ini masuk akal juga, tapi masalahnya tidak
semua buku bisa di‐download gratis. Ada juga yang cuma
tersedia cetakannya aja.
Kalau dipikir‐pikir anak IPS itu berisik banget, suka usil
tapi juga pintar berkomunikasi dan sosialnya tinggi. Apalagi
dengan teman satu komunitas. Beda dengan anak IPA yang
target hidupnya sangat tinggi sehingga tidak sempat
menikmati hidup dan tidak sempat habiskan waktu untuk
having fun.
86 | Ahlis Qoidah Noor
Di satu sisi, ada‐ada saja ulah anak IPS kalau lagi jam
kosong pelajaran. Ada yang nyanyi, usilin temannya, jajan di
kantin bahkan tidur ngorok di kelas. Padahal mereka
mendapat tugas dari guru yang sedang ijin untuk
diselesaikan. Tetap aja mereka santai dan tak bertarget.
Mereka biasanya sadar setelah lulus SMA. Mereka berubah
sudut pandang dan segera mengejar ketertinggalan target
hidup. Saking tobatnya banyak mereka yang segera berubah
komunitas, memilih teman yang mendukung cita‐cita dan
bisa mereka jadikan batu loncatan untuk ke karir mereka.
Ibarat kata mereka itu sebetulnya usil tapi otak mereka jalan
untuk bisa membuat hidup mereka lebih enak dan nyaman
tanpa banyak perjuangan. (penonton: gerrr)
Okay, saya Dilan Adiraja. Salam,
Sebagian besar penonton bertepuk tangan atas stand up
comedian pemula di ajang openmic. Mendengar tepuk tangan
yang gemuruh Dilan tampak senang. Dia turun dan memeluk
kedua sahabatnya.
Hari sudah menunjuk pukul 02.00 ketika mereka sampai
di rumah. Dilan hari itu tidak masuk karena kesiangan. Di
mengirim WA ke gurunya bahwa dia kesiangan dan mohon
ijin karena badannya juga demam. Maklum dia jarang sekali
tidur larut.
Hari berikutnya dia masuk sekolah. Teman‐temannya
pada menyambutnya. Dilan tampak agak bingung. Bu Narita
mendekatinya dan bertanya,
“Kamu sakit apa, Dilan? Kenapa sampai tidak masuk?”
sambil tersenyum.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 87
Dengan sedikit malu Dilan menceritakan keinginannya
untuk memulai profesi menjadi stand up comedian karena dia
harus juga memikirkan kondisi ekonomi keluarganya
semenjak ayahnya meninggal. Tadi malam adalah
performance dia yang pertama. Nanti malam dia akan
perform lagi karena diminta untuk open mic lagi. Penonton
banyak yang suka.
Hari berganti, bulan berlalu, tahun pun menunggu. Dilan
sudah lulus dari SMA favorit itu. Dan sekarang setiap malam
dia ikut Stand Up Night‐nya yang ke sepuluh. Hampir semua
penonton suka dengan penampilannya malam itu. Ketika
salah seorang produser film komedi mendekatinya untuk
kontrak film dengan dua judul sekaligus maka dia seperti
terbang ke langit lepas.
Sekarang seantero Indonesia bisa melihat karya
ngocolnya setiap malam di sebuah acara televisi. Dia tetap
mengikuti kuliah setiap Sabtu dan Minggu untuk tetap bisa
meng‐update komedinya. Dia tidak ingin terlena dengan
popularitas sementara.
Sambil menunggu ibunya pulang dari mengaji, Dilan
duduk di kursi tua teras rumah di kampungnya. Dari jauh
tampak ibunya berjalan. Sudah agak renta namun dia tidak
mau diajak ke Jakarta. Bagi ibunya hidupnya lebih
bermanfaat di kampung karena banyak orang meminta
tolong untuk menyelesaikan banyak hal, mulai dari
mendoakan anak yang baru lahir, memandikan orang
meninggal, tahlilan malam jumatan sampai mengantar orang
yang mau lamaran bahkan menengok orang yang sedang
88 | Ahlis Qoidah Noor
sakit dan minta didoakan. Semua itu menjadikan ibunya tak
hendak kemana‐mana.
“Oh kamu Dilan, Waalaikum salam.” Jawab ibunya
menjawab salamnya sambil memeluk dan mencium anak
semata wayangnya.
“Ibu, bagaimana kesehatan Ibu? Kemarin pas aku telepon
Ibu, kok suara ibu seperti orang masuk angin?” Tanya Dilan
pelan sambil mendekati pundak ibunya.
“Ya, Dilan. Ibu sudah tua. Ibu ingin kamu bisa segera
selesaikan kuliahmu dan kita akan bisa bersama lagi,” jawab
ibunya sambil terbatuk.
“Iya, Bu. Paling tinggal satu semester lagi. Doakan aku
ya, Bu. Agar segera lulus dan mendapat ijazah yang ibu
dambakan.” Kata Dilan sambil memeluk ibunya.
“Ibu, saya membawa TV 21 inch ini untuk Ibu. Bila Ibu
kepingin melihat aku, Ibu bisa setel channel progam yang ada
aku di sana. Bila ibu kangen, pandangi aku, dan doakan aku
ya, Bu. TV‐nya tidak besar, Bu, tapi cukup untuk hiburan bagi
Ibu.”
“Terima kasih, Dilan. Ibu sangat senang. Ibu juga sudah
bisa video call lewat HP yang kamu belikan bulan lalu bahkan
ibu juga bisa WA‐nan dan SMS‐an . Itu berkat si Jojon,
temanmu waktu SMA dulu. Dia yang mengajari ibu
bagaimana menggunakan alat itu. Ibu senang kalau kamu
masih ingat Jojon. Dia senang kamu.”
“Iya, Bu. Aku sudah bawakan Jojon tape recorder kecil
kesukaan dia. Dia suka mendengarkan radio. Di dalam tape
itu juga ada radionya. Dia juga suka acara komediku di TV.
Kami sering WA‐nan, Bu.”
Pidatoku di Hadapan Bupati | 89
Tak terasa sudah tiga hari Dilan ada di rumah ibu dan
sekarang dia akan kembali ke Jakarta untuk meniti karirnya
sebagai stand up comedian. Sebuah profesi yang menuntut
banyak membaca materi‐materi sosial dan ilmu pengetahuan,
mengkomunikasikan, dan membuat penonton terpingkal‐
pingkal. Dilan masih memegang konsep untuk tidak
menghina suku, agama, dan ras tertentu dalam materi
komedinya. Dia juga tak ingin mengumbar kejelekan
seseorang walau dia tahu itu benar adanya. Dilan hanya ingin
bermain logika dan memancing ketawa
Dia ingin mencari rejeki berkah dan halal serta tidak
menyakiti orang. Dilan oh Dilan. Selamat berjuang.
–Diilhami dari website SUCK (Stand Up Comedian
Semarang)
90 | Ahlis Qoidah Noor
Menurutku, Tindakanmu
Sangat Kontroversial
B ila kau datang di saat yang tepat, maka kau akan
melihatku berpeluh berurai keringat di siang bolong.
Kamu mungkin kan bertanya?
“Kenapa sampai berpeluh begitu?”
“Karena aku menunggumu mengailkan pancing di
tanganmu yang tak juga kau ayunkan. Kusungguh tak sabar
menanti ikan yang tersangkut. Apa penantianku tak cukup
untukmu?”
“Bukan itu, maksudku. Kamu bisa pergi berlari, tertawa,
atau menganyam rumput di sebelah sana tanpa harus
berpeluh begitu. Bukankah itu lebih baik bagimu? Kau tak
perlu menungguku seperti ini. Aku toh tak akan kemana‐
mana.”
“Kamu tahu kenapa? Karena aku butuh pancing itu
bekerja. Bekerja untuk diri kita, hidup kita, komunikasi kita.”
“Apa maksudmu berkata begitu? Itu toh hanya sekedar
pancing.”
“Bagimu ya, tapi bagiku tidak. Pancing itu kubeli dengan
hasil upahku me‐laundry baju orang. Kukumpulkan lembar
demi lembar sampai kau mendapatkan pancing yang sehebat
dan sekuat itu. Bila tak kau gunakan maka kau telah menyia‐
nyiakan aku dan juga pengorbananku selama ini.”
Pidatoku di Hadapan Bupati | 91
“Begitukah? Hanya demi pancing kau pun ikut terpancing
kemarahanmu dan melupakan esensi pertemuan kita yang
sengaja kita sisihkan di pinggir kali ini? Untuk kita berdua?
Sebegitu murahkah aku di hadapanmu sampai kau marah
hanya karena aku tak segera mengayunkan pancingku?”
“Kita telah salah paham, sudut pandang kita beda, tujuan
kita beda.”
“Ya memang, aku memancing untuk kesenangan dan kau
memancing untuk pendapatan. Betul kan? Sayang, tidak
selalu setiap kegiatan dilihat dari sudut pandang financial.
Tidak selalu setiap pemikiran selalu berujung pendapatan.
Tidak selalu setiap tindakan dinilai dari azaz keuntungan. Ada
saja bagian dari kita yang mesti kita perjuangkan. Kamu tau
apa itu, Sayang?”
“Ah, kamu selalu mencari alasan untuk setiap
tindakanmu.”
“Kamu tahu sayang, kenapa aku tak segera ayunkan
pancing ini, karena aku dapat info dari Dinas Kelautan bahwa
sebentar lagi akan ada makan ikan gratis dan boleh ambil
sesukanya di TPI sebelah itu. Jadi kupikir buat apa aku mesti
memancing kalau sebentar lagi aku pun dapat rejeki itu?”
“Lalu apa yang kau lakukan di sana sedari tadi?”
“Oh, itu. Aku WA‐an sama temanku. Kami mau joinan
ikan untuk dibuat usaha bareng. Bikin angkringa dengan
menu serba ikan. Jadi, kamu nanti gak perlu laundry baju
orang, cukup jadi koki untuk aku dan temanku. Kita bikin
wirausaha muda, Sayang.”
“Trus, pancingnya buat apa?”
92 | Ahlis Qoidah Noor