The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by DAYANG NORLELA ALI OMAR, 2021-07-27 07:13:48

22 HARI BERCERITA

FIKSYEN BAHASA MELAYU

Dila Ingin Memelihara
Kucing

Oleh Kak Indriana

Senin pagi ini Dila senang sekali, karena sepulang
sekolah nanti mama berjanji akan mengajak Dila
jalan-jalan ke pameran flora dan fauna. Setelah bel
akhir pelajaran berbunyi Dila langsung pergi menuju
gerbang sekolah dan ternyata Mama telah
menunggu di sana dengan senyum hangat khas
Mama. Dengan menaiki metromini Dila menuju
tempat pameran yang berada di pusat kota. Mama
Dila sangat menyukai tanaman sehingga rumah Dila
tampak hijau dan asri dipenuhi oleh tanaman yang
dikoleksi Mama, mulai dari bunga, pohon, hingga
tanaman obat. Setelah sampai di tempat pameran
Dila dan mama berkeliling melihat-lihat serta
berbelanja mulai dari tanaman, bibit, pupuk, dan
barang-barang keperluan lain yang diperlukan mama
untuk merawat tanaman tersebut.

51

Perhatian Dila tiba-tiba teralih ke deretan stan
fauna. Dila melihat bermacam-macam hewan
dipajang, mulai dari ular, kura-kura, kelinci, kucing,
hamster, dan masih banyak lagi. Saat melihat
deretan kucing yang dipajang dalam kandangnya,
Dila jadi teringat kunjungannya ke rumah Putri
teman sekelasnya beberapa hari yang lalu. Putri
memiliki seekor kucing Persia berumur 3 bulan yang
sangat lucu. Masih terbayang dalam ingatan Dila
saat menggendong kucing tersebut, bulunya sangat
halus, dan badannya empuk. Lebih menyenangkan
lagi kucingnya sangat jinak, sehingga asyik diajak
bermain oleh Dila dan Putri. Dila jadi sangat ingin
memelihara kucing Persia.

“Ma, ayo kita ke sana,” ajak Dila pada mamanya
yang sedang asyik memilih pot gantung.

“Sebentar ya Dila sayang,” jawab mama.

Setelah membayar, Mama pun mengikuti Dila ke
stan yang menjual beragam kucing ras dan
keturunan.

“Ma, Dila ingin memelihara kucing ini,” ujar Dila
sambil menunjuk salah satu kucing Persia yang
sedang tertidur.

Mama hanya tersenyum dan mengusap-usap kepala
Dila. Mama tahu betul bahwa Dila yang baru duduk
di kelas 3 SD itu belum bisa telaten dalan mengurus

52

hewan peliharaan. Merapikan buku dan mainannya
saja susah betul, harus disuruh berkali-kali baru Dila
mau berbenah. Enam bulan yang lalu Mama juga
sudah pernah membelikan seekor hamster yang Dila
minta dan janji untuk dirawat dengan sungguh-
sungguh. Nasib berkata lain, hamster tersebut hanya
bertahan 2 hari karena Dila lupa membuka toples
tempat meletakkan hamsternya, dan hamster itu
pun mati akibat kekurangan oksigen.

“Maaaa, ayo dong beli kucing ini, Dila mau punya
kucing seperti Putri Ma,” rengek Dila lagi.

Mama pun mencoba memberi pengertian kepada
Dila, “Dila sayang, merawat kucing akan lebih sulit
daripada merawat hamster, apa Dila sanggup?”

Dila terdiam sejenak mendengar perkataan Mama,
tapi tidak lama kemudian Dila merajuk lagi, “Bisa
Ma, bisa, buktinya Putri aja bisa melihara kucing itu,
masa Dila engga, nanti Dila janji akan merawatnya
baik baik ma, makanya mama beliin Dila ya, ya?”

Mama tahu benar watak Dila, ia memang selalu
bersikap seperti itu setiap kali melihat benda yang ia
inginkan. Jika yang diinginkan Dila berupa benda
mati seperti buku, alat tulis, atau mainan, Mama
dengan mudah akan mengabulkan permintaan Dila
tersebut. Tapi kali ini lain, Dila menginginkan benda
hidup. Mama tidak ingin putri kesayangannya

53

menjadi pribadi yang tidak bertanggung jawab pada
benda-benda yang dimilikinya, jadi Mama berpikir
untuk tidak membelikan Dila seekor kucing Persia.
Mama baru akan membelikannya jika suatu saat Dila
dirasa sudah bisa lebih bertanggung jawab.

“Dila, nanti Dila bukan hanya harus memberi kucing
itu makan, tapi harus membersihkan kotorannya,
memandikannya, juga mengajaknya bermain. Nanti
saja Mama belikan kalau Dila sudah besar ya,” Mama
berusaha menenangkan Dila.

Dila merajuk makin keras, “Aah Dila mau sekarang
maaaaa...,” air mata Dila pun mulai membasahi
kedua pipinya.

“Dila, jangan begitu dong sayang,” sahut Mama yang
mulai panik karena menjadi tontonan orang-orang
akibat ulah Dila. Dila adalah anak satu-satunya, dan
mamanya terlanjur memanjakan Dila sejak kecil,
akibatnya Dila agak keras kepala sekarang, semua
keinginannya harus terpenuhi, termasuk urusan
membeli kucing yang satu ini.

Mama mencoba memutar otak, mencari ide agar
dapat memberikan alasan pada Dila sehingga Dila
mau mengubah keinginannya itu. “Dila sayang, kan
di sekitar rumah juga ada kucing, Dila kasih makan
aja nanti kucingnya pasti betah terus mau main sama
Dila di rumah, ya Dila.”

54

“Dila nggak mau kucing kampung, Dila mau yang
bulunya bagus Maaaa, Dila mau yang ini, nggak mau
yang lain…” tangisan Dila makin kencang, dan
semakin menjadi pusat perhatian.

Akhirnya Mama pun menyerah pada tingkah Dila,
“Iya Dila... Iya sayang... Nanti Mama belikan, tapi
ngga hari ini ya, kita kan naik metromini, susah
bawanya, lagian kasian kucingnya kalau dibawa naik
angkutan umum.”

“Terus kapan dong Ma belinya?” tanya Dila yang
sudah mulai agak tenang.

“Hari minggu aja ya sayang, kita ajak Papa biar bisa
bawa mobil, ya? Udah dong nangisnya,” ujar Mama
sambil mengusap air mata Dila.

Dila mengangguk, dan mereka berdua pun pergi
meninggalkan stan kucing itu. Mama pasrah, dan
berpikir bahwa jika Mama membelikan Dila kucing
itu hari minggu besok, Mama harus bersiap-siap
untuk lebih sibuk bekerja di rumah, mengurus si
kucing. Ini semua demi Dila, anak semata
wayangmya.

**

Dua hari pun berlalu setelah kejadian di pameran itu.
Di suatu sore yang tenang, terdengar suara miaw…
miaw…miaw… dari luar rumah. Mama, Papa, dan

55

Dila yang saat itu sedang bersantai di ruang keluarga
segera keluar rumah untuk mengecek suara tersebut
yang makin lama makin kencang saja
kedengarannya. Ternyata suara tersebut berasal dari
post satpam yang berada di dekat rumah. Setelah
menemukan sumber suaranya, ternyata itu adalah
suara dari anak kucing yang tercebur ke dalam got.

Untung saja got di perumahan Dila tinggal tidak
tinggi airnya, sebab tetangga-tetangga Dila bersama
pak RT rajin membersihkan got sebulan sekali untuk
mencegah banjir. Anak kucing tersebut masih bisa
mengangkat kepalanya dari dalam air got, sehingga
ia bisa bernapas dan mengeong meminta
pertolongan. Papa langsung menjulurkan tangannya
untuk mengambil si kucing. Setelah diangkat, Mama
langsung membawanya ke rumah, sebab kasihan kan
kalau ditinggal begitu saja. Dila merasa jijik melihat
Mama saat membawa kucing itu ke rumah. Air got
menetes-netes dari badannya, mana warnanya
hitam lagi. “Iiih…,” ujar Dila sambil menjauh dari si
kucing, takut-takut terkena cipratannya.

Mama langsung membersihkan si kucing kecil,
melapnya dengan kain yang dibasahi air hangat.
“Dila, tolong ambil kardus yang tidak terpakai di
dapur,” kata Mama sambil terus membersihkan si
kucing.

“Buat apa Ma?” sahut Dila.

56

“Buat kucing ini, kasihan kan kalau diletakkan begitu
saja di luar, nanti dia kemana-mana, padahal
badannya masih lemah,” jawab mama.

Dila pun mengambil kardus di dapur, dan berpikir
jangan-jangan mamanya mau memelihara kucing ini.
Dila jadi merasa kesal, karena ia tidak mau kucing
kurus, hitam, dan dekil seperti itu. Bagaimana jika
nanti Putri datang ke rumah dan melihat kucing
peliharaannya, bisa-bisa Dila malu. Dila yang terus
berpikiran buruk menjadi semakin tidak suka dengan
anak kucing tersebut.

“Mama mau memelihara kucing itu ya?” Dila tiba-
tiba berbicara sambil menyerahkan kardus yang
telah ia ambil pada Mama.

Mama menoleh ke Dila, dan menangkap wajah
cemberut Dila. Mama tersenyum lalu berkata,
“Kasihan kalau kucing ini kita lepas sekarang Dila,
nanti Mama akan beri dia makan beberapa hari
sampai badannya segar lagi. Setelah itu kalau Dila
tidak suka, Mama akan lepas kucing ini.”

Dila mengangguk mendengar penjelasan Mama, lalu
langsung pergi menuju papanya yang berada di
ruang keluarga. “Pa, janji ya hari minggu kita ke
pameran buat beli kucing,” Dila berkata sambil naik
ke pangkuan papanya. Papa Dila hanya tersenyum
sambil mengelus-elus kepala Dila.

57

**

Keesokan harinya saat pulang dari sekolah, Dila
mendapati rumahnya dalam keadaan sepi. Biasanya
kalau jam segini Mama tidak ada di rumah, berarti
Mama sedang berbelanja untuk keperluan bisnis
pakaiannya. Saat melihat ke dalam kardus di teras,
Dila melihat anak kucing itu tidak berada di
dalamnya, melainkan sedang bermain di semak-
semak halaman rumahnya, melompat ke sana ke
mari. Dila tidak peduli, dan terus masuk ke dalam
rumah.

Untuk anak seusianya, Dila bisa dibilang cukup
mandiri. Ia sudah bisa ditinggal mamanya di siang
hari, biasanya Mama baru pulang jam 4 sore. Setelah
menyantap makan siang yang sudah disiapkan
Mama di atas meja makan, Dila pergi ke kamarnya.
Dila sebenarnya tidak suka kondisi rumah yang sepi
seperti ini, ia ingin punya teman untuk diajak
berbagi. Itu sebabnya Dila ingin dibelikan hewan
peliharaan, agar ada yang menemaninya saat Mama
pergi. Dila jadi teringat hamsternya yang telah mati,
sebenarnya Dila sangat sedih akan kematian
hamsternya, ia juga merasa sangat bersalah. Itu
sebabnya Dila ingin dibelikan kucing Persia yang lucu
agar ia bisa memperbaiki kesalahannya. Dila
sebenarnya agak takut jika harus memelihara hewan
lagi, namun ia ingin punya teman bermain, sekaligus

58

membuktikan pada Mama bahwa Dila bisa
bertanggung jawab atas hewan peliharaannya.

Dari balik jendela kamarnya Dila melihat anak kucing
itu sedang bermain sendirian. Setelah dilihat-lihat
anak kucing itu sudah tidak sekurus saat pertama
kali ditemukan. Perutnya yang buncit menonjol di
antara kaki-kakinya yang kurus. Badannya sudah
lebih bersih, dan tampak warna bulunya yang
ternyata berwarna kecoklatan. Binar matanya juga
kelihatan, dan tiba-tiba kucing itu jadi terlihat sangat
lucu. “Tidak... Tidak boleh,” pikir Dila dalam hati
sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dila tidak
boleh suka pada kucing itu, titik.

Tiba-tiba terdengar suara kreeeek dari arah luar. Dila
sangat kaget melihat kucing kecil itu sedang main di
pohon kesayangan Mama, dan Dila melihat robekan
besar di salah satu pohon anterium. “Aduh gawat
nih”, Dila panik dan langsung menuju ke luar rumah.
Dila tahu betul kalau anterium itu mahal, dan Mama
akan sangat marah melihat ada robekan di
anteriumnya yang cantik itu. Dila langsung
mengangkat kucing itu lalu meletakannya di tempat
yang jauh dari tanaman-tanaman mahal Mama.

“Kamu jangan nakal ya,” Dila mengomel pada si
kucing kecil. Bukannya takut si kucing malah
bermain-main di kaki Dila. Kucing itu menempel-
nempelkan badannya pada kaki Dila, seolah-olah ia

59

baru mendapat teman baru. Dila kaget, tapi juga ada
sedikit perasaan senang di hatinya. Namun karena
Dila ingat Mama akan membelikannya kucing besok,
jadi Dila acuh dan menjauhi kucing itu. Kucing
tersebut ternyata mengikuti Dila, tapi Dila terus saja
berjalan menuju pintu masuk rumahnya. Karena si
kucing terus mengikuti di dekat kaki Dila, tidak
sengaja Dila menginjak kaki si kucing. Si kucing
langsung menjerit, meeeeew, lalu berlari menjauhi
Dila, dan mengumpat di semak-semak. Dila kaget
mendengr jeritan tersebut, ia langsung merasa
bersalah dan langsung menuju semak-semak
mencari si kucing. Si kucing kecil tampak sedang
menjilat-jilat kakinya. Dila mengelus si kucing sambil
mengucapkan permintaan maafnya. “Maaf ya Pus,
maafin Dila, sakit ya? Kamu juga sih ngapain ngikutin
Dila, kan jadi keinjek tuh. Maafin Dila ya Pus, Dila
ngga sengaja,” kata Dila sambil terus mengelus si
kucing.

Tidak disangka, si kucing malah bermain-main
dengan tangan Dila. Si kucing kecil berusaha
memegang, dan mengigit tangan Dila, tapi karena
belum ada giginya Dila malah merasa geli, dan Dila
pun tertawa. Sesaat Dila lupa akan keinginannya
untuk punya kucing Persia. Dila lalu bermain-main
dengan si kucing. Sampai sore hari Dila terus
bermain dengan si kucing, Dila memberinya daging
ayam, mengajak si kucing nonton TV, dan mengelus-

60

elusnya sampai si kucing tertidur di pangkuan Dila.
Dila yang kelelahan tak lama kemudian juga tertidur
di sofa. Dila da si kucing kecil tertidur bersama,
sungguh pemandangan yang sangat indah.

Saat Mama pulang dan mendapati putrinya sedang
tidur bersama kucing yang tidak disukainya, mama
terheran-heran. Mama membangunkan Dila karena
sebentar lagi waktu maghrib tiba dan Dila harus
mandi sebelum malam tiba. Dila pun terbangun
begitu pula dengan si kucing. Mama meletakkan
kembali si kucing kecil dalam kardus, lalu
memberinya makan.

Malam harinya Dila menceritakan pengalamannya
saat bermain dengan si kucing, mulai dari saat si
kucing merobek tanaman Mama hingga saat mereka
tidur bersama. Mama awalnya agak sedikit melotot
mengetahui tanamannya yang robek, tapi setelah itu
Mama tersenyum lagi. Apalagi setelah mengetahui
bahwa Dila bermain dengan si kucing kecil. Mama
tahu bahwa Dila sudah jatuh hati pada si kecil
tersebut.

Mama bertanya pada Dila, “Jadi, besok kita jadi ke
pameran untuk membeli kucing Persia?”

Dila menggeleng-gelengkan kepalanya, “Nggak Ma,
kasihan si kecil nanti mau ditaruh di mana. Biar aja

61

kucing Persia itu tetap tinggal bersama abang
penjualnya.”
“Jadi Dila mau merawat kucing ini?” tanya papa yang
sedari tadi menyimak cerita Dila.
“Iya Pa,” ujar Dila mantap. “Sebenarnya kucing Putri
itu nggak enak diajak main Pa, kucingnya malas dan
kerjaannya tidur terus, tapi kalau si kecil ini lain Pa,
dia mau diajak main, mau Dila gendong, malahan
tidur sama Dila. Dila ingin si kecil ini jadi teman Dila
Pa,” Dila menjawab sambil nyengir cengengesan.
“Baguslah kalau begitu, Mama senang karena Dila
tidak memilih-milih teman, mau yang kampung atau
Persia sama saja, yang penting dia sayang dengn
Dila, dan Dila juga sayang dengannya,” ujar mama,
bangga pada Dila.
Mulai saat ini Dila berjanji pada dirinya sendiri untuk
merawat si kucing kecil sebaik-baiknya. Karena
semua kucing sama saja, mereka bukan makhluk
yang harus dibeda-bedakan, melainkan makhluk
yang harus kita beri kasih sayang. Bagaimana
denganmu, sudahkah kamu menyayangi hewan
peliharaanmu?

62

Sayang Kak Dhea

Oleh Kak Adyta Purbaya

Rinda baru saja tiba di rumah, sepulang dari sekolah,
ketika Mamah menghampirinya dengan sepucuk
surat di tangan.
Surat beramplop putih yang Rinda sudah bisa
menebak siapa pengirimnya.
Itu pasti dari kakaknya. Gadis cantik berjilbab yang
sekarang sedang kuliah di kota lain.
Rinda hanya dua bersaudara. Rinda hanya punya
satu kakak. Satu kakak cewek yang sangat dia benci.
Rinda membenci kakaknya bukan tanpa alasan. Tapi
terlebih karena Mamah selalu membanggakan
kakaknya dan membanding-bandingkan dengan
dirinya. Rinda benci kakaknya yang selalu terlihat
sempurna di mata Mamah. Bahkan Rinda sendiri
tidak berhasil menemukan dimana celah kejelekan
kakaknya itu.

63

“Eh Si Kecil udah pulang,” Mamah meraih Rinda ke
dalam pelukannya.

Selalu saja begitu. Mamah selalu memanggil Rinda
dengan panggilan “Si Kecil”, meskipun Rinda sudah
bukan anak kecil lagi. Yah, itu menurutnya. Rinda
sekarang sudah kelas 5 Sekolah Dasar. Tentu bukan
anak kecil lagi, tapi Mamah tetap menganggapnya si
kecil yang belum bisa apa-apa dan selalu
membutuhkan bantuan Mamah untuk mengerjakan
sesuatu. Termasuk PR.

Rinda hanya tersenyum kecut di dalam pelukan
Mamah.

“Ini ada surat dari kak Dhea,” Mamah berkata penuh
senyum. Menyerahkan sepucuk amplop putih
kepada Rinda. “Kakakmu nggak pernah lupa ya
mengirimimu surat” Rinda melirik ke arah Mamah
yang masih tersenyum.

“Kenapa kakak nggak nelpon aja sih, Mah?” tanya
Rinda.

Teknologi yang berkembang sangat pesat dewasa ini
mengakibatkan anak “sekecil” Rinda pun sudah
menggenggam handphone pribadi.

Lagi-lagi Mamah tersenyum.

64

“Menelpon dan mengirimi surat kan sensasinya
beda, Sayang” Mamah mengelus sayang rambut
gadis bungsunya itu.

Rinda diam. Tangannya menggenggam erat surat
dari kakaknya.

“Kamu harus bisa mencontoh kakakmu. Dia pintar,
baik, suka menolong. Belum lagi anaknya sopan,
nggak pernah bantah orangtua. Nggak kayak
kamu…”

Yeah! Mulai! Mamah mulai dengan kebiasaan
membandingkan dirinya dengan si kakak. Belum lagi
dengan kalimat “nggak kayak kamu” andalannya.

Rinda muak dengan semua pujian Mamah untuk
kakak, dan semua kalimat perbandingan antara
dirinya dan kakak. Tapi sekali lagi Rinda sadar, Kak
Dhea memang sempurna.

Dia baik, tidak pernah marah. Dia pintar, Kak Dhea
selalu jadi juara kelas dan juara Olimpiade. Dia
ramah, dia nggak pernah memilih teman. Semua
orang suka pada Kak Dhea. Dan itulah yang
membuat Rinda benci. Rinda benci kakaknya yang
disukai banyak orang. Rinda benci tidak bisa menjadi
seperti itu.

“Ayo dibaca suratnya,” Mamah menyenggol tangan
Rinda.

65

Rinda melenguh, dan ogah-ogahan menyobek
amplop putih itu.

Rinda membaca dalam diam.

……

Untuk Adikku yang manis, Rinda Pradipta.

Apa kabar, sayang? Semoga kamu, Mamah, dan
Papah selalu dalam lindungan Allah. Amin.

Bagaimana sekolahnya, sayang? Sudah mulai ujian
belom, ya?

Kak Dhea tak pernah lupa menanyakan sekolah nya.
Kak Dhea yang pintar dan Rinda yang lemot
menangkap pelajaran. Sifat yang sangat bertolak
belakang.

Kakak kangen sama kamu… Pengen nyium pipi
temben kamu itu, hihi… Ahhh, kamu selalu bikin
kakak kangen rumah. Kamulah alasan kakak untuk
selalu pulang.

Rinda mencibir. Rinda tahu persis, Mas Gilanglah
alasan kakak untuk selalu pulang. Pacar yang sudah
lebih dari 3 tahun ini bersama kakaknya itu. Bahkan
Rinda sudah terbiasa pergi berdua saja, jalan-jalan
sore atau sekedar jajan, dengan pacar kakaknya itu.

66

Adikku yang manis, tanggal 4 nanti kakak pulang…
Kamu mau nitip oleh-oleh apa? Bisa bilang ke
Mamah ya, supaya nanti waktu Mamah nelpon
kakak, bisa disampekan pesenannya dan langsung
deh kakak beliin. Okeee?

Kak Dhea pulang? Rinda mengingat-ingat ini tanggal
berapa. Tanggal 2. Lusa berarti Kak Dhea pulang.
Hmm, Rinda mulai memikirkan apa saja yang mau
dititipnya dengan kakaknya itu. Kak Dhea memang
selalu membawakan Rinda sesuatu kalau pulang. Kak
Dhea yang baik, dan Rinda benci itu.

Oh iya, kakak juga belikan kamu beberapa buku
bacaan waktu minggu lalu kakak ke Gramidia Book
Fair. Nanti sekalian kakak bawa. Walaupun kakak
tau kamu nggak suka baca, tapi tetap kakak belikan.
Siapa tau nanti kamu tergerak untuk mulai
membaca :)

Rinda mengingat, satu lagi perbedaan dirinya dan
kakaknya itu. Kak Dhea sangat kutubuku. Dia bisa
menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca.
Sementara Rinda? Satu buku penuh gambar pun
akan dihabiskan dalam waktu yang lama.

Rinda melanjutkan membaca surat.

Yaudah, kayaknya segini dulu ya sayang… Kalo surat
ini udah nyampe, telepon ya? Kakak kangen denger

67

suara kamu. Kamu sih suka nggak mau ngomong
kalo kakak nelpon.

Rinda mengingat lagi. Ya, dia memang nggak
pernah–eh, jarang deh–mau ngomong kalo kakaknya
itu menelpon. Rinda kan benci dia.
Salam buat Mamah Papah ya, jangan lupa belajar.

Salam sayang, Kak Dhea :*
Rinda melipat surat itu dan memandangi Mamah
yang ternyata ikut membaca.
“Tuh! Lihat! Kakakmu bahkan membelikanmu buku
walaupun dia tahu kamu tidak suka membaca…”
“…”

“Membaca itu menyenangkan, sayang. Kamu bisa
dapet banyak informasi dari buku. Kamu bisa pintar
seperti Kak Dhea. Kamu…”
Mamah belum menyelesaikan ucapannya ketika
Rinda ngeloyor pergi. Amplop putih berisi durat dari
kakaknya dibiarkan saja tergeletak di pangkuan
Mamahnya.
Aku benci kak Dhea. Rinda mengumpat kesal,
berjalan menuju kamarnya di lantai dua.

68

Ketika melewati ruang keluarga, telepon di ruang
keluarga berdering nyaring. Tapi Rinda
mengabaikannya.
Rinda masih bisa melihat lewat ekor matanya ketika
Mamah berjalan tergesa-gesa ke arah telepon dan
mengangkatnya.
“Hallo. Iya. Benar, saya sendiri. Ada apa ya? Hah?
Sekarang... Gimana…”
Rinda menghentikan langkahnya dan menguping.
Sepertinya sesuatu telah terjadi. Dan melihat
ekspresi mamahnya, Rinda mengambil kesimpulan
bahwa itu adalah hal buruk.
“Baik, saya dan keluarga segara ke sana. Terima
kasih informasinya. Baiklah. Walaikumsalam.”
Rinda melihat Mamah meletakkan gagang telepon
dan jatuh terduduk lemas. Air mata membanjiri
wajahnya. Mamah menangis.
Rinda yang masih belum mengerti duduk
permasalahan menghampiri mamahnya.
“Ada apa, Mah?” Rinda bertanya pelan.
mamah menatap wajah anak bungsunya. Air mata
kian mengucur deras.

69

“Kakakmu kecelakaan. Motornya ditabrak truk.
Sekarang dia di rumah sakit. Kita harus ke jakarta
sekarang.
Mamah menagis tersedu-sedu.
Rinda masih berusaha mencerna penjelasan
mamahnya. Entah kenapa semua itu terasa sulit
untuk diterimanya.
Rinda menatap mamah yang kini berusaha meraih
gagang telepon dan menghubungi seseorang. Papah
tentunya.
“Halo, Pah.. Dhea…”
***
Dan di sinilah mereka sekarang. Papah, Mamah, dan
Rinda. Di rumah sakit tempat kak Dhea di rawat.
Semua berwarna putih dengan bau obat yang
menyengat.
Rinda melihat kakaknya yang cantik dan selalu rapi,
kakaknya yang tak pernah lupa untuk tersenyum,
kakak yang dibencinya tapi tetap sayang padanya
kini terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit.
Rinda menghampiri kakaknya. Perban menempel di
sekujur tubuh.

70

Dokter bilang Kak Dhea baik-baik saja. Hanya saja
kaki kanannya patah, tapi akan segera pulih dengan
sedikit terapi.

Rinda tidak mengerti semua yang dikatakan dokter,
tapi dia sedih melihat kakaknya sakit.

“Kak Dhea…” Rinda menyentuh lengan kakaknya
pelan. Kakaknya tidak bergeming. Masih diam.
Samar-samar Rinda mendengar tangis Mamah di
belakangnya.

“Kak Dhea bangun….” Rinda mengguncang badan
kakaknya. Tapi gadis itu tetap diam.

Rinda merasakan tangan menyentuh pundaknya.
Papah. “Kakak kenapa? Kok diem aja?” tanya Rinda
polos.

“Kakak sakit. Dia lagi tidur. Istirahat.” Papah
mencoba menjelaskan dengan bahasa yang simpel.

“Tapi biasanya Kakak langsung bangun kalo Rinda
bangunin.”

“Iya, sekarang dia lagi capek banget. Makanya
tidurnya pulas begitu” Papah tak kuasa menahan air
matanya.

“Trus kenapa Mamah sama Papah?” tanya Rinda
lagi.

71

“…”

Mamah diam, Papah juga. Mamah masih
sesengukan.

“Makanya kamu jangan nakal. Kalo Kakak nelpon
kamu harus mau ngomong. Kamu juga jangan judes
lagi sama Kakak. Kalo kakak ‘tidur’ begini kan dia jadi
nggak bisa ngomong sama kamu.”

Mamah terdengar menekankan kata tidur, Mamah
masih terus terisak.

Rinda diam, tertunduk.

Mamah meraih gadis bungsunya itu ke dalam
pelukannya.

Rinda melepaskan diri dari pelukan Mamah dan
berjalan mendekati ranjang kakaknya berbaring.
Rinda memegang lembut ujung jemari kakaknya.

“Kak Dhea. Rinda minta maaf yah. Rinda janji kalo
Kakak bangun nanti, Rinda nggak bakal nakal lagi.
Rinda janji bakal sering nelpon Kakak. Rinda janji
nggak benci sama Kakak lagi. Kak Dhea bangun dong,
Rinda mau dibacain buku sama Kakak.”

Tak terasa air mata mulai menetes di pipinya. Rinda
menangis.

72

“Rinda sayang Kak Dhea…” Untuk pertama kalinya
kalimat itu keluar dengan tulus dari mulutnya.
“Kak Dhea bangun… Rinda sayang Kak Dhea.”
Dan, ajaib… jemari kakaknya bergerak perlahan.
Rinda terkejut. Menghapus buliran air mata dan
menoleh ke arah raut manis kakaknya yang hampir
semua tertutup perban.
“Rinda…”
Bahkan di saat pertama kali kakaknya membuka
mata, nama Rindalah yang dia sebut.
“Kak Dhea…” Rinda menghampiri wajah berbalut
perban kakaknya.
“Rinda…” Kakak nya masih berkata lirih.
Rinda mencium kening kakaknya.
“Rinda sayang kak Dhea. Cepet sembuh ya kak.”
Sebutir air mata hangat yang jatuh dari sudut mata
Rinda membasahi pipi kakaknya. Rinda melihat
kakaknya tersenyum tulus, meskipun harus bersusah
payah.
Ah, bodohnya dia selalu membenci orang yang
begitu baik seperti Kak Dhea.

73

Mulai hari ini Rinda berjanji, dia nggak akan pernah
membenci kakaknya lagi.

74

Kebun Empat Kelinci

Oleh Kak Hariadhi

Di hutan Cemara, hiduplah empat anak kelinci. Ibu
Kelinci mengantarkan mereka ke padang rumput
yang luas sekali. Mereka semua lalu membuat rumah
dan bertani.

Nana punya kebun apel. Setiap hari ia memetik
buahnya. Bentuknya bulat dan besar sekali. Eda
punya kandang ayam. Setiap hari ayamnya berkotek
riang. Telurnya banyak sekali. Jan punya ladang
gandum. Setiap hari ia membuat roti. Baunya harum
sekali. Keli punya kawanan sapi. Setiap hari ia
memerah susu. Rasanya segar dan dingin sekali.

Nana berkunjung ke kebun Eda. Karena tidak tahu, ia
membuat ayam-ayam kaget dan berlarian. Eda
mengusir Nana. “Pergi.. pergi.. nanti ayamku tidak
bisa bertelur. Jangan pernah datang lagi ke sini.”
Nana marah sekali.

Keli bermain-main ke kebun apel Nana. Karena tidak
tahu cara memanjat, ia mematahkan pohon apel

75

Nana. Nana mengusir Keli “Pergi… pergi,.... nanti
apelku tidak bisa berbuah lagi. Jangan pernah datang
lagi ke sini.” Keli marah sekali.

Jan bermain ke kandang sapi Keli. Karena tidak tahu
cara memerah susu, ia ditendang sapi-sapi Keli. Keli
mengusir Jan. “Pergi.. pergi… nanti sapiku tidak mau
diperah lagi. Jangan pernah kembali ke sini.” Jan
marah sekali.

Eda bermain ke rumah Jan. Karena tidak tahu cara
membuat roti, ia merusak panggangan roti Jan. Jan
mengusir Eda. “Pergi.. pergi.. nanti kalau
pangganganku rusak semua, aku mau makan apa?
Jangan pernah kembali ke sini.” Eda marah sekali.

Nana, Keli, Jan, dan Eda sekarang bermusuhan.
Mereka tidak mau lagi saling menyapa. Nana tidak
mau berbagi apelnya. Eda menyimpan telurnya
rapat-rapat. Jan mengunci roti-rotinya di dapur. Keli
menyembunyikan susu di gentong dan memakunya
rapat-rapat.

Ibu Kelinci bingung melihat keempat anaknya.
“Mengapa kalian saling bermusuhan?” “Tidak, aku
tidak suka mereka!” kata anak-anak kelinci
bersahutan. “Maukah kalian saling bermaafan?”
tanya Ibu Kelinci. “Tidak, tidak! Dia yang harus minta
maaf lebih dahulu!” kata anak-anak kelinci
bersahutan. Ibu Kelinci sedih sekali.

76

Suatu hari, saat jam makan siang, mereka
kebingungan.
Kata Nana, “Oh tidak, aku sudah bosan makan apel
tiap hari. Nanti apelku dimakan ulat”.
Eda juga menjerit, “Tolong.. Aku bosan makan telur.
Kalau telurku busuk, ayam-ayamku bisa marah!”
Jan juga berseru, “Aku muak makan roti, rasanya
hambar. Kalau tidak dihabiskan, burung gagak akan
memenuhi rumahku.”
Keli membalas, “Aku kembung kebanyakan minum
susu. Kalau basi, baunya busuk sekali.”
Keempatnya lalu saling mengunjungi rumah masing-
masing sambil membawa hasil kebunnya.
Nana membagikan apelnya kepada Eda, Jan, dan Keli
“Maukah kalian membantu menghabiskan apel-apel
ini?”
Eda juga membagikan telur-telurnya kepada Nana,
Jan, dan Keli “Telurku kebanyakan, maukah kalian
menerimanya?”
“Aku juga punya banyak roti, bisakah kalian
menyimpannya?” Jan membagikan rotinya kepada
Nana, Eda, dan Keli.

77

“Ambillah, susuku sudah kebanyakan. Pasti kalian
suka!” kata Keli kepada Nana, Eda, dan Jan.
Ibu kelinci tertawa dan mereka pun berpelukan
“Nah.. sekarang kita semua punya cukup apel, telur,
roti, dan susu setiap hari!”

78

Pangeran Massak dan
Raksasa di Belakang Bukit

Oleh Kak Dina Antonia

Nun jauh di negeri antah berantah, terdapatlah
Kerajaan Sedap-sedap. Kerajaan mereka sangat
subur dan kaya. Sayur-sayuran, buah-buahan, dan
bermacam-macam ternak ada di sana. Semuanya
bisa dijadikan makanan.

Rajanya, Raja Makhan Trus, suka sekali makan. Ia
punya dua orang anak. Yang pertama bernama
Pangeran Massak Trus, dan yang kedua bernama
Puteri Chicip Trus. Pangeran Massak punya hobi
memasak, sedangkan Puteri Chihip suka mencicipi
masakan kakaknya. Di sana, tiada hari tanpa pesta
pora makanan yang sedap-sedap.

Suatu hari…. raja sakit keras! Semua orang di
Kerajaan Sedap-sedap gempar! Puluhan tabib sudah
dipanggil. Tapi tak ada yang mampu
menyembuhkannya. Bagaimana ini? Kedua pangeran

79

kalang kabut dibuatnya. Mereka sangat mencintai
ayah mereka. Mereka ingin ayah cepat sembuh!

Akhirnya, datanglah seorang tabib bijaksana
membawa secercah harapan. “Hamba tahu obat
untuk raja. Obat ini bisa menyembuhkan segala
macam penyakit.”

“Lekas beri kami obat itu, Pak Tabib! Tak usah
banyak bicara!” sahut Puteri Chicip tak sabaran.

“Ah, sayang sekali. Hamba tak punya obat tersebut.
Tapi…”

Belum selesai Sang Tabib berbicara, Puteri Chicip
sudah memotongnya lagi, “Kalau begitu untuk apa
kau sebutkan obat tersebut? Tak ada gunanya! Sama
juga bohong!”

Pangeran Massak mengingatkan adiknya, “Biarkan
Pak Tabib selesai bicara dulu, Cip!”

“Obat itu ada di balik Bukit Tungku Api. Setangkai
daun ajaib. Semua orang yang memakannya akan
segar bugar, dan panjang umur,” lanjut Sang Tabib.

“Bah! Lelucon macam apa lagi ini, Pak Tua! Semua
orang tahu bahwa di balik Bukit Tungku Api ada
raksasa yang suka membakar dan memakan orang!
Kita sendiri suka melihat percikan apinya, kemudian
jeritan kesakitan! Iya, kan?”

80

Semua orang saling berpandangan ngeri. Siapa yang
mau ke sana?

Akhirnya Pangeran Massak angkat bicara, “Aku akan
ke sana.”

“Jangan, Kak!” Puteri Chicip hendak melarang
kakaknya. Tapi niat Pangeran Massak sudah bulat. Ia
pun berangkat.

***

Perjalanan menuju ke Bukit Tungku Api tidaklah
mudah. Semakin jauh meninggalkan Kerajaan Sedap-

sedap, pemandangan yang subur berganti menjadi
kering dan gersang. Banyak binatang buas yang

tampak kelaparan. Ciat!! Pangeran Massak berhasil
menangkis terkaman serigala yang hendak

memangsanya. Untung, keterampilannya
menggunakan pisau dapur bisa juga dimanfaatkan

saat memakai pedang.

Akhirnya, Pangeran Massak berhasil sampai di balik
Bukit Tungku Api. Memang benar, sekali-sekali
tampak percikan-percikan api besar dan asap hitam.
Karena itulah bukit ini dinamakan Bukit Tungku Api.
Tak lama kemudian, terdengar teriakan, “Auw-aw-
aw!” Lalu, BUM! Terdengar dentuman yang sangat
keras. Apa itu?

81

Pangeran Massak tidak gentar. Pelan-pelan, ia
mendekati asal percikan api dan suara-suara itu. Ia
bersembunyi di balik sebuah dahan pohon yang
kering. Ia mengintip. Dari sana, ia melihat seorang
raksasa besar.

Raksasa itu sedang berusaha memasak. Pangeran
Massak mengamati lebih lanjut. Tak ada sayur-
sayuran yang tumbuh di sekitar situ, buah-buahan,
juga hewan yang bisa dimakan. Apa yang ia masak?
Raksasa itu mengambil sesuatu dari sakunya,
beberapa helai daun yang berwarna keemasan! Itu
pasti daun ajaib! Seru Pangeran Massak dalam hati.

Raksasa menusuk helai-helai daun ajaib dengan
ranting pohon, lalu membakarnya di atas api
unggun. Tapi, “AUW!” BUM! Jari-jarinya tak sengaja
terkena api, lalu ia melompat-lompat kesakitan,
menimbulkan dentuman yang sangat keras. Lalu,
“AHH! TIDAK!!” Raung raksasa itu. “Makananku
hangus!!” Ah, rupanya raksasa itu tidak bisa masak!

Pangeran Massak segera menghampiri, “Kau butuh
bantuan?”

Raksasa itu ternyata tidak jahat. Ia malah bercerita
dengan sedih, “Lihatlah, di sini tidak ada sangat
gersang dan tandus. Tidak ada yang bisa dimakan!
Hanya ada daun-daun ini yang kumakan setiap hari.
Aku lapar!”

82

“Kasihan sekali kau, Raksasa! Jadi dengan tubuh
sebesar ini, tiap hari kau Cuma makan beberapa
lembar daun ini?”

“Ya, dan rasanya tidak enak! Gosong pula!”

Hm, tentulah itu memang daun ajaib, kalau tidak,
mana mungkin raksasa sebesar dia bisa hidup hanya
dengan makan beberapa helai daun? Pangeran
Massak memutar otak dan mengajukan penawaran.

***

BUM! BUM! BUM!

Terdengar dentuman yang sangat keras. Tanah pun
bergetar. Kerajaan Sedap-sedap panik. Puteri Chicip
menangis, “Oh, tidak! Kak Massak dimakan raksasa!
Dan sekarang ia juga akan memakan kita!!”

Prajurit-prajurit Kerajaan Sedap-sedap ketakutan.
Tak ada yang berani melawan raksasa. Selama ini
mereka terlalu sering pesta makan dan kurang sering
berlatih. Perut mereka gendut-gendut. Bahkan untuk
melarikan diri saja mereka sudah terengah-engah.
Mereka jatuh terjerembab, sementara raksasa
semakin mendekat.

Tiba-tiba terdengar suara Pangeran Massak, “Jangan
takut! Raksasa ini teman kita!”

83

Pangeran Massak pun menjelaskan semuanya.
Raksasa kelaparan karena tempat tinggalnya sangat
tandus dan gersang. Apalagi, ia tak bisa masak.
Setiap hari, ia makan daun ajaib sehingga bisa tetap
hidup. Sementara itu, Kerajaan Sedap-sedap
berlimpah makanan, tapi raja membutuhkan daun
ajaib. Jadi, mereka sepakat bahwa raksasa akan
memberikan daun ajaibnya, asal Pangeran Massak
akan memasakkan makanan yang enak-enak untuk
raksasa. Semua tampak setuju dan bahagia dengan
kesepakatan itu.

Benar saja, setelah makan daun ajaib, Raja Makhan
Trus langsung sembuh. Rupanya, selama ini ia
kebanyakan makan, sehingga berbagai macam
penyakit bercokol di tubuhnya.

Kini, Kerajaan Sedap-sedap tahu bahwa makan
terlalu banyak tidak baik. Masih banyak orang di luar
sana yang tidak seberuntung mereka. Mereka harus
berbagi, dan mengatur menu makan yang seimbang.

BUM! BUM! BUM! CIAT! Apa itu? Ah, rupanya para
prajurit kerajaan sedang berlatih perang dengan
raksasa. Betul, mereka juga butuh olahraga supaya
sehat!

84

Cerita Selma

Oleh Kak Ollie

Namaku Selma dan aku ingin jadi penulis.

Sepertinya jadi penulis itu menyenangkan. Kakakku
Dika adalah penulis terkenal. Hidupnya enak banget.
Bangun selalu siang. Kadang pas aku pulang sekolah,
kakak baru muncul dengan muka ngantuknya.
Bandingkan sama aku... Tiap hari harus bangun
pagi... Belajar... Ngerjain tugas... Duh... Males banget
deh!

Satu lagi... Mama suka sekali membaca.
Perpustakaannya penuh buku-buku yang aku nggak
begitu mengerti isinya. Bisa berjam-jam Mama
membaca di sofa empuk kesayangannya. Karena
suka membaca, Mama juga jadi sayang banget sama
Kakak. Ke mana Kakak pergi, Mama selalu ikut.
Apapun yang Kakak minta, juga selalu dipenuhi.
Bahkan kalau Kakak nakal pun, jadi dimaklumi.
Padahal kalau aku, pasti Mama udah mengomel dari
Jakarta sampai Bogor. Oke, memang aku agak
berlebihan, tapi begitulah kira-kira kenyataannya.

85

Jadi, jelas, kan? Hidupku pasti lebih menyenangkan
kalau aku sudah jadi penulis.

Tentu saja aku tak memberitahukan rencana ini ke
Kak Dika. Aku bisa diledekin habis-habisan. Atau
mungkin nanti dia bakal takut kalau aku bisa lebih
terkenal dari dia hihihi... Membayangkannya saja
aku sudah senyum-senyum sendiri! Bayangkan! Pas
lagi jalan di mall bareng Mama, bakal ada yang
mengenali aku, cepat-cepat mengeluarkan bukuku
dari dalam tas-nya, siap-siap minta tandatanganku
dan memanggil, “Selma!”

ADUH! Pundakku ditepuk kasar dari belakang.

Ternyata itu Putri, anak paling besar dan kasar di
kelasku. Aku memandang kaget ke sekitarku. Sudah
berapa lama aku melamun di kantin ya?

“Traktir es jeruk ya, Sel!” Kata Putri, sudah
memegang es jeruk yang dia mau. Aku diam saja. Dia
memang doyan malak. Aku kesel banget sama dia,
tapi nggak berani laporin ke guru. Aku ‘kan masih
lama sekolah di SD ini.

“Lagi ngapain kamu?!” Tanya Putri sambil melirik
sekilas ke kertas yang aku pegang.

Refleks aku menurunkan tanganku ke bawah meja.
Gawat! Aku memang lagi pingin ikutan lomba

86

menulis yang diadain di sekolah. Jangan sampai Putri
baca tulisanku!

“Mm... Nggak ngapa-ngapain... Duduk aja...,”
sahutku gugup.

Tapi tentu saja Putri tidak sebodoh itu. Dengan
tatapan curiga, ia melirik ke arah tanganku yang
menyembunyikan sesuatu.

“Apa tuh?!” Sahutnya penasaran. Keningnya
berkerut, bibirnya mengerucut. Hiiii... Aku mulai
takut.

Aku cepat-cepat menggeleng. “Nggak ada apa-apa
kok!”

“Oooh....” sahut Putri pendek, kemudian ia
melanjutkan meminum es jeruknya. Aku bernapas
lega. Fiuhhhh.

Tapi tiba-tiba... BRET!

Kertas yang kupegang direbut paksa sama Putri.
Kertasnya jadi robek setengah. Putri membawa
robekannya sambil berlari ke depan kantin.

Aku spontan berdiri sambil memegang setengah
robekan kertas.

“PUTRI!” Aku berteriak kencang. Tapi terlambat.
Putri sudah berada di depan berpuluh pasang mata.

87

“Ini ada tulisan... yang bikin Selma... aku bacain
yaaa!” Putri berteriak kencang.
ADUH. Wajahku pasti sudah sepucat kapas.
“Suatu hari di kerajaan dunia ajaib, Pangeran
bersepatu emas datang ke rumah sang putri...,” Putri
mulai membacakan keras-keras.
“Ihhhh... laki-laki kok pake sepatu emas?! Pangeran
apa tuh...,” seorang anak laki-laki menyeletuk.
“HAHAHAHAHA!” Semua anak tertawa.
Mataku berkaca-kaca. Sebentar lagi air mata pasti
jatuh, tapi aku tahan. Aku melihat ke depan dan
Putri masih tertawa, bersiap membacakan ceritaku
selanjutnya.
“STOPPP...! BERHENTIIIII...!” Aku berteriak kencang.
Mata membuka. Sepi. Gelap. Cahaya lampu dari luar
masuk dari jendela kamarku.
Huhuhuhu. Mimpi buruk. Mataku basah. Aku
menangis tersedu-sedu.
Aku mendengar langkah kaki mendekat. Itu pasti
Mama. Aku berusaha berhenti menangis. Malu sama
Mama. Tapi aku tak bisa.

88

KRIET. Pintu membuka. Mama berdiri di pintu
dengan wajah bingung.

“Selma... kenapa sayang? Mimpi buruk ya?” Mama
mendekatiku.

Aku hanya bisa mengangguk sambil mengucek
mataku.

Mama duduk di samping tempat tidur dan
memelukku. Ah, hangat sekali. Sudah lama aku tidak
dipeluk seperti ini sama Mama.

Aku membenamkan kepalaku di dada Mama. Air
mataku terus mengalir.

“Cup cup... Mimpi apa sayang?” sahut Mama sambil
membelai rambutku.

Aku terdiam. Bingung apakah harus memberitahu
Mama atau tidak. Tapi kuputuskan untuk bercerita.
Memang aku sedang bingung bagaimana caranya
menjadi penulis yang baik sesuai cita-citaku.
Mungkin Mama tahu jawabannya.

“Aku pingin jadi penulis Ma... seperti Kak Dika....”
sahutku pelan.

Mama diam sebentar. Seperti berpikir. Apa
hubungannya ingin jadi penulis, dengan mimpi
buruk.

89

“Wah... Mama senang banget, ada anak Mama satu
lagi yang bakal jadi penulis!” Mama memelukku erat.
“Iya, biar nanti bukuku ada di meja atau rak buku
mama... Terus, Mama juga bisa temani aku kemana-
mana... Kayak sama Kak Dika...,” lanjutku.
Aku lihat mata Mama berkaca-kaca. Semoga itu air
mata bahagia. Aku tak bisa menebak perasaan
Mama. Yang jelas, Mama memelukku dan tak
dilepasnya lagi.
“Iya Nak... Besok ya... Mama minta Kak Dika ngajarin
kami, kursus privat menulis!”
Aku tersenyum lebar.
“Asyiiikk! Bener ya, Ma? Aku nanti bakal bisa nulis
novel kayak Kakak Dika?!” Aku berteriak senang.
Mama mengangguk sambil membalas senyumku
dalam remang-remang.
“I love you, Ma...!” Aku memeluk Mama. Bahagia.
“Mama love you too, Selma...!”
*Story inspired by watching my genius writer friend
Raditya Dika and his cute student Selma.

90

Istana Sang Rajawali

Oleh Kak Diana Siti Khadijah

Sore ini Bima ingin sekali pergi ke hutan cemara itu.
Ia penasaran karena sudah sebulan ini dia
mendengar teman-temannya bercerita tentang
sebuah gua kecil yang ditemukan oleh Kak Reza.
Tetapi gerimis mengurungkan niatnya. “Besok pasti
cerah. Mmm, aku harus ke sana. Mungkin besok pagi
ya?” gumam Bima sambil mengangguk.

Karena setiap pergi dan pulang sekolah Bima pasti
melewati semak yang dapat menembus hutan
cemara, membuatnya semakin penasaran. Maka
Bima memaksakan hatinya untuk masuk ke sana.
Sebenarnya takut, tapi Bima tidak mau mundur. Ia
tidak menyadari seseorang mengikutinya dari
belakang.

Bima menghentikan langkahnya tepat di depan gua.
Ia menelan ludahnya. Perasaan antara takut, takjub,
dan senang membuatnya gemetar. Sambil menahan
napas, perlahan ia memasuki mulut gua. Baru saja ia
hendak melangkahkan kakinya lebih ke dalam, ia

91

dikejutkan oleh sebuah suara. “Mau apa kamu
masuk?”

Bima menoleh ke belakangnya. Kak Reza! Wajah
Bima memucat. “Eh, Kak Reza. Euh, nngggg.... Ini...
Nnnggg... Cuma pengen liat aja. Penasaran,” jawab
Bima terbata-bata. Ia ketakutan. Ia pernah
mendengar kabar kalau Kak Reza itu galak dan
pemarah.

Bima melangkah mundur, tetapi kakinya tersandung
dahan pohon dan terjatuh. Kak Reza mendekat dan
Bima menjerit ketakutan. “Jangan, Kak! Ampun! Aku
gak akan bilang siapapun Kak! Ampun! Jangan pukul
aku, Kak!”

Kak Reza tertawa. Diraihnya tangan Bima dan
membantunya berdiri. “Kamu ini aneh, Bim!
Memangnya aku ini segitu nakutinnya, ya?”

Lalu Kak Reza menyuruh Bima duduk di sampingnya.
Kak Reza mengeluarkan dua kaleng Cola dan
sebungkus besar keripik kentang dari kantong plastik
yang tadi dijinjingnya.

“Ini rumahku,” ujar Kak Reza tanpa diminta. “Rumah
yang membuatku betah berlama-lama. Aku suka di
sini.”

“Tapi bukannya rumah Kakak di Jalan Rajawali?”
tanya Bima bingung.

92

Kak Reza tersenyum. “Memang. Itu tempat tinggal
Kakak. Tetapi rumah yang paling Kakak rindukan ya
di sini.”

“Kok bisa? Bedanya apa? Di sini kan sepi?”

“Di Rajawali tempat tinggalku. Artinya ya tempat
kakak melakukan rutinitas setiap hari. KTP dan Kartu
Keluarga juga di sana, Bim. Tetapi di sini, di gua ini,
beda. Aku menyebutnya Istana Sang Rajawali.”

“Wuih, keren sekali!” Bima membelalakkan matanya
takjub. “Trus Kakak betah di sini ngapain aja?”

“Banyak. Aku sih lebih banyak main gitar di sini. Nulis
lagu. Rencananya aku mau bikin album nih!”

“Wah! Keren!”

Dan sore itu berlalu dengan cepat. Percakapan
antara Kak Reza dan Bima akan dilanjutkan besok
setelah Bima pulang sekolah.

**

Sejak pertama kali masuk Istana Sang Rajawali, Bima
semakin semangat belajar. Ternyata hobi melukis
dan merakit robotnya semakin terasah. Awalnya
Mama dan Papa cemas karena Bima selalu pulang
setelah Maghrib. Tetapi ketika menerima rapor
kenaikan kelas enam dan melihat angka yang tertera

93

semuanya diatas delapan, justru Mama dan Papa
yang bingung.

“Kamu tuh sebenarnya ke mana sih setiap pulang
sekolah? Bukannya langsung ke rumah?” tanya Papa.

“Aku langsung ke rumah kok!” jawab Bima tegas.

“Eeeh, siapa yang mengajarkan kamu berbohong?”
tanya Mama.

“Aku gak bohong, Mama sayang. Aku langsung
pulang ke rumah. Belajar. Serius!” Bima menatap
Mamanya berusaha meyakinkan.

Papa dan Mama menggeleng. Anak ini menjadi aneh.
Tetapi prestasinya meningkat. Ada apa ya?

**

Tanggal 7 Desember. Mama Bima sudah menyiapkan
sarapan sederhana yang menjadi istimewa. Roti isi
tuna dan tomat untuk Papa dan roti isi daging asap
keju untuk Bima. Hm, lezat! Hari libur yang
menyenangkan!

Bima gelisah. Kak Reza belum datang. Jam dinding
sudah bergeser ke angka sepuluh. Baru saja Bima
hendak mengirim SMS pada Kak Reza, yang dinanti
sudah ada di depan pagar. “Assalamu’alaikum!
Permisi! Kulonuwun!” teriak Kak Reza riang. Wajah
Bima mendadak cerah. Dia berlari ke teras.

94

“Wa’alaikumussalam! Masuk yuk, Kak!”

Papa dan Mama menyambut Kak Reza. “Lho, kamu
anaknya Pak Reynaldi, bukan?” tanya Papa kaget.

“Iya, Om. Om kenal Papa saya?” Kak Bima tak kalah
kagetnya.

“Hahaha, dia itu senior Om di kampus. Wah, apa
kabar Papamu?”

“Sehat, Om.”

“Yuk, Kak Reza! Kita ke ruang keluarga?” Bima
menarik lengan Kak Reza. “Eh, udah siap kah?”
bisiknya sambil diam-diam melirik Mama. Kak Reza
memberi jembol dan senyum.

“Papa dan Mama. Kita duduk di ruang keluarga yuk?
Bima dan Kak Reza mau nunjukin sesuatu pada
Mama nih!” Bima tak sanggup menahan
senyumannya. Dia merasa sungguh semangat.

“Ada apa ini?” tanya Mama tertawa geli melihat
Bima yang salah tingkah. Bima tetap memaksa Papa
dan Mama untuk duduk. Lalu Bima tampak sibuk
bersama Kak Reza untuk mempersiapkan hadiah
untuk Mama.

Sepuluh menit kemudian, Bima menyerahkan hadiah
terbungkus kado cantik. Mama tersenyum dan

95

membukanya. Sebuah lukisan sederhana. Ada
gambar rumah dan gambar gua berdampingan. Ada
Bima, Mama, Papa, dan Kak Reza di sana. “Bisa
dijelaskan, Sayang?” tanya Mama.

“Ini rumah kita, Ma. Tuh, ada pohon mangga dan
belimbing kan? Nah, yang ini namanya Istana Sang
Rajawali. Itu yang kasih nama Kak Reza, Ma. Karena
dia ‘kan tinggalnya di jalan Rajawali,” jawab Bima
semangat.

“Tetapi kok bentuk rumah Reza seperti gua?” Papa
kebingungan.

“Karena itu rumah kedua Kak Reza. Dan juga aku!”

“Maksud Bima seperti ini, Om. Istana Sang Rajawali
ini menjadi tempat Bima dan saya untuk berkreasi.
Saya yang suka musik, setiap hari dimarahi Papa
karena berisik. Maka ketika saya menemukan
tempat ini, sepertinya malah lebih kreatif. Begitu
pula dengan Bima. Bukankah semenjak dia sering
mampir ke Istana Sang Rajawali, prestasinya
meningkat, Om?

“Jadi menurut saya, selain rumah tempat berkumpul
dengan keluarga, seseorang membutuhkan tempat
yang nyaman untuk menjadi dirinya sendiri. Bebas
mau apa saja. Soalnya menurut Bima, dia selalu

96

diganggu oleh suara anak-anak tetangga ketika dia
sedang melukis.
“Itulah juga alasan mengapa Bima selalu terlambat
pulang ke rumah ini, karena dia sedang berada di
rumahnya yang lain. Tempatnya singgah untuk
mencurahkan isi hati dan pikirannya. Saya pikir
selama itu menumbuhkan mental mandiri yang
positif, mengapa tidak?” jawab Kak Reza panjang.
Papa dan Mama tersenyum. “Oh, pantas saja kamu
semakin bersemangat!” ujar Papa bangga.
“Nah, Mama. Ini ada hadiah dari Kak Reza. Ayo Kak!”
Bima menarik lengan Kak Reza untuk bersiap
menyanyikan lagu ciptaannya.
**
Teman, jika kalian kebetulan melewati semak di
dekat sekolahnya Bima, ada sebuah jalan rahasia
menuju Istana Sang Rajawali. Itu rumah kedua Bima.
Tempat Bima merasa nyaman setelah lelah
bersekolah. Tentunya kalian juga punya tempat
rahasia juga kan?

97

Batang dan Daun

Oleh Kak Irene Wibowo

Angin berhembus sangat kencang. Batang-batang
pohon mulai bergoyang.
“Daun, peganglah aku terus.”
“Aku mau terus berpegang padamu. Tapi aku tidak
tahan lagi. Bagaimana ini?”
“Jangan lepaskan!” teriak batang panik.
“Aku… tidakkkk…”
“Aku memegangmu, daun!”
“Terima kasih, batang.”
“Bertahanlah, badai pasti berlalu!” ujar batang.
Meski hembusan angin merasuk rumah pohon,
batang dan daun tetap saling berpegangan.
Akhirnya, angin kencang dan hujan berhenti.
Matahari pun muncul.

98

“Maafkan aku, batang dan daun! Kalian tak apa-
apa?” ujar matahari.
“Tidak. Terima kasih matahari, akhirnya kau
membantu kami,” jawab daun.
“Sahabat, kan selalu ada selalu,” lanjut matahari
tersenyum.
*****
Sahabat yang baik adalah sahabat yang mau
memegang tangan sahabatnya, meski badai
menerjang begitu kencangnya dan awan gelap
menyelimuti hingga matahari memberikan
kecerahan. Sahabat yang baik selalu ada dalam suka
maupun duka. Sahabat adalah keluarga dan takkan
pernah terpisahkan karena mereka selalu
berpegangan tangan.
Salam Sahabat,
Batang, Daun, dan Matahari.

99

Gelang Chita

Oleh Kak Andi Maulida Rahmania

Di suatu pagi yang sangat cerah, di sebuah pedesaan
yang masih sangat asri dan sejuk, masih terdapat
banyak pohon-pohon lebat. Mulai dari pohon
beringin, pohon kelapa, pohon mangga, pohon
pisang hingga pohon rambutan. Di desa itu juga
terdapat sebuah sungai yang airnya masih sangat
jernih. Desa itu bernama Desa Mayungsari.
Penduduk desa tersebut hidup dengan damai, rukun
dan bergotong-royong.
Di desa tersebut ada tiga anak kecil sering bermain
bersama-sama. Mereka adalah Chita, Mono dan
Neni.
Chita : Pagi semuanya…
Mono : Pagi juga Chita.
Neni : Pagi Chita, wah kayaknya Chita lagi seneng
ya?
Mono : Iya, Chita semangat sekali hari ini...

100


Click to View FlipBook Version