22 Hari Bercerita
Buku Kedua Kumpulan Cerita Anak
Oleh:
Bellanissa B. Zoditama, Orizuka, Haya Aliya Zaki, Nia,
Priscila Stevanni, Debby Cynthiana, Indriana, Adyta Purbaya,
Hariadhi, Dina Antonia, Ollie, Diana Siti Khadijah,
Irene Wibowo, Andi Maulida Rahmania, Dini Kaeka Sari,
2
Judul : 22 Hari Bercerita
Copyright © 2011, Indonesia Bercerita
http://IndonesiaBercerita.org
http://blog.IndonesiaBercerita.org
Twitter: @IDcerita
Desain Sampul:
Zulsdesign Studio
3
PENGANTAR
Mendidik adalah sebuah panggilan hati. Jika
pendidikan anak merupakan panggilan yang niscaya
dari dalam diri, apa yang akan kita lakukan untuk
menjawab panggilan tersebut?
Setiap orang wajib mendidik anaknya. Setiap orang
berhak ikut terlibat dalam mendidik anak bangsa.
Apakah harus menyiapkan bekal mahal untuk
mendidik? Apakah harus menuntaskan pendidikan
tinggi untuk berpartisipasi? Apakah harus
mempunyai kekayaan berlimpah untuk menjadi
peduli? Tidak. Bahkan setiap nafas dan jentikan
jaripun punya arti jika kita mau melakukannya.
Karena itulah Indonesia Bercerita memilih langkah
termudah, namun punya makna. Mengupayakan dan
membangun cerita dan kebiasaan bercerita untuk
terlibat dalam mendidik anak bangsa.
Kenapa memilih cerita sebagai media? Dalam
pembentukan budaya, dimulai dari penciptaan
perilaku berpola. Perilaku apa yang mudah untuk
dijadikan pola? Tentu perilaku berulang yang
mendatangkan kesenangan. Karena itulah Indonesia
Bercerita memilih media cerita sebagai langkah
mudah untuk semua bisa terlibat dalam mendidik
anak bangsa.
4
Cerita jadi media mendidik sekaligus hiburan. Telah
lama cerita ditinggalkan hanya sebagai kesenangan,
tanpa makna yang menjadi muatan. Padahal cerita
adalah cara halus nan ampuh untuk menanamkan
nilai, menasehati dan mengubah perilaku tanpa
menyakiti.
Cerita juga media yang menjaga anak tetap bisa
berpikir secara terbuka. Keterbukaan atas berbagai
kemungkinan merupakan sumber kreativitas.
Sebenarnya ada dua cara mendidik sederhana yang
membuat sistem pada diri anak tetap terbuka, yaitu
bertanya dan bercerita. Pertanyaan membuat anak
menciptakan jawaban. Pada saat anak menciptakan
penejelasan versi mereka sendiri, anak-anak sedang
menciptakan sistem pribadinya. Instruksi dan
perintah berefek sebaliknya, anak ditata dan
dipolakan, sehingga membunuh kreativitasnya.
Cerita juga punya sifat yang sama. Cerita berjalan
pada track yang beriringan dengan anak dalam
menciptakan sistem pribadi mereka sendiri. Ketika
mendapatkan cerita, anak akan memaknai dengan
caranya sendiri. Anak akan mengonstruksi nilai, cara
berpikir dan merasa, serta berperilakunya, seiring
dengan cerita yang disimaknya. Karena itulah cerita
menjadi media menyenangkan yang ringan, tapi
dahsyat dampaknya.
Inilah yang menjadi landasan, Indonesia Bercerita
menggunakan cerita untuk mengemban misi
5
pendidikan untuk anak bangsa. Indonesia
memberikan cerita dan podcast gratis untuk
dimanfaatkan dalam mendidik. Selain itu, Indonesia
Bercerita juga berbagi buku elektronik gratis,
melakukan workshp, pelatihan dan pendampingan
untuk para pendidik dan orang tua.
Indonesia Bercerita merupakan komunitas ‘pendidik’
yang membuat dan menggunakan cerita. Karena itu,
cerita diciptakan, dikelola dan dimanfaatkan untuk
saling berbagi satu dan yang lainnya. Istilahnya,
cerita dari, oleh dan untuk kita semua.
Dengan semangat berbagi, Indonesia Bercerita
memfasilitasi dengan berbagai program penciptaan
(#22hari220cerita, Program Cerita #FAYA) dan
program berbagi sebagai tindak lanjutnya
(#socialdistribution).
Program yang dijalankan Indoensia Bercerita telah
berhasil menghimpun 30 cerita anak dan 22 podcast
cerita anak. Cerita anak dapat diakses di page
Indonesia Bercerita
(http://www.facebook.com/IndonesiaBercerita) dan
podcastnya bisa dinikmati dan diunduh di
http://indonesiabercerita.org/, sedangkan berbagai
pengetahuan tentang cerita dan bercerita dapat
disimak di http://blog.indonesiabercerita.org/.
6
Cerita-cerita yang masuk ke meja kerja Indonesia
Bercerita direview dengan menggunakan pohon
karakter. Apa itu pohon karakter? Pohon karakter
adalah figur pohon sebagai personifikasi dari
manusia yang mempunyai karakter. Dalam pohon
karakter terdapat karakter-karakter yang secara
keseluruhan akan membangu diri anak. Karakter-
karakter itu diletakkan pada posisi yang
mencerminkan setiap bagian pohon. Ada karakter
akar, karakter batang, karakter daun dan karakter
buah. Kesamaan sifat itulah yang menyebabkan
setiap karakter yang membangun anak juga punya
tempat di pohon karakter.
7
Kategori Karakter Elemen dan Pengertian
Buah : a. Kreatif: Kemauan untuk
menciptakan
Karakter yang menjadi benda/peralatan/cara yang
dasar pengembangan baru, dan berbeda
berkelanjutan bagi
seorang anak b. Kemauan belajar: Kemauan
untuk mencari pengetahuan
secara berkelanjutan
c. Kolaborasi: Kemauan untuk
berperan aktif dalam tim
sesuai kekuatan unik diri dan
respek terhadap kekuatan
unik anggotatimyang lain.
Daun: a. Empati: Kemauan
8
Kategori Karakter Elemen dan Pengertian
Karakter yang menjadi mendengarkan dan peduli
membentuk perilaku terhadap yang dirasakan
seorang anak dalam orang lain
berinteraksi sosial
b. Ramah : Kemauan untuk
menunjukkan ekspresi
positif dan persahabatan
pada orang lain
c. Penyayang: Kemampuan
menunjukkan rasa sayang
pada orang lain
d. Berbagi : Kemauan untuk
berbagi dengan tujuan
membantu orang lain
Batang – Dahan: a. Pengelolaan emosi:
Mengenali emosi yang
Karakter yang menjadi dirasakan dan mau
membentuk perilaku berusaha mengelolanya
seorang anak secara positif
b. Motivasi diri: Mengenali
kemauannya dan mau
berjuang untuk
melaksanakan kemauan itu
c. Kemandirian: Kemauan
untuk mengerjakan aktivitas
dengan kemampuan sendiri,
tidak tergantung pada orang
lain
9
Kategori Karakter Elemen dan Pengertian
d. Rendah hati: Kesediaan
untuk mengapresiasi
perilaku dan capaian orang
lain
Akar: a. Penerimaan diri: Sadar dan
b. menerima kekuatan dan
Karakter yang menjadi kelemahan diri (jujur pada
modal dasar, diri sendiri)
melandasi jenis
karakter lainnya Berpikir apresiatif:
Bersyukur dan
mengapresiasi atas suatu
keadaan (diri dan orang
lain)
c. Imajinatif: Menciptakan
bayangan akan masa depan
(yang lebih baik dan
seringkali unik)
d. Rasa ingin tahu: dorongan
untuk mencari tahu atas
berbagai fenomena beserta
penjelasannya
Selain menjadi panduan Indonesia Bercerita untuk
mereview cerita, pohon karakter juga membantu
para pembuat cerita dalam menentukan karakter
apa yang akan dibangun dalam ceritanya. Pohon
karakter juga akan membantu orang tua, guru atau
10
pendamping untuk memilih cerita yang tepat buat
anak.
Hasil kerja dengan pohon karakter dalam mereview
cerita ini dapat dilihat dalam buku ini. Cerita-cerita
yang ada dalam buku ini merupakan hasil karya para
pencerita yang berkontribusi dalam komunitas
Indonesia Bercerita melalui program
#22hari220cerita. Dengan demikian, diharapkan
orang tua, guru atau pendamping dapat memilih
cerita dalam bukin ini secara tepat untuk berbagai
kebutuhan anak.
Buku kedua dari dua buku ini merupakan luncuran
pertama karya komunitas Indonesia Bercerita yang
dibukukan. Semoga kehadirannya bisa memberi
warna memikat dalam dunia cerita anak.
Segala kritik akan menjadi amunisi perbaikan dalam
berbagai program Indonesia Bercerita ke depan.
Karena itu, jangan segan-segan memberikan umpan
balik yang dapat membuat Indonesia Bercerita akan
semakin matang.
Rudi Cahyono, M.Psi
11
12
DAFTAR ISI 17
25
Surat untuk Papa 27
#pohonkarakter: Daun – Empati 35
Penulis: Bellanissa B. Zoditama 42
Twitter: @bellazoditama
Facebook: Bellanissa Brilia Zoditama
Ayah
#pohonkarakter: Daun – Empati
Penulis: Orizuka
Twitter: @authorizuka
Facebook: Orizuka Okke Rizka
Tiga Mantra Ajaib
#pohonkarakter: Daun – Ramah
Penulis: Haya Aliya Zaki
Twitter:
Facebook: Haya Aliya Zaki
Berkunjung ke Kebun Binatang
#pohonkarakter: Daun – Penyayang
Penulis: Priscila Stevanni
Twitter:
Facebook: Priscila Stevanni
Aku Sayang Ibuku
#pohonkarakter: Daun – Penyayang
Penulis: Nia
Twitter: @Khanisya
Facebook:
13
Mr. Tobiko dan Hutan Enenimon 48
#pohonkarakter: Daun – Penyayang
Penulis: Debby Cynthiana
Twitter: @bukandebi
Facebook: Debby Cynthiana Harjono
Dila ingin Memelihara Kucing 51
#pohonkarakter: Daun – Penyayang
Penulis: Indriana
Twitter: @ndindria
Facebook: Ndi Indriana
Sayang Kak Dhea 63
#pohonkarakter: Daun – Penyayang
Penulis: Adyta Purbaya
Twitter: @dheaadyta
Facebook: Adyta Purbaya
Kebun Empat Kelinci 75
#pohonkarakter: Daun – Berbagi
Penulis: Hariadhi
Twitter: @hariadhi
Facebook: Hariadhi HM
Pangeran Massak dan Raksasa di Belakang Bukit 79
#pohonkarakter: Daun – Berbagi
Penulis: Dina Antonia
Twitter: @dinantonia
Facebook: Dina Antonia
14
Cerita Selma 85
#pohonkarakter: Buah – Kemauan Belajar 91
Penulis: Ollie 98
Twitter: @salsabeela 100
Facebook: Ollie 105
Istana Sang Rajawali
#pohonkarakter: Buah – Kreatif
Penulis: Diana Siti Khadijah
Twitter: @andiana
Facebook: An Diana Moedasir
Batang dan Daun
#pohonkarakter: Buah – Kolaborasi
Penulis: Irene Wibowo
Twitter: @sihijau
Facebook: Irene Wibowo
Gelang Chita
#pohonkarakter: Buah – Kolaborasi
Penulis: Andi Maulida Rahmania
Twitter: @ulieulieulie
Facebook: Maulida Rahmania
Badak yang Berwarna Ungu
#pohonkarakter: Lingkungan sekitar
Penulis: Dini Kaeka Sari
Twitter: @dkaekas
Facebook: Dini Kaeka Sari
15
16
Surat untuk Papa
Oleh Kak Bellanissa B. Zoditama
Assalammualaikum,
Apa kabar Papa sekarang? Kata Mama, Papa
sekarang udah tenang dan bisa tersenyum terus.
Milda kangen sama Papa, padahal belom seminggu
Papa ninggalin kita. Kenapa sih Allah begitu cepat
ngambil Papa dari Milda? Milda sempet marah lho
Pa sama Allah, tapi kata Mama Milda nggak boleh
marah sama Allah, soalnya Allah itu baik karena
manggil Papa ketika Papa sakit supaya Papa nggak
menderita sakit itu terus-terusan.
Pa, sejak nggak ada Papa di sini Milda ngerasa
nggak punya temen bermain Pa. Mama sama Kak
Kinan sibuk melulu sama urusan mereka. Milda
kangen main ayun-ayunan sama Papa lagi.
Ngomong-ngomong certain dong Pa, surga itu kayak
apa sih?
17
Kapan-kapan ajak Milda ke sana ya..
Milda sayang Papa…
Amilda pun melipat surat itu dengan wajah sendu,
dia terlalu rindu dengan papanya yang baru pergi
meninggalkannya dan keluarga tiga hari yang lalu.
Untuk anak seusianya yang masih berumur 6 tahun,
Amilda belum mengerti bahwa Papa sudah tidak ada
di tengah-tengah mereka. Mama pun berusaha
untuk membuat hati Amilda ikhlas, meskipun dia
sendiri masih belum dapat menerima kepergian
suami tercintanya yang begitu cepat ini karena sakit
diabetes. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana
dia membesarkan kedua anak mereka, Kinanti dan
Amilda seorang diri. Kakak Amilda sendiri, yang
bernama Kinanti saat ini sudah duduk di kelas 3
SMP.
Amilda lekas-lekas menuju kamar Mama, untuk
menunjukkan surat yang baru saja dia tulis.
“Mamamamamamamama...” Amilda berlari-lari
sambil mengibar-ngibarkan suratnya.
“Ada apa, Sayang?” Mama sedang sibuk memainkan
keyboard laptopnya, membuat laporan keuangan
tempat ia bekerja.
Milda menunjukkan suratnya di hadapan Mama.
“Baca deh, Ma. Aku baru bikin surat buat Papa.”
18
Mama mengambil surat itu dari tangan Amilda,
kemudian ia membacanya perlahan-lahan dan
kemudian menitikkan air mata. Dia kemudian
mengelus-elus rambut Amilda dengan lembut.
“Milda, kangen sama Papa ya? Gimana kalo sekarang
kita sholat dulu dan berdoa buat Papa.”
Amilda mengangguk, dan ingin mengajak Kinanti
untuk sholat bersama mereka. Ia pun pergi dari
kamar Mama, dan memanggil Kinan yang sedang
belajar. Setelah Amilda pergi, Mama kembali
menitikkan air mata.
*
Keesokan harinya, Mama pergi ke makam suaminya
seorang diri, tanpa ditemani Amilda maupun Kinanti
sambil membawa surat yang dituliskan Amilda
kemarin.
“Pa, Mama ke sini bawa surat yang Milda tulis
kemarin buat Papa. Mama bacain ya, Pa…” Mama
perlahan-lahan membacakan surat dari Amilda
untuk Papa dan lagi-lagi ia menangis membaca surat
itu. “Pa, asal Papa tau, anak-anak kita jadi agak
murung sejak kepergian Papa ini, terutama Milda
karena Milda yang paling deket sama Papa. Papa
tolong bantu Mama buat ngadepin semua ini ya…
Jujur aja Mama masih belum sanggup.” Mama
mencium nisan Papa, lalu meletakkan sebuket bunga
19
mawar putih, bunga kesukaan mereka berdua.
Mama pun beranjak pergi, untuk pulang ke rumah
menyiapkan makan malam buat Kinanti dan Amilda.
Ketika Mama pulang ke rumah, dia disambut oleh
aroma masakan yang begitu sedap. Ternyata Kinanti
dan Amilda membuat sendiri menu makan malam
kali ini spesial untuk Mama. Menu makanan kali ini
adalah telur campur isi wortel dan toge, menu
favorit Mama dan Papa.
Mama terharu melihat kedua anaknya memberikan
sebuah kejutan seperti ini. Kemudian, dia memeluk
Kinanti dan Amilda, lalu mereka bertiga pun makan
malam bersama. Sehabis makan, Amilda kembali
menulis surat untuk Papa.
Hari ini Milda seneng deh Pa, soalnya Milda sama
Kak Kinan bikin kejutan buat Mama, yaitu bikin
makan malam spesial pake menu kesukaan Mama
dan Papa. Mama keliatan seneng banget, walaupun
Milda tau kalo sebenarnya Mama juga masih sedih
kayak Milda gini.
Papa, Milda kangen… Papa kapan dateng ke sini?
Apa Papa masih bisa ngeliat Milda? Milda selalu
sayang Papa…
*
20
Sepeninggal Papa, Mama menjadi lebih sibuk dari
biasanya, sehingga terkadang meski lembur.
Walaupun begitu, perhatiannya tidak pernah lepas
kepada kedua anaknya, meski Amilda sendiri
merasakan perubahan yang drastic dari Mama.
Amilda rindu dengan sosok Mama yang dulu.
Amilda menghampiri Mama yang sedang menonton
TV bersama Kinanti.
“Mam, besok ada pertemuan rutin orang tua di
sekolah.” ujar Amilda.
“Besok? Aduh sayang, maaf Mama nggak bisa. Besok
harus ada rapat dari pagi sampai malam. Kinanti bisa
mewakili Mama?” tanya Mama ke arah Kinanti.
“Aku bisa sih, Ma. Kan besok sekolah libur. Besok
acaranya emang jam berapa, Da?”
Ekspresi Amilda berubah. Mulutnya ditekuk, alisnya
mengerut, dan dia hanya diam membisu. Dia ingin
Mama datang langsung ke acara pertemuan orang
tua itu, karena besok akan dibacakan sebuah cerita
olehnya, untuk Mama. “Jam 11 pagi. Sebenernya
besok Amilda mau bacain cerita buat Mama. Soalnya
kata Bu guru, cerita Milda bagus. Tapi kalo Mama
tetep nggak bisa dateng juga nggak apa-apa. Biar Kak
Kinanti aja yang dateng.”
21
Amilda langsung masuk kamar dan pergi tidur, tanpa
berpamitan dengan Mama ataupun Kinanti. Terjadi
pergulatan batin di benak Mama, biar bagaimanapun
juga besok rapat yang penting dan dia harus datang,
tapi dia juga tidak mau mengecewakan Amilda. Biar
bagaimanapun juga Mama tetap harus memilih…
*
Keesokan paginya, saat Amilda bangun dan bersiap-
siap untuk berangkat ke sekolah, Sang Mama sudah
tidak ada di rumah. Amilda kembali merengutkan
wajah, namun dengan segera Kinanti memeluk
adiknya dan mengelus-elus rambutnya agar tidak
bersedih.
Teman-teman sekelas Amilda sudah memenuhi
ruang kelas, mereka membawa serta kedua orang
tua Amilda, hanya Amilda sendiri yang diwakili oleh
kakaknya. Dalam hatinya, Amilda masih berharap
bahwa mamanya akan datang ke sini, saat dia
membacakan cerita.
Semua murid duduk di bangkunya masing-masing,
sedangkan wali muridnya berdiri di belakang. Satu
per satu teman-teman Amilda membacakan cerita
tentang orang tua Amilda. Amilda cemas, dia masih
berharap mamanya akan datang.
Setelah beberapa temannya yang maju, kini tibalah
giliran Amilda. Amilda berdiri, dan membacakan
22
secarik kertas yang dari tadi dia pegang di
tangannya.
“Namaku Amilda, umurku 6 tahun… Aku adalah anak
bungsu dari dua bersaudara. Kata Mamaku, aku anak
yang sangat manja. Entah kenapa Mama bisa bilang
begitu, padahal aku berusaha untuk tidak menangis.
Beberapa bulan ini, ayahku telah tiada. Dia sakit, dan
harus pergi meninggalkan kami. Kata Mama, Tuhan
sayang sama Papa, sehingga Tuhan mengambilnya
dari kami secepat ini. Walaupun aku sendiri tidak
mengerti apa arti kepergian Papa, yang jelas
sekarang aku tidak bisa lagi melihat wajahnya
ataupun mendengar suaranya. Sejak kematian Papa,
Mama berubah. Dia kini sibuk luar biasa… Pulangnya
lebih malam, dan kadang dia lupa memberikan
sarapan. Walaupun begitu, aku tau perhatian Mama
tetap tercurahkan untukku dan Kak Kinanti. Mama,
adalah pahlawan… Mama berjuang untuk kami, dan
aku tidak mau membuat Mama sedih.” Amilda
menangis membaca ceritanya untuk Mama...
“Sekarang Mama tidak dapat hadir dalam acara ini,
karena ada urusan kantornya yang jauh lebih
penting. Namun aku sadar, biar bagaimana pun juga
Mama tetap sayang padaku… Mama, I Love You…”
Amilda selesai membacakan ceritanya dan
mendapat tepukan riuh rendah dari teman-teman
dan orang tua murid. Ada seseorang yang
23
memeluknya dari belakang, ternyata Mama. Tanpa
Amilda ketahui, Mama menyempatkan diri untuk
datang ke acara pertemuan ini.
“Da, Mama memang nggak mendengar semua
ceritamu. Maafin Mama ya, Sayang. Tapi Mama tau,
kalo kamu sayang sama Mama dan Papa…” Mama
menangis dalam dekapan Amilda.
Sebelum tidur malam ini, Amilda kembali menulis
surat untuk Papa, menceritakan tentang apa yang
terjadi di sekolahnya pagi ini.
Pa, hari ini ada pertemuan orang tua. Amilda pikir
Mama nggak datang, jadi Kak Kinan yang
ngewakilin Mama. Tapi ternyata Mama datang Pa,
Mama rela jauh-jauh pergi dari kantornya cuma
buat ke sekolah Milda dan denger Milda cerita.
Mama emang nggak denger semua cerita Milda tapi
Milda tetep seneng karena Mama tau betapa
sayangnya Milda sama Mama, Milda juga sayang
sama Papa kok. Ngomong-ngomong, Papa mau aku
bacain ceritanya juga nggak? Kalo mau besok pagi
aku dateng ke makam ya, Pa. Dagh Papa…
24
Ayah
Oleh Kak Orizuka
Ayah adalah seorang pegawai kantoran. Setiap hari,
ia pergi pagi dan pulang larut malam. Namun ia
selalu berangkat dengan senyum, dan pulang
dengan wajah penuh kerinduan.
“Setiap hari Ayah tak sabar ingin segera pulang,”
begitu katanya padaku dan Ibu.
Beberapa hari ini, saat pulang ke rumah, ia selalu
terlihat lelah. Ia tak lagi bermain bersamaku. Tidak
lagi memelukku. Ia hanya terduduk, melamun. Tidak
tampak lagi senyum.
Aku tidak pernah melihat Ayah yang seperti ini. Ayah
yang dibentengi asap putih sehingga aku tidak bisa
mendekat. Ayah yang hanya menenggak secangkir
besar hitam pekat. Asap itu membuatku sesak. Pekat
itu membuatku takut.
25
Sekarang, aku hanya bisa melihatnya dari jauh.
Setiap bertanya, “Ayah kenapa?” pasti dijawabnya,
“Sana sama Ibu.”
Ibu bilang, aku tidak boleh mengganggu. Aku tidak
mengganggu. Aku hanya rindu.
Ada apa, Ayah?
Tidak apa-apa jika tidak mau memberitahu. Aku akan
pinjamkan bahuku. Mungkin bahuku tidak besar
sepertimu, tapi aku mau berbagi denganmu. Mari
berbagi, seperti dulu saat Ayah berbagi tawa
denganku.
Ayah, bersemangatlah. Ayah tidak sendiri. Masih ada
aku dan Ibu, yang jauh lebih baik daripada asap dan
pekat itu.
Tersenyumlah Ayah, seperti dulu.
26
Tiga Mantra Ajaib
Oleh Kak Haya Aliya Zaki
Pangeran Albert adalah pangeran cilik yang tampan
dan pintar. Sayang, ia suka berkata kasar. Teman-
teman dan seluruh penghuni kastil pernah menjadi
korban. Begitulah, semua hanya bisa mengelus dada.
Sepertinya tak ada yang bisa mencegah ulah
Pangeran Albert.
Seperti hari ini. Pangeran Albert mengejek gaya
berjalan Bibi Dora, bibinya yang tinggal di kerajaan
tetangga. Waktu itu mereka sedang berada di acara
jamuan teh di kastil Bibi Dora. Tentu saja Bibi Dora
tersinggung. Raja Bernard, ayah Pangeran Albert,
langsung menegur Pangeran Albert.
“Albert, kalau kau terus berbicara kasar, ayah akan
menghukummu!” demikian seru Raja Bernard. “Kau
tidak boleh bermain ke Taman Groga selama tiga
hari!”
Wah, Pangeran Albert sangat menyesal. Taman
Groga adalah taman bermain favorit Pangeran
27
Albert. Di sana ada ayunan gantung, perosotan
layang, gua bersuara, dan masih banyak macam
permainan yang lain. Hukuman itu memang
menghentikan sejenak kekacauan akibat ulah
Pangeran Albert. Namun keesokan harinya,
Pangeran Albert kembali berbuat hal yang sama. Ia
tak jera.
“Tampaknya kau harus memberi perhatian lebih
pada Albert, Bernard. Ia berubah sejak ditinggal
Renata…” Tante Klara, sahabat Raja Bernard yang
cantik dan baik hati, mencoba mengajak Raja
Bernard berbicara tentang sikap Pangeran Albert.
Sesungguhnya, ia sangat sayang pada putra
sahabatnya itu. Dulu, sewaktu Ratu Renata masih
hidup, Pangeran Albert adalah anak yang manis.
Namun, semua berbalik 180 derajat ketika Ratu
Renata meninggal dunia karena sakit.
Raja Bernard menunduk resah. “Kau benar, Klara.
Kian hari ulah Albert kian menjadi-jadi. Tampaknya
putraku butuh belaian seorang ibu. Pengasuh Darli
tak bisa sepenuhnya berperan. Aku sedang
memikirkan mencari pengganti Renata. Bukan untuk
menggantikan sosok ibu di hati Albert, tapi
kehadiran ibu di sisi Albert untuk saat ini dan
seterusnya, sangat penting.”
Tante Klara mengangguk setuju. Raja Bernard
menatap Tante Klara penuh arti. Tante Klara tak tahu
28
apa sebenarnya yang ada dalam pikiran raja tampan
itu.
***
“Ssshh… Bangun! Bangun, Pangeran!” Suara halus
mengusik tidur Pangeran Albert. Pangeran Albert
mengucek matanya. Sepertinya hari belum beranjak
pagi. Ia masih sangat mengantuk. Tapi demi melihat
makhluk super kecil mengitari ujung hidungnya,
mata Pangeran Albert langsung membelalak. Olala,
makhluk apakah ini gerangan? Ukuran tubuhnya
hanya sebesar jempol ibu jari! Serbuk cahaya
memenuhi sekujur tubuh dan wajahnya yang
cemerlang. Sedangkan kedua sayap di punggung
makhluk tersebut tak henti mengepak. Sayap itu
mengeluarkan bunyi dengung.
“Hai, aku Peri Vairy! Sudah, jangan kelamaan
bengong, Pangeran! Maukah kau kuajak
berpetualang ke Negeri Impian? Negeri Impian
adalah negeri yang saaa….ngat indah!” ajak Peri
Vairy.
“A…a…apa? Ne… Negeri Impian?” ulang Pangeran
Albert terbata. Ia langsung ingat dengan dongeng-
dongeng yang selalu dibacakan ibunda Ratu sebelum
ia tidur. Mungkinkah Negeri Impian sungguh ada?
Tapi bagaimana kalau makhluk kecil ini bohong?
Apakah ia bukan makhluk jahat?
29
“Ayolah, aku tahu apa yang ada dalam benakmu!
Negeri Impian itu ada! Dan aku, makhluk paling baik
sejagat raya! Tapi agar kau bisa melalui perjalanan
ke sana dengan mulus, kau harus mematuhi syarat
yang kuajukan!” tukas Peri Vairy.
“Baiklah, aku mau! Apa syaratnya?” tantang
Pangeran Albert semangat. Keraguannya pupus. Ia
tak sabar ingin bersenang-senang. Siapa tahu setelah
berada di Negeri Impian, ia bisa melupakan
kesedihannya karena ditinggal ibunda Ratu.
“Syaratnya, kau sama sekali tak boleh berkata kasar.
Itu saja!” ucap Peri Vairy.
“Ah… Gampang!” Pangeran Albert tertawa remeh.
Setelah sepakat, Peri Vairy menaburkan serbuk
cahaya ke sekeliling tubuh Pangeran Albert. Wow!
Pangeran Albert bisa terbang! Ia mengikuti Peri Vairy
ke Negeri Impian.Peri Vairy membuktikan
ucapannya. Negeri Impian memang benar-benar
indah! Dimana-mana terhampar taman dengan
ribuan macam bunga. Hewan-hewan gemuk dan
sehat tersebar di penjuru negeri. Penduduk Negeri
Impian berpakaian sangat bagus. Bukan itu saja,
mereka juga terlihat akur dan saling menyayangi.
Pangeran Albert disuguhi makanan yang enak-enak.
Uhh, rasanya Pangeran Albert ingin tinggal di sana
selamanya!
30
“Hei, makhluk apa itu?” desis Pangeran Albert.
Sekelompok kurcaci dengan derap langkah yang
kompak, lewat di depannya. Para kurcaci berpakaian
warna-warni. Mereka riang bernyanyi. Wah, wah…
Pangeran Albert tak tahan untuk tidak
mencela.“Wahai, makhluk-makhluk cebol, ternyata
di Negeri Impian ada juga makhluk bertampang
buruk seperti kalian ya! Hahaha…!”
Begitu kalimatnya selesai, kedua telinga Pangeran
Albert langsung memanjang. Pangeran Albert
menjerit ketakutan. Tapi Peri Vairy tenang-tenang
saja. Bukankah ia sudah mengingatkan? Pangeran
menyalahi janji karena berkata kasar.
Lalu Pangeran Albert bertemu sekelompok raksasa.
Ia kembali berkata kasar. Kini, hidung Pangeran
Albert memanjang. Dan ketika berpapasan dengan
gerombolan nenek penyihir, lagi-lagi Pangeran
Albert berkata kasar. Tanpa ampun, dagu sang
pangeran ikut memanjang juga!
“Tolooong…! Aku kapok, Peri Vairy! Kembalikan
wajahku! Aku ingin pulang!” Pangeran Albert
menangis.
“Maaf, Pangeran! Kalau kau ingin wajahmu kembali
seperti sediakala, kau harus berkata yang baik hingga
tengah malam nanti. Dan jangan lupa, ucapkan tiga
31
mantra ajaib!” Peri Vairy menepuk bahu Pangeran
Albert dengan wajah sedih. Ia turut prihatin.
“Tiga mantra ajaib? Apa saja itu?” Pangeran Albert
bingung.“Aku tidak bisa memberitahumu. Aku harus
pergi! Tugasku menemanimu sudah selesai!” Peri
Vairy terbang menjauh. Serbuk cahaya berjatuhan di
setiap kepakan sayapnya. Pangeran Albert hanya
melongo.
Gawat! Apa tiga mantra ajaib itu? Pangeran Albert
menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Ia pun
terbang dan terus terbang. Ia berusaha keras untuk
tidak berkata kasar. Sejauh ini semua aman-aman
saja. Tapi, wajahnya masih tampak mengerikan. Ia
belum menemukan tiga mantra ajaib itu.
Malam menjelang. Pangeran Albert lelah dan lapar
sekali. Ia terduduk di sebuah sulur akar pohon
raksasa. Seorang anak kecil dengan sekeranjang
buah-buahan segar, mendekatinya. Anak kecil tadi
memberikan beberapa buah miliknya. Pangeran
Albert senang bukan kepalang.
“Te…terima…ka…sih…” kata Pangeran Albert. Ia
langsung melahap buah-buahan itu. Mendadak,
kedua telinga pangeran kembali normal. Pangeran
Albert meraba-raba telinganya, tak percaya.
Ternyata, mantra ajaib yang pertama adalah kata
‘terima kasih’! pikir Pangeran Albert. Ia pun
32
melanjutkan perjalanan. Saking senangnya,
Pangeran Albert menabrak seorang kakek tua dekat
Sungai Madu.
“Ma…maaf, Kakek! Aku tak sengaja!” Pangeran
Albert membantu kakek tua berdiri. Mendadak,
hidungnya kembali normal. Hmm, berarti mantra
ajaib yang kedua adalah kata ‘maaf’! Hebat!
Pangeran Albert terbang menyongsong langit.
Tengah malam tinggal sebentar lagi. Pangeran Albert
tak menyadari tali sepatunya yang longgar. O-ow!
Sebelah sepatu pangeran terjatuh, tepat di ujung
kaki seekor kuda sembrani.
“Kuda sembrani yang gagah, tolong ambilkan
sepatuku!” pinta Pangeran Albert panik. Mendadak,
dagu Pangeran Albert kembali normal. Tuntas
sudah! Mantra ajaib yang terakhir adalah kata
‘tolong’! Tubuh pangeran seolah seringan kapas. Ia
melayang menyusuri lorong hitam besar dan
panjang, balik ke kerajaan tempat ia tinggal. Samar-
samar pangeran mendengar gema suara Peri Vairy.
“Ibunda Ratu di surga akan tersenyum bila
melihatmu selalu berkata baik. Jangan lupa, ucapkan
tiga mantra ajaib, maka semua orang akan
mengasihimu!”
“Bangun… Bangun, Anakku! Bangun!”
33
Pangeran Albert mengerjap-kerjapkan mata. Ia
melihat ayahnya dan Tante Klara berdiri di sisi kanan
dan kiri tempat tidurnya. Oh… Ternyata aku cuma
mimpi, batin Pangeran Albert. Tapi… Kenapa mimpi
itu terasa begitu nyata ya?
“Anakku! Akhirnya kau siuman juga!” Raja Bernard
memeluk putranya. Tante Klara menatap pangeran
dengan pandangan berkaca-kaca.
“Si…siuman?” ulang Pangeran Albert heran.
“Kau tertidur selama setahun! Kami kuatir sekali,
Albert!” jelas Tante Klara.
Apaaa…??? Bukankah aku hanya pergi sehari ke
Negeri Impian? Pangeran tak habis pikir.
Sejak itu, Pangeran Albert menjadi pangeran yang
manis. Ia tak pernah lagi berkata kasar. Tak lupa,
‘tiga mantra ajaib’ kerap diucapkannya bila perlu. Ya,
Pangeran Albert ingin ibunda Ratu tersenyum di atas
sana. Setelah Raja Bernard menikah dengan Tante
Klara, kebahagiaan pangeran semakin lengkap. Kastil
pun tambah ramai oleh kelahiran adik-adik Pangeran
Albert ke dunia.
34
Berkunjung ke Kebun
Binatang
Oleh Kak Priscila Stevanni
Hari ini Mira senang sekali karena ia dan kedua
sepupunya, Bayu dan Dimas akan pergi bersama
Paman Karyo ke kebun binatang. Selama perjalanan
menuju ke kebun binatang dengan mobil Paman
Karyo, mereka bertiga asyik mengobrol dengan satu
sama lain.
“Kira-kira, di kebun binatang ada apa saja ya?” tanya
Bayu yang baru pertama kali pergi ke kebun
binatang.
“Pasti di sana ada banyak binatang dong!” sahut
Dimas.
“Iya! Ada jerapah, gajah, monyet, burung, dan
pastinya masih banyaaaak lagi…” celoteh Mira
bersemangat.
35
“Kamu sudah pernah ke kebun binatang ya, Mir?”
tanya Bayu.
“Iya! Dulu aku pernah di ajak ke kebun binatang
sama Ayah dan Ibu,” jawab Mira, ”Kalau, kamu
Dimas? Sudah pernah ke kebun binatang belum?”
“Kata Ayah dan Ibu sih, aku sudah pernah ke kebun
binatang. Tapi kayaknya aku sudah lupa deh, soalnya
waktu itu aku masih sangat kecil,” jawab Dimas
sambil tertawa kecil.
“Oh, begitu ya…” Bayu mengangguk, ”Aku sudah
nggak sabar banget nih pengen cepat-cepat sampai
di kebun binatang!”
“Paman, nanti di sana kita boleh memberi makan
binatang tidak?” tanya Dimas.
“Kalau kata Ayah dan Ibu, kita nggak boleh kasih
makan ke mereka, Dim…” jawab Mira cepat,”Betul
‘kan, Paman?”
“Kamu betul sekali, Mira. Kita tidak boleh memberi
makan satwa yang ada di sana,” jawab Paman Karyo.
“Tapi, kenapa Paman?” Bayu jadi
penasaran,”Bukannya memberi makan itu hal yang
baik?”
“Memang benar, memberi makan para satwa adalah
hal yang baik,” terang Paman,”Tapi, kita ‘kan tidak
36
tahu apakah makanan yang kita berikan kepada para
satwa tersebut aman bagi mereka. Siapa tahu
mereka tidak cocok dengan makanan tersebut, dan
karena ulah kita mereka jadi sakit. Kasihan ‘kan
mereka?”
“Iya juga ya…” Mira menyetujui.
“Kalau begitu siapa dong yang boleh memberi
mereka makan?” tanya Bayu lagi.
“Tentu saja petugas kebun binatang!” jawab Paman
Karyo. “Oh iya, satu hal lagi. Kita juga harus menjaga
kebersihan kebun binatang dengan tidak membuang
sampah sembarangan lho! Karena lingkungan yang
bersih juga penting untuk kesehatan para satwa.”
“Siap, Paman!” jawab mereka kompak dan lantang.
Tidak beberapa lama kemudian, Mira, Dimas, Bayu,
dan Paman Karyo sampai di kebun binatang.
“Mira, Dimas, Lihat deh! Yang lehernya panjang itu
jerapah ‘kan?” tanya Bayu antusias.
“Iya, Bayu! Kamu benar!” sahut Mira.
“Kalian tahu tidak, kalau jerapah itu termasuk hewan
herbivora?” tanya Paman Karyo.
“Her-bi-vo-ra?” Dimas dan kedua sepupunya
nampak bingung, ”Apa itu, Paman?”
37
“Herbivora itu, artinya pemakan tumbuh-tumbuhan.
Jadi, jerapah hanya makan tumbuh-tumbuhan,”
jawab Paman, ”Seperti sayur-sayuran”.
“Oh, begitu ya! Kalau begitu jerapah pasti sehat
dong ya! Soalnya, kata Ibu, Di dalam sayur terdapat
banyak vitamin dan serat yang baik untuk tubuh. Aku
saja selalu diminta untuk menghabiskan sayur kalau
makan!” timpal Mira.
“Pantas saja kamu selalu sehat, Mir! Ternyata kamu
sering makan sayur ya?” tutur Bayu. “Oh iya, selain
sayur, kata ibuku, buah-buahan juga mengandung
banyak vitamin lho! Kalau aku paling suka buah
apel!”
“Ada juga lho, binatang yang suka dengan buah-
buahan,” tandas Paman Karyo, ”Coba, kalian bisa
tidak menyebutkan salah satunya?”
Mira, Dimas, dan Bayu asik berunding untuk
menjawab pertanyaan Paman Karyo.
“Monyet!” terka Bayu bersemangat.
“Iya, monyet kan Paman?”
“Pasti monyet!” Dimas dan Mira ikut bersahut-
sahutan menyetujui.
“Pintar! Kalian benar sekali,” puji Paman Karyo.
38
“Paman, Paman, kalau binatang yang mirip monyet
tapi besar itu apa namanya?” tanya Bayu.
“Oh, Itu orang utan, Bayu. Masih dalam keluarga
kera namun ukurannya memang lebih besar dari
monyet,” Paman Karyo kembali menjelaskan, ”Orang
utan itu termasuk salah satu binatang yang langka,
lho. Jadi harus kita jaga dengan baik.”
“Langka?” tanya Bayu tidak mengerti.
“Langka itu artinya hampir punah kan, Paman?”
tanya Mira, ”Berarti jumlahnya di bumi tinggal
sedikit?”
“Iya, karena hutan tempat tinggal mereka banyak
yang dirusak oleh penebang yang tidak bertanggung
jawab, maka banyak diantara mereka yang mati
karena tidak punya tempat berlindung,” lanjut
Paman Karyo.
“Oh begitu ya. Kalau begitu, nanti kalau Dimas udah
besar, Dimas pengen jadi polisi hutan ah, biar bisa
menghukum para penebang jahat itu.”
“Kenapa harus nunggu besar?” tanya Paman
Karyo,”Menyelamatkan mereka bisa lho, dimulai dari
sekarang.”
“Sekarang?” ulang Mira,”Kami kan masih kecil.
Bagaimana caranya?”
39
“Coba, sekarang Paman tanya, kalian tahu kertas dan
tisu yang kalian pakai asalnya dari mana?”
“Aku tahu!” seru Dimas,”Pohon kan Paman?”
“Ya, benar! Nah, dengan menghemat kertas dan tisu,
kalian sudah membantu menyelamatkan mereka.”
“Wah… Ternyata gampang yah, membantu
menyelamatkan mereka!” seru Mira gembira.
“Tuh kan, nggak perlu nunggu dewasa untuk bisa
menyelamatkan bumi ini,” Paman Karyo memberi
semangat.
“Kalau gitu, mulai sekarang aku akan menghemat
penggunaan kertas dan tisu, ah!” tukas Bayu.
“Iya, aku juga…” susul Mira dan Dimas bersamaan.
“Nah, sekarang sudah siang nih. Bagaimana kalau
kita makan siang dulu? Supaya tubuh kita kuat dan
punya tenaga lagi untuk melanjutkan melihat-lihat
binatang,” usul Paman.
“Setuju!” Bayu bersemangat,”Aku udah lapar banget
nih!”
“Haha… Aku juga,” timpal Dimas.
“Tapi, sebelum makan sebaiknya kita cuci tangan
dulu ya! Supaya kuman-kuman yang menempel di
40
tangan kita tidak masuk ke tubuh bersama dengan
makanan yang kita makan.”
“Oke, Paman!” mereka bertiga berseru berbarengan.
Mereka pun segera mencari tempat cuci tangan
terdekat dan menyantap makan siang mereka.
Setelah makan siang, mereka siap untuk kembali
melihat-lihat satwa yang ada di kebun binatang. Hari
itu menjadi hari yang sangat menyenangkan bagi
Mira, Bayu, dan Dimas. Karena, mereka bisa belajar
banyak hal di kebun binatang, dan yang paling
penting mereka jadi ingin ikut menyelamatkan satwa
langka melalui kehidupan mereka sehari-hari!
Bagaimana dengan teman-teman? Mau ‘kan ikut
menyelamatkan mereka?
41
Aku Sayang Ibuku
Oleh Kak Nia
Suatu sore di depan rumahku.
Aku ditemani Ibu belajar naik sepeda roda dua,
dalam rangka mengisi liburan sekolah. Kata Ibu,
liburan tidak harus bepergian, tetapi dapat mengisi
hari libur dengan hal-hal yang bermanfaat. Aku
dibelikan sepeda sejak 3 tahun lalu. Dan aku belum
pernah mencoba untuk bersepeda roda dua karena
aku takut. Takut jatuh. Ah, padahal ibuku selalu
mengingatkan aku, bahwa rasa takut itu harus
disingkirkan jauh-jauh. “Bagaimana mau berhasil
kalau tidak pernah mencoba”, begitu yang selalu
dikatakan Ibu. Akhirnya sore ini, aku pun belajar naik
sepeda. Dengan takut-takut dan gemetar, mulai aku
kayuh. Awalnya masih dipegangi Ibu, untuk menjaga
keseimbangan. Berkali-kali gagal. “Bu, Tita tidak bisa,
Tita tidak bisa,” kataku sambil menangis.
“Ayo Sayang, kamu pasti bisa. Sebaiknya tidak
menyerah, harus tetap berusaha sampai berhasil.
42
Kalau tekun berlatih, kamu pasti bisa,” ibuku
memberi semangat padaku.
Aku mencoba lagi. Ah... Berhasil dua kayuhan. Aku
coba lagi, yay... Sudah semakin banyak kayuhannya.
Aku semakin bersemangat. Ternyata memang tidak
terlalu sulit kalau kita sungguh-sungguh mau
berlatih. Meski kedua kakiku harus jadi korban kena
benturan pedal sepeda, tapi aku sangat senang.
Alhamdulillah, sehari belajar aku langsung bisa. “Tita
hebat!!!”, kata Ibu. Aku jadi bangga nih. Terima kasih
Ibu yang sudah selalu menyemangatiku,
mendukungku dan dengan sabar menemaniku
berlatih.
Ah, besok ada lomba mewarnai. Tapi aku malas buat
ikutan. “Tita besok ikut lomba mewarnai, kan?”
tanya Ibu.
“Tidak, Bu,” jawabku.
“Lho, kenapa? Kan kamu suka sekali mewarnai?”
tanya Ibu lagi.
“Tita malas, Bu. Tita tidak pernah juara. Tita tidak
pernah menang. Tita tidak pernah dapat piala,”
kataku.
Ibu lalu mendekatiku, sambil membelai kepalaku.
43
“Tita sayang, namanya perlombaan, pasti ada
menang dan kalah. Kemenangan itu bonus. Piala
juga hanya bonus. Yang terpenting adalah semangat
dan usaha kamu untuk melakukan yang terbaik
dalam berlomba. Tidak penting menang atau kalah,”
ibuku menjelaskan.
“Tapi kan Tita juga ingin punya piala, Bu. Rani sudah
pernah dapat piala, Rafi juga. Aiz juga pernah. Tita
kapan?” Aku masih belum bergeming.
“Kalau Tita ingin piala, Ibu dan Ayah bisa belikan.
Kamu ‘kan sudah berhasil naik sepeda roda dua, Ibu
bisa kasih piala juga. Tapi intinya bukan di pialanya.
Tapi usaha kamu. Tanpa piala pun Ibu sudah amat
sangat bangga pada Tita,” kata Ibu.
Aku diam. Ada benarnya juga kata-kata ibuku. Dan
akan kuingat baik-baik, bahwa usaha dan semangat
mengikuti lombalah yang paling penting. Baiklah,
aku akan ikutan lomba mewarnai besok.
“Ibu, Tita mau ikut lomba mewarnai,” kataku
bersemangat. Ibuku tersenyum bahagia.
Besoknya, ditemani ayah dan ibu, aku berangkat ke
arena lomba mewarnai. Ramai sekali yang ikutan.
Dengan dukungan orangtuaku, aku pun mulai
mewarnai. Bismillah... Waktu berjalan. Aku dan
peserta lain diberi waktu 1 jam untuk
menyelesaikannya.
44
Saatnya pengumuman, aku harap-harap cemas. Tapi
aku yakin bisa menang, biar bisa dapat piala. Saat
namaku tidak disebut, aku langsung sedih. Aku
menangis. Ternyata aku masih belum siap untuk
kalah. Ayah dan ibu langsung memelukku, dan
memberiku kata-kata penyemangat.
“Tita sayang, jangan lupa, ini hanya perlombaan.
Pasti ada yang menang dan kalah,” kata Ayah.
“Lukisan Tita jelek ya?” tanyaku.
“Lukisan Tita tidak jelek. Lukisan Tita bagus. Hanya
saja, masih ada yang lukisannya lebih bagus dari Tita.
Dan itu artinya, Tita harus lebih rajin dan giat
berlatih,” jawab Ibu.
“Beneran?” tanyaku lagi.
“Iya benar,” jawab Ibu.
Aku tersenyum. Dan aku berjanji akan semakin giat
berlatih mewarnai dengan rapi.
***
Malam harinya...
“Ibuuuu... Tita minta tolong dooong,” panggilku.
“Minta tolong apa?” tanya Ibu.
45
“Tita tidak bisa mengambil susu yang di kulkas nih,”
kataku.
“Iya, sebentar yaa,” kata Ibu.
Ah... Kenapa Ibu lama sekali? Aku masuk kamar
mencari Ibu. Ibu kok tidur sih?
“Bu, Ibu kenapa?” tanyaku. Aku pegang dahi Ibu.
Panas sekali.
“Ibu sakit ya?” tanyaku.
Ibu mengangguk lemah.
“Ibu istirahat dulu ya. Biar Tita dibantu Ayah saja,”
kataku.
***
Besok paginya saat aku bangun tidur, aku lihat ibu
sedang menyiapkan sarapan dan bekal sekolahku.
“Bu, Ibu sedang memasak?” tanyaku.
“Iya Tita sayang... Ibu sedang membuat sarapan dan
bekal buat kamu,” jawab Ibu.
Ah Ibu, padahal kau sedang sakit, tapi tetap saja
berusaha menyenangkan aku dan Ayah.
Semangatmu besar sekali Ibu. Seakan-akan tak ada
yang bisa menggantikan Ibu. Saat aku mulai lemah,
putus asa, malas, Ibu selalu ada buat aku. Ibu selalu
46
memberi semangat dan dukungan buatku.
Terkadang aku sangat nakal, tidak patuh pada Ibu,
Ibu juga tidak marah. Ibu selalu mengingatkan aku
apa yang salah dan apa yang benar. Ibu, aku sayang
Ibu. Lekas sembuh ya. Biar bisa menemani aku
belajar, naik sepeda, berlomba, dan memasak
buatku dan Ayah. Aku sayang Ibuku...
47
Mr. Tobiko dan Hutan
Enenimon
Oleh Kak Debby Cynthiana
Di negeri fantasi yang bernama Lilipina terdapat
sebuah hutan yang luas sekali, hutan itu bernama
hutan Anenimon. Di hutan itu terdapat banyak
pepohonan besar yang sangat rindang, daun-
daunnya lebat, buahnya besar dan segar. Buah-buah
yang ranum itu berwarna-warni dan rasanya lezat
sekali. Para binatang di hutan Anenimon setiap hari
memakan buah-buahan itu. Karena jumlahnya yang
banyak, para penghuni hutan tidak pernah
kehabisan. Mr. Tobiko adalah sebuah pohon
terbesar di hutan itu, ia selalu melindungi para
penghuni dari terik matahari dan hujan lebat. Di
sekitar Mr. Tobiko terdapat peri-peri cantik yang
selalu mengelilinginya. Baju-baju peri tersebut
berwarna warni dan berkilauan diterpa cahaya
matahari.
48
Tiba-tiba pada suatu hari hujan lebat mengguyur
hutan Anenimon disertai dengan angin yang sangat
kencang! Petir menyambar-nyambar dan tiba-tiba
muncul awan hitam yang membuat hutan Anenimon
menjadi sangat gelap. Dari balik awan tiba-tiba
muncul seorang peri jahat bernama Merimida
dengan bajunya yang hitam. Ia menyihir para
binatang menjadi batu! Mr. Tobiko yang melihat
perbuatan Merimida itu menjadi sangat marah. Peri-
peri cantik pun ketakutan dan bersembunyi di balik
batang Mr Tobiko yang besar. Mr. Tobiko
menggerak-gerakan cabang-cabangnya untuk
menjatuhkan Merimida. Tetapi Merimida terlalu
gesit untuk dijatuhkan.
Mr. Tobiko pun berdoa kepada Tuhan supaya akar-
akarnya bisa ia cabut supaya ia bisa bergerak dengan
leluasa. Karena Mr Tobiko adalah sebuah pohon
yang baik maka Tuhan pun mengabulkan doanya,
akar-akarnya tercabut keluar dari tanah dan ia pun
mengejar ke manapun Merimida terbang. Ke kiri, ke
kanan, ke depan, dan ke belakang. Karena kelelahan,
tiba-tiba pukulan dari cabang Mr. Tobiko mengenai
Merimida, ia pun jatuh tersungkur di atas tanah.
Diangkatnya tubuh Merimida yang lemah dengan
cabang-cabangnya, Mr. Tobiko pun berdoa pada
Tuhan supaya Merimida bisa berubah menjadi peri
cantik yang baik hati.
49
Sesaat kemudian baju Merimida berubah menjadi
merah muda dan bebatuan di bajunya bersinar-sinar
sangat terang! Merimida terlihat cantik sekali. Para
binatang pun seketika itu pula kembali hidup! Para
binatang dan peri-peri cantik pun bersorak
kegirangan. Horee! Horee! Merimida menyesal dan
meminta maaf pada Mr Tobiko. Awan hitam
menghilang dan hutan Anenimon pun menjadi
damai kembali..
50