pintu dan lain-lainnya. Daram komposisi hiasan, ragam hias saton
ini merupakan rangkaian atau dasar dengan ragam hias tumpal,
llacapan, sorot dan seterusnya.
Semua hiasan saton, baik yang terdapat pada tiang maupun
balok-balok yang lainnya, seperti telah diterangkan di atas tiaat
bisa terpisahkan dengan mhieamsabnertilkaacnaph,atsuiml hpiaalsadnany"snegba-gtauirn"ynag.
.:
Kalau dipisahkan akan.
baik.
Hiasan saton ini dibuat oleh ahli_ahli ukir yang berpenga_
laman serta tekun dalam bekerja. Untuk mengukir tl*g+i*g
rumah bangsawan atau di dalam kraton, ada tukang_tukang uki;
tersendiri dengan gelar abdidalem wedana.
Kata wajikrn berasal dari kata wajik, ialah nama sejenis
makanan yang dibuat dari beras ketan, dan memakai gula kjapa
sehingga warnanya menjadi merah tua. Dinamakan wajihan,
yasadenabagjbubgbeaenntyutauknkngnyyamajuengseyaepbeburettilnaiyrhiaskahenitauwspaaanjrik.se(bneglkauhlukneatunp, aytasitaumma ostisifij,batatipki
l_alu Hiasan ini ada yang memakai garis tepi dan ada yang tidak,
bagian tengahnya merupakan ukiran Oaun_aaunai yang
tersusun memusat. Atau gambar bunga dilihat dari depan. -ara
meletakkan dapat berdiri dan dapat pula terlentang.
Cara membuatnya lepas dari balok kayu yang diberi hiasan
sehingga menghasilkan suatu retief. Alatnya ialah pahat ukir
kayu.
50 PLiSTAKDA JATENG
Rhgam hias ini ditempatkan di tengah-tengah tiang,
atau pada titik-titik persilangan balok-balok kayu yang sudut-
rnenyudut pada pagar kayu bangunan; contohnya bisa dilihat
pada Bangsal Manis Kraton Yogyakarta.
..Istilah "mirong" berasal dari bahasa Jawa kuna yang artinya
kain yang dipakai (dodot) ditutupkan pada mukanya (untuk
menunjukkan perasaan sedih atau malu); berlebih-lebihan, bern'at
berontak terhadap penguasa, menjauhkan diri tidak mau
berkumpul dengan temannya; gambar hiasan dan nama gendhing.
Kata mengenal: Morong kampuh jingga, yang artinya mau
berontak terhadap penguasa. Namun arti kata yang terakhir yaitu
gambar hiasan seperti pada motif batik, ialah hiasan yang mirip
dengan motif gurdha dilihat dari samping (sayap). Sedangkan
khusus untuk hiasan rumah tradisional adalah suatu bentuk
pahatan yang menggambarkan "putri mungkur" atau gambaran
seorang sedang menghadap ke belakang. Jadi, sebutan lainnya
:putri mirong.
Bentuk hiasan mirong yang berada di seluruh bangunan
Kraton Jogyakarta kemungkinan besar berkiblat pada hiasan
mirong yang terdapat pada bangunan Bangsal Tamanan Kraton
Jogyakarta, yang merupakan peninggalan Kyai Ageng Paker dan
tanahnya hadiah dari raja Majapahit. Jadi bangunan Bangsal
5l
Tanaman ini merupakan bangunan rumah di Jogyakarta yang
paling tua dan bisa dijadikan sumber penggalian ragam hias
bangunan yang lainnya. Bentuk ragam hias mirong ini dibagi dua
bagian, yaitu punggung atau gigir, dan bagian samping.
Seandainya tiang atau saka yang diberi hiasan mirong
memiliki ukiran yang berbeda, baik lebarnya maupun tingginya,
dengan sendirinya ragam hias mirongnya berbeda. Selain itu ada
pendapat yang menyatakan bahwa ragam hias mirong merupakan
bentuk dari rangkaian huruf Arab alif, lam, dan mim yang distilir,
atau rangkaian huruf Arab yang berbunyi Mohammad Rasul
Allah.
Ragam hias mirong warnanya berbeda-beda. Untuk mirong
yang berada dalam lingkungan kratbnJogyakarta, warna dasar
tiangnya biasanya merah tua kecoklatan dan bagian tepinya
berwarna kuning emas (prasa emas). Warna lemahan (warna latar
belakang untuk menonjolkan ragam hiasnya) yang bentuknya segi
tiga dekat ragam hias sorotan, selalu berwarna merah cerah.
Warna dasar tiang yang menghiasi Bangsal Tamanan Jogyakarta
dan biasa dilihat oleh para wisatawan berwarna kebiru-biruan.
Sedang pada bangunan yang lain, tetapi masih dalam kompleks
kraton, ada yang warna dasarnya hijau tua.
Cara membuat mirong biasanya dikerjakan dulu sebelum
tiangnya dipasang dengan cara membuat relief (pahatan). Pada
tiang Bangsal Tanaman Kraton Jogyakarta, cara memahatnya
begitu'dalam sehingga ragam hias mirong maupun sorotannya
napak menjulang tinggi.
?., 52
Selain ditempatkan pada tiang-tiang bangunan seperti saka
guru, saka penanggap serta saka penitih, juga dipasang pada saka
santen, baik yang berbentuk persegi maupun yang berbentuk
bulat. Pada setiap saka atau tiang pasti kita dapati sepasang ragam
hias mirong. Bila sudah dipahatkan pada tiang, maka letak ragam
hias mirong selalu menghadap ke tengah, sisi depan dan sisi
belakang. Sedangkan gambar punggung (gigir atau geger) terdapat
di sisi luar.
Mengapa pada tiang dipasang hiasan seperti ini ? Karena
menurut legenda, konon merupakan perwujudan Kanjeng Ratu
Kidul (Retnaning Dyah Angin-Angin) yang datang di kraton
khusus untuk menyaksikan pertujukan tari Bedoyo Samang.
Dalam hal ini, beliau tidak menampakkan diri, tetapi bersembunyi
di belakang tiang. Itulah yang digambarkan oleh para ahli pahat
sehingga berbentuk ragam hias mirong atau putri mirong.
Sehingga sampai sekarang kalau ada orang menyebut ragam hias
mirong, pasti ada-ada saja yang menghubungkan dengan Sang
Dewi Laut Selatan tersebut.
Tiang yang diberi hiasan mirong, ada hubungannya dengan
Nyi Roro Kidul atau tidak, yang jelas kalau sudah diberi hiasan
itu terutama pdhatan maupun garis-gariusnya yang mengisi tiang
yang kosong itu, maka tiangnya kelihatan "langsing"
Berhubung ragam hias mirong hanya dipakai untuk
bangunan-bangunan di dalam Kraton Jogyakarta terutama
bangunan-bangunan utama, mekerti Gedhong Kuniqg tempat
tinggal Sri Sultan, Bangsal Kencana, Bangsal Pancaniti, Bangsal
Witana dan lain-lain. Maka pembuatan ragam hias mirong
biasanya ditangani oleh tenaga-tenaga yang mahir. Jadi tidak
sembarangan. Di samping ahli dalam membuat ukir-ukiran yang
bagus, para abdidalem tersebut sebelum mengerjakan ragam hias
mirong biasanya selalu menyucikan diri dengan tidak makan
danminum serta menahan hawa nafsu (nglakoni). Tindakan
seperti ini dijalankan semata-mata untuk memperkuat konsentrasi
agar apayang digarapnya kelihatan baik dan hidup.
Kata praba berasal dari bahasa Sansekerta atau Kawi, yang
berarti sinar, cahaya bayangan kepala atau di belakang punggung
dan hiasan wayang yang berada di punggungnya (mirip gambar
sayap). Kalau di candi-candi artinya menjadi nimbus atau aureool
(cahaya kesucian di kepala para dewa). Seperti telah disebutkan di
atas, bahwa hiasan yang berbeda di punggung seorang raja
53
bernama praba atau bodhong, tapi untuk seni ukir motif praba
berarti motif sulur yang sama dengan gaya ukir Bali. Khusus
untuk hiasan tradisional Jawa yang dimaksud praba adalah
pahatan ukiran yang menggambarkan sinar atau cahaya.
Hiasan praba yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari
merupakan ukiran relief yang bentuknya melengkung, tinggi dan
tengahnya lancip. Sedang gambaran yang digambarkan seperti
daun-daun pohon yang bulat seperti ekor burung merak yang
sedang "ngigel" (membentangkan ekornya dan berarti tegak,
khusus untuk burung merak) selalu kelihatan bersinar. Hiasan
praba yang dipahatkan pada Bangsal Tamanan Kraton Jogyakarta
(dan sudah tua) mirip dengan hiasan tumpal (corak batik yang
bergaris-garis tiga) yang sederhana.
Hiasan tersebut pada umumnya berwarna seperti kuning
emas dan dibuat dari bahan prada (bubukan) emas. Tetapi
untuk bangunan-bangunan tua (dalam hal ini Bangsal Tanaman
Kraton Jogyakarta) mempunyai hiasan prada yang berwarna
hijau, biru merah dan disungging (diberi gambar dengan
mengecat).
Hiasan ini dibuat dengan jalan dipahatkan pada tiang-tiang
bangunan. Berbentuk relief, menjulang tinggi dan kadang-kadang
berupa lukisan timbul. Tak ubahnya dengan ragam hiasan yang
lain, hiasan yang satu inipun dipahatkan sebelum tiangnya
dipasang. Cara membuat pahatannya harus dilakukan dengan
hari-hati, diukir panjang lebernya agar berbentuk simetris. Kalau
semuanya kelihatan sama, akan menarik dipandang mata.
Ragam hias praba, selain dipahatkan pasa saka guru, juga
pada saka penanggap serta saka panitih. Letaknya pada dua
tempat, yakni yang begian bawah menghadap ke atas danbagian
atas menghadap ke bawah pada keempat sisi masing-amsing tiang.
Ragam hias seperti ini dipahatkan pada tiang-tiang yang
menopang bangunan Bangsal Kencana, Bangsal Witana, Bangsal
Tamanan yang semuanya berada di dalam Kr-ton Jogyakarta
Hadiningrat.
Seperti telah diterangkan di halaman depan, bahwa perkataan
praba berarti sinar atau cahaya. Sebab itu, maksud dari
pemberian ragam hias ini juga untuk membuat tiang-tiang
menjadi bersinar-sinar (bercahaya). Belum lagi jika dipahatkan
ekor burung merak yang kebulat-bulatan, pasti semakin
54
tnenambah kesan mewah. Di samping itu, juga untuk menambah
keindahan dan keagungan tiang-tiang besar dan berwarna gelap
itu.
Untuk membuat ragam hias seperti ini, diperlukan tenaga
yangbenar-benar"pinilih"(terpilih).Betapatidak?Karenaorang
i.rr"U,rt harus benar-benar tekun, sabar dan yang tidakkalah
penting: Tekun Tentu saja dengan
semakin erjadi Pula regenerasi di
k-anak muda yang berhasil
kalangan
mewarisi kepandaian langka tersebut.
55
8. Memasang Ander I
)
atau Saka Gini dan Molo
I
l
Ander ialah balok bagian atas yang berfungsi sebagai
penopang molo. Bentuknya tegak lurus. Pangkal ander terletak di
atas pengeret dan ujungnya menyangga molo serta memakai
sistem purus. Selain itu untuk memperkuat ander, orang
menggunakan semacam stabilisator (alat penunjang) yang
dinirhakan ganja. Ander ini tidak ada dalam rumah joglo yang
ada hanya pada rumah kampung atau limasan.
ntmoh Kompung dilihot dori otos
R. kampung dilihot dari umping
56
untuk konstruksi atau rakitan rumah bentuk kampung dan
limasan, ander memang boleh dibanggakan, karena merupakan
penopang molo dan dihubungkan dengan sistem purus.
Cara-cara merakit ander adalah seperti di bawah ini:
riil
I gania
t!t!_(yLs!t tllti
Coro merokit ander
t7
Anderpenopang molo
Molo atau suwunan, balok yang terletak paling atas serta
paling menentukan. Letak molo tyersebut di tengah-tengah
blandar. Bentuknya memanjang sesuai dengan membujurnya
rumah. Bagian ini oleh kebanyakan orang dianggap keramat
kerena terletak pada bagian yang paling atas yang deryian
sendirinya berfungsi sebagai penopang rumah. Oleh karena molo
disebut juga sirah (tidak berbeda dengan sebutan kepala manusia)
atau suwunan, sewaktu masih berada di tengah orang tidak boleh
sembarangan melangkahinya. Dan cara memasangnya juga yang
paling akhir. Jadi, kalau kita melihat rumah sudah dipasang molo,
maka dapat dipastikan bahwa rumah tersebut hampir selesai
didirikan. Kita tinggal menyaksikan pemasangan dinding, payon
atau atapnya saja. Beberapa saat setelah kedua bagian yang
terakhir selesai dibuat juga, berarti rumah telah siap untuk
didiami. Anda tinggal menyiapkan perabotan saja.
58
r
Ander seperti disebutkan di atas, merupakan balok yang
menopang molo dan pengeret. Agar pengeretnya sendiri tidak
goyah, maka tukang-tukang yang mengerjakan biasanya memakai
sistem purus ke dalam ganja atau gaganja.
Pengeret, balok yang berfungsi sebagai pienghubung dan
stabilisator (penopang) ujung-ujung tiang dan menjadi pusat
bertumpu dan penghubung blandar. Balok ini berfungsi agar
rumah tidak renggang. Santen merupakan penyangga pengeret
dan terletak antara pengeret dan kili.
Kili, balok penghubung dua buah tiang dan berfungsi sebagai
cathokan. Kili tersebut juga merupakan stabilisator cathokan.
Ragam hias apakah yang dipakai untuk balok-balok bagian
atas? Hal itu tergantung dari mewah atau murahnya bangunan
yang sedang didirikan. Semakin mewah bangunan tersebut
hiasannya juga semakin rumit namun lengkap.
Fungsi hiasan pada suatu bangunan ialah untuk memperindah
atau mempercantik bangunan. Sebab keindahan yang memukau
seseorang biasanya juga menyejukkan hatinya, disamping rasa
ketenteraman yang sulit digambarkan. Keindahan mana yang
abadi itu? Ialah keindahan sorga yang sering kita dengar dari
dongeng-dongeng. Setelah seorang ahli ukir misalnya dapat
menggambarkan secara imajinasi tentang bagaimana itu hiasan
sorga, maka ia menuangkan dalam ukirannya sesuatu hal yang
berbau fantasi pula. Kalaupun ia menggambatkan benda yang
pernah dilihatnya di dunia fana ini pasti diberi tambahan yang
disebut distilir. Orang-orang di Jawa yang terbiasa melihat
puluhan candi-candi, baik candi Hindu maupun Buddha
mempunyai keyakinan sendiri bahwa pahatan yang melekat pada
dinding-dinding candi merupakan gambaran hiasan sorga. Sebab
hiasan-hiasan itu berkumpul di sekitar patung para dwata.
Selain hiasan yan! bercorak stilisasi, ada juga seniman-seni-
man tertentu yang membuatragam hias dengan corak naturalistis.
Walaupun ragam hias yang ada mengandung ciri-ciri
naturalis dan stilisasi, pada prinsipnya terbagi dalam lima
kelompok, yaitu flora, fauna, alam, agama atau kepercayaan dan
lain-lain terserah si pembuat.
Kelompok flora sudah dijelaskan bahwa hal itu termasuk
ragam hias terdapat pada candi-candi, di samping kelc pok
fauna. Oleh karena setelah Indonesia mendapat p ,ruh
kebudayaan Islam yang pada prinsipnya menggar arkan
59
makhluk hidup secara naturalistis atau alamiah itu dilarang, maka
hiasan flora dan fauna itu .hanya terdapat pada rumah-rumah
biasa (tidak di masjid).
Sedangkan jauh sebelum Hindu maupun Islam datang, atau
yang lebih dikenal dengan istilah jaman Prasejarah, gambai-gam-
bar yang menunjukkan flora dan fauna telah dipahatkan atau
diukirkan pada benda-benda yang terbuat dari perunggu,
misalnya mekara, candrasa, nobat, kapak corong, dan lain-lain-
nya.
Bogbagoi macam kapak corong.
:bbuah candrasa yont kto-kito sotu metet po4ion?nya
60
Flora yang tersebar pada bangunan rumah tradisional Jawa
pada Umumnya bermakna suci, indah, ukirannya halus dan
simetris dan mengandung daya estetika tersendiri (daya yang
menuju kepada keindahan). Adapun flora yang sering dipakai
adalah bagian batang, daun, bunga, buah dan pucuk pohon-po-
honan.o
a. Lunglungan.
Istilah lung-lungan berasal dari kata dasar lung yang artinya
batang tumbuh-tumbuhan yang masih ,muda-, yang masih
melengkung. Selain itu, juga mengandung arti sebagai nama daun
atau ujung ketela rambat, Sedangkan yang disebut dengan Lung
kangkung'ialah salah satu motif kain balik.
Khusus untuk lung-lungan terdiri dari bentuk tangkai, daun,
bunga dan buah yang distilir. Tapi stlirannya berbeda-beda sesuai
dengan daerah asalnya, seperti stiliran model Mataram, Jogyakar-
ta, SUrakarta, Pekalongan, Jepara, Madura dan lain-lainnya.
Bahkan gaya Bali juga sudah mulai tersebar.
Contoh ragam hias lung.-lungan gaya Jogyakarta adalah
s€perti di bawah ini:
Lung-lu.ngofi,
.
Setelah ukir-ukiran seperti di atas disebut, kemudian terserah
kepada yang punya hajad, mau diberi warna atau tidak. Tapi yang
bahannya dari kayu jati pada umumnya polos karena harus diberi
hiasan dengan menggunakan relief. Sebaliknya untuk rumah
bangsawan memberi warnanya dengan jalan sunggingan (berupa
cat) atau dengan cara yang berbeda.
6t
a. Untuk warna dasar biasanya merah tua atau merah coklat dan i
disebut "cet tuk", sedang lung-lungannya berwarna kuning I
emas dari bahan "prada".
b. S'ebagai dasar warna hijau tua, dan lung-lungannya beiwarna
kuning emas dari bahan "prada".
c. Tangkai dan daun tetap berwarna hijau dengan jalan menyung-
ging (pewarnaan dari warna tua sampai warna muda hingga
menjadi putih). Bunga dan buah warnanya merah, juga dengan
cara sunggingan dari warna tua ke warna muda hingga menjadi
putih. Kadang-kadang juga dipergunakan warna ungu, biru
dan kuning.
Dalam hal memahat, halus dan kasarnya sudah tentu di
tangan si pemahat. Di samping itu juga ditentukan oleh materi
yang dimiliki oleh yang punya rumah. Untuk rumah petani yang
sederhana misalnya, pahatannya juga sederhana dan tidak begitu
halus (kurang rata). Sebaliknya untuk rumah bangsawan yang
kaya atau rumah para pengrajin hasil pahatannya sangat halus
dan enak dipandang mata. AIat yang dipakai untuk memahat
berbeda dengan pahat untuk ukir kulit, perak, dan sebagainya.
Ragam hias lung-lungan cukup banyak mengisi bangunan
rumah, seperti:
a. Setiap balok kerangka rumah (blandar, tumpang, pengeret,
dhadhapeksi, sunduk, dudur, ander, tiang, rusuk, takir, kerbil,
molo, brunjung, usuk peniyung, usuk ri gereh, reng, gimbal, sa
ka ruwa, cukit, mangkokan, dan lainJainnya.
b. Pemidhangan.
c. Tebeng(kayupenutup) pintu, tebeng jendela, daun pintu, dan
sebagainya.
d. Patang aring, dan lJinJainnya (patang aring = kayu penyekat
kamar tengah).
Bagian pemidhangan rumah joglo yang ada di dalam kraton
sering penuh dengan hiasan lung-lungan, namun ada juga rumah
joglo milik rakyat jelata yang tanpa hiasan sama sekali.
Hiasan ini biasanya untuk memberikan kesan keindahan dan
sakral. Terkadang malah nampak angker atau wingit.
62
Jenis pohon-pohon yang sering distilir untuk hiasan
lung-lungan adalah: teratai (padma), daun kluwih, bunga melati,
pohon bunga dan daun markisah, buah keben, tanam-tanaman
atau pohon-pohonan yang bersifat melata seperti ketela rambat
dan beringin, dan masih banyak lagi.
Orang-orang yang biasa melakukan pekerjaan ini (membuat
lung-lungan) disebut pengrajin ukir kayu, Khusus untuk daerah
Jogyakarta mempunyai nama depan yang memakai kata: wognyo,
seperti Raden Wadono Wignyowidagdo. Pekerjaan semacam ini
sekarang banyak ditopang oleh lembaga-lembaga yang dianggap
dewa penyelamat seperti Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia
(STSRI) "ASRI". Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) dan
Sekolah Menengah Industri dan Kerajinan (SMIK) Lembagalem-
baga itu mempunyai pelajaran seni kriya (seni pekerjaan) yang di
dalamnya terdapat seni mengukir kayu. Begitu juga dengan Balai
Penelitian Batik dan Kerajinan yang mengadakan semacam
sanggar untuk latihan mengukir kayu.
b. Tlacapan
Kata tlacapan berasal dari kata tlacap yang mendapat
akhiran, yang artinya memakai tlacap. Adapun yang dimaksud
dengan ragam hias tlacap ialah hiasan yang berupa deretan segi
tiga sama kaki, sama tinggi dan sama besar. Selain itu bisa polos,
bisa pula diisi dengan hiasan lung-lungan, daun, atau bunga-bu-
ngaan yang telah distilir. Dengan garis tepi atau tidak memakai
garis tepi.
63
Dalam memberi warna, tergantung pada hiasan yang telah
dipahatkan sebelumnya. Untuk kayu yang polos hiasannya polos
juga. Sedang untuk bangunan yang berhias dan berwarna, ragrun
hiasnya berwarna kuning emas atau warna sunggingan, yaitu hijau
dan merah. Bila memakai garis tepinya, diusahakan wafnanya
sama (warna emas). Sedang warna dasarnya bisa hijau tua atau
merah menurut warna dasar kayu atau balok yang diberi hiasan.
Cara membuat hiasan tlacapan ini ada yang melakukan
dengan cara melukis dan memahat. Kalau dipahat, baik pada
tembok maupun kayu, akan menjadi bentuk relief. Dan
pewarnaannya bisa kuning emas yang polos atau sunggingan dari
warna tua ke warna yang muda hingga menjadi putih.
Setelah dilukis atau dipahat, hiasan tlacapan ini bisa
ditempatkan pada pangkal dan ujung balok kerangka bangunan
seperti dhadhapeksi, blandar, sunduk, pengeret, ander, santen,
saka santen, dan seterusnya. Kalau perlu pada bagian gimbal.
Hiasan tlacapan ini menggambarkan sinar matahari, atau
sinar yang berkilauan. Jadi tidak mengherankan bahwa ada orang
yang menyebut tlacapan ini sebagai sorotan. namun yang pokok
hiasan semacam ini mengandung arti kecerahan atau keagungan.
Molo atau suwunan mdrupakan bagian rumah yang
disamakan dengan kepala manusia. Jadi dianggap sangat vital.
Agar sesudah dipasang pada bangunan rumah nanti mempunyai
kekuatan magis, maka diadakan .upacara lengkap dengan
sajiannya.
Mula-mula kayu yang akan dijadikan molo diletakkan di
suatu tempat yang bersih. Sesudah itu, beberapa orang tukang
ukir yang berpengalaman mulai menatahnya dengan tekun.
Cara menatahnya diusahakan agar tidak dilakukan berulang
kali, tetapi kalau dapat satu kali jadi tanpa membuat kesalahan.
Orang-orang mengharapkan, kalau menatahnya terlepas dari
kesalahan, hal itu akan mempengaruhi kekuatan bangunan
rumah.
Selama molo dalam proses penatahan, harus diusahakan agar
tidak dilompati orang. Sebab menurut kepercayaan, molo yang
sudah pernah di lompati orang, setelah menopang bangunan
rumah akan menyebabkan rumah menjadi sangar dan banyak
menimbulkan malapetaka. Baik kepada orang yang mendiami
maupun kepada tetangga di kiri-kanannya.
&
Waktu yang dipakai untuk menatah molo juga tidak
sembarangan, tetapi diusahakan untuk memakai hari-hari yang
baik menurut penanggalan Jawa, misalnya hari lahir pemiliknya.
Yang dianggap tidak baik ialah hari-hari di mana salah seorang
famili meninggal dunia (gebleg). Misalnya hari kelahiran si
pemilik rumah bertepatan dengan geblag, hal itu bisa diganti
dengan hari lahir istri atau anak sulungnya.
Hari-hari yang dianggap tidak baik atau naas dinamakan
Kalamenga.
Orang-orang yang menatah molo, biasanya tidak enak kalau
ditonton orang, jadi banyak yang mengisolasi diri. Mereka pada
umumnya sudah berusia lanjut dan sudah menikah (walaupun
sudah tua, tapi kalau belum menikah tidak diperbolehkan
menatah molo). Selama pengerjakan molo, diusahakan berpakai-
an bagus dan kalau perlu memakai wangi-wangian serta harus
mbisu (tidak boleh berbicara).
Sebelum upacara dimulai, orang menunjuk Pak Kaum untuk
memimpin upacara menatah molo. Bila Pak Kaum atau sesepuh
lain berhalangan, pak tua yang menatah molo boleh saja
memimpin upacara tersebut.
Setelah alat-alat seperti tatah berbagai ukuran, pukul besi
disiapkan, Termasuk, sesaji yang berupa makanan dan uripurip
(hidup-hidup : maksudnya ayam jantan yang hidup dengan kaki
terikat) serta kemenyan.
Semuanya itu melanbangkan kesuburan, kebahagiaan dan
kekuatan. Sedangkan kemenyan yang dibakar merupakan
persembahan kepada Tuhan agar selama menatah molo tidak
mendapat gangguan suatu apapun. Di samping itu juga untuk
keselamatan para pekerja.
+ Sesudah kemenyan habis terbakar dan maunya semerbak
memenuhi halaman sekitarnya, para pekerja mulai menatah molo
dengan hati-hati dan tidak boleh ditunda-tunda sampai esok
harinya, jadi harus lembur. Sebab kalau sampai proses ini tidak
selesai pada waktunya, dan mengacaukan seluruh acara yang telah
diperhitungkan dengan primbon. Maka, hal itu dianggap suatu
perbuatan yang tercela.
Tetapi jangan lupa, sebelum tangan menyentuh molo untuk
ditatah, masing-masing pekerja harus mengucapkan bismilah
hirrohmanirrohim. di dalam hati, kemudian barulah Pak Kaum
segera membuka do'a:
65
'".rr'ugi.-mu;gi. anggenipun ngupakara damel menika lan
dumugi nginggahaken, boten wonten'rubeda menapa-menapa.
Allahuakbar, Allahuakbar, Amin' r.
Artinya:
"Mudah-mudahan dalam menggarap pekerjaan menatah
molo ini termasuk menaikkan ke atas, tidak mendapat suatu
halanganapapun. Allah Maha Besar, eAllah Maha Besar. Amin.
Setelah selesai, tinggailah proses pemasangannya.
rl I
;r
{
li 1
I l
int rl l
llr
6
9. Memasang Dinding
Dalam hal ini sering tergantung kepada pilihan orangnya.
Apakah ia mau memilih yang murah atau yang mahal. Sebaliknya
untuk rumah-rumah yang berdinding murahan masih banyak
didapatkan di daerah pedalaman Wonosari, gunung Kidul. Di
daerah yang pernah tandus ini masih banyak rumah yang
berdinding daun kelapa(bleketepe), alang-alang, dan daun nipah.
Tak ubahnya dengan jaman Mataram Hindu. Selain itu banyak
juga rumah yang berdinding bambu (gedheg), kombinasi mambu
dan papan (disebut dinding kotangan), papan (gebyog), serta
dinding batu bata (tembok).
Cara memasang dinding bambu, biasanya orang mengguna-
kan tehnik Iepas atau knock down. Dengan tehnik seperti ini, si
pembuat lumah memakai sistem amplokan dari kayu. Yang
dinamakan sistem amplokan ialah sistem gapitan, yaitu gapitan
untuk menghubungkan dinding yang satu (di sebelah timur
misalnya) dengan dinding yang lain (di sebelah barat) agar mudah
dilepas bila yang punya rumah mempunyai hajad (mantu,
kenduri, supitan dll). Gapitan tersebut fungsinya sebagai
pemersatu, penguat dan sekaligus mempermudah bentuk dinding.
Selain itu juga membuat dinding kelihatan rapih.
Sistem amplokan poda dinding Keterongon:
(penampang dari utas).
l. Ruos
2. dinding
3 .4mplokan
67
Di samping untuk menyambung dinding, sistem amplokan
juga dipakai untuk menyambung dinding dengan tiang yang
jumlahnya beberapa buah.
Keterangan:
l. Tiang
2. Dinding
3. Amplokon
Sistem amplokan pada liang
1 (penampong dari atas)
Cara memasangnya, amplokan dipaku kuat-kuat tiang
supaya kuat. Untuk dindingnya biarkan saja tidak usah dipaku.
Sebab sewaktu-waktu mau delepas supaya ruangannya menjadi
Iebar, yang dilepas hanya amplokannya saja.
Di samping sistem amplokan yang kelihatan rumit itu, ada
suatu cara yang sederhana dan banyak dipraktekkan orang di
desa-desa. Cara seperti itu disebut sistem sindik. Terutama dipakai
oleh orang-orang yang ekonominya lemah. Mula-mula dinding
bambu dihubungkan dengan sindik-sindik dari bambu atau kayu.
Seandainya dinding tersebut akan dilepas, tinggal mencabut
sindiknya saja.
Ukuran luas dindingnya biasanya disesuaikan juga dengan
ukuran tinggi rendahnya bangunan itu. Menurut istilah lokalnya
sesuai dengan luas rongrongan. Demikian pula panjangnya sesuai
dengan jarak antara tiang dengan blandar. Untuk ukuran lebarnya
atau tinggi sesuai dengan letak blandar sampai ke permukaan
lantai.
untuk memilih dinding yang mutunya pilihan, ada dua cara
yang dipakai, yaitu dinding bambu dari bambu aten-aten yaitu
bagian dalam (daging) bambu dan dinding bambu kulitan. Namun
yang disebut terakhir ini jarang dipergunakan orang oleh karena
harganya mahal. Kelaupun terpaksa memakai, mungkin hanya
untuk dinding luar saja. Jadi masyarakat umum rata-rata
memakai dinding bambu aten-aten, yang dikapur atau dicat
supaya kelihatan bagus.
58
10. Memasang Pintu dan Jendela
Pintu dan jendela yang terletak di tengah dan di depan rumah
fungsinya untuk ventilasi atau pengatur udara serta untuk
keamanan. Tidak berbeda dengan ubun-ubun manusia yang harus
diperhatikan dengan baik.
Bagi orang yang akan membuat pintu, faktor tingginya harus
diperhatikan supaya kelihatan tegak lurus dan kelihatan kokoh.
Begitu pula ukurannya disesuaikan dengan tinggi tiang mulai dari
atas lantai sampai ke blandar.
pada jaman dahulu, banyak pintu yang memakai engsel
bagian atas dan bawah. Hal itu bisa dilihat pada pintu gerbang
Kraton Jogyakarta yang mempunyai engsel pada bagian
bawahnya dan Dalem Notoprajan yang mempunyai engsel atas.
Tetapi pada umumnya banyak pintu yang mempunyai engsel pada
bagian tepinya serta memiliki tlundhak atau tumpuan yang berada
di depan pintu dan melekat di lantai. Benda tersebut fungsinya
untuk memperkuat pintu agar tidak mudah didobrak dari luar.
Jumlah daun pintu taia.rata dua buah. Orang menyebutnya-
kupu tarung (kupu yang sedang berkelahi). Apakah model-model
pintu hanya satu macam saja? Tidak, sekarang ada pintu dengan
model tunggal, yang daun pintunya hanya satu. Dan di namakan
pintu ineb-siji (menutup satu). Pintu semacam ini menurut
pendapat sebagaian orang justru lebih kokoh, aman, praktis dan
tentu saja ekonomis.
Pintu-pintu yang diceritakan di atas dibuat dari kayu. Tapi
ada juga desa-desa yang membuatnya dari bambu. Pintu yang
seperti inilah modelnya slorogan.
(r9
Cara membuat pintu juga menurut hari-hari tert€ntu yang
dianggap baik, seperti hari Jumat untuk, memasang pintu depan,
hari Sabtu untuk memasang pintu samping, dan hari Rabu untuk
memasang "lawan gandhok" (pintu beranda) serta yang terakhir,
hari Kamis untuk pintu gerbang regol).
Yang dinamakan pintu samping ialah pintu yang terletak
antara gandhok (beranda) dengan rumah besar; pintu geibang
disebut juga pintu pagar atau teteg, dan pintu rumah ut:rma yaitu
pintu yang terdapat pada pendhapa sampai pringgitan (tempat
yang sering dipakai untuk memainkan wayang) dan dalem (rumah
besar).
mula-mula ada pantangan bagi orang-orang Jawa untuk
meletakkan pintu pekarangan lurus dengan pintu rumah, tetapi
pada jaman sekarang pantangan seperti itu tidak begitu
diperdulikan oran& Pintu dengan posisi danikian biasanya
disebut pintu yang mempunyai bentuk sujen tems (t eiluk suien).
Konon, kata orang-orang, rumah yang memi,liki pintu yang
demikian itu sering dirnasuki maling, atau penghuninya sering
dimasuki angin alias masuk angrn. Sehingga untuk mencegahnya,
banyak rumah tradisional yang pintu halamannya terletak
disamping pintu utama rumah.
Lalu, banyak juga orang yang memakai patokan "kuna"
yaitu panjangnya diukur demudian dibagi lima. Menurut primbon
.tersebut, bila pintunya menghadap ke barat, dihitungnya dari
selatan. Sebaliknya bila pintunya menghadap ke utara penghitung-
annya harus dari barat. Sedangkan bila pintunya menghadap ke
timur, perhitungannya dimulai dari utara.
Dengan hati-hati, orang Jawa membuat perhitungan hukum
kausal atau sebab akibat, termasuk penyesuaian dengan mata
angin, lalu terjadilah apa yang disebut klasifikasi "empat lima".
Selanjutnya klasifikasi tersebu tidak hanya berlaku pada
hitungan pendirian bangunan saja. Dari situlah berkembang
menjadi perhitungan pada pewayangan, kebatinan, pemerintahan,
warna, hukun adat-istiadat, sastra seni dan seterusnya.
Kemudian kami persilahkan para pembaca menyaksikan
bagan di bawah ini.
70
r
*tIlIEEsg
lu s {,sIE Esl!siS .oU
lao!
q,
tr oso
{ !I qta B
{' * Ias €aU ao !' :t
E6
!tEor lr E .\a
E
E aJ ftr
E oo
.&60
.VU
i' -i r+ -i
rycqtuDrml ,ntuog .g Iring Lor l. Mik,slamet
qnAatilnu?utults 't I konX linon-
mokolehi
! Im
o1o'otltuosway .g '!/ o j. Kerusengkala,ala
ryapiDut 'tpopuotury a0 p
5 4- *ingmaupkewuh
'.c
PwDls'qltatg'l 'uop; tu1.t1 5. kngor, kumng becik
!" .\ s :-
x E
kI R
Ga! G
aOO s'
+
G i'
] :+
\s G Is f,
:l os+a G
*0a E s-
tF G a
G + E.
Keterangon:
l. Recik, slanct = t,(lik ddn selomal,
2. kborotg kong tinandon dari,makolehi = Poda prinsipnya,
3'. aKpeonosasjaanygoknagla,dikaelarja:kaknrinokgonmbeenrdhoaspitl. keelakaan.
4. Srlng ncmu pakcwuh = sering mengalami atou mendopot
ilnlangan.
5. Saagar, kuraag beci* = Angker, dan kurang baik.
7t
l*{ *I {
la o tr t9 u ss
tr I
!sl3.aoc; qia= s s s
P s $ a
sii \a v .j
Y kE o\
-i ^i N vB
-; o l-; .'i
q;
l,Jaq tung 'l Iring Lor 9. Bumi becik
l0aq 'oprx 'z
7. Kolo elo
DID'DIDX 'E 6. Kreto becik
5. Bumi, becik
qD 'llDx 't x0c {m 4. Koli, ala
3. Kala, ola
lt)aq 'rwng .g o o 2. Kreta, becik
J 5A'
NDaq'Dprx '9 l. Bumi becik
DtD'DIDX 'l
Dto'llDx '8 Iring K idul
l,Jaq twng '6
\o 9" >l 9 5 t"
:sX x x tr x h x tr
=a
:-. A
*s s B $6
F +
Sistem pe rh il ungan empat -sem bilan.
Keterangan:
L Bumi, baik.
2. Kereta, boik.
3. Kala, buruk.
4. Kali, buruk.
5. Bumi, boik
6. Kereta, baik.
7. Kala, buruk.
8. Kali, buruk.
9. Bumi, baik.
Pintu halaman itulah (di samping jendela) dianggap masih
ada hubungan dengan keseluruhan arti dengan rumah dan pintu
rumah. Dalam pembuatannya, jendela berbeda dengan pintu. Di
samping itu jendela terletak berimbang di sebelah kiri dan kanan
pintu. Seperti halnya pintu yang terdiri dari bentuk kupu-tarung
(daun pintunya dua) dan ineb-siji (menutup satu), jendelapun
demikian. Lihatlah pembagian dan namanya di halaman samping.
1)
I
E
A. Dhudhan B. Monyelan.
Di sekeliling pintu atau jendela (termasuk bagian kayunya)
sering diberi ragam hias garuda, panah dan hiasan kaligrafi.
Ragam hias seperti ini sudah dikenal sejak jaman Prasejarah.
Walaupun sudah berlangsung lama sekali terhitung sejak jaman
perunggu, toh hiasan garuda tetap hidup dan mendarah daging
pada bangsa kita. Bahkan dijadikan lambang negara.
Sempati dan Jatayu, dua ekor burung yang perkasa dalam
cerita Ramayana, yang ditulis ribuan tahun yang lalu, di situ
diceritakan tentang kecepatan terbangnya yang mentakjubkan.
Konon, hampir mendekati matahari. "Bersedia mengorbankan
apa saja dalam membela kebenaran, tapi ganas dan tiada belas
kasihan terhadap tokoh-tokoh angkara murka, seperti Prabu
Dasamuka". Demikian kira-kira tulisan Pujangga Walmini.
Benar tidaknya cerita Ramayana, yang jelas dalam cerita
Garudeya, seekor burung Garuda anak Wanita berhasil memper-
oleh air kehidupan (Tirta amrta) sehingga para dewa bisa hidup
abadi.
Berbeda dengan ragam hias garuda pada masa lalu, pada
jaman sekarang ragurm hias tersebut (gurda) sudah menyebar pada
ukir-ukiran kayu, perak, batik, sampai kepada ragam hias
bangunan rumah yang akan diceritakan sedikit di sini. Tapi ada
yang hanya mengambil bagian sayapnya saja, yang disebut elar.
Wujud ragam hias peksi garudha ini terdiri dari gambar,
pahatan relief, atau pahatan plastik. Dari yang sederhana sampai
yang rumit. Ragam hias tersebut ada yang bercorak naturalistis
(alamiah), simbolis dan ada pula yang distilisasikan (gestyleerd).
73
Ragam hias garuda yang terbuat dari bahan tembikar dahulu
sangat sederhana. Akan tetapi lama kelamaan para pengrajin
tembikar juga menyempurnakan diri sehingga berhasil membuat
burung garuda dari bahan tembikar yang cukup rumit.
Setelah menerangkan tentang ragam hias panah yang terdapat
pada pintu dan sebagainya, marilah kita membahas ragam hias
panah.
Yang dimaksud panah di sini ialah anak panah. Bukan nama
burung yang terbang di angkasa. Dan panah ini dalam bahasa
Kawinya ialah warayang. Para pengukir biasanya menggambar-
kannya lebih dari satu buah (bahkan sampai delapan) dan arah
atau konsentrasinya menuju ke suatu titik.
Mereka itu menggambarkannya juga secara stilisasi, dan
biasanya berupa segi empat panjang. Kebanyakan menggambar-
kan delapan penjuru angin menuju ke titik-titik silang garis sudut-
menyudutnya. Banyak ujudnya yang menunjukkan- relief
tembus.
Kebanyakan rumah-rumah yang kerangka sampai dinding-
dindingnya (gebyog) tidak dicat, demikian menurut penelitian,
maka hiasan anak panahnya juga tidak dicat alias polos sesuai
dengan kayunya. Dan bila diberi cat, jadilah hiasan anak panah
yang sewarna dengan cat gebyognya. Motifnya bisa bermacam-ma
cam. Banyak yang menggunakan warna hijau dengan garis tepi
kuni.ng gading, maka hiasan anak panahnya juga demikian.
Sejumlah warna yang lain juga tidak berbeda pelaksanaannya.
Warna cat yang bolak-balok, atau yang hanya satu sisi saja tidak
mengurangi keindahan ragam hias anak panah.
76
I
Dalam pembuatannya tidak selalu cara relief tembus,
walaupun ujudnya relief tembus, Jika seorang pengrajin menemui
hal yang demikian , dia harus membuatnya dengan cara pasangan.
Banyak orang yang mengira itu relief tembus, padahal hanya
pasangan. Mereka tahu itu sebetulnya kurang "sreg", tapi pada
kenyataannya sistem pasangan malah lebih banyak pada saat
sekarang ini.
Sikapnya yang mencerminkan senjata perang ini, banyak
"diperagakan" untuk "menjaga" bagian-bagian:-
a. tebeng pintu, ialah bidang segi empat yang terletak di atas pin-
tu. Entah pintu depan, pintu patang aring, pintu kamar, pintu
gandhok, pintu kamar mandi dan seterusnya. ?okoknya sem-
barang pintu.
b. tebeng jendela, ialah bidang segi empat yang terletak di atas jen
dela, boleh jendela mana saja.
ampir semua ragam hias seperti ini, secara teknis berfungsi
sebagai ventilasi atau jalan udara agar terjadi peredaran udara
yang segar dalam kamar itu. Selain itu, untuk menambah
penerangan pada kamar tersebut, atau "nampang" di tempat
yang kosong.
Lalu gambar senjata yang berasal dari delapan penjuru angin
yang selalu dijaga oleh Dewa Lokapala ini berkonsentrasi pada
suatu titik, yang menyebar pada setiap jalan pintu masuk rumah.
Hiasan itu pasti memasang perangkap untuk menolak segala
macam kejahatan dalam rumah tersebut. Hal ini memang sesuai
benar dengan keinginan setiap penghuni rumah maupun untuk
merasakan ketenteraman, keamanan, dan juga kedamaian lahir
batin.
77
Pada pembuat hiasan ini biasanya juga mengerjakan
pembuatan gebyog batang aring, pintu dan jendela-jendela, serta
bisa dilihat dari cara-cara mengukirnya syarat-syarat tadi, berarti
si pembuat adalah tukang kayu yang benar-benar mahir. Lalu
bagaimana dengan hiasan anak panah yang terdapat pada
masyarakat umum? Rata-rata sederhana ujudnya.
Setelah kita menikmati ragam hias anak panah, marilah kita
melihat ragam hias yang ketiga, yaitu Kaligrafi.
Sementara ragam hias yang sudah diterangkan di halaman
depan banyak yang berbau "Hindu", ada juga para seniman yang
menggunakan pola-pola huruf Arab sebagai dasar hiasan. Ini
semuanya mengandung maksud tertentu, yang bukan kaligrafi
sebenarnya dan nama sebenarnya belum ada yang mengetahui.
Menurut jenis diketahui, ada empat macam kaligrafi ini,
antara lain:
a. Huruf Arab yang dipahatkan atau digambarkan secara wajar.
b. Huruf Arab yang distilisasikan hingga berujud hiasan.
c. Huruf Arab yang dirangkum hingga berupa hiasan.
d. Kata Jawa yang mirip dengan kata Arab yang berbentuk sesuai
dengan yang dikehendaki.
Kebanyakan perwujudannya ada yang digambarkan, dipahat-
kan beperti relief, dan perwujudan tiga dimensi.
Perwujudannya sebagai berikut :
a. Tulisan: Subhanahu, yang tertulis dari kiri ke kanan berbentuk
simetris. Terdapat pada kerangka bangunan dhadhapeksi, pada
sebelah ujung-ujungnya.
b. Urutan huruf Arab: mim, ha, mim, dan dhal (Mohammad)
yang distilisasikan sedemikian rupa sehingga berbentuk hiasan
bermotif padma, pada umpak, sebagai sitilisasi Songkok pada
umpak sebagai motif sorotan pada balok kerangka bangunan,
semuanya untuk mengagungkan asma Nabi Mohammad
s. A. w.
c. Rangkaian huruf Arab: mim, ha, mim; dhal serta huruf: ra,
sin, wau, lam, alif, lam, lam dan ta simpul. Dimaksudkan un-
tuk menyebutkan: Mohammad Rasul allah. Tulisan ini distilisa
si sedemikian rupa sehingga berbentuk hiasan dengan motif
putri morong pada tiang.
78
J Kata waluh atau waloh tidak jauh berbeda dengan bunyi kata
{.1.
Allah. Walaupun begitu, diwujudkan berupa hiasan buah wa-
luh (labu) sebagai lambang kata Allah. Hiasan yang demikian
itu ditempatkan sebagai ujung pilar pada bangunan pagar tem-
bok di lingkungan halaman masjid (lihat gambar di- bawah,
t"+.5
Ragam hias semacam kaligrafi di-atas biasanya menghiasi
pu*ri mirong, songkok pada umpak, sorotan pada balok-balok
kerangka bangunan. Hiasan tersebut berwarna ernas yang terbuat
dari cat kuning atau bahan p*rada. Sedang pada perwujudan
lainnya tidak memiliki warna. Apalagi yang berbentuk profil
suatu umpak, jelas tidak mungkin diberi warna. Kecuali warna
dasar sebelah kanan dan kirinya yaitu merah kecoklatan, atau
hijau tua.
79
cl,lt
---rr f\vZ/ ) f \ (f\ \
\Y/
!
<- -----,.,
/\
L,t_r1 __
__ _l
hiSetelah ragam ya ditempatkan pada
kerangka bangunan
tiang, pagar, temb ahng aring, tebeng,
Dan terdapat ai
mana-mana, baik di desa maupun di kota.
80
11. Memasang Atap
Atab rumah yang \memakai sistem empyak dapat dirakit
sebelum rumah didirikhn. Secara adat bahan pokok empyak
terutama terbuat dari bambu. Lalu siapkan tali ijuk atau tali
bambu untuk menghubungkan atau meletakkan bagian-bagian-
nya. Jadi penggunaan bambu sangat terbatas.
Bagian-bagian empyak adalah :
l. Gendhong: ialah penopang rcng tempat genting.
2. Gapet kepala atau gapit: ialah bagian yang melekat pada molo
dan merangkai usus. Gapet tengah, untuk merangkai usuk agar
supaya rata. Grpet bawah, untuk merangkai usuk pada blen-
dor. Selain merangkai juga meratakan usuk.
3. Usuk: ialah pysn atau plafon, dipasang dengan tepat dan rapat.
4. Reng: tempat untuk meletakkan genting.
Teknik dan cara pembuatan rumah Joglo tidak berbeda
dengan rumah kampung atau limssgn. Bahkan menggunakan
teknik sambungan punis dan sistem sathoksn.
Mungkin ada bagian terpenting yang dinamakan bruqfung.
Bagian ini terletak paling atas dari ke empat saka guru (tiang
utama atau tiang pokok)sampai ke molo atau suwunrn. Rumah
yang lain (jenis lain ) tidak mempunyai bnrnJury.
Brunfung berbentuk piramida terbalik, makin ke atas makin
lebar.
8t
'r
Brunjung dilihot dari bowoh.
Kelerongon:
I . kndi pcnonggop [pcnit* don pcnongka{J
Sendi tersqbut dihubungkon dengon sbtem cathokon.
2. *adi-sendi wda tampor,t, Digandeng otou dihubungkon
de ngo n s istem callohan,
3. krdi No rutup kepuh daa klil. jugo dilwbungkoa dengon
si{tem edhokan.
Irbon brunj ung membujur
82
a
Kelerongan:
) . Illeng. Merupakan bolok-balok yang, susunonnya secora pirami
da mokin ke atas makin menyempil (berbeda dengan brunjung
yang ber benluk piramido ).
2. Dhadhapeksi otou dhadharnonuk: balok yang melintong yong
terletok di tengah-tengoh pemidhangan.
3. Ander: yaitu penopang Molo (sudah diterongkon di halamon
(depan) Bila sudoh ada empyok, ander tidok usah dipakai lagi.
Atap rumah Joglo yang mempergunakan sistem empyak,
molo tidak disangga oleh ander, tetapi empyak diikat langsung
dengan puncak empyak brunjung dan disangga oleh kecer dan
dudur. Kecer ialah balok penyangga yang berfungsi sebagai
stabilisator molo dan penopang atap. Sedang yang dimak-sud
dengan dudur, ialah balok yang menghubungkan sudut pertemuan
penanggap atau penitih dan penangkur dengan molo.
Rongkaian dudur, iga-iga pada penonggap penilih, penongkur.
Keterongon gombar:
l. Penonggop otau Penitih.
2. Penangkur.
3. Emprit Gantil.
4. Dudur.
5 dan 6. Iga-igo.
83
Mungkin karena dipasang perlu untuk memberi ragam hias,
pada atap atau bubungan sering juga diberi ragam hias peksi
gurdha, bahkan Ular Naga.
Berbeda dengan garuda yang begitu populer, maka hiasan
naga masih jauh di bawahnya. Karena munculnya juga bersamaan
dengan seni budaya India.
Dalam cerita Amrtamanthana (salah satu bagian/parwa dari
Mahabarata), tersebutlah seekor ular jelmaan Hyang Basuki yang
melingkari gunung Mandara sehingga keluarlah air kehidupan
(Tirtaamrta) yang akan diminum oleh para dewa supaya hidup
abadi.
I'etapi pada umumnya ragam hias ular selalu diimbangi
dengan ragam hias peksi g3ruda, sebab yang pertama mengandung
unsur kejahatan, jadi harus diimbangi oleh pahlawan kebenaran
yang dilambangkan oleh burung garuda.
Tentu saja bentuk-bentuk ular berbeda satu sama lain
tergantung dari pengamatan para seniman.' Namun pada
umumnya digambarkan secara lengkap dengan memakai mahko-
ta. Tentang mahkota yang dipakai adabermacam-macam bentuk
seperti mahkota pendeta, raja, senopati (panglima perang), dan
seterusnya. Hanya moncongnya saja yang tidak berbeda.
Perwujudan naga ini juga dapat digambarkan, bisa berbentuk
relief, dan bisa juga secara plastis. Mengenai bahannya, anda bisa
menggunakan bahan logam, kayu dan bahan tembok.
84
Pewarnaan ular naga biasanya dengan cara naturalistis,
sunggingan atau polos saja. Bila dengan sunggingan, maka
kelihataniseperti ular naga dalam wayang kulit. Btila memakai
warna polos, warnanya kuning emas, boleh prada, boleh juga
brons. Sedang untukbahan seng, warnanyapolos saja seperti seng
itu sendiri (keabu-abuan).
Tapi dalam hd pembqatannya tentu saja alatnya berbeda,
rnisalnya bahannya dari papan, maka naga dapat digambar biasa,
Kalau bahannya kayu, logam atau tembok harus dipahat.
Setelah selesai, ragam hias ular naga ini dipasangkan pada
bubungan rumah yang kiri kanannya diapit burung garuda. Selain
itu, juga pada pintu gerbang dengan posisi berhadapan, bertolak
belakang, berjajar dan saling membelit.
Ragam hias yang dipasang di tempat-tempat tertentu tersebut
pada umumnya menggambarkan:
a. Ular Aman-thabhoga atau Antaboga, penguasa gempa bumi.
b. Ular Basuki, yang membelit gunung Mandara sehingga meman
carkan air kehidupan.
c. Ular Taksaka, pernah menggigit Prabu Parikesit sampai wafat.
ci. Ular-ular anak Sang Kadru yang berjumlah seribu. Ketika ber-
hadapan dengan ular ciptaan Prabu Janamejaya' banyak yang
mati terbakar.
Dalam bangunan rumah ragam hias ini, ular juga berfungsi
sebagai sengkalam,emet berwatak delapan.
Para pembuat ular naga di keraton dengan sendirinya dipilih
yang benar-benar mahir. Tapi untuk bahan seng, biasanya
dikerjakan oleh pengrajin atau penatah wayang kulit.
Setelah selesai dengan ragam hias ular naga, kita mulai
dengan ragam hias jago. Jadiaddah ayam jantan, sesuatu yang
mau diadu, orang yang sakti dan orang yang diharapkan dalam
sesuatu pemilihan (Lurah misalnya). Jadi "Jago" adalah sesuatu
yang bisa diandalkan dalam segala bidang.
jago yang dipasang pada bubungan rumahini terbuat dari
bahan tembikar, berbentuk jago, pipih (gepeng) dan dilukis
dengan sederhana. Kalau dibuat dari bahan seng, maka
pembuatannya lebih rumit.
85
Bila bahannya dari tembikar, seringkali cara pembuatannya
dilakukan secara butsir, jadi tidak dicetak, lalu dibakar.
Sebaliknya kalau bahannya dari bahan seng, polanya dibuat dari
kertas lalu digunting dan dipahat yang sesuai. Pada masa
sekarang, pembuatan jago dipangaruhi oleh jago dalam wayang.
, Barang seperti ini hanya dibuat oleh orang-orang tertentu,
jadi tidak dipasarkan.
Bila terbuat dari tembikar, sudah tentu warnanya kecoklatan
(kemerahan). Tapi lama-kelamaan sering berubah menjadi
kehitam-hitaman. Kalau dari seng, juga berwarna seperti seng,
bahkan kadang-kadang dicat hitam. Tetapi kalau sudah lama pasti
berkarat dan warnanya berubah menjadi coklat.
Setelah proses pewarnaan selesai, barulah boleh ditempatkan
di atap. Yang dari tembikar, dijadikan satu dengan genting
bubungan. Dan yang dari bahan seng, dipasang atau dipatri
dengan bubungannya yang juga dari seng.
Orang yang punya rumah memasang jago di atas bubungan
dengan harapan, agar pemilik atau penghuninya bisa diandalkan
dalam segala hal. Jadi bisa menjadi kebanggaan keluarga.
Kalau orang mau memesan jago tersebut, biasanya pergi
kepada para pengrajin tembikar (erabah) yang terdekat. Di
Daerah Istimewa Jogyakarta orang{ratrg sering pergi ke desa
Kasongan, 5 km sebelah selatan kota Jogyakarta. Desa tersebut
terkenal dengan keramik yang karakteristik.
kita telah menguraikan tentang rag:rm hias yang terdiri dari
anak panah, ular naga, kaligrafi, mirong, dan lain-lainnya.
Sekarang sampailah pada ragam hias yang berhubungan dengan
Alam.
Tapi perlu diketahui bahwa ragam hias alam ini tidak
sebanyak flora dan fauna, serta memakai stilisasi juga. Akibatnya
orang sulit untuk menduga-duga bagaimanakah bentuk asli hiasan
yang dimaksudkan tersebut.
86
i
Kita juga harus memaklumi, bahwa ragam hias ini hidup cl*ari
tumbuh serta berkembang dengan bebasnya di kalangan
lnasyarakat pedesaan.
Jenis-jenis hiasan alam ini misalnya berupa gunung,
matahari, api, air, hujan, petir (bledheg), dan sebagainya.
Karena banyaknya, maka akan kita ambil beberapa buah saja
yang biasa dipakai pada bubungan rumah, yaitu Gunungan dan
makutha.
Ragam hias gunungan ialah suatu hisan yang mirip dengan
gunung. Nama lainnya ialah kekayon. Ke dua nama tersebut
diambil dari istilah dunia pewayangan. Oleh karena begitu
populernya wayang di mata rakyat, maka dengan sendirinya
hiasan seperti ini juga banyak sekali dipakai oleh rakyat banyak.
Hiasan yang seperti gunung ini terbagi dalam dua jenis yang
sederhana dan distilir. Yang diterangkan pertama berupa segitiga
sama kaki dengan lengkungan sedikit pada bagian bawah,
sedangkan yang satunya berupa pohon dengan tangkai dan daun.
Ragam hias yang dibuat dari bahan tembikar sudah menyimpang
jauh dari aslinya.
Hiasan gug,ungan atau kayon yang dibuat dari bahan
tembikar warnanya juga merah coklat seperti warna tembikar itu
sendiri. Demikian pula yang dibuat dari bahan seng juga
warnanya polos. Oleh karena bahan seng berada di bagian atas
dan sering kehujanan, maka kayon yang dilukiskan di situ juga
berubah warnanya menjadi kehitam-hitaman. Selain itu juga
banyak yang berkarat.
87
Bagaimanapun bentuknya, kalau bahannya tembikar, cara
membuatnya juga sama dengan barang keramik lainnya, ialah
dengan tanah liat. Tetapi tetap tidak dicetak, hanya dibakar biasa.
Untuk bahan seng, pola yang sudah dibuat digunting atau
dipahat, tak ubahnya dengan membuat wayang kulit.
Tadi telah disebutkan bahwa ragam hias gunungan telah
dipasang pada bubungan rumah di bagian tengah. Namun dijaga
oleh hiasan gambar binatang (garuda atau ayam jantan) di sebelah
kiri dan kanannya. Untuk bahan yang terbuat dari bahan
tembikar, .hiasannya menjadi satu dengan genting bubungannya.
Pada bahan sengrsang jagolgrnungan dipatrikan atau dikeling
dengan bubungannya yang sama-sama dari bahan seng.
Bagi masyarakat Jawa, gunungan atau kayon dianggap
Iambang jagad raya dengan puncak gunungnya yang merupakan
lambang keagungan dan keesaan. Pada bagian tengah-tengah
gunungan dari hujan dan panas. Dari apa yang termaktub di situ
orang bisa mengambil kesimpulan bahwa rumah yang dihiasi
gunungan diharapkan mendapatkan ketenteraman lahir batin,
serta berteduh (berlindung) kepada Tuhan Yang Mahaesa.
Pada saat ini kebutuhan untuk membuat hiasan seperti di atas
sudah jarang. Oleh sebab itu tukang-tukang grabah, seperti
88
pembuat genting, pembuat bubungan, Pot, belanga dan
lain-lainnya hanya menerima pesanan saja. Jadi pada prinsipnya
barang-barang tersebut tidak dijual.
Setelah gunungan, sekarang kita membahas ragam hias
makutho. Dalam kamus "Baoesastra Jawa" yang disusun oleh
WJS Purwadarminta, makutha artinya sebangsa topi yang dipakai
oleh raja bila sedang mengadakan upacara kebesaran. Jadi yang
dimaksud di sini adalah mahkota. Tetapi pada umumnya yang
dipakai adalah mahkota tokoh-tokoh wayang seperti Bima,
Kresna, Rahwana dan sebagainya. Mahkota semacam itu banyak
menghiasi rumah-rumah penduduk di daerah Kabupaten Gunung
kidul. Untuk kota Jogyakarta misalnya bisa disaksikan di atas
bubungan Pendapa Agung Taman Siswa yang juga sebagai
lambang Ibu Pawiyatan (Induk sekolah-sekolah) tersebut. Di
samping itu lambang negara kita, yakni Garuda Pancasila, sering
pula menghiasi bubungan rumah Joglo yang merupakan kantor
Kelurahan dan sebagainya.
(D
Makulhoq
rbhbaaiatthaaham-wnrKaaapstaedahnadgmianagmess-miakasaniuandpnyamguannagmtthiedktemoaonp.kibtroauinkb-agedy-rart.awotanpamogrnnpagd.:i.twH*e"amavyai"pn"i"t-gIuJk*treb.nresprepiabaadukatduhada;ibr;b.eku;ribitilau;wntagarahnnua
ang pada bubungan? Karena
ng mempunyai mahkota. Jadi
maka pahlawan Amarta ini
a semua penghuni rumah dari
90
Bab II
BENTUK-BENTUK RUMAH JAWA
Sejumlah ahli yakin bahwa bentuk rumah tradisional Jawa
dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan bentuk. Hal itu
disebabkan kebutuhan termasuk "kunci" dalam hidup ini yang
semakin berkembang sehingga membutuhkan tempat yang luas
pula. Kemudian secara wajar berkembang pula kebudayaan.
Perkataan "Omah" menurut Baoesastra Jawa menunjukkan
suatu bangunan yang diberi atap dan dipakai untuk tempat tinggal
atau keperluan lainnya. Namun kata "omah" dipakai juga untuk
semacam peribahasa, misalnya:
l. Omah saduwuring jaran (rumah di atas kuda) maksudnya ada-
lah suatu persekutuan untuk menentang penguasa (paja).
2. Nredegake omah ing pawedhen (mendirikan rumah di atas ta-
dah yang berpasir) maksudnya adalah percaya kepada
yang licik.
:3. Omah-omah (rumah-rumah) sudah berumah tangga.
Rumah termasuk sesuatu yang penting karena mencerminkan
papan (tempat tinggal), di samping dua macam kebutuhan lainnya
yaitu sandhang (pakaian dan pangan (makanan).
Maksud ke tiga istilah di atas ialah, bahwa seseorang wajib
untuk mengutamakan sandhang (pakaian) yang layak dan pangan
(makanan) yang cukup agar keluarganya senantiasa sehat
walafiat. Sedangkan "papan" yang cukup _penting juga tidak
boleh diabaikan. Sebab kalau yang satu ini belum terpenuhi, maka
orang tersebut akan ngidhung (menumpang atau mengontrak
pada orang lain).
Pada garis besarnya tempat tinggal orang Jawa dapat
dibedakan nrenjadi:
A. RUMAH BENTUK JOGLO.
B. RUMAH BENTUK LIMASAN.
9l
C. RUMAH BENTUK KAMPUNG.
D. RUMA.H BENTUK MASJID DAN TAJUG ATAU TARUB.
E. RUMAH BENTUK PANGGANG-PE.
Kadang-kadang ada suatu istilah umum untuk menyebut
bentuk rumah, seperti rumah yang ukuran panjangnya (memtiujur
nya) lebih dari ukuran biasa, sehingga dedeg (keadaan berdiri)
lebih tinggi dari pada rumah-rumah pada umumnya tapi atapnya
tetap tegak, disebut rumeh muda.
Dengan memakai balok-balok yang lebih tebal dari ukuran
biasa, maka rumah itu discbut lanangen. Perkataan lanang
menunjukkan jenis laki-laki. Seperti halnya dengan ruttrah yang
ukuran panjangnya lebih panjang, maka untuk lebih peodek dan
tiangnya rendah sehingga dedeg kelihatan rendah disebut rumah
sepuh (tua). Sampai kini jika ada rumah yang balok kerangkanya
lebih tipis dari ukuran biasa, maka sebutannya adalah rumah
perempuan atau pedaringan kebak (tempat beras yang penuh).
Dari berbagai-bagai iStilah tersebut, maka timbulah berbagai
istilah lainnya:
Rumah Joglo Muda Enom).
Rumah Joglo Tua.
Rumah Limasan Tua.
Rumah Limasan Muda (Enom).
Rumah Kampung Tua.
Rumah Joglo Perempuan Muda. (enom).
Rumah Joglo Perempuan Tua.
Rumah Joglo Lali.laki Muda.
Rumah Joglo Laki-laki Tua.
Rumah Limasan Perempuan Muda.
Rumah Limasan Perempuan Tua.
Rumah Limasan Laki-laki Muda.
Rumah Limasan Laki-laki Tua.
Rumah Kampung Perempuan Muda.
Rumah Kampung Perempuan Tua.
Rumah Kampung Laki-laki Muda.
Rumah Kampung Laki-laki Muda.
Rumah kampung Laki-laki tua.
Keterangan di atas adalah keadaan rumah. Mengenai bentuk
rumah adalah sebagai berikut:
92
a. Rumah Bentuk Joglo
Rumah. ini pada kenyataannya hanya dimiliki oleh orang-
orang yang mampu. Sebab untuk membangun rumatr Joglo
dibutuhkan bahan bangunan yang lebih banyak dan lebih mahal.
Dan memang rumah-rumah semacam Joglo hanya dimiliki oleh
orang-orang yang terpandang.
Selain itu rumah mendapat kerusakan dan perlu diperbaiki,
tidak boleh berubah dari bentuk semula. Sebab kalau dilanggar
bisa menimbulkan pengaruh yang kurang baik pada penghuni
rumah.
Paling tidak rumah joglo berbentuk bujur sangkar, dan
bertiang empat. Tapi yang kita lihat sekarang adalah yang sudah
mengalami banyak perubahan. Sehingga namanya juga bermacam
macam (lihat gambar)
Susunan ruangan biasanya dibagi menjadi tiga bagian, yaitu
ruangan pertemuan yang disebut pendhapa, ruang tengah atau
ruang yang dipakai untuk mengadakan tontonan wayang kulit
disebut pringgitan, dan ruang belakang yang disebut dalem atau
omah jero sebagai ruang keluarga. Dalam ruang itu terdapat tiga
buah senthong (kamar) yaitu senthong kiwa, senthong tengoh
(petanen) dan senthong kahan.
93
\__ - v,
/
I
\u
I
I
z.1/\ I\\\ llrl
t
I
II
!V
I. Rumah Joglo lonpongon
.- Rumoh Joglo jompongan ialah bentuk Rumoh Joglo memakai dua
buah pengeret dengan denah bujur sangkar. Beniuk iumoh ioglo
mi merupokan bentuk dosor dari bentuk joglo
94
Nt\ ' 7l
t I
I I
I c / I
/
t ) I
I I t
I
I
t t
I
I I\\ I
I ttt
I
I a
I [.1
I
I/
I
t/
ioloh Rumoh loglo tonP
sehingga kelllatan llnggi
95
Empyak BombutAnlum
I -71
V I
3. RumohJolgo Coblokan I
Rumah Joglo Ceblokon
I
pe nd hem ( te rdapot bogion I
bentuk ini tidak memaka I
go mbo r rnemo kai sunduk' I
SundukBondhang Llsukrigereh Bohu donyang I
I
96 I
I
I
l.
t'
I
4. Rumah Jolgo Kcpulun Llmolasan
Rumah Joglo'Kepuhon Limolasan adolah sama dengon Rumah
lolgo Liwakan; bedanya pada Rumah Joglo Limolasan memokai
sunduk bondhang lebih panjang don ander agok pendek, sehinggo
empyok (atop) brunjung lebih ponjong. Rumoh Joglo ini (Gb. 4)
memakai uleng gonda.
97
.rEJ:i5i;*e:.-1t+fN{
\'/t'.. ,
.\/_' ___z\
/\
5. Rumah loglo Simaom Aptton
98
\\//
I
I
I
6. Rumah Joglo Pcngruwit
Rumah Joglo Pengrawit ialoh Rumoh Joglo memakai lambang
ganlu.rg, alop bruaJang merenggong dari atop pcnanggap, atap
empcr merenggang dori atap penantgop, tiop sudut diberi tiong
(sako) bcntung terlangcop pdda dubur, tumpang 5 buah, memakai
singup don gcganja (Gb. 5)
99
7t
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
..-l
7. Rumah Joglo Kepuhon Apita
Rumah Joglo Apitan sebenornyo soma dengan Rumoh )oglo
Limolosan, tetapi poda Rumoh loglo Apilan empyak brunjung
lebih tinggi (tegak) karena pengeret lebih pendek (Gb. 7). Beituk
rumah ini kelihatan kecil tetopi langsing.
I00 I'USTAKDA JATENG
E. Runah Jolgo Scmar Tlnandhu.
Rumoh Joglo kmar Tinondhu (Semor diusung) ioloh Rumah'
t0l