93 tiap bagian yang dilakukan tahu secara jelas aktivitas-aktivitas mana yang harus dilakukan dan menjadi tanggung jawabnya. d. Pendelegasian Weweang (Authority Delegation) Setelah pembagian aktivitas, pendelegasian wewenang harus dilakukan supaya suatu bagian dapat menjalankan aktivitas-aktivitasnya dan dapat mempertanggungjawabkannya. e. Hierarki (Hierarchy) Hierarki merupakan suatu pola tingkatan-tingkatan dari suatu struktur organisasi di mana berada di atas adalah manajer puncak yang bertanggung jawab atas operasi organisasi secara keseluruhan, dan di bawahnya adalah manajer tingkat menengah serta manajer lini pertama. f. Koordinasi (Coordination) Setelah dilakukan pembagian aktivitas dan pendelegasian wewenang, diperlukan koordinasi dari berbagai bagian. Hal ini dimaksudkan agar bagian-bagian yang ada tidak berjalan sendiri-sendiri sebab kegiatan-kegiatan yang dijalankan di satu bagian akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh bagian-bagian lainnya. Hal ini perlu diperhatikan karena dalam praktik, setiap bagian biasanya tanpa sadar mementingkan bagiannya sendiri. a) Rentang Kendali Manajemen (Span of Management Control) Rentang kendali manajemen adalah jumlah bawahan yang harus melapor secara langsung kepada seorang atasan b) Rantai Komando (Chain of Commmand) Rancangan mengenai siapa melapor ke siapa dalam suatu organisasi, seperti halnya garis laporan adalah bentuk yang ada di bagan organisasi. 3. Konsep Organisasi Konsep-konsep tentang organisasi berkembang mulai tahun 1800-an, yang terbagi atas
94 a. Teori Organisasi Klasik Teori organisasi klasik mendefinisikan organisasi sebagai struktur hubungan wewenang, tujuan, peranan, kegiatan, komunikasi, dan faktor-faktor lain yang terjadi bila orang-orang bekerja bersama. Teori organisasi klasik terdiri atas teori birokrasi; teori administrasi, dan manajemen ilmiah. 1. Teori birokrasi Dipelopori oleh Max Weber. Menurut Weber, birokrasi mempunyai karakteristik tertentu, yaitu : a. Pembagian kerja yang jelas. b. Hierarki wewenang dirumuskan dengan baik. c. Sentralisasi kekuasaan berdasarkan suatu hirarki dengan pemisahan jelas peringkat atas dan bawah. d. Program rasional untuk mencapai tujuan. e. Seleksi dan promosi personalia didasarkan atas kecakapan teknis dan pendidikanlatihan serta persyaratan lain yang disesuaikan dengan kebutuhan dan pelaksanaan tugas. f. Sistem aturan yang mencakup hak-hak dan kewajiban- kewajiban posisi para pemegang jabatan. g. Hubungan antarpribadi bersifat formal h. Ada pemisahan antara masalah pribadi dengan masalah formal organisasi. Jadi birokrasi merupakan model normatif, menekankan struktur dalam organisasi. 2. Teori administrasi Dipelopori oleh Henri Fayol yang mengemukakan bahwa kegiatan industri dibagi ke dalam kegiatan teknis, komersial, finansial, keamanan, personalia, akuntansi, dan manajerial (perencanaan, pengorganisasian, pemberian perintah, pengkoordinasian dan pengawasan) Fayol selanjutnya membahas tentang 14 kaidah/prinsip manajemen: a. Pembagian kerja atau spesialisasi meningkatkan produktivitas karena orang memusatkan perhatian pada pekerjaan sesuai dengan keahlian;
95 b. Wewenang dan tanggung jawab harus ada dalam pelaksanaan kegiatan. Perlu ada rangsangan untuk kegiatan yang dilaksanakan dengan baik dan sanksi bagi pelaksanaan kegiatan yang baik; c. Harus ada disiplin, yaitu rasa hormat dan taat pada peranan dan tujuan organisasi; d. Perlunya kesatuan perintah. Bawahan hanya menerima perintah dan bertanggung jawab pada satu atasan; e. Perlu adanya kesatuan pengarahan. Organisasi efektif bila para anggota bekerja bersama berdasar tujuan yang sama; f. Para anggota organisasi harus mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi/kelompok; g. Pembayaran balas jasa harus bijaksana, adil, tidak eksploitatif dan memuaskan pihak pihak; h. Perlu diatur keseimbangan antara sentralisasi dan desentralisasi; i. Hubungan antartugas disusun atas dasar suatu hirarki atas bawah (rantai skalar); j. Harus ada order, aturan, ketertiban, di mana ada suatu tempat untuk setiap orang yang seharusnya memang tempatnya; k. Keadilan bagi personalia, kesamaan perlakuan dalam organisasi; l. Perlu kelangsungan, keamanan dan kepastian kerja bagi karyawan; m. Dalam setiap tugas harus dimungkinkan untuk mengadakan prakarsa atau inisiatif; n. Harus ada semangat korps menggalang kekuatan dengan persatuan atau kesetiakawanan, kebanggaan bersama dan merasa memiliki. 3. Manajemen ilmiah Diciptakan oleh Frederick Winslow Taylor dan ada 4 kaidah dasar manajemen yaitu: a. Perlunya menggantikan metode kerja praktek dengan yang berdasar ilmu pengetahuan. b. Perlunya mengadakan seleksi, latihan dan pengembangan karyawan secara ilmiah agar karyawan bekerja sebaik-baiknya sesuai dengan spesialisasinya.
96 c. Perlunya pengembangan ilmu tentang kerja dan mengintegrasikannya dengan seleksi, latihan dan pengembangan ilmiah karyawan; dan d. Perlunya pengembangan semangat dan mental karyawan melalui pendekatan karyawan oleh manajer agar timbul suasana kerja sama yang baik. Teori organisasi klasik menguraikan anatomi organisasi formal. Organisasi formal mengandung 4 unsur pokok, yaitu : 1. Sistem kegiatan yang terkoordinasi.organisasi selalu terdiri dari bagianbagian dan hubungan-hubungan. Bagian organisasi merupakan kegiatan atau fungsi yang saling berhubungan. 2. Kelompok orang yang melaksanakan fungsi. 3. Kerja sama untuk mencapai tujuan. Organisasi tersusun atas dasar hubungan bawahan terhadap atasan, sehingga wewenang harus ada secara formal. 4. Kepemimpinanpun harus ada yang mencerminkan kualitas orang yang tepat dalam usaha kerjasama untuk mencapai tujuan. Menurut pengikut aliran klasik, suatu organisasi atau koordinasi bergantung pada empat kondisi pokok agar kesatuan tindak mencapai tujuan itu ada, yaitu wewenang, saling melayani, doktrin, dan disiplin. Untuk itu perlu tonggak-tonggak dasar: pembagian kerja, proses skalar dan fungsional (vertikal, horisontal), struktur, dan rentang kendali. b. Teori Organisasi Neoklasik Teori neoklasik mengusulkan perubahan-perubahan pada teori klasik semenjak berkembangnya pendekatan prilaku manusia. Pelopor pendekatan prilaku manusia adalah Hugo Munsterberg yang menyatakan adanya pengaruh faktor sosial dan budaya pada organisasi. Teori hubungan manusiawi dimulai dengan percobaan Howthorn oleh Elton Mayo disusul oleh Roetherberger dan Dickson. Titik berat neoklasik adalah pada dua unsur pokok organisasi, yaitu perilaku individu (individual behavior) dan kelompok kerja. (work groups). Teori neoklasik cenderung ingin memanfaatkan organisasi informal. Organisasi informal terdiri atas orangorang yang bergabung menjadi suatu kelompok kerja, tetapi
97 penggabungan ini tidak ditentukan dalam bagan organisasi formal. Organisasi formal adalah kelompok alamiah yang terbentuk sebagai hasil interaksi diantara para karyawan dalam situasi kerja mereka. Organisasi informal muncul sebagai tanggapan atas kebutuhan sosial manusia, yaitu ingin berhubungan dengan orang lain. Teori neoklasik menganjurkan agar manajemen memanfaatkan organisasi informal ini dan bekerjasama dengan mereka hendaknya keberadaannya jangan diabaikan; pendapat mereka perlu didengar dan libatkan mereka dalam pengambilan keputusan karena mereka dapat menyebarkan informasi secara lebih cepat pula. Adapun faktor-faktor yang dapat menentukan munculnya organisasi formal antara lain ialah: 1. Lokasi Untuk membentuk suatu kelompok orang harus mempunyai kontak tatap muka yang ajeg. 2. Jenis Pekerjaan Ada kecenderungan bahwa manusia yang melaksanakan jenis pekerjaan yang sama akan membentuk kelompok bersama. 3. Minat Walau lokasi berdekatan dan jenis pekerjaan sama namun bila tak ada minat atau epentingan tidak akan timbul kelompok. 4. Adanya kepentingan khusus tetapi tak permanen. Hobi olah raga dan lain-lain c. Teori Organisasi Modern Teori organisasi modern atau juga analisis sistem terhadap organisasi, melihat semua unsur organisasi sebagai suatu kesatuan. Teori modern mengemukakan bahwa organisasi bukanlah suatu sistem tertutup melainkan sistem terbuka yang harusmenyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungannya. Teori modern memadukan teori klasik dan neoklasik dengan konsep yang lebih maju. Teori ini memandang organisasi sebagai
98 suatu proses dimana yang terjadi dengandan dalam hal-hal yang umum dikendalikan oleh struktur. Adanya perkembangan teknologi timbullah perhatian pada operasi atau proses organisasi. Di sini dikemukakan pentingnya perencanaan, pengorganisasian, pengawasan, komunikasi, motivasi dan integrasi demi kesuksesan operasi mencapai tujuan-tujuan organisasi. Teori modern cenderung memandang organisasi sebagai sistem terbuka dengan dasar analisis konseptual dan didasarkan pada data empiris, serta sifatnya sintesis dan integratif. Sistem terbuka itu pada hakekatnya merupakan transformasi masukan yang menghasilkan keluaran; transformasi terdiri atas aliran bahan, energi dan informasi. Sistem adalah sekelompok bagian-bagian yang bekerja bersama untuk mencapai suatu maksud. Sistem terdiri atas subsistem tujuan, manajerial, teknis, psikososial dan strutural. Sebagai suatu sistem yang saling terkait, organisasi terdiri atas 3 unsur y a i t u u n s u r struktur yang bersifat makro, unsur proses yang juga bersifat makro, dan unsur perilaku anggota organisasi yang bersifat makro. 4. Fungsi Dalam Organisasi Fungsi adalah kerja yang dapat dibedakan dari kerja yang lain. Di dalam suatu organisasi, fungsi menyumbang secara langsung pada pencapaian tujuan. Fungsi seperti ini dikenal dengan nama fungsi garis. Wewenang garis dicerminkan dengan adanya rantai komando yang berasal dari manajemen puncak melalui berbagai tingkat hierarki sampai pada tingkat di mana kegiatan organisasi dilaksanakan. Fungsi ini berkembang mengikuti prinsip skalar, yaitu bahwa wewenang dan tanggung jawab mengalir secara vertikal langsung lurus dari tingkat teratas ke tingkat paling bawah. Terciptalah struktur hierarki di mana terjadi pembagian vertikal wewenang dan tanggung jawab serta alokasi/pembebanan berbagai tugas sepanjang rantai skalar. Fungsi lain dalam organisasi adalah fungsi garis dan staf. Di sini staf merupakan individu atau kelompok dalam organisasi yang fungsi utamanya memberikan nasihat dan jasa lain pada orang garis. Ada staf pribadi yang melaksanakan sebagian atau
99 segala fungsi manajer, manajer tetap melakukan sebagian dan bertanggung jawab terhadap fungsi tersebut; ada pula staf khusus yang melakukan kerja yang memerlukan keterampilan atau objektivitas yang tidak dimiliki oleh garis. Staf pribadi terdiri dari asisten garis, asisten staf dan asisten umum. Staf khusus dapat membantu bagian lain pula. Wewenang fungsional hanya dapat efisien dan efektif apabila dilaksanakan oleh mereka yang memiliki informasi yang cukup banyak, selalu dimintai pendapatnya oleh pimpinan, selalu mengambil inisiatif dan melakukan persuasi agar konsep atau idenya diterima pimpinan. 5. Struktur Dan Bentuk Organisasi a. Struktur Organisasi Struktur adalah pola hubungan komponen atau bagian suatu organisasi. Struktur merupakan sitem formal hubungan kerja yang membagi dan mengkoordinsikan tugas orang dan kelompok orang agar tujuan tercapai. Struktur dibedakan dari proses. Struktur merupakan susunan subsistem dan komponen dalam ruang tiga dimensi pada suatu waktu, sedang proses adalah perubahan dinamis dalam bahan, energi atau informasi dari sistem tersebut menurut waktu. Struktur itu sifatnya relatif stabil, statis, berubah lambat atau memerlukan waktu untuk penyesuaian-penyesuaian, sedang proses berubah cepat dan dinamis. Struktur merupakan komponen organisasi di samping fungsi dan hubungan, sedang proses merupakan sesuatu yang dinamis yang terjadi di dalam organisasi seperti pendelegasian, pengarahan, pengkoordinasian, komunikasi, motivasi, proses mempengaruhi, kepemimpinan, rasa tak puas, konflik dan lain-lain. Seperti diketahui organisasi adalah wadah kegiatan (perencanaan: tujuan, strategi, kebijaksanaan dan program). Di dalam organisasi maka struktur yang dikenal dapat bersifat formal maupun informal. Struktur formal tergambar dalam peta organisasi yang menunjukkan posisi kerja, jenis kerja yang dilakukan, hubungan atasan dan bawahan, kelompok atau komponen sub bagian, tingkat manajemen dan saluran komunikasi. Struktur informal adalah organisasi bayangan, struktur di
100 belakang struktur, suatu struktur tak resmi berdampingan dengan struktur formal. Struktur perlu memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 1. struktur harus mengikuti strategi 2. struktur harus sesuai dengan teknologi organisasi 3. struktur harus sesuai dengan lingkungan luar 4. struktur harus mengkoordinasikan orang di dalam sistem dan harus pula mengakomodasi besar organisasi. Adapun komponen struktur adalah spesialisasi dan koordinasi. Spesialisasi adalah proses dengan mana tugas-tugas didefinisikan dalam pembagian kerja. Spesialisasi itu berdasar rancang bangun kerja adalah alokasi tugas kerja tertentu pada perorangan atau kelompok orang. Koordinasi adalah proses mengkaitkan kegiatan yang telah dispesialisasi satu dengan yang lain sehingga menjamin pencapaian tujuan bersama. Ada koordinasi vertikal yang mengkoordinasikan kegiatan orang perorang dan kelompok sesuai hirarki kewenangan. Koordinasi horisontal mengkoordinasi kegiatan individu dan kelompok yang bekerja pada satu peringkat hirarki. b. Bentuk Organisasi Ditinjau dari jumlah pimpinan puncak organisasi dapat dibedakan menjadi organisasi dengan pemimpin puncak tunggal dan organisasi dengan pemimpin puncak dewan 1. Organisasi dengan pemimpin puncak tunggal adalah organisasi yang mempunyai pimpinan puncak satu orang. Ini bisa dilihat pada Perusahaan-perusahaan perseorangan di mana walaupun terdiri dari bayak orang, pemimpin puncaknya hanya satu orang. 2. Organisasi dengan pemimpin puncak dewan adalah organisasi yang mempunyai pimpinan puncak lebih dari satu orang (dewan) seperti pada perusahaan-perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas atau firma.
101 Bentuk-bentuk organisasi berdasarkan hubungan-hubungan wewenangnya yaitu wewenang lini (line authority), wewenang staf (staff authority), dan wewenang fungsional (functional authority). a. Wewenang lini adalah wewenang yang menimbulkan tanggung jawab tercapainya tujuan-tujuan Perusahaan b. Wewenang staf adalah wewenang untuk membantu agar orangyang mempunyai weweanng lini bekerja secara efektif dalam mencapai tujuan-tujuan perusahaan c. Wewenang fungsional adalah wewenang yang diberikan kepada seseorang atau departemen untuk dapat turut mengambil keputusankeputusan mengenai hal-hal yang berada di departemen yang lain. Wewenang-wewenang dalam tersebut dalam organisasi akan membentuk hubungan-hubungan. Bagaimana hubungan-hubungan-hubungan ini terjadi dapat membedakan organisasi menjadi organisasi lini, organisasi lini dan staf, atau organisasi lini dan fungsional serta organisasi matriks 1. Organisasi Garis/Lini Organisasi garis/lini adalah yang hanya memiliki hubungan wewenang lini dalam organisasinya. Organisasi seperti ini merupakan bentuk organisasi yang tertua, biasanya berskala kecil dengan sedikit jumlah karyawan dan belum ada atau sedikit spesialisasi. Contohnya Perusahaan-perusahaan kecil di mana para karyawan mempunyai seorang atasan dengan wewenang garis yang mengalir ke seorang bawahan (prinsip skalar).
102 Gambar 10. Struktur Oganisasi Garis/Lini 2. Organisasi Garis/Lini dan Staf Dalam organisasi yang berbentuk garis/lini dan staf terdapat wewenang garis dan weweang staf dan diantara keduanya terdapat hubungan. Organisasi dengan bentuk ini biasanya organisasi yang berskala besar, denga jumlah karyawan yang besar dan sudah terdapat spesialisasi. Misalnya perusahaan-perusahaan yang Menyusun struktur organisasi berdasarkan fungsi-fungsi perusahaan. Jadi dapat terjadi beberapa departemen digolongkan sebagai departemen yang memiliki wewenang staf terhadap deparetemen lainnya; tetapi didalam departemen tersebut terdapat hubungan wewenang lini yaitu antara kepala departemen dengan bawahannya,misalnya departemen akuntansi atau hubungan masyarakat. Karena itu, perlu diperhatikan bahwa suatu departemen termasuk lini atau staf tidak ditentukan oleh kegiatannya tetapi oleh hubungan-hubungannya dengan departemen lainnya. Contohnya jika deparetemen penjualan diminta pendapatnya mengenai pengepakan oleh departemen produksi, ia akan berfungsi sebagai staf.
103 Gambar 11. Struktur Organisasi Garis/Lini dan Staf 3. Organisasi fungsional dan Garis/Lini Organisasi fungsional dan garis/lini adalah organisasi di mana di dalamnya terdapat hubungan wewenang lini dan fungsional. Biasanya terdapat dalam organisasi yang besar dengan jumlah karyawan besar dan kegiatan-kegiatan terspesialisasi. Contohnya departemen keuangan yang kegiatannya (keuangan) terdapat pada departemen-departemen lain, jadi segala prosedur keuangan disemua departemenditetapkan oleh departemen keuangan. Terlihat bahwa departemen keuangan menjalankan wewenang fungsionalnya dan kepala bagian keuangan mempunyai hubungan lini dengan bawahannya atau bagian-bagian dari departemen tersebut. Dalam praktik, umumnya pada perusahaan yang besar atau raksasa, terdapat hubungan-hubungan wewenang baik garis, fungsional maupun staf, sehingga kadang-kadang sulit dibedakan secara tegas apakah suatu departemen termasuk garis, staf atau fungsional, karena hal ini tergantung pada wewenang yang dijalankannya.
104 Gambar 12. Struktur Organisasi Fungsional 4. Organisasi Matriks Salah satu organisasi yang menarik dan yang makin sering dipakai adalah organisasi matriks atau jaringan atau manejemen proyek atau produk meskipun manajemen proyek murni tidak perlu menyiratkan suatu jaringan atau matriks. Inti dari manajemen matriks adalah penggabungan bentuk fungsional dan produkdari departementasi dalam struktur organisasi yang sama Gambar 13. Struktur Organisasi Matriks
105 6. Desentralisasi Dan Wewenang Tanpa wewenang, yaitu kuasa untuk menjalankan kebijakan dalam mengambil keputusan yang diberikan kepada para manajer, berbagai departemen tidak bisa menjadi kesatuan yang bekerja lancar dan yang disesuaikan demi pencapaian tujuan Perusahaan. Hubungan wewenang, baik vertical maupun horizontal, merupakan faktor yang membuat adanya organisasi yang memanfaatkan aktivitas departemen, dan yang membawa koordinasi ke dalam Perusahaan. Apakah wewenang itu harus dikonsentrasikan atau diserahkan ke seluruh organisasi bukanlah hanya soal wewenang jenis apa tetapi seberapa banyaknya wewenang. Desentralisasi adalah suatu aspek fundamental dari penyerahan atau pendelegasian, maka wewenang itu didesenralisasikan. Sentralisasi mutlak dalam satu orang adalah mungkin, tetapi itu tidak menyiratkan manajer-manajer bawahan dan karena itu juga tidak menyiratkan organisasi struktural. Dengan demikian beberapa desentralisasi terdapat pada semua organisasi. Sebaliknya, tidak bisa ada desentraliasi mutlak, sebab jika manajer mendelegasikan seluruh wewenangnya, statusnya sebagai manajer akan berhenti, kedudukannya akan dihilangkan, dan tidak aka nada organisasi. Oleh sebab itu, sentralisasi dan desentraliasi merupakan kecenderungan, keduanya adalah sifat seperti panas dan dingin. Sentralisasi telah dipakai untuk menggambarkan kecenderungan yang bukan penyebaran wewenang, seperti dalam sentralisasi pelaksanaan. a. Delegasi Wewenang Wewenang didelegasikan apabila kuasa pengambilan keputusan diberikan kepada seorang bawahan oleh seorang atasan. Adalah hak untuk melakukan sesuatu atau memerintah orang lain untuk melakukan sesuatu agar tercapai tujuan tertentu. Delegasi adalah proses penyerahan wewenang dari suatu tingkatan manajemen kepada tingkatan manajemen berikutnya yang berada di bawahnya. Ini dilakukan untuk efisiensi fungsi setiap organisasi, karena tidak ada seseorang atasan yang dapat secara pribadi menyelesaikan semua tugas organisasi.
106 Proses keseluruhan dari pendelegasian meliputi : 1. Penentuan hasil yang diharapkan 2. Pemberian tugas 3. Pendelegasian tugas untuk pelaksanaan tugas 4. Tuntutan tanggung jawab untuk pelaksanaan tugas Tujuan daripada pendelegasian adalah untuk memungkinkan adanya organisasi, karena tak seorangpun di dalam suatu perusahaan dapat melaksanakan segala tugas yang diperlukan bagi pencapalan tujuan kelompok, demikian pula tidak mungkin sementara suatu perusahaan tumbuh hanya satu orang untuk menjalankan segala wewenang bagi pengambilan keputusan. Para atasan tidak dapat mendelegasikan segala wewenang tanpa sebenarnya memindahkan kedudukan mereka kepada bawahan mereka. Delegasi wewenang dapat bersifat khusus atau umum, tertulis atau tidak tertulis. b. Mensentralisasi Wewenang Ada kalanya sebuah perusahaan bisa disebut mensentralisasikan kembali atau mengadakan resentralisasi wewenang yang tadinya didesentralisasikan. Biasanya proses itu tidak hanya merupakan pembalikan desentralisasi, sebab delegasi-delegasi wewenang tidak seluruhnya ditarik kembali oleh para manajer yang telah melakukannya. Yang terajdi adalah suatu sentralisasi wewenang, atas sejenis aktivitas tertentu atau sejenis fungsi tertentu, dan hal itu ditemukan di mana pun dalam organisasi. Alasan dilakukannya sentraliasi : 1. Keterempilan, bakat dan teknologi sering kali tidak dapat diterapkan di lokasi yang berbeda-beda 2. Lokasi yang terdesentralisasi meningkatkan biaya 3. Perkembangan baru dalam fasilitas teknologi,komunikasi, pergerakan uang,informasi kredit, transportasi dan pemrosesan data yang terpusat. Faktor-faktor yang mempengaruhi Desentralisasi 1. Pengaruh lingkungan usaha diluar organisasi, seperti karakteristik pasar, tekanan persaingan dan ketersediaan bahan baku.
107 2. Ukuran dan tingkat perkembangan organisasi 3. Karakteristik organisasi seperti biaya dan resiko yang berhubungan dengan keputusan, preferensi dan keyakinan individu manajer pada bawahan, kultur organisasi dan kemampuan manajer tingkat bawah. 7. Komite/Panitia Salah satu yang terdapat di mana-mana serta yang menjadi pokok perdebatan mengenai organisasi adalah komite. Apakah itu disebut dewan, komisi, satuan tugas atau tim, sifatnya yang esensial adalah sama, sebab komite adalah sebuah kelompok orang yang diserahi (sebagai suatu kelompok) suatu masalah untuk dipecahkan. a. Karena adanya variasi dalam wewenang yang ditugaskan kepada komitekomite,maka banyak kebingungan muncul mengenai sifatnya. Ada komite yang melakukna fungsi manajerial, dan ada yang tidak. Sebuah panitia bisa masuk lini dan bisa staf tergantung dari wewenangnya. Komite bisa juga formal atau tidak formal. Kalau dibentuk sebagai bagian dari struktur organisasi itu, dengan tugas dan wewenang yang didelegasikan secara spesifik, komite itu formal. Selain itu, bisa permanen secara relative atau bisa juga bersifat sementara. b. Alasan untuk menggunakan Komite 1. Pemikiran dan pertimbangan kelompok Salah satu alasan yang paling penting mengapa komite digunakan adalah keuntungan untuk medapatkan pemikiran dan pertimbangan kelompok. 2. Menghindari terlalu banyak wewenang pada seseorang Alasan lain dari penggunaan komite secara luas adalah untuk menghindari terlalu banyak wewenang kepada orang tunggal. Suatu komite bisa didirikan untuk membuat rekomendasi menganai suatu masalah, sebagain besar karena kepala departemen tidak mau bertanggung jawab penuh untuk mengambil suatu keputusan atau untuk mempercayakan pengambilan keputusan itu kepada seorang bawahan.
108 3. Motivasi melalui partisipasi Komite memungkinkan partisipasi yang luas dalam pengambilan keputusan. Penggunaan komite untuk emotivasi bawahan-bawahan supaya menyokong suatu program atau keputusan memerlukan penanganan yang terampil. 4. Penghindaran tindakan Tidak dapat disangkal bahwa komite kadang-kadang diangkat oleh para manajer apabila mereka tidak menghendaki suatu Tindakan terjadi 5. Koordinasi departemen, rencana dan kebijakan Komite berguna juga mengkoordinasikan perencanaan dan pelaksanaan program. 6. Menenruskan dan membagi informasi Komite berguna untuk meneruskan dan membagi informasi. E. Ringkasan Organisasi pada dasarnya digunakan sebagai tempat atau wadah bagi orang-orang untuk berkumpul, bekerja sama secara rasional dan sistematis, terencana, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya (uang, material, mesin, metode, lingkungan), sarana-prasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi. Struktur organisasi menunjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap hubungan hubungan di antara fungsi fungsi, bagian bagian, atau posisi posisi maupun orang orang yang menunjukkan kedudukan, tugas, wewenang dan tanggungjawab yang berbeda beda dalam suatu organisasi. Konsep-konsep tentang organisasi berkembang mulai tahun 1800- an, yang terbagi atas teori organisasi klasik, teori organisasi neoklasik, dan teori organisasi modern. Struktur organisasi merupakan komponen organisasi di samping fungsi dan hubungan, sedang proses merupakan sesuatu yang dinamis yang terjadi di dalam organisasi seperti pendelegasian, pengarahan,
109 pengkoordinasian, komunikasi, motivasi, proses mempengaruhi, kepemimpinan, rasa tak puas, konflik dan lain-lain. Seperti diketahui organisasi adalah wadah kegiatan (perencanaan: tujuan, strategi, kebijaksanaan dan program). D.. Evaluasi/Soal Latihan 1. Pengorganisasian adalah suatu proses yang dilakukan oleh manajer untuk ... a. menetapkan tugas b. mengkoordinasikan aktivitas c. mengintegrasikan sumber daya d. semua jawaban benar 2. Proses pengorganisasian meliputi ... a. pembagian kerja b. pendelegasian wewenang c. koordinasi d. semua jawaban benar 3. Pembagian kerja adalah proses ... a. membagi tugas menjadi pekerjaan yang lebih kecil b. menetapkan tugas dan tanggung jawab c. mengkoordinasikan aktivitas d. menggabungkan tugas menjadi pekerjaan yang lebih besar 4. Pendelegasian wewenang adalah proses ... a. memberikan hak kepada orang lain untuk melakukan tugas dan tanggung jawab b. membagi tugas menjadi pekerjaan yang lebih kecil c. mengkoordinasikan aktivitas d. menggabungkan tugas menjadi pekerjaan yang lebih besar 5. Koordinasi adalah proses ... a. membagi tugas menjadi pekerjaan yang lebih kecil b. menetapkan tugas dan tanggung jawab c. memberikan hak kepada orang lain untuk melakukan tugas dan tanggung jawab d. mengintegrasikan aktivitas 6. Struktur organisasi lini adalah struktur organisasi yang ... a. wewenang mengalir dari atas ke bawah b. tugas dan tanggung jawab dibagi berdasarkan fungsi c. wewenang mengalir dari bawah ke atas d. tugas dan tanggung jawab dibagi berdasarkan produk atau wilayah
110 7. Struktur organisasi matriks adalah struktur organisasi yang ... a. wewenang mengalir dari atas ke bawah b. tugas dan tanggung jawab dibagi berdasarkan fungsi c. wewenang mengalir dari bawah ke atas d. tugas dan tanggung jawab dibagi berdasarkan produk atau wilayah 8. Semakin besar ukuran organisasi, maka ... a. struktur organisasi yang dipilih cenderung lebih kompleks b. struktur organisasi yang dipilih cenderung lebih sederhana c. struktur organisasi yang dipilih tidak tergantung pada ukuran organisasi d. struktur organisasi yang dipilih sesuai situasi dan kondisi 9. Lingkungan organisasi yang dinamis cenderung membutuhkan ... a. struktur organisasi yang kaku b. struktur organisasi yang fleksibel c. struktur organisasi yang sederhana d. struktur organisasi yang kompleks 10. Salah satu fungsi dari pengorganisasian adalah ... a. mencapai tujuan organisasi b. memotivasi karyawan c. mengontrol karyawan d. semua jawaban benar Soal Essay 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pengorganisasian dalam konteks manajemen. Jelaskan mengapa pengorganisasian penting untuk mencapai tujuan organisasi. 2. Jelaskan bagaimana prinsip-prinsip dasar pengorganisasian dapat membantu dalam menciptakan struktur organisasi yang efektif. 3. Jelaskan perbedaan antara struktur organisasi fungsional, divisional, dan matriks. Berikan contoh bagaimana struktur organisasi yang berbeda dapat diterapkan dalam berbagai jenis organisasi. 4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan departementalisasi. Jelaskan berbagai metode departementalisasi yang umum digunakan dalam organisasi. 5. Jelaskan apa yang dimaksud dengan delegasi wewenang dan tanggung jawab. Jelaskan mengapa delegasi penting untuk mencapai tujuan organisasi.
111 PERTEMUAN VIII KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI A. Capaian Pembelajaran 1. Mahasiswa mampu memahami arti komunikasi dalam organisasi 2. Mahasiswa mampu menjelaskan fungsi komunikasi dalam organisasi 3. Mahasiswa mampu membedakan komunikasi vertikal, horizontal dan diagonal. B. Uraian Materi 1. Pengertian Komunikasi Komunikasi adalah proses pemindahan pengertian dalam bentuk, gagasan atau informasi dari seseorang kepada orang lain. Perpindahan pengertian tersebut melibatkan lebih dari sekedar kata kata yang digunakan dalam percakapan, tetapi juga ekspresi wajah, intonasi, titik putus vokal dan sebagainya. Dan perpindahan yang efektif memerlukan tidak hanya transmisi data, tapi bahwa seorang pengir¬im dari penerima berita tergantung pada ketrampilan tertentu untuk membuat sukses pertukaran informasi. Arnold dan Feldman telah mengemukakan definisi mengenai komunikasi organisasi. Arnold dan Feldman mengungkapkan definisi komunikasi organisasi yang lebih sederhana. Mereka menjelaskan bahwa komunikasi organisasi adalah suatu proses pertukaran informasi di antara orang-orang yang ada di dalam sebuah dalam organisasi, yang melalui proses atau tahapan secara umum meliputi tahapan-tahapan: attention (atensi), comprehension (komprehensi), acceptance as true (penerimaan sebagai sebuah kebenaran), dan retention (retensi atau penyimpanan). Termasuk persepsi Redding dan Sanborn, mereka mengatakan bahwa komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan informasi dalam organisasi yang kompleks. Komunikasi dalam organisasi sangat penting karena dengan komunikasi, seseorang dapat berhubungan dengan orang lain dan bertukar pikiran yang dapat menambah wawasan pada pekerjaan atau kehidupan sehari-
112 harinya. Jadi untuk membangun hubungan kerja antara karyawan dan antara atasan dan bawahan, perlu dibahas komunikasi secara lebih rinci. Proses komunikasi primer dilakukan dengan menggunakan simbol. Simbol yang digunakan itu berupa bahasa, gesture, isyarat, gambar dan warna dan lainnya yang secara langsung dapat “menerjemahkan” pikiran dan perasaan pemberi pesan (komunikator). Dengan kata lain, dengan menggunakan simbol orang (komunikan) mampu memahami isi pesan yang disampaikan komunikator. Sedangkan proses sekunder pada dasarnya merupakan aktivitas komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan alat bantu sekunder (kedua) yang antara lain berupa surat, telepon, faks, surat kabar, majalah, radio, televisi, film dan sebagainya. Proses komunikasi primer dipandang lebih efisien dan efektif dalam menyampaikan pesan yang bersifat persuasif (nasihat, larangan, ajakan dan sebagainya). Sedangkan proses sekunder akan lebih efisien dan efektif untuk menyebarkan pesan-pesan yang bersifat informatif, misalnya pengumuman atau pemberitahuan sesuatu yang bersifat massal (untuk khalayak banyak), berbagai berita misalnya situasi perekonomian, politik, sosial di Indonesia yang ditujukan untuk masyarakat Indonesia Saluran komunikasi formal ditentukan oleh strategi organisasi atau berbagai sarana formal lainnya. Terdapat 3 (tiga) jenis komunikasi formal dalam organisasi yaitu komunikasi vertikal, komunikasi horizontal dan komunikasi diagonal. 1.Komunikasi vertikal Merupakan komunikasi ke atas dari ke bawah. Komunikasi ke atas adalah untuk memasukkan data atau informasi kepada tingkat manajemen atas tentang apa yang terjadi pada tingkat bawah berupa laporan periodik, gagasan, penjelasan, permintaan untuk memberikan keputusan, dsb. Komunikasi ke bawah dimulai dari manajemen puncak kemudian mengalir kebawah melalui tingkatan tingkatan manajer sampai ke karyawan lini dan personalia paling bawah, komunikasi ini berupa pengarahan, instruksi, nasihat, penilaian terhadap bawahan, kebijaksanaan, dan sebagainya.
113 2. Komunikasi horizontal Meliputi hal hal seperti komunikasi di antara anggota dalam kelompok yang sama dan komunikasi yang terjadi antara dan diantara departemen departemen pada tingkatan organisasi yang sama. Komunikasi ini bersifat koordinatif sehingga dirancang guna mempermudah koordinasi dan penanganan masalah. 3. Komunikasi diagonal Merupakan komunikasi yang memotong menyilang diagonal rantai perintah organisasi. Hal ini sering terjadi sebagai hasil hubungan hubungan departemen lini dan staf. Bentuk komunikasi informal timbul dengan berbagai maksud, antara lain meliputi a. Pemuasan kebutuhan kebutuhan manusiawi, seperti kebutuhan berhubungan dengan orang lain. b. Perlawanan terhadap pengarah pengarah yang monoton. c. Pemenuhan keinginan untuk mempengaruhi perilaku orang lain. d. Pelayanan sebagai sumber informasi hubungan pekerjaan yang tidak disediakan saluran saluran komunikasi formal. Hambatan yang sering terjadi terhadap komunikasi dikelompokkah menjadi 2(dua), yaitu : hambatan organisasional dan hambatan, antar pribadi. 1. Hambatan organisasional Terbagi menjadi yaitu tingkatan hierarki, bila informasi harus melalui tingkatan tingkatan organisasi akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk mencapai tempat tujuan dan cenderung menjadi berkurang ketepatannya; wewenang manajerial, adanya kesenjangan wewenang dapat menampilkan hambatan hambatan dalam komunikasi akibat mereka tidak sepenuhnya menerima berbagai masalah, kondisi atau hasil; spesialisasi, cenderung memisahkan orang orang berdasarkan kemampuan dan perbedaan fungsi tersebut menghalangi perasaan bermasyarakat.
114 2. Hambatan antar Pribadi Manager perlu untuk memperhatikan hambatan hambatan antar pribadi seperti : a. persepsi selektif, yaitu pengharapan yang mengarahkan seseorang untuk melihat atau mendengar kejadian, orang, objek atau situasi adalah sesuatu yang ingin dia lihat atau dengar. Hal ini dapat berupa inter¬pretasi berdasarkan pengalaman diri atau penolakan setiap perubahan. b. status komunikasi, komunikator cenderung untuk menilai, menimbang dan. membentuk pendapat atas dasar karakteristik pengirim. c. keadaan membela diri, keadaan ini membuat pendengar lebih berkonsentrasi pada apa yang dikatakan dan bukan pada apa yang sedang di dengarnya. d. pendengaran lemah, manager harus belajar untuk mendengar secara efektif agar mampu mengatasi hambatan ini, yang terlihat melalui kebiasaan seperti: mendengar hanya sepin¬tas, memberikan pengaruh melalui perkataan atau tanda tanda, menunjukkan tanda tanda kejengkelan atau kebosanan terhadap bahan pembicaraan serta mendengar dengan tidak aktif. e. ketidak tepatan penggunaan bahasa. 3. Fungsi Komunikasi dalam Organisasi Fungsi komunikasi dalam organisasi merupakan suasana untuk memadukan tugastugas yang terorganisasi. Ada empat fungsi komunikasi dalam organisasi antara lain sebagai berikut : a. Fungsi Pengawasan, setiap organisasi mempunyai struktur dan garis komando. Berdasarkan garis komando tersebut, bila karyawan mengkomunikasikan keluhannya kepada atasannya berkaitan dengan pekerjaannya,sesuai dengan deskripsi pekerjan dan kebijakan perusahaan, maka komunikasi tersebut sudah menjalankan fungsi pengawasan. Di samping itu, komunikasi informal juga
115 dapat mengendalikan perilaku. Misalnya apabila kelompok-kelompok kerja melecehkan anggota yang memproduksi barng yang terlalu banyak sehingga bagian lain terlihat buruk, maka mereka secara informal sudah berkomunikasi dan mengendalikan perilaku anggota. b. Sebagai Motivasi, dengan memberi penjelasan kepada para karyawan tentang apa yang harus mereka lakukan,bagaimana prestasi karyawan dan bagaimana cara bekerja agar dapat meningkatkan prestasi kerja. Menyusun sasaran yang lebih spesifik dan mendorong karyawan agar mau melaksanakan tugasnya dengan baik akan merangsang untuk lebih giat bekerja, motivasi, dan menurut komunikasi yang efeketif. c. Pengungkapan Emosi, individu dan kelompok dalam organisasi merupakan sumber daya pertama yang berinteraksi secara sosial. Komunikasi yang terjadi dalam organisasi tersebut merupakan mekanisme yang mendasar pada massingmasing individu atau kelompok dalam organisasi tersebut yang menunjukkan rasa kecewa dan kepuasannya. Dengan demikian, komunikasi merupakan sarana dalam melepaskan rasa emosi sebagai rasa pemenuhan kebutuhan sosial. Informasi, fungsi ini berkaitan dengan pengambilan keputusan. Melalui kegiatn komunikasi dapat memberikan informasi kepada individu atau kelompok dalam pengambilan keputusan. Dari keempat fungsi ini tidak bisa dipandang bahwa satu fungsi lebih penting dan fungsi lainnya. Semua fungsi ini mempunyai kepentingan secara tersendiri. Misalnya, agar individu atau kelompok dapat berkinerja dengan baik dan menyediakan fasilitas dalam pengungkapan emosi, sehingga dapat membuat pilihan-pilihan dalam pengambilan keputusan. Dapat dikatakan bahwa masing-masing fungsi mempunyai keterkaitan antara satu fungsi dengan fungsi lainnya. 4. Proses Komunikasi Telah dijelaskan sebelumnya komunikasi adalah penyampaian pesan yang disampaikan oleh pengirim ke penerima pesan melalui media. Proses komunikasi dalam penyampaian pesan ini, pengirim menyampaikan pesan ke penerima pesan melalui beberapa tahap antara lain, pengirim mempunyai ide,
116 pengkodean ide, penyampaian pesan melalui media komunikasi, penerimaan pesan, penafsiran pesan, dan umpan balik. Tahan-tahapan penyampaian pesan ini merupakan proses komunikasi (communication process). Dalam proses komunikasi tersebut yang paling diharapkan oleh penyampai pesan di sini adalah adanya umpan balik atas pesan yang disampaikan kepada penerimaan pesan. Dengan adanya oleh pengirim pesan dapat dipahami dengan baik dan menarik bagi si penerima pesan, karena inilah yang merupakan tujuan dari komunikasi. a. Pengirim Mempunyai Ide Langkah pertama dalam proses komunikasi adalah pengirim mempunyai ide. Langkah ini dilakukan sebelum terbentuk pesan yang akan disampaikan ke penerima pesan. Ide yang ingin disampaikan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang kompleks pada diri pengirim, seperti suasana hati, latar belakang budaya, keadaan fisik, situasi, dan lain sebagainya. Setiap orang punya cara yang berbeda dalam menyampaikan pesan, tergantung pada bagaimana seseorang tersebut memaknai suatu ide. Cara seseorang dalam memaknai suatu objek berbeda-beda sehingga berbeda pula cara menyampaikannya dalam bentuk pesan kepada orang lain (penerima pesan). b. Pengkodean Ide Tahap berikutnya dalam proses komunikasi adalah pengkodean (encode). Hal ini berarti mengubah ide menjadi symbol agar dapat dengan mudah dipahami oleh penerima pesan dengan jelas. Dalam tahap pengkodean ini, pengirim pesan perlu dengan cermat agar pesan yang akan disampaikan tidak salah paham oleh penerima sehingga dapat menimbulkan kesalahpahaman pemaknaan (bypassing). Oleh karena itu komunikator perlu secara cermat melakukan pengkodean terhadap ide. c. Penyampaian Pesan Melalui Media Komunikasi Pesan dapat disampaikan melalui media komunikasi seperti media komunikasi elektronik maupun non elektronik. Penyampaian komunikasi dapar dilakukan secara tertulis maupun lisan. Penyampaian komunikasi secara
117 lisan sangat baik digunakan bila pesan yang disampaikan relatif pendek. Namun, pesan yang relatif panjang baik digunakan secara tertulis. Oleh karena itu, dalam memilih saluran yang terbaik perlu diketahui sifat pesan yang disampaikan. d. Penerimaan Ide Setalah pesan dikirim melalui media komunikasi yang tepat, maka langkah selanjutnya pesan diterima oleh pengirim pesan.Penerima pesan menerima dengan membaca atau mendengar tergantung pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan.Penerima pesan membaca bila pesan yang disampaikan dalam bentuk tulisan, dan mendengar bila pesan yang disampaikan dalam bentuk lisan. Pada umunya, pihak penerima pesan lebih suka mendengar dari pada membaca, berarti pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan adalah bentuk lisan. Demikian sebaliknya, umumnyapenyampai pesan lebih suka menyampaikan pesan secara lisan daripada tertulis, hal ini karena membutuhkan waktu yang relatif lama. 5. Strategi Komunikasi Organisasi Strategi komunikasi hakekatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen (management) mencapai tujuan diinginkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukan arah saja, melainkan harus menunjukan taktik operasionalnya. Strategi komunikasi merupakan panduan dari perencanaan komunikasi dan manajemen komunikasi untuk mencapai satu tujuan. Dalam menyusun strategi komunikasi adalah suatu seni, bukan suatu yang ilmiah dan banyak cara pendekatan yang \berkaitan dengan perencanaan yang dilakukan dalam suatu organiasai. Seperti halnya strategi dalam bidang apapun, strategi komunikasi harus di dukung oleh teori, karena teori merupakan pengetahuan berdasarkan pengalaman yang sudah diuji kebenarannya. Dengan adanya strategi komunikasi organisasi pimpinan inilah dapat dilihat pegawai yang memiliki motivasi dan pegawai yang memiliki motivasi dalam bekerja. Strategi komunikasi organisasi merupakan rangkaian aktivitas yang sistematis, yang memungkinkan pemahaman terhadap khalayak, sasaran, mengidentifikasi saluran yang efektif
118 dan opini melalui saluran tersebut dalam mempromosikan dan mempertahankan jenis perilaku tertentu . Strategi komunikasi organisasi bertujuan untuk meyakinkan opini publik yang membentuk sikap dan perilaku di dalam organisasi. Menurut R. Wayne Pace, Brent D. Paterson dan M. Dallas Burnet dalam bukunya Techniques for effective communication, menjelaskan bahwa tujuan sentral dari strategi komunikasi organisasi terdiri atas tiga, yaitu: a To secure understanding, yaitu memastikan bahwa komunikasi paham terhadap pesan yang ia terima. b.To establish acceptance, yaitu bagaimana cara penerimanya itu mesti dibina agar pesan bukan hanya dipahami tapi juga diterima sebagai salah satu cara yang dianggap baik. c To motivate action, yaitu aktivitas komunikasi bertujuan untuk memberi motivasi untuk mengubah perilaku. Dalam rangka menyusun taktik komunikasi, komunikator perlu dengan memperhitungkan hal-hal yang menunjang dan menghambat pencapaian tiga tujuan (kepahaman, penerimaan dan perubahan perilaku). Agar dapat menciptakan perencanaan komunikasi dengan baik maka terdapat beberapa tahap yang mesti diikuti. Berdasarkan pendapat Anwar Arifin, ada tiga langkah penting yang diperlukan untuk menyusun strategi komunikasi, yaitu: 1. Mengenal khalayak. Hal ini adalah langkah pertama bagi komunikator supaya komunikasiyang dilakukan berjalan efektif. 2. Menyusun pesan. Munculnya perhatian dari khalayak terhadap pesan-pesan yang disampaikan amatlah penting agar pesan mencapai tujuantujuannya. Perhatian adalah pengamatan yang terpusat. Jika pesan mendapatkan perhatian khalayak, maka pesan telah memenuhi syarat primer dalam mensugesti khalayak. 3. Menetapkan metode. Setelah mengetahui kondisi khalayak dan memilih materi, langkah selanjutnya adalah memilih metode penyampaian pesan kepada khalayak. Metode yang tepat akan sangat berperan dalam menunjang
119 komunikasi yang efektif. Keberhasilan strategi komunikasi organisasi tentunya tidak bisa begitu saja diperoleh, tanpa menganalisa keunggulan dan kesiapan semua komponen yang terlibat di dalam organisasi, bahwa strategi komunikasi organisasi berperan sebagai target perusahaan sehingga sesuai dengan tujuan dan sasaran yang akan tercapai. Melalui strategi komunikasi organisasi ini diperlukan elemen komunikasi mulai dari komunikator, pesan, saluran (media), penerima sampai kepada pengaruh (efek). Untuk menjamin agar strategi komunikasi organisasi berhasil secara efektif dan efisien Adanya strategi komunikasi organisasi segala bentuk upaya dalam perencanaan untuk menciptakan komunikasi yang efektif dapat membantu membangun semangat kerja karyawan dalam bekerja. Apabila dalam strategi komunikasi organisasi terjadi kesalahan maka akan terjadi masalah baru, maka dari itu perlu adanya perencanaan oleh pimpinan guna memberi semangat kerja pada pegawai. C. Ringkasan Komunikasi organisasi adalah suatu proses pertukaran informasi di antara orang-orang yang ada di dalam sebuah dalam organisasi, yang melalui proses atau tahapan secara umum meliputi tahapan-tahapan: attention (atensi), comprehension (komprehensi), acceptance as true (penerimaan sebagai sebuah kebenaran), dan retention (retensi atau penyimpanan). Fungsi komunikasi dalam organisasi merupakan suasana untuk memadukan tugastugas yang terorganisasi. Proses komunikasi dalam penyampaian pesan ini, pengirim menyampaikan pesan ke penerima pesan melalui beberapa tahap antara lain, pengirim mempunyai ide, pengkodean ide, penyampaian pesan melalui media komunikasi, penerimaan pesan, penafsiran pesan, dan umpan bali. Strategi komunikasi merupakan panduan dari perencanaan komunikasi dan manajemen komunikasi untuk mencapai satu tujuan. Strategi komunikasi hakekatnya adalah perencanaan (planning) dan manajemen (management) mencapai tujuan diinginkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukan arah saja, melainkan harus menunjukan taktik operasionalnya.
120 D. Evaluasi/Soal Latihan 1. Salah satu cara untuk mengatasi hambatan komunikasi dalam organisasi adalah dengan a. menggunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami b. menggunakan bahasa yang sesuai dengan budaya c. memahami perbedaan psikologis antar individu d. semua jawaban benar 2. Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang ... a. dapat menyampaikan informasi dengan jelas dan akurat b. dapat diterima dengan baik oleh penerima c. dapat menimbulkan hasil yang diinginkan d. semua jawaban benar 3. Salah satu faktor yang mempengaruhi efektivitas komunikasi adalah a. keterampilan berkomunikasi b. sikap komunikator c. lingkungan komunikasi d. semua jawaban benar 4. Keterampilan berkomunikasi adalah kemampuan untuk ... a. menyampaikan informasi dengan jelas dan akurat b. menerima informasi dengan baik c. mengelola lingkungan komunikasi d. semua jawaban benar 5. Sikap komunikator adalah ... a. cara komunikator menyampaikan informasi b. cara komunikator menerima informasi c. cara komunikator mengelola lingkungan komunikasi d. semua jawaban benar 6. Lingkungan komunikasi adalah ... a. tempat terjadinya komunikasi b. waktu terjadinya komunikasi c. situasi terjadinya komunikasi d. semua jawaban benar 7. Salah satu cara untuk meningkatkan efektivitas komunikasi adalah dengan ... a. meningkatkan keterampilan berkomunikasi b. memperbaiki sikap komunikator c. menciptakan lingkungan komunikasi yang kondusif d. semua jawaban benar
121 8. Komunikasi yang efektif dapat ... a. meningkatkan produktivitas b. meningkatkan kepuasan kerja c. meningkatkan motivasi kerja d. semua jawaban benar 9. Komunikasi yang efektif dapat ... a. mengurangi konflik b. meningkatkan koordinasi c. meningkatkan rasa kebersamaan d. semua jawaban benar 10. Komunikasi yang efektif dapat ... a. meningkatkan kepuasan pelanggan b. meningkatkan citra organisasi c. meningkatkan reputasi organisasi d. semua jawaban benar Soal Essay 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan komunikasi dalam organisasi dan mengapa komunikasi penting untuk mencapai tujuan organisasi! 2. Jelaskan bagaimana setiap jenis komunikasi dapat membantu dalam mencapai tujuan organisasi! 3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan komunikasi efektif. Jelaskan faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan untuk mencapai komunikasi yang efektif dalam organisasi! 4. . Jelaskan bagaimana hambatan-hambatan tersebut dapat diatasi untuk meningkatkan efektivitas komunikasi! 5. Jelaskan peran teknologi komunikasi dalam organisasi. Jelaskan bagaimana teknologi komunikasi dapat membantu meningkatkan efektivitas komunikasi dalam organisasi!
122 PERTEMUAN IX KEPEMIMPINAN A. Capaian Pembelajaran 1. Mahasiswa mampu memahami konsep dan filosofi kepemimpinan. 2. Mahasiswa mampu menguasai perkembangan teori kepemimpinan dan pendekatan-pendekatan kepemimpinan. 3. Mahasiswa mampu memahami fungsi dan peranan kepemimpinan. 4. Mahasiswa mampu mendeskripsikan dan menganalisis tentang kepemimpinan. B. Uraian Materi 1. Pengertian Kepemimpinan Masalah kepemimpinan merupakan hal yang sangat luas dan menyangkut bidang yang sangat luas dan memainkan peran yang sangat penting dalam bidang pemasaran, pendidikan, industri, organisasi sosial bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam setiap masyarakat timbul dua kelompok yang berbeda peranan sosialnya, yaitu yang memimpin sebagai golongan kecil yang terpilih dan kelompok yang dipimpin adalah orang kebanyakan. Tanpa adanya seorang pemimpin maka tujuan organisasi yang dibuat tidak akan ada artinya karena tidak ada orang yang bertindak sebagai penyatu terhadap berbagai kepentingan yang ada. Kepemimpinan yang efektif sangat mendukung kelangsungan hidup dan keberhasilan suatu organisasi. Tanpa adanya kepemimpinan, suatu organisasi adalah kumpulan dari orang-orang dan mesin-mesin yang tidak teratur. Berangkat dari pengertian kepemimpinan itu sendiri, sejak awal mula telah begitu banyak ahli mencoba mendefinisikannya dengan berbagai aspek dan pendekatannya. Istilah ini pun telah sangat dikenal dalam kehidupan sehari-hari karena menyangkut bidang yang sangat luas.
123 Menurut Stoner kepemimpinan adalah suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugas. Ada tiga implikasi penting dari definisi tersebut : a. Kepemimpinan menyangkut orang lain yaitu bawahan atau pengikut. Kesediaan mereka menerima pengarahan dari pimpinan dan bawahan menentukan kedudukan seorang pemimpin. Tanpa bawahan semua kualitas kepemimpinan seseorang menjadi tidak relevan. b. Kepemimpinan menyangkut suatu deskripsi kekuasaan yang tidak sama diantara pemimpin dan anggota kelompok. c. Seorang pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang harus dilakukan tetapi juga dapat mempengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Sementara Wirawan (2003) mendefinisikan kepemimpinan sebagai ”proses pemimpin menciptakan visi mempengaruhi sikap, perilaku, pendapat, nilai-nilai, norma dan sebagainya dari pengikut untuk merealisasikan visi. Kepemimpinan merupakan suatu proses bukan sesuatu yang terjadi seketika.” Istilah proses dapat dijelaskan dalam pengertian konsep sistem kepemimpinan yang terdiri dari masukan, proses dan keluaran kepemimpinan seperti diuraikan pada Tabel 4.
124 Tabel 4. Sistem Kepemimpinan MASUKAN PROSES KELUARAN Pemimpin Interaksi antara pemimpin dan pengikut Pengikut terpengaruh Pengikut Pemimpin dan pengikut saling mempengaruhi Pengikut tidak terpengaruh Visi Pemimpin dan pengikut berupaya merealisir visi Visi/tujuan tercapai Kekuasan Proes pemberdayaan pengikut Visi/tujuan tidak tercapai Teknik Mempengaruhi Proses perubahan Perubahan terjadi Sumber-sumber Proses manajemen konflik dan sebagainya Tidak terjadi perubahan Selanjutnya Fiedler seperti menyatakan bahwa kepemimpinan pada dasarnya merupakan pola hubungan antara individu-individu yang menggunakan wewenang dan pengaruhnya terhadap sekelompok orang agar bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan. Terry mengatakan bahwa kepemimpinan sebagai hubungan dimana satu orang yakni pemimpin mempengaruhi pihak lain untuk bekerjasama secara sukarela dalam usaha mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan untuk mencapai hal yang diinginkan oleh pemimpin tersebut. Casson mendefinisikan kepemimpinan adalah jumlah dari pemimpin ditambah dengan rekan-rekan yang saling bekerjasama. Sementara Cohen mendefinisikan kepemimpinan sebagai seni mempengaruhi orang-orang lain menuju prestasi maksimal mereka untuk menyelesaikan tugas, tujuan atau proyek apa pun. Selain itu Howard mendefinisikan kepemimpinan sebagai seni untuk mempengaruhi tingkah laku manusia atau kemampuan untuk membimbing orang lain. Ordway Tead mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang untuk bekerja sama mencapai tujuan yang diinginkan.
125 Sementara James M. Black mengatakan kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi dan meyakinkan oranglain untuk bekerja sama di bawah petunjukknya sebagai suatu cara untuk memenuhi tujuan tertentu yang telah ditentukan Dari pendapat di atas, menurut penulis ada implikasi penting dalam definisi kepemimpinan yaitu : a. Kepemimpinan melibatkan orang lain atau pengikut, sehingga mereka mau menerima pengarahan dari pimpinan b. Kepemimpinan melibatkan distribusi kekuasaan yang tidak mendatar antara pemimpin dan anggota kelompok c. Kepemimpinan adalah kemampuan menggunakan berbagai bentuk kekuasaan untuk mempengaruhi tingkah laku pengikut. Dari definisi yang diberikan oleh para ahli di atas, menurut penulis pada intinya teori-teori kepemimpinan lebih meninjau kepemimpinan pada siapa yang memiliki keahlian untuk mempengaruhi, dan dalam konteks dimana pengaruh itu digunakan. 2. Teori Timbulnya Kepemimpinan Diantara berbagai teori yang menjelaskan sebab timbulnya kepemimpinan, menurut Siagian, ada tiga sebab : a. Teori Genetis Menyatakan bahwa seorang menjadi pemimpin bakatnya yang dibawa sejak lahir. Aliran ini beranggapan seseorang menjadi pemimpin karena adanya bakat memimpin (dibawa sejak lahir). Secara filosofi, teori ini menganut pandangan determinasi. Teori genetis menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan bawaan sejak lahir. Menurut teori ini, pemimpin dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinan yang unik, seperti kecerdasan, daya khayal, karisma, dan keterampilan sosial. Teori ini didukung oleh beberapa penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara sifat-sifat tertentu dengan kepemimpinan, seperti:
126 1. Kecerdasan: Pemimpin cenderung memiliki kecerdasan yang lebih tinggi daripada pengikutnya. 2. Daya khayal: Pemimpin cenderung memiliki daya khayal yang lebih tinggi daripada pengikutnya. 3. Karisma: Pemimpin cenderung memiliki karisma yang dapat menarik perhatian dan menggerakkan orang lain. 4. Keterampilan sosial: Pemimpin cenderung memiliki keterampilan sosial yang baik. Namun, teori genetis juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu: 1. Teori ini tidak dapat menjelaskan mengapa seseorang yang memiliki bakat kepemimpinan tidak selalu menjadi pemimpin yang sukses. 2. Teori ini tidak dapat menjelaskan mengapa seseorang yang tidak memiliki bakat kepemimpinan dapat me b. Teori Sosial Menyatakan bahwa setiap orang bisa menjadi pemimpin melalui proses pendidikan atau latihan dan pengalaman yang cukup atau leaders are made not born, bahwa seorang pemimpin itu dibuat, dilatih, dididik bukan dibawa sejak lahir. c. Teori Ekologis Menyatakan bahwa seseorang akan berhasil menjadi pemimpin apabila ia pada waktu lahir telah memiliki bakat dan bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui proses pendidikan yang teratur dan berpengalaman, sesuai dengan tuntutan lingkungan atau ekologisny C. Ringkasan Kepemimpinan yang efektif sangat mendukung kelangsungan hidup dan keberhasilan suatu organisasi. Tanpa adanya kepemimpinan, suatu organisasi adalah kumpulan dari orang-orang dan mesin-mesin yang tidak teratur.
127 Dalam setiap masyarakat timbul dua kelompok yang berbeda peranan sosialnya, yaitu yang memimpin sebagai golongan kecil yang terpilih dan kelompok yang dipimpin adalah orang kebanyakan. Tanpa adanya seorang pemimpin maka tujuan organisasi yang dibuat tidak akan ada artinya karena tidak ada orang yang bertindak sebagai penyatu terhadap berbagai kepentingan yang ada. D. Evaluasi/Soal Latihan 1. Kepemimpinan adalah proses ... a. mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama b. memerintah orang lain untuk mencapai tujuan c. memaksa orang lain untuk mencapai tujuan d. semua jawaban benar 2. Kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang dapat ... a. mencapai tujuan organisasi b. memotivasi karyawan c. mengontrol karyawan d. semua jawaban benar 3. Gaya kepemimpinan yang berfokus pada hubungan antara pemimpin dan bawahan disebut gaya kepemimpinan ... a. otokratis b. demokratis c. laissez-faire d. transaksional 4. Gaya kepemimpinan yang berfokus pada pencapaian tujuan organisasi disebut gaya kepemimpinan ... a. otokratis b. demokratis c. laissez-faire d. transformasional 5. Salah satu ciri dari kepemimpinan transformasional adalah ... a. memberikan arahan dan tugas yang jelas b. membangun hubungan yang baik dengan bawahan c. mendorong bawahan untuk berpikir di luar kotak d. semua jawaban benar 6. Salah satu kelemahan dari kepemimpinan otokratis adalah ... a. bawahan merasa tidak dihargai b. bawahan tidak memiliki motivasi untuk bekerja c. bawahan tidak memiliki rasa memiliki terhadap organisasi d. semua jawaban benar
128 7. Salah satu kelebihan dari kepemimpinan demokratis adalah ... a. bawahan merasa dihargai b. bawahan memiliki motivasi untuk bekerja c. bawahan memiliki rasa memiliki terhadap organisasi d. semua jawaban benar 8. Salah satu kelemahan dari kepemimpinan laissez-faire adalah ... a. bawahan merasa tidak memiliki arah b. bawahan tidak memiliki motivasi untuk bekerja c. bawahan tidak memiliki rasa memiliki terhadap organisasi d. semua jawaban benar 9. Salah satu kelebihan dari kepemimpinan transaksional adalah ... a. bawahan merasa memiliki arah b. bawahan memiliki motivasi untuk bekerja c. bawahan memiliki rasa memiliki terhadap organisasi d. semua jawaban benar 10. Salah satu kelemahan dari kepemimpinan transformasional adalah ... a. bawahan merasa tidak memiliki arah b. bawahan tidak memiliki motivasi untuk bekerja c. bawahan tidak memiliki rasa memiliki terhadap organisasi d. semua jawaban benar Soal Essay 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan kepemimpinan dan apa saja ciri-ciri seorang pemimpin yang efektif! 2. Jelaskan bagaimana seorang pemimpin dapat memotivasi dan menginspirasi pengikutnya untuk mencapai tujuan Bersama! 3. Bagaimana seorang pemimpin dapat membangun dan memelihara hubungan yang baik dengan pengikutnya? 4. Jelaskan bagaimana seorang pemimpin dapat mengambil keputusan yang efektif dalam situasi yang kompleks dan penuh tekanan! 5. Jelaskan bagaimana seorang pemimpin dapat mengembangkan dan melatih pengikutnya untuk menjadi pemimpin masa depan.
129 PERTEMUAN X TEORI TINGKAH LAKU KEPEMIMPINAN YANG EFEKTIF A. Capaian Pembelajaran 1. Menjelaskan teori-teori kepemimpinan yang berfokus pada perilaku pemimpin 2. Menganalisis pengaruh perilaku kepemimpinan terhadap kinerja organisasi 3. Menjelaskan teori-teori kepemimpinan yang berfokus pada perilaku pemimpin B. Uraian Materi 1. Pengertian Kepemimpinan Efektif Kepemimpinan efektif adalah gaya kepemimpinan yang mampu memotivasi dan menginspirasi pengikut untuk mencapai tujuan bersama yang lebih tinggi. Pemimpin efektif memiliki visi yang jelas dan mampu mengkomunikasikannya dengan baik kepada pengikutnya. Mereka juga memberdayakan pengikutnya untuk mengambil tanggung jawab, membuat keputusan, dan berkembang. Teori kepemimpinan efektif pertama kali dikembangkan oleh James M. Burns pada tahun 1978. Burns membedakan antara dua jenis kepemimpinan: kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan transformasional. Kepemimpinan transaksional berfokus pada pertukaran antara pemimpin dan pengikut, sedangkan kepemimpinan transformasional berfokus pada transformasi pengikut dan organisasi. Berikut adalah beberapa karakteristik pemimpin yang efektif: a. Visi: Memiliki visi yang jelas dan mampu mengkomunikasikannya kepada pengikutnya. b. Motivasi: Mampu memotivasi dan menginspirasi pengikutnya untuk mencapai tujuan bersama.
130 c. Komunikasi: Mampu berkomunikasi dengan baik dan efektif dengan pengikutnya. d. Hubungan: Membangun hubungan yang kuat dan saling percaya dengan pengikutnya. e. Pengambilan Keputusan: Mampu mengambil keputusan yang tepat dan bertanggung jawab. f. Keterampilan Interpersonal: Memiliki keterampilan interpersonal yang baik untuk bekerja sama dengan orang lain. g. Efisiensi dan Efektivitas: Mampu mencapai tujuan dengan cara yang efisien dan efektif. h. Ketegasan: Memiliki ketegasan dalam mengambil sikap dan menyelesaikan sesuatu. i. Pembelajaran Berkelanjutan: Terus belajar dan mengembangkan diri untuk menjadi pemimpin yang lebih baik. Manfaat: Kepemimpinan yang efektif dapat memberikan banyak manfaat bagi organisasi, seperti: a. Peningkatan Produktivitas: Meningkatkan produktivitas dan kinerja karyawan. b. Peningkatan Motivasi: Meningkatkan motivasi dan semangat kerja karyawan. c. Peningkatan Moral: Meningkatkan moral dan budaya organisasi yang positif. d. Peningkatan Retensi Karyawan: Meningkatkan retensi karyawan dan mengurangi turnover. e. Peningkatan Inovasi: Mendorong inovasi dan kreativitas dalam organisasi. f. Peningkatan Keuntungan: Meningkatkan keuntungan dan profitabilitas organisasi.
131 2. Teori Tingkah Laku Kepemimpinan Yang Efektif Berdasarkan ciri dan karakteristik pemimpin yang efektif tidak terdapat perbedaan yang menyolok, sehingga para peneliti cenderung untuk meneliti apa yang dilakukan oleh pemimpin yang efektif. Apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin dapat dilihat pada bagaimana seorang pemimpin membagi tugas dengan pemimpin yang lain, bagaimana mereka berkomunikasi satu dengan yang lain, bagaimana dan dengan cara apa para pemimpin memberi pengarahan kepada para bawahan dan lain sebagainya. Ada beberapa teori tingkah laku yang efektif untuk menjawab pertanyaan di atas yaitu studi dari Ohio States University, studi dari University of Michigan, Teori Kepemimpinan Path Goal Model House dan Evans, Teori Kepemimpinan Situasional, Teori Kepemimpinan Model Fiedler, Teori Kepemimpinan Model Vroom dan Yetton. a. Studi dari Ohio State University Gibson dkk (1997 h.15) menjelaskan tentang studi kepemimpinan yang dilakukan oleh para peneliti di Universitas Ohio yang dipimpin Fleishman yang menghasilkan perkembangan teori dua faktor dari kepemimpinan. Suatu seri penelitian mengisolasikan dua faktor kepemimpinan, disebut sebagai membentuk struktur pemrakarsa (berorientasi pada tugas) dan konsiderasi (beorientasi pada karyawan). Membentuk struktur melibatkan perilaku dimana pemimpin mengorganisasikan dan mendefinisikan hubunganhubungan di dalam kelompok, cenderung membangun pola dan saluran komunikasi yang jelas, dan menjelaskan cara-cara mengerjakan tugas yang benar. Pemimpin yang memiliki kecenderungan membentuk struktur yang tinggi, akan memfokuskan pada tujuan dan hasil. Konsiderasi melibatkan perilaku yang menunjukan persahabatan, saling percaya, menghargai, kehangatan, dan komunikasi antar pemimpin dan pengikutnya. Pemimpin yang memiliki konsiderasi tinggi menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka dan partisipasi. Selanjutnya Stoner seperti yang dikutip oleh Cahyono
132 Tinggi Struktur Rendah dan Pertimbangan Tinggi Struktur Tinggi dan Pertimbangan Rendah Struktur Rendah dan Pertimbangan Rendah Struktur Tinggi dan Pertimbangan Rendah Rendah Tinggi (1996 h. 315) memberikan gambaran tentang kepemimpinan yang ditelaah di Ohio State University seperti dapat dilihat pada Gambar ..... Gambar 14. Kepemimpinan yang ditelaah di Ohio State University Gambar 1 menjelaskan tentang suatu bentuk kepemimpinan, bahwa apabila seorang pemimpin memiliki pertimbangan yang tinggi, maka para anggota organisasinya akan memperoleh kepuasan yang tinggi pula. Sebaliknya apabila seorang pemimpin organisasi berorientasi pada pertimbangan rendah maka anggota organisasinya banyak yang mengelak. Gibson lebih lanjut menjelaskan bahwa teori perilaku-perilaku Ohio State University memiliki kelemahan berkaitan dengan kesederhanaannya (hanya ada dua dimensi kepemimpinan), antara lain kurangnya kemampuan untuk dapat digeneralisir dan pengandalan pada tanggapan terhadap kuisioner untuk mengukur faktorfaktor yang membentuk kepemimpinan.
133 b. Studi dari University of Michigan Studi ini dilakukan oleh Tim Likert di University of Michigan yang mulai mempelajari bagaimana cara yang paling baik mengelola usaha dari individuindividu untuk mencapai kinerja dan kepuasaan sebagaimana yang diinginkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan prinsip dan metode dari kepemimpinan yang efektif. Kriteria keefektifan yang digunakan dalam banyak studi tersebut adalah : Produktivitas jam kerja atau pengukuran lainnya yang mirip dari keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuan-tujuan produksinya. Kepuasan kerja dari anggota organisasi Tingkat turnover, absensi, dan sakit hati Biaya Bahan terbuang Motivasi karyawan dan manajerial. Melalui wawancara dengan pemimpin dan pengikutnya, tim peneliti mengidentifikasikan dua gaya kepemimpinan yang berbeda, disebut job-centered (berpusat pada pekerjaan) dan employee-centered (berpusat pada karyawan). Pemimpin yang job-centered menerapkan pengawasan ketat sehingga bawahan melaksanakan tugasnya dengan menggunakan prosedur yang telah ditentukan. Pemimpin ini mengandalkan kekuatan paksaan, imbalan, dan hukuman untuk mempengaruhi sifat-sifat dan prestasi pengikutnya. Perhatian pada orang dilihat sebagai suatu hal mewah yang tidak dapat selalu dipenuhi oleh pemimpin. Pemimpin yang selalu berpusat pada karyawan percaya dalam mendelegasikan pengambilan keputusan dan membantu pengikutnya dalam memuaskan kebutuhannya dengan cara membentuk suatu lingkungan kerja yang suportif. Pemimpin yang berpusat pada karyawan memiliki perhatian terhadap kemajuan, pertumbuhan dan prestasi pribadi pengikutnya. Tidakan tindakan ini diasumsikan dapat memajukan pembentukan dan perkembangan kelompok. Rangkaian studi Universitas Michigan tidak secara jelas menunjukkan bahwa satu gaya kepemimpinan tertentu adalah selalu paling efektif. Lebih lagi, studi-studi tersebut hanya meneliti dua aspek kepemimpinan : perilaku orang dan tugas.
134 c. Teori Kepemimpinan Path-Goal Model House dan Evans Teori Path-Goal menganalisa pengaruh kepemimpinan terhadap motivasi bawahan, kepuasan dan pelaksanaan kerja. Tipe perilaku pemimpin menurut teori ini adalah : 1. Kepemimpinan direktif (Directive Leadership) Pemimpin bersifat otokratis dimana tidak ada partisipasi bawahan. Bawahan tahu secara apa yang diharapkan dari mereka dan perintah-perintah khusus diberikan oleh pemimpin. Kepemimpinan direktif mempunyai hubungan positif dengan kepuasan dan harapan bawahan yang melakukan pekerjaan mendua dan mempunyai hubungan yang negatif dengan kepuasan dan harapan bawahan dengan tugastugas jelas. 2. Kepemimpinan Suportif (Supportive Leadership) Pemimpin bersikap sebagai teman, mudah didekati dan menunjukkan diri sebagai orang sejati bagi bawahan. Kepemimpinan ini mempunyai pengaruh positif pada keputusan bawahan yang bekerja dengan tugas-tugas yang penuh tekanan, frustasi dan tidak memuaskan. 3. Kepemimpinan Partisipatif (Participative Leadership) Pemimpin memperhatikan saran-saran bawahan, tetapi masih membuat keputusan untuk tugas-tugas yang tidak rutin. Karyawan lebih puas di bawah pimpinan yang partisipatif daripada pemimpin yang non partisipatif. 4. Kepemimpinan Orientasi-Prestasi (Achievement-Oriented leadership) Pemimpin mengajukan tantangan dan merangsang bawahan untuk mencapai tujuan dan melaksanakan dengan baik. d. Teori Kepemimpinan Situasional Teori kepemimpinan situasional dikembangkan oleh Paul Hersey dan Keneth H. Blancard. Menurut teori ini kepemimpinan yang efektif berbeda-beda sesuai dengan ”kematangan” bawahan, yakni keinginan untuk berprestasi, kesediaan untuk menerima tanggung jawab dan kemampuan serta pengalaman yang berhubungan dengan tugas.
135 HIGH Tugas Rendah Hubungan Tinggi Q3 Tugas Tinggi Hubungan Tinggi Q2 Q4 Tugas Rendah Hubungan Rendah Q1 Tugas Tinggi Hubungan Rendah LOW TASK BEHAVIOR HIGH Dewasa High Moderat Low Tidak Dewasa M4 M3 M2 M1 Sumber : Cahyono, 1996 h. 317 Untuk menentukan apakah gaya kepemimpinan sesuai dengan situasi tertentu, pimpinan pertama kali harus menentukan tingkat kedewasaan seorang atau kelompok sesuai dengan tugas tertentu. Apabila sudah diketahui tingkat kedewasaan bawahan maka pimpinan tinggal menyesuaikan dengan keadaan bawahan. Gambar 16 menjelaskan empat kemungkinan kepemimpinan yang efektif. LOW TASK BEHAVIOR HIGH Dewasa High Moderat Low Tidak Dewasa M4 M3 M2 M1 Gambar 15. Empat Kemungkinan Kepemimpinan Efektif Gambar 15 menjelaskan tentang empat kemungkinan kepemimpinan efektif sebagai berikut :
136 1. Pada tahap M1 dan sikap Q1 disebut ”telling” artinya dalam komunikasi dua arah pimpinan menentukan tugas para bawahan dan menerangkan pada mereka apa, bagaimana, kapan dan dimana tugas tersebut diselesaikan. 2. Pada tahap M2 dan sikap Q2 disebut dengan ”selling” artinya dalam komunikasi dua arah pimpinan memberi dorongan sosio-emosional agar bawahan/anggota organisasi ikut serta dalam keputusan-keputusan yang dibuat. 3. Pada tahap M3 dan sikap Q3 disebut dengan ”participating” artinya dalam komunikasi dua arah pimpinan bersama-sama dengan bawahan membuat keputusan mengenai tugas mereka. 4. Pada tahap M4 dan sikap Q4 disebut ”belonging” artinya pimpinan sudah membiarkan bawahan menjalankan tugas/kegiatan mereka sendiri. Kepemimpinan dianggap tidak efisien apabila seorang pemimpin mempunyai intelegensi rendah, bersifat penakut dan pengecut, mempunyai sifat egoistis, tidak bertanggung jawab, dan sikap negatif lainnya. Namun demikian, kepemimpinan yang tidak efisien tadi adakalanya tepat, bila iklim emosional dari kelompok yang dipimpinnya kebetulan juga sesuai dengan sifat-sifatnya. e. Teori Kepemimpinan Model Fiedler Fiedler mengembangkan suatu model yang dinamakan Model Kontijensi Kepemimpinan yang efektif (A Contingency Model of Leadership Effectiveness). Toha menjelaskan bahwa model ini berisi tentang hubungan antara gaya kepemimpinan dengan situasi yang menyenangkan. Adapun situasi yang menyenangkan itu diterapkan oleh Fiedler dalam hubungannya dengan dimensidimensi empiris berikut : 1. Hubungan pemimpin anggota. Hal ini merupakan variabel yang paling penting dalam menentukan situasi yang menyenangkan tersebut. 2. Derajat dari struktur tugas. Dimensi ini merupakan masukan yang amat penting kedua, dalam menentukan situasi yang menyenangkan. 3. Posisi kekuasaan pemimpin yang dicapai lewat otoritas formal. Dimensi ini merupakan dimensi yang amat penting ketiga di dalam situasi yang menyenangkan.
137 Suatu situasi akan dapat menyenangkan pemimpin jika ketiga dimensi di atas mempunyai derajat yang tinggi. Dengan kata lain, suatu situasi akan menyenangkan jika : 1. pemimpin diterima oleh para pengikutnya (derajat dimensi pertama tinggi) 2. tugas-tugas dan semua yang berhubungan dengannya ditentukan secara jelas (derajat dimensi kedua tinggi) 3. penggunaan otoritas dan kekuasaan secara formal diterapkan pada posisi pemimpin (derajat dimensi ketiga juga tinggi). C. Ringkasan Apa yang dilakukan oleh seorang pemimpin dapat dilihat pada bagaimana seorang pemimpin membagi tugas dengan pemimpin yang lain, bagaimana mereka berkomunikasi satu dengan yang lain, bagaimana dan dengan cara apa para pemimpin memberi pengarahan kepada para bawahan dan lain sebagainya. Kepemimpinan dianggap tidak efisien apabila seorang pemimpin mempunyai intelegensi rendah, bersifat penakut dan pengecut, mempunyai sifat egoistis, tidak bertanggung jawab, dan sikap negatif lainnya. Namun demikian, kepemimpinan yang tidak efisien tadi adakalanya tepat, bila iklim emosional dari kelompok yang dipimpinnya kebetulan juga sesuai dengan sifat-sifatnya. D. Evaluasi/Soal Latihan 1. Kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang dapat: a. mencapai tujuan organisasi b. memotivasi karyawan c. mengontrol karyawan d. semua jawaban benar 2. Gaya kepemimpinan yang berfokus pada hubungan antara pemimpin dan bawahan disebut gaya kepemimpinan: a. otokratis b. demokratis c. laissez-faire
138 d. transformasional 3. Gaya kepemimpinan yang berfokus pada pencapaian tujuan organisasi disebut gaya kepemimpinan: a. otokratis b. demokratis c. laissez-faire d. transformasional 4. Salah satu ciri dari kepemimpinan transformasional adalah: a. memberikan arahan dan tugas yang jelas b. membangun hubungan yang baik dengan bawahan c. mendorong bawahan untuk berpikir di luar kotak d. semua jawaban benar 5. Salah satu kelemahan dari kepemimpinan otokratis adalah: a. bawahan merasa tidak dihargai b. bawahan tidak memiliki motivasi untuk bekerja c. bawahan tidak memiliki rasa memiliki terhadap organisasi d. semua jawaban benar 6. Salah satu kelebihan dari kepemimpinan demokratis adalah: a. bawahan merasa dihargai b. bawahan memiliki motivasi untuk bekerja c. bawahan memiliki rasa memiliki terhadap organisasi d. semua jawaban benar 7. Salah satu kelemahan dari kepemimpinan laissez-faire adalah: a. bawahan merasa tidak memiliki arah b. bawahan tidak memiliki motivasi untuk bekerja c. bawahan tidak memiliki rasa memiliki terhadap organisasi d. semua jawaban benar 8. Salah satu kelebihan dari kepemimpinan transaksional adalah: a. bawahan merasa memiliki arah b. bawahan memiliki motivasi untuk bekerja c. bawahan memiliki rasa memiliki terhadap organisasi d. semua jawaban benar 9. Salah satu kelemahan dari kepemimpinan transformasional adalah: a. bawahan merasa tidak memiliki arah b. bawahan tidak memiliki motivasi untuk bekerja c. bawahan tidak memiliki rasa memiliki terhadap organisasi d. semua jawaban benar
139 10. Kepemimpinan yang efektif dapat dikembangkan dengan: a. pelatihan kepemimpinan b. pengalaman kerja c. bakat alami d. semua jawaban benar Soal Essay 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan teori tingkah laku kepemimpinan. Jelaskan mengapa teori ini penting untuk memahami dan mengembangkan kepemimpinan yang efektif. 2. Jelaskan bagaimana setiap teori menjelaskan bagaimana pemimpin dapat memengaruhi pengikutnya. 3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan kontingensi kepemimpinan. Jelaskan bagaimana situasi dan karakteristik pengikut dapat memengaruhi gaya kepemimpinan yang paling efektif. 4. Bagaimana pemimpin dapat mengembangkan dan menyesuaikan gaya kepemimpinan mereka untuk menjadi lebih efektif dalam situasi yang berbeda. 5. Jelaskan bagaimana teori tingkah laku kepemimpinan dapat membantu dalam mengembangkan pemimpin yang lebih efektif.
140 PERTEMUAN XI GAYA KEPEMIMPINAN A. Capaian Pembelajaran 1. Mahasiswa mampu menjelaskan berbagai gaya kepemimpinan 2. Mahasiswa memahami pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja organisasi 3. Mahasiwa memahami pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja organisasi B. Uraian Materi 1. Pengertian Gaya Kepemimpinan Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin dalam mengelola timnya untuk mencapai tujuan organisasi. Gaya kepemimpinan mencakup perilaku, nilai, dan metode yang digunakan untuk menggerakkan anggota tim menuju pencapaian yang diinginkan. Tidak ada satu gaya kepemimpinan yang sesuai untuk semua situasi. Pemimpin yang efektif harus mampu beradaptasi dan menggunakan berbagai gaya kepemimpinan sesuai dengan situasi dan kebutuhan timnya. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Gaya Kepemimpinan: a. Karakteristik pemimpin: Kepribadian, nilai, dan pengalaman pemimpin. b. Karakteristik anggota tim: Keterampilan, pengalaman, dan motivasi anggota tim. c. Situasi: Situasi dan konteks di mana pemimpin bekerja. 2. Tipe-tipe Gaya Kepemimpinan Menurut White dan Cipiit yang dikutip oleh Cahyono (1996) pada dasarnya ada tiga gaya kepemimpinan yaitu
141 1. Gaya Otokratis Dalam gaya ini semua penentu kebijaksanaan dilakukan oleh pemimpin. Teknik-teknik dan langkah-langkah kegiatan didikte oleh atasan setiap waktu. Pemimpin biasanya mendikte tugas kerja bagian dan kerja bersama setiap anggota. Pemimpin cenderung menjadi ”pribadi” dalam pujian dan kecamannya terhadap kerja setiap anggota, mengambil jarak dari partisipasi kelompok aktif kecuali bila menunjukkan keahliannya. 2. Gaya Demokratis Semua kebijaksanaan terjadi pada kelompok diskusi dan keputusan diambil dengan dorongan dan bantuan dari pemimpin. Kegiatan-kegiatan didiskusikan, langkah-langkah umum untuk tujuan kelompok dibuat dan bila dibutuhkan petunjuk-petunjuk teknis pemimpin menyarankan dua atau lebih alternatif prosedur yang dapat dipilih. Para anggota bebas bekerja dengan siapa saja yang mereka pilih dan pembagian tugas ditentukan oleh kelompok. Pemimpin adalah obyektif atau ”fact minded” dalam pujian dan kecamannya, dan mencoba menjadi seorang anggota kelompok biasa dalam jiwa dan semangat tanpa melakukan banyak pekerjaan. 3. Gaya Laissez-Faire Kebebasan penuh bagi keputusan kelompok atau individu dengan partisipasi minimal dari pemimpin. Bahan-bahan yang bernacam-macam disediakan oleh pemimpin yang membuat orang siap bila dia akan memberi informasi pada saat ditanya. Dia tidak mengambil bagian dalam diskusi kerja. Sama sekali tidak ada partisipasi dari pemimpin dalam penentuan tugas. Sedangkan Wirawan mengatakan bahwa gaya kepemimpinan sebagai berikut ” Gaya kepemimpinan adalah pola perilaku pemimpin dalam mempengaruhi para pengikutnya. Pengertian pola perilaku bukan dalam pengertian statis akan tetapi dalam pengertian dinamis. Gaya kepemimpinan seseorang pemimpin dapat berubah-ubah tergantung pengikut dan situasinya. Dengan kata lain seorang pemimpin dapat mempergunakan sejumlah pola perilaku yang berbeda dalam mempengaruhi para pengikutnya.”
142 Sementara menurut Hersey dan Blancehard yang dikutip oleh Wirawan membagi gaya kepemimpinan ke dalam empat macam, yaitu : 1. Kepemimpinan bergaya instruksi (telling), pemimpin yang berorientasi tinggi terhadap tugas dan rendah terhadap hubungan 2. Kepemimpinan bergaya konsultasi (counselling), pemimpin yang berorientasi tinggi terhadap hubungan 3. Kepemimpinan bergaya partisipasi (participating), pimpinan yang berorientasi tinggi terhadap hubungan dan rendah terhadap tugas. 4. Kepemimpinan bergaya delegasi (delegating), pemimpin yang berorientasi rendah terhadap hubungan dan rendah terhadap tugas. Senada dengan pendapat di atas, menurut Gatto yang dikutip oleh Wirawan dinyatakan bahwa ada empat gaya kepemimpinan, yaitu gaya kepemimpinan direktif, gaya kepemimpinan konsultatif, gaya kepemimpinan partisapasi dan gaya kepemimpinan delegasi. 3. Karakteristik Gaya Kepemimpinan Karakteristik dari setiap gaya tersebut dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut : a. Gaya kepemimpinan direktif, yaitu pemimpin pada umumnya membuat keputusan-keputusan penting dan banyak terlibat dalam pelaksanaannya. Semua kegiatan terpusat pada pemimpin dan sedikit saja kebebasan orang lain untuk berkreasi dan bertindak yang diizinkan. Pada dasarnya gaya ini adalah gaya otoriter. b. Gaya kepemimpinan konsultatif yaitu pemimpin lebih banyak melakukan interaksi dengan para staf dan anggota organisasi. Fungsi pemimpin lebih banyak berkonsultasi, memberikan bimbingan, motivasi, memberi nasihat dalam rangka mencapai tujuan. c. Gaya kepemimpinan partisipatif, yaitu pimpinan lebih cenderung memberikan kepercayan pada kemampuan staf untuk menyelesaikan pekerjaan sebagai tanggung jawab mereka. Sementara itu, kontak konsultatif terus jalan.