e. Rumah Bentuk Panggang-Pe
Panggang berarti dipanggang (dipanaskan di atas api). Pe
dari kata epe yang artinya dijemur di bawah terik matahari.
Rumah yang namanya seperti ini biasanya termasuk bentuk rumah
yang sederhana, lebih sederhana bila dibandingkan dengan rumah
kampung. Rumah Panggang-pe, di pedesaan Jawa bukan untuk
tempat tinggal. Dahulu dipakai untuk menjemur barang-barang
seperti daun teh, pati, ketela pohon dan lain-lainnya. Ada sebuah
atap dan empat buah tiang atau lebih dan barang yang dijemur di
atasnya lekas kering karena terhindar dari pengaruh penguapan
air tanah.
Sebuah bagunan cukup kokoh, yang termasuk paling tua,
dengan diketemukannya relief pada dinding-dinding candi
maupun tempat pemujaan yang lain. Semua bentuk rumah
Panggang-pe mudah dibuat. Biasanya ringan dan kalau rusak
tidak memerlukan resiko yang besar. Itulah sebabnya rumah
semacam ini tetap dipertahankan,
Sungguh mudah memberi tambahan di sana-sini. Sehingga
muncullah bermacam-macam rumah Panggang-pe.
Tetapi rumah tersebut hanya dipakai untuk warung, gubug
ditengah sawah untuk mengusir burung dan rumah kecil di tengah
pasar untuk berjualan (bango). Bangunan seperti ini dalam bentuk
yang besar biasanya berupa gudang di pelabuhan maupun di
setasiun-setasiun.
t52
I
I
I
I
J
62. Runwh Ponggoag-foPo*ok
Rumoh Panggong-pe Pokok )aitu rumoh ponggong-pe yong belum
mengalomi variasi. Panggong-pe berorli dijemur otou diponosi
dengon sinar malohori- Podo dosornya rumoh pnggons-pe ialoh
rumoh yang berarti satu dan di songgo oleh empot buah litng pado
keempot sudutnya
t II
! ta
63. FatSSaqS'P. TNumas
Rumoh Panggang:pe ttqiumos talah rtttr,k Wn*.r'Erpr J'la'tt?
memakoi tigo gwh Wngerct dan enom buth tiong'
Band in gko n denga n (Gb. 3 9)
153
I
I
I
I
I
irt a),.
t:p,
61. kt tuh Paqtotg-N Gcdarg Scllmat
Oedang &lirong berorti pbang sesisir. Rumah Ponggong-pe
Gedong *limng ioloh rumoh panggong-pe pokok yang ditomboh
otop emper di bogian belokang. Pada dosomyo otop tambohon
ter*but Eloh merupokan panggong-pe. (Gb. 64), Bondingkon
dengon(Gb. 17don37).
65. Rumoh Panggang'N btpvo* S.fint*cp
Edomspoyronkyaetadnugakebpuobheropratingogtaopngsetyoonnggkupd.ipJecinleisminuik(aOnb.p6a5d) oposdbai
deponnya dan saling memakoi tiang dep,n esamanya.
154
-'l
I
II
I
I
i
tI
I
I
I
tI
I
I
I
I
66. Rumah Panggang-pc Empyak Setontkep
Lihot Gb. 66. Bentuk ini ataPnya yong besor diperdniong
kedepon sompoi menonjol dan menulupi fugion alos alop di
depannyo. Biosonyo panggang-pe semacam itu unluk gudong.
155
Illi
Fi(_--____ii__-r_l,
67. Runah Panggang-pc kntuk Kios
Atap depan podo bentuk ponggang-pe ini semato-mato sebagot
pelindung dari sinor matohail dan tampias oir hujan.(Gb.67).
T
I
I
t
I
I
I
I
I
J
6E. Rumoh Panggang-pc kodhokon
Kodhok berorti lcout rumoh Panggong-pe Kodhokon poda
dosarnya samo dengal pngtang bentuk ki_oc, tetapi olop depon
diprbaor don disongga olch liang, sedonglcoa pdo funtuk kioa
diunggo oleh bahu'funyong. funtuk iai odo yong meitcbua
JaE$i. Gb. 68. hndinskan densan Gb. 65.
r56
69. Rumah Panggangpc Cere Crancct
Ponggong-pe Cere Ganel ialoh ponggang-pe bergondengan podo
bentuk panggong-pe podo sbi belakang jlka
panggong-pe empyok pcngtandcngon
pada sbi depon dbebut
sctongk p olou
penggondengon setangkep. Gb. 69. Badlngkon dengon Ob.23 dan
46.
r51
L- _t I - --. I
70. Ruttalr Pcirggug-p. C.n Cf,rat.
Gb. 70. Lihat baftdinskon detgan Gb- 69.
158
_.-r-l_ t3
I ,D
-l
7I. Runuh Pwtggd6+. WA @*q
Gb. 7l . Lihat don bondiaglon dngan Gb. 54,65 &n 6,
r59
r
'f I
I I
rl rl
II
.l I
I nl
I
I I
cf rl I
I
II I
II 'lI
tl .l
72. Rumah panggont-pe Barcngon
hapoonnggbaenbge-prsepBaorreunmgoanh
k,mgdeu.amdnabnelgilaakbnaegnragssi .*yafaOmnUagnilyzoaijn..
160
r
Bab II[
UPACAYA.UPACARA YANG
TERAKHIR
Setelah segala kerangka bangunan disiapkan, biasanya orang
mengadakan upacara yang disebut "ngedegake omah" (mendiri-
kan rumah). Upacara semacam ini termasuk Iengkap dan besar,
jadi biayanya juga banyak.
Waktu melaksanakan upacara ngedegake omah biasanya
berlangsung di atas jam 12.00 siang atau pagi hari sebelum jam
10.0O. di atas jam 12.00 merupakan masa-masasetelahadzan lohor,
kala orang-orang telah menyelesaikan sembahyang Lohor.
Sementara itu kalau diadakan tepat pukul l2.oo dianggap "ora
ilok" (tidak pantas) karena akan mendapat gangguan. Tempat
mengadakan upacara ini adalah di tempat bangunan itu akan
didirikan, yaitu di tengah-tengah bebatur (pondasi). Kecuali
selamatannya, yang tetap diadakan di dalam rumah.
Upacara dimulai ddngan pembacaan doa oleh Pak Kaum. Di
situ beliau merupakan pimpinan tunggal. Kemudian dikelilingi
oleh pemilik bangunan serta para tetangga atau kerabat dekat
maupun jauh. Mereka yang datang ini tidak diudang dengan surat
panggilan, tetapi dari mulut ke mulut alias gethok tular. Sistem
semacam ini jugadisebut sambatan atau sambat-sinambat.
Sebelum upacara dimulai, alat-alatnya disiapkan dahulu,
seperti:
- padi bunting (pari meteng) satu ikat.
- degan atau kelapa muda 8 butir.
- pisang ayu satu tandan berupa pisang raja.
- perlengkapan makan sirih (nginang); gambir, pinang, tembakau
sekapur sirih.
- cermin kecil.
Semua yang disiapkan di atas untuk memberi-makan kepadl
roh-roh jahat agar tidak mengganggu orang bekerja.
t6t
- kain bqngo tulak (kain yang ujungnya diwenter,deilganwapna
biru atauhitam). Dipakai untuk menolak bahaya.
/- tukon pasar atau jajan pasar macam-macam makanan yang di-
beli di pasar, dan dua buah tampah (nyiru). Makzudnya
memberi makan sang penunggu (dhanyeng) tanah agar tidak
menganggu.
- beras dan telor di dalam empluk (periuk kecil dari tanah liat)
yang diletakkan di pojok rumah. Agar si pemilik ruinahsenantia-
sa kecukupan sandhang pangan.
- uripurip (ayam jantan), lambang keberanian dalam hidup..
- berbagai macam jenang; jenang abang satu tampah, jeneng bero
baro satu tampah. Maksudnya untuk memberi sesaji kepada ci.
ka[.efta] desa yang sudah meninggalkan mereka agar merelakan
tanahnya untuk pembangunan rumah.
- sega golong (nasi yang bulat-bulat) sebanyak sembilan tangkap
- (Iodoh) melambangkan gumolongi ati atau kesepakatan hati
sekiluarga dalam membangun rumah.
- nasi gurih (nasi dicampur santan), melambangkan persembahan
untuk junjungan kita Kanjeng Nabi Muhammad S.A.W. dan pa
ra sahabatnya Abubakar, Usman, dan Ali.
- kembang setaman (campuran bunga beraneka macam), maksud-
nya agar para undangan yang datang merasa tenang dan kera-
san.
- tumpeng (nasi yang dibentuk seperti piramida), melambangkan
keangungan Tuhan kepada hamba-nya.
Setelah para hadirin berkumpul, Pak Kaum mengucapkan
sambutan ala kadarnya yang berhubungan dengan pertemuan
tersebut. Di samping itu mendoakan agar semua yang terlibat
dalam proses pembangunan rumah selamat tidak kurang suatu
apa.pun.
Begitu sambutan selesai terus disusul dengan uiub (tujuan
selamatan) yang ditujukan kapada Tuhan, Nabi Adam dan Siti
Hawa, Nabi Muhammbad S.A.W. dan sahabat yang empat, wali
leluhur yang ciisemayamkan di Tegalarum (Sunan Mangkurat),
Kotagedhe (Penembahan Senopati) dan di Imogiri (Sultan
Agung).
r62
Bunyi ujub tersebut seperti di bawah ini:
"Bagindha Haleluyar, Bagindha Kilir Ngali, Ingkang
rumeksa lautan,, daratan, mbokbilih wonten kalepalau
anggenipun nyawuk toya sacawuk, angggnipun nyoklck
kayu sacoklek, anggenipun anyerateni wilujengan, nyuwun
berkah, salumahing bumi, salumahing langit, kutu-kutu
walang atogo, nganut serengating Kanjeng Nabi dipun
suwun barokah pangestunipun wilujeng rpunika. Amin.
Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar-
ArtinYa:
- "Baginda Haleluyar, Nabi Khidir serta Baginda Ali, yan3
menjaga daratan dan lautan- Bila ada kesalahan dalam
mengambil air setetes, memotong kayu satu ranting, dan
dalam memimpin selamatan. Hamba mohon berkah dan
doa rtxtu. Selain itu, agar apa saja yang berada di atas
bumi serta dikolong langit, seperti binatang-binatang hutan
menganut syariat Kanjeng (yang Mulia) Nabi. Sekali lagi
hamba mohon doa restu dalam selamatan ini. Amin.
Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar.
Pekerjaan selanjutnya ialah memasang bagian kerangka
bangunan. Hal ini dilakukan dengan hati-hati agar suasana yang
bersifat sakral dan religius tetap terjaga.
Pada waktu para pekerja mendirikan tiang, kain bangun
tulak yang telah disiapkan dipasang pada ujungnya. Setelah itu
memasang blandar dan pengeret. hal itu sudah berarti memasang
janggrungan tanpa ander-ander. Kalau mau memasang ander,
sejumlah pekerja, yaitu sebanyak empat orang, naik di atas
pengeret. setelah ander dipasang di situ, barulah Molo atau
survungan dipasang di atasnya.
Pekerja yang menunggu di bawah segera menyerahkan
sesajian yaitu padi bunting (pari meteng), kelapa gading muda,
pisang raja, pohon tebu yang disebut tuwuhan (tumbuh-tumbuh-
an) untukdiletakkan di atas pengeret. Jangan lupa pula untuk
meletakkan perlengkapan makan sirih dan cermin kecil. Dan
orang lainnya juga sibuk menanam beras, air dan telur yang srrdah
dimasukkan ke dalam empluk ke tengah lantai atau jogan. lJntuk
163
./
rumah joglo ditambah dengan darah kambing jantan yang
sebelumnya sudah disembelih di atas uleng (tumpukan kayu di
atas saka guru rumah joglo).
malamnya diadakan tirakatan dengan jalan lek-lekan (tidak
tidur semalam suntuk) setelah sebelumnya menikmati hidangan
kenduri.
Di samping upacara seperti di atas, setelah 35 hari (selapan)
diadakan upacara tambahan yang disebut selapan. Upacara ini
tidak berbeda dengan yang dilakukan para ibu yang sedang
mengadung yakni bulan ke 3,7 dan ke 9. Yang jelas kalau sudah di
atas 35 hari rumah iersebut sudah dianggap kokoh.
Tepat pada hari yang ditentukan, yaitu sesudah Isya,
orang-orang sudah hadir semuanya. Banyak pula yang telah
mengadakan persiapan agar malamnya kuat berjaga (tidak tidur)
sampai pagi. Tidak lama kemudian hidangan kenduri sudah
disiapkan dalam suasana yang cukup khidmat.
Soal hidangan yang disediakan, hal itu tergantung dari
kemampuan si pemilik rumah. Kalau ia cukup mampu, maka
hidangan selapanan berupa tumpeng lengkap yang diletakkan di
antara besek yang berjajar. Tumpang itu berisi nasi putih dengan
sayur-mayur yang lengkap. Ditambah lagi dengan kue-kue seperti
jenang sengkala atau jenang makutha, jenang putih, jenang ireng
(hitam), jenang dhadhu, dan jenang merah. Semuanya ini untuk
menghormati saudara yang berada di dalam badan wadag kita,
yaitu sedulur papat lima pancer (termasuk tembuni yang dianggap
bernyawa). Kalau yang bersedia di atas tikar hanya besek dan lauk
gudhangan (sayuran yang diramu dengan parutan kelapa), pisang
raja dan tempe, berarti yang punya hajad termasuk orang yang
tidak mampu.
Setelah semua hadirin (yang memakai sarung dan kopiah).
memasuki rumah, mereka segera bersila di atas tikar. Setelah Pak
Kaum mengucapkan doa ala kadarnya, tumpeng boleh dipotong-
potong untuk dinikmati secara bersama-sama. Kadangkadang ada
yang langsung pulang membawa besek.
t@ il'.
I
I
Buku lcin ycng perlu crndcr
dcrpotkon segercl
Darmanlo Yatman, dkk Gary Provos
SEBUTLAH IA BUNGA lOO CARA
Kumpulan Sajak oleh Penyair-penyair Untuk Peningkatan Penullsan Anda
Kampus UNDIP Hadi Santoso
GAMEI-AN
RM.lsmunandar
JOGLO Tuntunan Memukul Gemelan
Arsitektur Rumah Tradisional Jawa RM lsmunandar
WAYANG
Suyadi Respationo
UPACARA MANTU JANGKEP Asal-Usul dan jenisnya
GAGRAG SURAKARTA Amir Maftosedono, SH
SEJARAH WAYANG
Drs. F.Soetarno Silsilah, jenis, Sifat dan Cirinya
ANEKA CANDI KUNO
Drs. Soedjarwo
DI INDONESIA DI SEKITAR BAHASA INDONESIA
Sambudhi Kumpulan Karangan
JAZ,
Drs. Sodjaruo
Sejarah dan tokoh tokohnYa
DI SEKITAR SASTRA INDONESIA
Made Sudi Yatmana, Kumpulan Karangan
disumbagani Ki NarTosabdho
Amir Martosedono, SH
SIMPANG LIMA MENGENAL SENJATA TRADISIONAL
Sarojaning Jiwa Loka KumPulan
Mas Ngabehi Wirosoekad ga
Gegurhan Basa Jawa MISTERI KERIS
Asal Usul Keris
J
. .lri
P.Igmunandar K.
Arsitektur Rumah Tradisional lawa
SeSak jaman dulu, nenek moyang kita bangsa Indonesia telah
terkenal dengan nilai kebudayaannya yang tinggi. Diantara
peninggalan k ebudayaan mereka adalah bentuk-bentuk rumah
tradisional yang terdapat di daerah-daerah Indonesia.
JOGLO merupakan bentuk rumah tradisional Jawa. t-
Segi-segi artistik dan bersifat relegius, mencerminkan
perpaduan s,..ri arsitektur dan nilai keagamaan. Sampai sekarang
telah banyak mengalami perubahan dan perkembangan,,
namun masih tetap digemari.
diu ngkapkan antara lein :
o Bentuk-bentuk rumah jawa r.
. Peralatan yang digunakan ::; ,
o Upacara sebelunr mendirikan rumah ';
o Cara memasang tiang utama (saka)
o Memasang dinding, atap dan pintu
Bentuk runnah limasan, masjid, kampung dan
o Bentuk panggang-PE