“Kan bisa kita jadikan ICON di depan angringan kita. Pasti
pengunjung suka, kan unik.”
“Lha, siapa temanmu itu yang kamu WA?”
“Oh itu, si Tukijem.”
“HAH, itu kan mantanmu mas. Tidak, aku tidak mau.
Lebih baik kamu mancing seharian daripada dipancing
Tukijem dan aku kehilangan kamu.”
Maka perempuan itu pun memeluk suaminya erat‐erat,
dia tidak mau kehilangan suaminya gara‐gara Tukijem yang
telah menyingkirkan pancingnya.
“Menurutku, tindakanmu itu sangat kontroversial
sehingga kamu tidak patut melanjutkannya. Itu akan merusak
kita, merusak komunikasi kita, dan juga merusak kebahagiaan
kita. Aku tidak mau memberi ruang kamu untuk melakukan
tindakan yang aneh‐aneh yang mengganggu keharmonisan
kita. Aku ingin kamu sebagai suamiku yang baik yang tidak
terkontaminasi oleh godaan di luar dan gangguan yang
menggoda. Jadi, aku minta hentikan saja. Lebih baik aku
tetap menjalankan laundry atau kamu mancing saja sebagai
hobi. Kalau mau ya kita kulakan ikan bila ingin bikin
angkringan. Itu yang terbaik.”
Panjang lebar istriku memberiku kuliah yang mestinya
cuma lima menit jadi 500 menit. Tapi ya sudah demi
kebahagiaan, keutuhan, dan komunikasi yang baik, aku setuju
saja dan kuturuti semua permintaannya. Toh kalau dia suka
maka aku pun senang. Kalau dia senang tentu aku dibuatkan
masakan yang enak dan mengenyangkan. He he he.
Mungkin tindakanku kontroversial karena memanfaatkan
hubungan masa lalu untuk kepentinganku. Untunglah istriku
Pidatoku di Hadapan Bupati | 93
segera tahu dan aku pun segera mengerti bahwa itu tidak
perlu. Aku tidak akan mengulangi perbuatan yang
menyakitkan hati.
Aku ingin jadi suami yang memuliakan istri walaupun dia
cerewetnya minta ampun. Mungkin dari situlah aku bisa
beribadah. Menjadi sabar dalam ujian dan cinta. Menjadi
indah dalam kebahagiaan dan doa. Aku harap tidak ada lagi
pertengkaran, yang ada hanya perselisihan yang lucu karen
ditempa cinta dan diburu rindu. Aku ingin semua menjadi
indah pada waktunya dan merona dipandang mata karena
cinta. Cinta yang tak akan pernah habis. Cinta suami pada istri
dan cinta istri pada suami.
Bila aku suatu saat nanti mendapat cinta lagi, maka cinta
itu berupa bayi mungil yang siap meramaikan isi rumah dan isi
hati. Ah, bahagianya kami. Lebih dari sekedar rumah reot
yang kami huni. Lebih dari sekedar makan nasi putih yang
kadang kami pun tak konsumsi setiap hari. Tak apa kelaparan
juga sebuah ibadah jika dibingkai dengan niat puasa. Ah, aku
puas dengan apa saja yang Kau beri dan aku dapat.
94 | Ahlis Qoidah Noor
Ada yang Bisa Aku Bantu?
A da banyak cara orang untuk mempromosikan
kehebatan dirinya ke orang lain dan juga untuk
menunjukkan bahwa dia mampu dengan cara yang
berbeda. Itu juga yang dilakukan oleh salah seorang teman
kerjaku.
Suatu pagi kami sedang jalan pagi bersama semua teman
kerja melewati tempat‐tempat yang telah ditentukan. Dari
jauh salah satu temanku melambaikan tangan ke aku untuk
memintaku menunggunya untuk jalan pagi bersama.
Agak lama aku menunggunya di pintu gerbang. Sekitar 10
menit kemudian dia keluar dari pintu kantor dan bergabung
denganku.
“Hai. Lama amat kamu di dalam,” sapaku.
“Iya, ” jawabnya sambil terkekeh.
Kami pun menapaki jalan yang telah ditentukan. Salah
satu hal yang membuat aku suka bareng dia adalah karena
dia suka sekali menajamkan pikirannya untuk peluang‐
peluang bisnis yang tidak dilirik oleh orang kebanyakan.
Dilahirkan dengan wajah yang di atas rata‐rata
menjadikan dia pusat perhatian jika kami bersamanya.
Namun, itu tidak menjadikan aku cemburu karena
kelebihanya. Mudah bercerita tetapi tidak mudah memilih
teman itulah salah satu kekuranganya. Aku tahu kenapa dia
memiliki pilihan pergaulan seperti itu. Setiap langkah dan
keputusan seseorang dalam bergaul dan berkomunikasi itu
Pidatoku di Hadapan Bupati | 95
juga karena dia mempunyai latar belakang sendiri yang telah
dia rasakan dan bagaimana dia harus memutuskan untuk
berbuat dan bertindak.
Berpenampilan agak sedikit semok dan senyum di kulum
serta suara yang lembut membuat aku memberinya nilai 86
untuk semua performanya.
Tak terasa kami telah mendekati pasar dan sekalian saja
kami belanja. Sambil belanja aku iseng‐iseng bertanya
kegiatannya. Dia memang paling suka diperhatikan semua
kegiatannya. Kami saling berbagi pengalaman untuk
kebaikan berdua.
“Kamu tahu, itu area depan kantor kita mau dibikin apa?
Aku kok ragu kapan jadinya. Sebetulnya aku ada order
ratusan tamu yang siap menginap cuma aku nggak tahu
kapan hotel kita jadi.”
“Lha itu kan kesempatan kita untuk bisa berbisnis. Kita
kelola permintaaan mereka dan kita pesankan hotel
terdekat.”
Aku sebetulnya tertarik dengan idenya tetapi aku tidak
punya cukup uang untuk reservasi sebanyak itu. Jadi aku
cuma menganggukan kepala tanda setuju idenya.
“Kalau area depan kantor yang aku sebut tadi apa yang
akan selesai dalam waktu dekat?”
“Lho pasti lah. Desember paling sudah siap,” katanya.
“Desember? Lha teman yang mengetahui seluk beluk
pembangunan itu, ketika aku tanya kemarin tentang
persiapan kamar di hotel aja bilang tidak tahu?”
“Oh, aku yakin sebelum launching pasti operational
sudah siap.”
96 | Ahlis Qoidah Noor
“Aku harap begitu.”
Lalu dia bertanya balik, “Menurutmu apakah teman‐
teman akan mampu mengelola bisnis yang ada di kantor
depan?” tanyanya menyelidik.
Aku merasa dia mulai mempengaruhi aku. Tapi aku
biarkan saja seolah aku tidak tahu arah berpikirnya.
“Ya, bisa jadi. Kalau dipilihkan yang terbaik di antara kita
kenapa tidak?” jawabku. Setiap dari kita pasti punya
kelebihan yang bisa dimanfaatkan. Hanya saja memang tidak
semua orang punya sikap manajerial.
“Ya. Selain itu juga harus punya sikap wirausaha yang
ulet.”
“Ya pastilah,” jawabku.
Dia mulai menata nafas sambil terengah‐engah berjalan
mengikutiku. Maklum, aku sedikit beberapa centi lebih tinggi
darinya. Kulihat keringat mulai bercucuran di wajah kami
berdua.
Di sekitar kami terlihat mobil berlalu lalang mengitari
ruas jalan yang semakin lama semakin memadat.
“Aku kemarin bertemu dengan beberapa wirausaha dan
usahawanmu. Itu semacam pelatihan untuk kewirausahaan
dan bisnis. Jadi kami belajar tentang bisnis dan seluk‐
beluknya di sana.”
“Ada hal yang menarik dari sana?” selidikku.
Dia tampak senang namun agak menyimpan sesuatu di
senyumnya.
“Ya. Waktu itu aku diminta memperkenalkan diri dan
kemudian ditanya apa usaha sambilanku selain bekerja di sini.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 97
Aku jawab catering karena memang usahaku di situ. Tapi aku
ditertawakan merekan bahkan ada yang menyeletuk.
‘Kamu itu tidak tahu potensi kamu, ha ha ha.’
Aku semakin penasaran. Lalu ada salah satu yang bilang,
berbisik di sebelah kupingku persis.
‘Kamu suka baju bagus kan? Kenapa tidak kamu mulai
dari membuka butik.’
Aku bertanya, ‘butik? Kamu yakin dengan harga baju di
butik sekarang akan laku?’
‘Aku sudah memulainya beberapa saat yang lalu,’
Jawabnya.
Jadi, setelah mereka menertawakanku, dia lalu mengajak
ngobrol mereka dan mereka ternyata mempunyai pandangan
yang sama tentang bisnis di dunia mode.”
“Ya, aku yakin bisa. Kemarin aku mendapat kain dari
teman yang ingin dijahitkan karena melihat baju yang aku
pakai sangat bagus. Mereka suka dan aku menyambutnya
dengan membuat desain dan menjahitkannya sekalian.”
Segera saja aku menyahut.
“Bukannya kamu tidak begitu ahli mendesain baju?”
tanyaku
“Itulah alasan aku membutuhkan seorang penjahit yang
handal, yang bisa menerjemahkan mauku. Memang aku tidak
begitu baik dalam mendesain. Itulah kelemahanku dan aku
ingin menutup kelemahan itu dengan kekuatan orang lain
yaitu penjahit yang profesioanal.”
“Oke, oke,” jawabku menanggapi responnya yang
sangat positif.
98 | Ahlis Qoidah Noor
Lalu dia lanjutkan, “Kamu tahu aku sudah menjahitkan
tiga baju temanku, ditambah ongkosku maka, jadilah butik
pertamaku.”
“Wow, keren,” jawabku spontan.
Terlepas dari semua kekurangan dalam performance dan
sikapnya, sesungguhnya dia orang yang tidak bisa diam. Dia
selalu berpikir untuk bergerak dan bergerak. Itulah salah satu
temanku. Ada banyak temanku yang lain yang juga
mempunyai keistimewaan yang akan kuceritakan nanti.
Apakah hikmah yang dapat kita ambil? Ya, sebuah
komunitas akan mempengaruhi kreativitas dan cara berpikir
kita menghadapi suatu masalah. Suatu kesulitan bisa menjadi
kesempatan bisnis dengan cara pandang yang berbeda.
Apa yang bisa kamu lakukan untuk meng‐upgrade
kemampuanmu dan apa yang bisa kamu lakukan untuk
membantu teman seusiamu di sekolah? Bantuanmu akan
membuatnya senang, walaupun hanya sekedar mengiyakan
ide yang disampaikan sambil memberi masukan. Bantuanmu
akan membuatnya besar walaupun hanya dengan sekedar
anggukan tanda kamu mensupport idenya.
Pidatoku di Hadapan Bupati | 99
Profil Penulis
Dilahirkan dari keluarga campuran antara pedagang dan
guru agama, Ahlis Qoidah Noor menghabiskan waktunya di
sebuah desa kecil di Kudus. Selepas lulus dari SMA Negeri 1
Kudus, dia melanjutkan studi ke sebuah Akademi Akuntansi.
Namun, gejolak hati untuk menjadi guru membuat dia pindah
ke IKIP Negeri Semarang dan mengambil D3 Bahasa Inggris.
Dia berharap, selepas lulus D3 langsung ditempatkan.
Sambil kuliah, dia aktif di UKM Penerbitan dan
Kerohanian serta juga menjadi penyiar lepas di
UNIVERSITARIA RRI Semarang. Tahun 1992 dia lulus dari D3
bersama teman‐temannya. Namun, nasib berkata lain. Ketika
dia lulus, pengangkatan hanya berhenti sampai di kakak
tingkatnya. Akhirnya, dia beserta tujuh puluh orang
temannya lulus dan mencari pekerjaan sendiri. Delapan tahun
dia bekerja sebagai guru sambil menjadi penulis lepas di
majalah bulanan milik APINDO dan SPSI.
Sempat memenangi beberapa lomba LKTI di UNNES
dalam beragam event, dia juga aktif di pembinaan rohani
untuk mahasiswi baru. Tahun 2001 dia menyelesaikan S1 dan
mencoba ikut serta dalam tes CPNS dan melalui beragam tes
dia diterima menjadi guru di SMK Negeri 6 Semarang, sebuah
SMK Jurusan Pariwisata. Mengajar pagi di SMK dan sore
menjadi instruktur di berbagai tempat kursus termasuk dua
tahun di GUMAYA TOWER HOTEL dan juga di D1 perhotelan
100 | Ahlis Qoidah Noor
menjadikan dia banyak menyerap materi dunia perhotelan
dan terminologinya.
Selama di SMK sejak 2010 – sekarang dia menjabat WMM
(Wakil Manajemen Mutu) ISO 9001: 2008 dan 9001: 2015, juga
menjadi Manager Mutu LSP P1 Tourinam di SMK Negeri 6.
Terkait Penjaminan Mutu Internal , dia telah membimbing
ISO di enam sekolah di Semarang dan Demak untuk Sistim
Manajemen Mutu ISO. Sempat juga menjadi Dosen Tamu di
sebuah universitas ternama di Semarang selama dua tahun
dan mengisi materi pra PPL di dua PTS serta penyaji
Kurikulum K‐13 di berbagai SMK di delapan kabupaten di
Jawa Tengah.
Pengalamannya sebagai sekretaris MGMP sejak 2007‐
2012 dan menjadi ketua MGMP Kota Semarang dari 2013‐2015
membuat dia banyak tertantang untuk lebih profesional di
bidang pendidikan. Maka sejak 2010‐2012 dia melanjutkan
studi di S2 UNNES dan dilanjutkan dengan 2012‐ sekarang
sedang menyelesaikan studi di S3 Pendidikan bahasa Inggris.
Pengalaman yang sangat berkesan adalah ketika dia menjadi
juara II Guru Berprestasi (GUPRES) SMK Kota Semarang
tahun 2015, Juara I Gupres SMK Kota Semarang tahun 2016
dan termasuk lima besar Gupres SMK Provinsi Jawa Tengah.
Beberapa artikelnya menghiasi e‐jurnal di UNNES seperti
di LIK dan JED. Artikelnya juga menghiasi beberapa jurnal
yang dikelola PGRI dan IAIN bahkan juga di surat kabar lokal
dan Simposium Nasional. Sejumlah laporan PTK sudah dia
hasilkan demikian juga buku teks berbahasa Inggris kelas X,
XI, dan XII yang diterbitkan oleh Perusda Semarang. Bekerja
sama dengan MGMP dia juga telah membuat LKS (Lembar
Pidatoku di Hadapan Bupati | 101
Kerja Siswa) untuk siswa SMK. Setelah tidak aktif sebagai IN
dia aktif sebagai penulis buku modul pasca UKG yang
diterbitkan oleh pihak P4TK Bahasa setelah melalui
serangkaian training, validasi, dan sinkronisasi dengan
kurikulum 2013. Buku Pedoman Guru, Kumpulan Puisi, buku
materi Reading, Kumpulan Silabus, Kumpulan cerita Anak,
Modul untuk KTSP maupun K‐13 telah dia buat. Demikian
juga Best Practice dalam Inggris dan Indonesia.
Insting untuk menulis karya ilmiah populer muncul ketika
mengikuti program SAGUSABU yang diselenggarakan oleh
MEDIA GURU. Maka mengalirlah tulisan populernya di koran
Kota Semarang.
102 | Ahlis Qoidah Noor