Q.lsmunandar K.
Arsitektur Rumah Tradisional la:r
Segala jenis kebutuhan buku bermutu, ada pada kami
. D.AYT.AINSBTGEAIKKNTAOGTILNKAPHA.ETDRRAAATTSIAALA{MSSRAIA. ..PSSESUEREKKKGSOOUEIIR..SAAUHHA. MNMKTEEAINNNREGEIRNNGGG&I AASHHUKSES
. KARIR BISNIS . PILAR.PII.AR KELUARGA
. OI.AH RAGA . SEHAT& BUGAR
. POTENSI & MOTTVASI DIRJ . CAKRAWALA BUDAYA
. HOBBY . KAMUS & ENSIKLOPEDIA . FOTOGRAFI
. KARYA & SENI . ILMU & INFORMASI
. PEMIMPIN & PROFESIONALISME . SADAR HUKUM
. BACAAN& PERPUSTAKAAN
@@
I
)
I
I
P.lsmunandar K.
Arsitektur Rumah Tradisional lawa
DAHARA PRIZE i
TERPILIH & BERHARGA
t
PUS'I'A K DA JATENG
bt SI:NTARANG
f\o. l-ai t. 20 .o d6
1,: tt g5 1, .1 7,8-?t
Cetakan ketiga 1990
Penerbit : Dahara Prize
Jl. Dorang 7 Phone 23518 Semarang
Dicetak oleh : Effhar Offset Semarang
PENGANTAR
Berkat rahmat dan hidayah dari Tuhan jualatr, risalah ini
terselesaikan,Risalah yang sangat sederhana ini penulis beri judul
Sekilas Rumah Tradisional Jawa.
Penulis insaf dan sadar bahwa rumah-rumah tradisional di
tanah air kita pada umumnya dan di daerah Jawa Tengah pada
khususnya harus terus diseltarikan karena merupakan warisan
nenek moyang yang tak ternilai. Demi kelestariannya, para
generasi muda harus mengerti tentang rumah tradisional tersebut.
Sebab berdasarkan fakta, barangsiapa "rumangsa melu handarbe-
ni" (merasa ikut memiliki) pasti "rumangsa melu hangrungkebi"
(merasa wajib mernpertahankan) pula. Dalam rangka inilah
penulis mencoba mengetengahkan sekelumit tulisan tentang
rumah tradisional Jawa yang lebih ringkas di samping buku-buku
sejenis yang sudah ada lebih dulu.
Mudah-mudahan dengan adanya risalah ini dapatlah kiranya
dijadikan bahan perbandingan bagi para peminat segala hd yang
berbau tradisional untuk menciptakan karya yang lebih sempurna.
Penulis sadar bahwa risalah ini tentu ada kekurangan-keku-
rangan dan kelemahannya, ibarat tiada gading yang tak retak.
Oleh karena itu segala tegur sapa dan kritik yang membangun
sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tulisan-tulisan
selanjutnya.
Akhirnya perkenankanlah penulis menyampaikan r.tsa terima
kasih yang sedalam-dalamnya kepada :
l. Para petugas Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara
(Javanologi) Jokyakarta.
2. Parapetugas Perpustakaan Umum, Surakarta.
Semoga Tuhan membalas jasa baik mereka itu, dan hanya
kepada Tuhan penulis mohon petunjuk-Nya.
Bab I
BANGUNAN RUMAH JAWA
"Sebuah Lembaga Ilmiah yang pertama-tama memimpin
penelitian" terhadap bangunan-bangunan yang basih asli di pulau
Jawa pada beberapa puluh tahun yang lalu dikenal dengan
sebutan "JAVA INSTITUT" yang berkantor di Weltevreden
(sekarang Jakarta).
Menurut buku yang ditulis oleh Sastro Amijaya di
Ngadiluwih, Kediri, bangunan-bangunan tersebut di atas memberi
kan kepuasan tersendiri bagi orang yang mendiaminya, dan terdiri
dari pendhapa, peringgitan, griya ageng, pawon atau padongan
dan gandok, yang berhubungan satu sama lain.
Dengan data-data ini tidak bisa dipungkiri bahwa rumah
merupakan bagian kebudayaan sesuatu suku bangsa; dan
fungsinya tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Sebab rumah
Juga merupakan salah satu kebutuhan hidup umat manusia yang
amat penting untuk tempat berlindung, baik dari kehujanan dan
kepanasan, setelah mereka mencukupi diri dengan kebutuhan
makan (pangan;dan pakaian (sandang). Mengapa bentuk tumah
selalu berkembang? Karena kebudayaan suku atau bangsanya
juga berkembang, maka mereka mengalarni hubungan dengan
"bangsa-bangsa lain dan di situlah terjadi saling tukar-menukar
informasi, sehingga corak rumahnya berkembang dalam bentuk,
ukuran maupun cara pengaturannya, paling tidak di dalam tumah
itu sendiri ditentukan tentang susunan keluarga dalam jumlah
besar maupun kecil. Sedangkan perkembangan rumah orang
Jawa tentu saja berbeda dengan perkembangan rumah orang di
Kalimantan misalnya. Oleh karena keadaan alam di sini berbeda
dengan alam pulau besar tersebut, di mana tumbuh hutan-hutan
yang lebat, sungai-sungai yang besar. serta gangguan binatang
buas.
l. Perkembangan Rumah Jawa
Dari asal-usulnya? Pra ahli sejarah masih belum mempunyai
kesatuan pendapat tentang hal ini. Sebagian riwayat menceritera-
kan betapa sukarnya menentukan ujud atau bentuk rumah orang
Jawa pada mulanya. Ada yang mengatakan bahwa hal itu
diceriterakan dari mulut ke mulut (lesan), dari kakek ke cucu,
cicit, dan seterusnya. Tapi ada pula yang mengatakan bahwa
rumah orang Jawa pada mulanya dibuat dari bahan batu. Dari
pendapat yang bermacam-macam itu dapat diambil kesimpulan,
bahwa hal-hal tersebut masih gelap dan belum berhasil dipecahkan
sampai sekarang.
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa beberapa orang yang
ahli telah membuktikan bahwa teknik pengusunan rumah Jawa
seperti tehnik penyusunan batu-batu candi yang cukup banyak
kita jumpai. Tetapi bukan rumah orang Jawa yang meniru bentuk
candi, melainkan bentuk candilah yang meniru rumah orang
Jawa. Mengapa demikian? Karofr candi yang kita saksikan
sekarang ini seperti candi Dieng, Borobudur, Pawon, Mendut,
Gedongsongo dan lain-lain pada umumnya baru berdiri pada abad
ke 8, sedangkan sebelum agama Hindu dan Budha datang ke sini,
nenek moyang kita pas ti telah mempunyai tempat tinggal yang
cukup permanen untuk melindungi diri dan keluarganya.
Tidak ada orang yang mengetahui dengan pasti tentang
hal-hal tersebut di atas dan yang menjadi saksi bisa pastilah relief-
relief yang terdapat pada batu candi. Tapi dugaan yang paling
kuat diperoleh dari sebuah naskah kuna, yang ditulis dengan
tangan, yang menyebutkan bahwa rumah-rumah orang Jawa
terbuat dari bahan kayu, serta dimulai dari jaman Prabu Jayabaya
berkuasa di Memenang (ibukota kerijaan Kediri).
u
Sekitar abad ke-ll baik Adipati Harya Santang maupun I
Prabu Jayabaya sendiri menyetujui untuk membuat rumah dari i
bahan kayu. Dan orang tidak usah khawatir lagi bahwa rumah
I
batu mereka akan dikikis habis oleh air hujan, atau oleh
i
sebab-sebab yang lain. Tetapi kalau diubuat dari bahan kayu, bal
ini dikarenakan bahan kayu merupakan bahan yang ringan,
mudah dikerjakan, mudah dicari dan kalau rusak mudah untuk
menggantinya.
Di istana raja, barisan pekerja yang berada di bawah
pimpinan Adipati Harya Santang juga mendapat order memper-
baiki istana raja.
Menurut tulisan yang sama, pada jaman Prabu Wijayaka
berkuasa di Medangkemulan diadakan bergagai-bagai perubahan
terutama pada "Departemen" perumahan yang sejak saat itu
diurus oleh pejabat perumahan yang berpangkat Bupati. Mereka
terdiri dari:
l. Bupati Kalang Blandhong.
2. Bupati Kalang Obong.
3. Bupati Kalang Adeg.
4. Bupati Kalang Abrek.
Tetapi setelah jaman Mataram Islam, yakni pada jaman Sultan
Agung Anyokrokusumo, beliau bertindak dengan tangan besi
terhadap para bupati yang tidak mau tunduk. Akibatnya setelah
menyerah, oleh Sultan mereka diberi gelas Bupati Kalang Medhak
pada tahun 1586. Para Bupati tersebut banyak mengadakan
perubahan dalam hal bentuk rumah.
Begitu ahlikah seorang Bupati Kalang? Sebetulnya keempat
jenis Bupati Kalang masing-masing mempunyai keahlian sendiri-
sendiri, khususnya dalam soal bangunan. Tapi dalam melaksana-
kan tugasnya satu sama Iain saling bekerja sama, yang ahli dalam
menebang kayu atau pohon (Kalang Blandhong) mengadakan
kerjasama yang erat dengan bagian pembersihan hutan (Kalang
Obong), bagian perencana bangunan (Kalang Adeg,l serta bagian
atau orang-orang yang betugas berobohkan bangunan lama.
Seluruh kegiatan pembangunan rumah tersebut dikoordinir
oleh persoalan mengenai bangunan Jawa dengan mudah dapat
diselesaikan.
t2
Berbeda dengan daerah lain, di Jogyakarta - lengkapnya
Daerah Istimewa Yokyakarta - para ahli tersebut tidak disebut
jabatannya secara lengkap, melainkan cukup disebut dengan
istilah Kalang saja. Dengan istilah itu orang sudah mengenalnya
sebagai ahli perancang maupun pembuat bangunan tempat
tinggal yang ulung.
Begitulah istilah khas untuk daerah yang satu itu. Semua
pejabat Kalang yang disebutkan di atas berbeda dengan
orang-orang "Kalang" yang berasal dari nenek moyang tertentu
dan sampai sekarang sering melakukan upacara pembakaran
mayat yang disebut "Kalang Obong". Yang dibakar bukan orang
mati melainkan sebuah "puspa", yaitu moneka yang menggambar
kan orang tersebut. Sejak berabad-abad yang lalu sampai
sekarang kelompok "Kalang" tadi tinggal di daerah Tegalgendu,
Kecamatan Kota Gedhe dan di daerah Wonosari, Kebupaten
Gunung Kidul.
l3
2. Bagaimana Tempat
Tinggal Nenek Moyang Dahulu?
Di atas telah disebutkan bahwa rumah leluhur kita dibuat dari
batu. Namun hal itu hanya perkiraan semata dan sejak semula
orang beranggapan bahwa rumah batu tersebut baru,ada sekitar
abad ke-10 Dan itupun terbatas pada tempat-tempat tertentu.
Tapi, pada jaman sebelumnya, orang-orang juga membutuhkan
tempat tinggal untuk menanggulangi diri dan keluarganya dari
hujan dan panas. Mau tidak mau lnereka berpikir praktis dan
berbagai jalan telah ditempuh. Maka, pada jaman kuna orang
memanfaatkan gua-gua sebagai tempat tinggal atau istilah
kerennya "abris sous roche". Gua-gua itu sebenarnya lebih mirip
dengan ceruk-ceruk di dalam batu karang yang dapat dipakai
untuk berteduh. Kini penelitian terhadap gua-gua semacam itu
terus ditingkatkan.
Lima puluh tahun yang lalu, tepatnya antara tahun
1928-193 I, manusia yang pertama kali melakukan penyelidikan
ialah van Stein Callenfels di daerah Gua Lawa dekat Sampung
(Ponorogo, Madiun). Lambat laun berkembang menjadi semacam
ekspedisi, yaitu gabungan sejumlah dari puluhan orang yang
masing-masing memiliki keahlian khusus (spesialisasi), di samping
mendukungnya dengan dana serta mengalami segala suka dan
duka.
Apa sajakah yang ditemukan di sanat Bermacam-macam
benda yang cukup unik. Bagi para peneliti yang berasal dari
negeri-negeri Barat seperti Belanda, Inggris maupun orang Eropa
t4
lainnya cukup mengencangkan yakni alat-alat batu, ujung panah
dan flakes (kepingan senjata tajam), batu, penggilingan, kapak-
kapak yang sudah diasah (neolithikum), alat-alat dari tulang dan
tanduk rusa. Di samping itu juga ditemukan alat-dat perunggu
dan besi.
Meskipun begitu, banyak pula yang menemukan tulang
belulang manusia (ienis Papua-Melanesoide) dan binatang,
sehingga hampir bisa dipastikan bahwa ceruk-ceruk tersebut
,udah lama menjadi tempat tinggal manusia.
Setelah membuktikan secara ilmiah kapan benda-benda
tersebut mulai ada di sana, maka muncullah istilah "Sampung
bone-culture" yang berarti alat-alat tukang dari Sampung.
Selanjutnya penelitian dilanjutkan ke daerah Besuki (Jawa
Timur).
Tapi anehnya di dalam Gua Lawa tadi tidak ditemukan kapak
Sumatradan Kapak pendek. Padahal benda-benda ini merupakan
inti mesolithikum Sumatra. Jadi berbeda dengan penelitian van
Heekeren yang menemukan pebbles (kapak Sumatra dan Kapak
pendek) di daerah Besuki (Jawa Timur).
Di daerah Bojonegoro, para peneliti yang pernah ke sana
pasti menemukan abris sous rouche yang menghasilk'an dat-alat
dari kerang dan tulang. Ada juga tulang belulang manusia jenis
Papua Melanesoid.
Meski sudah melakukan penelitian di daerah Jawa, para
peneliti masih meluaskan penyelidikannya ke daerah-daerah di
luar Jawa. Setiap mereka melakukan espedisi pasti menemukan
benda-benda yang unik dan menarik. Heran juga rasanya, pada
waktu menginjakkan kaki di daerah Lamoncong Sulawesi
Selatan, ternyata mereka menemukan bahwa di dalam gua-gua
tertentu masih ada penghuninya yaitu Suku Toala.
Kendati suku tersebut mendiami abris sous rouche, tetapi
Fritz Sarasin dan Paul Sarasin menyangsikan apakah penemuan
benda-benda itu ada hubungannya dengan suku Aoala. Walaupun
sebelumnya mereka memperkirakan suku tersebut merupakan
keturunan langsung penduduk Sulawesi Selatan jaman prasejarah.
Ketika diadakan penelitian lebih lanjut, ternyata kebudayaan
Tuala itu termasuk kebudayaan Mesolothikum.
Di samping penemuan-penemuan yang ada, terdapat pula
flakes-flakes (kepingan-kepingan senjata tajam) yang ujungnya
seperti panah dengan bentuk yang berbeda-beda.'Misalnya, ada
l5
yang sisa-sisanya bergerigi (seperti gergaji). Ciri khas itulah yang
membedakan ujung.ujung panah Toala dengan ujung-ujung
panah dari Jawa,Timur.
Kalau di daerah Lamoncong ditemukan ujung panah
bergerigi, maka di daerah Timor dan Roti ujung panahnya dibuat
dari batu indah seperti jaspis dan chalcedon, serta pangkalnya
bertangkai. Demikian penemuan Alfred Buhler.
l6
3. Pohon-pohon yang Dipakai
Pada saat-saat sekarang jenis-jenis kayu yang mahal seperti
nangka, labon, sengon, jati dan seterusnya sudah agak langka.
Tadi banyak orang yang membuat bangunan dari kayu
Kalimantan. Ketika mencari bahan untuk membuat rumah
sebaiknya diadakan suatu perhitungan yang cermat dan teliti.
Tentu saja perhitungan tersebut dilakukan oleh ahlinya. Menurut
orang-orang yang menguasai ilmu bangunan, apabila salah pilih
menentukan bahan kayu itu (maksudnya dilakukan dengan
sembarangan) akan mengakibatkan hal-hal yang kurang baik pada
penghuninya.
Hal-hal itulah yang dianggap pembawa bencana, entah
berupa bencana alam, seperti topan (cleret tahun), banjir, dan
gempa bumi atau setiap jenis bencana buatan manusia. Karena itu
dalam memilih kayu sebagai bahan bangunan tempat tinggal
orang harus berhati-hati. Walaupun orang sudah mengadakan
selamatan dengan segala uba-rampenya tapi kadang-kadang masih
jatuh korban juga seperti yang terjadi di daerah Ngliron dan
Temanjang (Kabupaten Blora, Jateng).
Meskipun banyak bahan-bahan kayu seperti glugu (berasal
dari batang pohon kelapa) dan kayu sejenis yang dianggap awet,
misalnya kayu pohon sawo dan nangka yang tersebar di daerah-da
erah pedesaan antara lain Kulon Progo dan sebagian daerah
Sleman (termasuk Daerah Istimewa Jogyakarta), tetapi bahan
kayu jati tetap merupakan bahan yang terkuat. Pada waktu-waktu
sekarang jenis kayu jati banyak dijumpai di daerah-daerah
pegunungan maupun hutan-hutan yang tanahnya berwarna merah
(lempung) dan hitam. Seandainya kayu jati yang baik belum
didapatkan, batang rbambu yang besar dan kuat (pring petung)
juga berguna.
t7
Bagaimanakah ciri-ciri kayu jati yang baik? Orang-orang
yang faham mencatat bahwa kayu jati yang baik ialah kayunya
keras dan mempunyai serabut yang halus serta berminyak
(nglenga). Jenis kayu jati itu menjadi sasaran blandhong (tukang
kayu), dan orang-orang yang berminat dalam masalah petumah-
an. Sepanjang diketahui, pohon tersebut tumbuh di daerah
pegunungan yang tanahnya berwarna merah, tapi menurut
kawruh Kalang (buku pedoman yang berhuruf Jawa yang
menguraikan soal kerangka mangunan, dasar-dasar ukurannya,
hingga bahan-bahan yang umum dipakai dari rakyat sampai raja)
ada I I macam kayu jati yang mendatangkan kebaikan. Tentu
saja, hal itu harus dilihat juga tempa! menanamnya, umurnya dan
cara menebangnya.
Maka, kita harus mengetahui juga kayu jati yang tidak baik,
yakni yang tumbuh di tanah berwarna hitam di daerah
pegunungan juga.Di samping itu ciri-cirinya lunak, bergetah dan
rapuh. Ada 16 macam kayu yang berpengaruh buruk.
Oleh banyak pihak, tanah-tanah tertentu dianggap mempe-
ngaruhi jenis kayu jati yang baik, dengan jaminan tahan puluhan
tahun jika dipakai untuk mendirikan banggnan. Jenis-jenis kayu
jati itu,adalah sebagai berikut:
l. Jati bang, kayunya keras dan halus, serta berminyak (nglenga).
Kayu jenis ini sangat awet bila digunakan sebagai batran ba-
qgunan.
) Jati kembang,atau disebut juga jati sungu (sungu=tanduk).
Warnanya hitam, tapi ada pula yang mengatakan berwarna ke-
klat-coklatan. Uratnya seperti ukiran bunga dan mirip tanduk.
Jenis kayu jati semacam ini bila dipasang pada bangunan ru-
mah cukup baik dan tahan lama. Tetapi tentu saja tidak sekuat
jati bang.
3. Jati kapur batangnya lunak. Urat-uratnya (serabutnya) kasar
warnanya keputih-putihan. Rupanya jenis jati kapur bila digu-
nakan sebagai bangunan tidak dapat bertahan lama. Sehingga
banyak orang yang kurang berkenan mencarinya. Tidak seperti
- jati kembeng maupun jati bang yang daya tahannya lebih lama.
Namun bila jati kapur tadi tumbuh di atas tanah yang berwarna
merah (tanah liat) biasanya mempunyai daya tahan yang lebih
baik bila dibandingkan dengan jati bang yang tumbuh di atas
tanah yang berwarna hitam.
18
Di samping tiga jenis kayu jati yang disebutkan di atas, masih
ada lagi beberapa jenis kayu jati tapi kurang begitu populer,
misalnya jati kunyit, jati doreng, jati keyong, jati eri, jati Landa
dan jati werut.
Jadi, pada umumnya orang memilih yang batangnya keras
dan seratnya halus.
Menurut legenda, kayu jati juga mempunyai "sifat" yang
tidak berbeda dengan manusia, yaitu baik dan buruk. Kayu jati
yang bersifat baik akan mempengaruhi peruntungan (hokki) dan
keselamatan penghuni bangunan atau pemilik rumah. Sedangkan
jati yang bersifat buruk bisa menyebabkan penghuninya menjadi
"apes" (sial). Sekarang marilah kita bahas kayu jati yang
"sifat"nya baik.
'
l. Uger-uger, yaitu kayu jati yang berasal dari batang pohon teta
pi cabangnya rangkap. Seseorang yang memiliki kayu terse-
but, akan merasakan kedamaian dan ketenangan. Alangkah
baiknya bila dipakai pada pintu ftori) rumah dan pintu pagar
tembok tinggi (cepuri) yang disebut regol.
2. Trajumas, yaitu kayu jati yang berasal dari sebuah pohon
yang cabangnya tiga. Barangsiapa memasang kayu semacam
ini pada rumahnya, maka akan kebanjiran rejeki (mbanyu mi-
li). Kayu ini cocok untuk kerangka bangunan yang besar yang
letaknya di atas, seperti molo, blander, pengeret dan lain seba-
gainya.
3. Pandhawa, asalnya dari si$uah pohon jati yang bercabang li-
ma. Seperti narnanya, kayu ini sifatnya kuat dan perkasa.
Oleh sebab itu ia harus menjadi "penjaga" pendhapa, teruta-
ma sebagai saka guru ( tiang utama).
4. Mulo, kayu jati dari pohon yang sekelilingnya lembab (dikeli-
Iingi air). Kayu yang disebut Molo ini akan memberikan pera-
saan segar kepada pemiliknya, ditambah lagi dengan banyak
terkabulnya keinginan pemilik rumah. Kayu seperti ini juga bi
sa digunakan untuk saka guru atau tiang utama; tetapi mutu-
nya memang masih di bawah kayu Pandhawa.
5. Tunjung, diambilkan dari pohon jati yang menjadi sarang bu-
rung yang besar-besar seperti elang, dan lain-lainnya. Barang-
siapa mempergunakan kayu jenis ini, si pemilik atau penghuni
bangunan akan memperoleh status sosial yang lebih tinggi.
t9
Walapun kayu ini lebih sesuai bila untuk bangunan kandang
kuda (gedhongan atau istal) atau kandang ternak jenis lain-
nya.
6. Gedam, yaitu kayu jati yang pohonya ditempati bururlg-bu-
rung kecil. Sesudah kayu tersebut dijadikan bangunan peru-
mahan,pasti pemiliknya akan mempunyai banyakkawanyang
sayang kepadanya. Dan jika banyak kawan, secara otomatis
rejeki juga mengalir lancar. Sebaiknya kayunya untuk membu
at kandang kuda (gedhongan).
7. Munggang, yaitu kayu jati yang tumbuh di atas tanah yang
tinggi (gumuk atau punthuk). Watak atau sifat kayu ini tidak
berbeda dengan kayu Tunjung dan Gendam, dan tepat sekali
bila dipakai untuk membuat kerangka bangunan pintu ger-
bang (regol), bangunan untuk istirahat (gerdu), pesanggrah-
an maupun bangunan-bangunan sejenis. Pokoknya bukan ba-
ngunan untuk tempat tinggal tetap seperti dalem atau omah je
ro ( rumah bagian dalam).
8. Gendhong, yaitu kayujati yang tumbuh sebagai tunas dari se-
buah pohon. "Sifat" kayu gendhong ini bisa memberikan ke-
kayaan kepada pemilik rumah atau penghuni bangunan. Sa-
ngat baik dipakai untuk kerangka bangunan.
9. Gedheg, yaitu sejenis kayu jati yang mempunyai tonjolan
(gembolo) Sifat dan fungsionya tidak berbeda dengan gen-
dhong.
10. Gadhu, yaitu kayu jati yang tonjolannya seperti batu giling
(gandhik atau pipisan). Si pemilik atau penghuni rumah yang
diberi kayu semacam ini pada suatu ketika akan mempunyai
banyak hewan-hewan piaraan serta hidup selamat sejahtera.
Kayu gadhug ini cocok untuk bangunan kandang.
20
Soko guru (tiang ulama) di otas, seboiknya dibual dari kayu jati
jenis Pandhawa don Mulo.
Kerongka bongunon besar yang leloknya di otos (seperti molo,
pengeret, don mosih beberapo buoh lagi)
koyu jenis Trajumas. sebaiknya dibuot daii
2t
Kori, cepuri otdu regu (pintu gerbong) sebaiknya diberi kayu jati
dari jenb uger-uger.
Kemudian, dari sepuluh jenis kayu jati di atas, yang kalau
dilihat sepintas kelihatannya sama, yang paling umum digunakan
adalah jenis kayu jati yang berasal dari satu pohon dengan cabang
dua (uger-uger); cabang tiga (Trajumas) dan lima (Pandhawa).
Cabang tiga untuk bagian kerangka blandar dan cabang lima
untuk penyangga atau tiang utama (saka guru).
Pemilihan jenis-jenis kayu semacam itu sudah mendarah
daging atau "melembaga" dikalangan masyarakat jawa. Tapi
kalau ditinjau dari sudut yang rasional, kita bisa melihat dari cara
tumbuhnya pohon. Misalnya pohon jati yang bercabang tiga,
pohon semacam ini biasanya kuat dan tangguh menghadapi
serangan angin topan serta tumbuh subur. Yang bercabang tiga
saja sudah demikian tangguhnya, apalagi yang bercabang lima.
Sedangkan untuk pohon jati yang kualitasnya biasa-biasa saja,
orang cenderung untuk membuatnya menjadi kandang kuda
(gedhongan atau istal).
Akhirnya orang tidak boleh terpukau begitu saja dengan kayu
jati yang dianggap baik, sebab ada beberapa jenis kayu jati yang
22
harus dihindari karenatidak baik. Jadi, jangan sekali-kali dipakai
untuk bahan bangunan rumah anda, yang sesungguhnya juga
merupakan "istana" anda.
Suasana seperti berpenyakitan, iri hati, sengsara, sial, dicela
orang dan bencana lainnya dapat dihindarkan apabila anda
jangan memakai kayu jati seperti di bawah ini:
l. Kayu jati yang dinamakan Klabang pipitan. Ciri-cirinya di da-
lam ada kulitnya dan wataknya panas. Jadi kalau digunakan
akan menimbulkan berbagai macam penyakit.
2. Kayu jati yang disebut tundhung. Kayu semacam ini kalau re
bah selalu menindih kayu lainnya. Barangsiapa memakai kayu
semacam ini ia akan mempunyai sifat suka menjelek-jelekkan
orang lain.
3. Kayu jati yang disebut Sadhang. Kayu yang jatuh (entah di-
sambar petir atau sudah tua) melintang di atas sungai, jurang,
jalan dan sejenisnya. Wataknya senantiasa menimbulkan seng
sara pemilik atau penghuninya.
4. Kayujati yang rebahnya "aneh", yakni jatuh di atas punggur
(tonggak)nya sendiri, disebut Sundhang dan selalu memberi
bencana kepada pemilik atau penghuninya.
5. Kayu jati yang pada waktu rebah menindih pohon lainnya
yang masih berdiri disebut Sondho. Yang satu ini lebih menge-
rikan lagi, sebab selain menyebabkan bencana pada pemilik-
nya, juga menyebabkan turun martabatnya.
6. Kayu jati yang roboh kemudian hanyut di sungai dinamakan
Sarah. Dianggap menyebabkan kekesalan atau kekecewaan ha
ti pemiliknya, di samping seretnya dalam berusaha (berniaga).
7. Kayu jati yang mempunyai lubang tembus pada waktu pohon-
nya masih hidup.. Kayu ini namanya Sujen terus. Awas, ja-
ngan digunakan, sebab bisa mencelakakan penghuninya.
8. Kayu jati yang dinamakan Wutak ati. Kayu yang bagian da-
lamnya keluar dan mempunyai watak membuka rahasia peng-
huni atau pemiliknya.
9. Kayu jati yang jatuh karena tumbang, entah terkena angin
atau banjir. Kayu semacam ini disebut Prabatang. Siapa aja
yang memakainya akan berkurang atau kehilangan par] jkat-
nya.
23
10. Kayu jati yang tertindih batu atau terendam air. Kayu ini dina-
makan Gombang. Penghuninya akan mempunyai nasib yang
tidak baik.
I l. Kayu jati yang pohonnya mati sendiri. Orang menamakannya
Galigang. Kayu ini tidak berbeda dengan kayu Combang, de-
bab selalu membuat sial pemiliknya.
12. Kayu jati yang pada waktu robohnya mengejutkan seluruh
margasatwa penghuni hutan, sehingga banyak yang berteriak
melengkung, mengaum, menyalak, dan sebagainya. Kayu ini
dinamakan Gronang. Kalau tetap dipakai, si penghuni atau
orang yang menempati sering mendapat celaka atau hinaan da
ri orang lain.
13. Kayu jati yang menempel pada salah satu cabang pohon lain-
nya. Kayu ini populer dengan nama Gandhongan. Bila dipa-
kai untuk kerangka rumah salah-salah bisa menyebabkan
penghuninya berbuat jelek (misalnya 5 M: Maling (mencuri),
Minum (suka rnereguk minumankeras),Madat (suka mengi-
sap ganja dan sejenisnya), Mairr (suka berjudi) dan Madon
(suka main perempuan).
14. Kayu jati yang terbakar hingga hangus kehita"m-hitaman dina-
makan Gosong (terbakar). Kalau nekat dipakai, bersiap-siap-
lah untukmenyediakan air satu sumur, karena rumah tersebut
mudah terbakar.
15. Kayu jati yang rendah dan tersangkut pada cabang. Kayu ini
populer dengan nama Gronggang. Bersifat selalu menghalangi
niat atau kehendak baik penghuninya.
16. Kayu jati lapuk bagian dalamnya. Dinamakan orang dengan
nama yang serzun, Buntel mayit (bungkus mayat) . Siapa saja
yang menggunakannya bisa mempunyai penyakit pelupa atau
penyakit dalam.
Maka. karena sifat-sifat jelek yang dimiliki oleh kayu-kayu
tersebut, orang berlombalomba untuk menghindarinya.
Lalu, bagaimana syarat-syarat yang dipakai untuk memugar
rumah-rumah "priyayi" (bangsawan) termasuk raja sendiri?
Tentu saja dengan syarat yang cukup berat, misalnya kayu jati
harus diambilkan dari hutan tertentu (untuk keraton Solo, sejak
u
berdirinya sampai tahap-tahap penyempurnaannya selalu diambil-
kan kayu dari hutan Donoloyo, Wonogiri). Dan, untuk bangunan-
bangunan utamanya-seperti Sasana Sewaka, Sasana Parasdya,
dan Sasana Handrawina ditentukan suatu syarat yang membuat
orang geleng-geleng kepaia. Vakni, "Kayu itu harus ditebang dari
pohon yang dijalari benalu, dan usianya minimum 200 tahun".
Jadi, kita bisa membayangkan betapa sulitnya mencari kayu
semacam ltu.
Tapi hal tersebut diduga merupakan syarat-syarat peninggal-
an agama Hindu, walaupun kita semua tahu bahwa kraton-krlton
Jawa pada umumnya mempunyai dasar seni bangunan iaya
Hindu, Islam dan Eropa, Sehingga jelas-jelas si penebang pohon
tak boleh mengabaikan peraturannya.
Para sesepuh (orang tua-tua), yang berpakaian busana
Kejawen lengkap dengan blangkonnya dan biasanya merupakan
ahli kebatinan, ikut menentukan seluk beluk bangunan rumah.
Penentuan lokasi ke tempat yang ditunjuk juga merupakan
tahap-tahap penting pelaksanaan pembangunan. Panitia pemba-
ngunan rumah tidak bekerja sendiri, tapi petunjuk-petunjuk dari
para sesepuh yang sudah disebutkan di atas tidak boleh diabaikan.
Berkat bimbingan mereka, rumahpun bisa dibangun dan
merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia dan
mampu memberi ikatan lahir maupun batin.
Untuk menebang pohon jati dan memotongnya, diadakan
upacara yang khusuk penuh dengan buasana hening mencekam.
Mula-mula sebuah kain cindhe yang berwarna merah diiipitkan di
sekeliling pohon jati. Hal itu dilakukan bila pohon tersebut
merupakan pilihan raja. Berbagai "ubarampe" klebatinan juga
disiapkan atas permintaan tokoh kebatinan yang ditunjuk. Setelah
itu, sang tokoh segera menghaturkan sembah dan berkomat-kamit
mengucapkan mantera. Tidak berapa lama kemudian, dua buah
telapak tangannya bergetar sehingga badannya ikut bergoyang-go-
yang sehingga peluhnya bercucuran keluar. Akhirnya setelah
tenang kembali, tokoh kebatinan tersebut melemparkan tiga butir
telur ke bagian batang pohon yang akan ditebang tadi. Di samping
itu, juru kunci atau penunggu desa itu juga melepaskan seekor
ayam jantan putih mulus yang segera berlari-lari ke semak-semak
di depannya.
Peranan tokoh kebatinan dalam penebangan kayu memang
menonjol, hal itu diperkuat dengan getaran tangannya yang
25
menunjukkan bahwaia sedang berhubungan dengan badan halus.
Sesudah itu, orang yang punya hajat bertugas mengayunkan
kampak yang beruntaikan kembang melati seba4yak tiga kali ke
pokok jati.
Upacara itu diperkuat lagi dengan penaburan rkembhng di
sekitar pohon, sehingga ikut pula mengenai sesaji ylng terdiri dari
tumpeng beraneka warna, golong kencana, ketan salak, pisang
emas,pisang raja, telur tebus, telur mentah yang masing-masing
berjumlah sembilan. Persebahan yang enak tersebut semata-mata
untuk mohon restu kepada Tuhan dengan perantaraan leluhur
Tanah Jawi. Di samping yang berupa makanan, tersedia pula
benang lawe dan sebesek bunga telon.
Kini, dilanjutkan dengan selamatan "kepung tumpeng".
Tumpeng ini dinikmati oleh para blandhong (penebang kayu)
dengan harapan a5at "dhanyang penunggu alas, dhanyang
Kalisari, roh-roh jahat manusia jahat, asu ajak sekancane, macan
ula sabrayate, kalajengking, gegremetan lan sapanunggalane, aja
padha ganggu gawe marang aku kabeh sakancaku" Yang berarti
"Wahai penunggu hutan dan desa Kalisari, roh jahat, manusia
yang jahat, serigala dan gerombolannya, ular harimau, kalajeng-
king, dan segalanya macam binatang melata jangan mengganggu
kepada rombonganku"
Seperti tradisi yang sudah bengakar berabad-abad yang lalu,
dalam upacara itu kalau keadaan memungkinkan tetap diadakan
pertunjukkan wayang, dengan lakon yang disesuaikan dengan
upacara penebangan pohon.
Selain lakon wayang yang disajikan seperti lakon Jatiwasesa,
yakni kisah tentang Raden Gathotkaca yang mencari salaguru
untuk pembangunan kraton Ngamarta atau Babad Alas Wanamar
ta, juga diadakan acara sedekah rebutan.
Acara rebutan (panjat pinang) sempat mengundang ratusan
orang penduduk karena menyaksikan rebutan dua buah pinang
dengan memanjat bambu yang diberi pelicin.
Di samping itu, desa Tamanjang (daerah Blora) menjadi
terkenal karena terdapat pohon jati yang telah berusia dua
keturunan, suatu usia yang cukup langka pada jaman sekarang
ini.
Dalam kelangkaannya itu, KPH (Kesatuan Pemangkuan
Hutan) Randublatung dianggap sebagai gudang pohon jati yang
baik dalam kualitas maupun kuantitas, oleh karena itu banyak
proyek-proyek pemerintah yang mengambil kayunya dari sini,
26
seperti saka guru rnasjid Demak, gedung wanita "Sasana Bakti
\Yanita Tama" di Jogya dan gedung wanita lainnya di Solo, serta
proyek-proyek yang berada dilbukota Jakarta yang jumlahnya
cukup banyak.
Pohon jali yong sudah dililit kain cindhe. (/Jtacara sedekah rebutan (ioaniat pinang)'
21
4. Meratakan Tanah
Pada tahap pertama, orang harus meratakan tanah sebelum
di atasnya didirikan bangunan. Tanah yang dipilih bebas dari
"danyang" (penunggu) agar orang yang menempati nantinya
menjadi lebih tenang.
Kalau kita mengamati daerah pedesaan, proses perataan
tanah tersebut masih banyak dilakukan. Tentu saja tanah yang
diaratakan bukan tanah di tempat datar, melainkan tanah yang
miring di lereng-lereng pegunungan atau di daerah-daerah yang
tanahnya naik turun. Hingga memerlukan waktu yang cukup lama
karena harus diiris sedikit demi sedikit . Cara-cara meratakan
tanah seperti itu disebut membuat bebaturan, batur atau pondasi
(batur, berati alas atau dasar).
Bebatur tersebut biasanya lebih tinggi daripada tanah di
disekitarnya, hal ini memang disengaja agar tidak kemasukan air
bila musim hujan. Di samping itu, di sekitar bebatu sering pula
diberi bambu atu batu yang diatur rapi agar tanahnya tidak
mudah longsor (gogos atau jugrug). Kalau perlu juga diberi
pondamen yang merupakan lubang yang cukup dalam. Setelah
itu, lubang tadi ditutup dengan batu kali yang diatur sedemikian
rupa dan barulah kemudian bagian atasnya ditimbun dengan
tanah.
Fungsi tanah yang dianggap ideal tidak bisa terpisahkan dari
kehidupan orang Jawa. Tetapi ada juga tanah yang dianggap tidak
memenuhi syarat untuk didirikan bangunan karena dianggap
penuh gangguan gaib sehingga orang-orang menyebutnya angker,
wingit atau sangar.
Sudah sejak lama banyak tempat khusus yang dianggap
angker, misalnya bekas bangunan kraton Kota Gedhe, Karta dan
Plered. Tapi yang bersifat umum lebih banyak lagi, seperti sebuah
28
rumah di wilayah Rukun Kampung Tegalgendu yang sangat
angker. Sebabnya, pemiliknya pernah bunuh diri di situ dengan
menggantungkan badannya, di wuwungan (bubungan) rumah.
Karena seseorang yang melakukan perbuatan nekat, maka orang
yang lain akan menanggung akibatnya, yaitu sial, atau sakit-sakit-
an bahkan ikut-ikutan bunuh diri. Dan masih banyak lagi
rumah-rumah yang mempunyai kesan "angker" tetapi berbeda
masalahnya.
Oleh karena itu, orang Jawa sangat hati-hati dalam memilih
tanah maupun tempat-tempat yang layak untuk ditempati.
Cara-cara memilihnya juga tidak begitu sukar, karena masing-
masing tanah mempunyai nama-nama tertentu. Nama-nama tanah
yang baik ialah:
l. Tanah yang miring ke timur disebut Manikmulya,barangsiapa
tinggal di tanah yang demikian itu akan berhindar dari segala
macam penyakit, hidupnya kecukupan, tenteram dan terhin-
dar dari marabahaya. Disebelah selatan tanamilah pohon
"cocor bebek".
2. Tahan yang miring ke utara disebut Indraprasta, nama keraja-
an kaum Pandawa, yang sesungguhnya adalah sebuah ibukota
India (New Delhi) pada jamah dulu. Tetapi tanah ini mempu-
nyai nama lain yakni Telaga Ngayuda atau Bathara. Orang
yang tinggal di sini mudah terpenuhi apa yang diidam-idam-
kan dan kekayaannya akan dinikmati oleh anak-cucunya.
3. Sangsang'buwana atau Kawula katubing kala, tanah yang di-
kelilingi oleh gunung atau perbukitan. Barangsiapa tinggal di
tempat ini akan disegani dan dicintai oleh tetangganya, menja
di kepercayaan orang. Pokoknya segala kebaikan dunia.
4. Bumi Langupulawa, tanah bekas kuburan dan biasanya terle-
tak di atas jurang. Orang yang menempatinya akan bersikap
seperti pendeta (ambek adil paramarta).
5. T'anah yang miring ke Timur dan Kebarat (bagian tengah ba-
gaikan punggung sapi) disebut Darmalungit, tanah yang mem-
bawa rejeki banyak.
6. Sri Nugraha. Tanah yang memberikan kepada penghuninya se
lalu diberkati oleh Yang Mahakuasa baik berupa pangkat atau
kekayaan. Tanah seperti ini bagian baratnya tinggi tapi bagian
timurnya datar.
29
7. Wisnumanitis. Tanah yang naik turun terutama di bagian uta-
ra ini membawa banyak rejeki dari penghuni pertama sampai
beberapa keturunannya.
8. Endragana. Tanah yang datar di bagian tengahnya dan sekitar
nya lebih tinggi (kukuwung), akan memberikan ketenteraman
lahir batin.
9. Srimangepel. Tanah yang terbentang di tengah-tengah lembah
dan banyak sumber airnya. Penghuninya atau pemiliknya
akan kecukupan bahan makanan (pangan).
10. Arjuna. Tanah yang miring ke kanan dan bagian utara mau-
pun selatan tertutup oleh bukit. Tanah ini memberikan sifat
mudah memaafkan serta dih<lrmati oleh sesamanya.
ll. Tigawarna. Tanah yang dikelilingi gunung yang menjorok ke
tanah membuat penghuninya arif bijaksana bagaikan seorang
pertapa.
12. I)anarasa. Tanah yang bagian baratnya tinggi dan bagian uta-
ranya rendah. Orang yang tinggal di sini akan mempunyai ba-
nyak istri atau kawin berkali-kali tapi dianugerahi cukup keka
yaan.
13. Suniyalayu, tanah yang dikelilingi lembah akan menyebabkan
penghuninya-mempunyai banyak anak.
14. Lamurwangke, sebidang tanah yang diapit oleh gunung atau
bukit. Tanah ini sering didatangi oleh kerbau, sapi atau kuda.
Namun orang-orang juga menyadari bahwa disamping tanah
yang ideal untuk dijadikan tempat tinggal juga terdapat tanah
yang tidak sesuai untuk dijadikan perumahan. Tanah-tanah
tersebut ialah:
l. Tanah yang miring ke barat disebut Sri Sadana, orang yang
tinggal di sini kerjanya hanya bertengkar saja dan sering pe-
nyakitan. Oleh sebabitu,dianjurkan untuk menanam pisang
"kluthuk" di bagian timur.
2. Tanah yang miring ke selatan dinamakan orang Gelagah. Me
nyebabkan penghuninya melarat dan sering kematian kelirar
ganya. Maka, sebelum menempati, di tengah-tengah halaman
harus diberi pendaman "mowo" (arang dari sesuatu benda
yang habis terbakat) dan membaca Surat Al Ikhlas dan Surat
An naas.
30
Surat Al Ikhlas.
A. Qul huwallahu ahad.
B. Allahus shamad.
C. Lam yalid wa lam yulad.
D. Wa lam yakun lahu kufuwan ahad.
A. Katakan Dialah Allah Yang Maha Esa.
B. Allah tempat memohon.
C. Tidak beranak dan tidak diperanakkan.
D. Dan tiada sesuatupun yang menyerupai Allah.
Surat An Naas.
A. Qul A,'uudzu birqb-bin-naasi.
B. Malikin Naasi.
C. Ilaahin Naasi.
D. Min Syarril Waswasil Khonnaasi.
E. Al Ladzi Yuwaswisu fii shudurin naasi.
F. Minal jin nati Wannaasi.
3. Tanah yan! miring ke selatan dan langsung berhadapan de-
ngan rawa namanya Sekarsinom. Orang yang tinggal di sini bi
sa saja menjadi kaya tetapi barang-barang miliknya sering hi-
Iang. Untuk tumbal, anda harus menyediakan atau menanam
pohon asam dan delima.
4. Kalawisa, tanah yang sebelah tirnur agak tinggi, namun sebe-
lahnya rendah. Tanah yang mempunyai ciri seperti ini kalau di
tempati bisa menyebabkan sakit-sakitan atau mengalami ke-
matian.
5. Tanah yang naik turun menuju ke selatan disebut Siwahboja,
orang yang menempatinya senantiasa mendapat bencana.
6. Tanah yang memancar merah kekuning-kuningan dinamakan
Bramapendhem, tanah ini arnat "sangar" sehingga sering
mendatangkan kematian.
31
7. Tanah yang sekelilingnya mengandung air, disebut Sigarpenja
lin sesuai dengan namanya yaitu sigar (terbelah), tanah ini bi-
sa memecah belah keluarga karena terlalu sering bertengkar.
Sebagai tumbal, pendamlah air (yang sudah ditaruh dalam bo-
tol) di tengah-tengah halaman.
8. Asungelak (anjing haus), tanah yang terletak di bagian barat
gunung, orang yang menempatinya haus akan pertengkaran se
hingga sering diamuk tetangga. Sebelum didirikan bangunan
sebaiknya di tengah-tengah tanah tersebut lemparkanlah
"lungka" (gumpalan tanah liat),
9. Singameta (singa mengamuk;, tanah yang bagian tengahnya
terdapat air atau sumber air. Orang yang tinggal di sini akan
selalu diamuk berbagai macam penyakit. Untuk menghindari
malapetaka tersebut, tanamlah batu di tengah-tengah halaman
dengan membaca Al Fatihan.
A. Bismillahirrahmanirrahim.
B. Alhamdu lillahi rabbil alamin.
C. Arrahmanir rahim.
D. Maliki yaumiddin.
E. Iyyaka na'budu wa iyaaka nastain.
F. Ihdinash shirrathal mustaqim.
G. Shirathal ladzina an'amta 'alaihim, ghairil maghdlubi'ala-
ihim waladldlallin
AAMIIN
Artinya:
A. Dengan nama Allah yang Pemurah dan Pengasih.
B. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.
D. Yang menguasai hari Kiyamat.
E. Engkaulah yang kami sembah dan Engkau pulalah yang
kami minta pertolongan.
F. Tunjukkanlah kami jalan yang benar.
32
G. Jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bu-
kan jalannya orang-orang yang Engkau murkai, dan bu-
kan pula jalannya orang-orang yang sesat.
Terimalah ya Tuhanku!
Walaupun jaman sekarang tehnologi serba nuklir dan
mutakhir, tetapi orang-orang yang terlibat dalam masalah-masa-
lah gaib atau tumbal yang berhubungan dengan tanah, sangat
banyak sekali. Semuanya itu dilakukan dengan berbagai macam
cara, dengan menanam kepala kerbau misalnya.
Kalau marabahaya yang ditakuti datang, maka binatang yang
dianggap mempunyai "nama" atau kekuatan gaib tersebut dapat
menetralisirnya. Tapi yang dinamakan tumbal tida^t selalu harus
berupa kepala kerbau, benda-benda lainnya juga boleh. Hal itu
sudah disebutkan di atas dan biasanya dipimpin oleh orang
tua-tua ahli kebatinan.
Untuk menetralisir kekuatan yang berasal dari roh-roh gaib
yang mempunyai maksud jahat, maka ada beberapa macam doa
yang menurut pendapat sebagian besar orang sangat ampuh,
antara lain:
"Bismillah hirohmanirohim, nyawa sejati, sukma sejati, ya
ingsun sejatining sukma, ambyah kumel (Bismillah hirohmani-
lohirn, jiwa yang sejati, sukma yang sejati, sayalah sukma yang
scjati, yang banyak bersabar).
Setelah selesai berdoa kemudian meludah tiga kali sambil
rrrenahan nafas. Kemudian disambung dengan membaca doa lagi:
"Badanku badan rohani, pinernahake ing sagara, asat kang
hanyu, ing gunung gugur, ing kayu angker rubuh, ing wong jail
dadi sabar slamet Ies tanpa daya (Badanku badan rohani, yang
nrcnguasai samudra, semua airnya surut, gunungnya runtuh,
scmua kayu yang angker roboh dan orang yang nakal harus
mcnjadi sabar dan tidak berdaya)".
Di daerah-daerah tertentu seperti Sleman, dan lainJainnya
diadakan upacara yang disebut senthir atau upacara tumpeng.
l)inamakan upacara senthir karena menggunakan senthir atau
lampu yang diisi dengan minyak tanah atau minyak kelapa.
Setelah lampu tersebut diletakkan dan tiba-tiba nyalanya mati,
bcrarti tanah itu mengadung gas beracun atau singit (angker). Si
pemilik rumah setelah menjalani puasa 3 atau 7 hari, kalau perlu
lidak tidur, lalu membaca salawat 100 kali, yakni: "Astaghfirulla
33
*
a
haladim", kemudian membaca: "Ya dayina yani yanu
yamarkaba yasiyata yasiyara ya'amusa yarimua yadibuda
yadibaya"
Setelah bacaan selesai, di keempat sudut rumah ditanam
semacam jimat sebanyak empat buah yang betuknya sepbrti ini
:dari Kitab Primbon Betaljemur Adammakna):
V c)2111111 6)r-oYAU,l
Para penduduktidakhanya melakukan upacara senthir, tapi
juga upacara tumpeng Di Kota Gede banyak dijumpai upacara
tumpeng, bahkan boleh dikatakan hampir semua penduduk
menjalankannya. Pada umumnya semuanya itu mempunyai
maksud dan tujuan yang satu, yaitu Tuhan Yang Mahaesa. Pada
tumpeng tersebut absolutisme Tuhan dilambangkan dalam bentuk
runcing seperti piramida . . . . dan berkah-Nya diharapkan turun.
Suatu tempat yang akan didirikan bangunan harus dibersih-
kan benar-benar. Kemudian pada sore harinya, yaitu menjelang
magrib fiam 18.00), di tengah-tengah halaman diletakkan sebuah
senthir yang diberi tutup kaleng terbuka agar kalau tertiup angin
tidak padam.
Karena pusat kekuatan jahat umumnya berada di tengah-te-
ngah halaman, maka letaknya senthir juga harus tepat, kalau
perlu diukur dengan tali yang sudah disiapkan pada empat sudut
halaman. Dalam pertemuan silang kedua tdi itulah letaknya
senthir.
Demikian juga dengan upacara tumpeng, gundukan nasi
tersebut ditaruh tepat di tengah-tengah.
Pada saat-saat berlangsungnya upacara, biasanya hanya
dihadiri oleh tetangga dekat saja; beserta kerabat dekat tentunya,
termasuk pejabat setempat seperti Pak Dukun dan Pak RT.
Karena mereka ikut memberikan sambutan sepatah dua patah
kata. Sementara itu, semua tendga yang hadir di situ nantinya juga
terlibat dalam pekerjaan mendirikan rumah. Sebetulnya upacara
ini tidak terlalu penting bila dibandingkan dengan upaqra
menaikkan molo, dan hanya merupakan peleng\pp untuk
mgnghindari pengaruh jahat yang ditimbulkan ol6h "Yang
mbahureksa" (mahluk halus, penguasa desa setempat).
34
Maka jika Pak Kaum yang seharusnya memimpin berhalangan
datang atau sedang ada acara ke luar kota, kepala keluargalah
yang menjadi sibuk karena bertanggung jawab memimpin
upacara.
Hanya saja doa-doa yang dibaca biasanya tidak selancar Pak
Kaum, atau kalau pak kepala keluarga tidak sanggup membaca
doa atau ujubnya, hal itu tidak usah diutarakan.
Di bidang kerohanian, orang yang berkepentingan langsung
dengan bangunan rumah tersebut seperti Pak Dukun berpuasa
antara I sampai 3 hari. Oleh karena itu orang-orang yang akan
rrrendirikan bangunan sebaiknya memberitahukan lebih dahulu
kcpada Pak Kaum agar beliau dapat mempersiapkan diri dengan
bai k.
Selain senthir yang diletakkan di tengah-tengah lapangan,
tcntu saja yang sumbqnya bagus agar pada waktu upacara tidak
padam, yang punya hajat biasanya juga menyediakan alat-alat
lainnya. Khusus untuk upacara Tumpeng, di siapkan perlengkap-
lrrnya berupa nasi pgtih, gudangan, telur, sayuran dan tukon
(jajan) pasar. Tumpe[g yang dibelah menjadi dua bagian dan
tliscbut tumpeng pungkur, di tengah+engahnya diletakkan nasi
Mcgana.
Mengapa disebut lumpeng pungkur? Karena berasal dari
hahasa Jawa mungkur yang artinya bertolak belakang. Sedangkan
rrlsi megana yang berada di tengah-tengah tumpeng tersebut dari
kirta Merga ana, karena ada, yang dimaksud adalah Tuhap. Jadi
rntknanya tumpeng dan nasi megana adalah dengan adanya
'l'ulran, kita harus menghindarkan segala macam kejelekan. Di
surnping tumpeng ditaruh sebuah kendi berisi ari putih yang sudah
tliramu dengan daun dadap srep sebanyak 3 helai dan kembang
Itkrn (tiga macam bunga yang terdiri dari kenanga, kanthil dan
rrrcluti). Kembang tersebut merupakan lambang agar para pekerja
rlln tamu yang menghadiri upacaradikelakkemudian hari akan
nrcrasa senang {an tenteram.
Sedangkan daun dadap srep pada umumnya dipakai untuk
rrrcrryembuhkan penyakit panas. Jadi, rumah ya4g akan dibangun
it u akan terhindar dari.hal-hal yang sifatnya panas (osrep :6intin;
Bacaan lain lagi, yang dipimpin oleh Pak Kaum yaitu
rttcngucapkan terimakasih kepada yang punya hajad, kpmudian
rrrcmbaca doa (uiub). Sementara itu para hadirin duduk bersila di
I unah.
35
"Dhanyang kang rumeksa banjar pekarangan iki, dhanyang
lanang dhanyang wadon nyuwun kinabulane angSen kawula rakit
srana tumbal griya punika, tansah pinaringan kawilujengan,
tinebihna saking tulak sarek, ingkang badhe ngrencana dhateng
bale groya menika, sarana menika dipun kantheni uluk salam
Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakber".
Artinya:
"Kaki dhanyang yang menguasai halaman ini, baik laki-laki
maupun perempuan, mohon dikabulkan segala keinginan saya
dalam mencukupi sarana untuk tumbal rumah ini, selalu diberi
keselamatan, dijauhkan dari marabahaya, dari orang{rang yang
punya rencana jahat kepada rumah ini. Saya memulai sarana
dengan mengrft apkan takbir Allahuakbar, Allahuakbar. Allahuak
bar".
Semua orang yang berhubungan atau bertanggungjawab
terhadap pelaksanaan pembangunan rumah harus mau menjalan-
kan lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk, sejak dimulai upacara
senthir jam 18.00 sampai pagi). Syarat-syarat yang lain: mereka
harus mau makan tumpeng yang telah dipersiapkan semalam.
Bagi daerah-daerah jawa pada umumnya, kehadiran seluruh
keluarga sangat berarti. Jadi sebaiknya upacara umpcng atau
scnthir dilaksanakan pada saat seluruh keluarga berkumpul di
rumah. Jangan meninggalkan. keluarga yang sedang bepergian ke
luar kota misalnya. Upacaia ini merupakan upacara yang lebih
bersifat pribadi. Dinamakan pribadi karena tidak perlu mananggil
para tetangga dengan kenthongan (tong - tong) segda.
Upacara selanjutnya yang harus dijalani addah upacara tulek
brh berarti menolak bahaya (tulel=menolak, belr=bahaya(.
Jumlah lambang-lambang'yang dipakai pada umumnya berupa
tumbuh-tumbuhan yang ada di h{aman atau rumah penduduk
lainnya; jadi tidak perlu dicarijauh-jauh.
Masyarakat masih pcrcaya kepada tumbuh-tumbuhan terse-
but, maksudnya untuk memanfaatkan daya gaib yang tersembu-
nyi di situ, baik yang sifatnya melawan musuh mrupun daya gaib
yang bersifat melindungi diri. Oleh karena itu orangorang bekerja
dengan hati hati dan teliti.
Mcnolak bahaya yary dimaksud ddem upecue itu ialetr
menolak gangguan yang bcrsifu gtib (hrntu, iin, pqri-
r
merkayangan, dan masih banyak lagi) dan yang bersifat menolak
gangguan orang-orang jahat seperti maling, rampok dan
sejenisnya.
Kini, lingkungan di situ sudah dikamuflasekan sedemikian
rupa sehingga orang yang melihatnya akan kecewa, karena tempat
tersebut terlihat sebagai hutan yang penuh dengan tumbuh-tum-
buhan yang lebat maupun duri-duri yang liar. Akibatnya orang
yang mau berbuat tidak baik akan merasa jeri sendiri.
Sementara itu, perlengkapan tulak bala yang terdiri dari daun
awar-awar (berfungsi menawarkan keadaan yang jelek), duri
pohon kemarung atau gembili berfungsi sebagai senjata, dan
rumput alang-alang (menghalangi perbuatan jahat), serta daun
nanas atau belahan kulit bambu yang dibuat mirip keris dengan
warrla selang-seling hitam putih (lambang ular), terakhir
cmpon-empon (rempah-rempah yang merupakan lambang kepahit
an) disiapkan untuk ditanam pada empat penjuru halaman.
Waktu mengadakan upacara, sebaiknya . jangan sampai
diketahui oleh siapapun juga. Hal ini untuk menja5a a5al, jangan
ada tangan jahil atau orang-orang yang tak diunda4g.yang akan
rttengeruhkan suasana. Maklumlah, dalam suasana sepertiitu pasti
banyak orang yang iri hati.
Dengan didampingi oleh Pak Kaum, yang punya hajat
scgera menyiapkan "ubarampe" (peralatan) Seperti yang telah
<lisebutkan di atas. Di samping itu juga memilih hari-hari keramat
nrcnurut perhitungan masyarakat Jawa, yaitu malam Selasa
Khiwon atau Jumat Kliwon. Dan Pak Kaum sendiri harus
herpuasa antara satu sampai tiga hari tak ubahnya dengan upacara
scnthir dan tumpeng. Sebab, dengan melakukan puasa semacam
irri, apa saja yang akan dikerjakan menjadi manjur atau ampuh.
()lch karena itu, jauh-jauh hari Pak Kaum harus sudah diberitahu
ttgar memilih hari yang baik dan menyiapkan moril agar segalanya
tidak mendapatkan suatu rintangan apapun.
Tepat pada hari yang ditentukan, Pak Kaum mulai
rncjalankan tugasnya. Kalau beliau berhalangan hadir karena
\csuatu sebab, maka tugas tidak boleh diwakilkan pada orang
Iuin, karena orang tersebut diragukan kemampuannya. Memang,
tlalam soal-soal yang berhubungan dengan dunia gaib, orang-
()r'ang seperti Pak Kaum mendapat tempat terhormat di
rrrilsyarakat, terutama masyarakat pedesaan.
17
- Mula-nrula Pak Kaunr mengambil cepluk atau empluk, yaitu
serrracanr kuali (periuk kecil) dari.tanah liat. Cepluk tersebut diisi
dcngan berbagai-bagai tumbuhan seperti yang telah diseburtkan
dimuka, dan jangan lupa, daun dadap srep sr'rta kembang
lekrnnl'a. Seandainya mengalami kesulitan dalam mencari cepluk,
orang boleh rnenggantikannya dengan kain putih atau nrori .
Sctclah itu galilah bolarrg derrgan menggunakan pacul, linggis
nraupuu sc'kdp
Sudut mana drr-lu yang harus dibuat lubaug? Scrnuanya ini
terganlung dari Pak Kaum. Tetapi berdasarkan pengalaman,
masyarakat labih cenderung unluk rneletakkan cepluk dr bagian
barat daya, kemudian berputar menurut puratan jarum jam.
Untuk hal yang satu ini, tiap-tiap Kaum mcmpunyai cara
sendiri-sendiri, jadi tidak ada patokan y'ang resmi.
Setelah Pak Kaum dan kepala keluarga berada di sudut barat
daya, beliau mulai mengayunkan cangkul atau linggis dan mulai
rnembuat lubang yang berukuran sedalam antara t/t sampai )/+
meter. Setelah itu Pak Kaum mengucapkan doa sebagai berikut:
"Gusti Atlah ingkang murbeng jagad, mugi kinabulaken
anggen kula damel griya nicnika. Amin. Alahuakbar, allahuakbar,
Allahuakbar"
Arrinya:
"Tuhan seru sekaliau alam, kabulkanlah permohonan harnba
dalarn membuat rumah ni. Amin, Allahuakbar, Allahuakbar,
Allahuakbar".
Setelah doanl'a selesai, cepluk atau mori yang berisi
perlengkapan tulak bala dimasukkan ke dalam lubang dengan
hati-hati. [-alu air yang terdiri dari ramuan kembang telon
disiramkan ke atasnya dan lubangny'a ditutup (diurug) dengan
tanah sampai rata seolah-olah tidak ada bekasuya.
Setelah keempat lubang sudah diisi dengan tunrbal tersebut,
baik Pak Kaum maupun yang punya hajad menjaga keamanan
tumbal yang sudah dibuat dengan cara lek-lekan (tidak tidur)
sampai nrerrjelang subuh. Tapi apabila tunrbal itu sampai dicuri
atau dibongkar orang, maka upacara sema(am itu harus diulan-e
kembali.
38
5. Memasang Ompak atau Umpak
lmpak mempunyai bermacam-macam arti, ialah batu
penyangga tiang, corak kain batik, kata-kata pujian dalam surat,
hiasan karangan dan irama gending yang terakhir, Tapi yang
dimaksudkan di sini tentu saja batu penyangga tiang (saka).
, Pemasangan umpak ini dilakukan setelah proses meratakan
bebatur selesai (bebatur: bagian tepi rumah yang lebih tinggi
daripada tanahnya serta dibuat dari bata). Ukuran besar kecilnya
umpak diselesaikan dengan tiang yang akan dipasang di situ.
Di dalam rumah yang berbentuk joglo misalnya yang pada
saat-saat sekarang ini sering diboyong oleh orang ke Jakarta
ukuran umpaknya tentu saja besar karena untuk menopang
bangunan yang cukup berat. Namun perlu diperhatikan bahwa
umpak diletakkan tidak di tepi bebatur melainkan agak masuk ke
dalam.
Ompak yang dipasang pada seluruh bangunan rumah, entah
itu berbentuk joglo, limasan, dan lain-lainnya pada umumnya
dibuat dari batualamyang keras dan biasanya berwarna hitam.
Usahakanlah untuk mencari batu semacam ini, karena batu-batu-
an jenis lain yang warnanya putih atau merah sebaiknya jangan
digunakan.
Ukuran ompak atau umpak biasanya berbeda-beda, ada yang
besar dan ada yang kecil. Yang besar berukuran 75 X 100 cm, dan
yang kecil berukuran 15 X 20 cm. Di Jogyakarta, yaitu di desa
Karta, Kota Gedhe, pernah ditemukan umpak bekas kerajaan
Mataram yang sampai saat ini masih utuh dan bisa disaksikan.
jika pada suatu saat anda sempat menyaksikan umpak yang
berukuran demikian, dan mengamat-amatl dengan seksama,
tampak jelas bahwa umpak tersebut masih termasuk umum.
39
Artinya masih bisa dipesan oleh siapa saja yang menginginkannya.
Di 'samping umpak yang berukuran seperti itu, bentuk sebuah
*purus
Ompok don purus.
.Cara meletakkan ompak atau umpak di atas permukaan
fondasi (batur atau bebatur) sebagai berikut: umpama rumah
Panggangpe yang bettiang empat buah, ompakdiletakkan pada ke
empat sudut pada permukaan fondasi. Agar posisi ompak itu
tepat dan kuat harus diletakkan di atas fondasi kemudian
ditekan-tekan dan digeser-geser berkali-kali. Setelah selesai,
tiangnya boleh dipasang di atas ompak tersebut.
!!
Rumoh Ponggtng-pe dilihot dari samping dan dari depan.
40
Tetapi ada sistem menanam tiang tanpa ompak tetapi langsung
jsdaeimtmuahasc)u'akDmkaainnn ibbadegisgiaeitnbuubtsaaswjiaasthekmleubcdaeanbrgalnomykaajnelera(bcmihebbdaloahkh=u(dllauitnahtnaaariu)m.s,sdisiabtteearurii
batu.
Perbandingan ontara sklem tiang di olos ompak dengon sistem
ceblokan.
Tidak berbeda dengan orang yang memakai perhiasan, maka
umpak harus diberi hiasan juga yaitu yang berbentuk padmr
(teratai merah). Namun yang dibentuk untuk hiasan hanya bagian
tepinya saja lalu melengkung ke luar dan melengkung ke dalam.
Bentuk seperti ini mengingatkan orang pada singgasana Sang
Buddha Gautama. Untuk memberi warna, gunakan saja warna
hitam.
Bagaimana caranya memberi hiasan pada umpak? Hal ini
harus dikerjakan dengan pahar (rentu saja pahat khusus untuk
batu).
Umpak-umfak berhias semacam ini banyak dipakai oleh para
bangsawan maupun rakyat biasa. Maksud memberi hiasan pada
umpak tersebut ialah pertama-tama untuk menambah keindahan;
yang kedua, karena bunga padma (seroja) dianggap lambang
kesucian oleh penganut Qiwa maupun Buddha, maka pada
bangunan pendhapa rirulai dari Saka guru, saka penanggap dan
saka penitih di mana dipasang hiasan tersebut agar dirawat
baik-baik seperti orang merawai candi atau kuil. Suci yang
dimaksud di sini juga berarti kokoh, kuat dan tak tergoyahkan
oleh badai yang dahsyat.
4t
6. Memasang Lantai
Kalau kita memasuki rupah q14ng-orang Jawa di pedesaan,
pasti akan mendapatkan lantai yang dari tanah, dan disebut
jogan. Kadang-kadang ditambah dengan batu dan dipernis. Tetapi
di desa-desa tertentu seperti desa pantai selatan (Parangtritis),
lantai-lantai rumah penduduk banyak disebut dari batu pasir. Dan
kalau kita menuju ke daerah Gunung Kidul, jogan rumah-rumah
penduduk dibuat dari batu-batu kapur karena daerah tersebut
memang menandung kapur. Jadi hal itu disesuaikan dengan
daerahuya. Pada jaman sekarang banyak lantai rumah-rumah
penduduk di daerah pedesaan disebut dari plester, batu-batuan
yang disusun rapi, dan ubin.
Plester adalah campuran dari batu kapur, pasir, semen merah
dan 'semen dengan memakai perbandingan tertentu sehingga
menghasilkan apa yang diinginkan. Bentuknya biasanya polos,
tapi ada juga yang bergaris-garis, sesuai dengan selera pemiliknya
^g-zajogg. an atau jerambah dikerjakan dengan alat yang namanya
cethok (sekop), yang dibuat dari besi atau kayu. Sedangkan
susunannya terdiri dari dua bagian, yaitu bagian dasar yang lebar
sebagai pengatur dan bagian tangkai sebagai pegangan.
Setiap menyelesaikan suatu pekerjaan, dari bagian yang
mudah sampai bagian yang sukar, dipergunakan bandul dan
walcrpas. Bandul ialah alat yang terdiri dari tali yang digantungi
alat pemberat.dari timah atau kuningan. Bila alat tersebut sudah
tegak vertikal dengan tangkainya berarti lantainya sudah rata.
Begitu pula dengan waterpas, yang terdiri dari kayu diisi de4gan
air di dalam pipa gelas. Fungsinya tidak berbeda dengan bandul,
42
-
7. Memasang Tiang atau Saka
Setelah pemasangan ompak selesai, tibalah saatnya orang
memasang tiang atau saka. Setiap tiang y.ang dipasang harus sama
jaraknya dengan yang lain agar tiang tersebut tidak miring'dan
membahayakan bangunan. Untuk tujuan pemasangan tiang
utama, yang punya kerja harus memakai bahan yang benar-benar
bagus, tua, kuat dan tidak cacat. Cara memasangnya juga tidak
boleh terbalik seperti pada tiang utama, maka harus dibuat lebih
besar dari pada Saka penanggap dan saka peningrat. Selain itu
saka guru akan menyangga atap brunjung.
Sebelum saka guru didirikan, anda harus melerakkari daun
elo (sabangsa daun beringin yang besar), alang-alang, dadap mojo
dan daun duwet. Seandainya saka guru tersebut tidak diberi
purus, maka saka guru yang berada di timur laut diperkuat dengan
kayu jati, yang berada di bagian tenggara diperkirakan dengan
kayu dadap, bagian barat daya diperkuat dengan kayu awar-awar,
bagian barat laut diperkuat dengan kayu waru. Cara mendirikan
juga harus dimulai dari timur laut, tenggara dan seterusnya.
Sedangkan di tengah-tengah lantainya, tanamlah kayu dadap srep
dalam posisi berdiri (tegak) dan sebuah kendi yang masih baru dan
diisi air, serta rangkaian sesaji yang terdiri dari kelapa muda dua
buah, dua buah kendi yang berisi air, jeruk gulung dua buah serta
bekatul (tepung beras) sebungkus.
Setelah saka guru selesai didirikan, malamnya (kl. jam 13.00)
anda buang air besar pada ke empat sudut rumah, dan jangan lupa
ditambah endhog wokan (telur yang sudah dierami tapi daya, dan
akhirnya barat laut. Setiap telur akan ditanam, anda harus
mengucapkan mantera-mantera sebagai berikut: Alip, be, be,
bayan, bayan ora anapanggawe ala, padha wurung kabeh: be, be,
be, (alip, be, be, be bayam, bayan , tidak ada perbuatan yang
43
jahat, semuanya urung). Ucapkanlah tiga kali didalam hati sambil
menahan nafas. Kalau sudah, barulah telurnya ditanam pada
empat sudut rumah. Konon, karau rumah sudah di beri penangkal
seperti ini, akan terhindar dari bahaya pendurian dan lain-rainnya.
Namun rnenurut penulis, perbuatan atau tindakan seperti di
atas sudah jarang dikerjakan orang, bahkan tidak pernah
dilakukan terutama di kota-kota. Entahlah karau orang-orang di
desa-desa, di gunung-gunung masih menjalankannya.
Sesudah saka guru selesai dikerjakan, dan sepadan dengan
tiang-tiang lainnya hingga dapat untuk membentui ruang_ruang
yang dibutuhkan atau Rongrongan, maka orung-or"nl y.ng
bekerja tidak boleh bersenandung, ngobrol yung lid"k ["-"r,
msbeeesrusroaetknuod- kay'u4sngegluabrianeurhit.uuMbjuuengrgeaaknatiddhaeaknngdyaiapnebprkoeelkeneharnjamkaaennmsbmei-retcana-giatuikdnaaynakhsbesogilareirhha
dan niakan hidangan didalam ,rr,,"h
antara para pekerja yang tidak bisa tersebut. Seandainya ada di
menahan diri karena perut
sudah keroncongan, ia boleh saja makan tapi di luar tempat
tersebut. Kalau aturan seperti tersebut di atas diturut aengan
sungguh-sungguh, Insya llah nyamuk tidak akan masuk ke rumah
itu.
\r- Kembali kepada rongrongan. Istilah ini untuk menyebut
ruangan. yang dibentuk oleh empat buah tiang dan terletak di
-ab;pnueutrnaiarglrhaeatrpreedl-,npuQgmaera-rbrkeguateaarmhekteanpnynejaan.mdgieeBrsmeieltba.beuJnruluhimumrkloaandhhgunrraoyonanbgguamranoeh,nmgb,aoiplannugnmteryoeragnmiagpndrurtu,nu-aynbageibgdutiigaatuhari
seterusnya.
.Rongrongan tersebut merupakan dasar untuk menentukan
- pdrueibannadgthaaansp-iraudae(nbngegaraannnddpaie)dnabyleaemrkaartrt.ui mTpaeanhpdiyhakanapglaadutiabradunimgbuaenhrfyuiatnnuggsmibiseaemsbaaangkyaaaii
rongrongan tanpa penyekat.
u
BRUNJUNG {t-'ruruANKDER RANCKA
NGAMBANG
PENANGGAP
PENITIH
PENINGRAT
DOoOOOO PENINGRAT
\
oooo /
\/ PENITIH /
oooo
\ \./ PENANGGAP
oooooo
PAMIDANGAN
ooooo./o\/\ /\./----\
oo/\o,o/\oooo
OE,ooOooo
tL_
Tiang yang akan dibuat biasanya bentuknya bulat dan bujur
sangkar (segi empat) serta dibuat dari bambu atau kayu tahun.
Yang dimaksud kayu tahun ialah kayu yang tidak pernah dimakan
rayap seperti ini mempunyai warna-warna yang sangat indah,
misalnya coklat muda atau coklat tua (kayu jati), hitam (glugu)
dan kuning (kayu nangka).
45
Namun ada pula orang yang membuatnya clari bambu,
terutama bambu pelung yang dianggap cukup kuat. besar dan
tebal. Sebaliknya untuk tiang-tiang yang kecil cukuplah orang
memakai bambu ori, apus dan wulung.
Bambu untuk tiang tidak sembarangan cara memotong dan
cara menanamnya. Potongannya harus tepat pada ros (ruas). Hal
ini dilakuka\ a9al, tiang itu menjadi kuat dan tidak mudah
dimasuki binatang-binatang kecil seperti tikus maupun binatang
lainnya serta air hujan yang mudah meresap ke dalamnya. Begitu
juga dara menanamnya harus sesuai dengan letak bambu pada
waktu masih berupa pohon tidak berbeda dengan memasang tiang
dari kayu, yaitu bagian bawah tiang harus dijatuhkan pada
pangkal pohon bambu, sedang bagian atas tiang jatuh pada ujung
pohon bambu. Kalau cara memasangnya terbalik, kata orang bisa
menimbulkan akibat yang tidak baik krpada penghuninya seperri
penyakitan dan seterusnya.
Tiang dibuat dengan pethel atau wadung, yaitu kapak kecil
yang letak matanya melintang, kadang-Padang diasah dengan
pasah.
Tidak ada ukuran formal untuk tiang; tetapi yang lazim ialah
12)(12 cm, 1,4 X 14 cm untuk ukuran kecil, dan ukuran yang
besar 40 X 40 cm. Sedangkan tiang bambu harus menyesuaikan
dengan bahan bambu yang ada, termasuk juga tinggi tiang,
disesuaikan dengan tinggi rendahnya bangunan itu dengan
standard ukuran tinggi blandarnya rumah. Namun pada
prinsipnya tiang tidak boleh terdiri dari sambungan-sambungan,
hal ini untuk mencegah agar bangunan tidak roboh.
Susunan konstruksinya sebagai berikut :
untuk tiang kayu biasanya menggunakan sistem konstrusi
purus. Purus yang berfungsi sebagai kunci dimasukkan ke dalam
lubang purus ompak. Untuk sistem ceblokan langsung dimasuk-
I kan ke dalam lantai. Supaya bagian bawah tiang yang amblas ke
dalam tanah tidak mudah rusak karena rembesan air atau
kelembaban tanah, maka bagian ini diolesi dengan tir atau aspal,
dibungkus dengan tali ijuk atau plastik. Tepat di bagian bawah
tiang ditaruh ruas bambu.
46
Kelerangan gambor:
a. Bambu
b. Bungkus plustik atau tit
c. Ruos bambu
d. Botusebogoilondasi
e. Tonah
Pada umumnya pada bagian bawah tiang, yaitu purus tiang
yang masuk ke dalam lubang purus pada ompak, lebih dulu
dimasukkan logan mulia seperti yang terjadi pada Kraton Surakar
ta yan9 terbakar baru-baru ini, di sana ditemukan 40 kg emas).
Tetapi kalau tidak ada logam mulia, boleh saja anda
menggunakan perak. Pemberian emas tersebut pada purus tiang
maksudnya agar tidak mudah keropos, serta mengandung makna
agar bangunan itu sudah jadi akan memantulkan cahaya terang
tidak ubahnya dengan emas yang berkilauan. Sebab rumah yang
terang memancarkan kewibawaan atau kharisma tersendiri.
untuk bagian tengah rumah seperti kili, blandar dan
sebagainya dipergunakan sistem cathokan. Sistem ini ada dua
macam, yakni memakai' pengunci dan tanpa mengunci. Yang
memakai pengunci dinamakan emprit ganthil dan dibuat lekukan
yang menonjol ke atas sebagai penahan agar baloknya tidak
tergeser.
47
Gambar di bawah ini, menunjukkan cara perakitan atau
nstruksi saka guru pada rumah bentuk joglo.
A. Sistem Cothokon'
B. Sislen puns.
kererongon gambor:
l.' Pcngcrct = stobilisalor ujung-ujung liong.
2. Tutupkcpuh = blondor.
3. Slmbal = sba otou kelebihon bolok pcngcrel, blaadar otau ba-
lok loin yong saling bertemu dolam cathikon ftlandor don pc-
ngcrct horus dipasong melintong).
4. Sunduk = untuk menahan goyongon atou goncongon, sebogoi
stobil bo t or. Diposo ng me m buj ur.
5. Purus wcdokan (purus perempuon) = purus yang dimosuki pu
rus dari balok loin.
6. Purus palhol3 = purus dori titng yong berfungsi sebogai penja-
ga blondor pengerel don pentunci colhokon.
7. fu*a guru -- tiong pokok, tiong ulomo, berbentuk bujur sang-
kor.
E. Kili = berJungsi sebogai stabilisotor don pengunci adiwon'un-
duk don liang. Terletok secoro melintong podo bogian yong nrc-
manjang don membujurnya suatu rumoh.
9. Purus lanang ftou purus loki-laki). Berguno sebogoi pengunci,
purus ini pangkolnyo tidok berbedo dengon
purus wedokon
dan fugion ujungnyo muloi dori penimpongon dengon purus
. wedokon, nomun diperkecil agor mudeth masuk ke dolom purus
wedokon.
10, htrus jabung = bagion lengoh purus wcdokan lempol purus
pngunci dan purus hnang,
48
Tiang yang sudah jadi, biasanya dihias dengan berbagai
macam ukir-ukiran. Tapi yang akan diterangkan di sini hanya
beberapa saja, Seperti Saton, Wajikan, Mirong, dan Praba.
Srton berasal dari kata setu, yaitu kue yang dibuat dengan
cetakan. Dinamakan saton, karena hiasan ini mirip kue satu,
berbentuk bujur sangkar dengan hiasan daun-daunan atau
bunga-br:ngaan.
Ragam hiasnya berbentuk pahatan dengan garis berkotak-
kotak. Setiap kotak berisikan hiasan daun atau bunga, yang.dobel
maupun yang tung,gal. Garis-garis kotaknya selalu sudut-menyu-
dut, hingga bentuk bujur sangkarnya selalu miring.
Hiasan Saton ini yang diukirkan ada rumah tradisional ini tidak
saja polos warnanya, tetapi juga disesuaikan dengan kayunya.
diyang berwarna paling-paling hanya terdapat dalam
keraton, baik di Jogyakarta maupun di Surakarta, sehubungan
dengan latar belakang (back ground) yang berwarna hijau tua
maupun merah tua, dengan sendirinya hiasan saton juga berwarna
seperti itu. Kadang-kasdang ditambah dengan warna kuning emas.
Untuk membuat hiasan saton, harus dipahatkan pada
kerangka bangunan dengan memakai pahat ukir kayu, sehingga
terbentuk relief. Cara memahatnya sebaiknya pada waktu kayu
kerangka bangunan belum dipasang, dan untuk mendapatkan
hasil yang sebaik-baiknya, ukirlah panjang maupun lebarnya
dengan cermat.
Selain diukirkan pada tiang bangunan rumah bagian atas dan
bawah, juga kila dapatkan pada balok-bdok blandlr, sunduk,
pengertt tumpang, snder' sebagai pengisi bidang pada tcbcng
49